Loading
10

0

0

Genre : Keluarga
Penulis : Hany alatas
Bab : 30
Pembaca : 4
Nama : Hany alatas
Buku : 2

MOZAIK HATI META

Sinopsis

Perjalanan hidup Meta, masih dan akan terus di kenang, membentuk karakter hidup yang bijaksana dan rendah hati
Tags :
#keluarga #hati

PROLOG

1 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Jumlah kata 321

Prolog

Nama panggilan kesayanganku Meta, Nama lengkapku Meita Arrashifah. Sore hari yang cerah ini Meta berbincang dengan mereka, anak-anak panti yang telah diasuh Meta, melepaskan penat, rindu dengan bercanda serta tertawa ria. Kebahagiaan bagiku cukup sesederhana ini. Ada banyak hal yang terjadi selama 1.306.368.000 detik dalam kehidupanku, antara diriku, partner hidupku dan anak-anak. Suka, duka, tawa dan tangis. Rasa keluarga yang khas, layaknya sebuah keluarga.

Meta meminta, sungguh Meta hanya akan meminta kebahagiaan mereka didahulukan atas kebahagiaannya. Karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan dirinya. Ya seperti itu, semudah itu dan hanya dengan begitu, semudah membalikkan tangan. Meta merasa hidupnya telah cukup menikmati hidup di dunia ini. Masa kecil sampai usia SMA yang dilimpahi materi, dan kasih sayang dari Kak Rayhan, Ayah dan Bunda.

Potongan kisah demi kisah yang spesial di hati Meta, ada kisah bahagia yang menggelora, ada kisah sedih menguras air mata, ada kisah yang membuat emosi jiwanya naik, meronta tak terkendali. Kini, semua sudah berlalu, kisah demi kisah telah memberikan warna dalam kehidupan seorang Meta, bagaikan mozaik, ada banyak warna, saling melengkapi membentuk karakter dalam diri Meta. 

Maha Suci Rabb yang telah menganugerahkan sekeping hati dan bisa menjaga perasaan ini sebaik-baiknya.

Suasana di Panti Asuhan Meta, terdengar riuh saat jam bermain seperti sekarang, tiba-tiba ada suara memanggilnya.

''Bunda Meta... tendang bola itu kemari," ujar Seno kecil dengan mata berbinar, menunggu bola di dekat gawang plastik di ruang bermain.

"Baiklah, siap ya, satu ... dua ... tiga ... " teriakku diiringi gerakan menendang bola plastik itu.

Mata meta menerawang, mengingat kejadian dua puluh tiga tahun yang silam, saat meta masih duduk di bangku SMA. Dia mengingat Kaka Rayhan kesayangannya, selalu mengajaknya bermain bola di halaman belakang, Kakak kandung satu-satunya yang telah lama meninggal. Kala itu Meta sungguh tidak menduga dengan metamorfosis perilaku yang ada dalam diri Kak Rayhan.

Kaka Rayhan Abdurrahman, masih kuliah di Teknik Sipil UNJ semester tujuh. dia seorang Kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja tampan, Kaka Rayhanku yang keren juga sudah bisa membiayai kuliahnnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Kak Rayhan

1 0
 
Sarapan Kata KMO Batch 40
Kelompok 19
Jumlah Kata 327

Sejak kecil Meta sangat dekat dengannya. Tidak ada rahasia di antara kami. Kak Rayhan selalu mengajakku ke mana Kak Rayhan pergi. Kak Rayhan yang menolong di saat Meta butuh pertolongan. Kak Rayhanlah yang menghibur dan membujuk di saat Meta bersedih. Membawakan Camilan sepulang sekolah dan mengajariku mengaji.

Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Jalan-jalan ke pantai, nonton bioskop, main game, konser musik atau sekadar bercanda ria bersama teman-teman. Kaka Rayhan yang humoris itu akan membuat humor santai hingga Meta dan teman-teman tertawa. Dengan mobil kesayangan kak Rayhan, berkeliling mengantar teman-teman pulang usai kami latihan futsal. Kadang kami mampir dan makan dahulu di restoran lesehan favorit, atau bergembira ria di pantai.

Tidak ada yang Tidak menyukai Kaka Rayhan, hamper semua yang mengenalnya akan menyukai kehumblean Kaka Rayhanku.

"Kakak kamu itu keren habis, cute, macho dan humoris. Masih single tidak sih? Aku mau loh jadi Kaka Ipar kamu?"

Meta cuma senyam-senyum saja. Bangga dong, punya kaka yang jadi idola dan digandrungi sama teman-teman.

Pernah kutanyakan pada Kaka Rayhan mengapa dia belum punya pacar. Apa jawabnya? "Kaka belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah dulu. Lagian kalau Kaka pacaran..., banyak anggaran. Waktu buat adik kaka yang cantik ini berkurang loh. Banyak juga yang patah hati! Hi...hi...hi ..." kata Kaka Rayhan, sambil beranjak berlari, saat melihat tanganku yang sudah siap memberinya cubitan.

Kaka Rayhan dalam pandanganku adalah sosok lelaki idaman yang ideal. Kaka Rayhanku yang sholih, sayang keluarga, pintar membetulkan instalasi listrik jika ada yang rusak di rumah, pintar membetulkan motor yang ngadat, bahkan pintar masak nasi goreng sama sayur asem kesukaannnya, pokoknya serba bisa segalanya deh, paket komplit dan hemat. Kaka Rayhan punya semacam visi dan misi rancangan masa depan yang sudah disusun, tetapi tidak takut menikmati hidup. Kaka Rayhan moderat tetapi tidak pernah meninggalkan salat!

Itulah my brother tersayang, Kaka Rayhan Abdurrahman!

                                                                               

 

 
 

Kak Rayhan (Part 2)

1 0
Sarapan Kata KMO Batch 40
Kelompok 19
Jumlah Kata 410
 
 
Drastis sekali perubahannya! Bagaikan langit dan bumi, apanya coba? Ya itu perilaku kak Rayhanku. Dan Meta seolah Tidak mengenal diri Kak Rayhan yang baru. Meta sedih. Meta kehilangan. Kaka Rayhan yang kubanggakan kini entah ke mana...
-------------
"Kaka Rayhan! Kaka!"
Tidak ada jawaban. Padahal kata mama kak Rayhan ada di kamar. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar kak Rayhan. Tulisan berbahasa arab gundul. Tidak bisa kubaca. tetapi Meta bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!
"Assalaamuálaikuuum!" seruku, “Masya alloh macam bertamu kerumah orang lain saja, masa dirumah sendiri, aku musti beri salam” gerutuku panjang pendek tak berkesudahan.
Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Kaka Rayhan.
"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh. Ada apa Meta? Kok teriak seperti itu?" tanya kak Rayhan, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Pelankan suara HP kak Rayhan!" kataku sewot, dengan bibir manyun lima mili meter.
"Adik kesayangannya kaka, emang mengapa? Bagus loh ini" jawab kak rayhan membela diri.
"Meta sebal bin benci bin jengkel mendengar suara HP Kaka Rayhan! Memangnya kita orang Arab ... masangnya kok lagu-lagu Arab begitu!" ucap Meta cemberut, sambil menutup telinga dengan kedua tangan, mode ngambek dijalankan.
"Ini nasyid, Adik kesayangan. Bukan sekadar nyanyian Arab tetapi zikir, Meta!" ujar kak Rayhan berusaha menjelaskan.
"Bodo amat, aku tidak suka kaka!" teriak Meta, mukanya mulai memerah.
"Astaghfirulloh adik kesayangan lho, kamar ini kan daerah pribadi Kakak. Boleh kan Kaka melakukan hal-hal yang Kaka sukai dan Kaka anggap baik di kamar sendiri," kata Kaka Rayhan sabar. “Kemarin kak Rayhan coba pasang musik ini di ruang keluarga, kamu ngga suka, jadinya ya, di pasang di kamar."
“Tetapi kuping Meta terganggu Kakak! Lagi asyik dengerin kaset Bruno mars yang baru..., eh tiba-tiba terdengar suara aneh kayak beginian dari kamar Kakak!"
"Kaka kan pasang kasetnya pelan-pelan, Met..." dalih kak Rayhan, masih mencoba merayu adik kesayangannya.
"Pokoknya masih kedengaran! Itu mengganggu ketentraman dan melanggar Hak Asasi tetangga kamar loh, aku adukan kaka nanti," seru Meta
"Ya, sudah. Kalau begitu Kaka ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus juga lho!"
“Tidak boleh, pokoknya Meta tidak mau dengar!"
Takjub. Meta benar-benar tidak habis pikir mengapa selera musik Kaka Rayhan jadi begitu berubah drastic, pakai banget. Ke mana kaset-kaset Sheila On Seven, Dewa 19, Elton John, Giginya? Saat aku tanyakan, apa coba jawabannya?
"Wah, ini tidak seperti apa yang kau kira itu, Meta! Lain lah ya dengan senandung nasyid Islami. Meta mau dengar tidak? Ambil saja di kamar. Kaka punya banyak kok!" begitu kata Kaka Rayhan.
Hwadidaaaw!

Kak Rayhan (Part 3)

1 0
Sarapan Kata KMO Batch 40
Kelompok 19
Jumlah Kata 354

Layaknya kepompong menjadi kupu-kupu, sebenarnya metamorfosis Kaka Rayhan tidak cuma satu. Jadi seperti pakai sulap, sim salabim, berubah. Extreme Change malah! Walau Meta cuma ‘adik kecil kesayangan’nya yang baru kelas dua SMA, Meta cukup jeli mengamati metamorfosis-metamorfosis itu. Walau lumayan bingung untuk mencerna sosok baru kak Rayhanku.

 

Pada satu sisi kuakui Kaka Rayhan tambah Shalih. salat tepat waktu, berjama’ah di Masjid, lagak bicaranya macam ustadz, soal agama terus. Awas nih, jika kuperhatikan, akhir-akhir ini nanti pasti muaranya ke penampilan jeans belelku, males banget kan? "Ayo kan Meta, jadi lebih tampak feminin. Kalau adik kesayangan kaka pakai rok atau baju panjang, Kaka rela deh pakai kartu ATM kaka, buat belikan kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba Adik kaka tersayang, ngapain sih rambut dipendekin Begitu!"

 

Sebel banget kan?! Padahal dahulu Kaka Rayhan fine-fine saja melihat Style berpakaianku yang tomboy. Dia tahu Meta cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah OSIS sama Pramuka itu saja! Kaka Rayhan juga tidak pernah keberatan kalau Meta meminjam kaus pendek atau kemejanya. dia sendiri dahulu sering memanggilku Meto, bukan Meta!  Eh, sekarang pakai manggil Adik kaka tersayang segala, lebay banget kan, jadi makin bete kan!

 

Hal lain yang menyebalkan, Style berpakaian Kaka Rayhan jadi aneh. Sering juga mama menegurnya. "Style berpakaianmu kok sekarang beda, Ray?’

 

"Beda gimana sih, Ma? Biasa saja lah Ma, lagi pingin ada pergantian model aja, bosen kan yang begitu, kayak terlalu gaul"

 

"Ya, tidak semodis dahulu. tidak sedandy dulu.”

 

Kaka Rayhan cuma senyum-senyum aja. "Suka begini, Ma. Bersih, rapi walau sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."

 

Ya, dalam penglihatanku Kaka Rayhan jadi lebih kuna dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Untung saja masih lebih ganteng."

 

Kaka Rayhan cuma tertawa aja. Mengacak-acak rambutku seperti biasa dan berlalu ke kamar.

Jadi Speechless sendiri kan?

 

Kaka Rayhan lebih pendiam? Itu perubahan lain yang juga sangat kurasakan. Sekarang Kaka Rayhan tidak sekocak seperti dahulu, yang suka menjahili dan menggodaku. Teman-temanku kadang jadi suka bertanya-tanya. Aneh aja, biasanya terdengar teriakanku saat dijahili kak Rayhan, dilanjutkan suara ketawanya yang agak heboh begitu, kini sepi dan lempeng-lempeng aja.

 

 

Jabat Tangan versi Kak Rayhan

1 0

 

Sarapan Kata KMO Batch 40
Kelompok 19
Jumlah Kata 309

Dan... yang paling gawat bin ajaib sih menurutku, Kaka Rayhan sudah tidak mau jabat tangan sama perempuan!! It’s very dangerous kan? Kupikir apa sih maunya Kaka? Sok jaim banget kan? Aku nggak suka banget sama yang ini, aku beri bold ya *Tidak Suka*

 

"Kakaaaak Rayhaaan!!” teriakku mengajak perang sama Kak Rayhanku yang makin keterlaluan ini menurutku kala itu.

 

“Ada apa sih? Heboh banget nih adik kesayangan kaka.”

 

“Sok ganteng banget sih kamu Kak? Masak tidak mau salaman sama Salma? Dia tuh perempuan paling beken di Sanggar dance Meta tahu?" tegurku suatu hari.

 

"Meta, adik tersayang kaka, karena Kaka menghargai Salma makanya Kaka begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada amat sabar. " Meta lihat khan orang Sunda salaman? Santun seperti ini, walau tidak sentuhan. Itu yang lebih benar!" ujar Kak Rayhanku sambil mempraktikan gaya orang sunda bersalaman.

 

“Itu kan disana kak? Lagian kaka bukan orang sunda juga kan?” gerutuku sambil memasang muka mode cemberut.

 

Huh menyebalkan. tidak mau salaman. Ngomong nunduk-nunduk melulu, kaya orang cari receh yang jatuh..., sekarang bawa-bawa orang sunda. Apa hubungannya?

 

Kaka Rayhan cuma tertawa aja. Mengacak-acak rambutku seperti biasa dan berlalu ke kamar, sambil berkata, “Sebentar ya, kuambilkan sesuatu untukmu.”

 

Tak berapa lama Kak Rayhan keluar dari kamarnya, merangkulku sambil berkata, “Adik tersayang kaka, coba baca tulisan ini, biar makin shalihah, makin kece deh.”

 

Kubaca keras-keras, sebuah tulisan yang didekatkan kaka Rayhan ke muka. "Dari shahabiah ‘Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah. Rasulullah saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya, ini karya Hadits Bukhari Muslim!"

 

Si Kaka tersenyum.

 

“Tetapi kiai Sapin mau salaman sama mama. Haji otong, Haji Kasmin, ustaz Ahmad, biasa aja tuh mereka, kalau diajak salim mau loh mereka" kataku mengajak debat kak Ray.

 

"Bukankah Rasulullah itu adalah uswatun hasanah? Teladan terbaik?" kata Kaka Rayhan sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya, Adik kaka tersayang!?"

 

Jabat Tangan versi Kak Rayhan Part 2

1 0
Sarapan Kata KMO Batch 40
Kelompok 19
Jumlah Kata 330

 

"Bukankah Rasulullah itu adalah uswatun hasanah? Teladan terbaik?" kata Kaka Rayhan sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya, Adik kaka tersayang!?"

 

Adik kaka tersayang? Coba untuk mengerti? Huh menyebalkan! Dan seperti biasa Meta meluncur pergi dari kamar Kaka Rayhan dengan jengkel. Menurutku Kaka Rayhan terlalu fanatik! Meta jadi khawatir. Apa dia lagi nuntut ‘ilmu putih’? Ah big no banget kan? Meta juga takut kalau dia terbawa oleh orang-orang sok agamais tetapi ngawur. Namun..., akhirnya Meta tidak berani menduga demikian. Kakakku itu orangnya cerdas sekali! genius malah! Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat enam di UNJ! Dan yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya..., yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja.

 

Kutarik napas dalam-dalam.

-------------

"Mau ke mana, Meta, adik kesayangan kaka!?"

 

"Nonton sama teman-teman." Kataku sambil mengenakan sepatu. "Habis Kaka Rayhan kalau diajak nonton sekarang kebanyakan alasan sih!’

 

"Ikut kaka aja, yuk! Pasti Meta suka!"

 

"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah banget sih, Tidak mau! Meta kayak orang urakan di sana!"

 

Ingatanku melayang masih teringat dengan jelas. Beberapa waktu yang lalu Kaka Rayhan pernah mengajakku ke rumah temannya. Ada pengajian, temanya tentang “Muslim terbaik adalah terbaik akhlaknya.” Terus pernah juga Meta diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangkan, berapa kali Meta dilihat sama perempuan-perempuan lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya, Meta kesana memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel. Belum lagi rambut kriwil pendek yang tidak bisa Meta sembunyikan, malu banget kan? Sebenarnya Kaka Rayhan menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa mama pakai ngaji. Meta nolak sambil ngancam tidak mau ikut, Kak Rayhan nggak cerita sama sekali mau ada acara begitu.

 

“Kak Ray, kalau mau ngajak aku yang ikhlas, jangan nuntut aku suruh begini begitu, biasa aja keles, Aku yang pakai baju, kenapa kakak ngatur begini begitu sih, males banget deh jadinya, ya sudah, aku nggak usah ikut aja deh kalau begitu” ancamku, dengan suara merepet tak berkesudahan.

 

“Ya sudah deh, yang penting sudah diingatkan loh ya,” kata kakak Rayhan.

Meta pusing

1 0

 

Sarapan Kata KMO Batch 40
Kelompok 19
Jumlah Kata 337

 

"Assalaamu’alaikum!" terdengar suara beberapa lelaki, jadi seperti bersahutan.

“Wa’alaikumussalam warohmatulloh,” jawab Kak Rayhan. Tidak lama kulihat Kaka Rayhan dan teman-temannya di ruang tamu. Meta sudah hafal dengan teman-teman si Kaka ini. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, tidak melirik aku..., persis kelakuannya Kaka Rayhan.

"Lewat aja nih, Kak? Meta tidak dikenalkan?" tanyaku iseng.

“Emang aku manekin, enak aja, nggak tahu kan disini ada cewek cakep, nunduk gitu sih,” gerutuku panjang pendek tak berkesudahan.

Kaka Rayhan cuma tertawa aja. Mengacak-acak rambutku seperti biasa dan berlalu ke kamar, mengambil beberapa buku permintaan temannya itu.

Dahulu tidak ada deh teman Kaka Rayhan yang tidak akrab denganku. Tetapi sekarang, Kaka Rayhan tidak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan cakep!

Kaka Rayhan menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt!"

Seperti biasa, Meta bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal ke-Islaman, diskusi, belajar apa tuh, nahwu, shorof, tajwid sama tahsin baca Al-quran atau membaca buku yang berbahasa Arab terus diartikan, dibahas dan lain-lain sampai puyeng nih kepala menyebutkan kegiatan mereka yang seabreg itu..., yaaa begitu deh!!

-------------

Siang ini aku rencana mau curhat ke Marwa, sudah pusing tujuh keliling nih, kepala sudah mau meletus aja. Mengalirlah cerita dari mulut ceriwisku ini mulai dari perubahan A sampai Z dalam diri kak Rayhanku, aku sampaikan semua unek-unek yang ada dalam pikiran ini.

“Subhanallah, berarti Kakak kamu itu seorang ikhwan!" seru Marwa setengah histeris mendengar ceritaku.

"Ikhwan?" ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya tekwan apa bakwan, sibala-bala orang sunda?"

"Huss! Untuk laki-laki ikhwan, untuk perempuan akhwat. Artinya saudara.”

"Kamu tahu Udin atau Amir, kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini." manggut-manggutlah meta. Perilaku Amir dan Udin memang mirip Kaka Rayhan.

"Udah deh, Meta. tidak usah bingung. Banyak baca tulisan Islam. Ngaji! Orang-orang seperti Udin, Amir, atau Kaka Rayhan bukanlah orang-orang yang error.

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Marwa, sahabat dekatku yang dahulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku menjelma begitu dewasa.

 

Persahabatan duo M (Meta Marwa)

1 0
Sarapan Kata KMO Batch 40
Kelompok 19
Jumlah Kata 303

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Marwa, sahabat dekatku yang dahulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku menjelma begitu dewasa.

"Eh, kapan main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Meta ingin kita tetap dekatkan? Meta..., apapun yang terjadi, kamu adalah sahabatku, walau kita kini punya pandangan yang berbeda," ujar Marwa tiba-tiba, sambil melepas masker penutup muka.

"Marwa, Meta kehilangan kamu. Meta juga kehilangan Kaka Rayhan...," kataku jujur, tercekat ucapanku di tenggorokan, berlinang airmataku di pelupuk mata, dan akhirnya jebol air mata membasahi pipiku. "Selama ini Meta pura-pura cuek tidak peduli. Sebenarnya aku sedih tahu..."

Marwa menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin. “Nginap di rumah, yuk. Biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan pada Kak Safna."

"Kak Safna?"

"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Kamu akan dengar cerita serunya seputar hidayah yang baru dia dapat"

"Hidayah? Apaan tuh, merek baju atau jilbab baru apa sejenis makanan?" berondong Meta yang kepo banget dengan kosa kata yang baru didengar di telinganya itu.

"Nginap, ya! Kita ngobrol sampai malam sama Kak Safna! Nanti aku jelaskan deh" ucap Marwa tetap keukeuh tak mau menerangkan apa yang membuat Meta penasaran. Jiwa penasaran Meta meronta, ingin mendapatkan haknya.

“Nanti, Aku izin Bunda dahulu deh, tega banget kamu tidak mau jawab kekepoanku ini sih,” ucap Meta sambil merapihkan tas punggungnya. “Aku pulang dahulu ya?”

“Ya, hati-hati di jalan, maskernya dipakai Meta sayang.”

“Ya, masih bawel aja kamu sih,”

“Ngangeni kan?”

“Ha ha ha ha.”

“Jangan lupa salam buat Bundamu ya, itu jangan lupa krupuk sama pempek Palembang yang sudah kutaruh di motormu, sampaikan Bunda ya, itu oleh-oleh dari Papiku kemarin habis dari Palembang,”

“Eh Marwa, kamu ikutan telepon ke Bundaku dong, biar aku mudah dapat izin menginap dirumahmu, oke?” pinta Meta saat memakai helm kitty kesayangannya.

“nomor WA Bunda belum ganti kan? Masih yang nomor belakang 002 itu?”

“Ya masihlah, beneran bantu ya.”

“Oke, bentar lagi ku telepon.”

Persahabatan Meta dan Marwa yang terjalin sejak usia balita hingga kuliah, memang membuat dua keluarga itu menjalani ukhuwwah yang erat, kadang saling mengunjungi, dan saling memberi sekadar jajanan atau suvenir jika salah satu dari mereka habis bepergian.

Mencoba mengerti kak Ray

1 0
Sarapan Kata KMO Batch 40
Kelompok 19
Jumlah Kata 345

 

-------------

"Assalaamu’alaikum, Kak Ikhwan..., eh Kak Rayhan!" tegurku ramah.

"Eh adik kesayangan Kak Rayhan! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!"

"Dari rumah Marwa, teman sekolah," jawabku pendek.

"Lagi ngapain, Kak?" tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, dan Bosnia. Puisi-puisi yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu rak buku koleksi tulisan ke-Islaman.

"Hanya lagi baca!"

 "Tulisan apa Kak Ray?" sahutku merasakan jiwa kepoku meronta ingin segera mendapatkan jawaban pasti.

“Tumben kamu pengin tahu?"

“Tunjukan, Kakak...tulisan apa sih?" desakku.

"Eit..., Eiiit!" Kaka Rayhan berusaha menyembunyikan tulisannya.

Kugelitik kakinya, dia tertawa dan menyerah. "Hahahah, ampun Met, ya sudah nih!" serunya memperlihatkan tulisan yang sedang dibacanya dengan wajah setengah memerah. “Kupinang kau dengan basmallah”

"Nah yaaaa! Jiaaahaaahaaha" Meta tertawa. Kaka Rayhan juga.

"Kaaak..." kataku

"Apa Adik kaka tersayang?"

"Meta akhwat bukan sih?"

"Memangnya mengapa?"

"Meta akhwat apa bukan? Ayo jawab...," tanyaku manja, sementara tangan Meta memukul pelan pundak kak Rayhan.

Kaka Rayhan tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, dia berbicara kepadaku. Tentang Allah, Rasulullah. Lihatlah, apa yang terjadi dengan kaum muslim di Palestina, Lihat pula ajaran Islam yang semakin lama semakin asing bahkan oleh ummatnya sendiri dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, Meta merasa kembali menemukan Kaka Rayhannya yang dahulu.

Kaka Rayhan dengan semangat terus berbicara. Terkadang dia tersenyum, sesaat sambil menitikkan air mata. Hal yang Tidak pernah kulihat sebelumnya!

"Kaka kok nangis?"

"Kaka sedih karena umat yang banyak meninggalkan Al quran dan sunnah, juga berpecah belah.

Sesaat kami terdiam. Ah, Kakakku yang keren dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli...

"Kok...tumben Meta mau denger Kaka ngomong?" tanya Kaka Rayhan tiba-tiba, alisnya berkerut meski sambill senyum.

"Meta capai marahan sama Kaka Rayhan!" Ujarku sekenanya, “Lagian, lihat tuh dinding kamar Kak Ray yang sekarang, penuh tuh sama poster palestina, bosnia, kaligrafi, itu kan membuat jiwa kekepoanku bangkit, hehehe.”

"Emangnya Meta ngerti yang Kaka katakan?"

“Tenang aja, Meta nyambung kok!" kataku jujur. Ya, Kak Safna juga pernah menerangkan hal demikian. Meta ngerti deh walau tidak mendalam.

Malam itu Meta tidur ditemani tumpukan tulisan-tulisan Islam milik Kaka Rayhan. Kayaknya Meta dapat hidayah!

 

 

Pernikahan ala teman Kak ray

1 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 312

 

-------------

Hari-hari terasa begitu cepat berlalu. Meta dan Kaka Rayhan mulai dekat lagi seperti dahulu kembali, setiap hari ada saja yang dibahas oleh mereka, kadang tentang tata Bahasa arab, seperti Nahwu dan Shorof, kadang tentang perbedaan pendapat di antara para Fuqaha, terkadang tentang perbedaan di antara empat mazhab yang berkembang hingga saat ini, yaitu Syafi’i, Malik, Hambali, dan Hanafi.

Kini tiap Ahad kami ke tempat taklim, mendengarkan ceramah umum dari Asatidz. Atau ke tempat-tempat tablig Akbar digelar. Kadang cuma Meta dan Kaka Rayhan, kadang-kadang Aku paksa Bunda dan Ayah juga ikut.

"Masa sekali aja tidak bisa, Ayah, tiap Ahad rutin bertemu relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku dengan manja.

Biasanya ayah hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"

Pernah juga Kaka Rayhan mengajakku ke acara pernikahan temannya. Meta sempat bingung juga, tidak terbayang sama sekali dengan pesta pernikahan ala teman Kak Ray ini. Soalnya saat masuk lokasi pesta pernikahan kita diarahkan menuju tempat yang berbeda, terpisah tamu laki dan perempuan, bingung, kayak orang hilang begitu deh, solusinya akhirnya kita ber SMS ria deh.

“Kak ray, aku sendirian nih,”

“Sabar ya dek Meta, Dipisah tamu karena biasanya orang kalau datang ke kondangan pasti pakai baju terbaik, makeup juga makeup terbaik. Nah itu kan bisa menyulitkan laki-laki untuk menundukkan pandangan dan wanita jadi sumber fitnah bagi laki-laki. Tujuan infishal (pemisahan laki-laki dan perempuan) ini untuk memuliakan tamu laki-laki maupun tamu perempuan. Terus juga sebenarnya untuk memuliakan mempelai wanitanya karena kan dalam keadaan berias. Jangan sampai membuat pengantin sebagai bahan tontonan banyak orang, terutama laki-laki,” papar Kak Rayhan, panjang lebar SMSnya.

Saat acara ijab akan dimulai, pengantin wanita tidak disandingkan pengantinnya, tetapi terpisah! Masya Allah, saat Kak Ray kutanya via SMS,

“Kak, acara sudah mau dimulai kan ijabnya? Ini mengapa pengantin wanitanya masih duduk di sini, tidak dibawa ke depan penghulu sih?”

“Ya dek, kan belum sah status suami istrinya.”

“Oh begitu.”

 

Pernikahan ala teman Kak ray (2)

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 311

Pernikahan ala teman Kak Ray

Sesudah selesai ijab, Meta keluar dari tempat pengantin wanita yang sedang berkumpul dengan keluarga pengantin, menuju aneka makanan yang digelar, karena MC acara mempersilahkan untuk menikmati hidangan dan acara selanjutnya pengantin laki-laki menuju ruang pengantin wanita, pengantin wanita sungkem kepada suami dan suami mengucap doa sambil menaruh tangan di kepala pengantin perempuan.

Selain tempat tamu yang dipisah, ternyata untuk makanan juga dipisah. Shahibul hajat / Si pemilik hajat menyediakan makanan terbaik dan cukup dengan jumlah tamu yang diundang karena ini adalah pesta untuk membagikan kebahagiaan dari pasangan pengantin. Satu hal yang pasti adalah tidak boleh ada alkohol ataupun makanan non halal dalam makanan yang disuguhkan.

Mata Meta memandang tempat acara yang terlihat luas. Jumlah kursi yang disediakan dalam pesta pernikahan tersedia cukup dengan jumlah tamu yang hadir. Dalam SMS yang ditujukan ke Kak Ray, meta mengomentari, “Wah ini tempat Pesta makan apa lapangan, luas banget ya Kak Ray?” 

“Sesuai sunah Rasulullah, makan dan minum sebaiknya dilakukan sambil duduk kan dek? Makanya kursi yang disediakan harus cukup, agar tamu undangan merasa nyaman saat makan atau mengobrol dengan teman-teman lain yang hadir? Makanya, standing party sangat tidak dianjurkan dalam pernikahan syar’i ini.”

“Boros banget kan kak, sewa kursi dan tendanya”

“Tidak ada salahnya kan, kita mengeluarkan bujet buat memperbanyak kursi sebagai bentuk memuliakan tamu supaya nyaman. Makanya dalam pernikahan syar’i itu, memuliakan tamu sangat dipentingkan karena tujuan resepsi dalam Islam itu salah satunya sebagai bentuk rasa syukur dengan mengundang tamu dan memuliakan mereka dengan kenyamanan dan fasilitas yang kita berikan dalam acara itu,” jelas Kak Rayhan.

“Kak Ray, pengantin wanitanya di sini biasa saja loh, sederhana banget riasannya,”

“Salah satu pembeda dari pernikahan syar’i itu kan dari tampilannya. Dalilnya jelas, tidak boleh mencukur alis dan pakai bulu mata palsu. Juga tidak boleh tabarruj (berlebihan dalam menampakkan kecantikan), tidak boleh kelihatan ‘manglingi’ karena tampak sangat berlebihan,” ungkap Kak Rayhan.

 

Pernikahan ala teman Kak ray (3)

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 312

Pernikahan ala teman Kak Ray

“Salah satu pembeda dari pernikahan syar’i itu kan dari tampilannya. Dalilnya jelas, tidak boleh mencukur alis dan pakai bulu mata palsu. Juga tidak boleh tabarruj (berlebihan dalam menampakkan kecantikan), tidak boleh kelihatan ‘manglingi’ karena tampak sangat berlebihan,” ungkap Kak Rayhan.

“Iya kak, bajunya juga biasa, tidak ketat, jilbabnya menutupi dada.”

Saat meta mendekat menuju pelamin khusus wanita, Ucapan untuk pengantinpun kebanyakan menggunakan kalimat atau doá ini,

“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jama’a bainakumaa fii khoir.” Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan. Dipisah antara tamu lelaki dan perempuan, membuat tamu perempuan hanya memberikan ucapan doá pada pengantin perempuan dan sebaliknya juga begitu. Dalam perjalanan pulang, baru Kaka Rayhan memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran, harus Islami dan semacamnya. dia juga memberi warning agar Meta tidak mengulangi ulah mengintip tempat laki-laki dari tempat perempuan! nyengir kudalah aku dibuatnya.

Tampaknya Kaka Rayhan mulai senang pergi denganku. Soalnya Meta mulai bisa diatur. Pakai baju sudah mau menggunakan yang sopan, pakai rok panjang, tertawa tidak cekakak an.

"Coba pakai jilbab, Met!" pinta Kaka Rayhan suatu ketika.

"Loh, rambut Meta kan udah tidak pendek! Lagian belum mau deh!"

Kaka Rayhan tersenyum. "Meta lebih anggun kalau pakai jilbab dan lebih dicintai Allah. Seperti Bunda".

Memang sudah beberapa hari ini Bunda berjilbab. Gara-garanya dinasehati terus sama si Kaka, di belikan buku-buku tentang wanita, juga dipanas-panasi sama teman-teman pengajian beliau.

" Meta mau, tetapi tidak sekarang...," kataku.

"Itu bukan halangan." Ujar Kaka Rayhan seolah mengerti jalan pikiranku.

Aku menggelengkan kepala. Heran, Bunda yang wanita karier itu kok cepat sekali terpengaruh sama Kaka Rayhan!

"Ini hidayah, Meta!" kata Bunda. Ayah yang duduk di samping beliau senyum-senyum.

"Hidayah? Perasaan Meta duluan deh yang dapat hidayah baru Bunda! Meta pakai rok aja udah hidayah!"

"Lho?" Kaka Rayhan bengong.

 

Metamorfosis kepompong menjadi kupu-kupu

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 376

-------------

Dengan penuh kebanggaan, kutatap lekat wajah Kaka Rayhan. Gimana tidak bangga? Dalam beberapa bulan ini, Meta menyaksikan sendiri, layaknya sebuah metamorfosis, kini si kepompong sudah menampakan jati diri sebagai kupu-kupu, ada banyak hal yang telah diperbuat Kak Ray dan kawan-kawan, ada mendirikan TPQ untuk anak usia anak-anak tiap sore, kajian remaja yang dilaksanakan pekanan, tiap jumát sore. Dan hari ini, mengadakan acara Studi Tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Kaka Rayhan menjadi salah satu pembicaranya! Meta yang berada di antara ratusan peserta ini rasa-rasanya ingin berteriak,"Hei, itu kan Kaka Rayhan-ku!"

Kaka Rayhan tampil tenang. Semua hening mendengar kak Ray bicara. Meta juga. Kaka Rayhan fasih mengeluarkan dalil yang diambil dari ayat-ayat Al-al quran dan Hadits Rasul. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Meta sempat bingung lho, kok Kaka Rayhan bisa sih? Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kiai-kiai kondang atau ustaz tenar yang biasa kudengar!

“Nabiina Muhammad adalah utusan yang paling akhir Allah. Allah membimbing tindakan Nabiina Muhammad, baik pribadi maupun ketika berada di hadapan umum. Seharusnya tiap muslimah mengagumi Nabiina dengan meniru tindakannya sepenuhnya ke dalam kehidupan praktis mereka sendiri,” ucap kak Ray dengan bersemangat.

"Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosamu," (Alquran Surah Al Imran 3 ayat 31).

“Allah akan mencintai seorang mukmin, laki-laki atau perempuan bergantung pada tingkat di mana ia mencintai dan menaati Nabi Muhammad. Ini berarti ummat muslim harus menunjukkan cintanya kepada Nabi dengan menerapkan kebiasaan dan kepribadian Nabiina ke dalam gaya hidup sehari-hari, betul tidak?” seru kak Ray.

“Betuuuul,” seru jamaáh hampir berbarengan menjawab.

“Di masa Nabiina, para sahabat mengikuti secara otomatis dan sepenuh hati. Lihatlah sekarang, zaman telah berubah, dan mengikuti sunnah nabiina dalam kehidupan sehari-hari secara berangsur-angsur menjadi tantangan bagi muslimah masa kini. Tantangan yang dihadapi Muslimah Era milenial diantaranya, kemajuan dalam sains, penerbangan, teknologi, dan industrialisasi yang telah membuat hidup serba cepat dan sibuk, ada beberapa dari mereka pemilik industri, menginginkan muslimah memakai pakaian yang simple dan ringkas menurut mereka, namun lihatlah apa yang telah tertulis dalam surat Al Ahzab ayat 59, Allah SWT memerintahkan kaum wanita untuk menutup aurat dengan jilbab untuk melindungi hambaNya. Tujuannya adalah menjaga kehormatan dan keselamatan diri para wanita saat beraktivitas,” ujar kak Ray dengan semangat menggebu.

 

Kemana Kak Rayhanku

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 316

-------------

Beberapa hari lagi ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, Meta mampir ke rumah Marwa.

“Assalamuálaikum kak Marwa, kak Safna?”

“Waálaikumussalam warohmatulloh Meta, sini masuk, bunda lagi di dapur tuh,”

“Kebetulan, sekalian ambil minum, haus banget nih,”

“Ada apaan tumben siang-siang sudah sampai sini,”

“Kak marwa, Meta diajarkan cara pakai jilbab yang rapi dong,”

“What … Alhamdulillah, Metaaaa…” jawab Marwa sempat histeris juga. Kak Safna senang dan berulang kali mengucap hamdalah.

“Aku mau ngasih kejutan buat Kaka Rayhan!Nanti aku sama Bunda bisa couplean, yeeeyy,”

Nanti sore rencana Meta akan mengejutkan Kaka Rayhan. Meta akan datang ke kamarnya memakai jilbab putih.

Kubayangkan dia akan terkejut gembira, memelukku. Apalagi Meta ingin Kaka Rayhan yang memberikan ceramah pada acara tasyakuran yang insya Allah mengundang teman-teman dan anak-anak panti yatim piatu dekat rumah kami.

"Kaka Ikhwan!! Kaka Rayhan! Kaaak! Assalaamu’alaikum!" kuketuk pintu kamar Kaka Rayhan dengan riang.

"Kak Rayhan belum pulang," sahut Bunda sambil mengulek bumbu nasi goreng.

"Yaaaaa, ke mana sih, Ma? Aku kan mau kasih kejutan buat kak Ray," keluhku, mataku seketika melihat ke lantai, bibirku melengkung membuat kerutan cemberut.

"Kan diundang ceramah di Bogor. Kata kak Ray tadi langsung berangkat dari kampus, sabar ya Met..."

"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Ahad kan suka nginep di rumah temannya, atau di Masjid tuh ..."

"Insya Allah tidak. Kan Kak Rayhan inget ada janji sama Meta hari ini," hibur Bunda menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa Meta kangen sekali dengan Kaka Rayhan. "Eh, jilbab Meta berantakan tuh!" Bunda tertawa.

Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Bunda.

-------------

Sudah lepas Isya. Kaka Rayhan belum pulang juga.

"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh..." hibur Bunda lagi.

Tetapi detik demi detik, menit demi menit berlalu. Sampai jam sepuluh malam, Kaka Rayhan belum pulang juga.

"Nginap barangkali, Ma?" duga Ayah, tangannya meraih tangan Bunda, mencoba menenangkan.

Bunda menggeleng lemas. "Kalau mau nginap Kaka Rayhan selalu bilang, Pa!"

 

Kemana Kak Rayhanku (2)

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 353

-------------
Jarum jam terus berputar, detik demi detik, menit demi menit berlalu. Sampai jam sepuluh malam, Kaka Rayhan belum pulang juga.
"Nginap barangkali, Ma?" duga Ayah, tangannya meraih tangan Bunda, mencoba menenangkan.
Bunda menggeleng lemas. "Kalau mau nginap Kaka Rayhan selalu bilang, Pa!"
Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Meta berharap Kak Rayhan segera pulang dan melihatku memakainya.
"Kriinggg!" telepon berdering.
Ayah mengangkat telepon. "Halo, ya betul. Apa? Rayhan?" 
"Ada apa, Pa?" tanya Bunda cemas.
"Rayhan..., kecelakaan..., Rumah Sakit… Islam...," suara Ayah melemah. 
"Kak Rayhan!" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Meta dan Bunda menangis berangkulan. Jilbab kami basah.
Perjalanan menuju RSI terasa begitu lama, Meta melihat airmata tak henti mengalir membasahi pipi Bunda.
Ayah terlihat lebih tua dari umurnya yang sebenarnya, dengan mata tua dan lelahnya menerawang menatap atap mobil taruna yang dikendarai sang sopir, karyawan di kantor Ayah.
-------------
Derap langkah Meta, Bunda dan Ayah menuju ruang IGD semakin cepat. Hingga langkahnya terhenti di luar kamar kaca yang bertuliskan IGD, kulihat tubuh Kak Rayhan terbaring lemah. tangan, kaki, kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar, sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Kak Rayhan. Teman Kak Rayhan tewas seketika, sedang kondisi Kak Rayhan kritis.
Dokter mendekat menemui Ayah melaporkan keadaan terakhir Kak Ray.
"Dok, saya Meta, adiknya, Dok! Izinkan saya masuk, Kaka Rayhan pasti mau lihat saya pakai jilbab iniii!" rajuk Meta memegang ujung baju Dokter kak Ray.
Bunda dengan lebih tenang merangkulku, "Sabar, Sayang..., sabar."
Di pojok ruangan ayah tampak serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Kaka Rayhan. Wajah mereka suram.
"Suster, Kaka Rayhan akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Ayah, Kaka Rayhan bisa ceramah pada syukuran Meta kan?" air mataku terus mengalir.
Tidak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding putih rumah sakit. 
"Kaka Rayhan, sembuh ya, Kakak, Kakak Rayhan, Meta udah jadi adik Kaka yang manis. Kakak Rayhan," bisikku.
Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit Islam Sekitar ruang ICU kini telah sepi, suara jangkrik menemani pasien.

 

 

Kecelakaan

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 370

-------------

Tiga jam kemudian kami masih berada di RSI. Didepan ruang ICU tepatnya, kini telah sepi.

“Apa yang terjadi?” ucap Kak Ray dalam hati. Sudah bisa mendengar tetapi Kak Ray tidak bisa membuka mata lebar lebar.hanya berupa penglihatan kabur seperti berkabut,dan akhirnya Kak Raypun lebih memilih memejamkan mata dan tak sadar lagi.

Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Kaka Rayhan..., Meta, Bunda dan Ayah butuh kaka, umat juga."

Sadar kedua saat pagi menjelang, di jari Kak Ray sudah terpasang alat penjepit yang tidak diketahui namanya, alat ekg yang tersambung di dada Kak Ray, slang napas yang di masukan ke tenggorokan Kak Ray, kaki dan tangan yag diikat ke ranjang. Kak Ray tidak bisa berontak karena tidak memiliki tenaga sama sekali untuk melawan. Hanya pasrah saja. Kak Ray menyentakan tangan ke ranjang menimbulkan bunyi ‘tek ... tek ... tek” alat pendeteksi jantung berbunyi. Tak berapa lama para perawat pun datang. Kak Ray bisa mendengar, beberapa menit kemudian Kak Ray sadar bahwa ternyata tangan kaki diikat, tak bisa bicara, tak bisa bergerak, kedinginan. Kak Ray melakukan hal yag sama mengetukan jempol yag dijepit alat yang tidak tau namanya ke ranjang. Hingga menimbulkan berisik.

“Ahh ...”  Kak ray melenguh pelan, berusaha mengerjapkan mata, menutupi cahaya yang menyilaukan mata. Pandangan sepertinya kabur, beberapa kali matanya mengerjap, namun terlihat bahwa ada sesosok di angsana. Seseorang yang tampak seperti dokter dan perawat menghampiri. Dokter yang menangani, datang bersama perawat, lalu Kak Ray ditanya. ’mengapa?”

“Bunda, Ayah, Me…” suaranya terputus melemah.

Tak lama dokter Pram yang menangani Kaka Rayhan menghampiri kami. “Pasien sudah sadar dan memanggil nama Bunda, Ayah, dan Me..."

"Meta" suaraku serak menahan tangis.

"Pergunakan waktu yang ada untuk mendampingi seperti permintaannya. Sukar bagi Ray untuk bertahan. Maafkan saya, lukanya terlalu parah," ucapan dokter Pram mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!

"Kakak..., ini Meta, Kakak...," sapaku berbisik.

Tubuh Kaka Rayhan bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.

Kudekatkan wajahku kepadanya. " Meta sudah pakai ... jilbab," lirihku. Ujung jilbabku yang basah  kusentuhkan pada tangannya.

Tubuh Kaka Rayhan bergerak lagi.

"Zikir..., Kaka,’ suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat wajah Kaka Rayhan yang separuhnya tertutup perban. Wajah itu begitu tenang...

"Me... ta..."

Kudengar suara Kaka Rayhan! Ya Allah, pelan sekali! " Meta di sini, Kakak..."

Perlahan kelopak matamya terbuka.

 

Kepergian kak Ray

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 377

-------------

Aku tersenyum. "Meta... udah pakai... jilbab...," kutahan Amirku.

Memandangku lembut, Kaka Rayhan tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdalah.

"Tidak usah bicara apapun dahulu, Kakak...," ujarku pelan ketika kulihat kak Ray berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Bunda dan Ayah memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki oleh banyak orang. Dengan sedih Meta keluar. Ya Allah..., sesaat kulihat Kaka Rayhan tersenyum. Tulus sekali!

Tak lama Meta bisa menemui Kaka Rayhan lagi. Dokter mengatakan Kaka Rayhan tampaknya menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Kaka Rayhan makin pucat. tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak.

Kuusap setitik lagi airmata yang jatuh. "Sebut nama Allah, perbanyak dzikir Kak," kataku sambil menggenggam tangannya. Meta sudah pasrah pada Allah. Meta sangat menginginkan Kaka Rayhan terus hidup. tetapi sebagai insan beriman, seperti juga yang diajarkan Kaka Rayhan, Meta pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Kaka Rayhan.

"Laa...ilaaha...illa...llah..., Muham...mad...Ra....sul...Al….lah...," suara Kaka Rayhan pelan, namun tidak terlalu pelan untuk kami dengar.

Kaka Rayhan telah kembali pada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya.

Aku menatap tubuh yang terbujur kaku tak bernyawa dan dingin itu. Bunda dan Ayah juga. Kami rela dia pergi.

Selamat jalan, Kaka Rayhan!

Buat ukhti manis Meta Arrashifah, baarakallah fi umriik ukhti wa kun marátushshalihah, Semoga memperoleh umur yang berkah, Dan jadilah muslimah sejati, Agar Allah selalu besertamu. Peluk Sayang,

Kaka Ikhwanmu, Kaka Rayhan!

Kubaca berulang kali kartu ucapan Kaka Rayhan. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku.

Gamis dan jilbab biru muda, manis sekali. Akh, ternyata Kaka Rayhan telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Meta tersenyum miris.

Kupandangi kamar Kaka Rayhan yang kini lengang. Meta rindu panggilan Adik kaka tersayang, Meta rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Kaka Rayhan melantunkan   kalam Ilahi yang selamanya tiada kudengar lagi. Puisi-puisi yang seolah bergema di ruang ini...

Setitik air mataku jatuh lagi.

"Kaka, Meta akhwat bukan sih?"

 "Ya, Insya Allah akhwat!"

"Yang bener?’

"Iya, Adik kaka tersayang!"

"Kalau ikhwan itu harus ada jenggotnya, ya?"

"Kok nanya begitu?"

"Lha, Kaka Rayhan ada jenggotnya!”

"Ganteng kan?"

"Uuu! Eh, Kaka, kita kudu jihad, ya? Jihad itu apa sih?"

"Ya always dong! Jihad itu... "

Setetes, dua tetes, air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan, Kaka Ikhwan! Selamat jalan, Kaka Rayhan!

Kehilanganmu

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 325

Detik-detik kehilangan itu kembali menyeruak. Lirih namun sungguh perih dihati Meta. Kepingan demi kepingan kenangan perlahan meminta ingatan untuk mencumbu lagi. Sesuatu yang tak pernah disangka, menyisakan luka yang sangat dalam di hati Meta.

Kak Rayhan,

Apa kabar kak Ray disana? Baik-baik saja kan? Nasihat, kasih sayang dan cinta yang selama hidup tak pernah lelah selalu Kak Rayhan berikan untukku, akan menjadi harta yang mengabadi di tiap langkah kecil ini. Meta hanya ingin bilang “Aku bangga bisa menjadi adikmu.”

Kak Rayhan,

Masih kupegang janji di hari terakhir kita bertemu. Pagi yang sangat mendung, yang tak pernah kusangka kadomu akan menjadi kenangan terakhir bagiku. Sama sekali aku tak pernah mengira ajakan mengaji kak Ray akan menjadi cerita yang mengalirkan air mata. Nasihat demi nasihat yang kak Ray beri dengan nada lembut itu sama sekali tak terbayang akan menjadi wejangan terakhir untukku.

Kepingan demi kepingan ingatan Meta, saat kak Ray memberinya perhatian dan curahan kasih sayang tiba-tiba bermunculan satu per satu bagaikan kepingan mozaik.

“Hati-hati di jalan! Jangan ngebut!”

"Meta lebih anggun kalau pakai jilbab dan akan lebih dicintai Allah. Seperti Bunda".

“Sesuai sunah Rasulullah, makan dan minum sebaiknya dilakukan sambil duduk kan dek?”

"Bukankah Rasulullah itu adalah uswatun hasanah? Teladan terbaik?" kata Kaka Rayhan sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya, Adik kaka tersayang!?"

"Meta, adik tersayang kaka, karena Kaka menghargai Salma makanya Kaka begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada amat sabar. " Meta lihat khan orang Sunda salaman? Santun seperti ini, walau tidak sentuhan. Itu yang lebih benar!" ujar Kak Rayhanku sambil mempraktikan gaya orang sunda bersalaman.

Kalimat ini tak pernah absen mengawali perjalananku menuju kampus. Aku bahkan sangat hafal apa saja yang akan Kak Rayhan nasihatkan. Tahu nggak, Kak? Sungguh, aku sangat merindukan itu semua. Kekhawatiran yang selalu Kak Rayhan ungkapkan setiap kali aku ke kampus hingga larut dan harus pulang malam saat mengerjakan tugas. Aku rindu semua kekhawatiran itu.

“Jangan pernah makan yang pedas-pedas lagi! Kalau Meta sakit, nggak ada yang nganterin ke dokter.”

Kehilanganmu (2)

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 325

 

Masih ingat nggak dengan kalimat itu, saat malam-malam kita makan bakso? Ah, aku masih saja membantahmu. Karena aku tahu ada Kak Rayhan yang akan sangat peduli dengan kesehatanku. Aku sama sekali tak pernah mengira jika Kak Rayhan akan pergi keesokan harinya. Malam itu ketika hujan mengguyur kota dengan sangat lebatnya,penuh ketulusan Kak Rayhan menerobosnya untuk membelikanku bakso. Mana ada kakak sehebat itu selain Kak Rayhan? Bagiku, Kak Rayhan adalah kakak nomor satu di dunia. (Ya, memang hanya kak Ray, saudaraku satu-satunya)

Kak Rayhan,

Aku tahu Kak Rayhan pasti merasakan betapa perih itu bagai sayatan yang mengiris hatiku, saat Meta mengingatmu. Kak Rayhan yang tak pernah mengeluh mengantarku kemana saja. Kak Rayhan yang tak pernah protes ketika mendengarkan semua ceritaku. Kak Rayhan yang selalu memberiku semangat untuk terus berjuang menggapai harapan dan Kak Rayhan yang selalu berusaha untuk mewujudkan semua impian-impianku.

Baju gamis warna biru muda ini menjadi gaun terakhir yang Kak Rayhan hadiahkan di hari ulang tahunku, sehari sebelum Aku ulang tahun, sebelum Kak Rayhan pergi. Kak Rayhan bahkan sampai merelakan waktu tidurmu demi mencari dan memilih sendiri semua itu. Aku suka, sangat suka dengan selera baju pilihanmu. Kak Rayhan sangat memahamiku, lebih dari yang lain.

Kak Rayhan,

Aku rindu, sangat merindukanmu.

Saat malam-malam seperti ini, biasanya Kak Rayhan selalu membuatkanku segelas cokelat hangat. Mengantarkannya bersama beberapa camilan ringan untuk menemaniku menulis, menyelesaikan deadline skripsiku.

 

“Tidurnya jangan terlalu malam! Jangan kecapekan, jaga kesehatan!”

Nasihat itu yang selalu Kak Rayhan katakan setiap kali melihatku begitu konsentrasi di depan laptop.

Kak Rayhan,

Kali ini menjadi kenyataan yang pertama dimana aku nggak bisa memberikan kado di hari ultahmu. Kak, kado itu masih aku simpan meski Kak Rayhan nggak pernah membukanya, nggak akan pernah.

Oh ya, aku juga punya titipan rindu untuk Kakek.

Kakek pasti sangat menyayangimu, Kak Ray. Tepat saat setahun kepergian Kakek, Kak

 

Ghuluw

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 376

 

Kak Rayhan,

Kali ini terjadi kenyataan yang pertama dimana aku nggak bisa memberikan kado di hari ultahmu. Kak, kado itu masih aku simpan meski Kak Rayhan nggak pernah membukanya, nggak akan pernah.

Oh ya, aku juga punya titipan rindu untuk Kakek.

Kakek pasti sangat menyayangimu, Kak Ray. Tepat saat setahun kepergian Kakek, Kak

Kak Rayhan,

Kini aku mengikuti jejakmu, berharap dengan aku hadir dalam Majelis Taklim yang biasa dihadiri olehmu, aku masih bisa mencium aromamu, melihat kelebatan bayangmu, dan aku ingin mengikuti jejakmu mencari ilmu yang bermanfaat utuk bekal masadepanku.

Kak Rayhan,

Ada titipan puisi untuk kak Ray dari Salma  Kak Rayku, itu temanku yang naksir kak Ray, tapi kak Ray tidak mau sat di ajak jabat tangan itu loh kak, kak Ray jahat tahu nggak? Salma nangis dan pingsan saat pemakaman kak Ray tahu!

Ini Puisinya kak, Meta bacakan ya?

Dunia kita tak lagi sama kak Ray…

Salma terbujur dalam sepi dan menanti untuk bertemu dirimu

Namun entah kapan kita bisa ketemu kembali

Dan bersama lagi seperti sedia kala

Aku sangat merindukan dirimu

Senyummu dan canda tawamu

Yang dahulu selalu menghiasi hari-hari’ku dengan ceria…

Namun…

Tuhan berkehendak lain

Kita berpisah untuk selama-lamanya

Hanya sebongkah nisan yang tertulis nama kak Ray

Dan hati salma berkecamuk tak menentu…

Dalam ruangan kosong dan hampa

Aku terduduk di bangku yang pernah kak Ray duduki itu

Hati Ku menahan isak dan tangis

Dan berderai air mata yang terjatuh bergelimpangan

Oh… kak Rayku

Apakah kak Ray rindu kepadaku

Seperti aku yang merindukanmu disini

Namun mengapa kesedihan ini datang kepadaku

 

Kak Rayku…

Seperti apakah duniamu sekarang?

Aku hanya selalu berdo’a kepadamu

Agar kau selalu bahagia dan tenang disana

Dan Tuhan selalu menjagamu dengan baik…

 

Begitu kak Ray, bunyi puisinya.

Kak Rayhan,

Semoga rindu yang aku titipkan pada Allah senantiasa sampai padamu, juga Kakek.

 

Allah, terima kasih karena telah memberiku seorang kakak terhebat …

 

            Meta merasa sedang dilihat oleh kak Ray, setelah membuat goresan pena tentang perasaannya yang masih terpuruk dalam diary. Kak Ray mendekat padaku, dan bicara, “Ghuluw, jangan terlalu ghuluw adik kaka tersayang, kak Ray yang susah disini,” ucap kak Ray lembut.

“Ghuluw itu apa kak?” sahut Meta dengan ekspresi ketidak tahuannya.

“Masih belum tahu, makanya ngaji!”  

Meta kaget dengan ucapan itu, mata Meta mengerjap menyadari dirinya mimpi bertemu kak Ray.

 

Ghuluw (2)

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 339

 

Ghuluw itu apa?

Meta terbangun dari tidurnya, termangu mengingat mimpinya, serasa pernah mendengar kata ghuluw tetapi tidak mengingat di mana, kapan kak Ray pernah mengucap kosa kata itu. Meta menghampiri android, searching di goog*e, jarinya menari menuliskan kata ghuluw, dan beberapa detik muncul aneka makna ghuluw, tergugu dan termangu, airmata menetes ke pipi, mencoba mengerti apa yang diinginkan kak Ray, ternyata makna ghuluw adalah sesuatu berlebih-lebihan.

“Kak Ray, apakah apa yang sudah meta lakukan, semenjak kak Ray pergi tampak berlebihan dimatamu, baiklah, aku akan lebih giat mengaji seperti mau kak Ray, cukup sudah berkabungnya dan meta harus melangkah membuktikan pada kak Ray, kesuksesanku sebagai seorang Muslimah,” ucap meta lirih, sambil mengusap airmata.

--------------------------

Hari-hari meta dilalui dengan membaca semua buku peninggalan kak Ray, sehingga suatu saat dalam kegiatan diskusi, meta mengungkapkan pendapatnya.

“Satu hal yang meta simpulkan dari kelompok-kelompok itu! Masing-masing aliran itu menuntut agar umat pengikutnya memberikan sesuatu untuk kelompok. Lihatlah, Ikhwanul Muslimin meminta suara umat pengikutnya untuk memenangkan pemilu. Jama’ah tablig mengharuskan umat pengikut untuk hidup berhari-hari di jalanan. Mau atau kamu tidak mau, kamu harus duduk khusyu’ di depan kuburan jika bergabung bersama kamu Sufi”, kata meta penuh semangat.

Meta melanjutkan,” Namun berbeda sangat! Setelah meta mengenal sunah, Manhaj Salaf,apa yang dituntut? Meta tidak dituntut agar memberikan apa-apa untuk Ahlus sunah! Belajarlah agama untuk kepentingan meta sendiri! salat, puasa dan beribadahlah untuk kebaikan meta sendiri! Engkau berdakwah? Itu bukan karena dakwah membutuhkan kita, tetapi kita loh yang membutuhkan dakwah!”

“Apakah meta pernah menangis bahagia ketika mengenal manhaj Salaf?” tanya marwa, sahabat meta. Meta menjawab dengan bercerita tentang zikir pagi yang biasa meta baca,

?????????? ??? ???????? ??? ???? ???????? ???????? ????????? ??? ??????? ????? ?????? ?????????? ?????? ?????????

 

“Ya Allah,setiap nikmat yang aku rasakan di pagi ini, hanyalah berasal dari-Mu semata. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Maka segala puji dan syukur hanyalah untuk-Mu”[1]

“Setiap meta membaca zikir di atas, meta merasa yakin bahwa nikmat terbesar dalam hidup meta adalah mengenal kajian sunah ini, mendekap manhaj Salaf”, kata meta mengakhiri kisah. Kisah panjang meta itu mengundang banyak tanggapan dari peserta.

 

 

Berkunjung ke rumah Marwa

0 0

 

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 345

 

“Akhwati fillah, setiap meta membaca zikir di atas, meta merasa sangat yakin bahwa nikmat terbesar dalam hidup meta adalah mengenal kajian sunah ini, mendekap manhaj Salaf, meski meta sendiri mengakui, meta masih berada dalam tahap memperbaiki diri secara step by step,” ucap meta mengakhiri kisah. Kisah panjang meta itu mengundang banyak tanggapan dari peserta diskusi.

 Kata penutup indah yang disampaikan meta dalam pertemuan diskusi itu adalah :

“Selalu ingatlah dengan kata Mutiara yang satu ini, meta suka karena sangat memotivasi dikala meta merasa terpuruk, yaitu Man jadda wajada. Barangsiapa bersunggguh-sungguh, pasti dia akan memperoleh yang dicari” Dan kata mutiara yang satu ini juga bagus,

“Man bahatsa amsaka. Barangsiapa mencari, niscaya dia akan merengkuhnya”

“Akhwati fillah ,Lan ya’rifa ahadun qadral halaawah illa man jarrabal maraarah. Ingatlah akhwati fillah, tidak ada seorangpun yang benar-benar bisa menilai dengan nilai “manis” kecuali dia pernah merasakan “pahit”. Namun,yang terpenting dan utama dari itu semua, adalah petunjuk yang ada dalam pedoman ummat islam yaitu yang ada dalam firman Allah Ta’ala ;

??????????? ????????? ?????? ????????????????? ????????? ??????? ????? ?????? ??????????????

Akhwati fillah, ayat ini mempunyai arti, Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar- benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69)

Meta teringat tentang sebuah malam di Masjid, ada seorang Ibu berpenampilan rapi terlihat begitu antusias di dalam kajian Islam selepas magrib hari itu. Dengan ditemani Marwa, seorang sahabat dekat meta dari kecil, mengalirlah perbincangan di antara kami. Meta, Marwa dan Ibu itu.

“Akhirnya Hanun menemukan apa yang hanun cari-cari selama ini, Ustadzah”, ujar Ibu hanun sambil menundukan muka. Secara ringkas, Ibu hanun itu bercerita tentang latar belakangnya sebagai seorang guru yang hobby seni, menghantarkan bu Hanun menjadi seorang dosen seni di sebuah universitas negeri di kota Jakarta. karier mentereng di dunianya. Bu Hanun sempat menyatakan,” Teman-teman banyak yang berpandangan ateis. Tidak meyakini keberadaan sang Khalik. Awalnya Hanun terbawa oleh pandangan tersebut.

“Eh, jangan sebut meta ustadzah bu Hanun, karena meta masih nyantri di PPTQ, itu juga baru beberapa tahun ini, setelah kak Rayku meninggal,” sahut meta sendu.

Berkunjung ke rumah Marwa (2)

0 0

#SarapanKataKMOBatch40

#Kelompok19_ForgetMeNot

#JumlahKata_329

 

“Eh, jangan sebut meta ustadzah bu Hanun, karena meta masih nyantri di PPTQ, itu juga baru beberapa tahun ini, setelah kak Rayku meninggal,” sahut meta sendu. “Hari ini meta sedang berkunjung ke Masjid keluarga Marwa, kebetulan Ustadzah yang mengisi tidak bisa hadir, untuk mengisi kekosongan, Marwa menyuruhku untuk berbagi kisah, agar bisa diambil ibrahnya saja.”

“Ya nggapapa, aku melihat Ustadzah meta ini anggun dan pantas menjadi ustadzah. Sebenarnya seperti us meta yang kehilangan kaka kandung, aku kini sedang merasakan kegalauan dan kegelisahan”. Ibu Hanun itu bercerita tentang usahanya yang tidak pernah kenal lelah untuk menemukan solusi untuk penawar gelisahnya. Mencari dan terus mencari. Banyaknya aliran sempalan, perbedaan pendapat antar tokoh di dalamnya, justru menambah semangat bu Hanun untuk terus mencari.

“Nah, akhirnya Hanun bertemu dengan Us Marwa di masjid kampung, Ustadzah. Hanun mulai sedikit-sedikit merasakan apa yang selama ini telah hilang dari diri Hanun”, kata Ibu Hanun itu.

Meta mendengarkan curahan hati Ibu Hanun, setelah diamati, di manakah titik kulminasi kegelisahan bu Hanun? Yaitu ketika bu Hanun, dengan dasar ilmu seni yang dimiliki, mengagumi keindahan alam semesta. Merenungkan keteraturan angkasa raya ini.” Keteraturan yang maha sempurna ini tentu membuktikan bahwa di sana ada zat yang mengaturnya kan?”, kata Ibu itu penuh semangat.

Subhaanallah, Walhamdulillah, allohu akbar! Kegelisahan telah menghantarkan bu Hanun ke Manhaj Salaf. Sebuah hasil pencarian. Perjalanan spiritual untuk meraih cinta Ar Rahman.Semoga Allah memberkahi bu Hanun.

Meta tiba-tiba mengingat kepada sosok sahabat sederhana dari kecil yaitu Marwa di Jakarta. Perjalanan yang Marwa tempuh hingga akhirnya merasakan indahnya Manhaj Salaf terbilang berliku- liku. Profesi di bidang desain grafis Marwa tinggalkan karena tak bisa lepas dari gambar makhluk bernyawa. Sebuah keputusan yang makin memperuncing konflik di dalam keluarga Marwa, meski mendirikan Masjid, namun masih belum menerima pemahaman Marwa.

Suami Ibu hanun menentang saat Ibu Hanun mulai memanjangkan jilbabnya. Cekcok adalah santapan sehari-hari. Cerita-cerita yang ibu Hanun sampaikan kepada Meta memang menegangkan lagi mengharukan. Bahkan, Suaminya pernah lari menghilang.

“Masya Alloh, Astaghfirulloh, Subhaanallah!” ucap Meta dengan lirih dan berulang kali.

 

Berkunjung ke rumah Marwa (3)

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Junlah Kata 316

Pikiran Meta melayang ketika kak Ray berkata, “Meta, kamu lihat di akhir zaman nanti, orang yang mengamalkan ajaran agama itu, bagaikan menggenggam bara api, dan akan selalu diuji, Apakah dia jujur? Apakah dia bersungguh-sungguh? Apakah dia mudah putus asa? Cepat menyerah? Untuk menguji kita, seberapa besarkah rasa cinta Nya kepada Allah?”

-------------

Hari masih begitu pagi, saat Ibu Hanun mengetuk pintu rumah. Embun pagi belum lagi mengering, Fajar malam belum terhapus bersih oleh siang. Pasti ada sesuatu yang sangat penting, pikir Meta saat itu. Sambil menikmati sejuknya pagi, Ibu Hanun terlibat perbincangan yang serius. Iya, di teras depan rumah Meta. Ibu Hanun tumpahkan semua jeritan hatinya. dia curahkan endapan rasa dari hatinya. Hampir saja dia putus asa untuk membujuk Suaminya. Menyedihkan!

“Begini, bu Hanun. Setiap proses pasti membutuhkan waktu. Coba bu Hanun jawab pertanyaan Meta,” Berapa tahun yang bu Hanun butuhkan untuk berubah semacam ini? Sampai Bu Hanun benar-benar menerima Manhaj Salaf sepenuh jiwa? Lama kan? Bertahun-tahun kan?”, Meta mengajaknya untuk berpikir tenang. “Seringkali kita dikuasai oleh sikap egois. mengapa egois? Untuk bu hanun sampai dalam tahap seperti ini, membutuhkan waktu lama, maka wajar jika keluarga kita ajak, seolah kita “memaksakan” kebenaran kepada Anak-anak, Suami untuk menjadi Salaf.

“Semua membutuhkan waktu, bu Hanun. Ibu mesti bersabar! Kesankan dan hidupkan kesan di dalam hati Suami bahwa setelah menjadi Salaf suami bu Hanun akan bertambah bahagia, nyaman dan tenteram!”, pesan Meta.

“Subhaanallah! Ya muqollibal qulub. Hati manusia itu mudah berubah, pagi bilang tahu, sore tempe, tapi ingatlah Allohlah yang mampu menggerakkan hati manusia, maka kita harus minta agar hati keluarga bu Hanun untuk terus dilembutkan menerima hidayah.”

Waktu terus berjalan dan di beberapa bulan kemudian, bu Hanun menyampaikan,” Alhamdulillah, Ustadzah. Suami sudah mau memelihara jenggot.”

Beberapa bulan kemudian, dia bercerita kalau Suami sudah mau diajak ngaji. Dan, sebelum Meta berangkat ke Yaman, sahabat Meta ini telah menyewa sebuah rumah sederhana di lingkungan Salaf bersama Suami dan anak-anaknya. Walhamdulillah

 

Meta dilamar

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Jumlah Kata 305

Pagi ini Meta berhenti sejenak pada ayat ke-39 di dalam surat Al an’am.

Sangat indah! Menenangkan hati sekaligus menghadirkan kecemasan. Hati menjadi tenang karena ayat tersebut sangat menghibur mereka yang telah berjuang menyuarakan al hak, menyerukan

manhaj Salaf, namun berakhir dengan penolakan. Di kesempatan yang sama, ayat ini pun menghadirkan kecemasan, apakah kita mampu bertahan di atas cahaya hidayah sampai napas terakhir besok? Melalui ayat tersebut,Allah berfirman,

??? ?????? ????? ?????????? ????? ?????? ?????????? ????? ??????? ????????????

Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk mendapat petunjuk), Niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus. (QS. 6:39

Meta terdiam, memory berputar saat kak Ray mengingatkan kepada meta tentang hal yang senada dalam acara Kajian Remaja.

“Akhwati fillah, entah itu memberikan petunjuk atau menyesatkan, itu adalah hak mutlak milik Allah. Semua ketetapan Nya pasti di atas hikmah dan keadilan. Al Fadhlu lillahi wahdah. Namun ya akhwati fillah, Allah tidak membiarkan umat manusia begitu saja. Jalan-jalan hidayah telah diterangkan secara sempurna oleh pesuruh-pesuruhNya. Manusia diberi kemampuan melihat, mendengar, mencerna, mengolah dan berpikir. Tanda-tanda kebesaran Nya jelas sekali terlihat di alam semesta ini. Baik itu Ayat syar’iyyah maupun ayat kauniyyah!” ucap kak Ray dengan mode semangat.

“Akhwati fillah, bagaimana dengan kita? Mampukah kita tetap istikamah di jalan Allah sampai akhir hayat nanti? Ya Allah,tetapkanlah hati kami di atas Islam, As sunah dan Thalabul Ilmi. Amin yaa Arhamar Raahimiin.”

Malam telah lama terlelap, Meta masih saja terjaga di bawah selimut biru mudanya. dia tak tahu harus senang atau sedih. Tujuh hari ke depan, akan ada yang datang untuk melamarnya.

Hmmm... Bagaimana rasanya dipinang, ya?

Pinangan. Meski sudah menginjak usia 23 tahun, hal itu belum pernah terpikirkan oleh Meta. Apa yang harus dilakukan? Apa saja yang baik untuk dipersiapkan? Bagaimana nanti prosesnya? Apakah Calon imamnya akan mau menerimanya? Semua pertanyaan berputar dalam pikiran Meta.

Meta dilamar (2)

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Jumlah Kata 542

 

Pinangan. Meski sudah menginjak usia 23 tahun, hal itu belum pernah terpikirkan oleh Meta. Apa yang harus dilakukan? Apa saja yang baik untuk dipersiapkan? Bagaimana nanti prosesnya? Apakah Calon imamnya akan mau menerimanya? Semua pertanyaan berputar dalam pikiran Meta.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk. Perasaan yang sedang menggeluti sanubarinya bagaikan akan meledak, saat siang meta ditemui oleh bang Farhan, Anak bude yang seumuran dan satu kampus dengan Meta.

“Meta, abang boleh tanya?”

“Boleh bang”, jawabnya singkat dan sembari tersenyum. Meta saat itu sedang mendesain sertifikat peserta Menulis Cerpen. Meta dan Marwa memang ahli mendesain sejak dahulu mereka diamanahkan di bidang Sastra. Mereka berdua selalu ready di ruangan Sastra.

“Pertanyaan abang tentang jodoh, he he”.

Farhan malu-malu mengatakannya karena mereka tak biasa membahas tentang jodoh apalagi akhwat dan ikhwan sepertinya janggal namun karena mereka masih terikat saudara meski jauh hal itulah yang membuat Farhan tidak segan dengan Meta karena Farhan menganggap Meta adiknya sendiri.

“Tumben, abang mau nikah ya?”

“Belum, tetapi ada kawan yang mau nikah, abang mau minta pendapat Meta”

“Oh, boleh, nanti kalau Meta tidak bisa jawab, pertanyaan dilontarkan ke kak Marwa dan bang Zidan ya?”, jawab Meta dan Zidan tersenyum memandang Meta yang kini tampak lebih dewasa, di banding saat kak Ray masih hidup.

“Seandainya nih, ada Ikhwan yang minta izin ke orang tua meta, meminta meta untuk dijadikan istrinya, eh dapat ijin dan dijodohkan sama orang tua, bagaimana pendapat Meta?”

“Wow, kalau itu untuk sementara dijawab sama kak Marwa aja dahulu he he”

“Meta yang ditanya, kok kakak yang jawab”, Marwa sewot

“Ya Meta, abang kan tanya Meta, jawab aja menurut Meta Tidak usah menurut para ahli he he”, Farhan memang suka melawak.

“He he ya ya, kalau Meta, terima perjodohan itu namun harus sesuai kriteria Meta kalau tidak, Meta Tidak mau terima, siapa tahu yang dijodohkan preman kampung he he”

“Memang kriteria Meta seperti apa?” tanya Farhan dan Zidan hanya membisu, menatap satir di antara mereka dan mendengarkan percakapan mereka.

“Tidak banyak, yang penting saleh, tidak merokok, hafal minimal Juz Amma tetapi kalau yang dijodohkan itu ikhwan, pasti Meta terima he he, lumayan kan, punya pelindung lagi setelah kak Ray tiada,” sahut meta dengan tertawa kecil.

“Oh, Meta sudah siap untuk menikah?”, tanya Farhan

Namun untuk pertanyaan ini sedikit membingungkan bagi meta dan hatinya bertanya-tanya “Mungkinkah pertanyaan bang Farhan ini serius?”

“Abang ini ya, pertanyaannya ada-ada aja”.

“Abang serius nih,” sela Farhan sambil menatap meta.

“Cie, aku dilamar,” ucap Marwa sambil menirukan iklan tivi zaman dahulu. “Siapa sih Farhan? Yang mau lamar sahabat kecilku ini?” Farhan, Meta, Zidan dan Marwa satu Angkatan dan satu organisasi.

“Pokoknya ada deh, bagaimana Meta?”

“Kalau dari pribadi belum siap, namun kalau ada yang lamar, orangnya saleh dan sesuai kriteria, mengapa tidak ….! Buat pengganti kak Ray,” jawabnya sedikit agak manja

“Bagaimana ya, sebenarnya abang mau cerita sesuatu yang cukup serius, tetapi tempat ini aman tidak ya. Jangan sampai anak-anak mendengar dahulu”.  Farhan terlihat sangat serius tidak seperti biasanya namun berbeda dengan sang ikhwan. Dia hanya tersenyum dan mendengarkan percakapan mereka.

“Hmmm serius banget nih kayaknya?”, tanya Marwa.

“Ya, ada teman abang nih, yang mau dijodohkan sama Meta”, jawab Farhan, santai.

“Ya udah kita pindah ke musala aja, ntar dikirain kita ada rapat”, Marwa memberikan solusi dan merekapun beranjak.

“Kak, Meta deg-deg an nih”

Meta dilamar (3)

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Jumlah Kata 399

 

“Kak, Meta deg-deg an nih”

“He he biasa aja, mungkin yang dibilang Farhan itu jodoh mu”

“Kita dengarkan saja dahulu ya kak Marwa”

“Ya”. Jawab Marwa singkat dan merekapun duduk dan dibatasi oleh hijab.

“Meta, ada ikhwan yang dijodohkan sama Meta, ikhwan ini sudah mengenal Meta dan begitu juga Meta sudah mengenalnya. di sini abang disuruh mewakili untuk menanyakan tentang kesiapan Meta dan jawaban Meta, orang tuanya mendesak untuk menikahi Meta.” Tanya Farhan dengan serius dan harapan ada jawaban yang diterima.

“Begini bang, Meta jadi agak kepo juga ini, tidak tanya siapa orangnya sih, hanya saja tolong tanyakan sama dia, apakah dia siap menikah dengan Meta? Karena tadi bang Farhan bilang orang tuanya yang mendesak, bukan kemauan dia kan?”.

“Ya memang orang tuanya namun dia ingin menanyakan kesiapan Meta, bila Meta siap dia juga siap”.

Hati Meta pun deg-degan. Siapakah gerangan? Mengapa dia bersembunyi, apakah belum seserius itu? Malukah dia atau dia sengaja merahasiakan dirinya. Fikiran dan hati meta mengalami dilema.

Meta tarik napas panjang

“Begini bang, meta kan anak bontot perempuan nih, apalagi semenjak kak Ray tidak ada, praktis hanya aku kan bang? Kami tidak memiliki harta, saham atau apapun jenisnya. Meta ibaratkan kebun sawit Ayah dan Bunda, empat tahun mereka bersihkan, diberi pupuk dan mereka pasti menunggu buahnya. Ya memang tak sekasar itu, namun Meta merasakannya. Meta ingin membalas jasa Ayah dan Bunda. Meta ingin memberikan belanja sehari-hari dan kelak bila mereka sudah tua, Meta ingin mereka bersama Meta. Setiap anak menginginkan hal yang sama namun Meta ini anak perempuan, ketika sudah menikah maka surga Meta berpindah ketelapak kaki suami. Apakah sang ikhwan itu mau menerima permintaan Meta?”

“Baik, akan abang sampaikan padanya, oke, abang Farhan pergi dulu ya? Assalamuálaikum”

“Waálaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh bang,” jawab Marwa dan Meta hamper berbarengan.

---------------

Di sepertiga malam, setelah kejadian siang itu, meta kini bersimpuh, tenggelam dalam dzikir, dan menerawang dalam keremangan malam, jika ditanya,"Inginkah? Ingin tetapi tak ingin". Meminjam istilah yang baper: rindu, ingin ada yang menemani hari-harinya, tetapi tak sudi segera bertemu. Seperti itulah kiranya.

Meta bangkit dan mengambil air wudu. “Istikharah dahulu ah,” ucap meta lirih.

Ya Allah, Yaa Muqollibal qulub,

Engkau tahu, kan? Hati meta tiba-tiba berdetak lebih cepat, saat menyadari waktunya tinggal beberapa hari lagi.

Meta merasa ini terlalu cepat, ataukah memang sudah tiba saatnya?

Namun, di atas segalanya,

Meta akan menerima jika ini adalah ketetapan-Mu untukku yang sudah tercatat di lauhul makhfudz.

Aamiin.

 

Istikharah

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Jumlah Kata 418

 

"Meta!"

"Eh, kak Marwa, ngagetin meta aja."

"Yeee, malah bengong sih met,"

"Hehehe,"

"Ada masalah apa, Met?"

"Gue mau dilamar, kak Marwa"

"Alhamdulillah, Ciyus Met? Yang kemarin itu sudah ada tindak lanjutnya?"

Jika mereka tidak ingat sedang di mana sekarang, tentu Kak Marwa akan lupa diri untuk berguling-guling sampai salto di masjid itu. Hahaha. Enggak, deng.  Kak Marwa langsung menutup mulutnya dengan jilbab bermotif bunga sakura yang dia kenakan, setelah melihat beberapa santriwati menoleh risi atas kegaduhannya. Mereka sedang mengaji kitab Shorof sore itu.

"Iyaaa, Meta juga masih tidak percaya, tahu!"

"Gileee kamu Met, Curang. Kok duluan, sih!"

"Qodaarulloh say, mana kutahu kan? Itu kan takdir yang sudah tertulis di lauhul makhfudz dan diatur 4000 tahun lalu"

"Tetapi kan gue yang pengen nikah duluan"

"Itu nasib, Hahaha, Makanya jangan terlalu banyak memilih!"

"Hahaha, Asyeeem. sebentar lagi kamar Azzahra jadi punya Ibu dong. Ciyeee,"

"MARWA, META! Jelaskan kembali materi isim masdar yang barusan kak safna paparkan! Jangan memberi contoh yang tidak bagus untuk adik kelasmu," ucap kak Safna sambil memasang mode jutek.

“Baik kak,” sahut meta dan marwa, mengulang kembali materi tentang isim Masdar yang sudah disampaikan, namun tidak diperhatikan oleh kedua senior di pesantren itu

***

H-3

“Allah, Apakah aku benar-benar sudah siap?” Meta mengakhiri tilawah dengan sisa-sisa keresahannya. Teman-temannya mulai khawatir, apalagi pagi ini Meta sempat mimisan ketika ro'an (kegiatan bersih-bersih di pesantren). Bahkan sejak kemarin nafsu makan Meta hilang tanpa sebab.

"Yaelah, Met, Mau Pinangan kok malah sakit tho Meta ini" ucap Mbak Farrah, salah satu santriwati senior, sambil membantu Meta membersihkan bekas darah di jilbabnya.

"Lha, Mbak Farrah tahu dari mana?"

"Ada deh yang cerita,"

"Oh,"

"Memangnya siapa yang hendak melamar kamu, Met? Salah satu gus di pesantren ini kah? Atau mas-mas khodim? Takmir? Santri? Atau jangan-jangan, salah satu Ustaz kita?"

Meta tersenyum menanggapi kepolosan mbak Farrah. Semua tebakannya meleset parah.

Hari H

Saat fajar hampir menyingsing, terlihat semburat putih di langit terlihat dengan anggun, suara Meta tercekat, mata berkaca-kaca saat bacaan alqurán sampai pada ayat di bawah ini,

, ???????? ???????? ????? ??????? ??????? ???? ??????? ???? ???? ????????? ,

?????????? ???????? ???????? ?????????? ????? ?????? ??????????? ????????????, (QS. Yaasiin: 82-83)

Artinya :
Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, Jadilah, Maka jadilah ia. Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.

Meta betul-betul memasrahkan segala urusan padaNya, Allah menerangkan dalam kalamullah betapa mudah bagi Nya menciptakan sesuatu. Jika Ia menghendaki untuk menciptakan sesuatu makhluk, cukuplah Allah berfirman: “Jadilah”, maka dengan serta merta terwujudlah makhluk itu.

Istikharah (2)

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Jumlah Kata 362

 

Allah tidak akan pernah merasa susah untuk melakukan apapun, termasuk mengabulkan semua do’a yang meta panjatkan, ungkapan bahwa Allah Mahakuasa untuk menciptakan segala sesuatu tanpa lelah, tanpa kesulitan, dan tanpa ada Siapa pun yang dapat menghalangi-Nya. Meta yakin, bahwa bagi Allah sangat mudah untuk menciptakan segala sesuatu yang Ia kehendaki, sesuatu tersebut dengan cepat akan terjadi, tanpa ada penundaan sedikitpun dari waktu yang Ia kehendaki.

Meta merasa damai dan yakin dengan apa yang akan meta putuskan saat ini. Bintang-bintang serasa bermunculan di atas kepala meta, beberapa saat meta tampak goyah dan gelaplah alam semesta.

----

"Permisi! Beri jalan, minggiiir!"

Kak Marwa dan beberapa santriwati setengah tergesa sambil membopong tubuh Meta dan membawanya ke Unit Kesehatan Santri. Selepas salat shubuh berjamaah, Meta ditemukan tak sadarkan diri di teras masjid. Hidung mengeluarkan darah cukup banyak hingga mengotori mukena putih yang dia kenakan.

"Bagaimana nih ya, tolong panggilkan ambulan." Kak Marwa panik. Tentu tidak hanya dia yang cemas, seluruh warga pesantren tersebut juga riuh melihat kondisi Meta yang tiba-tiba parah. Padahal selama ini dia tak pernah mengeluh sakit apapun.

Tiba-tiba saja Ustaz Harun, salah satu guru di pesantren tersebut muncul dengan mengendarai mobil jenis pick up dan berteriak, "Kita akan membawanya dengan ini. Bergegaslah!"

Kak Marwa terduduk lesu di salah satu kursi panjang rumah sakit itu, bibirnya melantunkan doá untuk sahabat yang tengah berjuang di meja operasi.

Kak Marwa teringat apa yang diucapkan dokter entah siapa namanya tadi. Kata bu Lutfiah, Meta harus segera melakukan operasi kecil karena dia terkena Sinus akut.

"Seharusnya operasi ini berjalan sebulan yang lalu mbak. tetapi pasien keukeuh tidak ingin melakukannya" kata dokter tersebut menjelaskan.

"Mengapa?"

"Meta tidak mau. Jadi, kami hanya memberi beberapa resep untuk memperlambat perkembangan Sinus -nya"

Sinus? Kak Marwa merutuki diri, karena sampai detik ini, ia baru mengetahui.

Terlebih lagi, hari ini adalah hari spesial bagi Meta karena dia bilang akan ada yang melamar. Seandainya kak Marwa tahu siapa orang tersebut, pastilah dia akan memberitahu orang itu agar tidak datang hari ini. Tidak dengan keadaan Meta yang seperti ini.

Ada beberapa perawat keluar dari ruang operasi dengan menggiring hospital bed berwarna hijau. Itu dia sahabatnya! Meta tersenyum setengah sadar begitu melihat kak Marwa ada di sana.

 

Berjumpa kak Ray saat koma

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 19

Jumlah Kata 366

 

Operasinya berhasil. Meta akan baik-baik saja.

"Bagaimana keadaanmu, Meta?" ucap ustazah Lutfiah lembut. Bagi Meta, ustazah Lutfiah bukan hanya guru yang sangat dihormati, tetapi juga sudah seperti Ibu kandungnya sendiri.

"Alhamdulillah baik, Ustazah,"

"Kau tahu? Seluruh santriwati mengkhawatirkanmu tadi. Semua blablablablabla," sahut Ustazah Lutfiah bercerita panjang lebar tentang apa yang terjadi di pesantren beberapa waktu terakhir.

Sedangkan yang diajak bicara tetiba melamun. Pandangannya mulai kosong. Namun sepertinya Ustazah Lutfiah tidak menyadari hal itu karena bu Lutfiah masih saja melanjutkan ceritanya.

Apakah Meta masih menunggu seseorang sudah berjanji datang hari ini? Hmmm,

sepertinya begitu. Netra bening meta tiba-tiba membesar, “Masya Alloh, kak Ray dan seseorang yang akan melamarkukah itu? Ahlan wasahlan kak Ray.”

Sosok berpakaian serba hitam dengan tudung kebesaran di kepalanya. Tatapan mata amat tajam ke arah meta, membuat meta menggigil ketakutan bila dia mendekat.

Tak ada yang bisa mengelak Pinangannya, sekalipun orang tersebut berkuasa atas dunia ini. Kecuali Alloh Azza wa Jalla.

Sosok itu perlahan mendekat dan berbisik lembut, "Hai, Meta, Apakah kamu sudah siap?"

Meta mengangguk dengan penuh ketenangan. Meta sudah tahu, telah tiba gilirannya untuk dilamar malaikat maut dan menikah dengan kematian. Setelah mengucap kalimat syahadat, meta mengulurkan kedua tangannya kepada sosok yang bernama Izroil tersebut. Sejurus kemudian, mereka berjalan perlahan menuju alam yang abadi.

Meta telah membuktikannya.

“Stop, belum waktunya Met? Kembalilah, Bunda dan Ayah sedang menuju ke Rumah Sakit, membawa jodohmu yang sesungguhnya.” Kak Ray menghentikan langkah meta.

Meta tersentak kaget, terbangun dari mimpi. Bulir keringat membasahi raga. Netranya menerawang kembali, mengingat percakapan tentang jodoh dengan sahabatnya.

"Kak Marwa,"

"Hm?"

"Ada berapa jumlah jodoh manusia?"

"Ha? Pertanyaan macam apakah itu? Hahaha, Akhir-akhir ini lo bahas jodoh mulu, Met. Tahu deh, yang mau dilamar"

"Udaaah coba jawab dahulu"

"Hmmm, menurut Marwa sih ada beberapa, may be? Namun, setelah itu ya met, manusia akan dipertemukan dengan salah satu yang terbaik versi Allah berdasarkan cerminan diri"

"Nalar lo bagus juga, kak Marwa. Sorry to say but you're wrong. Tahu nggak kak? Jodoh kita itu ya kak Marwa, ternyata hanya di antara dua pilihan saja"

"How can?"

"Bisa aja kak Marwa, apa sih yang nggak bisa bagi Alloh, hanya bilang, 'Kun fayakun!' And do you know? Pilihannya itu kalau bukan manusia, ya kematian"

“What??”

***

 

 

Mungkin saja kamu suka

Nur Afni El-Fai...
Jalan cerita kita
Abil Rahma
Bukan Noda Hitam
Dahlia Kusumawa...
BARA MUDA
Joni Rasmamana ...
Jemaat Zero Waste: Kakek & Kaw
Husnul Khotimah
Hi, Doctor!

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil