Loading
37

1

14

Genre : Romance
Penulis : Endah Na
Bab : 31
Pembaca : 13
Nama : Endah Nurbaiti Azizah
Buku : 1

ANTARA KITA

Sinopsis

Cinta, adakalanya tumbuh dari suatu kebiasaan, selalu bersama, walaupun kita sama sekali tidak menginginkan cinta itu hadir. Cowok 1001 cewek kini pun mulai sadar tentang siapa yang harus menjadi tambatan hatinya. Alysa tak kuasa menahan pilu saat melihat keadaan Reno. Apa yang sebenarnya terjadi?
Tags :
#novel #remaja #romantis

1. Kisahku dan Dia

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 40

Kelompok 25

Jumlah Kata 502

Day 1

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Sebuah hal akan selalu tertuju kepada kita, jika itu memang adalah takdir kita. Siapa yang tak menyangka, aku bertemu dengan seorang pria berkumis tipis dengan warna kulit bak seperti seorang turis mancanegara. Putih, seputih susu. Aku bertemu dengan dia disaat pertama kali diriku menginjak bangku sekolah menengah atas. Pada situasi dimana seseorang remaja takut tambah dewasa. Aku menghampiri dia yang sedang duduk termenung di tempat duduk koridor sekolah. Aku menghampirinya, bukan karna aku terpukau dan penasaran dengan dirinya, aku hanya kasihan dengannya yang seorang diri. Dikala teman yang lain sibuk untuk mencari teman baru.

      Aku lantas bertanya, "Kamu sedang apa disini?"

"Menunggu kamu." Dengan nada bicara yang datar, pria yang belum aku kenali itu menjawab. Dan mengapa dia menungguku?

"Aku? Untuk apa menunggu diriku?" Tanyaku dengan heran.

"Kamu adalah utusan Tuhan yang dikirim untuk menjadi temanku," Jawabnya dengan rasa percaya dirinya, dan senyum tipisnya. Membuat kumisnya yang manis sedikit naik keatas.

"Ganteng sih, tapi nggak jelas. Bye aku mau ke kelas!" Jawabku seraya melangkahkan kaki untuk menjauh menghindar dari dia.

   Aku berkata dengan diriku didalam hati, kurasa anak tadi aneh, nggak normal, sok misterius lagi. Aku akan pergi dari sini sebelum dia benar-benar akan berharap menjadi temanku.

     Setelah aku meninggalkan bule aneh itu, aku lantas bergegas untuk mencari dimana letak kelasku berada. Sesampainya dikelas, aku mencari satu bangku kosong untukku tempati. Dan ternyata aku datang terlambat dan mendapat bangku paling belakang dan hanya tersisa dua bangku saja.

"Gara-gara cowok nggak jelas itu, gue jadi duduk paling belakang. Jauh dari papan tulis lagi, matakukan minus!" Gerutuku ketika sudah duduk di bangku yang tersisa.

"Hai, kenalin aku Luna." Seseorang wanita cantik dengan rambut bergelombang-nya yang rapih duduk di sebelahku dan menyapaku lalu mengajakku berkenalan.

"Alysa," Jawabku singkat dan aku tambahkan dengan senyuman tipis agar tidak dicap sebagai manusia sombong.

"Kamu baru datang? Kamu boleh kok duduk disebelah ku," Tawar ku kepadanya.

"Iya, terima kasih. Tapi aku sudah duduk didepan. Aku menghampirimu karna kulihat kamu sedari tadi sendirian, dan sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik-baik saja."

"Iya. Benar, aku sedang kesal!." Jawabku.

"Memangnya, ada apa?" Tanyanya penasaran.

   Apakah aku harus bercerita dengan seseorang yang baru saja aku kenali? Ya walaupun ceritaku tidak terlalu berat. Namun aku sangat tidak nyaman untuk bercerita kecuali dengan yang sudah kukenal sejak lama.

"Gara-gara cowok aneh didepan, aku jadi dapet duduk paling belakang." Aku meringkasnya agar tidak terlalu bertele-tele.

"Oh karna itu, cowok siapa lis? Aku yakin kamu pasti belum mengenalnya. Dan semoga bukan yang akan duduk disebelah mu ya...."

   Setelah Luna kembali ke tempat duduknya, aku tersadar sebentar lagi bel berbunyi pertanda kelas akan dimulai. Dan aku belum tahu siapa yang akan menjadi teman sebangku ku. Aku teringat cowok aneh tadi, dia yang sedari tadi duduk di koridor. Apakah dia kebingungan mencari kelasnya berada? Apakah memang dia yang duduk disebelah ku? Aaaah jangan sampai terjadi!

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Pak Guru pun datang. Beliau ternyata tidak sendiri, dibelakang menyusul seorang cowok yang wajahnya tertunduk lesu kebawah. Aku seperti tak asing dengan postur tubuh dan warna kulitnya. Tentu saja, tidak salah lagi. Ternyata bule aneh itu yang dibelakang Pak Guru. Aaaaahh kenapa semesta? Kenapa dia?

.............





Kisahku dan Dia Part 2

2 0

Sarapan Kata KMO Klub Batch 40

Kelompok 25

Jumlah kata 535

Day 2

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

   "Kamu duduk di bangku yang tersisa, besok-besok baca peta sekolah didepan ya, agar kamu tidak kebingungan," Ucap Pak Guru kepada cowok yang usut punya usut ternyata baru saja tiba di Jakarta.

Mau tidak mau aku harus mempersilakannya untuk duduk di sampingku. Sepanjang pelajaran dimulai, aku mengunci mulutku agar tidak berbicara sepatah katapun. Sampai akhirnya dia yang memulai untuk berkenalan.

"Reno," Dia mengulurkan tangannya kepadaku.

"Alysa," Jawabku singkat.

     Entah seperti apa rasaku saat ini. Saat aku menerima jabatan tangan Reno, seketika hatiku berdegup. Ada apa denganku? Semudah itukah aku jatuh cinta? Ahhh tidak mungkin! Aku menepis pikiran itu. Tidak boleh ada rasa cinta diantara kita, aku sudah cukup sebal dibuatnya. Aku tidak mau masa SMA-ku diisi dengan kisah cinta yang semu, aku hanya ingin tetap berfokus untuk masa depanku.

   Wajahnya memang tampan, namun tak sebanding dengan perilakunya. Sedari tadi ia sama sekali tidak bisa diam, entah apa yang dia lakukan, mengalihfungsikan tangannya sebagai kipas, tiba-tiba saja tersenyum menghadap ku, benar-benar sangat menggangguku, aku bukan tipe manusia penyabar, aku lakukan saja cubitan mautku, aku sudah benar-benar geram dengannya.

"Ah! Sakit tau!" Sungutnya.

"Makanya jadi orang itu jangan bikin orang lain kesal. Kamu bisa diam tidak?" Sahutku.

     Jika aku boleh memutar kembali waktu, mungkin sekolah ini tidak aku tetapkan untuk menjadi pilihanku, bertemu manusia aneh. Tapi, apa boleh buat aku harus tetap menjalani takdirku dengan segala hal yang ada didalamnya. Waktu memang cepat sekali berlalu, sudah saatnya untuk pulang dari sekolah. Jarak sekolah dari rumahku memang cukup jauh, karna itu aku harus menaiki kendaraan umum. Naik metromini adalah jalan ninja ku. Terkadang aku juga diantar oleh ayahku.

   Aku lahir dan dibesarkan di keluarga yang sederhana. Ibuku seorang Guru di sekolah swasta, Ayahku hanyalah seorang penjual bunga hias di toko milik sendiri. Yang dibuka di dekat rumahku, yang sudah berdiri kurang lebih lima tahun lamanya. Dan aku memiliki seorang kakak perempuan yang sekarang sudah di penghujung semester akhir menuju kelulusan. Sangat sibuk sekali mengurus skripsinya.

Ku tunggu kendaraan umum berasap itu, tidak juga datang sedari tadi. Saat aku sedang duduk di halte bus, tiba-tiba saja ada seseorang yang jail menutup mata ku dari belakang. Kalian pasti menduga itu adalah Reno. Bukan, bukan dia pelakunya. Dia sudah hilang seperti ditelan bumi sedari pulang sekolah tadi.

   Dia Luna, Luna Alicia. Teman pertamaku di SMA. Aku tak menyangka akan mendapat teman sebaik dia, tidak seperti Reno yang menyebalkan. Dan dia ternyata saat ini sedang menunggu seseorang. Kutanya siapa seseorang itu? Dan ternyata adalah pacarnya. Yang berbeda sekolah dengannya.

"Reno ganteng banget ya Lis," Ucapnya, sembari matanya tajam menatap ke depan kearah jalanan.

"Tapi aneh," Jawabku.

"Aneh gimana? Pinter banget gitu anaknya," Tanyanya.

"Lu udah tau nggak Lis? Ternyata dia itu baru aja pulang dari Amsterdam Lis, Belanda." Lanjutnya, dengan nada bicara yang super semangat.

"Terus? Emangnya kenapa?" Tanya ku cuek. Mau dia dari Belanda, Perancis, Pluto, Merkurius, Venus, Mars, terserah.

"Dia itu memang tinggal disana sama Ayahnya, terus mungkin dia bosan. Lalu pindah ke Indonesia deh. Ibunya keturunan Sunda Lis." Ujarnya penuh semangat.

"Lu tau banget deh kayaknya. Stalker lu ya?" Tanya ku heran.

"Tadi nguping kakak kelas waktu dikantin. Hahaha," Jawabnya.

"Dan, lu juga perlu tau Lis, ternyata dia itu banyak diincar Lis," Lanjutnya. Semesta, Luna baik, tapi dia ratu gosip. Alysa, yuk kamu harus bisa beradaptasi dilingkungan baru.

"Diincar?"

...........


2. Dia

2 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

Kelompok 25

Jumlah Kata 321

Day 3

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Jakarta saat ini terasa sangat panas, terlebih disiang hari. Aku harus banyak-banyak minum air agar tidak dehidrasi. Aku tidak boleh lemas, karna aku akan meneruskan kisah ini. Tepatnya kisah ku, dan dia.

   "Alys, ini aku belikan somay." Ucapnya, sambil menyodorkan makanan khas Bandung itu.

"Aku kan, nggak minta." Jawabku cuek.

"Jika diberikan sesuatu oleh orang lain, terima."

"Tapi aku masih kenyang." aku tetap saja menolaknya.

"Makanlah sedikit." namun, dia tetap saja bersikeras untuk ku terima makanan itu.

    Dia, selain aneh. Dia juga batu, ngeyel banget. Akhirnya aku menerima somay itu. Aku memakannya dengan agak cemberut. Dan dia? Dia justru tertawa. Dan aku sempat terheran kepadanya, dia tidak memberikanku air putih ataupun es teh bahkan jus sekalipun. Apa yang dia berikan untuk ku minum? Ya. Dia memberiku sule, susu kedelai. Disiang bolong begini, susu kedelai hangat sangatlah tidak menyegarkan. Entah apa yang ada dipikiran dia.

Aku akan memberi tahu sedikit kisah tentangnya. Siapa? Luna lagi? Nggak, bukan Luna. Ini si Dia, Reno.

Aku tak tahu harus bercerita sedari mana, dan yang ku tahu, dia hanyalah manusia biasa yang kebetulan memiliki darah campuran negara bagian barat, yang membuatnya spesial dikalangan remaja wanita usianya.

   Dia, Reno Zane Ardian. Aku sudah cukup baik mengenalnya. Dari awal bertemu sampai sekarang, kelas sebelas. Dan aku sama sekali tak menyangka, bagaimana bisa aku berteman dekat dengannya? Awal bertemu padahal aku sangat tidak suka kepadanya.

Aku tak mau bercerita lebih tentangnya saat ini. Aku takut, kalian tidak akan melanjutkan kisah ku dan dia di hari esok. Aku tak tahu akan membuat kalian bahagia, sedih, tertawa, atau bahkan biasa saja sekalipun.

"Kamu pulang sekolah mau kemana?" Tanyaku kepadanya.

"Jalan." Jawabnya ringan.

"Sama siapa?"

"Nggak tau, lupa. Itu lho, anak kelas sebelah."

"Sangking banyaknya jadi lupa ya Ren?"

"Hehe, ya mau gimana lagi. Nasib orang ganteng. Kasian Lis, kalo ajakannya ditolak, seolah aku anaknya nggak tahu diuntung."

"Kalo kamu nggak suka ya tolak aja kali, jangan maksain." ucapku.

"Udah pernah ada beberapa gue tolak kok, tapi dia malah nangis-nangis ditelpon, kasian kan?"

"Reno, Reno, lu tuh anaknya gimana sih. Bingung gue."

..........

Dia Part 2

2 0

Sarapan Kata KMO CLUB BACTH 40

Kelompok 25

Jumlah Kata 407

Day 4

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

      Dia hanyalah manusia biasa, suka makan nasi, dan minum air putih. Hidup berkecukupan dengan segala ketenangan didalamnya. Malam ini udara dingin menyeruak masuk kedalam kamarku melalui aliran udara yang berada diatas jendela. Dingin sekali. Seketika saja terdapat sekelebat kilat yang lewat membuatku terkaget. Mungkin hujan malam ini akan turun, mendung pun juga tak lupa untuk ikut serta.

Aku saat ini sedang berbaring diatas kasurku yang empuk, ditemani dengan beberapa boneka ku yang kudapat dari orang-orang yang dekat denganku dan yang kusayangi. Salah satunya kudapat dari Reno, satu tahun lalu, saat aku sedang berulang tahun.

    Saat itu, tiba-tiba saja boneka yang berbentuk octopus ukuran besar itu ada didepan pintu teras rumahku. Terdapat sepucuk surat disampingnya. Aku tidak pernah menyangka jika benda tersebut berasal dari Reno. Karna cowok itu sama sekali tak pernah bersikap manis ke cewek sebelumnya, mungkin karna aku sahabatnya, jadi dia tak enak hati jika tak memberikan sesuatu dihari spesial ku. Mungkin.

Ku baca kartu ucapan berukuran kecil itu. Berwarna merah muda dengan tinta berwana hitam dengan gambar balon dan kue ulang tahun yang sama sekali tidak memiliki unsur seni, gambaran Reno sangat berantakan. Tapi aku suka, dia telah berusaha.

"Gefeliciteerd vriend ! Wish u all the best!

Kamu mau minta apa dihari spesialmu ini?

Bilang saja, tapi bukan sama aku ya... Sama Tuhan bilangnya, agar segera tersemogakan.

Bersama surat ini aku bawa satu buah benda, mungkin harganya tak seberapa.

Tapi aku harap kamu bisa pakai benda ini ketika kamu marah dan bahagia.

Ada dua karakter wajah di boneka itu, pakai wajah octopus yang sedang marah jika kamu marah, pukul saja sekuat tenaga mu, bayangkan itu adalah wajahku. Wkwkwk.

Dan ubahlah karakter tersenyum ketika kamu bahagia, ajaklah aku bahagia ketika kamu bahagia, walau aku tak ada disampingmu."

                                                                                                                                                                                                   Reno, Anak Pak Jose.

     Mungkin begitulah kiranya, terlalu panjang memang, tapi memang itulah adanya. Reno kurang pandai mengolah kata-kata yah, hummm.

Ternyata benar, malam ini hujan turun, cukup begitu derasnya. Dingin sekali. Aku kenakan switer hitam yang tergantung dibelakang pintu. Bukan punyaku, bukan juga punya ayahku. Iya, ini punya anak Pak Jose. Tertinggal, saat kemarin ia berkunjung kerumahku.

     Hubunganku dengan dia semakin lama semakin akrab, aku tak tahu dia pakai pelet apa agar aku mau berteman dengannya. Aku nyaman berada didekatnya, walaupun aku juga tidak terlalu sering berada didekatnya. Dia anaknya super sibuk. Disekolah dia bukan ketua osis sebenarnya, bukan juga atlet basket, apalagi penjaga kantin. Murid biasa saja sebenarnya. Murid biasa yang terkenal.

..........

3. Manusia Spesial ku

2 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

Kelompok 25

Jumlah Kata 304

Day 5

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     "Hei, ayo dimakan." Ucap Reno yang ada didepanku. Kita berdua sedang makan siang dikantin.

Memang sampai sekarang aku dan Reno selalu bersama. Aku dan Luna memang berteman dekat, namun tak sedekat aku dan Reno. Dikelas sebelas ini pun aku dan Reno masih tetap duduk bersebelahan. Sejauh ini masih awet. Tidak tahu kalo beberapa bulan bahkan beberapa tahun kedepan.

"Reno, pulang sekolah jalan ya. Nanti aku traktir deh." ucap seseorang yang tiba-tiba saja datang menghampiri kita berdua.

"Tapi..." Reno menanggapinya dengan ragu dan gugup.

"Nggak boleh nolak ajakan kakak kelas ya," Dia Arkya, kakak kelas kami. Namanya cukup terkenal, bahkan sampai sekolah-sekolah lain. Aku cukup suka denganya. Sikapnya tidak sombong, tetapi dia terkadang menjengkelkan. Mukanya judes banget. Aku takut.

Menjadi Reno mungkin sangat menguntungkan, atau bahkan merugikan? Ah sudahlah. Bagaikan barang yang langka dan limited edition yang tak banyak didunia ini, banyak sekali wanita-wanita sebaya yang menginginkan seorang Reno untuk menjadi pasangannya. Termasuk kak Arkya.

"Sebentar aja ya kak, aku mau kerja kelompok nih." Jawab Reno dengan gugup. Kerja kelompok hanyalah sebuah alasan saja sebenarnya. Yang sebenarnya terjadi adalah sepulang sekolah kegiatan Reno adalah berbaring dikamar dan selalu saja bermain play station miliknya, atau hanya sekadar membaca buku.

Aku hanya terdiam saja sedari tadi. Melihat kak Arkya yang tetap saja merayu Reno agar mau diajak jalan dengannya.

     "Hey. Pergi yuk. Kamu nggak mau kan jadi nyamuk?" Ucap seseorang dari belakang yang membuat ku terkaget.

"Eh kamu. Sini aja gabung." Jawabku.

"Nggak ah. Aku mau berdua sama kamu aja."

"Hummm.... Ya sudah mau kemana?" Tanyaku kepadanya.

"Kemana aja."

"Aneh kamu."

"Ren, pergi dulu ya." Lanjutku.

"Mau kemana? Ah bucin lu." jawab Reno sedikit kesal.

"Biarin. Yuk lah cus." Jawabku sambil meledek Reno yang sedari tadi bingung mencari alasan apalagi untuk menolak ajakan kak Arkya.

     Seperti senja di sore hari, dia, sangat membuatku nyaman untuk berlama-lama memandanginya. Dia, bukan Reno. Dia adalah manusia spesial ku yang kutemukan ditoko bunga milik ayahku.

.................


Manusia Spesial ku Part 2

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 313

Day 6

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

       Aku sangat nyaman dengannya, disampingnya, terasa segalanya begitu indah. Dia kakak kelasku, namanya James.

Dia sama seperti Reno, yang banyak dikagumi oleh wanita seusianya, namun kak James berbeda, dia banyak diburu karna dia sangat pandai dan sungguh baik hati sekali, terutama dia adalah ketua osis di SMA Melati, sekolahku.

     Aku teringat saat pertama kali aku melihat dia seperti manusia normal pada biasanya. Kala itu aku sedang menjaga toko bunga milik Ayahku, ayahku sedang ada urusan, jadi aku yang menggantikannya.

"Permisi." Ucapnya ramah.

"Iya. Ada yang bisa saya bantu?"

"Alysa ya?" seseorang itu bertanya.

"Iya kak, saya Alysa. Kakak ada keperluan apa datang kesini?" jawabku tak kalah ramah, tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini, bertemu dengan manusia yang super famous seantero sekolahan. Reno mah kalah.

"Mau menemui mu,"

"Aduh Kak James, sejak kapan jago gombal?"

Dia adalah seorang yang sangat pendiam, minim ngomong, kaku banget kaya kanebo kering. Kalo kata anak jaman sekarang sih namanya cool boy.

"Bunga disini lengkap Lis?" Tanyanya.

"Kalo standar toko bunga biasa saja sih bisa dibilang lengkap kak, bunga mawar, bunga melati dan teman-temannya ada. Tapi, kalo standar internasional ngga tau deh." Jawab ku dengan sedikit candaan agar tidak terlalu kaku.

Oh iya aku lupa memberi tahu. Dia adalah pencinta bunga, bunga apa saja. Dia adalah seorang kolektor bunga. Dia rela membuang-buang uangnya hanya untuk sekadar membeli bunga yang ia inginkan.

"Kalo bunga lili ada nggak Lis?" tanyanya lagi kepadaku.

"Aduh kak, itu bukan bunga lokal ya, kak?"

" Memang bukan Lis, tapi di Indonesia ada." jawabnya dengan tenang.

"Tapi di toko bungaku nggak ada kak, maaf ya."

"Iya. Nggak apa-apa kok Lis, santai aja. Terkadang ngga harus menjadi lengkap untuk melengkapi."

"Duh kakak apaan sih,"

"Minggu depan aku kesini lagi, mau beli bungan lili." Kata kak James lagi.

"Tapi aku nggak jamin bakalan ada lho kak."

"Iya. Tenang saja." lastas ia pergi meninggalkan toko dengan aroma parfum yang masih tertinggal dengan aroma wangi yang khas, membuatku rasanya ingin pingsan seketika ditempat.

   Sejak saat itu, aku tersadar dan aku yakin bahwa semua manusia pasti memiliki dua sisi yang berbeda. kak James, yang disekolah terkenal sebagai kutu buku dan anti ngomong kalo nggak penting, ternyata dia seorang manusia yang asik untuk diajak bebicara.

.........


4. Masih Belajar

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 354

Day 7

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Setelah pertemuanku dengan kak James ditoko bunga milik Ayahku, melihat sikapnya yang sangat manis, sopan, dan sangat lembut kepada wanita, aku mulai tertarik dengannya. Terlalu cepat memang, namun ini benar-benar rasa yang ada didalam hatiku.

Namun, aku tidak akan memberi tahunya, karna memang aku masih harus benar-benar berfokus menuntut ilmu untuk dapat meraih cita-cita ku, dan dapat membahagiakan orang tuaku. Mungkin kalian bertanya-tanya, tapi... Kalian kan sekarang sudah resmi berpacaran?

Iya, itu memang benar. Belum lama kami resmi berpacaran. Aku memberi beberapa syarat kepada Kak James untuk ia penuhi setelah kita jadian, salah satunya adalah, kisah cinta kita tidak boleh mengganggu pendidikan kita. Dan ia menyetujuinya.

     Beberapa hari setelah pertemuan kita ditoko, satu mobil pic up yang dipenuhi oleh bunga lili datang ke toko ayahku. Aku terheran dan ayahku pun begitu. Ayahku berkata, ia sama sekali tak pernah memesan bunga berwarna putih itu. Aku pikir, mungkin supirnya nyasar atau salah alamat. Waktu ku tanya kepada supirnya, ternyata alamatnya benar, toko bunga pak Arman, ayahku.

Supir mobil itu datang menghampiri diriku yang sedang memandangi betapa banyak dan indahnya bunga lili yang sedang diturunkan satu persatu dari atas mobil. Dia memberiku selembar kertas yang sedikit basah dan tintanya sedikit memudar. Kucoba memahami kata demi kata yang tertulis.

Teruntuk toko bunga pak Arman.

Hari ini, toko bunga ini, bertambah satu jenis bunga. Yaitu bunga yang berada didepan kalian. Bunga lili namanya, berarti kecantikan. Seperti si penjaga toko dua hari lalu. Tolong rawat bunga ini seperti kalian merawat bunga-bunga yang berada di toko ini.

                                                                                                                                                                                                           Tertanda, J ~

    "J? Kak james?" Tanyaku dalam dalam hati.

Sempat aku tak mengira itu benar-benar dari kak James, namun siapa lagi yang kutemui dua hari yang lalu selain dia?

Tapi, aku juga benar-benar masih ingat perkataan dia kala itu, memintaku menyediakan bunga lili dalam waktu satu minggu untuk memenuhi kemauannya. Namun, mengapa dia merepotkan dirinya sendiri untuk membantuku memenuhi keinginannya sendiri? Mengapa harus mengirimkan bunga lili itu ke tokoku? Bukan kerumahnya langsung? Bolehkah aku menyebutnya manusia aneh setelah Reno? Tapi, dia tidak cocok kusebut begitu.

Aahhhh! Semesta... Tolong jangan membuatku pusing!

...........




Masih Belajar Part 2

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 454

Day 8

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Setelah aku terdiam dengan satu pic up penuh bunga lili dan surat yang ternyata dari kak James, keesokannya ketika aku disekolah, aku tak mau sampai lupa untuk menemuinya. Ucapan terima kasih dan ingin mendengar penjelasan dari dia adalah tujuanku.

Suana sekolahku saat ini tidak terlalu kondusif, ada beberapa kegiatan yang diadakan di sekolahku, terutama pertandingan bola basket. Kulihat, ternyata kak James turut ikut serta untuk bermain bola basket tersebut. Semua murid yang menonton berteriak memanggil nama kak James, menggunakan atribut yang semuanya tentang kak James, kulihat terlalu berlebihan memang, namun aku hanya berfikir itu hanyalah suatu pertanda penyemangat saja.

Reno kemana? Anak itu? anak itu apa mau ikut pertandingan yang membuat dirinya lelah, lari saja dia sudah ngeluh minta air satu galon. Dia sekarang sedang dikantin. Minum es teh bersama teman perempuannya.

      Ku tunggu dia dipinggir lapangan, tepatnya ditempat duduk penonton. Itung-itung sambil nonton kak James kan. Hehehe. Dia memang jago sekali dalam permainan ini. Berkali-kali ia memasukkan bola kedalam keranjang lawan.

Kulihat, ternyata bukan kak James saja yang keren, banyak cowok-cowok lain juga. Tapi, mengapa wanita-wanita berisik di sekitarku terus-menerus teriak menyebut nama kak James.

Oh iya aku lupa, kalo memberi semangatkan memang harus berteriak. Maafkan aku ya, aku memang anaknya nggak suka berisik. Hehehe.

   Pertandingan pun selesai dan hasilnya adalah tim kak James yang menjadi pemenangnya. Dia masih tetap didalam lapangan, ku panggil dengan melambaikan tangan dan memanggil namanya. Dia mendengarnya, lalu datang menghampiriku dan duduk di sebelahku.

"Ada apa Lis?" Sembari dia mengatur napasnya yang terengah-engah dan mengusap keringatnya dengan handuk mungil dia menjawab.

"Kakak hebat." Aku menunda pertanyaan yang akan kuberikan tadi. Aku memberi pujian untuk Kak James dengan gugup.

"Terima kasih. Tapi aku yakin kamu pasti ada maksud lain."

"Emmm... Kakak kenapa kirim banyak bunga lili ke tokoku?." Tanya ku langsung. Aku sudah gugup dibuatnya. Terutama ada beberapa cewek yang sedang menyinggungku.

Ada beberapa yang berkata bahwa aku centil, karna berani mendekati kakak kelas, ada juga aku mendengar ada yang bercelatuk, kok dia bisa sih ngobrol dengan James. Ku pikir, mereka pasti iri melihatku sekarang ada disampingnya. Namun, aku memang sekarang datang menemui Kak James hanya karna ada sebuah urusan. Itu saja sebenarnya.

"Buat persediaan Lis. Kalau saja ada yang sedang mencarinya." Jawabnya sembari menebarkan pandanganya ke depan.

"Itu saja?" Tanya ku heran.

"Sejak toko ayahku berdiri, cuma kakak yang datang ke toko untuk mencari bunga itu. Yang lain mungkin hanya sekadar mencari bunga anggrek, itu yang paling mahal. Bahkan ada yang hanya mencari bunga untuk pergi ke pemakaman." Lanjutku.

"Ya sudah kalau tidak ada yang mencarinya, kamu rawat saja bunga itu." Jawabnya simpel.

Apakah dia tidak berpikir seberapa banyak bunga yang ia berikan? Semesta...

 Dia sangat merepotkan.

............



5. Motor Tua

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA : 489

DAY 9

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Hari ini aku sangat beruntung, beruntung sekali. Di pagi hari yang cerah ini aku tidak bangun kesiangan seperti hari-hari lalu. Namun ternyata aku masih kalah cepat dengan kakakku, dia bangun sepuluh menit sebelumku.

Pagi ini kita dapat kesempatan untuk sarapan bersama dimeja makan. Sebelum-sebelumnya aku selalu saja absen, karna aku selalu saja tergesa-gesa karna bangun kesiangan dan tak sempat sarapan bersema.

Setelah usai sarapan pagi, aku segera menuju pintu depan rumah karna akan berangkat sekolah. Saat kubuka pintu, aku terkejut. Ternyata anak itu sudah singgah di halaman rumahku. Kuingat tadi malam aku tidak menyuruhnya untuk datang menjemputku. Namun kenapa dia sudah berada depan dirumahku? Sudah berapa lama dia disini?

Ku hampiri dia, yang terlihat tampak menggigil kedinginan. Aku takut dia sudah sejak subuh datang kemari. Yang anehnya, dia sama sekali tidak memanggilku ataupun memberi suatu pesan sekalipun.

"Sedang apa kamu disini?" Tanyaku heran, menatapnya lekat dengan perasaan khawatir.

"Menjemput mu," Jawabnya sedikit gemetaran.

"Aku kan nggak minta kamu untuk jemputku," jelasku.

"Inisiatif aja kali. Emang nggak boleh ya?" Ungkapnya dengan senyumannya yang lebar.

     Semesta, benar kan manusia itu aneh, tidak salah lagi. Mungkin hanya dia manusia yang rela menunggu seseorang dibalik pintu untuk sengaja berangkat ke sekolah bersama dan tanpa sebuah kabar terlebih dahulu.

"Mau sampai jam berapa nih ke sekolahannya?" Tanyaku lagi kepadanya.

"Alys, kamu menyepelekan si udin ya?"  Sanggah Reno, seolah motornya tak boleh aku ejek.

     Dia adalah teman Reno, teman kemana pun dia pergi melangkah. Sebuah kendaraan vespa tua yang dia dapat dari ayahnya sebelum ia menginjak bangku SMA. Dia memang terdapat darah campuran bule, namun dalam segala hal dia tetap menyukai kearifan lokal. Nama udin yang diberikan untuk motornya adalah salah satunya.

"Tiga puluh menit bisa lah ya?" Tantangku kepadanya.

"Lima belas menit pun bisa!" Jawabnya penuh semangat.

   Dengan semangat yang penuh berapi-api ia mencoba menghidupkan motornya. Sudah beberapa menit aku menunggu. Dan ternyata belum juga menyala. Mungkin si udin lagi ngambek pagi ini, sudah mengungguku terlalu lama. Atau mungkin, Reno lupa mengisi bahan bakar?

Aku tertawa dibuatnya, justru bukan takut karna akan terlambat ke sekolah, ah sudahlah. Ini masih sangat pagi sekali. Reno, yang beberapa menit lalu terlihat kedinginan, sekarang keluar keringat dibagian keningnya. Ku biarkan saja, itung-itung olahraga pagi.

Setelah sekian lama berjuang, akhirnya si udin pun mau menyala. Aku lalu menyuruhnya untuk ngebut. Namun taulah bagaimana karakter si udin, si motor tua itu. Ia tak bisa melakukannya. Miris.

"Sabar ya Alys, kita nggak akan terlambat. Percaya deh," tuturnya untuk menenangkan diriku.

"Percaya," jawabku.

"Pegangan Ali...  Otw ngebut ini!" Ucapnya sembari menarik tanganku untuk memegang pinggangnya. Iya. Memang hanya dia yang memanggil namaku dengan sebutan Alys atau bahkan Ali. Merusak nama indahku memang, disaat yang lain memanggilku dengan nama Lisa atau bahkan nama lengkapku, Alysa. Namun hal itu tidak terlalu memberatkan diriku, kumaafkan.

Aku menuruti perkataannya, aku sudah tidak peduli dengan hal apapun dan rasa apapun, yang terpenting sekarang adalah keselamatan nyawaku. Seberapa cepat sih motor vespa itu?

Kok aku takut sih?

...........

Motor Tua Part 2

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 320

DAY 10

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, aku dan Reno datang di sekolah tepat waktu. Pagi ini cerah sekali, burung-burung berkicauan, awan biru menunjukkan keindahannya hari ini. Pagi ini sangat sejuk sekali.

Reno memarkirkan si udin ditempat parkir bersama motor-motor siswa lain. Aku menunggunya. Tak ada siswa yang heran dengan kita berdua, kita memang selalu bersama. Jika aku tak sempat menaiki kendaraan umum, aku akan meminta Reno untuk menjemputku. Namun, ada hal yang aku tidak suka. Pasti ada beberapa wanita Reno yang tidak suka denganku ketika aku dibonceng naik motor dengan Reno. Aku tak menghiraukannya. Mereka hanya iri kepadaku.

"Reno... Nanti istirahat gue tunggu lu dikantin!" Ucap salah satu cewek yang lewat didepan kita.

"Pulang sekolahnya lanjut sama gue ya!" Ucap teman sebelahnya.

   Setelah aku mendengar perkataan dua cewek tadi, aku melihat wajah Reno. Kulihat, wajahnya tidak setampan Leonardo DiCaprio waktu masih muda deh, pun juga tidak seganteng aktor-aktor Korea. Benar-benar mata cewek yang tergila-gila dengan Reno harus diobati. Dan aku harus membuat mereka tersadar bahwa Reno hanyalah manusia biasa dan wajahnya pun biasa saja. Mentang-mentang blasteran aja dikejar-kejar. Hum... Padahal cowok lokalan kan lebih keren.

   Setelah aku beranjak dari parkiran sepeda motor, aku berjalan menuju kelas. Aku melihat sekeliling, kucari dimana manusia spesialku berada. Ku lewati kelasnya, kulihat dia tidak berada dikelas, lanjut aku melewati taman sekolah, tempat biasa kita bertemu. Disana juga tidak kutemukan.

Aku bertanya kepada Reno, "kok Kak James nggak ada ya Ren," tanyaku kepada Reno, yang berada disebelahku.

"Belum berangkat mungkin," Jawabnya.

" Mungkin, tapi nggak biasanya lho, dia berangkat siang. Dia bukan kamu ya," Ujarku sedikit meledeknya.

"Iya iya, emang cuma gue sendiri deh yang selalu berangkat siang. Itu juga karna jemput kamu dulu kali," cetusnya.

"Oh, jadi menurut kamu aku adalah seorang beban yang membuatmu selalu datang terlambat kesekolah? Iya?" Tanyaku kepadanya dengan sedikit penekanan, oh... Dia tidak ikhlas apa menjemputku? Tapi, tadi? Aku sama sekali tidak memintanya.

"no, that's not it," jawabnya membela diri.

...........

6. Menjauh

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 433

DAY 11

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

      Setelah aku tiba di kelas, aku masih saja tetap memikirkan dimana kak James sekarang berada. Aku berusaha untuk selalu berpikiran positif, mungkin hari ini dia sedang sakit, jadi tidak bisa untuk berangkat sekolah. Tapi, kenapa dia tidak memberi kabar kepadaku? Sakitnya parah ya? Sampai tak bisa membuka telpon?

   Kutanya kepada Luna, mungkin dia tahu keberadaan manusia spesialku. Namun nyatanya dia pun sama sekali tak tahu, bahkan dia berkata sama sekali tak ingin tahu. Ah sial. Semesta, dimana dia berada?

     Sepanjang pelajaran berlangsung, aku sama sekali tak bisa berfokus untuk belajar. Otakku tak mampu menangkap materi yang sedang dibahas. Isi otakku sekarang hanyalah dia. Dia sekarang dimana, dia sekarang dalam keadaan seperti apa, mengapa dia tiba-tiba saja menghilang, aku punya salah apa kepadanya? Kuingat, dari awal jadian sampai sekarang sama sekali tak ada masalah apapun. Dan aku juga nggak pernah membuat suatu masalah.

   Bel pertanda istirahat sudah berbunyi. Itu tandanya aku harus segera menuju kelas kak James, mencarinya dan menemuinya. Jaraknya lumayan cukup jauh dengan kelasku. Namun tak apa, yang terpenting sekarang aku bisa bertemu dengan dia. Namun, saat aku sampai didepan pintu kelasnya, aku mencari-cara rupa manusia itu, aku tak menemukannya. Aku, seketika berpikir. Benarkah ia sakit? Sakit parah?

Lalu, aku menemui kak Arkya, dia satu kelas dengan kak James. Kutanya dimana kak James berada. Dia hanya diam, diam membisu. Seketika saja dia menarik tanganku dan mengajakku pergi dari kelasnya. Aku bingung, aku tak tahu akan dibawa kemana olehnya. Dan ternyata aku dibawanya kekantin sekolah.

"Traktir aku, maka akan aku beri tahu semuanya tentang James, Alysa...." Ujarnya dengan nada dibuat-buat.

"Harus nyogok dulu ya kak?" Tanyaku. Memang aku dengan kak Arkya sudah begitu dekat. Seperti teman biasa, tidak terlihat seperti kakak kelas dan adik kelas.

"Emm iya lah. Tapi kalau kamu nggak mau ya aku nggak maksa sih. Kamu cuma pengen tahu dimana James sekarang kan?" Dia berbalik bertanya kepadaku.

"Iya kak, hanya itu saja. Kakak tahu?" Tanyaku lagi.

"Dia sakit," sembari menyeruput es teh yang ada didepannya.

"Sakit apa kak? Kok dia nggak ngabarin aku?" Aku terus bertanya kepada kak Arkya.

"Gue nggak tahu pasti sih dia sakit apa, yang jelas dia sekarang lagi sakit." Jelasnya, "dan, bener kamu nggak dikasih tahu?" Lanjutnya.

"Iya kak, sejak kemarin aku sama kak James lost contact," tuturku.

"Oiya Lis, aku pernah denger waktu itu, katanya memang akhir-akhir ini dia ingin lebih fokus belajar buat ujian, mungkin karna itu." Jelasnya lagi.

   Aku berpikir, walaupun ingin fokus belajar sekalipun, seharusnya aku sebagai pacarnya wajib untuk diberi tahu. Ku pikir lagi, perkataan kak Arkya menurutku tidak sepenuhnya benar. Ada hal lain yang ditutupi dari aku. Tapi apa?

...........

Menjauh Part 2

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA : 503

DAY 12

--------------------------------------------------------------------------------------------------

     Aku mencoba untuk tidak terus-menerus memikirkan dia. Kucoba untuk berdiam diri lalu membaca buku diperpustakaan. Perlahan pikiran itu menghilang, larut dalam bacaanku. Namun, seketika pikiran itu muncul lagi. Kupikir, salah satu cara terbaik untuk menghilangkan pikiran ini hanyalah datang kerumahnya, kerumah kak James.

Kupikir tak ada salahnya sepulang sekolah mengajak Reno untuk mengantarku melihat keadaan kak James dirumahnya. Reno setuju. Namun, aku harus merelakan uangku untuk membelikannya minuman dingin sebagai tanda dia setuju untuk menjadi tukang ojekku.

Aku tak begitu tahu jelas alamat rumah kak James. Kuingat dia pernah bilang, bahwa rumahnya tidak terlalu jauh dari toko bunga Engeline.

Kucari toko bunga itu, kuhampiri pemilik tokonya. Dia menjelaskan bahwa rumah kak James ada diseberang tokonya. Dan dugaanku benar, setelah aku sampai dirumah kak James, aku begitu kagum. Banyak sekali beragam jenis bunga disekeliling rumahnya. Jumlahnya melebihi toko bunga milik ayahku. Selama aku hidup didunia, hanya dia lelaki yang tidak malu mengoleksi banyak bunga. Hal itu yang membuat aku semakin jatuh hati.

   Aku mengetuk pintu rumah dengan nuansa putih itu, tak ada yang menyahut. Aku melihat sekeliling, sedari tadi memang terlihat sepi, seperti tak ada kehidupan. Namun, aku yakin kak James pasti ada didalam. Sedang tidur mungkin, dia kan hari ini sedang sakit.

Aku ketuk lagi pintu itu, bersyukur ada yang mendengarnya. Tapi, suara yang menjawab adalah seorang perempuan. Oh mungkin itu ibunya. Dia lalu membuka pintunya, aku tersenyum kepadanya. Kulihat, dia menggunakan baju daster khas emak-emak dengan lap tangan yang bertengger dibahunya. Postur tubuhnya terlihat sudah renta. Ternyata dia adalah pembantu disini. Dia menyuruhku masuk kedalam rumah. Aku menyetujui. Reno? Reno sudah kusuruh pulang sedari tadi. Sudah kubilang, dia hanyalah tukang ojek untuk hari ini.

Aku terdiam lagi melihat isi rumah ini, ternyata didalam pun masih ada beberapa jenis bunga lagi. Sangat begitu indah, tak ada yang layu satupun. Kutanya dimana kak James kepada bik Eno, namanya. Aku dengan kepercayaan diriku, bertanya kak James sakit apa, namun anehnya bik Eno justru yang terkejut. Dan dia berkata, "lho, mas James sakit?"

   Aku jelaskan kepada bik Eno, bahwa kak James hari ini tidak berangkat sekolah dengan alasan sakit. Dan aku jelaskan lagi jika aku kemari hanya untuk memastikan.

Bik Eno berkata kepadaku, bahwa kak James hari ini sedang pergi keluar kota, dan sama sekali tidak sakit. Namun, mengapa kak Arkya berkata bahwa kak James sakit? Ke luar kota? Untuk apa? Berapa hari? Ah semesta, ada apa dengan manusia spesialku?

"Kalau boleh tahu, untuk apa kak James ke luar kota, bik?" Tanyaku dengan heran.

"Kurang tahu dek, urusan keluarga gitu," tuturnya.

Hanya urusan keluarga? Namun dia tidak memberi kabar kepadaku? Sangat keterlaluan menurutku.

Aku bertanya kepada bik Eno lagi, "apa nomor telepon kak James ganti, bik?"

"Nggak nih dek, tadi aja bik Eno baru ditelpon." Sembari memberiku secangkir air putih.

Aku seketika terdiam, memikirkan. Ada hal apa yang terjadi? Mengapa manusia spesialku menghilang? Bahkan menjauh? Tak memberiku kabar sekalipun.

Manusia itu terlalu baik. Kupikir, aku sama sekali tak pantas untuk membencinya. Namun, dia menghilang tanpa kepastian, itu yang membuat diriku sakit hati. Apa yang sebenarnya terjadi?

...........

7. Sunyi

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 437

DAY 13

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Setelah kejadian hari itu, seluruh hari-hari yang kulalui tampak seperti sayur sup tanpa garam, rasanya hambar. Hidupku seperti tak berwarna lagi. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu. Hubunganku dengan Kak James terutama. Untung saja masih ada Reno yang selalu setia di sampingku, selalu siap untuk mendengarkan segala keluh-kesahku.

Dia benar-benar menjauh dariku, dia sama sekali tak mau menemuiku lagi. Mengobrol denganku lagi tentang keunikan bunga-bunga, dan dia sekarang tak pernah lagi mengunjungi toko bunga ayahku. Semesta, aku kesepian.

Aku masih saja tak paham mengapa kak James tiba-tiba saja menjauh dariku. Aku ingin segera menemuinya, dan menyuruhnya untuk menjelaskan semua hal yang terjadi. Tapi, aku tak bisa. Untuk saat ini, ragaku seakan menahanku untuk menghampirinya. Aku pasrah untuk saat ini. Biarlah dia melakukan apa yang dia inginkan. Tenang saja, aku d isini sangat baik-baik saja. Biarlah semesta yang menjawab semuanya. Atur saja semesta, bagaimana baiknya.

   Aku masih saja berusaha untuk selalu berpikiran positif, memang benar kak James harus lebih mementingkan pelajaran untuk menghadapi ujian kelulusan dibandingkan aku. Aku ini memang siapa? Hanya seorang kekasih saja kan? tidak terlalu penting. Dia juga punya cita-cita dan impian yang harus dia taklukan. Namun, persetujuan itu? Mungkin menurutnya kisah ini sangat mengganggu pendidikannya, jadi... Dia tinggalkan saja hubungan ini. Jika memang benar begitu, seharusnya dia bicarakan hal ini dengan baik kepadaku. Nggak hilang begitu saja. Ah.

Dulu, kupikir dia satu-satunya lelaki yang tak akan membuat perempuannya sakit hati, dari hati baiknya aku begitu cepat menyimpulkan. Ternyata tidak, dia sama dengan lelaki yang lain. Apa dia bosan denganku?

Aku hanya terus berharap setelah hal ini selesai termasuk untuk kelulusan kak James, dia mau menghubungi bahkan menemuiku lagi. Tak apa, aku tak menyuruhnya untuk minta maaf, aku hanya ingin sebuah penjelasan.

   Seluruhnya terasa sunyi tanpanya, termasuk toko bunga milik ayahku. Aku teringat saat dia kembali lagi setelah satu minggu kedatangannya. Benar saja dia membeli bunga lili yang ia kirimkan sendiri ke tokoku. Namun, dia hanya membeli satu tangkai saja. Dia berkata, "aku hanya ingin membeli satu tangkai bunga saja, aku nggak ingin kamu kesepian. Kulihat, setelah aku kirimkan bunga ini ke tokomu, kamu terlihat bahagia dan berwarna, Lis."

Benar saja, saat itu memang aku sangat bahagia, sangat berbunga-bunga. Setelah kehadiran bunga-bunga pemberian dari kak James, aku kerap datang ke toko ayahku. Sampai-sampai ayahku terheran, tak biasanya anak bungsunya itu rajin untuk merawat dan menjaga tokonya. Aku setiap pagi tak pernah lupa menyirami dan merawat seluruh bunga di toko, termasuk bunga lili kiriman dari kak James. Ah sudahlah... Sekarang hal itu hanyalah sebuah kenangan. Sekarang bunga lili itu sudah mulai layu, bahkan sampai kering. Karena sang pengirim sudah menghilang dan aku yang merawatnya sudah lelah, lelah menunggu sebuah kepastian.

..........

Sunyi part 2

3 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 432

Day 14

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Sama halnya dengan manusia lainnya yang ditinggalkan kekasihnya. Aku, sama sekali tak napsu makan, tak semangat lagi untuk ketoko bunga, hari-hari ku hambar. Sepertinya aku sudah kehilangan semangat hidup. Seberpengaruh itu ternyata.

Dia adalah orang yang membuat diriku percaya akan cinta, memang untuk melupakannya sangat sulit untukku. Dia benar-benar menjauh, jauh sekali. Dia sama sekali tak mau menemuiku lagi. Aku pernah mempertanyakan hal ini kepada kak Arkya, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun, kak Arkya masih tetap saja menjawabnya dengan jawaban yang sama. Aku yakin pasti ada hal yang disembunyikan dariku.

Kisah cinta yang kita rangkai memang belum cukup lama, hanya beberapa bulan. Namun rasa sakit ini sangat terasa dihati. Kita memang selalu pergi bersama, banyak kisah yang kita lalui bersama.

"Makan, Alys." Reno menyuruhku untuk menyantap makanan yang ada didepanku, dia yang memesankannya. Untung saja dia tak memberikan makanan yang aneh kepadaku. Mungkin dia sadar, kalau saat aku tidak pantas untuk diajak bercanda.

"Nggak mood," jawabku dengan wajah yang cocok disebut seperti manusia depresi. Dengan tatapan kosong, ditambah mata pandaku yang tak bisa aku tutupi. Ngeri.

"Sampai segitunya ya... kak James dihidup lo, sampai-sampai waktu dia ilang, lu jadi nggak punya daya hidup," celetuknya, dengan mulut yang penuh dengan nasi.

"Gue juga heran," sahutku.

"Tapi, kehidupan lo harus tetap berjalan, Alys. Walaupun tanpa dia. Jangan mikirin orang yang sama sekali nggak mau mikirin lu." Ya. Sifat bijaknya kini muncul.

"Pasti aku akan mencobanya," jawabku, sembari mencoba untuk merasakan makanan yang ada dihadapanku. Dibalik sifat Reno yang berantakan sana-sini banyak gebetan, Reno juga mempunyai sisi baiknya, kepekaan, mudah memahami isi hati seseorang. Hal itu tidak kutemukan diawal pertemuan, justru akhir-akhir ini.

Aku memang untuk saat ini sedang sangat butuh seorang pendengar yang baik, cukup dengarkan saja apa yang aku ucapkan, dan yang mengganjal dihati.

   Setelah rasa laparku hilang, aku mengajak Reno untuk kembali ke kelas. Suasana dikantin begitu sangat ramai. Kepalaku saat ini terasa pusing, tidak cocok untuk berada dikeramaian. Saat aku beranjak dari bangku ku, aku melangkah cukup cepat, dan mataku tak dapat melihat arah jalan kedepan. Ternyata aku tak sengaja bertabrakan dengan seseorang, seorang laki-laki. Aku langsung meminta maaf dan mengajak Reno untuk pergi. Aku tak peduli siapa yang aku tabrak. Dan ternyata kata Reno, tadi adalah kak James yang aku tabrak. Ah sial, seharusnya aku tadi tidak meminta maaf kepadanya.

Dan seharusnya tadi aku tarik tangannya, dan aku bawa dia ketempat sepi. Benar-benar aku aku ingin melihatnya berbicara, menjelaskan tentang semuanya.

Mungkin saat ini, semesta belum mengizinkanku untuk dapat bertatap wajah dengannya, tak apa. Aku yakin, semesta pasti punya caranya sendiri dan waktu yang terbaik untuk aku dan dia.

..........

8. Cowok 1001 Cewek

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 318

DAY 15

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Huh, mari kita lanjutkan kisah ini. Semenjak aku dihindari oleh dia, awal-awal aku merasa kesepian, kehilangan, tak ada lagi warna dihidupku. Namun, seiring berjalannya waktu, aku sudah mulai terbiasa tanpanya. Dan kehidupanku memang harus tetap berjalan semestinya. Aku tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Aku tak tahu saat ini aku resmi sudah menjadi manusia jomblo atau belum. Namun, seingatku kita berdua belum ada yang memutuskan hubungan ini. Ah sudahlah, aku namakan saja hubungan renggang saat ini dengan kata break. Namun, sampai kapan?

Sudah lama kita tak membahas tentang manusia itu, Reno. Hubunganku dengan dia sampai sekarang masih baik-baik saja. Dan aku berharap semoga akan terus begini adanya. Aku tak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Aku takut, rasa sepiku akan bertambah-tambah.

Dia saat ini masih saja melakukan kencan seperti biasanya. Aku ditinggal. Sepulang sekolah aku disuruhnya untuk naik metromini, padahal berangkat sekolah tadi aku dijemput olehnya. Hmm... Lama-lama aku kesal dengannya. Dia seenaknya saja mempermainkan wanita. Selalu menerima ajakan jalan, yang sudah jelas dia sama sekali tak suka, bahkan tak kenal. Tuh kan aneh.

Dan dia tidak berpamitan kepadaku jika dia akan pergi dengan cewek lain, dia lantas menyuruhku untuk naik kendaraan umum, sungguh tidak bertanggung jawab. Tidak diberi ongkos lagi.

Memang begitulah adanya, julukan itu, sangat cocok untuknya. Cowok seribu satu cewek. Namun, sialnya bukan julukan spesial dan membanggakan. Dan justru dia suka. Ah sial. Semesta, mengapa engkau kirimkan seorang sahabat kepadaku yang seperti ini? Tidak ada yang lain, ya?

Aku juga masih saja terheran dengan cewek-cewek yang menyukai bahkan mencintai Reno, padahalkan... dia playboy. Buaya darat. Tidak bertanggung jawab lagi. Kalau semisal hal-hal bodoh yang Reno lakukan didepanku dan keluarganya terungkap, aku yakin tidak ada satupun cewek yang menyukainya. Aku yakin.

Aku sudah pernah berkata kepadanya, jangan lakukan kebiasaan ini terus-menerus, kasihan cewek-cewek yang Reno gantungkan. Dia juga butuh kepastian, janganlah kau beri harapan palsu kepada mereka. Pilihlah salah satu dari mereka, cintailah dia dengan sepenuh hati.

.........


Cowok 1001 Cewek part 2

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 403

DAY 16

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Minggu ini cuaca sangat cerah sekali. Waktu yang pas untuk berjalan-jalan. Aku ingin menghirup udara segar, jadi aku putuskan untuk joging pagi ini. Aku ingin merefresh otakku, yang semakin lama perlahan membeku.

Kupikir tidak ada salahnya untuk mengajak Reno. Aku sudah berkata kepadanya untuk menungguku didepan gang komplek rumahku. Dan dia sudah sampai disana. Kata dia, sudah sedari tadi. Kita merencanakan joging jam enam pagi. Dan ternyata dia datang jam lima pagi. Hm... Terlalu pagi memang, tapi tak apa. Aku suka manusia on time.

    Kita berjalan-jalan santai mengitari sekeliling komplek, terkadang juga sampai ketaman kota. Kebetulan memang jaraknya dekat. Sepanjang jalan saat joging, kita berdua suka sekali memperhatikan orang-orang disekitar. Terkadang kita suka membahas penampilan mbak-mbak dan mas-mas yang sedang sarapan pagi, ibu-ibu pedagang bubur ayam, dan lainnya. Agak kurang ajar memang. Tapi ini seru dan menyenangkan.

"Kamu lihat itu, Alys. Ketaman kok pake baju tidur," ucap Reno, sembari berjalan santai disebelahku.

"Kan bangun tidur langsung ketaman cari sarapan pagi, ya begitu," jawabku, ngasal saja.

Begitu terus yang kita bahas pulang menuju kerumah. Terlihat julit memang, namun kita masih sewajarnya saja, tidak berlebihan. Kita tak pernah sampai membahas tentang bentuk tubuh orang lain atau yang biasanya disebut body shaming. Kita tahu, body shaming itu sama sekali tidak baik. Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya. Maka, tugas kita hanyalah untuk selalu bersyukur.

   Sebelum kembali kerumah, aku dan Reno beristirahat dahulu ditaman. Duduk-duduk dikursi taman, sembari memandangi langit pagi yang cerah. Semesta, nikmat mana lagi yang kau dustakan. Benar-benar indah.

"Ren, kamu ada jadwal makan siang sama cewek nggak siang nanti?" Tanyaku, sembari mecoba membuka botol minum yang masih disegel.

"Nggak ada," jawabnya cuek.

"Bagus, memang seharusnya tidak ada sampai kedepannya," aku menanggapinya dengan serius.

"Memangnya kenapa? Toh cuma jalan sama makan," jawabnya.

"Reno, plis deh. Ini nggak wajar. Aku yakin didunia ini cuma kamu manusia yang melakukan hal gila seperti ini." Aku terus menerangkannya.

"Aku akan berhenti melakukannya, sampai aku menemukan cinta sejatiku. Cinta yang sebenarnya." Jawab Reno tak kalah serius.

"Sampai kapan? Memangnya sampai sekarang belum ketemu?" Tanyaku.

"Belum, entahlah. Mungkin dia tidak berusaha mencari keberadaanku dibumi ini. Atau mungkin, dia tersesat. Bumi ini kan luas," Jawab Reno.

"Hm... Bisa aja. Tapi, cobalah filter lagi. Kalau bisa, satu minggu satu cewek aja. Aku jadi kasihan deh sama cinta sejati kamu. Pasti dia kalau sudah bertemu kamu, dia akan marah dan menyesal. Mendapatkan jodoh yang ternyata sana-sini bertebaran ceweknya."

"Heh, dengerin kalo gue ngomong!"

............




9. Masih Sama

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 302

DAY 17

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Waktu berlalu begitu cepat. Tak sangka aku sekarang sudah duduk dibangku kelas dua belas. Aku menjalani hari-hariku dengan apa adanya. Dan tanpa keberadaan Kak James. Tentu saja, kan dia sudah lulus. Manusia itu sekarang tak tahu entah kemana. Aku sama sekali tak pernah mencoba untuk menghubunginya bahkan menemuinya. Untuk apa? Mencari penjelasan? Hal itu sudah tidak penting lagi bagi diriku.

Sekarang aku sudah benar-benar move on darinya. Sampai sekarangpun aku belum mau menjalani suatu hubungan lagi. Aku tidak takut, hanya saja itu sangat membuang-buang waktuku. Aku berusaha untuk melupakan Kak James saja, butuh waktu berbulan-bulan lamanya. Dan mau ngapa-ngapain aja sama sekali tidak mood, masa mau mengulanginya lagi? Aku pusing dibayang-banyangi oleh orang lain didalam diriku sendiri.

Sebentar lagi aku mau hengkang dari SMA. Yap, aku mau lulus.

   Apa kabar dengan luna? Dia baik-baik saja. Dia masih awet dengan kekasihnya. Namanya Daniel, anak SMA Garuda. Aku tak tahu, hal apa yang mereka lakukan sampai-sampai hubungan mereka masih langgeng sampai sekarang. Apa karna memang jarang bertemu? Bisa jadi.

Reno, walaupun dia mendapat julukan super absurd, aku mengakui dia terbilang pandai dikelas. Dia selalu saja mendapatkan peringkat dalam lima besar. Pintarkan?

Aku pernah secara tidak langsung bertanya dengan Luna, "Lun, kamu pernah jatuh hati nggak sama Reno?"

"Pernah, tapi itu dulu," jawabnya.

"Apa yang membuat kamu tertarik kepadanya?" Tanyaku lagi.

"Parasnya, penampilannya, sikapnya, semuanya deh. Tapi itu dulu, sekarangkan udah sama Daniel. Sama Reno nggak ada kepastian." Jawab Luna.

"Oh gitu ya," jawabku singkat.

"Iya, memang kenapa?" Tanyanya, "lu seharusnya bersyukur Lis, punya sahabat seperti Reno." Ucapnya sambil melihat layar ponsel yang digenggamnya. Pasti dia sedang berkirim pesan dengan Daniel. Aku yakin. Siapa lagi kalau bukan dia?

"Tapi ngeselin."

"Wajar sih, emang, lu sama sekali nggak ada rasa lebih sama Reno?" Tanya Luna.

"Enggak nih, biasa aja," jawabku cuek.

"Belum aja, tunggu tanggal mainnya."

..............


Masih Sama part 2

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 493

DAY 18

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Luna rese banget sih, bilang aku bakalan suka sama Reno. Dia peramal?

Tidak lama lagi aku akan pergi dari SMA Melati ini, SMA kebanggaanku. Dimana aku dapat merasakan bahagia dan kecewe, Manusia aneh, si ratu gosip, Kak James, dan semua hal yang ada disini. Aku tak akan pernah tahu jika aku sudah lulus nanti, aku akan dapat bertemu dengan mereka atau tidak, akan merindukan mereka atau tidak. Terutama dengan Reno, dia akan pergi menginggalkanku? Lalu mencari kebahagiaan lain diluar sana? Semesta, aku belum siap.

Kudengar, pihak sekolah akan mengadakan acara pra perpisahan untuk angkatanku. Acara-acaranya kulihat sangat menarik, pensi ada, konser musik ada, bahkan bazar pun juga ada. Dan aku mengajukan diri untuk mengikuti pensi, aku akan menunjukkan bakat terpendamku. Satu-satunya bakat yang aku miliki. Yaitu, bernyanyi. Aku sangat tidak sabar menunggu acara itu tiba.

Sayangnya, Bapak kepala sekolah berkata bahwa, alumni SMA Melati akan menghadiri acara ini. Dan itu berarti Kak James pasti akan datang juga. Kuharap, dia sakit. Dan tak menghadiri acara pra kelulusanku. Aku malas bertemu dengannya.

Aku harus mempersiapkan pertunjukkanku dengan benar-benar matang. Aku tak ingin membuat malu diriku sendiri diatas panggung nanti. Untung saja aku tidak pernah mengalami demam panggung. Kali ini, yang menjadi penonton tidak hanya dari siswa siswi SMA Melati dan para guru saja. Melainkan dari para alumni SMA Melati. Dan kudengar acara ini dibuka untuk umum, siapapun boleh datang untuk memeriahkan acara, dari sekolah lainpun boleh menghadiri. Acara ini diadakan untuk menggalang dana bagi pihak yang membutuhkan. Benar-benar harus siap mental untuk tampil diatas panggung.

"Kamu mau aku anterin pulang nggak, Ali?" Tanya Reno kepadaku.

"Tumben. Nggak kencan lo?"

"Katamu, harus dikurangi. Ini mau kencan sama bestie gue," Celetuknya.

"Dih. Mau ajak gue kemana emang. Sok banget mukanya," benar saja, saat ini raut wajah Reno sangat cocok untuk ditampar. Songong banget.

"Ini spesial. Ayolah." Ucapnya merengek.

"Yaudah deh." Jawabku, "mas nggak jadi naik!" Lanjutku dengan meneriaki mas kernet metromini. Sedari tadi menungguiku, tadi memang aku berhentikan.Dan ternyata Reno akan mengajakku jalan. Jadi, aku tidak jadi naik metromini.

Aku sekarang berada di jok belakang motor Reno. Aku merasakan adanya rasa yang berbeda diantara kita, aku dan Reno. Aku merasakan kenyamanan. Entah kenyamanan dalam hal apa, yang pasti aku sangat nyaman. Berbeda ketika aku pergi dengan Kak James menaiki mobil. Aku tak mau membandingkan. Hanya saja, rasanya sangat berbeda. Dibonceng naik motor lebih asyik walau kepanasan daripada duduk bersebelahan menaik mobil yang ac-nya sangat dingin.

   Setelah beberapa menit menikmati perjalanan yang ada, menikmati udara yang lumayan segar disore ini. Dan aku tak menyangka, ternyata Reno membawaku kesuatu tempat yang bagiku sama sekali tak asing. Ya, tidak salah lagi. Pecel lele Pak Teno. Memang tempat ini adalah langganan kita disaat mahluk yang ada diperut demo minta untuk dikasih makan. Porsinya yang banyak, dengan harga yang ramah sekali dikantong.

Aku kira Reno akan mengajakku kesuatu tempat yang spesial. Tempat rahasia yang indah, dimana hanya dia yang tahu dan akan dia beritahu kepadaku. Hm... Ternyata kepemadam kelaparan. Oke. Pecel lele satu, es teh satu.

...........

10. Daun Jatuh

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 381

DAY 19

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Hari ini, entah mengapa aku merasa ada yang berbeda dari dalam diriku. Setelah beberapa hari yang lalu aku menghabiskan waktu bersama Reno. Aku merasakan hal itu kembali lagi kedalam diriku. Rasa itu. Namun, benarkah ini? Apakah tidak salah orang?

Aku yakin rasa ini hanyalah rasa yang sementara saja. Dan memang harus begitu. Aku tidak boleh ada rasa lebih dengannya. Aku dan dia sudah merajut kisah persahabatan yang panjang. Masalah besar jika rusak begitu saja hanya karna ada satu manusia yang menaruh perasaan lebih terhadap sahabatnya sendiri. Aku tak mau menjadi canggung dengannya hanya karna perasaan ini. Semesta, mengapa dia, bukankah manusia dibumi ini beratus-ratus? Pilihkanlah salah satu, asal jangan dia.

Aku pikir memang tidak ada yang salah tentang jatuh hati. Dia datang dengan sendirinya. Aku tidak mengundangnya. Datang, dan tumbuh. Bahkan tetap tumbuh walaupun aku berusaha untuk tidak merawatnya. Sebenarnya, ini hal yang buruk ataukah hal baik?

   Aku yakin jika dia mengetahui hal ini, dimana aku jatuh hati kepadanya, pasti dia akan menertawaiku. Aku yakin. Sampai saat ini aku akan tetap mencoba untuk tidak terlihat adanya rasa. Tetap seperti biasanya saja. Berlagak cuek, untuk menutupi hal besar ini. Sial, Luna ternyata tidak meramalku, justru dia mendoakan. Aku harus segera menemuinya. Aku merasa hal ini tidak boleh terjadi. Walaupun ini wajar adanya. Namun menurutku tidak benar adanya.

"Kamu yakin hal itu wajar?" Aku bertanya kepada Luna, saat didalam kelas ketika waktu istirahat.

"Iya, benar." Jawabnya, dengan tetap saja memegang ponsel ditangannya. Selalu saja berkabar melalui ponsel dengan Daniel. Apa mereka berdua tidak bosan?

"Ah sial, kamu tidak membantuku."

"Memang aku harus bagaimana, Lis?" Luna bertanya kepadaku, bingung.

"Bantu aku untuk menghilangkan rasa ini," ucapku serius.

"Kok... Memang, kenapa harus dihilangkan? Itu hal biasa dan wajar, Lis. Kamu selalu berdua dengannya, selalu bersama," ucapnya enteng sekali. Dia tidak merasakan apa yang aku rasakan.

"Aku hanya ingin sebatas sahabat saja dengannya, aku tidak ingin lebih dari itu," aku menghela napas. "Aku dengan Kak James dulu saja, aku jatuh cinta dengannya bukan karna suatu kebiasaan, Lun." Lanjutku. Aku ingin Luna mengerti.

"Cinta banyak rupanya, Lis. Nggak melulu dari hal itu. Nggak melulu tentang sikap, dan perlakuan, apalagi tentang paras. Big no, Lis." Sialnya, aku lupa. Dia bukan hanya ratu gosip yang serba tahu, dia juga pakar cinta yang ulung. Mudah sekali baginya untuk menafsirkan  rasa.

..........

Daun Jatuh part 2

1 0

Sarapan kata KMO Club Batch 40

Kelompok 25

Jumlah Kata 498

PART 20

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Masa SMA ku sebentar lagi akan berakhir, hanya menghitung beberapa bulan saja. Dan sampai saat ini menurutku aku masih belum mendapatkan titik kebahagiaanku yang sesungguhnya. Iya, aku tahu aku mendapatkan sahabat-sahabat yang sangat baik, tapi bukan itu yang aku maksud. Bukan juga karna aku lancar dalam mengerjakan berbagai soal yang ada. Bukan itu.

Aku masih memikirkan mengapa aku bisa jatuh hati kepadanya. Apa benar karna selalu bersama?

Memang, banyak wanita yang menyukainya dengan alasan parasnya yang tampan, tapi aku tetap merasa dia hanyalah manusia biasa pada umumnya. Tidak ada yang spesial dimataku.

   Kalau boleh jujur, memang terkadang aku sangat tidak suka dengan perempuan-perempuan yang sering mengajak Reno untuk jalan atau sekadar makan. Hatiku nyaris sakit. Namun, aku bukan siapa-siapa. Aku tak bisa melarangnya. Aku hanya bisa mengingatkannya. Hidup memang rumit ya, apalagi kalau menyangkut soal rasa.

Tubuhku hari ini merasa sangat tidak enak, kepalaku pusing. Namun aku tetap paksakan untuk berangkat sekolah. Toh ini tidak terlalu parah. Aku berjalan lemas menuju ruang kelas. Waktu aku duduk ditempatku, aku baru sadar ternyata aku demam, tubuhku hangat, dan aku sedikit menggigil.

Aku pikir aku sakit karna akhir-akhir ini sering tidur larut malam dan terlalu banyak minum es. Dan aku teringat juga akhir-akhir ini aku terlalu banyak pikiran. Memikirkan apapun. Tentang kelulusan, setelah lulus aku bagaimana, ujianku bagaimana, nilaiku baik atau tidak, tentang rasa yang baru-baru ini hadir didalam diriku.

"Alys, kamu sakit?" Tanya Reno kepadaku.

"Cuma pusing aja, kok," jawabku dengan nada lemah.

"Ke UKS mau?" Ajak Reno, wajahnya terlihat cemas.

"Nggak usah, sebentar lagi masuk," aku berusaha menolak.

"Udah, ayok. Kamu perlu istirahat, muka kamu pucat, Lis." Reno tetap saja bersikeras untuk mengajakku ke UKS. Dan mau tidak mau aku harus menurutinya. Bagaimanapun juga, saat ini aku sama sekali tidak bisa untuk memahami materi yang diajarkan. Ada baiknya memang aku harus beristirahat.

Didalam ruang UKS, aku sedari tadi hanya diam membisu, Reno pun begitu. Sampai pada akhirnya Reno membuka suara.

"Kalo sakit nggak usah berangkat sekolah," ucap Reno yang sedang duduk dikursi menungguiku.

"Iya,"

"Iya doang nih?" Tanya Reno. Memang aku hanya bisa menjawab begitu, semenjak rasa itu hadir, aku seperti kehilangan diriku yang dulu, kehilangan aku yang ceria, aku sekarang berbeda. Namun, aku tetap mencoba untuk menjadi Alysa yang ceria.

Aku tidak menjawabnya, aku mencoba untuk benar-benar beristirahat.

"Nanti pulang sekolah, aku antar pulang. Nggak usah naik metromini, apalagi angkot. Banyak copet." Ucapnya, sepertinya dia mencoba untuk menghiburku.

"Aku mau naik angkot aja, aku nggak punya duit, jadi nggak mungkin dicopet," aku mengelak, menjawabnya dengan lemas.

"Batu banget kalo dibilangin, udah pulang sama gue nanti."

   Sekarang aku paham dan sadar, mengapa aku bisa terbawa perasaan dengannya. Dia sangat baik kepadaku, perhatiannya, apakah itu yang membuatku luluh? Ah, lemah banget sih.

Aku masih mencoba untuk menganggap hal itu hanyalah karna aku sahabatnya, jadi mau tidak mau, kita, harus saling membantu dalam segala kondisi apapun. Jadi, tolong minimalisir rasa ini. Kalaupun tetap begini adanya, aku tidak akan berkata kepadanya, aku akan memendam rasa ini, sampai aku punya nyali untuk mengatakannya.

...........

11. Pertemuan yang tak Kuinginkan

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 40

Kelompok 25

Jumlah Kata 416

DAY 21

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Tak disangka hari yang kutunggu-tunggu pun sudah tiba. Pra kelulusan. Acara yang berarti menurutku. Sekarang aku sudah siap untuk tampil diatas panggung, aku tidak grogi sama sekali. Hanya saja, aku tidak siap untuk bertemu dengannya. Dan semoga tidak terjadi.

Aku menemukan manusia itu dan sampai saat ini aku tidak pernah menemukan titik kejahatan didalam dirinya. Hanya saja, dia tidak tahu diri. Seharusnya dia berkata kepadaku sebelum menghilang. Oh mungkin dia sudah mendua saat bersamaku. Jadi dia tinggalkan aku begitu saja. Ah, sudahlah. Aku tak ingin memikirkannya lagi.

Aku melihat sudah banyak pengunjung yang hadir, mulai dari SMA Garuda, sekolah Daniel. Dan masih banyak lagi dari sekolah lain. Ada juga masyarakat umum yang turut serta meramaikan acara saat ini. Para alumni beberapa juga sudah ada yang hadir. Aku melihat Kak Arkya. Aku mencoba untuk menghampirinya, hanya untuk sekadar melepas rindu.

"Hai, Kak. Apa kabar?" Tanyaku ramah.

"Alhamdulillah, baik kok. Kamu sendiri?" Tanya Kak Arkya kepadaku.

"Sehat wal'afiat, dong. Syukur deh, Kakak bisa hadir."

"So pasti, kan gue mau liat lo nyayi," celetuknya.

"Wow, ada fansku."

Kak Arkya tertawa, lalu melanjutkan perkataannya, "gimana Lis, udah bisa memaafkan?"

Aku sudah menebak pasti Kak Arkya akan membahasnya, aku juga yakin Kak Arkya pasti tahu semua tentang apa yang terjadi. Tapi mengapa dia tidak memberi tahuku?

"Lupain aja, Kak. Masa lalu," ujarku dengan senyuman tipis.

"Maaf banget ya, Lis. Aku nggak bisa jelasin. Biar dia sendiri yang mengatakan langsung kepadamu." Ujar Kak Arkya.

Aku berpikir, mengatakannya langsung? Dia mau menemuiku? Kapan?

"Yasudah, Kak. Aku mau siap-siap dulu. Kakak nikmatin pertunjukan yang ada ya," ucapku, lalu berjalan melangkah menjauh dari Kak Arkya.

Kak Arkya hanya tersenyum.

   Sebelum aku bersiap-siap untuk tampil, aku pikir tidak ada salahnya untuk ke kelas terlebih dahulu. Untuk menemui Luna, dan memberi tahu dia, bahwa Daniel sudah berada disini. Dia tak sempat membuka ponsel karna dia saat ini tengah sibuk berdandan untuk pertunjukan menarinya nanti.

"Luna, Daniel udah dateng, tuh!" Seruku dari pintu kelas.

"Oh, ya? Tapi itu tidak penting." Jawabnya.

"Kok, nggak penting. Kamu udah putus?" Tanyaku heran.

"Bukan itu, Kak James katanya mau dateng, Lis." Ucapnya dengan semangat.

Ah, manusia itu lagi. Banyak sekali yang mengatakannya. Membuatku tidak semangat untuk tampil nanti. Kuharap aku tidak melihat bahkan sampai bertemu dengannya. Kedatangannya tidak penting bagiku.

Aku kembali ke backstage. Menghiraukan perkataan Luna. Mencoba untuk fokus mempersiapkan penampilanku, dan tak mau memikirkan hal lain.

Aku sudah lama mengunggu, akhirnya sekarang saatnya aku untuk tampil. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi saat aku berada diatas panggung nanti.

..........


Pertemuan yang tak Kuinginkan part 2

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 40

Kelompok 25

Jumlah Kata 585

DAY 22

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Penampilan perdanaku sudah selesai, berjalan dengan baik. Sama sekali tak ada kendala yang mengganggu. Aku juga sama sekali tak melihat keberadaan Kak James, justru aku melihat Reno yang sangat menikmati penampilanku. Aku senang sekali. Semuanya pun begitu, sepertinya sangat menikmati penampilanku.

Aku turun dari panggung. Dan ternyata dibawah sudah ada Reno yang menghadangku. Memberikan aku sebotol air putih. Sangat perhatian sekali. Dia segera beranjak pergi setelah memberikanku sebotol minuman. Aku tak tahu dia akan kemana. Ah, sudahlah.

Aku lalu pergi menuju area bazar, disana banyak sekali aneka macam makanan, aku berniat akan membelinya beberapa untuk mengganjal perutku yang lapar. Aku mulai berjalan menyusuri jalan sempit yang ada diantara banyaknya manusia yang hadir. Benar-benar seperti lautan manusia. Dan aku tak sengaja menabrak seseorang. Seseorang yang sudah aku perintahkan untuk minggir, tapi dia tak menghiraukannya. Dia justru diam mematung didepanku. Dan ternyata manusia itu. Aku sama sekali tak berharap untuk bertemu dengannya. Namun, mengapa semesta mempertemukan kita?

     Dia lantas menarik tanganku untuk menjauh dari keramaian. Dia menggenggam tanganku dengan erat. Aku sudah mencoba untuk melepaskannya, tapi, tenagaku tidak cukup kuat. Aku saat ini cukup pasrah dibuatnya. Biarlah semua terjadi diluar kendaliku. Dia membawaku ketaman, yang saat itu sedang sepi, karna semuanya tengah menikmati pertunjukan yang ada. Aku tak tahu apa yang akan dia katakan kepadaku. Dia menggenggam tanganku lagi. Kali ini tidak cukup kuat seperti tadi. Menggenggam lembut jari jemari tanganku. Lalu, dia mulai memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya.

"Aku tahu kamu marah kepadaku," ucapnya perlahan. Aku hanya terdiam.

"Aku hanyalah manusia bodoh yang menghilang begitu saja tanpa adanya kabar, aku minta maaf, Lis." Ucapnya lagi, wajahnya memelas. Dan aku hanya bisa terdiam.

"Aku tahu Lis, mungkin saat ini kamu belum bisa memaafkanku."

"Aku akan memberi tahu kamu tentang apa yang terjadi selama ini. Itu pasti akan aku beritahu, tapi bukan sekarang, Lis." Lanjutnya.

"Besok. Besok kita bertemu di cafe biasa kita makan dulu. Aku akan menjelaskan semuanya." Tuturnya secara perlahan, seakan agar aku bisa memahami setiap perkataannya.

     Aku mendengar suaranya kembali, suara yang sudah lama hilang. Namun, mengapa justru hal yang tak penting yang dia ungkapkan? Sialnya aku tak bisa berkata banyak dan memarahinya seperti yang sudah aku rencanakan. Aku tiba-tiba saja membisu. Aku terdiam. Aku hanya bisa mengangguk atas apa yang dia katakan barusan. Bertemu dengannya, dicafe, besok.

Setelah kejadian yang hanya beberapa menit tadi, dia lantas pergi begitu saja, dan tanpa berpamitan kepadaku. Sebenarnya apa yang terjadi? ada apa dengannya? Aku terdiam beberapa saat, memikirkan ulang apa yang dia katakan barusan. Lalu pikiranku tiba-tiba saja terusik dengan kegaduhan yang ada, bukan kegaduhan yang terjadi karna terlalu menikmati musik rock yang ada, tapi ini benar-benar keributan. Ada keributan yang terjadi.

Aku tak tahu pasti hal apa yang menyebabkan keributan itu terjadi. Hal yang membuat acara ini kacau. Benar-benar kacau.

Aku bertanya kepada Luna, pasti dia tahu. Aku tanya apa yang terjadi barusan. Dan dia berkata bahwa, ada suatu kesalahpahaman, yang membuat SMA Garuda dan SMA Melati ribut tak keruan. Dan ternyata ada satu siswa dari SMA Garuda terluka. Dan meminta pertanggung jawaban. Bukan permintaan pertanggung jawaban yang logis, dan dengan baik-baik. Namun, mereka meminta SMA Melati, beberapa orang untuk menemui mereka ditempat yang sudah dijanjikan. Dan ternyata ada satu manusia yang menyetujui hal ini. Yaitu Reno. Dia ada ditempat kejadian tadi, aku yakin dia tahu sebab kejadiannya. Mungkin karna itu dia mau menerima tantangan dari SMA Garuda.

Sialnya aku lupa bertanya, hal apa yang akan dilakukan ketika mereka sudah bertemu. Aku takut terjadi hal buruk kepada Reno, hal yang tak kuinginkan. Dia hanyalah manusia lemah. Semesta, tolong jaga dia.

................


12. Rasa itu Kembali

1 0

Sarapan Kata KMO Klub Batch 40

Kelompok 25

Jumlah kata 368

DAY 23

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     "Reno, kamu tahu apa penyebab keributan kemarin terjadi?" Tanyaku perlahan, agar dia mau menjawab dengan baik. Dan tidak bercanda.

"Oh, itu. Tau kok gue," jawabnya santai.

"Karna apa?" Dia belum menjawab pertanyaanku.

"Sebenarnya, kamu nggak perlu tahu, Alys."

"Kenapa?" Tanyaku heran.

"Nggak penting. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah berdoa, supaya waktu gue ketemu sama anak SMA Garuda, seketika gue menjadi manusia kuat, dan pulang dengan keadaan sehat wal'afiat."

"Emang mau ngapain? Lu jangan aneh-aneh ya jadi manusia!" Gertakku kepadanya.

"Nggak kok, biasa aja," jawabnya santai, seolah tidak ada yang perlu dikhawatikan.

"Seharusnya kan, kalo ada salah tinggal minta maaf, udah beres. Ngapain harus ada perjanjian yang nggak jelas kayak gitu sih."

"Ini namanya penyelesaian secara jantan, Alys. Kamu nggak akan paham." Jelasnya.

"Terserah lo!" Aku lantas beranjak pergi dari hadapan Reno.

   Aku sekarang sudah berada dirumah. Duduk manis didepan televisi. Menonton tayangan yang menurutku cukup bagus. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, itu tandanya aku harus beranjak dari sofa lalu bersiap-siap untuk bertemu dengan manusia itu. Sebenarnya, aku sangat malas. Namun, bagaimanapun juga, janji adalah janji. Harus ditepati. Aku berpikir, jika aku malam ini tidak datang, pasti dia akan terus berdiam dicaffe dan menungguku sampai aku muncul.

"Mau pergi kemana malam-malam begini, Lis?" Tanya ibuku heran. Melihatku sedang sibuk mengganti pakaian.

"Bertemu teman, bu. Dicaffe dekat rumah," Jawabku.

"Kalau begitu hati-hati ya, Lis. Pulangnya jangan larut malam." Memang, Ibuku bukan tipe orang tua yang suka mencegah anaknya untuk pergi kemanapun. Anaknya dibolehkan untuk melakukan apapun, asal hal yang baik. Ibuku sudah menaruh kepercayaan kepadaku, tugasku adalah tidak boleh mengecewakannya. Begitu pula dengan kakakku.

"Baik, Bu."

     Tempat itu memang dekat dengan rumahku. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit untuk sampai. Kulihat Kak James sudah datang, duduk dimeja yang nomornya tidak terlihat dari kejauhan. Kuhampiri dia yang sedang terdiam sedari tadi. Aku gugup dibuatnya. Mengapa kejadian satu tahun lalu terulang kembali? Manusia itu sekarang ada dihadapanku. Benar-benar nyata. Manis sekali.

Aku hanya diam, aku tak tahu harus memulai dari mana. Sebenarnya sudah ada berderet pertanyaan yang memenuhi isi kepalaku, yang kutujukan kepada dia, yang kusiapkan selama satu tahun penuh. Namun, apalah daya, pikiran itu tiba-tiba saja buyar, ditambah dengan jantung yang berdegup kencang, pertanyaan itu, hilang begitu saja.

..........

Rasa itu Kembali part 2

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 40

Kelompok 25

Jumlah Kata 527

DAY 24

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Aku ingin marah kepadanya, dengan segala hal yang membuatku seperti gundah setiap saat. Rasanya rasa kesalku itu tak mungkin aku luapkan kepadanya. Dia yang sekarang duduk dihadapanku, raut wajahnya terlihat cemas. Aku merasa tidak tega. Perlahan dia mulai menatapku. Kulihat, matanya indah sekali. Jernih.

"Malam, Kak. Maaf, datangnya lama." Ucapku perlahan, dan mulai duduk di kursi yang sudah disediakan.

"Iya, nggak apa-apa kok Lis, aku juga baru datang. Mau pesan makan?" Jawabnya ramah sekali. Masih sama seperti dulu.

"Enggak usah, Kak. Tadi aku udah makan dirumah," jawabku.

"Kalau begitu, minum saja, ya?" Tawanya lagi. Tolong, semesta, dia baik sekali. Semua rasa marah, benci, kesalku kepadanya seketika hilang atas perlakuan baiknya kepadaku. Aku luluh lagi. Dan aku lemah. Hanya karena hal yang sebegitu kecil. Rasa itu kembali.

"Boleh," aku mengangguk dan tersenyum kecil.

"Mba, orange juice, dua ya..." Serunya kepada pelayan kafe.

"Nggak mengganggu malam kamu kan? Biasanya anak kelas dua belas sibuk banget tuh," ucapnya kepadaku.

"Nggak kok, Kak," sahutku. Kenapa tidak langsung ketopik saja sih. Aku nggak mau mendengar kalimat yang tidak penting alias basa-basi. Aku kembali kesal kepadanya.

"Oh iya, Kak. Kakak ada apa ya, mengajakku bertemu?" Ku rasa Kak James bingung mau memulai dari mana. Aku memberanikan diri untuk bertanya.

"Em... Aku tahu, waktu itu kamu mengunjungi rumahku. Untuk mencariku," tuturnya.

"Dan Kakak bukan sakit, melainkan keluar Kota. Kakak bohong." Jawabku begitu saja. Keluar dari mulutku.

"Maaf, Lis. Tapi memang pada saat itu aku belum bisa berterus terang kepadamu." Lanjutnya lagi, raut wajahnya sama sekali tak ada ekspresi.

"Lalu, Kakak menjauh begitu saja dari ku. Hilang begitu saja dari pandanganku. Aku saat itu bingung Kak, cemas. Aku sama sekali tak pernah berbuat salah apapun dengan Kakak," aku meluapkan semuanya. Semua yang berada dikepalaku. Entah mengapa bisa seperti itu. Semuanya berjalan begitu saja.

"Maaf, Lis. Aku minta maaf. Aku pergi keluar kota karna sebuah paksaan. Aku juga sebenarnya tidak mau. Semesta memaksaku, Lis." Dia mencoba menjelaskan kepadaku. Dan mengapa dia membawa-bawa semesta? itukan kata-kataku.

"Lalu, ada hal apa Kakak keluar Kota?" Aku lontarkan pertanyaan yang ada dipikiranku saat ini.

"Sebenarnya aku tak mau memberi tahumu soal ini. Namun, aku tahu kamu tetap saja memikirkan alasan apa yang membuat aku pergi dan menjauh darimu..."

Belum juga usai Kak James menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, aku melihat seorang perempuan berhijab datang menghampiri kami berdua. Tepatnya menghampiri Kak James. Aku tak tahu dia siapa, dia berjalan sangat anggun sekali, mata kakinya hampir tak terlihat, sempurna tertutup oleh pakaian yang dia kenakan. Cantik sekali.

"Hai, salam kenal. Aku Aisya," ucapnya lembut, memberi jabatan tangan kepadaku.

"Alysa," aku membalas senyumnya. "Pacar Kak James ya?" Tanyaku kepada Kak James begitu saja.

Kak James hanya terdiam, justru yang menjawabnya adalah perempuan disampingnya, yang ternyata adalah istrinya. Aku terkesiap mendengar apa yang baru saja diungkapkan. Jadi, ini alasannya? Pergi begitu saja dariku? Aku tak bisa marah, benar-benar tak bisa. Aku seketika lantas pergi dari tempat itu. Aku hanya bisa kecewa. Pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan mereka.

Sesampai aku dirumah, aku menuju kamar. Aku sangat kecewa dibuatnya. Entah mengapa aku merasa kesal. Aku pukul sekeras-kerasnya boneka octopus yang diberikan Reno kala itu. Biar saja, Reno merasakan sakit yang saat ini aku rasakan.

..................


13. TRAGEDI

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 361

DAY 25

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     "Sekarang waktunya," ucap Reno kepada teman-temannya, samar-samar aku mendengarnya dari balik dinding bambu.

"Iya, Ren. Kita mau temui mereka lewat jalur mana?" Sahut teman Reno, yang ada disebelahnya.

"Lewat jalan yang biasa kita lewati, yang mereka tidak tahu, bahkan Daniel sekalipun." Jawab reno, dengan serius. Sebenarnya ada apa?

"Ekhem, serius banget kayaknya," celetuk teman Reno yang lainnya. Aku mengenal mereka semua.

"Memang harus serius, dan ini benar-benar serius." Jawab Reno.

"Lakukan strategi yang sudah kita susun, jangan sampai lalai." Tutur Reno lagi.

"Siap! siap," jawab kompak teman-teman Reno.

"Ya sudah kita pergi sekarang, ketempat yang sudah dijanjikan minggu lalu."

   Sore ini, aku merasa sangat bosan berada dirumah. Aku keluar rumah untuk jalan santai. Mungkin aku akan merasa lebih baik dan tidak merasa bosan lagi. Aku berjalan keluar dari komplek perumahan rumahku. Tak sengaja, aku melihat motor tua Reno terparkir didepan sebuah bangunan yang sudah mulai rusak, berdinding bambu. Dari situ, aku dapat mendengar percakapan Reno dan teman-temannya.

Sesaat setelah Reno berkata akan pergi, aku lantas menjauh dari tempat itu, seolah aku sama sekali tak tahu jika Reno sedang berada disitu. Lalu aku menghampiri Reno. Yang baru saja keluar dari dalam bangunan.

"Mau kemana?" Tanyaku dengan heran, ini sudah mulai sore. Seharusnya Reno sudah berada dirumah dan tidak keluyuran seperti ini.

"Ketemu teman," jawabnya dengan santai. Aku tak tahu, itu alasan yang sebenarnya, atau dibuat-buat.

"Dimana?" Tanyaku lagi. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak, setelah mendengar percakapan mereka tadi. Aku takut terjadi sesuatu hal yang buruk kepada mereka.

"Deket situ, bentar aja,"

"Oh, kalo gitu hati-hati ya, Ren. Ini udah sore." Ucapku kepadanya, entah mengapa, hatiku terasa khawatir. Aku takut akan terjadi hal buruk kepadanya, aku khawatir. Aku tahu, dibalik sikap friendly-nya keseluruh wanita, dia adalah sosok pria yang kuat, jagoan bisa dibilang. Hanya saja, dia tak mau memperlihatkannya. Kalian hanya tahu Reno seorang penakluk wanita dan lemah? Tidak, tidak hanya itu saja.

Aku teringat akan janji satu minggu yang lalu, yang disetujui Reno. Apakah saat ini? Detik ini juga? Apa yang akan mereka lakukan? Kuharap mereka tidak akan melakukan hal bodoh yang dapat membahayakan mereka. Kuharap mereka semua baik-baik saja. Aku tak mau, remaja masa kini bersikap anarkis. Itu sama sekali tidak keren.

............

TRAGEDI part 2

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 421

PART 26

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     "Lis, gimana dinnernya sama Kak James?" Tanya Luna dari seberang telepon. Setelah aku jalan sore, aku ingin mengobrol dengan Luna.

"Lancar," jawabku.

"Lo nggak mau cerita ke gue?" Ucap Luna lagi.

"Lo mau denger cerita gue?

"Iya lah, pengen tahu," rengeknya.

"Jadi gini,"

"Gini apa? Lu jangan buat gue penasaran!" ucap luna dengan lantang.

"Kak James udah nikah!" Ucapku tak kalah lantang.

"Seriously?"

"Dia selama ini menghilang dari bayanganku ternyata sudah dijodohkan oleh keluarganya dengan terpaksa." Ucapku dengan begitu saja. Sebelum aku beranjak dari kafe saat itu, memang aku sudah diberitahu Kak James soal ini. Sengaja, aku tidak memberi tahu kalian.

"Karna?" Tanya Luna.

"Kurang tahu. Lun. Kak James cuma cerita segitu. Dan, ceweknya masyaallah cantik banget, sholehah. Pantesan Kak James milih dia daripada memperjuangkan gue." Ujarku.

"Kan, dipaksa Lis. Itu juga mungkin bukan kemauannya dia."

"Iya juga. Tapi sudahlah. Nasi sudah jadi bubur. Alysa harus bisa benar-benar move on!"

"Bentar-bentar, Lis. Ini ada telepon masuk. Gue angkat dulu, ya." Ucap Luna.

   Setelah sekian lama Luna mengangkat telepon yang masuk, aku tetap menunggunya. Aku ingin bercerita banyak dengannya. Termasuk tentang Reno sore tadi. Dan akhirnya Luna meneleponku lagi. Dengan nada bicara yang berbeda dari sebelumnya, Luna panik, ada apa?

"Reno, Lis." Ucap Luna. Ada apa dengan Reno?

"Iya, Reno kenapa?" Tanyaku heran, aku juga ikut khawatir dibuatnya.

"Reno sekarang ada dirumah sakit. Kepalanya terkena pukulan keras. Dan sekarang koma." Ucap Luna berterus terang. Aku terkaget. Hal yang aku takutkan terjadi. Aku panik.

"Rumah sakit mana? Cepet beritahu gue sekarang!" Seruku kepada Luna.

"Rumah sakit Berlian, Lis. Nanti gue juga kesana."

Tak perlu berpikir panjang, aku segera mematikan telepon. Bergegas untuk pergi kerumah sakit Berlian, jaraknya lumayan cukup jauh, tapi aku harus kesana. Kupikir, naik ojek saja biar cepat sampai.

Dan saat ini aku sudah berada dipelataran rumah sakit. Lantas saja aku bertanya kepada suster yang sedang berjaga, "Sus, pasien bernama Reno Zane Ardian ada diruangan mana?" Tanyaku dengan panik.

"Ruang ambar nomor lima, lurus saja." Jawab suster ramah. Aku lantas berlari menuju kearah yang ditunjukkan suster. Aku panik. Aku khawatir.

Kulihat, Reno sekarang hanya terbaring tak berdaya. Hanya seorang diri didalam ruangan. Pilu rasanya melihat keadaan Reno saat ini, sahabat baikku tidak sadarkan diri, ditemani infus yang menempel ditangannya dan alat bantu pernapasan dihidungnya. Aku sedih melihat keadaannya. Semesta, mengapa, mengapa hal ini harus terjadi? Aku tak mau kehilangan sahabatku.

Aku hampiri tubuh malang Reno, yang sama sekali tak bergerak. Matanya memejam. Tubuhnya dingin. Aku genggam tangannya, kupandangi wajahnya. Manusia baik seperti Reno tak pantas mendapatkan hal buruk seperti ini.

................



14. RUNTUH

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 308

DAY 27

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Aku keluar dari dalam ruangan. Aku tidak tega melihat keadaan Reno saat ini. Benar-benar membuat air mataku jatuh. Jatuh, sejatuh-jatuhnya. Kini, aku tak tahu lagi apa yang aku harus perbuat. Aku hanya bisa berdoa, berdoa yang terbaik agar Reno segera sadar dari komanya. Bahkan seketika sembuh dari sakitnya sekarang ini juga.

Luna datang menyusulku kerumah sakit. Lalu menghampiriku dan memelukku. Memang, saat ini hanya dia yang dapat membuat diriku lebih tenang. Namun, mengapa Luna justru menangis lebih keras?

Kutanya kepadanya hal apa yang membuatnya bisa menangis seperti ini. Ternyata, ini semua ulah Daniel. Pacarnya. Yang mengajak Reno dan teman-temannya untuk melakukan hal bodoh ini.

Daniel penyebabnya. Usut punya usut ternyata memang Daniel hobi sekali berkelahi. Namun, Luna sama sekali tidak mengetahuinya. Dia bersikap sangat manis jika bersama dengan Luna. Hampir sama sekali tak terlihat jika Daniel mempunyai sikap buruk seperti ini.

Hati Luna saat ini hancur. Pria yang sangat dia sayangi dan percaya, ternyata kelakuannya lebih buruk dari yang dibayangkan. Aku juga tidak menyangka jika ini semua Daniel penyebabnya. Hanya kesalahpahaman kecil yang ada baiknya dapat diselesaikan dengan baik-baik dan permintaan maaf, justru dia malah membuat hal itu untuk menjadi ajang menunjukkan seberapa hebat dirinya.

"Gue putus sama Daniel," ucap Luna dengan menangis tersedu-sedu dipelukanku. Memang pantas Luna memutuskan Daniel. Daniel hanya baik didepan. Dia pembohong. Pembohong handal. Hubungan yang tidak jujur tidak pantas untuk dipertahankan. Manusia sebaik Luna, tak pantas mendapat pasangan seburuk Daniel.

Kurasa saat ini Daniel pantas untuk kumintai pertanggung jawaban atas celakanya Reno dan membuat hati Luna terluka. Dia yang membuat Reno tak sadarkan diri seperti ini. Dia juga yang harus membuat Reno sehat seperti sedia kala.

Aku tenangkan Luna. Dia benar-benar runtuh hari ini. Aku juga. Kita berdua runtuh hari ini.

Sampai saat ini Reno belum juga sadar dari komanya, aku terus memohon kepada-Nya untuk segera menyadarkan Reno. Masih banyak hal yang harus Reno selesaikan didunia ini. Jangan pergi. Aku mohon.

...............

RUNTUH part 2

1 0

Sarapan kata KMO CLUB BATCH 40

Kelompok 25

Jumlah Kata 482

DAY 28

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Hari ini, aku kesepian. Berat rasanya, melihat keadaan Reno saat ini. Kalau saja aku dibolehkan untuk absen sekolah selama seminggu, pasti akan aku lakukan, untuk sepenuhnya menunggu dan menemani Reno dirumah sakit sampai dia benar-benar sadar dari komanya.

Aku sekarang berangkat kesekolah sendiri, jajan dikantin sekolah sendirian, belajar dikelaspun sendirian. Karna teman disampingku masih memperjuangkan hidup untuk dirinya. Sampai saat inipun Reno masih terbaring lemah diranjang rumah sakit belum sadarkan diri.

Kicauan burung dipagi ini dan cerahnya matahari yang berseri-seri tak kan bisa membuatku cukup bahagia. Jika Reno tak ada disampingku. Apapun yang kulakukan terasa tidak menyenangkan. Reno adalah moodbosterku. Semesta, segera sadarkanlah dia, aku butuh dia, aku rindu dia.

Aku lihat hari ini sepertinya Luna sedang tidak baik-baik saja. Terlihat perilakunya hari ini murung sedari tadi. Menghilangkan karakternya yang biasanya selalu ceria dan tak pernah berhenti untuk bergosip. Semangatnya lemah, hatinya hancur.

     Aku coba untuk menghampiri Luna, aku harus menenangkan dan menghiburnya. Walaupun aku sendiri juga sedang tidak baik-baik saja. Dan ternyata Luna sedang tak mau diganggu, dia ingin sendiri. Aku lalu pergi menjauh. Terkadang, sendirian juga dapat menenangkan hati, dan membuat dirinya sendiri membaik. Aku akan kembali, jika Luna sudah merasa lebih baik. Aku yakin, Luna dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.

   Hari ini, sekolah memulangkan para murid siang hari, karna para guru ada kepentingan. Hal itu cukup membuatku bahagia. Karna aku dapat lebih cepat bertemu dengan Reno dirumah sakit. Aku sudah tak sabar. Kuharap, ketika aku membuka pintu dan memasuki ruangan tempat Reno dirawat, Reno sudah sadar dan tersenyum lebar kepadaku.

Aku lantas pergi untuk mencari kendaraan umum, apa saja. Yang terpenting aku dapat sampai dirumah sakit. Aku naik metromini saja, karna itu yang kulihat pertama lewat didepanku. Aku berhentikan. Aku menaikinya, kulihat hari ini, kendaraan ini tidak padat penumpang. Syukurlah tidak desak-desakan.

Sesampainya aku dirumah sakit, aku buru-buru menuju ruang rawat. Aku buka perlahan pintu ruangan Reno. Aku melihat sudah ada ibunda Reno disana, mengelus lembut kening putra semata wayangnya. Haru sekali. Harapanku patah, Reno belum juga sadar. Sebenarnya, aku sudah membawa bekal kesukaan Reno untuk makan siangnya. Biasanya makanan rumah sakit hambar, tidak ada rasanya. Ternyata hari ini Reno belum bisa merasakan nikmatnya masakanku ini.

Aku tersenyum menghampiri Tante Elena, Reno biasa memanggil dengan sebutan mamah. Memang anak itu manja sekali, terlebih kepada ibunya.

     Orang tua mana yang tak getir melihat anaknya terbaring lemah tak berdaya dikasur rumah sakit. Air mata Tante Elena jatuh berurai, sedari tadi. Menggenggam erat jari jemari Reno. Berharap terdapat keajaiban disana. Kejadian ini memang membuat semua orang merasa bersedih pilu, terutama kedua orang tua Reno. Ayah Reno sedang dalam perjalanan menuju Indonesia. Mungkin sebentar lagi sampai.

Aku memeluk hangat Tante Elena, mungkin hanya ini yang bisa aku lalukan. Mencoba untuk menenangkannya. Cidera yang Reno alami dikepala terbilang keras, kala itu pendarahan yang terjadi sangat hebat. Semoga saja Reno tak sampai ketitik parah. Aku takut Reno bisa saja mengalami hilang ingatan. Doa terbaik untuk Reno.

...............

15. Antara Kita

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

Kelompok 25

Jumlah kata 458

DAY 29

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Sudah satu minggu penuh Reno dirawat dirumah sakit dan belum juga sadar. Dan dalam satu minggu itu juga, ruang rawat Reno tidak pernah sepi. Banyak yang menjenguk dan mendoakan Reno supaya cepat sadar. Para cewek-cewek Reno juga beberapa datang menjenguk. Mereka merana karna pangerannya terbaring lemah tak berdaya diranjang rumah sakit.

Aku selalu stay menjaga Reno, karna aku ingin jika suatu saat nanti Reno tersadar, dirikulah yang Reno lihat pertama kali.

Malam ini, suasananya dingin sekali. Menunggu Reno sendirian dirumah sakit memang cukup membosankan. Terlebih yang ditunggui tidak juga sadarkan diri. Tapi tak apa, dia sahabatku. Aku rela menunggunya walau sampai satu tahun sekalipun.

   Aku duduk dikursi kecil disebelah ranjang Reno. Aku memandangi wajah datar Reno. Tidak ada ekspresi disana. Aku bertanya kepadanya, walaupun aku tahu dia sedang tidak dapat untuk diajak berbicara saat ini.

"Reno, apa kamu tidak bosan seperti ini terus? Terbaring lemah tak berdaya? Aku tahu kamu pasti bisa menjalani ini semua. Aku yakin, kamu adalah manusia kuat. Walaupun sekarang kondisi kamu sedang lemah. Ayo, kamu pasti bisa. Nanti kita jajan bareng lagi dikantin, menikmati senja sore naik motor kamu. Kamu nggak kangen sama aku? Oh iya, ngapain kangen, kan, aku ada disampingmu. Kamu nggak kangen sama udin?"

     Aku menatap lara wajah Reno. Dia sahabatku, teman dekatku. Diantara kita, sama sekali tidak pernah selisih paham hingga akhirnya berjauhan. Namun, saat ini semesta menjauhkan kita. Aku merasa jauh dengan Reno. Padahal raganya ada didepanku. Jaraknya tidak lebih dari satu jengkal, dekat sekali. Kita berteman sudah lama, banyak hal yang kita lalui bersama. Seolah, memang semesta mentakdirkan kita untuk bersama. Namun, sayangnya hanya sekadar sebatas sahabat. Apakah bisa lebih dari itu?

Mencoba untuk tidak menaruh perasaan lebih kepada Reno, hal itu sulit untukku. Aku selalu bersamanya, dalam kondisi apapun. Perhatian-perhatiannya, sikap baiknya kepadaku, hal-hal kecil yamg membuatku mati kutu dibuatnya. Aku tak bisa menepis rasa itu. Aku tak tahu hal ini salah atau benar. Tapi rasa, rasa tak pernah salah. Dia tahu tempat mana yang tepat untuk disinggahi.

   Sebenarnya, waktu kelulusan nanti aku akan menyatakan hal ini kepada manusia itu. Namun, melihat kondisinya saat ini aku menjadi ragu. Aku merasa khawatir Reno tidak akan kembali untukku. Aku genggam tangan Reno erat-erat. Aku selalu memohon kepada-Nya agar Reno lekas pulih. Aku selalu berharap, semoga hal baik akan menyertai Reno selalu.

"Aku tahu mungkin hal ini salah. Jatuh cinta kepada sahabat sendiri. Tapi, Ren. Itu yang aku rasakan saat ini. Aku tak bisa menghindar dari rasa itu, aku juga tak bisa menghilangkan rasa itu dari jiwaku." Aku harap kamu mendengarkan dari manapun itu, apa yang baru aku katakan.

"Diantara kita, memang terikat persahabatan yang erat. Aku tak tahu kamu merasakan apa yang aku rasakan atau tidak. Yang jelas, bolehkah aku selalu bersamamu lebih dari sekadar sahabat?" Please, Ren. Jawab.

.........

Antara Kita part 2

1 0

Sarapan Kata KMO CLUB BATCH 40

KELOMPOK 25

JUMLAH KATA 550

DAY 30

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Setelah semalaman aku menunggu Reno, aku merasa ingin pulang kerumah. Hanya sebentar. Kupikir, nanti siang aku akan kembali lagi kerumah sakit. Aku pamit dengan Tante Elena. Sebenarnya, aku tak tega melihat Tante Elena seorang diri menunggu Reno.

"Tante, Alysa pamit pulang sebentar, nanti siang Alysa kembali." Ucapku sopan kepada Tante Elena yang sedang duduk disofa dalam ruangan.

"Iya, sayang. Terima kasih sudah menjaga Reno dengan baik." Jawab Tante Elena dengan lembut, "hati-hati dijalan ya, nak," lanjut Tante Elena, yang kutanggapi dengan senyuman diambang pintu kamar.

Aku lantas berjalan menyusuri lorong untuk sampai dipintu utama rumah sakit. Kakiku terasa berat untuk melangkah. Berat rasanya meninggalkan Reno, aku ingin selalu bersamanya.

Sesampainya aku dirumah, aku lantas melesat kekamarku. Tak ada orang dirumah ini, semua keluargaku mungkin sangat sibuk hari ini. Tidak ada yang memperdulikanku. It's okay. No problem.

Aku menyandarkan tubuhku dikasur. Aku meraba mencari sesuatu diantara banyaknya boneka. Ya, aku sedang mencari boneka terfavoritku, yaitu boneka pemberian dari Reno. Dia adalah temanku dikala Reno tidak ada disisiku.

Kulihat ekspresi boneka octopus itu tidak ada yang menggambarkan suasana hatiku saat ini, yang sedang sedih. Aku menatap lekat boneka berwarna merah muda itu. Aku tak lagi memperdulikan ekspresinya. Aku meluapkan segala emosiku kepada boneka yang sama sekali tak bersalah.

"Kenapa? Kenapa menjadi seperti ini? Mengapa semua hal yang tak kuinginkan terjadi? Apakah itu semua adalah jalan agar membuat diriku lebih kuat lagi? Kenapa, orang yang aku sayangi semuanya menjauh? Dulu Kak James, sekarang Reno, besok siapa Lagi? Luna? Ah, kalau memang begitu, aku akan pergi saja dari bumi ini. Tak ada yang bisa mengerti diriku selain mereka."

"Hei, octopus jelek! Harusnya kamu juga ikutan sedih dong, majikan kamu lagi sakit tuh! Kok malah senyum? Heh, kok sekarang marah?"

"Hei, octopus! Tau nggak, majikan kamu itu lucu, sama seperti kamu. Kamu nggak mau, kan, kehilangan dia? Sama aku juga. Kamu sayang, kan, sama Reno? Pun begitu denganku. 

Aku tak mau memukul benda lucu nan imut ini, walaupun terkadang juga menyebalkan. Benda ini, kudapat dari Reno. Aku takut, jika aku mencelakai benda ini, Reno disana merasa bersedih. Aku peluk erat-erat boneka ini. Aku tersenyum memandangi bonekanya.

"Semangat ya, Ren. Kamu pasti bisa melewati ini semua."

Setelah aku curahkan segalanya kepada boneka itu, tidak ada salahnya jika aku merebahkan diri untuk tidur sebentar. Hanya sebentar.

   Aku tak tau apa yang akan terjadi setelah aku tertidur pulas. Ku harap tidak akan terjadi hal buruk. Kepada siapapun itu. Aku tak bisa tidur nyenyak saat ini, pikiranku selalu saja tak henti memikirkan manusia itu. Ditambah lagi dengan pengapnya kamarku, tidak ada ac bahkan kipas angin sekalipun. Membuat aku tidak bisa berlama-lama tidur.

Aku melihat jam dinding. Sudah menunjukkan pukul satu siang. Aku lantas bergegas untuk mandi. Disiang bolong begini. Mandi sangatlah membuat tubuh ini menjadi segar.

Masih saja. Aku tidak melihat manusia lain selain diriku sendiri. Ah sudahlah.

Aku segera bersiap-siap. Mengenakan pakaian yang sudah kusiapkan sedari tadi. Reno, tunggu aku, aku akan kembali disampingmu. Aku sudah menyiapkan diriku Serapi mungkin. Aku lantas keluar dari komplek untuk mencari kendaraan apa saja yang kulihat pertama kali untuk kunaiki.

Mungkin kalian bosan dengan diriku. Yang setiap kali harus mencari kendaraan umum untuk aku pergi kemanapun. Namun, itulah aku. Aku tidak dapat memaksakan aku akan hidup seperti apa. Akan tetapi, aku akan terus berusaha untuk terus berjuang untuk kehidupanku yang lebih baik dihari esok.

  Sesampainya aku dirumah sakit. Didalam ruang tempat Reno dirawat, aku tetap saja melihat pemandangan seperti sebelumnya. Manusia itu belum juga tersadarkan diri. Tidak ada siapapun didalam ruangan itu. Hanya Reno seorang.

Aku hampiri dia, ku belai lembut keningnya, aku tak henti-hentinya menatap wajahnya dengan kelu. Berharap masih ada harapan untuknya. Lalu aku duduk dikursi kecil sebelah ranjang. Ku penjamkan mataku. Terus memohon kepada yang Kuasa agar Reno segera pulih bahkan sampai membaik seketika. Semesta, aku rindu Reno.

Aku menyentuh tangannya yang lemah, sembari mengucapkan doa apa saja yang dapat membuat Reno sadar. Aku terus memejamkan mataku. Mau sampai kapan kamu seperti ini?

Terus-menerus memohon. Aku tak mau kehilangan Reno. Beberapa menit telah berlalu dalam pejaman mata yang sangat lekat. Sontak aku tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Detik ini juga. Kulihat, tangan Reno tampak bergerak. Walau perlahan. Aku mulai meneteskan air mata.

Mata Reno yang sedari tadi memejam, perlahan-lahan mulai membuka kegelapan, walau samar-samar. Aku sangat terharu dengan apa yang aku lihat sekarang. Dan benar saja. Akulah orang yang pertama Reno lihat ketika dia tersadar. Aku bersyukur.

"Mamah," ucapnya perlahan.

"Tante Elena masih pergi. Ini aku Ren, Alysa. Syukur kami sudah sadar." Jawabku dengan terbata-bata sembari mengusap air mata yang sedari tadi menetes dipipiku.

"Alysa, aku akan mengatakan sesuatu kepadamu. Sebelum semaunya terlambat." Ucapnya lirih, dengan bibirnya yang sangat pucat.

"Katakan saja. Tidak ada kata terlambat Ren, kamu akan selalu ada bersamaku. Kamu jangan ngomong sembarangan."

"Alysa, a... aku..."

"Aku, apa?" Tanyaku heran. Menatap lekat wajahnya. Aku tak mau hal buruk terjadi lagi. Reno sudah sadar itu adalah yang baik untuk hari ini.

"A... aku..." Aku melihat keadaan Reno saat ini berubah, napasnya tersengal-sengal. Aku tak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku lantas berlari keluar ruangan untuk mencari dokter ataupun suster yang ada. Aku panik. Aku tak mau kehilangan dia.

........

Last Part

1 0

     Aku keluar untuk menemui dokter ataupun suster disana. Aku berlari kesana-kemari. Setelah sekian lama, aku pun dapat melihat dokter yang sedang berjalan dilorong depanku. Lantas saja aku memanggil dokter tersebut. Aku memberikan penjelesan bahwa pasien yang berada diruang Ambar kritis, dan membutuhkan penanganan dari dokter segera. Dokter pun masuk, lalu melakukan segala cara agar Reno dapat kembali stabil.

      Aku menggungu diluar dengan keadaan takut dan khawatir, tak ada orang lain selain diriku disini. Orang tua Reno sedang pulang kerumah karna ada urusan yang sangat mendesak. Mereka mempercayakan diriku untuk menjaga anak semata wayangnya. Dan ternyata sekarang aku tidak becus untuk menjaga Reno. Reno sekarang kitis bahkan sekarat, aku sangat khawatir terhadapnya. Semesta, tolong jangan ambil dia dariku.

      Setelah sekian lama aku menunggu dan selalu berharap dalam keadaan yang sangat genting, akhirnya dokter keluar dari ruangan. Kulihat raut wajahnya sangat tenang sekali, berbeda dengan diriku, kuharap tidak ada hal buruk yang terjadi.

      “Bagaimana dok, keadaan Reno?” Tanyaku kepada seorang dokter yang ada didepanku, dokter itu Bernama Dhani, terlihat masih muda.

Sang dokter menghela napas, lalu bekata, “Tidak ada hal buruk yang terjadi kepada temanmu, bersyukur dia dapat melewati masa kritisnya, ini sungguh keajaiban.”

“Maksud dokter?” tanyaku tak paham, keajaiban bagaimana maksudnya?

“Tak biasanya seseorang yang telah mengalami cidera serius dibagian tempurung kepala dapat melewati masa kritis, temanmu sangat kuat."

    Setelah berbincang sedikit dengan dokter Dhani, aku segera masuk kedalam ruangan untuk melihat keadaan Reno saat ini. Kulihat dia sedang terdiam, matanya membulat memandangi langit-langit ruangan.

“Kamu siapa?” tanya Reno sembari menatapku nanar, apakah dia lupa dengan diriku?

“Allysa, apakah kamu lupa denganku?” jawabku.

Aku menatapnya dengan penuh heran, namun aku sama sekali tidak terkejut karna hal ini. Memang inilah konsekuensinya, tak apa yang terpenting sekarang adalah Reno dapat Kembali pulih dan sehat seperti sedia kala.

Sialnya Ketika diriku menatap lekat Reno, dia justru tersenyum kecil dan terlihat seperti mengejekku. Seketika diapun berucap, “kamu pikir aku amnesia ya?”

“Jadi?”

“IS A PRANK!”

“ASTAGFIRULLAHALADZIM! udah sehat lo?”

“Ya lu liat aja sendiri,” tukasnya sangat percaya diri, kupikir memang dia sudah sehat, aku melihat pancaran Reno dulu kala.

“Tapi lu harus banyak-bayak istirahat,” ucapku.

“Aku kangen kantin nih,”

“Gak kangen sama aku?”

“Aku tahu Lys, kamu setiap hari selalu disampingku. Jadi, buat apa kangen sama kamu,”

“Kok kamu tahu?” tanyaku kepadanya yang sedang terbaring dikasurnya, saat ini dia tidak lemah.

“Walaupun mataku selalu terpejam setiap saat, tapi hatiku ini selalu berdetak dan merasakan bahwa kamu selalu ada di dekatku,”

Aku terdiam, aku berpikir semoga saja dia tidak mendengar semua perkataan yang selalu aku ucapkan setiap saat dihadapannya. Aku malu.

“Lys, terima kasih banyak atas semua perhatian baik yang kamu berikan kepadaku, aku nggak tahu bisa mambalas semua hal baik yang kamu lakukan kepadaku atau tidak, yang jelas aku sangat bersyukur bisa mengenalmu dan berteman baik denganmu.” Ucapnya dengan nada yang sangat lirih, namun terdengar jelas.

Aku hanya bisa tersenyum disituasi seperti ini, tersenyum Bahagia, sampai-sampai air mataku terjatuh membasahi pipi.

“Alysa kenapa nangis?” tanya Reno seolah tak mengerti.

“Aku bersyukur bisa melihatmu tersenyum Kembali, setelah sekian lama mata indahmu terpejam.”

“Lys, percaya sama aku. Aku akan selalu bersamamu,”

“Apa maksudmu? Apa yang bisa membuatku yakin?” tanyaku ku kepadanya.

“Aku tak mau lagi menjadi temanmu, aku tahu kamu sangat mencintaiku,” ucapnya dengan tenang.

“HAH?” aku terperanjak kaget.

“Sudahlah Lys, walaupun aku bukan cenayang yang tahu segalanya, tapi aku tahu seluruhnya tentangmu. Selama ini aku hanyalah berpura-pura.”

“Maksudmu?” tanyaku dengan heran, semenjak Reno tersadar dai koma, kupikir sikapnya sedikit berubah.

“Aku selalu dekat dengan wanita lain selain kamu hanya untuk sekadar melihat reaksimu, ternyata kamu pencemburu.”

“Kalau sudah tahu, mengapa kamu tak mau mengungkapkannya kepadaku? Aku malu tahu,” jawabku sedikit tegas.

“Nggak usah malu, seharusnya aku yang malu, baru berani bilang setelah sekian lama jatuh cinta, nggak cowok banget kan? Jadi, kamu mau nggak?” tanya Reno, apa yang dia maksud sekarang?

“Mau apa? Minum obat? Ogah!” jawabku begitu saja.

“JADI PACARKU!”

GUBRAK!

    Benarkah ini Tuhan? Seorang manusia lemah yang sedang terbaring dikasur rawat, dengan selang infus yang masih menempel dibadannyannya dengan lekat, berani sekali dia mengucapkan hal yang tak terduga seperti itu. Tunggulah sehat terlebih dahulu, cari tempat romantic, ditaman, minus-minus di cafelah. Dan ini? Dirumah sakit? Ah sudahlah paling tidak dia mau menyatakan kejujurannya dihadapanku langsung, memang itu yang ku tunggu.

    Pada akhirnya, ternyata dialah yang menjadi teman cintaku selamanya. Semesta begitu lucu, menyuruhku berkelana jauh entah kemana, sampai ke negeri antah berantah, namun pada akhirnya sang pangeranku ternyata adalah temanku sendiri.

Kita sudah saling mengerti, mengenal, ngapain sih pacaran, langsung aja ehehe,

Tak ada yang tahu menahu soal misteri cinta, cinta sangatlah rahasia hanya takdirlah yang tahu.


End~~~~~~~

 

 

 

 

     

 


Mungkin saja kamu suka

Dessy Aryanti
Cinta yang Berbeda
Iswarti
Kontrakan Ceria
Azzahra Aulia M...
Semua Serba Daring
indah puspitani...
Raga Tak Bersisa

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil