Loading
18

0

3

Genre : Inspirasi
Penulis : Ervina Liliana
Bab : 12
Pembaca : 5
Nama : Ervina Liliana
Buku : 2

Seorang Bunda dan Para Lelakinya

Sinopsis

Sakura sedang dalam perjalanan menuju Surabaya. Dia sedang "melarikan diri" dari masalahnya. Di atas kereta, dua perempuan beda generasi menjadi teman sampai ke tujuan. Bunda Dahlia dan Kak Kenanga menyuguhkan percakapan yang seru, menarik dan penuh hikmah bagi Sakura. Bagaimanakah kisah Bunda Dahlia dan Para Lelakinya yang membuat Sakura menyadari bahwa keputusannya ke Surabaya adalah salah? 
Tags :
#NULISDIBUKULAKU #GEBYARLITERASIINDONESIA

Cinta Semut

4 3

 

"Sakura! Hati-hati di jalan! Cepet pulang!" 

Berisik banget sih nih anak

"Dah, Mel! See you again!" Aku sengaja melambaikan tangan supaya Melati cepat berlalu. 

Aku mendapat bangku di bagian jendela kereta cepat ini. Aku bertanya-tanya siapa yang akan menjadi teman seperjalananku. Di depanku juga ada dua bangku kosong yang disekat meja. Ku peluk bantal boneka pemberian Ibu dan tercium harum kain yang baru di-laundry. Mmm, I've already miss Ibu.

"Di sini bangku kita sepertinya, Nang." 

Seorang ibu yang kira-kira berusia empat puluhan dan anak gadisnya yang berumur dua puluhan, menempati bangku di depanku. Mereka tersenyum ke arahku. Aku membalas senyum mereka, tipis saja. Apa tadi? Nang? Atau Nak?

"Sendiri saja, Anaknya?" Si Ibu bertanya kepadaku. 

"I … iya, Buk."

"Berani ya … sendirian. Ini perjalanannya lumayan panjang loh sampai Surabaya. Anaknya tahu, kan?" 

"Insyaallah tahu, Buk. Sembilan sampai sepuluh jam. Kan, sekarang bersama Ibuk dan Kakak. Nanti di Surabaya bakalan dijemput Mas Daffo, kakak saya."

"Oh, gitu. Kenalan kita dulu. Saya Dahlia. Dan ini anak saya Kenanga." Kami saling merapatkan tangan di depan dada karena tempat duduk yang lumayan berjarak.

"Saya Sakura." 

"Wah … nama kita nama-nama bunga semua ya. Kebetulan yang indah." Kak Kenanga berujar dengan riang. 

Oh, berarti tadi aku gak salah dengar, dong. Memang Bu Dahlia menyebut 'Nang' dari kata Kenanga. 

"Bun. Bunda gak mau mengalah nih. Sesekali Kenang di dekat jendela, dong," rengek Kak Kenanga. 

"Nggak mau. Pokoknya Bunda harus di jendela. Bunda butuh melihat pemandangan karena Bunda nggak bisa tidur kalau dalam perjalanan. Trauma."

Trauma? Trauma apaan ya? Eh, kok aku jadi nguping gini.

Kak Kenanga hanya bisa memonyongkan bibirnya dan menghempaskan pantatnya tanda protes. Bunda Dahlia tidak peduli. Kombinasi ibu dan anak yang menarik. 

Kereta mulai bergerak. Aku sendiri di bangku ini. Yes

Aku menikmati perjalanan yang baru berlangsung lima menit ini. Jek! Aku menghilang sesaat dari peredaran. 

"Sakura ngantuk ya … tidur saja, Nak. Biar kami jagain. Tidur aja kayak di tempat tidur. Toh, gak ada juga yang ngisi bangkunya." 

Aku mengangguk bukan karena mau mengikuti saran Bunda Dahlia tapi karena aku sedang malas berbual. Suasana hatiku masih buruk atas apa yang menimpaku. Kubaringkan badanku menghadap ke mereka. Aku menaruh jaketku menutupi bagian pinggul. Aku menutup mataku dan mencoba menikmati kesenduan suasana di atas kereta api yang berjalan tenang dengan iramanya yang stabil. 

"Bun."

"Opo?" 

"Bunda janji mo cerita yang itu tu. Yang waktu itu Bunda bilang kalo Bunda punya banyak heroes pas kita nonton film produksi Marvel itu loh." 

"Oh iya ya. Okelah. Pas banget ora ono bapakmu."

"Lah memang kenapa kalo ada Bapak?"

Iya. Kenapa? Apa ada yang dirahasiakan? Aku juga penasaran. 

"Biar gak cemburu. Kan yang diceritakan cowok semua." 

Wah, mantap jiwa. Ternyata Bunda Dahlia punya banyak lelaki dalam hidupnya

Aku membuka telingaku lebar-lebar. Aku juga mau menjadi saksi yang menyimak pengalaman hidup seorang Bunda Dahlia. Berharap, semoga bisa menghibur hatiku yang sedang gundah gulana.

Mereka lagi ngapain ya. Kok sepi? Apa mereka pindah bangku

Aku hampir membuka mataku ketika akhirnya mendengar suara decakan seperti orang yang sedang mengunyah sesuatu. Aku menunggu. 

"Waktu Bunda TK, ada anak keturunan Tionghoa yang ternyata diam-diam memperhatikan Bunda." 

TK

"Te Ka? Bunda sudah punya cowok dari TK?" 

"Kamu ini … masa mikirnya sejauh itu? Kalo cinta monyet sih, pas SMP lah." 

"Cinta monyet pas SMP. Lah kalo TK, cinta semut. Kecil-kecil." 

Aku membayangkan Kak Kenanga menyebutkan semut sambil menjentikkan jempol ke telunjuknya dan membuat wajah meremehkan. Ups! Aku gak boleh tertawa

Bunda Dahlia bilang kalau nama anak laki-laki itu Peter. Dia sangat menonjol di antara teman-teman TK-nya karena matanya yang sipit sedangkan Bunda dan teman-teman adalah anak pribumi asli. Peter juga adalah anak yang paling rapi dan selalu berpakaian bagus di saat hari berpakaian bebas. Dia cucu bangsawan Tionghoa yang mempunyai banyak toko di kota kelahiran Bunda di Sumatera. Teman-teman Bunda yang lain adalah dari keluarga sederhana sama seperti Bunda. Namun dibandingkan yang lain, Bunda adalah anak yang paling kurus dengan rambut keriting kriwil dan paling gelap kulitnya.  

"Trus, si Peter itu ngapain sampai Bunda tergila-gila." Kak Kenanga sepertinya bukan orang yang sabar mendengarkan.

"Bunda selalu diganggu sama anak-anak yang lain. Setiap kali ada pembagian snack, mereka akan merebut punya Bunda dan bilang kalau mereka masih lapar. Kalau Bunda mau main ayunan, misalnya, di taman bermain, mereka akan mendorong Bunda. Mereka bilang 'nanti kamu jatoh, kan badanmu kecil." 

Kok Bunda diam saja sih … melawan dong. Lah, kok aku yang sewot. 

"Padahal, Bunda bukannya yang loyo kerempeng gitu. Bunda jago lari dan memanjat tapi teman-teman yang nakalin Bunda tu, buntelan beras semuanya. Maksudnya, mereka tukang makan. Badan mereka bulat padat. Bunda males aja ngelayanin." 

Buntelan padat … hi hi hi … 

Bunda meneruskan ceritanya tentang Peter. Suatu kali ada acara menari bersama seluruh TK di kota itu. Yang membuat Bunda heran adalah Peter hanya mau berpasangan dengan Bunda. Dan setelah acara pun, Peter selalu mendampingi Bunda. Bahkan, dia berani melawan teman-teman yang lain. 

"Pernah satu kali, Bunda sedang main ayunan. Salah satu teman yang gemuk padat itu mendorong ayunan Bunda kuat-kuat sehingga Bunda tersungkur dan Bunda mendapat lecet dari dahi hingga kaki." 

"Peternya mana? Kok nggak bantuin?"

Sama Kak … aku juga mau tahu.

"Ternyata teman Bunda itu sudah merencanakan semuanya. Jadi, si Peter ini kan suka serangga, dia bilang ke Peter kalau dia lihat ada kupu-kupu yang sayapnya sakit. Pergilah Peter ke sana dan teman itu melaksanakan niatnya ke Bunda."

Jahat … sama seperti dia

"Waktu Bunda gak masuk sekolah. Peter dan Maminya datang ke rumah Omamu buat menjenguk Bunda. Bunda gak tahu kalau mereka adalah langganan di toko makanan Oma. Yang Bunda gak tahu lagi, ternyata Oma pernah bilang ke Peter untuk menjaga Bunda di sekolah karena badan Bunda yang kecil. Dan seperti yang kamu tahu, dia menepati janjinya." 

 

 

 

 

 

 

user

28 October 2021 16:47 Des Ditariani Semangat kak :)

user

29 October 2021 01:53 Ervina Liliana Thank u!

user

29 October 2021 14:56 Aisyah humayroh(y.aliyah) Kerenn

Kawan Bermain

2 2

Dia menepati janji. Orang itu juga menepati janjinya untuk menjagaku tapi aku marah

"Jadi, si Peter tu …" Kok berhenti Kak Kenanga?

"Si Peter. Si Peter. Dia seumuran dengan Bunda loh. Pasti dia sudah jadi bapak yang baik bagi anak-anaknya."

Kayaknya, Bunda menghentikan omongan Kak Kenanga. Ntah ditutup pakai telunjuk, ntah dibekap mulutnya. Ah, apa lebih baik aku bangun saja ya? Tapi … nantilah.

"Baiklah. Mudah-mudahan OM PETER memang seperti harapan Bunda atau Bunda memang tahu?" Kak Kenanga memberi tekanan pada nama untuk menggoda Bunda Dahlia. 

"Nggak tahu. Soalnya, dia pindah ke Jakarta tamat dari TK." 

Aku salut dengan orang seperti Bunda Dahlia dan Ibu. Mereka bisa selalu berpikiran positif terhadap orang lain. Bahkan, walaupun sudah lama tidak berjumpa, mereka akan mengenang orang itu dengan kebaikan. Seluas apa sih dada mereka? 

Orang itu … Apakah dia sekarang mencariku? Atau dia tak peduli? Aku tak peduli!

Bunda Dahlia dan Kak Kenanga suka ngemil kelihatannya. Dari tadi, jeda pembicaraan mereka karena mereka mengunyah makanan. 

"Sekarang ceritanya tentang cinta meong?" 

"Kamu ini. Gak semua dipakein label cinta." 

Bunda Dahlia bilang bahwa dia akan bercerita tentang masa sekolah dasarnya. Bunda mengatakan ketika naik kelas dua, kakeknya mengajak merantau ke Kota Semarang. 

"Datuk Bunda, Puyangnya kamu, kan seorang mubaligh. Jadi, dia sering berpindah tugas berdakwah. Sebenarnya, beliau bertanya kepada para cucunya siapa yang mau ikut karena hanya Puyang Puan yang ikut padahal Datuk biasa berkumpul dengan banyak cucu. Kok gak pada njawab, ya. Bunda pikir mau ikut ke pasar. Ya Bunda angkat tangan aja." 

"Edisi kecelakaan ceritanya nih." 

Celetukan Kak Kenanga ada-ada saja. Ups! I almost smile … senyum ketika tidur pasti aneh

"Sampai di Semarang, Bunda syok."

"Why?" 

“Pertanyaan pas Bunda kenalan adalah 'Bapakmu gelarnya apa?' Itu ditanyakan salah seorang teman perempuan Bunda pada hari pertama pindah ke sebuah SD di pinggir jalan protokol di Semarang."

Hah? Anak SD kok pertanyaannya serumit ini ya. 

“Bunda jawab saja 'Papaku tamat SMEA'. Mereka cuma bilang 'Ooooh…' terus Bunda ditinggal gitu aja." 

"Gak nanya nama?" 

"Nggak. Dan tak satupun anak perempuan mau bermain bersama Bunda. Mereka berkelompok sesuai derajat gelar orangtua masing-masing. Tapi anehnya, saat musim permainan bekel atau lompat tali, mereka akan memperebutkan Bunda untuk jadi induk. Bunda jago mempermainkan segala macam permainan karena Bunda selalu bermain sendiri dan mengasah kemampuan. Setelah selesai permainan, mereka akan meninggalkan Bunda, just like that!"

Ada bunyi jentikan jari? Pasti Bunda Dahlia!

"Yang nggak enaknya lagi, salah satu dari mereka akan mendekat pada Bunda di waktu mereka “clash” satu sama lain. Bunda akan diservis habis-habisan. Bunda akan diseret kemanapun. Bunda menjadi penampung cerita “galau”. Bunda menjadi tameng tempat bersembunyi ketika teman-teman ‘sebenarnya’ lewat. Tiba-tiba, kok sepi. Oh, sudah baikan toh. Back to square one!" 

Bunda Dahlia, bahasa Inggrisnya gak neko-neko kayaknya.

"Yang paling ‘menyakitkan’ adalah mereka hanya membutuhkan Bunda ketika harus pergi ke ‘belakang’. 'Yuk, temani aku ke WC, nanti tak traktir kamu ke kantin.' Bunda bukannya termakan bujukan tapi memang lebih sering waktu ‘mengeluarkan hasrat-nya’ bersamaan. Jadilah Bunda orang yang antri paling belakang masuk toilet, bukannya apa-apa, mereka bilang antriannya berdasarkan usia. Entah darimana mereka tahu, tapi memang benar Bunda yang paling muda di kelas karena Bunda masuk sekolah lebih cepat setahun."

Bunda Dahlia mengambil nafas. 

Aku mendengar Bunda Dahlia bilang kalau SD-nya di Semarang bekas rumah sakit pada zaman kolonial Belanda. Banyak cerita seram yang dikisahkan oleh para guru, pegawai administrasi, dan kakak-kakak kelas. Ada kisah kaki yang berjalan sendiri, ada tengkorak yang tiba-tiba meletakkan tulang tangannya di bahu pustakawan, ada suara erangan tanpa wujud, ada bayangan suster yang sedang memeriksa pasiennya, dan lain sebagainya.

Kamar kecil sekolah Bunda memang jadi ‘momok’ yang menakutkan karena letaknya jauh di belakang sekolah dan jauh dari keramaian lingkungan. Ada dua kamar kecil berukuran besar yang membuat suasana di dalamnya menjadi begitu mencekam. Kita akan dibuat membayangkan hal-hal aneh dan mendengar suara-suara asing ketika kita berada di dalamnya. Padahal yang terjadi adalah sesuatu yang logis. Karena ruangannya terlalu besar, pencahayaan jadi sangat kurang. Mata kita yang membawa terang dari luar menjadi kabur karena suasana yang temaram. Kalau masalah suara, itu berasal dari atas kamar kecil yang dinaungi pohon besar sehingga daun-daun bergemerisik bergesekan dengan atap.

"Mungkin sudah mulai bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Benar, ketika giliran Bunda masuk ke kamar kecil, mereka semua kabuuuur..... Tinggallah Bunda menyelesaikan hasrat dengan hati nelangsa. Bukan karena ditinggalkan sendirian, tapi lebih kok ya aku bego banget gini toh, sudah beberapa kali dibeginikan masih mau saja dibawa-bawa terus. Am I too kind?" 

Lagi-lagi … English

"Nang juga mikir, kok Bunda mau aja digituin. Kesel ndengernya, Bun." 

Aku juga kesel, Kak. Tapi juga kasihan sama Bunda Dahlia.

"Tapi kan Bunda baru mau cerita kalau kemudian ada anak laki-laki yang mengajak Bunda bermain. Namanya Danang. Dia bilang 'Hei, biarkan saja mereka. Mereka, anak-anak perempuan itu memang begitu. Kamu main dengan kami saja.' Trus Bunda nanya 'Hah? Mau main apa?' 'Main Benteng!'Tu lain kali, 'Yuk, main Calabur!' Sudah tulain waktu, 'Ssstt, kita ke rumah kosong di samping sekolah.' 'Ngapain?' 'Main kelereng.Next time, 'Woi, kumpuuuuuul! Sekarang kita main petak umpet, siapa yang paling banyak menemukan persembunyian orang, tak traktir es dawet 7 kali!' Bunda juga ikutan menjawab 'Oke!”

Wah … Bunda seperti mendongeng. Asyik kayaknya kalo Bunda sudah mulai bercerita.

Anak-anak laki-laki menjadi teman-teman yang ‘fair’ bagi Bunda karena mereka tidak melihat status. Bunda jadi lebih nyaman bermain bersama anak-anak cowok karena mereka apa adanya. 

Bunda cerita kalau pernah ada percakapan begini dengan teman-teman lelakinya. 

“Wahyu, kok mobilmu nggak pernah sama?”

“Mobilku memang banyak, di garasi ada sebelas, di luarnya ada tujuh.”

“Uhuk... Emang rumahmu segede apa?”

“Mau tau rumahnya Wahyu sebesar apa?”

“Tuh, sebesar bukit di sana!”

“Kok masih mau main sama aku? Aku ini nggak punya mobil loh. Rumahku juga rumah perumnas.”

“Memangnya kenapa? Yang punya mobil sama rumah kan bapakku. Sama toh, kita, nggak punya apa-apa.”

Akupun terkesima. 

 

 

 

 

user

28 October 2021 16:47 Des Ditariani Chayoo Akak ????

user

29 October 2021 01:53 Ervina Liliana Yes!

Gentleman Adik

1 0

Aku juga belum punya apa-apa. Ongkos ke Surabaya masih nodong Mas Daffo. Egois ya, aku. 

"Cinta monyet kah sekarang?" Kak Kenanga memecah suasana.

"Belum. Yang berikutnya pas Bunda Kelas 6."

"Oh, waktu Bunda dititipkan Oma ke Yang Ti?" Kak Kenanga teringat sesuatu. 

"Yes! Yang Kung selalu cerita itu ke kalian ya."

Anak Bunda Dahlia sepertinya bukan hanya Kak Kenanga. 

"He-eh … kadang sampe bosen, Bun." 

"Maklum sajalah. Kamu juga ntar kalo sudah tua akan mengulang-ulang kenangan. Apalagi kalau yang spesial." 

Begitukah? Aku dan dia, akankah berakhir istimewa kalau aku lari begini? 

"Tapi, Nang kan selama ini denger ceritanya dari sisi Yang Kung. Bunda selalu pergi kalau Yang Kung mulai ngomong. Anything happened?"

I'm curious … a lot … 

"Hhhh … sebenarnya Bunda ingin menyimpan ini lebih lama tapi Nang sudah besar. Rasanya Nang sudah ready untuk tahu."

Ah … aku boleh denger gak sih. Kayaknya rahasia keluarga nih. Minta ampun, Ya Allah

"Bunda sebenarnya sudah menyiapkan diri terutama mental untuk tinggal dengan orang lain. Apalagi masih kerabat dekat. Hhh …"

Berat. Tidak mudah untuk menceritakan kesedihan. Aibkah?

"Kalau Yang Ti dan Yang Kung memperlakukan Bunda sama seperti anak-anak mereka. Tapi, gak begitu dengan sepupu-sepupu Bunda." 

Sepupu Bunda Dahlia ada tiga orang. Yang paling tua, sebut saja Sepupu Satu, perempuan dan lebih muda setahun. Dia anak kesayangan Yang Ti karena pintar dan rajin belajar seperti Yang Ti. Sepupu Dua, laki-laki dan beda dua tahun. Dia paling suka olahraga terutama main sepakbola. Sepupu Tiga, laki-laki dan beda lima tahun. Dia anak yang ceria dan kalau bisa dia maunya bermain sepeda sepanjang hari. 

Sepupu Satu merasa kalau Bunda Dahlia adalah saingan. Saking tidak maunya berbagi kamar, dia minta dibuatkan kamar baru. Dia selalu berbicara dengan nada tinggi dan kasar. Dan di sekolah, dia tidak mau orang tahu kalau mereka sepupuan. Dia selalu bilang kalau Bunda adalah pembantunya. 

"Tapi, Tante baik-baik saja selama ini," ujar Kak Kenanga. 

"Karena prasangkanya gak terbukti. Lagipula ketika sudah dewasa, Tantemu seperti orang yang hilang ingatan. Dia selalu bilang 'ga ingat ah pernah begitu, bukannya kita teman baik waktu itu.' Bunda yang 'Hah?' Ya sudahlah." 

Enak ya kalau gak ingat apa-apa … aku juga mau hilang ingatan

Sepupu Dua, yang sangat aktif, memiliki tempat olahraga sendiri di halaman depan rumah mereka yang megah. Dia punya palang senam, susunan ban warna-warni, balok titian, tali memanjat dan lapangan kecil bergawang satu. Itu adalah playground kesayangannya. Sejak Bunda Dahlia ada di rumah mereka, Bunda adalah teman main "terbaik" buatnya. 

Setiap ada waktu senggang, Sepupu Dua akan mengajak Bunda menjadi penjaga gawang. Bunda juga suka berolahraga, jadi Bunda merasa asyik saja. Hanya saja, lama-kelamaan Bunda jadi capek dan badan Bunda pegal-pegal. Awalnya Bunda merasa itu hal wajar karena tidak bisa dihindari kalau penjaga gawang akan terkena bola yang ditendang. Namun kemudian, Bunda melihat kalau Sepupu Dua memanfaatkan Bunda untuk menjadi sasaran tembak bola. Dia sengaja mengejar posisi Bunda supaya bisa dikenai tendangan bolanya. Dan seringkali Bunda melihat dia menyeringai atau tersenyum puas setelah "menyiksa" Bunda Dahlia. 

Kok serem

"Laki-laki seharusnya jadi pelindung perempuan."

Bener, Kak. Dia seharusnya melindungiku juga

"Apa Om Bungsu juga jahat sama Bunda?"

"Gak bisa dibilang jahat sih. Dia sangat suka main sepeda tapi gak pandai-pandai main yang tanpa roda bantu. Ntah kenapa, Om Bungsu gak pernah bisa menyeimbangkan badannya." 

"Om Bungsu bisa bawa motor kok."

"Itu karena dia sudah diterapi." 

"Memang Om sakit apa?" 

"Om Bungsu tidak bisa bicara dengan benar sampai dia Kelas Empat dan postur badannya memang miring. Jadi Yang Ti membawa Om Bungsu ke Rumah Sakit buat diterapi."

"Oh gitu. Pantes Om ngomongnya cadel ya."

"Iya. Jadi Om Bungsu selalu membawa Bunda bermain sepeda. Dia selalu meminta Bunda mengikutinya." 

"Kan Bunda pakai sepeda juga?"

Bunda Dahlia sepertinya tertawa kecil tapi sumbang. 

"Nggak. Bunda disuruh mengejar dari belakang. Kalau dia kecapean, Bunda harus mendorong atau menarik sepeda beserta Om-nya sampai ke rumah Yang Kung lagi." 

Ya Allah. Itu juga penyiksaan secara gak langsung.

"Bundaku kasihan …" Kak Kenanga mungkin memeluk Bunda Dahlia sekarang. 

Suasana menjadi hening. Hanya suara jalannya kereta yang terdengar. 

Bunda mungkin sedang menenangkan Kak Kenanga. Aku mendengar tepukan lembut di pundak. Seperti Ibu. 

"Rasa sakit Bunda diobati oleh anak Kelas Empat yang tinggal di sebelah rumah Yang Ti. Namanya Brilly. Anaknya hitam manis. Yang Bunda suka adalah bibirnya kalau lagi bicara. Bibir tipisnya akan berbentuk segitiga." 

Bunda mengatakan kalau Om Brilly ini badannya atletis untuk ukuran anak-anak. Dia ikut Pramuka dan Karate. Kulitnya hitam karena suka beraktivitas di bawah matahari. Dia jadi lawan yang tangguh buat Sepupu Dua Bunda. 

Bunda Dahlia tidak pernah tahu kalau Om Brilly ternyata memperhatikan apa yang terjadi pada Bunda. Dia tidak pernah menjelek-jelekkan sepupu-sepupu Bunda. Dia hanya mencoba menghibur Bunda dengan caranya.

"Kok Yang Kung dan Yang Ti nggak tahu apa yang dilakukan anak-anaknya?" Kak Kenanga sepertinya masih relate dengan cerita Bunda yang tadi.

"Mereka terlalu sibuk bekerja. Yang Kung pergi kerja sambil mengantar kami pergi sekolah karena memang SD kami dicari yang dekat dengan kantor Yang Kung tapi kalau pulang, kami pasti diantar pulang anak buahnya. Dan karena Yang Kung pejabat kantor, beliau sering pergi ke luar kota sampai berhari-hari. Kalau Yang Ti selalu pergi sesudah subuh dan pulang tengah malam. Sepupu-sepupu Bunda selalu bermain dan belajar sendiri karena Yang Ti hanya mencarikan pembantu untuk mengurus rumah dan makan yang akan pulang setelah kerja mereka selesai. Mereka tidak punya pengasuh. Jadi pas Bunda di sana, Bunda yang diharap bisa menemani mereka."

Ah … kok jadi kasihan juga sama mereka. Makanya Bunda menahan cerita ini supaya Kak Kenanga tidak kehilangan rasa hormat pada Om dan Tantenya. Bunda Dahlia bijaksana sekali. 

"Jadi Om Brilly tu membuat Bunda berbunga-bunga?"

"Dia memperlakukan Bunda dengan cara yang membuat Bunda tidak mengingat lagi rasa sakit yang Bunda rasakan." 

Apakah Bunda tersenyum

Bunda bilang kalau Om Brilly akan menggantikan Bunda menjadi penjaga gawang setiap kali dia punya waktu. Dia akan mempersilakan Bunda menjadi penonton dengan menyodorkan bangku. He is so gentle. 

Suatu kali, Om Brilly ini mengundang Bunda beserta anak-anak di lingkungan itu untuk datang ke rumahnya merayakan ulang tahun katanya. Ketika Bunda datang bersama para sepupunya, Bunda disambut seperti seorang ratu dan diminta duduk di tempat yang dia sediakan khusus. Sudah ada potongan kue dan sebotol air bersoda di atas meja di depan bangku Bunda. Sedangkan para sepupunya diminta mencari tempat duduk sendiri. 

Bunda lebih tercengang lagi karena setelah itu mereka disuguhi Dongeng Cinderella dengan Om Brilly dan kakak perempuannya sebagai pendongengnya. Dulu, ada kaset cerita musikal penyanyi cilik terkenal yang Bunda sangat suka. Bunda akan menyetel kasetnya setiap kali Bunda merasa lelah. Akan tetapi, kaset itu milik Sepupu Satu dan pada suatu hari, kasetnya menghilang. Bunda jadi tidak punya hiburan lagi. Bunda tidak tahu bagaimana Om Brilly bisa tahu hal itu. 

Keesokan harinya, kejutan satu lagi menanti Bunda yang memang harus menyapu rumah setiap hari libur. Om Brilly sudah menunggu Bunda di teras rumah Yang Kung. Dia membawa bungkusan kado yang sepertinya sebuah buku tipis atau majalah kalau dilihat besarnya. Dia mengucapkan selamat ulang tahun buat Bunda. Ternyata undangan hari kemarin adalah buat Bunda. Bunda Dahlia sampai lupa segala hal karena hari-hari yang dilewatinya menyita tenaga dan jiwanya. 

"Kamu tahu, setelah Bunda buka, isinya komik yang bercerita tentang gadis berambut pirang yang ceria dan lucu. Brilly bilang kalau Bunda lagi penat, baca saja itu supaya Bunda tertawa lagi." 

He was so caring … 

"Bunda sangat terharu saat itu. Waktu Bunda mau mengucapkan terima kasih, dia mengeluarkan sebuah kaset dengan gambar penyanyi cilik kesayangan Bunda. Brilly berkata memang bukan kaset baru, tapi Mbak ambil sajalah. Lagian aku sudah besar, gak cocok lagi mendengarkan dongeng seperti itu."

"Lah Bunda kan lebih tua dari dia," protes Kak Kenanga. 

"Karena dia laki-laki makanya dia merasa gak cocok lagi." 

Sama seperti dia, dia juga bilang aku kekanak-kanakan karena suka nonton Finding Nemo.

"Bunda nangis terharu karena perhatiannya yang gak Bunda sangka. Dan waktu Bunda tanya kenapa dia melakukan itu. Brilly bilang karena Bunda orang baik dan sabar." 

"Wah, Om Brilly ini gentleman sejati. Dia bahkan tidak mau menonjolkan dirinya. Salut." 

 

 

 

Lovely Moment

1 0

Memang ya, kebaikan itu akan kembali ke yang melakukannya. 

Bunda menjawab pertanyaan Kak Kenanga tentang Om Brilly. Bunda Dahlia tidak pernah tahu lagi kabarnya. Yang Bunda tahu Om Brilly dikirim belajar ke Singapura oleh pamannya yang seorang pengusaha pertanian. Setahun setelah Bunda kembali ke rumah orangtuanya, keluarga Om Brilly pindah ke Kota Kupang. 

"Apa memang Bunda gak punya teman perempuan selama di SD?"

"Waktu di Semarang? Ada sih yang mau main pas Kelas Lima sebelum Bunda dititip ke Yang Kung dan Yang Ti. Malah jadi sahabat pena sampai SMA." 

"Kok bisa?"

"Awalnya karena pecah kongsi sama teman dekat. Curhat sama Bunda … eh keenakan. Gak mau balek sama kawan lama. Akhirnya Bunda punya empat teman perempuan. Tapi yang bertahan surat-suratan cuma satu. Sampai sekarang kami masih kirim kabar lewat medsos." 

"Is it Tante Dewi yang di Semarang?"

"Anak pinter." Pasti Bunda mengelus-elus Kak Kenanga.  

Sekarang apa ya cerita Bunda Dahlia. Aku jadi menantikan episode baru. 

"Nah … sekarang kita masuk ke cinta monyet." 

Aku menajamkan pendengaranku. Mood-ku sudah membaik sepertinya. 

Bunda bercerita pada masa SMP beliau sedang enak-enaknya ngemil. Badan Bunda jadi "bengkak" dan banyak chubby. Awalnya Bunda tidak terlalu memusingkan masalah badannya. Walau 'buntal' tapi prestasinya tetap bertahan di satu besar. 

Naik Kelas Dua SMP, Bunda mulai merasa minder dengan bentuk bodinya. Teman-teman beliau mulai membanding-bandingkan Bunda dengan anak-anak perempuan yang tubuhnya ramping dan bagus. Bunda mulai dipanggil dengan sebutan "Si Temok" atau "Si Debok" atau "Si Gendut". Pokoknya, Bunda bilang beliau sedang di "Masa Kegelapan". 

"I am a man who will fight for your honor. I'll be the hero you're dreaming of.

Kak Kenanga menyanyikan lagu jadul yang sering Bapak nyanyikan buat Ibu. 

"So, who's the guy? Nang tau, gak?"

"Rasanya Nang pernah ketemu sekali waktu kecil. Dia datang ke rumah Oma mengantar undangan pernikahan adiknya. Pas waktu itu kita sedang pulang kampung ke Bengkulu." 

"Ooooooo … Jadi, apa yang dia lakukan sehingga Bundaku luruh?" 

Kata Bunda namanya Mr. Keisha. Beliau adalah ketua kelas sedangkan Bunda wakilnya. Semenjak badan Bunda melar, Bunda tidak bisa lagi duduk di depan. Semua teman protes karena tidak nampak tulisan di papan tulis. Bunda berencana untuk duduk paling belakang tapi Mr. Keisha meminta Bunda duduk satu bangku di depannya. Mr. Keisha bilang kalau dia lebih tinggi jadi tidak akan terganggu penglihatannya. 

Another gentleman atau modus nih?

Sejak hari itu, Bunda selalu mendapat kata-kata mutiara di dalam bangkunya tertulis di atas kertas kecil-kecil. Orang ini seakan tahu kebiasaan Bunda yang tidak pernah lupa memeriksa isi laci meja setiap kali akan pulang sekolah. Posisinya selalu sama, di sudut dalam sebelah kanan. Bunda Dahlia pernah memata-matai siapa pelakunya tapi anehnya tidak pernah ketahuan. 

"Apa sih isi kamutnya, Bun?" 

"Bunda gak inget lagi tapi intinya Bunda diingatkan untuk selalu menyayangi diri sendiri dan jangan sampai kehilangan rasa percaya diri. Bunda kan turun jadi ranking dua dikalahkan Mr. Keisha. Yang lebih istimewa kamutnya pake English loh. Bunda jadi buka kamus gara-gara kamut." 

So sweet lah. Sama seperti dia yang menyentuh hatiku karena perhatiannya. Tapi … 

Mr. Keisha adalah atlet sekolah. Beliau pintar main basket, sepakbola dan bola voli. Selalu menjadi kapten regu dan bintang lapangan. Kalau jaman sekarang sudah seperti idol K-pop. Gadis-gadis lain sudah jadi fans beratnya. Bunda merasa tidak mungkin Mr. Keisha melakukan hal itu akan tetapi Bunda mengenali tulisannya walaupun diganti ke tulisan cetak. Mr. Keisha biasanya menggunakan tulisan sambung. 

Bunda juga ingat kalau Mr. Keisha ini selalu diikuti empat "pengawal". Mereka teman dekat beliau dan sangat playful. Mereka suka usil dan melawak. Semenjak Bunda mendapatkan kata-kata mutiara, mereka tidak pernah mengganggu Bunda lagi dan justru mereka seperti mengawal Bunda. Namun, Bunda tidak mau terlena meskipun kawan-kawan dekat Bunda sudah heboh.

"Ketahuannya gimana, Bun Say?"

"Dia akhirnya nulis surat buat Bunda yang dikirimnya melalui salah satu teman dekatnya sebagai kurir."

"Jie .. jie … yang dapet surat cinta. Membikin hati Bunda melomba, gak?" 

"Bunda heran kenapa dia memilih Bunda padahal perempuan lain seperti meminta buat dijadikan pacarnya."

Pasti dia justru jadi penasaran karena Bunda Dahlia lempeng aja. Eits … Kok aku jadi merasuk gini?

"Bunda anteng aja sih … makanya Mr. Keisha jadi tertantang." 

Nah kan … kita satu frekuensi Kak Kenanga. Aku jadi excited. Sepertinya aku gak harus sampai ke Surabaya buat nge-solve problemaku. 

"Bunda jadian?"

"He-eh … tapi bukan yang kemana-mana berdua kayak di drakor. Kami tetap beraktivitas seperti biasa. Yang gemes malah sahabat-sahabat Bunda." 

"Mama Peony, Buk Asoka dan Ummi Lilac."

"Good girl. Kamu harus tetap silaturahim sama mereka ya. Kalaupun misalnya Bunda duluan pergi." 

Aku cuma bisa nebak kalau Kak Kenanga menganggukan kepalanya. 

"Mereka yang heboh meminta Bunda malam mingguan dan hal-hal lain yang dilakukan orang yang pacaran. Malahan mereka yang membalas surat-surat cintanya Mr. Keisha." Bunda tergelak renyah. 

"Kenapa Bunda gak begitu?" 

"Opa kalian adalah orang yang paling menjaga Bunda. Opa gak mau Bunda jadi murahan. Mau saja digandeng-gandeng atau malah setuju diajak main ke sana ke mari apalagi kalau sampai di-kiss … no way!" 

"Jadi Bunda pacarannya gimana? Pake bahasa isyarat?"

Ha ha ha … 

"Pakai bahasa kalbu."

Jadi, Bunda dan Mr. Keisha hanya saling lirik dari jauh. Kalau misalnya Bunda bisa mengerjakan tugas di papan tulis, maka Mr. Keisha akan mengacungkan jempolnya di samping buku yang sengaja ditegakkannya. Begitupun Bunda tidak pernah absen menonton pertandingan Mr. Keisha. Bunda menahan diri untuk hanya bertepuk tangan di antara sahabat-sahabatnya yang riuh mendukung seperti cheerleaders. 

"Pernah ke rumah gak Mr. Keisha, Bun?" 

"Pernah. Dia datang malem minggu dan yang menyambutnya Opa. Dia ditanyai macem-macem dan gak berani memandang Opa. Tapi, dia jadi favorit Oma karena dia pandai mengambil hati orang lain." 

"Trus, Bunda gak keluar gitu?"

"Bunda keluar dan kami diijinkan ngobrol di ruang tamu. Tapiiiii … Opa mengawasi kami dari jauh dan posisi duduk Opa sejajar dengan Mr. Kei. Dia bicara santai dengan Bunda tapi keluar juga keringat dinginnya. Kalo ingat itu, lucu banget ekspresi wajahnya."

Bunda pasti tersenyum lebar. 

"Hari Senin-nya, para pengawalnya pada protes dan memperlihatkan bekas gigitan nyamuk di sekujur tubuh mereka karena menunggui Mr. Kei. Sepertinya Mr. Kei tidak sempat mengajak masuk sahabat-sahabatnya karena pengawasan Opa." Bunda dan Kak Kenanga tertawa. 

Aku juga mau ketawa. 

Setelah beberapa saat, Bunda dan Kak Kenanga terdengar seperti sedang minum. 

"Sekarang Nang mo tanya. Bunda saja pacaran, kok kami gak boleh?"

"Bunda pada waktu itu belum tahu kalau tidak ada yang namanya pacaran dalam Islam. Kalau kita mengikuti fitrah sebagai manusia, akan ada masanya kita memang akan butuh pendamping hidup dan itu pada saat kita memang sudah siap lahir bathin. Yang dicari adalah calon suami atau istri bukan pacar yang nggak ketahuan ujung pangkalnya."

Bunda meneruskan bahwa yang ada hanya ta'aruf. Ta'aruf yang islami sudah cukup untuk membuat kita memutuskan menikah atau tidak. Prosesnya dimulai dengan perkenalan didampingi mahram masing-masing. Jadi, orangtua sudah terlibat sejak awal bahkan bisa jadi mereka yang mencarikan melalui mak comblang yang terpercaya. 

"Pada saat ta'aruf, semua harus diceritakan. Kalau ada cacat harus dikasih tahu, gak boleh disembunyikan. Bahkan sang lelaki boleh melihat tangan dan wajah sang perempuan biar dia bisa tahu, perempuan inilah yang akan jadi calonnya bukan orang lain."

"Tapi, Bun. Gimana kalau gak jadi?"

"Makanya yang namanya ta'aruf itu, gak boleh disebarluaskan. Kalaupun gak jadi, ya orang lain gak tahu kan. Segitunya Islam melindungi maruah sebuah keluarga. Dan masing-masing harus komitmen untuk menjaga rahasia selama masa ta'aruf. Bukannya gembar-gembor ngasih tau kejelekan masing-masing karena hak jadi nikah. Itu jadinya jatuh ke ghibah. Na'udzubillahi min dzaalik."

Masya Allah … aku banyak dapat ilmu sepanjang perjalanan ini. Apakah ini cara-Mu untuk menyelamatkanku, Yaa Allah? Melalui dua malaikat ini?

"Yang boleh disebarkan adalah undangan pernikahan. Proses lamaran pun juga gak boleh heboh, cukup keluarga saja yang tahu."

"Bagaimana dengan yang terjadi sekarang?" 

"Wallahu'aalam. Semua yang terjadi atas ijin Allah. Bagaimana kita saja yang selalu berusaha berada di jalan Allah dan selalu mencari ilmu-Nya yang benar dan lurus. Kita sampaikan apa yang sudah kita tahu ke orang lain tapi kalau mereka tidak mau mendengar, kita doakan saja, semoga mereka bisa mengejar hidayah Allah."

Bunda ini seorang penceramah kah?

Bunda melanjutkan cerita Mr. Keisha sedikit lagi. Ada peristiwa di mana anak-anak Kelas Tiga SMP dikumpulkan menjelang ujian EBTANAS. Kata Bunda itu adalah sebutan ujian akhir nasional jaman 'baheula'. Wakil kepala sekolah wanti-wanti mengatakan kalau mereka harus fokus belajar dan meninggalkan dulu pacaran. Semua siswa berkomentar, sehingga aula sekolah seperti sarang lebah karena dengungan suara para siswa. 

Kemudian, bapak wakil bilang kecuali Bunda Dahlia dan Mr. Keisha. Aula sekolah seperti mau roboh karena nada protes teman-teman Bunda. Bunda hanya diam dengan pipi yang memanas. Bapak wakil merestui hubungan mereka karena setelah pacaran, nilai masing-masing Bunda dan Mr. Keisha menunjukkan kenaikan. Kalau pacaran positif seperti ini, malah didukung bapak wakil kepala sekolah. Akhirnya Bunda dan Mr. Keisha memang lulus dengan NEM tertinggi di sekolah. Dan Mr. Keisha melanjutkan sekolah ke Jakarta. 

Bunda mengalami yang namanya LDR. Bunda dan Mr. Keisha rajin berkirim surat. Namun, Bunda yang pada akhirnya memutuskan hubungan karena Bunda hijrah berpakain muslimah dan menimba ilmu yang islami. Mr. Keisha protes berat sampai sakit beberapa saat karena beliau tidak mau putus dan merasa tidak punya kesalahan untuk diputuskan sepihak. Bunda bergeming. 

Wah … Bunda Dahlia hebat banget. Padahal aku yakin, Bunda pasti tidak mau putus sebenarnya. Tapi, Bunda juga lebih memilih berada di sisi Tuhannya dan menunggu keputusan tentang jodohnya.

 

 

 

 

 

Sahabat Pena

1 0

Aku memutuskan untuk hijrah hati. Aku tahu ilmu Allah itu luas tetapi hari ini paling tidak aku mendapatkan pencerahan dari sebagian kecil ilmu itu. Thanks to Bunda Dahlia. Aku tidak tahu cerita ini akan pergi ke mana. Aku hanya ingin mendengarkan lebih banyak biar aku mendapat lebih banyak hikmah.  

"Masih ada stok lelaki Bunda, Bun?"

"Bahasamu itu … kalau sama orang yang gak kenal, tolong dijaga ya, Nduk. Bisa jantungan orang." 

Ampun deh, Kak Kenanga

"Masih. Dia menemani Bunda mulai masuk sekolah tingkat atas." 

"Kamu masih ingat kan kalau Bunda cerita Mr. Keisha ada empat pengawal." 

Iya. Yang digigit nyamuk, kan? Kok aku yang jawab? Oh … barengan sama Kak Kenanga. 

Tiba-tiba … Drrrrt … drrrrrt … Aku langsung terduduk kaget. Aku keluarkan handphone-ku dan melihat layar. It's him … 

"Nggak diangkat, Nak Sakura?"

Aku mengangguk dan menggeleng. 

Bunda membesarkan matanya bertanya. 

Aku menekan tombol merah. Aku belum siap. 

Bunda Dahlia dan Kak Kenanga tidak bertanya lebih jauh. Mereka bukan orang "kepo-an" sepertiku. Aku menghargai sikap mereka, sangat. 

Aku jadi salah tingkah di hadapan mereka sekarang. Gimana aku harus bersikap? Gimana kalau karena aku bangun Bunda menghentikan ceritanya? Aduh … 

"Nak Sakura mau lanjut istirahat?" 

Aku mau jawab iya tapi kepalaku menggeleng.

"Nggak pusing karena bangun kaget begitu?" tanya Kak Kenanga.  

Aku mengangguk. Aku kenapa ya … 

"Ya sudah. Biarkan dia mengumpulkan ruhnya dulu." Bunda membantuku memutuskan. 

Kak Kenanga kelihatan menoel pangkal lengan Bunda. "Lanjutin ya kisahnya." 

Bunda tidak menolak rengekan anak gadisnya dan mulai bercerita. Salah satu sahabat Mr. Keisha yang bernama Salman, harus pindah enam bulan sebelum ujian akhir nasional mengikuti ayahnya yang seorang pejabat negara. Di antara keempat sahabat ini, Bunda paling deket sama Salman karena anaknya lucu dan mudah bergaul. 

Dua bulan setelah Pak Salman pindah, Bunda mendapat surat yang dialamatkan ke sekolah. Pak Salman ini menulis sebuah pengakuan bahwa beliau sudah jatuh cinta sama Bunda sejak pertama bertemu di dekat tiang bendera ketika anak baru SMP dikumpulkan. 

"Bunda kayak yang nggak kaget gitu?"

"Salman ini sekelas sama Bunda di Kelas Satu B. Dan dia duduk di samping kanan Bunda di baris yang berbeda. Gak mungkin kita gak merasa kalau diperhatikan terus-menerus. Dia sering curi-curi pandang ke Bunda."

"Kok Bunda diam saja? Bunda gak kepo?"

"Bunda orangnya gini. Selagi gak ada omongan dari orangnya langsung, Bunda lebih baik tidak mengira-ngira apapun."

Biar gak salah pengertian ya, Bunda. Aku sudah on lagi. Berarti, aku salah mengartikan perhatiannya selama ini. 

"Kalau saja Pak Salman ini ngaku duluan ke Bunda, apa Bunda akan menerimanya?"

"Mungkin."

"Wah, berarti pas Mr. Keisha melakukan pendekatan ke Bunda, campur aduk tu perasaan Om Salman."

"Iya. Dia juga cerita di suratnya tentang hal itu. Tapi, sebagai sahabat, dia tidak mau mengikuti perasaannya semata. Dia juga menghormati Mr. Keisha sebagai laki-laki."

"Wah … Bunda dikelilingi lelaki-lelaki hebat. Jadi iri." 

"Jangan membandingkan diri kita dengan orang lain biar gak timbul dengki karena kita punya cerita kita masing-masing." Bunda seperti menjitak kepala Kak Kenanga. 

Another wisdom from Bunda Dahlia. 

"Apa jawab Bunda?" 

"Bunda jawab terimakasih karena sudah menyukai Bunda tapi tentu dia tahu bagaimana harus bersikap. Kan Bunda waktu itu sudah menjadi kekasih sahabatnya. Dia juga bilang kalau dia tidak akan mengganggu hubungan Bunda dan Mr. Keisha. Tapi, dia juga bilang, kalau sempat kami putus, dia mau menerima Bunda." Bunda tersipu malu. 

Kak Kenanga tertawa renyah mendengar omongan Bunda yang ini. Aku bersusah payah menahan diri supaya tidak ikutan tertawa. 

Bunda melanjutkan kisah Bunda dan Om Salman. Mereka terus menjadi sahabat pena yang aktif. Mereka selalu bertukar pikiran tentang apapun yang terjadi di sekolah, di rumah atau di masyarakat. Pak Salman menjadi teman berargumentasi yang sehat. Namun terkadang, Pak Salman juga menyelingi dengan menggombali Bunda dengan bilang 'I miss you' atau semacamnya. Dan juga, Pak Salman menjadi tempat curhat Bunda dan beliau selalu punya jawaban yang menenangkan Bunda. 

"Salman tu orangnya juga usil dan suka melontarkan kelucuan. Jadi kadang Bunda ketawa-ketiwi membaca suratnya dan itu jadi hiburan tersendiri di saat Bunda sedang ingin menghilangkan penat dan stress setelah sekolah. Kadang Bunda sengaja menunggu datangnya pak pos, biar bisa langsung Bunda baca apa jawaban Salman atas pertanyaan atau curhatan Bunda." 

"Bunda bilang putus ke Mr. Keisha kapan?" 

"Waktu Kelas Dua SMA. Bunda masih menerima surat juga dari Kei sampai Bunda lulus kuliah, tapi isinya yang seringkali hanya berisi ungkapan-ungkapan yang terus menyalahkan Bunda, membuat Bunda jadi males membaca bahkan membalasnya. Sedangkan kalau surat Salman, dia bersikap sebagai sahabat yang pengertian dan apa adanya." 

"Tapi kan Pak Salman juga bilang suka ke Bunda." 

"Iya. Tapi nada penulisannya beda. Dia memang suka Bunda tapi dia tidak memaksakan perasaannya dan membuatnya seperti candaan saja. Dan walaupun dia tulus dengan hatinya tapi dia menghormati Bunda yang sudah tidak mau ngurusin cinta sebelum waktunya tiba. Tidak dengan Kei yang terus merongrong Bunda." 

"Oooh gitu. Kok Mr. Keisha gak jadi "pahlawan" lagi bagi Bunda ya?" Kak Kenanga membuat kode tanda kutip dengan jari telunjuk dan jari tengah kedua tangannya. 

"People can change. Orang bisa berubah karena satu masalah atau karena lingkungan yang mengarahkannya. Dalam hal Kei, dia jauh dari keluarga dan teman-teman dekatnya karena dia sekolah berasrama yang membuatnya tidak bebas dan kurang berinteraksi. Dan juga sepertinya dia kurang melepaskan stress sehingga pikirannya kurang sehat." 

"Bunda bales gak suratnya Mr. Keisha?" 

"Ya dibales dong. Bunda menempatkan diri netral saja. Bunda juga kasih masukan-masukan sesuai ilmu agama yang Bunda dapat setelah hijrah tapi ya itu, gak digubris. Dia terus memamerkan rasa patah hatinya. Capek deh." Bunda meletakkan punggung tangan di dahinya. 

Aku dan Kak Kenanga tersenyum melihat tingkah Bunda. 

"Oh. Sudah bisa tersenyum nak Sakura. Berarti sudah full lagi nyawanya nih." 

Aku kaget Bunda melihat senyumku. "I .. iya, Bunda. Alhamdulillah." 

Bunda sepertinya tidak keberatan kalau aku ikut mendengarkan kisah-kisahnya. 

"Namanya Pak Salman sama dengan nama Bapak." 

Bunda Dahlia tersenyum. "Iya ya." 

 

 

T*** Kucing

1 1

"Nak Sakura masih sekolah?"

"Iya, Bunda. Kelas Sebelas."

"Oh ya, sekarang penyebutan kelas berlanjut sesuai urutan." 

"Iya, Bunda."

"Sakura tinggalnya di Jakarta atau di Surabaya?"

"Di Jakarta, Kak. Ke Surabaya mau ke rumah Kakak laki-laki pertama, Mas Hebras yang memutuskan tinggal di sana dekat kampung halaman istrinya, di Malang." 

"Loh bukannya tadi yang mau jemput Mas Daffo atau Mas Daffa?" Bunda masih ingat pembicaraan awal kami.

"Mas Daffo, Bunda. Itu kakak laki-laki ke-dua yang memulai bisnis di Surabaya." 

"Ooooo… Daffo apakah dari Daffodil?"

"Iya, Bunda. Kami semua diberi nama bunga. Mas Hebras, Mas Daffodil, Mbak Lily, Kak Saffron dan Sakura." 

"Wah, hebat orangnya bisa nyari nama bunga buat yang laki-laki. Kalau Bunda, hanya anak perempuan yang pake nama bunga, Kenanga dan Cempaka. Kalau laki-laki, Faiz dan Thoriq." 

"Ah … anak Bunda empat orang." 

"Iya. Yang paling kecil baru tiga tahun." Bunda nyengir. 

"Iya. Jarak 17 tahun dari Kakak." Kak Kenanga cemberut. 

Aku memaklumi perasaan Kak Kenanga karena aku juga berjarak lima belas tahun dengan Mas Hebras. Mas Hebras sempat bilang kalau aku adalah keponakannya. 

"Sekarang adeknya sama siapa?" 

"Sama Bapak. Belajar jauh dari Bunda." 

"Boleh Kakak nanya something private ke Sakura?"

"Apa tu, Kak?"

"Sekarang bukannya masih waktu sekolah, belum liburan, kan?

Aku sudah bisa menebak arah pertanyaan Kak Kenanga. "Minta ijin dulu, Kak. Lagi gak pengen belajar. Gak bisa mikir."

"Berat banget ya masalahnya? Sampe gak bisa mikir?"

"Untuk dia, masalahnya berat. Belum tentu buatmu. Mungkin kalau kamu tahu masalahnya dan menurutmu gak banget, pasti kamu remehin kan? Nggak bantu nyelesain." 

Bunda … aku padamu

"Baru sekali dapat masalah seperti ini?"

"Iya. Biasanya aman-aman saja, Kak."

"Pasti pake perasaan, makanya down."

"Iya, Bunda."

"Makanya orang bilang, non sense kalo perempuan dan laki-laki bersahabat gak pake hati. Kalo gak dua-duanya ya salah satu." Bunda Dahlia mencubit punggung tangan Kak Kenanga. 

Deg! Kok Kak Kenanga ngena banget omongannya

"Mudah-mudahan bisa selesai masalahnya ya. Hadapi. Jangan lari." 

Bunda … Ibu … 

"Ini ibarat ya. Kalau ada tahi kucing di depan kamar Sakura, Sakura gimana?"

"Manggil Mbak Desi buat dibersihin." Aku menjawab sambil mikir.

"Sampai kapan mau ngerepotin orang lain?" Kali ini, Bunda menyenggol bahu Kak Kenanga. 

"Kenapa gak dibersihkan sendiri?" 

"Bau dan jijik, Bunda. Gak tahan." Aku berkata manja. 

Bunda tersenyum manis mendengar jawabanku. 

"Kalau gak ada Mbak Desi atau Mamanya atau siapapun itu, gimana?"

"Sakura pake aplikasi yang bisa manggil orang buat bersih-bersih di rumah." 

Bunda tertawa renyah sekali. Apakah jawabanku lucu? 

"Bunda sama sekali nggak menyangka jawaban Sakura yang ini." Bunda menghapus air mata yang keluar karena beliau tertawa. 

"Berarti Sakura masih berharap orang lain yang menyelesaikan masalah Nak Sakura atau paling tidak Sakura maunya orang lain mengerti kalau sedang dilanda problematika. Seperti sekarang, Nak Sakura melarikan diri ke Surabaya dan berharap orang lain maklum dan keluarga yang di Jakarta untuk menghadapi siapapun yang bermasalah dengan Sakura."

Bunda melanjutkan, berarti aku hanya melangkahi tahi kucing tadi dan pergi. Kalau sempat tidak ada yang membersihkannya maka tahi kucing itu akan menjadi masalah baru dan mendatangkan penyakit. Namun kalau cepat dibersihkan, maka masalah lain tidak akan sempat hadir. 

"Wow."

 

 

user

29 October 2021 15:03 Aisyah humayroh(y.aliyah) Kerenn

Trauma Bunda

2 0

"Terima kasih atas nasihat Bunda. Insyaallah, Sakura mencoba lebih mendewasakan diri lagi." Bunda tersenyum. Kak Kenanga memberi jempol. 

Suasana kembali hening. Bunda kelihatan menikmati laju kereta api sampai satu saat ada sedikit guncangan. Bunda kelihatan cemas dan langsung memegang erat tangan Kak Kenanga dan menempelkan badannya ke kursi. Kak Kenanga menepuk-nepuk punggung tangan Bunda menenangkan. 

Berangsur, ketenangan Bunda kembali. Kak Kenanga memberikan botol air mineral. Bunda menyesap air minum dan membiarkan tubuhnya rileks kembali. 

"Sejak kapan sih Bunda trauma kalau pergi-pergi?"

"Sejak Kelas Lima. Sewaktu Bunda pulang dari Yogyakarta pamitan dengan saudara Opa di sana, bus besar yang kami tumpangi menghindari sebuah motor yang melaju di lajur yang salah pada saat hujan. Supir kehilangan kendali, kami terguncang-guncang di dalam bus dan akhirnya bus nyungsep ke dalam sawah. Beruntungnya, sebelum sawah kan ada parit besar tapi bus itu seperti melayang dan melewati parit."

Kami mendengarkan Bunda. 

"Keadaan di dalam bus kacau balau. Semua barang penumpang menumpuk di bagian depan bus karena memang bus miring ke depan. Ada penumpang yang terluka di wajah karena menghantam kaca depan bus. Lebih banyak memar-memar akibat benturan selama bus tergelincir. Sebagian penumpang terluka justru karena tertimpa barang-barang yang ikut berserakan." 

"Bunda sama siapa waktu itu?"

"Bunda pergi sama Opa berdua. Alhamdulillah kami tidak apa-apa, hanya Opa setelah sampai di rumah baru merasa ada luka di bahunya. Opa melindungi Bunda dengan badannya. Yang membuat Bunda sedih malahan karena baju kesayangan Bunda, yang waktu itu kotor sehingga disimpan berlainan dari pakaian yang lain, hilang. Mungkin ikut terbawa ke arah depan bus. Dan sebab keadaan yang kacau balau, tas kecil itu tidak masuk dalam ingatan. Bunda hanya bisa menangis tersedu." Bunda tersenyum dalam kenangan. 

"Bunda pamitan, emang mau ke mana?"

"Kan masih ingat kalau Bunda dibawa Puyang Lanang ke Semarang." 

Aku hampir menganggukan kepala. Untung Bunda tidak melihat ke arahku. 

"Naik Kelas Enam kan Bunda dititip ke Yang Ti. Jadi, Opa menjemput Bunda ke Semarang sekalian ke Yogyakarta ke tempat keponakannya yang kerja di Pabrik Gula Madukismo. Opa mendapat mandat dari Wong Palembang buat nyuruh keponakannya ingat buat pulang. Kamu tahu kan Opa orang Palembang yang merantau ke Bengkulu dan bertemu Oma." 

Wah, sepertinya keluarga Bunda warna-warni asal usulnya. 

"Sejak saat itulah Bunda tidak bisa tidur di atas kendaraan dan kalau sempat kendaraannya ngebut atau mengerem mendadak atau terguncang kayak yang tadi, Bunda akan mencari pegangan secepatnya. Bunda juga tidak mau menutup jendela dengan tirai. Bunda harus melihat pemandangan. Tapi, kalau malam hari, pasti Bunda kena tegur supir. So, Bunda tutup jendela tapi Bunda sisakan sedikit celah buat Bunda mengintip keluar."

"Pantes Bunda kalau sampai tempat tujuan, pasti kasur duluan yang dicari. Pasti ngantuk kan?" Bunda nyengir kuda. 

"Bunda dititip di Yang Ti kan karena Oma dan Opa merantau ke Makassar. Bunda pernah gak ke sana?" 

"Kalau yang setahun pertama, Bunda belum bisa ikut karena Oma dan Opa belum pasti kerjanya. Pun mereka pulang ke Bengkulu dan berdagang lagi. Ketika Bunda mau kuliah, Oma dapat tawaran lagi trus pergi duluan ke Makassar kemudian disusul Opa. Pada saat itulah Bunda sempat liburan kuliah ke sana selama sebulan."

"Enaknya, Bunda. Sudah kemana-mana." 

"Nanti tiba juga masa kamu bakalan kemana-mana." 

"Bener?"

"Insyaallah. Kamu usahakanlah. Jadi penyambung silaturahim keluarga kita. Jadi perekat persaudaraan." 

"Kayak Bunda?"

"Nggak. Dengan caramu sendiri."

"Sip. Insyaallah." Kak Kenanga meluruskan badannya dan memberi hormat ke Bunda. 

Bunda pasti bahagia sekali karena senyumnya sungguh sumringah. 

"Kamu tahu, Bunda kan kuliah di Padang. Jadi, Bunda ke Makassarnya lewat laut. Bunda berangkat dari Teluk Bayur ke Pelabuhan Soekarno-Hatta di Ujung Pandang waktu itu namanya. Bunda terombang-ambing empat hari tiga malam melewati Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak. Sungguh pengalaman yang mengagumkan. Di mana-mana air." 

Bunda Dahlia, aku makin padamu

"Ada pengalaman apa Bunda di sana? Adakah bersua another hero?"

"What do you think?" Bunda menaik-naikkan alis matanya. 

Yes! Another story is coming!

 

 

 

 

 

Birrul Walidain

1 0

Bunda Dahlia tidak langsung bercerita tentang siapa yang beliau temui di Makassar. Bunda teralihkan oleh pertanyaan Kak Kenanga. Dia bertanya apakah Bunda tidak punya cerita lelaki di SMA karena Bunda sudah hijrah. 

"Tentu Bunda punya teman di SMA tapi bukan yang jadi sahabat. Bunda gak satu sekolah sama Mama Peony, Buk Asoka dan Ummi Lilac. Mama Peony masuk SMEA, Buk Asoka masuk SMKK sedangkan Ummi Lilac masuk MAN. Di SMA Bunda juga ikutan ekstrakurikuler kerohanian salah satunya karena Bunda mau memperbaiki bacaan alquran. Bunda juga ikutan Mading bukan karena suka nulis tapi karena suka desain. Kalau dulu kan masih manual menghias Madingnya."

Bunda juga kreatif ternyata. 

"Ada beberapa teman lelaki yang memberi pelajaran kepada Bunda tentang makna hidup dan pengabdian kepada orang tua terutama." 

Gerbong kami sudah mulai penuh tanpa terasa. Sudah banyak suara yang mendistorsi cerita Bunda. Aku berharap tetap tidak ada yang mengisi bangku di sebelahku. 

"... dia teman Bunda di Kelas Satu." 

Hah? Who? 

"Si Fuad ini, dia selalu keluar kelas duluan. Setelah bel pulang berbunyi, dia selalu melesat … whusss … hilang. Kadang-kadang, dia bahkan gak bisa menunggu guru yang terakhir selesai bicara. Dia akan keluar sambil mengacungkan tangan trus pergi." 

"Gak ada yang protes, Bun? Guru-guru gimana?"

"Mungkin dia sudah sering dipanggil ke kantor. Bunda juga gak tahu tapi dia kan gak pernah merugikan orang lain. Cuma kalau kerja kelompok, teman-teman yang sekelompok dengan Fuad harus berjibaku menahan dia supaya gak lari." Bunda tersenyum geli. 

"Terus, Bun?" 

"Satu hari, Bunda gak masuk sekolah karena demam. Sudah ashar, ada yang mengetuk pintu. Oma dan Opa baru saja pergi ke pasar, terpaksa Bunda yang membuka pintu. Ketika Bunda lihat 'Loh Fuad?' Dia memandang Bunda dan rumah trus bilang, 'Ini benar rumah Mama Anggrek, kan?"

"Anggrek. Itu nama Oma."

Jadi kata Bunda, Om Fuad ternyata adalah langganan Mamanya Bunda yang selalu membeli kue gandus tapi lebih sering tidak punya uang untuk membayarnya. Beliau selalu bilang 'hutang dulu'. 

Suatu kali, Mamanya Bunda tidak sengaja melihat Om Fuad sedang menunduk-nunduk di sawah belakang pasar seperti sedang mencari sesuatu. Mamanya Bunda memperhatikan dan akhirnya tahu kalau Om Fuad ini sedang menangkap belut liar dan sudah ada banyak dirangkai dengan tali bambu. 

"Oma paling gemar makan belut. Jadi Oma tanyalah kalau-kalau belutnya bisa Oma beli. Pada saat itu bukan rejekinya Oma karena sudah ada yang pesan duluan. Keesokan harinya, baru giliran Oma yang dapat."

"Jadi, Om Fuad ini selalu lari pulang cepet karena mau nangkap belut?"

"Iya. Tapi, dia melakukannya karena ibunya yang sakit. Ibunya yang orang tua tunggal sejak adik bungsunya masih dalam kandungan, ditabrak lari seseorang sehingga lumpuh. Itu terjadi waktu si Fuad masih di Kelas Dua SMP. Sejak itulah dia yang harus menghidupi keluarganya sekaligus merawat dua adik serta ibunya." 

Ya Allah … 

"Dia tetap sekolah karena itu amanah dari ibunya supaya dia punya ijazah untuk melamar kerja. Tapi, dia harus buru-buru pulang karena dia terpaksa mengunci ibunya di rumah. Dia harus melihat keadaan ibunya kalau-kalau butuh dia. Si Fuad gak punya uang buat merawat ibunya di tempat yang layak. Dia harus menghidupi dan membayar uang sekolah dan adik-adiknya juga. Selain itu dia harus membeli suplemen yang harus dikonsumsi ibunya." 

"Kasihannya, Bun." 

"Sayangnya, dia tidak bisa kerja yang mengikat karena dia harus bolak-balik melihat kebutuhan ibunya. Makanya, dia kerja serabutan. Mencari belut adalah yang paling menghasilkan karena orang mau membayar lumayan untuk belut liar. Si Fuad juga jadi kuli angkut di pasar atau mengambil upah mengupas bawang atau jadi kurir pengantar barang." 

Aku dengan mudahnya minta uang buat lari ke Surabaya. Maafkan, Sakura. 

"Setelah Bunda tahu keadaan Fuad, Bunda kasih tahu teman-teman sekelas plus Wali Kelas. Kami mengumpulkan dana buat membantu Fuad bahkan ada guru yang mau jadi orang tua asuh dan membayar perawat buat menjaga ibunya. Omamu juga membebaskan Fuad dari segala hutang kue gandus kesukaan ibunya." 

Kok mataku basah ya … Blur pandanganku.

Kak Kenanga menghapus air matanya, "Bunda tahu kabar terbaru Om Fuad?"

"Oh, dia sudah jadi polisi. Karena selalu berlari, Fuad jadi gagah dan lincah. Ibunya masih hidup dan dirawat istrinya Fuad. Adik-adiknya juga sudah mandiri. Mereka punya abang yang menjadi contoh baik untuk bertahan hidup."

What a story! Bunda Dahlia terima kasih sudah mau memperdengarkan kisah-kisah penuh makna. 

"Sebenarnya, masih ada cerita tentang teman lelaki Bunda yang harus sekolah sambil bekerja. Ada satu namanya Ronald, dia selalu telat padahal dia mengendarai motor. Ketika diselidiki, ternyata dia harus mengantarkan anak-anak yang punya motor ke sekolah mereka terlebih dahulu padahal sekolah mereka berlawanan arah. Pulang sekolah, dia langsung jadi tukang ojek sampai malam kemudian pulang dan menyetor uang penghasilannya. Dia mendapat upahnya setelah dipotong sewa motor dan bahan bakar. Ronald adalah yatim piatu yang tidak mau merepotkan kakak perempuannya yang sudah punya keluarga sendiri. Kakak perempuannya adalah pengganti orang tuanya." 

Sudah dong, Bun. Nanti aku nangisnya gak anggun lagi

"Si Jaka lain lagi. Dia selalu tidur di kelas setiap pelajaran awal. Sesudah istirahat, dia akan segar dan bisa mengikuti pembelajaran. Dia diinterogasi suatu hari oleh Walas. Dia bilang dia memang tidak bisa menahan matanya buat terpejam tapi dia mendengar apa yang terjadi di kelas, makanya kalau ditanya dia bisa menjawab dengan benar. Dia butuh tidur pagi karena dia begadang untuk mencuci mobil-mobil angkutan antar kota antar provinsi di terminal. Mobil-mobil itu bisa dicuci setelah dipakai dan waktunya dimulai setelah isya dan berakhir menjelang subuh. Jaka butuh uang lebih buat membayar perawatan kedua orang tuanya yang sakit jiwa setelah kehilangan adik kembarnya yang tenggelam di sungai belakang rumahnya. Dia terpaksa menjual rumah mereka karena kehabisan barang yang bisa dijual. Dia diizinkan tinggal di rumah bibinya tapi harus menghidupi diri sendiri dan membiayai pengobatan orang tuanya." 

Ayah … Ibu … kalian sudah menahanku pergi tapi aku pergi juga. Aku mau pulang … 

"Gimana kabar Om Ronald dan Om Jaka sekarang, Bun?"

"Ronald jadi boss penjualan kendaraan bermotor. Dia memelihara keponakan-keponakannya karena kakak perempuannya sudah meninggal setelah berjuang melawan kanker. Kalau Jaka sudah jadi dokter karena dia lulus undangan masuk perguruan tinggi negeri." 

"Masya Allah, ya Bunda. Tidak akan sia-sia apa yang kita lakukan buat orang tua kita. Kalau kita tulus, Allah pasti beri kita kebahagiaan. Nang belum ngasih apa-apa ke Bunda dan Bapak." Kak Kenanga memeluk lengan Bunda Dahlia dan menyurukkan kepalanya. 

Bunda Dahlia mengelus kepala Kak Kenanga dan berkata,"Nang sudah jadi anak yang gembira dan menggembirakan Bunda. Nang juga sudah jadi kakak yang baik bagi adik-adik. It's more than enough."

Aaaaah … Ibuuuuu … Aku mulai terisak

"Nak Sakura kenapa menangis?"

"Ingat … hiks … ibu … hiks … ayah … hiks … "

Bunda Dahlia berdiri dan mengisi kekosongan bangku di sebelahku. Beliau mengambil kepalaku dan meletakkan di bahunya. 

"Kalau besok Sakura sampai di rumah lagi. Sungkem sama orang tua ya. Berjanji pada diri sendiri akan menjadi dewasa dan membuat bangga orang tua. Bunda yakin Ayah dan Ibu Sakura tidak akan menghakimi karena mereka tahu putrinya sedang dalam proses pendewasaan diri."

Sejuknya … 

 

Bertemu Lagi

1 0

Bunda sudah kembali ke tempat duduknya semula. Kak Kenanga kelihatan santai saja tetapi aku tidak tahu isi hatinya. Bunda kembali mengambil makanan kecil dan karena aku sudah bangun, Bunda menawarkan makanannya. Aku mengambil bungkusan yang Bunda sodorkan. 

Padahal masih mengunyah tapi Kak Kenanga mulai bicara lagi, "Bun, birrul walidain cuma bisa dilakukan oleh orang-orang yang punya ketulusan tingkat tinggi ya." 

Bunda membersihkan mulut Kak Kenanga sambil tersenyum. Bunda menelan makanannya dan menyesap sedikit air. 

"Siapapun bisa melakukannya dengan caranya masing-masing. Kita tidak punya cerita yang sama yang bisa dikisahkan ke semua orang tapi kehidupan kita berjalan terus. Mensyukuri apa yang kita miliki dalam sebuah keluarga adalah salah satu cara berbuat baik kepada orang tua kita. Tidak menginginkan kehidupan orang lain juga birrul walidain karena yang kita punya adalah orang tua yang ini bukan yang itu." 

Kak Kenanga mengangguk. 

"Nang belajar satu hal lagi di kisah SMA Bunda."

What's that?

"Kita tidak bisa menyimpulkan yang orang lakukan itu buruk tanpa kita tahu alasan dia melakukan itu." 

Bunda Dahlia tersenyum lebar. 

Aku berharap Bunda melanjutkan kisah yang di Makassar. Namun, tetap tidak dapat tertebak kisah berikutnya apa. 

"Bunda ngapain aja waktu di Makassar?"

"Adalah jalan-jalan ke Bantimurung tempat ngumpulnya kupu-kupu liar. Itu dijadikan taman nasional. Ada sungai berbatu besar-besar dan ada bagian yang seperti air terjun pendek gitu. Kita makan-makan ditemani kupu-kupu berbagai jenis dan ukuran. Ada juga seperti museum tempat menyimpan kupu-kupu yang sudah diawetkan. Kalau kita mau, ada juga souvenir berupa gantungan kunci isi kupu-kupu atau hiasan dinding berisi awetan kupu-kupu."

Aku ingat pernah juga ke sana waktu masih SD. Aku dan Mas Daffo dibawa mengunjungi sepupu Ibu. Kami sudah senang mau ketemu kupu-kupu cantik yang lucu tapi lagi bukan musimnya saat itu. 

"Tapi lebih banyak Bunda membantu Oma dan Opa jualan nasi kuning di sana. Warung makan Oma dan Opa dekat Universitas Hasanuddin, jadi langganan mereka rata-rata mahasiswa. Karena itulah Bunda bisa ketemu sama sahabat pena Bunda yang sedang kuliah di UNHAS."

"Tante Dewi? Pak Salman?"

"Tante Dewi di IPB kalee …" 

"Oh! Bunda ketemuan sama Pak Salman!"

"He-eh. Dia lulus kedokteran di sana. Waktu Bunda bilang mau ke Makassar, dia jingkrak-jingkrak katanya. Sudah banyak plan-nya mau ngajak Bunda ke sana ke mari." 

"Jadi ketemu?"

"Ya, jadilah. Hari keempat Bunda di sana, dia datang sendiri. Oma sama Opa ngirain dia mau beli nasi seperti biasa. Pas dikasih tahu kalau dia teman Bunda dari SMP, Oma langsung nyubit lengannya kenapa gak bilang-bilang. Kalau tahu kan biar makan kayak di rumah aja. Tapi, Salman bilang kalau dia gak mau Oma dan Opa rugi. Tambah dicubit lah dia sama Oma." 

Aku dan Kak Kenanga tergelak mendengar hal itu. 

"Ternyata, Salman adalah pelanggan tetap warung nasi kuning Oma soalnya Oma juga menjual pempek kapal selam dan tekwan juga makanan-makanan kecil. Dia bisa mengobati rindunya dengan makanan sewaktu masih di Bengkulu. Salman juga sering membantu bersih-bersih atau kalau ada alat yang rusak, keran air yang macet, mengganti lampu yang redup dan lain-lain. Oma sama Opa sudah akrab dengan Salman. Bunda gak perlu susah-susah menjelaskan ke Opa." 

Pak Salman pintar mengambil hati memang. 

"Pak Salman pasti dapat cerita dari Bunda kan kalau Oma sama Opa di Makassar. Cerdiknya ambil kesempatan dalam kesempitan."

"Iya. Dia sudah mengambil hati Opa yang keras sama teman-teman lelaki Bunda lainnya. Jadi, ketika Salman minta ijin mengajak Bunda jalan-jalan, Opa melepas dengan syarat tidak hanya berdua. Salman yang sudah tahu, tinggal menelepon temannya untuk bergabung bersama kami." 

Pak Salman membawa Bunda ke Universitas Hasanuddin. Sebenarnya, Bunda juga sedang mencari ide buat skripsinya nanti. Bunda ingin melihat perpustakaan UNHAS. Pak Salman memprotes rencana Bunda karena tidak menarik sama sekali. Namun, Bunda tetap mendapatkan maunya dan Bunda bilang kalau akhirnya hari itu dihabiskan di perpustakaan: perpustakaan fakultas bahasa, perpustakaan kampus dan perpustakaan daerah. 

"Bunda kan sebulan di sana, apakah sering bertemu dengan Pak Salman? Gak samakah waktu liburannya? Pak Salman apa lagi kuliah?"

"Banyak tanya ya.. Salman lagi mengambil semester pendek karena sebenarnya dia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Soedirman Purwokerto sebelumnya. Tapi orang tuanya memohon dia tidak mengikuti jejak ayahnya yang seorang jaksa, jadi dokter sajalah. Akhirnya dia ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri sekali lagi dan Alhamdulillah lolos."

"Karena doa orang tuanya pasti." 

"Iya. Tapi dia jadi kayak "jetlag" gitu karena pindah dari hukum ke kedokteran. Agak keteteran dia di awal semester makanya banyak perbaikan nilai. Di sela-sela semester pendeknya dia tetap datang tapi gak berlangsung lama. Tiba-tiba dia tidak pernah datang lagi dan tanpa kabar. Ketika Bunda tanya ke temannya, katanya Salman tau-tau pulang kampung ke Purworejo." 

"Hah trus piye?" 

Kak Kenanga aja kaget apalagi aku. Bagaimana liburan Bunda di Makassar?

"Pas Bunda sedang bingung dengan ulah Salman, Bunda dapat telepon dari Mr. Keisha dan bilang kalau dia mau melamar Bunda." 

Jeng … Jeng … Jeng … apalagi nih. Kayaknya ini bakalan jadi puncak drama hidup Bunda deh. Gak sabar! 

 

Anti Klimaks

2 0

"Bunda tambah bingung karena darimana Mr. Kei ini tahu kalau Bunda di Makassar. Zaman itu kan belum ada handphone, masih ke wartel kalo mau nelepon jarak jauh. Oma sama Opa tu numpang telepon tetangga buat nerima panggilan. Kok tahu-tahu Bunda dipanggil tetangga rukonya Oma-opa."

"Pasti Bunda tanya ke Mr. Keisha tu, kan?"

"Ya iyalah. Ternyata Oma masih menjadi fans berat dia. Selain dia masih terus ngirimin Bunda surat "tuduhan", dia selalu menelepon Oma nanyain kabar. Mentang-mentang dia langsung dinas di salah satu perusahaan telekomunikasi BUMN saat itu, dipakainya privilege untuk bisa bebas menelepon keluarga."

Aku yakin Mr. Keisha bukanlah yang jadi suami Bunda Dahlia karena Kak Kenanga pernah bilang kalau nama Ayahnya sama dengan Pak Salman. Bagaimana Bunda menyelesaikan konflik ini ya? Aku penasaran. 

Bunda bilang kalau malam itu terjadi rapat keluarga yang lumayan panas. Bunda tidak terima karena Oma membagi informasi tanpa izinnya. Oma bersikeras buat apa minta izin karena Bunda anaknya Oma. Opa menengahi kalau seharusnya wilayah pribadi seseorang, walau anak kandung sekalipun, tetap harus dihormati. 

Bunda juga menanyakan mengapa Mr. Keisha sangat yakin kalau lamarannya diterima. Bunda curiga apa mungkin sudah ada pembicaraan tentang itu dengan keluarga tapi Bunda belum diberitahu. Bunda tidak mau dijodohkan tanpa sepengetahuannya. Ketika Bunda menanyakan itu ke Opa, Opa bilang tidak tahu. 

Nah loh … 

Akhirnya, rapat keluarga menjadi ajang interogasi Oma. Apa saja yang sudah dilakukan dan diinformasikan ke Mr. Keisha. Oma bilang kalau Mr. Keisha selalu rajin menelepon sejak tamat SMP dan selalu menemuinya setiap dia pulang ke Bengkulu tapi sejak di Makassar, dia hanya bisa menelepon saja. Hanya saja, Opa merasa dikelabui karena Oma tidak pernah cerita apapun tentang ini. 

"Wah … Hebat Bunda bisa nyimpen cerita ini sekian lama. Sama sekali gak pernah denger padahal beberapa kisah suka Bunda ulang-ulang." Kak Kenanga menaikkan dagunya. 

Ah, aku jadi merasa bersalah karena ikut mendengarkan kisah keluarga Bunda seperti ini. Tapi kan … 

"Semua kisah akan diceritakan pada waktunya." 

"Aw! It hits precisely."

Kak Kenanga orangnya ekspresif banget. 

"Jadi, what happened next?"

Kata Bunda Dahlia, kedua orang tuanya punya pendapat berbeda tentang laki-laki yang cocok buat Bunda. Oma sangat terobsesi dengan Mr. Keisha sedangkan Opa tertarik dengan Pak Salman. Waktu Bunda tanya apa alasannya, Opa bilang Pak Salman itu apa adanya. 

Pada saat itu, Bunda merasa dirongrong oleh Mr. Keisha yang setiap sore menelepon dan . Bunda juga merasa tidak enak hati karena tetangga ruko Oma jadi terganggu dan sibuk memanggil-manggil. Opa turun tangan dan siap sedia di jam Mr. Keisha biasa menelepon dan menerima teleponnya untuk berbicara antar lelaki. 

"Pak Salman apa kabarnya, Bun?"

Sama lagi pikiran kita, Kak

"Dua minggu penuh tak satupun kabar datang dari Salman. Entah kenapa Bunda merasa sangat butuh didampingi Salman saat itu." 

"Bunda sudah jacin tu mah." Kak Kenanga menggoda Bunda. 

Bunda Dahlia pipinya memerah. So sweet … 

"Yang jelas, Salman menyelamatkan kehidupan Bunda." 

Kemudian Bunda menjelaskan bahwa setelah dua minggu, Pak Salman memberitahu kalau ayahnya tiba-tiba jatuh sakit. Sempat mengalami koma beberapa hari lalu meninggal dunia. Pak Salman meminta maaf karena beliau fokus menyelesaikan masalah wafatnya sang ayah dan warisan yang ditinggalkan. 

Bunda tambah depresi karena tidak mungkin menceritakan apa yang sedang terjadi. Pihak keluarga Mr. Keisha sudah minta bertemu padahal Bunda belum menjawab apa-apa. Bunda belum mau menikah karena belum selesai kuliah tetapi masalah terbesarnya adalah Bunda tidak mau menikah dengan Mr. Keisha!

Opa dan Oma juga bertengkar karena masalah ini. Opa mengatakan kalau Oma sudah seenaknya mengambil keputusan sepihak. Oma tidak mau tahu, yang jelas beliau sudah berjanji kalau suatu saat Bunda akan menikah dengan Mr. Keisha. Opa mendesak Oma buat mengatakan yang sejujurnya. 

"Seru, Bun. Kayak nonton sinetron."

Bunda dan aku tergelak. 

"Bunda merasa berada di ujung tanduk. Bunda jadi banyak membaca alquran untuk menenangkan jiwa. Bunda sholat tahajud setiap hari memohon pertolongan Allah begitupun Opa. Mata Bunda bengkak karena selalu menangis. Bunda sudah membayangkan bagaimana jika terpaksa menikah dan masih kuliah."

"Kapan nih Zorro-nya muncul?"

"Siapa Zorro, Kak?" Aku bingung. 

"Kamu gak tahu Zorro? Itu sejenis pahlawan bertopeng dari daerah latinos. Dia pakai pedang dan akan memberi tanda "Z" pada penjahat yang tertangkap olehnya."

Aku yang … heh

"Zorro sudah ga pernah lagi ditayangkan di TV. Anak zaman sekarang sudah ga tahu." 

Tuh … Kak Kenanga tahu, dia kan kid jaman now juga

"Kamu mah nyuri-nyuri nonton di laptop Bunda, kan?" Bunda seakan mendengar suara hatiku. 

Kak Kenanga menggaruk hijabnya yang tidak gatal. Aku nyengir kuda. 

"Zorro-nya Bunda muncul di minggu terakhir liburan Bunda. Salman was back!" 

"Kok bisa Pak Salman yang menyelesaikan masalah Bunda?

Jadi kata Bunda, Pak Salman datang lagi ke Makassar buat melanjutkan semester pendeknya setelah diurus segala sesuatunya. Kemudian beliau datang menemui Bunda, Oma dan Opa lalu Pak Salman juga mau melamar Bunda tapi menikahnya nanti kalau dia sudah koas dan mendapat gelar sarjana kedokteran dan Bunda sudah wisuda. Sedangkan berkumpulnya nanti kalau beliau sudah jadi dokter. 

Kak Kenanga bertepuk tangan. Aku juga merasa excited. Kami sepertinya merasa bahwa Pak Salman berani sekali menghadap secara langsung. 

"Perasaan Bunda campur aduk. Opa menyerahkan keputusan ini kepada Bunda. Oma marah dan merasa kecewa sama Salman yang merusak keinginannya menjodohkan Bunda apalagi Oma juga tahu kalau Salman adalah sahabat Mr. Keisha."

Kami menunggu. 

"Lalu Salman bilang, justru karena Keisha adalah sahabatnya makanya dia tidak mau Bunda menikah dengan Keisha."

Kami tetap diam.

"Keisha sudah berubah semenjak berpisah dari Bunda. Salman memberitahu kalau sepupunya yang tinggal di Jakarta adalah salah satu korbannya. Salman baru tahu ketika berkumpulnya keluarga di acara takziah kematian ayahnya. Mr. Keisha menjadi playboy dan memacari banyak gadis karena dia punya gaji yang besar bahkan sejak dia masih di sekolah ikatan dinasnya. Pada awalnya, Salman tidak tahu kalau yang dibicarakan sepupunya adalah Keisha tapi ketika diperlihatkan foto-foto kemesraan mereka, Salman terkejut bukan kepalang." 

Mr. Keisha akan mencari perempuan pada saat hari liburnya. Pak Salman bilang sepupunya termakan rayuan Mr. Keisha dan menjadi kekasihnya dan kemudian ditawari akan dinikahi. Sepupunya sempat hamil dua kali tapi Mr. Keisha minta digugurkan kandungannya dan akan membiayai operasi mengembalikan keperawanan di Singapura. 

"Astaghfirullah! Bunda! Memang bisa kayak gitu?" Kak Kenanga tak habis pikir. 

"Memang ada berita tentang banyaknya pasangan yang menggugurkan kandungannya yang di luar nikah. Bunda tidak menyangka kalau Keisha menjadi salah satunya. Dan kalian tahu, semua perempuannya adalah wanita berhijab!"

Kak Kenanga dan aku menutup mulut kami yang terbuka. 

"Apakah dia begitu karena balas dendam ke Bunda?" Kak Kenanga memakai "dia" saja. 

"Bunda saja tidak menyangka akan mendengar hal itu. Sempat terbersit rasa bersalah tapi Salman bilang itu bukan salah Bunda. Keisha saja yang sudah "gila"."

"Trus, Oma bilang apa?"

"Oma akhirnya ngaku kalau beliau selalu diberi atau dikirimi uang oleh Keisha." 

"Waaaah … Kok mau aja Oma ya."

"Mana tahu Oma kalau dia dijadikan korban memakan duit perai." 

"Perai? Apa itu?" Aku baru dengar istilah ini. 

"Perai itu sama kayak gratisan. Mendapat uang perai berarti mendapat uang tanpa usaha."

"Ooooooooo …"

"Jadi, Oma mau nerima Pak Salman?" 

"Ya kalau gak diterima, mana mungkin ada kamu." Bunda memencet hidung Kak Kenanga. 

Kak Kenanga is freezing

 

 

 

Pejantan Tangguh

1 0

Kak Kenanga benar-benar tidak menyangka jawaban Bunda padahal dia sempat ngomong kalau nama Pak Salman mirip dengan nama bapaknya. Dia benar-benar mengira Pak Salman adalah seseorang lain yang hadir di kehidupan Bunda Dahlia. 

Setelah mendapatkan kembali ruhnya, Kak Kenanga berkata, "Bunda ja … hat …"

Bunda tergelak lagi, "Lah ... darimana jahatnya? Kamunya yang nggak ngeh." 

"Nang nggak nyangka kalau itu Bapak karena Bapak bukan dokter." 

Eh … What has happened?

"Nak Sakura pasti bingung. Sudah dapet cerita mubeng-mubeng." Bunda tertawa kecil. 

"Iya, Sakura. Bapak tu dosen."

"Iya, Sakura. Dosen kedokteran." Bunda benar-benar mengerjai Kak Kenanga. 

"Kamu nih. Masa gak tahu Bapaknya dosen apa." 

"Bapak itu dosen … eee … iya ya, dosen kedokteran." Kak Kenanga terjeda karena berpikir kemudian tertawa malu. 

"Pasti karena Bapak disebut ahli forensik terus makanya gak ingat kalau Bapaknya juga sebenarnya dokter." 

Jadi, Bunda cerita kalau Bapak selalu bercita-cita menjadi penegak hukum. Lalu, seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, Bapak jadinya masuk kedokteran. Namun setelah menjalani hidup sebagai dokter, keinginan berada di dunia hukum masih kuat. Jadi, Bapak mengambil spesialis forensik tapi Eyang Puput tidak mau Bapak terlalu berkecimpung mengurusi jenazah-jenazah korban kejahatan. Akhirnya, Bapak lebih mengabdi sebagai dosen forensik di kriminologi. 

"Maafkan, Nang, Bunda. Nang khilaf." Kak Kenanga mengambil posisi seperti mau sungkeman. 

Aku tersenyum geli melihat tingkah Kak Kenanga. Duo ibu dan anak yang memang menarik. Mereka sangat akrab. Aku jadi membandingkan diriku dengan Ibu. Aku menyayangi beliau tapi ada jarak ketika aku punya masalah. Aku lebih suka diam dan menyendiri atau lari seperti ini. Sedangkan Bunda Dahlia dan Kak Kenanga kelihatan tidak punya gap

"Bun, apa iya Bapak langsung diterima sama Oma dan Opa waktu Bapak cerita tentang Mr. Keisha tu?"

"Untuk sementara, iya. Kemudian, Keisha yang merasa dirugikan, datang ke Makassar dan mereka head to head." 

Aku dan Kak Kenanga menegakkan badan. 

"Keisha bilang kalau Bapak itu sahabat yang gak tau terima kasih. Bapak bilang persahabatan mereka gak ada urusannya dengan masalah ini. Keisha minta Bapak jangan memfitnah tanpa alasan dan bukti. Bapakmu ngomong kalau dia tidak datang dengan tangan hampa." 

Karena korbannya tidak hanya sepupunya, Pak Salman yang mengerti hukum, mencari bukti-bukti yang lain supaya beliau tidak hanya sekedar omong kosong. Ternyata, ada beberapa teman perempuan SMP Bunda yang juga jadi korban Mr. Keisha. Mereka ketemu lagi di Jakarta karena sama-sama kuliah dan bekerja. Namun, semua korban Mr. Keisha memilih bungkam karena mereka sudah mendapat kompensasi berupa biaya atau operasi "yang itu". Apalagi yang sudah berkeluarga, mereka tidak mau keluarganya hancur kalau tahu apa yang sudah terjadi. Mr. Keisha playing clean

Pak Salman bisa mendapatkan banyak bukti berupa foto dan surat-surat rayuan Mr. Keisha juga tiket-tiket perjalanan dan resi hotel. Mr. Keisha ini benar-benar memanjakan para korbannya. Setiap weekend, dia akan mengajak korbannya traveling ke Bali atau ke Yogya atau destinasi lainnya. Tidak mungkin pasangan kekasih bisa menahan dirinya berdua-dua saja. Makanya dikatakan, yang ketiga adalah setan. Hawa nafsu yang bicara. 

Aku dan Kak Kenanga bergidik mendengar cerita Bunda. Bunda menasehati kami buat berhati-hati menjaga diri. Kalau bisa, setiap bepergian yang lumayan jauh ditemani mahramnya. 

Aku merasa tersentil. Untung sekarang ketemu sama Bunda dan Kak Kenanga. 

"Keisha yang merasa terpojok, akhirnya bilang merasa menyesal. Dia minta maaf ke Oma dan Opa sudah menyebabkan keributan. Bagaimanapun, katanya, dia mau mempunyai istri yang bersih." 

"Enak aja! Sudah ngerusak anak gadis orang trus maunya yang suci. Dasar laki-laki gak punya perasaan. Tak pites kowe!" Kak Kenanga memperagakan omongannya dengan gerakan mematikan kutu. 

Bunda bilang kalau saat itu Pak Salman memang tujuannya menyelamatkan Bunda. Setelah itu Pak Salman mengatakan lewat surat kalau beliau belum yakin bisa berjanji menikahi Bunda dalam waktu dekat karena keadaan bahwa sekarang beliau bertanggung jawab atas ibu dan saudara perempuannya. Karena dalam Islam tidak boleh mengikat terlalu lama, Pak Salman pasrah kalau misalnya ada lelaki lain yang baik melamar Bunda. Bunda juga jangan ragu menerima lamaran lain kalau itu yang terbaik. 

"Bapak memang laki-laki yang baik. Beliau pejantan tangguh. Jadi rindu Bapak …" 

Aku terharu. 

 

Papa Opa

1 0

Menurutku, keluarga Bunda adalah keluarga yang hangat. Komunikasi mereka berjalan dengan baik kelihatannya. Keluarga yang harmonis. Aku tidak boleh iri. Seperti kata Bunda, aku harus mensyukuri apa yang aku punya. Keluargaku adalah kebahagiaanku. Aku menjelma sebagai kupu-kupu. 

"Perjalanan kita tinggal dua sampai tiga jam lagi." Bunda mengingatkan. 

"Apa lagi nih cerita Bunda?" 

"Bunda akan bercerita tentang Opa."

"Okay. My beloved Opa yang paling ganteng." 

Opanya Kak Kenanga keturunan Arab, hidungnya mancung, wajahnya seperti pangeran Arab dan tinggi. Bunda bilang kalau beliau adalah lelaki yang lembut dan tidak pernah mengumbar marah. Oma yang energik dan maunya serba cepat mendapat pasangan yang sangat cocok. 

"Bunda paling suka ikut Papa eh Opamu kalau belanja ke pasar karena beliau gak pelit. Papa bukan orang yang suka menawar belanjaan kecuali kalau harganya gak masuk akal. Beliau berkata kalau pedagang pasti sudah punya pertimbangan mau naruh harga segitu. Kita aja yang sabar keliling pasar nyari barang bagus dengan harga pantas." 

"Nang juga suka dibeliin makanan kesukaan kalo ikut Opa ke pasar. Pasti ada bungkusan yang dibawa pulang." 

Enaknya Kak Kenanga masih punya Oma dan Opa dan Eyang Puput. Aku sudah tidak punya Kakek-Nenek lagi baik dari pihak Ibu maupun pihak Bapak. Astaghfirullah … kata Bunda tidak boleh membandingkan hidup kita dengan orang lain. 

"Opa orangnya ramah sehingga siapapun akan merasa senang berada di dekat beliau. Apalagi beliau pandai membuat syair atau pantun secara live dan itu bisa mencairkan suasana ketika berkumpul bersama. Yang jelas beliau orang yang penyayang." 

"Opa memang gak pernah marah, Bun?" 

"Opa bukannya tidak pernah marah, tapi beliau lebih memilih menahan amarahnya. Beliau orang yang selalu mempertahankan wudhunya. Pokoknya setiap masuk kamar kecil atau kamar mandi pasti beliau keluar dengan keadaan berwudhu. Nah, kalau lagi marah, Opa akan ambil wudhu juga biar sejuk lagi katanya sehingga amarah tidak jadi merajai hati." 

Jadi pengen ketemu Opanya Kak Kenanga. 

"Opa pernah marah ketika membela adik angkat Bunda."

"Om Daniel, Bun?"

"Iya. Om Daniel kan orangnya kurus kerempeng gitu dan dia memang kayak anak yang kurang gizi. Opa marah karena Daniel dikerjai sama anak tentara gang sebelah." 

Bunda cerita, Om Daniel suka main di masjid dekat rumah dan bantu-bantu kerja marbot. Pada saat itu ada beberapa remaja laki-laki yang lagi istirahat di teras masjid. Ketika Om Daniel minta mereka pindah supaya lantainya bisa dipel, mereka marah dan mengatai Om Daniel perusak suasana. Mereka menyeret Om Daniel ke halaman masjid dan dijadikan bulan-bulanan tendangan dan dorongan. Karena diperlakukan tidak adil, suatu kali Om Daniel menghindar tapi keseimbangannya runtuh dan dia jatuh terjengkang tapi kakinya tertendang alat vital pemimpin para remaja itu. Bisa dipastikan, Om Daniel akan "hancur lebur".

"Untungnya ada anak kecil yang melihat kejadian itu dan langsung melaporkan ke Opa. Opa yang tahu situasinya buruk, bergegas datang membawa "lading panjang" dan menyerbu ke sana. Opa hanya ingin menakut-nakuti saja tapi anak-anak remaja itu memang keder dan menangis ketakutan. Opa menyuruh mereka pulang." 

"Apa itu lading panjang, Bun?" Aku tidak tahu. 

"Kalau di Sumatera lading tu pisau artinya. Tapi di daerah lain artinya bisa jadi pedang." 

"Sudah, gitu aja, Bun? Masih cengeng aja belagu." 

"Nggak. Yang Bapaknya tentara, malamnya datang ke rumah ngamuk-ngamuk sambil mengacungkan senapan. Oma dan Bunda jadi tameng Opa. Akhirnya Pak RT dan RW turun tangan."

Yang lucunya, kata Bunda, justru pihak tentara itu minta keluarga kami menyelenggarakan adat "setawar sedingin" yang biayanya lumayan karena sesuai permintaan korban. Oma bersikeras tidak mau melaksanakannya. Opa bilang tidak apa-apa tapi kita datang apa adanya saja. 

"Trus, Bun?" Kak Kenanga merasa tidak sabar.

"Ternyata, Opa menghubungi teman jenderalnya yang sedang berkunjung ke Bengkulu waktu itu. Opa minta tolong untuk menyelesaikan urusan satu ini. Pas tetangga tentara itu dikasih tau kalau atasannya adalah saudara Opa, dia langsung keder dan minta maaf dan bilang kalau anaknya yang bersalah." 

"Wah … taktik Opa berhasil! Memang masih saudara Opa, Bun? Jenderalnya?"

"Saudara sekampung. Sama-sama orang Palembang." Kami tertawa bersama. 

Bunda menyambung sedikit kalau ternyata anak tentara yang tertendang Om Daniel baru saja keluar penjara anak-anak karena melakukan kekerasan pada teman sekolahnya. Memang temper-nya bermasalah sebab sering ditendang bapaknya yang tentara. Aksi bullying-nya terus berlangsung karena bapaknya tidak mengubah perlakuannya. Like father like son. 

 

Mungkin saja kamu suka

Nurfa Triya
TERNYATA KITA BERBEDA
Astri Supraptin...
Namaku Patikan Kebo
Annisa Nursholi...
My Graduation
Jauharotul Fari...
11 Hari Backpacker Menikmati B
Dhini Afiana
HAUNTED
Iva Fitri Lutfh...
MY CHANGE

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil