Loading
2

0

0

Genre : Keluarga
Penulis : Rie/Kiyowoyak28new
Bab : 30
Pembaca : 1
Nama : Riema
Buku : 1

And Maybe Yesterday, Tomorrow and Anotherday

Sinopsis

Mengisahkan tentang seorang anak kembar yang bernama Kang Jaemin dan Kang Minhee, yang ternyata merasakan rasa kasih sayang kedua orang tua yang terbagi. Keduanya sejak lahir sudah dirawat secara terpisah dan kembali bersama saat alm. sang nenek mengembalikan sibungsu keasuhan kedua orang tuanya yang nyatanya setengah hati menerima. Anak kembar yang mempunyai otak encer dan memiliki prestasi dalam bidang akademik serta olahraga. Semua anak didunia pasti menginginkan sebuah kasih sayang yang utuh oleh orang tua mereka, tapi itu tidak berlaku oleh salah satu dari saudara kembar ini, sibungsu yang bernama Kang Minhee. Dirinya harus rela merasakan rasanya dibuang dan tak diinginnya oleh kedua orang tuanya. Penderitaannya bertambah saat dirinya divonis menderita sebuah penyakit serius dan bahkan saudara kembarnya sendiri, kerap kali memberinya pukulan dan siksaan. Sampai sibungsu menjadi anak nakal dan berharap dapat mendapatkan secuil perhatian orang tua padanya disisa sisa hela nafasnya didunia.
Tags :
#Kangminhee #Najaemin #rie #kiyowoyak28new

1

1 0

17 tahun silam, disebuah rumah sakit ternama. Lahir kedua bayi kembar berjenis kelamin laki-laki. Bayi dari pasangan Dokter Kang Siwon dan Yoona. 

"Selamat Dokter Kang bayi kembar kalian sehat tanpa cacat dan berjenis kelamin laki laki," 
Ucap salah satu perawat yang metelah menidurkan salah satu bayi laki laki itu dan meletakkannya kedalam box bayi. 

"Apa? Kembar?" Yoona yang baru saja sadar dari efek biusnya pada awalnya senang saat mendengar bayinya lahir dengan selamat menjadi terkejut saat mengetahui jika bukan hanya satu bayi yang dia lahirkan. Melainkan kembar dan berjenis kelamin laki laki.

"Sayang bayi kita kembar,"

"Tidak, aku tidak ingin punya bayi kembar,"

Siwon dan Yoona yang pada awalnya memang sengaja tidak ingin mengetahui lebih jauh tentang bayi mereka. Mereka hanya akan melakukan check up tanpa ingin melakukan usg atau hanya sekedar ingin mengetahui jenis kelamin bayinya. Tapi saat mengetahui jika bayinya terlahir kembar, Yoona tentu saja tak menerimanya. Dia dan sang suami sudah berjanji hanya anak memberikan satu pewaris dan bukan dua.

Bayi kembar itu diberi nama Kang Jaemin dan Kang Minhee. Kedua bayi kembar yang memiliki paras sempurna tanpa cacat. Pihak keluarga Kang sepakat hanya akan merawat salah satunya. Tetapi, keputusan dari keluarga Kang ditentang oleh pihak keluarga Im. Mereka beranggapan jika lahirnya sikembar adalah sebuah anugrah bagi kedua keluarga. 
Namun apa daya, kekuarga Kang lebih berkuasa dan dengan teganya, pada hari ke-5, diam diam keluarga Kang membawa hanya satu bayi dan meninggalkan sibungsu diruangan bayinya, beruntung nenek Im segera datang dan menawarkan diri untuk merawat salah satunya. Bayi yang berada digendongan Yoona tetap dirawat oleh kedua orang tuanya dan bayi yang hampir ditinggalkan tadi dirawat oleh nenek Im. 

10 tahun berlalu.

Sikembar tumbuh menjadi anak yang periang dan juga pintar. Jaemin sang anak pertama, tumbuh dengan kasih sayang kedua orang tua sepenuhnya, sedangkan Minhee sianak bungsu, yang tumbuh hanya dengan kasih sayang dari nenek Im. Pernah beberapa kali Minhee kecil menanyakan dimana orang tuanya saat tak sengaja melihat sebuah potret foto yang ada sosok bayi yang dia tau jika itu saudaranya kepada sang nenek.

"Nenek, ini Mommy sama Daddy Mini kan? Ayo ketemu meleka nenek mini linduu nek.."

Hati nenek mana yang tak sedih melihat samg cucu yang merengek sembari menggenggam selembar foto ditangan kanannya. Bocah 10 tahun itu pun akhirnya dibawa oleh nenek Im kekediaman keluarga Kang. 

Diperjalanan Minhee kecil begitu exited dengan beberapa kali mengutarakan keinginannya dengan senyum yang teramat manis. Namun, senyum itu tak bertahan lama selepasnya mereka tiba dikediaman Kang.

"Mommy! Mini pulang!"

Minhee kecil yang baru saja tiba langsung berlari memeluk kaki Yoona yang nampak terkejut. Yoona yang merasa risih tanpa perasaan menarik menjauh sang bocah kecil dan hampir saja terhuyung kalau saja nenek Im tak menahannya.

"Untuk apa kalian kemari? Ibu sudah aku bilang, aku tak ingin dia kesini. Pergi kau!"

"Mommy, ini Mini anak Mommy ung~" 

Minhee yang polos kembali hendak memeluk sang Mommy namun terhenti saat sosok bocah lain terlebih dulu memeluk Yoona. Jaemin.

"Abang.. Abang Mini pulang~" sibungsu mengenali saudaranya.

"Mommy dia siapa? Ayo masuk Nana mau bobok" 

Yoona yang tak ingin Jaemin sianak kesayangannya terusik langsung saja mendorong Minhee kecil sampai terantuk pinggiran meja. 

"Ung~ sakit~ ung nenek hick.. sakit huwaaaaa~"

"Ya tuhan Minhee, Yonna! Tega sekali kau!"

"Pergi kalian, ibu aku tak sudi melihat wajahnya,"

"Dan kalian. Orang tua macam apa tega memperlakukan darah daging kalian sendiri seperti ini! Sudah sayang kita pulang cupcup,"

Yoona tak sekalipun merasa iba dan rasa bersalah segera saja mengusir keduanya dengan membanting pintu. 

"Hick..hick.. sakit nenek hick.."

"Uussttt cucu nenek, tidak papa sayang. Kita pulang dulu ya sayang. Usstt tidak papa cucu nenek kuat hmm"

Keduanya pun pulang dengan sikecil Minhee yang membawa sebuah rasa kecewanya diusia belianya. 
.
.
Bersambung

2

1 0

Tahun-tahun berlalu sejak kejadian pengusiran secara tak pantas oleh keluarga Kang. 
Kini Sikembar telah tumbuh menjadi seorang remaja manis berumur 17 tahun dan apa kalian tau, jika Jaemin dan Minhee bersekolah disekolah yang sama dan hanya berbeda kelas. Tentunya keluarga Kang hampir protes saat mengetahui jika putra mereka yang lain jiga bersekolah disekolah yang sama dengan sisulung.

Seperti sekolah pada umumnya, setiap pagi semua siswa mulai berhambur memasuki gerbang sekolah mereka. Ada yang datang dengan diantar orang tua mereka, dan ada juga yang diantar oleh supir pribadi. Namun diantara banyaknya siswa siapa sangka ada sosok remaja yang hanya datang dengan berjalan kaki.

Remaja berperawakan tinggi itu berjalan dengan santai dan memasuki gerbang utama sekolahnya dengan senyum manis yang terpatri disana, sampai senyum itu luntur saat mendapati sosok yang begitu dia rindukan berada tak jauh beberapa meter darinya. 

"Belajar yang rajin sayang, mommy dan daddy bekerja dulu ok."

"Siap Mom Dad, dadah!"

Ya, itu Jaemin yang baru saja turun dari mobil yang dimana disana ada kedua orangtuanya. Minhee terdiam ditempatnya saat irisnya bersinggungan dengan iris saudara sedarahnya. Minhee yang memang dididik dengan sopan dan santun spontan membungkuk kecil saat Jaemin berjalan melewatinya. 

"Pagi, abang~"

...

Nihil, hanya angin yang didapatnya sebagai sahutan. Tak apa, minhee sudah terbiasa.

.

"Eh guys! Kalian tau ga?" Seru sang ketua kelas bername tag Lee Jeno. Serempak membuat atensi para murid dikelas tertuju padanya. 

"Apaan ada apa?" 

"Hari ini kita ada kuis dadakan dari Ibu Kim, dan ini soalnya udah ada ditangan gua. Minhee tolong bagiin ketemen temen ya."

Jeno memberikan sebagian kertas kuis kepada laki laki jangkung yang duduk dileretan kedua dari depan.

"Oke."

Suasana kelas nampak serius dan sunyi setelah dibagikannya kertas kuis berbeda lagi dengan kelas sebelah yang nampak ramai karna salah satu siswa dikelas itu kembali mendapatkan nilai tes terbaiknya.

Kang Jaemin. Siswa pintar dan kesayangan sekolah, terlahir dengan otak encer dan sering mengikuti lomba sains dan memenangkan banyak piala serta mengharumkan nama sekolah.

"Hebat Jaemin, pertahankan nilai-nilaimu oke."

"Baik bu dan terima kasih."
.

Minhee, pagi pagi sekali sudah dibuat panik. Nenek Im dikabarkan pingsan dipasar subuh saat hendak berbelanja, Minhee yang mendegar kabar itu dengan tergesa berlari dan mengabaikan jika dirinya belum mandi sama sekali. Difikirannya sekarang hanya sang nenek yang telah merawatnya sejak bayi.

"Nenek! Nek bangun, Nenek ga papa? Siapapun tolong bantu aku membawa nenek kerumah"

Dengan dibantu beberapa orang dari pasar, nenek im berhasil dibawa kerumah. Minhee yang panik terlihat bingung sampai ingatannya tertuju pada satu nama, kedua orang tuanya.

Dengan segera Minhee meraih ponselnya guna menghubungi sang Ayah. Pada dering kelima, panggilan itu akhirnya terjawab dengan suara berat milik sang ayah.

"Daddy..Nenek.."

"Apa? Menggangu saja,"

Minhee yang gemetar mencoba menjelaskan tentang kondisi sang nenek kepada sang ayah, dan hanya mendapat respon seadanya. Tanpa salam telpon itu ditutup secara sepihak.

"Nenek, ayo kita kerumah sakit."

Dengan perlahan Minhee memapah sang Nenek dan sesegera mungkin memberhentikan sebuah taksi. 
.
.
.
Disekolah, para sahabat Minhee sedikit panik saat tak mendapati Minhee dikelas, tak biasanya sosok minhee yang biasanya rajin pergi kesekolah tidak masuk. Hyeongjun selaku teman sebangkunya mencoba menghubungi pun dibuat panik saat tak mendapatkan respon dari yang bersangkutan.

"Minhee kenapa ya? Duhh guys ga biasanya Minhee telat masuk"

"Iya benar, apa jangan jangan tuh anak sakit lagi?" Seru Yujin yang juga panik.

"Sabar sabar, nanti sepulang sekolah kita kerumahnya bagaimana?" 

Usulan salah satu teman mereka bernama Jungmoo dan diangguki oleh yang lain.
.
.
.

"hick.. jangan buat Minhee takut Nek." 

Minhee menagis seorang diri sembari menunggu hasil pemeriksaan sang nenek. 

Beberapa menit menunggu akhirnya sosok dokter yang memeriksa sang nenek keluar dan berjalan kearahnya. Ada raut kasihan disana.

"Keluarga Nenek Im?"

Minhee langsung mengusap kasar kedua matanya dan lekas berdiri menghadap sosok itu. 

"Nde, aku cucunya dokter. Gimana keadaan nenek? Nenek ga sakit parahkan dok?" 

Pertanyaan yang dilontarkannya membuat sosok dokter yang bername tag Lee Jinhyuk itu sedikit mengusap surai hitam Minhee dengan sayang. 

"Yang sabar ya dek, Nenek kamu udah bebas.."

"Maksud dokter? Nenek ga papa kan? Dokter?" 

Kerjapan polos milik Minhee mau tak mau membuat Jinhyuk tak tega, lantas memberikan sebuah pelukan eratnya.

"Dokter..."

"Yang tabah ya nak, nenek im sudah tenang disurga.."

Minhee awalnya masih mengerjap binggung sampai otaknya mencerna semuanya. Satu tetes kristal bening terjatuh begitu saja setelah pelukan itu terlepas.

Minhee mencoba menampik hal itu namun lagi lagi penjelasan dari sang dokter membuatnya seperti terserang ribuan pisau. 

"No~ gak mungkin dokter, Nenek~ engga mau hick.. Nenek!" 
.
.
.

Upacara pemakaman sederhana nenek Im berjalan dengan semestinya. Beberapa teman Minhee pun ikut berhadir saat diberitahukan oleh Jaemin, kenapa Jaemin? Akanku jelaskan nanti.

Beberapa pelayat yang datang, mulai meninggalkan tempat pemakaman. Gemuruh guntur mulai terdengar disegala penjuru.

Minhee masih betah duduk bersimpuh didepan pusara sang nenek. Isak tangisnya masih tersisa disana. 

"Nenek~ kenapa ninggalin M-minhee.. Menek~ Minhee ga bisa hidup t-tanpa N-nenek hick.. nek bangun~" 

Beberapa sabahat Minhee tak kuasa mendengar itu pun, lantas segera memberikan sebuah pelukan penenang. 
Yujin dan Hyeongjun yang ikut terisak mencoba memberika kekuatan untuk sang sahabat. 

"Nenek~ hick.. jangan tinggalin Minhee sendirian hick.. ga mau nek~"

Isaknya didalam pelukan para sahabatnya.

"Hee.. kami disini hee~ hick.. Nenek sudah tenang Hee."

Hyeongjun mengusap kedua pipi Minhee yang berlinangan air mata dengan pelan. 

"Uusssttt ada kami hee.." 

Itu Jungmoo yang mencoba mengusak lembut surai hitam Simanis yang terlihat lebih baik dari beberapa jam lalu, yang mana surai indah itu dijambak keras oleh sang empu untuk melampiaskan rasa kesedihannya akan kepergian sang nenek.

"Ck, dasar cengeng. Mommy Daddy, Jaem mau pulang saja, disini memuakkan." 

Ya, itu saudara kembarnya Minhee, Kang Jaemin. Awalnya Jaemin tak percaya jika dirinya dan Minhee adalah saudara kembar. Dirinya menolak fakta itu sampai kedua orang tuanya memberikan sepucuk surat wasiat dari mendiang Nenek Im, yang mana disana tertulis namanya dan Minhee. Nenek Im juga berpesan kepada kedua orang tuanya untuk membawa Minhee tinggal bersama mereka.

Awalnya Siwon ingin menolak namun walau bagaimana pun, Minhee tetaplah anak kandung mereka. Walau mereka tak menginginkannya.
Dengan sedikit keterpaksaan Siwon mau tak mau harus membawa Minhee tinggal bersama mereka. 
Jaemin tentunya marah besar, dia tidak terima akan keputusan itu, dia beranggapan jika hadirnya Minhee akan membuat kehidupannya yang dipenuhi kebahagiaan akan terganggu.

.

Minhee menatap rumah mewah yang beberapa tahun silam dia kunjungi bersama mendiang sang nenek. Mobil yang membawanya berhenti tepat didepan pekarangan.

"Cepat keluar dan bawa barang barangmu masuk."

"Ung~ i-iya Daddy."

Siwon tanpa menoleh bergegas keluar dari dalam mobil, meninggalkan sang putra bungsu yang sedikit kesusahan membawa beberapa barang bawaannya masuk. Beruntung ada kepala pelayan yang berbaik hati membantunya.

"Selamat datang tuan muda Minhee, akhirnya kami bertemu dengan tuan.."

"B-bibi jangan panggil tuan, p-panggil aku adek saja hehe" 

"Baik tuan eh dek Minhee"

Interaksi itu, tak luput dari mata sosok yang berada dibalkon kamarnya. Tatapan menuh kekesalan terpancar dikedua matanya yang indah.

"Merepotkan."
.

Bersambung

3

0 0


"Minhee!"

Sosok laki-laki jangkung itu menoleh saat mendengar namanya dipanggil oleh salah satu teman sekelasnya.

"Iya?"

Hyeongjun membungkuk sebentar guna menetralkan pernafasannya sehabis berlari.

"Yak! Kang Minhee. Bisa tidak jalannya diperlambat, huft~ aku lelah mengejar lanagkahmu yang lebar itu tau," 

Gerutu Hyeongjun, yang masih mencoba menetralkan laju pernafasannya yang tadi sempat berantakan. Sosok tinggi yang tadi dipanggil Minhee itu lantas tersenyum, menampilkan senyum manisnya yang membuat siapa saja terpesona melihatnya.

"Hehe, jangan salahkan aku. Salahkan saja pada kaki-kakimu yang pendek itu, Jun-ah," 

"Aish~ yang benar saja! Menyebalkan kau Kang Minhee," 

Hyeongjun yang merasa pernafasannya kembali normal, lantas bergegas berjalan mendahului sijangkung menuju kelas mereka, mengabaikan kekehan dari Minhee yang mengikutinya dibelakang.

Bel berbunyi tanda jika jam kelas pertama tiba. Semua siswa yang awalnya terlihat ribut, menjadi terdiam saat seorang guru yang akan mengajar dijam pertama masuk, diikuti oleh beberapa anggota osis dibelakangnya.

"Selamat pagi anak-anak,"

"Pagi pak," sahut murid-murid dikelas itu.

"Baik, hari ini bapak hanya akan memberikan kalian sebuah tugas LKS 10 halaman, dan nanti tolong kumpulkan keruangan saya setelah jam istirahat ya" Jelas sang guru yang mana diangguki oleh semua murid tanpa protes.

"Baik pak,"

"Dan kali ini, bapak membawa beberapa anggota osis yang katanya akan mengabsen beberapa dari kalian yang akan mengikuti serta mewakilkan untuk acara Olimpiade sekolah nanti, nak Jaemin dipersilahkan,"

"Baik pak, terima kasih. Ok selamat pagi dan mohon maaf menggangu teman-teman sebentar. Jadi, dengan datangnya saya kekelas kalian hanya inggin memberitahukan tentang sebuah Olimpiade sekolah, yang akan diadakan pada minggu depan. Dan ditangan saya sudah ada beberapa nama yang akan ikut berpartisipasi dalam acara Olimpiade renang. Yang saya panggil namanya dimohon untuk mengangkat tangannya," 

Dibagian tempat duduk bagian deret kedua dari depan. Sosok laki-laki jangkung nampak menatap lurus kedepan, tepat kearah sosok salah satu anggota osis didepan sana yang tengah mengabsen, sampai sebuah tepukan dipundak menyadarkannya dari lamunan.

"Kang Minhee.."

"Eh? S-saya.." 

Minhee, dengan linglung menjawab dan reaksinya itu mengundang tanya oleh teman sebangkunya hyeongjun. 

"Hee, kamu kenapa? Kok ngelamun" 

"A-ah, ga papa kok Jun"

"Oke, semua nama-nama yang telah saya sebutkan tadi segera berkumpul diruang serbaguna besok pada jam pulang sekolah, mengerti?" 

Jaemin sedikit memberikan arahan dan penjelasan singkat sebelum izin untuk undur diri pada sang guru. Beberapa detik pandangannya sempat bertemu dengan pandangan milik Minhee, namun dengan cepat Jaemin memutus pandangan itu dan segera berjalan keluar kelas. Dapat didengar olehnya sebuah panggilan lirik sang adik namun dia mencoba mengabaikannya.

.

Rumah mewah itu yang semulanya sunyi menjadi sedikit mencekam. Jaemin meluapkan rasa kesalnya untuk pertama kalinya kepada sang adik bungsu. Tangannya memukul bahkan menjambak surai halus sang adik yang tak bisa melawan.

"Apa maksud lo natap gua kaya gitu disekolah hah! Mau cari perhatian dan bilang kita kembar?" 

"Bang~ engga bang. Ampun akh.. sakit bang."

"Jangan sekali-kali lagi lo berani natap gua kaya gitu disekolah, inget itu! Gua ga suka sama lo meskipun kata Mom sama Dad lo adik gua sekalipun. Lo tuh penggangu!"

Jaemin mendorong tubuh Minhee sembarang dan mengakibatkan sang empu terjerembab mengenai ubin ruang tamu didalam rumah mewah itu. 

"Camkan itu! Minhee."
.

"Woah! Serius anak Mommy akan ikut Olimpiade sains? Pintarnya anak Mommy," 

"Hehe, Nana kan anak pintar. Nana akan membawa piala untuk sekolah,"

Siwon dan Yoona nampak bangga dengan putra pertama mereka yang kembali berkesempatan mewakilkan nama sekolah diolimpiade sains. Diseberang sana, Minhee membawa sebuah selebaran yang berisikan surat izin dari pihak penyelenggara disekolah. 

Sibungsu nampak menatap lamat lamat antara kertas itu dan kedua orang tua kandungnya bergantian. Dengan senyum secerah mentari, Minhee melangkah mendekatin ketiganya.

"Anak Mommy memang paling pintar..."

Yoona yang sedang mengusap lembut surai Jaemin dibuat terhenti saat sosok Minhee mendekat dengan ekspresi senangnya. Yoona menatapnya dengan raut yang sedikit sinis.

"Mom.. Dad.."

"Apa?"

Minhee hampir saja meremat secarik kertas itu saking senangnya.

"Adek, juga ikut olimpiade seperti Abang"

Siwon dan Yoona berpandangan sejenak lalu berali lagi kearah sibungsu yang masih setia tersenyum senang.

"Adek ikut olimpiade renang hihi, bolehkah mom atau dad menandatangani surat izinnya?"

Minhee dengan riangnya menyerahkan surat itu dan disambut oleh sang kepala keluarga tanpa banyak bicara. Siwon dan Yoona sedikit terkejut saat membacanya, ternyata anak yang sempat mereka buang juga memiliki kepintaran dalam bidang yang berbeda. 

Minhee yang masih setia berdiri disana nampak menciut saat pandangannya bertubrukan dengan sisulung Jaemin. Dari sorot itu nampak sekali pandangan ketidak sukaannya kepada sang adik.

"Ini, sudah saya tanda tangani dan kembalilah kekamar mengerti? Saya harus mengerjakan sesuatu,"

Siwon menyerahkan surat izin itu kepala Minhee yang kembali melebarkan senyum manisnya lalu memdekap surat itu saking senangnya.

"Thank Daddy Mommy, adek kekamar dulu hihi,"

Meninggalkan Jaemin yang memandangnya dengan tangan yang terkepal.

"Menyebalkan," gumamnya.

.
.

Bersambung

4

0 0

"Mommy Daddy! Mau kemana? Abang?" 

Sibungsu yang baru saja keluar dari kamarnya melihat beberapa koper yang tertata rapih diruang tamu. Bukannya menjawab. Sang kepala keluarga seperti engga menoleh untuk melihat barang sedetik sang anak dan malah memilih berpura pura sibuk pada ponsel pintarnya.

"Mommy dan Daddy mau kemana? Adek ikut boleh?" 

Minhee mendekat kepada sang Mommy yang mampak ogah-ogahan berdekatan dengannya. Dari atas, Jaemin baru saja turun dengan sebuah koper sedang. Minhee mengerjab perlahan saat sisulung seolah sengaja melewatinya dengan menabrakkan bahunnya.

"Ung~? Kalian mau kemana? Adek kok ga diajak... adek mau ik.."

"Diam kamu! Dirumah saja ga usah ikut. Menyusahkan kami saja. Ayo sayang kita berangkat."

Mengabaikan tatapan polos itu, ketigannya berjalan keluar meninggalkan sibungsu sendirian.

"Mom.."

Yoona berhenti melangkah tanpa menoleh saat suara merdu sibungsu memanggilnya, lagi. 

"Adek mau ikut.."

"..."

"Yoona ayo cepat, kita akan ketinggalan pesawat nanti!"

.
.

Sisekolah Minhee terlihat murung dari biasanya. Tangannya bergerak acak mencoret buku yang ada dihadapannya sampai menyadari setetes cairan pekat yang terjatuh dan meninggalkan bercak pada lembaran kertas putih.

"Apa ini? Kok berdarah sih?" 

Minhee buru buru merogoh tasnya, mencari tissue yang akhir akhir ini dia bawa. Dengan satu tangan yang menahan kucuran darah yang semakin deras menetes disana dan mengotori baju seragam putihnya.

"Rrhhh! Sakit.. Aku harus keUKS akh!" 

Meremas rambutnya kuat, Minhee segera berlari menuju ruangan yang dia maksud, mengabaikan Wonjin, sang ketua kelas yang baru saja tiba dikelas dan memandangnya heran.

"Minhee..."

.

"Minhee!"

"Em, iya. Eh kak Yunseong ada apa?"

"Emm.. mau kemana lu sibuk tidak?"

"Aku cuma mau keperpus kak, kenapa ya, ada perlu kah?"

"Iya, tentang olimpiade minggu depan." 

Jujur Minhee bosan mendengarnya, tapi dia bisa apa selain menjalani serta memilih menurutinya dan berharap dari apa yang dia ikuti bisa membuat kedua orang tuanya bangga dan melihatnya ada.

.

"Minhee!" 

Sosok pemuda bermata sipit berlari menghampirinya.

"Eh, kak Jeno"

"Habis dari mana? Udah tau kan sore nanti kita akan kumpul untuk latihan?" 

Minhee tersenyum dan mengangguk.

"Oh, aku habis dari perpustakaan. Sudah kak, kak Yunseong yang memberitahu tadi."

"Sukurlah dia memegang amanahnya. Wih rajin sekali adik kecilku ini. Nanti ikut lomba sains juga ya? Semangat ok!" 

Minhee terima terima saja saat rambutnya diusak dengan gemas oleh sang kakak kelas tanpa menyadari tatapan tak suka dari sosok yang berada diujung sana. 

"Awas kau!"

.

Jaemin berdiri didepan ruangan tempat dimana semua anggota yang akan mengikuti olimpiade berada. Didalam, dapat dia lihat Minhee tengah memasukkan benerapa alat tulisnya dan bersiap untuk pulang. Kesempatan bagus untuk Jaemin, senyum jahat terpatri pada bibirnya yang tipis.

"Eh? Abang mau pulang bersama.. aduh!"

Satu tamparan berhasil mendarat dipipi kanannya. Minhee mengerjap perlahan guna memproses apa yang sedang terjadi.

"Abang kenapa mukul adek?"

Jaemin mencengkram kerah seragam putih milik Minhee dengan penuh dendam.

"Lo! Gausah sok polos didepan gua ya Minhee. Jangan sok cari muka depan Kak Jeno! Jangan coba-coba caper sama osis!"

"Adek gak begitu bang~" 

Jaemin menyentak tubuh kurus sang adik dan tanpa rasa bersalah mendorongnya sampai terjatuh kedalam sebua kolam yang nampak dingin disana. 

"Rasakan itu, jangan berani carimuka makanya."

Mengabaikan teriakan minta tolong dari Minhee yang terkejut dan tak siap saat dirinya tercebur kedalam dinginnya air kolam. Jaemin tersenyum pogah dan pergi meninggalkan area itu tanpa ada niat sekedar membantu.

Didalam sana, Minhee berusaha untuk berenang naik kepermukaan kolam saat rasa kebas dan kram menyerang kakinya. Minhee memanglah seorang perenenang hebat, tetapi tidak bisa dipungkiri rasa sakit dan kebas itu membuatnya kesulitan. 

.
.
.

"Eh, Wonjin lihat Minhee tidak?"

"Hah? Bukannya dia sudah pulang saat selesai kumpul tentang pembahasa olimpiade minggu depan ya?"

Wonjin mengerutkan keningnya bingung saat silaki laki bermata bulat itu menanyakan keberadaan Minhee. 

"Serius Wonjin! Aku belum melihat Minhee dimanapun. Aku sedari tadi menunggunya. Ah! Apa jangan-jangan terjadi sesuatu lagi?" 

Seru Hyeongjun, bertepatan dengan keluarnya Jaemin dari ruangan tempat keduanya berdiri. 

"Oh, Hai kak Jaemin."

"..."

Tidak ada sahutan disana, Jaemin hanya berlalu tanpa niatan menoleh barang sedikitpun pada keduanya.

"Cih, sombong sekali dia." Wonjin bersua kesal.

"Sudahlah, kita harus mencari Minhee dulu. Sepertinya dia didalam." 

Hyeongjun dengan ringan membuka pintu ruangan yang tadi menjadi tempat berkumpilmya para anggota renang, melongokkan kepalanya pada pintu guna melihat-lihat apakah ada seseorang didalam sana.

"Gimana? Ada?"

"Tidak ada kak wonjin. Benar, sepertinga Minhee telah pulang duluan.. eh tunggu?"

"Apa?" Kening Wonjin berkerut bingung.

"Kau mendengar sesuatu?"

.

Bersambung.

5

0 0


.

"Gimana? Ada?"

"Tidak ada kak Wonjin. Benar, sepertinya Minhee telah pulang duluan.. eh tunggu?"

"Apa?" Kening Wonjin berkerut bingung.

"Kau mendengar sesuatu?"
.
.
Minhee bersusah payah mencoba untuk berenang kepermukaan, namun sepertinya nafasnya sudah berada diujung. Itu terbukti dari gelembung udara yang mulai keluar dari hidung serta mulutnya. Pandangan matanya juga mulai mengabur saat oksigen pada paru-parunya semakin menipis.

"Wonjin! Aku menemukan tasnya. Tapi Minhee tidak ada."

"Coba kita cari disekitaran kolam."

Keduanya lantas segera berpencar guna mencari sahabat tiang mereka, sampai simata bulat lebih dulu menjerit mengalihkan perhatian yang lebih tua.

"Minhee! Wonjin cepat kemari, Minhee tenggelam!"

Tanpa menggunakan embel-embel 'kak,' Hyeongjun berseru panik saat menemukan tubuh sijangkung mengapung diatas air kolam dalam keadaan tertelungkup. Wonjin bergegas melepas sepatunya dan langsung menceburkan diri untuk segera menyelamatkan Minhee dan lantas membawanya ketepian kolam.

"Minhee sadarlah! Kang Minhee!"

Wonjin berusaha melakukan pertolongan pertama dengan melakukan Cardiopulmonary Resuscitation serta menekan dada sijangkung untuk mengeluarkan air yang tertelan disana. 

"Minhee aku mohon sadar! Wonjin bagaimana ini?"

Keduanya masih berusaha menyelamatkan sang sahabat. Sampai yang lebih tua berseru.

"Panggil bantuan cepat, Minhee bangun!"

Wonjin masih terus menekan bagian dada dan juga memberikan nafas buatan selagi simata bulat berlari memanggil bantuan.

"Minhee bangun! Ayolah!"

Terus berusaha, dan pada detik kesepuluh sijangkung spontan terbatuk dengan air yang keluar dari dalam mulut kecilnya.

"Uhuk...uhuk.."

.

Kini, ketiganya sudah berada diruang kesehatan sekolah, dengan Minhee yang terbaring disana dan juga seorang Dokter. Wonjin sudah berganti baju begitupun dengan Minhee yang nampak pias disana. 

"Apa yang kau rasakan saat berada didalam air Minhee?"

"Aku tidak dapat merasakan kakiku dok, yang terasa cuma rasa sakit dan sedikit kaku saat itu."

Sang dokter hanya mengangukan kepalanya atas penjelasan singkat Minhee. 

"Kamu harus banya beristirahat Minhee. Sepertinya kondisi tubuhmu sedang sangat lelah. Jangan khawatir, olimpiade masih 2 minggu lagi, masih ada waktu untukmu beristirahat sejenak." 

"Emm.. baik dokter."
.
.
Jaemin, terlihat senang dimeja makan dan itu mendapat perhatian dari sang Mommy yang kebetulan menoleh padanya.

"Nana terlihat bahagia sekali? Tidak ingin memberitahu Mommy?" 

Jaemin hanya memberikan senyum tipis dan kembali menyuapkan sepotong seafood lalu memakannya.

"Olimpiade 2 minggu lagi, apa kau sudah belajar nak?"

Itu sang daddy yang baru saja ikut bergabung dimeja makan. Laki laki paruh baya yang nampak tampan walau memasuki umur kepala tiga itu mengusuk sayang surai lembut sang anak. Menghasilkan senyum senang dari sang empu.

"Tentu saja, Nana sudah belajar kok dad, mom."

"Bagus, pertahankan nilai-nilaimu sayang."

.

Minhee menolak untuk diantar pulang dan bersikeras untuk pulang sendiri, saat Wonjin dan Hyeongjun menawarkan diri untuk mengantarnya sampai kerumah.

"Sungguh aku tidak papa, aku baik-baik saja. Kalian pulanglah aku bisa pulang naik bis."

"Tapi Minhee~ wajahmu pucat sekali, ayo kami antar. Apa perlu aku menghubungi kak Jungmo?"

"Hyeongjun tidak perlu menghubungi..."

"Ada apa ini?"

Terlambat, sepertinya sipemilik nama sudah berada didekat mereka sekarang. Minhee mengigit pipi bagian dalamnya cemas. Bukan apa-apa, Minhee hanya tidak ingin para sahabatnya mengetahui dimana rumahnya dan lebih takutnya lagi, dia amat sangat takut jika mereka melihat Jaemin dan bertanya sebuah pertanyaan yang tidak ingin dia dengar.

"Kak Jungmo, ini Minhee tidak mau diantar pulang, padalah kondisinya sedang sakit."

"Engga gitu kak.."

Jungmo mengerutkan keningnya dan beralih menatap Minhee yang benar nampak terlihat pucat. Tangan besarnya spontan menyentuh kening sijangkung yang hanya bisa mengerjab lucu. 

"Badanmu hangat, ayo kakak antar ya?"

"Tapi Kak Jungmo, aku bisa pulang sendiri."

"Tidak ada penolakan, Kakak bawa mobil. Ayo!"

Lengan kanannya sudah terlebih dahulu ditarik menuju parkiran, dan mau-tak mau Minhee menurut dalam diam.

.

Bersambung.

6

0 0

.

Didalam mobil, hanya keheningan yang menemani. Suara dari radiopun nyatanya tak bisa mencairkan suasanya. Sijangkung sepertinya engga hanya untuk buka suara. Diperhatikannya dari samping tubuh kurus itu sedikit gemetar. Mungkin efek dari kedinginan. 

"Minhee, pakai jaketku."

"Eh jangan Kak."

Jungmo menyampirkan jaketnya dikedua pundak sijangkung, dan itu berhasil membuat kedua kening yang lebih muda mengerut. Umur Minhee dan Jungmo hanya berbeda satu tahun saja.

"Tidak apa, kau kedinginan."

Koo Jungmo adalah anak tunggal, dulu dia ingin sekali mempunyai seorang adik. Tapi kondisi sang ibu yang sayangnya tak bisa mengandung lagi membuatnya harus menjadi satu-satunya anak dari keluarga Koo. 

Saat masa-masa sekolah dasar. Jungmo sempat iri kepada teman-temannya yang sering menceritakan betapa menyenangkannya bermain bersama saudaramu sendiri. Jungmo sangat iri tapi dia bisa apa? Tapi, sukurnya walaupun dirinya adalah anak tunggal. Kedua orang tuanya tak pernah abai akan kasih sayang. 
Dan pada saat dirinya memasuki sekolah menengah, dia bertemu dan satu kelas dengan Minhee. Sejak pertama bertemu, jiwa seorang Kakak muncul saat untuk pertama kalinya dirinya melihat sosok manis ini menangis sendirian didepan gerbang sekolah disaat hujan deras.

"Terima kasih Kak Jungmo, eh belok kanan kak."

"Baiklah."

Minhee tersenyum tipis sembari mengeratkan jaket dikedua pundaknya.
Keduanya keluar dari dalam mobil dengan Jungmo yang dengan panik memegangi kedua pundak sempit Minhee yang hampir saja oleng.

"Hati-hati dek."

"Aku ga papa Kak, sudah baikkan. Lebih baik Kakak segera pulang dan terima kasih untuk tumpangannya." 

Minhee melepaskan jaket yang sedari tadi sersampir dikedua pundaknya kepada sang pemilik. Tanpa basa basi lagi, Minhee segera masuk dengan pandangan menunduk, dirinya tahu jika salah satu anggota rumah tengah memperhatikannya sekarang. 

"Mulai berani ternyata kau anak kecil?"

.
.

"Adek pulang~ hhh.."

Serunya setelah masuk kedalam serta meletakkan sepatu pada rak didekat pintu. Sepi, tidak ada sambutan yang berarti untuknya. Sepertinya kedua orang tuanya belum kembali dari rumah sakit dan hanya ada sepatu milik sang kakak. 

Baru saja melangkah menapaki udakan tangga kesepuluh dari bawah, suara itu mengintrupsinya.

"Dari mana saja? Kenapa baru pulang?"

"Abang.. adek habis dari rumah temen kok."

"Halah, sana cepat masuk, aku muak melihat wajahmu."

Jaemin berlalu begitu saja mengabaikan eksfresi murung sang adik yang berjalan lesu kedalam kamarnya.

"Hhh~ sakit~" 

Ringisan kecil itu keluar dari ranum pucatnya, cairan pekat itu kembali menetes pada hidung mancungnya dan mengotori lantai kamar. 

"Kenapa keluar lagi sih, sshhh~"

"Adek permisi, adek mau dimasakin makan siang apa.. adek! Ya ampun adek kenapa?"

Bibi Ahn yang kebetulan datang, dibuat terkejut saat melihat sang tuan terduduk dilantai dengam keadaan hidung berdarah serta wajah piyasnya.

"Bibi?"

"Adek sakit? Mau bibi telpon tuan?"

"Jangan Bi! Adek hanya mau istirahat saja, nanti sembuh kok bi."

"Baiklah, tapi jika adek membutuhkan sesuatu cepat panggil bibi ya?"

Tawaran Bibi Ahn hanya mendapat sebuah anggukan oleh sang tuan rumah. 

"Sekarang biarkan Bibi bantu membersihkan mimisanmu itu."

Bibi Ahn segera memapah tubuh kurus Minhee untuk duduk dipinggiran tempat tidur, dan segera membantu membersihkan darah yang mulai mengering pada wajah manis Minhee yang jujur, jika dilihat dari dekat sangatlah pucat dari biasanya.

.
.

Malam ini Daddy datang dengan membawa buku tebal ditangannya. Siwon mendapatkan kabar jika anak bungsunya Minhee hampir tenggelam, dan bukannya khawatir, ayah dengan anak kembar itu malah tak menampilkan ekspresi apapun kala itu. 

"Kang Minhee bangun!"

"Ung? D-daddy?" 

Minhee yang sedang tertidur spontan terbangun saat gebrakan sang daddy. Matanya mengerjap saat melihat sebuah buku tebal yang dia tahu apa itu. Buku yang berisi soal-soal rumit untuk dia kerjakan.

"Cepat bangun dan kerjakan semua soal ini dalam waktu 1 jam. Tidak ada bantahan!"

"Em.. baiklah." 

Apa yang bisa dia lakukan selain menurut?

.

Bersambung

7

0 0

Bunyi hantaman benda keras bergema nyaring didalam kamar bernuansa biru. Beberapa maid yang mendengarnya hendak membantu, namun saat tahu bahwa sang Tuan sedang kalap mereka mengurungkan niatnya.

Didalam sana, Minhee pasrah saat kepalanya dipukul oleh tangan besar sang Daddy saat ketahuan tertidur. Sekuat tenaga menahan rasa sakit akibat pukulan itu dengan cara menggigit bibi bawahnya kuat.

"Anak tidak tau diri! Jangan malas jika ingin mendapat nilai sempurna seperti Jaemin!"

"Maaf Daddy~ sshh.."

Digenggamnya erat-erat pulpen guna menahan rasa nyeri yang luar biasa pada kepalanya.

"Dalam silsilah keluarga, tidak ada satupun yang sepertimu! Pemalas." 

Siwon hendak memukulkan buku paket namun urung,saat suara lembut sang Istri mengintrupsinya.

"Hh~ kau selamat kali ini Kang Minhee. Dan ingat, besok pagi soal-soal ini harus segera diisi, mengerti!" 

Hanya sebuah anggukan yang dapat sibungsu lakukan guna menjawab perintah mutlak dari sang daddy. 

Tak jauh dari sana, berdiri Jaemin dengan senyum remeh dan tentu saja Minhee melihatnya. Jaemin seolah mengejeknya tanpa suara dari sana.

"Dasar tak tau diri."

Lalu segera turun menuju ruang makan mengikuti sang Daddy, tanpa ada niatan sekadar mengajak makan malam bersama. 

"Hhh~ tidak apa. Minhee kuat kok~" 

Rancaunya disela-sela tangis tertahan dan ringisan menahan rasa sakit pada kepalanya.

.
.

"Daddy, adek sudah menyelesaikan semua tugasnya."

Minhee dengan seragam sekolah lengkap berjalan menghampiri sang daddy diruang makan, dengan membawa sebuah buku tebal yang berisi soal-soal rumit didekapannya. 

"Bagus, semuanya benar." 

Seru Siwon tanpa mau menoleh kepada sibungsu yang tersenyum amat cerah walau dalam keadaan pucat. Tak tahukah jika putramu itu tengah menutupi rasa sakit dengan senyum itu? Yoona yang baru saja bersiap menatap heran kepada sibungsu yang nampak berbeda. Bagaimanapun dia adalah seorang Ibu yang pasti mempunyai naluri, tetapi ego serta gengsi membuatnya mengesampingkan hal itu dan mengabaikan sosok rapuh yang menatapnya dengan kedipan polos layaknya bayi yang membutuhkan sebuah pelukan. 

"Apa liat-liat? Sudah sana pergi sendiri. Jalan kaki bisakan?" Seru sang kepala keluarga tanpa mau bersitatap dengan sibungsu.

"Tapi.." 

"Aish! Sudah sana-sana minggir, gua mau pergi sekolah Hust!" 

Jaemin mendorongnya menjauh dari pintu mobil, lalu segera masuk kedalam mobil yang mana akan mengantarkannya kesekolah. Mengabaikan sang adik yang hanya bisa tertunduk sedih disana. 

"Hick.." 

Isakan samar mulai terdengar sesaat setelah mobil kedua orang tuanya pergi meninggalkan pekarangan rumah. Setega itukah meninggalkannya? Menyuruhnya untuk berjalan kaki menuju sekolah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah?

"Baiklah Minhee, tidak apa. Hick.. tidak apa kok~"

Ucapnya lirih sembari menguatkan dirinya sendiri. 

.
.

Didalam kelas nampak ramai seperti biasa, dipenuhi dengan ocehan Hyeongjun yang bercerita tentang Cici, kelinci peliharaannya yang baru. Serta Yujin yang katanya mendapatkan uang jajan tambahan dari sang papa. Dan masih banyak lagi. 
Minhee akan meresponnya dengan senyum tipis dan sesekali menimpali percakapan random para sahabatnya ini. Sebelum namanya dipanggil oleh pak guru Han, selaku guru dibidang olahraga.

"Kang Minhee bisa ikut saya?"

"Iya Pak? Guys aku keluar dulu ya."

Semua mata sekarang tertuju kepada sijangkung. Dengan sebuah anggukan, Minhee segera menghampiri sang guru yang telah menunggunya.

"Ada apa ya Pak?"

"Minhee, begini saya kemarin mendapat kabar dari ayahmu, bahwa akhir-akhir ini nilaimu dalam bidang sains nampak sangat bagus," Pak Han menepuk dua kali pundak kiri Minhee.

"Dan disini, saya diberikan amanah untuk menyampaikan dan ingin mengikut sertakanmu dalam olimpiade sains, yang diadakan pihak sekolah minggu depan."

Skakmat bagi Minhee. Tunggu! bukankah Olimpiade diadakan dua minggu lagi? Minhee masih ingat ucapan dokter diruang kesehatan kala itu.

"Tunggu Pak Han, bukannya Olimpiade diundur menjadi dua minggu lagi?" Pak Han mengerutkan keningnya bingung. 

"Lalu bagaimana dengan lomba renangku?"

"Dua minggu? Kata siapa itu? Dan info dari mana itu Minhee? Setahun bapak olimpiade tetap akan diadakan pada Minggu depan."

"Dari Dokter diruang kesehatan sekolah tempo hari Pak."

Ekspresi Pak Han langsung berubah sumringah. Ternyata dokter baru itu. 

"Tidak ada Kang Minhee, sepertinya dokter Lee Shin salah mendengar kabar. Kamu tenang saja masih ada waktu untuk belajar dan berlatih. Baiklah saya permisi dulu dan selamat berjuang Kang Minhee."

Pak Han tersenyum dan segera berjalan meninggalkan Minhee yang masih memproses apa yang tengah terjadi. Helaan nafas menjadi tanda jika dirinya mulai lelah dengan semuanya, belum lagi dirinya yang harus menghadapi olimpiad sains, yang mana selalu diikuti oleh sang kakak kembar. 

Apakah dia harus bersaing dengan saudaranya sendiri? Jujur Minhee sangat takut dan sangat tahu tabiat sang kakak seperti apa. Banyaj kemungkinan yang akan dia hadapi jika saja dirinya menjuarai lomba itu, mengingat Jaemin yang sangat membenci dirinya.

Minhee sibuk bergelut dengan fikirannya sampai tak menyadari kehadiran seseorang disampingnya. 

"Minhee?"

"Oh! Kak Jungmo. Astaga maaf kak, aku melamun hehe"

Jungmo tersenyum dan mengusuk gemas surai lembut sijangkung dengan tangan kirinya yang bebas. 

"Sedang melamunkan apa? Ini kakak membelikanmu susu pisang. Kakak dengar kamu belum sarapan, hish bandel sekali masa seorang atlet renang mengabaikan sarapannya."

Jungmo sedikit mengomel dan direspon Minhee dengan sebuah cengiran menggemaskan yang membuat kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit, dan jangan lupakan Frekless yang berada dibawah matanya, menambah kesan gemas.

.
.
Bersambung

8

0 0

Tidak terasa hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Minhee terlihat gugup dan cemas. Disaat seperti ini, dirinya masih mengkhawatirkan apa reaksi sang Kakak saat mengetahui jika dirinya diikut sertakan dalam perlombaan sains untuk pertama kalinya. 

"Minhee, ayo."

Perlombaan itu berlangsung dengan semestinya, dan sepertinya dewi fortuna sedang berbaik hati kali ini. Dengan cepat dan tenang, Minhee berhasil menjawab semua soal-soal yang diperlombakan pada hari ini dengan lancar tanpa kendala yang berarti.

.
.

"Hei! Kang Minhee!"

"Kak, Yunseong!" 

Senyum Minhee mengembang saat sosok itu berjalan mendekatinya dengan satu buah buket snack pada tangan kanannya.

"Selamat untukmu Minhee."

"Eh, ini untukku? Woah terima kasih kak Yunseong."

Lihat, betapa senangnya simanis saat mendapatkan hadiah kecil dari orang-orang terdekatnya. Disana sesosok anak laki-laik menatap penuh kemarahan akan interaksi kedua orang itu. Dapat dilihatnya sang adik yang tersipu saat rambutnya diusap dan juga perlakuan manis dari para sahabat Minhee yang baru saja tiba disana sembari mengucapkan selamat, sama seperti yang Yunseong lakukan.

"Akan kuberi kau pelajaran Kang Minhee."

.
.

Tak disangka, hari berlalu dengan cepat saat hasil pengumuman pemenang lomba sains telah diumumkan dimading sekolah. Sorakan kegembiraan memenuhi mading kala itu. 
Disana untuk pertama kalinya, namanya tertulis serta dengan jumlah poin tertinggi. Kang Minhee, berhasil menduduki peringkat pertama dan mengalahkan Jaemin yang notabenenya selalu berada diperingkat pertama. 

"Minhee! Selamat ya! Gila sih otaknya encer banget." Pekik Hyeongjun heboh.

"Betul, dan ini untuk pertama kalinya lo ikut sain tapi sudah masuk peringkat pertama Minhee!"

Seru gadis berbut hitam itu tak kalah hebohnya. Berbeda dengan ekspresi Minhee, sijangkung merasa terbebani akan itu, apa lagi saat kedua matanya tak sengaja bersinggungan dengan sosok itu. Dapat dia rasakan aura penuh kebencian serta tatapan penuh dendam menguar dari sana.

"Abang..." gumamnya lirih.

"Minhee ayo kita rayakan ini dikantin, biar kakak yang traktir! Ayo guys!" 

Jeno merangkul leher Minhee dan segera membawanya pergi menuju kantin sekolah bersama teman temannya yang lain.

"..maaf~" 

Minhee berucap, bertepatan dengan dirinya dan yang lain berjalan melewati sosok itu. Bohong jika Jaemin tak mendengarnya, anak laki laki itu jelas mendengar gumaman Minhee, sudut bibirnya terangkat sinis setelah menatap kepergian sang adik.

"Ck, muak sekali aku melihat wajahnya itu."

"Hei Jaemin! Lo ga papa? Suram sekali wajahmu itu. Jangan difikirkan soal dimading lo cuman..." 

"Bisa diem gak lo Donghyun? Mood gua lagi ga baik jangan lu tambah-tambahin bisa?" 

Keum Donghyun, secepat kilat melepaskan rangkulan tangannya pada leher Jaemin yang menatap datar padanya.

"Hehe maaf Jaem, tapi lo oke? Maksud gua, itu anak baru yang ikut lomba sains dan berani-beraninya geserin posisi lo.." 

Ucapan Donghyun menggangtung saat lagi-lagi tatapan dingin Jaemin arahkan padanya.

"Ok maaf, gua diem aja deh."

Memilih mengalah dan memilih mengikuti kemana langkah temannya itu dalam diam. Donghyun dapat merasakan aura tak enak saat berjalan berdua dengan Jaemin.

'Tunggu saja, gua akan bikin lo menderita seperti berada dineraka Minhee' 

.
.

Bersambung.

9

0 0

Sore itu, kedua orang dewasa disana tengah bersiap dengan beberapa koper besar mereka. Kedua pasangan dokter itu akan pergi bertugas sekitar satu bulan Dijepang. 

"Tuan, semuanya sudah siap."

"Baik bi, Jaemin selama Daddy dan Mommy pergi jangan nakal ya?"

Siwon pengusak lembut surai coklat sisulung dengam sayang. Setelah mendapat sebuah pelukan hangat dari sisulung. Keduanya bersiap untuk memasuki mobil yang akan mengantar mereka kebandara. 

"Dadah Dad, Mom!" 

Suara lembut sibungsu menghentikan sejenak pergerakan sang kepala keluarga untuk membuka pintu, hanya sepersekian detik. Sama halnya dengan sang ibu, namun Yoona memberanikan diri menoleh sebentar kepala sipemilik suara lembut itu dan memandangmya sebentar sebelum bergerak memasuki mobil. 

Mobil yang mereka tumpangi segera melaju meninggalkan perkarangan rumah mewah itu, menyisakan dua anak kembar dan beberapa maidnya.

"Abang..."

"Minggir lo! Ngehalangin jalan gua aja sih!" 

'Brug

Dorongan yang cukup kuat dari Jaemin membuat Minhee terjerembab jatuh. Mata indahnya mengerjap polos sembari memandang sosok yang berjalan menjauh itu dengan banyak pertanyaan dibenaknya.

"Adek tidak papa dek? Mari bibi bantu dek."

"Bibi, abang kenapa selalu marah padaku bi? Adek bikin salah apa sama abang?"

Pertanyaan itu meluncur dengan bebas dari ranum sikecil yang menatap polos. Alih-alih menjawab, bibi hanya bisa tersenyum dan mengusap pipi gembil anak dari sang tuan rumah dengan sayang. 

"Daddy juga suka marah sama adek bi."

"Sudah, jangam difikirkan ya? Mungkin mereka hanya lelah dan tidak ingin adek ganggu. Hmm?"

Mata bulat itu mengerjap lucu dengan sebuah senyum manis tercetak pada paras indahnya. Kang Minhee, tak tahu saja kau jika didalam sana neraka yang diciptakan oleh saudaramu tengah menunggu. Semoga kau baik-baik saja.

.

"Abang? Sedang apa dikamar adek?"

Disana, sosok Jaemin tengah duduk membelakangi Minhee. Sangat jarang, dan bahkan mungkin tidak ada sekalipun, sosok itu sudi memasuki kamarnya. 
Jaemin menoleh dengan ekspesi tak terbaca disana.

"Dek.."

Minhee terkesikap, untuk pertama kalinya panggilan itu keluar dari ranum sang kakak. 

"Hey, kenapa melamun? Ayo kemarilah adikku,"

Gugup, senang, dan berbagai rasa sekarang bercampur aduk didalam dadanya. Entahlah. Dengan langkah pelan, sibungsu melangkah dan duduk dengan perlahan disisian tempat tidurnya. 

"Minhee-ya~"

Tangan kanan yang lebih tua terangkat, tetapi reaksi berbeda ditunjukkan sibungsu dengan ekspresi ketakutan yang begitu kentara. 

"Abang, adek jangan dipukul hick.." 

Ucap Minhee dengan linangan air mata yang siap keluar kalau saja kekehan dari Jaemin tak menghentikannya.

"Kenapa? Adek takut?" Jaemin dengan lembut mengusap pucuk kepala Minhee.

"Jangan takut, abang minta maaf ya? Mau berbaikan denganku?"

Jaemin menatap dalam-dalam mata indah yang serupa dengannya, berniat menyakinkan bahwa niatnya untuk meminta maaf itu tulus.

"Mau memaafkanku, dek?"

Minhee awalnya ragu, namun saat kedua kelereng beningnya bersinggungan dengan sang kakak, keraguannya itu sirna tergangtikan dengan rasa percaya.

"Ung~ iya abang. Adek maafin abang."

"Terima kasih, dek. Terima kasih." 

Lalu keduanya berpelukan untuk pertama kalinya, dan tentu reaksi itu spontan membuat Minhee terkejut untuk beberapa detik sebelum dengan senyum lebarnya membalas pelukan hangat dari sang kakak kembar. 

"Adek sayang abang Jaemin." 

Mendengar itu smirk tipis terukir pada wajahnya. Tak tahu kah kau Minhee, jika kakakmu sudah merencanakan sesuatu yang akan membuatmu menderita nantinya. Semoga dewi fortuna melindungimu Kang Minhee. 

'Welcome to the hell Kang Minhee.' Inernya jahat.

.

Bersambung.

10

0 0

Pagi itu, seperti biasa. Anak-anak akan memenuhi kewajiban mereka untuk kesekolah pada umumnya. Begitu juga dengan kedua saudara kembar ini. 
Minhee nampak sangat bersemangat pagi ini, dan itu jelas sekali pada sebuah senyuman indah yang terpatri pada parasnya yang manis. Kedua saudara kembar itu akan berangkat kesekolah bersama. Sederhana memang, tapi mampu membuat sibungsu excited sampai beberapa kali hampir tersandung kakinya sendiri saking bersemangatnya dirinya.

"Adek, mau bibi buatkan bekal?"

Seru bibi yang menyiapkan sarapan diatas meja. Disebelah sana, sosok Jaemin tengah menikmati sarapan mereka dalam diamnya.

"Tidak usah bibi, adek akan makan dikantin nanti kok, emm.. pagi abang."

"Pagi juga dek, bibi buatkan bekal untukku dan adek ya. Aku ingin makan siang bersama adikku disekolah." 

"Baik Tuan muda."

Minhee mengedip lucu atas perkataan sisulung yang berniat mengajaknya untuk makan bersama nanti.
Terkejut, tentu saja. Untuk pertama kalinya selama mereka tinggal dan bersekolah, Jaemin mengajaknya untuk makan bersama, dan apa katanya tadi? Makan siang bersama disekolah? Minhee tentu saja mau. 
.
.
"Adek, sampai jumpa dijam makan siang um? Belajar yang rajin adik kecil." 

Sebuah pemandangan asing kini dipertontonkan didepan ruang kelas itu. Semuanya tentu saja terkejut saat Jaemin untuk pertama kalinya memperlakukan Minhee seperti itu, dan sebutan kata 'adik' tak ayal membuat mereka terutama teman-teman Minhee bertanya-tanya. Siapa dan ada hubungan apa diantara keduanya.

"Umm.. see ya~" balas yang lebih muda.

"Heh, Minhee kau hutang penjelasan pada kami semua ya." Seru simata bulat sesaat Minhee baru saja duduk.

"Iya nih, tumben ketua osis begitu. Kalian ada apa?"

"Dia kakak kembarku"

"Apa? K-kembar?" Jeno yang baru saja masuk dibuat terkaget. 

"Serius Minhee? Kok ga pernah cerita sama kita? Ah! Pantas saja saat pemakaman nenek dia ada disana. Ternyata dia saudaramu." Sambungnya lagi.

"Pantas kalian sangat mirip, hanya berbeda warna kulit. Benarkan guys?" Yujin menimpali dan mendapat anggukan serentak dari mereka. 

Tak jauh dari sana, Jaemin menatap jijik telapak tangannya yang tadi dia pergunakan untuk mengusak helaian rambut Minhee. 

"Sabar Jaem, semua akan tersusun sesuai rencana." Gumamnya tak lupa Smirk tipos tercipta disana.

.

Jam makan siangpun tiba, Minhee bergegas memasukkan semua buku dan alat tulisnya kedalam tas. Senyum secerah mentari tak pernah luput dari parasnya sekarang. 

"Cie, senang banget yang mau makan siang bareng kakaknya." Seru Hyeongjun dengan cengiran khasnya.

"Ihh~ Jun-ah, aku senang sungguh." Minhee tersipu.

"Ya sudah sana gih, kak Jaemin pasti sudah menunggu ditaman.

Meraih kotak bekalnya, Minhee segera berjalan menemui sang kakak yang telah menunggunya ditaman belakang sekolah. Selama perjalanan, Minhee tak henti-hentinya untuk tersenyum. Bayangan dirinya dan sang kakak akan makan bersama dan mengobrol dengan hangat sudah tergambar jelas dibenaknya. 

"Minhee!" Itu kakaknya.

Dengan langkah riang, Minhee berjalan menghampiri sosok Jaemin yang telah menunggunya.

"Adek telat hihi, maaf abang." 

"Gak papa, ayo makan. Oh ya, abang tadi membeli susu pisang kesukanmu, abang dengar kau suka susu ini. Nih minumlah." 

"Terima kasih abang. Iya adek suka susu pisang hehe." 

Dengan senang menerima satu kotak sedang susu kesukaannya tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun. 
Disebelahnya, Jaemin dengan santai mulai memakan bekal miliknya dalam diam dan sesekali, ujung matanya memperhatikan ekspresi sang adik yang masih senantiasa meminum susu pisangnya dengan khidmat. 

"Ung~" suara ringisan Minhee terdengar.

'Gotcha!' 

Inernya senang sambil berpura pura tidak mendengar. Mari mulai berakting Jaemin.

"Astaga, dek kenapa? Loh kok mimisan?"

"Abang, kepala adek.. akh~ sakit."


.

Bersambung.

11

0 0

Keduanya sudah berada diruang kesehatan dengan Dokter Shin yang menangani. 

"Jangan menunduk Minhee, nah iya begitu." 

Dengan cekatan, sidokter muda ini membersihkan sisa-sisa darah yang berada disekitaran hidung mancung Minhee. 

"Lebih baik kamu istirahat saja disini. Jam istirahat masih ada 15 menit." Sang dokter berujar pelan.

"Tidak dokter, aku tidak papa.. eh~"

Baru saja, kedua kakinya menapak pada lantai ruang kesehatan. Tubuh jangkungnya sudah oleng.

"Tuhkan oleng. Sudah istirahat saja, dan ini vitamin serta pereda mual dan pusing."

"Hu'um.. dokter shin. Aku kenapa?" 

Dokter muda itu mencuci tangannya sebentar lalu mendudukan dirinya disebelah Minhee. Tangan kanannya terangkat, guna mengusuk gemas surai Minhee.

"Gemas sekali. Kamu keracunan susu tau?"

"Susu? Kok bisa?"

Minhee mengerjabkan matanya lucu sembari menatap sang dokter muda.

"Bisalah, kamu pasti tidak hati-hati saat membeli susu. Susu yang kamu minum barusan sudah kedaluwarsa." 

Minhee terdiam sejenak. Kadaluwarsa katanya? Jaemin memberikannya susu yang tak seharusnya diakonsumsi. Tepukan pelan pada pundaknya menjadi pengalih dibeberapa detik lamunannya.

"Minhee, kamu sakit? Ayo jujur hmm?"

"A-aku? Hehe tidak dokter. Aku sehat kok."

"Jangam berbohong, saya bisa melihat dari pemeriksaan kemarin saat..."

Minhee menatap memelas pada sang dokter dengan kedua mata indahnya yang sekarang berkaca-kaca.

"Dokter, aku mohon jangan biarkan siapapun mengetahuin sakitku."

"Loh, kenapa? Bukannya bagus mereka tahu."

"Jangan, aku ga mau merepotkan mereka dok. Janji ya?" 

.

Jaemin segera bangkit berdiri saat melihat sang adik berjalan dengan pelan serta wajah sedikit pias. 

"Adek, udah mendingan?"

"Hmm.. udah bang, adek mau kekelas."

Minhee menampik tangan Jaemin yang hendak membantunya. Jaemin yang melihat itu tentu saja berpura-pura iba. 

"Minhee, tunggu biar aku bantu sampai kelas."

"Bang.."

"Sudah ayo." 

Minhee yang memang lemas hanya pasrah saat rangkulan itu diterimanya. Jujur dia ingin menangis.

"Abang.. adek mau pulang, b-bolehkah?" Ucapnya lemas.

.

Sopir keluarga Kang telah tiba setelah sang tuan muda memberitahukannya jika Minhee sedang sakit. Dengan tergesa mengambil alih tubuh lemas sibungsu dan segera memapahnya masuk kedalam mobil. 

"Adek bisa jalan? Atau mau saya gendong?" 

"Adek bisa pak.. uh~" 

"Tuh kan, biar saya gendong adek sampai mobil."

Lagi-lagi tubuhnya oleng kalau saja pak Ahn tidak menahannya. Dibelakang sana Jaemin berpura-pura khawatir, tapi entahlah. Ekspresinya tak serta-merta menunjukkan kekhawatiran itu sendiri. 

.

Dalam perjalanan pulang, pak Ahn tak henti-hentinya melirik Minhee melalui kaca spion depan. Dapat dia lihat wajah itu berubah semakin pias dengan keadaan bibir yang mengering. 

"Dek, yakin ga papa? Mau kerumah sakit?"

Ajakan itu, untuk kesekian kalinya hanya mendapatkan respon sebuah gelengan pelan dari sang empu yang sedari tadi hanya diam dan sesekali melamun. 

'Nenek, apa yang harus Minhee lakukan?' Inernya lirih. 

Tanpa disadari cairan pekat berbau anyir itu kembali turun dan membasahi seragam atasannya, tentu itu tak luput dari perhatian sang sopir yang segera menepikan mobilnya.

"Dek, ya ampun. Adek mimisan kita harus kerumah sakit sekarang."

"Engga pak, adek ga papa uhh~" 

Darah itu semakin banyak mengucur beesamaan dengan denyutan sakit pada kepalanya. 

"Ugh~ sakit.. Pak Ahn.." 

Kedua tangannya spontan meremas kencang surainya, melampiaskan rasa sakit yang teramat pada kepalanya. Teriakan kesakitannya membuat sang sopir tak tega. 

"Dek Minhee, bertahanlah kita akan kerumah sakit." 

Dengan tergesa Pak Ahn mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat. 

.
.

Bersambung.

12

0 0

.
Minhee berhasil dilarikan kerumah sakit milik kekuarganya. Dan disinilah dirinya, diruang salah satu dokter bernama Kim Wooseok. Sikecl hanya berani menunduk sambil memainkan jari jemarinya saat pandangan sang dokter tertuju padanya.

"Minhee.. apa yang saya bilang soal menjaga pola hidup sehat dan makan teratur?" 

Minhee hanya dapat menunduk, enggan menatap mata sang dokter. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain dengan gugup.

"Kang Minhee~"

Wooseok bangkit dan mengambil posisi berjongkok disamping kursi yang diduduki Minhee.

"Minhee, mau terapi ya?"

Kepala yang tertunduk itu lantas mendongak dan langsung bersinggungan dengan kedua mata kucing sang dokter.

"Ga mau kak, Minhee takut." 

"Hanya sebentar kok, saya janji dokter Kang.."

"No!" Minhee menyentak kedua tangan Wooseok dengan kuat.

"Jangan beritahu mereka, aku mohon~" lirihnya dibarengi dengan tubuhnya yang merosot jatuh kelantai. 

"Kenapa?" 

"Aku ga mau Mommy ataupun Daddy mengetahui sakitku kak, tolong rahasiakan ini, please."

Wooseok yang tak ingin jika pasiennya tertekan mencoba mengalah. Baginya Minhee sudah seperti adik kandungnya, melihat saat pertama dirinya bertemu Minhee dalam keadaan yang tak bisa dikatakan baik saat itu.

"Tapi dek. Kankermu akan semakin parah jika.."

"Cukup berikan aku obat kak."

Hhh~ helaan nafas berat Wooseok terhembus. 

"Baiklah, tapi kamu harus janji untuk selalu rutin check up sebulan sekali." 
.
.
Pak Ahn segera membukakan pintu mobil saat Minhee berjalan dengan lesu. Sang sopir dengan lembut menuntunnya sampai masuk kedalam. 

"Dek, masih pusing gak? Mau saya belikan sesuatu untuk adek makan? Atau mau susu pisang?" 

Dapat dia lihat sang tuan hanya menjawab dengan sebuah gelengan pelan serta pandangan kosong kedepan. 

"Baiklah, kita pulang sekarang ya."

"Hu'um.."

.

Diperjalan pulang, diam-diam Minhee meremat kedua tangannya erat sampai membuat bekas kebiruan disana. Wajahnya memang tak sepucat diawal, tetapi sungguh jika dibandingkan dengan warna kulit orang sehat tentu itu sangat kentara.

"Kami pulang."

Bibi yang memang menunggu kepulangan Minhee, lantas bergegas menyambutnya dan terkejut saat melihat warna kulit sang tuan nampak berbeda dari terakhir kali dia lihat. Pucat bak sewarna mayat.

"Astaga dek, kok pucet sekali. Ayo bibi bantu kekamar ya?" 

Bibi dengan lembut dan penuh kasih sayang menuntunnya menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Bersebelahan dengan kamar Jaemin. 

"Adek mau makan? Atau mau mandi dulu? Mau bibi bantu ganti bajunya?"

"Bibi, adek mau istirahat saja."

Sahutan teramat pelan dari Minhee membuat pergerakan tangan sang bibi yang akan membuka ikat sepatunya terhenti. Pandangan penuh kasih dan sayang dari sang bibi diterimanya. 

"Baiklah. Adek jika perlu sesuatu cepat-cepat beritahu bibi ya?"

"..." 

Tidak ada sahutan yang berarti dari sang pemilik nama. Bibi dengan perlahan berjalan keluar dari kamar bernuansa biru cerah dan putih itu, rasa khawatirnya masih kentara saat dirinya untuk sekali lagi menoleh kebelakang dan melihat jika sisulung keluarga Kang telah terlelap dengan wajah pucatnya. 

"Selamat tidur adek."

.

Yunseong berlari tergesa saat mendapati sosok yang dia cari baru saja melewati kelasnya. Kang Jaemin sang ketua Osis. 
Dapat dilihatnya sosok itu tengah bercengkerama dengan beberapa anak osis lainnya. 

"Oh iyakah? Bagus itu kita harus tetap menta'ati peraturan osis kan? Belum lagi lomba renang akan diadakan.." 

"Kang Jaemin! Tunggu." 

"Yunseong? Emm kalian bisa pergi diluan keruang rapat. Aku akan menyusul." Suruh Jaemin pada beberapa anggota osis lainnya. 

"Oh hai Hwang Yunseong, tumben lo nyamperin gua duluan. Mau nagih uang taruhan?" Ucapnya sarkas.

"Lo bisa diem gak? Gausah bahas itu dulu? Gua lagi gak mood bahas taruhan, gua cuma mau tanya kemana adek lo? Besok olimpiade renang."

"Ya mana gua tahu, cari tau aja sendiri males banget bahas tuh anak."

"Dia kembaran lo.." ucap Yunseong dengan tangan terkepal.

"Eits~ tumben lo peduli sama dia. Suka lo sama dia?" Tudingnya.

"Jaga mulut lo, gua cuma menjalankan tugas gua sebagai perantara Pak Han buat manggilin anak-anak buat latihan persiapan besok,"

"Dan lagi, gua masih normal jika lo lupa Jaem."

Dan setelahnya Yunseong pergi dari sana dengan dengusan kesalnya. Mengabaikan Jaemin yang tertawa pelan disana.

.

Bersambung

13

0 0

Jaemin melepaskan sepatunya lalu menaruhnya pada rak dekat pintu. Anak laki laki berperawakan tinggi itu berjalan santai memasuki rumahnya. 

"Aku pulang."

"Tuan muda, mau saya siapkan makan malam?" 

Seru sang bibi, sembari membawakan ranselnya dan juga almamater yang dia kenakan.

"Hu'um, oh ya bibi dimana Minhee?" 

"Oh, adek sedang tidur dikamarnya tuan. Katanya sedang tidak enak badan."
.
Siwon nampak geram. Guratan kekesalannya begitu kentara terlihat sesaat setelah panggilan itu terputus. Baru saja dirinya mendapat kabar dari pihak sekolah jika Minhee absen mengikutin kelas tambahan yanh diadakan sekolah selama dua hari. Siwon yang memang selalu menuntut semuanya harus sempurna dan lagi, didalam silsilah keluarganya yang memang sangatlah menjunjung tinggi pendidikan dan sampai tak pernah absen dari yang namanya sebuah penghargaan. Tapi ini, salah satu anaknya telah merusaknya. 

"Kenapa sayang?" Yoona berjalan menghampiri sang suami yang terlihat marah.

"Anak itu mulai berulah."

"Anak itu?" 

"Iya, anak itu siapa lagi jika bukan dia."

"Apa yang telah dia perbuat? Apa dia menyakiti putra kesayangan kita?" 

Siwon berjalan menuju kaca besar yang berada diruangannya, yang menampilkan pemandangan kota tokyo dari sini. 

"Dia mulai berani membolos. Dan yang paling buruk, dia menuduh Jaemin menenggelamkannya dikolam renang." 

"Apa! Beraninya dia melakukan itu pada anakku!" 

Hei, apa kalian tak tahu jika bukan itu yang sebenarnya terjadi, namun sepertinya rasa sayang berlebihan kalian kepada sisulung membuat kalian lupa untuk mencari tahu semuanya terlebih dahulu.

"Aku akan memberinya hukuman sesampainya kita dikorea."

Dan benar saja, sehari sebelum olimpiade renang digelar. Keduanya telah kembali. 
Tanpa salam, sang kepala keluarga berjalan cepat menuju lantai dua, kamar sibungsu berada.

"Kang Minhee!" 

Minhee yang sedang belajar spontan berdiri saat mendengar teriakan dari sang ayah. 

"D-daddy sudah pulang?" Sedetik setelah berucap, sebuah tamparan kuat diterimanya.

"Apa? Kaget saya pulang?" Dijambakknya surai lembut sibungsu kuat.

"Daddy, s-sakit~"

"Gimana rasanya membolos sekolah? Enakkan ga ada saya yang bisa mantau kamu? Enak?"

Siwon semakin kuat menarik surai itu sampai mengakibatkan beberapa helainya terputus.

"Engga.. daddy lepas, s-sakit~" 

"Sakit katamu? Sini kamu, biar saya kasih pelajaran!"

Siwon tanpa melepaskan jambakkannya berjalan menyeret Minhee menuju lantai bawah. Jaemin yang baru saja pulang, lantas terkejut saat melihat kedua orang tuanya sudah tiba dan lagi, sang daddy menyeret Minhee dan membawanya kegudang tepat dibelakang dapur. 

"Dad.." Saat langkah kakinya maju selangkah, sang ibu menahannya. 

"Biarkan daddy yang mengurusnya."

"Tapi Mom, adek.."

Kening Yoona mengerut heran. Sejak kapan sang anak mulai memanggil dan menganggap anak itu sebagai adiknya?. 

"Jaemin, apa katamu tadi?"

"Tidak mom, mommy salah dengar kok."

.

Siwon mendorong Minhee untuk masuk kedalam sebuah gudang dengan satu ember besar air. Minhee mencoba berontak dan memohon, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan sang ayah. Ditambah lagi dalam kondisi emosi, sang ayah akan benar benar meluapkannya seperti sekarang. 

"Daddy, adek mohon jangan kurung adek disini."

"Diam disana!" 

Satu tamparan lagi-lagi mendarat pada pipi putihnya yang pucat dan itu tentu meninggalkan bekas, lima jari yang memerah.

"Terima hukumanmu anak nakal!"

Satu ember besar air dingin mengucur dari atas kepalanya dan Minhee hanya bisa pasrah, saat dengan sengaja sang daddy menjatuhkan ember tepat keatas kepalanya. 

"Diam disana dan renungi kesalahanmu anak nakal! Dan lagi, jangan berani-berani keluar!" 

Perintah sang daddy adalah mutlak baginya dan tak bisa dibantah lagi. Minhee hanya bisa tertunduk pasrah dengan kondisi basah kuyup serta kedinginan. 

.
.

Bersambung

14

0 0

Tepat jam 4 pagi, seseorang membuka pintu gudang. Itu bibi, yang datang dengan membawa sebuah handuk hangat ditangan kanannya.

"Dek, dek Minhee bangun dek." 

"Ung~ bibi?" 

Minhee bangun dengan rasa nyeri dan pegal disekujur tubuhnya yang kurus, dapat bibi lihat kondisinya yang semakin pucat dari terakhir kali dia lihat. 
Dengan segera bibi menyampirkan handuk ketubuh sibungsu, berniat untuk mengurangi rasa dinginnya. 

"J-jam berapa sekarang bi? A-adek harus kesekolah.." 

"Masih jam 4 pagi, dek. Mari bibi bantu kekamar, tuan dan nyonya sudah pergi lagi tadi dek." 

Lagi? Kedua orang tuanya pergi tanpa berpamitan padanya. Ekspresi sedihnya terbaca dengan begitu kentara pada wajah pucatnya. 

"Adek jangan sedih. Kan masih ada bibi dan yang lainya, hmm?" 

"Abang juga ikut kah?" 

Serunya, kelereng beningnya menilik kamar disebelah yang pintunya sedikit terbuka dan nampak sepi seperti tak ada kehidupan didalamnya. Sebuah anggukan pelan diterima sibungsu. 

'Kenapa kalian pergi ninggalin adek sendirian, lagi?' Inernya sedih.

Setelah mandi sibungsu Kang tak ada niatan sedikitpun untuk tidur. Dirinya hanya menatap pantulan dirinya yang begitu mengenaskan didepan cermin. 

.

"Adek, tadi bibi dapat telpon dari Nyonya kalau hari ini ada lomba renang ya?"

"I-iya bi."

Bibi dengan cekatan menaruh nasi putih hangat keatas piring Minhee yang menatap sarapannya tanpa selera. 

"M-makasi bi." 

.

Disekolah, Minhee mulai merasakan jika badannya sedikit menggigil, serta kepalanya seperti ditusuk. Indra penglihatannya sedikit mengabur.

"Shh.."

"Minhee?Ga apa-apa lo?"

"Gak apa-apa kok,Hyeongjun." 

Ya, Hyeongjun, sang sahabat yang menemaninya bersiap, selagi menunggu. 
Hyeong memperhatikannya,bibir pucat anak itu sedikit demi sedikit membiru seperti tak ada aliran andarah.

"Lo sakit?"

"T-tidak"

"Hey?Badan lo panas.." 

"Gua ga papa Jun, gua ga mungkin sakit lah."

"Tapi, Minhee badan lo panas banget ini." Hyeongjun mencoba membujuk, namun respon diam sijangkung membuatnya berspekulasi lain.

"Yasudah, lo kalo ga kuat bilang aja ya? Biar gua bantu jelasin sama Pak Han." 

"Ok!"

Berusaha untuk fokus saat perlombaan dimulai. 

"Fighting,our littleboy!"

"Yaampun,Hyungjun" lirihnya.

"Minhee yaaaaa! Our lil brother! Harus menang lho ya!" Dongpyo ikut menimpali.

Minhee menjalani pertandingan pertamanya dengan baik. Berusaha tak panik dan mengatur pernafasnya, walaupun pada kenyataan badannya sedikit tremor saat berada didalam air. Ingat, jika dirinnya alergi terhadap dingin. 

Minhee berharap semoga anggota keluarganya akan datang, selagi beberapa tim medis memberinya sebuah handuk hangat serta hotpack, guna mengatasi rasa dinginnya.

Dirinya masih berharap orang-orang terkasihnya berhadir. Tetapi setelah kembali gilirannya berenang sampai menyelesaikan sesi keduanya pun tak kunjung datang, terutama Jaemin sang kakak.

Loncatan 5 meter. 10 meter hingga loncatan 20meter. Kemana mereka? Minhee sudah mengabari jika dia tak lupa. Kaki dan tangannya mulai kaku saat itu. 

.

"Juara 1 untuk perlombaan renang, dengan poin tertinggi 5579 diraih oleh.. 

"..Kang Minhee!"

Ketika semua teman dan guru bersorak gembira akannya. Minhee hanya terdiam. 
Mengkhawatirkan kedua tangan yang terasa sangat berat dan sulit digerakkan. 
Dirinya juga masih memikirkan orang-orang tersayangnya. Kenapa sampai sekarang mereka tak berhadir? 

Apalah dirinya benar-benar tak penting dalam keluarga?

"Kang Minhee, seb bentuk sebuah apresiasi, kamu boleh berikan satu atau dua patah kata dan motivasi untuk yang lainnya." 

Gawat. Dia paling benci jika harus berpidato seperti ini, ditambah dirinya sudah sangat kedinginan.

.
.

Bersambung.

15

0 0

"Minhee? Lo ga papa? Apa yang lo rasain?"

Kedua mata indah itu mengerjab, disertai dengan kerutan bingung pada keningnya.

"Aku dimana?" 

"Ruang kesehatan sekolah. Lo tenggelam Minhee, mau kerumah sakit?"

Minhee baru ingat setelah ditari dari dalam kolam oleh Pak Han. Kejadian itu membuat semua yang melihatnya shock dan menarik nafas, saat didepan mata kepala mereka bagaimana kondisi Minhee yang tak baik-baik saja setelah berhasil keluar dari dalam kolam. 
Para petugas medis melakukan pertolongan pertama dengan tindakan CPR. Tapi Minhee tetap tidak ada tanda-tanda untuk sadar.

"Mommy kemana? Abang Jaemin?"

"Mereka ga datang Minhee, Jaemin? Dia juga ga ada. Lu yakin ga papa?"

Sijangkung hanya memandang sungkan kepada para sahabatnya. Dengan raut sendu serta ucapan lirihnya.

"Gua gak papa kok,Hyungjun." 

"Minhee, mereka ga bisa dateng, katanya ada urusan mendadak, tadi gua dah telpon mereka." Itu Jungmo.

"Lo mending nginap dirumah gua ya? Kasihan nanti lo sendirian dirumah." Ucap Jungmo lagi.

"Engga kak, aku pulang kerumahku aja. Ada bibi kok dirumah."

"Kalo gitu gua nginap deh ya, buat jagain lo."

.

Didalam mobil, Minhee hanya tediam sendu sembari memandang keluar jendela disampingnya. Disebelahnya Jungmo memandang penuh khawatir akannya. 

"Minhee, kenapa? Ada yang sakit kah?"

Gelengan pelan menjadi jawaban atas pertamyaannya. Yang lebih tua teringat pqda pembicaraan kedua sahabat Minhee beberapa jam lalu yang bilang jika Minhee benar dalam kondisini tak baik.

Flashback

Jungmo yang pada saat itu hendak mengambil sesuatu didalam lokernya tak sengaja mendengar sebuah pembicaraan.

"Lo yakin Minhee baik-baik aja? Lo liat ga itu lebam disekitara pipi sama bibirnya tadi?" 

"Gua ga tau pasti kak Jeno, Pyo, tapi Minhee ga bahas atau cerita apapun dari tadi."

"Apa itu perbuatan abangnya? Atau ayahnya? Lo pernah liat Minhee kesakitan pas dikelas?" Seru Dongpyo kala itu.

"Hng~ pernah, tapi gua ga berani nanggepin Pyo." 

"Hh~ Minhee diem-diem kek nyembunyiin sesuatu dari kita. Gua yakin dia tuh lagi sakit, tapi ga mau cerita sama kita." 

"Pyo, alangkah baiknya kita jaga Minhee dari jauh aja dulu. Gua yakin, Minhee bakalan cari kita."

"Lo bener, Minhee harus dijaga."

Jungmo yang mendengarnya lantas segera berlalu dari sana, niatnya hanya satu. Segera bertemu dengan Minhee.

-flashback end-

Mereka sudah sampai dikediaman Kang. Siyang lebih muda berjalan duluan setelah menoleh dan mendapati sedikit ekspresi ragu-ragu dari yang lebih tua, lalu dirinya berjalan pelan memasuki rumah besarnya. 

Dari arah dapur bibi datang menyambut mereka berdua dengan senyum hangatnya. Jungmo yang melihat itu lantas ikut menyapa dengan senyum tampan. 

"Adek, sudah pulang? Eh ada dek raden, ayo mari masuk."

"Hehe iya bi."

"Bibi, kak mogu mau nginep malam ini. Bibi siapin camilan enak ya buat adek sama kak mogu nanti hehe." Suara itu amat kecil saat terdengar digendang telinganya. 

Adik kecil kesayangannya kenapa? 

.

Keduanya menghabiskan waktu berdua dengan hening.

"Apa yang sakit dek?" Sedetik setelah Jungmo mendengar desisan lirih yang lebih muda.

"Hanya sedikit lemes sama pusing kak mogu. Ga papa kok Minhee baik-baik aja hehe."

"Sini, kakak bantu pijetin kepalanya ya?"

"Hehe, makasih kak Mogu"

"Emm, sama-sama dek." Setelahnya hanya keheningan yang menemani.

"Minhee, aku mau tanya sesuatu."

"Tanya apa, kak?"

"Minhee.. kamu sakit–"

Tok tok

"Adek, ini camilan sama minumnya."

"Oh, iya bibi, makasih ya." Jungmo segera mengambil alih nampan yang berisikan makanan dan minuman untuk mereka.

"Makasih ya bi."

"Sama dek raden."

.

Bersambung

16

0 0

.

"Jadi, kak Mogu mau tanya apa tadi sama aku?"

"Orang tua lo kapan pulang? Lo kembar sama Jaemin? Kok gua ga tau?"

"Emm.. iya aku sama abang Jaemin kembar, tapi kita sedari kecil tinggal terpisah. Mom sama Dad ada kerjaan dijepang, dan ga tau deh kapan pulangnga kak." Suara itu, sangatlah pelan.

"Abang Jaemin juga ikut mereka."

Jungmo hanya merespon dengan anggukan pelan.

"Oh, begitu. Minhee kakak mau tanya sesuatu lagi deh, tapi lo harus jujur sama kakak."

"Apa itu kak?" Tiba-tiba Minhee rasa tegang entah kenapa.

"Tadi lo kenapa bisa tenggelam? 

"H-hah?"

Tiba-tiba Minhee merasa keringat dingin mulai berjatuhan dari pelipisnya. Kenapa dia begitu gugup akan pertanyaan itu?

"Ga biasanya loh. Lu kalo disuruh buat apresiasi pasti selalu berhasil, tapi kenapa tadi lo..."

"Hehe.. tadi tangan sama kakinya keram kak Mogu. Mungkin karna aku juga sudah lelah tadi."

"Minhee, lo ga bohong kan?

"Engga lah kak Mogu, ngapain aku bohong." Kilahnya.

"Terus–ini badan lo kenapa pucet? Panas lagi."

Jungmo akhirnya mempertanyakan apa yang sedari tadi menjadi pertanyaannya sampai matanya melihat ada bekas tanda kebiruan pada lengan atas Minhee.

"Apanya?"

"Badan lo pucet. Ini kenapa biru-biru?"

Minhee seketika terlihat nampak semakin gugup, namun sebisa mungkin menutupinya. 

"Engga papa kak. Aku cuma akhir-akhir ini suka kesandung terus jatuh dan jadilah tanda biru-biru ini. Hehehe."

"Jangan bohong sama gua dek."

"Aku ga bohong kak Mogu."

"Jujur sama kakak. Ini ulah Jaemin? Iyakan?"

"Serius deh kak, ini memang karna jatuh. Nih lihat deh.."

Minhee mencubit lengannya sendiri.Hanya sebentar dan lihatlah, memar biru itu langsung tercipta disana. Jungmo memperhatikannya, cubitan itu nampak tak bertenaga sama sekali. 

"Loh kok bisa sih?"

"Ih, kak Mogu lupa ya? Aku kan memang pucat, makanya sedikit aja kena goresan sekecilpun akan keliatan kak."

Kang Minhee, dia sudah berani berbohong rupanya. Sebenarnya penderita kanker memang akan kehilangan sebagian fungsi dari epidermisnya. Makanya, segala bentuk benturan kecil akan berndampak dengan timbulnya ruam-ruam serta tanda seperti lebam kebiruan pada kulitnya.

Oh, sayang. Kenapa harus berbohong dan lagi? Jungmo pasti bisa membantumu jika saja kau tak berbohong. Kang Minhee yang malang.

"Kak Mogu kenapa sih? Mukanya lucu kkk~" 

"Minhee, lo kok makin kurus ya? Berapa berat lo? Ya, gua tau tinggi lo 190cm. Gua cuma tanya berat badan. Lu kek kurus banget kaya lidi berjalan." Ujarnya diselingi candaan diakhir.

"Aku diet kak, 45kg kalau ga salah segitu hehe."

Jungmo yang mendengarnya terkejut. Yang benar saja, 45kg? Minhee seorang laki-laki kalau kalian tak lupa. Dan lagi, 45kg adalah berat badan ideal wanita.

"Diet macam apa itu? Lo mau mati diet sampai sekurus itu dek. Ya ampun mau sekurus apa lagi."

"E-engga gitu juga kak Mogu, ihh."

Maafkan aku kak, udah bohong sama kakak dan juga teman-teman yang lainnya. Dosaku pasti udah banyak ini, aku cuma ga mau kalian khawatir sama aku. Nanti aku bakalan sering berdoa buat minta ampun sama Tuhan. Minhee berdoa dalam hatinya.

.

Malam telah larut dan keduanya sudah berada diatas kasur dengan posisi berpelukan. Minhee memperhatikan wajah siyang lebih tua sedang terlelap dengan damai. Senyum indahnya tercipta, dirinya senang akhirnya bisa tertidur dalam dekapan seorang kakak, walau Jungmo bukan kakaknya Jaemin.
Matanya menandang kosong plafon kamar, memikirnya kenapa sikap anggota keluarganya berbeda saat memperlakukannya. Minhee memperhatikan jari-jemari milik Jungmo yang nampak berisi dan bentuknya yang panjang, dan membandingkan dengan jari-jemarinya yang nampak sangat kurus serta seperti hanya terlihat tulang yang dilapisi kulit.
Sedikit biru serta pucat. Seperti mayat hidup, menyeramkan. Pantas saja kedua orang tuanya membencinya.

.
.
.

Bersambung

17

0 0

.
Disekolah, seperti biasanya Minhee hanya akan menikmati masa-masa belajarnya dengan diam. Tapi, ada yang sedikit berbeda darinya. Wajahnya serta warna kulitnya yang nampak pucat. Hyeongjun menyadari itu. 

"Minhee, lu beneran udah sehat?" 

"Iya, sudah Jun."

"O-oke."

Bagus, dirimu kembali berbohong Kang Minhee. Kebohongan yang keberapa kali yang telah kau lakukan. 'Maafkan aku..' gumamnya dalam hati. 

Saat jam-jam mata pelajaran fisika. Minhee mati-matian memahan denyutan nyeri yang kembali datang menghantam kepalanya. Pulpen menjadi media pengalih rasa sakit itu, sampai sang guru yang mengajar memanggil namanya guna menjawab satu soal yang ada didepan. 

"Sshh~ i-iya bu." 

Dengan perlahan, sijangkung melangkah maju. Langkahnya sedikit terseret-seret jika diperhatikan. 

"Baik, Minhee kamu bisa kan menjawan soal ini? Dan jelaskan secara rinci ya?" Dan sebuah anggukan pelan menjadi jawaban.

Tak sampai 10 menit, Minhee sudah menjawab satu soal yang diberikan lengkap dengan penjelasan yang begitu mendetail. Semua teman-teman yang berada dikelas tak henti-hentinya memuji kepintaran diatas rata-rata miliknya.

"Baiklah kamu boleh duduk Minhee."

.
.

Jaemin mengeram kesal. Dirinya masih berada dijepang bersama kedua orang tuanya. Ditelinganya, menempel apik sebuah earphone yang tersambung dengan sebuah panggilan.

"Iya, iya, bakalan gua kirim uangnya. Ck, gua bakalan pulang nanti. Tunggu aja tuan muda Hwang, gua ga akan lepas dari tanggung jawab. Kan gua yang ngajakin lo taruhan? Ok."

Setelahnya, panggilan itu terputus. Rambutnga diusak random. Habislah semua tabungannya. 

.

Jungmo datang dengan membawa sebungkus roti dan susu pisang. Dirinya berpapasan dengan Yunseong yang sepertinya baru keluar dari arah atap sekolah. 

"Seong, habis ngapain lo disono?"

"Bukan urusan lo Mo, gua cabut dulu."

Dengusan pelan dikeluarkannya. Dia kira dirinya tak tahu apa, kebiasaan merokok sang anggota osis itu memang. Ah sudahlah Jungmi tak ingin ambil pusing. 

Tak jauh dari sana, dirinya melihat Minhee yang membawa beberapa buku paket. Sepertinya ingin keperpustakaan.

"H-hei Minhee."

"Kak Mogu? Ngapain kesini? Kelas kakak kan diatas?"

"Mau kemana? Lo kalo mau kekelas, kelas lo kan disana."

"Mau keperpustakaan kak mau minjam sama balikin buku ini."

"Oh.. eh, Minhee. Beberapa hari lalu gua liat lo deh."

"Hng?"

"Dirumah sakit. Lu kenapa kesana? Siapa yang sakit?"

"Hah? E-engga kak, kakak salah liat kali ah."

Minhee sedikit gemetar saat menjawab. Ada nada gugup yang kentara sekali Minhee coba sembunyikan.

"Ih kak Mogu, aku serius." 

"Tapi Minhee, gua jelas banget liat itu lu deh. Posisinya ga jauh."

"Aku ga kesana kakak." Jawab siyang lebih muda kekeh.

"Iya, iya. Kakak salah liat kalik yah, gausah panik dek. Ya ampuh hahaha."

Tawa renyah Jungmo diakhir kalimatnya membuat Minhee segera menghembuskan nafas lega. 

'Syukurlah' inernya dalam hati.

"Aku, pergi dulu kak Mogu."

"Oke,"

"Lu harusnya gausah bohong dek." Lirih Jungmo disaat Minhee telah berjalan menjauh. 

Demi apapun, Jungmo benar-benar melihat Minhee disana. Masuk kedalam ruangan khusus penyakit dalam. Dirinya pada saat itu hendak memanggil sosok itu, namun urung saat merasa waktunya kurang tepat. Tapi dirinya meragukan satu hal. Untuk apa Minhee kesini dan lagi masuk kedalam ruangan dokter khusus penyakit dalam?

"Lo sakit apa dek?

Lirihnya lagi sambil terus memandang tubuh rapuh itu yang sudah berbelok menuju ruang perpustakaan.

.
.
.

Bersambung.

18

0 0

Saat itu. Minhee menumpahkan semuanya. 
Menekan flush air didalam toilet yang sekaligus melenyapkan seluruh obat-obatnya.
Dirinya sudah benar-benar tak perduli lagi bagaimana diirnya akan hidup kedepannya, ada atau tidak dengan obat-obatan itu. 
Hatinya sudah mati rasa, baginya lebih baik merasa rasa sakit itu sendiri agar dirinya tahu akan rasanya sakit dan itu akan membuatnya terbiasa.

Isakkannya terdengar bergema memenuhi seluruh areal kamar mandi. Dirinya sudah menyerah dengan semuanya dan memilih pasrah akan kondisinya.

Sementara sang Mommy tengah berada diluar kamar putra bungsunya, mengusap lembut ukiran nama pada pintu bercat putih itu.

'Minhee room'

"Maaf dek." Gumanya.

.

Pagi-pagi buta. Minhee terbangun dengan keadaan mata yang sembab sehabis menangis. Senyumnya mengembang sangat indah walau tak seindah biasanya. Dirinya hanya ingin tersenyum bahagia setiap hari, untuk menyambut pagi.

Dimeja makan, ada Daddy Mommy dan Jaemin. Kedua orang tuanya nampak sangat berwibawa saat mengenakan jas kedokteran mereka, serta Jaemin dengan seragam sekolah yang sama dengannya 

Mereka bersiap-siap untuk sarapan pagi dan diatas tangga sana, dirinya meragu. Apakah harus ikut bergabung?

"Adek udah bangun?"

"I-iya bi."

"Ayo sarapan dek, tuan dan nyonya sudah menunggu, ayok." 

Lalu bibi segera menarik sebuah kursi perlahan tepat disamping Jaemin untuk Minhee bisa duduk dan menikmati sarapannya. 

Kedua orang dewasa disana sedikit heran, biasanya setiap pagi Minhee akan selalu mengucapkan sapaan selamat pagi kepada mereka, walaupun tidak pernah mereka respon. Tetapi, hari ini sisulung hanya terdiam tanpa mengucapkan sapaan apapun kepada mereka.

Minhee menatap kosong makanan yang berada dihadapannya.

"Adek mau bibi buatkan bekal gak?"

"Ga usah bibi."

"Kamu ada operasi sayang?"

"Ada. Tapi cuma satu kok, sisanya hanya cek serta pemeriksaan rutinan tentang kanker." Siwon menyuapkan satu sendok nasi kemulutnya.

"Sekarang banyak pasien yang berusiamuda terkena kanker. Maksudku, mereka semua masih remaja. Yoona, aku dan benerapa tim dokter lainnya sedang berusaha untuk menemukan pengobatan bagi mereka." Ucap sikepala keluarga.

"Selesai jam berapa hari ini?"

"Mungkin aku akan pulang malam,kamu bisa pulang duluan kalo mau."

"Engga ah, aku mau nungguin kamu dinas."

"Jangan terlalu lelah, ok?" Siwon mengusap lembut pundak Yoona.

"Iya, tidak kok."

Minhee hanya diam mendengarkan apercakapan keduaorang tuanya. Disampingnya Jaemin juga nampak asik memakan sarapan paginya, tanpa perduli dirinya ada atau tidak.

Dengan perlahan dirinya mulai mengunyah suapan yang kesekian kalinya. Sam pada suapan ini, kunyahannya terasa lebih lama dari biasanya. Sibungsu sempat menyerngit merasa sedikit heran, kenap dirinya sangat susah untuk sekadar menelan makanannya?

Jaemin yang melihatnya langsung memprotes.
"Heh, kok ga lo makan sih?"

"Jangan buang-buang makanan Minhee! Kalo gak mau ikut sarapan mending pergi sana." Suara berat dari sang ayah mengintruksinya.

"Em.. uhuk~ uhuk... arghh.."

"Astaga, adek minum dulu dek."

Bibi Ahn bergerak cerapt mengambilkan air minum sementara ketiga pasang mata disana hanya menatap heran Minhee. Mereka heran, kenapa Minhee nampak kesakitan?

Minhee segera beranjak dari sana dengan cepat dengan sebelah tangannya yang memegang mulut kecilnya.

"Adek.." Bibi Ahn memandang sibungsu khawatir.

.

Lagi dan lagi, makanan yang dia konsumsi kembali keluar tak besisa. Minhee nampak menderita saat tak bisa menelan barang sesuap nasi. Dadanya sesak saat dirinya memaksakan untuk menelan.

"Ck, sungguh mengerikan kau Kang Minhee." Monolongnya pada pantulan kaca didepannya.

"Monster haha."

Dibalik tawa itu, ada gurat kesedihan yang tersimpan didalamnya. Kang Minhee yang malang. 
.
.

Bersambung.

19

0 0

Sebuah ketukan pada pintu kamar mandi menyadarkannya. Minhee akan terlambat jika terus-terusan mengumpati pantulan dirinya didepan cermin.

Dengan tergesa dan membiarkan kemeja serta almamaternya yang basah dan juga keadaan wajah serta rambutnya yang penuh keringat, Minhee membasuh wajahnya sebentar dia masih harus sekolah sebelum terkena amukan sang ayah dah kembali dikurung digudang.

Buru-buru berjalan keluar mengabaikan tatapan terkejut sisulung dan meminta p
Pak Ahn untuk segera mengantarkan sekolah. Minhee tak menyadari jika Yonna menatapnya heran. Tapi berbeda lagi dengan Siwon yang acuh-tak acuh pada anaknya. Diringa hanya fokus mempersiapkan jas dokternta serta perlengkapan kerjanya yang lain.

Sesampainya disekolah, Minhee tak serta merta masuk, melaikan dirinya berjaln menjauh dari sekolah. Entahlah, dirinya terlalu muak untuk sekolah. Tak ada ekspresi yang signifikan untukewakili wajahnya sekarang. Putih pucat seperti tak ada aliran darah yang mengalir pada nadinya. Untuk kali ini biarkan dirinya menjadi anak nakal.

Hh~ hembusan nafas lelah tercipta. Dirinya sudah berada ditaman dekat rumah sakit tempatnya melakukan pemeriksaan, duduk diantara bangku panjang. Ditatapnya kedua telapak tangan kurusnya yang mengerikan, haruskah dia masuk menemui wooseok? Dirinya begitu takut akan diagnosa lain yang menyangkut tentang kanker yang dia derita. 

Minhee masih tak bisa untuk tidak menangis, dirinya benar-benar rapuh. Rasa kesal, kecewa, sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Apa lagi rasa kecewanya pada sang kakak tempo hari yang berniat membuatnya keracunan. Apa kakaknya tidak sayang padanya? Apa kakaknya berniat melenyapkannya? Sebegitu bencinya kah? Tapi, salahnya apa?. 

Kedua orang tuanya juga seolah acuh tak acuh padanya. Selalu meninggalkannya sendiri berdua dan bahkan sendirian dirumah bersama para maid. Minhee hanyalah remaja berusia 16 tahun yang masih membutuhkan perhatian kedua orang tuanya. Dirinya ingin sekali merasakan sebuah pelukan hangat dari sosok ibu dan juga sebuah kata-kata penyemangat dari ayah. Tapi apa? Bahkan untuk sekadar duduk bersisianpun keduanya seolah enggan padanya. 

Tak tahukah? Dirinya sangat membutuhkan itu. Kondisinya yang benar-benar memprihatikan. Jauh didepan sana, mata indahnya dapat melihat sebuah keluarga kecil yang nampak sangat bahagia tengah mengajak bermain anak mereka. Tersenyum miris, andai dirinya yang menjadi anak itu. 

.
.

Siwon duduk tenang disofa dengan sebuah buku ditangannya saat sibungsu datang.
"Dari mana kamu?"

"Ung.. a-aku.."

"Kamu ga sekolah? Gamau ikut les? Mau coba jadi anak pembangkang kamu?"

"Pulang malam, mau jadi apa kamu? Jadi anak ga tau diri amat."

Nada bicara ayah yang dingin justru membuat Minhee merasa tegang dari pada ayah yang marah. Tak terlalu larut memang. Dirinya pulang jam 6:30 dan bahkan saat matahari belum tenggelam sepenuhnya.

"B-bukan gitu Daddy. Tadi Adek c-cuman jalan-jalan bentar terus ketemu temen."

"..." Tak ada jawaban berarti disana.

"A-adek lupa kalo ada les."

Sang kepala keluarga menelisik ekspresinya jauh. Sementara sibungsu meremas kesepuluh jari-jemarinya takut-takut jika sang ayah mengetahui dirinya tengah berbohong.

"Lalu? Tetap kamu mau bolos? Les kamu kan sampai jam 9 malam. Baru jam setegah enam, masih ada waktu untuk ketempat les!"

"I-itu"

"Apa? Saya gak nerima bantahan. Mau bikin saya malu kamu?" Suara tegas sang ayah membuatnya terperenjat takut.

"Emm.. baiklah, Adek berangkat dulu. Emmm.. tapi daddy.."

"..."

"Adek boleh gak minta daddy yang anterin ketempat les?"

Percayalah, Minhee harap-harap cemas saat mengucapkan keinginan sederhananya itu. Sementara Siwon nampak bingung harus menjawab permintaan sibungsu. Tentu dirinya ingin sekali saat dirinya melihat eskpresi polos sibungsu, tapi sekali lagi ego mengalahkannya. Jujur rasa penyesalan itu ada, tapi entahlah.

Kang Minhee yang malang. Sibungsu yang harusnya mendapat kasih sayang, yang seharusnya dibanggakan keluarga, harus menerima kasih sayang yang terbagi berkat keegoisan orang tuanya. Bagi sebagian orang memiliki anak kembar itu sebuah anugerah yang luar biasa. Tapi tidak bagi keluarga Kang. Mereka memilih hanya salah satu saja yang harus mereka kasihi. Dan itu Jaemin, tapi tidak dengan Minhee. 

"Daddy ga bisa yah? Yasudah adek berangkat sama Pak Ahn saja. Tapi daddy harus janji mau jemput adek sama abang nanti ya?"

Matanya berbinar penuh harapan. Dengan kedua tangannya terkepal didepan dadanya. Memohon sedikit perhatian dari sang ayah. 
Perlahan namun pasti, langkahnya mendekati sang ayah selangkah demi selangkah. Tangannya yang rapuh meraih sebelah tangan sang ayah lalu menggenggamnya. 

"Bolehkan daddy?"

"..."

"Adek mohon, please~"

Hhh~ 

"Iya."

"Serius? Asik. Adek sama abang bakalan tungguin Daddy ngejemput kita. Makasih daddy. Adek sayang Daddy!" 

Senyum itu, teramat bahagia dan untuk pertama kali Siwon melihatnya. Senyum yang teramat manis ditambah dengan kedua matanya yang menyipit membentuk bulan sabit. Anaknya.

.
.

Bersambung

20

0 0

Ditempat les, Minhee nampak bersemangat dan itu mau tak mau membuat sang guru serta Jaemin sedikit heran.

"Semangat sekali Minhee."

"Hehe iyah, Aku akan dijemput daddy nanti bersama Abang Jaemin Pak." Ucapnga dengan menggebu-gebu.

'Ck' Disebelahnya, Jaemin menatapnya dengan terheran. Mari kita lihat apakah sang ayah akan menjemput sikembar?

.

Saat pukul 9 malam tiba, cepat-cepat Minhee memasukkan semua bukunya kedalam tas, saat mendapati sosok Jaemin berjalan mendahuluinya tanpa ada niatan barang menyapanya. Tak ada firasat apapun saat itu, Minhee masih percaya jika sang ayah tak akan ingkar akan janjinya untuk menjemput dirinya bersama sang kakak. 

"Pak saya pamit pulang ya, dadah!" Serunya.

Minhee berjalan cepat saat mendengar sebuah bunyi kendaraan yang sangat familiar ditelinganya. Mobil sang ayah, yang nyatanya sudah berjalan pergi meninggalkannya sendiri dengan tatapan kosong. 

"Daddy kok ga nungguin adek?" Monolongnya entah kepada siapa. 

.

Dirinya terduduk didepan halte pemberhentian bus. Dirinya beranggapan bahwa sang ayah akan kembali menjemputnya. Senyum manisnya masih terpasang apik disana sampai pada jam yang hampir menunjukkan pukul 24:30 dirinya tak mendapati mobil milik sang ayah. 

Apakah daddy lupa? Daddy ga mungkin meninggalkannya kan?

Hhh~ udara malam yang menusuk membuat dirinya menyerah. Harapannya yang begitu tinggi akan sang ayah seolah dihempaskan begitu saja san hancur berkeping-keping. Dirinya kecewa tentu saja. 

Dirinya berjalan pelan ditengah dinginnya malam, berusaha untuk pulang kerumah dengan keadaan seluruh badannya yang mulai menggigil. Jujur saja, jarak rumah dan tempat dirinya sekarang terlampaulah sangat jauh. 
Baru saja 10 meter berjalan, suara klakson dari Pak Ahn. 

"Adek, tuan besar lupa jemput adek. Tuan yang suruh saya jemput adek"

"..."

"Adek ayo masuk, udaranya dingin."

"Daddy kemana?" Ucapnya lirih.

"Tuan pergi kerumah sakit dek." Sahut sang sopir.

"Jam berapa? Kok ga jemput adek?" 

"Jam 10 tadi dek. Tuan ada panggilan mendesak adek."

Jam 10? Harusnya sang ayah masih bisa untuk menjemputnya kan? Tapi kenapa hanya menjemput Jaemin saja dan malah pergi begitu saja tanpa berniat balik untuk menjemput dirinya? Apa sang ayah lupa dirinya punya dua orang anak dan bukan cuma satu.

Kenapa daddy ingkar padanya? Dan kenapa Pak Ahn baru saja menjemputnya? 4 jam setelah jadwal pulangnya?

"Adek, ayo masuk dingin ini dek."

"Gak mau pak, adek maunya daddy yang jemput." Minhee dengan sikap keras kepalanya.

"Adek, ayo pulang itu lihat adek mengigil kedinginan. Yuk pulang."

"Ga mau pak, hick.. adek maunya daddy yang jenput pokoknya a-akh!"

"Adek? Tuhkan kambuh lagi. Ayo pulang ya?"

Minhee merintih dengan tangan yang mencengkram dadanya kuat, serta sekujur tubuhnya yang mengigil hebat.

"Adek kedinginan, ayo kita akan segera pulang."

Pak Ahn menuntun Minhee untuk masuk dan bergegas membawanya pulang. Yang dirinya tahu, Minhee hanya alergi terhadap cuaca dingin. Padahal lebih dari itu, Minhee mempunyai hipotermia yang mana bila dirinya terlalu lama berada diudara dingin.

.

Bibi panik saat melihat Pak Ahn menggendong sibungsu yang terlihat begitu pucat dan nampak sangat kedinginan disana. Disana juga ada Yoona, tapi sosok wanita cantik itu hanya terdiam saat Pak Ahn menaruh sosok rapuh itu tepat sisofa, disampingnya duduk.

"Dia kenapa?"

"Adek kedinginan nyonya. Bagaimana ini?" 

"Bawa Minhee kekamarnya bi, gantikan pakaiannya sama pakaian hangat. Terus kasih kompres air hangat bi." Seru Yoona dengan pandangan binggung serta gugup.

"Loh? Kenapa gak nyonya saja yang menggantikan baju dek Minhee dan ngerawatnya? Bibi segan kalau harus gantiin baju adek. Bibi cuma pembantu."

"Bibi saja sana yang gantiin, Mommy lagi capek tau bi." Sela Jaemin yang baru saja muncul dan juga Siwon yang hanya memandang datar pada sosok rapuh itu.

"Tapi tuan, adek udah nungguin tuan sedari tadi. Adek ngotong ga mau pulang kalau tadi gak saya paksa."

"Terus? Itu salah saya?"

Pak Ahn hanya bisa bungkan. Jujur dirinya merasa khasihan pada Minhee.

"Yasudahlah bibi, siapkan makanan, obat demam,air hangat sama kompresan buat Minhee ya." Yoona akhirnya mengalah.

"Sayang? Apa-apaan?"

"Aku melakukan ini karna aku seorang dokter. Bibi cepat dan Pak Ahn tolong gendong Minhee kekamarnya."

"Baik nyonya."

.
.

Bersambung

21

0 0

.
Tubuhnya benar-benar sedingin es, serta warna kulitnta yang membiru seperti kayaknya mayat. Disana, Jaemin melihatnya, tubuh saudara kembarnya yang dipenuhi benerapa lebam biru yang menghiasi. Disana sang mommy tengah mengompres serta membasuh tubuh kecil Minhee.
"Kenapa kecil sekali?" Guman sang ibu lirih. 

"Bibi ambilkan salep dan juga mingak telon." 

"Baik nyonya." 

Yoona merasa miris melihatnya, putranya yang lain kenapa bisa sekurus ini sedangkan Jaemin, dapat dikatakan sangatlah terawat dari Minhee yang hanya seperti tulang berbalutkan kulit. Ibu macam apa dirinya. Jaemin hanya mematung saat sang ibu mengganti seluruh baju Minhee. 

"Mommy~" 

Gerakannya untuk mengompres kening sibungsu terhenti saat suara lirih itu terdengar.

"Tidurlah, saya disini. Jaemin tolong ambilkan air hangat yang baru ya."

"A-apa? A-ku, tapi mom.."

"Sudah turuti saja dulu."

.

Setelah tugasnya selesai, Yoona berniat untuk keluar sebelum sebuah tangan kecil menahan ujung bajunya. Minhee menatapnya tanpa kedip.

"Kenapa?"

"..."

Hhh~ hembusan nafas berat tercipta.

"Kamu kalau mau ngomong sesuatu bilang sekarang, saya sibuk."

"Mommy... adek mau peluk b-boleh?" 

Yoona pada awalnya tergerak ingin berbalik namun suara sang kepala keluarga membuatnya urung.

"Sayang ayo, biarkan saja anak itu didalam."

.
.

"Yoona kau apa-apaan sih!"

"Apanya? Aku melakukan itu sebagai dokter bukan sebagai ibunya. Kau ingat sumpah kita bukan?"

"Tapi.. ah sudahlah terserah kau saja." 

Siwon berjalan pergi meninggalkannya dengan keadaan emosi disana. Jaemin yang kebetulan hendak menemuinya pun menjadi segan saat melihat ekspresi tak mengenakkan sang ayah. 
Siwon dengan tangan terkepal meraih tongkat golf kesayangannya lalu mendobrak pintu kamar berwarna putih milik Minhee. 

"Bangun kau anak sialan!" 

"Daddy kenapa?"

Siwon dengan tega menariknya sampai terjerembab kelantai. Minhee yang hendak bangkit berdiri pun langsung mendapat pukulan dari tongkat yang sang ayah layangkan pada tubuhnya.
Emosi sudah menguasainya sampai dengan ringannya melukai tubuh sang anak yang tak berdosa itu. Jeritan memohon serta isak tangis sibungsu tak sekalipun membuat siwon berhenti melayangkan tongkat itu pada tubuhnya, kalau saja bibi Ahn tidak berteriak guna menghentikan aksi sang tuan rumah.

"Hick.. bibi~" 

"Tuan ini kenapa? Adek Minhee anaknya tuan. Usstt tidak papa adek bibi sudah disini, tak apa."

Dipeluknya tubuh penuh luka sibungsu kang dengan penuh sayang, mengabaikan Siwon yang sudah berjalan mundur dan segera keluar tanpa sepatah katapun yang keluar dari rungunya. Tubuh Minhee gemetar menahan rasa sakit pada kepala serta tubuhnya.

"Daddy mau kemana?" Jaemin hendak mengejar namun ditahan oleh sang ibu.

Sedangkan didalam sana, tangisan kesakitan Minhee semakin nyaring terdengar dan itu mau tak mau membuat sang bibi yang memeluknya ikut terisak, mengabaikan dua sosok lain yang menampilkan ekspresi berbeda. 

"Sudah tidak papa, bibi obatinya adek ya? Usstt tidak papa. Adek Minhee kuat ya, ada bibi sama pak Ahn disini." 

Nyatanya perkataan bibi tak serta merta meredakan rasa sakitnya. Bukan sakit akan penyakit serta lebam yang didapatnya, melainkan luka pada hatinya. Selamat, sepertinya sang ayah telah berhasil menciptakan rasa sakit hati padanya.

.

Wooseok menggelengkan kepalanya dibarengi dengan hembusan nafas lelah. Untuk kesekian kalinya, dirinya harus dibuat bersabar akan salah satu pasiennya. Kang Minhee. Anak kecil berusia 16 tahun yang akhirnya mendatanginya untuk melakukan check up bulanan. 

"Anak nakal! Kemana saja kau? Dan ini apa? Luka-luka apa ini dek? Jangan bilang kamu berkelahi?"

Hanya gelengan serta gumaman lirih yang diterimanya dan itu tentu saja membuat sang dokter kembali menghela nafasnya.

"Minhee, kamu ga mau sembuh apa? Katanya mau jadi model kalau sudah lulus. Kok sekarang kamunya begini? Mau sembuh gak?"

"Kak, maaf.." 

"Tak apa Minhee." 

.

Setelah mendapatkan kembali semua obat-obatannya, Minhee tak berniat untuk sekadar pulang kerumah. Dirinya seolah enggan untuk kembali lagi kesana. 

Ada atau tidak adanya dirinya disana tak akan membuat pengaruh apapun, fikirnya. Jadi dengan berat hati dirinya memutuskan untuk pergi dari sana dan berharap dapat menemukan kebahagiaan lain. Mungkin dengan menjadi anak nakal contohnya?

.
.

Bersambung.

22

0 0

Suasana rumah nampak sedikit berbeda sejak insiden pemukulan itu. Suasananya nampak begitu sunyi senyap dan ditambah lagi sang tuan rumah yang akan berangkat kerumah sakit pagi-pagi sekali dan terkadang pulang begitu larut sama halnya dengan sang istri yang pulang sebentar lalu kembali pergi entah kemana. Begitu pula dengan Jaemin yang memang pulang selalu tepat waktu, tapi dikala rumah sepi dan juga beberapa maid sedang lengang. Dirinya akan menyelinap masuk kedalam kamar Minhee dan mengganggu sang adik sampai pernah sekali bibi Ahn yang kebetulan hendak membawakan susu hangat pesanan Minhee dibuat syok saat Jaemin mencoba menendang bahkan melakukan penyiksaan lainnya pada Minhee, sama seperti yang sang ayah lakukan. Bibi yang pada saat itu memegang gelas, lantas berlari dan segera memeluk tubuh sibungsu Kang yang sudah lemah dan hanya bisa pasrah dilantai dengan air mata yang bercucuran. 
Oh kasihan sekali, sibungsu Kang yang malang. Sedangkan Jaemin? Dirinya dengan kesal membanting pintu kamar bercat putih itu sampai menimbulkan gedebum nyaring. 

"Hick.. b-bibi~"

"Uusstt, adek ga papa ada bibi disini ya." 

Bibi Ahn mendekap tubuh rapuh yang bergetar karna tangis itu dengan penuh kasih sayang. Dari sini, bibi dapat melihat beberapa luka lebam serta membiru dari bagian lengan sampai bahu serta tulang selangka Minhee yang tak sengaja terekspos olehnya. Bibi Ahn tahu apa yang sibungsu rasakan dan dirinya mencoba untuk menghadirkan apa yang diinginkan Minhee yang mana tidak bisa dia dapatkan oleh keluarganya. Kasih sayang. 

"Uusstttt tidak papa, adek kuat ya." 

Hanya itu yang bisa dirinya lakukan untuk menenangkan sibungsu yang masih terisak kecil didalam dekapan hangatnya. 

.

Pagi menjelang, dan seperti biasa beberapa maid serta bibi Ahn akan melakukan tugasnya didapur, sampai sosok Minhee datang menghampirinya dengan wajah pucat seperti biasanya sembari menyeret tas sekolahnya. 

"Eh, adek kok udah bangun? Sudah rapih juga. Sekolahkan masih 2 jam lagi dek." 

"Adek cuma mau siap-siap aja kok bi, hehe sambil mau liat bibi sama yang lainnya masak sarapan buat adek." Seru Minhee dengan senyum tanpa bebannya. .

Ya, Minhee bangun dan bersiap-siap 2 jam lebih awal dari jadwal biasanya. Dirinya kinj duduk manis dimeja makan panjang sembari menonton para maid serta bibi Ahn yang menyiapkan sarapan untuk para pernghuni rumah. 

"Adek mau bibi masakin yang lain tidak?" Tawar bibi Ahn.

"Adek mau telur mata sapi sama sosi yang bi, yang banyak!" Serunya bahagia. 

Entahlah, bibi Ahn sedikit terheran akan tingkah anak bungsu dari majikannya ini. Bibi Ahn berharap Minhee hari ini akan melalui hari yang baik tanpa siksaan dan juga cacian. 

"Baiklah pangeran kecil, pesanan akan segera siap!"

"Okee!!"

.

Setelah selesai sarapan, Minhee bergegas berangkat kesekolah lebih awal. Dirinya takut jika harus bertemu sang kakak sepagi ini dan berakhir sakit hati untuk kesekian karna cacian atau dengan beberapa pukulan pada tubuhnya. 

"Adek melamun?"

"Ung? Engga pak hehe adek cuma ngantuk hehe." Kekehnya hambar.

"Jelas adek mengantuk, adek bangun pagi-pagi sekali tadi." 

Sahut pak Ahn dan hanya mendapat respon tawa kecil dari sang pemilik. Pak Ahn tak mengetahui saja, jika sosok yang memasang senyum itu kini tengah menahan air matanya dengan meremas tas ransel miliknya yang didalamnya sudah terdapat beberapa pakaian san kebutuhan yang dirinya perlukan. 

.

Sesampainya didepan gerbang yang terlihat masih sangat sepi, Minhee segera berjalan berbelok masuk kedalam sebuah jalan kecil dengan tergesa. Kepalanya kembali berdenyut hebat sekarang. Sekuat tenaga Minhee menahannya dengan cara meremas surainya kuat-kuat dan berharap sakitnya akan mereda seiring kuatnya remasan pada rambutnya. 

Tolong siapapun, bantu sikecil ini melewati semuanya. 

"Argh! Nenek ini sakit hick~ nek t-tolong Mini hick.. a-akh.." 

Tarikan itu semakin kuat seiring kekuarnta cairan pekat sewarna darah melalui hidungnya. Pandangannya mulai mengabur saat samar-samar dirinya seperti melihat sosok alm. sang nenek yang berdiri didekatnya merentangkan kedua tangan rentannya untuk Minhee. 

"N-nenek~ hick.." 

Pada saat yang bersamaan, sebuah mobil yang melaju kencang hampir saja mengenai tubuhnya sebelum sebuah tangan menariknya untuk berdiri kepinggir jalan. 

"Astaga! Nak? Kamu ga papa? Hey hidung kamu berdarah nak," 

Sosok yang menolongnya tadi panik saat tak mendapatkan respon apapun dari Minhee yang hanya memandangnya dengan pandangan kosong. 

"Dek? Kamu dengar saya? Loh dek!"

Dan jatuh pingsan saat sosok semu sang nenek menghilang bersama angin pagi.

.

Bersambung.

23

0 0

Minhee terbangun ditempat asing. Kedua matanya mengerjap beberapa kali guna menetralkan cahaya yang memasuki indra penglihatannya. Keningnya mengerut bingung saat mendapati sebuah kain yang menempel pada keningnya dan jangan lupakan pakaian hangat berwarna krim yang membalut tubuh kurusnya. 
Dimana dirinya sekarang? Sampai bunyi gesekan antara pintu mengakihkan fokusnya.

"Eh? Sudah bangun dek."

Sosok itu masuk dengan nampan yang berisi bubur hangat serta air putih. Apakah sosok itu adalah orang yang tadi menolongnya yang hampir saja tertabrak?.

"Nih makan dulu, jangan bengong aja. Oh ya tadi gua ga sengaja liat lo dijalan. Mau mati lo?"

Minhee yang sedang menyuapkan sedikit bubur hanya terdiam sendu. Diletakkannya mangkuk sedang berwarna putih tulang pada nakas kecil disamping ranjang lalu menunduk. 

"Ngomong-ngomong, lo kok mau mati sih? Mana pakai seragam sekolah lagi. Oh ya, tadi gua ga sengaja liat nametag yang ada diseragam lo. Kang Minhee?"

"Hu'um.. itu nama g-gue." Untuk pertama kali, dirinya berbicara setelah terdiam. 

"Nama gua Hangyul, Lee Hangyul."

"K-kang Minhee, salam kenal d-dan, apa boleh gua tau, ini dimana ya?" 

"Ini tempat gua, rumah kontrakan dan maaf kalau rumahnya kecil. Dan kayaknya lo anak orang kaya deh Minhee, betulkan gua? Oh iya umur lo berapa?"

Minhee hanya mengangguk setelah bibirnya membentuk tanda O bulat.

"Engga kok, walaupun kecil tapi suasananya hangat. Umur gua 16 tahun, ah engga gua bukan anak orang kaya bang, g-gua cuma anak panti asuhan sebelum nenek meninggal." Tuhan, maapin aku yang kembali berbohong pada semua orang. Gumannya dalam hati.

"Oh. Yaudah lo lanjut aja makan, gua mau pergi dulu ntar agak sorean kayaknya baru balik." Hangyul bergegas berdiri dan hendak keluar sebelum kembali berbalik.

"Gua bakalan pulang sore, lu kalo ada apa-apa atau mau mandi. Kamar mandi disana ya? Maaf kalau gak terlalu besar dan gua pamit dulu." Lalu menghilang dibalik pintu.

"H-hati-hati kak." Gumamnya.

.

Disekolah, Hyeongjun gelisah saat tak mendapati Minhee. Bocah bermata bulat itu sama sekali tak fokus dalam belajar. Fikirannya bertanya-tanya kemana gerangan sang sahabat. Begitu pulang dengan teman-temannya yang lain.

Saat bel jam makan siang berbunyi, dengan harap-harap cemas Hyeongjun berjalan kearah kursi dimana sosok yang akhir-akhir ini selalu dekat dengan Minhee. 

"Kak Mogu."

"Eh Hyeongjun, kebetulan gua juga mau nyamperin meja lo tadi. Anu Minhee kok ga masuk sekolah? Lu tau dia kemana?"

"Lah, sama dong kak, aku mau tanyain itu juga sama kak Mogu. Secarakan kak Mogu dekat gitu sama Minhee."

"Engga Jun, tapi aneh ga sih? Minhee tiba-tiba absen tanpa keterangan gini?" Monolongnya.

"Ey, kalian tahu kabar Minhee gak? Kok Minhee ga masuk sih? Sakit dia?" Itu Dongpyo bersama teman-temannya yang lain.

"Baru aja kita ngomongin Minhee, bebek ini malah datang." Ucap sianak bermata bulat dengan sebuah kekehan diakhir. 

"Serius deh, Minhee ga biasanya dia absen tanpa keterangann gini. Iya gak sih?"

"Bener tuh kaya Yujin, Minhee kan anaknya antin banget sama namanya absen gajelas plus surat-menyurat yang ga penting. Tapi kok hari ini dia gitu sih." 

"Gimana kalo nanti pulang kita coba samperib rumahnya aja?" Usunl Jungmo yang tadinya diam menyimak. 

"Boleh juga tuh, yang lain gimana? Pada mau ikut?"

"Eh, tunggu deh. Saran gua jangan semua ikut, salah satu aja dulu gimana? Takutnya kalo Minhee tahu kita dateng bergerombolan gini, yang ada dia malah kesel lagi. Hyeongjun sama Wonjin aja deh yang ikut dulu."

"Iya juga sih, tapikan gua juga mau tahu rumah Minhee. Huuuu.. tapi gak papalah."


Tepat setelah pulang sekolah, ketiganya segera berkumpul untuk menyambangi rumah Minhee. Mereka menaiki mobil Jungmo. 

"Semoga aja Minhee ga kenapa-kenapa deh ya, takut banget gua." Seru hyeongjun.

"Tenang, berdoa aja Minhee ga papa."

Perjalanan dari sekolah kerumah Minhee hanya sekitaran 15-25 menit. Mobil hitam itu sampai tepat dikediaman Kang yang nampak sepi. Hyeongjun yang bereaksi duluan saat untuk pertama kalinya melihat bangunan cantik berwarna krim tepat berdiri kokoh didepan kedua matanya.

"Woah! Gila Minhee anak orang kaya rupanya." 

"Hyeongjun ya ampun." Seru kedua temannya yang lain. Mari abaikan sikap manusia bermata bulat dengan kehebohannya. 

"Ayok masuk, biasanya jam segini bibi ada dirumah kali aja kan Minhee juga."

Jungmo menekan bell yang berasa disamping pagar besi sampai sebuah sahutan yang begitu familiar terdengar.

"Bibi Ahn, ini saya Raden."

"Oh dek raden. Sebentar bibi bukain pagarnya."

Tanpa menunggu lama, bibi Ahn keluar guna membukakan pagar untuk mereka. Ketiganya membungkuk sopan saat berpapasan dengan sang bibi. 

"Dek raden, anu dek Minheenya mana? Kok ga keluar?" Spontan ketiga anak adam itu berpandangan. Minhee?.

"Loh? Saya kira Minhee sakit bi, Minhee ga kesekolah bibi." 

Bibi Ahn yang mendengarnya tentu saja terkejut.

"Tadi pagi suami saya yang ngantar adek loh dek raden. Astaga dek Minhee kemana sekarang? Benar deh, adek ga ada dirumah sama sekali dek raden."

Bibi Ahn yang mulai khawatir dan juga ketiga temannya yang kebingungan disana. 

"Ok, bibi tenang aja kalau gitu. Kita bakal cari Minhee ya. Mungkin Minhee lagi jalan-jalan." Wonjin mencoba menenangkan.

Kira-kira kemana Minhee pergi? 

.
.
Bersambung.

24

0 0

Sudah hampir satu minggu Minhee menghilang. Semuanya panik, tentunya para sahabatnya. Pihak sekolah juga panik saat ini, terutama sang ayah yang terlihat murka saat mengetahui salah satu anaknya mulai berulah. Jaemin? Dirinya seolah acuh tak acuh akan menghilangnya sang adik. 
"Kemana anak itu, bisanya cuma merepotkan keluarga, bikin malu." 

"Sayang, tenanglah." Yoona berusaha menenangkan.

"Bagaimana aku bisa tenang? Anak tak tau diri itu menghilang tanpa kabar dan malah membuat malu kita. Nilai-nilainya spontan mulai menurun." Siwon memijit pangkal hidungnya frustasi.

"Awas saja anak itu, jangan sampai aku menemukannya lebih dulu dan memberinya hukuman."


.

Dilain tempat, sosok itu nampak tertawa senang setelah kembali menegak cairan berwarna putih beningnya. Seolah tanpa beban, disela jarinya terdapat sebatang rokok yang bersisa setengah. 

Kang Minhee, sudah hampir satu minggu dirinya menghilang tanpa kabar dan berakhir disini. Berkumpul bersama teman-teman malam yang dia temui bersama Hangyul beberapa waktu lalu. 

Mulanya, Minhee ragu dan takut saat Hangyul yang ternyata adalah seorang anak jalanan yang suka mabuk-mabukan itu, mengajaknya keluar untuk menemaninya minum. Minhee yang tak terbiasa dengan minuman aneh yang sayangnya memabukkan itu sempat menolak saat dirinya ditawari satu gelas minuman keras oleh Hangyul. 

Namun bukan Minhee namanya jika dirinya menolak, saat Hangyul memberikan iming-iming jika meminum cairan itu semua masalah dalam hidupnya akan pergi bak tersapuh oleh angin. Minhee yang polos mengiyakan perkataan itu dan mulai mencoba-coba meneguknya.
Rasa terbakar itu mulai menjalari kerongkongan serta dadanya.

"Gimana? Enak kan dek?" 

Hangyul bertepuk tangan heboh saat melihat Minhee yang ternyata mengangguk saat entah keberapa tegukkan dia minum.

.


Lebih dari seminggu. Satu bulan berlalu dan semua masih tidak dapat menemukan dimana keberadaan sibungsu Kang. 
Bibi Ahn yang selalu merasa khawatir dirumah. Para sahabat yang terus mencoba mencari kemanapun namun, hasilnya nihil. Kemana Minhee mereka pergi?.

Jika kalian tahu bagaimana kondisi Minhee. Mungkin kalian akan terkejut nantinya. Tubuh tinggi itu semakin hari semakin kurus ditambah lagi dirinya mulai melampiaskan rasa sakit dengan menyentuh obat-obatan yang tak seharusnya dia konsumsi. Narkoba.

Ya, sibungsu Kang yang beranggapan dirinya pasti akan bahagian hanya degan mengonsumsi barang haram itu. Mulai berani keluar malam hanya untuk bersenang-senang bersama teman barunya, tanpa berfikir jika teman-temannya yang lain mencarinya sampai hampir gila.

.

Dongpyo berlari tergesa-gesa saat melihat sosok Jungmo. 

"Kak Mogu tunggu!"

"Iyah? Kenapa Pyo, ada kabar dari Minhee?"

Hhh~ sosok berperawakat kecil itu bertumpu sebentar pada kedua lutut untuk menetralkan deru nafasnya.

"Kak, tadi malam gua ga sengaja lewat jalan pintas."

"Terus?"

"Ga tau yah kak, ini entah mata gue yang salah atau engga. Gua lihat Minhee disana."

Jaemin yang kebetulan lewat tak sengaja mendengar nama sang adik kembar. Buru-buru dirinya bersembunyi dibalik pilar besar yang tak jauh dari sana. 

"Dimana? Kita harus samperin dia Pyo."

"Ishh.. kak Mogu, masalahnya begini. Gua lihat Minhee kayak aneh deh kak."

Jungmo yang mendengarnya mengerutkan kening. Aneh? 

"Mending ntar malam kak Mogu ikut gua deh. Biar kak Mogu bisa paham maksud gua, dan gua bisa mastiin itu Minhee apa bukan."

Apa maksudnya? Jaemin segera pergi dari sana dan berniat untuk mengikuti mereka nanti malam. 


.


Malam harinya, Jungmo dan beberapa sahabat Minhee mulai kembali menuju tempat yang Dongpyo ceritakan tadi saat disekolah. 
Mobil berwarna hitam itu berhenti ditempat yang Dongpyo maksudkan.

"Lu beneran liat Minhee disini? Tapi kok gak ada Pyo." Celetuk Hyeongjung. 

"Serius ya, gua kemaren ga sengaja liat dia. Tapi gua masih ragu itu Minhee apa bukan. Soalnya nih rambutnya beda."

"Maksud lo?" Jungmo menatap penuh selidik.

"Iya kak Mogu. Tapi wajahnya asli beneran mirip Minhee, tapi gua ragu itu Minhee kita apa cuma mirip doang."

"Emm.. eh, bentar itu Minhee bukan?"

Wonjin menunjuk kedepan sana dan itu membuat ketiga pasang mata lain memandang kemana arah tunjuknya.
Ke-empatnya segera keluar dari dalam mobil saat itu juga guna membuntuti kemana kiranya sosok itu pergi.

Benar, itu Minhee mereka yang sedang bersama sesosok pria bertubuh lebih besar dari mereka, berperawakan seperti preman dan ditambah lagi dengan pakaian serta warna rambutnya yang juga berubah. Apakah dia benar Minhee mereka?

.

Disini, Minhee diperlakukan bak raja, dia mendapatkan apa yang tidak dapat dia rasakan dirumah. Berpesta dan tak mengenal rasa sakit. Minun-minuman keras dan bermain balap liar disepanjang malam tanpa ada yang melarang atau bahkan memukulnya jika ketahuan.

"Minhee, lo ga mau nyoba ikutan balapan apa? Ga bosen duduk nonton aja lo?"

Seru salah satu anggota geng yang berpenampilan urakan itu. Minhee hanya tersenyum sembari menggaruk kepalanya. 

"Lu mau gua kalahin? Hayok kita taruhan deh." 

Minhee mengeluarkan sejumlah uang yang lumayan dan menaruhnya pada meja bundar tempat mereka berkumpul.

"Wow.. santai Minhee gua tahu lo dah mulai jago sama motor lo itu berkat bang Hangyul. Tapi lo masih anak ingusan bagi gua, jadi? Ayok kita taruhan." 

.

Tak jauh dari sana Jaemin mendengar percakapan itu, ya benar itu Minhee adiknya yang selama ini menghilang tak ada kabar. Dirinya sempat terkejut saat melihat sang adik kembar yang dulunya sangat cinta akan kerapihan malah berubah drastis dengan berani mewarnai rambutnya menjadi pirang dan lagi, pakaiannya yang bak seorang anak urakan. 

Bunyi kenalpot membuatnya teralih saat disana, tepat dijalanan sepi sosok adiknya bersama beberapa orang terlihat tengah melakukan taruhan. Dan apa itu? Balapan liar? Gila. Senakal nakalnya dirinya, belum pernah sampai melakukan hal yang dapat meresahkan masyarakat seperti apa yang tengah dirinya lihat sekarang. Jangan sampai ayahnya mengetahui ini semua.


"Minhee, lo dah siap sama kekalahan lo kan?"

"Ck, dalam mimpimu kak felix." 

Dan saat bendera merah dikibarkan, keduanya langsung saja melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Bersaing, siapa yang lebih dahulu mencapai garis finis maka dirinya akan menang dengan membawa pulang sejumlah uang yang lumayan besar.

Dimenit-menit awal, motor milik Minhee yang memimpin sampai pada menit berikutnya, motor yang dikendarai oleh Minhee nampak oleng berbarengan dengan rasa sakit yang sudah lama tak ia rasakan kembali muncul. 

"Rr-rghh~ jangan sekarang."

Pandangannya juga nampak mengabur secara perlahan. Dilain tempat para anggota geng nampak terus bersorak menyemangati tanpa menyadari ada yang aneh dengan Minhee. 
Namun itu tak berlaku pada Jaemin yang entah bagaimana bisa merasakan kontak batin dengan sang adik untuj pertama kalinya. Walau tertutup help full face, Jaemin dapat melihat ekspresi kesakitan adiknya. 

Ditengah lapangan sana, situasi berubah saat motor yang digunakan Felix mengambil alih permainan sampai suara sirine polisi membuatnya panik sampai tak menyadari jika bagian ban motornya menyenggol ban motor bagian depan yang Minhee kendarain, sehingga membuatnya oleng dan terjatuh.

Semua yang ada disana berlari berhambur guna menyelamatkan diri dari kepungan polisi yang ternyata memang telah mengincar mereka. 

Keempat sekawan yang juga ikut menyimak dilain tempat juga menjadi panik saat mereka melihat Minhee terjatuh ditengah-tengah permainan dan juga sejunlah polisi yang mulai berlarian mengejar para pembalap liar. 

"Kak kita harus gimana nih?" Ucap Wonjin panik.

"Kita harus selametin Minhee, lo ga lihat dia jatoh dari motornya." 

.
.

Sekuat tenaga mencoba bangkit dengan melepaskan help miliknya yang nyatanya pecah pasa bagian kaca, lalu melemparnya entah kemana. Kedua tangannya meremas kencang surai berwarna pirangnya kuat.

"Arghh!"

Rasa sakit yang sudah lama tak dia rasakan itu kembali, dan bahkan sakitnya begitu menyiksa. Ditengah kekalutan, dirinya mengerang kesakitan. Darah segar mengucur melalui hidungnya dan membasahi baju hitam berbahan kulit yang dia kenakan. 

Kanker otak stadium 4. 

.
.

Bersambung.

25

0 0

Ditengah ributnya semua orang yang berlarian. Jaemin berusaha berlari menghampiri sang adik kembarnya yang dapat dia lihat disana tengah berjalan dengan keadaan lemas tak bertenaga. 
Apa yang bisa dirinya fikirkan sekarang saat melihat sang adik yang dalam kondisi tak memungkinkan disana. Tak ada.

"A-dek..."

"Jaemin! Lo kok disini? Nyari Minhee?" 

Jungmo dan yang kainnya telah lebih dulu mengetahui keberadaannya. 

"Eh itu disana, Minhee!"

Jungmo berusaha memanggil sosok itu yang mana makah mendapatkan reaksi terkejut serta paniknya. Mencoba untuk berlari menjauh saat tak menyadari jika dari arah berlawanan terdapat sebuah mobil tengah melaju kencang. 

Jaemin yang lebih dulu sadar sebelum dirinya berlari, berharap dapat meraih tubuh saudara kembarnya dan menarik ya ketepi jalanan. Minhee yang kini tengah berada ditengah jalan terdiam, saat sebuah bunyik klakson yang memekakkan telinga berbunyi nyaring berbarengan dengan bunyi hantaman yang tukup keras.

Semuanya melihat, tubuh itu terguling sebelum jatuh tertelungkup dijalanan dengan kondisi darah yang merembes melalui kepalanya. 

"MINHEE!!" 

.

Apa yang dirasakannya sekarang hanyalah buram, indra penglihatannya hanya dapat samar-samar melihat sebuah cahaya kuning yang begitu menyilaukan serta bunyi nyaring yang dia tahu apa itu. Dirinya dapat merasakan sebuah benturan keras yang menghantamnya, serta bunyi teriakan histeris dari beberapa temannya disana. Tubuhnya melemas serta rasa pening yang teramat menyerang kepalanya membuat dirinya hanya diam. 

Dapat dirasakan seseorang tengah memangku kepalanya. Memeluknya dengan erat. Apakah itu kakaknya? Jika iya, bolehkah dirinya melihat wajahnya untuk terakhir kali? 

"Dek! Lu bisa denger suara gue? Dek!"

Jaemin berteriak histeris setelah berhasil memangku tubuh lemas tak berdaya Minhee. Hyeongjun serta Wonjin sudah menangis saat mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana tubuh Minhee dihantam keras oleh sebuah mobil yang melaju kencang itu.

"Dek! Jawab gua kalo lu masih bisa denger suara gue! Hick.." 

"A-abang~" suara itu, begitu lirih saat kedua kelereng kembar miliknya bersinggungan dengan milik saudaranya. 

"Hick.. adek~ woi bantuin gue! Panggil ambulan cepat! Adek gua sekarat!!" 

.

Semuanya menjadi panik, saat sisulung Kang memberikan kabar yang mengejutkan bagi seluruh penghuni rumah. Terutama pada sang kepala keluarga yang tak sengaja menjatuhkan gelas kopinya saat mengatakan jika Minhee mengalami kecelakaan motor dan sedang dilarikan kerumah sakit. 

"Adek bertahan hick.. abang disini dek." 

Tak henti-hentikan selalu dirinya ucapkan tepat disamping brangkar yang membawa sosok adiknya menuju ruang ICU. Tangan kedua saudara kembar ini saling bertautan erat sebelum dipisahkan oleh salah satu perawat yang harus memintanya menunggu diluar. 

"Gak mau! Dokter selamatin adek gua! Hick.. adek!" 

"Jaem sudah Jaem, Minhee bakalan ditanganin sama dokter, lu tenang Jaem." Jungmo mencoba menenangkannya. 

"Hick.. adek gua Mo! Dia didalam hick.. diabutuh gua..hick.." 

Entahlah, ini untuk pertama kalinya Jaemin menangis sehisteris itu. Keempat pasang mata disana hanya bisa menangis dalam diamnya.

.

"Jaemin, lo tenangin diri lo. Kita yakin Minhee bakalan baik-baik aja, lu tahu sendiri bukan Minhee orangnya kuat." 

Jungmo mencoba menenangkan Jaemin yang mati-matian menahan isak tangis histerisnya, sampai bunyi gesekan sepatu dengan ubin rumah sakit mengakihkan perhatiannya. 

"Mom, Daddy?" 

Kedua pasangan dokter itu nampak berjalan terburu dengan mengenakan jas oka mereka. Yoona menghampirinya sebentar. 

"Sayang, tenang yah?"

"Dokter Kang ruang operasi telah siap." 

"Baik dokter Lee. Sayang ayo." 

Yoona mengusap pelan surai Jaemin dan lantas berlalu pergi. 

Disana, pintu ruang ICU terbuka dan beberapa perawat serta dokter langsung mendorong brangkar yang diatasnya terdapat Minhee. Kelima pasang mata disana lantas berdiri hendak menghampiri namun tertahan, saat salah satu diantara mereka menahan pergerakannya.

"Kami akan segera melakukan tindakan operasi, saat pemeriksaan kami melihat ada sejenis gumpalan dikepalanya, jadi kami harus segera mungkin mengekuarkannta, kami harap kalian harus bersabar sampai proses operasi selesai." 

Apa? Operasi?

Jungmo terlebih dahulu melemparkan pertanyaanya dan langsung ditanggapi oleh sang perawat.

"Maaf, teman saya kenapa sampai harus dioperasi dokter?"

"Dari diagnosa kami, teman kalian mengidap sebuah kanker serius dan kami harus segera mengeluarkannya. Permisi."

Kanker? 

"Minhee hick.. ga mungkin.." Hyeongjun yang sedari tadi terdiam pun akhirnya menangis. 

Sahabatnya, teman satu mejanya menderita penyakit mengerikan itu? Dirinya masih tak percaya.

.


'Sayang?! Minhee bangun nak, cucu nenek kuat!'

"Pak, Pasien Kritis."

.
.

26

0 0

.

.

'Jangan pergi nak, kamu kuat.' 

"Dokter! Pasien kritis!"

Siwon selaku dokter yang menangani, seketika  blank. Kedua tangannya bergetar hebat begitu pula dengan Yoona yang sudah lemas dan dipaksa untuk keluar ruang operasi untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan terjadi.

"Dokter Kang! Persentase kesadaran pasien menurun." 

"Siapakan alat!"

"Baik Dokter."

Beberapa perwat dengan segera berlari guna mengambil alat yang dimaksud untuk menopang hidup putranya. Yoona semakin lemas dan terpaksa menghentikan operasinya dan dimintai untuk beristirahat dan membiarkan sang suami untuk melanjutkan tugasnya, menyelamatkan nyawa putra mereka yang lain. 

Ya Tuhan, bisakah dirinya  menggantikan putranya didalam sana? Yoona bersedia untuk merelakan segalanya untuk kebahagiaan dan nyawa bagi putranya yang lain.

Didepan mata kepalanya sendiri, dirinya melihat bagaiamana tubuh kecil putranya hanya memberikan 15% respon, hingga dokter Lee yang memimpin jalannya operasi memasangkan sebuah tube pernafasan dengan cara membuka mulut. Siwon sering melakukan itu, tapi, rasanya begitu sesak ketika darah dagingnya yang sekarang harus mengalami.

Siwon kelimpungan, saat otak dikepalanya sama sekali kosong sebelum dokter Lee membuatnya kembali kedunianya. Disana wajah pucat putranya, Kang Minhee yang kini sedang berada diatas awan. Dalam pelukan Tuhan dan berkumpul bersama sang nenek.

"Dokter Kang, anda baik-baik saja?"

"P-putra saya..." 

Diluar sana, orang-orang terkasihnya tengah menunggu dengan harapan serta doa-doa terbaik mereka. Terutama pada Jaemin sosok yang memiki darah yang sama dengan Minhee.

"Hick.. adek~"  Dirinya kacau sekarang, dan untuk pertama kalinya bisa sekacau ini. 

Jungmo mendekat dan mencoba memberikan ketenangan melalui usapa tangan pada pundaknya. 

"Jaem.."

"Gue takut~ adik gua Mo hick.. adek gue.." 

Lagi dan lagi, air mata itu kembali tumpah membasahi wajahnya yang berhiaskan freksless yang sama seperti milik Minhee. 
Jungmo hanya bisa memberikan sebuah pelukan penenang saat ini. 

"Semua akan baik-baik saja Jaem."

"G-gue.. t-takut dia m-mati.." 

"Jaem, gua tahu lo khawatir, kita semua disini juga khawatirin Minhee. Tapi lo harusnya gak boleh lupa, kita semua juga sama khawatir kayak lo. Jangan mikir yang engga-engga. Dia tetep adik bungsu kita."

.

Yoona menangis lagi, hatinya sakit saat melihat tubuh kecil putranya kini dipenuhi dengan alat-alat medis, mulut kecilnya yang dipasangi sebuah selang untuk menunjang hidup serta beberapa jarum lain yang menusuk kulit putihnya yang rapuh. 

"Minhee, sayang anak Mommy, bangun yuk nak? Maafin Mommy sayang. Adek mau apa? Biar Mommy kabulin deh, yuk bangun sayang hick~ anak Mom."  

"Dokter Kang~" 

"Syutt, anak saya lagi istirahat dokter Jang."

"I-iya, tapi kami mohon anda juga harus beristirahat." 

.

Dokter Lee menyatakan status koma padanya, setelah melalui beberapa jam rangkaian operasi. Dokter Lee sudah berhasil menghentikan pendaraan pada kepala Minhee dan juga telah melakukan prosedur intubasi.

Dokter cantik itu dengan terpaksa harus meninggalkan sibungsu untuk menuju ruang perawat sesaat tubuhnya melemas dan gemetar. Sosok ibu cantik dua anak ini ketakutan saat kemungkinan-kemungkinan yang terseliweran dikepalanya. 
Dirinya takut jika Minhee lebih memilih pergi kepangkuan Tuhan dan bertemu dengan alm. neneknya diatas sana. Dia ingin menebus kesalahannya dengan sibungsu sebelum terlambat.

"Yoona.."

Siwon sudah kembali dan telihat lebih baik dari terakhir kalinya. Sang kepala keluarga itu duduk berhadapan dengan istrinya, tangan besarnya menggenggam kedua tangan milik Yoona. 

"Hick.. Minhee~"

"Maafkan aku~"

"B-bagaimana dengan Minhee? Tolong selamatkan Minhee, aku ga mau kehilangan putraku Siwon!" 

"Kita sedang berusaha sayang, yang jelas kita harus selalu ada buat dia jikalau dirinya sadar dan membutuhkan kita disampingnya, hmm?" 

Kondisi putranya seperti berada diantara hidup dan mati saat pemeriksaan dan tim bedah mendapati salah satu benjolan lain yang terdapat disebelah kiri kepala sibungsu. Seperti sebuah pembengkakkan akibat benturan keras. Gumpalan darah yang membuatnya mengalami pendarahan hebat saat berada dimeja operasi beberapa jam lalu.

Semuanya telah selesai dengan rasa khawatir bercampur harapan saat tubuh kurus Minhee kembali dipindahkan kesebuah ruang streril. Semua teman serta kerabat dapat melihatnya, melihatnya bernafas dengan bantuan alat-alat medis dan jangan lupakan perban besar yang melilit kepalanya yang kini tak lagi berhiaskan sebuah mahkota. Seluruh tubuhnya sangat pucat dan kurus. 

Jangan tanyakan bagaimana reaksi Jaemin. Dirinya kembali histeris saat melihat langsung kondisi sang adik kembar. Dirinya sangat kacau sekarang begitu juga dengan Jungmo yang tak kuasa lagi menahan dirinya. Adik kesayangannya, kesayangan mereka tengah berjuang didalam sana. 

Tuhan tolong kembalikan kesayangan kami.
.
.
.
Bersambung 

 

27

0 0

Cahaya putih.


Minhee terbangun saat cahaya itu mengusiknya, diatas rerumputan hijau nan lebut serta suasana yang sejuk. Dirinya terbaring disana. 

Mata indahnya mengerjab beberapa saat sebelum berpendar menelisik sekitarnya yang nampak asing. 

"Mini-ya~" 

Suara itu, suara yang begitu dirinya rindukan tengah memanggilnya diujung sana. Nenek. 

"N-nenek? Nenek!" 

Langkahnya secara spontan melangkah maju menuju sosok itu, yang nampak sangat cantik dengan balutan gaun putih panjangnya. Nenek Im, satu-satunya orang yang berarti bagi Minhee. 

"Cucu nenek."

"Nenek, adek rindu nenek hick.." 

Minhee lantas segera memeluk erat sosok itu, menumpahkan segala kerinduannya disana. Nenek Im tersenyum sangat cantik sekarang dengan senyum yang merekah indah menyambut sang cucu kedalam buaiannya.

"Mini-ya~ sedang apa disini sayang? Tidak merindukan Mom dan Daddymu?" 

Nenek Im mengusuk lembut surai sewarna pirang milik Minhee yang kini sedang tertidur diatas pangkuannya dengan lembut. 

Sang pemilik nama lantas membuka kedua matanya lalu memandang wajah cantik sang nenek. 

"Tidak mau nek, adek mau disini saja bersama nenek." 

"Kenapa? Tidak sayang mereka? Bukannya adek pernah bilang jika adek sangat sayang mereka, hm?" 

Nenek Im mengelus pipi gembil sang cucu dengan sayang. 
Keterdiaman Minhee dirinya anggap sebuah jawaban 'Iya'.

"Nenek~" 

"Iya sayang, kenapa?" 

"Bolehkah adek tinggal disini saja bareng nenek? Adek lelah nek." 

Nenek Im hanya menjawab dengan senyum cantik atas pertanyaan yang dilontarkan sang cucu padanya. Secara perlahan semilir angin berhembus dengan lembut menerbangkan beberapa daun-daun kering disekitar mereka.

"Nenek, boleh ya?"

.
.

"Tidak! Minhee bangun! Dek lo pasti bisa dengerin suara gua kan, adek hick.." 

"Jaemin-" 

Jungmo dan beberapa perawat lencoba melepaskan Jaemin yang memeluk Minhee dengan erat.

"Jaem, biarkan dokter memeriksanya dulu." 

.

Dialam sana, Minhee samar-samar mendengar suara yang memanggil namanya. Dirinya berpandangan dengan sang nenek yang masih setia tersenyum cantik padanya. 

"Kembalilah, mereka membutuhkanmu sayang." 

Kembali, surainya yang sewarna pirang diusap lembut, sangat lembut sampai sang empu memejamkan matanya barang sesaat sebelum tubuhnya secara perlahan menghilang bersama dengan semilir angin.

"Kita akan kembali bersama sebentar lagi Minhee."

.
.

"Dokter! Jantung pasien kembali berdetak!"

Ucap salah satu perawat yang membantu menanganinya. Semuanya menangis, hampir saja harapan mereka menghilang bak terbawa angin saat melihat kondisi sibungsu Kang yang kembali kritis beberapa jam yang lalu.

Detak jantungnya kembali, terlihat dari garis bergelombang yang terbaca dilayar Elektrokardiogram. 

Siwon bernafas dengan penuh kelegaan luar biasa. Putranya untuk sekali lagi berhasil melewati masa terberat dihidupnya. Dirinya berjanji akan menebus semua dosa-dosanya dimasa lalu dengan Minhee. Putranya.

"Dokter, pasien berhasil melewati masa kritis."

Hari-hari berlalu, namun belum ada tanda-tanda jika sibungsu Kang akan kembali membuka kedua mata indahnya. 

Setiap hari, secara bergantian para anggota keluarga serta para sahabat berkunjung untuknya. Bergantian berjaga. 

Disekolah, tepatnya dikelas yang biasanya ramai itu kini nampak sedikit sepi. Hyeongjun memandang pada meja sebelahnya dengan pandangan sedih bercampur kerinduan. Dia rindu sahabatnya yang selalu usil padanya. Dikelas bukan hanya dirinya seorang yang bersedih, para sahabat dekat Minhee yang lain juga ikut merasakannya. Mereka berharap sosok Minhee akan segera kembali pada mereka.

Jam pulang telah berbunyi, dan semua siswa bersiap-siap untuk pulang kerumah. Hyeongjun juga sudah bersiap untuk segera pulang, sebelum tanpa sengaja dirinya menjatuhkan kotak pensil miliknya diatas kursi Minhee.

"Astaga sukur jatuhnya didalam kelas, bagaimana kalau dijalan? Bisa hilang semua koleksi pulpenku.. eh? Ini apa?" 

Saat hendak meraih kotak pensilnya. Hyeongjun menemukan sebuah buku yang tergeletak dilorong bawah meja Minhee. Sebuah buku gambar berukuran sedang.

Wonjin dan Yujin yang melihatnya segera menghampiri. 

"Hey, belum pulang lo? Eh itu buku gambar siapa?" 

"Punya Minhee kah?" 

Hyeongjun mengabaikan dua pertanyaan milik sabahatnya dan malah fokus membuka buku gambar itu. Pada halaman pertama hanya ada sebuah tulisan tangan milik Minhee.

Tunggu? Tulisan? Hyeongjun berspekulasi jika Minhee menjadikan buku gambarnya sebagai sebuah diary. Terlihat dari beberapa curahan hatinya disana. 

Ketiganya berpandangan sejenak sebelum Hyeongjun menutup dan segera memasukkan buku gambar itu kedalam tasnya. Mereka akan membacanya lagi nanti saat berkumpul dirumah.

.
.

Bersambung.

28

0 0

Setelah pulang sekolah, seperti biasa mereka akan selalu kerumah sakit untuk menjenguk Minhee. Saat diperjalanan tadi mereka sempat mendengar kabar jika Minhee sempat kembali kejang, namun berhasil diatasi oleh tim dokter dan disinilah mereka diruangan serba putih dan berhadapan dengan Minhee yang masih setia memejamkan kedua matanya. 


"Hiks"


"Jaem.."


"Minhee kak~"


"Jaemin, udah dong. Kita semua nanti nangis lagi nih?" Ujar Jungmo.

Disana ada Jaemin yang setia duduk disamping ranjang milik adiknya dan terus mengenggam tangannya.

"Kak, aku masih sedih sama tulisan Minhee dibuku gambar itu."

"Jaem, percaya sama gua. Minhee pasti bakalan baik-baik aja. Kita harus banyak-banyak berdoa buat kesembuhannya, 

Oh ya, gua pernah liat adek lo 2x ikut terapi untuk pasien kanker sendirian kalo gua gak salah. Jaem, adek lo kuat. Minhee kuat!"

Jungmo sebagai yang tertua diantara mereka memcoba untuk menguatkan para sahabatnya yang dia anggap seperti adiknya sama seperti Minhee.

.

Minhee dinyatakan telah berhasil melewati masa-masa kritisnya. Selang yang membantunya bernafas telah dilepas dan digantingan dengan tabung oksigen untuk lebih memudahkan bernafas. Dirinya berhasil melewati masa-masa koma selama 2 minggu lamanya. Siwon dan Yoona hampir mati berdiri saat menangani sang putra, yang mana dalam masa perawatannya seperti enggan menerima semua obat-obatan yang masuk ditubuhnya. Membuat suami istri ini ketakutan setengah mati. 

Yoona memandang kosong wajah Minhee yang terlihat damai dalam tidurnya. Siwon datang mengelus pundaknya yang rapuh.

"Yoona-"

"Apa surga lebih indah dek? Kenapa Minhee belum bangun juga hick~ Mom mau buat adek bahagia, bangun yuk sayang. Ga kangen Mommy? Daddy? Abang kamu?"

Siwon hanya diam, membiarkan sang istri meluapkan kesedihannya disana.

"Minhee, anak Mommy bangun yuk sayang. Adek mau mommy pelukkan? Nanti adek bakalan Mommy peluk terus, Mommy bakalan momong kamu sampai tidur." 

"Jangan hukum kami nak, Mommy dan Daddy minta maaf. Maaf buat selalu ninggalin adek sendirian dirumah, maaf gak pernah berikan kasih sayang keadek sejak kecil. Maaf dek hick."


"Sayang."


"Siwon, kita harus bagaimana? Minhee harus bangun dan sembuh? Aku mohon lakukan sesuatu! Aku gak mau kehilangan lagi. Cukup ibu, tapi jangan adek hick.. adek masih kecil." 

Siwon tak bisa menjawab dan hanya bisa menunduk sedih, kedua suami istri itu terlihat benar-benar terpukul akan kondisi sibungsu. Jaemin yang masuk dengan membawa beberapa makan siang hanya tersenyum kecut. Dirinya merasa menyesal setiap kali melihat wajah damai adiknya yang terlelap dibangsal sana. Dirinya masih ingat dengan jelas, saat dirinya memukul tubuh Minhee yang tak dia sadari semakin kurus dari hari kehari. Sampai pada malam itu, malam dimana dirinya memeluk erat tubuh sang adik yang bersimbah darah. 

Hhh~ 

Jaemin menyesal pernah bebuat jahat pada adiknya sendiri. Kembarannya.

"Mom, Dad~" 

Langkahnya bergerak maju dan ikut bergabung disana. Memandangi wajah manis adiknya yang nampak tersenyum tipis dalam tidurnya.

Yoona menggenggam tangan kurus Minhee yang terasa dingin dengan lembut. Minhee layaknya bayi jika sedang tertidur seperti ini. Dan dirinya merasa Minhee kembali menjadi sosok bayi kecil yang 16 tahun lalu sempat mereka buang dan tak mereka inginkan. 

"Sayang~ Minhee.."

"..." 

Dipandanginya wajah itu, yang begitu manis dengan beberapa frekless yang menghiasi, sama seperti milik Jaemin, tapi ini lebih indah. Yoona tersenyum melihatnya dan membubuhkan sebuah kecupak sayang pada kedua pipi milik Minhee.

"Mom, sayang adek."

Genggaman tanggan itu tak pernah terlepas barang sedetik. Sampai pada detik kesekian Yoona dapat merasakan sebuah pergerakan kecil disana, Minhee membalas genggaman tangannya.

"Nak? Minhee bangun sayang~"

.
.

Bersambung.

29

0 0

Genggaman tanggan itu tak pernah terlepas barang sedetik. Sampai pada detik kesekian Yoona dapat merasakan sebuah pergerakan kecil disana, Minhee membalas genggaman tangannya.

"Nak? Minhee bangun sayang~"
.
.
.

Kedua pasangan Dokter itu segera bergerak cepat untuk memeriksa, setelah mereka merasakan sebuah pergerakan kecil dari Minhee. Dengan sebuah senyum yang teramat bahagia serta perasahan hati yang luar biasa lega. Yoona mencoba berusaha memancing Minhee untuk segera kenbali pada kesadarannya dan Siwon berusaha mengontrol alat menunjang hidup yang terhubung dengan putranya.

Minhee membuka kedua mata indahnya perlahan dan itu membuat sang ibu menangis bahagia disampingnya. 

"Sayang, anak mom. Adek bisa denger mom sayang?" 

Yoona berusaha agar putra bungsung tak kembali tidur. Berhasil, namun sikecil nampak hanya merespon dengan lamban dan kadang hanya berupa kedipan lemahnya. Siwon bergetar saking bahagianya sampai dokter yang sempat menangani kondisi sang putra mengambil alih, Wooseok. Siwon benar-benar tak bisa berkata apa apa lagi, tubuhnya terjatuh disamping bangsal sang putra dengan keadaan bergetar, entah merasa bahagia atau bagaimana. Dirinya tanpa sadar menangis saat pandangannya bertemu dengan Minhee yang memberikannya sebuah senyum kecil.

Terdiam cukup lama, sampai ponsel miliknya berbunyi dan wanita cantik itu begitu amat menyesal saat menyadari jika masih ada jadwal yang harus dia jalankan. Minhee mengetahuinya lantas memandang sosok sang ibu dengan pandangan berair. Jika tadi pandangan Minhee begitu kosong. Kini mata cantik itu memandang sosok sang ibu dengan binarnya. Setetes airmata menetes menuruni pipinya yang berhiaskan frekless.


"Minhee?"


"..."

"Hey, anak Mommy kok nangis? Kenapa hm?" Yoona mengusap linangan airmata itu dan berusaha untuk mengelus pucuk kepala sibungsu yang tertutup sebuah topi rajutan berwarna peach.


"..."

"Cup cup cup, anak Mommy kecapean, bobok lagi yuk?"


"M-mommy mau pergi l-lagi? N-ninggalin adek?" 

"Mom ada tugas sayang, nanti mom kesini lagi ya temenin adek bobok. Adek mau dimomong sama mommykan? Nanti ya, setelah tugas mom selesai. Cuma sebentar kok." 

Minhee sedikit tersentak saat untuk pertama kalinya sang ibu berbicara selembut itu padanya. Kedua matanya mengedip pelan.

"Mau bobok?" 

Yoona menawarkan itu, karna sang putra nampak menguap kecil. Tak dapat dipungkiri sekarang Minhee benar-benar layaknya bayi kecil yang mengemaskan dimata Yoona.

"Hu'um, b-bobok~" 

Yoona mengeratkan pelukkannya setelah membenarkan tata letak selimut sibungsu sembari terus mengelus pipi lembut sang putra sampai terlelap. Dipandanginya wajah manis itu yang sekarang tertidur begitu damai. Putranya yang dulu sempat tak diinginkan olehnya. Kang Minhee.

.

Minhee terbangun, disampingnya ada sosok fotocopyan dirinya tengah tertidur disamping ranjangnya dengan bertelungkup. Dirinya tersenyum saat mengetahui siapa itu. Kakak kembarnya.

Tangannya yang bebas bergerak untuk menyentuh sesuatu yang sejak kemarin membuatnya penasaran. Sebuah kain lembut dirasakannya saat menyentuk kepala, kain? Sejak kapan dirinya menggunakan topi? 
Gerakkan kecil yang dirinya buat, membuat sosok yang mirip dengannya terbangun. 

"Ung? A-adek sudah bangun?" 

Jaemin dapat melihat kegusaran Minhee yang kini tengah meraba-raba kepalanya yang tertutup sebuah topi rajutan.

"Dek.."

"D-dimana rambut.."

Minhee terlihat panik saat mengetahui jika mahkota indah miliknya telah hilang dibalik topi itu. Jaemin mencoba menahan tangan kurus adiknya yang hendak melepaskan topi rajutan itu. 

"Abang.. rambut adek mana? Hick~"

"Minhee.."

"Engga~ ampun bang hick.. adek ga sengaja menyemirnya bang hick.. kenapa rambut adek dipotong semua hick..hick.. ga mau~ rambut adek mana bang hick.." 

Jaemin sempat terkejut, adiknya begitu merasa kehilangan akan sebuah rambut dikepala sampai harus menangis sehisteris ini?

"Adek, adek tenang yah. Ga papa nanti rambutnya bakalan numbuh lagi kok dek, sudah-sudah cup cup cup jangan menangis dek." 

Jaemin segera memeluk Minhee yang menangisi sebuah rambutnya yang sayangnya telah hilang tercukur habis. 

"Abang, bilang kedaddy hick.. k-kalo adek g-gak sengaja nyemir rambut hick.." 

"Uussttt.. iya-iya sayangnya abang, adeknya abang sudah yah, itu topinya jangan dilepas nanti kepalanya kedingingan." 

Entahlah, Jaemin berkata random hanya untuk menenangkan sang adik yang menangis. Dan ini untuk pertama kalinya kedua saudara kembar itu berpelukan.


.
.


Bersambung.

30 FINAL

0 0


FINAL
.
.
.

Entahlah, Hyeongjun hanya memandang kosong pada sebuah buku gambar yang tadi sempat dia lihat sebelum memanggil para sahabat untuk datang. Entahlah dirinya kefikiran siteman jangkungnya itu.

"Hyeongjun-ah, temen-temenmu sudah datang tuh."

"Oh, iya ma suruh masuk aja."
.
.

Dan disinilah mereka, duduk bersila didalam kamar Hyeongjun secara melingkar. Disana Jungmo nampak sedikit tak suka saat menyadari satu orang yang menjadi rivalnya disekolah. Hwang Yunseong yang ikut bergabung sekarang.

"Lo ngapain ngundang dia dek? Ngerusak pemandangan aja."

"Heh raden Mogu yang terhormat, mohon maaf aja, gua diundang sama Hyeongjun."

"Aishh.. sudah-sudah jangan berantem dirumah aku, kak Mogu aku yang ngundang kak Yunseong kesini."

Hyeongjun memberikan buku gambar Minhee lalu membukanya. Disana ada tertera nama Yunseong dan Jaemin.

"Loh kok ada nama gua?"

"Udah baca aja. Gausah protes teros lu Hwang."

Disana, didalam lembar terakhir pada buku gambaran itu. Terdapat tulisan tangan Minhee yang rapih.

Adek kira abang bakalan berubah sayang sama adek, tapi saat aku ga sengaja dengar pembicaraan abang sama kak yunseong dilorong waktu itu, aku sadar abang memang ga pernah sayang sama adek. Abang baik cuma buat jadikan adek taruhannya dengan kak Yunseong. Sebegitu bencinya kah abang sama adek? Sampai abang belikan adek susu pisang yang kadaluarsa? Untungnya adek ga papa. Harusnya adek mati saja ya, biar abang ga benci sama adek. Tapi tak apa, adek tetap sayang sama abang Jaemin kok :).

Tulisan itu berakhir disana tanpa ada kelanjutannya. Semua mata kini menatap pada Yunseong yang seperti tengah tertangkap basah.

"Jangan salah paham dulu, gua cuma taruhan motor doang." 

"Minhee ga salah apa-apa lo jadiin taruhan, emang kalian itu anggota osis macam apa sih!"

"Hey, udah-udah jangan berantem dirumah aku. Mending kita kerumah sakit jenguk Minhee, terus kak Yunseong juga ikut buat minta maaf sama Minhee."

.
.

Semuanya sepakat dan telah bersiap-siap untuk segera kerumah sakit, sebelum suara gadis berambut sebahu diantara mereka bersuara.

"Guys, ngerasa aneh ga sih sama tulisan Minhee yang ini?" 

Wonjin yang kebetulan berada paling dekat dengannya mengambil buku gambar itu lalu membacanya. 

"Iya juga ya kok kaya aneh gitu, coba kak Mogu lo baca deh." 

Machi nega naeil juggo yeong-wonhi saneun geoscheoleom gongbuhamyeondoenda. ulineun jug-eum-i ol ttaekkajineun alji moshajiman insaeng-eul wihae choeseon-eul dahabnida.'

'_NA MEONJEO GALGE~' 

Kening siyang lebih tua mengerut bingung. Apa maksudnya?

"Na meonjeo galge? Mau pergi kemana memangnya?" Ujar Yunseong yang muncul dibelakang mereka.

"Sebentar. Minhee mau pergi? Maksudnya pergi kemana eh?" 

Hyeongjun sedikit panik saat fikiran randomnya kembali datang. Direbutnya segera buku gambar itu dan tak sengaja ada beberapa lembar foto terjatuh disana. Salah satunya adalah sebuah foto polaroid yang menunjukkan sebuah foto keluarga, yang mana disana cuma hanya salah satu saja yang tersenyum bahagia. Minhee. 

Dan disana tertulis sebuah tulisan tangan dengan spidol berwarna merah terang, tulisan tangan Minhee. 

'Keluarganya adek :)'

 

Dan juga dibalik foto itu, terdapat sebuah tulisan kecil yang mereka tebak adalah tulisan Minhee.

'Ini adalah foto keluarganya Minhee. Itu ada Daddy dengan jas putih, Mommy yang cantik dan selalu cantik dengan gaun hitam serta ada Abang Jaemin yang tampan sama kayak adek hihi ^^. Adek akan simpan foto ini, karna ini satu-satunya kenangan yang adek punya.'

.
.
.

"Dokter selamat siang!"

"Eh, kalian temannya Minhee ya?" 

Kelimanya mengangguk akan sebuah pertanyaan itu. 

"Minheenya habis diperiksa tadi dan sekarang lagi tidur. Tuh kakaknya juga ada didalam, kalian masuk aja ya  tapi jangan berisik."

"Iya, makasih dokter."

Hyeongjun masuk lebih dulu dan disusul oleh yang lainnya. Disana Jaemin menyambut mereka dengan senyum tipis dan raut wajah yang nampak lelah. 

Sementara itu dibelakang Jungmo nampak meringis saat melihat wajah pucat Minhee yang sedang tertidur damai diatas ranjangnya. Dalam benaknya, timbul segala kemungkinan bagaimana agar sosok adik kecil kesayangannya itu untuk bisa sembuh. Jungmo itu pintar, dirinya berinisyatif mencari sumber-sumber terpercaya dan sejumlah artikel yang membahas tentang penyakit yang diderita Minhee. Selain kemo satu-satunya cara untuk sembuh cuma dengan menjalanin operasi, tapi yang dirinya tau Minhee telah menjalani kemo dan beberapa waktu lalu telah melakukan serangkaian operasi. 

"Kak Jaemin keliatan lelah banget, istirahat gih biar kita-kita yang jagain Minhee. Besokkan kakak juga harus sekolah." 

"Tapi adek.." 

"Udah ga papa, lo tidur aja Jaem, biar gua sama anak-anak jagain Minhee."

"Oh, oke."

Selagi Jaemin tidur, Jungmo duduk dikursi sebelah ranjang rawat Minhee. Wajah yang menggemaskan itu dirinya tatap begitu dalam hingga rasanya Jungmo bagai tenggelam dalam parasnya yang bak bayi kecil nan lucu, bayi yang membutuhkan seorang pelindungnya.
Tangan itu dia genggam begitu erat namun tak menyakiti, tubuh itu nampak dingin saat dia genggam.

.

Minhee membuka matanya perlahan, dan pemandangan Jungmo menjadi pertama kali dirinya lihat. 

"Kak Mogu~" 

"Eh? M-minhee udah bangun? Kakak panggilin dokter yah."

"Kak~ aku mau pulang~" 

Hatinya sedikit berdenyut nyeri saat mendengar suara lirih Minhee dengan pandangan mata sayunya. 

"Nanti pulang kok, kamu harus sembuh dulu ya?" 

Jungmo berusaha membujuknya yang sekarang tengan merengek padanya. 

"Mau Mommy~ hick.. adek mau jalan-jalan s-sama mom hick~" 

Jungmo tak bisa berdiam diri, direngkuhnya tubuh kurus itu kedalam pelukannya. Sedikit kesulitan memang dengan posisi mereka tapi itu tak memberatkannya.

"Kak Mogu, makasih yah~ adek sayang kak Mogu juga~"

Jungmo diam. Rasanya hatinya begitu ngilu saat mendengar suara lirihan Minhee. Pelukan itu dia eratkan, berharap dapat menyalurkan rasa hangat pada tubuh kurus Minhee yang dingin. Disana teman-temannya sudah bangun dan hanya diam tanpa ada yang mau bicara termasuk Jaemin yang menunduk sedih saat mendengar rancauan sang adik. 

"Iya, kamu harus sembuh yah? Biar kita semua bisa jalan-jalan dan lakukan apapun nanti."

Jaemin melihatnya, betapa sayangnya Jungmo kepada adik kembarnya dan bagaimana Minhee yang begitu nyaman didalam pelukan itu. Adiknya terlihat rapuh dan membutuhkan seorang yang dapat membuatnya bertahan dan semangat untuk hidup. 

.

Semuanya sudah pulang saat Minhee kembali terlelap dan menyisakan Jungmo yang berbaik hati menggantikan Jaemin sebentar untuk berjaga selagi anak itu pulang untuk mengambil beberapa keperluan sekolahnya esok hari. 

Jungmo mengusap peluh yang berada dikening Minhee dengan teramat pelan, takut-takut sosok itu akan terganggu akan sebuah pergerakan kecilnya. Dan benar saja, adik kecilnya terbangun.

"Hey, kok bangun dek?" 

"Mual kak~"  Rengeknya.

Minhee membenci rasa yang kini tengah dirasakannya, rasa obat yang dia konsumsi membuat indra pengecapnya terasa aneh dan kadang membuatnya ingin muntah. Tubuh terjatuh kedalam dekapan hangat milik sang kakak. Rasanya Minhee ingin memeluk dan mengusakkan hidungnya pada dada bidang sang kakak layaknya bayi hanya sekadar untuk mencari sedikit rasa nyaman kalau saja rasa mualnya yang menyiksa itu harus membuatnya kembali tunduk akan rasa sakit.

Jungmo tetap memeluknya,dan membantunya untuk berdiri disaat sang empun tak sanggup barang menggerakkan tungkainya dengan benar. 
Dengan sabar Jungmo memijat tengkuk Minhee. Perlahan mengusap wajah Minhee yang pucat dengan air mengalir guna membersihkan sisa-sisa muntahannya.

"Mau muntah lagi?" 

Minhee menggeleng pelan, dan mencoba berjalan untuk segera kembali berbaring dengan Jungmo yang selalu menuntunnya. Namun baru dua langkah, tubuhnya kembali oleng dan bersukur disana ada Jungmo.

"Maaf kak Mogu~"

.

Jaemin telah kembali dan kini dirinya sedang memenuhi keinginan adik kecilnya yang katanya ingin mandi karna gerah. Jungmo menunggu mereka diluar selagi kedua kakak beradik itu selesai. Dia ingin menginap malam ini, menemani Jaemin berjaga.

Jaemin membantu Minhee mandi dengan membersihkan seluruh tubuh bak bayi itu dengan begitu pelan. Mencoba menahan genangan air mata yang siap tumpah saat melihat betapa kurusnya tubuh adik kecilnya. Jaemin tau, Tuhan sangat menyayangi Minhee. Terbukti dengan betapa baiknya Minhee diciptakan. Hingga pada sampai saatnya takdir berkata untuk membawa kembali Minhee kepada pelukan-Nya harus melalui berbagai cobaan didunia.

"Abang, rambut adek bakalan tumbuh lamakah?"

"Hum? Jangan ditungguin, nanti rambutnya bakalan tumbuh seiring berjalannya waktu kok."  Benar, jika umurnya masih bisa bertahan lebih lama.

"Hihi, nanti rambut adek bakalan bagus." 

Rancauan random milik sang adik entah kenapa membuat Jaemin resah. Firasatnya mengatakan sesuatu yang membuatnya tak bisa menerimanya. Ditambah lagi dengan sebuah tulisan dan sebuah foto yang semalam ditunjukkan Hyeongjun padanya.

'Na meonjeo galge.' 

Dirinya nerusaha mengenyahkan fikiran aneh itu dan tetap melanjutkan tugasnya. Tapi pada nyatanya cairan bening itu keluar dengan sendirinya tanpa dirinya pinta. Membiarkan takdir Tuhan berjalan dengan semestinya.

.

"Eh, kak Mogu belum pulang? Bang Jaemin ayo dandanin adek." Jungmo hanya tersenyum simpul sebagai jawaban. 

"Loh? Mau ngapain pakai dandan segala?" 

Jaemin berusaha bersikap biasa saja. Tangannya bergerak mengeringkan tangan dan kaki Minhee yang menjuntai diatas ranjang. Jungmo berinsyatif membantu sebisanya.

"Kan adek mau pulang."

Gerakan tangan Jaemin mengambang diudara serta Jungmo yang menatapnya dengan kening mengkerut. 

"Memangnya dokter udah ngebolehin?" Lanjut Jaemin yang mencoba untuk tenang.

"Ung~"

.

Sudah selesai, Minhee sudah terlihat sangat rapih berkat bantuan sang kakak dan juga Jungmo yang memilihkan sebuah Hoodie berwarna krim dan juga sebuah topi rajur berwarna coklat susu. Minhee nampak sangat manis siang ini dan juga bersinar dimata Jaemin. Benar, Minhee sangat begitu sempurna diciptakan.

"Abang, adek mau jalan-jalan sore boleh?" 

"Boleh dek, sebentar ya abang ambil kursi rodanya dulu. Kak Mogu nitip Minhee ya."

.

Dan disinilah mereka, ditaman rumah sakit yang terlihat begitu cantik saat sore hari menjelang. Minhee sesekali akan bersuara heboh saat menemukan entah itu makanan manis kesukaannya dan lain-lainnya, dan itu membuat kedua pasang mata disana tersenyum getir. Minhee nampak berbeda sampai suara ringisan pelan itu terdengar oleh mereka.

"Dek kenapa?"

"Sshh.. pusing kak, ugh~" 

"Ayo kita balik kekamar ya, biar abang gendong." 

Jaemin dengan sigap mengendong tubuh Minhee yang demi apapun begitu ringan bak sebuah kapas. Dibelakangnya Jungmo membawa kursi rodanya menuju kamar inap.

.

Pagi ini Minhee sudah diperbolehkan pulang kerumah. Lihatlah betapa senangnya sibungsu Kang saat kedua orang tuanya berada disana menemaninya. 
Setibanya dirumahpun, untuk pertama kalinya sang ayah menggendongnya sampai masuk kedalam kamar bernuansa biru miliknya. Minhee sangat senang sekarang.

"Adek mau makan? Mommy buatkan bubur ya?"

Dan anggukan penuh semangat dari sang putra membuat wanita cantik itu tersenyum.

Disana, Minhee memanfaatkan moment kebersamaan dengan kedua orang tuanya dengan bersikap manja. Meminta Yoona untuk menyuapinya makanan dan juga meminta Siwon untuk mengusap kepalanya yang tertutup topi rajutan. 
Sikap Minhee sedikit membuat Yoona sang ibu sedikit takut, namun berusaha untuk abai.

"Adek mau apa lagi?" Siwon mengusap pipi tirus sang anak dengan tangan sedikit gemetaran. 

"Mau bobok dipeluk Mommy sama Daddy! Boleh ya?"
.
.
.
Hari ini Minhee meminta sebuah permintaan yang sederhana pada keluarganya, dirinya ingin pergi kegereja terdekat untuk berdoa. Tentunya pasangan suami istri itu menyetujuinya, begitu pula dengan saudara kembarnya Jaemin yang berjanji akan pulang lebih awal dari biasanya.

"Mommy cantik banget, abang juga ganteng kaya adek, Daddy juga." 

Minhee bertepuk tangan pelan saat melihat penampilan ketiga orang tersayangnya. Mommy yang memakai dress berwarna krim. Daddy yang memakai kemeja dan Jaemin serta dirinya memakai sweeter turtle neck berwarna krim untuk Jaemin dan putih untuknya, dan jangan lupakan topi rajutan buatan tangan sang ibu yang berwarna senada dengan sweeternya.

"Ayok kita berangkat."

.
.

Mereka telah sampai dalam barisan kursi paling depan gereja. Terlalu larut dalam doa yang dipanjatkan sampai semua jemaat mulai satu persatu meninggalkan tempatnya, menyisakan satu keluarga ini saja.
Sekita 10 menit bersimpuh dalam kehening serta kedua tangan yang bertautan, hanya sibungsu yang tetap setia menundukkan kepalanya, begitu larut dalam doanya sampai bulir-bulir air mata meneter pada pipinya.

Yoona yang duduk disamping sibungsu tak kuasa menoleh kearahnya, dirinya hanya terus menunduk guna menyembunyikan air matanya. Serta kedua orang lainnya yang hanya terdiam sendu. 

12 menit berlalu, dan Minhee masih dalam posisi yang sama dan tanpa ada tanda-tanda akan mengakhiri doanya.

"Minhee? Adek sayang~" 

Yoona menyentuh pundak sibungsu dan terkejut saat tubuh itu tiba-tiba saja terkulai lemas dan hampir saja jatuh, kalau saja Siwon tak bergerak cepat menahannya. Minhee mimisan untuk kesekian kalinya.

"Nak bangun sayang!"

.

Dan disinilah dirinya, terbaring pada bangsal yang akan membawanya menuju ruang ICU.
Kang Minhee kembali terbang menuju awan, dirinya kembali kritis.

"1.. 2.. 3.. charge!"

"Minhee bangun nak~" 

Yoona menangis dalam pelukan Jaemin sisulung yang juga menangis. Didalam sana Siwon berusaha untuk mengembalikan putra mereka, putra bungsu mereka.

Diatas sana, Minhee nampak berlarian dengan bahagia ditengah padang rumput hijau bersama sosok cantik sang nenek dan juga kakeknya disana. Keduanya saling pandang sebelum nenek Im memanggilnya untuk mendekat.

"Nenek, Kakek ada apa? Adek lagi asik main loh." 

Pasangan paruh baya itu hanya memberikannya sebuah senyuman hangat.

"Sayang, cucuku. Pulanglah dahulu, mereka mencarimu." 

.

Tim dokter sedikit kesulitan untuk mengembalikan detak jantungnya, alat facu jantung berkali-kali menekan dada sibungsu dan berharap dapat mengembalikannya. 

"Sayang, daddy mohon nak~"

"Sekali lagi, 1.. 2.. charge!" 

Tubuh itu untuk kesekian kalinya terhempas  saat alat facu jantung kembali menyentuh dadanya. Siwon hampir putus asa saat grafik itu tak menunjukkan tanda-tanda akan tekanannya naik. 

Yoona meremas dadanya disela-sela isak tangisnya. Kedua tangannya saling bertaut erat memanjatkan doa untuk sibungsu yang berjuang melawan maut didalam sana. Bisakah dirinya menggantikan posisi putra bungsunya didalam sana? Dirinya rela melakukan apapun untuk Minhee, disisa-sisa terakhir hidupnya.

"Dokter detak jantungnya semakin lemah!"

"Sekali lagi!" 

"1.. 2.. charge!" 

"Hhh~" 

Bunyi Elektrokardiogram serta gambar grafiknya yang menunjukkan kenaikan pada detak jantung sang putra membuatnya dapat bernafas lega. 

"Dokter detak jantung pasien meningkat!"

Putranya, anak bungsunya sekali lagi berhasil melewatinya. Tanpa sadar, setetes airmata jatuh mengenai pipi tirus Minhee. 

"Terima kasih nak, terima kasih hick.." 

.

"Nenek, adek akan segera kembali. Tunggu yah!"

.

Jungmo, Yunseong dan teman-teman Minhee yang lain telah datang saat 1 jam lalu dikabari oleh Jaemin. Semuanya nampak sangat khawatir saat Jaemin menelpon mereka jika Minhee kembali kritis.

Disisi lain, Siwon nampak bersimpuh dengan kedua tangan yang bertaut erat. 

"Tuhan, tolong selamatkan putraku. Aku tahu aku sangat berdosa karna telah mensia-siakan anugerah yang telah engkau berikan padaku  Aku mohon izinkan aku untuk menebusnya,"

"Hanya dengan kuasamu aku memohon, izinkan aku menebus kesalahanku dan membuat putraku bahagia, Tuhan.. Hick~"

.

"Hick.. maaf dek hick.. maafin abang hick.." 

Jaemin menangis sendirian dilorong rumah sakit yang mulai sepi, sedari tadi dirinya sudah mencoba menahan diri untuk tidak menangis didepan kedua orang tuanya. Ingatan tentang perbuatannya beberapa waktu kebelakang kembali bermunculan dibenaknya. Dirinya yang membuat sang adik menangis, memukul dengan kedua tangannya. Hanya kata maaf yang bisa terucap. 

"Nak bangun sayang, ini Mommy nak. Buka matanya yuk sayang." 

Yoona berusaha membangunkan putranya yang masih setia menutup matanya. Tidur, tidur nyenyak dialam mimpi. 

Sementara itu, teman-teman Minhee berada diluar, memandang wajah pucat pasi Minhee melalui dinding kaca. Jungmo terlihat mengenaskan sekarang, dirinya panik saat mendengar kabar dari Jaemin dan tanpa berfikir panjang mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Hanya untuk melihat kondisi Minhee, adik kesayangannya, yang telah dirinya anggap sebagai adik kandungnya sendiri.

.

Kini malam telah berganti. Yoona sama sekali tak beranjak seincipun dari ranjang Minhee dengan tangan yang selalu menggam erat tangan dingin Minhee. 

Kondisi Minhee masih sama, tidak ada perkembangan yang berarti, namun semuanya terus berdoa dan berharap agar semuanya membaik seperti semula. 

Hyeongjun berinisiatif masuk dengan membawa beberapa roti dan minuman untuk teman-temannya yang setia didepan ruang rawat Minhee. 
Anak dengan mata bulat itu berjalan mendekat kearah Jungmo yang melamun. 

"Kak Mogu~ makan dulu ya?" 

"Jun~ gua ga selera makan." 

Hhh~ 

.

Pagi sekali, semuanya kembali panik. Minhee mengelinjang diatas brangkarnya. Tim dokter berusaha menanganinya walau sedikit kesulitan diawal. Dokter Lee memasukkan sebuah selang kedalam tenggorokannya. Semuanya mendengar, suara rintihan serak itu, serta bulir air mata yang terus turun dari mata indahnya. 

Yoona melemas mendengar suara rintihan kesakitan itu, juga Jaemin yang mematung ketika Minhee menggelinjang dengan pekikan serak disana. Siwon tak bisa banyak membantu saat semua tubuhnya lagi-lagi gemetar saat hendak menolong putranya. Sementara tim dokter berusaha untuk memeriksa rekam medianya yang nampak terlihat sangat menurun.

"Minhee, anak bunda kuat. Ayo sayang bertahan hick, Mommy akan turuti apapun jika adek berhasil melewatinya." 

Hyeongjun memeluk erat Yoona yang menangis histeris, mencoba memberikan kekuatan disana.

Minhee kenbali tenang setelah 25 menit. Anak itu berkedip pelan dalam diamnya. Tangannya mencoba membalas genggaman sang ibu.

"Iya sayang, adek mau apa hm?" 

Mulut kecil itu bergerak dan Yoona berusaha untuk memahaminya. Minhee menggumamkan kata sahabat dan Yoona menyampaikannya. Keempat sekawan itu berjalan menghampirinya. 

Minhee tersenyum tipis namun masih bisa mereka lihat. Lalu mulutnya bergumam lagi jika dirinya telah meninggalkan sebuah buku gambar miliknya untuk mereka.

"Iya, kami sudah membacanya Minhee. Iya kami janji akan sering belajar biar pinter kaya lo M-minhee~"

Ucap Wonjin yang diakhir kalimatnya nampak bergetar menahan tangis. Minhee tersenyum dan matanya beralih pada sosok Yunseong yang perlahan maju mendekat padanya.

"Minhee~ maafin gua. Gua ga maksud."

Tanpa diperintah Yunseong menyuarakan perasaan bersalahnya. Disana Minhee hanya tersenyum dan mengangguk dua kali sebagai jawaban.

Semuanya telah tersampaikan. Minhee beralih menatap pada sang kakak serta kerdua orang tuanya. Minhee menggenggam tangan sang ibu dan menatap manik indah milik sang ibu dengan senyum. Yoona tak kuasa menahan tangisnya dan segera memeluk tubuh lemah anak bungsunya itu. Jaemin yang duduk disampingnya dengan mengelus pipi tirusnya serta sang ayah yang menggenggam tangannya. Posisi Minhee sekarang duduk sambil dipeluk oleh ibunya.

"Adek h-harus sembuh ya? Biar besok kita jalan-jalan bareng mom sama dad yah?" 

Ucapan Jaemin yang mana hanya mendapatkan respon sebuah anggukan pelannya. Senyum itu, akan Jaemin ingat. 

"Abang janji b-bakalan sayang sama adek, abang janji ga akan mukul adek lagi~ hick.. abang bakalan lindungin adek hick.." 

"Daddy juga, gak akan maksa adek buat belajar  terus. Daddy akan biarin adek b-buat istirahat kalo a-adek capek sama pelajaran.. daddy janji daddy juga gak akan pukul kamu kalau nilai kamu turun, nak~ hick.. maaf.." 

Minhee tertawa pelan saat melihat sosok yang selalu dirinya anggap kuat sedang menangis didepannya. Tawanya begitu kecil. 

"A-adek u-udah ma-afin kok~ hehe.." 

"Rrghh~ s-sakit D-daddy~" 

"Yang mana yang sakit nak?" 

Minhee hanya tersenyum dan pandangannya beralih pada sang ibu yang memeluknya. Pelukkan yang akhirnya dirinya rasakan. 

"M-mom..my~" 

"I-iya nak~ kenapa hmm?" 

"Akh~  abang~" 

Jaemin mengannguk saat sang adik menoleh padanya dengan sebuah senyuman. Air matanya kembali menetes saat melihat senyuman itu. 

"B-buku~" 

Tangannya teranggkat guna menunjuk pada sebuah meja nakas yang terdapat buku gambar miliknya. Wonjin yang posisinya paling dekat pada nakas lantas segera mengambilkannya untuk Minhee. 

Tangan bergetar itu menarik tangan milik sang ibu, ayah dan juga saudara kembarnya untuk menerika buku miliknya. 

"P-peluk~"

Ketiganya segera memeluk tubuh rapuh sibungsu yang masih setia tersenyum dan malah mengusakkan hidungnya diantara pelukan itu. 

"Lihat~ i-itu kakek sama nenek." 

Minhee tersenyum pada kedua sosok yang tengah beridir dan tersenyum padanya. Yoona yang sadar apa yang Minhee katakan. Dirinya tak ingin Minhee pergi. Mereka belum membuat Minheenya bahagia.

"Ga boleh dek, ga boleh pergi ninggalin kita hick. Ga boleh ninggalin abang dek hick." 

Minhee hanya tersenyum, tangannya terangkat untuk mengusap wajah yang serupa dengan dirinya. 

"S-sayang abang~ hhh~ argh!" 

Semua yang ada disana tak dapat berbuat banyak lagi. Jungmo sekalipun. Dirinya bergerak maju, mendekat untuk mengusap pipi siadik kesayangannya untuk terakhir kalinya. 

"Dek, Kakak sayang kamu. Adek kecilnya kak Mogu hick~" 

Tanpa perlu izin, dikecupnya seluruh wajah itu.   Dan Minhee bersukur, disisa-sisa hela nafasnya dapat merasakan rasa penuh kasih sayang dari Jungmo selama hidupnya. Sebagai pengganti kakak dalam hidupnya, dan dirinya akan berterima kasih pada Tuhan setelah ini. 

"Kak Mogu sayang kamu dek, hick.. istirahatlah hmm.. tidur yang nyeyak ya sayang~" 

Mata bening itu nampak semakin redup dan juga genggamannya yang kian melemah dari detik kedetik. Minhee memandang wajah ibunya untuk yang terakhir kalinya.

"Mom~ m-mau cium hhh~" 

"Iya, nih mommy cium adek banyak-banyak  tapi adek ga akan ninggalin mom kan sayang?"

"I l-love you~" 

"Nak~ jangan bobo hick."

Siwon dan Yoona menangis histeri saat kedua mata indah putra bungsunya mulai memberat, serta genggaman tangan mereka yang tak berbalas. 

"Adek mau bobok dulu~"

"Gak mau! Minhee jangan pergi ningal Mom nak hick engga!" 

"Na me-onjeo.. g-galge~"

Ketiganya menangis saat tubuh sibungsu kembali kejang dengan nafas tersengal. Mata idah itu telah tertutup untuk selamanya, menyisakkan sebuah senyuman indah pada parasnya yang nampak bersinar seperti bayi.

.

Siwon histeris saat tim dokter mulai mencabut semua alat-alat yang terpasang ditubuh putranya. Genggaman tangannya mengerat pada tangan putranya yang kini terasa sangat dingin. 

"Dokter jangan lepaskan, putra saya masih hidup dokter!" 

"Bangun sayang, anak Mommy. KANG MINHEE! bangun hick."

"Dokter Kang, iklaskan Minhee." 

.

Upacara pemakaman Minhee berjalan dengan lancar. Semuanya berhadir dan mencoba melepaskan kepergian sosok adik kecil mereka yang kini telah bebas kepangkuan yang kuasa. 

Disana Jungmo menatap kosong pada sebuah buku gambar dan juga Jaemin yang sama halnya dengan dirinya. Kedua orang itu begitu kehilangan sosok adik manis mereka.

"Kak Mogu, makasih udah jagain Minhee."

Hanya sebuah anggukan sebagai jawaban. Sang pemilik nama engga mengeluarkan sepatah katapun. 

"Gua abang yang gak berguna banget buat adek hehe. Andai gua ga berkalu jahat, adek pasti masih ada diantara kita."


Terlalu sesak dadanya. Memang, kematian Minhee bukanlah sebuah akhir bagi mereka, melainkan awal hidup baru yang harus mereka jalani. 

"Minhee gak mau repotin kita Jaem, gua aja gak tahu kalau dia sakit. Adik kita sekuat itu hehe~" 

"Tapi sekarang dia sudah bahagia Jaem~"

Keduanya paham jika Minhee ingin menyimpan kesakitannya itu sendirian tanpa berbicara pada siapapun. Minhee memilih diam. Menjadi sesosok pendengar

yang baik dan sosok yang sempurna.
Jungmo dan Jaemin contohnya, salah satu orang yang tak akan Minhee biarkan untuk ikut merasakan sakit yang yang dia rasakan.

Satu yang pasti, Minhee telah bahagia diatas sana.

.


"Jangan sedih ya. Adek udah ga papa. Abang harus tersenyum. Daddy dan Mommy juga jangan sedih. Adek sayang Abang, Daddy dan Mommy." 

  -Minhee

 

Arti dari tulisan tangan Minhee.

"Hiduplah seolah kamu mati besok dan Belajarlah seolah engkau hidup selamanya. Kita tidak tahu sampai kapan ajal tiba, namun lakukan yang terbaik untuk hidup."

"_Aku pergi dulu~"

.

TAMAT 

Mungkin saja kamu suka

Atikah Mulyati
Life Twist
Syawal Aliyah
Sebuah perjalanan
Susi Khotimah
Penantian Sharleta
Durotun Anisa S...
PRAHARA YANG BERUJUNG PENGADIL

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil