Loading
99

1

41

Genre : Romance
Penulis : Naely Almuna
Bab : 28
Dibuat : 13 Juli 2022
Pembaca : 26
Nama : Naely Almuna
Buku : 1

Captivated Dokter Cinta

Sinopsis

Sharen Sidiqia Lubis seorang gadis yatim piatu yang hidup bersama kakek dan nenek di desa terpencil. Mempunyai seorang sahabat dari kecil yang dulu selalu bermain bersama, lama tak pernah berjumpa karena sahabatnya mencari ilmu di pondok pesantren . Setelah sekian lama tak bertemu, setelah sang gadis selesai sekolah kedokteran mereka berta'aruf. Namun, Seorang lelaki yang bernama Mustofa irham yang dia cintai, dijodohkan oleh kiainya. Untuk menikah dengan putrinya. Demi ridho guru sang pria. Akhirnya Sharen rela melepas pujaan hatinya meskipun hati terasa sakit. Walaupun sampai akhirnya cobaan berliku-liku yang Sharen hadapi dengan tegar. Mustofa menikahi putri kiai nya, cobaan dalam pernikahan yang bertubi-tubi tiada henti mereka tetap bersama. Pernikahan yang cukup lama tak mempunyai seorang buah cinta mereka berdua , setelah berhasil hamil. Menunggu hari-hari bahagia kelahiran sang buah hati istrinya sakit sangat serius. Hingga harus memilih antara istri dan buah hatinya. Namun, Tuhan berkehendak lain. Istrinya meninggal saat melahirkan. Yuk ikuti terus kisah Sharen dan Mustofa apakah akan bersatu atau kandas di tengah jalan?
Tags :
#doktercinta

Bab 1 Liburan Di Rumah Nenek

7 1

Bab 1 Liburan Di Rumah Nenek 

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata: 415

-Day 1


" Sinta ayo jalannya cepetan dikit," kata Sharen yang berjalan di depan.


"Bentar Ren, pelan napa?" pandangan Sinta lurus menuju seorang pria yang berjalan kaki membawa setumpuk kitab.


Sharen belok ke kiri dan menabok punggung Sinta yang sedang bengong.


" Jaga matamu neng jelalatan pisan!" kata Sharen sambil menarik tangan temannya.


" Itumah pemandangan yang sangat indah dan sempurna," Kata Sinta sambil cengengesan.


"Sempurna, si sempurna tapi jangan injak gamisku ini," Omel Sharen sambil mencebik.


Mereka berjalan di pemantang persawahan.perjalan menuju rumah nenek Sharen.

Mereka berdua sedang libur semester di perkuliahannya.


Sharen Sidiqia Lubis gadis yatim piatu yang tinggal bersama nenek dan kakeknya. Di tinggal ayah ibunya meninggal dunia sejak umur tujuh tahun karena peristiwa nahas yang menimpa orang Sharen. Kecelakaan tunggal saat menuju ke tempat neneknya.


Sharen kecil selamat dari kecelakaan itu di besarkan oleh kakek neneknya.

Hidup dengan sederhana. Di sebuah pedesaan, setiap liburan Share akan pulang.


Karena jarak sekolah dari rumah sangat jauh, Sharen akhirnya memilih mengontrak bersama teman-temannya.


Walaupun berada di kontrakan hidup mereka tak bebas karena penjaga'annya sangat ketat untuk gadis-gadis seumuran Sharen

Sharen mahasiswa kedokteran, itulah cita-cita ibunya yang selama ini terpendam.


Sebagai anak perempuan yang ingin berbakti kepada orangtua Sharen mengambil jurusan itu.


Sebelum mengontrak gadis manis itu pulang pergi dari sekolah naik angkutan umum, harus berjalan sepuluh kilo meter dari rumah sampai jalan raya. Itulah perjuangannya serta pengorbanan demi cita-cita mulia menyehatkan masyarakatnya.


Impian Sharen setelah lulus ingin bisa membuka praktik sebagai dokter di desanya. Desa kenangan,dengan biaya murah atau gratis untuk orang-orang yang kurang mampu.


Gadis cantik blasteran keturunan arab jawa. Karena ayahnya keturunan arab. Ibunya orang jawa asli, Sharen seorang anak dari pasangan Muhammad dan Halimah.


***

Sinar matahari mulai menampakkan sinarnya, setelah semalam désa kenanga di guyur tangisan dari langit. Bumi terasa sejuk dedaunan hijau membuat mata ini terlena terpesona.


" Sejuk banget ya Ren," kata Sinta yang menyeruput teh hangat.


"Iya namanya juga desa, tuh lihat di sana ada sungai yang indah."


Sharen menunjukkan tempat favoritnya waktu kecil..


" Wah yuk kesana, siapa bertemu pangeran ganteng itu lagi." dengan wajah bahagia gadis ayu bernama Sinta berlari.


" Wah parah tuh bocah!" gerutu Sharen dalam hati.


Mereka berjalan menelusuri persawahan menuju sungai, di sana ada jembatan yang biasa di lewati para petani menuju persawahan mereka.


Air yang jernih mengalir indah, mengaliri sawah-sawah petani. Pemandangan gunung terlihat sangat memukau hamparan sawah hijau menjadi pemandangan yang sempurna. Semilir angin menari-nari merayu-rayu, terdengar sahdu dalam pendengaran sangat segar sekali.


_Bersambung _




user

14 July 2022 16:55 Durotun Anisa S. Pd Semangat kakak ????

Bab 2 Sahabat Kecil

5 1

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata: 512

-Day 2



Angin pagi yang menyegarkan, dedaunan menari-nari bak mengikuti alunan lagu.

Rumput-rumput bergoyang.


Pangeran bersepeda ontel  akan berangkat ke tempat dirinya mengajar kitab anak-anak di desanya. Mengayuh sepeda, suara utaran pedal mengalun indah.


Mustofa Irham. Pemuda yang terkenal sholih serta santun di desa kenanga. Lulusan dari pondok pesantren Al-Ikhlas yang terletak di kota Kediri.

Putra dari  kiai kampung, yang sekarang sudah menginjak usia senja.


Sekarang kiai Irham Amin sudah tak mengajar di desanya, di teruskan oleh Mustofa Irham.


" Lihat itu Sharen pangeran idamanku," sambil menunjuk Sinta yang sedang memandang tak berkedip.


" Jaga matamu! nanti aku colok pake ini."Sharen menunjukkan ranting pohon yang berada di tangannya.


" Aku terpesona saat pandangan pertama ." Sinta bernyanyi suaranya mengganggu telinga Sharen.


" Diam!!! Itu suara udah kaya musik rombeng."Sharen tertawa membekap mulutnya.


Mustofa  menaiki sepeda dengan santai, menyapa setiap orang yang ditemuinya.

Tanpa disadari pemuda itu turun dari sepeda menyapa sahabat kecilnya, yang dulu sampai sekarang menjadi cinta pertamanya. Sejak mereka berada di bangku SMA. setelah lulus Mustofa meneruskan pendidikan di kota Kediri.


"Assalamu'alaikum, Ukhty." Mustofa menyapa sahabat kecilnya yang bersama temannya.


" Wa'alaikumsalam" kedua gadis itu menjawab bersama.


" Perkenalkan nama saya Sinta Maria." Sinta menyodorkan tangannya.



Pria itu membalas dengan tangan berada di dadanya.

Sharen sendiri menunduk tak berani memandang lelaki sahabat kecilnya.


"Neng Aren pulang dari kota kapan?" kata Mustofa

Sharenpun menjawab dengan menunduk " Pulang kemaren sore Ofa."

Ofa adalah panggilan Sharen untuk sahabatnya.


Mustofa tersenyum mendengar jawaban Sharen yang tengah menunduk.

Getaran Cinta yang dulu bersemi kini tetap ada di hati, ingin ia mengutarakannya. Namun, belum tepat untuk Sharen, karena keduanya tak ingin mempunyai hubungan sebelum Sharen  selesai kuliahnya.


"Iya sudah, saya tinggal dulu sudah di tunggu anak-anak." katanya dengan sopan.


"Iya silakan ." dengan senyuman yang manis dan anggun.


Siang sudah merangkak, matahari mulai memanas membakar bumi, dua gadis itu berjalan pulang menuju rumah nenek.


Sawah nan hijau menyegarkan mata, para petani sudah berdatangan ke sawah mereka,

terlihat gubuk sederhana di pinggiran sawah,

dua dara muda itu melangkah anggun sambil bernyanyi riang penuh dendang.


"Akhirnya sampai juga, ayok kita mandi terus istirahat."Kata Sharen yang langsung mengambil handuknya.


Setelah semua selesai mereka santai membaca buku novel.


" Eh kamu baca novel apa Ren kok kaya seru banget sambil ketawa ketiwi?" sergah Sinta langsung menarik novel Sharen.


" Apaan sih tarik-tarik, nanti sobek tau, "omel Sharen.


" Ini novel Perjalanan Cinta Fathan, karya penulis Naely Almuna emang seru banget sih."

" Fathan itu punya cewek, terus kecelakaan ceweknya meninggal. Fathan koma, sampai akhirnya sakit pembengkakan otak. Pokoknya seru banget nanti baca sendiri." papar Sharen.



"Wah gantian ya aku juga penasaran donk." rengek Sinta.


Sharen yang asik membacanya, mengabaikan rengekan manja sahabatnya.


****

Mustofa yang sedang mengajar mengaji anak-anak kecil di desanya.

Membacakan Ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan merdu, semua anak-anak menirukan bacaan Mustofa.


Tak terasa mengajar sudah dua jam. Semua anak-anak sudah pada pulang, Mustofa meneruskan bacaan Qur'annya, mulut berkomat-kamit dengan suara merdunya nan indah.

Setelah itu Mustofa memilih pulang dan membantu orang tuanya di sawah. Kegiatan Mustofa setiap pagi mengajar Al-Qur'an siang membantu orang tuanya.






user

15 July 2022 09:18 Durotun Anisa S. Pd Ahhh mustofa mau gak sama Delina ????

Bab 3 Kenangan Masa Kecil

5 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 421

-Day 3


Senja sudah mulai berakhir berganti petang, rembulan sudah mulai mengitip dibalik pepohonan.

Mustofa yang kini masih bersiap-siap mengimami sholat magrib di mushola  Al-amin, setelahnya mengajar kitab sampai adzan isya.


Mustofa anak laki-laki satu-satunya kyai Irham Amin. Mustofa tiga bersaudara semua saudara perempuan, yang setelah menikah mengikuti suaminya.


Ibunya sudah meninggal saat dirinya masih menuntut Ilmu di kediri, sekarang hanya tinggal bertiga dengan ayahnya dan satu adiknya yang masih SMA.


  ****

Adzan magrib terdengar suara merdu  menggema seluruh desa lerep, semua orang kampung menuju masjid ataupun musholah terdekat, kakek berjalan tergopoh-gopoh menuju musholah Al-amin.


Sedangkan nenek dan dua gadis cantik sholat magrib berjama'ah di rumah,

setelah sholat mereka mengaji bersama bergantian menyimak bacaan Al-Qur'an. Itu kebiasaan keluarga pak Usman kakek Sharen.


Setelah selesai mereka langsung melaksanakan sholat Isya, makan malam serta istirahat,

karena besok pagi kedua dara muda itu harus kuliah berangkat dari kampung Sharen.


Malam sudah mulai merangkak, mata Sharen tak bisa terpejam,

Sinta sudah bermimpi ke atas bulan.


Hanya Sharen yang masih terjaga, dia menatap langit-langit kamarnya, terbayang masa kecilnya bersama Ofa sahabatnya, tak terasa ia menyunggingkan senyum manisnya.


Hatinya gelisah Sharen melangkah mengambil jaketnya, berjalan keluar rumah terlihat sepi, Sharen membuka pintu angin menerpa wajah ayunya di bawah tamaran lampu neon yang ada di teras rumah, Sharen duduk di sana menghirup udara malam. Bintang berkelap-kelip, menari-nari di atas langit.


***

Dua lelaki berpeci berjalan bersenda gurau, bercerita tertawa.

"Nak Mustofa ayo mampir dulu kita ngeteh, " Ajak kakek pada Mustofa.


Mustofa mengangguk tanda setuju dengan ajakan kakek. Kakek melangkah masuk.


"Eh neng belum tidur?" tanya kakek pada cucuknya.

" Belum ngantuk kek." Kata Sharen yang tersenyum.

Kakek melangkah masuk kerumah.


Mustofa yang sedang berdiri mendekati Sharen.

"Lihat, bulan aja malu-malu mengintip dari sela-sela rindangnya pepohonan, ternyata di sini ada bidadari ." gombalan Mustofa saat kakek sudah masuk kerumah.


Eh Ofa tak berani gombalin cucuknya yang cantik di depan kakeknya. Wkwkwkwkwk.

Bisa-bisa langsung di suruh daftar KUA.

Sharen menyimpan senyum diam-diam dan dalam hatinya bilang" _gombal_"


"Sendirian aja? anak gadis jangan ngalamun malem-malem nanti kesambet setan ganteng." seloroh Mustofa pada Sharen.


"Iya setannya kamu." kata Sharen dalam hati sambil ketawa membekap mulutnya.


Mustofa ikut duduk di samping Sharen, awas jangan deket-deket ada setan lewat bisa gaswat.


Mustofa menceritakan semua tentang masa kecil bersama Sharen,yang dulu suka mandi di sungai berlarian di sawah bersama teman-temannya setelah pulang sekolah. Mereka tertawa bersama saat mengingat masa kecil yang lucu yang tak bisa terulang kembali.


Tak jarang Sharen melirik sang pencerita dan tersenyum menutup mulut dengan lima jarinya.

Tertawa tanpa beban seperti saat  kecil  dulu sebelum keberangkatan Ofa ke pesantren Kediri.



Bab 4 Kabar Duka

5 3

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 693

-Day 4

-Kabar Duka


Saat itu Sharen menyerahkan buku kecil untuk Mustofa, menulis semua perjalanannya di pesantren rintangan dan cobaannya sampai selesai itulah permintaan Sharen waktu itu.


Kini Ofa menyerahkan buku itu kembali setelah sepuluh tahun tak bertemu

Sharen juga menyerahkan buku yang dulu diberi Mustofa untuknya yang berisi perjalanan hidupnya serta perjalanan menimba ilmu kedokteran.


Setelah kepergian Mustofa  beserta cobaan dan rintangannya dirinya menjalani kesehariannya sampai dirinya kuliah.


Namun, Mustofa menolaknya dia bilang" teruskan tulisanya sampai kamu selasai kuliah dan saat kita berjumpa nanti,"

Sharen menggangguk tanda setuju dengan ucapan Mustofa.


"Ini kamu boleh baca tulisanku nanti, semoga kamu suka dengan semua perjalananku," kata Mustofa.


"Lagi ngobrolin apa sih kok kaya seru." kata kakek yang meletakkan teh hangat bersama ubi rebus.


"Kek Sharen pamit ke kamar dulu ya." Kata Sharen sambil melangkah.


Kakek menggangguk.

Cepat-cepat Sharen melangkah sambil tersenyum manis, memeluk buku dari sahabat kecilnya.


Sharen membuka buku itu, membacanya sampai dirinya tak sadar terlelap sampai adzan subuh berkumandang merdu.


Suara itu membuat Sharen menyunggingkan bibirnya merindukan suara yang dulu sering ia dengar. Merdu membuat hati bergetar  senyum manis itu merekah.


Sharen melangkah mengambil air wudhu, sholat berjama'ah bersama Sinta dan nenek. Setelah selesai membantu nenek masak, setelah matang mereka makan bersama-sama.


"Nenek kakek Sharen hari ini berangkat kuliah, nanti pulangnya kalau liburan." Pamitnya pada nenek dan kakek.


"Iya nak, hati-hati di sana semoga semuanya lancar, jaga diri baik-baik." Nasehat kakek.

Nenek dan kakek memeluk Sharen bersama, isak tangis terdengar pelan.


Kakek menyeka air matanya yang mengalir, nenek memeluk cucunya penuh kasih sayang,

rasanya tak ingin berpisah, tetapi Sharen harus pergi mencari ilmu agar cepat bisa menyelesaikan pendidikan kedokterannya.


Dengan berat hati meninggalkan kakek nenek yang sudah berusia senja, membutuhkan seseorang merawat mereka, apalah daya jika dirinya tetap di sana sangat jauh perjalanan dari desa ke kampusnya.


***

Dua dara muda berlarian karena takut telat masuk gerbang fakultas Undip, gerbang mulai ada pergerakan mau di tutup, akhirnya setelah bernegosiasi dengan satpam jaga.


Dua gadis itu masuk ruangan kelasnya, mengikuti  3 mata pelajaran sampai selesai.

Tak terasa 7 hari sudah berada di kota.

Hari sudah mulai senja, Sharen dan Sinta melangkah pulang ke kost.


Hati Sharen terasa ada yang mengganjal, rasanya ingin menangis tetapi tak tahu yang yang ingin ditangisi.


Gawai Share entah menghilang tak kemana, tak ingin panik Sharen berharap kalau hanya lupa menaruhnya.


Lamunan sekelebat mengingat tentang kakek, rasa rindu selama seminggu tak bertemu, Sharen pandangi fotonya bersama kakek dan nenek yang terpajang rapi di meja belajar.


Ketukan pintu yang kencang mengganggu konsentrasinya, dengan sedikit malas gadis berjilbab biru melangkah arah pintu.


" Sharen di depan ada pangeran sepedaku, kesini nyariin kamu." cerocos Sinta yang penasaran.


" Ha! Maksudmu Mustofa?" sergah Sharen yang langsung berjalan ke ruang tamu.


Terlihat pria muda berjamban tipis tersenyum, dengan sedikit sendu di wajahnya,

tanpa Sharen tanya, Mustofa tak langsung mengatakan kabar duka. Namun, hanya mengatakan disuruh pulang, belum memberi tahu kebenarannya.


" Neng, kamu disuruh pulang nenek sekarang!" sedikit tegas menutupi kesedihannya.


"Ha! Sekarang emang ada apa Ofa?" tanya Sharen.

" Sudah mending kamu siap-siap sekarang, keburu waktu sudah mulai petang saya ke masjid dulu," papar Mustofa.


Sharen melangkah dan mulai berkemas untuk pulang hari ini, hati mulai terasa ada yang aneh.

Namun, dirinya tepis perasaan itu mencoba berfikir fositif agar fikiran tak terbebani.


Melakukan sholat magrib 3 roka'at serta berdoa.

Semua sudah selesai, Mustofa menunggu di gerbang kost Sharen.  Berpamitan dengan Sinta yang terus melirik pemandangan indah di depannya.


***

Langkah yang semakin cepat menapaki terminal bus menuju desa lerep ungaran, hati yang terasa tak karuan.


Dua insan manusia diam dalam fikiran masing-masing, tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya, berjalan dalam keremangan tak henti-hentinya membaca sholawat dan doa perlindungan.



Terlihat rumah duka yang sangat ramai, membuat fikiran Sharen berkecamuk bertanya-tanya, bendera kuning terpasang mata Sharen mulai berkaca-kaca luruh semua air matanya.


Meskipun belum tahu apapun, dia bisa menebak ada keduka'an di rumah itu, melangkah masuk dengan sedikit berlari, mengedarkan pandangan hanya terlihat nenek yang sedang duduk di samping mayat yang tertutup kain jarik.


Rasanya belum percaya, Sharen

mengedarkan mata mencari sosok kakek semua nihil.


Pelukan hangat yang dia rindukan, memeluk erat berbisik untuk bersabar dan ikhlas, hanya air mata yang berbicara antara keduanya yang terduduk bersimpuh dekat jenazah kakek Usman.


Bersambung



user

31 July 2022 14:11 Fitri Fatimah Ceritanya bagus, tapi aku mau nyaranin untuk setiap paragrafnya di spasi. Supaya enak di bacanya. Jangan lupa mampir di ceritaku juga ya "Pesona Gelang Emas". Good Luck!

user

10 August 2022 11:05 NAIMATURRIZQOH Tetep semangat...ada kata yg diukis

user

10 August 2022 11:09 NAIMATURRIZQOH Ada kata yg ditulis ulang???????? Ceritanya bagus ...Terus berkarya kawan????????????

Bab 5 Amanat Kakek

4 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 548

-Day 5



Pagi  yang gerimis sahdu seakan ikut menyaksikan keduka'an yang mendalam,

wajah-wajah pilu duduk bersimpuh, pelukan hangat serta ucapan bela sungkawa serta doa terus berdatangan untuk menenangkan keluarga pak Usman.


Pak Usman termasuk orang baik di desa kenanga, yang selalu terkenang kebaikannya.

Jenazah akan segera di bawa ke pemakaman, nenek Ipah serta Sharen ikut mengantarkan kakek ke makam.


Setelah pemakaman selesai nenek serta semua yang ikut pulang kerumah, adik Mustofa datang ikut menangkan Sharen.


Semua warga menyiapkan semua makan untuk pengajian nanti malam sampai seminggu,

Mustofa Irham setelah pengajian duduk bersama nenek dan Sharen, dia bilang sebelum kakek 

Meninggal telah menitip Sharen dan nenek kepada pemuda itu.



**

Flash bac

" Nak Mustofa kakek sudah sakit-sakitan, jika umur kakek tak lama. Kakek titipkan Sharen dan nenek padamu,"

"Sawah kakek yang di ujung jalan rawatlah, setelah Sharen menjadi dokter bangunlah untuk menjadi tempat praktiknya."

"Nikahilah  Dia, jika sudah siap, karena kakek percaya kamu bisa menjaganya." wasiat kakek pada malam itu.


"InsyaAlloh kek, doakan Mustofa bisa menjaga amanah dari kakek." jawab Mustofa.


Kakek hanya tersenyum dan menggangguk..

Hingga siangnya Mustofa pulang dari musholah mendengar teriakan nenek dan langsung masuk rumah pak Usman.


Mustofa langsung berlari membantu nek Ipah, hingga warga berdatangan, setelah semuanya tenang Mustofa meminta izin menjemput Sharen ke kota, berbekal alamat dari nenek Ipah.


***


Sharen yang mendengar cerita itu menangis, memeluk neneknya.


" Iya nduk kakek kemarin hanya sakit batuk, mungkin tak pernah kakek rasa. Kakek hanya minta air teh, setelah itu muntah. Alloh memudahkan segalanya meminta nenek duduk kakek tiduran di pangakuan nenek, setelah nenek bangunkan kakek tak bernyawa," papar nek Ipah sambil menyeka air mata. 


Mustofa melirik Sharen yang ada di depannya sambil menunduk sesekali terisak, kaca-kaca  diberanda matanya luruh sampai kepipinya.


Ingin Mustofa memeluknya, menjadi penenang untuk Sharen. Namun, apalah daya belum ada ikatan sah. Meskipun dirinya sudah mengutarakan permintaan kakek, tetap saja Mustofa belum berani melamarnya menunggu semuanya selesai, keadaan menjadi kondusif seperti semula.


***

Seminggu sudah pengajian di rumah duka sudah selesai, semuanya beraktivitas seperti semula,

Sharen yang ingin berangkat kost, merasa bimbang antara meninggalkan nenek sendiri atau dirinya pulang pergi dari rumah.


Terdiam di dalam kamar, memandangi semua isi kamarnya. Seakan mata tak mau terpejam, hati masih terasa bimbang. Padahal besok Sharen harus mengumpulkan tugas skripsinya, sebentar lagi dirinya selesai dan wisuda. Namun, bagaimana dengan nenek. Ingin dia merawat nenek, jika harus bolak-balik  waktu tak cukup di perjalanan.


Selama ini Sharen hanya mengandalkan hasil sawah kebun kakeknya. Difikiran Sharen terlintas ingin bekerja, iya aku akan coba izin nenek.


Sharen mencoba memejamkan matanya hingga terlelap sampai suara adzan berkumandang.

Bergegas mandi dan melaksanakan sholat subuh,

Sharen melangkah ke ruang tengah, nenek sedang mengaji di sana. Dia mendekati nenek izin akan berangkat dan pulang sore hari.


"Nek Sharen hari ini berangkat ke kampus, Sharen akan tinggal di rumah merawat nenek. Sharen pulang pergi dari sini agar bisa selalu temani nenek," papar Sharen yang tidur di pangkuan nenek.


" Kenapa tak berangkat ke kost, nenek tak apa. Nek gak usah khawatir nenek baik-baik disini,"sambil membelai kepala cucuk kesayangan.


" Tetapi nek." Tangan nenek membingkai wajah ayu Sharen," Jika mau dari sini, belilah sepeda motor. Nenek punya sedikit simpanan belikan motor agar perjalananmu tak terlalu jauh," nenek menyerahkan uang serta dompetnya.


" Pergilah neng, berangkatlah semoga cita-citamu tercapai." nenek tersenyum sambil menyeka air mata.

Bersambung



Bab 6 Motor Baru

4 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 464

-Day 6


Angin semilir terdengar berisik dedaunan bergesekan, rumput-rumput menari-nari

terlihat Mustofa yang sudah di depan rumah menaiki sepeda motor beat warna putih.


"Mau berangkat sekolah neng?

Ayo cepet naik nanti terlambat!"

Kata Mustofa.


Sharen menjawab dengan anggukan, Mustofa hanya tersenyum, langsung melajukan kendaraannya. Sharen cerita tentang dirinya yang disuruh nenek membeli sepeda motor.


Mustofa mengiyakan akan mengantar Sharen membeli motornya, sepeda motor beat putih membelah jalanan, kanan kiri penuh persawahan nan hijau, sangat menyegarkan.


Dua insan berboncengan hanya diam, Sharen menjaga dirinya dengan baik, Mustofa hanya tersenyum melirik wanita pujaan hatinya dibalik kaca sepion motornya.


Mustofa menghentikan motornya di depan dailer motor, mereka masuk memilih motor yang akan di beli, Sharen terpanah pada motor warna biru, motor metic beat.


Setelah puas dengan pilihannya dan membayarnya, motor dicek dan langsung bisa di pakainya.

Mereka menuju kampus Sharen, fakultas kedokteran (Fk) Undip.


" Sudah neng sana masuk nanti terlambat," kata Mustofa.


" Iya, Assalamu'alaikum," pamit Sharen.


" Iya. Aku tunggu di masjid deket sini ya, nanti kalau mau pulang kabarin ya neng," kata Mustofa.


"Emang gak ngajar?" tanya Sharen.


"Libur, Wa'alaikumsalam," Mustofa langsung melajukan motornya dengan tersenyum.


Sharen hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum malu-malu, dia langsung masuk dan bertemu dengan temanya yang cerewet dan genit.


" Mantap motor baru nih?" Liriknya sambil pegang motor sahabatnya.


" Iya karena aku udah gak di kost lagi, kasian nenek aku tinggal gak tega rasanya," papar Sharen.


" Astagfirullah, ini jaket lupa masih ku pakai," sambil tepuk kepala.


" Jaket siapa Ren?"Sambil mengendus baunya, hemm" ini mah bau lelaki.


"Iya itu milik Ofa," kata Sharen.


Sinta dengan mata melotot pandangi Sharen," Jangan bilang kamu  udah jadian sama dia Ren? Kamu gak rebut cowok idamanku kan Ren," cerocos Sinta.


"Ah apaan sih kamu, ada-ada aja dia cuman disuruh nganterin aku biar gak terlambat," senyum Sharen.

" Udah yuk masuk," Sharen memeluk Sinta yang masih manyunin dirinya.


Menurut Sharen sudah biasa bersama gadis manja seperti Sinta, karena Sinta sahabat satu-satunya yang dia percaya dan sangat baik dengannya,

Sharen sudah menganggap Sinta seperti saudaranya.


Waktunya sudah menunjukkan jam pulang. Sharen menghubungi  Mustofa, bergegas Mustofa membuka chat dari Sharen yang mengajaknya pulang.


Sharen tak mengatakan kalau dirinya bersama Mustofa kepada Sinta, Sharen meminta Mustofa menunggunya di ujung jalan saja, langsung melajukan motornya.


Jalanan sangat ramai dan macet, membuat perjalanan sampai kampung hampir 2 jam.


***

Senja menyambut dari ufuk timur, langit mulai berubah merah jingga, menandakan petang akan segera datang.


Sharen mulai bersiap-siap melaksanakan sholat magrib bersama nenek, mengaji hingga isya tiba,

Sharen duduk di kursi ruang tamu dengan setumpuk buku di atas meja.


Ditemani secangkir teh hangat, aroma bunga melati yang menenangkan hati, apalagi sang kekasih menjadi pelengkapnya.


Mustofa sudah mengutarakan perasaan hatinya sore tadi. Sharen menerimanya, karena  Sharen pun sudah menyukai Mustofa sejak dulu, ditambah juga permintaan dari kakeknya, untuk Mustofa menikahinya, Sharen tetap harus menjaga dirinya dari perbuatan maksiat.


Bersambung



Bab 7 Kelulusan Sharen

3 0


-Sarapan Kata KMO Club Batch 47
-Kelompok 6
_Ruang Literasi
-Jumlah kata 461
-Day 7

Tinggal menghitung hari sebentar lagi Sharen lulus kuliahnya. Setelah lulus Sharen berencana praktik di desanya. Membuka tempat praktik di tempat yang sudah disediakan oleh kakeknya.

Mustofa berencana untuk melamar Sharen dan menjadikan pendamping hidupnya. Karena dirinya sudah mencintai Sharen sejak lama. Ditambah dengan wasiat kakek Usman untuk selalu menjaga cucuknya dan juga nenek.

Tekad Mustofa semakin kuat setelah Sharen sudah lulus. Tinggal menunggu detik-detik pengumuman.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, Sharen lulus dengan nilai terbaik. Dan langsung ditunjuk untuk praktek di desa.

"Selamat ya neng."nenek dan Sharen berpelukan.
Mustofa hanya tersenyum dan bahagia melihat nenek dan Sharen.

" Selamat ya Sharen." Sinta berlari memeluk sahabatnya.

" Kamu juga selamat sayang." kedua sahabat itu berpelukan tak ingin terpisahkan.

Mustofa berkata" kalian semua hebat. " sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

" Terimakasih pangeran sepeda" Sharen dan Sinta tertawa bersama.

Setelah semuanya selesai, satu persatu pulang meninggalkan gedung.
Sharen memboncengkan neneknya, Mustofa di belakang.

***

Adzan magrib mulai berkumandang, semua orang desa ke masjid semua.
Sharen melaksanakan sholat magrib, serta berdoa. Mengucapkan rasa syukurnya, lulus dengan nilai terbaik serta semua perjuangannya, yang sangat luar biasa. Sambil menunggu sholat isya.

Sharen membuka buku bersampul biru. Menuliskan semua tentangnya semua cobaan, rintangannya sampai menjadi lulusan yang terbaik.

Di halaman terakhir terpampang fotonya bersama Mustofa waktu masih di sekolah dasar.
Sharen tersenyum memandang wajah polosnya yang dulu bersama sahabatnya, yang kini sudah mengutarakan perasaannya.

Mustofa yang baru saja pulang dari mushola mendapatkan telepon dari kiainya, meminta Mustofa besok berangkat ke Kediri.
Dengan hati bertanya-tanya, Mustofa mengiyakan atas permintaan kiainya.

Mustofa menemui abahnya kiai Irham untuk ke kediri besok pagi. Kiai Irham membolehkannya untuk menjenguk kiainya.

Mustofa menghubungi Sharen, mengabarkan jika besok akan pergi.

" Iya hati-hati." kata Sharen.
Mustofa tersenyum, dirinya terasa tenang bisa berada di dekat Sharen.

" Iya kamu juga hati-hati, aku pergi sebentar." rasanya tak ingin meninggalkan Sharen yang saat ini sangat membutuhkannya.

****

Mustofa pagi ini sudah siap ke kota Kediri. Naiki bis dari kota Pekalongan, menuju Kediri.
Hujan rintik-rintik menambah suasana sahdu, semilir angin membuat mata mengantuk terpejam.

Tak terasa sudah sampai tujuan, di kota dirinya mencari ilmu selama 10 tahun. Tak terasa 3 tahun sudah Mustofa meninggalkan kota itu. Meskipun setiap tahun berkunjung kesana. Namun, terasa ini berbeda dari sebelumnya. Mustofa cepat melangkah karena cuaca mulai mendung, sebentar lagi hujan akan turun.

Memasuki gerbang pondok pesantren Al-Ikhlas. Langsung menuju ndalem pak kiai. Pak kiai sedang pergi mengisi pengajian. Akhirnya Mustofa istirahat di pondok putra yang dulu dia tempati.

Sambil menunggu pak kiai, Mustofa bernostalgia bersama teman-teman dan murid-muridnya. Yang dulu dia bimbing, membaca Qur'an dan membaca kitab menyimak para santri yang mau mengaji.

Mengingat kenangan Mustofa saat do pondok itu.
Mustofa mendatangi tempat-temat yang dirindukannya, mengenang semua tempatnya dulu belajar.
Sekarang merasa berbeda dirinya menjadi Alumni di pondok Al-Ikhlas.

Bab 8 Kecelakaan

4 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 480

-Day 8


Sore ini Sharen menunggu kabar, dari sang pujaan  hati yang tak kunjung meneleponnya.

Sharen memilih menbaca, buku-buku tentang kedokteran.


Membuka lembaran demi lebar, besok Sharen sudah mulai bekerja di puskesmas desanya.

Mengecek semua berkas, yang ia

butuhkan.


Di temani sepiring pisang goreng bersama coklat hangat. Sambil menunggu sholat magrib tiba.

Adzan magrib terdengar merdu, Sharen mendengarkannya.


Seakan ada yang kurang, tak ada suara yang  dirindukannya. Dirinya baru ingat, sang pria bersuara merdu sedang tak berada di desanya,

dirinya tersenyum kecewa berharap suara itu ada.


****

Mustofa yang berada di kota Kediri, kini sudah berada di rumah kiainya, kiai mengutarakan niatnya ingin menikahkan putrinya dengan Mustofa.


Mustofa menjadi bingung karena dirinya terikat amanah kakek, dirinya juga tak mungkin meninggalkan Sharen.


Karena sudah mencintai Sharen sejak lama. Namun, disisi lain ada gurunya yang meminta ia menikah dengan putrinya.


Karena kiai sudah sepuh dan sakit-sakitan, kiai ingin ketika pergi sang putri sudah ada pendampingnya.


Kiai memilih Mustofa, karena menurut kiai Mustofalah yang pantas menjadi pendamping putrinya dan menjadi penerusnya.


Mustofa meminta izin untuk berfikir, kebimbangan melanda hatinya, Mustofa disuruh menghubungi keluarganya sekarang juga.


"Assalamu'alaikum abah." salam Mustofa kepada abahnya.


"Wa'alaikumsalam. nak, " jawab abah di Pekalongan,Mustofa mengutarakan semua permintaan kiainya, abah menyetujui permintaan kiai.


"Nikahilah nak, bawalah Shaila kesini sebagai menantu abah. Karena ridho kiai itu sangat penting ridho kiai ridho Allah, " jelas abah.


" Nggeh bah, " jawab Mustofa.


Mustofa juga menghubungi Sharen, Sharen juga menyetujuinya dan merelakan Mustofa, karena abah juga merestuinya tak mungkin Sharen menghalanginya. Benar kata abah ridho guru serta ridho orang tua, adalah ridho Allah.


" Iya bang menikahlah atas ridho orang tua dan gurumu, aku ikhlas mungkin ini adalah jalan yang terbaik," kata Sharen.


" Tapi neng." Mustofa tak bisa, berbicara apapun.


" Menikahilah besok pagi seperti permintaan guru dan orang tamu, " Sharen menutup telponnya.


Walaupun air matanya  mengalir tak mampu dibendung,hatinya terasa sepi tak berpenghuni.


Tak terasa menangis sambil tertidur, subuh samar-samar terdengar, Sharen merindukan suara itu, yang selalu membuat dirinya tenang.


***


Sharen siap-siap berangkat ke puskesmas tempat dirinya bekerja, menaiki motornya.


Sharen yang kesiangan dan menaiki motor dengan keadaan fikiran kosong, tak konsentrasi. Sharen yang melamun mengingat sang kekasih pagi ini menikahi putri kiainya.


Meskipun itu permintaannya. Namun, terasa berat dihatinya.


Hatinya yang sedang tak menyatu dengan fikiran membuatnya, hilang kendali motor berlawanan berjalan sangat cepat. Menyenggol Sharen, dan membuat motor gadis itu oleng dan terjatuh.


Jedarrr.!!


Kaki Share tertindih motornya, orang-orang yang sedang berada di sawah berlarian.


Membantu Sharen bangun, kepalanya sakit terbentur setang motornya.


Tak jauh dari tempat kecelakaan. Dibalik helm hitam ada gadis yang tertawa penuh kemenangan, melihat Sharen terjungkal kesakitan.


Entah apa motifnya sehingga ia tega kepadanya.


Sharen segera di larikan ke rumah sakit di Kabupaten, nenek yang mendapat kabar langsung lari, membonceng tetangga menyusul Sharen kerumah sakit.


" Neng kamu ndak papa, " tanya nenek yang panik.


"Sharen ndak papa nek, " Sambil menggegam tangan nenek yang mengkhawatirkannya.


Bersambung


Bab 9 Pernikahan Mustofa dan Shila

4 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47
-Kelompok 6
-Ruang Literasi
-Jumlah kata 463
-Day 9

Sharen di bawa oleh mobil ambulans desa. Semua orang sudah bubar beraktivitas kembali.

Gadis misterius itu menatap kepergian ambulans, sampai tak terlihat.
Gadis itu langsung menyalakan motornya, menuju pulang ke Kediri untuk menghadiri pernikahan saudaranya.

" Ma'afkan aku ren, karena kamu menghianatiku. Sudah jadian dengan pangeran sepeda idamanku." katanya bermonolog.

Motor beat hitam membelah jalanan persawahan nan hijau, menuju kota kelahiran.

Dirinya sudah menganggap, Sharen sebagai saudara. Namun, hatinya di tutupi oleh cinta buta.
Sampai memendam kebencian, mungsuh dalam selimut.

*****
" Saya terima nikah dan kawinnya, Shila Hasna Mahmud binti kiai Solehudin Mahmud dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."

" Sah" semua saksi menyaksikan dan mengucapkan sah.

"Sah" ucap mereka serempak.

Semua yang berada di masjid tersenyum bahagia.

Gadis di balik kelambu warna putih tersenyum kecut, menyadari sekarang dirinya sudah bersuami,  terpaksa harus menikah dengan lelaki pilihan abahnya.

Shila gadis remaja usia 20 tahun, masih kuliah di jogja karena kiai tidak ingin putrinya bergaul bebas.

Kiai memilih Mustofa menikahi putrinya agar ada yang menjaganya.
Karena Mustofa sudah dekat dengan kiai, seorang abdi ndalem yang dulu menjadi kepercayaan kiai Soleh.

Semua tapi bersalaman dan mengucapkan salam, kepada kedua mempelai pengantin.

Gadis berjilbab ungu datang membawa kado, tersenyum pada sepupunya.

" Selamat ya Shil, masih kecil udah nikah." ucapnya dengan tertawa.

"Iya ini abah mana suamiku udah tua," bisiknya sambil menutup mulutnya.

Seorang pria tampan berjalan menuju ke pelaminan, karena baru saja turun menemui teman-temannya.

Sinta yang melihat kaget, ternyata yang menikah dengan sepupunya adalah pria idamannya.

" Pangeran sepeda." sambil menutup mulutnya yang terkejut.

" Mba Sinta kok disini?" tanya Mustofa yang mengedarkan matanya, karena biasanya dimana ada Sinta pasti ada Sharen

"Iya Shila itu sepupuku." katanya

"Kalian saling kenal mb." kata Shila sambil matanya yang menyelidik.

"Iya, kenal saat aku kerumah temen ku." ucapnya dengan kikuk

" Sharen kecelakaan." Ucapnya setengah berbisik.

"Apa?" kata Mustofa

Sinta hanya menggangguk.
Mustofa langsung pergi setengah berlari, Sinta faham apa yang akan Mustofa lakukan setelah mendengar bisikannya tadi.

Shila yang sedang sibuk tak perduli, Sinta menemani sepupunya agar tak curiga dengan suaminya.

Mustofa menghubungi nomer Sharen yang tak aktif, wajahnya yang muram penuh kekecewaan.
Menyesal meninggalkan Sharen yang kini terkapar tak berdaya.

Mustofa meraup mukanya yang kesal dengan lima jarinya.
Menelpon berkali-kali, sambil berjalan menemui para tamunya.

****
Sharen yang sudah di periksa oleh dokter, masih terbaring lemas tak berdaya.

Suster memberi tahu pada seorang dokter tampan, untuk memeriksa Sharen.

Dokter Farhan melangkah ke brankar yang paling ujung.

"Assalamu'alaikum, saya periksa dulu ya mba." katanya yang belum memandang wajah Sharen.

"Wa'alaikumsalam, Dokter Farhan." Kata Sharen

"Sharen, kamu apa kabar? kenapa ini." Kata Farhan yang kaget bertemu adek kelasnya masa kuliahnya.

" Jatuh dok," kata Sharen yang tersenyum.

"Sebentar saya periksa dulu ya." Dokter Farhan memeriksanya, dan mengatakan tak ada yang serius, "boleh pulang hari ini ya." katanya dengan tersenyum

Bab 10 Pertemuan Tak Terduga

4 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata  482

-Day 10

Terlihat binar dimata Sharen ketika dokter yang menanganinya, memberi izin pulang hari ini juga.

Lama tak pernah bertemu kakak kelasnya waktu masih kuliah, tak pernah tau kabarnya, padahal dulu dirinya sering bertemu sering meminta tolong Farhan, walaupun hanya sekedar berkomunikasi tentang pelajaran kesehatan.

Farhan dulu mahasiswa paling pintar juga tampan, semua wanita terpesona padanya, tetapi menurut Sharen hanya biasa saja, tak pernah tertarik padanya.

Dulu Farhan pernah menyukai Sharen, tetapi Sharen menolaknya karena ia ingin fokus dengan cita-cita sekarang mereka bertemu lagi, mereka bertukar nomer telpon.

Karena ada pasien darurat akhirnya Farhan izin memeriksa pasien tersebut, Sharen membuka telpon selulernya sambil menunggu jemputan pulang, akan di jemput supir pak lurah.

Sharen melihat telepon selulernya, penuh panggilan dari Mustofa, 40 panggilan tak terjawab. Sharen hanya tersenyum getir, lalu memblokir nomer Mustofa.

" Kenapa dia menelpon, padahal ini hari bahagianya." Sharen katanya dalam hati.

Sharen duduk bersama nenek yang selalu, mendampinginya.

Sharen bermonolog di hati " harus bisa melupakannya. Karena dia sudah manjadi milik orang lain".

****

Kedua mempelai tersenyum di atas pelaminan, satu persatu para tamu berpamitan, mendoakan mereka berdua.

Shila terlihat agak jauh dari Mustofa, saat seorang pria mendekatinya, Azam mantan Shila di kampusnya, mereka putus karena Shila di paksa menikah dengan Mustofa.

Kedua mempelai masuk ke kamar pengantin, tak ada bergandengan, Shila memilih jalan lebih dulu ke kamarnya, Mustofa masuk hanya membisu mengedarkan matanya keseluruh penjuru ruangan.

Bingung dengan sikap sang istri yang cuek, serta dirinya yang kefikiran dengan Sharen, bertanya-tanya dalam hatinya bagaimanakah kabarnya?

Di dalam kamar keduanya hanya berdiam, melakukan aktivitas sendiri-sendiri tanpa berbicara dengan pasangannya.

Malam ini malam pengantin yang di tunggu-tunggu setiap pasangan pengantin baru, tetapi berbeda dengan keduanya yang belum saling mengenal satu sama lain. Shila membaringkan tubuhnya memberi sekat tempat tidurnya dengan suaminya.

Mustofa memilih tidur di sofa panjang yang berada di ujung kamar tersebut.

Adzan subuh terdengar dari masjid pesantren, Mustofa mandi langsung ke masjid. Shila yang baru bangun melaksanakan sholat di dalam kamarnya, mengepak semua barang-barang yang akan di bawa ke jogja, karena dirinya harus meneruskan kuliahnya di jogja.

Mustofa yang baru datang kaget melihat istrinya menata semua keperluan yang akan dibawa, Shila mengatakan pada Mustofa hari ini dirinya akan berangkat ke jogja.

Shila dan Mustofa sarapan bersama kiai, Shila berpamitan dengan abahnya, abah membolehkan Shila pergi bersama Mustofa, Shila menelan ludah, dan bingung tak mungkin menolak titah abahnya.

Abahnya menyuruh Mustofa mengontrak satu rumah untuknya  dan Shila selama tinggal di jogja, tak mungkin mereka tinggal di kost Shila yang dulu berpenghuni perempuan semua.

"Njeh bah. Nanti kita nyari tempat kontrakan," kata Shila yang meneguk minumannya.

****

Mobil putih membelah jalanan persawahan, cakrawala mulai menampakkan diri, sinar kuning keemasan Menandakan senja akan berganti malam.

Sharen hampir sampai rumahnya sudah terlihat, mereka semua turun dari mobil langsung, melangkah masuk rumah.

Sharen memilih istirahat di kamarnya menunggu adzan magrib terdengar langsung melaksanakan sholat dirinya mengaji menunggu sampai sholat isya.

Telepon selulernya berdering, tertulis nomer dokter Farhan.


Bab 11 Perhatian Dokter Farhan

4 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 456

-Day 11

Telepon seluler Sharen berdering, tertulis nama dokter Farhan.

Sharen mengabaikan panggilan itu, setelah 3 kali akhirnya Sharen mengangkatnya.

"Assalamu'alaikum," ucap Sharen dengan sedikit menahan denyutan, yang terasa sakit akibat benturan tadi pagi.

"Wa'alaikumsalam, gimana Sharen sudah mendingankah?" tanya Farhan.

"Iya lumayan, tapi ada sedikit berdenyut, mungkin akibat dari benturan," jelas Sharen.

Mereka mengobrol banyak, tentang kuliah, tentang pekerjaan tugas koas Sharen.

Tak terasa obrolan mereka sudah hampir 1 jam, Sharen menutup telponnya setelah itu tertidur.

Pagi hari denyutan di kepala terasa sakit berhenti sakit lagi, Sharen sarapan langsung meminum obatnya.

Jatah 2 hari misalnya masih sakit dirinya harus kerumah sakit lagi, setelah makan Sharen membuka buku-bukunya.

Mencoba menghilangkan rasa nyeri pada kepalanya, tak tahan sampai akhirnya pingsan.

Nenek panik, langsung membawa Sharen dengan bantuan warga, semuanya berbondong-bondong menolong Sharen.

Setelah di rumah sakit, Sharen menjalani rangkaian pemeriksaan, mulai dari pengambilan darah, sampai _Ct-Scan_ pada bagian kepala belakang.

Dokter mengatakan tak ada yang retak pada tulang kepala, hanya rutin minum obat agar tak nyeri dan jangan terlalu fikiran berat.

Sharen dirawat di sana untuk 3 hari kedepan untuk pemeriksaan lanjutan, demi kesehatan Sharen akhirnya mau untuk dirawat.

Farhan selalu memeriksa Sharen setiap dirinya ada waktu, jika tak ada pasien darurat.

***

Sinta kerumah Sharen ingin bertemu dengan sahabatnya, dirinya merasa bersalah karena sudah menyelakai Sharen.

Mendengar dari tetangga Sharen dibawa ke rumah sakit dirinya langsung menjalankan motornya, dengan cepat dia sampai rumah sakit.

Sampai ruangan mereka berpelukan, Sharen tak tahu dalang semua ini adalah Sinta sahabatnya sendiri.

Sinta tak berani mengatakan, ia hanya berjanji akan menemani Sharen sampai sembuh, membantu semua pengobatan Sharen.

Menurut Sharen, Sinta adalah sahabatnya yang paling baik, karena di kost pun Sinta yang selalu membayar biaya kost duluan sebelum Sharen punya uang.

Karena cinta butalah yang membutakan mata hati Sinta, ia menyesalinya perbuatan yang membuat sahabatnya terluka.

Sinta juga bertemu dengan Farhan saat bersama Sharen, mereka ngobrol asik tentang perjalanan menjadi mahasiswa kedokteran.

Mereka bertiga tersenyum, Sharen merasa terhibur dengan hadirnya mereka, yang memberi semangat untuk Sharen sembuh.

Sebuah nomer telpon baru ngechat Sinta, ternyata nomer itu adalah Mustofa.

" Assalamu'alaikum, Sinta bagaimana keadaan Sharen," kata 

Mustofa.

" Wa'alaikumsalam, Sharen baik-baik saja, tetapi dirinya harus dirawat, jangan khawatir aku disini menjaganya," terang Sinta pada Mustofa.

Mustofa menanyakan tentang keadaan Sharen, Sinta mengatakan Sharen baik-baik saja beserta foto Sharen.

Senyum yang mengembang dibibirnya, melihat Sharen tertawa, walaupun hatinya tersakiti melihat Sharen yang terluka, karena dirinya tak menjaganya seperti permintaan kakek Usman.

"Ma'afkan Mustofa kek, yang tak bisa menjaga Sharen dan nenek," katanya dalam hati, sambil menyeka air matanya.

Sebenarnya Mustofa ingin sekali pulang, namun bingung bagaimana dengan istrinya, karena kewajiban Mustofa menjaga istrinya.

Meskipun istrinya belum mencintai dirinya, cuek terhadap dirinya, tetapi istrinya tetap menjalani kewajibannya melayani  suaminya, walaupun belum bisa melayani secara batin.

_Bersambung _


Bab 12 POV Mustofa

4 0


-Sarapan Kata KMO Club Batch 47
-Kelompok 6
-Ruang Literasi
-Jumlah kata 545
-Day 12

Waktu itu pada sore hari kakek Usman mengundang Aku kerumahnya, saat itu kakek sedang sakit beberapa hari itu.

Namun, kakek tak terlalu dirasakan, saat itu kakek bilang, jika dirinya sudah tidak ada kakek berwasiat untuk aku menjaga Sharen dan nenek.

Kakek memintaku menikahi Sharen setelah dia lulus kuliahnya, agar nenek serta Sharen ada yang menjaganya.

"Nak Mustofa kakek sudah sakit-sakitan,  Jika umur kakek tak lama, kakek titipkan Sharen dan nenek padamu."
" Mustofa kakek, titip Sharen  nikahilah Sharen setelah dia lulus kuliah. Ceritakan kepadanya jika kakek yang meminta," kata kakek

" Kek, Mustofa yakin kakek tetap sehat, agar bisa melihat Sharen bahagia. InsyaAlloh Mustofa akan nikahi Sharen karena itu sudah niatan Mustofa," kataku" kakek tetap sehat agar melihat Sharen punya anak, kakek punya cucuk, " kataku yang memberi semangat kakek.

Kakek juga bilang, setelah Sharen selesai koas, ada tanah kosong milik kakek, menyuruhku merawat sawah tanah itu untuk membangun sebuah tempat praktek untuk Sharen.

Aku mengiyakan permintaan kakek waktu itu.

Sampai akhirnya, Siang itu aku mendengar teriakan nek Ipah minta tolong, aku langsung berlari menolongnya.

Aku menjemput Sharen ke kota, agar dia pulang melihat pemakaman kakeknya.

****
Setelah sebulan kepergian kakek, Sharen lulus kuliahnya dengan peringkat terbaik, menjadi lulusan terbaik dengan nilai tertinggi.

Banyak yang menawari bekerja, menjalani koas di tetangga desanya.

Hingga sore itu hari minggu, aku mendapat telpon dari kiai untuk ke Kediri, malem itu menelpon Sharen berpamitan untuk pergi sebentar.

Paginya berpamitan dengan abah, aku berangkat ke Kediri.

Disana tak langsung bertemu kiai, karena kiai masih ada acara di luar, menunggu sampai malam, akhirnya di panggil ke ndalem kiai.

Kiai memintaku meminang putrinya, bingung saat itu harus menikahi putrinya yang belum aku kenal. Namun, aku yakin pilihan kiai tak kan salah, karena itu termasuk amanah.

Ridho kiai juga ridho orang tua, putrinya yang akan aku nikahi berumur 20 tahun, umurku sudah 35 tahun.

Aku juga terikat amanat dengan kakek Usman, diriku sudah mengatakan pada Sharen dan nenek akan menikahi Sharen.

Bingung bimbang hatiku. Akhirnya aku meminta izin abahku, abah menyetujui dan memintaku membawa pulang sebagai menantunya.

Aku menelpon Sharen. "Sharen juga mengatakan, nikahilah engkau cukup menjagaku dari jauh, karena ridho guru adalah ridho Alloh. Ikuti kata gurumu agar ilmumu manfaat, juga orang tuamu menyetujuinya. Ridhonya sangat penting untuk perjalananmu aku tak apa," katanya yang menahan tangis.

Aku tahu karena terdengar dari suaranya yang terisak, tak tega hati ini aku memilih pergi ke masjid tanpa izin kiai , aku melakukan sholat istikhoroh serta berdoa memohon kepada Alloh SWT.

Memberikan jalan terbaik untukku  pilih, demi ridho guru serta orang tua, pagi itu aku membacakan ijab kobul atas nama Shila Hasna Mahmud binti kiai Solehudin Mahmud.

Resepsi dimulai, bertemu dengan sahabat Sharen, yang ternyata adalah sepupu istriku, ku tengok kanan kiri ku kira ada Sharen bersamanya.

Sinta terlihat terkejut saat melihat aku dipelaminan bersama sepupunya, karena beberapa kali aku bertemu dengannya saat bersama Sharen.

Saat itu Sinta berbisik pada mengatakan Sharen kecelakaan pagi ini.

"Pangeran sepeda, Sharen kecelakaan pagi tadi saat mau berangkat koas," katanya padaku.

" Apa!" kataku yang terkejut, langsung meninggalkan pelaminan tanpa izin istriku.

Ku menelpon Sharen itu 40 panggilan, mondar mandir, hati terasa sakit karena telah lalai menjaganya

Sekarang Aku bersanding dengan gadis yang belum terlalu ku kenal karena saat aku di pesantren abahnya, dia beranda di pesantren kota jogja.

Aku bersanding dengan Shila, atas dasar mencari ridho guru dan orang tua, meskipun aku belum mencintainya.

Tapi mungkin dengan berjalannya waktu akhirnya aku bisa mencintainya, menerimanya apa adanya.

Bab 13 Keikhlasan Hati

4 0


-Sarapan Kata KMO Club Batch 47
-Kelompok 6
-Ruang Literasi
-Jumlah kata 491
-Day 13

"Sharen minum obat dulu ya biar cepat sembuh," kata Sinta yang berjalan ke sisi brankar Sharen.

" Sin, nanti dulu ya bentar lagi, ini masih kenyangan ," kata Sharen yang cemberut.

" Hai bu dokter! Pengen sembuh ndak? Kalau pengen sembuh kan kata kamu harus minum obatnya, " ledek Sinta sambil terkekeh.

Terpaksa Sharen mau meminumnya, Sharen memang seorang dokter tetapi kalau disuruh minum obat dia gak mau.

Walaupun tadi ada sedikit berdebatan, karena gak mau minum obatnya.
Dengan bosa-basi Sinta menanyakan tentang Mustofa" Ren Mustofa telpon kamu ndak sih, kok dari kemarin aku gak lihat dia," kata Sinta yang duduk samping Sharen.

" Dia sudah menikah Sin, dengan putri kiainya, pas dihari aku kecelakaan, dia juga telpon tak aku angkat dan ku blokir nomernya, " kata Sharen yang malas menjawab.

" Pantas aja Mustofa telpon katanya ndak bisa, " kata Sinta dalam hati.

" Terus sebenarnya hubungan kamu sama dia itu gimana, kok dia menikah dengan orang lain, " Sinta menggalih informasi dari Sharen, sebenarnya yang Mustofa nikahi adalah sepupunya.

" Sebenarnya dia udah mengatakan isi hatinya, dia juga dapet amanah dari kakek untuk menikahiku. Aku bilang setelah koas selesai, tetapi ternyata dia dapat kabar kiainya sakit, dia kesana tetapi tak boleh pulang dan disuruh menikahi putrinya," Sharen menarik nafasnya yang berat." Yang aku tahu ridho gurunya lebih penting, karena juga ridho Allah SWT, aku juga yang mengizinkan dia menikah, padahal dia sendiri berat karena orang tuanya juga meminta untuk menikahi putri kiainya," Sharen menceritakan semuanya dengan Sinta.

" Kenapa kamu izinkan begitu saja, dia juga sudah janji untuk menikahimu. Harusnya kamu mencegahnya dia juga dapat amanah dari kakek kan? " kata Sinta yang mengusap punggung Sharen dan memeluknya.
Di hatinya merasa bersalah karena sudah menyakiti Sharen sampai sahabat celaka.

" Aku ikhlas Sin, semoga dia bahagia dengan istrinya, kakek juga pasti ikhlas karena ini juga pilihanku, aku akan fokus dengan cita-cita dan juga fokus dengan nenek. Nenek adalah satu-satunya yang aku punya di dunia ini," Sharen menyeka air matanya yang meluncur begitu saja.

Pelukan hangat sahabatnya menenangkan hati serta jiwanya yang rapuh, hanya Sinta dan neneklah hanya sandaran yang Sharen punya.

Di balik pintu ada telinga yang mendengarkan semua kisah sedih itu, Farhan yang mau memeriksa Sharen tak berani meneruskan langkahnya, dirinya berada di balik sekat tembok masuk ruangan gadis yang dirinya kagumi dari dulu.

Suara nenek yang baru saja dari musholah terdengar. " Nak Farhan, mau periksa Sharen ya ayo masuk saja," kata nenek yang membuka pintu.

"Iya nenek dulu aja," Farhan tersenyum pada nenek.

"Assalamu'alaikum," ucap nenek dan Farhan bersama'an

" Eh kak dokter, silakan mau periksa ya," Sinta tersenyum menyikir ke pojok.

Farhan mulai memeriksa serta menanyakan keadaan Sharen" Gimana, kemarin udah di periksa semua, dan masih ada keluhan lainnya? " tanya Farhan pada Sharen.

" Gak ada aku udah baikan Kak, kira-kira kapan pulangnya?" tanya Sharen.

" Kalau kamu rajin minum obat, badan kamu juga udah enakan besok bisa pulang," jelas Farhan dengan tersenyum...

Bersambung

Bab 14 Kekasih Halal

4 0


-Sarapan Kata KMO Club Batch 47
-Kelompok 6
-Ruang Literasi
-Jumlah kata 579
- Day 14

Tengah malam saat semua terlelap, ada hati yang terbangun ingin mencurahkan keluh kesahnya kepada sang penciptanya.

Melakukan sholat malam, serta berdoa untuk orang-orang yang ia sayangi, terutama untuk keluarganya

" Ya alloh semoga engkau lembutkan hati istriku, diriku ikhlas ridho dengan segalanya, karena mungkin cinta diantara kami belum tumbuh, tetapi aku yakin dengan berjalannya waktu pasti cinta itu ada.

" Diriku hanya mencari ridho dari guru serta orang tua, engkau sang maha cinta, tumbuhkan cinta kami, satukan jiwa kami, sebenarnya dia adalah wanita yang baik hanya saja hatinya belum terbuka untuk diriku, lindungilah disetiap langkahnya aku meridhoinya."

" Semoga rumah tangga kecil kami, sakinah mawaddah warohmah penuh keberkahan."

Serta berdoa semoga hubungannya dengan sang istri menjadi lebih baik, bisa menerima dirinya apa adanya, meski cinta belum tumbuh diantara keduanya, dengan selalu bersama cinta akan tumbuh subur dengan berjalannya waktu.

Shila bangun dari tidurnya, ia melihat sang suami yang sedang sholat malam, dirinya tersenyum hatinya menghangat mendengar doa suaminya untuknya.

Shila melangkah ke kamar mandi, setelah itu melakukan sholat malam, serta berdoa sesuai apa yang diharapkan.

Melangkah ke dapur dan membuatkan secangkir teh untuk suaminya, mendekati sang suami yang sedang membaca kitab.

Tersenyum duduk disamping sang suami, walau keduanya masih canggung untuk saling mengungkapkan sebenarnya sudah ada rasa cinta diantara keduanya.

Hati Mustofa berdebar saat Shila mendekatinya, memberikan secangkir teh, lalu Mustofa meminumnya tiga tegukan.

"Alhamdulillah," ucapnya

"Mas sedang baca kitab apa?" tanya Shila dengan bosa basi.
"Qurotul uyyun" jawab Mustofa. "ayo kita ngaji bersama atau setelah itu mau praktek" jawab Mustofa yang tersenyum, melihat wajah istrinya yang gelisah dan  sedikit memerah

Hati Shila berdebar saat tangan Mustofa merangkulnya, menggenggam tangannya, menciumi tangannya serta pipi istrinya.

Mustofa menyuruh Shila untuk menyender di lengan kekarnya, dengan sedikit mengontrol debaran hatinya Shila mengikuti keinginan sang suami.

Entahlah dari kapan hati Mustofa sudah berlabuh pada Shila kekasih halalnya, kini perjalanan pernikahan sudah memasuki bulan ke dua.

Dengan lembut Mustofa menarik istrinya dalam pelukannya, kepala  sang istri bersandar di dada bidangnya, Shila bisa merasakan debaran itu dan tersenyum bahagia, dirinya juga merasakan yang sama.

" Apakah sudah siap untuk mengarungi sebuah samudra surga dunia dengan sepenuh cinta bersamaku" bisik Mustofa didekat telingah sang istri.

Shila mengangguk, "Iya aku siap dan ikhlas menjadi milikmu sepenuhnya, karena aku adalah istrimu, tempatmu melabuhkan semua cintamu."

Mustofa membaringkan Shila diatas perpaduan, saling dekapan  mengungkapkan rasa rindu walau sebenarnya malam pertamanya yang sudah terlewat.
Namun, ini menjadi malam pertama yang sangat mereka impikan, menjalin cinta mengikatnya dengan kasih sayang.
Mengukapkan dengan dekapan erat, membelai tiap inci yang ia inginkan, menandainya dengan sepenuh cinta.

Semua panca indera seperti bekerja satu sama lain, melihat keindahan yang maha sempurna, merasakan sentuhan demi sentuhan yang memabukan, mendengar suara manja, menghirup aroma yang membuat bara semakin menyala dan merasakan manisnya hidangan tanpa gula.

Hingga tiba di detik-detik yang sangat luar biasa, meskipun ada sedikit air mata yang membasahi pipi saat pertama kali bunga mekar itu dihisap madunya.

Alam pun seakan bersorak dengan desiran angin yang membuat dua insan terlena, menempuh perjalanan yang sangat indah, hingga sampai di titik pencapaian yang mereka impikan.

Ada benih-benih yang tertanam dalam rahim Shila" Semoga menjadi putra-putri yang sholihah" kata Mustofa

" Aamiin," jawab Shila yang tersenyum manis

" Ma'afkan aku ya dek, sakit kah," kata Mustofa yang langsung menyeka air mata istrinya serta mencium keningnya.

Shila hanya tersenyum, dirinya sekarang menjadi milik Mustofa sepenuhnya.

Masih saling dekap di pembaringan seakan enggan bangun, adzan subuh terdengar, Mustofa bangkit serta mandi Shila menyiapkan keperluan suaminya, yang akan berangkat ke masjid.

Bersambung

Bab 15 Menikmati Euforia Pagi

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 446

-Day 15


Senyum keceriaan yang kemarin sempat hilang, kini terbit dengan kebahagiaan melengkapi warna-warni kehidupan.


Gadis berjilbab warna biru menjuntai kebawa menutup seluruh tubuhnya, Sharen menikmati euforia pagi kicau burung yang terbang berhamburan juga sinar hangat mentari pagi menyuluh wajah ayunya.


Gadis cantik itu duduk samping rumah bersama sahabatnya, yang langsung menghadap persawahan.


"Ren kapan mulai berangkat koas lagi?" tanya Sinta sambil meneguk teh.


"Besok Sin, kamu beneran mau koas disini bareng aku," kata Sharen.


" Beneran lah, sebenarnya memang aku koas sama aku, ya cuma aku yang gak berangkat bilang mau ke Kediri, tetapi enak disini temenin kamu," papar Sinta.


" Kalau aku di kediri hatiku sakit Ren, harus lihat sepupu yang mesra ama orang yang aku sukai," kata Sinta dalam hati.


" Neng ada dokter Farhan," kata Nenek yang datang dari belakang.


" Ngapain kesini sih Sin, Itu dokter, " Gerutu Sharen yang memajukan bibirnya.


" Gak tahu, temui aja dulu Ren," kata Sinta.

" Males aku,"jawab Sharen yang males melangkah..


Dokter Farhan masuk mengucapkan" Assalamu'alaikum,"

" Dia kesini Sin? tanya Sharen.


Sinta hanya menganggukan kepalanya pelan.

" Wa'alaikumsalam, " jawab dua gadis itu bebarengan.


" Segar ta udaranya, semilir-semilir, bikin hati tenang," sambil melirik Sharen yang duduk   tak perduli.


" Gimana dek Sharen, sudah sembuh, udah gak pusing kan? tanya Farhan.


"Alhamdulillah kak dokter, udah gak terasa pusing, apakah besok udah bisa buat kerja kan ya karena udah cuti lama," papar Sharen.


" Boleh gak papa tetapi jangan naik motor sendiri dulu ya," jelas Farhan.


Obrolan mereka yang terlalu panjang, bercampur candaan mengundang gelak tawa diantara ketiga remaja tersebut.

Hingga akhirnya Farhan pamit pulang, karena harus berangkat ke Rsup Dr. Karyadi Semarang.


" Saya pamit dulu ya, "kata Farhan.

" Iya hati-hati, " kata dua gadis itu.


Mereka meneruskan obrolannya, tetang koas yang akan mereka jalani besok.


******

Shila yang belum selesai kuliah, tinggal mengerjakan skripsinya, pagi seperti biasa diantar sang suami.


Biasanya mereka hanya diam saja, kini obrolan pun mulai ada gelak tawa mereka terdengar mesra, seakan dunia hanya milik mereka berdua.


Sesekali Mustofa memberi gombalan pada istrinya, tak jarang Shila menyubit perut suaminya dengan gemas. "Auw sakit tau," berakhir dengan tawa riang diantaranya.


Kemistri pasangan suami istri pun sudah terlihat jelas, hanya kemarin sama-sama belum mengenal, kini mereka saling mengenalkan karakter masing-masing.


Tak terasa sampai di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Shila pamit masuk ke kelasnya.


" Bang Adek masuk dulu ya nanti jemput dhuhur," Kata Shila yang  mencium punggung tangan suaminya.


" Hati-hati cinta, kalau sudah selesai langsung kabarin ya," kata Mustofa yang menyubit hidung istrinya.


Shila hanya mengadu " Sakit tahu bang, " rengeknya dengan manja.


Shila melambaikan tangannya sambil melangkah, Mustofa menyalakan motornya setelah menatap punggung istrinya tak terlihat lagi di ujung koridor kampus.


Bersambung

Bab 16 Berita Duka kyai Irham Amin

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 601

-Day 16


Adzan dzuhur berkumandang, Mustofa yang masih mengajar di musholah lingkungan rumah kontrakannya.


Siap-siap mengambil air wudhu, melakukan sholat Qobliyah dzuhur.

Setelah iqomah berkumandang, Mustofa melangkah ke pengimaman, menjadi imam sholat dzuhur.


Setelah selesai berjama'ah ia pulang bersiap-siap menjemput sang istri di kampus, mengendarai motor dari rumah ke kampus sekitar tiga puluh menit.


Sampai depan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, istrinya sudah menunggunya.


Shila yang melihat Mustofa datang langsung melangkah,

"Sudah siap bidadariku," canda Mustofa yang membuat Shila tersipu malu, pipinya langsung berubah merah bak tomat matang

" Siap pangeran kuda besiku," sambil tertawa dan menutup mulutnya.


"Lest goooo," menyalakan motornya yang langsung di cubit perutnya oleh Shila karena mendadak jalannya


" Waduch istriku tukang cubit," katanya sambil terkekeh.


******


Sharen dan Sinta masih berada di tempat koasnya, menangani pasien darurat karena kecelakaan.


Tangan Sharen yang tak henti-hentinya mengusap dara dari pasien tersebut, Sinta memasang infus serta menjahit dari korban kecelakaan yang robek.


Setelah selesai istirahat serta melaksanakan sholat dzuhur, setelah itu langsung keruangan praktek.


Tak terasa semua sudah selesai adzan Asar berkumandang, Sharen serta Sinta langsung melaksanakan sholat lalu bersiap-siap pulang.


Handphone Sinta berdering ada panggilan atas nama Shila, Sinta langsung mengangkatnya.


" Hay Cil. Ada apa nih telpon tumben telpon!" gerutu Sinta.


"Galak amat mblo! Salam dulu kali," omel Shila di ujung telpon.


"Aku pengen curhat tahu," jelas Shila

" Jangan curhat nanti aku cemburu, mending aku gak denger dari pada nyesek," omel Sinta sambil menahan tawa karena keceplosan.


"Maksudnya apa ta? tanya Shila yang menyelidik.


" Gak Cil gak papa, aku lagi kerja nanti aja kalau ada waktu aku kabarin ya,"  jelas Sinta.


Obrolan selesai, Sinta langsung menghampiri Share yang sudah siap dengan helmnya." Sudah Sin telponnya," Sharen menyerahkan helm Sinta.


"Sudah, dari sepupu aku, mentang-mentang udah nikah mau curhat entah apa" gerutu Sinta yang sambil manyun. " Udah gitu nikahnya sama cowok idolaku lagi, ngenes kan aku," kekeh Sinta yang hampir keceplosan.


Sharen hanya abaikan curhatan sahabatnya yang menurutnya tak bermanfaat, lebih memilih langsung naik ke motor.


"Cepat, mau pulang apa nginep di sini," omel Sharen pada Sinta.


" Iya bentar beb, sensi amat sih," Sinta terkekeh melihat wajah kesal sahabatnya.


Semilir angin berembus membelai dedaunan yang melambai-lambai, di sepanjang jalan menuju rumah, burung yang terbang berhamburan menuju sarangnya.


Sharen dan Sinta sampai rumah langsung mandi menunggu adzan magrib berkumandang, serta siap-siap sholat.


Makan malam Sinta Sharen serta nenek mengobrol seru, cerita nenek membuat dua gadis itu terkekeh geli.


Suara terdengar dari taoh masjid membuat nenek serta Sharen terkejut.


"Innalillahi wa innaillaihi roji'un, telah meninggal dunia, nama bapak kyai Irham Amin bin Amin, umur 70 tahun." nenek dan Sharen langsung mengambil kerudungnya.


" Neng, ayo kita ke rumah kyai Irham Amin sekarang," ajak nenek pada Sharen dan Sinta.

Disana sudah ramai orang-orang pada datang ke rumah duka.


Mustofa yang baru datang langsung memeluk adik-adiknya.


" Kenapa gak ngasih kabar kalau abah sakit?" Mustofa bertanya dengan adiknya dan memeluknya.


" Abah hanya demam kak, jadi baru tadi mau kita bawa ke Rumah sakit," Jawab adiknya yang menangis


Sharen memeluk adiknya Mustofa, Shila menangis di pelukan Sinta, semua mengaji penuh duka.


"Ta kamu disini, sama siapa," Shila berbisik ke Sinta.


"Iya aku koas di sini, tinggal di rumah temen gak jauh dari sini kok," paparnya pada sepupunya.


Sharen mendekat Sinta dan Shila,  "Sin ayo anterin aku ambil peralatan periksa, adiknya Ofa ada yang pingsan," bisiknya pelan sambil tersenyum dengan Shila.


"Mb Istrinya Ustdz Mustofa, temannya Sinta ya?"  Sharen bertanya pada Shila dengan tersenyum.


" Iya mb, saya sepupunya Sinta," jawab Shila dengan senyuman, sementara Sinta hanya nyengir.


"Iya sudah ayo kita pulang dulu bentar ya," jelas Sharen yang menarik tangan Sinta.


Bersambung


Bab 17 Curhatan Riska

4 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 579

-Day 17


Dirumah duka sangat ramai orang mendoakan Almarhum kyai Irham Amin,

" Iya sudah ayo kita pulang dulu bentar ya," jelas Sharen yang menarik tangan Sinta.


"Sinta kamu belum cerita, kok ternyata istri Mustofa itu sepupu kamu," mata Sharen langsung intimidasi Sinta.


"Iya Ren, aku sendiri juga kaget pas ke kediri, karena mendadak dikasih tahu Shila menikah, tetapi aku gak tahu kalau nikahnya sama Mustofa," papar Sinta dipelototi Sharen.


"Berati kamu tahu, kenapa tak cerita ha! ah sudahlah tak penting buatku," gerutu Sharen yang langsung jalan pulang.


"Ma'afkan aku Ren, aku gak cerita takut kamu sakit hati, aku juga yang sudah membuatmu celaka karena rasa cemburuku, yang ku kira kamu akan menikah dengan Mustofa" Sinta membatin.


Sharen dengan cekatan mengambil alat periksa, lalu langsung berlari, yang tak memperdulikan Sinta.


Sinta hanya mengikutinya, Sharen langsung meriksa Riska adik Mustofa.


" Tak papa, Riska hanya shok, nanti beri obat vitamin ini untuk menjaga daya tahan tubuhnya saja," papar Sharen.


" Makasih ya Bu dokter," Kata Mustofa yang tersenyum.


*****

Semua orang sudah pulang, Mustofa menunggui Riska sampai sadar, Riska memeluk kakaknya sambil terisak.


" Kenapa abang baru pulang sekarang, bapak sakit-sakitan setelah abang menikah," Isaknya di pelukan sang kakak.


" Bapak capek bang, gak ada yang bantuin ke sawah, dan mengajar kadang ada yang mengundangnya, biasanya ada abang yang bantu. Ada abang yang mengajar, aku bantuin bapak ngajar yang aku bisa, sedangkan abang lupa dengan kami, " Ucapnya sesak didada.


"Aku bilang sama bapak setelah dua hari abang menikah, aku cerita kalau sebenarnya abang dapat amanah dari kakek Usman untuk menikahi mb Sharen, kata Bapak kenapa kamu ndak cerita," papar Riska.


" Gimana aku mau cerita kalau bapak ndak mau dengar ceritaku, bapak sakit, selalu bilang jangan bilang Mustofa, bapak kemarin jatuh juga bilang jangan bilang Abangmu, biar dia disana tenang, abang bahagia tenang, sedangkan aku dan bapak bang ," Sergah Riska.


" Jika abang sayang Riska tinggal disini, coba kalau abang gak menikah dengan orang kediri, memilih menikah dengan Sharen gak bakal begini! " gerutu Riska.


" Cukup dek!" Gertak Mustofa yang memeluk Riska." Abang hanya mencari ridho guru dan Abah, kamu ndak tahu bagaimana bingungnya abang harus memilih menikah dengan orang yang belum abang cintai, itupun dengan izin neng Sharen," Jelas Mustofa dengan menahan air matanya.


Di balik tembok ada hati yang terluka, Shila duduk di bawah lantai kamar Mustofa, dengan berlinang air mata, tak menyangka kehadirannya tidak di terima  adik suaminya.


Perdebatan Mustofa dan Riska masih terasa panas, hingga saling memaafkan satu sama lain.

"Dek maafkan abang dan mba Shila," kata Mustofa yang sangat halus, menyeka air mata adiknya.


"Sekarang minum obat dulu, dari Mba Sharen," mengingat namanya membuat hati Mustofa tercubit.


Sharen melangkah mengetuk pintu kamar Riska, untuk menanyakan kabar Riska.

" Assalamu'alaikum," ucap Sharen di balik pintu.


" Wa'alaikumsalam," jawab Mustofa.

" Gimana dek udah baikan, " kata Sharen yang melangkah.


" Alhamdulillah baik mba," Riska langsung memeluk Sharen.


Sharen membalas pelukan itu, Shila yang melihatnya hanya diam seribu bahasa.


" Mba Sharen nginep sini ya temani Riska, mb Sharen dulu sering nginep disini Riska kangen mb," rengek Riska.


Mustofa hanya menelan saliva dan memberi tanda anggukan tanda setuju.

"Iya kan disini ada mb Shila dari kediri," kata Sharen yang mengerti jika Riska belum menyukai Shila.


Shila hanya tersenyum, duduk di samping Sharen yang menemani Riska.


Sharen mengisahkan pada Shila Riska sudah seperti adiknya, karena dulu mereka sangat dekat,  sering bergantian tidur di tempat Sharen.


Shila hanya mendengarkan dan tersenyum kecut, masih butuh pendekatan sama Riska.


Bersambung


Bab 18 Pemakaman Kyai Irham Amin

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 517

-Day 18


Shila hanya mendengar dan tersenyum, masih butuh pendekatan sama Riska.

Sharen berbincang bertiga dengan Shila dan Riska, mereka terlihat akrab.


Riska menceritakan tentang dirinya dan Sharen, juga abangnya.

Setelah Riska tertidur Sharen keluar bersama Shila.


" Mba Sharen, dari kecil udah akrab ya sama Riska dan keluarganya?" tanya Shila yang duduk samping Sharen.


"Iya karena kita tetangga, Riska itu adiku, jadi ya begitulah manja kalau sama aku, sabenarnya dia baik kalau sudah kenal baik banget kalau belum kenal sedikit cuek," Sharen terkekeh mengingat Riska.


" Mba Shila istirahat saja, besok pemakamanya nanti capek, aku juga mau pulang,"

" Kasian nenek sendirian, nanti aku minta Sinta temani kamu ya, " jelas Sharen yang langsung menyuruh Sinta.


Sharen pulang, rumahnya tak jauh dari rumah kyai Irham..

Setelah sampai rumah gadis itu langsung istirahat menuju kamarnya.


*****

Jenazah sudah siap untuk di makamkan, semua anggota keluarga mengantar sampai ke makan, Riska sudah lebih tegar dan ikhlas.


Walau masih sesekali menyeka air matanya, di temani Sharen juga Shila serta Sinta, yang berjalan paling belakang, mengikuti prosesi pemakaman sampai selesai.


Setelah semuanya pulang, para ibu-ibu menyiapkan makanan untuk pengajian nanti malam, Riska menemui para tamu pelayat di temani nenek Ipah serta Sharen dan Shila.


Karena Shila belum mengenal warga kampung, nek Ipah memperkenalkan Shila sebagai istrinya Mustofa.


Meski bisik-bisik tetangga, yang mempertanyakan kenapa tidak bersama neng Sharen, mereka tetap menghormati keluarga kyai Irham Amin.


"Eh ibu Romlah, kok Mustofa tidak nikah sama Sharen Sih, padahal cocok loh," kata bu Iyem.


" Mungkin belum jodoh, jodohnya sama orang kediri," kata bu Romlah.


" Saya mah kurang gimana gitu, mana istrinya kurang ramah ya, kalau neng Sharen mah ramah suka bantuin orang-orang," bisik bu Tia.


Berbisik-bisik tertangkap telinga Sharen yang sedang lewat dapur, Sharen hanya geleng-geleng kepala.


" Ibu-ibu lagi buat apa?, baunya wangi banget," Sharen sambil duduk dan menyium aroma nogosari.


" Ini nogosari neng Sharen mau icip," kata bu Romlah.


" Nanti ajalah, masih banyak tamu nemenin Riska," Kata Sharen yang melangkah pelan.


Semua makanan sudah tertata rapi untuk pengajian, Sharen yang merapikan tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut kencang.


Sharen memegang kepalanya sambil bersender, hampir jatuh Mustofa yang lewat dengan sigap menangkap Sharen, Shila melihatnya dengan rasa yang tak bisa diartikan.


" Neng Sharen kenapa? Pusing," kata Mustofa.

"Iya sedikit, pusing banget," Sharen memegang Kepala dan duduk.


"Ren, kamu disini kenapa? Kepala sakit " Sinta yang melihat Mustofa disebelah Sharen Shila di belakangnya.


"Iya Sin, berputar ya Alloh," Sharen yang hampir jatuh.


Sinta dengan sigap menangkap, langsung memapah Sharen meminta bantuan Shila yang berdiri di belakang.


Sinta yang mau panggil nek Ipah dicegah Mustofa.

"Mba Neng Sharen sakit apa? Kenapa sampai begitu," kata Mustofa yang sedikit panik.


"Tak apa, dia pusing karena terbentur saat kecelakaan itu, jadi kepalanya kadang terasa sakit banget, bisa sampai pingsan" papar Sinta.


" Ya Alloh begitu parah kah," Mustofa mengusap wajahnya kasar.


Sinta langsung pulang mengambilkan obat Sharen, langsung menyuruh sahabatnya meminumnya, Shila menemani Sharen, Sinta menceritakan pada Shila tentang Sharen.


Mustofa duduk di samping rumahnya, menangkupkan kedua tangannya di wajahnya dengan kasar, dirinya merasa bersalah karena tidak menjaga Sharen, sampai sahabat kecilnya sakit ia pun tak tahu.


Bersambung



Bab 19 Ldr dengan Istri

4 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 547

-Day 19


Mustofa duduk di samping rumahnya, menangkupkan kedua tangannya di wajahnya dengan kasar,dirinya merasa bersalah karena tidak menjaga Sharen, sampai sahabat kecilnya sakit ia pun tak tahu.


Mustofa langsung melangkah ke makam kakek Usman, di sana ia mencurahkan rasa yang sesak di hatinya, rasa bersalahnya.


" Kakek maafin aku yang tak bisa menjaga amanah kakek, sampai aku melupakan Sharen sebagai adiku yang harus ku jaga," isaknya dalam keheningan.


"Tak ada yang perlu di sesali nak, cukup berdoalah untuk Sharen, semoga ada yang bisa menjaganya dengan baik,"  nenek yang datang dari arah belakang,"kakek sudah mema'afkanmu Sharen juga sudah ikhlas kok, dia yang cerita sama nenek semuanya," papar nenek yang menyentuh bahu Mustofa.


" nenek disini? Kok sendirian? Mustofa sambil celingukan.


" Iya nenek kesini setiap hari kalau sore, kadang juga Sharen, selalu mendoakan kakek," Nenek menaburkan bunga melati serta mawar kamboja di atas makam kakek dan berdoa.


" Nak nenek minta kamu tetap tinggal disini, musholah sepi tak ada kamu, apalagi tak ada kang Amin, jadilah pengganti beliau," kata nenek tersenyum.


Mustofa hanya diam dan bingung, karena istrinya juga masih kuliah.


" Tak usah dijawab nak, tak pentingkan, yang penting jaga adikmu Riska," kata nenek sambil pamit pulang.


Ba'da isya rumah kyai Irham Amin sudah ramai warga mendoakan sang kyai kampung, yang sangat baik dan rendah hati Qona'ah, serta ulet dalam mengajar anak-anak para bapak-bapak ataupun ibu-ibu.


Semua warga berbondong-bondong mendoakannya sampai tetangga desa pun berdatangan, semua santri-santri kyai Irham Amin.


*****


Satu minggu sudah berlalu semua beraktifitas kembali,  Mustofa tetap tinggal di rumah abahnya, setelah di bicarakan baik-baik dari hati kehati.


Shila memilih Ldr untuk sementara karena tak mungkin suaminya harus meninggalkan adiknya.

Shila diantarkan ke kost temanya untuk sementara waktu, menunggu kuliahnya selesai.


Mustofa memulai hidup seperti dulu, walau tanpa istri di sampingnya, setiap malem vidio call penuh rasa rindu.


Mustofa selalu menjenguk nenek Ipah, setiap pria itu datang Sharen tak pernah menampakkan diri, takut terkena fitnah.


Ia memilih di kamar atau di samping rumahnya, membaca buku atau hanya sekedar menikmati semilir angin, kicauan burung yang selalu setia menemaninya.


Sharen lebih fokus dengan masa depannya, Ia berencana ingin melanjutkan sekolah dokter spesialis kandungan.


Karena dokter kandungan kebanyakan adalah para lelaki, karena mungkin banyak para wanita yang risih periksa dengan dokter pria.


Nenek pun memberikan izin pada cucuknya, Sharen memilih sekolah yang terdekat dengan rumahnya, karena tak ingin meninggalkan nenek sendirian.


***

Sinta dari belakang tergopoh-gopoh, membawa minuman teh hangat untuk disuguhkan.


" Tak usah repot-repot mba Sinta," kata Mustofa yang berhenti mengobrol dengan nenek.

" Gak repot cuman minuman doang," kata Sinta yang langsung undur diri.


" Nek neng Sharen kemana? Tak kelihatan dari tadi?" tanya Mustofa  menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Biasanya masih belajar, baca buku tentang kedokteran, malah izin ingin meneruskan sekolah spesialis kandungan, nenek setuju aja yang penting untuk masyarakat,"papar nenek.


" Iya Nek yang penting bermanfaat, ngekost apa berangkat dari sini?" tanya Mustofa yang menyeruput minumannya.


" Katanya dari rumah aja, karena ambil seminggu dua kali," jawab nenek.


" Sharen kalau pagi masih koas di desa sebelah, jadi nunggu selasai, atau ambil pas libur," papar nenek.


Prang prang..

Mustofa hanya mendengarkan cerita nenek, yang tiba-tiba terdengar suara jeritan Sharen.


"Astagfirullah Sinta!! nenek," teriak Sharen terdengar keras membuat Mustofa serta nenek langsung berlari.


Bersambung

Bab 20 Panen Sayur

4 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 474

-Day 20


Prang prang..


Mustofa yang hanya mendengarkan cerita nenek, yang tiba-tiba terdengar suara jeritan Sharen.


"Astagfirullah Sinta!!nenek," teriak Sharen terdengar keras membuat Mustofa serta nenek langsung berlari.


"Ada apa? Astagfirullah, Sinta!" Sharen di bantu Mustofa memapah Sinta, nenek memberesken tempat yang berantakan.


" Ofa ini rubuh? Mungkin menimpa Sinta?" tanya Sharen.


"Iya mungkin, udah sana luka Sinta di obati dulu," kata Mustofa.


Sharen mengambil peralatan, serta menjahit luka di kening Sinta yang terkena pecahan piring, Sinta yang pingsan mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Alhamdulillah kamu baik-baik saja Sin," kata Sharen yang lega.


" Aku kenapa Ren, tadi aku pusing banget aku pegangan tempat piring," kata Sinta yang tak inget banyak.


" Pantas tempat piring rubuh, kamu kena piring, untung ndak papa, robek dikit ini jidat," Sharen mengambil kaca yang di berikan ke Sinta.


"Masih sakit kepala, ini obatnya di minum terus istirahat jangan petakilan, kamu terlalu capek mungkin fertigo kamu kumat, " omel Sharen yang nyengir.


"Iya bisa jadi juga si Ren, muter ini kepala," Sinta sambil megang kepalanya.


Sharen keluar kamar, nenek yang datang dari belakang, setelah membersihkan semuanya.


" Gimana Sinta neng? Tak apa kah? tanya nenek yang masih memegang sapu.


" Tak apa nek, mungkin dia fertigonya kumat, jadi terasa muter kepalanya, udah istirahat," papar Sharen yang celingukan.


"Ofa udah pulang nek," kata Sharen berbisik.

"Masih di depan! Udah pulang, karena dapat telpon dari Rista," kata nenek yang terkekeh.


"Udah sana anak gadis mandi,biar wangi nanti kalau ada pria tampan ngapel gek baik," kata nenek yang menggoda Sharen.


"Ish.. Nenek! Aku udah mandi tau wangi begini," desis Sharen yang sambil manyun.


Nenek terkekeh, langsung menuju kebun metik sayuran yang masih segar, Sharen duduk di pinggiran kebun, memitik kacang panjang di sebelahnya, Sharen berdiri membantu nenek memanen sayuran.


" Neng sayuran yang sudah bisa di petik aja, nanti taruh di depan, biar nanti di ambil mang anton buat bawa kepasar bentar lagi datang," papar Nenek yang mengumpulkan sayuran.


" Siap nek, bentar lagi ini masih banyak, di pisah ya nek?" tanya  Sharen.


" Iya neng, kacang sawi kol lombok dipisah semua biar sama, awas jangan bersatu nanti bunting, " jawab nenek yang terkekeh godain Sharen.


"Nenek mah, dari tadi godain terus," Sharen mencebik.


" Assalamu'alaikum, nek Ipah. Udah sayuran udah kumpul," kata mang Anton.


"Sudah tinggal bawa mang, neneknya lagi di kebun, " kata Sharen.


"Eh neng Sharen, uangnya nanti ya kalau Amang pulang," kata mang Anton.


"Iya mang santai aja, kaya biasa aja mang, nanti kasih nenek aja," papar Sharen.


Anton pamit dan langsung menaikkan sayuran ke mobil bak, sayuran milik warga yang biasa di titipkan pada mang Anton untuk di jual, nanti hasilnya di bagi dua.


Nek Ipah sudah terbiasa titip mang Anton, yang sudah dipercaya sejak dulu, selalu jujur dan ramah, tak pernah ambil banyak untung, mang Anton akan menjual sayuran tersebut kepada pedagang sayuran di pasar yang sudah berlangganan mang Anton.


Bersambung



Bab 21 Beasiswa Kedokteran

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 498

Day 21


Mentari pagi mengapa, sinarnya menyuluh kewajah dara jelita jilbab biru mudah, pesonanya yang sangat memikat.


Gadis berjilbab biru melangkah santai memasuki puskesmas melati desa lerep ungaran.


Hari ini ada undangan,

pertemuan dengan dokter-dokter seluruh rumah sakit di Jawa tengah, berada di gedung Rsup Dr. Karya Semarang.


Sharen bersama beberapa rekannya menaiki mobil dinas, menuju ke rumah sakit tersebut, Sharen mengecek semua keperluannya.


Setelah semuanya sampai memasuki ruangan, penyambutan yang sangat luar biasa, di sana Farhan menjadi moderator untuk para dokter yang ingin menyampaikan inspirasi atau idenya.


Sharen menyampaikan idenya, tentang perkembangan tentang kesehatan.


" Saya Sharen Sidiqia Lubis, mau menyampaikan tentang perkembangan, kesehatan di puskesmas kami. Desa lerep kecamatan ungaran," kata Sharen dengan percaya diri.


Menceritakan semuanya, tentang kesehatan teknologi juga cara mengatasinya, semua itu dia menjabarkannya dengan jelas.


Semua orang di ruangan bertepuk tangan, semua yang menyampaikan ide atau inspirasinya mendapatkan penghargaan.


Sharen maju kedepan menerima penghargaan, semua memuji kecerdasannya dalam ilmu kedokteran.


Sharen pun memberi tahu ingin meneruskan sekolah kedokteran spesialis kandungan, semua dokter mendukung dan banyak yang menawarkan beasiswa.


" Terima kasih kepada bapak ibu, direktur Rsup Dr Karyadi. Yang sudah memberi penghargaan serta beasiswa pendidika, saya aku bersungguh-sungguh untuk menyehatkan masyarakat," ucapnya dengan mata berkaca-kaca bahagia.


Semua orang memberi selamat, begitu juga dengan pria tampan berkaca mata, yang dari dulu mengagumi kecerdasan gadis jilbab biru.


" Selamat dek Sharen, kamu luar biasa. Semangat untuk sukses menyehatkan masyarakat," katanya dengan tersenyum.


"Terima kasih kak dokter," Share tersenyum dengan lesung pipit yang nampak indah di pipinya.


*****

Sharen hari ini tugas berangkat kuliah, dia memilih meneruskan di fakultasnya dulu.


Karena agar tak terlalu jauh dengan nenek, karena sekarang Sinta sudah kembali ke kotanya.


Sharen menjalani hari-harinya dengan semangat demi impian dan cita-citanya, yang sangat mulia.


Senja sudah hampir menyapa, hari sudah mulai gelap, jalan persawahan sepi, motor beat warna biru membelah jalanan, saat burung-burung berkicau indah bernyanyi menyambut malam.


"Assalamu'alaikum," ucapnya setelah sampai rumah.


"Wa'alaikumsalam salam mba Sharen," Riska menyambut dengan senyuman dan pelukan.


"Eh adik mba ada di sini? Nenek mana?" tanya Sharen yang sambil melangkah.


"Nenek di sini neng, lagi goreng pisang kesukaan kamu, tadi panen sama Riska," jelas nenek.


Riska hanya tersenyum manis, mencicipi pisang goreng yang masih hangat.


"Iya sudah mba mau mandi dulu bau kecut," sambil terkekeh.


"Bau jigong mba," kata Riska yang tertawa.


Sharen mengacak kerudung Riska dengan lembut, tertawa bersama, meledek satu sama lain.


Adzan magrib terdengar mereka langsung siap-siap melaksanakan sholat, berjama'ah sampai sholat isya bersama, lanjut makan bersama.


Sharen sibuk dengan buku-bukunya, Riska sibuk dengan novel yang tersedia di meja belajar Sharen.


"Dek kamu nginep di sini sudah izin kakakmu belum?" tanya Sharen yang masih fokus dengan buku.


"Sudah lah mba, dia mengizinkan kok malah takut ku ganggu. Karena sibuk sama istrinya vidio call," gerutu Riska yang manyun.


"Eh ndak boleh gitu sama abangmu, maklum udah beristri nanti kamu udah nikah juga bakal tahu," papar Sharen.


"Emang mba Sharen tahu? Kan sama jomblo kaya aku?" cerocos Riska.


"Ish dasar bawel anak kecil keracunan dewasa," desis Sharen yang akhirnya tertawa.


Bersambung





Bab 22 pernikahan Sinta

3 0

Jumlah kata 421
Day22
Handphone berdering di atas meja belajarnya, Sharen yang sedang menyiapkan keperluan melirik handphonnya.

Tertulis nama Sinta lope, Sharen langsung mengangkatnya.

" Hola queen cerewet yang manis imut kaya marmut," cerosos Sharen.

"Woy! Udah bagus panggilan queen, eh ditambah cerewet!" omel Sinta yang mencebik.

"Hahahaha," Share tertawa"habis aku rindu kamu, kapan kesini?"tanya Sharen.

" Mau denger kabar baik tak? Aku mau nikah sebulan lagi," kata Sinta di sebrang sana.

"Ha! Beneran kamu gak pernah cerita, kamu nyembunyiin dari aku," gerutu Sharen.

" Sama Farhan. Itu loh kamu ingat kan? Yang dulu culun yang pernah nembak aku pas kita semester tiga nembak di atas pohon," kenang Sinta.

"Ingat yang berkaca mata, si kutu buku," jawab Sharen dengan tertawa.

"Iya tapi dia sekarang gak culun kok, kamu tahu dia sekarang sudah jadi dosen. Di universitas Gadjah Mada Yogyakarta," papar Sinta.

"Wah keren! Gimana ceritanya bisa ketemu dia lagi," kata Sharen yang lupa waktu sudah jam tujuh.

"Ceritanya panjang, eh tapi kamu harus berangkat sekarang sudah jam tujuh," kata Sinta mengingat Sharen.

Sharen tepuk jidat, dirinya lupa pagi ini ada upacara, Sharen langsung menutup telpon, langsung berlari. Pamitan sama nenek menyium punggung tangan neneknya.

"Eh neng hati-hati jangan lari, pasti dia kesiangan sampai lari begitu," kata nenek yang geleng - geleng kepala sambil tertawa.

Mustofa hanya tersenyum melihat tingkah Sharen yang lucu,    
berlarian karena terlambat.

"Pasti terlambat dia, udah jam tujuh ini hari senin ada upacara, dari tadi entah telponan sama siapa," papar nenek.

Mustofa hanya mendengarkan cerita nenek, meminta nasehat pada nenek tentang menghadap Riska yang sekarang cuek serta manja.

"Riska hanya butuh perhatian jang, kamu nasehati Riska dengan halus, ambil hatinya sebenarnya Riska anak penurut," kata nenek.

"Iya nek, Riska dulu penurut setelah bapak meninggal dia menjadi berbeda," papar Mustofa.
Nasehat yang nenek berikan membuat hati Mustofa merasa tenang, karena hanya nenek yang bisa menasihati Riska juga.

*****

Pernikahan Sinta digelar dengan meriah, lantunan ijab kabul terdengar indah dan hidmat.

" Saya terima nikahnya Sinta binti Nugroho dengan emas kawin 20 gram. Dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai," kata Azam sang pengantin pria.

"Sah" semua orang.

Semua orang bersurak bahagia,gadis terbalut kebaya putih duduk ditengah-tengah antara ibu dan mertuanya, Sharen menemani dibelakangnya.

Setetes air mata membasahi pipi Sinta, berbalut kebaya putih serta kerudung putih, aura kecantikan terpancar luar biasa.

Gadis itu menangis bahagia, sesekali menyeka air matanya, ucapan selamat serta doa dari para tamu berdatangan.

Senyum terpancar bahagia, dengan balutan riasan lembut membuat wajah gadis yang sedikit tomboy, menjadi teduh dan indah.

Berfoto bersama, berdiri atas pelaminan indah berlapis pernak pernik warna putih dan keemasan, membuat kesan mewah mempesona.

Bersambung

Bab 23 Wisuda Shila

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47
-Kelompok 6
-Ruang Literasi
-Jumlah kata 556
-Day 23

Pagi ini Mustofa dan Riska bersiap-siap akan ke jogja karena hari Shila wisuda pendidikan PAi di Gadjah Mada Yogyakarta.

Semua keluarga Shila pun berkumpul di hari bahagia, sorak bahagia para wisuda.

Shila memandang seluruh ruangan suaminya belum terlihat,abahnya menenangkan Shila.

"Sebentar lagi nak, mungkin masih di jalan," ucap abah.

"Tak mungkin bah, ini sudah mau di mulai, abang dimana ya?" Shila mondar-mandir sambil menelpon suaminya yang tak kunjung datang.

"Semua tamu undangan dan wisudawan harap memasuki gedung," kata pembawa acara mamperingatkan ke pada para tamu undangan.

Shila yang masih mengedarkan pandangan di luar gedung, seharusnya Mustofa sudah sampai 2 jam yang lalu, tetapi ada kendala yang membuat Mustofa belum sampai.

****

Jalanan yang macat serta jauh, sebuah truk menyenggol bus yang di tumpangi Mustofa dan Riska.

Bus melesat cepat menghindari truk yang melintas bagaikan petir, begitu cepat kejadian yang tak bisa di hindari, kaca jendela pecah menancap di lengan Mustofa yang melindungi Riska.

Tak hanya lengan wajahnya juga tergores kaca, dirinya tak merasakan sakit demi melindungi sang adik yang sangat dia cintai.

Banyak korban luka-luka tidak ada korban yang meninggal, semua penumpang yang terluka di bawa ke rumah sakit terdekat.

Luka Mustofa di obati oleh dokter, tetap belum boleh pulang harus istirahat dulu karena shok.

Riska di kakinya juga terkena pecahan kaya yang juga harus di obati, handphone yang entah kemana di dalam tas yang di simpan petugas bersama tas yang lain.

Mustofa juga lupa hari ini istrinya wisuda, Mustofa tertidur pulas karena merasakan capek serta sakit pada lengannya.

Hingga terdengar adzan dzuhur dia mengingat jika harus datang ke tempat istrinya wisuda.

"Ah ya Allah, sudah dzuhur aku lupa, aku harus ke kampus Shila," katanya dengan bernafas kasar.

Merogo saku kemeja mencari handphonnya, Mustofa langsung mengedarkan pandangan ada telpon di ruangannya, segera dia menghubungi istrinya.

Nomor istrinya aktif, tetapi tidak di angkat karena acara masih berjalan, rasa kecewa tergambar di wajah Shila terhadap suaminya.

Hingga Shila di panggil sebagai lulusan terbaik, berpidato di panggung, suaminya tak kunjung datang.

Setelah keluar ruangan, Shila membuka handphonnya dia bingung ini nomer siapa?

Akhirnya Shila menghubungi, di sana tersambung dengan rumah sakit, Shila hanya menyipitkan matanya karena kaget ternyata yang menghubungi dari rumah sakit.

Setelah di jelaskan akhirnya, salah satu suster mengatakan pada rekannya.

"Dok, salah satu pasien yang dari kecelakaan tadi atas nama pak Mustofa Irham apakah harus di rawat dulu atau boleh pulang? Karena kondisinya masih sangat lemah," ucap dokter itu, terdengar oleh Shila.

"Halo Sus, apakah di Rsup Dr. Sarjito. Ada pasien yang bernama Mustofa Irham?" tanya Shila.

"Betul bu, mungkin yang tadi ibu bilang menghubungi, bisa jadi beliau," ucap suster itu.

Shila dan keluarga langsung menuju rumah sakit tersebut, dengan hati gelisah, setelah sampai langsung menanyakan tempat pasien darurat kecelakaan.

Setelah bertemu ruangan, banyak korban yang tergeletak, ada yang sudah ada keluarganya ada juga menunggu keluarga.

Shila melangkah melihat suaminya di balik kelambu, Shila yang membukanya dan melangkah memeluk suaminya yang tertidur.

Mustofa yang merasa pelukan hangat mengerjapkan mata, serta  memeluk erat sang istri, tak terasa air mata mengalir entah bahagia atau sedih bertemu dalam terluka.

"Ma'afkan abang dek, gak bisa datang ke wisudamu," kata Mustofa.

"Tak apa bang, yang penting abang dan Riska selamat," katanya yang menyeka air matanya.

Riska juga terbaring di brankar samping Mustofa, Shila juga langsung memeluk Riska dan menangis, Riska membalas pelukan hangat kakak iparnya ya selama ini dirinya kurang menyukainya.

Bab 24 Aku memilihmu untuk diriku

2 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-Kelompok 6

-Ruang Literasi

-Jumlah kata 499

-Day 24

Pagi menyapa desa wisata lerep, yang dikenal sebagai desa wisata yang indah, dengan pemandangan bukit cinta, serta candi gedung songo, embung sebligo lerep, menjadi daya tarik para wisatawan mengunjungi desa tersebut.

Hari ini Sharen mulai praktik di Rsup Dr. Karyadi Semarang. Karena tugas koas di UPTD Puskesmas lerep telah selesai.

Sharen mulai berangkat sejak pagi jam 7.00 WIB.

Karena siang Sharen harus berangkat kuliah.

Sharen memasuki ruangan yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit, sebagai dokter umum.

Praktek memeriksa orang satu persatu, hingga selesai jumlah pasien hari ini lumayan banyak 30 orang.

"Dok ini pemeriksaan yang terakhir," kata suster yang menemani dokter Sharen.

"Iya sudah suruh masuk saja Sus," ucap Sharen.

Pasien nomer terakhir pun masuk, dengan dianogsa types, Sharen menyarankan.

"Ibu tak boleh makan, makanan yang keras harus makan bubur,  yang halus dulu ya," kata Sharen dengan ramah.

"Iya nak dokter terimakasih," kata pasien yang sudah sepuh

Setelah semua selesai Sharen berkumpul dengan teman-temannya.

Setiap perkumpulan pasti ada Farhan di sana, semua orang menjodohkannya dengan Farhan, Sharen hanya tersenyum tak terlalu menanggapinya.

***

Dengan saling bertemu dan bersama menumbuhkan rasa cinta, diantara keduanya.

"Witing tresno jalaran soko kulino,"

Karena seringnya bertemu, jadi saling ada hati dan saling menyukai.

Sebelum pulang kerja Farhan mengajak Sharen untuk jalan-jalan ketaman, disana Sharen tak menyangka bahwa Farhan akan melamarnya.

Ternyata Farhan sudah mengundang teman-temannya dokter, yang biasa bersama dengannya juga Sharen.

"Washtona'tuka li nafsi,"

"Aku memilihmu untuk diriku,

" Apakah kamu mau menerima cintaku? Sharen Sidiqia Lubis," kata Farhan yang halus dan membuat hati Sharen bergetar.

Semua teman-temannya bersorak ria.

"Terima,"

"Terima,"

Sharen hanya tersenyum karena dirinya juga ada rasa suka dengan Farhan. akhirnya Sharen menjawabnya" Ya aku terima Farhan Abdullah,"

" Hore,  hore, " tepuk tangan meriah, membuat suasana taman yang sepi menjadi ramai.

Perjalanan perkenalan sudah lumayan lama, dari seorang Farhan mengatakan cintanya pada gadis pujaannya.

Hari sabtu keluarga Farhan berencana ingin melamar Sharen untuk Farhan.

Itulah rencana keluarga Farhan agar mereka segera menikah.

"Farhan kamu mau kemana?" tanya mama Farhan bu Sri.

"Mau kerumah Sharen sebentar mah," ucapnya yang setengah berlari bau wangi ketinggalan.

"Dasar anak muda mau ngapel, kaya mama gak pernah muda," kata papa Bramantyo yang datang dari arah belakang.

***

Farhan di perjalanan, kepalanya terasa sangat pusing, sudah sering dia rasakan tetapi hanya sekedar minum obat, tak pernah dia anggap serius.

Akhirnya Farhan memilih duduk dulu, tak berani menyalakan motornya, karena sakitnya tak bisa di kendalikan.

Setelah sudah sedikit membaik, Farhan menelpon temannya, menghubungi untuk menjemputnya.

"Halo bro! Kamu di mana? Tolong aku lagi di jalan tetapi kepalaku sakit banget kenapa ya?" tanya Farhan kepada dokter Mahendra temanya.

"Iya bro! Aku jemput sekarang dimana, share lok sekarang," kata Hendra yang siap melajukan motornya.

Setelah mendapatkan lokasinya Hendra langsung menuju kesana, dan langsung membawa Farhan kerumah sakit untuk di periksa.

Hendra memeriksa Farhan,"Keluhan apa dok?" tanya Hendra. 

" Sering banget sakit kepala, tapi gak terlalu aku peduliin, mungkin hanya sakit biasa capek, minum obat hilang," jawab Farhan dengan santai.

Yang tak tahu bahwa penyakit yang ia derita sangat serius sekali.

Bersambung




Bab 25 Hasil pemeriksaan

2 0


-Sarapan Kata KMO Club Batch 47
-Kelompok 6
-Ruang Literasi
-Jumlah kata 481
-Day 25

Dr. Mahendra hanya geleng-geleng kepala, sambil meraup wajahnya, saat melihat hasil pemeriksaan sahabatnya.

"Sakitmu sangat serius bro. Sejak kapan kamu rasakan?" tanya dokter beranak satu.

" Gak tau bro! Kayanya cukup lama tetapi mungkin hanya sakit biasa," kata Farhan dengan enteng.

" Kamu salah bro! Ini lihat hasil pemeriksaannya!"
Hendra.
"Yang aku sayangkan kenapa kamu gak merasa ada yang aneh bro?" tanya Mahendra yang memeluk sahabatnya yang terlihat prustasi.

"Aku sering sakit kepala, sangat ngantuk, nafas sesak, aku kira hanya capek biasa," kata Farhan.

"Kamu sudah di puncak gejala kangker Otak Stadium Awal," kata Mahendra.

"Kamu besok harus periksa lanjutan, mumpung masih bisa di obati, radioterapi, kemoterapi, siapa tau bisa sembuh terakhir pengangkatan tumor," papar Mahendra.

"Kuat kamu hebat kamu sembuh bro, udah mau nikah cobaan begini," kata Mahendra yang menyeka air matanya.

Farhan hanya bisa terisak saat dirinya tahu apa yang di derita, bingung dia ingin bercerita dengan siapa.

Takut mamanya drop, karena mamanya punya hipertensi, takut kehilangan Sharen, tidak bakal bisa menikah Sharen dalam keadaan begini.

Mahendra menyarankan Farhan berobat ke Amerika, karena pengobatan disana sangat canggih.

" Bro kamu ke Amerika disana aku punya teman, yang mengobati orang-orang yang terkena tomur juga kangker bisa sembuh," paparnya yang langsung menghubungi temanny Dr. Alvaro Daniyal Trisutoro.

"Aku sudah menghubungi dr. Alvaro di rumah sakit Johns Hopkins Hospital, Baltimore. Disana rumah sakit terbaik, peralatan canggih," papar dr. Mahendra.

"Aku bingung mau ngomong apa sama orang tua bro? Apa aku harus jujur, apa aku bilang mau sekolah lagi di sana?" tanya Farhan yang mengacak rambutnya.

"Jalan satu-satunya kamu harus jujur, tak mungkin kamu kesana sendiri, orang tuamu pasti curiga jika terjadi apa-apa, apalagi kamu  sabtu mau lamaran dengan dr. Sharen bro!" kata Mahendra yang menepuk pundak Farhan.

"Ayok aku antar pulang, Istirahatlah biar dapat jalan luarnya," ucap Mahendra.

Farhan membalas dengan anggukan, berjalan bersama Mahendra menuju mobil temanya.

Mahendra mengantarkan Farhan pulang, sampai rumahnya, dirinya langsung pamit untuk pergi bersama keluarganya.

****

Sharen yang hari ini libur hari minggu, dirinya lebih memilih menemani sang nenek di kebun.

Sharen mengecek handphonnya, tak ada pesan dari siapapun, dirinya fokus memetik kacang mentimun cabe dan sawi.

Semua hasil kebun yang masih fres, dia kumpulkan untuk dijual.

Sharen mengambil kacang dan timun untuk dimasak, dicampur dengan satu kotak tempe menjadikannya tongseng, dengan membuat sambal tomat dan ikan asin yang belinya di lapak depan rumah.

" Neng lezat pisan aromanya, masak apa neng?" tanya nenek yang datang dari pintu belakang.

"Tongseng nek, sama sambal dan ikan asin,"  jawab Sharen yang masih menggoreng ikan.

Riska yang tiba-tiba datang dari luar tanpa salam, langsung masuk, tanpa permisi.

"Mba Sharen masak apa baunya nyampe luar," katanya yang main nyelonong.

"Salam dulu Riska! datang salam kek main nyelonong gak sopan!" gerutu Sharen yang akhirnya tertawa melihat ekspresi Riska yang manyun.

"Ma'af mba sayang," katanya yang sambil duduk ambil cemilan.

Sharen hanya geleng-geleng melihat tingkah laku adik sahabatnya, yang seperti adiknya sendiri.

Bersambung

Bab 26 John F. Kennedy Amerika

2 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47
-Kelompok 6
-Ruang Literasi
-Jumlah kata 459
-Day 26

Setelah berfikir dari semalam, serta memohon petunjuk dari Allah. Farhan memilih jujur dengan orang tuanya walau berat tak tahu jawaban orang tuanya shok atau tidak, yang penting cerita dulu.

Mama papa Farhan yang sedang duduk santai di ruang keluarga, Farhan menghampiri mereka dengan bosa basi, menanyakan tentang waktu dulu pertemuan mama papanya hingga sampai menikah.

Tak ada yang mencurigakan tentang pertanyaan Farhan, mereka mengira anaknya hanya ingin tahu pengalaman pribadinya saja.

"Mama papa, Farhan ingin bicara serius, tetapi kalian jangan kaget ya," kata Farhan yang membuang nafas kasar.

"Ada Apa nak serius sekali kamu ini, bicaralah siapa tau kami bisa memberi solusi terbaik," kata papa yang memakan roti.

"Pa sebenarnya aku," Farhan menjeda bicaranya sambil menarik nafas panjang.

Orang tuanya bingung dengan apa yang ingin anaknya bicarakan, tetapi Farhan menjeda bicaranya dan keringat membasahi seluruh tubuhnya.

Keringat panas dingin yang dia rasakan, tak mungkin meninggalkan orang tuanya tanpa pamit.

"Ada apa nak, kenapa kamu seperti gugup sampai berkeringat dingin?" ibunya meraih tangan Farhan yang penuh keringat.

Farhan memeluk mamanya serta terisak dipelukan sang mama.

"Mama, sebenernya kenapa Farhan sering mengeluh sama mama, sakit kepala."Farhan menjeda sebentar," ternyata Farhan sakit kangker otak ma," Farhan menyeka butiran bening di pipinya.

Kedua orang tua Farhan terkejut, bak tersambar petir di siang bolong, mendengar anaknya sakit sangat serius.

" Apa nak? Kamu sakit kangker otak "tanya sang mama yang meneteskan air mata.

Lemas rasanya seperti tak punya tenaga mendengar kenyataan yang sangat berat, papa Farhan langsung menangkap tubuh istrinya, serta menenangkan.

" Kamu serius nak? Apa kamu sudah periksa dengan detail? "tanya papa Bramantyo

" Sudah pa, kemarin aku di periksa Mahendra, langsung cek semuanya. Mahendra menyarankan aku ke Amerika, karena temanya dokter disana, aku masih stadium awal masih bisa sembuh,"kata Farhan.

" Aku perlu pengobatan, di sana di radioterapi, kemoterapi, siapa tahu aku bisa sembuh cepat," paparnya.

" Aku juga ingin sembuh dan bisa menikah dengan Sharen, aku gak mau kehilangan dia lagi,"ucap Farhan.

" Apa kamu juga mau bicara tentang ini dengan Sharen nak?" tanya mama Fera.

"Tak mungkin aku bicara sebenarnya ma, aku takut dia malah bingung, aku akan pergi sendiri jika dia tanya, mama bilang aku sekolah disana atau apalah," kata Farhan yang membuang nafas.

"Tidak nak, jika kamu pergi, mama papa juga ikut ke Amerika, aku bisa menjagamu," kata mama Fera.

***

Keluarga Farhan tidak menyia-nyiakan waktu, sore harinya langsung mencari penerbangan ke Amerika Serikat.

Dari bandara internasional Jenderal Ahmad Yani menuju ke John F. Kennedy. Kira - kira 1hari, 5 jam.

Akan sampai di Amerika besok siang, perjalanan yang cukup jauh butuh tenaga yang sangat extra.

Tak terasa akhirnya mendarat di bandara John F. Kennedy, dengan selamat.

Keluarga Farhan memilih istirahat dulu di hotel Fire Island, karena lebih dekat dengan rumah sakit yang akan di tuju keluarga Farhan.

Bab 27 Doa Sharen

1 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47
-Kelompok 6
-Ruang Literasi
-Jumlah kata 674
-Day 27

Hari ini Sharen berangkat praktek,  hari ini hari jum'at. Sudah beberapa hari Sharen tak melihat sang kekasih juga tak pernah mengabarinya padahal sudah tiga hari , pas dia berpapasan dengan sahabatnya.

"Dokter Mahendra. Dokter lihat dokter Farhan?" tanya Sharen.

"Oh dokter Farhan dan keluarga pindah ke Amerika. Karena keluarganya ada yang perlu pengobatan di sana apa dokter Farhan gak ngasih kabar," kata Mahendra.

"Tidak, kok gak ngasih kabar ya. Terima kasih nanti saya hubungi dia saja," kata Sharen yang sudah akan mulai ke ruangannya.

"Apa Farhan gak jujur sama Sharen? Batin Mahendra.

Yang langsung mengechat Farhan.

" Bro! Kamu ndak bilang Sharen tentang keadaanmu sekarang?" tanya Mahendra.
isi dalam chatnya.

" Tidak, aku belum bisa jujur dengannya, jika dia bukan jodohku aku ikhlas. Karena aku gak mau menyakiti dia," papar Farhan.

"Jelas menyakiti bro! Kamu menggantung hubunganmu, kalau Sharen tau dari orang lain, itu sangat menyakitkan. Berilah dia keputusan yang terbaik bro!" omel Mahendra.

Akhirnya Farhan member kabar pada Sharen.

"Dek maafkan kakak, yang tak bisa menjagamu, dan meneruskan hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, kita akhiri dengan baik ya, semoga kamu bertemu dengan jodoh terbaikmu, Aku bukan yang terbaik untukmu," kata Farhan yang menyeka air matanya.

Sekarang Farhan yang sedang di rawat di Amerika.

Setelah praktik Sharen membuka handphonnya, melihat chat dari Farhan dia langsung menghubungi balik.

Namun nihil panggilan berkali-kali tak pernah diangkatnya, handphon Farhan non aktifkan.
Menurutnya ini yang terbaik untuk Sharen, tetapi sebenarnya hatinya sangat sakit harus meninggalkan Sharen.

Sharen memilih pulang, berdiam di dalam kamar, tak tahu apa yang harus dilakukannya cintanya kandas kedua kalinya.

Sharen melakukan sholat asar serta berdoa agar di beri ketabahan, dan keikhlasan.
Di beri petunjuk agar yang terbaik untuknya.

"Ya Allah berilah yang terbaik untukku, berilah petunjukmu Ya Allah jika memang dia jodohku maka dekatkan. Jika dia bukan yang terbaik untukku, maka kuatkan hatiku, sembuhkan luka hatiku, agar aku bisa menjalani kehidupan tanpa beban aku ikhlas," dalam doa Sharen.

Sharen lebih memilih tenang, karena dirinya sudah pernah melaluinya saat bersama Mustofa dulu, dia lebih kuat hatinya.

Dia yakin Allah masih menyiapkan jodohnya, yang pantas untuk bersanding dengannya.

"Sekarang bukan waktunya aku mengurusi masalah cinta dan jodoh, biarkan Tuhan yang mengetur ikutilah skenarionya. Jalani saja yang terbaik untukku, sekarang waktunya aku mengejar mimpiku, agar aku bisa lulus yang terbaik," batin Sharen untuk menguatkan hatinya.

Sharen memilih menbaca buku tentang dokter kandungan, membuka lembar demi lembar mempelajarinya dengan giat.

*****

Shila hari ini periksa kandungnya, diantara suami tercinta.
Di rumah sakit Rsup Dr. Karyadi Semarang.

Menunggu antrian, dokter spesialis kandungan, Dr. Anggun Dewista. Setelah menunggu antrian lebih dari satu jam, akhirnya di panggil.

Setelah masuk bertemu dokter  Anggun, sang dokter memanggil asistennya. Ternyata pagi ini tidak berangkat, dokter Anggun menelpon dokter Sharen, karena dia sering membantu dokter Anggun praktik jika asistennya tidak berangkat, karena Sharen juga akan jadi dokter kandungan.

"Halo dok, apa praktik dokter sudah selesai? Karena kebetulan hari ini Rayna tidak berangkat, Dewi akan izin pulang anaknya sakit. Saya membutuhkan bantuan dokter apa bisa?" tanya dr. Anggun.

"Bisa dok, kebetulan juga sudah selesai ini juga udah mau pulang, jadi saya akan bantu dokter, buat belajar saya juga," kata Sharen yang bersiap-siap melangkah ke ruangan dr Anggun lewat pintu husus.

"Siang dok," kata Sharen.

Dokter Anggun menyuruh suster memanggil antrian nomer 10.
Shila masuk bersama Mustofa, berkonsultasi dengan dr. Anggun.

"Sebentar biar dokter Sharen siapkan alatnya dulu ya bu," kata Anggun

Setelah selesai dokter Anggun memeriksa Shila di temani Sharen yang memegang alatnya, dokter Anggun yang menerangkan tentang pemeriksaan tersebut.

" Tidak ada yang serius bu Shila, semua normal ya, saya beri vitamin buat penyubur kandungannya aja ya bu di minum rutin" kata dr Anggun

"Sudah berapa tahun bu Shila? Tanya dokter Anggun.

" Sudah 5 tahun bu, mau periksa takut jadi menunggu dulu, saya sudah minum susu prenagen, apa aja yang di suruh yang lebih tua saya ikutin ternyata belum berhasil," jawab Shila.

" Tak apa semoga berhasil ya bu Shila," kata Sharen.

" Terimakasih dokter Sharen, dokter Anggun saya dan suami permisi dulu,"  kata Shila.

" Iya Silakan bu," kata dua dokter Cantik.

Bersambung

Bab 28 Sebuah Do'a

1 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 47
-Kelompok 6
-Ruang Literasi
-Jumlah kata 680
-Day 28

Kabar bahagia yang datang tak terduga dari seorang sahabatnya,  Sharen ikut bahagia walau sebenarnya sedikit sakit dengan keadaan dirinya saat ini.

"Sharen aku hamil Ren," Kata Sinta yang vidio call dengan Sharen.

"Ya Allah selamat ya bu mil yang centil,udah mau punya bayi jangan ciwek dan manja " ledek Sharen.

"Ish Sharen mah gitu!" gerutu Sinta.

"Semoga sehat selalu ya, jaga dedeknya. Kesini nanti aku periksa," kata Sharen yang ikut bahagia.

"Iya semoga kamu juga cepat dapat jodoh yang terbaik untukmu," kata Sinta.

"Aamiin," Sharen tersenyum.

Shila yang dengar kabar Sinta hamil, menangis karena merasa dirinya yang sudah lama dari Sinta belum di beri.

"Sabar neng, insya allah pasti ada, pasti neng diberi anugerah yang indah. Tetapi sabarlah Allah sedang menyiapkannya, sedang mengujimu," kata Mustofa yang menguatkan istrinya.

"Tetapi bang, kenapa aku belum, padahal udah periksa katanya baik-baik saja, udah minum penyubur juga," kata Shila yang menyeka air matanya.

"InsyaAllah ada, percayalah ada atau tidak adanya seorang anak, itu bukan tujuan utama. tujuan utama menikah itu adalah ibadah ke pada Allah. Anak itu adalah bonus untuk kita, abang tahu setiap pernikahan pasti menginginkan seorang buah cinta kita, tapi jika tidak diberi bersabarlah memintalah yang terbaik, agar kita di beri keturunan " kata Mustofa yang menasihati istrinya.

" Iya bang maafkan aku ya," kata Shila yang memeluk suaminya.

"Percayalah dibalik kesedihan perjuangan serta pengorbanan pasti akan ada kebahagiaan," katanya menguatkan sang istri.

****

Dari hasil pemeriksaan pertama Farhan kanker otak stadium satu, setelah di cek pemeriksaan lanjutan kondisinya semakin drop.

Farhan harus di rawat secara intensif di rumah sakit Johns Hopkins Hospital, Baltimore.

Farhan pertama harus melakukan pemeriksaan lanjutan dan setelah itu kemoterapi.

Hari-hari terus dilewati, walau harus tidur di atas brankar, ruangan bernuansa putih juga bau khas obat-obatan.

Orang tua Farhan selalu menguatkan putranya, agar kuat dan bisa sembuh lagi, meski kadang Farhan lemah takut kurang percaya diri karena sudah melihat hasil pemeriksaannya.

"Nak, percayalah kamu pasti sembuh sehat lagi seperti dulu," kata ibunya.

"Iya bu, doakan Fathan terus ya bu," kata Farhan yang terisak.

"Tanpa harus kau minta pun nak, doa ibu selalu menyertaimu, semoga kamu di berikan kekuatan untuk menjalani cobaan ini, percayalah dibalik semua ini ada hikmahnya, kamu sembuh ibu akan selalu menemanimu," kata ibu Farhan yang sambil memeluk anaknya yang terbaring lemah.

"Ya Allah sembuhkanlah putraku, berilah kesempatan dia agar bisa lebih dekat kepadamu ya Allah , sehatkan lah badannya panjangkan lah umurnya," doa Mama Fera dalam hati yang mengelus kepala Farhan.

Mama Fera menyeka air matanya berulang-ulang kali untuk mencoba tidak menangis, untuk menguatkan sang putra mencoba walau sebenarnya hatinya lemah dan terasa hancur, melihat putra yang di sayang terbaring lemah.

Putra yang sangat gagah yang selalu dia banggakan, kini lemah tak berdaya melawan penyakit kanker otak.

*****

Setelah beberapa bulan mengkonsumsi vitamin penyubur,  saat dirinya mau mandi kepala terasa sakit dan mual.

Akhirnya Shila ingat bahwa dirinya sudah dua bulan tak datang bulan, Shila cek dengan tes kehamilan, karena dirinya punya simpanan banyak, dengan hati berdebar keringat dingin Shila dengan yakin mengeceknya.

Tak terasa air mata luruh, Shila  yang menangis haru karena melihat alat tes kehamilan ada dua garis merah yang dirinya impikan.

Shila menyeka air matanya, tak sabar memberi kabar ini kepada sang suami, Mustofa hari ini sedang mengajar pulang nanti siang.

Shila membuat kue, tespek Shila cuci serta bungkus dengan plastik, Shila cetak kue tengahnya kasih alat tespek untuk memberi kejutan kepada sang suami.

Menunggu dengan detik-detik kebahagiaan, akan segera punya buah hati buah cinta mereka.
"Alhamdulillah ya Allah, semua engkau balas dengan kesabaranku penantianku selama 5 tahun, akhirnya engkau berikan kebahagiaan," rasa syukur Shila ucapkan tanpa henti.

Terdengar suara motor yang biasa Mustofa pake, senyum manis terbit di hati Shila, saat mendengar suara salam.

"Assalamu'alaikum," ucapnya orang yang dari luar.
Hati terasa berdebar tak sabar menunggu yang berada di luar, Shila mondar-mandir dengan tersenyum mengembang di bentuk bibirnya.

"Wa'alaikumsalam," ucap Shila yang hendak melangkah.

"Riska, abang mana?" tanya Shila.

"Oh abang lagi lagi ada rapat mb, jadi motornya Riska bawa dulu nanti kesana lagi," jawab Riska.

Walau ada sedikit rasa kecewa di kira yang datang suami tercinta, ternyata yang datang Riska.

Bersambung

Mungkin saja kamu suka

Destria Anindia...
Lentera Sang Teruna
Wanda Mutiara C...
Day by Day
Kris Muntari
Rasa Literasi
Annisa Zhafaril...
Apa Adanya
Agustina Waty
SEBUTIR RINDU
Sindi setiyadi
segitiga cinta

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil