Loading
8

0

0

Genre : Teenlite
Penulis : Zuraida NS
Bab : 30
Pembaca : 2
Nama : Ismi siti zuraida
Buku : 2

Biru Senjani

Sinopsis

Arsenia, pemilik nama yang indah ini berusaha keras untuk mendapatkan cinta pertamanya. Sedikit sulit baginya untuk memiliki sebuah cinta yang sudah lama terpendam bertahun-tahun dengan seorang sahabatnya. Namun, ia akan tetap bersikeras untuk mengejar dan membuktikan bahwa cinta pertama itu adalah yang harus selamanya menghuni hati kecil Arsenia.
Tags :
Romance

Prolog

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 552

 

Siapa yang tidak kenal dengan kata "Cinta"? Sini, bawa orangnya ke depan.

Sudah tahu? Bahwa cinta merupakan sebuah fitrah yang diberikan oleh Yang Kuasa kepada kita semua yang patut kita terima dan dijaga sebaik mungkin. Makanya, hampir semua manusia yang di jagat raya ini pasti tersimpan rasa cinta untuk diberikan kepada orang-orang yang tepat seperti, orang tua, teman, kerabat bahkan kepada orang yang kita cinta.

Kebanyakan orang pasti mengalami hal yang sama dalam soal percintaan. Lebih tepatnya lagi cinta kepada lawan jenis atau orang yang disukai. Percaya atau tidak, kita yang sebagai makhluk awam pasti menganggap bahwa suka dan sayang itu berarti cinta. Sama halnya denganku.

Namun, setelah diri ini mengizinkan untuk terjerumus ke dalam percintaan, soal suka dan sayang itu tidak bisa dikatakan sebagai cinta.

Suka, menyukai hal-hal yang terdapat pada diri seseorang.

Sayang, memiliki makna yang luas. Namun, kerap kali kita salah dalam mengartikan kata sayang. Sayang, ya berarti cinta. Akan tetapi, makna sayang sesungguhnya adalah perasaan yang cenderung bersifat memberi tanpa berharap mendapat balasan seperti perasaan ikhlas.

Sedangkan cinta itu sifatnya lebih mengikat. Dapat memiliki apa yang selama ini kita cintai. Bisa dikatakan bahwa cinta adalah perasaan yang kuat dari kasih sayang. Jika sudah suka dan sayang belum tentu bisa disebut bahwa orang itu cinta. Namun, jika cinta sudah pasti berawal dari rasa suka dan sayang.

Untuk memiliki? Pasti bisa, karena cinta sudah ada. Hanya butuh proses perjuangan yang tidak semudah membalikkan tangan.

Yaps, begitulah sekiranya definisi antara suka, sayang dan cinta menurut diriku. Sebab, apa yang baru saja aku utarakan sesuai dengan apa yang telah aku rasakan bahkan sampai saat ini. Aku menyukai dan menyayangi seseorang. Tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatku sendiri. Dalam mengutarakan isi hati, aku tidak ingin terburu-buru sebab aku takut jika ia tidak membalas perasaanku juga nantinya akan merusak tali persahabatan yang sudah kubangun bersamanya sejak awal menduduki bangku SMP.

Di sisi lain, mungkin karena aku yang terlalu sibuk dalam menutupi semua rasa yang ku simpan untuknya, diam-diam ia menyukai sahabatku. Hatiku seakan tersambar petir yang kasat mata. Tidak bisa dilihat, namun jelas rasa sakitnya.

Siapa bilang aku berhenti sampai di situ. Merelakan ia bahagia bersama sahabatku? Tidak. Aku akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan.

Lika liku akan kuhadapi. Aku akan berusaha. Aku akan membuktikan bahwa cinta itu ada dan akan ku persembahkan kepada dia. Bukan sebatas suka dan sayang. Tapi cinta.

"Gue Arsenia. Pemilik nama yang indah ini akan berusaha keras untuk mendapatkan cinta pertamanya. Soal sahabat? Pastinya gue gak bakal nyakitin perasaan sahabat gue sendiri. Cara gue simpel. Diam, tapi lebih 'ngena'." Aku berkata di depan cermin layaknya sedang bermonolog.

Satu hal yang membuat aku sempat gagal dalam proses untuk memperjuangkan cintanya. Setiap dirinya berkata, "gue sama lo akan tetep jadi sahabat yang lengket ampe tua nanti. Gue harap, lo gak ada rasa yah sama gue. Karena gue udah cintanya sama orang lain," ledeknya sambil tertawa kecil mengahadapku.

Aku melempar buku diary berwarna coklat tepat di wajahnya. Ia meringis kesakitan sambil memegangi wajahnya yang setengah memerah akibat buku diaryku yang cukup tebal.

"Asem lo. Mana mungkin gue suka sama lo."

Dalam hatiku berkata 'Bohong, mana ada gue gak suka dan cinta sama lo'. Tetapi aku berusaha untuk tidak menyakiti hatinya. Lebih baik hatiku yang sakit.

Ingat! Suka dan sayang belum tentu cinta. Tetapi cinta, sudah pasti suka dan sayang.?

Kelulusan (part 1)

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 559

Bagiku, kelulusan atau perpisahan dalam suatu sekolah bukanlah pencapaian akhir dalam meniti masa depan. Melainkan langkah awal untuk memajukan dan mengembangkan mimpi yang selama ini hanya bisa tertanam.

Soal nilai, itu tidak menjadi tumpuan bagiku. Mau itu kecil ataupun besar, yah aku biasa saja. Aku merasa, aku lemah dibagian akademik. Banyak nilai-nilai akademik punyaku rata-rata di bawah KKM. Itu alasannya karena aku tidak suka materi. Bahkan setiap belajarpun aku hanya paham disitunya saja. Seperti contoh, matematika.

Mungkin kebanyakan orang sama sepertiku. Setiap guru menjelaskan rumus aljabar, sin, cos, tan, yah aku paham. Aku bisa mengerjakan soal dadakan yang secara spontan guru berikan. Akan tetapi, semenit saja guru diam ketika sedang mengabsen murid-muridnya, entah kenapa pemahamanku tentang rumus itu seketika gelayy, eh ngilang, gituh. Aku menyerah. Bukan menyerah berhenti belajar. Tapi menyerah untuk lebih memahaminya. Karena aku takut, otakku yang gagal menangkap materi itu akan meledak seketika.

Aku lebih aktif di non akademik, seperti ekstrakulikuler. Siapa sangka, nilai eskulku selalu besar di rapor. Bahkan semua guru mempercayaiku sebagai murid yang berbakat. Hampir semua eskul bisa ku lakukan walaupun tidak mahir. Beda halnya dengan Sonia, sahabatku. Ia adalah orang yang ter pintar di kelasku. Suka matematika. Suka ipa. Pokonya suka materi, deh. Paling aktif kalo Pak Miroji sedang menjelaskan tentang bagaimana rumus pyhtagoras. Aku yang hanya bisa diam memperhatikan, sering kali bertanya kepada Sonia jika tiba pemberian soal.

Aku dan Sonia saling menguntungkan satu sama lain. Sonia yang kurang di non akademik, aku yang lemah di akademik, kami saling membantu satu sama lain.

Tepatnya hari ini. Aku banyak-banyak berterima kasih kepada Sonia, karena berkat kerja samanya selama 3 tahun, aku bisa lulus tanpa nilai di bawah rata-rata.

"Soniaaaaa... ." Aku berteriak menghampiri Sonia yang usai melaksanakan sesi foto bersama keluarganya.

"Anaaa...." Soniapun ikut menghampiriku sambil membawa toga dan cendramata kelulusan.

Kami berdua berpelukan layaknya sepasang kekasih yang tidak pernah berjumpa bertahun-tahun.

"Congrats, ya bepz," kataku.

"Caelah, sama-sama kali. Kan kita lulus bareng, gimananya sih lo," ujar Sonia memukul pundakku.

Aku terkekeh, "Makasih loh yah, udah mau bantuin gue."

"Eh, bantuin apa nih?"

"Lo kan udah bantuin gue nyelametin nilai-nilai ujian gue. Gue gak tau deh kalo gak ada lo. Palingan nilai Matematika gue dan kawan-kawannya itu jeblog semua," jelasku.

"Santai ajah kali, Na. Ini kan berkat perjuangan lo juga yang udah mau belajar."

Seminggu sebelum ujian akhir dimulai, aku meminta Sonia untuk menjadi guru privateku. Seluruh mata pelajaran yang aku tidak suka seperti matematika, kimia, fisika dan biologi, semuanya aku pelajari ulang bersama Sonia. Awalnya aku malas untuk mengulangi pelajaran yang membuat otakku keluar asap setiap belajarnya, akan tetapi aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku yang mempercayaiku sebagai anak yang pintar. Padahal aslinya tidak begitu.

Aku bangga memiliki sahabat seperti Sonia. Ia tidak pernah menganggapku rendah dari padanya. Ia juga tulus membantuku pada saat private. Terlihat dari segi bicaranya yang halus, sikapnya yang cukup feminime dari padaku, penyayang, loyal. Pastas saja Devara, yang juga sahabatku menyukai Sonia.

Mereka berdua sudah lama berpacaran. Sejak aku, Sonia dan Devara menginjak SMP. Yah, kami selalu bertiga, karena aku bersahabat dengan Sonia pun dengan Devara, tapi tidak mereka berdua.

"Oh iya, mana si, Dev. Tumben gak kelihatan batang hidungnya?" tanyaku pada Sonia yang sibuk dengan ponsel yang dipegangnya.

"Bentar lagi katanya. Dia lagi kumpul-kumpul dibelakang sama rombongan kakak kelas," jawab Sonia tanpa melihat ke arahku.

Ponsel nya terus berdering tanda notif masuk. Itu dari Devara.

Kelulusan (part 2)

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 4 

Jumlah Kata 570

Aku yang mengetahuinya seperti ada luka sedikit yang tercantap di hati. Aku menarik nafas dalam-dalam. Mengontrol emosi agar tidak baper.

Tidak lama setelah itu, datanglah Devara dari arah belakang Sonia.Ia memeluk Sonia dari arah belakang sambil memberikan buket bunga mawar merah dan putih.

"Hai sayang, congrats yah, " ujar Devara menatap Sonia lembut dan penuh kasih sayang.

Sonia yang mengetahui bahwa Devara telah merangkulnya, seketika ia membalikkan badan dan memasang raut wajah bahagia. Ia mengambil sebuah buket yang disodorkan Devara kepada Sonia.

"Sayang... So sweet deh. Padahal kita sama-sama lulus juga," Ucap Sonia.

Aku? Seperti kambing conge. Melihat mereka- sahabat sendiri yang sedang kasmaran di depan mata. Mereka tidak tahu, seberapa besar aku menyimpan rasa sakit yang tiap kali mereka bilang kata 'sayang'. Aku iri. Aku iri pada Sonia. Aku ingin diperlakukan seperti itu oleh Devara. Tapi mengapa Sonia yang lebih pantas mendapatkan kasih sayang serta perhatian itu dari Dev. Sementara aku, aku yang sudah lama mengenal Dev, belum pernah mendapatkan perhatian lebih.

"Eh, ada jones, congrats juga yah lo," ledek Devara kepadaku sambil mengulurkan tangan ke arahku.

Aku membalas uluran tangan itu tapi tidak untuk digenggam, melainkan ku pukul sekuat-kuatnya. Dev meringis kesakitan. Ia memegangi tangannya sambil mengelus-elus.

"Hey, anda sudah ganas yah ternyata."

"Uhhh, iya si tuh yang punya cewek, liat aja nanti gue juga bakal bisa kayak lo," balas ku tidak mau kalah.

"Punya cewek?"

"Yah cowok lah, masa gue demennya sama cewek, adanya gue jeruk makan jeruk dong. Waras dikit napa lo kalo nanya, yang masuk akal gituh?" Aku seakan memancing emosi suasana yang sebentar lagi akan dimulai sebuah pertarungan yang dahsyat.

"Lo tu yang harus waras!" ketus Devara.

Disampingnya, terlihat Sonia yang sibuk memperhatikan kami berdua dengan raut wajah setengah bingung untuk meleraikan acara adu mulut itu.

"Kok gue, sih. Lo tu!" Aku membalasnya tajam.

"Eh, ngajak ribut ni anak. Emang gak mau kalah yah."

Devara menyingkap baju lengannya sampai sikut. Ia bersiap ingin menghantam ku seperti melawan penjahat yang biasa ada di FTV. Aku tidak mau kalah. Ku lepaskan toga yang masih tertancap di kepala. Aku mulai melipat satu persatu lengan bajuku. Ku renggang kan satu persatu kaki ku hingga membentuk formasi kuda-kuda yang diajarkan guru silatku semasa aku ikut eskul silat.

Sonia yang melihat tingkah kami berdua semakin kebingungan. Ia terlihat mulai cemas. Kemudian ia segera menghentikan kami berdua saat tangan mungil milikku ingin mendarat tepat di wajah Dev.

"Stopppp!" Sonia berteriak di antara aku dan Dev sambil merentangkan kedua tangannya.

"Kalian apa-apaan sih. Kok malah ribut. Ini hari bahagia bukan hari dimana lo sama Dev bertengkar," ujar Sonia menatap kami berdua sinis, "Lagian hal sepele doang diperpanjang. Kan jadinya begini. Udah-udah baikan aja," pintanya.

" Ih, ogah. Mana mau gue baikan sama playboy kayak lo," ledekku sambil menunjuk ke arah Dev.

Dev menatapku marah dan kesal, "Eh, lo kalo ngomong dijaga, yah. Kalo timbal balik ke diri lo baru tau rasa," balas Dev.

"Haduuhh, udah dong. Mau sampe kapan kalian berantem kaya gini. Ga enak tau diliat sama anak-anak lainnya," ucap Sonia kesal.

Aku dan Devara melihat sekeliling halaman belakang sekolah yang kami tempati. Banyak orang yang berlalu lalang di sini. Setengah dari mereka ternyata memperhatikan tingkah konyol aku dan Dev sedari tadi. Aku setengah malu. Begitupun Dev yang menggaruk-garuk kepalanya padahal tidak gatal. Setelah ini mungkin follower kami berkurang.

"Udah, gak usah ribut-ribut lagi. Kalian udah dewasa. Apa lagi kalian sahabat, kan? Gak baik kalo sahabatan itu bertengkar sampe segitunya," jelas Sonia. ?

Kelulusan (part 3)

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 595

 

Disaat aku ingin menambahkan ucapan Sonia, tiba-tiba Selly, Rose dan Leni datang menghampiri kami bertiga.

"Eh, kalian ngapain disini. Tuh, disuruh kumpul sama kepsek di lapangan," ucap Selly.

Kami bertiga saling menatap, dibuat bingung dengan ucapan Selly barusan. Sebelumnya, memang kami tidak tahu apa-apa. Aku, Sonia dan juga Devara sedari tadi hanya mengobrol di sini. Tidak ada info untuk kumpul bersama kepala sekolah.

"Cepetan gih. Ntar dimarahin loh. Soalnya semua harus kumpul di sana." Rose menambah ucapan Selly dengan tegas.

"Iyah nanti kita ke sana. Duluan aja," ujar Sonia sambil memberikan jalan untuk mereka pergi. Mereka bertiga akhirnya pergi dulu meninggalkan kami yang masih setengah bingung.

"Emang ada yang ngasih tau info suruh kumpul?" Tiba-tiba Dev menanya kepada aku dan Sonia.

Kami berdua mengangkat bahu serempak diiringi dengan gelengan kepala, menandakan bahwa kamipun tidak tahu.

"Ntah lah, mereka emang gitu. Udahlah yuk, kesana ajah. Siapa tau bener," kataku.

Aku, Sonia dan Devara melangkah menuju lapangan tempat kumpul bersama kepala sekolah yang diberitahukan oleh Selly tadi. Ternyata benar, semua siswa siswi kelulusan tahun ini sudah berkumpul semua berbaris dengan rapih. Di depan terlihat mimbar dan sudah ada bapak kepala sekolah yang siap memberikan info kepada kami semua. Di bawah terik matahari, ku harap ceramah siang ini tidak terlalu lama. Sebab aku belum makan sedari pagi. Aku takut jika nanti aku merasa pusing, sakit dan penyakit mag ku kambuh.

"Assalamu'alaikum anak-anakku yang bapak cintai. Ada sedikit pemberitahuan untuk kalian semua, wisudawan dan wisudawati. Sehubung kalian akan menginjak masa SMA, bagi kalian yang ingin melanjutkan study di SMA Nusa Mulia, diharapkan kehadirannya esok hari, karena kita ada perkenalan sedikit tentang sekolah SMA Nusa Mulia. Mungkin itu saja yang dapat bapak sampaikan. Terima kasih atas waktunya. W assalamu'alaikum wr.wb."

Akhirnya, ceramah siang ini pun selesai. Semua siswa dan siswi membubarkan barisan tanpa komando begitupun kami yang langsung menuju kantin untuk beristirahat sejenak sambil memesan makanan.

"Es teh tiga sama mie nya tiga yah, Bu." Aku memesan tiga porsi es teh dan juga mie untuk kami yang kelihatannya sangat lapar dan tidak sabar untuk mengisi perut yang sudah demo dari tadi.

Aku kembali duduk di kursi depan Sonia setelah memesan. Mereka sedang asyik mengobrol tanpa memperdulikanku yang juga ada di antara mereka berdua.

"Gila yah. Sumpah," celetuk ku membuyarkan obrolan mereka. Seketika mereka pun langsung menatap ke arahku bersamaan.

"Apa yang gila?" tanya Sonia.

"Masa ngumumin gitu doang harus kumpul di lapangan. Ditambah matahari diujung tanduk lagi," jawabku melas.

"Ngedumel, lo?" Devara langsung menyambar dengan pertanyaan yang membuat telingaku seketika ingin remuk.

"Nyanyi!" jawabku singkat, padat dan jelas.

"Yah, kali ajah beliau ngumpulin kita untuk yang terakhir kalinya. Secara kitakan bakal keluar dari masa putih biru dan melanjutkan ke masa putih abu-abu," jelas Sonia sambil tersenyum ke arahku.

Tidak lama setelah itu, datanglah pesanan es teh dan juga mie. Kami langsung mengambil bagiannya masing-masing. Aku langsung meneguk es teh yang terlihat begitu menggoda untuk menghilangkan dahaga tenggorokanku yang kering. Dilanjut dengan suapan pertama mie kuah yang sudah dicampur sambal tiga sendok teh.

"Oh iya, besok lo berangkat sama siapa, Sen?" tanya Devara padaku yang baru meneguk es teh miliknya.

"Angkot. Kalo lo?" jawabku menatap Devara dengan mie yang masih bertengger di mulutku.

"Yah sama bebep ku lah. Mau sama siapa lagi," jawabnya santai. Aku tersedak mendengar jawaban Devara. Sonia yang ada disampingku langsung memberiku es teh untuk melancarkan mie yang tersangkut di tenggorokanku juga seutas tisue yang baru saja kuambil untuk mengelap kuah mie.

"Makanya, kalo mau ngomong abisin dulu tuh makanan yang di mulut," ucap Devara. Ia hanya melihatku tanpa membantu sedikitpun.

"Ngomong aja lo. Bantuin mah enggak," ketusku. 

Kelulusan (part 4)

0 0

Sarapan Kata KMO Club 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 517 

Sonia kembali ke posisi makannya setelah membantuku.

"Emm. Sen, Dev, sorry yah besok gue gak bisa hadir." Tiba-tiba ia angkat bicara dan mengatakan hal itu kepada aku dan Dev selepas tisue untuk mengelap muncratan kuah mie yang membasahi meja kantin itu ku buang ke tempat sampah diseberang tempat duduk kami.

Aku dan Dev menatap Sonia serentak.

"Maksud lo, berarti lo gak lanjut SMA bareng kita?" tanyaku.

"Iya, Sen. Gue disuruh mamah sama papah untuk lanjut sekolah ke luar kota karena pekerjaan papah sekarang di sana," jelas Sonia.

Devara langsung mendekatkan posisi duduk nya dengan Sonia. Satu buah tangan kekar menjulur dan bertengger di bahu kanan milik pacarnya itu. Kemudian Dev mengelus nya.

"Sayang, kamu beneran bakal keluar kota? Gak mau satu sekolah sama aku?" tanya Devara meyakinkan penjelasan Sonia.

Cowok itu terlihat sedih karena sebentar lagi akan berpisah dengan kekasihnya. Hubungan Sonia dengan Devara yang terbilang cukup lama itu berujung dengan sebuah perpisahan. Ia akan kehilangan separuh jiwanya yang pergi jauh. Sedangkan aku yang selalu ada untuknya setiap waktu, tidak diprioritaskan semacam itu. Aku menghela nafas panjang setelah membaca raut wajah Devara yang menatap Sonia penuh kesedihan.

"Mau berapa kali aku bilang kalau aku mau sekolah di luar kota? Kurang jelas, yang?" Sonia mempertegas kembali ucapannya.

"Artinya, lo juga bakalan pindah tempat tinggal dong?" tanyaku antusias.

Sonia mengangguk, "Yah, gitu deh." Kedua bahunya mengangkat.

"Terus, gimana hubungan kita? Padahal aku maunya sama kamu terus, yang. Aku gak mau jauh dari kamu." Tangan itu berpindah ke atas tumpukan kedua tangan milik perempuan berambut hitam di sampingnya. Lebih tepatnya lagi, pacar kesayangannya.

Sonia melepaskan genggaman itu dan melirik ke arah ku, "Apaan sih, malu tau diliatin Arsen. Lagian lebay amat kaya mau ditinggalin kemana aja."

"Teross, pegangan teross. Sampe subuh," kataku kemudian meneguk es teh.

"Iri? Bilang bos!" ledek Devara sambil memanyunkan bibirnya ke arahku.

"Hah!? Apa lo bilang? Gue, iri? Sorry, gue kayak gini bukannya gak laku. Tapi gue pengen cari yang setia yang benar-benar nerima gue apa adanya. Bukan abal-abalan," jelasku menatap Devara sinis kemudian melanjutkan suapan kedua mie instan dengan lahap tanpa mempedulikan ucapan-ucapan yang dilontarkan Devara terus menerus hingga pada titik terakhir mie yang ku makan.

Bagiku, tidak ada kebahagiaan selama 3 tahun menjalani hubungan persahabatan bersama Devara selain keributan yang sering kali timbul akibat hal sepele. Bermula dari Dev yang selalu mengejekku ataupun menentang apa yang aku lakukan yang menurut dia itu lebay. Namun, ketika dirinya menjalani hubungan bersama Sonia pada saat semester 2 kelas VII, ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sang kekasih barunya itu ketimbang bersama sahabatnya sendiri.

Begitupun dengan Sonia. Jika ingin menghabiskan waktu bersamanya, aku harus mencari celah waktu Sonia di saat ia tidak ada waktu bersama Dev. Adapun kami bertiga dipersatukan dalam satu jalan, akulah yang jadi setannya antara mereka berdua.

"Kuat yah, Sen. Lo harus bisa ngadepin semua ini," umpat ku.

Aku yakin, penantian cinta dalam diamku ini akan membuahkan hasil yang setimpal dengan usahaku saat ini. Bukan berarti aku menyerah tetapi mencoba untuk mengikhlaskannya. Karena aku yakin, usaha tidak mengecewakan hasil dan ikhlas adalah salah satu cara yang menyertai usaha itu agar tidak menjadi beban pikiran.?

Sebuah Perkenalan (part 1)

0 0

Sarapan Kata KMOI Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 567

Tepatnya pada hari ini, aku akan pergi ke sekolah SMA Nusa Mulia sesuai dengan pengumuman yang telah disampaikan oleh bapak Kepala Sekolah kemarin. Entah untuk apa, yang pasti katanya ingin mengenalkan sedikit tentang sekolah yang masih berkerabat dekat dengan SMP Nusa Bangsa.

Katanya juga, jika kami lulusan SMP Nusa Bangsa yang ingin melanjutkan sekolahnya di SMA Nusa Mulia, akan mendapat potongan harga tiap ada pembayaran bahkan pendaftaran ulang sekolah. Aku yang berasal dari keluarga serba kecukupan, bagaimana mungkin menolak tawaran seperti itu. Demi mendapat ilmu, aku tidak memilih tempat yang lebih tinggi tingkat peminatnya, yang katanya juga lebih mewah, lebih bagus pendidikannya. Namun bagiku, menuntut ilmu itu tidak selamanya berada di tempat yang layak juga yang berfasilitas mewah, akan tetapi menuntut ilmu itu dimana saja asalkan serius dengan mata pelajarannya dan besungguh-sungguh karena niat belajar. Bukan sekedar mejeng mempertontonkan kemewahan.

Setelah selesai sarapan pagi dengan nasi goreng telur orak-arik buatanku sendiri, aku langsung pamit kepada mamah yang tengah menggendong adikku yang masih berusia lima bulan.

Di sebuah kamar kecil khusus bayi yang benuansa cute itu, terdengar tangisan adik mungil yang tidak hentinya ber melodi menggemakan seisi ruangan. Mamah terlihat kelelahan sambil memberikan asi kepada Naura. Padahal masih sepagi ini, bahkan perjuangan seorang ibu rumah tangga pun belum dimulai, keringat sudah membasahi kerah baju mamah.

"Mah, aku pamit ya," ucapku.

"Mau kemana, Sen?" tanya mamah.

"Itu, Mah. Ada perkenalan tentang SMA Nusa Mulia bagi murid yang melanjutkan sekolahnya di situ, Mah. Berhubung Arsen SMAnya di sana, jadi Arsen dateng, deh."

"Sama siapa kamu kesana?" "Sendiri kok, Mah. Naik angkot," jawabku senyum.

"Ya udah, hati-hati, Nak. Kalau sudah selesai langsung pulang yah."

"Iya, Mah. Assalamu'alaikum." Aku mencium tangan mamah yang beraroma khas bayi.

"Waalaikumsalam."

Jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh untuk ditempuh dengan angkot yang kerap kali berhenti menunggu penumpang lainnya. Lebih cepat menggunakan motor. Akan tetapi, ojek sepagi ini di prapatan rumah ku belum ada yang nongol. Alhasil aku harus menaiki angkot meski harus menunggu beberapa menit untuk sampai. Entah malas atau apa, tukang ojek di daerahku memang suka begitu. Sedang dibutuhkan suka tidak ada. Aku nebeng sama teman, tiba-tiba pada nongkrong di angkringan sambil ngopi santai.

Begitulah sekilas tentang mamang ojek di daerahku. Sesekali aku melihat jam berwarna merah jambu yang melingkar di tanganku untuk memastikan bahwa aku tidak telat.

Pasalnya, pukul delapan itu semua murid yang ingin melanjutkan study nya di SMA Nusa Mulia baik yang lulusan SMP Nusa Bangsa ataupun dari sekolah lain, harus sudah kumpul semua tanpa terkecuali. Aneh. Baru kali ini aku tahu kalau perkenalan itu diawal sebelum pendaftaran. Entahlah.

Empat puluh lima menit sudah aku menaiki angkot yang tiap kali berhenti banyak penumpang yang memenuhi bangku kosong menjadi penuh, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Aku bernafas lega. Membuang semua aroma-aroma campuran dari beberapa parfum penumpang yang membuatku sedikit mual. Sebab, rata-rata penumpang tadi adalah mahasiswa yang ingin berangkat kuliah. So, mau kuliah apa jualan parfum?

Ketika aku memasuki gerbang sekolah yang dijaga oleh pak satpam yang super duper ganteng kaya oppa-oppa Korea itu, tiba-tiba sebuah motor matic menyelinap ikut masuk bersamaan dengan langkahku. Sehingga lenganku sedikit terkena kaca spionnya.

Aku berlari menghampiri motor itu di saat berhenti di parkiran belakang halaman sekolah. Aku memukul jok belakang motor milik cowok itu. 

"Woy, kalo lewat pake mata dong. Makanya tu helm dibuka. Sakit tau tangan gue. Untung aja gak lecet," ujarku setengah kesal kepada si pengendara motor matic berwarna hitam abu itu.

 

Sebuah Perkenalan (part 2)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 521

Cowok itu perlahan membuka helmnya setelah aku memarahinya. Ternyata dibalik topeng yang sengaja melakukan hal itu adalah Devara. Yah, Devara. Cowok sok ke gantengan se antera SMP Nusa Bangsa.

"Hey, nyonya! Anda siapa, yah? Berani nya marahin saya. Seharusnya anda sendiri yang gak punya mata. Padahal saya mau masuk, tetapi anda malah menyelinap." Dev berkata seperti tidak bersalah. Padahal jelas-jelas dia yang menyelinap, bukan aku.

"Emang dasar, yah, lo. Hidupnya pengen selalu bener!" ketusku sambil menunjuk ke arahnya.

Dev turun dari motornya, "Tau ah. Gue gak mau cari ribut sama lo. Mending kita masuk ke dalem. Bentar lagi mau dimulai," ucap Devara sambil berjalan meninggalkanku.

"Tapi tangan gue gimana? Tanggung jawab dong!" Aku berteriak.

"Lo obatin ajah sendiri!" balasnya.

Aku yang ditinggalkan sendiri tanpa pertanggung jawaban, langsung berlari mengejar Devara yang sudah berjalan di Koridor kelas menuju Aula. Sambil memegangi tanganku yang belum saja hilang rasa sakitnya, akhirnya tibalah di sebuah aula yang luasnya, yah sangat luas. Kisaran meternya aku tidak tahu. Karena aku tidak bisa mengukur dengan perkiraan tanpa menggunakan alat pengukur.

Aku langsung menduduki bangku kosong barisan ketiga dari belakang. Karena bangku yanga di depan sudah penuh, alhasil aku dapat bangku sisa di sini. Aku membuka tas ransel berwarna pastel itu dan merogoh nya untuk mengambil botol minum. Pagi ini rasanya jiwa dan ragaku sangat lelah selepas bertemu dengan orang yang entah apa telah mengusik ketenangan setiap malamku. Menjadi bayang di setiap langkahku. Menari-nari di atas pikiranku. Ah! Kacau!

Setelah itu, acara di mulai dengan di awali sebuah tarian. Kemudian di susul oleh MC dan beberapa sambutan lainnya. Selang beberapa jam, akhirnya acara pun selesai. Aku langsung keluar untuk melihat-lihat sekeliling halaman sekolah. Katanya, di sini banyak sekali fasilitas yang di sediakan untuk ekstrakulikuler berbagai macam bidang. Meskipun beberapa dari eskul itu tidak berjalan semulus dulu, akan tetapi banyak piagam dan Piala penghargaan yang diraih. Aku mencoba untuk melihat piala-piala itu yang berada di samping kantor. Ternyata benar, berbagai macam bidang eskul hampir semuanya mendapatkan. Ada yang tiga kaki. Dua kaki. Bahkan piala yang tingginya se pintu rumah pun, ada.

Setelah aku lihat, ternyata piala itu didapatkan ketika perlombaan pramuka. Betapa terkejut dan bahagianya aku ketika eskul yang aku sukai ternyata di tempat ini sangat berkembang. Sehingga pernah menjuarai lomba pramuka antar provinsi dan mendapatkan juara umum yang tinggi pialanya kisaran 3 meter. Aku tersenyum dan terus menatap piala itu.

"Dari mana aja lo, dari tadi gue cariin ga ketemu," ucap Devara yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.

Sontak aku terkejut dan langsung bangkit dari posisi jongkok dan menatap ke arahnya.

"Astaga, Dev. Lo ngapain sih tiba-tiba muncul kek hantu. Suka banget bikin orang jantungan," ujar ku sambil mengelus dada.

"Adanya lo, tu yang serius ngeliatin piala se gede itu. Sampe gak tau kalo sebenernya gue udah dari tadi di samping lo."

"Tapi kan lo bisa sahut gue, kek. Nyapa gue dulu, kek. Manggil nama gue, kek. Gak tiba-tiba lo dateng terus ngomong kaya gitu."

"Iya, deh, maaf." Devara menjulurkan tangannya untuk meminta maaf kepadaku.

Aku menepis tangannya, "Lebay, minta maaf segala. Biasanya lo kan gak pernah ngerasa bersalah. Kesambet apa lo tiba-tiba minta maaf ke gue?" tanyaku sinis.

Sebuah Perkenalan (part 3)

0 0

Sarapan Kata KMOI Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 538

"Ya elah mau minta maaf doang ribet amat sih, sampe ngungkit-ngungkit yang dulu."

"Iyah lah. Harus. Emangnya ada apa sih nyariin gue? Tumben amat. Biasanya lo bisa keluyuran sendirian."

"Ayo ikut gue. Lo dicariin tuh sama orang yang udah nungguin lo di belakang halaman sekolah." Devara memegang tangan kananku.

"Eh, siapa? Gue kenal sama tu orang?"

"Enggak. Makanya dia ngajak lo kenalan. Biar lo tau siapa dia."

Devara menarik ku. Menuntutku untuk sampai ke tempat yang telah ditentukan si cowok yang aku juga tidak tahu siapa. Aku menurutinya hingga sampai di tempat lokasi.

"Tuh, orangnya." Dev menunjuk ke seseorang yang tengah duduk di sebuah kursi taman berwarna putih.

"Terus gue harus ngapain?" tanyaku dengan polosnya.

"Yah, samperin lah ege. Kan dia mau ketemu sama, lo," jawab Devara.

"Lo gak ikut?"

"Gue tunggu di sini ajah. Sambil mantau dari kejauhan."

"Tapi gue takut, Dev."

"Caelah,. Dia bukan harimau, ARSENIA!," ucapnya memperjelas namaku, "Dia itu manusia yang mau kenalan sama lo. Bukan mau ngegigit lo. Paham?"

Aku mengangguk.

"Ya udah cepetan samperin." Dev mendorong tubuhku pelan.

Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu ku hembuskan perlahan. Aku tidak boleh tegang. Takut. Harus enjoy, santai. Siapaun yang ingin berkenalan dengan diriku, aku tidak boleh memasang wajah yang jutek. Aku harus ramah , sopan dan santun. Yah, meski nyatanya aku tidak sama sekali seperti itu.

"Hai," sapaku dengan lemah lembut.

Orang itu bangkit dari tempat duduknya dan langsung membalikkan tubuhnya ke arahku. Cowok yang memiliki postur tinggi dan dada yang bidang itu menatapku tersenyum sambil memegang sebuah bunga di tangan kekar miliknya.

"Hai, gue Dewa. Siswa kelas X SMA Nusa Mulia." Cowok itu menjulurkan tangannya untuk berkenalan denganku.

Aku membalas uluran tangan itu, dan kamu berdua saling berpegangan, "Gu-gue, Arsenia," balas ku setengah gugup.

Aku langsung melepaskan genggaman itu.

"Selamat datang, yah, di SMA tercinta ini. Semoga lo nyaman dan bisa belajar dengan tenang."

"I-iya, Kak."

"Oh, iya. Ni bunga buat lo, biar tambah semangat," ucap Kak Dewa sambil memberikan bunga itu dan tersenyum kepadaku.

"M-makasih, Kak."

"Iyah, Sama-sama. Btw, lo pulang sama siapa? Mau gue anter?"

"G-gue, pulang s-sama... "

"Hei, udah kelar nih kenalannya?" Tiba-tiba Dev datang dan memotong pembicaraan ku. "kalo udah, yuk, Sen. Kita pulang. Kata mamah, kalo udah selesai langsung pulang, kan?" sambungnya.

"I-iyah, Dev. Yuk kita pulang." Aku menjawab seperti orang polos. 

"Oh, ternyata lo mau bareng sama dia, bro?" tanya Kak Dewa kepada Devara.

"Iya, dong, Kak. Mamah Arsen nitip ke gue suruh anter anaknya pulang dan gak boleh dianterin sama siapapun kecuali, gue," ujar Dev.

Apa? Sejak kapan mamah bilang seperti itu. Rasanya ini hanya akal-akalan Devara saja agar aku tidak bisa pulang diantar oleh Kak Dewa. Tapi mengapa Devara melakukan hal itu? Kelakuannya membuat diri ini bingung setengah mati.

"Kalo begitu, gue titip dia, yah. Jangan sampe kenapa-napa," ucap Kak Dewa.

"Tanpa lo suruh, gue juga pasti bakal jaga dia sebaik mungkin," jawab Devara setengah melawan.

"Ya udah, gue cabut dulu." Kak Dewa pergi meninggalkan aku dan Dev.

Aku betul-betul tidak tahu. Aku dibuat bingung karena tingkah mereka berdua.

"Kok? Dev? Ada apa sih, gue gak ngerti," tanyaku penasaran.

"Pulang, yuk. Tapi kita cari makan dulu. Kita makan di pinggir jalan aja. Mau baso apa mie ayam?" Dev memalingkan pertanyaan ku dan malah menawari ku makan siang.

Sebuah Perkenalan (part 4)

0 0

Sarapan kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 589

"Gue nanya serius, Dev."

"Mau baso apa mie ayam?"

"Mie ayam."

"Oke. Langsung otw."

Devara menarik tanganku menuju parkiran motor. Aku menaikinya dan Dev langsung menancapkan gas tanpa pikir panjang. Aku sama sekali belum mengerti apa yang barusan aku lakukan bersama kedua cowok tadi. Aku berkenalan dengan kakak kelas SMA Nusa Mulia, dan Dev menyuruhku pulang begitu saja. Padahal dia yang menyuruhku untuk bertemu dan berkenalan padanya. Ah! Aku pusing!

Selama di perjalanan, kami hanya berdiam tanpa melontarkan sepatah katapun. Ku tengok wajah Dev di kaca spion sebelah kanan tampak sangat serius dan fokus. Bola matanya tajam menatap jelas jalanan. Kedua alisnya sedikit mengkerut. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam fikiran nya. Aku terus menatap wajah Dev yang tidak berubah sama sekali sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa kami telah sampai di sebuah warung mie ayam, baso pinggir jalan.

"Udah sampe. Turun, " pinta Dev.

Kakiku melangkah masuk ke sebuah warung mie ayam baso yang setiap harinya ramai pengunjung. Tidak heran jika mie ayam baso ini sangat terkenal dan paling enak di lidah ku mungkin juga di lidah para pecinta mie ayam bakso. Warung ini di buka mulai dari pukul 9 pagi sampai jam 9 malam dan setiap jamnya pasti banyak orang yang berdatangan. Ada yang makan di tempat itu, atau pun di bungkus untuk di bawa pulang.

Aku mencari tempat duduk yang kosong. Sementara Dev memesan 2 porsi mie ayam baso. Untuk kesekian kalinya aku makan bersama Dev di sebuah warung mie ayam bakso ini. Makanya, tempat ini menjadi tempat favorite kami berdua. Tidak lama setelah itu, datanglah pesanan kami. Satu mangkuk mie ayam baso untuk ku dan satu mangkuk lagi mie ayam tanpa bakso untuk Dev. Yah, ia memang tidak suka kalau mie ayam di campur dengan bakso. Kalau mau dipakai bakso, yah, cukup beli bakso, bukan mie ayam. Begitulah ungkapan Dev setiap aku mengomentari pesanannya.

"Tadi pagi lo udah makan?" tanya Devara.

"Udah, kok."

"Syukurlah. Gue takut lambung lo kenapa-napa kalo belum makan."

"Emangnya kenapa?"

"Ya elah. Entar lambung lo demo. Berkoar kepanasan. Lama-lama bengkak. Lo mau kaya gitu?"

"Enggak."

"Makanya, tu sambel kurangin dikit. Jangan sampe bikin gunung kaya gitu. Ntar keluar lava baru tau rasa, lo."

Dev menyuruh ku untuk mengurangi sambal merah yang sudah ku tuangkan di atas mie ayam yang mirip sekali dengan gunung. Tinggi, besar, dan bervolume. Ini adalah favorite aku setiap makan di pinggir jalan. Baik makan mie ayam ataupun makanan lainnya, pasti selalu dengan sambal yang menggunung. Rasanya kalau tidak pakai sambal yang sangat banyak itu jadi hambar.

Namun, dengan kondisi aku yang saat ini menderita mag yang sering kali kambuh apabila telat makan atau sering memakan makanan pedas. Dev suka menegurku dengan caranya sendiri. Pasalnya, Dev tahu betul awal aku memiliki riwayat mag. Maka dari itu, Dev tidak ingin aku merasa kesakitan dan kembali di larikan ke rumah sakit. Setelah mendengar teguran dari Dev, aku langsung mengurangi sambal itu menjadi setengah sendok teh dan ku kembalikan lagi ke tempat semula. Kemudian, aku dan Dev menyantap mie ayam dengan lahap tanpa satu katapun yang dilontarkan di tengah-tengah makan siang kami.

Setelah selesai makan siang, Dev melajukan motornya untuk mengantarkan ku ke rumah. Di sebuah pagar besi berwarna hitam, akhirnya aku dan Dev sampai juga.

"Thanks, ya, Dev. Lo udah mau nganterin gue dan udah ajak gue makan."

"Santai aja kali. Kaya sama siapa ajah."

"Hehehe. Oh iya, besok lo gak lupa kan mau pamitan sama Sonia?"

"Nggak, dong. Gue selalu inget tentang dia. Mau gue jemput?"

"Eh, enggak usah. Gue bisa sendiri, kok."

"Oke. Kalau gitu gue cabut dulu, yah."

 

Tentang Rasa (part 1)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 594

"Melihatmu dengannya berulang kali, semakin sesak dada ini. Ingin pergi, namun hati mencoba untuk menahan. Menanti sebuah rasa yang berujung sebuah penantian lama."

Mentari mulai menampakan sinarnya di ufuk timur. Membangkitkan raga yang masih tertidur lelap di atas kasur yang empuk. Ditambah dengan kicauan burung yang ber melodi di ranting pepohonan. Membuat aku ikut menari-nari di tengah kicauan burung yang indah. Jendela kamar perlahan ku buka hingga terlihat pemandangan pagi hari yang dapat menyegarkan mata. Aku sangat bersyukur kepada Sang Maha Kuasa, yang masih memberikan ku hidup dan bisa bernafas hingga detik ini.

Dengan raga yang setengah sadar ini, ku paksakan untuk pergi ke kamar mandi agar tubuhku bisa fresh kembali dan lebih bersemangat untuk aktivitas hari ini. Setelah selesai mandi, terdengar ponsel ku berdering kencang di samping kasur. Ku raih ponsel itu, ternyata mamah menelfon ku sepagi ini. Ada apa?

"Halo, mah? Ada apa, Mah?"

"Sen, cepetan ke sini. Ke kamar adik mu!" Suara Mamah terdengar sangat terburu-buru. Seperti ada sesuatu yang ingin Mamah beritahu kepadaku.

"I-iya, Mah. Aku segera ke sana." Ku tutup telfon itu, kemudian aku langsung berlari menuju kamar Naura dan meninggalkan ponsel yang ku taruh di atas kasur.

Setelah sampai di kamar, Mamah terlihat sedang menenangkan Naura yang menangis kencang.

"Ada apa, Mah? Naura kenapa?"

"Naura demam, Sen. Kita harus bawa dia ke rumah sakit," jawab Mamah cemas.

"Ya udah, kita langsung bawa ke rumah sakit aja ya, Mah."

10 menit berlangsung, akhirnya aku, mamah dan Naura sampai di rumah sakit. Aku langsung pergi ke tempat pendaftaran, sementara mamah menunggu di kursi yang telah disediakan sambil memberikan susu kepada Naura untuk sekedar menenangkan tangisnya yang belum saja reda.

"Atas nama siapa?" tanya suster itu sambil memegang sebuah pena.

"Naura, Sus." jawabku.

"Oke, baik. Silahkan menunggu terlebih dahulu, yah. Setelah 2 pasien berikutnya, kemudian giliran pasien atas nama Naura. Mohon bersabar," ujar suster itu halus.

"Baik, Sus. Terima kasih."

Aku kembali menghampiri mamah dan Naura.

"Gimana, Sen?" tanya Mamah antusias.

"Setelah 2 pasien berikutnya, nanti giliran Naura, Mah," jawab ku.

"Alhamdulillah, semoga nggak lama, yah, Sen. Mamah khawatir banget sama Naura."

"Emangnya apa yang terjadi sama Naura, Mah? Kenapa Naura bisa demam gitu?" tanya ku penasaran.

"Mamah juga nggak tahu, Sen. Selepas mamah masak tadi pagi, tiba-tiba Naura nangis kenceng. Pas mamah gendong, seluruh badannya panas tinggi. Sebelum nya mamah gak pernah ngasih asupan yang aneh-aneh."

"Mamah yang sabar, yah. Kita doakan semoga Naura nggak kenapa-napa, dan semoga cuman demam biasa."

Aku mencoba menenangkan mamah yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan Naura. Kasih sayang ibu memang tidak bisa terbalaskan dengan apapun. Bahkan harta juga tahta tidak mampu untuk membalas jasa seorang ibu kepada anaknya. Apa pun, dan bagaimanapun, ia rela mempertaruhkan nyawanya, hartanya, waktunya, pikirannya, demi anak tercinta.

Kini, aku merasakan langsung bagaimana cinta kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, Naura. Aku membayangkan ketika aku masih kecil. Selalu di manja. Apa pun yang aku mau pasti mamah selalu memberi. Bahkan ketika aku sakit pun, mamah rela pergi sana sini demi kesembuhan anaknya.

'Ya Tuhan, panjang kan lah umur mamah. Berikanlah kesehatan serta kekuatan agar mamah bisa terus bersama dengan kami, dalam keluarga kecil yang penuh kasih sayang ini,' umpat ku.

Beberapa menit berlalu, akhirnya giliran Naura yang masuk ke dalam ruang dokter untuk diperiksa. Kata dokter, demam yang diderita oleh Naura tidak parah. Hanya demam biasa. Namun, dokter akan memberikan impusan untuk sekedar meredakan panasnya. Bagi bayi yang masih menginjak beberapa bulan, belum diperbolehkan untuk mengkonsumsi obat-obatan seperti sirup, kapsul dan tablet. Akan tetapi, hanya diberikan infus dan beberapa ramuan tradisional yang dapat menurunkan demam, semoga Naura cepat kembali pulih.

Tentang Rasa (part 2)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 389

#Day11

#PR

Selepas dari rumah sakit, kami kembali pulang ke rumah. Mamah langsung membaringkan Naura di tempat tidurnya. Naura sudah tertidur selama perjalanan pulang. Mungkin karena merasa kelelahan dengan tangis yang tak hentinya serta suhu badan yang tinggi, membuat tubuh Naura lemas, kemudian terlelap.

"Biarkan dia istirahat, Sen. Kasihan adik mu." Mamah mengelus punggungku lembut, "Mamah harus beres-beres rumah dulu. Masak belum selesai. Nyuci piring belum kelar," sambungnya.

Tiba-tiba, di atas kepalaku seperti ada lampu bohlam yang bertengger. Menyala terang bagaikan notip pengingat untuk ku. Yah, aku hampir saja lupa. Hari ini adalah hari keberangkatan Sonia ke luar kota.

"Astaga!"

"Kenapa, Sen?"

"Aku lupa, Mah. Hari ini aku harus ke rumah Sonia, soalnya Sonia mau berangkat ke luar kota pagi ini, Mah."

"Ya, ampun. Ya sudah, Hati-hati, yah. Titip salam mamah untuk Sonia, yah."

"Iya, Mah. Nanti aku salamin. Aku berangkat dulu, ya, Mah." Aku mengecup punggung lengan mamah.

"Eh, Sen. Kamu belum makan, kan?"

"Aku bisa makan nanti, Mah. Aku pergi dulu, ya. Assalamu'alaikum."

Mengapa aku lupa seperti ini. Padahal aku yang mengingatkan Devara untuk datang ke perpisahannya Sonia. Tapi mengapa malah aku yang jadi tidak tahu. Mungkin karena peristiwa tadi, aku terlalu cemas dan khawatir dengan keadaan Naura ditambah di rumah tidak ada siapa-siapa selain aku yang bisa membantunya.

Perihal keluarga, mesti diprioritaskan. Soal teman atau sahabat, itu setelahnya. Aku berharap, Sonia tidak marah padaku, sebab aku datang terlambat dan tidak bisa membantunya untuk mempacking barang-barang yang akan di bawa. Setelah sampai di depan gerbang rumah Sonia, aku melihat ada mobil pick up yang terparkir di sana. Barang-barang elektronik dan beberapa barang-barang lainnya sudah tertata rapih di atas punggung mobil itu dan sudah ditutupi dengan terpal berwarna biru.

"Astaga! Semuanya sudah selesai. Sebentar lagi Sonia dan keluarganya akan berangkat. Gue belum sama sekali membantunya."

Kemudian aku masuk ke dalam gerbang berlapis cat hitam itu. Satu dua orang satpam keluar masuk rumah sambil membawa barang-barang yang masih tersisa untuk di angkut ke dalam mobil.

"Ah, tenang. Ternyata masih ada beberapa yang belum," gumamku.

Sesaat aku mencoba untuk melangkah masuk ke dalam rumah Sonia, tiba-tiba ada dua orang yang sedang berjalan menuju pintu keluar sambil tertawa hangat. Aku langsung berlari dan bersembunyi di balik pohon tanaman yang tidak jauh dari situ. Devara dan Sonia terlihat berbincang asyik sambil sesekali Sonia merangkul Devara. Gelak tawa mereka terdengar sangat gurih hingga ke telingaku.

Tentang Rasa (part3)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 377

Ada rasa cemburu dan menyesal yang berkecamuk dalam hati. Cemburu, melihat Sonia dan Devara yang begitu romantis. Wajar saja, karena sebentar lagi, bahkan dalam hitungan menit, Devara akan ditinggalkan oleh kekasihnya itu. Menyesal, karena seharusnya aku tidak datang. Percuma saja, sebab sudah ada yang membuatnya bahagia.Kehadiranku mungkin hanya sebatas angin lewat saja. Karena terlihat dari raut wajah Sonia yang begitu antusias saat kehadiran Devara di detik-detik perpisahannya tanpa mempedulikanku.

Setelah lama mengumpat dibalik pohon sambil melihat kemesraan kedua sahabatku itu, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Perlahan aku mencari celah untuk keluar agar tidak ketahuan. Aku berjalan mundur, sambil memastikan bahwa Sonia dan Devara tidak melihat dan mendengar derap langkahku. Setelah berusaha keras, akhirnya aku terbebas dalam sesak keromantisan.

"Huh! Nasib Jones. Ngeliat yang kaya gituan, langsung kepengen. Ya iyalah, siapa juga yang nggak mau. Secara Devara kan emang orang yang pertama gue suka, yang gue sayang. Mana Terima kalo mesra-mesraan sama cewe lain." Aku bermonolog sambil berjalan ke depan prapatan untuk menaiki angkot pulang.

"Kenapa, si lo, Sen. Kenapa nasib cinta mu kaya gini? Kenapa lo nggak seberuntung Sonia, sih! Ah...!" Aku menendang botol coca-cola yang ada di hadapanmu.

"Auu! Siapa yang ngelempar! Kurang asem!" Teriak seseorang yang tak jauh dari arah jalan lurus yang aku lewati.

Aku melihat di depan ada segerombolan lelaki yang sedang duduk di atas motornya masing-masing. Persimpangan jalan ini memang terlihat sangat seram jika sudah dihuni oleh orang yang seperti itu. Aku yakin, orang yang teriak tadi pasti salah satu dari mereka.

"Ah! Mampus gue. Aduuuh!" Aku mengernyitkan alis.

Kelima laki-laki itu menoleh ke arahku yang ada di belakangnya. Namun, salah satu dari mereka ada yang menghampiri dengan menaiki motornya. Sontak aku berputar arah. Berjalan cepat agar tidak tertangkap sebagai tersangka pelemparan botol coca-cola. Namun sangat di sayangkan. Laki-laki itu menancapkan gas motor miliknya. Sehingga aku bisa dikalahi dan kini orang itu menghalangi jalanku. Aku tidak bisa lagi melanjutkan pelarian ku. Ah, sial!

"Mau pergi kemana kamu? Mau lari?" tanya orang itu.

"M-maaf, Om. Aku gak sengaja." Aku menunduk ketakutan.

"A-aku janji deh, aku bakal nurutin apa mau om, asalkan om mau maafin aku dan ngasih aku jalan untuk pulang."

"Hmmm, yakin?"

"Yakin, Om. Om mau apa, aku turutin. Asalkan aku bisa pulang, Om."

"Kamu mau pulang, kan? Aku anter."

Tentang rasa (part 4)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah kata 750

Suara itu? Suara itu terdengar familiar. Aku mengenal suara itu. Seperti yang terdengar di telingaku kemarin-kemarin. Aku mencoba memastikan bahwa dugaan ku benar. Ku angkat kepalaku perlahan, dan ternyata, yaps. Benar. Tepat. Kak Dewa yang kini ada dihadapanku.

"Eh, em. Kak, maaf. Gue tadi nggak sengaja. Maaf, kak," ucapku gelagapan.

"Santai aja kali. Gue gak marah kok, kalo tau yang ngelempar nya kamu," ujar Kak Dewa.

Tubuhku seketika geli ketika mendengar ucapan Kak Dewa. Bisa-bisanya orang itu nggak marah kalau aku yang membuatnya kesakitan. Aneh!

"Katanya mau pulang. Ayuk, gue anter."

"Nggak usah kak, makasih. Gue bisa naik angkot, kok."

"Mau gue marah?"

What? Apa-apa lagi ini? Kak Dewa akan marah jika aku tidak menuruti pintanya?

"Eh, enggak, maksud gue bukan begitu, kak. T-tapi.. "

"Tapi apa? Nggak usah banyak alesan, deh. Hayuk cepetan naik!" pinta Kak Dewa paksa.

"I-iya, kak."

Segera aku menaiki motor milik Kak Dewa itu. Aku takut amarahnya membludak jika aku tidak menurutinya pintanya.

"Oh iya, kak. Nanti mampir dulu yah ke apotek. Ada yang mau gue beli," ucap ku.

Kak Dewa mengacungkan jempol.

Selama aku menapaki hidup di bumi ini, belum pernah bertemu dengan orang yang baru saja kenal tapi sudah merasa akrab. Siapa lagi kalau bukan dengan Kak Dewa. Misterius. Padahal baru saja beberapa hari kemarin aku mengenalnya, tapi keakraban kita seperti orang yang sudah berkenalan bertahun-tahun. Kalau bukan dirinya yang mengawali semua ini, aku tidak mau mengenal lebih dekat dengannya.

"Assalamu'alaikum, Mah." Aku memasuki rumah tanpa mengetuk pintu.

"Waalaikumsalam, Sen," jawab mamah.

Mamah muncul dari arah dapur sambil membawa makanan yang baru saja mama masak.

"Cepet banget kamu pulang."

"Udah berangkat, Mah. Jadi nggak sempet ketemu," ujarku dengan nada lemas.

"Tapi nanti aku salamin, kok lewat Whatsapp. Aku mau masuk ke kamar dulu." Aku berjalan semponyongan menuju kamar.

Seperti ada rasa kecewa, sakit hati, dan campur aduk rasa.

"Kamu nggak mau makan dulu, Sen. Mamah udah masak, loh," ucap mamah setengah teriak.

"Nanti ajah, Mah. Nggak laper," balasku.

Tentang rasa yang ku alami selama ini, mungkin terlalu lebay bagiku. Aku yang berharap lebih untuk bisa memilikinya, mencintainya, hidup bersama selamanya, itu sangat lah mustahil.Ia sama sekali tidak membalas itu semua. Ia malah mencintai orang lain ketimbang diriku. Yah, salahnya aku tidak mengungkapkan perasaan yang selama ini aku pendam kepada dirinya. Tapi mana mungkin aku bisa. Ada rasa malu yang terus menghantui dan mengusik setiap aku ingin mencoba untuk semua itu.

Bodohnya, kenapa rasa ini terus ada. Padahal aku tahu, aku sering merasakan sakit setiap aku melihat dirinya bermesraan dengan orang lain-sahabatku. Mengapa rasanya sulit sekali untuk aku mengikhlaskan kebahagiaan mereka? Merelakan untuk Devara bahagia dengan Sonia.

Oh, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan saat ini?

                             ***

Aku berjalan menyusuri sekeliling dapur. Mencari kaleng susu untuk menemani kegabutan malam ini. Satu buah kaleng susu yang masih tersisa sedikit di dalam laci berwarna coklat, langsung ku tuangkan dalam gelas. Di susul dengan air hangat. Setelah selesai membuat secangkir susu, aku kembali ke kamar.

"Udah lama gak nulis. Padahal banyak banget unek-unek yang mau gue tumpahin. Tapi gak sempet ajah. Btw, dimana yah buku diary gue. Perasaan gue taro di atas meja belajar, deh."

Aku mencari buku diary ku untuk mengisi kegabutan malam ini. Di saat aku mencari buku itu, Tiba-tiba terdengar ketukan pintu di luar.

"Assalamu'alaikum." Suara itu menembus ke dalam bilik kamarku.

"Siapa, sih yang dateng malem-malem gini," gumamku.

"Samperin aja kali, yah. Siapa tau orang penting."

Aku berjalan ke arah pintu utama. Kemudian aku membuka pintu itu.

Dan...

Ternyata dia yang datang ke rumahku malam-malam. Dia? Untuk apa dia datang ke rumahku? Apa ada urusan yang lebih penting dari pada membahas pacarnya itu?

"Eh, Dev. Ada apa?" tanyaku sedikit jutek padanya.

"Ada apa, ada apa. Tadi pagi lo kemana?" tanya Devara kesal lantaran aku tidak datang pagi tadi. Padahal aku datang, hanya saja rasa sakit yang menusuk ke dalam hati mmenuntunku untuk memutar balik.

"Euh, em. Itu tadi pagi Naura sakit jadi harus nganterin dulu berobat, jadi gak sempet untuk dateng ke sana," jawab ku.

"Eh, Naura sakit apa gitu?" Devara mulai perhatian.

"Demam."

"Nanti salamin aja yah ke Naura sama tante."

"Iya nanti gue salamin."

"O iya, nih ada titipan dari Sonia. Katanya sih buat lo dan nggak boleh gue buka sedikitpun." Devara menyodorkan sebuah surat kepada ku.

"Gue terima. Sekarang lo pergi aja gih, gue mau istirahat. Mamah sama Naura juga udah tidur. Nggak enak diliat sama tetangga nanti," ketus ku.

"Selow aja kali. Tanpa lo suruh pun gue juga bakal pergi. Lagian gue cuman mau ngasih itu doang, kok nggak mau ngapa-ngapain."

Senior Ngeselin (part 1)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 370

-------------------------------------------------------

"Mulailah untuk langkah baru dengan semangat baru. Juga niat yang menyertai segala aksara yang kamu impikan tuk menggapai bintang. Yakini, kau adalah juara."

Hati yang kembali remuk melihat orang yang selama ini tersimpan dalam hati, malah memilih dan mencintai sahabatku. Aku tidak tahu sampai kapan rasa ini bergantung di tengah hati yang semakin heri semakin retak. Menjadi kepingan-kepingan kelam yang membusuk. Terpaku dan membisu dalam jeruji besi yang terikat.

Akan tetapi, aku bukanlah tipikal cewe yang terus meratapi kelam. Meski aku tahu ini mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan sebongkah luka. Namun, aku mencoba untuk berani kuat. Menutupi semuanya d ngan senyum dan tawa yang ku persembahkan kepada mereka yang enggan sekali ku beri luka. Mereka adalah kedua orang tuaku.

Dua bulan berlalu setelah kelulusan, akhirnya kini aku bisa menghirup nafas di masa putih abu-abu. Melangkah ke jalan yang lebih serius. Meniti masa depan. Memulai pijakan untuk mengawali sebuah mimpi yang selama ini telah ku rancang.

Sebelum berangkat ke sekolah, tidak lupa aku sarapan terlebih dahulu. Hari ini, mamah memasak nasi goreng telur mata sapi dan teh manis hangat kesukaanku. Kata mamah, ini sarapan paling enak dan membuat stamina lebih kuat untuk memulai hari baru. Bersama mamah dan juga Naura yang sebelumnya sudah pulih dari demam, kami menyantap nasi goreng buatan mamah.

"Mah, enak!" Aku mengacungkan jempol dan tersenyum.

Setelah sarapan, aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Style yang ku pakai saat ini bukanlah putih abu-abu, melainkan hitam putih dengan rambut di ikat dua, kaos kaki belang-belang dan membawa karung yang telah di ikat dengan tali sebagai tasnya. Yah, hari ini adalah pertama ospek, yang dimana penampilan murid baru sesuai dengan perintah senior. Compang-camping dan lebih mirip seperti ODGJ.

Setelah ku rasa siap, aku pamit ke mamah yang baru saja membereskan meja makan.

"Mah, aku pamit, yah," ucapku.

Mamah mengelus rambutku, "Sen, mamah nggak butuh kamu pinter. Mamah ga butuh kamu sekolah yang tinggi. Mamah cuma kepingin kamu jadi anak yang bisa mamah banggakan dengan kemampuan kamu. Mamah gak nuntut kemauan mamah kamu mau jadi apa. Ini masa depan kamu, dan kamu juga yang ngerancang semuanya. Maaf, mamah belum bisa jadi yang terbaik buat kamu. Cuman ini yang mamah bisa kasih untuk kamu," ucap mamah terdengar sangat lirih.

Senior Ngeselin (part 2)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 440

Dalam hatiku berkata, "Mah, maafin Arsen. Arsen belum bisa jadi apa yang mamah banggakan. Belum bisa jadi apa yang mamah harapkan. Arsen akan terus berusaha untuk semua itu, Mah. Untuk kebahagiaan mamah."

Tapi semua itu ku pendam dalam-dalam. Aku tidak ingin ada tangis yang pecah saat ini. Saat aku ingin pergi ke sekolah baru.

"Iya, Mah," ujar ku singkat.

"Ya sudah, kamu baik-baik, yah di sekolah barumu. Tetap semangat. Tunjukan bahwa kamu bisa, ya, Nak." Mata mamah sedikit berbinar.

"Iya, Mah. Arsen berangkat dulu, ya, Mah. Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam."

Bagiku, tidak ada yang spesial dari diri ini untuk aku banggakan kepada mamah. Tidak ada yang pantas untuk aku persembahkan. Jalan pendidikan ku selama 3 tahun, belum cukup rasanya untuk membahagiakan mamah. Yah, sebab aku masih terlalu polos. Masih menginjak masa sekolah permainan. Nanti, akan ada saatnya dimana aku benar-benar menunjukan bahwa aku bisa. Aku mampu untuk melukis tawa. Menciptakan kebahagiaan di keluarga kecil ini dengan keberhasilan diriku sendiri. Bukan sekarang, tapi nanti.

"Permisi, aku mau lewat," kata seseorang yang ingin duduk di barisan depan.

"Iya. Silahkan." Aku menggeser badan agar memberi sedikit celah untuk perempuan itu lewat.

Sekarang, aku beserta murid baru SMA Nusa Mulia sudah berkumpul di lapangan untuk pembukaan acara OSPEK. Samping kanan kiriku orang asing. Bukan lulusan SMA Nusa Bangsa. Mata ku bertamasya. Berkeliling mencari seseorang yang sedari tadi aku tunggu sebelum acara dimulai. Aku telah menyediakan satu petak disamping kanan ku untuk Devara. Tapi cowok itu tak kunjung datang. Satu per satu kakak OSIS berdatangan. Berarti, sebentar lagi acara di mulai. Aku masih mencari barang hidung Devara. Apa mungkin dia tidak datang? Ah, tidak mungkin.

"Mana, sih,tu anak. Spam chat dari semalem nggak dibales. Spam telfon pagi ini nggak diangkat. Nggak mungkin dia nggak dateng." Mata terus menjalar ke seluruh lapangan.

"Hei, kamu!" teriak seseorang yang terdengar sangat nyaring di telinga.

Aku terkejut. Sontak aku membenarkan posisi mataku menatap ke depan. Ternyata yang baru saja teriak tadi itu adalah kakak OSIS. Tangan dan jari telunjuknya menunjuk ke arah yang dituju.

"Kamu!" teriak kakak itu kembali.

Kini aku sadar, ia mengarahkan tangannya ke arahku. Seperti ke arah ku. Tapi aku tidak tahu pasti. Aku mencoba untuk menunjuk ke diriku sendiri.

"Iya, kamu!"

Apa? Aku? Ada apa denganku? Apa aku berbuat salah?

"Berdiri, kamu!" pintanya.

Aku segera berdiri di tempat itu. Malu. Malu rasanya.

"Maaf, kak. Salah aku apa yah?" Aku memberanikan diri bertanya. Padahal susana sedang tegang.

"Kamu masih tanya apa kesalahan kamu! Pura-pura nggak tahu, apa gimana kamu!" bentak kakak OSIS.

Teriaknya benar-benar membuatku sangat merasa bersalah. Sepertinya aku telah membuat kesalahan yang sangat besar. Tapi apa? Aku tidak merasa bahwa aku sudah melakukan kesalahan

Senior Ngeselin (part 3)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 420

 

"Sini, kamu. Nggak usah banyak alasan." Kak OSIS menyuruhku maju ke depan.

Dengan polosnya, aku menuruti saja. Perlahan aku maju ke depan melawati sekerumunan orang-orang yang sama sekali aku tidak mengenalinya. Pandangan mereka semua tertuju padaku. Aku, layaknya napi yang dibawa ke kantor polisi untuk di introgasi.

"Sekarang, kamu tahu apa kesalahan kamu?" Salah satu dari mereka-Kakak OSIS-mendekat ke arahku.

Aku menunduk, "E-enggak, tahu, Kak."

"Di saat semua orang memperhatikan ke depan, kamu malah celingukan. Di saat semua teman-teman kamu memperhatikan, pandangan kamu lebih tertarik mencari seseorang," ujarnya tegas, "Kamu tahu etika, kan?" tanyanya.

"Tahu, Kak."

"Nah, sebaiknya apa yang kamu lakukan ketika ada seseorang di depan, yang sedang berbicara?"

"Mendengarkan dan memperhatikan, Ka."

"Pintar kamu. Tapi sayang, bodoh!"

Astaga, aku tidak terima disebut sebagai orang bodoh. Jelas-jelas memang aku tidak tahu kalau mereka sedang bicara. Iya, ini kesalahanku, tapi apa seharusnya di perpanjang seperti ini? Apa seharusnya dipermalukan di depan semua orang?

'Ngeselin!'

"Hei, kamu! Maju ke depan!"

Apa? Aku disuruh maju lagi? Kurang maju apa lagi coba. Padahal aku sudah terdepan di antara semua orang yang tengah memperhatikanku sedari tadi.

"Maaf, kak. Kan aku udah ada di depan," ujar ku.

"Bukan kamu!"

Ternyata bukan diriku. Malu rasanya. Seharusnya aku tidak mengatakan seperti itu. Tapi siapa? Siapa orang yang ingin di hukum sepertiku? Aku mencoba untuk mengangkat kepala sedikit. Melihat siapa orang yang ingin menemaniku di depan. Sangat tidak beruntung orang itu. Samar-samar terlihat seperti postur cowok. Memakai baju putih dan celana hitam. Tapi aku tidak jelas melihat wajahnya. Kemudian, aku kembali menunduk. Takut jika ketahuan dan aku disebut sebagai orang yang tidak beretika.

"Berdiri di samping cewek itu! Berani-beraninya kamu telat. Punya berapa nyawa kamu untuk bisa datang terlambat?"

"Maaf, Kak. Saya terlambat karena ada suatu alasan."

Suara itu? Suara itu tidak terdengar asing di telingaku. Seperti suara Devara. Ah, mana mungkin. Sejak kapan dia terlambat masuk sekolah. Sedangkan Devara adalah tipikal cowok yang rajin datang paling awal ketimbang teman cowok lainnya sejak SMP.

"Siapa nama kamu?" tanya kakak senior itu kembali.

"Nama saya Devara Prayoga."

That's right. Dugaan ku benar. Itu Dev. Cowok paling ngeselin. Tapi lebih ngeselin kakak OSIS yang sekarang ada di hadapanmu.

"Sekarang, kamu dan kamu berdiri di belakang barisan semua murid, tepat di tiang bendera. Lebih tepatnya kalian di hukum. Cepetan."

Pemaksaan. Aku tidak suka. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mengelak. Ini perintah. Jika aku tidak menurutinya, aku akan lebih di marahi dan di beri hukuman yang lebih parah. Seperti membersihkan toilet mungkin. Atau menyapu sekeliling halaman sekolah. Oh, tidaaak!?

Senior Ngeselin (part 4)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah kata 788

#PR

Tepat di belakang tiang bendera. Membentuk penghormatan kepada sang saka bendera merah putih yang berkibar. Di bawah terik matahari, aku dan Devara tengah ada di sini. Sekian tahun aku sekolah, baru kalo ini aku merasakan apa yang teman-teman aku rasakan dulu. Dihukum di tengah lapangan. Hormat kepada bendera. Menatap langit-langit yang diselimuti sang surya. Sialnya aku! Seharusnya aku tidak melakukan hal bodoh seperti tadi. Sehingga aku harus mendapat hukuman seperti ini.

"Uh." Aku mengendus kesal.

"Kenapa? Panas?" tanya Devara menatapku.

"Seharusnya gue nggak dapet hukuman kaya gini."

"Kesalahan lo apa gitu?" Dev kembali bertanya.

Kini aku tidak bisa menjawab pertanyaan dari Dev. Mana mungkin aku menjawab jujur kalau aku di hukum seperti ini lantaran mencari dirinya.

"Ehm, nggak papa kok. Kakak OSISnya aja yang ngeselin. Memperbesar masalah sepele."

"Seharusnya lo beruntung di hukum kaya gini. Dari pada lo kena siksa ikut MOS yang nggak jelas. Suruh ini lah suruh itu lah. Emangnya lo mau?"

Benar juga apa yang dikatakan Devara. Aku lebih beruntung dari pada murid yang lainnya. Tapi aku tidak suka juga harus berlama-lama di bawah terik matahari ini. Sekujur tubuhku sudah dipenuhi keringat. Kaki ku mulai bergetar. Perutku rasanya perih sekali. Oh Tuhan. Berikan aku kekuatan.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba Kak Dewa datang menghampiri aku dan Devara.

"Waktu kalian sudah cukup. Kalian bisa istirahat," ucap Kak Dewa.

Seketika itu, tubuhku lemas dan terjatuh di tempat itu. Tidak. Aku tidak pingsan. Hanya saja aku lemas. Kakiku tidak sanggup lagi untuk berjalan. Kepalaku pusing. Perut ku masih saja terasa perih.

"Sen...." Devara menghampiri ku. Begitu juga dengan Kak Dewa.

"Lo kenapa? Lo sakit?" tanya Devara cemas.

"Muka lo pucet. Kita bawa UKS ajah." sambung Kak Dewa memintaku untuk ke UKS.

"G-gue nggak papa kok, Dev, Kak. Gue cuman lemes doang. Kepala gue tiba-tiba pusing berat." Aku berusaha menjawab meski mulutku rasanya tidak ingin angkat suara. Lemas.

"Ini harus segera di bawa ke UKS," sahut Kak Dewa.

"Dev," ucapku sambil memegangi tangannya yang menjadi topangan badanku.

"Ya?"

"Gue nggak sanggup jalan. Nggak usah ke UKS, yah. Di sini ajah. "

"Ya udah, gue aja yang bawa dia ke UKS," ujar Kak Dewa.

Tangannya mulai merayap ingin menopang tubuhku.

"Nggak usah. Gue aja. Biar lo yang tunjukin dimana ruang UKS," sahut Devara dengan cepat.

Sepertinya, Dev tidak ingin aku berada di tangan orang yang menurutnya belum kenal lebih dekat denganku. Aku manut saja. Sebab aku tidak bisa melakukan sesuatu. Aku percayakan pada Devara. Setelah sampai di UKS, aku langsung diberikan pertolongan pertama dengan petugas PMR yang ada di situ. Beberapa tetes kayu putih dibaluri ke seluruh kepalaku. Devara yang ada di sampingku, memijati kepalaku yang terasa pusing. Begitu juga Kak Dewa yang baru saja datang memba air putih untukku.

"Minum dulu." Kak Dewa menyodorkan minum itu kepadaku.

"Gimana? Mendingan?" tanya Kak Dewa.

"Mendingan, kok. Thanks, ya, Kak, Dev," ujarku.

"Lambung lo gimana? Kumat nggak?" tanya Devara.

Ia tahu saja kalau aku merasakan hal itu. Padahal, aku belum bicara perihal bahwa mag ku kambuh dan masih terasa nyeri dan perih.

"Iya, Dev, " jawabku sambil memegangi perut.

"Tadi pagi lo udah sarapan, kan?"

"Udah, Dev. Tapi..."

"Tapi karena lo tadi dihukum berdiri di tengah lapangan. Di bawah terik matahari dan badan li jari lemes. Terus kepikiran. Ya, kan?"

Entah mengapa firasat Devara sangat kuat terhadapku. Ia tahu percis bagaimana aku saat ini. Apa yang aku rasakan. Sebenarnya, bagaimana isi hati Devara. Apa mungkin ia juga memiliki rasa yang tersimpan untukku, sehingga ia memiliki insting yang sangat kuat. Apa ini hanya sebagai tanda bahwa aku dan Devara hanya sebatas sahabat. Wajar saja kalau Devara tahu. Karena hampir setiap hari Devara selalu ada di samping aku. Jadi, ia tahu sangat bagaimana aku dan siapa aku. Begitu juga dengan penyakitku.

Aku terdiam. Mengangguk, tanpa menjawab pertanyaan darinya. Kemudian Devara merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebutir obat kemudian diberikan kepedakau.

"Nih, obat magnya. Gue selalu siap sedia."

"Makasih."

"O Iyah, sorry yah kelakuan temen-temen gue tadi. Kalo aja gue ada di sana, lo sama Senia nggak bakal kena hukuman di jemur tengah lapangan kaya tadi," ucap Kak Dewa.

"Santai aja kali. Ini emang udah sepatutnya gue sama Senia yang kena," ujar Devara.

Ini memang sudah sepatutnya aku terima. Tapi, masih ada sedikit yang mengganjal di hati. Mereka yang sudah merasa dirinya senior. Yang sudah setahun, dua tahun hidup di sekolah ini, ketika memegang jabatan sebagai OSIS dan penyambutan murid baru, bisa seenaknya memperlakukan kita yang tidak tahu apa-apa.

Lebih bodohnya, kita hanya bisa diam dan manut saja. Apa ini yang dinamakan perkenalan sekolah? Adanya pembantaian seperti zaman PKI? Kondisi yang demikian, sepatutnya harus dihilangkan dari pendidikan sekolah apa lagi pada kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa). Aku saja yang merasa pernah menginjak masa MOS ketika SMP dulu, tidak pernah diperlakukan seperti ini. Begitu juga dengan yang lainnya.?

Introvert (part 1)

0 0

 

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 329

"Ketika datang hujan, tak selalu membawa duka. Ada juga bahagia. Bagaimana kita yang mau berkenalan dengannya."

Setelah berlalunya Masa Orientasi Siswa atau yang lebih dikenal dengan singkatan MOS itu, akhirnya kegiatan belajar mengajar pun sudah dimulai dan lebih kondusif. Terlihat bagaimana cerianya mereka-teman-temanku yang sudah akrab satu sama lain. Bahkan sudah mempunyai sahabat. Setiap kali aku melihat, rangkaian tawa pecah mengisi suasana. Di kelas, di kantin, di toilet, hampir di setiap penjuru ruangan pasti ada mereka yang membawa sebongkah kebahagiaan bersama teman-temannya. Sedangkan aku. Aku sibuk bergelut dengan buku diary kesanyanganku sambil duduk di pojok kelas.

Semenjak kepergian Sonia ke luar kota dan memutuskan untuk sekolah di sana, aku berubah menjadi orang yang pendiam. Tidak suka bergaul. Lebih banyak menghabiskan waktu sendiri sambil memenuhi lembaran diary ku yang masih kosong. Entah mengapa, rasanya aku lebih nyaman dengan Sonia. Aku ingin berteman dan bersahabat dengan seseorang yang percis seperti Sonia. Karakter yang dimiliki Sonia itu sangat langka. Ia sangat mengerti apa yang aku rasakan. Ia lebih paham bagaimana menyikapi sikapku. Menasehati di kala salah. Memeberi dukungan ketika terdepan. Memberi dorongan ketika jatuh terpuruk. Kita satu frekuensi. Saling melengkapi satu sama lain. Jadi, sulit bagiku untuk mencari kenyamanan itu kembali. Bisa dibilang bahwa saat ini aku adalah introvert. Pendiam. Lebih banyak menghabiskan waktu sendiri. Ditambah dengan sikapku yang memang sulit dan butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.

Aku tidak tahu sampai kapan aku harus seperti ini. Mungkin saja, aku akan jauh lebih baik jika aku telah menemukan sosok yang bisa menggantikan Sonia.

"Sen, ngapain, lo?" tanya Devara yang tiba-tiba datang.

"Astaga, Dev. Demen banget lo ngagetin gue," jawab ku.

"Lo ngapain di sini? Lo nggak ke kantin? Atau main gitu kek. Ngumpul-ngumpul gitu sama temen-temen yang lainnya."

"Males," balasku singkat.

"Lo kenapa sih, Sen. Ada masalah?"

"Nggak."

"Terus kenapa lo kaya gini?"

"Emang gue kenapa? Ada yang salah?" Aku menatap Devara.

"Yah, bukan begitu. Biasanya lo care sama orang. Tapi kenapa tiba-tiba lo jadi mode silent gini, sih."?

Introvert (part 2)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 583

#Day19

 "Lagi badmood ajah. Tiba-tiba nggak mau ngelakuin apa-apa."

"Nggak mungkin, nggak mungkin." Devara membenarkan posisi duduknya, "Arsenia yang gue kenal nggak kaya gini, yang tiba-tiba murung nggak jelas. Pasti ada alesannya, dong." Dev meyakinkan ku bahwa ada sesuatu yang sedang ku sembunyikan atas sikapku yang seperti ini.

Aku memberhentikan kegiatan menulis ku. Ku tarik nafas dalam-dalam dan menatap Devara tajam.

"Gue nggak tahu, Dev. Semenjak Sonia nggak ada, gue jadi begini. Gue ngerasa nyaman sama Sonia. Seketika gue nggak bisa bangun dan nggak bisa menjadi diri gue yang dulu ketika Sonia nggak di samping gue lagi." Aku diam sejenak. Devara masih mendengar penjelasanku.

"Dan gue juga nggak tahu kenapa tiba-tiba gue jadi susah untuk beradaptasi sama semuanya. Lo mungkin nilai gue orangnya care. Hiperaktif. Loyal. Tapi sebenarnya gue nggak. Gue nggak seperti apa yang lo pikir, Dev. Gue kalo udah nyaman sama orang apa lagi sahabat gue sendiri, rasanya gue nggak bisa ngapa-ngapain ketika gue pisah sama dia."

"Sen." Devara menepuk bahuku. "Gue percaya sama lo. Lo bisa buat ngadepin semuanya. Gue percaya lo orang yang kuat. Kehilangan Sonia, jangan lo jadikan patokan untuk lo nggak bisa menjadi diri lo sendiri. Gue, gue, Sen. Pacarnya. Gue lebih ngerasa kehilangan dia. Tapi apa, gue ikhlas, Sen. Titik lo jangan patokin kepada seorang teman atau sahabat. Tapi masa depan lo ada pada diri lo sendiri. Bukan orang lain." Devara menasehatiku.

"Ayo lah, Sen. Gue yakin lo bisa. Gue akan selalu ada untuk lo. Di samping lo. Mendukung lo. Jadi, lo jangan ngerasa nggak punya siapa-siapa di sini. Lo masih punya gue, Sen. Sahabat lo."

Bola mataku berkaca-kaca. Kemudian meneteskan air mata. Devara memelukku. Aku menangis di pelukan nya.

"Dev. Jangan pernah tinggalin gue, yah. Gue nggak bisa jauh dari lo. Lo emang sahabat terbaik gue. Selalu ada di samping gue, yah. Devara Prayoga," bisikku.

Yang terlihat belum tentu sesuai dengan apa yang sebenarnya dalam diri kita. Sebab seseorang hanya bisa menilai dari cara segi pandang. Cover seseorang. Tanpa tahu lebih dalam. Sehingga orang itu benar-benar mempercayakan kita bahwa apa yang ia lihat dalam diri kita adalah kita yang sebenarnya dan kemudian, kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya.

Namun, di saat kita menunjukan sesuatu yang tidak orang lain ketahui dalam diri kita. Kepercayaan itu seketika remuk. Hilang. Surut secara perlahan. Akan tetapi, seorang sahabat tidak pernah surut akan kepercayaan kepada kita. Ia yang lebih mengenal lebih dalam, bukan menilai dari covernya saja. Ia akan tetap mendukung apa pun yang terjadi pada diri kita.

Menopang ketika diri kita hendak rapuh. Mendorong ketika di belakang. Membangkitkan ketika diri kita benar-benar jatuh. Memotivasi ketika diri kita berada pada titik tengah. Itulah sahabat.Dan seseorang yang menganggap dirinya introvert. Hanya ia yang percaya bahwa dirinya tidak akan bisa berubah. Yakin bahwa dirinya hanya ada pada kata pendiam. Pemalu. Tidak bisa bersosialisasi. Hanya ada pada kata kemurungan. Keterjauhan dari semua orang, termasuk lingkungan.

Kini, aku benar-benar berada di posisi jatuh. Kemudian Devara membangkitkan ku. Ia sahabat. Sahabat terbaikku. Begitu pun ia yang menganggapku seperti itu. Namun entah mengapa, ketika dirinya memperlakukanku seperti ini. Aku merasa bahwa aku bukanlah sahabatnya. Aku kekasihnya. Apa aku yang terlalu mudah jatuh cinta?

"Sen," sahut Devara.

Ia perlahan melepaskan pelukannya. Kemudian ia mengusap air mataku yang tersisa.

"Udah, yah. Jangan nangis lagi. Lo kuat, kok. Gue percaya sama lo. Jangan sesekali lo ngilangin kepercayaan gue sama lo, yah."

"Iya, Dev. Makasih lo udah percaya sama gue, kalo gue bisa ngejalanin ini semua. Bantu gue, yah, Dev. Buat jadi diri gue yang dulu."

"Pasti." Devara tersenyum, pun diriku.

 

Introvert (part 3)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 388

 

"Balik bareng, yuk." Devara menarik lenganku ketika sampai di depan pintu kelas X IPS.

"Hmm, boleh." Aku mengangguk.

"Mau makan dulu apa langsung pulang? Kalo menurut gue, sih, seharusnya makan dulu. Soalnya tadi istirahat lo nggak pergi ke kantin. Gue khawatir kalo nanti lo kambuh lagi mag nya," ujar Devara.

"Boleh. Tempat biasa, yah." Aku tersenyum menatap Devara. Seperti anak kecil yang meminta sesuatu kepada orang tuanya dan segera ingin dikabulkan.

"Mie ayam?" Devara mengeryitkan kedua alisnya. Tampaknya ia tak setuju atas permintaan ku.

"Iyah." Aku mengangguk kegirangan.

"Nggak. Nggak," ujar Devara tegas, "Aneh, yah. Punya penyakit, tapi suka makan yang begituan. Inget, Sen. Inget. Lo harus sayang sama diri lo sendiri. Nggak. Gue nggak setuju."

"Terus, makan apa?" tanyaku.

"Kita makan pecel lele atau pecel ayam aja, gimana?"

"Ya udah, deh. Gue manut aja sama lo."

"Oke. Cuuss kita otw." Devara berjalan kegirangan sambil membawa ku pergi menuju parkiran motor.

Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku benar-benar menyukai Devara. Bukan hanya sebatas sahabat. Aku ingin memiliki Devara selamanya dan bukan hanya sementara. Entah mengapa di dunia sulit sekali mencari seseorang yang seperti dirinya. Pembuktian cintaku, entah sampai kapan harus bertahan. Penantianku ini, entah berujung seperti apa. Apakah hanya sebatas angan. Atau menjadi sebuah kenyataan? Entahlah. Aku pun bingung.

Mencuri hatinya, itu lebih sulit. Ketimbang mencuri perhatiannya. Sebab, dirinya memiliki sifat loyal. Care kepada sesama. Apa lagi diriku juga Sonia, kekasihnya. Di sisi lain. Aku memanfaatkan hubungan jarak jauh Devara dengan Sonia ini, untuk aku jadikan sebuah pendekatan terhadap aku dan Devara. Sudah lama aku tidak di prioritaskan semenjak dirinya menjalin hubungan dengan Sonia. Aku berharap, dan sangat berharap. Di batas penantian ini, aku bisa memiliki Devara seutuhnya.

                              ***

Setelah makan siang, kemudian Devara langsung mengantarkan ku pulang ke rumah. Jujur, rasanya bahagia sekali bisa seharian ini bersama dirinya. Devara semakin perhatian kepadaku. Memperlakukanku seperti Sonia. Tapi tidak hatinya.

"Alhamdulillah, sudah sampai. Thank's, ya, Dev."

"Iyah, sama-sama."

"Mau mampir dulu ke rumah?" tanya ku.

"Makasih. Lain kali ajah. Aku juga ditungguin sama mamah. Pasti nanti juga main kok ke sini," ujar Devara.

"Oke. Hati-hati, yah, pulangnya."

Devara mengangguk, "Oh iya. Inget pesan gue tadi. Lo yakinin diri lo sendiri, bahwa lo bisa. Lo kuat. Jangan pesimis. Harus tetep optimis. Oke."

"Siap, Abang." Aku tersenyum.

"Ya udah, gue balik, yah." Devara mengacak-ngacak rambutku sebelum dirinya menghilang dari pandangan.

Teman Baru untuk Arsenia (part 1)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 454

"Hanya kata pesimis lah yang akan dimiliki seseorang yang tak pernah meyakini bahwa dirinya mampu untuk bangkit kembali."

Masih dengan situasi yang sama. Hampa. Tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya. Meski Devara telah menyemangati ku, kesiapan untuk memulai semuanya belum aku coba.

Sudah beberapa hari berlalu belajar di sekolah ini. Tidak ada yang sangat spesial bagi diriku selain adanya seorang sahabat yang yang mampu untuk mengubah suasana. Bukan berarti aku bisa segalanya, aku mampu untuk berdiri tegak tanpa sandaran yang kuat. Dukungan yang hebat. Siapa lagi kalau bukan sahabat.

Bagiku, Devara seorang diri belum cukup. Sebab ia laki-laki bukan perempuan, yang tidak mungkin aku bisa ajak kemanapun aku mau. Meskipun aku dan Devara begitu eratnya persahabatan antara kita, tetapi aku masih menjaga jarak dan tahu diri bahwa aku dan dirinya berbeda jenis. Ditambah lagi aku dan Devara beda kelas. Aku kelas IPS sedangkan Devara kelas IPA. Aku dan dirinya hanya bisa bertemu selain jam kelas.

Hari ini tepatnya pelajaran geografi, Pak Bondan memberikan tugas untuk membuat ilustrasi lapisan bumi secara berkelompok. Seperti sekolah pada umumnya, setiap guru mempersilahkan untuk membagi kelompok sendiri, semua murid malah tidak mau. Alhasil, Pak Bondan lah yang membuat kelompok itu.

Ada 5 kelompok yang akan mempresentasikan karyanya nanti.Masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang. Anya-sekertaris kelas pun maju ke depan untuk menuliskan nama-nama kelompok yang telah diberikan oleh Pak Bondan. Kelompok pertama dan kelompok kedua sudah terisi penuh. Nama-nama yang tercantum di kelompok itu terlihat kegirangan. Sepertinya mereka cocok dengan anggota kelompoknya. Siapapun nanti yang akan menjadi anggota kelompok ku, aku harap bisa untuk bekerja sama dengan baik.

Kelompok tiga dan kelompok empat sudah terisi juga. Hanya tersisa kelompok lima yang belum. Seperti nya aku yang berada diposisi kelima ini. Ketika Anya menuliskan nama pertama dalam kelompok lima itu, ternyata namaku lah yang tercantum paling awal. Kemudian di susul dengan Angel, Dina, Anya dan Ryan. Empat cewek satu cowok, dan semuanya itu belum aku kenal sama sekali.

"Oke, baiklah anak-anak. Apakah ada yang belum tertulis namanya?" tanya Pak Bondan.

"Sudah, Pak." Semua murid menjawab serentak.

"Baiklah. Untuk nama yang tercantum paling atas adalah ketua kelompoknya. Jadi, bapak harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dan untuk Ketua kelompok bisa membimbing anggotanya," ujar Pak Bondan.

Berarti Ketua kelompok lima adalah aku? Aku yang menjadi ketua nya? Mana mungkin dengan sikapku yang pendiam seperi ini bisa menjadi seorang Ketua.

"Sebelum bapak mengakhiri pembelajaran kali ini, apakah ada yang ingin ditanyakan?"

"Saya, Pak." Anya mengacungkan tangan, "Untuk pengumpulan tugasnya kapan, Pak?"

"Untuk pengumpulan tugas nya minggu depan. Dipersiapkan dengan matang dan buat sekreatif mungkin, yah. Ada yang ingin bertanya lagi?"

"Tidak, Pak." Jawab kami serentak.

"Baiklah, sekiranya tidak ada yang ingin bertanya. Bapak akhiri pembelajaran kali ini. Tetap semangat dan terus belajar."

Teman Baru untuk Armenia (part 2)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 626

 

Setelah Pak Bondan meninggalkan kelas, diikuti dengan bel pulang berbunyi juga beberapa murid yang keluar. Disaat aku sedang merapihkan buku yang ku masukan ke dalam tas, tiba-tiba Anya, Ryan dan Dina menghampiri bangku ku.

"Hai, Sen. Gimana untuk tugas kelompok nanti? Kapan kita bisa mulai?" tanya Anya.

"Hmm." Jariku mengetuk meja layaknya orang yang sedang berpikir, "Gimana kalo siang ini. Tempatnya di rumah gue. Nanti gue kasih alamatnya. Gimana? Bisa, kan?"

"Ya, kalo gue sih bisa-bisa ajah. Tapi nggak tahu kalo yang lain," jawab Anya.

"Gue bisa, kok," sahut Dina.

"Gue juga," sambung Ryan.

"Oh iya, Angel mana?" tanyaku.

"Tadi buru-buru pulang dia. Mau ke toilet dulu," ujar Dina.

"Hm, ya udah biar gue nanti yang bilang ke Angel. Kalian jangan lupa siang ini yah. Kita bincang santai ajah dulu," kataku tertawa kecil.

"Sip, deh. Gue cabut, yah, Sen," kata Anya. Kemudian disambung dengan Ryan dan Dina.

Baru beberapa hari masuk sekolah di sini, sudah ada tugas kelompok, yang mengharuskan ku untuk bersosialisasi dengan teman-teman. Di tambah posisiku di sini adalah sebagai ketua kelompok ku sendiri. So, aku harus menjadi orang yang bisa bertanggung jawab dan mengayomi anggota ku.

Aku berjalan menyusuri koridor kelas menuju tempat parkir. Mungkin Devara sudah menunggu sejak tadi. Setibanya di parkiran, aku melihat Angel yang tengah berdiri di pinggir jalan. Sepertinya ia sedang menunggu jemputan atau angkot, maybe. Dari pada penasaran, lebih baik aku menghampirinya.

"Hai, Angel," sapaku.

"Eh, Hai. Lo Arsenia, kan?" tanya Angel meyakinkan.

"Iyah, gue Arsenia. Btw, kita satu kelompok, loh."

"Oh Iyah, kapan bisa dimulai?"

"Tadi, sih. Gue sama yang lain abis rundingin. Gimana kalo siang ini kita mulai bagi-bagi tugas buat kelompok. Tempatnya di rumah gue. Lo bisa?"

"Hm, gue bisa, kok."

"Sip, deh kalo gitu," kataku diiringi tawa kecil. Disambung dengan Angel setelahnya.

"Oh iya, lo balik sama siapa? Gue perhatiin dari tadi nggak ada yang dateng." Aku melirik ke kanan dan ke kiri arah jalan.

"Ga tau, nih. Bilangnya sih bentar lagi nyampe. Tapi sampe sekarang belum dateng juga," ujar Angel.

Wajahnya memelas. Kasihan melihat Angel sendirian seperti ini. Kalau aku tinggalkan pergi bersama Devara, pasti dia akan telat datang ke rumahku nanti. Lebih baik aku ajak dia ke rumah ku saja dan Angel bisa pulang bersamaku naik angkot.

"Hm, gimana kita pulang bareng ajah. Lo pulangnya langsung ke rumah gue. Biar nanti nggak usah bolak-balik dari rumah lo terus ke rumah gue." Aku mengusul.

"Boleh juga, sih. Tapi gue bilang dulu yah ke nyokap. Biar nggak nyariin."

Angel mulai mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mengetik pesan lewat whatsapp untuk mamahnya. Disamping itu, Tiba-tiba ada yang menepuk pundaku.

"Sen!" Sahut orang itu. Ternyata orang itu adalah Devara. Ia datang dari arah samping kanan yang langsung menyosor pundakku sebagai pusat luapan amarahnya.

"Argh! Sakit tau." Aku mengelus pundakku yang kesakitan.

"Abisnya gue tungguin di parkiran nggak Dateng-dateng. Eh, ternyata lo disini. Pulang, yuk," ajaknya.

"Eh, bentar. Gue nggak bareng sama lo, yah. Gue bareng sama dia. Sekalian kita mau kerja kelompok di rumah gue." Aku menunjuk ke arah Angel.

Angel yang sedari sibuk dengan ponselnya, ternyata mendengarkan percakapan ku dengan Devara. Sontak ia merasa tidak enakkan dengan Devara yang ternyata sudah janji ingin mengantarku pulang.

"G-gue balik sendiri, kok. Kalian pulang bareng ajah," sahut Angel.

"Nggak, Angel. Kita kan mau pulang bareng. Biarin dia pulang sendiri ajah. Lagian dia cowok ini," ucapku, "Sana, gih. Balik ke motor lo. Angkot nya udah nyampe tuh. Gue sama Angel mau berangkat." Aku memutar balikkan tubuh Devara supaya ia kembali ke tempat parkiran.

"Iya, iya. Ya udah lo hati-hati, yah." Devara memelas. Sepertinya ia kesepian sehari tanpa diriku yang menemaninya pulang sekolah.

"Iya, bawel. Sana gih, cepet." Aku mendorong lebih keras tubuhnya.

Angkot yang aku tunggu sudah tiba di depan mata. Kemudian aku dan Angel langsung menaikinya.?

Teman untuk Armenia (part 3)

1 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 630

                              ***

"Jadi kalo konsep gue sih, kita bikin suatu karya yang beda dari yang lain." Aku berucap disaat semuanya telah berkumpul.

Dina, Ryan, Anya dan Angel masih mendengarkan penjelasanku.

"Kalo gambar di kertas kan udah biasa. Kita buat harus luar biasa," sambung ku.

"Gue paham, Sen," sahut Ryan, "Jadi, kita buatnya bukan 2 dimensi, tapi 3 dimensi, ya, kan?"

"Betul." Aku memberikan jempol pada Ryan.

"Sekarang kita bagi-bagi tugas."

Karena ini adalah suatu karya yang tidak mudah, jadi aku harus menyeimbangkan kemampuan mereka. Untung saja, kami memiliki bakat masing-masing. Seperti Ryan dan Dina mahir dalam soal membentuk sketsa dan membentuknya. Aku dan Anya membuat penjelasan tentang lapisan bumi yang nantinya akan di presentasikan. Sedangkan Angel, mahir dalam pewarnaan. Sehingga nanti bentuknya lebih hidup.

Setelah usai membagi tugas, akhirnya mereka pun kembali ke rumah masing-masing kecuali Angel. Sampai detik ini, salah satu kedua orang tuanya belum ada yang menjemput. Jadi terpaksa ia harus menunggu di rumahku.

"Sambil nungguin jemputan, kita makan dulu, yuk," ajak ku kepada Angel yang tengah duduk di ruang tamu.

"Nggak usah, Sen. Ngerepotin."

"Ya ampun kaya di rumah siapa aja. Santai aja kali sama gue. Hayuk, ah. Nanti ke buru dingin masakannya."

Sedari aku dan teman-teman merundingkan tugas kelompok, mamah sudah menyiapkan makanan untuk kami. Tetapi mereka pada langsung pulang dan tidak ikut makan bersama.

"Oh, iya, Sen. Bentar lagi papah gue mau nyampe ke sini. Ni makanan harus cepet-cepet gue abisin," ucap Angel yang langsung melahap makanannya.

"Jangan buru-buru, nanti keselek, loh, " ujarku. Kemudian Angel menatapku tertawa.

Setelah selesai makan dan Angel pun pulang ke rumahnya. Aku membereskan sisa piring dan mencucinya. Setelah itu aku kembali ke kamar untuk sekedar istirahat sejenak.

"Angel. Baik sih orangnya. Eh, tapi kalo diliat-liat, sekilas mirip Sonia, yah. Bukan wajahnya, tapi sifatnya." Gumamku.

Tapi kenapa tiba-tiba aku memikirkan Angel. Apa aku telah menemukan penggantinya Sonia pada Angel.

"Kok, gue jadi mikirin Angel, yah. Ah! Paan sih lo, Sen. Lesbi, deh." Aku merebahkan tubuh di atas kasur.

Tiba-tiba aku teringat saat itu. Saat dimana Devara memberikanku surat dari Sonia yang belum aku baca sampai sekarang.

Kemudian, aku langsung mencari surat itu yang tak jauh dari meja belajar ku. Aku penasaran dengan isi surat itu. Setelah ku temukan surat itu di samping tumpukan buku, aku langsung membawanya ke atas kasur, dan perlahan ku buka isi surat itu.

Isi surat itu,

"Dear, My Best Friend. Maafin gue, yah, Sen. Gue nggak bisa selalu ada buat loh. Gue udah ingkar janji sama lo, yang dimana gue seharusnya ada disamping lo. Tapi sekarang malah gue yang jauh dari lo.

Buat lo, jaga diri baik-baik, yah. Meskipun gue nggak ada disamping, lo. Lo harus tetep jadi diri lo sendiri.

Satu lagi. Sen, gue titip Devara, yah sama lo. Jaga dia baik-baik. Gue nggak mau dia kenapa-napa. Gue sayang banget sama dia. Gue akan tetep jaga hati untuk dia. Meskipun gue tahu, LDR itu emang susah. Tapi gue akan berusaha untuk mempertahankan hubungan gue sama Devara.

Love My Best.

Sonia."

Apa? Kenapa aku membaca akhir dari surat itu terasa menyakitkan. Ada rasa dimana gue sedikit lega karena Sonia memberiku amanah untuk menjaga Devara. Di sisi lain, Sonia akan tetap menjaga hubungannya walaupun jarak jauh. Apa aku masih bisa untuk mengambil hatinya Devara? Sedangkan Sonia masih menjaga hatinya untuk dia.

Kring!

Tiba-tiba satu pesan masuk dari Whatsapp. Kemudian aku langsung meraih ponselku yang ada di samping. Ku lihat nama pengirim pesan itu, ternyata dari Devara.

"Sen, ntar malem jalan, yuk. Nyari makan."

Kenapa? Kenapa cinta serumit ini? Kenapa masih ada harapan untuk seseorang yang nyatanya sudah dimiliki orang lain. Kenapa aku tidak bisa mengikhlaskan dirinya milik orang lain.

Sonia yang masih menjaga hatinya untuk Devara, dan baru saja Devara mengajakku untuk makan malam. Apa tandanya? Apakah Devara masih mencintai Sonia atau tidak? Kemudian aku membalas pesan singkat itu.

"Oke."

Makan Malam (part 1)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 364

"Bukan malam yang menyapa. Tetapi panggilan jiwa yang harus diungkapkan saat ini juga."

 

Di sebuah cafe mini yang bernuansa klasik. Juga dihiasi beberapa lampu kecil yang mengitari langit-langit, membuat siapapun yang berada di tempat ini, akan merasa lebih nyaman. Terlebih jika bersama sang kekasih. 

Aku dan Devara sudah sampai pada pukul tujuh tadi. Kemudian kami langsung memesan makanan dan minuman. 

"Tumben, lo ngajak gue makan. Mana di cafe gini lagi. Biasanya kan di tempat biasa. Mie ayam." Aku membuka percakapan. 

"Nggak ada maksud apa-apa, sih. Ya, gue lagi pengen ngajak lo makan ajah."

"Terus kenapa harus di cafe gini?"

"Lo nggak suka?"

"Suka, sih. Tapi gue nggak bisa pesen Mie ayam."

"Mie ayam mulu, lo hidupnya. Kali-kali nyobain makanan ala-ala cafe gituh. Nora, deh." 

"Gue bukan nora. Tapi selera gue udah nyaman sama rasa mie ayam. Kalo makan-makanan yang rasanya asing di lidah gue, adaptasinya lama," celetuk ku. 

"Ya elah. Kaya apa aja, lo." 

Setelah berbincang-bincang kurang lebih 5 menit, akhirnya pesanan yang ditunggu datang juga. 

"Nih, makan itu yang seimbang. 4 sehat 5 sempurna. Bukan mie ayam yang kurang sempurna," ujar Devara sambil menunjukan menu makanannya. 

Cowok satu ini bukanlah tipe cowok yang suka makan sembarangan. Seleranya cukup tinggi. Lebih mementingkan kesehatan dari pada sekedar nafsu. 

Ada nasi, sayuran, lauk pauk yang mengandung protein, dan jus buah. Jadi, menu ku kali ini juga sama seperti punyanya. Karena Devara yang mengajakku makan. Aku harus menuruti keinginannya. 

"Gue tuh bukannya nggak suka sama makanan kaya gini. Cuman yah gitu nggak mencetar di lidah gue."

"Makanya, sering-sering makan kaya gini. Bikin badan jadi sehat. Kuat.. "

"Dan bertenaga." Aku memotong ucapannya. 

"Nah, tu tau."

"Ah, banyak omong deh. Cus, ah makan. Udah laper, nih," gerutuku. 

Aku dan Devara larut dalam makan malam kali ini. Menurutku, sebuah hal yang langka selama aku bersahabat dengan Devara. Baru kali ini, dan ini yang pertama kalinya Devara mengajakku makan malam dan di sebuah cafe yang menurutku jauh dari kata indah. 

Mungkin karena Sonia tidak ada, jadi akulah yang menjadi pelampiasannya. Soalnya, selama Sonia pergi. Sikap Devara over protect terhadap diriku. Mulai dari perhatiannya yang sering ia berikan. Setiap pulang sekolah harus bersamanya. Bahkan saat ini pun, Tiba-tiba Devara mengajakku makan malam. 

 

 

Makan Malam (part 2)

0 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 312

Kali ini aku masih berpikir positif terhadap dirinya. Aku masih sadar diri bahwa ia masih mencintai Sonia. Sedangkan aku hanya seorang sahabat baginya. Tidak lebih.

Tiba-tiba makanku terhenti. Aku teringat pasal surat yang diberikan Sonia sebelum dirinya pergi ke luar kota. Aku masih bingung dengan kata-kata nya. Dia menitipkan Devara kepadaku. Apa maksud dari itu? Seharusnya dengan jarak jauh pun, mereka masih saling berkabar bukan? Tapi mengapa Sonia menuliskan isi surat itu untuk ku.

"Hey, Sen," sahut Devara, dan membuyarkan lamunanku.

"Eh-eum."

"Kamu kenapa, sih. Kok bengong. Makanannya nggak enak, yah?"

"E-enak, kok. Nih gue makan lagi." Aku menyuap kembali makanan yang tertinggal sedikit lagi.

"Apa gue tanya ajah, yah sama Devara. Gue mau yakinin perasaan dia ke Sonia itu kaya gimana," umpat ku.

"Arseniaaa.."

"Eh, eum.. " Lagi-lagi aku melamun.

"Kalo makan itu yang bener, tuh ampe blepotan gituh. Mikirin apa sih dari tadi bengong mulu," ujar Devara.

Devara mengulurkan tangannya yang tengah membawa tissue. Mengarahkan ke mulutku untuk membersihkan sisa makanan yang menempel. Pelan-pelan aku menatap tajam kedua bola matanya. Ada jeritan tulus yang terpancar. Semakin dekat ke arahku, ia terlihat sangat tampan.

"Oh, Tuhan. Lo kalo dari deket ganteng banget, Dev. Sadar, Seen. Sadar.. Itu cowok orang."

Ah! Shit!

Aku tenggelam dalam imajinasi kotorku. Ini semua gara-gara Devara yang telah membuatku jatuh cinta tanpa membalas semua perlakuannya.

"Tuh, udah bersih."

"Ehm, m-makasih."

"Lain kali kalo makan itu yang focus, focus. Jangan mikirin apa-apa. Biasanya lo kalo makan lahap banget sampe abis duluan ketimbang gue."

"Kan gue udah bilang, gue kurang selera ama ni makanan. Jadi lidah gue itu kudu beradaptasi dulu. Makanya gue banyak ngelamun."

"Ah, bisa aja lo. Ada yang lo umpetin yah dari gue?" Tiba-tiba Devara menanyakan hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan. 

"Ah, enggak kok." Aku menahan dulu. Belum saatnya. Sehabis ini pasti aku akan tanyakan. 

"Lanjut makan ajah dulu. Kasian makanannya nggak boleh diobrolin," sambung ku. 

Makan Malam (part 3)

1 0

Sarapan Kata KNPI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 488

Setelah selesai makan, dan meja makan pun kembali bersih seperti sedia kala. Tiba-tiba Devara menarik ku ke luar ruangan tapi masih satu lingkup dengan cafe ini. 

Terlihat dari atas indahnya pemandangan kota pada malam hari. Angin menyapa kencang. Dinginnya suasana malam kali ini lebih dingin dari yang sebelumnya. Sebab perbuatan Devara yang membuatku bertambah dingin. 

Kami berdua duduk saling berhadapan. Tidak ada siapapun yang di tempat ini selain aku dan Devara. Ia mulai menatapku curiga. Pandangannya mendekat ke arahku. Tanganku menjadi lembap. Kedua alis ku di tekuk heran. 

"Sen, lo harus jawab pertanyaan gue dengan sejujur-jujurnya dan sesingkat-singkatnya," ucapnya lirih. 

Kedua matanya dibuat menjadi bulat. Ia menatapku tanpa berkedip sekalipun. Aku yang berada di posisi saat itu, tiba-tiba jantungku berdetak hebat. Agak sedikit sesak. 

"Stop, deh Devara. Jangan buat aku nggak bisa nafas. Harusnya aku yang mau introgasi kamu. Tapi kenapa kamu yang jadi kaya gini, sih," umpat ku. 

Hening. 

"Jawab, Sen. Jangan diem." 

"Ya gue harus jawab apa? Kan lo belum nanya."

"Aish! Oke gue ulang lagi pertanyaan yang tadi. Ada yang lo sembunyiin dari gue?"

"Nggak ada, kok. Suer." 

"Udah, lah, Sen. Lo jujur aja, sih sama gue. Susah amat. Ini nih, yang gue nggak suka dari lo. Kenapa sih, lo tu harus diem gitu. Nggak terbuka sama gue." 

"Bukannya gue nggak mau terbuka sama lo. Emang gue nggak ada apa-apa. Nggak ada hal yang gue umpetin dari lo. Toh,  kalo emang ada sesuatu pasti gue bilang, kan ke, elo. Suer." 

"Bener? Nggak ada apa-apa?" 

"Bener. Jadi gini, Dev. Nggak sepenuhnya kita bisa curhat dan cerita sama orang lain termasuk sahabat sendiri tentang permasalahan hidup. Pastinya kita punya privasi tersendiri yang mana cukup Tuhan dan kita yang tahu, dan itu nggak bisa diceritain ke semua orang. Termasuk seorang sahabatpun nggak perlu tahu." 

"Hm, mulai pinter, yah," ledek Devara mengangguk. 

"Yee. Emang gue pinter dari dulu kali," celetuk ku tak mau kalah. 

Setelah percakapan itu selesai, Devara mulai sibuk dengan ponsel nya. Kini saatnya aku menanyakan apa yang telah menjadi rencanakh dari awal. 

Aku menarik nafas dalam-dalam. Menetralisir ke kepoan yang nanti bakal aku tanyakan. 

"Tapi, Dev," kataku. 

Devara melihat ke arahku. 

"Ada sesuatu yang mau gue tanyain sama lo." 

"Sesuatu apa?" 

Devara menaruh ponselnya di atas meja. Ia mulai fokus ingin mendengarkan apa yang mah aku katakan kepada dirinya. 

"Lo sebernya sayang nggak, sih sama Sonia?" 

" Sayang, kok," jawab Devara cepat. 

"Cinta?" 

"Hmm, begitulah. Kalo gue nggak cinta sama dia mana bisa gue jadian sama dia sampe 3 tahun." 

Jawaban kedua ini terlihat sedikit ragu. Gerak-geriknya sangat tidak meyakinkan. 

"Lo kenapa tiba-tiba nanyain itu ke gue?"

"E-enggak, kok. Gue cuman pengen ngeyakinin aja kalo lo tu bener-bener sama Sonia. Gue nggak mau ada orang yang berani nyakitin sahabat Gue, dan gue percaya sama lo kalo lo bukan tipe cowok yang kaya gitu."

"Tenang ajah. Meskipun gue LDRan sma dia. Gue bakal tetep jaga hati dan jaga pandangan dari cewek-cewek lain." 

"Hm, okeh. Gue pegang ucapan, lo."

Visi Misi (part 1)

1 0

Sarapan Kata KNPI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 409

"Seperti detektif. Menulusuri setiap sudut yang mencurigakan. Memecahkan misi yang sudah menjadi tugasnya."

Sesuai dengan tugas yang telah kami emban masing-masing. Kami berlima mulai untuk menjalankan misi tugas kerja kelompok yang diberikan oleh guru 3 hari yang lalu. Meskipun mangkanya masih lama, tapi untuk karya kita yang nanti akan ditampilkan tidak cukup dengan waktu yang segitu singkatnya. Makanya kami harus memulainya dari sekarang. 

Di sebuah ruangan kelas yang terlibat sudah sepi ini, kami berada. Tak seorangpun selain kami di sini. Semua sudah pulang. Aku sengaja mengambil waktu pulang sekolah dan tempatnya di kelas. Karena agar tidak memberatkan kita yang nanti bulak-balik mencari tempat. Sebelumnya aku sudah meminta izin terlebih dahulu kepada Pak Mamat untuk tidak mengunci gerbang sekolah. Ada juga guru-gurupun yang beberapa masih di sini karena tugas yang belum selesai. 

Ada 3 buah laptop yang akan membersamai pencarian kami dalam tugas kelompok ini. Dina dan Ryan sudah sedari tadi mantengin laptop dan searching bagian-bagian lapisan bumi di internet. Dengan kertas dan pena yang masing-masing mereka bawa, keduanya mulai berdiskusi dan meneliti setiap celah bagian lapisan bumi. Kemudian mereka torehkan membentuk sketsa dan pola di atas kertas masing-masing. 

Begitu juga aku dan Anya mulai membuka pencarian terkait artikel-artikel tentang lapisan bumi yang nantinya akan kami presentasikan. Ada beberapa sumber yang kami dapatkan. Akan tetapi, dari setiap sumber tersebut akan kami ambil poin-poin yang pentingnya saja. Kemudian nanti akan dipadukan oleh potongan sumber lainnya. Sehingga menciptakan sebuah artikel yang kuat. 

Sedangkan Angel, ia sibuk dengan cat dan kuas yang ia miliki di sudut kelas ruangan ini. Ia terlihat sangat serius mengerjakan tugas nya. Sesekali ia mecoba untuk memadukan warna asli yang di dalam gambar menggunakan cat yang ia miliki. Tampaknya ia memiliki keahlian di bidang seni mewarnai. 

Ia terbilang orang yang suka penyendiri. Tidak suka keramaian, bahkan di saat kerja kelompok pun ia masih saja menyendiri. Meskipun aku dan yang lainnya sudah memiliki tugas masing-masing. Tetapi sesekali kami berdiskusi dan bercanda. Sedangkan Angel, tidak sama sekali. 

Sebagai ketua yang loyal, aku tidak tinggal diam melihat anggota ku yang seperti itu. Mungkin saja ia memerlukan bantuan. Kemudian aku menghampiri nya. 

"Ada yang perlu gue bantu?"

"Eh, Sen. Nggak ada, kok. Cuman ini. Apa warna harus sesuai sama warna yang ada digambar? Soalnya gue sedikit kesusahan buat nyari warna yang sama."

"Kalo menurut gue, sih nggak papa nggak sama. Asalkan jangan 100% warna itu hilang dari penyimbolan nya. Misalnya, daratan yang seharusnya warna hijau, malah jadi warna ungu. Kan itu nggak nyambung."

Visi Misi (part 2)

1 0

Sarapan Kata KNPI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 306

                             ***

"Owh, oke-oke." jawabnya. 

"Selain itu?"

"Kayanya nggak ada deh. Gue cuman kesulitan di bagian situ doang."

"Hmm, ya udah kalo gitu gue balik ke tempat, yah."

Angel tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan kembali kepada tugasnya dalam meneliti dan memadukan sebuah warna. 

1 jam berlalu, akhirnya pencarian kali ini selesai. Dina dan Ryan sudah menyelesaikan pembuatan sketsa. Aku dan Anya tinggal merapihkan kalimat-kalimat yang masih rancu. Sedangkan Angel sudah siap dengan warna nya. Setelah itu kami pulang . 

Di perjalanan, aku terasa sangat lapar. Karena aku lupa membawa bekal. Alhasil, aku mampir terlebih dahulu di warung mie ayam dekat sekolah. Seharusnya, sih lebih baik makan nasi ketimbang mie ayam. Tapi entah kenapa kalau di ajukan dalam dua pilihan antara nasi dengan mie ayam. Aku lebih memilih mie ayam. Yang penting sama-sama mengeyangkan.

Satu porsi mie ayam plus dengan cekernya. Kemudian dilumuri dengan saos sambal. Ah, mantap. Bagaimana bentuknya. Bagaimana rasanya. Yang penting makan mie ayam. 

Ditengah-tengah menyantap mie ayam buatan Bi Sum, tiba-tiba ponsel ku berbunyi seperti tanda notifikasi masuk. Ku alihkan pandangan ku ke ponsel itu, dan ku lihat satu pesan whatsapp dari Devara. 

"Lo dimana, Sen?"

"Gue lagi makan mie ayam, nih. Di samping sekolah."

"Hah?! Kenapa lo belum pulang, sih."

"Gue abis kerja kelompok tadi di sekolah."

"Cepetan balik!" 

"Eh, kok lo malah ngatur gue, sih. Bentar napa di gue lagi makan. Laper."

"Udah, gak usah. Biar sama gue aja nanti makannya. Cepetan balik. Tinggalin tu tempat segera!"

Memangnya ada apa, sih. Sampe Devara menyuruhku untuk segera pulang. Padahalkan sayang sekali jika mie ayam ini tidak dihabiskan. Ah, apa boleh buat. Palingan ini hanya candaan saja. Lebih baik aku melanjutkan makan. 

"Terserah, lo. Gue laper." Aku mengetik dengan kesal. 

Setelah itu ku taruh kembali ponselku di atas meja samping mangkuk mie ayam. Kemudian aku melanjutkan makan ku kembali. 

"Hm, boleh duduk di sini?"

Visi Misi (part 3)

1 0

 Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 390

                            ***

"Eh, b-boleh, kak." Aku mendongkak menatap ke arah depan. 

Sesosok yang tiba-tiba saja datang tanpa diundang, kini tepat dihadapanku bersama secangkir kopi yang telah dipesannya. Kak Dewa. 

"Kenapa jam segini belum pulang?" tanya Kak Dewa. 

"Tadi abis kerja kelompok, kak," jawabku sambil mengaduk-aduk mie. 

"Sendiri?"

"Sama yang lainnya, sih. Cuman mereka udah pada pulang. Gue kelaperan tadi. Makanya mampir dulu ke sini," jelasku.

"Abis ini gue anter pulang, yah," ucap Kak Dewa. 

"Nggak usah, kak. Gue bisa pulang sendiri."

"Naik?"

"Angkot."

"Jalan dari sini ke sana itu jauh. Harus jalan dulu."

"Yah, nggak papa. Gue kuat, kok."

"Kuat kalo ada apa-apa di jalan?" tanya Kak Dewa dengan nada sinis. 

Aku memberhentikan makanku yang tinggal sedikit lagi. Aku menatapnya heran dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan. 

Sejauh ini, setiap aku pulang naik angkot, tidak ada kejadian apa-apa yang menimpaku. Tapi mengapa Kak Dewa bisa menanyakan hal demikian. 

"Maksud kakak?" Aku mengangkat satu alis. 

"Maksud, gue. Lo cepetan abisin tu makannya. Nanti pulang bareng gue," ucap Kak Dewa mendekat ke arahku. 

Sepertinya ada yang disembunyikan dari Kak Dewa. Tidak mungkin di sepeduli ini terhadapku. Sampai dia memaksaku untuk pulang bersamanya, karena takut nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpaku. 

                            ***

"Semuanya berapa, Bi?" tanya Kak Dewa kepada Bibi mie ayam. 

"Semuanya 20 ribu," jawab Bibi. 

Kemudian ia merogoh sakunya dan mengambil selembar uang 50 ribuan. Aku yang masih sibuk dengan sruputan kuah terakhirku, sambil mendengarkan percakapan mereka berdua. 

"Ayo cepetan pulang." 

Kak Dewa menarik tanganku. 

"Bentar, kak. Ini dikit lagi."

Setelah habis kuah terakhir, kemudian aku meneguk es teh manis. Aku mengusap sisa-sisa percikan kuah yang masih menempel di mulutku menggunakan tissue. 

"Bayar?" tanyaku. 

"Udah sama gue tadi. Ayuk cepetan."

Kak Dewa menyeret ku pelan. Ia terlihat sangat tergesa-gesa. Ingin segera mengajakku pulang. 

"Kak, sakit," lirih ku. 

Sontak Kak Dewa melepaskan genggamannya. 

"Maaf," ucap Kak Dewa. 

"Kenapa, sih maksa banget. Dibilang gue bisa pulang sendiri," bantah ku. 

"Besok lo bisa pulang sendiri. Tapi untuk sekarang, lo harus gue anter," jelasnya sambil menunjuk ke arahku. 

"Nggak. Gue nggak mau. Gue bisa pulang sendiri. Titik," kataku sambil berjalan meninggalkan dirinya. 

Namun, ia malah mengikutiku. 

"Tapi lo nggak bisa pulang sendirian kek gini. Gue nggak mau lo kenapa-napa. Denger gue, plis." 

Aku memberhentikan langkahku. Aku membalikkan badan dan menatap kearahnya penasaran. 

"Emangnya ada apa,?" tanyaku. 

Raut wajahnya terlihat sangat khawatir dan ada sedikit ketakutan. 

"WOY! " 

 

 

Alvaro Sadewa

1 0

Sarapan Kata KMOI Club Batch 35

Kelompok 4

Jumlah Kata 300

"Kehadiran cinta berawal dari ketidaksengajaan."

Aku yang masih berdiri tegap menatap emosi sangat pemilik mata bulat itu, sontak membalikkan badan ketika mendengar teriakan dari arah belakang. 

Segorombolan orang yang mengenakan seragam SMA dan di balut jaket berwarna abu hitam berjalan menuju ke sini. 

Jumlah nya cukup banyak. Lebih dari 10 orang yang ada sambil membawa kayu dan dengan tatapan garang. 

"Mampus!" 

Aku mendengar bisikin Kak Dewa tepat di telingaku. 

"Siapa itu, Kak?" tanyaku polos dengan wajah ketakutan. 

"Lo kebelakang gue, dan lo nggak usah takut, yah," pintanya. Kemudian aku mengumpat dibalik tubuhnya yang besar. Sesekali aku mengintip segerombolan orang itu yang masih berjalan ke arah kami berdua. 

Bukannya pergi meninggalkan tempat ini, Kak Dewa malah menelfon seseorang, dan menyuruhnya untuk datang ke tempat ini dengan yang lainnya. 

"Maksud nya apa ini. Sumpah gue nggak tahu. Apa jangan-jangan mereka mau tawuran?" umpat ku.

"Lo yang tenang, yah. Lo harus denger instruksi gue." Kata Kak Dewa. 

Aku mengangguk menatapnya dan kembali bersembunyi. 

"Woy! Mana yang lainnya? Ah, cemen, loh!" 

Suara itu terdengar dekat. Apa jangan-jangan orang-orang itu ada tepat dihadapan Kak Dewa. 

Dari pada penasaran, langsung ku intip dari balik seragam putihnya. Ternyata benar. Segerombolan orang yang memakai jaket abu hitam dan kayu yang dibawanya ada tepat dihadapan Kak Dewa. 

Salah satu dari mereka maju ke hadapan Kak Dewa dengan tampang sangarnya. Sepertinya ia adalah ketua dari geng itu. 

"Mana yang lainnya? Gue udah nggak sabar pengen habisin semua anak buah lo," teriak orang itu sambil menyodorkan kayu yang dibawanya. 

Anak buah? Kak Dewa punya anak buah? Apa mereka saling bermusuhan? Aku masih mengintip dibalik seragamnya untuk memastikan kebenaran. Juga aku takut jika terjadi perlawanan individual terhadap Kak Dewa. 

"Mau apa lo ke sini?" tanya Kak Dewa tegas. 

"Mah gue apa?! Hah?!" Orang itu tertawa terbahak-bahak seperti meledek pertanyaan dari Kak Dewa. 

 

Mungkin saja kamu suka

Kaila Syafira P...
Long Distance Religion
Dhini Afiana
Haunted
Vega Galanteri
Ostinato Asmaradahana
SRI SULARSIH
Bukan Cinta Semusim
Yanah Yunita
Cinta Untuk Nindy

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil