Loading
10

0

0

Genre : Romance
Penulis : Imma Sechan
Bab : 30
Pembaca : 1
Nama : Nimatul Abadiah
Buku : 1

Bapak Asrama Putri

Sinopsis

Angga adalah seorang laki laki yang selalu menginginkan banyak wanita di hidupnya sementara iren adalah seorang wanita yang sangat menghargai hubungan, bagaimana iren bisa tetap bertahan dengan angga
Tags :
Iren dan Angga

BAB I

1 0

.#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch35
#Kelompok5
#exsclusivefive
#JumlahKata582
#Day1
#SarkatJadiBuku 

PJ         : Mellaisyah
Neng Jaga : Delmara Rallien
Ketua Kelompok : Penjelajah MarsMuh Zulfikri Arman

Judul  : BAPAK ASRAMA PUTRI
Penulis : Imma Sechan
Satu
 Iren berjalan menuju kantin kampusnya, matanya menjelajah kesana kemari dan akhirnya dia menemukan orang yang di carinya, tampak duduk di pojok kantin seorang laki-laki menghadap belakang.
 “kamu sibuk nggak hari ini?” sapa Iren sambil menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan laki-laki berwajah maskulin dengan senyum menawan
“hmm.. sibuk nggak sih cuman aku ada janji sama Rio mau mabar!” Iren Cuma bisa manyun kalau sudah dapat jawaban seperti itu dari Angga.
 Angga adalah laki-laki paling cakep di kampusnya wajar jika banyak perempuan yang mengidolakannya dan bilang kalau Iren sangat beruntung bisa menjadi pacar angga selama bertahun-tahun.
 “baiklah sayang, kalau begitu!” jawab Iren sambil mengelus pipi Angga 
***
 “Yo, jadi gimana? “ 
“gimana apa sih Ngga?” Yang jelas dong kalau bicara”
 “nomor whatsapp Gladis, cewek populer di fakultas ekonomi!”
“populer juga Iren, perfect, tinggi, mandiri, model, tiap hari wajah berseliweran di televisi, gila nggak tuh hampir semua iklan dia bintangnya!”
 “ bosan ngumpet-ngumpet terus dari wartawan”
“eh nomor whatsappnya aku belum, tapi infonya dia anak salah satu pejabat penting negeri kita tercinta Indonesia ini loh!”
 “nggak penting dia keturunannya siapa?”
“ oh iya ya yang penting itu nomor whatsappnya hahahaha!” gelak tawa Rio membuat orang-orang yang berada di sekitar mereka menoleh.
 “turunin volume ketawa kenapa Yo?”
“eh maaf terlanjur!”
***
 Cuaca panas sepertinya membuat Iren memilih mengarung diri di kamar kostnya daripada keluar rumah sambil membuka aplikasi facebook miliknya
“astaga, Arya … oh good dia kerja satu tempat dengan Iyo? “ batin Iren ketika tanpa sengaja melihat foto seorang laki-laki berseragam dokter lewat di berandanya
 “hallo, Iyo aku ada cerita, mau dengar nggak nih?”
“cerita apa Ren? “ terdengar suara Iyo sahabat kentalnya Iren dengan nada malas di sebrang sana
 “mantan aku, dia kerja di rumah sakit keluarga lo!”
“serius? Namanya siapa? Nggak terlalu hafal sih gua sama nakes disini!”
 “Arya, bentar ku kirim fhotonya di wa lo ya!”
“owh ini, ini sih di IGD dia, cakep orangnya!”
 “iyalah makanya aku jadi pacarnya dulu, wajahnya oriental gimana gitu ya kan, udah gitu tau nggak dia itu lelaki teromantis yang pernah ada!”
 “tapi ini suaminya Eca bidan di sini!”
“iya tau, ribet banget sih lo!”
***
 2009 akhir awal Iren berkenalan dengan Arya lewat sosial medianya, hari kehari hubungan mereka makin intens sampai suatu hari Iren ketemu dengan Arya malam itu hujan deras dan sudah tengah malam, Arya bela-belain datang dengan badan basah kuyup demi ketemu Iren padahal saat itu Iren masih berstatus pacarnya Rully tapi perjuangan Arya malam itu dikalahkan dengan keesokan harinya Iren di bawa Rully ketemu keluarganya dan menyatakan dia serius dengan Iren dan setelah lulus kuliah akan menikahi Iren.
 April 2010 Iren putus dengan Rully tanpa ada alasan yang bijaksana dan saat itu Iren mencoba mencari Arya kembali namun tiap postingan Arya sudah bersama Eca tapi tidak sampai disitu beberapakali mereka masih sering ketemu dan menjalin hubungan kembali atas dasar sama-sama cinta di belakang Eca sampai di awal tahun 2012 tepat malam pergantian tahun sahabat Iren mengirim fhoto undangan Arya dan Eca yang membuat Iren kembali patah.
 “Ah, sudahlah kenapa aku jadi rindu gini sih sama Arya?” batin Iren sambil mengusap kasar wajahnya. Perlahan di raihnya gawai diatas lemari hiasnya, dibukanya satu persatu notif di sosial medianya.
 “What ……..!” teriak Iren refleks begitu melihat ada notif di facebooknya lima menit yang lalu Arya menyukai foto nya.
 “andai saja dulu aku lebih memilih Arya mungkin? ah sudahlah, lupakan!”

Bagian 1
bersambung

BAB II

1 0

“Hallo sayang, jadi bareng nggak hari ini ke kampusnya?” terdengar suara serak-serak basah khas Angga dari seberang sana.
    “jadi, jemput sekarang ya sayang!” sahut Iren sambil senyum-senyum.
“sayang, lama nunggunya?”
***
    “nggak, nggak sampai lumutan hehehe” canda Iren pada Angga yang tetap konsentrasi memperhatikan jalan di depannya.
    “senang banget kayaknya pagi ini, ada apa ya?”
“kan di jemputi sama pacar terkasih” sahut Iren sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Angga
    Dret… dret…. sekilas Iren melihat ke arah gawai Angga yang dari tadi berbunyi.
    “Aku angkat ya sayang!” pinta Iren pada angga yang lagi asyik nyetir.
“hmmm…!” jawab angga sambil mengangguk pelan.
    “hallo, siapa ya?” tanya Iren karena memang nomornya tidak ada namanya.
    “Gladis!” jawab perempuan di sebrang sana
“owh, Angganya lagi nyetir, ada pesan kah?”
    “bilangan ke Angga nanti siang jadikan nemenin belanja ke mall?”
“nanti Aku bilangan ya kak!” sahut Iren dengan raut muka tiba-tiba masam
    “sayang, Gladis barusan nanya, jadi nggak nganterin belanja nanti siang? Siapa Gladis?” tanya Iren dengan nada kesal.
    “oh, Dia anaknya teman mama baru tinggal disini jadi aku di suruh anter kemana-mana, kamu biasa aja dong wajahnya sayang!”
    “ya udah, hati-hati ya jagain anak orang!” ketus Iren pada angga.
“tenang aja sayang, cuma kamu kok di hati aku, senyum dong!” goda Angga pada Iren yang masih agak malas bicara banyak.
    “iya sih cuma aku di hati kamu, yang di chat banyak ya kan sayang,” sahut Iren dengan muka di tekuk.
“udah jangan di tekuk gitu dong mukanya sayang, masih pagi gini juga!”
“berarti nanti nggak bisa pulang bareng ya?” 
    “ya gitu deh, mau gimana lagi dong, demi menjalankan tugas negara!”
“ya udah aku masuk duluan” jawab Iren langsung keluar dari mobil Angga berjalan menuju kampus tanpa menoleh lagi.
    “dah… sayang!” teriak angga dari dalam mobil.
***
    Pagi yang sangat cerah tapi bagi Iren sama saja gelap setelah semalam sahabatnya Vina mengirim foto Angga yang terlihat mesra dengan seorang wanita yang kata Vina wanita itu namanya Gladis.
    “gila sih, pegangan tangan mereka, katanya anak teman Mamanya, ah bener nih kayak lagunya Tata janeeta cinta sebodoh ini, liriknya kan ngena banget sama aku, ah gara- gara aku sering nyanyian apa ya?” Iren bergumam sambil menyeka airmata nya karena yang ada di fikiran dia sekarang hanyalah bayangan foto mesra Angga.
    “Angga, Ini sudah yang kesekian lo giniin gue ya, bukannya minta maaf malah nggak ada kabar dia!” ucap Iren seakan akan marah pada dirinya sendiri
    Dret…dret…dret suara getar gawai dari atas nakas cukup membuat Iren terbangun dari lamunannya tentang foto Angga.
    “hai, Iren apakabar?” isi pesan Whatsapp yang tidak ada nama pengirimnya
“kabar baik, ini siapa ya?” balas Iren
    “gue Arya!”
“Arya? Ada apa dia hubungin gue? apa dia feeling gue lagi galau ya?” kata Iren pada dirinya sendiri sambil berfikir mau di balas apa chat Arya
    “eh, apa kabar? Tumben chat?”
“kabar baik, biasa lagi keluar kandang!”
    “kemana?”
“istri cuty melahirkan, pulang kampung Dia!”
    “selamat ya, udah anak kedua, hehehe!”
“iya terimakasih ya”
    “entah harus bahagia atau gimana ya ini?” batin Iren
dret… dret tiba tiba ada suara pesan masuk lagi di aplikasi Whatsapp nya.
    “Ren, aku minta maaf ya 6 tahun lalu ninggalin kamu gitu aja, karena jarak sih!”
    “karena dia juga kan!” balas Iren disertai emoticon marah
“karena jodoh juga sih!”
    “ya udah aku maafin, sekarang aku mau istirahat dlu, bye!”
“bikin baper aja sih kerjaannya suami orang ini!” kata Iren sambil melemparkan asal gawainya.

BAB III

1 0

“Ren,Iren…..!” teriak Vina dengan nafas terengah-engah menghampiri Iren
“ada apa sih? kayak orang habis melihat setan aja kamu Vin!”
    “eh lo harus tau, gue dapat info kalau nih kalau ya si Angga soulmate lo itu udah jadian sama si Gladis!”
    “udah ah Vin, malas gue bahasnya orang ada yang lebih penting dari itu sekarang!”
    “apa? apa yang lebih penting daripada seorang Angga?”
“adalah, emang dia siapa? Bapak asrama putri yang kontak di Handphone dia isi nya cewe semua?”
    “apa tadi tolong di ulang bapak asrama putri? Sejak kapan si Angga punya kos-kosan?” goda Vina pada sahabatnya yang lagi kesal
    “apaan sih lo Vin? eh gue mau cerita nih, mau dengar nggak?”
“mau lah pasti seru nih, jarang-jarang lo mau cerita biasanya lo nempel Angga terus”
    “jadi gini, si Arya mantan gue beberapa tahun lalu pastinya gue lupa!”
“kenapa? Ngajak balikan terus elo terima karena lo ngerasa di hianati Angga?”
    “suka ngasal deh kalo ngomong kan!”
“terus?”
    “makanya kalo orang lagi bicara jangan suka motong-motong Bu!”
“iya deh, terusin!”
    “jadi Arya chat gue minta maaf gitu dia dulu ninggalin gue, klise banget kan ya?”
    “bukan lagi!” jawab Vina sambil mengibaskan rambut panjangnya
“Gue kan bisa gagal move on kalo dia chat lagi besok-besok!”
    “masih ngarep lo?” ledek iren sambil menepuk pundak sahabatnya.
“nggak juga, nggak lah suami orang ngapain? Gue mikir gue mau berbenah dulu!”
    “berbenah hati maksud Lo?”
“hahahahaha” Iren dan Vina serentak tertawa.
***
    “Dis, kamu suka dres nya?” tanya Angga pada Gladis yang lagi memutar-mutar badannya di depan cermin di sebuah butik
    “suka sih sayang tapi warnanya aku kurang srek!”
“ya udah pilih model lain lagi, nggak papa!”
    “beneran kamu mau nungguin aku sayang?”
“iyalah apasih yang nggak buat kamu!”
    Tanpa sadar Angga dan Gladis sedang diperhatikan oleh seseorang yang kemudian perlahan menghampiri keduanya.
    “hai Ngga, Iren mana?” tanya wanita itu to the point
“eee h ello Vin, sendiri aja?” jawab Angga terbata seraya menarik lengan Iren kepojokan
    “apaan sih lo Ngga tarik-tarik gue!” kata Vina sambil menarik tangannya
“Vin, gue minta tolong ya Iren jangan sampai tau!”
    “terlambat, Iren sudah tau dan aku nggk tau dia bakal maafin lo lagi atau malah kelain hati!” sahut Vina dengan nada sedikit meninggi
    “sayang, yang ini bagus nggak?” terdengar suara Gladis yang baru keluar dari kamar pas
    “udah ya, urus cewek baru lo, hilang semangat shopping gue ketemu lo disini!” kata Vina sambil mengibas rambut panjangnya kemudian pergi dari butik itu
    “sayang, mana sih?” teriak Gladis lagi karena tidak juga menemukan Angga
“hai sayang, aku barusan ke luar sebentar ngerokok!”
    “nggk ijin ih kamu, aku nyariin tau, eh bagus nggak yang ini sayang?” sahut Gladis sambil menunjukan sebuah dres berwarna merah jambu.
    “bagus, tapi ya kamu itu pakai apa aja bagus kok” sahut Angga
“ya udah aku ambil yang ini aja ya sayang!”
***
    Malam ini hujan gerimis membuat semua orang malas untuk beraktifitas di luar rumah begitu juga Iren, tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkan dia.
    “siapa ya?” teriak iren dari dalam rumah sambil berjalan menuju ke arah pintu
    “masuk Vin, ada apa lo kesini hujan-hujanan nggak takut lo jadi mermaid?”
“bagus dong kalau gue jadi mermaid kalo gue nangis airmata gue jadi mutiara!” sahut Vina sambil mencolok pinggang sahabatnya.
    “iya deh ntar gue bikin lo nangis terus ya, lumayan biar cepat kaya!”
“nih gue bawaan martabak special kesukaran lo!”
    “makasih ya darling ello emang juara menyenangkan hati dan perasaan gue!”
“iya dong nggak kaya yang ono!” sahut Vina sambil menunjuk foto Angga di atas meja rias Iren
    “hahahaha dendam banget lo sama dia, gue aja biasa kok!”
“biasa di sakitin!”
    “cinta sebodoh ini kata mbak Tata janeeta!”
“sudah gue bilang jangan suka nyanyi lagu itu ntar kejadian!” 
    “kebetulan darling (dadar guling)!”
“eh gue tadi sore pas balik kampus kan mampir di butik punya tante gue niat mau beli baju malah ketemu dua orang menyebalkan, dan kamu tau siapa?” 
    “Angga sama pacarnya!”
“eh kok tau, belum juga di kasih tau!”
    “udah ketebak dari raut wajah anda Bu!”
“emosi gue, emosi!”
    “udah kan gue bilang kita nggak usah bahas mereka!”
“tegar banget sih Dar!”
    Iren cuma membalas ucapan sahabatnya itu dengan senyum, karena dia hafal tabiat Angga bagaimana.
BERSAMBUNG

BAB IV

1 0

“Ren, lo ada waktu nggak hari ini, temenin gue ngopi yuk!” Iren langsung senyum-senyum sendiri ketika bangun tidur membuka gawai nya dan ada pesan seperti itu dari sahabatnya Iyo yang memang mereka jarang ketemu karena tinggal berbeda kota.
    “iyalah jelas gue punya waktu buat lo yang ribuan purnama tidak bersua!” balas Iren sambil merapikan rambutnya
    “okey gue jemput setengah jam lagi, lo siap- siap dandan yang cantik!”
Bergegas Iren mandi dan bersiap dandan secantik mungkin karena dia sangat tau sahabatnya ini sangat marah kalau melihan Iren tidak sesuai dengan harapannya biasanya mulai hijab, baju sampai sepatu dia komentari.
    “hay, yuk berangkat!” sapa seorang laki berperawakan sedang, berkulit putih berwajah seperti bintang kore
    “ yuk, jadi udah berapa hari lo disini yo?”
“baru tadi malam gue nyampe dan langsung kepikiran lo!”
    “hahahaha biasa lah ya kita soulmate!”
“kita ngopi tempat biasa ya!” kata Iyo menawarkan
    “terserah yang bos nya ajalah!” sahut Iren dengan mata membulat
“lo tu cantik tapi kalau dengan ekspresi seperti itu jadi minus delapan puluh!”
    “banyak banget minusnya, nggak sayang kamu sama sahabatmu ini!”
“hahahahahahaha!” gelak tawa mereka berdua menemani perjalanan hingga tidak terasa mereka sampai di sebuah café yang tidak terlalu luas tapi tempatnya instagramable sekali kalau kata Iren, setiap sudutnya bagus untuk spot foto karena kebetulan hobi dua orang sahabat ini adalah foto, biasanya yang memoto dan mengarahkan gaya Iyo dan yang suka di foto dimana saja adalah Iren. Mata Iren menjelajahi setiap sudut ruangan cafe itu mencari dimana dia akan memulai mengatur gaya untuk berfoto, mata Iren tertuju pada pasangan yang asik berfoto juga di bagian tengah cafe itu,
    “Angga….!” lirih Iren sambil mengepal kedua tangannya karena mendadak Iren merasa panas dingin tak karuan melihat pemandangan didepan matanya.
    “Ren, ayo!! Mau dimana!” seru Iyo membuyarkan 
“bentar, bentar!” sahut Iren gemetar
    “ada apa kamu kok tiba-tiba berubah?” tanya Iyo penasaran
“itu Yo, di depan sana Angga!” kata Iren pelan sambil menangis
    “cowok lo yang sering lo ceritain?” tanya Iyo sambil menyelidik wajah Iren 
“hmmm… iya!” jawab Iren tersendat karena airmatanya terus menetes tanpa diminta
    “kita samperin?” kata Iyo emosi
“nggak usah, kita pulang aja!” sahut Iren sambil terisak
    Tiba-tiba tanpa disadari Iyo dan Iren, Angga menatap kearah mereka kedua netranya membelalak seperti bola pimpong, tingkah Angga jadi aneh dan serba salah antara ingin menyambangi keduanya tapi ada Gladis didepannya yang Nampak berseri seri.
    “sayang sini yuk, foto berdua!” ucapan Gladis cukup membuat Angga terperanjat.
    “hmmm iya yuk, dimana?” sahut angga sambil berusaha menutupi kalau dia lagi salah tingkah.
    Sementara dari kejauhan Iren dan Iyo memperhatikan gerak gerik Angga sambil sesekali Iren menyapu lembut pipinya yang basah oleh airmatanya.
    “pulang aja yuk, kita cari tempat lain!” ajak Iyo pada Iren sambil menarik tangan Iren keluar dari cafe itu.
    “iya!” jawab Iren singkat sambil mengikuti Iyo dan sesekali melihat kebelakang
    “ayo, ah ngapain liat kesana lagi!” ucap Iyo dengan nada emosi
Iren Cuma bisa diam kalau sudah melihat raut wajah sahabatnya yang penuh emosi terlihat seperti mau memakan apa saja yang ada di hadapannya.
    “kenapa sih Lo masih bertahan saja sama tipe macam dia?” Iyo membuka pembicaraan setelah sempat hening beberapa saat didalam mobil
    “dia baik Yo!” sahut Iren masih dengan nada sedih
“hah……. Baik lo bilang? cowo baik nggak kayak tadi Ren!” ucap iyo setengah berteriak di depan wajah Iren.
    “anterin gue pulang aja Yo, malas bahas ini!” jawab Iren dengan suara parau
“kebiasaan kamu nih, ya udah berfikirlah dengan jernih ya, besok putus udah!” sahut Iyo sambil memutar stir mobilnya untuk balik arah menuju kost Iren.

BAB V

1 0

Malam semakin larut Iren tak bisa juga memejamkan mata sedikitpun kejadian sore tadi di cafe lumayan menyita otak dan hatinya, kadang senyum-senyum sendiri kadang menangis ssesegukan itu saja yang Iren lakukan sambil mendengarkan lagu Cinta sebodoh ini milik Tata janeeta.
    “Tuhan kenapa gini amat sih, Angga tega sih padahal apalagi coba yang nggak aku turutin kemauan dia, kapan coba aku pernah tidak percaya sama dia?” lirih Iren sambil memegang gawai nya dan memperhatikan wallpaper yang memperlihatkan foto dia sama Angga yang terlihat begitu bahagia, iya foto itu adalah foto awal-awal mereka jadian dua tahun lalu.
    Teng… teng bunyi alarm pada gawai yang di pegangnya mengagetkan Iren, dia langsung memeriksa ada notif apa? Anniversarry Iren-Angga tulisan pada layar gawainya di sertai emoticon love dimana mana.
    “hah dua tahun anniversary??” kata Iren sambil langsung duduk dan menscroll chat di aplikasi whatsappnya mencari chat terakhir Angga
“happy anniversary sayang!” ketik Iren pada aplikasi whatsappnya kemudian di hapusnya lalu di tulisnya lagi kata kata itu beberapa kali,
    “hmmm… dia balas nggak ya?” batin Iren sambil terus memperhatikan gawainya
    Jam sudah menunjukan pukul 02.00 dini hari Iren masih bolak balik menulis chat untuk Angga lalu di hapusnya sambil sesekali menangis memperhatikan gawainya mengingat anniversarynya tahun lalu dia merayakannya bersama Angga,vina dan Iyo di bali, dibawah temaram sinar bulan dan beberapa lilin kecil Angga menyanyi untuk Iren kemudian dibalas Iren dengan puisi yang sengaja iya siapkan jauh sebelum merayakan anniversarynya, tapi tahun ini berbanding terbalik hadiah yang dia terima adalah menyaksikan Angga tertawa lepas dengan perempuan lain, meskipun sudah biasa iya dapati chat Angga dengan beberapa wanita tapi selalu di anggap Iren biasa saja selama Angga masih disampingnya.
    “kamu so sweet banget sih sayang!” lirih Iren sambil mengusap airmatanya yang jatuh tak beraturan lagi
    “kamu lebih bahagia ya sama dia?” Iren terus meracau tak karuan sambil memukul mukul kasur tempat dia berbaring.
***
    Sinar matahari mulai menyusup masuk kedalam kamar, pancaran sinar itu cukup menyilaukan Iren.
    “ah, sudah pagi ternyata!” kata Iren sambil mengusap usap matanya kemudian berdiri menghadap cermin di samping tempat tidurnya, kemudian iya tersenyum kea rah cermin yang menunjukan apa adanya dirinya dengan mata sembab akibat semalaman menangis
    “hahahaha jelek nya Aku, nangisin cowok, hahahaha!” ucap Iren lagi kemudian tertawa melihat keadaan dirinya di depan cermin, lalu bergegas pergi kekamar mandi membersihkan dirinya.
    “udah pukul 08.00 gue ada kelas nih!” kata Iren sembari membereskan buku bukunya yang berserakan di atas meja, lantas berjalan kedepan gang untuk menunggu angkot yang akan membawanya kekampus.
    “sayang, Ren .. tunggu!” teriak seorang laki laki yang suaranya sudah sangat akrab di telinga Iren, tapi Iren malah lebih mempercepat langkah kakinya dan masuk kedalam angkot yang iya lambai
    “sayang tunggu !” teriak laki laki dengan perawakan tinggi berkulit putih itu sambil berlari mengejar angkot yang di tumpangi Iren namun usahanya sia sia, akhirnya dia berdiri di tengah jalan sperti orang linglung seraya menjambak kasar rambutnya sendiri.
    “Neng, nggak turun aja kasian masnya, ngejar kita!” kata sopir angkot kepada Iren dan cukup mengagetkan Iren yang sedari tadi hanya menatap kearah laki laki yang beretriak itu dengan tatapan kosong
    “nggak Pak, nggak usah kita terus jalan saja, nanti saya bisa terlambat kekampus!” sahut Iren dengan tatapan nanar kearah jendela angkot yang iya tumpangi

BAB VI

1 0

“move on, ayo semangat!” kata Iren pada dirinya sendiri, karena lebih baik sendiri dari pada ada pasangan tapi selalu tersakiti,
    “iya, Aku harus kuat, dulu sebelum ada Angga hidup sudah sangat bahagis dan sekarang tanpa Angga harus lebih bahagia!” ucap Iren lagi sambil tersenyum.
    Pukul 09:00 jadwal pemotretan Iren bersama beberapa teman sesama modelnya, Iren dating lebih pagi dan duduk di ruang make up sambil membaca novel kesayangannya.
    “kak Iren di tunggu pak Alan di ruangan kru!” kata seorang gadis yang kelihatannya lebih muda beberapa tahun dari Iren
    “baik,An terimakasih ya!” sahut Iren sambil meletakan novel kesayangannya di meja rias lalu berjalan kea rah ruangan pak Alan ceo produk yang memakai Iren sebagai modelnya.
    “pagi Pak!” sapa Iren pada pak Alan dan seorang laki laki berwajah maskulin dengan postur tinggi besar berkulit exotic sepertinya dia bukan orang Indonesia
    “silakan duduk Ren!” sahut pak Alan
“terimakasih pak!” balas Iren sambil melempar senyum kea rah Pak Alan dan tamunya yang terlihat sesekali mencuri pandang pada Iren.
    “oh iya Ren kenalkan ini Alex, dia ini yang akan jadi pasangan kamu jadi model video klip untuk shooting di Bali minggu depan!”
    “baik Pak!” sahut Iren sambil mengulurkan tangannya pada Alex
“Alex, senang berkenalan dengan anda!” sapa Alex pada Iren sambil menyambut uluran tangan Iren.
    “Iren!” balas Iren singkat
“jadi minggu depan itu kita berangkat ke Bali dan kemungkinan disana selama dua minggu lanjut shootingnya di Jakarta lagi!” kata pak Alan menjelaskan
    “baik Pak!” sahut Iren dan Alex bersamaan, kemudian mereka saling menatap dan tersenyum
    “oh iya Iren, Alex ini baru di sini jdi tolong di arahkan ya, dan kamu Alex selama kamu di sini kamu bisa minta bantuan Iren kalo kamu butuh sesuatu!”
    “oke Pak!” sahut alex lalu melempar senyumnya lagi kea rah Iren, sementara Iren hanya menunduk karena bagi Iren, Alex terlalu cool sebagai laki laki
    “baik, sampai disini saja, sampai ketemu minggu depan!” Pak alan kemudia berlalu meninggalkan ruangan kru itu dan tinggallah Iren cuma berdua dengan Alex.
    “Ren, boleh save nomor whatsapp kamu?” tanya Alex mencairkan suasana yang tadi nya sangat formal
    “oh boleh!” balas Iren sambil menyebutkan nomor ponselnya
“Aku duluan, ada pemotretan di studio sebelah!” sambung Iren lagi sambil berlalu meninggalkan Alex.
***
    Dret… dret getar gawai Iren cukup mengagetkan dia yang dari tadi asyik menikmati es boba kiriman Iyo sahabatnya, di ambilnya gawai dari atas kasur ditelitinya pesan yang masuk di aplikasi whatsappnya
    “hai… Iren, save ya! Alex!” reflex Iren senyum senyum ketika membaca pesan itu
    “ aih pesan dari bule turki!” lirih Iren sambil dengan lincah jari jarinya membalas pesan dari Alex,
    “hai juga, iya Aku save ya!” balas Iren di sertai emoticon senyum
“lagi apa Kamu Ren?” balas Alex lagi
    “santai, abis ngemil!” jawab Iren
“kalo nggak sibuk boleh temani Aku membeli beberapa buku?” 
    “boleh, kebetulan Aku free hari ini!” balas Iren dengan ekspresi senangnya karena setidaknya hari ini dia ada teman untuk keluar meski Cuma sekedar membeli buku.
    “oke, terimaksih ya, biar Aku jemput sekarang!” 
Tanpa menunggu lama, sudah terdengar saja suara klakson mobil alex didepan kost Iren, Iren pun bergegas keluar menghampirinya.
    “hai, ayo masuk!” sapa Alex pada Iren sambil membukakan pintu mobil tepat disebelahnya
    “terimakasih ya!” balas Iren dengan senyum khas lesung pipi nya
“eh Ren beneran nggak lagi sibuk kan?” tanya Alex sambil menatap wajah Iren

BAB VII

1 0

Dret… dret getar gawai Iren cukup mengagetkan dia yang dari tadi asyik menikmati es boba kiriman Iyo sahabatnya, di ambilnya gawai dari atas kasur ditelitinya pesan yang masuk di aplikasi whatsappnya
    “hai… Iren, save ya! Alex!” reflex Iren senyum senyum ketika membaca pesan itu
    “ aih pesan dari bule turki!” lirih Iren sambil dengan lincah jari jarinya membalas pesan dari Alex,
    “hai juga, iya Aku save ya!” balas Iren di sertai emoticon senyum
“lagi apa Kamu Ren?” balas Alex lagi
    “santai, abis ngemil!” jawab Iren
“kalo nggak sibuk boleh temani Aku membeli beberapa buku?” 
    “boleh, kebetulan Aku free hari ini!” balas Iren dengan ekspresi senangnya karena setidaknya hari ini dia ada teman untuk keluar meski Cuma sekedar membeli buku.
    “oke, terimaksih ya, biar Aku jemput sekarang!” 
Tanpa menunggu lama, sudah terdengar saja suara klakson mobil alex didepan kost Iren, Iren pun bergegas keluar menghampirinya.
    “hai, ayo masuk!” sapa Alex pada Iren sambil membukakan pintu mobil tepat disebelahnya
    “terimakasih ya!” balas Iren dengan senyum khas lesung pipi nya
“eh Ren beneran nggak lagi sibuk kan?” tanya Alex sambil menatap wajah Iren
    “nggak, eh kamu cepet banget tadi datangnya, baru juga Aku sharelok kost Aku!” kata Iren membalas tatapan Alex
    “oh, Aku sudah lumayan sering bolak balik Istambul – Jakarta Ren!”
“sama pak Alan udah lama dong?” tanya Iren lagi
    “lumayan, tapi ketemu Kamu baru sekali ini!” balas Alex sambil memperhatikan iren
    “eh kita sudah sampai!” Iren mencoba mengalihkan pembicaraan karena dari tadi dia memang kurang nyaman dengan cara Alex menatapnya
    “ayo turun!” sahut Alex sambil membukakan pintu mobilnya 
    Tidak terasa waktu berjalan Iren dan alex memutari took buku langganan Iren sampai larut malam
    “sudah pukul 09.00 pulang yu!” ajak Iren pada Alex dan Alex pun mengiyakannya.
***
    Pagi mendung dengan hawa yang cukup dingin membuat siapa saja malas untuk memulai aktivitas pagi ini, tapi tidak untuk Iren, pukul 08.00 dia bergegas menuju kampusnya dengan memesan taxi online agar lebih cepat sampai, biasanya Iren lebih suka naik angkot karena baginya Cuma didalam angkot iya mendapatkan banyak pelajaran hidup, kurang lebih tiga puluh menit perjalanan akhirnya Iren tiba di kampusnya, buru buru iya turun dari taxi online yang di tumpanginya stelah membayar.
    “sayang tunggu!!” teriak seseorang dari belakang yang Iren sudah sangat hafal suara siapa? Kemudian Iren mempercepat langkahnya tapi tidak berhasil karena langkah kaki angga jauh lebih cepat dari dia.
    “sayang, kita bicara dulu!” kata angga sambil menarik pergelangan tangan Iren
    “Aku buru-buru!” sahut Iren sambil berusaha melepaskan pegangan Angga
“sebentar saja sayang!” pinta Angga dengan nada memohon, akan tetapi Iren tetap menjauhinya dengan setengah berlari, seperti kehabisan cara untuk menahan Iren, akhirnya Angga duduk di kursi taman kampus sambil memegang kepalanya yang tidak sakit.
    “Ngga, hey ngapain kamu disini?” suara Vina yang tiba-tiba datang cukup mengagetkan Angga
    “heh,ello Vin!” sahut Angga lesu tanpa melihat kea rah Vina
“kenapa lo, kayak orang frustasi tau nggak?” tanya Vina setengah meledek
    “Iren kenapa ya Vin, menghindar sepertinya dari gue!” tanya Angga pada Vina dengan wajah lesunya
    “ya kali lo fikir sendiri, ada buat salah apa sama dia?” sahut Iren menginterogasi
    “entah Vin, gue sih ngerasa seperti biasa aja, kami nggak ada ribut-ribut gitu tapi pas gue mau ketemu, Iren malah kayak menghindar gitu!”
    “yakin sekali anda nggak buat salah!” selidik Vina seakan dia tidak tau apa-apa.
    “Vin, lo bisa bantuin gue nggak? Bujuk Iren biar mau baikan sama gue!” pinta Angga
    “gue bukan Tuhan Ngga yang bisa mengabulkan permintaan hambaNya begitu saja!” sahut Vina ketus
    “gue minta tolong, susah amat!” gerutu Angga
“minta tolong lo bilang, hey mas Angga adriawinata, maaf anda sudah beberapakali menyakiti hati sahabat saya, semoga anda paham!” kata Vina sambil berjalan meninggalakan Angga
    “apaan sih, bukannya bantuin juga!” kesal Angga sambil mengusap kasar kepalanya
dret dret …. getar gawai mengagetkan Angga
    “hallo, iya sayang!” kata Angga mengangkat gawainya
“jadi jemput nggak? Kok lama!” rengek seorang perempuan di sebrang sana dengan nada manjanya
    “bentar nih otw!” sahut Angga langsung beranjak dari tempat duduknya menuju tempat parkir mobilnya
    “jangan lama-lama ya, kalo lama Aku naik taxi online nih!” terdengar suara Gladis yang mengancam dari sebrang sana
    “iya ini sudah dalam mobil kok, ribet amat sih!” jawab Angga kesal
“okey, Aku tunggu!” sahut Gladis manja
    “ternyata ribet si Gladis ini,apa-apa maunya diturutin terus, bukannya bikin Happy malah nyiksa, mana Iren berubah juga nggak ada angin nggak ada hujan, hmmm! Eh apa dia liat Aku kemarin sama Gladis di cafe? Tapikan biasanya dia konfirmasi, nggak pernah main pergi-pergi gini aja, tau ah!!” batin Angga sambil melajukan mobilnya menuju kampus Gladis
    “vina juga barusan aneh kayak liat terdakwa pencuri sapi wajahnya kesel gitu! Biasanya bantuin banget kalo Aku ada masalah sama Iren!” gumam Angga lagi
    “eh iya Iyo pasti dia tau sesuatu, kan dia tempat curhat Iren 24 jam!” kata Angga lagi sambil menscroll gawainya menccari nomor Iyo
    “hallo, Angga, ada apa?” kata Iyo begitu telepon tersambung
“Yo, lo sibuk nggak bisa ketemu nanti sore?” jawab Angga
    “kalo lo mau bahas masalah Iren, maaf itu gue yang nyuruh dia ninggalin lo!” tanpa basa basi Iyo langsung menutup telponnya
    “hallo Yo hallo!” merasa sudah tidak terhubung lagi Angga kemudian melempar asal gawainya.

BAB VIII

1 0

Setelah beberapakali bolak-balik didepan cermin akhirnya Iren memutuskan juga hari ini dia memakai setelan kaos dengan ripped jeans putihnya “Bali I’m coming” kata Iren sambil tersenyum didepan cermin kemudian meraih beberapa amplop yang berisi surat hasil swab dan amlpop satunya berisi tiket untuk berangkat
    “lengkap!” kata Iren lagi kemudian bergegas keluar karena taxi online yang dia pesan untuk mengantar kebandara sudah tiba di depan kostnya. Tidak terasa satu jam perjalanan taxi online yang di tumpangi Iren sampai juga di bandara, sambil menarik kopernya Iren celingak celinguk mencari-cari keberadaan Pak alan dan Alex yang katanya sudah sampai duluan di bandara.
    “hay cantik,! teriak Alex sambil melambaikan tangannya kemudian dib alas oleh Iren.
    “maaf Aku lambat!” sapa Iren sama Pak alan yang berdiri di depannya dan alex
    “tidak masalah, kita berangkat setengah jam lagi!” sahut Pak Alan santai
Setelah hampir dua jam perjalanan akhirnya Iren, Pak Alan dan Alex tiba juga di Bali, disana mereka sudah disambut sama beberapa orang kru nya Pak Alan, mereka langsung di antarkan ke kamar masing-masing untuk istirahat.
    “hmmm… senangnya!” kata Iren sambil merentangkan kedua tanganya sesaat setelah bangun tidur
    Dret dret …. Suara getar gawai dari atas meja cukup membuat Iren terkejut, secepat kilat diangkatnya telpon dari Alex
    “hallo, hai keluar yuk liat sunset!” terdengar suara serak serak basah seorang laki-laki di sebrang sana
    “bentar, siap-siap dulu, Aku baru bangun tidur, hehehe!” balas Iren kemudian bergegas menuju cermin untuk berdandan ala kadarnya, setelah selesai dia langsung menemui Alex yang sudah terlihat berdiri di lobi hotel lengkap dengan setelan kemeja pantai, celana pendek nya lengkap dengan topi bulat dan kacamata hitam, terlihat sangat maskulin dan cukup menarik perhatian Iren.
    “sudah lama gaes?” sapa Iren pada Alex yang sedari tadi asik memandang kea rah pantai
    “lumayan gaes, udah berakarnih peregelangan kakiku!” canda Alex lalu mereka tertawa berbarengan, lalu mereka berjalan beriringan menuju pantai
    “di sini tenang ya, hehehe jadi nggak pengen pulang!” kata Iren membuka pembicaraan sesampainya mereka di pantai
    “apalagi ada kamu!” canda Alex terbahak kemudian di balas Iren
“eh mau Aku buatin puisi nggak?” tanya Iren menatap nyata wajah Alex
    “bisa Kamu?” tanya Alex penasaran
“meremehkan ini kata-katanya!” balas Iren sambil tertawa
    “ya mungkin nggak bisa, kamu kan model ya kali jago puisi juga?” kata Alex menimpali
    “dengerin ya!” balas Iren lagi
 Senja menarikku dari masalah
Yang kemarin sudah menghujaniku dengan air mata 
Beberapa kehilangan coba Aku ikhlaskan
Menapaki kembali jalan yang sudah kita buat bersama
Meski sendiri 
Yakinku kuat
Kunikmati saja segala lukaku 
Biarkan dia tenggelam bersama senja
Hingga Rinai hujan tak lagi menghempas
Dan ombak laut tak lagi kejam menghampiriku
Saat malam menyapa dengan seribu cerita indahnya
     Prok prok prok….. alex bertepuk tangan tanpa disuruh “bagus, ternyata model bisa juga bikin puisi dadakan!” ledek Alex tapi tidak berhasil membuat Iren kesal, Iren malah tersenyum
    “makasih ya, nanti kalau butuh puisi boleh kontek Aku, harga bersahabat!” balas Iren menggoda Alex 
    “boleh lah, btw belajar dimana puisi?” tanya Alex lagi
“dari pengalaman hidup!” sahut Iren sambil tertawa menatap kearah Alex
    “makasih ya, eh sunsetnya udah keliatan tuh, foto yuk!” ajak Alex sambil mengeluarkan kameranya.
    Tidak terasa malampun tiba Alex mengajak Iren makan malam dahulu sebelum keduanya kembali ke kamar masing-masing.

BAB IX

1 0

Suara deburan ombak nyata terdengar dan tiupan angin sangat syahdu menyapu malam itu, jarum jam menunjukan pukul 23.00 rasa penat mulai menyusup tapi mata Iren tak mau terpejam otaknya berputar mengulang memori saat dia dan Angga berada di tempat yang sama Bali, Iren mamandangi kalung pemberian Angga malam itu sebagai hadiah anniversary mereka.
    “kenapa sih bayangan kamu susah hilang Ngga?” rutuk Iren
Tapi semakin dia mengeluarkan emosinya bayangan Angga semakin nyata dan seakan Angga ada di dekat dia malam itu, tiba- tiba di tengah kesunyian itu gawai Iren bordering pertanda ada telepon yang masuk.
    “siapa malam-malam begini menelepon?” kata Iren sambil meraih gawai yang ada di sampingnya, Iren mengangkatnya dengan nada malas
    “hallo!” 
“akhirnya bisa juga mendengar suara kamu sayang!” kata lelaki disebrang sana
    “Angga!” sahut Iren sambil beranjak dri tempat tidurnya dan berdiri di samping jendela sambil matanya melihat keluar kamar
    “kamu dimana sayang, tiap hari Aku cariin Kamu di kampus nggak ada!”
“Aku di Bali!” 
    “Bali? Sama Om Alan?” selidik Angga
“iya, siapa lagi?” 
    “kapan balik ke sini?” tanya Angga lagi
“lusa, kalo nggak besok!” jawab Iren malas
    “kita ketemu ya, please! Aku minta maaf !”    bujuk Angga
“Aku maafin kalau Kamu sudah putus dengan Gladis!” jawab Iren tegas
    “oke baik, mulai sekarang baikan ya!” sahut Angga 
“iya, udah ya Aku mau tidur!” sahut Iren padahal matanya tidak mengantuk sama sekali
    “siap sayang sampai ketemu di Jakarta ya, selamat tidur , mimpi indah ya!”
Iren kembali berbaring sambil memutar-mutar gawainya dan menatap langit-langit kamar.
    “ah kenapa jadi susah tidur gini sih!” gumam Iren lalu berjalan keluar kamar menuju tepi pantai, dari kejauhan dia melihat sosok laki-laki tegap berdiri samar- samar tapi Iren tidak mempedulikannya dia memilih duduk di sebuah kursi yang menghadap kea rah pantai.
    “hay, ngapain malam-malam gini duduk sendirian disini!” sapa seseorang dari belakang
    Iren berbalik mencari arah suara itu, dan meneliti wajah lelaki yang samar-samar terlihat di bawah sinar rembulan.
    “Alex, kamu juga ngapain disini?” sahut Iren setelah iya mengenali wajah laki-laki yang menyapanya
    “Aku takut besok kesiangan bangun, hehehe!” jawab Alex 
“emang jadi besok kita pulangnya?” selidik Iren
    “lah kamu nggak baca WA pak Alan?” jam 06.00 penerbangannya Bu!” jawab Alex menjelaskan.
    “masa iya, astaga, Aku …!” sahut Iren gelagapan
“habis ngapain kamu sampai chat penting gitu nggak tau!” kata Alex lagi
    “mencoba tidur tapi tetap nggak bisa tidur,!” jawab Iren 
“ya udah tidur gih, nanti nggak kebangun kami tinggal!” ledek Alex sambil terbahak
    “senang malah Aku tinggal disini, tenang!” jawab Iren nggak mau kalah
“serius Kamu?” tanya alex meneliti
    “serius sih tapi… bakal kangen sama kampus, hahahaha!” sahut Iren terbahak
“kampus apa seseorang yang ada di kampus?” goda Iren
    “udah ah Aku balik kamar lanjut tidur!” jawab Iren sambil berlalu meninggalkan Alex
    Sementara Alex masih tertegun menatap hamparan lautan dibawah temaram sinar rembulan di temani deburan suara ombak.
    Sesampainya di kamar Iren kembali membuka gawainya ternyata begitu banyak chat yang masuk di aplikasi whatsappnya, salah satunya dari Angga dan Pak Alan yang memberitahu keberangkatan besok pagi setelah membalas beberap pesan yang iya anggap penting, Iren membereskan pakaian dan perintilan lainnya biar tidak ada yang ketinggalan.
***
    Tok, tok, tok ..! bergegas Iren menuju kearah pintu kamarnya mendengar bunyi ketukan pintu yang sedari tadi kian nyaring
    “bentar!” teriak Iren dari dalam kamar
“ayuk cepat, udah di tunggu Pak Alan, jemputan menuju bandara sudah tiba!” sahut Alex dari luar
    “yuk!” jawab Iren sambil menenteng sebuah koper berukuran besar berwarna lilac dan handbag di tenteng di tangan kirinya

BAB X

1 0

“Akhirnya sampai juga di kost tercinta!” seru Iren begitu sampai didepan kostnya
    “apa ini kok ada banyak kardus gini? Bunga!” celetuk Iren begitu melihat pemandangan didepan kamar kostnya yang penuh dengan bunga mawar kuning kesukaannya, perlahan dibukanya kardus pertama berisi buket mawar kuning dengan tulisan Selamat datang sayang, love you, Iren meneliti siapa pengirim kardus dan bunga- bunga misterius itu, tapi dari tulisan tangan itu Iren sangat mengenali kalau itu tulisan Angga, Iren terus berjalan dan mengambul kardus kedua setelah dibukanya berisi sebuah Novel yang sejak lama ingin dibeli Iren namun selalu kehabisan, di bagian depan novel itu berlutiskan Selamat membca sayang, semoga suka.
    “Angga, ada saja caranya yang bisa meluluhkan Aku!” kata Iren sambil senyum, kemudian di raihnya gawai dari dalam handbagnya ada beberapa panggilan tak terjawab dari Angga, belum sempat Iren menelepon balik, gawainya sudah berdering lagi, panggilan masuk dari Angga.
    “hallo, makasih ya semuanya!” sapa Iren 
“maafin Aku ya sayang!” jawab Angga dengan nada memohon
    “maafin ya…!” bisik Angga dari belakang yag cukup membuat Iren terperanjat lalu berbalik memeluk Angga
    “oke Aku maafin, tapi janji udah ya jangan diulangi lagi!” jawab Iren sambil terisak.
    “janji!” jawab Angga sambil menunjukan jari kelingkingnya kemudian dibalas oleh Iren
    “masuk yuk!” kata Iren
“nggak, Aku mau ngajak kamu kesuatu tempat!” jawab angga lalu menarik lengan Iren menuju mobilnya
    “mau kemana sih kita?” tanya Iren penasaran
“ada deh, pokoknya ikut aja!” sahut angga yang makin membuat Iren penasaran
    Setelah kurang lebih tigapuluh menit perjalanan akhirnya sampai juga mereka pada sebuah coffee shop bernuansa klasik yang sudah di penuhi bunga mawar kuning dimana-mana.
    “sayang niat banget sih bikin ini semua!” ucap Iren sambil mengeratkan pegangan tangannya pada Angga
    “demi maaf dari kamu sayang!” sahut angga yang berhasil membuat Iren tersipu
    Didalam sudah nampak dua orang penyanyi laki-laki dan perempuan lengkap dengan band penggiringnya  menggunakan baju couple warna kuning soft bertuliskan Maaf untuk Angga.
    “sayang niat banget tau nggak sih bikin Aku senang!”  kata Iren manja sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Angga
    “dimaafin kan?” tanya Angga 
“iya, kan udah tadi Aku bilang sayang!” jawab Iren
    Dari atas panggung terdengar suara penyanyi perempuan dan laki-laki itu bersahutan menyanyikan lagu jodohku miliknya Anang, Ashanty yang berhasil membuat Iren semakin tersipu.
    “kamu bahagia sayang?” tanya angga sambil mengelus lembut kepala Iren
“makasih ya sayang semua usahanya untuk meluluhkan Aku!”
    “ini belum seberapa sayang untuk membayar airmata kamu selama ini!”
“emang tau seberapa banyak airmataku yang menetes?”
    “nggak sih tapi kayaknya banyak sampai Iyo sama Vina aja murka liat wajahku!” Angga terkekeh sambil mengacak acak rambut Iren
    “jangan diulang lagi ya!”
“iya sayang, takut Aku, kamu marahnya pakai pergi gitu!”
    “hahaha Aku kan kerja sayang!”
“besok kalau marah jangan jamaahan ya!” canda Angga
    “siapa juga yang jamaahan, itu bukti cinta mereka sama Aku tau!”
“pokoknya Aku janji nggak lagi mengulangnya, ternyata Aku takut kehilangan Kamu sayang!”
    “besok-besok kalau selingkuh cari yang cakepan dikit!” sindir Iren 
“emang dia nggak cakep ya sayang?” sahut Angga yang berhasil membuat Iren menekuk wajahnya.
    “wajahnya jangan gitu dong sayang, jadi jelek tau!” goda Angga
Mendengar kata-kata Angga seperti itu Iren menyunggingkan senyumnya lagi, Iren memang lemah seperti kata sahabat-sahabatnya, dia paling cepat memaafkan apalagi untuk orang yang dia sayang.

BAB XI

0 0

BAB XI
    “Entah pukul berapa ini, Aku kok masih ngantuk banget!” ucap Iren sambil mengusap wajah dan mengucek-ngucek matanya karena memang semalam dia pulang sangat larut
    Tok tok … suara ketukan pintu membuat Iren bergegas membukakan pintu dan membuang segala rasa malasnya.
    “ hai darling, kaget nggak gue kesini, kaget dong ya, harus!” Sapa Vina lengkap dengan gaya manjanya begitu pintu terbuka
    “haaa iya kangen banget lama nggak ketemu kita, eh tapi tumben kesini pagi- pagi?”  sahut Iren sambil memeluk erat tubuh mungil sahabatnya itu
    “dar, apa kabar lo? Eh gue boleh masuk nggak nih?” cerocos Vina lagi
“ eh, ayo masuk!” jawab Iren sambil menarik lengan Vina masuk kedalam kamar kost nya
    “ banyak cerita pasti nih ya, kan lama nggak temu kita dar!”
“eh iya, gue dari bali!” 
    “udah move on dong ya dari Bali udah ketemu banyak bule!” ledek Vina pada sahabatnya yang cuma nyengir.
    “boro-boro move on, gue sama Angga malah baikan, kamu tau nggak semalam dia bikin acara makan malam romanis gitu buat permintaan maaf nya
    “terus ello luluh Dar? Sudah kuduga, kamu lemah!” kata Vina emosi
“yam au gimana lagi, dia baik banget, kamar kost ini sampai penuh dengan bunga mawar kuning favorite gue”!
    “iya lo lemah, ini bukan yang pertama kan?” ucap Vina lagi dengan nada emosi
    “entah lah Vin, doa gue sih dia berubah!”
“ya sudah lah semoga doa lo terkabul, dan lo bahagia!” sahut Vina melemah
    “eh iya lo mau nggak gue kenalin sama temen gue, model dia dari turki gitu cuman orang nya asik banget!”
    “malas gue, liat loa sama Angga aja gue udah pengen muntah!”
“ih apaan sih! terus lo mau jomlo terus?”
    “nggak mau pacaran sampai ketemu jodoh!”
“ih jangan pakai emosi gitu juga kali!”
    “hallo boleh saya masuk?” suara seorang laki-laki yang berasal dari luar kamar membuat Iren dan Vina diam beberapa saat kemudian bertatapan dan serentak melihat ke arah datangnya suara itu
    “Alex!” kata Iren sambil berdiri berjalan menuju kea rah pintu
“nggak usah di jemput gini juga bu!” canda Alex
    “sini, kenalin ini Vina sahabat gue, yang tau baik dan buruknya gue!”
“Alex!” kata Alex mengulurkan tangan pada Vina
    “Vina, sahabatnya Iren!” balas Iren
“jadi lex, Vina ini sahabat gue paling baik, paling ngelindungin deh kalo gue bolos-bolos kuliah!” 
    “dan Iren ini sahabat paling aneh yang gue miliki, paling lemah!”
“ya udah daripada kalian rebut disini, mending ngopi yuk!” ajak Alex 
    “ayuk,!” seru Vina seperti anak yang kegirangan dapat hadiah
“cepet banget sih Dar, ngga bisa denger café lo, hahaha!” Iren terkekeh melihat kelakuan sahabatnya yang bertubuh mungil dan hobi ngomong nggak pakai titik dan koma.
***
    Ketika sampai di café Iren, Vina dan Alex memilih tempat duduk di pojok agar tidak terlalu ramai.
    “Lex, dalam rangka apa lo ngajak kita kesini?” kata Iren membuka pembicaraan begitu mereka dapat tempat duduk
    “dalam rangka, besok kayaknya Gue bakal balik ke Istambul!” jawab Alex 
“udah habis kontrak sama Pak Alan atau gimana?” tanya Iren penasaran
    “nggak sih, cuma udah waktunya balik  hehehehe!” kata Alex terkekeh
“serius gue nanya!” kata Iren cemberut
    “eh iya serius ya, Mamaku sakit jadi Aku harus pulang dulu sampai beliau sembuh!”
    “cepat sembuh ya Mamanya!” sahut Iren dan Vina bersamaan
“eh iya gue duluan ya, baru inget gue ada kelas jam dua ini!” kata Iren gelabakan
    “okey hati-hati lo!” jawab Alex
“Lex, tolong anter Vina pulang ya!”
    “siap Bu!”

BAB XII

0 0

Pukul 01.57 Iren buru-buru menuju ruang kelasnya karena takut terlambat
Brukkk … saking buru-burunya Iren menabrak seseorang lalu terjatuh, Iren keludian berdiri dan menghampiri orang yang di tabraknya.
    “maaf ya, gue buru-buru!” kata Iren sambil mengulurkan tangannya pada seorang wanita berperawakan tinggi berkulit putih memakai kaos dan celana jeans,yang di tabraknya.
    “iya nggak papa Aku juga jalan nggak liat-liat soalnya Aku asik dengan gawaiku!” sahut wanita itu, berdiri dan menatap Iren
    Seperti di guyur air es tubuh Iren mendadak kaku setelah melihat wajah wanita itu, 
    “Gladis, ngapain dia kesini!” batin Iren
“mba kenal sama Angga, anak fakultas ekonomi?” tanya Gladis pada Iren yang cukup membuat Iren seperti tidak menginjakan kaki di tanah
    “kenal, ada apa ya?” tanya Iren balik
    “bisa anterin saya ketemu dia?”
    “bisa, kebetulan saya satu kelas!” sahut Iren ketus
    “makasih ya sebelumnya!”
    “emang ada apa cari Angga?” selidik Iren
    “dia cowokku, dan akhir-akhir ini jarang banget mau balas chat ku, anggat telponku nggak mau apalagi ketemu!” cerita Gladis panjang 
    Mendengar jawaban Gladis, raut Iren berubah jadi kusut seketika, rasanya ingin marah tapi mencoba berbesar hati dengan pura-pura tidak tahu dengan Gladis 
    “btw,Angga gimana di kampus ini? Suka deketin cewek ngg?” pertanyaan yang terlontar dari bibir Gladis ini cukup membuat emosi Iren naik lagi, tari nafas, hempaskan, kata Iren dalam hati
    “kurang tau sih ya, Aku nggak terlalu ngurusin dia!” jawab Iren ketus
“nah tuh orang nya!” sambung Iren lagi, begitu melihat Angga duduk di depan kelas mereka, Iren sengaja tidak menjauh malah mengantar Gladis sampai didepan Angga
    “Ngga, nih ada yang nyariin!” sapa Iren, Angga spontan terlihat gelabakan, seperti seorang buronan yang ketangkap basah membawa barang bukti.
    “eh, hmmm…!” kata Angga tanpa bisa menutupi kalau dia gemeteran melihat pemandangan didepannya saat ini
    “sayang, kemana aja sih, chat nggak pernah dib alas, telpon nggak di angkat?” ucap Gladis manja, sementara Iren yang melihat adegan ini seperti ingin memuntahkan seluruh isi perutnya
    “maaf Dis, kayaknya kita sampai sini aja ya, makasih lo udah nyariin Aku sampai sini!” kata Angga sambil menunduk
    “apa?Semudah ini! Jadi ini alasan kamu ngeghosting aku?”jawab Gladis dengan nada meninggi lalu menangis sesegukan tanpa sadar ia memeluk Iren, Iren hanya diam tanpa bisa berkata apa apa, ia hanya berfikir seandainya dia yang ada di posisi Gladis
    “eit ada drama apa nih?” kata Rio tiba-tiba datang entah dari mana
“Rio, dia jahat banget!” sahut Gladis menunjuk Angga
    “terus Iren? Peran lo sebagai apa disini?” tanya Rio lagi berusaha mencairkan suasana
    “nggak ngerti Ri!” sahut Iren dengan suara yang sangat halus hampir tidak terdengar
    “Ngga ini nih hasil perbuatan lo, rusuh kan jadinya!” Rio menunjuk muka Angga, sementara Gladis terus menangis dalam pelukan Iren, Angga hanya menundk sambil mengusap kasar rambutnya.
    “maafin gue Dis, Ren!” kata Angga sambil berjalan meninggalkan ketiganya
“hey kemana lo?” teriak Rio tapi di abaikan oleh Angga
    “sudahlah Ri, biar dia tenang dulu!” kata Iren lembut
“malaikat memang lo!” jawab Rio emosi
    “sekarang gue minta tolong lo, anterin Gladis pulang ya, gue takut dia kenapa-napa dengan keadaan kayak gini!”
    “makasih lo baik banget!” ucap Gladis lalu berjalan mengikuti Rio, Iren merasa seluruh badannya lemas seperti kehabisan tenaga, dia memutuskan untuk memesan taxi online pulang ke kostnya.

BAB XIII

0 0

BAB XIII
 “Yo, ello bisa jemput gue sekarang nggak? boring gue!” Iren mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi whatsapp untu Iyo sahabatnya yang selalu on time 24 jam untuk curhat, tidak menunggu lama Iyo mengirimkan balasan, meminta Iren menunggu sebentar, sementara Iren sudah berdiri didepan kost nya
 “udah berdiri disini aja lo!” sapa Iyo ketika melihat sahabatnya itu sudah berdiri didepan pagar kostnya
 “yuk berangkat!” sahut Iren, dari raut wajahnya Iyo tau pasti kondisi kejiwaan sahabatnya ini lagi tidak stabil
 “ ke café biasa kan!” Iyo mulai membuka pembicaraan
“malas, kita muter-mute aja!” 
 “pusing Bu!” canda Iyo, harapannya biar sahabatnya yang duduk disebelah ini bisa tersenyum
 “apaan sih lo nggak seru!” Iren malah menjawab ketus
“gini nih yang gue nggak suka, makanya gue bilang jangan pacaran!” Iyo mulai serius menatap wajah sahabatnya
“gue malas dinasehatin!”
“terus ngajak gue ketemu untuk?” selidik Iyo
“untuk nemenin gue jalan aja!”
“lo mau cerita kan cuman nggak mau nurut juga kalau gue kasih saran, jadinya nggak jadi cerita!”
 “sok teu ih, kayak bisa baca perasaan gue aja!”Iren mulai tersenyum mendengar ucapan sahabatnya
 “nah gitu dong, gue nyari-nyari tau nggak!”
“apanya yang lo cari?”
“senyum lo!”
“aih bisa saja kamu Yo!”
“kamu tu baik, sayang banget dapat Angga yang sebenarnya baik sih cuman masih suka berkelana!”
“kalau gue nunggu sampai pencarian dia selesai?”
“yakin lo akan selesai?”
“berdoa lah ya!”
“berdoa dong ketemu yang lebih baik!”
Iren menarik nafas panjang kemudian memandang kearah luar jendela mobil
“kayak laki-laki cuma dia doang!” sambung Iyo lagi tidak peduli didengar atau nggak sama Iren
“ceramah lagi dia!” celetuk Iren
“bukan ceramah Bu, tapi lebih kepada menyadarkan!”
“tapi gue susah sadarnya ya?”
“nah tu kamu sadar!” Iyo dan Iren tertawa bersamaan
“nah senang gue jalan sama lo gini bisa ketawa lepas!”
“lo fikir gue bintang lawakan?”
“eh yo btw makasih ya, udah jadi tempat ternyaman gue, sekarang anterin gue pulang!”
“kurang lama sih ini muternya!” canda Iyo lagi 
“cukup kok asal gue udah bisa terbahak-bahak!” jawab Iren 
“kita mampir dulu ya, temenin gue makan!”
“selain bikin gue ketawa lo juga mau bikin gue gendutan?”
“gue yang lapar masa sih lo gendutan, dasar wanita aneh!”
“yaudah bungkus aja kalau gitu, lo turun beli, gue di mobil aja nunggu!”
“yakin?”
“yakin lah, ntar gue gendutan nggak ada produk yang mau makai gue endorse!”
Sementara Iyo turun membeli makanan Iren menunggu di dalam mobil dan mendengarkan lagu favoritenya sambil membuka satu per satu aplikasi di gawainya, ada panggilan tak terjawab puluhan kali dari Angga, dan beberapa pesan berisi pertanyaan dimana dan meminta maaf, dan pesan yang terakhir Angga bilang didepan kost Iren dan itu dua jam yang lalu, paling dia udah pulang kata Iren dalam hati.
“lama nggak gue?” tiba tiba suara Iyo membuyarkan konsentrasi Iren pada pesan – pesan Angga
“lumayan, sempat buka beberapa pesan di sosmed gue!” jawab Iren terkekeh
“di luar mulai gerimis, kita ngebut dikit ya!”
“terserah driver! Jawab Iren sambil mengedipkan matanya
Hujan semakin deras disertai petir dan kilat dimana-mana, Iren keluar dari mobil setengah berlari agar tidak terlalu basah, sampai didepan kamar kostnya Iren menghentikan langkahnya karena melihat sesosok berdiri didepan pintu kamarnya sepertinya menggigil karena kedinginan.
“Angga!” sapa Iren pada laki-laki didepan kostnya itu
“maafin gue atas kejadian tadi siang, gue nggak nyangka Gladis nekat nyari Aku kekampus kita!”
“gue lagi nggak mau bahas soal tadi siang, sekarang mending lo pulang, ganti baju, minum vitamin terus istirahat!” kata Iren sambil berjalan masuk kedalam kamarnya.
Dari dalam kamar Iren mengintip dari jendela, ternyata Angga tidak beranjak juga, sampai waktu adzan subuh berkumandang Iren berniat bangun buat sholat subuh dan seperti biasa dia membuka jendela kamarnya, Iren terperanjat begitu melihat keluar ternyata Angga masih berada di depan kamarnya dengan memegang seikat bunga mawar kuning,dengan perasaan cemas Iren menghampiri Angga.
“Ngga, pulang nanti malah sakit!” bujuk Iren melihat Angga yang basah kuyup
“sebelum lo maafin gue, gue nggak akan pergi dari sini!” sahut Angga mengiba
“okey gue maafin!” jawab Iren lirih.

BAB XIV

0 0

Pagi ini cuaca di kota Jakarta sangat bersahabat tapi tidak untuk Angga yang tiba-tiba bersin tidak berhenti sejak dia pulang dari kost Iren, membuat dia malas untuk beraktifitas hari ini, sehabis membersihkan dirinya Angga hanya mengurung diri didalam kamar dan menyembunyikan dirinya didalam selimut bahkan beberapa pesan yang masuk di gawainya iya acuhkan saja, pokoknya bagi Angga yang terpenting dia tidur tidak ada yang mengganggu.
 Iren, baik banget sih sayang,terlalu baik kamu! racau Angga padahal dia sedang tidur, Ibunya yang kebetulan masuk kekamar Angga untuk mengambil baju kotor terkejut mendengar apa yang di ucapkan Angga
 “Ngg, Nak, Astaga panas banget badannya!” ucap wanita setengah baya itu sembari memegang kepala anaknya, sementara Angga terus meracau entah apa yang dia katakan ibunya tidak terlalu paham
 “Kamu sakit Nak!”
 “ayo bangun, kita kedokter!” lanjut Ibu lagi
 Dengan susah payah ibu mencoba membangunkan Angga namun sia-sia, akhirnya ibu pun menyerah, dia menelpon dokter keluarga mereka untuk segera datang kerumah memeriksa Angga, selama kurang lebih 1 jam ibu menunggu dokter datang, ibu bolak balik berjalan kea rah jendela, memegang kepala Angga begitu teerus sampai dokter tiba.
 “bagaimana Dok?” tanya ibu cemas kepada dokter
 “tidak masalah Bu, cuma demam biasa, ini sudah saya kasih suntikan obat nanti juga kalau panasnya turun dia bangun kok!” penjelasan dokter sedikit membuat ibu tenang. 
 “Terimakasih dok,”
 Tidak berapa lama setelah dokter pulang, Angga membuka mata dan tersenyum melihat Ibunya.
 “Sudah bangun Nak?” sapa Ibu melihat Angga membuka matanya
“Sudah Bu,” sahut Angga Lemas
“Gimana rasanya? Masih demam kah?” tanya Ibu cemas 
“Udah enggak Bu,”
Ibu lalu memegang puncak keapala Angga
“Masih panas gini, bilang udah enggak, gimana sih Kamu?” kata Ibu lembut pada anak laki-laki nya yang masih berbaring dan terlihat lemah.
“Ibu berlebihan banget!” sahut Angga menggoda Ibunya
“Nak, ada apa Kamu sama Iren? tadi ngigaunya nyebut nama Iren?” kali ini Ibu terlihat sangat serius bertanya kepada Angga
“Aku ketahuan selinhkuh sama Iren, Bu!”
“Apa? Kamu masih enggak berubah juga ternyata ya!” sahut Ibu emosi 
“Ibu maunya Aku berubah gimana? Jadi superhero? canda Angga pada Ibunya 
“Tuh kan enggak bisa serius Kamu, Ibu lagi ngomong!”
“Nanti lah Bu serius nya, Angga masih sakit!” jawab Angga agi sambil tertawa melihat kea rah Ibunya.
“Kamu bilang benci sama Ayah, yang ninggalin kita untuk selingkuhannya, sekarang malah Kamu juga hobi selingkuh!” kata Ibu tegas
“Aku sama Ayah beda, kalau Ayah pergi ninggalin kita, kalau Aku kembali lagi sama Iren dan enggak ninggalin Dia!”
“terus? Irennya mau?” selidik Ibu lagi
“Mau, lah tapi kemarin bisa-bisanya Gladis kekampus nyari Aku, Iren yang antar!”
“Kamu kebayang enggak perasaan Iren gimana saat itu?”
“kebayang? boro-boro bayangin perasaan Iren, orang perasaan Aku aja kacau!” sahut Angga sambil ketawa dan membuat Ibunya makin marah
“Dibilangin juga, malah cengengesan gini!” sahut Ibu kesal
“Aku udah minta maaf sama Iren, Bu! dan ini Aku sakit gara-gara nungguin Dia semalaman didepan kostnya hujan-hujanan pula!”
“Coba kalau enggak selingkuh, enggak bakal ada drama kayak gini toh?” kata Ibu mengingatkan.
“Kan kalau enggak kayak gini hubunganku sama Iren enggak ada seninya!” sahut Angga lagi yang membuat Ibunya makin kesal.
“Udah, istirahat aja Nak, malas Ibu ngomong banyak sama kamu, nyebelin!” kata Ibu mencium kening Angga lalu pamit keluar dari kamar Anak laki-laki kesayangannya.

BAB XV

0 0

Tok tok tok …… suara ketukan pintu kamar akhirnya membuat Iren melangkah menuju pintu. 
 “Pagi honey!” sapa Angga begitu pintu terbuka
 Iren cuma diam dan melihat kekasihnya itu dengan tatapan malas
 “Sibuk enggak?” lanjut Angga lagi
 “Enggak sih, tumben kamu kesini pagi-pagi?”
 “Kangen aja sama Kamu,”
 “Kangen? Kok baru kesini setelah dua minggu lalu kamu drama hujan-hujanan!” sahut Iren ketus
 “Aku sakit, Sayang!”
 “Enggak bilang juga kalau sakit!”
 “Malah ngerepotin kan kalau bilang!”
 “Sakit apa? Masuk angin setelah semalaman hujan-hujanan?” ucap Iren dengan senyum sinis
 “Jadi malu!” balas Angga terbahak
 “Aku mau jemput Kamu, Mama mau ketemu makan siang dirumah!” lanjut Angga lagi
 “Tunggu bentar Aku siap-siap!”
 “Baik Nyonya Sayang!”
***
 Sesampai nya dirumah Angga, mata Iren menjelajahi keseluruh penjuru ruang tamu rumah minimalis itu. Iren memandangi satu persatu foto yang bergantung di dinding. Sementara Angga memanggil Ibunya.
 “Terimakasih ya Nak, sudah mau berkunjung kesini!” sapa Ibu pada Iren yang sedang asik meneliti foto keluarga yang diletakan di atas meja kecil bernuansa shabby yang terletak di pojok ruang tamu. Mendengar sapaan Ibu, Iren lalu berbalik dan memberi salam kepada Ibu sambil mengulurksn tangan mencium punggung tangan wanita setengah baya kebanggaan Angga itu.
 “Saya juga terimakasih Bu, sudah di undang kesini!” 
 “Ayuk lah kita kedapur, Kamu bantu Ibu Masak Nak!”
 Iren pun mengikuti Ibu berjalan menuju dapaur, kemudian memotong sayuran yang sudah Ibu siapkan.
 “Masak apa kita Bu?” tanya Iren mulai membuka pembicaraan pada Ibu
 “Kita bikin osengan buncis sama udang aja Nak, kesukaan Angga!”
 “iya Bu!” jawab Iren singkat
 “Nak, Ibu mau tanya ada apa kemarin itu sama Angga?” mendengar pertanyaan Ibu seperti itu Iren merasa seperti memeluk kaktus, serba salah mau jawab jujur tidak enak karena bagaimanapun yang dihadapannya sekarang adalah Ibunya Angga.
 “Nak, kenapa? Kamu tidak perlu merasa sungkan sama Ibu,” lanjut Ibu seperti mengerti perasaan Iren.
 “Angga kedapatan saya selingkuh Bu, awalnya Saya udah mengira hubungan kami berakhir!” sahut Iren menatap lekat wajah wanita setengah baya di depannya.
 “Kata Angga, Kamu malah yang mengantar Gladis ketemu Angga di kampus, itu bagaimana ceritanya?” selidik ibu 
 “Jadi waktu itu Saya enggak sengaja ketemu Gladis di kampus, Dia nggak tau siapa Saya, dan minta tolong aja gitu untuk diantar ketemu Angga,”
 “Kamu gimana?” selidik Ibu lagi
 “Gimana apanya Bu?” tanya Iren tidak mengerti.
 “Perasaan Kamu? sampai bisa masih memaafkan Anak Ibu untuk yang kesekian kalinya.
 “Setiap orang wajar kan Bu, melakukan kesalahan. Tuhan saja kan memaafkan, masa Iren enggak! Siapa Iren?” jawaban Iren ini langsung membuat Ibu spontan memeluk dan mengucap terimakasih berkali-kali.
 “Angga beruntung memilih Kamu, lembut sekali hati Kamu!” 
 “Ibu berlebihan, banyak kok orang lain yang baik, bahkan mungkin lebih baik dari Saya!” 
 “Terimakasih ya Nak, sudah memberi banyak waktu untuk anak Ibu, semoga Dia bisa belajar dari kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi!” 
 “Serius sekali obrolan antara calon menantu dan calon ibu mertua” Angga tiba-tiba datang memcahkan kesedihan keduanya, ketiganya tertawa bersamaan.
 “Kamu tiba-tiba datang, nguping ya tadi?” Ibu membalas menggoda anak laki-laki kesayangannya.
 “Tau nih mau tau banget apa yang di omongin orang!” kata Iren menimpali
 “Iyalah mau tau, kalian kan ngomongin Aku!”

BAB XVI

0 0

“Selamat pagi Mbak!”  sapa seorang laki-laki dengan sebuah kotak lumayan besar di tangannya
“Cari siapa?” Iren menjawab sapaan laki-laki kurir pengantar paket
“Ini, ada paket buat Mbak Iren!” sahut laki-laki yang nampaknya masih muda, sepertinya adek ini baru lulus Sekolah Menengah Umum.
“Saya sendiri Iren!”
“Ini Mbak, tolong tanda tangan disini!”  kata laki-laki itu ramah
“Terimakasih ya!” kata Iren sambil terus meneliti paket yang dia terima
Tidak ada nama pengirimnya, gumam Iren membolak balik paketnya,
Iren yang tadinya hendak jogging, namun dibatalkannya demi sebuah paket misterius yang iya terima. Sambil duduk di sebuah kursi minimalis yang menghadap kea rah pagar depan kost nya Iren membuka perlahan kotak yang terbungkus rapi tanpa nama pengirim tersebut.
Dear… Iren semoga bahagia menerima kiriman Aku ini, tulisan itu yang Didapati Iren pertama kali begitu kotaknya terbuka, setelah mengambil kertas memo itu, Iren kembali meneliti isi kotak tersebut, sebuah Tas Branded, yang bisa dipastikan harganya puluhan juta, membuat mata Iren terbelalak seakan tidak percaya,
Apa ini paket salah alamat? Batin Iren 
tapi kok di kertas memo ini ada namaku? ucap Iren penasaran. Iren mengambil lagi kertas memo yang bertuliskan ucapan itu yang tadinya iya letakan di atas meja, Iren mulai meneliti bentuk tulisan tangan itu milik siapa, tapi sia- sia hampir setengah jam Iren membolak balik kertas itu tapi tidak juga dia menemukan jawabannya.
Apa ya maksudnya, ngirim benda ginian ke gue? Batin Iren semakin penasaran!
Entah ide dari mana Iren kemudian mengambil gawai yang terletak di atas kasurnya, tanpa berfikir panjang iya memoto paket tersebut dan Dia apload ke sosial medianya dengan hastag paket salah alamat, nama sama beda nasib! Tulis Iren di story Instagramnya juga status Whatsapp nya, tidak menunggu waktu lama banyak yang mengirimksn pesan pada Iren salah satunya dari sahabatnya Vina 
Bagi gue kalau enggak suka, tulis Vina pada postingan Iren pada laman Instagramnya, alih- alih membalas comen sahabatnya itu, Iren langsung menelpon dan menyuruhnya datang untuk melihat langsung paket misterius tersebut. 
 “Spadaaaa…! Aku masuk ya!” suara teriakan dari luar yang Iren sudah sangat kenal siapa pemilik suara tersebut
 “Cepet banget lo datengnya belum juga satu jam gue bikin story instagram!” ledek Iren pada sahabatnya yang super kepo itu
 “Mana paketnya? dari mana? Ada maksud apa?” rentetan pertanyaan Vina yang Cuma bisa di balas dengan senyuman oleh Iren.
 “Itu di atas meja, lo liat aja sendiri!” sahut Iren sambil menunjuk kea rah meja yang di atasnya terdapat sebuah kotak yang dia sebut paket misterius itu.
 “Ini sih mutlak buat Kamu Darl!” kata vina yang sudah membaca tulisan dalam paket tersebut
 “Nama gue memang, tapi … !” belum sempat Iren meneruskan kata-katanua sudah di potong oleh Vina
 “Tapi ini pasti dari penggemar rahasia Lo, mantan Lo atau pacar Lo yang aneh itu!” cerocos Vina seakan tidak member waktu untuk Iren bicara.
 “Tapi gimana caranya kita mengetahui siapa pengirim paket ini!” tanya Iren seriusa pada sahabatnya
 “Gampang, kita bikin sayembara!” sahut Vina terbahak
 “Lo fikir paket ini putrid raja yang hilang?” balas Iren dengan tertawa juga.
 “Atau gini aja, lo pakai ini tas nanti pasti ketahuan siapa pengirimnya!”
 “Caranya?” sahut Iren penasaran
 “Dia pasti akan bilang, dipakai juga pemberian gue!” 
 “Kalau da nggak ngomong?”
 “Itu urusan Dia, lagian kenapa jadi Orang sok misterius!”

BAB XVII

0 0

Angga menyusuri trotoar diiringi Iren dibelakangnya, hari ini mereka sengaja pulang kuliah dengan berjalan kaki sampai pada sebuah taman dekat dengan kampus mereka.
 “Sayang, capek ah, duduk dulu yuk!” kata Iren menunjuk sebuah bangku taman yang berada di bawah pohon beringin.
 Angga menggandeng lengan Iren menuju bangku itu sambil mengajak bercanda. Angga mewarnai canda mereka dengan cerita lucu masa kecilnya yang pernah berniat kabur dari rumah tspi kembali lagi karena takut kelaparan.
 “Mau minum apa Sayang?” tanya Angga begitu mereka sampai di sebuah kursi berwarna putih dengan beberapa tanaman bunga mawar di sekitarnya
 “Emang ada yang jual minuman macam-macam gitu disini?” sahut Iren sambil melemar senyum kearah kekasihnya.
 Angga tertawa kecil menatap lekat kearah Iren. Lucu banget kalau dia seperti ini, batin Angga.
 “Sayang, ngelamunin apa?” suara Iren menyadarkan lamunan Angga
 “Ngelamunin penjual es!” sahut Angga kembali tertawa nyaring.
 “Baru mikir kan Kamu, makanya jangan sok nawarin mau minum apa!” balas Iren 
 “Didepan ada yang jual pentol tuh, Aku kesana dulu ya!” kata Angga, sementara Iren hanya duduk di Bangku taman itu sambil menunggu Angga kembali. Iren menyaksikan kekasihnya itu dari kejauhan. Tatapan Iren mendadak terhenti pada sesosok yang sangat dikenalnya sedang berlari-lari kecil di taman itu. Ardhi… benarkah itu Kamu? batin Iren sambil mengusap kasar wajahnya. Ardhi adalah laki-laki yang pernah mengisi hari- hari Iren semasa SMA mereka tidak ada kata putus namun sejak pengumuman kelulusan SMA, Ardhi seperti menghilang tanpa kabar sampai akhirnya Iren membuka hatinya kembali untuk Angga.
 “Sayang, aku lama ya?”  tiba-tiba Angga datang mencairkan suasana hati Iren 
 “Kita pulang aja yuk, udah sore juga ini!”
 “Lah, katanya tadi mau duduk sini dulu?”
 “Nggak jadi, Aku lupa ada janji sama Pak Alan mala mini!”
 “Mau Aku temenin ketemu Om Alan?”
 “Nggak usah nanti kamu bête lagi, Kayaknya bakal lama meetingnya!” sahut Iren mencoba menutupi kegelisahannya setelah melihat sosok Ardhi.
 “Kita pulang naik angkot aja atau taxi online nih?” 
 “Taxi online aja biar lebih cepat”
 Sementara menunggu taxi online yang dipesan Angga datang Iren tidak terlalu focus dengan apa yang Angga bicarakan, dia Cuma menjawab se adanya bahkan kadang cuma nyengir karena pandangannya terus menjelajah kesekitar taman berharap dia bisa melihat lagi sosok laki-laki yang tadi sedang jogging di taman itu.
 “Nah, itu taxi nya sudah datang!” kata Angga. Sementara Iren masih bengong.
 “Hey, Sayang mau tetap duduk sini aja?” tanya Angga lagi yang cukup membuat Iren terperanjat.
 “Ah iya Sayang, ayo!”
 “Sayang kenapa sih kamu tiba-tiba jadi aneh gini?” pertanyaan Angga kali ini cukup membuat Iren tambah kebingungan
 “Sayang, Kamu sakit?” lanjut Angga lagi 
 “Enggak kok, cuman lagi pengen buru-buru kan karena Aku lupa mala mini jam tujuh ada meeting!”
 “Ya udah enggak usah difikirkan lagi, ini kita sudah sampai di kost kamu!”
 “Makasih ya Sayang sudah di anterin!”
 “Salam ya sama Om Alan!”
 Sebelum membuka pintu kamar kost nya Iren kembali di kejutkan sama sebuah paket, kali ini kotaknya lebih kecil dari yang kemarin. Nama pengirimnya juga tidak tertera, Iren mengambil kotak tersebut dan membawanya masuk kedalam kamar. Bergegas Iren membuka paket misterius kedua yang dia terima itu. Kali ini Iren sangat terkejuta karena isinya sebuah kalung dia yang pernah hilang  beberapa tahun yang lalu sebelum dia masuk kuliah.

BAB XVIII

0 0

“Beruntung Kamu punya wanita sebaik Iren Nak!” kata Ibu menepuk pundak anak kesayangannya yang sedang duduk santai menikmati kopi di teras depan rumah mereka.
 “Eh Ibu, bikin kaget aja!”
 “Anterin Ibu ke minimarket ya hari ini, keperluan dapur kita sudah habis!”
 “Sekarang?”
 “Tahun depan biar keburu kelaparan kita!”
 “Aku mandi dulu!”
***
 “Ibu sudah siap?”
 “Sudah dari tadi!”
 “Berangkat kita!”
 Angga melajukan mobilnya menuju minimarket langganan Ibu, tidak memakan waktu lama akhrnya mereka sampai. Ibu masuk duluan sementara Angga mencari tempat parker dahulu.
 “Ngga…!” teriak seseorang setelah Angga keluar dari mobilnya. Kayak kenal suaranya! Batin Angga tanpa berpaling
 “Ngga, tunggu!” teriak wanita itu lagi, Angga mempercepat langkahnya masuk kedalam mini market
 Bruk,…. Tanpa sengaja Angga menabrak seseorang yang membawa banyak kantong belanjaan, isi kantong belanjaan itupun berserakan di lantai, Angga dengan sigap membantu merapikannya.
 “Mbak maaf saya buru-buru!” kata Angga menyerahkan kantong belanjaan yang sudah ia rapikan.
 “Angga, bener Angga kan?” kata wanita yang di tabrak Angga itu, sementara Angga hanya menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal, karena dia tidak menegnali siapa wanita itu
 “Lo ingat kan Ngga, gue Bunga! Kita satu kelas pas SMP!” Angga masih berfikir mendengar nama yang disebut wanita didepannya.
 “Gue ingat, Lo Bunga yang dulu pakai kacamata, rambut kepang dua dan dulu tu Ello kulitnya item, nah sekarang!
 “Wajar kali Ngga dulu jaman burik!” kata bunga tertawa 
 “Btw, biar gue anterin ke mobil ni belanjaan se abrek!”
 “Boleh! kalau tidak merepotkan!”
 “Enggak, anggaplah permintaan maaf ya!”
 Angga dan Bunga berjalan beriringan menuju tempat parkir yang tidak jauh dari tempat Angga memarkirkan mobilnya.
 “Ngga, ini mobilnya, kebetulan Gue bareng Stela!”
 “Stela?”
 “Iya, mantan Lo dulu!”
 “Udah selesai Kamu?” Angga langsung menoleh karena dia sangat hafal dengan suara itu, suara yang sama dengan yang memanggilnya ketika dia baru sampai tadi.
 “Stel, ni Gue ketemu Angga tadi di dalam!”
 “Hahahaha tadi Gue teriakin Dia kabur!”
 “Maaf Gue tadi buru-buru, Ibu udah didalam soalnya!” sahut Angga gugup.
 “Ngehindarin Gue ya?” goda Stella pada Angga
 “Tapi jodoh ya ngehindarin Lo, malah nabrak Gue dan ujung-ujungnya ketemu lagi disini!” kata Bunga menimpali.
 “ Ngga bagi nomer hape dong!” kata Bunga sambil menyodorkan hapenya meminta Angga mengetikan nomornya, kemudian mereka pamit.
***
 “Maaf Bu, lama nungguin Angga!”
 “Kemana dulu tadi?”
 “Itu bu, ketemu teman SMP di parkiran, seru aja ngobrol!”
 “Bantu nih bawain, Ibu udah selesai belanjanya!”
***
 “Nak, mampir sebentar di tempat Iren ya!”
 “Ngapain Bu?” baru ketemu juga kan!”
 “Kangen aja Ibu sama Dia!”
“Bu, yang pacarnya Iren tu Aku bukan Ibu ya!”

“Tapi yang lebih ngerti Dia, Ibu bukan Kamu!”
“Ibu apaan sih?”
“Orangtuanya Iren itu dimana? “
“Katanya di luar kota Bu, Aku enggak pernah nanya detail sih!”
“Mestinya Kamu tanya dimana orangtuanya, masih lengkap apa enggak!”
“Aku enggak mau aja Bu, lebih tepatnya enggak siap kalau Iren balik nanya
tentang Ayah!”
 “Kamu mestinya juga terbuka saja dengan Iren, enggak apa-apa Kamu cerita tentang Ayah sama dia!”
 “Aib bu!”
 “Nanti juga kan Iren akan menjadi bagian dari keluarga kita!”
 “Masih lama Bu!”
 “kan dari sekarang Dia tau lebih baik, supaya kita tahu Dia bisa nerima atau enggak!”
 “Tapi Aku lagi enggak ingin bahas soal Ayah!”

BAB XIX

0 0

Gerimis pagi ini mengisyaratkan pada seluruh penduduk bumi agar berdiam dirumah saja. Tapi tidak untuk Iren yang sudah ada janji untuk pemotretan bersama teman-teman sesama model nya, meskipun Iren tidak ada yang kenal dengan nama-nama yang di sebut Pak Alan di chat mereka semalam namun kata Iren professional saja nanti pasti menyatu. Pagi ini Iren datang satu jam lebih awal dari yang lain.
    “Hai selamat pagi semua!” sapaan Iren membuat sema yang berada di ruang make up pagi itu menoleh kea rah suara Iren
    “Pagi juga!” sahut Rince make up artis yang paling baik hati menurut Iren
    “Aku paling cepat ya?”
    “Iya Ren, si Stela belom, Dia emang gitu sih agak lelet orangnya!”
    “Ngomongin gue ya?” tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah pintu
    Sontak Iren dan Rince memalingkan badan mereka, melihat siapa yang datang. Seorang perempuan dengan tinggi badan kurang lebih 170cm dan berat badan proporsional menggunakan mini dres lengkap dengan highhells dan kacamata hitamnya.
    “Kamu Stel? Emang kebiasaan lelet kan, udah terima aja!”
    “Tapi kamu suka kan temenan sama Aku?”
    “Suka sih tapi enggak terlalu suka kalau kamu lelet!”
    “Ini Iren ya?” tanya Stela menunjuk Iren
    “Iya, gue Iren, salam kenal ya Stel!” sahut Iren ramah
    “Bener kata Pak Alan ya, yang namanya Iren itu cantik, humble!

    “Mudah banget Dia menyatu sama orang!” kata Rince menimpali
    “Kamu fikir Aku adonan kue, cepat menyatu?” kata Iren tertawa diikuti Stela dan Rince bersamaan.
    Sehabis acara pemotretan itu Iren dan Stela menjadi sangat akrab sama halnya seperti Iren dan Vina. Mereka saling terbuka satu sama lainnya, mereka sering jalan bareng, walau cuma sekedar makan es krim bersama. Tapi satu hal yang tidak pernah Iren ceritakan ke Stela adalah soal hubungannya dengan Angga.
    “Ren, lo tau enggak, Gue lagi suka sama temen gue SMP eh mantan Gue tepatnya!” Stela mulai curhat
    “Mulai suka maksud Lo? CLBK gitu ya?” selidik Iren
    “Begitu mungkin ya, jadi minggu lalu Gue ketemu lagi sama mantan Gue ini! dan Lo tau Dia makin cakep menurut Gue ya!”
    “Respon Dia gimana?”
    “Baik banget, Gue kasih kode masuk!”
    “Nah, bagus dong!”
    “Dia bilang sih, Dia juga tumbuh kembali rasa sama Gue gitu!”
    “Cie, artinya Ello Enggak bête lagi dong malam minggu!”
    “Semoga ya, Eh kapan-kapan Gue ajak deh dia hamgout bareng, kita bertiga. Eh ber empat sama cowok lo!”
    “Sip, Lo atur jadwal ya!”
    “Gimana kalau malam minggu depan?”
    “Semoga cowok Gue bisa ya!”
    “Loh emang sering enggak bisa ya?”
    “Biasa lah, sama-sama sibuk!”
    “Cowok Lo kerja?”
    “Anak kuliahan juga, sama kayak Gue. Tapi Dia sambil kerja di kantor Pak Alan gitu bantu-bantu!”
    “Keluarga Pak Alan?”
    “Keponakan!”
    “Ganteng enggak?”
    “Mulai kepo!” 
    “Soalnya kan kalau melihat wajah Pak Alan, diperhitungkan lah ya!”
    “Lumayan, makanya Gue mau!”
    “Kalau gebetan Lo? Maksud Gue calon!”
    “Mantan yang sebentar lagi jadi gebetan!”
    “Terserah lah, suka-suka Kamu!”
    “Ganteng lah, dia itu kayak bule Rusia, tinggi, kulit putih, perfect lah!”
    “Percaya lah Gue dari binary mata lo menjelaskan, pasti sesuatu banget!”
    “Sampai-sampai Gue mau balikin, gitu kan maksud Lo?”
    “Hahahahaha Ello baca isi hati Gue ya?”
    “Enggak sih, cuman Gue heran Ello punya cowok tapi hape Lo aja jarang bunyi, beda sama Gue!”
    “Gue setia, nah Lo Ibu asrama putra!”
    “Maksdud Lo? gebetan Gue banyak?”

BAB XX

0 0

“Ngga, Malam minggu jalan ya!” permintaan Stela ini langsung saja di iyakan oleh Angga karena memang Iren tidak mengajak dia keluar.
    “Oke, jam berapa mau di jemput?”
    “Jam 07.00 gimana? Bisa?”
    “Bisa, kita mau kemana?”
    “Hmm… tempatnya nanti di kasih tau, Aku janjian sama temen gitu!”
    “jadi rame-rame kita?”
    “Enggak, cuma orang penting, sahabat Aku aja!”
    “Sahabat yang mana lagi? bukannya cuma Bunga sahabat kamu sejak SMP?”
    “Baru, dia teman kerja Aku, orangnya baik banget!”
    “Okey, Aku balik dulu, ada kelas pukul 13.00 nanti!”
    “Hati-hati, jaga hati!”
***
    “Sayang ..!” teriak Angga begitu dia melihat seorang wanita menenteng handbag yang sangat familiar di mata Angga berjalan tepat didepannya.
    “Hay! Sayang, kebetulan nih ketemu kita!”
    “Aku tadi repot dikit, jadinya enggak bisa jemput Kamu!”
    “Enggak papa Sayang, masih ada angkot dan taxi online ini!”
    “Makasih ya, wanita paling pengertian!” Iren cuma manyun mendengar rayuan Angga yang seperti itu.
    “Sayang, lusa sabtu malam kita jalan ya!”
    “Sabtu malam?” sejenak Angga berfikir member alas an apa pada Iren, karena dia sudah terlanjur janji dengan Stela!”
    “Aku enggak janji ya Sayang, soalnya Ibu minta temenin juga ketemu temannya!”
    “Gitu ya, enggak papa deh, Aku pergi sendiri aja!”
    “Pergi sendiri? Ada acara ya? biasanya kalo Aku enggak bisa, Kamu enggak pergi!”
    “Udah janji sama temanku, Dia sama pacarnya, rencana kami mau saling ngenalin pacar gitu!”
    “Teman yang mana? Teman Kamu kan aku udah hafal!”
    “Anak baru di manajemen Pak Alan!”
    “Si Alex yang turki itu?”
    “Bukan, si Alex sih udah pulang ke negeri asalnya!”
    “Syukurlah!”
“Eh, kok gitu sih Sayang?”
    “Sebel Gue, deket banget sama Kamu!”
    “Bisa cemburu juga Kamu?”
    “Sama Alex iya, kalo sama Iyo enggak!” Angga terkekeh
    “Egois Kamu, dengan tenang cemburu sama Alex padahal Aku enggak ngapa-ngapain!”
    “Karena Aku sayang kan, kalo enggak ngapain repot-repot cemburu sama Alex!”
    Sekali lagi Iren hanya manyun karena dia tau betul kata- kata Angga tidak bisa di pegang lagi setelah Iren tidak sengaja melihat beberapa chat di Gawai Angga yang isinya mayoritas wanita yang biasanya Iren punya istilah khusus anak asrama putri.
***
    “Ren, jadi gimana malam minggu??
    “Jadi, cuman gue bakal sendiri!”
    “Sendiri? doi kemana?”
    “Dia udah janjian sama wanita lain!”
    “Ucapan doa Ren!”
    “Emang bener, Dia udah janjian sama Ibunya!”
    “Anak mami ya?”
    “Iyess, deket banget Dia sama Ibunya!”
    “Jadi ello harus banyak ngalah gitu ya?”
    “Mau gimana lagi?”
    “Biasanya cowok kalau anak mami gitu, setia lo!”
    “Aamiin!”
    Setiap membahas soal Angga, Iren seperti kehilangan kekuatan untuk menjelaskan siapa Angga dan kenapa alasan mereka jarang berdua, padahal ingin rasanya Iren menceritakan semua tapi paling-paling kata orang yang mendengarnya kamu bodoh! Iren bahkan membenci dirinya sendiri karena terlalu lemah, selalu kalah sama bujukan Angga padahal dia tau pasti akan Angga ulangi lagi. Iren juga mengutuk dirinya yang selalu beralasan biar ku jalani saja mengikuti alur padahal sebenarnya Iren harus jatuh lagi ke lubang yang sama! Iren tau kalau Angga bukan anak yang ngikut apa kata Ibunya, Iren tau setiap alas an Angga yang memebawa nama Ibunya adalah klise tapi dia tidak punya alas an untuk mempertanyakan karena dia malas ribut dan sangat menghargai hubungan.
    “Hai, jangan ngelamun!” tiba-tiba Iren di kagetkan dengan sebuah tangan menepuk pundaknya
    “Enggak, Aku enggak ngelamun, Aku terlalu menikmati es boba bikinan Kamu aja nih!” bantah Iren menyembunyikan kemelut di hatinya.

BAB XXI

0 0

Jam dinding motif shabby yang bergantung didinding kamar bernuansa putih milik Iren sudah menunjukan pukul 19.00, buru-buru Iren memesan taxi online agar cepat sampai ke tempat dia dan Stela sudah janjian.
    Sayang, jadi pergi? Hati-hati ya! Iren Cuma tersenyum simpul membaca chat dari kekasihnya itu. Entah kenapa perasaan Iren tidak enak mulai sejak dia bersiap untuk pergi hingga didalam taxi. Ada apa ya? jantung kok dag dig dug gini! Batin Iren.
    Begitu turun dari taxi, Iren meneliti keseluruh penjuru restaurant tempat yang di bilang Stela di chat nya sore tdi. Hmmm.. kayaknya Aku duluan! Ucap Iren sambil menarik sebuah kursi lalu duduk meneliti buku menu yang tersedia di meja.
    Iren melambaikan tangannya pada pelayan berbaju hitam lengkap dengan topi berwarna putih dengan bertuliskan logo restaurant itu. Setelah dia menemukan menu yang cocok dan menjadi favorite dia.
    “Mas, Aku pesan chickhen steak sama jus buah naga ya, air mineral juga!”
    “Di tunggu ya mba!” 
    Dari kejauhan Stela sudah melihat Iren, Stela menggandeng lengan Angga dan berjalan lebih cepat.
    “Ren, udah lama?” sapaan Stela pada seorang wanita yang duduk membelakang itu membuat Angga seperti tidak menginjakan kaki di bumi lagi. Ingin pergi tapi sudah terlambat karena Iren sudah memalingkan wajahnya. Sementara Iren yang mendengar suara Stela dan melihat laki-laki yang di gandeng Stela adalah Angga, dia menyambutnya dengan senyum dan berdiri menghampiri keduanya.
    “Udah datang, eh maaf loh ya Aku pesan duluan, soalnya belom makan dari siang!” Kata Iren santai
    “Kenalin, ini Angga yang sering gue certain sama Lo!”
    “Iren,” Kata Iren sambil mengulurkan tangan pada Angga
    Angga nampak gugup dan tidak tau harus berbuat apa, dan berusaha mencari cara agar bisa kabur dari kedua wanita di hadapannya.
    Iren yang melihat tingkah serba salah Angga secepat kilat mengirimkan pesan melalui whatsapp nya Sayang, selesaikan permainan ini sampai akhir, tidak perlu grogi tulis Iren.
    “Ngga, kasian tuh kelamaan Iren, tangannya!” kata Stela menyikut angga
    “E… e Angga!” kata Angga membalas uluran tangan Iren
    “Ayo duduk, keburu dingin makananku,”
    Iren duduk tepat di hadapan Angga dan Stela di sebelah Angga
    “Aku makan duluan ya, lapar!” kata Iren mulai membuka pembicaraan
    “Silakan aja, Aku tau kalau Kamu lapar bisa makan orang,” ledek Stela tertawa
    Angga yang mendengar perkataan Stela langsung tersedak, padahal tidak sedang makan atau minum. Spontan Iren memberikan air mineral yang ada di hadapannya untuk Angga.
    “Terimakasih, Say….!” Kata Angga tanpa bisa melanjutkan kata-katanya melihat Stela yang menatap kearah Dia bergantianke Iren. Iren yang menyadari itu dengan sigap mengalihkan topic.
    “Btw, kalian sejak smp itu jadinya baru ketemu sekarang?” 
    “Iya, itu juga enggak sengaja yakan Ngga,” Angga yang mendengar namanya di sebut Stela cuma menjawab dengan hah.
    “Ada apa sih Ngga? Kamu ada janji lain atau apa?” 
    “Enggak kok, cuman agak tidak enak badan aja sih!”
    “Ya ampun, tau gitu tadi enggak usah di paksain mala mini ketemuannya kita, siapa tau juga besok cowok gue bisa!”
    “Cowok Lo jadinya beneran enggak bisa malam ini? 
    “Enggak, dia ada acara sama Ibunya, tadi dia chat kok!”
    Angga yang merasa dirinya sedang di bahas semakin merasa tidak nyaman
    “Sepertinya Aku balik duluan aja ya, makin enggak jelas badanku,” kata Angga tiba-tiba
    “Ya udah kita pulang sekarang!” kata Stela menimpali
    “Hati- hati kalian, cepet sembuh ya!”  Iren melambaikan tangannya pada Stela dan angga.

BAB XXII

0 0

Setelah Stela dan Angga hilang dari pandangannya, Iren sesegukan sambil sesekali meneguk air mineral yang tadinya dia kasih buat Angga. diulang lagi sih,ucap Iren dalam hati sambil menyapu air mata yang terus menetes membasahi kedua belah pipinya.
    Malam itu Iren memilih untuk tidak pulang karena dia tau pasti Angga bakal menunggu dia di depan kost nya. Iren memesan ojek online untuk mengantarnya kerumah sahabatnya.
    “Tumben Lo mau nginep sini?” tanya Vina penasaran melihat wajah sahabatnya yang tidak biasa apalagi sampai bermalam di rumah dia.
    “Lagi malas aja gue, takut di datangi Angga ke kost!”
    “Spechless Gue denger Lo takut sama Angga!” Vina terkekeh 
    “Jadi tadi Gue janjian sama Stela kan, Dia bilang mau ngenalin cowoknya ke Gue, eh bukan cowok sih lebih tepatnya mantan Dia pas SMP cuman sekarang mereka dekaat lagi!”
    “Pasti cowoknya yang di maksud temen Lo itu Angga kan!” tanpa menunggu Iren selesai bercerita, Vina sudah memotong pembicaraan Iren.
    “Yess, Angga Gue ajakin pergi. Gue bilang temen Gue mau ngenalin cowoknya, Dia beralasan Ibu mau minta anterin ketemu temannya!”
    “Pasti tadi Ello pura-pura enggak kenal Angga kan kayak waktu itu sama si geladis apa Gelandas!”
    “Gladis!”
    “Enggak usah dibenerin, Kamu lemah! Emosi Gue,”
    “Gue enggak paham kenapa Gue kalah terus sama Angga, apalagi Ibu nya baik banget!”
    “Sekarang Lo maunya gimana?”
    “Pindah!”
    “Pindah? kemana?”
    “Besok temenin Gue cari kost yang agak jauhan dikit ya!”
    “Percuma, Ello bakal sering ketemu juga ntar di kampus!”
    “Kita kan bentar lagi libur semester, Gue rasa ini kesempatan buat menghindar dari Angga!”
    “Saran Gue, gimana kalau kita pergi keluar pulau!”
    “Boleh juga, tapi kemana?”
    “Palangkaraya, Kalimantan tengah! Kebetulan Gue ada sepupu disana!”
    “Serius Lo, mau nemenin Gue?”
    “Kapan Gue pernah becanda?”
    “Tapi tetep besok kita cari kost dulu, Gue pindahan dulu, baru kita pergi!”
    “Akur, sekarang tidur udah! Pasti Lo capek banget kan,”
***
    Benar seperti dugaan Iren, setelah mengantar Stela pulang, Angga mealju menuju kost Iren. Sampai subuh dia menunggu didepan kost, namun hasilnya nihil. Iren tidak juga datang. Beberapakali Angga coba menghubungi juga sia-sia telponnya tidak pernah diangkat dan beberapa chatnya juga di biarkan abu-abu. Angga mulai berfikiran yang tidak-tidak, karena Iren tidak pernah sampai tidak pulang ke kostnya. Iren selalu menyimpan masalahnya.
    Saking kalutnya fikiran Angga dia tidak focus mengendarai mobil sehingga mobil yang dia kendarai oleng menabrak pembatas jalan.
    Ibunya yang mendengar kabar Angga kecelakaan buru-buru datang kerumah sakit untuk menemui Angga, beberapakali dia mencoba menghubungi Iren, namun tidak juga ada jawaban.
***
    “Pagi, Mbak Iren! Semaleman Mas Angga disini nungguin,” kata satpam yang jaga di kost Iren
    “Terus Pak? Mana Dia sekarang? Tanya Iren penasaran
    “Udah pulang Mbak!”
    Vina dengan sigap menarik lengan Iren, mengajaknya masuk kedalam kamar.
    “Gimana? Luluh lagi?” 
    “Enggak, luluh atas dasar apa juga?” kata Iren membela diri
    “Beresin barang Lo, kita bawa kerumah gue dulu, balik dari Palangkaraya, kita bbaru cari kost!”
    “Kali ini Gue nurut aja apa kata Lo Vin!’
    “Coba aja enggak nurut, Gue enggak bakal ada lagi dalam masalah Lo dengan Angga selanjutnya,”
    Hape Iren terus bordering, seperti sangat memaksa Iren untuk melihat siapa yang menelponnya.
    “Telpon siapa? Angga?”
    “Bukan, Ibu nya!”
    “Pakai senjata Ibu deh dia sekarang, udah deh durhaka sesekali enggak papa sama orang tua! Daripada kejebak kesekian kalinya.”
    Mendengar ucapan sahabatnya, sejenak Iren berfikir dan mengiyakan apa kata sahabatnya untuk tidak merespon telpon dari Ibu nya Angga.

BAB XXIII

0 0

Hujan mengguyur kota Palangkaraya siang ini menyambut kedatangan Iren dan Vina, seperti mewakili perasaan Iren.
    “Welcome to Kota cantik!” sapa seorang wanita cantik menggunakan dres warna maroon dengan kacamata hitam, dan sneaker putihnya.
    “Dinda, makin cantik aja sepupuku ini,” teriak Vina pada wanita cantik yang menghampiri mereka berdua di bandara itu.
    “Capek enggak? Mau langsung kerumah atau kita jalan-jakan dulu sebentar cari makan atau apalah?” Dinda memberikan penawaran pada Vina dan Iren 
    “Kenalin dulu nih sahabat galau gue!” kata Vina menarik tangan Iren dan Dinda
    “Btw galau kenapa Iren? “ tanya Dinda tertawa
    “Bisa-bisanya Vina sih kalau itu!” balas Iren tertawa juga
    “Sekarang kita makan dulu aja ya baru kerumah, kayaknya dari wajah kalian enggak capek juga!”
    “Terserah tuan rumah lah!”
***
    Perlahan Angga mulai membuka matanya setelah operasi yang dia jalani beberapa jam.
    “Bu, Aku kenapa ya?” tanya Angga begitu melihat Ibunya
    “Malam kemarin kamu kecelakaan sayang,”
    “Terus Aku enggak papa kan?”
    “Enggak papa, cuma kaki kanan kamu patah dan sudah operasi juga semalam jadi tinggal pemulihan aja!” panjang lebar Ibu menjelaskan pada Angga
    “Iren tau Bu, Aku disini?”
    “Enggak, Ibu beberapa kali telpon dia tapi enggak di angkat, mungkin dia sibuk!”
    Tok tok tok mendengar suara ketukan pintu, Ibu dan Angga menoleh bersamaan.
    “Selamat pagi!” sapa Stela dengan sekeranjang buah-buahan ditangannya
    “Tau dari mana Aku disini?” selidik Angga
    “Kemarin Aku telpon yang angkat Ibu, Ibu ngasih tau kamu disini!”
    “Sama siapa Nak stela?” tiba-tiba pertanyaan Ibu membuat Stela dan Angga saling berpandangan
    “Terimakasih ya Nak Stela menyempatkan kesini jenguk Angga!”
    “Tidak masalah Bu, tapi Saya enggak bisa lama soalnya ada kerjaan hari ini!”
    “Kerjaan di Om Alan? tanya Angga tiba-tiba
    “Bukan, sama Pak Alan masih bulan depan lagi bareng-bareng sama Iren!”
    “Nak Stela kenal Iren?”
    “Akrab Bu kami satu kerjaan di Pak Alan!”
    “Kemana dia? Ibu dari kemarin telpon Enggak di angkat!”
    “Nanti ya Bu, saya coba hubungi!” sahut stela dengan raut wajah bertanya-tanya.
    Ibunya sudah kenal Iren? Kayak cemas gitu lagi nyariin! Ada apa ya? tanya Stela dalam hati. Ingin rasanya dia bertanya langsung pada Angga tapi sepertinya waktu tidak tepat. Stela meraih gawainya untuk menelepon Iren tapi tidsk di angkat juga. Stela memutuskan untuk mengirimkan chat saja selang beberapa menit Iren membalas dan bilang dia lagi liburan dengan sahabatnya Vina.
    “Bu, Ngga ini Iren balas chat saya, katanya dia lagi liburan dengan sahabatnya Vina?”
    “Kamu tanya dia liburan kemana?” ssashut Angga seperti orang yang sedang cemas
    “Enggak mau bilang dia! Aku pamit dulu ya!” Stela kemudia keluar kamar dan diikuti Ibu di belakangnya
    “ Nak Stela, Ibu mau bicara!”  mendengar ucapan Ibu kali ini Stela membelalakan matanya karena ucapan Ibu ini seperti akan member jawaban atas apa yang ada dalam fikirannya.
    “Iya Bu ada apa?”
    “Jadi Iren itu sudah pacaran sama Angga 3 tahunan sejak mereka mulai sama- sama masuk kuliah!”
    Mendengar kata-kata Ibu, Stela seperti di guyur es batu semua berubah menjadi dingin, teringat kejadian malam itu dan cerita Iren kalau pacarnya tidak bisa datang sementara yang Stela bawa adalah pacarnya Iren, antara rasa bersalah dan benci itulah yang menyelimuti perasaan Stela saat itu.
    “Nak, Stela! “ kata Ibu menepuk pundak Stela
    “Eh iya Bu, Stela Pamit ya!” Stela berlari keluar dari rumah sakit itu dengan perasaan kacau dan tidak tau harus berbuat apa.?

BABXXIV

0 0

Dalam hidup ini semua berjalan atas kehendak Tuhan, setiap kesulitan pasti ada jalannya! Lalu kenapa Aku menghindar? Batin Iren sesaat setelah dia menatap layar ponselnya yang ada fto dia dengan Angga
    Ah tapi kan ini demi kebaikan hati gue, nanti kalau udah siap gue hadapi kok!  Lamjut Iren lagi seperti sedang member nasehat kepada dirinya sendiri.
    “Ren, sudah siap? Kita hari ini di ajakin Dinda buat naik kebukit gitu katanya!”
    “Naik bukit?”
    “Iya kata Dinda naik bukit adalah healing paling baik loh!”
    “Oh gitu! Aku mandi dulu deh,”
***
    “Jadi ini namanya bukit tangkiling, tingginya tuh 500 mdpl, dari atas kita bisa liat view kota cantik Palangkaraya loh!” Dinda mulai menjelaskan sambil mendaki 
    “Katanya agak mistis ya bukitnya ini?” tanya Vina
    “Jangan bahas gitu deh, kita nikmatin aja view nya nanti pas di atas!” 
    Sementara Iren hanya diam mendengarkan dua saudara sepupu itu berdebat.
    “Ren, Lo enggak takut ketinggian kan?” tanya Dinda 
    “Enggak, kan seperti kata Lo, dinikmatin aja!”
    “Gue kira Lo takut, soalnya dari tadi diam aja!”
    “Maklum Din, membawa hati yang galau!” celetuk Vina
    “Makanya Gue ajak naik bukit biar enak hatinya, soalnya kata dosen Gue mendaki bukit adalah Healing yang paling tepat buat orang yang susah move on!”
    “Bagus, tapi pas turun dari bukitnya galau lagi!”
    “Nah kita sudah sampai, Lo liat deh kebawah indah banget kan!”
    “Wow…. view nya enggak bakal di temukan di Jakarta deh!” sahut Iren tertawa diikuti Vina dan Dinda
    “Makanya Gue betah tinggal disini, enggak sumpek kayak di Jakarta!”
    “Sudah puas ngambil fotonya?”  tanya Dinda
    “Udah, udah sore juga kan?” sahut I ren
    “Kita pulang cuss!” Vina menimpali
***
    Begitu sampai dirumah Iren langsung mengecek gawainya yang memang sengaja di tinggal di rumah. Begiitu banyak chat yang masuk dan ada beberapa panggilan tak terjawab yang salah satunya dari sahabat nya Stela.
    Semuanya hanya di baca Iren tanpa berniat untuk membalasnya. Jadi Stela sudah tau semuanya! Bagus lah. Batin Iren meletakan kembali gawainya.
    “Udah mandi Lo?” suara Vina yang tiba-tiba datang mengagetkan Iren.
    “Ngagetin aja sih lo!”
    “Lo mikir apa sampai kaget liat Gue?”
    “Meneliti semua pesan yang masuk!”
    “Paling LO mau bilang banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Angga atau Ibunya!”
    “Kali ini Lo salah, ini pesan dari Stela. Dia sudah tau semua!”
    “Syukurlah!”
    “Gue harus gimana ya?”
    “Habis Lo mandi, kita keluar! Kita beli kartu perdana baru!”
    “Lo nyuruh Gue ganti nomor?”
    “Itu yang paling baik buat healing selain mendaki bukit!”
    “Gila Lo, kerjaan Gue dong gimana?”
    “Gue enggak nyuruh Lo buang gawai Lo, cuma ganti nomor!”
    “Iya Gue tau!”
    “Terus kalau sudah tau! Ren, denger nih ya Gue ngomong! Ello sudah berkali-kali mengulang kesalahan yang sama. Sudah saatnya Ello keluar dari zona Toxic ini!”
    Kali ini Iren seperti di hipnotis, Dia menuruti apa yang di katakana Vina.
    “Ini demi kebaikan Ello juga!”
    “Iya Gue faham, makasih ya Ello selalu perhatian sama Gue dan selalu mengusahakan yang terbaik buat Gue!”
    “Gue enggak butuh terimakasih Lo atau apapun juga! Gue cuma pengen Ello bahagia itu aja!”
    “Ello sahabat terbaik Gue!” Iren memeluk Vina sesegukan
    “Sekali lagi, Gue cuma mau Lo bahagia. Entah dengan Angga atau siapapun!”
    “Maafin Gue!”
    “Enggak perlu minta maaf sama Gue, minta maaf sama diri Lo sendiri yang udah sering Lo sakitin.”

BABXXV

0 0

Pagi yang cerah, suara kicau burung menyapa bersahutan akan tetapi Iren, Vina dan Dinda masih leyeh – leyeh di tempat tidur. Meskipun sinar matahari sudah menyorot tepat di wajah ketiganya.
    “Hmmm…. Kemana lagi kita hari ini?” ucap Iren, berharap ada jawaban Dinda. Sementara Dinda menatap wajah Iren dan Vina bergantian dengan tatapan malas
    “Enggak capek Lo Ren?” tiba-tiba Vina menjawab pertanyaan Iren
    “Enggak lah, seneng malah!”
    “Tuh kan bener naik bukit itu healing terbaik!”
    “Bukan lagi, sampai pegel dari ujung rambut ke ujung kepala nih!” sahut Vina terbahak
    “Lebay Lo Vin, eh btw hari ini kita dirumah aja, ntar malam kita dinner di tempat yang view nya itu tidak kalah keren sama di atas bukit kemarin!” 
    “Setuju, kita tidur aja hari ini memberikan waktu istirahat sama diri sendiri!”
    “Ya udah Gue ngikut ya!” sahut Iren menarik lagi selimutnya.
***
    “Jadi café ini tuh menurut Gue keren, salah satu café keren di kota cantik pokoknya!” kata Dinda menjelaskan begitu mereka menuruni anak tangga yang menjorok ke sungai, sudah terlihat kerlap kerlip lampu café yang di maksud Dinda
    “Dari sini aja udah keren banget!” puji Iren sambil meneliti sekitarnya dan mengabadikan view itu pada kamera ponselnya.
    “Dari sini jelas kelihatan jembatan Kahayan, terus di bawah itu sudah terlihat café Rahan Untung. Menu nya di café itu sederhana cuman ya ini view nya luar biasa, kita makan di atas lanting gitu!”
    “Lanting itu apa ya?” tanya Vina penasaran
    “Oh itu, apa ya istilah nya itu tempat yang mengapung di atas air!”
    “Bisa mengapung? Bahannya apa sih?” tanya Vina polos
    “Batang kayu gede gitu Vin!”
    Ooooo sahut Vina dan Iren berbarengan.
    “Sampai juga kita di atas lanting!” kata Iren begitu mereka memasuku café di atas sungai Kahayan itu
    “Udah pinter menggunakan bahasa sini ya Ren?” goda Dinda
    “Kan kamu yang ngajarin,” Iren, VIna dan Dinda terbahak
    “Ren, masih ada hubungin Lo enggak?” tanya Vina tiba-tiba setelah mereka duduk menunggu pesanan datang.
    “Siapa ?” tanya Iren bingung
    “Bapak asrama putrid yang sok paling ganteng seindonesia raya merdeka!”
    “Hahahaha Angga maksud Lo?”
    “Angga beserta jajarannya!” balas Vina lagi 
    “Udah enggak, kan Gue udah ganti nomor dan sosmed Gue juga di nonaktifkan sementara!”
    “Bagus lah, ini cara healing paling bener!”
    “Kerjaan Lo aman kan tapi?”
    “Aman lah, Gue sudah ubungi Pak Alan kok!”
    “Syukurlah, Gue takut aja kalau Lo masuk berita infotainment karena Lo hilang!” 
***
    “Ngga, ada kabar dari Iren?”
    “Belum ada Bu, nanti kalau Angga udah boleh pulang, Angga cariin dia deh!”
    “Kalian ada masalah?”
    “Angga enggak tau Bu kalau Stela itu temenan sama Iren, jadi kemarin itu pas Stela bilang mau ngenalin Angga sama temennya, itu Iren!”
    “Sekali lagi? Kamu kecewain Iren?”
    “Maaf Bu!”
    “Kamu kecewain Ibu, bener-bener sifat warisan Ayahmu!”
    “Ibu kenapa selalu bawa-bawa Ayah!”
    “Kamu juga kenapa selalu ber ulah kayak gini?”
    “Iya tapi Ibu enggak usah bawa-bawa Ayah!”
    “Ya sudah kalau enggak mau Ibu bawa-bawa nama Ayahmu, Kamu cari Iren sampai ketemu!”
    “Iya kan Angga bilang setelah Angga keluar dari rumah sakit ini!”
    “Iren pasti sangat terlika saampai Dia memilih menghilang begini!”
    Melihat Ibu nya marah hingga meneteskan air mata Angga hanya terdiam dengan rasa bersalah dalam hatinya.
    “Ibu, udah dong nangisnya!”
    “Nanti kalau Iren udah ketemu baru Ibu berhenti!”

BABXXVI

0 0

“Akhirnya pulang kerumah juga ya Bu”!
    “Ingat janji Kamu, bawa Iren kesini!”
    “Ibu, baru juga sampai rumah, belum juga masuk kamar!”
    “Nanti Kamu malah nelponin yang lain,”
    “Ibu apaan sih?”
    “Kebiasaan kamu kan gitu, pokoknya Ibu enggak mau kamu bawa cewe siapa lah kecuali Iren. Paham!”
    Kali ini Ibu keliatan bener-bener marah, ngomongnya serius banget. Enggak kaya biasanya! Batin Angga memperhatikan wajah wanita setengah baya di hadapnnya, wanita yang paling dia puja sepanjang hidupnya. Apapun keinginan Ibunya itu selalu Angga turuti termasuk soal Iren.
    “Kenapa Kamu bengong?
    Angga tersentak mendengar nada bicara Ibunya yang cukup tinggi.
    “Siapa yang bengong Bu?”
    “Terus apa namanya, dari tadi nyengir gitu!”
    “Ibu apaan sih? Angga lagi mikir Iren juga kali!”
    “Ya udah jangan di fikir, cari sana!”
***
    “Jakarta lagi kita! Hmmm..!” ucap Vina sambil merentangkan tangannya begitu mereka sampai di Jakarta
    “Dan ini sudah semester akhir kuliah kita!”
    “Bentar lagi Ello balik kekampung dong!”
    “Tergantung Vin, Gue nyaman sih kerja disini!”
    “Syukurlah, Lo jangan balik ya, temenin Gue!”
    “Apaan sih?” mereka lalu terkekeh
    “Lo kenapa Ren?”
    “Pusing banget kepala Gue Vin!”
    “Muka Lo juga pucat banget!”
    Bruk…. 
    “Iren, tolong…!” teriak Vina begitu melihat sahabatnya jatuh pingsan, Vina bergegas membawa Iren ke rumah sakit karena panik.
    “Dokter tolong ya!”
    “Kami akan lakukan yang terbaik Bu,”
    Enggak papa deh di panggil Ibu yang penting Iren selamat! Btw ni dokter ganteng kayak pernah liat gue! Tapi dimana?” batin Vina menatap lekat dokter yang menangani Iren
    “Vin, ngapain Lo disini? Nongkrong depan IGD?”
    “sembarangan Lo, bilangGue nongkrong di IGD, itu sahabat Gue, sahabat Lo juga kali tadi ambruk di bandara!”
    “Hah, kenapa Dia?”
    “Ya kali Gue tau, masih di tangani dokter tuh!”
    Iyo mengintip dari jendela, Dia tersenyum melihat dokter yang menangani Iren.
    “Vin, pasti gue jamin deh kalo udah sadar Iren bahagia, hatinya berbunga-bunga!”
    “Apaan sih Yo, aneh banget deh! Masa orang habis pingsan bangun-bangun bahagia?”
    “Iya Gue pastiin, soalnya yang nanganin dokter Arya!”    
    “Oh iya! Pantes Gue kayak pernah liat itu dokter!” Iren menganga lalu menutup kembali mulutnya.
    “Ganteng banget, pantes dulu Iren rela jadi yang kedua!”
    “Tapi udah telat, suami orang Dia!”
    “Tetep aja ganteng kali!”
    “Gantengan juga Gue!”
    “Ello pendek tapi!” Vina terkekeh melihat wajah Iyo yang di tekuk dengan mata membulat.
    Vina dan Iyo serentak berdiri begitu mendengar suara pintu ruang IGD terbuka dan dokter Arya sudah berdiri di hadapan mereka.
    “Gimana Dok? Sahabat kami?” tanya Vina bersemangat
    “Enggak papa cuman faktor kecapekan aja kayak nya. Hb nya turun!”
    “Rawat inap Dok?”
    “Mas Iyo! Enggak perlu, sore nanti boleh pulang kok Dia! Saya permisi dulu!”
    Vina dan Iyo bergegas menenmui Iren yang masih terbaring lemah di dalam kamar IGD.
    “Ren, tetep cantik aja Lo biar abis pingsan juga!” goda Vina pada sahabatnya itu.
    “Ren, tadi gimana? Bahagia di tangani dokter Arya?” kata Iyo penasaran
    “Tau ah masih pusing Gue!” sahut Iren lemah
    “Moodbooster terbaik, pingsan di bandara di tangani mantan si dokter yang berwajah oriental!” Vina terkekeh melihat Iren yang memaksa senyum.
    “Selamat sore! Gimana Iren?” dokter Arya datang memeriksa Iren dengan teliti, Vina dan Iyo bertatapan lalu mereka senyum melihat kea rah Iren
    “Mendingan Dok, makasih ya!”
    “Kamu abis dari mana? Tiba-tiba bisa drop gini?” tanya Arya penasaran
    “Abis dari palangkaraya!”
    “Liburan?”
    “Kerjaan!” sahut Iren berbohong
    “Ya udah, boleh pulang sekarang! Tapi janji ya enggak ada cerita pingsan karena kecapekan lagi!” Arya mengusap lembut kepala Iren kemudian pamit keluar. Vina dan Iyo melihat adegan itu senyum menggoda Iren.
    “Meleleh Gue, sumpah!” ucap Vina mengedipkan mata kea rah Iren.

BAB XXVII

0 0

“Gue anterin kalian pulang ya!”
    “Makasih Yo, tapi Gue sih berharapnya yang ngantar dokter Arya. Iya enggak Ren?” Vina menyenggol Iren yang duduk di sampingnya.
    “Apaan sih Vin! Kalo Iyo enggak sibuk boleh deh. Tapi ngantar nya kerumah Vina aja ya!”
    “Lah… ello sejak pulang dari palangkaraya udah enggak pede tinggal sendiri ya?” 
    “Panjang ceritanya Yo!”
    “Biasa lah Yo masalah bapak asrama putri!”  kata Vina menimpali
    “Ngerti udah Gue kalau masalah ini, biar enggak usah di jelasin sama Iren!”
    “Ya udah, Lo antar Gue sama Vina sekarang!”
***
    “Jadi si bapak asrama udah di ghosting nih sama Ello Ren?”
    “Iya Yo, atas saran Gue! Vina yang duduk di kursi belakang memajukan badannya.
    “Semangat banget Lo Vin!”
    “Iya dong darling, Gue seneng Ello berhasil ngeghosting itu bapak asrama yang enggak ada tobat-tobatnya. Ello juga kan Yo?” Vina menepuk pundak Iyo yang lagi asyik nyetir.
    “Seneng Vin, tapi enggak usah pakai tepuk pundak juga kali, konsentrasi Gue rusak nanti! Terus kita nabrak balik lagi deh kerumah sakit!”
    “Dan ketemu dokter Arya lagi! Vina dan Iyo terbahak seakan ada yang menggelitiki badan mereka. Sementara Iren cuma menatap datar tanpa sepatah kata.
    “Ren, Woy! Kita lagi ketawa ini!” teriak Iyo tepat di samping kuping Iren
    “Eh iya, apa sih Yo! Gue enggak tuli!”
    “Enggak tuli tapi sedikit budeg!” kali ini Iyo dengan ekspresi serius
    “Marah Ello Yo? Takut Gue!” celetuk Vina yang membuat Iyo tersenyum lagi
    “Iya Vin, Gue marah sama temen kita yang satu ini, kita becanda dia malah asyik bengong!”
    “Siapa yang bengong? Gue lagi mikir tau, buat nyari kost baru, buat pindahan lagi tuh kan ribet ya!”
    “Darling, tinggal satu semester ini kok, kamu tinggal sama Aku aja. Toh kan dirumah Aku juga sendiri. Mama, Papa jarang pulang!”
    “Bener tuh Ren, kata Vina sekalian juga Vina bisa jagain Lo dari bapak asrama itu!” Iyo terkekeh
    “Serius tapi enggak papa?”
    “Kan gue yang ngajak Ren, jadi ya enggak papa lah!”
    “Makasih ya Vin, Ello emang terbaik!”
    “Sudah sampai nih, Gue langsung pamit pulang aja ya!”
    “Pulang kerumah sakit?” tanya Iren sambil mengangkat kopernya dari bagasi mobil Iyo.
    “Iya, masih ada kerjaan Gue!”
    “Yo, nitip salam ya sama dokter Arya!” kata Vina sambil mencubit pinggang Iren.
    “Siyap !” sahut Iyo terbahak.
***
    “Yuk, kopernya di bawa ke kamar!”
    “Vin!”
    “Bentar, kayaknya ada yang ngetuk pintu di luar, Gue buka dulu ya! Ello istirahat aja!”
    “Angga! Ngapain Ello kesini?”
    “Vin, Lo tau Iren dimana?”
    “Kan pacar Lo, kenapa nanya ke Gue? Ribet Lo!” sahut Vina ketus
    “Hape nya enggak bisa di hubungin Vin!”
    “Urusan Lo, eh kenapa tuh kaki pakai tongkat segala? Udah kayak aki-aki tau enggak!”
    “Gue abis kecelakaan,”
    “Semoga Lo insyaf nyakitin cewek habis ini!”
    “Kalau ada kabar Iren kasih tau Gue ya!”
    “Sekali lagi itu urusan Lo, Gue malas terlibat!”
    “Gue serius Vin, Gue mau minta maaf ke Iren!”
    “Ello serius mau minta maaf, dan serius Lo mau selingkuhin Dia lagi! enggak Gue enggak akan biarin!”
    “Gue nyesel Vin, tolong banget bantuin Gue sekali ini!”
    “Malas Gue, udah ya! Ello mending pulang sekarang! urusin seperangkat selingkuhan Lo!” Vina menutup pintu rumahnya dengan keras.

BAB XXVIII

0 0

“Lo hari ini jadi kekampus Ren?”
    “Enggak, hari ini ada meeting sama Pak Alan!”
    “Ya udah Gue anterin ya, Enggak aman Lo sendiri kemana-mana!”
    “Apaan sih Lo Vin!” Iren terbahak menatap wajah serius sahabatnya.
    “Malah ketawa, Ge serius! Soal  nya itu si bapak asrama suka ada dimana-mana!”
    “Maksud Lo?” tanya Iren pensaran, melihat wajah sahabatnya yang tak biasa.
    “Iya, semalam Dia kesini tau enggak, Gue bilang aja Lo enggak ada!”
    Iren mengusap kasar wajahnya begitu mendengar ucapan sahabatnya.
    “Kenapa sih Dia masih aja nyariin Gue!”
    “Dia bilang mau minta maaf, Dia sayang sama Lo! tapi yang Gue heran besok-besok di maafin Dia ulangi lagi!”
    “Entah lah Vin!” 
    “Ello yang sabar ya Ren, Lo fokus sama kuliah kita yang tinggal sedikit lagi ini!”
    “Iya Vin, udah ah Gue mau mandi ya nanti telat Gue habis kena semprot Pak Alan!”
***
    “Keren gini ya kantor Lo!”
    “Bukan kali, ini kantor Pak Alex!” Iren terkekeh
    “Iya tapi kan Lo sering kesini!”
    “Ren, tunggu Gue mau bicara sama Lo!” mendengar suara seseorang memanggil nama Iren. Vina dan Iren memalingkan wajahnya bersamaan.
    “Stella!” mendengar nama Stela, Vina membulatkan matanya menatap wanita itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
    “Ren, Gue minta maaf ya! please! kemarin Gue bener-bener enggak tau kalau Angga itu cowok Lo.”
    “Gue lagi enggak pengen bahas itu ya, Gue mau ketemu Pak Alan!”
    “Ren, tapi…!”
    “Ello denger kan apa yang Iren bilang! jadi enggak usah ngejar Dia!”
    “Ello enggak usah ikut campur, minggir Lo!”
    “Apapun yang menyangkut hidup Iren, Gue wajib ikut campur.”
    “Siapa Ello? Nyebelin banget!”
    “Gue sahabat Iren, Iren udah banyak terluka, jadi tolong stop untuk nambah beban Iren!”
    “Gue juga sahabatnya Iren, makanya Gue mau bicara sama Dia, Gue mau minta maaf!”
    “Oh Gitu! Sahabat macam apa yang ngenalin pacar sahabatnya sebagai pacarnya?”
    “Gue beneran enggak tau kalau Angga!”
    “Tenang, Iren pasti maafin Lo, Dia baik kok! Tapi kalau Dia bilang Dia enggak mau bahas! Ello jangan maksa!”
    “Tapi Gue harus minta maaf sama Dia!”
    “Simpan dulu maaf Lo, okey!” Vina menepuk pundak Stela kemudian berlalu mendatangi Iren.
    ***
    “Ren, sebel banget sih ello punya teman macam si Stela itu!”
    “Enggak usah di bahas ya! Gue mau kerja!”
    “Okey, Gue tungguin disini ya!”
    Vina sibuk mengutakatik hape nya memeriksa notif yang masuk.
    “Hai, Vin! Ngapain Lo disini!”
    Vina terperanjat karena merasa sejak tadi cuma sendiri. Perlahan dia memalingkan wajahnya mencari datangnya arah suara yang memanggil dia.
    “Vin, enggak usah kaget gini juga, cantik Lo hilang!”
    “Rese, ih Alex apa kaabr Ello? Kapan datang?”
    “Kalau nanya satu-satu ya bu!”
    “Jawabnya satu-satu!”
    “Gue baik dan hari ini lebih baik karena ketemu Ello disini!”
    “Hah! Kok bisa?”
    “Dari awal Gue di kenalin Iren sama LO, Gue udah suka tapi kerena Gue mau Balik dulu kenegara Gue, ya udah Gue simpan dulu perasaan Gue!”
    “Becandanya kebanyakan Lex!”
    “Gue serius Vin! Ello mau kan jadi pacar Gue?”
    “Jangan aneh-aneh deh Lex!”
    “Gue enggak aneh. Nah kebetulan nih Iren datang! Gimana Ren?”
    “Gimana apanya?”
    “Gue mau Vina jadi pacar Gue! tapi Vina bilang Gue becanda!”
    “Enggak lah Vin, Gue kenal Alex kok. Kali ini dia serius, kita sudah pernah 
bahas masalah ini sehari sebelum dia pulang kemarin!”
    “Terus? Gue harus gimana?”
    “Ya Lo tinggal bilang iya atau enggak!”
    “Gue bingung, Enggak ngerti Gue!”
    “Enggak dijawab sekarang, enggak apa-apa kok!”
    “Tapi jangan lama-lama ya ngegantungin Alex!”

BAB XXIX

0 0

“Vin, jadi gimana? Udah Lo fikirin?”
    “Apaan sih?” Vina tersipu membalas tatapan sahabatnya.
    “Alex! Dia baik Vin, GUe kan pernah seminggu sama-sama di Bali!”
    “Ragu Gue, Ren!”
    “Ragu kenapa lagi Lo?”
    “Gue takut!”
    “Tadi takut, sekarang ragu!” Iren memegang bahu dan menatap lekat mata sahabatnya itu.
    “Sekarang Lo dengerin Gue baik-baik Vin! Lo liat mata Gue!” Iren meyakinkan sahabat yang sudah dia anggap seperti saudara kandungnya itu.
    “Kalo kejadian kayak Lo menimpa Gue juga, gimana?”
    “Jalan hidup Orang masing-masing sudah di tentuin Tuhan. Lo jangan mikir jalan hidup kita bakal sama!”
    “Iya sih, tapi laki-laki sama dimana-mana!”
    “Udah berapa kali Lo menjalin hubungan sama laki-laki?”
    “Belom pernah sih!”
    “Nah berarti kan Lo cuma teori doang dan takut banget untuk mencoba. Alex itu baik, temen ceweknya cuma Gue dan kalau misalnya nanti di tengah jalan Dia berubah! anggap aja ini proses pendewasaan diri Lo!”
    “Angga kan dulunya juga baik, makanya Lo mau,”
    “Sekali lagi Ello jangan samain sifat orang meskipun mereka sama laki-laki. Kayak kita berdua aja nih, sama enggak?”
    “Jadi sekarang Gue harus gimana?”
    “Ello telepon Alex bilang Lo udah ada jawaban!”
    “Enggak perlu di telpon, Gue disini!” terdengar suara Alex yang tiba-tiba datang dari arah belakang tempat duduk Vina dan Iren.
    “Dari tadi Lo nguping ya? liat tuh wajah Vina sampai merona gitu!”
    “Setidaknya Gue tau Ren, Lo bilang Gue baik!” Alex dan Iren terbahak
    “Geer banget Lo ya, Gue pergi dulu! takut ganggu, kalian selesaikan dulu ya kisah cinta kalian!”
    “Ren, Lo kemana?” Vina menarik lengan Iren seakan mencegah Iren untuk meninggalkan dia,
    “Udah biarin aja Dia pergi mencari jati dirinya. Sekarang ada Gue sama Lo!”
    “Hmmm….!” Vina nampak grogi dan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
    “Vin, jadi gimana? Ello sudah ada jawaban?”
    “Jawaban? tapi Lo janji jangan kayak Angga ya!”
    “Iya, Gue janji!”
***
    “Ren, tunggu!” Iren mempercepat langkahnya  karena Dia sangat hafal suara siapa yang memmanggilnya. Tapi percuma karena pergelangan tangannya sudah di tarik dan membuat Iren menghenntikan langkahnya. Perlahan badan Iren di balik paksa  membuat Iren harus menatap sepasang mata hazel yang mampu membuat dia mengalah meski di kecewakan berkali-kali.
    “Ren, please! Dengerin Gue dulu,”
    “Ngomong aja, enggak usah pakai narik-narik gini. Lepasin tangan Gue!” Iren mencoba melepaskan tangannya meskipun dia kalah kuat. Angga berlutut sambil meneteskan airmata.
    “Maafin Gue! Gue enggak bisa Lo tinggalin kayak gini! Gue ancur!”
    “Gue capek sama permohonan maaf kayak gini!”
    “Kali ini janji Gue serius, habis Lo wisuda kita tunangan!” Mendegar kata-kata Angga yang meyakinkan Iren mulai melemah, Dia memegang bahu Angga dan memintanya berdiri.
    “Oke, sekali ini GUe kasih Lo kesempatan untuk ngebuktiin semua omongan Lo!”
    “Makasih sayang, Aku enggak tau lagi mesti gimana, Ello wanita paling baik yang pernah Gue temuin, Gue beruntung punya Ello!”
    “Udah, enggak usah lebay lagi! buktiin aja,”
    “Yaudah, Gue anterin Lo kemanapun sekarang!”
    “Gue lapar! eh itu kaki kenapa pakai tongkat gitu?”
    “Jadi habis malam itu, Gue ngebut balik dari kost Lo gara-gara nungguin Lo enggak muncul sampai subuh,Gue oleng nabrak pembatas jalan!”
    “Gimana rasanya? Enak?” Iren terkekeh
    “Lumayan lebih enak dari pada berminggu minggu nyariin Lo dan pulang kerumah di omelin Ibu!”
    “Makanya jangan suka main belakang. Kalau ujung-ujungnya nyariin lagi, minta balik lagi!”
    “Iya maaf, enggak akan Gue ulang lagi kok!”

BAB XXX

0 0

Pagi ini tak seperti biasanya, Iren dan Vina sudah bangun pukul 03.00 dini hari menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari kebaya dan baju wisuda.
    “Akhirnya wisuda juga kita ya Darl, rasanya baru kemarin di ospek!”
    “Kerasa Vin, banyak banget warnanya!” Iren terkekeh membalas ucapan sahabatnya
    “Eh pertama Lo kenal si bapak asrama juga kan pas ospek!”
    Iren tertegun mengingat lima tahun lalu saat pertama dia bertemu Angga. Pagi itu dengan lantang seorang kakak panitia berteriak menyuruh Iren memungut sampah di bawah kaki dia. Setiap Iren mau mengambil sampah itu, selalu di geser teriakannya membuat siapa saja bergidik tidak terkecuali Iren. Melihat kejadian itu seorang laki-laki menarik sampah di bawah kaki kakak panitia dan menyerahkannya kepada kakak panitia arogan itu dan menarik tangan Iren untuk menjauh dari situ. 
    “Makasih ya, udah di bantu!”
    “Sama-sama! Kenapa sih bisa sampai ke panitia menyebalkan itu?”
    “Tadi Gue asal lari aja biar cepet tandatangannya!”
    “Taunya masuk sarang macan ya?”
    Iren menatap lekat wajah laki-laki yang menolong dia keluar dari sarang macan itu Cakep banget sih, baik lagi! idaman nih pasti.Batin Iren terus memperhatikan laki-laki didepannya itu bicara.
    “Kenalin Gue Angga, Ekonomi Pembangunan!” ucap laki-laki itu mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Iren.
    “Iren kartika, Ekonomi Manajemen!”
    “Nomor ponsel Lo!” Angga menyerahkan gawai di tangannya dan meminta Iren mengetik nomor ponselnya.
    ***
    “Sudah Bu? Ngelamunnya?”  bisik Vina tepat di samping kuping kiri Iren. Melihat sahabatnya itu asyik memangku dagunya dan senyum-senyum sendiri.
    “Eh, iya kita berangkat yuk udah, ntar Rince sewot lagi kelamaan nunggu buat make over kita!”
    “Serius Gue nanya, Lo tadi kepikiran Angga ya?”
    “Udah, ayo berangkat nanti Rince…!”
    “Lo paling bisa mengalihkan pembicaraan deh, Lo enggak bisa move on kan dari Angga!”
    “Udah yuk, nanti Rince marah beneran, kita tu acaranya jam 07.00!”
***
    “Datang juga kalian, Gue udah setangah jam nungguin!”
    “Benerkan Vin, miss Rince ceramah dulu padahla Cuma telat 30 menit kita!”
    “Setengah jam bukan tiga puluh menit!”
    “Bukannya sama aja ya Miss?” sahut Vina tertawa
    “Beda penyebutannya sayanga!” 
    “Ren, si Stela tuh nyariin Lo kemarin!”
    “Adak ok ketemu, Gue lagi malas ngomong!”
    “Yang salah itu cowok Lo, kenapa harus pertemanan kalian yang ancur sih?”
    “Enggak ancur Miss Rince cuman Gue butuh waktu aja!”
    “Ya udah lah, besok udah baikan ya!”
    “Insyaallah siyap Miss!”
    “Ello di damping siapa hari ini Ren? Vin?”
    “Gue sih sama Alex karena Nyokap masih di Singapore kena Lockdown disana! Tau kalau Iren!”
    “Kok bisa Alex si Bule turki sih?”
    “Miss, belum tau ya? mereka udah jadian!”
    “Aih seriosa eh serius maksud eyke!”
    “Gue bahagia tapi, Vina dapatnya Alex.  Alex itu enggak macam-macam orangnya.”
    “Nah Ello sendiri gimana? Siapa yang dampingin Lo? karena situasi kayak gini enggak mungkin orangtua Lo bisa datang!”
    “Liat nanti ya, kejutan!” Iren terkekeh.
***
    “Sayang Gue enggak telat kan!” Angga datng tergopoh-gopoh dengan nafas yang tidaak beraturan.
    “Enggak kok, Ibu mana?”
    “Itu Ibu,” angga menunjuk kearah wanita setengah baya yang berjalan menghampiri mereka.
    “Ibu, apa kabar?” Iren meraih punggung tangan wanita setengah baya itu.
    “Kabar baik Nak. Maafin Angga anak Ibu ya!” Ibu memeluk Iren sambil meneteskan airmatanya.
    “Udah Bu, kita lupain aja semuanya!”
    Vina dan alex yang melihat adegan itu dari kejauhan, menghampiri.
    “Jadi ini kejutannya?” Goda Vina dengan senyum merekah di bibirnya.
    “Ren, kamu mau kan jadi menantu Ibu,”  Vina membelalakan matanya begitu mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Ibu.
    “Aku nepatin janji Aku sayang,” kata Angga meraih jemarii Iren dan memasangkan sebuah cincin.
    “Yess,Gue terima!” Balas Iren, raut wajahnya nampak sangat bahagia.
    “Lo yakin sama bapak asrama putrid model begini?” ledek Vina dan Alex.
    “Enggak papa dia bapak asrama putri, kalau Gue Ibu asramanya!” tegas Iren pada kedua sahabatnya itu.

Mungkin saja kamu suka

SUTRUSMI
Sibling Rivalry
Sri Rahayu
Jangan Jadi Guru
Nurjannah
Taman Bunga

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil