Loading
15

3

2

Genre : Romance
Penulis : Siti Munawaroh (Cik Muna)
Bab : 30
Pembaca : 7
Nama : Siti Munawaroh (Cik Muna)
Buku : 2

Aster

Sinopsis

Ibu bilang, semua orang di dunia ini harus memiliki mimpi. Bermimpilah setinggi-tingginya seperti bintang di langit. Setelah itu, wujudkanlah. Mimpi adalah tujuan hidup, sesuatu yang kita kejar dan perjuangan. Begitu pun dengan Aster, gadis ceria penuh optimis berusia dua puluh tahun, berdarah Jawa-Cina ini memiliki mimpi indah. “Mimpiku adalah memilih mencintaimu, tetapi aku tidak akan pernah mampu karena ....” Akankah Aster dapat mewujudkan mimpi terbesarnya itu? Atau harus menghadapi kenyataan pahit? Hanya memeluk sebuah angan. Selamat Membaca!
Tags :
#Self Improvement #Mimpi #Jawa #Perjuangan

Bagian Satu: Aku Bunga Aster

4 6

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 518

 

Kehidupan itu cuma dua hari saja. Satu hari untukmu, satu hari melawanmu. Maka pada saat ia untukmu, jangan bangga dan gegabah; dan pada saat ia melawanmu bersabarlah. Keduanya adalah ujian bagimu.”

Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah

 

Bagian Satu

 

             “Jangan takut bermimpi, Nak!”

           Ibuku bilang, semua orang di dunia ini harus memiliki mimpi. Bermimpilah setinggi-tingginya seperti bintang di langit. Setelah itu, wujudkanlah. Mimpi adalah tujuan hidup, sesuatu yang kita kejar dan perjuangkan. Apa artinya hidup tanpa sebuah tujuan, mustahil. Begitu pun dengan diriku yang memiliki mimpi indah, tetapi aku menyadari dan berpikir apa aku akan berhasil menggapai mimpi itu, mengingat kondisi yang sedang aku jalani. Sepertinya dunia tidak berpihak padaku.

              Mimpiku adalah memilih mencintaimu, tetapi aku tidak akan pernah mampu karena ....

***

            Malam ini, langit tampak bersih dan terang. Rembulan hadir dengan kecantikan sempurna, bintang pun membentuk formasi di angkasa, berkelap-kelap seolah menari-nari. Embusan angin malam dengan lembut membelai rambut. Menyenangkan sekali.

             Aku masih duduk terpaku menatap langit, kubiarkan hawa dingin memeluk tubuh kurus itu. Halaman depan rumah. Tepatnya bangku kayu di bawah pohon sawo. Ya, tempat favorit yang biasanya sebagai pelampiasan segala rasa, sepi, marah, dilema, kalut, sesal, sedih, dan semuanya. Sejenak menghela napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan-lahan.

            “Sabar Aster ... kamu pasti bisa!” Aku berkata lirih dan mengucapkannya berkali-kali.

Marah dan kesal mengingat kejadian di kedai tadi siang.

           Aku, Bunga Aster. Gadis berdarah Jawa-Cina yang kini berusia dua puluh tahun. Sejak kecil terbiasa dipanggil Aster. Nama yang indah dan unik pemberian Ibu. Seperti arti nama ini, aku harus tabah dalam menjalani hidup.

           Terkadang ada rasa menyesal kenapa bisa memiliki garis keturunan Tionghoa? Padahal secara fisik, kulit sawo matang, tinggi semampai, hanya mata sipit yang menjadi ciri khas dalam diri ini. Ah, iya, bukankah manusia tidak bisa meminta dan menolak takdir? Bahkan masalah dari rahim mana akan dilahirkan pun, hanya Tuhan yang berhak mengaturnya.

           Kulihat arloji di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ternyata hampir satu jam aku memandang langit yang tidak pernah merasa lelah, ataupun berteriak dengan segala hiruk pikuk dunia yang penuh kepura-puraan. Aku masih tak beranjak dari bangku, justru berpindah tempat dan duduk beralaskan rumput yang agak basah setelah hujan turun tadi siang.

            Aku membuka ponsel dan mencari menu galeri foto, lalu menggeser beberapa foto yang tanpa sengaja membuat bibirku mengembang. Kutemukan fotonya, wanita tercantik di dunia menggunakan kebaya berwarna merah dengan aksen tempel brokat dan berpayet. Rambut hitam legam panjang sampai ke bawah pinggul bak Rapunzel, disanggul dengan apik dan riasan wajah yang sederhana, menambah kesan anggun.

***

            “Ibu cantik sekali, Aster mau disanggul seperti itu, Bu!” Aku masih memandang Ibu yang becermin sambil memoleskan gincu pada bibirnya.

            “Aster juga cantik ... sini duduk!” Aku pun menuruti perintah Ibu, lalu duduk di depan meja rias.

            Ibu menyisir rambutku yang tergerai, tidak begitu panjang, hanya sebahu dengan poni tipis di bawah alis. Aku hanya terdiam dan suka sekali diperlakukan Ibu seperti putri di negeri dongeng. Bahagia sekali. Akan kuingat-ingat selalu momen ini.

            “Memang Aster mau rambutnya disanggul?” tanya Ibu kepadaku dengan suara yang lirih dan lembut. Ah Ibu, engkau memang seperti malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirimkan untukku, gadis tanpa kasih sayang seorang ayah, tetapi kasih Ibu melebihi dunia dan isinya.

user

16 July 2021 09:03 Sri Rahayu Hai, Aster cantik..

user

16 July 2021 09:23 Siti Munawaroh (Cik Muna) Hola Cutkak, yoo semangat

user

16 July 2021 09:54 Shajar Huwaaaa, semangat Cik Muna ????????

user

17 July 2021 06:58 Putri Kartika Sari Semangat cik muna

user

17 July 2021 08:43 Siti Munawaroh (Cik Muna) Shajar_maaciw Dede

user

17 July 2021 08:45 Siti Munawaroh (Cik Muna) Kak Tika juga, semangat yo????????

Lanjutan Bagian Satu

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 545

 

      “Maulah,” jawabku singkat dan cepat, tanpa memikirkan alasan tertentu. Meskipun ada kecintaan yang luar biasa pada segala sesuatu yang berhubungan dengan budaya Jawa.

     “Kenapa? Enggak pingin kayak Ustazah Karin?” Ibu bertanya kembali dan membelai rambutku, kemudian memakaikan mahkota di atas kepala, “masyaAllah, ayu tenan[1] putri ibu!” Mata Ibu terlihat berbinar-binar dan senyumnya yang lebar tampak secerah cahaya.

      “Aster pingin nyoba disanggul, Bu! Nanti saat rambutku sudah panjang, kenapa ganti bahas Ustazah Karin to, Bu?”

        Aku tidak paham dengan jalan pikir Ibu, apa hubungannya sanggul dengan Ustazah Karin-guru mengaji ketika aku masih seusia sekolah dasar. Sekarang pun masih berlanjut mengaji di musala milik keluarga Ustazah Karin selepas magrib. Ah, ada-ada saja.

         “Ibu kira Aster ingin seperti Us Karin, menutup mahkota indahnya dengan jilbab.”

       Aku selalu mengagumi Ustazah Karin, perempuan hafizah putri Pak Somad-orang terpandang di desa kami, Dusun Pentingsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. Desa yang berada di bawah kaki gunung Merapi. Tentunya suasana pedesaan yang masih asri, udaranya pun terasa sangat sejuk pada siang hari maupun sore hari. Desa yang berjarak 19 kilometer atau sekitar 44 menit dari Monumen Tugu Yogyakarta, apabila berkendara dengan kendaraan beroda empat.

      Tidak ada yang tak mengenal Ustazah Karin. Aku yang seorang perempuan saja suka melihat wajah teduh beliau. Hati terasa nyaman. Beliau pun baik hati dan sangat cantik saat memakai gamis dengan jilbab lebar ketika menyimak kami membaca Qur’an. Suaranya juga sangat indah, tetapi aku belum memiliki niatan untuk menutup rambutku saat ini. Mungkin suatu saat nanti. InsyaAllah.

         “Emm ... pingin, tapi Aster juga suka lihat perempuan Jawa dengan pakaian kebaya, rambut disanggul. Apalagi saat menembang, seperti Bulik[2] Lastri waktu itu, jos binti mantap, Bu!” Aku tertawa dan diikuti oleh Ibu juga.

            “Dik Lastri sedari kecil memang sangat berbakat. Jadi cita-cita Aster mau jadi sinden?”

         “Enggak mau, bukan jadi sinden, Bu. Aku pingin jadi penari kayak Ibu. Nanti kuliah tari kayak Mbak Rima. Boleh ya, Bu?” Aku menatap wajah Ibu sambil memegang kedua tangannya. Memohon supaya Ibu merestui keinginanku dan memperbolehkan belajar tari lagi.

           Ibu tidak menjawab pertanyaanku itu. Dua hari yang lalu, aku ketahuan belajar tari dari Mbak Rima. Ibu tiba-tiba datang ke sanggar dengan sorot mata tajam. Entah siapa yang memberitahu. Beliau pasti marah, aku menerka-nerka sendiri. Benar saja, sesampainya di rumah Ibu melarangku untuk tidak belajar tari lagi. Tanpa alasan. Aku pun manut dengan nasihatnya.

         “Sudah jam tujuh, ayo berangkat. Nanti telat, lho!” Ibu mengalihkan pertanyaan yang kuajukan dan melepas genggaman tanganku.

          “Iya, Bu.” Aku bergegas dan berjalan mengikuti langkahnya.

***

           Dia wanita yang teramat kucintai dan aku selalu memanggilnya Ibu Dewi Drupadi, meskipun nama asli Ibuku Dewi Ratnawati. Karena kecantikan paras Ibu dan sangat setia, tidak mau menerima cinta dari orang lain, mirip tokoh yang diceritakan kepadaku. Drupadi adalah putri Prabu Drupada dari Kerajaan Cempalareja. Dia istri dari Yudistira, salah satu tokoh dalam Pandawa (Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa).

           Bersama Drupadi, Pandawa menjalani hukum buang di sebuah hutan selama dua belas tahun. Pandawa dan Drupadi hidup dalam penderitaan. Sesudah masa hukuman buang berakhir, Pandawa dan Drupadi melakukan hukuman penyamaran selama setahun di negeri Wirata. Namun di balik itu semua, mentalitas Pandawa dan Drupadi menjadi semakin perkasa. Mereka tidak cengeng saat menghadapi cobaan hidup yang berat.

 

[1] Ayu tenan, artinya sungguh cantik.

[2] Bulik, ibu cilik. Sapaan adik perempuan ibu atau ayah, hampir sama dengan sebutan bibi.

Lanjutan Bagian Satu

1 2

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 580

 

Dalam keadaan apa pun, berbagai cobaan yang merintang di hadapannya, cinta suci Drupadi kepada Yudistira tidak pernah dipalingkan kepada laki-laki lain. Sungguhpun Yudistira yang tersohor sebagai raja lilo donyo lan pati[1] itu pernah merelakan istrinya untuk dinikahi Ramawijaya. Namun, cinta Drupadi kepada Yudistira tidak pernah bergeser sejengkal pun. Kesetiaan yang tulus dari hati. Aku tercengang mendengarnya. Memang sebelum beranjak tidur, beliau tidak pernah absen bercerita tentang tokoh dalam pewayangan. Sudah menjadi kebiasannya. Terutama tokoh perempuan.

Seketika cairan bening mengalir dari sudut mataku, menatap foto sedari tadi dan mengingat momen wisuda sekolah menengah pertama beberapa tahun silam.

            “Aster, ayo masuk! Sudah larut Nak, kenapa di luar, to?” panggil Bulik di depan pintu.

            “Inggih, sebentar, Lik!” Aku menghapus air mata yang tanpa sengaja keluar, bisa ikut sedih nanti kalau Bulik melihatku seperti ini. Bulik sudah kuanggap seperti Ibuku sendiri, apalagi wajah mereka yang hampir mirip. Umur Bulik hanya terpaut tiga tahun dengan Ibu, tetapi mereka terlihat kembar.

            Aku pun masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa. Terdengar bunyi keriuk pelan dari perutku. Oh, aku baru ingat belum makan sejak siang tadi. Selera makanku hancur, akibat kesalahan yang kuperbuat sendiri. Ingin kutumpahkan seluruh amarah dan kekesalanku, tetapi aku ingat dengan nasihat Buya Hamka. Dalam situasi apa pun, jangan biarkan emosimu mengalahkan kecerdasanmu. Huh, malam yang semakin larut membuatku lemas. Aku tidak mau pingsan konyol, hanya karena belum makan. Sungguh memalukan! Akhirnya, aku pun melangkah ke meja makan yang berada di  dapur.

            “Lik, adik-adik sudah makan?” tanyaku kepada Bulik.

Bulik menghampiriku dan duduk di kursi sebelah, “Yo wis to, Nak. Jam piro iki? Astagfirullahal-azim ... awakmu belum makan, to? Ada masalah apa? Kok tumben, hampir tengah malam iki. Jangan dibiasakan, nanti malah jadi sakit. Yo wis, makan dulu! Ceritanya nanti.”

“Tidak ada apa-apa, Lik! Alhamdulillah, di tempat kerja semuanya lancar, aman terkendali. Aster makan dulu, ya?” kataku.

“Iya, makan yang banyak, biar kuat menghadapi kenyataan!” Bulik tersenyum manis.

“Ah, Bulik bisa aja! Kuat dong, memang Bulik yang terbaik, deh!” Aku mengacungkan dua jempol kepada Bulik sambil memamerkan senyum juga.

Aku pun mengambil nasi yang sudah dingin dengan kecap, telur dadar yang masih hangat tanpa cabai, bawang merah, dan bawang putih. Sepertinya Bulik baru saja selesai mengorengnya.

"Aaah ...." Indra pengecapku terasa seperti terbakar, karena terlalu semangat memasukkan dalam mulut.

"Hati-Hati, Nak! Masih panas kok langsung diemplok," ujar Bulik sambil menahan tawa melihat tingkahku.

Aku menjulurkan lidah yang masih sedikit panas, lalu meneguk air putih sedikit-sedikit yang dituangkan beliau.

“Maaf ya, Nak! Tadi ada capcai, cuma sudah habis dimakan adik-adikmu. Tinggal ini aja, makan yang banyak. Ambil lagi tuh nasinya.”

“Matur nuwun, Lik! Ini sudah cukup, kok.” Aku memasukkan suapan terakhir, perpaduan nasi kecap dengan telur yang nikmat luar biasa, meskipun aku juga merindukan capcai kesayangan. 

“Ya udah, Bulik tidur dulu, yo? Jangan lupa, pintu depan dikunci!” Bulik pun berlalu meninggalkanku sendiri.

Setelah selesai makan, aku membersihkan piring dan sendok kotor, lalu menutup kembali nasi yang tersisa dengan tudung saji.

“Alhamdulillah, perut sudah terisi. Tinggal melanjutkan mimpi indah.” Aku tersenyum simpul.

Aku merebahkan tubuh di kasur yang sudah tipis, tetapi rasanya masih nyaman. Tidak apa kalau keras, aku berjanji pada diriku sendiri untuk bekerja keras, agar bisa mengubah nasib. Nasib yang lebih baik. Aku tidak pernah menyalahkan apa pun yang sudah terjadi padaku. Aku hanya ingin diriku dan orang terkasih juga bahagia. Cukup hal sederhana itu saja.

 

[1] Yudistira selalu rela apabila harta, benda, dan kematiannya diminta oleh orang lain. Bahkan, istri ataupun takhta akan diberikan dengan cuma-cuma pada orang lain tanpa suatu perundingan atau peperangan.

user

17 July 2021 07:56 Shajar Huwaaa, nasi kecap. Ah mantap jiwa ????

user

17 July 2021 08:46 Siti Munawaroh (Cik Muna) Ini gak bisa ditag ya orangnya, hiks

Lanjutan Bagian Satu

1 2

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 577

 

Sekarang aku memang tinggal bersama Bulik, tiga adik sepupu dan Paklik, tetapi beliau bekerja di luar kota sebagai karyawan di salah satu pabrik pupuk organik di Surabaya. Terhitung Paklik pulang kampung hanya dua kali dalam setahun, itu pun lebaran dan tahun baru. Beliau orang baik setelah Bulik. Akan tetapi, tetangga selalu mencibir beliau, kata mereka Paklik punya ‘gundik’ di sana. Memang tak habis pikir, tega-teganya mereka mengatakan seperti itu, hidupnya juga tidak lebih baik dari kita. Ah, tidak ada yang bisa menilai diri sendiri atau orang lain. Semua akan terlihat subjektif.

Sudah hampir sepuluh menit, aku belum bisa memejamkan mata, bergerak ke sana kemari, padahal sudah mencoba untuk menghitung jumlah sisi langit-langit atap rumah. Katanya, jika ingin cepat tertidur pulas, berhitunglah. Entah kata siapa, pernyataan itu tiba-tiba ada di benak. Sungguh kekanak-kanakan! Akan tetapi, aku tidak percaya. Justru mataku masih melek seperti lampu fresnel. Terang benderang. Akhirnya, aku memutuskan untuk ke kamar mandi, mengambil air wudu dan menggosok gigi.

Setelah berwudu, aku merasa energi positif berkumpul lagi di otakku, berjubel di dalamnya dan terasa segar. Penglihatanku pun teralihkan pada sebuah buku tebal usang bersampul hitam. Bertuliskan “DIARI BUNGA ASTER”. Segera kuraih buku itu dan membukanya. Aku hanya membolak-balikkan sekenanya, dari lembar tengah kemudian ke bagian depan, kembali ke tengah lagi.

 

Bismilahir-rahmanir-rahim,

Ya Allah, maafkan atas kesalahanku.

Semua terjadi karena keteledoran Aster.

Alhamdulillah aku nggak dipecat sama Bu Bos. Ah, beliau memang orang baik.

Orang baik dan ujian yang Engkau berikan memang seimbang.

Di kala aku sedih, mereka datang dengan senyuman.

Aster janji, gak akan mengulangi kesalahan lagi!

Beneran deh, aku janji. Eh, insyaAllah aja ya...hehe

Matur nuwun Gusti ....

Tarik napas, tahan ... Eh, mau mati sekarang, apa? Embuskan, Aster! Huhh

Masih ada hari esok yang menantikanmu, eakk.

Ya Allah ... maaf nggih, Aster bercanda terus.

Maafkan Aster.

Hwaiting!

 

Ruang sepi, 3 Juli 2017

 

Seketika tanganku dengan lancar menulis segala ‘sambatan’ alias keluh kesah di buku harian. Tuhan adalah tempat yang pantas untuk mengadu, hanya Dia yang patut manusia harapkan. Berharap pada manusia hanya akan menghadirkan rasa kecewa dan sakit hati. Selain berdoa, segala keluhan memang aku tulis dalam buku itu. Sebagai salah satu sarana percakapan dengan Tuhan. Setelah sekian lama tidak menulisnya, akhirnya hari ini kubuka kembali. Begitu selesai menulis, aku menghela napas panjang, terasa sangat melegakan.

“Alhamdulillah, ya ... aku telah memaafkan orang itu.” Aku pun meletakkan buku itu di meja tulis dan melangkah ke kasur, “Ya Allah, cepet banget. Sudah jam dua belas,” gumamku sembari menata kasur.

Aku sudah siap untuk menjelajah dalam alam bawah sadar setelah merapal zikir dan ayat-ayat Qur’an sesuai sunah yang diajarkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba hatiku tergerak untuk menengok ponsel yang sedari tadi sudah mati. Ponsel pun menyala, terlihat tidak ada pesan yang begitu penting, sampai membuat pikiran sedikit terusik. Hanya sebuah pesan singkat spesial dari sahabat tercinta seperti martabak manis yang diberikan secara gratis. Bukan lain adalah Roro Kartika atau bisa dipanggil Tika.

[RR Tika, 10 pm: Semangat, besok berangkat kan?]

[Mau bolos aja, Tik ... tapi boong. Hehe ... Makasih ya, selamat istirahat.]

Muncul pesan baru di layar ponsel, kulihat sebelum membukanya yang terpampang nama Tika, “Ternyata dia juga belum tidur, ah anak ini begadang,” batinku.

[RR Tika, 00.15 am: Awas bolos, sampai ketemu besok. Too..]

Aku hanya membaca dan seketika tersenyum, pun tidak membalas pesan dari Tika, aku khawatir akan berlanjut sampai pagi. Kumatikan mode data dan kurebahkan lagi tubuhku yang sedari tadi bersandar pada ranjang. Sepersekian menit, aku pun sudah terlelap. Melayang-layang bersama mimpi.

user

18 July 2021 17:05 Shajar ????

user

18 July 2021 20:47 Siti Munawaroh (Cik Muna) Itu pasti emot, ya? Kok bisa berubah jadi tanda ?

Bagian Dua

1 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 323

Bagian Dua

 

Pagiku cerahku

Matahari bersinar

Kugendong tas merahku di pundak

Selamat pagi semua

Kunantikan dirimu

Di depan kelasmu

Menantikan kami

 

            Semangat!

Pagi-pagi, seisi ruangan rumah sudah diramaikan dengan suara nyanyian si Ocha-sepupu pertama, yang sekarang duduk di kelas lima SD. Ocha sedang duduk di bangku meja makan sambil mengelap beberapa piring. Aku pun menghampiri dan berniat membantu.

“MasyaAllah ... si Cantik rajin banget, bagus juga lagunya. Itu lagu siapa, Dek?” Aku bertanya, padahal sudah tahu jawabannya. Dasar.

“Iya dong bagus, Ocha gak tau Mbak itu lagu siapa. Cuma tau judulnya aja, ‘GURUKU TERSAYANG’, itu kayaknya,” jelasnya dengan ceriwis.

“Oh gitu, tapi Mbak bilang lagunya yang bagus, bukan suaranya,” godaku kepadanya, kulihat wajahnya agak cemberut mendengar pernyataan yang kulontarkan.

“Buk ... Mbak Aster nakal.”

“Iya ....” Bulik hanya tersenyum melihat buah cintanya yang begitu menggemaskan.

 Lalu, aku membantu menyajikan sarapan yang sudah matang, “Maaf Bulik, gak bisa bantu masak. Aster habis salat subuh, malah ketiduran.” Aku sedikit menunduk, merasa malu, bangun kesiangan dan tidak bisa membantu pekerjaan rumah.

“Kebiasaan nih Embak, mana boleh tidur habis salat subuh, gak baik kata pak ustaz. Waktu setelah subuh itu waktu turunnya rezeki dan berkah. Nanti Allah ngasih rezeki, eh Mbak Aster tidur kan, enggak jadi diberi,” timpal si Ocha seperti kereta api, melaju terus tanpa ada putusnya.

Aku membatin, “Duh, kena mental. Pagi-pagi udah dapat ceramah dari anak kecil.”

“Ya, diberi ke Bunda, kan rajin udah bangun pagi. Yee ... nanti kita bisa kaya.” Tiba-tiba terdengar suara polos dari Dila, putri kedua Bulik yang tidak bisa melafalkan huruf ‘R’, sering disebut pelat. Dia menggeser bangku sambil menggendong adik terkecil-Rayya, yang masih berusia sepuluh bulan.

Sontak kami pun tertawa mendengar ucapannya itu.

“Kenapa ketawa, sih?” Ekspresi wajah Dila agak bingung.

“Gak ada apa-apa,” jawab Ocha dan saling beradu pandang denganku.

            Sinar matahari sudah terasa hangat dan langit juga sangat cerah. Aku melirik jam dinding, pukul 6.30 WIB. Panik. Aku pun agak berlari menuju kamar mandi. Dasar ceroboh.

Lanjutan Bagian Dua

1 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 314

 

            “Aw ... innalillahi,” rintihku.

Tanpa hati-hati aku jatuh terpeleset karena lantai kamar mandi sangat licin. Ah, alasan! Mungkin aku yang tergesa-gesa jadi begini akibatnya. Bulik yang mendengarnya pun langsung menghampiri yang diikuti para adik sepupu dengan wajah terperanjat.

“Ya Allah Nak, kok bisa jatuh lho? Hati-hati kalau melakukan apa-apa, awali bismillah, mesti grusa-grusu, ‘kan? Ayo, Bulik bantu berdiri!” berondongnya tanpa henti.

 “Mbak ngapain tiduran di kamar mandi?” tanya si Dila.

Ocha pun menyahuti ucapan Dila, “Ih Dedek, Mbak Aster kepleset. Bukan tidur, nih Rayya gendong! Aku tak megangi Mbak Aster.”

Bulik memegang tangan dan berusaha mengangkat tubuhku untuk berdiri. Aku mengira, pasti cukup berat untuk mengangkat, meskipun tubuh ini hanya 46 kg. Memang super women Bulik Lasti.

Beliau memapahku ke kamar, sedangkan Ocha memegangi tangan sebelah kanan. “Gimana, kuat untuk jalan apa nggak? Apa butuh tukang pijit, Nak?” tawarnya, melihat wajah Bulik yang agak pucat akibat kecerobohan yang kuperbuat.

“Mboten Lik, gak terlalu sakit, kok. Aku sebenarnya janji kepada Roro, hari ini berangkat. Apalagi setelah kejadian itu ....” Suaraku agak parau, ketika berusaha mengatakan kejadian kemarin.

“Izin sehari, emang kenapa? Gak usah dipikir, jalanmu saja masih seperti itu. Nanti melayani pembelinya, gimana? Sudah, manut sama Bulik. Istirahat dulu, Roro tak kabarine, wis tenang.” Bulik dengan sigap mengambilkan baju bersih dan tersusun rapi di lemari kayu jati.

“Lik ... biar Aster saja yang kabari Roro,” ucapku yang sejenak menghentikan aktivitas Bulik.

“Ya udah, ini ganti baju dulu. Apa Bulik bantu?” Bulik sedikit tersenyum dan diikuti cekikikan dari Ocha dan Dila.

“Aster bisa sendiri Bulik ... matur nuwun, nggih.” Aku memegang tangan kanan Bulik Lastri.

“Iya ... Ocha, Dila ayo siap-siap! Nanti telat sekolahnya, istirahat ya, Nak!” Mereka pun berlalu meninggalkan aku di kamar dan menutup kembali pintu yang tadi terbuka lebar.

“Sudah jam delapan, gak apalah. Tadi aku sudah kabari Roro.”

Aku sudah di depan cermin, dengan berpakaian rapi, meskipun aku memakainya dengan sedikit kesakitan.

Lanjutan Bagian Dua

1 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 334

 

Ruang makan tampak lengang, kursi sudah tertata rapi kembali. Aku mengendap-endap dari kamar sembari menahan rasa sakit, lalu berjalan perlahan ke ruangan tamu. Sepatu kets kini aku jinjing dan tas gendong sudah berada di pundak. Motor yang biasanya di parkir di ruangan tamu pun sudah tidak ada. Aku menghela napas. Bulik mungkin masih berada di sekolahan, mengantar dua malaikat kecilnya.

“Alhamdulillah, aman. Lets go, Aster!”

Aku tadi mengabari Roro tentang hal konyol yang menimpaku, lalu dia menawarkan untuk menjemput, rasanya tidak enak dan ingin menolak. Roro pun masih bersikeras, mau bagaimana lagi. Akhirnya, kuterima bantuannya.

Kulangkahkan kaki ini dengan sekuat tenaga, dengan sedikit tertatih-tatih menuju gang depan.

Dari kejauhan Roro melambaikan tangan kepadaku. Ternyata dia sudah sampai. Aku bergegas menjumpainya, seperti siput yang sedang berlari.

“Kenapa sih, memaksakan diri?” kata pertama yang diucapakan kepada Aster. Roro membetulkan jagang motor dan mendekat ke arah Aster.

“Bentar ya, aku minum dulu.” Aku membuka botol plastik dan meneguk isinya. Lalu sedikit mengibas-ibas tanganku, dan mengelap keringat yang mengucur dari pojok pelipis.

“Kenapa gak boleh jemput di rumah sih, Nga?” tanyanya lagi, pertanyaan yang awal belum kujawab. Si Roro sudah menghujaniku dengan pertanyaan lagi.

“MasyaAllah ... aku kayak habis lari maraton, Ro. Sumuk banget, pingin mandi. Eh, aku belum mandi ....” Aku menepuk jidat. Aw, sakit. Sebenarnya malu tak karuan, tetapi Roro sudah mengerti tabiatku.

“Kamu belum sempat mandi?” ujarnya sambil mengernyitkan alis dan dahinya. Kemudian berkata lagi, “Tak apa, gak mandi yang penting wangi. Tentunya bule kesayanganku masih cantik.” Roro tersenyum simpul.

Ingin muntah rasanya mendengar pujian yang diterbangkan, pastinya akan jatuh ke selokan kalau aku terbuai. Bule kesayangan? Ada-ada saja.

“Belum ... hih, kan udah aku beri tahu. Aku gak sempat mandi, cuma cuci muka dan gosok gigi. Aku takut ketahuan Bulik. Jalan aja susah, pakai baju pun susah. Aku belum sarapan ....”

“Lha iya Nga, ngapain dipaksakan, to? Ah emang dasar batu, susah dibilangin,” gerutunya.

“Tenang, aku bawa kue keranjang. Ini dia ....” Roro menunjukkan kue keranjang kepadaku. Au agak menunduk, tiba-tiba air mataku tumpah.

Lanjutan Bagian Dua

1 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 438

 

            Roro seketika memelukku dan mengusap-usap pundak yang menaanggung segala beban hidup. Tidak biasanya aku seperti ini, menangis di depannya, tetapi entah kenapa rasanya sesak dan memenuhi rongga jiwaku.

            Aku mengusap air mata dengan tanganku, kemudian Roro memberikan beberapa tisu yang diambil dari tas. Wajahku mungkin tampak merah seperti udang rebus, mata yang agak bengkak. Pasti jelek sekali.

            “Maaf ya, Nga. Aku merasa kamu akan suka, kemarin aku lupa bawa. Seperti biasa, my aunty selalu kirim kue menjelang Imlek. Secara otomatis aku inget awakmu,” katanya sambil menenteng tas jinjing berisi kue keranjang.

            Aku masih saja menunduk dan memainkan tisu, “Enggak apa-apa kok, aku bukan nangis gara-gara kuenya. Mataku tiba-tiba perih sekali, kayaknya kelilipan. Terima kasih, ya. Aku makan nanti, Ro.” Aku mencoba mengelak, lalu menyimpan kue ke dalam tas.

Semua orang terdekat tahu, aku memang suka dengan kue keranjang[1], bahkan seperti belahan jiwa. Sama halnya dengan makanan yang bernama capcai. Mataku seketika berbinar melihat dua jenis makanan khas Tionghoa itu.

 “Iya, kelilipan dengan kenangan masa lalu,” ledeknya.

            “Ih betul banget, 1000% untuk Kakak Roro Kartika. Masa lalu terjebur ke dalam empang. Eh, maaf,” godaku kepada Roro tentang kejadian masa lalu. Ya, aku dan Roro memang bertetangga sejak kecil, dari SD sampai SMA, bahkan kerja pun di tempat yang sama. Aku heran kenapa dia tidak melanjutkan kuliah. Padahal, orang tua Roro tergolong orang yang berada di kampung kami, mungkin sejajar dengan Pak Somad. Ah, aku jadi teringat dengan Ustazah Karin. Lama tidak berjumpa. Suatu saat, dia pasti akan memberitahu alasannya.

            “Iya, Cik. Tacik[2] Asterrr, ingat aja terus,” gerutunya.

            Aku memang selalu ingat dengan kejadian itu, kala kami sedang main di empang milik Uti[3] Sofiyah-neneknya Roro. Kami saling berkejar-kejaran, tanpa sengaja dia terpeleset dan masuk dalam empang, berenang bersama ikan-ikan. Aku yang masih polos serta merta tertawa dan berkata, “Uti, ada putri duyung.”

            “Tadi nangis, sekarang ketawa sendiri. Jadi berangkat, gak?”

            Sontak aku kaget, bisa-bisanya melamun di pagi hari. “Ayo, takut Bulik pulang, lewat sini. Nanti ketahuan aku.” Aku langsung naik dengan penuh hati-hati dan duduk di jok belakang.

            Kemudian Roro menghidupkan mesin dan membelah jalanan yang sudah cukup ramai.

 

[1] Kue keranjang, ada yang menyebutnya dodol Tionghoa, disebut juga Nian Gao adalah kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula, rasanya manis serta mempuyai tekstur yang kenyal dan lengket. Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaan tahun baru Imlek. Ke kerajang sombol dari manis ucapan, yang juga harus manis, kemudian teksturnya lengket yang melambangkan keluarga yang semakin erat.

[2] Istilah bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Tionghoa, yang merupakan panggilan untuk orang-orang yang berjenis kelamin perempuan atau kepada kakak perempuan.

[3] Uti adalah sapaan untuk nenek dalam bahasa Jawa.

Bagian Tiga: Dia

1 2

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 370

 

Bagian Tiga

 

Masalah apa pun yang kita hadapi saat ini tetap harus kita hadapi.

 Jangan pernah putus asa dan merasa diri sebagai makhluk yang paling menderita di dunia.

***

Pagi yang cerah, secerah setiap harapanku pada hari ini. Semoga hal baik dan indah selalu membersamai. Rasa getir atau pahit yang datang menghampiri harus dijalani dengan penuh semangat dan tekad kuat. Semua akan baik-baik saja, ketika berpikir positif.

“Hwaiting!” batinku.

Aku berada di depan loker, mengambil celemek dan seragam kedai mi pedas kami, kaus pendek berwarna ungu. Bagi perempuan sepertiku yang memakai hijab harus sedia manset, untuk menutupi bagian aurat yang terlihat karena seragam yang terlalu pendek. Entahlah, kenapa kausnya berlengan pendek, sedangkan celemek dengan warna hitam bertuliskan “Kedai Mi Pedas Netizen”. Nama yang unik ‘kan? Nama kedai kami unik dan cukup mengalihkan perhatian kalangan muda dari remaja sampai orang tua. Apalagi, sekarang ini didukung dengan teknologi yang canggih, kedai ini sangat viral di media sosial. Berkat tangan ajaib bos kami.

Menu andalan di kedai kami, mi kuah pedas, sepedas omongan netizen. Terdengar menggelitik di telinga dan tentu membuat penasaran para penikmat kuliner. Ketika para raja-pembeli merasa kepedasan dengan sensasi minya, bisa memesan es kacang merah ‘Seporsi Rasa’, minuman yang akhir-akhir ini juga menjadi favorit mereka. Kacang tanah akan terasa hambar jika dimakan begitu saja, tetapi akan terasa nikmat ketika dikombinasikan dengan tapai ketan hitam, cincau, sirup gula, susu, dan serutan es batu. Mungkin namanya sangat ‘jadul’, tidak keren, dibandingkan es krim neapolitan. Namun, es ini pasti mampu melepaskan rasa dahaga dan cocok diminum saat terik siang hari.

“Enak ya, bisa berangkat telat. Mentang-mentang dekat Bu Bos,” ucap Santi dengan nada ketus, salah satu rekan kerja di kedai ini. Aku tidak tahu kalau dia berada di dekatku, terlihat gadis sepantar denganku itu menutup loker dengan keras dan berlalu.

“Astagfirullah ... gak ada capeknya si Santi nyinyir sama aku. Salah apa aku? Ah udahlah, bodo amat.” Aku berjalan ke ruang ganti.

Semua tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Burhan sudah selesai menyapu dan mengepel seluruh ruangan, sedangkan Santi berkutat dengan kertas pesanan. Aku sudah siap, berada di ruang kasir. Jarum jam menunjukkan pukul 09.30 WIB, sebentar lagi kedai pasti ramai dan penuh sesak. Jam makan siang dan pulang sekolah.

“Bismillahir-rahmanir-rahim,” ucapku dengan lirih.

user

25 July 2021 09:13 Shajar Hwaiting ????????

user

27 July 2021 08:53 Siti Munawaroh (Cik Muna) terima kasih Dede shajar...

Lanjutan Bagian Tiga

1 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 449

 

“Untuk semuanya, semangat! Semoga hari ini banyak pembeli yang datang, laris manis. Aamiin,” ucap Roro kepada kami semua.

“Siap, Bu Bos!” jawab Santi dan Burhan hampir bersamaan.

Roro adalah pemilik kedai mi ini, Bu Bos kami serta pencetus ide mi pedas itu. Semenjak Ibu meninggal, aku pindah bersama Bulik ke Kota Yogyakarta. Saat itu, aku kaget mendengar rencananya akan membuka usaha di sekitar wilayah itu, tak jauh dari rumah Bulik, serta mengajakku bekerja sama. Aku tidak serta merta mengiyakan tawaran yang cukup bagus itu, karena aku juga sudah bekerja di salah satu pabrik yang prospeknya cukup besar, dengan gaji yang lumayan dan sempat ragu dengan usia kami yang terbilang masih muda. Akankah kedai yang baru dirintisnya bisa berhasil?

“Gimana Nga? Kuat kan? Oiya, sarapan aja dulu, gak apalah makan mi. Masa mau makan kue aja, kan gimana gitu. Eh, gak apa juga, kan bule,” Roro duduk di bangku sampingku.

“Iya, bulepotan. Mulai nih ... nanti aja, Ro. Sekalian jam istirahat, udah jam segini juga. Alhamdulillah kuat, wong ya cuma duduk-duduk aja,” sahutku.

“Oke ... btw, aku butuh saran nih, Nga. Gimana kalau kita tambah menu, aku rasa orang-orang pasti akan cepat bosan dengan menu yang itu-itu aja.” Suaraya terdengar gelisah.

“Jangan khawatir, Ro. Insyaallah enggak pada bosan, kan penjual ada pembelinya masing-masing. Kalem, guys! Kalau menurutku sih mending nggak perlu tambah menu, Ro. Kan ciri khas kedai kita mi pedas, eh bukan milik kita, milik Roro Kartika.” Aku tertawa dengan ucapan yang barusan kuucapkan.

“Emang bener milik kita, kedai ini bisa berkembang seperti ini juga berkatmu juga, Nga. Aku baru tahu es kacang merah, kalau gak kamu beri tahu. Enaknya gimana?” tanyanya lagi dengan serius sambil membetulkan kacamata yang agak melorot ke hidungnya.

Maybe, divariasikan aja topping-nya Bu Bos. Mi pedasnya ada yang topping keju, atau ditambah kimchi, esnya ada tambahan es krimnya. Yang penting rasa original tetap ada, biar gak hilang ciri khas kita. Gimana? Ini sekadar bayangan kasar, sih.”

“Oke juga, kalau udah luang kita bahas lagi, ya! Aku ke dapur dulu, mau cek rasa. Rasa yang tidak pernah ada,” ujarnya dengan senyum manis dan berlalu. Aku melanjutkan mengecek uang di kotak kasir, aku tidak mau kejadian kemarin terulang kembali.

Terdengar pintu kedai didorong oleh pembeli, mungkin sudah menjadi pelanggan tetap kedai ini, atau pembeli baru. Ah, sudahlah. Jangan menerka-nerka, apalagi sok tahu. Ternyata, seorang laki-laki berjalan ke sudut ruangan, aku baru pertama kali melihatnya. Sosok yang cukup tinggi lebih dari tinggi tubuhku, 160 cm. Sungguh menarik, laki-laki bermata sipit sepertiku. Santi pun mendatanginya, lengkap sambil membawa kertas pesanan dan pulpen.

“Mau pesan apa, Mas?” tanya Santi dengan ramah, tetapi tak seramah ketika sedang bicara denganku. Namun, tidak mungkin juga berbicara ketus dengan pelanggan. Bisa-bisa pada kabur.

Lanjutan Bagian Tiga

0 0

  

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 369

 

            “Seporsi rasa, Mbak. Untuk minya ada yang gak pedas, Mbak?” pesannya.

            “Maaf, gak ada. Dari kami memang spesialnya pedas,” jawab Santi lagi.

            “Ya sudah, aku coba. Mi pedasnya.”

            “Oke, ada tamabahan lagi? Camilannya?” Santi bertnya kembali.

            Lelaki berwajah oriental itu tersenyum manis dan berkata, “Itu saja, Mbak.”

            “Terima kasih, mohon ditunggu ya, pesanannya.” Santi berjalan meninggalkan pelanggan pertama kami.

Aku masih memperhatikan seluruh sudut ruangan kedai kami. Meskipun tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman dan terkesan natural. Sebuah lukisan besar bunga teratai terpajang di tembok, sedangkan sisi tembok yang lain ada sembilan tanaman paku “Tanduk Rusa” dengan tatakan kayu sebagai media menempel. Suasana semakin hangat dengan lampu hias gantung yang diletakkan di langit-langit kedai. Ada pula bonsai bunga sakura dan beberapa tanaman hidup.

Pelanggan itu persis berada di depan meja kasir, setiap gerak-gerik yang dilakukannya mengalihkan fokusku. “Apaan sih, Ter. Kayak gak pernah lihat pembeli saja,” gumamku.

Dari sini aku bisa melihat pemandangan luar, jalan yang tidak pernah sepi dengan lalu-lalang kendaraan, karena depan kedai dipasang sebuah kaca besar, bukan tembok, sinar matahari pun langsung menembus ke dalam ruangan. Aku kembali menatap layar komputer, mengecek kembali laporan yang aku buat kemarin.

“Kenapa bisa selisih sih uangnya? Sudah bener kok, tapi kenapa uangnya gak ada? Mana Santi bilang aku yang ngambil lagi, ada yang gak beres ini.”

Ya, hari kemarin memang hari yang sungguh kacau. Uang hasil jualan bisa selisih lima ratus ribu, sedangkan aku tidak mengambilnya. Mana mungkin juga aku mengambil uang sebanyak itu yang bukan hakku, sedangkan Santi menuduhku mencuri dan ditambah dengan kata-kata kasar. Dasar anak haram! Kata yang keluar dari mulutnya. Saat itu aku sudah mencoba menahan segala tuduhan yang ditujukan, tetapi darah terasa panas dan naik pitam, sebuah tamparan mendarat di pipinya dan tanpa sadar sebuah patung Maneki neko terhantam oleh tubuhku yang sedikit terhuyung mendengar ucapan Santi itu. Jatuh dan terpecah belah. Seketika suasana kedai menjadi sepi tanpa suara apa pun.

“Mbak ... Mbak.” Suara berat laki-laki terasa dekat di telingaku, ternyata dia sudah berada di depanku. Aku pun meletakkan pulpen yang sedari tadi kupegang.

“Oh iya, maaf Kak. Sudah menunggu. Tadi pesanannya seporsi rasa dan mi pedas ya, Kak? Jadi total semua 45.000 ribu Kak.” Tanganku dengan lincah menekan tombol-tombol huruf dan angka.

Lanjutan Bagian Tiga

0 0

 

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 358

 

Dia mengulurkan selembar uang seratus ribu kepadaku, lalu aku memberikan sebuah bon pembelian yang keluar dari mesin, lalu menyerahkan uang kembalian bergambar Imam Bonjol.

“Terima kasih sudah ke kedai kami, semoga harimu baik, Kak.” Aku menyunggingkan senyuman kepadanya. Lelaki itu kemudian meninggalkan kedai kami tanpa sepatah kata, apalagi senyuman. Pikiranku mulai bergerilya lagi, apa yang salah denganku? Kurang ramahkah diriku atau orang tadi merasa kesal karena terlalu lama menunggu?

Kedai hari ini cukup ramai, aku selalu bahagia dibuatnya, menyaksikan para pembeli dengan muka merah kepedasan, keringat yang mengucur, pasangan kekasih yang dimabuk cinta, terkadang membuatku iri, di sisi lain muak menonton adegan romantis. Di sudut lain senda gurau dari gerombolan remaja-anak SMA, tampak dari seragam putih abu-abu yang masih mereka pakai. Jadi teringat masa itu, masa di mana mudahnya bermimpi tentang masa depan dengan berbagai cita. Tanpa memikirkan hari esok akan makan apa. Semua terasa indah.

Di sini sudah pukul 3.30 sore, sebentar lagi cahaya senja keemasan akan hadir di atas cakrawala, Kota Yogyakarta. Kota dengan ciri khas keraton yang masih sangat kental dan dikenal juga sebagai Kota Budaya, Kota Pelajar, karena terdapat banyak Universitas seperti universitas terkemuka, Universitas Gadjah Mada. Disebut juga Kota Gudeg, yaitu sayuran yang terbuat dari bauh nangka muda. Ya, kota yang membuat orang-orang terpikat apa yang di dalamnya. Bahkan, benar-benar membuat semua orang rindu kembali ke Yogyakarta, apabila sudah meninggalkan kota ini.

Kota Yogyakarta memang begitu istimewa bagi semua orang terutama untukku dengan sejuta kenangan, keunikan, dan berbagai tradisi Jawa yang melekat. Sepanjang jalan Malioboro mengingatkanku akan masa kecil kala itu, yang begitu memalukan. Sepertinya masa kecilku terlalu banyak tingkah. Setiap aku mendapatkan juara kelas, Ibu menjanjikan membelikan tas di Malioboro. Sepanjang jalan di penuhi oleh pedagang, baik suvenir, berbagai macam pakaian, dan makanan, bangunan atau gedung-gedung, lampu-lampu dengan ornamen Jawa. Mataku seakan dimanjakan melihat pemandangan malam di Maliobroro yang unik dan cantik.

            Aku melangkah ke dapur kedai kami menghampiri Roro yang setia mengawal para koki, setelah aku menitipkan ruangan kasir kepada Burhan. Kedai juga sudah agak sepi.

            “Ro, sudah makan siang?” tanyaku.

            “Mau ngomong apa, Nga?” kata yang pertama kali diucapkan.

            Aku menghela napas perlahan dan membatin, “Kenapa dia bisa tahu, sih?”

Lanjutan Bagian Tiga

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 467

 

               “Aku mau bicara soal kemarin, Ro ....” Suaraku mendadak seperti tertahan.

            Roro melepaskan celemek yang dipakainya, “Kita bicara di ruangan saja, takut yang lain dengar,” pintanya dengan lirih, selanjutnya dia berjalan ke ruangannya dan aku melangkah mengikuti Roro.

            Dia mendorong pintu dan kami memasuki ruangan yang tidak terlalu luas, tetapi tidak juga terlalu kecil, pas sebagai tempat untuk koordinasi tim yang terdiri dari lima orang karyawan.

            “Gimana, Nga?”

            “Maaf ya, ini soal uang yang hilang kemarin. Apa tidak dicari saja orang yang nyuri? Kalau gini terus kan, kedaimu rugi, Ro. Aku tahu siapa yang nyuri ....” Aku masih berdiri di dekat pintu.

            “Kamu pasti mikir orang itu yang ambil, ‘kan? Sudah kuduga,” Roro melangkah ke sofa dan bersandar.

            Aku sedikit mengernyitkan dahi, “Siapa, coba?” lalu duduk juga di sofa yang empuk.

            “Dia, iya dia. Eh, tapi gak boleh suuzan, kan, ya? Aku sudah tahu kalau dia gak suka sama awakmu, Nga. Cuma ya, aku biarin saja. Gak mungkin aku ikut campur masalahmu.”

            “Kamu tahu dari mana, kalau dia yang ngambil?” tanyaku dengan memandang wajah Roro lekat-lekat. Aku tidak percaya kalau dia tahu, padahal aku tidak pernah buka suara soal perihal seperti ini. Masalah apa pun yang kuhadapi harus diselesaikan sendiri, apalagi harus diumbar kepada orang lain, meskipun Roro sahabatku, karena dia pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Takpantas aku menambahi beban masalahnya dengan masalah yang menimpaku, lebih baik aku pendam sendiri.

            “Dia yang mana, nih?”

            Roro menutup mulutnya dengan kedua telapak dan sedikit tertawa kecil, telingaku mendengarnya, meskipun lirih.

            “Aku tanya serius, Bu Bos,” ucapku menghadap Roro.

            “Aku juga bercanda. Eh. Sorry ... gini, aku denger dari Mbak Ratmi, tadi waktu jam istirahat. Pagi-pagi kan aku sudah di sini sama Mbak Ratmi. Lha, waktu aku jemput dirimu, dia memergoki Santi ambil uang di loker ratusan ribu, ditaruh ke sakunya. Maybe 5 lembar. Waktu ditanya kenapa uang segitu banyak gak ditaruh di dompet, bilangnya lupa masukin ke dompet. Mbak Ratmi juga bilang, si Santi gugup malah langsung pergi ke toilet ninggalin seragamnya. Nanti setelah kedai tutup, aku akan panggil si Santi. Kalau cukup waktunya, semua akan aku kumpulin juga di sini.”

            “Oh, jadi begitu. Iya, tadi pagi juga aku ketemu sama dia, sempat ngomong juga,” jawabku singkat untuk menanggapi penjelasan Roro. Kebenaran pasti akan terungkap.

            Aku sangat bangga dengan Roro, sikapnya dalam menghadapi masalah yang terjadi, selalu menawarkan jalan keluar terhadap segala persoalan dengan tepat dan tanpa menyinggung perasaan orang lain. Tidak berlagak sok pintar atau cenderung menggurui, meskipun dia pemilik dari kedai ini. Gadis dengan pengetahuan luas, penuh dengan segudang solusi seperti lakon “Supraba”.

            “Iya, ya udah aku balik ke depan. Oiya, untuk patungnya ... insyaAllah akan aku ganti, Ro. Maaf sekali lagi, ya? Aku ceroboh,” sesalku.

             “Sudah lupakan, aku gak apa-apa. Lagian kan gak boleh ada patung, nanti biar kujelasin ke Papa.” Roro tersenyum dan menyentuh pundakku.

 

Bagian Empat

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 311

Bagian Empat

 

Pahamilah bahwa kau berhak dapat lebih

dari sekadar cinta yang bikin nyeri

hidup ini mengalir

pilihan paling waras

untuk hatimu adalah

ikut mengalir

-Rupi Kaur-

 

            “Sayang, bangun! Hari ini ada kelas pagi, ‘kan? Ayo, sarapan! Papa udah nunggu di bawah. Cepetan, ya!” tutur Mama Inggid-orang yang melahirkanku ke dunia yang fana ini, sedang mengetuk pintu kamar beberapa kali, tetapi aku malas untuk menjawab panggilannya.

            “Dewa ... dengar suara Mama, ‘kan?” Mama bertanya kembali.

            Sejenak suara samar-samar itu menghilang, aku kembali menarik selimut dan menutup seluruh tubuhku. Rasanya takingin beranjak dari empuknya kasur dan hangatnya belaian selimut tebal. Aku ingin menikmati tidur yang sempat tertunda. Lupakan tentang kuliah, apalagi tentang tugas hari ini.

            Aku kembali terlelap dalam mimpi, bersama bidadari yang entah muncul dari mana tiba-tiba sudah berada di dekatku. Sepertinya dunia sedang berpihak padaku.

            “Wa ... Dewa ... cepetan, turun!”

            Suara itu sontak membuatku kaget dan terjatuh ke lantai. Hilang sudah mimpi indah itu.

            “Aduh, dasar si Kakek,” keluhku, lalu beranjak berdiri dan melangkah ke arah pintu dengan langkah yang gontai.

            Aku membuka pintu yang tidak aku kunci, “Maaf, Kek.”

            “Jam berapa, ini?” katanya sambil sedikit melotot kepadaku. Tidak ada yang berani melawan perintah kakek, semua seisi rumah harus tunduk dengan peraturan yang beliau buat. Kalau tidak sependapat dengan kakek, siap-siap untuk angkat kaki dari istananya. Bahkan dicoret dari kartu keluarga. Sadis.

            “Iya, Dewa siap-siap, dulu,” jawabku sekenanya, aku tidak mau melihat kemarahan ataupun kekacauan pagi ini.

            Setelah mendengar jawabanku, kakek berjalan meninggalkanku yang masih berdiri dengan rambut acak-acakan, muka bantal, kaus oblong, dan celana pendek.

            “Astaga! Tampilan yang mengerikan, untung gak ada cewek yang lihat,” batinku sambil mengusap-usap muka yang lecek butuh disetrika.

            Aku pun masuk kembali ke kamar dan bersiap-siap.

***

            “Maaf Ma, gak jawab panggilan, Mama,” ujarku sambil melirik ke salah satu meja. Kosong.

            “Papa, udah berangkat, gak usah dicari.” Mama langsung menjawab rasa ingin tahuku.

Lanjutan Bagian Empat

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 325

 

           “Bukan, Dewa gak nyari Papa. Aku juga dah tahu, udah jam segini juga,” sahutku untuk mengelak pertanyaan Mama.

            Mama menuang nasi goreng ke piringku dan meletakkan sendok. “Lha nyari siapa?” Senyumnya tampak merekah.

            “Kakek ... biasanya masih di meja makan,” jawabku sekenanya, lalu memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut.

            “Tuh kan ngarang, bilang aja kangen sama Papa. Makanya kalau bangun yang pagi, biar bisa ketemu. Jangan pulang larut, ke mana lagi tadi malam?”

            “Main di kos-kosan Dito, Ma. Bosen di rumah.”

            “Dito lagi, Dito lagi. Bisa gak sih Wa, kamu cari temen yang bener? Heran deh Mama, kayak gak ada orang aja,” sindirnya sambil menatapku lekat-lekat.

            “Dewa pamit dulu, udah telat.” Aku menaruh sendok dan mengakhiri ritual pagi, selera makan yang tiba-tiba hilang. Meninggalkan Mama sendirian dan bergegas pergi ke kampus. Aku takingin membantah beliau, mending aku yang menyingkir.

            “Habiskan dulu, Wa. Kebiasaan deh, setiap ngomongin Dito, langsung kabur. Ya ampun! Mama belum selesai bicara, Dewa,” teriaknya.

            “Sorry, Ma.” Aku pun ikut bersuara lantang, lanjut menaiki tangga menuju kamar untuk mengambil tas gendong yang tertinggal dan kunci ‘kuda beroda empat’.

            Ya, aku Adelio Dewa Pramana. Kini berusia dua puluh tahun kurang sebulan, menjadi mahasiswa di salah satu universitas terkenal di Yogyakarta. Penerima takdir Tuhan, lahir di keluarga yang berada dan terpandang. Mungkin dibilang kaya raya ‘tujuh turunan’. Apa pun yang aku inginkan seketika ada di depan mata. Hidup bak di surga. Sungguh kodrat yang takbisa kutolak. Padahal, harta yang melimpah tidak menjamin sebuah kebahagiaan. Bisa dibilang, aku tidak bahagia.

            Aku memang paling benci ketika mereka merendahkan orang lain, apalagi kepada Dito. Teman paling dekat, meskipun ada yang memihakku tentang rasa kemanusiaan, Papa Adam. Beliau, super hero yang kubanggakan. Mungkin sifat baiknya yang kini diturunkan kepadaku, tetapi realitas menunjukkan hal yang berbeda. Papa sangat pendiam, jarang sekali mengobrol santai antara anak dan ayah, meskipun terkadang menanyakan perihal keadaanku. Itu pun aku dengar dari Mama. Bukankah itu hal yang lumrah bagi seorang ayah? Kenapa tidak terjadi kepadaku?

Lanjutan Bagian Empat

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 328

            Aku menuruni tangga dan menyusuri ruangan tengah, kemudian ruang tamu. Mama tampak berdiri memandang luar, mungkin sengaja sedang menungguku. Entahlah. Aku mendengkus pelan.

            “Ma, Dewa berangkat ....”Aku menyalami dan mencium telapak tangan Mama yang masih lembab, karena rajin melakukan perawatan tubuh. Wajahnya tidak menunjukkan jika usianya kini hampir setengah abad. Apalagi penampilannya ditunjang dengan beberapa berlian di jari manis Mama sebelah kiri dan menggantung indah di leher yang jenjang.

            “Inget, ya, Wa ... jangan sampai Kakek tahu kamu masih berteman dengan Dito. Mama bukan bela kamu, cuma Mama gak mau terjadi apa-apa sama kamu. Tahu sendiri kan, Kakek gak bercanda kalau ngomong,” tuturnya.

            Kakek memang terkenal arogan, menganggap remeh orang lain, berada di tingkat rendah alias orang-orang miskin. Ya, harta sebagai ukurannya. Beliau sangat anti, jika melihat kami berhubungan dengan mereka.

            “Dewa gak janji, sebenarnya aku gak apa-apa kalau semua fasilitas yang aku miliki disita sama Kakek. No problem, Mam!” jawabku dengan tegas.

            Mama langsung kaget mendengar keputusan yang kubuat itu. “Kamu beneran, ngomong kayak gitu? Ya udah, terserah kamu. Kalau kamu ketahuan lagi, Mama gak bisa bantu kamu.”

            “Iya Ma, aku akan urus sendiri.”

Aku berjalan ke luar, tampak mobil sport “Lamborghini Aventador S” sudah terparkir dengan gagah di halaman. Setiap pagi, Pak Agung tanpa komando pasti sudah siap memanasi mesin mobil, mengelap sampai tubuhnya kinclong, dan mengeluarkan dari basemen.

“Terima kasih, Pak.” Aku membuka pintu mobil dan menghidupkan mesin, mobil pun bergerak meninggalkan halaman yang begitu luas untuk sekadar berain sepak bola, taman bunga yang indah dan ditata apik, serta pancuran yang berada di tengah halaman dengan patung di atasnya. Kemudian, melewati garasi yang secara otomatis terbuka sendiri.

Aku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, sambil menikmati jalanan kota Yogyakarta yang tidak begitu macet dengan bus-bus wisatawan dari luar kota. Karena ini hari kerja, tidak sepadat ketika tanggal merah. Kulirik alrogi di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 9 pagi.

Aku bergumam, “Apa aku jemput Dito aja, ya?” Aku merogoh ponsel dari saku kemeja dan mengirimkan pesan singkat.

Lanjutan Bagian Empat

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 351

 

[Dit, gue jemput, ya? Aku lagi di perjalanan nih, cepet balas.]

Selang beberapa menit, ponselku berdering, tampak nama Dito muncul di layar ponsel. Aku pun menepikan mobil ke pinggir jalan, lalu mengangkat panggilan itu.

“Halo, iya Dit. Gimana?” ucapku mengawali pembicaraan.

“Halo ... halo.” Suara Dito dari seberang sana, sepertinya sinyal di tempatnya sedang timbul tenggelam, dia masih belum juga mendengar ucapanku.

“Iya Dit, HALO.” Aku memberikan penekanan pada perkataanku, supaya dia tambah jelas mendengarnya.

“Eh, iya Wa, alhamdulillah udah kedengeran. Gini, aku mau ngabarin kalau hari ini aku gak ke kampus. Emakku lagi sakit nih, terpaksa aku harus balik ke Kendal. Awakmu kalau mau ke kos, kuncinya ada di tempat kayak biasanya. Siapa tahu lagi bosen dan pingin hidup susah,” Terdengar ledek yang disertai tawa Dito di ujung dunia yang berbeda.

“Iya, gue pengen ngerasaain beban yang lu tanggung.” Aku pun taksengaja tertawa, bukan maksud meledeki keadaan yang dialami Dito, tetapi hanya mengimbangi candaan yang dia lontarkan.

“Oh iya, semoga ibumu lekas sembuh, Dit. Eh, aku bisa nganter lu, Dit. Enggak usah naik bus, sekalian gue pingin tahu kampungmu. Masih asri dong pastinya?” tambahku lagi.

“Sorry, Wa. Next time aja, ya. Emak lagi sakit, takutnya gak iso menjamu tamu dari kerajaan Antah Brantah. Ini aku lagi nunggu keberangkatan Bus, kok. InsyaAllah pas liburan, kita ngetrip di kampungku. Dijamin sang Pangeran pasti betah,” ujarnya panjang lebar.

Kerajaan Antah Brantah, si Dito memang suka ngarang dan termasuk orang yang nyeleneh. Bisa-bisanya membuat nama kerajaan seperti itu. Mana ada? “Aku kok bisa ya, nemu teman seperti ini,” gumamku pelan.

“Eh, ngomong apa Wa, barusan?” tanyanya.

“Enggak, itu lho tadi ada orang lewat.” Aku menahan tawa lagi.

“Halah, alasan! Gini-gini juga gak ada duanya, tapi kenapa dia mendua?”

Aku masih mendengar suara Dito, semakin menjadi dan melantur saja omongannya.

“Wis angel, pacar wae gak punya. Ngomong mendua, iya nanti siap gas kalau libur semester.”

“Ok, insyaAllah siap, Ndan. Nanti tak tunjukin air terjun Curug Sewu. Pokok e apik pol.”

“Iya, hati-hati, Dit.” Aku mengakhiri percakapan kami.

“Siap, aku matikan, ya.”

Setelah itu, aku meletakkan ponsel di jok sebelah, lalu melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti.

Lanjutan Bagian Empat

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 321

 

Aku kembali menyusuri jalan raya Kota Pelajar yang agak ramai, lalu membelokkan mobil ke arah deretan kos-kosan seberang jalan dekat dengan kampus. Mobil kuparkirkan di situ, kemudian aku berjalan sedikit sekitar 100 meter menuju kosan Dito. Masuk gang sempit, yang hanya muat untuk satu pengendara motor dan pejalan kaki. Suasana yang sudah begitu panas membuatku bergegas lebih cepat. Aku segera membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, melepas jaket hitamku dan menyalakan kipas dengan kecepatan tinggi. Berbaring di kasur yang ukurannya tidak ada separo dari kasur kamarku, tetapi rasanya cukup nyaman.

Aku bergerak dan menghadap ke sisi kanan, mengecek ponsel sepertinya ada pesan masuk. Aku membuka dan memulai membacanya.

[Gadis Manja: Wa, kamu di mana? Aku cari di kelas kok gak ada, Dito juga gak ada. Sayang, masih di rumah? Apa masih di jalan?]

Aku menekan tombol mode turn off dan mendengkus kesal. “Dasar cewek ganjen, masih aja ngejar-ngejar gue. Iya, cantik sih. Sayang, jantungku biasa saja berdekatan sama si Dara. Paling juga suka karena gue anak orang kaya.” Aku mengomel dengan bayangan diriku.

Aku bangkit dan tergeming, memandang tiap sudut kosan Dito seperti orang tanpa tujuan, lalu menjatuhkan lagi tubuhnya dan menatap langit-langit atap. Tetiba perut membunyikan irama yang tidak beraturan.

“Eh, Mas Dewa, nginep di sini, ya?” tanya Bu Nanik-pemilik kos yang menenteng beberapa plastik warna merah.

Pintu segera kukunci dan mendekati Bu Nanik. “Enggak Bu, baru aja datang. Iya sih, tadi malam di sini.”

“Oh ngunu, iyo ibu rapopo. Bocahe ya udah Mas Dewa bantu bayar, lancar terus tanpa hambatan.” Bu Nanik mencolek tanganku.

“Iya, Bu. Syukurlah, tapi ya begitu si Dito sering gak mau dibayarke. Kemarin aja mesti tak paksa, Bu.”

“Mas Dito dan jenengan memang sama-sama baik. Lha Ditonya di mana, kok gak kelihatan?”

“Itu Bu, pulang ke kampung. Emaknya lagi jatuh sakit, barusan ngasih kabar kalau beberapa hari bakal di sana, atau mungkin bisa lebih dari seminggu. Ya, melihat kondisi emaknya gimana. Semoga lekas membaik.”

Lanjutan Bagian Empat

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 330

 

Bu Nanik menaruh belanjaanya di bawah sambil mencari sesuatu di dalam dompetnya, lalu mengeluarkan segerombol kunci. “Ya Allah, semoga cepat sembuh, ya. Aamiin.”

            Aku mengikuti langkah Bu Nanik dan membantu membawa belanjaan ke depan rumahnya.

“Makasih, ya, Mas. Biasa, ibu-ibu mau beli ngelist cuma beberapa barang, eh malah borong yang tidak terlalu dibutuhkan.” Bu Nanik tertawa.

“Sama-sama, Bu Nanik, dengan senang hati,” sahutku.

“Ngomong-ngomong, Mas Dewa mau ke mana? Maaf ya Mas, kepo alias kepengen tahu. Kata si Yaya gitu artinya,” katanya dan tertawa lagi.

“Saya mau cari makan, Bu. Nasi rames mungkin,” jawabku singkat.

“MasyaAllah, Mas Dewa doyan nasi rames jebule. Gak sakit kan Mas, perutnya?”

Aku seketika melongo mendengar ucapan Bu Nanik, meskipun semua bisa kubeli dengan mudah, bukan berarti aku pilih-pilih dalam urusan makanan. Semua enak, yang penting tidak pedas.

“Ya enggaklah Bu, aman nih perut.”

“Eh Mas, sekali-kali mampir tuh ke kedai mi pedas, seberang jalan. Kalau dari sini ya sekitar 300 meter, samping toko alat tulis “Jaya Sentosa”. Baru buka beberapa bulan lalu dan ramai juga. Kemungkinan wis buka, Mas,” paparnya.

“Wah, saya anti pedas re, Bu.”

“Rasane enak, Mas. Tenan ora ngapusi. Si Yaya hampir tiap hari beli mi terus, sampai keriting rambutnya.”

“Iya, kapan-kapan, Bu. Bareng Dito aja, saya gak sanggup untuk sakit perut.” Aku tersenyum simpul.

“Iyo, Mas, hati-hati.” Bu Nanik masuk ke dalam rumahnya dan aku pun pamit.

Aku sudah berada di depan warung nasi rames langganan yang biasanya kujadikan sebagi tempat nongkrong dengan Dito. Aku memang tidak punya banyak teman, mungkin hanya Dito dan satu lagi si Meylan. Perempuan tomboi anak sastra. Bukan tidak ada yang mau berteman denganku, hanya saja kebanyakan dari mereka berwajah topeng.

“Haduh ... malah tutup, gak biasane warungnya tutup. Piye iki?” Aku mendengkus pelan.

Aku memutuskan untuk balik kanan alias kembali ke kos-kosan, tetapi perut semakin keras saja berbunyi. Syukur tidak ada yang mendengarnya.

“Tidak ada salahnya mencoba,” gumamku.

Aku sampai di depan sebuah kedai dengan tulisan yang cukup menarik perhatian, “KEDAI MI PEDAS NETIZEN”.

Bagian Lima

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 374

 

Bagian Lima

 

Cinta akan akan datang

dan ketika cinta datang

cinta akan memapahmu

cinta akan memanggil namamu

dan kau akan luluh

meskipun kadang

cinta melukaimu

cinta tak bermaksud begitu

cinta takkan menipumu

karena cinta tahu hidupmu

sudah cukup berat

-Rupi Kaur-

 

            Satu persatu masalah yang menghampiri pasti akan terlewati dan menghilang, kemudian akan datang lagi dengan bentuk lain. Ya, live is a problem. Masalah yang lain pun akan berdatangan dengan seiring waktu. Suka ataupun tidak, setiap manusia harus menghadapinya.

            Aku menghela napas panjang, merasa lega, sedikit demi sedikit permasalahan yang terjadi sudah tersingkap. Aku tidak mengira kedekatan antara kami-Roro membuat Santi membenciku.

            “Ro, aku balik dulu, ya! Udah ditunggu Bulik di depan.” Aku meletakkan celemek ke dalam tas.

            “Lho, kok udah di depan? Wah, bakal ada perang dunia ketiga ini nanti,” selorohnya.

“Bulik gak semenakutkan itu, Ro. Udah jangan berburuk sangka, ucapan itu adalah doa. Kalau perang beneran gimana? Gak kebayang aku. Btw, celemeknya aku bawa pulang, ya. Mau aku cuci.”

            “Iya ... eh Nga, jangan dibuat lap atau popok, ya?” candanya.

Aku melongo kemudian tertawa. “Ya Allah, pantat si Rayya bisa-bisa iritasi kalau pakai popok celemek. Mikirnya kebangetan lu, Ro.”

“Siapa tahu?” Roro memegang perutnya karena tawa yang takbisa dia hentikan.

“Udah ah, balik. Hati-hati, ya. Biasanya jam segini Mbak Kunti atau Mas Pocong pada reuni, lho!”

“Kamu pernah lihat, Nga? Ih ngeri banget, sih. Ya udah, tunggu aku. Mau ambil tas ke ruangan dulu, jangan kabur dulu, Nga,” katanya yang terdengar ketakutan.

Aku berusaha bersikap datar saja dan menampilkan muka meyakinkan, bahwa aku pernah melihat makhluk astral itu, meskipun nyatanya belum pernah sama sekali. Ketika aku mencarinya, mereka tak mau muncul di hadapanku. Kalaupun mereka tiba-tiba datang  menjumpai, akan aku temui, untuk apa takut? Akan kuhadapi dengan tenang, tenang dalam ketidaksadaran.

“Ro, cepetan! Kasian Bulik, udah nunggu di depan.”

“Yuk!” ajak Roro.

Baru saja mau berjalan ke pintu, tetiba seorang pelanggan sudah masuk ke dalam kedai.

“Maaf, kami sudah tutup.” Aku menelungkupkan kedua telapak tangan, sembari mengingat laki-laki yang baru saja datang.

“Sepertinya, aku pernah lihat orang ini,” batinku.

“Gue mau bertemu dengan owner kedai ini, ada hal penting yang ingin kubicaran tentang Mbak Kasir ini,” kata lelaki itu yang agak keras.

Aku dan Roro serta merta saling berpandangan dan mengernyitkan dahi.

Lanjutan Bagian Lima

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 382

 

 “Ada apa?” kataku seketika.

Lelaki itu hanya menatapku dengan sorot mata tajam, aku pun bertanya-tanya kepada diriku sendiri.

Aku hanya membatin, “Apa orang ini kesal waktu nunggu lama, eh masa iya?”

“Maaf, kami sudah tutup, Kak? Gimana ada yang bisa kami bantu? Silakan duduk dulu ya, Kak!” ucap Roro.

Roro memintaku untuk mendekat ke ruangan kasir dan aku mengikutinya.

“Kamu pulang aja, Nga. Nanti biar aku urusin tuh cowok, emang kamu ngelakuin apa?” tanyanya.

“Aku juga gak tahu, Ro. Aku juga baru lihat tadi pagi, aku gak bisa balik sebelum aku juga tahu perihal apa yang mau dibicarakan.” Aku bersikukuh dengan keputusanku.

“Bulikmu udah nunggu dari tadi lho, Nga. Udah balik duluan, gak papa, santai,” ujarnya.

“Bentar, aku keluar dulu.”

Aku berjalan menghampiri Bulik yang sedari tadi di luar dengan tertatih-tatih dan setengah melirik juga kepada lelaki itu.

Kulihat Bulik sedang duduk dan menggosok-gosok telapak tangan sesekali di samping ruang pos satpam.

“Bulik ....”

Bulik menoleh ke arahku lalu berjalan menghampiriku.

“Ya Allah, Nak. Jalanmu ngunu, kok.”

“Aster minta maaf, Lik.” Aku meraih tangan Bulik.

Bulik sejenak terdiam, tetiba wajahnya menjadi sendu dan matanya berkaca-kaca.

“Maaf ... Lik,” kataku sambil menunduk, tak kuasa menatap wajah Bulik yang selalu mengingatkanku pada sosok ibu.

“Bulik merasa bersalah sama Mbak Dewi, gak bisa jagain kamu dengan baik. Maaf, Nak.” Tampak air mata keluar dari sudut matanya.

“Ya Allah ....” ucapku lirih, “ini salah Aster, aku minta maaf udah bohongin Bulik. Bulik gak salah, Aster minta maaf.” Aku pun langsung memeluk tubuh Bulik yang terasa dingin, kemudian berganti hangat.

“Bulik malah yang drama,” tuturnya sembari mengusap-usap air mata di pipi dan tersenyum, “ya udah, kita balik sekarang, Nak.”

“Maaf Bulik, ternyata masih ada yang harus aku kerjakan. Bulik balik dulu, gak apa?” tanyaku.

“Lho, ada apa lagi? Bukan e wis tutup? Lha mulihmu kepiye, Nak?” tandasnya.

“Tadi ada pesanan mendadak untuk besok, Lik. Kasian Roro nyelesein sendiri, mana udah jam segini. Gak apa ya, Lik? Aster mohon ... aku baik-baik saja, kok.” Aku tidak memasang muka melas, karena memang wajahku sudah terlihat menyedihkan.

“Yo wis, aku tak ke dalam dulu, ngomong sediluk sama Roro.”

Aku memegang tangan Bulik dan mencegahnya. “Bulik langsung saja, kasian adik-adik ditinggal di rumah sendirian.”

“Sendirian gimana? Wong berjamaah kok.” Bulik agak tertawa, “ya udah, hati-hati. Salam buat Nak Roro, Bulik pamit.”

Lanjutan Bagian Lima

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 320

 

Aku masih berdiri di luar, memandangi kepergian Bulik dengan motor matic yang dikendarai, lalu berjalan menuju kedai. Kulihat Roro dan laki-laki itu sudah duduk di sudut ruangan dekat dengan tanaman paku yang menempel di dinding.

Aku melirik ke arah Roro dan menarik salah satu kursi, kemudian duduk di samping Roro, berhadapan dengan laki-laki itu.

Aku pura-pura berdeham dan mengawali percakapan. “Gimana, Mas? Kalau gak salah sampean pembeli tadi pagi, kalau gak salah lho, ya? Ada apa dengan saya?”

Tiba-tiba Roro mengedipkan mata kepadaku. “Sebelumnya kami mohon maaf, jika pelayanan kami kurang memuaskan Anda. Maaf, kalau boleh tahu, ada keluhan apa ya, Kak? Oiya dengan Kak siapa, ya? Biar kita leluasa ngobrolnya. Saya Roro pemilik kedai mi pedas, nah Mbak Kasir yang Kakak sebut, namanya Aster,” tuturnya.

            Laki-laki itu menatap dengan wajah datar, aku pun berusaha memamerkan senyum hampa.

            “Gue Dewa,” ucapnya singkat sambil memainkan ponsel.

            “Saya salah apa ya, Mas?” kataku.

            “Karyawan Mbak Roro ini, tukang tipu, Mbak.”

            Seketika mataku membelalak mendengar kalimat itu. “Mas kalau ngomong jangan ngawur, ya. Atas dasar apa sampean bisa bilang saya seperti itu.”

            Roro menoleh kepadaku dan berkata pelan, “Sabar dulu Nga, kita dengerin dulu dia ngomong sampai selesai.”

            “Mbak Owner tahu kan, tadi pagi saya ke sini.”

            “Maaf Kak, saya tidak hafal semua pembeli hari ini. Soalnya hari ini cukup ramai. Eh, iya Kaka beli mi di sini, ya. Terus ada apa?”

            Aku menghela napas untuk menenangkan diri dan mendengar penjelasan orang itu terlebih dahulu. “Sabar ...,” batinku.

            “Mbak Kasir ini menggelapkan uang Mbak, tadi pagi. Ya udah agak siang lah, gue beli mi kuah pedas dan es kacang. Total semua habis 45.000, lalu gue beri uang seratus ribu. Dia hanya ngasih uang kembalian sebesar lima ribu rupiah.” Dia menatapku dengan tajam.

            “Sebenarnya gue gak masalah Mbak, soal uang. Ya, kalau dibiarin kasihan juga owner-nya. Bisa-bisa bangkrut, kalau punya karyawan kayak gitu,” tambahnya. Selanjutnya, laki-laki itu mengeluarkan bon pembelian dan memberikannya ke Roro.

Lanjutan Bagian Lima

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 378

 

             Roro mengecek bon itu dan menyerahkannya kepadaku.

            “Aku tadi udah buat laporan, gak ada selisih, Ro. Iya, belum kukirim ke surelmu.”

            “Mbak Kasir kalau mau korupsi jangan tanggung-tanggung, Mbak.” Dia mencerocos lagi.

            “Jangan mengada-ada ya, Mas. Mungkin Anda lupa? Lagian, kenapa gak langsung balik ke kedai kami. Kalau udah jam segini kan bukan lagi urusan kami, siapa tahu juga Masnya yang mau nipu.” Aku mendengkus kesal, entah kenapa tiba-tiba muncul kata yang tidak pantas diucapkan dari mulutku. Aku tidak bisa menahan diri

            “Ya sudah, kami ganti ya, Kak. Masalah kita sudah clear, ok?” ujar Roro menengahi kami.

            Aku cukup penat dengan masalah yang datang tanpa henti beberapa hari, sampai-sampai takbisa mengontrol diri sendiri.

            “Astagfirullah ....” Aku mengembuskan napas, mencoba berpikir jernih, dan agar tidak terbawa emosi.

            “Mbak, dengar ya ... waktu keluar gue ingat betul, Mbaknya ngasih uang ini.” Dia menunjuk uang yang berada di atas meja, “lha karena ada hal yang sangat penting, gue baru complain malam ini. Mbak Owner, eh siapa tadi, Mbak Roro, gue gak masalah sama uangnya, gue ikhlas. Gue datang ke sini dengan niat baik, mau ngasih tahu kebenaran tadi. Okay, gue kira gitu aja, gue balik.”

 Laki-laki dengan tinggi di atas rata-rata itu, langsung berjalan meninggalkan kami, aku masih duduk dan tidak menyangka. Tanpa aba-aba, Roro langsung mengejar laki-laki itu.

Aku tidak tahu apa yang dibicarakan mereka berdua di luar, semua terasa mengejutkan. Aku sudah banyak membuat kekacauan di kedai dan tidak tahu lagi bagaimana nasibku nanti, dipecat atau lebih baik mengundurkan diri dengan hormat.

Aku menghidupkan lagi komputer yang sedari tadi sudah mati, kubuka file laporan hari ini yang telah kubuat. Mencoba mencermati angka-angka yang tertulis, mengecek kembali, dan seketika aku terperanjat.

“Kok bisa berubah ... duh, Aster kenapa, sih? Kamu ceroboh lagi.” Tanganku sangat lihai tanpa diminta sudah menutup wajahku dengan sendirinya. Benar-benar hari yang penuh dengan drama. Entah apa yang akan kukatakan pada Roro.

“Kenapa, Nga? Sudah, gak perlu sedih. Aku tadi udah minta maaf, semua beres. Aku yakin kamu gak nyuri, gak nipu, apalagi kok korupsi.” Roro sudah berada di dekatku dan sedikit mengagetkan.

“Yuk, pulang! Sudah jam sebelas, nih. Kalau saja, mobil gak di bengkel. Kita bisa cepet sampai rumah.”

“Ro, pecat saja si Aster.” Air mata mendadak sudah keluar dari sudut netraku.

“Apa sih, maksudnya? Pecat?”

Lanjutan Bagian Lima

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 317

 

            “Monggo, camilan seadanya, Nak. Terima kasih ya, Aster udah diantar,” kata Bulik Lastri, lalu meninggalkan kami di ruang tamu.

            “Terima kasih, Lik,” jawab Roro.

            Kami menikmati teh hangat dan ditemani stoples kue kering cokelat yang disajikan Bulik.

            “Ah, jadi rindu gunung, nikmati teh hangat saat udara dingin. Main di air terjun, kapan ya, Nga? Kapan-kapan kita nostalgia yuk, Nga!”

            Aku masih terdiam, menyandarkan tubuh dan mengingat kembali kisah manis di kampung.

            “Nga, ini simpan, siapa tahu kamu mau hubungi dia.” Roro membuyarkan lamunanku dan menyerahkan sebuah kartu identitas.

            Kartu itu berada di tangan, tertulis sebuah nama “Adelio Dewa Pramana” dan nomor telepon. Nama pembeli yang tadi ke kedai kami. “Nama yang indah,” batinku.  

            “Untung aku minta kartu nama itu cowok, keren juga,” katanya melantur.

“Maaf ...,” kataku lirih.

            Aku telah menyeritakan semuanya kepada Roro mengenai kesalahan dalam memasukkan data pemasukan kedainya.

            “Sudah lupakan, minta maaf juga selesai.” Roro tertawa lepas, merasa itu bukan kejadian yang cukup berarti baginya.

            “Aku malu, Ro. Aku harus ngomong apa? Udah ngomong sarkas sama tuh cowok,” ucapku.

             “Kan gak berhadapan langsung, nanti telepon aja. Eh jangan, sudah malam. Mengganggu istirahat orang,” tambahnya.

            Aku meletakkan kartu di meja, “Iya, nanti kuhubungi.”

            “Ya udah, aku pamit, ya.”

            Aku mengantar Roro ke depan rumah, kulihat dia melambaikan tangan dan melaju meninggalkan rumah Bulik.

            Aku masuk ke dalam rumah, membersihkan gelas bekas minuman tadi.

            “Lho, Roro sudah balik?” Bulik keluar dari dalam kamar.

            Aku tersenyum, “Iya, tadi lupa manggil Bulik.”

            “Kebiasaan, yo wis, langsung mandi sana!” Bulik mengambil nampan yang aku pegang.

            Aku berjalan menuju kamar dan membersihkan diri.

***

            Aku bersandar pada ranjang dengan tangan kanan memegang ponsel, sedangkan tangan kiri membolak-balikkan kartu nama. Perasaanku diselimuti keraguan, ingin menyelesaikan perkara tadi pada malam ini juga yang cukup membuat pikiran kacau dan tidak bisa tidur.

            Aku menulis beberapa kalimat panjang, kemudian mengirim pesan itu.

            “Alhamdulillah, mari tidur!” Aku membenamkan diri ke dalam selimut dan mematikan lampu.

Bagian Enam

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 303

 

Bagian Enam

 

Ketenangan adalah kesabaran.

Semua bisa dimenangkan dan diraih.

Manusia tidak terlahir kuat, lemah, atau tegas.

Manusia menjadi kuat, manusia menjadi tenang.

Takdir tidak ada di dalam manusia, takdir ada di sekeliling manusia.

-Albert Camus-

           

            Jam dua belas malam, aku masih asyik membaca buku “La Mort Heureuse” karya Albert Camus tahun 1971. Buku yang membuatku berpikir keras dalam mencerna setiap isinya, menunjukkan keintiman Camus dengan kematian, yang menggetarkan dan bagaimana seseorang menempuh hidup untuk mencapai kematian yang dia kehendaki. Aku memang suka dengan buku-buku yang agak berat, meski orang-orang selalu bilang “Hidup itu sudah berat”. Whatever they want to say.

            “Baca apa, Wa?” tanya Dito.

            Dito masuk ke kamar setelah membersihkan diri, rambutnya basah, sepertinya habis keramas, lalu bersandar pada tembok yang warnanya sudah pudar.

            Aku hanya menunjukkan buku yang kubaca dan kembali melanjutkan aktivitasku.

            Dito pun mendekat ke arahku, mungkin penasaran dengan bukunya.

            “Wih, bahasa Perancis. A-l-b-e-r-t C-a-m-u-s.” Dito mengeja nama penulis yang tertulis di sampul buku.

            Dito menarik buku itu dari tanganku dan mencoba membacanya. “Gak jadi, pusing aku lihatnya,” ucapnya dan mengembalikan buku itu kepadaku. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

            “Dibaca terus pahami aja, dulu,” ledekku, kuletakkan buku itu di meja kecil samping kasur busa tipis yang menempel langsung dengan lain. Aku tahu persis Dito belum menguasai bahasa Perancis, meskipun dia mahasiswa yang otaknya cukup encer.

            “Terima kasih, gak dulu,” ucap Dito sembari menggosok rambutnya dengan handuk kecil.

             Aku membuka tas gendong yang terkapar, mengambil sebuah benda kecil, kemudian menyulutnya.

            “Lo mau belajar, Dit? Dengan senang hati, gue ajarin, gak usah bayar. GRATIS,” kataku dengan penekanan, lalu tertawa lepas. Ya, aku tidak ada maksud untuk mengejek Dito. Hal itu murni hanya sebagai candaan.

            “Bayar gak papa, Bos. Nanti gue jual sawah yang di kampung, cukup nggak?” Dia juga ikut tertawa.

            Aku melempar sepuntung rokok kepadanya, “Ya, gitu juga bisa.”

Lanjutan Bagian Enam

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 380

 

Terdengar bunyi dari dalam tas, mungkin suara pertanda sebuah pesan singkat masuk atau hanya notifikasi yang tidak penting. Pandanganku tertuju pada buku milik Dito yang berserakan di atas meja. Aku mengambil salah satu buku, yang cukup membuat tertegun. Buku dengan sampul berwarna putih dan terpampang foto seorang ustaz, sepertinya pernah melihat beliau dan cukup terkenal. Aku lupa, yang jelas dia orang yang taat akan agamanya.

            “Itu Ustaz Yusuf Mansur, sudah tertulis juga nama pengarangnya,” selorohnya, seperti membaca pikiranku.

            “Iya Dit, gue kira itu bukan orangnya. Siapa tahu, ‘kan?” imbuhku.

            “Ambil aja enggak papa, Wa. Buat referensi, biar pemahaman agamamu makin dalem dan menjadi muslim sejati. Alhamdulillah, hidupmu udah sukses, tapi ini buku bagus. Gimana kita bisa sukses keduanya. Dunia dan akhirat.”

            “Oke, gue pinjam, tapi baca di sini, aja.” Aku terdiam sejenak.

            Dito masih memainkan sebatang rokok di jarinya, lalu menoleh ke arahku. “Lo belum bilang, Wa? Setidaknya kamu jujur saja, setelah itu baru kita cari solusi,” nasihatnya kepadaku.

            “Iya, aku masih diam-diam, belum terus terang ke keluarga. Cuma kemarin Papa tiba-tiba ke sini dan melihat semuanya, akhirnya aku ceritakan kebenaran itu. Entah, rasanya bahagia Dit, Papa nyariin aku dan beliau mendukungku. Mama juga masih menutup mulut kalau kita masih berteman. Sejauh ini masih berjalan cukup baik.”

            “Syukurlah, Mbahmu ngeri juga, Wa. Udah sepuh tapi galak dan masih kuat, aku gak mau urusan lagi,” ucapnya ragu.

            “Tenang, gue siap angkat kaki kok. Sekarang gue udah menemukan ketenangan dan kedamaian yang sesungguhnya. Mencapai rida Tuhan Yang Maha Esa,” ucapku dengan mantap.

            “MasyaAllah, keren. Alhamdulillah ... aku ikut seneng, Wa.” Dia menjawab sambil mengepulkan asap rokoknya.

            “Gue tidur dulu ya, Bro. Ngantuk banget, dari habis magrib bahas acara program jurnalistik kampus sampai jam sembilan, lanjut sharing kepenulisan sama anak literasi. Emang pada gak ingat waktu, besok ada kelas pagi juga. Ngomong-ngomong, tadi lo ke mana, Wa?” Dito menguap beberapa kali.

“Ketemu sama tuh cewek,” jawabku.

“Oh.” Dia menimpali dengan singkat dari kata-kata terakhirku, bahkan tidak menunjukkan reaksi apa pun.

“Ya udah, buruan tidur. Selamat bermimpi, semoga ketemu Aisyah.”

            Wajah Dito tampak merah, aku baru lihat dia seperti itu, menyembunyikan rasa senangnya.

            Malam semakin larut, terasa lengang, tetapi mata ini takbisa terpejam. Aku melihat Dito sudah tertidur pulas, benar-benar kecapekan mungkin dia. Berbaring miring ke kanan. Aku masih menikmati kesendirian dalam gelapnya kamar.

Lanjutan Bagian Enam

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 329

            Sore itu, suasana jalanan cukup lengang, setelah diguyur hujan yang cukup deras, pohon-pohon yang ditanam di sekitar jalan seolah bersuka cita, tersenyum, dan bersyukur atas rahmat Tuhan yang diturunkan. Hujan kala musim kemarau.

            Aku sedang berada di sebuah kafe terkenal di Yogyakarta, tempat nongkrong bagi muda-mudi, tempatnya cukup ramai, kulihat juga dari mereka sepertinya seumuran denganku, mungkin juga mahasiswa. Aku sudah minta izin kepada Roro hanya bekerja setengah hari. Memang jarang sekali aku minta izin, terhitung dengan jari aku hanya pernah tidak berangkat tiga kali saja. Saat itu, sakit yang tidak dapat kutahan lagi.

            Sudah beberapa kali aku melihat arlogi di pergelangan tangan, matahari hampir saja pulang, semburat kemerahan pun sudah tampak di ufuk barat. Hal menunggu memang paling membosankan. Tiga puluh menit, waktu yang terbuang sia-sia untuk kurelakan terbuang begitu saja. Entah sampai kapan laki-laki itu akan datang.

            “Kalau saja aku gak salah, gak mungkin aku mau ketemu dia,” gerutuku.

            Aku menyeruput kapucino hangat yang tinggal setengah, lalu mencoba menghidupkan ponsel, mungkin lebih baik kukirim pesan saja kalau aku sudah sampai, aku sudah mengetik beberapa kalimat, tetapi pikiranku berubah dan kuurungkan niat itu, sebaiknya tidak perlu, kemudian aku masukkan ponsel itu kembali ke dalam tas selempang.

            Di meja yang kutempati tergeletak sebuah tas jinjing yang berisi kue kering cokelat, bukan aku yang membuat, tetapi Bulik Lastri. Sedari dulu beliau mengajari cara membuatnya, bahkan aku juga pernah mencoba untuk membuatnya sendiri tanpa bantuan Bulik. Hasilnya selalu gagal. Kalau tidak gosong, kadang rasanya kurang pas. Aku menyerah. Ya, aku sengaja membawa buah tangan itu sebagai permintaan maafku kepadanya. Bukan sogokan. Tulus dan ikhlas.

            “Sudah lama menunggu?” katanya yang datang dengan tiba-tiba. Dia menarik salah satu kursi di depanku. Sekarang laki-laki itu berhadapan langsung denganku.

            Aku membatin, “Gak bisa minta maaf apa?” Lalu kepalaku otomatis mengangguk, sebagai isyarat mengiyakan. Seolah mulutku bungkam

            “Gue lupa kalau ada janji,” cupanya dengan tenang sambil mengepalkan kedua tangan yang ditempelkan di atas meja.

            “What? Dia yang buat janji, dia juga yang lupa.” Aku mendengkus pelan

Lanjutan Bagian Enam

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 320

 

            Sejenak aku terdiam, menikmati lagu yang diputar oleh pihak kafe, “Dan” dari grup band Sheila On 7, lagu yang cukup terkenal. Band legend dengan lagu yang cocok sama isi hati manusia. Tidak salah kalau grup itu tetap hit. Pergerakan laki-laki itu pun tak luput dari penglihatanku, ketika mataku beradu, aku segera memalingkan wajah, rasa gugup dan canggung tiba-tiba saja mendera diriku. Ya, ini kali pertama aku makan bersama dengan laki-laki, kemudian dia tengah memanggil pelayan dan memesan kapucino serta dua porsi spageti.

            “Gue belum makan ....” Laki-laki yang bernama Dewa itu berkata kepadaku.

            Aku hanya tersenyum tawar dan hanya membatin, “Siapa juga yang tanya.”

            Setelah menunggu sekitar lima belas menit, seorang pelayan pun datang memecah keheningan di antara kami, membawa hidangan yang dipesan Dewa.

            “Silakan Kakak, dua porsi spaghetti aglio e olio' dan cappucino latte. Selamat menikmati,” kata pelayan perempuan dengan ramah menaruh pesanan di meja kami.

            “Makasih ya, Mbak.”

“Oke Kak, kalau ada yang masih dibutuhkan, silakan panggil, ya. Permisi!” ucap pelayan itu, selanjutnya meninggalkan kami.

“Makan dulu!” Dia mendekatkan sepiring spageti di depanku.

            “Iya Mas, terima kasih.” Aku terpaksa menerima makanan yang ditawarkannya, entah bagaimana nasib perutku nanti. Sebelum ke sini, aku sudah makan semangkuk mi kuah pedas di kedai.

            Dia mempersilakan lagi, “Gak usah jaim, dimakan saja! Gue laper, jadi ngomongnya nanti setelah gue selesai.”

            Aku yang mendengar kalimatnya itu seketika merasa kesal, “Siapa yang jaim? Aku sudah makan, lihatnya aja udah bikin enek. Lagian makanan apa sih  ini? Enakan mi kuah pedas atau mi ayam Pak Parto,” pikirku.

            Laki-laki berkulit putih memakai jeans serta kemeja warna hitam, membuat wajahnya bersinar itu menikmati dengan tenang serta lahap makanan yang di depannya. Sepertinya memang belum mengisi perut. Spagetinya habis tidak tersisa, kemudian dia mengambil tisu dan mengelap bibirnya, padahal tidak ada sesuatu yang menempel di sana. Bersih dan menawan.

            “Eh, apa sih?” ucapku lirih.

            “Iya, gimana?” tanyanya.

            Aku menepuk dahi dan sedikit terpejam, “Apa dia mendengarnya?” pikirku lagi.

           

Lanjutan Bagian Enam

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 351

 

“Ini, Aster bawakan sesuatu untuk, Mas. Mohon diterima, semoga Mas Dewa suka,” ujarku sambil menggeser tas jinjing.

“Apa ini?” Dia membuka tas itu dan mengeluarkan isinya, “wah, kue kering? Btw, ini suap, ya?” tanyanya dengan tatapan tajam.

“Bu-bukan ... itu sebagai tanda permintaan saya ke Mas, sudah ngomong yang tidak-tidak, bahkan nuduh Mas yang salah. Sekali lagi Aster minta maaf,” kataku lagi sambil menyatukan kedua telapak tangan.

“Semoga Mas Dewa suka,” tambahku lagi.

 “Gue enggak suka makanan manis, gue jaga pola makan. Kalau ini, kesukaan Mama Inggid. Emm ... gimana ya, tapi sama aja nyuap sih, emang apa bedanya?” selorohnya sambil tersenyum menyeringai kepadaku, “Apa pun itu, saya sudah memaafkan. Tenang.” Dia memasukkan kembali kotak kue kering ke dalam tas.

“Jaga pola makan?” batinku. Aku ingin sekali rasanya menertawakan ucapan itu, tetapi melihat wajahnya yang serius membuatku mengurungkan niatan itu, takut juga mengira aku kurang waras.

“Alhamdulillah ... eh, lantas untuk apa Mas Dewa ngajak ketemu?” Aku langsung menanyakan perihal rasa penasaranku. Bukankah dia sudah memaafkanku? Rumit. Tidak bisa menebak isi hati dan pikirannya.

“Ya ... kamu yang kurang kreatif, sih. Harusnya orang salah itu minta maaf secara langsung, bukan hanya lewat pesan singkat. Tahu tata krama, ‘kan?” Dia berbicara panjang lebar dan aku hanya mendengar setiap apa yang keluar dari bibir indahnya itu.

“Astagfirullah ... Aster, tolong sadar! Pikiranmu ke mana, sih? Kenapa tiba-tiba berdebar? Kamu gak sakit jantung, ‘kan?” Otakku tetiba tidak sinkron, mikir yang aneh-aneh, hatiku pun seolah berbisik. “Ini Laksamana Cheng Ho nyasar, ya?”

“Duh, parah nih cewek, melamun terus dari tadi. Astar gak lagi sakit, ‘kan?”tanyanya lagi.

Pertanyaan yang tadi saja belum kujawab, dia sudah menghujani dengan berbagai pertanyaan lagi.

“Aster Mas, bukan Astar.”

“Iya, itulah pokoknya. Ngomong-ngomong, tolong gak perlu ditambahi embel-embel Mas. Jadi gak keren gue,” jelasnya.

“Maaf ... iya Wa, Dewa Adelio. Bukannya saya gak tahu tata krama ya, tapi emang saya gak ada niat mengajak Mas Dewa bertemu. Lagian tahu sendiri, ‘kan? Saya sibuk Mas. Maaf, keterusan manggil Mas. Maaf, kalau itu menyinggung perasaan Anda. Saya benar-benar minta maaf atas kesalahanku.” Aku menutup lagi wajahku dengan telapak tampak, entah sudah berapa kali.

Lanjutan Bagian Enam

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 35

-Kelompok 12 Nawala

-Jumlah Kata 354

 

“Ya ... pingin ngajak makan aja,” jawabnya singkat tanpa ragu.

“Aneh,” pikirku. Ya, agak aneh menurutku, terkadang orang bersikap masa bodoh, setelah berdamai dengan masalah, tetapi orang yang berada di depanku ini cukup berbeda. Aku tetap berbaik sangka tentang maksud baiknya.

“Well, thanks bingkisannya.”

“Kalau begitu, saya pulang dulu. Terima kasih atas traktirannya.”

Aku beranjak berdiri dan langsung pamit saat itu, karena sudah tidak ada yang perlu dibahas, dia juga sudah memaafkan, jadi tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Masalah terselesaikan.

Detik demi detik, waktu berjalan dengan cepat. Suasana menjadi gelap, lampu-lampu telah dihidupkan, menerangi malam tanpa dihiasi bintang yang biasanya membentuk formasi indah di langit. Rembulan juga enggan menampakkan wajahnya malam ini.

Aku masih berdiri di trotoar, kira-kira 100 meter dari kafe tadi, menunggu angkutan berwarna merah muda lewa, kendaraan yang biasa aku tumpangi jika Bulik tidak bisa mengantar. Memang lebih murah naik angkutan meski sekarang sudah agak jarang. Aku harap masih ada beberapa yang berseliweran, kalaupun tidak ada, terpaksa aku harus naik ojek.

Setelah sekian menit aku berdiri mematung, tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan menepi, kemudian terlihat kaca jendela mobil turun dengan sendirinya dan terbuka. Seorang lelaki berada di dalam memakai topi dan kacamata hitam bertengger di atas hidungnya. Aku masih samar-samar melihatnya, sepertinya wajah itu tidak asing, laki-laki itu pun mendongak ke arahku.

“Aster,” sapanya dengan senyum manis.

Kembang api lima belas biji seperti meluncur di jantungku, laki-laki yang pembawaannya dingin, rupanya bisa menampilkan senyuman itu. Aku gelagapan bingung hendak menjawab apa

“Iya ....” Hanya itu yang keluar dari mulutku. Sekadar mengangguk-angguk kepala dan membalas senyumnya.

“Aster ... lemah banget sih, kamu,” keluhku di dalam hati.

“Masih di sini ternyata, lagi nunggu siapa?” tanyanya.

“Ini, nunggu angkutan lewat.”

Dewa, lelaki yang kutemui tadi membuka pintu mobil. “Ayo, bareng gue. Jam segini mana ada angkutan,” ucapnya sambil mengusap lengan kemeja dan melirik sesuatu yang menempel di pergelangan tangan. Tawarannya itu seperti kami sudah berkawan lama. Begitu mudah diucapkan.

“Gak usah, Wa. Kalau angkutan gak ada, nanti aku naik ojek.”

“Tenang, gue gak macam-macam.” Seketika kalimat itu keluar begitu saja seakan-akan tahu jalan pikiranku.

“Eh, bukan gitu maksudku. Aku tidak mau merepotkan ....”

Mungkin saja kamu suka

Sofiyatun
Muhasabah Cinta
Norma Irnawati
THE LAST REASON
Novi Fauziah
CINTA VS MALU
Jamilah Salma N...
INSECURE

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil