Loading
6

0

0

Genre : Keluarga
Penulis : Salwa Rulla Darmawan Putri
Bab : 30
Pembaca : 1
Nama : Salwa Rulla Darmawan Putr
Buku : 1

Hari Itu Akan Datang

Sinopsis

Namanya Karina, perempuan bertubuh mungil, berwajah cantik namun tampak kumal dan penyendiri. Perempuan dengan kedok sebagai pembantu padahal aslinya anak kandung dari keluarga yang memiliki harta melimpah ruah. Cerita ini tentang perjuangan seorang anak bungsu yang meminta hak-nya kembali. Mencari kebahagiaan tanpa mau merepotkan orang lain. Mengais ampunan pada penyiksa yang selalu merundung dirinya. Perempuan dengan sejuta mimpi dan harapan. Mengharap agar kebahagiaan mulai menyertai dirinya. Serta, perempuan yang mulai lelah. Lelah akan kehidupannya yang seakan selalu mempermainkan dirinya.
Tags :
#sad #Perjuanganhidup #pelangisetelahbadai

Prolog

2 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata 352

 

Gemerlap datang menyisakan penerangan yang begitu minim. Perempuan yang sudah berteman baik dengan kegelapan itu memilih meringkuk dibawah jendela, menikmati cahaya bulan yang bersinar redup tertutup awan gelap. Angin berhembus tanpa tahu sejak tadi ada perempuan meringkuk kedinginan dibalik selimut tipis. Beralasan kain bekas perempuan itu menangis, meminta ampun pada yang maha kuasa.

Perempuan itu terbangun saat rasa dingin seolah membekukan tulangnya.  “diantara miliaran manusia, kenapa harus Karina yang merasakan ini semua?” gumamnya benar-benar lirih

Karina namanya. Perempuan berusia 20 tahun. Sudah cukup dewasa untuk berkeliaran didunia yang penuh kekejaman, tetapi perempuan itu seolah ditakdirkan berada selamanya dirumah. Menikmati kesengsaraan yang kian hari semakin terasa menyakitkan.

Karina merupaka anak bungsu dari pengusaha terkenal, bahkan orang tua-nya sering masuk ke headline-headline ternama. Tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan ia hidup bahagia. Nyatanya ia hidup sengsara ditengah harta melimpah milik orang tua-nya. 

“Rasanya begitu lelah menghadapi cobaan yang silih kian berganti”

Ia berdiri menghampiri jendela usang menampilkan rumah besar milik orang tua-nya. Tampak mewah. Karina kembali tersenyum lirih dan tertawa pedih. Ia kembali mengedarkan pandangan, Karina hanya menemukan setumpuk kardus bekas dan beberapa barang tak berguna lainnya.

Benar-benar berbeda,

Tidak tahan dengan suasana yang sedih, Karina beranjak mengambil buku diary. Membuka satu per satu halaman yang tampak menguning.

 

02 Maret 2020

Hai kita bertemu lagi, setelah sekian lama aku melupakan kamu

Oh iya, hari ini Karina mendapat kabar yang benar-benar buruk loh. Saat membersihkan rumah, Karina gak sengaja lihat mommy di tv. Mommy sangat cantik, persis seperti ka Cherin. Disitu, Mommy lagi diwawancara dan ada yang menanyakan keberadaan Karina.

Karina sangat senang dong, setidaknya masih ada yang inget sama Karina. Tapi- Mommy bicara kalau Karina udah meninggal karena penyakit Jantung dan tidak pernah mempublikasikan lantaran kasihan dengan mendiang anaknya.

Kenapa Mommy bicara seperti itu? Apa mommy benar-benar gak sayang sama Karina sampai mendo’akan Karina meninggal. Sebenarnya aku itu apa dimata mommy?

 

Bolpoin yang digunakan Karina terjatuh begitu saja. Perempuan itu menangis, tidak sanggup sekedar melanjutkan kata-kata terakhir. Tubuhnya bergetar. Orang tua yang seharusnya berperan sebagai pelindung anak, nyatanya adalah orang yang malah menorehkan luka pada hati anaknya.

“Apa Karina harus meninggal dulu, baru kalian akan bahagia?”

 

 

 

 

Bab 01

1 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata 455

 

Matahari tampak malu-malu untuk menyinari bumi pagi ini membuat perempuan ringkih itu sedikit malas untuk beraktivitas dan memilih bergelung dibalik selimut tebal kamarnya. Hawa sejuk membuat siapapun pasti memilih menghabiskan waktu diatas kasur dibanding beraktivitas diluar rumah. Ya seperti yang Karina lakukan saat ini.

Bruk… bruk… bruk….

Karina melenguh malas. Teriakan dan gedoran dari depan membuat perempuan itu bergegas keluar, mengabaikan bayangan gelap di netranya begitu ia berdiri

“Tidak lihat sudah jam berapa?” pekik perempuan dengan balutan gaun merah, setelah Karina membuka pintu

Karina yakini, kakaknya –Cherin- baru saja pulang dari pesta malam yang selalu digelar tiap minggu. Aroma alkohol menyeruak hingga Karina memilih mendengus, menghempaskan udara yang masuk lewat organ pernafasannya.

“sudah jam 06.00 pagi ka” jawabnya

“sudah paham tugasnya apa?” retoriknya

Karina mengangguk paham. Tabiat Cherin yang tegas dan mudah marah membuat Karina sedikit takut dan meng-iyakan segala hal yang dipinta Cherin. Ia memilih mengorbankan tubuhnya daripada Cherin maupun kedua orang tuanya sampai main tangan kepadanya.

Kepergian Cherin meninggalkan luka kecil dihati Karina. Hatinya mencelos, Mengapa sampai saat ini kakak selalu berlaku buruk padaku?

Tidak mau masalah semakin besar, Karina bergegas membersihkan diri sebelum siap dengan alat tempurnya.

“Selamat pagi mommy, daddy” sapa Karina dengan riang berharap orang tuanya memeluk dan mengucapkan ‘selamat pagi juga’ untuknya

Harapan itu langsung pupus begitu mendapat delikan dan tatapan sinis dari Lina –mommy- juga Reno –daddy-. Reno meyibukkan diri dengan ponsel begitu juga Lina yang sibuk bercermin untuk membantunya merias diri.

“cepat buatkan sarapan untuk kami!” titah Reno tanpa melirik Karina sama sekali

“tapi daddy—

Reno menoleh dan menatap tajam bak predator yang siap menelan musuhnya, “jangan panggil saya daddy! Tuan dan nyonya, kami ingin dipanggil seperti itu”

Karina mendesah kasar. Ia tersenyum lirih, “kenapa?” lirih Karina, sarat akan keingintahuan

“Karena kamu bukan bagian dari keluarga kami” tawa Cherin pecah begitu tiba dimeja makan

Suasana kaku langsung cair begitu Cherin datang. Lihatlah, bagaimana Cherin diperlakukan istimewa sangat berbeda dengan perlakuan yang diterima Karina. Mereka tertawa tanpa tahu perasaan perempuan yang terus mengamatinya dengan tersenyum. Berharap ia berada ditengah-tengah keluarga yang sangat hangat.

“Karina masak dulu” pamitnya

Dibalik dinding penyeka ruangan, tubuh Karina melemah berangsur luruh kelantai. Lengannya menangkup wajah yang kian mengeras. Tidak ada tangisan yang terdengar. Terlalu sering menangis membuat Karina merasa lelah.

Tangisan-nya yang tidak pernah didengar. Kemarahan yang tidak dianggap. Pekikan yang membuat dirinya semakin dimarahari. Semuanya hanya membuat perempuan itu lelah.

Karina memilih terdiam sembari merenungi semua kejadian. Hatinya semakin pias mengingat kejadian-kejadian yang dialaminya. Dirinya hanya bisa terdiam dan memohon do’a dibalik sujud yang ia lakukan tiap malamnya.

“Terima kasih ya Allah karena masih memberikan Karina ujian. Ujian yang membuat Karina paham karena engkau selalu bersama hamba”

 

-Allah Tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya- (Q.S. Al-Baqarah (2) : 286)

Bab 02

1 0
  1. Sarapan Kata KMO CLUB Batch 35
  2. Kelompok 7_Renjana Aksara
  3. Jumlah kata 481

 

-Bukankah orang tua berperan penting bagi mental anak? Tapi, bagaimana jika orang tualah yang berperan menjatuhkan mental anak?-

 

Aroma tanah bercampur air hujan selalu menjadi favorit Karina selama ini. Hawa sejuk dengan harum alami mampu membuat Karina tenang dan seakan lupa akan masalah yang dihadapinya. Ketenangan yang selama ini tidak pernah Karina rasakan.

Ditemani segelintir angin menambah kesan nyaman. Jangan lupa, alunan suara jangkrik dan hewan lainnya membuat perempuan yang sedang terdiam itu merasa terhibur.

Disinilah Karina berada, diantara ilalang-ilalang tinggi menghadap langsung danau buatan yang dibuat komplek rumahan untuk menarik minat konsumen. Tempat yang jarang dijangkau orang kebanyakan karena berada ditempat yang kurang strategis dan menjadi posisi yang sering dianggap horror oleh sebagian orang.

“Hanya ditempat ini aku bisa merasakan ketenangan” perempuan itu menghirup udara, meresapi aroma yang kian menenangkan. Membiarkan tubuhnya tersapu sejuknya angin.

“ternyata disini ada tanda-tanda kehidupan juga. Dikira, hanya gue yang tahu tempat mempesona ini” suara berat laki-laki mengejutkan Karina

“eh, maaf” ucap Karina tanpa tahu meminta maaf kepada siapa. Perempuan itu buru-buru berdiri dan menjamah belanjaan yang dipinta Lina

“nggak usah pergi, gue nggak bermaksud mengganggu”

Laki-laki itu mengulur lengan ingin menahan Karina, tapi tidak sempat lantaran Karina segera pergi tanpa menoleh sama sekali hingga meninggalkan rasa bersalah pada laki-laki itu.

“Sepertinya aku nggak bisa lagi berkunjung kesana” keluh Karina di perjalanan pulang dengan sedikit kesal yang tertuju pada dirinya

Selama hidupnya, Karina dibiasakan diam dirumah terkecuali hanya untuk pergi sekolah. Hal itu berdampak pada tumbuh kembangnya, Karina seperti kurang pandai dalam bersosialisasi. Banyak hal buruk yang terjadi saat masa sekolah, hingga Karina merasa terasingkan.

Image buruk yang tersemat pada dirinya membuat ia selalu dicemooh oleh teman sebayanya. Semua itu berawal dari Cherin yang selalu menyebarkan hal buruk mengenai Karina. Inti permasalahan yang didapat Karina selama sekolah ya tak lain adalah Cherin.

Lagi-lagi Karina menarik nafas, “sudahlah yang berlalu, biarlah berlalu. Lebih baik aku fokus mencari kebahagiaan untuk hidup kedepannya” gumam Karina seraya memperhatikan sekitar yang ternyata sudah sampai dipekarangan rumah.

“Assalamualaikum” salamnya begitu masuk rumah

Tidak ada yang menjawab salam sekali. Karina sudah biasa mendapat hal seperti itu sebelumnya. Perlakuan buruk yang didapat orang tuanya juga berimas pada perlakuan para pelayan yang ada dirumahnya

Semua pelayan serta penjaga rumah seakan memandang sebelah mata pada Karina. Bahkan mereka tidak memperdulikan bahwa Karina termasuk kedalam keluarga inti. Intinya yang mereka tahu, perbuatan buruk mereka disenangi juga oleh tuan rumah. Yang tak lain oleh Reno dan Lina.

“Dari mana saja kamu” teriak Lina dari lantai dua rumah, “cepat sini!” titahnya

Dengan tergopoh-gopoh Karina berlari kelantai 2 rumah. Membiarkan rasa sakit pada kakinya yang kian terasa hingga bagian dengkulnya, “ini nyonya, maaf tadi ada sedikit masalah dijalan” dusta Karina

Lina merampas totebag tersebut lalu melihat dalam isinya. “disuruh belanja aja lamanya luar biasa. Apalagi disuruh yang lain? Dasar anak tidak berguna” maki Lina lalu beranjak begitu saja, meghiraukan Karina yang menunduk sedih

“maaf Mommy, lagi-lagi Karina mengecewakan Mommy”

Bab 03

1 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_439

 

Mendapat makian dari keluarga-nya adalah hal yang lumrah didapat Karina tiap harinya. Jadi, ‘diam’ menjadi pilihan sikap Karina untuk tidak mau memperpanjang permasalahan. Diam bukan berarti kalah kan? Diam juga salah satu sikap terhormat jika digunakan sesuai tempatnya.

Selain itu, rasa sayang pada keluarganya menghalau Karina untuk membalas perlakuan mereka. Nyatanya, kebungkaman Karina membawa keuntungan sendiri bagi orang-orang disekitarnya. Mereka menganggap Karina memiliki pribadi lemah dan sangat pas menjadi tempat pelampiasan amarah bagi mereka.

Seperti halnya hari ini, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Cherin menghampiri Karina dengan senyuman. Senyuman yang selalu Karina dapat saat Cherin ingin meminta bantuan nya, Karina sudah hafal tabiat Cherin yang satu ini.

"kakak nggak mau tahu yah, kamu selesaikan tugas kakak sekarang juga. Semua harus benar tanpa terkecuali" perintah Cherin menggulirkan beberapa tugas kuliah dari dalam tasnya kepada Karina

"tapi aku?---

Belum selesai menjawab, Cherin menyela. "kakak tahu kamu pintar, urusan kecil seperti ini kamu pasti bisa" pujinya yang biasa ia lakukan ketika meminta bantuan Karina. Selebihnya, cherin tidak mungkin memuji Karina secara suka rela.

“aku nggak bisa ka” tolak Karina dengan sopan

Jenjang SMA menjadi jenjang pendidikan terakhir yang Karina arungi. Selepas SMA, Karina dipinta untuk mengabdi dirumah. Dengan kata lain, ia tidak diperbolehkan merasakan kuliah. Berbeda dengan Cherin yang langsung diperbolehkan kuliah ditempat yang bergengsi.

Iri? Sangat iri. Tapi Karina bisa apa selain mengutarakan kesedihannya lewat buku Diari-nya. Dibanding rasa iri, Karina harus bisa menelan pahit-pahit kekecewaannya. Padahal semenjak SMA ia sudah mencari beasiswa kesana kemari hanya untuk melanjutkan kuliah. Tapi apa bisa dikata, beasiswa sudah digenggamannya namun orang tua Karina menolak tegas-tegas keinginannya.

Cherin menatap pasrah begitu Karina menolaknya. “tapi---

“Mommy, Karina nggak mau turutin perintah aku” adu Cherin begitu Lina lewat dari arah dapur

“ada hak apa kamu menolak permintaan anak saya” Lina menunjuk Karina dari atas sampai bawah dengan tatapan nyalang

“tapi Karina juga anak mom—nyonya” ralatnya

“kata siapa? Kau memang lahir dari rahimku, tapi kasta kita sangat jauh berbeda. Saya jauh diatas dan kau ada dibawah, dititik paling rendah” peringat Lina penuh penekanan

Lina meraih tugas kuliah Cherin dan dihempaskannya depan wajah Karina. Perempuan itu terkesiap, lalu mengerjap mata menghalau air mata yang berebutan minta turun.

Karina mengambil beberapa kertas tersebut di lantai, “akan Karina kerjakan. Tapi, Karina nggak janji untuk mendapat hasil yang bagus” ucapnya

Lina menajamkan pandangan. Lengan terulur mencekram lengan Karina, hingga perempuan ringkih itu teriak kesakitan. Kuku panjangnya menghujam dalam hingga mengelupaskan kulit Karina. “kerjakan dengan baik dan dapatkan hasil sempurna. Saya tidak mau tahu giamanpu caranya kamu lakukan untuk hasil terbaik itu” Lina kembali mencengkeram kuat sebelum pergi meninggalkan Karina diikuti oleh Cheris dibelakangnya

“iya nyoya” jawabnya lirih. Benar-benar lirih.

Bab 04

1 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_466

 

Malam ini –Reno- meminta Karina untuk ikut kumpul diruang tamu selepas makan malam. Ada yang ingin dibicarakan, katanya. Hal itu membuat Karina senang bukan main. Setidaknya ia masih dianggap keluarga oleh Daddy-nya.

Kegiatan makan malam sudah Karina percepat, untuk mempersempit waktu. Perempuan itu benar-benar exited, bahkan perempuan itu tidak memperdulikan tempat ia berada saat ini. Didepan gudang, tempat ia selalu bersantap makanan. Karena hanya ditempat inilah, Reno dan Lina memperbolehkan Karina makan, tentu saja dengan makanan sisa mereka.

Tapi tidak apa-apa. Karina akan menganggap makanan sisa orang tuanya merupakan suatu berkah yang harus ia terima dengan sepenuh hati. Lagi pula Karina harus bersyukur setidaknya ia masih memakan makanan sisa orang tua dan kakaknya sementara orang diluar sana harus memakan makanan sisa milik orang lain dan mengaisnya di tempak yang kurang layak, seperti tempat sampah.

Karina duduk dibawah beralaskan karpet sementara keluarganya duduk diatas sofa. Karina tidak mempermasalahkan hal itu, duduk bersama dalam satu ruangan saja ia sudah menjadi kebahagiaan sendiri bagi Karina. Seperti ada ribuan kelopak bunga dan kupu-kupu menghiasi rongga perutnya.

“ada apa daddy ngumpulin kami disini?” tanya Cherin ogah-ogahan dengan netra tertuju pada ponsel. “sekarang udah waktunya Cherin istirahat atau nggak seharusnya Cherin udah ada di club nih. Tapi daddy malah nggak izinin karena perkumpulan ini doang” gerutunya

“maaf kalau rencana daddy mengganggu acara kamu dan apa bisa kamu simpan dulu ponsel kamu?” perintah Reno tapi tidak dituruti oleh Cherin. Anak sulungnya malah memutar mata seakan meledek lalu melanjutkan main ponsel.

Reno dan Lina saling memandang lalu mengangguk maklum.

“sudahlah kamu langsung bicarakan intinya. Saya sudah muak berada satu ruangan dengan anak itu” Lina melirik Karina yang masih mempertahankan senyuman walau sudah disindir Lina, “saya sudah sesak sedari tadi lantaran melihat anak itu yang nggak berhenti senyum

Reno melirik tajam Karina membuat perempuan itu mengendurkan senyuman dan menunduk takut sebelum memulai inti pembicaraan, “Daddy mau jodohkan Cherin dengan anak sahabat daddy, dan saya pinta saat teman saya datang kamu tidak muncul dirumah ini sama sekali”

“kenapa?” sela Karina, sungguh kali ini Karina merasa sakit hati dengan perkataan Reno

Pertanyaan mengapa? dan kenapa? Selalu muncul dibenaknya. Mengapa nasib ia bisa seperti ini? Kenapa aku merasa terasingkan dilingkungan keluarga sendiri? Bahkan fatalnya Karina selalu berfikir, mengapa aku lahir dikeluarga ini?

“singkatnya karena kamu tidak sepadan dengan kami” bukan Reno yang menjawab tapi Lina

“aku anak kalian kan?” tanya Karina meminta penjelasan

“kamu memang lahir dari Rahim saya, tapi saya sangat malu karena sudah melahirkan anak tidak berguna seperti kamu”

“apa salah Karina?” tanyanya lagi

“banyak, semua yang kau perbuat dimata kami akan selalu salah. Jadi jika masih mau tinggal disini, biasakan duduk diam dan turuti perintah kami” jawab Reno

  1. Karina tertawa dalam tangisnya. Sungguh hari yang menyakitkan. Kebahagiaannya beberapa menit seakan sirna menguap bersama kesedihan dan kekecewaan yang kini melingkupi dirinya.

“Karina boleh nanya sama kalian?”

Bab 05

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_445
  4. Day 6

 

“Karina boleh nanya sama kalian?”

Spontan kedua orang tua itu menoleh sesaat suara lirih nan sedih mengalun indah dipendengeran mereka. Bukan karena sedih, mereka hanya tidak suka karena Karina yang mulai berani melontarkan pertanyaan pada mereka. Jahat memang, tapi kenyataanya memang seperti itu. Reno dan Lina akan mulai merasa risih jika Karina mulai bertanya. Hal apapun itu.

“ya sudah apa buruan!”paksa Lina. Ia mengusap kuping seakan dengungan suara Karina terasa menyakiti gendang telinganya

“Karina itu salah apa sih? Sampai kalian memperlakukan kami sangat berbeda. Kalau tuan dan nyonya nggak suka dengan keberadaan Karina, Karina akan angkat kaki dari sini” paparnya dengan suara gemetar

“salah kamu kenapa lahir dikeluarga ini dan mengambil kebahagiaan kami” jelas Reno. Pandangannya menajam, seakan benar-benar membenci hal tersebut. Keberadaan Karina serasa sangat salah bagi Reno si pecinta harta

Karina semakin tidak mengerti. Bukannya kebahagiaan dia yang dirampas secara tidak langsung dengan keluarganya? Mengapa mereka malah memutar fakta seperti ini.

“jadi ini salah Karina juga? Kalau boleh memilih, Karina juga nggak mau lahir dilingkungan keluarga ini. Karina lebih rela lahir dikeluarga sederhana dengan kebahagiaan yang terus terpancar. Kalau tuan dan nyonya merasa keberatan dengan kehadiran Karina, lebih baik Karina pergi dari rumah ini” karina mengeluarkan segala unek-uneknya

“memang anak tidak tahu diuntung, sudah disekolahkan, dibiayakan masih saja mau pergi” lontar Lina, “seharusnya kamu berterima kasih pada kami. Walaupun kami memperlakukan kamu dengan buruk tapi kami tetap membiayai kehidupan kamu”

“terus Karina harus apa?” jawab Karina dengan nada sewot

“berbakti pada kami dengan rela menjadi pembantu dirumah ini. Selamanya” ucap Reno penuh penekanan

Karina berdiri, “baiklah” ucapnya langsung berlalu 

Lina dan Reno hanya mengangkat bahu, acuh. Tidak merasa bersalah sama sekali. Kini mereka hanya berusaha membujuk Cherin untuk mau menikah walaupun mendapat tolakan terus menerus dari mulut perempuan itu.

Disisi lain,

Karina menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Ia beranjak kearah meja belajar, mengambil foto keluarganya. Oh tidak, itu foto yang Karina edit sedemikian rupa hingga terlihat mereka sedang bersama. Karina terus memandang tanpa tahu kebencian mulai menggelayar didirinya. Sungguh! Mulai detik ini rasa benci itu seakan merayap di hati dan benaknya membuat ia malas walaupun sekedar memandang foto tersebut.

Tidak peduli lagi, ia membanting foto itu dengan kasar ke lantai. Seketika pecahan kaca bertebaran dimana-mana meyisakan selembar foto yang membuat Karina benci. Karina mengambil foto itu dan mengoyaknya hingga menjadi serpihan kecil.

Tubuh permepuan itu luruh kelantai. Berusaha menenangkan diri, tetapi tawa keluarganya dari ruang tamu mulai memenuhi pendengarannya. Karina menutup kuping sedemikian rupa, mencoba menghalau suara keluarga yang masuk.

“Arghhhh” pekik Karina tanpa suara. Kemudian ia menutup wajah dengan kedua lengan seraya menangis tertahan. Ia terus memukul-mukul dadanya keras untuk menahan sakit dihatinya yang kian menusuk.

“aku benci, benar-benar benci”

Bab 06

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_459
  4. Day 7

 

Pagi menyingsing, kelopak bunga mulai bermekaran begitu cahaya matahari membias bumi. Kicau-kicau burung terdengar dan mulai mengalun indah bak menemani kesepian Karina di pagi hari. Sangat asri dan menyejukkan memang. Sangat berbeda, dengan mansion keluarga Karina yang tampak ribut sejak tadi pagi.

Gedoran pintu mengawali aktivitas Karina hari ini. Perempuan itu membuka pintu kamar dengan lemas, tentunya setelah membersihkan kekacauan yang ia perbuat tadi malam. Seperti yang Karina lakukan biasanya, mau dirinya penyebab kekacauan atau bukan maka sama saja tetap dirinya yang akan membersihkan mansion, terutama kamarnya.

“ada apa?” tanyanya lemas dan sambil memandang malas pada perempuan yang sedang berdiri dengan berkacak pinggang itu

“ada apa!” bentak orang dihadapannya, “kamu tahu sekarang jam berapa?” tanyanya dengan tidak santai

Karina melirik jam diatas nakas, “jam 7 lewat” jawabnya lantang tanpa menunduk seperti sedia kala

“oh gitu” perempuan yang sudah melahirkannya mulai berkacak pinggang dan menatap nyalang bak predator yang siap menelan musuhnya, “sudah berani sama saya? Apa karena adu argumen kemarin?”

Karina hanya mengangkat bahu, acuh. Lalu melewati Lina begitu saja, membuat perempuan dengan polesan tebal diwajahnya mencak-mencak menahan amarah. Tapi tidak bisa apa-apa, karena dandanan dan pakaiannya bisa hancur hanya untuk meladeni Karina, anak bungsunya.

“ada yang bisa saya bantu?” para pelayan yang bekerja langsung menengok mendapat panggilan Karina, salah satu kepala pelayan menyuruh Karina untuk membersihkan ruang tamu dan halaman mansion

Karina tersenyum, “baik mba”

Dengan bersenandung ria, Karina mulai mengerjakan pekerjaan rumah dengan ikhlas. –shalawat nabi- menjadi pilihan senandung Karina saat ini. Perempuan itu sangat fasih hingga laki-laki yang tanpa sengaja mendengarnya sejak tadi berdecak kagum.

“hai kita ketemu lagi”

Karina mengernyit. Memutar memori megenai laki-laki dihadapannya. Seketika ia terbelalak mengingat laki-laki itu. Laki-laki yang sudah menganggu ketenangan-nya waktu itu.

“ya” balas Karina singkat, “ngapain disini?” tanya Karina sedikit ingin tahu lantaran mansion yang jarang dimasuki orang asing kini malah dimasuki orang yang jelas-jelas bukan bagian dari mansion ini

Laki-laki dihadapannya menghela nafas, gurat bahagia diwajahnya bergulir menjadi gurat kesal. “gue dijodohin sama pemilik rumah ini. Lu kenal?”

Bukan kenal lagi, tapi dia kakak perempuan aku. Tukas Karina tentunya dalam hati, “iya aku kenal, nona Cherin kan? Dia anak dari majikan aku” ujar Karina akhirnya, mengingat petuah orang tuanya kemarin

“kamu disini kerja?” raut laki-laki itu mengisyaratkan sesuatu, “Oh iya, kenalin gue Farel. Laki-laki paling tampan diseantero kampus” ucapnya seraya mengulurkan tangan lalu diakhiri dengan tawa canggung, geli sendiri mendengar ucapannya sendiri

Tanpa sadar Karina terkikik mendengar pujian Farel pada dirinya sendiri. Lesung pipi yang jarang terlihat kini terlihat dihadapan laki-laki yang sudah balas tersenyum. Rasa bahagia yang sudah lama tidak Karina rasakan mulai merasa bahagia hanya karena ucapan absurd laki-laki dihadapannya.

Karina membalas uluran tangan, “kenalin aku Karina. Perempuan yang berharap seperti bintang dilangit tapi hanya ditakdirkan sebagai seorang manusia yang memiliki banyak luka di hidupnya”

Bab 07

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_497
  4. Day 8

 

Kedatangan ‘calon Cherin’ membawa keramaian sendiri di mansion besar yang biasanya selalu sepi. Keriuhan yang tercipta meniadakan kesedihan seorang perempuan yang berada dipantry membuat minuman untuk kedua keluarga itu. Kesedihan lantaran merasa ia tidak pernah dianggap jika ada acara seperti ini.

Terkadang Karina bertanya pada dirinya sendiri, ‘benarkah dirinya anak dari keluarga ini?’ pertanyaan yang selalu berusaha Karina elakkan, walaupun pertanyaan itu selalu kembali lagi kebenaknya. Seakan menghantui dirinya secara terus menerus.

Sebenarnya petuah Reno dan Lina memerintah Karina untuk tidak pernah muncul dihadapan keluarga Farel. Tetapi keberadaanya keburu ketahuan oleh pemeran utama, Lina memutar rencana dan meminta Karina untuk berperan sebagai salah satu anak pelayan dirumah ini.

Jahat kan? Tenang saja Karina sudah biasa melalui suasana seperti itu.

“dimana keberadaan anak bungsu kamu?” suara perempuan menelusup masuk kependengaran Karina. Karina yang sedang membuat minuman seketika menoleh ingin mendengar jawaban orang tuanya

“huft… sebenarnya aku nggak mau ngomong gini. Anak bungsu aku didiagnosa memiliki sakit yang ‘cukup’ parah dan dia sedang ada diluar negeri untuk berobat. Do’akan saja ya biar anak saya lekas sembuh”

Karina hanya bisa tersenyum, senyum penuh luka. Tangisan yang biasa keluar seakan mengering. Percakapan dengan orang tuanya kemarin sore seakan membuka mata Karina agar ia tahu tempat dan tahu diri jika masih mau dirumah ini.

Perempuan itu membawa nampan berisi minuman dan beranjak menuju ruang tamu, “permisi” ucapnya dengan senyuman seraya menaruh beberapa gelas dihadapan tamu

“anak siapa ini? Cantik sekali” puji perempuan paruh baya dengan gaya glamor-nya

Lina menelan saliva sebelum menjawab, “anak salah satu pelayan dirumah ini. Biasa beliau nggak memiliki biaya hidup jadi dengan kebesahar hati saya menampung dia disini”

“murah hati sekali dirimu, jeng” ia menoleh pada laki-laki disampingnya, “nggak salah kita pilih besan. Iya kan yah?” laki-laki itu mengangguk

“saya permisi” Karina berdiri dan menunduk sopan, netranya nggak sengaja melihat Farel yang sedang menatapnya balik. Karina memberikan senyuman tipis sebelum meninggalkan kedua keluarga tersebut

Setelah pekerjaan rumah diselesaikan Karina, perempuan itu memilih duduk dibalkon kamarnya menikmati siur angin yang terus menerpa dirinya. Ia menarik nafas dalam-dalam, aroma pepohonan begitu menusuk penciuman Karina.

Mansion keluarga Karina berada ditengah-tengah pepohonan besar dan memiliki jarak yang cuckup jauh dari mansion lainnya. Karena itu Karina nggak perlu berjalan jauh demi menikmati pemandangan yang menyejukkan ini.

“Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan” gumam Karina seraya mengambil beberapa bahan rajut untuk dibuatnya kedalam beberapa bentuk kerajinan

Kerajinan yang sudah selesai akan Karina jual lewat online. Sebenarnya sejak SMA Karina sudah memulai jualan online dari hasil-hasil kerajinan yang dibuatnya. Respon para pembeli pun banyak yang suka sehingga Karina semakin bersemengat untuk membuat kerajinan lainnya dank arena usaha inilah Karina mendapat uang jajan. Bahkan sampai saat ini jika dijumlah keseluruhannya, pendapatan Karina sudah mencapai hampir puluhan juta.

 

Bayangkan rasakan, bila semua berbalik kepadamu,

Bayangkan rasakan, bila kelak kau yang jadi diriku

 

Hadirmu hanya sekilas dihidupku

Namun meninggalkan luka tak terhapus oleh waktu

 

Senandung Karina ditengah-tengah rajutan. Senandung yang memiliki makna sendiri. Makna penuh luka, makna tidak kebahagiaanya, makna kepedihan, kepedihan yang ingin Karina akhiri secepatnya.

Bab 08

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_597
  4. Day 9

 

“terima kasih banyak mas” papar Karina setelah kurir salah satu ekspedisi mengurus semua paket yang akan ia kirim kepada konsumen. Paket hari ini lebih banyak ketimbang kemarin, untung saja Karina masih sempat mengurus semuanya ditambah dengan stok yang dibuatnya satu bulan lalu masih tersedia. Jadi, Karina nggak perlau risau memikirkan pesanan yang kain melonjak

“iya mba sama-sama” jawab kurir laki-laki berseragam itu disertai dengan senyuman

Karina beranjak menikmati angin sore. Merasa bahagia sudah menyelesaikan tugas rajutannya. Sesekali ia membalas orang yang tersenyum padanya. Memang banyak orang yang tidak mengenal dirinya, tapi senyuman yang terbit diwajahnya seakan menambah kebahagiaan pada orang yang melihatnya.

“kayaknya enak beli batagor” gumam Karina. Bisa dilihat pedagang batagor yang sudah berumur duduk diatas trotoar seraya mengipasi dirinya dengan topi lusuhnya. Hati perempuan itu jadi tergerak, dengan senyuman ia menghampiri pedagang batagor tersebut

“pak beli batagor 5.000” pinta Karina dengan riang, “maaf ya pak, Karina ganggu waktu istirahat bapak”

Senyuman pedagang batagor ditengah tubuh rentanya membuat Karina tersenyum juga. Membahagiakan orang tidak sesulit yang orang kira, “nggak papa nak. Bapak yang terima kasih karena kamu sudah mau beli dagangan yang belum laku dari pagi ini”

“anak-anak ada yang mau makan batagor nggak?” tanya Karina dengan sedikit teriak kepada anak-anak yang sejak tadi bermain dilapangan dengan pakaian lusuhnya

Melihat itu semua Karina menjadi bersyukur. Mereka saja yang ‘mungkin’ belum tahu nanti malam mau makan apa masih bisa bahagia. Kenapa Karina yang masih lancar makan dan tinggal dirumah besar harus selalu mengeluh kepada yang maha esa?

Hati perempuan itu menghangat mengingat berapa pentingnya bersyukur, ‘ya Allah terima kasih banyak karena sudah menitipkan rezeki yang melimpah untuk saya untuk disalurkan kepada mereka semua’

“mau ka” “mau” “mau banget ka” sorakan anak-anak membuat Karina dan pedagang batagor tersenyum bahagia. Bahagia karena Karina bisa meluangkan waktu untuk membahagiakan anak-anak dan bahagia karena pedagang batagor tersebut merasa perempuan kecil dihadapannya menjadi sumber rezeki dagangannya hari ini

“buatin mereka satu-satu ya pak. 5.000 saja dan bungkuskan mereka juga untuk dibawa kerumah”

“siap nak!” Dengan semangat 45 pedagang batagor itu membungkus menjadi 2 bungkus pada satu anak

Sembari menunggu pedagang batagor selesai, Karina duduk dikursi yang tersedia seraya menikmati batagor. Senyuman para anak-anak menjadi kebahagiaan Karina sendiri.

“hai… kita ketemu lagi disini” panggil seorang laki-laki yang langsung duduk disamping Karina

Perempuan itu menoleh, “Farel? Lagi apa disini?” Karina sedikit mencair dengan laki-laki disampingnya. Pembawaan Farel yang ramah dan bikin riuh suasana membuat Karina men-cap kalau laki-laki itu berbeda dari temannya dulu

“lagi lihat bidadari cantik”

Karina tersipu pasalnya sejak tadi Farel menatapnya lekat-lekat, “apaan sih”

“hahaha… lucu deh lihat kamu yang slaah tingkah gini” Farel terkikik lantar membuat Karina menjadi balik terpesona

“kakak cantik makasih banyak” seru anak-anak berbarengan dari arah pedagang batagor

Karina berinisiatif menghampiri pedagang batagor dan anak-anak tersebut. “sama-sama adik-adik yang cantik dan juga tampan. Semoga kalian suka ya”

“suka kakak cantik, suka banget! Makasih banyak kakak, semoga Allah selalu menyertai kehidupan kakak dan semoga rezeki kakak diperbanyak oleh Allah .Swt.” pekik mereka dengan senangnya lalu berlalu untuk duduk ditengah lapaangan setelah mengucapkan terima kasih lagi pada Karina

“berapa semuanya pak”

“350.000 mba”

Karina merogoh saku dan mengeluarkan uang sebesar 500.000 rupiah kepada pedagang batagor tersebut. Pedagang batagor tersebut sempat menolak, tapi Karina tetap kekeh dan berakhir beliau berterima kasih dan mengucapkan banyak syukur kepada sang pencipta.

Karina tersenyum bahagia lalu berjalan menuju mansion, lantaran hari yang semakin petang. Sejak saat ini perempuan itu berjanji akan semakin banyak menebar kebaikan hingga membuat orang lain bahagia. Karina janji!

Semua itu tidak luput dari perhatian seorang laki-laki yang berdecak kagum dan kini semakin yakin akan perasaannya, yang tak lain yaitu Farel.

Bab 09

0 0

a. Sarapan Kata KMO Club Batch 35

b. Kelompok7_RenjanaAksara

c. JumlahKata_899

d. Day 10

 

"nggak nyangka dizaman kayak gini, masih ada manusia yang suka berbagi" seru Farel ditengah-tengah perjalanan. Sejak tadi Farel mengucapkannya kekaguman pada Karina membuat perempuan itu jengah sendiri dibuatnya

"maksudnya zaman kayak gini tuh gimana?" Karina mengernyit

"zaman yang sangat sulit berbuat seperti yang lu lakukan tadi. Memilih berbagi hingga membuat orang lain tersenyum bahagia" jawab Farel, “susah loh cari orang kayak gitu dizaman serba egois ini”

"kata siapa sangat sulit? Sebenarnya diluar sana masih banyak yang melakukan hanya saja mereka nggak pernah mempublikasikan, lagipula perbuatan baik lebih bagus dipendem daripada dikasih tahu keorang banyak" 

"begitu ya?" 

Karina mengangguk menanggapi. "sebenarnya kamu mau kemana?" tanya Karina kepada Farel. Sejujurnya sejak tadi Karina menahan mati-matian degup jantung yang kian membara. Perempuan itu hanya takut jika degupannya bisa terdengar sampai kepada Farel. Karina tidak mau itu terjadi. 

Farel menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. Perasaan kesal kian menelusup kedalam relung hatinya, "gue disuruh kerumah calon istri gue" omel Farel. Menolak seberusaha mungkin juga susah karena orang tua Cherin yang terus mendesaknya. 

"calon istri? Berarti kerumah aku ya. Kan ka Cherin calon istri kakak" Karina terkesiap, "--ehm maksudnya nona Cherin" jawab Mentari terbata-bata. Farel menoleh dan sempat curiga, namun ia mengubur dalam-dalam kecurigaannya saat melihat wajah lugu Karina

"iya, kesel banget sih zaman modern kayak gini masih ada aja perihal perjodohan. Kesannya kuno banget" rajuk Farel 

Karina terkikik, sebelah tangannya menutup mulut yang tertawa. "ambil positifnya saja, berarti orang tua kakak ingin kakak menikah dengan perempuan pilihan yang sudah mereka percaya" nasihat Karina

"setahu gue, suatu hubungan pernikahan harus didasarkan cinta dari dua pasangan. Kalau terpaksa ya percuma dong" petuah Farel, “pengen gitu gue nikah didalam hubungan yang saling mencintai. Bukan yang baru kenal kayak gini”

"cinta tumbuh seiring berjalannya waktu. Kakak pernah denger petuah itu kan?" 

Farel memajukan bibirnya, merasa sebal sama Karina karena merasa tidak sependapat dengan fikirannya. "oh iya, gue mau tahu tentang keluarga lu dong. Atau kenapa lu bisa tinggal bareng sama keluarga Cherin" 

"eh itu, rumahnya udah deket. Aku jalan duluan ya" Karina mempercepat langkah begitu mansion keluarganya mulai terlihat, lebih tepatnya perempuan itu memilih lari dari pertanyaan yang tidak mungkin ia jawab

Keluarga? Apa Karina harus beri tahu kalau keluarganya itu sama dengan keluarga yang bilang kalau dirinya hanyalah anak dari seorang pelayan. Lagipula memberitahu yang sebenarnya kepada Farel hanya akan membawa musibah bagi dirinya. Jadi, lebih baik bungkam dan meresapi sakit hati jika kata ini terlontar dari mulut orang-orang.

Perempuan itu semakin berlari saat perasaan nya tiba-tiba menguap seakan ingin berteriak kencang. Karina memekik kecil walaupun suaranya tersapu oleh desauan angin. 

Sesampainya dimansion ia langsung memasuki kamar dan menutup pintu dengan kencang, tanpa memperdulikan teriakan Lina dan Cheris. Yang Karina fikirkan ia hanya ingin berendam dikamar mandi dan menangis kencang-kencang. 

Setelah satu jam berendam dibath up dan mengeluarkan semua uneg-uneg yang selalu bersarang difikirannya. Akhirnya Karina keluar dari kamar mandi dengan pakaian basah kuyup. 

Tidak berniat untuk mengganti pakaian, Karina malah menghampiri laci dan membukanya. Ia merogoh dan menyingkirkan beberapa buku untuk menemukan sebuah foto, foto yang selalu bisa membuat perempuan itu tenang. 

"nenek? Kenapa nenek tinggalin Karina sendiri disini?" monolognya

Foto yang digenggam Karina memperlihatkan nenek kandung Karina bersama Karina saat masih kecil. Hanya nenek nya lah yang mendukung Karina selama ini. Hingga nenek Karina dinyatakan meninggal dunia lantaran penyakit kronisnya membuat semuanya berubah. 

Hidupnya berubah menjadi kelam. Sangat kelam.

Karina tersenyum sendu, lengan lentikknya maju untuk membelai foto yang warnanya kian memudar. Karina tak henti-henti tersenyum saat melihat foto masa kecil bersama nenek nya, walaupun senyuman itu sangat berbanding terbalik dengan tangisannya yang kian terdengar kencang. 

"hiks.. hiks... Kenapa nenek ninggalin Karina sendiri disini? Mereka semua nggak ada yang suka sama Karina. Cuman nenek yang sayang dan peduli sama Karina. Karina mau ikut nenek saja" ucapnya ditengah isakan tangis 

"nenek tahu? Nenek sudah menipu Karina. Kata nenek mereka akan menyayangi Karina seiring berjalannya waktu. Tapi apa? Yang ada mereka malah semakin membenci seiring jalannya waktu" 

Karina meneguk saliva dengan mata terpejam. Mengingat kembali ucapan sang nenek saat masih sehat. 

Kala itu dihalaman mansion, Karina sedang duduk menelungkup dikedua kakinya dan menangis kencang. "kamu kenapa sayang?" nenek datang dengan terpogoh-pogoh begitu mendengar sang cucu menangis kencang

"semuanya nggak suka Kalina"

"kata siapa? Semuanya sayang Karina ko" 

"bohong! Meleka malah-malah telus sama Kalina. Kalina dicubit, dipukulin, diteliakin telus. Tapi Mommy sama daddy nggak pernah gituin ka Chelis" 

Hati mana yang tidak akan tersayat saat mendengar anak kecil sudah diperlakuan tidak adil sama orang tuanya sendiri? 

"maafin orang tua Karina ya?" Pinta sang nenek dengan penuh harap, "mereka lakuin itu semua karena orang tua Karina sayang sama Karina" 

Anak kecil yang tidak tahu apa-apa itu langsung melihat sang nenek dengan senyuman sumringah, "bener?" 

"bener. Karina sayang sama orang tua Karina kan?" Karina kecil mengangguk semangat, "jadi Karina nggak boleh marah balik ya sama mereka. Karena mereka melakukan itu semua demi kebaikan Karina" 

"oh gitu... Berarti Mommy sama daddy baik kalena pengen buat kalina jadi anak baik" serunya semangat 

"Karina nggak boleh benci mereka ya. Mereka bertiga tetap keluarga kalina, saat ini maupun selamanya. Lagipula perlakuan mereka akan berubah ko seiring berjalannya waktu" Ucap sang nenek walaupun sudah dihiraukan sang cucu lantaran ia sedang senyum-senyum mengetahui orang tuanya menyayangi dirinya

Kini Karina besar menggeleng mengingat percakapan lugu itu. Ia semakin menangis keras, 

"bohong nenek bohong, mereka semakin menjadi. Mereka juga nggak pernah sayang sama Karina. Karina benci... Karina benci..." monolognya

"Karina benci" ucapnya sebelum terlelap lantaran kelelahan menangis.

Bab 10

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_457
  4. Day 11 

 

Karina bangun saat mendengar suara dentingan yang berada diluar kamar. Ia merintih begitu kegelapan menyertai penglihatannya begitu bangun. Karina langsung terduduk. Ia menyentuh kening lalu meringis pelan

“sepertinya aku tidur terlalu lama” gumamnya

Karina menutup gordeng dan menyalakan lampu kamarnya. Seketika ruangan itu menjadi terang benderang. Ia langsung mengambil kain lap untuk membersihkan kekacauan yang ia buat tadi sore. Selepas selesai, perempuan itu baru membasuh diri mengingat tadi sore ia merendam tanpa mengeringkan tubuhnya sama sekali.

“akhirnya selesai juga”

Dengan gontai, Karina keluar bilik ruangan dan menghampiri dapur. Belum sampai, Karina bisa merasakan seseorang menarik dan mencengkeram kuat lengannya. Kini tak ada tangisan lagi, perempuan penuh luka itu hanya memandang seraya tersenyum.

“kenapa lagi nyonya? Saya ada salah? Atau nyonya hanya membutuhkan pelampiasan amarah” sarkasnya

Lina menamjamkan pandangan semakin kuat memutar lengan Karina, “untuk apa tadi sore kamu keluar bersama Farel!”

“aku nggak sengaja ketemu dengan calonnya ka Cherin, lagi pula dia sendiri yang menghampiri Karina. Terus Karina bisa apa kalau gitu?” ucapnya balik

“ada apa lagi ini?” Reno datang dari arah ruang tamu, wajahnya sirat akan keingintahuan walau tak menutup kemungkinan ia sudah memandang penuh amarah pada Karina meskipun belum tahu kesalahan anak bungsunya itu

“dia mulai sudah berani sama kita, dad. Masa anak sialan ini mulai balas perkataan aku, dan oh iya tadi sore dia kedapatan jalan bareng dengan calon Cherin. Sangat kurang ajar kan?” adu Lina dengan nada kesalnya

“memang nggak bisa dikasih ampun ini anak. Dikeraskan malah ngelunjak, didiamkan malah semakin menjadi. Nggak ada bagusnya jadi seorang anak” marah Reno

“anak? Sejak kapan kalian anggap aku anak? Bukannya aku cuman anak seorang pembantu yang menumpang hidup sama tuan dan nyonya besar?” nada bicara Karina mulai melemah, “apakah Karina cuman dianggap anak saat melakukan kesalahan seperti ini?”

Bukan sadar, Reno malah semakin menahan amarah melihat tingkah Karina yang menjadi. Ia menarik rambut Karina dan menyeretnya keluar rumah. Perempuan ringkih itu hanya bisa meringis dan menahan rambutnya yang ditarik sangat kencang.

Tidak ada tangisan, Karina membiarkan tubuhnya terseret keluar rumah bahkan terseret diatas rerumputan yang dipenuhi kerikil kecil. Tak ada kata ampun yang ada hanya keberingasan Reno dan Lina yang mengikuti dengan tawa puasnya.

Reno melempar tubuh ringkih itu digudang belakang mansion. Karini terhuyung, terjatuh ketas kasur seraya terus menyentuh ubun-ubunnya yang kian tersayat.

“mulai detik ini kamu tinggal disini. Jangan cari-cari kami lagi ataupun Cherin bahkan mencoba mendekati Farel” perintah Reno penuh amarah

“datang kerumah kami hanya saat membersihkan rumah selepas itu kamu tetap disini. Tanpa makanan dan uang sama sekali. Biar kami beri pelajaran, karena jika dibiarkan kamu terus melunjak”

Hanya suara dentuman pintu kayu terdengar. Perempuan itu tetap terdiam dengan senyumannya, lengan lemanhnya mulai memukuli dadanya. Semakin sakit maka akan semakin tersenyum bahagaia.

“pelajaran? Setiap hari aku selalu mendapatkannya dari kalian” lirihnya

Bab 11

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_601
  4. Day 12 

 

12 Desember, tepatnya hari ini perempuan dengan nama Karina itu dilahirkan didunia. Seorang anak yang tidak pernah direncanakan kedatangannya oleh Lina dan Reno. Anak yang seharusnya tidak didatangkan kedunia ini. Seorang anak yang membuat semua orang marah saat mengetahui keberadaannya.

Tetapi Tuhan memilih kehendak lain, ia ingin seorang Karina ada didunia ini dan menyaksikan betapa indahnya dunia yang Tuhan ciptakan. Seorang hamba yang Tuhan harapkan akan senantia bersujud, bertasbih, walaupun Tuhan berikan cobaan berulang kali.

Dan disinilah Karina berada,

Di malam yang mencekam, setelah membersihkan semua kekacauan dimension karena ulah Cherin lantaran menolak perjodohan ini seorang Karina memilih duduk dipintu belakang halaman mansion. Pintu ini menghadap langsung hutan pinus, jarang ada yang membuka pintu karena kesan angker yang selalu terlihat.

Karina terduduk dengan tangan menopang kue ulang tahun kecil dengan satu lilin yang menyala. Ia tersenyum sumringah. Netranya mengerjap sejak tadi, tiap tahunnya Karina akan mengulang hal ini sekali lagi. Demi berharap ulang tahun besoknya akan ada keajaiban datang yang membuat semua orang merayakan ulang tahunhnya yang tidak pernah dirayakan sejak kecil itu.

Happy birthday too me

Happy birthday too me…

Happy birthday… happy birthday…

Happy birthday too me

Karina bertepuk tangan riuh seakan banyak orang yang menyanyikan lagu ulang tahun. Ia menaruh kue dan menggenggam erat kedua lengannya sembari memejamkan mata penu khidmat. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengucapkan keinginannya untuk tahun ini,

‘aku harap tahun depan akan merayakan ulang tahun bersama kedua orang tuaku. Selain itu, aku ingin mommy, daddy dan ka Cherin sayang kepadaku. Oh iya, aku juga ingin merasakan keluarga yang utuh’

Dengan perlahan Karina membuka kelopak mata yang mulai basah lantaran sedih karena harapannya selalu sama tiap tahun tetapi sampai saat ini harapan tersebut belum terkabul juga, kemudian ia meniup lilin dengan perlahan. Ia kembali menyunggingkan senyuman sebelum ada yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dari belakang tubuhnya.

Selamat ulang tahun….

Selamat ulang tahun…

Selamat ulang tahun  karina cantik…

Selamat ulang tahun

Karina segera menoleh dan menutup mulut saat Farel mendekat serta menyanyi dengan nada asalnya. Farel mengusap surai rambut Karina sebelum duduk disamping Karina, jadinya mereka berhimpitan dipagar kecil itu.

“gue cariin juga, eh ternyata lagi menyendiri disini dan--- selamat ulang tahun. Maaf gue nggak tau kalau lu ulang tahun, kalau tahu seenggaknya gue akan bawa hadiah buat perempuan sebaik dan secantik lu” ucap Farel penuh sesal

“apaan sih” Karina mengalihkan diri dengan memotong kue dan memberikannya pada Farel. Farel berterima kasih sambil menerima kue tersebut. Farel melontarkan pujian untuk perempuan disampingnya sebelum ia kembali mengucapkan selamat kepadanya

“selamat ulang tahun Karina sekali lagi, kadonya menyusul ya” papar Farel pebuh sesal. Andai saja dia tahu ulang tahun Karina sejak lama. Mungkin detik ini ia sedang memberi kado yang akan membuat Karina menyunggingkan senyuman diwajah cantiknya

“makasih ka Farel” sahut Karina disertai senyuman kecil, “kehadiran ka Farel juga sudah cukup disini. Lagian Karina nggak perlu kado, cuman perlu ada yang menemani saja agar tidak kesepian lagi”

Farel mengangguk paham. Tidak perduli perkataan Karina, sepulang dari mansion ini ia akan langsung mencari kado yang cocok untuk Karina. Setelah berjanji dengan dirinya sendir, Farel segera menikmati kue dalam diam.

“Karina, gue tahu satu rahasia yang lu punya” ucap Farel tiba-tiba

Karina menoleh kaget. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang, seperti ada hal penting yang Farel tahu dan itu menyangkut kehidupan Karina selanjutnya. Ia menatap Farel lekat-lekat dan berdo’a dalam hati agar rahasia yang dimaksud Farel bukan tentang itu. “apa?!” tanyanya pelan

“lu anak dari keluarga ini kan?” Farel menggeleng, “bukan-bukan, maksud gue lu adik kandung dari calon istri gue kan?”. Detik itu juga Karina diserang terkejutan yang luar biasa. Tubuhnya kaku dan ia hanya bisa memandang Farel dengan takut sambil menggigit bawah bibirnya

Bab 12

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_475
  4. Day 13

 

“nyonya” desis Karina ditengah-tengah kegiatannya mengelap meja makan. Sejak tadi perempuan itu memutar otak untuk mencari tahu saat bertanya pada mommy nya tapi tidak menimbulkan amarah diakhirnya. Ia hanya takut pertanyaannya mengundang kekesalan dan berakhir ia dipukuli kembali. Lukanya waktu itu saja masih berbekas.

Lina menaikkan kacamata dan balik menatap Karina dengan penuh tanda tanya. Ada raut khawatir yang terlihat saat mengetahui Karina sangat pucat. Ingin bertanya tapi rasa gengsi melingkupi dirinya. Sebenarnya bukan raut khawatir hanya raut heran, tumben sang anak bungsu memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.

“saya boleh bertanya?” tanya Karina dengan formal yang dijawab dehaman oleh Lina

Karina mengerang. Ia masih pusing memikirkan kejadian kemarin. Pertanyan yang dilontarkan Farel masih sangat mengganggunya hingga saat ini. Padahal Karina ingat, ia sama sekali tidak pernah bilang atau memperlihatkan kepada siapapun. Tetapi kenapa laki-laki itu bisa tahu? Karina juga tidak pernah memberikan clue apapun tentang keaslian dirinya.

“gimana kalau ada yang tahu kalau Karina anak mommy, ehm maksudnya anak nyonya?” tanya Karina dengan hati-hati. Jantungnya langsung berdegup dengan kencang seakan Karina bertanya pada presiden yang harus berhati-hati dalam penggunaan tutur katanya

Lina masih tenang dan kembali menyeruput secangkir tah hangat. Pertanyaan Karina seperti dianggap angin lalu oleh Lina. Walaupun didalam hati Lina dibuat tanda tanya dengan ucapan anak bungsunya.

“nyonya” panggil Karina lagi

Lina menoleh, sorot mata perempuan yang melahirkannya itu langsung berubah begitu ia menoleh. Ada rasa sungkan terlihat dimatanya yang Karina tangkap. “memangnya ada yang tahu? Saya harap nggak ada yang tahu karena tuan-mu bisa memarahami habis-habisan jika ada yang tahu perihal ini”

Jawaban yang membuat Karina semakin cemas, “walaupun rahasia ini bukan Karina yang kasih tahu?” sungguh Karina sangat dibuat takut saat ini. Ia merutuki kembali, seharusnya ia tidak bertanya pada Lina sama sekali..

Lina bangkit dan mengangkat bahunya, “saya harap tidak ada yang tahu kalau kamu anak bungsu dari keluarga ini kalau kamu tidak mau terkena amukan daddy-mu” ucapnya kemudian melenggang meninggalkan Karina dengan kesendirian

Daddyku? Bolehkah aku berharap seperti itu selamanya. Bukan sang tuan rumah, tetapi daddy yang berperan dalam melindungi semua putrinya?

Karina melirik foto keluarga dimana hanya ada orang tua dan Cherin didalamnya. Lagi-lagi ia tersenyum miris, melihat senyuman Reno di foto yang sekan berubah seperti seringai tajam. Karina takut, sangat takut.

Seringai yang tercipta saat Reno sedang menghabisinya. Karina sudah bisa merasakan itu semua, bahkan seakan Karina sudah bisa merasakan pukulan dan cacian yang dilayangkan Reno nanti jika Farel sampai memberi tahu keluarganya.

“kenapa? Kenapa aku bisa takut sama daddy aku sendiri? Apa aku nggak bisa hidup normal seperti anak lainnya yang selalu menatap bahagia daddynya, bukan menatap ketakutan seperti yang aku rasakan”

Tidak ingin sedih berlarut, Mentari mengambil lap dan kembali membersihkan meja makan seraya bersenandung ria. Seakan tidak ada masalah yang dimiliki. Sesekali ia tersenyum meyakinkan, berharap Reno tidak tahu masalah ini dan bersikap seperti biasanya saja.

Masalahnya, Karina tidak ingin menambah luka lagi ditubuhnya.

Bab 13

0 0

a. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
b. Kelompok7_RenjanaAksara
c. Jumlah Kata_462
d. Day 14

 

“Kami berdua menolak perjodohan ini”

Karina hampir menjatuhkan nampan begitu suara Farel menghujam pendengarannya. Ia melirik arah ruang tamu yang tampak suram. Setelah ucapan Farel menggema, suasana ruang tamu terasa lebih mencekam. Hanya terdengar dentingan pisau yang berasal dari perbuatan Karina.

“anak anda sangat mempermalukan keluarga saya. Kurang apa Cherin sampai kamu menolak dijodohkan dengannya” desak Reno

“kenapa hanya saya saja yang dimarahin?” sarkas Farel, “yang menolak pertama kali tentu saja Cherin dan saya hanya mengikuti kemauannya. Seharusnya anda tanya anak perempuan anda, kenapa dia menolak perjodohan ini?” Cherin langsung menoleh dan menatap kesal pada Farel, walaupun langsung ketar ketir saat mendengar dehaman Reno

“Cherin?”

Amukan Reno tidak pernah Cherin sangka sama sekali. Sedari kecil kasih sayang selalu dicurahkan untuknya, maka dari itu hanya dengan tatapan Reno saja Cherin merasa ketakutan bukan main.

“maaf dad” jawab Cherin dengan cepat

“daddy nggak terima penolakan, pokoknya kamu harus tetap nikah dengan Farel. Dengan kalian menikah maka akan memperbesar kedua perusahaan” jelas Reno hingga kedua orang tua Farel mengangguk setuju

“segala hal yang dipaksa pasti halnya nggak baik. Kalian tetap jalanin kerja sama ini, tapi jangan korbankan kami sebagai anak. Pernikahan itu hal sakral yang dilakukan satu kali seumur hidup, saya nggak mau karena keterpaksaan ini pernikahan kami jadi gagal dipertengahan jalan” papar Farel dengan sedikit tekanan

Sementara kedua orang tua Farel memilih diam, mereka tidak seperti keluarga Cherin yang mengekang anak demi kebahagiaan mereka sendiri. Jika Farel menerima, mungkin mereka akan bahagia karena perusahaan nya akan lebih maju. Tetapi jika menolak juga mereka tidak masalah, karena perusahaan mereka sudah besar jadi tidak terlalu membutuhkan bantuan dari perusahaan lain.

“lama-lama juga kalian akan saling mencintai” tambah Lina menengahi

“saya sudah memiliki perempuan yang saya cintai” ucap Farel tiba-tiba membuat kedua orang tua Cherin terbelalak

“seumur hidup ini pertama kalinya saya dipermalukan. Saya nggak mau tahu, kalian harus tetap nikah mau bagaimanapun kelanjutannya. Seorang anak dilahirkan itu hanya untuk membantu kedua orang tuanya, ya seperti saat ini terjadi”

“apa nggak kasihan? Kalau Farel menolak saya nggak akan melanjuti perjodohan ini”  sela Farhan –ayah farel- yang merasa kasihan dengan nasib anaknya jika perjodohan ini tetap berlanjut

“kita sudah berjanji dari awal” protes Reno

“saya kira Farel akan menerimanya, tapi jika ia menolak sampai protes seperti ini saya juga nggak akan mau melanjuti perjodohan konyol ini. Saya tidak ingin merelakan kebahagiaan Farel demi keuntungan sendiri” papar Farhan menohok jantung Reno

“kalau om ingin saya tetap menikahi anak om. Saya ada usul untuk tetap menjalani perjodohan ini kedepannya” Cherin menyenggol Farel seakan memprotes ucapan yang tidak pernah mereka bicarakan sebelumnya

“maksud kamu?” tanya Lina

“tapi bukan dengan Cherin. Saya ingin menikahi putri om yang satu lagi”

Ucapan Farel mengejutkan ketiga orang yang kini saling menoleh dan meneguk saliva. Seakan tahu perkataan Farel selanjutnya yang menjadi penentuan hidup mereka kedepannya.

Bab 14

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_458
  4. Day 15

 

Reno berkutat dibalik laptop dengan sirat penuh amarah yang kian meradang. Sesekali laptop itu menjadi pelampiasan amukannya dengan ditekan keyboard sekencang mungkin. Urat dikepala-nya sangat terlihat menandakan laki-laki paruh baya itu sedang menahan amarah yang begitu dalam.

Arghhh….. “tapi bukan dengan Cherin, saya ingin menikahi putri om yang satu lagi”

Perkataan Farel seakan bersarang dibenaknya dan terus mengalun indah di indra pendengaran. Gendang telinga laki-laki paruh baya itu terasa ingin pecah. Ditambah rasa ingin tahunya yang kian melebar lantaran setelah Farel mengucapkan kalimat sakral itu, Farel memilih langsung pergi bersama kedua orang tuanya tanpa menjelaskan maksud dari perkataanya.

“kamu masih memikirkan perkataannya?” Lina datang dan menyodorkan secangkir kopi

“maksud dia Karina bukan?” tanyanya pelan, “bisa hancur reputasi kita kalau keluarga mereka sampai tahu yang sebenarnya tentang Karina.”

Bagaikan ada ‘bohlam’ di benak Lina, ia langsung membisikkan sesuatu kepada Reno hingga memunculkan senyuman licik diwajah Reno. Keduanya tertawa, merasa lega ketika masalah ini bisa terpecahkan juga tanpa harus sulit-sulit membujuk Farel.

Hari demi hari berlalu, akhir pekan pun tiba. Saatnya orang tua Karina menjalankan usulan Lina yang mungkin saja akan menyakiti Karina. Tapi mereka tidak perduli, reputasi mereka lebih utama. Karina tak lain hanyalah asset yang nggak penting, namun reputasi bagi Reno dan Lina sudah seperti kehidupan mereka sendiri. Tidak ada yang bisa mengalahkan reputasi yang sudah mereka buat sejak mereka mencuat di dunia entertainment.

Ratusan bahkan ribuan respon positif mereka dapatkan begitu Lina mengumumkan usulan itu. Betapa bahagianya Reno, dengan begitu ia berharap jika Farel mengungkapkan ke dunia maya maka akan tertutupi berita hari ini.

Untuk hari ini Reno dan Lina bisa tenang.

Tanpa tahu ada seorang anak yang sejak tadi menonton dengan berlinang air mata. Seorang anak yang sudah berjanji untuk tidak menangis lagi kini melanggar janji dan menumpahkan kembali air mata seraya bersimpuh diantara dua sujud.

Memohon ampun kepada yang maha kuasa dan mengadukannya kepada buku diary tercinta.

 

02 Maret 2020

Hai kita bertemu lagi, setelah sekian lama aku melupakan kamu

Oh iya, hari ini Karina mendapat kabar yang benar-benar buruk loh. Saat membersihkan rumah, Karina gak sengaja lihat mommy di tv. Mommy sangat cantik, persis seperti ka Cherin. Disitu, Mommy lagi diwawancara dan ada yang menanyakan keberadaan Karina.

Karina sangat senang dong, setidaknya masih ada yang inget sama Karina. Tapi- Mommy bicara kalau Karina udah meninggal karena penyakit Jantung dan tidak pernah mempublikasikan lantaran kasihan dengan mendiang anaknya.

Kenapa Mommy bicara seperti itu? Apa mommy benar-benar gak sayang sama Karina sampai mendo’akan Karina meninggal. Sebenarnya aku itu apa dimata mommy?

 

Bolpoin yang digunakan Karina terjatuh begitu saja. Perempuan itu menangis, tidak sanggup sekedar melanjutkan kata-kata terakhir. Tubuhnya bergetar. Orang tua yang seharusnya berperan sebagai pelindung anak, nyatanya adalah orang yang malah menorehkan luka pada hati anaknya.

“Apa Karina harus meninggal dulu, baru kalian akan bahagia?”

Bab 15

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_628
  4. Day 16

 

Kebahagiaan di lingkup mansion Reno tinggalah kebahagiaan semata. Kebahagiaan semu, yang tidak akan bertahan lama. Kebahagiaan yang mulai tergantikan dengan raungan histeris Lina dan teriakan pasrah Reno. Semuanya berubah begitu headline utama menampilkan sesuatu yang tidak pernah mereka harapkan,

‘anak bungsu dari pasangan Reno dan Lina, hanya isu semata?’

‘Diduga sering melakukan penganiayaan pada anak bungsunya pasangan R dan L diringkus polisi?’

Masih banyak berita lainnya lagi dan semua isu yang beredar sangat memojokan keluarga Reno. Bahkan saham perusahaan langsung merosot tajam karena isu ini diperuntungkan oleh musuh-musuh Reno dan langsung meluncurkan serangan untuk menjatuhkan usaha Reno.

Tidak hanya itu, belasan wartawan sudah berada didepan mansion sejak terbitnya isu. Tidak ada yang berani keluar tak terkecuali Cherin. Hanya beberapa satpam yang berusaha membubarkan kerumunan wartawan. Tapi yang namanya mereka sedang bertugas, mereka tetap berteguh pendirian sambil mengarahkan kamera kemansion Reno.

“siapa yang ngeluarin isu ini?” pekik Reno

Lina hanya menggeleng frustasi. Perempuan itu mundar mandir didalam kamar sambil menghisap ujung jarinya, merasa gugup.

“hancur sudah karir yang mommy bangun selama ini” keluh Lina pada Reno

Brugh… pintu kamar terbuka lebar menampilkan Cherin dengan linangan air mata, “mommy… daddy… semuanya hina keluarga kita. Teman-teman Cherin juga ikutan, mereka bilang keluarga kita nggak punya hati” adunya sambil menangis

“jangan hiarukan mereka nak. Mereka semua nggak tahu yang sebenarnya”

“tapi mereka memang benar kan?! Kita selalu memperlakukan Karina layaknya seorang pelayan, bahkan mommy nggak segan-segan ngomong Karina sudah meninggal di media massa” sahut Cherin, “lagian untuk apa mommy bilang gitu sih?”

“kenapa kamu jadi salahin mommy?”

Reno yang pusing mendengar perkelahian anak dan juga istrinya memilih keluar kamar. Ia ingin mendatangi seseorang yang menjadi sumber masalah. Seperti biasa jika hatinya sedang gundah gulana maka anak bungsunya yang akan menjadi tempat pelampiasan hingga Reno merasa tenang. Apalagi masalah ini mencuat dengan topik utama ‘Karina’, makin semangatlah Reno menghabisi Karina.

Reno menyelinap lewat pintu belakang agar para wartawan tidak ada yang bisa menangkap keberadaannya. Begitu pintu dibuka, Reno langsung bisa melihat keberadaan Karina yang sedang menyuap makanan sambil menatap asrinya halaman rumah dengan nikmat.

Karina berjengit kaget hingga terkejut bukan main saat piring yang dipegangnya dihempas kasar oleh laki-laki yang notabene adalah daddy-nya. Suara degub jantung yang bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya menandakan perempuan itu sangat ketakutan. Apalagi melihat tatapan nyalang Reno yang seakan menguliti Karina dalam-dalam.

“daddy… ada apa?” tanya nya dengan parau

Karina bersumpah semenjak mendengar berita yang Lina lontarkan mengenai dirinya yang sudah meninggal, ia tidak pernah mencari gara-gara dengan keluarganya. Sebisa mungkin Karina menciptakan jarak diantara mereka. Bahkan setelah melakukan tugas di mansion, Karina buru-buru kembali ketempat tinggalnya yaitu gudang.

“ADA APA?!  Kamu masih mempertanyakan setelah dunia diluar menyidang kami hanya karena dirimu seorang!”

Sungguh Karina tidak mengerti masalah yang terjadi. Terakhir yang ia dengar hanya tentang kabar pilu dirinya. Selebihnya ia tidak mau berurusan dengan internet atau televisi untuk menghindari sakit hati yang kian terasa.

“aku nggak tahu apa-apa tuan” ucap Karina dengan suara gemetar

Reno mengangkat tangan dan menarik kuat-kuat rambut Karina. Karina berteriak histeris meminta tolong kepada siapapun yang melihat, “maaf tuan, maafin kalau Karina ada salah”

“nggak ada ampun buat anak nyusahin kayak kamu. Dasar anak nggak berguna, nggak tahu diri, bisanya nyusahin orang tua aja. Saya malu punya anak kayak kamu” Reno semakin kencang menarik. Laki-laki itu nggak berfikir kalau orang yang sedang ia siksa itu perempuan dan merupakan anaknya sendiri

“Karina juga nggak minta dilahirin dari keluarga ini. Keluarga toxic yang hanya bisa buat Karina nangis” sentak Karina membuat Reno semakin kencang menarik rambut disusul pelintiran dilengan Karina, “arghh… ampun tuan… sakit….”

Reno semakin tertawa puas mendengar suara Karina yang semakin lirih disertai ringisan kesakitan. Tanpa laki-laki itu tahu sejak tadi ada drone yang merekam perbuatan bejatnya yang siap untuk diluncurkan ke televisi. Semakin siap menghancurkan karir Reno dan Lina kedepannya.

Bab 16

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_499
  4. Day 17

 

Hancur sudah. Kejayaan Reno dan Lina sudah berada diambang batas, nggak ada yang bisa menyelamati mereka lagi. Walaupun itu pengecara terkenal sekalipun. Perbuatan mereka sudah sangat keterlaluan menurut orang awam pun.

Fatalnya, penayangan Reno yang sedang menyiksa Karina sudah tertonton lebih dari satu juta penayangan di you*ube. Bahkan komisi perlindungan anak sudah turun tangan, tapi pihak Reno sama sekali belum merespon membuat komisi pelindungan anak sulit untuk menyelidiki lebih lanjut perihal masalah ini.

Sejak tadi pagi Karina hanya bisa melihat kedua orang tua dan Cherin terduduk di depan televisi yang terus menayangkan berita keburukan mereka. Karena masalah ini mulai terkuak, banyak orang yang dulunya merasa dirugikan mulai mencuat dan bilang ke media hingga semakin banyak bullyan yang keluarganya terima.

“tuan… nyonya… saya harus melakukan apa agar kalian bisa kembali seperti biasanya?” tanya Karina setelah berfikir beberapa saat

Reno menelungkup wajah serta sesekali mengacak rambutnya frustasi. Karina yang biasa menjadi objek pelampiasan amarahnya seakan sudah nggak berarti. “habis sudah… nggak ada yang bisa dipertahanin selain rumah ini. Karir hancur, perusahaan habis tak tersisa, nggak ada yang bisa diselamatin lagi.”

“jadi gimana dong! Cherin nggak mau hidup susah kedepannya.” seru Cherin secara gambling

“mommy juga… bayangan hidup susah sama sekali nggak pernah mommy fikirin.”

Reno yang sejak tadi diam kini mulai mengangkat wajah dan memukul meja dengan kencang. Perlakuan nya membuat mereka terdiam, “kalian nggak tahu daddy lagi pusing mikirin semuanya. Omongan kalian cuman bisa bikin daddy tambah pisang. Apa kalian nggak bisa diem kayak Karina gitu!”

Bolehkan Karina merasa senang sekarang juga? Ia merasa dibela oleh Reno. Diam-diam wajahnya tersungging senyuman. Sungguh kali ini Karina sangat senang walaupun hanya mendengar ucapan singkat Reno.

“kenapa daddy malah bela anak nggak tahu diri itu! Semua ini terjadi juga karena dia. Jangan-jangan dibelakang kita dia sendiri yang sudah diam-diam bilang ke media tentang perilaku buruk kita?” tuduh Cherin

Wajah Reno memerah. Wajah marahnya seakan tak bisa terelakkan lagi. Pusing dan rasa amarahnya kian meningkat jika terus diungkit-ungkit seperti ini, “kalian bisa diam tidak. Kalau hanya bisa menambah pusing lebih baik kalian masuk kekamar masing-masing” titah Reno penuh pendirian

Lina dan Cherin langsung bangkit dan menyoraki Reno. Kedua perempuan yang seharusnya mensupport itu malah menunjukkan seringai aslinya. Nyatanya kekayaan yang menyorot tajam membuat mereka tidak bisa diam dan turut menyalahkan Reno.

“kalau daddy nggak bisa kembaliin karir mommy seperti biasanya, lebih baik kita cerai! Dan jika perusahaan daddy nggak kembali lagi, mommy nggak akan fikir lebih lanjut. Kita akan cerai saat itu juga!” papar Lina sebelum melenggang pergi dengan keangkuhannya

“dan Cherin akan ikut mommy dibanding sama daddy dan perempuan itu yang nggak berguna sama sekali.” Cherin mengejar Lina sebelum memeletkan lidah pada Karina

Tinggalah Karina dengan Reno berdua. Di bawah lampu temaram, Karina berusaha meraih lengan Reno yang tampak lunglai. Tidak seperti biasanya yang akan menepis, kali ini Reno memilih diam saja dan membiarkan tubuhnya digenggam Karina.

“maafkan Karina yang nggak bisa apa-apa dad. Tapi, Karina akan cari gimanapun caranya agar kehidupan kita kembali seperti sedia kala. Walaupun sulit” tekadnya dengan sangat kuat

Bab 17

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_541
  4. Day 18

 

Atas kasus penganiayaan yang telah dilakukan kedua orang tua Karina, maka hakim memutuskan untuk melayangkan denda dengan jumlah tidak sedikit. Dengan terpaksa Reno membayar dari hasil lelang perusahaannya demi tidak dipenjara. Jadi, kini tinggal harta rumah yang tersisa bagi laki-laki paruh baya itu. Sekarang Reno meneyesal karena sejak dulu tidak pernah memiliki sebidang tanah maupun villa untuk harta bendanya yang ia simpan. Reno kira kehidupannya akan terus lancar hingga nanti masa tua.

“bisa-bisanya kamu jual perusahaan demi membayar denda nggak berguna itu” omel Lina

Semenjak karirnya hancur, seorang Lina yang tidak bisa bebas keluar mansion menjadikan perempuan itu memunculkan sikap marah-marahnya kepada orang dirumah Tidak hanya Karina yang terkena omelan, bahkan Reno selalu mendapat omelan perempuan itu. Karena Lina menganggap kemiskinan tiba-tiba ini penyebab Reno. Terkecuali untuk Cherin yang tidak pernah dimarahi Lina.

“perusahaan hancur… uang nggak ada… karir hancur… sudah cukup saya hidup melarat seperti ini! Saya menikahimu untuk mendapat hidup yang lebih baik bukan malah merasa susah seperti ini” pekik Lina tidak terima, “kalau mau hidup susah jangan ajak-ajak saya dengan anak saya.” marahnya

“pergi saja kalian kalau dirumah juga cuman bikin masalah.” marah Reno akhirnya, laki-laki itu bahkan menunjuk pintu mansion mengisyaratkan agar istrinya pergi saja

Lina membanting segala benda yang ada didepannya. Selepas melampiaskan amarah, perempuan itu mentitah Cherin agar merapihkan semua pakaian. Tidak berapa lama Lina dan Cherin turun sambil membawa tas besar dan koper dikedua lengannya. Dihiraukannya Karina yang sudah menangis histeris,

”jangan pergi mom… kalau mommy pergi siapa yang temenin Karina,” histeris Karina. Sejahat apapun Lina, perempuan itu tetap orang yang melahirkan Karina dan Karina sangat menyayangi Lina seburuk apapun perilaku mommy-nya itu

“kau tinggal saja dengan daddy nggak bergunamu itu. Sangat cocok kalian berdua. Sama-sama nggak berguna.” ejek Lina

“mommy…. Karina juga anak mommy,” Karina terjatuh begitu Lina mendorongnya tanpa belas kasihan. Kedua orang berbeda usia sudah berada didepan pintu mansion seakan siap-siap untuk meninggalkan kenangan yang ada

“daddy nggak akan nyesel biarin mommy sama Cherin pergi?” tanya Cherin lagi

Dengan tegas Reno menggeleng. Laki-laki paruh baya itu sudah berbalik tidak mau menatap kepergian istri dan anaknya. Ego nya yang berada diubun-ubun seakan mengatakan pilihan ia sudah benar. Walaupun ada kesedihan yang terselip tetap saja direlung hatinya ia membenci dihina seperti itu. Bahkan dihina oleh istri dan anak sendiri. Ia akan buktikan kepada mereka, kalau ia masih sanggup berdiri berdua dengan anak bungsunya tanpa kehadiran mereka sekalipun.

Anak bungsu? Bolehkah Reno masih menganggap seperti itu setelah perlakuan yang ia perbuat selama ini. Diam-diam Reno melirik Karina yang sudah menangis melihat kepergian Lina dan juga Cherin. Ada rasa nggak tega yang terselip, namun ingin mengeluarkan sepatah katapun Reno sangat sungkan.

“daddy…. Tahan mereka, jangan biarin mommy sama ka Cherin pergi tinggalin kita berdua.” rengek Karina sambil menatap Reno dan Lina bergantian

“daddy… Karina mohon, jangan biarin mereka pergi. Karina masih butuh kehadiran mommy sama ka Cherin dirumah ini.” pekik Karina dengan suara parau

Reno melirik, melihat Lina dan Cherin sudah memasuki taxi dan berlalu begitu saja tanpa menoleh sekalipun. Kini ia melihat Karina yang sudah terduduk, seperti tidak ada harapan begitu taxi yang membawa Lina dan Cherin membawanya pergi. Hati Reno tergerak. Ia menghampiri Karina dan memeluk erat-erat anak bungsunya.

“nggak papa sayang, nggak papa… kita masih bisa hidup berdua tanpa mereka.” Suaranya melembut.

Bab 18

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_548
  4. Day 19

 

Disinilah Reno dan Karina berakhir, disebuah rumah yang tidak terlalu besar namun masih tergolong nyaman untuk ditinggali. Sebuah rumah yang berkali-kali lipat lebih kecil dibanding mansion Reno mungkin jika dibaratkan dua ruangan dalam mansion mendapatkan sebesar rumah yang kini ditempati oleh mereka berdua.

Beberapa jam lalu, seorang tuan muda datang ke mansion Reno dan mulai mengobrak-abrik mansion. Beberapa barang berharga mulai dilempar tanpa tahu uang yang akan didapat jika menjual barang itu.

Awalnya Reno merasa tidak terima. Tapi saat mendengar penuturan sang tuan muda tersebut, mau nggak mau Reno mengalah dan memilih membawa beberapa pakaian dan pakaian milik Karina selepas itu memilih melipir kedepan mansion. Ya, mereka memilih meninggalkan mansion yang ternyata sudah dijual oleh Lina dan juga Cherin. Penjualan yang tidak diketahui Reno itu membuat laki-laki paruh baya itu merasa direpotkan karena harus mencari rumah baru tanpa mendapat hasil dari terjualnya mansion sedikitpun.

“maaf ya dad, Karina cuman ada uang segini dan hanya rumah ini yang Karina masih sanggup untuk membayar uang sewanya” tutur Karina sambil menyadarkan Reno yang melamun

“nggak papa nak. Maaf daddy malah merepotkanmu”

Terkadang Karina bersyukur karena terjadinya peristiwa naas ini membuat ayahnya –Reno- sedikit berubah. Lihat saja saat ini Reno lebih memilih diam dan menerima apa yang terjadi ketimbang marah-marah dengan keadaan yang tiba-tiba berubah ini.

“nggak ko dad, Karina nggak merasa direpotkan sama sekali. Karina malah senang, karena masih bisa bantu-bantu daddy walaupun sedikit. Karina juga minta maaf karena nggak bisa menyelamatkan mansion. Padahal Karina tahu daddy sangat suka mansion yang daddy bangun dengan susah payah itu” paparnya

Reno membawa Karina kepelukannya, “makasih banyak nak… makasih karena mau bertahan di samping ayah hingga saat ini. Makasih karena nggak pernah ungkit kesalahan ayah selama ini dan maafkan sikap ayah selama ini yang selalu menyiksa kamu. Oh iya, lebih baik sekarang panggil 'ayah' saja ketimbang 'daddy' karena 'daddy' terdengar aneh mengingat kondisi kita kayak begini" ucapnya dengan penuh penyesalan

Karina menggeleng lalu memeluk erat Reno. Hal yang sangat ia lakukan sejak dulu, “ayah? ayah… akhirnya Karina bisa meluk ayah” sahutnya menghiraukan permintaan maaf Reno

Reno semakin merasa bersalah dibuatnya. Ia membawa Karina untuk menatap netranya, “mulai besok kehidupan kita akan berubah. Jangan takut, ayah akan tetap membiayai kamu gimanapun caranya. Mulai besok ayah akan cari kerja sesegera mungkin”

Karina mengerjap lucu, “ayah nggak boleh cape-cape. Biar Karina saja yang cari kerja. Ayah duduk manis saja” titahnya dengan lucu, “lagipula Karina punya sedikit tabungan. Jadi, walaupun ayah nggak kerja satu bulan kedepan kita masih bisa hidup enak”

Reno menggeleng tegas, “tugas seorang ayah itu menafkahi keluarganya. Jadi selama ayah masih bisa berdiri dan masih sehat, ayah akan berusaha keras segiat mungkin. Dan uang kamu lebih baik disimpan untuk keperluan yang lebih baik atau kalau kamu mau kuliah ayah akan persilahkan”

“Karina memang ingin kuliah, tapi bekerja berdua sama ayah terdengar jauh lebih membahagiakan. Jadi, daripada bekerja susah-susah bagaimana kalau kita membuka usaha bersama?” 

“usaha? Usaha seperti apa?”

“Karina punya usah arajut. Nanti kita buka toko offline-nya, nanti ayah yang bantu Karina kalau ada pembelian secara online” perjelas Karina hingga Reno mangut-mangut kecil

Sungguh Reno sangat bangga dengan putri bungsu yang selalu diabaikannya itu.

“terserah kamu saja. Kamu urus saja, nanti ayah bantuin sesegera mungkin” Reno tersenyum sendu, “makasih nak, makasih banyak. Kedepannya kita berjuang bersama ya” Sahut Reno

Karina mengangguk cepat, “kita berjuang bersama!”

Bab 19

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_568
  4. Day 20

 

Pagi menyingsing di kediaman Reno dan juga Karina. Rumah kecil berdinding kayu dan beralas semen itu sudah menikmati aktivitas kedua orang yang berbeda usia. Reno yang biasanya menghabiskan waktu pagi dengan bersantai sambil membaca tablet kini memilih membersihkan rumah dari sarang laba-laba yang hinggap disekujur pojok rumah. Sementara Mentari memilih mengeluarkan beberapa bahan rajutan dan mulai menyulam sesuai pesanan yang tertulis.

“tadi orang itu datang, dia nggak mau kasih keterangan ataupun kasih hasil penjualan mansion. Dia hanya datang untuk meminta ayah menandatangani surat sialan itu” sahut reno yang nggak sengaja mengumpat didepan Karina

Karina mengernyit sebelum mengangguk paham. Kata ‘dia’ yang dilontarkan Reno ditujukan kepada orang yang sudah melahirkan Karina yang tak lain adalah Lina. Entah tahu dari mana, kemarin sore Lina dan juga Cherin datang ke kediaman Reno menggunakan mobil mewah. Mereka bilang akan menceraikan Reno kedepannya dan memperingati Reno dan Karina untuk tidak ikut campur urusannya lagi.

Awalnya Karina sedikit takut, takut Reno akan terpengaruh dan kembali memberontak. Tapi perempuan itu harus bersyukur dengan sikap bungkam Reno dan membiarkan istri serta anak sulungnya berceloteh ria. Bahkan Reno menyempat untuk memeluk Karina. Pelukan yang selalu Karina inginkan.

“terus ayah tandatangani?” tanya Karina. Sebagai anak tentu saja Karina nggak menginkan orang tuanya sampai bercerai. Karina masih memiliki harapan kecil agar orang tuanya bisa kembali seperti sedia kala

Reno mengangguk acuh, “ayah langsung tandatangani saat itu juga. Lagipula ayah nggak mau hidup ayah dibayang-bayangi rasa bersalah hanya karena menolek surat perceraian itu. Lagian ayah udah nggak percaya sama mommy kamu itu. Mana ada seorang istri yang memilih pergi disaat suaminya sendiri sedang mengalami kesusahan. Seharusnya seorang istri selalu ada dan siap mendampingi suami bagaimanapun keadaan suaminya”

Karina mengangguk menanggapi omongan Reno. Didalam lubuk hati paling dalam, ada sedikit rasa bersalah pada laki-laki dihadapannya ini karena dulu Karina pernah mengumpat dan mengatai Reno yang tidak-tidak. Bahkan sejak semalam Karina terus berdo’a, mendo’akan agar ucapan asalnya tidak terkabuli oleh tuhan yang maha esa.

“sebenarnya ayah malu sama kamu” ucapan Reno membuat atensi Karina teralihkan. Perempuan itu menatap penuh tanda tanya kepada Reno yang kini menunduk

“ayah malu sama anak ayah sendiri. Dulu tanpa belas kasihan ayah selalu menyiksamu, nggak hanya menyiksa secara fisik tapi batin juga. Ayah nggak pernah memperhatikan kamu layaknya seorang ayah yang baik. Ayah hanya terus menyiksa kamu sampai kamu menangis diam-diam. Tapi apa? Seorang anak yang ayah siksa malah berbalik dan siap mengulurkan tangan pada ayah yang sudah nggak berguna ini”

“kata siapa ayah Karina nggak berguna?” seloroh Karina cepat, “ayah Karina merupakan ayah yang paling berguna bagi Karina. Seorang ayah yang sangat bijaksana hingga Karina selalu kagum kalau memandang ayah. Walaupun dari jauh. Nggak ada yang menandingi ayah Karina walaupun banyak ayah-ayah yang luar biasa diluaran sana. Bagi Karina, ayah Reno yang terbaik”

Reno memandang penuh haru lalu membawa tubuh mungil Karina kepelukannya, “sekali lagi ayah minta maaf yaa… maafin kesalahan ayah yang udah nyia-nyiain anak seberharga kamu” ucapnya dengan sangat tulus

Karina mengangguk, “maafin Karina juga ya… maafin karena belum bisa jadi anak terbaik dan buat ayah bangga sama Karina”

Reno tertawa lalu menggeleng, nggak setuju dengan ucapan Karina. Kemudian mereka saling memeluk kembali. Seorang ayah dan anak yang nggak pernah merasakan kasih sayang berlebih kini mulai terbuai dengan kasih sayang yang dilontarkan. Rasa bahagia melingkupi rumah yang berbanding jauh dengan tempat tinggal mereka dulu.

Tok… tok… tok…

Suara pintu diketuk membuat atensi mereka terpecahkan. Karina langsung bangkit, “biar Karina yang buku pintu dulu” pamitnya

Bab 20

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_581
  4. Day 21

 

Tok… tok… tok…

Suara pintu diketuk membuat atensi mereka terpecahkan. Karina langsung bangkit, “biar Karina yang buku pintu dulu” pamitnya

Karina merapihkan sedikit pakaiannya sebelum membuka pintu yang tampak reot dimakan waktu tersebut. “iya? Dengan siapa ya” ucapnya begitu membuka pintu. Wajah seseorang yang beberapa hari terakhir nggak pernah terlihat kini muncul dihadapan Karina dengan senyuman lebar

“hai… kita bertemu lagi” sapa laki-laki yang tak lain merupakan Farel. Laki-laki yang membuat seorang Karina mengalami mimpi panjang karena menahan rindu dengannya. Ya, nggak dipungkiri hidup Karina yang monoton membuat perempuan itu merasa perbedaan saat didekat laki-laki itu

“ka Farel kemana aja?” tanya Karina dengan senyuman bahagia. Walaupun sedetik kemudian Karina harus buru-buru mengulum senyumannya, tidak ingin Farel melihat kalau dirinya terlihat sangat antusias

“ada beberapa hal yang harus aku urus dan sekarang semuanya udah selesai. Jadi, sekarang kamu tinggal sendiri?” tanya Farel setelah mereka duduk dikursi rotan depan rumah yang disewa Karina. Entah sejak kapan, tapi ini pertama kalinya Karina mendengar Farel dengan sebutan aku—kamu yang sebelumnya selalu manggil gue—lu

“nggak!” Karina menggeleng, “pasti kamu udah dengar kabar itu kan? Aku nggak tahu siapa yang bongkar dan buat keluarga aku hancur. Tapi, nggak papa karena masalah itu aku jadi bisa mennetukan hidup aku kedepannya. Eh… kenapa jadi curhat gini” Karina tertawa diikuti Farel

“jadi, kamu tinggal sendiri?” tanya Farel lagi

“aku tinggal sama ayah” jawab Karina sekenanya membuat Farel menajamkan pandangan dan penuh tanda tanya, “bener! Ka Farel pasti terkejut kan. Nggak bakal nyangka kalau ayah aku bakal netep disamping aku sampai sekarang. Tapi kenyataan nya memang kayak gitu, ayah lebih milih aku dan meninggalkan mommy sama ka Cherin diluaran sana”

Farel mengernyit. Selanjutnya ia menggaruk kepalanya, “tapi bukannya ayah kamu yang paling sering nyiksa kamu? Aku baca-nya gitu disuatu artikel” ucap Farel dengan nada khawatir. Bahkan laki-laki meneliti tubuh Karina jikalau ada yang janggal ia nggak akan segan melapor ke kantor polisi

Pembicaraan mereka terdengar hingga pendengaran laki-laki paruh baya yang kini membawa nampan berisi air putih keluar rumah, “saya sudah berubah nak Farel. Dulu memang perbuatan saya nggak bisa dimaafin begitu saja, tapi mulai detik ini saya janji nggak akan mengulangi kesalahan saya dimasa lalu” ucap Reno tanpa merasa kesal sama sekali. Karena semua ucapan Farel memang benar adanya

Farel dan Karina sontak berdiri. Karina mempersilahkan Reno untuk duduk dan Farel langsung menunduk sopan, merasa nggak enak karena sudah berikir yang tidak-tidak tentang ayah-nya Karina, “maaf om… bukan maksud saya—

Reno tertawa, “sudah nggak apa-apa. Sudah seharusnya saya ditegur seperti tadi supaya sadar”

“eh iya om, maaf” sahut Farel sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal. Untuk mengalihkan kejadian tadi Farel buru-buru mengeluarkan totebag yang ia bawa khusus untuk Karina, “kedatangan saya kesini cuman ingin kasih bingkisan ini”

Karina menerimanya dengan malu-malu, tidak lupa ia langsung mengucapkan terima kasih. Sementara Reno langsung menatap berbeda kepada Farel. Reno juga terlihat nggak suka melihat saat anak bungsunya terlihat malu-malu dihadapan Farel yang sedang menggombal.

“jadi, ini alasana kamu menolak anak sulung saya saat itu? Karena kamu suka dengan anak bungsu saya?” tanya Reno tiba-tiba. Selanjutnya tubuh Reno terkesiap dan menatap Farel nggak suka, “kenapa kamu bisa tahu kalau Karina juga anak saya. Maaf karena sebelumnya waktu itu saya memperkenalkan dia dengan sebutan anak pelayan bukan anak saya”

Farel berdeham. Sepertinya sudah saatnya ia membongkar semuanya, “sebelumnya ada yang ingin Farel bicarakan dengan om” entah kenapa suasana langsung berubah. Karina yang sedang tersenyum juga langsung diam saat merasakan aura berbeda yang dipancarkan kedua orang laki-laki yang berbeda usia itu, ‘ada apa ini?’

Bab 21

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_740
  4. Day 22

 

Reno terus terdiam setelah kepergian Farel. Seakan kepergian Farel membawa juga kesadarannya. Tadi anak laki-laki itu mengaku, bahwasanya ialah yang sudah membocorkan kepada media tentang perilaku keluarga Karina pada Karina. Farel hanya mengatakan ia sangat membenci suatu penindasan dalam hal apapun. Tetapi Farel juga bersumpah kalau bukan dia yang sudah mengambil video diam-diam menggunakan drone. Farel hanya melakukan sebatas pemeberitahuan kemedia kalau berita meninggalnya putri bungsu keluarga Reno hanyalah kebohongan semata dan keluarga Reno juga sudah menyakiti Karina berulang kali.

Hanya sebatas itu nggak lebih.

Diam-diam Karina melirik Reno, menatapnya sedih dan seakan mempertanyakan apakah ayah-nya marah saat mendengar berita ini? Tapi respon yang diberikan Reno seakan laki-laki itu nggak marah. Selepas Farel mengucapkan hal itu, Reno hanya mengucapkan terima kasih dan meminta Farel untuk pulang. Walaupun selanjutnya Reno mempersilahkan Farel untuk datang kembali.

 

“ayah marah sama Karina atau Farel?” Karina mendekat sambil membawa minuman jeruk hangat untuk Reno.

 

Reno menoleh lalu menggeleng. Tidak ada raut kecewa sama sekali yang ada hanya senyuman ditengah raut lelah yang menyergap, “ayah malu” sahutnya tiba-tiba. Laki-laki itu mengadah menatap langit-langit rumah, “anak semuda Farel saja sudah tahu yang benar dan yang salah, bahkan ia juga berani mengeluarkan pendapat saat melihat sesuatu yang ganjil. Tapi ayah? Yang sudah tua malah memperlakukan buruk kepada anaknya sendiri”

Karina duduk sejajar dengan Reno. Dipandangnya lekat-lekat pria yang dulu selalu berlaku buruk padanya. Nggak ada lagi rasa benci yang ada hanya rasa kasihan melihat Reno yang terus kurus dari hari ke hari, “bukannya Karina udah bilang? Lupain masa lalu, masa lalu memang tempatnya mengenang. Tapi jika kenangan yang terkenang hanya yang buruk, buat apa masa lalu dikenang? Lebih baik ayah sama Karina menata masa depan. Agar kita bisa buktiin kalau kita bisa hidup walaupun banyak orang yang menghina kita”

“kamu memang anak yang baik” ucap Reno merasa tersentuh dengan ucapan Karina, “bagaimana bisa ayah berlaku buruk pada anak sebaik kamu”

Karina terdiam, dimainkannya kedua ujung jarinya. Lalu dengan berani Karina menatap Reno dengan pandangan penuh ingin tahu, “tapi Karina pengen tanya sama ayah. Tapi ayah nggak boleh marah sama Karina” peringatnya yang diangguki oleh Reno, “kenapa dulu ayah sama mommy membedakan antara Karina dan juga Cherin”

Reno bungkam. Ia sangat terkejut karena nggak nyangka Karina akan bertanya hal ini. Hal yang beberapa hari terakhir selalu ia fikirkan. Ia menarik nafas dalam-dalam, sepertinya sudah saatnya semua terbongkar, “bukan masalah besar, hanya saja sedikit tentang harta. Dulu nenekmu sangat membenci saat tahu ayah menikahi mommy-mu. Hal itu yang membuat hubungan kami merenggang. Bahkan sampai kelahiran Cherin pun nenekmu nggak kunjung berbuat baik kepada kami”

Karina terdiam, kemudian ia mengangguk saat mengingat sikap yang neneknya berikan kepada ayah dan mommy-nya kala itu.

“tapi… saat kelahiranmu nenek mulai terbiasa lagi. Walaupun nenekmu sangat marah saat tahu mommy kamu pernah berniat untuk menggugurkan kamu. Karena prinsip kami saat itu hanya ingin mempunya satu anak, jadi Cherin saja sudah cukup. Tapi karena kelahiranmu diluar perkiraan, mommy kamu jadi sedikit stress” Reno menghela nafas sejenak, “akhirnya kami mau mempertahankan kamu hanya karena petuah nenek kamu yag bilang akan memberikan sebagian hartanya untuk kami. Jahat kan? Kami memang jahat, mempertahankan kamu hanya demi harta”

“yang penting Karina sudah dilahirkan dengan segenap raga oleh mommy dan ayah”

“lanjut ya… entah kenapa nenekmu sangat menyukai kamu. Hal ini membuat Cherin yang nggak pernah merasakan kasih sayang nenekmu menjadi iri. Dia sering berlaku buruk karena ini, karena iri! Hal itu juga berdampak pada mommy dan ayah, kami merasa kelahiranmu membawa kesialan dikeluarga kami. Entah apa yang terjadi, hingga saat nenekmu meninggal semua harta dan mansion sudah balik nama menjadi milik kamu. Sontak kami marah, tetapi kami hanya bisa diam. Karena nggak bisa apa-apa. Karena kami nggak bisa apa-apa, maka kamulah yang menjadi pelampiasan kami. Ya… kurang lebih seperti itu, kami membenci kamu hanya karena kami tidak kebagian harta dari nenek kamu. Masalah sepele bukan? Maafkan ayah”

Karina mengangguk paham. Memang harta bisa membutakan siapa saja, “sudahlah… Karina sudah bisa terima semuanya. Lagian semuanya juga sudah berlalu. Memang takdir Karina harus merasakan kepahitan dulu baru merasakan kebahagiaan seperti yang Karina rasakan saat ini”

Reno mengusap surai indah Karina, “makasih nak, makasih karena mau memaafkan orang jahat kayak ayah gini” ucapnya dengan sendu

“nggak ada yang jahat! Yang jahat cuman takdir yang seolah mempermainkan hidup Karina dan juga hidup ayah. Selanjutnya kita harus cari kebahagiaan dan lupakan masa lalu”

“makasih nak… makasih karena nggak pernah menghakimi perbuatan ayah yang dulu ayah lakukan”

“iya yah sama-sama” Karina tersenyum lalu memeluk Reno sebentar

 

Bab 22

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_683
  4. Day 23

 

Sudah lima bulan lamanya, Reno dan Karina menjalani kehidupan sederhana. Tidak ada keluh kesah yang terlontar dari mulut Reno. Laki-laki paruh baya itu hanya diam dan menjalankannya dengan seksama. Reno juga nggak selalu mengandalkan uang Karina dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ia berusaha mungkin mencari pekerjaan walaupun masih cari sana cari sini untuk mencari pekerjaan tetap. Intinya laki-laki itu sangat berusaha untuk menghidupi Karina selayak mungkin.

Tahu tidak? Karina sangat bersyukur karena hal itu. Kesedihannya dimasa lalu seakan terbayarkan setelah Karina merasakan kehidupannya dimasa kini. Karina seakan terbuai dengan kebahagiannya yang kian menambah hari demi hari. Hampir saja perempuan itu terlena.

“pacarmu mau datang kesini?” tanya Reno sambil menyeka peluh keringat yang menghiasi wajahnya. Ia sedang menyerut potongan kayu, pekerjaan yang sedang dilakoni saat ini. Bukan perkerjaan tetap, hanya pekerjaan sementara yang diminta tetangga karena merasa kasihan dengan kehidupan Reno dan Karina

 

Ucapan Reno membuat rona merah dipipi Karina terlihat, “apaan sih yah” ucapnya dengan malu-malu

“loh bener kan?” Reno menghentikan pekerjaan dan melihat Karina yang sedang merajut, “disebut apa kalau laki-laki yang sering datang kesini? Nggak mungkin kan Farel datang cuma-cuma hanya karena mau menemui ayah? Sudah pasti Farel datang ingin menemui putri bungsu ayah dong” seru Reno membuat Karina semakin tersipu

“nggak ah, ayah bohong. Ka Farel datang kesini cuman ingin menemui keluarga kita saja”

“terserah kamu saja. Ayah akan selalu dukung kamu mengenai hal apapun itu. Asal itu semua dilakukan untuk hal-hal yang baik” sahut Reno. Laki-laki paruh baya itu mengajak Karina keluar rumah, sudah waktunya mereka belanja untuk bahan makan hari ini. Karina mengikutinya, mereka berjalan menelusuri jalan setapak sambil bercanda gurau

 

Tin… Tin… suara klakson mobil mengalun dipendengaran mereka. Reno dan Karina sontak menoleh, senyuman mereka langsung lenyap begitu mendapati Lina dan Cherin sedang berada didalam mobil. Reno sangat ingat mobil itu sama dengan mobil yang waktu itu mendatangi mansion untuk meminta mansionnya.

“hai… hai… bagaimana hidup kalian sekarang? Pasti nggak enak ya hidup susah” sapa Cherin mendapat gelak tawa dari ketiga orang didalam

Reno mendesah kasar, nggak mau memperdulikan ucapan anak sulungnya. Reno hanya bisa mengulur tangan meraih Karina, menyalurkan kekuatan agar Karina berani menghadapi mereka berdua. Reno dan Karina lanjut berjalan, walaupun mobil terus mengiringi jalannya mereka.

“Karina… Karina… hidup kamu memang selalu nggak enak dari dulu. Sudah nggak pernah bahagia eh malah hidup nya merosot tajam kayak gini” kali ini Lina mengucap, “oh iya, mantan suami!” panggilnya kepada Reno

Reno terpaksa menoleh. Ia menghentikan langkahnya, “ada apa?! Nggak cukup kalian menipu saya? Saya sudah membiarkan kalian dan nggak mau ngurusin kalian kekantor polisi. Tapi, tolong jangan pernah ganggu kehidupan kami. Kami sudah hidup bahagia tanpa kalian tahu”

“mana mungkin bahagia. Bahagia hanya bisa dilihat dari banyaknya uang dikantung. Kalau seperti kalian, mana mungkin bisa hidup bahagia” tambah Lina, “ups tenang mantan suami nggak boleh marah. Saya nggak ada niat mengganggu kehidupan kalian. Saya cuman mau kasih tahu, kalau lusa saya akan menikah kembali. Ingat! Saya cuman memberi kabar, kalian nggak perlu datang. Kedatangan kalian cuman bikin malu kami saja”

Selanjutnya Lina dan Cherin terbahak, lalu mereka memerintah laki-laki itu untuk melajukan mobil dengan perlahan. Reno masih bisa melihat laki-laki itu, ia mengernyit saat seperti mengenal laki-laki yang bersama mantan istrinya dan anak sulungnya.

“mommy!” pekik Karina membuat mobil itu menghentikan lajunya, “Karina hanya mau bilang, anak bungsu yang nggak pernah dihargai ini sudah hidup bahagia bersama ayah-nya. Karina hanya berharap mommy dan ka Cherin juga bisa hidup bahagia seperti kami”

“kami nggak mau hidup seperti kalian layaknya—

“terserah apa kata kalian” Karina memotong pembicaraan, “pokoknya Karina akan mendoakan kebahagiaan kalian, walaupun nggak memungkiri kalau karma pasti datang. Tangisan yang datang dari ayah dan Karina akan mengiringi kehidupan kalian. Ingat itu!”

Lina dan Cherin nggak menjawab. Mereka hanya memerintahkan laki-laki atau calon suami Lina itu untuk melajukan mobil. Mereka sedikit bergidik mendengar ucapan sarkas Karina, walaupun mereka sedikit nggak perduli karena masih menganggap uang adalah segalanya dan uang merupakan sumber kebahagiaan mereka.

“ayah nggak papa?” tanya Karina

“ayah baik-baik saja. Pokoknya kita harus buktiin ke mereka kalau hidup kita bisa jauh lebih bahagia walaupun tanpa uang sekalipun” tambah Reno membuat senyum Karina tersebut

“pasti yah!” tandas Karina

Bab 23

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_499
  4. Day 24

 

“kamu nggak mau masuk?” perempuan yang mengenakkan dress putih kekuningan itu kian menggeleng, walaupun netranya terus tertuju pada mansion yang dua puluh tahun terakhir menjadi tempat tinggalnya

Farel yang memakai jas hitam hanya bisa menyandarkan tubuh ditembok depan rumah. Laki-laki itu hanya bisa menghela nafas melihat Karina yang terlihat sedih. Ia mengederkan pandangan mencari cara agar bisa masuk ketempat acara. Walaupun nihil karena semua akses sudah tertutup rapat dan dijaga oleh penjaga berbadan besar. Bahkan depan mansion-nya pun sudah dihuni ratusan kameramen yang siap menyiarkan secara langsung acara pernikahan, model terkenal Lina.

Yaps, tepat hari ini mantan istri dari Reno tersebut akan melangsungkan pernikahan dengan seorang pengusaha kaya raya yang berumur jauh diatas Lina. Karina yang notabene nya anak bungsu dari Lina saja tidak tahu acara ini selain waktu itu mereka bilang secara tidak langsung.

Tetapi dengan resmi Lina tidak pernah mengundang Karina. Omong-omong tentang Lina, tadi pagi Karina diberitahu Farel kalau keluarga itu ingin melanjutkan perjodohan dengan Cherin. Sontak saja keluarga Farel langsung menolak, tetapi Farel yakin ia nggak akan semudah itu menolak. Sudah pasti kedepannya aka nada hal-hal yang membuat paksaan itu terulang kembali.

“kalau kamu benar-benar ingin masuk, aku akan usahain semaxsimal mungkin. Lagipula aku punya undangan yang tertuju untuk keluarga aku datang—

“keluarga ka Farel nggak datang?” sela Karina cepat. Ia menyenderkan tubuh dibalik tembok dan pohon besar saat seorang kameraman nggak sengaja menoleh kearahnya. Karina hanya mengurangi resiko pemberitaan kembali

“ngapain datang. Kedatangan kami juga dielu-elukan hanya untuk membicarakan perjodohan kami. Aku sudah jelas-jelas bilang ke bunda sama ayah untuk nggak melanjuti perjodohan ini, untung saja mereka mengerti dan mulai menutup akses untuk keluarga mommy mu datang”

“aku kira kakak bakal ngelanjutin perjodohan itu—“ Karina menunduk sembari menendang-nendang pasir di kakinya. Bahkan jari-jari  lantik lengannya sudah meremas gaun putihnya untuk menetralisir degup dijantungnya

“hey! Nggak akan, sudah ada perempuan yang kakak cintai dan itu bukan Cherin. Kakak lagi berjuang untuk mendapati hati perempuan itu. Jadi, do’ain kakak ya” ucapnya dengan penuh harap

Karina mengangguk lirih, “pasti!” jawabnya berusaha semangat mungkin

“sudah ka, sudah cukup lihat mereka-nya. Ngelihat mommy dan ka Cherin tampak bahagia dari jauh juga sudah cukup” ajak Karina untuk meninggalkan mansion

Farel melirik Karina dan pasangan pengantin didalam mansion bergantian. Laki-laki itu paham kalau perempuan disampingnya sedang meminimalisir kesedihan didalam hatinya. Terkadang Farel merutuki dirinya karena belum bisa menjadi objek kebahagiaan Karina. Perempuan itu masih memiliki banyak stok kesedihan dari orang-orang disekitarnya dan Farel nggak suka melihatnya sedih.

“sekarang?” tanya Farel memastikan sekali lagi

Anggukan Karina membuat lengan Farel langsung mengamit lengan Karina. Mereka beranjak dengan saling bergandengan tangan, mereka kembali kerumah yang sejak tadi Reno sedang menunggunya. Tentunya mereka akan pulang lewat jalan memutar agar tidak ada yang sadar kalau Karina putri bungsu Lina sedang mengamati pernikahan sejak tadi.

“kita pulang, tapi sebelum pulang kakak akan ajak kamu makan ice cream. Kali ini kakak yang traktir!” Karina bersorak riang lalu berterima kasih pada Farel. Mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan senyuman yang terbit di wajah Karina. Ah, Farel sangat menyukai senyuman itu.

 

Bab 24

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_493
  4. Day 25

 

“ayah baik-baik saja?” tanya Karina dengan sedikit ragu

Reno yang sedang memotong-motong kardus untuk menambal dinding yang mulai mengelupas hanya bisa menoleh heran. Ia tidak paham konotasi ‘baik-baik’ saja disini maksudnya apa? Kalau perasaanya saat televisi menyiarkan pernikahan Lina dengan suami barunya tentu saja perasaan Reno baik-baik saja. Tetapi jika ‘baik-baik’ saja saat melihat anaknya ikut bekerja untuk mendapat uang tentu saja perasaan Reno sedang tidak baik-baik saja.

“maksud kamu?” hanya kata tersebut yang terlontar dari mulut Reno

“itu ngelihat mommy dan ka Cherin terlihat bahagia bersama keluarga barunya, sementara ayah harus bersusah payah disini demi menghidupi Karina” jawabnya pelan, “disini Karina jadi merasa nggak berguna kalau gitu”

“kata siapa gitu? Ayah sudah menutup lama lembaran masa lalu. Kamu sendiri yang bilang nggak usah ingat-ingat kembali masa lalu. Seperti halnya ucapan kamu ayah juga sudah menutup lembaran pernikahan bersama Lina. Walaupun ayah sedikit sedih karena melihat anak sulung ayah sendiri terlihat bahagia tanpa ayah. Ya… tapi tidak apa-apa, ayah tetap bahagia bersama kamu”

Karina tersenyum. Rasanya sangat bahagia melihat Reno yang dulu temperamental menjadi berubah begini. Tidak hanya itu, Karina sangat tahu dulu Reno jauh dari kata sempurna. Maksudnya Reno nggak pernah melaksanakan perintah yang diperintahkan Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi kini Reno tidak malu untuk meminta Karina mengajarkannya shalat, Reno memang bisa shalat namun karena tidak pernah melakukannya. Laki-laki itu jadi kagok. Dengan senang hati Karina menyetujui perintah ayah-nya.

“Karina juga bahagia banget. Walaupun nggak sama mommy dan ka Cherin, tapi Karina diijinkan bersama ayah yang sayang sama Karina” Karina memeluk bahan rajutannya seolah sedang memeluk Reno. Kini perempuan itu sangat menyetujui ucapan ‘habis gelap terbitlah terang’. Mungkin dulu waktu-nya Karina menangisi nasib yang kian memburuk tetapi kini Allah sudah memberikan kebahagiaan Karina. Kini Karina sebahagia itu.

“jadi, jangan pernah menyalahkan diri karena nashi yang sedang ayah alami ya” perintah Reno. Laki-laki itu geregetan karena terkadang Karina menyalahkan dirinya akibat masalah yang Reno hadapi saat ini. Padahal Reno nggak pernah merasa ini semua masalah, laki-laki itu berfikir semua ini karma yang harus ia dapat akibat perilakunya beberapa tahun lalu

“iya! Karina janji nggak akan salahin diri Karina lagi” ikrarnya sambil netranya terus tertuju pada rajutan. Karena berulang kali tangannya jadi korban tusukan jarum karena Karina yang tidak lihat-lihat

“nah gitu dong! Itu baru anak seorang Reno. Kamu memang masih ada hubungan darah sama mommy kamu, jadi ayah harap kamu nggak akan benci sama mommy karena bagaimanapun sikap mommy kamu dia tetap orang yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan kamu” ingat Reno, agar anak bungsunya tidak memendam rasa benci yang berlebihan

Karina menurunkan rajutan yang sudah hampir jadi. Kini ia berdiri dihadapan Reno dan langsung hormat didepannya, “siyap yah! Karina akan lakukan apapun perintah ayah”

Reno terbahak melihat sikap random Karina, “makasih nak, makasih karena sudah mau menjadi alat kebahagiaan ayah setelah melewati semua hal ini. Maafkan ayah yang dulu selalu menyia-nyiakan kamu. Padahal sejak dulu kamu butuh figure seorang ayah dihidup kamu” ujar Reno dengan pelan. Sangat pelan sampai Karina tidak mendengarnya.

Bab 25

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_565
  4. Day 26

 

Satu tahun kemudian.

Tidak ada yang spesial dalam kehidupan Karina dan juga Reno, hanya saja mereka hidup lebih bahagia ketimbang saat berada dimansion dan Karina sangat mensyukuri. Beribu-ribu doa dan syukur Karina panjatkan untuk yang maha kuasa lantaran perempuan itu merasa do’anya selama ini sudah dikabulkan saat ini. Hingga Karina bisa merasakan kebahagiaan bersama keluarganya, walaupun masih kuran. Tanpa mommy dan ka Cherin.

Tetapi tepat satu tahun setelah pernikahan Lina dan laki-laki yang Karina enggan sebut namanya, kini media kembali dihebohkan dengan pasangan itu kembali.

“yah mau jenguk ka Cherin sama mommy?” Mentari bertanya pada Reno yang sedang menonton televisi menampilkan berita criminal. Yaps berita criminal! Dan didalamnya terdapat Cherin, Lina dan suami barunya. Reno hanya bisa geleng-geleng melihat berita tersebut. Ingin sedih, tapi Reno menganggap ini semua karma yang harus didapat kedua orang itu

Sejak pagi tadi, media dihebohkan atas pasangan Lina dan Wayan (pengusaha dan suami baru Lina) yang memakai narkoba. Tidak hanya itu Wayan yang dikenal sebagai pengusaha menengah terbukti telah melakukan korupsi hingga merugikan perusahaan-perusahaan besar. Tidak hanya Lina dan Wayan, Cherin yang dikenal masyarakat sebagai pribadi yang murah hati juga dinyatakan positif narkoba.

Reno melihat berita dengan miris. Reno memang tahu, dulu Lina menikahinya hanya karena harta yang ia miliki. Dulu Lina hanya merupakan model yang tidak terkenal dan mengandalkan orang-orang disekitarnya untuk mengharumkan namanya. Dan karir modelnya mulai menaik juga itupun setelah Lina menikah dengan Reno. Tapi… ah sudahlah, Reno tidak mau mengingat-ingat masa lalu lagi.

“untuk Lina sudah bukan urusan ayah lagi. Tapi ayah datang hanya untuk melihat kondisi Cherin, pasti anak itu sangat terpukul. Kalau kamu mau lihat Lina juga nggak papa, ayah nggak berhak larang. Gimanapun Lina masih mommy kamu kan?”

“nanti kita bareng ya yah kesananya” ucap Karina sambil menaruh pirikng berisi lauk ayam goreng dan sayur sawi putih dihadapan Reno. Semua itu Karina yang masak, “makan dulu yah, sudah waktunya makan siang”

“selama ini apa kamu pernah berhubungan dengan Lina atau Cherin?” tanya Reno disela-sela kunyahan sambil menatap Karina

Perempuan itu merogoh kantung dan mengeluarkan ponsel dengan layar yang sudah retak. Ia menampilkan sebuah room chat dan ditaruhnya dihadapan Reno. Reno bisa melihat Karina sering mengirim pesan kepada Lina, tapi semua itu nggak pernah dibalas hanya sebatas dibaca.

“kalau mommy sama sekali nggak pernah balas. Tapi Karina nggak papa, setidaknya Karina tahu mommy masih mau baca chat dari Karina” ucap Karina

Reno mengangguk paham, Karina kembali mengambil ponsel sebelum kembali menaruh ponsel didepan Reno. Kini terlihat room chat antara Karina dengan putri sulungnya, Cherin.

“kalau ka Cherin masih mau balas pesan yang dikirim Karina, walaupun cuman dijawab ketus dan singkat. Tapi setidaknya ka Cherin pasti balas semua pertanyaan Karina. Dari ka Cherin juga, Karina bisa tahu keadaan mommy” jawab Karina dengan semangat

“selama ini ayah juga sama seperti kamu. Bedanya ayah tidak pernah menghubungi mommy kamu kembali” jelas Reno membuat Karina mengangguk paham, “walaupun seperti itu jangan benci mereka ya. Mereka hanya belum mendapat pencerahan, mereka masih terbelenggu dengan kebencian yang ada”

Karina kembali mengangguk, “iya yah… Karina nggak pernah membenci atau mendendam sama siapapun. Walaupun kalau ingat, Karina suka sakit hati sendiri. Tetapi nggak papa… anggap saja kesakitan Karina selama ini sebagai penghapus dosa”

“ayah suka perumpamaan kamu! Intinya jangan jadi sosok pembenci karena Allah nggak suka manusia yang membenci dengan sesama makhluknya” nasihat Reno

Karina menurut lalu tersenyum, “baik yah. Makasih yah atas nasihatnya hari ini. Akan Karina ingat selalu”

“sama-sama nak”

Bab 26

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_576
  4. Day 27

 

Karina dan Reno sedang berada diruang tunggu untuk menemui Cheran Lina, tentunya. Detik demi detik terasa lama begitu pihak penjaga memanggil Cherin. Untuk Lina, biar Karina sendiri yang mendatangi tanpa bersama Reno. Mereka sudah tidak memiliki hubungan, jadi biarlah Karina yang menemui Lina untuk sekedar menanyakan kabar.

“kalau mommy bereaksi nggak suka saat tahu kamu datang, kamu nggak boleh marah. Biarin aja kalau Lina masih belum taubat biar menjadi urusan dia sendiri. Kamu datang untuk menanyakan kabar bukan mencari keributan. Ingat itu!.” nasihat Reno

Karina mengangguk, kemudian pandangan-nya teralihkan saat seorang petugas perempuan datang dengan Cherin dibelakangnya. Kakak sulung Karina itu terlihat kurus saat memakai pakaian tahanan. “saya tinggal, waktu kalian untuk menjenguk hanya sepuluh menit” ucap penjaga perempuan itu sebelum pergi meninggalkan mereka bertiga

Tidak ada yang memulai pembicaraan. Cherin terus menunduk, Karina memandang Cherin dengan pandangan prihatin sementara Reno memandang sedih seolah menyalahkan dirinya atas apa yang Cherin tanggung saat ini. Anak sulungnya itu terlihat sangat berbeda dari dulu saat mereka tinggal bersama.

“gimana kabar kakak?” tanya Karina memecahkan keheningan

Tangisan dari mulut mungil Cherin mulai terdengar. Ia tidak menjawab pertanyaan Karina, ia langsung bersujud di kaki Reno dan memohon ampunan. Dengan sigap Reno memegang bahu Cherin, “berdiri nak, kamu nggak berhak sujud kayak gini. Kamu hanya boleh sujud pada yang diatas bukan sama ayah.”

“aku salah… aku nyesel, maafin aku yah. Maafin aku Karina.” Cherin berucap dengan suara parau. Ia terus menunduk tanpa berani menatap Karina dan Reno. Selama didalam tahanan Cherin selalu merenungkan semua kesalahan yang sudah ia perbuat selama ini dan Cherin cukup menyesal mengingat semua perilaku buruknya sama Karina.

“nggak ka… kakak nggak salah apa-apa.” Karina menjawab sambil tersenyum membuat Cherin semakin merasa bersalah, “yah aku lanjut mau temuin bunda ya.” Ucap Karina sambil membiarkan Reno memiliki waktu berdua dengan Cherin

Setelah mendapat anggukan dari Reno dan persetujuan dari Cherin, Karina langsung berlalu. Lina berada dibangsal yang berbeda dari Cherin, jadi Karina tidak perlu jauh-jauh pergi lagi. Karina melewati proses yang sama seperti yang dilalui saat menjenguk Cherin. Tidak lama Karina bisa melihat Lina mendatangi dirinya dengan tatapan kosong.

“mommy?” panggil Karina pelan

Suatu hal yang nggak pernah Karina fikirkan, bahwa saat ini Lina sedang merengkuh tubuhnya dengan erat. Lina menangis! Karina balas memeluk orang yang telah melahirkan-nya itu. Sama seperti Lina, Karina juga berurai air mata lantaran bahagia karena bisa merasakan pelukan seorang ibu.

“maaafin mommy…. Mommy sadar kalau perlakuan mommy selama ini ke kamu itu salah. Mommy nggak pernah bikin kamu bahagia dan malah menyiksa kamu,” ucap Lina dengan sedih. Tangannya terulur membelai pipi Karina, “bagaimana kabar kamu?”

“baik mom! Baik sekali. Gimana kabar mommy?” Karina sangat antusias begitu menyentuh kedua lengan Lina

“seperti yang kamu lihat. Mommy harus terlihat baik-baik saja karena tahu sekarang waktunya mommy mendapat karma atas yang mommy perbuat sendiri” jawab Lina dengan senyuman sedih. Selanjutnya mereka terlanjut perbincangan, hingga penjaga perempuan kembali datang dan meminta Lina untuk kembali karena waktu menjenguk sudah habis.

“mommy jangan khwatir, Karina pasti akan bebasin mommy. Gimanapun caranya” tekad Karina

Lina menggeleng, “mommy mau merasakan hukuman yang mommy perbuat sendiri. Ini karma yang harus mommy dapatkan. Jadi, kamu nggak perlu berbuat seperti itu,” Lina melambai, “janji ya akan temui mommy terus”

Karina mengangguk, “janji.” Karina balas melambai sampai Lina tidak terlihat dipandangan-nya lagi. Kini Karina tersenyum, bukan bahagia karena akhirnya Lina dan Cherin mendapat karma-nya. Tetapi tersenyum bahagia karena akhirnya Karina bisa merasakan bagaimana saat berada ditengah keluarga utuh. Kini ia berjanji akan terus berjuang demi membahagiakan keluarganya.

 

Bab 27

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_503
  4. Day 28

 

Sepertiga malam. Disaat orang rumah memilih tidur bergelung diatas karpet, seorang anak perempuan memilih mengenakan mukena seraya mengadu kepada yang maha kuasa. Seakan melapor kegiatannya yang telah ia lalui hari ini. Karina, perempuan itu Karina. Perempuan itu memilih bertumpu diatas sajadah saat ia tidak bisa tidur.

Memakai waktu dengan berguna.

Ditemani bulan sabit, perempuan yang akhir-akhir ini mengalami perubahan nasib dihidupnya ingin kembali meminta maaf pada yang diatas lantaran dulu ia sempat menyalahkan Allah atas nasib-nya yang nggak pernah berubah.

astagfirulah…. Maafkan pikiran hamba yang lalu. Hamba nggak bermaksud untuk menistkan engkau, dulu hanya saja hamba dibutakan dengan keadaan yang selalu menyudutkan hamba. Hamba khilaf. Maafkan hamba yang dulu selalu meragukan engkau.” Do’anya disela-sela isakan tangis

Karina mengadah menatap atap-atap yang terlihat menguning karena menahan air hujan yang beberapa hari terakhir selalu turun membasahi bumi, “padahal engkau sudah memberikan hadiah besar dikemudian hari, seperti saat ini. Hamba benar-benar berterima kasih kepada engkau karena sudah mengakhiri penderitaan ini dan menukarnya dengan kebahagiaan. Hamba benar-benar bahagia sampai tidak bisa dibicarakan bagaimana perasaan hamba saat ini”

Karina hampir berteriak saat tiba-tiba terdengar suara batuk Reno ditengah-tengah keheningan rumah. Ia menoleh dan mendapati Reno masih tidur beralaskan karpet dan kasur tipis. Kemudian ia beranjak menuju dapur dan membawakan air putih hangat untuk disimpan disamping Reno. Agar saat ayah-nya terbangun, beliau tidak perlu jalan dulu kedapur dan bisa langsung minum air disamping-nya.

Setelah selesai, Karina kembali bersimpuh diatas sejadah dan kembali mengadahkan kedua lengan-nya. “sebelumnya hamba ingin minta tolong Ya Allah, tolong lapangkanlah hati hamba agar hamba tidak ingat kembali kejadian di masa lalu. Hamba memang bahagia saat tahu kedua orang tua hamba sudah bisa menerima hamba, tapi terkadang ada saatnya hamba mengingat kejadian lampau dan kembali membenci kedua orang tua hamba” ucapnya dengan parau

Karina bukan manusia sempurnya yang senantiasa memaafkan kesalahan orang lain. Ia hanyalah senggumpal debu dihadapan sang pemilik alam. Karina juga bukan orang yang baik yang akan melupakan kejadian lalu. Dan akhir-akhir ini Karina kembali mengingat kejadian lampau saat melihat luka-luka yang ada disekujur tubuhnya.

Kalau sudah mengingat, Karina akan memilih berdiam disalah satu ruangan tertutup agar tidak membalas Reno dan membuat laki-laki itu jadi sakit hati. Karina akan berdiam diruangan tersebut tidak pernah lihat waktu, pernah Karina berdiam dari makan siang hingga makan malam dan saat Reno mengetuk baru Karina keluar. Intinya Karina akan keluar ruangan setelah hatinya merasa tenang.

“engkau yang maha membolak-balikkan hati manusia, jadi hamba harap agar ketakutan dan kekesalan yang hamba rasakan akhir-akhir ini untuk ditiadakan saja. Hamba sudah nggak mau mengingat masa kelam saat itu. Hamba hanya ingin menjalani hidup hamba saat ini dengan kebahagiaan yang ada” ucapnya diakhir do’a

Setelah sedikit tenang, Karina menutup mukena dan kembali menaruh ditempat yang tidak terjangkau. Ia melihat waktu yang menunjukkan pukul 4 pagi, ketimbang tidur Karina memilih menunggu waktu shlat shubuh tiba sambil mengalunkan shalawat nabi yang Karin tahu. Tanpa perempuan itu tahu, sejak tadi Reno menahan isak tangis saat mendengar do’a yang dilontarkan Karina. Laki-laki itu kembali diliputi rasa bersalah, ia hanya bisa bergumam ‘maaf’ kepada Karina berulang kali.

 

Bab 28

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_554
  4. Day 29

 

“aku nggak tahu tapi akhir-akhir ini aku merasa bahagai, tetapi disisi lain aku merasa hampa. Gimana ya ngejelasin-nya? Aku juga bingung.” jawab Karina saat Farel melontarkan pertanyaan mengenai keadaan Karina akhir-akhir ini

Laki-laki itu mengangguk paham. Tangannya terulur sambil ditekan-tekan tanda Farel sedang gugup, “maksudnya bagaimana? Ka Farel kurang paham maksud kamu,” ucapnya berusaha mengulurkan waktu.

Hari ini, menjadi hari yang penuh degupan jantung bagi Farel. Karena tepat ditaman sekitar komplek perumahan Karina, Farel akan berusaha menyatakan cinta dan akan langsung melamar perempuan itu. Farel juga sudah mendapat persetujuan dari orang tuanya serta ayah Karina dan semuanya setuju dengan rencana Farel.

Katakanlah Farel tidak modal lantaran melamar Karina hanya disebuah taman. Salahkan saja pada Karina yang tidak ingin diajak laki-laki itu makan direstoran terkenal. Padahal sejak dulu, Farel selalu bermimpi akan melamar perempuan yang dicintainya disebuah restoran saat malam hari, dengan lilin-lilin yang terpasang dan alunan music menambah keromantisan. Sayang-nya Karina selalu mengelak setiap kali Farel mengajak makan disebuah restoran. Jadi ya… sudahlah,

“aku memang bahagia karena akhirnya mommy sama ayah bisa bersikap baik sama kamu. Tapi nggak dipungkiri, akum au merasakan-nya secara utuh. Maksudnya, kondisi mommy yang ada di sel membuat aku nggak merasakan kasih sayang secara utuh.” jelas Karina, “selain itu, nggak dipungkiri mommy sama ayah sudah cerai, walaupun mommy udah keluar dari sel. Pasti mereka memilih hidup sendiri. Padahal sebagai anak aku ingin merasakan keluarga utuh”

Farel paham, “kakak juga, ingin memiliki keluarga yang utuh, nantinya. Walaupun banyak masalah, ka Farel pasti akan mengajak berbincang ketimbang marahan berujung cerai. Ka Farel akan berusaha sebaik mungkin dalam memimpin sebuah keluarga agar tidak sampai bercerai seperti orang tua kamu.”

Karina menyetujui-nya, “selain itu Karina ingin mencurahkan kasih sayang pada anak Karina, walaupun Karina nggak tahu rasanya seperti gimana? Tapi Karina janji akan belajar.”

“belajar dengan ka Farel mau?” ujar Farel mengejutkan Karina

Karina menoleh heran, “maksudnya?”, entah kenapa jantung-nya jadi berdegup hebat saat melihat tatapan Farel yang tidak biasa. Karina semakin memekik didalam hati saat Farel berlutut didepan-nya sambil membuka sebuah kotak merah berisikan cincin

“aku nggak pandai berkata-kata, intinya kakak sudah mulai menyukai sejak awal bertemu kamu. Kakak juga nggak mau kita menjalin hubungan yang jelas-jelas zina dimata Allah. Jadi, kakak memberanikan diri untuk melamar kamu. Apakah saudari Karina menerima lamaran saudara Farel?” walaupun seperti candaan, Farel mengucapkannya dengan serius. Tidak ada tatapan ragu diwajah-nya

Karina menggigit bawah bibirnya. Bingung ingin bereaksi seperti apa, “ayah?” cicitnya

Seakan paham pertanyaan Karina Farel langsung menatap lekat-lekat Karina, “kakak bukan seperti laki-laki diluaran sana yang meminta pinangan pada seorang perempuan tanpa menghadapi orang tuanya terlebih dahulu. Sebelum melamar kamu, kakak sudah bicara sama orang tua kakak maupun ayah kamu sendiri. Dan ayah kamu sudah menyetujui-nya.”

“untuk mommy kamu, kakak belum sempat bertemu dengan-nya. Kamu tahu sendiri akhir-akhir ini pihak sel nggak memperbolehkan kami untuk menjenguk. Tapi jika kamu menerima ini, kakak akan langsung mendatangi dan meminta izin untuk meminang salah satu putrinya dan berterima kasih karena sudah melahirkan anak sebaik kamu.”

Karina tersipu walaupun mulutnya masih diam. Ia bingung, benar-benar bingung.

“kalau kamu bingung, kakak akan beri waktu—

Melihat Farel yang ingin berdiri, Karina langsung mencegah-nya. Buru-buru ia mengangguk, membuat Farel memekik bahagia dan langsung menaruh cincin disalah satu jari manis Karina. Berulang kali Farel mengucapkan terima kasih yang membuat Karina tersenyum malu-malu.

“makasih Karina, makasih banyak” ucap Farel diakhiri senyuman bahagia

“sama-sama ka Farel”

Epilog

0 0
  1. Sarapan Kata KMO Club Batch 35
  2. Kelompok7_RenjanaAksara
  3. Jumlah Kata_975
  4. Day 30

 

Satu tahun kemudian,

Sampai saat ini Lina dan Cherin masih menjadi tahanan, tetapi karena perbuatan teladan mereka membuat kedua perempuan itu diperbolehkan liburan dari tahanan sel. Liburan ini juga tidak asal dilakukan, mereka tetap dalam pengawasan saat keluar dari tahanan sel. Seperti saat ini,

Dirumah kecil yang memancarkan kebahagiaan berlebih, sedang terdapat sepasang keluarga yang sedang meramaikan acara kecil-kecilan yang dilakukan oleh Karina. Hari ini tepat menjadi hari kebahagiaan Karina, karena tepat hari ini ia dilahirkan didunia ini. Tidak banyak yang datang hanya keluarga inti Karina, tidak lupa dengan sepasang penjaga yang menunggu didepan rumah serta keluarga Farel yang menunjukkan keramah tamahan-nya sejak tadi.

“jadi, ini salah satu impian kamu?” tanya Reno

Memang sejak peristiwa isak tangis Karina dimalam hari kala itu, Reno meminta Karina untuk memberi tahu segala keinginan-nya selama ini. Akhirnya dengan sungkan Karina menyebut segala keinginan yang ia inginkan selama Karina kecil. Dengan bahagia Reno menerima-nya, ia menganggap perbuatan untuk memenuhi keinginan Karina menjadi bahan permintaan maaf selama perbuatan-nya selama ini.

“iya… dan kali ini ayah sudah menuruti keinginan Karina untuk yang terakhir kalinya karena ayah sudah menuruti keinginan Karina yang lainnya.” ucap Karina lalu memeluk Reno erat sambil menggumamkan terima kasih

“ada apa nih? Kenapa pada pelukan tapi nggak ajak Cherin?” tanya Cherin yang sejak tadi sibuk berbincang dengan mantan tunangan-nya untuk meminta maaf atas perbuatannya dulu yang menyinggung hati

“nggak ada apa-apa” balas Reno lalu mengulur tangan meminta Cherin mendekat. Cherin langsung mendekat dan memeluk Reno dan Karina berbarengan. Ia menyunggingkan senyuman, merasa bahagia karena bisa dekat kembali dengan Reno dan Karina

Setelah puas acara peluk-pelukan Lina yang sejak tadi berkutat didapur langsung mengumumkan kalau acara harus segera dimulai lantaran dirinya dan Cherin hanya memiliki waktu dua jam lagi sebelum kembali ke sel tahanan.

Tibalah acara,

Tidak ada nyanyian ulang tahun seperti anak kecil, tidak ada sorakan dan pekikan, yang ada hanya acara ngaji atas syukur yang sudah didatangkan oleh yang maha kuasa. Atas berkah yang Allah berikan mereka bisa diperkumpulkan dirumah ini, walau dalam status yang berbeda antara Lina dan Reno yang sejak tadi terlihat canggung.

“silahkan dimakan” ucap Karina pada semua orang

Setelah dipersilahkan semua orang langsung mengambil makanan yang ada. Sembari makan mereka melakukan perbincangan hangat sambil membahas hubungan Farel dan Karina kedepan-nya. Hal itu membuat Farel dan Karina sendiri saling melirik dan mengulu senyuman serta tersipu malu. Karena mereka diejek habis-habisan oleh kedua belah pihak orang tua.

Tapi tidak apa-apa, karena ia hari paling bahagia yang pernah Karina rasakan.

Karina mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan, semua-nya tampak asyik berbincang dan bercanda ria. Karina tersenyum, sambil mengucapkan syukur pada Allah. Karena tepat hari kelahiran-nya ia bisa merasakan orang tua yang lengkap seperti do’anya selama ini yang selalu Karina panjatkan.

“Terima kasih Ya Allah…. Kini engkau sudah memberikan kebahagiaan kepada hamba. Hamba sangat bersyukur atas hidup hamba yang berubah hampir sepuluh puluh derajat ini. Kini hamba nggak akan meminta apa-apa lagi selain meminta kesehatan serta kebahagiaan untuk orang tua hamba”

Karina menyentuh dada-nya yang kian berdebar sangking bahagia-nya. Ini akhir yang selalu Karina harapkan selama ini. Kebahagiaan yang terpancar serta kehangatan keluarga-nya dan tidak lupa dirinya yang sudah dianggap oleh kedua orang tuanya. Kebahagiaan yang tiada henti akan terlontar. Terima kasih, terima kasih atas kebahagiaan ini walaupun harus melewati kesedihan yang mendalam. Karena pada akhirnya setelah kesedihan pasti ada kebahagiaan.

 

---

 

Menjalani kehidupan itu layaknya roda yang sedang bertugar, kita harus mengikuti arus yang membawa kita. Terkadang diatas, tekadang dibawah. Terkadang harus meratapi kesedihan yang ada ataupun tersenyum diatas kebahagiaan yang ada. Tapi, selepas itu semua apapun kondisi yang sedang dihadapi kita harus tetap meminta ampun kepada yang diatas. Karena hanya beliau yang maha membolak-balikkan keadaan umatnya. Pesan Karina.

Layaknya roll coaster Karina sudah merasakan berbagai kepedihan kehidupan hingga saatnya perempuan itu menemukan kebahagiaan akibat kesabaran yang selama ini ia lakukan. Akhirnya kebahagiaan itu datang juga.

“kamu bahagia?” tanya Farel

Karina mengangguk antusias. Netra-nya terus menatap kesebuah foto yang selama ini Karina impi-impikan. Foto keluarga. Sebuah foto yang didalam terdapat dirinya. Dengan konsep kasual, Reno, Lina, Cherin dan Karina tampak keren difoto. Sayang seribu sayang setelah itu Lina dan Cherin dilarang keluar tahanan lagi karena terlalu sering keluar dengan santai.

Kala itu,

“mommy sama ka Cherin nggak papa? Maaf karena menuruti permintaan Karina kalian jadi nggak bisa lagi menikmati dunia luar” ucap Karina kala itu

Lina dan Cherin spontan saling menoleh dan tersenyum lembut. Lina menaruh lengan di pipi Karina, “seenggaknya mommy udah buat kamu bahagia setelah selama ini selalu bikin kamu nangis. Anggap saja semua itu karma yang harus kami dapat, intinya biarkan kami berkorban agar kamu bahagia”

Cherin ikut mengacak-acak surai indah Karina, “seenggaknya kakak udah bikin kamu senyum bahagia seperti ini. Kan kamu sendiri yang pingin punya foto kayak gini”

Hanya percakapan itu yang terakhir kali Karina dengar, karena setelahnya Lina dan Cherin sudah dibawa pergi oleh penjaga tahanan dari studio. Meninggalkan Reno yang memeluk Karina menenangkan anak bungsunya itu.

Kembali ke cerita,

Farel menyerupur cokelat hangat bikinan Karina. Mereka sedang berada dimension yang dulu Karina tinggali. Kala itu, Reno seberusaha mungkin mendapatkan kembali mansion-nya yang dilelang. Karena kegigihan laki-laki itu dan bantuan dari calon besannya, Reno mendapatkan kembali mansion penuh kenangan itu.

“nanti setelah kita punya anak, jangan lupa punya foto keluarga. Nanti kita pasang besar-besar diruang utama agar dilihat orang banyak.” ucap Farel dengan gigih

Karina tertawa lalu memukul Farel pelan, “ah… apaan sih, lagian masih lama juga” rengeknya

“nggak! Aku mau nikahin kamu secepatnya”

Karina merengut membuat Farel merasa gemas. Laki-laki itu mengacak-acak rambut Karina lalu berbisik kata cinta-nya untuk perempuan itu. Tidak pernah bosan Farel akan selalu mengucapkan rasa sayang-nya pada Karina hampir setiap hari. Respon Karina selalu membuatnya semakin gemas dan berakhir Farel memeluk erat Karina. Seperti yang ia lakukan saat ini.

“ehem…” dehaman Reno terdengar membuat Farel langsung melepas pelukan-nya, “buruan nikah baru boleh peluk”

“ayah…..” rengekan Karina yang terdengar membuat Farel dan Reno tertawa puas. Bahagia memang sesederhana itu.

Mungkin saja kamu suka

La Ongka Al Mun...
DiBAWAH LANGIT DAKWAH
Iftiatul H
Cinta Terbaik
Farida Hasna
Menerima TAKDIR
Kiandra Aesha
Dia Yang Paling Mencinta
Devi Eka Yulita...
Ramadan journey to find love

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil