Loading
5

0

36

Genre : Rumah Tangga
Penulis : Asta Sitta
Bab : 30
Dibuat : 13 Juli 2022
Pembaca : 12
Nama : Asta Asira Jasmine
Buku : 1

WIVES' INSTITUTE

Sinopsis

Menjadi seorang istri artinya menjadi murid abadi sepanjang masa yang waktu belajarnya panjang bahkan sampai ajal menjemput. Nilainya pun dapat dilihat di dunia dan dirasakan manfaatnya di dunia maupun di akhirat. Peran yang dapat membawa seorang wanita berlabuh di surga atau neraka. Namun sayang, tidak ada sekolah formal yang mempelajari khusus menjadi istri. Padahal profesi lain ada sekolahnya. Lalu dimana kita bisa belajar menjadi istri yang baik dan didambakan? Welcome to WIVES' INSTITUTE. Tempat belajar menjadi istri. Siapkah kamu menjadi istri? Yuk cari tahu disini.
Tags :
#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch47 #Kelompok2

Bab 1 : Kapan Aku Siap Menikah?

1 0

- Sarapan Kata KMO Indonesia

- Batch 47 

- Kelompok 2 Anagata

- Day 1

- Sarkat Jadi Buku

- Jumlah kata 719


Di Indonesia, pernikahan masih menjadi momen yang sakral dan masih menjadi topik hangat yang selalu dibicarakan dalam pertemuan keluarga besar. Bagi orang yang mulai memasuki usia 20-an, biasanya sudah harus membiasakan diri menghadapi pertanyaan "Kapan nikah?" dari orang-orang sekitar, mulai dari teman, tetangga, bahkan keluarga dan diri sendiri. Orang-orang yang hanya melontarkan pertanyaan basa-basi entah sadar atau tidak, mungkin ia telah menancapkan belati tajam dihati dan tidak akan mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang kurang mengenakkan.

Lantas, bagaimana cara mengukur kesiapan seseorang untuk memulai rumah tangga? Terutama para wanita yang akan menanggung banyak tanggung jawab dengan gelar baru seorang “istri”. Menikah tentunya bukanlah sebuah ajang perlombaan ataupun ajang melarikan diri dari masalah kehidupan. Jika memiliki niat ingin menikah karena tidak sanggup lagi skripsi atau muak dengan pekerjaan dan ingin segera dinafkahi, atau keinginan menikah karena dikejar oleh umur yang semakin menua, sebaiknya ditunda dulu pernikahannya, karena itu salah satu tanda jika kita belum dewasa dan belum siap menikah.

Sebelum menjawab waktu atau alasan lainnya, ada baiknya coba dulu pikirkan satu hal ini : "Kriteria pasangan seperti apa yang kita inginkan untuk menjadi pendamping hidup?". Memang dipertemukannya jodoh merupakan salah satu rahasia Ilahi yang tidak bisa kita prediksi kapan datangnya. Ada yang ternyata telah hadir di sekitar kita, ada juga yang baru kenalan ternyata jodoh.

Nah, sembari menunggu waktu hadirnya, ada baiknya kita persiapkan dulu kriteria calon pasangan kita. Agar nantinya kita menjadi terarah dan bisa menyesuaikan diri dengannya. Sebagai contoh, jika kita menuliskan ingin memiliki calon pasangan dengan kriteria :

  1. Memiliki rasa tanggung jawab
  2. Baik, sopan dan ramah
  3. Humoris
  4. Mapan secara mental dan finansial
  5. Good looking
  6. Agamanya baik (sholeh/sholehah)
  7. Berpendidikan

Maka, kita bisa merefleksikan diri apakah kita sudah seperti itu? Orang bilang jodoh adalah cerminan diri. Ada baiknya kita pun mulai menata diri seperti kriteria yang kita inginkan ada pada pasangan kita. Kita bisa mulai dengan banyak menggali ilmu agar bisa mengimbangi kecerdasannya. Kita juga mulai bisa merawat diri agar bisa enak dipandang, bersikap ramah dan sopan kepada orang lain, mulai mempelajari ilmu agama terutama tentang hak dan kewajiban suami-istri atau tentang fiqih rumah tangga, dan lain sebagainya.

Setelah kita menentukan kriteria pasangan dan mencocokkan dengan diri sendiri. Kita bisa mulai memprediksi kesiapan diri sendiri untuk menikah. Hingga jika saatnya tiba, kita tidak kaget dan jauh lebih siap secara mental. Janganlah kita menikah hanya karena rasa terburu-buru agar tidak menjadi bahan omongan orang lain atau karena malu dengan umur. Pernikahan bukanlah ajang perlombaan, tapi tentang kesiapan memulai hidup baru dengan tanggung jawab dan petualangan yang lebih besar.

Apakah perbedaan antara baru 'ingin' atau 'siap' menikah? Kita bisa mengecek melalui tabel ini:

Tabel 1.1 : perbedaan antara keinginan dan kesiapan menikah

Arti Pernikahan

Baru Ingin : Menikah itu kehidupan happy ending.  Hidup bahagia selamanya seperti cerita dongeng.

Sudah Siap : Menikah itu awal hidup baru yang harus dipersiapkan dengan matang. Tak hanya bersiap untuk bahagia dengannya, tapi juga bersiap untuk menata diri berkonflik dengannya.

Alasan Menikah

Baru Ingin : Karena dikejar umur, menjadi bahan omongan orang, bosan hidup sendiri, ingn lari dari masalah atau ingin segera memiliki foto-foto romantis di sosial media dan lain sebagainya.

Sudah Siap : Memiliki mindset yang luas dan sudah siap lahir-batin dengan mencari informasi sedetail mungkin tentangnya.

Kriteria Pasangan

Baru Ingin : Masih terlalu umum dan lebih banyak menilai pada penampilan fisik. Contohnya ingin pasangan yang kaya, tampan, pintar, tinggi, putih dan lain sebagainya

Sudah Siap : Merincikan kriteria yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan visi dan misi dalam hidupnya. Baginya, pasangan adalah partner seumur hidup, maka dari itu menyamakan visi misi merupakan hal penting dalam pernikahan agar tidak mudah oleng dan karam ketika badai menerpa.

 

Dari tiga aspek diatas, bisa kita jadikan sebuah acuan awal dalam menentukan apakah kita telah siap atau baru sekedar ingin menikah. Jika pendapat kita masih lebih condong kearah “keinginan” saja, ada baiknya tunda terlebih dahulu pernikahan sampai kita benar-benar merasa siap minimal secara mental. Menikah itu bukanlah akhir, melainkan awal hidup yang baru. Dimana kita terlahir kembali menjadi seorang istri atau suami. Saat itu, tidak bisa lagi kita berlaku egois atau keras kepala memaksakan pendapat. Saat itu adalah saat dimana KOMUNIKASI menjadi hal yang sangat penting dan berpengaruh.

            Menikah itu petualangan baru. Banyak hal sebaiknya dibahas terlebih dahulu agar tidak menjadi konflik atau akar perceraian kedepannya. Apa saja yang sekiranya perlu dibahas? Akan kita perinci dalam beberapa bab kedepan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Bab 2 (bag.I) : Memilih Pasangan Ideal

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia

- Batch 47

-Kelompok 2 Anagata

-Day 2

- Sarkat Jadi Buku

- 715 Kata


BAB 2

Memilih Pasangan yang Ideal

 

Setelah kita bahas tentang kriteria di bab sebelumnya, kali ini kita akan membahas lebih jauh tentang bagaimana tips memilih pasangan yang ideal. Tapi sebelumnya, perlu kita ketahui terlebih dahulu tentang faidah-faidah atau manfaat dan alasan dari pernikahan itu sendiri. Jika ditanya untuk apa kita menikah dan apa manfaat yang bisa diambil? Maka bisa kita jawab bahwa pernikahan itu sendiri adalah fitrah manusia yang memiliki kecenderungan untuk mencintai dan dicintai. Manusia adalah makhluk sosial dan pastinya membutuhkan orang lain untuk keberlangsungan hidupnya. Disinipun, dengan menikah, manusia memiliki tempat untuk pulang, berbagi cerita suka dan duka, melepas lelah dan penghiburan akan penatnya dunia. Dalam hukum agamapun, khususnya gama Islam, pernikahan dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan perusakan nasab generasi penerus yang dapat berakibat fatal bagi keberlangsungan hidupnya.

Menikah sebaiknya tanpa paksaan agar tercipta kata sakinah (ketenangan), mawaddah (ketulusan cinta) dan rahmah (kasih sayang). Orangtuapun tidak boleh memaksa anaknya untuk menikah sampai anak itu rela untuk melakukannya. Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan nikahkan putrimu kecuali dengan kerelaannya.” (HR. Ibn Abi Syaibah no. 17122). Maka dari itu, mempersiapkan pernikahan tidak boleh sembarangan dan harus dengan kerelaan hati karena pelaksanaannya seumur hidup dan pertanggung –jawabannyapun sampai akhirat kelak yang bahkan bisa menentukan apakah surga atau neraka tempat persinggahannya.

Nah, jika hatimu sudah mantap untuk menikah, maka selanjutnya kita akan mulai membahas tips memilih pasangan agar tercipta pernikahan yang tentram dan menyenangkan seumur hidup. Ingatlah pesan dari Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wa sallam, “Lihatlah dimana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad, 4:341. Hadist ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al-Albani dalam At-Targhib wa At-Tarhib no. 1933).

Sungguh sayang, pesan ini seperti tidak banyak sampai ke umat muslim zaman sekarang. Sebagian dari mereka terjerumus dalam perbuatan maksiat seperti pacaran dan semisalnya, sehingga merekapun menikah dengan kekasih mereka tanpa memperhatikan bagaimana agamanya. Mereka hanya memilih berdasarkan fisik, kekayaan, status tinggi dan kenyamanan sesaat belaka. Banyak rumah tangga yang hancur karena merasa salah memilih dan muncul penyesalan dan kegamanan diakhir apakah memilih untuk bertahan atau berpisah.

Sejatinya, umat muslim betul-betul harus selektif dalam memilih pasangannya, karena pasangan/suami adalah surga atau neraka bagi istri. Yuk sekarang saatnya kita simak tips memilih suami ideal idaman para istri.

A.     Suami yang bertakwa

Al-Hasan bin Ali Rahimahullaah pernah berkata kepada seorang laki-laki, “Kawinkanlah putrimu dengan laki-laki yang bertakwa. Sebab jika laki-laki itu mencintainya, maka ia akan memuliakannya dan jika ia tidak menyukainya, maka ia tidak akan menzhaliminya.”

Indah bukan? Laki-laki yang memiliki keistimewaan karena keshalihan dan akhlaknya, tentu mengetahui hukum-hukum Allah tentang bagaimana memperlakukan istri. Jika ia merasa ada kekurangan dalam diri istrinya, ia akan mengingat sabda Nabi, “Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci mukminah. Jika ia tidak menyukai sebagian akhlaknya, tentu ia akan ridha dengan akhlaknya yang lain.” Dengan begitu ia akan mampu menguasai gejolak di dalam dirinya dan bisa menerima kekurangan istrinya sehingga mereka mampu melewati badai rumah tangga kedepannya.

 

B.     Pilihlah yang sekufu

Sekufu secara Bahasa adalah sebanding dalam hal kedudukan, agama, nasab atau dengan kata lain kesetaraan dalam agama dan status sosial. Allah Ta’ala juga berfirman,

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

 

C.       Menyenangkan bila dipandang

Tidak ada larangan jika menginginkan suami yang tampan atau baik fisik dan parasnya karena keadaan fisik calon pasangan hidup kita juga salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka mempertimbangkan hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu menciptakan ketentraman hati.

Oleh karena itu, bagi yang melewati proses ta’aruf syar’i, Islam menetapkan adanya nazhor (melihat calon pasangan ketika serius ingin menikah dengannya). Sehingga baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, dapat mempertimbangkannya dan berharap ada ketertarikan sehingga keduanya bisa lebih rela dan tidak menyesal karena masalah fisik.

 

D.     Kemampuan untuk memberi nafkah

Memberi nafkah merupakan kewajiban seorang suami. Islam telah menjadikan sikap menyia-nyiakan hak istri, anak-anak serta kedua orangtua dalam nafkah termasuk kategori dosa besar. Namun bukan berarti calon suami harus kaya raya, karena Allahpun menjanjikan rezeki bagi para lelaki miskin yang ingin menikah. Asalkan lelaki itu mau terus berusaha dan tidak malas untuk bekerja yang dengannya dapat menegakkan punggungnya dan keluarganya, maka itu sudah cukup menjadi pertimbangan.


Bab 2 (bag.2): Menentukan visi dan melihat karakter pasangan

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia

-Batch 47

-Kelompok 2 Anagata

-Day 3

-Sarkat Jadi Buku

-738 kata

I.       Memilih kriteria sesuai dengan visimu untuk menikah

            Dalam pernikahan memang sebaiknya kita menentukan visi misi rumah tangga yang akan kita bawa. Mencari pasangan yang sesuai dengan visi misi kita akan memudahkan kita untuk mencapai  family goal yang telah kita tentukan. Sebagai contoh, misalkan kita ingin mencetak ‘keluarga yang harmonis, akur satu sama lain, berpendidikan dan agamis’ maka kita bisa membuat misi seperti ini :

-       Menciptakan suasana kekeluargaan dengan cerita dan apresiasi tanpa gadget setiap makan malam

-       Selalu menyediakan waktu untuk setiap momen berharga keluarga

-       Membudayakan kebiasaan membaca bersama sepekan sekali

-       Mengadakan diskusi keluarga setiap diperlukan

-       Belajar mengkaji ilmu agama bersama sepekan sekali

-       Rutin ke masjid setiap waktu sholat

-       Membiasakan kunjungan ke rumah oarangtua atau mertua setiap bulan sekali.

Dengan adanya penentuan visi misi seperti itu, bisa memudahkan kita dalam mengatur keluarga nantinya dan pasangan kita pun tidak akan kebingungan serta mengurangi miss komunikasi antara suami istri. Jika dilihat dari uraian diatas, kita bisa mengelompokkan kriteria calon suami menjadi seperti ini:

 “Dia harus memiliki sifat terbuka dan ramah, open minded, suka membaca buku atau explore  hal-hal baru, tidak buta ilmu agama, memiliki semangat dan selalu ingin belajar, akur terhadap orangtua dan saudaranya dengan harapan ia bisa akur juga dengan orangtua dan saudara kita.”

Contoh diatas mungkin hanya sebagian kecil saja. Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda dalam rumah tangganya. Jadi, yuk tentukan visi misimu mulai sekarang. Bagi yang sudah menikah, tidak ada kata terlambat untuk membuat family goalmu dari sekarang. Komunikasikan dengan pasangan, semoga Allah mudahkan.

 

    II.         Perhatikan Karakter Calon Suami

Setelah kita menentukan visi misi dan membuat list kriteria calon suami, sekarang saatnya mencari yang sesuai dengan kriteria tersebut. Kita bisa memulai dengan berdoa pastinya. Kita bisa memanjatkan doa setiap saat, setiap akhir sholat, setiap bepergian dan waktu mustajab lainnya. Kita bisa menyebutkan detail kriteria yang kita inginkan dalam doa kita. Kita meminta kepada Allah yang Maha Memiliki Segalanya. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah Ta’ala sudah berkehendak. Tidak peduli jika orang lain menganggap remeh atau mustahil kita dapatkan pasangan sesuai keinginan kita. Selagi Allah menyetujui, in syaa Allah akan kita dapatkan yang kita inginkan. Berikutnya kita melihat sekitar. Adakah laki-laki disekitar kita yang cocok dengan kriteria kita? Kita juga bisa meminta bantuan teman atau keluarga untuk mencarikan, atau bisa juga melalui proses ta’aruf syar’I baik yang diwadahi oleh lembaga atau kerabat kita sebagai wasilah (penghubung).

Jika kita telah mendapatkan calon yang sesuai, kita bisa mempelajari karakternya. Ingat, menjadi seorang istri itu kedepannya akan lebih banyak bermain perasaan. Maka ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu seluk-beluk karakter pasangan agar kedepannya kita tidak kaget dan tidak banyak memendam perasaan terluka atau kecewa. Dalam konteks ini, bisa digunakan dalam proses ta’aruf yang calonnya belum kita kenal sama sekali atau dalam proses mengenali lebih dalam jika calon kita adalah orang yang berada di sekitar kita dan sudah kita ketahui sedikit banyak karakternya.

Diantara hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

A.   Bagaimana dia ketika marah

Dalam rumah tangga, tidak mungkin jika tidak ada keributan. Riak-riak kecil berupa pertengkaran atau selisih pendapat pasti ada sebagai bumbunya. Sebelum memutuskan untuk menikah dengannya, ada baiknya kita cari tahu terlebih dahulu bagaimana sikapnya ketika dia marah. Hal ini bisa kita cari tahu melalui keluarga, saudara atau teman-temannya. Dari info yang kita dapat, kita bisa belajar cara mengatasinya, missal jika dia diam atau mengomel terus-terusan ketika marah, kita bisa memberinya waktu sebentar untuk menenangkan diri, lalu kita datang meminta maaf dengan lembut ketika suasana sudah mulai mencair. Jika ia masih melempar atau merusak barang atau bahkan sampai “ringan tangan” ketika marah, ini perlu menjadi pertimbangan ulang.

 

B.   Bagaimana Cara ia memperlakukan wanita terutama terhadap ibunya

 

Karakter selanjutnya yang bisa kita lihat tentang kelembutannya dalam memperlakukan wanita, kita bisa lihat darimana ia memperlakukan ibu, lalu saudara perempuannya. Seorang laki-laki yang memiliki sifat shalih dan berakhlak mulia, ia akan memuliakan ibunya. Bertutur kata yang baik dan sopan terhadapnya, tidak keberatan jika diminta membantu pekerjaan ibunya, memperhatikan kesehatan ibunya dan sebagainya. Jika ia bisa bersikap baik terhadap ibunya dengan tulus, maka in syaa Allah dia juga akan bersikap sama dalam memperlakukan istrinya. Laki-laki seperti itu biasanya diberi kelembutan oleh Allah seperti sabda Nabi Shalallaahu ‘Alaihi wa sallam,

Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (menjadikan sesuatu itu indah). Tidaklah dihilangkan kelembutan itu dari sesuatu melainkan akan memperjeleknya.” (HR. Muslim, no. 2594) dan  “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)



Bab 2 (bag.akhir)

2 1

-Sarapan Kata KMO INDONESIA

-Batch 47

-Kelompok 2 Anagata

-Sarkat Jadi Buku

- Day 4

-858 kata


C.     Bagaimana sikapnya dalam menghadapi masalah

Dalam hidup manusia pasti akan selalu mendapati yang namanya masalah. Baik masalah kecil atau besar, ringan atau berat dan sebagainya. Masalah tidak dapat dihindari, ia bagaikan ujian kehidupan yang akan selalu datang untuk me mbuat manusia menjadi lebih tinggi lagi derajatnya. Begitupun calon pasangan kita, kita bisa mengamati atau bahkan mengetesnya dengan suatu masalah dan kita lihat bagaimana reaksinya. Apakah ia termasuk orang yang menghadapi masalah dengan santai, menarik diri, diam, menangis, pura-pura baik-baik saja, atau bahkan tipe yang suka menceritakan semua keluhannya di sosial media, menyalahkan orang lain atau lari dari masalah? Setiap orang memiliki tipe yang berbeda. Apapun tipe pasanganmu baik yang terbuka atau tertutup dalam menceritakan masalahnya. Selagi tidak membahayakan atau merugikan dirinya dan orang lain. Kita harus mempersiapkan diri menjadi partner terbaik disaat terpuruknya. Dan jika ia tipe yang lebih kearah negative seperti suka berseloroh di social media, suka blaming  atau menyalahkan orang lain apalagi yang suka kabur dari masalah. Sebaiknya kita hindari karena artinya ia belum dewasa dan malah bisa menambah atau memperburuk keadaan disaat rumah tangga sedang ditimpa cobaan.

 

D.     Bagaimana Ia dengan masa lalunya

Mungkin ini termasuk salah satu hal yang agak sensitif untuk dibahas. Tapi hal ini juga bisa dibilang penting untuk persiapan kedepannya. Kita memang tidak perlu tahu terlalu detail tentang masalalunya, dan kitapun tak perlu sampai mengorek lebih dalam. Masalalunya biarlah menjadi miliknya, kita tak perlu ikut campur lagi. Namun yang menjadi sorotan disini adalah apakah ia memiliki masalalu yang belum selesai dan masih menyimpannya hingga sekarang? Banyak rumah tangga yang mendapatkan masalah dari perkara masalalu pasangan yang belum ia selesaikan. Misalkan ia masih mencintai seseorang di masalalunya, lalu masih terbawa hingga ia menikah dengan orang lain. Hal ini bisa memicu sikap membanding-bandingkan atau kecemburuan dan prasangka berlebihan yang bisa merusak keharmonisan rumah tangga. Tentu kita tak ingin hal itu terjadi pada rumah tangga kita, kan?

 

Ada baiknya, sebelum kita memutuskan untuk menikah dengannya. Kita pastikan dahulu jika ia sudah selesai dengan masalalunya. Buat kesepakatan untuk tidak membahas atau mengingat-ingatnya lagi. Mintalah untuk fokus menjalani rumah tangga dengan kita sebagai masa kini dan masa depaannya. Kitapun harus bersikap sama. Kita sendiri harus sudah selesai dengan masalalu dan tidak terombang-ambing lagi dengannya. Tentunya pasangan kita juga mengharapkan hal yang sama seperti kita. Mari melangkah bersama dan tutup semua cerita di masalalu yang mungkin bisa menjadi masalah kedepannya.

 

Bagi teman-teman yang sudah terlanjur menikah dan sedang menghadapi masalah rumah tangga karena masalalu pasangan. Semangat! Kita harus bersabar terlebih dahulu. Usahakan tetap mendampingi suami menyelesaikan dengan tegas masalahnya. Jangan terlalu memaksakan perasaan kita terus terhadapnya, bisa jadi iapun sebenarnya sedang membutuhkan support dan perhatian kita lebih dari biasanya agar ia tidak terus terombang-ambing dengan masa lalunya. Semangat dan terus berdoa kepada Allah, semoga Allah Ta’ala memudahkan semua urusannya. Ingatlah pesan ini di kala kita gundah.

              “Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capai, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari 5641)

 

      I.          Saatnya memantapkan hati dengan istikhoroh

Sebagaimana kita menginginkan yang terbaik, selain usaha, kita juga butuh ketetapan hati dan restu dari Allah dalam pilihan kita. Minta petunjuk kepada-Nya dengan melaksanakan sholat istikhoroh. Sholat Istikhoroh adalah sholat Sunnah yang dikerjakan ketika seseorang hendak memohon petunjuk kepada Allah Ta’ala untuk menentukan keputusan yang benar ketika dihadapkan dengan beberapa keputusan pilihan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa:

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau jelek bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).

            Doa istikhoroh dibaca setelah sholat dan setelah membaca doa diatas, kita bisa menyebutkan keinginan kita dengan Bahasa bebas. Semoga Allah meridhoi dan memberikan kita keputusan yang terbaik. Amin.


user

17 July 2022 22:38 Catur Untari Semangat, Kak Asta

Bab 3: Ngobrol dulu, yuk!

2 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia

-Batch 47

-Kelompok 2 Anagata

-Day 5

-Sarkat Jadi Buku

-748 Kata


BAB 3

Ngobrol dulu, Yuk!


I.     Self Talk First

Aku memiliki sebuah rasa yang tak dapat terlihat oleh mata.

Rasa itu, yang tak dapat dilukiskan indah dengan kata-kata ataupun frasa.

Rasa itu, yang susah ditangkap oleh telinga dan panca indera lainnya.

Rasa itu, yang penuh arti, terjebak dan tersesat dalam labirin hati.

Tak dapat keluar, hanya pasrah menitipkannya pada angin yang berhembus agar membawanya pergi.

Membumbung tinggi menembus batas jarak relung mimpi.

Berharap hujan membasahi dan memberinya warna seindah pelangi.

Rasa itu, akankah dapat dimengerti?

Entah, biarkanlah ia berlari, membumbung tinggi bersama doa kepada Sang Ilahi.

            Ketika kita semakin mendekati pernikahan, muncul rasa yang sulit digambarkan. Tidak mengapa, hal itu meupakan hal yang wajar. Sambil terus memantapkan hati, ngobrol dulu,yuk! Ngobrol sama diri kita sendiri, seberapa jauh kesiapan kita untuk menikah. Setidaknya ada beberapa hal yang harus kita tanyakan dan jawab dengan sejujurnya.

A.   Bagaimana kesiapan mental kita?

Menikah itu bukan hanya sehari-dua hari, tentu kita menginginkan pernikahan sekali seumur hidup. Awet sampai maut memisahkan dan bertemu kembali dalam surga-Nya. Kita harus berani bertanya pada diri kita sendiri, seberapa siap kita secara mental dan emosi? Apakah kita sudah menelisik hati kita? Adakah trauma masa lalu atau inner child yang masih terkurung dalam diri kita? Atau adakah suatu masalah mental yang sedang dihadapi? Atau kita memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap pernikahan? Hanya kita sendiri yang tahu jawabannya. Jika jawabannya, masih, apakah itu akan mengganggu kehidupan kita kedepannya? Jika tidak, silahkan lanjutkan kehidupan. Namun jika iya, tidak ada salahnya jika kita mengobati terlebih dahulu dengan bantuan professional seperti psikolog tepercaya agar kita bisa lebih siap dan matang melanjutkan pernikahan.

            Kesehatan mental saat ini sama pentimgnya dengan kesehatan fisik. Bukanlah suatu aib jika kita mengunjungi psikolog atau psikiater saat ini. Rumah tangga yang dibangun dengan kesiapan yang matang dan mental yang sehat tentunya akan lebih minim badai atau tetap tentram saat masalah datang menyapa. Karena, segala sesuatu yang ada dalam rumah tangga tersebut akan dihadapi dengan kepala dingin dan emosi yang stabil. Apalagi posisi kita sebagai istri dan ibu nantinya, dua peran yang tidak bisa dikatakan peran kecil. Peran yang akan memainkan emosi dan pikiran bagaikan roller coaster. Ada suami dan anak-anak yang kondisi psikologisnya akan terpengaruh dengan kondisi psikologis kita sendiri sebagai tokoh, panutan dan sandaran utama bagi mereka. Istri dan ibu yang bahagia, tentunya akan melahirkan kondisi rumah tangga yang bahagia pula. Begitupun sebaliknya, jika kita frustasi dan mudah emosi, akan melahirkan kondisi rumah tangga yang kurang nyaman dan tidak sehat.

B.   Bagaimana kesiapan fisik kita?

Pertanyaan selanjutnya adalah tentang kesiapan fisik kita? Sebelum menikah, penting bagi kita –dan pasangan- untuk mengecek kesehatan fisik. Apakah kita memiliki penyakit menular? Jika ada, apakah bisa diobati? Sama seperti pernyataan diatas. Kesehatan fisik juga hal yang penting yang tak boleh luput atau diabaikan. Karena nantinya akan berpengaruh pada pasangan dan kehidupan anak-anak kita. Tidak ada salahnya rajin berolah raga dan mengatur pola hidup sehat dari sekarang. Kesehatan keluarga nantinya merupakan salah satu tanggung jawab kita sebagai ratu dalam keluarga. Jika kita sehat, maka in syaa Allah keluargapun sehat.

Selain itu, pihak KUA (Kantor Urusan Agama) juga biasanya meminta bukti tes kesehatan dan vaksin yang harus dilakukan oleh calon pengantin. Terutama hal yang berkaitan dengan kesehatan reprpduksi. Hal ini bertujuan agar diketahui bahwa calon pengantin sehat sehingga tidak akan menimbulkan masalah bagi pasangan dan mengurangi cacat lahir pada keturunannya kelak.

 

C.   Bagaimana kesiapan pikiran kita?

Dalam pernikahan, kita harus mengetahui sebelumnya bahwa kehidupan kita bisa saja akan berubah 180 derajat dari kehidupan kita sebelumnya. Jika biasanya kita bisa bebas kemana saja dan dengan siapa saja, maka setelah menikah, bisa jadi kita menjadi lebih banyak di rumah dan hampir tidak memiliki waktu untuk bermain dengan teman-teman sebanyak dan sebebas yang kita mau. Bahkan circle pertemanan pun akan semakin mengecil disbanding sebelumnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus siap dengan perubahan ini karena adanya perubahan pula terhadap prioritas kehidupan kita.

D.   Bagaimana dengan kesiapan keterampilan kita?

Ada banyak sekali keterampilan yang harus kita kuasai jika kita menjadi istri. Diantaranya menjadi koki, perawat, manajer, akuntan, guru, bahkan asisten rumah tangga dan lain sebagainya. Jika semasa gadis kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain tanpa mempelajari keterampilan-keterampilan diatas, tentunya kita akan kaget dan kelimpungan diawal-awal masa pernikahan. Bahkan bisa jadi kita merasa ingin menyerah. Tenang Saudariku, keterampilan ini tidak harus kita kuasai 100% semuanya. Namun, memang ada baiknya jika kita tetap mempelajari itu walau sedikit. Hal itu akan bernilai pahala jika kita ikhlas melakukannya. Bukankah suatu hal yang menyenangkan jika kita bisa panen pahala setiap waktu walau dirumah aja?

 

 

 

 

 


Subbab 3 : Mari bicara dengannya

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia

-Batch 47

-Kelompok 2 Anagata

-Day 6

-Sarkat jadi buku

-701 Kata


Sebagai persiapan menjadi istri yang baik, setidaknya kita harus mengetahui hal-hal dasar terkait pemenuhan kebutuhan dan kenyamanan keluarga. Seperti menyapu, mengepel, memasak menu sehari-hari, mengelola keuangan dan belajar mengendalikan emosi serta tata cara berkomunikasi yang baik dengan pasangan dan anak. Jika seandainya kita memiliki rezeki lebih, kita bisa meminta bantuan orang lain untuk mengalihkan sebagian tugas seperti bersi-bersih rumah, memasak atau bahkan mengurus anak. Namun, tetap sebaiknya kita dan pasangan tetap menjadi poros utama yang memegang kendali terhadap aturan keluarga dan perkembangan anak-anak kelak.

  1. Mari Bicara Dengannya

Jika kita sudah bicara dengan hati kita dan tidak ada masalah dengannya, mari kita lanjut ke tahap berikutnya, yaitu bicara dengan calon suami atau suami bagi yang sudah menikah. Lho, sudah menikah masih harus bicara dari hati ke hati juga? Tentu! Dalam pernikahan, salah satu rumus utama yang harus diingat adalah KOMUNIKASI. Banyak perceraian yang terjadi karena minimnya komunikasi antar suami istri. Si istri suka kode, si suami nggak paham, ribut. atau si suami nggak banyak omong, tapi si istri orang yang terlalu ingin tahu, suami jadi nggak nyaman, ribut lagi. Begitu terus sehingga selalu muncul salah paham lalu tidak ada pembicaraan dari hati ke hati, akibatnya tak ketemu solusi, perpisahanlah yang terjadi.

Bagi yang belum menikah, perbanyaklah bertanya atau bahkan jika sampai membuat syarat pranikah pun diperbolehkan dalam Islam, khususnya. Bagi yang telah menikah, tidak ada kata terlambat untuk menjadwalkan we time bersama suami walau hanya sekedar berbincang sambil minum the. Jauhkan gadget saat ingin berbicara agar fokus kita dan pasangan tidak terganggu. Nah, apa saja ya yang sekiranya bisa dibahas ketika sebelum menikah? Berikut beberapa contohnya.

  1. Setelah menikah, akan tinggal dimana?

Penting bagi pasangan yang mau menikah atau yang masih pengantin baru untuk saling terbuka tentang tempat tinggal. Apakah akan tinggal seatap dengan orangtua / mertua? atau apakah akan tinggal jauh atau dekat dengan kampung halaman? Rumah sendiri atau ngontrak? Dan lain sebagainya. Tidak ada masalah jika istri meminta kejelasan terkait tempat tinggal setelah menikah, karena mendapatkan tempat tinggal adalah salah satu hak istri dan kewajiban suami untuk menyediakannya sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana aturan yang telah dibuat oleh Islam.

“Di antara hak istri yang wajib ditunaikan oleh suami adalah menyediakan tempat tinggal yang aman bagi istrinya. Tidak boleh bagi suami menempatkan orang lain bersama istrinya yang kira-kira akan membahayakannya atau tidak disenangi oleh istri akan keberadaannya.”

Walaupun itu dari keluarga suami, semisal ibunya, ayahnya, adiknya dan sebagainya. Lalu bolehkah istri menolak jika tinggal serumah dengan mertua? Jawabannya, tidak boleh memaksa istri tinggal bersama mertua apabila istri tidak mau. Ada sebuah fatwa dari Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam kitab Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan, beliau berkata:

“Selama Istri Anda tidak ingin tinggal di rumah orang tua Anda, maka Anda tidak bisa memaksanya. Sebisa mungkin anda yakinkan orangtua Anda mengenai masalah tersebut dan tempatkan istri di rumah tersendiri, dengan tetap menghubungi orangtua, berbakti kepadanya, membuatnya ridha, dan berbuat baik kepadanya semampu Anda.”

Dalam Islam, segala sesuatu diatur termasuk Islam sangat memahami kondisi psikologis terkait hal ini. Istri dan ibu mertua adalah wanita, yang mana perasaan paling dominan bagi keduanya. Bisa saja suatu hari muncul ketidakcocokan atau perbedaan pendapat mulai dari urusan dapur, pengaturan rumah, dekorasi rumah bahkan sampai cara pengasuhan anak. Hal ini bisa menjadi masalah besar jika terus berkelanjutan. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita membuat kesepakatan dengan pasangan terkait hal ini, karena mendapat tempat tinggal sendiri adalah hak dasar istri walaupun sekedar kontrakan kecil.

Lain halnya jika kita terjebak pada kondisi dimana kita sebagai istri harus tinggal dirumah orangtua suami. Misalkan kondisi kesehatan mertua yang tidak memungkinkan untuk ditinggal sendiri, atau kondisi ekonomi yang belum memungkinkan untuk menempati rumah sendiri, maka jika sang istri ridha tinggal bersama keluarga suaminya – dalam bentuk berbuat baik kepada suami dan keluarganya- maka hal ini tidak mengapa baginya. Bahkan Allah akan memberi pahala atas kebaikan ini. Namun, kita tetap harus mempersiapkan diri dengan kesabaran dan ketabahan serta memohon kemudahan dan pertolongan dari Allah Ta’ala. Sebaiknya juga bagi suami, jika istrinya telah rela tinggal bersama keluarganya, ia harus sering menghibur istrinya serta meminta maaf kepadanya karena belum bisa menunaikan hak istri yang satu ini. Intinya, bicarakanlah baik-baik perkara ini inginnya seperti apa dan solusinya, agar tidak menjadi masalah bahkan sampai menjadi penyebab retaknya rumah tangga, naudzubillah.  













Subbab 3: bicara tentang uang

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia

-Batch 47

-Kelompok 2 Anagata

-Day 7

-769 Kata


A.   Apakah istri boleh bekerja setelah menikah?

Pertanyaan selanjutnya yang bisa kita bahas adalah tentang aktivitas yang akan kita jalani setelah pernikahan. Apakah kita boleh bekerja atau harus di rumah saja menjadi ibu rumah tangga? Bagi sebagian wanita yang mungkin telah bekerja sebelumnya, ia merasa tetap ingin bekerja setelah menikah untuk sekedar mengisi waktu sebelum punya anak atau memang dari awal ingin memiliki kemandirian finansial. Bagi sebagian lagi, ia tidak mempermasalahkan jika harus di rumah aja mengurus rumah tangganya, namun tetap memiliki kesibukan sendiri dirumah selain urusan domestik. Hal ini sebenarnya sah-sah saja bahkan termasuk penting untuk dibicarakan bersama calon/pasangan kita.

Setiap pilihan memiliki resikonya masing-masing. Bagi yang memilih untuk tetap bekerja, mungkin ia akan kurang maksimal dalam mengurus suami dan anak-anaknya kelak. Begitupun sebaliknya, yang memilih menjadi ibu rumah tangga, dia akan maksimal mengurus keluarganya tapi bisa jadi ia akan kehilangan banyak waktu bersantai dan melakukan hobinya. Jika kita telah sepakat di awal, maka diharapkan akan mengurangi sikap saling menuntut dan menyalahkan. Semuanya telah memahami konsekuensi dari pilihan yang diambil dan diharapkan bersikap dewasa terhadapnya. Walaupun sebenarnya, jika tidak ada hal yang urgent terhadap kelangsungan hidup rumah tangganya, wanita sebaiknya lebih banyak berada di rumahnya fokus terhadap keluarganya, karena istri dan ibu adalah pilar utama pendidikan dalam keluarga tersebut.

B.   Bagaimana mengatur keuangan nantinya dan siapa yang kelola?

Tidak semua orang berani membahas masalah keuangan sebelum menikah. Kekhawatiran akan dicap “matre” atau “tabu” jika menanyakannya di awal merupakan salah satu faktor bagi mereka untuk menanyakan hal ini. Padahal sebenarnya boleh saja bertanya di awal. Sebagai persiapan menjadi istri yang baik, kita juga harus tahu sumber penghasilan pasangan kita. Apakah bersumber dari yang halal, haram atau syubhat? Kita harus selektif memastikan sumber keuangan keluarga nantinya bersumber dari yang halal saja. Setelah kita ketahui aman, kita bisa membahas bersama calon pasangan kita tentang pengelola dan sistem pengelolaan finansial keluarga nantinya.

Ada rumah tangga yang menerapkan sistem keuangan tertutup, dimana antara keuangan suami-istri tidak saling terbuka dan transparan. Suami tetap mencukupi kebutuhan nafkah istri dan anak-anaknya dengan baik, tapi tidak mengungkapkan secara terbuka jika ia memiliki tabungan atau dana simpanan lainnya. Ada pula rumah tangga yang menerapkan sistem keuangan terbuka, dimana suami-istri saling mengetahui secara menyeluruh keuangan keluarga termasuk tabungan dan dana simpanan yang dimiliki keduanya. Keduanya memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing. Mau sistem terbuka atau tertutup, bisa disepakati bersama disesuaikan dengan rencana pengelolaan keluarga nantinya.

Selain sistem keuangan diatas, perlu juga dibahas siapa yang akan mengelola keuangan. Apakah istri atau suami? Apakah istri diberi kuasa penuh untuk mengelola seluruh keuangan suami, ataukah hanya diberi kuasa sebagian atasnya. Siapa yang akan mengelola bisa juga ditentukan dari siapa yang paling hemat atau paling bagus mengelola gaya hidupnya selama ini. Ada tipikal istri yang boros jika memegang kendali keuangan, sehingga bisa menimbulkan besar pasak daripada tiang. Jika kondisi begitu, suami bisa memegang kendali dan hanya memberi sesuai dengan kebutuhan. Semua bisa dilihat lagi dengan karakter pasangan nantinya.

Hal lain yang bisa dibahas juga dalam keuangan adalah bagaimana dengan memberi kepada orangtua atau mertua. Jika kita dan pasangan diberi keluasan rezeki, jangan pernah lupa memberi kepada orangtua, mertua atau kerabat kita yang membutuhkan. Sepakati hal ini diawal, terutama jika kita sebagai istri nantinya akan full menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja diluar. Apakah suami bersedia menyisihkan uangnya untuk orangtua kita? Walaupun suami tidak berkewajiban memberi kepada orangtua istri, namun jika suami tetap mau memberikan dan ridha atasnya. Hal itu akan menjadi kebaikan untuknya dan ia mendapat dua ganjaran, yang pertama bertambahnya rasa cinta dan kasih sayang sang istri terhadapnya, dan yang kedua ganjaran pahala dari Allah Ta’ala atau kebaikannya terhadap keluarga istri. Sebagaimana sabda Nabi Shalallaahu ‘alayhi wa sallam, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya. Aku sendiri adalah orang yang paling baik pada keluargaku.” (HR. Tirmidzi, no. 3895. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

C.   Apa hal yang membuatmu senang atau marah?

Selanjutnya kita juga perlu berdiskusi dengan pasangan – bagi yang masih calon, sebaiknya diskusi tetap didampigi dan tidak berduaan baik lewat chat atau bertemu langsung – tentang apa yang disukai dan dibenci olehnya. Kita tentu ingin seminimal mungkin mengalami perdebatan bersama pasangan. Nah, untuk membuatnya paham terlebih dahulu, ada baiknya kita bahas dua hal diatas agar kita bisa mengambil yang membuatnya senang dan membuang yang membuatnya marah.

Catat dan tanyakan juga bagaimana solusi atau apa yang harus kita lakukan saat ia merasa sedih atau marah. Ada yang ingin diberi waktu dahulu, ada pula yang ingin ditemani, ada pula yang ingin selalu dipeluk dan lain sebagainya. Kitapun harus terbuka dengan pasangan terkait hal-hal diatas agar ia juga bisa melakukan hal yang sama ketika sedang menghadapi kita yang “sedang bermasalah”.

 

 


Subbab 3: Do and Don't

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia

-Batch 47

-Kelompok 2 Anagata

-day 8

-Sarkat Jadi Buku

- 706 kata


E.   Tentukan aturan Do and Don't dalam pernikahan


            Sebenarnya, menentukan aturan bisa juga dibuat setelah menikah. Namun, tidak ada masalah jika kita mencoba membuat aturan dasar secara garis besarnya saja dan kemudian dilanjutkan secara mendetail setelah pernikahan. Teruntuk yang sudah menikahpun, membicarakan ini kembali bisa menjadi salah satu reminder untuk mengingat kembali visi misi dan tujuan pernikahan. Jika ada yang melenceng semoga bisa kembali lagi ke jalur yang seharusnya.


            Dalam menentukan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan nantinya, kita bisa merujuk kepada tujuan awal kita menikah. Jika sebelumnya kita sudah punya contoh visi "Membangun Keluarga yang Harmonis, akur, cerdas dan agamis", maka kita bisa menentukan secara garis besar aturan umum yang harus ditaati kita dan pasangan nantinya. Misal, untuk menciptakan keluarga yang harmonis dan akur, pasangan suami-istri harus membatasi pertemanan dan interaksi dengan lawan jenis. Buat rincian batasan interaksi yang masih bisa dilakukan dan tidak boleh sama sekali. Contoh, jika ada reuni sekolah, dan kita atau pasangan punya kenangan masalalu dengan seseorang disana, maka ditetapkan untuk tidak boleh ikut reuni tersebut. Contoh lain, jika suami hobi main game, maka ketika menikah, sepakati batasan waktu untuk bermain dan tidak boleh melanggar hal yang telah ditetapkan, dan lain sebagainya.
            Umumnya, karakter seseorang belum terlalu terlihat baik buruknya sebelum menikah dan akan mulai muncul satu persatu kebiasaan yang mungkin tidak diketahui orang lain setelah menikah. Maka dari itu, menentukan aturan dasar diharapkan bisa membantu kita dan pasangan untuk saling mengenal satu sama lain terhadap kebiasaan kita, sehingga ketika tiba saat berumah tangga, tidak terlalu kaget dan dapat meminimalisir perselisihan ke depannya.



F.   Bicarakan hutang dan batasan bagi keluarga besar untuk mencampuri urusan rumah tangga.  


            Kita juga bisa mempertanyakan terlebih dahulu apakah pasangan memiliki hutang saat ini? Hal ini bisa membuat kita memiliki tolak ukur terhadap keberlangsungan rumah tangga nantinya. Jika calon pasangan memiliki hutang dan tidak terlalu besar atau tidak menjadi masalah dalam rumah tangga kedepannya. Maka boleh saja kita menerimanya. Namun, jika ia memiliki hutang yang besar dan sekiranya bisa mempengaruhi rumah tangga nantinya, ini yang perlu kita tinjau ulang. Tak mau kan kalau nantinya sering digedor-gedor debt collector?


            Dari bahasan ini juga sebenarnya kita bisa melihat bagaimana karakternya, apakah ia termasuk orang yang amanah dan menepati janji serta orang yang berusaha agar terlepas dari hutangnya? Jika iya, dia bisa menjadi imam yang baik kedepannya. Dan jangan lupa doakan agar Allah Ta'ala memudahkan jalannya untuk melunasi hutang. Aamiin.


            Setelah itu, kita juga bisa membicarakan dengan pasangan terkait batasan keluarga besar dalam ikut campur. Dalam kasus beberapa rumah tangga, ada yang rumah tangganya menjadi kacau balau dikarenakan pihak ketiga yang selalu mencampuri urusan rumah tangga mereka. Pihak tersebut umumnya berasal dari keluarga sendiri, baik itu orangtua, mertua, saudara, ipar dan lainnya. Mereka mungkin menginginkan yang terbaik, tapi sikap yang terlalu ikut campur dan lemahnya penegasan dari pasangan suami-istri tersebut malah memunculkan hal yang sebaliknya, yaitu kehancuran.


            Penting kita diskusikan bersama batasan sampai mana sekiranya keluarga besar boleh ikut campur. Terutama dalam masalah pengasuhan anak. Misal jika hanya memberi saran dan masukan masih bisa kita terima, tapi jika mereka sudah memaksakan kehendak, maka sebaiknya kita beri jarak sementara dengan mereka dan rundingkan lagi berdua dengan pasangan dan ambil keputusanpun bersama dengannya. Bagaimanapun, kita dan pasanganlah yang harus tetap memengang kendali terhadap rumah tangga dan anak-anak kita sendiri nantinya.

 

Itulah beberapa hal yang bisa dibicarakan bersama baik sebelum pernikahan ataupun setelah pernikahan. Sekali lagi ditegaskan, komunikasi itu amat sangat penting dalam hubungan pernikahan. Komunikasi yang baik itu bukan pula selalu bertanya “dimana?”, “sedang apa?”, atau “lagi sama siapa?”, bukan. Komunikasi itu lancarnya penyampaian maksud dan tujuan dengan cara dan waktu yang tepat. Adanya percakapan dua arah, saling mendengarkan dan saling memahami. Tidak boleh lagi ada kata egois dan mau seenaknya sendiri ketika kita sudah memasuki pintu gerbang pernikahan.

Rumah tangga dengan komunikasi yang buruk, tentunya akan mengurangi keharmonisan dan kita atau pasangan akan lebih cepat bosan karena selalu terjadi kesalahpahaman atau miss komunikasi. Selain itu, jika komunikasi berjalan buruk, tidakada diskusi, cerita, canda tawa dan semua masalah selalu dipendam sendiri, jika dibiarkan terus menerus bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja ketika disulut dan meluluhlantakan bahtera rumah tangga dan siap karam bersama anak-anak yang menjadi korban. Semoga Allah mudahkan kita dalam membentuk keluarga yang kita impikan dan dambakan.


Bab 4 : Mengenal Bahasa Cinta

0 0

- Sarapan Kata KMO Indonesia

-Batch 47

- Kelompok 2 Anagata

- Day 9

- Sarkat Jadi Buku

- 760 kata


Bab 4

Mengenal Bahasa Cinta

 

Persiapan pernikahan telah selesai. Sekarang selamat datang dalam dunia pernikahan sesungguhnya. Kencangkan tali kesabaran dan tali semangat untuk belajar hal-hal baru bersama pasangan. Membuka lembaran baru untuk diisi bersama menuju visi misi pernikahan yang telah dibuat.

Setelah memasuki gerbang pernikahan, itu artinya sudah saatnya merayakan cinta. Sudah tahukah kamu kalau ada yang namanya bahasa cinta atau "love language"?
Bahasa cinta adalah cara dominan seseorang untuk mengungkapkan kasih sayang dan rasa cintanya kepada orang lain, terutama pasangan

Dengan kamu memahami bahasa cinta, maka pesan cinta akan lebih mudah tersampaikan sesuai dengan cara yang dia inginkan. Hal ini sangat penting dalam membangun hubungan yang berkualitas dan harmonis. Begitupun sebaliknya, pasanganmu akan berusaha lebih memahami kamu jika ia mengetahui pula bahasa cintamu. Dengan begitu, kamu dan pasangan sama-sama bisa merasa dicintai, dipahami dan dihargai.

Setidaknya ada lima jenis bahasa cinta yang dikenalkan oleh Dr. Gary Chapman pada tahun 1992 lewat bukunya yang berjudul The Five Love Languages : How to Express Heartfelt Commitmen to Your Mate. Beliau menjelaskan bahwa setiap orang memiliki salah satu bahasa cinta yang dominan dalam dirinya. Kelima bahasa cinta itu adalah:


1. Word of Affirmation (kata-kata atau afirmasi)

Orang dengan tipe ini, dia akan menunjukkan dan lebih suka menerima rasa cinta dengan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan. Ia akan lebih sering memuji, mengapresiasi dan mengatakan cinta secara langsung seperti "aku mencintaimu", "I love you", dan lain sebagainya. Ia juga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kata-kata yang diterima dan yang keluar dari mulutnya. Ia juga menyukai kutipan yang romantis, puisi, surat cinta atau text yang lucu.
            Jika bahasa cinta pasanganmu adalah tipe afirmasi, maka sering-seringlah menyatakan cintamu secara langsung. Ucapan sederhana seperti "I love you" akan membuatnya senang dan merasa sangat dicintai olehmu.

 

2. Act of service (Aksi atau tindakan)

Orang dengan tipe ini biasanya akan lebih cuek terhadap ungkapan atau kata-kata romantis. Namun, ia menunjukkan rasa cinta dan sayangnya lebih banyak lewat tindakan nyata.
Pemilik bahasa cinta dengan tipe ini akan rela membantu pasangannya dengan sepenuh hati. Tidak hanya pekerjaan besar seperti membantu mengurus anak atau bersih-bersih rumah. Namun hal sepelepun rela ia lakukan demi pasangannya seperti membuatkan teh atau memberi pijatan ketika pasangannya lelah setelag bekerja.

Jika pasanganmu adalah tipe aksi, maka sebaiknya kamu lebih banyak memberi pelayananmu walau hanya hal-hal kecil. Seperti menyiapkan baju, menyiapkan air untuk mandi, dan lain sebagainya. Jika ia menerima aksi setimpal, ia akan sangat menghargai bentuk pelayanan yang dilakukan oleh pasangannya.



3. Receiving Gifts (Hadiah)

Memberi hadiah pada pasangan adalah hal yang umum diketahui. Namun bagi sebagian orang, hadiah adalah simbol bahasa cinta utama mereka. Setiap hadiah yang diberikan atau diterima memiliki makna mendalam. Tak hanya tentang nilai, ia juga akan menghargai waktu yang telah dipersiapkan untuk hadiah tersebut. Ia juga bisa mengingat setiap hadiah yang diberikan karena hal itulah yang membuatnya merasa dicintai sepenuh hati.
            Jika pasanganmu adalah tipe ini, maka kamu bisa alokasikan budgetmu untuk rutin memberinya hadiah. Tidak harus mahal dan rumit. Bahkan, sesuatu yang sederhana seperti kartu ucapan yang ditulis tangan dengan manis pun bisa menjadi hadiah istimewa baginya.


4. Quality Time

Pemilik bahasa cinta dengan tipe ini akan lebih senang menghabiskan waktunya dengan orang tersayang. Mereka akan merasa bahagia ketika diberi perhatian penuh. Artinya mereka tak hanya butuh kehadiran secara fisik saja. Umumnya, ia akan merasa dicintai ketika sedang bersama diisi dengan komunikasi berkualitas seperti deep talk, bertukar pikiran atau sekedar curhat.
            Ketika sedang bersama pasangan, orang dengan tipe ini akan totalitas dalam menaruh perhatiannya. Ia akan melakukan kontak mata dan mendengarkan secara aktif. Bahkan ia juga mungkin akan mematikan gadgetnya agar tidak ada gangguan dari pihak lain.
            Jika pasanganmu adalah tipe bahasa cinta quality time, maka sediakanlah waktu bersamanya secara intim tanpa gangguan orang lain. Dengarkan ceritanya dengan sepenuh hati serta hadirkan jiwa dan ragamu ketika sedang bersamanya. Ia pun akan melakukan hal yang sama ketika engkau bercerita.


5. Physical Touch (sentuhan fisik)

Orang dengan tipe ini akan lebih banyak mengungkapkan rasa sayangnya dengan sentuhan fisik seperti mencium, menggenggam tangan, memeluk atau bahkan mencubit dan menggigit gemas.

Jika pasanganmu adalah tipe sentuhan, maka seringlah berikan sentuhan ringan padanya seperti mengusap kepala, memijat pundak, mencium, memeluk dan sebagainya. Hal ini akan membuatnya merasa sangat dicintai dan dibutuhkan oleh pasangannya.
           

Nah, itulah kelima jenis bahasa cinta yang diungkapkan oleh Chapman. Pada saat tertentu, bahasa cinta bisa berubah beberapa saat. Sebagai contoh jika sedang ditimpa musibah, mungkin pasangan tipe afirmasi lebih membutuhkan sentuhan fisik seperti pelukan daripada sekedar kata-kata.

Hal penting yang harus tetap dijaga adalah komunikasi yang baik dengannya dan menanyakan hal apa yang ia sedang butuhkan sehingga kamu bisa meresponnya dengan bahasa cinta yang tepat.

 

 



 


Bab 5: Kewajiban Istri

0 0

-Sarapan Kata Kmo Indonesia

-batch 47

-kelompok 2 Anagata

-sarkat jadi buku

-719 kata


Bab 5

Kewajiban Istri

            Kita tentunya menginginkan rumah tangga yang harmonis dan langgeng sampai maut memisahkan dan berkumpul kembali dalam surge-Nya. Ketika sudah memasuki pintu pernikahan, itu artinya ada hak dan kewajiban baru yang menyertai kehidupan sebagai istri. Islam sendiri telah mengatur dengan detail hak dan kewajiban suami istri yang harus dijalani agar rumah tangga bisa bertahan lama dan kokoh. Rumah tangga ibarat salah satu batu bata pembentuk masyarakat. Jika rumah tangga ini baik, maka masyarakat juga akan menjadi baik. Begitupun sebaliknya, jika rumah tangga rusak, maka masyarakat yang terbentuk juga akan rusak.

            Sebelum kita membahas terkait hak-hak istri, ada baiknya kita bahas terlebih dahulu kewajiban para istri. Hal ini dimaksudkan agar para istri bisa terus mempersiapkan dan memperbaiki diri sebelum banyak menuntut hak terhadap suaminya. Ada kabar baik bagi para istri yang berusaha untuk membuat suaminya ridha, yaitu: “Siapapun wanita yang meninggal dunia, sedang suaminya ridha kepadanya, maka ia masuk surga.” (HR. At-Tirmidzi).

Berikut adalah beberapa kewajiban istri terhadap suami:

1.   Wajib taat kepada suami

Setelah terjadi akad nikah, maka kewajiban taat seorang wanita berpindah dari taat kepada orang tua menjadi taat kepada suaminya. Tidak dapat diragukan, ketaatan istri kepada suaminya akan menjaga bangunan rumah tangga dari kehancuran. Selain itu, hal ini juga bisa menambah kecintaan suami kepadanya, menambah kemesraan dan kasih sayang diantara keduanya serta meminimalisir perdebatan.

Ketaatan istri haruslah pada hal-hal yang ma’ruf . jika suami menyuruhnya pada kedurhakaan, maka istri tidak boleh menurutinya. Sebab telah disabdakan Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wa sallam bahwa tiada ketaatan bagi makhluk dalam kedurhakaan kepada Allah Ta’ala.

Istri yang taat pada suami, senang dipandang dan tidak membangkang pada suami yang membuat suami benci. Itulah sebaik-baik wanita. Seperti sabda Nabi yang dikisahkan oleh Abu Hurairah Radhiyallaahu’anhu. Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Taat kepada suami mungkin tidak akan semudah kenyataannya nantinya. Ruang gerak mungkin akan lebih terbatas dibandingkan dengan sebelum menikah. Menekan ego dan tetap berusaha tenang saat keputusan suami berbeda dengan yang diharapkan juga bukan hal yang mudah. Namun semua itu akan bernilai pahala jika kita berusaha bersabar dalam ketaatan. Allahpun tahu akan tabiat wanita dengan perasaan yang dominan. Mudah tersinggung, menangis dan bersikap labil terhadap berbagai hal, maka dari itu Allah Ta’ala menjanjikan sesuatu yang sangat luar biasa bagi siapa saja wanita yang taat pada suaminya yaitu surga yang bisa dimasuki dari pintu mana saja. Sebagaima sabda Rasulullaah Shalallaahu ‘alayhi wa sallam:

“Jika wanita itu mendirikan shalat lima waktunya, puasa (Ramadhan)nya, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘masuklah (surga) dari pintu manapun yang engkau kehendaki’.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrany).

2.     Menjaga kehormatan suami dan hartanya

“Maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada…,” (Q.S An-Nisa:34)

Di antara menjaga kehormatan suami adalah tidak memasukkan sembaragan orang tanpa izinnya, istri menjaga kehormatannya dan tidak menginfakkan harta suami tanpa izinnya.

3.     Tidak keluar rumah tanpa izin suami

Allah Ta’ala berfirman,

            “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33).

Seorang istri tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Baik si istri keluar untuk mengunjungi kedua orangtuanya ataupun untuk kebutuhan yang lain, sampaipun untuk keperluan shalat di masjid.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumah kecuali dengan izin suaminya.” Beliau juga berkata, “Bila si istri keluar rumah suami tanpa izinnya berarti ia telah berbuat nusyuz (pembangkangan), bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta pantas mendapatkan siksa.” (Majmu’ Al-Fatawa, 32: 281)

Di antara hikmah harus selalu meminta izin suami ketika keluar adalah jika terjadi sesuatu terhadap istri diluar sana, suami bisa mengecek dan melindungi istrinya dari bahaya diluar sana. Karena secara fitrahpun, wanita diciptakan untuk lebih banyak dirumah dibandingkan keluar menghadapi hiruk-pikuk atau kerasnya dunia yang tidak sesuai dengan tabiatnya yang lemah lembut dan mudah ikut-ikutan dengan orang lain.

Dalam Islampun, wanita tidak berkewajiban mencari nafkah untuk keluarga. Ia hanya wajib mendidik anak-anaknya serta mengurus rumah tangga dengan baik. Allah telah menjamin setiap rezeki makhluknya. Rezeki istri dan anakpun Allah berikan lewat suami yang berjuang mencari nafkah diluar.

 

 

 

 

 

 


Subbab 5 : Kewajiban Istri (2)

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia

-Batch 47

-Day 11

-Kelompok 2 Anagata

-Sarkat Jadi Buku

-701 kata


4.     Menjaga rahasia suami dan rumah tangganya.

              Tidak boleh bagi istri membocorkan rahasia suami dan rumah tangganya. Istri tidak boleh menceritakan aib suaminya pada orang lain baik masalah akhlak, penyakit, atau lainnya. Sebab hal ini bisa menjatuhkan martabat suami. Padahal suami adalah pemimpin. Menjaga martabat pemimpin adalah kewajiban bagi yang dipimpin.

              Sayangnya, banyak para istri zaman sekarang yang tidak menjalani kewajiban ini dalam hidupnya. Ketika ia merasa marah atau kesal dengan suaminya, ia umbar dengan menulis di social media. Membiarkan persoalan rumah tangganya menjadi konsumsi public dan ajang berghibah bagi sebagian yang lain. Hal ini tentunya sangat dilarang. Bukankah suami adalah pakaian bagi istri dan istri pun pakaian bagi suami? Lantas kenapa bisa semudah itu membuka tabir ‘pakaian’nya di khalayak umum?

              Lain halnya jika suami berbuat zhalim kepada istrinya. Maka istri boleh mengadu kepada orang terdekat, orang kepercayaannya atau seorang professional seperti psikolog atau ulama dan benar-benar bisa menjaga rahasianya. Tapi tetap tidak boleh menyebarkan secara luas kepada khalayak umum baik di dunia nyata atau di dunia maya.

 

5. Tidak menolak ketika suami menginginkannya

                  Seperti kita ketahui, salah satu hikmah menikah adalah dapat tersalurkannya hasrat biologis di tempat yang benar dan halal. Bagi suami, ini merupakan ritual penting dalam pernikahan. Laki-laki umumnya lebih sulit menahan hasrat dibandingkan dengan wanita, maka dari itu Islampun mengatur masalah ini dan memberikan kewajiban istri agar segera memenuhi panggilan suami. Lantas apa dampaknya jika istri enggan tanpa uzur syar’i? dari Abu Hurairah, Nabi Shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

                  “Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu subuh.” (HR. Bukhori no: 5193 dan Muslim 1436).

Dalam riwayat Muslim disebutkan dengan lafaz:

                  “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit (penduduk langit) murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha kepadanya.” (HR. Muslim no. 1436)

                  Hal ini menunjukkan bahwa tidak boleh istri menolak permintaan suami saat suami mengajaknya. Jika sedang haidpun, tidak bisa dibilang uzur karena suami masih bisa menikmati yang selain dari situ. Namun jika istri ada halangan seperti sakit atau sangat kelelahan, maka itu adalah uzur dan suami harap bisa memaklumi hal itu.

 

6. Tidak puasa Sunnah tanpa izin suami

                    Istri yang ingin melakukan puasa Sunnah seperti puasa senin-kamis, puasa ayyamul bidh dan puasa qadha, sebaiknya meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu apabila suaminya sedang berada dirumah. Hal ini dikarenakan, orang yang sedang berpuasa tidak boleh melakukan hubungan suami istri, sedangkan keinginan suami bisa datang sewaktu-waktu ketika ia melihat istrinya bersamanya. Ini juga berkaitan dengan kewajiban yang telah dijelaskan sebelumnya terkait ajakan suami. Rasulullaah Shalallaahhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

            “Tidak boleh seorang wanita berpuasa selain puasa Ramadhan sedangkan suaminya sedang ada (tidak bepergian) kecuali dengan izin suaminya” (HR. Abu Daud no. 2458. An Nawawi dalam Al Majmu’ 6: 392 mengatakan, “Sanad riwayat ini shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim”)

 

7.     Istri berhias diri untuk suami

            Sudah menjadi fitrah wanita yang menyukai keindahan dan kebersihan. Hal ini selaras dengan syariat Islam yaitu menjaga kebersihan sebab kebersihan adalah sebagian dari iman. Seorang istri hendaknya selalu menjaga kebersihan dan penampilan diri seperti mandi, memakai minyak wangi, memakai skincare dan make up agar penampilannya selalu bersih dan harum didepan suaminya. Hal ini dapat memberikan efek yaitu berseminya cinta kasih antara keduanya dan rumah tanggapun akan berjalan nikmat dan harmonis.

            Berhias untuk suami dianjurkan tapi harus tetap pada batasannya. Hal yang dilarang oleh Islam dalam berhias diantaranya adalah mencukur alis, mengikir gigi, menyambung rambut, dan memasang tattoo. Mengubah ciptaan Allah secara permanen juga terlarang dalam hal ini jika tidak ada uzur syar’i. Berhias untuk selain suami juga tidak diperbolehkan karena bisa menimbulkan fitnah (cobaan) kepada orang lain dan hal ini juga tidak jarang menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan rumah tangga kedepannya.

 

            Seorang istri yang selalu ceria, lemah lembut, harum dan bersolek untuk suaminya adalah penghiburan yang paling disukai suami. Jika suami pulang ke rumah setelah seharian bekerja dan mendapati istrinya menenangkan dan menghibur hatinya, maka ia telah mendapatkan kebaikan hakiki dari sang istri.

            “Sebaik-baik istri adalah yang menyenangkan jika suami melihatnya, taat jika suami menyuruhnya, sert atidak menyalahi suaminya pada diri dan hartanya pada apa yang tidak disukai oleh suaminya” (HR. An-Nasai no.68)




Subbab 5 : Kewajiban Istri (3)

0 0

- Sarapan Kata KMO Indonesia

- batch 47

- day 12

-768 kata

-sarkat jadi buku


8.     Mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya

            Ini adalah tugas alami bagi para wanita, bahkan ini tugas fundamental yang harus diperankan wanita dalam membentuk rumah tangga yang bahagia dan mempersiapkan generasi yang hebat. Bahkan di zaman sekarang ini yang lebih memudahkan manusia dengan segala kemajuan teknologi, seharusnya bisa membuat tugas istri sebagai tonggak peradaban masyarakat dalam rumah tangga menjadi lebih mudah.

            Seorang wanita ketika ia memutuskan menjadi seorang istri dan ibu harusnya sudah mempersiapkan diri untuk terus belajar baik ilmu maupun keterampilan yang sekiranya akan ia butuhkan untuk mencapai tujuan atau visi misi pernikahannya. Wanita yang memiliki pendidikan tinggi hendaknya juga menyalurkan ilmunya kepada keluarganya selain kepada orang lain.

            Tidak ada bedanya bagi wanita karier atau ibu rumah tangga terhadap kewajiban yang satu ini. Hendaknya tetap membagi waktu dengan baik antara kesibukannya dengan urusan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya, terutama pendidikan adab atau moral. Sangat disayangkan jika kita sebagai istri dan ibu melalaikan hal ini karena kesibukan kita semata dan menyerahkannya kepada orang lain sepenuhnya. ladang pahala yang amat sangat besar pun tak bisa kita ambil sepenuhnya namun pertanggung jawabannya harus kita tanggung semuanya. Ingatlah bahwa setiap orang adalah pemimpin dan istri adalah pemimpin di rumah suaminya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.

 

9.     Bersyukur dan merasa cukup terhadap pemberian suami

            Indah sekali jika pasangan suami-istri saling menunaikan kewajibannya. Jika suami bertanggung jawab dengan nafkah keluarga, maka istri harus selalu bersyukur terhadap pemberian suami. Hendaknya kita sebagai istri, sering-sering mengucapkan “terima kasih” kepada suami kita atas nafkah yang diberikannya setiap hari. Hal ini dapat membuat suami merasa dihargai jerih payahnya, sehingga suami merasa selalu bersemangat dalam bekerja untuk anak dan istrinya.

            Adapun istri yang tidak pandai bersyukur dan selalu menuntut, adalah salah satu pertanda ada yang tidak baik terhadap sifat wanita tersebut. Banyak wanita dengan tabiat seperti ini disluar sana yang selalu merongrong dan tak pernah merasa cukup pada suaminya, sehingga sang suami bisa menjadi gelap mata dan menjadi pelaku kriminal karena mengerjakan hal-hal yang diharamkan Allah seperti mencuri, menipu, bahkan korupsi.

            Perintah bersyukur amat ditekankan dalam Islam, bahkan neraka menjadi ancaman bagi mereka yang tidak bersyukur dan Allahpun taka akan melihat mereka di hari kiamat kelak. Sebagaimana sabda Nabi Shalallaahu ‘alayhi was sallam,

            “Diperlihatkan Neraka kepadaku dan aku melihat kebanyakan para penghuninya adalah kaum wanita, mereka kufur.” Para sahabat bertanya, “apakah disebabkan kufurnya mereka kepada Allah?” Nabipun menjawab, “(tidak) mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada istrinya sepanjang tahun atau seumur hidup, kemudian istrinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan: ‘aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu sekalipun.’” (HR. Bukhori no. 5197 dan Muslim no.907)

Yang dimaksud kufur disini ialah istri melupakan kebaikan suami yang telah diberikan kepadanya. Namun, pada saat sekali saja suami berbuat salah padanya, maka istri melupakan seluruh kebaikan suaminya.  

            Sebagai contoh, misal selama ini ada seorang suami rutin memberi nafkah berupa harta kepada istrinya dan istrinya senang dengan pemberian itu. Namun suatu waktu suami mengalami kerugian atau bangkrut sehingga ia tidak bisa memberi nafkah kepada sang istri sebagaimana biasanya, kemudian istri mengatakan, “memang engkau tak pernah memberiku nafkah yang layak.” Atau “aku tak pernah bahagia semenjak hidup denganmu.” Dan perkataan semisal lainnya. Padahal selama ini ia tidak pernah ditelantarkan oleh suaminya dalam urusan nafkah.

            Lain halnya jika suami memang zhalim dan pelit terhadap istri dan anaknya sehingga mereka memang tidak diberi nafkah olehnya. Maka istri boleh mengambil harta suami tanpa sepengetahuan suami dan hanya mengambil secukupnya saja. Namun jika suami adalah orang yang bertanggung jawab, selalu berusaha mencukupi kebutuhan anak dan istrinya, maka istri harus bisa bersyukur berapapun pemberian suami. Jika pemberian suami memang kurang dari kebutuhan, bersabarlah dan selalu berdoa kepada Allah Ta’ala agar Allah senantiasa memudahkan suaminya dalam mencari nafkah dan melapangkan rezeki untuk keluarganya. Semoga Allah mudahkan kita agar senantiasa menjadi istri yang bersyukur dan tidak kufur. Aamiin.

 

10.     Tidak menyakiti suami baik dengan lisan atau perbuatan

            Ketika kita menikah, tentunya kita dan pasangan menginginkan kebahagiaan dan ketenangan. Tidak boleh ada kekerasan diantara kita, suami tidak boleh KDRT begitupun istri tidak boleh menyakiti suami. Sangat dianjurkan memberi nama panggilan yang baik atau panggilan saying terhadap pasangan. Seorang istri tidak boleh memanggil suaminya dengan kejelekan atau mencaci makinya, karena yang demikian itu dapat menyakiti hati suami. Rasulullaah Shalallaahu’alayhi wa sallam bersabda:

            “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari para bidadari surga akan berkata, ‘janganlah Engkau menyakitinya. Celakalah dirimu! Karena ia hanya sejenak berkumpul denganmu yang kemudian meninggalkanmu untuk kembali kepada kami.” (HR. Ahmad no.242)

Nah, tidak inginkan kita didoakan kejelekan oleh para bidadari surga? Malah kalau bisa, kitalah yang harus menjadi istri dari suami kita di surga kelak dan menjadi ratu dari para bidadari tersebut.”




Kewajiban Akhir dan hak Istri

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia

-Batch 47

-Kelompok 2 Anagata

-day 13

-Sarkat Jadi Buku

-743 kata


11.     Berbuat baik kepada keluarga suami

            Nah, bagi beberapa orang membicarakan keluarga suami mungkin bisa menjadi bahasan yang sensitif. Namun harus diketahui pula bahwa suami adalah seorang laki-laki dan laki-laki bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya termasuk orangtua dan saudaranya. Ketika kita menjadi istri, maka tanggung jawab dari orangtua kita terhadap kita akan berpindah kepada suami. Maka dari itu, bakti kita kepada suami itu setingkat lebih tinggi daripada bakti kita terhadap orangtua kita. Sedangkan suami tetap bertanggung jawab terhadap keluarganya selain anak dan istrinya.

            Kenapa taat kepada suami lebih tinggi daripada taat kepada orangtua sendiri? Karena ketika ijab-kabul terucap, maka terjadi perpindahan tanggung jawab dari segi materi atau non materi dari orangtua ke suami. Istri yang taat kepada suaminya, secara tidak langsung ia juga berbakti kepada kedua orangtuanya. Dengan baktinya ia pada suaminya, maka orangtua istri juga mendapatkan pahala atas pendidikannya terhadap anak perempuannya sehingga tumbuh menjadi wanita dan istri shalihah.

            Seorang istri harus membantu suami dalam perkara ini dan bukan malah menjadi peghalang antara suami dan keluarganya. Dia harus mengingatkan ketika suaminya lupa, harus berusaha membuat kedua orangtuanya ridha dan juga mendekati keduanya. Karena orangtua suami atau mertua juga mempunyai andil dalam mendidik suami sehingga menjadi suami yang menyenangkan dan bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Tindakan istri yang berusaha baik kepada keluarga suaminya akan menambah kecintaan suami kepadanya. Membuatnya senang akan berdampak baik bagi hubungan rumah tangga. Jika rumah tangga baik, maka penghuninya akan merasa nyaman dan betah didalamnya. Dengan tindakan seperti ini pula, istri bisa mendapatkan simpati dari keluarga suaminya, penghormatan, perlakuan yang baik dan membuat mereka tidak merasa menyesal telah memilhnya sebagai istri dari anak mereka.

            Hal yang harus dihindari istri adalah membuat suami bingung apalagi membuat pilihan seperti memilih dia atau ibunya. Hal ini sangat terlarag dalam Islam, dan dapat menyebabkan istri menjadi durhaka. Bagaimanapun, ibu mempunyai kedudukan yang besar dan mulia di hati suami dan juga kacamata Islam. Jika tidak ada ibu mertua, maka tidak aka nada pula sosok suami yang mendampingi kita saat ini. Berusahalah untuk terus berbuat baik kepadanya, semoga suami juga akan berlaku yang sama terhadap keluarga istri.

 

12.     Tidak membiarkan laki-laki lain atau orang yang tidak disukai suami masuk ke dalam rumah dan berusaha menjaga rumah tangganya langgeng

 

            Jika rumah kita kedatangan tamu dan suami sedang tidak ada di rumah, maka istri juga harus mengetahui adab-adab menerima tamu. Tidak boleh bagi istri mempersilahkan tamu laki-laki masuk kedalam rumahnya tanpa izin dari suaminya. Ada baiknya, sediakan kursi diteras rumah untuk mempersilahkan tamu tersebut duduk dan menunggu sampai tiba suaminya atau segera menyelesaikan urusannya segera disana tanpa harus masuk ke dalam rumah.

            Istri juga harus berusaha untuk menjaga hubungan rumah tangganya langgeng. Menjaga agar tidak ada cela bagi fitnah untuk masuk dalam hubungannya. Saat pasangan suami-istri berselisihpun, harus sebisa mungkin untuk bersabar dan menjernihkan pikiran terlebih dahulu. Memperbanyak stok maaf dan memaafkan juga termasuk hal yang penting. Tidak boleh bagi istri bermudah-mudahan dalam meminta cerai apalagi tanpa alasan yang disyariatkan. Nabi Shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “siapapun istri yang meminta cerai dari suaminya tanpa alasan yang benar, maka ia tidak akan mencium aroma surga.” (HR. Abu Dawud no.2226)

 

Bab 6

Hak- Hak Istri

 

                        Setelah mempelajari kewajiban-kewajiban istri pada bab sebelumnya. Kali ini kita akan membahas hak-hak istri. Suami tentunya harus memahami pula hal ini agar terjadi keselarasan dalam rumah tangganya. Berikut adalah beberapa hak istri yang harus dipenuhi oleh suami.

 

1.     Diberi mahar

            Sebelum menikah, istri berhak mendapatkan mahar yang juga merupakan salah satu syarat nikah. Istri boleh menentukan maharnya sendiri. Namun sebaiknya dalam menentukan mahar, lihat dulu bagaimana kondisi suami sehingga tidak terlalu memberatkannya.

 

2.     Diberi nafkah

            Setelah akad nikah terjadi, maka istri berhak mendapat nafkah dari suaminya baik berupa makanan, pakaian atau tempat tinggal. Rasulullaah Shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda ketika ditanya tentang hak istri yang wajib dipenuhi suaminya:

            “Yaitu Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian. Janganlah engkau memukul wajahnya. Janganlah engkau menjelek-jelekkannya dan engkau tidak meninggalkannya (yakni tidak boleh pisah ranjang) melainkan di dalam rumah.” (H.R Abu Dawud no. 2141).

            Nafkah yang diberikan seorang suami kepada istrinya lebih besar nilainya di sisi Allah dibandingkan dengan harta yang diinfakkan meskipun fi sabilillaah, atau kepada orang miskin, atau untuk memerdekakan budak. Cukup dikatakan berdosa jika suami menyia-nyiakan orang yang wajib ia beri nafkah.

            Selain nafkah makanan, istri juga berhak mendapat nafkah pakaian selagi suami juga berpakaian. Pakaian yang dimaksud adalah pakaian yang menutup aurat dan sesuai syariat. Namun jika hanya dihadapan sang suami, istri boleh mengenakan pakaian terbuka sebebas mungkin.


Bab 6 : Hak Istri

0 0

- Sarapan kata KMO Indonesia

- batch 47

- kelompok 2 Anagata

- day 14

- 716 kata

- Sarkat Jadi Buku


3.     Wajah istri tidak boleh dipukul

            Di antara hak yang harus dipenuhi suami kepada istrinya adalah tidak memukul wajah meski terjadi perselisihan yang amat dahsyat meskipun sang istri berbuat durhaka kepada suaminya. Dalam kondisi demikian, memukul wajah istri haram hukumnya. Jika istri berbuat nusyuz (meninggalkan kewajiban sebagai istri), maka ada tahapan yang telah Allah jelaskan dalam firman-Nya,

“… dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (maksudnya pisah ranjang), dan (kalua perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh Allah Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. An-Nisa: 34).

            Dari ayat diatas dapat diketahui langkah awal memperbaiki kesalahan istri adalah menasihatinya. Apabila masih dilakukan, maka pisah ranjang, dan jika dilakukan lagi maka boleh dipukul. Namun untuk memukul ini, Islam telah mengatur beberapa syarat, diantaranya tidak boleh memukul wajah dan pukulan tersebut tidak meninggalkan bekas apalagi sampai membahayakan istrinya. Sebagaimana sabda Nabi Shalallaahu ‘alayhi wa sallam, “dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.” (HR. Muslim no.1218)

            Namun, suami yang tetap bisa berbuat baik terhadap istrinya walaupun sedang marah termasuk kategori laki-laki yang baik seperti yang Nabi sabdakan, “orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.” (HR. Ahmad no.472).

 

4.     Diberi tempat tinggal

            Rumah adalah salah satu hak dasar istri yang harus dipenuhi suami selain makanan dan pakaian. Rumah termasuk nafkah. Sebisa mungkin suami memberikan tempat tinggal tersendiri bagi istrinya. Tidak boleh bagi suami memaksa istrinya untuk tinggal bersama keluarganya jika sang istri menolak. Jika sang suami memiliki lebih dari satu istripun, setiap istri berhak memiliki tempat tinggalnya masing-masing dan tidak bercampur dengan istri yang lainnya.

            Rumah adalah istana bagi istri. Tempat dimana istri bisa bebas melakukan apa saja yang ia sukai disana, seperti mendekor rumahnya atau memakai baju yang ia sukai tanpa harus menutup seluruh auratnya. Maka dari itu, suami yang memberikan tempat tinggal tersendiri bagi istri, artinya suami juga membantu istri menjaga auratnya dari orang lain yang bukan mahromnya seperti saudara ipar dan lainnya. Berusahalah para suami untuk memberi tempat tinggal yang aman dan nyaman walaupun kecil. Begitupun dengan para istri, pilihlah tempat tinggal yang sesuai dengan kesanggupan suami dalam memberi nafkah. Janganlah menuntut suami terlalu berat sehingga memaksa suami melewati batas yang ia sanggupi.

 

5.     Dididik dan dibimbing oleh suami terutama ilmu agama

              Tugas utama seorang suami yang juga merupakan hak istri adalah menjaga istri dan anak-anaknya selamat dari api neraka. Hendaknya para suami tidak malas belajar ilmu agama agar bisa disampaikan kepada istri dan anak-anaknya. Dengan memahami dan mengamalkan agamanya, satu keluarga akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

              Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).

              Unuk itulah, seorang suami wajib agar membekali diri dengan ilmu agama. Rajin menghadiri majelis ilmu yang mengajarkan Al-qur’an dan As-sunnah dengan pemahaman yang benar, pemahaman para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in Radhiyallaahu ‘anhum. Namun jika suami tak sanggup mengajarkan istri dan anak-anaknya, hendaklah mereka diajak belajar bersama-sama di maejlis ilmu atau memfasilitasi istri untuk belajar di rumah seperti dibelikan buku-buku agama, didatangkan ustadzah atau guru, diberikan video-video kajian dan lain sebagainya.

              Sudah sepatutnya guru pertama anak-anak (ibunya), mendapat fasilitas atau ilmu yang cukup dari sang kepala sekolah (ayahnya). Jika istri diberi kesempatan dan fasilitas untuk belajar baik dengan suaminya ataupun orang lain, kelak akan menghasilkan istri yang cerdas dan bijak. Hal inipun akan sangat berpengaruh terhadap pola asuh sang istri kepada anak-anaknya kelak. Sehingga diharapkan dapat mencetak generasi-gerenasi shalih/shalihah serta cerdas dan bijaksana.

 

6.     Disikapi dengan lembut dan baik oleh suaminya.

                Wanita adalah makhluk yang sangat dominan terhadap perasaan. Wanita cenderung menyukai sesuatu yang lemah lembut dan ramah. Ini adalah salah satu kekuatan yang dimiliki oleh wanita, karena dengan dominannya perasaan daripada logika, wanita bisa lebih mudah berempati terutama dalam mendidik anak-anaknya. Seorang istri bisa kuat mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu waktu seperti memasak sambil menggendong bayi sekaligus menyuapi anaknya yang lain. Ia juga kuat terhadap sakit dan lelahnya demi mengurus suami dan anak-anak. Namun, ia akan langsung rapuh dan rubuh dengan sekali bentakan dari suaminya.


Subbab 6 : Hak iSTRI (bag.2)

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonrsia

-batch 47

-kelompok 2 Anagata

-Day 15

-Sarkat Jadi Buku

-701 Kata


Sudah fitrahnya wanita tidak bisa setegar laki-laki dalam hal yang menyangkut hati. Karena ia diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok. Rasulullaah Shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Berwasiatlah kepada wanita dengan baik. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Apabila engkau meluruskannya, Engkau akan mematahkannya. Dan jika Engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiatlah kepada wanita dengan baik.” (HR. Bukhari no. 5184).

                Sepandai-pandainya wanita, ia tetaplah seorang wanita yang butuh disayang dan dimanja. Jika istri bahagia dengan perlakuan suaminya sehari-hari. Maka ia akan membalas dengan hal yang serupa atau bahkan lebih baik lagi. Dampak positifnya akan dirasakan dengan ketentraman jiwa yang ditularkan istri kepada suami dan anak-anaknya.

 

7.     Diperlakukan dengan adil jika suami beristri lebih dari Satu

                Poligami bukanlah hal yang terlarang dalam Islam. Boleh saja bagi seorang suami melakukan poligami dengan menjalankan syarat-syarat syariatnya dengan benar. Setiap para istri berhak diperlakukan secara adil oleh suami mereka. Adil yang dimaksud seperti dalam hal makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan waktu tidur dengannya, suami tidak boleh berbuat zhalim karena Allah Ta’ala melarang hal tersebut. Rasulullaah Shalalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memiliki dua istri, kemudian ia lebih condong kepada salah satu diantara keduanya, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan miring sebelah.” (HR. Abu Dawud no.2119)

                Adil bukan berarti harus sama rata. Ada kebutuhan yang mungkin lebih banyak di salah satu istri, seperti misalnya istri pertama lebih banyak anaknya sehingga memerlukan kebutuhan lebih banyak. Adil dalam urusan cintapun tidak bisa sama. Ada istri yang lebih dicintai daripada istri yang lain. Namun hal tersebut tidak boleh sampai membuat istri yang lain terkatung-katung dan tidak merasa dicintai. Rasulullaahpun telah mencontohkan kepada kita. Walaupun Beliau Shalallaahu alayhi wa sallam lebih mencintai ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘anha, tapi beliau tidak mencampakkan istri-istrinya yang lain. Nabi tetap berusaha adil dan tetap mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya ketika sedang bersama mereka.

 

8.     Mengizinkan istri keluar rumah untuk kebutuhan mendesak

            Di antara hak istri adalah suami mengizinkannya keluar untuk kebutuhan sehari-hari yang mendesak, seperti pergi ke warung, pasar dan tempat lainnya untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi para istri yang hendak keluar rumah, yaitu:

a.     Menutup aurat, mengenakan hijab syar’I ketika keluar rumah

b.   Tidak campur-baur dengan kaum laki-laki dengan sengaja

c.     Tidak memakai parfum

d.   Tidak menimbulkan fitnah

              Jika tidak ada hal mendesak yang mengharuskan wanita keluar rumah, maka sebaiknya dirumah saja. Sebaiknya para wanita juga menghindari keluar rumah untuk berkumpul dan berghibah dengan para tetangga lainnya. Selain tidak ada manfaat berghibah, malah memperbanyak dosa.

 

9.     Mengajak istri bermusyawarah

            Ketika telah menikah, tidak boleh lagi mementingkan ego sendiri. Komunikasi sekali lagi menjadi landasan penting dalam langgengnya suatu hubungan rumah tangga. Istri berhak diajak berusyawarah dengan suaminya terutama tentang perkara-perkara yang menyangkut dengan mereka berdua dan anak-anak. Tidak boleh bagi suami menganggap remeh istri serta diabaikan dalam musyawarah. Adakalanya pendapat istri justru sesuai dengan solusi permasalahan mereka.

            Jika suami hendak menolak pendapat istri, sebaiknya tolak dengan cara halus dan ajak diskusi solusi lain lagi. Tawarkan juga pendapat suami dengan cara yang halus dan bijak sehingga membuat istri merasa dihargai dan dilibatkan.

 

10.     Segera ditemui oleh suami ketika selesai urusan pekerjaan.

            Jika suami telah selesai dengan pekerjaannya, suami dianjurkan untuk segera pulang kerumah dan berkumpul bersama istri dan anak-anaknya. Janganlah ia keluar setelah isya jika tidak ada hal yang mendesak apalagi sengaja begadang hingga larut malam diluar sana. Hal itu akan membuat istri tidak nyaman dan was-was sehingga muncul benih keraguan yang dapat membuat retaknya hubungan rumah tangga. Bahkan di antara hak isteri atas suami adalah untuk tidak begadang malam di dalam rumah namun jauh dari isteri walaupun untuk melakukan shalat sebelum dia menunaikan hak isterinya. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari apa yang telah dilakukan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma karena lamanya bergadang (beribadah) malam dan menjauhi isterinya, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya isterimu mempunyai hak yang wajib engkau tunaikan.” (HR. Muslim no. 1159)

 

                        Demikianlah diantara beberapa hak istri yang patut diketahui. Pembahasan diatas adalah sebagian kecil diantara hak-hak istri. Namun dapat dijadikan acuan dasar yang harus diketahui agar rumah tangga yang harmonis dan saling paham akan hak dan kewajibannya bukanlah hal yang mustahil untuk diciptakan dan dijalankan.

 




Bab 7 : LDM oh LDM

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia

--Batch 47

-Kelompok 2 Anagata

-Day 16

-Sarkat jadi buku

- 890 Kata


Bab 7

LDM oh LDM

 

Pastinya setiap pasangan suami istri inginnya selalu bersama dalam suka dan duka. Bertemu setiap hari dan dapat berbincang langsung dengannya. Namun kenyataannya, tidak semua rumah tangga dapat merasakan momen kebersamaan ini seterusnya. Adakalanya mereka harus menjalani Long Distance Marriage (hubungan pernikahan jarak jauh). LDM sendiri bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yang biasanya faktor terbesar penyeban LDM adalah karena pekerjaan.

 LDM sendiri bisa bersifat sementara ataupun bersifat terus-menerus sampai waktu yang tidak ditentukan. LDM yang bersifat sementara biasanya kurang dari 6 bulan dan begitu tugas berakhir, maka akan rumah tangga akan kembali seperti kehidupan semula. Sedangkan LDM yang bersifat terus-menerus, dia akan pergi dan pulang dalam waktu tertentu dan kembali menjalani LDM lagi, seperti pelaut atau orang yang harus bekerja sebagai penambang minyak yang harus berada di lapangan selama beberapa waktu. Mereka baru bisa pulang ketika waktu off mereka, dan kembali bekerja lagi di waktu ON mereka. Menjalani LDM yang berlanjut ini tentunya tidak semudah LDM yang sementara. Menjalani LDM yang sementarapun tidak semudah menjalani rumah tangga normal tanpa LDM.  

Sejatinya, rumah tangga itu ibarat satu tubuh, suami adalah pakaian bagi istri dan istri pakaian bagi suami. Bagaikan tubuh dan pakaian memang sebaiknya terus melekat. Sebisa mungkin hindari LDM, istri harus bisa ikut kemanapun suami pergi selagi masih bisa ikut. Namun, jika tidak ada pilihan untuk istri ikut serta mendampingi, maka pikirkan maslahat dan mudhorotnya dan urgensinya. Jika memang itu karena pekerjaan, dan kalau suami tidak pergi maka akan mengganggu nafkah keluarga, maka kerelaan istri menjadi sangat penting disini.

Apabila rumah tangga kita termasuk salah satu rumah tangga yang harus menjalani LDM, maka kita harus mempersiapkan diri dan mental terlebih dahulu. Buat komitmen bersama pasangan sebelum menjalani LDM. Kita juga harus menambah stok kesabaran dan kepercayaan yang lebih banyak sehingga kita kuat menjalaninya. Perhatikan pula beberapa hal seperti Do and Don't nya saat menjalani LDM. Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan dan tips agar nyaman menjalani LDM.

 

I.  Yang tidak boleh dilakukan saat menjalani LDM


1. Cemburu berlebihan

Cemburu memang fitrah wanita. Cemburu juga tanda sayang, tapi jika berlebihan, hal ini justru bisa menimbulkan konflik dan hubungan yang dingin dalam rumah tangga. Saat menjalani LDM, kita memang tidak bisa bersama-sama pasangan disetiap waktu terutama waktu-waktu senggang dan malam hari yang biasa kita bercengkrama dan tidur dengannya. Namun, bukan berarti LDM memyebabkan kita tidak bisa mengontrol keraguan kita dan selalu bersikap cemburu kepada pasangan. Hal ini bisa sangat mengganggu dan pasangan merasa tidak dipercaya dan tidak nyaman dengannya.

2. Jarang berkomunikasi

Komunikasi justru menjadi sangat penting ketika LDM. Rumah tangga dengan komunikasi yang baik, tentunya akan menciptakan keharmonisan apapun kondisinya. Komunikasilah dengan rutin tapi tidak terus-menerus apalagi sampai mengganggu jadwal pasangan. Pelajari jadwal atau rutinitas suami selama masa LDM. Hal ini penting agar kita tidak menggangu kesibukannya, tapi kita tetap berkomunikasi di waktu-waktu senggangnya.

 Luangkanlah waktu untuk saling bercerita keseharian masing-masing baik dengan chatting, video call atau menelpon langsung.

 

3. Sering mempermasalahkan hal sepele

Suatu hari suamimu lupa mengabari atau membalas chatmu di beberapa waktu karena kesibukannya atau ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Kamu tidak boleh langsung mengamuk via telepon dan menjadikannya masalah besar. Cobalah untuk lebih mengerti dan membicarakan segalanya sebelum sampai pada kesimpulan siapa yang salah. Hadapi masalah secara wajar dan sekali lagi komunikasikan bersama.


4. Menjadi terlalu posesif


            Saat menjalani LDM, mungkin akan muncul beberapa ketakutan akan kesetiaan pasangan yang menimbulkan keraguan dan was-was dalam diri kita. Sebaiknya, kita tepis hal ini jauh-jauh. Berilah pasangan/suami kepercayaan dam doakan selalu kepada Allah, agar Dia menjaga hati, pikiran, mata dan lingkungan suaminya dari hal-hal yang dapat merusak rumah tangga kita.

Tidak boleh bagi istri untuk selalu menginterogasi suami setiap hari atau setiap saat. Laki-laki umumnya tidak suka dicurigai. Pastikan saja komunikasi lancar, tidak ada pertengkaran atau masalah, sisanya serahkan kepada Allah untuk menjaganya disana.

5. Memutuskan komunikasi saat dipertengahan perselisihan

Tidak ada rumah tangga tanpa perselisihan. Begitupula dengan pasangan yang sedang LDM. Adakalanya perselisihan atau perdebatan datang saat kita sedang menjalani LDM. Mengatasi permasalahan ketika LDM tentu lebih sulit ketimbang saat berselisih secara langsung. Hindari langsung mematikan telepon saat dipertengahan pertengkaran. Hal ini dapat menyebabkan pasangan merasa tak dihargai dan permasalahan menjadi lebih besar.

            Jika terjadi perselisihan saat kita sedang berkomunikasi lewat telepon atau video call, sebaiknya dengarkan dulu sampai ia selesai walaupun hati kita mungkin sudah tak enak. Mintal maaf atau minta waktu untuk sendiri dulu ketika sudah mulai tenang agar kepala kita tetap dingin dan melanjutkan komunikasi ketika suasana sudah mulai terkendali.
            Jika terjadi perselisihan lewat chat, maka sebaiknya tidak langsung main blokir nomor pasangan walaupun rasanya sudah ingin sekali pergi meninggalkannya. Sabar dan tenangkan diri terlebih dahulu, baru lanjutkan komunikasi jika dirasa suasana sudah mulai tenang.

 


6. Tidak melakukan Silent Traetment

            Silent treatment adalah salah satu bentuk hukuman terhadap pasangan saat sedang ada masalah dengan cara mendiamkannya. Masalah ada untuk diselesaikan bersama, bukan untuk dihindari. Silent treatment yang terlalu lama dapat membuat LDM menjadi sangat tidak nyaman dan hambar. Hal ini juga dapat memicu sikap saling cuek dan lama-kelamaan hubungan akan menjadi dingin dan susah diselamatkan.

Sekali lagi, sikapilah masalah dengan bijak. Boleh juga saat kita sedang bertengkar dengan pasangan, kita menyisihkan sebagian harta kita untuk membelikannya hadiah, tidak harus mahal, tapi berkesan. Kita juga bisa menulis surat cinta atau puisi untuknya, atau memandang dan membelai fotonya. Sepele mungkin, tapi bisa menghilangkan rasa marah dan kesal menjadi rasa rindu dan sayang yang ingin segera dicurahkan.

 

 

 


Subbab 7 : Tips agar LDM tetap harmonis

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#Batch47
#Kelompok2Anagata
#Day17
#SarkatJadiBuku
#823kata

Penulis : Asta Sitta

Nah, setelah kita bahas hal yang tidak boleh kita lakukan saat sedang LDM, berikut kita simak tips yang bisa membuat LDM jadi tetap tenang dan hubungan langgeng.

1. Komunikasi terjadwal

Kita harus tahu dulu nih jadwal kegiatan diri sendiri dan pasangan. Bagi yang LDMnya jauh seperti beda negara dan beda zona waktu, penting banget nih untuk mengetahui perbedaan waktu antara kedua negara dan rutinitas hariannya. Penjadwalan ini penting agar kita tidak salah waktu, jika disana masih malam dan disini sudah terang dan kita langsung menelepon, pasti akan mengganggu waktu tidur suami.

Buat dan sepakatilah jadwal komunikasi bersama. Pastikan saat tiba jadwalnya, tidak ada pakerjaan atau urusan lain yang mengganggu. Selesaikan pekerjaan sebelum waktunya komunikasi, atau tunda sebentar pekerjaan dan lanjutkan ketika selesai menelepon atau video call dengan pasangan.

2. Kenali dan pahami bahasa kasih

Kita telah membahas tentang bahasa kasih atau bahasa cinta pada bab sebelumnya. Bagi kita dan pasangan yang telah memahami bahasa kasih masing-masing, merupakan salah satu langkah besar dalam LDM. Bagi yang bahasa kasihnya berupa afirmasi, sering-seringlah ucapkan kata cinta dan sayang serta pujian. Bagi yang bahasa kasihnya adalah waktu, berikan waktu tertentu untuk siap mendengarkan ceritanya. Bagi yang bahasa kasihnya pelayanan dan pastikan ketika dia mau tidur dan baru bangun tidur, kitalah orang yang dilihat atau didengar suaranya. Seperti membangunkannya untuk sholat subuh dan bersiap bekerja setiap pagi atau kita bisa melakukan kegiatan bersama secara virtual seperti makan malam atau nonton bersama lewat video call. Begitu pula bagi yang bahasa kasihnya adalah hadiah dan sentuhan, kita bisa sesekali mengirimi hadiah ke tempat suami, atau memberikannya ketika suami pulang.

Terakhir, bagi yang bahasa kasihnya adalah sentuhan, ada tantangan tersendiri disini. Mungkin baginya LDM adalah level paling sulit dalam membina hubungan, umumnya batas waktu LDM bagi suami dengan bahasa kasih sentuhan adalah tiga bulan. Setelah tiga bulan, sebaiknya suami pulang atau istri yang menyusul. Namun, jika belum memungkinkan, batasan maksimal yang ditetapkan oleh Umar bin Khattab Radhiyallaahu 'anhu adalah 6 bulan. Kenapa? Karena jika terlalu lama, hal ini akan membuat suami-istri tidak terurus dengan baik, dan pintu untuk berbuat kemaksiatan makin terbuka. Lantas bagaimana jika masih belum bisa pulang juga setelah 6 bulan? Berdoalah kepada Allah agar memudahkan rezeki atau memberi pekerjaan lain dan bisa segera berkumpul dengan anak-istri.

LDM yang terlalu lama tidak bagus pula untuk keberlangsungan rumah tangga. Pasangan yang terlalu lama LDM dan sudah terbiasa, ketika berkumpul satu sama lain, akan muncul keterasingan ketika bersama. Bisa jadi ada rasa canggung atau perasaan tak nyaman seperti bersama orang baru. Jika terjadi demikian, ini merupakan alarm peringatan bahaya dan butuh perhatian ekstra untuk memperbaikinya. Perbanyaklah waktu bersama, sesekali berdua saja pergi kencan atau mengingat-ingat tempat bersejarah bagi keduanya, untuk memunculkan benih cinta lebih lebat lagi.

3. Selesaikan masalah secepat mungkin

Ketika terjadi suatu perselisihan, bagi pasangan LDM sebaiknya jangan dipendam. Ungkapkan dengan bahasa yang baik dan waktu yang tepat. Segera cari solusi bersama. Jika terlalu banyak yang dipendam sehingga memunculkan luka dan kekecewaan tersendiri sementara pasangan tidak menyadarinya, maka akan mempengaruhi komunikasi dan mood kita yang bisa dirasakan dan disalahartikan oleh pasangan sehingga bisa menimbulkan masalah baru lagi.

4. Saling terbuka terhadap keuangan

Mengatur keuangan keluarga juga tidak boleh luput dari perhatian. Tak mau kan jika kita dituduh atau menuduh pasangan boros atau paling buruk jika ada tuduhan penggelapan uang untuk dikasih ke orang ketiga? Ngeri! Maka dari itu, bersikap terbuka tentang masalah ini dapat mengurangi kecurigaan dan kekhawatiran serta tuduhan yang tak perlu. Ada baiknya jika kita membuat laporan pengeluaran dan pemasukan harian sederhana yang dikirim setiap hari lewat chat. Hal ini tentu akan membuat kepercayaan di antara keduanya meningkat dan menambah ketenangan di dalam hati.

5. Saling percaya dan komitmen dengan iman

Kepercayaan bagi pasangan LDM adalah salah satu kunci kesuksesan menghadapi ujian LDM. Kita memang tidak bisa memantau pasangan 24 jam, begitupun pasangan yang tidak bisa memantau kita juga. Namun, peran iman disini sangat penting. Serahkan semua urusannya kepada Allah dan berdoalah agar kita dan pasangan dijauhka dari kemaksiatan dan Allah senantiasa menjaga hati dan fisik kita semua. Doa menjadi senjata paling ampuh disaat kita sudah berusaha maksimal menjaga keutuhan rumah tangga. In syaa Allag, semoga Allaah menjaga kesetiaan dan komitmen para pasangan yang sedang LDM.

6. Membuat komunikasi berwarna

Saat komunikasi dengan pasangan, pastikan tidak berisi keluhan dan masalah terus. Kita saja bisa muak jika terus-menerus mendengar keluhan, pasangan kita pun juga sama. Jadikanlah setiap berkomunikasi itu berbagai macam hal dibahas. Jika memang ada masalah atau keluhan yang harus disampaikan, sampaikan diwaktu yang tepat saat sama-sama sedang luang.

Itulah sedikit pembahasan tentang LDM. Intinya tetap jaga komunikasi dan pupuk kepercayaan serta sikap memahami agar hatipun tenang. Ketika pasangan memutuskan LDM, bukan berarti hanya salah satu saja yang merasa ditinggalkan. Keduanyapun merasakan hal yang sama, ada sesuatu yang hilang. Hindari sikap egois san mindset yang mengatakan kitalah yang paling bersabar dan berjuang. Pasangan kitapun sebenarnya sedang berjuang dan bersabar. Jika ia boleh memilih, maka ia pasti akan memilih untuk terus bersama-sama. Semoga Allah mudahkan semua urusan. Aamiin


Bab 8 : Ketika Konflik Datang

0 0

Bab 8
Ketika Konflik Datang

Hai, kamu! siapakah manusia di dunia ini yang tidak mengenalmu?
Kamu yang biasa disebut kesedihan
Kamu adalah kepenatan
Kamu adalah kemarahan
Kamu adalah kekecewaan
Kamu adalah kegalauan
Kamu adalah MASALAHku.
Namun tanpa kamu, aku tidak bisa belajar untuk bahagia
Aku tidak bisa belajar untuk tertawa
Aku tidak bisa belajar untuk lebih dewasa dari sebelumnya.
Hadirnya kamu mungkin memang membawa kepahitan, tangisan dan awan mendung dimana-mana.
Namun, dibalik hadirnya kamu aku menemukan kemanisan, tawa dan pelangi dalam hidup.
Kamu memang suka untuk membuatku terjatuh atau merasa pesimis, tapi disisi lain kamu membuka jalan untukku bangkit, berdiri kuat dan merasa optimis.
Aku dulu memang tidak ingin kamu datang, tapi kamu malah berlari dan menyerangku terus-menerus sampai aku merasa sesak dan tertatih, kamu terus-menerus menempaku. Kamu datang membawa kegelapan, namun kamu juga mengajak serta cahaya disisimu untukku melihat.
Kamu suka memaksaku bertengkar dan tersesat didalam hutan labirin pikiranku sendiri. Namun dari situ aku menemukan jalan keluar yang baru, pemikiran yang mengantarkanku pada keputusan yang tepat.
Aku dulu selalu bertanya, kenapa kamu selalu datang? Tapi memang inilah tugasmu, menemaniku dan mendidikku untuk Belajar dan bertahan selama aku hidup, kamu datang berdasarkan perintah Rabbku, karena DIA begitu menyayangiku.

. "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" (Q.S Al-Insyiroh : 6)

Sekarang, aku berterima kasih padamu, walaupun aku memang tidak begitu menyukai hadirmu, tapi aku tak menyesal mengenalmu.


Konflik atau masalah adalah bumbu dalam rumah tangga. Rumah tangga tanpa konflik, akan terasa hambar. Namun rumah tangga dengan terlalu banyak konflik juga tidak sehat. Jika kita dan pasangan bisa mengatasi konflik dengan baik, maka akan semakin harmonis rumahtangga pasca konflik itu selesai.

Sekarang, mari kita simak tentang tipe pasangan yang mudah berkonflik dan cara menghadapinya, yuk!

Menurut Nicole Artz, pasangan yang sering bertengkar pada umumnya tidak bisa mengendalikan hasrat akan kekuasaan dan mengendalikan pasangannya. Beberapa pasangan yang sering atau memiliki kebiasaan bertengkar umumnya memiliki permasalahan psikologis seperti depresi atau kecemasan. Namun sayangnya, mereka tidak mencari bantuan ahli dan justru melampiaskannya pada pasangannya.

Berikut 5 (lima) kepribadian yang cenderung mudah mengalami konflik dalam hubungan:

1. The Stonewaller ( Si Keras Kepala)
Umumnya kepribadian ini memiliki karakter yang cenderung menutup diri selama konflik. Mereka juga menolak bekerja sama bahkan sekedar komunikasi. Sikap keras kepalanya adalah bentuk pertahanan untuk menjaga ego, emosi dan harga diri pasangannya.

Jika pasangan kita adalah tipe seperti ini, maka cara menghadapinya diantaranya adalah:
a. Hadapi ia dengan kelembutan
b. Gunakan rasa empati dan kasih sayang sebagai peluru yang dapat menembus keras kepalanya.
c. Memahami perasaannya, dan memberitahunya secara lembut bahwa kita memahaminya
d. Beri ia waktu untuk berpikir dan menyelesaikan masalah

2. The Verbal Attacker (Si Pengkritik)
Ketika konflik datang, tipe pengkritik akan menyerang dengan kata-kata dan bersikeras untuk menyalahkan atau menganggap bahwa pemicunya adalah orang lain, bukan dirinya. Cara ini ia lakukan sebagai bentuk perlindungan diri dan pengalihan tanggung jawab atas konflik yang muncul. Si pengkritik ini sebenarnya tidak tahan untuk memikul tanggung jawab karena perasaannya terlalu rapuh dan mudah terluka.

Jika pasangan kita adalah tipe seperti ini, maka cara menghadapinya adalah:
a. Menanggapi argumennya
b. Jelaskan padanya bahwa kamu tidak keberatan dengan kritikannya

c. Namun tetap infokan padanya tentang ketidak-nyamanan kita
d. Informasikan padanya untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia harapkan dari dirimu atau hubungan kalian

3. The Avoider (Tukang Menghindar)
Biasanya tipe ini akan melakukan segala cara untuk menghindari konfrontasi, mulai dari berargumen yang tidak nyambung hingga mengubah topik pembicaraan. Ia juga sangat peduli untuk menjadi pemenang perselisihan dibandingkan memahami akar masalah penyebab perselisihan.

Cara yang bisa dilakukan untuk menghadapinya adalah:
a. Cobalah untuk membalikkan argumennya dengan cara bercanda agar meringankan suasanya yang memanas
b. Ungkapkan bahwa masalah ini terasa sama sulitnya bagi dirimu
c. Berikan ia waktu untuk menenangkan diri, namun ungkapkan pula bahwa kamu tetap ingin berdiskusi untuk mencari penyelesaian nantinya.

4. The Passive-Submissive (Si Pasrah dan Pasif)
Tipe seperti ini memiliki karakter mudah menyerah, mengakui bahwa ia yang salah walaupun sebenarnya bukan salah dia sepenuhnya. Ia juga takut jika orang lain atau pasangannya membenci dan memarahinya. Pilihannya, daripada berkonflik, ia lebih memilih menyerah untuk menghindari perkelahian.

Cara yang sebaiknya dilakukan untuk menghadapi pasangan dengan tipe ini adalah:
a. Jangan menyinggung perasaan negatifnya, dikhawatirkan ia akan menarik diri
b. Tunjukkan bahwa kita memahami kekhawatiran dan ketakutannya
c. Bicarakan dengan baik bahwa kita perlu menyelesaikan konflik bersama
d. Libatkan ia dalam diskusi mencari solusi

5. The Fixer (Si Pemberi Solusi)
Tipe ini selalu menawarkan berbagai macam solusi untuk semua masalah. Ia tidak meyukai hal yang tak pasti. Memiliki sifat cenderung tidak mau 'tawar-menawar' solusi dengan pasangannya. Ia juga lebih sering langsung menyelesaikan masalah dengan solusi pribadinya, hanya untuk mengakhiri perdebatan. Ia juga cenderung percaya bahwa ide dan solusinya adalah yang terbaik.

Cara yang bisa dilakukan untuk menghadapi pasangan dengan tipe seperti ini adalah usahakan untuk lebih terbuka dengan argumen pasangannya, dan temukan yang terbaik.

Subbab 8: Mengendalikan Ego

0 0

- Sarapan Kata KMO Indonesia

-kelompok 2 Anagata

-Batch 47

-Day 19

-Sarkat Jadi Buku

-707 Kata


Dalam pernikahan, kita dituntut untuk mendewasakan diri dalam segala hal, termasuk dalam hal melampiaskan segala bentuk emosi. Oleh karena itu, tidak seharusnya emosi itu dilampiaskan pada hal-hal yang mendzholimi pasangan ataupun diri sendiri. Terlebih saat kita memiliki anak, tidak seharusnya anak menjadi korban pelampiasan emosi orangtuanya yang tak terkendali.

            Kita sudah mengetahui bahwa pernikahan itu tidak hanya berisi romantisme dan kemesraan semata. Kita pasti akan bertemu dengan berbagai perbedaan atau ketidakcocokkan dengan pasangan yang kemudian menimbulkan konflik rumah tangga. Lalu…, ada yang bertanya, “Apakah itu berarti pasangan kita bukan orang yang tepat? Apakah kita salah memilih jodoh?” untuk menjawab hal ini, tidak bisa diambil dengan kesimpulan sendiri. Maka dari itu, kita tidak boleh gegabah terlalu cepat memutuskan bahwa kami bukanlah pasangan yang serasi dan cocok.

            Setiap manusia pasti memiliki ego, termasuk kita dan pasangan. Ego adalah bagian dari kepribadian yang melekat pada diri kita. Belajarlah menepi ketika ego kemarahan itu muncul. Belajarlah menerima ketika datang rasa kecewa terhadap pasangan, serta dekatkan diri pada Allah Ta’ala. Sebenarnya rasa kecewa, marah, sedih, takut, cemas, merasa bersalah, malu, gembira, kasihan, kasih saying, harapan dan sebagainya adalah bentuk emosi yang wajar pada manusia. Perasaan itupun dapat divalidasi dan kita memiliki kendali atas perasaan kita tersebut seutuhnya.

            Namun, yang kebanyakan terjadi dalam rumah tangga adalah suami istri justru sibuk saling menuntut agar pasangannya menjadi sesuai dengan harapannya. Padahal selalu ada resiko kecewa ketika kita berharap pada manusia. Benar…, menikah bukanlah perkara mudah. Tidak hanya sekedar menikah, melainkan didalamnya melibatkan banyak hal, mulai dari materi, pengorbanan, cinta, waktu dan perasaan kita. Tidak hanya harus membiasakan diri menerima kesalahan pasangan, tapi juga harus terbiasa untuk mengakui kesalahan diri sendiri. Tidak hanya harus membiasakan diri menerima permintaan maaf, tapi juga harus terbiasa menghilangkan gengsi untu mengucapkan maaf.

            Pada saat konflik datang mengiringi perjalanan rumah tangga, manajemen emosi yang buruk pasti akan menjadi beban baik bagi perasaan maupun pikiran. Ketika serangan verbal terus-menerus dilontarkan tanpa henti sampai saling menyalahkan, saling menyudutkan, saling membentak, menghakimi dan merasa dirinya yang paling benar, maka bukan hal yang mustahil jika berujung satu sama lain meminta pisah karena kemarahan telah menguasai kita.

            Kita perlu menghadirkan sudut pandang bahwa sosok yang kita nikahi ini bukanlah manusia yang sempurna. Ia juga manusia biasa sama seperti kita yang bisa melakukan kesalahan kapan saja. Ia bukanlah boneka atau robot yang diciptakan untuk menyamai ekspektasi kita. Namun, ia diciptakan untuk melengkapi kekurangan dan kelemahan kita. Ia ada sesuai dengan apa yang kita butuhkan, bukan sekedar yang kita inginkan.

            Penting juga bagi kita dan pasangan untuk saling belajar mengendalikan ego masing-masing. Lebih baik belajar saling memahami daripada saling menghakimi. Bagaimanapun, kita dan pasangan ada role mode bagi anak-anak nantinya. Kitalah contoh langsung yang akan mereka lihat dan pelajari serta mereka terapkann dalam kehidupannya kelak. Jangan sampai kita menyesal karena merasa salah mendidik, padahal kita sendirilah yang memberi contoh seperti itu kepada mereka.

            Lantas, bagaimana cara mengendalikan ego kita? Sebelumnya kita harus tahu terlebih dahulu kalua ego tak selamanya negatif, ia bisa menjadi positif jika kita bisa mengendalikannya. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang tidak menempatkan ego diatas segalanya adalah orang yang hidup bahagia. Di antara cara mengendalikan ego adalah:

·     Memahami bahwa hidup adalah proses, tidak ada hal yang instan dalam proses

·     Jangan menyiksa diri dengan berandai

·     Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain

·     Harus mengetahui motivasi diri sendiri

·     Berlatih untuk memaafkan dan mengikhlaskan

            Hadapilah masalah yang datang dengan cara yang sehat dan baik. Karena jika keluarga kita sehat dan baik emosinya, sekalipun kita dan pasangan akhirnya bertengkar, pertengkarannya dilakukan tanpa melanggar aturan. Sekalipun saling sakit hati, kita dan pasangan akan tetap menjaga agar tidak saling mendzhalimi satu sama lain serta segera mencari solusi agar masalah tak berkepanjangan. Umumnya, sifat semacam ini ada pada keluarga yang lemah lembut, memahami aturan syariat dalam fikih keluarga, dan sadar akan hak dan kewajiban masing-masing. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mempersiapkan ilmu sedini mungkin dan terus berlanjut selama masa pernikahan.

Pahami bahwa bisa jadi pertengkaran ini disebabkan dosa yang pernah kita lakukan. Kemudian Allah memberikan hukuman batin dalam bentuk masalah keluarga. Di saat itu, hadirkan perasaan bahwa Allah akan menggugurkan dosa-dosa anda dengan kesedian yang anda alami…lanjutkan dengan bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Musibah turun disebabkan dosa dan musibah diangkat dengan sebab taubat.” (Majmu’ Fatawa, 8/163).

 


Subbab 8: bagian akhir

0 0

- Sarapan kata Kmo Indonesia

- kelompok 2 Anagata

-batch 47

- day 20

- 700 kata

Terakhir dalam bab ini, kita akan membahas tiga hal yang harus dihindari oleh kita dan pasangan ketika sedang berkonflik, yaitu :

1.Melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)
  Meskipun ada izin untuk memukul istri ketika istri terus membangkang kepada suami, namun tidak berarti suami boleh bebas melampiaskan amarahnya dengan memukuli istri. TIDAK. Namun, terdapat beberapa syarat diantara tidak pada wajah, pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak meninggalkan bekas seperti yang telah dibahas di bab sebelumnya.
Suami yang mampu menahan emosi, sehingga tidak menyikiti istrinya, itulah lelaki hebat yang sejatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang yang hebat bukahlah orang yang sering menang dalam perkelahian. Namun orang hebat adalah orang yang bisa menahan emosi ketika marah.” (HR. Bukhari 6114 dan Muslim 2609).
Seperti itulah yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. A’isyah menceritakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul wanita maupun budak dengan tangan beliau sedikitpun. Padahal beliau berjihad di jalan Allah. (HR. Muslim 2328).
Maksud pernyataan A’isyah, “Padahal beliau berjihad di jalan Allah” untuk membuktikan bahwa sejatinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang pemberani. Beliau pemberani di hadapan musuh, bukan pemberani di hadapan orang lemah. Beliau tidak memukul wanita atau orang lemah di sekitarnya. Karena memukul orang lemah bukan bagian dari sifat ‘pemberani’.

2. Caci-maki
“Allah tidak menyukai Ucapan buruk (caci maki), (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya.” (An-Nisa: 148)
Walaupun sedang bertengkar, hendaknya caci-maki itu dihindari karena efeknya dapat menancap di hati dalam waktu lama atau bahkan tidak akan pernah hilang bekasnya. Apalagi bagi wanita yang memiliki hati yang lembut dan rapuh terhadap bentakan dan cacian. Sehingga hal ini dapat menghambat terciptanya keluarga yang sakinah. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan jangan sampai seseorang mencaci pasangannya. Apalagi membawa-bawa nama keluarga atau orang tua, yang umumnya bukan bagian dari masalah.
Beliau bersabda, “jangan kamu menjelekannya”. Dalam Syarh Sunan Abu Daud dinyatakan, “Jangan kamu ucapkan kalimat yang menjelekkan dia, jangan mencacinya, dan jangan doakan keburukan untuknya.” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, 6/127).
cacian dan makian kepada pasangan yang dilontarkan tanpa sebab, termasuk menyakiti orang mukmin atau mukminah yang dikecam dalam Al-Qur’an. Allah berfirman, “Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 58)
Marah kepada suami atau marah kepada istri, bukan alasan pembenar untuk mencaci orang tuanya. Terlebih ketika mereka sama sekali tidak bersalah. Allah sebut tindakan semacam ini sebagai dosa yang nyata.
 
3. Membocorkan rahasia rumah tangga
Tidak boleh bagi pasangan suami istri saling membongkar rahasia atau aib rumah tangganya ketika sedang bertengkar. Sekalipun suami istri sedang saling panas emosinya, tapi ketika diluar, harus bersikap seolah tidak ada masalah. Kecuali jika untuk melaporkan kepada pihak yang berwenang dalamm rangka mencari perbaikan.
Sebagai contoh, ketika suami melakukan kesalahan, tidak sepatutnya sang istri mengadukan kesalahan suami kepada orangtua istri. Jika seorang istri ingin melaporkan pada seseorang, hendaknya orang tersebut adalah orang yang dapat mengendalikan suami, misalnya tokoh agama yang disegani suami atau orangtua suami (mertua). Begitupula sebaliknya, jika penyebab masalah adalah istri, tidak patut bagi suami melaporkannya pada orangtuanya, melainkan kepada orang tua sang istri. Solusi ini adalah pilihan akhir apabila masalah tak bisa diselesaikan sendiri oleh pasangan tersebut.
Bagian ini perlu kita hati-hati. Ketika seorang istri memiliki masalah dengan suaminya, kemudian dia ceritakan kepada orang tua istri, muncullah rasa kasihan dari orang tuanya. Namun tidak sampai di sini, orang tua istri dan suami akhirnya menjadi bermusuhan. Orang tua istri merasa harga dirinya dilecehkan karena putrinya didzalimi anak orang lain, sementara suami menganggap mertuanya terlalu ikut campur urusan keluarganya. Bukannya solusi yang dia dapatkan, namun masalah baru yang justru lebih parah dibandingkan sebelumnya.
Tidak boleh juga membocorkan rahasia rumah tangga ke social media. Walaupun hati sedang panas, tetap tidak patut untuk curhat atau membocorkan aib pasangan ke social media. Hal ini akan berdampak buruk. Ibarat kata, sama halnya dengan kita melepaskan ‘pakaian’ di depan umum dan dilihat khalayak ramai. Karena sejatinya pasangan suami istri adalah pakaian bagi satu sama lain.
Selanjutnya, jadilah keluarga yang bijak, yang terbuka dengan pasangannya, karena ini akan memperkecil timbulnya dugaan buruk (suudzan) antar-sesama. Jika anda tidak memungkinkan menyampaikan secara langsung, sampaikan dalam bentuk whatsapp, email, sms, surat dan lain sebagainya.



Bab 9 : Menjadi Istri Terampil

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia

-Batch 47

-Kelompok 2 Anagata

-Day 21

-Sarkat Jadi Buku

- 749 Kata

 

Menjadi seorang istri artinya menjadi individu baru yang bisa multitalenta. Banyak keterampilan yang seakan menjadi keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang wanita ketika memutuskan menjadi seorang istri dan ibu. Bahkan, istri yang menjadi wanita karirpun, tetap harus mempelajari keterampilan-keterampilan ini walaupun tidak harus mahir.

Wanita yang multitalenta dan memiliki banyak keterampilan pasti akan menjadi nilai plus bagi calon pasangan dan mertua. Biasanya, pada pertemuan pertama keluarga, ada saja pertanyaan yang menjurus seperti, “Apa kamu bisa masak?” atau “kamu bisa apa saja?” dan lain sebagainya dari calon mertua untuk mengetahui kesiapan wanita tersebut menjadi menantu yang akan menggantikannya mengurus anaknya. Jadi, ada baiknya, kita telah mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bagi yang sudah menikahpun, tidak ada salahnya untuk terus mengupgrade diri agar bisa menjadi lebih mahir lagi dan keluarga menjadi terurus lebih baik. Jadi, apa saja keterampilan-keterampilan yang dimaksud? Mari kita simak penjelasannya di bawah ini:

 

1. Keterampilan Memasak

Menjadi seorang istri identik dengan urusan dapur. Dapur secara kebiasaan telah menjadi salah satu kantor utama dan pertama yang didatangi istri setelah membuka mata. Ketika sebelum menikah, mungkin kita terbiasa dengan makanan yang sudah tersaji. Setelah bangun tidur, mandi dan keluar kamar, mungkin kita sudah melihat sarapan telah siap disantap diatas meja. Itu semua adalah hasil kerja keras ibu yang juga berperan sebagai istri. Namun ketika menjadi istri, apalagi tidak memiliki asisten rumah tangga. Hal itu bisa saja tidak berlaku lagi. Sekarang, setelah bangun tidur, biasanya kita langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk suami dan anak-anak.

Seorang istri tidak dituntut untuk bisa memasak dengan handal seperti chef bintang lima. Namun, sekedar bisa masak yang dasar untuk sehari-hari dan mengetahui berbagai jenis bumbu dan fungsinya serta bisa membedakan antara jahe, lengkuas, kunyit dan kencur, atau bisa membedakan antara lada dan ketumbar, itu sudah bisa dibilang cukup.

Bagi para wanita yang semasa gadisnya tidak akrab dengan dapur, mungkin akan mengalami kesulitan dengan keterampilan ini diawal-awal. Apalagi jika ternyata harus tinggal di rumah mertua, ini dapat menjadi tantangan level expert baginya. Maka dari itu, ketika kita memutuskan untuk menikah, sejak saat itu mulailah belajar tetang dunia perdapuran. Percaya atau tidak, ternyata urusan dapur bukanlah urusan yang bisa dianggap remeh dan sepele. Jangan merasa mudah menyerah ketika gagal memasak diawal-awal. Walaupun mungkin kita berencana untuk memiliki ART kedepannya, tapi kita juga tidak boleh buta dan menyerahkan sepenuhnya kepada ART. Setidaknya, kitalah yang harus memberi arahan kepada ART tentang menu atau cara memasak yang benar dengan tetap menjaga kebersihan dan memilah bahan-bahan yang segar bahkan mungkin ilmu gizi yang kita pelajari agar nutrisi yang masuk ke dalam keluarga kita bisa maksimal.

Jika kita bisa memasak dan masakan kita disukai oleh suami dan anak-anak, maka ada rasa kebanggaan tersendiri di dalam hati. Selain itu, dengan kita menguasai keterampilan ini, kita juga bisa lebih hemat dan tetap menjamin makanan untuk keluarga kita adalah makanan sehat yang minin junk food.

            Buatlah meal plan atau rencana menu dan food preparation (penyimpanan bahan makanan) minimal selama seminggu kedepan. Jika sudah dibuat meal plannya, maka akan mudah bagi kita untuk menentukan bahan-bahan yang akan dibeli. Hal ini juga bisa mencegah sifat boros dan mubadzir karena membeli bahan yang tidak dibutuhkan hingga akhirnya busuk dan dibuang.

            Setelah membuat  meal plan  dan belanja bahan-bahannya, sekarang kita akan membuat food preparationnya. Umumnya foodprep ini membutuhkan wadah seperti kotak makan, plastic klip dan toples. Pelajarilah tentang pengelolaan bahan makanan ini di luar sana dengan mengikuti kelas-kelas foodprep atau membaca buku tentangnya. Di sana kita akan menemukan banyak tips penyimpanan bahan makanan yang awet bahkan sampai berbulan-bulan. Cara penyimpanannyapun untuk tiap jenis bahan makanan berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita mempelajari itu dari sekarang, baik bagi yang belum menikah maupun yang sudah menikah.

            Salah satu keuntungan dari meal plan dan food preparation ini selain hemat uang, kita juga bisa menghemat waktu dan menenangkan pikiran agar tidak panik dan bingung mau masak apa setiap harinya. Bagi para istri yang mendapatkan uang belanjanya harian, tidak ada salahnya juga belajar merencanakan menu yang akan dibuat selama seminggu ke depan sesuai dengan kesanggupannya.

Menentukan menu harian bisa saja tidak mudah. Adakalanya kita benar-benar tidak bisa berpikir atau merasa bosan dengan menu yang itu-itu saja. Diskusikan dengan suami dan anak-anak untuk menu yang mereka inginkan untuk dimasak agar kita juga dapat memasukkannya dalam perencanaan memasak kita.  Rajinlah melihat-lihat inspirasai masakan di internet, social media, atau di aplikasi memasak yang bisa dilihat kapanpun dan dimanapun. Semangat untuk para wanita yang terus mau belajar untuk melayani keluarganya semaksimal mungkin. Semoga Allah memberi balasan pahala untuk setiap usahanya. Aamiin.

 

 

 


Subbab 9 : Mengelola Keuangan Bulanan

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia

-batch 47

-kelompok 2 Anagata

-Sarkat Jadi Buku

-Day 22

-707 Kata


2. Keterampilan Mengelola Keuangan

Menjadi seorang istri bisa berarti juga menjadi bendahara dan akuntan keluarga. Seorang istri yang telah dipercaya oleh suaminya untuk mengelola nafkah dan harta suami yang diberikan kepadanya, hendaknya dapat mengelolanya dengan baik agar tidak terjadi defisit atau sampai menimbulkan hutang. Penting bagi istri untuk belajar mengelola keuangan sedini mungkin awal dari awal-awal pernikahan. Hal ini diharapkan dapat membiasakan istri mengatur dengan bijak dan dapat menghasilkan tabungan atau investasi untuk kehidupan anak-anaknya kelak. Namun, jika telah lama berumah tangga dan baru mencoba belajar untuk mengelola keuangan dengan lebih baik, hal itu tidak menjadi masalah dan malah menjadi sesuatu yang baik dan harus didukung.

Setiap keluarga mungkin memiliki triknya sendiri-sendiri. Ada yang menggunakan amplop yang ditulis kebutuhan-kebutuhannya seperti ‘transportasi’, ‘kebutuhan dapur’, ‘uang jajan’, ‘spp anak’ dan sebagainya, lalu memasukkan sejumlah uang ke dalam masing-masing amplop tersebut sesuai dengan budget yang dibutuhkan. Adapula keluarga yang menggunakan dompet atau wadah yang bertuliskan tanggal selama sebulan, lalu memasukkan sejumlah uang pada masing-masing slot tanggal tersebut. Ada pula yang menggunakan sistem prosentase dari pendapatan yang ia terima dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, kali ini akan kita bahas terkait metode prosentase pendapatan ya. Bisa saja pengaturan prosentase tiap keluarga berbeda-beda, ada yang simple  adapula yang lebih kompleks. Semuanya bergantung pada kebutuhan dan tujuan dari keluarga-keluarga tersebut. Sebagai contoh di sini, akan kita ambil contoh metode 50:20:10:10:10 dengan pendapatan rata-rata sebulan Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah).

·       50% LIVING (Rp2.500.000,-) : artinya, 50% dari pendapatan akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk kebutuhan makanan, uang bensin, listrik dan air.

·       20% SAVING (Rp1.000.000,-) : artinya, kita mengalokasikan untuk tabungan dan investasi. Kita tentunya memiliki harapan agar tidak kekurangan dalam kehidupan rumah tangga, maka dari itu menabung atau berinvestasi adalah salah satu pilihan yang baik yang harus diprioritaskan setiap bulannya. Termasuk di dalamnya dana tabungan haji, tabungan pendidikan anak, modal bisnis bahkan dana darurat. Aturlah sesuai dengan target budgetnya masing-masing.

·       10% GIVING (Rp500.000,-) : memberi atau sedekah bisa menggunakan alokasi dana ini. Misal untuk diberikan kepada orang tua, mertua, kerabat yang membutuhkan atau memberi infaq ke masjid dan sedekah lainnya. Sedekah tidak akan membuat kita miskin, justru sebaliknya akan dapat ganti dari arah yang tak disangka-sangka. Namun yang terpenting dengan memberi artinya kita juga berbagi kebahagian dengan orang lain dan kitapun akan senantiasa bersyukur karena masih diberi rezeki untuk berbagi.

·       10% REFRESHING (Rp500.000,-): sebagai manusia biasa tentunya kita juga ingin sesekali healing, bermain atau sekedar jajan dan belanja. Dana ini dikhususkan untuk refreshing keluarga seperti bermain di taman, biaya piknik, sekedar jajan atau makan di luar, dan juga belanja kebutuhan yang tidak urgent seperti baju, sepatu, tas dan lainnya.

·       10% PAYING (Rp500.000,-): maksudnya adalah utang atau kredit lain yang dimiliki. Umumnya prosentase utang tidak boleh lebih dari 20% dari pendapatan. Jika lebih, maka harus mencari pendapatan tambahan. Jika masih berada dalam radius 20%, maka bisa mengambil budget dari prosentase lainnya untuk sementara. Pisahkan budget utang setiap bulannya. Usahakan selalu mencicil sampai utang benar-benar lunas, sehingga alokasi dana ini bisa dialihkan untuk kebutuhan lainnya. Jadilah istri yang cerdas dan amanah serta tidak bermudah-mudah dalam urusan utang-piutang.

 

Sekali lagi, hal diatas adalah contoh pembagian prosentase pendapatan untuk mengatur keuangan selama satu bulan ke depan. Prosentase ini pun bisa disesuaikan dengan pendapatan dan kebutuhan keluarga masing-masing. Ada keluarga yang mungkin prosentase tabungannya lebih besar daripada kebutuhan hidupnya karena mungkin belum memiliki anak, sehingga alokasi dana untuk kebutuhan sehari-hari tidak begitu besar dan lebih memilih mempersiapkan tabungan untuk anak kelak di masa depan dan sebagainya. Adapula yang mungkin prosentase menabungnya kecil karena memiliki kebutuhan lain yang lebih besar seperti biaya sewa rumah, cicilan kendaraan dan sebagainya. Meskipun begitu, tetap usahakanlah dana tabungan sebagai dana simpanan untuk hal-hal yang bersifat darurat atau mendesak di masa depan seperti keluarga sakit, pindah rumah, di PHK dan lain sebagainya. Bagi yang memiliki pendapatan harian, prosentase ini juga bisa diikuti dengan menentukan dan membaginya setiap hari.

Penting bagi setiap istri untuk mencatat juga pemasukan dan pengeluaran setiap hari agar kita tahu kemana larinya uang tersebut. Hal ini juga dapat membantu kita mengetahui kalau ada kebocoran halus seperti sering jajan sehingga melebihi budget yang telah ditentukan dan sebagainya. Istri yang terampil dalam mengatur keuangan nantinya akan mempermudah urusan keluarga dan pastinya meringankan beban pikiran istri juga jika suatu saat mengalami hal yang tak terduga.


Subbab 9 : ragam

0 0

-Sarapan Kata Kmo Indonesia

-batch 47

- kelompok 2 anagata

- Day 23

- sarkat jadi buku

- 724 kata

3.   Keterampilan merayu

              Tidak dapat dinafikkan bahwa hubungan suami istri itu termasuk salah satu tujuan pernikahan. Salah satu kewajiban istrii juga untuk senantiasa melayani suami termasuk urusan ranjang. Istri tidak boleh menolak permintaan suami untuk ke ranjang tanpa ada udzur syar’i seperti sakit. Ketika haidpun, istri tetap bisa melayani suami tanpa harus hubungan intim, masih bisa memeluk, mencium atau berbicara dengan jarak sangat dekat.

              Hendaknya para istri belajar cara menggoda suami. Merayu dengan kata-kata atau sentuhan yang membuat suami senang. Istri juga bisa memakai ‘baju dinas’ khusus di depan suami, berhias dan memakai parfum khusus untuknya. Mungkin ada sebagian yang malu-malu jika memulai duluan, tapi bukan hal yang dilarang malah justru dapat membuat suami senang dan semakin cinta kepada istrinya.

 

4. Keterampilan Merawat Keluarga

Ketika ada anggota keluarga yang sakit, baik suami ataupun anak, kita sebagai istri dan juga ibu akan menjadi perawat dan dokter pertama bagi mereka. Perawat yang memberikan pertolongan pertama pada luka, sakit, atau kecelakaan ringan sebelum akhirnya diputuskan untuk dibawa ke klinik atau rumah sakit untuk pengobatan lebih lanjut. Untuk melatih keterampilan ini, kita sebaiknya rajin-rajin membaca dan menggali informasi tentang segala bentuk tindakan pertolongan pertama agar ketika datang waktu kejadiannya, kita tidak panik apalagi malah menambah kecemasan yang sakit karena melihat kita yang heboh sendiri karena tidak paham harus berbuat apa dan bagaimana.

Pelajari juga titik kritis kapan harus membawa keluarga yang sakit ke dokter. Tidak boleh bagi kita untuk terlalu panik atau terlalu santai dalam memanggapi suatu kejadian, agar tidak terlalu cepat atau tidak terlalu lambat mendapat penanganan medis.
Jika terlalu cepat maka tidak akan mendapat diagnosis yang sesuai, begitupun sebaliknya, jika terlalu lambat, maka penanganan yang diberikan tidak maksimal sehingga membutuhkan waktu lebih lama atau bisa berakibat penyesalan dengan segala sesuatu yang akan terjadi.

Hal-hal yang sering terjadi dalam kasus pertolongan pertama keluarga diantaranya ialah:
- demam
- terjatuh
- luka sayat/bakar ringan
- batuk dan flu
- memar
- terkilir, bengkak dan benjol
- muntah
- diare ringan
- eksim/gatal-gatal
- alergi dan sebagainya
 

5.  Keterampilan Merawat Rumah dan Design Interior

Skill dasar yang harus dimiliki adalah menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika dan melipat baju. Tidak semua keluarga memiliki kemudahan untuk menyewa ART, bagi yang tidak memiliki ART (Asisten Rumah Tangga) keterampilan ini mau tidak mau harus dipelajari. Jika tidak sanggup mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri, tidak ada salahnya untuk meminta bantuan suami dan anak-anak untuk membantu. Jika ada kelebihan rezekipun tidak mengapa jika sesekali menyerahkan urusan pakaian ke laundry atau menggunakan jasa pembersih rumah. Namun, tetap diperhatikan kondisi keuangan keluarga agar tidak terjadi defisit karena hal ini. Pelajari keterampilan tersebut sedini mugkin, karena ini akan dibutuhkan setiap harinya terutama disaat kita sendiri yang harus mengerjakannya sendiri.

Ada beberapa metode yang akhir-akhir ini marak digunakan para ibu rumah tangga masa kini tentang merapikan rumah. Di antara yang terkenal adalah metode konmari. Metode ini terinspirasi dari seorang ibu rumah tangga di Jepang yang bernama Marie Kondo atau akrab disebut Konmari. Metode Konmari singkatnya adalah metode beres-beres rumah dengan memberikan memberikan 'rumah' bagi setiap barang dan membuang barang-barang yang tidak dibutuhkan. Jadi metode ini memberi kesan rapi dengan penataan teratur dan tidak menimbun banyak barang atau serpihan-serpihan perabotan yang tidak atau jarang sekali dipakai.

Selain itu, biasanya ketika sudah menempati rumah sendiri, baik sewa atau milik pribadi, istri secara naluriah akan muncul keinginan untuk menata rumah senyaman dan seindah mungkin. Keterampilan seperti menata rumah seperti tata letak perabotan, tema aksesoris rumah, warna cat dan dekorasi rumah biasanya dipegang penuh kendalinya oleh istri.

6.  Keterampilan Komunikasi

Terampil berkomunikasi, bukan berarti harus menjadi istri yang cerewet dan banyak omong, tapi ia tahu kapan waktunya berbicara dan bagaimana cara menyampaikan sesuatu bentuk komunikasi. Melatih keterampilan ini penting. Apalagi ketika kita harus menasihati anak-anak ketika mereka melakukan kesalahan atau kekeliruan, pastinya kita sebisa mungkin harus menghindari bentakan atau teriakan dan ancaman.

Sebagai istri dan ibu, tentunya kita juga dituntut secara tidak langsung untuk menjadi psikolog atau sahabat terbaik mereka agar mereka senantiasa terbuka terhadap kita dalam setiap masalah yang sedang mereka hadapi. Jika kita menguasai kemampuan komunikasi yang baik, keluarga juga akan nyaman untuk senantiasa bercerita dan berdiskusi dengan kita. Rumah tangga yang didalamnya minim teriakan, bentakan, blaming dan judgement pastinya akan membuat keluarga betah untuk selalu pulang ke rumah. Anak yang merasa asyik berbicara dengan kita pun akan lebih menguntungkan bagi kita dalam memantau keseharian anak terutama dalam masa puber.

 

 

 

 

 

 

Subbab 9 : Terampil mengurus anak dan merawat diri

0 0

- sarapan kata KMO Indonesia

-batch 47

- kelompok 2 Anagata

- day 24

- sarkat jadi buku

- 723 kata


7. Keterampilan Mengurus Anak

Ketika kita memutuskan untuk menjadi seorang istri, secara tidak langsung kita juga harus mempersiapkan diri belajar menjadi seorang ibu. Dalam sebuah pernikahan, pastinya ada harapan untuk memperoleh keturunan baik dari diri sendiri, pasangan maupun keluarga besar. Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Namun, banyak pengalaman dan pembelajaran baru dalam masa pengurusan sang buah hati yang dapat mengubah masa depan.

Menjadi seorang istri saja tidak mudah apalagi menjadi ibu? Tapi percayalah, setiap wanita memiliki kemampuan untuk belajar dan beradaptasi dengan baik apapun kondisinya. Belajar keterampilan seperti ini bisa dimulai dari sebelum menikah, dengan cara belajar menyukai anak-anak, memperhatikan dunia mereka dan belajar tentang cara menangangi mereka ketika tantrum atau 'rewel'. Ketika telah menikah dan belum memiliki anak, kita juga bisa belajar dengan banyak membaca buku, sering mengunjungi atau menghubungi adik, keponanakan atau kerabat yang masih atau memiliki anak kecil. Hal itu dapat merangsang naluri keibuan pada diri kita keluar. Sehingga ketika kita diamanahi Allaah untuk memiliki anak, setidaknya kita sudah memiliki gambaran dan sudah mempersiapkan mental untuk menjalaninya.

Bicarakan juga kepada pasangan tentang keputusan kapan mau punya anak dan ingin memiliki berapa anak rencananya. Kita juga harus membicarakan tentang jarak umur antar anak yang satu dengan lainnya. Hal ini penting untuk menjaga kesiapan dan kesehatan mental dan fisik kita yang akan menjalani peran ganda sebagai istri dan ibu. Islam sendiri tidak melarang untuk memberikan jarak umur antar anak dengan KB. Namun, jika diniatkan untuk menghentikan total kelahiran anak, itu yang dilarang. Kita juga bisa mendiskusikan bersama pasangan jenis KB apa yang akan dipilih. Sekali lagi, komumikasikan semua yang berhubungan dengan anak dan cara pengasuhannya kepada pasangan agar nantinya tidak terjadi miss komunikasi dan bisa saling membantu di antara pasangan.


8. Keterampilan Merawat Diri
Banyak wanita yang ketika sebelum menikah, ia tampil dengan cantik. Ia Rajin merawat diri dengan berbagai skincare dan make up. Namun, ketika telah menikah, penampilannya menjadi lebih kusam dari sebelumnya, berpakaian pun asal seadanya. Jika ditanya kenapa tak mengurus diri, maka jawabannya rata-rata ialah karena sudah 'laku' atau tidak ada waktu lagi karena sudah sibuk mengurus anak. Padahal, jika mau dipahami, suami juga ingin istrinya selalu tampil memyenangkan. Tidak perlu harus selalu make up setiap hari, tapi tetap menjaga diri agar selalu bersih dan wangi, itu sudah cukup.

Ada satu hal yang sering luput atau dilupakan oleh para istri ketika sudah menikah, yaitu naluri suaminya yang selalu ingin melihat istrinya tampil rapi dan segar ketika suami tiba di rumah. Dengan berdalih sudah 'laku', istri jadi malas merawat diri, yang dulu semasa gadisnya rajin ke salon dan memakai skincare, sekarang sudah tidak lagi, mandipun, mungkin hanya alakadarnya. Padahal sejatinya, mata suami itu perlu dijaga agar ia tidak melihat atau mencari penyejuk mata di luar sana. Jagalah agar semua keindahan ada pada istrinya sehingga suami hanya melihat kepadanya dan tidak tertarik melirik ke yang lain. Tidak mau kan jika pasangan kita direbut atau terpincut dengan keindahan wanita lain di luar sana. Jangan menganggap jika sudah menikah maka aman semuanya, tidak, tapi tetaplah berusaha untuk merawat diri baik untuk diri sendiri maupun untuk suami.

Banyak juga yang berdalih sudah terlalu sibuk mengurus anak, sehingga tidak sempat lagi merawat diri. Memang, mengurus anak itu memerlukan energi dan waktu lebih banyak daripada tidak mengurus anak. Namun, yang harus menjadi perhatian kita juga sebagai istri adalah, "Jangan mengabaikan kebutuhan suami". Suami juga harus tetap kita prioritaskan, kehadiran anak bukanlah alasan untuk mengabaikan suami. Disini, kita yang harus pandai-pandai mengatur waktu agar kita tetap punya waktu untuk merawat diri sendiri.

Kita bisa belajar untuk 'mendisiplikan' diri dengan aturan waktu yang telah kita buat. Kita bisa memulai dengan membuat jadwal harian dari saat bangun tidur di pagi hari sampai mau tidur lagi di malam harinya. Dari jadwal tersebut kita bisa mengidentifikasikan mana yang sekiranya penting dan mendesak, sampai yang paling tidak penting dan tidak mendesak yang bisa kita kerjakan paling belakangan jika ada waktu luang. Misal setelah bangun tidur kita bisa mandi terlebih dahulu sebelum atau sesudah sholat subuh. Mandi disini kita masukkan dalam kategori penting dan mendesak, jadi bisa kita kerjakan terlebih dahulu. Percaya atau tidak, setelah badan kita segar, mood kita akan naik drastis dan lebih bersemangat untuk mengerjakan pekerjaan selanjutnya. Setelah selesai, barulah kita menyiapakan sarapan untuk suami dan anak-anak misalnya, jadi ketika suami dan anak-anak melihat kita sudah segar dan sarapan sudah tersedia, mereka akan tertular semangatnya untuk menjalani aktifitas selanjutnya.

Bab 10 : Orang Ketiga

0 0

Setiap rumah tangga, akan memiliki ujiannya masing-masing. Dalam hubungan pernikahan tidak selamanya mulus semulus jalan tol. Akan ada kerikil-kerikil kecil atau lubang yang bisa saja akan mewarnai perjalanannya.
Ada yang diuji dengan finansial, karakter pasangan, kesehatan fisik bahkan orang ketiga yang dapat merusak rumah tangga. Lantas bagaimana jika ujian rumah tangga yang kita hadapi adalah orang ketiga?

Sebagai seorang istri, kita harus bisa mempersiapkan diri dengan semua pilihan yang bisa saja terjadi. Orang ketiga pun tak melulu soal wanita atau pria lain. Namun, bisa juga orang ketiga datang dari keluarga atau kerabat terdekat yang terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kita.

Ikut campurnya keluarga dalam urusan rumah tangga seseorang masih banyak dijumpai terutama bagi yang tinggal di pedesaan atau yang tinggal seatap dengan keluarga lainnya seperti dengan orangtua, mertua, atau keluarga lainnya. Biasanya, yang menjadi topik paling besar pemicu konflik adalah tentang perbedaan pola asuh anak. Sebenarnya solusi yang paling baik adalah memang tinggal terpisah, tapi jika memang belum bisa terpisah atau walau terpisahpun masih tetap diganggu, sebaiknya kita mulai untuk bersikap tegas namun tetap sopan.

Kehadiran pihak ketiga yang ikut campur urusan rumah tangga kita sebenarnya dapat dihindari. Kuncinya adalah kita harus memahami dulu kondisi kejiwaan keluarga lain dan kita tidak membuka masalah apapun yang terjadi dalam rumah tangga. Apapun masalah yang menerpa pasangan --selagi dapat diatasi sendiri dengan pasangan-- tidak boleh diketahui orang lain karena cara pandang orang lain bisa berbeda dan malah memperumit keadaan. Memang bukan hal yang mudah untuk memendam kekesalan dan rasa tidak nyaman saat terjadi masalah. Namun, jika dengan mengumbarnya malah akan memperburuk situasi, sebaiknya kita menghindarinya.

Selanjutnya, kita akan membahas jika orang ketiga itu adalah orang lain yang memang berpotensi menghancurkan rumah tangga. Memang menyebalkan jika kenyamanan rumah tangga terganggu karena hadirnya pihak ketiga yang berusaha merebut kenyamanan kita. Apalagi jika ia melakukannya terang-terangan. Namun, sebelum itu terjadi, kita bisa mencegahnya dengan cara-cara berikut:

1. Bersama-sama keluarga mempertebal tali keimanan

Tidak dapat dinafikan bahwa Allah lah yang memegang kendali atas hati setiap manusia. Ajaklah keluarga terutama pasangan untuk terus mengingat Allah dimanapun ia berada dan kapanpun. Tidak ada ikatan yang paling kuat selain ikatan cinta dengan keimanan. Kita juga harus senantiasa memperbaiki hubungan kita dengan Allah agar Allahpun sayang dengan kita dan memperbaiki serta memudahkan kehidupan kita termasuk urusan dengan pasangan.

Perbaiki pula niat kita menikah adalah karena menjalankan ibadah kepada Allah dan hanya untuk mencari Ridho-Nya, bukan untuk kesenangan duniawi saja yang hanya bersifat sementara. Jika niat kita sudah betul, in syaa Allaah, walau datang badai menerpa, kita akan tetap bertahan pada tali agama Allah untuk mempertahankan rumah tangga kita.

2. Menciptakan suasana yang harmonis

Usahakan setiap hari kita membuat suasana rumah tangga yang nyaman dan harmonis. Sesibuk apapun kita dengan aktifitas kita yang lain, tetap tidak boleh melupakan fitrah kita sebagai istri. Sempatkanlah untuk memberi waktu spesial untuk pasangan setiap harinya. Tidak harus berlama-lama, asalkan waktu yang diberikan adalah waktu yang berkualitas dengan segala curahan perhatian kita terhadap pasangan, walau hanya 30 menit sehari, itu akan memberi kesan mendalam bagi pasangan.

Kita bisa membuat waktu bersama dengan berbagai cara dan kapanpun saat santai. Suasana rumah yang terasa segar akan membuat hubungan pasangan suami istri terasa hangat.

3. Menjaga penampilan

Meski terlihat sepele, tapi jika penampilan selalu terlihat segar dan rapi itu akan membuat kita dan pasangan merasa senang dan nyaman. Seperti dijelaskan pada bahasan sebelumnya, banyak kondisi saat ini di mana para istri sudah tak menjaga penampilan lagi sehingga banyak suami yang 'jelalatan' matanya di luar sana untuk mencari kesegaran baru. Jika kita tidak ingin ada datang seseorang yang menarik hati pasangan, maka sebisa mungkin kita tetap harus menjaga penampilan sebaik mungkin. Jangan beralasan tidak ada waktu, jika masih terbentur diurusan waktu, segera perbaiki jadwal dan atur waktumu lebih baik lagi. Jika berangkat ke kantor atau acara pernikahan orang lain saja kita bisa menyempatkan waktu untuk mempercantik diri, maka kita juga harus bisa menjaga penampilan untuk suami minimal disaat ia sedang ada dirumah. Karena pada dasarnya, penampilan yang menarik akan membantu kita mennjaga pasangan kita secara tidak langsung.

3. Menjaga Pandangan

Menjaga pandangan harus dilakukan oleh kedua pasangan suami istri sekaligus. Istri menjaga pandangan dari melihat dan memuji laki-laki lain dan suamipun melakukan hal yang sama, menjaga pandangan dengan tidak melihat san memuji wanita lain. Ingat, tugas yang membanggakan bagi iblis adalah ia dapat memisahkan pasangan suami istri menjadi tercerai-berai dan salah satu pintu masuknya adalah mata. Mata yang tidak dijaga dan bebas melihat lawan jenis baik secara langsung maupun tak langsung seperti drama, video dan lainnya.

SubBab 10 : mengumbar kemesraan

0 0

5. Tidak sering mengumbar kemesraan

Paham sih namanya manusia, ketika sedang bahagia pasti ingin berbagi rasa bahagianya kepada yang lain salah satunya dengan banyak menceritakan atau mengupload foto-foto romantis bersama pasangan di sosial media. Niat hati hanya berbagi cerita dan pengalaman, tapi bisa jadi berbeda cerita bagi beberapa orang. Jika hanya sekali dua kali posting, mungkin masih dimaklumi, tapi jika sudah terlalu sering mengumbar kemesraan, ini yang akan membuat orang yang melihatnya merasa tak nyaman dan bisa saja menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja untuk merusak rumah tangganya.

Jika kita terlalu sering mengumbar kemesraan di depan umum baik di dunia nyata atau dunia maya, maka itu sama artinya kita membuka gerbang untuk orang lain masuk dalam rumah tangga kita. Kita tidak bisa memukul rata semua orang akan ikut bahagia melihat postingan kita yang kita rasakan kebahagiannya, karena hati manusia tidak ada yang tahu selain Allah dan orang itu sendiri. Kita mungkin merasa beruntung memiliki pasangan yang baik dan ideal untuk kita. Namun di luar sana, masih ada orang yang tidak seberuntung kita dalam hal mendapatkan pasangan. Ingat, dunia bukan milik kita dan pasangan saja, ada orang lain yang juga menempati dunia ini, tidak hanya sekedar ngontrak. Hehe.

Lantas? Apakah pegangan tangan di muka umum juga tidak boleh? Bergandengan tangan antara suami istri di jalan umum, pada asalnya tidak masalah, dan tidak ada dosa untuk perbuatan yang mereka lakukan. Bahkan terkadang keadaan tertentu menuntut dilakukan tindakan ini, seperti ketika berjalan di keramaian dan jalan yang sesak. Akan tetapi, ketika hendak melakukan perbuatan semacam ini, selayaknya mempertimbangkan adat dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat setempat. Jika perbuatan semacam ini biasa dilakukan oleh masyarakat, termasuk tokoh agama di lingkungannya maka semacam ini tidak masalah. Sebaliknya, jika bergandengan tangan suami istri semacam ini termasuk perbuatan yang bisa menjatuhkan wibawa, atau tercela secara adab dan akhlak di masyarakat setempat, maka pasangan suami istri tidak boleh bergandengan tangan di tempat yang banyak dilihat orang lain.

Bila bergandengan tangan saja harus melihat situasi dan kebiasaan lingkungan sekitar, maka untuk hal yang lebih dari sekedar bergandengan tangan seperti berpelukan, saling mencium, dan sebagainya, sebaiknya dihindari dilakukan didepan umum.
Hal ini juga dapat menghindari dari terpancingnya rasa iri dan hasad orang lain yang bisa menyebabkan 'Ain pada diri kita dan pasangan. 'Ain ini nyata adanya. Pandangan mata bisa menyebabkan orang lain sakit bahkan meninggal, apalagi sekedar membuat rumah tangga yang tadinya adem menjadi panas juga pasti bisa.

'Ain berasal dari bahasa Arab. Ain dari kata "‘aana – ya’iinu yang artinya: terkena sesuatu hal dari mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).
Setelah mengetahui definisi dari ‘ain, mungkin sebagian orang akan bertanya-tanya, “Ah, mana mungkin sekedar memandang akan menimbulkan penyakit dan merusak rumah tangga?”, atau bahkan sebagian orang mengingkari adanya ‘ain karena tidak masuk akal. Oleh karena itulah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa” (HR. Muslim no. 2188).

Dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:

Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memintaku agar aku diruqyah untuk menyembuhkan ‘ain” (HR. Muslim no.2195).

Penyebab 'Ain biasanya disebabkan oleh adanya hasad (iri, dengki) terhadap nikmat yang ada pada orang lain. Orang yang memiliki hasad terhadap orang lain, lalu memandang orang tersebut dengan pandangan penuh hasad pada orang lain, bisa menyebabkan 'ain. Selain hasad, pandangan penuh kekagumanpun juga bisa menimbulkan 'ain. Salah satu cara mencegahnya adalah jika kita memandang kagum seseorang atau benda, kita ucapkan "Maa Syaa Allah" atau "Allaahumma Baarik 'alaihi".

Jika rumah tangga kita sudah terlanjur kena 'Ain karena kecerobohan kita yang terlau sering memamerkan kemesraan, maka cara yang bisa kita lakukan untuk mengobatinya adalah :
A. Bertaubat, kita harus bertaubat terlebih dahulu kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi
B. Jika kita mengetahui orang yang menimbulkan 'Ain pada keluarga kita, misal setelah mendapat pujian darinya keluarga kita ada yang sakit mendadak atau suasana rumah tangga kita jadi memanas tanpa sebab jelas, maka kita mengobatinya dengan mandi dengan air bekas mandi atau bekas wudhu orang yang menyebabkan 'Ain tersebut.

C. Jika kita tidak mengetahui siapa yang menyebabkan, misal karena kita share foto-foto keluarga kita di sosial media, maka cara menyembuhkannya adalah dengan ruqyah syar'iyyah.

Bahaya lain yang mengintai rumah tangga kita selain ain adalah kemunculan perusak rumah tangga atau yang dikenal dengan sebutan 'pelakor'. Sudah banyak kasus munculnya orang ketiga adalah karena postingannya sendiri tentang rumah tangganya yang harmonis dan bahagia. Ia juga sering menceritakan kebaikan-kebaikan pasangannya kepada orang lain baik langsung atau lewat sosial media. Orang yang terlalu sering mendengar atau melihat cerita kita tentang betapa sempurnanya pasangan kita, lama-lama akan muncul rasa iri dan keinginan untuk mendapatkan hal yang sama, bahkan bisa lebih parah, yaitu ingin merebutnya dari kita.

Intinya, ketika kita sudah menikah, bijaklah dalam hal memperlihatkan kemesraan dan keharmonisan rumah tangga kepada khalayak ramai. Tidak semua hal dalam rumah tangga kita harus diketahui oleh semua orang. Biarlah kebaikan-kebaikan pasangan hanya kita saja yang tahu tanpa perlu dipublish ke hadapan umum. Jika kita ingin rumah tangga yang langgeng, yang setia sampai akhir hayat, maka sebisa mungkin kita mencegah dan menutup rapat pintu-pintu agar tak ada celah bagi orang lain masuk untuk mencampuri atau merusak rumah tangga kita. Semoga Allah menjaga rumah tangga kita dalam kebaikan-Nya. Aamiin

Subbab 10 : Mengatasi Orang Ketiga

0 0

-Day 27

-702 kata


Setelah kita bahas tentang pencegahan masuknya orang ketiga, sekarang kita akan membahas tentang bagaimana jika sudah ada orang ketiga yang terlanjur masuk? Jika dalam syariat Islam, memang ada syariat poligami atau memiliki istri lebih dari satu. Namun, proses yang ditempuh haruslah sesuai syariat. Tidak bisa disamakan antara poligami dan perusak rumah tangga orang. Kali ini kita akan membahas orang ketiga yang berusaha merusak rumah tangga ya, atau orang ketiga yang tertarik pada seseorang yang telah memiliki pasangan.

Memang menyebalkan jika ia tiba-tiba datang dan sudah menjurus pada hal yang mengganggu ketenangan hubungan atau bahkan sudah menunjukkannya secara terang-terangan ingin merusak hubungan kita dengan pasangan. Kita tidak bisa diam saja dan harus melakukan sesuatu. Berikut beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk menghadapinya:

1. Mengabaikannya

Jika kamu benar-benar tidak mau berurusan dengan orang ketiga, maka kamu dan pasangan bisa membuat kesepakatan untuk mengabaikannya. Jika ia terus mengganggu dengan mengirim pesan atau telepon, kamu bisa memblokir kontaknya secara permanen. Tutup celah dengan tidak meladeninya. Kamu dan pasangan harus kompak dalam hal ini, karena jika tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk masuk, maka ia akan menyerah dan pergi meninggalkan kalian.

2. Membicarakan dengan pasangan

Jika ada seseorang yang mencoba mengganggu apalagi terang-terangan menggoda pasangan kita dan menghujaninya dengan pesan yang membuat tak nyaman, maka sebaiknya segera bicarakan ini dengan pasangan. Katakan bahwa itu sangat mengganggu kita dan mintalah kepada pasangan untuk bersikap tegas dan menjauhinya.

Selain itu, kita juga bisa terus berusaha memperbaiki komunikasi dan pelayanan kita terhadap pasangan. Jika pasangan sudah merasa puas dengan pelayanan kita, maka ia tidak akan merasa butuh orang lain untuk menggantikan kita. Jangan terlalu sering memarahi dan menyudutkan pasangan, hal ini malah akan memperburuk keadaan dan membuat pasangan malah menanggapi orang ketiga tersebut untuk melepas penat karena sikap kita.

3. Jangan terpengaruh gosip
Jika baru sekedar isu atau praduga adanya orang ketiga dalam rumah tangga kita, maka kita tidak boleh langsung terpancing dengan gosip tersebut. Ada baiknya kita mencari informasi yang sebenarnya. Jika kita terpicu maka akan membuat kita tidak bisa berpikir jernih dan dapat melakukan hal-hal tanpa berpikir panjang dan malah membuat penyesalan nantinya.

Kita tetap harus menjaga kepala agar tetap dingin. Jika kita butuh bantuan dari orang yang kita percaya untuk mendapatkan informasi yang lebih objektif, maka lakukanlah. Hal itu dapat meringankan pikiran dan tenaga kita untuk menghadapi kenyataannya nanti.

4. Berbicara Langsung
Jika kamu ingin mengatasinya secara langsung dan menemui pengganggu tersebut, maka tegaskanlah padanya untuk tidak merusak dan menjauhi pasanganmu. Namun tetaplah kontrol emosi walaupun sangat ingin untuk memarahinya. Katakan secara baik-baik agar ia mengerti. Jika dikatakan secara kasar bisa jadi malah membuatnya semakin menjadi-jadi. Tegaskan padanya hal-hal yang akan kamu ambil jika ia terus saja mengganggu, seperti melaporkan ke pihak berwajib misalnya.

5. Berikan waktu khusus untuk pasangan
Walaupun kita sudah sibuk dengan urusan rumah tangga, pekerjaan dan anak-anak, tetaplah luangkan waktu untuk quality time bersama pasangan setiap harinya. Perhatikan juga bahasa cinta yang dominan pada dirinya yang telah kita bahas sebelumnya. Layani ia dengan bahasa cintanya saat sedang bersama kita. Jadikan pasangan hanya satu-satunya prioritas saat sedang berdua saja. Usahakan tidak ada gadget dan anak-anak yang dapat mengganggu waktu berdua dengan pasangan. Main game singkat atau saling bercerita sambil menikmati secangkir teh dan sepotong roti juga cukup untuk mengisi energi cinta yang mulai surut.

6. Terus Berdoa kepada Allah
Sebagai seorang hamba Allah, kita tentu tahu bahwa Allahlah yang memegang hati setiap hamba-hambaNya. Mintalah kepada-Nya agar terus menjaga dan meneguhkan hati kita dan pasangan agar saling setia dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Berdoa juga kepada-Nya agar senantiasa menjauhkan rumah tangga kita dari para penggangu.


Itulah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghadapi orang ketiga. Tetap bertawakal dan berserah diri pada Allah. Yakinlah apapun yang akan dihadapi dalam rumah tangga kita nantinya, adalah ujian untuk membuat kita belajar lebih baik lagi. Satu hal yang bisa kita jadikan patokan untuk mempertahankan rumah tangga. Jika pasangan tidak melakukan KDRT terhadap kita dan anak-anak serta tidak berselingkuh dan tidak mengabaikan kewajibannya seperti menafkahi keluarga, maka kita harus tetap mempertahankannya sebisa mungkin.

Tetap berdoalah kepada Allah. Ingat kembali tujuan kita menikah diantaranya adalah untuk beribadah dan mencari keridhoan-Nya dengan menikah. Semoga Allah menjaga rumah tangga kita agar senantiasa langgeng sampai bertemu kembali di surga-Nya. Aamiin Allaahumma aamiin.

Bab 11 : Menghadapi Poligami

0 0

- Sarapan Kata 

- day 27

- 729 kata

Tidak semua rumah tangga mungkin hanya berisi satu istri dan satu suami. Adakalanya seorang suami memiliki lebih dari satu istri (poligami). Poligami tentunya berbeda dengan selingkuh. Islam membolehkan poligami tapi tidak dengan selingkuh. Apa bedanya? Dari permulaannya saja sudah berbeda. Poligami biasanya dimulai sesuai dengan syariat baik perkenalannya, prosesnya sampai pernikahannya. Poligami sendiri bertujuan untuk memuliakan wanita, bukan menghancurkannya. Maka dari itu, tidak boleh istri yang satu merusak hubungan suaminya dengan istrinya yang lain. Sedangkan selingkuh, berkebalikan dengan poligami. Awalnya bisa saja dimulai dengan kecurangan pasangan 'bermain-main' dengan hati di belakang pasangan sahnya. Membohongi istri juga bukan hal yang aneh dalam perselingkuhan. Berselingkuh sama dengan berkhianat dan Allah tidak menyukai para pengkhianat karena sifat khianat juga termasuk salah satu ciri orang munafik.

Poligami sendiri sebenarnya tidaklah dibuat untuk merugikan pihak suami atau istri jika dijalankan dengan benar. Namun sayangnya, di zaman sekarang ini banyak yang menyalah artikan poligami dan membuatnya seolah-olah terlihat sama dengan perselingkuhan. Sehingga membuat para istri tidak suka bahkan sampai membencinya. Lantas bagaimana kita menyikapi jika rumah tangga kita diberi ujian dengan hadirnya poligami?

Pertama, kita harus menyadari dan mengetahui dulu sebelumnya perbedaan antara poligami dan perselingkuhan. Apakah pasangan berkhianat atau tidak. Selain itu, alasan dari poligami itu sendiri, banyak rumah tangga yang justru menawarkan solusi poligami kepada pasangannya karena permasalahan yang mereka hadapi dan poligami merupakan salah satu solusinya. Misalnya, sang istri divonis tidak bisa memiliki keturunan sedangkan sang suami dinyatakan subur, maka sang istri menawarkan poligami terhadap suaminya agar suaminya memperoleh keturunan yang sah dan ia tida bercerai darinya. Maka hal ini malah merupakan solusi seperti yang diambil oleh Sarah kepada Nabi Ibrahim 'Alaihissalam.


Kedua, kita harus mengetahui dulu hikmah terkait poligami agar kita bisa menerimanya dengan hati yang lapang. Di antara hikmah poligami ialah:

A. Sebagai pintu penghalang Zina
Kita harus ketahui bahwa bagi sebagian laki-laki memiliki hasrat yang sangat besar dan menggebu. Jika dirasa menikahi satu istri saja tidak cukup, maka poligami bisa menjadi salah satu solusi yang menghindarkan ia dari perbuatan khianat dan zina. Apalagi jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki di setiap masa dan tempat.

B. Tabiat dan naluri kaum wanita yang berbeda dengan kaum laki-laki
Hal ini dilihat dari sudut kesiapannya untuk digauli. Wanita tidak selalu siap setiap waktu karena wanita harus melalui masa haid setiap bulannya ataupun nifas pasca melahirkan. Jika dengan berpoligami, diharapkan ketika istri yang satu sedang 'libur', suami bisa terhindar dari zina dengan mendatangi istrinya yang lain.

C. Membantu Istri yang mengalami kesulitan baik dari segi fisik, kesehatan istri yang bersifat sakit menahun atau sulit memiliki anak yang menyebabkan ia tidak bisa maksimal melayani sang suami.

D. Penghargaan terhadapn istri dengan tingkah laku yang amat buruk.
Banyak istri yang berlaku buruk dan mengabaikan suaminya serta tidak menjaga hak-hak suami. Daripada menceraikannya, sang suami memilih tetap bersamanya dan meikah dengan wanita lain sebagai penghargaan kepada istri pertama dan tetap menjaga hak-hak keluarga serta menjaga anak-anak jika suami telah punya anak darinya.

E. Ladang pahala yang besar bagi istri
Tidak mudah memang berbagi suami dan menahan gejolak emosi dan ego dalam dada. Maka dari itu, Islam mempersiapkan ganjaran yang amat sangat besar bagi wanita yang rela untuk dipoligami oleh suaminya demi kemashlahatan bersama. Istri yang bisa ikhlas menerima poligami bisa mendapatkan ganjaran surga atas keridhoannya. Bagi sebagian wanita, surga ini mungkin tidak dirindukan jalan untuk meraihnya. Sabar dan ikhlas, merupakan kunci utama pintunya.

F. Menolong wanita lain
Adakalanya poligami tidak melulu terkait dengan nafsu atau cinta yang terbagi. Namun, ada pula tujuan mulia lainnya seperti menolong wanita lain yang mungkin hidup teraniaya dan tertindas oleh dunia. Misalnya ia seorang wanita miskin yang tidak memiliki penanggung dan pelindung hidupnya. Jika ia dibiarkan terus seorang diri, dikhawatirkan ia akan terjerumus kedalam keputusasaan sehingga melalukan perbuatan maksiat, maka dengan ia menikahinya dengan maksud menyelamatkan kesucian dan memberi perlindungan atasnya.

Hal lain yang harus dipahami ialah POLIGAMI ITU TIDAK WAJIB. Poligami ini bukanlah sebuah syariat yang bisa dilakukan dengan main pukul rata oleh semua orang. Ketika hendak berpoligami, seorang muslim hendaknya mengintropeksi dirinya, apakah dia mampu melakukannya atau tidak? Jangan sampai hanya karena nafsu semata malah menjadikan poligami bernilai negatif dan buruk di mata istri.

Kita sebagai istri juga harus mengingatkan suami tentang adab-adab yang aturan yang harus dijaga jika suami ingin berpoligami. Perhatikan juga dari kesiapan finansial, mental dan waktu sebelum memutuskan untuk poligami. Jangan sampai berpoligami namun sejatinya tidak siap menghadapinya sehingga menimbulkan kezhaliman bagi istri yang lainnya.

Bab 12 : Mempelajari Talak

0 0

Sebagaimana kita belajar untuk menciptakan keluarga yang harmonis dan penuh kebahagiaan, kita juga harus mempelajari tentang hal-hal yang tidak mengenakkan dalam rumah tangga. Jika dalam rumah tangga muncul konflik secara terus-menerus maka kita harus berupaya menyelesaikan dengan penyelesaian yang baik yang telah dibahas sebelumnya. Namun, bisa jadi usaha untuk menyelesaikan perselisihan tersebut tidak berhasil karena konflik dan permusuhan antar keduanya sudah terlampau panas. Dalam keadaan ini, jika hanya saling menzhalimi dan tak bisa diperbaiki lagi, seseorang bisa mengambil langkah tegas, yaitu talak.

Siapapun yang memperhatikan hukum-hukum syariat yang berhubungan dengan talak akan paham bahwa sebenarnya Islam sangat menginginkan terjaganya keutuhan rumah tangga serta keabadian jalinan kasih sayang di antara suami-istri. Buktinya, Islam tidak membatasi talak hanya sekali saja, melainkan tiga kali. Hal itu dikarenakan jika sang suami menyesal dan ingin rujuk kembali dengan istrinya, maka hal itu masih diperbolehkan dan harapannya bisa lebih baik dari sebelumnya.

Istri juga harus tahu bahwa jika suami menalak istrinya dengan talak satu atau dua, suami tidak berhak mengeluarkan istrinya dari rumah hingga masa 'iddahnya selesai. Istri juga tidak diperkenankan keluarkan meninggalkan rumah selagi masa 'iddah. Alasannya ialah agar ada harapan akan hilangnya kemaraham dari keduanya dan dapat kembali menjalin rumah tangga seperti sedia kala.

Adapun Talak terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya:

1. Dari Segi Lafazh Talak
Dari segi lafazh, talak dibagi menjadi dua, yaitu sharih (tegas) dan kinayah (kiasan). Sharih yaitu suatu kalimat yang langsung dapat dipahami tatkala diucapkan dan tidak mengandung makna lain. Seperti, "Aku menalakmu!" Atau "Engkau wanita yang ditalak" dan sebagainya.

Suami yang mengucap kalimat tersebut kepada istrinya, maka jatuhlah talak atasnya meski dalam keadaan bercanda atau tanpa niat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullaah Shalallaahu 'alayhi wa sallam,

"Tiga hal yang apabila dikatakan dengan sungguh-sungguh akan jadi dan apabila dikatakan dengan main-main akan jadi, yaitu nikah, talak, rujuk." (H.R Abu Dawud no.2194)
Maka dari itu, hendaknya para istri memperingati suami untuk berhati-hati dan tidak bercanda atau memancing candaan kearah sana.

Sedangkan Kinayah, yaitu kalimat yang mengandung makna talak dan selainnya. Seperti perkataan, "kembalilah kepada keluargamu," dan semisalnya.

Suami yang mengucap kalimat demikian kepada istrinya, maka tidak jatuh talak kecuali disertai dengan niat. Artinya jika sang suami berniat menalaknya maka jatuh talak, tapi jika tidak ada niat, maka tidak jatuh talak. Jika istri mendengar ucapan demikian dari mulut suaminya, segera tanyakan padanya apakah ia berniat menalak atau tidak. Hal tersebut sebagai penegasan agar istri tidak bingung dan peringatan agar suami berhati-hati dalam berucap.

2. Dari Segi Ta'liq dan Tanjiz
Bentuk kata talak ada dua, yaitu, munjazah (langsung) dan mu'allaqah (menggantung). Munjazah adalah kalimat dengan niat talak yang dilontarkan oleh suami saat itu juga. Seperti jika seorang suami berkata, "Engkau aku talak," maka talak jatuh saat itu juga.

Adapun Mu'allaq yaitu suatu kalimat talak yang dilontarkan oleh suami kepada istrinya yang diiringi dengan syarat, seperti jika ia berkata kepada istrinya "Apabila Engkau pergi ke tempat itu, maka Engkau tertalak."
Hukum perkataan demikian jika ia benar-benar menginginkan talak ketika syarat tersebut dilakukan, maka jatuh talak. Namun jika bermaksud untul memperingatkan istri agar tidak berbuat demikian, maka hukumnya hukum sumpah, yang artinya jika syarat tersebut tidak dilakukan, maka tidak terjadi apa-apa. Namun jika sebaliknya, maka ia harus membayar kaffarat karena sumpahnya.

3. Dari Segi Sunnah dan Bid'ah
Dari segi ini, talak dibagi menjadi dua yaitu talak sunnah dan talak bid'ah. Talak sunnah yaitu seorang suami menalak istrinya yang telah dicampuri dengan satu kali talak dan diucapkan ketika istri dalam keadaan suci. Adapun talak bid'ah yaitu talak yang menyelisihi syariat, seperti seorang suami menalak istrinya ketika sedang haidh atau junub. Selain itu, seorang suami yang melontarkan tiga talak sekaligus dengan satu lafazh seperti, "Engkau aku talak dengan tiga talak," atau "Engkau tertalak, Engkau tertalak, Engkau tertalak." Maka hukum talak semacam ini haram dan orang yang melakukannya berdosa.

Bab 13 : Khulu

0 0

Konflik yang terjadi dalam rumah tangga terkadang mudah diatasi dan terkadang sulit diatasi. Ada konflik yang kemelurnya membawa rumah tangga pada perceraian, tapi dapat diatasi dan rujuk kembali. Namun ada juga yang berujung pada perceraian (talak bain) ataupun perceraian dengan ganti rugi (khulu) dari pihak istri.

Setelah kita mempelahari talak, kali ini kita akan membahas tentang Khulu. Apa sih yang dimaksud dengan khulu? Dan apa bedanya dwngan talak? Khulu’ secara bahasa (etimologi) berarti melepas. Seperti ketika kita mengatakan melepas baju, kala itu digunakan kata khulu’. Sedangkan pengertian istilah (terminologi), khulu’ berarti perpisahan suami istri dengan keridhaan keduanya, dengan ada timbal balik (kompensasi) yang diserahkan oleh istri pada suami. Maksud khulu’ adalah gugatan cerai dari istri pada suami dengan adanya kompensasi.

Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. Al Baqarah: 229).

Adakalanya perceraian terjadi karena gugatan istri. Hukum asalnya seorang wanita tidak tidak boleh (haram). Namun, jika ada kondisi mendesak atau konflik yang tidak bisa ditolerir lagi, maka istri boleh bahkan ada beberapa kasus yang wajib menggugat cerai, seperti suami yang menjadi kafir/murtad.

Berikut beberapa kasus yang membolehkan sang istri melakukan gugat cerai:

1. Jika sang suami sangat nampak membenci sang istri, akan tetapi sang suami sengaja tidak ingin menceraikan sang istri agar sang istri menjadi seperti wanita yang tergantung.

2. Akhlak suami yang buruk terhadap sang istri, seperti suka menghinanya atau suka memukulnya.

3. Agama sang suami yang buruk, seperti sang suami yang terlalu sering melakukan dosa-dosa, seperti minum khomr, berjudi, berzina, atau sering meninggalkan sholat, suka mendengar musik, dll

4. Jika sang suami tidak menunaikan hak utama sang istri, seperti tidak memberikan nafkah kepadanya, atau tidak membelikan pakaian untuknya, dan kebutuhan-kebutuhan primer yang lainnya, padahal sang suami mampu.

5. Jika sang suami ternyata tidak bisa menggauli istrinya dengan baik, misalnya jika sang suami cacat, atau tidak bisa melakukan hubungan biologis, atau tidak adil dalam mabit (jatah menginap), atau tidak mau atau jarang memenuhi kebutuhan biologisnya karena condong kepada istri yang lain.

6. Jika sang wanita sama sekali tidak membenci sang suami, hanya saja sang wanita khawatir tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri sehingga tidak bisa menunaikan hak-hak suaminya dengan baik. Maka boleh baginya meminta agar suaminya meridoinya untuk khulu’, karena ia khawatir terjerumus dalam dosa karena tidak bisa menunaikan hak-hak suami.

7. Jika sang istri membenci suaminya bukan karena akhlak yang buruk, dan juga bukan karena agama suami yang buruk. Akan tetapi sang istri tidak bisa mencintai sang suami karena kekurangan pada jasadnya, seperti cacat, atau buruknya suami.

Khulu adalah fasakh, bukan talak. Artinya, apabila seorang istri menebus dirinya kemudian suami berpisah dengannya, maka istri lebih berwenang atas dirinya serta tidak ada hak bagi suami untuk rujuk kembali kecuali dengan keridhaan sang istri. Perpisahan ini tidak dianggap sebagai talak meskipun jatuhnya dengan lafazh talak, tetapi hukumnya fasakh (batalnya pernikahan) dalam akad.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rohimahullaah menerangkan bahwa yang menunjukkan khulu tidak dihukumibsebagai talak adalah Allaah menentukan tiga hal dalam hukum talak selama belum talak tiga, yang semuanya tidak ada di dalam hukum khulu, yaitu :

1. Suami lebih berhak untuk rujuk dalam talak

2. Talak dihitung tiga kali, maka apabila telah terjadi talak tiga, sang istri tidaklah halal baginya kecuali setelah menikah lagi dengan orang lain dan mencampurinya.

3. Masa Iddah dalam talak adalah selama tiga kali quru (suci).

Adapun dalam masalah khulu, ulama bersepakat bahwa tidak ada rujuk dalam khulu. Iddah dalam khulu hanya satu kali haidh. Dari keterangan diatas, jelas bahwa khulu bukanlah talak.

Mungkin saja kamu suka

Dewi Sita Resmi
Bianglala
Astuti nurmalas...
LUCKY
Nurmala Sari 1
Putri Derana
Sartalenta
SABRATHENA
Riska yunitasar...
ALAS ( Aku Lupa Aku Siapa )
Cloud and Shine
Nggak Secure

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil