Loading
21

0

6

Genre : Religi
Penulis : Ayu Paramita
Bab : 30
Pembaca : 2
Nama : Ayu Paramita
Buku : 1

Sang Penghibur Hati

Sinopsis

Blurb: Samir, manusia yang sedikit tersesat di masa mudanya, karena timpangnya kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Sang ibu yang memenuhi hidupnya dengan cinta, sementara sang ayah yang terkesan acuh dan tak peduli, membuatnya tak memiliki sosok laki-laki yang bisa dipanut dan diikuti. Samir menjadi liar di luar sana. Hingga akhirnya, saat dia berteduh dari luka dan hujan, di emperan sebuah toko bunga, dia menemukan sosok ayah. Sosok yang sama sekali tak memiliki ikatan darah dengannya, namun berhasil mengembalikannya pada jalan cahaya.
Tags :
Romance, Family.

Bab 1

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok Literasi Acitya/1

Jumlah Kata: 372 kata

 

Samir mengamati kesibukan orang-orang yang berlalu lalang dari tempatnya duduk, di sebuah bangku besi di sisi trotoar. Manusia hilir mudik menuju tujuannya masing-masing, seolah kehidupan dunia akan berlangsung selamanya. Tanpa mereka sadari, malaikat maut senantiasa membuntuti. Laki-laki itu tersenyum simpul. Baru akhir-akhir ini dia menjadi agak religius seperti ini. Padahal dulunya... Samir tertawa getir mengenang masa lalunya. Tak patut diingat, bahkan dia teramat malu mengingatnya.

      Samir Al Ghifari, begitu ayahnya memberi nama. Diharapkan menjadi penghibur hati dan teman mengobrol kedua orang tuanya, sesuai arti namanya. Samir kecil adalah anak yang tampan, lucu, aktif dan ceria. Dia anak yang cerdas, selalu ingin tahu tentang segalanya. Miriam, ibunya, begitu bangga pada Samir dan sering memamerkannya pada teman-teman arisan. Definisi apple of the eye begitu tepat disematkan untuk Samir. Sementara sang ayah, Wildan, entah dia juga bangga pada anaknya atau tidak. Perilakunya tak mencerminkan itu. Wildan selalu sibuk dengan pekerjaan dan urusannya sendiri, jarang bercengkerama dengan istri dan anaknya. Kerja, perjalanan dinas, lembur, hanya begitu saja perputaran hari-harinya. Samir kecil tumbuh dengan perhatian minim dari sang ayah, tapi cinta dan kasih sayang Miriam sempurna dan luar biasa. Namun, merujuk pada arti keluarga, bukankah sang ayah juga termasuk di dalamnya? Bukan hanya memberikan nafkah lahir semata, melainkan nafkah batin dan perlindungan juga, kan?

      Samir tak pernah merasakan kasih sayang ayah. Baginya, ayah adalah jarak. Dekat, tapi tak tergapai. Pada akhirnya, dia tumbuh remaja dengan kondisi yang sedikit ‘timpang’, penuh penolakan. Menjadikannya seorang pemberontak. Tak jarang ibunya menangis karena ulahnya. Masih dia ingat di kepala, kala itu Samir yang berseragam putih biru, tertangkap guru sedang mengonsumsi minuman beralkohol di sudut halaman belakang sekolah. Membuatnya terancam akan dikeluarkan dari sekolah. Untungnya, sang ayah, memiliki sedikit kuasa dalam hal uang, melakukan segala upaya agar anaknya tak dikeluarkan dari sekolah elite dan prestisius itu. Samir memang tak jadi dikeluarkan, namun ‘cap’ itu sudah terlanjur tertempel di dahi, ‘anak nakal’, ‘tak punya masa depan’, ‘hanya gara-gara bapaknya pejabat’ dan ‘stempel’ miring lainnya. Stigma itu semakin menjatuhkannya ke lubang kenakalan paling dalam. Susah baginya untuk keluar. Hanya ibunya yang memiliki kepercayaan besar padanya. Miriam percaya, Samir akan berubah. Dia akan menjadi laki-laki yang sesuai dengan namanya; penghibur hati. Namun sepertinya, kepercayaan sang ibu akan sangat sulit terwujud. Samir makin tenggelam dalam dunianya.

 

Lanjutan Bab 1

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1/Literasi Acitya

Jumlah Kata 397

 

Suatu siang, sepulang sekolah, seorang sahabat Samir mengajaknya ‘berpetualang’. Mencari musuh di sekolah sebelah dan mengajaknya berkelahi. Samir terlihat ragu. “Jangan, Lik! Bahaya!”

“Udah, percaya aja sama aku!” sang sahabat, Malik, menarik lengan Samir tanpa ragu. Dengan tas sekolah di pundak, Samir melangkahkan kakinya bersama Malik dan beberapa teman lainnya. Tujuannya adalah mencari seorang anak bernama Andi. Dengan gagah, Malik berkacak pinggang di depan gerbang. Menanyai satu persatu anak yang keluar dari sana. “Mana Andi? Kelas 8B!” tanya Malik pada seorang gadis mungil berkuncir kuda.

“Nggak tahu! Masih di kelasnya mungkin?” jawab gadis itu ketus.

Malik mendengus kesal. Dihentak-hentakkan kakinya di tanah.

“Memang ada masalah apa sih kamu sama Andi?” Samir bertanya sambil mengerutkan dahi.

“Dia udah ngejatuhin harga diriku, Mir! Dia udah ngerebut Sisca dari aku!” tukas Malik berapi-api.

“Ya, ampuun! Gara-gara cewek!” seru ketiga teman lainnya sembari menepuk dahi bersamaan.

“Nah, itu dia!” teriak Malik. Ujung jari telunjuknya mengarah pada seorang anak laki-laki tinggi besar. Jauh lebih besar dari mereka berlima.

“Yang bener aja, Lik! Masa kita disuruh ngelawan raksasa kaya dia?” salah satu anak dari lima serangkai itu kehilangan nyali.

“Udah! Tenang aja! Kita berlima, dia sendirian. Ga mungkin kalah!” ujar Malik percaya diri.

“Itu namanya curang! Nggak sportif! Harusnya kamu maju sendiri!” protes Samir.

“Mir! Kamu sahabatku bukan, sih? Kalau kamu nolak, berarti kamu sudah menghancurkan persahabatan kita!” ancam Malik.

Samir hanya bisa menghela napas panjang. Dia tak punya pilihan lain selain menurutinya. “Ayolah!” Samir berjalan cepat ke arah si anak ‘raksasa’ dan menepuk pundaknya. “Jadi elu yang namanya Andi?” tanya Samir dengan raut garang.

Andi menoleh dan melotot. Tatapannya sungguh tak bersahabat, “Iya! Gue Andi! Kenapa emangnya?”

Malik yang tadinya berdiri di belakang tubuh Samir yang tinggi, memberanikan diri maju dan menantang Andi, padahal puncak kepala Malik hanya setinggi dada Andi. “Kita harus ngomong! Ayo ikut!” katanya sambil mendongakkan muka.

“Ngomong ya ngomong aja! Kenapa emangnya kalau disini?” tantang si anak ‘raksasa'.

Malik mulai gugup. “Kita harus bikin perhitungan! Lu udah godain cewek gue!” desisnya pelan.

Andi terbahak, “Ooh, jadi Sisca cewek elu! Gua ga godain dia! Dia sendiri yang ngajak kenalan! Emang salah?”

“Sialaan!” Malik terbakar emosi dan memukul rahang Andi sekeras-kerasnya.

Andi terhuyung ke belakang. Kilatan api membara di matanya. Anak raksasa itu tak mau kalah, lalu membalas memukul Malik sekuat tenaga.

Buugh!

Malik terhempas dan terjatuh di jalan beraspal dengan posisi telentang. Darah segar keluar dari hidung dan telinganya. 

Lanjutan Bab 1 #2

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

 

Kelompok 1/Literasi Acitya

 

Jumlah Kata 343

 

Dua orang satpam yang berjaga di samping gerbang sekolah, berlari menghampiri keributan itu. “Hei! Dilarang berantem!” teriak mereka.

Adegan yang hanya berlangsung sepersekian menit di depan matanya, benar-benar mengagetkan Samir. Anak tampan itu duduk berjongkok dan menepuk-nepuk pipi Malik, “Lik, Malik!”

Mata Malik terpejam. Sama sekali tak merespon panggilan Samir. Dua orang satpam yang melihat gelagat aneh, segera mengangkat tubuh kecil Malik dan menggendongnya, “Cepat telepon ambulans!” ujar salah seorang satpam pada rekannya.

Dengan tergesa-gesa, salah seorang satpam merogoh ponsel dari kantong celananya, lalu melakukan panggilan.

Si anak raksasa memucat ketakutan. Tak menyangka bahwa pukulannya akan berakibat sefatal itu. Dia tak bisa memikirkan apapun selain berlari menjauh.

Sementara Samir dan ketiga temannya, mulai panik tatkala darah yang keluar dari hidung Malik makin banyak. Bahkan salah satu dari mereka mulai meraung.

“Lik! Malik! Bangun!” Samir menggoncang badan Malik yang berakhir dengan amarah satpam.

“Jangan digoncang! Kepalanya luka! Makin parah nanti! Tunggu ambulans aja!” hardik satpam yang memegangi tubuh Malik.

Samir menangis. Tangisnya lebih kencang saat sirine ambulans mendekat. Dua orang petugas medis turun dari kendaraan dan mengeluarkan brankar. Dengan hati-hati mereka mengangkat tubuh Malik ke atas brankar. Saat itu, Samir tak bisa melupakan wajah Malik yang memucat, bibirnya membiru, lalu perlahan menghilang di dalam ambulans. Samir tak akan mengira, bahwa detik itu adalah detik terakhir dia melihat Malik.

“Bubar! Bubar!” satpam itu mengusir Samir dan teman-temannya. Samir berpikir, waktu itu adalah waktu terberat baginya. Tapi ternyata dia salah. Ada lagi hal berat yang harus dia hadapi di sore hari saat dia sudah bersantai di rumahnya. Samir yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, langsung diseret oleh sang ayah menuju ruang tamu. Tampak dua orang polisi tersenyum ramah lalu mengulurkan tangan untuk Samir.

“Apalagi kelakuanmu sekarang?!” bisik Wildan tepat di telinga Samir. Sama sekali tak ada sorot mata cinta untuk anaknya. Jemarinya kuat mencengkeram lengan Samir hingga anak itu meringis kesakitan.

“Kami hanya memintanya sebagai saksi, pak!” lembut nada suara sang polisi. Pandangannya beralih dari Wildan menuju Samir. “Adik tahu siapa yang memukul teman adik hingga koma?” tanya polisi itu, membuat Samir ternganga.

 

 

 

Lanjutan Bab 1 #3

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1/Literasi Acitya

Jumlah Kata 397

 

“Koma?” mata bulat Samir terbelalak sempurna.

“Iya, adik Malik sekarang dalam keadaan koma. Ada pukulan benda tumpul yang menghantam kepalanya, membuat Malik gegar otak dan hilang kesadaran,” jelas polisi itu.

“Andi pelakunya, Pak! Anak kelas 8B SMP Pelita,” nada suara Samir begitu bergetar, takut dan khawatir bercampur jadi satu. “Malik gimana sekarang, pak?” mata Samir mengembun, membayangkan wajah Malik.

Salah seorang polisi mencatat perkataan Samir lalu mendongak. “Terima kasih. Kami akan menindaklanjuti keterangan adik,” ujarnya tersenyum, sama sekali tak menjawab pertanyaan Samir.

“Sampai kapan Malik koma?” tanya Samir lagi.

Kedua polisi itu tak menghiraukan Samir. Mereka hanya menyalami sang ayah lalu pamit. Selepas pria-pria berbadan tegap itu menghilang, Wildan menoleh pada Samir dengan tatapan garang. “Anak nggak berguna!” hardiknya. Tangannya terangkat di udara bersiap menampar Samir. Belum sempat telapak tebal dan besar itu menyentuh pipi Samir, sang ibu sudah berlari dan berteriak dari dalam kamar, “Jangan! Sekali saja kamu tampar anak itu, aku akan bawa Samir keluar dari rumah ini!” mata Miriam memerah menahan marah.

“Terus saja kau bela dia, ya!” Wildan kini melampiaskan emosinya pada Miriam. Pertengkaran mulut keduanya pun tak bisa dihindari, hingga berakhir pada tamparan di pipi halus Miriam. Samir semakin kalut, baru kali ini dia melihat sang ayah berlaku kasar pada ibunya. Hatinya begitu kecewa. Rasa cinta untuk Wildan yang tipis sedari awal, makin menghilang. Pikiran jernihnya tak berfungsi. Pelan-pelan, Samir melangkah mundur, lalu berbalik dan berlari meninggalkan rumah. Kali ini dia memutuskan, pergi jauh dari ayahnya dan tak akan sudi untuk kembali.

      Samir berjalan tak tentu arah, keluar dari jalan kompleks menuju jalan raya. Tak ada tempat yang dituju, tak ada sosok yang menjadi acuan dalam kepalanya. Namun, tiba-tiba saja muncul sebuah nama, Tante Diana, adik kandung ibunya. Terakhir kali bertemu dengan Tante Diana, saat acara perayaan kelulusan SD. Ibu Samir mengadakan acara makan bersama di sebuah restoran. Ayahnya tak datang, hanya Tante Diana dan suami, bersama kedua anak balitanya, sepupu Samir yang lucu-lucu. Samir mengingat-ingat, dimana alamat rumah Tante Diana. Dia teringat tantenya sempat bercerita di tengah acara makan-makan, dia mengatakan bahwa butuh waktu sejam untuk sampai di restoran yang tak jauh dari rumah Samir, karena macet. Itu berarti, seharusnya rumah Tante Diana masih berada dalam satu kota dengannya. Belum sempat Samir maju mendekat ke jalan beraspal demi menghentikan taksi, sebuah teriakan sudah menggema memanggil namanya. Samir memutar badan, lalu melihat ibunya berlari terengah-engah ke arahnya, “Samir, mau kemana?? Ibu ikut!”

 

Lanjutan Bab 1 #4

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1/Literasi Acitya

Jumlah Kata 355

 

“Mau ke rumah Tante Diana,” serunya.

“Oke, tunggu di sini sebentar. Ibu ambil mobil. Jangan kemana-mana, ya! Kita ke rumah Tante Diana sama-sama,” selesai berkata demikian, Miriam kembali ke arah rumah hingga beberapa menit kemudian, wanita itu datang menyusul Samir menggunakan mobil pribadinya. “Ayo, masuk!” titah Miriam. Tak menunggu lama, Samir langsung membuka pintu mobil dan duduk dengan nyaman di kursi penumpang. “Samir kalau mau kemana-mana, harus bilang sama ibu, biar ibu yang antar, ya!” lembut suara ibunya, memadamkan api yang sedari tadi bergejolak di dada Samir. Ragu-ragu dia mengangguk. Sebenarnya dia ingin bercerita banyak pada ibunya, tentang keinginannya, cita-citanya dan banyak hal lainnya. Tapi, entah kenapa, ketika berhadapan dengan sang ibu, dia malah banyak terdiam. Dia terlalu takut dengan respons yang akan diberikan oleh ibunya. Bisa dibilang, dia trauma. Pernah sewaktu kecil, sepulang sekolah di hari pertama masuk TK. Dia ingin menceritakan pengalamannya bertemu teman-teman baru pada sang ayah yang terlihat sedang bersantai di ruang televisi. Dan celotehnya terpaksa berhenti saat sang ayah membentaknya kasar dan mengatainya, “Berisik!”

Sejak itu dia tak lagi mau bercerita tentang apapun. Kebiasaan itu berlangsung hingga dia remaja.

“Sudah sampai,” suara Miriam membuyarkan lamunannya, “Ini rumah Tante Diana, kamu ingat-ingat alamatnya, ya..” ujar ibunya seraya tersenyum. Samir tak menjawab. Ia bergegas turun dan membukakan pagar besi di kediaman tantenya, supaya mobil ibunya bisa masuk halaman dengan mudah. Dengan mulus, Miriam memarkirkan kendaraan.

Diana, yang mendengar gerbang tingginya terbuka, mengintip dari jendela besar di ruang tamu, lalu tertawa sumringah, melihat kedatangan kakak dan keponakan kesayangan. Dia setengah berlari membuka pintu rumah, hendak menyambut mereka. “Tumben? Ada angin apa, nih?” selorohnya.

“Samir ingin menginap disini. Mungkin agak lama,” sahut Miriam ragu. Raut wajahnya terlihat kuyu. Ada kesedihan yang mendalam tampak dari sorot matanya. Diana menilai ada yang tak beres dari tampilan Miriam dan Samir.

“Ada masalah apa, kak? Si brengsek itu lagi pelakunya?”

Kata-kata Diana membuat Samir menautkan alis. Si brengsek siapa yang dimaksud oleh tantenya?

“Jangan ngobrol disini. Ayo, masuk,” ajak Miriam sembari menggamit lengan Samir.

Mereka merebahkan punggung di sofa lembut milik Diana di ruang tengah bersamaan. “Gimana, gimana? Apa yang terjadi?” Diana tak sabar ingin mendengar cerita lengkap.

 

Lanjutan Bab 1 #5

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1/Literasi Acitya

Jumlah Kata 384

 

Miriam menghembuskan napas pelan sebelum mulai bercerita, “Wildan.. Tadi dia menampar aku..” ucapnya lirih. Nyaris tak terdengar. Diana begitu emosi, dia berdiri tiba-tiba dan berkacak pinggang. “Tuh, kan! Bener dugaanku! Ini semua gara-gara laki-laki brengsek macam dia!” Diana terengah, napasnya naik turun. “Sudah, ceraikan aja, kak! Dari awal pernikahan memang sudah salah, semua terkesan dipaksakan. Kakak akhirnya yang paling menderita!” keluhnya.

Dua orang itu seakan lupa kalau Samir ada di sampingnya. Laki-laki kecil itu masih polos, sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan ibu dan tantenya. Miriam yang pertama kali tersadar bahwa remaja kecil di sampingnya ini merekam setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Segera dia memberikan isyarat pada Diana untuk berhenti. Namun adiknya yang terlanjur berapi-api itu tak menanggapi. “Biarkan saja, kak. Samir sudah berusia 13 tahun. Sudah waktunya dia mengerti,” tukas Diana.

“Mengerti apa, bu?” akhirnya Samir pun memiliki keberanian untuk menimpali.

Miriam dan Diana saling pandang. Lalu menoleh ke arah Samir bersamaan. Tangan Miriam terulur, mengusap lembut pipi Samir yang masih terasa sangat mulus seperti pipi bayi. “Nak.. Ibu nggak tahu harus mulai dari mana..” mata Miriam berkaca-kaca. Dia memandang Diana untuk mencari kekuatan, lalu berhentik sejenak. Diana yang tak sabar segera berjongkok tepat di depan Samir dan menggenggam erat tangannya. “Samir, ibu dan ayah kamu akan bercerai..” ucapnya perlahan. Samir hanya menunjukkan sorot dingin dan datar. Tak ada emosi meluap, tak ada air mata kesedihan atau apapun itu.

“Kenapa?” hanya satu pertanyaan kecil itu yang terbit dari bibir Samir.

“Ibu dan ayahmu menikah karena suatu kesalahan,” Diana mengulangi pernyataannya lagi.

“Maksudnya?”

Diana menatap mata polos Samir lekat-lekat. “Ayahmu dulu teman kuliah ibumu. Sejak dulu, kak Miriam nggak suka dengan kak Wildan, karena tingkahnya yang kurang sopan,” Diana menjeda kalimatnya sejenak. Kemudian menunduk sesaat, lalu menatap ke arah Samir kembali. “Ayahmu dulu, memaksa ibumu..”

“Memaksa?” ulang Samir tak mengerti.

Diana mengangguk cepat. “Wildan memaksa dan mengancam kak Miriam untuk berbuat...” napas Diana seakan tercekat.

“Lalu, ibumu hamil. Hamil kamu. Papa Tante begitu murka, hingga melabrak rumah Wildan dan mencaci-maki keluarganya, mengancam mereka supaya Wildan mau bertanggungjawab atas semua perbuatannya. Papa Tante, kakekmu, mengancam memasukkan Wildan ke dalam penjara. Tapi, ayah Wildan memohon sampai bersimpuh di kaki papa, memohon untuk tidak meneruskan kasus itu ke penjara. Akhirnya diputuskan, Wildan harus menikahi ibumu, sebagai syarat agar dia tidak dipenjara,” jelas Diana panjang lebar.

 

Lanjutan Bab 1 #6

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1/Literasi Acitya

Jumlah Kata 325

Otak Samir mencerna kata demi kata perlahan. Jadi, ayahnya, seorang pemerkosa? Dan ibunya adalah korbannya? Seluruh tubuh Samir terasa merinding, cuaca hari itu panas, anehnya Samir malah merasakan kedinginan di sekujur tubuhnya. Entah kenapa, perasaannya sebagai ‘ anak yang tidak diinginkan oleh sang ayah’ dan ‘membuat ibu susah', begitu kuat mencuat dari dasar sanubarinya.

“Dan, ayahmu..” Diana menggantung kata-katanya.

“Kenapa ayah?”

“Dia punya istri lain, dia menikah lagi saat umurmu 7 tahun,” lanjut Diana. Perasaannya begitu hancur tatkala melihat keponakannya mulai meneteskan air mata.

“Kenapa mama nggak cerai aja sih sama orang itu?” protes Samir pada Miriam.

“Demi kamu, Nak!” jawab Miriam dengan posisi kepala tertunduk. “Mama cuma ingin kamu punya anggota keluarga yang lengkap.”

Anggota keluarga lengkap? Untuk apa jika ia sama sekali tak merasakan bahagia? “Tidak perlu lengkap, asal aku disayangi dengan tulus,” jawaban bijak dan dewasa meluncur dari mulut mungil Samir. Ibunya pun makin terisak.

“Jadi gimana? Kamu setuju kalau ibumu bercerai dari Wildan?” tanya Diana penuh harap. Samir mengangguk yakin. “Lagipula, nggak ada bedanya, punya ayah sama nggak punya,” jawab Samir, menyayat hati siapapun yang mendengarnya. “Samir boleh ridur di kamar tamu? Ngantuk,” ujarnya sambil berdiri lalu melangkahkan kaki menuju lantai dua.

“Istirahatlah, sayang!” jawab Diana. Matanya tak lepas memandang tubuh kecil itu hingga menghilang di balik pintu kamar.

Samir menutup pintunya pelan, lalu rebah di atas ranjang. Dia tak membawa apapun kesini, hanya baju yang melekat di badan. Ponsel pun ia tinggalkan di rumah. “Hhh..” desah Samir. Dia mengusap wajahnya kasar sebelum mengistirahatkan matanya. Perceraian? Tak disangka, keluarga kecilnya akan mengalami hal itu. Meskipun tanpa orang tuanya bercerai pun, dia tak bisa memilik kasih ssyang seorang ayah. Tiba-tiba wajah Malik terbayang di benaknya. Samir kembali duduk. Ah, ya.. Malik. Sahabatnya itu sedikit terlupakan saat ini. Samir selalu berharap agar sahabatnya itu baik-baik saja.

Di bawah, Miriam dan Diana tampak membincangkan sesuatu dengan serius. “Tinggal berangkat, ngurus pengajuan cerai, selesai. Nggak ribet, kak!” hibur Diana pada Miriam yang kembali memancarkan kesedihan.

 

 

 

Lanjutan Bab 1 #7

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1/Literasi Acitya

Jumlah Kata 317

“Jangan bilang kak Miriam jatuh cinta sama Wildan!” tukasnya. Sorot matanya tampak sangat mengintimidasi.

“Bukan,” sahut Miriam lirih. “Aku harus cari pekerjaan kalau sudah bercerai dari Wildan.”

“Aduh, jangan berpikiran terlalu jauh dulu, Kak. Yang penting sekarang kita secepatnya menggugat cerai si Wildan! Mumpung Samir setuju,” ujarnya berapi-api.

“Kalau begitu, aku pergi dulu, ya. Mau mengambil barang-barang dari rumah. Titip Samir,” pamit Miriam. Dia berdiri dan mencondongkan wajah dan mencium pipi Diana kanan kiri.

“Jangan kecapekan, Kak! Jangan terlalu dipikirkan semuanya. Biarlah mengalir apa adanya,” tutur Diana. Kakaknya kini sudah beralih di belakang kemudi. Miriam menjawab dengan lambaian tangan, lalu melajukan mobilnya.

Diana menutup pintu ruang tamu dan berniat mengintip Samir yang beristirahat di kamar. Dilihatnya keponakan tampannya itu tengah terlelap dengan posisi tubuh telentang. Diana tersenyum simpul. Suaminya pasti suka dengan kedatangan Samir. Sejak dulu, Fredy suaminya, sangat menyukai keberadaan Samir. Kegembiraannya begitu tulus tiap kali melihat Samir. Semoga suaminya bisa menggantikan sosok seorang ayah untuk Samir.

     Waktu menjelang petang ketika Samir terbangun. Dilihatnya ibunya sedang menata baju ke dalam lemari pakaian. “Kita tinggal disini sementara sampai ibu punya tempat tinggal, ya?”

Samir mengangguk.

“Kamu jangan nakal lagi ya, nak. Ingat, kamu sekarang cuma punya ibu. Jangan bikin ibu susah,” nasihat Miriam. Samir hanya mematung. “Ya sudah, mandi sana! Titah Miriam seraya menyunggingkan senyum. Samir menurut. Dengan gontai dia melangkahkan kakinya ke kamar mandi. “Bu!” panggil Samir saat satu kakinya sudah menjejak di lantai kamar mandi.

“ Kenapa?” Miriam mendongak.

“Aku juga mau kerja. Biar ibu nggak berat menghidupi aku.”

Miriam tertawa bahagia mendengarnya. Ternyata di balik kenakalan sang putra, Samir masih tetap memikirkan dia, ibunya.

“Terima kasih, ya!” ucap Miriam penuh haru. Mungkin jalan ke depannya akan berat. Tapi melihat senyum Samir, kepercayaan dirinya meningkat tajam. Hatinya mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

"Bu," panggilan Samir membuat Miriam menoleh.

"Aku sayang ibu," ucap Samir. Kalimat mujarab yang sanggup membuat Miriam menghadapi sekeras apapun kenyataan hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 2

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1/Literasi Acitya

Jumlah Kata 340

PR

 

Samir memandang takjub bangunan tua yang ada di depan matanya. Model bangunan bergaya Belanda yang sedikit menyeramkan. Namun berkat tangan dingin ibunya, bangunan menyeramkan itu berhasil diubah menjadi rumah yang estetik, bersih dan asri. Penataan letak yang begitu apik dari berbagai macam bunga dan tanaman hias juga menambah nilai keindahan. 

Diana tak hentinya berdecak kagum melihat kelihaian sang kakak, mengubah rumah hantu menjadi cafe bunga, sebuah cafe yang sekaligus juga menjadi toko bunga, satu tema cafe yang langka ditemui. "Kapan soft openingnya?" tanya Diana pada Miriam yang sedang sibuk merekap pengeluaran selama renovasi tempat.

"Besok juga sudah bisa," jawab Miriam singkat.

"Baguslah, mumpung Samir belum masuk sekolah," kalimat Diana menggantung, seakan sedang memikirkan sesuatu. "Berapa lama sih kak anak itu di skors? Kenapa juga dia diskors?" lanjut Diana. 

"Karena dia ikut membantu Malik berkelahi, meskipun pada akhirnya Malik sendiri yang jadi korban. Biarkan saja lah, Di.. Biar Samir kapok," tutur Miriam. Matanya tak lepas dari kalkulator, sambil sesekali memainkan polpen.

Diana melirik Samir dan kakaknya secara bergantian. Samir masih membisu sembari berkeliling ke tiap sudut ruangan. Tangannya sibuk mengusap pinggiran meja dan kursi cafe, sambil sesekali berdecak kagum. Tampak aura bahagia terpancar dari wajahnya.

Perhatiannya kini kembali beralih pada Miriam, "Gimana Wildan? Akhirnya kalian resmi bercerai juga, ya?"

Miriam mendongak menatap Diana lekat, "Itulah yang aneh, Di. Sorot matanya seperti sorot kehilangan, seakan berharap aku membatalkan permintaanku."

"Aduh, jangan percaya, deh! Penjahat itu banyak caranya! Licik!" Diana mengibaskan tangannya, menafikkan kekhawatiran Miriam. "Lalu, berapa uang tunjangan yang ia berikan untukmu?" cecar Diana lagi.

"Seperti yang kamu lihat, sanggup untuk menyewa bangunan tua dan merenovasinya," sahut Miriam cepat. Senyuman manis terkembang di wajahnya.

"Lalu untuk Samir?"

"Cukup untuk jajan Samir sebulan. Dia berjanji akan rutin memberi uang saku untuk anak itu tiap bulan," jawab Miriam. Kebahagiaan jelas tidak bisa ia sembunyikan lagi.

"Syukurlah, kak! Akhirnya kalian terbebas dari Wildan," ucap Diana tulus dengan mata berkaca-kaca.

"Iya," Miriam menghela napas panjang. Lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Menerawang menatap langit-langit cafe. Entah kehidupan yang seperti apa yang akan ia jalani ke depannya bersama Samir.

 

Lanjutan Bab 2 #2

1 0

#sarapankata

#kelompok 1/literasiAcitya

#jumlahkata 336

“Sudah seminggu sejak cafe bunga dibuka untuk pertama . Pengunjung makin ramai dari hari ke hari. Mau tak mau Miriam harus menyewa pegawai karena hari ini Samir sudah mulai masuk sekolah. Diana ikut membantu mencarikan pekerja paruh waktu untuk meringankan pekerjaan Miriam. “Kemarin ada yang menghubungiku, Kak. Masih muda. Sepertinya sangat membutuhkan pekerjaan. Aku suruh datang ke cafe nanti siang sepulang dia sekolah,” tutur Diana.

“Boleh.. Mudah-mudahan dia cocok bekerja di sini,” sahut Miriam.

“Bagaimana dengan Samir, kak? Apa dia sudah mulai berubah?” tanya Diana.

“Dia sekarang lebih banyak diam di sini. Sudah nggak pernah nongkrong bareng teman-teman lamanya,” jawab Miriam sedikit bangga.

“Syukurlah, Kak. Sebenarnya Samir anak yang baik. Dia cuma kurang perhatian dari ayahnya saja. Mudah-mudahan kak Miriam segera dapat jodoh yang baik, yang benar-benar menyayangi kalian berdua setulus mungkin,” doa Diana.

“Untuk saat ini, aku belum kepikiran jodoh, Di. Yang penting bagaimana aku bisa menghidupi Samir dan diriku sendiri,” timpal Miriam cepat.

“Baiklah, Kak. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Oh, ya. Jangan lupa, ya! Nanti siang ada calon pekerja magang yang mau datang,” ujar Diana mengingatkan Miriam.

Miriam mengangguk cepat.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Suamiku sudah menunggu,” Diana mengecup kedua pipi kakaknya sebelum pergi. Sesampainya di depan mobil, Diana kembali melambaikan tangan pada sang kakak.

Miriam hanya bisa tersenyum simpul melihatnya.

Jam mulai merangkak siang. Sudah waktunya Samir pulang sekolah. Sudah waktunya pula, si anak magang datang untuk wawancara, meskipun sebenarnya Miriam tak perlu melakukan itu, karena sudah pasti ia terima.

Alih-alih datangnya si anak magang, Miriam malah kedatangan sosok lain. Sosok yang tidak pernah ia harapkan datang.

Laki-laki itu mengendarai mobil mewahnya. Tampak sangat gagah saat ia turun dari kendaraan dan berjalan ke arahnya. Senyumnya yang hangat ia pancarkan untuk Miriam.

“Mau apa kesini?” tanya Miriam ketus.

“Ingin menjenguk kamu dan Samir,” jawabnya pelan.

Miriam hanya mencebik tanpa menjawab.

“Apa kabar kalian berdua?” tanya Wildan, laki-laki itu.

“Seperti yang kamu lihat, aku sibuk!” jawab Miriam tanpa melihat ke arah mantan suaminya. Tangannya tak berhenti mengelap meja kayu di depannya.

 

Lanjutan Bab 2 #3

0 0

#sarapankata

#kelompok 1/literasiAcitya

#jumlahkata310

"Bu?" panggilan Samir membuat Wildan menoleh ke arahnya. Wajahnya mendadak pias melihat anak laki-laki yang hampir tiga bulan lamanya tidak pernah ditemuinya. Dan kini, anak laki-laki itu berdiri semakin tinggi dan gagah.

Ada sebagian parasnya yang telah Tuhan titipkan di paras Samir. Paras tampan dan garang. Sorot yang selalu ingin memprotes pada dunia, mengingatkannya pada masa mudanya dulu.

Pandangan mata Wildan berubah sendu. Tak disangka, perasaan kasih dan sayang itu mendadak muncul sesaat setelah dia resmi bercerai dari Miriam dan jauh dari Samir. "Apa kabar, Nak?" tanyanya pada Samir yang makin hari terlihat makin tampan.

Samir melengos tak menjawab. Dia terus berjalan ke bagian belakang cafe. Sebuah paviliun tiga kamar yang sudah ditata apik oleh Miriam sebagai kamarnya dan kamar Samir.

"Samir! Jawab salam ayah!" seruan ibunya membuat Samir menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh dengan sorot mata bertanya pada ibunya.

"Bagaimanapun juga dia papamu!" sahut Miriam, seakan tahu apa yang diberatkan oleh putranya itu.

Satu hal yang tak kuasa untuk Samir menolak, yaitu titah ibunya. Sebadung-badungnya dia, ketika ibunya sudah bertitah, maka dengan tunduk dan patuh, Samir akan menuruti. 

Akhirnya dengan berat hati, Samir berbalik badan dan mendekati Wildan, meraih tangan kanan pria itu lalu menciumnya, "Baik, yah!" gumamnya pelan.

Wildan cekatan mengelus puncak kepala Samir, sebelum dia berkelit dan lari. Dia mengusapnya dengan penuh perasaan. Hingga tak terasa, setetes air mata lolos di pipinya. "Maafkan ayah ya, Nak! Selama ini ayah tak pernah memedulikanmu! Ayah pikir, berpisah dari kalian akan membuat hidup ayah lebih mudah dan bahagia. Tapi, ayah keliru! Ayah makin sedih dan terpuruk! Ayah tidak bahagia! Kemanapun ayah pergi, apapun yang ayah lakukan, ayah tidak pernah bisa bahagia!" Wildan menangis tergugu. Tangannya tak berhenti mengusap puncak kepala Samir.

Sementara Miriam hanya bisa menatap peristiwa langka itu dengan penuh keheranan. Apa yang membuat mantan suaminya berubah 180 derajat? Apakah ini hanya semacam sandiwara saja? Entah untuk apa tujuannya.

Lanjutan Bab 2 #4

0 0

#sarapankata

#KMOClubBatch35

#kelompok1/literasiAcitya

#jumlahkata301

 

Samir, Miriam dan Wildan duduk bertiga. Miriam terpaksa menutup cafe bunganya sementara, supaya pembicaraan mereka tak terganggu dengan pengunjung. Miriam juga terpaksa memundurkan jadwal masuk pegawai magangnya hingga dua jam ke depan. 

“Aku ingin kita rujuk,” kata-kata Wildan seperti petir di telinga Miriam. 

“Nggak bisa seenaknya begini, mas! Istri keduamu nanti kecewa. Udah terlanjur senang dia kalau kita bercerai,” protes Miriam. 

“Aku tidak peduli! Suatu kesalahan terbesar dalam hidupku adalah menikahi orang lain selain kamu, Miriam. Aku minta maaf..” Wildan kembali terisak. Tak ada lagi tatapan nyalang dan galak darinya. “Aku lebih baik menceraikan dia daripada kamu!” lanjutnya.

“Tetap itu bukan jalan keluar, Mas! Istri mudamu juga punya anak. Buah hati kalian!”

“Kami menikah secara siri. Karena instansi tempatku bekerja adalah milik pemerintah. Peraturan perusahaan melarang untuk memiliki istri lebih dari satu,” terang Wildan.

“Istrimu cuma satu, dia! Kita sudah bercerai, kamu ingat kan?” tegas Miriam.

Wildan menggeleng penuh semangat. “Sudah kubilang, istriku cuma kamu! Aku ingin kita rujuk!”

Miriam menggeleng. Sementara Samir hanya membisu melihat perdebatan kedua orang tuanya.

“Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak pada saat kamu tampar aku waktu itu? Kenapa tidak pada saat kamu membuang Samir? Saat kamu menganggap Samir anak kotor, anak buangan, padahal dia darah dagingmu sendiri!” sorot mata Miriam menyala penuh amarah.

Dan Wildan hanya sanggup menunduk sambil menutupi wajahnya. “Itulah kebodohanku, Miriam. Aku selalu menyangkal kesalahanku. Waktu dulu, aku mendengar kamu hamil akibat ulahku, aku merasa sangat marah. Aku salah tapi tidak mau bertanggungjawab. Aku pengecut!” bisiknya.

“Apalagi kedua orang tua kita memaksaku menikahimu sebagai bentuk tanggungjawab. Aku tidak terima. Aku masih muda! Satu semester lagi, aku sudah menyelesaikan kuliahku. Aku merasa waktu mudaku terenggut Cuma-Cuma tanpa memikirkan sedikitpun perasaanmu. Padahal kamu lah yang paling dirugikan,” tutur Wildan panjang lebar.

“Seharusnya pemerkosa dihukum rajam. Bukan dinikahkan dengan korban!” sahut Samir dengan sorot mata tajam. 

Wildan tertegun mendengar ucapan putranya. Begitu pula dengan Miriam.

 

 

 

Lanjutan Bab 2 #5

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1/Literasi Acitya

Jumlah Kata 361

 

"Darimana kamu dapat kosakata macam itu, Samir?" Miriam menggelengkan kepalanya.

"Dari kajian Pak Ustadz di masjid depan rumah Tante Diana," sahut Samir ketus. Tangan kanannya terjulur mengambil sebuah minuman gelas kemasan yang tertata apik di tengah meja. Sementara tangan lainnya meraih sedotan. Tak berapa lama, dia menusuk permukaan minuman kemasan itu dengan sedotan lalu menyesap isinya hingga habis.

Plastik kemasan itu Samir lemparkan ke dalam keranjang sampah yang terletak di sudut ruangan, tepat di samping tanaman palem yang menghias sisi pintu menuju dapur cafe. Gayanya yang bak pebasket memasukkan bola ke dalam ring, sedikit membuat Wildan menyunggingkan senyum.

Samir lalu mengarahkan perhatiannya kembali pada kedua orang tuanya. "Kata Pak Ustadz, kami, anak-anak muda, dilarang mendekati zina. Jangankan pacaran, mendekati zina saja tidak boleh!" lanjut Samir dengan nada yang ringan.

"Hukuman bagi laki-laki dan perempuan yang berzina tapi belum pernah menikah, itu dicambuk seratus kali. Sedangkan hukuman bagi pezina yang sudah menikah atau pernah menikah, itu dirajam, dilempari kepalanya sama batu, sampai mati," sahutnya enteng.

"Sementara, pemerkosa, bisa jadi hukumannya lebih berat lagi. Dia udah memaksa orang lain untuk berzina," tatap Samir tajam. Ia tujukan tatapan itu pada ayahnya.

Wildan berkali-kali mengusap peluh di dahinya. Sesekali pandangannya mengarah pada Miriam, lalu menunduk. Disandarkannya punggungnya pada kursi. Dia menghembuskan napas pelan, seakan menyesali sesuatu. "Aku malu.." ucapnya kemudian. "Bahkan pengetahuan Samir tentang agama, jauh lebih banyak dari aku.."

"Selalu ada kesempatan untuk belajar, Mas. Tidak ada kata terlambat," Miriam menepuk punggung tangan Wildan, mencoba memberinya kekuatan.

"Ijinkan ayah berubah demi kamu, Samir. Ijinkan ayah menebus semua kesalahan pada kamu dan ibumu. Ayah mohon," tatapan mata Wildan begitu sayu dan menghiba. 

"Semua bisa dilakukan tanpa kita kembali rujuk.." tegas Miriam. "Toh, meskipun kita kembali, nasab Samir tidak bisa dihubungkan padamu. Nasab Samir adalah padaku dan keluargaku."

Wildan menundukkan kepalanya. Dia menopang dahinya sambil sesekali terisak. Terlihat buku-buku jarinya memutih mencengkeram kening, "Banyak sekali kerusakan yang sudah aku buat. Aku ingin bertobat," desisnya lirih.

Samir hanya bisa memandangi ayahnya dengan sedikit rasa kasihan. Ingin sekali tangan mungilnya ia usapkan ke bahu sang ayah sembari berujar, " Tidak apa-apa, Yah. Semua akan baik-baik saja."

Namun itu semua hanya sebatas keinginan. Samir tak punya keberanian untuk itu.

 

Lanjutan Bab 2#6

0 0

Sarapan kata KMO Club Batch 35

 

Kelompok 1/ Literasi Acitya

 

Jumlah kata 326

 

#PR

 

 

 

 

Samir masih bisa merasakan usapan tangan sang Ayah di puncak kepalanya. "Ayah pulang dulu," ucapnya sebelum memasuki mobil.

 

 

Satu kekecewaan Samir adalah dia tak membalas ucapan ayahnya. Hanya mengangguk seraya tersenyum. Lalu mengawasi sang ayah menyalakan kendaraan dan menjauh meninggalkan parkiran cafe.

 

"Ayo, masuk!" ajak Miriam sambil merangkul dan meremas bahu Samir. Anak laki-lakinya kini sudah melampaui tingginya. Baru juga kelas 9, usianya juga baru menginjak 14 tahun dua bulan lalu. Tapi ketampanannya sudah terpancar, rahangnya tegas, rambutnya lurus dan hitam, berkilau menantang cahaya matahari sore.

 

"Ganti baju, gih. Abis itu bantu mama beres-beres, ya. Setelah maghrib kita buka," pinta Miriam.

 

Samir, selalu saja tak banyak bicara. Hanya mengangguk sebagai tanda mengiyakan perintah ibunya. Bergegas memasuki kamar, mengganti bajunya. Membasuh wajah putihnya dengan air agar tampak segar, kemudian mengambil air wudhu. Masih tersisa waktu baginya untuk menjalankan ibadah sholat Ashar. 

 

Selesai sholat, dia melipat sajadahnya dan menghampiri ibunya, ikut menyapu seluruh ruangan cafe. Dengan cekatan, ia mengambil peralatan mengepel segera setelah membersihkan seluruh kotoran dan debu di lantai. 

 

Perlahan dan dengan sedikit tekanan, ia mengusap kain pel ke seluruh permukaan lantai. Tampak ibunya sedang mengelap kaca pintu masuk dengan kain. Tangan kirinya sibuk merogoh ponsel yang berdering di saku celananya. 

 

Setelah berhasil menekan tombol pada ponsel, Miriam mengucap, "Halo!"

 

Beberapa detik kemudian, raut wajah Miriam berubah pucat pasi. Keringat dingin tampak menetes di dahi putih mulusnya. Dia menatap Samir sekejap, lalu memalingkan muka. Berbicara dengan seseorang sambil setengah berbisik, membuat Samir begitu penasaran dengan siapa ibunya berbicara.

 

Langkahnya ringan menghampiri sang ibu. Kini terlihat jelas bahwa ibunya sedang menitikkan air mata. Kesedihan terpancar dari wajah ayu dan anggunnya.

 

Air mata makin tak terbendung tatkala, Samir meletakkan telapak tangannya di bauh sang Ibu. "Ada apa, bu?" tanya Samir hati-hati. 

 

Miriam tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya pelan sebelum menutup telepon. Dengan tangan gemetar, Miriam kembali meletakkan ponselnya ke dalam saku celana. Dia menoleh pada Samir dan memeluk anak lelakinya erat. "Sepulang dari sini... Papa kamu kecelakaan," ujarnya terbata.

 

 

 

Lanjutan Bab 2#7

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1/ Literasi Acitya

Jumlah kata 303

#PR

Miriam melangkahkan kakinya lebar-lebar di sepanjang lorong rumah sakit. Samir mengikutinya di belakang. Perasaannya kacau tak menentu. Segala sesal yang menggelayut di pikiran, menguar tak tentu arah. Seharusnya Samir membalas pelukan sang ayah, seharusnya Samir mengatakan bahwa dia memaafkan segalanya dan bersedia memulai segalanya dari awal. Seharusnya dia mengatakan bahwa dia menyayangi sang ayah. Seharusnya, seharusnya...

Namun tampaknya semua terlambat. Seorang perawat mengarahkan Samir dan ibunya di depan sebuah ruang operasi.

"Bapak Wildan masih di dalam. Sedang dilakukan tindakan. Harap sabar ya, Bu.." ujarnya.

Miriam menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Terlihat gurat-gurat lelah dan otot tangan yang menonjol. Samir hanya menunduk sambil melingkarkan lengan di pundak sang ibu.

Teringat beberapa saat lalu, sebuah nomor tak dikenal menghubungi Miriam, yang ternyata berasal dari pihak kepolisian. Polisi itu menghubungi Miriam karena nomor Miriam lah nomor terakhir yang dihubungi Wildan sebelum kecelakaan.

Miriam mengusap wajahnya kasar. Entah bagaimana perasaannya sekarang. Kalut? Sedih? Dia sendiri tak paham.

Wildan sekarang sudah berstatus sebagai mantan suami. Namun, berita kecelakaan itu, ternyata mampu mengoyak hatinya. Kebersamaan bersama Wildan tak bisa dipungkiri, sudah menorehkan rasa sayang dan kepemilikan yang dalam. 

Setetes air mata lolos di pipi Miriam. Rasa kepemilikan? Bahkan kini statusnya adalah mantan istri, seorang janda. Wildan jelas sudah bukan miliknya lagi. Milik? Apa sih yang dimiliki manusia? Bahkan nyawanya sendiri pun bukan miliknya.

Miriam kembali menggelengkan kepalanya. Diremasnya rambut yang awalnya tersanggul dan tertata rapi. "Salahkah ibu sudah berpisah dari ayahmu?" Sebuah pertanyaan yang lebih tepat ia ajukan pada dirinya sendiri dibanding harus ia tanyakan pada Samir.

Sementara Samir yang memang tak mengetahui jawabannya hanya tertunduk tak bersuara. "Semoga ayah baik-baik saja," begitu jawabnya. Sangat jauh dari pertanyaan yang sudah dilontarkan sang ibu.

"Ayah kuat!" lanjut Samir. Memantapkan diri dan menguatkan hati ibunya. Setidaknya itu yang bisa dia lakukan sekarang.

Tapi, lagi-lagi, kenyataan menampar begitu dalam dan menyakitkan. 

Lanjutan Bab 2#8

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1/ Literasi Acitya

Jumlah kata 320

PR

 

Lampu ruang operasi yang terletak di atas pintu sudah padam. Tandanya proses operasi sudah selesai. Seorang polisi tampak mondar-mandir di depan pintu ruangan, menunggu sambil berharap cemas.

Samir makin mengeratkan pelukan di bahu ibunya. Jantungnya berdebar kencang, tak mampu ia kendalikan. 

Seorang dokter keluar. Seorang pria berkacamata yang melepas masker dan sarung tangan plastiknya, lalu bergegas menghampiri Miriam yang gemetar dan kuyu. "Nyonya Wildan?" tanyanya pelan.

Miriam yang sedari awal menatap lekat dokter itu, tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya. "Suami saya? Ba.. bagaimana?" tanyanya pelan dan terbata.

"Maaf bu.. Trauma di kepala bapak Wildan terlalu berat. Otaknya mengalami pendarahan. Kami sudah gagal.." tutur dokter itu. Wajahnya terlihat begitu sedih. Suatu beban tersendiri bagi seorang dokter yang tak bisa menyelamatkan nyawa seseorang yang berada dalam penanganannya. Tapi, apa mau dikata. Dia sekedar dokter. Takdir Tuhan lah yang berkuasa atas segalanya.

Samir tak ingin menangis. Toh, ayahnya juga tak pernah mencurahkan kasih sayang padanya. Hanya hari ini saja, saat sang ayah mengatakan menyesali semua perbuatannya. Tapi, air mata tak bisa diajak berkompromi. Kesedihan itu begitu terasa. Usapan telapak tangan ayahnya yang kekar di rambut Samir, masih terasa hangatnya. Permintaan maaf Wildan masih terngiang di kepalanya. Suara paling merdu yang pernah Samir dengar.

"Bu, mohon ikut saya untuk melengkapi berkas-berkas," ajak seorang polisi yang sejak tadi sudah bertingkah cemas di depan pintu ruang operasi.

Miriam mengangguk dan bergegas mengikuti polisi itu. Dia seakan tak diperbolehkan memeluk kesedihannya meski hanya sebentar. Atau mungkin itu lebih baik baginya daripada meratapi kepergian seorang pria yang sudah bertahun-tahun hidup dan tinggal bersamanya. Bukan tahun-tahun yang bahagia, tapi tetap menorehkan kenangan dan cinta..

Sementara Samir, hanya duduk diam terpaku. Menatap nanar dan kosong pada pintu di depannya yang mulai terbuka. Dan pemandangan sedetik kemudian adalah pemandangan yang tak akan terlupakan seumur hidupnya. Beberapa perawat mendorong brankar, membawa sesosok tubuh berselimutkan kain putih, menutupi seluruh bagian tubuhnya. Tanpa ada yang memberitahukannya pun, Samir tahu. Sosok itu adalah jasad ayahnya.

 

Bab 3

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1 Literasi Acitya

Jumlah kata 305

 

Rumah bercat putih berlantai tiga itu tampak megah. Rumah yang sudah sejak lama tidak dimasuki oleh Samir semenjak dia balita. 

Sepasang suami istri renta melangkah cepat menghampirinya. Mereka serentak memeluk tubuh Samir yang kaku. Sang laki-laki tua tergugu di pundaknya sambil berkali-kali menepuk punggung Samir. "Cucu kakek," begitu ucapnya.

Sementara si wanita tua, memandangi Samir sembari mengusap pipinya dengan tatapan penuh arti. "Maafkan Nenek, ya.. Maafkan semua kesalahan kami," ujarnya sembari terisak.

Samir tak menjawab. Hanya menunduk. Pasangan suami istri ini adalah kakek dan neneknya dari pihak ayah. Entah kenapa hubungan mereka merenggang sejak lama. Bukan karena kakek neneknya tak sayang, melainkan Wildan sendiri yang selama ini menjaga jarak dari kedua orang tuanya. Sedangkan Miriam, karena rasa benci dan trauma karena dipaksa menikah dengan Wildan pada awalnya, juga menambah kerenggangan hubungan.

Wanita tua berambut putih itu menarik lengan Samir pelan. Mengajaknya memasuki ruang tamu yang ramai oleh pelayat. Semua mata memandang ke arahnya. Dari semua orang di sana, seorang wanita menggendong balita telah menarik perhatian Samir. Wanita itu, adalah istri muda Wildan. Matanya sayu dan bengkak, terlihat bahwa dia sudah banyak menangis.

Ragu-ragu, perempuan muda nan ayu itu menghampiri Samir dan memaksakan senyumnya. "Mama minta maaf, atas semua kesalahan mama padamu dan ibumu," ujarnya dengan nada bergetar.

Sementara sang Nenek hanya memalingkan muka tanda tak suka dengan kehadirannya.

Lagi-lagi lidah Samir kelu. Namun dia tak lupa membalas senyuman wanita itu.

Tak berapa lama, neneknya kembali menarik lengannya. Mengajaknya ke arah sudut ruangan, dimana ada ibu dan tantenya serta kakek dan nenek dari pihak ibu. Mereka sepertinya berbincang sesuatu yang serius, lalu berhenti berbicara tatkala melihat kedatangannya.

"Samir... Mirip sekali dengan Wildan," ucap sang nenek yang sedari tadi tak melepaskan belitan tangannya dari lengan Samir.

Miriam tersenyum lembut pada mantan mertuanya. "Iya, Ma. Mirip banget dengan papanya. Saya sampai nggak kebagian," kelakar Miriam, sedikit mencairkan suasana.

 

Lanjutan Bab 3#1

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1 Literasi Acitya

Jumlah kata 321

 

Samir memasuki kamar sang ayah. Kamar yang yang didominasi warna putih. Simpel dan minimalis. Tak ada foto apapun yang terpajang. Hanya buku-buku yang tertata rapi di rak di sudut ruangan. 

Samir mendatangi deretan buku-buku itu. Jemarinya menelusuri tiap-tiap sampul. Ternyata ayahnya gemar membaca. Satu hal yang baru ia ketahui setelah ayahnya tiada.

"Ayahmu anak yang cerdas!" suara sang kakek membuat Samir berjingkat kaget. "Dia suka sekali belajar. Membaca, ke perpustakaan, itu hobi ayahmu dulu.."

"Oya?" satu kata sederhana dari Samir untuk menanggapi cerita sang kakek.

"Iya, sampai saat ayahmu ketemu ibumu. Mereka teman semasa kuliah. Ibumu cantik sekali, Samir. Wildan langsung jatuh cinta," tutur sang kakek sembari diselingi tawa renyah. Mengingat kepingan masa lalu, yang pedih, namun indah.

"Tapi Wildan, bagus secara IQ, buruk dalam EQ. Pengontrolan emosinya tak bagus. Dia lebih banyak bergaul dengan buku daripada manusia. Dia juga tak biasa menerima penolakan," kakek Samir menghentikan ceritanya demi menghela napas panjang.

Samir memposisikan dirinya dengan duduk di tepi ranjang. Tanda bahwa dia tertarik mendengar cerita sang kakek.

"Ayahmu, tergila-gila dengan ibumu. Tapi sepertinya Miriam tak suka tipe pria kutu buku, Wildan tampan," si kakek terkekeh. "Ibumu menolak dan menghina Wildan. Sehingga, ayahmu emosi. Dan, terjadilah hal yang tidak boleh dilakukan. Ayahmu memaksa ibumu.." lanjut kakek. Tampak dia sesekali menyeka sudut matanya. 

"Ayahmu tumbuh dalam didikan yang salah. Salah kami, menganggap bahwa semua keinginannya adalah kewajiban yang harus kami turuti. Maklum, Mir. Ayahmu anak tunggal. Dulu nenek susah sekali mendapatkan keturunan. Jadi, saat kami berhasil memiliki Wildan, kami memanjakan dia, menganak emaskannya. Apapun keinginannya, tak ada yang tak kami turuti," kini sang kakek duduk di sebelah Samir. Tangan keriputnya mengusap bahu Samir yang kian lebar.

"Kakek yakin, kamu anak baik, Mir. Ayahmu hanya tak pandai mendidikmu. Tapi, kakek yakin. Kamu akan jadi anak yang sholeh, yang bisa mendoakan kedua orang tuamu. Anak penyejuk mata ibu dan bapaknya," sang kakek memandang jauh ke dalam bola mata coklat Samir dengan berlinang air mata.

Lanjutan Bab 3 #2

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1 Literasi Acitya

Jumlah kata 313

 

Samir mendengarkan dengan seksama cerita tentang ayahnya. Tentang karakternya, kebiasaannya dan kesukaannya. Dia merasa jauh lebih dekat dengan sang ayah saat ini daripada saat ayahnya masih hidup dulu.

“Jadikan semua ini pengalamanmu ke depan. Kamu boleh bandel. Berantem, berjuang untuk hal yang kami yakini itu benar. Tapi hanya satu pesan kakek. Jangan pacaran! Kalau kamu suka sama cewek, lebih baik dipendam saja!” nasihat sang kakek.

“Samir nggak tertarik untuk pacaran, Kek! Samir nggak pernah deket-deket sama mereka. Males! Cewek itu rese!” gerutunya.

Sang kakek terbahak mendengar alasan Samir. “Itu malah lebih bagus! Jangan dekati mereka sampai mereka benar-benar halal buat kamu!” ujar Kakek sambil menepuk bahu Samir.

Samir hanya mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. Belum sempat ia bertanya, nampak kepala sang ibu menyembul dari balik pintu kamar. “Pah, jenazah mas Wildan mau diberangkatkan,” ujarnya pelan.

Kakek mengangguk. Wajahnya kembali murung. Beberapa tetes air mata kembali mengalir. “Ayo!” Kakek menggandeng tangan Samir dan mengajaknya menuruni tangga ke lantai satu, menuju ruang tamu, tempat dimana jenazah ayahnya dibaringkan.

Beberapa orang sudah bersiap-siap, menutupi keranda dengan kain bertuliskan kalimat tauhid dan beberapa rangkaian bunga sebagai pewangi. Tak ada yang tak menangis sekarang. Sementara, para pelayat yang belum sholat jenazah, mulai mengambil tempat untuk mensholatkan sebelum raga Wildan benar-benar diberangkatkan menuju peristirahatan terakhir.

Miriam menarik mundur Samir yang berusaha mendekati keranda ayahnya. Keinginannya untuk melihat wajah ayahnya terakhir kali harus ia tunda. “Nanti saja. Kamu ikut menggotong ayah, ya!” pinta Miriam yang dibalas dengan anggukan.

Kini tiba saatnya, seorang ustadz menyampaikan tausyiahnya, mengajak para pelayat untuk memaafkan segala kesalahan almarhum dan mengikhlaskan seandainya almarhum masih memiliki hutang. Saat itulah, Miriam tak kuasa membendung tangisnya. Segala sesal di masa lalu, membuncah memenuhi relung hati. Segala perlakuan Wildan yang manis, lembut, kasar dan jahat terlintas di kepalanya satu persatu bagaikan film. “Maafkan aku, mas..” bisiknya lirih. Dia menunduk dan tergugu.

Apalagi saat melihat putra semata wayangnya ikut menandu keranda.

 

Lanjutan Bab 3 #3

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

 

Kelompok 1 Literasi Acitya

 

Jumlah Kata 321

 

Pria paruh baya itu mengeluarkan map-map tebal dari koper. Ada berlembar-lembar kertas yang tersaji di hadapan Miriam dan Samir. Sementara ayah ibunya dan ayah ibu Wildan duduk dengan tenang di belakangnya di kursi yang sudah disediakan pihak notaris dan pengacara.

 

"Bapak Wildan sudah menghubungi kami, dua bulan sebelum putusan perceraiannya," pengacara itu menghentikan kalimatnya, lalu menoleh pada sang notaris. Saat notaris itu mengangguk, sang pengacara kembali menatap Miriam dengan raut wajah yang tak terdefinisikan.

 

"Bapak Wildan seakan sudah mempunyai firasat bahwa hidupnya tidak akan lama," lanjut sang pengacara. "Beliau menghibahkan rumah di Jalan Kenanga yang selama ini ditempati oleh bapak Wildan bersama Ibu Miriam, kepada Ananda Samir."

 

"Ini bukan warisan, karena bapak Wildan tidak punya hak memberikan hartanya kepada Ananda Samir. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa garis keturunan Ananda Samir dinasabkan pada ibunya," tutur pengacara itu hati-hati. Lalu terdiam sejenak memandang setiap orang di depannya yang serius mendengarkan penjelasan. Mereka semua mengangguk tanda setuju, sehingga sang pengacara melanjutkan lagi kalimatnya.

 

"Rumah di Jalan Kenanga dihibahkan kepada Ananda Samir. Dan Nyonya Miriam, bapak Wildan menitipkan ini kepada kami, untuk diberikan kepada anda," pengacara itu mengeluarkan sebuah kotak kayu kubus berukuran 30 cm dan memberikannya pada Miriam.

 

Kotak itu dipenuhi ukiran yang khas. Pahatannya begitu halus, menunjukkan kualitasnya yang premium. Pelan Miriam membukanya. Isi yang tak pernah diduga sebelumnya, membuat Miriam membelalakkan mata. Dia begitu terkejut luar biasa. Perhiasan emas dan berlian satu kotak penuh tersaji di depan matanya. Gelang, cincin, kalung dan anting permata. "Ini.. Ini untuk saya?" tanya Miriam terbata.

 

"Betul! Surat-surat emas dan berlian juga sudah kami siapkan di sini," ujar sang pengacara sambil menunjuk ke arah map yang ia letakkan di sebelah kotak emas.

 

"Tapi, kenapa? Saya tidak ingat Wildan pernah membelikan ini untuk saya," dahi Miriam berkerut tak mengerti.

 

"Bapak Wildan membelinya sejak pernikahan anda dan beliau. Namun pak Wildan menyimpannya, belum sempat memberikannya secara langsung kepada anda. Semua perhiasan itu milik anda, Nyonya," tutur sang pengacara.

Lanjutan Bab 3 #4

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

 

Kelompok 1 Literasi Acitya

 

Jumlah kata 328

 

Miriam dan Samir kembali ke rumah lama mereka. Rumah yang mereka tinggali berasa Wildan belasan tahun lamanya. Tak ada yang berubah. Perabot-perabot masih tetap berada di tempatnya. Gordennya masih tetap sama. Lukisan dan foto masih terpajang di dinding. Bahkan letak buku-buku kesayangan Wildan di ruang kerjanya juga masih tetap sama.

 

"Sejak pisah rumah dengan panjenengan, bapak tidak pernah pulang kesini, Bu.." tutur Mbok Umi, pembantu yang sudah mengabdi pada mereka sejak hari pertama Wildan dan Miriam sah sebagai suami istri.

 

"Mbok tinggal di sini terus?" tanya Miriam.

 

"Injih, Bu! Saya di sini terus, tidak pernah kemana-mana. Bapak menyuruh saya dan suami saya untuk menjaga rumah ini. Kata bapak, takut sewaktu-waktu panjenengan pulang kesini."

 

Kata-kata Mbok Umi terasa menghujam begitu dalam di dada Miriam. Wildan masih mengharapkannya pulang. Di balik sosok dingin dan tak mau tahunya, mantan suaminya itu ternyata memperhatikan Miriam.

 

Memang benarlah kata pepatah, 'jangan membuat keputusan saat kau marah'. Kini sesal tak lagi berguna. Wildan sudah tak ada lagi di dunia. Mereka tak akan pernah lagi kembali bersama di dunia. 

 

Samir mengamati Miriam yang menunduk dan menitikkan air mata. Berkali-kali ibunya mengusap pipi. "Bu, kata pak Ustadz, orang kalau sudah punya niatan baik, meskipun belum terlaksana, tapi sudah dicatat sama Allah," hiburnya.

 

Miriam menoleh dan memperhatikan Samir lekat. "Maksudnya?"

 

"Ayah sebelum meninggal, bilang kalau menyesal. Ingin berubah menjadi baik. Mau bertobat. Tapi ayah keburu dipanggil oleh Allah. Itu artinya, ayah sudah termasuk dalam taraf bertobat. Berarti ayah meninggal dalam keadaan baik," tutur Samir panjang lebar, membuat Miriam tercengang. Tak menyangka, Samir akan menjadi sebijaksana ini.

 

"Samir juga sudah bertobat rupanya, ya? Sudah jadi anak baik? Nggak pernah berantem dan merokok lagi?" cecar Miriam.

 

Samir tak menjawab, hanya memalingkan muka ke arah jendela ruang kerja ayahnya.

 

Miriam tak tahu, dia masih sering berkelahi dengan teman satu sekolahnya. Mereka sering mengolok-olok Samir karena pernah terlibat pertikaian yang menyebabkan kematian salah satu sahabatnya, Malik. Anak-anak itu sering memanggil Samir dengan panggilan "preman cilik", "sampah masyarakat" dan sebutan menyakitkan lainnya.

Lanjutan Bab 3 #5

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1 Literasi Acitya

Jumlah kata 313

 

"Hei, Samir! Kirain udah pindah kelas!" seru salah seorang teman sekelasnya, diiringi tawa teman yang lainnya saat ia memasuki kelas dan duduk di bangkunya. Ejekan yang biasa bagi Samir, dia tak akan menanggapi karena suasana hatinya sedang bagus.

Pagi ini, ibunya membawakan bekal kesukaannya. Dan cafe bunga milik ibu mulai ramai pengunjung. Namanya mulai dikenal. Bahkan beberapa hari lalu, seorang selebgram mendatangi cafe ibunya dan membuat vlog di sana. Artis medsos itu membelikan penilaian yang baik terhadap menu dan berbagai macam produk tanaman hias yang disediakan oleh sang Ibu.

"Heh, malah melamun! Pe er lu dah selesai belum!" sebuah tepukan keras di pundak menyadarkannya. Samir menoleh dan mendapati Burhan, 'sahabat seperjuangan' yang dulu sering berkelahi bersamanya, menyeringai ke arahnya.

"Udah!" jawab Samir singkat, datar dan tanpa ekspresi. Sejak dulu, Samir memang tipikal anak yang dingin, cuek dan keras. Kurangnya perhatian dan seringnya penolakan dari sang ayah, membuat pribadinya mengeras. Meskipun ibunya melimpahi dengan berjuta kasih sayang, namun kasih sayang dari ayah lah yang Samir rindukan. Dan kasih sayang itu berhasil dia dapatkan hanya beberapa saat sebelum ayahnya tiada.

Samir menghela napas panjang. Dadanya kini terasa sesak. Moodnya yang baik beberapa menit yang lalu, kini menguap entah kemana. Marah, sedih, kehilangan, kini memenuhi dirinya. 

"Woi, gila! Keren! Udah dikerjakan semuanya! Padahal susah-susah lho soalnya! Gue nyontek, ya!" Burhan kembali mengalihkan perhatiannya. Entah bagaimana caranya, remaja tanggung yang sedikit gembul itu berhasil mengambil buku PRnya dan mulai menyalin jawaban. 

Samir hanya bergeming melihat tingkah Burhan. Sementara anak-anak lain yang mengejeknya tadi tak terdengar lagi suaranya. Sebagian dari mereka beringsut mengikuti Vita, gadis tercantik di kelas, mendekati Burhan yang asyik menyalin PR.

"Kok bisa sih, kamu ngerjain nomor 10? Itu kan yang paling susah?" tanya gadis itu keheranan. 

Samir menoleh padanya sekilas lalu berpaling ke arah jendela kelas. Selama ini tak ada yang menyadari bahwa dia anak yang sangat cerdas. Kelebihannya selalu tertutup oleh cemoohan.

Lanjutan Bab 3 #6

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

 

Kelompok 1 Literasi Acitya

 

Jumlah Kata 305

 

 

 

 

"Kata Pak Andi, yang susah nggak usah dikerjakan, nanti dibahas bersama di kelas," lanjut Vita, membuat Samir gerah.

 

"Yaa gimana.. Udah aku kerjain. Berarti soal itu nggak susah buat aku," sungutnya.

 

Vita pun cemberut mendengar perkataan Samir. Dia masih tak terima bahwa anak sebandel Samir ternyata melampauinya dalam hal matematika. Tak disangka, Samir mampu menaklukkan soal sesulit itu. Soal yang membuat Vita menyerah. Dia kalah oleh Samir. "Huh!" dengus Vita sambil berlalu menuju bangkunya.

 

Beberapa kali Vita menoleh ke arah Samir. Tapi Samir sama sekali tak peduli. Dia layaknya batu, tak peduli orang lain melemparinya bunga ataupun kerikil, Samir tetap tegak bergeming. Tak ada raut emosi, tak ada ekspresi. Kokoh seperti batu dan dingin seperti es.

 

Gadis cantik itu, yang tumbuh mekar di usianya yang ke-14, masih mengamati Samir dari tempat dia duduk. Samir adalah teman laki-lakinya yang paling unik. Tak pernah dekat dengan siswa perempuan, bahkan sering menundukkan kepalanya saat berpapasan. Berbeda dengan murid laki-laki pada umumnya, yang selalu ingin berusaha menarik perhatian para gadis. Bahkan kadang ada pula yang bersikap tak sopan. 

 

Namun, Samir adalah sosok yang berbeda. Dia selalu menarik diri dari lingkungan. Hanya bergaul dengan anak-anak yang sudah terbiasa bersamanya sejak lama. Samir adalah pribadi yang tak mudah membiarkan orang asing masuk ke dalam kehidupannya.

 

Entah kenapa, hal itu membuat Vita makin penasaran. Ingin tahu seperti apa karakter dan kehidupan Samir yang tampan namun dingin. 

 

"Selamat pagi, anak-anak!" Pak Andi, sang guru matematika memasuki kelas dengan berwibawa. Membuat Vita sedikit terhenyak dari lamunannya.

 

"Kita bahas PR kemarin, ya! Pasti kalian nyerah di nomor 10, ya kan?" seringai pak Andi.

 

"Yaa!" jawab murid-murid serentak.

 

"Samir bisa, pak! Dia sudah selesai mengerjakan nomor sepuluh!" seru Burhan, menarik perhatian teman sekelasnya dan juga pak Andi.

 

"Oh, ya? Coba maju, Samir. Tulis jawabannya di papan tulis. Bapak jadi ingin tahu," pinta pak Andi.

Lanjutan Bab 3 #7

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1 Literasi Acitya

Jumlah Kata 307

 

Jawaban Samir di papan memukau pak Andi dan siapapun yang ada di dalam kelas. Tak disangka, si bandel 'preman cilik', apapun sebutannya, berhasil menaklukkan satu soal tersulit yang bahkan Vita, terpandai di kelas, tak mampu menyelesaikannya.

"Samir, nanti pulang sekolah, bisa mampir ruangan bapak sebentar?" kata Pak Andi.

Samir hanya mengangguk dan menunduk, lalu kembali ke bangkunya.

Waktu pulang sekolah pun tiba, sebelum Samir melangkahkan kaki keluar kelas, Pak Andi sudah berdiri di depannya. "Kita ngobrol di sini saja, ya.." ajak Pak Andi. 

Pak Andi menggiring Samir menuju meja guru. Guru yang terlihat masih muda namun berwibawa itu menyeret satu buah kursi kayu dan meminta Samir duduk.

"Terus terang bapak terkejut, bapak tak mengira..." Pak Andi tak melanjutkan kata-katanya.

"Karena saya sering berantem ya, pak?" potong Samir.

"Itu salah satunya.." pak Andi meringis sambil menggaruk pelipisnya.

"Saya terus terang, selama ini selalu berburuk sangka padamu. Mengingat track recordmu di sekolah kita.. Saya sekarang sadar. Apa yang kami lakukan padamu tidaklah adil," pak Andi menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Samir, sekarang kamu sudah berada di kelas 9. Sebentar lagi ujian. Bapak berharap kamu menyelesaikan bulan terakhir di sekolah ini sebaik-baiknya. Lulus lah dengan nilai memuaskan. Buatlah semua orang yang selama ini menganggapmu rendah, terkejut dan tak mengira. Buatlah ibu dan almarhum ayahmu bangga. Kamu jauh lebih baik dari yang mereka duga," tulus ucapan pak Andi, menembus sanubari Samir. 

Samir menunduk. Selama ini dia tak mempedulikan ucapan di sekitarnya. Dia hanya berbuat semaunya dan sesukanya. Tapi sedikit banyak cemoohan yang dia terima di lingkungan sekolah, sedikit banyak mempengaruhi pemikirannya. Kadang dia berpikir apa yang teman-temannya katakan itulah kebenarannya. Selama ini Samir menganggap dirinya hanyalah anak nakal yang tak berarti sama sekali. Dia selama ini bertahan hanya demi ibunya. Dan keluarga yang menyayanginya. 

Samir tak berusaha membantah olokan temannya karena dia selalu merasa bahwa olokan itu memang benar adanya.

 

 

Lanjutan Bab 3 #8

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 1 Literasi Acitya

Jumlah Kata 307

 

Samir tak memedulikan olokan dua orang remaja tanggung yang berjalan mengikutinya, beberapa langkah di belakangnya. Dia masih mengingat dengan jelas nasihat pak Andi beberapa saat lalu setelah pelajaran usai.

"Jangan biarkan pemikiran mereka tentang dirimu, menentukan siapa kamu."

"Kalau kau bersikap sama seperti yang mereka olokkan padamu, mereka menang.."

"Kamu jauuh lebih baik dari apa yang mereka sangkakan."

Itulah sebabnya Samir memilih diam dan tetap berjalan ke depan sekarang. Masih banyak yang menjadi urusannya. Setelah ini dia akan menuju cafe bunga ibunya. Cafe yang dirintis ibunya dua bulan terakhir ini mulai ramai, terkadang ibunya sempat kewalahan. 

"Hei, lu budeg, ya!" seru salah seorang teman yang mengikutinya dari tadi.

"Mentang-mentang dapat pujian dari pak Andi!"

"Bisa ngerjain satu soal aja dah belagu!"

Kedua temannya berucap saling bersahutan. Sesekali mereka mendorong punggung Samir. Namun, Samir sama sekali tak memedulikan mereka. 

"Lu ngajakin berantem!"

Samir membalikkan badannya dan mengernyit ke arah temannya yang sedari tadi tak berhenti memprovokasi dirinya.

"Perasaan elu yang sedari tadi ngoceh ga jelas. Gua ga nanggepin. Apa sih mau lu sebenarnya?" protes Samir. Dia berusaha menekan emosinya sekuat tenaga.

"Alaah, belagu lu!" salah seorang dari mereka memukul rahang Samir. Tidak terlalu keras, tapi mampu memancing amarah yang sedari tadi Samir tahan.

Tepat saat Samir ingin membalas, saat kepalan tangannya sudah tercengkeram, memunculkan otot dan sudah hampir melaju menuju wajah temannya, teriakan pak Andi terdengar dari kejauhan.

"Jangan, Samir! Ingat nasihat bapak!"

Perlahan, kepalan tangan itu mengendur, Samir menurunkan kembali tangannya.

Pak Andi nampak berlari terengah menuju ke arahnya. Dan ketika sampai di depan Samir, pak Andi membungkuk memegang lutut. Guru baik hati itu sedang mengatur napas. "Aduh, nggak pernah olahraga nih, saya. Lari begitu aja udah ngos-ngosan," keluhnya.

"Dion, Andra! Kalian jangan bikin gara-gara, ya! Bapak saksinya kalau kalian mengganggu Samir! Apa sih masalah kalian?" semprot pak Andi.

Kedua murid itu hanya menunduk, tak berani menjawab.

 

Bab 4

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

 

Kelompok 1 Literasi Acitya

 

Jumlah Kata 318

 

 

 

 

Sudah beberapa hari berlalu sejak pak Andi memergoki dua teman Samir yang usil mengolok-olok dirinya. Sejak saatvitu pula mereka tak berani mendekati bahkan menoleh pada Samir. Entah apa yang pak Andi katakan pada mereka berdua sepulang Samir dari sekolah. Yang jelas, mereka tak berani lagi mendekatinya.

 

Suatu keuntungan bagi Samir karena tak terganggu lagi oleh suara-suara berisik yang tak penting. Kecuali Vita, gadis itu masih saja antusias bertanya tentang rumus-rumus matematika. Lebih tepatnya, memberi tebakan pada Samir. Vita masih tak bisa menerima kenyataan bahwa Samir jauh lebih pandai dalam bidang matematika dibanding dirinya. 

 

"Kapan sih kamu belajarnya? Aku nggak pernah lihat kamu belajar," celoteh Vita mengikuti jalan Samir ke kantin di jam istirahat. Yang tentu saja membuat banyak mata memandang. Seorang Vita, salah satu gadis idola di sekolah, berjalan beriringan dengan Samir, cowok paling bandel sekaligus paling tampan di sekolah.

 

"Kenapa gitu harus nunjukin aku belajar apa nggak ke kamu? Nggak penting amat!" sahut Samir tak peduli. Dia menuju spot favoritnya, soto ayam mbak Sumi. "Soto satu ya, mbak! Aku duduk di situ," pesan Samir sambil telunjuknya mengarah ke salah satu bangku yang tak jauh dari etalase soto mbak Sumi.

 

"Iya, lima menit lagi, ya!" seru mbak Sumi.

 

"Saya juga soto, satu," Vita berbisik pada mbak Sumi, serasa tak ingin suaranya diketahui Samir. Kemudian dia ikut duduk di salah satu bangku, saling berhadapan dengan Samir.

 

"Aku pengen tahu, gimana cara kamu belajar, pokoknya kamu harus jawab atau aku bakal ngintilin kamu terus sampai kamu bosan!" desak Vita tak mau menyerah.

 

Samir hanya memutar bola matanya namun tak kunjung menjawab.

 

"Oke, ya! Berarti kamu setuju kalau aku ngintilin kamu. Nanti pulang sekolah, aku bakal ngikutin kamu. Kita gandengan tangan!"

 

"Apa!" teriak Samir dengan mata melotot. Tak ayal membuat semua mata tertuju padanya. "Jangan aneh-aneh ya, Vit! Tolong!"

 

"Mangkanya jawab!"

 

Iya, deh! Nanti, pulang sekolah! Aku kasih tau cara belajarku," ujar Samir pada akhirnya. Baru kali ini dia merasa kalah.

 

 

 

 

 

 

Lanjutan Bab 4 #1

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

 

Kelompok 1 Literasi Acitya

 

Jumlah Kata 311

 

 

 

 

Dua remaja itu duduk di sebuah bangku taman. Keduanya terlihat sangat serasi. Si gadis yang terlihat jelita dengan rambut panjang dan lurusnya. Dan si remaja pria yang terlihat begitu menawan dan tampan dengan tatapan yang lurus dan dingin.

 

"Aku jujur, nggak belajar tiap hari," ucap Samir membuka pembicaraan. "Aku belajar kalau lagi mood. Dan karena aku sering bolos," Samir tak melanjutkan kalimatnya, kemudian menunduk.

 

"Karena aku sering bolos, jadi tiap kali aku masuk pelajaran, aku selalu fokus mendengarkan penjelasan guru. Aku simpan di kepalaku. Cukup dengan ingatan, aku paham semua yang guru kita sampaikan," tutur Samir panjang lebar.

 

Mata inda Vita membola. "Kamu pernah test IQ nggak, Mir? Kayaknya kecerdasan kamu sudah masuk di tingkat jenius, deh!"

 

Sepucuk senyum terbit di sudut bibir Samir. "Nggak lah, buat apa.." sahutnya pelan.

 

"Ada juga tes untuk mengetahui bakat dan minat seseorang. Untuk menentukan ke bidang studi apa yang sesuai sama kamu ke depannya," tutur Vita antusias.

 

Samir menggeleng. Tanpa tes pun dia sudah tahu akan kemana kakinya melangkah. Sejak kematian ayahnya, Samir banyak menggali informasi tentang segala kesukaan dan ketidaksukaan sang ayah. 

 

Ayah Samir suka sekali menggambar sketsa bangunan. Samir banyak menemukan gambaran sang ayah di loteng rumah kakeknya. 

 

Kakeknya mengatakan bahwa dari dulu ayahnya bercita-cita menjadi arsitek. Namun keinginan itu harus kandas karena sang kakek memaksa ayahnya untuk kuliah di jurusan yang sangat jauh dari bakatnya.

 

Hingga ayahnya lulus kuliah dan berakhir di sebuah perusahaan milik negara dengan jabatan direktur utama. Bakat alami sang ayah terkubur begitu saja. Namun, siapa sangka jika ternyata bakat itu menurun pada anak laki-laki satu-satunya.

 

"Aku mau jadi arsitek," ujar Samir memecah keheningan. "Seperti cita-cita ayah yang belum tercapai," gumamnya lirih, entah Vita mendengarnya atau tidak.

 

"Wah, ada yang mojok!" tiba-tiba segerombolan anak berseragam yang sama mendekati mereka berdua. 

 

"Vita, kok mau-maunya deket sama berandalan kayak dia!" ujar salah satu anak dalam gerombolan itu yang mulai memprovokasi.

Lanjutan Bab 4 #2

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

 

Kelompok 1 Literasi Acitya

 

Jumlah Kata 317

 

 

 

 

"Bisa-bisa nanti kamu ketularan virus dia!"

 

"Virus nakaal!"

 

"Hahaha.."

 

Ramai mereka mengolok-olok Samir dan Vita, membuat gadis itu tak nyaman. Dia beringsut menjauh dari Samir. Smair pun menyadari hal itu.

 

"Aku pulang dulu, Vit. Jangan dekat-dekat aku kalau tidak ingin dibully," pamit Samir.

 

Vita hanya menunduk, tak mampu menjawab. Sebenarnya dia senang bisa mengobrol bersama Samir, meskipun Samir agak dingin dan tak banyak bicara.Tapi sikap Samir yang sopan padanya, yang jarang mau menatap matanya, menandakan bahwa anak laki-laki itu memiliki budi pekerti yang baik.

 

Samir sudah melangkahkan kakinya ketika segerombolan teman-temannya masih juga mengikuti.

 

"Mau kemana lu?"

 

"Mau berantem lagi, ya?"

 

"Siapa musuhnya sekarang?"

 

"Sohibnya dia udah meninggal sih, ya! Gak ada yang bantuin dia lagi."

 

"Si Malik, ya? Payah! Memang nggak gun juga dia hidup, hahaha!"

 

Sontak Samir menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang dengan raut murka.

 

"Ngomong apa kalian? Coba ulangin kalau berani!" tantangnya.

 

"Temen lu Malik dah mati! Soalnya hidup pun gak guna!" seru salah seorang anak menanggapi tantangannya.

 

Bug! Bug! Bug!

 

Pukulan demi pukulan ia layangkan pada teman yang ia tak begitu kenal. Kenapa mereka begitu jahat padanya? Padahal Samir tak pernah mengganggu hidup mereka. Samir jarang atau bahkan tidak pernah berkelahi dengan teman satu sekolah. Seringkali ia hanya berkelahi hanya dengan siswa lain sekolah.

 

"Samir, stop!" terdengar isak tangis Vita. Sementara teman-teman lainnya hanya beringsut ketakutan. Mereka jelas tak memikirkan siapa yang mereka hadapi saat ini.

 

"Samir, dia berdarah! Nanti dia mati!" Vita berteriak sambil melingkari bahu Samir.

 

Seketika Samir berhenti, demi merasakan lengan Vita yang membelit pundaknya. "Lepasin!" Samir mendorong Vita, meskipun pelan, gadis itu sempat terjengkang karena posisi tubuhnya yang tak seimbang.

 

Dilihatnya temannya yang babak belur hampir kehilangan kesadaran akibat pukulannya, lalu menghembuskan napas kasar. "Terserah kalian mau lapor gimana ke orang tua dan guru. Aku sudah nggak peduli lagi! Mau dikeluarkan juga terserah. Lagian, sia-sia kalau aku harus menghabiskan waktuku sekolah bersama orang-orang bermulut jahat seperti kalian!"

Lanjutan Bab 4 #3

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

 

Kelompok 1 Literasi Acitya

 

Jumlah Kata 315

 

 

 

 

Samir melangkahkan kakinya dengan gontai. Tak dihiraukannya hujan deras yang sedari tadi membasahi tubuhnya. Seragamnya acak-acakan tak berbentuk. Keinginannya untuk lulus dalam suasana damai, rusak sudah. Bahkan mungkin dia takkan bisa lulus tahun ini. Samir sudah bisa membayangkan masa depannya yang suram.

 

Dia bahkan tak berani pulang sekarang. Sudah cukup ibunya merasakan kesedihan, dia tak mau menambahinya lagi. Mungkin pergi adalah jalan terbaik satu-satunya. 

 

Usia muda dan pola pikir yang belum dewasa, membuat Samir mengambil keputusan gegabah. Pergi dari rumah. Meninggalkan semuanya. Itu lebih bagus, dia tak mau lagi membuat sengsara orang-orang di sekitarnya. Toh, semua orang membencinya kecuali keluarga.

 

Samir tertunduk sambil terus berjalan tak tentu arah. Rambutnya basah kuyup. Titik-titik air hujan melewati sela-sela kulit kepalanya dan jatuh melalui ujung rambut. Kini ia menangis, tangisan kencang yang tentu saja tak akan ada seorang pun yang mendengar. Karena sekarang hujan deras.

 

"Hei!" sayup-sayup terdengar suara orang memanggil.

 

"Hei!" panggil suara itu lagi.

 

Samir tak yakin bahwa panggilan itu ditujukan padanya. Jadi dia tetap terus melangkah.

 

Tiba-tiba saja seseorang sudah menaunginya dengan payung. Samir menoleh ke belakang. Seorang lelaki tua yang tersenyum manis padanya."Ayo ikut bapak. Hujannya deras, takut ada petir," ajak pria tua itu lembut.

 

Bagai terhipnotis, Samir menurut dan mengikuti pria itu. "Saya nggak usah dipayungi, pak. Udah basah juga," ujarnya lirih.

 

"Nggak apa-apa, biar nggak makin basah," sahut pria tua itu seraya tersenyum.

 

Samir pun mengangguk. Mereka melangkah menyeberang jalan dan berhenti di sebuah toko bunga. Dia agak tertarik dengan profesi pria asing ini. Penjual bunga, sama dengan usaha yang dijalankan oleh ibunya. Meskipun ibunya tak murni hanya berdagang tanaman hias, melainkan juga cafe.

 

"Ayo, masuk! Malah melamun," pria itu meringis dan mempersilahkan Samir.

 

"Tapi, saya basah, pak!" jawab Samir ragu-ragu.

 

"Nggak apa-apa, nanti bapak pel. Ayo!"

 

Samir melepas sepatu dan celana seragamnya. Celana biru tua sepanjang mata kaki itu dia hamparkan begitu saja di sebuah kursi plastik di teras toko.

Lanjutan Bab 4 #4

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

 

Kelompok 1 Literasi Acitya

 

Jumlah Kata 300

 

 

 

 

Dia tidak mengenal pria tua itu. Namun orang itu begitu telaten menghangatkan badannya, memberikannya handuk, teh hangat, bahkan menyiapkan baju ganti untuk Samir yang basah kuyup.

 

"Nanti biar saya yang mengepel lantainya, Pak!" pinta Samir.

 

"Gampang itu, tidak usah dipikirkan, yang penting badanmu hangat dulu," ujar si bapak tua. Dia tersenyum melihat Samir menyesap teh hangat yang baru saja ia seduh untuk remaja tanggung itu dan dirinya sendiri.

 

"Jadi, tadi kenapa hujan-hujanan?" tanya pak tua. "Oh, iya. Panggil saja aku Pak Anton," lanjutnya memperkenalkan diri.

 

"Pak Anton? Langganan mama?" tanya Samir memastikan sesuatu.

 

"Langganan? Mama siapa?" Pak Anton mengernyitkan dahi.

 

"Mama saya juga jualan bunga dan tanaman hias. Beliau sering bilang kalau mau ambil barang ke Pak Anton. Saya pikir itu bapak?" terang Samir.

 

"Kamu putra Bu Miriam?" tunjuk Pak Anton.

 

"Iya, Pak! Betul!" sahut Samir antusias.

 

"Ya, ampuun.. Kamu toh? Bu Miriam sering cerita tentang kamu kalau lagi borong bunga ke saya."

 

"Oh, ya? Cerita tentang apa, Pak?" Samir penasaran.

 

"Beliau sering cerita kalau punya putra semata wayang yang ganteng dan cerdas," tutur Pak Anton sembari mengusap dagunya.

 

Samir pun tersipu mendengarnya. Pria tua ini, meskipun baru beberapa menit dikenalnya, tapi ia sudah merasa begitu akrab, seakan mereka berdua sudah saling mengenal bertahun-tahun.

 

"Jadi, kenapa tadi hujan-hujanan? Putus cinta?" Pak Anton mengulang kembali pertanyaannya yang sempat ia lontarkan tadi.

 

Samir menggeleng. "Bukan, Pak! Saya lagi sedih aja.."

 

"Hmm, anak baru gede, ya. Ada saja permasalahan hidupnya, haha!" Pak Anton tergelak. "Tidak apa-apa, Nak! Orang harus ditempa dengan kesusahan hidup dan kesedihan. Malah lebih bagus lagi kalau dari seusia ini sudah digembleng."

 

Samir hanya meringis menanggapi.

 

"Kamu tahu? Hanya prajurit paling kuat saja yang ditempa paling berat! Berarti secara tidak langsung, Tuhan sudah menunjukkan kualitasmu. Selebihnya, kamu hanya perlu memperbaiki diri, sabar dan ikhlas. Itu saja kuncinya dalam menjalani hidup."

Mungkin saja kamu suka

Rita Anggraeni
Cinta Pertama Arunika
Fitri Nur Aeni
DI PENGHUJUNG NOVEMBER
Arka Garneta
Rania
Yefita PutriZan...
Your Secret Admirer

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil