Loading
5

0

30

Genre : Keluarga
Penulis : Camellia
Bab : 30
Dibuat : 15 Juli 2022
Pembaca : 13
Nama : Camellia
Buku : 1

Rindu wangi telapak kaki mu

Sinopsis

Kisah seorang anak yang mencari ibu kandungnya. Dalam kisah ini, menceritakan lika liku seorang anak dengan berbagai cara agar dia bisa bertemu ibunya dan yang disayangkan tidak ada satu keluarga pun yang mau memberitahu keberadaan sang ibu yang di rindukan wangi telapak kaki nya. Bagaimana kisah selengkapnya silahkan dibaca teman - teman.
Tags :
#surgaibu

Penantian

2 0

Tangan keriput ini, menandakan usianya sudah tidak muda lagi. Dengan sedikit senyuman melukis indah di guratan wajah nan senja memandang sekumpulan anak kecil bermain - main dihalaman depan rumahnya. Berprofesi seorang guru mengaji di kampung kota besar mengharap bisa mengubah sebuah peradaban. Tatapannya selalu mempertanyakan kemana manusia yang telah melahirkannya.
Di sebuah keluarga besar kaya raya dan terpandang sedang mengadakan syukuran kecil - kecilan untuk menyambut kehadiran bayi perempuan menggemaskan nan lucu itu. Bayi perempuan itu membuat gemas semua yang hadir. Kulitnya putih bersih, wajahnya bulat seperti kue bakpao dan badannya montok berisi. Terkadang beberapa yang hadir mencium dengan gemasnya sampai menangislah bayi itu. Bayi perempuan menggemaskan itu diberi nama Djuliati. Acara dimulai dengan membaca surah Maryam, menggunting sebagian rambut bayi dan tentunya diteruskan acara aqiqoh. Alhamdulillah, acara aqiqoh djuliati berjalan dengan lancar. Semua tampak gembira kecuali wanita tua yang duduk termenung di sudut dapur keluarga kaya raya itu.
Siapa yang tak kenal Marmin, laki-laki kaya yang sedap dipandang mata apalagi isi dompetnya. Yang tampak dimata adalah sebuah kebahagiaan Nur istri Marmin. Mempunyai suami seperti marmin impian setiap wanita, Nur merasa beruntung. Pernikahan yang mereka jalani sudah 10 th dan belum kunjung tanda hilal adanya anak menyertai perjalanan hidup mereka. Marmin sangat merindukan tangisan makhluk mungil itu.
Selepas ba’da isya’ setiap hari marmin dan istrinya berbincang ringan dan saling bercanda. “Dik, kapan kita dikasih amanah sama Alloh”. “Aku pengen banget punya anak”. Menatap langit-langit kamar dan membiarkan Nur bermanja di lengan tangannya. Nur tak dapat membalas pertanyaan suaminya itu. Hanya diam seribu bahasa, Ketakutan demi ketakutan selalu hinggap dibenaknya. Sambil meneteskan airmata dan terisak nur berkata, “Jangan tinggalkan aku sendiri, mas”. “aku sangat mencintai mu”. Di pandang nya sang istri seraya memeluk erat istrinya dan mencium keningnya dengan lembut. Jangan memikirkan hal yang bukan - bukan dik, aku tidak kemana -mana, aku akan setia padamu dan aku sangat mencintai mu. Akhirnya malam itu berakhir seperti malam – malam sebelumnya tanpa ada jalan keluar.
Hari itu Jum’at legi, hujan lebat dan disertai angin kencang. Seorang wanita berjuang mempertaruhkan nyawa demi lahirnya sang jabang bayi. Setelah proses persalinan selesai dan dukun bayi pulang. Sang ibu membedong bayinya dengan kain seadanya dan melangkah cepat ke sebuah rumah besar keluarga marmin. Dia tinggal anak laki - laki nya yang sedang terlelap. Tampak sunyi senyap menandakan sang pemilik kerajaan itu mungkin sudah terlelap, akhirnya dia putuskan untuk kembali esok hari. Hembusan angin malam menderu menyapa wajahnya yang tampak sangat lelah.

Terkabulkan

1 0

"Nyonya marmin, saya mau menghadiahkan anak saya ke anda. Tolong besarkan dia, jangan beritahu kalau saya ibu kandungnya" ucapnya. Nur terkejut dengan pemberian wanita tua ini. Suruhan Nur segera menyampaikan kabar ini ke tuannya. Tidak berapa lama Marmin tergopoh-gopoh keluar dari office nya yang kebetulan berdekatan dengan rumahnya. Tergambar wajah bahagia marmin atas pemberitahuan pesuruh nya. Apa yang dia harapkan selama ini terkabulkan walaupun tanpa melalui rahim Nur. Bayi mungil itu pun sudah berganti tangan ke tangan Nur. Dan sepertinya bayi itu merasa nyaman dalam dekapan Nur. Tanpa berlama – lama, segera wanita itu izin pulang. Dalam perjalanan pulang airmatanya tidak berhenti bercucuran mengingat luka pasca bersalin belum kering dan harus berpisah dengan sang buah hati. Dalam benaknya berharap semoga keluarga kaya raya itu menjadikan anaknya sebagai ratu dalam kehidupan putrinya.
Sebuah keputusan yang pelik dalam hidupnya dia ingin merahasiakan identitasnya sebagai ibu kandungnya. Apa salah djuliati bayi mungil yang menggemaskan itu sehingga di hukum sepanjang hidupnya. Malam itu menjadi malam paling bahagia dalam hidup marmin tapi entah nur, dia tampak bingung bagaimana cara mengasuh makhluk mungil menggemaskan itu. Di pandangi lah bayi dalam dekapannya. Dan menatap suaminya yang begitu gembira akan kehadiran bayi mungil itu. “Sayang, kita beri nama siapa dia?” tak lepas senyuman itu terus mengembang di wajahnya dan sesekali menciumi wajah, tangan dan kaki bayi ini yang terlelap tidur. “Besok saja mas, kita cari nama dan beberapa baju buat dia” kita tanya kan saja sama dukun bayi di sekitar sini, bagaimana cara merawat bayi ini, ya “ dengan lemah lembut dia meletakan bayi mungil itu di peraduan mereka. Malam pun merambat perlahan, Alhamdulilah bayi cantik itu tertidur dengan pulas.
Adzan subuh berkumandang, pertanda haripun berganti. Selepas sholat subuh, marmin mengendarai mobilnya dengan laju ke sebuah rumah. Ya, dia menuju rumah Mak ti, dukun bayi yang biasa membantu warga setempat melahirkan dan mengurus bayi. Dengan cepat segera Mak ti berkemas dan berangkat ke rumah Marmin. Merasa terhormat karena dia dukun bayi yang dipilih keluarga kaya raya ini. “ masyaa Alloh, cantiknya tuan anak ini” sambil di gendong nya bayi mungil itu “ siapa namanya tuan ? “ Marmin yang dari tadi mengekor dukun bayi berkata “ belum ada namanya Mak”.
Sampai sesiang ini marmin dan nur tampak sibuk mempersiapkan banyak hal untuk keperluan djuliati.
Siang itu panas terik seperti menyengat di atas ubun - ubun rasanya, tetapi hati Marmin sejuk, dingin, gembira dan semangat. Berbeda dengan Nur istri nya, walaupun tersenyum tetapi hambar terasa. Sesekali dia tersenyum melihat suaminya yang nampak sangat gembira itu.

Setahun kemudian

0 0

Diteras depan rumah tertata bunga – bunga melambai-lambai cantik di terpa angin sepoi berhembus lembut. Nur merasa tiba – tiba saja ada sesuatu mengganjal di hati nya. Di pandang nya djuliati bayi mungil dalam gendongannya itu, sedang menyesap botol DOT berisi susu pengganti ASI. Ada rasa iba merasuk jiwa nya tapi dia tidak merasa bahagia atau sedih atas kehadiran bayi mungil ini. Dia merasa menjalani ini semua sebatas berkhidmat pada suami nya, agar marmin bahagia. Aku berharap "Siapa tahu seiring waktu di hati ku ini akan tumbuh benih-benih kasih sayang pada mu, nak" Bisik nur pada djuliati.
Hari – hari berlalu seperti biasanya, djuliati bertumbuh menjadi anak yang lucu dan menggemaskan. Perkembangan nya begitu menyenangkan hati dan membuat hati marmin senang. Nur mengasuh nya dengan hati – hati walaupun rasa sayang dan cinta itu belum tumbuh. Sayang dan cinta seorang ibu kepada princesnya. Ketika malam tiba, selepas sholat isya seperti malam-malam sebelumnya marmin berbincang dengan istrinya nur, sambil meninabobokan bayi montoknya itu. “Dik, besok aku mau mengurus surat – surat djuliati, agar sah di pengadilan agama. Rencana besok aku mengajak mas Bahri untuk menjadi saksi dipersidangan adopsi anak” Nur menjawab pelan “ mas, aku masih tidak habis pikir kenapa, wanita itu memberi bayi nya pada kita” sambil menghembuskan napas “ hanya sekedar dia miskin ? Dan kenapa pula dia tidak menginginkan nantinya djuliati tidak tahu asal muasalnya” “ kenapa, mas” aku masih belum mengerti jalan pikiran dia. Terkadang aku berpikir jahat wanita itu membuang bayi nya. Marmin menghembuskan napas pelan “ sudahlah dik, kita rawat baik – baik anak ini. Dia sekarang buah hati kita, aku berdo’a kelak dia tumbuh menjadi anak sholihah” Aamiin.

------------------------------------------------------
1 tahun berlalu

“Masyaa Alloh, sini anak bapak” panggil Marmin. Sambil berjalan tertimpang timpang Djuli berjalan ke arah Marmin. Di gendong, di ayun lah buah hati nya itu. Gelak tawa dan berderai kebahagiaan tergambar di wajah marmin. Nur tersenyum dan merasakan kebahagiaan suami dan putri angkatnya itu. Entah kenapa kehadiran djuliati membawa energi positif bagi setiap orang di sekitarnya. Masyaa Alloh.
Siang itu terjadi kehebohan di office Marmin. Djuliati tiba – tiba menghilang. “djuli... Djuli....” Berulang kali marmin memanggil buah hati nya itu lebih tepatnya sedikit berteriak. Tak ada suara, senyap semakin kacau pikirannya dipanggil lah semua staf karyawan dan tentunya para satpam office. Semua bergerak mencari djuliati. Hari ini pekerjaan Marmin agak banyak sampai dia lupa kalo tadi pagi dia mengajak buah hatinya ke office. Kebiasaan marmin terkadang mengajak djuliati bekerja. Biasa nya aman – aman saja. Tetapi hari ini djuliati menghilang. Astaghfirulloh.

Nur oh nur

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day4
#JumlahKata405


“Ya Alloh, kemana anak itu pergi” Marmin semakin gusar ketika beranjak sore masih belum ditemukan djuliati. Hampir putus asa hendak menghubungi kepolisian terdekat. Ketika melewati ruang pengerjaan kaca – kaca pigura terdengar tangisan lirih. “Astaghfirulloh, Djuli... Djuli...Djuli... “ Marmin berucap pelan. Semakin jelas terdengar ternyata dia di bawah kaca yang bersender di dinding yang rencana nya mau di pasangkan pigura. Serta Merta Marmin menjulurkan tangannya “ sini Djuli, sini nak, sayang” tangan mungil itu menggapai tangan Marmin dan masih menangis sesenggukan. Dengan hati-hati marmin mengangkat buah hatinya itu. “ kenapa djuli, dibawah kaca situ. Ada apa? “ tanya marmin dengan lembut. "Man mama pa” dengan celotehnya yang khas, sambil masih bergelayut di leher Marmin dalam gendongan bapak tiri nya dengan manja. “ lain kali ga boleh gitu ya, nak sayang. Bapak risau, takut Djuli kenapa – kenapa” seperti mengerti saja djuliati mengangguk dan mencium Marmin.
“Alhamdulillaaaah”, semua staf mengucapkan syukur ketika nampak bos besarnya menggendong anak kesayangannya itu sudah di temukan. Betapa cinta Marmin ke djuliati begitu besar seperti lautan samudera bahkan mungkin lebih.
Keesokan harinya djuliati tidak ikut Marmin bekerja di office. “Ayo salim, bapak” nur mengulurkan tangan Djuli ke Marmin. “Di rumah dulu ya sama ibu, bapak mau kerja dulu. Manut ibu ya” “ dadaaaaah, assalamualaikum” dengan mata bulatnya seakan mengerti apa yang di ucapkan bapak angkatnya itu. Dia pun menggelayut manja di pundak nur. Nur berkata “ sekarang anak Sholihah mau main apa sama ibu” Djuli pun melepaskan tangannya dan bersorak girang “ aciiiiik, man mama Bu” mata bulat nya memandang nur berbinar – binar. Segera mereka berdua masuk ke dalam ruangan yang disediakan khusus buat Djuli untuk bermain sepuas hati. Kamar itu memang disediakan Marmin khusus buat princesnya. Di dalam kamar itu sudah tersedia berbagai macam mainan anak-anak. Aduhai, betapa sayang Marmin dengan djuliati.
Sore hari nya “Assalamua’laykuuuuuuum, djuliiiii bapak pulang sayang” mata yang masih terlelap di sore itu tak terdengar panggilan pria yang sangat mencintai nya. Nur menghampiri Marmin dan mencium tangannya “ kok cepat pulangnya, mas” senyuman Nur begitu manis pantaslah Marmin terpikat dan jatuh hati dengan wanita kelahiran kota malang ini. Bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan kulitnya putih, wajah nya glowing di tambah lagi 2 lesung pipinya itu ah, aduhai betapa indah ketika memandang nya, tubuh nya bagaikan gitar spanyol. Perfect Dimata Marmin. Dan lagi rambutnya selalu wangi hitam menjulur sepinggang dan lembut ketika di elus. Tak pernah sekalipun membantah atau berlaku kasar kepada Marmin. Selalu dia patuhi apa perintah suaminya. Dia benar-benar istri yang Sholihah. Masyaa Alloh.

Kebahagiaan sesungguhnya

1 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day5
#JumlahKata406

Di kecupnya dahi istri tersayangnya itu “ iya sayang, aku tadi kepikiran djuli terus di office, mana dia kok gak ada suara nya” sambil memberikan bungkusan kepada istrinya. “baju lagi, mas. Aku kok ga dibelikan juga ?” sambil melirik merajuk nakal pada suaminya. “djuli terus yang dibelikan baju” dia terus menggoda suaminya. Marmin mendekatkan bibir nya ke pipi istrinya dan mencium nya “ kamu, milih sendiri. Kapan kita jalan-jalan?ke Tunjungan, yuk” gemas Marmin kalo istri nya merajuk seperti ini. Nur tersenyum “ ayok” ujar nya. Nur membuka isi bungkusan yang tadi diberikan Marmin kepadanya “ masyaa Alloh, cantiknya mas. Djuli pasti kelihatan cantik memakai ini” digantungnya baju cantik itu di depan lemari kamar."kapan kita jalan? Tanya marmin ke istrinya. "Kapan-kapan aja mas, aku cuma bercanda kok, lagian masih banyak gaun yg baru yang belum aku pakai"jawab Nur. “mandi dulu mas, Djuli masih tidur. Aku siapkan makan ya, aku temani makan” ujar Nur. Sambil menoel hidung mancung istri nya, marmin melangkah ke arah kamarnya“ okey sayang, aku mandi dulu ya” Nur tersenyum dan segera menuju ke dapur untuk menyiapkan makan suaminya. Selesai makan, marmin ke kamar djuliati tidur. Di hampiri djuliati yang masih tertidur pulas, di usap kepala nya dan di cium nya. “djuliati sayang bangun nak, bapak sudah pulang” tubuh kecil itu menggeliat dan mata bulatnya mengerjap-ngerjap. “hoooaaaaaaaa” djuliati menguap. “ ndong pa” ucapnya lirih karena masih mengantuk. Di angkatnya tubuh mungil itu keluar kamar, sambil di ciumi pipi bakpao itu berkali-kali. Nur menghampiri kedua nya dan berkata pelan ke djuliati sambil mengusap punggung nya dengan lembut. Nur berkata “ ayo nak, mandi dulu. Bapak beli baju baru buatmu” seketika rasa kantuk nya hilang “ au au au” ucap djuliati lucu. Segera dia ulurkan tangan nya ke Nur. “andi Bu, alan” “ ayok”Nur tersenyum pada djuliati. “habis mandi kita jalan-jalan sebentar ya, sayang”ujar marmin. djuli pun kegirangan dan berteriak “oleee, oleee”.

Nur dan Marmin sangatlah beruntung mendapatkan anak angkat selucu itu. Benar -benar penyejuk hati. “pa, angkat” Djuli menggandeng tangan Marmin yang tengah menyiram bunga di teras depan rumah. “eh, masyaa Alloh cantiknya anak bapak ini” ucap Marmin sambil menggendong nya. “yang, ayok.. sudah siap” setengah berteriak memanggil istrinya. “ ya mas” terdengar jawaban dari dalam kamar. Masyaa Alloh sebuah keluarga yang penuh keharmonisan dan kebahagiaan. Sesampai di alun – alun kota malang, Marmin memarkirkan mobilnya. Mereka menyusuri setiap bagian alun – alun. sesekali ada beberapa orang menyapa dan memberi hormat kepada mereka. Siapa yang tak kenal Marmin. Pengusaha kaya raya nan tampan.


Asih

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day6
#JumlahKata407

Beberapa tahun kemudian

Kehidupan selalu berputar terkadang dibawah, disamping dan ada kala nya di atas. Fitrah kehidupan menggelinding sampai ajal menjemput nyawa. Sore itu Nur kedatangan adik kandung semata wayang nya yang datang dari desa pelosok kota malang. Bagaikan pinang dibelah dua, kakak beradik itu kecantikannya sungguh luar biasa. Adik Nur bernama Asih, perawan cantik yang belum tersentuh pria sama sekali, lugu dan ayu.
“Sih, kapan kamu mulai les Modes nya. Sudah daftar belum?” tanya nur kepada asih adiknya.
“belum mba, besok aku akan ke tempat les untuk mendaftar. Boleh ya aku tinggal disini sampai les ku selesai. Tolong izinkan mas marmin, ya” jawab asih
“insyaa Alloh sih, mas marmin pasti ga keberatan. Nanti aku izinkan” nur tersenyum
“Kemana Djuli, kok sepi”tanya asih
“masih tidur”jawab nur
“Sudah kamu beberes dulu ke kamar istirahat dulu, kamarnya sudah disiapkan si mbok” ucap nur
“iya mba, makasih banyak ya” asih tersenyum
Asih sungguh merasa beruntung mempunyai saudara yang bersuamikan orang kaya raya. Di lihatnya setiap detil kamar yang dia tempati sekarang. Segera dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Assalamualaikuuum, sayaaang” marmin membuka pintu dan memanggil istri nya.
“wa a’laykumussalaaam, sudah pulang mas” segera dia cium tangan suaminya itu dan dibalas dengan kecupan hangat di dahi.
“kamu cantik hari ini sayang, wangi lagi... Ayok” Goda marmin
“djuli masih tidur kan” sambil matanya berkedip ke arah nur.
“Apa sih mas, bau... habis dari kerja keringetan” nur sambil mengibas ngibas kan tangan di depan hidungnya.
Asih yang berada di kamar, malu mendengar obrolan mereka. Asih membayangkan betapa bahagia kakaknya mempunyai suami seperti Marmin. Seorang pria kaya, tampan dan romantis, jelas terlihat sangat menyayangi istri nya. Dan dia berdo’a semoga suatu hari nanti dia mendapatkan suami seperti kakak iparnya itu.

“buu.... buuuu.....buuuu......” terdengar tangis djuliati yang baru saja bangun dan mencari ibu angkat nya itu. Simbok sudah menggendong nya tapi tetap aja Djuli menangis. Nur segera memakai piyama dengan rambut basah menghampiri Djuli.
“Sholihah nya ibu sudah bangun” ucap nur
“bu.... gendong....” Djuli merajuk
Tangan nya menggelayut manja di pundak nur.
"Sudah besar kok masih gendong" ujar nur
Marmin keluar dari kamar nya.
“eh, anak bapak sudah bangun. Sini gendong bapak sayang” pinta marmin ke istri nya.
“Ganti baju dulu” perintah Marmin sambil mengecup pipi nur.
Nur pun tersenyum manja, membuat Marmin gemas di buatnya.
“Sama bapak dulu ya, habis ini mandi air hangat sama simbok, sudah sore nanti kemalaman” ucap nur sambil mengelus elus jemari Djuli.

Jeritan hati marmin

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day7
#JumlahKata403

Marmin menuju teras depan rumah dan menyiram bunga-bunga cantik nan indah. Marmin sangat menyukai kegiatan berkebun, setiap Sabtu dan Minggu ketika libur kerja dia selalu meluangkan waktu untuk merawat kebun nya yang cantik itu. Setelah berganti pakaian, Nur menghampiri suami nya yang sedang asik memanjakan bunga-bunga didepan rumah nya.
“mas, tadi asih datang. Dia ingin les Modes dan izin tinggal disini sampai les nya selesai” Nur membuka pembicaraan.
“Ya gak papa sayang” jawab marmin singkat
Nur kembali masuk ke dalam rumah dan hendak memberitahu adik semata wayangnya itu. Diketuknya pintu kamar asih.
“sih, aku boleh masuk” tanya nur kepada adiknya.
“Masuk aja mba, gak di kunci kok” jawab asih
Ceklek....
Nur masuk kedalam kamar asih dan duduk di tepi ranjang.
“Mbak, tadi sudah izin sama mas marmin, in syaa Alloh kamu boleh tinggal disini selama les Modes” jelas nur
Asih nampak gembira dan mengucapkan banyak terima kasih kepada nur dan iparnya Marmin.
Ipar itu maut, Pernah dengar?
Keesokan harinya asih berpamitan ke nur dan marmin pergi ke tempat les Modes untuk mendaftar. Marmin menawarkan tumpangan ke asih agar tidak repot – repot naik bis menuju tempat les Modes nya itu. Nur mengiyakan niat baik Marmin kepada asih.
Setiap hari asih di antar marmin ke tempat les Modes nya sebelum berangkat ke office dengan mengendarai mobil, padahal office dekat saja. Seringkali marmin berjalan kaki jika berangkat ke office. Jika sore ada waktu luang marmin menjemput asih pulang. Ipar adalah maut. Tidak terasa sudah 3 bulan berlalu. Asih pun berpamitan pulang kepada Marmin dan Nur.
“makasih ya mba mas, sudah memberiku tumpangan tempat tinggal selama aku les Modes, sudah di antar jemput segala. Maaf ya sudah merepotkan kalian” ucap asih kepada nur dan Marmin.
“sama-sama sih, semoga ilmu mu bermanfaat. Salam buat ibu dan bapak di rumah. Kamu hati-hati dijalan” kata nur kepada adik semata wayangnya itu.
“Ya kak, aku pamit pulang”pamit asih
“Assalamualaikuuuum” asih memberi salam.
Akhirnya asih pulang dan meninggalkan sedikit rasa di hati Marmin. Apa karena terbiasa jadi merasa kehilangan. Asih gadis yang cantik dan periang, diam-diam Marmin menaruh hati pada adik iparnya itu. Ipar adalah maut, Tapi Marmin selalu berusaha menepis perasaan gatal itu. Dia berusaha fokus ke istri dan anak angkatnya.
Seperti biasa selepas sholat isya nur bermanja &bersenda gurau dengan marmin
sambil meninabobokan putri angkat semata wayangnya itu.
Tumbuh kembang Djuli begitu menyenangkan, bayi mungil itu sudah balita sekarang sebentar lagi memasuki usia sekolah. Sayang, dia bukan darah daging Marmin.





Sebuah keputusan

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day8
#JumlahKata405

Tumbuh kembang Djuli begitu menyenangkan, bayi mungil itu sudah balita sekarang sebentar lagi memasuki usia sekolah. Sayang, dia bukan darah daging Marmin.
Terkadang ketika sunyi merayap Marmin termenung, siapa yang akan mewarisi usaha yang dia rintis dari nol ini dan siapa yang kelak mendo’akan dia ketika sudah meninggal nanti. Hembusan berat demi hembusan berat, sering dia pendam sendiri. Seakan ingin berteriak keras bahwa dia ingin punya anak kandung darah dagingnya, tapi dia tidak mampu menyakiti hati istri nya untuk mendua. Beberapa kali Marmin mengutara kan niat nya itu tetapi selalu terhalang oleh air mata istri tercinta nya. Beberapa kali mereka berusaha ke dokter yang terbilang manjur tetapi tidak ada hasilnya. Rasanya Marmin ingin berlari jauh sejauh jauh nya.
Kehidupan terus di jalani, Minggu berganti Minggu dan bulan berganti tahun. Ketika itu Djuli sudah masuk di sebuah taman kanak-kanak. Setiap hari Marmin mengantar putri kesayangannya itu berangkat ke sekolah. Ya, dia merasakan kebahagiaan ketika bersama princesnya.
------------------------
Kabar buruk itu akhirnya sampai di telinga nur. Sambil terisak dia menghampiri Marmin yang tengah bermain dengan Djuli di kamar.
“Mas” isak nur
Melihat istri nya berurai air mata sontak dia kaget.
“Hei, ada apa sayang” Marmin segera bangkit dari duduknya. Dan berdiri memanggil simbok agar menemani djuliati bermain. Simbok datang dengan tergopoh-gopoh.
Di peluknya sang istri dan di bimbing nya ke kamar.
“ada apa” tanya marmin
“Asih mas”jawab nur
“Ada apa”tanya Marmin lagi
“Dia hamil”jawab nur
“astaghfirullohu” Marmin beristighfar
“Dengan siapa?” tanya marmin
Nur masih saja terisak, mengingat kelakuan adiknya yang tidak masuk akal itu.
“ aku tidak tahu” jawab nur
Marmin berpikir sebaiknya istri nya itu pulang untuk menanyakan hal ini.
“apa kamu ingin pulang” tanya marmin
“Apa kamu mengizinkan mas” jawab nur
Marmin pun mengangguk dan tersenyum.
Segera nur, berkemas membawa beberapa baju.
"Aku tidak akan lama mas" ucap nur
"Aku tahu" jawab Marmin sambil tersenyum.
Nur tidak akan lama karena dia tidak bisa meninggalkan suami nya sendiri.
Beberapa hari di tinggal nur, Marmin merasa kesepian beruntung dia memiliki Djuli yang bisa menepis kesepiannya. Setiap hari dia tidur dikamar Djuli menemani Djuli tidur. Setiap hari marmin fokus dengan aktivitas Djuli. Selepas isya biasa nya dia ditemani nur, kali ini marmin termenung, kenapa asih bisa hamil sedangkan nur tidak bisa hamil. Jiwa memberontak nya keinginan mempunyai anak kandung meronta. Dalam pergulatan pemikirannya dia harus mengambil keputusan yang mau tidak mau, nur harus menerima. Marmin berniat mempersunting asih yang jelas-jelas bisa memberinya keturunan.

NUR
Setelah semua urusan selesai nur kembali ke rumah. Sesampai di rumah hanya ada simbok dan djuli. Djuli sangat gembira melihat ibu angkatnya pulang.


Keputusan marmin

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day9
#JumlahKata401

Setelah semua urusan selesai nur kembali ke rumah mewahnya. Sesampai di rumah hanya ada simbok dan djuli. Djuli sangat gembira melihat ibu angkatnya pulang.
“Ibuuuu....” Djuli terlonjak gembira dan berlari ke arah nur.
Nur, hanya sekedar tersenyum tipis saja.
“Ibu bersih-bersih dulu ya” ucapnya
Djuli hanya mengangguk mengerti. Dan simbok mengajak Djuli bermain lagi.
Sore sebelum Marmin pulang, nur sudah bersiap untuk memikat hati suami nya.
“Assalamualaikum” Marmin memberi salam datar saja. Memang sengaja nur tidak memberi kabar kalo dia akan pulang.
“Wa a’laykumussalam” jawab nur keluar dari kamar.
“Kamu sudah pulang” ucap marmin.
“iya mas”jawab nur
“Nur, nanti aku mau bicara dengan mu. Ada hal penting yang harus kita selesaikan”ucap marmin.
“Ya mas” jawab nur
Marmin berlalu begitu saja didepan istri nya yang sudah berdandan untuk menyambutnya. Nur, merasa heran ada apa dengan suaminya. Tidak seperti dulu sebelum dia pulang ke malang.
Selepas isya seperti biasa Marmin dan Nur berbincang – bincang, tapi kali ini beda. Marmin sudah berbulat tekad mengutarakan keinginannya untuk mempersunting asih, adik nur.
“Bagaimana, asih” tanya marmin ke nur
“Dia di perkosa mas” jawab asih
“Astaghfirulloh” Marmin beristighfar
“Sayang, aku akan menikahi asih” ucap marmin.
Seketika nur bangkit dari bahu Marmin. Nur sangat terkejut mendengar apa yang di ucapkan suami nya barusan.
“Baiklah mas, kapan kita mengurus surat perceraian kita” Nur merasa seperti terjun dari lantai 12.
Perasaan perih dan pedih ditahan sangat sakit menyesak di dada. Betapa tidak, wanita selama ini menemani nya yang sangat dia cintai, mampu berpisah dari nya.
Nur, berdiri dan melangkah ke kamarnya. Dia telungkup kan wajah nya di atas bantal dan menangis sejadi – jadi nya.
Nur menangis sampai ketiduran, dia terbangun ketika terdengar adzan subuh. Segera dia bangun dan mengambil air wudhu. Dalam do’a selepas sholat subuh nya, dia berharap semoga jalan yang dia tempuh saat ini adalah jalan terbaik. Akhirnya yang dia takutkan selama ini terjadi, dan kenapa dengan adiknya sendiri. Nur pasrah atas keputusan marmin. Tidak bisa menyalahkan marmin karena dia tidak bisa memberikan keturunan yang di impikan Marmin. Hari demi hari semakin berat dan menyiksa, sudah tidak ada canda tawa dan rayuan gombal marmin. Suasana memanas, seperti 2 insan yang tidak pernah kenal. Nur, sangat membenci Marmin saat ini. Dan Marmin, sebenarnya tidak tega melakukan ini semua. Sore itu Nur menghampiri Marmin yang tengah menyesap kopi di teras depan.
“Djuli, ikut bersama ku dan rumah ini menjadi milik djuli” pinta nur.
Marmin yang terkejut akan kehadiran istrinya.



Cerai

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day10
#JumlahKata403

Memandang nya penuh serba salah.
“sayang, jangan begini” Marmin berdiri dan menghampiri istri nya.
Nur menepis tangan Marmin dan menjauh.
“Bagaimana?, Sebaiknya segera urus surat cerai kita dan kamu bisa segera menikahi asih sebelum perutnya membuncit” tegas nur.
Nur pergi meninggalkan marmin yang sedang tertunduk sedih.
Memang sepantas nya dia mendapatkan perlakuan ini. Sikap nur terhadapnya menghancurkan hati nya. Terasa kebencian itu menjalar sampai ke aliran darah. Tetapi, dia harus membuat keputusan. Dalam hati nya berbisik, baiklah sayang kalau itu mau mu. Aku akan segera menyelesaikan ini semua.
“sayang, setelah kita bercerai jangan kau pisahkan aku dengan Djuli, izinkan aku menjenguk walau sebentar” pinta Marmin. Nur hanya terdiam dan memandang jauh di balik cendela. Dua hati yang saling mencintai ini batin nya menangis pilu tanpa suara. Besok, Marmin akan mengunjungi asih dan hendak melamarnya.
Sabtu kelabu
Pagi itu Marmin bersiap untuk berangkat menemui asih di desa. Kedatangannya membuat terkejut kedua orang tuanya dan tentunya asih. Niat nya untuk melamar asih membuat bertambah keterkejutan asih dan orang tua nya. Akhirnya kedua orang tua itu pun pasrah akan keputusan marmin, menceraikan nur dan mempersunting adik nya yaitu asih karena Marmin ingin mempunyai anak kandung darah dagingnya sendiri. Orang tua asih menyerahkan semua keputusan ini pada asih. Sebelum perut asih semakin membuncit. Asih menerima lamaran Marmin, setengah percaya dan tidak percaya akhirnya dia menikah dengan marmin mantan kakak iparnya. Tega, asih tidak memikirkan akan keadaan kakaknya sedikit pun. Marmin pun izin untuk kembali pulang dan menyelesaikan semua urusan perceraian dia dengan nur.
Sesampai di rumah tidak ada kehangatan lagi, hanya Djuli berlari-lari menyambut kedatangan Marmin. Dengan senyum khas nya dia menggelayut manja di leher lelaki yang sangat mencintai nya itu. Tidak terasa air mata Marmin menetes perlahan. Di cium nya gadis cilik yang manis itu. Di peluk nya erat dan di elus perlahan punggungnya.Dan menyuruh simbol menemani Djuli.
“mbok, kami akan berpisah. Tolong rawat Djuli ya, sepeninggalku nanti” jelas Marmin kepada simbol
“iya tuan” jawab simbok sambil menyeka sudut beningnya perlahan.
Marmin bangkit dan melangkah pergi meninggalkan kamar djuli. Perih terasa menyayat ulu hati, apalagi di lihatnya kamar nya dulu yang selalu dalam keadaan tertutup. Membayangkan betapa terpuruknya orang yang berada di dalam nya. Sejenak terhenti langkah marmin, sambil bergumam “maafkan aku sayang, sampai kapan pun aku akan mencintai mu”. Marmin dan nur sudah pisah kamar semenjak nur pulang dari desa.
Persidangan perceraian nur dan Marmin di gelar dan pasangan berbahagia itu akhirnya resmi bercerai.

Malangnya nasib Nur

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day11
#JumlahKata406

Marmin memberikan rumah dan Djuli kepada nur.
Perpisahan nya dengan Nur yang selama ini Marmin takutkan akhirnya terjadi juga. Seperti dugaannya sangat menyakitkan.
Hari ini dia akan mencari rumah baru yang akan dia tempati bersama asih setelah menikah nanti. Setelah berkemas dan akan meninggalkan rumah besar itu dia berpamitan dengan nur. Dan mengetuk pintu kamar nur perlahan. Tok tok tok pintu di ketuk Marmin. Nur membuka pintu kamar begitu tahu yang di depan nya mantan suaminya dia berteriak penuh kebencian,
“pergilah, aku sangat membencimu” mata nya yang sembab tidak bisa nur sembunyikan dari Marmin. Segera nur tutup kembali pintu kamar dengan kasar. Marmin segera menahan pintu kamar itu, dan berkata
“Sayang, bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kali” pinta Marmin
“untuk apa, itu menyakiti ku” jawab nur di sisa isaknya
“izinkan sayang, sebentar saja” pinta Marmin
Tanpa persetujuan, di peluk nya nur erat. Nur meronta melepaskan pelukan Marmin, tapi dia tidak berdaya. Menangislah kedua insan saling mencinta yang telah kini berpisah. Sambil berbisik Marmin berucap “maafkan aku sayang, maafkan aku” Nur hanya mampu menangis di pelukan Marmin untuk terakhir kali. Di dorong lah tubuh kekar itu menjauh dan nur berteriak histeris “pergiiiiiiiii” di banting dengan keras daun pintu kamar itu. Kamar yang menjadi saksi bisu percintaan di antara mereka berdua selama ini.
Marmin segera pergi dengan sisa isakan dan air mata. Pandangannya kosong menatap jalan raya. Ya, semua sudah berakhir dia meninggalkan dua cinta di rumah besar itu. Di usaplah air mata yang terus saja menetes. Masa depan nya sekarang bersama asih.

Pernikahan marmin dengan asih.
--------
Hari ini adalah hari yang sangat menyedihkan bagi nur. Adik kandungnya akan menikah dengan mantan suami yang sangat di cintainya. Pesta pernikahan di gelar tidak begitu besar karena mengingat asih sudah hamil. Hanya mengundang saudara dekat dan beberapa teman asih.
Di dalam kamar nur menangis histeris, dia meratapi nasib nya yang sial itu hanya karena mandul. Simbok terus menemani Djuli di dalam kamar, karena Djuli terus bertanya kenapa dengan ibu nya. Hanya tetesan air mata yang mampu simbok jawab. Tak terasa sudah beberapa bulan berlalu dan nur masih saja terpuruk dengan keadaannya. Nur mulai keluar ke tempat – tempat haram, ke tempat night club’ dan menghambur – hamburkan uang. Pulang dini hari dan terkadang dalam keadaan mabuk. Sangat menyedihkan keadaan Nur saat ini. Beruntung simbok masih bertahan di rumah itu, dengan setia mengurus Djuli seperti anaknya sendiri. Rumah itu sekarang bagaikan di dalam neraka. Keadaan ini terus berjalan semakin hari semakin terpuruk.


Sabar djuli

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day12
#JumlahKata407

Tidak terasa Djuli sudah berusia 6 tahun, dia sekarang bersekolah di bangku TK B. Nur tidak pernah mengurus nya sama sekali. Dia hanya sibuk dengan kegiatan diluar berpesta bersama teman-teman nya. Pulang dalam keadaan mabuk atau kalo tidak dalam keadaan marah-marah. Kelemahlembutannya sirna entah kemana. Kewajiban gaji simbok pun sering terlupakan. Melihat gelagat majikannya yang tidak beres, simbok pun ingin pulang ke kampung saja. Tetapi dia kasihan dengan Djuli. Sedikit demi sedikit di ajari Djuli untuk menanak nasi, membersihkan rumah, membersihkan badan dan sebagai nya. Agar nanti kalo dia pergi Djuli sudah bisa melakukan banyak hal untuk keperluannya sendiri.
Malam itu dia berpamitan kepada Djuli, karena simbok akan pulang kampung dan sengaja dia berbohong nanti akan kembali lagi. Simbok berkemas, besok pagi dia akan berpamitan dengan majikannya Nur. Malam sudah larut tapi Nur belum juga pulang, setengah mengantuk simbok mendengar bunyi mobil berhenti dan cekikikan seorang laki² dan perempuan. Sambil memandang gadis cilik yang disampingnya sedang tertidur pulas dia mengelus kepalanya. Dalam hati nya merintih “ maafkan simbok Djuli, simbok tidak bisa berbuat banyak” meneteslah airmata simbok. Esok hari
Setelah menyiapkan semua keperluan Djuli dan mengantar sekolah. Simbok menghampiri majikannya yang baru saja bangun tidur.
“Nyonya, saya pamit mau pulang ke kampung” pamit simbok
Tanpa banyak bicara dan basa basi nur mengiyakan saja maksud simbok. Sepulang sekolah Djuli menangis, karena tidak ada yang menjemput. Alih-alih nur kasihan malah marah dan menjadi -jadi
“ ibuuuuuu.....” teriak Djuli
“ibuuuuu..... Ibuuuu..... Ibuuuuu” Djuli menangis tersedu-sedu
Nur keluar dari dalam kamarnya dan menghardik Djuli
“diam” ucap Nur marah
Djuli yang merasa aneh dengan kelakuan ibu angkatnya tidak berani untuk mendekat. Dia berdiri kaku di sudut kamar tamu ketakutan. Sambil menahan sisa tangis dan terisak-isak.
“dengar ya, simbok sudah pulang. Mulai hari ini urus diri mu sendiri dan tugas simbok kamu yang kerjakan. PAHAM” bentak Nur
Seperti disengat listrik, Djuli semakin ketakutan dengan sikap ibunya itu. Dalam pikirannya tidak paham dengan semua yang sedang terjadi.
“Sana pergi” bentak Nur
Segera Djuli menuju kamar nya, dan menumpahkan semua isi air matanya. Dalam hatinya berkata “simbok, kamu dimana? Aku ikut. Bapak, kenapa engkau pergi? Aku ikut” yang hanya ada perasaan takut dan takut. Djuli menangis sampe tertidur sampe kesorean. Nur tidak peduli dengan keadaan Djuli. Gadis kecil itu merasa lapar dan pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Ketika membuka tudung nasi di atas meja makan sudah tersedia nasi dan lauk seperti biasanya. Rupa-rupa nya sebelum simbok pergi dia sudah memasak untuk Djuli dan nur seperti biasa.


Akibat perceraian

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day13
#JumlahKata401

Setelah makan Djuli mencuci piring sendiri. Di lihatnya kamar ibu nya tertutup rapat dan biasanya selepas Maghrib dia akan keluar melepas kegilaan bersama teman teman nya. Segera Djuli masuk kedalam kamar, dan membuka buku dan belajar sendiri. Djuli merasa bingung dengan semua yang telah terjadi.
Selepas Maghrib, Nur sudah berdandan cantik dan berangkat untuk berpesta. Teman lelaki nya sudah menjemputnya di depan rumah.
Djuli mengintip dari balik pintu dengan siapa ibunya pergi. Tapi dia tak tahu yang dia dengar hanya suara ibunya memanggil laki-laki itu sayang dan ibunya masuk ke dalam mobil laki-laki itu. Setelah ibunya pergi dia kembali kedalam kamarnya. Djuli sendiri didalam rumah sebesar itu. Dia mengingat apa yang telah di katakan simbok ketika simbok akan pergi. Kalo tidur jangan terlalu malam, jangan menunggu ibu pulang. Besok sebelum subuh bangun masak nasi, wudhu terus sholat. Lauknya goreng telur saja buat sarapan. Mandi dan jangan lupa sisiran. Belajar berangkat sendiri dan pulang sendiri. Pulang sekolah sholat, makan dan jangan lupa belajar. Sorenya nyapu rumah dan isi air kamar mandi, kalo sempat ngaji. Jangan lupa makan. Djuli harus sehat, karena sudah besar harus bisa menjaga diri. Djuli hapal apa yang di pesankan simbok padanya. Akhirnya Djuli pun terlelap dalam tidurnya.
Penderitaan Djuli di mulai dari perceraian Marmin dan Nur. Sungguh malang nasib gadis kecil itu tidak seperti yang diharapkan ibu kandung nya dulu berharap anak nya menjadi ratu di dalam rumah besar itu.
Besok hari nya sebelum adzan subuh Djuli bangun dan segera memasak nasi seperti yang di ajarkan simbok. setelah terdengar adzan, Djuli segera mengambil air wudhu dan sholat.
Segera bergegas menyiapkan diri untuk berangkat sekolah. Hari pertama dia sekolah berangkat dan pulang sendiri. Alhamdulillah Djuli sudah hapal betul jalan berangkat dan pulang sekolah. Diketuk nya pintu kamar ibu nya untuk pamit berangkat sekolah tetapi yang di dengar hanya suara bentakan yang membuat Djuli ketakutan. Sepanjang jalan menuju sekolah Djuli merenungi nasibnya kali ini. Sesampai di sekolah dia tampak murung dan bersedih. Semua anak di antar dan dijemput orang tua nya. Semua itu tinggal kenangan saja.
Sepulang sekolah dia bergegas untuk pulang. Beberapa teman mengajak dia bermain tapi Djuli menolaknya. Entah kenapa, semua orang yang mengenal Djuli sayang padanya. Alhamdulillah. Sesampai di rumah seperti biasa dia berganti baju dan segera makan. Di buka nya tudung saji di meja makan hanya nasi tanpa lauk disana. Karena sudah terlalu lapar dia segera mengambil kecap dan kerupuk peninggalan simbok yang menemaninya makan.


Pindah rumah

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day14
#JumlahKata405

Mungkin karena terlalu lapar kandas sudah nasi sepiring, kerupuk dan kucuran kecap itu.
Alloh akan memberi kan rezeki kepada setiap hambanya. Rizkiminallohu. Djuli pun segera masuk ke dalam kamar nya mengingat – ngingat pelajaran yang dia terima tadi. Gadis sekecil itu mana bisa totalitas mengurus dirinya sendiri. Di sela – sela belajar nya dia tertidur. Sore hari dia terbangun karena mendengar adzan ashar. Segera dia mengambil air wudhu dan sholat. Dari arah dapur, Nur berteriak bagaikan singa memgaum, menakutkan.
“djuliiiiiiii..... Djuliiii.....” panggil Nur
Djuli yang sedang sholat akhirnya membatalkan sholat nya dan setengah berlari mendatangi ibu nya.
“Ada a a a apa a a a Bu” jawab nya segera
Nur, menarik mukenah Djuli dan membuka tudung nasi.
“kenapa nasinya kamu habiskan, he” bentak Nur
“maaf Bu, Djuli lapar” jawab Djuli ketakutan
“Aku kan sudah bilang, tugas simbok kamu yang kerjain, awas ya..... Mulai besok di meja harus ada makanan yang siap”bentak nur lagi
Dibanting nya Djuli ke lantai dan begitu juga tudung saji. Djuli menangis karena kesakitan dan ketakutan.sambil menangis dan kesakitan dia kembali ke kamarnya melanjutkan sholat yang dia batalkan tadi. Selepas sholat dia panjatkan do’a panjang sambil berderai air mata. Gadis cilik yang belum genap 7 th ini merasa hancur hati nya akan keadaan yang dia alami saat ini. Dia merasa bingung, sedih dan takut kepada siapa kah dia akan mengadu. Bapak dan simbok telah pergi dan ibu nya sudah tidak waras lagi. Semakin hari kelakuan nur semakin tidak waras. Perlakuan ke Djuli semakin kasar.
Seperti biasa selepas Maghrib mobil laki – laki itu menjemput Nur. Dan Djuli setiap hari selalu ketakutan di dalam kamarnya.
Hari – hari di lalui Djuli dengan bentakan, pukulan dan ketakutan. Paha dan sekujur kaki Djuli penuh bekas cubitan ibu angkatnya itu. Luka yang kemarin belum sembuh sekarang di tambah lagi. Entah kenapa apapun yang dilakukan Djuli selalu saja salah Dimata nur. Pagi itu nur, membentak Djuli agar mengangkut semua barang – barangnya ke gudang belakang. Djuli bingung ada apa ? Tapi dia takut untuk bertanya.
Rupa – rupa nya rumah besar yang nur dan Djuli tempati sudah di jual Nur kepada seseorang dan hari itu mereka harus keluar dari sana. Masih baik pemilik rumah baru mengizinkan nur dan Djuli tinggal di gudang belakang. Djuli menurut saja apa perintah ibunya. Dengan tangan kecilnya dia berusaha memindahkan barang – barang nya sendiri. Beberapa teman nya datang membantu dan ada beberapa warga yang kasihan dengan Djuli turut juga membantunya. Beberapa warga kasihan dengan nasib Djuli sekarang.







Nur kerja

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day15
#JumlahKata405

Setelah semua barang selesai di pindah, Djuli mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah membantu nya. Sepi sekarang dia tinggal di gudang belakang rumah besar itu. Menatapnya dengan penuh kebingungan. Djuli segera menata kompor minyak tanahnya mencari panci dan kukusannya. Sebelum ibu nya berteriak kelaparan, dia menanak nasi. Di seka nya air mata yang tiba – tiba menetes dia menangis. Tiba – tiba ada seseorang mengucapkan salam.
“Assalamualaikum nduk”
“Wa alaykumussalam”
Djuli segera menghampiri wanita tua pemilik warung seberang jalan. Sambil memberikan sesuatu kepada Djuli sebuah bungkusan.
“Kamu belum makan nduk, ambil lah. Jangan lupa makan, nanti sakit kamu yang reporepot, sudah ya Mak ti pergi dulu” pamit Mak ti
Djuli seakan-akan tidak percaya akan pemberian Mak ti untuknya sebungkus nasi dan sebungkus lauk bisa di makan sampe malam. Djuli tersenyum senang dikemas lagi peralatan dapur yang akan di gunakan masak nasi tadi. Djuli pun segera menata pemberian Mak ti di meja makan. Dalam hatinya bergumam “ ibu, pasti suka”
Nur yang seharian tidur akhirnya bangun juga. Dilihatnya semua sudah tertata rapi. Dia menghampiri meja makan dan ketika membuka tudung saji dia terkejut.
“Djuliiii.... Djuliiii...”teriak nur.
“iya a a a Bu” jawab Djuli sambil tergopoh-gopoh menghampiri Nur
“hei, kamu mencuri ya. Dapat dari mana makanan itu, he” nur marah dan meludahi muka Djuli.
“Awas kamu ya, aku laporkan ke polisi tau rasa kamu biar di penjara” kata nur sambil melotot.
“Aku ga mencuri Bu” jawab Djuli sambil menangis, ketakutan dan menahan rasa sakit cubitan nur.
“terus dari mana, ha” bentak Nur
“dikasih Mak ti yang punya warung makan seberang jalan, Bu” jawab Djuli
“kamu ngemis ya, he. Awas kamu kalo ngemis. Bikin malu aku” ucap nur sambil menghempaskan tubuh kecil itu.
Sambil menangis Djuli pergi ke belakang rumah tepatnya kebelakang bekas gudang. Sambil di bangku reot itu dia mengusap – ngusap bagian kaki nya yang sakit. Sekarang dia tidak mempunyai kamar lagi yang bisa menumpahkan semua kegundahannya. Dia takut jika di dalam rumah ada ibunya di sana.
Pagi ini Nur sudah terlihat rapi. Djuli heran melihat nya, tumben ibu nya sudah rapi dan memakai seragam kaos. Djuli juga sudah rapi sudah menyiapkan makanan dan lauk seadanya.
“Ibu, mau kemana?” tanya nur
“aku mau kerja”jawab nur
Mereka makan berdua di meja makan. Setelah selesai makan, nur dan Djuli bersiap untuk berangkat. Hari ini pertama kalinya Djuli bisa mencium tangan ibu nya ketika akan berangkat ke sekolah. “ assalamualaikuuum Bu” pamit Djuli dan meminta Salim kepada Nur. “wa alaykumsalam” jawab nur.

Djuli bahagia

1 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day16
#JumlahKata400



Semenjak kepergian Marmin, Nur tidak pernah peduli dengan Djuli malah menganggap nya sebagai babu. Walaupun bisa mencium tangan ibu nya saja Djuli merasa sangat bahagia. Hari ini dia terlihat ceria ketika di sekolah.
Sepulang sekolah seperti biasa Djuli langsung pulang ke rumah barunya. Dia terkejut di depan gudang itu sudah duduk orang yang selama ini dia rindukan dan dia cintai. Djuli pun berlari memeluk bapak nya.
“Bapaaaaak” teriak Djuli. Dua manusia itu saling berpelukan melepas rindu.
“Ikut bapak, nak” kata Marmin kepada Djuli
“aku bilang ibu dulu ya pak, kasihan ibu tidak ada yang menemani kalo aku pergi” ucap Djuli.
Marmin berkaca – kaca mendengar jawaban anak tiri nya itu. Betapa cintanya kepada Nur ibunya, tapi apa balasan nur kepada Djuli. Rumah besar itu telah di jualnya untuk berfoya-foya.“kamu sudah makan?” Tanya marmin.
“belum pak” jawab Djuli
“Ayo ikut bapak makan, bapak juga belum makan” ajak marmin.
“Horeeeee, iya pak. Djuli naruh tas dan ganti baju dulu ya” Djuli tampak senang sekali.
Tidak terasa menetes airmata marmin, dia tersenyum kearah anak tirinya itu. Dia merasa bersalah dengan nur dan Djuli, hingga keadaannya terpuruk seperti ini. Dipandang nya punggung rumah besar itu yang sudah berganti penghuni.
“bapak ayok” Djuli sudah keluar menggunakan baju bersih yang sudah lusuh. Digandeng lah tangan Djuli sambil tersenyum tipis. Sesampai di warung mak ti, Marmin memesan makanan.
“Senengnya djuli di tengok bapak ya” goda Mak ti. Mak ti bercerita perihal nur kepada marmin.
“ sering – sering di kunjungi pak. Kasihan djuli. Ibu nya ga ngerti anak” ucap Mak ti.
Selesai makan, Marmin mengajak ke pertokoan untuk membeli beberapa baju, buku dan roti buat Djuli. Hari itu Djuli senang sekali seperti mimpi.
“Kamu butuh apalagi nak” tanya marmin
“Sudah pak, Alhamdulillah” jawab Djuli
“rajin belajar di sekolah dan ngaji nya ya, dan sabar dengan ibu. Kalo Djuli pengen ikut tinggal dengan bapak bilang saja. In syaa Alloh bapak akan usahakan rutin kesini, nanti kita jalan – jalan lagi” ucap Marmin sambil tersenyum.
“bapak pulang dulu ya sudah sore”
“terimakasih banyak pak. Hari ini Djuli seneng banget di ajak bapak jalan – jalan dan dibelikan macam – macam” ucap Djuli
Tiba – tiba masuk lah nur dari pintu samping yang terbuat dari seng. Krrrraaaakkk, Mereka saling berpandangan. Marmin pun segera bangkit dan mengulurkan tangan nya ke Djuli. Marmin berkata,
“bapak pulang dulu ya” Djuli pun segera mencium tangan Marmin.
“Hati – hati pak” ucap Djuli
Marmin segera berlalu melewati nur yang berdiri seperti patung.



Mak ti

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day17
#JumlahKata402



Bau minyak wangi yang dulu pernah dia cium tiap hari membuat hati nya memanas dan bergejolak.
Tidak berapa lama didalam rumah bekas gudang itu terdengar suara bentakan, makian dan cercaan yang di sumpahkan ke djuliati. Lagi – lagi gadis itu ketakutan dan menangis. Ya, sekarang djuli menjadi tempat tumpahan sakit hati nur kepada marmin.
Senja itu senja terindah dan terngeri bagi Djuli. Tubuh kecilnya meringkuk di atas kasur kesayangannya tempat menumpahkan semua rasa suka dan dukanya.
Malam merayap perlahan kebiasaan buruk nur berpesta tiap malam menjadi rutinitasnya. Ketika nur berangkat dengan teman – teman nya. Djuli perlahan bangkit dari peraduannya. Di usapnya bekas cubitan – cubitan nur tadi sore. Rasanya panas dan sedikit nyeri jika disentuh, segera dia mencari minyak oles yang di beri Mak ti pemilik warung seberang jalan itu. Di oles nya perlahan luka cubitan itu sambil menahan sakit. Setelah di olesi semua, dia perlahan menghampiri meja yang terletak di samping tempat tidur nya dan menyalakan ublik agar sedikit membantu penglihatannya. Perlahan dia membuka buku pelajaran dan membaca nya. Saat seperti ini hal yang sangat dia nikmati. Belajar, ya dengan belajar seperti ini hati nya sangat penuh semangat. Waktu menunjukkan pukul 9 malam segera dia kemasi buku – buku nya dan mempersiapkan buku untuk pelajaran besok di sekolah. Setelah rapi, dia ke kamar mandi persiapan tidur dan berwudhu untuk sholat isya. Seperti pesan simbok, tidak perlu menunggu ibu pulang. Di bawah temaram lampu templok Djuli pun tertidur pulas setelah memanjatkan doa. Pagi yang cerah, sebelum subuh Djuli sudah bangun dan memasak nasi, setelah itu berwudhu dan sholat subuh. Membaca buku pelajaran sebentar dan segera membersihkan diri. Alhamdulillah, hari ini dia tidak perlu memasak lauk hanya memanasinya saja. Nur juga sudah terbangun dan segera mandi untuk berangkat kerja. Tidak lupa Djuli selalu mempersiapkan air untuk mandi Nur. Mereka berdua sarapan tanpa kata – kata. Selesai sarapan Djuli mengulurkan tangan untuk salim. Nur dengan malas melakukannya.
“assalamua’laykum Bu... “djuli pamit ke Nur.
“Wa a’laykumussalam” jawab Nur.
Walaupun hanya mencium tangan ibunya, Djuli sangat senang. Dia pun berangkat dengan hati riang.
Sepulang sekolah sekarang Djuli membantu Mak ti mencuci piring di warung nya. Selesai mencuci piring atau sebelumnya Djuli mendapat sepiring nasi dan lauk. Ketika pulang Mak ti membungkus kan lauk untuk nya. Djuli sangat bersemangat membantu Mak ti bekerja dan banyak pelanggan Mak ti yang suka kepada Djuli karena bersih mencuci piring nya. Dan Djuli anak yang cerdas dia suka di ajak berbincang para pelanggan.

Polisi hutan

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day18
#JumlahKata400 



Djuli anak yang cerdas dia bisa menghapal semua pesanan pelanggan dengan sempurna. Mak ti selalu mengawasi Djuli barangkali ada yang berlaku kurang ajar makro tak segan selalu menegurnya dan selalu melindungi djuliati. Mak ti menganggap Djuli seperti anak nya sendiri. Selesai membantu Mak ti Djuli pun pulang dengan hati senang dan tenang karena ketika ibunya pulang dari kerja sudah tersedia nasi dan lauk nya. Sesampai di rumah terdengar adzan dhuhur berkumandang segera Djuli mengambil air wudhu dan sholat dhuhur. Djuli termasuk anak yang disiplin, dia berusaha mempergunakan waktu nya semaksimal mungkin. Agar dia bisa berlama – lama belajar. Seperti biasa selepas ashar dia pergi mengaji bersama teman – teman nya. Di mushola kecil itu dia belajar mengaji dengan Bu nyai. Dia merasa tenang ketika berada di mushola kecil itu apalagi setiap Jumat selalu dia luang kan waktu mengikuti pengajian ibu – ibu di sekitar sana. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika memandang Bu nyai berbicara, dia ingin menjadi Bu nyai yang penuh dengan ilmu agama. Ketika Maghrib dia sudah berada di rumah karena hari sudah mulai gelap. Selepas Maghrib seperti biasa nur pergi berfoya-foya dengan teman-teman nya.
Hari berganti hari dan berganti bulan. Djuliati sudah mulai menikmati hari nya, sedangkan Nur tetap saja seperti itu.
Bagaimana dengan Marmin ?usaha marmin semakin merugi. Kantor Marmin, sudah di jual dan pindah ke rumah yang sekarang di tempatnya bersama asih. Anak yang dikandung asih sudah lahir. Bayi perempuan, marmin teringat Djuli. Semenjak beristri kan asih, Marmin merasa hampa, ada yang hilang di sudut hatinya yang tidak akan pernah tergantikan. Sekarang yang dia rasakan hanya sekedar pemuas nafsu hanya ingin mendapatkan keturunan.
Kehidupan harus dijalani, walaupun hari – hari yang dilalui gelap rasanya. Alhamdulillah, walaupun Djuli tinggal bersama Ibu angkat seperti Nur. Djuli berkembang menjadi anak sholihah. 5 waktu tidak pernah di tinggalkan nya, rajin belajar ilmu agama dan patuh kepada ibunya walaupun Nur seperti itu.
Suatu hari terdengar suara bentakan dan rintihan minta ampun.
“ampun Bu... Ampun Bu.... huhuhuhuhuhu” tangis Djuli menyayat hati, meminta ampun ibu nya.
“dasar anak ga tau di untung, kamu kenapa minta ikut tinggal sama bapak mu, heh” bentak Nur sambil mencubit dan memukul Djuli.
“Ampun Bu... Ampun....ga... Djuli...ga ikut bapak” jawab Djuli sambil terisak. Di tinggal tubuh kecil itu meringkuk di tempat tidur nya sambil menggerutu meninggalkan Djuli sendiri di rumah.
Sejak saat itu Djuli kapok mengatakan ingin tinggal bersama bapaknya. Ketika bertemu ibuk nya Djuli seringkali diam tidak banyak bicara.

Seperti nya dia baik

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day19
#JumlahKata400 

karena apapun yang dikatakan Djuli seperti nya salah di telinga nur.
Pagi Ahad, tok tok tok suara pintu bekas gudang itu di ketok. Tidak biasanya ada tamu bertandang ke bekas gudang itu. Djuli yang berada di belakang rumah tidak mendengar ketukan pintu. Nur pun segera bangun dari kasurnya dan membuka pintu. Dia pun terlihat kaget, seorang polisi hutan yang semalam dikenalkan temannya benar datang ke rumah nya.
“Boleh aku masuk”tanya polisi hutan itu
“Silahkan pak” jawab Nur
Setelah mempersilahkan masuk dan duduk. Polisi hutan itu bertanya kepada nur. “Aku menanyakan jawabanmu semalam”. Nur menatap sejenak laki – laki gagah di hadapannya sekarang ini “Apa bapak serius? Saya kira bercanda” jawab Nur. Siapa yang tidak tergoda akan kecantikan Nur yang bak seperti rembulan itu.“aku serius ingin mempersunting kamu menjadi istri ku” jawab polisi hutan lagi.
Polisi hutan nan gagah itu bernama Marmin. Dada bidang, tinggi 178 cm, mata sipit, kulit kuning bersih, hidung mancung. Keindahan yang membuat kaum hawa terpesona akan ketampanannya.
“Aku pikirkan lagi akan tawaranmu, apa bapak tahu siapa aku” Jawab Nur
Djuli yang berada di dapur membuatkan tamu ibu nya minum hanya sekedar teh hangat. Ketika Djuli menghantarkan minuman. Marmin tersenyum kepada Djuli dan bertanya
“kamu Djuli ya, anak semata wayang Bu Nur” tanya Marmin kepada Djuli sambil tersenyum. Djuli membalas senyum Marmin dan mengangguk. Dia pun pamit ke belakang.
“Anak mu cantik Nur” ucap Marmin. Nur hanya tersenyum tipis.
“2 hari lagi aku kesini, menanyakan kesediaan mu. Dan aku berharap kamu mau” sambil sedikit berbisik Marmin berucap “ aku cinta padamu, Nur. Terimalah cinta dan perasaanku ini. Nur, merasa terbang melambung tinggi. Di lihatnya lagi laki – laki yang dihadapan nya itu.
“aku akan menerima mu apa pun keadaanmu” seakan Marmin berusaha menjawab semua kegundahan Nur. Setelah mereka hanya saling terdiam beberapa lama. Marmin pun pamit ke Nur.
Sepulang nya Marmin, hati nur tidak karuan. Seperti dibawa separuh hilang oleh Marmin. Pertemuannya dengan Marmin membawa perubahan yang nyata. Nur, mulai mengurangi pesta bersama teman – teman nya. Mulai sholat lagi dan itu semua membuat Djuli merasa senang bukan main. Suatu malam selepas isya’. Nur memanggil Djuli, tapi kali ini beda. Nur memanggil nya dengan lemah lembut tidak ada bentakan dan cacian.
“Djuli, ibu mau menikah lagi” ucap Nur. Djuli mengangguk dan tersenyum. Djuli pun tidak keberatan akan hal itu, asalkan ibu nya menjadi lebih baik dan bahagia.
Pernikahan kedua Nur pun segera di gelar. Hanya mengundang beberapa teman dekat dan keluarga.



Djuli kembali bahagia

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day20
#JumlahKata403



Pernikahan kedua Nur pun di gelar. Pernikahan sederhana hanya mengundang beberapa tetangga sebagai saksi pernikahan mereka. Kini nur dan Djuli di boyong Marmin ke rumah dinas dekat pegunungan. Disana mereka memulai hidup barunya. Sifat lemah lembut nur lambat laun muncul kembali. Terutama kepada Djuli, karena nur tahu marmin begitu menyayangi nya. Djuli bersekolah di desa yang sekarang dia tempati. Desa itu bernama Wonokitri. Desa yang indah dan nyaman, udara nya segar dan pemandangannya begitu mempesona. Marmin adalah kepala polisi hutan di wilayah itu. Ada beberapa anak buah nya setiap hari berpatroli mengawasi keadaan hutan di desa Wonokitri. Penduduk didesa itu begitu menghormati Marmin dan nur.
Setiap hari Djuli berangkat dan pulang sekolah diantar dan dijemput marmin atau anak buahnya dengan mengendarai kuda. Djuli sangat senang sekali. Djuli sangat sayang dengan bapak baru nya itu dan begitu juga Marmin sangat menyayangi Djuli. Begitu juga nur, dia sekarang sudah menjadi nyonya lagi dan tidak pernah berteriak, membentak apalagi mencubiti Djuli. Nur kembali seperti dulu lemah lembut dan penuh kasih sayang. Djuli merasa bersyukur karena ibunya sudah kembali seperti dulu. Terkadang setiap sore Djuli di ajak marmin keliling desa atau mengkontrol keadaan hutan lewat anak buahnya. Djuli sekarang layak nya princes, semua baju lusuhnya sudah diganti dengan baju baru. Dan hidup seperti putri seperti dulu. Begitu juga nur, semua kebutuhannya sudah terpenuhi. Nur sekarang semakin cantik dan terawat.
Sesekali mereka bertiga pergi ke kota untuk membeli beberapa pakaian dan kebutuhan. Marmin memiliki mobil Jeep kesayangannya. Hari demi hari di lewati nur dan Djuli dengan sangat bahagia. Marmin membawa kebahagiaan bagi nur dan Djuli.
Suatu hari
“Kamu bohong sama aku mas” teriak nur, siapa perempuan itu yang meminta nafkah untuk anaknya. Kenapa dari awal kamu tidak cerita kalo kamu sudah pernah beristri. Nur berucap sambil meneteskan airmata, ternyata sebelum menikah dengan nur, marmin sudah mempunyai istri dan 2 anak laki-laki dan sekarang tinggal di Pasuruan.
“maafkan aku jeng, aku takut kamu tidak mau menerima aku sebagai suami mu” jawab Marmin
“aku pulang mas, aku tidak mau dimadu” ucap nur sambil menangis. Dipeluk nya Nur erat – erat seakan enggan melepaskan.
“Jeng, maafkan aku, jangan tinggalkan aku sendiri. Tolong. Aku mencintai mu jeng” bisik Marmin halus di telinga Nur.
Hancur hati Nur ternyata Marmin sebelumnya sudah beristri. Djuli yang mendengar pertengkaran mereka menjadi ketakutan. Djuli tidak mau kembali ke rumah bekas gudang itu. Nur memandang dalam di dasar netra marmin. Ingin mencari jawaban marmin disana apakah dia benar mencintai nya.

Bertahan

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day21
#JumlahKata400

“Tapi, aku ga mau dimadu mas. Ceraikan dia”pinta nur
“tidak bisa jeng, aku punya anak dari dia. Aku butuh keturunan, apalagi anak – anak ku laki – laki semua” jelas marmin
“Terus, kenapa mas menikahi aku” tanya nur
“aku cinta kamu jeng, entah kenapa ? aku tidak bisa menolak gejolak itu. Dan aku berpikir daripada zina lebih baik aku menikahi mu. Kamu cantik jeng, aku tergoda” jelas marmin. Semua orang pasti mengatakan bahwa Nur cantik dan membawa daya tarik tersendiri bagi setiap kaum adam. Marmin yang sudah lama pisah ranjang dengan istri tuanya, merasa tergoda akan paras cantik nur dan ingin memilikinya.
Nur, terisak akan nasib nya kembali membayangi betapa sakit ketika seorang istri di madu. Dua Marmin dalam hidupnya dan mereka menyakiti hati nya. Marmin, menggenggam tangan nur dan mencium nya.
“Jeng, tetaplah disini bersama ku, aku mohon” pinta marmin
Nur tidak bisa menjawab nya, hanya isakan tangis dan tatapan kosong mengarah pada Marmin. Di tarik perlahan tangan dalam genggaman tangan marmin, Sambil menggelengkan kepala.
Angin sore Wonokitri berhembus lembut, berulang kali dia menarik nafas panjang untuk melonggarkan sesak dada yang sedang meratapi nasibnya, dia paham tidak bisa memberikan keturunan. Rambut kemilau terurai panjang dan wangi itu tidak ada artinya. Dia memikirkan bagaimana langkah selanjutnya. Akan kah tetap bertahan atau mengalah dan kembali ke rumah bekas gudang.
“Djuli... Djuli...” tiba – tiba muncul keinginan untuk menanyakan hal itu kepada anak angkatnya itu. Djuli yang sedang berada di dalam kamarnya, cepat berhambur menemui ibunya.
“iya Bu” jawab Djuli.
"Duduklah disini" pinta Nur. Sambil menghela nafas dalam nur berucap.
“ternyata bapak mu yg ini sama dengan bapak mu yang dulu, sama – sama menyakiti hati ibu” ucap nur
Djuli yang waktu itu anak – anak tidak tau harus menjawab apa. Yang dia tau selama bersama bapak Marmin dia bahagia dan ibunya tenang tidak mudah marah dan lemah lembut. Entah siapa yang mengarahkan mulutnya untuk berbicara.
“ibu, Djuli bahagia di sini. Djuli lihat bapak sayang kepada ibu. Ibu juga bahagia disini. Bisa kah kita tinggal di sini saja. Walaupun bapak sudah punya istri bapak sayang sama ibu. Ibu cukup bersabar saja“ ucap Djuli
Mengerti apa anak kecil seusia Djuli, tapi kata – kata nya seperti semilir angin lembut merasuk hati. Harusnya aku bersabar atas semua ini dan pula aku mandul, bisik hati nur. Toh, mas marmin tidak pernah pulang ke istri lamanya.
Pergulatan batinnya sudah terjawab kan nur akan bertahan di sisi marmin tapi tentunya dengan beberapa syarat.








Bercerai lagi

0 0


#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day22
#JumlahKata401

Beberapa tahun kemudian
Kehidupan tetap berlanjut, Djuli pun tumbuh beranjak remaja, dia sudah kelas 5 SD. Dia menjadi remaja cerdas dan ceria. Marmin sangat menyayangi nya. Layaknya putri nya sendiri, marmin selalu memenuhi semua kebutuhan Djuli dan menyayanginya sepenuh hati. Setelah pertengkaran dulu tentang terbuka nya rahasia Marmin sudah beristri nur berusaha untuk memahami semua dan berusaha menata hatinya agar dia dan Djuli dapat hidup dengan layak. Tapi rasa cemburu itu selalu menyala – nyala ketika Marmin pamit ke istri tuanya untuk mengirim uang. Akhirnya tumbang pertahanan nur, dia ingin bercerai. Sore itu, Marmin ingin bermanja dengan sang istri. Di luar dugaan nya bukan candaan manja atau keseruan yang di dapat Marmin tapi permintaan cerai nur kepada nya.
“mas, aku ingin minta sesuatu” ucap nur sore itu
“Apa itu jeng” Marmin menatap lekat wajah kekasih nya itu.
“Aku ingin cerai, mas” ucap nur dengan wajah datar tanpa sedikitpun melihat wajah marmin.
Spontan Marmin memeluk Nur, dan menghela napas panjang.
“Temani aku jeng, sampe aku mati. Kamu istri terbaik ku, aku mencintai mu” ucap Marmin
“aku tidak kuat di madu, mas” jawab nur sambil terisak
“Aku tahu engkau menderita karena itu... Tapi jangan tinggalkan aku. Aku butuh keturunan jeng” jelas Marmin
“kamu egois mas”jawab nur dan bangkit dari pelukan Marmin. Dia pergi meninggalkan marmin sendiri.
Esok hari nur bersiap hendak pulang ke rumah gudang lagi. Sengaja dia tidak memberitahu Djuli. Agar Djuli dapat hidup dengan layak di rumah ini.
Marmin pulang dengan tergesa – gesa mendapat kabar dari pesuruhnya bahwa nur pergi dengan membawa tas besar.
“Jeng, ada apa ini.... “ tanya Marmin
“aku ingin sendiri mas, lepaskan aku” jawab nur
“hei, tidak begini jeng. Aku cinta kamu... Jeng, aku cinta kamu...”ucap Marmin
Tanpa banyak bicara Djuli membawa koper berisi pakaian nya ke depan rumah. Tidak di hiraukan apapun ocehan marmin. Nur bersikeras untuk kembali ke rumah gudang.
Sepulang sekolah Djuli merasa aneh, setelah membersihkan badan dan makan. Djuli mencari ibu nya di kamar, di teras depan, halaman belakang tidak di temukan ibunya. Djuli bertanya kepada anak buah bapak nya yang sedang bertugas. “ pak, ibu kemana” tanya Djuli
“saya tidak tau mba” jawab anak buah bapak
Sepulang sekolah Djuli merasa aneh, setelah membersihkan badan dan makan. Djuli mencari ibu nya di kamar, di teras depan, halaman belakang tidak di temukan ibunya. Djuli bertanya kepada anak buah bapak nya yang sedang bertugas. “ pak, ibu kemana” tanya Djuli
“saya tidak tau mba” jawab anak buah bapak

Kembali ke rumah bekas gudang

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day23
#JumlahKata400



Djulipun berpikir mungkin ibu nya jalan – jalan dengan bapak. Djuli pun masuk ke dalam rumah dan membuka – buka buku pelajarannya. Tidak berapa lama terdengar mobil bapak datang. Djuli segera berhambur keluar untuk mengetahui apakah ibunya sedang bersama bapak. Ternyata di luar dugaannya ibu nya tidak bersama bapaknya. Melihat Djuli kecewa, marmin pun tersenyum tipis. Marmin mengajak Djuli duduk di teras depan.
“nak, bapak mau bicara, duduk lah sini disamping bapak” ucap marmin kepada Djuli.
“iya pak” jawab Djuli
“kamu mencari ibu, ya” ucap Marmin sambil tersenyum, dibelainya rambut Djuli tanda dia sayang kepada gadis kecil itu.
Djuli membalasnya mengangguk
“Ibu pergi nak, kembali ke rumah dulu” jelas Marmin
“bapak sama ibu pisah”tanya Djuli
“ibu mu minta begitu nak”jawab marmin
Tapi kamu jangan risau walaupun nanti nya bapak dan ibu berpisah nanti bapak akan menyempatkan mengunjungi mu. Sepertinya Marmin akan mewujudkan keinginan nur untuk berpisah dengan nya.
Akhirnya Nur dan Djuli kembali ke rumah gudang kembali. Sore itu marmin suami pertama Djuli menemui Nur di tempat kerja Nur. Ketika nur keluar dari tempat kerja nya Marmin menghampiri nya.
“Aku ingin bicara sebentar” ucap Marmin. Nur tetap saja melangkahkan kakinya tidak menghiraukan kedatangan kekasih pertama nya itu. Di tarik lah tangan nur dengan kasar.
“Sakit” nur berteriak
“Berhentilah, aku ingin bicara” ucap Marmin
Langkah nur terhenti
“apa yang akan kamu bicarakan”jawab nur membuang muka.
“Lihat aku”ucap marmin sambil membalikkan badan nur menghadap nya. Nur tidak tahan dengan tatapan mata Marmin.
“Cepat mau bicara apa” tanya nur
“aku mau Djuli tinggal bersama ku” jawab marmin.
Nur mendongakkan kepala nya dan berkata
“jangan mimpi”ucap nur
“Kenapa ? Engkau menyia-nyiakan dia selama ini. Aku mohon jangan kau siksa anak tak berdosa itu. Aku tau semua kelakuanmu kepada Djuli. Aku tidak rela Djuli menderita” ucap marmin.
Geram rasa hati nur mendengar ucapan Marmin.
“semua karena kelakuanmu, paham” jawab nur penuh amarah
Nur pun pergi meninggalkan Marmin sendiri. Tidak terasa air matanya menetes.
Sesampai dirumah, nur menghampiri Djuli yang sedang duduk di bale-bale belakang rumah, tempat favorit Djuli. Djuli segera menggeser tempat duduknya ketika sadar ibu nya menghampiri nya.
“kamu pasti sedih kita kembali ke rumah bekas gudang ini. Kemarin bapak mu Marmin pengusaha bilang mau mengambilmu untuk ikut tinggal bersama nya. Sebaik nya kamu ikut dia daripada di sini bersama ku” ucap nur. Djuli terkejut dengan ucapan ibu nya sekaligus sedih. Nur pun meninggalkan Djuli tanpa sepatah kata apapun dari Djuli.








Jam 3 pagi

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day24
#JumlahKata402

Djuli merasa bingung bagaimana ibu nya kalo sendiri tanpa ada yang menemani.
Sore Ahad bapak marmin lama datang ke rumah mau membujuk Djuli tinggal bersama nya. Walaupun sekarang marmin tidak sekaya dulu, tapi setidaknya dia dapat merawat anak angkatnya itu apalagi menurut kabar dari para tetangga nur tidak memperlakukan Djuli layaknya anak sendiri melainkan seperti babu. Ada rasa menyesak di dada ketika tahu nur menikah lagi dengan seorang polisi hutan di desa Wonokitri membuat dia bertahun – tahun tidak bisa bertemu dengan djuliati. Akhirnya marmin memutuskan untuk mengajak Djuli tinggal bersama nya dan asih. Bersama adik – adik angkatnya. Marmin berharap Djuli akan lebih terawat jika tinggal bersama nya.
“ nak, bapak kesini mau menjemput kamu “ perintah Marmin.
“ibuk bagaimana pak, ibu sendirian kalo Djuli tinggal dengan bapak” jelas Djuli
“bapak sudah bicara sama ibu mu, dan ibu mu mengizinkan mu tinggal bersama bapak” Jelas Marmin. Djuli terdiam sejenak. Dan berbicara
“kalo begitu Djuli berkemas dulu pak” Djuli masuk ke dalam rumah bekas gudang itu dan menata baju dan peralatan sekolah. Dia sedih memikirkan ibu nya yang harus dia tinggal sendiri dan sekolah nya yang berantakan karena harus berpindah – pindah tempat tinggal.
Djuli akhirnya harus berpisah dengan ibu nya.
Sesampai di rumah marmin, Djuli terkejut tempat tinggal nya sekarang bukan rumah besar seperti dulu, melainkan rumah sederhana berlantaikan tanah. Di rumah itu selain asih dan Marmin ada Mbah dan mak. Mbah ibu dari bapak, sedangkan Mak adalah kakak bapak. Mak mempunyai anak laki – laki dan sudah bekerja mempunyai tempat tinggal sendiri. Mbah dan mak berjualan lento dan jasa cuci baju. Sekarang hari – hari Djuli membantu mereka sebelum dan sesudah sekolah.

Jam 3 pagi
“Djuli... Bangun nduk... Djuli... Bangun... Bantu Mbah menumbuk kacang” Mbah mengguncang – guncang tubuh kecil Djuli. Djuli pun membuka mata perlahan dan duduk.
“Iya Mbah” jawab Djuli
“cuci muka dulu nduk”perintah Mbah
Djuli bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi membersihkan diri. Di kuncirnya rambut nya biar ringkes. Djuli sudah duduk di dingklik membantu Mbah mengolah lento.
“begini ya nduk, yang sama besarnya” ucap Mbah
“ngge Mbah” jawab Djuli tidak terasa waktu berlalu, perlahan terdengar bunyi tarkhim dari masjid. Pertanda adzan shubuh mulai menyapa. Mbah sudah lama berjualan lento tidak satu dan dua saja pelanggannya. Rata – rata pelanggannya adalah penjual lontong mie atau warung kopi.
Ternyata tinggal bersama Marmin tidak menjadi kan dia tuan putri seperti dulu. Walaupun begitu Djuli bersyukur bertempat tinggal di rumah Marmin karena ada Mbah yang selalu menyayangi nya.









Lento

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day25
#JumlahKata402

Selepas sholat subuh para pelanggan sudah menunggu di depan rumah. Mereka takut kehabisan mendapatkan lento khas Mbah yang populer itu. Karena lento Mbah dagangan mereka terkadang sangat di minati pembeli. Lento Mbah memang enak beda dengan lento yang di jual di luaran. Di buat jajanan pun ngangeni.
“mbah, saya lento 50 biji” kata pelanggan begitu Mbah keluar membawa lento nya di tata di atas meja di teras.
“saya 100 biji mbah” sela yang lain
“kok banyak Leh, yang lainnya ga kebagian nanti” jawab mbah
“ada pesenan Mbah” jawab pelanggan
“Lagi – lagi dibatesi ya, kasihan yang lain ga kebagian”
“djuli..... Sini nduk, kamu bagian mencatat pelanggan ini minta berapa, Mbah yang bungkus” perintah Mbah kepada Djuli
“nggeh Mbah” jawab Djuli
Djuli berdiri di bangku kecil dan berteriak lantang.
“lek, yang beli baris ngge, kalo ga baris saya ga mau mencatat” seru nya. Para pelanggan pun mulai berbaris rapi sesuai perintah Djuli.
Djuli mulai mencatat pesanan di kertas kecil dan di serah kan ke Mbah agar di siapkan. Setelah semua sudah selesai Djuli bergegas membersihkan diri dan bersiap untuk sekolah. Hari itu hari pertama masuk sekolah di sekolah yang baru. Alhamdulillah, jarak antara rumah dan sekolah terbilang cukup dekat, jadi Djuli cukup berjalan kaki saja. Kemarin, bapak sudah memberitahu arah jalan menuju sekolah jadi hari ini dia berangkat sekolah sendiri. Setelah bersiap dan menenteng tasnya. Mbah menyuruhnya sarapan terlebih dahulu. Djuli merasa bahagia ada Mbah yang memperhatikan dan menyayangi nya. Setelah berpamitan dan Salim, Djuli berangkat sekolah.
Ternyata bapak sudah rapi dengan sepeda kebo nya, mau mengantar Djuli sekolah. Djuli girang bukan main ternyata hari pertama sekolah di antar bapak.
“Ayo, naik sini” perintah bapak.
“horeeeee, makasih bapak” jawab Djuli kegirangan.
Pagi ini pagi spesial bagi Djuli karena dia bersekolah di antar cinta pertama nya. Sepanjang jalan mereka berbincang – bincang dan bercanda. Subhanalloh.
“djuli, ikut Mak ngantar setrikaan ke perumahan perhutani” ucap Mak selepas Djuli pulang sekolah
“Iya Mak, Djuli makan dulu” jawab nya
“Cepet” ucap mak
Djuli segera menyelesaikan makan nya. Dan mencuci peralatan makannya. Djuli berjalan mengikuti langkah Mak dan membawa beberapa kresek baju yang siap di antar.
“Ini rumahnya Ir. Rudi yang cat krem bajunya ini” jelas Mak. Djuli hanya mengangguk dan berusaha menyimpan memori rumah – rumah orang yang memakai jasa Mak.
Besok dia harus berangkat sendiri mengantar kan baju yang sudah di setrika Mak.
Kelihatan melelahkan tapi bagi Djuli menyenangkan. Sesampai di rumah Djuli beristirahat sebentar. Sayup – sayup terdengar adzan ashar berkumandang.





Mengaji dan teman

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day26
#JumlahKata404


Mbah menghampiri Djuli yang baru saja bangun dari tidur siangnya.
“Capek Yo nduk”tanya Mbah
“djuli seneng kok Mbah, seru” jawabnya sambil tersenyum
“ayo Lang mandi siap-siap, sholat ashar dulu habis itu pake kerudung. Mbah antar ke mushola kamu belajar ngaji disana, ya” ucap Mbah.
Djuli sangat senang sekali di sinipun dia bisa belajar mengaji. Segera dia bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk sholat ashar. Setelah siap Djuli menghampiri Mbah yang sedang duduk di teras.
“Mbah, Djuli sudah siap” ucap Djuli
“masyaa Alloh, cantik kamu nduk kalo pake kerudung seperti ini. Nanti Mbah jahitkan baju dan kerudung buat ngaji, in syaa Alloh”ucap Mbah
“matur nuwun Mbah” Djuli tersipu.
Mbah dan Djuli berangkat menuju musholla yang tidak jauh dari rumah. Mbah, mengenalkan Djuli kepada Bu nyai yang mengajar mengaji di musholla. Djuli sangat senang. Djuli anak yang periang dan cerdas di tempat mengaji banyak anak yang suka padanya. Djuli mendapat banyak teman di musholla. Tidak terasa sudah masuk adzan Maghrib, Djuli dan teman – temannya segera antri mengambil air wudhu. Selesai sholat Maghrib berjamaah Djuli dan teman-temannya pulang bersama-sama. Sesampai di rumah dia makan malam dan merapikan buku sekolah untuk besok. Tidak terasa adzan isya berkumandang. Djuli segera meletakkan buku di tas dan segera mengambil air wudhu dan sholat isya, selesai sholat isya segera dia beristirahat karena besok jam 3 dia harus membantu Mbah mengolah lento. Dari dapur Mbah memperhatikan apa yang dilakukan Djuli dari tadi. Mbah tersenyum, Djuli adalah anak yang mandiri dan bertanggung jawab atas kewajibannya. Selesai mempersiapkan bahan – bahan Lento untuk di olah dinihari, Mbah menghampiri Djuli dan membetulkan selimut lusuh yang menutupi tubuh kecil yang beranjak remaja itu. Mbah merasa sayang kepada Djuli, walaupun Djuli bukan darah daging dari anaknya.
Di usap kepala Djuli dengan lembut, Mbah bergumam “ kasihan kamu nduk “ Dinihari jam 3 malam, Djuli sudah terbangun dari tidurnya. Setelah membersihkan tempat tidur dan membasuh wajah, Djuli menghampiri Mbah yang sudah sibuk di dapur mengolah Lento.
“ Kamu sudah bangun nduk. Itu kacang nya yang harus di bulat – bulat” ucap Mbah
“ iya Mbah” jawab Djuli
Segera dia duduk di dingklik dan menghadap di tampah yang isi kacang yang sudah di haluskan. Dengan cekatan dia membulat – bulatkan kacang yang sudah halus itu. Tidak terasa bunyi tarkhim sudah berkumandang, sebentar lagi adzan shubuh. Para pelanggan sudah ada yang parkir di depan rumah sambil minum kopi. Setiap hari selain menjual lento, mbah juga menjual kopi dan ketan bubuk.


Puisi djuli

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day27
#JumlahKata402

Setelah semua selesai, Djuli bersiap untuk berangkat ke sekolah. Kali ini dia berangkat sekolah sendiri, berjalan kaki. Ternyata menyenangkan juga berangkat sekolah berjalan kaki, karena di jalan bertemu beberapa teman yang berangkat sekolah juga. Sesampai disekolah djuli bermain bersama – sama temannya sambil menunggu bel sekolah masuk. Ketika bel sekolah berbunyi para murid berbaris di halaman sekolah dan melaksanakan senam kesegaran Jasmani bersama – sama. Setelah selesai bersenam mereka berbaris di depan kelas masing – masing. Bu rohmah walikelas 6 masuk ke dalam kelas. Hari ini pelajaran pertama bahasa Indonesia. Semua murid memperhatikan penjelasan Bu rohmah. Bu rohmah memberikan tugas membuat puisi sesuai materi pelajaran bahasa Indonesia kali ini.

“Djuli, coba ke depan. Bacakan hasil puisi mu” ujar Bu rohmah. Djuli segera maju ke depan kelas dan membaca kan puisinya. Semua murid memperhatikan puisi yang di bacakan Djuli di depan kelas. Terdengar tepuk tangan riuh di kelas 6. Djuli jadi tersipu mendapat tepuk tangan teman – teman dan guru nya.
“ Terima kasih Djuli, puisi yang kamu bacakan bagus sekali” ucap bu rohmah sambil tersenyum bangga. Djuli berbakat dibidang bahasa sepertinya. Tak terasa bel istirahat sudah berbunyi, murid – murid berhamburan keluar kelas. Ada yang ke kantin sekolah, bermain dihalaman sekolah dan duduk – duduk di teras kelas. Di sekoalh Djuli suka berteman dengan anak laki – laki. Permainan yang disukai mereka bermain bola kelereng, Djuli tidak ikut bermain hanya melihat mereka saja. Seperti siang ini, Djuli duduk dan membuka bekal yang di siapkan Mbah subuh tadi. Ketan bubuk dan air putih. Sambil makan dia melihat teman – teman nya bermain kelereng.
Bel masuk sekolah berbunyi lagi, Djuli dan teman – teman melanjutkan pelajaran selanjutnya.
Sepulang sekolah djuli segera berganti pakaian dan membersihkan diri. Mbah sudah menyiapkan makan siang buat Djuli.
“mbah, apa Mbah ga ada piring selain piring ini” tanya Djuli
“ kenapa nduk” jawab Mbah
“aku ga mau makan pake piring seng Mbah” kata nya
“Oalah, nanti mbah belikan piring kaca, sekarang pake piring ini dulu ya nduk” ucap Mbah sambil tersenyum. Dari ruang depan terdengar suara Mak yang sibuk menyetrika baju yang setelah beres akan di antarkan Djuli ke empu nya.
“Walah, gitu aja kok. Mbok ya sembarang djul pake piring apa yang penting makan”
Mbah hanya terdiam dan membatin, lha mungkin karena dari kecil dia hidup kaya makanya dia ga mau makan piring seng.
Setelah selesai makan, Djuli pun bersiap.
" Masih ingat kan rumah Ir Rudi" tanya Mak, Djuli hanya mengangguk.
"Hati - hati nduk di jalan " ucap Mbah mengkhawatirkan nya.


Aku anak siapa

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day28
#JumlahKata402

Djuli membunyikan bel yang terletak di samping pagar dengan kayu yang sengaja ia bawa untuk memencet bel karena letak bel tinggi, tetapi yang keluar bukan empunya melainkan anjing tuannya yang menggonggong. Djuli pun segera menjauh dari pagar hampir dia lari meninggalkan pagar rumah Ir. Rudi. Terdengar pembantu Ir Rudi berteriak memanggilnya.
“Hai nduk, tunggu” Pembantu Ir Rudi menghampiri Djuli yang ketakutan “ Jangan takut si bleki di ikat kok” jelas ibu pembantu. Djuli segera memberikan bungkusan baju – baju yang dia bawa.
“berapa ?” tanya pembantu Ir Rudi
“15.000 Bu” jawab Djuli
Tunggu sebentar saya ambilkan uang nya. Sekarang Djuli sudah tidak takut lagi ternyata si bleki sudah di ikat sama pemiliknya.
Setelah menerima uang, Djulipun segera pulang. Sesampai di rumah dia serahkan uang cucian kepada emak. Sebelum tidur siang, tidak lupa Djuli sholat dhuhur dahulu. Alhamdulillah selama tinggal di rumah bapaknya, Djuli merasa senang. Karena di sana ada Mbah dan emak yang selalu menyayangi nya. Sore itu Djuli bersiap hendak ke musholla belajar mengaji.
“Mbah, Djuli berangkat ngaji dulu” pamit Djuli
“eh, sudah rapi kamu nduk. Belajar yang giat ya jadi anak Sholehah” pesan Mbah
“insyaa Alloh Mbah” Djuli mencium tangan Mbah. Djuli sangat senang ketika di musholla membantu Bu nyai dan memperhatikan cara mengajar Bu nyai. Semua terekam kuat di ingatannya. Djuli bercita – cita menjadi seorang guru agama.
Hari – hari dilalui Djuli penuh dengan semangat, sampai dia lupa akan ibu nya yang sendirian di rumah bekas gudang itu. Siang itu sepulang dari mengantar cucian, Djuli merenungi siapa diri nya walaupun dia tinggal di dekat Marmin tapi dia merasa bahwa Marmin bukan bapak nya dan nur bukan ibu nya. Di ingatnya perlakuan nur kepadanya diri nya begitu kasar dan membabi buta ketika memukul dan mencubiti nya. Di lihat nya kaki dan tangannya di rabanya luka bekas pukulan dan cubitan itu, walaupun begitu dia merasa kasihan kepada ibunya dan kangen.
“Djuli... Sedang apa nduk. Kamu ga tidur siang nanti ngaji ngantuk” suara Mbah membuat Djuli terkejut. Dihampiri dan di elus nya kepala djuli perlahan.
“Sabar ya nduk” seperti nya Mbah tahu apa yang sedang dirasakan Djuli. Tidak terasa air mata nya menetes.
“aku kangen ibu, mbah” kata Djuli
“kangen di cubiti sama ibu mu” jawab Mbah
Djuli hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Mbah.
"Mbah, apa bener aku ini anak bapak marmin dan ibuk nur” tanya Djuli
“kenapa kok tanya gitu, lah terus kamu kok bisa disini kalo bukan anak bapak mu kamu anak siapa ?” jawab Mbah

Gelisah

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day29
#JumlahKata402

“kalo aku anak nya bapak marmin dan ibu nur, aku ga seperti sekarang Mbah, aku kayak ga di hiraukan sama mereka. Ibu nur jahat banget sama aku Mbah, waktu tinggal sama ibu. Aku sering dimarahi, di cubit, dipukul. Bapak juga kalo aku anaknya pasti bapak masih sama ibu bukan sama lek sih. Aku anak siapa mbah sebenar nya?” Djuli mencurahkan isi hati nya yang terpendam dari dulu. Kalo benar dia anak Marmin dan nur pastilah akan menyayangi nya sepenuh hati. Di peluknya tubuh yang beranjak remaja itu sambil mengelus kepala nya.
“Sabar nduk, sudah sana tidur siang nanti ngantuk pas ngaji” ucap Mbah sambil tersenyum. Djuli beranjak dari tempat duduknya dan segera memejamkan mata. Di usia beranjak remaja Djuli mulai merasakan bahwa dirinya bukan anak kandung bapak marmin dan ibu Nur. Dari awal datang ke musholla, Djuli lebih banyak diam dan melamun. Bu nyai yang dari tadi memperhatikan Djuli, bertanya kepada Djuli mengkhawatirkan keadaan Djuli.
“nduk, kamu kenapa? Kok diam saja” tanya Bu nyai dan menyentuh pundak Djuli. Djuli terkejut dan hanya tersenyum karena kaget. Bu nyai membalas senyum Djuli dan mengulangi lagi pertanyaan nya.
“kamu kenapa nduk, sakit ?” tanya Bu nyai lagi. Djuli menggeleng dan berkata “ tidak Bu nyai, saya sehat – sehat saja” jawabnya
“kok diem aja dari tadi” ucap Bu nyai biasanya kan ceria main sama teman – teman. Djuli menatap dengan mata berkaca – kaca, ingin menceritakan semua keluh nya kepada Bu nyai.
“ Bu nyai mau mendengar keluh kesah saya ?” harap Djuli. Bu nyai mengangguk pelan.
“Bu nyai, saya merasa kalo saya bukan anak bapak marmin dan ibu nur” sambil Djuli menunjukkan bekas cubitan dan pukulan Nur. Bu nyai kaget di kaki Djuli banyak bekas – bekas luka.
“Apa Bu nyai juga mencubiti dan memukul anak Bu nyai” Djuli tertunduk
“Kenapa ibu saya begitu kepada saya” ucap Djuli. Sambil mulai terisak Djuli berkata lagi “ kalo dia ibu kandung saya, tidak mungkin melakukan ini. Ya kan Bu nyai? “
Tanpa terasa Bu nyai pun menangis, tampak bulir – bulir air mata itu saling berdesakan berjatuhan. Dipeluknya Djuli dan mereka berdua menangis. Selama ini dia tidak begitu memperhatikan siapa Djuli, hanya tau cucu Mbah penjual lento.
Sesaat kemudian Bu nyai berkata” Djuli, dengarkan nasihat Bu nyai. Siapapun orang tua Djuli itu tidak penting. Djuli harus bersyukur sekarang ada Mbah yang menjaga dan menyayangi.
Sekarang yang utama Djuli harus fokus mencari ilmu. Biarkan saja itu urusan orang tua. Sabar ya nduk, semua in syaa Alloh ada balasannya.











Secercah harapan

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch47
#Kelompok05Gempita
#Day30
#JumlahKata404

 

Kamu kuat jangan memikirkan hal itu terus. Maafkan semua kesalahan ibu Nur dan bapak Marmin. Nanti pada saatnya Djuli akan paham kenapa bapak dan ibu begitu” nasihat Bu nyai. Bu nyai tersenyum menatap Djuli.
“semangat ya, ayo senyum mainan sana, Djuli anak pandai dan kuat tidak boleh menyerah harus berusaha menjadi anak sholihah” Bu nyai memberikan semangat.
Djuli memahami apa yang di ucapkan Bu nyai. Siapa diri nya itu tidaklah penting, yang terpenting sekarang bagaimana dia menjalani kesehariannya. Mensyukuri semua yang diberikan Alloh, orang – orang yang disekelilingnya ada Mbah, emak, bapak Marmin dan Lek sih yang selalu memperhatikan nya, merawatnya dan menjaga nya. Memaafkan semua yang telah dilakukan ibu Nur terhadap nya. Nasihat Bu Nyai membuatnya tenang seakan ada hembusan angin lirih menelusup di dalam dada semilir sejuk terasa.
Djuli menghembuskan napas panjang. Tetapi tetap saja keinginan Tahuan dia, apakah dia anak kandung Marmin dan Nur selalu saja membuncah menjadikan teka teki yang sulit baginya terpecahkan. Bahkan Mbah saja berusaha menutupi apa yang sebenarnya tentang diri nya. Djuli tersenyum hangat kepada Bu nyai dan mengucapkan terima kasih atas nasihatnya. Djuli pun bangkit dari duduknya dan berbaur dengan teman – teman nya bercanda dan bermain. Bu Nyai menyeka air matanya perlahan, merasa kasihan dengan nasib Djuli. Dalam hatinya tersisipkan do’a kepada Djuli, semoga Alloh mudahkan semua urusan mu, nduk.
Di atas sajadah hijau lusuh ini, akhirnya dia menemukan jalan bagaimana dia kelak bisa menemukan kebenaran itu.
Selesai sholat isya dia teringat pesan Bu Nyai dia harus semangat menjalani hidup.
“betul nasihat Bu nyai” gumamnya
“Harusnya aku sekarang harus berusaha menjadi anak sholihah dan pandai, agar kelak setelah aku besar dan bisa mempunyai uang sendiri. Aku akan mencari sendiri kebenaran siapa diri ku ini” bisiknya dalam hati.
Seperti mendapat energi baru, tiba – tiba Djuli menjadi sangat bersemangat. Sebelum tidur di tata buku pelajarannya buat besok dan segera tidur karena jam 3 dinihari dia harus membantu mbah mengolah lento. Di lihat nya Mbah sudah tertidur pulas dan jam menunjukkan pukul 9 malam. Djuli pun memejamkan mata nya setelah membaca Taawudz, ayat kursi dan 3 qul masing – masing 3 kali di tiup di tangannya dan di usap ke badan yang terjangkau.
Jam 3 dinihari ketika Djuli bangun, Mbah seperti biasa sudah memasak ketan, menyiapkan kacang buat lento dan menyiapkan bubuk kopi dan gula aren buat para pelanggan nya. Djuli yang baru bangun setelah ke kamar mandi dengan cekatan mengepal2 kacang dengan besar yang sama untuk dijadikan lento. Di pandangnya mbah, semoga umurnya panjang.

















Mungkin saja kamu suka

Asmarani Syafir...
Alif Kecil dan Mimpi Pelangi
Husnul Khotimah
Hi, Doctor!
Nona Icha
Love Me More

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil