Loading
4

0

0

Genre : Rumah Tangga
Penulis : Ratna Adzkia
Bab : 30
Pembaca : 0
Nama : Ratna Adzkia
Buku : 1

Cinta dan Ambisi!

Sinopsis

Dalam kisah ini, ada pelajaran yang bisa kita ambil. Nana Kirana, seorang istri dan ibu dari dua anak berjuang mempertahankan suami dan rumah tangganya dari badai yang menerjang, yaitu Penggoda! atau yang biasa kita sebut sebagai "orang ketiga". Namun, rumah tangga yang tak lagi memiliki harapan, pantaskah di pertahankan? Simak kisahnya ya, teman. Karena begitu banyak konflik yang bikin geram, menguras emosi dan naik darah! Terima kasih, semoga suka :)
Tags :
Cinta, setia, jujur, simpanan, ambisi, selingkuh, poligami, hancur, rumah tangga.

Lipstik

2 0

-Sarapan Kata KMO Batch 35

-Sarkat Jadi Buku

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 524

 

"Dah, Ayah! Hati-hati di jalan ya, Ayah!" seru Kayla, anak sulungku. Setiap hari, Aku hanya menatapnya dari jauh saat dia melambaikan tangannya dari balik jendela kala hendak berangkat kerja. Kulihat wajah polosnya dihiasi senyum manis tertuju pada Ayahnya anak tetangga.

Ya, Kayla bukan melambaikan tangan pada ayahnya, tapi kepada Ayah anak tetangga. Meski seruannya tidak didengar orang tersebut, namun Kayla tetap melakukannya bahkan nyaris setiap hari. Miris sekali melihat anakku seperti itu, dia rindu bermain dengan ayahnya, rindu dikecup ayahnya saat hendak berangkat kerja, rindu dibawakan oleh-oleh kecil saat pulang kerja, rindu pelukan hangat saat tidur bersama ayahnya yang sudah dianggapnya pahlawan bak Iron Man!

    "Kakak kangen Ayah, Nda, kenapa Ayah nggak mau tidur sama Kakak lagi?" Selalu itu yang Kayla tanyakan padaku. Kayla memang paling dekat dengan ayahnya, namun ayahnya tidak melihat itu, dia lebih memilih simpanannya dibandingkan anak istrinya.

    "Iya, sayang, nanti Ayah ke sini kalau Ayah libur, ya!" Ku elus rambut panjangnya.

Entah aku harus beralasan apa lagi. Karena pada kenyataannya, sudah hampir enam bulan sejak perceraian kami, Mas Dika belum lagi menemui anak-anaknya. Sungguh ironis, Dika Pradipta yang dulu mati matian mengejarku, sekarang mati matian juga mengejar simpanannya hingga ke pelaminan. Biarlah Aku dan anak anakku yang angkat kaki dari rumah, rumah ternyaman yang sudah kuanggap surga bagiku. Kini, aku dan anak-anakku yang harus tinggal di gubuk kecil dan bocor.

Malam merangkak naik, bintang pun enggan untuk menampakkan sinarnya, bulan pun tak tampak karena tertutup dengan mega mendung, angin berhembus sangat kencang, dan petir pun saling bersahutan. Di waktu yang sama turunlah hujan, semakin lama semakin derasnya hujan itu sehingga mengguyur rumah minimalisku.

Kuambil beberapa ember untuk menampung tetesan air dari atap, kutahan air hujan yang masuk ke dalam sela-sela pintu dengan kain lap meski air itu terus saja memaksa masuk. Hujannya terlalu deras sehingga membuatku kelelahan. Tangisku pun pecah bersamaan dengan petir dan derasnya air hujan.

    "Kau akan membayarnya, Dika Pradipta! kau dan simpananmu akan membayar apa yang sudah kalian lakukan! Jangan harap kalian bahagia di atas luka hati yang sudah kalian goreskan!" Kuseka air mataku dengan penuh percaya diri.

**************

    "Tolong jawab pertanyaanku, Mas! Ini lipstik siapa?" Kutunjukan lipstik tersebut, dan berkali-kali kutanyakan itu, namun tetap tak ada jawaban dari mulut Mas Dika.

Masih ku pegang lipstik rasa cherry milik wanita misterius entah siapa itu.

    "Sudahlah, Na! Mas bosan setiap hari kamu tanyakan itu terus!" teriak Mas Dika, berjalan melewatiku dan melempar tas kerjanya ke sofa. Aku mengekor.

    "Kalau kamu bosan jawab dong, Mas, bukan malah menghindar!" erangku marah.

    "Sebentar," kuendus kemeja yang Mas Dika kenakan, "Kemejamu … kenapa wangi parfum wanita, Mas?" tanyaku heran. Kutarik kemeja itu dan ku tempelkan di hidung.

    "Apaan, sih! Ngarang kamu!" elaknya sambil menarik kemejanya yang kutarik dan berlalu.

Bukk!

Seperti biasa, Mas Dika selalu menjatuhkan diri di sofa empuk setiap pulang kerja, bahkan tidak jarang Mas Dika tidur di sofa karena kelelahan.

    "Jangan tidur, Mas, makan dulu!" Dua kali panggilanku diabaikannya. Aku tau dia marah karena interogasi dariku. Tapi apa boleh buat, lipstik itu terus menghantuiku, rasa penasaranku yang semakin menggebu, pertanyaanku pun sia-sia tak pernah ada jawaban. Selalu saja menghindar!



Penasaran

1 0

-Sarapan Kata KMO Batch 35

-Sarkat Jadi Buku

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 522

 

Aku memang marah, namun aku tidak bisa membiarkan Mas Dika tidak terurus. Aku selalu khawatir akan sakit maagnya yang kerap kali kambuh jika telat makan. Lagi-lagi aku mengabaikan egoku dan mengesampingkan sakit hatiku.

    "Mas, bangun! Makan dulu!" Kugoyangkan bahunya kencang agar Mas Dika bangun. Aku tau dia hanya pura-pura.

    "Ada apa, sih, Na? Mas ngantuk, besok aja makannya," elaknya menepis tanganku. 

    "Makan dulu sebentar, mas!" Kubangunkan tubuhnya yang berat itu.

Aku marah jika ada masalah sensitif yang mengusik rumah tanggaku, apalagi itu sebatang lipstik yang kutemukan di tas kerja suamiku satu pekan lalu, sampai sekarang aku belum tau siapa pemiliknya.

Dengan susah payah membujuk, akhirnya Mas Dika mau kuajak makan, itupun terpaksa harus aku suapi. Usai makan, kusodorkan teh hangat lalu diminumnya tandas.

    "Yasudah, Mas tidur duluan, jangan ngajak berantem lagi." Matanya menatapku sinis, setelah kemeja kerjanya dia buka, tak lama kemudian Mas Dika langsung tertidur pulas, dengkurannya terdengar sampai memenuhi ruangan.

    "Hmm ... lagi-lagi kamu tidur di sofa, Mas. Sekarang jarang sekali kita menghabiskan waktu berdua, kamu sibuk terus. Entah karena pekerjaan atau karena hal lain yang membuatmu sibuk." Ku elus dahi Mas Dika dan mendaratkan satu kecupan di ubun-ubunnya, meski hatiku masih terasa panas!

Kulihat jam dinding sudah pukul dua belas malam. Bergegas ku hampiri si bungsu yang tengah terlelap dalam tidurnya di kamar.

    "Tumben jam segini Qila belum bangun minta nyusu. Baguslah, biar nanti pas disapih tidak begitu repot." Ku elus pipi Bidadari kecilku itu. Satu kecupan mendarat di keningnya si sulung yang dahinya lebar persis ayahnya, dan satu kecupan lagi untuk si bungsu yang mungil itu.

Lagi-lagi lipstik itu yang terlintas di kepalaku, pikiranku kelud, teringat lipstik dan aroma parfum yang tercium di kemeja kerja Mas Dika.

"Ya Allah, kenapa perasaanku tak enak? Sungguh rasa penasaran ini mengalahkan rasa ngantukku," lirihku gelisah.

Kututup wajahku dengan bantal berbentuk hati warna merah beremot 'kiss' pemberian Mas Dika dulu saat kami masih pacaran.

Semakin wajahku berusaha kututup, semakin besar pula rasa penasaranku.

    "Aroma parfum itu, aku yakin sekali itu aroma parfum wanita." Aku memijat dahiku, pening. 

Kuberanjak dari tempat tidur menuju ruang kerja Mas Dika, terlihat dia masih terlelap dengan dengkurannya.

    "Parfum siapa yang menempel di kemejamu, Mas!" gumamku penuh tanya menatap lekat kemeja itu.

    "Dek!" panggilan Mas Dika memecah lamunanku, walau mendengarnya jalan menghampiriku, ku abaikan panggilannya itu. 

Sumpah! Hatiku panas! Rasanya sudah tak tahan!

    "Kamu belum tidur, Dek? Sudah jam satu, loh!" tanya Mas Dika sambil menguap.

    "Iya, sebentar lagi," tanganku pura-pura merapikan beberapa buku yang berantakan di meja kerjanya.

    "Kamu ngapain bangun, Mas?"

    "Mau lepas celana kerja," jawabnya.

Diberikannya celana kerja itu padaku untuk disimpan.

"Pindah ke kamar ya, Mas, tidurnya!" teriakku saat dia hendak berlalu. Kedua mataku mengekor sampai dia masuk ke kamar. 

Kurapikan celana Mas Dika dan menggantungnya bebarengan dengan     kemeja tersebut. Saat ku hendak pergi dan belum sampai pintu, langkahku terhenti.

    "Tadi ...  apa ada sesuatu dalam saku celana Mas Dika, ya?" Dahiku mengkerut.

Aku berbalik arah, karena aku merasa memegang sesuatu saat merapikan celananya tadi. Kuambil lagi celana yang sudah kusimpan, lalu kuambil barang kecil itu dalam saku celana Mas Dika.

    "Astagfirullah! ini ...?"

Alat Kontrasepsi

1 0

-Sarapan Kata KMO Batch 35

-Sarkat Jadi Buku

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 566

 

    "Astagfirullah! Ini …?"

Kutemukan alat kontrasepsi dalam saku celana Mas Dika, aku terdiam, shock bukan kepalang melihat apa yang aku pegang.

    "Apa yang kau lakukan dibelakangku, Mas? Berani sekali kau bermain api denganku?" Kupegang benda sensitif itu erat. Rahangku mengeras saat menggenggamnya.

Mataku mulai berembun melihat dua bungkus barang kecil itu, dadaku sesak, pikiranku melayang kemana-mana.

"Mas Dika, sungguh aku berharap ini adalah kesalahpahaman semata. Aku hanya tak habis pikir jika kau benar mengkhianatiku, Mas. Kau yang selama ini sangat menginginkanku. Aku percaya padamu sepenuhnya! Percaya bahwa kau setia seperti yang sudah kau janjikan saat meminangku dulu!

Ya Allah, belum juga tau kebenarannya sudah sesakit ini, bagaimana kalau itu benar terjadi bahwa Mas Dika memiliki wanita lain.

Lipstik saja belum tau siapa pemiliknya, di tambah lagi alat kontrasepsi ini. Sungguh! Semuanya membuatku gila!" Ku gelengkan kepalaku cepat untuk membuyarkan lamunanku yang tidak-tidak.

    "Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus cari bukti yang lebih konkret untuk dijadikan pembahasan nanti. Aku tidak mau dibodohi Mas Dika.

Tapi, apa alat kontrasepsi ini belum cukup bukti? Jelas-jelas ini adalah barang sensitif. Jika tidak dipakai untuk berhubungan, lalu untuk apa lagi?" Aku seperti orang gila berbicara sendiri.

    "Ah, apa yang harus kulakukan?" Aku mengusap wajahku gusar. Mondar mandir kesana kemari. "Oh iya, handphone Mas Dika."

Seketika aku ingat pada benda pipih itu, benda kecil berteknologi canggih itu pasti memiliki bukti yang lebih akurat tentang semua ini.

Bodohnya aku, selama ini aku jarang sekali mengecek handphone Mas Dika, bahkan nyaris tidak pernah. 

Saking percayanya aku dengan Mas Dika, aku selalu izinkan Mas Dika pergi kemanapun dia mau, termasuk meeting dengan Bos maupun dengan Klien di luar kota.

'Pantas kau sibuk sekali berkutat dengan handphone mu, Mas, tidak pernah kau meninggalkan benda kesayanganmu itu sedetikpun, menempel seperti Lem perekat. Bodoh sekali aku baru menyadarinya sekarang. Akan ku kumpulkan bukti-bukti yang kutemui.' Batinku membuncah

Aku tidak boleh lengah, aku harus kuat dan ekstra hati-hati menyikapinya, jangan sampai hanya karena lipstik dan alat kontrasepsi yang kutemukan membuatku lemah dan menyerah begitu saja. Tidak!

Tak ku sangka, seorang Dika Pradipta berkhianat padaku! Meski aku belum tahu kebenarannya, tapi hati kecilku sudah sangat sakit.

Kuseka air mataku yang sempat mengalir deras, sesampainya di kamar, perlahan ku langkahkan kakiku agar tak membangunkan Mas Dika yang sedang tertidur pulas.

'Untung tadi makannya banyak kamu, Mas, tidurnya pulas.' Batinku. Aku berjalan menuju target.

    "Ah, sial! Kenapa handphonenya disimpan di saku kolornya, sih!" Ku urungkan niatku mengambil handphone Mas Dika.

*****

    "Na, kemeja semalam mana, ya? Kok nggak ada di ruang kerja?" tanya Mas Dika sesekali nyeruput kopi panas yang aku buat.

    "Sudah aku kasih Mbak Yul," jawabku cepat sambil menyiapkan sarapan. Malas sekali rasanya berkomentar. 

    "Lho, cucinya besok aja, Na, itu masih mau Mas pake sekarang," protesnya sambil makan gorengan tempe mendoan favoritnya.

    "Ganti aja, lah, Mas, lagipula kemeja itu bau parfumnya menyengat banget." Kulirik Mas Dika tiba-tiba kunyahan nya terhenti.

    "Mas pake parfume siapa, sih? teman wanita Mas, ya?"

    "Hah? Oh, nggak." Mas Dika gelagapan.

    "Anu, kemarin Mas lupa bawa parfum jadi pinjem ke temen. Malu dong kalau kerja berkeringat nggak pake parfume," elaknya.

    "Keringat? Bukannya Mas kerja di ruang ber AC? Keringat dari mana? Yang ada dingin kali, Mas," kilahku sambil mengaduk nasi goreng di wajan yang hampir matang.

    "Kebetulan kemarin ACnya lagi di service."

'Bukan ACnya yang di service Mas, tapi kamu yang di service.' Batinku kesal

 

Siapa Amir?

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 601

-Sarkat Jadi Buku

 

'Bukan ACnya yang di service Mas, tapi kamu yang di service.' Batinku kesal

    "Banyak banget alasan kamu, Mas!"

    "Emang kenapa, sih, sayang? Kamu cemburu, ya?" godanya. Aku hanya diam, malas berkomentar.

    "Ko diam?" Mas Dika menghampiriku. Memelukku dari belakang.

    "Jangan khawatir, sayang, kamu satu-satunya wanita yang ada di hatiku, yang lain lewat." Satu kecupan mendarat di pipiku. 

    "Semoga saja, Mas." Aku tersenyum menatapnya, meski dalam hati merasa jijik, karena sekarang bibir Mas Dika bukan hanya menciumku, tapi juga gundiknya.

    "Kalau kamu mau aku percaya, beritahu aku siapa pemilik lipstik itu," tanyaku yang kesekian kalinya.

    "Sudah Mas katakan berkali-kali, Mas nggak tau! mungkin saja itu jebakan!" Mas Dika melepas tangannya yang melingkar di pinggangku.

    "Yaudah terserah! Ayo makan dulu! Nasi gorengnya sudah matang," ketusku. Kuangkat nasi goreng yang sudah matang, ku sajikan di piring lalu diberi irisan tomat dan timun tak lupa juga kerupuk udang favoritnya.

Aku dan Mas Dika sarapan bersama, Mbak Yul menyiram bunga di halaman depan, sedangkan si bungsu masih tertidur setelah subuh tadi banyak minum ASI.

    "Ayah, hari minggu teman Kayla pergi jalan-jalan, Kayla juga mau jalan-jalan, Yah," rengek Kayla. Wajar Kayla merengek seperti itu, karena memang sudah sebulan lamanya Mas Dika tidak pernah meluangkan waktu untuk keluarga kecilnya meski hanya sekedar makan diluar.

    "Nanti ya, sayang, sekarang Ayah lagi banyak kerjaan." Alasan yang sama, kerjaanlah yang selalu Mas Dika jadikan senjata pamungkas.

    "Sudah jam tujuh, Ayah berangkat dulu ya, takut kena macet." Dicubitnya pipi tembem Kayla. Bergegas Mas Dika mengambil tas kerja yang sudah diisi bekal untuk makan siang nanti.

    "Hati-hati dijalan ya, Mas," ucapku sambil merapikan dasinya, dikecupnya keningku oleh Mas Dika. 

Setelah beberapa menit Mas Dika mengucap salam dan berlalu. Ku ambil Qila dari gendongan Mbak Yul. 

    "Lho, ini handphone Bapak ketinggalan, Bu?" Tanya Mbak Yul yang sedang merapikan meja makan.

Berbinar mataku melihat benda pipih itu, karena biasanya benda itu tidak pernah lepas dari Mas Dika. Anggaplah hari ini hari keberuntunganku.

    "Mbak Yul, tolong gendong Qila dulu sebentar." Dengan Sigap kuambil handphonenya dan segera ku cari nama seseorang di kontak. Entah siapa yang ku cari aku pun tak tahu.

    "Ibu cari apa di handphone nya Bapak? celingak celinguk kayak maling aja," tanya Mbak Yul heran. Ku abaikan pertanyaannya.

'Ya Allah, beri hamba petunjuk, kira-kira nama apa yang Mas Dika gunakan di kontaknya?'

Ku cari nama

'Sayang'

'Cinta'

'My love'

Tak kunjung ku temukan

'Ah, bodohnya aku! Mana mungkin Mas Dika menamai wanita lain dengan sebutan seperti itu, sama saja cari mati.' Batinku yang masih bermonolog 

Ku cari di aplikasi berwarna hijau, tapi tetap tidak ada percakapan mencurigakan disitu, mungkin percakapan mereka sudah dihapusnya.

Terakhir ku cari di 'log' panggilan.

    "Amir? Kenapa banyak sekali panggilan masuk dari Amir? Hampir setiap hari mereka komunikasi, bahkan video call juga sangat sering mereka lakukan di jam kerja," gumamku penuh tanya. Aku memijat dahi. Pening.

Aku menohok melihat durasi panggilan mereka saat komunikasi.

    "Jam tiga pagi? Dua jam? Disitu paling sering malam minggu, tepat Mas Dika ronda dengan Bapak-Bapak kompleks.

Pantas saja, jadwal ronda 3 minggu sekali per orang, ini malah tiap minggu. Ternyata ada Penggoda! dibalik ronda!"

    "Apanya, Bu, yang dua jam?" tanya Mbak Yul penasaran. Lagi-lagi ku abaikan pertanyaan itu.

"Mereka sudah gila!" erangku marah. Masih kupandang handphone Mas Dika. Ku salin nomor si Amir itu.

"Entah dia laki-laki atau perempuan, tapi aku yakin sekali kalau dia adalah perempuan." Ku tatap Mbak Yul seolah sedang ngobrol dengannya.

    "Siapa, Bu, yang Ibu maksud?" tanya Mbak Yul semakin heran.

    "Nanti juga Mbak tahu, hanya sekarang belum saatnya," jawabku.

'Mulai sekarang, kau dalam pengawasanku, Dika Pradipta!'

 

Modus!

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 559

-Sarkat Jadi Buku

 

'Mulai sekarang, kau dalam pengawasanku, Dika Pradipta!'

Tin.. tin..

Suara klakson mobil Mas Dika terdengar di luar sana, sudah kuduga dia akan balik mengambil benda pipihnya itu.

    "Lho, ko balik lagi, Mas? Ada yang ketinggalan?" tanyaku yang pura-pura tidak tahu, handphonenya pun sudah ku letakkan di tempat semula Mas Dika menaruhnya.

    "Iya, nih, handphone Mas ketinggalan." Di ceknya handphone itu, setelah dirasa aman dia pun langsung bernafas lega. 

    "Sepertinya Mas pulang malam lagi, Dek. Ada klien siang ini lalu pulangnya langsung meeting di kantor." Mas Dika tersenyum dan berlalu, kubalas senyumnya tanpa berkata apapun.

    "Mbak Yul, tolong mandikan dan suapi Qila, ya," pintaku bernada agak lemas.

    "Baik, Bu, mending Ibu istirahat saja kalau kurang enak badan. Full sehari ini Qila biar saya yang urus. Lagipula, 'kan masih banyak ASI di freezer yang sudah ibu stock," ucap mbak yul.

Beruntung sekali aku punya asisten rumah tangga seperhatian Mbak Yuli. Sudah dua tahun si Mbak kerja di rumahku semenjak aku hamil, Mbak Yul bekerja dengan sangat baik dan hati-hati.

Penasaran dengan nama Amir, aku terus memikirkan hal-hal yang aku takutkan. Bagaimana jika Amir itu perempuan?

Bergegas ku ke kamar dan mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggu.

Hampir saja aku lepas kendali menghubungi dan melabrak seseorang yang bernama Amir itu. Alangkah baiknya jika aku bertanya lebih dulu pada Mas Dika, untuk hari ini aku harus bersabar dulu sampai besok ku tanyakan langsung pada Mas Dika.

****

     Sepekan, dua pekan, kubiarkan semua berjalan sesuai keinginan Mas Dika yang semakin menjadi. Di akhir pekan, kami sudah jarang sekali pergi berlibur hanya untuk sekedar melepas penat yang sudah berkarat di kepala. Namun kutahan itu semua hanya untuk melihat gerak geriknya yang semakin mencurigakan.

    "Mbak Yul, persediaan bahan makanan di kulkas sudah mau habis, tolong belanja keperluan dapur, ya, Mbak." Kusodorkan beberapa lembar uang dan catatan belanjaan yang akan dibelanjakan.

    "Ohya, Mbak, saya nitip tolong belikan buah naga 2 kg ya." Tambah Mas Dika.

    "Buah naga? Buat siapa, Mas?" Dahiku mengkerut.

    "Mmm, teman kantor Mas titip." Mas Dika gelagapan, menggaruk kepalanya yang mungkin saja tidak gatal.

Sebenarnya, Mas Dika memang tidak pandai berbohong, dia akan terlihat gugup dan dahinya berkeringat jika sedang berbohong.

'Ada yang kamu sembunyikan dariku, Mas, aku akan mengetahuinya segera.' Batinku.

    "Ok! Siap, Pak!" jawab Mbak Yul. Setelah Mbak Yul pergi aku pun beraksi. Ku dekati mas Dika yang sedang sibuk dengan laptopnya.

    "Mas!"

    "Hmm,"

    "Ada sesuatu yang membuatku ganjal, apa mas menyembunyikan sesuatu dariku?" Ketikannya terhenti.

    "Maksudnya?" Mas Dika menoleh ke arahku, "Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan, Dek." Pandangannya kembali ke laptop.

    "Mmm, apa kau memiliki teman dekat, wanita misalnya?" Kutatap tajam Mas Dika.

    "Kenapa kau tanyakan itu? Teman wanita banyak di kantor, sayang? Kalo wanita spesial hanya kamu seorang."

"Sungguh?"

"Tentu saja. Pokoknya, nggak ada wanita lain dihatiku selain kamu. Dulu aja mau dapetin kamu susah, jadi mana mungkin Mas mendua, sayang," ujarnya yang coba meyakinkanku. Mas Dika tersenyum sangat manis, mungkin biasanya senyuman itu berhasil membiusku, namun kali ini tidak! Karena senyumnya modus!

    "Benarkah? Kalau begitu aku tanya sekali lagi, tolong jawab jujur. Apa belakangan ini, kau berkomunikasi dengan wanita lain?" Ketikkan mas Dika kembali berhenti. Mas Dika menelan ludah.

    "Kenapa kau tanyakan itu?" Mas Dika kembali menoleh ke arahku. "Kau tidak percaya padaku? Apa kau mengira aku selingkuh?"

    "Menurutmu? Siapa Amir?" tanyaku tegas.

 

Pengakuan Menyakitkan

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 544

-Sarkat Jadi Buku

 

   "Amir? Siapa Amir?"

    "Kenapa malah tanya balik?" tanyaku sinis.

    "Oh, maksudnya Amir teman kantor?"

Aku mengangkat kedua bahuku, "Mungkin," lalu menurunkannya kembali.

    "Kamu cemburu dengan Amir? Dia itukan laki-laki, Dek, ngapain juga kamu cemburu," kilahnya.

    "Kalau dia laki-laki, ngapain dia telepon kamu pagi buta, Mas? Udah gitu hampir dua jam kalian berbincang. Apa yang kalian bicarakan selama itu?" Mas Dika gelagapan, matanya terlihat panik.

    "Ayah, katanya kita mau jalan-jalan, sekarang kan Ayah libur," rengek Kayla yang tiba-tiba datang dan menggoyangkan tangan Mas Dika.

    "Yaudah, kita jalan-jalan, yuk! Ajak Bunda sama Dede Qila juga, Oke!?" ajak Mas Dika mengalihkan pembicaraan.

    "Kayla, main dulu sama Mbak Yul di depan bareng Dede Qila, ya!"

    "Mbak Yuli sudah pulang memang, Bun?"

    "Sudah, tadi Bunda lihat Mbak Yuli pulang bawa belanjaan. Sekarang Mbak Yuli ada di taman sama Dede Qila. Kakak nyusul Dede, ya," pintaku. Akhirnya Kayla menurut setelah beberapa menit kurayu.

    "Gimana, Mas? Siapa Amir?" tanyaku kembali masih dengan pertanyaan yang sama, yang sebelumnya sempat hening.

    "Amir itu …," Mas Dika menghabiskan sisa kopi di cangkirnya, "Indah," lanjutnya.

    "Siapa Indah?"

    "Seseorang yang dekat dengan Mas," jawabnya yang akhirnya terpaksa keluar setelah kupaksa.

    "Maafkan, Dek, jika Mas dekat dengan wanita lain." Tak kusangka, kalimatnya yang keluar dari mulutnya ternyata berhasil menyayat hatiku dengan sekejap. Aku terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa.

    "Dekat dalam artian apa, Mas? Sejak kapan? Sudah sejauh mana?" Ku beri pertanyaan bertubi-tubi pada Mas Dika. Terkait dengan pertanyaan terakhir, itu karena aku teringat dengan alat kontrasepsi yang kutemukan beberapa waktu lalu. 

    "Kenapa diam? Jawab pertanyaanku yang terakhir!" teriakku. 

    "Sudah sejauh mana hubungan kalian?!" Akhirnya aku tak bisa lagi menahan amarah yang bergemuruh di dadaku, amarah yang sudah tak bisa lagi kutahan. Diamnya membuatku muak! Membuatku tak bisa lagi menahan api yang tengah membakar hatiku!

    "Mas akan menikahinya!" Dengan lantang Mas Dika berkata akan menikahi wanita itu. Hatiku sakit! Dadaku sesak! Mataku tak bisa lagi menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata. Akhirnya, kubiarkan mengalir begitu saja.

    "Oh, begitu! Jadi selama ini kecurigaanku benar, lipstik itu milik si wanita yang bernama Indah? Alat kontrasepsi yang ku temukan pun ternyata itu milik kalian, begitu? Menjijikan!"

    "Alat kontrasepsi? Apa maksudmu? Jangan sembarang bicara kamu, Dek!" erangnya marah. Kulempar alat kontrasepsi itu di hadapan Mas Dika, begitupun lipstik yang sudah lama ku simpan.

    "Darimana kamu dapatkan ini?" tanyanya dengan nada tinggi. Terlihat jelas wajah Mas Dika memerah saat memegang alat kontrasepsi miliknya itu. Karena selama aku berhubungan dengannya tidak pernah menggunakan barang kecil itu, jadi sudah pasti itu bukan milik kami. Satu masih utuh, satu lagi sudah kosong terpakai.

    "Dari mana aku dapat itu tidak penting, Mas! Aku masih bisa memaafkanmu jika kamu mau kembali! Tinggalkan wanita itu, Mas, kembalilah padaku!" pintaku yakin, dengan diiringi air mata yang tak mau berhenti mengalir.

Aku memintanya kembali bukan untuk diriku saja, tapi juga untuk anak-anak yang masih sangat membutuhkan sosok Ayah. Tak'kan ku renggut kebahagiaan mereka karena keegoisanku. Selagi aku mampu, akan kucoba untuk bertahan!

    "Maaf, Dek, Mas tidak bisa meninggalkannya!" 

 Astagfirullah, lututku lemas mendengar pernyataan Mas Dika, entah apa yang membuatnya buta seperti itu. Bagaimana mungkin anak istrinya yang sudah membersamainya selama tujuh tahun, bisa kalah dengan sosok wanita yang baru dia kenal kemarin sore?!



Hati yang Rapuh

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 540

-Sarkat Jadi Buku

 

    "Tidak bisa meninggalkannya? Bagaimana bisa? Kembalilah, Mas, aku mau memaafkanmu kalau memang kau mau kembali. Jika bukan untukku, lakukanlah untuk Kayla dan Qila, anak kita." pintaku dengan penuh harap. 

Aku tau, aku sudah seperti pengemis di hadapan Mas Dika, dan ini sudah kesekian kalinya aku mengemis padanya. Tidak masalah bagiku, yang terpenting sekarang adalah kasih sayang dan keutuhan orang tua yang lengkap untuk anaknya.

    "Maaf, Dek," bisik Mas Dika menunduk.

    "Baiklah! Kita lihat saja nanti! Akan ku beri pelajaran pada gundikmu yang tak tahu diri itu! Ingat, kau bukan hanya menghancurkan hatiku, tapi juga masa depan kita!"

    "Jangan macam-macam kamu, Dek! Jangan sampai kamu menyakitinya, atau kau akan menyesal!" Kata-katanya kembali dengan nada tinggi.

    "Kau mengancamku, Mas? Wow! Hebat sekali kamu! Ingat, Mas, aku punya hak untuk mempertahankan rumah tanggaku! Dan aku pun berhak mempertahankan Ayah dari anak-anakku.

Aku tidak takut dengan ancamanmu, Mas! Meski wanita itu berduit dan bahkan pejabat tinggi sekalipun, dia tetap wanita yang sama di mataku, Perusak!" Tak tahan dengan keadaan, aku beranjak dan berlari ke kamar dengan tetesan air mata yang masih terus mengalir. Mas Dika mengejarku. Menarik tanganku. Mencoba menenangkan dan meraihku dalam dekapannya, meski sudah berkali-kali berontak tetap aku yang kalah.

    "Aku mohon lepaskan aku, Mas!" Kutepis tangannya berkali-kali, namun Mas Dika tetap meraihku.

    "Maaf, Dek, Mas tidak bermaksud menyakitimu. Mas terpaksa melakukannya!"

    "Terpaksa? Itu pasti alasanmu saja agar aku tidak marah!" teriakku. Aku menangis sesegukan. Tangan Mas Dika tetap tidak mau lepas.

    "Apa yang membuatmu tega melakukan itu, Mas? Tolong beri aku penjelasan!" Mas Dika hanya diam, dia menatapku lekat, dia tidak tega dengan tangisanku, disisi lain dia pun tidak mau meninggalkan gundiknya.

Tidak disangka, seorang Dika Pradipta terang terangan melukaiku dengan kejamnya. Hatiku hancur, mengingat pembelaan suami sendiri terhadap wanita lain. Pengakuannya benar-benar menyakitiku. Entah apa yang ada dipikirannya, tidakkah dia melihat anak-anaknya yang semakin menggemaskan? Tidakkah dia melihat Qila yang masih sangat kecil dan membutuhkan perhatian penuh darinya?

    "Ibunya sakit, beliau menginginkan Mas menikahi anaknya," terang Mas Dika.

    "Lalu? Apa hubungannya denganmu, Mas? Ibunya pasti tau, 'kan kalau kamu punya anak istri?"

    "Nggak, Dek, beliau taunya Mas duda." Mas Dika menunduk dan melepaskan dekapannya perlahan.

    "Duda?" Aku terbahak mendengar pernyataan Mas Dika. Berani sekali dia menyebut dirinya duda, sedangkan dia masih minta jatah padaku saat dia ingin bersenggama.

    "Kenapa kau berbohong, Mas? Kenapa tidak terus terang saja pada mereka bahwa kau masih sah suamiku, memiliki dua anak yang masih kecil yang harus kamu hidupi! Tega sekali kamu, Mas!" Aku tersungkur ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Aku rapuh, merasa hatiku telah hancur!

    "Apa yang harus kulakukan agar kau mau kembali, Mas? apa aku bukan lagi wanita yang kau inginkan? Bukan lagi wanita yang bisa memberimu kenyamanan? Semudah itukah kau melupakanku, Mas? Semudah itukah kau menggantikan posisiku dengan wanita lain dihatimu? Aku percaya sepenuhnya padamu, akupun resign dari kantor itu atas permintaanmu agar fokus mengurus keluarga kita. Tapi, apa ini balasannya?

Dulu kau pernah bilang, tidak ada lelaki manapun yang dapat mencintaiku seperti kau mencintaiku. Tapi sekarang aku sadar, yang kau miliki itu bukan cinta, tapi ambisi! Tinggalkan saja aku jika itu yang kau mau, Mas! Karena bagaimanapun juga, kelakuanmu hanya akan menyakitiku saja," pekikku menatap tajam Mas Dika.

 

Saatnya Beraksi!

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 917

-Sarkat Jadi Buku

 

    "Maaf, Dek, Mas tidak bermaksud menyakitimu, apalagi berniat meninggalkanmu. Indah hanya … ,"

    "Indah! Indah! Indah! Aku muak mendengarnya, Mas! Kelakuan bejad seperti itu lebih pantas disebut "Buruk"! Tinggalkan aku sendiri! Pergi!" Kudorong Mas Dika sekuat aku bisa. Meski dia sempat menolak dan berontak, namun kali ini tenagaku cukup kuat untuk mengusirnya dari kamarku, seolah cakra Naruto masuk kedalam tubuhku.

Kututup dan kunci pintu kamar agar tak ada yang mengganggu. Sulit bagiku menerima kenyataan bahwa Mas Dika ingin menikahi gundiknya. Tidak disangka, keinginannya yang diluar batas membuat hubungan kami retak. 

Aku gagal memintanya meninggalkan wanita itu, bahkan anak anak pun tidak bisa membuatnya kembali. Apa istimewanya wanita itu? Sungguh! tidak ada yang membuatku merasa tenang selain menghubungi gundiknya itu. Akan ku hubungi kau besok, wanita penggoda!

Settingan alarm lebih awal pagi ini. Aku terbangun karena bunyi alarm di handphone ku yang cukup nyaring. Aku harus merapikan rumah sendiri, karena Mbak Yul izin tidak masuk hari ini. Kurapikan rumah yang masih terlihat berantakan, menyiram tanaman di halaman depan, membuat jus dan menu sarapan.

    "Dek, Mas berangkat awal ya hari ini, ada meeting dengan direktur di kantor." Aku tetap diam, malas berkomentar.

    "Masih marah, Dek?" tanya Mas Dika yang masih penasaran dengan sikap diamku. Aku masih fokus memoles roti tawar dengan selai coklat dan strawberry permintaan Kayla, sambil menunggu jus alpukat yang sedang ku blender.

    "Mas berangkat dulu, ya, Dek!" pamitnya kemudian setelah setengah gelas kopi diminumnya. Diambilnya tas kerja dan berlalu.

    "Tunggu!" Kuambilkan beberapa roti bakar yang sudah siap ke dalam tupperware, dan memasukkannya ke dalam tas kerja Mas Dika. "Setelah sampai, makanlah selagi hangat," titahku. Sejatinya istri, walau sedang marah tetap masih memikirkan perut suami. 

    "Makasih, ya, Dek!" Senyumnya mengembang, namun aku tetap diam.

    "Ayah mana, Nda?" tanya Kayla setelah beberapa menit deru mobil Mas Dika tidak lagi terdengar.

"Ayah sudah berangkat barusan. Sarapan yuk! Bunda bikin roti bakar sesuai permintaan Kakak kemarin," ajakku pada Kayla yang masih terlihat ngantuk.

"Waah roti bakar! Kakak mau yang rasa coklat dan stroberi ya, Nda," pinta Kayla sambil menggeser bangku yang akan didudukinya.

    "Boleh, makan yang banyak ya. Bunda mau mandiin Dede Qila dulu," kataku sambil menaruh jus alpukat di meja.

Sambil menunggu Kayla makan, kumandikan dan kusuapi Qila. Selesai sarapan, Kayla bersepeda dengan teman-temannya keliling kompleks. Qila asyik sendiri bermain boneka dengan ocehannya yang belum jelas. Ah, menggemaskan sekali anakku itu.

Selesai main, Qila tertidur di pangkuanku.

Sekilas aku teringat dengan gundiknya Mas Dika.

    "Saatnya beraksi." Kuangkat Qila dan memindahkannya ke kamar dengan settingan AC yang cukup dingin, karena Qila sangat suka ruangan yang dingin, tidurnya pun akan lebih pulas.

Tanpa buang waktu, segera kucari kontak bernama Amir di handphoneku.

    "Halo, assalamu'alaikum!" Durasi sudah berjalan, namun tidak ada suara disitu. Berkali-kali ku ucapkan salam, si Amir itu tetap diam. Tapi syukurlah, Akhirnya panggilanku dia angkat setelah empat kali diabaikannya. Jangankan empat kali, seribu kali pun jika belum diangkatnya tetap terus kuhubungi. 

    "Wa'alaikumsalam."

'Perempuan? Jadi, Amir itu seorang perempuan? Baru mendengar suaranya saja, rasanya darahku sudah mulai naik.' Batinku.

    "Maaf, kalau boleh tau kau ini siapa? Apa hubunganmu dengan suamiku?" 

Tanpa basa basi langsung kutanyakan pada intinya, rasanya sudah tak tahan lagi untuk bertanya.

    "Oh, kau rupanya! Sudah kuduga, kau pasti akan menghubungiku, Nana Kirana!"

Deg!

'Dia tau namaku? Itu berarti, mereka sering membicarakanku.' 

    "Gak usah bertele-tele, cukup jawab saja kau siapa."

    "Kurasa kau sudah tau jawabannya! Jika memang belum, tanyakan saja pada suamimu!" 

'Sial! Dia terdengar santai dan tidak ada ketakutan sedikitpun. Bahkan dia menungguku menghubunginya.' Batinku bermonolog.

    "Maaf, saya tidak mau bertele-tele. Saya mohon jangan ganggu suami saya lagi, paham!" ketusku dengan nada kesal.

Namun siapa sangka, ternyata dia wanita yang pandai bicara, dengan santainya dia bilang wanita spesial Mas Dika. Dia mengakui bahwa mereka sering komunikasi tanpa batas, menegur sapa setiap hari melalui chat tanpa terlewat, bahkan sering bertemu kala ada waktu. Apa dia tidak sadar, orang yang dia sapa setiap hari adalah pria beristri.

Dari nada bicaranya saja sudah jelas seperti wanita penggoda, suaranya yang serak-serak banjir dan terdengar manja, lelaki mana yang nggak klepek-klepek mendengar desahan suaranya yang dengan gampangnya mengundang syahwat kaum lelaki.

    "Saya tidak akan melakukannya jika bukan suamimu sendiri yang memintanya." Dia terkekeh pelan. Rasanya, ingin sekali kujambak rambutnya hingga rontok.

    "Oh, berarti kamu lebih memilih jadi pelakor, begitu? Namamu Indah bukan? Sayang sekali, kelakuanmu tidak seindah namamu."

    "Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas Mas Dika akan tetap menikahiku, jadi yang kedua pun tak masalah." Dia kembali terkekeh, kali ini suaranya cukup keras terdengar. 

"Lagipula, suamimu tidak mungkin meninggalkanku, karena sejak dulu kami berdua memang sudah saling cinta, namun takdir baru akan mempersatukan kami sekarang. Sudahlah Nana, biarkan kami menikah dan hidup bahagia. Saya janji akan jadi madu yang manis untukmu, jadi tolong restui kami," lanjutnya panjang kali lebar kali tinggi dengan penuh percaya diri. Sungguh ucapannya membuatku gerah.

Tujuanku menghubunginya tidak lain untuk memintanya menjauhi Mas Dika, kenapa jadi malah dia yang banyak bicara tanpa rem. Berani sekali dia memintaku restu untuk pernikahan mereka. Mimpi!

    "Caramu tidak fair Indah, kenapa kau ingin dapatkan suamiku dengan menggunakan ibumu? Kau ingin suamiku iba padamu? Kasihan!" Aku terkekeh hingga membuatnya kesal.

    "Jangan libatkan ibuku, karena kenyataannya ibuku memang sedang sakit, akan kubuat kau menyesal sudah menuduhku yang tidak-tidak. Dengan atau tanpa restumu pun, aku dan Mas Dika akan tetap menikah!"

    "Tidak semudah itu kau rebut suamiku selama aku masih bernafas. Cam kan itu, Pelakor!" Sentakku sambil menutup telepon tanpa pamit, risih sekali mendengar suaranya. Pelakor itu benar-benar membuatku naik darah!

 

Fitnah

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 570

-Sarkat Jadi Buku

 

Lima belas menit kemudian, setelah teleponku dengan wanita itu terputus Mas Dika menghubungiku. Namun tidak disangka, beberapa tuduhan dikerahkannya padaku.

Dia bilang akulah yang menyebabkan ibunya Indah sakit karena tuduhan yang tidak-tidak terhadap anaknya. Lalu dimatikan teleponnya begitu saja tanpa pamit. Aku diam.

    "Akh, sial kau Indah! Apa saja yang kau bicarakan dengan suamiku hingga dia semarah itu?!" Ku usap wajahku gusar.

Bahkan setiap kali aku komunikasi dengan gundiknya, selalu saja ada fitnah yang kerap kali datang menghujaniku. Sialnya bukan hanya aku yang di fitnah, keluargaku pun jadi "korban" fitnah si pelakor itu. Yang lebih sakit lagi, Mas Dika justru lebih percaya dan selalu membela gundiknya setiap kali bicara denganku.

    "Sudah Mas katakan, jangan pernah bicara hal-hal yang menyakiti Indah!" bentak Mas Dika yang tiba-tiba datang setelah memarkirkan mobil di halaman rumah tanpa salam terlebih dulu. Gundiknya memang sudah membuat hati Mas Dika buta, sampe lupa cara salam saat masuk dalam rumah.

    "Kamu kenapa, sih, Mas? Kesurupan? Bukannya salam dulu, malah marah-marah gak jelas!" Sengitku pada Mas Dika.

Pernah suatu hari aku cek handphone Mas Dika dan membuka chat mesum mereka, membacanya saja aku merasa mual. Bahkan tidak semua kubaca, karena pembicaraan mereka sudah menjurus ke sperma, membuatku berhenti karena jijik membacanya.

    "Kenapa kau menghubungi Indah? Kenapa bicara yang tidak-tidak padanya! Terima atau tidak, dia tetap akan jadi bagian keluarga kita!" sentak Mas Dika masih bernada tinggi.

    "Ngaca Mas sebelum bicara, agar kau tau pantas tidaknya berbicara seperti itu terhadap istrimu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi menerima dia jadi bagian keluarga kita, Mas!"

    "Sudahlah akui saja! Seminggu yang lalu juga kamu hubungi dia, 'kan tiga hari berturut-turut! Kakakmu pun juga ikut meneror dia. Kalian menghujatnya, mengatai dia pelakor, wanita jalang, penggoda dan lain sebagainya. Aku diam karena dia tidak izinkan aku menegurmu! Bisa saja dia melaporkanmu ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik," bentaknya yang buatku tak mengerti.

Jelas aku tak mengerti apa yang dikatakannya, karena aku tak merasa menghubungi Indah seperti yang dituduhkan Mas Dika padaku.

    "Tunggu-tunggu, kamu bilang aku menghubungi Indah tiga hari berturut-turut? Terus kamu percaya? Kenapa kau selalu membenarkan pernyataannya tanpa kau pertanyakan dulu padaku? Kau dan gundikmu itu …, tidak tahu diri!" bentakku kesal.

    "Masih belum mau ngaku juga kamu? tanyanya dengan mata melotot.

    "Itu fitnah! Keluargaku tidak ada yang tau atas kelakuanmu terhadapku kecuali Kak Rindi, hanya dia yang tau masalah ini. Tapi dia tidak tau nomornya Indah!" erangku marah, tak tahan rasanya menerima fitnah keji yang dilakukan gundiknya itu.

    "Maaf, Mas, aku memberitahu Kak, Rindi. Karena aku tak tahan memikul beban seberat ini sendirian. Aku harus berbagi sedikit masalahku ini, meski tak semuanya aku ceritakan, tidaknya bisa mengurangi sedikit bebanku. Aku bisa mati jika memikulnya sendirian tanpa dukungan!" tegasku.

    "Iya, Mas tau! Karena kemarin lusa Kak Rindi mengirim pesan, namun tidak Mas balas. Biarlah dia bicara apapun sesuka hatinya, karena tidak ada pengaruhnya untukku." Mas Dika menyeringai, membuatku muak melihatnya.

    "Kau tidak membalas? Cinta butamu sudah membuatmu kehilangan akal sehat hingga kau tak tau lagi cara menghormati orang yang lebih tua. Sekarang kau sudah tak mau menganggap keluargaku lagi, begitu?"

    "Bukan begitu, aku hanya malas berdebat," elaknya.

Perang besar antara aku dan Mas Dika tidak pernah ada titik temunya. Untunglah anak-anak sudah dijemput Kakakku lebih dulu sebelum Mas Dika datang. Kayla dan Qila menginap di rumah mama beberapa hari kedepan, jadi mereka tidak tau tragedi besar sedang terjadi.



Menyesal Datang Terakhir

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 594

-Sarkat Jadi Buku

 

Tak tahan rasanya ingin melabrak wanita itu, aku kembali menghubunginya saat Mas Dika berangkat kerja, dengan niatan meluruskan fitnah keji yang diciptakannya.

    "Halo! ada apa lagi, Nana Kirana?" tanyanya saat menjawab teleponku.

    "Aku minta sama kamu, jangan pernah kau fitnah keluargaku dengan tuduhan macam-macam. Kalaupun benar ada yang mengataimu seperti itu, memang itu kenyataan kan?" Aku terkekeh kecil.

    "Jangan macam-macam denganku, aku bisa melakukannya lebih itu. Aku pun bisa menghancurkanmu lebih cepat dari yang kau kira," katanya mengancam.

    "Tidak disangka, aku punya musuh berat namun tak terlihat. Aku tidak takut dengan ancamanmu. Hanya orang bodoh yang takut dengan wanita macam kamu! Enyahlah dari keluargaku, sebelum karma menghampirimu! Wanita jalang!" Kututup teleponnya dengan perasaan puas dihati, meski perkataanku tak menjamin bahwa dia akan pergi menjauh.

****

Hari sudah mulai sore, kurapikan baju-baju yang sudah di setrika ke dalam lemari. "Waktuku jadi tersita gara-gara wanita itu, setrikaanku jadi numpuk. Ini saja tiga jam baru selesai," gerutuku sambil meregangkan badan yang terasa pegal. Terdengar deru suara mobil Mas Dika yang tengah parkir di halaman depan.

    "Harus berapa kali Mas bilang, jangan hubungi Indah! Lagi-lagi kau menghujat Indah, apa masih kurang pertengkaran kita kemarin!" bentaknya yang tiba-tiba datang, matanya membulat sempurna seolah melihat mangsa yang siap diterkam.

    "Astagfirullah, ada apa lagi, sih, Mas? Apa salah aku mempertahankan rumah tanggaku sendiri? Salah aku mempertahankan suamiku dari seorang wanita yang tidak punya hati itu, Hah! Wanita gatal!" seruku dengan emosi yang bergemuruh.

     "Tutup mulutmu, Nana. Sudah kukatakan berkali-kali jangan pernah menghubungi Indah! Mau jadi istri durhaka kamu tidak patuh pada suami!" bentaknya lagi yang makin menatapku tajam.

    "Kamu benar-benar sudah berubah, Mas. Kemana Mas Dika yang dulu terus memperjuangkanku, yang katanya ingin menjadi imam terbaikku. Ingat, Mas! Jika ibuku tahu kelakuanmu, beliaulah yang lebih sakit melebihi sakitku. Karena beliau orang pertama yang mendukungmu, bahkan lebih menyayangimu daripada aku, anaknya sendiri!"

Ya, dulu Mas Dika adalah sosok yang sangat pendiam dan perhatian pada keluargaku, terutama Ibu. Apapun akan dilakukannya asal itu bisa membuat ibuku suka dan kagum padanya.

Bahkan aku pun tetap belajar mencintainya dari awal kami menikah hingga sekarang.

Tapi kenapa? Disaat aku sudah mulai mencintainya, sudah mulai ingin dekat dengannya, dia malah kucing kucingan dengan wanita lain dan berkhianat padaku.

Ibarat tanaman yang baru tumbuh tunasnya lalu ditebas lagi dengan samurai.

Hancur sudah cintaku terhadap Mas Dika yang baru saja tumbuh. Akh, menyesal memang selalu datang terakhir.

Ya, memang, semua ini adalah skenario yang Allah buat, tidak sepantasnya aku menyesali apa yang sudah Allah takdirkan untukku. Semua tidak akan terjadi kecuali atas kehendakNya.

Namun aku hanya manusia biasa, yang sangatlah wajar jika mengeluh saat datangnya ujian terus melanda, menangis saat tersakiti, teriak saat hati tercambuk.

    "Tolong, mas, aku mohon sekali lagi! Kembalilah untuk anak anak, mereka membutuhkanmu," pintaku lirih. Namun tetap saja tidak berubah, mulutnya tetap bungkam.

Kutatap suamiku yang tengah menundukkan kepalanya itu. Lagi lagi kucoba bertanya dari hati ke hati. Mencoba menenangkan diri.

    "Mas, tolong jawab dengan jujur, seandainya kamu harus memilih, siapa yang akan kamu pilih? Keluarga kita atau wanita itu?" Mas Dika menatapku.

    "Tidak tau! Sudahlah!" 

     Tanpa memperdulikan pertanyaanku, Mas Dika pergi dengan mobilnya entah kemana. Istri durhaka! Tidak disangka kalimat itu akan keluar dari mulutnya! semenjak Mas Dika komunikasi dengan gundiknya, aku tidak lagi mengenal karakter suamiku itu, yang dulu sangat perhatian dan selalu bersikap manis, sekarang jadi sinis dan sadis.

Percuma aku menyesal, karena semua sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur! Mau tidak mau, aku harus mengembalikan karakter Mas Dika yang dulu. Akan kubuat wanita gatal itu menjauh dari suamiku!

 

Mangga Muda

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 551

-Sarkat Jadi Buku

 

    "Bunda, kok Kakak belum daftar sekolah kayak teman-teman? Kakak mau sekolah juga, Nda," rengek Kayla yang kesekian kalinya karena belum didaftarkan sekolah meski sudah waktunya.

Kutarik pergelangan tangannya pelan, dan menunduk untuk menyamakan tingginya. "Sayang, Bunda belum tau Kakak mau disekolahkan dimana, karena Bunda belum dapat sekolah yang pas untuk Kakak. Sabar ya, Nak." Kubelai pipinya yang cabi.

    "Sudah jam delapan, kita nonton film spongebob kesukaan Kakak, yuk!" ajakku dengan menggiringnya ke ruang keluarga yang terletak TV disitu, disusul dengan Mbak Yul dan Qila. Bahagia rasanya melihat mereka tertawa lepas seperti itu, semoga kebahagiaan mereka tetap sama, sampai kapanpun takkan berubah. 

    "Mbak Yul, temani anak2 nonton TV aja, ya, biar saya yang nyuci piring."

    "Lho, jangan, Bu. Biar saya aja."

    "Nggak papa, Mbak, mumpung lagi rajin." Akhirnya Mbak Yul mengizinkan. Saat mulai merapikan piring di wastafel, perlahan ku cuci piring bekas sarapan tersebut satu persatu. Seketika aku ingat percakapanku dengan Mas Dika tempo hari, "Aku akan menikahi Indah!" Kata-kata itu terus terngiang ditelingaku. Rasanya sulit memikirkan bagaimana cara agar Mas Dika mau kembali, seakan pikiranku buntu jika memikirkan hal itu. 

Prank!

    "Aww!" teriakku reflek, satu piring pecah akibat lamunanku.

    "Astagfirullah, ada apa, Bu?" tanya Mbak Yul cepat setelah lari ke arahku. Langsung dirapikannya serpihan piring itu yang berserakan di lantai. Tak ku jawab pertanyaannya yang tergesa itu. "Sudah saya bilang Ibu nggak usah cuci piring, biar saya saja," lanjutnya yang kali ini tengah menyapu sisa serpihan yang mungkin tak terlihat.

    "Ya Allah, maaf ya, Mbak!" Karena merasa bersalah, ku ambil sapu yang di pegang Mbak Yul dengan maksud ingin tanggung jawab atas apa yang sudah kulakukan, namun Mbak Yul menolaknya.

    "Biar saya saja yang nyapu, Bu!"

    "Maaf ya, Mbak, jadi ngerepotin." Dengan perasaan bersalah, aku pun beranjak dari dapur dan gabung dengan anak-anak.

    "Ayah!" teriak Kayla sambil lari lalu memeluk ayahnya yang baru pulang dari kantor. Sambutan hangat Kayla selalu didapat Mas Dika setiap pulang kerja.

"Yee, Ayah bawa es krim! Makasih Ayah! Setelah dapat apa yang diinginkan, Kayla kembali nonton TV."

    "Mau makan atau mandi dulu, Mas?" tanyaku sembari mengambil tas kerja dari tangannya. Rasanya, ingin sekali ku tanyakan kemana dia pergi tadi sore, karena semalam dia pulang sangat larut, jadi tak sempat ku tanyakan.

    "Mandi aja, Mas sudah makan tadi," jawabnya. Ya, semenjak kenal dengan gundiknya, Mas Dika memang jarang sekali makan dirumah, lebih sering makan diluar yang katanya makan bareng teman kantornya. Entah siapa itu.

Kubawa tasnya ke ruang kerja, kali ini tasnya lebih berat dari biasanya. Karena penasaran kubuka tasnya.

    "Mangga muda? Tumben Mas Dika beli mangga sebanyak ini, kenapa yang dibeli mangga yang masih mentah? Banyak banget lagi," gumamku heran.

    "Mas, kamu beli mangga muda untuk apa?" tanyaku sambil menyodorkan susu hangat, lalu diminumnya hingga setengah gelas.

    "Biasa, teman kantor pada pengen ngerujak, kebetulan Mas kebagian bawa mangga," jawabnya.

    "Oh begitu!" Dengan polosnya aku langsung percaya dengan ucapan Mas Dika.

Kuambil handuk lalu kuberikan pada Mas Dika yang sudah menunggu di kamar mandi.

Drrtt.. Drrtt..

Kulihat handphonenya menyala, beruntungnya pola sandi di handphone Mas Dika belum diganti. Segera kubuka pesan itu yang ternyata memang dari gundiknya.

    [Sayang, nanti jangan lupa bawa mangganya, ya! Besok aku tunggu di tempat biasa.]

    "Jadi, mangga muda itu untuk …, tempat biasa? Akan ku ikuti Mas Dika nanti."

 

Hamil

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 601

-Sarkat Jadi Buku

 

Saat Mas Dika keluar dari kamar mandi, aku pura-pura baru pegang handphone nya, yang padahal sudah kubuka pesan itu sedari tadi. "Dari Indah, Mas. Aku baca, ya!"

Tiba-tiba handphone itu direbutnya kasar dariku. "Sini! Jangan sembarangan buka handphone orang," ketusnya.

     "Ya Allah, Mas, aku kan istrimu bukan orang lain! Wajar dong kalau aku ingin tau!" 

Tanpa berkata apa-apa, Mas Dika langsung menghabiskan susu di gelasnya, lalu diberikannya gelas kosong itu padaku sebelum beranjak.

Sabar. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. Tak masalah, apapun akan kulakukan untuk menyingkirkan gundiknya yang tak tau diri itu. 

*****

     "Dek, pulang kerja Mas mau jenguk teman di rumah sakit. Mungkin Mas pulang telat, nanti tidur duluan saja nggak usah nungguin," ujar Mas Dika sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.

     "Iya," jawabku singkat. Malas berkomentar. Apalagi komentar meng-iyakan atas kebohongannya. 'Akan ku ikuti kemanapun kau pergi, Mas.' Batinku.

Setelah Mas Dika pergi dan tak lagi terdengar deru mobilnya, aku meminta Mbak Yul menjaga anak2 mentara aku belajar nyetir motor. Karena semenjak hamil pertama sampai anak kedua usia setahun tidak pernah lagi bawa motor sendiri.

Hari sudah mulai sore, sekarang saatnya aku menjadi detektif conan, menyelidiki suami sendiri.

     "Mbak, aku titip anak-anak ya," pintaku sambil menggiring motor ke halaman rumah, memasukan kunci motor dan menyalakan starter.

     "Iya, Bu, hati-hati! Sebenarnya saya khawatir, karena baru kali ini Ibu pakai motor lagi setelah bertahun-tahun lamanya," ucap Mbak Yul, wajahnya terlihat tegang karena kekhawatirannya.

     "Tidak masalah, Mbak, insya Allah aku akan baik-baik saja." Setelah pamit, aku langsung meluncur ke kantor Mas Dika, karena dari situlah mereka beraksi.

Setelah sampai di parkiran dan mesin motor pun belum kumatikan, kulihat pemandangan yang tak enak dilihat. Mas dika berpelukan dengan seorang wanita. Sayangnya tak terlihat dengan jelas wajah wanita itu, meski dia memakai hijab, tapi lekukan tubuhnya masih terlihat dengan jelas. Lebih tepatnya hijab modis kekinian, yang bisa diikat dan dijadikan beberapa model dengan setelan baju tunik yang cantik.

Tanganku mengepal kuat, "Jadi itu seleramu, Mas," gerutuku kesal.

Mereka masuk ke dalam mobil, kemudian melaju dengan kecepatan sedang. Bergegas ku ikuti mereka meski perasaanku tak karuan, karena baru kali ini aku nekat bawa motor ke jalan raya yang penuh sesak dengan kendaraan. Namun ketakutan itu kalah dengan amarah yang membuncah didadaku.

Akhirnya mereka berhenti di salah satu rumah sakit yang terletak lumayan jauh dari rumahku. Setelah masuk ke dalam rumah sakit tersebut, kemudian masuk ke ruang USG. Kulihat mereka dari tengah kerumunan orang agar tak ketahuan, sia-sia usahaku jika mereka mengetahui keberadaanku.

     "Kenapa mereka masuk ke ruang USG? Jangan-jangan …."

Setelah Mas Dika dan gundiknya keluar dari ruangan, ku temui dokter kandungan itu di ruang USG tersebut.

     "Maaf Dokter, saya mau jenguk Kakak saya yang bernama Indah, katanya dia lagi di ruang USG," tanyaku yang terpaksa berbohong demi mendapat informasi.

     "Oh, barusan pulang, Mbak," jawab Dokter.

     "Oh, begitu, ya. Tadi Kakak saya kesini dengan siapa, Dok? Lalu, gimana keadaan janinnya?" tanyaku yang masih terpaksa berbohong. Entah dia hamil atau tidak, tetap kutanyakan janinnya karena rasaku yang begitu penasaran.

    "Bu Indah datang dengan suaminya, Mbak. Alhamdulillah janinnya baik-baik saja, hanya saja Bu Indah terlalu banyak pikiran," terang Dokter.

'Astagfirullah, ternyata benar Indah hamil. Tega sekali kamu, Mas. Kalian belum menikah, tapi sudah berani menanam benih di rahim wanita yang masih haram bagimu.' Batinku.

Kututup pintu setelah pamit pada Dokter. Lagi-lagi hatiku hancur. Kali ini hancur berkeping-keping. Kakiku lemas, tubuhku gemetaran. Ku duduk di banggu tunggu yang terletak tepat di depan ruang USG, rasanya tak kuat untuk beranjak. Semua orang melihatku penuh tanya karena banjir dengan air mata, yang tak bisa kutahan meski sudah kucoba.

 

Dokter Syaif Albar

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 685

-Sarkat Jadi Buku

 

Karena malu dilihat orang, segera aku pergi dari rumah sakit dengan tergesa. Niatku ingin mengikuti Mas Dika kemanapun dia pergi, ternyata tidak sanggup, baru satu tempat saja sudah membuat hatiku hancur lebur, apalagi sampai ikut ke tempat lain. 

Pada akhirnya, aku kehilangan jejak mereka yang mungkin saja ada rahasia lain selain kehamilan Indah Nur Diana. Kubaca berkas miliknya di ruang USG tadi. Takkan ku lupa nama itu sampai kapanpun.

Perlahan aku terus berjalan, bahkan tak sadar kalau aku berada di rumah sakit. Pikiranku kosong, tak ingat apapun sama sekali selain kehamilan Indah yang berhasil menguasai pikiranku.

Bukk!!

    "Astagfirullah! Maaf, Pak, nggak sengaja." Tiba-tiba aku menabrak orang yang sedang ngobrol, bukan hanya pikiranku saja yang kosong, mataku juga sepertinya sudah buta, di depan mata banyak orang main tabrak aja.

     "Ya Allah, ada apa denganku? Aku tidak boleh lemah seperti ini, anak-anak membutuhkanku," lirihku lemah.

Kulihat seorang Dokter yang tengah ngobrol serius dengan pasiennya, lalu mereka masuk ke ruangan Dokter tersebut. Aku merasa kenal dengan Dokter itu, wajahnya tidak asing lagi bagiku. Kuhampiri ruangan itu, lalu menguping pembicaraan mereka. Kulihat nama yang tertera di pintu.

     "Dr. Syaif Albar. Kak Syaif? Apa itu kau?" tanyaku penasaran. Kutempelkan kembali telingaku di dinding pintu untuk mendengar pembicaraan mereka meski suaranya terdengar kecil.

     "Begini, Pak, 100% kematian Serangan Jantung disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah yang kalau dibiarkan lama kelamaan akan menyumbat pembuluh darah di area Jantung. Kematian akibat Serangan Jantung bisa terjadi ketika pembuluh darah tersumbat oleh Plak-plak atau Lemak yang menempel pada dinding-dinding pembuluh darah. Jantung bengkak juga disebabkan oleh pembuluh darah yang menyempit. Seperti yang diketahui, fungsi utama jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh untuk memastikan kelangsungan hidup kita. Jantung bisa mengalirkan lebih dari 14.000 Liter darah per hari nya ke seluruh tubuh."

     "Oh, begitu, Dok. Lalu, penyebab utama penyumbatan pembuluh darahnya itu apa ya, Dok?" tanya seseorang yang mungkin adalah keluarga si pasien.

     "Seperti yang saya jelaskan tadi, Pak. Penyebab paling utama penyumbatan pembuluh darah adalah kebiasaan kita mengkonsumsi makanan yang terlalu banyak lemak seperti minyak, gorengan, daging merah, dan makanan bergula yang tinggi. Sehingga lemak-lemak tersebut masuk ke dalam darah dan bisa menyangkut ke dinding-dinding pembuluh darah tersebut, yang menyebabkan pembuluh darah menyempit dan tersumbat," ujar dokter menjelaskan.

     "Ya Allah, pantas istri saya suka sekali gorengan, udah gitu minum teh manis juga sering, Dok," keluh suami pasien tersebut.

     "Permisi, ada yang bisa dibantu?"

     "Astagfirullah!" Aku terperanjat. Seseorang memakai baju seragam setelan putih dan membawa beberapa map di dekapnya tiba-tiba mengagetkanku dari belakang. "Eh, Suster, saya lagi …." Aku gugup, entah harus beralasan apa.

     "Maaf, Mbak, tidak boleh menguping pembicaraan Dokter dengan pasiennya. Jika Mbak ada keperluan, silakan temui resepsionis terlebih dulu untuk mendaftar," ujar Suster sambil menunjuk ke arah resepsionis dengan ibu jarinya.

     "Tidak ada, Suster. Kalau begitu saya permisi dulu."

Cklek.. (pintu terbuka)

     "Ada apa ini?" tanya Dokter. Belum sempat beranjak, sudah kepergok duluan.

     "Ini, Dok, ada seseorang yang menguping pembicaraan Dokter dengan keluarga pasien," jawab Suster sambil melirik ke arahku.

     "Ma-maaf, Dokter, a-ku hanya …," ucapku gugup dan menunduk.

     "Nana? Nana Kirana?" tanya Dokter heran.

Aku mengangkat kepalaku pelan, "Iya, ini aku," jawabku pelan

     "Sedang apa kau disini? Siapa yang sakit?" tanya Dokter. Belum apa-apa sudah terlihat kekhawatirannya. Seperti itulah Kak Syaif.

     "Tidak ada yang sakit. Apakah ... kau Dokter Syaif Albar yang aku kenal?" tanyaku pelan dan masih sedikit gugup.

     "Tentu saja, Na. Aku Kak Syaif yang kamu kenal," jawab Dokter dengan girangnya. Senyumnya mengembang. Seolah baru melihat kekasihnya yang sudah lama sekali tidak bertemu. "Sebentar," Dokter menoleh ke arah Suster, "Suster, apa masih banyak pasien hari ini? tanyanya cepat.

     "Hanya beberapa, Dok," jawabnya.

     "Masih ada jadwal operasi?"

     "Jadwal operasi besok, Dok. Pukul sembilan pagi  dengan Dokter Rizal dan Dokter Farhan."

     "Bagus. Saya minta waktu sebentar, ada tamu penting," ucapnya sambil melirik ke arahku.

     "Tamu penting?" tanya Suster heran, sambil melirik juga ke arahku, mata kami bertemu. "Tapi, Dok, pasiennya …?"

     "Minta Dokter Rizal menggantikan tugasku sebentar," sela Dokter Syaif.

     "Dokter Rizal sedang banyak pasien, Dok."

     "Yasudah, Dokter Farhan. Sekarang!"

     "I-iya, Dok, permisi." Dengan sigap Suster itu jalan setengah lari melaksanakan perintah atasannya.

 

Tentang Syaif Albar

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 529

-Sarkat Jadi Buku

 

Semilir angin menyapu beberapa daun kering yang berguguran di halaman rumah sakit, ku duduk di kursi taman dan mencium udara yang beraromakan obat. Aku masih terdiam dengan pikiranku, masih dengan rasa sakit yang menderaku, mungkin tidak semudah itu aku melupakan tragedi menyakitkan yang baru saja menimpaku sore tadi.

    "Na," panggilnya memecah keheningan. Aku yang masih shock hanya terdiam tak berkata apapun. Jangankan memulai pembicaraan, keberadaan kak Syaif di sampingku saja aku lupa. Dipikiranku hanya janin yang ada di perut Indah. Hanya itu. 

     "Iya, Kak," jawabku pelan. Aku menoleh ke arah lelaki bertubuh tinggi tegap, berlesung pipi dan berambut klimis itu. 

Penampilannya sungguh berbeda, sekarang jadi lebih berwibawa dan … tampan. Beberapa detik aku menatap kedua netra Kak Syaif yang tengah menatapku sedari tadi. Senyumnya yang selalu membuatku merasa tenang, tatapan teduhnya yang berhasil membawaku ke alam bawah sadar, membuatku tenggelam dalam hangatnya suasana saat bersamanya. Kak Syaif sama seperti dulu.

     "Apa kabar? Sudah lama tak bertemu, ya. Dulu kau jarang sekali membalas pesanku, sampai-sampai nomormu tidak bisa dihubungi, delapan tahun kau menghilang," ucapnya sedikit menyindir masa lalu.

Ya, aku dan Kak Syaif dulu memang sangat dekat. Dia adalah seseorang yang selalu bersedia memberikan bahunya saat aku sedih, memberiku semangat kerap kali aku merasa ingin menyerah, dan mengulurkan tangannya saat aku terjatuh. Kak Syaif, teman SMA ku. Meski kami belum sempat menjalin hubungan, namun rasa takut kehilangan sangat besar di hati kami masing-masing. Entah sejak kapan rasa itu tumbuh. Yang jelas, dulu aku sangat takut kehilangannya, begitu pun sebaliknya.

Kami saling kenal satu sama lain, namun tidak saling mengenalkan keluarga masing-masing. Karena waktu itu mama tidak mau aku dekat dengan lelaki lain selain Mas Dika. Akhirnya Kak Syaif memutuskan untuk kuliah di luar negeri mengambil ilmu kedokteran, disitulah kami mulai jarang sekali komunikasi hingga akhirnya lost contact. Sedangkan Mas Dika tetap kuliah di Indonesia, dan buru-buru meminangku.

     "Na, kenapa bengong? Dari tadi aku panggilin, lho," ucapnya lagi. Aku masih diam, entah harus bicara apa. Rasanya ingin sekali mengatakan bahwa adiknya tengah hancur saat ini, adik yang tidak pernah dia sakiti, adik yang dulu sangat dia jaga bahkan dari gigitan semut sekalipun. Aku diam. Kututupi wajah dengan kedua tanganku, aku menangis. Menahan sesak di dada.

     "Lho, kok nangis? Apa kata-kataku menyakitimu?" tanyanya cepat. "Maaf, Na kalau aku …,"

     "Tidak, Kak," selaku memotong pembicaraan Kak Syaif, "Kata-kata Kakak tidak menyakitiku sama sekali. Aku hanya … sedang merasa sedih. Maaf, sudah membuatmu merasa bersalah," sambungku.

     "Ayolah, Na, kemana Nana yang dulu. Nana yang ceria dan energik, yang hobinya nyubit, ngejar maling, dan naik pohon mangga di depan halaman sekolah. Kenapa sekarang jadi melempem begini kayak kerupuk!" ejeknya sambil memperagakan dengan tangannya. Dimatanya, aku hanya gadis kecil yang belum juga tumbuh dewasa, yang harus selalu dia jaga. Melihat tingkah lucunya membuatku tak bisa menahan tawa, aku terkekeh kecil, lalu kembali diam.

     "Pelit amat ketawanya cuma gitu doang," ejeknya lagi, matanya mendelik.

Ting..

Bunyi pesan mengagetkanku. Kuambil handphone dari tas selempang yang kupakai, ternyata pesan dari Mas Dika.

     [Dek, kamu di mana?] tanya Mas Dika. Ku abaikan empat pesan dan beberapa panggilan darinya, malas bicara dengannya yang dengan mudahnya menyakitiku. Lelaki tidak tahu diri!

Ulang Tahun Nana (part 1)

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 543

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Kenapa tidak kau angkat, Na? Angkatlah, mungkin suamimu khawatir. Atau mau ku antar pulang sekarang? Ayo!" ajak Kak Syaif.

     "Tidak usah, Kak, aku bawa motor," sahutku dengan sedikit senyum meringis. "Aku tidak mau pulang, sudah tidak ada tempat untukku singgah."

     "Ceritakanlah masalahmu jika kau mau, akan ku dengar semua keluh kesahmu. Aku masih sama seperti dulu yang masih peduli padamu, dan itu berlaku seumur hidupku."

     "Kakak pikir e-KTP seumur hidup." Aku mendelik. Aku dan Kak Syaif terkekeh. Kak Syaif memang pandai membuatku tertawa, dia tidak pernah membiarkanku menangis terlalu lama, selalu saja ada bahasan lucu yang membuatku kembali ceria.

     "Nah, gitu dong, tertawalah sebelum tertawa itu kena pajak." Kak Syaif tersenyum. Aku suka melihat lesung pipinya, apalagi saat dia tersenyum lebar. "Sekarang ceritalah selagi masih ada waktu," lanjutnya.

     "Tidak, Kak, jangan sekarang. Belum saatnya kuberitahu. Biarkan aku sendiri dulu yang menyelesaikannya."

     "Baiklah kalau itu maumu, tolong beritahu Kakak jika kau butuh apa-apa, jangan sungkan," pintanya.

     "Iya, nanti aku kabarin. Aku permisi dulu, ya, Kak."

     "Gimana caranya? Nomor Kakak aja kamu nggak punya," kata Kak Syaif melipat tangan di dada dan mendelik ke arahku.

     "Oh, iya lupa." Aku menepuk jidat. Kusimpan nomor Kak Syaif di handphone ku. Lalu bergegas pulang setelah pamit pada Kak Syaif sebelum Mas Dika mencariku. Kunyalakan motor dan melaju dengan kecepatan sedang. Rasanya aneh, disaat hatiku tengah hancur seperti ini, tanpa ku sadari Kak Syaif selalu ada didekatku. Sama seperti dulu, yang tiba-tiba muncul layaknya jagoan neon.

Kuparkirkan motor di halaman rumah, kulihat pintu sudah terbuka lebar saat aku hendak masuk ke dalamnya. Rumah tampak berantakan dengan butiran berkilauan yang begitu banyak sehingga beterbangan ke setiap sudut ruangan, balon-balon yang menempel di dinding, dan diantara bebalonan itu bertuliskan, "Selamat Ulang Tahun". 'Siapa yang ulang tahun?' batinku. Kulihat ada ucapan yang tertera di atas kue, tulisan yang beralaskan dengan coklat blok. Selamat ulang tahun yang ke-31 Bunda.

     "Selamat ulang tahun… selamat ulang tahun… selamat ulang tahun Bunda, semoga panjang umur…." Mas Dika, Kayla dan Qila. Mereka menyanyikan lagu familiar itu bersamaan. Qila yang belum bisa bicara pun tidak mau ketinggalan, tawa riangnya terlihat sangat jelas. Kulihat senyum tanpa beban di bibir Mas Dika, seolah tak terjadi apa-apa. Tidakkah dia sadar apa yang sudah diperbuatnya hari ini padaku? Dia sudah menyiksaku, mencambuk jiwaku, menyayat hatiku dengan belati yang sangat tajam hingga hancur berkeping-keping tanpa sisa.

Namun dengan santainya dia bernyanyi untukku, dan itu adalah sebuah ejekan bagiku! Apa dia merayakan ulang tahunku sekaligus merayakan kebahagiaan atas kehamilan gundiknya?

     "Bunda, kok diem aja, sih?" tanya Kayla heran melihatku sedari tadi hanya diam. "Kenapa Bunda lihatin Ayah terus dari tadi? curang ah Bunda lihatin Ayah terus, Kayla sama Dede nggak di lihatin," protes Kayla.

Ku abaikan semua yang ada di sekitarku, aku hanya melihat ke satu titik, wajah Mas Dika. Aku tidak peduli dengan ulang tahun yang mereka rayakan. Bagiku, ini adalah perayaan atas kebahagiaan mereka berdua, Mas Dika dan gundiknya. Hari bahagiaku yang seharusnya kunikmati dengan keluarga kecilku saja, kini harus ada wanita lain yang merusak dan memporak porandakan rumah tanggaku, menghancurkan keluargaku, merebut suami sekaligus ayah dari anak-anakku.

Tak terasa bulir bening mengalir di pelupuk mataku, langsung kuseka meski tetap mengalir, begitu seterusnya dan tak ada hentinya.

 

Ulang Tahun Nana (part 2)

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 519

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Kamu kenapa, Dek?" tanya Mas Dika heran, sambil membawa kue tart itu.

     "Bunda kenapa nangis?" Kayla ikut berkomentar, wajahnya terlihat sendu.

     "Bunda nggak apa-apa, Nak," senyumku mengembang. Aku tak ingin merusak kebahagiaan anak-anakku, biarlah aku berakting untuk sementara, berakting bahwa aku baik-baik saja, meski sebenarnya luka hatiku menganga.

     "Ayo, Nda. Berdoa dulu sebelum tiup lilin, ya," titah Kayla yang begitu senangnya. Kayla memang sudah lama menunggu momen seperti ini, karena kebersamaan dengan keluarga yang sangat dirindukannya, mungkin karena beberapa bulan ini kami tidak pernah berlibur di akhir.

Entah kenapa, meski hatiku sudah sangat sakit, aku masih mengharapkan Mas Dika kembali. Melihat kedua putriku yang masih kecil, membuatku dilema dengan keputusan apa yang akan aku ambil. Meski perbuatan Mas Dika yang sudah diluar batas dan membuatku enggan memaafkannya, namun akan kucoba memberinya kesempatan kedua. Demi Kayla dan Qila.

Sebelum kutiup lilin itu, hanya satu yang aku inginkan. Keluargaku utuh kembali tanpa adanya orang ketiga, bahagia dan bersama hingga ke surga.

Dengan riangnya mereka bertiga bercanda dan berbincang, saling menyuapi kue satu sama lain, sesekali kue itu di oleskannya ke wajah mereka, berlarian kesana kemari, saling lempar mainan dan boneka. 'Ya Allah, sungguh pemandangan yang indah. Bisakah Kau hilangkan pikiranku yang masih saja memikirkan janin di perut wanita itu meski sejenak? Hanya sejenak Ya Rabb. Aku ingin bercanda tawa dengan keluarga kecilku tanpa beban yang tengah menghimpitku saat ini,' batinku lirih.

Malam merangkak naik, kulihat jam dinding sudah pukul sebelas malam, Kayla dan Qila pun tertidur pulas di kamarnya karena kecapekan. Mas Dika mendekat, dia meraba perutku hingga ke atas, aku tau itu kode bahwa dia ingin memuaskan hasratnya. 'Apa belum kenyang dia tidur dengan gundiknya selama ini?' batinku. 

     "Maaf, Mas, aku lelah. Ngantuk." Karena risih dengan sentuhannya, aku pura-pura ngantuk dan memunggunginya. Aku belum siap, karena masih melekat di pikiranku kejutan yang diberikannya siang tadi. Dia memang tidak memaksa, tapi tetap mendekapku dari belakang.

     "Tidak apa, tidurlah."

*****

     "Hmm, nasi goreng udang spesialnya enak, Bunda. Besok bikin lagi, ya, Nda," pintanya semangat sambil melahap nasi goreng itu hingga tandas.

     "Ayah, besok ayah libur, kan? Kita pergi berkuda, yuk! Udah lama banget Kayla nggak pernah berkuda lagi," rengek Kayla yang kesekian kalinya minta jalan-jalan. Namun, lagi-lagi Mas Dika menolak dengan alasan pekerjaan.

     "Kalau minggu depan gimana, sayang? Kebetulan besok ayah ada perlu penting. Ayah janji, minggu depan kita berkuda dan memanah, Oke?!" 

     "Horee ... bener, ya, yah. Janji?" Kayla mengulurkan kelingkingnya, lalu Mas Dika mengaitkan kelingkingnya yang besar itu hingga tak terlihat lagi kelingking mungil Kayla.

Meski ribuan janji yang Ia berikan, tapi hasilnya selalu mengecewakan. Aku tidak peduli lagi tentang apapun yang dikatakannya, karena hatiku sudah lelah menerima kejutan demi kejutan yang diberikannya padaku. Aku hanya bertahan untuk anakku.

Jika aku mengalah, mungkin aku bisa melihat anak-anakku bahagia kelak, karena utuhnya keluarga tanpa lagi ada prahara. Yaah … Setidaknya anakku tetap bersama ayahnya, meski rasaku tak lagi seperti dulu.

Anak-anak adalah prioritasku sekarang, tawa mereka adalah bahagiaku, karena kebahagiaan mereka tak dapat ditukar dengan apapun. Semoga aku bisa membuat mereka selalu tertawa dan ceria, meski luka hati trus menganga.

 

Kado untuk Nana

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 561

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Dek, ini untukmu, kado spesial dariku," disodorkannya kotak merah kecil berbentuk hati.

     "Cincin berlian?" Tak disangka, Mas Dika masih terpikir untuk memberi cincin berlian bermata biru padaku. Cantik. Aku yakin dia punya maksud dibalik sikapnya yang manis ini, entah apa itu, "Kamu dapat uang darimana beli cincin ini, Mas? Setahuku tabungan kita nggak sebanyak itu?" tanyaku heran.

     "Hasil menabung, cantik nggak cincinnya?"

     "Cantik, sih. Tapi, buat apa beli cincin semahal ini, Mas? Mending uangnya kita tabung buat Kayla sekolah."

     "Jangan khawatir, Mas bisa menabung lagi nanti."

     "Waah cincinnya bagus banget, Yah. Kayla juga mau, dong. Masa bunda doang yang dibeliin, Kayla nggak," protes Kayla, kepalanya mendekati cincin itu.

     "Iya, sayang, nanti ayah beliin kalau ada rezeki lagi, ya." Di elusnya rambut panjang Kayla. 

     "Iya, Ayah," Kayla tersenyum.

     "Sudah jam tujuh lewat, kamu nggak berangkat kerja, Mas?" tanyaku. Kusimpan cincin yang kupegang ke tempatnya, kotak kecil berbentuk hati.

     "Nanti jam sepuluh, Mas cuti setengah hari." Mas Dika mendekat, wajahnya terlihat tegang, seolah ingin menyampaikan sesuatu. "Mas mau bicara serius, Dek" lanjutnya.

     "Mbak Yuli!" panggilku, "Tolong bawa anak-anak ke taman dulu, ya," pintaku setelah Mbak Yul menghampiri. Dibawanya anak-anak oleh Mbak Yul.

     "Lanjut, Mas. Bicaralah," titahku.

     "Mmm … Lusa, Mas mau menikah."

Deg!

Sudah kuduga, perlakuan manisnya sejak tadi malam, ternyata dibalik semua itu ada keinginan yang menggebu.

     "Menikah, Mas? Secepat itu?" tanyaku lirih. Hatiku yang sakit semakin sakit, dadaku sesak, jantungku seolah berhenti berdetak.

     "Tolong pikirkan dulu, Mas. Apa aku dan anak-anakmu sudah tak berarti lagi?"

     "Kalian sangat berarti bagiku, tapi maaf, Dek … Mas memang harus menikah secepatnya. Mas akan menikahinya tanpa pisah denganmu. Mas mau kamu menerimanya," ucapnya.

     "Menerimanya? Jangan harap, Mas. Lagipula, apa kau tidak melihat anak-anak? Mereka masih kecil, Mas. Mereka masih membutuhkanmu."

     "Iya, Mas tau, Mas tidak akan menyia-nyiakan mereka, perhatian Mas terhadap anak-anak akan tetap sama."

     "Tetap sama kamu bilang? Kamu tahu nggak, Mas, terakhir kali kamu ajak Kayla jalan-jalan kapan? Jangan suka umbar janji kalau tidak ada niat menepati, karena akhirnya hanya akan menyakiti. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menerima Indah, Mas."

     "Jangan keras kepala kamu, Nana. Apa kurang perhatianku kemarin? Aku bela-belain beli cincin berlian, kamu masih nggak mau menerima Indah," bentaknya.

     "Harusnya kamu yang buka hati nuranimu, Mas. Jika bukan untukku, setidaknya untuk anak2 yang masih sangat membutuhkanmu. Tolong tinggalkan Indah!" Beberapa kali kukatakan itu, namun hasilnya nihil. Hatinya sekeras batu. bahkan lebih keras dari batu.

     "Sudah Mas katakan Mas tidak bisa meninggalkannya karena …,"

     "Karena Indah hamil," selaku memotong pembicaraan Mas Dika. "Tega kamu, Mas. Berani-beraninya kau menghamili wanita yang masih haram bagimu," pekikku kesal. Mas Dika melotot, mungkin tak menyangka kalau aku akan mengatakan hal itu.

     "Darimana kau tau Indah hamil?" tanyanya cepat, wajahnya terlihat sangat marah, berubah jadi sangar.

     "Kemarin aku mengikutimu ke Rumah Sakit, tapi ternyata kudapati berita yang sangat menghancurkan hatiku, kehamilan Indah yang sebelumnya tak pernah kusangka sama sekali. Wanita jalang! Tidak punya hati!"

     "Cukup! Jaga mulutmu! Jangan pernah kau menghinanya di depanku seperti itu!"

     "Kau pandai menjaga perasaan gundikmu, tapi apa pernah kau menjaga perasaanku? Lagipula, apa kamu gak sadar aku bersikap seperti ini karena siapa? Karena kamu, Mas! Kau sudah membodohiku, menghianatiku. Harusnya kau jaga keluargamu, bukan malah memilih wanita jalang yang hobinya bermain lendir dengan suami orang!"

Plakk!

Satu tamparan mendarat di pipiku. Sakit. Perih. Aku terhuyung mundur karena kerasnya tamparan itu!

 

Dekapan Hangat Mama

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 593

-Sarkat Jadi Buku

 

Namun ini tak seberapa bagiku, karena hatiku jauh lebih perih dari tamparan itu. Dika Pradipta! Tanpa pikir panjang dia mendaratkan tangannya begitu keras pada wajahku. Kutahan air mataku sebisa mungkin, jangan sampai air mata ini meluncur, dia tak pantas menerimanya. Air mata ini terlalu berharga untuknya.

     "Kau menamparku, Mas? Seorang Dika Pradipta menamparku?" Ku tatap matanya tajam, dan kupegang pipiku yang terasa perih dan panas. Almarhum ayah tidak pernah menamparku sekeji itu. Tapi dia, Dika Pradipta, orang yang sudah menyakitiku seenak perutnya, sekarang malah berani menamparku. 

     "Maaf, Na. Aku …," umpatnya yang tak berani bicara apapun. Dia menatapku iba, sesekali melihat tangannya sendiri yang telah melayangkan tamparan keras pada wajahku. Tangannya meraihku, meminta maaf. Namun dengan sigap kutepis tangan lelaki kasar itu. Tak sudi aku disentuhnya.

     "Sepertinya kau sudah termakan omongan wanita itu, Mas. Karena kau selalu ada dipihaknya. Sekali saja aku dapat pembelaan darimu, namun sepertinya mustahil." Mas Dika masih bungkam tak bersuara.

     "Ingat, Mas, tidak ada satupun wanita selain aku yang bisa menerima kekurangan dan kelemahanmu, tidak satupun termasuk Indah. Wanita yang sangat kau bangga banggakan itu suatu saat pasti akan meninggalkanmu. Pada akhirnya, kau akan menyesal atas perbuatanmu sendiri," ucapku dengan penuh percaya diri. Mas Dika hanya menelan ludah.

Kali ini darahku benar benar mendidih, ingin sekali kuhampiri wanita itu dan mencabik wajahnya karena sudah meracuni hati Mas Dika.

Racun apa yang dia beri pada suamiku? Dia berhasil merubah Mas Dika dengan drastis, dia pun mengandalkan hartanya untuk membuat Mas Dika tergiur.

     "Kurasa cukup sampai disini! Ceraikan aku, Mas!" pintaku yakin.

     "Nggak, Dek. Mas minta maaf, Mas terlalu emosi tadi."

     "Ku katakan sekali lagi, ceraikan aku!" teriakku menahan emosi yang berkecamuk di dada.

Cklek! (Pintu terbuka)

     "Assalamu'alaikum," salamnya cepat.

     "Mama?" Kulihat wajah mama penuh emosi, matanya membulat besar dan terlihat merah seperti sedang menangis. Beliau berjalan cepat, matanya tertuju pada Mas Dika.

Plakk!

Satu tamparan yang cukup keras tepat di pipi kiri Mas Dika. Entah kenapa hatiku merasa puas melihatnya, sakitku ini sedikit terobati.

     "Kurang ajar kamu Dika! Berani sekali kau menyakiti anakku! Kamu lupa, bagaimana gigihnya kamu untuk memintanya dariku?" Mama terus mencaci Mas Dika habis-habisan, dikeluarkannya unek-unek yang telah membengkak di benaknya.

     "Maaf, Ma …," umpat Mas Dika yang tak berani menatap wajah Mama.

     "Maaf kamu bilang? Apa dengan maaf semua bisa kembali seperti semula? Saya akan memaafkanmu, itupun jika kamu bersedia meninggalkan simpananmu dan kembali pada keluargamu!" sentak Mama. Mas Dika hanya diam. Aku tau dia bingung, jika dia kembali, bagaimana dengan janin yang ada di perut Indah.

     "Bukan hanya anakku yang sakit, saya pun sakit karena sudah menerima pinanganmu dengan kepercayaan penuh padamu Dika Pradipta! Seandainya dulu saya tau sifat aslimu seperti ini, tidak sudi saya menyerahkan Nana pada laki-laki tidak bertanggung jawab sepertimu!" bentak Mama. Tangan Mama kembali ingin menampar Mas Dika, namun dengan cepat kutahan.

     "Jangan, Ma. Nana nggak mau Mama mengotori tangan Mama sendiri. Biarlah ini terjadi." Ku turunkan tangan Mama, lalu meraihnya. 

Aku tenggelam dalam dada seorang wanita yang telah melahirkanku 31 tahun yang lalu itu. Sudah lama momen ini kunantikan, mendekap erat seorang wanita tangguh dalam hidupku. Seakan beban di pundakku hilang seketika. Kurasakan jantung Mama yang berdetak cukup kuat, dan hela nafas yang tak beraturan. Sesekali Mama menelan ludah, seolah masih ingin meluapkan amarahnya yang masih menyisa di benaknya. Meluncurlah bulir bening dari mata sayu Mama, ku rasakan tetesannya di wajahku, tangisan Mama adalah lukaku.

     "Jangan menangis, Ma, Nana nggak papa, Nana baik-baik saja." Aku terisak, seketika dekapan Mama semakin erat. Aku dan Mama terhanyut dalam kesedihan mendalam.

 

Visum (part 1)

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 662

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Selalu itu yang kau katakan agar Mama tidak khawatir. Kau sedang tidak baik-baik saja anakku, kau berada di ambang kehancuran. Kalau saja Kakakmu tidak cerita, Mama tidak akan tahu apa-apa. Masalah besar seperti ini tidak bisa kau hadapi sendiri, sayang. Seharusnya kau ceritakan masalahmu kepada Mama, kita cari solusinya bersama."

     "Mama benar!" Seorang wanita cantik berhijab syar'i dan terlihat anggun tiba-tiba datang dari arah pintu.

     "Kak Rindi?" Aku melepas pelukan Mama pelan. Kak Rindi menghampiriku, menepuk pundakku.

     "Kakak percaya kamu wanita yang kuat, maka dari itu Allah berikan ujian seperti ini padamu. Kalau Kakak yang menjalaninya belum tentu sekuat kamu, adikku," Kak Rindi tersenyum. 

     "Pipimu kenapa, Na?" tanya Kak Rindi yang kaget melihat pipiku tampak memerah. "Dika menamparmu?" tanyanya lagi. Aku diam.

     "Lho, Mama malah nggak tau kalau pipi Nana merah," sambung Mama.

     "Itu karena Mama dari awal fokus memarahi Mas dika, jadi Mama nggak lihat," ucapku pelan.

Mama menoleh ke arah Mas Dika, "Kurang ajar kamu Dika! Berani sekali kau menampar anakku, kamu yang salah kamu sendiri yang memukul. Ditaro dimana otakmu, Hah!" sentak Mama kesal. Tangannya menunjuk wajah Mas Dika.

     "Dengan perbuatanmu yang sudah di luar batas itu, akan ku kupastikan kau akan menyesal suatu saat nanti," sambung Kak Rindi. "Ayo, ikut Kakak!" Kak Rindi menarik tanganku cepat.

     "Kemana, Kak?"

     "Udah ikut aja! Ayo, Ma!" panggil Kak Rindi, karena Mama masih sibuk menginterogasi Mas Dika. Dibukanya pintu mobil untukku. Mama mengekor.

     "Masuk!" titahnya padaku. Disusul Kak Rindi dan Mama masuk dalam mobil. Lalu melaju dengan kecepatan sedang.

     "Mas, kita ke Rumah Sakit, ya," titah Kak Rindi pada Kak Senja, suaminya. Kak Senja memang terlihat diam dan cuek, tapi sebenarnya dia orang yang baik. Dia tipe orang yang sedikit bicara, tapi banyak bertindak.

     "Rumah sakit? Ngapain? Aku nggak apa-apa, kok, Kak. Masa ditampar doang harus ke Rumah Sakit?"

     "Kita akan melakukan visum,"

     "Lalu anak-anakku? Mereka pasti mencariku, Kak."

     "Sudah Kakak titipkan ke Mbak Yul, tadi sebelum ke rumahmu Kakak ketemu sama Mbak Yul dan Anak-anak di taman. Mereka sedang asyik main perosotan sambil makan pizza yang Kakak bawa."

     "Makasih, ya, Kak." Aku tersenyum. Merasa lega. Kak Rindi memang yang terbaik, dia Kakak keduaku, tempat keluh kesahku. Bahu ternyamanku setelah Mama.

     "Kayaknya anak-anakmu nggak pernah makan pizza, deh. Mereka terheran-heran gitu lihat pizza. Mereka bertanya dengan polosnya dan mengangkat pizza itu dengan kedua jarinya, jempol sama telunjuk, 'ini apa bude?'." Kak Rindi mempraktekan dengan tangannya, lalu terkekeh puas meledekku.

     "Begitulah, Kak, sudah lama sekali kami memang nggak pernah jalan-jalan di akhir pekan. Sedangkan tiap kali Kayla minta, Mas Dika selalu beralasan sibuk kerja, padahal dia sibuk dengan gundiknya," keluhku.

     "Nanti Kayla sama Qila mau Mama bawa biar tidur di rumah Mama, kemarin cuma dua hari doang nginep, sekarang biar seminggu. Bila perlu sampai urusanmu dengan suamimu yang tidak tahu diri itu selesai," ucap Mama masih terlihat kesal. 

     "Kelamaan, Ma, kalau seminggu. Nanti Nana kangen sama mereka," protesku.

     "Biarin, Mama nggak mau cucu Mama jadi korban yang menyaksikan pertengkaran kalian. Karena itu akan mengganggu mental mereka," ujar Mama melipat tangannya di dada.

Setibanya di Rumah Sakit, Kak Rindi kembali menggandengku.

     "Lho, kenapa Rumah Sakit ini, Kak?" tanyaku panik.

     "Ya, karena disini pelayanannya bagus, lengkap dan berkualitas," jawabnya cepat.

     "Emang nggak ada Rumah Sakit lain selain ini?"

     "Ada, tapi jelek!"

'Rumah Sakit ini, 'kan tempat Kak Syaif praktek, gawat kalau sampai ketemu, bisa malu aku,' batinku sambil tengok kanan kiri.

     "Kita cari Rumah Sakit lain aja, Kak. Aku mohon," pintaku memaksa. Kak Rindi tak menjawab, tangannya terus menarikku. Kami pun tiba di tempat resepsionis, mendaftar sesuai sakit yang diderita.

Setelah daftar selesai, Kak Rindi kembali menarikku dengan cepat, "Ya ampun, Kak. Aku udah kayak sapi kurban di taik-tarik gini," protesku. Mama mengekor dibelakangku, untunglah Rumah Sakitnya tidak terlalu penuh seperti kemarin, jadi bisa langsung diperiksa, hanya menunggu antrian beberapa pasien saja. Aku duduk santai dibangku, lelah karena Kak Rindi terus menarikku layaknya sapi kurban.

     "Nana!" Seseorang memanggilku.

     "Astaga! Suara itu …,"

 

Visum (part 2)

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 640

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Itu suara Kak Syaif," umpatku. Karena dia terus memanggilku, terpaksa aku menoleh ke arah sumber suara.

     "Kak Syaif," sahutku tersenyum tipis, menutup pipiku dengan hijab yang aku pakai.

     "Syaif? Kalau tidak salah, kau mantannya Nana bukan? Eh, maksudku teman SMA nya Nana. iya, 'kan?" Kak Rindi terkekeh. 

     "Iya, Kak. Benar," jawab Kak Syaif, senyumnya mengembang.

     "Wah, hebat sudah jadi dokter sukses. Jadi Dokter apa sekarang? Anak? Kandungan? Umum? Atau Dokter Cinta?" Kini Kak Rindi dan Kak Syaif terkekeh.

     "Khem," aku dehem. Memberi kode pada Kak Rindi agar tak bicara macam-macam.

     "Hahaha, ada yang jealous. Aku serius, jadi Dokter apa sekarang, Syaif?" tanya Kak Rindi penasaran setengah girang. Karena Kak Rindi tau, bahwa dulu aku sempat menyukai Kak Syaif. Setiap mau tidur, kami saling curhat sampai tengah malam. Yang sering aku ceritakan ya tentang Kak Syaif, bukan tentang Mas Dika. Kak Syaif dan Mas Dika adalah Kakak kelasku.

     "Dokter ahli jantung, Kak," jawabnya.

     "Wah, kebetulan. Coba cek jantungnya Nana, kayaknya berdetak lebih cepat dari biasanya, deh." Kak Rindi terkekeh.

     "Kakak!" panggilku pelan, hanya mata saja yang melotot memberi kode pada Kak Rindi. Kak Syaif pun terlihat menahan tawanya.

*****

Usai visum, disimpannya hasil tes tersebut untuk berjaga-jaga ke dalam tas selempang yang Kak Rindi pakai. "Akan ku jadikan ini sebagai barang bukti jika terjadi sesuatu pada rumah tangga adikku," ucapnya pelan dan tersenyum miring. Memang patut diacungi jempol tindakan kakakku itu. 

Aku, Kak Rindi dan Kak Syaif tengah mengobrol di kantin Rumah Sakit. Kami berbincang cukup serius. Sedangkan Mama dan Kak Senja pulang jemput Kayla dan Qila, mereka akan menginap lagi di rumah Mama beberapa waktu yang belum ditentukan. Mama tidak mau cucunya menyaksikan pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi pada orang tuanya.

     "Kakak nggak nyangka, Na, kalau suamimu setega itu menyakitimu! Bagaimana bisa dia melakukan itu, kamu sudah melahirkan kedua putrinya, seharusnya dia lebih menjagamu!" ucap Kak Syaif kesal. Aku hanya diam.

     "Nggak papa, Kak. Mungkin takdir," ucapku pelan.

     "Iya, mungkin takdir mempertemukan kalian kembali, khem," ledek Kak Rindi.

     "Dih, Kakak apaan, sih!" Aku mendelik. Kak Rindi terkekeh geli, tawanya terdengar renyah ditelinga. Kak Syaif mesem-mesem dengar ucapan Kak Rindi.

     "Maaf, Kak. Kak Rindi gila memang nggak ada obatnya," kataku mendelik ke arah Kakakku itu. Kak Syaif tertawa kecil.

     "Oh, iya. Sudah hampir jam sembilan. Maaf semuanya, saya harus bersiap untuk operasi, senang bisa berbincang dengan kalian. Kapan-kapan jika diperbolehkan, saya ingin bergabung kembali," kata Kak Syaif sambil beranjak dari tempat duduknya dan mengenakan jas putih yang sempat dilepasnya tadi.

     "Dengan senang hati, Dokter Syaif," sahut Kak Rindi senang.

     "Biasa aja, Kak. Nggak perlu panggil Dokter, panggil aja Syaif," katanya yang kemudian berlalu dari hadapan kami setelah berpamitan. Kak Rindi tersenyum lebar, kedua alisnya bergerak naik turun melihatku, seolah sedang meledekku.

     "Idih, apaan, sih. Kak?" Keningku mengernyit melihat keanehan Kak Rindi. 

     "Ternyata benar kata pepatah, gugur satu tumbuh seribu!" Kak Rindi terkekeh puas.

     "Hadeeh, mulai lagi deh gilanya." Aku menepuk jidat. Kak Rindi masih terkekeh.

*****

     "Makasih ya, sayang, udah mau capek bolak-balik, antar jemput aku sama Mama dari pagi sampe sekarang," Kak Rindi merangkul tangan dan menyandarkan kepalanya di pundak Kak Senja yang tengah menyetir mobil.

     "Sama-sama Cinta," balasnya sambil tersenyum ke arah Kak Rindi. 'Syukurlah, hubungan mereka baik-baik saja, meski mereka sudah memiliki tiga orang anak, mereka tetap terlihat mesra dan romantis. Seandainya aku dan Mas Dika seperti mereka,' batinku. Aku menghela nafas panjang.

     "Khem, ada aku lho, jangan bikin aku iri, deh," sindirku. Kak Rindi terkekeh.

     "Na, menurutmu gimana Syaif? Apa kamu masih ada rasa sama dia?" tanya Kak Rindi.

     "Astaga, Kak. Urusan dengan Mas Dika aja belum beres, malah nanyain cowok lain," jawabku sekenanya.

     "Iya, kan, Kakak penasaran, siapa tau dia juga masih ada rasa sama kamu, Na." Kak Rindi tersenyum, "Menurut Kakak, sih. Dia masih menyukaimu," lanjutnya.

     "Dih, Kakak sok tahu, deh!" Aku mendelik.

 

Egois!

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 516

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Setahu Kakak, Syaif itu seorang duda,"

     "Apa? Seriusan, Kak? Sejak kapan? Istrinya kemana emang? Kenapa Kak Syaif nggak cerita?"

     "Ya ampun, banyak amat, sih pertanyaannya. Kakak harus jawab yang mana dulu, nih?" tanya Kak Rindi yang kebingungan menjawab. Setelah Kak Rindi menjelaskan semuanya tentang Kak Syaif, aku merasa iba padanya. Entah bagaimana perasaannya saat sebulan setelah menikah, Kak Syaif harus rela kehilangan istrinya yang telah tiada akibat kecelakaan pesawat.

Sesampainya di rumah, ku dapati Mas Dika tengah duduk di sofa yang sepertinya sedang menunggu kedatanganku. Saat tau aku datang, lelaki kasar itu langsung menghampiriku. Meminta maaf. Kali ini Kak Senja yang bicara dengan Mas Dika.

     "Maaf, Nana, Dika, bukan maksud saya ikut campur. Saran saya, lebih baik kalian pikirkan dulu baik-baik, mau dibawa kemana hubungan kalian. Lihatlah anak-anak kalian yang masih sangat kecil. Ayolah, jangan saling mementingkan ego masing-masing."

     "Iya, Kak," jawabku, juga Mas Dika.

     "Yasudah, Kakak pulang dulu ya, Na. Hari sudah mulai sore," pamit Kak Rindi. 

     "Iya, Kak. Hati-hati dijalan," pesanku sebelum Kak Rindi beranjak.

     "Oh, ya. Untuk sementara, Kayla dan Qila tinggal bareng Kakak dulu, ya. Jangan khawatir, mereka akan baik-baik saja, mereka pasti betah kalau ada Mama," ucap Kak Rindi yang mencoba menenangkanku.

Setelah Kak Rindi dan Kak Senja pamit dan deru mobilnya sudah lagi tak terdengar, aku bergegas ke kamar tanpa memperdulikan panggilan Mas Dika. Mas Dika mengekor.

     "Kamu dari mana saja, sih, Dek. Sore gini baru pulang?" tanya Mas Dika berdiri tepat di belakangku yang tengah merapikan pakaian di lemari. 

     "Dek, Mas minta maaf atas kejadian tadi pagi, Mas Khilaf," ucap Mas Dika menangkupkan kedua telapak tangannya. Aku masih diam, melipat pakaian di bibir ranjang, sesekali mengambil pakaian lain di lemari. Mas Dika tetap mengekor kesana kemari.

     "Sudahlah, Mas, jangan mengikutiku terus, urus saja dirimu sendiri. Lagipula, bukannya besok kamu mau nikah?" tanyaku sinis. Aku kembali duduk melipat pakaian.

     "Justru itu, Dek, kita harus bicarakan ini. Mas mohon tenangkan dulu pikiranmu sebentar saja, Dek," kata Mas dika sambil menggenggam tanganku. "Besok Mas akan menikahi Indah, Mas Mau kamu hadir di pernikahan itu, karena itu permintaan orang tuanya Indah." Kali ini, kedua tangannya membingkai wajahku yang menahan sesak di dada. Lagi-lagi keinginan mereka yang Mas Dika turuti, sedangkan keinginanku selalu saja diabaikannya.

     "Permintaan orang tuanya? Bukankah mereka taunya Mas duda? Lalu apa hubungannya dengan kehadiranku?" tanyaku heran. Keningku mengernyit.

     "Mas sudah jujur pada mereka, bahwa Mas masih sah suamimu."

     "Lalu, tanggapan mereka?"

     "Karena hubungan kami sudah terlanjur jauh, dan mereka pun sudah tau kehamilan Indah, terpaksa mereka yang awalnya menolak kami, sekarang menyetujuinya."

     "Egois! Kalian semua egois! Kalian hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan kedua putriku yang harus berpisah dengan ayahnya!" kataku setengah teriak.

     "Bukan itu maksudku, Dek, mereka hanya…," 

     "Sudahlah, Mas! Bela saja mereka terus!" selaku memotong pembicaraan Mas Dika, sambil kuturunkan kedua tangannya kasar, "Hadir atau tidak, itu urusanku. Kita lihat saja besok!" ketusku.

     "Baiklah, Mas tunggu jam delapan pagi, kamu harus datang. Kalaupun tak kunjung datang, Mas sendiri yang akan menyeretmu kesana!" kata Mas Dika sebelum beranjak dari kamar dan menutup pintu cukup keras. 

 

Malam Terakhir

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 519

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Astagfirullah ... permintaan maaf macam apa itu? Kasar sekali. Lagi pula, sepertinya aku tak sanggup menyaksikan pernikahan mereka," gumamku. Kuhentikan aktifitasku melipat pakaian, lalu berbaring diatas kasur, menikmati malam terakhirku tanpa adanya wanita lain di rumah ini. Karena mungkin saja besok akan ada sosok wanita asing yang juga akan menempati rumah kesayanganku ini, bahkan mungkin aku yang akan tersisihkan. 

Kupandangi langit-langit sekeliling kamar, tempat terindah yang sudah membersamaiku juga Mas Dika selama tujuh tahun lamanya. Tempat ternyaman kami berdua saat memadu cinta yang didalamnya terucap janji setia. Sayangnya, itu akan menjadi kenangan yang mungkin akan sulit dilupakan. 

Hari Sudah mulai gelap. Matahari yang amat terik sudah tak lagi menampakan sinarnya, tenggelam membawa luka hatiku yang tak lagi bisa terobati. 

Kruyuk..

Kupegang perutku yang bunyi, "Ya ampun, cacing-cacingku kelaparan," gumamku. Perutku yang begitu lapar tidak bisa lagi diajak kompromi, meski semua makanan terasa pahit dan hambar, namun harus tetap kupaksa untuk makan. Dengan rasa malas,  kuberanjak dari tempat tidur menuju dapur. Lagi-lagi Mas Dika mengekor.

     "Dek, Mas lapar. Di kulkas hanya ada buah, nggak ada lauk buat makan," ucap Mas Dika memegang perutnya. Untung di kulkas masih ada stok La fonte, spaghetti yang biasa dibuat untuk mengganjal perut saat tidak ada makanan berat di tengah malam. Bahkan setelah kami bersenggama pun, Mas Dika selalu membuatkannya untukku.

Spaghetti selesai dibuat, kutaruh di atas meja tepat di depan Mas Dika, disusul dengan es jeruk peras. "Makasih ya, Dek. Masih mau masakin makanan buat Mas," ucapnya. Aku hanya diam. Kududuk di seberang meja Mas Dika, dan mungkin ini makan malam terakhir kami berdua. 

Sesekali kulirik lelaki yang masih bergelar suamiku itu. 'Seandainya kau tidak senekat itu, Mas. Seandainya Indah tidak hamil, aku pasti akan terus mempertahankanmu, tapi … sejujurnya aku tidak rela melepasmu begitu saja untuk wanita lain,' batinku yang masih menatapnya diam-diam. Merasakan dilema yang mendalam.

Kurapikan meja usai makan malam, sedangkan Mas Dika sibuk mencukur bulu halus yang tumbuh di rahangnya. Aku paham, karena pengantin baru memang harus tampil sempurna.

*****

     "Mas bangun!" Kugoyangkan bahunya kuat. Aku dan Mas Dika memang tidur sekamar, tapi kami tidak melakukan sesuatu layaknya suami istri. Rasanya aneh, canggung. Jangankan untuk berhubungan, manggil 'sayang' pun rasanya sudah tidak mungkin, sudah tak ada lagi getaran di hati, sungguh beda rasa ini dengan yang dulu.

     "Apa, sih, Dek. Mas masih ngantuk, nih," jawabnya sambil ngulet, lalu ganti posisi tidur. Kubangunkan kembali lelaki yang tidurnya persis kebo itu. Kudekatkan bibirku di telinga Mas Dika, "Udah siang, jadi nikah nggak ...," ucapku pelan. Mas Dika terperanjat kaget, matanya langsung terbelalak melihat sekitar.

     "Jam berapa ini? Gawat! Aku kesiangan!" ucapnya panik, Mas Dika langsung lari ke kamar mandi membersihkan badannya. Aku terkekeh saat dia keluar dari kamar mandi.

     "Aku bercanda, Mas. Ini masih jam setengah lima, subuh."

     "Ya ampun, Dek, kirain kesiangan beneran … sana mandi, kita salat subuh berjamaah, ya," titahnya. 

Usai salat, Mas Dika tengah bersiap ke acara pernikahannya. Kusiapkan sarapan untuknya, roti bakar dan susu putih. Dilahapnya beberapa roti bakar dan susu hingga tandas. Dipakainya tas kecil yang biasa Mas Dika bawa kemana-mana. Mas Dika terlihat rapi dan tampan.

 

Pernikahan Kedua

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 585

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Udah siap belum, Dek? Ayo berangkat," ajaknya padaku. Dengan santainya dia mengajakku ke acara pernikahannya seperti mengajak ke tempat rekreasi. Apa dia nggak sadar bahwa ajakannya melukai hatiku.

     "Duluan aja, Mas. Nanti aku nyusul," titahku yang malas beraktivitas. Rasanya tak ingin beranjak dari tempat tidur kesayanganku ini meski sudah mandi dan bersiap. Namun apa daya, Mas Dika terus memaksaku hingga akhirnya aku menurut. Dibukanya pintu mobil untukku. Ku duduk disamping Mas Dika, lalu melaju dengan kecepatan sedang.

     "Doakan acaranya lancar ya, Dek," katanya memecah suasana yang sempat hening. Aku diam. Malas berkomentar. Tangan kiri Mas Dika menggenggam tanganku, "Dek, maafin Mas, ya. Tolong katakan sesuatu, Dek, jangan diam seperti ini. Bersikaplah seperti biasa."

     "Bersikap seperti biasa kamu bilang, Mas? Kamu pikir segampang itu!" Ketusku.

     "Ayolah, Dek. Jangan seperti ini. Bersikaplah dewasa." Lagi-lagi ucapannya bikin aku geram. 

     "Ya, semoga lancar," ucapku kilat.

Setelah sampai di acara Pernikahan Mas Dika, ada beberapa orang yang aku kenal disana, ternyata sebagian teman-teman merahasiakan hubungan terlarang mereka dariku. Jahat! 

Kulihat luasnya tenda biru yang terpasang rapi, janur kuning yang didalamnya bertuliskan nama mereka, beberapa buket bunga yang cantik, lampu hias berkelip, taman hias yang dilengkapi air mancur sehingga terasa sejuk. Ditambah bunga-bunga hidup yang tentu semakin tampak indah dan wangi, terutama harum bunga melati yang khas. Semuanya tampak sempurna. 

     "Dika? Apa kabar, Bro? tanya salah satu temannya.

     "Hai Bro, alhamdulillah kabar baik," jawabnya girang.

     "Akhirnya kamu menikah juga dengan Indah. Selamat, ya," sambung salah satu temannya yang lain. Mas Dika berbincang dengan para tamu penuh tawa, tanpa menghiraukanku yang sedari tadi ada di sampingnya, yang tentu masih sah istrinya.

     "Jeng! Dika sudah datang!" seru salah satu keluarganya Indah yang tetiba menghampiri kami.

     "Dika, Syukurlah kamu datang tepat waktu. Pak Penghulu belum datang, Dik. Katanya kena macet," ucap Bu Vira, ibunya Indah. Awalnya Bu vira melarang hubungan mereka, tapi karena kehamilan Indah, Baik Bu Vira atau suaminya akhirnya mendukung penuh pernikahan mereka.

     "Tidak apa, Bu. Kita tunggu saja," ucap Mas Dika ramah, "kakaknya Indah, apa dia datang? Sampai sekarang, Dika belum sempat kenalan dengan kakaknya yang baru pulang dari London," lanjut Mas Dika. Ternyata Indah punya saudara, bisa-bisanya Mas Dika belum sempat ketemu dan minta restunya.

     "Belum, Dik. Katanya, sih masih dijalan," jawab Bu Vira. "Bu Heni! Dika sudah datang!" panggil Bu Vira pada seseorang. Aku terkesiap mendengar panggilannya, namanya tidak asing di telingaku. Wanita itu menghampiri kami.

     "Ibu?" Kulihat penampilan Ibu yang berbeda dari biasanya, polesan make up yang terlihat mencolok. "Jadi, Ibu sudah tau kalau …,"

     "Iya, Na, Ibu tau. Bahkan dari awal." Tak disangka, ternyata selama ini Ibu sudah tau perselingkuhan anaknya.

     "Kenapa Ibu menyembunyikannya dariku? Apa Ibu sudah tak menganggapku menantu lagi?" tanyaku penuh kecewa.

     "Ibu bisa apa, Na. Kamu tau sendiri, kan suamimu seperti apa? Jika dia sudah menginginkan sesuatu, itu harus didapatnya. Seperti dia yang begitu menginginkanmu dulu. Iya, 'kan," ujar Ibu. Namun aku tetap kecewa! Memang tidak ada yang bisa dipercaya, baik Mas Dika maupun keluarganya. Mereka sama saja. Egois!

Selang beberapa menit kemudian Pak Penghulu datang, dan acara pun segera dilaksanakan. Semua keluarga dan para kerabat mendekat untuk menyaksikan ijab kabul yang akan Mas Dika ucapkan. Semua merapat.

Ku duduk diantara kerumunan orang, melihat Mas Dika yang tengah bersiap di hadapan Penghulu. 'Mas, apa kau yakin akan melakukannya? Kau yakin akan menduakanku?' batinku yang menatap lekat Mas Dika dari kejauhan. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirku menatapnya lebih dalam. Karena aku tak tahu, apa dia akan mempertahankanku atau menyingkirkanku setelah ini.

 

Danau dan Syaif Albar

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata 593

-Sarkat Jadi Buku

 

Ijab kabul selesai diucapkan. Wanita itu dengan takzim mencium tangan Mas Dika, suamiku. 'Mas, begitu bahagia raut wajahmu kulihat, senyum manismu yang dulu milikku, sekarang sudah jadi milik wanita lain,' batinku. Belum sehari aku sudah merasa tak berdaya, bahkan kurasa tak ada guna jika aku tetap berada disampingnya. Haruskah aku pergi? Atau, tetap bertahan untuk kebahagiaan kedua putriku? Perasaan ini sungguh membuatku dilema. Tak sanggup aku menahan air mata yang sudah membendung di pelupuk mata, kini meluncur dan jatuh tak beraturan.

Akhirnya aku beranjak dari tempat yang penuh dengan onak duri. Ku berlari sekencang mungkin, melihat kedepan tanpa menoleh ke belakang, mengabaikan beberapa panggilan seorang lelaki yang tak lain adalah suamiku sendiri. Aku tak peduli, bahkan akupun tak tahu lagi kemana harus melangkahkan kaki.

Sungguh ironis, cinta yang katanya tertanam kuat di hatinya, kini harus ditebasnya kembali. 

Ya, aku harus pergi, mungkin ini yang terbaik untuk kami berdua yang menurutku sudah tak lagi cocok untuk bersama. 

Tin.. tin..

     "Aaah!" teriakku histeris. Sebuah mobil yang melaju cukup kencang membuat nyawaku nyaris melayang. "Hati-hati dong, Mas, kalau bawa mobil. Jangan seenaknya sendiri ngebut di jalanan umum. Kamu pikir ini jalan milik nenek moyangmu!" seruku pada lelaki yang membawa mobil tersebut. Terlihat samar wajah seorang lelaki yang berada di dalam mobil itu.

Kemudian keluarlah lelaki itu dari dalam mobilnya, jantungku serasa meledak saat ku tahu siapa pemilik mobil itu. "Kak Syaif?" 'Lagi-lagi dia, disaat hatiku sedang kacau seperti ini pasti ada dia,' batinku menatap kedua netra Kak Syaif yang telah menghampiriku beberapa detik yang lalu.

     "Kamu nggak papa, Na? Ada yang terluka?" tanyanya panik, tangannya memegang pundakku reflek. "Kamu nangis? Kenapa?" lanjutnya.

     "Nggak, papa, Kak," jawabku menyeka air mata dan langsung menundukkan pandangan yang sedari tadi sempat menatapnya.

     "Mau kemana? Ayo Kakak antar," tawarannya yang mungkin merasa iba padaku. Aku diam dan tak menjawab pertanyaannya, karena aku pun tak tau mau kemana.

Akhirnya, aku dan Kak Syaif pergi ke danau yang jaraknya tak jauh dari sini. Menaiki perahu kecil dan di kayuhnya perahu itu oleh Kak Syaif.

     "Na!" panggilnya memecah keheningan.

     "Iya?"

     "Apa yang terjadi? Kenapa kamu nangis?

     "Tidak apa, Kak. Lupakan saja,"

     "Na!"

     "Iya?"

     "Kakak boleh tanya sesuatu?"

     "Silakan, Kak," jawabku. Kak Syaif menghentikan kayuhannya. Sekarang perahu yang kami naiki berada di tengah-tengah danau, di tengah pemandangan yang begitu luas dan sejuk. Kak Syaif memang selalu tau cara menenangkan hatiku jika sedang kacau.

     "Maaf, Na. Kakak tau hal seperti ini tak pantas Kakak tanyakan saat ini, tapi Kakak tidak bisa menahan diri lagi atas rasa yang Kakak simpan terhadapmu," tuturnya lembut, namun tegas. "Kakak ... masih mengharapkanmu, Na," lanjutnya. Kulihat wajahnya begitu tenang, tak ada rasa ragu dan tergesa yang terlihat darinya. Aku diam. tak tau harus menjawab apa.

     "Aku dengar, istri Kakak …,"

     "Iya, Istri Kakak meninggal sebulan setelah kami menikah. Waktu itu dia sedang ada program dan tugas dari universitasnya yang mau tidak mau dia harus berangkat dengan beberapa Dosen yang lain," ujarnya tenang. "Kamu tau nggak, Na, nama istri Kakak siapa?" lanjutnya menoleh ke arahku.

Aku menggeleng, "Siapa, Kak?" tanyaku

     "Namanya … Nana,"

     "Siapa? Nana?" tanyaku heran. Kak Syaif tersenyum, lalu mengangguk.

     "Karena dulu yang kau pilih adalah Dika Pradipta, bukan Kakak. Jadi Kakak memutuskan untuk mencari istri yang namanya sama denganmu. Karakternya juga nggak jauh beda, baik hati dan penuh semangat. Bahkan sampai saat ini, posisimu di hatiku belum bisa tergantikan dengan siapapun," ujarnya. Sepertinya hidungku kembang kempis karena pujiannya, pipiku juga pasti memerah seperti tomat. Kupalingkan wajahku darinya, karena rasa maluku yang tak bisa disembunyikan hingga membuatku salah tingkah.

 

Kayla yang polos

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 536

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Emm … tentang perasaan Kakak terhadapku, aku minta maaf, Kak. Aku belum bisa memutuskan apapun," ucapku pelan.

     "Tidak masalah. Kakak mengerti. Kakak akan tunggu jawabanmu, tidak perlu merasa buru-buru," ucap Kak Syaif, senyumnya  mengembang. Kembali dikayuhnya perahu kecil yang kami naiki yang hanya cukup untuk dua orang itu.

     "Ohya, Kak. Tadi Kakak mau kemana?" tanyaku memulai pembicaraan.

     "Mau ke acara pernikahan adikku," 

     "Lalu kenapa Kakak mengajakku kesini?"

     "Tidak apa. Bagiku, saat ini kamu yang terpenting, Na. Kakak nggak mau menyia-nyiakan waktu lagi untuk bisa bertemu denganmu." Lagi-lagi ucapannya membuat wajahku memerah. 

     "Makasih, Kak," kataku yang masih gugup. 

Hari sudah mulai sore, aku dan Kak Syaif berpisah dengan berlawanan arah. Meski awalnya Kak Syaif memaksa ingin mengantarku pulang, namun aku tetap menolak. Kak Syaif tau aku tidak suka dipaksa, kecuali jika Mama yang meminta tidak mungkin aku menolaknya.

*****

Satu pekan sudah aku dirumah sendiri tanpa adanya Mas Dika. Pasca menikah, mereka pergi ke luar kota untuk berbulan madu. Sesekali Mas Dika memberiku kabar, itupun hanya sebatas menanyakan keadaan anak-anak yang masih berada dirumah Kak Rindi. Rasanya percuma memiliki rumah besar tapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Jika boleh memilih, aku akan memilih hidup sederhana namun di dalamnya tercipta kebahagiaan tanpa adanya orang ketiga yang hanya membuat keluarga menderita.

     "Bunda!" teriak Kayla yang tiba-tiba datang membubarkan lamunanku. Berlari ke arahku.

     "Kayla!" Aku meraihnya, mendekapnya erat. Tangan mungilnya mengelus lembut punggungku, lalu menatapku dengan senyum lebarnya.

     "Kayla kangen sama Ayah Bunda. Besok kita jadi jalan-jalan kan, Bun?" tanya Kayla polos. Senyumnya masih mengembang. Matanya melihat ke sekeliling rumah mencari sosok lelaki yang sejak kecil telah mengajarinya berjalan.

     "Ayah mana, Bun?" lanjutnya. Aku terkesiap. Ada sakit yang menjalar di hatiku saat Kayla menanyakan sosok ayahnya, yang mungkin sekarang sedang bercanda gurau dengan wanita yang telah sah menjadi istrinya pekan lalu. Belum juga aku jawab pertanyaannya, Kayla langsung lari ke setiap ruangan untuk mencari ayahnya. "Ayah!" teriaknya sambil berlari kesana kemari, namun hasilnya nihil. Karena ayahnya memang sedang tidak ada di rumah. 

     "Sayang, Ayah lagi sibuk, besok baru bisa pulang. Kita jalan-jalan sama Ayah besok, ya," ucapku menghibur saat Kayla menghampiriku kembali. Entah aku harus beralasan apa lagi. 'Maafkan Bunda, Nak,' batinku. Aku meraih kedua putriku, mendaratkan kecupan di kening Kayla yang sempat manyun dan juga Qila yang baru berusia lima belas bulan itu. 

     "Suamimu mana, Na?" tanya Kak Rindi yang belum tahu kalau ternyata Mas Dika sudah menikah lagi dengan wanita lain.

     "Lagi nugas di luar kota dengan Bosnya, Kak," jawabku yang terpaksa berbohong. Kusiapkan minuman untuk Kak Rindi dan Kak Senja.

     "Kakak kopi ya, Na," pinta Kak Senja.

     "Siap, Kak." Belum sampai dapur, terdengar deru mobil yang terparkir di halaman rumah. Aku, Kak Rindi dan Kak senja menoleh ke arah mereka yang tengah memasuki rumah dengan bahagia tanpa beban, wanita itu tertawa manja dengan menggandeng lengan suaminya. Jemari Mas Dika menoel dagu istri mudanya dengan manja hingga wanita itu mesem-mesem dan menyandarkan kepalanya di pundak Mas Dika. Mereka tidak sadar bahwa ada orang lain yang tengah memperhatikan mereka. Sungguh pemandangan yang menyakitkan.

     "Kak Rindi?" Langkah kaki Mas Dika terhenti, dia menohok melihat sosok wanita yang tengah menatap tajam kemesraan mereka yang berhasil membuat Kak Rindi geram.

Rahasia Terungkap

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 548

-Sarkat Jadi Buku

 

Tentu saja pasangan menyebalkan itu tidak tahu kedatangan Kak Rindi, karena Kak Rindi datang dengan memesan taksi online, juga karena mobil Kak Rindi sedang diperbaiki di bengkel.

     "Apa yang kau lakukan dengan wanita itu, Dika?" tanya Kak Rindi. Mereka hanya diam. Kak Rindi menoleh ke arahku, "Nana, apa yang sebenarnya terjadi? Jelaskan pada Kakak," lanjutnya.

     "Kami berdua sudah menikah!" sela Mas Dika, karena aku hanya diam tak menjawab. Kak Rindi dan Kak senja semakin shock mendengarnya. Aku tetap diam. "Wanita ini namanya Indah, Istri keduaku yang sah," lanjutnya dengan penuh percaya diri dan menatap lekat wanita itu.

     "Nana, apa itu benar?" tanya Kak Rindi menatapku tajam. Akhirnya aku mengiyakan pertanyaannya karena Kak Rindi terus memaksaku untuk menjawab.

     "Ayah, kenapa ayah menikah dengan tante itu? Kayla nggak mau punya bunda yang lain, Kayla hanya mau bundanya Kayla," protes Kayla sambil memelukku yang tingginya sudah sepinggangku itu.

     "Wow! Hebat sekali kamu Dika, bangga kamu punya istri dua? Yakin kamu bisa adil?" tanya Kak Rindi dengan nada sinis yang perlahan menghampiri Mas Dika. "Kurasa tidak! Satu aja belum becus udah nambah yang lain," kata Kak Rindi melipat tangannya di dada.

     "Sudah, Kak. Hentikan! Biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang sedang kasmaran, hanya membuang waktu dan tenaga," kataku menghentikan percekcokan mereka. 

Aku menghampiri Mas Dika, diikuti Kayla yang masih melingkari pinggangku dengan tangan mungilnya. "Aku hanya minta tolong sama kamu, Mas. Tepati janjimu pada Kayla besok, ajak dia jalan-jalan kemanapun dia mau. Pergilah dengan istri barumu jika perlu," tegasku yang berada tepat di hadapannya. 

     "Kayla nggak mau pergi sama Tante itu, Kayla maunya sama Ayah dan Bunda juga Dede Qila," protes Kayla yang kesekian kalinya. 

Aku membungkuk menyamakan tinggi dengannya, "Kayla sayang, walaupun Kayla pergi sama Ayah dan Tante Indah, Kayla tetap anak Bunda, tidak ada yang bisa merubah itu." Ku elus rambutnya yang sudah dipotong sebahu itu. Rambut panjang atau pendek, Kayla tetap terlihat lucu dan cantik.

     "Tapi, Nda …,"

     "Kayla! Nurut sama Bunda!" selaku memotong pembicaraan Kayla.

     "Bunda jahat! Bunda sama Ayah sama aja!" Ditepisnya tanganku, Kayla berlari keluar rumah entah kemana.

     "Kayla!" teriakku memanggilnya, namun dia tetap tak menoleh.

     "Biar Kakak yang kejar, Na," sambung Kak Senja mengejar Kayla.

     "Kamu lihat, kan, Dika? Bukan hanya adikku yang perasaannya sakit dan hancur, tapi juga anakmu!" Digendongnya Qila oleh Kak Rindi. Qila yang sedari tadi fokus memegang mainan boneka kuda poni kesayangannya, sekarang menangis saat melihat wajah wanita yang baru dinikahi Mas Dika itu. "Na, masih ada stok ASI 'kan di freezer? Susu formulanya lupa nggak Kakak bawa," kata Kak Rindi sambil ngelap ingus Qila yang sempat keluar akibat nangis.

     "ASI-ku sudah lama nggak keluar, Kak. Semenjak Qila usia dua belas bulan," kataku. Kak Rindi cukup terkejut mendengar pernyataanku. Bagaimana tidak. Sejak Qila baru lahir, ASI-ku banjir sampai tak tertampung. Qila tidak pernah disambung dengan formula, karena selalu ada stok ASI beberapa botol di freezer. Itupun terpaksa disambung formula karena jauh dariku.

     "Ya Allah, Na. Gimana ceritanya bisa kempes begitu, bukankah ASI-mu banjir terus sampe banyak yang kebuang?" Kak Rindi terus mengintrogasiku juga Mas Dika gegara ASI-ku kempes. Tapi Kak Rindi tidak menyalahkanku, jelas ini adalah salah Mas Dika yang selalu bikin ulah sehingga membuatku stres, yang mengakibatkan ASI-ku kempes.

 

Serumah dengan Dia

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 519

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Maaf, Kak Rindi tidak berhak menyalahkanku sepenuhnya. Aku akui aku salah, tapi bukan berarti Nana tidak punya kesalahan," kata Mas Dika membela diri.

     "Sudah sering ku tanyakan sama kamu, Mas. Kesalahan apa yang kulakukan hingga kau berani menyakitiku seperti ini? Sering juga kukatakan padamu, jika kau tidak menyukai sesuatu dariku, katakan saja! Terus teranglah padaku, jangan diam seribu bahasa, lalu tiba-tiba kau ambil langkah seenakmu sendiri tanpa memikirkan perasaanku yang terluka."

     "Sudahlah, Nana. Mas malas berdebat seperti ini denganmu. Suka atau tidak, Indah tetap istriku." 

     "Oh, begitu. Lalu, Apa dia akan tinggal di rumah ini juga?" Kulirik sekilas ke arah wanita itu, "Kenapa tidak kau belikan rumah saja di tempat yang jauh dari sini!" lanjutku. Kali ini aku melirik sinis pada wanita itu, rasanya ingin sekali kupukul kepalanya hingga pecah.

     "Untuk sementara, biar dia tinggal disini dulu beberapa bulan. Setelah waktunya tiba, Mas janji akan membawanya pergi ke tempat lain," ucap Mas Dika. Dengan berat hati, aku harus menerima wanita itu di rumahku. Karena bagaimanapun juga dia adalah istri sah suamiku, meski sebenarnya aku enggan mengakuinya.

     "Ya, pergi saja sesukamu! Aku yakin setelah kamu pergi, kamu akan jarang sekali menemui anak-anakmu! Atau bahkan mungkin tidak akan pernah! Karena anak-anak bukan prioritasmu lagi sekarang, prioritasmu sekarang adalah wanita gatal yang baru kau nikahi itu!"

     "Cukup! Hentikan kata-kata kasarmu itu, Nana. Indah adalah istriku, jadi kau tak lagi berhak menghujatnya. Mengerti!" sentak Mas Dika. Digandengnya wanita itu ke kamar mereka. Saat wanita itu tepat melewatiku, sempat kulihat dia menyeringai seolah puas melihat kami bertengkar. Itulah yang aku tak suka darinya, wanita itu pandai bersilat lidah, pandai menyembunyikan kelakuannya yang menyebalkan, seolah dia wanita paling lembut dan bijak di depan Mas Dika.

*****

Dua bulan sudah aku dan maduku tinggal serumah, meski terkadang percekcokan kecil sering terjadi, namun tidak pernah saling melukai fisik. Hanya bicara seperlunya. Bahkan menyapa saat berhadapan pun sangat jarang. Aku memang menganggapnya antara ada dan tiada.

     "Kayla! Bangun, Nak." Kubangunkan anak sulungku itu untuk sarapan, dan kulipat selimut yang sudah kupakai semalam, sesekali menoleh ke arah Kayla. Namun anak itu tetap diam tak bergerak. Biasanya Kayla langsung bangun jika beberapa kali dibangunkan, ini sudah ketiga kalinya kupanggil tidak ada respon.

     "Astagfirullah! Kayla, kamu demam, Nak," ucapku memegang kening Kayla, panik. Bergegas kuambil kain dan wadah yang diisi dengan air hangat untuk mengompres. 

     "Bunda, Kayla nggak mau punya bunda yang lain, maunya bunda Kayla aja," ucapnya lirih. Aku tetap fokus mengompres dan tersenyum, mungkin dengan senyum tulusku bisa menenangkannya kembali.

     "Iya sayang, Bunda Kayla memang cuma ada satu, nggak lebih," kataku yakin.

     "Kenapa Ayah menikah lagi, Nda? Kalo Ayah menikah lagi berarti Tante Indah jadi bundanya Kayla juga dong."

     "Jangan berpikir yang nggak-nggak, sayang, sekarang Kayla makan, yuk! Bunda bikin nasi goreng udang kesukaan Kakak, jus alpukat juga ada."

     "Nggak mau, Nda. Lagi nggak pengen,"

     "Oh, Kayla nggak suka nasi goreng buatan Bunda ya? Yaudah, deh, nggak papa."

     "Kakak suka ko, Nda."

     "Kalo suka makan, dong. Biar Bunda seneng." Akhirnya, setelah berdebat kecil dengan Kayla, dia mau juga nasi goreng yang kubuat meski sudah hampir dingin.

Permintaan Kayla

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 557

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Nda, Kakak kenyang. Makannya udahan ya, Nda," keluh Kayla. Aku menurut, karena Kayla masih mau makan demi bundanya meski sedikit. 

     "Iya sayang, nggak papa," sahutku penuh kasih sayang. 

Kayla anak yang sangat penurut, tidak pernah dia membangkang atas permintaanku juga ayahnya. Kayla juga selalu memaafkanku jika aku tiba-tiba memarahinya. Tentu saja bukan tanpa alasan, semenjak Mas Dika menyembunyikan sesuatu hingga terang-terangan menyakitiku, sejak itu pula aku selalu lepas kontrol dan jadi mudah emosi. Sialnya lagi, Kayla dan Qila yang menjadi korbannya. Tidak jarang kupeluk mereka saat tidur, mendaratkan kecupan di kening dan meminta maaf penuh penyesalan dengan apa yang telah kulakukan pada mereka.

     "Kayla, kamu kenapa, Nak?" tanya Mas Dika. Dia menghampiri Kayla karena tak kunjung keluar kamar.

     "Mas, kita ke dokter, ya. Kayla demam tinggi," pintaku panik. Aku menyentuh kening Kayla yang masih terasa panas meski sudah minum obat.

Mas Dika melihat piring Kayla yang masih penuh, "Kayla, kenapa nasinya masih banyak? Ayo makan lagi. Nanti kita ke dokter, ya," ajak Mas Dika pada Kayla. Kayla diam. Dia masih marah pada ayahnya karena menikah lagi.

     "Kayla nggak mau ke Dokter, Kayla mau disini aja sama Ayah dan Bunda."

     "Tapi Kayla butuh Dokter, badan Kayla panas. Nanti pulang dari Dokter kita beli es krim kesukaan Kakak, ya. Oke!?" rayu Mas Dika.

     "Dokternya Kayla kan Ayah sama Bunda, bukan Dokter yang di Rumah Sakit," kilah Kayla membuat kedua orangtuanya menohok. "Kayla baru akan sembuh kalau Ayah sama Bunda kembali lagi seperti dulu. Kayla mohon, Yah, Nda," lanjutnya. Kayla menggenggam tanganku dengan satu tangan, dan tangan satunya menggenggam tangan Mas Dika. Tentu saja Aku dan Mas Dika terkesiap, kami saling menatap satu sama lain, mata kami beradu.

     "Khem," dehem wanita itu membubarkan pandangan kami yang tengah beradu beberapa detik. "Mas, kita jadi kontrol ke Dokter kandungan, 'kan, hari ini?" lanjutnya. Dia menghampiri Mas Dika, mendaratkan tangannya di pundak Mas Dika yang tengah duduk berdampingan denganku. Kayla menutup wajahnya dengan selimut, dia tak ingin melihat wajah wanita yang telah merebut ayahnya dariku.

     "Kalau Kayla mau sekalian ikut juga gak papa, Mas. Kasian dia, harus segera ditangani Dokter," kata Indah memasang wajah iba pada Kayla.

     "Makasih ya, sayang. Udah perhatian sama Kayla," sahut Mas Dika menatap dan memegang tangan Indah yang mendarat di pundaknya.

     "Sama-sama, Mas. Sekarang Kayla bukan hanya anakmu, tapi juga anakku," katanya penuh percaya diri. Qila terbangun. Kumandikan dan kusuapi Qila, biarlah Kayla Mas Dika yang membujuk. Setelah Kayla berhasil dibujuk, kami pun pergi ke Rumah Sakit tempat Kak Syaif praktek. Namun sebelum berangkat, kutitipkan Qila pada Mbak Yul terlebih dulu, dikarenakan pihak Rumah Sakit melarang anak kecil untuk menginap.

*****

     "Bunda, Kakak nggak mau tidur disini, Kakak nggak suka bau obat," keluh Kayla yang baru selesai dipasang jarum impusan di kamar tempat Kayla dirawat.

     "Nggak papa, sayang. Bunda akan terus jagain Kakak disini, Bunda nggak akan pergi kemana-mana," 

     "Kayla sayang, Ayah temani Tante Indah temui Dokter dulu ya, nanti Ayah kesini lagi." Kayla tak menjawab, hanya mengangguk. Setelah Mas Dika keluar dari kamar, kuhubungi Kak Syaif. Memberitahu bahwa Kayla dirawat di tempat dia bekerja. tak lama kemudian Kak Syaif langsung datang menemui Kayla dan dibawakannya boneka spongebob untuk menemani Kayla tidur.

     "Terima kasih, Om Dokter," senyum Kayla mengembang. Kak Syaif selalu bisa mencairkan suasana, dari panas menjadi hangat.

     "Sama-sama, cantik," balas Kak Syaif ramah.

 

Kayla dan Boneka Spongebob

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 549

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Om Dokter, kayaknya waktu itu Kayla pernah lihat Om di taman, iya 'kan?" tanya Kayla menatap Kak Syaif dengan seksama.

     "Benarkah? Kapan?"

     "Udah lama, sih, waktu Kayla tinggal di rumah Bude Rindi."

     "Oh, begitu. Kenapa waktu itu nggak nyamperin Om?"

     "Kan waktu itu Kayla belum kenal sama Om, kalau Kayla tau Om temannya Bunda, Kayla pasti samperin Om. Lagipula, waktu Om sama teman-teman Om masuk ke cafe yang di samping taman," jelas Kayla sambil mengingat-ingat pertemuannya dengan Kak Syaif dulu.

     "Iya, Om ingat. Waktu itu ada pertemuan dengan teman kerja Om. Waah, Berarti Kayla hafal wajah Om, dong," ucap Kak Syaif manja, tangannya menyentuh dagu Kayla. Kayla tertawa kecil, lalu di sentuhnya kening Kayla. "Demamnya sudah mulai turun, besok juga sudah bisa pulang," lanjutnya.

     "Terima kasih, Dokter," ucap Kayla.

     "Sama-sama," balasnya ramah. "Oh ya, sepertinya anak manis ini menginginkan sesuatu sampai demam begini," ledek Kak Syaif mencubit pipi Kayla. Kayla tertawa.

     "Kok Om tau?" tanya Kayla.

     "Iya, dong. Setahu Om, biasanya kalau anak-anak punya keinginan pasti sakit dulu. Kalau boleh Om tau, kira-kira apa keinginan Kayla?" tanya Kak Syaif menatap wajah Kayla dan menghujaninya dengan senyuman tulus.

     "Kayla mau Ayah sama Bunda nggak marahan lagi, Om," kata Kayla polos. Wajah Kak Syaif yang terlihat senang dengan senyuman yang terukir, tiba-tiba berubah dan senyumnya sedikit memudar. "Om temannya Bunda, kan?"

     "Iya," jawab Kak Syaif singkat.

     "Tolong bilangin sama Ayah dan Bunda jangan marahan lagi ya, Om. Kayla mohon, Om," pinta Kayla. Kak Syaif hanya mengangguk dan tersenyum, mengiyakan permintaan Kayla. 

Keadaan Kayla sudah membaik, syukurlah hanya demam biasa. Kayla masih kecil, tapi dia harus menghadapi masalah sebesar ini dari orangtuanya. Di usianya, seharusnya dia menikmati masa-masa bahagia dengan keluarganya, menikmati kebersamaan dengan keluarga yang lengkap dan menyayanginya.

Sesampainya di rumah, Kayla tetap tak mau keluar kamar. Bahkan pintunya pun diberikan keterangan yang bertuliskan, 'dilarang masuk! kecuali Ayah, Bunda dan Dede Qila'. Cerdas sekali anakku itu.

     "Kayla, itu boneka dari siapa?" tanya Mas Dika setelah membopong dan membaringkan Kayla di kasur. Aku duduk di bibir ranjang menghadap Kayla, dan Mas Dika di seberang kasur.

     "Ini boneka spongebob yah, dari Om Dokter. Bagus kan yah?" tanya Kayla sambil memeluk boneka itu.

     "Om Dokter? Kenapa Dokter ngasih boneka?" tanya Mas Dika yang tidak tau kalau ternyata Dokter Itu adalah Kak Syaif. "Ayah baru tau, kalau pasien anak-anak dapat jatah boneka," lanjutnya dengan sedikit berpikir.

     "Ayah, Bunda, jangan pergi dulu sebelum Kayla tidur," pinta Kayla.

     "Iya, sayang. Ayah dan Bunda di sini," jawab Mas Dika.

Lagi-lagi Indah datang menghampiri Mas Dika, "Mas, aku lapar. Tadi kulihat di kulkas nggak ada makanan, cuma ada buah. Kita beli makanan, yuk!" ajaknya manja.

     "Yaudah, nanti kita cari makan sekalian buat Nana dan Kayla," sahut Mas Dika.

     "Maaf Tante, Tante nggak bisa baca, ya? Di pintu bertuliskan, dilarang masuk! Kecuali Ayah, Bunda dan Dede Qila," ucap Kayla tegas. Aku, Mas Dika dan Indah terkesiap mendengarnya.

     "Maaf Kayla, Dede bayi yang ada di perut Tante lapar. Kasian, kan kalo nggak dikasih makan," ucapnya membuat Kayla Kaget. Karena usia kandungannya baru tiga bulan, jadi belum terlihat buncit.

     "Tante hamil?" tanya Kayla.

     "Iya," jawabnya bangga.

     "Bunda, kenapa bunda nggak hamil lagi kayak Tante Indah? Kayla mau Dede bayi laki-laki, Nda," ucap Kayla polos. Lagi-lagi aku terkesiap mendengarnya.

 

Pendarahan

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 5

-Jumlah Kata : 525

-Sarkat Jadi Buku

 

     "Hamil? Nggak semudah itu sayang, butuh proses. Buat Bunda, Kayla sama Dede Qila aja udah cukup," ucapku mengelus pipi Kayla. Kayla mengangguk dan tersenyum.

     "Ya udah, Ayah keluar dulu cari makanan, ya. Kayla mau apa?"

     "Kayla nggak lapar, nggak mau apa-apa."

     "Jangan begitu, Kayla nggak sayang sama Bunda?" tanyaku lesu. Kayla langsung beranjak duduk, lalu memelukku erat.

     "Kayla sayang Bunda. Ya udah, Kayla mau makan martabak telor aja," katanya sambil menatapku. Tak lama kemudian, Mas Dika dan Indah berlalu dari rumah untuk mencari makan malam.

     "Maaf, Bu, tadi Pak Dika mengbandeng tangan seorang perempuan, itu siapa ya?" tanya Mbak Yul yang baru datang mengantarkan Qila. Ditarohnya Qila di kasur Kayla. Karena kurasa tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, kuberitahu semuanya, Mbak Yul cukup berhak mengetahui yang sebenarnya. Karena Mbak Yul sudah kuanggap keluarga sendiri, aku percaya padanya. Lagipula, kepercayaanku tidak pernah dikhianatinya.

     "Sabar, ya, Bu. Insya Allah surga buat Ibu kalau Ibu mau sabar dan ikhlas," ucap Mbak Yul yang merasa iba melihatku. Kulihat Kayla dan Qila tengah bercanda tawa, melihat mereka ceria sudah cukup membuatku bahagia. Malam sudah larut, makan malam pun sudah selesai. Kulihat Kayla dan Qila tertidur pulas dengan selimut kuda poni kesukaan Qila, boneka Spongebob juga masih dipeluk Kayla erat.

Terkadang, rasa ingin menyerah selalu ada. Hati ini tak sanggup melihat kemesraan Mas Dika dengan istri mudanya yang semakin menunjukan kedekatan mereka. Bahkan perhatian Mas Dika lebih menonjol kepada istri mudanya, apalagi sekarang Indah tengah hamil, semakin sempurna perhatian Mas Dika padanya.

Tiga bulan sudah aku serumah dengan Indah, tiga bulan serasa tiga tahun serumah bersamanya, kandungan Indah pun sekarang sudah mengjnjak enam belas minggu, perutnya buncitnya sudah terlihat. Perhatian Mas Dika pun semakin menjadi.

     "Bunda, kenapa Ayah sibuk terus sama Tante Indah? Kayla mau jalan-jalan sama Ayah, Nda," keluh Kayla yang kesekian kalinya.

     "Kakak, Tante Indah kan lagi hamil, jadi wajar kalau Ayah perhatian penuh sama Tante Indah," ucapku menenangkan hati Kayla.

     "Yaudah, Kayla mau mainan masak-masakan dulu ya, Bun, sama Dede Qila."

     "Iya, main sama Dede Qila, ya. Bunda mau nyetrika baju dulu," kataku sambil merapikan beberapa baju yang mau disetrika.

     "Oke, Bunda," sahut Kayla mengambil beberapa mainan, lalu beranjak dari kamar. Kugendong Qila ke tempat di mana Kayla mainan. Kayla mengambil air di gayung, dan menuangkannya di panci mainan miliknya. Namun sebelum dituang, air itu berceceran di jalanan mengakibatkan lantai basah dan licin. Kayla dan Qila asyik mainan sambil tertawa riang.

     "Aaah!"

Gubrak!

Terdengar suara jeritan seorang wanita yang jatuh dari atap. Segera ku lari menghampiri sumber suara yang aku kenal.

     "Indah!" teriakku kencang. Indah terpeleset di lantai yang berceceran dengan tumpahan air.

     "Aw, sakit," rintihnya pelan. Saat kubangunkan dan kupapah, terlihat darah segar yang mengalir dari celana tunik yang Indah pakai.

     "Astagfirullah, kamu pendarahan, Ndah," kataku yang kaget melihat darah segar itu.

     "Ya Allah, gimana ini, Na?" tanyanya panik.

     "Gak papa jangan panik, ayo ke Rumah Sakit sekarang," ajakku.

     "Mbak Yul, titip anak-anak ya," pintaku cepat. 

     "Iya, Bu," sahutnya yang ikut panik. Segera kuminta bantuan tetangga untuk mengantar kami ke Rumah Sakit, karena dengan keadaan Indah seperti ini tidak memungkinkan untuk naik motor.

 

Mungkin saja kamu suka

Afri Hana Perti...
Selepas Melepas
Intan Istining ...
Arjuna Bersahabat dengan Alam
Andika Wirawan
Lirang di Teras NKRI
Shinta Dewi Ang...
TAS KRESEK

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil