Loading
0

0

2

Genre : Keluarga
Penulis : Lia W
Bab : 32
Pembaca : 3
Nama : wahyuni
Buku : 1

Cerita Reyna

Sinopsis

Reyna harus kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang hampir bersamaan. Pertama sang ayah kemudian sang ibu menyusul. Sedih tiada terkira , tentunya. Ia sangat terpukul. Apalagi dia harus berhadapan dengan pakdhenya. Pakdhenya yang sudah tahu bahwa keponakannya yatim piatu, berusaha merebut harta warisan kedua orang tua Reyna. Tak hanya masalah itu. Reyna juga dihadapkan pada masa depan adiknya, Diena dan juga masa depannya sendiri yang semakin suram. Hal tersebut lantaran ia belum bisa bekerja. Tapi bukan Reyna namanya kalo bukan gadis yang kreatif. Ia dengan segala kekurangan dan kelebihannya berusaha untuk tetap bertahan hidup. semangatnya tak pernah padam. dia selalu berdoa, bismillahi tawakaltu alallah, lahaulawala quwata illa biillah....
Tags :
#KMOIndonesia

kehilangan

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia batch 39

-Kelompok 39

-Jumlah kata 317

 

Kehilangan

Rey, begitu sapaan akrabnya bersiap-siap berangkat karantina. Ya, hari ini ia akan mengikuti olimpiade matematika tingkat nasional. Bersaing dengan banyak murid dari berbagai sekolah di seluruh Indonesia, tentunya bukan suatu hal yang mudah bagi seorang gadis desa yang baru saja kehilangan sosok paling berpengaruh dalam hidupnya. Ya, sang ibu telah berpulang ke rahmatullah. Beraneka perasaan bercampur aduk dalam sanubarinya. Mengalahkan rasa permen nano-nano yang rasanya tidak karuan itu. Bahkan sampai tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Antara sedih bercampur gembira bercampur cemas memenuhi hatinya.

 “Lapangkan hati ini Ya Allah...Lapangkan...” ujarnya pelan sambil mengelus dada.

Dia menatap sekeliling rumahnya yang sederhana. Rumah yang berisi banyak kenangan indah di dalamnya. Reyna melangkah menyisiri setiap ruang dalam rumah peninggalan almarhum ayahnya itu. Matanya tertumbuk pada ruang dapur yang sering dijadikan tempat bercengkrama sekeluarga semacam basecamp keluarga. Disana semua anggota keluarga ngobrol seru tentang aktivitas mereka. Reyna dan Diena bergantian bercerita tentang kegiatan sekolah masing-masing. Ayahnya selalu mengajarkan mereka untuk saling terbuka satu sama lain.

“Cie...yang baru dianterin pulang pak guru ganteng!” seru Diena sambil loncat-loncat.

 “Apaan sih dek? Kan bukan kakak doang yang dianterin.” bantah Reyna.

“Tapi suka kan?” katanya sambil mengerdipkan dua matanya. Jahil.

“Ya sukalah... orang dapat tumpangan gratis jawab Reyna sambil tersenyum. Ia menghampiri adiknya seraya mencubit hidungnya. Alhasil aksi kejar-kejaran pun dimulai. Ayah dan ibu memperhatikan mereka sambil tersenyum bahagia. Ya, bahagia yang sederhana. Tak perlu pergi kemana-mana bukan untuk bisa bahagia. Cukup di rumah saja, syukuri apa yang ada. Karena dengan banyak bersyukur kita akan bahagia.

Reyna mengusap matanya yang basah. Masih ingat kata-kata ayahnya kala itu.

“Rey, maafkan ayah ya. Belum bisa mengajak Reyna, Diena dan ibu pergi tamasya” kata sang ayah sambil mengelus rambut Reyna yang hitam lebat.

“Syukuri apa yang ada ya nak. Insyaallah Allah akan menambah nikmatNya” lanjut ayahnya lagi. Ada kesedihan dalam raut wajahnya meskipun ayah berbicara sambil tersenyum. Itu adalah kata-kata terakhir ayahnya sebelum meninggal.  Dan akan terus diingat Reyna.

kehilangan part 2

0 0

-Sarapan Kata KMO Indoneia Batch 39

-Kelompok 26

-Jumlah Kata 368

Sebulan sebelum kepergian sang ibu, ibu sempat marah besar kepada Reyna. Marah yang tidak biasa.

“Kembalikan uang itu Rey!” kata ibu tegas.

“Kita bukan pengemis, kita masih sanggup berikhtiar. Tak selayaknya kita menerima apa yang bukan milik kita. Ada yang lebih berhak menerimanya” lanjut sang ibu sambil menghapus air matanya.

Rey tahu, ibunya sedang menahan marah. Ibarat gunung yang sedang memutahkan laharnya. Panas dan mengerikan. Rey tertunduk lesu. Ia ingin menyampaikan sesuatu namun mulutnya terkunci rapat. Pikirannya bingung, di satu sisi ia ingin uang itu untuk membayar SPP sekolahnya di sisi lain ia takut ibunya semakin marah.

“Tolong, kembalikan segera uang itu Rey!”

Reyna mengangguk. Ia segera bergegas pergi ke rumah Umi Pipik untuk mengembalikan uang tersebut. Masih dengan berbagai pertanyaan di pikirannya, ia segera menuju rumah Umi Pipik.

“Assalamu’alaikum...”

“Waalaikumumussalam warohmatullahi wabarokatuh” jawab suara seorang perempuan paruh baya. Beliau memakai gamis coklat dipadu dengan jilbab panjang warna senada. Wajahnya sumringah ketika tahu bahwa yang datang adalah Reyna. Murid kesayangannya. Maklumlah beliau sudah sejak lama menginginkan anak perempuan namun Allah menganugerahkan ketiga anaknya laki-laki semua. Subhanallah...

“Reyna, tumben pagi-pagi sudah kesini. Ada perlu apa ?” tanya Umi Pipik sedikit heran.

“Umi, mohon maaf mengganggu. Reyna kesini mau mengembalikan uang yang  umi kasih ke Reyna kemarin” jawabnya sambil merunduk.

“Dikembalikan? Maksudnya?”

“Iya mi dikembalikan. Ibu menyuruh saya untuk mengembalikan uang ini” kata Reyna seraya menyerahkan uang itu.

“Ibunya Reyna marah?”

Reyna hanya mengangguk. Terlihat Umi Pipik menghembuskan nafasnya perlahan. Reyna takut sekali kalo Umi pipik akan memarahinya seperti ibunya tadi. Reyna menunggu masih dengan menunduk.

“Rey, Umi tahu posisimu. Tak apa bila uangnya dikembalikan. Maafkan umi ya? Belum bisa bantu apa-apa” katanya lembut. Reyna melihat senyum mengembang diwajah Umi Pipik.

“Alhamdulillah, Umi Pipik tak marah?”tanya Reyna polos.

“Tidak Reyna. Sampaikan kepada ibu Reyna ya, umi minta maaf karena belum bisa bantu apa-apa”

“Akan Reyna sampaikan umi. Terima kasih sebelumnya. Assalamu’alaikum...”

Reyna pamit pulang.  Hatinya  kini sudah lega. Tapi ia masih bingung memikirkan bagaimana caranya membayar uang sekolahnya. Padahal ia tahu ibunya sering sakit-sakitan. Sering tidak bisa jualan seperti biasanya. Dan ibu juga masih harus memikirkan biaya sekolah adiknya, Diena.

“Ya Robb, mohon mudahkan kami untuk menjemput rejeki-rejeki kami. Rejeki yang halal, berkah dan berlimpah. Amiin...” doa Reyna sepanjang perjalanan.

kehilangan part 3

0 0

-sarapan kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Jumlah kata 355

 

Baru-baru ini Reyna baru tahu kenapa ibu menyuruhnya mengembalikan uang dari Umi Pipik dulu. Alasannya sederhana, ibunya ingin Reyna memperoleh apapun entah berupa uang ataupun lainnya dengan bekerja keras terlebih dahulu.

“Jangan suka meminta ya nak, kalau kita masih bisa bekerja, bekerjalah. Bekerja dahulu baru terima hak kita. Itu jauh lebih Allah sukai daripada meminta belas kasihan orang lain,” nasehat ibu pada suatu pagi.

“Selama Allah masih memberi kita kesehatan dan kekuatan manfaatkan dengan sebaik-baiknya ya, nak!” lanjut ibu seraya mengelus-elus kepala Reyna.

“La tahzan! Jangan bersedih dan jangan pula menyerah. Hidup harus semangat!” kata ibu sambil tertawa lepas.

Reyna tersenyum. Menatap ibunya lekat-lekat. Ibunya yang masih muda secara umur tampak sudah lebih tua dari usianya. Ibunya yang tidak pernah mengeluh karena himpitan ekonomi yang mendera keluarganya pasca ayahnya meninggal. Ibunya yang kuat. Yang pantang meminta bantuan kepada siapapun. Ibunya sungguh luar biasa.

“Semoga Allah selalu memberkatimu, wahai ibu. Alfatihah,” doa Reyna dalam hati.

Segala sesuatunya tentu sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Maha Kuasa. Kadang terasa begitu pahit namun ujungnya tentu manis. Bukankah sesudah kesulitan pasti ada kemudahan?

Reyna manarik nafas panjang, mencoba belajar menerima keadaan ini. Sebentar-sebentar air matanya menetes, membasahi pipinya. Sungguh segalanya begitu terasa berat bila ia harus melihat terus kebelakang. Hidup tak berhenti sampai disini saja bukan? Ia dan adiknya harus tetap berjuang menatap masa depan yang entah bagaimana wujudnya. Wallahu a’lam.

Yang dicinta kan pergi

Yang disayang kan hilang

Hidup kan terus berjalan

Meskipun dengan tangisan

Lagu Opick feat Amanda itu mengingatkannya pada semua kejadian yang menimpa dirinya. Tak tahu kenapa segalanya begitu cepat pergi, menyisakan kenangan yang menyayat hati. Semakin dipikir semakin tambah pusing. Dan semakin dirasakan semakin bertambah menyiksa. Bingung.

Reyna teringat nasihat guru ngajinya, Umi Pipik kala itu. Ketika mereka sedang mengikuti pesantren kilat di sekolah.

“Reyna, Tuhan tak pernah salah memberikan ujian kepada kita. Tentu Tuhan sudah memiliki barometer sendiri untuk mengukur seberapa tingkat keimanan kita,” nasehat sang guru bijak.

“Semua ini tentu ada hikmahnya. Yakinlah nak! Tak ada yang sia-sia selama kita menjalaninya dengan ikhlas”

“Berdoalah yang banyak. Bismillahi tawakaltu alallah la haula wala quwata illa billah,” lanjut Umi Pipik sambil memeluk erat Reyna.

Ancaman pakdhe

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Jumlah Kata 328

 

Waktu itu Reyna benar-benar berada pada titik paling berat dalam hidupnya. Dia merasa sendirian, hanya berteman dengan adiknya seorang. Melihat sanak saudara juga sudah kian menjauh lantaran urusan keluarga yang tidak kunjung selesai sampai sekarang. Sampai kedua orang tuanya meninggal, Pakdhenyapun, satu-satunya kerabat terdekatnya tidak mau ikut menghadiri pemakaman terakhir sang ayah dan ibunya. Ya, silaturahim keduanya sungguh telah terputus.

“Itu akibatnya kalau tidak rukun sama saudara. Sok-sokan jadi orang alim, padahal sama saudaranya saja dijauhi,” kata pakdhenya ketus.

“Makanya jadi orang itu jangan sombong-sombong dan juga jangan pelit-pelit. Masa’ rumah peninggalan orang tua dikuasai sendiri. Itulah akibatnya tuh! Setelah dia meninggal kini giliran istrinya yang meninggal” sambung pakdhe lagi.

“Makan tuh karma!” umpatnya lagi.

Entah sampai kapan pakdhe memusuhi keluaga Reyna. Sejak Reyna masih berumumur lima tahun, pertengkaran kerap terjadi antara Pakdhe Wijaya dan Ayah Reyna. Entah apa yang mereka ributkan. Reyna masih terlalu kecil waktu itu. Ia tak bisa menangkap apa isi pembicaraan keduanya yang ujung-ujungnya meletuskan pertengkaran hebat.

“Kamu itu anak bau kencur. Bisa-bisanya kamu mengatur kakakmu. Dimana rasa hormatmu, Ramli?’’

“Tak ingat kau, siapa yang membantu biaya sekolahmu dulu?”

“Kang, bukan maksud saya untuk menggurui akang. Saya hanya ingin meluruskan saja. Tak lebih,” sanggah Ayah Reyna tenang.

“Kalau saya diam saja berarti saya membiarkan kedzaliman di depan mata saya” lanjut ayah Reyna lagi.

“Alah jangan sok suci kau! Mentang-mentang sudah punya banyak santri lalu seenaknya saja memandang orang!”

“Bukan begitu bang. Urusan waris-mewaris ini sudah diatur dalam al quran. Saya hanya menyampaikan saja, mana yang benar mana yang salah” jawab Ayah Reyna lembut.

Tak nampak rona marah di wajahnya. Ia benar-benar sudah mempersiapkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, termasuk menghadapi pakdhenya yang super kaku, merasa benar sendiri dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Benar-benar hal itu menguras tenaga dan juga pikiran.

Ayahnya tahu, tak semudah itu mengalahkan pakdhe. Harus ada trik-trik khusus untuk menghadapinya. Dan sang ayah selalu berusaha menghadapi pakdhenya dengan kepala dingin. Kalau tidak, pasti perang saudara kedua akan segera pecah.

Ancaman Pakdhe Part 2

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Jumlah Kata 321

 

“Pokoknya aku harus dapat lebih banyak dari kalian. Titik! Tidak ada koma apalagi tanda tanya,” serunya menggelegar.

“Aku anak tertua. Aku seharusnya yang lebih banyak mendapatkan warisan daripada kalian semua. Kamu tahu karena apa?”

“Karena kalian bisa sekolah tinggi karena aku. Tahu!” lanjutnya lagi.

Berulang kali pakdhenya mengungkit-ungkit kembali perihal biaya sekolah yang dulu pernah ia gelontorkan untuk membantu menyekolahkan adik-adiknya. Ayah Reyna juga paham akan hal itu. Oleh sebab itu ia tidak pernah membantah pakdhenya. Apa yang dilakukan pakdhenya dulu itu juga sebuah kebaikan yang ada pamrihnya. Namun apa daya, Ayah Reyna juga berada dalam kondisi pas-pasan. Pas buat makan, pas buat bayar sekolah jadi belum bisa membalas kebaikan pakdhenya. Namun untuk hal yang satu itu, perihal waris mewaris memang sudah ada aturannya sendiri sesuai hukum syara. Pakdhenya menghendaki semua harta warisan jatuh ke tangannya. Lantaran ia yang jauh lebih berjasa pada keluarga daripada Ayah reyna dan buliknya. Ayah Reyna berusaha menerangkan perihal tersebut, namun sama sekali tidak dihiraukan pakdhenya. Alhasil sampai sekarang, pakdhenya masih menyimpan dendam pada ayah dan buliknya.

“Rey, kamu tahu. Rumah ini seharusnya jadi rumah pakdhe sejak dulu. Kamu dan keluargamu itu hanya menumpang disini” kata pakdhe pada suatu hari.

“Sekarang kedua orang tuamu sudah meninggal. Siap-siap kamu dan adikmu harus hengkang dari rumah ini!” lanjutnya lagi.

Reyna terdiam. Bingung mau bicara apa. Ia hanya seorang anak kecil yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam kepalanya. Ia tidak bisa hanya diam saja seperti ini. Ia harus berani berpendapat.

“Pakdhe maaf, kalau kami harus pergi dari rumah ini. Kami mesti tinggal dimana?” tanya Reyna sambil menangis.

“Lho, itu bukan urusan pakdhe. Kalian mau tidur di jalan kek, di kolong jembatang kek, ya terserah kalian. Suka-suka kalian.”

“Yang terpenting, kalian segera pergi dari rumah ini. Soalnya, rumah ini mau saya sewakan, cah ayu. Maklumlah pakdhemu ini sedang butuh uang banyak untuk membiayai sepupumu yang sedang kuliah. Kasihani pakdhemu ini, ya?” lanjut pakdhe lagi.

Ancaman Pakdhe Part 3

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia batch 39

-Kelompok 26

-Jumlah Kata 331

 

“Lalu kami harus pergi kemana pakdhe? Bolehkah kami tinggal di rumah budhe?”   

“Apa??? Kamu pikir rumah pakdhe itu panti asuhan?”

“Rumah budhe, pakdhe”

          “Rumah budhe?” katanya sambil mengeryitkan dahi. Berpikir keras.

          “Lho, rumah budhemu ya rumah pakdhe juga. Tidak boleh! Titik tidak ada koma apalagi tanda tanya,” sungutnya. Ia merasa dipermainkan.

          “Pakdhe, minta tolonglah. Kami tidak punya tempat singgah lain selain di rumah pakdhe. Pakdhe tahu sendiri kan, rumah bulik itu jauh, luar kota pula. Pakdhe, tak kasihan pada kami?” ucap Reyna sambil terus memelas. Meminta belas kasihan pakdhenya.

          “Sekali tidak tetap tidak! Tidak ada keringanan sama sekali.”

          “Besok, segera beresi barang-barang kalian!” perintah padhe tegas. Reyna hanya bisa menangis meratapi nasib. Bingung.

***

          “Alhamdulillahirobbilalamin,” ucap Reyna pada suatu pagi.

          “Kenapa Kak?” tanya Diena heran. Ia memperhatikan wajah kakaknya yang sumringah. Ini untuk pertama kalinya sejak kepergian sang ibu, kakaknya tampak segembira itu.

          “Ada apakah gerangan?” batin Diena penasaran.

          “Kakak kenapa, sih? Kakak sehat bukan?” lanjutnya.

          “Sehat kok!” jawab Reyna singkat.

          “Lalu kenapa segembira itu?”

          “Tebaklah!”

          “Idih, hari gini masih main tebak-tebakan? Kak, kita itu masih dalam kondisi berduka. Apa untungnya sih, tebak-tebakan kayak gitu. Yang ada malah kita tambah pusing.”

          “Kamu gak tahu jawabannya, kan? Makanya marah-marah kayak begitu,” goda Reyna.

          “Kakak apa-apaan, sih! Mending aku berangkat sekolah dulu. Daripada lihat orang gila baru. Ih, takut!” ucap Diena sambil berlari meninggalkan kakaknya yang masih senyum-senyum sendiri. Sebentar-sebentar Diena menoleh ke belakang, memperhatikan kakaknya yang masih juga senyum-senyum sendiri.

          “Kenapa kakak seperti itu ya?” Diena tampak bingung.

          “Apa jangan-jangan..., oh tidak mungkin!” katanya pada dirinya sendiri. Masih dengan pikiran yang berkecamuk, Diena bergegas ke sekolah.

***

          Reyna memandangi punggung adiknya yang sudah hilang dikelokan jalan. Tak terasa air matanya menetes. Ia bingung memikirkan masa depan adiknya juga masa depannya. Adiknya masih SMP, masih terlalu dini untuk putus sekolah. Kasihan. Bekerja dengan modal lulusan SMP itu tidak jaminan bisa dapat pekerjaan yang layak, apalagi gaji besar. Menyuruhnya untuk putus sekolah adalah pilihan yang mustahil. Mungkin ia yang harus mengubur cita-citanya untuk kuliah.

Cita-cita

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Jumlah Kata 411

 

“Ayah, besok selepas SMA, Reyna pengen banget kuliah. Boleh kan?” tanya Reyna pada suatu sore.

 Ketika mereka berbincang-bincang hangat di teras rumah. Ayah baru saja selesai mengajar santri-santri di  TPQ. Beliau selalu menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan anak-anaknya. Topik yang dibicarakan pun beragam, mulai dari pendidikan sampai politik semua dikupas tuntas oleh mereka. Tak terkecuali dengan berita yang sedang viral di media sosial. Termasuk tentang kasus kecelakaan yang menewaskan salah satu artis papan atas Indonesia.

          “Kalau seperti ini, main ponsel di dalam mobil sambil menyetir itu bahaya sekali ya, Yah?” komentar Reyna sambil membaca tulisan yang sedang trending di media sosial.

          “Maka dari itu, kita juga harus berhati-hati dalam segala hal. Meskipun kita sudah mengecek layak tidaknya kendaraan, kita juga harus berdoa kepada Allah.”

          “Pakai doa bepergian ya, Yah?” tanya Reyna.

          “Betul sekali. Anak Ayah sudah paham kan?”

          “Paham dong!”

          “Yah, Reyna pengen banget kuliah. Menurut ayah bagaimana?”

          “That’s good idea. Mau kuliah dimana Rey?”

          “Universitas Indonesia,” jawabnya mantap.

          “Luar biasa. Ayah perlu bekerja lebih keras lagi nih, untuk memasukkan Reyna kesana. Dan Reyna juga harus belajar lebih giat lagi agar bisa lolos seleksi.”

          “Tentu Yah. Reyna akan belajar lebih giat lagi agar bisa masuk kesana tanpa tes,” kata Reyna sambil tersenyum.

          “Ayah bangga sama Reyna,” kata ayah sembari memeluk Reyna.

          Ayah selalu berusaha untuk selalu mendukung potensi anak-anaknya dengan totalitas yang luar biasa. Selain bekerja, ia juga memberikan motivasi positif bagi kedua putrinya. Baik dengan usaha maupun doa. Walaupun Reyna tahu, ayahnya sedang kebingungan mengatasi kondisi rumah tangga yang masih memprihatinkan. Tapi ayahnya selalu berusaha membesarkan hatinya. Seperti pesannya kala itu,

          “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China. Kita harus pantang menyerah. Karena banyak jalan menuju Roma”

          “Eh, Roma apa China ya?”

          “Ah, Ayah. Bikin bingung aja deh!” protes Reyna sambil tersenyum lebar.

          Kring-kring....

          Ponselnya berbunyi. Terdengar suara perempuan  dari ujung sana.

          “Assalamualaikum Rey, hari ini kamu ada waktu luang?” tanya suara diseberang sana.

          “Walaikumsalalm warohmatullahi wabakatuh. Ada Mi, sepulang sekolah. Ada apakah gerangan?”

          “Tasyakuran Rey. Mas Fatih sudah lulus kuliahnya dan hari ini pulang. Reyna bisa bantu umi, kan?”

“Insya Allah bisa Umi.”

“Umi tunggu ya, sepulang sekolah langsung ke rumah. Terima kasih,”

          “Terima kasih kembali, Mi”

          “Umi tutup teleponnya ya. Assalamualaikum,”

          “ Waalaikummussalam warohmatullahi wabarokatuh,” Reyna pun menutup teleponnya.

          Reyna bersyukur ada yang membutuhkan tenaganya. Setidaknya ada pemasukan yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Karena hidup tidak sepenuhnya berhenti dengan kepergian kedua orang tuanya, bukan? Hidup tetap terus berjalan tanpa henti. Selama jalan yang ditempuhnya halal, tak masalah bukan?

***

 

Karantina

0 0

-sarapan kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-jumlah kata 349

 

Din-din....

          Terdengar suara klakson mobil dari arah depan. Reyna kaget. Ia tersadar dari lamunannya. Segera ia menghapus air mata yang tadi membasahi pipinya kemudian bergegas keluar.

          “Assalamualaikum temen-temen,” sapanya sembari tersenyum.

          “Hai Reyna. Saye Upin dan ini adik saye ipin. Hehehe...,” kata Joko sambil tertawa lebar.

          “Apaan sih! Aku ogah jadi adekmu,” jawab Nola ketus.

          Nola bergegas menghampiri Reyna. Joko dan Nola adalah tema-teman dekat Reyna. Mereka bertiga akan mengikuti karantina di Jakarta. Mereka merupakan sahabat terbaik Reyna. Cuma ya itu, mereka ibarat kucing dan tikus dalam serial kartun “Tom And Jerry”. Ya, mereka suka sekali bertengkar memepermasalahkan hal-hal yang sepele. Termasuk masalah sapa menyapa tadi. Pertengkaran nggak berhenti hanya sampai di situ saja. Mesti bakalan berlanjut ke tahap berikutnya. Dan entah sampai episode beraba. Ibaratnya tadi hanya pembukaan saja. Uniknya, pertengkaran mereka gak sampai serius, ya Cuma gitu-gitu aja. Jadi, jangan khawatir mereka akan bermusuhan. Motto mereka, “ Persahabatan tanpa pertengkaran ibarat sayur tanpa garam”. Cie....

          “Rey sudah siap?”

          “Sebentar ya, tak pamit dulu sama Diena.”

          “Ok”

          Reyna masuk kembali ke rumah, mengambil tas dan bergegas keluar bersama Diena, sang adik. Setelah mengecek barang-barang apa saja yang harus dibawa, Reyna pun berpamitan.

          “Dek, kakak pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik. Kalau misalnya takut sendirian di rumah, menginap di rumah temanmu bisa.”

          “Segala yang kamu butuhkan selama seminggu sudah kakak persiapkan di kulkas. Uang sakunya tinggal ambil di celengan. Inget ya, jangan bawa temen cowok ke rumah. Dosa tahu!” lanjut Reyna sembari tersenyum.

          “Siap kak! Diena paham kok,” jawabnya sambil hormat.

          “Eh Rey, adikmu kamu tinggal sendiri di rumah?” tanya Nola heran.

          “Jangan gila Rey, bahaya tahu!” protes Nola marah.

          “Emang mau lo temenin? Jangan gila, lu!” protes Joko ikut-ikutan.

          “Diena itu udah gede. Udah bisa macem-macem. Nggak kayak, lu” lanjut Joko sambil menjitak kepala Nola.

          “Udah –udah. Kalau seperti ini terus nggak bakalan selesai-selesai,” potong Reyna ketika melihat ekspresi Nola menahan marah.

          “Diena, kakak berangkat dulu ya. Minta doanya semoga Allah melancarkan perjalanan kami. Dan semoga bisa memberikan hasil terbaik.”

          “Amiin,” mereka bertiga menjawab kompak.

          Belum juga mereka memasuki mobil. Terdengar suara deru sepeda montor dari arah belakang.

Mas Fatih

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Jumlah Kata  355

 

“Assalamualaikum semua! “ sapa suara tak di kenal itu ramah.

          Semua terkesima menatap sosok di depan mereka. Siapakah gerangan? Nola sampai tak bisa berkata apa-apa. Bahkan Joko pun, satu-satunya cowok di sana hanya bisa ternganga melihat apa yang ada di depannya. Sungguh sebuah anugerah luar biasa yang Allah titipkan pada manusia yang satu ini. Badannya tinggi ramping layaknya bintang film, itu menandakan sang pemilik gemar berolahraga. Wajahnya perpaduan antara Indonesia dan Arab. Ada brewok tipis menghiasi wajahnya yang oval. Dan senyumnya itu lho, bikin bidadari –bidadari langit terpesona. Meskipun kulitnya agak gelap, mereka yakin itulah yang disukai banyak kaum hawa.

           “Assalamualaiku semua. Maaf, ada yang bernama Reyna? Ini ada titipan dari Umi Pipik untuk Mbak Reyna, “katanya lagi.

          Semua tergagap. Tak menyangka suaranya begitu lembut tapi tegas. Semua hanya bisa bengong. Diena angkat bicara.

          “Helo, kakak-kakak! Berhentilah berhalusinasi. Ini Mas Fatih nungguin kalian dari tadi, “ ucap Diena dengan nada sebal.

          “Mas Fatih? Mas Fatih? Astaghfirullah,” batin Reyna. Ia agak gugup, tak menyangka Mas Fatih mencarinya.

          “Ada perlu apa ya, Mas?” tanya Reyna basa-basi. Ini untuk pertama kalinya Reyna bertemu dengan Mas Fatih, sosok yang sering dibicarakan Umi Pipik berulang kali. Sampai Reyna hampir hafal cerita tentangnya. Tentang makanan kesukaannya sampai hampir semua hal yang berkaitan dengan Mas Fatih Reyna tahu. Sampai bosan reyna mendengar cerita tentang Mas Fatih itu.

          “Rey, Mas Fatih dulu itu sukanya ngempeng.  Empengnya sering kali jatuh. Tiap jatuh diambil lagi. Ih, jorok bukan?” ceritanya sembari tertawa. Akupun ikut tertawa, setidaknya biar Umi Pipik gembira.

          “Tapi sekarang, malah ia sudah bisa membuat Umi bangga. Umi jadi terharu.”

          “Mas Fatih anak yang sholeh kan, Mi? Reyna percaya, Mas Fatih tahu betul bagaimana caranya berbakti pada orang tua,” komentarku tulus.

          “Iya Rey. Betul katamu itu. Umi bangga padanya.”

          “Kelihatannya, putra-putra Umi yang lain juga sama ya, Mi? Cuma caranya saja yang berbeda.”

          “Iya Rey. Umi sampai lupa. Terima kasih ya, sudah diingatkan.”

          “Sama-sama Umi”

          Kini sosok yang sering diceritakan Umi ada di depan mata Reyna. Sekilas ia terpana, namun ia berusaha menyembunyikan.

          “Kamu Reyna?” tanyanya lagi. Belum sempat Reyna menjawab, Nola menyela.

          “Bukan mas. Saya Nola, temannya Reyna,” jawab Nola seraya mengulurkan tangan.

Mas Fatih part 2

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Jumlah Kata 332

 

“Nola? Siapa Nola?” tanyanya heran.

          Kali ini Joko langsung angkat bicara. Dia tak ingin Nola ikut campur lagi.

          “Ini bukan Reyna Mas. Itu yang Reyna,” tunjuk Joko. Yang ditunjuk hanya tersenyum.

          “Iya Mas, saya Reyna. Mas Fatih ada perlu apa dengan saya?”

          “Kamu beneran Reyna kan?” tanya Mas Fatih lagi.

“Bener Mas. Ini yang orisinil sedangkan yang itu palsu alias imitasi.” Tunjuk Joko pada Nola.

“Emangnya aku perhiasan apa? Pakai istilah imitasi-imitasi segala. Mas Fatih, perkenalkan saya Nola, Nolaria Ebbena Sitompul,” jawab Nola seraya mengulurkan tangan. Mas Fatih hanya tersenyum seraya meminta maaf tidak bisa menyambut tangan Nola.

“Bukan muhrim tahu!”seru Joko sambil menjitak kepala Nola.

“Sakit tahu!” Nola meringis.

“Maaf Mbak Reyna, ini ada titipan dari Umi. Mohon diterima ya. Terima kasih. Saya pamit dulu,” ucap Mas Fatih sambil menyerahkan bungkusan itu pada Reyna. Reyna mengangguk sambil tersenyum. Ia tak bisa berkata apa-apa. Umi Pipik begitu sangat baik padanya. Baik yang benar-benar tulus selayaknya ibu kandungnya sendiri. Reyna bersyukur Allah mempertemukannya dengan orang sebaik itu.

“Terima kasih Umi Pipik. Terima kasih atas segalanya,” batin Reyna.

“Woi, reyna kok nggak ngucapin terima kasih sama Mas fatih , ya?” tanya Joko heran.

“Astaghfirullah lupa aku!”

Reyna berlari mengejar Mas Fatih,

“Mas Fatih terima kasih ya atas semuanya, “ ucap Reyna sambil menahan nafas.

“Sama-sama,” ucapnya sambil tersenyum manis. Reyna sampai terpukau dibuatnya. Ini baru pertama kalinya ia melihat senyum semanis itu. Manisnya semanis madu.

“Ehm-ehm, Reyna baik-baik saja?”

Ternyata yang di batin masih ada dihadapannya. Olala, Reyna malu sekali. Tak menyangka Mas Fatih masih berdiri tegak sambil menegurnya.

“Oh maaf, saya baik-baik saja” jawab Reyna gugup.

“Reyna, ada pesan juga dari Umi. Insya Allah nanti Umi akan menemani Dek Diena sampai kamu selesai karantina. Semoga sukses, ya. Assalamualikum....”

Mas Fatih perlahan-lahan pergi. Meninggalkan seribu kenangan indah di pagi hari untuk Reyna. Ini untuk pertama kalinya ia bisa melupakan kesedihan yang kemarin dialaminya. Kesedihan berturut-turut atas kepergian ayah dan ibundanya. Sekarang, sedikit demi sedikit ia bisa  tersenyum bahagia. Bukankah sesudah kesusahan akan ada kemudahan?

***

 

Jatuh Cinta?

0 0

-Sarapan kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Jumlah kata 389

 

Tik-tik bunyi hujan di atas genting

Airnya turun tidak terkira

Cobalah tengok daun dan ranting

Pohon dan kebun basah semua

Nola tiba-tiba bernyanyi di sampingku sambil menatap keluar jendela. Anak ini kadang punya cara tersendiri untuk mengatasi ketidakenakkan hati, salah satunya dengan menyanyi.

Reyna menatapnya sekilas, kemudian kembali lagi berkutat dengan ponselnya. Kebetulan ada pesan masuk dari adiknya, Diena.

“Assalamualaikum, kak Reyna hari ini pulang? Mau tak jemput?” katanya disertai emoticon senyum.

“Heleh, Kakak kan udah gede. Nanti bisa pulang sendiri kok?”

“Beneran nih, gak mau tak jemput?”

“Beneran masa bohongan, sih!” kata Reyna sambil mengirimkan emoticon tertawa.

“Atau mau dijemput Mas Fatih? Mumpung orangnya masih disini loh!”

“Ini anak bener-bener suka godain kakaknya. Awas ya kalau ketemu,” batin Reyna gemes. Reyna yakin adiknya sekarang sedang tertawa ngakak kalau melihat rona merah di wajah Reyna. Entahlah, akhir-akhir ini pikirannnya selalu dipenuhi nama itu. Mengingat wajahnya yang rupawan ditambah lagi dengan akhlaknya yang bersahaja membuatnya kadang tersenyum sendiri. Apalagi tutur katanya yang sangat sopan itu, membuat Reyna tidak bisa berkomentar apa-apa kecuali perfect. Perpaduannaya sungguh pas ibarat sayur, antara bumbu dan garamnya sudah pas di lidah alias yummy. Mas Fatih mungkin termasuk jajaran cowok-cowok idaman perempuan. Sudah baik, rendah hati , berpendidikan, tampan pula. Apalagi dia adalah putra bungsu dari Almarhum H. Faisal dan Umi Pipik, keduanya merupaka tokoh masyarakat yang disegani. Mereka termasuk orang-orang yang bisa membuat kita iri dengan kekayaan dan kedermawanannya kepada siapa saja. Sungguh hanya seribu satu orang yang semacam itu. Hubungannya dengan manusia lain begitu harmonis dan tidak pandang bulu. Mas fatih juga am seperti kedua orang tuanya. Kaya raya namun tetap sederhana. Pernah pada suatu hari Umi Pipik lupa mengirimkan bekal untuk Mas Fatih yang mau berangkat ke Turki. Umi Pipik tampak sangat menyeal karena itu.

“Tak apa Umi. Ini masih ada stok ikan asin dan sambal terasi yang dulu sempat Umi kirimkan pada Fatih” ujarnya lewat sambungan telepon internet.

“Maaf ya, Mas Fatih Umi lupa” kata Umi dengan penuh peyesalan.

          Reyna sempet terkejut, masa dari Indonesia ke Turki makannya cuma lauk ndeso semacam itu. Bukannya itu lauknya rakyat jelata? Reyna sempet geleng-geleng kepala mendengar Umi bercerita semacam itu.

          “Ini pengiritan atau pelit, sih!” batinnya waktu itu.  Dia tidak menyangka kalau orang sekaya umi menerapkan pendidikan kesederhanaan yang luar biasa pada putra-putranya. Tak heran, meskipun kaya mereka tetap rendah hati dan hidup sederhana. Subhanallah.

 

Jatuh Cinta? part 2

0 0

-Sarapan kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Jumlah kata 340

 

“Reyna”

          “Woi, Reyna!” panggil Nola lagi. Kali ini agak keras, melihat yang diajak bicara slow respond. Reyna kaget,

          “Iya Mas!” jawabnya spontan.

          “Mas? Maksudmu? Rey, jangan ngelamun dong!” protes Nola heran.

          “Astaghfirullahaladzim, aduh maaf La. Aku nggak sengaja,” ucap Reyna dengan mimik gugup.

          “Kamu kenapa sih? Nggak biasanya kamu error kayak gini. Bukan karena kita nggak menang olimpiade, kan?” gumam Nola sambil geleng-geleng kepala. Dia memperhatikan Reyna dengan seksama. Reyna jadi salah tingkah.

          “Oh, jangan-jangan kamu lagi kepikiran Mas fatih ya?” goda Nola cengengesan.

          “Apaan, sih?”

          “Tuh kan, merona pipinya. Pasti nih ada apa-apanya. Kamu suka ya, sama Mas fatih,” goda Reyna lagi.

          “Nola, kamu apa-apaan sih! Kan, kita baru saja ketemu. Bukan aku doang lho ya!”

          “Bisa saja kan, cinta pada pandangan pertama," ucap Nola sambil tertawa kecil.

          “Akhirnya Reyna jatuh cinta juga. Nggak kebayang lihat episode selanjutnya.”

          “Memangnya sinetron, pakai episode-episode segala,” protes Reyna.

          “Ya, siapa tahu alurnya kayak sinetron. Dramatis. Atau bahkan seperti drama korea itu. Hehehe...” Nola tertawa lepas. Reyna hanya terdiam, malu. Dia berpura-pura sibuk memainkan ponselnya, padahal pikirannya entah kemana.

          “Aku jatuh cinta? Nggak mungkin! Masa depan masih amburadul kayak gini apa perlu memikirkan hal-hal sepele yang nggak penting semacam itu,” batinnya.

          “Kalian ngeributin apa sih?” tanya Joko tiba-tiba. Matanya masih setengah mengantuk. Ribut-ribut tadi membuatnya terganggu. Joko menguap lebar, matanya masih merah.

          “Nggak apa-apa. Udah tidur saja. Nanti kalau sudah sampai pasar tak bangunin” ucap Nola.

          “Oke,” jawab Joko pendek. Ia bersiap-siap pasang posisi untuk tidur kembali.

          “Sampai pasar? Maksud kamu? “ tanya Reyna heran.

          “Iya, dia kan mau jualan ikan dulu. Maklum anak nelayan,” ucap Nola sambil tertawa cekikikan. Reyna bingung.

          “Just kidding, Rey!”

          Entah sampai mana perjalanan mereka, Reyna tidak begitu paham. Maklum ia jarang bepergian apalagi sampai ke luar kota. Gedung-gedung pencakar langit tampak berdiri megah di luar sana. Ini pemandangan yang tidak pernah ditemukan di desanya. Pohon-pohon tampak berlari mengejarnya tanpa tahu siapa yang dikejar. Sayup-sayup Nola berdendang,

          Aku jatuh cinta kepada dirinya

Sungguh-sungguh cintaku apa adanya

Tak pernah kau ragu namun tetap menunggu

Sungguh aku jatuh cinta kepadanya

 

Pulang

0 0

-Sarapan kata KMO Indonesia Batch 39

_Kelompok 26

_Jumlah Kata 336

 

“Wah, Pak Ziyan, anak didikmu lagi jatuh cinta, nih,” celetuk Pak Irwan, guru fisika Reyna.

          “Hayo, siapa yang lagi jatuh cinta ?” lanjutnya lagi. Nola tertawa kecil.

          “Reyna, Pak!”

           Yang disebut hanya menoleh kemudian kembali berkutat dengan ponselnya. Berpura-pura tidak mendengarkan apa yang diucapkan teman dekatnya itu.

          “Beneran, Rey?” tanya Pak Ziyan-guru matematika Reyna ikut berkomentar. Reyna kaget, tak biasanya gurunya yang satu ini ikut nimbrung permasalahan anak jaman now semacam jatuh cinta. Biasanya Pak ziyan selalu berusaha mengalihkan perhatian anak-anak didiknya dengan hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Beda sekali dengan Pak Irwan yang memang dari dulu sukanya ngebanyol melulu.

          “Tidak, Pak!” jawab Reyna salah tingkah.

          “Alah ngaku aja, Rey.” Nola tertawa kecil. Berhasil dia membuat Reyna panik semacam itu. Reyna hanya bisa diam tak berkutik. Percuma saja jika ia banyak berkomentar. Bisa-bisa Nola malah semakin menggodanya.

***

Senja nampak tersenyum di ufuk barat. Semburat warna merahnya menghiasi langit sore itu. Diiringi dengan suara murottal  ayat-ayat suci al-qur’an dari menara-menara masjid yang mereka lalui. Begitu syahdu dan B menentramkan hati bagi mereka yang mendengarkannya. Tanpa terasa perjalanan Jakarta-Rembang sudah mereka lalui dengan kemudahan yang sudah Allah limpahkan. Meskipun bukan kemenangan yang mereka dapatkan, namun bisa ikut berpartisipasi dalam ajang bergengsi tersebut membuat mereka tetap bersyukur.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh,” jawab Diena kegirangan melihat sang kakak sudah pulang.

“Kak Reyna!” serunya bersemangat sembari memeluk Reyna.

“Akhirnya Kakak pulang juga,” katanya setengah menangis. Maklum ia belum pernah ditinggal kakaknya selama itu. Pikirnya seminggu itu sebentar, eh ternyata lamanya kayak setahun. Kenyataan tak seindah ekspetasi.

‘Dek, lepas dulu ya. Kakak baru dari luar kota lho. Takut virusnya  yang menempel di badan kakak beralih ke badanmu, bagaimana?”

“Biarin. Diena gak peduli.”

“Lepas dulu ya, sebentar saja. Nanti kita pelukan lagi, oke?”

“Kakak juga mau menyapa Umi Pipik juga,” lanjutnya kemudian. Melihat Diena sama sekali tidak bereaksi.

Perlahan-lahan Diena melepas pelukannya. Matanya nampak masih basah namun senyum menghiasi bibir mungilnya. Benar-benar seperti anak kecil yang merengek-rengek minta dibelikan mainan dan setelah terpenuhi dia bisa tersenyum bahagia. Reyna harus ekstra sabar menghadapinya.

 

 

Pulang part 2

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day 14

-Jumlah kata 310

 

“Assalamualaikum Umi,” sapa Reyna seraya memeluk erat Umi Pipik. Air matanya mengalir membasahi pipinya.

“Terima kasih banyak Umi. Terima kasih atas segala yang telah Umi berikan pada kami. Mohon maaf, kami belum bisa membalas apa-apa.” Reyna terisak. Diena bingung. Apakah gerangan kakaknya menangis. Namun ia mencoba menahan menanyakan langsung pada kakaknya. Umi mengelus-elus punggung Reyna lembut.

“Terima kasih pada Allah Nak. Yang telah menggerakan hati Umi unuk menemani  hari-hari kalian. Umi tak bisa membayangkan rasanya hidup tanpa orang tua pada usia kalian yang masih sangat muda. Tetap kuat ya, nak. Doakan umi agar bisa istiqomah membantu kalian.” Reyna semakin terisak. Sedih bercampur bahagia memenuhi rongga dadanya.

“Biarkan Allah yang membalas semua yang Umi lakukan. Semuanya akan indah pada waktunya. Ini hanya proses yang harus kalian lalui bersama. La tahzan, jangan bersedih!” Tak terasa umi juga ikut menangis. Diena yang sejak tadi bagai patung menyaksikan drama di depannya perlahan-lahan ikut memeluk kakak dan Umi Pipik. Mereka menangis, bukan meratapi nasib. Namun menangis sebagai wujud syukur mereka masih bisa berkumpul dengan orang-orang baik yang benar-benar tulus membantu tanpa pamrih.

“Jadi, tak perlu sungkan dengan bantuan Umi, Rey. Anggap saja Umi adalah ibu kalian sendiri. Kalian juga santri-santri Umi, bukan? Siap kan membantu Umi meraih surga?” mereka mengangguk bahagia.

“Ini adalah tabungan Umi untuk bekal di akhirat nanti. Jadi, tetap semangat  membantu umi ya, anak-anakku!”

Sekali lagi mereka mengiyakan ucapan Umi pipik. Sayup-sayup adzan magrib mulai berkumandang dari masjid tak jauh dari rumah Reyna. Memanggil jiwa-jiwa manusia untuk bertatap muka dengan sang pemilik kehidupan. Memanggil kita untuk sejenak melupakan urusan dunia. Ya, Dia yang Maha Kuasa, Dia yang Maha Perkasa.

Saat kau terpuruk dan terjatuh

Pakai pundakku dan kita lawan terpuruk itu

Karena Tuhan tahu kita mampu

Kita mampu

Saat beban penuh di pundakmu

Genggam bahuku dan kita bagi bebanmu itu

Karena Tuhan tahu kita mampu

Kita mampu

(Ali Sastra feat The Jenggot)

 

 

Back To School

0 0

-Sarapan Kata  KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day 15

-Jumlah kata 356

“Reyna!”

Suara yang tak asing di telinga itu, terdengar saat Reyna baru menginjakkan kaki di parkiran sekolah. Reyna menoleh, Nola tampak berlari-lari kecil menuju ke arahnya. Rambutnya yang pendek dibiarkan terurai, mirip sekali dengan tokoh kartun Dora. Reyna tersenyum tipis.

“Aduh, Rey. Kamu tak panggil-panggil kok gak menjawab, sih?” Dia mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan percakapan.

“Kamu kenapa sih, Rey?”lanjutnya.

“Maksudnya? Bukannya kamu baru manggil aku sekali tadi?”

“Iya sih. Biasanya kan dirimu langsung menjawab kalau aku panggil. Masih marah ya sama aku?”

“Entahlah,” Reyna menjawab pendek seraya meninggalkan Nola.

“Rey, kamu marah ya sama aku?” kejar Nola.

“Maaf ya Rey, kalau aku salah. Kamu tahu sendiri kan aku suka banget menggodamu. Kamu itu lucu kalau lagi cemberut, apalagi lagi jatuh cinta. Pipinya merona merah kayak jambu mete,” cerocos Nola panjang seperti kereta.

Reyna hanya diam. Tak berkomentar sama sekali. Ia bergegas menuju ke kelasnya. Nola mulai binngung. Tak biasanya Reyna mendiamkannya semacam itu.

“Ni anak kenapa, sih? Kenapa jadi pendiam terus seperti ini?” batin Nola. Belum sempat Nola berbicara lagi bel tanda masuk sudah berbunyi. Menandakan semua siswa wajib masuk ke kelasnya masing-masing. Dengan pikiran yang masih bingung, Nola meninggalkan kelas Reyna. Sesekali ia menoleh ke belakang, berharap Reyna akan memangilnya. Tapi ternyata tidak. Reyna benar-benar marah padanya.

“Waduh, Reyna benar-benar marah sama aku. Aduh, gimana nih?” batinnya.

***

“Dek, besok insyaallah kakak mau jualan lagi.  Jadi hari ini kakak mau belanja ke pasar. Kamu jaga rumah ya?”

“Oke,” jawab Diena tanpa menatap Reyna sedikitpun. Matanya tetap asyik berselancar ke dunia maya.

“Tugas rumahnya jangan lupa dikerjain. Mainan ponselnya dibatasi, jangan sampai kakak pulang rumah masih kotor,” Reyna mengingatkan adiknya lagi.

“Oke,”  Diena masih tetap pada posisi yang sama. Asik berkutat dengan ponselnya.

“Dek, kamu denger apa kata kakak tadi?”

“Denger kok Kak. Kak Reyna boleh kok pergi sekarang, nanti malah kesorenan lho.”

Reyna pamit. Ia bergegas mengambil sepeda kesayangannya. Sepeda merek poligon warna hitam yang dihadiahkan ayahnya pada saat ia masuk sekolah SMA dengan nilai tertinggi. Waktu itu Reyna begitu bangga bisa mendapat hadiah itu. Hampir setiap pagi ia membersihkan sepedanya. Mengecek setiap detail onderdil sepeda, siapa tahu ada yang rusak tanpa sepengetahuannya.

 

 

Tamu Tak Di Undang

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day 16

-Jumlah Kata 307

Belum ada lima belas menit Reyna pergi, sudah ada orang yang menggedor pintu. Sontak Diena kaget. Ponselnya hampir saja terjatuh mendengar suara yang menggelegar bak petir di siang hari.

“Assalamualaikum,” suara itu terdengar keras sekali di telinga Diena. Diena seperti pernah mendengar suara itu. Ia mencoba menerka-nerka siapakah pemilik suara itu. Belum juga terjawab pertanyaan tadi, kembali ia dikejutkan dengan suara itu lagi.

“Assalamualaikum, ada orang di rumah?”tanya orang itu. Badannya tinggi besar dengan kulit hitam gelap dan suara yang menggelegar. Persis preman-preman penagih hutang. Bedanya sosok yang satu ini selalu menggunakan peci kemana saja. Preman insyaf kali.

“Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh,” Diena menjawab pelan sekali sampai setengah berbisik ketika tahu bahwa yang datang bertamu adalah pakdhenya.

“Dina, Pakdhe mengucap salam kenapa gak dijawab, he?” gertaknya keras. Diena menunduk. Tak berani menatap pakdhenya.

“Kenapa diam saja? Apakah orang tuamu tak pernah mengajarimu tata krama? Sampai-sampai menjawab salam saja perlu diajari.” Diena semakin menunduk. Mulutnya seperti terkunci rapat. Tubuhnya gemetar. Ingin rasanya ia berteriak ketakutan. Ini baru pertama kalinya ia menghadapi pakdhenya sendirian.

“Katanya anak kyai, tapi kok begini ya,?” tanya pakdhe dengan nada mengejek.

“Ada tamu mbok ya disuguhi teh-teh manis kek, cemilan kek, jangan dianggurin seperti ini dong! Bener-bener orang tuamu tidak bisa mendidik anaknya. Begitu kok punya santri banyak, huh!” ejek pakdhe lagi.

“Sebentar Pakdhe, Diena buatkan minum dulu,” jawab Diena pelan.

“Teh manisnya jangan terlalu manis ya, pakdhe nggak suka yang manis-manis. Kalau ada pisang goreng yang anget-anget ya, Din. Atau kalau tidak ada ya, biskuit- biskuit Roma tapi yang sandwich ya, jangan yang biasa. Murah itu lagi pula juga rasanya kurang srek pakdhe,” pakdhe menjelaskan pesanannya panjang lebar. Diena hanya mengangguk kemudian bergegas ke dapur.

“Rumah kok gak pernah dibersihkan ini bagaimana? Gimana ada yang mau menyewa kalau  kondisinya semacam ini. Mana bisa aku segera dapat untung kalu tidak ada yang menyewanya,” Pakdhe menggerutu.

Tamu Tak Di Undang Part 2

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day 17

-Jumlah Kata 397

Matanya sibuk menyisiri setiap sisi ruang tamu, tempat beliau duduk. Mulutnya sibuk mengomentari setiap hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan seleranya.

“Pantas saja tidak ada yang melirik rumah ini. Lha wong penghuninya orang-orang ndeso semua. Ini kalau aku yang mimpin, pasti jadi istana. Mana kursi ini masih dipakai pula, padahal ini kursi jaman dahulu kala kok ya nggak diungsikan. Dasar miskin!” komentar pakdhe sembari berjalan menyisiri tiap sudut ruang tamu.

Tiba-tiba pakdhe berhenti, matanya tertumbuk pada potret keluarga yang sudah usang tergantung pada dinding ruang tamu. Ada sedikit debu yang menutupinya. Lamat-lamat pakdhe memandangi potret itu, lalu membersihkan debu yang menutupinya. Foto itu diambil sekitar 20 tahun yang lalu. Foto keluarga H. Fahri, kakek Reyna dan Diena yang juga ayah dari pakdhe. Dalam foto itu tergambar keluarga yang tampak sangat harmonis. Ya, pakdhe, ayah Reyna dan buliknya duduk bersisihan di kursi depan sedangkan kakek dan nenek Reyna mengambil posisi di belakang mereka. Tampak mereka sangat bahagia, itu tercermin dari senyum mereka begitu tulus. Siapapun yang melihat foto itu pasti mengira mereka  potret keluarga paling bahagia dan sangat rukun. Tidak ada yang bisa meramalkan masa depan, mereka yang awalnya begitu rukun kini sudah terpecah belah. Dan itu berawal dari sebuah peristiwa yang menyedihkan. Sebuah pertengkaran hebat antara kakek Reyna dan pakdhe.

“Wijaya, apa masih belum cukup bagian yang sudah kamu terima?” kata H. Fahri, kakek Reyna ketika pakdhenya protes masalah warisan. Pakdhe menghendaki lima puluh persen harta kakeknya jatuh ke tangannya. Hal itu disebabkan lantaran pakdhenya ikut membantu membiayai sekolah adik-adiknya. Jadi ia berhak menuntut lebih.

“Bukan begitu, Pak. Bapak tahu sendiri kan, aku juga ikut membiayai sekolah adik- adik. Masak aku cuma dapat bagian harta sama dengan Ramli?” protes pakdhenya.

“Harus adil dong, Pak. Aku kan juga banyak berjasa pada keluarga ini,” lanjutnya lagi.

H.Fahri menghembuskan nafas perlahan, beliau bingung dengan apa yang diinginkan putra sulungnya itu. Tak biasanya putra sulungnya itu berperilaku semacam orang yang tidak punya agama. Pasti ada tujuan lain dibalik protesnya itu.

“Bapak tetap akan membayar jasamu pada keluarga, Wijaya. Tunggulah sampai tanah dipinggir desa itu laku. Hasil penjualannya akan bapak berikan padamu utuh,” kata kakek tegas.

“Sampai kapan aku harus menunggu, Pak? Aku sedang butuh uang banyak untuk biaya sekolah anak-anakku yang kini sudah beranjak dewasa,” bantah pakdhe.

“Bapak mengerti, Wijaya. Sabarlah sedikit.”

“Sampai kapan aku harus bersabar, Pak. Jual tanah itupun perlu proses yang sangat lama. Padahal aku butuh uangnya sekarang.”

Pertengkaran

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day 18

-Jumlah Kata 403

“Sampai kapan aku harus bersabar, Pak. Jual tanah itupun perlu proses yang sangat lama. Padahal aku butuh uangnya sekarang.” Pakdhe tiba-tiba menggebrak meja. Kakek terkejut buan main. Pikirnya, setan apa yang membuat anak sulungnya ini begitu beringas. Sampai-sampai melupakan adab terhadap orang tua.

“Begitu pentingkah uang itu sampai kamu bersikap seperti ini,Wijaya?” Kakek berbicara dengan nada tenang meskipun beliau juga dikuasai amarah.

“Bapak akan segera melunasi hutangku kepadamu, tapi tolonglah, perbaiki sikapmu,” ujar kakek kemudian.

“Persetan dengan apa yang disebut sabar. Itu hanya omong kosong belaka. Pokoknya, Bapak harus segera melunasi hutang itu!” kata pakdhe dengan nada kasar. Ia pergi tanpa pamit. Kakek hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan anak sulungnya itu hilang dari pandangan. Tak menyangka ia akan diperlakukan seperti itu oleh anak kandungnya sendiri. Tanpa terasa air mata membasahi Kakek Fahri, namun ia segera menghapusnya tatkala Aisyah, Nenek Reyna memasuki rumah.

“Mbah, ada apakah gerangan?” tanyanya dengan mimik heran melihat mbah kakung duduk termangu di ruang tamu.

“Tadi, aku berpapasan dengan Wijaya di jalan. Aku menyapanya, tapi tak dipedulikan. Mbah kakung baru saja bertengkar dengannya?”

Kakek menghembuskan nafasnya perlahan. Ia menatap nenek, kemudian berujar,

“Nanti tak jelaskan, mbah. Tapi, alangkah lebih baik jika mbah putri bersih-bersih dahulu badannya. Baru dari sawah, tentunya tak nyaman bila diajak ngobrol panjang lebar.” Nenek mengangguk.

Tak berapa lama kemudian nenek keluar, siap mendengarkan cerita kakek. Akhirnya, kakek menceritakan pertengkarannya dengan anak sulungnya tadi. Nenek agak terkejut mendengarnya. Tak menyangka anak sulungnya akan bersikap dan berkata kasar semacam itu.

“Kenapa Wijaya bisa bersikap seperti itu ya, Mbah? Dulu-dulu tak pernah ia menyinggung soal jasanya pada keluarga. Kenapa baru sekarang protes?” tanya nenek bingung. Tampak gurat-gurat kesedihan pada wajahnya yang kian menua.

“Perasaan, aku tak pernah mendidiknya semacam itu,” isaknya tertahan. Tampak bulir-bulir putih mengalir deras membasahi pipinya. Kakek menatapnya dengan pandangan iba. Beliau juga tak menyangka anak sulungnya akan berbuat demikian. Setelah kejadian itu, sang kakek mulai sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia.

Pakdhe menghembuskan nafas perlahan, kemudian   menggantungkan foto itu kembali pada dinding. Diena tampak  keluar dari dapur membawa secangkir teh  dan sepiring Biskuit Roma Sandwich, pesanan pakdhe.

“Buat teh kok lamanya sampai satu jam. Pakdhemu ini sampai kehausan, Din,” ujarnya agak lembut.

“Maaf Pakdhe. Yang lama nyari Biskuit Roma Sandwichnya,” jawab Diena pelan.

“ Lha itu, biskuit kok di cari, ya nggak ketemulah. Beli di warung malah gampang. Kok malah sibuk nyari. Kamu itu kreatif sedikitlah, Din!” komentar pakdhe.

“Minta maaf,  Pakdhe,” Diena berkata sambil menunduk.

Pakdhe Wijaya

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day 19

-Jumlah Kata 302

“Ya sudah, taruh makanan itu di meja. Sekarang tolong bersihkan ruangan ini ya. Eh, seluruh ruangan, Din. Disapu kemudian di pel. Jangan lupa dibersihkan debu-debunya juga,” perintah pakdhe sedetail-detailnya.

“Ingat ya, sampai bersih! Nanti kalau sudah selesai kabari pakdhe. Pakdhe mau nge-teh sore dulu” ucapnya sambil berlalu ke teras depan. Tak lupa teh dan biskuitnya dibawa serta.

Diena menarik nafas panjang. Antara lega dan bingung memenuhi rongga dadanya. Lega karena pakdhenya ada di luar, tapi bingung mau mengawali pekerjaan ini dari mana. Biasanya, ada Reyna yang membantu mengerjakannya jika dipandang sang adik kesulitan mengerjakannya. Sekarang ia musti mengerjakanya sendiri lantaran sang kakak belum juga pulang.  

“Ya Allah mimpi apa aku semalam kok tiba-tiba pakdhe datang,” gerutunya.

“Mana Kak Reyna tak ada di rumah. Uh, menyebalkan!”

“Dina!” suara pakdhe mengagetkannya. Diena kaget, dengan langkah  tergesa-gesa ia  menghampiri pakdhe.

“Kerja gak usah banyak omong. Nanti gak selesai-selesai!”

“Si-siap Pakdhe!”

“Jangan cuma siap thok, tapi segera dikerjakan!”

“Siap laksanakan Pakdhe!” Diena mengambil sikap hormat seperti ketika pelaksanan upacara bendera di sekolah.

“Sudah sana!” pakdhe menyuruh Diena masuk sambil menahan tawa.

Bergegas ia pergi ke dalam, mengambil sapu dan peralatan kebersihan lainnya untuk segera bersih-bersih.

Belum ada setengah jam, pekerjaan udah selesai. Diena duduk sebentar di kursi tamu. Belum juga puas ia beristirahat, pakdhenya sudah memanggilnya kembali.

“Sudah di pel lantainya?” tanyanya dengan nada sedikit keras.

“Be-belum pakdhe”

“Segera dikerjakan. Pakdhe diburu waktu, nih! Ada banyak urusan yang mesti di kerjakan.”

“Siap pakdhe!” diena dengan ecepat kilat mengambil alat pel dan segera megepel seluruh ruangan. Tak sampai lima belas menit lantai sudah kinclong-kinclong.

Pakdhe mulai ngecek tiap-tiap ruangan. Tak lupa ia juga memotret-motret tiap ruangan dengan gaya khas fotografer profesional. Meski hanya bermodalkan kamera HP, beliau tetap eksis potret sana-potret sini. Diena geli melihat tingkah pakdhenya itu. Tapi ia berusaha keras menahan tawa, sampai tubuhnya bergetar.

Pakdhe Wijaya Part 2

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day 20

-Jumlah Kata 306

Pakdhe melirik Diena, tapi tetap melanjutkan profesi barunya itu.

“Kamu kenapa Din?” tanya pakdhe tanpa menoleh.

“E... nggak apa-apa pakdhe. Diena hanya takjub, ternyata pakdhe bisa memotret juga,” jawab diena sekenanya.

“Ya iyalah dulu pakdhemu ini mau jadi fotografer profesional tapi tidak jadi. Gara-gara uang pakdhe kerja habis buat membiayai sekolah ayahmu dan bulikmu,” cerita pakdhe panjang lebar disertai dengan bumbu-bumbu kesombongan.

“Misalnya dulu pakdhemu ini jadi sekolah fotografer, mungkin pakdhemu ini sudah jadi fotografer profesional. Lihat hasil jepretan pakdhe,” ujarnya sambil menunjukkan hasil jepretannya.

Diena melihat dengan seksama. Olala, ternyata hail jepretan pakdhe luar biasa amburadul. Diena tak bisa menahan tawanya, ia tertawa terbahak-bahak. Pakdhe sampai heran.

“Kamu kenapa, Din?” yang ditanya masih saja tertawa terbahak-bahak. Tak mendengar apa yang ditanyakan pakdhe.

“Diiina!!!”

Diena kaget bukan main. Ia langsung saja berhenti tertawa. Mulutnya ia tutup rapat-rapat dengan kedua tangannya.

“Astaghfirullah, apa yang aku lakukan?” batinnya.

“Kamu sedang apa?”bentak pakdhe.

“Sedang tertawa pakdhe. Diena minta maaf,” Diena berkata sambil menunduk. Mulutnya komat-kamit melafalkan istighfar.

“Kamu jangan menghina hasil karya pakdhemu ini ya? Ini adalah hasil karya calon fotografer terkenal lho!”katanya sambil memotret lagi.

“Suatu saat kamu pasti tercengang melihat pakdhemu ini dielu-elukan banyak orang,” imbuhnya lagi.

Diena hampir saja tertawa lagi namun dengan sekuat tenaga menahannya.

“Fotografer terkenal? Padahal hasil karyanya seperti jepretan anak SD,” batin Diena.

Setelah hampir setengah jam pakdhe memotret hampir seluruh ruangan, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu itu tiba. Pakdhe pun berpamitan.

“Din, nanti bilang ke kakakmu. Nanti kalau ada yang mau menyewa rumah ini, kalian harus segera hengkang dari rumah ini. Mengerti?”

“Mengerti pakdhe,” jawab Diena sambil menahan rasa takutnya.

“Ya sudah pakdhe pulang dulu. Jangan lupa pesan pakdhe tadi.”

“Siap Pakdhe!”

Akhirnya pakdhe pulang juga. Ini yang ditunggu-tunggu Diena sejak tadi. Satu jam bersama pakdhe seperti satu bulan lamanya. Diena sangat ketakutan. Hampir saja ia menangis lantaran takut dimarahi pakdhenya.

***

Reyna Pulang

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day 21

-Jumlah Kata 348

Kring-kring

Bunyi sepeda Reyna menyadarkan Diena bahwa pakdhenya sudah pulang. Ia serta merta memeluk Reyna ketika melihat sang kakak baru saja memasuki rumah.

“Assalamualaikum...,” belum juga Reyna selesai mengucapkan salam Diena sudah memeluknya dengan sangat erat.

“Ih, apa-apaan sih, Dek?” ucap Reyna sambil mencoba melepaskan pelukan Diena. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Diena malah mengencangkan pelukannya.

“Ini anak kenapa sih, kok jadi aneh begini?” batin Reyna bingung.

“Kakak, jangan tinggalkan aku sendiri lagi,” ucapnya dengan nada mengiba.

“Kan kakak sudah pulang, Dek. Kamu kenapa sih ?”

“Diena takut, Kak!” ucapnya manja.

“Waduh, ni anak manjanya kumat lagi. Capek deh!” batin Reyna.

“Aduh dek tolong, kepalaku tiba-tiba pusing. Aduh, kenapa tiba-tiba semua tampak berputar-putar ya?” Reyna pura-pura sakit kepala. Diena panik, segera iua melepaskan pelukannya.

“Kakak kenapa, kok tiba-tiba kepalanya pusing?”

“Tolong ambilkan air minum, Dek?”

Dengan cekatan Diena masuk ke dapur. Dengan langkah tergesa-gesa dia menyodorkan segelas air putih tepat di depan wajah kakaknya. Sontak Reyna kaget.

“Astaghfirulallahaladzim dek, kamu itu lho ya bikin kaget kakak saja. Mbok ya permisi-permisi dulu. Tak kira apa tadi,” ucap Reyna sambil mengelus dadanya berulang kali.

“Hehehe..., maaf!” ucap Diena sambil tertawa singkat.

“Eh, kenapa tiba-tiba kakak sakit kepala?” lanjutnya.

“Iya kepala Kakak pusing gara-gara memikirkan dirimu yang aneh bin ajaib.”

“Aneh bin ajaib ? maksudnya apa?”

“Masih juga tanya? Astaghfirullah Dek. Makanya mikir dong pakai kepala jangan pakai dengkul. Jadinya ya seperti inilah.”

“Jadi apa?” tanya Diena penasaran.

“Ya Allah, masih juga tanya? Jadi lemot kaya siput tahu! Gara-gara sering nonton drama korea, jadi gini nih akibatnya,” Reyna pura-pura marah.

“Apa hubungannya lemot sama nonton drama korea?” Reyna menepuk jidatnya. Mulutnya tampak komat-kamit melantunkan istighfar. Dia benar-benar kesal pada adik satu-satunya ini.

“Kakak baik-baik saja?” tanya Diena dengan wajah polos.

“Oh, tentu” jawab Reyna pendek. Reyna memperhatikan sekelilingnya. Alangkah terkejutnya dia menyaksikan apa yang terjadi pada rumahnya.

“It’s amazing! Luar biasa Diena. Bersih sekali rumah kita. Ada angin apakah tadi?” tanya Reyna dengan penuh semangat. Wajahnya nampak sumringah menyaksikan pemandangan di depan matanya. Matanya sibuk menyapu tiap-tiap sudut ruangan. Benar-benar kinclong semua. Reyna terkesima. Tiba-tiba saja kekesalaannya pada sang adik sirna.

Doa Anak Yatim

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day 22

-Jumlah Kata 341

“Ada angin apakah gerangan, Dek? Tumben kok jam segini sudah bersih dan rapi semua?”

“Ada angin topan”

“Kakak serius, Dek?” Reyna penasaran.

“Kakak tahu, tadi Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut datang kesini,” jawab Diena dengan penuh semangat.

“Maksudmu? Kok kamu nggak takut?”

“Masak kakak gak tahu sih?”

“Voldemort, Dek?” tanya Reyna heran.

“Ah kakak! Jangan bercanda lah!” Diena mulai gusar.

“Trus siapa dong?”

“Pakdhe Wijaya, Kakak!” jawab Diena setengah berteriak.

“Apa? Kamu serius, Dek?” tanya Reyna dengan wajah ketakutan.

“Serius, Kak!”

“Astaghfirullahaladzim, trus bagaimana, Dek?”

“Kita disuruh persiapan, Kak. Kalau sewaktu-waktu ada orang yang menyewa rumah ini, kita harus segera hengkang dari sini. Terus kita tinggal dimana, Kak?”

“Memangnya Pakdhe kesini ngapain aja, Dek?”

“Ya macem-macemlah Kak. Yang jelas Rumah ini sudah di upload ke media sosial.”

Reyna semakin bingung. Bingung memikirkan nasib dia dan adiknya kelak. Seketika saja kesedihan meliputi hatinya. Padahal, baru sekejap kegembiraan menghampiri mereka. Reyna tertunduk lesu. Pikirannya menerawang jauh. Tatapannya kosong. Kegalauan meliputi hatinya. Ia teringat dengan kata-kata Umi Pipik kemarin,

“Bila hati kita gundah gulana, ambil air wudhu, Nak. Sholatlah dua rokaat kemudian bacalah al-quran. Insyaallah hati kita menjadi lebih tentram.”

Reyna bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Diena yang melihat tingkah laku kakaknya itu heran. Tak mengerti apa yang akan dilakukan kakaknya.

“Oh, Kakak mau sholat, tho. Astaghfirullah, aku juga belum sholat ashar,” bergegas Diena mengikuti langkah kakaknya.

“Ya Rabb, kami mohon dengan segala kerendahan hati.tidak ada yang bisa mengubah takdir kecuali Engkau. Mohon lembutkan hati pakdhe, Ya Allah. Hilangkan rasa dendam dalam sanubarinya. Ijinkanlah kami untuk menjaga satu-satunya peninggalan kedua orang tua kami. Amin ...,” doa Reyna yang kemudian diaminkan Diena.

“Kak, bukannya doa anak yatim piatu itu selalu dikabulkan oleh Allah?”tanya Diena dengan mimik polos.

“Insyaallah, Dek. Semoga Allah kabulkan doa-doa kita.”

“Amin.”

Reyna dan Diena berpelukan. Meleburkan kegundahan dalam dada mereka dengan saling bertangisan. Seperti langit sore kala itu yang tertutup mendung kelabu. Titik-titik gerimis mulai tercurah dari langit. Gerimis yang mengundang sejuta kesedihan untuk melebur menjadi satu menjadi air yang mengalir melalui parit-parit kecil di depan rumah.

Rumah Reyna

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day23

-Jumlah Kata 367

Rumah Reyna hanya berukuran 6*10 meter persegi, termasuk rumah dengan model kuno. Kalau orang tua bilang rumah bekuklulang, modelnya seperti rumah joglo namun lebih minimalis lagi. Ruangannya pun sederhana, hanya berisi dua kamar tidur, satu ruang tamu, dan satu dapur merangkap sebagai ruang makan karena dilengkapi meja makan plus kursinya. Tersedia pula satu kamar mandi dan satu wc di samping dapur. Namun untuk urusan kebersihan, dijamin bersih seratus persen karena dikelola oleh orang-orang yang cinta kebersihan.

Tak ada yang istimewa dari rumah Reyna. Rumah berdinding kayu jati itu dulunya milik Kakek Reyna, H. Fahri. Yang kemudian diberikan kepada Ayah Reyna. Rumah itulah yang saat ini jadi rebutan pakdhe. Beliau mengklaim bahwa rumah itu miliknya. Padahal Kakek Reyna sudah mewariskan rumah itu pada Ayah Reyna. Sampai Ayah Reyna meninggal, perselisihan itu masih tak kunjung selesai. Kini Reyna dan Diena sedang berada di ujung tanduk. Bingung memikirkan bagaimana bisa makan setiap hari saja sudah bersyukur, ini malah ditambah memikirkan tempat tinggal.

“Bagaimana, Pak? Bapak suka kan dengan rumah itu?” tanya pakdhe pada bapak yang berdiri di sampingnya.

“Suka”

“Ini sesuai dengan yang bapak cari bukan?”

“Rumah unik dengan arsitektur jawa nan elegan tapi minimalis cocok untuk mereka yang suka dengan sesuatu yang unik tapi modern. Betul kan, Pak?” imbuh pakdhe dengan penuh semangat. Matanya berbinar-binar penuh kegembiraan. Gembira karena sebentar lagi ia akan dapat uang banyak.

“Saya cocok dengan rumah ini Pak Wijaya. Tapi harganya itu lho, tak bisakah dinego?”

“Tentu bisa dong, pak? Tenang saja. Harga bisa dibicarakan nanti. Rancana Bapak mau membeli atau menyewa, ya?” tanya pakdhe dengan penuh kelembutan.

“Mari lihat-lihat dulu bagian dalamnya,” pakdhe mempersilahkan bapak itu masuk. 

“Reyna! Tolong buatkan minum untuk teman pakdhe,” perintah pakdhe ketika melihat Reyna duduk-duduk di ruang tamu. Reyna tampak terkejut melihat kedatangan pakdhe dan temannya itu. Dengan gugup, Reyna bergegas ke dapur.

“Kak, itu siapa?” tanya Diena yang tiba-tiba sudah ada di belakang Reyna.

“Astaghfirullah, Dek! Mbok ya salam dulu. Kakak jadi jantungan nih!” Reyna mengelus dadanya berulang kali. Diena tertawa kecil.

“Sorry Kak, Diena nggak sengaja.”

“Itu siapa sih, Kak? Dari tadi kok Diena perhatikan, bapak itu sedang tanya-tanya tentang rumah kita?”

“Itu bapak yang mau beli rumah kita?”

“Apa???” Diena setengah tak percaya dengan jawaban kakaknya.

Tamu Pakdhe

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day24

-Jumlah Kata 313

 

“Mau beli rumah kita, Kak?” tanyanya sekali lagi.

“Heem”

“Kakak nggak sedang bercanda, kan?” Diena bertanya dengan mimik sangat serius sekali. Ini untuk pertama kalinya Reyna melihat mimik Diena yang sedang serius. Lucu. Reyna tertawa terbahak-bahak.

“Kak, nggak ada yang lucu, ya? Aku sedang serius, Kak!”

“Yang bilang kamu sedang bercanda siapa?” jawab Reyna setelah bisa menguasai dirinya.

“Trus, kenapa kakak tertawa? Nggak lucu tahu! Orang rumah mau dibeli orang kok tertawa. Aneh bukan?”

“Kita mau jadi gelandangan lho kak! Tunawisma. Bisa-bisanya kakak tertawa diatas penderitaan kita.” Kali ini Diena hampir menangis. Mata bulatnya sudah mulai berkaca-kaca. Reyna memeluk adiknya.

“Kakak tahu kamu sedang gundah gulana dengan nasib kita. Kakak juga mersakan hal yang sama, Dek. Bukan kamu doang!”

“Trus kenapa kakak tertawa?”

“Mau tahu?”

“Ya iyalah. Kakak jangan bikin aku penasaran dong!” protesnya.

“Mau tahu apa mau tahu banget?” tanya Reyna sambil tersenyum.

“Kakak!!!” Diena mulai merengek. Seperti anak kecil yang tidak jadi dibelikan mainan ibunya. Reyna tertawa lagi. Lucu juga kalau adiknya merengek seperti itu.

“Kakak nggak nertawain kamu kok, Dek! Kakak cuma pengen tertawa  melihat wajah kamu yang lucu ketika panik.”

“Apa? Kakak ada-ada saja. Nggak lucu, tahu!” katanya dengan wajah cemberut.

“Rencana kakak apa , kalau misalnya rumah ini jadi dibeli?”

“Ya kita harus pindah.”

“Pindah? Kakak rela rumah peninggalan kakek dijual?”

“Aku benar-benar keberatan!”

Belum sempat Reyna menjawab, pakdhe sudah memanggil-manggilnya.

“Reyna! Cepetan !” seru pakdhe dari ruang tamu.

Reyna bergegas keluar. Ia meletakkan dua cangkir teh beserta sepiring biskuit di atas meja. Pakdhe dan temannya sedang asyik berbincang di kursi tamu.

“Ya Allah, semoga Bapak itu tidak jadi membeli rumah ini,” doa Reyna dalam hati.

“Ini siapa Pak?” tanya tamu itu.

“Ini keponakan saya, Pak. Mereka yang menempati rumah ini. Mereka juga yang membersihkan rumah ini. Kasihan Pak, mereka sudah yatim piatu,” cerita pakdhe dramatis.

“Waduh, kasihan sekali ya, Pak? Saya tak menyangka kalau ceritanya sesedih itu.”

Tamu Pakdhe part 2

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day25

-Jumlah Kata 362

 

“Tak apa Pak. Kalau rumah ini terjual, masa depan mereka akan jauh lebih baik dari pada sekarang,” Reyna terperangah mendengar jawaban pakdhe.

“Untuk masa depan kami? Pret! Untuk masa depannya sendiri saja masih kurang bersyukur,” kata Reyna dalam hati. Dia sangat kesal dengan kata-kata pakdhenya barusan. Pakdhenya terlalu melebih-lebihkan menceritakan kisah Reyna dan adiknya. Di depan tamu saja kata-katanya semanis madu, padahal aslinya sepahit racun. Reyna begitu muak dengan kata-kata pakdhe. Ingin rasanya ia memuntahkannya. Namun apalah daya, ia hanya anak kemarin sore yang masih belum banyak makan garam. Reyna hanya bisa pasrah menanti keputusan tamu itu.

“Semoga Bapak itu tidak jadi membeli rumah ini,” batin Reyna lagi.

Belum genap sepekan sejak kedatangan tamu pertama datang lagi tamu kedua. Seorang ibu separuh baya namun berparas cantikbak artis papan atas. Bedaknya yang tebal dengan lipstik merah merona membuat sang ibu bagaikan boneka Barbie. Tak lupa mata kucingnya yang  berwarna biru menyala-nyala mengagetkan Reyna.

“Wow, silau men!” batinnnya.

“Bagaimana ibu?” tanya Pakdhe tak sabar.

Sang ibu bermata biru itu, masih sibuk mengelilingi rumah.

“Boleh, saya masuk ke dalam?”

“Monggo Bu,” pakdhe mempersilahkan ibu itu memasuki rumah. Angin semilir sore membuat suasana menjadi semakin adem. Ibu itu tampak nyaman sekali. Sambil berkeliling menyusuri tiap-tiap ruang. Reyna hanya berdiri mematung di pojok ruang tamu sambil sesekali membuka ponsel. Ya, Diena sedang ada ekstrakurikuler pramuka di sekolah, jadi Reyna sendirian di rumah.

“Kamarnya cuma dua ya, Pak?”

“Iya Bu,” jawab pakdhe sambil tersenyum manis. Manis menurut pakdhe tapi pahit bagi Reyna.

“Waduh kok cuma dua ya? Padahal saya butuhnya sekitar lima atau enam gitu.”

“Lima atau enam? Banyak sekali Bu. Itu rumah apa kos-kosan?” tanya pakdhe kaget.

“Iya Pak anak-anak saya banyak sekali. Sudah ABG-ABG semua. Mereka kan butuh privasi. Ya, seperti anak muda zaman sekaranglah Pak, “ jawab siibu sambil tersenyum.

“Maksudnya Bu?”

“Alah Bapak ini sok-sok tidak tahu. Ya, begitulah Pak. Suka dandan lama, suka pakai baju saja milihnya sampai sejam. Belum milih sandalnya, walah bisa sampai dua jam nunggu,” Ibu itu tertawa kecil, gigi-giginya yang putih bersih tampak bersinar.

“Oh, begitu ya Bu. Kalau seperti itu nanti ya gampanglah. Bisa dipasang pembatas semi permanen di sini untuk anak-anak ibu yang lain,” jawab pakdhe dengan santainya.

Tamu Pakdhe part 3

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day26

-Jumlah Kata332

“Bapak kira anak-anak saya itu pemulung? Kok dengan mudahnya pakai pembatas semi permanen. Anak-anak saya itu berkelas Pak. teman-temannya anak-anak orang kaya. Bagaimana caranya mereka melayani tamu-tamunya kalau tempatnya seperti yang bapak utarakan tadi,” Ibu itu tiba-tiba marah besar. Pakdhe kaget apalagi Reyna. Tanpa pamit, ibu itu pergi begitu saja.

“Maksudnya gimana tho? Kok tiba-tiba marah besar. Apa aku salah ngomong, ya?” pakdhe hanya bisa geleng-geleng kepala. Dalam hati Reyna bersyukur karena Ibu itu pergi, artinya tidak jadi membeli rumah ini.

“Alhamdulillah,” batinnya gembira.

***

Pagi ini cuaca tampak begitu cerah, awan-awan beraneka bentuk terbang melayang-layang menghiasi langit biru. Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan. Burung-burung kecil berterbangan dari pohon satu ke pohon lainnya  dengan penuh semangat. Ada yang berkelompok ada pula yang sendirian. Mereka ikut serta menyemarakkan suasana pagi ini. Segalanya tampak begitu indah namun berubah seketika tatkala pakdhe datang.

 Kali ini pakdhe bersama seorang pemuda tampan. Yang kata Diena mirip Song Jongki, salah satu artis korea yang sedang naik daun. Parasnya yang rupawan membuat Diena terpesona. Dan entah ada angin apa, membuat Diena mendukung pemuda itu.

“Dek sadar, Dia itu mau membeli rumah kita. Kok kamu malah membela dia sih?” tanya Reyna heran.

“Kak dia itu mirip Jongki, aktor korea favorit aku,” katanya dengan mata berbinar-binar.

“Kan cuma mirip, Dek. Bukan yang asli.”

“ Nggak apa-apa Kak. Yang penting bisa melihatnya setiap hari.”

“Astaghfirullah, istighfar Dek!” Reyna mengelus dadanya berkali-kali. Tak menyangka adiknya ikut terkontaminasi demam virus drama korea.

“Bagaimana Mas? Bagus bukan?” tanya pakdhe pada pemuda tampan itu. Pemuda itu tersenyum, benar-benar senyumnya manis seperti kebanyakan gula.

“Saya sudah berkeliling, Pak. Luar biasa Pak. Ini salah satu hunian yang saya cari selama ini. Konsep jawanya ada tapi tak meninggalkan unsur modern. Membuat rumah ini benar-benar sempurna,” katanya dengan penuh semangat.

“Benarkah?” pakdhe bertanya seolah tak percaya dengan kata-kata pemuda itu.

“Benar, Pak. Saya serius. Apa untungnya juga kalau saya membohongi bapak. Ini benar-benar real.”

“Saya sempat heran, ternyata masih ada hunian semacam ini di desa terpencil seperti ini,” lanjutnya lagi.

 

 

 

 

 

 

Kegembiraan Pakdhe

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-kelompok 26

-Day 27

_Jumlah Kata 375

 

Deg! Tiba-tiba saja jantung Reyna berdetak lebih kencang. Seperti genderang mau perang. Ketakutan mulai menyelimuti hatinya.

 

“Bagaimana kalau pemuda itu benar-benar mau membeli rumah ini? Dimana kami akan tinggal? Bagaimana dengan sekolah Diena? Bagaimana dengan sekolahku?” Berbagai macam pertanyaan yang belum ada jawabannya bergelayut dalam pikiran Reyna. Tiba-tiba saja Reyna menjadi tak semangat. Padahal hari ini jualannya laris manis. Sejak bakda subuh sampai tamu itu datang, nasi uduknya sudah disapu bersih pembeli. Reyna terduduk di sebelah Diena yang masih asyik memperhatikan pemuda itu.

“Kak, mimpi aku semalam? Pagi-pagi ketemu dengan oppa korea,” katanya dengan penuh semangat. Matanya tidak berhenti mengawasi pemuda itu. Diena benar-benar sudah berhalusinasi.

“ Mana Kakak tahu. Mimpi-mimpi kamu sendiri, kok tanya Kakak!” Reyna menjawab ketus.

“Ih, Kakak kok jadi sinis macam itu, sih? Cemburu ya?” Diena mulai menggoda.

“Cemburu? Cemburu dari Hongkong?” kata Reyna sambil menjitak kepala Diena. Diena mengaduh kesakitan.

“Aw, sakit Kak!”

“Ehem-ehem! Bisa dikecilkan suaranya?” tanya pakdhe yang tiba-tiba  saja sudah berada didekat mereka.

“Ba-baik Pakdhe!” mereka menjawab kompak seperti paduan suara.

“Mereka siapa Pak?” tanya pemuda itu yang juga tiba-tiba ada di belakang pakdhe. Pakdhe terkejut. Namun berusaha mengatasi kekagetannya dengan tersenyum.

“Mereka keponakan saya. Tak terlalu penting untuk diperhatikan, Mas. Monggo masuk,” pakdhe mempersilahkan pemuda itu masuk lagi ke dalam rumah.

Tiba-tiba saja Diena mengikuti mereka masuk ke dalam rumah. Reyna memegang erat tangan Diena. Mencegahnya mengikuti pakdhe.

“Ini anak benar-benar terkena ajian semar mesem mungkin. Kok tiba-tiba langsung kepincut sama pemuda itu,” batin Reyna.

“Ih Kakak, apa-apaan sih?” tanya Diena seraya mencoba melepaskan pegangan Reyna.

“Dek sadar, itu tamu pakdhe bukan tamu kita. Enggak sopan, Dek!”

“Iyakah?” Diena bertanya sembari berpikir. Lambat laun ia menuruti apa kata Reyna.

Hampir satu jam tamu itu ngobrol ngalor-ngidul dengan pakdhe. Entah apa saja yang mereka obrolkan, yang jelas intinya pemuda itu tertarik untuk membeli rumah ini. Pakdhe pun tampak sangat gembira sekali. Beliau bisa menangkap  sinyal itu dari gelagat sang pemuda dari awal pertemuan tadi. Jadi tak heran kalau pakdhe senyum-senyum sendiri.

“Kenapa Pakdhe?” tanya Reyna.

Pakdhe nampak terkejut dengan pertanyaan Reyna yang tiba-tiba saja.

“Itu bukan urusan kamu, Rey! Minggir, Pakdhe mau pulang,” katanya sembari meninggalkan Reyna. Reyna bisa membaca apa yang ada di pikiran pakdhe. Namun ia tetap berharap tamu tadi tidak jadi membeli rumah ini.

Senja

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day 28

-Jumlah kata 393

Senja tampak sedang bermanja-manja dengan langit biru yang menopang tubuhnya. Rona merahnya tampak indah, menentramkan hati siapapun yang memandangnya. Reyna terpesona, begitu pula dengan Diena yang sedang duduk di sampingnya. Mereka sedang menikmati senja sore itu di teras samping rumah.

“Kak, ingin rasanya aku menjadi seperti senja itu. Disukai banyak orang ketika baru mulai muncul. Rasanya damai hati ini bila melihatnya,” Diena mulai berkhayal.

“Iya Dek. Sungguh begitu indah kebesaran Tuhan, Sang Pencipta senja itu.”

“Kita harus banyak-banyak bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati indahnya senja itu,” tambah Reyna.

“Kak, bagaimana kalau Song Jongki itu jadi membeli rumah ini. Dari gelagatnya kemarin, ia tampak tertarik dengan rumah kita,” tanya Diena serius.

“Bukan hanya dia saja yang tertarik dengan rumah kita, Kakak yakin kamu juga tertarik dengan ketampanannya bukan?”

“Ih kakak, seperti nggak pernah lihat orang terpesona saja,” Diena mencubit pipi kakaknya yang tampak semakin tak terawat.

“Dia itu mirip banget Kak sama Song Jongki. Lha, daripada berharap sama yang jauh-jauh mending memanfaatkan yang dekat dulu lah,” ucap Diena sambil tertawa ngakak.

“Kan gratis,” imbuhnya.

“Eh, Dosa tahu, kalau dilihat terus-menerus,” Reyna mengingatkan adiknya.

“Jangan sampai kamu jatuh cinta ya sama dia.”

“Ih, kakak. Diena cuma nge-fans doang kok nggak lebih. Lagipula mana mau dia sama anak bau kencur macam aku?”

“Iya. Dia-nya mungkin nggak mau, tapi kamunya belum tentu kan?”

“Belum tentu apanya?”

“Alah jangan bohong! Kamu pasti sedang berkhayal tingkat tinggi bukan waktu pertama kali melihatnya? Ayo ngaku?” tanya Reyna sambil tertawa.

“Alah, seperti kakak juga kan?”

“Lho-lho, maksudnya apa? Kakak lagi bahas kamu sama oppa-oppa korea itu kok! Jangan mengalihkan pembicaraan, ah.”

“Kakak juga sama kan? Kesengsem waktu pertama kali ketemu sama Mas Fatih. Ayo ngaku?” Diena balas memojokkan kakaknya. Reyna mencoba tidak mendengarkan kata-kata adiknya dengan pura-pura membuka ponsel. Namun Diena tiba-tiba mengambil ponselnya.

“Betul kan Kak? Mengaku sajalah kalau kakak juga suka sama Mas Fatih?”

“Apaan sih, Dek? Enggak suka kok, hanya kagum doang!”

“Suka sama kagum beda tipis kan, Kak?” Diena mulai menggoda Reyna. Pipi Reyna tampak merona merah. Pertanda ada sesuatu yang dirasakan Reyna. Apakah jatuh cinta? Atau sekedar kagum saja? Diena senyum-senyum melihat tingkah lucu kakaknya. Belum juga Reyna sempat menjawab pertanyaan adiknya tadi, pintu diketuk orang.

“Siapa Dek?”

“Mana aku tahu lah Kak. Ini baru mau tak tengok,” kata Diena sembari menuju ke teras depan. Olala, betapa terkejutnya dia tentang siapa yang ada di hadapannya.

 

Kunjungan Mas Fatih

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 2

-Day 29

-Jumlah Kata 332

 

“Kak-kak Reyna!”

“Iya, Dek. Ada siapa?”

“Ada Mas Fatih Kak.”

“Mas Fatih?” Reyna terkejut. Mereka baru saja membicarakan tentang Mas Fatih, eh ternyata orangnya sudah ada disini. Betapa gugupnya Reyna kala itu. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang.

“Aduh, kenapa ini?” tanyanya pada diri sendiri.

“Kak, ini Mas Fatih mencari Kakak!” panggil Diena. Reyna semakin gugup. Dia bingung harus ngomong apa nanti. Namun ia berusaha tetap tenang. Ditariknya nafas dalam-dalam.

“Bismillahirohmanirohim,” ucapnya dalam hati.

Mas Fatih masih berdiri di depan pintu bersama Diena. Reyna berjalan menghampiri mereka dengan seulas senyum sebagai penyambutan.

“Monggo Mas Fatih, silahkan masuk,”

“Terimakasih sebelumnya,” jawabnya dengan seulas senyum manis. Sesaat Reyna terpesona melihatnya. Namun segera ia berusaha menyembunyikannya.

“Mas Fatih ada perlu apa dengan saya?” tanya Reyna ramah.

“Sebetulnya enggak dengan Reyna pun tak apa. Tapi, ya sudahlah,” kata Mas Fatih seraya menyerahkan sebuah bingkisan kepada Reyna. 

“Dari Umi, Rey. Mohon diterima ya!” katanya sambil tersenyum. Entah mengapa Reyna sangat menyukai senyum itu. Senyumnya begitu tulus, mengingatkan Reyna pada sosok ayahnya yang telah tiada.

“Rey?” Mas Fatih memanggil Reyna. Reyna agak terkejut.

“Maaf.”

“Reyna baik-baik saja?”

“Oh iya Mas. Reyna baik-baik saja.” Reyna menjawab dengan agak gugup.

“Mohon diterima ya, Rey. Semoga bermanfaat. Oh ya, besok sepulang sekolah Umi minta tolong Reyna untuk ke rumah sebentar.”

“Insyaallah kami akan kesana. Terima kasih sebelumnya ya, Mas. Reyna menerima bingkisan itu dengan hati gembira.

“Sama-sama, saya pamit dulu ya. Assalamualaikum,”

“Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,” mereka menjawab serempak. Reyna masih memperhatikan Mas Fatih sampai orangnya hilang dari pandangan. Pertemuan singkat yang sangat berkesan menurut Reyna. Kadang ia juga bingung, kenapa pertemuannya dengan Mas Fatih selalu memberikan warna tersendiri dalam hatinya. Wajahnya yang teduh membuat siapa saja yang memandang merasa damai. Ya, itu untuk pertama kalinya Reyna merasa sangat bahagia.

“Cie, yang lagi fall in love,” Diena mulai menggoda Reyna. Sambil cekikikan ia mencubit pipi kakaknya yang mulai merona merah.

“Diena!” Reyna berteriak sambil mengejar Diena.

“Kakak jatuh cinta- kakak jatuh cinta!” teriak Diena lantang. Sambil berlari ia mencoba menghindar dari kejaran kakaknya.

Bersama Dia

0 0

-Sarapan Kata KMO Indonesia Batch 39

-Kelompok 26

-Day 30

-Jumlah kata 302

***

“Dua puluh delapan, dua puluh sembilan, tiga puluh, Umi. Sudah betulkah?” tanya Reyna memastikan bahwa jumlah nasi kotaknya sama dengan yang tertera dalam catatan.

“Iya Rey, betul. Untuk kotak jajanannya juga sama tiga puluh ya. Nanti setelah siap kotak jajannya langsung digabung dengan kotak nasinya ya, sekalian di masukkan plastik ini,” kata umi sambil memperlihatkan plastik bermotif polkadot warna-warni itu.

“Siap, Mi!” jawab Reyna dengan penuh semangat. Umi tersenyum, seraya berujar,

“Wah, Umi suka dengan semangatmu hari ini, Rey. Dipertahankan ya”

“Tentu, Mi,” Reyna menjawab dengan senyum lebar.

Entahlah, hari ini Reyna merasa bersemangat sekali dalam beraktivitas. Sejak jam tiga dini hari tadi, setelah sholat tahajud ia seperti mendapat suntikan semangat atau semacam mood booster untuk melakukan yang terbaik pada hari ini. Ia tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan yang pernah dialaminya.

“Sekarang saatnya untuk bangkit, melawan segala kesedihan ini,” batinnya.

Alhasil jualan nasi uduknya laris manis sebelum jam enam pagi. Subhanallah, usaha tak mengkhianati hasil.

“Umi tinggal sebentar ya, Rey,” kata Umi Pipik menyadarkan Reyna.

“Iya, Mi.”

“Fatih!” panggil umi. Reyna kaget. Ada apakah gerangan umi memanggil Mas Fatih?

Yang dipanggil lagi asyik membaca buku. Namun tak lama berselang, Mas Fatih menghampiri umi.

“Gimana, Mi?”

“Mas, tolong bantu Reyna mengemas nasi kotak itu ya. Umi mau keluar sebentar.”

“Siap, Mi!” jawab Fatih dengan sikap hormat.

“Kamu apa-apaan sih, Mas.” Umi tertawa lebar sambil berlalu meninggalkan mereka berdua.

Reyna bingung. Sdikit agak gugup pula. Dengan ragu-ragu ia mencoba memberanikan diri mengawali pembicaraan dan bersamaan itu pula Mas Fatih juga mulai membuka pembicaraan. Alhasil, mereka bicara hampir bersamaan.

“Mas Fatih...,”

“Reyna...,”

“Reyna mau bicara apa? Silahkan,” Mas Fatih memberi kesempatan Reyna untuk berbicara terlebih dahulu.

“Eee.., mas Fatih kalau sedang sibuk ditinggal saja. Biar Reyna yang membereskannya sendiri,” kata Reyna dengan agak gugup.

“Tak apa Rey, biar cepat selesai,” jawab Mas Fatih sambil tersenyum.

Bersama Dia Part 2

0 0

 

Ada kekikukan dalam sikap mereka berdua. Mungkin karena baru pertama kerja bareng atau karena sudah ada benih-benih cinta yang menjalar di hati keduanya ya?

Belum ada setengah jam tugas mereka sudah selesai. Langkah terakhir adalah pengiriman ke panti asuhan yang sudah ditunjuk umi.

“Reyna ada tugas lain dari Umi?” tanya Mas Fatih tiba-tiba.

“E..., gak ada sih, mas. Cuma tinggal beberes doang,” jawabnya pendek.

“Gimana kalau aku aja yang mengantar nasi kotak ini? Reyna bisa segera beberes,”

“Itu kalau Reyna mengizinkan, sih?” lanjut Mas Fatih lagi ketika melihat Reyna diam saja.

“Mas fatih nggak sibukkah?”

“Kan, dari tadi juga sudah nggak sibuk, Rey,” jawabnya sambil tersenyum manis. Reyna terpesona sesaat, buru-buru ia melantunkan istighfarberulang kali.

“Kenapa, Rey?” tanya Mas Fatih sedikit heran.

“Adakah yang salah?” tanyanya lagi.

“Oh maaf Mas, tak ada yang salah kok. Eh, ini alamat rumahnya,” Reyna menyodorkan secarik kertas berisi alamat panti yang dimaksud umi. Tangannya agak bergetar ketika memberikan kertas itu kepada Mas Fatih. Mas Fatih sedikit heran dengan sikap Reyna. Namun belum sempat ia menanyakan apa yang menyebabkan Reyna bersikap seperti itu, Reyna nya sudah berlalu ke belakang.

“Ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Tidak!” jeritnya dalam hati.

“Aku harus bisa mengakhiri ini semua. Aku tidak boleh jatuh cinta. Tidak boleh!” kata Reyna pada dirinya sendiri.

Rintik-rintik hujan mulai jatuh . alnya hanya sedikit namun semakin lama semakin banyak. Reyna benjak masuk ke dapur. Dilihatnya Mas fatih sedang memakai jas hujan. Bersiap mengantar paket nasi yang sebelumnya juga sudah di packing ke plastik yang jauh lebih besar lagi. Ia menempatkannya di dua keranjang belanjaan seperti yang biasa dilakukan Reyna.

“Maaf mas, Reyna tidak bisa membantu,” ucap Reyna dalam hati.

“Mungkin, aku harus menjauhi Mas Fatih, agar perasaan ini tidak terlanjur mendalam,” janjinya pada diri sendiri.

***

Bersama Dia Part 2

0 0

 

Ada kekikukan dalam sikap mereka berdua. Mungkin karena baru pertama kerja bareng atau karena sudah ada benih-benih cinta yang menjalar di hati keduanya ya?

Belum ada setengah jam tugas mereka sudah selesai. Langkah terakhir adalah pengiriman ke panti asuhan yang sudah ditunjuk umi.

“Reyna ada tugas lain dari Umi?” tanya Mas Fatih tiba-tiba.

“E..., gak ada sih, mas. Cuma tinggal beberes doang,” jawabnya pendek.

“Gimana kalau aku aja yang mengantar nasi kotak ini? Reyna bisa segera beberes,”

“Itu kalau Reyna mengizinkan, sih?” lanjut Mas Fatih lagi ketika melihat Reyna diam saja.

“Mas fatih nggak sibukkah?”

“Kan, dari tadi juga sudah nggak sibuk, Rey,” jawabnya sambil tersenyum manis. Reyna terpesona sesaat, buru-buru ia melantunkan istighfarberulang kali.

“Kenapa, Rey?” tanya Mas Fatih sedikit heran.

“Adakah yang salah?” tanyanya lagi.

“Oh maaf Mas, tak ada yang salah kok. Eh, ini alamat rumahnya,” Reyna menyodorkan secarik kertas berisi alamat panti yang dimaksud umi. Tangannya agak bergetar ketika memberikan kertas itu kepada Mas Fatih. Mas Fatih sedikit heran dengan sikap Reyna. Namun belum sempat ia menanyakan apa yang menyebabkan Reyna bersikap seperti itu, Reyna nya sudah berlalu ke belakang.

“Ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Tidak!” jeritnya dalam hati.

“Aku harus bisa mengakhiri ini semua. Aku tidak boleh jatuh cinta. Tidak boleh!” kata Reyna pada dirinya sendiri.

Rintik-rintik hujan mulai jatuh . alnya hanya sedikit namun semakin lama semakin banyak. Reyna benjak masuk ke dapur. Dilihatnya Mas fatih sedang memakai jas hujan. Bersiap mengantar paket nasi yang sebelumnya juga sudah di packing ke plastik yang jauh lebih besar lagi. Ia menempatkannya di dua keranjang belanjaan seperti yang biasa dilakukan Reyna.

“Maaf mas, Reyna tidak bisa membantu,” ucap Reyna dalam hati.

“Mungkin, aku harus menjauhi Mas Fatih, agar perasaan ini tidak terlanjur mendalam,” janjinya pada diri sendiri.

***

Mungkin saja kamu suka

Cindy Febriani
A million hopes
Syifa' Nur Rahm...
Hafidz Mualaf
Khofidotur Rofi...
Hijrah Cinta di Pesantren
Syarwendah
Secret Admirer
Baiq Lian Solih...
Dariku Untuk Diriku

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil