Loading
0

0

0

Genre : Teenlite
Penulis : opiearida
Bab : 30
Pembaca : 1
Nama :
Buku : 1

On My Way

Sinopsis

#Sarapankata #KMOIndonesia #KMOBatch39 #Kelompok3 #AlphaCentauri #Day1 #Jum Prolog Aku terdiam merasakan angin yang menyambut ketika tiba dipantai meresapi pesan yang dibawa dan seperti kilasan- kilasan tersebut berputar mengulang dalam fikiran. Bugh...!, astaghfirullah!. Aku terbangun dengan posisi badan yang aneh dan teringat akan apa yang membuatku terbangun seperti ini, ya, mimpi seperti sebelum-sebelumnya. Aku menceritakannya ke orang tua ketika sudah berturut- turut dalam seminggu mimpi seperti itu dan orang tuaku tidak percaya, menganggap hanya ilusi saja atau karena aku suka nonton film. Fikiranku tidak tenang, selalu terarah ke mimpiku tersebut dan membuat rutinitas harian yang biasa aku jalani terasa hampa. Sampai dimana aku mulai merasa lelah dan aku bertanya lagi kepada mama, “ma, kenapa ya aku selalu terfikir ke mimpi itu?, apakah ada suatu pertanda ataukah sebagai pengingat?”, kemudian mama menjawab dengan serius “coba kamu tanyakan hal ini kepada papa dan kakek kamu, mungkin beliau punya masukan atau pandangan terkait mimpi itu”. “Bisa jadi itu sebagai petunjuk agar kamu selalu bersyukur, lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dan sering memberi atau membantu sesama. Coba kamu lakuin hal itu, dan lihat nanti apakah kamu masih merasa tidak tenang atau hampa” nasehat dari kakek ketika aku memutuskan untuk berkunjung kekampung halaman dan bercerita tentang mimpi yang selama ini berputar seperti kaset film. Aku langsung melakukan apa yang dinasehatkan oleh kakekku, karena itu hal positif juga jadi tidak masalah. Dengan kesungguhan, keikhlasan, dan niat karena Allah, secara berangsur- angsur aku merasakan ketenangan, ketentraman dan hati yang damai. Tidak ada lagi rasa gelisah, dan mimpi itu tidak lagi mampir kedalam tidurku. Setelah kejadian ini, aku jadi sadar bahwa kita harus selalu mengingat akan dunia setelah ini, apa yang sudah disiapkan sebagai bekal nanti. Bisa jadi perilaku kita saat ini merupakan bekal kebaikan kita atau malah sebaliknya. Aku, Airya Seinova. Setelah kejadian yang menimpaku sebelumnya, kehidupanku sekarang berjalan dengan normal dan baik-baik saja. Liburan telah usai, waktunya mengumpulkan kembali semangat untuk kuliah. Aku kuliah di universitas swasta Jakarta yang cukup terkenal. Terkenal dengan mahasiswa mahasiswi otak encer nya atau bisa dibilang pintar. Tapi berbeda denganku yang biasa saja, malas hangeout dengan teman, lebih suka menjadi kupu-kupu alias kuliah pulang - kuliah pulang. Jangan salah, meskipun aku tidak suka bergaul yang seperti pada umumnya anak kuliahan, tapi aku aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan himpunan, dengan tujuan menyeimbangkan otak kiri dan otak kananku alias aku lemah dibidang akademik, jadi diseimbangkan dengan prestasi dalam bidang lain yang non akademik. "Ya,, sudah disiapkan perlengkapan buat berangkatnya?" tanya mamaku. "sudah mah" jawabku sambil bermain handphone. "kemeja, buku catatan, leptop, charger, handphone, dompet, kunci kosan semuanya sudah masuk ke dalam tas?" tanya mamaku kembali. "sudah semua mamahku sayang,,," ucap Airya sambil memeluk sang mama. "sudah siap berangkat beauty nya papa?" tba-tiba papa datang menghampiri kami yang sedang berpelukan seperti tokoh kartun Teletubbies. "doppingan kamu buat dijalan kelupaan ini Ya!" ucap mama pada Arya sambil memasukkan tumbler berisi minuman dingin dengan topping jelly kesukaan putrinya tersebut. "dadah mah, pah, Airya berangkat dulu ya. Doakan biar selamat sampai tujuan dan kuliah dengan benar,, aamiin. Hehe" ucap Airya seraya mencium tangan kedua orangtuanya untuk berpamitan berangkat ke Jakarta. "Iya beauty sayang,, papah mamah doakan kamu. Jangan lupa sering telepon, ke kakek juga ya sayang." jawab papah dan mamah Airya dengan bersamaan sambil melihat anak semata wayangnya itu naik kedalam shuttle untuk berangkat ke Jakarta. Airya mabok darat, tidak bisa on fire atau terjaga selama perjalanan. Ketika duduk di shuttle Airya langsung melakukan ritual seperti biasa jika berpergian naik kendaraan darat agar tidak mabuk, yaitu dengan memasang earphone sambil memutar musik di handphone dengan list lagu penuh datu grub band Avengedsevenvold atau AX7. Tidak lupa juga minum doppingan yang sudah dibekalkan oleh mamah Airya. Terakhir, tidur dengan memeluk tas ransel yang tali gendongannya dililit- lilit terlebih dahulu ketangan. Sambil menikmati alunan musik dengan earphone nya, Airya merasakan pergerakan shuttle yang melambat, ketika membuka mata Airya melihat disekelilingnya penuh dengan mobil pariwisata padahal sekarang liburan sudah usai. "Neng, buku ceritanya neng. Mungkin buat adik atau keponakan Neng. Lima belas ribu rupiah saja Neng. Banyak pilihannya, ada buku mewarnai juga" tiba-tiba ada bapak-bapak yang menawarkan jualannya kepadaku. Aku tidak berfikir bahwa di shuttle seharusnya tidak ada yang keliling berjualan, kecuali jika naik bis umum. Aku merespon bapak penjual tersebut dengan melihat- lihat buku cerita apa yang akan aku beli untuk keponakanku nanti. "Terimakasih ya Neng, semoga selamat sampai tujuan dan sukses selalu" ucap bapak penjual tersebut sambil berlalu. "Aamiin..." jawabku. Rest area rest area rest area, lima belas menit untuk istirahat silahkan yang ingin makan, minum, ke toilet, atau beli oleh-oleh. Teriakan kenek membangunkan ku. Aku langsung merapihkan keadaanku yang sudah duduk tidak beraturan. Aku hanya bangun saja dan meminum doppingan ku sambil melihat-lihat diluar. Triing,,, triing,,, triing,,, Teleponku berbunyi, panggilan video dari mama dan langsung aku tekan tombol hijau untuk menjawabnya. "Hallo, assalamualaikum mah.." ucapku "Waalaikumsalam,, lagi di rest area ya sayang?" tanya mamaku yang ternyata melakukan telepon video sambil menggendong bayi mungil keponakanku, shirel. "Iya mah,, baru sampai di rest area. Hay sayang Kaka,, lagi digendong sama Uwa Oma ya sayang. Kaka belikan adik shirel buku cerita, pasti adik suka" ucapku dengan sangat antusias dan senang sambil mengambil buku cerita yang tadi sudah dibeli dari bapak-bapak. "Lha, kok? kemana ya? padahal tadi habis beli kan langsung aku simpan ditas, kok sekarang ngga ada?" aku kebingungan sampai akhirnya mama yang masih tersambung dengan panggilan video menyadarkanku dengan pwrtanyaannya. "kenapa Ya?" tanya mama. "cari buku cerita, tadi habis beli ke bapak-bapak di shuttle, lumayan kan buat mainan adik" jawabku sambil masih mencoba untuk mencari buku tersebut. Dengan muka bingung mamah bicara lagi kepadaku, "lho Ya, bukannya di shuttle ngga ada yang jualan ya?". Aku tercengang dengan penjelasan mamahku. "Apakah aku bermimpi atau berhalusinasi ya?, tapi tadi terasa nyata" ucapku dalam hati.
Tags :
#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch39 #Kelompok3AlphaCentauri #Day1

Prolog

0 0

Aku terdiam merasakan angin yang menyambut ketika tiba dipantai meresapi pesan yang dibawa dan seperti kilasan- kilasan tersebut berputar mengulang dalam fikiran.

Bugh...!, astaghfirullah!. Aku terbangun dengan posisi badan yang aneh dan teringat akan apa yang membuatku terbangun seperti ini, ya, mimpi seperti sebelum-sebelumnya. Aku menceritakannya ke orang tua ketika sudah berturut- turut dalam seminggu mimpi seperti itu dan orang tuaku tidak percaya, menganggap hanya ilusi saja atau karena aku suka nonton film.

Fikiranku tidak tenang, selalu terarah ke mimpiku tersebut dan membuat rutinitas harian yang biasa aku jalani terasa hampa. Sampai dimana aku mulai merasa lelah dan aku bertanya lagi kepada mama, “ma, kenapa ya aku selalu terfikir ke mimpi itu?, apakah ada suatu pertanda ataukah sebagai pengingat?”, kemudian mama menjawab dengan serius “coba kamu tanyakan hal ini kepada papa dan kakek kamu, mungkin beliau punya masukan atau pandangan terkait mimpi itu”.

“Bisa jadi itu sebagai petunjuk agar kamu selalu bersyukur, lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dan sering memberi atau membantu sesama. Coba kamu lakuin hal itu, dan lihat nanti apakah kamu masih merasa tidak tenang atau hampa” nasehat dari kakek ketika aku memutuskan untuk berkunjung kekampung halaman dan bercerita tentang mimpi yang selama ini berputar seperti kaset film.

Aku langsung melakukan apa yang dinasehatkan oleh kakekku, karena itu hal positif juga jadi tidak masalah. Dengan kesungguhan, keikhlasan, dan niat karena Allah, secara berangsur- angsur aku merasakan ketenangan, ketentraman dan hati yang damai. Tidak ada lagi rasa gelisah, dan mimpi itu tidak lagi mampir kedalam tidurku.

Setelah kejadian ini, aku jadi sadar bahwa kita harus selalu mengingat akan dunia setelah ini, apa yang sudah disiapkan sebagai bekal nanti. Bisa jadi perilaku kita saat ini merupakan bekal kebaikan kita atau malah sebaliknya.

Aku, Airya Seinova. Setelah kejadian yang menimpaku sebelumnya, kehidupanku sekarang berjalan dengan normal dan baik-baik saja. Liburan telah usai, waktunya mengumpulkan kembali semangat untuk kuliah. Aku kuliah di universitas swasta Jakarta yang cukup terkenal. Terkenal dengan mahasiswa mahasiswi otak encer nya atau bisa dibilang pintar. Tapi berbeda denganku yang biasa saja, malas hangeout dengan teman, lebih suka menjadi kupu-kupu alias kuliah pulang - kuliah pulang. Jangan salah, meskipun aku tidak suka bergaul yang seperti pada umumnya anak kuliahan, tapi aku aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan himpunan, dengan tujuan menyeimbangkan otak kiri dan otak kananku alias aku lemah dibidang akademik, jadi diseimbangkan dengan prestasi dalam bidang lain yang non akademik.

"Ya,, sudah disiapkan perlengkapan buat berangkatnya?" tanya mamaku.

"sudah mah" jawabku sambil bermain handphone.

"kemeja, buku catatan, leptop, charger, handphone, dompet, kunci kosan semuanya sudah masuk ke dalam tas?" tanya mamaku kembali.

"sudah semua mamahku sayang,,," ucap Airya sambil memeluk sang mama.

"sudah siap berangkat beauty nya papa?" tba-tiba papa datang menghampiri kami yang sedang berpelukan seperti tokoh kartun Teletubbies.

"doppingan kamu buat dijalan kelupaan ini Ya!" ucap mama pada Arya sambil memasukkan tumbler berisi minuman dingin dengan topping jelly kesukaan putrinya tersebut.

"dadah mah, pah, Airya berangkat dulu ya. Doakan biar selamat sampai tujuan dan kuliah dengan benar,, aamiin. Hehe" ucap Airya seraya mencium tangan kedua orangtuanya untuk berpamitan berangkat ke Jakarta.

"Iya beauty sayang,, papah mamah doakan kamu. Jangan lupa sering telepon, ke kakek juga ya sayang." jawab papah dan mamah Airya dengan bersamaan sambil melihat anak semata wayangnya itu naik kedalam shuttle untuk berangkat ke Jakarta.

Airya mabok darat, tidak bisa on fire atau terjaga selama perjalanan. Ketika duduk di shuttle Airya langsung melakukan ritual seperti biasa jika berpergian naik kendaraan darat agar tidak mabuk, yaitu dengan memasang earphone sambil memutar musik di handphone dengan list lagu penuh datu grub band Avengedsevenvold atau AX7. Tidak lupa juga minum doppingan yang sudah dibekalkan oleh mamah Airya. Terakhir, tidur dengan memeluk tas ransel yang tali gendongannya dililit- lilit terlebih dahulu ketangan.

Sambil menikmati alunan musik dengan earphone nya, Airya merasakan pergerakan shuttle yang melambat, ketika membuka mata Airya melihat disekelilingnya penuh dengan mobil pariwisata padahal sekarang liburan sudah usai.

"Neng, buku ceritanya neng. Mungkin buat adik atau keponakan Neng. Lima belas ribu rupiah saja Neng. Banyak pilihannya, ada buku mewarnai juga" tiba-tiba ada bapak-bapak yang menawarkan jualannya kepadaku. Aku tidak berfikir bahwa di shuttle seharusnya tidak ada yang keliling berjualan, kecuali jika naik bis umum. Aku merespon bapak penjual tersebut dengan melihat- lihat buku cerita apa yang akan aku beli untuk keponakanku nanti.

"Terimakasih ya Neng, semoga selamat sampai tujuan dan sukses selalu" ucap bapak penjual tersebut sambil berlalu.

"Aamiin..." jawabku.

Rest area rest area rest area, lima belas menit untuk istirahat silahkan yang ingin makan, minum, ke toilet, atau beli oleh-oleh.

Teriakan kenek membangunkan ku. Aku langsung merapihkan keadaanku yang sudah duduk tidak beraturan. Aku hanya bangun saja dan meminum doppingan ku sambil melihat-lihat diluar.

Triing,,, triing,,, triing,,,

Teleponku berbunyi, panggilan video dari mama dan langsung aku tekan tombol hijau untuk menjawabnya.

"Hallo, assalamualaikum mah.." ucapku

"Waalaikumsalam,, lagi di rest area ya sayang?" tanya mamaku yang ternyata melakukan telepon video sambil menggendong bayi mungil keponakanku, shirel.

"Iya mah,, baru sampai di rest area. Hay sayang Kaka,, lagi digendong sama Uwa Oma ya sayang. Kaka belikan adik shirel buku cerita, pasti adik suka" ucapku dengan sangat antusias dan senang sambil mengambil buku cerita yang tadi sudah dibeli dari bapak-bapak.

"Lha, kok? kemana ya? padahal tadi habis beli kan langsung aku simpan ditas, kok sekarang ngga ada?" aku kebingungan sampai akhirnya mama yang masih tersambung dengan panggilan video menyadarkanku dengan pwrtanyaannya.

"kenapa Ya?" tanya mama.

"cari buku cerita, tadi habis beli ke bapak-bapak di shuttle, lumayan kan buat mainan adik" jawabku sambil masih mencoba untuk mencari buku tersebut.

Dengan muka bingung mamah bicara lagi kepadaku, "lho Ya, bukannya di shuttle ngga ada yang jualan ya?". Aku tercengang dengan penjelasan mamahku. "Apakah aku bermimpi atau berhalusinasi ya?, tapi tadi terasa nyata" ucapku dalam hati.

 

OMW_1

0 0

"Iya sudah sana kamu tidur lagi, sudah mau berangkat kan shuttle nya?, hati-hati Ya, ingat barang bawaan apa saja. Tepelon video kalau sudah sampai kosan ya. Assalamualaikum" ucap mamahku mengakhiri panggilan telepon video. "Waalaikumsalam, iya mah. Dadaah" jawabku. Tidak mau ambil pusing dan berfikir keras, aku langsung memposisikan badan senyaman mungkin kemudian melanjutkan dengarkan musik pakai earphone dan tidur lagi. Satu jam perjalanan dari rest area terasa lambat bagi Airya, sudah tiga kali dia terbangun tidak seperti biasanya. Airya menatap sekeliling nya, semua normal tidak ada yang aneh atau shuttle tidak ada kendala masih berjalan dengan kecepatan sedang. "Astaghfirullah...!" Aku tersentak kaget ketika akan kembali tidur, kutegapkan badan sambil mengatur nafas pelan-pelan menoleh kebelakang. Merinding, itu yang kurasakan ketika mataku beradu pandang dengan pemuda tampan yang duduk dibelakang, aku tersenyum kikuk dan kembali keposisi semula. Menyamankan badan untuk kembali tidur menunggu sampai ketempat tujuan, merindu dengan kamar kosan. Tetapi fikiranku terfokus pada kejadian tadi. Siapa pemuda tampan yang duduk dibelakangku?, saat pertama berangkat tidak ada pemuda tadi hanya ada seorang ibu muda dengan anaknya yang masih balita. Aku semakin penasaran, kuberanikan diri untuk menengok lagi kebelakang dan ternyata masih ada pemuda tadi sedang tertidur. "Hmmm,, bukan halusinasi ternyata" ucapku pelan. Triing,,, triing,, triiing,, triiing,, Notifikasi chat WhatsApp langsung menyerbu dan mengalihkan perhatianku. Aku tersenyum dan tertawa kecil melihat pesan di grup WhatsApp kelas yang heboh menggosipkan tentang oppa- oppa di salah satu drama Korea. Sekilas aku melihat pesan yang menumpuk belum terbuka di grup MaCoff, grup ku yang lain dimana dalam grup MaCoff ini adalah perkumpulan bagi mahasiswa yang suka kopi. "kenapa banyak yang mengirim stiker alay begini?" fikirku dalam hati. "Astaghfirullah,, ya Allah !" Seruku kaget dan tidak percaya. Begitu buka grup dan membaca notifikasi didalamnya aku berfikir bagaimana mungkin sosok yang dibicarakan digrup itu yang sedang tampil akustik di caffe milik temanku. Banyak yang sangat antusias mendengarkan sosok itu bermain akustik, sampai teman-teman digrup saling memberikan pujian dan stiker yang alay. Kulihat caption dari foto itu yang ternyata sedang berlangsung hari ini pukul sepuluh pagi. Langsung kulirik jam tangan yang menunjukkan pukul setengah sebelas. Aku memastikan kembali ketemanku dengan melakukan panggilan video, "hallo, assalamualaikum, Re .. ?" "waalaikumsalam,, hallo Ya, kamu sidah sampai mana?" jawab Reika temanku pemilik cafe. "Setengah jam yang lalu baru jalan lagi dari rest area, nggak tahu sekarang sampai didaerah mana, pokoknya masih dijalan" jawabku. "Re,, ada acara apa di cafe?" tanyaku kembali sambil melihat divideo call tersebut kalau suasana cafe lagi sangat ramai. "ini lho ada Zio lagi main akustik,, lumayanla hiburan gratis" ucap Reika sambil tertawa. "Zio?,, Zio siapa sih Re?" ucapku semakin penasaran. "ooh ya ampun, aku lupa kasih tahu kamu Ya. Zio itu temannya barista aku, dia mampir ke cafe tadi terus menawarkan diri buat main akustik. Langsung dong aku ijinkan aja, lumayanlah. Muka tampan, body oke, bisa akustik lagi, makin banyak yang kepo dan datang ke cafe aku" ucap Reika dengan semangat memberitahu aku. "Kamu perkiraan jam berapa sampai Ya?,, nanti aku jemput ya sekalian mampir ke cafe. Zio sampai malam disini. Biar kamu lihat langsung karisma dia saat main akustik" lanjut Reika sambil tertawa senang. Panggilan video terputus, aku masih mencerna apa yang barusan aku dengar dari Reika. Tentang sosok pria tampan yang ternyata sama dengan penumpang dibelakangku.

OMW_2

0 0

Lama aku terdiam, sampai akhirnya melihat kebelakang. Sosok tampan itu masih terpejam menikmati perjalanan shuttle ini. Kuperhatikan lamat-lamat, iya benar, dia adalah sosok tampan yang sama dengan apa yang ditunjukkan oleh Reika melalui video teleponnya, sosok yang sedang bermain akustik dengan syahdu dan membuat sekitarnya terhipnotis. Aku membalikkan badan keposisi semula, dan berbalik lagi untuk memastikan yang kesekian kalinya terhadap sosok tampan dibelakang. "Omeygat, astaghfirullah, ya ampun,, " seru Airya kaget ketika berbalik sosok tpan tersebut membuka mata dan menampilkan senyum menawan namun menyimpan sesuatu yang membangkitkan rasa aneh dalam diri Airya. "Hay,, masih belum puas liatin aku?" ucap lelaki tampan tersebut. "ah,, em,, sorry, aku nggak bermaksud lancang atau ganggu kamu" jawabku dengan salah tingkah karena terus ditatap intens oleh lelaki itu. Suasana terasa canggung, dengan lelaki yang masih menatap Airya sedangkan yang ditatap semakin kaku salah tingkah sambil tersenyum dan menggaruk lengan yang tidak gatal. "ekhem, maaf ya sekali lagi" ucapku akhirnya sambil mencoba tersenyum secara normal dan membalik badan. "Aku Ken. Kenzo Ziovanic Rakkasa" sela lelaki tersebut sambil mengulurkan tangan. Aku mengurungkan untuk berbalik badan sehingga masih diposisi berhadapan dengannya. "Aku Airya Seinova" balasku sambil membalas uluran tangannya. "kamu tinggal dimana Ai?" tanyanya lagi "Ohiya, panggil aja Rakka ya" sambungnya ketika melihat ekspresi kebingungan yang aku tunjukkan untuk manggil dia. "Aku,," Bugh,, argh,, ! Belum sempat aku membalas pertanyaan dari Rakka tiba-tiba kepalaku terantuk kaca shuttle. Aku terbangun dan membenarkan posisi dudukku. "Oh iya, tadi aku belum menjawab pertanyaan dari Rakka" ucapku pelan sambil membalikkan badan kearah belakang dengan semangat. Senyuman teduh seorang ibu muda dan tatapan polos balita yang digendongnya adalah ekspresi yang menyapaku pertama kali saat berbalik badan. Akupun ikut tersenyum dan kemudian melihat ketempat duduk sebelahnya untuk mencari Rakka, sosok lelaki tampan yang selama perjalanan ini membayang difikiran dan menemani ngobrol. "ada yang dicari mba?" tanya ibu muda tersebut yang melihat aku seolah sedang mencari-cari sesuatu dibelakang. "mmm,, tidak Bu. Ibu duduk dibelakang cuma berdua saja ya sama adik bayi?" jawabku sambil menutupi kebingungannya. "eh, iya lho mba. Cuma saya dengan anak saya saja yang duduk dibelakang. Kenapa mba?, mau pindah kesini duduknya?" tanya ibu lagi. "eh, oh,, nggak Bu,, saya disini saja duduknya. Sepertinya sebentar lagi mau sampai" jawabku sambil tersenyum. "mari Bu" ucapku sambil membalikkan badan ke posisi awal. Aku merasa aneh, dan takut. Ada apa denganku?, Mengapa ini terasa nyata?, Apakah aku mimpi dalam mimpi? Huft,, Airya memasangkan headphone dan kembali tidur sambil mendengarkan musik. Menghalau fikiran-fikiran konyol akan kejadian tadi.

OMW_3

0 0

Triing.. triing... triing.. triiing... Suara handphone Airya berbunyi menandakan ada panggilan video yang masuk. Sambil berjalan ke tempat tunggu didalam shuttle, Airya mencari handphone dan melihat nama yang ada dilayarnya kemudian mengangkat panggilan video tersebut. "Hallo Reii,, iya aku sudah sampai di shuttle. Ditempat tunggu yang didalam ya, sambil ngadem nih" jawabku. "Oh oke Ya, tunggu ya sepuluh menit aku sampai shuttle! Iya ngadem dulu aja ya biar nggak mabok kamu, hahaha,," balas Reika sambil tertawa. "Eh enak aja! Aku sudah ngga mabok tahu, kan sudah sampai. Perjalanan ke kosan mah cepat, nggak lama kaya dari rumah ke sini yang perlu enam jam. Iya, cepat ya jangan lama-lama! nggak sabar nih mau ngopi di MaCoff" balasku sambil ikut tertawa pula. "Ahsiyaap,, gratis sepuasnya ngopi dan ngemil deh buat princes!" timpal Reika dengan senyum lebarnya. "Wah,, asik!, siap-siap ya akan dikuras isi MaCoff!" ucapku dengan menaik turunkan alis sambil tersenyum jenaka. "Tenang aja, stok masih banyak nih" balas Reika. "Wah mantul,,,! yasudah Rei, kamu hati-hati ya jangan ngebut. Aku tunggu didalam jangan lupa! Terimakasih ya!" ucapku mengakhiri panggilan video. Huft Sambil menunggu Reika aku menuju minimarket kecil yang ada didalam shuttle. Melangkah melewati rak-rak penuh makanan untuk mencari lemari pendingin. Sambil melihat-lihat isi didalam lemari pendingin, aku dikejutkan oleh suara sapaan disebelahku. "Hai mba,, tunggu jemputan ya?" ucapnya sambil tersenyum. Aku menoleh kesamping dan melihat siapa yang menyapaku, ternyata ibu-ibu muda dengan balita digendongannya. "Eh ibu,, iya Bu, saya tunggu teman yang jemput. Menunggu sambil ngemil. Ibu juga dijemput?" ucapku sambil tersenyum. "iya mba, ibu dijemput naik taksi,, hehe. Mari mba duluan!" pamitnya sambil tersenyum dan sang balita ikut tersenyum dengan menggerak-gerakan tangannya seolah melambai untuk berjabatan tangan. Aku menangkup tangan mungil tersebut sambil tersenyum gemas. Kembali ke tujuan awal, aku akhirnya mengambil minuman ber-ion dan langsung membayar dikasir. Keluar dari minimarket tatapanku langsung tertuju pada gadis mungil yang sedang menengok kanan kiri seolah kebingungan mencari seseorang, ya gadis itu adalah Reika. Dan ketika tatapan Reika bertemu denganku, dia langsung bergegas menghampiri dengan ekspresi kesal, sedangkan aku menyambutnya dengan tertawa. "Airyaaaa,,!" "Bilang dong kalau kamu keminimarket dulu. Ajukan dari tadi sampai langsung bingung cari-cari kamu, mana ditelepon nggak diangkat-angkat pula!" ujar Reika tanpa henti seperti kereta api. "Iya,, iya,, sorry Rei Rei yang cantik, imut, mungil,," ucapku sambil memainkan pipi chuby nya dengan gemas.

OMW_4

0 0

"Apaan sih Ya!. Rei Rei, panggil nama orang itu yang lengkap dong, nanti salah sangka. Dikira aku cowo lagi kalau kamu panggilnya Rei, Rei kayak gitu." balasnya dengan muka ditekuk lucu. "Iya,, iya,, jadi aku panggilnya apa dong?" masih dengan canda aku membalas ucapan Reika. "Ya,, panggil aja princess gitu atau Ika cantik kek, jangan Rei, Rei aja kan jadinya bingung ini manggil laki atau perempuan. Gitu lho Ya." ucap Reika lagi. "Oke deh Reika yang cantik" jawabku. "Hahahaha" kami tertawa bersama sambil berjalan menuju parkiran. "Waah,, bawa mobil MaCoff Rei?" tanyaku saat tiba diparkiran dan didepannya langsung melihat mobil minicoper warna putih dengan stiker MaCoff. "Iya Ya, tadi dari cafe dulu soalnya jadi langsung aja pake mobil yang ada" balas Reika sambil membuka pintu mobil. Perjalanan dari shuttle menuju cafe MaCoff hanya memakan waktu setengah jam jika diperjalanan normal, tidak macet dan dengan kecey yang sedang. Lampu merah di jalan Soedirman ini hal yang paling dihindari bagi pengendara karena lebih lama waktunya daripada lampu merah yang lain. Begitu pula yang dialami oleh Reika dan Airya. Aku merasa ada yang menatapku tajam. Aku menoleh kesamping kiri untuk memastikan apakah benar ada yang menatapku. "Ya, woy jangan bengong!, liatin apaan sih?" ucap Reika sambil menepuk ringan bahuku. "eh, astaghfirullah,, Rei bikin kaget aja deh. Nggak kok, aku cuma lihat-lihat aja, ada yang berubah nggak gitu" balasku dengan tersenyum jenaka. "Belum ada yang berubah kali Ya, kamunya aja mudik cuma seminggu. Coba kalau setahun dua tahun, mungkin udh ada yang berubah, hahaa" balas Reika sambil tertawa. "Taraaa,,, welcome to MoCaff cafe Airya!" teriak Reika dengan antusias ketika sudah sampai di cafe miliknya. "Waah,, tambah keren aja nih Rei MoCaff" seruku sambil melihat-lihat takjub isi didalam cafe. "Iya dong, Alhamdulillah Ya rame terus, apalagi weekend. Aku nanti mau ditambahin musik live di ujung sana panggung mini sudah pesan mau datang lusa, terus nanti ada booth kecil buat photoshoot" ucap Reika dengan senang dan antusias sambil menunjuk tempat-tempat yang tadi disebutkan.

OMW_5

0 0

Aku tersenyum senang dan terharu melihat antusias Reika untuk mengembangkan cafenya, karena aku tahu bagaimana awal dari usaha cafe MaCoff ini. Banyak pertimbangan yang Reika fikirkan dengan matang, tak hayal dia sering cerita berkeluh kesah kepadaku tentang semuanya, bagaimana perjuangan dan pengorbanan yang sudah Reika lakukan dari titik nol sampai saat ini, akulah saksinya. Aku turut bangga pada sahabatku ini, dengan apa yang sudah dia lalui. Aku hanya terus berdoa yang terbaik untuk Reika, berada disampingnya sebisa mungkin kapanpun, dan menjafi pendengar yang baik. Iya, begitupula sebaliknya. Reika akan menjadi apapun yang aku butuhkan diwaktu yang tepat. Reika adalah sahabat dan bahkan sudah kuamggap keliarga yang tidak memandang apapun, berusaha semaksimal mungkin berjalan bersama untuk hal-hal positif. Itulah mengapa aku dan Reika jika bertemu seperti amplop dan perangko, menempel terus tidak lengkap jika tidak ada satu, karena memang persahabatan kami, persaudaraan kami ini membawa hal yang baik, perubahan ke arah positif. Bukan seperti yang pernah aku alami, memiliki sahabat yang sudah dianggap keluarga malah menghancurkanku secara perlahan, sampai akhirnya aku tersadar ini adalah toxic zone dan langsung menjauhkan diri. Karena, teman pun harus memilih, dalam hal ini seperti dampaknya, mana yang akan membawa kita terhadap hal-hal positif kita pertahankan dan mana yang membawa kita ke hal-hal negatif jika kita tidak bisa sebagai pengingat mereka maka kita tinggalkan saja pertemanan tersebut. "Nih, cold brew plus coklat dan ekstra es batu, digelas yang super jumbo!" ucap Reika sambil menyodorkan nampan yang berisi menu favorit aku di MaCoff ini sambil mengalihkan perhatianku akan ingatan lama tentang kami. "wooow,, terimakasih ya Rei Rei" sambungku dengan semangat menyambut minuman cold brew tersebut. "sama-sama Ya. By the way, cemilannya mau apa nih? ada bacil, kebab, lumpia basah, french potato" lanjut Reika menawarkan menu cemilan yang hits di cafenya. "mmmm,, kalau bakmi ada nggak Rei?" ucapku sambil tersenyum geli. Reika langsung mengubah raut mukanya menjadi masam dan menahan kesal sambil berkata "ah kamu mah Ya, yang nggak ada ko dicari. Yang ada aja coba nih!. Bakmi belum masuk list menu, masih waiting list tau". "Iya,, iya,,. Mmmm, aku mau bacil aja Rei, pedesnya sedang ya." balasku kemudian. "Oke, tunggu lima menit ya. Spesial nih owner-nya langsung yang bikinin" ucap Reika semangat sambil berlalu ke dapur cafe.

OMW_6

0 0

Aku menunggu pesanan datang sambil melihat diujung pintu sebuah rak buku. Hanya satu buku yang langsung membuatku terpaku cukup lama hingga akhirnya aku beranjak dan menghampiri rak tersebut, mengambil buku yang menjadi tujuanku. Semua memiliki "waktu dan rasa" nya masing-masing, hanya menunggu sampai waktu itu tiba untuk menguarkan rasa yang ada. "Woy Ya! Kok bengong? ambil bukunya dan baca ditempat duduk sambil ngemil. Noh cold brew nya udah habis sama semut! Hahaha" ucap Reika dengan tertawa usil. "Eh kamu Rei kagetin aja deh! iya, iya, aku bawa bukunya nih ke meja" sambutku sambil mengambil buku dan kembali ke tempat duduk semula. "Wah Rei, ada siapa lagi yang mau gabung sama kita?" kataku sambil melihat banyak cemilan dan minuman diatas meja. "nggak ada" balas Reika sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lha terus ini? kenapa dikeluarin semua menunya Rei? siapa yang akan habiskan?" tanyaku bertubi-tubi. "Begini lho Airya cantik,, aku sengaja keluarin semua menu baru biar kamu bisa nyoba. Pasti habislah sama kamu mah, kan kamu perut karet nggak akan melar biar makan banyak" balas Reika lagi sambil tertawa. Aku masih terdiam memperhatikan makanan-makanan yang diatas meja. Mulai dari Bakso Aci, Meet Bawl, Kebab, CiMer alias Cireng Mercon, Brownies lumer, Donat tusuk, kopi lemon, kopi soda, dan Milo es krim. Berfikir apakah bisa habiskan semuanya?. "Sudahlah Ya jangan dilihatin terus. Dimakan pelan-pelan sambil ngobrol nanti juga habis" lanjut Reika sambil tersenyum. "Hmmm,, okelah Rei. Terimakasih lho ya jamuannya. Bismillahirrahmanirrahim" balasku sambil mulai menyantap salah satu cemilan. "Ya, gimana liburan kemaren? Puas?" tanya Reika sambil menatapku. "Iya Rei, Alhamdulillah. Seenggaknya sudah ketemu orang tua, silaturahmi ke keluarga. Selagi bisa libur yang lumayan panjang. Hehehe" balasku. "Rei, ayok bareng yuk makannya. Jangan aku sendiri dong, berasa baru nemuin makanan jadinya" ucapku lagi sambil tertawa kaku. "Nggak apa-apa kali Ya, aku mah udh bosen makanan ini. Kan waktu kamu liburan aku makan makanan ini terus di cafe" balas Reika sambil tersenyum manis. Tidak terasa kami mengobrol banyak sampai akhirnya makanan dan minuman diatas meja habis tidak tersisa.

OMW_7

0 0

"Permisi, kak Reika ada tamu yang menunggu di ruang kerja" ucap Lala salah satu karyawan MaCoff menjeda obrolan kami. "Oh, oke terimakasih ya La" balas Reika sambil tersenyum. "Ya, sebentar ya. Itu ada saudaranya temen aku mau tanya-tanya tentang MaCoff. Lupa udah janjian, hehe" lanjut Reika meminta ijin untuk bertemu tamunya. "Iya nggak apa-apa Rei, santai aja" balasku dan Reika pun beranjak dari tempat duduk untuk ke ruang kerjanya dilantai atas. Aku berjalan, melihat lagi sekeliling cafe Reika dan akhirnya kekasir untuk memesan minuman, "Mbak, pesan chokofy ya ekstra es" kataku. "Oke mba" jawab bartender dengan ramah. Aku kembali ke tempat duduk, membuka novel yang tadi aku ambil dari rak buku cafe. Cukup lama aku membaca novel sampai nggak sadar kalau minuman yang dipesan sudah tersaji cantik dimeja. Hingga tanpa sengaja aku bersitatap mata dengan seseorang dimeja seberang. Ingatanku berputar dan tersentak ketika mengingat siapa sosok pemilik mata madu itu. Ya, dia adalah sosok yang mampir dalam mimpi ketika aku tertidur di shuttle. Sangat sama persis. Lama kami bersitatap mata, sampai aku dikejutkan dengan kehadiran Reika yang duduk di depanku. "Woy, ngelamun aja nih. Kecapekan ya?" ucap Reika. "Oh, eh, nggak ko Rei. Tadi habis kelamaan aja baca novel sampe ngehalu. Hahaha" balasku sambil mencoba melihat lagi sosok diseberang meja. "Rei, coba pijit tangan aku. Pelan aja tapi" ucapku. Dengan kebingungan Reika melakukan apa yang tadi aku ucapkan, yaitu memijit punggung tanganku. "Aww,," Aku tersadar ini bukan mimpi dan halusinasi. Ternyata sosok lelaki tampan yang pernah aku mimpikan itu benar ada. Ya, dia sedang berkumpul dengan teman-temannya diseberang mejaku.

OMW_8

0 0

"Hello,, hello,, hello,, Airya Seinova, woi!" teriak Reika memutuskan pandanganku pada lelaki tersebut. "Melamun lagi deh!" cibir Reika kesal. "Sorry,, sorry. Gimana Rei? Tadi kamu bicara apa?" ucapku sambil tersenyum kikuk. "Hmm,, ayok sekarang kita kerumah aku aja. Biar kamu bisa istirahat. Sekalian kamu menginap aja ya Ya, temenin aku dirumah. Sepi nih, papi mami lagi liburan" terang Reika dengan detail seakan menjawab ekspresiku yang kebingungan. "Siyap,, oke Boss" balasku jenaka sambil membereskan barang-barang ku yang ada di atas meja. "Ya, ke market dulu ya. Stok kulkas kosong nih" lanjut Reika. Aku memposisikan hormat ala-ala sebagai jawabannya. Kami berjalan menuju parkiran MaCoff dengan beriringan sambil ngobrol dan tertawa. Lima belas menit kemudian kami sudah sampai dimarket. Tujuan pertama kami langsung menuju rak sayuran dan kebutuhan dapur lainnya. Tap! "Rei, stok yoghurt sama susu uht masih ada nggak?, Aku lagi suka banget sama yoghurt dicampur susu dan roti tawar. Hmm enak sekali lho! ambil aja ya Re, khawatir nanti dirumah ngga ada stoknya. Nanti aku bikinin biar kamu coba" ucapku sambil mengambil yoghurt dan susu uht. "Lho Rei?" ucapku terputus ketika menoleh kesamping ngga ada Reika, melihat sekeliling pun nggak ada siapa-siapa dilorong rak minuman ini. Aku mencari Reika ke rak lain dengan berjalan cepat. Setelah menemukan sosok yang dicari dan akan menghampirinya, aku di kagetkan dengan sapaan dari belakang. "Airya!" Aku menoleh kearah bisikan halus itu. "Hai Airya, kita bertemu lagi" ucapnya dengan tersenyum. Senyuman yang terlihat menggoda tetapi terasa menakutkan. Aku kaget, tidak bisa berkata-kata bahkan ingin bertanya pun sampai tergagap. Apakah ini benar-benar nyata atau halusinasi lagi? ucapku dalam hati. "Iya?" jawabku akhirnya dengan sangat pelan. "Ah sepertinya kamu lupa ya. Kita bertemu baru beberapa jam lalu dan sempat mengobrol juga" seakan mengerti dengan melihat ekspresiku yang kebingungan, dia melanjutkan "ini aku, Kenzo Ziovanic Rakkasa" sambil mengulurkan tangannya. "Astaghfirullah, Airya! aku cari-cari kamu dari tadi lho. Ternyata kamu asik ya senam mulut melongo kayak gitu. Sambil melamun pula" ucap Reika gemas sambil mengambil botol yoghurt dan susu uht dari tanganku. "Ya ampun nih anak, masih bengong aja. Udah ayok kita lanjut cari yang lain" sambung Reika sambil kali ini menarik tanganku. Sementara itu aku masih bingung, benar-benar bingung akan apa yang barusan terjadi.

OMW_9

0 0

"Rei, nggak sopan tahu narik orang yang lagi mau ngobrol sama orang lain tuh, tanpa pamitan pula" ucapku kesal karena Reika main tarik-tarik saja tanpa melihat keadaan sekitar. "Hah?, apa?, siapa yang sedang ngobrol sama orang? kan aku tadi ajakin kamu Ya, tapi malah bengong aja jadi di tarik deh" balasnya dengan tatapan menyelidik. "kenapa sih Ya?" lanjut Reika. Selesai memilih bahan kebutuhan dapur, kami berjalan menuju kasir sambil mengobrol tentang kejadian tadi. Reika kaget dan nggak percaya. Menganggap aku berhalusinasi dan terlalu sering melamun. "Ya, kamu langsung kekamar aja ya. Biar aku yang beresin belanjaan" ucap Reika sambil berjalan menuju dapur. Aku mengangguk tanda mengiyakan dan berjalan menuju lantai atas ke kamar yang dituju. Lima menit waktu yang aku butuhkan untuk mandi, karena sudah malam aku nggak berani mandi lama-lama. Karena lelah, aku merebahkan diri ke kasur hanya sebentar. Tok,, tok,, tok,, "Ya,, Ya,, Ya,, ya ampun dikunci segala nih anak biasanya juga nggak dikunci. Huft, dimana lagi ini kunci cadangan" ucap Reika sambil mencari-cari kunci cadangan di nakas dekat kamar. Ceklek,, Suara pintu terbuka dan Reika mengela nafas melihat Airya yang sedang tertidur pulas. "Hmmm, nggak tega bangunin nih. Kasian masih capek kayanya. Tapi ini udah magrib. Bangunin aja deh" gumam Reika akhirnya sambil menepuk-nepuk pelan bahu Airya. "Ya, Ya, bangun sholat magrib dulu" ucap Reika lembut. "Hmmm,, eh Rei, aku ketiduran tadi habis mandi. Yuk mau masak ya buat makan malam?" jawab Airya sambil menguap dan beranjak bangun. "Nggak, aku udah masak tadi waktu kamu tidur. Sekarang udah Maghrib, sholat dulu aja ya terus nanti ke bawah makan bareng. Aku tunggu dibawah sambil nonton tv" kata Reika. "Ohiya Ya, tumben pintu dikunci. Biasanya kalau kamu nginep disini kan pintu nggak pernah dikunci. Tadi susah tau bukanya, lama juga cari kunci cadangannya" lanjut Reika. Aku masih terdiam mengingat-ingat rasanya tadi belum mengunci pintu kamar, tapi kenapa bisa sudah terkunci. Nggak ambil pusing, aku langsung ke kamar mandi untuk ambil wudhu dan segera sholat magrib.

OMW_10

0 0

"Rei, nonton film apaan? serius amat dari tadi dipanggil" ucapku sambil ikut bergabung duduk menonton film. "Oh, Ya, ini nih film dulu nggak tahu apa judulnya. Tadi waktu nonton udah main soalnya. Sedih Ya, kasian. Aku sampe mau nangis tahu" balas Reika sambil memperlihatkan wajah yang sembab, benar-benar menangis. Aku dan Reika duduk tenang sambil menonton film tersebut sampai selesai. Reika masih menangis, terbawa perasaan film tersebut. Sedangkan aku nggak terlalu fokus menonton. Entah karena apa aku masih terfikir dengan Zio atau Rakka, lelaki tampan yang tiba-tiba selalu melintas dalam kehidupanku. "Ya, oh mau God sedih banget tahu filmnya. Ini mah kalahin film Titanic, suer! masih sedih ini" ucap Reika sambil menangis. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah lucunya. Reika memang anaknya mudah terbawa perasaan kalau sedang menonton film atau baca novel. Pasti akan seru setiap nonton bareng dengan Reika, terlebih nonton film horor pasti Reika yang paling ribut. Anaknya penakut tapi mau nonton film horor. "Rei, makan yuk. Laper nih!" ucapku sambil melihat Reika yang sudah mulai tenang. Kruyuuk kruyuuk Kami saling menengok dan tertawa bersama atas tingkah absurt kita ini. "masak apa Rei?" tanyaku yang mulai menarik kursi makan dan mengambil piring. "Kesukaan kamu nih Ya. Taraaa,,! ini dia nasi goreng spesial plus udang plus telor ceplok plus kerupuk dan es teh plus ekstra es kesukaan kamu!" balas Reika antusias sambil membuka tudung saji makanan. "Masya Allah,, terimakasih Rei. Memang the best lha owner MaCoff ini" ucapku lagi saat mencicipi masakannya sambil mengacungkan jempol. Makan malam kali ini terasa cepat, karena kami langsung menghabiskan makanan dan melanjutkan keruang tv untuk menonton film drama Turki. Biasanya setiap makan pasti lama karena kami sambil bercerita dan bercanda, dari hal santai sampai serius. "Ya, lupa deh tadi nggak ambil keripik singkong dikulkas. Buat kita ngemil Ya sambil nonton biar nggak ngantuk" ucap Reika. "Okey Rei, aku ambil ya. Sama apa lagi?" balasku sambil beranjak untuk ke dapur.

OMW_11

0 0

"minum aja Ya, air putih dikulkas ya. Tolong, hehe" tambahnya lagi dengan cengiran. "Siyap bos Reika!" balasku sambil melangkah ke dapur. Aku mengambil apa yang tadi Reika sebutkan, mulai dari keripik singkong, gelas Reika dan aku nggak lupa juga air putih dingin yang sebotol besar. Setelah selesai mengambil semua itu aku langsung berbalik dan kembali menuju ruang tv, tapi aku terdiam dan melirik sesaat ke meja makan yang ada disebelah kanan dari posisiku berdiri. Karena masih belum yakin, aku menolehkan badan dan melihat, mengamati apa yang tadi aku rasakan itu benar atau tidak. Aku tunggu lima detik sambil membaca doa, tapi tetap sama. Tidak ada apa-apa. Lagi-lagi aku seperti menghalusinasi. Huft "Rei ini" ucapku ketika sampai diruang tv dan langsung menyimpan semua yang aku bawa tadi dimeja kecil depan tv. "Thanks Ya" balas Reika. Aku dan Reika menonton film sambil rebahan dan nggak ketinggalan pula untuk menghabiskan cemilan keripik singkong tadi. Kali ini Reika memilih menonton film superhero dari Marvel, Black Window. Film yang sudah lama kami incar untuk nonton bareng. Karena ketinggalan nonton di bioskop ya, jadi kami nonton di rumah saja dengan aplikasi Disney+. "Ya, Ya, bangun. Pindah yuk. Filmnya sudah selesai" ucap Reika sambil menepuk-nepuk pelan punggungku. Butuh waktu lama untuk membangunkan aku, karena aku tipe orang yang "pelor" nempel molor, gampang untuk tertidur di manapun dalam posisi apapun tapi sulit untuk dibangunkan. Sampai sekitar sepuluh menit Reika mencoba membangunkan aku, akupun terbangun dan memperhatikan sekitar yang ternyata masih di ruangan tv. Melihat aku yang masih mengantuk, Reika memapah dan membantu aku untuk pindah ke kamar. Sesampainya dikamar, aku langsung tidur lagi sedangkan Reika melakukan ritual malamnya yaitu skincare an sebelum tidur. Triing triiiiing triiiiing Alarm handphone ku berbunyi yang menandakan kalau sudah jam tiga pagi. Aku bersiap untuk melakukan sholat malam atau sholat tahajjud. Ketika akan melangkah ke kamar mandi, aku tersadar kalau sekarang posisi bukan ada dikamar, melainkan masih diruangan tv. Aku berbalik dan menghampiri Reika, menepuk-nepuk membangunkan Reika untuk meminta antar ke kamar mandi dan menemani sholat malam.

OMW_12

0 0

"Hoam,, apaan sih Ya, belum subuh kan?" ucap Reika sambil masih terpejam. "Rei, tidurnya dilanjut dikamar yuk. Cepat. Sekalian temenin aku sholat" balasku sambil membujuk Reika agar segera bangun dan pindah ke kamar. "masih ngantuk Ya. Nggak apa-apa kamu sholat sendiri aja dulu ya. Nanti kalau sudah subuh baru kita berjamaah" balas Reika lagi tetap dengan mata masih terpejam. Aku bingung harus membangunkan Reika gimana lagi, karena aku benar-benar ketakutan dan parno. Aku mencubit lengan Reika dengan keras, agar Reika bangun, biarlah aku dianggap jahat karena menggangu orang tidur terlebih dengan mencubitnya sampai kesakitan, yang penting Reika bangun. "Ouch, Ya! sakit tahu. Kamu mah jahil banget sih!" ucap Reika kesal karena tidurnya terganggu dan langsung bangun. "Kenapa Ya minta ditemenin segala?. Hayuuk!" lanjutnya sambil menuntun tanganku menuju kamar. "Maaf Rei, dan terimakasih sudah mau bangun" balasku sambil mengikuti Reika. Ketika dikamar, Reika tidak langsung tidur lagi. Dia ikut sholatalam atau sholat tahajjud. Selesai sholat, kami mengobrol ringan sambil berbaring dan menunggu waktu subuh tiba. "Ya, kamu kenapa tadi? nggak biasanya kami maksa banget sampai begitunya" tanya Reika dengan raut penasaran. Aku terdiam, berfikir untuk apakah langsung diceritakan atau nanti saja. Hingga akhirnya aku memilih nanti saja untuk menceritakan hal-hal aneh yang aku alami semenjak diperjalanan menuju Jakarta dan yang tadi pagi. "nggak kenapa-kenapa Rei, cuma mau aja gitu ditemenin. Kan nggak enak kalau misalnya aku dikamar dan sang empunya malah diruang tv" balasku sambil tertawa. "Huh dasar si Airya! bener nih nggak ada apa-apa?" lanjutnya lagi yang masih penasaran. "Hmmm,, iya sih Rei. Ada apa-apa. Tapi aku nggak mau cerita sekarang, belum siap" balasku yang akhirnya nggak bisa berbohong dengan Reika. "Oke Ya. Inget, ada aku. Kamu nggak usah nutup- nutupin, bilang dan cerita sama aku. Biar aku bisa jadi sandaran kamu bisa kasih masukan dan bisa bantu kamu semaksimal aku" ucap Reika dengan tersenyum tulus. "Unch,, terimakasih banget ya Rei. Nggak bisa berkata apa-apa lagi selain terimakasih dan pastinya aku selalu doain yang baik-baik buat kamu dan keluarga" balasku sambil terisak kecil karena terharu. "Iya Ya, kamu udah kaya saudara buat aku dan keluarga. Jadi jangan sungkan ya" balasnya, dan kamipun berpelukan.

OMW_13

0 0

Waktu subuh tiba, dan kami langsung mengambil wudhu kemudian siap-siap sholat berjamaah di kamar Reika. Setelahnya, Reika langsung kedapur untuk menyiapkan sarapan sedangkan aku akan mencuci pakaian terlebih dulu. "Ya, anter ke warung sayur Bi Ojah yuk. Bumbu habis ternyata, sama aku mau beli kulit lumpia. Buat bikin lumpia basah nanti sore sambil santai" ajak Reika yang menghampiri ku dibelakang tempat cuci baju. "Oke Rei, hayuk. mau langsung atau ada yang diambil dulu Rei?, udah bawa uangnya?" balasku. "Oh iya lupa belum bawa uangnya Ya, tunggu ya mau ambil uangnya dulu" jawab Reika sambil berlalu. Aku menyelesaikan cucian yang tadi sempat tertunda sambil menunggu Reika, menyetel timer dan kebutuhan air plus sabun detergent pada mesin cuci. "kok lama banget ya Reika, apa lupa kali tuh anak kalau mau ke warung" ucapku pelan sambil beranjak menyusul Reika. Langkahku terhenti ketika melewati dapur. Ya, ada Reika disana yang masih asik mengutak-atik sayur dan teman lainnya untuk dijadikan sarapan kami pagi ini. Aku menghampiri sambil merangkul bahunya dan berkata "Rei, ditungguin malah masih asik disini. Bilang kek kalau nggak jadi". Reika terdiam dan menengok kearah ku sambil mengerutkan dahinya tanda bahwa dia kebingungan, "maksudnya ditungguin gimana Ya?, siapa yang tungguin?" balas Reika. "Lha, kan tadi kamu kebelakang terus minta anter mau ke warung sayur Bi Ojah, mau beli kulit lumpia sama bumbu dapur yang katanya habis" ucapku mengingatkan yang sebelumnya terjadi. Reika kembali terdiam, kali ini sambil tersenyum membalas ucapan ku "ya ampun Ya, dari tadi aku didapur loh. Nggak kemana-mana, terus ini masih ada bumbu dapur sama kulit lumpianya kan ngapain beli lagi?". "Kamu belinya kapan Rei?" tanyaku masih dengan penasaran. "Tadi pagi, jadi waktu mau ke dapur aku inget kalau bumbu dapur habis, terus ya sudah balik lagi ke kamar ambil uang langsung aja ke warung Bu Ojah. Pas disana ngeliat kulit lumpia jadi ingin beli, soalnya inget kamu yang suka banget sama lumpia basah. Nanti kita bikin ya Ya buat santai sore" ucapnya panjang lebar menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. "Terus posisi aku dimana waktu kamu ke warung?" tanyaku lagi yang masih dengan raut penasaran.

OMW_14

0 0

"Ih kamu mah lucu deh Ya!, kamu kan ada di belakang lagi nyuci baju" terang Reika sambil tersenyum aneh melihat tingkahku. Astaghfirullah,, fiks ini aku merasa pusing, bayangan-bayangan kejadian yang terasa janggal ini berseliweran dibenakku. Aku mengatur nafas, mencoba tenang dan berfikir positif. Mungkin hanya fikiran alam bawah sadarku saja sehingga aku sering merasa hal seperti ini, seperti de Javu atau mungkin berhalusinasi. Iya, aku sekarang merasa ketakutan, takut bahwa aku berhalusinasi atau memiliki gangguan emosional. Argh,, astaghfirullah! "Kenapa sih Ya, cerita mau?" ucap Reika yang sedari tadi memperhatikan tingkahku. Aku menggeleng samar tapi tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja, aku terisak dan langsung lemas. Reika dengan sigap menahanku agar tidak terjatuh, sambil memeluk erat dan mengusap-usap punggungku. Membiarkan aku menangis menumpahkan segala rasa yang sesak didadaku. Sekitar dua puluh menit kemudian aku sudah tenang, Reika masih setia memelukku. Aku merasa mual, memikirkan hal yang tidak bisa aku terka dengan baik. "Ya, minum dulu" Reika menyodorkan segelas coklat dingin. Tahu kesukaanku apapun minumannya yang penting dingin, kalau bisa dingin ada es batunya. "Terimakasih ya Rei. Kapan kamu bikinnya?" ucapku sambil menerima coklat dingin tersebut dan merasa bingung karena selama tadi aku menangis Reika tidak beranjak dari sampingku, masih memeluk dan menenangkanku. "Hmm, karena asik nangis nih ya jadi kamu nggak sadar kalau aku bikin coklat esnya waktu kamu sudah berangsur tenang, aku langsung bikin terus peluk kamu lagi" jelas Reika. Aku hanya mengangguk saja menanggapi sambil tersenyum. "Yaudah kalau kamu masih belum bisa cerita nggak apa-apa. Sekarang makan yuk, laper nih tadi tenaganya sudah habis terkuras karena nangis" ucap Reika sambil tertawa dan segera menghidangkan makanan ke piringku. Kami mulai makan dengan tenang seperti biasa bicara dan bercanda ringan. Aku bersyukur karena memiliki sahabat rasa saudara seperti Reika, bisa selalu ada, menguatkan, mendukung, mengarahkan ke hal positif dan saling melindungi.

OMW_15

0 0

"Ya, agenda hari ini apa? mau kemana?" tanya Reika setelah kita selesai makan. "Mmm,, kuliah mulai lusa paling hari ini mau santai-santai aja dulu Rei. Mau ajakin aku kemana nih?" balasku dan sambil bertanya dengan nada menggoda, kode untuk minta traktiran jalan-jalan. "Woah bisaan aja nih ngode- nya lu Ya! Oke aku anterin kemana kamu mau" balas Reika sambil tersenyum geli. "Nggak cuma anterin dong Rei tapi jajanin juga, traktir. Oke oke oke?" balasku lagi sambil mengedipkan mata merayu. Hahahaha Pada akhirnya kami tertawa bersama. Aku mulai siap-siap untuk hange out dengan Reika. Hanya butuh dua puluh menit, aku udah siap dengan setelan kulot heigi dan switer all size nggak lupa juga slingbag. Sambil tunggu Reika yang masih siap-siap, aku mengambil cemilan dan minum didapur. Ting Ting Ting Bel rumah berbunyi, aku langsung kedepan untuk membuka pintu melihat siapa yang bertamu ke rumah Reika pagi-pagi ini. Ting Ting Ting "Iya sebentar!" teriakku ketika bel rumah berbunyi lagi. Ceklek Kami saling terdiam seolah meresapi rasa yang singgah ketika bertatap langsung, entah rasa apa ini aku sendiri masih belum mengerti. "Ekhem, maaf mau cari siapa ya?" ucapku memecahkan keheningan singkat ini. "Oh, eh, sorry. Assalamualaikum. Saya Zaki, tetangga baru disebelah rumah ini. Disuruh ibu untuk ngasih ini tanda perkenalan sekaligus ingin mengundang penghuni rumah ini untuk makan malam bersama" balasnya kikuk. "Oh, waalaikumsalam Zaki. Saya Airya, terimakasih undangannya dan bingkisannya ya. Tuan rumah ada didalam, nanti saya sampaikan. Untuk makan malamnya kapan ya Zak?" balasku. "Oiya Kak Airya, salam kenal ya. makan malamnya besok kak" ucap Zaki lagi. "Oh, oke. Terimakasih ya Zaki. Sampaikan salam untuk ibu dirumah" balasku sambil tersenyum. "Eh maaf lupa belum disuruh masuk nih. Ayo masuk dulu Zak" ajakku. "Nggak apa-apa kak, saya mau sekolah jadi langsung saja nggak bisa mampir dulu. Terimakasih kak, mari assalamualaikum" ucap Zaki sambil beranjak pergi. "Waalaikumsalam" ucapku.

OMW_16

0 0

"Ya, Ya, sudah siap belum?" tanya Reika sambil teriak dari arah dalam. "Sudah dong Rei, tinggal tunggu kamu nih!" balasku sambil mencari keberadaan Reika yang ternyata ada didapur. "Kok makan lagi Rei?" lanjutku yang ketika sampai dapur melihat Reika sedang memakan mi instan. "Hehehe,, iya nih Ya. Lapar lagi aku, itung-itung isi tenaga dulu buat nanti kita jalan kan!" balas Reika sambi tersenyum malu. "Hmmm, iya udah nggak apa-apa tunggu bos makan lagi. Oh iya, mau nambah nggak makannya? Jangan sama mi instan aja Rei!" ucapku sambil menarik kursi dan menyodorkan bingkisan makanan dari tetangga baru Reika, Zaki. "Hah, apaan ini Ya? kamu beli?" tanya Reika beruntun sambil membuka bingkisan tersebut. "Kapan coba aku belinya Rei? ini itu dari tetangga baru sebelah kamu. Jadi tadi pagi waktu aku tunggu kamu siap-siap, ada tamu yang datang. Terus dia memperkenalkan diri sebagai tetangga baru disebelah rumah namanya Zaki. Nah bingkisan makanan ini itu dari mamahnya Zaki, sebagai tanda perkenalan katanya" ucapku panjang lebar sesuai apa yang terjadi. "Oh iya lupa, kita dapat undangan makan malam besok dirumah Zaki nih Rei. Mau dateng nggak?" lanjutku sambil terus memperhatikan Reika yang makan dengan lahap bingkisan dari tetangga barunya. "Ooh gitu ceritanya,, hmm enak nih Ya masakan mamanya Za'i" ucap Reika. "Zaki Rei, Zaki. Bukan Za'i" balasku meluruskan kebiasaan Reika yang salah sebut nama kalau dengan orang baru. "Hehe, sorry, sorry. Iya maksud aku Zaki. Eh kita diundang juga untuk makan malam ya? yasudah Ya kita harus datang. Kan nggak enak kalau nggak datang padahal sudah diundang, lagian besok malam juga kita nggak ada acara apapun kan ya? kamu masih nginep disini kan Ya?" ucap Reika panjang lebar. "Iya, Rei. Aku masih ikut nginep ya, masih kangen berat sama kamu" balasku sambil tertawa. "Oke fiks, nanti tolong ingetin kita harus bawa sesuatu buat makan malam besok di rumah Zaki. Yeay tetangga baru" ucap Reika senang karena disebelah rumahnya sekarang sudah ada yang isi.

OMW_17

0 0

Tralalalalalala tralalalalal tralalalalala

 Suara musik radio menemani perjalanan kami. Tujuan utama kali ini ke MaCoff Cafe dulu karena Reika lupa ada jadwal interview anak magang. MaCoff Cafe menerima anak magang dari sekolah maupun mahasiswa, sudah terhitung tahun kedua di cafe ini ada anak magang dari sekolah SMK atau yang biasa disebut dengan program PKL. Hal ini dilakukan Reika untuk membantu anak-anak mengasah skill dalam berwirausaha atau sebagai bartender, yang tentunya Reika sangat tahu kalau khususnya mahasiswa perlu cuan tambahan untuk kuliah atau biaya kos. "Ya, kamu mw ikut aku ke atas atau tunggu dibawah?" tanya Reika ketika kita sudah sampai parkiran MaCoff Cafe. "Mmm, tunggu dibawah saja Rei. Nggak enak kalau ikut ke atas, khawatir calon peserta magangnya grogi ada dua cewek cantik yang interview" ucapku jenaka dan kamipun tertawa. "Oke, kalau gitu aku pesenin biasa ya buat kamu biar nggak jenuh tungguinnya. Mau duduk dimana? ditempat biasa?" tanya Reika lagi padaku. "Iya Rei, d tempat biasa ajalah. Terimakasih ya Rei" balasku sambil masuk cafe dan mencari tempat duduk yang biasa saat sedang ke cafe ini. Sedangkan Reika langsung ke arah dapur dan memberikan intruksi kepada para bartendernya setelah itu langsung ke ruangan kantor di lantai atas. Aku suka pemandangan dari tempat duduk ini, terasa nyaman dan tenang. Dekat dengan rak buku, akupun langsung memilih dan mengambil satu novel yang menarik perhatian ku. "Silahkan kak Airya" ucap Santi sambil tersenyum, pramusaji di MaCoff cafe. "Ah, terimakasih Santi. Semangat ya kerjanya" balasku tersenyum sambil mengambil minuman favorit disini, cold brew. "terimakasih juga kak Airya" balas Santi tersenyum dan pamit untuk kembali ke dapur. Aku asik dengan kegiatan membaca novel ini sambil tersenyum bahkan tertawa sendiri terlalu bawa perasaan dengan alur ceritanya sampai pada saat sepasang mata hezelnut menarik perhatianku. Sosok lelaki didepan itu tersenyum malu karena ketahuan sedang memperhatikan aku dan belum meminta ijin duduk di bangku yang sama. "Mmm, maaf kak saya nggak sopan sebelumnya. Kami boleh gabung nggak kak disini?" ucapnya malu-malu. "Hah, kami?" balasku sambil menengok ke sekitar mencari dengan siapa sosok lelaki tersebut datang. "Iya kak, aku sama temen. Tapi temen aku lagi pesan minuman. Oh iya kak, kenalin aku.."

OMW_18

0 0

Belum sempat memperkenalkan diri, tiba-tiba Reika datang bersama seseorang dan bergabung dengan kami. "Oh Hay sorry ya ganggu obrolan kalian" ucap Reika sambil tersenyum sesal. "Iya nggak apa-apa kok" balasku. "Oh iya Ya ini aku tadi mau kenalin kamu sama mahasiswa yang diterima magang disini. Tapi kayaknya kamu sudah kenalan duluan ya sama salah satunya?" jelas Reika. "Belum sempat kenalan, kak Reika sudah datang duluan" balas lelaki yang didepanku sambil tertawa canggung. "Ya ampun,, oke oke. Aku akan kenalin kalian semua. Ya, kenalin ini Izoya Maya bisa dipanggil Maya. Dan ini Kenzi Ziovanic Rekkasa bisa dipanggil Kenzi" ucap Reika dengan semangat. "Hai. Aku Airya. Kalian boleh panggil apapun seenak kalian aja yang penting intinya sama. Aku sahabat bos kalian, sering banget ke sini jadi nanti kalian jangan bosan ya" balasku sambil bercanda gurau. "Eh satu lagi yang lupa dari kak Airya ini, kalau pesan pasti menunya cold brew plus es batu yang banyak. Jangan lupa ya kalian" sambung Reika sambil tertawa geli mengingat salah satu kebiasaan sahabatnya ini. "Yup betul" ucapku menyambung penjelasan Reika. Sedangkan kedua mahasiswa magang ini merespon dengan anggukan dan senyuman. Kami mengobrol banyak tentang Maya dan Kenzo. Mereka mahasiswa tingkat dua, satu universitas tapi beda jurusan. Kalau Maya ambil jurusan Ekonomi sedangkan Kenzo jurusan IPAC. Alasan mereka untuk magang karena ingin mencari tambahan uang jajan sekaligus meluangkan waktu senggang. Sedari kami mengobrol, aku merasa Kenzo selalu mencuri pandang kepadaku. Bahkan aku sempat memergoki tatapannya dan dia menghindar. Aku bingung, kenapa gelagat Kenzo ini seperti sudah pernah bertemu denganku begitupun sebaliknya, aku kembali kemasa dimana sering bertemu dengan lelaki tampan ketika naik shuttle, ketika di cafe ini bahkan terakhir ketika di mall. Seperti Kenzo tapi memiliki tatapan yang berbeda, dan garis rahang yang lebih tegas. "Okey guys, kalian kalau mau lihat-lihat cafe ini boleh. Bertanya-tanya ke bartender lain juga boleh. Disini bartendernya ramah kok" ucap Reika. "Iya kak, kami mau ijin untuk berkenalan dan melihat-lihat cafe MaCoff dulu" jawab Maya, sedangkan Kenzo masih terdiam menatapku. Aku yang ditatap hanya tersenyum saja dan mengalihkan perhatian ke Maya dan Reika. "Baiklah, tunggu ya aku mau panggil Santi dulu. Dia salah satu pegawai disini yang sudah lama, buat temani kalian berkeliling" ucap Reika sambil memanggil Santi untuk datang kemeja kami dan ketika Santi datang, Reika langsung memperkenalkan Maya dan Kenzo kemudian memberikan intruksi sesuai tujuan awal.

OMW_19

0 0

"Rei,, aku tuh kaya pernah bertemu sama Kenzo deh. Sudah beberapa kali" ucapku sambil menyeruput cold brew. "Hah? maksudnya gimana ni Ya? aku masih nggak mudeng ini Ya" balas Reika yang tetap melanjutkan makan cemilannya sambil menatapku menunggu penjelasan. "Hmm, begini lho Rei. Aku tuh pernah kayak mengalami semacam de javu gitu. Mulainya waktu aku berangkat kesini, di shuttle. Aku ketemu sama laki-laki tampan yang mirip banget kaya Kenzo. Bahkan namanya juga mirip Rei, Kenzi Ziovanic Rakkasa kalau nggak salah. Mirip banget kan?" ucapku yang mulai menjelaskan kejadian waktu lalu. "tunggu, tunggu, maksudnya kamu ketemu sama kembarannya Kenzo? memang Kenzo punya kembaran ya Ya?" tanya Reika lagi. "ih, nggak gitu Rei. Aku juga nggak tahu apa Kenzo punya kembaran atau nggak. Kan kita nggak nanya tadi terus dia juga nggak cerita tentang keluarganya. Lanjut nggak nih aku ceritanya?" jelasku. "Ya iya dong Ya lanjut. Kamu mah jangan suka bikin penasaran dan cerita setengah-setengah deh, kan kepo jadinya" lanjut Reika sambil berdengus kesal seperti di ulur- ulur ceritanya. "Iya tapi tambah lagi ya Rei minuman sama cemilannya. Biar pas cerita ada tenaganya" balasku sambil tersenyum kikuk. "Hmm dasar, gampang itu mah. Sebentar ya aku panggilin Santi dulu" ucap Reika sambil memanggil Santi dan menyebutkan minuman serta cemilan untuk kami. "Nah sudah dipesankan, ayok lanjut ceritanya sambil nunggu pesenan datang" ucap Reika semangat. "Unch,, terimakasih bos Reika" ucapku dengan tangan yang memainkan pipi gembil Reika karena gemas. "Ih kebiasaan deh tukang gemesan. Stop, pipi aku tuh bukan squizy tahu!" balas Reika dengan agak cemberut kesal diperlakukan seperti anak kecil. " Iya sorry tapi sengaja" ucapku sambil tertawa. "Jadi waktu aku di shuttle kan suka banget tidur biar nggak mabok. Nah waktu terbangun, aku kan nggak sengaja lihat kebelakang terus kaget ada laki-laki yang sedang natap aku. Ganteng pula. Aku hanya tersenyum saja terus balik tidur lagi, cuma ganti posisi aja..."

OMW_20

0 0

Belum sempat menyelesaikan perkataanku, Santi datang membawa senampan makanan ringan dan minuman. "Hmm, maaf mengganggu obrolannya ya mba. Ini pesanannya, silahkan dinikmati" ucap Santi sambil tersenyum canggung. "Iya San nggak apa-apa, terimakasih ya" ucap aku dan Reika bersamaan, Santi hanya mengangguk dan tersenyum sambil pamit. "Rei banyak banget ini" ucapku sambil melihat hidangan yang ada dimeja dan mencoba salah satunya. "Iya Ya, sengaja. Kan kita mau ngedongeng, jadi harus banyak doppingan nya" balas Reika dan kamipun tertawa. "Lanjut ni ya Rei. Waktu aku mau tidur lagi, banyak nih motif chat WhatsApp grup yang masuk. Karena penasaran kan aku buka, terus kamu atau siapa ya yang ngirim video? pokoknya isi video itu di MaCoff ini lagi ada yang tampil musik live akustikan, rame banget enak didengar juga si" jelasku melanjutkan cerita. "Eh, tunggu perasaan di cafe belum ada tuh yang musik live, akustikan pula. Baru mau aku cari kan yang buat isinya" ucap Reika. "Ih Rei, makanya dengerin dulu sampai selesai aku cerita biar kamu nggak bingung" ucapku gemas. "Hehe, sorry Ya sorry" balas Reika dengan senyum dua jari membentuk huruf v. "Oke, oke. Lanjut nggak nih?" ucapku lagi ketika melihat ekspresi Reika yang penasaran nggak lupa sambil menyeruput coklat coffe menu baru di MaCoff ini. "Iya lanjut dong Ya, tega banget sih ngegantungin ke kepo an aku" balas Reika kesal sambil mengambil friench potato. "nah tahu nggak Rei siapa yang main akustik nya?" tanyaku sengaja. "nggak lah Ya, aish! gimana sih kamu!" ucap Reika kesal sambil cemberut. "nah yang main akustik nya itu si Kenzi Rei! Eh atau Kenzo ya? tapi nih kamu itu waktu di videonya sebutin nama yang main akustik itu Kenzi Ziovanic Rakkasa" ucapku bersemangat. "Hah? terus ganteng nggak kaya Kenzo yang anak magang aku?" balas Reika. "Iya ganteng banget malah. Kalau Kenzo kan masih kelihatan imut kayak anak-anak gitu,, "

OMW_21

0 0

"Seriusan Ya? asik dong kenalan sama laki-laki ganteng" sela Reika sambil menaik turunkan alisnya. "Iya, seneng banget kenalan, ngobrol ngeliat laki ganteng, puas?!" ucapku sambil mendelik kesal kearah Reika yang memotong ceritanya. Kalau aku lagi bercerita kemudian dipotong atau disela suka lupa, seperti sekarang. "Aish, nggak usah sewot gitu ah Ya" ucap Reika sambil tersenyum kikuk. "Gimana nggak kesel coba, lagi semangat-semangatnya cerita dipotong terus nih ditengah jalan, kan jadi lupa akunya tuh Rei" jelasku masih dengan sedikit kesal sambil menghabiskan cold brew dan cemilan diatas meja. "Jadi mau lanjut cerita atau gimana Ya?" tawar Reika dengan santainya. "Nggak jadi ceritanya, nanti aja. Aku lupa gimana. Kalau nggak inget nanti ceritanya nggak lengkap nggak seru nggak afdol" ucapku dalam sekali nafas karena masih belum reda kesalnya. "Dududududu,, sorry yaa sorry, habisnya kalau kamu bilang laki-laki ganteng, langsung penasaran aku. Kayak gimana sih yang kata seorang Airya Seinova ganteng itu. Yasudah yuk Ya, kita ke mall aja. Nonton bioskop sekalian pulangnya beli sesuatu buat ke rumah tetangga baru, kan kita mau dinner bareng mereka. Penasaran deh sama Zaki Zaki itu lho Ya" sambung Reika dengan panjang lebar dan semangat. Setelah merapihkan diri, aku dan Reika berangkat ke mall untuk nonton bioskop dan beli sesuatu yang bisa dikasihkan ke tuan rumah ketika dinner nanti, entah mau beli apa mungkin kue. "Yah Ya,, filmnya main sore nih, nggak ada yang sekarang. Nanti keburu nggak ya buat dinnernya?" ucap Reika ketika melihat jadwal tayang film di bioskop. "Jam berapa sih Ya kita diundang dinnernya?" lanjut Reika. "Jam tujuh, habis sholat Isya. Yasudah Rei nontonnya besok lagi aja gimana? kalau mepet nggak enak juga dikitanya nanti buru-buru. Belum waktu dandan kamu kan lumayan juga Rei, nggak bisa sepuluh menit jadi kalau kamu dandan" balasku sambil tertawa mengingat kalau Reika diburu-buru dandan pasti hailnya akan aneh terlihat seperti nenek sihir. "Ih kamu mah, kan memang kalau perempuan itu perlu waktu buat dandan, nggak bisa diburu-buru tahu" balasnya kesal sambil mengerucutkan bibir.

OMW_22

0 0

Tidak berasa jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, akhirnya kami tidak jadi menonton bioskop dan langsung ke toko kue untuk beli buat bingkisan tetangga. Setelah dapat kue' yang dicari aku dan Reika langsung pulang untuk bersiap agar tidak terburu-buru menghadiri undangan dinner. "Ya, aku mau langsung mandi dulu ya. Lengket banget nih badan" ucap Reika ketika masuk kerumah dan langsung ke kamar atas. "Iya Rei, aku masukin belanjaan dulu ya" balasku yang langsung menuju dapur untuk memasukkan bahan belanjaan ke kulkas. Dirasa sudah semua dimasukkan dan dirapihkan, aku mengambil bahan-bahan untuk membuat lumpia basah, cemilan sebelum dinner. Saling asiknya memasak sambil bernyanyi, aku nggak merasa kalau Reika sudah selesai mandi dan langsung membantu didapur membuat minuman. "Astaghfirullah,, Rei bikin kaget aja deh kamu" ucapku sambil melihat Reika yang sedang membuat jus. "Sorry, kamu sih serius amat masaknya. Padahal aku udah dari sepuluh menit lho disini" balas Reika sambil terkikik geli. "Ya, pedes kan lumpianya?" tanya Reika sambil melihat kearah wajan penggorengan. "Iya Rei, tenang aja. Pedes sesuai selera bos Reika yang cantik imut mungil" balasku dengan gurau. "Iya dong, harus tahu selera bos princess" lanjut Reika dan kamipun tertawa bersama. "Taraaa,, sudah jadi nih!, Rei gantian ya aku mandi dulu" ucapku sambil menata lumpia basah yang sudah jadi diatas meja dan bersiap untuk kekamar. "Asik mantap lah!, oke Ya. Luluran sekalian yah, kan mau dinner kita, siapa tahu kecantol laki-laki ganteng" balas Reika bergurau. Dua puluh menit kemudian baru selesai mandi, aku langsung turun ke dapur tapi nggak melihat Reika. Aku cari-cari lagi sampai akhirnya diruangan tv dan Reika sedang serius menonton film horor. "Reiiiikaa,,," ucapku lirih disamping telinga Reika. "Astaghfirullah,, ya Allah! eh kamu mah Ya kagetin aja tahu! lagi serem-seremnya nih!" sentak Reika kaget. "Hehehe, sorry sorry Rei. Habisnya tadi cari didapur nggak ada, dipanggil-panggil ngga ada jawaban. Eh tahunya lagi serius banget nonton film, horror lagi" balasku sambil duduk dan mengambil lumpia yang ada diatas meja tv. "Horro apa nih Rei?" tanyaku masih sambil memakan lumpia dan mulai ikut menonton film. "Siccin Ya. Horror Turki. Rame tahu, beda-beda cerita setiap episodenya" jelas Reika yang sudah mulai fokus menonton lagi sambil memakan lumpia juga dan nggak lupa peluk bantal guling, ciri Reika kalau sedang nonton film horror.

OMW_23

0 0

Allahuakbar Allahuakbar,,, Suara adzan Maghrib terdengar, membangunkan aku dan Reika yang tidak sadar tertidur waktu nonton film. Aku terbangun dan bersiap untuk sholat, sebelumnya aku membangunkan Reika dulu agar kita bisa berjamaah. "Rei bangun Rei, udah Maghrib" ucapku sambil menepuk-nepuk ringan bahu Reika. "Hmm,, hoam, kita ketiduran ya Ya? duh filmnya gimana Ya? belum selesai nontonnya" ucap Reika dengan cemberut. "Nggak tahu Rei sampai mana tadi kita nontonnya. Yasudah nanti kita nonton lagi aja Rei, sekarang siap-siap sholat dulu terus ke tetangga kan mau dinner" ucapku lagi sambil beranjak ke kamar. Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan untuk aku dan Reika bersiap, setelah mandi, sholat Maghrib, dan mengaji. Kami menynggu waktu Isya sambil menonton film, melanjutkan yang tadi belum selesai karena tertidur. Tepat film selesai, adzan Isya pun berkumandang dan kami langsung menuju kamar mandi untuk ambil wudhu dan sholat Isya berjamaah. "Ya, udah rapih belum?" tanya Reika sambil berkaca. "Udah oke Rei, cantik kok. Cucok meong" balasku sambil terkikik geli. "Ih kamu mah Ya, ngapain coba cucok meong dibawa-bawa" ucap Reika cemberut. "Iya, iya, udah cantik rapih kok Rei. Oh iya bingkisannya jangan lupa dibawa Rei, nanti lupa" ucapku lagi mengingatkan bingkisan kue untuk tetangga. "siyap Airya" balas Reika dengan semangat. Tepat setengah delapan malam, aku dan Reika ke tetangga sebelah untuk menghadiri undangan dinner. "Ya, rumahnya yang mana ya?" tanya Reika ketika kamu sudah sampai di luar rumah. Karena rumah yang belum ditempati itu ada dua, ada yang disebelah kanan terseling satu rumah dan ada yang dibelakang terseling satu rumah juga. Rumah tersebut baru satu minggu dikosongkan karena pemiliknya pindah keluar kota. "Rei, aku nggak tahu. Lupa lagi nggak tanya ke Zaki" balasku sambil kebingungan juga. "Coba tanya aja Ya kerumah umi Hj" lanjutku sambil menunjuk rumah sebelah Reika. "Oh iya ya, tanya ke umi haji dulu Ya. Yuk!" ajak Reika. Assalamualaikum,, Ucap kami berbarengan sambil mengetuk pintu rumah umi haji. Setelah menunggu sekitar satu menit akhirnya penghuni rumah membuka kan pintu. "Waalaikumsalam,, eh neng Reika sama neng Airya. Masuk neng ayok" ucap Bu haji sambil mempersilahkan kami masuk. "Terimakasih umi" balas kami sambil masuk dan duduk.

OMW_24

0 0

"Bi, tolong bikinin teh anget tiga ya" ucap umi haji ke Bi Minah, pembantu dirumahnya. "Iya umi" balas Bi Minah sambil berlalu ke dapur. "tumben neng Reika malam-malam ke rumah umi, ada apa neng?" ucap umi haji membuka pembicaraan. "Begini umi, maaf mengganggu malam-malam. Reika mau bertanya, katanya ada tetangga baru ya umi? rumah mana umi yang udah ada isinya?" tanya Reika. "Oh iya neng, di sebelah rumah ibu ini neng yang bekas rumah Bu Zia. Kenapa gitu?" balas umi haji. "Iya umi, kami mau main ke sana sekalian perkenalan sama tetangga baru. Biar akrab gitu umi, kan tak kenal maka tak sayang. Hehe" balas Reika dengan gurauan dan kamipun tertawa bersama. "Wah terlalu bersemangat ya neng Reika ini buat kenalan sama tetangga baru. Sabar ya neng, kan pindahnya Minggu depan jadi masih kosong rumahnya" balas umi sambil tersenyum. Aku dan Reika terdiam ditempat, kaget mendengar apa yang dikatakan umi haji. Sampai suara bi Minah yang menyodorkan minuman menyadarkan kami. "Monggo umi, neng minumnya" ucap Bi Minah sambil menaruh air teh hangat diatas meja nggak lupa dengan kue brownies nya. "ayok neng Reika dan neng Airya diminum sama dimakan kuenya" sambung umi haji mempersilahkan kami untuk menikmati teh hangat dan kue. "Terimakasih umi" jawab kami sambil meminum teh dan kue dengan fikiran yang masih terfokus pada ucapan umi tentang tetangga baru tersebut. "Hmm,, umi, bener tetangga baru kita itu belum pindah kesini?" tanya Reika kembali untuk memastikan ulang. "Iya bener neng, tadi siang Bu Zia teleponan sama ibu kasih kabar kalau yang menempati rumahnya itu akan datang Minggu depan jadi kemungkinan tiga hari kedepan ada tukang untuk bersih-bersih rumah" balas umi haji. Aku dan Reika mendengar penjelasan umi haji dan saling berpandangan. Kemudian aku menyenggol sedikit Reika, memberikan kode untuk segera pulang saja nggak enak sudah malam juga. "Hmm, umi kalau gitu kami pamit dulu ya umi, nggak enak udah malam. Maaf ganggu umi" ucap Reika. "Lho ko cepat sekali neng" tanya umi. "Iya umi, kami khawatir ganggu istirahat umi. Sekarang juga sudah jam setengah sembilan malam, kami pamit dulu ya umi" kali ini aku yang menjawab sambil berdiri untuk bersalaman, Reika mengikuti sambil memberikan bingkisan kue yang awalnya untuk tetangga baru. "Wah sampai repot- repot dibawain kue segala nih. Terimakasih ya neng Reika neng Airya" balas umi sambil mengantar kami kedepan pintu. "Iya umi sama-sama. Assalamualaikum" balas kami bersamaan. "Waalaikumsalam" balas umi sambil menutup pintu ketika kami sudah berjalan menuju pulang.

OMW_25

0 0

Selama perjalanan pulang dari rumah umi, tidak ada yang mengobrol hanya jalan saja menuju rumah Reika karena sibuk dengan fikiran masing-masing. Sesampainya dirumah Reika, kami langsung terduduk diruang tamu dan saling memandang seakan menyalurkan fikiran terkait kejadian ini. "Ya, kamu bener nggak sih waktu katanya ada si Zaki Zaki itu" ucap Reika membuka pembicaraan. "Lha, ya bener dong Rei. Buktinya kan bingkisan makanan dari ibunya Zaki ada dan kamu makan waktu itu" balasku. "Astaghfirullah, astaghfirullah. Tapi kenapa jadi begini ya Ya? aku bingung lho ini! Apalagi waktu kita lewat rumah Bu Zia itu memang masih kosong dan rumah yang dibelakang juga masih kosong" ucap Reika dengan frustasi. "Iya Rei, jangankan kamu aku juga bingung" balasku sambil tiduran disofa tamu. "Ya, pindah aja yuk ke ruang tv. Kita cari pencerahan dulu dari situasi ini. Ayok cepat, nanti aku buatin cemilan sama jus" ucap Reika sambil menarik tangan untuk membangunkan ku. "Iya Rei, tapi ganti baju dulu dong" balasku berjalan ke arah kamar sedangkan Reika kedapur. Hanya butuh lima menit untuk berganti baju rumahan dan skincare malam, aku langsung kedapur untuk membantu Reika. Karena Reika nggak ada didapur, yang ada hanya nampan diatasnya sepiring besar cemilan dan dua gelas jus jadi aku langsung membawa nampan untuk disimpan ke ruang tv. Ting Tong Ting Tong Terdengar suara bel rumah ketika aku menunggu Reika sambil menonton film kartun dan mulai mengemil. Aku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh menit, waktu yang kurang pas untuk bertamu ketika malam. Ting Tong Ting Tong Bel berbunyi lagi untuk kedua kalinya, aku pun beranjak dari kursi dan saat akan membuka pintu Reika turun dari kamar atas. "Ya, mau kemana?" tanya Reika. "Ada tamu lho Rei. Tadi bel rumah bunyi dua kali" balasku. "Eh masa sih, kok aku ngga denger ya bunyi bel nya. Tapi juga siapa yang bertamu dijam segini ya Ya?" tanya Reika lagi dengan melihat jam, aku hanya mengangkat bahu sambil menggelengkan kepala. Ting Tong Ting Tong Bel berbunyi lagi, kami saling pandang dan memberi kode apakah akan membuka atau dihiraukan saja. Pada akhirnya kami memilih untuk membuka pintu, khawatir ada yang penting.

OMW_26

0 0

"Assalamualaikum,, neng Reika neng Airya" ucap seseorang yang mengetuk pintu, Bi Minah. "Waalaikumsalam,, masuk Bu" balas kami bersamaan dengan mempersilahkan Bi Minah masuk. "Nggak usah neng, bibi mau langsung aja. Hmm, ini mau kasih hp neng yang ketinggalan dirumah umi haji" ucap Bi Minah seraya menyodorkan hp yang ternyata hp Reika. "Oh ya Allah, kok aku bisa ketinggalan ya hp nya, hehe. Maaf ya bi, jadi ngerepotin bibi. Terimakasih bi" balas Reika sambil menerima hp tersebut dan tersenyum malu. "Sama-sama neng, bibi langsung pamit ya neng. Assalamualaikum" ucap bibi sambil berdiri untuk pamit pulang. "Waalaikumsalam, hati-hati bi" balas kami sambil mengantar bibi ke depan pintu sedangkan bibi hanya tersenyum membalas. "Ya ampun Rei, kenapa sampe ketinggalan gitu hp. Biasanya kamu kan kalau nggak ada hp semenit aja nggak bisa langsung heboh" ucapku sambil menggelengkan kepala. "Iya aku juga nggak tahu Ya, kayaknya terlalu kaget sama fokus ke masalah yang tetangga baru itu lho jadi aku nggak sadar hp ketinggalan dirumah umi" balas Reika. Kembali ke rencana awal aku dan Reika, yaitu memutuskan untuk menonton film yang mungkin akan menemukan pencerahan dari kejadian ini. Satu film selesai, kami masih terjaga. Reika memutar film kedua kali ini bergenre komedi yang dipilih Reika, aku hanya mengikuti saja karena aku suka semua jenis film. "Rei, aku ambil minum sama cemilan lagi ya sudah habis ini" ucapku sambil beranjak ke dapur dan Reika hanya mengangguk senang. Aku kembali segera mungkin dari dapur agar tidak tertinggal menonton film, dan menemukan Reika yang sedang menonton film thriller beda dengan film yang sebelumnya sudah diputar. "Rei, kok diganti filmnya?" tanyaku. "Ya, aku tuh tadi berfikir waktu kamu kedapur. Kita kan mau cari pencerahan ya dari kejadian ini, nah lebih baik kita nonton film yang sesuai yaitu film thriller. Mungkin aja habis nonton film ini kita bisa dapat pencerahan untuk menyelesaikan kejadian ini atau seenggaknya kita tahu alasan dari kejadian ini. Begitu lho Ya" balas Reika panjang lebar dengan menampilkan muka seriusnya. Aku hanya diam sambil mengagguk- anggukan kepala dan langsung duduk untuk menonton film thriller tersebut.

OMW_27

0 0

"Ya, Ya, Airya, bangun" ucap Reika sambil menepuk-nepuk pipiku agar terbangun, sekitar lima menit Reika melakukan hal tersebut. "Hmm, iya Rei ini bangun" balasku sambil perlahan bangun. "sudah subuh ya Rei?" tanyaku. "Iya Ya, ayok kita sholat subuh dulu. Kesiangan lho kita" ucap Reika yang memperlihatkan jam di hp menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit. Akupun beranjak untuk wudhu dan sholat subuh berjamaah dengan Reika yang sudah siap dari waktu membangunkan ku. "Jogging yuk Ya, sekalian nanti beli sayur" ajak Reika ketika kami sudah selesai sholat subuh dan mengaji. "Ayo. Eh kamu hari ini mau ke cafe nggak Rei?" tanyaku. "Nggak Ya, mau dirumah ajalah. Tenang aja, anak magang mulainya lusa kok jadi aku nggak perlu ke cafe dulu sekarang" balas Reika. Kami jogging hanya disekitaran kompleks rumah saja dan berhenti di taman untuk sekalian membeli sayur dan sarapan bubur. Karena ini hari Sabtu jadi taman pun ramai pengunjung, karena ada jadwal rutinan senam bersama warga di komplek ini. Sekitar jam delapan kami selesai joging, sarapan dan belanja sayur langsung pulang ke rumah. Reika langsung menuju kamar untuk bersiap diri sedangkan aku menuju dapur untuk membereskan belanjaan yang tadi dibeli sambil mbuat pancake dan jus. "Ya, sana kekamar dulu ganti baju sekalian mandi" ucap Reika. "Iya Rei, tanggung ini habisin adonan pancakenya" balasku. "Oke Ya, aku mau selai coklat dong Ya" pinta Reika yang sudah duduk dimeja makan sambil meminum jusnya, aku hanya mengangguk sambil tersenyum mengiyakan. "Yup! sudah selesai. Aku kekamar dulu ya Rei, ini tolong kamu bawa ke depan. Kita midang didepan ya, cuaca mendukung nih" ucapku. "Siyap Ya" balas Reika semangat dan langsung bersiap kehalaman depan. Hanya butuh sepuluh menit aku selesai bersiap dan langsung menyusul Reika ke halaman depan. "Rei, habis ngobrol sama siapa?" tanyaku ketika melihat Reika yang selesai mengobrol di depan pagar rumah. "Oh, ini Ya ada Aisyah anak pak RT. Biasa kasih iyuran bulanan terus sekalian ngobrol aja tentang sekolah dia gimana. Begitu aja sih Ya" balas Reika sambil berjalan ke arahku dan duduk disebelah. "Oh,, dikirain ada apa gitu" balasku sambil tersenyum kikuk, Reika hanya tertawa menanggapi. "Ya, kamu mau lanjutin cerita kamu yang kemarin belum selesai?" tanya Reika.

OMW_28

0 0

Aku terdiam beberapa saat mendengar perkataan Reika, apakah sekarang waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya. "Hmmm,, oke Rei aku lanjutin ceritanya, tapi tolong jangan dipotong ya. Jadi setelah pertama bertemu di shuttle yang sama dan saat itu juga di grup WhatsApp temen-temen banyak obrolin tentang yang main akustik di cafe kamu, bahkan kamu juga sempat kasih tahu aku siapa yang main akustik itu. Dari situ aku bingung, yang ada dibelakang aku siapa? sama persis orangnya terus waktunya juga sama. Aku mencoba lihat kebelakang lagi ternyata nggak ada Rei, laki-laki itu. Cuma ada ibu-ibu muda sama anak bayinya dan akupun sampai tanya lho ke ibu muda itu duduknya sama siapa dibelakang? terus jawabnya cuma sendiri sama bayinya aja, nggak ada penumpang lain. Aku panik lho Rei, ya ampun" ucapku melanjutkan cerita yang kemarin belum selesai dan Reika masih setia mendengarkan. "Tapi nih ya, akukan suka ngantukan kalau lagi diperjalanan, nah habis itu aku langsung tidur lagi coba buat alihkan fikiran biar tenang nggak panik nggak takut. Terbangun lagi, nggak sengaja ngeliat kebelakang waktu benerin posisi duduk aku melongo Rei, karna apa coba?" tanyaku disela cerita. "apa Ya?" tanya Reika sambil menggelengkan kepala. "Ya karna aku ngeliat lagi tuh laki-laki tampan itu Rei. Dia juga lagi ngeliat aku, terus dia ajakin kenalan sambil sodorin tangan. Sama namanya kayak yang main akustik dicafe, Kenzo Ziovanic Rakkasa. Kami sempat ngobrol sebentar Ya, biarpun cuma perkenalan aja tapi ini kaya bener Rei. Sampai akhirnya udah tiba di pol shuttle, aku baru tahu kalau ini itu kejadian sama kaya sebelumnya, mimpi dalam mimpi" ucapku. "Ya, kenapa bisa tahu kalau kamu mimpi dalam mimpi?" tanya Reika. "Soalnya waktu baru sampai di pol shuttle, pastikan kalau turun aku dulu baru dia? nah ini mah sampai semua penumpang turun dia nggak turun Rei, nggak ada dishuttle itu" balasku. Reika terdiam, masih meresapi cerita yang baru saja aku ceritakan. Aku kedapur untuk mengambil lagi cemilan dan minuman, karena cerita masih panjang belum selesai.

OMW_29

0 0

"Nah terus setelah kejadian di shuttle itu, inget nggak Rei waktu di cafe kamu yang kamu kira aku ngelamun?" tanyaku dan Reika hanya mengangguk menanggapi. "Itu karena aku ngeliat dia, Zio atau Rakka di seberang meja kita Rei, dia juga ngeliat kearah aku tatap-tatapan malah sambil senyum juga" lanjutku. "Bukan ke kamu kali Ya dia ngeliatnya" sela Reika. "Kalau bukan ke aku kesiapa lagi coba? dibelakang kita kan nggak ada meja lagi terus dia lagi duduk sendiri waktu itu!" terangku dan lagi-lagi Reika hanya terdiam sambil mendengarkan ceritaku. "setelah di cafe, adalagi waktu di mall. Ini nih yang bikin aku ngerasa aneh Kediri aku sendiri Rei. Waktu lagi milih minuman, aku kira kamu ikut disebelah aku tahunya kan kamu ada dirak lain, jadi aku cari kamu. Nah disela-sela aku cari kamu, tiba-tiba ada yang nyapa aku tapi itu deket banget suaranya. Aku langsung berbalik ke arah suara sapaan itu, kita bahkan sempet ngobrol lho Rei. Dia nanyain, inget aku ngga Airya? gitu" jelasku sambil mengambil cemilan. "Ya, tunggu deh. Waktu kejadian di mall itu yang kamu ngelamun di lorong rak kue terus kamu ngambek ke aku gara-gara nggak sopan asal nyelonong aja padahal lagi ngobrol sama seseorang? Yang itu bukan Ya?" tanya Reika. "Nah iya Rei bener. Yang waktu itu lho Rei. Terus kamu kan kaya anggep aku ngehalusinasi karena didepan aku ngga ada orang lain yang lagi ajak ngobrol aku, makanya kamu langsung narik aku kan ya? begitu kan?" jelasku membenarkan dari pertanyaan Reika. "Terus apa hubungannya sama kejadian undangan dinner yang ternyata zonk ini?" tanya Reika masih dengan kebingungannya. "Ih Reika yang cantik, imut, baik hati, nggak sombong. Waktu ada tamu yang pagi-pagi dan ternyata tetangga baru namanya Zaki Zaki itu lho, selain kasih undangan dinner kan kasih bingkisan makanan juga. Malah kamu ngicipin makanan dari mamanya Zaki. Masa sih aku halusinasi atau bohong? kan ada bingkisannya" ucapku menjelaskan. "Lha iya ya Ya, masalahnya ada bingkisannya itu. Tapi waktu semalem kita mau datang kan rumah kosongnya masih belum pada keisi jadi kita tanya ke umi haji dan umi haji pun membenarkan kalau tetangga baru pindahannya kemungkinan Minggu depan. Jadi ini tuh gimana ya Ya? aku ikut bingung" balas Reika. "Atau mungkin dinnernya bukan dirumah kali Rei, karena mereka belum pindahan. Tapi info dari Zaki kurang jelas juga sih ya. Sudahlah Rei, nanti kita silaturahmi kerumahnya aja kalau udah ditempati. Sekarang jalan-jalan yuk!" ucapku menenangkan Reika yang masih bingung, sambil beranjak untuk siap-siap keluar.

Mungkin saja kamu suka

Samriyahtul Has...
MENCINTAIMU DALAM DIAM
dimdim
cat
Jihan Erza Dani...
Kau Pelengkap Imanku
uswatun hasanah
Teka-teki sebuah pertemuan

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil