Loading
30

0

32

Genre : Inspirasi
Penulis : Surya Darma
Bab : 30
Dibuat : 12 Juli 2022
Pembaca : 9
Nama : Surya Darma
Buku : 1

Menggapai

Sinopsis

Menggapai, Sementara hujan tetap turun dan angin semakin kencang bertiup bahkan disertai petir tiba-tiba awan terhempas dan terbuka sehingga sinar matahari langsung menyorot dari sebelah barat. Dilangit biru kelabu, muncul lengkungan pelangi yang indah. Terlihat seperti seorang gadis yang menyelendangi tubuhnya dengan kain warna-warni. Seketika itu tiba-tiba matahari menghilang dari peredaran, suasana kembali gelap dan sejuk, apalagi hujan semakin menjadi-jadi meyusul dengan dentuman petir yang cetar membahana. Angin kembali bertiup sehingga poho –pohon rumbia itu hendak terlentang ditanah, Maka ketika itulah dada Anto berdetak dengan kencang, anto yang sejak lama memandang pohon-pohon rumbia diseberang jalan itu hampir putus asa, bila hujan dan angin tak kunjung berhenti Anto tak mungkin bisa kesawah untuk merumput padi dan padi-padi yang ditanam pasti tumbang semua tertiup angin dan ini menimbulkan masalah baru.
Tags :
#semangat #keluarga #impian #cita-cita #harapan

BAB I

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 1

- Jumlah Kata 521

Dari balik jendela hujan turun dengan deras disertai petir dan angin, air hujan yang turun membasahi pohon-pohon rumbia di seberang jalan, seperti seorang wanita mandi segar, penuh semangat, bergairah, dan ceria. Pelepah-pelepah yang basah dan kuyup ibarat rambut basah, lemas, tergurai, yang jatuh dipunggung. batang-batang yang bergoyang meliuk-liuk terhempas angin seperti tubuh yang melenggang penuh pesona. Ketika angin tiba-tiba bertiup sangat kencang pelepah-pelepah itu serentak mengikut arah angin yang berhembus seakan-akan bagaikan jari jemari tangan seorang penari yang mengikuti irama musik.
Seketika itu tiba-tiba matahari menghilang dari peredaran, suasana kembali gelap dan sejuk, apalagi hujan semakin menjadi-jadi meyusul dengan dentuman petir yang cetar membahana. Angin kembali bertiup sehingga poho –pohon rumbia itu hendak terlentang ditanah, Maka ketika itulah dada Anto berdetak dengan kencang, anto yang sejak lama memandang pohon-pohon rumbia diseberang jalan itu hampir putus asa, bila hujan dan angin tak kunjung berhenti Anto tak mungkin bisa kesawah untuk merumput padi dan padi-padi yang ditanam pasti tumbang semua tertiup angin dan ini menimbulkan masalah baru. 


Dari emper rumahnya Anto kembali mentap langit dengan harap hujan berhenti pada saat itu juga, tetapi apa mau dikata hujan masih turun dan deras mengguyur bumi. Anto gelisah dan cemas, bagaimana tidak cemas bagi Anto sawah adalah segalanya dari situlah ia memperoleh rizki dan membiayai sekolahnya. Petir kembali mencetar dilangit kelabu itu dan hujan makin bertambah deras lebih deras dari sebelumnya. Hati Anto semakin lencuh dan kecut, mungkin hari ini Anto tidak diperkenankan untuk kesawah dan harus merelakan padinya tumbang dan tenggelam. 


Sambil menjatuhkan pundak karena merasa hampir kehilangan harapan, Anto membalikan badan lalu masuk kerumah. Berdiri diruang tengah sambil membayangkan padinya yang rebah dan tenggelam oleh air hujan. Anto hampir terlelap di bilik bambu dalam rumah, tiba-tiba suasana berubah. Hujan benar-benar berhenti, bahkan matahari yang kemerahan muncul dibalik awan hitam. Semangat petani sejati membangunkan Anto, ia segera bangkit dan keluar dari bilik tidur.

“ Buk pak hujan dah redah Anto izin kesawah yaa..."
“ buhahahahah mau ke mana mas ? Kesawah ahaha haha..."
“ eh ribut kali ni bocah bikin sebel !"
“ oalah le le kamu ini sadar apa ngelindur sudah jam berapa coba lihat"
Anto menoleh ke jam dinding dan terkejut.
“ ya Allah buk buk kenapasih gak mau ngebanguni Anto bapak juga sih diam-diaam saja"
“ batokmu! Bapak sama ibu udah bangunin kamu tapi kamunya tidur macem kebo meteng!"
“ hahahaha bapak ibu bisa saja ya sudah tidak papa"
“ ya sudah! Eh harus kamu ngerti le susah dibangunin tidur berarti jodoh susah dateng hahahah"
“ ni lagi ibu ngacok, dah lah Anto mau mandi."


Pada malam yang dingin dan basah itu ibu membuat bandrek jahe dan ubi rebus. bandrek, ubi rebus sangat cocok dinikamati pada saat suasana seperti ini tubuh menjadi hangat dan nyaman. suasana semakin dingin dan menggigit ditambah dengan tiupan angin yang semilir sangat membuat tubuh menjadi menggigil bahkan sampai menembus tulang. Dibarengi suara jangkrik dan kodok (katak) yang saling bersaut-sautan membuat malam yang dingin dan sepi ini menjadi ramai, suara jangkrik dan kodok itu seperti perpaduan irama musik yang mengiringi para penari, dahan dan ranting yang bergoyang tertiup angin bagaikan sang penari yang mengikuti alunan irama musik itu.


BAB II

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 2

- Jumlah Kata 545


Sejuknya suasana malam membuat mata siapapun akan sayup dan mulut mengagah lebar mengeluarkan aurah letih yang amat sangat. Anto keluar dan duduk di teras bambunya depan rumah, masih saja ia terpikir bagaimana nasib padi-padinya kalaulah tahun ini ia gagal panen karena kebanjiran bagaimana untuk bayar sekolah apalagi sebulan kedepan sudah mulai UN pasti banyak sekali biaya yang keluar, cukup menguras kantong.

“ mas dingin banget ya ? mas lagi mikirin apa sih?"
“ bocah cilik gak perlu tau diem aja"
“ huu dasar payah nanyak gituan doang gak dijawab pelit !"
“ hahaha biarin"
“ buk pak besok kita pagi-pagi kesawah ya..."
“ gak usah kamu pikirkan itu le, itu urusan ibu dan bapak, kamu belajar saja yang rajin sebentar lagi kan mau UN, kejar cita-citamu"
“ iya sih buk tapi kan ibu dan bapak sudah tua"
“ eh to bapak ibukmu ini memang tua tapi jiwa kami mudah"
“ mas masuk yuk ngantuk, buk pak yok"
“ dasar kamu bocah ngerusuin aja, yok pak buk masuk sudah malam ngantuk"

Malam yang sangat dingin itu tiba-tiba kelipan sinar petir menyala dengan jelas dan menghasilkan suara yang sangat mengejutkan. dibarengi dengan tiupan angin yang bergemuru diatas genteng jangkrik dan katak semakin menjadi mengeluarkan suara-suara yang amat nyaring bahkan lebih berisik dari sebelumnya seperti tangisan anak bayi yang tidak diberi asi ibunya.

Lemari terbuka Anto mengambil selimut untuk menghangatkan tubuhnya bersama adiknya si Japra, tubuh menggigil, bulu badan pada jigrak semua, mereka segera menyelimuti badan mereka dengan kain, berbaring dibilik dengan kasur kapuk yang sudah agak usang, mata mulai sayup-sayup adiknya tertidur dengan pulas dibarengi dengan suara dengkuran yang sangat mengganggu ketenangan, Anto belum juga menutup matanya padahal sudah sangat letih dan sayup, matanya terbuka lebar dan rasa khawatir mulai menyelimutinya bagaikan selimut yang menutup seluruh tubuhnya. Anto masih kepikiran jikalau hujan turun lagi pasti tidak elak sawah akan menjadi lautan bukan hanya sawah sendiri tapi milik semua warga kampung, dan kalu ini terjadi bagaimana Anto membiayai pendidikannya ya walaupun ibunya pernah bilang bahwa itu bukan urusannya, hati nuraninya bergejolak kasihan terhadap orang tuanya yang bersusah payah mencari nafkah untuk membiayai anaknya, tapi apa daya itulah orang tua tidak mau melihat anaknya susah dan sengsara, biar baju usang asal anak baju baru, biar makan tempe dan tahu asal anak makan daging, biar kaki berlumpur disawah, keringat jatuh asal anak menjadi sukses.

Angin semakin kencang bergemuru diatas genteng, sibakan kilat menyala dan mencetar padu petir diatas, Anto terkejut dan menutup mata “ astagfirullah” menutup habis seluruh badannya dengan kain. Suara petir yang kedua itu rupanya memancing hujan turun, satu persatu butiran air mulai turun membasahi bumi membuat suasana semakin dingin suara katak dan jangkrik sudah agak meredup. Apa yang dikhawatirkan oleh Anto terjadi dan membuat anto menjadi resah dan gelisah, butiran air yang jatuh itu semakin lama semakin rapat, berbarengan dengan itu terhembus oleh angin sehingga membuat butiran hujan tersebut kekanan dan kekiri seolah-olah kaki seorang penari yang sedang bergerak kesana dan kemari mengikuti arah alunan irama musik. Kilatan petir tak henti-hentinya menyala, angin bergemuru begitu kencangnya, butiran air semakin lama semakin kasar, semakin kasar, dan semakin kasar, mata mualai sayup dengan didukung oleh sejuknya suasana malam perlahan mata menutup rapat Anto terlelap walaupun dihatinya masih terlintas rasa kecewa dan putus asa, Anto mencoba untuk ikhlas menerima semuanya.

BAB III

1 0

- Sarapan Kata 

- KMO batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 3

- Jumlah Kata 414


kokokan ayam jago yang bersautan dari setiap penjuru menandakan waktu pagi datang, Anto masih terlelap dipembaringannya.
“ mas mas”
“ apa...”
“ sudah pagi bangun shalat shubuh”
“ eeeemmm iya sebentar lagi”

Japra adiknya yang bersusah paya membangunkan kakaknya menyerah meninggalkan tempat pembaringan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu, selesai shalat shubuh japra kembali lagi ke kamar untuk membangunkan kakaknya, terlihat pulas dan nyenyak sekali si Anto, timbul pikiran jahil si Japra. “ awas wae tak kerjani kui” gayung yang berisikan air diguyurkan oleh japra ke wajah Anto terkejut terbangun dan terengah engah.

“ banjir banjir tooolooong”
“ mas mas sadar ada setan lewat hahahaha”
“ japara naik prak keatas lemari banjir ni”
“ hahaha banjer apanya ni air kuguyur tadi kebadanmu soalnya susah kali dibanguni hahaha”
“ ooo bocah gendeng sontoloyo awas ya tengok aja nanti”
“ ada apa pagi-pagi kok sudah ribut”
“ini buk sijaprak bangunin orang pakek air megap megap anto”
“ bener prak”
“ iya buk lagian sih mas Anto dibangunin macam kebo bunting susah bangun”
“ hahaha Anto cepet sana ambil wudhu udah mau abis waktu shalat ni”
“ iya buk, awas kamu japrak!”
“ biarin hahaha”

Perpaduan suara sutil dan wajan ditambah dengan aroma masakan yang begitu menggoda membuat perut keroncongan ingin segera menyantapnya, suara desisan minyak yang mendidih membuat bawang yang masuk ke dalam menjadi wangi, menambah kesan yang begitu nikmat dipagi yang sejuk ini. Nikmatnya aroma makanan disempurnakan dengan kicauan burung gereja yang mencirikan suatu pedesaan yang asri, damai, dan tentram.

Dinginya air mengguyur tubuh Anto dan Japra wajah yang tadinya tampak lesu berubah menjadi semangat bergairah bagaikan kura-kura yang dibakat punggungnya. Usai mandi Anto berpakaian seragam sekolah, hanya tinggal dua bulan lagi seragam sekolah ini dipakai dan melanjutkan apa yang sudah dicita-citakannya “kuliah”, dengan semangat percaya diri dan keyakinan yang teguh Anto percaya pasti bisa, ditambah dengan dukungan ridha orang tua menambah semangat kepercayaan diri Anto makin berapi-api.

Tetapi Anto masih saja kecut hatinya bagaimana tidak dia hanya seorang anak petani apakah bisa mewujudkan cita-cita ini, pikiran-pikiran ini sering kali terlitas dibenak Anto, apalagi kini padi yang sudah ditanam, dirawat, dipupuk tidak tahu bagaimana kabarnya, kalaulah tahun ini gagal panen jangankan biaya untuk ke kuliah, biaya untuk UN saja belum terbayar.

“ pak anak-anak sudah siap mandi dan berpakaian?”
“ tidak tahu buk?”
“ tolong panggilkan anak-anak pak makanan sudah siap”
“ Anto Japra kemari nak makanan sudah siap”
“ iya pak sebentar lagi pakai dasi dulu”
“ ya sudah kalau begitu bapak ibu menunggu”

BAB IV

1 0

- Sarapan Kata 

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 4

- Jumlah Kata 432


Selesai berpakaian Anto dan Japra yang sudah ditunggu ibu dan bapaknya menuju meja makan untuk sarapan pagi, dimeja makan sudah disiapkan teh hangat, nasi putih, tempe goreng, tahu goreng, sayur bening, dan ikan sambal, hidangan sederhana yang membuat Anto selalu ingat kepada keluarganya terutama ibunya yang selalu menyiapkan sarapan pagi untuknya, walaupun terkadang tidak mengetahui jam berapa ibunya bangun untuk menyiapkan ini semua. Ingin rasanya Anto membantu ibunya yang telah melahirkannya, merawatnya, mengasuhnya sampai sekarang.


Dipandangnya wajah Ayah dan Ibunya rambut sudah beruban kulit sudah agak keriput, terkadang berlinang air mata Anto melihat itu semua, ia berjanji tidak akan mengecewakan mereka, karena tanpa kasih sayang keduanya sulit untuknya meraih semua ini. 


“mas – mas, mas Anto !"

Anto tersentak.
“Eh apa apa”
“lah ngelamun ini dimakan makanannya mumpung anget”
“iya”


Dari ufuk timur Mentari perlahan naik menyinari segenap penjuru desa, awan yang menghalangi sinarnya seketika menjadi merah jingga, burung bangau putih terbang diatas membentuk barisan yang indah, bagaikan lukisan tangan yang terpajang didinding. Sarapan pagi sudah disantap, Anto dan Japrak bersiap pergi menuju sekolah, Ayah dan Ibu mereka pergi kesawah untuk melihat padi kemungkinan besar tenggelam oleh air hujan malam tadi. Pedal sepeda dikayuh Anto dengan santai, sambil menikmati suasana pagi yang alami dan asri ini, Ditambah lagi dengan pemandangan hamparan sawah hijau membentang dari ujung barat sampai ketimur membuat jiwa merasa tenang, aman, tentram, dan bahagia kala melihatnya.


Terbius oleh indahnya panorama alam Anto dan Japrak sampai lupa kalau sudah kesiangan.


“prak enak banget ya suasananya”
“iya mas”
“liat tu burung bebas terbang kemanapun”
“iya mas coba kita seperti burung pasti kita bisa kemana-mana bawak ibuk dan bapak jalan-jalan”
“emmmm gitulah”
“ya Allah! Mas udah jam delapan ini, piye iki mas”
“wadduh piye iki”
“balap mas balap”
“ok!”
“pegangan prak kalau jatuh tidak ada asuransi”
“ok!”

Kayuhan sepeda dipercepat, pikiran yang tadinya tenang dan santai kini menjadi panik jalan berlubang tidak diperdulikan lagi yang penting sampai tujuan. Petaka datang kencangnya kayuhan sepeda membuat rantai menjadi putus keduanya dengan raut muka yang letih dan panik hanya terdiam dan bengong melihat kondisi yang terjadi, kemudian mereka saling pandang bukannya marah dan sedih malah tersenyum dan tertawa karena hal tersebut bisa dijadikan oleh mereka sebagai alasan keterlambatan mereka jadi hukuman hormat bendera bisa ditangguhkan.


Jarak sekolah masih jauh Anto dan adiknya dengan sabar mendorong sepeda usangnya itu, ya apa mau dikata inilah kendaraan yang mereka miliki, mereka tetap istiqamah dalam meraih cita-cita dan qanaah legolo dalam menjalani kehidupan apa yang ada itulah yang terbaik. Tidak seperti anak-anak yang lain mengendarai motor dan diantar dengan mobil bahkan kerap sekali mereka diledek oleh teman-temannya yang mengendarai motor,



BAB V

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 5

- Jumlah Kata 517


“hari gini masih pakek sepeda jadul brooo ni liat ni motor!” Anto dan Jafra hanya tersenyum, bukan tidak pingi Anto dan adiknya mengendarai sepeda motor atau diantar oleh orang tuannya dengan mobil, pingi sangat pingin tetapi mereka malu untuk mengadu, keduanya berpikir masih untung dilahirkan kedunia diasuh, dan dibesarkan bahkan dibiayai untuk menempuh pendidikan lagi pula latar belakang orang tua adalah orang yang serba kekurangan jadi alangkah memalukannya sekaligus menyedihkan jika mengadu ingin dibelikan kendaraan seperti teman-temannya apalagi sampai membentak-bentak sungguh tidak beradab. 


Capek berjalan apa lagi sambil mendorong sepeda keduannyaa berhenti dan beristirahat dibawah pohon beringin disela-sela istirahat terpikir dibenak Anto beginilah perjuangan untuk menuju kebahagiaan dan kesuksesan, capek, letih, sakit hati, dan penuh dengan pengorbanan tidak segampang seperti membalikan telapak tangan. Dari jauh terlihat mobil warna silver menghampiri mereka, Anto dan Jafra bingung dan ketakutan karena akhir-akhir ini rawan sekali penculikan kaca mobil perlahan terbuka, Anto dan Jafra pun berdiri bukan untuk meminta tumpangan tapi kabur sebab takut diculik.

“mas, mas, mas !”
“apa? gak tau apa sek kesel”
“itu ada mobil deketin kita”
“mana?”
“itu”
“wadduh bener, ini pasti gerombolan penculik prak ndang tangi prak ndang tangi”
“iyo iki wes tangi, mas makin dekat mobilnya”
“hitungan ketiga kita lari”
“lah sepedane kepie mas”
“wes ojo dipikiri yang penting selamat tidak diculik”
“ok mas”
“satu, dua, ti.....”
“Anto, Japrak”
Seketika Anto dan Japrak terhenti dan menoleh kebelakang.
“ehhh Zahrah kirain penculik ini sijaprak ketakutan”
“kamu yang ketakutan mas hoooooooo”
“kalian gak sekolah? Terus ini sepedanya kenapa?”
“tadi ada insiden putus rantai jadi jalan kaki sambil dorong sepeda”
“oooo gitu ya sudah sama Zahrah saja bareng ke sekolah”
“ndak usah Zahrah ngerepotin kami jalan kaki aja sebentar lagi juga sampek kok”
“mas jangan sok jual mahal kenapa! capek ni jalan kaki”
“emmm dasar bocah wes meneng”
“masih jauh loh To jarak sekolahnya emang kalian mau kena hukuman hormat bendera sampai siang??”
“iya sih tapi kami kan kotor tu liat sepatunya ada lumpur”
“ayah ooo yah boleh kan Anto sama Japrak pergi bareng sama kita kesekolah?”
“ya boleh banget lah, ayo masuk”
“iya pak tapi ini sepeda gimana ya masak dibuang”
“ooooh itu masalah gampang sini biar dinaiki diatas mobil nanti kalau ada bengkel kita titipkan saja, gimana cocok?”
“cocok pak” saut japrak dengan kuat
“ya sudah tunggu apalagi silahkan naik kita sudah telat ini”
“siap pak” anto menjawab
“gitu donk mas dari tadi”
“ini bocah diem!”

Zahrah gadis cantik anak juragan Andi satu sekolahan dengan Anto dan Jafra dulu tinggal di Jakarta sekarang pindah ke Yogyakarta karena ayahnya juragan Andi adalah seorang pembisnis sayur-sayuran jadi mau tak mau harus pindah, Anto dan Zahrah satu lokal dan sebentar lagi akan selesai, dia juga anak yang cerdas dan selalu menjadi juara kelas begitu juga dengan Anto dikenal sebagai siswa yang tekun dan pintar juga termasuk juara kelas ya walaupun belum pernah sampai juara satu tapi dua dan tiga selalu dapat. Zahrah dan keluarganya merupakan orang kaya yang dermawan suka menolong sesama, toleransi dan solidaritas tinggi dan tidak sombong, berbeda dengan orang kaya kebanyakan cenderung sombong dan keras bahkan kalau bisa dikata berjalan tidak mau menginjakan kaki ke tanah.

BAB VI

1 0

- Sarapan Kata 

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 6

- Jumlah Kata 515


Diam-diam Anto mengagumi Zahrah mulai dari sikapnya dalam bergaul, perkataannya, tingkah laku nya, dan akhlaknya satu hal lagi parasnya yang indah dan cantik. Terkadang Anto menjadi salah tingkah dan gerogi ketika berbicara dengan si Zahrah anak juragan Andi. Dalam perjalanan ayah Zahrah berbasa-basi dengan Anto, selain kaya dan dermawan juragan Andi juga asyik orangnya tidak memilah-milah dengan siapa dia bicara, kemudian dapat menyesuaikan bahasa ketika bercengkrama.


“Anto”, Tanya juragan Andi
“saya juragan ada apa”
“nah yang begini saya suka sopan orangnya tidak salah Zahrah memilih kamu sebagai teman”
“bapak bisa saja”
“kamu anak pak Paimin kan”
“iya bapak kok tau”
“iya dulu pernah ayah kamu bekerja dengan saya, maka ketika saya lihat kamu tidak asing wajahnya mirip sekali dengan pak paimin”
“Yah Anto ini siswa yang cerdas dan pintar loh di sekolah bahkan guru-guru sangat kagum dengan Anto”
“oh ya bagus donk, itu merupakan satu modal bagi kamu Anto untuk menggapai kesuksesan”
“ahhhh kamu Zahrah suka berlebihan kalau berbicara, yang pinter dan cerdas itu kan kamu selalu jadi jawara kelas”
“walah mas-mas wes iyo wae kok angel tenan ngomonge”
“mulot mu meneng prak tak kuampleng engko”
“Anto itu begitu yah sifatnya suka merendahkan diri padahal dirinya is the best”
“rendah hati boleh gak ada yang ngelarang kok tapi jangan terlalu sering kurang baik juga”
“he he he he iya pak”


Tidak terasa keenakan bicara dengan juragan Andi posisi susah didepan pintu gerbang sekolah, terlihat masih ramai lalu lalang Siswa yang lain disana. Anto, Japrak, dan Zahrah segera turun dari mobil tidak lupa Anto mengucapkan terima kasih kepada juragan Andi yang telah mengantarkannya ke sekolah. Satpam penjaga sekolah menyeruhkan kepada seluruh siswa dan siswi yang masih diluar agar secepatnya masuk karena lima menit lagi gerbang akan ditutup.

“alhamdulillah sudah sampai untung tidak telat”
“mas ndang medon”
“ribot tenan sih iya iya sabar”
“juragan Andi saya sangat berterimakasih sama juragan yang sudah mengantarkan saya sampai sekolah sekali lagi terima kasih juragan”
“aman itu lain kali kita pergi bareng lagi ya”
“iyo pak sering-sering saja” potong japrak
“iki bocah ra eneng sopan-sopane”
“kepada seluruh siswa dan siswi agar secepatnya memasuki lokasi sekolah karena lima menit lagi gerbang akan ditutup” kata pak satpam
“ayah Zahrah pamit Assalammua’laikum”
“Wa’alaikumussalam, belajar yang benar ya, Anto, Japrak kalian juga ya belajar yang gigih dan semangat”


SMAN 1 Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul lembaga pendidikan ternama di desa tersebut berbagai macam ras dan suku ada di sekolah itu, ada suku jawa, sunda, batak, betawi, bahkan ada yang dari papua. Walaupun berbeda ras dan suku tetapi tetap satu tujuan dalam membangun manusia yang berbudi luhur dan berakhlakul karimah, seperti semboyan bangsa Indonesia “Bihineka Tunggal Ika”. Di sinilah Anto dan adiknya menuntut ilmu walaupun terlahir dari keluarga yang sederhana semangat dalam belajar tidak putus berbeda dengan teman-temannya yang lain terlahir dari keluarga yang serba kecukupan kendaraan bagus bahkan ada sebagian yang diantar oleh ayahnya ataupun supirnya, pakaiannya bagus-bagus dan lain sebagainya. Tapi itu semua tidak membuat semangat Anto kendor walaupun pakaian itu-itu saja, kendaraan hanya sepeda butut yang tiap waktu calus bahkan tak jarang putus rantai. Dalam hatinya hanya ada satu kalimat “maju terus pantang mundur”.

BAB VII

1 0

- Sarapan Kata 

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 7

- Jumlah Kata 430


Di pintu kantor seorang guru laki-laki memanggil Anto dengan melambaikan tangan kepada dirinya. Pak Muliyadi Nasution namanya guru mata pelajaran sejarah masih muda, asyik orangnya, membaur dengan peserta didik dan tidak mau dipanggil bapak ketika diluar sekolah. Satu hal lagi pak Muliyadi guru yang lucu ketika berbicara karena logat bataknya. Anto diberikan amanah untuk mencatat pelajaran dengan teman-temannya.


“Jo Santo kemari sebentar” sambil melambaikan tangan
“siap pak” jalan menghampiri
“ada yang bisa saya bantu pak”
“emmm begini Anto saya kan mau rapat kebetulan saya masuk kelas kamu jadi ini saya kasi kamu buku kemudian catat dengan teman-temanmu”
“sekarang pak?”
“tahun depan ! ya sekarang Anto”
“baik-baik pak siap pak”
“ya sudah kalau begitu silahkan masuk dan dicatat pelajarannya”


Bergegaslah Anto memasuki kelas dan mengumumkan bahwasanya ada tugas untuk mencatat pelajaran seluruh teman-temannya menurut dan mencatat pelajaran hanya Wira dan geng nya yang tidak mau mencatat, Wira Sudrajat nama lengkapnya anak pak Muliyono Kepala Desa Karangrejek Wonosari satu desa dengan Anto. Keperawakannya tinggi, kurus, kulit hitam, dan gigi agak sedikit tonggos, selalu buat onar di Sekolah bahkan para guru kewalahan menghadapi dirinya dan ingin mengeluarkannya dari sekolah tersebut. kerap sekali Wira dan gengnya melakukan tindakan tidak terpuji seperti merokok, membuli, mencuri, bahkan yang paling parah baru-baru ini Wira dan Gengnya ngintip guru di wc umum sekolah. Hubungannya dengan Anto juga tidak akur Wira merasa tersaingi dan tidak senang dengan Anto yang selalu meraih juara sedangkan Wira hanya mampu menduduki peringkat 25 dari 30 siswa. Dan Wira tidak senang ketika Anto berduaan dengan Zahrah, karena sudah sekian kalinya Wira mengungkapkan rasa kepada Zahrah selalu dicueki tapi giliran dengan Anto seperti  pranko tidak mau lepas dari surat.

“heee Anto ojok sok-sok ngator lah nyatet nyatet mbarang”
“uduk ngator iki amanah dari pak Muliyadi dadi yo harus tak sampek ke”
“ooooo si batak seng ngongkon”
“astagfirullah cangkemu iku di jaga ojo koyo ono”
“siopo seng wani ngator-ngator Wira Sudrajat anak Pak Kades, sopo, sopo, sopo!”
“Wira !!” potong Zahrah
“eh dik Zahrah jangan marah-marah lah”
“siapa yang marah gak marah kok, coba begini ya teman-teman apa yang susah diatur dan tidak mengerti intruksi bahkan membantah? Ayo jawab bareng”
“orang gila” teman-temannya menjawab
“jadi sudah ya yang tidak bisa diatur dan tidak mengerti intruksi adalah orang gila, silahkan Anto lanjutkan lagi dektenya biar kelar sebentar lagi jam istirahat”
Anto hanya tersenyum lucu mendengar pertanyaan dan pernyataan dari Zahrah, sedangkan Wira tersipu malu dan geram.
“buhahahaha bos awakmu wong edan” tertawa lepas salah satu kelompok geng Wira
“wus lambe mu tak sobek-sobek cangkemmu!”
“jadi piye iki bos”
“men nyatet sek wong iki, ayok kita  susun strategi”

BAB VIII

1 0

Tanpa izin Wira dan gengnya keluar dari kelas sambil melirik ke Anto. Anto dan teman-teman yang lain tidak memperdulikan dan fokos untuk mencatat pelajaran. Dua jam sudah Anto dan teman-temannya mencatat pelajaran dan dikala itu juga bel sekolah berbunyi, ini menandakan sudah waktunya masuk jam istirahat. Ya ibarat seperti orang dikantoran ada jam bekerja dan istirahat begitupun juga sekolah ada jam belajar dan istirahat. Kebanyakan Siswa dan Siswi memanfaatkan waktu istirahat biasanya dikantin dengan berbagai macam bentuk kegiatan ada yang pesan makanan, minuman, pacaran, ada juga yang hanya duduk-duduk saja, dan lain-lain. Begitupun Anto menghabiskan waktu di kantin tetapi bukan untuk pesan makanan, minuman, duduk-duduk gak jelas, apalagi pacaran, tetapi yang dilakukannya adalah membaca buku dan mengerjakan tugas-tugas.

Selain anto dikenal dengan siswa yang pintar dan cerdas di juga termasuk siswa yang unik dan menarik. Biasanya orang-orang kalau membaca buku itu di perpustakaan, di dalam kelas, ya setidak-tidaknya ditaman, tetapi Anto berbeda dia dapat memanfaatkan tempat dan waktu untuk hal-hal yang positif bukan untuk pamer hanya sekedar memanfaatkan. Di saat-saat asyik membaca Anto dihampiri Marni, Sumarni nama lengkapnya teman-teman sekolahnya sering memanggilnya dengan sebutan KUTILANG (Kurus Tinggi Tetek Hilang) tapi tidak di hiraukannya hidupnya selalu happy dan terlalu percaya diri. Marni sangat senang dengan Anto bahkan dia berharap Anto menikah dengannya, pernah suatu hari Marni dengan PD nya menyatakan cinta kepada Anto dan al hasil GATOT (Gagal Total). tapi Marni tidak menyerah sampai disitu terus berusaha, berusaha, dan berusaha sampai Anto luluh.

“Anto” dengan manjanya Marni memanggil
“emmm” Anto fokus membaca
Marni yang tadinya duduk diujung kursi panjang perlahan-lahan mendekati Anto bagaikan ulat yang terus merayap sampai kepucuk daun yang muda
“awakmu ngopo To”
“boco”
“walah rajin tenan”
“Anto” Marni memanggil lagi
“opo sih ah”
“marepe rene ke aku”
“iyo uwes”
Tiba-tiba bibir marni yang hitam kemerah-merahan itu dengan sepontan dan percaya diri ingi mencium Anto. Anto cepat repleks menutup wajahnya dengan buku.
“haaaaa kenak ke, cium iki buku”
“lagi ya To” marni tidak menyerah dan terlalu PD
“weddos wong edan” Anto berdiri dan lari
“anto tunggu awaku I Love You”
“marni weddan” serentak orang-orang dikantin mengtakannya

Tidak nyaman membaca dikantin Anto mencari tempat lain yang jauh dari gangguan terutama gangguan sinnyal dari Sumarni yang membuat menggigil kekujur tubuh. Anto memilih duduk ditaman sekolah lebih tenang dan adem. duduk sila dibawah pohon mangga yang rindang Anto melanjutkan membaca buku, baru setengah lembar membaca buku dengan seketika Zahrah muncul dihadapannya, terkejut dan senang Anto melihatnya. Jantung berdetak dengan keras, darah mengalir dengan deras, dan hati berbunga-bungai bagai lumbung diisi beras. Kali ini Anto yang kehilangan percaya diri hanya tersipuh malu dan mempersilahkan Zahrah duduk disampingnya.

BAB IX

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 9

- Jumlah Kata 422


“hei !!”
“Astagfirullah haladzim”
“hahahaha gitu saja terkejut”
“eh Zahrah iya terkejut, dengaren ada apa”
“gak papa cuman pengen duduk sama kamu aja nempaknya kamu sendirian”
“iya, silahkan-silahkan”
“kamu baca apa sih”
“ini loh bacaa buku untuk persiapan UN, biar ndak payah nanti diwaktu ujian”
“wah rajin kali aku aja belum ada mempersiapkan, aku salut sama kamu”
“walah kamu sukak begitu terlalu merendah, nanti pun kamu yang juara”
“hahahahah ada ada aja”
“ya kan memang sudah ada”
“kamu lucu ya orangnya, emmm ngomong-ngomong setelah lulus nanti kamu mau ke mana”
“belum ujian Zahrah jangan ngomongin lulus” sambil tertawa kecil
“yeee kan target To target”
“iya-iya paham, yaaa maunya sih lanjut kuliah karenakan semakin lama tuntutan zaman semakin tinggi, tapi sepertinya berat kamu kan tau sendiri kuleurga ku gimana serba pas-pasan dan bahkan dapat dikatakan tidak memiliki masa depan yang cerah” tersenyum lesu
“jangan menyerah Anto rejeki urusan tuhan, mau gimanapun keadaan kita harus tetap semangat dalam menjalani hidup, sebab orang berhasil itu bukan semata-mata terlahir dari keluarga yang kaya tetapi dari semangat hidup yang dijalaninya”
“ya begitulah, kalau kamu setelah lulus nanti mau kemana?”
“ya pastinya lanjut kuliah To karena seperti kata kamu tadi semakin tinggi dan keras tuntutan zaman”

Dari lapangan basket terlihat Wira dan gengnya terus memantau dan memperhatikan Anto dengan Zahrah yang sedang duduk ditaman. Wira tidak senang melihat Zahrah mendekati Anto, sangat jelas dari kepalan tangannya yang keras seakan-akan ingin menonjok Anto. Wira dan gengnya berdiskusi, nampaknya ada sesuatu yang akan dilakukan oleh mereka. 


Bel ke dua berbunyi menandakan waktu jam istirahat telah usai. Guru BP pak Sucipto menyerukan kepada seluruh siswa dan siswi untuk berkumpul di lapangan terutama kelas tiga yang sebentar lagi akan mengikuti UN. Bergegaslah seluruh siswa dan siswi menuju lapangan.

“Zahrah bel sudah berbunyi ayo kita bersiap masuk kelas”
“Anto coba dengar pengumuman apa itu ya....”
“kepada seluruh siswa dan siswi harap kumpul dilapangan terutama kelas tiga, sekali lagi kepada siswa dan siswi harap untuk berkumpul dilapangan, terima kasih” intruksi dari guru BP
“nampaknya kita harus kumpul dilapangan”
“untuk apa?” tanya Zahrah
“tidak tau, ya sudah kita kelapangan saja ayo”
“ayolah”


Jam menunjukan pukul 10.30 seluruh siswa-dan siswi sudah berkumpul dilapangan, kemudian Kepala Sekolah menyampaikan pengumuman bahwasanya pembelajaran untuk hari ini ditiadakan karena rapat belum juga kelar, mendengar ini seluruh siswa dan siswi bergembira ria bahkan lompat-lompat tidak karuan terutama bagi mereka yang malas belajar merupakan suatu keajaiban yang begitu sangat dinanti-nanti. dan khusus bagi siswa dan siswi yang duduk di kelas tiga diberitahukan pelaksanaan UAS dan UN akan dilaksanakan bulan April ditahun ini.

BAB X

1 0

- Sarapan Kata

- KMO batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 10

- Jumlah Kata 480


Anto terdiam di kerumunan tidak bereaksi, ternyata Zahrah memperhatikannya “pasti ada masalah sama Anto” tuturnya dalam hati. Pengumuman telah selesai Kepala Sekolah dan seluruh stafnya pamit dan berpesan kepada seluruh peserta didik untuk pulang kerumah masing-masing jangan mampir-mampir karena merupakan prilaku dan akhlak yang tidak baik. 


Gerbang terbuka berbondong-bondong dengan penuh kegembiraan semuanya keluar ya walupun Cuma satu hari, berbeda halnya dengan Anto, tidak terlalu terbawa suasana apa lagi sampai lompat-lompat tidak karuan. Sikapnya biasa saja berjalan santai dengan adiknya japrak pulang kerumah, beberapa menit keluar dari gerbang sekolah Zahrah memanggil-mangggil Anto.

“Anto! Anto! Anto tunggui”
“sopo iku prak”
“mbak Zahrah mas”


anto menoleh kebelakang, entah mengapa setiap kali berjumpa dengan Zahrah Anto merasa senang, dengan tergesah-gesah Zahrah menghampiri Anto dan Japrak.


“Anto aku pulang bareng kamu ya”
“tapi kami jalan loh nanti kamu capek
“alah gak papa gini-gini aku kuat kok”
“ya sudah ayo kita lanjut jalan”
“ayo” Zahrah senang


Di sepanjang jalan sikap Anto tidak seperti biasanya, riang, bergairah, dan penuh semangat, sedangkan ini seperti sapi tidak dikasih makan tiga hari. Zahrah dan Japrak memperhatikannya, karena sangat penasarannya Japrak menepak bahu Anto untuk berhenti berjalan dan istirahat dengan alasan letih, mereka kemudian berteduh di bawah pohon beringin di seberang jalan.


“mas”
“opo prak mau minta duet, ora eneng”
“oooooh lambe mu, iki loh mas tak perhatikan kamu itu murung terus dari tadi ya kan mbak Zahrah?”
“iya, coba ceritakan apa masalahmu siapa tau bisa dibantu”
“ora popo”
“uwes mas ngomong wae ojo sungkan-sungkan”
“ngene loh aku masih terpikir kata-kata pak Kepala Sekolah tadi UAS dan UN bulan April itu artinya kan dua bulan lagi, sedangkan uang belum ada ditangan gimana aku bisa bayar”
“buhahahaha lucu iki lucu yo kan mbak”
“iya” Zahrah sambil tertawa
“kenapa kalian ketawa ngeledek aku ya”
“Anto kamu ini memang bener-bener unik dan lucu ya untuk UAS dan UN apalagi sekolah kita negeri itu bebas biaya kamu baca gak sih”
Anto hanya tersipu malu
“hahahahahahah mas kue saket opo, ngelindor opo sadar hahahahahah”
“oooooo cah gendeng, yok ndang bali”

Mereka pun melanjutkan perjalanan kini wajah yang tadinya murung menjadi cerah dan ceria. Rumput ilalang mengkrucut, pepohonan terus melakukan fotosintesis, debu jalanan berhamburan kesana kemari, keringat perlahan mengalir, hari ini sungguh sangat panas sepertinya matahari ingin membalaskan dendamnya karena kemarin tidak sedikitpun diberi kesempatan oleh awan untuk terbit. Namun apa mau dikata sudah keputusan bersama untuk jalan kaki, keinginan hati ingin cepat sampai tapi kenyataan berkata lain perjalanan masih jauh bahkan sangat jauh. Ini kali pertamanya bagi seorang Zahrah anak orang kaya pulang sekolah jalan kaki, biasanya kebanyakan orang kaya sangat anti pergi dan pulang dengan berjalan kaki ditambah lagi dengan terik matahari dan debu-debu yang bertebaran yang dapat membuat pakaian siapapun kotor, tapi Zahrah sangat berbeda ia tidak gengsi dan malu walaupun pakaian kotor oleh debu prinsipnya satu “kehidupan itu berputar kadang dibawah kadang diatas” jadi jangan terlalu terbawa oleh keadaan jalani dan nikmati.

BAB XI

1 0

- Sarapan Kata 

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 11

- Jumlah Kata 443


Depan gerbang sekolah Juragan Andi menunggu Zahrah, sudah hampir setengah jam menunggu satpam sekolah menghampiri serta mengabarkan bahwasanya anak-anak sudah pulang dari tadi dan Zahrah pulang bareng dengan Anto.


“aduh dimana Zahrah belum kelihatan juga, sudah setengah jam lagi menunggu”
“selamat siang pak” satpam menghampiri
“iya pak ada apa?”
“begini pak anak-anak sudah pulang dari tadi karena seluruh dewan guru ada rapat dan anak bapak sudah pulang, bareng dengan Anto
“emmm pantas saja, terima kasih pak informasinya”
“sama-sama”


Di semak-semak belukar Wira dan gengnya menunggu Anto lewat. Sepertinya kemarahan wira belum juga padam dengan teman-teman satu kelasnya terutama kepada Anto, Dan ingin membuat perhitungan kepada Anto. Tidak berselang lama Anto, Zahrah dan Japrak lewat tanpa menunggu lama Wira langsung menjegat mereka, tangannya mengepal dan diayunkan sekuat tenaga kewajah Anto. Zahrah yang melihat itu menjerit, namu ternyata Wira salah pilih lawan Anto dapat mengantisifasinya dengan mudah tanpa perlawanan tangan Wira dipegang dan dipelintir ke belakan. Wira merintih kesakitan, teman-temannya kemudian mengeroyok Anto tapi itu semua tidak ada artinya Anto masih bisa mengantisipasi dengan kakinya japrak juga membantu maka tersungkur semua gengnya Wira. Wira terus merintih dan minta ampun janji tidak akan mengulanginya lagi. Kemudian dengan iba Anto melepaskannya, bukan Wira namanya kalau akal liciknya tidak main saat dilepas tangannya dilayangkan kembali ke wajah Anto. Sekali lagi Anto masih bisa mengelak dan lepas kontrol sampai membuat gigi Wirah rontok tiga, Zahrah dan Japrak melihat hal tersebut tertawa geli.


Wira kalah malu bukan hanya itu wira juga menangis karena sakit giginya rontok. Wira dan komplotannya pun lari tunggang langgang kalah dan malu rencana mereka gagal untuk membuat Anto kapok, malah mereka yang kapok tidak bisa meladeni serangan balik dari Anto. Setelah kejadian itu mereka melanjutkan perjalanan, dahaga sangat mereka rasakan dan keringat sudah membasahi sebahagian tubuh ditambah lagi dengan perut yang sudah keroncongan semakin menambah penderitaan.

Klakson mobil bunyi mereka menoleh kebelakang ternyata Juragan Andi 


“hore ayah datang”
“hadeuuuuu dijemput mas”
“husss uduk jemput awakmu”
“tadi Ayah sudah kesekolah tapi kata pak satpam kalian sudah pulang dari tadi jadi Ayah terus cari kalian Ahamdulillah ketemu”
“iya tadi Zahrah nunggu Ayah tapi kelamaan nanti jadi Zahrah pulang deh sama Anto, seru loh yah jalan kaki”
“oh ya, hebat anak Ayah, Anto?”
“ya Juragan”
“itu kenapa baju kamu kotor”
“iya tadi kena debu juragan”
“oooo iya iya, ya sudah ayo kita pulang bareng ayo”
“ayo juragan” jawab japrak
“wush lambe turah! Jangan juragan ngerepotin tadi pergi sudah diantar lah ini pulang diantar lagi, segan juragan
“sudah ayo naik nanti saya marah loh”
“iya juragan, mas dari pada kepanasan ndang melebuh sek yo” potong Japrak
“iya juragan terima kasih”
“iya iya sudah ayo masuk cuaca sudah semakin panas ini”

BAB XII

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 12

- Jumlah Kata 403


Rejeki anak shaleh pergi diantar pulang diantar pakai mobil mewah, ber AC, dan tidak berdebu. Ditempat lain Wira dan teman-temannya masih merintih kesakitan, kebenciannnya terhadap Anto terus menjadi-jadi ia tidak rela Anto menang. Sampai di rumah Wira mengadukan semuanya kepada Ayah dan ibunya dengan memutar balikan fakta. Ia mengaku bahwasanya telah dihajar oleh Anto di jalan sampai giginya rontok. 

Mendengar aduan anaknya, Muliyono naik pitam dan sangat kesal anaknya diperlakukan seperti itu dan segera menuju rumah Anto untuk meminta pertanggungjawaban.


Muliyono sebagai pemimpin desa sangat tidak disukai warganya karena sifatnya yang tempramental, pilih kasih, curang, sombong, dan ria. Ia tidak mau disalahkan setiap yang dilakukannya adalah suatu kebenaran walaupun itu salah. Kelauarganya harus diatas segala-galanya maka terjadilah nepotisme. hampir semua yang bekerja dikantor desa adalah keluarganya dan berkualitas rendah. Sedangkan yang memiliki kualitas dan pikiran yang membangun malah dicabut dan disingkirkan. Inilah yang membuat waga sangat tidak suka dan benci kala melihatnya.

Anto dan Japrak akhirnya sampai dirumah tidak lupa iya haturkan terima kasih kepada Juragan Andi yang sudi untuk mengantarkannya sampai kerumah. Zahrah turun dari mobil dan mendekati Anto kemudian mengatakan kepada Anto ingin belajar bareng untuk menghadapi ujian yang sebentar lagi akan dilaksanakan Anto menganggukan kepala dan setuju. Waktu semakin siang Juragan Andi dan Zahrah pamit untuk melanjutkan perjalanan kerumah.


Japrak sangat keletihan begitupun Anto, mereka istirahat sembari berbaring melepas lelah di bilik bambu depan rumah. Mata yang letih sayup-sayup hendak terpejam. Tapi batin mereka ada yang menjanggal seperti ada yang kurang dan tertinggal. Mereka terus mengingat, berpikir, berpikir dan membanding banding, ternyata sepeda mereka masih dibengkel sepontan mereka bangun dan saling pandang, “Lereng (sepeda)..........!!!”
Ulat perut sudah demo, usus mengisap dengan kuat, Anto dan Japrak lapar ibu dan bapak belum pulang dari sawah. Bahan makanan ada tapi mereka tidak bisa masak dan agak sedikit canggung menghidupkan kompor, sebab suatu hari pernah mereka sangat kelaparan ibu dan bapak belum pulang dari pasar. dengan percaya diri Anto menghidupkan kompor tetapi terlalu kebesaran apinya karena panik dicoba untuk mengecilkan api alih-alih kecil ternyata api semakin besar, makanan tidak didapat, dinding rumah separuh terbakar. Mengingat hal itu anto dan Japrak tertawa dan enggan mencobanya lagi.


“mas ngele”
“iyo prak ngele”
“sui tenan ibuk belum juga pulang”
“masak sendiri wae prak, yok”
“emoh, awakmu lali opo mas pas kae ngidupkan kompor malah rumah hampir kebakaran”
“hahahahaha iyo iyo iyo lali awakku”
“yo uwes kita tunggu ibu pulang saja lebih aman dan akurat”
“yo uwes lah”

BAB XIII

1 0

- Sarapan Kata

- KMO batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 13

- Jumlah Kata 412


Anto dan Japrak lebih memilih untuk menunggu ibu daripada menelan resiko. Untuk sementara mereka mengganjal perut dengan air putih, sambil menunggu ibu dan bapak pulang Anto menonton TV, Anto dan Japrak sangat senang melihat berita terutama chanel TV One. Kebetulan berita pertama yang disiarkan tentang beasiswa Timur Tengah, dimana pemerintah Indonesia terutama KEMENAG bekerja sama dengan Negara-negara timur tengah untuk membuka jalur beasiswa bagi anak-anak Indonesia, Negara yang dijadikan sasaran beasiswa oleh pemerintah Indonesia adalah: Arab Saudi, Sudan, Maroko, Libya, Turky, dan Tunisia, maka dari itu jalur beasiswa tersebut akan dibuka setelah UN berakhir. Anto dan Japrak sangat Antusias dan senang mendengar berita tersebut, karena ini merupakan peluang besar bagi Anto untuk menggapai cita-citanya menduduki bangku kuliyah. Tetapi kemudian Anto berpikir sejenak apakah mampu, apakah bisa, apakah tercapai, persaingan pasti ketat dan berat sebab tidak hanya anto saja yang mendaftar tapi seluruh indonesia. Belum lagi nanti biaya awal pasti sangat menguras kantong, di sini Anto ingat pesan bapaknya “tidak ada yang tidak mungkin di dunia isi selagi kita terus berupaya dan berusaha” kata-kata inilah yang membuat Anto penuh semangat bergairah, dan maju terus pantang mundur. 


Lagi asyik mendengar berita ibu dan bapakpun sudah sampai dirumah. Dan kalimat yang pertama sekali ibu dan bapak tanyakan kepada Anto dan Japrak “sudah shalat?” bukan sudah makan atau tidur atau yang lain, tapi sudah shalat atau belum. Ibu dan Bapak Anto sangat ingin memiliki anak-anak yang pintar tetapi juga benar, benar dalam ibadah, sosial, dan lain-lain. Anto dan Japrak menggelengkan kepala kemudian ibu mereka menyuruh shalat dahulu baru setela shalat dimasakan makanan.


Anto dan Japrak menurut perintah ibunya, mereka langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan shalat berjamaah Anto jadi Imam Japrak jadi ma’mum. Usai melaksanakan shalat Anto berdoa kepada yang Maha Kuasa untuk mengabulkan seluruh keinginan dan hajatnya terutama minta diberikan kesehatan, kesejahteraan, dan rizki yang barokah agar supaya bisa mewujudkan cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan memasuki bangku kuliyah.


Di dapur ibu sibuk racik-racik untuk menu makan siang. Siang ini agar tidak terlalu repot ibu hanya memasak sambal tahu dan tumis tauge. Gurihnya aroma tahu yang dipadukan dengan sambal balado perut Anto dan Japrak keroncongan ulat-ulat kembali demo menuntut agar perut ini cepat di isi. Masakan Ibu sudah siap sambal tahu dan tumis tauge siap disantap bersama. Disaat hendak menikmati makanan ada yang menggedor pintu.


“Tok, tok, tok”
“siapa” kata ibu
“saya pak Kades”
“eneng opo yo buk pak Muliyono datang kerumah kita kok tumben” tanya bapak
“ya ndak tau, Japrak bukak sana pintunya”

BAB XIV

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 14

- Jumlah Kata 430


Japrak membuka pintu, sangat jelas terlihat raut muka pak Muliyono merah padam penuh dengan amarah sambil menghentak pintu. pak Muliyono menyuruh seluruh orang yang ada di rumah ini harus keluar. Dengan sikap yang dingin Anto dan keluarganya keluar. pak Muliyono datang tidak sendiri, dibawa dua bodiguard dan Wira. Dengan kata yang lantang dan membabi buta ak Muliyono meminta pertanggungjawaban kepada Anto yang sudah membuat Wira luka. Anto mengakui perbuatannya dan menjelaskan bahwasanya semua ini bermula dari Wira yang tidak senang dengan Anto. Wira membantah hal itu seraya memutar balikan fakta bahwasanya Anto lah yang mulai duluan. keduanya saling membela diri, pak Muliyono makin geram tangan kanannya menampar pipi Anto, tidak tinggal diam sebagai orang tua Paimin melerai permasalahan tersebut dan meminta bukti serta saksi dari masalah Anto dan Wira ini agar cepat diselesaikan. lagi pula ini permasalahan anak-anak jadi sebagai orang tua seharusnya melerai bukan melakukan tidakan seperti ini.


Wira memanggil teman-temannya untuk memberikan kesaksian, dan benar saja semua teman-temannya mengatakan Anto yang mulai duluan dengan menunjukan luka lebam yang diderita begitupun Wira menunjukan giginya yang rontok. Japrak tertawa terbahak-bahak melihat apa yang ditunjukan Wira, juga memberikan persaksian bahwa ini semua bermula dari Wira dan teman-temannya yang menjegat dan mengeroyok tetapi karena tidak sanggup dan lemah Wira dan teman-temannya kalah tanpa perlawanan yang berarti. Mendengar persaksian dari Japra Pak Muliono semakin menggebu-gebu wajah yang tadinya merah kini berubah menjadi kelabu, tengannya kembali dilayangkan kewajah japrak, pak Paimin menangkis dan memegang tangan pak Muliyono.


Perkelahian tidak terelakan, warga yang melihat membantu dan melerai pertikaian itu. Pertiaian belum selesai warga mencoba untuk mendamaikan, Pak Sugiono selaku pemangku adat dikampung sekaligus Imam Masjid mengumpulkan mereka untuk dimintai keterangan. Setelah mendengar keterangan dan kesaksian dari kedua bela pihak pak Sugiono juga sependapat dengan pak Paimin bahwa benar ini merupakan permasalahan anak-anak jadi tidak sepantasnya bagi orang tua melakukan tindakan berutal seperti ini. Niatnya bagus untuk membela tapi tindakannya yang sangat mencoreng. Pak Muliyono tidak terima dengan argumen tersebut dia mengatakan anaknyalah yang benar. Warga yang mendengar hal itu menyoraki pak Muliyono, karena belum tentu Wira benar sebab tidak ada saksi kuat.

Tiba-tiba Zahrah datang, Zahrah ingin memberikan kesaksian atas permasalahan ini. Anto dan Japrak sedikit ada angin segar sedangkan Wira dan gengnya bagaikan terkena bumerang.


“Assalammualaikum”
“Wa’alaikumussalam” semua menjawab
“Wira yang mulai duluan dia tidak senang melihat saya dekat dengan Anto, kemudian ia bertindak tidak jantan menjegat dan mengeroyok saya Anto dan Japrak di jalan ketika pulang sekolah, tetapi karena lemah dan tidak ada perlawanan Wira kalah sampai gigi depannya rontok tiga”
“buhahahaha” semua tertawa
“jadi alangkah malunya permasalahan seperti ini diperbesar” sambung Zahrah.

BAB XV

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 15

- Jumlah Kata 432


Mendengar kesaksian Zahrah Sugiono memutuskan bahwa yang bersalah adalah wira bukan Anto. Semua setuju dengan pendapat tersebut, tapi Muliyono tidak ia masih tetap kekeh anaknyalah yang benar Anto yang salah. Tanpa pamit dan penuh dengan amarah karena sudah dipermalukan Muliyono pulang dan mengatakan kepada Paimin, “Paimin urusan ini belum selesai cam kan itu”.


Paimin dan semua warga yang berkumpul hanya terdiam dan geleng-geleng kepala Sudah jelas Wira yang bersalah tetapi tetap saja berkilah dan bersilat lidah Seharusnya dijadikan dan dipilih masyarakat sebagai pemimpin itu bisa melerai dan menyelesaikan permasalahan, malah sebaliknya bertindak amoral dan membabi buta sama sekali tidak mencerminkan sifat pemimpin yang arif dan bijaksana.


Warga dan pemangku adat Pak Sugiono izin pamit karena permasalahan sudah selesai dipecahkan. Pak Paimin mengizinkan dan berterima kasih telah membatu menyelesaikan permasalahan tersebut. Semuanya pamit dan pulang ke rumah masing-masing. Hanya Zahrah yang belum beranjak, Anto menghampiri Zahrah untuk mengucampkan terima kasi yang sudah membuktikan kepada semua bahwa Anto tidak salah. Zahrah membalas ucapan itu dengan senyumannya yang manis, Anto yang melihat senyumnya menjadi SALTING (salah tingkah). 


Japrak penasaran mengapa tiba-tiba Zahrah muncul di tengah permasalahan tadi. Zahrah mengatakan ini semua berkat Sumarni yang mengabarkan permasalahan ini dan saat itu juga cepat-cepat Zahrah menuju rumah Anto. Japrak mengangguk-anggukan kepala dan mengucapkan terima kasih juga.


Buk Jarmah mengajak Zahrah masuk untuk makan siang bareng, tapi Zahrah meminta maaf tidak bisa menuruti ajakan tersebut di rumah masih banyak kerjaan. Dengan mengucapkan maaf Zahrah pamit pulang. Buk Jarmah tersenyum dan mengizinkan Zahrah pulang. Rasa lapar yang hilang karena permasalahan tersebut perlahan demi perlahan datang menyusup, Pak Paimin mengajak keluarganya masuk untuk mengisi perut yang tertunda. 


Usai mengisi perut Paimin duduk santai di teras rumah sambil mendengar siaran radio sekaligus melepas letih. Anto merasa iba kepada ayahnya dan menawarkan untuk memijat kaki. Saat memijat Anto tersenyum senang dalam hatinya berkata ternyata hidup yang idah itu adalah hidup yang penuh kesederhanaan, makan bareng, nonton TV bareng, becanda bareng, dan tidak ada rasa beban dalam menjalani kehidupan. Yang pasti setiap hal yang dilakukan terasa menjadi indah dan bahagia. Anto sangat bersyukur telah diberikan kepada Allah keluarga yang asyik.


Enaknya pijatan Anto ditambah dengan angin yang semilir membuat Pak Paimin ngantuk berat perlahan mata mulai sayu dan terpejam. Anto tidak menyadari ayahnya sudah terlelap kemudian anto bicara.

“pak enak yo hidup kita, selalu senang dan bahagiya walaupun penuh kesederhanaan”
“oh iyo pak kalau bapak abis sholat doa bapak mintak apa, ya kalau Anto pingin jadi orang kaya, punya rumah mewah, mobil mewah, dan bisa kuliyah”
“jawab na opo pak-pak meneng wae”
“khoooooorrrk, khooooooorrk, khooooooorrk”
“owalah-walah diajakin bicara kok malah turu piye yo”.

BAB XVI

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 16

- Jumlah Kata 408


Anto selalu memanfaatkan waktu kosong dengan kegiatan-kegiatan yang berfaidah. Siang hari ini waktu cukup kosong biasanya Anto menghabiskan waktunya di pinggir kali tapi bukan untuk memancing, menjaring, jala ikan, dan berenang dengan teman-temannya melainkan membaca buku. Menurtnya membaca dipinggir kali pikiran lebih tenang, suasananya enak, dan cepat paham dari apa yang dibaca.


Terkadang orang-orang ketika melihat anto suka usil dan mengatakan kata-kata yang menyayat hati seperti kata-kata:


“orang susah cari muka”
“sarjana dalam mimpi”
“sok pintar, sok iya, sok tinggi”
“mana mungkin tercapai orang susah masuk bangku kuliyah, ya setidak-tidaknya kesawah”
“siang itu istirahat, ini kok baca buku dasar orang longor”.


Tapi itu semua tidak membuat ciut mental, Anto menanggapinya dengan senyuman manis dan dijadikannya sebagai kata-kata motivasi untuk membuktikan kepada orang-orang yang berkata demikian, bahwa yang dikerjakannya ini merupakan tangga menuju kesuksesan. Mayoritas masyarakat Desa Karang Rejeng sebagian besar berpikir pendidikan itu tidak penting dan tidak bermanfaat sama sekali hanya membuang-buang uang hasilnya tidak memuaskan. Lebih baik kerja sudah jelas dapat duit bisa makan dan lebih menjamin kesuksesan dimasa depan. ini terbukti dari data pendidikan hampir 70 persen anak-anak warga Desa Karang Rejek putus sekolah bukan karena faktor biaya melainkan faktor orang tua yang kurang mendukung anak-anaknya melanjutkan pendidikan. Al hasil banyak anak-anak sebaya Anto sudah bekerja membanting tulang oleh karena keegoisan orang tua.


Tetapi Paimin tidak demikian ia menganggap pendidikan itu penting dan bekerja juga penting artinya netral, waktunya sekolah belajar waktunya kerja laksanakan. yang paling utama di mata Paimin adalah pendidikan karena dengan pendidikan ilmu akan digapai kalau sudah ilmu digapai orang pun akan segan dan menghormati.


Oleh karenanya Paimin terus berusaha dan berusaha agar anak-anaknya kelak menjadi orang yang bermanfaat bagi Bangsa, Negara, terlebih-lebih bagi Agama yang menjadi tembok terpenting dalam kehidupan manusia, sebab dengan ilmu hidup menjadi mudah dan dengan Agama hidup manusia akan lebih terarah adanya.


Mega merah perlahan terbias daru ufuk barat, burung-burung bagau dan hewan-hewan yang lain kembali kesarang usai mencari nafkah. Para petani beranjak dari sawah berduyun-duyun pulang kerumah masing-masing. Anak-anak desa yang mandi disungai satu demi satu menepi memakai pakaiannya kembali dan pulang bersama-sama sambil bermain harmonika.


Anto masih terus membaca, satu kebiasaan yang sering Anto lakukan suka lupa waktu ketika lagi asyik membaca.

“Japrak!”
“apa buk”
“iki loh mas mu kok belum balik-balik nandi yo”
“oooo si mas yo bioso paling dipinggir kali boco buku”
“owalah walah mas mu iku yo suka lupa waktu kalau sudah asyik membaca, dah sana jemput mas mu suruh pulang”
“iyo buk”.

BAB XVII

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 17

- Jumlah Kata 470


Japrak pergi untuk mencari kakaknya disungai, tapi hatinya masih was-was kalau-kalau Wira menjegatnya dan melakukan kekerasan apalagi jalan menuju sungai melewati rumahnya kalau jalan memutar sangat jauh bisa-bisa isya sampai rumah makin was-was lah perasaan japrak. Benar saja ketika melewati rumah Wira, Muliyono dan semuanya terus memperhatikan Japrak dengan tatapan yang tajam bagaikan singa yang ingin menerkam mangsanya.


Japrak tetap tenang bahkan dengan santainya ia menyapa Pak Muliono, mata Pak Muliyono semakin melotot dan berurat Japrak yang melihat dengan sekejap menjadi merinding cepat-cepat memalingkan wajah kedepan dan melanjutkan perjalanan. Sampai disungai Japrak mendapati kakaknya lagi asyik berbaring di sawung sambil membaca buku.


Jahilnya muncul, Japrak memperlambat langkahnya dengan niat ingin membuat Anto terkejut, sepontan Japrak menepak dinding sawung.


“duarrrrrr”
“ eee setan, setan,setan”
“hahahahaha lambemu setan”
“wooooo weddos ngapain kemari ganggu orang lagi asyik saja”
“eeeeee piye yo, wes jam piro iki mas, disuruh pulang sama ibu sudah sore”
“iyo lali awakku, maaf yo prak, yok pulang prak”
“kebiasaan yo wes ndang bali yok”
“siap jenderal hehehehe”.


Mereka berdua pun pulang di perjalanan Japrak menceritakan ketia dia melewati rumah Wira sekaligus memperagakan pelototan mata Pak Muliyono Anto yang mendengar cerita itu buka takut malah tertawa terbahak-bahak dan berpesan kepada Japrak bawa santai dan jangan takut kalau orang bersikap seperti itu maka balaslah dengan sikap yang sebaliknya pesan Anto.


Waktu makin sore Anto dan Japrak mempercepat langkahnya, sampai dirumah Anto langsung mandi selesai mandi dan berpakaian duduk santai Anto di teras rumahnya dan melanjutkan baca buku, Jarmah memperhatikan dan menghampiri kemudian mengelus kepa Anto dan berpesan jadilah anak yang shaleh yang bisa membanggakan kedua orang tua, jangan pernah sekali-kali malu dan minder karena terlahir dari keluarga yang serba pas-pasan, teruslah belajar dan berjuang untuk menggapai cita-cita yang diinginkan, dan jangan pernah menanggapi cemoohan orang yang suka merendahkan bahkan menjatuhkan.


Mendengar pesan ibunya itu Anto menjadi tersihir, termotivasi, dan percaya diri dalam menjalani kehidupan, dalam hati dan keinginannya akan membuktikan kepada siapapun bahwa dia bisa untuk menggapai cita-cita dan keinginannya yang selama ini didambakan dan sebentar lagi dengan usaha yang maksimal pasti akan tewujud.

Suara lantunan ayat suci Al-Quran menggema ke seluruh penjuru desa sangat merdu dan indah suaranya. Beramai-ramai para lelaki baik muda maupun tua berjalan kaki menuju Masjid dengan kain sarung dikalungkan di leher. Seorang pemuda memanggil Anto untuk mengajaknya sembahyang dimasjid pemuda tersebut bernama Haris teman akrab Anto sejak kecil tapi tidak satu sekolah.


Haris sekolah di Pondok Pesantren Modern Al-Munawir Yogyakarta, karena ada acara keluarga hari ini Haris izin untuk pulang. Keluarga Haris sangat akrab dengan keluarga Anto bahkan dianggap seperti saudara. Dulunya Anto sangat ingin menuntut Ilmu di Pondok Pesantren tersebut namun apa daya biaya masuk Pondok Pesantren tersebut sangat mahal apalagi keluarga anto termasuk keluarga yang memiliki kualitas ekonomi menengah kebawah jadi sangat memberatkan. Anto harus menelan pil pahit pada saat itu gagal masuk Pondok Pesantren.

BAB XVIII

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 18

- Jumlah Kata 425


Anto meminta Haris untuk menunggu sebentar, selesai salin pakaian keduanya berangkat menuju masjid. Di sela-sela perjalanan menuju masjid Haris bercerita pengalamannya selama belajar di Pondok Pesantren, mendengar cerita Haris ingin rasanya Anto pindah ke Pondok Pesantren tapi itu tidak mungkin sebentar lagi sudah Mau UAS dan UN.


10 menit lagi adzan berkumandang Anto dan Haris memanfaatkan waktu itu dengan solawatan, suara Haris lumayan enak bahkan pernah Haris menjadi juara lomba solawat pada saat duduk dibangku MTsN. 10 menit sudah berlalu muadzin bersiap-siap untuk mengumandangkan adzan magrib begitu sangat indah dan merdu suara adzan yang dikumandangkan sampai menembus sanubari dan qalbu. 


Suasana desa menjadi hening dan sejuk, seluruh jama;ah yang mendengar menjawab adzan itu beramai-ramai. Bahkan ada yang terpejam kala mendengarnya. Adzan sudah dikumandangkan Muadzin berseru untuk bersolawat bersama-sama suara jama’ah menggemah dimana-mana membuat merinding sekujur tubuh.


Kemudian setelah itu melakukan shalat berjama’ah, memang sudah pilihan antara Muadzin dan Imam memiliki suara yang merdu. Tak kala Imam membaca surah Arrahman sungguh sangat sejuk dihati seperti shalat diMasjid Al-Haram Mekkah pikiran-pikiran yang membuat rancuh menjadi hilang dan shalat menjadi khusuk.


Usai melaksanakan berjama’ah di masjid Anto dan Haris mendengar pengajian rutinitas setiap malam minggu. Kali ini Pak Imam mengundang ustadz Syamsudin untuk mengisi pengajian dengan tema pengajian “gapailah cita-cita dengan ridha Allah Sw” banyak sekali pesan moral yang dapat diambil dalam pengajian yang berdurasi satu jam itu. 


Tidak terasa waktu isya sudah masuk, pengajianpun ditutup dan melaksanakan shalat isya berjama’ah. Setelah selesai melaksanakan shalat isya Anto dan Haris beranjak dari Masjid, ketika langkah kaki masih sampai diteras depan, Ustadz syamsuddin memanggil mereka untuk jangan pulang dulu karena ada satu hal yang ingin disampaikan.


“hei anak muda, cepat sekali pulang kesini sebentar”
Anto dan Haris balik badan dan menghampiri Ustadz Syamsuddin
“ada apa ustadz”
“duduk dulu duduk, jadi begini kalian kelas berapa sekolahnya”?
“kami berdua duduk dikelas tiga ustadz” jawab Anto
“satu sekolah kalian?”
“tidak Ustad”
“kebetulan sekali jadi begini karena kalian sekarang kelas tiga saya ingin menawarkan beasiswa strata satu ke Maroko, kalau kalian berkenan setelah lulus nanti datang kerumah saya tidak jauh kok kelang tujuh rumah dari ruma Pak Kades”.


Anto tersenyum bahagia dan bersyukur kepada Allah yang telah dijumpakan dengan Ustad Syamsuddin sepertinya inilah jalan untuk menggapai cita-cita yang mulia.

“baik Ustadz terima kasih atas informasi yang berharga ini, untuk itu kami izin pamit pak Ustad”
“oh iya silahkan-silahkan saya juga mau balik ini, tapi jangan lupa ya setelah lulus kalau ingin datangi saya biar saya yang urus segala administrasinya, sayang ini kesempatan belum tentu tahun depan ada lagi”
“baik Ustadz, Assalammua’laikum”
“wa’alaikumussalam fi amanillah”.

BAB XIX

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 19

- Jumlah Kata 426


Di jalan Anto dan Haris sudah menghayal-hayal pergi ke Marokko yang begini lah yang begitulah mau berbuat inilah mau berbuat itulah pokoknya serba menghayal. Benar juga orang kata pekerjaan yang paling mudah dan enak tanpa keluar biaya dan keringat adalah menghayal, mau ke Mekkah ngayal, mau jadi orang kaya ngayal dan lain-lain.


Hanyut  dengan nikmatnya  menghayal pergi ke Marokko Anto sampai keterusan melewati rumahnya. Haris yang sudah sadar dari khayalannya memukul bahu Anto dan tersadar kemudian bingung mencari rumahnya Haris yang melihat tingkahnya menjadi geli Dan tertawa tiada henti. Anto menepak mukanya dan istigfar bahwa dia sudah lupa rumah sebab keenakan menghayal.


Haris pamit untuk melanjutkan jalan dan Anto putar balik. di rumah bapak, ibu dan Japrak menyuir-nyuir tali plastik nantinya tali plastik yang sudah disuir-suir akan digunakan untuk mengikat padi padi yang tumbang. Sebenarnya pagi tadi sudah diikat namun talinya kehabisan jadi baru sebagian yang terikat.


Sesampainya Anto dirumah, masuk mengucapkan salam ganti pakaian dan membantu ayahnya menyuir-nyuir tali plastik Paimin dan Jarmah terheran-heran melihat gelagak yang aneh dari Anto senyum senyum sendiri tanpa sebab, begitupun Japrak melihat tikang kakak nya ini juga heran. Dalam hati Paimin “Anto pasti kesurupan ini” mata Paimin melirik Jarmah dengan kode untuk mengambilkan segelas air.


Jarmah kedapur untuk mengambil air dan diserahkan kepada Paimin dengan komat-kamit dibacalah mantra kemudian air satu gelas tadi disemburkan ke arah Anto pas sekali mengenai seluruh wajahnya, Japrak dan ibunya saling pandang kemudian tersenyum dan Tos karena sudah menyadarkan Anto dari kesurupan Paimin pun demikian, puas mantranya berhasil.
Air putih yang bercampur liur dan ada sedikit tambahan bumbu cabai melapisi wajah Anto yang membuat senyum menjadi diam,kaku, lemas, dan terpejam. Perlahan dibuka matanya dan memandang ayah, ibu, dan adiknya. 


“opo le wes sadar kan”
“opone sadar mambu iyo”
“lah mau senyum-senyum dewe kenapa, kesurupan kan” kata ibu
“kesurupan-kesurupan! Aku mau lagi seneng loh buk” sambil mengelap wajahnya
“hilli seneng, seneng kena apa? Endogmu jadi telu ngono” potong bapak
“bukan itu loh pak Mas Anto iki seneng karena suddah menyatakan cintanya dengan Mbak Zahrah”
“wallah iyo to?” tanya ibu
“oooo cah gemblong ke, ngene loh buk pak Anto iki seneng sebab tadi di Masjid ketemu sama Ustazd Syamsuddin, Abis itu Anto dan Haris ditawari untuk ikut beasiswa ke Marokko gono buk gono pak”
“ooooo ngono tapi sek sek sek Marokko iku nandi?” tanya bapak
“iki pak iki Marokko” kata Japrak dengan menunjukan bungkus nutrisari jeruk Marokko
“ooooo golek ribot ke”

“Marokko iku pak letaknya di Aprika, jadi ini peluang untuk Anto yo syukur-syukur lewat”
“haaaaaaaa gini baru paten maju terus To bapak dan ibuk dukung”.

BAB XX

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer 

- Day 20

- Jumlah Kata 437


Anto makin semangat dan sudah tidak sabar lagi untuk mengikuti UN agar supaya cepat lulus dan daftar beasiswa ke Marokko. Ambisinya untuk menduduki bangku kuliah bukan karena kerjaan, pangkat, apalagi pamer, tetapi untuk membungkam mulut-mulut orang kampung yang meremehkan keluarganya karena keadaan.


Menyuir-nyuir tali plastik sudah kelar, lalu Anto sekeluarga menuju meja makan untuk menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Begitu riang dan ceria dimeja makan malam ini menunya sambal ikan gembung dan tumis kol masih hangat dan lezat. Anto dan Japrak heran melihat ayahnya bukannya daging ikan yang diambil untuk lauk makan malah senbaliknya kepala ikan yang untuk lauk makan.


Ternyata itu ada kisahnya di mana dulu kakek Anto Misjoyo selalu memberikan kepala ikan yang sudah digoreng kepada ayahnya supaya pintar dan cerdas. Anto dan Japrak mendengar cerita itu bagaikan mendengar cerita sebelum tidur tidak terlalu dipedulikan mereka lanjut untuk menikmati hidangan makan malam yang sangat menggugah selera.


Perut sudah terisi untuk mencerna makanan yang sudah masuk Anto sekeluarga duduk santai di depan TV dengan berlapiskan tikar purun. Paimin memanggil Japrak untuk memijat kaki, pijatan Japrak membuat mata pak paimin sayu hendak terpejam. semilir angin malam kembali datang, pintu yang tidak terkunci terhempas oleh angin paimin yang sudah terpejam pulas terkejut.
Anto beranjak dari duduknya dan keluar, angin terus berhembus bintang-bintang yang bersinar dengan sekejap redup terhalang awan putih. Sekelebatan kilat berkali-kali melintas diarah utara para katak juga ambil bagian. kelihatannya malam ini hujan akan turun lagi Anto memohon agar malam ini tidak hujan karena hujan yang kemarin saja sudah membuat masyarakat resah.


Hembusan angin semakin-lama semakin kencang dan kencang, Jarmah memanggil-manggil Anto untuk segera masuk kedalam. Anto kembali masuk dan mengunci pintu agar tidak terhempas angin, kebetulan besok hari minggu Pak Paimin meminta sedikit tenaga Anto dan Japrak untuk ke sawah membantu mengikat padi yang tumbang terhrmpas angin.


Anto dan Japrak dengan senang hati membantu. Malam sudah larut, angin masih saja bertiup tapi sudah sedikit redah tidak seperti sebelumnya. surara-suara katak perlahan hilang dan cahanya bintang sudah samar-samar terlihat. Sepertinya permohonan Anto dikabulkan, Allah telah memindahkan tanda-tanda hujan ketempat lain yang lebih membutuhkan.


Hati yang menggerutu berbalik tenang, nyaman, dan tenteram. Capek pikiran, capek badan diistirahatkan pada kasur kapuk dan sepotong bantal, doa tidak lupa diucapkan agar supaya jiwa juga menjadi tenang sehingga antara jasmani dan rohani memiliki asupan yang seimbang untuk menyambut hari esok yang cerah dan ceria.

Tarahim subuh bekumandang merdu nan indah, kokokan ayam bersahut-sahutan disetiap penjuru. Kokokan ayam diwaktu shubuh adalah sebuah dzikir yang membangunkan jiwa-jiwa manusia untuk segera mengingat kepada Sang Maha Pencipta yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan yang tiada tara sehingga dapat kembali melihat matahari terbit dari arah timur.




BAB XXI

1 0

- Sarapan Kata 

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 21

- Jumlah Kata 420


“Assalammualaikum” seseorang mengucap salam
“Wa’alaikumussalam, sebentar” Jarmah menjawab salam. Didepan Haris sudah menunggu untuk shalat Shubuh berjama;ah di masjid.


“ehhh Haris toh, mau ajak Anto ya?”
“iyo bik”
“sek yo tak bangunkan dulu Antonya”
“iyo bik”
“To Anto eh tangi tangi!!”
“opo sih buk sek ngantok iki dilut eneh”
“dilut eneh-dilut eneh iku Haris wes nunggu ket mau”
“walah iyo-iyo, ris sek yo awakku jikok wudhu sek”
“iyo ra popo”
“mas aku melu lah” kata Japrak
“yo wes ndang”.


Tarahim subhuh yang merdu masih terus berkumandang mengiringi Anto, Haris dan Japrak pergi ke masjid. Waktu shubuh merupakan momok bagi siapa saja khususnya umat Islam, terkadang tahan begadang sampai berjam-jam bahkan sampai pagi giliran untuk ibadah shalat shubuh merasa berat bahkan sebagain orang enggan bangun dan dengan sengaja meninggalkan shalat shubuh. 


Seperti shubuh hari ini hanya terisi setengah saf sangat berbeda jauh dengan pelaksanaan shalat magrib hampir menembus lima saf, ini sudah menjadi lumrah dan terjadi dimana-mana tidak hanya di desa karang rejek tapi seluruh wilayah di Indonesia mengalami keadaan yang sama. Sebagai sesama umat Islam hanya diwajibkan untuk mengingatkan bukan memaksa.


Kali ini yang menjadi Imam Ustadz Syamsuddin, lantunan surah Al-Fatiha dengan nada Muhammad Toha sangat menenangkan jiwa, dan lantunan surah Ad-Duhah mengingatkan kepada manusia untuk bangun, mengingat kepada Allah Sang Maha Pencipta, dan ingat akan sisksanya dihari kemudian kelak, Cukup membuat jiwa bergetar.


Shalat Shubuh berjama’ah sudah dilaksanakan, nazir masjid berdiri dan berseru kepada seluruh jama’ah agar jangan beranjak dulu karena ada kajian shubuh yang akan dibawakan oleh Ustadz Syamsuddin. Setengah jam sudah berlalu kajian shubuh ditutup dengan doa Kafaratu Al-Majlis. 

Karena sudah tidak ada lagi kegiatan Anto, Haris, dan Japrak beranjak keluar masjid
Sebenarnya ada yang ingin Anto bicarakan dengan Ustadz Syamsuddin pasal beasiswa timur tengah yang masih membuat penasaran. Tanpa panjang lembar langsung Anto temui Ustadz Syamsuddin yang lagi berbicara dengan Imam masjid. Dengan kata-kata yang sopan dan santun Anto minta izin untuk menanyakan prihal tersebut kepada Ustadz Syamsuddin.

“Assalammua’laikum maaf pak Imam, maaf Ustadz”
“Anto ya?” tanya Ustadz Syamsuddin
“iya Pak Ustadz”
“emmmm ada apa Anto apakah ada yang bisa saya bantu”
“begini Pak Ustad tentang beasiswa Timur Tengah itu sepertinya saya berminat”
“alhamdulillah, begitu donk semangat”
“Pak Ustadz saya duluan ya, mau ke kota untuk mengurus SIM” potong Pak Imam
“oooo iya pak silahkan, hati-hati Pak Imam”
Anto melanjutkan pembicaraan.
“jadi untuk gambaran sleksinya bagaimana Pak saya kan belum pernah ikut” sambung Anto
“syaratnya gampang bisa baca Al-Qur’an, paham makhraj dan tajwidnya, serta ada sedikit tes kemampuan bahasa”

BAB XXII

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 22

- Jumlah Kata 411


“iya, tapi jangan terlalu dipikirkan fokus saja dulu dengan UAS dan UN usahakan dapat nilai bagus karena yang saya dengar pada priode ini siapa saja calon mahasiswa yang memiliki nilai bagus test tidak terlalu dipersulit dan dijamin lulus. Tapi apapun itu kunci utama adalah semangat, yakin, dan usaha maksimal”
“baik Pak Ustadz terima kasih atas jawaban, dan motivasinya. Kalau begitu saya pamit dulu Ustad Assalamua’aikum”
“wa’alaikumussalam”.


Motivasi yang diberikan Ustadz Syamsuddin menjadikan Anto yakin dan semangat untuk mewujudkan mimpinya, kunci untuk berhasil itu ternyata gampang cukup semangat, yakin, dan kerja keras. Sebab hasil merupakan buah dari kerja keras, kalau kerjanya bagus maka buahnya juga bagus sebaliknya kalau kerjanya setengah-setengah kurang yakin dan semangat rendah maka buah yang dihasilkan juga kualitas rendah.


Di teras masjid Haris dan Japrak sudah lama menunggu Anto sampai ketiduran, melihat itu anto tersenyum geli melihat kiri dan kanan kemudian melihat sepotong seng yang sudah tidak dipakai, diambilnya seng itu dengan mengendap-endap Anto menghampiri Haris dan Japrak yang sedang tertidur pulas.
Di pukul pukul seng bekas itu dengan batu, Anro berteriak “gempa-gempa!!” terkejut bukan main Haris dan Japrak.


“mas Haris tangi mas tangi gempa mas gempa”
“opo gempa, melayu prak melayu”
“To awakmu jangan disitu eneng gempa”
“emmmmm ngawor gempa dari mana, aku tadi liat kalian tidur di sini, dibaguni sama Pak Imam ndak bangun-bangun jadi tak teriakin gempa lah bagun, hahahahahaha”
“oooooo semprol kue mas”
“emmmm jalok gadoh iki boca, tak jitak endasmu nanti
“halahh wes-wes endang bali wes awan iki”
“awakmu marah res, hihihihi”
“hadeuh embolah ayo To ndang bali”
“ok ayo”


Mata hari pagi di hari minggu ini nampak cerah dan ceria, senyuman penuh gairah dan semangat terpancar dari wajah keluarga kecil Anto mereka selalu riang dan bahagia penuh suka dan canda walaupun hidup dalam kesederhanaan. Paimin dan keluarga kecilnya hari ini akan turun sawah, sebenarnya Japrak tidak mau ikut tapi atas nama membantu orang tua mau tak mau harus membantu walau dirinya sangat malas untuk gerak.


Biasanya dihari libur seperti Japrak menghabiskan waktu untuk main sepak bola, menonton tv, dan bermalas-malasan seharian penuh. Tapi untuk hari ini Japrak harus membantu orang tuanya karena apapun itu orang tua adalah segalanya. Karena orang tua kita ada, karena orang tua kita jaya, dan karena orang tua setiap hal yang kita lakukan tanpa ridha nya maka Allah murka.

Sarapan sudah, ganti pakaian untuk kerja sudah, bekal makan siang juga sudah disiapkan, pintu rumah sudah dikunci rapat, saatnya keluarga sederhana ini menuju sawah bersama dengan warga-warga yang lain juga.


BAB XXIII

1 0

- Sarapan Kata 

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 23

- Jumlah Kata 408


Saat perjalanan pergi ke sawah terlihat Muliyono menyapa warganya dengan senyuman manis dan melambai-lambaikan tangan dari dalam mobilnya. Muliyono terus menyapa warganya, giliran disapa oleh Paimin langsung kaca mobil ditutup rapat-rapat sepertinya Muliyono masih tidak terima dengan permasalahan antara Anto dengan Wira yang membuat Muliyono malu.


Melihat sikap Muliyono yang demikian Paimin menyikapinya dengan pikiran positif dan melanjutkan perjalanan menuju sawah. Sesampainya di sawah Anto disuguhkan oleh pemandangan yang kurang enak dilihat tetapi harus dilihat. Dari ujung barat sampai timur tanaman padi semua tertidur bukan hanya punya Anto tetapi seluruh warga juga mengalami hal yang sama. Yang paling menyedihkan tanaman padi kepunyaan Pak Sunari bukan hanya tertidur pulas namun sebagiannya rata dimakan Sapi.


Tanpa pikir panjang Anto bergegas untuk membangunkan tanaman padinya, dengan sentuhan yang lembut perlahan demi perlahan di dirikan dan di ikat seutas tali agar tidak rebah lagi. Walau sinar matahari sungguh sangat membakar badan, keringat bercucuran deras, nafas ngos-ngosan semua itu tidak dipedulikan yang terpenting hari ini urusan sawah selesai.


“Anto woyyyy!” seorang wanita menyapa Anto dari jalan, tidak terlalu jelas wanita itu siapa.
“prak coba kono deketin sopo iku”
“awak eneh !” dengan nada tinggi sambil cemberut
“uwes kono Prak siapa tau penting” kata Jarmah
“hadeuuu iyo iyo, siapa ya ketoe mbak Zahrah Mas, iyo mas mbak Zahrah itu”
“Zahrah arep opo rene” tanya Anto
“lah kok takon yo arep manok manoan kambek awakmu mas hihihihi”
“oooo bocah semprol cak takon arep opo rene”
“ada apa mbak kemari !”
“ haa apa? gak jelas sebentar ya aku kesana”
“opo prak omonge”
“omonge arep rene, emmm hati-hati mas lambene abang iku disosor engko awakmu hahahaha”

“hus cah gemblong, nyosor-nyosor ndang iki diiketin padine” potong Paimin.
“Anto dicariin dirumah mau belajar bareng gak ada ternyata disini”
“iya bantuin ibu sama bapak ini maaf ya”
“iya gak papa”
Celana panjang yang digunakan Zahrah digulung sampai setinggi lutut, ia merasakan gimana rasanya menjadi petani padi.
“eeeeeee mbak mbak mau ngapai itu celana digulung” Japrak sepontan
“ya mau turun lah bantuin”
“haaaa...” semua terkejut
“serius mau turun” tanya Anto
“ya serius lah”
“jangan nanti kotor” kata Jarmah
“gak apa-apa buk saya udah biasa gini dirumah juga sering bantu ayah di kebun sayur”.


Mendapatkan satu amunisi baru Anto merasa sangat terbantu, ternyata Zahrah lebih cekatan dari Anto seperti petani yang sudah berpengalaman. kaki Zahrah yang putih mulus tidak henti-hentinya dipandang Anto, sampai-sampai lupa alih-alih mengikat padi ternyata rumput ilalang yang terikat. Paimin menepak punggung Anto sambil berbisik “nyebut !”.



BAB XXIV

1 0

- Sarapan Kata 

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 24

- Jumlah Kata 405


“astagfirullah” kemudian melanjutkan pekerjaannya. Waktu terus berputar tepat ketika posisi matahari diatas kepala seluruh tanaman padi yang rebah berhasil dibangkitkan, kaki berlumpur wajah dan tubuh berkeringat di istirahatkan pada sebuah gubuk sederhanan berlantaikan pinang bertiang pohon waru dan beratapkan daun nipah.


Capeknya badan dibarengi dengan tiupan angi yang semilir membuat lapar, kebetulan sudah masuk jam makan siang, Jarmah membuka bekal yang sudah di siapkan. sambal hijau cepokak berpadu dengan teri goreng merupakan suatu perpaduan yang sangat eksotis. Di suguhkan dengan hijaunya panorama alam dan hamparan sawah menjadikan makan siang ini makin nikmat.


Dari rumah Muliyono, Zalihah mengomeli Wira yang sampai siang ini kerjanya hanya tidur seperti orang habis kerja berat. Padahal kerjanya hanya main, ngegame, luntang-lantung tidak ada tujuan. Pendek kata MANGESTU (mangan ngeseng turu). Wira bersikap masa bodoh dan acuh biarpun disiram air berkali-kali tetap saja tidak berjanjak dari ranjangnya.


Kesabaran Zalihah habis bukan hanya air yang digururkan ketubuh Wira rotan pun mendarat ketubuhnya. Wira sangat kesakitan bukan meminta maaf kepada ibunya malah balik marah kepada ibunya dengan nada yang kasar dan tinggi. sebagai seorang anak yang sudah dilahirkan, diasuh, dan dibesarkan sudah sepantasnya bersikap lemah lembut kepada orang tua walau hati ini panas. Sulit memang ketikan bersikap ramah tapi hati terasa panas dan dongkol namun apapun itu sebagai seorang anak tidak sepantasnya berlaku kasar terhadap orang tua sekalipun tingkahnya menjengkelkan.


Mendengar perseteruan antara istri dan anaknya bukan menengahi dan mengklarifikasi masalah tetapi sebaliknya bersikap masa bodoh dan tidak mau tau seperti tidak ada kejadian. Sebagai kepala rumah tangga seharusnya bersikap tegas dan adil, bagaimanapu Muliyono adalah pemimpin kampung yang harus memberikan cerminan kepada masyarakatnya suatu hal yang mengandung kebaikan salah satunya urusan dalam rumah tangga.


Bagaimana bisa masyarakat menjadi bijak jika pemimpinnya bersikap masa bodo, acuh tak acuh dan tidak mau tahu, masyarakat akan bijak jika pemimpinnya tegas, peduli, dan dapat memecahkan masalah baik masalah itu besar maupun kecil. Bosan mendengar omelan dn ocehan ibunya, Wira begitu sangat dongkol dan melampiaskan punck kemarahannya dengan menghantam pintu lemari sehingga pecah dan rusak. Zalihah hanya bisa mengelus dada melihat tingkah anaknya itu hantinya menangis dan sakit karena telah gagal dalam menanamkan nilai nilai akhlak dan mendidik anak sendiri.


Tanpa merasa bersalah dan berwajah masam Wira pergi keluar rumah, Muliyono menegurnya.
“mau ke mana kamu !”
“metu ! bosen dirumah diomeli terus”
“weddos ! dasar anak gak tau diuntung wong tuo dibentak-bentak”
“ya bapak sendiri membentak anaknya berarti podo mawon wong tuo gak tau diuntung !”

BAB XXV

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 25

- Jumlah Kata 418


Mendengar gertakan kata dari Wira, Muliyono terdiam wajahnya merah padam ingin sekali ia menampar mulut anaknya itu. Belum sempat melampiaskan kemarahannya Wira keburu pergi, Biasanya kalau lagi suntuk dan dongkol Wira menghabiskan waktunya nongkrong di pos ronda bersama gengnya, main kartu, tidur-tiduran, malas-malasan, menggibah orang, bahkan merokok, singkat kata kegiatan yang tidak bermanfaat. Padahal sudah banyak orang mengingatkan dan menasehati untuk jangan merokok terutama ibunya demikian juga guru-gurunya disekolah.


Bukan Wira namanya kalau tidak melawan, nasihat pun tidak di indahkannya. ia merasa sebagai seorang anak kepala desa tidak ada yang bisa dan boleh melarang-larangnya dalam melakukan suatu hal, sekalipun itu merugikan dirinya. 


Siang makin terik membakar, burung elang melayang tinggi ke angksa menandakan sudah memasuki waktu zuhur, padi-padi yang rebah di sawah kini sudah tegak berdiri seluruhnya. Anto dan keluarga kecilnya beranjak meninggalkan sawah, Zahrah ikut ke Rumah Anto karena sudah janji untuk belajar bersama dengan Anto untuk persiapan UAS dan UN yang sudah sangat dekat waktunya.


“Anto aku ikut ke rumah kamu”
“mau ngapain??” tanya Anto
“kan kamu tadi yang janji mau belajar bareng hari ini masa kamu lupa”
“oh iya maaf lupa hehehe”
“loh ndok nanti bapak kamu kecarian sudah izin atau belum” kata Paimin
“bapak tenang saja Zahrah sudah izin kok dengan ayah”
“ya sudah ayo kita pulang sudah makin siang ini belum shalat lagi, itu orang-orang juga sudah pulang ayo ayo” kata Jarmah


Letih dan capek sudah pasti, kotor pakaian dan badan itu sudah lumrah tapi inilah kehidupan yang harus dijalani Anto dan keluarganya, harus banyak bersabar dan berusaha sebisa mungkin demi menyongsong kehidupan yang lebih baik. Jarak sawah dengan rumah Anto lumayan jauh, sandal jepit suwalow yang dikenakan perlahan menipis oleh panasnya aspal, rasa panas aspal tidk hanya membut sandal menjdi tipis tetapi sampai menembus tulang juga. 


Kalau sudah begini Anto dan Japrak teringat oleh sepeda ya walaupun sepeda butut dan usang, itu sudah sangat membantu ketika cuaca seperti ini. Petani yang lain juga demikian hanya sebagian saja yang punya kendaraan selebihnya sama seperti Anto jalan kaki bahkan ada yang tidak mengenakan alas kaki tidak bisa dibayangkan bagaimana panasnya telapak kaki.


Guyubnya orang pulang dari sawah ditambah dengan kata-kata yang membawa canda tawa, letih, capek dan panas tidak terasa apa lagi kalau pulang bareng dengan mas Budi orang yang penuh dengan canda tawa dan ceria bahkan sekalipun serius tetap saja dianggap becanda.


“To Anto” kata Budi
“opo sih mas wes panas iki ndang arep opo”
“begini tak kasih pertanyaan kalau bisa jawab ku gendong tekan omah”
“betol ??” tanya anto
“ya betol lah”

XXVI

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 26

- Jumlah Kata 409


“ok, semuanya dengerin iki mas Budi mau kasih pertanyaan kalau bisa jawab digendong sampek tekan omah mau”
“mauuuuuu” serentak menjawab
pertanyaan dimulai
“pertanyaannya adalah, tidak dikatakan ada dan dikatakan sudah tidak ada? Ayo monggo dijawab tak gendong loh tekan omah”
“agak susah iki jawabanne” kata paimin
“ayo ndang dijawab tak gendong loh tekan omah”
“awakku tau Bud jawabane” Paino mencoba untuk menjawab
“opo mas jawabane ayo”
“jawabane ronggeng lek goyang eneng sawerane lek ora yo ora intok saweran opomeneh penari ronggenge ayu ayu adduhhh hihihihi”
“hu..... dasar paino gendeng pertanyaan opo jawaban opo dasar mata keranjang” paino disoraki
“jawabanmu ngawor mang ayo seng lain”.


Semua berpikir dan terus berpikir untuk menjawab pertanyaan dari Budi, sebenarnya Zahrah sudah tau jawabannya tapi ia tidak mau menjawab Zahrah tidak mau digendong maka jawaban itu di bisikan oleh orang sebelahnya yang bernama Parmin, perawakannya besar suka makan dan berat badannya hampir mencapai 95 kg orang-orang sering memanggilnya PARSOR (Parmin Bongsor).


“saya tau jawabannya” kata parmin
Dalam hati Budi berkata “wadduh lek bener jawabane musibah-musibah iso pingsan awaku iki”
“ya sudah ayo dijawab”
“sesuatu apabila tidak dikatakan ada dan apabila dikatakan sudah tidak ada, adalah rahasia. Bener kan jawaban awakku mas”


Budi pucat ketika mendengar jawaban dari parmin memang benar jawabannya adalah rahasia, maka sesuai dengan perjanjian dan kesepakatan yang dapat menjawab dengan benar akan digendong Budi sampai kerumah.


“iyo juga rahasia jawabane, pinter awakmu yo men” kata Jarmah
“mas ndang benar ora jawabane” Japrak tidak sabar
“yo bener sih tapi....” Budi melas

“hore jawabanku bener” Parmin bersorak sambil main mata dengan Zahrah
“musibah-musibah iso penyet awakku iki”
“halllah uwes kono digendong Parsor tekan omah” kata Paino
“hahaha..... rasakno Bud lemek tenan iku mirip kasur” Budi ditertawakan
“wes ayo men tak gendong tekan omah”
“ayo dengan senang hati”.


Budi harus memenuhi janji untuk siapa saja yang benar dalam menjawab pertanyaannya di gendong sampai kerumah terlentang dan terlungkup Budi menggendong Parmin, lebih mudah membawa dua karung padi dari pada menggendong si Parsor. Semua yang melihat Budi tertawa terbahak-bahak. 


Sendau gurau yang dilakukan membuat hanyut dalam suasana riang gembira, dan tidak terasa sudah sampai di depan gapura desa, satu persatu mulai berpamitan sebab sebagian petani tidak jauh jarak rumah dengan gapura desa dan sebagian lagi lebih masuk kedalam termasuk rumah Anto.


Ketika melewati pos ronda terlihat oleh Anto masih saja Wira dan gengnya nongkrong disana, “Wir” sapa Anto
“eh pak tani sudah pulang pak ya, adduh kasihan kepanasan, kecapean, dan kotor, sana jauh-jauh ojo deket-deket mambu!!”

BAB XXVII

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 27

- Jumlah Kata 412


“dasar kamu anak tidak tau sopan santun, lek disapa baik itu yo dijawab baik ini malah menghina kami memang petani tapi punya harga diri, dasar anak dan bapak sama saja” Jarmah terpancing emosi
“sudah buk sudah jangan cari masalah lagi” Japrak menenangkan
“eh buk Jarmah wani sama aku Wira Sudrajat anak Pak Kades tak adui roto kalian” wira dongkol
“yang kades itu bapak kamu, seharusnya kamu menjaga tingkah dari pandangan masyarakat sehingga jabatan bapak kamu sebagai kades lebih terhormat dan bermarwah. tidak seperti ini, malas-malasan, tidak menjaga omongan, luntang-lantung kesana kemari tidak jelas, ya.... wajar saja orang-orang kurang respek terhadap bapakmu. Semoga kamu cepat disadarkan Allah Wira” Zahrah membungkam.


Mendengar kata-kata Zahrah Wira dan gengnya terdiam dan bungkam seribu kata, tetapi bukan sadar malah sebaliknya mengancam dan mencaci maki. Anto, Japrak, Zahrah, Ibu, dan Ayahnya tidak ambil pusing terus melanjut jalan, wira yang terus mengancam dan mencaci maki dicueki.


“menke wae capek kan mandek dewe” kata Paimin
“iyo pak cangkeme iku macem bebek lanang gilak kawen” sambung Japrak
“hus lambemu, tapi iyo juga si prak macem bebek hiia.....” Anto tertawa kecil
“emang mulut bebek begitu ya..” tanya Zahrah
“udah jangan dibahas ayo itu rumah sudah dekat bapak sudah ngantuk belum zuhur lagi ayo ndang”.


Sampai dirumah, sejenak Anto dan Japrak merebahkan dan melemaskan badan di teras bambu lamanya perjalanan tadi membuat betis terasa kaku, keras, dan agak sedikit membesar. setelah badan dirasa cukup netral, kaki dan tangan yang penuh dengan lumpur dibersihkan sebelum melaksanakan shalat zuhur. Anto mengajak Zahrah untuk shalat tetapi ia menola karena sedang dalam keadaan haid, Anto paham dan meminta untuk menunggu sebentar selagi ia melaksanakan shalat, Sembari menunggu Anto melaksanakan shalat Zahrah membaca-baca buku dan pelajaran yang akan dibahas bersama nanti, lagi asyik membaca Jarmah menghampiri dengan membawa nampan kecil yang berisi dua gelas teh hangat dan sepiring ubi goreng.

“ayo diminum tehnya” Jarmah mempersilakan
“waduh ibu jangan repot-repot”
“halah gini aja kok repot ayo ndang diminum nanti keburu dingin”
“hehe.... iya bu terimakasih bu ya....” kemudian meneguk teh
“ubi gorengnya jangan lupa dicicipin”
“iya bu, oh iya bapak kemana bu kok tidak kelihatan”
“kecapean abis shalat ketiduran itu didepan tv, tadinya sih nonton tv sekarang bapak yang ditonton tv”
“hihi..... iya bu” Zahrah geli.


Selesai salam kedua tangan diangkat dan menengadakan wajah keatas seraya Anto memohon kepada Sang Maha Pencipta untuk berkenan selalu memberikan kesehatan dan kesempatan baik terhadap dirinya, orang tuanya, orang-orang terdekat, dan kaum muslimin dan muslimat, juga meminta agar setiap hajat dan cita-citanya diperkenankan.

BAB XXVIII

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 28

- Jumlah Kata 401


“bosen mabak ya nunggu mas Anto” kata Japrak berdiri didepan pintu
“enggak kok kan ditemeni ibu, eh kamu tidak shalat Japrak”
“udah siap loh mbak”
“oh udah siap Antonya mana”
“huwah masku itu yo lagi doa’ doanya searat-arat mbak dua jam ndak siap-siap emboh opo seng di dongakno”
“hus lambemu” kata Jarmah
“Plak” pukulan kopiah mendarat dikepala Japrak ternyata tanpa disadari Jaaprak masnya sudah ada dibelakangnya sejak tadi.
“adduh saket loh mas maen keplak-keplak wae”
“meledek aku lagi sini tak kampleng lagi”
“ets ojo-ojo, iki uwes nunggu sui awakku kedalem sek”
“emmmmh dasar kamu, lama menunggu ya Zahrah”
“tidak ayo kita belajar nanti keburu sore”
“ok ok hari ini pelejaran apa yang mau kita bahas” tanya Anto
“IPA dengan Matematika”
“ok baik, aku ambil dulu bukunya didalam”
“ibu pergi ke warung dulu ya mau belanja untuk kebutuhan makan malam” Jarmah pamit
“iya bu hati-hati”.


Anto dan Zahrah sangat serius dan kuat dalam belajar dalam belajar bukan karena ingi dipuji orang melainkan berprinsip menjadi orang yang berilmu pengetahuan untuk memenuhi tuntutan zaman yang sewaktu-waktu selalu meningkat pesat. Jadi belajar dengan tekun, serius dan sabar merupakan modal awal untuk menjejaki zaman yang akan datang terlebih-lebih pada saat sekarang ini ilmu pengetahuan dan teknologi terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Kalau tidak dari sekarang dimulai pasti akan tergerus oleh zaman dan tersisi.


Disisi lain Wira dan gengnya yang terbakar emosi dengan kata-kata hinaan dan merendahkan dirinya bubar dari pos ronda dengan perasan panas, Dengan raut wajah marah bagai dompet tanggung bulan ia membanting-banting segala apa yang ada dihadapannya bahkan pot bunga kesayangan ibunya juga dibanting hingga pecah berkeping-keping.

“cetar.....” suara pecahan pot bunga
“eee.... kamu kenapa le... pot ibu kok di pecahi” Zalihah bertanya
“itu bu Anto ora eneng sopan-sopane karo aku, dia mengatakan bahwa awaku iki pemalas, hanya dompleng kekuasaan, lontang-lantong sora jelas!”
“loh kalau kamu marah dan dongkol dengan Anto, terus pot ibu kenapa dipecahi eneng-eneng wae, seng diomongi Anto iku yo memang betul kamu itu pemalas dan tidak sopan buktine mau isuk awakmu marah-marahi ibu dan menghantam lemari sampai pecah opo iku sopan!”
“dasar anake dewe bukan di belah malah di marahi embohlah!”
Muliyono yang baru pulang dari kantor desa dihampiri oleh Wira kemudian mengadukannya.
“pak aku ndak terima”
“kanapa rupanya” tanya Muliyono
“Anto buat ulah lagi masak awakku di hina dan direndahkan kan malu!”
“dasar weddos ndak tau di untung, tenang saja nanti bapak buat perhitungan sama dia” Muliyono terbakar emosi

BAB XXIX

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 29

- Jumlah Kata 424


“pak ojo dibela-bela kali itu anak, kue ngerti Wira anakmu iki ora duwe sopan, perkataannya kasar terutama kepada ibunya sendiri, pemalas, lontang-lantong tidak jelas, yo wajar wae orang-orang mengatakan itu”. Zalihah mencoba memberi pengertian
“dasar kamu, seharusnya kamu sebagai seorang ibu membela anaknya, bukan seperti ini pokoke aku akan tetap akan membuat perhitungan!”


senyum sinis Wira tergambar kala mendengar pembelaan dari ayahnya.
Siang berganti sore, waktu magrib akan segera tiba Zahrah pamit pulang.


“Anto sebentar lagi magrib aku pamit pulang ya..”
“oh iya ndak papa”
“besok kita belajar lagi ya, em... tadi ada sebagian soal yang belum aku mengerti bisa bantu kan”
“oh.. itu bisa-bisa gak masalah”
“kalau begitu aku pamit pulang, bapak, ibu Zahrah pamit pulang”
“iya... hati-hati dijalan”
“Assalammua’laikum”
“Wa’alaikumussalam” semua menjawab


Adzan berkumandang Haris sudah menunggu mengajak Anto shalat berjama’ah
“Assalammua’laikum To oooo To” Haris memanggil
“Wa’alaikumussalam sek yo Ris”
“buruan sudah mau abis adzan”
“ok sip sudah siap”
“ok ayo kita kemasjid”
“Japrak awakmu melu ora” tanya Haris
“ora, urong mandi aku”
“ok lah kami pergi dulu”
“Assalammua’laikum”

Seperti biasa usai melaksanakan shalat magrib berjamaah pak Imam berseru kepada jama’ah untuk meminta waktunya supaya jangan beranjak untuk mendengarkan pengajian bersama Ustad syamsuddin. Pada pengajian ini Ustad Syamsuddin mengangkat tema perjuangan dan pengorbanan, Anto dan Haris sangat serius mendengar pengajian begitupun dengan jama’ah yang lain hikmat dalam mendengar.


Dalam pengajian Ustadz Syamsuddin juga promosi kepada para jama’ah tentang beasiswa Timur tengah yang diselenggarakan pemerintah. Di sini Ustadz Syamsuddin mengatakan bagi jama’ah yang memiliki anak dan ingin melanjutkan kuliah di luar negri khususnya Timur Tengah silahkan menghubungi ataupun menjumpainya karena ini merupakan sebuah kesempatan dan sayang kalau dilewatkan.


Ustadz Syamsuddin melanjutkan pengajian hingga waktu isya tiba. Usai melaksanakan shalat isya Haris mengajak Anto makan jagung bakar di warung mbok Lemu.


“To” mmenepuk pundak Anto
“opo Ris”
“mangan jagong bakar yok di warung mbok Lemu”
“awakku ora gowo duit Ris”
“wes tenang wae tak bandari”
“yo wes lek ngono ayo lah”
Di warung mbok Lemu Haris pesan dua jagung bakar dan dua teh manis dingin.
“mbok pesen”
“pesen opo le”
“jagong bakar loro, es teh manis dua juga”
“laen opo le”
“opo ne to”
“yo iku wae lah ojo okeh-okeh”
“uwes mbok iku wae, GPL yo mbok uwes ngele tenan iki”
“wokeh le”


Menunggu jagung pesanan datang pandangan Anto tertuju pada sekumpulan pemuda yang lagi nongkrong di sebelah warung mbok Lemu, nampaknya mereka lagi melakukan sesuatu. Saking penasarannya Anto, iya tanyakan kepada mbok Lemu, mbok Lemu mengatakan pemuda-pemuda itu lagi bermain judi dengan batu dam, termasuk salah satu diantara pemuda tersebut adalah Wira.

BAB XXX

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 30

- Jumlah Kata 405


Mendengar pernyataan dari mbok lemu Anto dan Haris saling pandang. Sangat disayangkan seorang anak pemimpin desa tidak dapat menjaga nama baik orang tuanya, dan pandangan dari masyarakat lain. Sebab keluarga seorang pemimpin sangat berpengaruh terhadap baik buruknya sebuah nama, kalau sudah begini bukan hanya nama yang buruk resfek masyarakat juga akan menurun bahkan hilang.


“jagung bakar dan teh manis sudah siap silahkan dinikmati le” kata mbok lemu berjalan dengan membawa nampan
“wah nikmat tenan iki sepertinya”
“nikmatlah buatan siapa dulu donk”
“mbok Lemu.....” Anto dan Haris bersorak
“hehe.... yo uwes silahkan dinikmati, mbok ke belakang dulu mau buat pesanan orang lain lagi”
“yo mbok”


Manisnya jagung berpadu dengan bumbu khas dan sedikit saus pedas begitu nikmat menggoyang lidah. Lagi nikmat makan jagung bakar tiba-tiba wira datang ke warung memesan minuman seraya berkata


“mbok Lemu, mbok Lemu woy nandi iki yang jualan niat jualan ndak sih!”
“eh wira seng sopan dikit iku sopo yang kamu panggil, orang tua bukan teman sebaya kamu” Haris geram
“iyo pak Ustadz Haris, ojo sok nasehati suka-suka aku mulut-mulutku”
“yo aku ngingatkan saja kalau kamu tidak senang ya sudah”
“arep pesen opo kue” potong mbok Lemu
“seprit sama fanta”
“iki, uwes kono lungo ojo sui-sui di sini!” mbok Lemu marah
“yo uwes ini duitnya, warung gini aja sombong dasar kampungan!”


Mbok Lemu hanya bisa geleng kepala, dalam benaknya pemuda seharusnya memiliki sikap yang santun terhadap yang tua. Anto dan Haris melanjutkan makan jagung bakar, waktu sudah menunjukan pukul 21.30 Anto menepuk pundak Haris.


“Ris pulang yok sudah malam besok awakku mau sekolah”
“oyo”
“piro mbok kabeh”
“lima belas ribu saja”
“bali mbok”
“iyo hati-hati di jalan”


Sesampainya di rumah bapak, ibu, dan adiknya sudah terlelap di depan tv. Sepertinya mereka tadi menonton tv karena letih dan capek akhirnya tertidur dan sekarang tv yang menonton mereka. Anto tidak membangunkan hanya mengambil remot kemudian mematikan tv. Malam makin larut, satu pongkol jagung masih belum cukup menaklukan perut, Anto mencari tambahan di belakang namun yang ada hanya singkong rebus dan goreng itu pun sisa tadi siang, itu tidak jadi masalah baginya di ambil beberapa untuk mengganjal perut yang tanggung terisi.

“iyo buk”
“ooooo uwes bali, itu kamu lagi apa”
“mangan ubi, laper”
“owalah iyo lali masak, tak gorengke telor mau”
“ndak usah uwes ini saja cukup, sudah malam ibu lanjut saja tidur Anto juga mau istirahat setelah ini”
“yo uwes lah kalau begitu ibu lanjut tidur dulu”


Mungkin saja kamu suka

Rosa Linda
Hadapi Temboknya
Mila Hartina
Perjalanan Dua Hati
Safa'ah Nurasia...
Jodoh Sulit Ditebak
Mellaisyah
Gadis Perindu Surga
Sugiarti Wahyun...
Aku Ingin Pulang

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil