Loading
3

0

0

Genre : Religi
Penulis : Husnatul Fadilah
Bab : 30
Pembaca : 1
Nama : Husnatul Fadilah
Buku : 1

Sebuah Penantian

Sinopsis

Judul : Sebuah Penantian Penulis : Husnatul Fadilah Genre : Fiksi Blurb : Lelah? Mungkin memang lelah menanti sesuatu yang belum pasti, Itulah yang dirasakan Annisa ada dilema yang yang begitu mendalam antara cinta, orang tua, dan kariernya. Mampukah Annisa mengambil keputusan tanpa mengorbankan salah satunya, atau Annisa akan kehilangan salah satu atau bahkan ketiganya?
Tags :
Genre : Religi, judul: Sebuah Penantian, Range: Annisa, ibu, ayah, Nita, Laras,Amir, Azman

Kehangatan

1 0

#KMOIndonesia

#KMOBatch35

#Kelompok3

#Jumlahkata329

#Day1

          Sore hari itu, ditengah kedamaian desa dihiasi dengan aktivitas para penduduk yang mengakhiri dari segala aktivitas dan berjalan menuju rumahnya ,menambah keindahan semburat jingga matahari yang berlabuh dipelupuk netra. Sudah menjadi kebiasaan Annisa memandangi suasana sore dari balik jendela rumahnya. Sambil membayangkan akan menjadi apa kelak ketika ia dewasa, apakah ia akan menjadi seseorang yang sesuai dengan apa yang diharapkannya, atau tidak. Pikiran itu terus terbayang dalam benak Annisa. “Nisa, tutuplah semua pintu dan jendela, nak. Sebentar lagi adzan”. Suara ibu seketika membubarkan khayalan Annisa. “Baik, bu.” jawab Annisa sambil melangkahkan kakinya menyusuri satu persatu jendela rumah, untuk menutupnya. Ibu Annisa selalu berpesan kepada Annisa dan kedua adiknya, untuk selalu menutup jendela dan semua pintu dengan rapat, agar jin dari kaum perempuan yang bernama Ummu Sibyan tidak masuk ke rumahnya, karena suka mengganggu anak-anak dan wanita hamil.

           Lantunan suara adzan terdengar dari masjid yang tidak jauh dari rumah Annisa. Ayah dan Farhan pun pergi menuju masjid untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah, tak ketinggalan dengan sorban yang teruntai dileher ayah, yang kini sudah berusia senja, namun tak pernah menyurutkan langkah kaki ayahnya untuk melangkah ke masjid. Ayah Annisa hanya ingin memberikan tauladan yang baik kepada anak- anaknya, terutama kepada Farhan anak laki-laki satu-satunya, setelah Annisa.

           Keluarga Annisa adalah keluarga yang sederhana, namun menjungjung tinggi nilai-nilai religi dalam kehidupan. Baginya bagaimana pun sebuah kehidupan akan terasa ni’mat dijalani jika penuh dengan rasa syukur.

          Ketika ayah dan Farhan sudah pergi ke Masjid, Annisa bergegas melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, karena ibu dan Anita sudah menunggu di ruang tamu untuk sholat berjama’ah. Terdengar indah lantunan ayat suci Al Qur’an yang terlantun dari mulut ibu ketika mengimami Annisa dan Anita, lantunan itu membuat hati Annisa dan Adiknya, Anita merasa tentram dan merasakan ni’matnya ketika melaksanakan komunikasi dengan Allah SWT. Usai melaksanakan sholat Ibu selalu mengajarkan dan membimbing Annisa dan Anita untuk melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, sebelum anak-anak dari desa berdatangan, bagi ibu mempelajari dan memahami ayat-ayat Allah SWT. Akan membuat hidup terarah.

 

 

Kehangatan (Bagian 2)

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch35

#Kelompok3

#Jumlahkata371

#Day2

          Setiap ba’da maghrib anak-anak desa berdatangan ke rumah Annisa dengan penuh antusias, dan al’quran yang erat berada dalam dekapan mereka. “Assalamu’alaikum”, suara anak-anak itu, nyaring terdengar dari depan rumah, “ wa’alaikumussalam, silahkan masuk”, ujar ibu, yang masih mengenakan mukena, sambil membuka pintu kayu dua bilah, lalu anak-anak itu duduk berbaris membentuk lingkaran yang sangar teratur, satu persatu maju kedepan, untuk mengaji didampingi oleh ibu, dan Annisa pun turut serta membantu ibu mendampingi anak-anak yang mengaji, hingga akhirnya adzan isya berkumandang, menandakan bahwa waktu untuk mengaji telah selesai. Dan tidak lupa ditutup dengan doa khotmil jalsah yang terdengar sangat merdu dan menenangkan hati, “Robbi infanfa’na bima allamtana robii alimnaa alladzi yan fa’una...dst”. doa itu tak pernah absen terdengar dari rumah Annisa setiap adzan isya telah berkumandang. Kemudian satu persatu anak-anak berbaris seperti kereta, menghampiri ibu untuk bergiliran mencium tangan ibu sebagai tanda ta’dim seorang murid kepada gurunya. Akhirnya mereka pun satu persatu keluar dari rumah Annisa dan pulang menuju rumahnya masing-masing.

 

           Lalu, Annisa, ibu dan Nita melaksanakan salat isya berjamaah, seselesainya menunaikan ibadah salat, tiba-tiba terdengar, “assalamualaikum” terdengar suara ayah dan Farhan dari luar sambil mengetuk pintu, lalu Annisa langsung menghampiri dan membuka pintu, mata Annisa langsung tertuju pada plastik hitam yang dijinjing ayah dan Farhan dengan ekspresi yang sangat gembira, “itu apa yah, dek” tanya Annisa dengan riang dan penasaran.”ayo masuk dulu,” ujar ayah, sambilmerangkul pundak Annisa, dan berjalan menuju dapur, “iya, kakak nih gak sabar banget” ketus Farhan kepada Annisa, “biarin aja” jawab Annisa dengan ekspresi mengejek Farhan., “eh, sudah – sudah” lerai ayah. Lalu mereka pun berkumpul di meja makan, bersama, lalu ayah dan ibu membuka dua bungkusan yang dibalut oleh plastik hitam itu, kemudian ibu bertanya” dari mana ini yah”, “ini Bu, tadi pak Rahmat habis mengadakan tasyakuran di masjid atas tujuh bulan kehamilan istrinya”, jawab ayah. “Masya Allah, nggak kerasa ya usia kehamilan Bu Lasmi udah tujuh bulan”, ungkap ibu. “ibu, aku ingin telurnya” pinta Nita,gadis mungil yang teramat sangat menyukai telur. “iya, de” jawab ibu, sambil menyodorkan sendok berisi telur diatasnya ke piring Nita, “asik, telur”, ungkap Nita sangat gembira, seolah baru pertama kali menemukan telur. “ jangan lupa baca doa dulu ya, sebelum makan” kata ayah kepada kami, dengan penuh rasa syukur, mereka menyantap makanan itu, dan terasa sangat nikmat.

Kehangatan (Bagian 3)

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch35

#Kelompok3

#Jumlahkata317

#Day3

          Makan malam telah selesai, Aninsa ibu dan dibantu oleh Nita langsung membereskan meja makan. Dan semua anggota keluarga pun memasuki kamarnya masing-masing.

 

          Seperti biasa, sebelum tidur Anisa selalu belajar untuk murojaah pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya. Sesudahnya belajar Anisa tak pernah lupa untuk menorehkan tinta pena nya di atas buku diary berwarna merah muda kesayangannya.ya, dia memiliki hobi menulis cerita tentang apapun yang dia alami. Anisa merasa bahwa dengan menulis ia bisa mengekspresikan dirinya sendiri dan itu membuat ia merasa tenang. Buku diary itu ditulis Anisa empat tahun lalu sejak ia duduk di kelas enam sekolah dasar, dan sekarang ia duduk di kelas sembilan Madrasah Tsanawiyah. Setiap bukunya habis, ia selalu membeli buku yang baru dengan warna yang sama, yang kemudian digabungkan dengan buku-buku sebelumnya, bisa terbayang setebal apa buku diary Annisa saat ini. Annisa pun mulai menorehkan tinta penanya diatas lembar buku diarnya, layaknya orang yang sedang bercerita, tangannya sangat lancar, tiada hambatan melaju dengan penanya, diatas kertas. Tak heran jika tulisan Annisa bagus dan rapi, sehingga ia selalu dipercaya menjadi sekertaris di kelas. Tanpa ia sadari, tangannya terpleset ketika menulis, dan kepala yang menganggur, pertanda bahwa Annisa harus segera menutup buku diary nya, dan mengakhiri ceritanya malam ini. Udara yang dingin, diiringi alunan suara gemercik hujan menambah rasa kantuk yang dirasakan Annisa, dan Annisa bergegas mematikan lampu, dan langsung berbaring diatas kasur dengan selimut tebalnya.

          “kring....” suara jam Beker Annisa terdengar sangat nyaring, dengan jarum jam yang menunjukan pada angka 03. 30, Annisa langsung terbangun dari tidurnya, dan menyeret kakinya kearah dapur, dengan mata yang masih remang-remang, sesampainya di dapur, sudah ada ibu yang sedang bertarung dengan wajannya, dan menghasilkan aroma sedap yang membuat mata Annisa terbuka, dan Annisa langsung menghampiri ibu. “ Sini Bu, biar Annisa saja yang melanjutkan memasak” pinta Annisa, “sudah, nanti saja, sekarang kamu ambil wudhu dan sholatlah dulu” jawab ibu. “ baiklah” seru Annisa, dan Annisa pun, melaksanakan perintah ibu.

 

***

Kehangatan (Bagian 4)

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch35

#Kelompok3

#Jumlahkata365

#Day4

Sudah menjadi rutinitas ibu, setiap pukul tiga pagi memasak nasi uduk, untuk dijajakan di warung kecil milik keluarga Annisa setelah shubuh, karena, biasanya para penduduk desa mulai beraktivitas dan memulai pekerjaannya sebelum matahari terbit, sebagian dari mereka belum sempat memasak untuk sarapan, dan di warung milik keluarga Annisa lah, mereka membeli nasi untuk sarapan.

          Bedug shubuh, sudah terdengar, Annisa membangunkan Nita, yang masih tertidur pulas dengan muka imutnya, ada rasa tak tega untuk membangunkan adik semungil itu dari tidurnya, namun ibu selalu mengajarkan sejak dini kepada anak-anak nya, untuk selalu menunaikan perintah Allah. SWT. “Nita, dek, ayo bangun, sholat subuh dulu, yuk” ucap Annisa sambil membelai rambut ikal Nita, dan Anita pun langsung duduk, dan terbangun dari tidurnya, dan Annisa langsung menuntun Nita menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh.

          Sebelum terbit matahari, ayah sudah pergi ke ladang bersama kawan-kawan petani yang lain, sesudahnya menyantap sarapan di warung kecil milik keluarga Annisa. Dan Annisa membantu ibu untuk melayani para pembeli. Warungnya taknpernah sepi dari para pembeli, karena rasa masakan ibu Annisa sudah jadi favorit di desanya, ditambah dengan harga yang cukup terjangkau.

          Pada pukul 06.30, Annisa bersiap- siap untuk berangkat ke tempat yang mulia, tempat menimba ilmu. Setelah siap tak lupa Annisa berpamitan kepada ibu, agar ia selalu dimudahkan dalam menuntut ilmu. Dengan menggunakan seragam putih biru Dongker, Annisa mulai melangkahkan kakinya dari pintu rumah berjalan menuju arah sekolah, hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh menit, untuk sampai disekolah.

           Keadaan kelas sudah ramai ketika Annisa tiba, teman-teman Annisa berkumpul riuh, seperti sedang mengerumuni sesuatu, dengan rasa penasaran, Annisa mendekati sekumpulan teman- temannya, dan mencoba melihat apa yang sedang teman-temanya kerumuni itu, dengan kaki terjinjit dan menahgahkan kepala, Annisa penasaran. Namun, usahanya, tak memberikan informasi apapun, dan Annisa menepuk punggung salah satu temannya bernama Laras “ada apa ini, ras?. Kok rame banget ?” Tanya Annisa, “itu lembar jadwal dan pembagian ruangan ujian kita Minggu depan, mis” jawab Laras. “ ya ampun, serius ras, Minggu depan kita udah mulai ujian?” Tanya Annisa dengan dahi, yang mengkerut. “ iya, nis, lah, masa aku bohong” ujar Laras. Karena Laras biasa usil, membuat Annisa belum yakin dengan jawaban Laras, karena Annisa merasa, waktu ujian ini terlalu cepat.

Kehangatan (Bagian 5)

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch35

#Kelompok3

#Jumlahkata358

#Day5

Lalu, Annisa pun menghampiri Amira, sahabatnya. “Mir, memang benar, Senin depan ujian ?” tanya Annisa kepada Amira. “ iya, nis Senin depan kita ujian, dan kebetulan tadi aku lihat, di kertas itu, kita duduk nya sebangku lho” jawab Amira antusias. “Asyik, kita sebangku” jawab Annisa kegirangan. “sama Amira aja, baru kamu percaya, nis” sambung Laras dengan mata sinis. “ maaf, maaf ya Laras, cantik, perlu meyakinkan berulang ulang kali untuk percaya dengan perkataanmu” jawab Annisa sambil memegang pundak Laras dengan nada cengengesan.

          “Teng....teng....teng...” Suara lonceng terdengar nyaring, menyebar ke semua sudut sekolah, membuat para murid langsung berjalan menuju lapangan, karena hari ini, hari Jum’at, sudah menjadi kegiatan rutin di sekolah Annisa dengan kehiatan kultum. Kultum disampaikan oleh perwakilan 2 siswa dari sekolah Annisa, kemudian di akhir, ada seorang guru bergiliran menyampaikan kultum setiap Minggunya. Hari ini teman Anhar, teman sekelas Annisa mendapat giliran menjadi penyampai kultum, ketika pak guru mengucapkan “baiklah, kultum yang pertama akan disampaikan oleh saudara Anhar, dari kelas IX A” sorak, teman- teman sekelas Annisa memberi banyak dukungan dengan ramai, “ayo, Anhar, semangat” sorak beberapa teman sekelas Annisa memberi semangat kepada Anhar. Sudah menjadi hal yang biasa, ketika salah satu murid dari kelas IX A tampil atau mengikuti event perlombaan, semua teman sekelasnya selalu memberikan dukungan dan semangat kepada teman-temannya, mereka bagaikan keluarga yang selalu mendukung dan saling membantu satu sama lain. Fanifer adalah nama yang dibuat oleh kelas IX A agar, lebih terasa rasa kekeluargaannya, Feniger adalah singkatan dari family nine A forever together yang artinya keluarga kelas IX A yang akan selalu bersama sama selamanya, dari nama itu, mereka berharap bahwa keberadaan mereka akan selalu terjaga walaupun nanti akan berpisah, tapi persaudaraan mereka akan selalu terjaga, walau jarak dan waktu memisahkan mereka.

          Waktu kultum telah selesai, setelahnya kultum para murid dibagi ke beberapa area untuk melakukan kegiatan Jum’at bersih, sebelum masuk ke kelas. Kelas IX A mendapatkan bagian untuk membersihkan halaman belakang sekolah. Mereka pun langsung bergegas menuju halaman belakang sekolah untuk membersihkannya, “guys, siapa nih yang mau ngambil alat kebersihan di kelas?” tanya Rizal “aku, aja yang ngambil sama Rina” saut Amira, dan mereka langsung pergi menuju kelas untuk mengambil peralatan kebersihan.

 

***

Kehangatan (Bagian 6)

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch35

#Kelompok3

#Jumlahkata334

#Day6

          Sambil menunggu Amira dan Rina, mereka selalu mengisi waktu luang mereka dengan saling bercengkrama “ temen-temen ada yang bisa nebak gak nih, pertanyaan dari Laras cantik, pertanyaannya paus, paus apa yang ada di masjid?” tanya Laras, membuat mereka terfokus dengan satu topik, “ah, kamu mah ngaco, mana ada ikan paus di masjid, di kali Cigonea aja aku gak pernah liat” saut Aldi sambil tertawa terbahak-bahak, “ah, cemen kamu mah di, masa gitu aja gak tau, makanya man nya jangan ke kali Cigonea terus” jawab Laras, dengan ekspresi khasnya, yang selalu membuat kelas IX A tidak bisa menahan tawa disetiap gerak gerik yang dia lakukan. “Saya tau jawabannya tau jawabannya, ras, pasti jawabannya paus Sholeh” kata Mita, mencoba menjawab dengan penuh keyakinan. “hahaha, emang ada paus Sholeh, Mit, pake peci kali ya, tuh paus?” jawab Laras, dan perkataannya itu mengundang gelak tawa, satu kelas, termasuk Annisa. “nih, guys, alat kebersihan nya”, kata Amira dari kejauhan berjalan mendekati teman-nya, dengan membawa beberapa alat kebersihan dengan Rina, yang memenuhi genggaman tangan mereka. “makasih banyak, Amira, Rina, yuk temen-temen kita mulai berih – bersihnya, biar cepat selesai “, ujar Anhar, sang ketua kelas paling bijak dan menjadi panutan bagi teman-temannya. Merekapun langsung memulai menggerakkan sapu dan menggiring sampah- sampah agar menjadi satu. Tak perlu waktu lama untuk membuat halaman belakang sekolah menjadi bersih, karena mereka melakukannya dengan kompak kerja sama yang bagus, tak nampak dari mereka yang egois, semuanya menggambil peran untuk melaksanakan tugas kelas untuk membersihkan halaman belakang. “Alhamdulillah, udah bersih, yuk kita ke kelas” kata Anhar. Mereka pun berjalan menuju kelas,“hey, Laras, tadi jawabnya apa ?” tanya Aldi masih penasaran dengan pertanyaan tebak tebakan dari Laras. “kepo, ya?” jawab Laras, menambah rasa penasaran Aldi. “iya, apasih jawabnya ras, bikin kepikiran aja” saut teman-teman yang lain kepada Laras.”nanti, dikelas aku kasih tau,ketika isttrahat, kalian semua payah ah, masa gitu aja gak tau” jawab Laras dengan nada sedikit sombong, khas dengan nadanya. Sesampainya di kelas, sudah ada pak Mukhlis, yang sudah siap untuk memberikan materi pelajaran pendidikan agama Islam.

Kehangatan ( Bagian 7)

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch35

#Kelompok3

#Jumlahkata310

#Day7         

          Mereka belajar dengan sangat sungguh-sungguh dan dengan rasa penuh hormat kepada guru guru kereka, karena mereka memiliki cita-cita yang tinggi dan bertekad ingin mengangkat derajat kehidupan keluarga mereka. Karena kehidupannya hanya dapat dikatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan mereka yakin dengan menghormati guru gurunya, mereka akan mendapatkan keberkahan dalam menimba ilmu.

          Kriiiiing......tak terasa bel berbunyi, menandakan waktu pembelajaran telah selesai.

Para murid pun, bergegas merapikan peralatan sekolah mereka dan bersiap untuk membaca doa setelah belajar. Seusainya membaca doa, tiba-tiba pak guru maju kedepan kelas dan memberikan sedikit pengumuman “ assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, “wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab para murid dengan sarantak dan penuh semangat. “ baik anak-anak, diumumkan untuk besok hari Sabtu kita belajar dari rumah terlebih dahulu karena besok akan ada rapat guru-guru mengenai persiapan ujian yang akan kalian laksanakan di hari Senin, jadi bapak harap kalian menggunakan waktu kalian untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk ulangan nanti” kata pak Muklis, guru mata pelajaran agama yang sekaligus wali kelas mereka. “ horee..., Makasih banyak pak” sorak anak-anak, dengan penuh kegembiraan. “ Iya sama-sama, untuk ujian hari Senin nanti mohon dipersiapkan dan pelajari pelajaran bahasa Indonesia, ingat gunakan waktu sebaik mungkin, sebelum penyesalan datang menghampiri sekarang silakan anak-anak semua boleh pulang” nasihat pak Muklis kepada murid-muridnya. Dan mereka pun langsung bergegas untuk bersalaman dan pulang bersama sama, dengan berjalan kaki menyusuri jalan perkampungan. Karena rumah mereka masih berada dalam satu kampung.

          Diperjalanan pulang, Mereka berbincang-bincang tentang ujian yang akan dilaksanakan pada hari Senin nanti. “Senin ujian bahasa Indonesia, sedangkan saya selalu pusing dengan soal-soal bahasa Indonesia, tolong ajarin saya dong, nis, har, saya takut nilai ujian saya jelek dan nanti gak lulus...”. Belum selesai Aldi berbicara, Laras langsung menyambung perkataan Aldi “iya lho, saya juga paling males pelajaran bahasa Indonesia soalnya banyak banget, males juga bacanya yang ada malah ngantuk dan gak tau apa intinya” curhat Laras kepada teman -temannya. 

 

***

Kehangatan (bagian 8)

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch35

#Kelompok3

#Jumlahkata329

#Day8

“ Ya udah, kalau besok kita belajar bersama, gimna?” ttanya Anhar kepada teman-temannya.”yuk, yuk, dimana, jam berapa?” tanya Amira dengan sangat antusias “besok jam delapan, dirumahku, bagaimana?” tanya Annisa. “setuju, setuju” saut teman-teman yang lain. “Oke, kalau gitu, besok jam delqpqn aku tunggu dirumahku, ya” kata Annisa untuk memastikan “siap, nis” jawab teman-teman yang lain.” Sama jangan lupa, bawa buku paet dan catatan pelajaran matematikanya, ya” sambung Anhar, mengingatkan kepada teman-temannya. Tak terasa, ketika berjalan sambil berbincang-bincang, Annisa sampai dipertigaan menuju rumahnya, dan harus berpisah dengan teman-teman nya. “aku duluan, ya.yemenn-temen. Jangan lupa besok aku tunggu” kata Annisa, sambil melangkah ke arah jalan yang berbeda dari teman-temannya.

          Sesampainya di rumah, Annisa langsung menghampiri ibu di dapur yang sedang mencuci piring. “assalamu’qlqikum, bu. Aku pulang” ucap Annisa sambil menyodorkan tangannya ke arah ibu untuk bersalaman. “wa’alwikumussalam, ya udah langsung ganti pakaianmu takut kotor buat besok lagi” jawab ibu. “oh iya, Bu. Besok aku libur, dan teman-temanku akan belajar bersama disini jam delqpqn pagi besok, gimana Bu, bolehkan?” tanya Annisa. “lah, kok libur, emang kenapa?” tanya ibu terheran heran.”kata pak Mukhlis besok akan ada rapat guru untuk membahas ujian kita, Bu. Jadi besok kita libur dulu, terus disuruh buat belajar mempersiapkan ujian Bu” jawab Annisa. “oh begitu, ya udah, yang semangat belajarnya persiapkan untuk ujiannya biar nanti kamu dapat hasil yang memuaskan. ya tentu boleh dong, kalau besok temen-temen kamu mau ke sini untuk belajar bersama masa anak-anak mau belajar ibu larang” jawab ibu. “ oke Bu, makasih banyak, aku ke kamar dulu ya, bu” ucap Annisa.

          Keesokan harinya, pagi pagi sekali Annisa langsung menyiapkan dan membereskan tempat untuk ia dan teman-temannya belajar nanti. Sebelum jam delapan, beberapa teman Annisa sudah berdatangan dengan membawa peralatan untuk belajar. “ assalamualaikum, Anisa” terdengar suara teman-teman Annisa, yang mulai berdatangan. “ wa’laikumussalam, masuk dulu nak, sebentar ya, Annisanya lagi di dapur” ucap ibu, kepada teman-teman Annisa. Lalu Annisa pun menghampiri teman-temannya dengan membawa nampan yang berisi beberapa gelas, dan merekapun mulai untuk belajar bersama.

Kehangatan (Bagian 9)

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch35

#Kelompok3

#Jumlahkata361

#Day9

Tak terasa senja mulai terlihat di ufuk barat, menghiasi langit, tak terasa pula mereka sudah belajar seharian penuh, walaupun tak sepenuhnya belajar dan selalu diselingi dengan gelak tawa yang menambah kehangatan ikatan persahabatan antara mereka. “temen-temen, udah sore nih, yuk kita pulang. Nanti aku dicariin momiku lagi” ucap Laras kepada teman-teman, “ idih, sok sok an manggil Momi segala, biasa makan sama tempe, juga....” ketus Aldi, sambil tertawa. “ih..., Kamu baru tau ya, di kalau aku manggil mamahku Momi, kemana aja kamu? Tempe? Apa itu tempe, aku gak kenal?” jawab Laras dengan nada sedikit sombong dalam candanya, “kan, bapak kamu, yang jualan tempe, masa gak kenal sama tempe” sambung Mita, “ ah, Mita mah. Buka kartu aja” kata Laras langsung terdiam, dam tertawa terbahak-bahak. “canda, ya gays. Yuk ah kita pulang” ajak Laras. “ Makasih banyak, ya Nis. Maaf kita udah ngerepotin” ucap Anhar kepada Annisa. “ Enggak, kok. Enggak sama sama sekali ngerepotin. Malah aku seneng, karena kalian rumah aku jadi rame. Jangan kapok main ke rumahku ya” jawab Annisa. Lalu, merekapun berpamitan kepada ibu Annisa dan langsung pulang.

           Hari ujian pun tiba, dipagi hari, sebelum matahari menyemburkan cahanya, Annisa langsung berangkat ke sekolah karena ia takut datang terlambat untuk ujian pada hari ini.

Dan ternyata, teman-temannya pun, sudah berkumpul di sekolah dengan seragam. Yang begitu rapi, dan terlihat begitu siap menghadapi ujian hari ini. “diumumkan, kepada seluruh siswa dan siswi kelas sembilan, dimohon untuk berkumpul didepan kantor, untuk pengambilan kartu peserta ujian, dan akan ada arahan dari bapak kepala sekolah, terima kasih” terdengar dari suara spiker sekolah, dan seketika suara itu membibarkan kumpulan mereka, dan merekapun bergegas menuju depan kantor. setelah sambutan dan arahan dari kepala sekolah, kemudian mereka satu persatu diberikan kartu peserta ujian dan mulai memasuki ruangan, karena ujian akan segera dimulai. “Aku, deg-degan banget tau nis, “ ucap Mira yang duduk sebangku dengan Annisa. “ tenang, bismillah mir, pasti bisa kok” jawab Annisa, yang mencoba meyakinkan Mira. Satu persatu, kertas ujian pun mendarat diatas meja para siswa kelas sembilan, yang dibagikan oleh pengawas ujian., Dan berkatq “selamat mengerjakan, jangan ribut, dan awali dengan bismillah”, “ Bismillah...” ucap para siswa dikelas itu, dan ujian berjalan dengan tenang.

 

***

Keikhlasan

0 0

SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch35

#Kelompok3

#day10

#jumlahkata315

#GoldenGang

Empat hari berlalu, mereka telah selesai melaksanakan ujian akhir. Dan selanjutnya mereka diminta untuk  mempersiapkan dan memikirkan kemana mereka akan mengenyam pendidikan selanjutnya. Di daerah sekitar tempat tinggal hanya ada sekolah mememgah, yaitu Madrasah Aliyah negeri, yang sampai saat ini, menjadi sekolah menengah yang favorit di kampung. Nisa. Dan mayoritas dari teman-teman Nisa akan melanjutkan pendidikan ditempat itu.  

           Seperti biasanya, setiap sesudah sholat isya, keluarga Annisa selalu makan malam bersama di bilik dapur rumahnya. Ditengah tengah waktu makan malam, Annisa bertanya kepada ayah dan ibunya, “yah, Bu, kapan aku akan mendaftar ke Madrasah Aliyah Al- Ikhlas?, Temen – temenku sudah mulai daftar kesana, Bu,”. Jangan khawatir, ayah sudah menyiapkan dan mendaftarkan kamu ke sekolah selanjutnya, nis.” Terang ayah kepada Annisa. Sontak, Annisa merasa kaget dan bingung , lalu bertanya “ dimna, yah?”. “ Di pesantren daerah Jawa, milik sahabat ayah”. Jawab ayah. “ayah....” ucap Annisa dengan nada sedikit merengek. “nanti kamu mesantren disana, nak. Akan banyak ilmu yang kau gapai. Disana, kau akan dididik dan diajarkan mengenai ilmu- ilmu agama”, jelas ayah kepada Annisa. “ Ibu, gimana Bu, aku gak bisa mesantren aku takut, Bu.” Lirih Annisa kepada ibu. “lho, kok takut. Memangnya kamu takut kenapa?”, Tanya ibu. “Emang di pesantren ada hantu, Bu?” sambung Nita dengan polosnya, yang seketika memcah susasana dan mengundang gelak tawa. “ iya, de. Di pesantren banyak banget hantunya” jawab Farhan untuk menakut-nakuti Nita. “Ish...Farhan, gak boleh gitu, nanti Nita punya tanggapan yang salah tentang pesantren” ucap ayah. “hehehe, iya, yah. Maaf. Abis Nitamya sih nanyanya yang aneh aneh aja”. Jawab Farhan. “Tenang aja Annisa, di pesantren itu, seru kok. Selain kita dapat banyak ilmu, kita juga akan punya banyak teman dari berbagai daerah” terang ayah, kepada Annisa. “ ya udah, sekarang selesain dulu makan malamnya, ya “ ucap ibu kepada semuanya.

          Seselesainya makan malam, Annisa langsung menuju kamarnya. Dan seperti biasa, ia langsung menuangkan apa yang hari ini ia alami

Keikhlasan (bagian 2)

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia 

#Kelompok3 

#Day11

#Jumlahkata335

#GoldenGang

#KelompokGoldenGang

Ia mulai mengambil buku diarynya, dan.sebuah pena. Lalu, tangan Annisa mulai mengukir aksara diatas kertas yang menjadi bagian dari buku diarynya., dan langsung menuangkan apa yang ada dalam pikirannya. Ia bercerita, tentang apa yang diucapkan oleh ayahnya tadi, ketika makan malam. Annisa merasa takut, jika nanti ia harus melanjutkan pendidikanya jauh dari orang tua. Bukan karena Annisa anak yang manja, tapi karena Annisa berpikir, nanti jika ia sekolah di pesantren siapa yang akan membantu ibu setiap pagi, biaya untuk mesantren nanti, dan sebagainya. Ia takut, jika kelak ia akan mengecewakan kedua orang tuanya dan menambah beban bagi ibu dan ayahnya. Annisa terus memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi, jika ia melanjutkan sekolah di pesantren. Sehingga tanpa sadar, ia terlarut dalam mimpinya. Dengan posisi pena dan buku masih dihadapannya.

          Dipagi hari, tidak seperti biasanya ayah belum berangkat menuju ladang. “Yah, gak ke ladang hari ini?” tanya Annisa kepada ayah yang sedang di dapur. “Astqgfirullah, semalem ayah lupa, ya gak ngasih tau kamu, kalau hari ini kita akan silaturahmi ke pesantren milik teman ayah di Jawa” ujar ayah kepada Annisa. “ih, ayah mah, kok dadakan sih, yah” ucap Annisa dengan wajah sedikit cemberut. “Iya, maafin ayah ya, nak”. Kata ayah kepada Annisa. “ya udah, nis. Sekarang kamu siap siap gih, nanti ketinggalan bis” pinta ibu kepada Annisa. “ iya, Bu” jawab Annisa, dan langsung melangkahkan kaki menuju kamarnya untuk bersiap-siap.

          Ketika Annisa sedang dikamar, untuk bersiap-siap. Ibu berbincang-bincang dengan ayah tentang keputusan ayah untuk memasukan Annisa ke pesantren. “ yah, apa gak terlalu memaksakan, kalau Annisa kita masukan ke pesantren, sepertinya dia keberatan, yah” tanya ibu kepada ayah.” Enggak, kok bu. Kalau kita enggak mesantrenin Annisa sekarang, kapan lagi waktunya ia untuk mendalami ilmu agama, Bu. Nanti kita akan menjadi orang tua yang paling menyesal, jika membiarkan anak anak kita tumbuh dewasa dengan ilmu agama yang minim “ jelas ayah, kepada ibu. “tapi, yah. Ibu gak tega liat Annisa begitu” jawab ibu. “ Bismillah aja Bu, kita doakan yang terbaik buat Annisa”. Ucap ayah untuk meyakinkan ibu.

 

***

Keikhlasan (bagian 3)

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch35

#Kelompok3

#Jumlahkata338

#Day12

 

Tak lama kemudian, Annisa keluar dari kamarnya dan tampak sudah sangat rapi, dan siap untuk pergi bersama ayah. Lalu, ayah dan Annisa berpamitan kepada ibu, Farhan dan Nita. “ ayah sama kak Annisa pamit dulu, ya” ucap ayah kepada Nita. “ayah sama kak Annisa emangnya mau kemana ?” tanya Nita. “ mau ke sekolahnya kak Annisa, nanti” ujar ibu. “ ya udah, hati – hati ya, yah, nis.didalem tas itu, ada bekel takutnya di bis laper, dimakan ya, bekelnya” ucap ibu. “ iya, Bu” jawab Annisa. Lalu dua ojeg datang, untuk menjemput Annisa dan ayah ke terminal. “kita berangkat dulu, ya. Farhan, jaga ibu sama Nita, ya” pinta ayah kepada Farhan. “iya, yah”. Lalu Annisa dan ayah, pun bersalaman dengan ibu dan adik adiknya, dan langsung menunggangi ojek yang sudah dipesan ayah. Ketika motor itu berjalan, Nita langsung melambaikan tangannya kepada kepada ayah dan kakaknya. “ Ibu, ayah sama kak Annisa pulangnya kapan, Bu?” tanya Nita kepada ibu. “ laah, baru aja berangkat, udah ditanya kapan pulang” jawab ibu sambil tertawa tipis. “ lama gak, Bu?” sambung Farhan “ enggak, kok. Besok lusa juga sudah pulang lagi. Ya udah, Farhan sekarang bantuin ibu, ya buat ngangkatin dagangan ke depan, takut keburu banyak yang datang” pinta ibu, kepada Farhan. Dan Farhan langsung menuju dapur untuk mengangkat nasi dan lauk pauk lainnya, untuk disajikan di warung.

        Sesampainya di terminal, ayah dan Annisa langsung menaiki bis yang menuju ke arah Tuban, Jawa Timur. Ini, kali pertama bagi Annisa pergi ke luar kota. Dan ia merasa sangat bahabahagia rasa bahagia itu perlahan mengikis rasa takut Annisa yang mulanya enggan pergi ke pesantren. Sepanjang perjalanan Annisa mengarahkan matanya ke luar dari jendela bus. “ yah, ternyata gini, ya suasana di kota besar, banyak gedung-gedung tinggi, hampir semua orang punya mobil. Enak ya, yah jadi orang kota” ucap Annisa kepada ayah karena merasa kagum dengan suasana kota. “ iya, beginilah suasana kota. Tapi, percayalah apa yang kamu lihat ini, hanya sisi luar dari kota besar. Di dalam sana banyak orang-orang yang lebih tidak seberuntung kita.”

 

***

Keikhlasan ( bagian 4)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata 309

- Day13

 

“ maksudnya gimana, yah?” tanya Annisa “iya, jadi tidak semua orang kota itu hidup senang seperti apa yang kamu bayangkan, nak. Kamu tidak tahu u u sisi luar dari sebuah kota Masih banyak orang yang kelaparan, sulit mencari pekerjaan, dan sebagainya, justru hidup di kota itu terasa sangat sulit bagi orang-orang yang kecil”. Jelas ayah kepada Annisa. “ oh begitu, yah. aku baru tahu yah kalau ternyata di kota-kota besar ada orang-orang yang kesusahan.” Jawab Annisa. “di Indonesia ini, orang-orang susah itu banyak sekali Anisa maka dari itu kita harus memiliki ilmu, karena ilmu bisa mengangkat derajat kita.” Ucap ayah. “ iya, yah”. Seketika jawaban jawaban ayah menghapuskan pikiran Annisa betapa enaknya hidup sebagai orang kota. “nak, kamu lapar gak?” tanya ayah sambil membuka tas. “ enggak kok, yah” jawab Annisa, tak lama kemudian perut Annisa berbunyi, “tuh, kan. Mulut bisa bohong, tapi tidak dengan perut” jawab ayah sambil tertawa “ lain kali, kalau lapar, ya katakan lapar, gak usah bohong” kata ayah sambil menyodorkan bekal yang sudah disiapkan oleh ibu. “ iya, yah” jawab Annisa. Dan sesendok demi sesendok nasi pun mendarat di mulut Annisa. “ ayah mau makan gak?” tanya Annisa. “ayah udah makan, tadi pagi. Sekarang belum laper lagi. Kalau jawaban laki- laki selalu terus terang, tidak seperti perempuan” sindir ayah. “ hehehe” tawa Annisa menjawab ucapan ayah.

          Delapann jam berlalu, akhirnya ayah dan Annisa tiba di terminal di kota Tuban. Mereka pun turun dari bus. “yah, kita udah sampe?” tanya Annisa. “ belum, nak. Kita harus naik angkot dulu terus naik ojeg sekali lagi” jawab ayah. “ masih lama banget, ya yah” tanya Annisa yang merasa bingung dengan lokasi yang mereka tuju. “ Tuh angkotnya ada, yuk nak” ucap ayah sambil menggenggam berat tangan Annisa dan kardus ditangan lainnya. Sesudahnya mereka menaiki angkot, lalu ayah memesan dua ojeg untuk mengantarkannya menuju pesantren yang mereka tuju.

 

***

Keikhlasan ( bagian 5)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata345

- Day14

 

Tak lama kemudian, ojeg yang dipesan ayah pun datang dan langsung mengantarkan ayah dan Annisa ke pesantren milik teman ayah, tak butuh waktu lama cukup tujuh menit ayah dan Annisa sudah sampai di pesantren. Ketika Annisa mulai turun dari ojeg mata dan telinga Annisa langsung terpanah dengan pemandangan yang ia lihat, dan lantunan Al Quran yang terdengar sangat merdu dan menentramkan kalbu, yang terdengar dari speaker masjid. “ Masya Allah, yah. “ ucap Annisa masih dengan mata tercengang memandangi pesantren. Dari terbang pesantren. “ Indah, kan. Nak?” tanya ayah. “iya, yah” jawab Annisa. “ yuk kita masuk, dan kamu akan semakin terpesona jika melihatnya dari dalam” kata ayah. Lalu ayah dan Annisa pun mulai melangkahkan kaki mereka kedalam pesantren dan menuju rumah pimpinan pesantren yang menjadi teman ayah. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucap ayah didepan pintu rumah sederhana yang berada ditengah-tengah megahnya sebuah pesantren. “ Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Masya Allah, Man. Apa dari tadi kamu menunggu didepan pintu?” tanya teman ayah itu, sambil memeluk erat tubuh ayah, seperti pelepas sebuah kerinduan yang teramat mendalam. “ Enggak, kok. Tadz kami baru saja tiba disini” ucap ayah. “ ayo, ayo masuk dulu, kalian pasti sangat lelah setelah melalui perjalanan yang panjang” ucap teman ayah sambil merangkul ayah, dan mengajak mereka masuk ke dalam. “Silahkan duduk, diminum airnya, dan boleh dicicipi kue-kuenya, maaf ya, seadanya saja” sambung teman ayah itu. “ gak usah repot-repot, ustadz. Kita ini hanya tamu biasa, bukan orang-orang yang istimewa”. Jawab ayah dengan pentuh kerendahan hati. “ sejak kapan, toh. Kamu manggil saya ustadz?, Tak ada yang berubah, man. Panggil saja aku Ahmad, seperti masa-masa SMA kita dulu”. Ucap ustadz Ahmad kepada ayah dengan penuh canda. “ ya, Ndak enak, mad. Sekarang kamu udah jadi ustadz, kiyai. “ Jawab ayah. “ enggak, man kamu terlalu berlebih-lebihan, saya ini manusia yang masih fakir ilmu, pokoknya jangan panggil saya ustadz. Ini, anak mu yang mau masuk pesantren, iya, man?” tanya ustadz Ahmad kepada ayah sambil mengarahkan tangannya ke arah Annisa. “ Iya, mad. Ini anak pertamaku. Namanya Annisa, dia yang akan menimba ilmu disini, nanti.” Jawab ayah.

 

***

Keikhlasan ( bagian 6)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata329

- Day15

 

“ Masya Allah, semoga nanti di berikan keistiqomahan dan kemudahan dalam menuntut ilmu ya, nak” ucap ustadz Ahmad kepada Annisa. “ Aamiin” jawab Annisa dan ayah. “ ya udah pasti kalian capek, kan titik mat nanti kamu tidur di sini sudah aku siapkan kamar untukmu titik Buat Anisa, nanti akan ada santriwati yang mengajak Anisa buat istirahat di asrama putri, ya”. Kata ustadz Ahmad. “ makasih banyak, mad. Maaf kedatangan kami ini terlalu merepotkan” ujar ayah. “ ya endak, toh. Malah aku seneng banget bisa jumpa dengan kawan lamaku”. Ucap ustadz Ahmad menepis ucapan ayah.

          Tak lama kemudian, ada dua orang santriwati yang datang ke rumah ustadz Ahmad untuk mengajak Annisa ke asrama untuk bersih-bersih dan beristirahat. “assalamu’alaikum”, ucap kedua santriwati itu. “ wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, ukhti nanti tolong diajak ya, Ini Annisa Putri sahabat abi, sekalian sedikit demi sedikit diperkenalkan tentang kehidupan di pesantren”, ucap ustadz Ahmad kepada kedua santriwatinya itu. “ na’am, bi. “ ( na’am artinya “iya” dalam bahasa Arab).

          Sambil berjalan menuju asrama, kedua santriwati itu, dengan ramah dan nada lembut menjelaskan perlahan-lahan kepada Annisa tentang aktivitas di pesantren itu. Sehingga, membuat Annisa merasa tertarik dan tak lagi ragu untuk menimba ilmu di pesantren ini. Sesampainya di Asrama, Annisa di arahkan ke sebuah ranjang kayu, “ini tempat tidur Annisa, ya. Kamar mandinya ada di belakang. Kalau ada apa-apa bilang ke teteh aja, ya. Jangan sungkan-sungkan”. Ucap salah satu santriwati yang mengantar Annisa tadi “iya, teh. Makasih banyak” jawab Annisa. Lalu Annisa pun meletakkan tas nya disamping kasur, dan segera ke kamar mandi untuk bersih-bersih badan, karena sebentar lagi adzan Maghrib akan berkumandang.

          Setelah selesai bersih-bersih, lima belas menit sebelum adzan Maghrib berkumandang para santri sudah diinstruksikan untuk pergi ke masjid oleh seseorang yang tampak di depan asrama sambil menghitungi para santriwati untuk meninggalkan kamar dan pergi menuju masjid. “ Wahid, isnain” terdengar lantang suara seorang santriwati didepan asrama sambil mengacungkan jarinya. Dan, Annisa pun, ikut pergi ke masjid bersama santriwati yang lain untuk sholat berjama’ah.

 

***

Keikhlasan (bagian 7)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata310

- Day16

 

Suasana petang itu, terasa sangat tentram. Dari masjid sudah terdengar lantunan sholawat, dan para santri yang berduyun-duyun menuju masjid, pemandangan itu sanyat menyejukkan mata dan menentramkan kalbu, rasanya susasana dipesantren sangat jauh dari kegaduhan. Seusai nya melaksanakan salat Maghrib berjamaah Anisa mengikuti kegiatan santriwati di masjid itu, yaitu mengaji Alquran dengan para murobbi, yang sudah dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok didampingi oleh seorang ustadzah. Mereka mengaji hingga waktu isya datang.

          Sesudahnya salat isya berjamaah, para santri pun kembali ke asramanya masing-masing dan Anisa bersiap-siap untuk istirahat. Namun, Annisa heran mengapa santriwati yang lain justru bersiap-siap mengenakkan jubah dengan rapi, sambil tergesa-gesa. “ Teh, pada mau kemana, kok pada siap-siap?” tanya Annisa, heran. “ ini, dek. Abis sholat isya, kita lanjut kegiatan ngaji kitab sampe jam sepuluh” jawab salah satu santriwati yang lemarinya berada disamping kasur yang Annisa tempati. “ ya ampun, terus kapan tidurnya?” tanya Annisa. “ nah, setelah ngaji kitab, jam sepuluh kita harus setoran hafalan mufrodat, abis itu baru tidur. Sekitar jam setengah sebelasan lah” jawabnya. Lalu Annisa pun ikut bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan mengaji kitab. “ Annisa, kalau capek gapapa, gak ikut juga, istirahat aja”. Ucapnya. “ Ya udah, Annisa gak ikut dulu ya, teh” jawab Annisa sambil melebarkan senyumnya. “ iya, gapapa, ya udah teteh berangkat dulu, ya” pamit santriwati itu, yang Annisa belum tau siapa namanya.

          “tong...tong...tong..” suara Kentungan terdengar nyaring dari depan asrama, dan ternyata itu adalah pengurus yang sedang memukul Kentungan untuk membangunkan para santri, dan para santri pun langsung terbangun dari dari tidurnya dan mulai beranjak dari tempat tidur, dan dengan tergesa-gesa mereka langsung berjalan menuju kamar mandi dengan membawa peralatan mandi. Tampak antrian yang lumayan panjang terbentuk di kamar mandi, dengan mata yang yang sayup-sayup, menahan rasa kantuk yang masih melekat, mereka tetap berada dalam barisan antrian untuk mandi. Tidak jarang ketika mereka mengantri mereka tertidur di kamar mandi.

 

 

***

Keikhlasan (bagian 8)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata327

- Day17

 

Setelah lama menunggu, tibalah giliran Annisa untuk masuk ke kamar mandi, lalu sesudahnya mandi dan mengenakan pakaian yang rapi, Annisa menghampiri ayah, di rumah pimpinan pesantren. Hari ini, ayah dan Annisa harus pulang ke kampung. Karena banyak pekerjaan yang harus ayah lakukan di ladang, karena ayah juga memiliki amanah sebagai kepala tani di desa. “Makasih banyak, ya man. Maaf kedatangan kami hanya merepotkan kamu dan keluarga” ucap ayah kepada ustadz Ahmad yang sudah ada ikut mengantarkan ayah dan Annisa ke depan pintu gerbang pesantren. “ tidak sama sekali, man, malah saya sangat senang bisa dikunjungi oleh shohib karib saya, ketika masa SMA” jawab ustadz Ahmad. Tak lama kemudian, dua ojeg datang untuk mengantarkan Annisa dan ayah, tak lupa Annisa pamit dan bersalaman kepada ustadz Ahmad, begitu pula dengan ayah. “ini man, dibawa, ya” kata ustadz Ahmad sambil menyodorkan kardus yang sudah terikat tapi ke tangan ayah, “ gak usah, mad. Saya malu, datang kesini tak membawa apa-apa” ucap ayah menolak pemberian ustadz Ahmad. “ tidak apa-apa, terimalah, man. Ini bukan apa-apa, gak boleh lho nolak rezeki, wajik buatan istrimu yang kemarin kamu bawa juga rasanya enak banget.” Ucap ustadz Ahmad. “ aku terima ya, mad. Terima kasih banyak saya ucapkan sekali lagi”. Ucap ayah yang sangat berterima kasih kepada ustadz Ahmad atas segala kebaikannya.

          Akhirnya, pesantren itu sudah lepas dari jarak pandang ayah dan Annisa. Semalam yang begitu berkesan bagi Annisa, dan membuatnya yakin untuk masuk pesantren, dan mengenal lebih dalam akan ilmu-ilmu Allah SWT. Sesudahnya naik ojeg, dan angkot. Tibalah mereka di sebuah terminal, dan langsung menaiki bis menuju arah rumahnya. Seperti sebelumnya saat berangkat, Anisa selalu memandangi ke kaca bis untuk melihat jalan yang dilalui. Tiba-tiba bau gosong terhirup oleh Indra penciuman Annisa. “ yah, ayah nyium bau gosong gak, yah? “ tanya Annisa untuk memastikan.” Bau gosong apa, enggak ah, ayah gak nyium apa-apa” jawab ayah menyangkal pernyataan Annisa. Namun Annisa merasa yakin kalau ia mencium bau gosong itu, yang asalnya entah dari mana. 

 

***

Keikhlasan (bagian 9)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata323

- Day18

 

“Ah, tapi ya sudahlah. Mungkin aku penciumanku yang sedikit bermasalah” ujar Annisa dalam hati. Lalu Annisa pun kembali mengarahkan Indra penglihatannya ke arah kaca bus, yang kini sedang melewati perbatasan Jawa timur. Ketika Annisa menoleh ia mendapati ayah sedang menguyah sesuatu. “ ayah makan apa?, makannya diem-diem aja” tanya Annisa. “ini nak, namanya brem. Makanan khas Jawa. Rasanya enak banget, manis manis kecut gitu, terus pas masuk mulut tuh, rasanya nyess banget. Nih coba” ucap ayah sambil menyodorkan kotak kecil yang berisi makanan yang bernama brem itu. Annisa yang merasa heran dan penasaran, langsung menyuapkan makanan itu ke mulutnya. “ Iya, yah. Enak” jawab Annisa sambil tersenyum dan terus menyuapkan brem ke mulutnya. Namun, Tiba-tiba Annisa kembali menyium bau gaosong itu, dan sekarang baunya semakin menyengat, kali ini Annisa merasa yakin jika apa yang diciumnya itu benar. “yah, bau gosong nya ada lagi.” Ujar Annisa, yakin kepada kepada ayah. Dengan rasa sedikit cemas. “ iya, nak. Sekarang ayah juga mencium bau gosong itu” ucap ayah. Dan ternyata semua penumpang juga merasakan yang sama. “ Pak supir, kenapa ini? Ada apa? Kok bau gosong nyengat gini?” tanya para penumpang kepada pak supir. Tampak pak supir sedang berbisik kepada keneknya. “pak supir, kenapa?” tanya penumpang semakin cemas. “ tenang ibu-ibu, bapak-bapak. Kita sama-sama berdoa, ya. “ ucap pak kenek yang berusaha menenangkan para penumpang. “ iya, tapi kenapa pak?” tanya penumpang yang justru semakin panik. “ rem bis ini terbakar, Bu” jawab kenek, terus terang dengan nada berat. Situasi didalam bus semakin tak terkendali, semua orang panik, cemas dan tak sedikit ada ibu-ibu yang histeris. “bapak-bapak, ibu-ibu semuanya. Kita tenang, ya. Yuk kita sama-sama beristighfar dan meminta pertolongan kepada Allah SWT. Jika kita cemas maka nanti pak supir lebih cemas “ ucap ayah, untuk mencoba mengendalikan suasana didalam bus. Akhirnya, para penumpang pun, lebih sedikit tenang. “ayah, gimana yah, Annisa takut” acap Annisa sambil memegang erat lengan ayah. “tenang, nak. Kita pasrahkan semuanya kepada Allah.” 

 

***

Keikhlasan (Bagian 10)

0 0

#SarkatKMOIndonesia

#KMOClubBatch35

#Kelompok3

#Day19

#Jumlahkata315

#GoldenGang

Annisa pun, berusaha untuk tetap tenang. Sedangkan bus yang mereka naiki melaju kian cepat dan tak dapat dikendalikan, karena situasi jalan yang menurun dan berkelok-kelok.

Semua penumpang sangat histeris mereka sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, hingga tiba-tiba “ bruk....” terdengar sangat keras suara bus yang menabrak sebuah pohon besar dan menghentikan laju bus yang dinaiki Annisa dan ayah. Lalu Bus itu pun, terguling kebawah. Dan tak lama kemudian, mobila polisi dan beberapa ambulance datang ke tempat itu untuk mengevakuasi para penumpang yang ada di dalam bus. Suara tangis jeritan terdengar jelas dari dalam bus itu. Dengan sigap para polisi langsung mengevakuasi satu-persatu penumpang dari dalam bus, dan warga sekitar pun ikut membantu polisi untuk mengeluarkan para penumpang dari dalam bus. Satu persatu penumpang dapat dikeluarkan dari dalam dengan kondisi bermacam-macam. Tiga puluh sembilam penumpang dari empat puluh dua penumpang berhasil dikeluarkan dari dalam bus.

          “ tolong....tolong...” terdengar lirih suara seorang wanita minta tolong dari dari bus bagian belakang. Dan suara itu membuat warga yang ada di tempat menghampiri suara itu dan berusaha mencarinya. Ternyata suara itu adalah suara dari seorang gadis yang badannya terjepit oleh bangku-bangku bus. Ya, gadis itu adalah Annisa. “ sabar mba, kita akan mengeluarkan mba dari sini.” Ucap salah seorang petugas, yang langsung dengan sigap mengambil alat berat untuk memindahkan kursi- kursi yang menimpa badan Annisa. Segala upaya telah dilakukan oleh para petugas, dan setelah tiga puluh menit, akhirnya Annisa bisa dikeluarkan dari dalam bus, dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat bersama dengan korban lainnya.

           “prak...” suara gelas pecah yang jatuh dari genggaman tangan ibu. “ kenapa, Bu?” tanya Farhan yang langsung menghampiri ibu dari teras rumah. “Annisa...ayah...” ucap ibu dengan pandanga kosong. “Ayah sama kak Nisa, kenapa Bu? “ tanya Farhan sedikit cemas. “ibu kepikiran ayah sama kakak kamu, Han” ucap ibu. “ya udah Bu. Kita telepon aja ayah, biar bisa mastiim keadaan ayah sama kak Nisa.

 

 

***

Keikhlasan (Bagian 11)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata308

- Day20

 

Farhan langsung mencari handphone milik ibunya itu, dan memberikannya kepada ibu agar sesegera mungkin untuk menghubungi ayah, “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi” terdengar suara operator dari handphone ibu. Ibu semakin cemas dan rasa khawatirnya kian membesar, Farhan mencoba menenangkan ibu dan mencari solusi lain. “bu, kita coba telephon aja, temen ayah yang punya pesantren itu, kita tanyakan apakah ayah sama kak Nisa udah berangkat dari sana buat pulang” saran Farhan. Dengan cepat ibu langsung menghubungi nomor telepon ustadz Ahmad.

“halo, Assalamualaikum, ustadz. “

 

“wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, iya ibu. Mohon maaf sebelumnya ini dengan siapa?”

 

“ Ini ustadz saya Jamilah, istrinya Pak Sulaiman”

“Oh, iya Bu. Ada apa?”

 

“ maaf pak ustadz, sebelumnya saya ingin menanyakan keberadaan suami dan anak saya, pak. Karena dari tadi saya coba telepon nomor handphonenya, tapi tidak aktif terus.”

 

“ Oh....Pak Sulaiman dan Annisa, bu. Tadi pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit pak Sulaiman dan Anisa sudah berangkat dari sini menuju perjalanan pulang, Bu.”

 

“ Baik, ustadz. Terima kasih banyak, mohon maaf sudah mengganggu waktunya, wassalamu’alaikum” salam ibu, belum sempat dibalas oleh ustadz Ahmad, ibu langsung menekan tombol merah dan mengakhiri telepon nya. Karena ibu semakin cemas. “ ya Allah...Han, dimana sekarang ayah sama kakakmu, Han?. Perasaan ibu makin gak enak.”

Ucap ibu, sambil duduk di kursi meja makan, dan mencoba menenangkan diri dan berdoa memohon kepada Allah, agar Ayah dan Annisa dalam keadaan baik-baik saja. Nita yang awalnya, tertidur pulas di kamar , terbangun karena mendengar suara ibu dan Farhan, dan mencari keberadaan ibu.

“Ibu..., Ibu..” terdengar suara Nita yang baru bangun dan mencari ibunya. “ Sini, nak. Ibu di dapur sama kak Farhan”. Ucap ibu. Nita langsung melangkahkan kakinya menuju arah suara ibu berada. Ibu menghampiri Nita, dan mendudukkan tubuhnya yang mungil itu diatas pangkuannya. Tiba-tiba, handphone ibu berdering, ada telepon masuk dari nomor yang tak dikenal.

 

***

Keikhlasan (Bagian 12)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata336

- Day21

 

Dan ibu pun, menerima panggilan itu “ibu....” terdengar suara Annisa dari panggilan itu, memanggil ibu dengan tangis yang tersedu-sedu. “Annisa, nak. Kamu kenapa? Kamu dimana?” tanya ibu, dengan cemas. “ ibu, bus yang kami tumpangi mengalami kecelakaan parah, Bu. Sekarang yang aku lagi ada di rumah sakit, Bu” jawab Annisa. Dan jawaban Annisa membuat ibu tercengang dan histeris sejadi-jadinya, hingga ibu tak sadarkan diri, belum sempat Annisa berbicara banyak, handphone ibu sudah tidak aktif. Nita yang dipangkuan ibu pun ikut menangis, seolah-olah dia tahu apa yang sedang ibu rasakan. Farhan yang paling tegar kala itu, ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ia merasa khawatir dengan keadaan ayah dan kakaknya itu, ia ingin mencari tahu keberadaan ayah dan kakaknya, namun ia juga tak bisa meninggalkan ibu dan adiknya dalam keadaan seperti ini. “Sini, dek” ucap Farhan kepada Nita, yang masih dalam pangkuan ibu yang belum sadarkan diri, dan menggendong Nita. “kakak, kok ibu abis nangis tidur?” tanya Nita kepada farhan dengan polosnya, “ dek, ibu bukan tidur, tapi pingsan karena kaget” jawab Farhan yang berusaha memberi tahu kepada Nita. “ oh, pingsan, kak” . Jawab Nita, seolah ia sudah mengerti. “tunggu disini dulu, ya Nita. Kakak mau ngambil minyak kayu putih dulu” pinta farham kepada Nita. Tak lama kemudian, akhirnya Farhan menemukaninyak kayu putih dan mencoba mengirimkan aromanya ke arah hidung ibu, dan tak lama setelah itu akhirnya, ibu tersadar. Dan langsung meraih handphone yang ada di atas meja. Lalu menghubungi nomor yang sebelumnya menghubungi ibu. “ Hallo, selamat siang, dengan rumah sakit indah kencana, Ngawi” jawab seorang petugas tunas sakit. “ Bu, mana Annisa anak saya yang tadi menghubungi saya, saya mau bicara Sam dia”. Tanya ibu “mohon maaf Bu, tadi yang memakai fasilitas telepon rumah sakit banyak, Bu. Jadi saya tidak mengetahui satu persatu. Apakah ibu keluarga korban?” tanya petugas itu. “ iya, Bu anak dan suami saya adalah korban dari kecalakaan bus itu” jawab ibu. “ sebaiknya ibu, datang kesini Bu.” Pinta petugas rumah sakit dan memberikan alamat lengkap rumah sakit itu.

 

***

Keikhlasan ( Bagian 13)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata477

- Day22

 

Sesegera mungkin ini siap-siap dan berangkat kenrumah sakit itu, untuk memastikan keadaan Ayah dan Annisa, “Farhan, nak. Tolong jagain Nita, ya. Ibu pergi dulu” pinta ibu kepada Farhan, Nita yang menangis sejadi-jadinya karena ingin ikut dengan ibu, namun dengan berat ibu tetap pergi tanpa membawa Nita, sepanjang perjalanan ibu sangat gelisah, fikirannya kalut berfikir berlebihan, ibu mencoba bersamai dan menenangkan diri sendiri dan meyakinkan diri untuk berfikir bahwa tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada suami yang begitu ia cintai dan putrinya itu. Hujan yang turun pada hari itu, seakan langit ikut menangis dengan ibu, mencoba tegar, namun tetap saja kesedihan ibu tak dapat dipungkiri.

            Perjalanan selama delapan jam telah ibu lewati, dan ibu turun dari bus lalu, menaiki ojeg untuk memintanya mengantarkan ke rumah sakit tempat ayah dan Annisa dirawat. “Cepetan, mas” pinta ibu kepada pengemudi ojeg yang ibu tunggangi, “iya, Bu. Ini udah cepet, kok. Apa ibu keluarga korban kecelakaan yang dirawat di rumah sakit Indah Kencana?” tanya pemngemudi ojeg kepada ibu, “ iya pak, betul. Saya keluarga salah satu korban kecelakaan bus itu. Bapak tau?” tanya ibu penasaran. “ Iya, Bu tadi pagi sekitar jam sepuluh, bus itu terjun ke jurang, karena remnya blong. Semoga keluarga ibu. Baik- baik aja ya, Bu. “ ucap pengemudi ojeg itu. “aamiin..” jawab ibu. Akhirnya, ibu sampai di rumah sakit Indah Kencana, ibu langsung berlari menuju bagian informasi dan menanyakan kepada petugas tentang keberadaan Annisa dan ayah. Kemudian salah satu petugas dari rumah sakit Indah Kencana itu, mengantarkan Ibu menuju ruangan di mana tempat para korban kecelakaan itu dirawat. Dalam ruangan itu terdapat banyak korban kecelakaan dengan berbagai keadaan yang sangat menyedihkan. Pemandangan itu, menambah rasa sedih ibu, ketika mencari Annisa dan ayah. “ibu....” terdengar teriakan suara gadis perempuan, ya ,suara itu suara adalah suara anak gadisnya, Annisa. Ibu langsung menoleh dan menghampiri Annisa, tangis ibu pecah ketika tubuh Annisa berlabuh di pelukan ibu.

“ Gimana, nak. Apa yang sakit nak?” tanya ibu.

 

“Alhamdulillah, Bu , Nisa gapapa. Tapi..”

 

“ tapi, kenapa nis?”

 

“ayah...Bu....” jawab Annisa dengan tangisan yang mendalam.

 

“Ayah kenapa?, dimana sekarang ayahmu?”

 

“ ayah udah gak ada, Bu....” jawab Annisa berat,

 

“Gak, gak mungkin Annisa, jawab ibu nak, dimana ayah sekarang?” ujar ibu tak percaya dengan ucapan Annisa.

 

“ iya, Bu. Ayah...udah dipanggil sama Allah”

 

“ Enggak, nis...enggak..ibu gak percaya” ucap ibu, masih belum menerima kenyataan bahwa ayah telah tiada. Lalu Annisa mengantar ibu ke sebuah ruangan dimana ayah berada. “ kenapa kamu ngajak ibu, ke ruang jenazah, Nis?” tanya ibu. Annisa tidak menjawab dan melanjutkan untuk masuk ke ruangan itu dan menuju ke salah satu tempat tidur “ ini ayah, Bu...” ucap Annisa dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Dibukalah, selembar kain putih yang menutupi jasad yang Annisa sebut ayah itu, “ ayah.....kenapa..yah, kenapa ayah tinggalin ibu? “ ucap ibu histeris, Taku kuasa menahan kesedihan, dan membuat ibu tak sadarkan diri.

Keikhlasan (Bagian 14)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata311

- Day23

 

"Ibu....” ucapan Annisa yang berusaha untuk menyadarkan ibu. Annisa tak kuasa melihat semua ini, apa yang dialaminya hari ini seperti mimpi buruk yang sangat menakutkan, namun itu bukan mimpi tapi sebuah kenyataan yang benar-benar hadir pada hari ini. Tak lama kemudian para petugas rumah sakit membantu Annisa untuk menangani ibu yang tidak sadarkan diri, karena Ibu merasa shok dan sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada hari ini, Ibu masih tidak percaya jika apa yang dilihatnya itu benar-benar nyata.

            Keadaan Anisa sudah semakin membaik, karena luka yang Anisa alami tidak begitu berat hanya kakinya saja yang terhimpit oleh bangku-bangku bus. kemudian pada pukul sebelas malam, pihak rumah sakit mengantarkan jenazah Ayah Anisa ke kampung halamannya dengan ambulace. Annisa dan Ibu ikut pulang dengan ambulance itu menemani jenazah Ayah yang terbujur kaku aku yang ditutup dengan selembar kain. Rasanya, air mata Anisa dan Ibu seperti sudah habis untuk menangisi semua apa yang terjadi pada hari ini. Tidak ada kata lain selain mengikhlaskan apa yang terjadi, karena Tuhan tahu apa yang terbaik.

           “ tiuu....tiuu...Tiu...” pukul tujuh pagi, suara ambulance sudah terdengar keseluruh penjuru kampun halaman Annisa, hingga akhirnya sampai di pelataran rumah Annisa. Farhan yang ketika itu sedang menyuapi Nita di dapur, merasa terkejut dan langsung berlari ke depan rumah untuk melihat apa yang terjadi, tidak hanya Farhan yang merasa terkejut warga sekitar pun langsung menghampiri ambulance danita yang berada di gendongan Farhan. Ambulans kemudian terbuka dan turunlah Annisa dan ibu, disusul dengan petugas yang menurunkan blangkar yang membawa jenazah ayah, “ayaaah......” teriak Farhan dan menghampiri blankar itu, tubuh ayah dipeluknya dengan erat. “ayah...kenapa ayah tinggalin Farhan?, Bangun yah, banguun” ucap Farhan berbicara kepada Ayah yang sudah tidak bernafas lagi. Seorang anak laki-laki yang kuat dan tegas, kini menangis sejadi-jadinya dihadapan tubuh ayah yang sudah terkubur kaku. “sudah, Han. Ikhlaskan ayah. Kasian ayah,” pinta Annisa kepada Farhan untuk mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi.

Lembaran baru

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata314

- Day24

 

Setelahnya Ayah dikebumikan, Annisa, Farhan, ibu dan Nita harus benar-benar mengikhlaskan dan menerima apa yang telah terjadi. Dan harus berusaha bisa hidup tanpa Ayah titik padahal, Ayah yang meminta kepada Anisa untuk melanjutkan sekolah ke pesantren namun, mengapa ketika Anisa sudah yakin untuk mengikuti apa yang diperintahkan oleh ayah, justru Ayah pergi meninggalkan Annisa.

          Suasana rumah terasa sangat sepi tanpa kehadiran sosok ayah. “ibu, Ayah kok pergi Bu? Ayah kapan pulang Bu?” tanya Nita, yang masih belum mengerti tentang arti sebuah kematian. Pertanyaan kita membuat hati ibu Anisa dan Farhan kembali remuk. dengan hati yang berat dan keadaan yang sedih, perlahan-lahan Ibu menjelaskan kepada Anita bahwa ayahnya itu itu sudah pergi dan tak akan pernah kembali lagi.” Nita, sayang.

 dengerin Ibu ya, nak. Ayah sekarang sudah tenang di sisi Allah, sekarang Ayah udah pulang ke Allah dan ayah nggak akan pulang ke sini lagi” jelas ibu kepada Nita

 “tapi Bu, kenapa Allah panggil Ayah? "Tanya Nita kepada ibu. "Karena Allah sayang sama ayah, sekarang Nita doain ayah ya ya semoga ayah tenang di sana dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah" ucap ibu. “iya Bu Nita bakal doain ayah selalu biar ayah ada di surganya Allah”.

          Seperti malam-malam biasanya, sebelum Annisa tidur Anisa selalu lu membuat diary apa yang telah ia alami di buku kesayangannya. Malam ini Anisa menulis dengan air mata yang pecah dari kelopak matanya. Iya tak kuasa menahan air mata turun dari matanya, dalam kejadian itu Anisa merasa bahwa apa yang terjadi pada ayah itu salah satunya adalah karena ia tak bisa melindungi ayah, ia bertanya pada Tuhan. ya Allah kenapa engkau ambil nyawa ayahku tanda tanya, kenapa engkau tidak mengambil nyawaku saja ya Allah? Sosok ayah sangat berarti bagi banyak orang, bagaimana kehidupan kami tanpa ayah, ya Allah curhatan Annisa dibuku diary miliknya. Ia berkeluh kesah sampai ia lupa bahwa masih ada Allah yang memberi kecukupan dan mengatur segalanya.

Lembaran baru (Bagian 2)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata315

- Day25

 

Seperti biasa, rutinitas di pagi hari Anisa adalah membantu ibu untuk berjualan nasi uduk di warung sederhana miliknya, ibu harus tetap berjualan walaupun duka masih menyelimuti rumah Annisa, karena untuk menmenyiapkan keperluan sekolah Annisa yang tidak sedikit, terlebih sekarang ayah sudah tidak ada jadi ibu harus benar-benar bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

“Bu, kenapa kita tidak libur dulu Bu untuk berdagang hari ini? "Tanya Annisa.

 

“Enggak, nak. Ibu harus tetap berjualan supaya ya bisa mencukupi kebutuhan keluarga, nak. Nanti uangnya untuk menyiapkan kamu masuk pesantren “.

 

"Jika Ibu merasa keberatan dengan biayanya, Annisa gak mau masuk pesantren, Bu. Annisa mau kerja buat bantu ibu” ucap Annisa kepada ibu. Karena ia takut jika ia masuk pesantren justru akan menambah beban bagi ibu.

 

“ Nggak, nak. Apapun keadaannya kamu harus tetap masuk pesantren, nak. Karena itu sudah amanah dari almarhum Ayah kamu”

 

“tapi Bu...”

 

“gak ada tapi- tapi, nak. Kamu harus percaya bahwa Allah maha memberikan rezeki”

 Ibu berusaha meyakinkan Anisa, agar tidak meragukan rezeki dari Allah.

 

Perkataan yang diucapkan oleh ibu membuat Anisa terdiam dan dilanda dilema yang begitu mendalam, ia bingung mung harus bagaimana kedepannya. Di sisi lain ia juga ingin melanjutkan sekolah di pesantren, tapi Annisa kasihan dengan keadaan ibu sekarang, yang harus banting tulang sendirian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. sempat terlintas dalam pikiran Anisa untuk tidak melanjutkan pendidikannya dan ia ingin kerja bersama rekan yang lainnya karena ia ingin membantu ibu.

          Ketika Anisa dilanda bingung, ia teringat oleh kata-kata yang selalu diucapkan oleh ayahnya. ayahnyaajukanlah curhatlah kepada sang pemilik semesta, karena Allah tahu apa yang sedang kita rasakan, dan Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambaNya diluar batas kemampuan hambanya “. Dalam salat Dhuha, Annisa mencurahkan semua isi hatinya kepada sang pencipta agar diberikan petunjuk bagaimana ia harus melangkah ke depannya. Di atas sajadah Anisa tersimpuh mengangkat sepuluh jari dan menghaturkan Nya kepada sang kuasa dengan air mata yang tak bisa ditahan.

Lembaran baru (Bagian 3)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata354

- Day26

 

Annisa meminta agar Allah memberikan petunjuk. Langkah apa yang harus Annisa pilih, karena Annisa yakin pilihan Allah itu lebih baik daripada pilihannya. Setelahnya Anisa menyelesaikan salat duha dan berkeluh kesah kepada yang mahakuasa, Anisa ke depan untuk membantu ibu membereskan barang-barang, seusai nya Ibu berjualan, begitu pula dengan Nita dan Farhan. Mereka adalah anak-anak yang baik yang selalu membantu orang tuanya. Tak pernah mereka menyakiti perasaan orang tuanya nya, dari kecil mereka selalu diajarkan oleh orang tuanya untuk selalu bersikap sopan santun kepada siapapun dan mereka selalu membantu siapapun yang membutuhkan bantuan.

           “Tok tok, assalamualaikum...” terdengar ramai orang yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam di depan rumah Annisa. “Cepat nak, buka pintu lihat siapa yang datang!” ucap ibu masih dengan baskom yang ada di kedua tangannya. “ baik, Bu. Amnisa ke depan dulu ya” ucap Annisa yang kemudian meletakkan piring-piring di tangannya ke meja, lalu menghampiri pintu depan untuk membuka dan melihat siapa yang datang. “Annisa....” suara mereka yang langsung menyambut dan memeluk Annisa seketika Anisa membuka pintu, yah, mereka adalah sahabat – sahabat Annisa. Mereka datang untuk bertakziah dan ingin memberikan support kepada Anmisa agar Annisa tidak berlarut-larut dalam kesedihan. “ oh....temen-temen Annisa, masuk nak. Sini” ucap ibu yang menghampiri ke ruang tamu untuk melihat Siapa yang datang karena Ibu mendengar suara yang begitu ramai. “ambil tiker, nak. Sama air minum buat kawan-kawan mu” cinta ibu kepada Annisa. Lalu Anisa pun segera mengambil tikar dan menggelarkan nya untuk sahabat-sahabatnya. Lalu merekapun duduk dan mengucapkan bela sungkawa mereka atas meninggalnya ayah Annisa. Disitu Anisa menceritakan kronologi kejadiannya nya, sambil bercerita Anisa tak kuasa menahan air mata. Kemudian sahabat-sahabatnya pun merangkul Annisa dan menguatkan Annisa serta meyakinkan Annisa bahwa ia bisa melalui semuanya. Tak terasa adzan Dzuhur pun berkumandang, kemudian sahabat-sahabat Annisa pamit untuk pulang. Sebelum mereka pulang Anhar mengeluarkan plastik hitam dan memberikan amplop kepada Anisa. “ini nis, dari sahabat-sahabat kita diterima ya” ucapan Anhar kepada Annisa “makasih banyak ya teman-teman semua, sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke sini, aku bahagia punya sahabat sahabat terbaik seperti kalian yang selalu men-support aku dalam keadaan apapun” ucapan Annisa. “Iya, nis. Sama-sama. Yang tabah ya Nis” ucap Amira.

Lembaran baru (Bagian 4)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata320

- Day27

 

Kedatangan sahabat-sahabat Anisa kerumah, membuat Annisa merasa bahwa banyak yang mensuport dirinya dan membuktikan bahwa banyak orang yang menyayangi Annisa. Keberadaan orang-orang terdekat memang sangat diperlukan dikala waktu sulit, seperti yang di alami oleh Annisa saat ini. Anisa merasa sangat bersyukur karena Allah telah menganugerahkan orang-orang yang baik di sekitarnya.

             Sesudah melaksanakannya salat dzuhur, Ibu mengajak Farhan untuk pergi ke ladang menggantikan pekerjaan ayah yang biasanya dikerjakan di pagi hari oleh ayah dan Farhan jika Farhan sedang libur sekolah. “ Nisa, ibu dengan Farhan akan ke ladang dulu ya, tolong jaga Nita kalau Nita sudah bangun ajak dia makan karena dia belum makan dari pagi” pinta ibu kepada Annisa. “Baik, Bu. “ jawab Annisa. Di bawah panasnya terik matahari Ibu dan Farhan pergi menuju ladang dengan menggunakan dudukuy (Dudukuy adalah topi yang lebar, yang biasa digunakan masyarakat suku Sunda di Banten ketika pergi ke sawah atau ke ladang).

             Sekarang peran Ibu menjadi double, ia harus menjadi seorang ibu yang merawat ketiga anaknya seorang diri dan memiliki kewajiban mencari nafkah menggantikan Ayah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. rasa ingin bekerja untuk membantu ibu kembali terngiang dalam pikiran Annisa, rasanya ia tak tega melihat ibu jika seorang diri harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Annisa ingin membantu ibu untuk meringankan bebannya. “ibu....” suara Mita terdengar dari kamar dan membuyarkan pikiran Anisa titik kemudian Anisa segera menghampiri Nita ke kamar. “ udah bangun dek? "Tanya Anisa kepada Nita. “Ibu ke mana, Kak? “Tanya Nita yang selalu mencari ibu. “ibu lagi ke ladang dek sama kak Farhan” jawab Annisa. “yuk, sekarang makan dulu” ajak Annisa kepada adik mungilnya itu, dan menuntunnya ke dapur. Di atas meja makan ibu telah menyiapkan makanan untuk Nita. dan Annisa pun menyuapkan sesendok demi sesendok makanan itu ke mulut Nita. “gimana, enak kan...?” tanya Annisa. “ emmmm....enak banget kak, “ jawab Nita yang makan dengan begitu lahapnya, entah karena ia menyukai makanan itu atau karena ia begitu lapar.

 

 

***

Lembaran baru (Bagian 5)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata342

- Day28

 

Kemudian, sesudahnya Annisa memberi makan Nita. Anisa mengajak Nita untuk melaksanakan salat Dzuhur. Dari kecil Nita sudah diajarkan bagaimana tata cara beribadah yang baik mulai dari wudhu, shalat dan membaca Al Quran dan karena ia juga sering terbiasa melihat keluarganya melakukan hal itu titik jadi tidak heran jika Nita yang baru berusia empat tahun, namun ia sudah begitu pandai.

          Setelahnya salam dari shalat, Mita langsung menengadahkan sepuluh jari ke langit dan berdo’a. “ya Allah... Nita sayang Ayah, tolong jaga Ayah ya Allah semoga Ayah ada di surganya Allah. “ terdengar doa Nita ditelinga Annisa, dan membuat hati Annisa kembali tersenyum mengingat sosok ayahnya itu.

          “tok...tok tok... Assalamualaikum...” terdengar seeeoramg yang mengetuk pintu dari luar. Kemudian Anisa membukakan pintu dan melihat siapakah yang datang. di bukakanlah pintu rumah oleh Anisa dan Anisa merasa terkejut karena yang datang adalah ustad Ahmad dari Tuban. “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ustadz silahkan duduk ustadz, silahkan” ucapan Annisa sesudahnya bersalaman dengan ustadz dan mempersilahkannya untuk duduk di kursi depan teras rumah. “Salim, dek ke ustadz” pinta Annisa kepada Nita. “oh....ini Nita.., pinter sekali” puji ustadz Ahmad kepada Nita.

“ maaf, ustadz Mau dibuatkan kopi atau teh, ustadz...? . Tanya Anmisa kepada ustaz Ahmad. “ kopi hitam pahit saja, ya” pinta ustad Ahmad kepada Annisa. “Baik, ustadz. Saya buatkan dulu sebentar, ya” ucap Annisa.”sek, sek..ibu kemana nis...?” pertanyaan ustadz Ahmad menghentikan langkah kaki Annisa menuju dapur. “oh..ibu, ibu lagi ke ladang ustadz, dengan Farhan” jawab Annisa. “masya Allah, ya wish kalau mau buat kopi silahkan” kata ustad Ahmad mempersilahkan Anisa untuk membuat kopi untuknya, Nita selalu membuntuti Annisa, kemana pun Annisa pergi. Ketika Annisa ingin membuat kopi, Nita sibuk meminta kalau ia yang akan membuatkan kopinya. “Aku pengen buat kopinya, kak” sambil memegang gelas dan sendok Nita bergumam. “ya udah, masukin dua sendok bubuk kopinya ke dalam gelas ya, dek” pandu Annisa. Dan Nita mengikuti arahan yang diberikan kakaknya itu. “ sini, Kakak yang nuangin air panasnya,” ucap Annisa sambil menggenggam pegangan termos. “assalamualaikum...” terdengar suara ibu dan Farhan dari depan. “ ibu.....” spontan Nita berteriak dan berlari menghampiri ibu.

 

***

Lembaran baru (Bagian 6)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata306

- Day29

 

wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab ustadz Ahmad menjawab salam ibu dan Farhan. “Masya Allah, udah lama menunggu, tadz?,” tanya ibu sesudahnya bersalaman dengan ustadz Ahmad. “enggak, kok barusan Dateng” jawab ustadz Ahmad. “lah, kok. Gak dikasih minum...?Annisa....buatkan minum buat ustadz Ahmad” pinta ibu kepada Annisa untuk membuatkan minuman untuk ustadz Ahmad. “Iya, Bu.” Jawab Annisa yang keluar dari dalam rumah dengan membawa baki yang diatasnya terdapat kopi hitam untuk ustadz Ahmad. “Silahkan diminum, tadz” ucap ibu. “enggeh, terima kasih” jawab ustadz Ahmad. “ ustadz, maaf aku mau bersih-bersih dulu sebentar, ya” izin ibu kepada ustad Ahmad, untuk bersih-bersih badan, sesudahnya dari ladang.

          Seusai nya Ibu bersih-bersih badan, kemudian Ibu langsung menghampiri ustadz Ahmad yang sedang duduk di teras. “Ya Allah, mar...turut berdukacita ya, jujur saya kaget dan gak nyangka ini semua terasa kayak mimpi, mar bagi saya” ucap ustadz Ahmad, yang merasa terkejut ketika mendengar kabar meninggalnya ayah. “iya ustadz makasih, jujur saya juga sangat terpukul dan merasa kaget semua ini terasa seperti hanya sebuah mimpi saja, tapi memang tidak pernah ada yang tahu bagaimana dan kapan kita mati . Sekarang, kami hanya bisa berusaha untuk mencoba mengikhlaskan” ucap ibu. “iya Mar, semua tidak ada yang tahu bagaimana rencana Allah kedepannya. Sebelumnya saya mohon maaf ya karena saya baru bisa ke sini hari ini. karena kebetulan ketika Sulaiman meninggal itu ada acara yang sangat urgent dan tidak dapat ditinggalkan”. Ucap ustadz Ahmad kepada ibu. "Iya nggak apa-apa kedatangan ustad hari ini pun cukup membuat kami senang. “ ucap ibu. “yuk makan dulu, di dalem udah disiapkan sama Annisa, makan seadanya” pinta ibu kepada ustadz untuk menyantap makanan yang sudah Annisa siapkan di dalam. “kedatangan saya ke sini, Jadi merepotkan, mar” ucap ustadz Ahmad. “ enggak, enggak sama sekali, kok.” Ucap ibu yang kemudian mengantar ustadz Ahmad ke dalam rumah untuk menyantap makanan yang telah disiapkan oleh Annisa.

 

 

***

Lembaran baru (Bagian 7)

0 0

- Sarapankata

- KMOIndonesia

- KMOBatch35

- Kelompok3

- Jumlahkata354

- Day30

 

Pecak bandeng,dan tempe bacem melengkapi kenikmatan makan siang ustadz Ahmad di kediaman Annisa, pecak bandeng adalah makanan khas dari Banten yang bahan dasarnya terbuat dari ikan bandeng. “ Masya Allah, ini rasanya enak banget, jadi ingat sama Sulaiman ( Ayah Annisa ) beliau itu suka banget sama pecak bandeng dan semur jengkol “ ucap ustadz Ahmad mengenang ayah. “ iya, tadz. Pecak bandeng sama semur jengkol ini ini makanan favorit ayah.” sambung Farhan yang duduk disebelah ustadz Ahmad. “ kamu ini Farhan mirip sekali seperti ayah kamu cara berbicaranya, mukanya tak ada yang dibuang dari ayahmu “ kata ustadz ahmad. “Iya, ustad. makanya kalau melihat Farhan ini seperti melihat sosok ayahnya kembali.” Ucap ibu. “Nanti, kalau udah gede kamu harus seperti ayah kamu yang memiliki Ki akhlak yang baik, tutur kata yang santun dan pekerja keras titik tak pernah sedikitpun mengeluh dengan keadaan, dari kecil ayahmu itu dididik harus mandiri oleh orang tuanya dulu. Dulu waktu zaman zamannya SMA ma, sebelum sekolah ustaz dan ayahmu selaluke pasar terlebih dahulu untuk membantu orang-orang yang kesulitan dalam membawa belanjaannya ya bisa dibilang seperti kuli panggul” sambil tertawa kecil ustaz Ahmad mengenang masa-masa kebersamaannya dengan ayah. “ya ustaz saya akan melakukan apa yang selalu ayah saya perintahkan, dan akan mengikuti semua sikap baik ayah” ucap Farhan. “ustad percaya kamu anak hebat, H.an “ ujar ustadz Ahmad sambil mengelus halus kepala Farhan. “ Maaf ustaz, untuk kedatangan santri baru nanti Annisa kapan bisa masuk pesantren, ustad “tanya ibu menanyakan perihal masuknya pesantren Annisa. “Insya Allah dua minggu kedepan santri sudah memasuki ajaran baru "jawab ustadz Ahmad. “ oh iya, ustad. Kira-kira apa aja yang harus disiapkan? ". Tanya ibu. Kemudian ustadz Ahmad menjawab, "kayak nggak pernah mondok aja, mar..mar, ya sama masih kayak zamannya kamu dulu gimana kalau santriwati mondok dan bawa apa aja. ".

            Sesudahnya makan, oh ustadz Ahmad Fahmi izin untuk pulang. “Mar, aku izin pit dulu, ya. Kamu yang sabar, yang tabah. Insyaallah urusan rezeki, kehidupan Gusti Allah udah atur semuanya. Kamu gak usah khawatir. Kalau ada apa-apa, telepon saja aku. Karena Almarhum Sulaiman itu sangat berjasa bagi saya. “ pesan ustadz Ahmad kepada ibu.

Mungkin saja kamu suka

Eti Suryani
Hujan Bulan Desember
Ai Pipin Sumiat...
Kepingan cinta
Yasmina Rosalin...
Jihadnya Jihan
Riska yunitasar...
ALAS ( Aku Lupa Aku Siapa )
Dimas Ardiansya...
My Cat

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil