Loading
17

8

4

Genre : Inspirasi
Penulis : Demia Laviona (TheLove_ion)
Bab : 11
Pembaca : 4
Nama : Demia Laviona
Buku : 1

May Be-lah Penulis

Sinopsis

Setiap orang pasti memiliki impian dalam hidupnya, atau setidaknya punya satu hal yang ingin dicapai. Secara sadar atau tidak, beragam siasat dan rencana diatur sedemikian rupa demi memuluskan jalan 'tuk sampai ke tujuan yang menjadi mimpi tadi. Seperti yang dilalui oleh Maybila, sang tokoh tulisan ini. Ia memiliki berbagai rencana agar bisa menjadi seorang penulis. Namun bagaimana jadinya jika seiring waktu berjalan, ia justru terjebak dalam berbagai situasi yang justru menghambatnya untuk bisa menulis. Ia sakit dan terpuruk. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Sakit dan hal apa yang ia alami? Akankah ia bisa melewati semua halangan yang merintangi? Atau sebaliknya? Tidak pernah ada yang mudah dan instan untuk nilai sebuah perjuangan yang memberi hikmah terbaik. Ketika cita-cita berhasil dicapai sekalipun, ada harga mahal yang harus dibayar dalam perjuangan untuk meraihnya.
Tags :
pengembangan diri, inspriasi, perjuangan hidup, keluarga, inner child

Akhir di Awal Kisah

4 4

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 2 Panah Aksara

Jumlah Kata 679 Kata

Day 1

Hai, perkenalkan namaku Baskara Bintang, usia tiga puluh lima tahun, dan biasa dipanggil Babas. Saat ini, aku terduduk di ranjang kamar sambil memandang wajah cantik dan senyum manis yang terbingkai nyata di depanku. Senyum yang selalu membuat hati ini menatap dunia begitu indah dan positif. Sosok itu adalah Maymunah Salsabila, biasa dipanggil Maybila, usianya dua puluh sembilan tahun, dan dia istriku.

“Mas Bi kok melamun, lagi mikirin apa?” Haah, pertanyaannya membuyarkan lamunan ini dan aku hanya mampu menggelengkan kepala seraya membalas bayang senyum teduhnya.

Lagi-lagi, tentang senyuman yang selalu saja mampu menghipnotis hingga aku terhempas ke ruang mimpi. Kalian tahu bagaimana awal pertemuan kami? Kali pertama melihatnya adalah ketika gadis cantik setinggi 170 sentimeter itu sedang bertanding basket dengan begitu gesit dan lincahnya. Kebetulan hari itu aku diundang untuk menjadi dosen tamu di kampus tempat ia berkuliah.

Cantik, tampak tangguh tapi meneduhkan … akankah dia jodohku? batinku menilainya ketika itu.

Gadis dengan ban kapten di lengannya yang telah sukses memunculkan harapan dalam diri, semoga ia adalah jodohku kelak. Tanpa diduga, dari sebuah ungkapan hati disertai doa khusyuk di sepertiga malam, ternyata keinginan itu terwujud. Aku bertemu dengannya kembali, enam bulan kemudian. Dengan memakai jeans lusuh, kaus putih, sepatu kets berwarna merah, dan rambut panjang berkucir ekor kuda, ia duduk tepat di sampingku. Tak mau membuang kesempatan, aku segera menyapanya meski debar jantung ini tidak bisa diajak berkompromi.

“Mau konsul ke Dokter Vina juga, Mbak? siapa yang berobat?” tanyaku tanpa ragu.

“Eh?” Ia menoleh ke arahku, tampak sedikit kaget, “Iya Mas saya yang berobat. Mas juga? atau lagi ngantar?” jawabnya ramah lalu bertanya balik kepadaku.

Aneh, ia tampak sehat, sama seperti ketika pertama bertemu enam bulan lalu, sakit apa ya dia? tanya batinku sambil kemudian menjelaskan kalau aku sedang mengantar ibuku kontrol, kemudian berinisiatif mengajaknya berkenalan dan kami pun saling bertukar nomor handphone pada obrolan singkat itu.

Pertemuan kedua yang membuka jalan jodoh bagi kami. Tidak butuh waktu lama, dua bulan setelah itu, aku melamarnya, lalu resmi menikah sepuluh bulan setelahnya. Di rumah inilah kami memulai segalanya, saling menyesuaikan dan memantaskan diri satu sama lain karena Allah. Ya … itulah kalimat yang terlontar saat melamar Maybila, aku ingin segera menikah untuk kemudian mengejar rida Allah bersama.

Suara getar tanda ada telepon masuk membuyarkan lamunan akan sosok istriku tadi.

“Halo, assalamualaikum, Kak … iya, Kak. Saya sedang bersiap, insyaallah satu jam lagi kami sampai di CMC … studio enam ya, Kak? Oke, thank you.” Aku bergegas bersiap setelah menutup sambungan telepon dari Kak Viona, founder Penerbit Panah Aksara dan menuju lokasi acara workshop dan wawancara untuk memenuhi undangan Beliau.

Sesuai perkiraan, satu jam kemudian, kami sampai di perusahaan multimedia tersebut, dan langsung menemui Kak Viona untuk mendapat arahan mengenai jalannya acara. Ruangan telah di setting sedemikian rupa, lighting, audio, semua untuk kepentingan wawancara dan workshop.

“Pak Baskara dan Bu Viona, sudah bisa stand by ya, Pak, Bu.” Seorang floor director mengingatkan, saat Mbak Reni Ang host sekaligus sebagai Executive Producer acara “Bedah Inspirasi” ini melakukan opening, tak lama kami pun dipanggil untuk mengisi sesi wawancara hingga selesai.

“Mas Babas, mohon maaf ya, jadwal kalian hari ini jadi padat karena event yang kami adakan.” Kak Viona meminta maaf, karena setelah wawancara usai, kami masih harus menghadiri acara workshop kepenulisan yang juga sengaja diadakan di auditorium gedung megah ini.

“Tidak apa, Kak. Saya senang malah, bisa ikut serta dalam acara ini, sekalian bisa bertemu teman-teman Maybila dan saya bisa menceritakan tentang kalian kepadanya nanti,” ucapku tersenyum.

Benar saja, sesampainya di auditorium, aku bertemu dengan teman Maybila dari PePeCe, nama geng menulisnya. Saat ini, mereka sudah memiliki jabatan di bidangnya masing-masing. Masih di seputar kepenulisan juga. Selain Mbak Reni Ang yang banting setir menjadi salah satu host dan executive producer berbagai program Komunitas Penulis Peduli yang acara-acaranya tayang di PaperPen TV milik Cartapenna Multimedia Corporation (CMC), aku menyempatkan menyapa Teh Rina yang kini sudah menjadi koordinator Editor di Leksikon Publisher, salah satu anak perusahaan dari CMC. Di sana ada juga Kak Stephanie dan Kak Raisha yang mendirikan Renjana Aksara Publisher di Surabaya. Selama tiga puluh menit kami menyempatkan mengobrol, sebelum akhirnya pamit pulang.

 

Sarapa Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 2 Panah Aksara

Jumlah Kata 516

Day 2

 

Langit pekat menukar senja, aku kembali ke kamar ini. Maybila menyambut dengan senyum mentarinya yang mampu hangatkan beku sang hati dan dinginkan didihan carut-marut isi kepala secara bersamaan. Ah, ya … sosoknya adalah rumah yang Allah sediakan sebagai persinggahan selama hidup di dunia fana ini.

“Eh, Mas Bi baru sampai, Mas?” ujarnya dengan senyum riang, sambil setengah berlari menuju dekap hangatku, seperti itulah dia biasanya menyambut letihnya diri yang kemudian berseri kembali ini.

Aku memutuskan langsung beristirahat malam ini. Biasanya, kami selalu makan malam berdua sebelum bersantai menyambut kantuk, tetapi tidak kali ini. Letih setelah hampir seharian berada di acara tadi, entah kenapa, hatiku pun sama lelahnya. Mata yang tak juga pejam di tengah rasa penat, membuatku memandangi wajah teduh dan tenang Maybila, mengingat kembali ketika awal kami baru saja menapaki kehidupan berumah tangga delapan tahun lalu.

“Selamat datang di rumah tercinta, Bi. Insyaallah ini akan menjadi tempat kita menua bersama hingga maut memisahkan.” kataku menyambut, saat kali pertama ia menginjakan kaki di rumah yang sudah aku tempati sendiri satu tahun sebelum mengenalnya.

“Nyaman banget ini Mas Bi rumahnya,” ujarnya penuh takjub menyelisik setiap sudut ruang rumah berkonsep industrial minimalis yang aku design sendiri ini.

Rumah satu lantai yang berdiri di lahan seluas 200 meter persegi memang sengaja aku buat sesimpel mungkin. Rumah yang seluruh ruangan terpusat di tengah dengan tiga kamar dan kamar mandi terpencar mengisi sudut bangunan ini, memilki filosofi tersendiri. Harapanku, bahwa siapapun penghuni pengisinya kelak, akan berkumpul kembali di tengah rumah. Bercerita beragam kisah yang mereka punya dari biliknya masing-masing. Tidak melupakan bahwa kami adalah sebuah keluarga yang saling mengisi, mengelengkapi, juga saling bertaut bersama dalam suatu perjuangan tanpa batas selama kami menapaki kehidupan.

Warna monokrom perpaduan material kayu, batu alam, bata ekspos, dan jendela-jendela berkaca besar tampak mendominasi seluruh isi rumah. Konsepnya adalah, bahwa rumah hangat ini juga dapat menjadi jendela kehidupan bagi keluarga kecil yang akan dibina di dalamnya. Bagaimana dan sejauh apa pun nantinya kami melewati aral melintang di liarnya dunia luar, semoga tidak 'kan lupa tentang alam yang dipijak sesungguhnya. Saling terbuka dan apa adanya. Aku sangat senang karena ia menyukainya juga. Selain menyukai konsep dan makna di balik arti pembangunannya, ia juga menyukai bentuk fisik yang dilihatnya saat ini.

“Kamu suka?’ tanyaku untuk memastikan dan ia mengangguk dengan binar mata memancar.

“Kalau itu, ruang apa, Mas?’ Maybila menunjuk salah satu ruang tertutup yang terletak di pojok rumah setelah ruang makan,

“Oh itu … aku ingin buat rumah ini dengan tiga kamar tidur, tapi karena aku tinggal sendiri di sini, jadi ruang itu biasa aku pakai untuk ruang multimedia tempat mencari inspirasi. Satu kamar tidur utama yang nanti akan kita tempati, dan satu lagi adalah kamar tamu yang biasa Ibu tempati jika sedang berkunjung, atau bisa juga untuk kamar anak kita nanti.” jelasku, menunjuk satu per satu kamar dengan senyum yang tak pudar menghias wajah.

Ia kemudian berjalan menuju ruang itu dan membukanya. Ruangan yang terhubung langsung dengan taman belakang, di mana terdapat kolam ikan dan mini fountain di sana, sehingga berada di dalamnya membuat kita merasakan sensasi berada di alam lepas dengan latar pegunungan dan air terjun.

 

user

15 July 2021 07:18 Reni Anggraini I Love You Kakak The Love Ion .... Cemunguuuudddd

user

15 July 2021 08:57 ceritadsl Semangat kakaaakk!

user

15 July 2021 20:27 Stephanie Handojono password : pepece always kece.. pesan lulus bareng yuk

user

16 July 2021 06:02 Demia Laviona mantabbb, hayuuuuk bismillah, lulus bareng, yeaaayyyy

Kita

2 0

Sarapan Kata Batch 35

Kelompok 2 - Panah Aksara

Jumlah Kata 605

Day 3

 

Memang udara di kota seperti ini tidak bisa disandingkan dengan segar dan wangi udara pedesaan di rumah Ibu sana, tetapi plafon yang sengaja kubuat tinggi, menambah teduh hawa seisi rumah yang nyaris tanpa sekat ini.

“Tenang dan nyaman … apa aku boleh menggunakan ruang ini juga Mas?” tanyanya meminta izin. “Tentu saja Bi, kamu bisa memakai semua ruang di rumah ini sesuka yang kamu mau, ini ‘kan juga rumahmu juga, Sayang.” Aku berbinar, merasa telah menjadi tempat ia berbagi apa pun yang ia rasa kelak.

Sebuah rasa bahagia yang ternyata tidak sepenuhnya benar. Setelah pernikahan kami dan memulai semuanya di rumah ini, ternyata perlahan mulai terlihat sisi lain dari diri dan kehidupan seorang Maybila. Wanita yang selama setahun aku kenal sebagai sosok periang, supel, dan ekspresif itu, nyatanya berbeda ketika ia berada di rumah.

Apa seperti ini juga ia saat di rumah keluarganya dulu? Batinku menyelidik, ketika sesekali kudapati ia murung dan bercengkerama lama dengan pena dan kertas, atau menuang aksara pada word document di laptopnya.

Perbedaan yang kusebut tadi bukan berarti ia jadi bersikap acuh tak acuh kepadaku, tidak … kalau kalian mengira seperti itu, maka kalian salah. Ia tetap menjalankan perannya sebagai istri terbaikku dengan segala ia yang aku tahu sejak pertama berkenalan. Di depanku ia masih saja tak lupa menabur senyum dan melakukan pekerjaannya dengan baik, entah itu pekerjaannya di luar maupun di rumah sebagai istri dan ibu rumah tangga. Hampir tanpa cela!

Akh, Baskara Bintang, apa sebesar itu rasamu terhadap seorang Maymunah Salsabila, hingga kau buta dan marah ketika ada yang berprasangka buruk terhadapnya? Iya ini aku, terserah orang mau bicara apa, kalian akan tahu di akhir nanti, kalau aku tidak salah tentangnya. Monologku terangkai

Itulah kehidupan di awal pernikahan kami. Kami yang sama-sama bekerja saat itu, banyak menghabiskan waktu bersama saat akhir minggu. Tidak banyak yang berubah mengenai hal ini, karena sebelum menikah pun, kami menggunakan week end untuk waktu kami bertemu mengurus segala persiapan kami menikah. Selebihnya, banyak kami lewatkan melalui chat ataupun telepon. Pekerjaan Maybila yang seorang pekerja lepas sebagai produser pada beberapa iklan komersial di televisi, membuat waktu kerjanya tidak menentu. Ia akan sibuk saat ada proyek iklan, kemudian senggang saat proyek berakhir. Waktu kosong inilah yang sering kudapati ia menghabiskan banyak waktu di spot favoritnya di rumah ini. Bermanja dengan alat menulisnya.

Ya kebiasaan yang baru saja aku tahu setelah kami menikah. Menulis yang ternyata menyadarkanku, kalau seorang Maybila bukan hanya gadis ekspresif, cuek, dan tomboi seperti yang selama ini aku tahu. Lebih dari itu, dia ternyata juga jauh lebih peka, perasa, dan memiliki sifat keibuan yang tenang di luar perkiraanku. Aku paham sekarang, meski terlihat supel dan ramai, tetapi mengapa seorang introver seperti diriku bisa selalu nyaman saat di dekatnya. Ia seakan tahu apa pun kondisi hati dan diri ini.

Hal ini membuat aku merasa dimengerti, sama rasa ketika sedang bersama Ibu. Tidak heran juga, kalau ia sering dijadikan tempat curhat oleh teman-teman dekatnya. Meski di antara sekian banyak sahabat yang terlihat peduli kepadanya, aku hanya lumayan dekat dengan satu-satunya sahabat yang memang terlihat mendapat perlakuan paling beda dari Maybila. Namanya adalah Dedeh Tedjasaputra, atau biasa dipanggil Dedeth.

Aku tidak tahu ada cerita apa di balik persahabatan mereka, yang kutahu, Dedeth adalah sahabatnya sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar dan menjadi teman yang paling setia kawan juga paling amanah dalam menjaga rahasia. Pernah sekali waktu ketika aku sedang berusaha mencari tahu banyak hal mengenai Maybila dulu, hanya ia satu-satunya orang yang paling tidak bisa membocorkan rahasianya kepadaku. Hah … menyebalkan sekali kalau ingat kejadian itu. Bukannya mendapat informasi berharga, malah dapat semprotan omelan, saat ia menganggapku tidak gentleman karena tidak berani mencari tahu informasi seorang diri.

Sarapan Kata KMO Batch 35

Kelompok 2 Panah Aksara

day 4

Jumlah Kata 367

 

Langit masih gelap saat terdengar sayup suara azan subuh berkumandang. Aku bergegas bangkit untuk mandi dan bersiap berangkat salat subuh berjemaah di masjid. Hari ini akhir minggu, Maybila juga tidak ada jadwal ke lokasi syuting proyek iklan yang sedang digarapnya. Kami memutuskan berlibur, menepi ke pinggiran kota ‘tuk melepas semua kepenatan, sekaligus merayakan tahun pernikahan kami yang pertama.

Tidak butuh waktu lama, kami sampai di vila tempat kami menginap. Suasana alam pedesaan dengan hawa sejuk yang sesungguhnya begitu menenangkan. Aku lihat Maybila duduk di saung depan kamar kami. Saung yang menghadap langsung pada hamparan perbukitan hijau, sudah barang tentu akan ia manfaatkan untuk melanjutkan tulisannya, sampai kemudian ia yang menyadari keberadaanku sedang memandang lekat kepadanya pun memanggil diri ini,

“Mas, sini aku mau kasih liat sesuatu ke Mas Bi.” Hatiku terasa hangat dan langsung menghampiri memenuhi panggilan itu kemudian duduk di sampingnya.

“Mas, mau baca ga? Ini naskah yang lagi kutulis. Maaf harus menunggu selama ini untuk cerita ke Mas Bi. Soalnya selama ini aku sambil ikut kelas menulis online juga Mas, dan berlatih dengan banyak ikut menulis cerpen di setiap event yang mereka adakan. Jadi baru sekarang, aku mulai pelan-pelan menulis untuk naskah solo.” paparnya.

Menyambut naskah itu dan mulai membaca judul pada halaman depan naskah tersebut, sebelum ia melanjutkan perkataannya,

“Belum selesai sih Mas, karena aku juga baru mulai. Aku ingin minta pendapat Mas, sebelum melanjutkan bab selanjutnya. Ya meskipun, akan tetap lanjut meski Mas Bi belum membacanya sekalipun.” Maybila tertawa renyah, ciri khasnya yang kutahu saat melihatnya ketika dulu ia menggoda teman setimnya pada waktu rehat antar babak di pertandingan.

Yah, tawa renyah unik itu lagi, juga membangkitkan bibir ini untuk ikut menari bersama tawa bahagia bersamanya. Kemudian kulanjutkan melihat naskah itu kembali, sementara ia izin ke dalam mengambil makanan ringan dan minum hangat untuk kami. Ia melanjutkan kegiatan menulis setelahnya, sementara aku membaca tulisan yang diberikannya tadi. Naskah berjudul “Duri Indah sang Mawar” membuatku penasaran tentang duri mawar seperti apa yang seorang Maybila tulis ini. Aku buka lembar berikutnya, mataku langsung disungguhkan judul bab dan bait puisi pencubit hati, sedikit perih, karena bait itu juga mengingatkanku akan sosok yang tak sempat kukenal lama, tetapi begitu dirindukan hadirnya.

Bab 1. Kembali ‘Tuk Mengantar Pulang

Tabir

1 0

Sarapan Kata KMO Batch 35

Kelompok 2 Panah Aksara

Day 5

Jumlah Kata 468

 

Naskah berjudul “Duri Indah sang Mawar” membuatku penasaran tentang duri mawar seperti apa yang seorang Maybila tulis ini. Aku buka lembar berikutnya, mataku langsung disungguhkan judul bab dan bait puisi pencubit hati, sedikit perih, karena bait itu juga mengingatkanku akan sosok yang tak sempat kukenal lama, tetapi begitu dirindukan hadirnya.

Bab 1. Kembali ‘Tuk Mengantar Pulang

Kita sering tidak menyadari karena terlalu sibuk sendiri.

Seandainya tahu ada hal lain yang menanti, mungkin kita bisa belajar lebih peduli.

Sebelum ia pergi dan tak kembali, pulang ke hadapan Illahi Rabbi.

Begitulah kutipan awal bab yang kubaca dan melanjutkannya. Suatu tulisan yang menceritakan tentang seorang bernama Mawar Mentari sebagai tokoh utamanya. Bab yang menjelaskan perasaan perih seorang anak yang masih butuh kasih sayang kedua orang tuanya, kini harus belajar hidup tanpa ayah setelah sosok panutannya itu meninggal terkena serangan jantung ketika sedang perjalanan menuju kantor. Diceritakan Vino ayah dari Mawar meninggal di dalam mobil yang sedang dikemudikannya saat mobil tersebut melintasi jalan tol, kemudian tiba-tiba berhenti dan hampir menyebabkan tabrakan beruntun. Seketika mobil-mobil yang hampir terlibat dalam kejadian tersebut berhenti dan mengetuk jendela mobil Vino. Dari sana kemudian diketahui ia sudah tidak bernyawa saat tenaga medis datang.

Membayangkan rasa pedih seorang anak gadis berusia empat belas tahun yang sedang bahagia karena mendapat ranking satu dan naik kelas, dijanjikan akan dibelikan laptop untuk dia bisa menyalurkan minat menulisnya, tetapi harus menghadapi kenyataan pahit. Bukan karena tidak jadi dibelikan laptop yang melukai hatinya, melainkan kehilang sosok yang selalu mengerti diri dan apa pun cita-citanya. Seorang ayah yang selalu siap menjadi teman berbagi keluh kesah juga pengingat agar Mawar selalu berbaik sangka dan positif terhadap setiap takdir Allah.

Sosok yang bersikap lembut dan tegas sekaligus. Ia adalah cahaya dalam temaram bagi anak gadis dan istrinya, juga sebagai embun penyejuk yang siap menyegarkan hati-hati kelam nan berbisik nyata. Gadis itu kehilangan separuh hati penerang sukma karena setelahnya, ia bersiap menghadapi keras kehidupan seorang diri, bahkan meski itu bersama Ibu dan sepupunya sekalipun.

“Mas –“ Ucapan Maybila terputus oleh tawanya, waktu melihat aku yang terlonjak kaget saat ia memanggil, “Serius amat sih bacanya, jadi kaget ‘kan tuh Mas Bi, ini lho diminum dulu teh hangatnya, nanti keburu dingin,” sambungnya masih tertawa kecil dan menyodorkan cangkir kepadaku.

“Abis kamu sih, nulis cerita kaya nyata gini aku ngerasainnya, tau ga sih. Apalagi kamu tau ‘kan, aku rindu banget sosok Papa, aku cuma ingat kenanganku dengan Beliau pas umur lima sampai tujuh tahun aja, sebelum itu … blank sama sekali. Ibu mas pun ga terpikirkan lagi untuk mencari sosok pengganti Papa untuknya maupun untuk mas,” ujarku yang terbawa larut ke dalam cerita yang ditulis Maybila sambil mengambil sepotong pisang goreng dan memakannya.

“Pssst, aku kasih sedikit bocoran ya Mas … di naskah ini ada kisahku, lho.” Dia berkata setengah berbisik mendekat ke telingaku, membisikan sebuah rahasia besar bagiku.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35

Kelompok 2 Panah Aksara

Day 6

Jumlah Kata 361

 

Benar, bagiku itu adalah bocoran yang super bermanfaat. Kalian percaya atau tidak, seramai dan riangnya seorang Maybila, tetapi jangan bermimpi kita bisa dengan bebas mendapatkan detail setiap kehidupan pribadinya. Aku pun hanya tahu ayahnya meninggal sampai bagian awal bab satu kisah Mawar tadi. Kenyataan yang kemudian memunculkan pertanyaan di hatiku berikutnya,

Kalau yang Maybila bilang ada kisahnya di sana, apa itu artinya kisah yang kubaca setelah ini juga adalah murni kisahnya semua? Aku kemudian melanjutkan membaca yang sempat terjeda dengan obrolan ringan kami barusan, sementara Maybila sudah asyik dengan gawainya kembali.

Kami terdiam seolah berada di dunia berbeda. Membaca habis satu bab, tanpa terasa ada sekat menyempit mengimpit dada. Pikiranku melayang dan membawa segudang tanya yang berhamburan mengisi otak.

Maybila … apa Mawar ini adalah kamu? Hatiku menerawang tanpa berani menanyakan langsung kepadanya. 

Kuamati Maybila yang bergeming di tempatnya lekat-lekat. Netraku tak sedikit pun jatuh ke lain arah. Beribu rasa penasaran bangkit mempertanyakan, siapa sebenarnya wanita yang kukenal selama dua tahun belakangan dan satu tahun telah resmi menjadi istriku ini? Bab satu yang membuat gundah saat kubaca bagaimana Mawar mendapatkan perlakuan berbeda dari ibunya serta bagaimana ia berusaha memahami luka dan duka sang Ibu, menerima semua sikap wanita yang telah melahirkannya itu dengan segala bentuk permakluman yang dia bisa berikan. Alasannya satu, Mawar memegang wasiat sang Ayah untuk selalu berbaik sangka terhadap setiap takdir Allah.

Kenyataan lain yang baru kutahu berdasarkan kisah Mawar itu adalah, bahwa setelah kepergian sang Ayah, Vera, ibunya yang selama ini lebih banyak diam dan menyerahkan semua urusan Mawar kepada sang suami, kini mulai memberikan berbagai pemikiran yang ia pendam demi menjadi istri patuh terhadap imamnya. Itu pun setelah sebelumnya sang Ibu tidak mau berbicara dengan Mawar, selepas kepergian sang Suami untuk beberapa waktu lamanya.

Mawar tidak diperbolehkan menulis lagi jika bukan untuk pelajarannya. Laptop yang dijanjikan sang Ayah tetap dipenuhi oleh ibunya, tetapi dalam penggunaannya selalu dipantau, demi Mawar tidak menulis. Selain itu, Mawar juga kerap dibanding-bandingkan dengan sepupunya yang dinilai lebih patuh kepadanya daripada Mawar anak kandungnya sendiri. Sepupu yang juga sukses berkerja di perusahaan ternama dengan jabatan bergengsi. Suatu karier yang bisa membuat para orang tua mana pun bisa melenggang mudah menyombongkan anak mereka.

 

Sarapan Kata KMO BAtch 35

Kelompok 2 Panah Aksara

Jumlah Kata 381

Day 7

 

Sejak saat itu, semua arah hidup Mawar berubah bagai di neraka. Tidak pernah ada hasil bagus ditoreh sang anak, semua terlihat jelek di mata wanita yang telah melahirkan Mawar tersebut. Pernah satu waktu, Mawar membawa piagam juara sebagai penulis artikel terbaik tingkat nasional, tetapi piagam itu justru disobek. Lucunya, Vera lebih senang ketika Mawar membawa medali emas setelah memenangkan kompetisi bola basket antar sekolah menengah atas se-Indonesia. Dari sanalah awal mula Mawar menekuni basket secara serius hingga terpilih sebagai atlet daerah. Semua ia lakukan demi bisa mendapat simpati dan kasih sayang Vera yang sudah makin membentang jarak di antara mereka.

Ya, alur ini sama dengan waktu Maybila mulai serius menekuni olah raga basket dan menjadi atlet daerah. Selain itu, Mama Maya ibunya, memilih menetap di Belanda sejak ia masuk perguruan tinggi. Maybila tinggal sendiri di rumahnya, teman dan basket menjadi keluarga dan dunia barunya, sementara Mama Maya membeli rumah dekat dengan Venyara sepupu Maybila yang menikah dan menetap di Belanda. Venya sendiri sejak kecil sudah diasuh oleh orang tua Maybila, sejak ayahnya pergi, setelah sang Ibu meninggal karena kanker rahim.

Jika dikaitkan dengan tokoh dalam novel tentang Mawar, seorang Venya ini digambarkan sebagai seorang sepupu bermuka bermuka dua, yang sering merundung Mawar, sejak ayah Mawar meninggal. Namun saat di hadapan ibu Mawar, ia akan menjelma sosok Kakak pelindung baginya. Di sana juga diceritakan bahwa sepupu Mawar ini tidak jarang memutarbalikan fakta demi mendapat dukungan tantenya, yang tidak lain adalah Ibu kandung Mawar.

Mengapa bisa pas seperti ini? Aku yang kurang nyaman berbicara dengan Venya saat ia datang dan pertama kali berkenalan denganku. Aku tidak suka melihat bagaimana Venya menatap Maybila … Maybila, apakah Mawar itu benar-benar kamu? Hati ini berteriak meminta pertanyaan itu keluar, tetapi tak sanggup rasanya, lidah kelu ini hanya mampu menatapnya saja tanpa kata.

“Kenapa, Mas? Ati-ati, nanti ga bisa merem lho, dari tadi ngeliatin aku sampai lupa kedip gitu.” Pertanyaan Maybila, sukses menyadarkanku ‘tuk kembali ke dunia nyata, ia berucap dengan netra yang masih tak lepas dari layar laptop dan terus menulis, sementara aku hanya menjawab dengan gelengan dan senyuman, saat ia menoleh sekilas.

Pelan-pelan saja Bas, sabar, tunggu sampai ia yang menceritakan semuanya atas kemauan dia sendiri. Begitu oceh batin menguatkan diri dan menghabiskan sisa waktu menanti langit melipat sore dengan pendar kemerahan sambut datangnya senja.

 

 

 

Riak meriak

1 0

Sarapan Kata KMO Batch 35

Kelompok 2 Panah Aksara

Day 8

Jumlah Kata 312

 

Satu bulan setelah momen bahagia satu tahun pernikahan kami, kabar baik lainnya menghampiri kami kembali, Maybila hamil. Berita bahagia ini kemudian kami kabarkan kepada Ibu dan Mama Maya. Ada kejadian yang membuatku kembali berat saat kami mengabarkan berita ini. Respons berbeda diperlihatkan antara ibuku dan Mama Maya. Kalau Ibu menyambut dengan haru bahagia, Mama Maya menanggapinya dengan datar saja, sambil terlihat sekilas Beliau sedang menemani anaknya Venya bermain. Aku melihatnya dengan hati perih, terlebih saat melihat Maybila berusaha menyembunyikan rasa getirnya dengan senyum kaku setengah dipaksakan.

***

“Bi!” Dengan setengah berteriak panik juga kaget, aku menghampiri Maybila yang baru saja selesai memasak. Mengambil beberapa helai tisu untuk menahan laju darah yang tiba-tiba mengalir dari hidungnya.

Maybila terdiam sambil menatap wajah kalut saat kali pertama aku melihat kejadian itu. Dada ini berdegup kencang, kami sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Aku yang menatapnya sendu, masih berusaha meredakan keterkejutan dengan semua tanya, ada apa dengannya. Kemudian kedua tangan Maybila membingkai wajahku, tersenyum, dan berkata,

“Aku ngga apa-apa Mas. Dulu aku memang sering seperti ini, suka pingsan juga malah,” ucapnya dengan memberi senyum terindah yang memang selalu indah itu.

Jawabannya makin membuatku tertegun, Dua tahun kamu mengenalnya, tetapi kenapa rasanya seperti kamu baru saja bertemu dengannya hari ini? ucap batin ini tak percaya, kalau wanita tangguh dan terlihat sehat di hadapanku ini sering mengalami hal yang benar-benar di luar bayangan.

“Apa ini ada hubungannya dengan tempat pertama kali kita berkenalan dulu, Bi?” tanyaku memastikan dan dia mengangguk.

Ia kemudian menjelaskan kalau sejak remaja, atau tepatnya setelah ayahnya meninggal, tubuhnya menjadi mudah sakit. Namun setelah ia mengenal basket dan teman-teman di sana, entah kenapa keluhan itu juga berkurang. Ia merasa bugar kembali. Sakitnya bahkan hampir tidak pernah muncul kembali selama kuliah. Padahal saat itu Maybila tergolong aktif mengikuti berbagai kegiatan di kampusnya, termasuk mulai secara diam-diam menulis kembali, karena sang Ibu tidak tinggal bersamanya lagi.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35

Kelompok 2 Panah Aksara

Day 9 

Jumlah Kata 355

 

Ia mulai aktif mengikuti berbagai kelas menulis, baik online maupun offline dan membuka pertemanan secara luas di sana. Mengikuti berbagai event menulis bareng untuk pembuatan buku antologi. Masa-masa indah setelah kepergian sang Ayah, begitu tuturnya kepadaku siang itu. Maybila baru mulai mengurangi kegiatan menulisnya ketika ia sudah mulai menyusun skripsi.

Tuntutan sang Ibu yang mewajibkan ia selesai tepat waktu dan bisa berkarier di pekerjaan seperti Venya sepupunya, membuat ia berjibaku dengan semua drama yang dialami mahasiswi tingkat akhir. Mengejar dosen pembimbing di mana pun ia berada, atau menjadi penjaga hari, memastikan bahwa matahari terbit pagi hari dan rembulan datang di waktu malam, akibat begadang.

Satu yang masih belum ditinggalkan Maybila saat itu adalah bertanding basket. Ia berniat menutup hari-hari indah masa kuliahnya dengan mempersembahkan medali emas untuk kampus dan ibu tercintanya. Siang itu ketika kali pertama melihatnya, ternyata itu adalah partai final di mana Maybila harus dilarikan ke rumah sakit karena pingsan saat peluit kemenangan berhasil ia dan timnya raih. Sayang waktu itu aku masih mengajar dan pertandingan sudah usai ketika aku selesai. Sekilas kisah mengenai dirinya membuatku berjanji, bahwa mulai hari ini aku akan makin mengawasinya secara ketat.

“Sayang, maaf kalau ini harus aku lakukan, mulai besok aku akan minta tolong Bi Imah membantu di sini dan kamu tidak perlu lagi mengambil kerja iklan sementara waktu, hingga kondisi tubuhmu pulih lagi.”

Wajah Maybila berubah kemudian berkata, “Mas, tentang Bi Imah oke aku setuju, tapi kalau proyek iklan, aku masih ada kontrak 2 proyek lagi setelah iklan Bibilic ini selesai, tolong izinkan aku menyelesaikan kewajibanku ini, kemudian aku tidak akan ambil job lagi. Boleh ya Mas, please?” Sorot mata polosnya itu meruntuhkan pertahananku untuk bersikap keras terhadapnya, luluh, dan menyetujuinya dengan syarat ia tidak boleh ikut di lokasi syuting apalagi hingga larut malam.

Syarat yang berat baginya, mana ada produser yang membawahi seluruh crew di lapangan tidak stand by di lokasi syuting seharian penuh. Namun akhirnya ia menjanjikan untuk membicarakan kepada Bos di production house tempat ia dikontrak meminta keringanan. Beruntung permintaan Maybila disanggupi sang atasan dengan catatan alat komunikasinya harus stand by dan melalukan pengawasan secara daring. Berterima kasihlah kepada kemjauan teknologi saat ini.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35

Kelompok 2 Panah Aksara

Day 10

Jumlah kata 357

 

Satu masalah baru saja terselesaikan setelah apa yang kami sepakati bersama satu minggu yang lalu, ketika Bi Imah, asisten rumah tangga yang biasa mengurus rumah sejak sebelum aku menikah menelpon. Aku segera meninggalkan kantor dan membatalkan semua jadwal meeting dengan client hari itu. Maybila di rumah sakit. Kurang jelas tadi Bi Imah bicara apa, fokusku sudah kabur ingin segera menyusul ke rumah sakit.

Dua puluh menit aku sampai ke kamar rawat di mana Maybila mendapat penanganan. Berhenti sejenak tepat di depan pintu kamar bernomor 502 itu. Berusaha mengatur napas terengah-engahku karena berlari dari parkiran tadi. Lalu masuk setelah memastikan wajah ini terbebas dari raut khawatir yang akan menambah beban Maybila kelak. Entahlah, aku memiliki firasat buruk saat membuka pintu ini.

Kubuka perlahan saat lamat-lamat terdengar suara isak. Pintu belum sepenuhnya terbuka, tapi aku sudah menerka apa yang setelah ini akan terjadi. Lambat pergerakan pintu terasa berat lenganku ‘tuk mendorongnya. Mulai dari set sofa menyambut pandanganku hingga akhirnya hal yang ada dalam bayanganku sebelumnya terlihat sempurna. Sosok Maybila yang terbaring lemah sedang terisak dan ada Bi Imah duduk di kursi samping brankar menemani.

“Mas … maaf,” ucapnya lirih dan aku langsung memeluknya.

Tanpa terasa air mata pun ikut luruh bersamaan makin kerasnya Maybila berderai. Aku yang saat itu berusaha tegar, sebisa mungkin menenangkannya juga.

“Ssst, udah Bi ngga apa, ini takdir Allah juga ‘kan, Sayang.” Aku menepuk pelan punggungnya yang bergetar.

“Kalau aja aku menuruti semua sa – “Aku memotong perkataan Maybila, meletakan telunjukku di bibirnya.

Qadarullah wa masyaa fa’ala, Bi. InsyaaAllah ada maksud baik Allah untuk kita. Kamu yang tenang ya, kita bisa lewatin ini dengan baik dan aku akan selalu nemenin kamu juga, jadi kamu jangan khawatir, Sayang.” Tangisnya pun mereda.

Aku tau apa yang ingin dia katakan dan tidak mau kejadian ini membuatnya jadi menyalahkan diri sendiri. Hal yang paling menyakitkan saat ini adalah melihatnya jatuh dan tahu dia tidak mungkin secepat itu bisa menerima semua. Kalau aku saja merasa sakit, kuyakin Maybila apalagi. Diri ini hanya bisa berdoa, semoga kami bisa melewati ini dengan baik. Doa yang sepertinya harus tertunda dalam realisasinya. Harapan naif yang menyadarkanku, kalau ujian di keluarga kami baru saja akan dimulai.

Percikan Kelam

1 0

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 11
Jumlah Kata 368

Maybila dinyatakan boleh pulang setelah beberapa hari dirawat. Ya, janin calon bayi kami tak mampu bertahan. Aku sengaja tidak ke kantor hari ini untuk menjemput Ibu di statsiun, lalu menuju rumah sakit mempersiapkan kepulangan Maybila. Ya, ibuku berkeras datang ke Jakarta untuk menemani menantu kesayangannya itu. Maklumlah, aku yang hanya anak tunggal, membuat ibu begitu menyayangi Maybila, bahkan sesekali aku merasa bahwa Maybilalah yang menjadi anak kandung, sementara aku ini menantunya. Aku tersenyum tipis jika mengingat bagaimana Ibu memperlakukan Maybila. Aku senang, karena Maybila pun terlihat lebih ceria ketika ada Beliau di sisinya. Mungkin karena ia merindukan satu sosok yang seolah ikut pergi bersama kepergian sang Ayah.

Le, gimana anak perempuanku, Nak? Kamu mesti sabar ya, Le, jangan sampai ia makin sedih dan drop nanti.” Aku mengangguk mendengar nasihat Beliau, karena memang itulah yang akan kulakukan untuk Maybila.

Kami kemudian sampai di rumah sakit setelah menempuh perjalanan selama 45 menit. Maybila tampak semringah melihat ada Ibu yang turut menjemputnya dan langsung menggandeng erat tangan Beliau, sesaat setelah memeluknya. Lirih batinku melihat bagaimana ia benar merindukan sosok Ibu dalam hatinya. Maybila bisa begitu manja. Sering diri ini merasa iri, karena kepadaku saja Maybila tidak pernah bersikap semanja itu. Sebaliknya, ia malah yang sering memanjakan sampai membuat seperti akulah yang diayomi olehnya.

***

Satu bulan berlalu sudah sejak kepulangan Maybila dari rumah sakit. Kondisi kesehatannya terlihat kembali normal dan ibu pun sudah pulang ke kampung sejak dua minggu lalu. Ia belum mengambil proyek iklan apa pun lagi selama satu bulan ini, menulis pun tidak. Menurut Bi Imah, ia lebih banyak termenung menghabiskan waktu di ruang favoritnya sambil memandangi taman belakang. Makan pun sering harus diingatkan dulu olehku atau Bi Imah.

Pernah satu waktu, aku coba menguatkan dirinya untuk kami mencoba berusaha kembali, tetapi di luar dugaan, itu kali pertama aku melihat dia berbicara dengan nada kasar dan marah. Entah aku salah bicara atau mungkin memang tidak cukup peka untuk tahu apa yang sebenarnya sedang ia alami. Ada perubahan dalam diri Maybila yang kuamati sejak kejadian itu. Ia jadi lebih mudah emosi dan murung, seperti kehilangan semangat hidup dan sinarnya. Bingung harus bersikap seperti apa, takut kalau dalam situasi yang aku juga lelah, itu akan memicu pertengkaran antara kami.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 12
Jumlah Kata 387

Satu-satunya hal yang dapat meredakan emosi dan menaikan kesabaran adalah ketika aku ingat segala rasa sakit yang sudah ia jalani selama ini, hingga harus merelakan calon buah hati kami. Aku merasa, bahwa lelah dan kesabaran ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan segala kebaikan yang sudah dilakukannya.

Termasuk ketika kami melakukan perjanjian saat pertama kali berita kehamilan itu datang, ia sudah dengan rela tidak mengambil job iklan lagi. Padahal aku tahu, betapa ia sangat menyukai pekerjaan yang menjadi salah satu penyebab Mama Maya marah kepadanya lalu memutuskan untuk lebih memilih tinggal bersama Venya. Keponakan yang selalu dianggap lebih manis dan patuh kepadannya daripada Maybila yang anak kandungnya sendiri.

Belum lagi dengan komentar kerabat dan tetangga kami yang semakin membuatnya tidak nyaman sampai menutup diri seperti itu.

“Mbak Bila udah pulang Mbak? Syukur kalau sudah sehat ya Mbak, semoga nanti-nanti mbok ya hamil itu udah di rumah aja gitu lho, ga usah kerja. Wong punya suami bos gini ko yo masih aja nyari duit toh, Mbak.” Bu Kisun tetangga depan rumah kami sengaja menyempatkan diri bergegas, demi menyambut kami dengan komentarnya. Satu-satunya tetangga yang sudah terkenal dengan derajat kekepoan tingkat tingginya terhadap kehidupan para tetangga lain.

Aku pribadi tidak terlalu mengindahkan perkataan yang sudah dimaklumi orang satu komplek kami itu, tetapi omongannnya terasa berbeda saat didengar Maybila dan juga Ibu yang ikut mendengar ketika kami baru saja pulang dari rumah sakit kala itu.

“Ya, ndak apa toh Jeng, memang takdir jalannya sudah seperti itu mau apa?” sanggah Ibu yang justru terlihat sekali tidak suka, sementara aku merangkul Maybila sambil memberi kode kepada Ibu agar tidak lagi menanggapi Bu Kisun yang sudah pasti tidak akan selesai hingga besok jika diteruskan.

Pernah juga satu hari, teman kuliahnya datang berkunjung. Awalnya mengabarkan ingin jenguk, tapi ternyata saat mereka tiba, malah menghujani Maybila dengan pertanyaan seputar penyakitnya yang dirasa aneh. Ada saja yang mereka sangkakan, mulai dari Maybila stres, diguna-guna orang, kecurigaan ngebatin karena keluarga ga harmonis, dan tuduhan bertubi lain terlontar kepada Maybila tanpa ada rasa simpati mereka terhadap kondisinya. Sungguh, jika saja saat itu aku sedang letih, mungkin sudah kuusir saja mereka. Maybila terlihat sangat tidak nyaman, hingga akhirnya bunyi telepon dari salah satu tamunya berbunyi dan jadi penyelamat. Mereka pulang tak lama setelah itu.

“Mas, aku salah banget ya Mas, maafin ya Mas, kalau aja aku nurut waktu itu.”

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 13
Jumlah kata 346

 

“Ya Allah Bi, Mas beneran ga ada kepikiran kamu salah atau Mas benar. Semua udah jalan Allah, insyaallah Mas ngerti, dengan kamu yang sudah mau ga ambil job lagi setelah dua itu selesai, udah lebih dari segalanya, Sayang.” Merasakan perih, saat ia menangis tersedu dipelukanku dengan semua ungkapan maafnya.

Ya Allah sungguh bukan seperti ini yang hamba mau, hamba ikhlas menerimanya, tetapi hamba mohon ya Allah, berikan ia kekuatan untuk melewati semua, hamba tidak kuat menahan getir karena rasa yang ia jalani sekarang. Sesak, merasakan getaran di dada Maybila terisak kuat, melepaskan semua rasa pahit yang harus ia telan selama ini. Mengungkapkan seluruhnya tanpa kata, yang aku sendiri belum bisa menyentuh beban apa sebenarnya sedang ia pikul seorang diri itu.

***

“Akh!” Maybila membuang pena ke sembarang arah, terlihat kesal setelah beberapa sampah kertas berserakan di lantai.

“Kenapa, Sayang? Ko kaya kesel gitu?’ tanyaku selembut mungkin, saat Maybila teriak sambil melempar pena ketika aku baru saja masuk kamar, ingin bergabung menemaninya di ruang tempat ia biasa menulis itu.

“Ga bisa mikir aku Mas! Kata-kata yang selama ini ada di otakku minta ditulis, ga keluar, mereka semua lari.” Jangan ditanya bagaimana wajah Maybila saat ini, karena sepertinya aku mulai terbiasa dengan aura hitam yang belakangan sering muncul di dirinya.

Kalau sudah seperti ini, artinya ia sukses membuat diri jadi serba salah. Rasanya itu lebih salah tingkah dari ketika pertama kali aku berusaha mendekatinya dulu. Kalau sekarang serba salahnya lebih horor dan mencekam. Benar-benar tidak dapat diprediksi arahnya, sedikit saja aku salah bereaksi, maka siap-siap akan muncul kemarahan lebih besar dari yang aku lihat tadi.

Alhasil, hanya senyuman saja yang pada akhirnya berusaha aku hiaskan di dinding-dinding bibirku ini. Beruntung Maybila pun tidak memperpanjang lagi acara omelannya dan memilih mematikan laptop, menutup buku, kemudian merapikan segala kekacauan yang sudah ia ciptakan di ruang itu, sebelum akhirnya meninggalkanku yang sebenarnya ke sana untuk menemaninya.

Phhftt, luar biasa susahnya untuk menjangkau kamu sekarang, Sayang. Pikiranku menerawang sambil tetap duduk tanpa menyusulnya. Saat ini, aku hanya bisa berdoa berharap kesabaran ini bisa terus kupupuk agar tak hilang berganti penat yang berat.

Runtuh

1 0

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 14
Jumlah Kata 320

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tiba saat dua tahun usia pernikahan kami. Sepuluh bulan terasa membara dalam rumah kami ini. Kunjungan Mama Maya bulan lalu, seolah tidak membantu malah membuat kondisi psikis Maybila memburuk. Ia bersyukur atas apa yang telah dialami Maybila. Bagi Mama, itu adalah balasan karena Maybila tidak mau patuh terhadap masa depan yang sudah sengaja ia usahakan untuknya, sambil lagi-lagi membandingkannya dengan Venya.

“Mama gak habis pikir, Bil … kenapa harus Venya sih yang bersikap manis dan patuh ke mama? Kenapa bukan kamu?” Tudingan Mama kepada Maybila yang benar-benar tak ada baiknya menurut pandangan Beliau.

Sedih dan miris, itu yang aku rasakan, karena tidak dapat masuk ke dalam permasalahan di keluarga Bi dan menariknya keluar dari pusaran kelam itu. Tidak lama Mama Maya berada di Indonesia, hanya dua minggu. Itupun karena menemani Venya ingin mengunjungi makam ibunya sekaligus sang Ayah yang baru saja meninggal tiga minggu lalu. Tidak dapat kubayangkan Maybila makin menutup diri, bahkan terhadapku sekalipun.

Hubungan kami menjadi dingin dan hambar, meski ia terlihat sekuat tenaga tetap melayani semua kebutuhan suami, tapi entah kenapa, aku merasa ada dari diri Maybila seperti hilang. Sesuatu yang tidak aku ketahui, karena sampai saat ini ia masih begitu menutup rapat dan tidak mau berbagi.

Tahun kedua ini adalah tahun yang paling berat bagiku juga. Kalau saja aku tidak ingat pesan Ibu untuk bersabar atau tidak ingat seperti ada beban berat yang harus Maybila pikul sendirian, mungkin aku bisa hilang kendali juga dalam menghadapi semua ini. Selain kondisi psikis Maybila yang terlihat tidak stabil, belakangan ia mulai sering pingsan atau mimisan.

Namun, yang kami bingung adalah hasil pemeriksaan darah saat aku memaksanya untuk periksa masih dalam batas normal saja, selain ada tanda peradangan saja di sana. Dokter sendiri tidak bisa menetukan di mana letak peradangannya itu. Sebenarnya ia sudah disarankan untuk melakukan pemeriksaan total juga, tetapi Maybila menolak dengan alasan ia sudah biasa seperti itu, nanti bisa baikan lagi.

 

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 15
Jumlah Kata 393

“Iya, Bi Imah?” Aku sedang dalam perjalanan menuju meeting dengan client saat Bi Imah menelpon memberi tahu kalau Maybila jatuh tidak sadarkan diri di kamar mandi. Aku yang khawatir, langsung memutar balik menuju rumah dan menghubungi orang kantor untuk mewakiliku rapat. Berusaha tenang agar tidak celaka selama perjalanan dan segera membawa Maybila yang masih tidak sadarkan diri saat aku tiba di rumah, ke rumah sakit.

Biasanya kamu udah bangun sayang kalau pingsan, ko ini lama sih? Jerit hatiku, sesekali pandanganku menuju spion tengah untuk melihat kondisi Maybila yang sedang terbaring di pangkuan Bi Imah.

Kami langsung menuju ruang IGD begitu sampai di rumah sakit dan Maybila pun langsung mendapat perawatan medis. Satu jam lebih kami menunggu hingga akhirnya ia bisa dipindahkan ke kamar rawat untuk observasi lebih lanjut. Ada banyak prosedur yang harus dilewati, salah satunya adalah pemeriksaan di bagian otak. Dokter Vina, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Sub-spesialis Alergi dan Imunologi yang selama ini merawatnya, mengajak aku berdiskusi mengenai kondisi Maybila.

“Bagaimana keadaan Maybila, Dok?” tanyaku resah

“Keadaannya tidak baik. Apa selama ini dia sering ngeluh sakit kepala?” Aku menggangguk saat ingat pernah beberapa kali memergoki ia meminum obat pereda nyeri, meski Maybila memang tidak langsung mengatakannya kepadaku.

“Oke kita lihat hasil pemeriksaan otaknya nanti ya, saya sebenarnya sudah mengamati Maybila sejak lama kamu tahu juga itu ‘kan? Berdasarkan gejala dan keluhannya dulu, ditambah ada riwayat miscarriage, saya harus mengatakan kecurigaan saya bahwa May ada kemungkinan mengidap autoimun, untuk jenisnya sendiri nanti kita lihat hasil pemeriksaan menyeluruhnya.” Penjelasan Dokter Vina membuat hatiku luruh.

Cobaan apa lagi ini ya, Rabb? Hati yang sudah tak tertakar kalut. Meski aku belum mengetahui secara detail apa itu autoimun, tetapi yang kutahu, itu adalah penyakit ketika imun menyerang dan merusak jaringan sehat pada organ-organ di tubuh kita sendiri.

Maybila masih saja tak sadarkan diri, ketika hasil pemeriksaan akhirnya keluar. Dokter Vina menjelaskan Maybila menderita Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang biasa dikenal orang dengan penyakit Lupus. Saat ini penyakit tersebut sedang aktif menyerang bagian otak Maybila. Hasil pencitraan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Magnetic Resonance Spectroscopy (MRS) menangkap adanya kerusakan di otak kecil pengontrol memori dan kerusakan selubung-selubung saraf di sana, yang membuat erornya koordinasi anggota tubuh dan penerimaan sinyal pada saraf yang rusak tersebut.

 

Note: MRI dan MRS adalah metode pencitraan di dunia medis untuk melihat gambaran detail pada bagian anggota tubuh yang sedang dilakukan pemeriksaan.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 16
Jumlah Kata 196 (dari 348 kata sambung bab berikutnya)

Tujuh hari sudah Maybila tidak sadarkan diri. Pagi ini pikiranku melayang mengingat penjelasan dari dokter saraf kalau Maybila memiliki kendala memori atau dalam jangka panjang dapat terjadi perburukan pada daya ingatnya. Ia dapat mengalami hilang ingatan, meski sifatnya sementara. Selesai sarapan di kantin rumah sakit, aku bergegas ingin melihat keadaan Maybila. Kejadian berikutnya membuatku takjub dan bahagia, ketika baru saja sampai dan membuka pintu kamar.

“May, kamu sudah sadar, Sayang.” ujarku semringah sambil langsung mendekat ke arahnya. Namun tinggal berapa langkah lagi aku mendekat, tiba-tiba,

“A – aku kenapa, ko bisa ada di sini? Mas siapa?”

“Maybila … ini Mas Bi, Sayang … suamimu.” Aku kalut dan bingung, saat melihat dia terlihat ketakutan seperti aku ini begitu asing di matanya. Aku panik dan langsung memanggil suster juga dokter jaga. Mereka bergegas mengecek keadaan Maybila sambil menunggu mereka menghubungi Dokter Doni, spesialis saraf dan Dokter Vina yang tak lama tiba di ruangan kami.

“Ini seperti yang aku sempat jelaskan ke kamu waktu awal, Bas. Maybila masih harus menjalani perawatan lebih lanjut, agar ia bisa perlahan pulih kembali.” Perkataan Dokter Vina yang memaksaku harus menahan diri dari roboh. Aku harus sabar dan kuat, seperti yang selalu diingatkan Ibu kepadaku.

Secercah Sinar?

1 0

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 16 (lanjutan bab)
Jumlah Kata 152 (dari 348 kata)

Kami pulang ke rumah setelah Maybila dirawat selama lima belas hari setelah ia sadar dari komanya. Entah apa metode yang dilakukan tim dokter Maybila, hingga akhirnya perlahan ingatan tentang aku dan bagaimana kami, mulai pulih bersamaan dengan membaik kondisi tubuhnya. Ia diperbolehkan pulang dan menjalani kontrol dengan rawat jalan. Awalnya Maybila masih kesulitan bicara, karena memang mengingat kata-kata sederhana ternyata luar biasa sulitnya. Keadaan ini membuat ia terlihat frustasi.

Aku sendiri masih sesekali memancing ingatan dia kembali tentang rumah juga mengenai kebiasaan dan kegemaran dia selama ini, termasuk menulis. Ia mulai ingat dan membuka file naskah yang sedang dibuatnya. Sesekali membaca, ada waktu ia tersenyum tipis membacanya, tidak jarang juga air mukanya berubah menjadi sendu. Oya, mungkin aku berdosa ya, tetapi percayalah, ada bagian di hatiku yang bersorak karena ia sempat kehilangan ingatan. Maybila jadi melunak kepadaku. Sikapnya, meski belum sepenuhnya kembali, tetapi ia sedikit melupakan getir yang ia alami tahun lalu.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 17
Jumlah Kata 316

“Mas Bi, terima kasih ya … sudah selalu ada di dekatku dan mau sabar dengan semua kurangku ini. Sepertinya aku cuma jadi beban Mas aja ya, Mas?” ungkapnya dengan mata sendu.

“Jangan bilang seperti itu, Sayang. Kamu ingat niat awal kita menikah dulu? Kita ingin mengejar rida Allah bersama ‘kan? Jadi apapun yang terjadi sekarang, kita saling mengingatkan dan melengkapi. Tidak ada yang kurang atau lebih, salah atau benar. Semua berjalan sesuai kehendak dan takdir Allah.” Maybila mulai membendungkan air yang mengantri tumpah dari pelupuk matanya, kemudian menyandarkan kepalanya didekapanku.

Ya, malam itu kami mengobrol panjang sebelum tidur. Kami membicarakan dan mulai merencanakan langkah ke depan ingin seperti apa. Aku masih sama, akan menjadi penopang hati juga raganya, dan Maybila? Ia mengungkapkan keinginannya untuk melanjutkan naskah yang telah terendap begitu lama. Wanitaku ini juga memutuskan untuk tidak mengambil job dalam jangka panjang, mengingat kini ada keterbatasan yang ia pikul, sementara pekerjaannya adalah tipikal pekerjaan tanpa toleransi mengenai hal tersebut.

***

Kehidupan pernikahan kami menuju tahun ketiga mulai membaik. Aku mulai sedikit menemukan Maybila versi dulu, meski tetap aku masih merasakan ada hal yang belum ia lepaskan semuanya padaku. Dua minggu berjalan, jadwalku pun mulai normal kembali. Hari ini rencananya aku akan menemani Maybila kontrol. Namun suara gaduh terdengar dari kamar kami.

“Mas Bi! Mas Bi!” Aku bergegas menuju kamar.

“Bi kamu kenapa, Sayang?” tanyaku kaget ketika melihat kamar berantakan dengan isi meja berserakan di lantai dan Maybila bersimpuh terisak di bibir ranjang dengan kepala menyender lemah di sana.

“Mas Bi …” ujarnya lirih sambil meraba semua benda yang ada di sekitarnya mencari asal suaraku.

“Mas aku ga bisa liat Mas … semua gelap, Mas, SEMUA!” raungnya saat aku meraih untuk memeluknya.

Ah tidak, Ya Allah … apa lagi ini ya Allah? Aku sudah pasrah tidak tahu berbuat apa, hanya mampu diam membiarkan ia meluapkan semua tangisnya. Baru setelah tangis Maybila reda. kami berangkat ke rumah sakit.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 18
Jumlah Kata 333

“Maybila … sebisa mungkin jangan dibiarkan berpikir terlalu berat ya Bas, kondisi mentalnya belum stabil. Semua yang dialaminya membuat ia frustasi dan lemah tak berdaya. I am sorry, I have to say this, kamu harus lebih bersabar lagi dari sebelumnya,” papar Dokter Vina.

“Lantas bagaimana dengan penglihatannya, Dok?”

“Ini sifatnya sementara, semoga dengan penanganan medis nanti, penglihatan Maybila berangsur membaik. Nanti saya dan tim dokter lain akan memantau kondisi ginjal dan hati juga ya, Bas. Hasil darahnya kurang baik, ada kebocoran protein dan darah pada urinnya, dan indikator pemeriksaan fungsi hati juga tinggi. Saya justru khawatir dengan kondisi kesehatan mentalnya Bas, kamu tahu ‘kan kalau ansietas dan depresi dapat memperburuk kondisi autoimunnya? Sementara kondisi medis yang memburuk, juga akan menyebabkan ia depresi. Jadi, di sini peran kamu dan orang terdekat sangatlah penting.” Dokter Vina memberi arahan dan aku mengangguk menjawab pertanyaan Beliau.

Ini adalah hal yang tidak mudah juga untukku, jika berkaca pada kejadian lalu. Namun, paling tidak, saat ini aku sedikit memahami kondisi kesehatan Maybila dan sudah pernah menghadapi Myabila yang seperti bukan dia. Saat ini aku lebih bisa mempersiapkan mental untuk menghadapi semuanya. Beruntung Dokter Vina yang menjadi dokternya, kebetulan aku memang sudah kenal dekat, sebagai Kakak tingkatku saat SD hingga SMA dulu karena selain Beliau dokter yang merawat Ibu, ia juga tetangga waktu di desa, sehingga aku tidak perlu canggung berbicara dan bertanya kepadanya.

Setelah terpaksa harus menginap lagi di rumah sakit untuk memantau kondisi Maybila, akhirnya kami kembali ke rumah seminggu kemudian. Penglihatannya membaik. Namun, yang tidak baik adalah sesuai dengan prediksi Dokter Vina, kondisi mentalnya terlihat tak menentu. Maybila mulai kembali murung, meski tidak seperti dulu, waktu terlihat tidak nyaman berada di dekatku, karena satu rasa bersalah, saat ini ia sedikit bisa lebih terbuka dan nyaman denganku.

“Mas, aku mau mulai nulis lagi yah?”

“Silakan, Sayang … kamu ngga perlu izin untuk hal ini, kamu ‘kan tau kalau aku selalu mendukungmu menulis, Bi.” Seketika raut wajah Maybila yang semula berbicara dengan riang dan tenang menjadi muram dan sendu.

 

Sarapan Kata KMO Batch 19
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 19
Jumlah kata 328

“Kenapa, Sayang? Kamu kok malah sedih gitu?” heranku, khawatir dengan perubahan mendadaknya.

“Aku inget Ayah, Mas, kata-kata Mas barusan sama persis sama kaya omongan Ayah.” Puppies-eyes itu terlihat mulai mengembeng air yang siap tumpah dari sudut matanya.

“Jangan nangis ya, Sayang … insyaallah, Ayah udah tenang di tempat terbaik yang Allah sediakan untuknya.”

“Aamiin ya Allah, terima kasih ya Mas udah selalu sabar. Aku ga tau lagi kalau jodohku bukan Mas Bi,” ucapnya

“Mas, juga ngga kebayang, Mas berdoanya kamu kok yang jadi jodoh, Mas.” Aku tersenyum sambil membelai lembut surainya yang kini telah memanjang dan dia pun ikut tersenyum teduh.

***

Kami baru saja sampai di rumah sepulangnya kontrol dari rumah sakit. Maybila langsung berisitrahat, sebelum sore nanti, ia berencana ingin melanjutkan menulis. Hasil pemeriksaan fungsi ginjal dan hatinya berangsur membaik setelah enam bulan lebih menjalanin pengobatan intensif dan diet ketat, terutama pantangan makanan yang mengandung glutten dalam tepung terigu dan berbagai bahan hasil rekayasa genetika dan penyedap, pemanis, pewarna, dan termasuk juga membatasi asupan gula dan garam.

Asupan makanan ternyata juga berpengaruh, selain pada sistem pencernaan, juga terhadap kerja pada sistem saraf pusat dan kimia di otaknya. Peradangan yang meliputi sebagian organ tubuh juga mulai membaik. Hal yang baru aku tahu, kalau ternyata masalah ansietas dan depresi juga dapat disebabkan oleh masalah medis pada tubuh. Kerja hormon yang tidak stabil, metabolisme tubuh buruk, serta pola hidup Maybila yang memang sempat tidak teratur baik dalam jam tidur, makan, dan kurangnya olah raga jadi pemicu sempurna terpicunya penyakit ini.

Ditambah lagi, setelah penglihatannya hilang waktu lalu, ia mengalami depresi akibat merasa jadi orang tak berdaya. Kami akhirnya juga mengunjungi psikiater, meski itu atas saran Dokter Vina. Saran itu terlontar ketika pada satu waktu Maybila histeris karena tidak kunjung dapat menulis, penglihatannya saat itu masih sering tiba-tiba berbayang dan ingatannya seperti lampu hazard, berkedip liar kaburkan memori. Titik terendah seorang Maybila adalah saat ia belari ke dapur mencoba mengakhiri hidupnya dengan mencari benda apapun yang dapat mendukung niatnya itu.

Akhir Nadir

2 0

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 20
Jumlah Kata 318 

Aku yang saat itu kebetulan sedang memutuskan untuk bekerja dari rumah, curiga dan langsung membuntutinya ke dapur. Pemandangan berikutnya menyesakan dada.

“Maybila! kamu mau apa?”

“Biarkan aku, Mas … aku cape, ga ada gunanya aku hidup, kehadiranku ini cuma jadi beban untuk Mas, aku payah, aku susah, aku menyerah!” Emosinya memuncak ditengah raung tangis yang menggema di seluruh ruang rumah ini. Beruntung Bi Imah sedang tidak di rumah, hingga hanya aku yang menyaksikan bagaimana sosok manis, riang, dan selalu optimis Maybila, benar-benar jauh dari semua kata itu.

Saat ini yang berada dihadapanku adalah seorang wanita, dengan segala kecantikan tersisa, tidak mampu menutup semua luka dan lelah yang terpancar dari air wajahnya. Menyakitkan sekali melihat Maybila hancur seperti ini. Aku tahu ini sudah tidak baik-baik saja. Sekian bulan dia coba bertahan, dengan ringisan yang sering kucuri dengar setiap ia ingin bangkit dari tidurnya dan salat subuh. Pucat pasi, sering menghias wajahnya, bersamaan dengan ruam merah di wajah Maylbila (ruam yang biasa disebut dengan butterfly rash karena menyerupai bentuk kupu-kupu. Terbentang menghias area pipi dan hidung pada beberapa kasus penyintas lupus). Ia, kutahu sesekali mengendap-endap membuka laci untuk menegak pil pereda nyeri di malam hari.

Ya Allah, beri kami jalan ya Allah. Jangan ditanya mengenai isu seputar momongan. Itu yang makin membuat Maybila hancur. Dalam kondisi imun tubuhnya yang belum stabil seperti saat ini, kami dianjurkan menunda program mendapatkan momongan. Pada sebagian penyandang lupus, kehamilan juga dapat memicu datangnya kambuh pada agresivitas imun yang semakin tak terkendali. Jadi untuk sementara, aku sendiri berusaha sebisa mungkin menghindari pembahasan tentang hal itu. Baik pembicaraan di antara kami berdua, atau jika ada yang ingin membahasnya, sekadar berbasa-basi membuka obrolan.

Dari semua kejadian selama enam bulan inilah, akhirnya kami coba mengunjungi dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater, yang kemudian Beliau bergabung menjadi salah satu dari tim dokter pada kasus Maybila. Hal ini diperlukan agar ia mendapat penanganan terpadu dan menyeluruh, baik fisik dan psikisnya.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 21
Jumlah Kata 327

 

Saat itu, aku mengantarnya konsul psikiater, baru saja kubangkit dari duduk ketika nama Maybila dipanggil, namun gerakanku terhenti,

“Mas … apa kali ini aku boleh masuk ke ruang dokter sendiri? Di pertemuan pertama ini?” Hanya menggangguk dan duduk kembali, aku memngantar pandangan ke punggung yang berlalu menuju ruang dokter, lalu menghilang di balik tertutupnya pintu.

Maybila selesai setelah kurang lebih satu jam berada di dalam ruang konsul. Entah apa yang mereka bicarakan di sana, tetapi kulihat wajahnya terlihat lebih tenang dan cerah dari saat ia masuk tadi, meski terlihat matanya sembab seperti habis menangis.

“Gimana, Sayang?” tanyaku singkat

“Alhamdulillah, Mas … lebih tenang aja saat ini. Aku masih perlu kontrol rutin selama beberapa waktu ke depan, ngga apa ‘kan, Mas?”

“Ya, ngga apa dong, Bi … apapun selama itu untuk kebaikan dan kesembuhanmu, Sayang.” Ia pun tersenyum seraya menarik lenganku, menyender manja di sana untuk segera beranjak dari rumah sakit dan pulang.

***

Hari-hari berlalu, Maybila telah menjalani terapi rutin di psikiater selain pengobatan intensif untuk penanganan lupusnya. Kondisinya begitu jauh berbeda. Jika dahulu ia begitu mudahnya panik dan cemas, jika ada sesuatu terjadi pada tubuh ataupun dirinya, kini Maybila terlihat sekali sudah terlatih untuk mengontrol pikirannya. Setiap kali ada rasa sakit menghantam, ia tidak lagi membiarkan dirinya terlalu lama terjebak dalam pikiran-pikiran liar yang makin membuatnya takut.

Kondisi mental membaik, membuat Maybila mulai sedikit demi sedikit terbuka dan bercerita tentang dirinya. Meski begitu, aku masih belum mau memaksanya menjawab semua tanyaku, jika ia tidak cerita. Alhamdulillah, semua berjalan ke arah yang lebih baik. Sama seperti awal kami menikah dulu, semua … kecuali pembahasan mengenai momongan.

Ya, aku masih tidak membahas hal ini. Bagiku, yang utama adalah stabilitas kondisi kesehatan Maybila lebih dulu. Aku bahkan tidak berharap terlalu banyak ke arah sana lagi, sejak ia tidak sadarkan diri yang menyebabkan nyawanya hampir melayang dan kemudian terdiagnosis lupus, aku berjanji dalam diri untuk fokus terhadap kehidupan kami berdua. Apa pun aku lakukan, agar kami bisa tetap bahagia bersama.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 22
Jumlah Kata 326

Hasil dari kondisi yang membaik itu, Maybila menjadikan setiap momen sebagai kesempatan untuk dapat melanjutkan naskahnya. Bedanya, jika dulu naskah bisa cepat dituliskan, kini ia seperti butuh waktu lebih untuk itu. Menulis sendiri adalah salah satu cara bagi Maybila dalam menjaga fungsi otaknya, agar tetap bekerja sebaik yang ia bisa. Kerusakan secara progressive pada jaringan otak kecilnya, membuat Maybila kerap mengalami kendala dalam mengingat kata-kata. Padahal sebagai penulis, perbendaharaan kata yang luas akan sangat mendukung alur cerita yang ia tuliskan.

Kini, ia bahkan sulit ‘tuk menyelesaikan satu bab saja dalam tulisannya. Tidak jarang juga ia berhenti dipertengahan, membuka file lain, untuk dia dapat menuangkan semua kebuntuannya dalam rangkaian diksi berbentuk puisi, quote, atau sekadar senandika. Ya, apapun akan ia lakukan, demi bisa menyelesaikan buku solonya. Puisi adalah cara Maybila melatih daya ingat dengan beragam diksi asing yang tidak semua orang awam tahu maknanya. Diksi-diksi yang memaksa ia membuka kamus dan mengingatnya.

Kendala lain yang ia hadapi adalah sesekali penglihatannya kabur disertai sakit kepala hebat sebagai penyerta, hingga tak dapat terlalu lama menatap layar gawai miliknya. Aku tahu, ada rasa frustasi dalam Maybila yang kini lebih fasih untuk mengontrol  diri itu, agar tidak berlarut-larut terjebak dalam keputuasaan, kemudian malah menyekat kebebasannya dalam berkreasi melalui aksara.

“Mas …” Wanitaku menjeda hingga aku menoleh ke arahnya menunggu ia melanjutkan pembicaraannya, “Menurut Mas, apakah bukuku ini bisa selesai, Mas? Apakah aku bisa secara utuh menuliskannya?” lanjutnya.

“Tergantung, Bi,” jawabku menggantung dan Maybila mengernyitkan dahinya, “Maksudnya, Mas?”

“Tergantung seberapa besar keinginanmu untuk ini dan hal apa yang membuatmu ingin benar-benar menyelesaikannya, selama ini Mas juga ingin tahu, apa alasan terbesar kamu untuk menyelesaikannya, Sayang?”

“Sejujurnya aku sendiri ragu Mas, tetapi kalau aku ingat bahwa cerita di buku ini bukan hanya sekadar cerita ratapan seorang Anak Baru Gede (ABG) yang kemudian terluka mental akibat ditinggal meninggal sang Ayah dan dijauhi ibunya hingga berdampak pada kesehatannya saja. Ada pesan lain yang ingin aku sampaikan di sini.” Aku menyimak apa yang kemudian ingin disampaikannya.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Akasara
Day 23
Jumlah Kata 434

“Setelah mengalami jatuh bangun baik secara fisik dan psikis, kemudian membuka pergaulan dan saling sharing dengan para penyintas, baik itu penyintas penyakit kronis seperti autoimunku ini, juga penyintas kesehatan mental. Aku mengamati hal-hal yang terjadi termasuk sudut pandang orang awam dan stigma yang mereka bangun dalam menilai keberadaan orang-orang seperti kami ini. Aku beruntung Mas, ada kamu dan Ibu, yang selalu menguatkanku, tetapi tidak semua penyintas memiliki support system seperti yang aku miliki sekarang. Jadi aku ingin berbagi kisah dari sudut pandang kami yang cenderung sering terabaikan oleh stigma tersebut. Padahal, kalau saja awareness ini bisa sedikit lebih luas, maka kendala-kendala yang dirasakan oleh penyintas maupun caregiver atau keluarga mereka sebagai pendamping para penyintas, bisa lebih diminimalisir.” Aku menghela napas panjang, takjub setelah tahu ini bukan hanya perkara bagaimana mewujudkan mimpi seseorang jadi seorang penulis saja, melainkan lebih dalam dari itu, ada maksud yang kemudian berkembang dari sebuah mimpi.

“So, jelaskan jadinya, Bi? Kalau Mas pribadi, sekalipun kamu tidak menyelesaikannya karena keterbatasan ini, Mas dukung kamu, jika menulismu ini punya tujuan yang baik bagi banyak orang. Toh berbagi dan menulis tidak melulu harus dalam bentuk buku, ‘kan? Namun, keberadaan buku inilah, nantinya memang akan mendukung niatmu ini. Yaitu dari pesan yang hendak diabadikan di sana. Jadi?” Maybila menoleh dan memintaku meneruskan dengan kedua mata yang terangkat tanda menungguku.

“Apakah kamu sudah memikirkan hal apa yang dapat membuat pembaca merasa perlu membaca buku itu nantinya, juga termasuk siapa target pembacamu, Sayang?” Dia mengangguk dan menjelaskan kalau harapan ia tidaklah muluk, Maybila hanya ingin dengan adanya mereka yang membaca tulisan dia nanti, awareness tadi dapat lebih luas lagi daya jangkaunya di masyarakat.

"Jika tidak mampu atau tahu solusinya, paling tidak semoga akan semakin banyak pihak termasuk pendamping pasien yang akan mendapat gambaran dasar, sehingga mereka tidak ikut panik atau stres di tengah ketidaktahuan, ketika dihadapkan dengan kekambuhan para penyintas. Selama ini era keterbukaan informasi sendiri memudahkan kita untuk berbagi di mana pun dan kapan pun sebenarnya. Terbukti dengan makin meningkatnya edukasi masyarakat tentang autoimun dan kesehatan mental ini, termasuk kepada kalangan tenaga medis itu sendiri," lanjutnya sambil pandangan menerawang seperti sedang membayangkan impiannya itu.

“Bi, Mas dukung kamu, menulislah, jika itu untuk kebaikan dan manfaat, dan yang terpenting, kamu harus inget, Sayang! Selama kamu bahagia ketika melakukannya. Tidak hanya menulis, tetapi dalam hal apa pun, Toh untuk dapat menebarkan hal positif dan kebahagiaan, bukankah kita harus belajar memositifkan dan membahagiakan diri kita sendiri dulu bukan?” Matanya berembun bersama haru mendengar kalimat penutup dariku, sebelum akhirnya kami melanjutkan sisa malam kami dalam menyambut hari esok yang lebih berseri dalam rona asa pada masing-masing diri kami.

Nyawa Kedua

2 0

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 24
Jumlah Kata 384

Hari berganti, kumandang azan subuh mengetuk lelap kami dari mimpi, ‘tuk kemudian beranjak membersihkan diri, sebelum bersujud di hadapan Ilahi Rabi. Waktu yang dinanti ketika semua beban hati tertuang penuh mengadu kepada-Nya bersama pinta segala rida dan kebaikan. Pagi ini ada jadwal Maybila kontrol ke Dokter Vina. Aku mengantarnya kemudian lanjut bekerja, sementara ia pulang, juga melakukan pekerjaannya.

Maybila mulai mengambil job di dunia TVC lagi, tetapi kali ini ia hanya mengambil iklan ber-budget rendah, yang tentu akan memengaruhi load kerja dan lainnya. Tidak lama ia berada di studio, karena proses syuting telah selesai, hingga ia tinggal mengontrol proses setelah produksi saja sebelum iklan itu dinyatakan siap tayang setelah mendapat nomor lolos sensor dari lembaga sensor film. Tak lama setelah pekerjaannya selesai, Maybila kembali pulang untuk lanjut menulis naskahnya.

“Assalamulaikum Mas.” Maybila menyambut kepulanganku dengan senyum khas sambil mencium tanganku.

Seperti biasa, kami makan malam bersama setelah aku mandi dan Maybila menyiapkan hidangan. Saling bercerita kejadian yang dialami selama hampir sepuluh jam terpisah tadi. Maybila sendiri menyampaikan kalau sesudah project iklannya selesai, ia tidak akan mengambil pekerjaan lagi sampai beberapa bulan ke depan dan fokus menyelesaikan bukunya.

“Mas, aku sudah selesai satu bab lagi. Mas mau lihat?” Sesuatu hal yang langka bagiku mendapat penawaran seperti ini. Aku ingat pertama dan terakhir kali aku membaca naskahnya, ya saat ulang tahun pernikahan pertama kami di Puncak waktu itu saja. Setelah itu, cobaan dalam rumah tangga kami datang secara beruntun.

“Maulah Bi, masa Mas nolak dapat privilege dari kamu kaya gini.” Aku tertawa riang dan benar-benar merasa jadi orang paling spesial kali ini, tawanya pun mengikuti mengisi kehangatan di ruang multimedia, ruang yang menjadi spot favorit kami.

Ah ya, jangan lupakan senyuman dan tawa riangnya itu lagi. Benar-benar membuat aku suka jadi salah tingkah sendiri.

“Iya siap, tapi Bi harap Mas jangan kaget ya.” Aku mengernyitkan dahi dengan alis bertaut bertanya-tanya.

Seolah mengerti aku yang bingung, ia pun menjelaskan kalau pada bab kali ini aku mungkin akan menemukan alur yang diluar dugaanku. Maybila paham betul kalau sebenarnya aku sendiri menyandingkan dirinya dengan tokoh utama bernama Mawar dalam tulisannya itu. Jadi dengan kata lain, ia memperingatiku agar tidak terkejut dengan apapun yang akan kubaca nanti. Mungkin ini cara uniknya untuk bisa bercerita kepadaku secara bebas, yaitu dengan menyajikan masa lalu dan dirinya dalam bentuk alur pada kisah fiksi.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 25
Jumlah Kata 338

Maybila melanjutkan naskahnya, sementara aku bersiap membaca bab yang telah ia selesaikan, membuka seluruh folding door berbahan alumunium hitam dengan dominasi kaca bening yang menjadi pembatas antara ruang multimedia dengan taman belakang. Melihat Maybila yang sudah tampak nyaman duduk di balik singgasananya, aku kembali duduk di sofa panjang yang terletak di sudut ruang menghadap mini fontain berjarak 5 meter tepat lurus di depanku.

Lagu Faded – Alan Walker, aku membaca halaman pertama bab berjudul “Arena yang Sesungguhnya” di mana Mawar, sang tokoh utama mengawali cerita dengan puisi. Puisi yang sama ketika aku melihat Maybila menggunakannya di dalam cerpen yang ia buat untuk tugas antologi kelompok pada kelas menulis online di Komunitas Menulis Online Indonesia (KMOI) yang pernah ia ikuti.

Gadis Sepi di Seberang Pandang

Hening tapi tak merasa sepi
Senyap tak sepenuhnya sunyi
Ada kupu-kupu terbang hangatkan ragawi
Saat riak meriak datang menemani
Sisakan senyum indah terpatri
Sedetik lalu di tempat ini
Air mata baru saja basahi pipi
Kemudian hilang dan berganti
Rona wajah bersemburat ria hingga ke lain sisi
Sendiri tak harus ratapi hari
Menata kembali rapuh sang hati
Sebelum diri melangkah pergi
Gadis sepi di seberang pandang, kini berkisah lagi

Hamparan laut luas, begitu jelas batas antara warna hijau jernih dengan warna biru setelahnya seolah menyapa ramah di sisi kanan jalan yang dilalui. Bukit tandus tersaji di sisi jalan sebelah kiri, sesekali terlihat kambing gunung bergerak sesuka hati, mengisi beberapa titik dinding bukit yang tak landai. Belum lagi barisan pohon di sisian jalan berjejer rapi, dengan bagian puncaknya yang saling bertemu antara deretan pohon di sebelah kanan dan kiri jalan, hingga seperti membentuk suatu terowongan yang terlihat begitu alami. Sungguh suatu pemandangan berbeda yang belum pernah ia nikmati, dari tempat-tempat yang sebelumnya pernah ia kunjungi.

"MasyaAllah Tabarakallah!" Si gadis sepi berseru kagumi ciptaan Sang Mahadaya. (Antara Palu dan Donggala, 2007).

Setelah larut dalam diksi menghanyutkan itu lagi, aku lanjut ke isi selanjutnya dari bab tersebut. Bab yang dinarasikan oleh Mawar, sang tokoh dalam cerita. Tentu aku membayangkan, bahwa Mawar ini adalah Maybila yang sedang bercerita langsung kepadaku.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 26
Jumlah Kata 320

Bab 2. Arena yang Sesungguhnya

Aku membacakan bagian cerpen yang kubuat ini, saat tiba di pusara tempat engkau beristirahat. Tanah merah telah ditumbuhi rumput liar.

“Assalamuaikum Yah, apa kabar? Mawar lulus SMA Yah, dan masuk perguruan tinggi negeri impian Ayah. Bunda akan stay bareng Kak Venya di Eindhoven, aku sendirian Yah, apakah gadis sepi ini bisa berkisah lagi?” bulir bening mata ini jatuh menetes menelusup ke tanah di mana jasadmu bersemayam, terduduk lemas seolah duniaku kali ini benar-benar akan runtuh dalam kesendirian.

Pandanganku kabur saat hendak beranjak pulang. Entah berapa lama aku terlelap dalam ketidaksadaran, saat mendapati tubuh rapuh ini terbaring di brankar sebuah rumah sakit.

“Sudah sadar kamu War? Kenapa harus pingsan lagi sih, Mama akan berangkat minggu depan dan kondisi kamu seperti ini lagi? Bisa ga sekali aja kamu ga jadi beban? Cukup ayahmu saja yang meniggalkan Mama dengan semua situasi nelangsa kaya gini, jangan kamu tambah lagi jadi makin rumit untuk hidup Mama ya!” Bibirku menyungging senyum tanpa kata. Miris! Itulah situasi yang paling tepat menggambarkan keadaanku saat ini.

“Mama ga perlu khawatir, Mawar pastikan, ini kali terakhir Mama harus ada menemani Mawar seperti ini. Mama sudah bisa bebas mencari kebahagiaan yang dicari, seperti Mawar, akan mulai mencari jalan Mawar sendiri, terlepas dari apa pun yang ‘kan terjadi nanti. Mawar minta maaf dan juga telah memaafkan Mama.” Tak butuh waktu lama, orang yang telah melahirkanku itu kemudian bangkit hingga kemudian menghilang di balik pintu kamar rawat tanpa kata terucap.

Kalian tahu? Seperti itulah kehidupan antara aku dan mamaku sepeninggalan Ayah. Marah? Awalnya iya, tetapi kemudian aku belajar memaklumi situasinya. Tidak mudah bagi seorang Istri yang begitu mencintai suaminya, bahkan melebihi rasa cintanya kepada Anak atau diri sendiri, harus menerima kenyataan pahit. Ayah meninggalkan kami di saat semua cinta telah melesak tajam hingga ke lapisan terdalam di hatinya. Rasa cinta itu kemudian menjelma jadi kemarahan yang sampai saat ini belum mampu ia atasi, bahkan setelah tiga tahun berlalu.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 27
Jumlah Kata 324

Butuh waktu lama bagi Mama untuk bisa menerima kenyataan kalau Ayah sudah tidak ada di antara kami lagi. Menyaksikan bagaimana ia yang begitu terpukul, mengurung diri di kamar hingga lima bulan lamanya. Beliau bahkan tidak mau melihatku dan hanya mau berbicara dengan Kak Venya. Baginya melihat sosokku sama saja seperti memegang sebuah belati yang siap memorakporandakan hati dan mencipta luka menganga, terlalu sakit!

Gamang menghampiriku saat tahu kondisi mental Mama tidak baik-baik saja. Beberapa kali ia mecoba mengakhiri hidupnya. Ia sengaja melakukannya di depanku, agar aku bisa makin merasa bersalah atas apa yang telah terjadi pada keluarga kami sepeninggalan Ayah. Ia marah, entah sama siapa, hingga akulah sebagai sasaran pelampiasan rasa itu. Situasi membuat wanita setengah baya itu harus menjalani perawatan mental intensif.

Keadaan Mama yang tidak mau berkomunikasi denganku selama satuh tahun lamanya, membuat ia banyak diurus Kak Venya. Selama itu juga, aku merasa bagai orang asing di rumahku sendiri. Kak Venya hanya ramah kepadaku ketika ada Mama di depan kami dan kembali dingin ketika hanya berdua. Masa SMA kulalui dengan beratnya, dari sanalah keluhan medisku mulai muncul untuk pertama kalinya, ketika di saat yang bersamaan aku juga mulai mendalami olah raga basket.

Satu-satunya kegiatan yang membuat Mama akhirnya mengeluarkan pujiannya kepadaku setelah satu tahun kami seolah terpisah jarak dan waktu meski berada di bawah atap yang sama.

“Gitu dong, kalau kamu nurut gini ‘kan enak, War, ngapain itu nulis. Kalau basket banyak orang notice kamu, olah raga bikin sehat bergengsi,” ujar Mama dengan senyum yang telah lama tak kulihat.

Sejak itu, aku benar-benar menekuni olah raga tersebut demi mendapat perhatian Mama. Meski seiring berjalan waktu, prestasi di sana saja tidaklah cukup. Sosokku benar-benar menjadi momok bagi Mama yang selalu mengingatkan dirinya akan Ayah, begitupun dengan alasan mengapa ia tidak mau aku menulis lagi. Menulis hanya akan mengingat candaan terakhir Ayah sebelum meninggal, bahwa ia harus ke kantor saat itu, ada meeting sama client biar bisa beli laptop baru untuk aku bisa menulis.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 28
Jumlah Kata 364

Itulah sekilas kisahku dan mama pada masa awal sepeninggalan Ayah dan mengapa aku memaklumi sikapnya, meski untuk itu aku pun sakit melihat sikap Mama yang seperti itu terhadapku. Kini aku akan menjalani masa kuliah tanpanya sambil berdoa, semoga luka di hatinya akan sembuh seiring berjalannya waktu. Sama seperti aku berusaha keras menyembuhkan lukaku seorang diri, hanya aku dan Allah saja Pemilik takdir hidup.

Doa itu terkabul. Situasi membaik dalam hidupku setelah kepergian Mama menetap di Belanda. Menjalani masa kuliah tinggal seorang diri di rumah, nyatanya tidak membuatku merasa sendiri. Rere sahabat kecilku, juga sahabat rekan setim basketku selalu setia menemaniku. Dari mereka juga, motivasiku untuk kembali menulis kembali datang. Terutama Rere, ia adalah sahabat yang mengetahui seluruh kisah hidupku dan paling mendukung untuk aku mulai menulis lagi. Menurutnya, menulis dapat membantuku meluapkan segala emosi yang selama ini aku pendam dan ya, itu terbukti.

Aku merasa hidupku lebih tenang dan damai. Selain itu, menulis membuatku bisa berkenalan dengan banyak teman baru dari berbagai kalangan tanpa melihat suku, agama, ras, dan golongan. Teman baru sesama penulis, tersebar dari berbagai pulau di Indonesia dan event menulis tanpa henti, membuat hari-hariku terasa bermakna. Siapa sangka, seorang Mawar yang tiga tahun lalu terpuruk dan selama itu pula hidup bagai di neraka dengan rasa sakit batin dan fisik yang mendera, kini seperti menemukan kembali nyawa keduanya.

Sinar asa perlahan berpendar menyentuh kalbu yang telah lama membeku biru. Kuliah, basket, dan menulis adalah jalan penghubung bagi diri mengenal luasnya dunia. Jalan yang menyadarkanku, bahwa selalu ada pelangi setelah hujan menepi, tak peduli seberapa berat beban yang pernah dipikul dalam hidup sebelumnya. Dari sanalah, kumulai memantapkan hati agar selalu berusaha tersenyum menanti segarnya aroma embun jatuh, basahi tanah di setiap pagiku. Aku siap menyongsong arena hidup yang sesungguhnya.

***

            Begitulah isi bab yang baru kubaca dan kuselesaikan. Terkejut? Sangat! Kuakui, ternyata aku belum mengenal Maybila seutuhnya, jika sosok Mawar adalah memang dirinya, apalagi di sana ia menyebutkan sahabat bernama Rere yang di dunia nyata cocok dengan seorang Dedeth. Akkkh, sesak ya Allah! Batinku … benar-benar terasa batu besar sedang mengimpit dada ini. Tidak pernah menyangka bentangan jarak antara Maybila dan Mama Maya bisa sejauh itu, bahkan sampai mencipta luka mendalam bagi keduanya.

Hidup Baru

1 0

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 29
Jumlah Kata 339

Satu tahun aku mengenal Maybila sebelum akhirnya ia resmi menjadi istriku. Tahun pertama kami lewati dengan manisnya kehidupan pengantin baru. Ujian datang kemudian, pada dua tahun usia pernikahan kami. Kejadian demi kejadian begitu menuntut kesabaran, hingga akhirnya secercah sinar mulai muncul, saat memasuki masa tiga tahun berumah tangga. Itu pun masih harus menyesuaikan diri dengan beberapa keadaan, khususnya hal yang berkaitan dengan kondisi Maybila. Terasa sekali usahanya untuk dapat menerima kondisinya yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Meski untuk itu, ia hampir saja menyerah dengan hidupnya.

Kini, tiga bulan menjelang empat tahun sudah kebersamaan kami. Maybila benar-benar kembali menjadi dirinya yang kukenal dulu, setelah ia mulai belajar berdamai dengan lupus. Kondisi mentalnya pun sudah stabil. Ia sering melempar canda, hingga sukses mencipta tawa di antara kami. Tidak hanya itu, ia mulai menghubungi sahabat-sahabatnya, setelah sempat terputus komunikasi sejak dirinya keguguran dua setengah tahun silam.

Maybila terlihat lebih siap membuka diri dengan dunia luar. Ia tidak lagi mudah tersinggung ketika ada pertanyaan sekadar basa-basi tertuju kepadanya. Kekepoan dari mulut Bu Kisun pun, ada saja yang bisa ia jawab, agar Beliau tidak lagi banyak bertanya. Ya, pribadi hangat dan menyenangkan itu telah pulang ke rumah ini.

Namun begitu, tersisa satu hal yang masih buntu dan belum ada penyelesaian berarti. Kerinduan akan sosok Ibu penyayang di masa kecil. Hati Mama Maya, masih jadi misteri sampai saat ini. Beruntungnya, Maybila sekarang tidak terlalu terlihat tertekan lagi saat berbicara tentang Beliau. Mungkin karena ia merasa lebih ringan setelah semua beban kelam masa lalunya ia limpahkan ke dalam tokoh Mawar pada bab yang aku baca beberapa waktu lalu. Dari sana terlihat sekali, ganjalan itu telah meluruh seiring air mata dan pelukan hangatku mendekapnya kala itu.

“Sayang, maafin aku, Sayang. Maaf karena udah ngebiarin kamu berjuang sendiri, bahkan setelah kita menikah sekalipun.” Aku dengan mata berkaca-kaca dan dada berat ‘tuk bernapas, langsung menghamburkan diri memeluk erat Maybila yang saat itu masih fokus pada laptop dan naskahnya. 

“Maafin aku juga ya, Mas –“ Maybila tak sanggup melanjutkan perkataannya, kami pun larut dalam derai saling memeluk tanpa kata.

 

Sarapan Kata KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 30
Jumlah Kata 333

“Mulai sekarang izinkan aku untuk jadi temanmu berbagi ya Bi, please!” Maybila mengangguk dan membenamkan wajahnya lebih dalam kepelukanku. Aku membelai lembut surai panjangnya, tenang dan nyaman.

Begitulah pembicaraan kami di ruang yang sering menjadi saksi perjalanan hidup kami kala itu. Hening tanpa kata, sesekali hanya ada suara isak saling menyesali, bahwa keadaannya harus terjadi hingga selama ini. Situasi yang kemudian menutup malam kami menyambut hidup baru di hari-hari terlewati selanjutnya.

***

Tidak seperti biasanya, pagi ini Maybila terlihat lemas, saat kami sedang sarapan bersama.

“Sayang, kamu kenapa? Mukanya pucat gitu? Habiskan makannya dulu yuk, Bi,” ajakku lembut, tetapi Maybila menggeleng, “Aku mual, Mas. Ga kuat nyium bau na – “ Belum selesai ia berbicara, Maybila langsung berlari ke kamar mandi.

“Bi, kamu kenapa, Sayang?” Dengan panik, aku langsung menyusul Maybila, melihat ia baru saja memuntahkan makanan yang baru satu sendok masuk ke perutnya itu, “Kita ke dokter Vina ya, Bi?” Baru saja hendak bergegas, langkahku tertahan oleh genggamannya, “Engga usah, insyaallah aku ngga apa-apa ko, Mas.”

“Gimana, ngga apa-apa, Bi? Muka kamu pucat lho itu, Sayang. Aku ga mau tau pokoknya kita ke dokter Vina, SEKARANG!” Tak memedulikan perkataan Maybila, aku langsung menarik tangannya ke kamar untuk bersiap.

Aku berlebihan? Selalu! Jika itu tentang Maybila. Sesampainya di kamar saat hendak ganti baju, Maybila memberiku satu benda kecil ke tanganku. Benda pipih sepanjang kurang lebih 10 sentimeter berwarna putih di sertai tanda strip warna merah di bagian tengahnya.

“Apa ini, Sayang?” tanyaku bingung, “Mengapa ada alat tes kehamilan yang sudah bertanda dua garis merah ini, Bi?”

“Itu alat yang kupakai kemarin pagi, Mas. Hampir dua bulan ini, aku belum haid dan beberapa hari ini aku merasa tidak enak badan serta mual-mual. Aku pikir aku sedang kambuh, tetapi pas ingat aku sudah telat tiga minggu lebih, aku minta Bi Imah membelikan alat itu, dan ha –“ Belum sempat Maybila melanjutkan cerita yang sudah dapat kutangkap kelanjutannya, aku langsung memeluknya erat penuh rasa haru dan bahagia. Rasa bahagia yang kemudian seketika menghilang saat diri ini mengingat sesuatu ....

 

KMO Batch 35
Kelompok 2  Panah Aksara
Day 31
Jumlah Kata 349

“Bi …” Tak sanggup meneruskan perkataan, gontai hingga mengendur pelukan terhadap Maybila.

Seolah paham akan sikapku, Maybila langsung berkata, “Mas Bi – “ Aku menoleh, menanti ia melanjutkan kalimatnya dengan rasa dan tatapan yang tak mampu tergambar, bahkan oleh diri sendiri.

“Mas … aku ingin mempertahankan bayi ini. Aku ingin merawatnya hingga ia lahir ke dunia. Kehamilan ini seperti pertanda bagiku atas takdir kita, boleh ‘kan?” ujarnya.

“Kamu yakin, Sayang? Kamu ingat Dokter Vina bilang apa waktu itu ‘kan, Bi? Kehamilan pada penyintas lupus termasuk kehamilan yang berisiko, baik terhadap ibu maupun bayinya. Itu sebab, selama ini aku tidak lagi berharap tentang hal tersebut. Bagiku, hidup bersamamu berdua saja pun … tak masalah.” Untuk pertama kalinya aku mengiba, merongrong manja seraya kembali memeluknya. Berat rasanya dada ini memompa napas.

Maybila pun mengangguk pasti, “Kenapa hanya hingga lahir saja? kamu boleh kok merawatnya terus, kita jaga anak-anak kita bersama hingga mereka dewasa dan berkeluarga nanti ya?” Ragu dengan dukunganku sendiri karena rasa takut kehilangan menghantuiku setelah apa yang telah kami lalui bersama. Pada akhirnya, mengikuti kenyamanan dan keinginan Maybila adalah hal terpenting bagiku.

Ya, itu janji hatiku ketika ia bangun dari komanya dulu. Berjanji pada diri, jika Allah memberi kesempatan kedua kepada kami, maka aku akan mendukungnya apa pun itu. Terlebih saat aku tahu kalau masa lalunya begitu pahit dan menyakitkan, keinginan itu makin bertambah. Aku ingin melakukan apa pun untuk membayar semua situasi sulitnya sejak remaja hingga menjadi istriku kini, dengan semua kebahagiaan yang bisa aku berikan untuknya. Apa pun!

***

“Kalian yakin, ingin melewati semua ini? Siap dengan semua prosedur yang ada nanti?” selidik Dokter Vina.

“Yakin, Dok!” jawab Maybila, sementara aku sendiri hanya mampu mengangkat kedua bahu dengan tatapan ragu saat Dokter Vina menajamkan tatapannya ke arahku memberi kode meminta penjelasan. Kelugasan Maybila mampu menjawab tanya yang berputar dalam pikiran Dokter Vina.

“Okey kalau begitu, kalian harus siap dengan jadwal kontrol yang semakin padat ya untuk memastikan semua aman terkendali. Okey?” Kami berdua mengangguk dengan cara yang berbeda. Jika Maybila mengangguk dengan binar bahagia di matanya, aku mengangguk yang entah apa. Semua rasa tercampur mencipta gundah yang berkecamuk.

Ini Rasa Apa?

1 0

KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 32
Jumlah Kata 350

Di atas hamparan sajadah, aku memohon petunjuk Sang Pemilik Takdir dari setiap kegaduhan yang mengharu di hati. Berharap rasa itu mereda dan mulai bisa merenda kembali pudarnya asa di balik rasa takut yang menghunjam.

Ya Rabb, Pemilik semua rasa dan asa, beri hamba kekuatan untuk melewati rasa takut yang Engkau sisipkan di relung terdalam hati ini. Izinkan aku menjadi sumber kekuatan bagi dirinya. Menjadi kedua kaki ketika lunglai tulang menerjangnya. Menjadi penyangga ternyaman saat lelah hati menderanya. Kuatkan kami, izinkan kami mencicip bahagia itu sekali lagi. Astagfirullah entah rasa apa yang Kau beri saat ini, mengapa ganjalan ini tak berhenti menjerat, agar hamba bisa selepas tawa cerah Maybila saat ini ya Rabb? sungguh hamba lemah, selemah-lemah makhluk. Jika pertolongan-Mu saja terasa jauh, bagaimana diri ini bisa menjadi imam baginya saat ini ya, Rabb? Meratap penuh harap, meminta yang mengiba, berharap diri ini bisa ikut menari bersama rona kebahagiaan Maybila kini.

Melihat Maybila begitu bersemangat menjalani masa kehamilannya, membuat hatiku pun bahagia. Namun, sesekali menangkap basah ringisan perih dari garis wajahnya yang kemudian sukses ia bungkam sendiri dengan senyum mentari pemikat hati miliknya, membuat khawatirku menyapa lagi. Kini, hal yang bisa kulakukan, hanyalah berusaha mengabaikan rasa kosong demi bisa menemaninya dalam semburat riang menyambut calon bayi kami.

Selama masa kehamilan, Maybila rutin memeriksakan diri tiga sampai dua minggu sekali. Semua pemeriksaan dan konsumsi obat dipantau secara ketat, demi memastikan kondisi Maybila dan janinnya aman, termasuk pengecekan tekanan dan kekentalan darah, fungsi hati, ginjal, dan lainnya. Ya, begitu banyak pemeriksaan yang harus ia lalui, demi resiko kekambuhan tidak terjadi. Kekambuhan penyebab terjadi komplikasi atau masalah serius lain pengancam nyawa selama kehamilan pada penyintas lupus.

Selain disiplin melakukan kontrol sesuai jadwal, pola tidur dan istirahat, serta asupan gizi tak luput dari perhatianku. Memastikan agar Bi tidak stress dan melakukan hal yang ia sukai. Salah satu cara Maybila mengisi masa kehamilan adalah dengan menuntaskan tulisannya. Ia berencana mengirimkannya ke Panah Aksara Publisher, penerbit bentukan Kak Viona, salah satu sahabat di grup menulisnya PePeCe.

“Mas, doakan aku ya, sedikit lagi tulisanku tamat. Kalau sudah selesai, rencananya aku mau menerbitkannya di Panah Aksara punya Kak Viona.”

 

KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 33
Jumlah Kata 301

“Aamiin, semoga lancar ya Sayang, biar aku juga bisa segera membacanya,” jawabku tersenyum membayangkan akan menjadi pembaca pertama.

“Kalau Mas Bi, ngapain harus cepat-cepat? Jatah Mas Bi itu, nanti kalau bukunya udah terbit. Mas Bi nanti akan puas mengurus semua pokoknya, Bi ngga mau tau. Titik!” Maybila menggodaku, aku yang tidak terima dengan candaannya itu pun protes, “Kok, nanti sih, Bi? Biasanya Mas selalu jadi pembaca pertama tulisanmu, ‘kan?” Berbicara dengan nada seperti anak kecil sedang merajuk dan itu sukses membuat ia tertawa terbahak.

Masih dalam renyahnya tawa, ia tak menjawab dan malah pamit ke dapur untuk ambil minum dan camilan. Entah camilan apa yang dicari, Maybila cukup lama berada di sana dan kembali ke kamar dengan hanya membawa segelas susu cokelat hangat untukku.

“Lho Bi, katanya mau ambil camilan dan minum untuk kita, tapi kenapa cuma bawa segelas, tanpa camilan juga?”

“Iya, sudah aku habiskan semua tadi di dapur, Mas.” Kembali tertawa riang, lalu melanjutkan perkataannya dengan nada semanis gula, “Tinggal ini yang tersisa, Mas Bi kesayangan … segelas susu cokelat spesial pakai rasa spesial untuk orang terspesialnya Maymunah Salsabila.” Kalau sudah seperti itu, bagaimana lagi caraku bisa protes? Hati ini sudah carut-marut tak karuan hasil perbuatan sang istri tercinta yang belakangan ini memang sering usil dan lebih manja itu.

***

Usia kandungan Maybila sudah masuk trimester ketiga. Semakin dekat waktu menanti kehadiran anggota baru di keluarga kami. Ibu juga semangat datang demi bisa menemani Maybila melewati hari-hari sibuknya bersama calon bayi kami nanti.

“Pokoknya, Ibu sudah harus stand by, sebelum anak kalian lahir. Ibu ngga mau kalian, apalagi Maybila bingung nanti, mengingat ini pengalamn pertama kalian juga, toh?” Perkataan Ibu tanpa bisa kami bantah minggu lalu, saat menelpon untuk menginformasikan Beliau akan tiba hari ini.

“Ibuuuu, Maybi kangeeeeen.” Wajah semringah diiringi haru keduanya karena begitu lamanya mereka tidak bertemu.

 

KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 34
Jumlah Kata 341

Melihat Maybila memeluk Ibu dengan begitu emosional, aku malah jadi merasa kalau ungkapan rasa rindu itu tidak hanya sekadar untuk ibuku saja, tetapi ada sosok lain yang sebenarnya mengisi ungkapannya tadi. Sosok itu adalah Mama Maya. Namun, lagi-lagi, ia sudah terlatih mengendalikan dirinya agar tak berlama-lama larut dalam gundah dan sedih, wajah Maybila kembali ceria lagi. Kini, ia lebih cerewet dan senang bercerita. Kebiasaan yang membuat hati ikut menghangat sukses meluruhkan semua rasa khawatirku terhadap kondisi kehamilan Maybila.

Semua sikapnya sukses mengubah sudut pandangku dari gundah menjadi pasrah berserah, dari semula merasa tak berdaya sampai akhirnya yakin dan percaya. Yakin, kalau semua berjalan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Mengingatkan kembali diri ini akan niat awal kami dulu menikah.

Kalau dulu aku yang selalu mengingatkan Maybila bahwa pernikahan kami ini bukan sekadar memiliki anak atau tidak saja, melainkan bagaimana cara mencari rida Allah bersama-sama. Lantas, mengapa kini aku tidak mampu melihat? Pernikahan itu juga bukan hanya urusan memuja begitu dalam dan takut kehilangan, sampai kita lupa kalau ada takdir lain yang harus diterima dengan lapang dada.

“Laa ba’sa, gwenchana, it’s okay, dan ngga apa-apa, Mas.” Rangkaian kata yang sering diiucapkannya setiap aku terlihat begitu kahwatir dan dia sukses membuktikan kalau semua baik-baik saja, terlebih selama kita berusaha tenang dan menerima. Ah ya satu lagi, “Qadarullah wa masyaa fa’ala.” Kalimat pengingat bahwa Allah Sang Penguasa Takdir dan Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya itu, dulu sering jadi ucapan andalanku. Namun, sekarang justru aku yang sering mendengar itu dari Maybila.

Maymunah Salsabila, wajah ceria nan ekspresif itu tak lagi sepeunuhnya menghias rona di wajah. Air muka Bi terlihat lebih teduh dan mampu menenangkan gemuruh badai penghunjam hati yang ‘kan berpijar, apalagi kalau disertai senyum mentari andalannya. Aku mengaku kalah dan lelap dalam buai sosoknya itu.

Hari berganti, kandungan Maybila memasuki usia tiga puluh tujuh minggu. Kami sudah mulai menyiapkan segalanya, kalau-kalau tanda kelahiran mulai dirasakan Maybila. Ia berkeras ingin mengusahakan proses lahiran normal meskipun dokter menyarankan untuk operasi sesar. Namun, karena setiap hasil pemeriksaan masih aman, akhirnya dokter pun mengizinkan selama semuanya berjalan baik.

 

KMO Batch 35
Kelompok 2 Panah Aksara
Day 35
Jumlah Kata 327

Maymunah Salsabila, wajah ceria nan ekspresif itu tak lagi sepenuhnya menghias rona di wajah. Air muka Maybila terlihat lebih teduh dan mampu menenangkan gemuruh badai penghunjam hati yang ‘kan berpijar, apalagi kalau disertai senyum mentari andalannya. Aku mengaku kalah dan lelap dalam buai sosoknya itu.

Hari berganti, kandungan Maybila memasuki usia tiga puluh tujuh minggu. Kami sudah mulai menyiapkan segalanya, kalau-kalau tanda kelahiran mulai dirasakan Maybila. Ia berkeras ingin mengusahakan proses lahiran normal meskipun dokter menyarankan untuk operasi sesar. Namun, karena setiap hasil pemeriksaan masih aman, akhirnya dokter pun mengizinkan selama semuanya berjalan baik.

Pagi itu wajah Maybila begitu berseri. Bukan tanpa alasan tentunya mengapa ia bisa sebahagia itu.

“Mas Bi!” Maybila berteriak memanggil, tepat setelah menutup sambungan telepon.

“Iya, Sa – Hei Bi, pelan-pelan dong, Sayang. Jangan lari gitu!” Tanpa sadar berteriak mengingatkannya, saat melihat ia masuk kamar menghampiriku dengan tergesa-gesa.

Sadar kalau dirinya terlalu excited, Maybila berusaha tenang lalu melanjutkan kalimatnya, “Kak Viona, barusan info kalau naskahku bisa terbit, Mas!” Berkata dengan binar mata memancar dan aku pun memeluknya erat sambil mengucap alhamdulillah kalau akhirnya impian itu sedikit lagi bisa terwujud.

“Lho tapi kok sudah masuk Panah Aksara Publisher aja sih, Bi? Kamu seriusan ngga ngasih Mas untuk jadi orang pertama yang membacanya ya? Jadi kamu serius waktu itu, Bi?” tanyaku memastikan dan lagi-lagi, ia hanya mengangkat bahu tanpa kata sambil tersenyum lalu memberi kecupannya ke pipiku.

Setelah itu, Maybila langsung keluar kamar meninggalkanku masih berdiri mematung. Takjub dengan sikapnya barusan dengan pipi yang kuyakin sudah bersemu merah. Ada sedikit rasa kecewa saat mengetahui kalau perkataan Maybila yang semula aku pikir hanya canda belaka waktu itu, ternyata terbukti. Kali ini posisiku harus tersalip oleh editor dan Kak Viona di Panah Aksara.

Akh kenapa aku jadi kesal begini ya? Bas … Bas akibat sudah terlalu nyaman selalu jadi yang pertama belakangan ini, jadilah langsung merasa kurang kalau Maybila melewatkan aku begitu saja. Batinku bermonolog dengan sedikit tersenyum menggeleng kepala memikirkan hal itu, mentertawakan diri sendiri lebih tepatnya.

Mungkin saja kamu suka

Azzahra Aulia M...
Semua Serba Daring
Junika Darul Pi...
3 penjuru
Hardiyanti
Delete all
Alfina Rizqi Kh...
Nikmati Jalani Syukuri
Wedia Permata S...
Universitas Kehidupan Mentari

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil