Loading
0

0

23

Genre : Inspirasi
Penulis : Maita Nurrani
Bab : 26
Dibuat : 15 Juli 2022
Pembaca : 10
Nama : Maita Nurrani
Buku : 1

DHIS & Batas Waktu

Sinopsis

Hai, Namaku Gendhis. Biasa Dipanggil Dhis. Aku terbiasa melakukan kerjaan di akhir-akhir waktu terutama di menit-menit terakhir dan mendekati batas waktu. Bukan karena mauku tapi karena keadaan yang memintaku untuk menjadi seperti itu.
Tags :
#sarapankata

PERKENALAN

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch47

#Kelompok5

#Day1

#Jumlahkata452


Hai Assalamualaikum, kenalin namaku Gendhis. Biasa dipanggil Dhis. Sekarang usiaku menginjak 28 tahun. Aku masih single. Tinggal di kota yang berhati nyaman yaitu Jogjakarta Hadiningrat. Sehari-hari, aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak dibidang penyedia alat kesehatan dan bahan medis. Posisi saat ini, aku di unit keuangan menjabat sebagai pemegang laporan keuangan di perusahaan tersebut.

Kegemaran, yang sebenarnya bukan disebut kegemaran atau hobi tapi cenderung ke kebiasaan bahkan ke sifat. Aku terbiasa melakukan kerjaan di akhir-akhir waktu terutama di menit-menit terakhir. Bukan karena mauku tapi karena keadaan yang memintaku untuk menjadi seperti itu.

Perlu kalian tahu, setelah aku berselancar di internet aku menemukan arti nama panggilanku. Gen, sususan DNA yang berada pada kromosom yang menentukan sifat individu. Sedangkan Dhis itu berasal dari bahasa Jawa yang artinya batas waktu. Ya sesuai denganku bukan? Gen Dhis. Aku mengartikannya sendiri menjadi sifat individu yang selalu di batas waktu. Melakukan kegiatan di batas akhir waktu. melakukan apapun di menit terakhir.

“Dhis,” panggil mbak Fida. Mbak Fida ini temanku di bagian keuangan juga. Dia di unit perencanaan. Mbak Fida ini sobatku. Mbak Fida orangnya baik banget. Dia yang selalu membantuku jika aku mengalami kesulitan dalam pekerjaan. Dan tidak cuma itu membantu dikala ada info-info penting yang aku selalu ketinggalan beritanya.

“Ya mbak, ada apa ya?” jawabku.

“Siapkan laporan keuangan sampai hari ini. Tuh diminta Pak Fendi buat ngadep ke Bu Rosi.” Jawab Mbak Fida

“Okay mbak, buat kapan?” tanyaku

“Sore ini, buat rapat BESOOOK PAGIII,” Jawab Mbak Fida yang kemudian wajah berkerut, tubuhnya membungkuk ke depan, suaranya terkekeh-kekeh.  Mungkin dia melihat ekspresiku yang langsung berubah.  

Ku tengok jam di dinding. Jam menunjukkan pukul 15.45. Tiba-tiba jantungku berdebar. Kusandarkan tubuhku ke kursi dan tanganku mulai lemas. Pikiranku mulai kacau dan konsentrasiku juga sama. Padahal berkerja di keuangan itu dituntut untuk teliti, cermat, tepat dan tanggap.

“Lima belas menit lagi jam pulang kakak,” aku memastikan ke Mbak Fida.

“Iya, adek Gendhis. Itu laporan dikumpulkan ke Pak Fendi sore ini sebelum pulang kerja. Mau dipelajari dulu sama Pak Fendi. Besok pas melaporkan sama Bu Rosi biar lanciiiirr,” perjelas Mbak Fida

Aku mencoba mengumpulkan semangat. Menghela nafas panjang. Aku tidak sendiri. Kulihat Mbak Fida juga mulai mengerjakan tugasnya.

“Baiklah, mari kita mulai.” Kataku.

Aku mulai menghidupkan komputerku lagi dan memulai mengerjakan. Tapi bingung mulai dari mana. Pertama yang ku lakukan adalah menarik nafas panjang dan menghembukannya perlahan. Lalu menumbuhkan semangat.

“Okay Dhis, tetap tenang dan jangan panik. Yakin bahwa kamu bisa selesaikan tepat waktu dan pulang tepat waktu. Tidak lembur. Nanti habis ini belanja.“ aku bicara pada diriku menenangkan hati dan pikiran kacau ini. Begitulah cara tepat dan tercepat untuk menumbuhkan semangat.

Kreeek pintu ruangan terbuka.

“Saya tunggu sebelum jam empat ya,” tiba-tiba pak Fendi mengagetkanku dan Mbak Fida.

AWAL MULA

0 0

Jam di dinding menunjukkan pukul 16.00 WIB. Mataku terasa pedih dan berkaca. Pandanganku mulai kabur. Tulisan di layar monitor komputer seperti sebuah garis yang berjajar. Sepertinya aku mulai lelah. Namun, tugasku belum selesai dan tinggal sedikit lagi.


Saat seperti ini, aku harus tetap yakin bahwa bekerja dengan tenggat waktu atau deadline yang sangat singkat itu tidak selamanya mengerikan. Aku tidak perlu membuang banyak waktu mengerjakan pekerjaan ini. Tapi itu terjadi jikalau semua bahan udah siap tinggal mengolahnya saja. Kalau belum siap ya sama aja bohong. Bakalan lembur deh hari ini.


“Dhis mengeluh bukan jalan terbaik ya. Mengeluh juga tidak akan mengurangi beban kerja. Waktu tetap berjalan. Deadline tetap deadline.” Aku berusaha berbincang dengan diriku. Berusaha untuk sadar bahwa mengeluh itu sia-sia.


Awal mula aku bekerja di perusahaan ini biasa saja. Pekerjaan demi pekerjaan aku lakukan tepat waktu bahkan sering selesai sebelum waktu. Banyak karyawan lembur karena menunda-nunda pekerjaan. Mereka tidak dapat menyelesaikan tepat waktu. Itu menurut pendapat orang ya. Berbeda dengan aku. Aku selalu kerja tepat waktu, sesuai dengan jam kerja perusahaan ini.


Karena pekerjaan yang diberikan kepadaku sering selesai sebelum batas waktu. Mulai saat itu pekerjaan datang kepadaku. Aku terima dengan senang hati karena aku suka. Makin lama pekerjaan ku makin bertambah dan ditambah lagi ada teman di bagianku yang resign. Aku tidak bisa menolak karena tidak ada orang lagi yang bisa dimintai tolong membantu. Memang butuh rekrut karyawan baru tapi entah keputusan managemen kenapa seperti itu. Apa mau efisiensi besar-besaran demi meningkatkan keuntungan atau ya karena dengan karyawan yang ada dianggap mampu mengerjakan semuanya.


Banyak sekali pekerjaan yang aku lakukan. Sampai-sampai aku merasa waktu jam kerja yang ditentukan terasa sangat kurang untuk menyelesaikan semua pekerjaan. Harus lembur sampai malam pun pernah aku lakukan. Bukan demi loyalitas. Tapi aku menikmati setiap waktu saat aku bekerja.


Memang pada awal mula terasa berat. Aku merasa sedikit terbebani tapi apapun pekerjaan yang diberikan kepadaku aku merasa tertantang untuk menyelesaikannya. Bukan untuk cari muka ke orang-orang tapi demi kepuasan diriku sendiri dan meyakinkan diriku bahwa aku bisa.


Aku termasuk orang yang perfeksionis. Tapi dengan kondisi kerja yang seperti ini aku selalu mengesampingkan sifat perfeksionisku. Aku mengerjakan secepat mungkin yang aku bisa. Jika aku tetap perfeksionis, menyelesaikan dengan sempurna maka kerjaanku tidak akan selesai-selesai. Toh nanti juga bakalan dilihat, dikoreksi dan diperbaiki.


Waktu berlalu, tanpa terasa jam menunjukkan jam 16.15 dan selesai tugasku. Bahagianya diriku bisa menyelesaikannya. Walaupun melebihi tenggat waktu tak apa, lima belas menit adalah batas maksimal toleransi. Lalu ku kirimkan laporan keuangan ke email Pak Fendi.


Alhamdulillah legaaa sekali rasanya. Saatnya untuk pulang dan belanjaaa. Yuhuuu.. 




BELANJA

0 0

Ketika cahaya datang dari langit lalu bertubrukan dengan partikel yang ada di atmosfer bumi menciptakan suasana senja yang begitu indah. Warna langit menjadi jingga. Bagiku warna jingga melambangkan kegembiraan, kebulatan tekat dan kreatifitas. Ya, aku suka sekali warna jingga.


Sore ini, berjalan kaki menikmati senja bisa menumbuhkan semangat tersendiri untukku. Aku merasakan kegembiraan karena telah menjalani separo hari dengan lancar. Melihat langit jingga ini menumbuhkan Ide-ide dibenakku secara spontan. Ideku hari ini ingin memasak makanan yang simpel dan minum teh herbal yang menenangkan. Sangat cocok untuk menikmati senja yang indah ini.


Sampai di rumah, aku langsung menuju ke dapur. Mengecek ketersediaan bahan baku untuk masakan yang akan aku buat. Aku buka lemari pendingin. Hah yang benar saja aku lupa, jika bahan masakan di lemari pendingin kosong. Bahan masakan sudah aku habiskan kemarin sore.


Baiklah tak apa, saatnya untuk membuat rencana belanja. Aku mencatat setiap kebutuhan bahan masakan dan menuliskan kebutuhan lain yang kiranya dibutuhkan lain waktu. Rencanaku mau belanja habis isya aja. Sekitar jam setengah delapan malam. Daripada nanti tidak jadi aku pasang alarm di hp.


Bip bip bip.. alarm hp berbunyi. Ku ambil hp dan matikan alarm.


Sekitar jam delapan kurang dua puluh menitan aku keluar rumah untuk belanja yang aku buat daftarnya tadi. Aku cari aja toko yang dekat rumah, malas aku harus keluar jauh-jauh. Ku stater motorku dan pergi ke toko.


Sesampai di toko, aku lihat tidak banyak pembeli. Tumben sekali. Tanpa ragu aku lalu masuk dan mengambil tas keranjang belanja. Tak lupa aku membawa daftar belanjaanku.


Tiba-tiba GREDEEEKK. Kaget aku, suara apa itu? Ku tengok jendela etalasi. Hah apa-apaan ini kok ditutup? Aku tanya mbak-mbak pelayan toko.


“Ada apa mbak kok ditutup?” tanyaku ke mbak pelayan toko.


“Jam delapan kami tutup mbak,” jawab mbak pelayan toko.


“Hah, kok gk biasanya? Emang ada apa mbak?” tanyaku lagi


“Pemberitahuan tutup sudah kami tempelkan mbak, ini karena besok kami akan mulai pindah.” Jelas mbak pelayan toko. 


“Baik mbak, terimakasih infonya.” Kataku.


“Sama-sama mbak.” Sahut mbak pelayan toko.


Aku lihat jam yang ada di layar hp ku. Hah apa? Jam 20.55. Belanja lima menit belanja apaan. Aku lalu melihat daftar belanjaku dan mempercepat langkah kemudian mengambil barang secepat kilat. Dari yang biasanya bisa santai, muter-muter dan baca-baca kali ini tidak bisa. Waktu lima menit mana bisa.


Tiap kali habis mengambil barang belanjaan aku tengok jendela. Hampir tertutup semua kecuali bagian pintu. Aku deg-degan takut diminta segera selesai, padahal aku belum selesai mengambil semua barang yang aku butuhkan. Setelah aku rasa cukup dengan barang belanjaanku langsung menuju kasir. Disana aku tidak sendiri. Ada beberapa pembeli yang mengantri pembayaran di kasir.


Alhamdulillah masih ada pembeli lain selain aku. Coba kalau aku sendirian di dalam toko. Pelayan toko dan satpam tidak mengetahui kalau aku di dalam dan langsung ditutup dan dikunci. Terus judulnya aku terkunci di toko yang mau tutup gitu. Huaa, gak lucu.


Setelah melakukan transaksi pembayaran dan membayarnya lalu aku pulang. Aku tengok jam menunjukkan pukul 20.10. Haha bahagianya tidak jadi deh terkunci di dalam toko yang tutup. Kenapa aku deg-degan? Bukankah pembeli adalah raja. Ya mereka bakalan menungguku walaupun sudah melewati jam tutup toko mereka.




RAPAT AKHIR PEKAN

0 0

Hari ini hari Jumat, menjelang akhir pekan. Akhir pekan seperti ini biasanya sangat sibuk. Entah itu beberes meja kerjaku yang berantakan, beberes ruangan, sampai membuat laporan mingguan.

Ini masih pagi. Lima menit lagi jam masuk kantor. Tapi aku sudah presensi sidik jari sedikit santai. Mulai menaiki tangga aku bertemu dengan Mbak Risna. Mbak Risna berkerja di bagian personalia.

“Dhis, Selamat pagi,” sapa Mbak Risna dengan ramah.

“Ya Mbak, Selamat pagi juga,” sahutku dengan senyum sumringah.

“Kok santai gitu jalannya. Udah baca WA grub belum?” tanya Mbak Risna.

Kata-kata Mbak Risna membuatku panik. Langsung aku ambil hp di dalam tasku. Benar saja ada wa grub. Mataku terbelalak, ada 100an chat dari WA grub yang belum aku baca. Baru mau membacanya tiba-tiba dari arah belakang tangaku dipegang dan ditarik. Membuatku kaget dan langsung menoleh kearah seseorang yang memegangku. Tak lain dan tak bukan dialah Mbak Fida.

“Ayo cepat, kita terlambat nanti,” kata Mbak Fida sambil menyeretku ke ruang rapat.

Aku yang belum baca apapun tentang chat di grub masih bingung dengan kehebohan apa yang terjadi. Kira-kira ada apa ya? Kenapa semua terburu-buru untuk rapat.

Masuk di ruang rapat sudah ada Pak Fendi Pimpinan Cabang, dengan wajah yang datar melihat satu-persatu anak buahnya masuk ke ruang rapat. Aku melihat di sekeliling sudah ada perwakilan unit masing-masing. Aku mulai mencari tempat duduk dan mulai duduk. Aku masih sungkan untuk membuka chat grub.

Setelah suasana sedikit aman aku mulai membuka chat grub. Diawali pesan dari Pak Fendi jika nanti ada rapat. Ih yang bener saja ngirim pesan jam 6 pagi. Mana sempat aku buka. Itu jam sibukku beberes rumah dan siap-siap berangkat. Aku mulai melanjutkan membaca tapi rapat dimulai. Ya aku belum baca apaisi chat yang menghebohkan itu.

“Selamat pagi semua, terimakasih kepada bapak dan ibu yang telah hadir dalam rapat singkat pagi ini. Dan yang telah kita ketahui bersama akan nada beberapa inovasi yang dilakukan kantor cabang kita untuk meningkatkan kinerja dan kesejahteraan kita. Baik. Sebelumnya marilah kita berdoa menurut keyakinan kita masing-masing. Dengan sikap duduk sempurna berdoa dimulai.” Mbak Risna memulai membuka rapat.

“Selesai. Untuk selanjutnya sy serahkan kepada pimpinan cabang kita Bapak Fedi. Monggo bapak sy persilahkan.” Lanjut mbak Risna.

Dan mulailah Pak Fendi memberikan inti dari rapat pagi ini. Aku murai menulis apa yang disampaikan Pak Fendi. Beberapa intinya, pertama akan ada absen melalui aplikasi. Kedua peningkatan penjualandan target. Dan ke tiga perhitungan tambahan bonus.

Aku sangat fokus pagi ini. Apapun yang dikatakan Pak Fendi aku catat. Kemudian ada paparan dari masing-masing unit. Keadaan mulai membuatku jenuh dan sedikit mengantuk.

“Dhis.”

“Ya,” jawabku kaget. Beneran aku hampir tertidur.

“Diminta Pak Fendi menyampaikan laporan hasil pencapaian laba bulan ini.” Kata Mbak Risna yang mengagetkanku.

“Jelaskan dalam waktu 3 menit. Intinya saja,” tambah Pak Fendi

Yang benar saja. Tidak ada data mana bisa ngomong menjelaskan dengan singkat. Akhirnya aku jelaskan seingatku dari laporan kemarin sore yang aku berikan pada Pak Fendi. Awalnya aku terbata-bata untuk berbicara. Tapi melihat ekpresi dari karyawan yang ada membuatku nyaman dan aku mulai lancar menjelaskannya. Yuhuuiii Alhamdulillah diterima juga penjelasanku.

Rapatpun ditutup.

Jadi, isi chat grub tadi apa ya? Aku jadi malas bacanya. Paling juga yang dibahas di rapat tadi. Mari lanjut bekerja saja seperti biasa.

APLIKASI PART 1

0 0

Ku lihat langit dari jendela samping meja kerjaku. Siang ini sangat terik. Awan-awan cumulus putih menghiasi langit biru. AC di ruangan tidak terasa dingin sama sekali. Aku bantu dengan kipas masih tetap terasa panas. Mbak Fida menyalakan kipas kecilnya pun masih kepanasan.

“Hmm minum es enak nih,” kataku

“Ayo Dhis beli, aku mau juga,” Mbak Fida menyahutku

“Hey, mau kemana? Bentar lagi ada rapat. Ayo lah segera merapat aja ke ruang rapat ya,” Mbak Risna tiba-tiba datang dan mengagetkan aku dan mbak Fida.

“Rapat apa Mbak?” Tanyaku.

“Lanjutan rapat kemarin yang aplikasi itu. Ayo ini udah aku kirim pengumuman di grub.” jelas mbak Risna.

Kami mulai masuk ke ruang rapat. Selang beberapa menit banyak karyawan yang berdatangan masuk ke ruang rapat. Aku lihat hampir semua perwakilan unit sudah masuk. Dan rapat pun dimulai oleh Mbak Risna sebagai pembawa acara.

“Baik, teman-teman semua langsung saja. Meneruskan rapat bersama Pak Fendi kemarin ya. Akan ada aplikasi untuk presensi karyawan. Ini berlaku untuk karyawan kantor maupun karyawan lapangan. Karena dengan aplikasi ini dapat memantau keberadaan karyawan, memudahkan membuat laporan kehadiran. Bahkan ni ya penting, membuat karyawan lebih displin.” Perjelas Mbak Risna

“Yuk mari buka hp masing-masing. Dan download aplikasi Presensi.” Tambah Mbak Risna

Kami semua yang hadir di rapat mengunduh aplikasi. Ada beberapa yang terkendala dan adapula yang lancar jaya. Mau tahu tempatku? Tentunya TERKENDALA. Haha. Yah mau bagaimana lagi hp ku jadul, memori penuh. Jadi untuk mengunduh harus menghapus beberapa aplikasi, memori foto dan video, dan lainnya sampai bisa mengunduh.

“Dhis, lembiru Dis.” Kata Pak Fendi. Sontak semua tertawa dan mulai mengolok. Aku pun ikutan tertawa. Bukan karena tidak ada uang untuk membeli, tapi eman ajalah. Hp ini penuh dengan kenangan. Masih bisa belum rusak dan masih bisa digunakan gini. Nantilah kalau hpku benar-benar mati baru aku ganti.

Kemudian setelah semua selesai mengunduh, Mbak Risna menjelaskan cara penggunaannya. Aplikasi sini sebenarnya sih sangat simple. Hanya tekan presensi jika ingin presensi, tekan laporan jika ingin mengisiskan laporan. Bagiku sangat bermanfaat. Mbak Risna menambahkan jika hari senin mulai menggunakan aplikasi ini. Rapat pun ditutup. Kami kembali ke ruangan masing-masing.

Jam menunjukkan pukul 16.00 aku sudah siap pulang karena ini malam minggu sodara-sodara. Aku mau me time sejenak. Mau nonton drakor semalaman.

Sesampai di rumah ku letakkan tas. Dan mulai persiapan me time ku. Baru kurebahkan tubuhku di kasur. Hp ku berbunyi. Mbak Risna telepon.

“Dhis, lupa absen pulang ya?” Tanya Mbak Risna.

“Gak mbak,udah kok tadi via aplikasi.” Perjelasku.

“Aplikasi mulai senin pagi Dhis. Haha sini balik absen. Mau aku rekap ini pas akhir bulan.” Kata Mbak Risna.

Aaah yang benar saja. Balik lagi ke kantor nih? Yasudahlah mau bagaimana lagi.

MALAM MINGGU

0 0

Dengan langkah gontai aku keluar dari kantor. Ya aku baru saja absen pulang karena lupa. Ku lihat jam menunjukkan pukul 18.00. Aku mau lanjut pulang dan melakukan rencanaku untuk nonton darkor.

Kring kring kring. Tiba-tiba hp ku berbunyi. Ku lihat layar hp, oh dari Dian temenku SMA. Ku angkat panggilan itu. Dian dan beberapa teman lain mengajak nongkrong di Alun-alun Selatan. Ya langsung ku jawab mau. Aku kangen juga ngobrol sama mereka dan temen yang merantau ke luar kota juga baru pulang. Bakalan asik nih. Tak apa tak jadi nonton drakor. 

Kami janjian bertemu di Sasono Hinggil. Biar tidak susah saling mencari. Menunggu beberapa saat aku lihat Dian sudang memarkirkan motornya, dan disusul teman yang lain.

“Hai Dian, aku disini,” kataku sambil melambaikan tangan.

“Ya” Dian pun menyahut dan berjalan mendekatiku. Teman yang lain pun mengikuti.

Kami mencari tempat makan yang enak buat ngobrol. Kemudian kami mulai berbincang, ngobrol ngalor ngidul gak jelas. Menikmati malam yang penuh dengan lampu mobil hias.

Tak terasa sudah malam. Jam menunjukkan pukul 22.30. Sontak aku pun kaget. Jam malam rumah sampai jam sepuluh malam aja. Aku langsung pamit ke teman-temanku dan pulang.

Malam minggu mana bisa cepat sampai. Jogja macet parah. Banyak yang bersepeda, naik motor bahkan mobil-mobil pun serasa semua keluar dari garasi.

Beberapa kali kena lampu merah akhirnya lolos juga. Tepat sampai rumah jam 23.00. Aku memarkirkan motor ku kan langsung masuk ke teras rumah.

Celingak celinguk lihat sekitar, “kok sepi pada kemana sih?” kataku. Ruang tamu udah gelap. Hanya lampu teras aja yang menyala. Ku memegang engsel pintu. Sudah terkunci. Ku rogoh tas ku untuk menggambil kunci tapi celaka aku lupa. Kuncinya tidak aku bawa. Masih ada di atas meja.

Aku merogoh tasku untuk mengambil hp. Hei ada banyak chat dan panggilan masuk. Dari siapa ya? Penasaran banget. Dari bapak. Ada apa ya? Lalu ku buka isi chat. Isi chat bapak:

Bapak dan ibu ke tempat simbah, mau ikut gak?
Tak tunggu sampai jam 8 ya.
Dhis dhis.. kok gak pulang ini dah jam 8.30. yowes tak tinggal. Jaga rumah ya. Balik besok pagi.

Waaa terus gimana ini? Ditinggal ke rumah simbah, sendirian dirumah sih gak masalah tapi gimana cara masuk rumah. Masa ku tidur di teras. Ku coba berbagai cara agar mintu terbuka. Tapi gagal. Yasudahlah tidur di teras aja gak papa. Lagian udah ada makanan juga.

“Selamat malam mingguan dan tidur di teras ya Dhis. Me time yang sungguh sangat menyenangkan.” Kataku untuk mensyukuri apa yang tengah terjadi.  

SELF HEALING

0 0

Suara ayam berkokok saling bersahutan membuatku terbangun dari tidurku. Aku melihat jam di hp masih menunjukkan jam 3 pagi. Pagi ini lumayan sejuk. Udara masih segar. Aku masih mengantuk. Ku tutup mataku dan menarik jaketku untuk menyelimuti tubuhku. Aku terlelap lagi.
Suara burung pipit yang saling bersahutan membuatku terasa nyaman. Sinar matahari menyorot ke wajahku, membuatku silau. Aku mulai membuka mata dan terbangun. Ku lihat jam di hp menunjukkan pukul 06.30. Badanku masih terasa lelah. Aku mulai duduk.

Tidur di kursi kayu panjang seperti ini membuat badanku pegal-pegal semua. Hanya memakai bantal kursi untuk menopang kepalaku. Aku menggeliat badanku yang hampir semua pegal. Kutarik tanganku keatas dan ke samping, menoleh ke kanan dan kiri untuk merenggangkan otot leherku. Sudah merasa sedikit baikkan.
Bapak dan ibu belum pulang, lalu apa yang harus aku lakukan. Hmm nebeng kamar mandi masjid aja. Akhirnya aku berjalan ke masjid dekat rumah. Malu juga baru datang siang. Ya mau gimana lagi. Kan baru tidak sholat.  Setelah selesai dari masjid, aku mencari sarapan.

Sampai di rumah Bapak dan ibu belum pulang juga. Aku udah merasa lelah sekali. Yang ada di bayanganku saat ini adalah tempat tidurku. Busa kasur sanjaya yang super lembut dan empuk. “Kapan ini Bapak dan Ibu pulang?” gumamku. Tak sabar menanti mereka pulang.

Tak berapa lama suara motor terdengar dari kejauhan. “Nah itu dia, akhirnya pulang juga.” Senangnya hatiku. Sambil membuka gerbang pagar rumah.

“Kok lama sekali pak pulangnya, ibu mana?” tanyaku yang bosan menunggu.

“Eh iya po? Wong ya masih pagi to ini. Malah terlalu pagi. Rencana tadi pulang habis luhur tapi gak jadi. Ibumu masih di sana” Kata bapakku.

“Emang ada apa pak? Simbah baik-baik saja kan?” tanya ku lagi.

“Makanya kalau ditelepon itu diangkat. Simbah baik-baik saja. Cuma nanti ada saudara dari Surabaya datang mau nengok simbah. Itu Pak Lek mu ngajak saudara-saudara yang lain. Kan yo kasihan simbah to kalau bersih-bersih rumah sendirian.” Perjelas bapakku.

Alhamdulillah syukurlah kalau simbah baik-baik saja. Wah bakalan ramai nih nanti. Banyak sepupu yang datang.

Bapak mulai membuka pintu. “Kok Kancingan?” tanya bapakku.

“Iya Pak, kuncinya ketinggalan di dalam rumah tuh di meja kamar. Semalam aja aku tidur di kursi itu.” Jawabku sambil menunjuk ke kursi kayu panjang.

“Ealah, kan ada kunci serepnya to nduk.” Kata bapakku sambil mengarah ke taman.

“Ini lo kuncinya.” Kata bapakku sambil mengangkat pot. Ternyata ada kunci cadangan di bawah pot sukulen. Kok ya semalam aku gak tanya atau telepon bapakku.

Langsung ku ambil kunci itu buka pintu dan masuk kamar. Kurebahkan tubuhku di kasur busa sanjaya yang sangat empuk. “Aah sungguh nikmat mana yang kau dustakan Dhis,” kataku pada diriku.

Self healing yang tepat untuk diriku saat ini adalah kembali tidur.

KE RUMAH SIMBAH

0 0

“Dhis, ayo bangun ini udah jam sepuluh. Ikut ke rumah simbah gak?” suara Bapak yang membangunkanku  sambil mengetuk pintu kamar. Badanku masih terasa pegal-pegal gegara tidur di kursi kayu semalaman.

“Ya, Pak. Sebentar lagi. Sepuluh menit lagi ya?” kataku sambil menggeliat, menggulung-gulung tubuhku di kasur. Masih terasa mengantuk. Aku menarik nafas panjang dan berusaha mengumpulkan tenaga untuk duduk. Ku kucek-kucek mataku dengan tangan. Rasanya mata ini tidak ingin terbuka. Ku lihat ke jendela kamar. Berdiri lalu berjalan mendekati tirai kemudian membukanya. Hari ini Cuaca cerah.

“Dah bangun belum? Gek mandi sana. Bapak berangkat duluan. Jangan lupa kunci pintu ya” tambah Bapak

“Ya, Pak.” Aku lalu bergegas mandi dan siap-siap ke rumah simbah.

Simbah ini adalah ibu dari bapakku. Beliau tinggal di daerah Bantul. Kurang lebih 5 km dari rumahku. Aku sering mengunjungi simbah. Ya paling seminggu sekali. Untuk mengetahui keadaan simbah yang sudah sepuh dan membantu bersih-bersih rumah simbah yang besar itu.

Kring kring kring, hp ku berbunyi ada pangilan masuk dari ibu.

“Dhis, udah mau kesini belum? Ini tadi dapat telpon kalau tamunya datang jam dua belas. Nah sekarang udah jam sebelas. Cepat kesini ya, bantu ibu beres-beres.” Telepon ibu yang saat ini berada di rumah simbah.

“Iya bu, bentar lagi berangkat. Paling lima belas menit lagi sampai kok.” Jawabku sambil siap-siap berangkat. Lalu ku tutup telpon dan segera berangkat.

Hari minggu siang ini jalan ramai lancar. Tepat di lampu merah aku berhenti. Tiba-tiba hp ku berdering. Ada panggilan masuk lagi dari ibu. Segera ku angkat siapa tahu ada yang penting.

“Dhis, udah dijalan kan? Bawa uang kan? Nitip beli camilan dan oleh-oleh ya. Di toko oleh-oleh biasanya. Apa-apa saja yang dibeli ibu tulis di wa ya. Cepet. Ini dah mau jam dua belas. Nanti ndak tamunya kesini belum ada apa-apa.” Pesan ibu dengan suara panik.

"Ya bu. Okay siap.” Kataku lalu ku tutup telpon dan segera ke toko oleh-oleh.

Dengan sigap aku ambil keranjang dan mengambil semua barang pesanan ibu. Secepat kilat langsung ke kasir.

“Jangan banyak menoleh ya Dhis. Nanti bisa-bisa nambah jajan buat kamu sendiri”. Kataku pada diriku dengan suara lirih.

Aku tengok jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Wah harus cepat-cepat ini. Aku keluar toko dengan membawa 2 plastik besar isi oleh-oleh camilan untuk suguhan. Segera ku kaitkan ke motor dan bergegas pergi ke rumah simbah dengan kecepatan maksimum.

Tepat lima belas menit sampai di rumah simbah. Ku lihat ibu berlari menuju ke arahku dan membantuku membawa oleh-oleh dan camilan. Ku lihat keadaan sekitar.

“Hah ibu yang benar saja masa belum siap. Itu halaman kenapa belum disapu?” tanyaku sambil agak berteriak terkejut.

TAMU

0 0

Aku terkejut melihat keadaan di sekitar simbah. Halaman depan masih berantakan dan belum disapu. Seperti belum ada persiapan kalau mau ada tamu. Aku pun bertanya pada ibu dan benar saja jawaban ibu hanya belum sempat.

“Hees gak sempat. Ibu masak seharian ini. Cepet bantu beres-beres rumah ya.” Jawab ibu yang panik terburu-buru.

Ku ambil sapu lidi di sudut rumah lalu mulai menyapu halaman depan rumah simbah. Banyak dedauanan jatuh dari pohon pakel. Belum lagi yang dibawah pohon rambutan. Duh capeknya. Iya juga sih. Membersihkan rumah simbah itu tidak cukup kalau cuma satu hari. Pantas saja kalau ibu panik.

Selesai menyapu halaman lanjut menyapu ruang tamu dan teras. Jam sudah menunjukkan pukul 12.15 tapi tamu belum datang. Syukurlah tidak tepat waktu. Ku rebahkan tubuhku di sofa ruang tamu. Pegel juga ya menyapu. Wah ketahuan nih kalau jarang olahraga. Haha

Ku dengar ada suara mobil dari kejauhan. Semakin jelas suaranya. Aku mulai duduk dan melihat keluar. Tamu sudah datang. Lalu dengan sigap aku berlari keluar dan membuka gerbang depan.

Tamu disambut oleh bapak dan simbah. Aku berlari kecil menuju ke dapur, cuci tangan lalu bantu ibu menyiapkan suguhan. Aku membawa keluar beberapa pacitan dan minuman. Ku lihat di sekeliling tidak ada sepupuku yang ikut. Aku kira akan nada sepupu yang ikut, jadi kami bisa bermain dan bercerita panjang lebar. Tapi ternyata hanya orang tua saja yang ikut. Ada Pak Lek dan istrinya, kemudian adik istrinya Pak Lek dan Suaminya.

Aku kembali ke belakang menemui ibuku untuk membantu menyiapkan makan siang. Tapi aku mencium ada bau-bau aneh. Celaka bau ini seperti bau gosong. Penciumanku memang tajam.

“Buk, masakannya gosong,” kataku pada ibu.

“Apa? Cepat angkat,” Ibu mulai panik. Dengan sigap aku mematikan kompor dan mengangkat wajan dari atas kompor. Alhamdulillah masakan ibu masih aman. Lalu siap-siap aku bantu ibu menyuguhkan makan siang.

Di ruang tamu, ku lihat bapak dan simbah masih bercengkrama. Seru sekali rasanya. Sayang sepupuku tak ikut. Hmm coba ikut, lain ceritanya.

Sekitar jam 15.30, tamu izin pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang. Ku lihat simbah berkaca-kaca. Seakan belum bisa melepas anak bungsunya. Bapak dan ibu memberikan oleh-oleh yang aku beli di toko oleh-oleh tadi. Bapak berpelukan dengan Pak Lek, demikian pula ibu berpelukan dengan Bu Lek. Aku hanya salim saja. Kami melepas tamu di teras rumah.

Setelah kepergian tamu, aku mulai beberes rumah lagi. Capeknya tak terkira. Badanku semakin pegal.

“Kok gak ada persiapan sih buk, capek nih bersih-bersih secepat kilat karena buru-buru.” Aku menggerutu ke ibu.

“Semalam, kenapa telepon bapak gak diangkat-angkat?” tanya ibuku dengan nada yang tinggi.

Yah, jadinya kena marah ibu deh.

PAGIKU

0 0

Aku terbangun jam 3 pagi. Ku dengar suara ayam berkokok saling bertautan. Lampu kamar masih redup. Aku mulai duduk dan mencari hp ku. Lupa ku taruh mana seingatku di meja samping kasur ku, tapi tidak ada. Ku berdiri dan menyalakan lampu kamar. Aku masih mencai hp ku karena khawatir ada pesan penting dari bapak dan ibu atau dari kantor. Ku ingat-ingat lagi, sepulang dari tempat simbah aku kelelahan langsung masuk kamar dan hp ku letakkan di meja. Aku jongkok dan mulai melihat di bawah dipan tempat tidur kamar. Ternyata hp ku masuk kolong tempat tidur. Halah kok bisa sih sampai kolong, aku keheranan.

Ku buka hp ku, tidak ada panggilan dan pesan masuk. Lalu ku letakkan hp di meja. Mau ngapain jam tiga gini. Bapak dan ibu masih di rumah simbah. Akhirnya ku putuskan untuk bangun dan mulai bersih-bersih kamar.

Hari ini hari senin, aku termasuk orang yang suka hari senin. Hari senin bagiku adalah awal semangat bekerja, awal semangat untuk merencakanan target-target pencapaian selama satu minggu. Seperti contohnya pagi ini, walaupun aku bangun jam 3 pagi aku langsung merencakanan sesuatu yaitu bersih-bersih rumah. Gak tidur lagi.

Selesai bersih-bersih kamar ku lanjut bersihkan ruang tamu, teras dan halaman. Untuk pembersihan yang membutuhkan lebih biasanya aku lakukan saat benar-benar punya waktu longgar yang banyak.

Ku lihat jam di dinding menjunjukkan pukul 04.30. waktunya subuh. Aku masih mencari ide sarapan yang pas saat ini. Aku berjalan ke dapur untuk melihat bahan apa aja yang ada di sana. Hmm, ada nasi, udang, telur. Ku putuskan untuk membuat nasi goreng udang. Ku lihat di meja dapur ada pisang. Enak juga kalau dibuat smoothies. Di kulkas ada susu dan yogurt. Yuhuu, saatnya memasak.

Aku termasuk orang yang multitasking. Sembari membuat nasi goreng, aku juga buat smoothies dalam waktu yang bersamaan. Selesai satu selesai semua. Sangat sempurna. Selesai memasak ku putuskan untuk mandi dulu karena badan udah sangat gerah. Selesai mandi, dandan, lalu sarapan.

“Eh, cepat sekali hangatnya ini nasi goreng?” aku heran. Karena aku merasa mandiku dan siap-siap gak lama. Eh yang benar saja udah. Jam menunjukkan pukul 07.00. Waktunya berangkat.

“Apa? Jam 7.” Aku kaget sendiri lihat jam di dinding.
“Salah kali jamnya itu.” Aku masih tidak percaya. Ngapain aja dari jam setengah lima sampai jam tujuh. Dua setengah jam hanya untuk masak, mandi dan siap-siap. Belum juga sarapan.

Ku buka hp ku, ternyata benar jam sudah jam 7. Waktu rasanya berjalan sangat cepat berlalu. Aku cepat menghabiskan sarapanku dan buru-buru berangkat ke kantor.

Senin, jangan sampai telat bos. Malu laaah.

BERANGKAT

0 0

Prinsip orang sepertiku yang suka dengan hari Senin, Senin jangan sampai telat bos. Haha. Bisa malu lah. Katanya semangat senin, suka dengan senin. Tapi senin-senin kok telat. Mau taruh dimana muka cantikku ini. Halah.

Aku bergegas berangkat ke kantor. Aku memanasi motorku dan siap berangkat. Oh ya tak lupa kunci pintu. Ibu bisa marah-marah nanti kalau pergi langsung pergi aja tanpa mengunci pintu rumah dan gerbang. Cuz berangkat.

Di jalan sudah mulai ramai lancar. Banyak orang yang berkendara sebepda motor menggunakan seragam sekolah, seragam pegawai negeri, tukang ojek online, dan yang lain. Banyak pula mobil yang berkendara.

Aku berhenti memastikan ada tidak barangku yang ketinggalan. Hp dan dompet aman. Sudah masuk di tas. Lalu ku lanjutkan perjalanan lagi. Entah kenapa dengan pikiranku saat ini merasa ada yang janggal. Sambil berkendara aku coba mengingat-ingat. Aku retting kiri secara mendadak dan berhenti di trotoar jalan. Aku membuka hp lalu mengecek pesan masuk.

“Benar apa gak ini gak ada pesan yang masuk dari tadi pagi?” benar aku sangat penasaran. Lalu ku cek kuota internet. Panik. Wajahku berubah seketika dan jantungku bergetak sangat kencang. Kuota habis. Pantas saja tidak ada pesan wa yang masuk.

Aku lalu bergegas mencari toko kuota untuk membeli paket data. Ku cari sambil sejalan menuju ke arah kantor. Belum ada yang buka. Ku berhenti di depan toko pulsa yang masih tutup. Lalu aku lihat jam di hp menunjukkan pukul 7.45. Lima belas menit lagi aku terlambat jika belum sampai kantor.

“Wah, gimana ini?” aku sangat panik. Karena biasanya hari senin sangat sibuk.

“Apa telepon Mbak Risna atau Mbak Fida ya. Buat transfer pulsa.” Aku masih belum bisa berpikiran jernih.

Tiba-tiba GREDEEEEKKK. Suara pintu toko mengagetkanku. Aku berhenti di depan toko konter pulsa dan sekarang toko itu buka. Seperti mimpi.

“Ya Alloh Tuhanku, Terimakasih Alhamdulillah Engkau memberikan hambamu ini jalan kemudahan.” Ucap syukurku tetiba keluar dari mulutku. Bergegas aku membeli kuota internet dan memasangnya. Dan berangkat melanjutkan perjalanan dengan mengebut semaksimal mungkin.

Tiiiiin Tiiiin, suara klakson mobil avanza hitam tepat di belakangku berusaha untuk mendahuluiku. 

“Baiklah, nih pak aku kasih jalan. Sama-sama buru-buru ya mbok ya sabar. Eh sama-sama kena lampu merah kan? Makanya sabar. Sama-sama berhenti kan.” Gerutuku. Iya tahu kalau buru-buru sama sepertiku tapi jangan membuat orang lain kesusahan juga. Ikut jadi panik dan jengkel kan kalau seperti ini.

Kring kring kring. Bip bip bip. Dering hp tak aku hiraukan. Pasti banyak pesan masuk dari semalam. Aku fokus untuk berkendara saja. Waktu tinggal sepuluh menit lagi. Mana bisa buka hp. Tapi membuatku penasaran.

Ku buka hp dan kaget.

APLIKASI PART 2

0 0

Aku masih berhenti di lampu merah. Karena lampu merah disini agak lama, aku mencoba membuka pesan yang masuk terutama Grub WA Kantor. Dari tadi notifikasi hp ku tak berhenti berdering membuatku penasaran ada apa sebenarnya.

“Apa lagi ini? Sudah bisa absen, sudah bisa presensi, belum bisa.” Aku berusaha mencoba mengingat-ingat sesuatu. Absen, presensi, memangnya kenapa?

Waaah Aku baru ingat hari ini mulai PRESENSI ONLINE via aplikasi. Hmm untungnya sudah beli paket kuota, kalau belum bisa tambah panik.

Tin tin tiiiin.. Suara klakson mobil dan motor saling bersahutan memberitahu pengendara di depan kalau lampu lalu lintas sudah hijau. Aku mengikut arus berkendara sembari mencari tempat untuk berhenti untuk memastikan jam berapa saat ini dan mengecek aplikasi.

Beberapa saat kemudian aku menemukan tempat untuk berhenti. Aku retting kiri dan berhenti lagi di trotoar. Memarkirkan motorku kemudian mengambil hp dan melihat jam. Saat ini jam menunjukkan pukul 07.55, lima menit menuju kantor dengan kondisi jalan ramai mulai padat merayap seperti ini mana bisa. Ku putuskan untuk presensi di perjalanan saja.

Ku buka aplikasi presensi untuk mencoba presensi lewat aplikasi. Saat melihat gps lokasiku bukan berada di lingkup yang dapat untuk melakukan presensi. Karena aku termasuk karyawan kantor jadi lokasi untuk presensi sudah ditentukan. Presensi dapat dilakukan kurang lebih lima ratus meter dari kantor. Lain halnya jika aku karyawan lapangan. Aku dapat melakukan presensi dimana pun. Aku tidak iri akan hal itu karena memang pekerjaan kami berbeda.

Ku lihat kurang lebih sepuluh meter lagi ke depan aku bisa melakukan presensi. Akan aku coba. Aku hidupkan motorku lalu maju ke depan kurang lebih sepuluh meter. Tapi menurut gps keberadaanku masih di luar area untuk presensi.

Ku lihat jam di layar hp ku sudah menunjukkan pukul 07.58, hanya ada waktu dua menit untuk presensi.

“Sudah tidak ada waktu lagi ini, ayo lah bisa bisa.” Kataku sambil panik. Karena tidak mungkin dengan waktu dua menit sampai ke kantor untuk presensi finger print.
Aku mencoba keluar masuk aplikasi. Dua kali aku coba dan melihat letak gps terbaru ku berada.

“Semakin dekat dengan batas.” Kataku. Lalu ku parkirkan motorku di pinggir jalan dan mulai berjalan mendekati batas area presensi. Lima langkah berjalan menjauhi motorku, aku berada dalam area diizinkan untuk presensi. Aku klik tombol presensi. Akhirnya aku dapat melakukan presensi tepat pukul 07.59.58.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa presensi juga.” Hatiku riang gembira satu per satu permasalahan pagi ini terselesaikan. Untungnya juga tadi menyempatkan diri untuk beli paket kuota internet. Kalau tidak, habislah senin pagi yang memalukan.

Terlambat di hari senin, oh tidak. Itu bukan gayaku. Gendhis.

GPS

0 0

Sampai di kantor aku langsung menuju ruang kerjaku di lantai dua. Terdengar dari luar ruang suara riuh dari dalam ruang kerja mbak Risna. Aku memperlambat jalanku dan mulai mengamati apa yang sedang terjadi.

“Sedang membahas apa ya?” kataku lirih. Perlahan aku mendekati ruang kerja Mbak Risna. Aku mulai mengamati. Pelan-pelan aku mengarah ke pintu ruang kerja Mbak Risna, tiba-tiba Pak Fendi keluar ruangan dan menuju ruangan beliau. Aku tidak melihat raut wajah Pak Fendi, tapi sejak Pak Fendi keluar dari ruang kerja Mbak Risna suara yang tadinya riuh mulai sepi.

Aku mempercepat langkah, melewati ruang mbak Risna kemudian masuk ke ruanganku. Di ruang kerja ku sepi, tidak ada orang.

“Eh pada kemana ya?” tanyaku penasaran karena biasa Mbak Fida sudah datang lebih awal. Aku duduk di kursi kerjaku dan memandang di sekitar. “Hmm, pasti ada yang aneh,” kataku kembali. Benar saja baru saja aku meletakkan tas ku di meja kerja, Mbak Fida masuk.

“Hai Dhis, udah datang?” sapa Mbak Fida

“Iya mbak, sudah.” Jawabku. Aku memberanikan diri untuk mulai bertanya karena penasaran kenapa tadi riuh sekali di ruangan Mbak Risna.

“Mbak Fida, emang ada apa? Kok tadi ramai banget di ruangan Mbak Risna?” tanyaku pelan. Takut ada yang salah.

“Oh itu, tadi ada beberapa yang komplain masalah gps. Ada tu Bu Ning, padahal sudah sampai kantor tapi gps masih belum di kantor. Jadi gk bisa presensi. Terus ada lagi yang gak keluar gps nya, diulang berkali-kali tetap tidak berubah.” Jelas Mbak Fida.

“Tapi ya gak papa sih kan bisa pakai finger karena aplikasi kadang seperti itu. Kata Pak Fendi. Namanya juga aplikasi baru dan masih masa percobaan kan.” Tambah Mbak Fida.

Oow gitu, jadi suara riuh tadi karena itu. Untungnya punyaku tadi berjalan lancar. Ya gak lancar banget, tapi terhitung lancar.
“Dhis, tadi lancar kan punya mu?” tanya Mbak Risna yang membuatku kaget. Heh, kapan Mbak Risna masuk ruanganku. Kok aku gak tau.

“Aman mbak, lancar kok tadi. Tapi ya sampai kantor telat. Tapi kalau di aplikasi gak telat. Itu terhitung bagaimana ya?” tanyaku ke Mbak Risna.

“Oh yang itu, gak bakalan kena potong kok. Untuk bulan ini karena masa percobaan pakai presensi aplikasi jadi yang telat tidak sampai lima belas menit ada prioritas untuk tidak dipotong. Kebijakan sementaranya Pak Fendi lo ya. Gak tau kalau Bos Rozi.” Jelas mbak Risna.

Kring kring. Telepon ruangan berdering. Aku angkat ternyata dari Pak Fendi mencari Mbak Risna. Ku berikan gagang telepon ke Mbak Risna. Sebentar kemudian ditutup.
“Guys siap-siap lembur guys.” Kata Mbak Risna.

“Panjang umur sekali ini Bos Rozi. Baru juga dipanggil namanya satu kali.” Tambah Mbak Risna.

Apaaaa, Bos Rozi mau datang?
Aku dan Mbak Fida saling berpandangan

BOS BESAR DATANG

0 1

Aku dan Mbak Fida saling bertatapan. Pancaran mata kami seperti sedang berkomunikasi. Seakan tidak percaya bahwa benarkah Bos Rozi akan datang.
Bos Rozi adalah kepala wilayah cabang Yogyakarta dan sekitarnya. Beliau ini super duper kritis, teliti dan perfeksionis. Kami selalu berharap jangan sampai Bos Rozi ke kantor kami saat-saat seperti ini. Bukan karena tidak suka, tapi persiapannya itu lo yang bikin kami lelah. Datang cuma dua jam persiapan bisa dua hari kerja ditambah lembur. Sedangkan hari ini tanpa persiapan sama sekali.nanti siang beliau datang.

“Hiaa bagaimana ini? Masa di awal pekan datangnya.” Kataku yang belum percaya, sambil meletakkan kepalaku di meja.

“Sudah, sudah, semangat lembur untuk kita semua ya.” Tambah Mbak Risna berusaha menenangkan kami. Mbak Risna kembali ke ruang kerjanya.

“Harus mulai dari mana ini Mbak Fida?” tanyaku ke Mbak Fida yang ku lihat hanya terdiam.

“Aku nge-Blank,” kata Mbak Fida sembari menghidupkan komputer. Melihat Mbak Fida menghidupkan komputer otomatis tanganku pun ikut menghidupkan komputer.

Kring kring kring suara telepon ruangan berbunyi. Aku berdiri kemudian mengangkatnya.

Pak Fendi berpesan untuk mempersiapkan laporan-laporan yang nanti kemungkinan akan diminta oleh Bos Rozi. Dan meminta untuk disampaikan ke Mbak Fida juga. ku tutup segera telepon dan menyampaikan pesan Pak Fendi ke Mbak Fida.

“Baiklah mari kita mulai kakak,” kataku untuk memunculkan semangat di diri ini yang masih tidak percaya dengan keadaan.
“Yo yo Ayo,’ jawab mbak Fida. Lalu kita tertawa bersama.

Jam menunjukkan pukul 11.00, belum ada tanda-tanda Bos Rozi sampai di kantor. Atau jangan-jangan tidak jadi? Ya sudahlah yang terpenting laporan sudah siap.
Aku keluar menuju dapur untuk mengambil air minum. Ku lihat di sekeliling kantor. Jadi bersih dan rapi dalam waktu sekejap. Kalau seperti ini setiap hari kan enak juga dipandang selain itu juga nyaman. Cleaning servise kali ini bekerja dengan luar biasa maksimal. Menurutku ya mungkin karena dulu pernah kena marah Bos Rozi. 

Aku kembali ke ruang kerja ku. Beberapa langkah mendekati pintu ruang kerja aku mendengar keriuhan di dalam ruang kerja ku.

“Eh, ada apa ya?” tanyaku pada diriku. Ku beranikan maju sampai ke dekat pintu.

Mataku terbelalak kaget seakan tak percaya, di dalam ruang kerjaku ada Bos Rozi. Kapan beliau datang? Tidak ada keriuhan di bawah, tidak ada sambutan yang biasa dilakukan. Ini kenapa bisa seperti tenang tidak terjadi apa-apa. Ini aneh,tidak seperti biasanya seperti ini.
Ku lihat di samping Bos Rozi ada Pak Fendi, Mbak Risna, Bu Ning, Mbak Fida, dan beberapa staff pemasaran.

Apa yang harus aku lakukan ini, masuk ke ruangan atau tetap disini. Bingung. 

user

05 August 2022 14:50 Dimas Ardiansyah keren kaka

RAPAT AWAL PEKAN

0 0

Aku putuskan untuk berada di luar ruangan sembari melihat kondisi di dalam ruang kerja ku. Biarin kena marah juga biarin aja, dari pada masuk malah jadi pusat perhatian dan kena omelan Bos Rozi belum lagi nanti kena tatapan sinis Pak Fendi. Sudahlah lebih baik aku tetap berada di sini.

Tak berapa lama kemudian Bos Rozi mengajak untuk rapat singkat di ruang rapat. Ku lihat Pak Fendi langsung mengiyakan. Kemudian mereka semua berbondong-bondong keluar ruang kerja ku dan menuju ruang rapat. Setelah semua keluar dari ruang kerja ku aku masuk ke dalam. Masih ada Mbak Fida.

“Mbak, gimana tadi?” tanyaku ke mbak Fida.

“Sejauh ini sih masih aman kok. Cuma tadi kamu ditanya kemana, tak jawab aja baru ke belakang. Tapi ke belakang kok lama banget.” Jawab Jawab Mbak Fida sambil tertawa melihat kepanikan dan keanehanku.

“Yuk,mulai rapat. Wees jan awal pekan udah ada rapat aja.” Tambah Mbak Fida mengajakku sambil menyiapkan laporannya yang akan dibawa di ruang rapat. Aku yang masih duduk diam tanpa berbuat apapun langsung tergerak ikut mengiapkan membawa laporan rapat awal pekan ini.

Aku dan Mbak Fida berjalan masuk ruang rapat. Di sana sudah ada Bos Rozi, Pak Fendi, Mbak Risna, Bu Ning, beberapa Staf pemasaran. Orang-orangnya mungkin sama dengan yang di ruang kerjaku tadi. Aku duduk bersebelahan dengan Mbak Risna.

“Aman Dhis?” Tanya Mbak Risna

“Aman Mbak Risna.” Jawabku. Aman gimana ini maksudnya, aku tidak paham. Asal aku jawab saja. Tapi menurutku ya memang aman-aman saja.

Rapat pun dimulai. Pak Fendi mulai menjelaskan perkembangan perusahaan secara singkat. Tidak ada yang janggal sejauh ini. Masih aman-aman saja. Raut wajah Bos Rozi juga masih santai, tidak menegangkan seperti biasanya. Tidak janggal tapi sungguh di luar dugaan ku.  
Setelah Pak Fendi menjelaskan, dilanjutkan pengarahan dari Bos Rozi. Kami menyimak dengan seksama. Bahkan aku mencatat semua yang diutarakan Boz Rozi. Ada beberapa poin penting tapi yang terpenting dari semua itu, aka nada mutasi besar-besan karyawan. Pengumumannya minggu depan dikirim via email.

Huaa aku ikut kena pindah gak ya. Terus kalau dipindah kemana? Aku belum pernah ke luar Jogja sendirian. Pernah sih tapi untuk main aja, lah kalau ini untuk tinggal dengan waktu yang lama dan bekerja. Tidak tidak benar-benar aku tidak siap. Yakin tidak siap.

Pikiranku berkecambuk, sampai aku tak tahu kalau rapat sudah berakhir.

“Dhis, ayo kembali ke ruangan” ajak Mbak Fida.

“Ayo Mbak,” sahutku. Kami pun berjalan menuju ke ruang kerja kami. Berjalan di belakang Bps Rozi dan Pak Fendi yang sedang bersendau gurau seperti tidak ada beban aja.

Kemudian Boz Rozi menengok ke belakang dan melihatku, sambil tangannya menunjukku beliau berkata, “Hei kamu, Besok pindah ke cabang Semarang ya?”

 

PERIH

0 0

Ucapan Bos Rozi masing terngiang-ngiang di telinga. Membuat aku sedikit stress dan menjadi tidak bersemangat. Pikiranku berkecambuk. Bagaimana coba kalau benar dipindah. Bagaimana aku bilang ke orang tua. Bagaimana persiapannya. Bagaimana kondisi kota di sana. Kapan mulai pindah. Apa yang harus aku persiapkan. Naik apa ke sana. Bersama siapa aja yang dipindah ke sana.  Aah tidak, tidak mungkin aku dipindah.

Siang ini ku tengok jam di dinding ruang kerja menunjukkan jam dua siang. Keadaan kantor sudah biasa saja tidak seheboh dan seriuh tadi. Bos Rozi juga sudah pergi melanjutkan perjalanannya. Ku lihat Mbak Fida sedang mengerjakan pekerjaanya sembari nyemil biskuit. Jam makan siang sudah terlewati, tapi gara-gara ucapan Bos Rozi, aku jadi tidak berselera makan. Nafsu makanku hilang seketika. Aku hanya minum jus alpukat yang ku beli online tadi. Lumayan mengganjal perutku.

“Dhis, jadi dipindah ke cabang Semarang?” Tanya Mas Tio. Mas Tio ini karyawan bagian marketing. Sering disebut salesman oleh teman-teman. Dia tadi juga ikut rapat tapi aku tidak terlalu memperhatikannya. Karena biasanya tim marketing akan ada rapat tersendiri.

“Gak tau aku tuu Mas Tio,” jawabku. Aku memang benar-benar tidak tahu. Kenapa juga Mas Tio Tanya begitu. Tahu aku masih stress mikirin yang dikatakan Bos Rozi tadi.
“Wahaha selamat yaa Dhis, semoga sukses di Cabang Semarang.” Tambah Mas Tio seperti meledekku.

“Hiiih apa-apaan sih. Gak aku gak akan dipindah aku tetap di sini.” Jawabku sambil sedikit emosi. Ku liat Mas Tio dan Mbak Fida, semua malah tertawa dan tersenyum melihat aku marah. Emosiku saat ini bagi mereka mungkin seperti sedang melucu. Padahal tidak sama sekali aku stress. Ditambah perutku yang makin lama makin perih.

“Udah Dhis, mendingan kita makan aja yuk. Mau pesan apa sini aku pesankan.” Ajak Mbak Fida.

“Nanti dulu aja Mbak, aku masih bingung mau makan apa.” Jawabku yang sembari meletakkan kepalaku di meja. Tanganku mengepal, memegang perutku yang perih ini. Wah sepertinya asam lambungku mulai naik. Aku berteriak dalam hati. Aku butuh antasida.

“Dhis, kamu kenapa? Gak sakit kan?” Tanya Mbak Fida yang melihat perubahan raut wajahku semakin pucat.

“Perutku sakit mbak.” Jawabku yang masih memegang perutku. 

“Makanlah Dhis.” Kata Mas Tio yang ku kira sudah pergi setelah meledekku. Ternyata dia duduk di pojokkan sambil mainan hp.
“Nih aku baru pesen makan mau sekalian ya? Tak pesankan.” Lanjut Mas Tio, antara menawarkan dan memaksa pesan makan itu beda tipis memang.

“Ya, okay.” Jawabku lirih. Kenapa ini perut semakin perih saja ya. Aku gak bisa tahan. Sekarang ditambah sedikit mual dan kepalaku pusing.

“Mbak Fida bisa minta tolong? Belikan obat maag, ini asam lambungku naik” kataku ke Mbak Fida dengan lirih sambil menahan sakit.

Mbak Fida menggangguk dan langsung berdiri mengambil jaket.

HATI-HATI

0 0

Mbak Fida berdiri dan berjalan beberapa langkah hampir sampai di pintu.
“Woo kamu maag to Dhis. Woalah jian teman perih teman perih. Haha aku punya antasida. Bentar tak ambilkan ya.” Potong Mas Tio. Dan bergegas keluar ruang kerjaku melewati Mbak Fida.
“Kenapa orang itu?” ucap Mbak Fida. Aku dan Mbak Fida saling berpandangan dan terheran.
“Gak tau Mbak.” Jawabku juga keheranan.
Tak berapa lama Mas Tio membawakan obat maag untukku. Aku langsung meminumnya. Karena jika makin lama tidak diobati bisa makin parah. Aku kemudian tiduran ngrungkel di belakang meja kerja ku. Tak peduli jika ada yang berkomentar aku yang tidur di kantor atau apalah itu. Kondisi perut sakit seperti ini seharusnya mereka semua paham. Tapi ternyata ada juga yang tidak paham.
Pak Fendi tiba-tiba membuka pintu ruang kerja ku.
“Eh, mana Gendhis?” Tanya Pak Fendi ke Mbak Fida.
“Istirahat pak, perutnya sakit tapi sudah minum obat.” Jelas Mbak Fida pada Pak Fendi.
“Ooh, Dhis nanti laporan saya tunggu nanti jam empat ya!” Lagi-lagi Pak Fendi. Di mana rasa peri kemanusiaannya. Lagi sakit diminta pulang atau gimana malah dikasih kerjaan. Aku hanya menjawab dengan isyarat tangan. Baik Pak. Ya gimana mau nolak, takutlah aku kalau jadi beneran dipindah ke cabang Semarang.
Sekitar jam tiga sore aku terbangun dari tidurku. Ku lihat mbak Fida tidak berada di tempat kerjanya. Ruangan sepi. ku lihat di mejaku ada bungkusan makanan. Oh itu mungkin yang di pesan Mas Tio tadi. Aku berdiri kemudian duduk di kursi kerjaku dan membuka bungkusan makanan. Tanpa ragu aku mulai makan. Perutku sudah lumayan nyaman.
Setelah makan aku kembali bekerja. Mengingat tadi ada tugas dari Pak Fendi dikumpulkan jam empat. Aku mulai fokus ke layar monitor komputer untuk mengerjakan tugasku. Sekitar setengah jam aku hampir menyelesaikan laporan hari ini. Mbak Fida membuka pintu ruang kerja.
“Eh Dhis, udah baikan?” sapa Mbak Fida.
“Sudah Mbak, Alhamdulillah.” Jawabku.
“Oh ya Dhis, aku mau ngomong sesuatu.” Kata Mbak Fida, mukanya sedikit serius membuatku bertanya ada apa ya.
“Hati-hati mulai sekarang, kabar kamu mau dipindah, kabar kamu ada apa-apa dengan Pak Fendi dan Bos Rozi, pokoknya kabar yang seperti itulah ya. Jangan dimasukkan di dalam hati.” Mbak Fida mencoba menjelaskan tapi aku masih belum paham.
“Emangnya ada apa sih mbak? Aku lo gak ada apa-apa. Biasa saja. Gak ada hubungan juga dengan Pak Fendi dan Bos Rozi.” Jelasku kepada Mbak Fida. Aku benar-benar tidak tahu.
Tepat jam empat aku kirimkan laporan yang diminta Pak Fendi via email. Dan siap-siap pulang.
“Ayo mbak Fida kita pulang. Lelah rasanya hari ini.” Ajakku pada Mbak Fida.
“Okay, ayo. Eh ingat kata-kataku tadi ya. Jangan dimasukkan ke dalam hati.”

PULANG

0 0

Jam di dinding kantor menunjukkan pukul 16.30, aku baru akan beranjak keluar dari ruangan kerjaku. Ku raih jaketku lalu ku kenakan. Ku berjalan menuju stop kontak lalu matikan lampu utama dan AC ruang kerjaku. Aku keluar ruang lalu menutup pintu. Tak ku lihat siapa pun yang ada di lantai dua. Tumben sekali sudah sepi padahal ini masih awal pekan. Cuaca hari ini sedikit mendung. Udara lembab, jadi sedikit gerah. Aku rasa sebentar lagi akan turun hujan.

Aku turun melewati tangga. Di lantai satu masih banyak orang yang beroperasi. Di toko dan di kasir, semua orang masih komplit. Aku berjalan ke pintu belakang melewati gudang barang. Di gudang juga sepi. Mungkin sedang pergantian shift. Aku melanjutkan jalanku ke tempat parkir kendaraan. Motor-motor karyawan tak sebanyak tadi pagi, ya hanya beberapa motor karyawan yang berjaga shift sore saja.

Aku merogoh tas kecilku mengambil untuk kunci motor. Lama aku mencari dari kantong depan, kantong belakang bahkan ke tengah, tidak ada. Aku tidak menemukan kunci motorku. Haah jangan-jangan tertinggal di atas. Malas banget kalau aku harus naik lagi. Ku pastikan sekali lagi apakah kunciku ada di dalam tas atau tidak. Yakin tidak ada. Ku putuskan untuk kembali ke atas.  Aku berbalik dan berjalan sedikit cepat kembali ke atas untuk mengambil kunci.

Sampai lagi aku di ruang kerjaku. Ku nyalakan lampu utama dan mencari kunci motorku. Tak ada pun di meja, kursi, rak. Aku tengok kolong meja juga tidak menemukan kunci motorku. Hmm di mana ya, tadi seingatku aku tarus di meja lalu ku masukkan ke dalam tas. Aku masih mencoba mengingat-ingat dimana aku letakkan kunci motor. Sedikit putus asa. Aku mulai duduk di kursi kerja ku. Ku rogoh kantorng jaketku. Astaga, di dalam kantong jaket. Haduuuh bikin repot saja harus bolak-balik ke atas lagi, kan lelah aku tuh.
Setelah mengumpulkan semangat untuk kembali ke parkiran aku lalu bergegas keluar dari ruang kerja ku tak lupa untuk mematikan lampu utama dan menutup pintu. Ku berjalan sedikit cepat. Kembali turun tangga, melewati toko dan gudang dan sampai ke tempat parkir.

“Gendhis, bisa gak sih tidak bolak balik.” Kata ku pada diriku sendiri karena sedikit jengkel. Aku berjalan mendekati motorku. Ku kenakan helm lalu menaiki motor, menstater motorku lalu gas. Mari pulang ke hangatnya cinta ibu.

Baru saja mau keluar gedung tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Aku menghentikan motorku.

“Eh suara gludug, wah pakai jas hujan nih. Bisa-bisa besok masuk angina karena kehujanan.” Kataku karena suara gemuruh petir sangat jelas dan keras. Aku memarkirkan motorku di teras pengunjung. Sudah mulai gerimis. Ku buka jok motor untuk mengambil jas hujan. Lalu ku kenakan. Dan kembali berkendara.

Mari pulang dengan sesungguhnya.

KABAR EYANG

0 0

Tadi masih gerimis semakin ke arah jalan raya makin banyak air yang turun. Hujan pun datang. Dan semakin lama semakin lebat. Jarak pandang menjadi lebih pendek. Ditambah dengan kaca helm ku beruap. Ku usap dengan tanganku. Kalau hujan deras seperti ini memang menakutkan. Petir, hujan deras, jarak pandang menjadi pendek belum lagi air bergenamg dimana-mana. Kalau hujan derasnya seperti ini bisa banjir. Berasa bukan naik sepeda motor tapi naik perahu.

Di dalam derasnya hujan ini aku sempat memikirkan perkataan Mbak Fida tadi sore. Jangan di masukkan ke dalam hati. Maksudnya apa dan kejadian yang mana sih? Entah kenapa aku belum bisa berpikir jernih untuk menemukan jawaban teka-teki perkataan Mbak Fida. Ah sudahlah tak usah berpikir keras. Semoga tidak terjadi apa-apa.

Di lampu merah aku berhenti. Ada yang aneh. Aku sudah menggunakan jas hujan tapi rasanya ada air yang mengalir di badanku. Aku tengok ke belakang mengecek jas hujan. Ya benar saja jas hujan ku bolong. Bolong kenapa ini. Lumayan besar lagi. Haduh, ada-ada saja hari ini. Tadi Ku pikir enak kali ya mampir makan bakso. Hujan dan udara dingin sangat cocok. Tapi dengan kondisi basah seperti ini jadi malas aku.

Lampu lalu lintas sudah hijau. Ku percepat perjalanan supaya sampai ke rumah. Aku rasa hp ku bergetar dari tadi. Tapi aku hiraukan saja. Dingin dan basah seperti ini jadi malas untuk bergerak. Akan aku buka jika sudh sampai di tempat yang sekiranya nyaman. Kondisi jalan mulai ramai lancar dan hampir padat merayap. Kondisi hujan deras seperti ini banyak mobil yang keluar.

Ku lihat pedagang bakso keliling kurang lebih sepuluh meter ke depan. Di pinggir jalan itu dengan uap kuah baksonya yang mengempas ke udara dingin. Huaaah menarik perhatianku. Mampir beli tidak ya, kalau tidak kok rasanya aku menjadi insan yang merugi. Baiklah ku putuskan untuk membeli bakso. Dengan sigap aku memarkirkan motorku di samping pedagang bakso keliling itu.

“Pak, beli satu porsi dibungkus.”pesanku ke penjual bakso.

“Siap Mbak.” Jawabnya.

Aku lalu merogoh saku celana untuk mengambil hp ku yang dari tadi bergetar.

“Eh telepon dari bapak, ada apa ya. Biasanya kalau dari bapak pasti penting. Tapi kok ini tidak kirim pesan.” Aku pun heran. Lalu ku telepon balik bapak. Tapi tidak diangkat.

“Mbak ini pesananya.” Kata penjual bakso yang mengagetkanku.

“Oh iya Pak, ini uangnya. Terimakasih.” Ku bawa bungkusan bakso dan kembali berkendara.

Beberapa meter ke depan hp ku bergetar lagi. Aku berjalan menepi dan merogoh untuk menggambil hp ku. Telepon dari bapak lagi.

“Ada apa pak?” tanyaku.

“Cepat pulang ya, ini eyang di Surabaya sakit.” Kata bapak.

TIKET

0 0

Suara hujan deras membatasi pendengaranku. Aku sudah menepi dan memarkirkan motorku. Tapi suara bapak tidak terdengar dengan jelas.

“Eyang sakit? Ya aku cepat pulang.” Kataku. hanya itu yang aku dengar dari bapak.

“Eh Dhis bapak minta tolong, sebelum pulang mampir belikan bapak dan ibu tiket kereta. Kamu mau ikut tidak terserah.” Tambah bapak.

“Kirim pesan saja pak. Susah dengarnya ini. Masih hujan.” Kataku karena suara bapak tidak terlalu jelas. Lalu ku matikan panggilan dan melanjutkan perjalanan.
Aku pikir akan pulang dulu saja. Ganti baju yang sudah basah ini karena jas hujanku bolong. aku menunggu pesan dari bapak. Lama tidak dikirim, hp ku tidak bergetar. Sampai di ujung jalan masuk gang rumah. Hp ku bergetar. Ada pesan dari bapak.
Pulang mampir belikan tiket kereta dua untuk bapak dan ibu. Kalau bisa cari tiket yang bisa malam ini.

Pesan dari bapak membuatku bingung. Jelas sih tapi aku arus cari kereta apa dan jam berapa belum lagi mala mini. Sekarang sudah sampai ujung jalan. Masuk gang dikit sudah rumah. Badan basah kuyup. Baksoku sudah mulai dingin nanti kalau mampir-mampir karena harus balik lagi beli tiket. Aku tidak membalas pesan dari bapak. aku putuskan untuk pulang dulu.
Sesampai di rumah. Bapak sudah ada di teras. Seperti menyambutku.

“Eh kok cepet?” Tanya bapakku seakan tidak percaya baru kirim pesan tapi tiket sudah ada bersama anaknya.

“Belum beli pak. Ini pulang dulu. Badanku basah. Jas hujan bolong.” kataku kepada bapak. semoga bapak tidak marah.

“Healah, yawes gek masuk dulu sana. Keburu masuk angin” lanjut bapak.

Aku memarkirkan motorku dengan sedikit asal karena hampir di depan pintu garasi. Aku letakkan jas hujan ku di atas motor lalu buru-buru masuk ke rumah untuk mandi dan ganti baju. Sudah siap lalu ku temui bapak.

“Pak tiket tadi maksudnya gimana?” tanyaku.

“Pesankan untuk bapak dan ibu.” Jawab bapak

“Harus berangkat malam ini?” tanyaku lagi

“Ya mau bagaimana lagi. Eyang kan sakit. Itu ibumu dikabarin eyang sakit langsung nangis terus.” Tambah bapak. Aku baru sadar semenjak pulang tadi aku belum bertemu dengan ibu.

“Ya Pak. Mau berangkat jam berapa?” tanyaku

“Terserah. Seadanya.” Jawab bapak

“Pak, kenapa tadi gak beli sendiri?” aku yang penasaran karena bapak tidak tahu kondisiku yang basah kuyup harus mampi-mampir.

“Hujan e deras banget yoo.” Jawab bapak.

“Ya sama laaah pak. Aku juga kehujanan tadi tu. Baju basah lagi karena bolong jas hujannya.”kataku sambil buka-buka hp.

“weeeh malah mainan hp. Sana gek beli tiketnya. Uangnya ini udah bapak siapkan.” Bapak yang melihatku seperti mainan hp. 

“Lah ini beli tiket pak.” Jawab ku spontan.

“Mana?” Tanya bapak.

“Beli tiketnya via aplikasi aja to pak. Jaman sekarang semua mudah bos.” Tambahku
“Ah bapak dah tua. Gak ngerti aplikasi opo itu.” Jawab bapak.

Ku lihat bapakku yang sedikit penasaran.

TIKET 2

0 0

“Nah pak sudah nih. Aku tinggal transfer uang aja.” Kataku ke bapak.

“Lah mana tiketnya?” Tanya bapak yang penasaran.

“Nanti cetak di stasiun ya pak. Bentar. Tak talangin dulu pakai uangku.” Aku lalu mengecek saldo m-banking ku. Oh tidak, kan belum gajian ya. Mana cukup dengan saldo segini. Gaya sekali aku sok-sokan.

“Hehe maafkan ya pak. Ngalamat ke toko.” Kataku tersipu malu mengakui keadaan.

“Lah kenapa?” Tanya bapak yang masih penasaran.

“Ini saldo m-banking ku ternyata kurang.” Jawabku pelan supaya bapak tidak emosi.

“Healah mbok ya dari tadi to nduk. Wes sana berangkat ke toko aja.” Kata bapak sambil menyodorkan uang tiket.

“Aku habiskan baksoku dulu ya pak?” ku lihat bakso ku sudah mulai dingin. Bapak hanya mengangguk. Secepat kilat aku menghabiskan bakso ku. Mana enak bakso dimakan dingin-dingin.

Habis makan bakso aku lalu bergegas berangkat ke toko. Untungnya hujan sudah mulai reda. Tinggal gerimis sedikit. Bisalah berangkat tanpa jas hujan. Terjang aja gerimisnya.

Sampai di toko aku langsung cari layar monitor pembelian untuk beli tiket. Berasa berburu tiket limited edition aja aku ini. Padahal bapak tidak mememinta tiket yang murah. Apa aja asal bisa sampai Surabaya secepatnya. Aku menemukan ada tiket untuk nanti malam. Tepatnya jam sembilan malam. Ambil ini aja. Lalu aku ke kasir untuk membayar. Kemudian aku pulang.

“Pak, pak, bapak di mana?” aku berteriak memanggil bapak untuk menyerahkan printout pembayaran tiketnya.

“Ya, sebentar.” Jawab bapak yang ternyata baru membantu ibu siap-siap. Bapak dan ibu sedang memasukkan barang-barang ke koper yang nanti akan dibawa ke Surabaya.

“Banyak sekali barangnya bu?” tanyaku ke ibu.

“Iya, ini sekalian beli oleh-oleh juga sama saudara yang disana. Dan buat nyenengin simbah juga to. Katanya kangen bakpia.” Jawab ibu sambil memasukkan bakpia ke koper makanan.

“Jadi akan bawa tiga koper? Ini koper pakaian, ini koper makanan. Terus ini koper apa?” tanyaku sambil menunjuk koper yang membuatku penasaran. Berdua saja yang berangkat tapi kok kopernya ada tiga.

“Ini koper barang kebutuhan semua. Ya ada apa aja disini.” Kata bapak

“Memangnya gak repot nanti pak bawanya? Kalau disana ada gak usah dibawa aja.” Kataku ke bapak dan ibu.

“Tetap harus bawa, nanti disana repot nyari-nyari lagi. Bikin repot orang yang disana.” Perjelas bapak.

“Ow, ya terserah bapak sih. Ini pak printout tiketnya.” Kataku sambil memberikan printout tiket kereta.

“Nanti jam sembilan kereta berangkat. Ini sudah jam enam. Ingat tiga jam lagi harus suda berangkat.” Tambaku.

“Lah Dhis, mbok ya sekalian cetak tiketnya.” Saran bapak

“Nanti kan bisa pas di stasiun pak sekalian berangkat, masak aku harus bolak-balik.” Jawabku yang sudah lelah. Bapak ini gak tau aja nanti dari stasiun jam tujuh. Belum berangkat lagi ke stasiun kan bolak balik. 

“Yawes nanti kamu bantu bapak dan ibu ke stasiun. Bantu nyetak tiket dan bawa koper satu ya.” tambah bapak.

Aku lagiiii. Baiklah Bapak.

STASIUN

0 0

Aku duduk di kursi panjang di teras. Sudah mulai gelap ternyata. Ku kira tadi masih magrib. Tapi sudah habis isya aja. Cepat sekali waktu berlalu. Ku tengok jam di layar hp ku. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh tepat. Waaah bapak dan ibu sudah siap belum ya.
“Pak, Bu, sudah siap belum? Ini sudah jam setengah delapan lo. Belum tau kondisi di jalan nanti.” Tanyaku ke bapak dan ibu yang dari tadi ku tunggu tapi tak kunjung keluar rumah.
“Sudah. Dhis, bantuin bawa satu koper isi oleh-oleh itu.” Jawab bapak sambil menunjuk satu koper abu-abu di belakang pintu ruang tamu.
“Oke Bos. Siap.” Sahutku. Kemudian aku memasukkan koper tersebut ke dalam mobil. Bapak dan ibu juga masing-masing membawa koper yang dimasukkan ke dalam mobil.
“Yakin pak nanti bisa bawanya?” tanyaku yang tidak yakin karena ketiga koper itu sangat berat bagiku.
“Yakin laaah. Ayok berangkat.” Kata bapak.
Setelah semua pintu terkunci kami berangkat ke stasiun. Kali ini bapak yang menyetir mobil. Tidak begitu cepat tidak lambat pula. Untungnya kondisi jalanan menuju stasiun lumayan lenggang karena bukan jam sibuk atau akhir pekan. Kondisi sejuk juga terasa, mengingat tadi sore hujan sangat lebat. Genangan air masih ada di beberapa tempat di pinggir jalan.
Sampai juga di stasiun. Bapak memarkirkan mobil tidak jauh dari pintu masuk, supaya tidak jauh-jauh mengangkat koper. Aku membantu bapak menurunkan koper dan membawanya ke ruang cetak tiket. Ku lihat bapak sibuk mencari printout tiket.
“Dhis, tadi printout tiket jadi dikasikan ke bapak gak to?” Tanya bapak memastikan.
“Jadi pak, tadi kan sudah Dhis serahkan ke bapak terus bapak taruh mana?” jawabku yang sedikit panik. Yang benar saja kalau sampai tertinggal. Bisa-bisa tertinggal kereta karena harus pulang mengambilnya.
“Tadi bapak taruh meja kamar, terus bapak masukkan tas. Tapi kok di tas tidak ada.” Bapak masih mencari di tas kecilnya.
“Jangan-jangan bapak lupa tidak memasukkan ke tas. Coba cari di tempat lain dulu pak.” Kata ibu karena ibu juga tidak tahu bapak menaruhya di mana.
“Dhis, siap-siap pulang ya. cari dirumah. Siapa tahu benar-benar tertinggal.” Tambah ibu.
“Ya Bu. Tapi dipastikan dulu. Ini sudah jam delapan lebih lima belas menit. Kereta datang jam sembilan. nanti waktunya gak nyandak.” Kataku.
“Ketemu.” Kata bapak mengagetkan aku dan ibu. Ternyata printout disimpan di saku jaket. Haduh bapak ini membuat aku panik saja.
Jam sudah menunjuukkan pukul dua puluh tiga puluh. Aku membawa koper abu-abu isi ole-oleh.
“Kenapa Dhis?” Tanya ibu
‘Yakin ini bisa bawa? berat buuuk.” Jawabku yang memastikan sekali lagi ke ibu.
“InsyaAlloh bisa.” Jawab ibu yakin.
Akhirnya kami berpisah setelah masuk ke pengecekkan tiket. Ku lihat bapak dan ibu duduk di ruang tunggu di dalam peron dengan tiga koper besar. Semoga mereka selamat sampai tujuan. Dan semoga simbah segera sembuh.

GAJIAN

0 0

Aku berjalan menuju parkiran mobil. Keadaan di stasiun biasa saja tidak begitu ramai, tidak pula sepi. Aku seminggu ini bakalan sendirian di rumah. Tak apalah. Semoga Eyang cepat sehat dan kembali seperti biasanya.

Aku rogoh jaketku untuk mengambil kunci mobil. Wah celaka, aku baru ingat kalau kunci mobil masih dibawa bapak. Astaga bagaimana ini. Aku berlari sekuat tenaga menuju peron tapi tidak bisa masuk karena aku tidak ada tiket. Ku telepon bapak tapi tidak diangkat. Ku lihat jam di layar hp ku menunjukan pukul dua puluh lebih empat puluh lima menit, masih ada waktu bapak belum naik kereta.

Aku tengok-tengok ke dalam peron. Mana bapak tadi ada di sebelah kursi tunggu sebelah sana tapi kok sudah gak ada. Aku mencoba menelepon ibu. Alhamdulillah akhirnya ibu angkat panggilanku. Selang beberapa menit kemudian bapak berlari menemuiku dan memberikan kunci mobil.
“Bapak, kok ya bisa lupa.” Kataku

“Niih untung belum naik kereta. Maaf ya maklum dah tua suka lupa.” Jawab bapakku sambil memberikan kunci mobil kepadaku.

“Hati-hati ya pak.” Kataku lagi

“Iya, nanti kalau ada yang ketinggalan udah biarkan saja ya.” kata bapakku sambil tersenyum.

Kereta sudah datang, aku lihat dari kejauhan bapak dan ibu masuk ke dalam kereta. Semoga mereka selamat sampai tujuan. Aku kembali ke parkiran. Aku pulang sendiri dan di rumah pun sendirian lagi. Huaa sedih. Mau ngapain ini.

Mau mampir belanja tapi aku cek belum ada notifikasi pesan dari bank, jadi belum gajian juga. Wah bisa-bisa gajian masuk tengah malam nanti. Uangku tinggal limit ini. Bapak dan ibu pergi juga tidak memberikan aku uang jajan.

“Enaknya ngapain ya?” Aku menyetir mobil sambil berpikir mau ngapain di rumah sendirian. Ku putuskan untuk menonton film drama korea saja.

Sesampai di rumah, ku lihat jam di dinding menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit. ku beranjak ke kamarku. Lalu siap-siap untuk menonton film. Rasanya ada yang kurang jika tidak ada camilan. Aku kembali keluar kamar menuju dapur. Bikin mie rebus dulu sepertinya enak.

Setelah mie rebus ku jadi aku kembali ke kamar untuk menonton film.

“Mari kita mulai untuk me time.” Kataku kepada diriku. Hmm biasanya kalau jam segini ibu pasti ngomel-ngomel. Malam bukannya tidur malah main hp aja. Sekarang yang ngomel-ngomel sedang tidak ada. Ruma jadi sepi.

Tak terasa waktu cepat berlalu aku masih terbaring di tempat tidurku. Drama sudah masuk episode dua menuju tiga. Jam sudah menunjukkan pukul 00.15.

“Eh sudah larut malam rupanya.” Kataku yang tidak sadar sudah dini hari. Aku menghentikan nonton dan mencoba untuk tidur. Aku mengecek notifikasi hp karena sengaja aku heningkan pesan.

Mataku terbelalak. Ini dia notifikasi yang ditunggu-tunggu. Gajian guys. Yey Alhamdulillah.  

MIDNIGHT SALE

0 0

“Gajian gajian.. yea yea yea..” teriakku sambil berguling-guling di kasur. Aku sangat senang sekali akhirnya saldo bankku terisi kembali, dompetku terisi uang lagi. Aku buka buku catatanku dan mulai membuat anggaran untuk bulan ini. Budgeting itu sangat penting. Bulan lalu aku gagal dalam hal ini. Dan belum sampai gajian lagi uangku sudah habis baik itu uang tunai maupun uang yang ada di bank.
Tak butuh waktu lama untukku membagi-bagi porsi uangku. Pertama untuk sedekah, kedua untuk menabung, baru yang terakhir untuk kebutuhan. Persentasenya pun gak begitu sulit. Sedekah sepuluh pesen karena menurutku sumbangan-sumbangan juga termasuk ke dalam sedekah. Untuk menabung aku anggarakan tiga puluh persen. Sisanya enam puluh persen, nah ini untuk kebutuhan sampai dengan gajian berikutnya. Berharap bisa sisa jadi bisa ditabung lagi.
Ku tengok jam di layar hp ku. Waktu sudah jam satu malam. Sebaiknya aku tidur. Mata juga sudah mulai lelah. Aku berbaring sambil mencrol hp. Tanpa terasa membuka aplikasi belanja online. Tangaku seperti otomatis memencet kerancang setiap ada barang yang menurutku sangat menarik. Penting tidak penting asal masukkan keranjang. Tak terasa banyak sekali yang aku masukkan ke keranjang. Mulai dari baju, aksesoris, sepatu, bahkan biji-bijian untuk berkebun pun aku masukkan ke dalam keranjang.
Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Aku mulai lelah dan tertidur.
Mataku sayup-sayup. Tanganku berusaha mengambil hp di samping bantal. Aku membuka kunci hp ku dan melihat notifikasi live sale. Tapi aku menghiraukannya. Aku lebih memilih barang yang lucu-lucu.
“Wah, kerudungnya bagus. Harganya murah banget ini masak Cuma lima ribu. Gak penipuan ini. Masukkan keranjang ah.” Kataku sambil rebahan. Aku mencrol lagi mencari barang yang lucu-lucu.
Huaaah ada ini, ini barang yang aku cari-cari selama ini, mana dapat murah lagi. Cek out ah.
Wah ada ini barang lucu bisa untuk hadiah. Cek out ah
Oooh skincare aku habis. Cari dulu. Nah dapat. Yeeee ada diskon. cekout ah.
Setiap barang yang lucu aku memasukkan ke keranjang dan langsung cekout karena aku sudah gajian aman sih. Tinggal bayar saja. Habis satu juta sih masih okay.
Aku meletakkan hp ku dan memejamkan mata. Penuh dengan kegembiraan aku rasakan.
Suara ayam berkokok tetangga membangunkanku. Tumben sekali ayam itu berkokok sangat keras. Aku tengok jam, pukul lima pagi. Aku masih lelah dan memejamkan mataku lagi. Mengambil hp ku dan mengecek belanja online ku. Eh barang belanjaan ku. Aku kaget dan tiba-tiba duduk.
“Hah, tidak ada. Mana ini?” tanyaku dalam hati yang bingung. Perasaan aku suda cek out semua barang yang lucu-lucu dan harganya miring.
“Kok gak ada ya?” aku masih kebingungan. Aku ingat-ingat lagi semalam aku ngapain aja.   
Aku menghela nafas panjang. Ternyata belanja semalam itu semua hanya mimpi. Tidak ada barang satu pun yang aku cek out.

BAYAR - BAYAR

0 0

Pagi ini terasa sepi, bapak dan ibu kurang lebih semingguan di Surabaya. Aku bangun dan siap-siap ke kantor dengan sedikit rasa kecewa. Sudah bahagia aku tuh tapi aku harus terima kenyataan bahwa midnight sale semalam ternyata hanyalah mimpi belaka. Ah sudahlah, nanti pasti bisa terjadi.
Kring kring kring… hp ku berdering. Ku tengok ternyata telepon dari bapak. Ku angkat telepon dari bapak.
“Assalamualaikum, halo pak. Ada apa?” tanyaku ke bapak.
“Waalaikumsalam. Dhis, hari ini bantu bapak bayar-bayar keperluan ya. Bapak lupa.” Jawab bapak.
“Uangnya nanti pinjam punyamu dulu. Nanti bapak ganti. Okay. Wes gitu aja. Nuwun ya.” lanjut bapak dan langsung dimatikan teleponnya.
“Bapak ini lo, selalu begitu. Belum selesai sudah dimatikan.” Gerutuku, mana tidak meninggalkan uang sedikitpun untuk tinggalan aku. Lalu aku lanjut siap-siap ke kantor.
Pagi ini cuaca sangat cerah. Jam enam pagi, cahaya matahari sudah menyinari sangat terang. Tak percaya bawa ini masih jam enam. Aku putuskan untuk berangkat ke kantor lebih awal karena mau urus bayar-bayar. Bayar listrik, bayar air, bayar internet, sementara aku putuskan untuk membayar itu dulu. Bapak belum memberi kabar untuk membayar apa lagi.
Ini tidak seperti biasanya. Bayar di awal-awal waktu. Biasanya bapak selalu bayar diwaktu hari terakhir atau tanggal terakhir tagihan itu bisa dibayarkan. Mungkin bapak tidak ingin aku pusing karena pasti nanti aku akan marah-marah kenapa tidak membayar diawal waktu.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Aku sudah berada di kantor. Lalu ku nyalakan komputer. Membuka web untuk membuka m-banking. Aku harus menyelesaikan pagi sebelum semua datang. Semoga internet lancar ya. Dangan sigap aku mengklik klik yang harus dibayar.
“Listrik sudah, air sudah, internet sudah. Aman.” Kataku pada diriku sendiri. Lalu ku putuskan untuk menelepon bapak. Bapak tidak mengangkat teleponku, mungkin disana baru sibuk. Lalu ku kirimkan pesan saja, memberitahukan bahwa semua sudah dibayarkan.
aku lihat saldo uang di bankku. Wah limit banget ini. Kalau bapak belum ganti sampai pertengahan bulan bisa-bisa aku kehabisan uang.
Kreeek. Ku dengar suara pintu. Mbak Fida membuka pintu.
“Tumben Dhis, sudah datang.” Mbak Fida kaget karena biasanya Mbak Fida selalu datang pertama kali.
“Iya mbak. Ada keperluan dulu tadi jadi bisa datang pagi.” Jawabku yang asal jawab setela aku cerna ngomong apa aku tuh. Kalau ada keperluan kan biasanya ya telat. Kok ini bisa datang lebih pagi. Ah sudahlah Mbak Fida juga diam saja tandanya dia paham maksudku.
“Oh ya Dhis, sudah baca wa di grub belum?” Tanya Mbak Fida.
“Yang mana ya mbak? Kayaknya sudah aku baca semua.” Jawabku.
“Ya sudah, aku mau ngumpulkan ke Mbak Risna sekarang. Mumpung tadi di ruang kerja Mbak Risna masih sepi.
“Bentar bentar mbak. Hmmm ada iuran buat nengokin Bu Ning ya?” astaga aku lupa. Lalu ku tengok uang di dompetku. Cuma ada lima ribu.
“Mbak, aku keluar sebentar ya. mau ke ATM.” Kataku tersipu ke Mbak Fida.
“Owalah, pakai uangku dulu aja.” Kata mbak Fida.
“Gak usah mbak.” Kataku langsung kabur keluar ke ATM. 

ATM

0 0

Aku buru-buru keluar ruang kerja ku. Ada hal yang aku lupakan yaitu ambil uang untuk sumbangan. Mana harus dikumpulkan pagi ini juga ke Mbak Risna. Tiba-tiba di tangga Mbak Risna menyapaku.
“Buru-buru Dhis? Mau ke mana?” Tanya mbak Risna.
“Iya Mbak, mau ke ATM.” Jawabku yang jalan terburu-buru sambil mengenakan jaket. Kemudian melambaikan tangan ke Mbak Risna.
Aku harus secepatnya cari ATM terdekat. Untungnya masih pagi jadi kemungkinan ATM juga sepi. Akhirnya aku sampai ke ATM terdekat dari kantor. Walaupun itu harus naik sepeda motor. Ku parkirkan motorku dekat dengan ATM. Dan ku lihat di dalam masih ada orang, aku tunggu saja paling juga cepat.
Tak berapa lama ada mobil yang terpakir di belakangku. Parkir mendekati motorku. Lalu keluarlah bapak-bapak menggunakan seragam coklat. Oh polisi aku pikir. Mungkin mau mengantar mengecek mesin ATM dan kondisi uangnya. Tapi ku lihat lagi ternyata bukan. Ada dua orang bapak-bapak berseragam coklat yang ternyata satpam. Tidak tahu aku mereka satpam dari mana.
Dua menit sampai lima menit. Aku tunggu orang yang ada di dalam ATM. Aku beranikan tengok. Ada dua orang perempuan di dalam. Oh mungkin yang satu sedang menemani temannya. Tapi kenapa lama ya. Ngapain saja di dalam. Biasanya kan Cuma ambil uang, transfer, bayar-bayar. Udah gitu aja tidak butuh waktu sampai lebih dari lima menit.
Satu bapak berseragam coklat maju mendekati ATM. Namun hanya melihat saja. Mungkin ia berpikir juga sama denganku kenapa bisa lama. Kemudian bapak itu berjalan menjauhi ATM lagi dan berjalan bukan ke arah belakangku lagi namum ke arah jauh. Hmm benar dugaanku kalau bapak itu hanya mengecek siapa yang di dalam dan kenapa lama.
Aku masih duduk di motorku dan berusaha untuk menengok apa yang terjadi di dalam. Apa ada kesusahan atau gimana. Tapi teman yang satunya senyum-senyum saja. Aku beranikan untuk turun dari motor dan mendekat melihat apa yang terjadi di dalam. Gila, disana gak pakai mesin ATM. Malah dipakai buat make up, oles sana oles sini. Semprot parfum, oles-oles lotion. Ets dikira ATM itu toilet kali ya. Okay aku tunggu maksimal dua menit kalau gak keluar aku ketuk itu pintu. Ini juga temannya tau ada banyak yang antri malah diam saja, gak ngasih tahu. Gak lihat atau bagaimana sih? Aku menggerutu dalam hati. Bisa-bisa nya ATM buat make up dan ngadem aja. Kalau tidak ada yang ngentri ya terserah. Lah ini banyak yang ngantri.
Sudah tidak ada waktu lagi. Aku harus kembali ke kantor. Aku beranikan untuk mengetuk pintu ATM.
“Permisi Mbak, apa masih lama?” tanyaku dengan agak tegas.
“Oh ya mbak, maaf-maaf.” Lalu mereka keluar dari ATM. Dan aku langsung masuk.

Mungkin saja kamu suka

Khailaningsih
Pelita di Madinah
Anita Nur Oktav...
Eksamen Cinta Buah Hatiku
Siti Munawaroh ...
Aku adalah Aku
Ihat Sutihawati
Di Ujung Rasa Ku
Ayu Maidiyanti
YOU KNOW PARENTING

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil