Loading
36

0

9

Genre : Romance
Penulis : Ismi Nuri
Bab : 33
Dibuat : 17 Maret 2022
Pembaca : 31
Nama : Ismi Nuri
Buku : 6

Buat Aku Tersenyum

Sinopsis

Tuhan tidak hanya mengambil nyawa isteriku tetapi juga mengambil senyumku. (Abian Pratama) Hidup itu anugerah bukan musibah. Tersenyum adalah salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur. Akan kubuat senyum itu kembali terukir indah di wajah tampanmu, Abian. (Rose Kamelia)
Tags :
#roman #cinta #dosen #asdos

BAT 1 Perpisahan dan Pertemuan

2 0

Buat Aku Tersenyum

Bab 1 Perpisahan dan Pertemuan

 

Tubuh wanita itu sudah kaku, dingin dan memucat. Kain putih yang terbentang di atas tikar bambu siap membungkus badan perempuan muda yang meninggal tadi malam.

Rose mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang luasnya dua kali dari kamarnya. Tak ada yang mengaji, melantunkan ayat-ayat Al-quran mengiringi jenazah yang akan dimandikan oleh ibu tua itu. Mereka yang hadir hanya sibuk melihat, menatap dan meratapi kepergian wanita yang sedang  terpejam matanya di atas sebuah kasur.

Rose mengambil buku yasin yang tergeletak di sisi kepala mayit kemudian mendekati anak kecil yang tengah duduk di pojok ruangan, berurai air mata. Sesekali terdengar sesegukan dari suaranya yang merintih mengucap kata ‘mami’.

 

“Sabar, ya, Sayang. Doakan Mami, ya,” ucapnya lembut seraya mengelus kepala gadis kecil itu yang terbalut jilbab hitam. Bocah itu mengangguk dan mengusap air matanya dengan ujung kerudungnya.

 

“Kamu bisa ngaji?”

 

“Bisa.”

 

“Yuk, ngaji sama tante. Biar mami kamu nanti gak sedih.” Rose mencoba menghibur anak yang baru berusia tujuh tahun itu lalu menyodorkan buku yasin yang tadi diambil dua buah. Satu diberikan untuk gadis kecil tadi yang kini mulai tersenyum.

 

“Namamu siapa, anak manis?” tanya Rose sambil mencubit pelan pipinya yang gembul.

 

“Aku Zenia, tante siapa? Kok aku belum pernah ngelihat tante?”

 

“Namaku Rose.Tante baru pindah rumah ke komplek ini. Ya, sekitar seminggu yang lalu. Itu, rumah tante yang catnya warna biru. Kita tetanggaan.” Rose menunjuk ke arah luar pintu, rumahnya bisa terlihat dari tempat mereka duduk.

 

“Apa kamu tahu apa arti Zenia?”

 

Gadis kecil itu menggeleng.

 

“Zenia itu artinya bunga yang cantik, penuh dengan warna warni yang membawa keceriaan. Jadi adik kecil yang cantik ini jangan sedih lagi, ya!”

 

Zen tersenyum memamerkan barisan gigi kecilnya yang putih bersih. Kemudian mereka berdua mengaji bersama, hanyut dalam ayat-ayat Al-quran yang dibacakan dengan syahdu. Banyak pasang mata yang hadir di ruangan itu menyaksikan Rose dan Zenia termasuk sosok pria berbaju hitam yang sedang duduk di ruang tamu bersama para pelayat lainnya.

 

Tubuh mayit itu kini dibawa untuk dimandikan. Rose masih mendampingi Zen mengaji yang jaraknya tak jauh dari tempat memandikan itu. Rose jadi teringat dua tahun yang lalu, ibunya meninggal karena sakit yang dideritanya. Ia merasa sangat sedih, sesak dan memilukan. Tapi kala itu dirinya sudah dewasa. Sedangkan Zen, ia baru kelas satu SD dan masih terbilang dini untuk kehilangan sosok sang ibu. Beruntung, Zen masih punya seorang ayah. Sama seperti dirinya.

 

Usai dimandikan, jenazah itu siap dikafani. Rose masih menemani Zenia, menyaksikan kejadian yang sulit diungkapkan dengan banyak kata. Sebelum wajah mayit ditutup sempurna, lelaki bertubuh tinggi tegap itu mendekat pada jenazah. Rose memperhatikan gerak gerik pria yang sudah duduk didekat pembaringan.

 

“Anyelir, maafkan aku.” Terdengar lirih sangat memilukan dari pria tadi. Tak ada air mata yang keluar namun raut wajahnya nampak begitu sedih. Ia kehilangan wanita yang sangat dicintai  yang telah menemaninya selama delapan tahun terakhir ini.

 

Zen mendekat dan memeluk tubuh lelaki itu dan mulai menangis.

 

“Papi ....”

 

Kejadian itu sangat menyentuh bagi siapa saja yang melihatnya termasuk Rose. Gadis berjilbab coklat itu menghapus air matanya. Kemudian ia bergegas berdiri mengikuti tamu-tamu yang hadir karena jenazah sudah siap mau di bawa ke mushala terdekat untuk disholatkan lalu dimakamkan di TPU terdekat.

 

Belakangan, Rose baru tahu nama lelaki itu adalah Abian. Ia mengetahui hal itu dari ibu-ibu yang berbincang di belakangnya. Pria bertubuh kekar, kulit putih dan berwajah tampan seolah menjadi tema yang menarik bagi kalangan wanita. Apalagi statusnya kini menjadi duda.

 

Sebelum isterinya meninggal, Abian dikenal baik, ramah dan sopan serta murah senyum pada siapa saja yang ia temui. Dan sekarang, senyum manis itu mungkin tidak akan ditemui lagi oleh siapapun yang bersitatap dengannya. Karena separuh jiwanya telah pergi.

 

Seminggu berlalu, rumah bernuansa klasik modern itu nampak sepi. Hanya terlihat beberapa asisten rumah tangga dan penjaga kebun yang sibuk wara-wiri di rumah berlantai dua itu. Beberapa kali Rose berniat untuk bertamu, menemui bocah cilik untuk sekedar menyapa atau mengajak bermain, tapi enggan dilakukan. Pagar rumah itu selalu dikunci.

 

Teng... Teng... Teng...

 

“Es krim... Es krim...” teriak seorang bapak tua yang memakai topi lusuh sambil mendorong gerobak kecil. Di sana tertulis es krim potong rasa buah. Tangan kananya sesekali memukul gong kecil yang diikat ke salah satu kayu pada pegangan gerobak itu.

 

Rose yang sedang berada di teras rumah langsung memberhentikan pedagang itu. Kebetulan cuaca siang ini sangat panas. Rasanya cocok sekali jika menikmati es krim, pikirnya.

 

“Es krimnya berapaan, Pak?”

 

“Seribuan, Neng.”

 

“Wah... murah banget. Saya mau rasa jeruk, melon dan ....”

 

Rose masih sibuk memilih-milih es krim di hadapannya, lalu terdengar rengekan anak kecil  dari rumah sebelah.

 

“Aku mau es krim. Papi, aku mau es krim itu. Huhuhu....”

 

Rose menoleh ke samping kiri, dilihatnya Zen sedang menarik-narik ujung baju ayahnya. Namun lelaki itu nampak bingung  antara mau membelikannya atau tidak. ia merasa segan karena ada Rose yang sedang membeli es krim.

 

“Halo Zen, kamu mau es krim? Sini sama tante. Ini tante beli banyak lho!” ucap Rose antusias. Ia berinisiatif bertanya terlebih dahulu karena tidak tega melihat bocah kecil itu yang terus meminta namun tak ditanggapi oleh ayahnya.

 

Zen terdiam, ia melihat Rose dengan tatapan mengiba kemudian ia kembali menoleh ke lelaki di sampingnya seperti meminta ijin.

 

Pria yang memakai kaos putih itu mengangguk lalu serta merta Zen berlari ke arah Rose yang berada di halaman depan rumahnya.

 

“Kamu mau rasa apa?” tanya Rose sambil membungkuk, mensejajarkan tingginya dengan Zen.

 

“Aku mau rasa jeruk, pisang, apel, melon sama jambu. Hehe...”

 

“Wah... ternyata kamu sama kayak tante, ya, suka es krim. Tapi, makannya jangan langsung dihabiskan semua. Simpan di kulkas buat nanti kalo kamu pingin lagi.”

 

“Siap tante,” jawab Zen dengan gaya sikap hormat.

 

“Semuanya jadi berapa, Pak?” tanya Rose pada penjual es krim.

 

“Jadi 15 ribu, Neng.”

 

“Ini. Kembaliannya buat Bapak aja.”

 

Baru saja Rose hendak mengambil uang di saku celananya, Abian datang dan menyodorkan uang lima puluh ribuan pada penjual es krim itu. Rose pun terkejut dengan aksi  lelaki itu yang tiba-tiba. Bapak tua itu juga tak kalah kagetnya, ia tersenyum sumringah dan berulang kali mengucapkan terima kasih pada Abian dan Rose serta langsung mendorong gerobaknya itu pergi.

 

“Ayo, kita masuk!” seru Abian sambil menuntun tangan kecil Zen. Rose masih dengan setengah sadar sambil tersenyum memandangi pria ganteng di depannya, mengikuti gerak langkah mereka berdua.

 

Seperti ada yang aneh, Abian menghentikan langkahnya dan bertanya pada Rose.

 

“Kamu ngapain di sini?”

 

“A-aku mau masuk. Kan tadi kamu yang ngajak,” jawab Rose tergugu, tangan kanannya masih memegang es krim yang sudah tinggal setengah. Senyum meringis menghiasi bibirnya yang berlumuran es krim.

 

Abian memutar bola matanya, jengah.

 

“Tadi aku ngajak Zen, bukan kamu. Sana pergi!”

 

“Hehe... Sorry.” Rose terkekeh, menampakkan gigi dan senyum manisnya, berharap lelaki itu akan ikut tersenyum.  Namun naas, Abian langsung menutup pintu rumahnya tanpa berucap sepatah kata  apapun apalagi memberikan senyum.

 

“Ish, kenapa seh dia? Mahal banget senyumnya. Mirip ‘ganteng-ganteng serigala’. Serem tapi bikin gumush. Lihat  saja nanti. Jangan panggil aku Rose kalau tidak bisa mengembalikan senyuman itu.”

(Bersambung)

BAT 2 Vonis Dokter

2 0

Bab 2 Vonis Dokter

 

“Maaf, Bapak, Ibu, sebenarnya anak ibu mengidap penyakit leukimia.

 

“Apa?”

 

Burhan dan Aminah terkejut mendengar ucapan sang dokter yang secara tiba-tiba tanpa basa-basi. Lelaki berkaca mata itu serta merta memegangi pundak isterinya yang terkulai lemah. Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca, terbayang anak semata wayangnya yang baru berusia tiga belas tahun, kini harus menghadapi penyakit kanker sel darah putih yang akan menggerogoti tubuh kecilnya.

 

Selanjutnya pria berjas putih itu menjelaskan penyebab dan gejala yang ia temukan berdasarkan hasil lab dan juga alternatif pengobatan yang harus dijalani oleh anak mereka.

 

“Lalu, apakah Kamelia harus melakukan kemotrapi juga, dokter?” tanya Burhan dengan suara sedikit gemetar.

 

“Betul. Anak bapak dan ibu harus menjalani Kemoterapi untuk mebunuh sel-sel kanker yang berada di dalam tubuhnya. Jika tidak segera dilaksanakan, khawatir sel kanker itu akan merambat ke organ tubuh penting lainnya seperti hati dan tulang belakang. Tapi kemo ini sangat riskan mengingat usia Kamelia masih sangat belia dan kondisinya masih drop. Kami upayakan operasi untuk mengangkat sel kankernya terlebih dahulu. Semoga operasi ini berjalan dengan lancar. Jika tidak berhasil, pilihan terakhir adalah kemoterapi.”

 

“Pak, anak kita, Pak,” lirih Aminah dalam pelukan suaminya.

 

“Sabar, Bu, kita harus banyak berdoa. Semoga Allah menyembuhkan Kamelia.” Burhan kembali mendekap tubuh isterinya dalam penuh kecemasan.

 

***

 

Di ruang rawat inap ini, Kamelia sedang duduk di atas ranjang, pandangannya menghadap ke arah jendela, menatap langit sore yang mulai menjingga.

 

Terdengar suara pintu berderit, Kamelia menoleh dan didapatinya sosok sang ibu yang tersenyum hangat.

 

“Anak ibu sudah bangun. Gimana tidur kamu sayang? Enak?” tanya Aminah sambil meletakkan keranjang buah di meja yang berada di sisi bankar. Kemudian wanita itu duduk di kursi berhadapan dengan anaknya.

 

“Enak, Bu,” jawab Kamila lalu tersenyum.

 

“Kamu mau apel? Atau jeruk? Atau kamu mau makan apa sayang?”

 

Kamila menggeleng lemah. Senyum hangat dari wajah ibunya selalu menjadi penyemangatnya di kala sakit yang dideritanya kini. Dibalik senyumannya itu, ia bisa melihat gurat kesedihan yang sebisa mungkin wanita paruh baya itu tutupi. Namun, Kamila bisa merasakannya.

 

Langit pekat telah menelan senja, berganti malam yang dihiasi bintang. Mata Kamelia belum bisa terpejam. Dilihatnya sang ibu duduk di kursi dengan kepala disangga dengan kedua tangannya,  tertidur di sisi ranjang kasurnya. Sedang Burhan –ayahnya- tertidur di sofa panjang yang letaknya tak jauh dari ranjang kasur rumah sakit ini.

 

Kamila mengambil kertas dan pena yang sebelumnya ia letakkan di sisi bantal. Ia terbiasa menulis jika sedang imsomnia atau sulit tidur.

 

Kabut putih

Aku berlari menghindari kabut itu

Terus pergi dan menjauh.

Tapi kenapa begitu sulit.

Adakah  seberkas cahaya yang akan kutemukan

Walau setitik?

 

***

 

Aminah dan Burhan sedang duduk di depan ruang operasi. Hampir dua jam mereka menunggu Kamelia yang sedang menjalani operasi. Raut wajah gelisah, cemas dan penuh harap tergambar jelas di wajah kedua orang itu. Berkali-kali Burhan mengusap wajahnya dengan kasar, berdiri berjalan, hanya untuk menghilangkan rasa cemas di hatinya.

 

Aminah pun tak kalah risau, wanita berjilbab biru langit itu terus merapalkan doa-doa serta zikir yang tiada henti. Kamelia adalah buah hati mereka satu-satunya. Hampir sepuluh tahun Burhan dan Aminah berjuang keras untuk mendapatkan anak. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa mereka selama ini dengan memberi mereka anak yaitu Kamelia.

 

Namun, sejak kecil Kamelia sering mengalami sakit. Tak jarang Burhan dan Aminah selalu membawanya berobat ke dokter. Berat badan Kamelia menurun drastis seiring penyakit Leukimia yang dideritanya.

 

Burhan melihat jam ditangannya, pukul dua belas siang. Sebantar lagi adzan zuhur berkumandang. Ia pamit pada isterinya untuk pergi ke mushalla. Barangkali dengan ia shalat dan berzikir, hatinya akan lebih tenang. Pikirnya kala itu.

 

“Iya, Pak. Ibu akan di sini. Semoga saja operasi itu berjalan lancar dan cepat selesai,” imbuhnya.

 

Tinggal Aminah sendiri duduk di kursi tunggu itu. Tidak ada saudara atau kerabat yang bersamanya. Mereka berdua adalah perantauan di ibukota ini. Mengadu nasib di Jakarta dengan berbekal keahlian berdagang kue yang dititipkan ke warung-warung. Sedang Burhan sebagai buruh pabrik di salah satu perusahaan swasta.

 

Beruntung Aminah dan Burhan mempunyai kenalan di rumah sakit itu, yakni dokter Jamal yang tidak lain adalah teman SMA mereka. Jamal adalah pemilik rumah sakit tempat dimana Kamelia di rawat. Jadi Burhan mendapatkan keringanan untuk biaya pengobatan anak semata wayangnya.

 

Seorang suster keluar dari ruang operasi, Aminah langsung mendekati wanita itu.

 

“Suster, maaf. Bagaimana operasi anak saya? Kamelia.”

 

“Operasinya sudah selesai. Tapi, saya tidak berwenang untuk menjelaskannya. Ini ada dokter Budi yang memipin operasi tadi. Silahkan ibu bertanya pada beliau. Permisi.”

 

Aminah mengerti ucapan perawat tadi, dan langsung mendekati dokter Budi yang juga baru keluar dari ruang operasi itu.

 

“Dokter gimana anak saya, dokter?” tanya Aminah penasaran.

 

“Begini, Bu. Meski operasinya sudah berjalan dengan lancar, tapi kita akan lihat perkembangannya dulu.  Jika pasien tidak mengalami kejang-kejang, demam atau mimisan maka operasi ini kita pastikan berhasil tapi jika sebaliknya maka pasien harus menjalani kemoterapi.”

 

“Ya Allah... sembuhkanlah anakku.”

 

“Ibu harus bersabar dan kuat agar Kamelia tetap semangat melawan penyakitnya. Permisi.”

 

“Makasih, dokter.”

 

Dokter Budi pergi meninggalkan Aminah yang terduduk lemas. Tak lama berselang Burhan datang dan menanyakan kepada isterinya tental hasil operasi tadi.

 

“Allah sedang menguji kita, Bu. Itu tandanya Allah sayang sama kita. Bapak yakin, kalau Kamelia itu anak yang kuat. Dia akan tumbuh menjadi anak yang cantik, cerdas dan ceria dan penyayang.”

 

“Iya, Pak. Ibu juga yakin. Semoga saja, ya Pak.”

 

(Bersambung)

 

 

BAT 3 Asdos Dosen Killer

1 0

Bab 3

 

Kring..Kring...

 

Bunyi alrm dari jam weker mengangetkan Rose yang masih tidur di kasurnya yang empuk. Diambilnya jam kecil berbentuk hello kitty itu dan langsung mematikan bunyinya.

 

“Oh My God. Jam 6. Aku kesiangan!!!” Rose terperanjat dan langsung pergi ke kamar mandi. Kebiasaan begadang karena main ‘game online’ belum bisa ia hilangkan. Ritual mandi 5 menit pun sudah sering ia lakukan. Cukup dengan cuci muka dan gosok gigi lalu menyemprotkan minyak wangi ke seluruh badan. Ia sudah seperti orang yang baru keluar dari salon.

 

Hari ini adalah hari pertama ia menjadi asisten dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Ia telah diberitahu oleh civitas akademik kemarin bahwa dirinya telah lulus seleksi dan tes wawancara. Rose tidak ingin terlambat dan membawa kesan tidak baik pada siapapun atasannya nanti di kampus itu.

 

“Sarapan dulu, Nak,” kata lelaki berkacamata  pada Rose yang sedang meminum segelas susu cokelat.

 

“Udah telat, yah. Nanti aja di kampus. Assalamu’alaykum,” jawab Rose sambil mengelap sisa susu di bibirnya lalu mencium punggung tangan lelaki tua itu yang sedang duduk membaca koran.

 

“Wa’alaykumsalam. Hati-hati. Jangan terburu-buru gitu.” Pesan ayah yang dijawab ‘iya’ oleh Rose dengan terikan.

 

Rose menaiki sepeda motornya dengan agak cepat. Ia takut terjebak macet. Untungnya jarak rumah dan kampusnya itu tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit.

 

Setelah memarkirkan motor matic kesayangannya itu, ia langsung ke ruang Tata Usaha untuk menemui Pak Arya, staff administrasi yang mengurusi masalah arsip dan dokumen penting di kampus ini. Termasuk perihal dosen yang membutuhkan seorang Asdos.

“Jadi, bagaimana Pak. Saya ditempatkan oleh dosen siapa?” tanya Rose dengan sopan. Gadis itu memakai jilbab berwarna dusty pink yang senada dengan warna kemejanya dipadukan dengan rok hitam plisket, menambah kesan anggun di wajah oval itu.

 

Pak Arya masih melihat-lihat beberapa kertas di hadapannya, daftar dosen yang mengajukan untuk mendapat asdos.

 

“Jika dilihat dari latar belakang pendidikanmu yaitu S1 jurusan ekonomi, kamu kayaknya cocok sama dosen ini. Beliau S2 Magister Sains Ekonomi (M.S.E). Kebetulan juga dia lagi mengalami musibah, sudah beberapa hari tidak mengajar. Ini datanya. Ruangannya ada di gedung A lantai 2. Lebih cepat lebih baik kamu menghubunginya agar ada yang menggantikan beliau mengajar.”

 

Arya memberikan map biru yang berisi tentang data seorang dosen pada Rose yang kini menjadi atasannya.

 

“Oh ya, satu lagi. Dia termasuk dosen killer di kampus ini. Jadi kamu harus hati-hati, ya. Kerja yang baik. Jangan buat kesalahan.”

 

 “Baik, Pak. Saya akan mencoba menghubungi beliau secepatnya. Terima kasih.”

 

Rose pamit dari ruangan admin itu dan kini menuju lantai dua dimana tempat dosen atasan itu berada. Sambil menaiki tangga, Rose mulai membuka map biru yang belum sempat ia baca tadi saat di ruangan Arya.

 

“Abian Pratama, M.S.E. yang mana orangnya, ya. Gak ada fotonya seh,”  ucap Rose mengeja nama dosen itu.  Dibenaknya, terbayang sosok lelaki tinggi besar berkulit hitam, berwajah sangar  dan botak. Di kertas itu juga tertera jadwal mengajar dosen itu di kampus ini.

 

Rose sampai di depan ruangan bertuliskan nama dosen itu lalu ia pu menghela nafas, meredakan sedikit rasa gugupnya dan mulai mengetuk pintu.

 

“Permisi, punten. Assalamu’alaykum.”

 

Belum ada jawaban, ia kembali mengetuk pintu kayu berwarna cokelat mengkilat.

 

“Kemana seh ini orang, terus gue ngapain di sini? Nungguin dia gitu. Hadeuh... tahu gini, mending gue tadi tidur lagi. Nerusin mimpi ketemu pangeran ganteng.” Rose mulai ngedumel. Sudah lebih dari dua puluh menit, ia berdiri menunggu dosen yang tak kunjung datang.

 

“Apa gue sarapan dulu, ya. Ntar ke sini lagi. Tapi klo gue pergi terus dia dateng gimana. Bisa apes gue. Tuh orang kemana dah. Jam segini belum datang ke kampus. Mungkin dia lagi di rumah bantuin bininya nyuci baju, masak, beberes rumah. Secara kalo dosen killer kan gitu kayak di tivi-tivi. Hahaha....”

 

“Ehem Ehem ....”

 

Terdengar suara orang berdehem atau sengaja batuk. Rose langsung menghentikan aksi ketawanya dan segera balik badan. Ia sedikit terkejut karena ia melihat lelaki yang menjadi tetangganya.

 

“Lho! Papi Zen, kok ada di sini? Kerja di sini juga atau apa?” tanya Rose dengan polosnya tanpa mengetahui sebenarnya apa yang terjadi.

 

“Maaf, ini ruangan saya.”

 

“Apa? Jadi papi Zen itu ... Ya Tuhan!!!”

 

Rose menutup mulutnya denga n mata terbelalak dan seketika diam membeku.  Lelaki itu lantas mengambil kunci diisaku celananya dan membuka pintu, meninggalkan Rose yang masih terpaku di luar ruangan itu.

 

“Papi Zen, tunggu, Pak.  Saya  ikut masuk.” Teriak Rose yang baru sadar kalo dosen itu telah menutup pintunya.

 

Rose terkekeh, kala pintu itu kembali dibuka.

“Maafkan saya, Papi Zen. Tadi saya gak sengaja. Papi Zen  gak denger omongan saya kan?”

 

“Saya dengar, kamu bilang kalau saya itu dosen killer di kampus dan kalau di rumah saya nyuci baju, masak dan beberes rumah. Mungkin juga di pikiran kamu kalau saya itu hitam, gendut dan botak. Benar kan?” ucap Abian datar tapi terdengar tegas.

 

“Gak gitu juga, Pak. Saya tadi becanda kok. Hehe...”

 

“Terus mau apa kamu di sini?”

 

“Saya asisten Papi Zen. Eh, maksud saya jadi Asdos. Saya udah lulus dan diterima di kampus ini. Dan kata Pak Arya, saya jadi asdos Papi Zen.”

 

‘Ya Tuhan, kenapa wanita ini bisa jadi asdos?’ gumam Abian dalam hatinya. Ia tak menyangka kenapa wanita slengean ini bisa terpilih bekerja menjadi asiisten dosen. Kemudian Abian berjalan ke arah meja kerjanya dan duduk di kursi itu.

 

Rose mengikuti gerak pria yang memakai kemeja berdasi biru, memasuki ruangan berAc itu dan duduk di bangku berhadapan dengannya.

 

“Ini tugas kamu,” kata Abian seraya menghentakkan beberapa map berisi file-file ke atas meja. Rose seketika melongo mengetahui begitu banyak pekerjaan yang harus ia lakukan.

 

“Maksudnya apa, Papi Zen?”

 

“Katanya kamu asdos saya. Ini, jadwal mengajar saya dan ini makalah mahasiswa yang harus kamu koreksi. Saya gak ada waktu buat koreksi tugas mereka. Jadi kamu aja, ya. Hitung-hitung kamu belajar jadi asdos yang baik. Kalau udah selesai beritahu saya.”

 

“Tapi, Papi Zen, kenapa banyak banget?”

 

“Kalau kamu gak mau, saya akan bilang ke Pak Arya kalau saya minta asdos yang lain, bukan kamu.”

 

“Ja-jangan, Papi Zen. Oke, saya terima tugas pertama ini. Hehe...” Rose mengambil tumpukan map itu dan berusaha senyum semanis mungkin, berharapi lelaki dihadapannya ini ikut tersenyum karena sedari tadi sangat dingin dan kaku.

 

“Satu lagi. Berhenti mangggil saya Papi Zen. Di sini, saya atasan kamu. Panggil saya dosen Abian atau Pak Abian seperti lainnya. Mengerti?”

 

“Iya, iya. Santai aja, Pak. Kita kan tetanggaan. Gak usah formal juga kali. Hehe....” ujar Rose mencoba mencairkan suasana. Tapi Abian tetap tidak bergeming.

 

“Kalau kamu tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, silahkan ke luar. Karena saya masih banyak urusan,” ucap Abian. Kemudian ia berdiri lalu membukakan pintu untuk Rose yang masih duduk.

 

“Iya, Pak. Saya pamit. Salam buat Zen, ya Pak. Ntar sore saya boleh main kan?” tanya Rose sambil berjalan ke arah pintu ke luar. Namun, pintu ruangan itu langsung ditutup sebelum Abian menjawabnya.

 

Rose mendesah pelan tapi ia mencoba menyemangati dirinya sendiri.

 

“Nasib... nasib. Dapet dosen killer. Untung ganteng. Hehe.... semangat Rose!!!”

 

(Bersambung)

 

BAT 4 Kamelia

1 0

Bab 4

 

Seminggu berlalu sejak operasi sel kanker itu dilaksanakan, tubuh Kamelia membaik. Gadis kecil itu mulai bisa memakan makanan kesukaannya. Selang infus yang setia menemani beberapa minggu ini akhirnya bisa dilepas. Senyum sumringah di wajah Aminah dan Burhan terus hadir mengiringi keceriaan buah hati mereka.

 

“Pelan-pelan makannya, Sayang,” ucap Aminah pada Kamelia yang dimulutnya penuh dengan nasi dan ayam goreng.

 

“Hehe... enak, Bu. Aku kan udah lama gak makan ini. Masakan ibu paling TOP,” ujar Kamelia sambil mengacungkan jempolnya.

 

“Bisa aja kamu.”

 

Aminah dan kamelia tertawa bersama. Tiba-tiba mata wanita paruh baya itu menghangat.  Momen seperti ini sudah lama ia rindukan. Hampir satu bulan anak kecilnya di rawat di rumah sakit. Dan hari ini, dokter telah mengijinkan gadis kecil berlesung pipi itu pulang ke rumah.

 

“Bagaimana, Pak. Apa sudah beres semua?” tanya Aminah pada Burhan yang baru datang. Suaminya itu selesai kembali dari mengurusi administrasi sebagai syarat jika pasien sudah tidak rawat inap lagi.

 

“Alhamdulillah, sudah. Putri ayah yang cantik ini sudah siap pulang ke rumah?”

 

“Sudah, Yah. Aku udah gak sabar tidur di kamarku, main boneka, belajar. Oh ya, Bu, boleh kan aku sekolah bareng temen-temen lagi?”

 

Pertanyaan itu meredupkan senyum di wajah Aminah dan Burhan. Pasalnya, sejak Kamelia sering sakit dan dirawat, mereka berdua telah memutuskan untuk ‘Home Scholling’ pada anak semata wayangnya.

 

“Boleh. Asalkan anak ayah ini terus semangat dan ceria. Biar kamu tetap sehat. Oke!” ujar Burhan, mencoba mengalihkan kecanggungan agar Kamelia tidak merasa sedih.

 

“Siap Bos!” jawab gadis kecil itu dengan sikap hormat.

 

Setelah Kamelia menghabiskan makanannya, mereka bertiga bersiap untuk meninggalkan ruang inap ini. Burhan sudah pamit pada Jamal, direktur rumah sakit ini saat ia tadi mengurus administrasi dan menebus obat di kasir. Ia sangat berterima kasih pada temannya itu karena sudah banyak membantu dalam meringankan biaya pengobatan Kamelia.

 

“Ayo, Bu,  mobilnya di luar sudah siap.”

 

“Iya, Pak. Ayo, Sayang.”

 

Aminah mendorong kursi roda yang dinaiki oleh putrinya. Kamelia masih lemah jika berjalan, maka dokter menyarankannya untuk menggunakan kursi roda untuk sementara. Ada rasa haru dan bahagia di hati putri kecil itu. Ia berharap tidak akan kembali lagi ke tempat ini dalam keadaan sakit.

 

Mobil yang dibawa oleh sopir taksi online itu melaju dengan cepat. Untung saja jalanan ibukota saat ini tidak terlalu ramai. Akhirnya mobil kijang itu sampai di pelataran rumah sederhana dengan tipe rumah 36.

 

Setelah membayar uang sewa taksi online, Burhan membuka pintu dengan anak kunci yang ia pegang lalu mengajak isteri dan anaknya untuk memasuki rumah mereka.

 

“Alhamdulillah, kita bisa berkumpul lagi di sini.”

 

“Iya, Pak. Allah maha baik, mengabulkan doa-doa kita. Semoga terus seperti ini kita selalu bersama.”

 

“Aamiin...”

 

Kamelia hanya diam. Ia tidak ingin merusak suasana kebahagiaan yang baru saja hadir pada kedua orang tuanya. Saat di dalam mobil tadi, tubuhnya gemetar dan ia merasakan gerak darah mengalir di hidungnya. Bergegas ia mengambil sapu tangan yang ia simpan di saku celananya dan menyapu bersih darah mimisan itu. Beruntung cuma sedikit, mungkin ia hanya tegang dan gugup karena sudah lama tidak naik kendaraan, pikirnya.

 

Perasaan cemas itu ia kubur dalam-dalam dan berusaha mungkin bersikap tenang dan kembali memasang wajah ceria di hadapan ayah dan ibunya.

 

Aminah membantu Kamelia untuk bangun dari kursi roda dan mendudukannya di kasur bergambar Hello Kitty. Senyum hangat selalu menghias indah di wajah yang sudah tak muda namun masih cantik itu.

 

“Kamu istirahat dulu di sini, ya. Jangan terlalu banyak gerak. Ibu mau masak dulu. Oke sayang.”

 

Kamelia mengangguk. Lalu Aminah mengecup pucuk kepalanya dan berlalu pergi.

 

Gadis kecil itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Kamar ini sudah lama tak ia tempati. Meski bentuk dekorasinya masih sama, namun kamar ini terlihat lebih bersih dan rapi. Aminah dan Burhan menyempatkan merapikan ini semua saat mereka pulang sebentar dari menjaga Kamelia di rumah sakit.

 

Boneka Hello Kitty, Teletubbies dan Marsha ‘n the Bear masih berbaris rapi di nakas kasurnya. Lemari pakaian plastik bergambar kartun doraemon masih berdiri di sisi jendela kamar. Pun dengan buku-buku pelajarannya masih tertata rapi di atas meja lipat, tempat ia belajar beralaskan tikar.

 

Kamelia mengambil buku komik conan yang masih tergeletak di nakas. Ia ingat, sebelum dirinya di bawa ke IGD beberapa waktu lalu, ia membaca komik detektif itu dan kini ia kembali membuka halaman yang sempat ia tandai dengan pensilnya.

 

“Astaghfirullah ...” Kamelia terkejut, mendapati darah menetes dari hidungnya dan jatuh di komik yang sedang ia baca.

 

Kamelia mengusap hidungnya, dilihatnya darah merah segar di telapak tangannya. Wajahnya pucat, panik. Ia takut kalau sang ibu kembali ke kamar ini dan mendapati dirinya sedang mimisan.

 

Ditariknya selimut yang berada di atas bantal lalu dililitkannya ujung kain itu setipis dan sekecil mungkin agar masuk ke lubang hidungnya. Beberapa bantal dan guling ia tumpuk menjadi satu lalu ia duduk menyandar pada tumpukan itu dan menegakkan kepalanya agar darah itu tidak terus mengalir.

 

Gadis yang baru berusia tiga belas tahun itu berusaha tenang dan menarik nafas panjang, menetralkan debaran jantung yang tadi sempat kencang. Sesekali mulut kecilnya berdoa agar darah di hidungnya berhenti mengalir dan  ibunya tidak mengetahui kejadian ini.

 

Nampaknya usaha untuk menenangkan hatinya tadi sia-sia. Debaran jantungnya kini makin hebat seiring badannya menghangat dan tubuhnya mulai kejang-kejang. Ingin rasanya berteriak memanggil ibu namun tenggorokannya tercekak.

 

“Sayang... ibu bikinin jus buah dan sayuran buat kamu neh.” Terdengar suara Aminah dari luar pintu dan itu menjadi panggilan indah buat Kamelia kali ini. Tak lama berselang, daun pintu itu terbuka dan alangkah terkejutnya Aminah melihat anak kesayangannya sedang kejang-kejang. Bulir busa putih pun keluar dari mulutnya.

 

“Kamelia. Kamu kenapa, Nak? Pak... Bapak... cepat sini, Pak!!!”

 

(Bersambung)

 

BAT 5 Dasar Cewek Absurd

1 0

BAB 5

Dasar Cewek Absurd!

 

Laptop berukuran 17 inci bergambar apel itu dibiarkan menyala begitu saja tanpa disentuh. Lebih dari satu jam, Abian berada di meja kerjanya namun pikirannya melayang entah ke mana. Gambaran wajah Anyelir masih teringat jelas di pelupuk matanya. Biasanya, di jam sore seperti ini mereka terbiasa bersama menghabiskan waktu berbincang, bercanda atau menghibur diri layaknya suami isteri. Delapan tahun kebersamaan indah itu tidak mungkin hilang begitu saja di  benak lelaki berusia 32 tahun itu.

 

Abian menghela nafas panjang, mengeluarkan rasa sesak  yang memenuhi rongga dadanya. Rindu yang membuncah pada wanita yang dicintainya selama ini, semakin menguat. Ia pun sangsi dengan harapan bahwa akan ada sosok pengganti isterinya yang akan mewarnai hari-harinya kelak.

 

 Tangannya bergerak mengambil bingkai foto yang berdiri di atas meja kerjanya. Senyum manis terukir indah di wajah cantik itu. Anyelir, wanita sederhana tanpa cacat di mata Abian, meninggal karena sakit yang dideritanya.

 

“Gak mau. Aku gak mau makan.” Suara lengkingan Zen dari ruang tengah membuyarkan lamunan Abian. Ia pun bangkit dari duduknya dan mendekati anak kecil itu yang sedang dibujuk oleh baby sitternya untuk makan.

 

“Ayo Zen, kamu harus makan dulu. Nanti kamu bisa sakit,” ucap Bi Yati, wanita paruh baya yang telah lama bekerja di rumah ini dan membantu merawat Zen.

 

“Biar sama saya aja, Bi. Ayo Zen, makan sama Papi, ya.”

 

Bocah kecil itu mengangguk. Lalu bi Yati pergi meninggalkan ayah dan anaknya di meja makan. Namun, baru satu suap makanan itu masuk di mulut mungilnya, Zen berlari-lari ke ruang tamu, ke dapur terus bulak balik seperti iitu sambil memanggil papinya berharap ayahnya itu akan mengejarnya.

 

“Zen, makan itu sambil duduk. Gak boleh sambil lari-lari kayak gitu. Ayo!”

 

“Gak ma-u. Ayo papi tangkap Zen. Nanti Zen baru mau makan. Hehe...”

Abian mendesah. Akhirnya ia mengikuti kemauan anak kecilnya itu. Tapi, langkak kaki kecil Zen begitu lincah menyulitkan Abian yang ingin menangkapnya.

 

“Ayo Zen, Papi capek, Nak,” seru Abian menyerah. Ia menatap tajam pada gadis kecilnya. Tapi Zen tak bergeming, ia terus berlari ke sana kemari.

 

“Mungkin ia rindu sama maminya, Tuan. Ia biasa main dengan nyonya  ketika makan,” kata Bi Yati yang menyadarkan Abian agar ia tak memarahi anak kecil itu.

 

Tak lama kemudian suara bel berbunyi. Bi yati bergegas membukakan pintu depan rumah itu.

 

“Halo bi Yati. Aku gak ganggu kan?”

 

“Eh, neng Rose. Gak Neng. Ada perlu apa?”

 

“Papi Zen ada gak Bi? Aku mau kasih ini. Tugas kampus.”

 

“Oh... ada  ada. Ayo masuk neng.”

 

Rose mengikuti langkah bi yati memasuki ruang tengah. Decak kagum tergambar di wajah gadis itu kala melihat desain interior minimalis rumah berlantai dua itu.

 

“Tante...” seru Zen sambil berlari menghambur ke arah Rose dan memeluknya.

 

“Hai Zen, aku kangen lho sama kamu. Kamu lagi apa?”

 

“Aku lagi main lari-lari sama Papi. Tapi papinya gak mau. Katanya capek. Aku jadi kesel. Gak mau makan.” Zen mengerucutkan bibir mungilnya, menambah gumush yang melihatnya.

 

Rose melirik ke arah Abian yang masih berdiri di dekat meja makan.

 

“Hey,,, jangan cemberut gitu dong anak manis. Mending sekarang main sama tante aja yu. Tapi sambil makan ya,” ajak Rose yang langsung diiyakan oleh Zen.

 

“Mau.. aku mau main sama tante.” Zen meloncat kegirangan. Bi yati datang menghampiri Rose dan memberikan piring  yang berisi makanan yang belum dihabiskan sepenuhnya oleh Zen.

 

“Di sini aja tente, aku mau nunjukin mainan aku sama tante.” Zen menarik tangan Rose, menuju ke ruang mainan anak yang berada di samping ruang tengah. Mereka duduk di lantai beralas karpet puzzle anak yang bergambar kartun dan alphabet.

 

“Wah... mainan kamu banyak banget, Zen. Dulu juga tante masih kecil suka main ini neh,” Rose mengambil itik ayam berwarna kuning lalu memutar kuncinya kemudian itik ayam itu bergerak-gerak.

 

“Hehe... lucu, ya.”

 

“Iya Tante, aku juga suka itu. Ha ha ...”

 

Derai tawa Rose dan Zen terdengar riang di telinga Abian. Lelaki itu sedang duduk menonton televisi di ruang tengah. Tapi sepertinya acara televisi tidak menarik baginya karena ia lebih intens mendengarkan percakapan gadis berjilbab pink itu dengan putri kecilnya.

 

“Hai Pak Abian, sebentar ya, aku main sama Zen dulu. Nanti baru menghadap bapak. Oke!” ucap Rose yang berhasil menangkap basah Abian yang sedang memperhatikan mereka.

 

Lelaki itu pun sedikit terkejut dan segera mengalihkan pandangannya lagi ke televisi.

 

“Ih, papi lucu. Mukanya merah. Ha ha ...” celetuk Zen dengan polosnya. Ternyata putri kecilnya itu sempat melihat wajahnya yang memerah karena malu.

 

“Ehem. Bi... cepat bawa Zen pergi mandi. Nanti kesorean gak baik.” Kata Abian tegas, mengalihkan perhatian Rose dan Zen yang masih tertawa.

 

“Ayo, putri kecil. Mandi dulu. Permisi ya neng Rose.” Pamit bi Yati pada Rose

 

“Tante, aku mandi dulu ya, nanti kita main lagi.”

 

“Siap tuan putri.”

 

Setelah Bi Yati membawa Zen ke lantai atas, Rose mendekati Abian yang masih duduk menonton televisi.

 

“Ini, Pak. Tugas saya udah selesai. Semua makalah mahasiswa Bapak udah saya koreksi. Tapi ini baru penilaian saya,  selanjutnya Pak Abian yang menilai.” Rose memberikan beberapa file makalah yang sudah dijilid itu pada Abian. Kemudian ia menduduki sofa di sisi dosen muda itu.

 

Hatinya berdesir hebat, jantungnya berdetak lebih kencang saat ia menatap dosen itu dari samping dengan jarak yang cukup dekat. Wajah putih bersih dengan jambang tipis di sisi pipinya, ditambah hidung mancung serta alis hitam yang begitu rapi. Segera ia mengalihkan pandangannya ke depan, agar rasa aneh itu segera pergi.

 

“Oke, lumayan, tugas pertamamu tidak mengecewakan. Tapi jangan senang dulu. Itu baru awal. Tugas barumu sudah menanti,” ucap lelaki itu datar dan dingin. Matanya masih fokus pada beberapa map yang tadi diberikan oleh Rose.

 

“Apa? Duh... jangan koreksi makalah lagi, Pak. Saya pusing.”

 

“Kamu banyak protes ya, saya ini atasan kamu. Jadi kamu harus nurut.”

 

“Ih, Pak Abian lucu deh kalau lagi marah, bikin gumush. Coba senyum, pasti lebih kyut. Hehe...”

 

Mendadak raut wajah Abian berubah, dahinya mengeryit. Ia heran dengan wanita di depannya ini yang sedang terkekeh.

 

Dasar cewek absurd!

 

“Eh, Pak, bentar. Jangan gerak. Itu ada ....”

 

Rose mencondongkan tubuhnya pada Abian, sontak lelaki itu terkejut dan memundurkan wajahnya.

 

“Hey, Kamu mau ngapain?”

 

“Nah... dapet. Ini Pak, ada semut di baju Bapak. Semut api-api lagi. Ntar kalo Bapak digigit gimana. Kan sakit.”

 

Abian menarik nafas, lega. Dibuang pikiran kotornya jauh-jauh tentang cewek itu yang  dikira mau melakukan hal aneh terhadapnya.

 

“Ternyata bener, ya apa kata orang-orang.  Pak Abian itu manis. Semut aja deketin Bapak. Hehe...”

 

Tawa Rose langsung berhenti tatkala mata Abian melotot ke arahnya.

 

(Bersambung)

 

BAT 6 Kemoterapi

1 0

BAT 6

Kemoterapi

 

Mobil Ambulance telah bergerak membawa Kamelia pergi ke rumah sakit. Beberapa selang kesehatan telah terpasang di tubuh anak kecil itu. Raut kecemasan tergambar jelas di wajah Aminah dan Burhan. Mereka terus merapalkan doa agar buah hatinya bisa diselamatkan dan kembali sehat.

 

Mobil  putih bersirene itu berhenti di depan ruang IGD. Beberapa perawat langsung menghampiri tatakala pintu ambulance itu terbuka. Mereka membawa kamelia untuk diperiksa secara intensif.

 

“Bapak dan Ibu lebih baik tunggu di sini. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolong Kamelia,” ucap dokter Budi, yang juga pernah memeriksa dan mengoperasi Kamelia beberapa waktu lalu.

 

“Baik dokter. Tolong anak kami, dok,” lirih Burhan. Dokter berkacamata itu mengangguk lalu bergegas pergi menuju ruang ICU dimana Kamelia kini diperiksa.

 

Rasanya baru kemarin, Aminah dan Burhan berada di sini, menunggui anak mereka yang di rawat di rumah sakit. Aroma khas gedung ini kembali terrcium seakan sudah menjadi teman dekat bagi dua orang tua itu.

 

“Kenapa Kamelia bisa drop gitu lagi, Bu. Bukannya tadi biaik-baik saja,” tanya Burhan heran.

 

“Ibu juga gak tahu kenapa, Pak. Tadi pas ibu tinggal ke dapur, dia masih sehat,” jawab Aminah tak kalah cemas dengan suaminya.

 

Akhirnya mereka memilih diam sambil berdoa dalam hati. Setelah kurang lebih satu jam menunggu, dokter yang memeriksa Kamelia akhirnya keluar darii ruangan intensif itu.

 

“Bagaimana dokter, putri kami ?”

 

“Alhamdulillah, Kamelia sudah melewati masa kritisnya dan sekarang mau dipindahkan ke ruang rawat inap. Saya berpesan pada bapak dan ibu agar Kamelia segera menjalani kemoterapi jika keadaannya sudah membaik.”

 

“Iya dokter. Kami akan menuruti saran dari dokter jika itu yang terbaik untuk Kamelia.”

 

Setelah menjelaskan tentang bagaimana kemoterapi itu akan berjalan, Dokter Budi pamit undur diri pada Aminah dan Burhan. Setelahnya mereka berdua menemani Kamelia yang sudah dibawa ke ruang rawat inap.

 

***

 

Pagi ini jadwa kemo untuk Kamelia sudah ditentukan, gadis kecil itu terlihat lebih baik dari keadaan sebelumnya beberapa hari yang lalu. Meski wajahnya masih pucat, tapi ia masih bisa senyum ceria. Kedua rang tuanya yang justru terlihat gugup dengan kemo yang akan dijalani buah hatinya.

 

Tak lama kemudian datang dokter Budi bersama dua dokter lainnya dan beberapa perawat.

 

“Bapak, Ibu, kami mohon ijin untuk membawa Kamelia ke ruang pemeriksaan untuk menjalani kemoterapi. Ini ada dokter Farhan dan dokter Ibas, serta beberapa suster yang akan memdampingi Kamelia selama menjalani proses Kemoterapi,” jelas dokter Budi.

 

“Iya, silahkan dokter.”

 

Seorang  perawat mendorong kursi roda dan satu perawat lagi memegang selang infus.  Mereka berjalan beriringan dengan para dokter menuju ruang pemeriksaan. Burhan dan aminah melepas kepergian anaknya dengan hati penuh harap dan tak henti mereka mendoakan agar proses kemo berjalan dengan lancar dan kamelia bisa sehat kembali.

 

Kemoterapi berjalan selama kurang lebih tiga jam. Aminah dan burhan setia menunggu dan bersabar. Burhan tak lupa menghubungi temannya yang juga direktur rumah sakit itu. Tak lain adalah meminta keringanan biaya pengobatan Kamelia.

 

“Sebenarnya saya merasa malu, meminta keringanan lagi padamu, Jamal,” ucap Burhan lewat telpon.

 

“Biasa aja. Kita ini teman lama bahkan sudah jadi saudara. Saya bisa sesukses ini juga berkat bantuan kamu. Saya tidak lupa itu. Dulu, saat kita SMA, saya numpang di rumah orang tua kamu. Pokonya saya banyak nyusahin keluarga kamu waktu itu. Anggap aja, sekarang saya balas budi. Jadi, jangan terlalu sungkan jika butuh apa-apa. Oke.”

 

“Makasih, Mal. Kamu teman yang sangat baik.”

 

“Sama-sama. Oh ya, saya sekarang lagi meeting. Kalau jadwal saya udah selesai hari ini, saya akan mampir jenguk kalian.”

 

Setelah beberapa kali mengucapkan terima kasih, Burhan menutup telponnya. Ia sangat bersyukur mempunyai teman sebaik Jamal. Walaupun temannya itu sangat sibuk karena meiliki beberapa usaha di bidang kesehatan, properti dan kuliner, ia masih mau menerima telpon dari Burhan.

 

Berbeda dengan Jamal yang telah sukses, Burhan hanyalah seorang karyawan swasta. Ia sempat ditawari bekerja bersama Jamal, namun Burhan menolaknya. Ia tidak ingin ada anggapan miring tentang dirinya yang serta merta mendapatkan jabatan penting di perusahaan. Burhan ingin meraih kesuksesan dari bawah.

 

Tapi, sepertinya Tuhan belum menginjinkannya sukses seperti Jamal. Sejak menikah dengan Aminah, dirinya kerap kali mendapatkan ujian. Terlebih kedua orang tuanya tidak menyetujui pernikahan mereka.  Aminah dan Burhan pergi dari Bandung dan mengadu nasib di Jakarta.

 

Seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan, tempat di mana Kamelia melaksanakan kemoterapi. Burhan langsung menghampiri dokter itu.

 

“Bagaimana dokter? Apa kemonya berjalan dengan baik?”

 

“Kemoterapinya memang sudah selesai, tapi kami sepertinya harus mengambil tindakan Radioterapi juga untuk pasien,” jawab dokter Farhan.

 

“Maksudnya apa dokter? Saya tidak mengerti.” Burhan kembali bertanya.

 

“Radioterapi adalah terapi yang dilakukan dengan menembakkan sinar khusus ke area yang terkena leukimia limfoblastik, gunanya untuk membunuh sel-sel kanker dan mempercepat proses penyembuhan pada pasien.”

 

Burhan dan Aminah terlihat manggut-manggut walaupun sebenarnya mereka berdua kurang mengerti. Tapi mereka memutuskan untuk mengikuti arahan dari dokter rumah sakit ini. Karena Burhan percaya bahwa Jamal telah menunjuk dokter terbaik untuk anaknya.

 

(Bersambung)

 

Semoga pembaca mengerti ya, alur cerita ini.

Baca juga ceritaku yang lainnya:

  • Bukan Salah Ta’aruf
  • Rahasia Terdalam Suamiku.

BAT 7 Wajahmu Mengalihkan Duniaku

2 0

BAT  7

 

Drrt... Drrt...

 

Bunyi hape bergetar, bergesekan dengan meja kayu. Rose langsung menyambar benda pipih itu dan menggeser layarnya ke atas.

 

[Gantikan saya mengajar di gedung A, jam 8 pagi, di Gedung B jam 10. Gak pake telat!]

 

“Ya Tuhan, ini orang enak banget main suruh-suruh aja. Mendadak banget lagi. Untung gue udah mandi,” kata Rose setengah kesal, lalu ia mulai mengetik balasan.

 

[Siap Papi Zen, emangnya Papi mau kemana seh? Kok saya gantiin Papi ngajar. Mau jalan-jalan, ya. Ikut...]

 

Rose terbahak-bahak dengan pesan yang ditulisnya, ia menyelipkan emoticon dua mata lope lope dengan niat menjahili dosen killer itu.

 

Pesan itu langsung dua centang biru dan terlihat Abian sedang mengetik balasan.

 

[Jangan panggil saya Papi karena saya atasan kamu. Saya mau ke mana itu juga bukan urusan kamu.] balas Abian dengan emoticon kesal.

 

“Duh, sensi banget. Gak bisa becanda apa ini orang.”

 

Rose kembali membalas chat dosen killer itu.

 

[Sorry, Pak.  Jangan marah dong, saya sedih neh klo Pak Abian marahin saya. Oke siap, Pak Boss, saya langsung meluncur ke kampus.  Tapi ada syratnya, ya, Pak. Hehe...]

 

Di rumahnya, Abian terperanjat membaca chat balasan dari asdos yang juga tetangganya itu. Ia sedang menikmati sarapan bersama Zen.

 

 Pagi ini Dosen muda itu tidak bisa mengajar karena harus mengikuti Seminar Nasional tentang ‘Perkembangan Ekonomi Terkini dan Kebijakan Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah’, Abian ditunjuk sebagai perwakilan dari kampusnya dan juga menjadi salah satu narasumber pada seminar itu.

 

“Aneh neh cewek. Ngerjain tugas kok ada syaratnya. Oke, aku ikutin maumu,” Abian berkata sendiri.

 

[Apa syaratnya?]

 

Abian penasaran dengan chat yang sedang diketik Ros, ia pun menungguinya, kedua matanya tidak mengalihkan sedikitpun pada layar hapenya.

 

“Papi kenapa, seh? Lagi suka saos ya? Kata mami kan gak boleh banyak makan saos?” ucap Zen heran yang melihat Abian terus menuangkan saos pada roti sandwichnya.

 

Mendengar ucapan putri kecilnya itu, Abian sontak kaget dan langsung melempar botol saos sambal itu ke samping.

 

“Astahgfirullah, Papi kira ini selai kacang. Hehe...”Abian terkekeh, ia malu dilihat Zen.

 

Dasar cewek absurd, gara-gara kamu sarapan saya jadi amburadul.

 

Ting.

 

Kembali hape Abian berbunyi, tanda ada pesan chat yang masuk. Segera lelaki itu mengambil handpone nya yang berada di sisi  meja.

 

[Bapak traktir aku makan, ya. Biar aku gak ngeluarin jatah makan siang. Hehe..]

 

[Oke.]

 

Siip.

 

Ros langsung bergegas berganti pakaian. Ia memilih baju set blazer berwarna hitam dengan bawahan celana panjang dipadu dengan jilbab berwarna krem. Ditambah dengan sedikit polesan make-up di wajahnya dan kini ia terlihat cantik dan manis.

 

“Mau kemana, sayang. Pagi-pagi udah cantik. Udah mulai ngajar?” tanya sang ayah yang sedang menonton berita di televisi.

 

“Iya, Yah. Mendadak lagi.”

 

Rose mengambil nasi  goreng yang berada di meja makan lalu duduk di samping ayahnya.

 

“Emangnya kamu belum ada jadwal pasti, kapan kamu ngajar? Kok mendadak gitu.”

 

“Kan aku masih asdos, Asisten Dosen. Jadi harus selalu siap jika dosennya gak bisa ngajar. Gitu loh Yah.”

 

“Oh begitu. Tapi kamu haus ingat, jangan lupa obat sama vitaminnya diminum.”

 

“Siap Pak Boss. Itu mah wajib, gak boleh lupa. Hehe...”

 

Rose masih mengunyah nasi goreng kesukaannya itu sambil sesekali mengecek notif dari layanan sosmednya.

 

“Rose, kamu udah kasih salam belum ke Ibu?”

 

“Udah yah, sebelum Rose pergi ke luar rumah, ros pasti ke kamar ibu dulu. Dan setiap habis sholat, Rose selalu doain ibu.”

 

Setelah menghabiskan sarapannya, Rose pamit pada ayahnya yang kini menjadi single parent. Rose mengeluarkan motor maticnya dan memanaskannya terlebih dahulu. Tak disangka, tetangganya pun melakukan hal yang sama.

 

“Pak Abian, mau kemana, Pak?” tanya Rose pada dosen atasannya yang sedang bersiap menaiki mobil. Rose menghampirinya dan berdiri di dekat pintu pagar rumah itu yang sudah terbuka lebar.

 

“Saya ada seminar, jadi kamu yang mengajar. Untuk silabusnya kamu sudah paham kan, untuk materi tambahan dan tugas, nanti saya share,” jawab Abian lugas dan tegas.

 

Namun, perhatian Rose bukan pada ucapan Abian, ia justru terpesona dengan penampilan dosen tampan itu yang memakai setelan jas hitam yang sangat keren.

 

“Hey, kamu dengar saya tidak?”

 

“Eh, i-iya, Pak. Saya denger. Bapak ganteng banget soalnya. Jadi dunia saya teralihkan dengan wajah bapak. Hehe...”

 

Abian hanya menggelengkan kepalanya.

 

“Tapi sayang banget, ada yang kurang sama penampilan bapak yang udah keren ini.”

 

“Apa?” Abian merasa terpancing dengan ucapan perempuan yang dilihatnya masih ada sisa cabe di gigi depannya.

 

“Bapak tuh dingin, kaku, kayak kanebo yang lagi dipegang Pak Dul tuh, ya Pak Dul? makanya senyum, Pak. Biar tambah kyut kayak artis korea. Hehe...”

 

Pak Dul –tukang kebun- yang sedang mengelap mobil sedan milik Abian pun tersenyum meringis.

 

“Saya tidak mau senyum pada wanita  di depan saya yang masih ada cabe di giginya.”

 

“Apa? Itu aku dong? OMG...”

 

Rose berlari ke motornya dan langsung melihat dirinya lewat kaca spion motor itu,

 

“Oh tidak. Dasar cabe gak ada akhlak. Ngapain dia parkir di gigi gue.”

 

Mobil Abian mulai keluar dari garasi dan sempat membunyikan klakson.

 

“Eh, Pak. Tunggu. Aku belum selesai ngomong. Pak Abian!!!”

 

Rose mendesah, percuma juga jika ia mengejar mobil yang melaju cepat itu. Tenaganya tidak akan kuat.

 

***

 

Rose menyeruput es jeruk hingga habis. Suasana siang yang panas ini memang pantas minum yang seger-seger sekaligus mengembalikan moodnya yang sempat berantakan saat mengajar di dua kelas tadi.

 

Ya, Abian mengirim tugas dan meminta Rose untuk menyampaikan pada mahasiswanya. Yaitu, membuat resume buku ‘Pengantar Ekonomi: Teori dan Aplikasi’. Beruntung para masiswa itu baik walaupun Rose sempat disoraki oleh mereka.

 

“Pasti aku juga nanti yang mengoreksinya. Hufh, nasib jadi asdos. Lho! Bukannya itu sama saja dia makan gaji buta? Dia enak-enakan jalan sedang aku yang kerja. Awas kamu Abian!!!” Rose sedikit geram sambil menggenggam kuat gelas plastik es jeruk tadi hingga remuk.

 

Karena sudah tidak ada lagi yang dikerjakannya di kampus ini, Rose memutuskan untuk pulang. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Bandung. Semilir angin membuat matanya sedikit terkantuk ditambah dengan tubuhnya yang cepat sekali lelah jika beraktifitas berlebihan.

 

Motornya sedikit oleng dan ...

 

BRUGH!!

 

Rose dan motornya terjatuh ke pinggir jalan sebelah kiri. Beberapa orang yang sedang berada di sana langsung mendekat. Termasuk sebuah mobil yang tadi melaju berada di belakang motornya.

 

“De, kamu gak apa-apa?” tanya salah seorang bapak yang membantu Rose dan motornya untuk berdiri.

 

“Iya, gak apa-apa, pak. Cuma lecet sedikit,” jawab Rose sambil sedikit meringis, merasakan sakit pada lututnya.

 

Kerumunan yang sempat tercipta tadi langsung memudar setelah melihat Rose baik-baik saja.

 

“Rumahmu di mana, Nak? Apa masih jauh? Saya lihat kamu tadi mengendarai motornya tidak baik,” ucap bapak tadi yang terlihat khawatir dengan keadaan Rose.

 

“Rumah saya sudah deket, Pak. Itu di depan gang sana.” Rose menunjuk jalan pertigaan di depan yang berjarak kurang dari seratus meter dari tempatnya berdiri.

 

“Beneran kaki kamu gak apa-apa? Saya ikut khawatir soalnya.”

 

“Iya, Pak. Saya baik-baik aja. Masih kuat kok bawa motor ini. Hehe...”

 

“Ya udah, kalau gitu, saya duluan, ya. Hati-hatidi jalan!”

 

“Sama-sama, Pak.” Rose mengangguk, tanda terima kasih pada lelaki paruh baya berpakaian rapi itu.

 

Pria itu kembali masuk ke dalam mobilnya dan sempat berpikir tentang gadis tadi yang wajahnya cukup familiar di ingatannya.

 

“Gadis itu mirip siapa, ya? Kok aneh, berasa kenal deket gitu. Udah lah, mungkin hanya mirip.”

 

Mobil sedan hitam itu bergerak dan membunyikan klakson saat melewati Rose yang sedang bersiap menaiki motor.

 

(Bersambung).

 

Ada yang bisa nebak, kira-kira siapa ya, bapak-bapak itu? Hehe...

Nantikan bab selanjutnya, ya.. makasih...

BAT 8 Mencari Pendonor

1 0

Bab 8

Donor Sumsum Tulang Belakang

 

Sepuluh tahun berlalu, Kamelia tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan periang. Proses kemoterapi dan radioterapi yang dijalannyai beberapa kali selama kurun waktu satu dasawarsa itu berjalan dengan baik. Sebagian besar memang para pengidap penyakit leukimia akut ini 75 persen sembuh dan hanya bisa bertahan maksimal lima tahun. Tapi bagi Kamelia, ini adalah sebuah keajaiban.

 

Meski  gadis kecil yang kini tumbuh menjadi dewasa itu belum dinyatakan sembuh sempurna dari penyakit leukimia oleh dokter, Kamelia dan kedua orang tuanya sangat bersyukur bisa bertahan selama ini.

 

Kamelia meletakkan topi toganya di meja  minimalis yang terbuat dari kayu jati. Senyum terkembang menghias di wajah cantiknya. Ia baru saja menyelesaikan studi S1 nya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Lewat home scholling dan mengikuti ujian paket C, ia berhasil masuk ke perguruan tinggi yang ia impikan sejak dulu. Dan kini ia menyandang gelar Sarjana Ekonomi.

 

Tubuh gadis itu tidak lagi kurus alias cungkring, kini normal seperti gadis seusianya. Jilbabnya pun tak pernah ia tanggalkan meski rambut hitamnya sudah tumbuh. Gadis berlesung pipi itu nyaman menggunakan penutup kepala sejak ia kecil dulu.

 

“Selamat, ya, Sayang. Kamu berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan. Ayah bangga padamu, Nak.”

 

“Ibu juga.”

 

Kedua manik milik Aminah dan Burhan, berbinar, memeluk sang buah hati . Mereka sangat terharu karena bisa mendampingi buah hati di masa sulitnya sampai sejauh ini. Berbagai upaya pengorbanan yang mereka lakukan selama ini tidak sia-sia. Kedua orang tua itu hanya ingin anaknya bahagia, meraih cita-citanya yang ingin kuliah hingga S2 dan  mengajar menjadi dosen di salah satu universitas.

 

Malam telah larut, Kamelia masih berkutat pada laptopnya. Ia telah mengirimkan beberapa lamaran pekerjaan sebagai asdos atau aisten dosen di beberapa perguruan tinggi di Jakarta dan Bekasi. Tiba-tiba kepala Kamelia terasa berdenyut dan penglihatannya mulai kabur. Mungkin karena ia kelelahan mengerjakan berkas-berkas lamaran di laptop kecilnya, pikirnya.

 

Wanita dengan tinggi 160 cm itu memutuskan untuk beristirahat, sekedar merebahkan tubuh di kasurnya. Akan tetapi, penglihatannya seakan membayang dan bergoyang. Ia kembali bangun dan menumpuk beberapa bantal agar posisi kepalanya lebih tinggi saat ia merebahkan tubuhnya.

 

Jam di dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Ayah dan ibunya pasti sudah tidur. Kamelia tak ingin mengganggu istirahat mereka, lebih baik ia segera tidur, mungkin itu akan membuatnya terasa lebih baik.

 

***

 

Pagi hari, Kamelia sudah bersiap dengan pakaian kemeja kerja, blazer set berwarna krem. Semalam, ia mendapat notif untuk tes wawancara di universitas swasta di ibukota. Gadis yang baru saja ultah ke-23 tahun itu merasa senang karena ini adalah momen pertamanya memasuki dunia kerja.

 

“Pagi sayang, wah... massya Allah, anak ibu cantik banget,” ujar Aminah sambil menata nasi goreng  yang baru selesai di masak.

 

“Ibu bisa aja. Hari ini aku mau ngelamar kerjaan, Bu, langsung tes wawancara di Universitas Harapan. Doain ya, Bu.”

 

Kamelia mencomot tempe goreng yang tersedia di meja makan lalu melahapnya dengan cepat. Setelah itu ia meminum segelas susu putih yang telah disiapkan ibunya di meja itu. Tanpa sadar, hidungnya memanas. Dengan gerakan slow motion, gadis berwajah imut itu memegang  indera penciumannya.

 

Warna merah darah nampak di jari dan telapak tangan Kamelia. Ia berusaha tetap tenang dan tidak panik agar sang ibu tidak mengetahuinya. Entah kenapa Rasa cemas ini kembali muncul setelah beberapa tahun yang lalu sirna.

 

“Kamu kenapa, Sayang? Kok keluar darah?”

 

Naas, Aminah telah melihat darah di tangan anaknya sebelum kamelia menyembunyikannya dengan mencuci tangan di toilet.

 

“E...ehm, gapapa kok bu, ini Cuma mimisan biasa. Tadi malam kamelia begadang ngerjain lamaran kerja. Mungkin, kamelia kena panas dalam. Hehe...”

 

Raut wajah Aminah datar. Ia ingin percaya dengan jawaban dari anakknya namun hati kecilnya menangkap ada signal-signal kekhawatiran. Bukankah firasat seorang ibu terhadap anaknya 90 persen selalu benar?

 

Aminah memaksakan senyum diwajahnya, ia tidak ingin merusak kebahagian kamelia karena hai ini anaknya itu akan melakukan tes wawancara.

 

“Cepat bersihkan tanganmu, lalu kita makan. Ibu mau panggil ayah dulu.”

 

Aminah beranjak pergi ke ruang tamu karena di sana ada Burhan yang sedang membaca koran. Sedangkan Kamelia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.

 

‘Ya Allah, kuatkanlah hamba. Semoga tidak terjadi apa-apa denganku hari ini.’ Doalnya dalam hati.

 

***

 

Kring... Kring...

 

Bunyi dering handphone mengagetkan Burhan yang sedang istirahat siang. Lelaki paruh baya itu baru saja  sampai di rumah, menanggalkan jaket hijau, khas ojek online di kursi meja makan. Sejak perusahaan tempat ia bekerja menerapkan sistem shift pada karyawaan, Burhan memilih menjadi ojek online sebagai pekerjaan sampingannya.

Dahi lelaki berjenggot tipis itu mengernyit, melihat panggilan di layar hapenya berasal dari nomor tidak dikenal.

 

“Halo, Assalamu’alaykum.”

 

“Wa’alaykumsalam. Benar ini ayahnya Kamelia? Saya Nita, perawat di rumah sakit Harapan.”

 

“Iya, Bu. Saya Burhan, ayahnya Kamelia. Ada apa ya, suster?”

 

“Begini, Pak. Kamelia tadi mengalami pingsan saat akan melakukan tes wawancara. Dari hasil pemeriksaan dokter, kamelia mengidap penyakit leukimia. Jadi, Bapak segera datang ke sini karena sudah ditunggu oleh pihak rumah sakit.”

 

“I-iya suster. Saya akan segera ke sana. Terimakash suster.”

 

Tangan burhan gemetar saat ia meletakkan benda pipih itu di meja makan. Tubuhnya luluh seakan tulang disekujur badannya tak berfungsi. Terbayang memori beberapa tahun yang lalu saat gadis kecilnya meronta kesakitan ketika menjalanani kemoterapi dan radioterapi, kembali hadir.

 

“Bapak sudah pulang. Mau ibu siapkan makan?”

 

Pertanyaan Aminah, isterinya menyadarkan dirinya agar mereka berdua harus segera ke rumah sakit.

 

“Bu, ayo, Bu, kita ke rumah sakit. Kamelia pingsan.”

 

“Apa? Ka-kamelia pingsan? Kenapa, Pak? Bukannya dia lagi melamar pekerjaan?” pekik Aminah seakan tidak percaya.

 

“Tadi bapak ditelpon suster. Ayo ibu sia-siap. Kasihan anak kita di sana, Bapak takut kenapa-kenapa, Bu.”

 

“Iya, Pak. Ibu ganti baju dulu.”

 

Tidak lebih dari sepuluh menit, pasangan suami isteri itu sudah siap dan bergegas menaiki sepeda motornya  menuju rumah sakit harapan yang terletak di pinggir kota Jakarta.

 

***

 

 “Bagaimana Kamelia, dokter, apa dia baik-baik saja?” tanya Burhan pada seorang laki-laki berjubah putih di depannya. Burhan dan Aminah sudah sampai beberapa menit yang lalu di rumah sakit ini dan langsung menemui dokter Budi.

 

“Begini, pak. Penyakit yang diderita oleh Kamelia memiliki keunikan. Dulu, ia menjalani proses kemoterapi dan radioterapi dengan baik dan hasilnya pun bagus. Kamelia masih bertahan hidup sampai sekarang. Saya juga bersyukur mengetahui hal itu.

 

Akan tetapi, setelah tadi pagi kami melakukan tes kembali pada Kamelia, masih ada sel kanker yang bersemayam di tubuh gadis itu. Jumlahnya memang sedikit, tapi sel kanker itu cepat sekali berkembang dan menjalar ke organ tubuh. Kami sarankan agar kamelia melakukan transplantasi atau pendonoran sumsum tulang belakang, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.”

 

Burhan dan Aminah memasang wajah tegang saat mendengarkan penjelasan dari dokter budi. Hati dan pikirannya diliputi petanyaan tentang donor sumsum tulakang.

 

“Lalu bagaimana dokter? Apa kami bisa mendapatkan donor itu?”

 

“Donor sumsum tulang belakang berbeda dengan donor darah. Pendonor harus memenuhi kriteria kecocokan sumsum tulang belakang. Biasanya itu dimiliki oleh saudara kandung atau orang tua.”

 

“Kamelia tidak punya saudara, dokter. Dia anak kami satu-satunya. Jadi, biarlah kami yang menjadi pendonornya,” imbuh Burhan yang diamini oleh isterinya.

 

“Baik. Kalau begitu, bapak dan ibu harus dites terlebih dahulu agar kami bisa mengetahui siapa yang kecocokan sumsum tulangnya yang lebih tepat. Mari, ikut saya!”

 

Dokter budi bangkit dan berjalan menuju ruang pemeiksaan yang diikuti oleh Burhan dan aminah dibelakangnya.

 

***

 

Burhan berjalan gontai usai keluar dari ruangan dokter Budi. Sang isteri sedang beristirahat sambil menunggui Kamelia di ruang rawat inap. Rangkaian tes yang dilakukan bersama isterinya telah mereka lakukan empat jam yang lalu. Dan hasilnya pun sudah keluar dalam  berkas laporan yang berada di map coklat yang ia pegang.

 

Jantungnya masih berdebar kala mengingat penjelasan dari dokter Budi tadi.

 

“Dari hasil tes ini, bapak dan ibu memiliki peluang kecocokan yang berbeda. Pak Burhan hanya o,5 persen sedangkan ibu Aminah peluangnya lebih besar, yaitu 25 persen. Tapi, jika bu Aminah tetap ingin mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada Kamelia, maka ia akan mengalami risiko komplikasi yang lebih tinggi karena mengingat usia beliau sudah lebih dari 44 tahun dan mempunyai anemia.”

 

“Lalu bagaimana dokter, solusinya. Saya benar-benar bingung.”

 

“Ada satu cara lagi sebenarnya, yaitu donor asing atau pendonor bukan dari kalangan keluarga. Tapi sulit sekali mencari orang yang mau mendonorkan sumsumnya dengan kecocokan yang tinggi. Saya juga sudah menghubungi pihak rumah sakit lain untuk meminta bantuan. Kita tunggu saja beberapa hari. Semoga kembali ada keajaiban untuk Kamelia.”

 

Tubuh lelaki tua itu gemetar hebat. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan semua ini pada Aminah, isterinya. Alih-alih pergi ke ruang dimana Kamelia dirawat, burhan pergi ke mushalla rumah sakit itu. Menekuri semua kesalahan yang terjadi sekaligus memohon pertolongan pada Sang Penolong.

(Bersambung)

BAT 9 Tetangga Masa Gitu

1 0

BAT 9

 

“Kakek... aku kangen.” Zen berlari seraya membentangkan kedua tangannya ke depan, berharap sang kakek menangkap dan memeluknya.

 

Lelaki paruh baya yang rambutnya mulai memutih itu merespon cucu kesayangannya dengan wajah ceria.

 

Hup.

 

Anak kecil berusia tujuh tahun itu berhasil ditangkap dan kini berada dipelukan kakeknya.

 

Lelaki itu adalah Jamal, ayah dari Abian yang tinggal di Jakarta. Saat pemakaman Anyelir –isteri Abian- Jamal tidak hadir karena sedang berada dii luar negeri, mengurus anak perusahaannya yang baru saja ia dirikan. Berbeda dengan Abian yang memilih konsen pada dunia pendidikan atau menjadi dosen, Jamal menyukai bidang bisnis atau menjadi seorang pengusaha.

 

“Kakek bawa oleh-oleh buat Zen?”

 

“Iya, Sayang. Itu ada di koper. Papi kamu mana?”

 

“Papi belum pulang, Kakek. Zen Cuma main sama bi Yati.” Zen menunjuk perempuan paruh baya yang selalu menemani hari-harinya. Bi Yati mengangguk hormat pada Jamal yang sering dipanggil Tuan Besar.

 

Jamal menurunkan Zen dari gendongannya lalu menuntun tangan kecil cucunya, berjalan menuju ruang tengah. Bi Yati mengekor sambil menarik koper besar.

 

***

 

Sore hari.

 Sepeda motor Rose mulai memasuki halaman rumah, ketika mobil hitam milik Abian datang. Lelaki itu sempat mengklakson dirinya yang sedang membuka helm untuk sekedar menyapa. Rose acuh, tidak mengindahkan sedikitpun karena susana hatinya sedang tidak baik.

 

Abian turun dari mobilnya dan sempat melihat Rose yang sedang berjalan, berniat mau menutup pintu pagarnya.

 

“Kaki kamu kenapa?” Pertanyaan itu reflek keluar dari mulut Abian karena melihat Rose yang jalan tertatih-tatih.

 

“Ini tuh semua  gara-gara Bapak!” ketus rose membuat Abian mengernyit. Kini mereka berdiri berhadapan dengan pembatas pagar dinding rumah yang hanya tinggi sedada orang dewasa.

 

“Lho! Maksudnya apa? Kok saya yang disalahin?”

 

“Iya, Pak Abian kan udah janji mau traktir saya makan siang. Saya udah nungguin Bapak di kantin kampus, tapi Bapak gak dateng-dateng. Terus saya pulang aja. Di jalan, perut saya laper, Pak, ngantuk lagi. Makanya motor saya oleng, terus saya jatoh. Untung aja gak parah, cuma lecet dikit. Bapak seh....”

 

“Ka-kamu ....”

 

“Cie Cie... yang lagi akur,” celetuk Bu Mimin –ratu gosip di komplek rumah ini- yang kebetulan lewat atau sengaja lewat di depan rumah Abian dan Rose, membuat duda tampan itu jadi salah tingkah ketika ingin membela diri tadi.

 

“Eh, Bu Mimin. Mau kemana, Bu?” tanya Rose sambil tersenyum sekedar basa-basi pada wanita paruh baya yang berbadan gendut dengan perhiasan menjuntai di leher dan tangannya.

 

“Ini mau ke warung Bu Tuti. Ayo dilanjutin lagi ngobrolnya. Anggap aja  dunia milik berdua yang lainnya ngontrak. Hehe... Nenk Rose semangat!” seru Bu Mimin dengan suara dibuat manja lalu mengepalkan tangan di depan dada dan dibalas pula oleh Rose dengan kepalan yang sama. Lalu bu Mimin pergi.

 

Melihat dua wanita aneh itu, Abian memutar bola matanya, kesal. Ia menyesal kenapa tadi bertanya pada cewek absurd itu. Akhirnya, ia lebih memilih masuk ke rumah dari pada melanjutkan obrolan gak jelas.

 

“Eh, Pak, tunggu! Kita belum selesai. Bapak tanggung jawab dong!”

 

“Lho! Ada apa ini? Neng Rose ,Pak Abian, maksudnya tanggung jawab apa?” Kali ini Pak RT yang ikut nimbrung,  kebetulan  lewat sambil mengendarai motor dan mematikan mesin motonya.

 

Depan rumah Rose dan Abian adalah jalan utama di komplek perumahan ini, penghubung antara blok A sampai Dengan Blok M, yang bisa dilalui baik pejalan kaki maupun pengendara motor dan mobil. Tidak heran jika sore hari seperti ini banyak pejalan kaki atau motor yang melintas.

 

‘Ya Tuhan, kenapa hidupku selalu kena masalah sejak ketemu cewek aneh itu’ kesal Abian dalam hati.

 

Abian yang merasa terpojok menghentikan langkahnya dan segera balik badan. Demi menghormati rt kampung ini, ia berjalan, mendekati pak RT  yang sudah berdiri di depan pintu pagar rumahnya.

 

“Maaf, pak RT, ini hanya masalah kecil antara tetangga. Bukan masalah besar seperti pak RT pikirkan.” Abian berusaha tenang dan bertutur kata dengan rapi.

 

“Ya, tapi masalah apa? Nenk rose kenapa minta tanggung jawab sama Pak Abian? Saya sebagai ketua Rt di sini merasa terpanggil untuk menyelesaikan masalah,” ujar lelaki berumur kepala lima itu berusaha bijak di depan warganya.

 

Abian sempat melirik Rose yang terlihat tersenyum bahagia sambil memainkan kedua alisnya.

 

“Ehm, oke. Jadi, begini pak RT. Saya janji mau traktir dia makan tapi saya lupa. Makanya Rose tadi bilang bahwa saya harus tanggung jawab sama dia.”

 

“O... begitu. Cuma masalah traktir makanan. Sudahlah pak Abian ajak neng Rose makan, tetangga masa’ gitu, tidak baik sesama tetangga saling musuhan. Kalau perlu saya temani juga boleh banget.”

 

“Aduh jangan Pak Rt. Kata pak Ustad, kalau orang sedang berduaan yang ketiga itu adalah setan.” Kali ini Rose yang angkat bicara dengan jelas dan lugas.

 

“Waduh, itu saya dong. Gak jadi deh. Kalau gitu saya pamit. Yang akur ya, hehe...”

 

Setelah pak RT itu pergi, Abian menatap Rose dengan kesal. Berharap sampai di rumah ini, ia akan istirahat karena tubuh dan pikirannya cukup lelah akibat acara seminar tadi, ia malah disuguhkan dengan kejadian yang sungguh tidak penting dan sepele tapi membuat otaknya mendidih.

 

Rose hanya tersenyum meringis sambil mengangkatt dua jarinya, tanda damai. Peace!

***

 

Malam hari, Jamal, Abian dan Zenia makam malam bersama. Suasana hangat seperti ini jarang sekali mereka lakukan. Hal ini dikarenakan, Jamal tinggal dan menetap di Jakarta. Sedangkan Abian, sejak menikah dengan Anyelir, mereka tinggal di Bandung.

 

Seperti halnya Abian yang telah ditinggal mati oleh isterinya, Jamal pun sama. Rahayu meninggal ketika Zen, cucu pertama mereka berusia satu tahun. Dan sampai hari ini dua duda itu belum memutuskan untuk menikah kembali.

 

Ting Tong.

 

Bel rumah besar itu berbunyi, semua perhatian terhenti seketika. Bi Yati yang sedang berdiri di dekat Zen, undur diri untuk membukakan pintu depan.

 

“Assalamu’alaykum...”

 

“Wa’alaykum- kamu lagi? Ngapain ke sini?” pekik Abian setelah mengetahui siapa yang datang bertamu di jam makan malam.

 

“Duh Pak Abian, kalau jawab salam tuh yang lengkap. Gak boleh setengah-setengah,” balas Rose dengan nada sesopan mungkin saat ia melihat di rumah itu ada pria lain yang ia terka adalah ayah Abian. Namun, sikap Rose yang sok manis itu membuat Abian tambah kesal.

 

“Maaf Pak Dosen, saya ke sini cuma mau kasih titipan dari pak Arya. Ini.” Dahi Abian mengerut. “Saya bilang ke Pak Arya kalau rumah saya tetanggan sama Pak Abian. Makanya, dia titip buku itu ke saya.” Rose mencoba tersenyum semanis mungkin.

 

“Kamu ... gadis yang tadi siang jatuh dari motor itu kan?” tanya Jamal mengalihkan perhatian Rose dan Abian. Sontak Rose menoleh dan dia pun baru ingat bahwa lelaki ini adalah bapak-bapak yang telah menolongnya tadi siang.

 

“Iya, lho! Bapak juga yang nolongin aku kan? Hehe... kita ketemu lagi. Kenalkan, Pak, saya Rose, asdos nya Pak Abian.” Rose hendak mengulurkan tangannya, hendak bersalaman namun langsung diurungkannya kembali dan diganti dengan menelungkupkan tangan di dada.

 

Jamal tersenyum dan mengikuti sikap Rose, “saya  Jamal, ayahnya Abian.” Lalu, lelaki paruh baya yang memakai kaos biru dongker itu seperti mengingat-ngingat sesuatu tentang  perempuan yang baru saja dikenalnya.

 

“Rose, wajah kamu seperti familiar bagi saya. Tapi, di mana saya pernah lihat kamu, ya?”

 

“Papa ngaco. Cewek absurd gini cuma ada satu, Pah. Gak ada di tempat lain,” gerutu Abian yang langsung dibalas dengan cibiran oleh Rose.

 

Setelahnya, Jamal mempersilahkan Rose untuk bergabung dengan mereka, menikmati makan malam. Tanpa basa-basi, rose pun meneria tawaran makan gratis itu dengan ceria. Gadis itu mengambil duduk di samping Zen, berhadapan langsung dengan Abian.

 

Tawa canda Rose dan Zen, memenuhi ruangan makan malam itu membuat suasana jadi lebih hidup dan bahagia. Jamal masih terus memikirkan siapa Rose sebenarnya, kenapa ia sepertinya sangat kenal dengan gadis itu.

 

‘Ya Tuhan, jangan-jangan dia ...’

 

(Bersambung)

 

BAT 10 Kamelia dan Rose

1 0

BAT 10

 

“Bagaimana, Pak, hasilnya? Apa salah satu diantara kita cocok untuk donor sumsum buat Kamelia?” tanya Aminah pada Burhan yang baru saja datang. Dilihatnya lelaki yang telah mendampnginya selama tiga puluh tahun itu hanya terdiam dan termangu.

 

Di atas bankar, Kamelia sedang tertidur dengan selang infus menempel di tangan kirinya. Burhan meletakkan map coklat yang tadi ia bawa ke dalam laci meja.

 

“Sudah malam, Bu. Besok saja kita bicaranya. Ayo kita tidur,” ajak Burhan. Meski terasa janggal, Aminah tetap menurut pada suaminya itu.

 

***  

 

“Pak Burhan... Pak Burhan... cepat ke UGD sekarang, Bu Aminah kecelakaan!!!” pekik seorang suster menghampiri Burhan yang sedang duduk mengantri di loker pengambilan obat.

 

“Apa? Aminah, Isteri saya suster? Ke-kenapa bisa kecelakaan?” seakan tidak percaya, Burhan tetap mengikuti langkah perawat itu ke UGD. Perasaan lelaki itu berkecamuk. Tadi pagi, Aminah memang ijin untuk pulang ke rumah, membawa pakaian kotor dan menggantinya dengan yang bersih. Dan siang ini, ia dikejutkan dengan kabar bahwa isterinya itu mengaami kecelakaan.

 

Sesampainya di ruang darurat medis itu, Burhan langsung menemui dokter jaga dan menanyakan kabar tentang isterinya.

 

“Bagaimana Aminah, isteri saya, Pak?”

 

“Isteri Bapak banyak mengeluarkan darah. Ia tertabrak mobil yang sedang melaju kencang. Sekarang dalam penanganan dokter. Doakan saja, Pak.”

 

Burhan tak kuasa menahan tangis, meski ia sudah berusaha menahannya. Tak jauh dari Burhan berdiri, Aminah yang sedang berada di bilik kamar pemeriksaan, memohon pada suster agar suaminya dibolehkan menemuinya. Ia ingin mengatakan suatu hal yang penting.

 

“Maaf dokter, ibu itu ingin suaminya menemaninya. Bagaimana, Dokter?” tanya suster.

 

“Baik. Mari pak Burhan ikut saya.”

 

Mereka memasuki ruang UGD, Burhan terkejut melihat kondisi isterinya yang penuh luka dan darah. Tangan Aminah terulur mengharap lelaki itu mendekat padanya.

 

“Pak, maafin ibu, Pak.”

 

“Ibu gak usah banyak ngomong, Bu. Semua pasti baik-baik saja. Ibu pati sembuh.”

 

Aminah menggeleng lemah, wanita itu seperti menahan sakit.

 

“Pak, ibu minta tolong. Biarkan ibu jadi pendonor buat Kamelia. Anggap saja ini permintaan terakhir ibu,” lirih Aminah. Burhan terkejut. Ia sama sekali belum memberitahukan hasil tes lab kemarin pada isterinya tapi kenapa isterinya itu mengetahui kabar itu.

 

“Ibu udah tahu semuanya, Pak. Tadi pagi, setelah ibu shalat subuh, ibu membuka map coklat itu. Mencari donor asing rasanya sulit. Tapi kalau ibu berkorban untuk anak kita, itu bisa saja. mungkin ini sudah takdir Allah, ibu mengalami kecelakaan.”

 

Burhan tidak menjawab. Ia menggenggam erat tangan  kanan isterinya sambil menangis. Tatapan Aminah kini beralih ke dokter Budi yang berada di sisi kiri bankar.

 

“Dokter, saya sudah siap jadi pendonor sumsum untuk anak saya, Kamelia. Tolong transplantasinya hari ini, kasihan anak saya. Dia pasti kesakitan.”

 

“Baik. Kalau itu keputusannya. Kami akan siapkan operasi sekarang.”

 

Dokter Budi segera menginstruksikan pada perawat  agar menyiapkan ruang operasi dan menghubungi beberapa dokter yang yang terkait dengan opeasi itu.

 

***

 

Burhan duduk terpekur di depan makam. Perasaannya berkecamuk antara sedih, kecewa, bahagia, atau senang. Entah. Isterinya meninggal setelah operasi transplantasi sumsum tulang belakang. Wanita itu 90 persen dinyatakan akan wafat jika tetap akan menjadi pendonor. Tapi itu sudah menjadi keputusan terakhirnya. Ia tidak ingin meninggal sia-sia, toh pada akhirnya jug akan mati. Lebih baik sumsum nya itu ia berikan pada anaknya yang lebih membutuhkan.

 

Setelah menabur bunga, Burhan mencium papan nisan yang bertuliskan nama isterinya. Ia sudah ridho pada wanita yang setia menemaninya selama ini. Burhan beranjak, kembali ke rumah sakit. Ia akan memulai hidup baru bersama anaknya, Kamelia.

 

Gadis itu belum sadar setelah menjalani operasi. Burhan bingung apa yang akan ia katakan jika Kamelia menanyakan ibunya. Gadis itu pasti akan sedih jika tahu bahwa ibunya yang menjadi pendonor baginya.

 

Malam ini terasa kian sunyi. Biasanya Burhan bersama Aminah duduk bercengkerama di bangku panjang ini sambil menunggu anaknya yang sedang tertidur. Tapi kini, ia sendiri. Dadanya terasa sesak saat rindu itu makin tertancap di hatinya. Burhan masih duduk di atas sajadah, ia tumpahkan semua rasa dan air mata. Mungkin dengan begitu, hati dan pikirannya bisa berdamai dengan keadaan.

 

Kamelia mulai mengerjapkan mata. Cahaya terang yang ia lihat ternyata bukan di alam mimpi tapi cahaya lampu kamar di rumah sakit. Kepalanya masih terasa pusing. Ia mulai mengingat bahwa siang tadi ia menjalani operasi dan bersyukur ternyata ia masih bisa hidup.

 

“Ayah,” panggil Kamelia yang melihat ayahnya sedang duduk beralaskan sajadah.

 

Burhan menoleh. Segera ia menghapus sisa-sisa air matanya lalu bangun, mendekati putri kesayangannya.

 

“Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak.”

 

Kamelia tersenyum. Ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok ibu yang belum terlihat.

 

“Kamu mau minum?” tanya Burhan, mencoba mengalihkan perhatian gadis itu. Diambilnya gelas minum di meja kecil samping ranjang, lalu diberikannya pada Kamelia setelah anak itu merubah posisi menjadi duduk menyandar lalu minum menggunakan sedotan.

 

“Bagaimana badanmu, Nak? Apakah ada yang sakit atau terasa lebih baik?”

 

“Alhamdulillah, Yah, sekarang masih terasa baik-baik aja. Semoga ke depannya juga lebih baik. Kamelia udah bosan di sini, Yah. Pingin pulang.”

 

“Alhamdulillah, kalau kamu sudah membaik, kita akan segera pulang.”

 

Mereka berdua tersenyum lebih tepatnya senyum dipaksakan karena merasa ada yang kurang dalam semua ini.

 

“Ibu di mana, Yah? Kok aku belum lihat dari tadi? Apa ibu sedang belanja ke minimarket?”

 

Deg.

 

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut anaknya. Burhan tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana menjelaskannya. Memang biasanya, jam 7 malam, ibunya itu sering pergi ke minimarket. Entah membeli keperluan yang sudah habis atau sekedar membeli cemilan.

 

Burhan mengambil duduk di tepi ranjang, mengusap tangan putrinya lembut.

 

“Ibumu ... ijin pergi, Nak. Dia titip salam buatmu.”

 

“Pergi kok nitip salam, kayak pergi jauh aja. Tolong chat ibu dong yah, aku mau minuman yang seger-seger. Boleh kan?”

 

Burhan menatap sendu anaknya yang sedang tersenyum lebar. Ia pun mengangguk.

 

“Ayah aja, ya, yang belikan. Ibumu tak kan sempat.”

 

Burhan segera bangkit dari duduknya sambil memalingkan wajah, mencoba menahan air mata yang akan jatuh. Lelaki yang rambutnya mulai memutih itu pergi menuju kantin rumah sakit.

 

Tak lama kemudian ia kembali sambil menenteng kresek berisi minuman dan makanan. Ia baru ingat kalau dirinya belum makan sejak siang tadi.

 

“Ini minumannya ayah taro sini dulu. Karena kamu harus makan dan minum obat. Baru boleh minum ini,” ucap Burhan pada Kamelia sambil meletakkan teh kemasan botol dingin ke dalam kulkas mini.

 

Kamelia yang sedang duduk, memegang hape, mengacungkan jempolnya. “Siap, yah.” Wanita itu meletakkan hape dan mengambil makanan dalam nampan yang sudah diantar tadi sore oleh suster.

 

“Kok Ibu lama perginya, Yah,” tanya Kamelia dalam sela suapannya

 

“Habiskan dulu makanannya, nanti ayah beritahu ibumu pergi ke mana.”

 

“Oh ya. Ayah tahu gak siapa yang udah jadi pendonor, Orang baik hati yang rela mendonorkan sumsum tulang belakangnya buat aku? Kasih tahu kamelia, Yah. Aku pingin bilang terima kasih.”

 

Lagi, Kamelia bertanya namun kali ini Burhan tak menjawab. Ia berpikir kalau ayahnya itu tidak suka kalau terlalu banyak bicara saat makan. Kamelia menurut saja, tidak sedikitpun ia curiga dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya sejak tadi. Ia merasa nafsu makannya mulai tumbuh dan kini asyik menikmati nasi, tempe goreng, capcay dan telur rebus.

 

Selesai makan, wanita berlesung pipi itu kembali menagih jawaban pada ayahnya tentang ibunya yang belum juga datang, mengingat ini sudah jam 8 malam. Burhan menarik nafas dalam sebelum memulai cerita.

 

“Sebenarnya, ibumu tidak pergi jauh. Ia selalu ada di dekatmu. Ke manapun kau pergi, dimanapun dan kapanpun, ibumu... akan selalu menemanimu.”

 

Dahi kamelia mengerut. Ia merasa heran dengan perkataan ayahnya. Ia benar-benar tidak mengerti.

 

“Ayah ngomong apa seh? Aku jadi bingung...”

 

“Kamelia, ibumu mengalami kecelakaan. Ia terluka parah.”

 

“Apa?! Ibu... kenapa ayah gak bilang dari tadi. Ayo kita jenguk ibu, Yah. Aku mau lihat ibu, ” pekik Kamelia sambil  menyingkap selimutnya dan hendak turun dari ranjang kasur itu.

 

“Ibumu sudah meninggal, Nak.” Burhan tak kuasa menahan tangis dan itu menghentikan Kamelia yang ingin mencabut paksa jarum infusan di tangan kirinya.

 

“Apa? I-ibu sudah meninggal? Tidak mungkin. Ibu...”

 

“Dialah orang baik hati yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukmu. Itu keinginan terakhirnya.”

 

Kamelia terdiam terpaku. Ia luluh dalam tangisnya seakan tak percaya atas semua ucapan ayahnya.

 

Ya tuhan, kalau seperti ini aku tidak mau. Aku lebih suka sakit ditemani ibu. Kembalikan ibuku, tuhan...

 

Burhan mendekap tubuh putrinya yang masih terisak dalam keheningan malam.

***

 

Dua tahun kemudian

 

“Ayo, Yah... cepat! Nanti keburu  hujan,” seru Kamelia yang sudah berdiri di depan pintu. Ditangannya menenteng sebuah koper besar.

 

“Iya, sabar sayang. Ayah sudah siap,” jawab Burhan yang rapi mengenakan kaos biru daam balutan jaket hitam. Rambut putihnya ia tutupi dengan topi.

 

“Kita ke makam ibu dulu, ya. Kamelia mau pamit.”

 

Burhan mengangguk. Putri kecilnya itu sudah tumbuh dewasa. Ia tidak lagi menangis meraung-raung saat mengetahui kematian ibunya. Ya, Kamelia sudah bisa berdamai dengan hatinya dan takdirnya. Bahkan ia berjanji untuk tidak bersedih lagi dan akan selalu tersenyujm dan ceria agar ayah yang masih menemaninya ini dan ibunya di alam sana, bahagia melihat putri mereka tumbuh menjadi wanita yang cantik dan selalu gembira.

 

Kamelia mengelus papan nisan bertuliskan nama ibunya. Seperti terbayang kejadian di masa lalu di mana ia dan ibunya selalu bersama. Rasanya baru kemarin, ia disuapi makan sambil berlari-lari lalu terjatuh kemudian ibunya itu menggendongnya. Kamelia menarik napas panjang, mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Burhan mengelus pundak putrinya sabil tersenyum, memberiakan kekuatan bahwa ia tidak sendiri.

 

Setelah menabur bunga dan mengirimkan doa untuk Aminah, Burhan dan Kamelia bergegas pergi karena lagit sore ibukota itu terlihat mendung. Khawatir terjebak hujan saat mereka diperjalanan nanti.

 

“Yah, aku punya satu keinginan sebelum kita pindah dan tinggal di rumah baru,” ucap gadis yang memakai jilbab berwarna pink, membuat langkah Burhan terhenti.

 

“Apa sayang? Ayah akan menyanggupinya. Jika itu memang baik.”

 

“Mulai sekarang, panggil aku Rose, ayah. Aku tak mau dipanggil Kamelia lagi. Aku ingin memulai hidup baru, menciptakan kenangan baru. Tapi aku tetap tidak akan melupakan ibu. Haya saja, jika aku dipanggil Kamelia, aku akan sedih karena mengingat penyakitku yang merenggut nyawa ibuku.”

 

Lama Burhan menatap putrinya, merasakan kesedihan dan juga harapan akan adanya hidup baru untuk putri kesayangannya itu. Lalu, lelaki itu tersenyum lebar dan merentangkan tangan kanannya. Gadis itu dengan senang hati menerima uluran tangan dan mereka berdua melenggang berjalan menuju mobil pick-up yang sedari tadi menunggu.

(Bersambung)

 

terima kasih yang udah mampir ke ceritaku.

Baca part selanjutnya, ya karena jalan ceritanya lebih seru.,

BAT 11 Apa? Menikah?

1 0

BAT 11

 

“Pagi, Pak Dosen!!!” sapa Rose pada Abian yang sedang berolahraga ngegym di balkon rumahnya. Letak rumah mereka berdua bersisian, membuat kamar mereka yang memiliki balkon saling berhadapan. Sangat menguntungkan bagi Rose bisa melihat Abian di minggu pagi ini.

 

Abian tersentak mendengar suara Rose yang tiba-tiba mengagetkannya. Ia pun langsung memasang wajah kesal.

 

“Pagi yang cerah, ya, pas banget buat olahraga.”

 

Abian tidak mengubris ocehan tetangganya itu. Ia tetap melanjutkan ngegymnya.

 

“Pak Abian, besok saya libur, ya!” teriak Rose karena sejak tadi ia dicueki oleh dosen muda yang tampan itu.

 

Abian menghentikan lari-lari kecilnya pada papan gym itu lalu mengambil handuk kecil untuk mengelap keringat.

 

“Pak... Pak Abian denger saya kan?”

 

“Iya, saya denger suara cempereng kamu. Tapi kamu gak boleh bolos besok!”

 

“Ya... Bapak. Saya kan mau liburan sebentar. Badan saya pada pegel-pegel, Pak. Meriksa makalah mahasiswa Bapak, terus periksa kertas ujiannya juga lagi. Bapak gak kasihan sama saya?”

 

“Gak. Itu sudah tugas kamu. Ngerti!” Abian melotot, kesal karena Rose merajuk seperti anak kecil.

 

“Ish, Bapak galak banget seh. Jelek tahu! Sayang itu wajah gantengnya, gak cocok ama badan bapak yang ... AAAAKKKK!!!!”

 

Ros berteriak dan segera balik badan karena abian secara tiba-tiba melepas kaos singletnya dan menampilkan otot six pack. Jantung rose berdegup kencang dan seketika pipinya memanas. Ia berulang kali mengambil nafas panjang untuk menetralkan degup jantungnya.

 

“Pak Abian, kalau mau buka baju bilang-bilang dong, Pak. Mata saya kan masih perawan,” gerutu Rose yang masih berdiri membelakangi Abian. Lelaki itu malah tersenyum smirk.

 

“Suka-suka saya dong. Biasanya perempuan suka roti sobek. Ya kan?”

 

“Idih... Pak Abian parno!” Rose berlari masuk ke kamarnya sambil menutup muka.

 

***

 

Di garasi depan rumah, rose sedang mencuci sepeda motornya. Tak lama berselang sebuah mobil sedan datang dan terparkir di depan pintu pagar rumah Abian. Seorang wanita muda berpakaian seksi turun dari mobil mewah itu. Rose terpana. Ia belum pernah melihat sebelumnya, tamu perempuan cantik yang datang ke rumah tetangganya yang juga menjadi atasannya.

 

Siapa dia? Apa ini selera Pak Abian? OMG!!!

 

“Eh, Mbak... Mbak... sini sebentar! Mbak mau ketemu sama yang punya rumah ini, ya?”

 

“Iya benar. Ada apa ya?”

 

“Aduh jangan deh mbak. Lebih baik Mbak pulang lagi aja.”

 

“Lho! Kenapa? Saya kan udah buat janji ke sini.”

 

“Aduh, mbak. Pak abian itu lagi kena penyakit menular. Saya ini tetangganya. Saya aja tadi ditakut-takutin sama pak Abian. Ih ngeri banget sumpah!” rose bergidik membuat wanita yang memakai kaca mata hitam itu meringis.

 

“Yang bener? Aduh gimana ya? Saya ada urusan penting neh.”

 

“Lebih baik ditunda, Mbak! Dari pada ntar Mbak kena juga. Kasihan!” usul Rose, terlihat wanita itu berpikir seperti termakan dengan ucapan rose tadi.

 

“Ya udah deh, aku balik aja. By the way, makasih, ya!”

 

“Sama-sama, Mbak.” Rose tersenyum lalu melambaikan tangan saat wanita tadi masuk ke mobil dan pergi.

 

“Hehe... Yes, kena Lho abian. Tadi gue dikerjain, sekarang gantian lah. Rose dilawan! Pasti dia sekarang kesel, pacarnya gak jadi dateng. Haha ...!”

 

Sementara itu di rumahnya, Abian sedang bersiap untuk pergi. Ia sudah ada janji dengan Anita, dosen wanita yang juga bekerja di kampus tempat ia mengajar.

 

“Kenapa dia belum datang? Katanya mau berangkat bareng, ini udah mau mulai acaranya.” Abian bergumam sendiri sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya.

 

“Kamu kenapa gelisah begitu?” tanya Jamal yang sedang bermain bersama Zen di ruang bermain anak. Ayahnya itu menghabiskan akhir pekan ini bersama cucu kesayangannya.

 

“Ini, Pah. Lagi nunggu temen. Kok belum dateng juga.”

 

“Emangnya kamu mau kemana? Mending liburan disini sama keluarga. Jarang-jarang kan Papa bisa kumpul sama kalian.”

 

Abian merasa ucapan papanya ada benernya juga. Lagian itu cuma acara reuni kampus yang dibicarain pasti gak jauh tentang masalah pasangan dan karier. Dan dirinya sudah dipastikan akan menjadi bulan-bulanan karena statusnya duda. Apalagi ia datang bersama anita. Dikira temen-temen mereka berdua ada hubungan. Gak lah, ia tidak punya rasa apapun pada wanita itu. Pikir Abian.

 

Setelah berpikir cukup lama, lelaki berumur tiga puluh tahun itu melepas jas hitamnya dan menaruhnya pada sandaran sofa beludru, tempat duduk santai di ruang bermain anak itu. Ia tak jadi pergi.

 

“Nah, gitu dong. Kita kumpul bareng. Eh gimana kalau kita makan di luar?” usul Jamal pada Abian yangh baru saja duduk.

 

“Gak deh, Pah. Mending di rumah aja. Lebih seru.”

 

“Iya juga seh. Eh, yang kemarin sore itu tante siapa Zen, yang main bareng sama kamu?”

 

“Tante Rose?” ucap Zen yang tengan asyik dengan boneka LOL nya.

 

“Iya, undang aja dia ke sini, biar rame. Kayaknya anaknya asik. Zen aja suka main sama dia.”

 

“Iya kek, Zen suka tante Rose. Hore...”

 

Abian tepuk jidat. Kalau ayah sama anaknya sudah kompak begitu, susah untuk dilawan. Jamal langsung meminta bi Yati untuk ke rumah Rose dan mengundangnya untuk datang ke sini.

 

Abian mengecek handphonenya, barangkali ada pesan dari Anita. Kenapa wanita itu tidak jadi datang. Ternyata benar, chat wa  dari dosen wanita itu sudah ada lima menit yang lalu.

 

[Sorry, aku gak jadi pergi bareng sama kamu. Kata perempuan yang tetangga kamu itu, kamu lagi sakit menular. Makanya aku pulang lagi. Lebih baik kamu istirahat. Cepat sembuh ya!]

 

‘Sakit menular? Emangnya aku sakit apa? Ya Tuhan, lagi-lagi cewek absurd itu. Apa seh masalah dia sama aku? Oke,lihat saja nanti, akan kukerjain bales dia!’

 

“Tuan, ini nona Rose nya sudah datang,” kata bi Yati, menyadarkan lamunan Abian.

 

“Hai Zen, katanya kamu mau main sama aku?” tanya Rose dengan ceria seperti biasa. Zen dan Jamal tersenyum lebar menyambut Rose sedangkan Abian memasang wajah kesal.

 

“Iya, tante. Ayo sini tante.” Zen manarik tangan Rose untuk duduk dekat dirinya dan Abian.

 

“Rose, sering-sering main ke sini gak apa-apa, apalagi kita tetanggaan. Jadi, biasa aja keluar masuk.”

 

“Makasih, Om. Saya jadi enak neh. Hehe...” Rose terkekeh tapi Abian malah mencibir tidak suka.

 

Sejurus kemudian Zen, Rose dan Jamal asyik dalam permainan anak-anak seperti main boneka, mendongeng, main congklak, dan lain-lain yang membuat Abian sedikit jengah dan bosan. Lelaki itu pun pergi ke dapur untuk mengambil minum. Rasanya tenggorokannya kering mendengar celotehan Rose yang tiada henti. Bagi Abian, suara wanita itu seperti terompet yang sangat memekakan telinga.

 

“Aduh, Pak Abian. Minum gak bagi-bagi. Saya kan juga haus,” celetuk Rose yang membuat Abian terkejut dan hampir menyemburkan minumannya sehingga ia terbatuk.

 

‘duh ini cewek, bisa gak seh gak ganggu hidup gue.’

 

“Pelan-pelan, Pak, minumnya. Terpesona ya, sama saya. Hehe...”

 

Setelah mengambil  dua botol minuman di kulkas, Rose beranjak pergi.

 

“Tunggu.”

 

Langkah Rose tertahan karena Abian memanggilnya.

 

‘Ya Tuhan, jangan bilang kalau dia udah tahu kalau tadi pagi aku ngerjain pacarnya. Bisa gawat neh!’

 

Abian mendekat, Rose balik badan sambil meringis dan kini mereka berhadapan dengan jarak satu meter.

 

“Kenapa kamu mengerjai teman saya tadi pagi?”

 

“Apa? Ma-maksud Pak Abian apa seh? Saya gak ngerti. Hehe...” Rose gugup. Abian makin mengikis jarak mereka berdua. Rose berusaha untuk mundur namun terjebak ke  dinding.

 

“Kau bilang aku ini kena penyakit menular, kan? Kalau begitu, kau orang pertama yang akan tertular.”

 

“Maafin saya, Pak. Saya gak sengaja, saya cuma ...”

 

Abian menarik pinggang Rose hingga tubuh mereka menempel. Rose terkejut, degup jantungnya makin tak beraturan, wangi harum parfum dosen tampan itu menguar hebat di hidungnya. Ia berusaha untuk tetap sadar agar tidak terlena dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Abian.

 

“Lepasin saya, Pak. Saya mohon. Saya ....”

 

“Abian, Rose, apa yang kalian lakukan? Astaghfirullah!!” teriak Jamal yang datang tiba-tiba membuat mereka berdua tersentak kaget dan menoleh pada lelaki tua itu.

 

“Papa!”

 

“Om!”

 

Mereka berdua kembali saling pandang dan segera sadar dengan apa yang mereka lakukan dan langsung melepas diri.

 

“Pah, ini gak seperti apa yang Papa pikirkan, tadi Abian cuma ...”

 

“Diam kamu!” bentak Jamal.

 

“Om, maaf om, kita tadi gak ngapa-ngapain.”

 

“Sudah. Sudah... kalian berdua itu sudah dewasa. Papa gak mau ini jadi aib. Lebih baik kalian segera menikah.”

 

“Apa? Menikah?!?”

 

(Bersambung)

 

Makasih, yang udah mampir ke ceritaku. Semoga suka, ya...

Baca juga ceritaku yang lainnya, yang gak kalah seru.

-Bukan Salah Ta’aruf

-Rahasia Terdalam Suamiku

 

Jika kalian berkenan, klik tombol Subscribe dan follow akun Ismi Nuri.

Semoga kebaikan klaian dibalas oleh Allah. Aamiin...

BAT 12 Rasa Apa Ini?

1 0

BAT 12

Rasa Apa ini?

 

“Pah, dengarkan Abian dulu. Yang tadi cuma salah paham. Papah jangan langsung mutusin nikahin saya dan Rose.” Sambil berjalan, Abian berusaha untuk menjelaskan pada ayahnya yang beranjak pergi. Lalu mereka duduk di sofa ruang tengah. Sedang Rose masih bingung apa yang akan ia lakukan setelah ini.

 

“Abian, kau ini lelaki dewasa. Kau pun pernah menikah. Tadi kalian pelukan terus kamu bilang itu main-main? Hey, aku tidak pernah mengajarkanmu menjadi lelaki yang tak bertanggung jawab. Rose itu wanita yang bukan anak kecil lagi. Dia punya orang tua. Apa yang akan mereka katakan kalau anaknya telah disentuh orang lain.” Jamal berusaha mengatur nafasnya setelah tadi mencak-mencak. Ia berharap anak laki-lakinya itu bisa berpikir normal.

 

Abian mengusap wajah dan rambutnya, ia tak tahu bagaimana harus menjelaskan situasi yang mulai rumit ini. Rose mendekat, berdiri di sisi sofa tempat Abian duduk, sambi menggigit bibir bawahnya. Ia tak menyangka akibat ulah jahilnya itu keadaannya menjadi kacau. Pasti setelah ini, Abian akan bertambah benci padanya.

 

“Maaf, jika saya ikut bicara. Karena saya pikir keputusan menikah itu terlalu cepat. Kami berdua gak ada hubungan apa-apa, Om. Saya baru pindah ke sini dan baru mengenal Pak Abian. Pak Abian pun sama, belum tahu siapa saya dan keluarga saya. Tadi itu, salah saya, Om. Saya mengerjai Pak Abian. Saya minta maaf.”

 

“Kamu sangat baik, Rose. Jujur, saya langsung suka sama sikap kamu yang jauh lebih bijak dan dewasa dibanding Abian. Oke, saya setuju dengan ucapanmu tadi. Kalian memang tidak langsung menikah. Tapi, tunangan dulu. Anggap saja, ini tahap perkenalan atau bahasa anak sekarang mah, ta’aruf, ya. Oke. Apa sekarang ayah ibumu ada di rumah?”

 

“ Ibu saya sudah meninggal dua tahun yang lalu, kalau jam segini ayah saya masih kerja ojek online, Om. Biasanya pulang sore. Beliau juga sering ngajar ngaji di masjid komplek ini.”

 

“Maasya Allah. Keren itu berarti ayahmu itu seorang ustad? Bolehlah, saya mengundang ayahmu untuk mengajar ngaji karyawan saya di kantor. Rose, tolong sampaikan ayahmu, nanti malam kita dinner bersama di sini. Sekalian membicarakan hubungan kalian berdua. Oke!”

 

Rose sempat melirik Abian yang masih diam tak berkomentar sedikitpun.

 

“Baik, Om. Insya Allah, saya akan sampaikan.”

 

***

 

Di kamar, Abian masih merasa  kesal dengan keputusan sepihak oleh ayahnya. Secepat itukah ia akan menikah lagi dan melupakan Anyelir, isteri pertamanya? Ia pun tak berani membayangkan bagaimana dirinya bisa hidup berdampingan dengan cewek aneh bin absurd itu.

 

Abian merebahkan diri di kasur berukuran king size. Berharap semua yang terjadi hari ini hanyalah mimpi. Ia mulai memejamkan mata, tapi momen saat ia memeluk Rose di dapur tadi malah tebayang di pelupuk matanya. Gadis yang tingginya hanya sedagu itu memiliki wajah yang putih bersih, dengan bola mata yang sangat indah. Andai saja ayah tak segera datang, pasti ia sudah bisa mengecup bibir Rose yang ranum itu.

 

‘Ah, tidak. Apa-apaan aku ini!’ Abian menggelengkan kepalanya berulang kali, mengusir bayangan aneh di kepalanya.

 

Sebenarnya, Rose lebih khawatir dari Abian. Wanita itu lebih memilih mengurung diri di kamar sejak pulang dari rumah tetangganya. Selama ini, Rose memagari hatinya agar tidak jatuh cinta pada lelaki manapun, termasuk Abian. Ia takut, jika orang lain mengetahui penyakit yang ia derita selama ini. Meski ia sudah mendapat donor untuk sumsum tulang belakangnya, dokter belum bisa menjamin bahwa dirinya sudah sembuh total. Bisa saja sewaktu-waktu penyakit itu kambuh lagi. Oleh karenanya, ia tidak ingin merasakan jatuh cinta.

 

Hape Rose bergetar. Ia meraih benda pipih itu yang tergeletak di atas kasur.

 

[Jangan harap aku akan menikah denganmu. Aku tidak akan pernah bisa mengganti posisi Anyelir pada wanita manapun.]

 

Ada rasa sakit di hati Rose, ketika ia membaca chat dari Abian. Ia tahu, lelaki itu sangat mencintai isterinya walau wanita itu telah meninggal. Namun, ia berusaha bersikap biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa.

 

[Tenang aja, Pak. Siapa juga yang mau menikah dengan laki-laki yang galak, dingin, kaku kayak kanebo. Tipe cowok yang saya suka itu kayak Lee Minho, Daniel Padilla, Teuku Wisnu. Mereka ganteng tapi baik. Gak kayak Bapak. Hehe...]

 

Rose membuang hape itu ke sisi bantal. Ia lelah jika terus meladeni pak Abian yang memang tak memandang ia sedikitpun sebagai wanita.

 

***

 

Rose dan Burhan sudah bersiap untuk ke rumah Abian. Ia tak bicara tentang rencana pertunangan itu pada ayahnya. Gadis yang memakai gamis berwarna nude itu hanya mengatakan bahwa mereka diundang untuk makan malam sebagai tetangga baru.

 

Rose berusaha bersikap tenang walau hatinya berdegup kencang. Ia tak ingin bersikap kikuk dan canggung di depan Abian.

 

Bi Yati membukakan pintu setelah Rose tadi memencet bel rumah.

 

“Walaykumsalam. Masuk Non, Maasya Allah non Rose cantik banget.”

 

“Biasa aja, Bi. Berarti kemarin-kemarin saya gak cantik dong,” protes Rose yang diselingi tawa oleh asisten rumah tangga itu.

 

Mereka memasuki rumah berlantai dua itu dan langsung disambut oleh Jamal.

 

“Ya Allah, Burhan!”

 

“Jamal!”

 

Alangkah terkejutnya mereka berdua yang tidak menyangka akan bertemu kembali setelah sekian tahun lamanya. Tanpa ba bi bu lagi Jamal dan Burhan langsung berpelukan erat. Ada rasa haru juga menyelimuti suasana itu. Kawan lama yang sudah lebih dari saudara itu, akhirnya kini dipertemukan kembali.

 

“Kau apa kabar? Kenapa menghilang begitu saja tanpa mengabariku,” ujar Jamal setelah melerai pelukan.

 

“Alhamdulillah baik. Maaf kalau aku dan keluargaku dulu sering merepotkanmu.”

 

“Tidak, itu bukan merepotkan tapi aku yang balas budi padamu, Burhan. Ya Tuhan, Ini... Rose anakmu? Berarti dia...” Jamal menunjuk Rose yang berdiri di sebelahnya. Seakan tidak mengerti, Rose hanya diam, bingung harus menjawab apa.

 

“Iya, Jamal. Dia Kameliaku.”

 

“Ya Allah,...”

 

Jamal langsung memeluk Rose sejenak. Tak sadar, air matanya jatuh. Jamal langsung mengusap wajahnya. Abian yang berdiri tak jauh dari sana, melihat kejadian aneh itu dengan berbagai terkaan yang ada di kepalanya. Ia menangkap signal buruk kalau ayahnya tetap akan menjodohkan dirinya dengan Rose karena ayah mereka bersahabat lama.

 

Setelah kejadian yang sangat mengharu biru itu, mereka semua duduk melingkari meja makan. Sikap Jamal pada Rose kini bertambah hangat bahkan terlihat sangat protektif. Ia berulangkali menawarkan makanan pada Rose dan sering juga mengomentari makanan mana yang boleh dan yang tidak boleh.

 

“Rose, kamu harus banyak makan makanan sehat. Biar tubuh kamu itu kuat. Oke!”

 

“I-iya, Om. Makasih,” ucap Rose setelah menerima salad buah dari Jamal. Abian yang duduk berhadapan dengan Rose, bersikap acuh. Selanjutnya suasana menjadi hening, hanya dentingan sendok garpu yang terdengar.

 

“Tante Rose, abis ini kita main yuk. Aku mau diajarin pake kerudung kayak tante. Soalnya tante cantik banget, Papi aja ngeliatin tante terus,” celoteh Zen di sela-sela makannya, membuat Rose tersipu malu. Abian pun terkesiap mendengar celetukan putri kecilnya dan kini terlihat gugup.

 

“Zen, cepat habiskan makannya,” dalih Abian, membuat yang lain diam dan tertawa pelan.

 

Setelah selesai makan, Jamal mengajak Burhan untuk sekedar berbincang, melepas kangen di ruang tamu. Ditemani dengan secangkir kopi dan cemilan khas Bandung, bandros dan colenak. Sedangkan Rose sejak usai makan tadi, dirinya langsung ditarik oleh Zen ke kamarnya. Anak kecil itu ingin sekali diajari memakai kerudung seperti model yang dikenakan oleh Rose.

 

Abian yang ditinggal sendiri, memilih untuk duduk di ruang tengah, di depannya televisi menyala yang menampilkan acara hiburan. Tak lama berselang, Rose dan Zen datang langsung berdiri di depan Abian. Sontak Abian terkejut melihat penampilan putri kecilnya yang sangat berbeda dari sebelumnya. Gadis kecil itu memakai gaun atau gamis sukurannya berwarna pink dengan jilbab yang dimodelkan (diliit ke belakang dan ujung jilbabnya dibuat bunga). Cantik dan manis.

 

“Gimana, Pi? Aku cantik gak kayak Tante?” tanya Zen sambil bergoyang-goyang, memainkan dress panjangnya.

 

“Ya, putri papi cantik banget,” jawab Abian sambil tersenyum, ia sempat mencuri pandang dengan Rose yang berdiri tak jauh dekat darinya.

 

“Makasih, Pih. Mmuaach. Kakek....” Zen berlari setelah mencium ayahnya, meninggalkan Abian dan Rose berdua. Hal itu membuat suasana menjadi canggung.

 

“Ehem.” Abian berdehem lalu menggeser duduknya, memberi isyarat agar Rose duduk di sebelahnya. Rose yang paham akhirnya ia duduk di sofa panjang berwarna merah itu.

 

“Apa kau marah dengan chatku tadi?” tanya Abian mencoba memecahkan kesunyian, dengan pandangan tetap mengarah pada televisi. Tak bisa dipungkiri, debaran hatinya begitu hebat.

 

“Tidak. Biasa aja, Pak. Aku ngerti kok. Cewek kayak aku mana bisa dibandingin sama isteri Pak Abian yang cantik itu. Hehe...” kelakar Rose.

 

“Baguslah. Ohya, besok kau harus tetap masuk karena sedang ada ujian semester. Aku tak bisa memantau mereka. Gantikan aku di gedung A sebagai pengawas, aku ada rapat di ruang dekan. Mengerti?”

 

“Ish, Pak Abian mah enak rapat melulu. Terus aku yang kerja. Kemarin aja, aku minta ditraktir makan belum kesampean. Sekarang berarti nambah jadi dua traktirnya, Pak.”

 

“Ternyata kamu ini, cewek matre ya. Kalau dikasih perintah tuh pasti ada pamrihnya.”

 

Dug. Rose reflek memukul pundak Abian, pelan, membuat Lelaki itu terkejut.

 

“Kalau ngomong jangan sembarang, Pak. Saya kan kerja butuh tenaga. Lagian tubuh pak Abian kan ....”

 

Abian menangkap tangan Rose yang hendak kembali memukul pundaknya. Rose terkejut. Kini mereka saling bersitatap, menerka perasaan dan pikiran masing-masing.

 

‘Ya Tuhan, rasa apa yang ada di hatiku ini. Kenapa tubuhku rasanya pingin terbang,’ gumam Rose.

 

‘Wanita ini kenapa begitu unik. Ia selalu membuatku kesal tapi aku ingin selalu berada di dekatnya,’ gumam Abian.

 

(Bersambung)

 

Gimana gaes??? Semoga suka ya,

Aku aja yang nulis baper abiz. Hehe...

Jangan lupa klik like, komen dan follow akunku Ismi Nuri.

Makasih... 

BAT 13 Cemburu?

1 0

BAT 13

Cemburu

 

“Burhan, maafkan aku. Saat Aminah meninggal, aku tidak datang. Aku sedang di luar negeri. Setelah pulang ke Jakarta, aku pun mencarimu ke mana-mana tapi gak ketemu. Kau menghilang seperti ditelan bumi,” ucap Jamal setelah mengesap kopi hitamnya. Lau ia mengambil sepotong bandros yang masih hangat. Dikuti oleh Burhan yang menyambar colenak.

 

“Aku yang salah, Mal. Tidak mengabarimu. Aku dan Rose begitu terpukul kehilangan Aminah. Dua tahun kami menjalani hidup seperti tanpa tujuan, aku sadar, aku harus kuat demi anakku. Lalu kami pindah ke sini dengan harapan bisa memulai hidup baru. Itu kemauannya dan ia tak ingin dipanggil Kamelia lagi. Karena, itu akan mengingatkannya pada ibunya.”

 

“Kamelia Rose, aku ingat. Itu nama panjangnya. Pantas saja, saat aku ketemu dia waktu itu, aku seperti ingat seseorang, tapi siapa, aku lupa.” Jamal tertawa lalu ia melanjutkan ucapannya lagi.

 

“Begini Burhan, kita ini sudah tua, anak kita juga sudah dewasa. Sepertinya, aku melihat Rose dan Abian saling menyukai, bagaimana kalau mereka kita jodohkan. Walau sekarang kau sudah tahu, abian itu duda beranak satu. Apa kau masih menerima aku sebagai besanmu?”

 

“Kau ini. Kau dan keluargamu punya banyak kelebihan, Jamal. Sedangkan aku? Aku hanya akan mengikuti anakku saja. Kau tahu sendiri bagaimana keadaan Kamelia sejak kecil dan sekarang pun  dia menutup diri pada lawan jenis. Anakmu belum tahu keadaan Rose bukan? Kalau menurutku, biarkan mereka berdua saling mengenal dulu dan selanjutnya biar mereka juga yang memutuskannya.”

 

Jamal mengangguk berulang-ulang, tanda mengerti dan setuju.

 

***

 

Malam kian larut, jam di dinding kamar berdetak terdengar kencang tapi kedua mata Rose belum bisa terpejam. Wajah Abian terus menari-nari di pelupuk matanya. Rose menarik nafas panjang, mencoba mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Kemudian ia bangkit dari duduknya lalu menuju ke sisi jendela. Gadis yang memakai piyama tidur berwarna maroon itu menyibak tirai dan membuka sedikit jendela kamarnya, sekedar menghirup udara malam sambil menatap bintang-bintang.

 

Tanpa Rose ketahui, sosok lelaki yang baru saja ia pikirkan melakukan hal yang sama. Akan tetapi, Abian tidak membuka jendela. Ia hanya berdiri dari balik tirai jendela yang terbuka sedikit. Dari sini, dosen tampan itu bisa mengamati asdosnya dengan jelas.

 

‘Ya Tuhan, apa yang dilakukan cewek aneh itu malam-malam begini?’

 

Baru saja Abian hendak menutup tirainya, ia melihat gadis itu menangis sambil menghadap ke atas. Sesekali terdengar isak tangis yang cukup menyayat hati. Diurungkannya niat yang tadi ingin pergi, Abian terus memperhatikan tetangganya itu.

 

“Tuhan, bolehkah aku jatuh cinta? Tapi kenapa rasanya begitu sakit?”

 

Samar-samar Abian mendengar rose berbicara sendiri. Hatinya terenyuh melihat gadis itu yang kini tertunduk, bertumpu pada kayu jendela kamarnya.

 

Ditutupnya tirai jendela berwarna biru gelap itu lalu abian duduk di tepi ranjang.

 

“Apakah aku begitu jahat padanya sehingga ia menangis? Tidak. Itu bukan salahku. Ia jatuh cinta juga itu bukan salahku. Lebih baik ...  aku harus jaga jarak dengannya.”

 

***

 

Suasana pagi di kampus sangat kondusif. Hari ini diadakan ujian semester ganjil pada semua tingkat  mahasiswa. Rose yang mendapat tugas sebagai pengawas untuk pertama kalinya, melaksanakan amanah ini dengan penuh tanggung jawab. Siapa saja, mahasiswa yang ketahuan menyontek akan ditindak tegas. Oleh karenanya, ia memasang wajah sangar. Tapi itu tidak cocok untuk mukanya yang terbilang imut, lucu dan cantik. Kata Pak Arya yang menjadi partnernya kali ini di kelas A.

 

“Sudah kamu duduk saja yang manis. Aku yang keliling. Gak pantas kamu marah-marah, yang ada mereka malah gak konsen ngerjain ujian, ngelihatin asdos bak model kayak kamu,” ungkap lelaki yang memakai kemeja warna biru langit dan berdasi biru gelap itu.

 

“Pak Arya bisa aja. Hehe...”

 

“Nanti siang, kita makan bareng yuk. Kamu belum pernah kan makan di warung Bu Maryam, sebelah kanan kampus ini. Di sana makanannya enak-enak lho! Pas di kantong lagi.”

 

“Wah... aku banget tuh, Pak. Boleh..boleh...”

 

“Siip.”

 

Tak terasa waktu yang diberikan selama 90 menit sudah habis. Semua peserta ujian mengumpulkan kertas ulangannya ke depan dan ke luar kelas. Rose bersama Arya setelah merapikan kertas-kertas tersebut, langsung bergerak menuju ruang akademik untuk menyerahkan kertas ujian itu.

 

Setelah sampai di lantai dua gedung B, Rose berpapasan dengan Abian dan beberapa dosen senior lainnya yang baru keluar dari ruang dekan Fakultas Ekonomi usai rapat tadi. Di sana juga ada wanita yang pernah Rose temui di depan rumah Abian. Ya, perempuan itu adalah Anita. Dosen muda, cantik dan berprestasi itu adalah anak dari ketua Yayasan pemilik kampus ini.

 

“Ayo, Bi, kita makan di luar, yuk.” Ajak Anita sambil tangannya bergelayut manja di lengan Abian.

 

“Kemarin kan kita gak jadi jalan, gara-gara tetangga kamu itu. Awa aja ya, kalau aku ketemu dia lagi!” lanjut Anita yang kesal saat mengingat kejadian kemarin pagi.

 

Mata Rose dan Abian sempat bersitatap, lelaki itu sedikit terkejut melihat Rose berjalan bersama Arya. Rose yang sadar akan wanita tadi, segera menarik tangan Arya untuk masuk ke ruang akademik yang bersebelahan dengan ruang dekan itu. Kejadian itu sempat membuat geram Abian.

 

Akhirnya, Abian pergi bersama Anita. Begitu pula dengan Rose dan Arya. Tetapi tempat makan siang mereka berbeda. Jika Abian dan Anita makan di restoran, Rose dan Arya makan di rumah makan kecil, tempat nongkrong anak-anak mahasiswa.

 

 Tin Tin

 

Bunyi klakson dari sebuah mobil mengangetkan Rose dan Arya yang sedang berjalan kaki. Mereka pun menoleh dan sempat menganggukan kepala.

 

“Itu Pak Abian sama Bu Anita. Mereka cocok ya, udah bukan rahasia lagi seh kalau Bu Anita suka sama Pak Abian. Dari dulu, tapi kan Pak Abian udah nikah. Nah, pas isterinya meninggal, Bu Anita makin gencar aja deketin Pak Abian. Hadueh gosip kampus.” Arya terkekeh dan penjelasan itu membuat Rose tersenyum meringis.

 

Setelah sampai, Arya langsung mengambil makanan yang diikuti oleh Rose. Sistem makan di tempat ini adalah prasmanan seperti hajatan, jadi pembeli mengambil makanan sendiri dan setelahnya mereka membayar di kasir lalu duduk untuk makan.

 

Di tempat lain, Abian dan Anita pun sedang menikmati hidangannya. Namun, pikiran Abian terpaku pada Rose yang sedang pergi bersama Arya.

 

‘Sudah sedekat itukah mereka berdua? Kenapa aku jadi risau begini.’

 

“Hey, kamu kenapa seh? Dari tadi malah diam. Mikirin apa, Bi? Ayo cepat dimakan steaknya nanti keburu dingin ga enak,” tukas Anita.

 

“Sorry,” jawab Abian datar lalu memotong daging steak sapi yang ia pesan tadi menjadi beberapa bagian kecil dan memakannya.

 

Abian melirik jam di tangan kirinya, sudah lebih dari setengah jam mereka di resto ini. Pasti Rose dan Arya pun telai selesai makan siang, pikirnya. Lelaki itu segera bangkit dan mengajak Anita untuk segera pergi, kembali ke kampus.

 

“Ayo kita balik!”

 

“Lho! Cepet banget. Tapi aku mau shopping dulu. Kamu temani aku, ya, Bi.”

 

“Maaf Anita. Aku banyak kerjaan. Kau mau balik ke kampus denganku atau naik taksi?”

 

“Ya, ya, aku ikut kamu.” Dengan sedikit kesal, Anita berjalan mengekor Abian yang sudah berjalan mendahuluinya.

 

Setelah sampai di kampus, Abian langsung menuju ruang kerjanya tanpa memperdulikan Anita yang terus memanggilnya.

 

BUMM!

 

Lelaki itu memukul meja, melampiaskan rasa kesalnya. Tangannya masih mengepal kuat, nafasnya menderu-deru. Itu karena Abian melihat Rose yang berjalan dipapah oleh Arya, entah karena apa Rose seperti itu, ia tidak tahu. Yang jelas ia seperti terbakar api cemburu.

 

Abian mengambil hape di saku jasnya dan langsung menghubungi wanita yang kini telah membuatnya kesal.

 

“Kau di mana sekarang?” tanya Abian langsung tanpa basa-basi saat panggilan itu diangkat oleh Rose.

 

“Aku lagi di... ruang kesehatan. Udah selesai seh, mau pulang juga. Kenapa, Pak?”

 

“Ke ruanganku sekarang juga. Sekalian bawa lembaran ujian mahasiswa. Gak pake lama, mengerti!”

 

“Lho! I-iya, Pak.”

 

Abian tersenyum tipis, dengan menggunakan kekuasaannya, ia bisa menguasai gadis itu sekaligus mengerjainya.

 

(Bersambung)

 

 

BAT 14 Senyuman Pertama

1 0

BAT 14

Senyuman Pertama

 

“Kau di mana sekarang?” tanya Abian langsung tanpa basa-basi saat panggilan itu diangkat oleh Rose.

 

“Aku lagi di... ruang kesehatan. Udah selesai seh, mau pulang juga. Kenapa, Pak?”

 

“Ke ruanganku sekarang juga. Sekalian bawa lembaran ujian mahasiswa. Gak pake lama, mengerti!”

 

“Lho! I-iya, Pak.”

 

Abian tersenyum tipis, dengan menggunakan kekuasaannya, ia bisa menguasai gadis itu sekaligus mengerjainya. Tak lama berselang, pintu diketuk. Terdengar salam dari suara cempereng yang sudah tak asing di telinga Abian.

 

“Ya, masuk!”

 

“Permisi, Pak. Ini kertas ujiannya.” Rose meletakkan tumpukan lembaran ujian milik mahasiswa tingkat satu di meja kerja dosen muda itu.

 

“Sekarang, kau periksa semuanya di sini!”

 

“Apa? Sekarang? Semuanya? Bapak jangan becanda deh...”

 

“Emang muka saya lagi sedang becanda sama kamu, hah!”

 

“Enggak, Pak. Muka bapak mah dari dulu tetep aja sama kayak gitu, kaku, dingin.”

 

“Apa kamu bilang?”

 

“Hehe... Pis!!” Rose mengacungkan dua jarinya. Lalu ia duduk berhadapan dengan Abian dan memfokuskan diri untuk memeriksa lembaran kertas ujian itu.

 

Abian kini merasa di atas angin, ia bisa sepuasnya mengerjai cewek absurd yang sering membuatnya kesal. Ia pun pura-pura mengerjakan sesuatu di laptop hitamnya. Padahal, matanya terus memperhatikan gerak gerik wanita yang memakai jilbab berwarna ungu muda itu.

 

“Jangan lihatin saya terus, Pak. Nanti Pak Abian beneran suka sama saya  gimana?” tanya Rose yang menyadari kalau lelaki di depannya itu sedari tadi menatapnya. Abian yang tertangkap basah menjadi kikuk.

 

 “Kamu ini, kalau lagi kerja jangan banyak omong.”

 

“Iya, iya. Terus Bapak ngapain?mending kita bagi dua deh, biar cepet. Soalnya biasanya jam segini ayah saya pulang ke rumah.”

 

“Ya udah, kalau begitu kerjakan di rumah aja.”

 

“Gitu dong, Pak. Sebentar.” Rose membuka layar di hapenya dan mengklik salah satu aplikasi. Ternyata Abian melihat aksinya itu.

 

“Kamu ngapain?”

 

“Pesan ojol, soalnya ban motor saya bocor, Pak. Jadi saya pesan ojek.”

 

“Sini.” Rose terkejut, Abian mengambil hape miliknya  dan membatakan pesanannya itu.

 

“Kamu pulang bareng saya. Ayo!”

 

Rose masih terbengong, setengah tidak percaya dengan sikap atasannya yang tiba-tiba baik.

 

“Hey! Katanya mau pulang cepat,” pekik Abian yang sudah berdiri di dekat pintu.

 

“I-iya, pak.” Rose begegas merapikan tumpukan kertas dan segera membawanya.

 

Dengan setengah berlari, Rose mengejar langkah  pria bertubuh tinggi tegap itu. Abian berdecak sambil menggeleng melihat tingkah asdosnya.

 

“Wah... mobil Pak Abian bagus banget,” ungkap Rose setelah masuk dan duduk di sisi kiri Abian yang siap menyalakan mesin mobil.

 

Mobil bergerak meninggalkan lahan parkir kampus yang cukup luas. Rose masih mengagumi design interior mobil sedan mewah milik Abian.

 

“Hey, pake sabuk pengamannya!” tegur Abian yang menyadari kalau gadis di sebelahnya itu belum mengenakan safety belt.

 

“I-iya, Pak.” Rose langsung menarik ujung sabuk pengaman itu namun terasa sulit. Ia tidak tahu kenapa, apa karena ia yang katro alias tidak tahu atau karena safety belt nya yang macet.

 

“Aduh, mobil Bapak bagus, keren tapi ininya macet,” pekik Rose yang membuat wajah Abian kesal. Lelaki itu pun memberhentikan mobil di tepi jalan.

 

Abian melepas safety belt miliknya lalu bergerak ke arah Rose. Ia mencondongkan tubuhnya, berniat memakaikan sabuk pengaman untuk Rose.

 

Gadis berhidung mancung itu sontak terkejut karena aksi Abian yang secara tiba-tiba. Kini wajah mereka sangat dekat hanya berjarak beberapa senti saja. Waktu seakan berhenti saat dua pasang mata itu saling bersitatap. Rose menahan nafas, degup jantungnya berdetak sangat hebat. Bahkan hidung mereka sempat bersentuhan. Aroma parfum pria di depannya ini sungguh memabukkan.

 

Klik.

 

Bunyi sabuk pengaman terpasang sempurna. Rose segera memalingkan wajahnya yang sudah memerah ke kanan. Abian menarik tubuhnya dan kembali duduk. Suasana menjadi canggung dan hening.

 

“Ehm.. Maaf. Aku tadi hanya membantumu memasang safety belt,” ucap Abian lalu ia kembali menjalankan mobilnya.

 

“I-iya.” Rose kini menatap ke arah jendela, mencoba menetralkan debaran hati dan pikiran kotornya.

 

“Kamu... tadi kenapa ada di ruang kesehatan? Sakit?” Abian mencoba mencari topik  pembicaraan, ia ingin agar susananya kembali cair.

 

“Oh...itu. Tadi kaki aku terantuk batu, tapi Pak Arya nya aja yang lebay, menyuruhku untuk ke ruang kesehatan.”

 

“Modus. Mulai besok dan seterusnya kamu makan siang denganku. Gak boleh sama yang lain. Mengerti?”

 

“Maksudnya?” Rose menoleh cepat ke arah Abian, ia tak mengerti dengan ucapan dosen killer itu.

 

“Ya ... kamu kan katanya mau ditraktir. Gimana seh.”

 

“Iya. Hehe...”

 

Mobil terus melaju dengan cepat. Tak terasa mereka telah sampai di pelataran rumah mereka masing-masing.

 

“Terima kasih, Pak, atas tumpangannya,” ucap Rose setelah keluar dari mobil hitam itu.

 

“Siapa bilang ini gratis. Kamu harus bayar.”

 

“Apa? Tuh kan, apa gue bilang, dia pasti ada maunya.” Rose berucap pelas namun masih bisa didengar oleh Abian.

 

“Bayar pake tenaga kamu. Selesaikan tugasmu itu semua dan saya tunggu nanti malam. Oke!” Abian langsung masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Rose yang masih terkejut bercampur kesal.

 

***

 

Malam hari, Rose masih disibukkan dengan pekerjaan memeriksa kertas ujian mahasiswa. Beberapa pesan dan panggilan dari dosen killer itu tak digubrisnya. Ia sangat kesal kenapa hanya ia yang bekerja menyelesaikan tugas itu. Alih-alih memeriksa, Rose terbayang dengan kejadian saat di mobil. Tragedi safety belt.

 

‘Sadar Rose... sadar. Mana mungkin dia suka sama lo!’ Rose memukul kepalanya dengan pulpen yang ia pegang sedari tadi. Rose duduk di lantai beralaskan karpet,  badannya sudah mulai terasa lelah. Ia kini menyandarkan tubuhnya pada sisi ranjang kasur.

 

Drrt... Drtt..

 

Hape iliknya kembali bergetar. Tertera di layar menampilkan chat wa dari Abian. Akhirnya, Rose mengambil benda pipih itu dan membuka aplikasi hijau bergambar telpon.

 

[Sudah selesai belum?]

 

[Jangan ditunda-tunda. Karena besok jadwal ujian mahasiswa tingkat dua.]

 

[Kenapa chat saya gak dibalas, telpon saya juga ga diangkat?]

 

“Huwaa.....” teriak Rose, kesal dan geram pada dosen killer itu. Dibiarkannya tumpukan kertas yang berserakan di lantai akibat hentakan kakinya.

 

Dari balik tirai jendela kamar, Abian tersenyum jahat. Ia merasa puas telah mengerjai asdosnya itu. Kebiasaan gadis absurd itu yang tidak menutup tirai dan jendela kamarnya, membuat Abian bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh Rose.

 

Abian mencoba menelpon Rose yang sedang terbaring di lantai.

 

“Halo, iya, Pak. Ada apa?” tanya Rose dengan nada lesu.

 

“Kamu lagi tidur atau sedang kerja seh? Gimana, udah selesai belum?” ditanya seperti itu, Rose langsung beranjak duduk.

 

“Belum semua, Pak. Ini tuh banyak banget. Satu kelas aja rata-rata ada 30 mahasiswa. Di kampus ada lima keas. Jadi total semua kurang lebih ada 150 lembar kertas ujian. Bapak ngerti gak seh?”

 

“Saya ngerti dan saya jauh lebih tahu dari kamu. Itu sudah saya lakukan sejak lima tahun yang lalu. Semua baik-baik aja. Sekarang saya punya asdos kok malah tambah ribet, ya, bukan jadi ringan.”

 

“I-iya juga ya, hehe... maaf, Pak. Tapi Pak, saya juga bukan robot yang bisa kerja tanpa istirahat.”

 

“Ya udah, sekarang bawa semua kertas ujiannya ke rumah saya. Saya mau masukkan nilai ke dalam laptop.”

 

“Iya, Pak.”

 

Rose segera merapikan tumpukan kertas itu dan memasukkannya ke dalam map biru lalu membawanya ke rumah Abian. Kebetulan, Burhan sedang tak ada di rumah, ayahnya itu sedang mengikuti taklim atau pengajian rutin di kampung sebelah. Jadi Rose bisa langsung pergi tanpa pamit terlebih dahulu.

 

“Permisi, Bi Yati, saya disuruh Pak Abian mau ngantar ini,” ucap Rose sedikit canggung karena sekarang sudah jam delapan malam. Ia pun sudah mengenakan baju tidur berbahan satin kesukaannya berwarna pink muda.

 

“Ya Non, masuk aja. Udah ditunggu sama Bapak. Mau minum apa, Non? Biar bibi siapkan.”

 

“Apa aja Bi, yang penting hangat. Hehe... makasih ya, Bi.”

 

ART paruh baya itu mengangguk lalu pergi ke dapur. Sementara itu Rose melihat Abian sudah duduk lesehan  di ruang tengah dengan laptop yang sudah menyala. Rose mendekat.

 

“Pak, ini kertasnya.”

 

“Duduk sini.” Abian menepuk karpet tebal yang halus itu, meminta agar gadis itu duduk di sebelahnya. Rose menurut.

 

Selanjutnya, Abian menjelaskan bagaimana cara memeriksa kertas ujian dengan cara cepat dan tepat. Pertama memeriksa bagian pilihan ganda pada semua kertas ulangan itu barulah kemudian memeriksa bagian essainya. Rose terlihat manggut tanda mengerti. Kemudian Abian mengambil alih kertas yang sudah diperiksa oleh Rose untuk dinilai olehnya dan dimasukkan pada link website miliknya.

 

“Wiih... bapak pinter banget deh, kenapa gak dari tadi ngasih tahu saya. Kalau pake cara ini mah saya bisa sendiri. Hehe... “ celetuk Rose sambil terkekeh.

 

Tung. Abian memukul pelan kepala gadis yang berbalut jilbab instan itu.

 

“Makanya punya otak tuh dipake. Jadi asdos itu harus pintar.”

 

“Aww, sakit, Pak!” Rose memegangi kepalanya yang terasa sakit sakit memanyunkan bibirnya. Itu membuat Abian tersenyum lebar dan tertawa pelan.

 

Rose terpana, baru kali ini ia melihat pria itu tersenyum lepas. Pemandangan yang sangat indah baginya.

 

“Bapak ganteng banget deh kalau senyum gitu, keren dan kyut abiz,” celetuk Rose sambil memainkan kedua alisnya , membuat Abian sekejap berhenti tertawa dan langsung memasang wajah dinginnya lagi.

 

“Udah ayo kerja lagi. Gak usah banyak becanda. Ngerti!”

 

“Siap, Pak Bos!”

 

(Bersambung)

BAT 15 I Like Apple

1 0

BAT 15

 

“Udah ayo kerja lagi. Gak usah banyak becanda. Ngerti!”

 

“Siap, Pak Bos!”

 

Gadis  berlesung pipi itu mulai fokus lagi pada lembaran kertas ujian. Namun, baru beberapa menit perhatiannya kini teralihkan oleh makhluk kecil berwarna cokelat hitam dan menggelikan yang berjalan mendekat ke arahnya.

 

“Kecoaaa ....”

 

Rose terkejut dan langsung menghambur ke Abian yang berada di sisinya. Abian yang tanpa persiapan membuat pertahanannya jatuh. Mereka berdua terjengkang ke belakang dengan Rose berada di atas. Kedua pasang mata itu terbelalak saat menyadari lelaki itu menyentuh salah satu organ penting milik perempuan. Rose kembali berteriak.

 

“Aaaa....”

 

Bergegas Rose bangun dari tubuh kekar Abian. Jantungnya berdebar hebat, wajahnya memerah karena malu bercampur kesal.

 

“Bapak kenapa pegang-pegang punya saya?!”

 

“Lho! Kok kamu yang marah? Kamu tiba-tiba nubruk saya, ada apa? Bilang aja mau meluk.”

 

“Pak Abian yang modus. Tadi tuh ada kecoa!”

 

“Kecoanya mana? Gak ada! Kamu yang modus!”

 

“Pak Abian...!!” geram Rose bercampur kesal dan marah. Lalu ia bergegas merapikan lembaran kertas yang sempat berserakan dan langsung pamit pada lelaki yang memakai kaos dan celana tiga perempat itu yang masih bingung dengan kejadian tadi.

 

“Non, mau ke mana? Ini bibi bawakan minuman,” seru Bi Yati yang berpapasan dengan Rose yang sedikit tergesa-gesa.

 

“Iya, Bi, maaf. Buat Bibi aja. Aku balik dulu ya, Bi.”

 

Walau agak bingung, Asisten rumah tangga itu mengangguk lalu meletakkan nampan yang berisi dua cangkir teh hangat beserta sepiring brownies cokelat di meja yang berada di dekat Abian.

 

“Pak, ini minumannya.”

 

“Ya, Bi. Makasih,” jawab Abian datar dan dingin. Bi Yati pun pergi meninggalkan tuan mudanya itu yang masih terdiam.

 

Rose menutup pintu kamarnya dengan cepat lalu ia duduk di atas kasur sambil memeluk guling. Meski kesal, degup jantungnya  berdebar hebat sejak kejadian tadi. Ia berulang kali menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan bayangan wajah Abian.

 

 ‘Ya Tuhan, tolonglah hambamu ini. Kenapa sejak ketemu dengannya, jantungku terus berdebar kencang?’

***

 

“Yang sudah selesai, boleh dikumpulkan ke depan,” ucap wanita yang berpakaian kemeja putih yang dibalut dengan cardigan hitam dengan lantang dan tegas.

 

Rose kembali mendapat tugas untuk mengawasi jalannya ujian semester untuk mata kuliah Ekonomi. Kali ini untuk mahasiswa tingkat dua. Ia berharap agar masa ujian ini segera berakhir, karena ia akan terus bergelut dengan lembaran ujian yang harus diperiksa. Itu artinya, ia akan terus berhubungan dengan dosen killer bin aneh itu. Rose tidak mau.

 

Entah kenapa jam bergerak terasa lebih cepat. Sekarang pukul dua belas. Sudah tiba waktu makan siang. Rose menghela nafas, ia teringat akan ucapannya yang menyanggupi untuk selalu makan siang dengan Abian. Ia belum siap untuk bertemu dengannya lagi setelah tragedi kecoa itu.

 

Kini ditangannya tumpukan kertas ujian yang harus ia simpan di ruang dosen muda itu. Semoga saja Abian tak menyuruhnya lagi untuk memeriksa lembaran atau setidaknya atasannya itu lupa dan tidak mengajaknya untuk makan siang bersama.

 

“Hey, kamu mau ke mana?”

 

Rose menoleh ke arah samping kanan, ternyata suara Arya yang telah mengagetkannya. Wanita itu tersenyum ramah.

 

“Mau ke ruangan Pak Abian, ngantar ini.” Rose menunjuk tumpukkan kertas di tangannya yang membuat mulut pria itu membulat.

 

“Kamu belum makan siang, kan? Bareng yuk!”

 

“A-aku bawa bekal. Hehe...”

 

“Waw, asyik dong. Boleh gabung?”

 

“Rose!!” panggil Abian dengan lantang, membuat  Arya dan Rose seketika menoleh sumber suara. Dilihatnya sosok dosen mudan nan killer itu berdiri di sisi pintu ruangannya.

 

“Kamu, ikut saya!”

 

“I-iya, Pak. Maaf ya, Pak Arya. Saya duluan.”

 

Rose berjalan ke arah Abian yang berjarak  kurang dari lima  meter darinya. Arya hanya bisa tersenyum dan memandangi kepergian asdos wanita itu.

***

 

“Kita mau ke mana, Pak?” tanya Rose saat dirinya sudah berada di dalam mobil milik Abian.

 

“Aku traktir kamu makan siang. Itu janjiku kemarin, kan!”

 

“Tapi saya udah bawa bekel, Pak. Hehe....”

 

“Ya udah, bekal makanmu buat saya.”

 

“Terus saya gimana dong?!”

 

“Kamu itu harus makan yang banyak, makan yang bergizi. Biar badan kamu itu gede. Gak kecil kaya apel.”

 

“Apa?” Seketika Rose langsung mengingat kejadian semalam dan langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya, membuat Abian tersenyum smirk.

 

“Saya  udah tahu ukuran kamu itu berapa?”

 

“Dasar dosen mesum!” Rose memukul bahu Abian namun tangan kananny aitu dicekal oleh abian.

 

“Maaf untuk yang semalam. Oke, aku gak sengaja,” ucap Abian lembut terdengar tulus ditelinga Rose, membuatnya luluh dan terdiam.

 

Selanjutnya yang ada hanyalah keheningan, dua insan itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tak lama kemudian, mereka sampai di restoran sunda yang terkenal dengan masakannya yang luar biasa nikmat. Rose dan Abian mengambil tempat duduk lesehan yang berdekatan dengan kolom ikan.

 

“Wah, pemandangannya di sini indah banget. Pas banget buat selfie. Hihi...” Rose langsung mengambil handphone dari tas kecilnya dan mengambil beberapa gambar selfi berlatar belakang kebun bunga dan kolam ikan.

 

Sedangkan Abian hanya menggeleng melihat tingkah asdos yang menurutnya lebay atau norak. Menit berikutnya, datang seorang pramusaji sambil membawa daftar menu makanan. Setelah memilih beberapa makanan dan minuman, pelayan itu pergi.

 

“Pak Abian kok tadi mesen makanannya banyak banget. Emangnya bapak selapar itu?”

 

“Itu buat kamu. Kan aku udah bilang tadi. Kamu harus makan banyak.”

 

“Iya, iya. Apel juga ada lho yang besar. Enak lagi.” Rose mengumpat pelan namun masih bisa didengar oleh pria di sampingnya.

 

“Yes, I like apple.” Keduanya tersenyum.

 

Sejurus kemudian, dua orang pramusaji datang sambil membawa nampan besar, berisi sebakul kecil nasi, ikan bakar, ayam panggang, udang saus tiram, sop iga, tumis kangkung, salad buah dan beberapa minuman dingin.

 

Rose melongo melihat semua makanan itu yang tersaji di atas meja.

 

“Baca doa dulu!” Abian memukul pelan jemari tangan kanan Rose yang hendak mengambil sepotong ayam panggang.

 

“Hehe... sorry.” Rose sedikit memanyunkan bibirnya lalu ia mulai merapalkan doa makan.

 

“Mana bekal yang kamu bawa, sini!”

 

“Gak usah, Pak. Ini aja pasti lebih enak.”

 

“Gak. Aku mau bekal kamu.”

 

Rose membuka reseleting tasnya dan mengeluarkan kotak makan kecil bergambar hello kitty lalu diberikannya bekal makan itu pada bosnya.

 

“Hmm... enak,” seru Abian setelah menyantap suapan pertama nasi goreng yang Rose bawa. Gadis itu hanya tersenyum melihat Abian yang sangat menikmati nasi goreng yang ia buat tadi pagi. Selanjutnya mereka menikmati makanan itu dengan sesekali diiringi senda tawa dari Rose yang suka sekali menjahili Abian.

 

“Aduh, kayaknya saya kekenyangan neh, Pak. Perut saya sakit. Saya ijin ke belakang dulu, ya, Pak!”

 

Dengan setengah berlari, Rose bergegas menuju toilet yang berada di ujung koridor. Sambil menunggu, Abian memainkan gawainya.

 

“Pak Abian! Wah, kebetulan kita ketemu di sini,” ucap salah seorang pria berumur lima puluhan yang melewati tempat duduk Abian dan hendak keluar dari rumah makan itu.

 

“Prof Reinaldi?!” Abian yang sedikit terkejut, langsung berdiri menyalami rektor kampusnya dan juga tiga orang di belakang pria itu yang merupakan dekan dan  dosen. Di samping pria tua itu juga berdiri putri kesayangannya, Anita.

 

“Kamu sendiri atau sama yang lain?” tanya rektor itu sambil melirik ke arah meja makan Abian.

 

“Saya sama teman. Tapi, dia lagi ke toilet.”

 

“Oh... udah selesai, kan, makannya? Kalau gitu, kamu ikut saya, ya. Ada yang ingin saya bicarakan.”

 

Abian  nampak bingung, harus ikut dengan atasannya itu atau diam menunggu Rose datang.

 

“Ayo, Bi. Papaku udah jalan.” Anita menggamit tangan Abian dan menggandengnya mesra. Ia terpaksa mengikuti para petinggi kampus.

 

Beberapa menit kemudian, Rose datang dengan perasaan lega. Perutnya yang tadi terasa mulas, kini dirasa membaik. Langkahnya terhenti ketika sampai di meja, tempat ia dan Abian makan siang tadi yang kini nampak kosong. Kepalanya bergerak ke kanan ke kiri encari sosok Abian. Yang ia lihat hanya dua orang pe;ayan yang hendak merapikan meja dari sisa-sisa makanan.

 

“Mmaaf, Teh. Laki-laki yang tadi di sini makan sama saya, di mana ya? Teteh lihat tidak?”

 

“Tadi sudah keluar, Teh, bareng sama yang lain.”

 

“Sama yang lain?” tanya Rose tidak mengerti.

 

“Iya, teh. Bapak-bapak, ada perempuannya juga.”

 

Rose terlihat manggut-manggut. “Teh, ini udah dibayar kan? Sisanya boleh dibungkus ga teh, buat saya bawa pulang. Hehe..”

 

“Iya, sudah dibayar sama teman teteh tadi. Boleh teh, biar saya siapkan.”

 

“Makasih, teh.”

 

Dengan cekatan, dua pelayan itu memasukkan beberapa makanan ke dalam wadah dan kantong plastik putih, lalu diberikannya kepada Rose. Setelah mengucapkan terima kasih Rose pergi dari tempat makan itu dengan hati gamang, bimbang dan sedikit kesal. Pikirannya terpusat pada Abian, kenapa pria itu meninggalkannya di tempat makan tanpa memberitahu terlebih dahulu.

 

Sambil menunggu angkot yang ia tuju, Rose menatap layar handponenya. Tidak ada notif dari Abian. Oke, fix. Dia cuma ngerjain gue. Hufh,

***

 

Malam hari seperti biasa, Abian berdiri di dekat jendela kamarnya, hanya mencoba memastikan perempuan tetangganya itu sedang melakukan apa. Perasaannya masih tida tenang lantaran dirinya meninggalkan wanita itu ditempat makan tanpa ijin terlebih dahulu.

 

Terlihat di sana Rose sedang duduk di lantai beralaskan karpet. Ditangannya sebuah novel yang sedang ia baca. Abian mulai mengetik pesan pada Rose.

 

Ting. Bunyi pesan masuk, Rose langsung menyambar hape yang berada didekatnya.

 

[Tugas meriksa ujian mahasiswa udah selesai belum?]

 

Dahi Rose mengernyit, lalu ia mulai mengetik balasan.

 

[Sudah]

 

Abian bingung harus mengetik pesan apa lagi, karena jawaban dari gadis itu sangat singkat dan jelas. Biasanya Rose mengetik pesan panjang dan cukup nyeleneh yang bikin Abian kesal.

 

 ‘Apa dia marah? Apa aku harus minta maaf? Ya Tuhan, kenapa hatiku rasanya sakit seperti diacuhkan.’

 

(Bersambung]

 

BAT 16 Penjelasan

1 0

BAT 16

 

“Pak Abian, saya harap anda akan menerima tawaran saya.”

 

“Saya akan pikirkan, Prof. Tapi saya tidak bisa janji.”

 

“Baik. Saya tidak memaksa. Tapi saya akan senang jika memiliki menantu seorang pria cerdas dan berprestasi seperti anda.”

 

“Hey, kamu kenapa diam aja. Acaranya udah dimulai tuh,”  ucap Anita sambil menyenggol lengan Abian yang duduk di sisinya, membuat pria itu tersentak dan seketika lamunannya tentang perbincangan soal pemilihan dekan fakultas tempo hari itu pergi.

 

Abian memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman lalu fokus menatap ke depan. Terlihat di sana seorang wanita sedang berbicara di panggung kecil, memandu acara.

 

Hari ini adalah hari pengumuman untuk pemilihan Dekan Fakultas di Universitas Kota Kembang, Bandung. Para tamu undangan sudah nampak berdatangan memenuhi ruangan  seluas 8 kali 7 meter persegi itu.

 

Abian menempati bangku dibarisan depan bersama para dekan fakultas lainnya, di barisan kedua dan seterusnya adalah para dosen dan civitas akademik seperti asdos, staff dan karyawan. Rose bersama Arya duduk bersisian. Wanita itu sangat antusias mengikuti acara ini karena ia baru pertama kali merasakan atmosfer di ruang aula senat, dimana tempat ini sering dipakai untuk rapat atau pertemuan penting serta acara resmi lainnya.

 

Rose mengedarkan pandangannya pada ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa, ruang aula senat itu lebih mirip ballroom hotel untuk acara resepsi pernikahan. Decak kagum terlihat di wajahnya melihat dekorasi panggung kecil di depan sana dengan hiasan warna warni bunga.  Ia pun mengira kalau Abian, si dosen killer itu pasti sudah berada di antara mereka yang duduk di barisan terdepan.

 

“Maasya Allah, tempatnya bagus banget. Pasti acaranya seru juga, ya,” seru Rose pada Arya yang tersenyum hangat pada wanita berjilbab baby pink itu.

 

“Iya. Kamu... baru pertama kali lihat ini kan. Sebenarnya ini tuh acara empat tahun sekali pergantian dekan, tapi karena ada 3 dekan yang pensiun dan mutasi jadi sekarang acaranya.”

Rose terlihat manggut-manggut menanggapi jawaban Arya. Tak lama kemudian terdengar suara MC yang mempersilahkan rektor kampus untuk maju ke depan. Suasana menjadi hening seketika karena akan mendengar sambutan sekaligus petuah dari petinggi universitas itu.

 

“Saya sangat senang bisa berjumpa kembali dengan anda semua. Pada kesempatan yang berbahagia  ini, saya akan mengumumkan beberapa nama yang sudah terpilih menjadi dekan fakultas. Saya ucapkan terima kasih pada Panitia Seleksi Calon Dekan yang sudah bekerja keras dalam sebulan ini untuk menseleksi beberapa nama yang masuk sehingga saya sebagai Rektor Universitas Kota Kembang bisa memilih siapa yang berhak dan pantas untuk menduduki kursi Dekan Fakultas.”

 

Oke, langsung saja saya umumkan. Yang pertama Dekan Fakultas Kedokteran yaitu Prof. Dr. Irwan Praja, Sp.B. Yang kedua Dekan Fakultas Teknik yaitu DR. Ir. Brawijaya, M.Eng dan yang terakhir Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yaitu ... dia adalah seorang tenaga pengajar yang terbilang masih muda usianya, namun prestasi akademiknya sangat bagus bahkan putri saya sangat mengidolakannya. Wah... tapi, saya objektif memilih dia bukan faktor calon menantu ideal, tapi dia memang berbakat. Langsung saja kita panggil, Abian Pratama, M.S.E.”

 

Riuh suara tepuk tangan dari para hadirin yang menanggapi penjelasan dari sang rektor yang memakai baju kebesarannya. Tiga nama yang disebut tadi pun maju ke panggung kecil, termasuk Abian. Perasaan pria itu sungguh tak enak. Pasalnya, ia tak pernah menyanggupi untuk menjadi dekan apalagi calon suami dari putri sang rektor. Sungguh ia sangat tekejut.

 

Prof. Reinaldi menyalami tiga orang yang bediri berjajar yaitu Irwan Praja, Brawijaya dan Abian Pratama. Setelah itu mereka berempat foto bersama. Rangkaian acara selanjutnya adalah pelantikan Dekan terpilih serta sertijab dari dekan yang sebelumnya pada dekan yang baru.

 

Sejak mendengar pengumuman Abian adalah dekan terpilih dan auto calon menantu rektor, entah kenapa suasana hati Rose menjadi kacau. Ia tak lagi seantusias mengikuti acara itu. Bahkan setelah acara itu ditutup oleh pembawa acara, Rose langsung pamit pada Arya.

 

“Lho! kok pulang? Kita kan abis ini mau ramah tamah, makan-makan...”

 

“Ehm... aku udah ada janji mau pergi sama ayah. Maaf ya, aku duluan.”

 

Rose terpaksa harus berbohong, mencari alasan logis agar bisa keluar dari ruangan itu secepatnya. Ia pun  langsung bergegas pergi pada saat suasana menjadi ramai, pengunjung berhambur ke depan untuk menyalami ketiga dekan yang terpilih.

 

Abian sempat mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok perempuan yang menjadi asdosnya, namun tidak ia temukan. Ia hanya melihat Arya seorang diri maju ke depan. Abian hanya tesenyum samar saat orang-orang memberikan ucapan selamat.

***

 

Tok tok tok

 

Rose beranjak ke pintu depan, ingin tahu siapa yang bertamu pada siang ini.

 

“Bi Yati, Zen? Ada apa? Wah... kamu lucu banget pake topi kelinci,” seru Rose sambil menjawil hidung anak kecil itu. Ia tidak menyangka bahwa yang mengetuk pintu adalah tetangga samping rumahnya.

 

“Maaf, Non Rose. Bibi teh mau beberes rumah soalnya ART yang satunya lagi gak masuk kerja. Jadi bibi sedikit kerepotan. Boleh titip Zen sebentar, Non? Kasihan dia dari tadi main sendiri.”

 

“Oh, ya gak apa-apa, Bi. Ayo Zen, kita main. Kebetulan tante lagi bikin puding.”

 

“Asyik... aku suka puding, Tante.”

 

“Ya udah, bibi balik dulu. Makasihh ya, Non.”

 

“iya, Bi. Sama-sama.”

 

Rose menutup pintu dan mengajak Zen ke dapurnya sambil menuntun tangan mungil bocah berusia 7 tahun itu.

 

“Rumah tante kok sepi?” tanya Zen setelah dia melihat-lihat ke ruangan namun tak ada orang.

 

“Iya, kan tante cuma tinggal berdua sama ayah. Tapi ayah tante lagi kerja belum pulang.”

 

Zen manggut-manggut, mencoba mengerti situasi rumah ini.

 

“Nih, cobain. Puding coklat buatan tante.” Rose menyuguhkan semangkuk puding pada Zen. Gadis kecil itu sangat antusias menerima dan memakannya hingga tandas. Selesai menghabisakan puding, dua wanita berbeda usia itu bermain boneka, tangkap sembunyi alias ‘petak umpet’ dan permainan lainnya. Suasana rumah itu menjadi ramai dengan kehadiran bocah cilik yang sangat aktif, lincah dan ceria.

 

Setelah beberapa lama, Abian pulang dan mendapati rumahnya dalam keadaan sepi. Tak seperti biasanya jika dirinya datang, Zen langsung menyambut dengan berlari dan minta untuk digendong.

 

“Bi Yati... ke mana Zen? Kok rumah kayak sepi. Apa Zen lagi tidur?”

 

“Anu... eh, punten, Pak. Zen sedang main di rumah nona Rose soalnya saya beberes rumah, Pak. Bi Jum ga masuk kerja, katanya sakit,” jelas bi Yati sambil menunduk, memainkan jemarinya. Takut kalau tuannya itu akan memarahinya.

 

“Oh... ya sudah. Memangnya Zen main dari jam berapa?” Abian melihat jam di tangannya menunjukan pukul 4 sore lebih sepuluh menit.

 

“Tadi kalo gak salah jam dua-an, Pak. Apa perlu saya jemput Zen nya, Pak?”

 

“Gak usah. Nanti saya aja.” Abian berlalu menuju kamarnya di lantai dua.

 

Baru saja Abian hendak mengganti pakaian, ia mendengar suara Zen dan Rose yang sedang bercanda, kadang diselingi tawa renyah dari putri kecilnya itu. Rupanya mereka berdua sedang berada di kamar Rose yang letaknya berseberangan dengan kamar dirinya.

 

Abian kini berdiri di sisi jendela, mengintip ke arah jendela kamar Rose. Kedua wanita itu sedang duduk di atas kasur, memainkan boneka. Senyum tersungging di wajah Abian yang melihat kedekatan Zen pada wanita yang menjadi asdosnya itu. Abian segera menarik diri, melepas jas dan dasinya lalu turun ke lantai bawah.

 

Tok tok tok

 

Rose yang tersadar dengan bunyi ketukan pintu segera menghentikan aksi bermain bonekanya bersama Zen.

 

“Kayaknya ada yang ketuk pintu. Ayo kita ke bawah?”

 

Zen menurut lalu mereka berdua bergandeng tangan berjalan menuruni tangga. Sampai di dekat pintu, Rose membuka pintu terbuat kayu jati itu dan sedikit terkejut karena yang berdiri di sana adalah ayah dari anak kecil itu.

 

“Papi...” Zen langsung memeluk tubuh pria jangkung itu.

 

“Kita pulang, yuk. Kamu udah lama kan main di sini?” ucap Abian setelah menggendong Zen. Gadis kecil itu pun mengangguk.

 

“Bye bye Zen...” kata Rose sambil melambaikan tangan kanannya.

 

“Makasih, kamu udah nemenin Zen main. Maaf, jika merepotkan”

 

“Gak repot, Pak. Saya malah seneng. Hehe...”

Abian mengangguk pelan, lalu segera menuju rumahnya. Tapi, ...

 

“Tunggu!” Rose terkejut karena pria itu kembali datang saat ia hendak menutup pintu.

 

“Kamu tadi datang ke acara di aula senat, kan?”

 

“I-iya. Saya datang, duduk di barisan paling belakang. Saya kan cuma asdos. Hehe... oh ya, selamat ya, Pak. Bapak terpilih jadi dekan.” Rose memaksakan senyum lebarnya.

 

“Sebenarnya, saya sudah menolak untuk tawaran dekan itu. Karena saya merasa belum pantas. Perihal calon menantu rektor, itu pun saya sudah menolaknya. Tapi entah kenapa Pak Rektor malah mengumumkan. Anggap saja itu hanya rumor.”

 

“Maksudnya? Ke-kenapa Pak Abian menjelaskan itu pada saya?”

 

“Apa? Ehm,,, tidak. Saya hanya berpikir mungkin kamu butuh jawaban itu.” Abian segera memalingkan wajahnya dan pergi. Takut kalau rona merah itu diketahui oleh Rose.

(Bersambung)

 

Baca juga ceritaku yang judulnya “Rahasia Terdalam Suamiku” karena sudah tamat untuk season 1. Insya Allah ada season duanya. Jangan lupa klik subscribe dan Follow akun Ismi Nuri.

Makasih...

BAT 17 Bonus Spesial

1 0

BAT 17

 

“Hey, ntar malam kamu dateng ga?”

 

“Acara apa?”

 

“Kamu belum tahu?”

 

Rose menggeleng. Ia bersama Arya sedang berada di kantin kampus. Rose memesan bakso sedangkan pria itu memilih mie ayam. Setelah pesanan siap, mereka duduk membaur bersama mahasiswa lainnya.

 

“Pa Rektor mengundang semua dosen, staff dan karyawan universitas makan malam di hotel. Jarang-jarang lho kayak gini.”

 

“Dalam rangka?”

 

“Katanya seh Pak Rektor ulang tahun. Sekalian syukuran gitu.” Arya mengedikkan bahu, sedikit ragu dengan apa yang ia katakan.

 

‘Pasti dosen killer itu juga dateng. Ah, males gue! Palingan acara tunangan mereka,’gumam Rose dalam hati sambil tangannya mengaduk-ngaduk semangkuk bakso yang belum ia makan.

 

“Gimana? Nanti kita pergi bareng yuk. Aku belum ada temen neh. Hehe..”

 

“Aku...  ga bisa janji, ya!”

 

Arya menghela nafas lalu kembali menikmati makan siangnya.

***

 

Rose sudah berada di kamarnya. Selepas shalat isya tadi, ia pamit pada ayahnya ingin tidur lebih cepat. Tapi setelah dirinya berada di atas kasur, matanya justru tak mau terpejam. Dipandanginya handphone berharap Abian akan menelponnya dan memintanya untuk pergi bersama ke acara itu.

 

“Gak mungkin Rose! Lo jangan mimpi!” gadis itu kesal sendiri.

 

Tiba-tiba hapenya berdering, ia terperanjat karena orang yang sedang ia bicarakan itu benar-benar menelponnya.

 

“Ya Tuhan, dia beneran nelpon gue!” Rose segera mengatur ritme suaranya.

 

“Ya, halo. Assalamu’alaykum. Ada apa, Pak?”

 

“Wa’alaykumsalam. Kamu lagi sibuk?”

 

“Enggak seh. Kenapa, Pak?”

 

“Ehm, saya mau pergi. Ada acara bersama Pak Rektor di hotel. Kamu bisa temani saya?”

 

“Gimana ya, Pak. Saya udah ngantuk neh. Hoaamm....” Rose sok jual mahal. Padahal iya sangat senang sekali sambil berjingkrak teriak tanpa suara sambil bilang ‘YES’.

 

Abian yang menatapnya lewat jendela kamarnya hanya menggelengkan kepala, ‘dasar cewek aneh,’.

 

“Ya sudah, kalau kamu ngantuk tidur aja. tapi gaji kamu saya potong.”

 

“What’s? Kok bisa gitu? Oke. Saya ikut pak Abian. Tadi saya cuma bercanda kok. Tapi kasih saya bonus ya, Pak.”

“Oke.  Di akhir acara nanti saya akan kasih bonus ke kamu. Spesial.”

 

Wajah Rose memerah. Membayangkan kejadian yang ‘iya-iya’. Oh tidak!

 

Setelah telpon ditutup, Rose segera bersiap berganti pakaian. Hampir saja Abian melihat gadis itu yang hendak membuka baju, tapi ia segera menutup horden jendela kamarnya. Hatinya berdebar hebat.

 

‘Apa yang kau lakukan Abian? Dasar konyol!’ umpatnya dalam hati. Ia segera turun ke lantai bawah, menuju pintu utama.

 

Gadis berkulit putih itu memakai dress panjang berwarna hijau wardah dan jilbab tosca. Ditambah dengan sedikit make-up. Ia tampil cantik alami. Abian bergeming menatap gadis di hadapannya. Ia terpesona dengan tampilan Rose yang sederhana tapi sangat memukau baginya. Ia membukakan pintu mobil untuk asdos itu, membuat Rose tersipu malu.

 

Mobil bergerak, melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Bandung yang kali ini terlihat lebih ramai. Mungkin karena malam ini adalah malam minggu. Banyak pasang muda mudi yang menghabiskan waktunya di jalan-jalan, meramaikan pasar malam.

 

Mobil berhenti di hotel Papandayan, yang berada di puasat kota Bandung, Lengkong. Setelah turun dari mobil, Abian menggamit jemari Rose hangat, berjalan menuju ballroom hotel, tempat pesta itu digelar.

 

“Aku minta kau tetap bersamaku. Jangan ke mana-mana,” ucap Abian sambil menatap Rose sendu, sesaat sebelum mereka melewati pintu utama hotel. Rose membeku  seakan terhipnotis dengan perlakuan lembut Abian, membuatnya mengangguk anggun.

 

Mereka berdua memasuki ballroom hotel sambil berpegangan tangan. Hampir semua pasang mata memperhatikan mereka termasuk Anita.

 

“Bi? Kamu ... datang bersama siapa? Eh, sebentar. Sepertinya aku pernah melihat kamu. Kamu itu kan cewe yang bilang kalau Abian sedang kena penyakit menular. Dan ternyata kamu itu bohong. Iya kan? Berani ya, kamu ke sini!”

 

“Hehe.  Saya... minta maaf. Karena waktu itu ....”

 

“Sudahlah Anita. Kenalkan, Ini Rose, dia asisten pribadi saya.” Abian mencoba menengahi.

 

“Heh, cuma asisten. Ingat ya! Kamu itu cuma asisten alias pembantu. Mengerti!”

 

Rose berusaha bersikap tenang, walau dalam hatinya ia begitu kesal pada wanita di depannya ini. Ingin rasanya ia menjambak rambut pirang gadis itu dan memukul mulut lemesnya, tapi itu tidak mungkin hanya terjadi dibenaknya saja.

 

“Ayo, Bi. Kamu harus ketemu papaku.” Anita menarik lengan Abian dan menggandenya mesra, meninggalkan Rose yang memelas. Lelaki itu sempat menoleh padanya  seperti akan bilang bahwa ia akan kembali. Namun Rose hanya diam. Ingin sekali ia pergi dari pesta ini. Untung saja ada Arya yang menghampirinya.

 

“Hey Rose, akhirnya kamu datang juga. Kamu... terlihat sangat cantik malam ini. Hehe...”

 

“Makasih.” Rose memaksakan senyum.

 

“Kamu belum makan kan? Ayo, aku juga lapar.”

 

Rose dan Arya berjalan bersisian menuju meja prasmanan yang berada di sebelah kanan panggung kecil. Mereka menikmati makanan itu bersama para tamu lainnya. Oleh Arya, Rose dikenalkan pada para dosen dan staff yang belum pernah Rose temui. Senang sekali rasanya ia bisa memperluas pertemanan dan jaringan. Ini akan menguntungkannya jika suatu hari nanti ia membutuhkan pekerjaan lain.

 

“Pak Arya, aku pamit sebentar, mau ke kamar mandi. Hehe...” Rose meringis. Sepertinya ia memang sudah tak tahan ingin buang hajat.

 

“Oke, toiletnya kalau gak salah ada di dekat kolam renang. Di sana! Apa perlu kuantar?”

 

“Gak perlu.” Dengan sedikit tergesa, Rose pergi menuju ke kamar kecil yang tadi ditunjuk oleh Arya.

 

“Hadeuh,,, ini perut gak ada akhlak emang. Mules kok di tempat hotel kek gini, kan malu.” Rose segera membuka pintu toilet itu. Untung gak ada orang yang lihat, ia beberapa kali keluar masuk untuk membuang hajatnya.

 

Setelah perutnya terasa lega, Rose bercermin sejenak di kaca yang terpampang di dinding kamar mandi hotel.

 

“Cantikan juga gue dari pada anak rektor itu. Ish, dia cuma menang bahenol doang. Ayo Rose, semangat!!”

 

Rose menarik nafas panjang tapi wajahnya kembali sendu, mengingat pria yang kini masih bersama putri rektor itu.

 

“Pak Abian lagi ngapain seh, kok lama banget sama Mak Lampir itu!”

 

Rose berjalan gontai, menuju ruang ballroom tadi. Langkahnya terhenti saat dirinya berada di sisi pintu kolam renang. Dari jarak kurang dari lima meter,  ia melihat sosok Abian bersama seorang wanita sedang berbincang  di pinggir kolam renang. Dia adalah Anita, putri rektor kampus tempat Rose bekerja.

 

“Sedang apa mereka berdua di tempat ini? Hufh, bukan urusanku, lebih baik aku pergi.” Baru saja Rose melangkahkan kakinya hendak pergi meninggalkan tempat itu, namun dirinya tertahan, melihat adegan yang terjadi di depannya.

 

Anita mendekap tubuh Abian. Rose terkejut, matanya membulat sempurna. Jantungnya bertalu hebat. Dari tempat ia berdiri, Rose seperti melihat dua orang yang sedang berciuman.

 

Anita sengaja melakukan itu karena melihat Rose yang sedang berdiri melihat dirinya dan Abian. Ia ingin memeberikan pelajaran pada Rose bahwa posisinya sebagai asisten tak layak untuk seorang Abian. Hanya dia yang berhak untuk memiliki dosen duda tampan itu.

 

“Ya Tuhan, ap ayang mereka lakukan? Tidak. Itu tidak mungkin.”

 

Rose berlari sambil menutup mulutnya, menahan agar isak tangis ini tak bersuara.

 

‘Pak Abian, inikah bonus spesial yang kau janjikan padaku! Lalu untuk apa kau sok berlaku manis tadi?’

 

(Bersambung)

 

 

Terima kasih yang udah baca sampai part ini. Semoga kalian suka.

Baca juga ceritaku lainnya:

Bukan Salah Ta’aruf 

Rahasia Terdalam Suamiku (tamat season 1)

Jangan lupa follow akun Ismi Nuri

BAT 18 Memupuk Jarak

1 0

BAT 18

 

“Kamu kenapa, Sayang. Nonton tv kok melamun?” tanya Burhan pada putri semata wayangnya. Lelaki tua itu bingung dengan sikap anaknya yang tak biasa. Lantas ia mengambil duduk di sisinya.

 

Rose hanya bisa tersenyum meringis. Ia tak mungkin berterus terang pada ayahnya tentang pikirannya yang dipenuhi oleh sosok pria duda yang tak lain adalah tetangganya sendiri.

 

“Gak tahu neh, Yah. Acaranya gak ada yang bagus.” Rose mengelak.

 

“Acaranya gak bagus apa pikiran kamu yang gak fokus. Ini kesukan ayah, OVJ. Lucu kok kamu diem aja!”

 

Rose menghela, ia tak bisa berbohong di depan pria yang setia menemaninya hingga kini.

 

“Rose kangen ibu.”

 

Burhan menoleh, sudah lama putrinya itu tidak menyinggung nama ibunya. Bukan karena tidak kangen, tapi karena tidak ingin menciptakan susasana sedih. Burhan memeluk anaknya yang  sudah tumbuh dewasa itu.

 

“Ya udah, besok kita ke Jakarta. Kita akan mengunjungi ibu.”

 

“Beneran yah?” mata Rose berbinar, air mata yang tadi sudah menumpuk, kita berhambur keluar.

***

 

“Bibi... ayo, Zen mau main sama tante,” rengek Zenia sambil menarik-narik ujung baju bi Yati. Anak kecil itu ingin ditemani ke rumah Rose. Namun perempuan yang menjadi pengasuh sekaligus ART itu, bingung harus menjawab apa karena sudah tiga hari ia belum melihat sosok Rose di sekitar rumahnya.

 

Biasanya, pagi-pagi Rose sudah beraktifitas menyapu halaman depan rumah, mengepel dan menjemur pakaian. Pekerjaan rutin yang sama bi Yati lakukan. Tapi tidak untuk tiga hari ini.

 

“Bi Yati gak tahu, Non. Tante Rose nya ada di rumah apa gak. Tadi bi Yati beli sayuran di pengkolan, pagar rumahnya di gembok dari kemarin. Mungkin lagi pergi, Non. Besok aja ya, kita mainnya!”

 

“Ah... gak mau! Zen mau main sama tante Rose. Huhu...” Zen mulai menangis. Abian yang sedang duduk di ruang tengah mendengar pembicaraan mereka. Sontak ia mengambil handphone yang tergeletak di meja dan melihat nomor kontak asdosnya.

 

“Gak aktif. Ke mana Rose?” ucapnya setelah ia mencoba menghubungi nomor itu.

 

Abian ingat, sejak ia mengajak Rose untuk pergi ke pesta ulang tahun rektor di hotel, Abian belum melihat sosoknya lagi. Bahkan mereka tak pulang bersama. Abian sempat bertanya pada Arya saat di pesta itu tentang keberadaan Rose, di luar dugaan Arya menjawab kalau Rose mendadak ingin pulang karena alasan sakit perut.

 

Kini, tiga hari gadis itu tak ada kabar. Memang ujian semester genap telah usai, jam mengajar pun libur. Tapi mereka bertetanggaan, masa ia mereka tak bisa bertemu juga. Abian bingung. Perempuan itu seperti menghilangkan jejak.

 

Abian beranjak ke kamarnya, ia ingin memastikan jendela kamar tetangganya itu terbuka seperti biasa. Tapi hasilnya nihil. Jendela dengan  horden motif bunga-bunga itu tertutup rapat. Abian seperti kehilangan kebiasaan usilnya, mengintip. Akhir-akhir ini ia memang sibuk dengan tugas barunya sebagai dekan fakultas. Jadi Abian tak sempat atau bahkan lupa dengan hobi barunya itu.

 

Abian meraba hatinya, ia ingin tahu seberapa besar gadis yang baru ia kenal beberapa bulan terakhir, menguasai hati dan menyita pikirannya, mengembalikan senyumnya dan kebahagiaan putrinya. Ya, Rose telah menjadi bagian dari keluarga kecil itu. Akunya.

 

***

 

“Pak Dekan, hari ini ada rapat di Universitas Trisakti jam satu siang.”

 

“Ya, aku tahu.”

 

Abian menyuruh pergi sekretaris dekan itu setelah wanita itu mengingatkan dirinya akan jadwal hari ini. Ia akan menemani rektor berangkat ke Jakarta untuk menghadiri rapat alias pertemuan para petinggi universitas.

 

Sebenarnya ia tak ingin, lebih tepatnya malas. Malas harus selalu mendampingi rektor ke manapun orang tua itu pergi. Alih-alih rapat membahas sesuatu yang penting untuk kemajuan kampus, rektor itu selalu mengenalkan pada rekan-rekannya sebagai calon menantu.

 

Sh*t! Abian tak bisa menolaknya. Alasan apa yang harus ia kemukakan agar ia bisa keluar dari kungkungan ini.

 

Dosen muda itu mengambil kunci mobil lalu menutup ruang kerjanya. Ia harus segera bergegas pergi ke Jakarta karena jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi.

 

Di dalam mobil, iseng ia memencet nomor wa Rose dan menelponnya.

 

Terhubung.

 

Mata Abian berbinar kala melihat layar handphonenya,  ia tak menyangka bahwa nomor wanita itu sudah aktif.

 

“Halo, Rose. Kau di mana?”

 

Telpon tiba-tiba ditutup. Abian terkejut. Kenapa wanita itu malah menutup telponnya. Ada apa? Apa dirinya melakukan kesalahan? Abian mulai cemas. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu mulai mengetik pesan untuk asdosnya itu.

 

[Rose, kau dimana?]

 

[Kenapa pergi tak beri kabar?]

 

[Apa kau marah padaku?]

 

[Maaf, aku kangen. Ehm, maksudku Zen. Zen menangis ingin bermain denganmu.]

 

Rentetan pesan itu ia kirim ke nomor wa Rose, tapi hanya centang satu. Nomor wanita itu sudah tidak aktif.

 

Abian memukul kemudinya. Ia sangat kesal kenapa Rose tak mau menerima telponnya lagi. Setelah menarik napas berat, Abian kembali menjalankan mobilnya itu yang hendak memasuki jalan tol.

***

 

Setelah puas mengambil beberapa spot gambar  di kampus, tempat di mana ia pernah menimba ilmu, Rose menuju ke kantin. Cacing-cacing di perutnya sudah berteriak lapar. Universitas ini sudah banyak berubah, makin bagus dan terihat megah. Terakhir ia ke sini saat wisuda dan mengambil ijazah dua tahun yang lalu. Namun, ia masih hafal di mana letak ibu kantin yang sering ia kunjungi.

 

“Permisi Bu Siti. Saya mau pesan makanan,” ucap Rose sambil tersenyum pada seorang ibu tua yang sedang duduk menunggui dagangannya.

 

“Boleh, Nak. Mau pesan apa? Eh, sebentar. Kamu ... Kamelia kan?” Ibu kantin itu coba menerka gadis di depannya.

 

“Ibu masih ingat saya?”

 

“Pasti ibu ingat. Ya Allah... anakku ini. Kamu ke mana saja? Kamu makin cantik ya!” ungkap bu Siti seraya memeluk tubuh Rose. Wanita tua itu memang sudah menganggap Rose sebagai putrinya karena selain sebagai langganan pembeli, gadis itu juga sering membantu melayani pembeli ketika dagangannya ramai.

 

“Ayo sini duduk. Cerita sama ibu. Kamu sekarang tinggal di mana? Kenapa gak pernah kunjungi ibu lagi,” cecar bu Siti sambil merangkul pundak Rose dan mendudukannya di bangku panjang yang berdekatan dengan gerobak jualannya.

 

“Sekarang saya tinggal di Bandung, Bu. Kerja juga di sana. Ini lagi libur, jadi main ke Jakarta sekalian ziarah ke makam ibu saya.”

 

“Oh... jadi kamu udah pindah. Kirain ibu, kamu gak mau ketemu ibu lagi. Lho! kenapa gak kerja di sini aja, kok malah di Bandung?” Lagi, ibu siti itu bertanya karena masih belum puas. Baru saja Rose akan menjawab, mata gadis berjilbab pink itu menangkap sosok lelaki yang sangat ia hafal sedang berjalan. Letak kantin terbuka  ini memang berdekatan dengan lahan parkir kampus.

 

Rose menoleh ke arah samping kanannya, arah yang dituju oleh dosen tampan itu. Jika tempat yang dituju adalah gedung rektorat, maka sudah dipastikan Abian akan melewatinya.

 

Seketika degup jantung Rose meningkat. Ia tak menyangka akan bertemu dengan lelaki itu di sini. Rose segera berjongkok, bersembunyi di bawah meja.

 

“Kamelia, kamu ngapain?” tanya bu Siti heran dengan aksi tiba-tiba gadis berlesung pipi itu.

 

“ini... kaki saya pegel, Bu. Pingin jongkok sebentar. Hehe....”

 

Terlihat dari bawah meja, langkah kaki Abian melewati meja, tempat ia bersembunyi. Rose menghela nafas, lega. Setelah dirasa cukup aman, ia keluar dan kembali duduk.

 

“Ibu buatkan soto kesukaan kamu, ya!”

 

“Dibungkus aja, Bu. Saya lagi buru-buru neh.”

 

Bu Siti mengangguk, lalu ia mulai meracik semangkuk soto betawi kesukaan anak perempuan yang dulu sering membantunya itu. Setelah semuanya siap, Rose segera pamit dan meminta maaf pada Bu Siti karena tak bisa lama-lama di sini.

 

“Iya, gak apa-apa. Ketemu kamu aja, ibu udah seneng banget. Kamu jaga kesehatan. Kalo ke Jakarta lagi, mampir ke sini!”

 

“Insya Allah.” Rose mencium punggung tangan wanita tua yang sudah ia anggap sebagai ibunya lalu pergi meninggalkan area kampus.

 

Sambil menunggu bus Transjakarta datang, Rose duduk di bangku halte yang tersedia. Ia mulai menyalakan hape yang sempat ia matikan tadi pagi karena panggilan telpon dari Abian. Didapatinya pesan wa yang lumayan banyak dari bos yang juga tetangganya itu.

 

‘Aku juga kangen kalian,’ gumam Rose dalam hati. Matanya mulai memanas. Seharusnya ia tak menyimpan rasa pada Abian. Sehingga dirinya harus merasakan sakit saat pria itu dekat dengan wanita lain. Sebelum rasa itu makin berkembang, Rose bertekad akan menjaga jarak dengan atasannya. Ia akan mengundurkan diri sebagai asisten dosen dan mulai mencari pekerjaan yang lain.

***

 

Ting Tong

 

Bel pintu berbunyi, Bi Yati segera membukakan pintu depan. Alangkah terkejutnya ia, mendapati siapa yang bertamu di jam 7 pagi ini.

 

“Alhamdulillah. Nona Rose, ke mana aja, Non? Zen sering banget nanyain Non,” seru Bi Yati yang langsung mempersilahkan gadis itu masuk.

 

Mendengar nama Rose di sebut! Zen yang sedang sarapan bersama Abian di meja makan, langsung berlari menuju ke arah pintu utama. Abian bergeming, namun ia tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.

 

“Tante... aku kangen.” Rose dan Zen langsung berpelukan.

 

“Tantejuga kangen kamu. Ini tante bawain oleh-oleh.” Rose menyerahkan paper bag yang di dalamnya terdapat boneka barbie. Gadis kecil itu langsung berlompat kegirangan lalu menarik tangan Rose menuju ruang tengah.

 

“Hei Zen, mau apa? Aku mau langsung pulang.” Tak sempat berkata lagi, Rose dan Abian saling bersitatap. Waktu seakan berhenti, kedua orang itu diam terpaku.

 

‘Ya Tuhan, jantungku. Kenapa rasanya mau berhenti?’ batin Rose.

 

‘Akhirnya, kau datang juga, gadis absurd! Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi!,’ gumam Abian.

 

(Bersambung)

 

Gimana ceritanya??? Lanjut gak neh!!!

Ayo dong kasih like, and komen biar aku tambah semangat ngetiknya.

Jangan lupa klik follow akun Ismi Nuri.

Terima kasih...

 

BAT 19 Pelukan Hangat

1 0

BAT 19

 

Rose menyerahkan paper bag yang di dalamnya terdapat boneka barbie. Gadis kecil itu langsung berlompat kegirangan lalu menarik tangan Rose menuju ruang tengah.

 

“Eh,  Zen, mau apa? Aku mau langsung pulang.” Tak sempat berkata lagi, Rose dan Abian saling bersitatap. Waktu seakan berhenti, kedua orang itu diam terpaku.

 

‘Ya Tuhan, jantungku. Kenapa rasanya mau berhenti?’ batin Rose.

 

‘Akhirnya, kau datang juga, gadis absurd! Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi!,’ gumam Abian.

 

“Tante, ayo makan bareng sama Zen,” pinta gadis kecil itu yang membuat Rose tersentak dari lamunannya.

 

“Ah, ya. Tapi, tante udah makan tadi. Tante mau pulang aja ya, tante belum mandi. Hmm... bau neh. Hehe...” ucap Rose sambil setengah membungkuk, mensejajarkan tinggi pada Zen dan menutup hidungnya. Keputusannya untuk datang pagi ini ke rumah Zen ternyata salah.

 

“Gak apa-apa Tante. Aku juga belum mandi. Hmm... bau.” Zen mengikuti gaya Rose tadi.

 

“Ayo duduk! Temani kami makan!”

 

“Apa?!” Rose terkejut dengan perintah Abian yang tiba-tiba. Meski agak canggung, Rose akhirnya ikut duduk bersisian dengan Zen.

 

Rose jadi bingung, ia harus melakukan apa. Diliriknya Abian yang duduk di sebelah kanan Zen  yang sangat fokus pada makanannya. Wajah putihnya terlihat makin bersih, jambang tipis yang senantiasa menghiasi wajah dingin itu kini sudah tidak ada. Rambutnya pun terlihat lebih rapi sehabis dicukur. Tanpa sadar, Rose tersenyum sambil memandangi Abian.

 

“Sudah puas menatapku, Nona? Apa rasa kangenmu sudah terobati?” ucap Abian dengan secara tiba-tiba dengan tanpa melihat Rose.

 

“Apa? Ah tidak!”

 

‘Ya Tuhan, mati aku! Dasar mata gak ada akhlak! Ngapain lo ngeliatin dosen killer itu?’ umpat Rose dalam hati sambil menunduk.

 

“Kau pasti berpikir kalau aku tidak ada di rumah kan?” terka Abian.

 

“Pak Abian tahu aja. hehe...”

 

Abian tersenyum smirk, “Semua terbaca di wajah konyolmu itu,” ungkapnya kemudian. Membuat Rose mengerucutkan bibirnya.

 

“Mobilku menginap di bengkel karena kemarin aku ke Jakarta,” jelas Abian seperti menjawab pertanyaan di kepala Rose.

 

 “Zen, makannya sudah. Cepat mandi!” perintah Abian pada putri kecilnya, dengan kata lain ia mengusir secara halus agar dirinya bisa bicara berdua dengan Rose.

 

“Iya, tapi aku nanti main sama tante ya!” Meski cemberut, Zen tetap menurut. Bi Yati segera menghampiri Zen dan membawanya ke kamar gadis kecil itu.

 

Rose memberikan jempolnya pada Zen, tanda setuju. Setelahnya, ia tinggal berdua dengan lelaki yang mengenakan kaos putih itu. Baru saja, Rose hendak pamit pulang, tangannya langsung ditarik oleh Abian.

 

“Ayo, ikut aku!”

 

“Pak, Pak, saya mau dibawa ke mana? Saya mau pulang, Pak!”

 

Tak dihiraukannya rengekan Rose, Abian masih menarik tangan kanan gadis yang masih memakai piyama hello kitty itu hingga ke ruang kerjanya di lantai dua.

 

“Pak Abian, please! Aku mau pulang. Hehe...” Rose meringis, lebih tepatnya ketakutan setelah pria didepannya itu menutup pintu.

 

Rose mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Baru pertama kali ia menginjakan kakiknya di tempat ini. Ruangan seluas 4 kali 4 meter ini didominasi dengan cat putih memberikan suasana yang sejuk. Ada dua rak buku setinggi satu meter lebih berdiri di pojok kanan. Sebelah kirinya terdapat  galery foto yang menghiasi dinding ruangan itu dan ditengahnya meja kerja Pak Dosen. Pasti pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat ini, pikir Rose.

 

Kini, mereka berdua berdiri dengan jarak satu meter. Pria di depannya itu malah menatapnya sendu seperti ada kesedihan yang mendalam yang ia  simpan.

 

“Kau masih hutang penjelasan padaku, kenapa kau pulang duluan saat di hotel kemarin? Kenapa kau menolak telponku? Kenapa kau menghindar? Kau masih mau bekerja denganku, hah?”

 

“I-iya, maaf Pak. Saya waktu itu sakit perut, makanya saya pulang duluan. Hehe...”

 

“Tapi kenapa kamu gak menelponku?” Abian mengangkat sebelah alisnya, ragu dengan jawaban yang diberikan cewek itu.

 

“Saya gak mau ganggu Bapak sama Bu Anita.”

 

“Ganggu? Maksudnya?”

 

“Iya, saya gak mau ganggu Bapak sama Bu Anita yang lagi ciuman. Ups!” Rose keceplosan. Ia segera menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Abian sempat terkejut dan segera mengambil kesimpulan.

 

“Heh, jadi kamu lihat saya dan Anita di dekat kolam renang itu?”

 

Rose menggeleng cepat masih sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.

 

“Oo... jadi itu alasan kamu menghindari saya  selama ini sampai kamu pergi gak ada kabar. Kamu cemburu?” terka Abian.

 

“En-enggak, Pak. Saya gak cemburu.” Wajah Rose memerah, Abian maju selangkah dan sedikit mencondongkan kepalanya. Tinggi kepala Rose yang hanya sebahu Abian membuat ia harus mendongakkan kepalanya.

 

“Saya itu tipe orang yang tidak mencium wanita sebelu ada ikatan halal. Mengerti!”

 

“Apa?”

 

“Kamu ini, telmi itu jangan dipelihara!” ucap Abian sambil menoyor jidat Rose dengan telunjuknya. Tapi, Rose malah memegangi kedua pipinya yang menghangat.

 

“Anita memang ingin menciumku tapi aku menolaknya.” Abian berjalan ke meja kerjanya dan mengambil sebuah bingkai foto lalu diberikannya pada Rose.

 

“Ini! Dia isteriku, namanya Anyelir. Dia telah meninggalkanku dan Zen. Apa kau tahu, apa persamaanmu dengannya?”

 

Rose menggeleng ragu, justru ia bingung dengan pertanyaan yang diberikan oleh Abian. Rose menatap foto yang ia pegang. Anyelir sangat cantik dan anggun, senyumnya sangat manis. Pantas saja Abian sangat mencintainya, pikir Rose.

 

“Saya gak tahu, Pak. Bu Anyelir sangat cantik dan terlihat dewasa. Beda banget sama saya, Pak.”

 

“Bukan itu maksud saya.”

 

Rose kembali terkejut. Abian kembali mendekat, mengikis jarak diantara mereka.

 

“Saat kau pergi beberapa hari, itu menimbulkan sakit yang pernah kurasakan ketika aku ditinggal Anyelir. Kau paham!”

 

Rose mundur hingga badannya menyentuh dinding pintu. Ia terjebak. Deru nafasnya memburu, jantungnya berdetak hebat.

 

“Ma-maaf, Pak. Saya gak bermaksud pergi gitu aja.”

 

“Karena ulahmu itu, kau harus dihukum.”

 

“Apa?”

 

“Tante... Tante ada di mana?” teriak Zen dari lantai bawah. Rupanya ia telah selesai mandi dan mencari Rose. Itu membuat gadis yang masih memakai piyama hello kitty itu senang dan bisa segera keluar dari ruangan panas ini.

 

“Itu? Zen manggil saya, Pak. Saya permisi!” Rose segera balik badan dan hendak membuka pintu.

 

 “Tunggu!”

 

Secara tiba-tiba, Abian memeluk Rose dari belakang, membuat Rose terkejut dan hampir berteriak. Jantungnya seakan berhenti, deru nafas lelaki itu bisa ia rasakan di pipinya.

 

“Tolong jangan dilepas. Biarkan seperti ini sejenak! Aku kangen.” Bulir hangat di kedua manik gadis itu mulai hadir. Hampir saja Rose terlena dengan pelukan hangat dari pria yang menjadi atasannya itu, segera Rose menguasai diri dan berusaha melepaskan lengan kekar Abian. Ia tak ingin menghancurkan pagar jarak yang sudah ia bangun. Membiarkan desiran hati yang kian berkembang akan membuat dua orang itu nantinya akan hancur.

 

“Pak, tolong lepaskan saya, Pak. Saya mohon!” Mendengar Rose terisak, Abian melerai pelukannya.

 

“Maaf. Aku khilaf.”

 

Tanpa menjawab, Rose segera membuka pintu dan keluar dari ruang kerja Abian. Buru-buru ia menghapus air mata yang sempat turun itu lalu kembali memasang wajah ceria di depan Zenia.

 

“Tante, aku mau main ke rumah tante.”

 

“Boleh. Ayo sayang!” Rose menggandeng tangan mungil bocah tujuh tahun itu dengan riang. Dari lantai atas, Abian menatap kepergian mereka dengan perasaan galau.

***  

 

“Bagaimana hubunganmu dengan Rose?” tanya Jamal pada putranya. Kembali, Jamal menghabiskan liburan akhir pekannya di Bandung, menjumpai anak dan cucu kesayangannya. Kedua lelaki beda generasi itu kini sedang bercengkerama santai di kebun belakang rumah.

 

“Baik,” jawab Abian singkat kemudian ia mengambil teh hangat di meja dan menyesapnya.

 

Jamal memperhatikan psikap utra semata wayangnya itu sambil menggeleng. Sekitar dua minggu masa penjajakan dengan Rose, hanya dijawab dengan ‘baik’. Maksudnya apa? Tanya Jamal dalam hati.

 

“Beberapa hari lalu Papa bertemu dengan Prof. Reinaldi. Ia berterus terang denganku kalau putrinya ingin menikah denganmu? Apa kau ada hubungan dengan putri rektor itu?”

 

“Tidak, Pah. Tapi, dia mengejar-ngejarku.”

 

“Abian, Kamu itu laki-laki, harus tegas mengambil sikap. Jangan beri harapan pada satu wanita sedangkan  kamu menggantungkan perasanmu pada wanita lain. Ingat itu!” tegas Jamal membuat pria di sampingnya itu menghela nafas. Abian bingung dengan perasaannya sendiri. Pada Anita, sang putri rektor, ia telah bersahabat lama namun dirinya tak memiliki perasaan apapun. Sedangkan pada Rose, gadis aneh yang menjadi asisten dosen sekaligus tetangganya itu, ia belum bisa memastikan rasa aneh di hatinya setiap kali ia bertemu dengan wanita berjilbab itu.

 

“Profesor itu juga bilang, kursi dekan itu adalah hadiah karena kamu mau dijodohkan dengan putrinya. Benarkah? Papa tidak suka kalau putra papa berprestasi bukan dari kerja kerasnya.”

 

Abian makin terdiam, sebenarnya ia pun sudah tahu dengan keputusan rektor itu yang secara tiba-tiba mengangkatnya sebagai dekan fakultas ekonomi. Tapi itu sejalan dengan cita-citanya sejak ia menginjakan kakinya di Universitas Kota Kembang. Ambisinya menjadi dekan dan selanjutnya menjadi rektor kini sudah di depan mata.

 

Abian gamang dengan hatinya. Apakah ia akan melepaskan kesempatan yang sudah ia raih demi wanita yang telah mencuri hati dan mengembalikan senyumnya???

 

Nantikan kisah selanjutnya, ya....

 

(Bersambung)

BAT 20 Bercak Darah

1 0

BAT 20

 

“Kita mau ke mana seh, Pak. Dari tadi cuma muter-muter aja,” ucap Rose dengan setengah kesal pada Abian. Hampir satu jam lelaki itu membawanya keliling mall, keluar masuk beberapa toko tanpa membeli suatu apapun. Jam sembilan pagi tadi, dirinya sudah dihadang di depan rumahnya oleh dosen killer itu untuk menemaninya pergi ke mall. Tumben, pikir Rose.

 

Abian menghentikan langkahnya lalu menoleh dengan tatapan menuduh.

 

“Saya pikir kamu sudah tahu kalau besok Zen ulang tahun, ternyata belum?”

 

Rose terkejut dengan ucapan pria bertubuh tinggi itu, “Bapak kenapa baru bilang sekarang? Saya beneran gak tahu. Ayo sini, tadi saya lihat ada barang bagus buat Zen.” Rose menarik tangan Abian dengan cepat membuat pria itu terperangah.

 

“Ini, kayaknya bagus buat Zen, cocok lagi. Imut banget kayak saya. Hehe... Upz!” Rose menutup mulutnya lalu memberikan setelan baju barbie ukuran anak-anak pada Abian.

 

Lelaki itu malah fokus pada tangan kanannya yang masih digenggam erat oleh tangan kiri Rose.

 

“Eh, maaf, Pak. Saya gak sadar,” ucap Rose sambil melepas pegangannya namun Abian kembali menarik tangan itu dan kini ia yang menggenggam erat.

 

“Biarkan seperti ini, aku suka.” Jawaban dosen muda itu yang lembut membuat hati dan wajah Rose menghangat.

 

Setelah mengambil beberapa setelan baju anak, pernak pernik ulang tahun, Rose dan Abian melangkah ke kasir untuk membayar belanjaan.

 

“Abian!”

 

Terdengar panggilan dari seorang wanita, Abian menoleh.

 

“Fatma!”

 

Abian sontak melepas gandengan tangannya, membuat Rose tersentak menoleh ke arah yang dituju Abian. Gadis yang bernama Fatma itu mendekat sambil mengulas senyum sumringah.

 

‘Siapa wanita itu? Tinggi, cantik, manis, bak model dan terlihat dewasa sekali.’ Gumam Rose dalam hati. Tak hanya disitu, Rose kembali dikejutkan dengan tingkah Fatma yang langsung cipika cipiki pada Abian. Lalu menggandeng mesra lengan kekar pria itu.

 

“Kau sedang liburan?” tanya Abian datar.

 

“Iya, aku lagi cuti. Bosan juga di Jepang, aku kangen suasana di sini. Apalagi sama kamu. Hey kamu bersama siapa?” tanya Fatma sambil melirik pada Rose yang sedari tadi diam.

 

“Oh, ini Rose, asistenku.”

 

“Oh asisten ... ya udah, aku duluan ya. Call me, Please. Oke!”

 

“Oke.”

 

Ingin sekali Rose bertanya siapa Fatma, tapi diurungkannya niat itu. Buat apa ditanyakan, toh dia hanya seorang asisten, bukan siapa-siapa Abian. Dosen itu juga tidak menjelaskannya, berarti benar Abian hanya menganggap Rose  sebagai asisten biasa.

 

“Tumben diam aja, bisanya berkicau,” ledek Abian ketika mereka sudah berada di mobil.

 

“Emangnya saya burung,” balas Rose sambil cemberut membuat Abian menahan senyum.

 

‘Tanya enggak, tanya enggak. Aduh... ini otak udah dong jangan bikin pusing.’

 

Seperti membaca apa yang ada dalam pikiran wanita disampingnya, Abian langsung menerka.

 

“Kamu pasti mau tanya tentang Fatma. Iya kan?”

 

“Ah, enggak. Bapak aja yang kepo sama pikiran saya. Terserah bapak mau punya teman wanita siapa aja, saya gak larang. Saya juga gak mau tahu. Lagian, bapak kan ganteng pasti banyak yang suka.”

 

“Baru tadi dibilang diem sekarang malah ngegas. Ternyata emang bener. Cewek kalo lagi cemburu itu bawaannya pingin marah.”

 

“Apa? Saya gak cemburu, Pak.”

 

“Itu tergambar jelas di wajah kamu.”

 

Rose membuang pandangannya ke arah jendela. Benarkah ia cemburu, segitu jelasnyakah terlihat diwajahnya?’

 

“Dia sahabat lamaku, dulu kami dijodohkan tapi aku memilih Anyelir sebagai isteriku karena aku tak punya rasa dengan Fatma. Dan sampai sekarang pun aku biasa saja dengannya. Gimana? Sudah terjawab semua pertanyaan di kepala kamu?” Abian mengacak pucuk kepala Rose yang terbalut jilbab pink membuat wanita itu tersenyum lebar.

 

***

 

“Selamat Ulang Tahun Zen...” teriak seketika Rose, Abian, serta Jamal pada Zen yang baru saja bangun tidur.  Zen terkesiap dan langsung duduk dan mengucek-ngucek matanya.

 

“Papa...”seru Zen.

 

Abian yang pertama mendekat lalu mendekap tubuh gadis kecilnya dan mencium kedua pipinya. Disusul oleh Jamal, sang kakek. Rose yang berdiri di belakang mereka sambil memegang kue tar, merasa terharu dan ikut senang.

 

“Wah... ada tante juga! Asyik kue ulang tahun...” Zen langsung berlari ke arah Rose dan memeluknya.

 

“Aku mau make a wish dulu, Tante.”

 

Semua ikut tesenyum dan siap mengaminkan keinginan anak kecil itu.

 

“Ya Allah, berikan kebahagiaan pada Mami di Syurga. Tapi, Zen juga pingin punya ibu baru. Gak papa kan, mami jangan cemburu ya, zen tetap sayang kok sama mami,” ucap anak kecil yang kini genap 8 tahun dengan lantang membuat orang-orang yang disekitarnya terperangah.

 

“Cucu kakek ini makin pinter. Semoga keinginanmu itu segera tercapai,” ucap Jamal sambil mengelus kepala Zen.

 

“Zen, ayo kamu mandi dulu. Setelah itu baru makan kue ulang tahunnya.” Abian berucap datar, raut wajahnya dingin seketika, mungkin karena ia merasa tersinggung dengan keinginan putrinya tadi.

 

“Ya, tapi aku mandi sama tante ya.”

 

Abian mengangguk lalu keluar bersama Jamal. Rose menaruh kue tar itu di meja kecil samping kasur berlatar barbie, kartun kesukaan Zen, lalu mengajak anak kecil itu untuk mandi.

 

Setelah semuanya selesai, siang ini mereka semua termasuk Burhan, ayah Rose berkumpul di ruang tengah untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan atas milad atau hari ulang tahun Zen. Abian memang tidak membiasakan pesta meriah untuk ulang tahun anaknya. Selain karena itu adalah menurutnya hal yang mubazir alias menghambur-hamburkan uang dan Abian juga tidak ingin putrinya terbiasa dengan pesta.

 

Suasana saat itu sangat khusyu, dibuka dengan doa untuk kebaikan Zenia yang dipimpin oleh Burhan. Tak lupa doa dikirimkan juga untuk Anyelir, ibu kandung Zen yang telah meninggal. Sebagai bentuk rasa syukur karena telah melahirkan putri yang sangat cantik dan pintar.

 

Rose sempat melihat ke arah Abian yang duduk di hadapannya. Raut wajah duda tampan itu sempat sendu saat mendoakan almarhum isterinya. Terpancar betapa pria itu sangat mencintai dan merindukan sosok Anyelir. Hati Rose berperih, ia sadar ia tak kan bisa berada di posisi itu.

 

Suasana kembali ceria setelah berlanjut ke acara ptong nasi tumpeng. Bi Yati dan Art lainnya sejak pagi tadi sudah sibuk di dapur menyiapkan masakan ini. Setelah itu, potong kue ulang tahun yang di atasnya terdapat angka 8, menandakan usia Zen kini bertambah satu.

 

Potongan pertama diberikan kepada Abian lalu Jamal. Potongan ketiga diberikan kepada Rose. Wanita itu terkejut mendapatkan kue itu, ibarat sebuah penghargaan baginya.

 

“Makasih, sayang,” ucap Rose yang dijawab senyuman oleh Zen. Tak disangka setelahnya, Zen mencolek kue tar itu dan menorehnya pada pipi Rose.

 

Mata Rose terbelalak, ia ternyata dikerjai oleh bocah cilik. Dengan cepat ia membalas ulah jahil Zen tapi naas, yang terkena adalah Abian karena Zen segera menghindar.

 

“Ma-maaf, Pak. Hehe...”

 

Abian sempat bergeming lalu ia pun melakukan hal yang sama pada Rose.

 

“Pak Abian! Awas kau, Pak!” Rose menjerit karena pria itu membalasnya dengan lebih banyak. Abian tertawa lepas melihat wajah Rose yang kini dipenuhi oleh krim kue ulang tahun. Kali ini Rose yang bergeming, terkesima dengan pemandangan di depannya. Baru kali ini, ia melihat dosen killer itu tertawa lepas hingga dua lesung pipinya terlihat jelas.

 

“Lihat, Zen1 wajah tantemu itu sekarang seperti badut,” ledek Abian masih dengan tawanya.

 

Tak terima diperlakukan seperti itu, Rose mengejar Abian. Lelaki itu menghindar dan terjadilah aksi kejar-kejaran di ruang tengah sampai ke dapur. Rose berhasil menjegat Abian karena pria itu tidak bisa lagi lari ke mana-mana.

 

Dengan sigap dan semangat yang menggebu, Rose maju dan, “Aaa...” Rose terpeleset karena lantai dapur yang licin dan terjatuh pada pelukan Abian.

 

Deg. Wajah mereka kini sangat dekat hanya berjarak satu centi. Krim yang menempel di hidung dan mulut Rose kini menempel juga pada wajah Abian. Dikecupnya bibir yang berbalut krim putih itu, lembut.

 

“Manis.”

 

Rose terkesiap, berani-beraninya pria itu mengambil ciuman pertamanya. Meski terbalut krim tapi Rose masih bisa merasakan benda kenyal menempel di bibirnya tadi.

 

“Rose!”

 

“Abian!”

 

Panggil Burhan dan Jamal hampir bersamaan. Dua orang tua itu terkejut melihat kedua anaknya yang masih dalam posisi berpelukan. Dengan seketika Rose dan Abian melerai pelukan.

 

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Jamal pelan tapi tegas.

 

“Maaf, Pah. Kita gak ngelakuin apa-apa. Tadi Rose terpeleset dan jatuh.”

 

“I-iya, Yah. Tadi lantainya licin, jadi Rose jatuh tapi kena Pak Abian. Hehe...”

 

“Ya sudah, ayo kita makan. Papa sudah lapar.” Ajak Jamal dan segera pergi bersama Burhan. Rose menarik nafas lega lalu ia beralih ke wastafel yang berada di dekatnya dan mulai membersihkan wajah.

 

“Rose hidungmu ...,” ucap Abian ragu.

 

“Kenapa?” Rose mengusap hidungnya lalu dilihatnya warna merah di telapak tangannya. Seketika badan Rose meremang, sudah lama ia tidak mimisan. Bayangan akan penyakitnya dulu kembali muncul. Segera ia menepis ketakutan itu, mungkin ini hanya karena ia panas dalam.

 

“Kau tidak apa-apa?” tanya Abian khawatir  yang memperhatikan raut wajah wanita itu berubah pias.

 

Rose mengangguk pelan lalu tiba-tiba pandangannya mulai kabur.

 

“Rose!!!” pekik Abian.

 

(Bersambung)

BAT 21 Pesaing Berat

1 0

BAT 21

 

Lampu  temaram di langit kamar masih membuat Abian belum bisa tertidur. Keheningan malam selalu membuatnya rindu  akan sosok perempuan di sisinya. Dilihatnya jam yang tertulis di layar handphone sudah menunjuk ke angka sebelas. Abian bangkit dari duduknya dan menuju ke jendela kamar. Disibaknya gorden berwarna putih itu untuk bisa melihat ke arah kamar yang berada di seberang.

 

Senyum tersungging di wajah pria itu tatkala melihat lampu di sana masih menyala. Pertanda wanita di seberang sana belum tidur, mungkin. Sejak kejadian pingsan di rumahnya pada minggu lalu, Abian belum melihat lagi sosok cewek absurd itu. Apa dia marah karena insiden krim kue atau dia sakit, entahlah ia tidak tahu. Untuk bertanya langsung lewat chat pun ia tidak berani. Untungnya besok adalah hari pertama kerja setelah libur panjang semester genap. Abian punya alasan agar asisten wanita itu bisa menghadapnya.

 

Pria yang memakai kaos oblong dan celana pendek itu mulai mengetik pesan.

 

[Kau belum tidur? Lampu kamarmu masih menyala.]

 

Deg.

 

Abian terkejut. Lampu di sana mati seketika sesaat pesan yang ia terkirim tercentang berwarna biru. Ditutupnya kembali horden putih itu lalu ia beralih untuk merebahkan diri di kasur. Tak ada balasan chat seperti sebelumnya. Ia kembali berinisiatif untuk kembali mengirim pesan sekedar ucapan selamat malam.

 

[Selamat malam, Pak]

 

Tak disangka, pesannya itu dibalas plus dengan emoticon senyum. Ternyata bahagia sesederhana itu, kini Abian bisa tidur dengan tenang sambil memeluk guling, senyum sumringah menghias di wajahnya.

 

Di tempat lain, Rose menyesal telah menulis pesan itu. Ingin dihapusnya tapi chat itu sudah tercentang dua biru, pertanda sudah dibaca oleh empunya.

 

“Ya Tuhan! Harusnya gak gini! Ya udah deh.” Rose menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dirinya memang sengaja membuat jarak agar hubungannya dengan dosen tampan itu tidak kian dekat. Ia tak ingin tercipta banyak kenangan agar menghapusnya nanti tidak terlalu sulit.

***

 

“Zen, kamu berangkatnya diantar pak Miko ya, papa buru-buru,” ucap Abian yang telah siap hendak pergi. Zen yang tengah sarapan sedikit mengerucutkan bibirnya karena lagi-lagi ia akan diantar oleh sopir keluarga. Dikecupnya pucuk kepala putrinya lalu Abian bergegas ke luar pintu.

 

“Dah Papa...!” seru Zen sambil melambaikan tangan.

 

Baru saja Abian  membuka pintu mobilnya, ia melihat Rose di halaman rumahnya yang hendak menstarter motor matic kesayangannya. Kedua pasang mata itu saling bersirobok beberapa detik, menguarkan rasa rindu yang terpendam. Abian menutup kembali pintu mobilnya lalu berjalan mendekat ke pagar yang menjadi pembatas rumah mereka.

 

Jantung Rose bertalu, melihat sosok lelaki tampan itu saja hatinya berdesir hebat. Ingin rasanya ia pergi berlari, tapi kakinya seakan terkunci.

 

‘Bagaimana aku bisa menghapus bayangmu, pesonamu selalu hadir di depanku.’

 

“Kau sudah membaik?” tanya  Abian membuat Rose tersentak.

 

“Ya, aku ... baik-baik aja.” Rose mencoba memaksakan senyum di wajahnya.

 

“Kalau mau ... kau bisa pergi bareng denganku. Lagi pula kita satu tempat.”Abian mencoba menawarkan jasa penumpang tapi wanita berjilbab pashmina ungu itu buru-buru menolaknya.

 

“Enggak, Pak. Makasih. Saya naik motor aja. hehe...”

 

“Ya sudah, saya duluan.”

 

Rose menarik nafas setelah pria itu pergi.

 

“Tunggu sebenatar! Jam sembilan saya tunggu di ruangan, karena ada beberapa hal yang ingin saya bahas. Mengerti!” Lagi, Abian secara tiba-tiba berbalik badan dan mengagetkannya. Rose hanya bisa mengangguk cepat.

 

Setelah Mobil hitam itu berlalu, Rose baru benar-benar merasa lega.

***

 

Suasana di kampus Kota Kembang pagi ini sangat ramai, sebagian besar terlihat wajah baru. Mereka adalah mahasiswa tingkat satu yang baru lulus SMA dan masuk ke perguruan tinggi. Berbagai pernak pernik menghiasi dekorasi auditrium utama yang akan dijadikan sebagai tempat pembukaan acara Pembekalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) untuk menyambut peserta maba (mahasiswa baru).

 

Acara PKKMB ini rutin digelar setiap tahunnya dan diisi berbagai kegiatan positif dalam memperkenalkan kehidupan kampus yang terdiri dari kegiatan akademik dan non akademik.

 

Rose dan Arya menjadi salah satu panitia ospek itu dari kalangan staff kampus. Mereka disibukkan dengan persiapan acara pembukaan yang dibuka dengan sambutan dari pihak universitas. Terlihat di sana beberapa staf pria termasuk Arya sedang merapikan podium kecil yang  berada di panggung utama. Di sebelah kanan panggung, Rose bersama staff wanita lainnya merapikan snack yang diletakkan di meja.

 

Hape Rose bergetar, segera ia ambil dari saku celana panjangnya.

 

[Saya tunggu kamu di ruangan saya sekarang!]

 

Gadis yang mengenakan kemeja formal berwarna biru laut itu mendesah setelah membaca pesan dari atasannya. Segera ia mengetik balasan.

 

[Maaf, Pak. Saya lagi sibuk. Saya dan staff lainnya jadi panitia maba. Ini lagi persiapan buat acara nanti di aula.]

 

“Ternyata kamu jadi panitia. Oke!” Abian bermonolog. Tak lama berselang, pintu ruangan diketuk. Muncul Bu Najwa, sekretaris dekan.

 

“Maaf, Pak Abian ditunggu di ruangan rektor sekarang.”

 

“Baik.”

 

Setelah wanita paruh baya itu pergi, Abian bersiap menuju ke ruangan rektor yang berada tak jauh dari tempatnya.

***

 

Ruangan Aula seluas 3500 meter persegi  berkapasitas tiga ribu orang itu kini dipenuhi oleh lautan manusia. Para mahasiswa baru sudah duduk rapi di kursi yang sudah disiapkan. Pada tiap sisi ruangan, terdapat panitia maba yang siap siaga jika ada peserta yang sakit.

 

Salah satu mahasiswa tingkat tiga maju ke atas panggung untuk mendiamkan riuhnya  peserta sekaligus sebagai pemandu acara. Pria yang juga ketua BEM itu mempersilahkan dengan hormat para jajaranpetinggi kampus untuk memasuki ruangan dan menempati bangku yang sudah disiapkan.

 

Terlihat di sana Rektor beserta para dekan dan senat  fakultas, berjalan memasuki ruangan dari pintu utama. Rose yang tengah berdiri bersama panitia lainnya di sisi kanan ruangan ini menahan debar karena barisan petinggi kampus itu akan melewatinya, termasuk sang dosen killer itu, Abian Pratama.

 

Akhirnya yang dinanti telah tiba, sosok pria itu menatapnya dengan lembut saat ia berjalan di depannya. Dan kembali memasang wajah dingin sepanjang acara.

 

“Eh, lihat! Itu ada yang ganteng.” Celetuk salah satu mahasiswi yang duduk tak jauh dari Rose berada.

 

“Yang mana?” tanya mahasiswi di sebelahnya.

 

“Itu yang berdiri dekat pak rektor.”

 

“Oh My God, ganteng banget. Gila! Akhirnya, ada juga yang bikin gue semangat di kampus ini.”

 

“Kalo dosennya dia, gue mau diajar seharian.”

 

Mendengar celotehan itu, Rose hanya bisa menggeleng. Tak bisa dipungkiri memang pesona Abian, dosen muda nan tampan yang juga menjadi dekan fakultas ekonomi.

 

Tak lama berselang setelah suasana menajdi kondusif, sang MC mempersilahkan kepada Rektor Prof. Reinaldi untuk maju ke atas panggung, memberikan sambutan sekaligus membuka acara PKKMB. Selanjutnya, sang rektor melantik sekitar 2500 maba menjadi mahasiswa universitas Kota Kembang yang ditandai dengan penyematan jas almamater kepada perwakilan maba setiap fakultas.

***

 

“Ini minum dulu!” ucap Arya sambil tersenyum menyodorkan sebuah botol minuman dingin. Rose yang tengah duduk di teras aula, menoleh ke arah sumber suara.

 

“Makasih.” Arya mengambil duduk di sisi kanan. Acara pembukaan PKKMB itu telah selesai satu jam yang lalu. Beberapa panitia maba dan mahasiswa tengah duduk santai sekedar melepas penat di tengah hari. Sebagian yang lain masih di dalam aula merapikan peralatan yang ada.

 

“Banyak juga ya, mahasiswa barunya,” kata Rose menggali topik pembicaraan karena sedari tadi Arya terus memandanginya.

 

“Iya, Alhamdulillah. Kalau tahun kemarin hanya 2000.”

 

Rose mengangguk pelan, sesaat itu pula ia menangkap sosok pria yang ia hafal gestur tubuhnya sedang berjalan bersama seorang wanita. Dua orang itu tengah berbincang akrab, sesekali wanita itu tersenyum dan tertawa sambil memegang lengan pria di sampingnya.

 

‘Itu... Fatma, cewek yang waktu itu ketemu di mall. Mau kemana mereka?’ kedua manik milik Rose masih mengikuti arah pandang Abian dan Fatma yang berjalan menuju parkir mobil.

 

“Hey, kok malah bengong?” suara Arya mengejutkan Rose dan membuatnya tersadar.

 

“Kau kenal wanita itu? Dia Bu Fatma Syaqila, sepupunya Bu Anita. Kabarnya seh, dia bakal jadi  dosen juga di sini,” lanjut Arya, seperti membaca pertanyaan di kepala Rose.

 

“Apa kau menyukai Pak Abian?”

 

“Apa? Ti-tidak. Kenapa Pak Arya bilang begitu?”

 

“Aku hanya menebak. Saran dariku, jika kau menyukai dekan baru itu lebih baik kau mundur. Karena sainganmu berat, Fatma dan Anita. Mereka orang berkuasa di kampus ini. Mengerti!?”

 

Rose terdiam, mencoba menerka posisinya di hati dosen killer itu.

(Bersambung)

 

Bagaimana respon kalian baca ceritaku? Semoga suka ya!!!

Boleh dong kasih likenya and follow akun Ismi Nuri, makasih...

BAT 22 Kita Semakin Dekat?

1 0

BAT 22

 Pov Rose

 

[Jadwal check-up minggu ini, jangan lupa ya, Nak. Mau diantar sama ayah?]

 

Aku membaca pesan singkat dari pria yang umurnya hampir setengah abad itu. Aku baru ingat, aku harus kembali menjalani pemeriksaan rutin setelah aku pingsan minggu lalu.

 

Hufh, rasanya melelahkan. Aku pikir, tubuhku masih baik-baik saja, tidak ada yang berubah. Ayah saja yang terlalu khawatir padaku.

 

[Tidak perlu, Yah. Nanti Rose pergi sendiri] jawabku singkat.

 

Aku merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar. Entah kenapa yang terbayang malah wajah dosen itu. Siapa lagi kalau bukan dosen tampan yang menjadi incaran para wanita di kampus.

 

Bu Fatma, Bu Anita. Cantik, tinggi, putih, dan menarik. Sedangkan aku?

 

Aaarrggh...

 

Kupukul bantal guling berkali-kali, kesal.

 

Masih jam 4 sore, ngapain aku tidur-tiduran, yang ada malah ngelamun dia terus. Segera aku bangkit menuju halaman depan rumah. Niatnya mau nyiram tanaman, barangkali aja otakku bisa lebih fresh plus bisa ketemu sama tetangga sebelah rumah. Hehe... ngarep.

 

Aku mengambil selang yang sudah terhubung pada keran air di pojok garasi lalu menyalakannya. Baru beberapa menit aku menyiram tanaman, sebuah mobil silver datang dan terparkir di depan garasi rumah di sebelahku.

 

Aku terkejut karena yang kulihat di depan sana yang turun dari kendaraan mewah itu adalah Pak Abian dan seorang wanita, Fatma. Kenapa Pak Abian diantar pulang? Memangnya ke mana mobilnya? Jiwa kepoku meronta.

 

Aku sedikit memfokuskan pendengaranku agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

 

“Makasih, ya, udah diantar.”

 

“Biasa aja kali. By the way, besok mau aku jemput?”

 

“Gak usah.”

 

“Ya udah. Aku pamit. Bye!”

 

Wanita itu kembali cipika cipiki pada Pak Abian, membuatku terkesiap. Kupegang erat-erat selang air, geram rasanya melihat mereka berdua. Ngapain seh tuh cewek nempel terus sama Pak Abian. Kemarin Bu Anita, sekarang Bu Fatma.

 

“Neng Rose, rajin bener nyiram tanaman. Sampe banjir halamannya,” celetuk bu Mimin yang kebetulan lewat mengagetkanku akan kejengkelanku tadi. Untungnya Bu Fatma telah pergi.

 

“Eh, Bu Mimin. Iya neh, cuacanya lagi panas, Bu. Jadi pingin disiram rasanya. Hehe..” Aku sedikit kelagapan menjawab ocehan ratu gosip komplek itu. Kulirik Pak Abian yang masih berdiri di halaman rumahnya. Ia tersenyum mengejek padaku. Kubalas dengan melototinya.

 

“Cuaca atau hati yang panas Neng? Cie... udah ah, saya mau mau ke warung Bu Tuti dulu. Permisi duda ganteng!” pamitnya sambil mengulum senyum.

 

Dasar ibu-ibu, emang kelihatan ya? Kalo hati aku lagi panas? Masa seh?

 

“Rose!” panggil Abian membuatku menoleh cepat padanya.

“Ya, Pak.”

 

“Tadi kenapa kamu gak ke ruangan saya?”

 

“Tadi selesai acara, saya langsung pulang, Pak. Capek. Hehe...”

 

“Oke. Kalau kamu udah selesai nanti, saya tunggu di rumah, ya. Banyak yang ingin saya bahas.”

 

“Siap, Pak.”

 

Aku memandangi punggung lelaki itu sampai dia masuk dan menghilang dibalik pintu. Ya tuhan, bisakah aku memiliki pria itu? Sadar Rose!!! Kamu itu siapa? Aku menepuk pipiku berulang-ulang.

***

 

Setelah makan malam, aku pergi ke tetangga sebelah. Memenuhi panggilan si bos, atasanku di kampus. Penasaran juga apa yang pingin dibahas. Moga-moga aja cuma bahas tentang perkuliahan, bukan tentang ‘kecelakaan’ kemarin. Please! itu cuma kecelakaan Rose bukan ci*man asli. Lo jangan ngarep bakal dibalikin. Hadeuh, ini otak please jangan traveling!

 

Di sinilah kami berdua, di ruang tengah,duduk lesehan beralaskan karpet tebal. Aku dan Pak Abian saling berhadapan dengan sebuah meja sebagai pembatas. Bisa kulihat Zen yang sedang bermain dengan bi Yati di ruang bermain anak. Jadi, aku merasa tenang jika nantinya terjadi sesuatu yang aneh-aneh. Apa coba?

 

“Ini, jadwal mengajarku yang baru. Tapi, aku hanya minta kamu untuk pegang tingkat satu aja. kecuali, kalau aku butuh bantuan kamu secara mendadak.”

 

Pak Abian menyerahkan sebuah map yang di dalamnya terdapat beberapa lembaran jadwal mengajarnya  untuk mahasiswa tingakat satu sampai tingkat empat. Mataku sedikit melebar melihat jadwal yang begitu padat.

 

“I-ini jadwal Bapak? Kenapa banyak banget?”

 

“Iya, untuk sementara aku menggantikan Pak Rusdi untuk mengajar mahasiswa tingkat tiga dan empat sampai ada pengganti beliau. Makanya aku butuh kamu kalau aku keteteran,” jelas pria di depanku dengan lembut. Tatapannya, aduh... bener-bener bikin meleleh. Membuatku senyum-senyum sendiri.

 

“Jangan kebanyakan bengong! Nanti otaknya korslet.” Abian menarik hidungku kencang, membuatku kesakitan.

 

“Aww... sakit, Pak!” aku mengelus hidungku yang pasti sudah memerah. Sedangkan pria itu tertawa lepas, berasa menang dia.

 

Oh... jadi Pak Rusdi, dosen senior yang pensiun. Pantas saja kemarin pak Arya sibuk nyari pengganti pengajar sampai ngiklan di sosmed.

 

Tiba-tiba lamunanku tersentak dengan bunyi dering handphone milik pak Abian. Aku sempat melihat di layar itu muncul foto profil wanita cantik bertuliskan Fatma. Lelaki berwajah putih bersih itu langsung menyambar hape miliknya yang tergeletak di meja lalu mematikan dering telpon tadi. Disimpannya hape itu di sofa panjang yang berada di belakangnya.

 

“Kenapa gak diangkat, Pak? Siapa tahu penting?” Aku bertanya memastikan.

 

“Gak, nanti saja. Aku tak ingin diganggu.”

 

Aku terdiam, maksudnya apa ya? Kok jadi ambigu.

 

“Hey, kok malah bengong lagi. Ini kamu pegang, biar kamu gak lupa. Oh iya, satu lagi. Tolong kamu buat daftar hadir para mahasiswa baru itu. Untuk datanya bisa minta ke akademik bagian kemahasiswaan. Besok pagi harus udah ada.”

 

“Iya, iya. Kalau udah selesai. Aku mau pulang.”

 

“Tunggu, aku belum selesai.” Abian menahan tanganku yang hendak berdiri, tatapannya seakan mengunci pergerakanku. Aku pun refleks kembali duduk di depannya.

 

Entah kenapa, perasaanku jadi gak enak, ya. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Kulihat ke arah samping kanan, di mana bi Yati dan Zen tadi berada tapi mereka sudah tidak ada. Ke mana mereka? Apa sudah ke lantai dua? Kok aku gak lihat mereka pergi?

 

“Ada apa, Pak? Saya udah ngantuk neh.” Aku mencoba mencari alasan walau sebenarnya belum mengantuk karena ini masih jam delapan malam.

 

“Itu, ehm... besok aku berangkat ke kampus bareng sama kamu, ya. Mobilku masih di bengkel,” ucapnya sedikit ragu atau mungkin gugup. Entahlah.

 

“Oh, iya, boleh. Tapi... aku kan naik motor. Gak ada yang marah gitu Bapak bareng sama aku?”

 

“Emangnya siapa yang marah?”

 

“Bu Anita, Bu Fatma dan mungkin yang lainnya juga. Bapak kan ganteng, idola kampus.”

 

Upz! Ini mulut gak ada akhlak, jujur banget kalau ngomong. Dia kan jadi ge-er. Tuh lihat! Dia senyum jumawa gitu.

 

“Terus kamu, emangnya gak ada yang cemburu juga kalau aku jalan sama kamu? Kamu kan cantik.”

 

Sumpah. Aku melongo dibuatnya. Ini maksudnya apa seh? Kok aku jadi salah tingkah.

 

“Bapak apa-apaan seh,  gak jelas tahu gak!” Dia malah tersenyum, manis banget.

 

“Ohya, aku minta maaf tentang ci*man itu. Aku khilaf!” akunya, membuatku kembali ke mode serius.

 

“Iya, Bapak gampang bilang maaf. Terus aku gimana? Pasti Bapak udah sering kan kek  gitu, apalagi cipika cipiki sama cewe yang bukan isteri. Iya, kan? Bapak gak ngerti apa kalo itu dosa.” Aku nyerocos gak karuan, mengeluarkan uneg-uneg yang kusimpan dari kemarin.

 

“Oh... jadi kamu cemburu kalau aku cipika cipiki. Bilang dong...”

 

“Ih, bapak apaan seh? Kan aku gak bilang gitu! Maksud aku....”

 

“Tapi wajah kamu bilang gitu. Ya udah, aku janji gak akan gitu lagi sama wanita manapun kecuali sama isteri.”

 

Ada penekanan di kalimat terakhirnya, seakan itu mengarah padaku. Aku menjadi terdiam.

 

“Aku... pamit ya, Pak. Udah malem.” Aku bangkit dari duduk setelah tadi hening beberapa saat.

 

“Ohya, satu lagi.”

 

“Apa?” aku tersentak, wajahku melongo. Mengira-ngira apa lagi yang ingin diucapkannya.

 

“Jangan lupa tutup dan kunci jendela kamarnya. Nanti banyak nyamuk yang masuk,” ucapnya sambil menoel kepalaku dengan telunjuknya.

 

‘maksudnya apa ya? Kok dia tahu kalo aku suka ga nutup jendela kamar. Jangan-jangan dia...’

 

“Lho! bapak kok tahu? Bapak suka ngintip ya?”

 

“Siapa yang ngintip? Kamunya aja yang suka teledor.”

 

“Dasar dosen nakal!” Refleks, aku memukul lengannya berulang-ulang. Dia tertawa lepas hingga gigi gerahamnya terlihat. Aku memandanginya dengan seksama. Abian yang pertama kukenal kaku, dingin dan tak pernah senyum kini mulai berubah. Sikap dinginnya mulai mencair.

 

Apakah ini pertanda kita semakin dekat?

 

(Bersambung)

 

Lebih suka yang mana pov Author atau pov Rose? Boleh komen di bawah.

Btw, ada yang mau pov Abian?

Jangan lupa tinggalkan like, subs and follow akun Ismi Nuri. Makasih...

BAT 23 Mendadak Ngebucin

1 0

BAT 23

POV Abian (Mendadak Ngebucin)

 

Sejak kepergian Anyelir, isteriku tercinta, aku seperti kehilangan separuh jiwa. Hidup terasa hampa. Benar juga kata orang bahwa laki-laki itu tidak akan kuat bertahan hidup lama tanpa adanya sentuhan wanita.

 

Namanya Rose, tetangga baru yang  tinggalnya di sebelah rumahku dan kebetulan juga ia menjadi asdosku di kampus. Awalnya, aku menganggapnya sebagai cewek absurd yang suka bertingkah aneh. Tapi kehadirannya telah memberikan warna di rumah ini, terutama di hatiku. Aku sering dibuat jengkel oleh sikapnya yang suka ceroboh, pecicilan, dan nyeleneh. Tapi, semakin ke sini, aku terbiasa dengan tingkah anehnya itu.

 

Pagi ini aku berencana pergi ke kampus berdua dengannya, lebih tepatnya aku numpang bonceng di motornya karena mobilku sedang bermalam di bengkel. Kutolak dengan lembut tawaran Fatma yang ingin menjemputku. Biarlah, aku ingin menikmati kebersamaan dengan gadis absurd itu. Sekalian aku kerjain dia. Bisa-bisanya berduaan terus dengan Arya, staff administrasi kampus. Hatiku seperti terbakar melihat mereka.

 

Aku sekarang udah siap. Kemeja biru laut plus dasi navy dan celana hitam panjang. Kalo pake jas kayaknya gak cocok buat naik motor. Oke, aku pake jaket hitam aja. Jangan lupa pake minyak wangi biar cewek itu klepek-klepek di dekatku nanti. Yes, sempurna.

 

“Ayo, aku udah siap. Kita berangkat sekarang?” ucapku padanya yang baru keluar dari rumahnya. Tuh kan! Dia bengong, pasti terpesona melihat penampilanku.

 

“Hey, hey. Ayo berangkat! Nanti kita kesiangan.” Aku menggerakkan tangan di depan wajahnya agar ia tersadar.

 

“Eh, i-iya Pak. Bapak udah bawa helm? Saya cuma bawa satu. Satunya lagi dipake ayah.”

 

“Ini, tadi aku pinjam sama Pak Dul.”

Aku memang tidak mempunyai sepeda motor, lebih tepatnya tidak lagi. Motor sport yang kukendarai mengaami kecelakaan dan menyebabkan Anyelir meninggal. Itulah sebabnya aku tak lagi menaiki sepeda motor. Mungkin trauma.

 

Aku memakai helm berwarna hitam dan langsung mengambil alih membawa motor itu dan mulai menstarter mesinnya. Setelah Rose naik dan duduk di belakangku, aku berusaha untuk tetap tenang dan menghalau rasa ketakutan tentang trauma  kecelakaan itu. Kulajukan motor ini dengan kecepatan sedang, untungnya jalanan belum terlalu ramai. Alhamdulillah, sejauh ini baik-baik saja.

 

“Pegangan, nanti kamu jatuh!” ucapku dengan sedikit menoleh padanya.

 

“Gak apa-apa, Pak.”

 

Lewat kaca spion, aku melihat raut wajahnya antara ragu dan takut. Kupercepat  laju  motor ini dan ia pun tersentak.

 

“Pak Abian...” pekiknya sambil  melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku tersenyum puas.

 

Jalanan mulai stabil, tak ramai dan tidak juga sepi. Tangan kiriku bergerak menyentuh jemari lentiknya yang masih melingkar di pinggang. Kutatap wajahnya yang sedikit tertutup helm lewat kaca spion, ia tersipu malu. Ya Tuhan, kenapa aku mendadak jadi bucin begini. Seperti anak remaja yang baru kenal cinta.

 

Aku membelokkan motor ke tukang bubur yang biasa mangkal di pertigaan jalan dan memarkirkannya di sana. Terlihat di sana bapak tua yang sedang melayani pembeli.

 

“Lho! kita kenapa berhenti di sini, Pak?”

 

“Aku belum sarapan. Ayo, turun!”

 

Setelah melepas helm dan menyimpannya di stank kanan motor, aku mengajak Rose untuk mendekat ke tukang bubur langgananku dulu itu.

“Punten, Pak Didi!”

 

“Ya. Eh, Nak Abian! Ya Allah... udah lama bapak gak ketemu. Kamu sehat?”

 

“Alhamdulillah. buburnya masih ada, Pak? Saya kangen neh, udah lama gak makan bubur Pak Didi.”

 

“Masih, masih ada. Ayo duduk dulu, biar Bapak siapkan. Ini siapa? Geulis pisan.”

 

“Saya Rose, asistennya Pak Abian.” Cewek itu memperkenalkan diri sendiri sambil menelungkupkan tangannya di dada.

 

Kami pun duduk di bangku yang tersedia di samping gerobak ini beratap pepohon rindang.

 

“Pak Abian suka makan di sini?” tanyanya setelah kami duduk saling bersisian.

 

“Iya. Dulu saat almarhum isteriku masih hidup, kami berdua sering ke sini. Kau tak apa kan, aku bawa makan di tempat kayak gini?”

 

“Aku udah sering, Pak, makan di pinggir jalan. Malah seru dan masakan pedagang kaki lima juga gak kalah enak sama yang di restoran.”

 

Aku seperti bernostalgia dengan Anyelir, makan berdua sambil canda tawa. tapi wanita di dekatku yang ini beda. Rose lebih unik dari yang kubayangkan. Sesekali tawa renyahnya dan senyum manisnya membuatku jadi ingin terus menatapnya. Dia seperti candu bagiku. Kami menikmati bubur ayam di pagi hari ini dengan nikmat.

 

***

 

“Oke, ada lagi yang ingin ditanyakan? Tidak ada. Saya harap beberpa poin penting tadi terkait pengembangan fakultas ekonomi bisa dilaksanakan. Terima kasih.” Aku menutup rapat yang tadi aku pimpim di Fakultas Ekonomi bersama staff.

 

Tak lama berselang setelah mereka keluar dari ruanganku, hapeku berdering. Refleks bibirku tertarik ke atas membaca nama layar di hape. Rose.

 

“Halo, ada apa?”

 

“Pak, Bapak pegang kunci motor saya gak? Saya lupa naronya di mana?” suaranya terdengar cemas, aku jadi ikut khawatir.

 

Oh My God. Aku baru ingat, tadi itu ...

 

“Em, iya sorry, Rose. Kunci motor kamu ada di saya. Saya lupa kasih ke kamu pas tadi pagi parkir motor.”

 

“Pak Abian... kenapa gak bilang dari tadi!!! Saya udah nyari ke mana-mana gak ketemu. Ternyata ada di Bapak!” Aku sedikit menjauhkan hape dari telinga disaat suara cewek absurd itu melengking.

 

“Iya, saya minta maaf. Namanya lupa ya gak inget. Ya udah, sekarang kamu ke kantor saya. Lima menit kamu gak datang, saya pergi.”

 

“Iya, Pak. Saya ke sana. Bapak tunggu saya, ya, jangan pergi.”

 

Aku menutup telpon sambil tertawa, membayangkan gadis aneh itu berlari menuju lantai 3 gedung C yang letaknya paling ujung dari tempat parkir. Kasihan.

 

Tok tok tok.

 

“Masuk!”

 

“Saya gak telat kan, Pak!”

 

“Lima menit lebih 57 detik. Kamu terlambat,” ucapku sambil melihat jam di tangan. Matanya melotot, tidak terima. Napasnya masih tersengal-sengal.

 

“Cuma telat dikit, Pak. Emang Bapak pikir jarak ruangan ini dari tempat parkir deket apa?” Dia masih terus nyerocos, tak terima dengan sikapku. Aku mengulum senyum, lalu mendekat ke arahnya dan menyodorkan sebotol minuman dingin yang kuambil dari kulkas mini.

 

“Ini, minum dulu.”

 

“Bagus deh, Bapak pengertian,” selorohnya lalu meminum air kemasan itu hingga tinggal setengahnya. Dielapnya sisa-sisa air di mulutnya menggunakan punggung tangan kirinya. Bener-bener natural neh cewek, gak ada jaim-jaimnya di depan cowok ganteng.

 

“Mana, Pak, kunci motornya. Saya mau pulang.”

 

“Ayo!” Aku meraih jaket hitam yang tergantung di dekat pintu masuk.

 

“Lho! Bapak mau ke mana?”

 

“Katanya mau pulang, saya juga. Ayo bareng!”

 

“Bukannya Pak Abian masih ada acara. Bapak ngerjain saya, ya! Kalo pulang bareng, kenapa Pak Abian gak turun malah saya yang nyamperin Bapak!?” lagi, iya kesal tak terima dengan sikapku.

 

“Anggap aja tadi itu kamu olahraga sore. Oke!”

 

“Pak Abian!!!”

 

Aku melengang pergi dengan senyum, puas mengerjainya. Di belakangku cewek itu masih merepet entah apa yang diucapkan, sesekali menghentakkan kakinya, kesal.

***

 

Udara sore menjelang petang di Bandung mulai dingin. Hawa sejuk sehabis hujan tadi siang masih terasa di badan. Aku melirik ke kaca spion motor, memastikan cewek di belakangku baik-baik saja. Wajah cemberutnya masih terlihat, pertanda ia masih kesal padaku. Kedua tangannya pun tak melingkar di pinggangku, malah ia eratkan pada tas kerjanya yang berada di antara kami.

 

Hatiku menjadi tak tenang. Oke, aku belokkan motor matic biru ini dan berhenti pada warung kecil yang menjajakan makanan dan minuman hangat. Bajigur dan bandros.

 

“Sudah jangan cemberut lagi, maaf.” Aku mengelus pipinya, lembut. Berharap Rose akan kembali tersenyum. Yes, berhasil. Ia tersipu tertunduk malu.

 

“Ayo turun, kita makan ini dulu. Aku tahu kamu kedinginan.”

 

Aku mendekati penjual untuk memesan dua gelas bajigur dan satu porsi bandros. Makanan khas orang sunda yang banyak ditemui di kota Bandung.

 

Sambil menunggu pesanan, aku kembali mendekati cewek berjilbab pink itu yang sedang berdiri, memeluk tas kerjanya. Kenapa tiba-tiba aku jadi pingin jadi tasnya, supaya bisa dipeluk erat gitu.

 

“Coba aku yang dipeluk, kan enak.”

 

“Apa?”

 

Untung dia tak mendengar ucapanku barusan. Aku melepas jaket yang kukenakan lalu memakaikannya pada Rose. Sontak ia terkejut dan melihat ke arahku. Mata kami saling bertaut, wajah kami begitu dekat. Bisa kucium harum parfumnya yang bercampur keringat. Sungguh sangat memabukkan.

 

Refleks aku memeluknya dari belakang setelah jaket itu terpasang di badannya. Aku menarik nafas panjang dan menikmati pelukan hangat ini.

 

“Begini saja, jauh lebih hangat. Iya kan?”

 

(Bersambung)

BAT 24 Bolehkah Aku Jatuh Cinta

1 0

BAT 24

Pov Rose (Bolehkah Aku Jatuh Cinta)

 

Aku berlari menuju lantai 3 gedung C yang berada di ujung kompleks universitas ini. Hampir 500 meter, sumpah, kalo bukan karena mendesak, aku pasti udah naik angkot atau ojol untuk pulang. Ngapain aku ngejar Pak Abian buat ambil kunci motor. Biar saja nanti dia yang bawa pulang motorku itu.

 

Tapi, uangku di dompet tinggal goceng alias lima ribu, mana cukup buat bayar angkot atau ojol. Hufh!

 

 

Jantungku berdetak berkali-lipat, nafasku tinggal separuh saat kaki menapaki tangga. Rasanya tubuhku sangat lemah. Mengejar waktu lima menit, takut dosen killer itu pergi.  Terus aku pulang gimana, bisa nangis bombay aku di sini. Huwaaa...

 

Akhirnya sampe juga di lantai tiga. Aku ketuk daun pintu itu dengan sisa tenagaku.

 

“Masuk!”

 

“Saya gak telat kan, Pak!”

 

“Lima menit lebih 57 detik. Kamu terlambat.”

 

‘What’s!’ bisa-bisanya dia ngomong sambil tenang begitu.

 

“Cuma telat dikit, Pak. Emang Bapak pikir jarak ruangan ini dari tempat parkir deket apa?” protesku dengan memasang wajah kesal. Kemudian aku duduk di sofa dengan tubuh menyandar.

 

“Ini, minum dulu.”

 

Aku terkejut saat ia menawarkan minuman padaku.

 

“Bagus deh, Bapak pengertian,”

 

Aku teguk minuman itu hingga tinggal setengah. Upz! Tumpah sedikit. Buru-buru aku mengelap mulut menggunakan tangan. Semoga dia gak illfeel melihatku seperti ini. OMG, malu banget aku!

 

“Mana, Pak, kunci motornya. Saya mau pulang,” ucapku setelah menaruh minuman itu di meja. Aku ingin cepat pulang dan merebahkan tubuh ini di kasur. Tapi, ia malah mengambil jaket dan mengajakku pulang bareng. Maksudnya apa coba?

 

“Bukannya Pak Abian masih ada acara. Bapak ngerjain saya, ya! Kalo pulang bareng, kenapa Pak Abian tadi gak turun malah saya yang nyamperin Bapak!?”

 

“Anggap aja tadi itu kamu olah raga sore. Oke!”

 

“Pak Abian!!!”

 

Sumpah, ngeselin banget ini orang. Ternyata aku cuma di prank! Ya Allah. Rasanya mau nangis, marah, kesel ama tuh cowok di depanku yang berjalan santai seperti gak ada rasa bersalahnya sama sekali. Kalau aja dia tahu aku ini punya penyakit ... ya sudahlah, untung sayang. Eh.

***

 

Aku masih kesal dengannya atas sikapnya tadi, makanya aku tak mau pegangan saat naik motor ini. Kupegang kuat-kuat tas yang kuletakkan di tengah. Biar aku tak menempel ke tubunnya. Males aku. Berkali-kali dia melirikku lewat kaca spion, biar saja. Aku memasang tampang jutek sebisaku.

 

Tiba-tiba motor ini berhenti di salah satu warung kecil di pinggir jalan yang menjajakan makanan khas orang sunda. Mau apa lagi dia, bukannya cepet-cepet pulang karena tubuhku sudah lelah banget.

 

Pak Abian mematikan mesin motor lalu memeiringkan tubuhnya ke arahku.

 

“Sudah jangan cemberut lagi, maaf,” ucapnya terdengar tulus sambil mengelus pipiku lembut. Ya Tuhan, pertahanan yang baru kubangun tadi langsung hancur seketika dengan sikapnya yang lembut itu. Tatapan matanya yang teduh, mencairkan suasana hatiku yang tadi membeku.

 

Duhai hati, mengapa kau begitu lemah. Baru dipegang dikit aja langsung melempem. Aku tersipu malu, pasti wajahku merona.

 

Pria bertubuh tinggi itu mendekati penjual, sedangkan aku menunggunya di sini sambil memeluk tas kerjaku. Udara menjelang petang ini mulai terasa dingin. Kota Bandung memasuki musim penghujan.

 

Lelaki itu kembali mendekat padaku sambil tesnyum dan berucap pelan. Entah apa yang dikatakannya, aku tak mendengar karena bicaranya pelan. Lalu dengan sekejap, ia melepas jaket yang ia kenakan tadi dan memasangkannya padaku.

 

Aku refleks melihat ke wajahnya dengan maksud berucap, ia tak perlu melakukan itu. Lalu tiba-tiba ia memelukku dari belakang. Ya tuhan, jantungku berdebar hebat. Tapi debaran kali ini punya rasa yang berbeda. Harum nafasnya dan wangi tubuhnya bisa kuhidu dan sempat melenakanku. Ya Tuhan, bolehkan aku jatuh cinta padanya?

 

“Begini saja, jauh lebih hangat. Iya kan?”

 

Senyum simpul menghias di wajahku kala suranya terdengar lembut di telinga. Ia memiringkan wajahnya padaku. Hampir satu detik lagi bibir ini tersentuh olehnya. Untung saja ada suara yang menghentikan aksinya itu.

 

“Punten, ini pesanannya sudah siap.”

 

Ternyata pak penjual tadi yang datang sambil membawa nampan berisi dua gelas bajigur hangat dan sepiring bandros. Kami saling melerai pelukan dan terlihat salah tingkah. Pak Abian menerima nampan itu dan berucap terima kasih pada bapak tua yang menjual makanan ini.

 

Kami duduk di bangku taman sambil menikmati hidangan penghangat ini. Aku terlihat gugup di depannya. Begitu juga dia. Ini semua gara-gara aksi konyol tadi. Ya tuhan, untung saja belum terjadi.

***

 

Hatchim. Hatchim.

 

“Rose, kamu baik-baik saja?” tanya ayah padaku yang baru menghampirinya di meja makan.

 

“Iya, Yah. Sepertinya Rose flu.” Entah kenapa aku merasa tak enak badan sejak bangun tidur tadi.

 

“Istirahat, Nak. Ijin dulu, tidak usah masuk kerja hari ini,” ucapnya lagi sambil menyendok nasi goreng buatanya sendiri. Kasihan ayah, gara-gara aku tidur lagi tadi selepas shalat subuh, lelaki yang rambutnya sudah mulai memutih itu harus menyiapkan sarapannya sendiri.

 

Aku mengangguk pelan. Lalu menarik bangku dan duduk berhadapan dengan ayah.

 

“Besok, ayah antar kamu periksa. Ayah gak mau kamu pergi sendiri.”

 

“Iya, Yah.”

 

Aku menyuap sesendok nasi goreng ke mulutku. Terasa hambar di lidah, padahal nasi goreng ayahku rasanya enak, manis dan gurih. Apa karena aku yang sedang sakit, mungkin.

 

“Ya sudah, ayah pergi dulu. Ayah udah ada janji jam tujuh pagi sama pak Ghofur, mau bantu-bantu renovasi rumahnya. Nanti sore ayah baru pulang,” ucapnya setelah ia menghabiskan sarapan dan meminum segelas teh hangat.

 

“Ayah jadi kuli bangunan? Jangan angkat berat-berat, Yah. Nanti Ayah sakit,” balasku manja.

 

“Insya Allah, gak. Ayah masih kuat kok. Hehe..” ayah memamerkan otot lengannya seperti aksi binaragawan, membuatku terkekeh.

 

“Kamu jangan ke mana-mana, ya. Istirahat di rumah. Obatnya di minum!”

 

“Iya, Yah.”

 

Lelaki yang kusayang itu pergi setelah mengecup pucuk kepalaku. Kini tinggal aku sendiri.

 

Cuma tiga suap makanan yang masuk ke dalam perutku. Kututup hidangan yang tak lagi menarik bagiku dan berlau pergi ke kamar. Dering hape menyambutku saat aku sampai di tepi ranjang.

 

Pak Abian.

 

Membaca nama yang tertulis di layar hape, membuatku teringat kejadian kemarin. Setelah pulang ke rumah, ia berucap terima kasih dan membelai kepalaku yang terbalut jilbab. Ada rasa hangat yang hadir di hati.

 

Kupencet tombol hijau dan menjawab telponya.

 

“Kau sudah siap berangkat? Sekarang gantian, kau boleh menumpang di mobilku,” ucapnya dengan begitu semangat.

 

“Ehm, maaf, Pak. Saya ... ijin gak masuk hari ini.”

 

“Kenapa? Kamu sakit?” tanyanya cemas.

 

“Aku... Cuma gak enak badan. Hatchim. Hatchim.”

 

“Rose, kau flu? Apa kau mau aku antar ke dokter?”

 

“Gak perlu, Pak. Makasih. Saya udah minum obat dan perlu istirahat sebentar aja. nanti juga baikan. Hehe.” Aku mencoba bersikap seceria mungkin seperti biasa agar pria di seberang telpon itu tak merasa khawatir.

 

“Oke, kau hari ini cuti dulu. Kalau sudah membaik, baru kau boleh masuk kerja lagi,” katanya dengan  lembut, sedikit menenangkanku.

 

Aku menutup telponnya setelah ia mengucap salam. Aku merebahkan tubuhku di kasur. Berharap esok akan lebih baik.

***

 

Sabtu pagi, aku ditemani pergi ke rumah sakit daerah untuk melakukan check-up yang sudah terjadwal sebelumnya. Dokter Ilham adalah rekomendasi dari dokter Budi yang merawat Rose saat ia masih kecil dulu.

 

“Bagaimana hasilnya, Dokter? Apa anak saya baik-baik saja?” tanya ayah dengan nada tak sabar. Aku pun sama, harap-harap cemas meliputi diri ini. Serangkaian pemeriksaan tadi pagi mengingatkanku pada masa kelamku dan ibuku. Apakah aku akan kembali merasakan penderitaan itu, ya Tuhan.

 

Dokter yang masih terlihat muda itu membuka map yang tadi ia terima dari salah seorang suster. Ia mulai membaca dengan raut datar. Sesekali dahinya mengernyit dan melihatku lalu kembali melihat catatan itu.

 

“Begini Pak Burhan dan Nona Rose. Tolong dengarkan saya baik-baik,” ucapnya dengan pelan tapi terdengar tegas.

 

“Iya, Dokter,” kata ayah, sedangkan aku hanya diam, pasrah.

 

“Berdasarkan hasil lab dari pemeriksaan tadi, leukimia atau sel kanker yang pernah bersarang di tubuh Rose kini terdeteksi lagi. Sumsum tulang belakang, hasil donor, ternyata tidak cukup kuat untuk menopang tubuh dan melawan sel kanker kembali. Itu kenapa Nona Rose beberapa hari terakhir ini mengalami gejala seperti saat kecil dulu. Yaitu mudah lelah, munculnya memar di tubuh tanpa sebab, mimisan dan pingsan. Bukan begitu nona Rose?”

 

Dokter berkacamata itu menatapku lamat-lamat, sepertinya ia tahu keadaanku belakangan ini. Ayah menoleh ke arahku dengan tatapan tanda tanya. Aku memang menyembunyikan gejala ini pada ayah. Aku pikir, ini hanya sakit biasa. Ternyata ...

 

“Nak, kamu kenapa gak bilang ke ayah?”

 

“Maaf, Yah. Rose pikir, tubuh rose baik-baik aja. Rose masih kuat.” Aku memaksakan senyum di wajah, menetralisir rasa gugup di dada.

 

“Sebentar, di sini tercatat, umur pendonor sumsum tulang belakang sudah melewati 40 tahun. Itu artinya sumsum tulang itu tidak sehat apalagi pendonor saat itu juga mengalami penyakit serius. Akibatnya, tubuh Nona Rose yang terkena imbasnya, yaitu kembali terkena leukimia.”

 

“Lalu bagaimana Dokter, apa ada solusinya?”

 

“Kita tidak bisa melakukan donor sumsum itu lagi karena sebelumnya sudah pernah dilakukan. Kita hanya bisa memberikan obat untuk meredakan nyeri dan memperlambat penyebaran sel kanker. Berdoa saja semoga ada kejaiban Tuhan.”

 

“Ya Allah.” Ayah menelungkupkan wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan aku ...

 

Aku tertunduk lemas mendengar penjelasan dari dokter itu. Seakan tidak percaya akan vonis dokter yang kembali menimpaku. Tuhan, adilkah ini untukku? Benarkah aku akan kembali merasakan sakit itu di saat aku baru merasakan manisnya jatuh cinta?

 

(Bersambung)

BAT 25 Dirundung Rindu

1 0

BAT 25

Pov Abian (Dirundung Rindu)

 

Brakk!!

 

Aku meletakkan modul mengajar di meja dengan kasar, kujatuhkan diri pada kursi kerjaku. Hufh! Hari ini jadwal mengajarku padat sekali. Ditambah asdosku yang sudah dua hari tidak masuk. Sakit apa dia? Katanya cuma flu ringan, minum obat terus istirahat bisa sembuh cepat. Mana?

 

Kuambil hape dari saku jas dan mulai mencari no.wa cewek absurd itu.

 

Terakhir dilihat kemarin pukul 18.00

 

Sh*t!

 

Hampir aku lempar benda pipih berlayar 7 inc ini karena kesal. Baru dua hari aku tak melihat wajahnya, mendengar ocehannya, jengkel dengan tingkah absurdnya, hatiku sudah tak karuan. Aku kembali fokus pada layar handphone dan menghubungi nomor telpon rumah.

 

“Halo, ada apa, Pak?”

 

“Zen sudah pulang sekolah?”

 

“Sudah, Pak. Baru sampai ini di rumah.”

 

“Oh, ehm, Bi, tolong beliin bubur ya sama buah-buahan segar.”

 

“Bubur buat siapa, Pak? Zen tidak suka bubur. Kalo buah-buahan masih ada di kulkas, Pak.”

 

“Itu, buat Rose. Katanya dia sakit.”

 

“Oh... kalau gitu, saya buatkan bubur kacang ijo aja, ya, Pak. Nanti saya antar ke Nona Rose sama buahnya juga.”

 

“Iya, Bi. Makasih, ya.”

 

Telpon ditutup. Aku sedikit merasa lega sekarang dan kembali bersiap untuk mengajar mata kuliah ekonomi.

***

 

Setelah jam mengajar sore ini selesai, aku langsung pulang ke rumah. Tak kuindahkan ajakan dari Anita yang memintaku untuk menemaninya pergi ke pertemuan sosialitanya. Begitu juga dengan Fatma, yang menawarkanku untuk datang ke pernikahan kerabat dekatnya. Aku hanya ingin cepat pulang dan mengetahui kabar tetanggaku, asdosku.

 

Mobil terparkir sempurna, aku bergegas keluar dari mobil pribadiku ini. Kulihat ke samping kanan, rumah ber cat biru muda dengan sedikit tanaman hias di garasi rumahnya. Kali ini tanaman itu nampak layu, mungkin karena Rose sedang sakit, jadi dia tak sempat menyiram tanaman itu.

 

Ingin rasanya aku langsung mengetuk pintu rumah itu, tapi tidak. Aku harus berganti pakaian dulu.

 

“Bi Yati... Bi Yati...,” panggilku tak sabar pada asisten rumah tangga yang sudah mengabdi  8 tahun di rumah ini.

 

“Iya, Pak. Maaf lama. Saya lagi di kebun belakang sama Zen.”

 

“Tadi gimana, Bi, udah dikasih bubur sama buahnya ke Rose?”

 

“Udah, Pak. Kata Nona Rose terima kasih buat Pak Abian.”

 

“Itu aja? Gak ada yang lain?” tanyaku tak puas rasanya dengan jawaban perempuan setengah baya ini.

 

“Apa ya? Tadi saya sama Zen ke sana sekitar jam 2 cuma sebentar. Soalnya ngelihat Nona Rose yang lesu begitu, kasihan. Saya suruh istirahat aja. Zen sempat rengek minta main, tapi setelah Nona Rose bilang nanti kalau dia udah sembuh baru Zen boleh main. Zen baru nurut mau pulang. Gitu, Pak,” jelasnya dengan mimik wajah meyakinkan.

 

“Oh. Ya udah. Makasih, Bi.”

 

Aku berlalu menuju ke kamarku di lantai 2. ‘Sakit apa kamu, Rose? Kau membuatku khawatir saja.’

***

 

Aku memberanikan diri untuk berkunjung ke rumahnya. Setelah tadi, aku menunggunya di jendela kamar. Wanita itu tak kunjung membuka horden jendela kamarnya. Fix! Cewek aneh itu beneran sakit.

 

Kuketuk pelan daun pintu itu sambil mengucap salam.

 

“Wa’alaykumsalam. Eh, Nak Abian! Ayo masuk!” Pak Burhan menerimaku dengan baik. Lelaki seumuran dengan ayahku itu terlihat sangat bersahaja. Aku duduk di sofa tunggal berhadapan dengannya.

 

Jujur, aku baru pertama kali menginjakan kaki di rumah ini. Meski bertetangga, aku belum pernah bertamu dengannya. Harusnya tidak begitu, ya.

 

Aku sedikit mengedarkan pandanganku, ruang tamu ini begitu lengang. Tak ada banyak barang seperti di rumahku. Pun dengan hiasan di dinding. Tak ada foto keluarga atau foto Rose. Hanya ada lukisan kaligrafi dan gambar ka’bah yang terpasang megah di dinding.

 

“Ada apa, nak Abian?”

 

“Ehm, saya ke sini mau jenguk   putri Bapak. Katanya dia sakit. Soanya dua hari ini dia tak masuk kerja, Pak.” Aku mencoba mencari alasan yang masuk akal untuk bertamu udi sini.

 

“Oh... ya. Rose memang sedang sakit. Jadi, dia tidak bisa kerja dulu. Sebentar ya, saya panggilkan Rose.”

 

“Gak usah, Pak. Kalau Rose belum bisa ditemui. Tidak apa-apa.”

 

“Tidak. Tadi Bapak lihat, dia udah membaik, kok.” Lelaki tua itu lantas meninggalkanku pergi ke lantai dua.

 

Aku tersenyum, rencanaku berhasil. Di sini, aku sedang duduk menunggu kedatangannya. Seperti pria yang sedang mengapel di rumah pacarnya. Ada-ada saja.

 

Lama juga gadis itu muncul, sudah lima belas menit aku menunggunya di sini. Rasanya sudah tidak sabar.

 

“Halo, Pak.” Aku menengakkan kepalaku yang sedari tadi tertunduk. Kulihat cewek itu kini di depanku, membawa nampan kecil berisi satu gelas teh. Wajahnya memang terlihat pucat, tapi bisa kurasakan senyum diwajahnya mengalir hangat hingga ke hatiku.

 

Diletakkannya gelas cangkir bening itu di meja lalu ia duduk di sofa panjang di sebelah kananku. Kenapa momennya menjadi canggung begini. Aku... bingung mau ngomong apa.

 

“Ehm, kau sudah membaik?”

 

“Alhamdulillah. Diminum, Pak, tehnya.”

 

“Iya, makasih.”

 

Aku mengesap teh hangat sambil melihat wajahnya, manis.

 

“Tadi siang, bi Yati ke sini ngantar bubur sama buah. Katanya dari pak Abian. Makasih, ya, Pak. Sebenarnya, Bapak gak perlu repot-repot ngirim makanan. Kalo bisa mah ... setiap hari. Hehe.”

 

Aku tersentak dengan kalimat terakhirnya, membuat bibirku tertarik untuk tersenyum. Akhirnya, tingkah absurdnya itu sedikit mengobati rasa rinduku.

 

“Ya, kalau dikirim setiap hari, kamu gak mau masuk kerja,” jawabku ketus.

 

“Bercanda, Pak.”

 

Aku kembali menikmati senyumnya yang menghangat di sini. Di hatiku.

 

“Aku pamit ya. Aku ke sini cuma pingin ngelihat keadaan kamu.” Wanita itu mengangguk pelan lalu berdiri mengikutiku yang beranjak ke luar pintu.

 

“Jangan tidur malam-malam! Cepat istirahat biar cepet sehat.” Aku mengacak kepalanya yang terbalut jilbab berwarna krem.

 

“Iya, Pak. Emangnya aku anak kecil apa,” selorohnya sambil memajukan bibir imutnya. Duh, bikin tambah gemesh.

 

Tangan kiriku yang tadi di kepalanya kini menjalar ke tangan kanannya dan berhenti di jemarinya. Ia sempat bingung dan ingin menarik tangannya tapi kutahan.

 

“Kamu sakit pasti gara-gara aku menyuruhmu berlari. Iya, kan?” tanyaku pelan dengan tatapan tertuju pada manik cokelatnya.

 

“Nah, itu Bapak tahu. Makanya, Pak Abian harus baik sama saya.”

 

Nih cewek beneran gak bisa di ajak romantis ya. Ocehannya merusak suasana tahu!

 

“Iya, saya bakalan baik sama kamu. Makanya kamu cepet masuk kerja. Saya bingung gak ada yang bantuin saya ngajar.” Aku menarik hidung bangirnya, gemes dari tadi. Pinginnya seh meluk, tapi janganlah, momennya gak pas. Bisa-bisa aku kena marah ayahnya.

 

“Pak Abian!! Sakit tahu!” nah, itu dia. Lengkingan suaranya yang memanggil namaku. Sangat khas di telinga.

 

Aku terkekeh melihat tingkahnya. Sangat memuaskan hatiku yang dirundung rindu. Membuat mekar kuncup bunga yang tertanam di hati. Membangkitkan rasa cinta yang telah lama mati. Akankah dia memiliki rasa yang sama sepertiku?

(Bersambung)

 

Terima kasih banyak buat kalian yang udah baca ceritaku ini. Jangan lupa baca juga ceritaku lainnya yang udah tamat: “Bukan Salah Ta’aruf” dan “Rahasia Terdalam Suamiku”

Klik like dan follow akun Ismi Nuri.

Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah. Aamiin..

BAT 26 Aku Berhak Bahagia

1 0

BAT 26

Pov Rose

 

Aku mengurung diri di kamar. Belum berani ke luar rumah sejak dokter kembali memvonis tentang penyakitku. Banyak yang aku pikirkan, tentang ayah, karier dan jodoh. Ayah yang selalu menemaniku, merawatku dan menyemangatiku. Dia satu-satunya yang tahu tentang aku, karena aku tidak punya siapa-siapa lagi. Ibu sudah berkorban nyawa untukku. Kini, ayah yang merawatku. Seharusnya, ia menikmati masa tuanya, tapi aku malah menyusahkannya.

 

Tentang karier, pekerjaanku. Aku baru menjadi asdos kurang lebih lima bulan. Cita-citaku menjadi dosen tinggal selangkah lagi. Sayang sekali jika aku meninggalkannya. Terakhir tentang jodoh. Siapa yang tidak ingin menikah dan memiliki keluarga sendiri. Pasti semua mau, termasuk aku. Tapi, pria mana yang mau menjadi suamiku jika tahu kalau aku ini berpenyakit. Pasti mereka semua mundur. Makanya, sebisa mungkin aku membentengi hati untuk tidak jatuh cinta pada pria manapun.

 

Tapi, aku merasa benteng itu hancur ketika aku bertemu dengan seorang pria duda tampan yang menjadi atasanku di kampus. Abian pratama. Sikapnya yang dingin dan kaku pada wanita termasuk aku, kini berubah beberapa hari terakhir. Aku sangat senang melihat perubahannya yang sekarang ini sering tersenyum, ramah, tak jarang juga tertawa.

 

Dan itu adalah awal petaka yang aku ciptakan untuknya.

 

Lamunanku membuyar seiring terdengart ketukan pintu kamar dan suara ayah yang memanggil.

 

“Nak, ada Abian di bawah. Katanya pingin ketemu kamu. Kau mau menemuinya?”

 

‘Apa? Apa aku gak salah denger? Pak Abian ke rumahku?’

 

“iya, yah. Rose mau.”

 

Ayah kembali menutup pintu dan aku bergegas mematut diri di depan cermin. Oh My God, penampilanku kacau sekali. Aku langsung mengambil bedak dan memolesinya ke wajah dan memberi sedikit lipbalm. Oke, make-up tipis dan natural. Ciri khasku selama ini. Setelah itu aku mengambil jilbab instan berwarna krem dan memakainya. Aku siap turun ke bawah, menuju ruang tamu.

 

Sumpah, aku kok seperti cewek yang sedang diapeli pacarnya, ya. Hehe... andai saja itu benar.

 

Baru turun dari tangga, ayah mengahadang dan menyuruhku untuk membawa nampan kecil yang berisi secangkir teh yang ia pegang.

 

“Makasih, Yah.” Ayah tersenyum melihat tingkahku. Seharusnya aku yang buat bukan dia. Ah, ayahku memang pengertian sekali. Hehe...

 

Langkahku terhenti saat sudah di bibir ruang tamu. Aku melihat sosok lelaki yang beberapa minggu ini menghiasi hatiku sedang duduk sambil menunduk. Jantungku tetiba betdetak kencang. Dia benar-benar ada di sini.

 

 Segera aku menguasai diri dan tersenyum menyapanya. “Halo, Pak.”

 

Dia tersentak dengan panggilanku lalu mengakkan tubuhnya. Aku meletakkan gelas cangkir teh di meja dan duduk di sofa sebelah kanan Pak abian. Kuhela nafas panjang untuk mengisi rongga dada yang terasa sesak karena gugup.

 

Ya tuhan, kenapa jadi canggung begini seh. Rasanya aku pingin teriak kencang.

 

“Ehm, kau sudah membaik?” tanyanya kemudian.

 

“Alhamdulillah. Diminum, Pak, tehnya,” silahku padanya. Lalu ia mengesap teh hangat buatan ayahku itu. Entah rasanya manis atau pahit aku tidak tahu. Tapi dia senyum-senyum saja sambil melihatku.

 

“Tadi siang, bi Yati ke sini ngantar bubur sama buah. Katanya dari Pak Abian. Makasih, ya, Pak. Sebenarnya, Bapak gak perlu repot-repot ngirim makanan. Kalo bisa mah ... setiap hari. Hehe.” Aku mencoba mencairkan suasana agar terlihat lebih santai. Jangan panggil aku Rose kalau tidak bisa membuat oang tertawa. Hehe..

 

“Ya, kalau dikirim setiap hari, kamu gak mau masuk kerja.”

 

“Bercanda, Pak.”

 

Dia kembali tersentyum, manis sekali. Ya tuhan, kayaknya aku hanya perlu obat dirinya bukan yang lain. Imun tubuhku serasa meningkat berkali-kali lipat setelah melihat senyumnya.

 

“Aku pamit ya. Aku ke sini cuma pingin ngelihat keadaan kamu,” ucapnya lagi lalu ia berdiri dn menuju pintu luar. Aku mengekor di belakang.

 

“Jangan tidur malam-malam! Cepat istirahat biar cepet sehat,” pesannya sambil mengacak kepalaku.

 

“Iya, Pak. Emangnya aku anak kecil apa.”

 

Kini, ia menggamit jemariku. Aku sempat menolak tapi ditahan olehnya. Ya tuhan, tatapan matanya sangat menghipnotis diriku. Andai aku bisa memilikinya. Andai penyakit ini tak ada di tubuhku. Tidak. Aku tak boleh mengandai-andai seperti itu. Aku harus enerima takdirku. Kutepis jauh-jauh rasa cinta yang mulai hadir di hati ini. Karena aku tahu, aku hanya jadi beban untuknya dan kembali menggoreskan luka di hatinya nanti.

***

 

Setelah Pak Abian pergi dan meninggalkan jejak rindu di hati, aku kembali duduk di ruang tamu, sofa tunggal yang tadi ia tempati. Merasakan debaran dan harum parfum pria itu yang masih tersisa.

 

“Gimana rasanya diapeli cowok?” ledek ayah yang tanpa aku sadari telah duduk di sisi kananku.

 

“Apaan seh yah? Ada-ada aja,” jawabku sekenanya.

 

“Ayah bisa lihat dari binar mata kamu yang senang ketika Abian datang. Ayah juga bisa merasakan kalau dia juga suka sama kamu. Benarkan?”

 

“Gak lah, Yah. Gak mungkin. Rose gak berani ngambil kesimpulan begitu.”

 

“Sayang, kita tidak tahu umur kita sampai mana karena Tuhan yang menentukan. Walau kamu sudah divonis oleh dokter tapi kamu berhak bahagia. Ingat itu!”

 

“Tapi, Yah, dia juga berhak untuk tidak tersakiti. Pak Abian pernah kehilangan orang yang dicintainya. Rose gak mau dia merasakan itu untuk kedua kalinya. Rose gak tega. Lebih baik Rose saja yang pergi tanpa menyakiti siapapun.” Aku tak kuasa menahan lagi bulir mata yang sudah mengumpul ingin keluar.

 

Ayah memelukku sambil mencium pucuk kepalaku, menguatkanku atas ujian yang kuhadapi. Tuhan, benarkah aku berhak bahagia?

***

 

Setelah beberapa hari aku mengambil cuti, beristirahat di rumah sambil mengumpulkan puing-puing semangat, hari ini aku memutuskan untuk kembali bekerja. Ini hanya masalah sugesti dan berpikir positif. Jika aku berpikir tubuhku kuat, aku sehat maka aku baik-baik saja. Bukankah Allah berdasarkan prasangka hambanya?

 

Itulah yang kudapat dari membaca artikel tentang bagaimana orang-orang bertahan hidup setelah mendapat vonis kematian oleh dokter tentang penyakitnya.

 

Aku berjalan menuju ruang dekan fakultas ekonomi. Siapa lagi kalau bukan pak Abian. Aku ingin mengabarkan kalau aku siap mendapatkan tugas dan mungkin sedikit memberinya kejutan kalau aku sudah bisa beraktifitas lagi. Aku juga pingin lihat tampangnya saat terkejut nanti, pasti menggemaskan.

 

Kini, aku tiba di depan ruangannya. Akan tetapi pintu ruangannya itu sedikit terbuka dan terdengar samar dua orang yang sedang berbincang. Itu seperti suara ... Pak Abian dan Bu Anita.

“Dengar Anita, aku tak bisa menerima perjodohan ini karena aku sudah mencintai wanita lain. Maaf.”

 

“Bi, aku sudah mencintaimu sejak lama bahkan saat kamu sudah menikah, aku tetap menunggumu. dan ayahku juga sudah memberikan jabatan untuk kamu di kampus ini. Kamu jahat Bi...”

 

Sebenarnya, apa yang mereka bicarakan? aku kepo banget, ingin rasanya kupingku menempel di dekat pintu itu tapi kutahan karena  aku gak berhak untuk menguping. Lebih baik aku pergi.

 

Baru selangkah aku balik badan, Pak Abian menyebut namaku dalam perbincangannya dengan Bu Anita.

 

“Sekali lagi aku minta maaf. Aku tak bisa membohongimu dan diriku sendiri.”

 

“Siapa, siapa wanita yang kau cintai itu? Jawab aku, Bi?”

 

“Rose. Asdosku.”

 

“Apa?!?”

 

Ya tuhan, apa aku tidak salah dengar? Bagaimana ini?

 

(Bersambung)

BAT 27 Rencanaku

1 0

BAT 27

Pov Abian (Rencanaku)

 

“Abian, aku ingin bicara.”

 

Aku terkejut, tiba-tiba Anita masuk ke ruanganku dengan wajah serius, sorot mata yang memerah seperti menahan amarah. Kupersilahkan duduk agar lebih rileks tapi dia  tidak mau. Pasti, ini ada kaitannya dengan pertemuaku dengan ayahnya  kemarin.

 

“Ada apa Anita?”

 

“Mengapa kamu menolak perjodohan kita? Apa yang kurang dariku, Abian?”

 

Benar dugaanku, ia telah mengetahui isi pembicaraanku dengan ayahnya. Aku  dipinta bertemu oleh Prof. Reinaldi di ruangannya. Ternyata rektor itu ingin membicarakan perjodohanku dengan putrinya. Aku menjelaskannya bahwa aku tidak bisa menerima Anita karena aku tidak mencintainya. Rektor itu marah dan mengancam akan mengambil jabatanku kembali sebagai dekan.

 

“Dengar Anita, aku tak bisa menerima perjodohan ini karena aku sudah mencintai wanita lain. Maaf.”

 

“Bi, aku sudah mencintaimu sejak lama bahkan saat kamu sudah menikah, aku tetap menunggumu. dan ayahku juga sudah memberikan jabatan untuk kamu di kampus ini. Kamu jahat Bi!” ungkapnya sambil berurai air mata.

 

Sungguh, aku paliing tidak suka melihat wanita menangis di hadapanku. Tapi aku bisa apa? Aku hanya menganggapnya teman dan sahabat. Aku berjalan mendekatinya, mencoba menenangkannya.

 

“Sekali lagi aku minta maaf. Aku tak bisa membohongimu dan diriku sendiri.”

 

“Siapa, siapa wanita yang kau cintai itu? Jawab aku, Bi?” Anita mencengkeram lenganku kuat-kuat. Sorot matanya semakin tajam seiring nafasnya yang memburu.

 

Aku menarik nafa dan berani jujur padanya. “Rose. Asdosku.”

 

“Apa?!?”

 

Cengkeramannya di tanganku mulai merenggang. Ia mundur perlahan sambil terus berucap “tidak.” Lalu ia berlari dan pergi dari ruangan ini.

 

Hufh.

 

Aku menghempaskan tubuhku di sofa, duduk bersandar sambil memijit keningku yang terasa berdenyut. Apa yang salah dengan ucapanku tadi? Jujur salah, bohong juga salah. Dasar wanita! Susah untuk dimengerti.

 

Aku jadi teringat Rose. Sedang apa dia? Apa masih sakit? Kuambil hape dan langsung memencet tombol phone. Yes, terhubung. Kualihkan menjadi video call.

 

“Gimana keadaanmu sekarang?” tanyaku langsung ketika layar hapeku menampilkan wajah cantiknya.

 

“Aku ... sekarang mendingan.”

 

“Sekarang gantian. Aku yang sakit,” lirihku padanya.

 

“Apa? Bapak kenapa? Sakit apa?”

 

“Aku ... Rose, kau sedang di mana?” Dahiku mengernyit, aku seperti mengenali tempat di mana ia berada sekarang. Tapi di mana?

 

“A-aku ... sedang di rumah. Sudah ya, Pak. Aku dipanggil ayah.”

 

Tutt... telpon diputus.

 

Tidak. Ia berbohong. Aku hafal betul tempat itu. Dinding keramik berwarna putih dengan cat biru muda di bagian atasnya. Terdapat pula kabinet yang berisi peralatan mandiku. Itu artinya, ia berada di kampus ini. Oh, Shit!!

 

Aku bergegas ke luar pintu dan langsung menuju ke ruangan berukuran 2x1 meter yang letaknya persis di samping ruangan kerjaku.

 

BRUK!

 

Aku membuka pintu kamar kecil itu dan terlihat di sana Rose yang sama terkejutnya denganku.

 

“Rose, sedang apa kamu di kamar mandi ini?”

 

“Hehe. A-aku ... tadi lagi lewat terus kebelet, makanya aku masuk ke sini.” Aku menggeleng tak percaya dengan jawabannya.

 

“Terus kenapa kau berbohong padaku kalau kau sedang di rumah?” tanyaku lagi yang membuatnya terpojok. Ia kini jadi salah tingkah. Tentu saja aku tahu tempat ini, toilet ini sering kupakai setiap hari jika aku berada di kampus.

 

Kutarik tangan kirinya lalu kubawa ke ruanganku. Kududukkan ia di sofa dan mulai mengajaknya bicara. Tak mungkin juga kan, aku bicara dengannya di toilet. Bisa khilaf nanti. Aarrgh...

 

“Kau mau minum apa?” tanyaku lembut sambil memandang wajahnya yang kini tidak lagi pucat. Hiasan make-up tipis dengan bibirnya yang ranum, cukup menggetarkan hatiku.

 

“Gak perlu, Pak. Tadi saya udah minum.”

 

“Ok. Kamu ke sini berarti sudah bisa mulai kerja. Iya kan?”

 

“Iya.”

 

“Tapi, untuk hari ini, aku tidak akan memberikan pekerjaan berat untukmu. Kamu cukup merekap absen mahasiswaku. Itu saja,” kataku sambil berjalan menuju rak buku yang berada di pojok kanan sebelah pintu.

 

“Baik, Pak.”

 

Aku mengambil beberapa map berisi daftar hadir mahasiswa tingkat satu dan dua. Lalu memberikannya pada gadis yang kini mengenakan jilbab berwarna orange, segar sekali melihatnya. Ia mulai membuka map biru yang bertumpuk pada map lainnya. Aku di sini berdiri masih terus memandanginya. Tiba-tiba aku ingat kotak beludru berukuran kecil yang kusimpan di saku jas. Aku mantapkan hati untuk berterus terang padanya.

 

“Nanti malam, apa kamu ada acara? Aku ingin mengajakmu untuk makan malam di luar.”

 

“Maaf, Pak. Gak bisa. Aku biasanya makan malam sama ayah di rumah. Kalau aku pergi, kasihan ayah sendirian,” jawabnya tanpa melihatku. Tangan kanannya dengan lihat menulis angka demi angka yang ia telah jumlahkan hasilnya.

 

“Ok. Kalau begitu, nanti kita pulang bareng.” Aku mencoba lagi.

 

“Gak bisa juga, Pak. Nanti motor saya gimana. Cicilan saya belum lunas. Sayang kalau hilang. Hehe..”

 

Dasar cewek absurd! Ada aja alasannya. Apalagi yang harus kulakukan agar aku punya kesempatan mengungkapn rasa ini. Masa iya sekarang, di tempat ini. Kan gak romantis.

 

Aku berdecak kesal sambil melirik jam di dinding yang sudah menunjuk ke angka sepuluh. Ya tuhan, aku lupa ada jam mengajar di kelas mahasiswa tingkat tiga.

 

“Ya sudah, aku mau mengajar. Kau kerjakan itu dulu kalau sudah selesai, beritahu aku.”

 

Aku mengambil tas kerjaku yang teronggok di meja kerja dan berlalu meninggalkannya di ruangan ini. Aku berharap setelah selesai mengajar, dia masih ada di sini, menungguku.

***

 

Untungnya hari ini jadwal mengajarku hanya 2 kelas dan sore ini pun tidak ada rapat atau pertemuan penting. Jadi aku bisa pulang secepatnya. Saat aku kembali ke ruanganku tadi, aku tak menemukan Rose. Ia sudah pergi, yang ada hanya tumpukan map yang sudah rapi dengan rekapan daftar hadir mahasiswaku.

 

Aku bergegas ke tempat parkir dan menaiki mobil pribadiku. Setelah tadi aku menghubugi Pak Tamri, sang penjaga parkir, menanyakan perihal tugasnya yang aku pinta.

 

Tepat sekali, ketika aku melewati lahan parkir motor, terlihat di sana seorang gadis dengan raut wajah cemas, bertanya pada beberapa orang di sana, termasuk Pak Tamri.

 

“Rose, ada apa? Kenapa kamu terlihat panik begitu?” tanyaku setelah aku menurunkan kaca jendela pintu mobil.

 

“Pak Abian?! Ini motorku gak ada. Kata bapak-bapak itu, mereka gak tahu. Ke mana ya, Pak, motor saya?”

 

Ya tuhan, aku jadi tak tega melihatnya seperti ini. Padahal aku hanya berniat inigin berjalan berdua saja dengannya tapi kenapa jadi serumit ini. Kuputuskan untuk turun dari mobil dan berbicara padanya.

 

“Sudahlah, biarkan pak Tamri untuk mencari motor kamu. Dan sekarang lebih baik kamu ikut aku,” ucapku lembut. Kutatap wajah gadis itu yang maniknya mulai berkaca-kaca. Lalu ia mengangguk pelan.

Aku beralih pada tukang parkir dan menitipkan pesan padanya untuk mencari sepeda motor matic berwarna biru. Dan jika sudah ditemukan langsung mengabariku dan mengirimkan motor itu ke rumah Rose.

 

“Rose, are you ok?” tanyaku padanya setelah kami menaiki mobil pribadiku. Ia hanya diam sambil  memandangi jalan dengan tatapan kosong.

 

“Ya, aku hanya sedikit cemas.”

 

“Aku pastikan kalau motormu itu baik-baik saja, ok. Tolong jangan bersedih lagi!” Aku menoleh padanya sambil tersenyum agar dirinya bisa ceria lagi.

 

“Pak, kita mau ke mana? Ini bukan arah jalan pulang,” pekiknya setelah ia sadar melihat jalalan di depannya.

 

“Karena kau bersedih ... jadi aku mengajakmu untuk jalan-jalan.”

 

Yes, akhirnya, ia tersenyum menampilkan lesung pipinya yang indah.

 

“Kamu mau ke mana? Ayo, katakan! Aku akan membawamu ke manapun yang kamu mau. Tapi masih daerah Bandung, ya.”

 

“Aku ... pingin ke kebun strawbery, Pak. Soalnya aku belum pernah ke sana. Hehe, lucu ya, aku kayak anak kecil.”

 

“Gak apa-apa. Aku juga suka strawbery.” Kami saling bersitatap sambil tersenyum. Sempat kulihat rona wajahnya yang memerah sebelum ia mengalihkan perhatiannya ke jendela.

 

Aku melajukan mobil ini dengan cepat seiring dengan hatiku yang menghangat. Seru juga kali ya, jika aku mengungkapkan perasaanku di kebun strawbery nanti. Hihi...

 

Siapa diantara kalian yang penasaran dengan bagaimana aku menyatakan cinta nanti? Boleh kasih semangatnya, dong... haha..

 

(Bersambung)

BAT 28 Seharusnya Kita Tidak Sedekat Ini

1 0

BAT 28

Pov Rose

 

Aku menggeleng cepat, menghalau berita yang baru aku dengar saat ini. Pak Abian mencintaiku. Itu tidak mungkin! Meski hati kecilku, meng-iyakannya bahkan bersorak senang tapi logikaku justru menolaknya.

 

Aku tersadar karena perbincangan mereka sudah selesai dan Bu Anita akan segera meninggalakan ruangan ini. Aku bergegas pergi agar tidak ketahuan. Tapi ke mana? Langkahku sedikit linglung tak tahu harus ke mana, syok karena mendapati fakta yang kudapat. Aku membaca papan kecil bertuliskan toilet lalu masuk ke dalam ruangan itu.

 

Di dalam ruangan kecil ini, aku terduduk di toilet yang untungnya besih dan wangi. Aku perlu menenangkan diri, meredakan detak jantungku yang sempat kacau. Ya Tuhan, aku harus apa? Senangkah? Sedihkah? Andai saja penyakit kanker ini tak bersarang di tubuhku, pasti aku adalah wanita yang paling bahagia sekarang karena orang yang kucintai memiliki perasaaan yang sama denganku.

 

Terasa ada getaran dari dalam tas, ternyata panggilan telpon masuk. Itu dari Pak Abian. Oh tidak, dia meminta video call padaku. Aku memencet tombol hijau itu dan terlihatlah wajah tampannya di sana.

 

“Gimana keadaanmu sekarang?”

 

“Aku ... sekarang mendingan.” Meski sedikit gugup, aku mencoba memaksakan senyum.

 

“Sekarang gantian. Aku yang sakit.”

 

“Apa? Bapak kenapa? Sakit apa?” Mendengar dia sakit. Aku panik banget. Sumpah. Rasanya pingin meluk, tapi...

 

“Aku ... Rose, kau sedang di mana?”

 

Oh tidak! Sepertinya dia mengenali tempat ini. Jangan-jangan ini toilet pribadinya karena letaknya persis di samping ruangannya. OMG, ketahuan aku!

 

“A-aku ... sedang di rumah. Sudah ya, Pak. Aku dipanggil ayah.”

 

Aku buru-buru menutup telpon dan bersiap untuk pergi. Namun naas, saat hendak membuka pintu, Pak Abian sudah lebih dulu membuka pintu kamar mandi ini.

 

“Rose, sedang apa kamu di kamar mandi ini?”

 

Ya Tuhan, apa aku harus jujur kalau aku tadi menguping pembicaraannya dengan bu Anita dan segera ngumpet di sini karena takut ketahuan? Ayo, otak. Cepat berpikir! aku harus jawab apa?

 

“Hehe. A-aku ... tadi lagi lewat terus kebelet, makanya aku masuk ke sini.”

 

Bodohnya aku. Dia itu pinter, pasti gak bakal percaya dengan jawabanku tadi.

 

Setelahnya, tanganku ditarik ke luar dari toilet ini dan aku dibawa ke dalam ruang kerjanya. Duhai hati, bolehkah aku mengecap rasa nyaman ini lebih lama?

 

Setelah kami duduk di sofa, ia menawari aku minum tapi aku menolaknya. Lalu ia menyuruhku untuk merekap absen atau daftar hadir mahasiswa tingkat satu dan dua. Tidak sulit memang, hanya butuh keteletian. Tapi kalau dimandorin kayak gini, aku jadi salting. Please deh, Pak, jangan bikin hatiku dag dig dug.

 

“Nanti malam, apa kamu ada acara? Aku ingin mengajakmu untuk makan malam di luar.”

 

Apa? Maksudnya apa ya? Jangan-jangan dia mau ...

 

“Maaf, Pak. Gak bisa. Aku biasanya makan malam sama ayah di rumah. Kalau aku pergi, kasihan ayah sendirian,” jawabku sekenanya. Aku masih terus fokus pada lembar kertas di depanku. Semoga saja dia tak bertanya macam-macam lagi.

 

“Ok. Kalau begitu, nanti kita pulang bareng.”

 

What’s? Tuh kan, aku udah feeling. Pengen banget aku rasanya teriak bilang mau. Tapi aku tahan.

 

“Gak bisa juga, Pak. Nanti motor saya gimana. Cicilan saya belum lunas. Sayang kalau hilang. Hehe..”

 

Untungnya, dia tak bertanya lagi dan segera pergi karena ada jadwal mengajar.

 

Fiuh! Rasanya dadaku plong banget. Aku bersandar di sofa ini dengan nafas tersengal-sengal. Kok aku kayak habis lomba lari. Lebih baik aku segera menuntaskan tugas ini dan segera pergi.

***

 

Hawa dingin mulai terasa saat aku dan Pak Abian mulai memasuki lahan perkebunan strawbery. Ya, aku diajaknya jalan-jalan ke tempat ini. Lebih tepatnya aku terpaksa menumpang di mobilnya karena sepeda mtor kesayanganku hilang entah ke mana. Aneh. Universitas sebesar itu dengan penjaga parkir yang banyak masih ada pencuri motor. Atau jangan-jangan pak Abian telah mensabotase agar aku bisa pergi dengannya. Entahlah.

 

Di sebelah kanan jalan ini, terihat pemandangan perkebunan teh yang terbentang luas. Sangat indah dan sejuk. Aku menghirup udara segar sambil memejamkan mata.

 

Maasya Allah, sungguh indah ciptaanmu.

 

“Ayo, kita turun!” ajak Abian mengagetkanku. Lalu ia  membukakan pintu mobil untukku. Kami berjalan bersisian menuju pintu masuk. Ayunan tanganku kadang menyentuh tangan kananya. Lalu ia menggamit tangan kiriku, mesra. Aku tersipu malu.

 

Banyak spot menarik di sini, aku  memutuskan untuk mengambil beberapa foto dan juga selfie. Dia pun turut serta mengikutiku. Beberapa foto telah kami ambil dengan gaya alay-alay. Duh, memalukan memang.

 

Setelahnya, Pak Abian meminta tolong pada salah satu pengunjung untuk memotret kami berdua melalui hape miliknya. Aku sempat menolaknya karena malu. Ini seperti ... foto prewedding. Oh No! Berfoto di tengah kebun strawbery. Bahkan ada gaya di mana aku dan Pak Abian saling tatap penuh makna.

 

Pasti, wajahku memerah seperti buah strawbery di kebun ini. Aku menarik nafas sebanyak banyaknya, menetralisir degup jantung yang sempat tak biasa. Setelah itu, penjaga kebun memberiku keranjang sebagai wadah strawbery saat aku memetik nanti.

 

“Wah ... pasti Zen senang banget kalau diajak ke sini,” seruku sambil terpesona melihat tanaman strawbery yang sedang panen.

 

“Zen sudah sering ke sini. Ayo jalan!”

 

“Kan bareng sama aku belum, Pak. Eh, Pak Abian tunggu aku!”

 

Dengan setengah berlari aku mengejar dosen tampan itu. Setelah kami sejajar, aku mulai memetik buah berwarna merah segar itu dan memasukkannya ke dalam ke ranjang.

 

“Rose, buka mulutmu!”

 

“Apa?”

 

Aku terkesiap, Pak Abian memegang satu buah strawbery di depan wajahku. Aku menurut untuk membuka mulut lalu ia menyuapiku. Hatiku berdesir saat tangan kanannya menyentuh dan mengusap bibirku lembut.

 

Rasa asam dari buah ini tak lagi kurasakan, yang ada hanyalah manis. Manis hingga ke hati. Aku segera menguasai diri dan berlalu meninggalkannya. Mencoba bersikap biasa saja dan kembali memetik buah strawbery.

 

Langit mulai gelap, akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri  aktivitas memetik. Sebanyak dua kilogram buah strawbery  yang kami dapat hasil memetik tadi. Aku meneneteng plastik berisi buah strawbery sambil berjalan menuju mobil.

 

Rintik hujan mulai membasahi jilbabku dan seketika tetesan air itu mulai ramai turun menghujani lahan perkebunan ini. Pak Abian refleks memegang tanganku dan mengajak untuk segera berteduh di saung kecil yang tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.

 

Aku mengusap wajah yang basah dan juga bajuku menggunakan tangan. Pak Abian menoleh padaku lalu mengusap jilbabku yang juga terasa basah. Aku terkejut dengan aksinya yang tiba-tiba itu. Lalu tangan kirinya beralih mengusap pipiku dan bibirku. Wajahnya makin mendekat hingga hidung kami saling bersentuhan.

 

Jantungku makin berdegup kencang kala harum parfumnya mengusik indera penciumanku. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Apa ia akan menciumku ditengah rinai hujan ini. Oh tidak!

 

“I love you, Rose. I love you.”

 

Kata manis itu terlontar dari bibirnya, membuat mataku terbelalak. Terkejut dengan keberaniannya mengungkapkan perasaan.  Aku segera menguasai diri karena teringat dengan siapa diriku, gadis berpenyakit  kanker yang telah divonis oleh dokter tentang masa umurnya yang tidak akan lama lagi.

 

Dan saat ia akan menciumku, aku segera menghindar, membuang pandangan ke arah kanan.

 

“A-aku ....” Mataku mulai mengembun. Entah rasa apa yang ada dalam hatiku ini. Sungguh, aku sangat bimbang.

 

“Rose, aku hanya ingin bilang, jadilah isteriku dan ibu sambung untuk Zen!”

 

Pak abian memegang  jari kiriku lalu serta merta ia mulai memasukkan sebuah cincin pada jari manisku.

 

Air mataku tumpah seketika dan saat itu juga aku menarik tangan kiriku dari pegangannya. Bunyi petir menggelegar seiring dengan sikapnya yang terkejut dengan aksi penolakanku.

 

“Ma-maaf. Aku tak bisa menerimanya. Maaf,” lirihku dengan suara yang sedikit parau.

 

Aku berlari menerobos hujan yang kian deras. Meninggalkan pria yang kucintai dengan tanda tanya besar yang mungkin ada di kepalanya.

 

Seharusnya kita tidak sedekat ini agar tidak ada rasa cinta yang tercipta diantara kita.

 

(Bersambung)

BAT 29 Patah Hati

1 0

BAT 29 PATAH HATI

Pov Author

 

JEGGER!! JEGGER!

 

Suara petir menggelegar seiring hancurnya hati seorang pria yang baru saja mengutarakan perasaannya, menjadi berkeping-keping. Abian Pratama memberanikan diri untuk menyatakan cinta pada seorang wanita yang menjadi asdosnya di kampus  dan memintanya untuk menjadi isteri sekaligus ibu sambung bagi putri kecilnya.

 

Cincin permata yang hendak disematkan tak jadi melingkar di jari manis milik Rose Kamelia. Wanita itu menarik tangannya dengan manik yang sudah menganak sungai. Inikah sebuah penolakan?

 

“Ma-maaf. Aku tak bisa menerimanya. Maaf,” ucapnya lirih sambil berurai air mata. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Abian sendiri.

 

“A-aku ditolak. Hahaha... benarkah?” Abian menertawai diri sendiri. Terlalu naif rasanya untuk mempercayai kenyataan ini. Pada awalnya, ia begitu yakin akan perasaannya bahwa Rose akan menerima cintanya. Tapi, kenyataan tak seindah rencana. Gadis itu seratus persen menolaknya.

***

 

Di dalam kamar yang temaram, Rose masih menangis tersedu-sedu sambil duduk berselimut tebal. Ingin rasanya ia berteriak kencang bahwa ia juga mencintai Abian. Biar seluruh orang tahu dan khususnya pria yang tinggal di sebelah rumahnya. Tapi ia tidak bisa. Mulut ini serasa terkunci.

 

Apa yang lebih menyedihkan daripada patah hati akibat membohongi diri sendiri. Rose menderita menerima kenyataan ini. Disaat kebahagiaan sudah di depan mata, harapan akan  seseorang membalas cintanya sudah terwujud, tapi ia harus pergi menjauh sebelum semua berakhir dengan lebih menyedihkan.

 

Ia pun bertanya pada takdir, mengapa ia tak pantas bahagia bersama orang yang dicintai? Mengapa ia tak boleh merengkuh manisnya cinta? Dan pertanyaan lainnya dalam bentuk memprotes diri.

 

Di tempat lain, seorang pria sedang merenung  di bawah guyuran air hangat dalam keran shower kamar mandi. Ia butuh merefresh diri, otak bahkan hatinya. Apa yang salah dalam dirinya. Bukankah ia begitu sempurna untuk dimiliki seorang wanita? Wajah tampan, pekerjaan mapan, dan kekayaan pun melimpah. Hanya saja ia seorang duda beranak satu. Tapi itu bukan masalah besar bagi sebagian  wanita yang mendekatinya selama ini. Lantas, apa alasan Rose menolak mentah-mentah pernyataan cintanya? Abian tak menemukan jawabannya.

 

Pria bertubuh tinggi kekar dan berdada bidang itu mematikan keran shower dan mengambil handuk lalu melilitkannya pada tubuh bagian bawah dan beranjak ke kamar untuk mengganti pakaian. Abian sempat menoleh ke jendela kamar, tempat biasa ia melihat tetangganya itu. Ingin sekali ia menyibak horden merah itu untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh gadis absurd itu tapi segera diurungkannya. Patah hati yang ia rasakan begitu hebat, membuat cinta yang sempat bersemi, kini menjadi benci.

 

Bagi seorang Abian, sebuah penolakan adalah harga diri yang terinjak. Disaat wanita lain yang lebih cantik dan mapan banyak mengejarnya, rela melakukan apapun demi mendapatkan cintanya, pria itu malah mencintai gadis sederhana. Abian tak bisa begitu saja memaafkan asdosnya. Ia ingin membuat perhitungan dengan wanita itu.

 

“Rose, akan kubuat kau menyesal karena menolakku,” ucapnya dengan tangan mengepal kuat.

***

 

Kehidupan di kampus berjalan seperti biasa, tak ada yang berubah. Jadwal mengajar, dateline tugas mahasiswa dan beberapa rapat yang sudah terjadwal bagi Abian adalah hal yang biasa dilakukan. Tapi perubahan terjadi pada sikapnya yang kembali dingin, kaku dan senyuman yang hilang dari wajahnya.

 

Beberapa kali Rose dan Abian saling bertemu pandang dalam beberapa peretemuan, seperti di kantin dan ketika Rose mengumpulkan tugasnya sebagai asdos tapi mereka tidak saling menyapa. Lebih tepatnya Rose yang menghindar. Pernah juga mereka berpapasan di koridor, Abian bersama Fatma sedang Rose bersama Arya.

 

Mereka saling diam. Dan itu membuat hati yang sedang luka semakin terperih.

 

Kesehatan Rose pun semakin menurun. Hampir setiap malam, ia mengalami demam dan kejang-kejang. Tubuhnya menggigil yang disertai dengan darah yang keluar dari hidungnya. Untungnya saat pagi hari tiba, keadaan Rose membaik. Ia pun sudah memutuskan bahwa hari ini adalah hari terakhir ia bekerja sebagai asisten dosen di kampus Kota Kembang.

 

“Pak Abian, anda ada rapat bersama pak rektor jam 9 pagi,” ucap sekretaris dekan mengingatkan Abian yang sedang fokus pada laptopnya.

 

“Iya terima kasih.”

 

Abian segera mengambil handphone dan berniat menghubungi Rose untuk menggantikannya mengajar. Akan tetapi, melihat foto profil yang tertera di layar hape miliknya, ingatan akan penolakan dan rasa sakit yang masih melekat di hati, membuat Abian mengurungkan niatnya untuk menelpon gadis absdurd itu.

 

Setelah merapikan berkas-berkas yang diperlukan, Abian keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruang administrasi dan staff untuk mengambil beberapa file yang tertinggal di sana sebagai bahan rapat nanti. Seharusnya ini adalah pekerjaan seorang asdos, bukan dirinya.

 

Langkah Abian terhenti di depan pintu ruangan Arya lantaran mendengar suara wanita yang sangat ia hafal. Suara yang telah meremukkan hati dan perasaannya. Suara yang telah membangkitkan rasa cinta namun ia juga yang telah menghancurkannya.

 

Ada apa Rose di dalam sana? Apa yang sedang mereka bicarakan? Abian sangat ingin mengetahuinya.

 

“Mengapa kamu ingin mengundurkan diri? Padahal kinerja kamu sangat bagus dan ... kamu bisa berpeluang besar di tahun depan untuk menjadi seorang dosen?”

 

“Saya ... tidak bisa menjelaskan secara detail alasannya apa. Tapi saya tidak bisa melanjutkan bekerja di sini lagi. Mohon diterima surat pengunduran diri saya ini, Pak Arya.”

 

“Oke, kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Tapi kamu juga harus lapor pada Pak Abian sebagai atasan kamu langsung di kampus ini. Saya khawatir nanti dia nanyain kamu ke saya.”

 

“Iya, Pak. Saya mau ke ruangannya sekarang.”

 

Abian segera menghindar dari pintu ruangan itu karena pembicaraan di sana nampaknya sudah berakhir. Ia bersembunyi di balik tembok ruangan pak Arya yang pasti tidak bisa dilihat oleh Rose.

 

Benar saja, Rose keluar dari rungan Arya dan mulai berjalan gontai. Abian memandangi gadis itu dari belakang.

 

‘Kenapa kau ingin berhenti bekerja, Rose? Apa kau begitu membenciku sehingga kau tidak ingin melihatku lagi? Bukankah kita masih bisa berteman sebagai partner kerja?’ gumam Abian dalam hati.

 

Kini Rose sudah berada di depan ruang dekan Fakultas Ekonomi. Bayangan tentang dirinya bersama Abian dalam ruangan itu melintas di pikirannya. Seakan menari-nari, membawanya pada kenangan indah yang sempat tercipta namun harus diakhiri.

 

Rose tak kuat untuk membuka handle pintu itu, tangan kanannya begitu berat untuk digerakkan. Ia pun lebih memilih menemui sekretaris dekan dan menitip pesan untuk Abian. Padahal, selama ini Rose sudah mendapatkan hak privasi jika ingin bertemu Abian, ia tak perlu melewati sekretaris itu.

 

Setelah menyerahkan surat pengunduran diri pada perempuan paruh baya yang menjadi sekretaris dekan, Rose pamit undur diri. Namun, Baru saja ia membalikkan badannya. Tubuh Abian yang menjulang tinggi, kini tepat berada di depannya, membuat Rose terkejut. Waktu seakan berhenti seketika kala dua pasang manik itu bertemu.

 

Tak ada kata, tak ada suara. Hanya rasa yang bicara. Hati yang saling berbisik mengungkapkan kata.

 

Karena tidak kuat, Rose mengalihkan pandangannya.

 

“Kenapa menghindar? Bukankah kau ingin bertemu denganku?” ucap Abian dingin.

 

“Ya, a-aku ...” belum selesai Rose bicara, Abian menarik tangan gadis itu dan dibawanya masuk ke dalam ruangannya.

 

Abian segera menutup pintu dan menguncinya, bahkan kuncinya itu ia masukkan ke dalam saku celana panjangnya. Itu membuat Rose bertambah terkejut dan bingung, entah apa yang akan dilakukan dosen killer itu padanya.

 

“Pak, kenapa kuncinya diambil? Bapak jangan aneh-aneh ya, sama saya,” pekik Rose yang membuat Abian tersenyum smirk.

 

“Hm, memangnya kamu pikir aku mau berbuat apa ke kamu, hah?”

 

Rose menggeleng cepat. Abian semakin mengikis jarak dengan mata yang menyalang.

 

“Kenapa kamu selalu menghindar? Dan kenapa kamu mau mengundurkan diri? Kau sudah menolakku dan sekarang kau mau berhenti bekerja? Segitu bencinya kamu sampai tidak mau melihatku lagi? Memangnya apa yang kurang dariku Rose? Tolong jawab aku!”

 

Dengan sekuat tenaga Rose mencoba agar air matanya tidak keluar. Ia terus menarik napas dalam-dalam. Sungguh, hatinya sangat rapuh melihat orang yang dicintainya kini di depannya terlihat menderita.

 

‘Tidak ada yang salah denganmu, Abian. Aku yang salah. Aku salah karena dekat denganmu sehingga cinta itu hadir tanpa kusadari. Aku tidak mau kau akan menderita setelah ini karena aku,’ teriak Rose dalam hati. Langkah mundur Rose terhenti karena terhalang dinding. Kini ia terjebak dalam penjara tangan Abian yang menghalanginya untuk bergerak ke samping.

 

”Kau mencintaiku, kan? Jawab aku Rose!” kali ini suara Abian begitu sendu, tatapan amarahnya berubah menjadi teduh, penuh harap.

 

Ingin rasanya Rose menjawab bahwa ia mencintai lelaki itu. Bahkan sangat mencintainya, tetapi mulutnya terkunci dan kepala terus menggeleng kuat. Tangan kanan Abian membelai kepala Rose yang terbalut jilbab merah muda dan menghapus air mata yang sempat terjatuh di pipi kanan gadis itu.

 

“Ini terakhir aku bertanya padamu, Rose. Katakan kalau kau mencintaiku, iya kan?”

 

“Tidak. Aku tidak mencintaimu, Pak Abian. Jadi tolong lepaskan aku. Biarkan aku pergi!” ucap Rose dengan pelan tapi tegas.

 

Lagi, Abian mendengar kalimat penolakan dari mulut gadis yang ia cintai. Akhirnya, Abian menyerah. Ia memberikan kunci pintu itu dengan hati penuh nelangsa.

 

Dengan setengah berlari, Rose keluar dari ruangan kerja Abian. Hatinya sungguh tak kuat lagi menahan perasaan sedih dan terluka akibat kesalahan yang ia buat sendiri.

 

(Bersambung)

 

Aku sedih banget nulis part ini. Apalagi sambil dengerin lagu ‘Matahariku’ by Agnes Mo. Huwa... tambah baper rasanya. Hiks hiks..

Makasih ya, kalian udah baca sampai part ini. Nantikan kisah selanjutnya karena sebentar lagi ending. Jangan lupa follow akun Ismi Nuri agar kalian tidak ketinggalan update cerita terbaruku.

BAT 30 Cinta Pertama dan Terakhir

1 0

BAT 30 Cinta Pertama dan Terakhir

 

Hari- hari pun berlalu dengan tanpa gairah dan semangat yang menyelimuti keseharian Abian. Ditambah dengan gemericik air hujan yang terus membasahi jalanan yang menandakan kota Bandung sudah memasuki musim penghujan, membuat rasa sunyi di hati duda beranak satu itu kian mencekam.

 

Abian menutup laptop kerjanya setelah satu jam lamanya, benda berlayar 14 inci itu hanya menyala tanpa disentuh. Ia pun  beranjak pergi ke atas kasur untuk  merebahkan diri, melepas penat yang seakan menumpuk di kepalanya. Lelaki berusia tiga puluh empat tahun itu mengambil handphone dan mulai berselancar di dunia maya. Aplikasi hijau yang pertama yang ia pilih karena banyak pesan yang belum sempat dibaca. Akan tetapi, dari sekian banyak pesan itu, tak ada notif dari wanita yang ia rindukan.

 

Abian mendesah, ia harus sadar bahwa perempuan itu sudah bukan siapa-siapa lagi. Akhirnya ia memilih membaca pesan dari Fatma.

 

[Besok aku mau ke Bali mengunjungi bibiku yang sedang sakit. Apa kau dan Zen mau ikut? Mungkin kita bisa berlibur bersama di sana.]

 

Abian terdiam, memikirkan tawaran sahabat terdekatnya itu. Ya, sepertinya ia butuh liburan. Kejadian beberapa minggu terakhir ini sungguh membuat hati dan pikirannya kacau bahkan terbilang stress.

 

[Ya, aku dan Zen ikut.]

 

Singkat, padat dan jelas, Abian membalas chat untuk Fatma. Diletakkannya hape android itu di nakas lalu ia mulai memejamkan mata.

 

***

 

Sambil berjalan, Rose menikmati udara pagi yang cukup segar setelah semalam tadi diguyur hujan. Kabut putih yang sempat menutupi ruang udara sejak subuh tadi kini mulai melerai dan menghambur pergi tergantikan dengan sinar mentari pagi.

 

Langkah rose terhenti di depan pagar rumah Abian tatkala melihat mobil milik dosen killer itu terparkir rapi dengan garasi terbuka. Padahal ketika dirinya baru keluar rumah untuk belanja sayuran, garasi dan pagar rumah tetangganya itu masih tertutup rapat. Dengan kata lain, pemilik mobil itu akan ke luar dari rumah atau bepergian.

 

“Halo Tante Rose, selamat pagi.” Rose menoleh dengan cepat kala mendengar suara cempreng milik putri sang dosen itu memanggilnya.

 

“Halo Zen, selamat pagi juga. Wah ... kamu pagi ini cantik banget. Mau kemana?” tanya Rose yang sedikit heran melihat gadis kecil itu berpakaian rapi serta bertopi lebar, ciri khas orang bepergian ke pantai.

 

“Aku mau jalan-jalan ke Bali, Tante, sama papi,” jawabnya dengan imut sambil memainkan topi lebarnya.

 

‘Ke Bali? Benarkah?’ Rose terdiam sambil bertanya-tanya dalam hatinya.

 

Tak lama kemudian, Abian dan seorang wanita dewasa keluar dari pintu utama, di belakangnya bi Yati mengekor  sambil menenteng dua tas koper besar. Refleks Rose menoleh ke arah sumber suara.

 

Deg.

 

Abian dan Rose saling bersitatap. Hanya beberapa detik karena Abian segera mengalihkan pandangannya ke wanita di sampingnya, Fatma. Lalu pria berkemeja biru itu menggandeng pinngang Fatma dan mengajaknya untuk segera naik mobil.

 

“Ayo, Sayang. Nanti kita telat naik pesawat.”

 

Rose tergugu melihat pria yang dicintainya bicara mesra dan tersenyum pada wanita lain di depan matanya. Hati Rose seperti terbakar cemburu, embun air mulai mengumpul di pelupuk matanya. Sebisa mungkin ia tahan agar desakan air itu tidak keluar. Rose sadar, dirinya sudah menolak lamaran Abian, sehingga pria itu bebas memilih pasangan yang lain.

 

“Hai, Rose, kami pamit ya!” ucap Fatma sesaat sebelum menaiki mobil hitam itu.

 

“Iya, Bu Fatma. Selamat berlibur,” jawab Rose sambil memaksakan senyum.

 

“Dadah Tante! Dadah bi Yati!” seru Zen yang sudah berada di dalam mobil sambil melambaikan tangan.

 

“Dadah Zen, selamat bersenang-senang!” lagi, Rose harus tampak ceria apalagi di depan anak kecil itu. Ia memang sangat menyukai Zen, gadis kecil yang ceria, lucu dan menggemaskan.

 

Kini tinggal Abian. Setelah menutup pintu mobil untuk Fatma, tanpa menoleh dan berpamitan pada Rose seperti lainnya, Abian langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian depan bersama Pak Miko sebagai sopir. Hal itu membuat hati Rose bertambah sakit.

 

Mobil mewah itu mulai bergerak meninggalkan halaman depan rumah berlantai dua. Abian melirik kaca spion, hendak melihat bagaimana keadaan Rose setelah ia acuh padanya. Entah kenapa, hatinya justru sakit melihat Rose dengan tampang memelas seperti itu. Seperti tidak tega meninggalkan wanita yang masih dicintainya. Tapi Abian harus tegas pada dirinya sendiri juga pada Rose.

 

Hati Rose mencelus, seperti tertusuk duri tajam saat melihat kendaraan yang membawa orang yang dicintai semakin menjauh. Berbagai macam bayangan tentang kegiatan berlibur di pantai yang dilakukan oleh pria dan wanita dewasa, menari-nari di keplanya. Pasti mereka bersenang-senang di sana, pikir Rose. Sedangkan ia  harus menahan sakit seorang diri di sini.

 

“Neng Rose, kenapa wajahnya pucat? Neng Rose lagi sakit?” tanya Bi Yati menghentakkan lamunannya.

 

“Ah, tidak. Apa Bi Yati tahu, berapa lama mereka liburan?”

 

“Bibi kurang tahu, Neng. Tapi tadi kalo gak salah denger, katanya seminggu.”

 

“Apa? Seminggu?”

 

‘Ya Tuhan, semoga aku kuat menunggu mereka selama satu minggu ini.’

 

Bi Yati pamit pada Rose karena hendak beberes rumah yang masih berantakan sejak ditinggal penghuninya tadi. Rose pun balik badan dan segera masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan hancur.

***

 

“Udah minum obat belum?” tanya Burhan pada Rose yang sedang duduk menonton televisi. Namun pandangan gadis yang sedang tak berjilbab itu seakan menerawang entah ke mana.

 

Burhan mengambil duduk di sisi putrinya lalu mengambil alih remote tv yang sedari tadi dipegang oleh Rose.

 

“Nonton tv kok melamun. Lagi mikirin tetangga ya, yang lagi liburan ke Bali?” tebak Burhan sambil terkekeh, meledek anaknya yang terlihat sedang galau.

 

“Ish, Ayah. Apaan seh, kepo!”

 

“Udah gak usah ngelak. Itu risiko karena kamu udah nolak dia. Terus sekarang nyesel gak?”

 

Rose hanya menggeleng lemah sambil menunduk dan tak menjawab.

 

Benar apa kata Burhan, Rose sedang memikirkan Abian, pria yang dicintainya yang sedang berlibur ke Bali bersama Fatma. Meski Zen menyertai mereka berdua, tapi Rose tetap tidak tenang. Bayangan ketika Abian bermesraan dengan Fatma seolah menghantuinya. Tapi ia yakin kalau Abian bukan pria semacam itu.

 

“Serahkan semua pada Allah. Kalau kalian berjodoh, pasti akan dipersatukan.” Burhan membelai lembut rambut pendek putrinya yang tinggal seleher, rontok akibat penyakit leukimia yang dideritanya.

 

Dengan refleks, Rose memeluk pria tua di sampingnya yang selalu setia menemaninya. Ia butuh kekuatan untuk menghadapi masalah percintaannya yang terbilang rumit ini.

 

“Sudah malam, tidur sana!” ucap Burhan setelah hening beberapa saat tadi.

 

“Iya, Yah. Makasih.” Sekali lagi Rose memeluk erat dan mengecup pipi ayahnya itu. Lalu beranjak pergi ke kamar pribadinya.

***

 

Jam di laptop menunjukan pukul 10 malam. Rose memutuskan untuk menyudahi tulisannya. Ya, hobi lamanya itu kembali ia lakukan setelah dirinya tidak lagi bekerja sebagai asisten dosen. Rose mengirim artikel tentang kesehatan ke beberapa situs online. Sering juga ia menulis cerpen inspiratif yang ia kirim ke majalah online. Hasilnya lumayan, bisa menambal kekurangan untuk kebutuhan rumah yang belum terpenuhi.

 

Rose kini beralih pada handphone-nya. Tak ada notif pesan dari Abian. Ya, sejak penolakan itu, mereka berdua tak saling berkabar lewat chat. Apalagi pria itu sedang berlibur bersama Fatma. Mana mungkin sempat memikirkan dirinya. Akhirnya, ia keluar dari aplikasi watshapp dan beralih ke aplikasi radio untuk menghilangkan bosan karena kedua matanya belum juga mengantuk.

 

Dipilihnya I-Radio Bandung karena radio itu memutar lagu-lagu dalam negeri yang enak didengar serta suara penyiar radio yang terbilang ‘asyik’. Apalagi malam minggu seperti ini biasanya ada sesi curhat malam.

 

Rose jadi kepikiran untuk ikut sesi curhat tersebut. Biasanya, ia hanya jadi pendengar yang baik.

 

Oke  I-Listeners, baru saja kita mendengar lagu Sherina, yang judulnya “Cinta Pertama dan Terakhir”. Siapa neh yang pernah merasakan itu? Oh ... pasti bahagia banget ya, bisa ketemu orang yang setia sama kita. Semoga I-Listeners merasakan itu semua.

 

Rose tersenyum mendengar penuturan dari penyiar radio itu. Karena ia baru menyadari bahwa cintanya pada Abian, dosen killer yang juga tetangganya itu adalah cinta pertamanya dan juga untuk yang terakhir.

 

Oke I-Listeners, kita lanjut lagi ke sesi Curhat Malam, siapa neh penelpon selanjutnya yang pingin curhat. Oke, sudah ada yang masuk. “Halo I-Listeners, dengan siapa di sana?”

 

“Halo, saya ... Kamelia.”

 

(Bersambung)

 

Penasaran dengan isi curhatnya seperti apa? Baca bab selanjutnya, ya teman-teman!

BAT 31 Sebuah Pengakuan

1 0

BAT 31

Sebuah Pengakuan

 

Ternyata liburan ke Bali masih belum bisa membuat Abian melupakan gadis absurd berlesung pipi itu. Pikirannya makin mengarah pada wajah serta tingkah laku yang membuat hati merindu. Alih-alih membuat Rose cemburu dengan mempertontonkan kemesraan bersama Fatma saat dirinya hendak berangkat ke Bali, Abian malah sakit hati melihat tatapan sendu dan kecewa di wajah imut itu. Ya, ia tak tega menyakiti hati wanita yang dicintainya.

 

Bahkan ajakan Fatma sore tadi untuk sekedar jalan-jalan dan  bermain di pantai, Abian menolaknya. Ia lebih suka berdiam diri di villa sambil memandang laut. Alhasil, Fatma hanya pergi bersama Zenia.

 

Jam yang tergantung di dinding kamar, menunjuk hampir  ke angka sepuluh. Udara malam di pantai Kuta ini sungguh sangat menggigit kulit. Abian masih memandangi foto profil  wa milik Rose lewat ponselnya sambil  duduk di sisi jendela kamar. Tak ada notifikasi apapun dari cewek itu untuknya. Meski status online tertera di bawah nama gadis itu. Gengsi rasanya jika Abian yang harus memulai percakapan diantara mereka setelah hampir sebulan membeku.

 

Akhirnya, Abian memilih untuk menghubungi Bi Yati, asisten sekaligus orang kepercayaannya untuk menjaga rumah di kala ia sedang bepergian.

 

“Halo, Bi? Gimana keadaan rumah?”

 

“Eh, Bapak? I-iya, baik, Pak. Rumah aman gak ada apa-apa,” jawab Bi Yati sedikit terbata-bata. Perempuan paruh baya itu tak menyangka, tuan rumahnya akan menelponnya malam ini. Ia bersama Miko, suaminya sedang duduk santai di ruang dapur sambil mendengarkan radio.

 

“Ok. Bagus.”

 

“Zen kumaha, Pak? Pasti seneng banget ya, libur di pantai,” tanya Bi Yati antusias. Rupanya perempuan yang rambutnya mulai memutih itu rindu pada sosok gadis kecil yang ia asuh sejak kecil. Suara bising dari radio membuat ucapan Bi Yati tadi terdengar samar oleh Abian.

 

Oke I-Listeners, kita lanjut lagi ke sesi Curhat Malam, siapa neh penelpon selanjutnya yang pingin curhat. Oke, sudah ada telpon yang masuk. “Halo I-Listeners, dengan siapa di sana?”

 

“Eh, Bi, itu suara apa? Berisik banget!”

 

“Oh, itu suami saya, Pak. Kang Miko lagi dengerin radio. Sebentar, saya suruh kecilin suaranya.”

 

“Halo, saya ... Kamelia.”

 

“Eh, Bi-Bi. Jangan dikecilin! Tolong dekatkan hape Bibi ke radio itu. Saya mau dengar,” perintah Abian dengan cepat, mencegah agar ART itu tidak mengecilkan suara radio tapi mendekatkan ponsel yang sedang Bi Yati pegang ke radio tersebut. Karena suara wanita yang ada di radio itu terdengar tidak asing di telinga Abian.

 

Meski bingung, Bi Yati tetap menurut dan melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya. Bi Yati memperbesar volume suara radio dan memencet tombol load speaker pada ponselnya agar Abian bisa mendengar lebih jelas.

 

Miko yang sedang menikmati kopi panasnya, menyenggol lengan Bi Yati dengan raut wajah penuh tanya. Pria bersarung itu bingung dengan tingkah isterinya.

 

“Ssstt ... jangan berisik!” seru Bi Yati sambil melotot agar Miko tak mengganggunya. Selanjutnya suasana menjadi hening, hanya suara radio yang terdengar.

 

“Ok, Kamelia. Nama yang bagus. Mau curhat apa neh?”

 

“Saya ...  mau minta maaf untuk seseorang.”

 

“Uwow! Minta maaf. Oke! Untuk siapa neh  kira-kira, orang tua kah, saudara, teman atau ... pacar?”

 

“Ehm, dia ... orang yang spesial buat aku.”

 

“Oh... melted banget dengernya. Ok, kita kasih kesempatan ya, I-Listeners. Silahkan Kamelia.”

 

Abian mengernyitkan dahi, mencoba fokus pada pemilik suara itu. Ia tak sabar ingin mendengar curhatan dari wanita yang ia yakini adalah Rose. Suara wanita di radio itu mirip sekali dengan suara Rose ketika ditelpon. Jantung Abian pun makin berdegup kencang.

 

“Terima kasih. Ehm, untuk seseorang yang selalu memerintahku di kampus, yang sering membuaku kesal,  yang membuat jantungku berdegup kencang saat menatapnya, dan juga membuat hari-hariku berwarna. Dan saat ini, ia sedang berlibur di Bali, aku ingin mengungkapkan sesuatu buat kamu.

 

Aku ingin minta maaf. Jujur, aku pun memiliki perasaan yang sama denganmu. Rasa berbunga-bunga ketika melihatmu, rasa bahagia ketika melihat senyum tawamu dan rasa rindu ketika kita tak bertemu.

 

Tapi aku tak bisa menerima cintamu. Karena ... aku gak pantas mendampingimu. Aku bukan wanita sempurna seperti wanita lainnya. Jadi, please! Maafkan aku agar aku tenang ketika pergi nanti.Aku doakan, Semoga kamu mendapat wanita yang lebih baik dariku.

 

Udah cukup. Terimakasih, Kak.”

 

“Oh...dalem banget. Sumpah aku tuh dengernya sampe mau nangis. Sampe berdebar-debar gitu ...”

 

Abian tergugu mendengar curhatan wanita bernama Kamelia. Jantungnya berdebar hebat, kedua lututnya melemas seketika. Suara wanita itu benar-benar mirip dengan suara Rose. Dan ia pun merasa menjadi seseorang yang dituju oleh wanita tersebut.

 

‘Kamelia. Aku seperti pernah mendengar nama itu. Tapi di mana?’ gumam Abian.

 

Abian menutup telponnya sambil terduduk di ranjang dengan pikiran masih melayang pada isi curhatan tadi.

 

‘Kamelia, Kamelia. Ya Tuhan, bukankah itu nama belakang Rose. Mengapa aku tidak ingat?’

 

Lelaki yang mengenakan kaos putih dan celana pendek itu, segera mengecek file daftar nama dosen dan asisten dosen di kampusnya lewat ponsel untuk memastikan dugaannya itu.

 

“ROSE KAMELIA, ternyata benar. Kamu mencintaiku. Tapi kenapa kamu menolakku. Apa alasannya?” Abian geram sendiri. Ia pun bingung harus berbuat apa. Lelaki berkulit putih itu mencoba menghubungi Rose tetapi tidak terhubung. Nomor itu sudah tidak aktif.

 

Abian berpikir keras untuk menemukan jawabannya. Kemana dan Siapa, yang bisa membantu memecahkan teka teki, siapa sebenarnya Rose Kamelia. Gadis itu penuh misteri. Abian sama sekali tidak tahu latar belakang dan nmasa lalu wanita itu. Tidak mungkin rasanya jika ia bertanya pada Pak Burhan, ayah kandung Rose. Malu dan gensi menguasai dirinya.

 

Tetiba ia teringat kalau Pak Burhan itu teman dekat dari ayahnya sendiri, yaitu Jamal. Tak perlu pikir panjang lagi, Abian segera menelpon pria paruh baya yang sangat berjasa bagi kehidupannya selama ini.

 

“Pah, tolong ceritakan siapa sebenarnya Rose Kamelia? Papa pasti tahu, masa lalu anak dari sahabat papa itu?” cecar Abian, langsung pada inti pertanyaan ketika telopon itu diangkat oleh Jamal.

 

“Apa? Maksudmu apa, Nak?”

 

“Aku melamar Rose, Pah. Tapi dia menolak lamaranku. Padahal aku tahu kalau dia juga mencintaiku.”

 

“Hahaha... Abian... Abian. Papa pikir, karena kamu sudah dewasa dan pernah juga berumah tangga, bisa memahami wanita dengan baik. Ternyata belum.” Jamal terkekeh, menertawai  tingkah laku putranya.

 

“Pah, tolong jangan ledek aku. Sekarang bukan waktunya untuk bercanda.”

 

“Oke, oke. Yang papa tahu, Kamelia adalah anak yang baik, pintar dan penurut. Tapi sayang, nasibnya tidak sebaik anak kecil lainnya. Saat usia Kamelia 13 yahun, ia terkena penyakit kanker sel darah putih atau Leukimia.”

 

“Apa? Leukimia?” Abian terkejut dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya.

 

“Benar. Kau pasti sudah tahu, apa leukimia itu. Dokter telah memvonis kalau umur anak kecil itu tidak akan lama jika tidak segera mendapat donor sumsum tulang belakang. Kedua orang tuanya, Jamal dan Aminah berusaha mencari ke manapun untuk mendapat pendonor itu. Tapi tidak dapat.

 

Untungnya, takdir berkata baik. Ia mendapat donor itu dari orang yang paling menyayanginya, yaitu Aminah, ibu kandungnya sendiri. Tapi naas, Aminah meninggal karena kecelakaan. Donor sumsum itu adalah permintaan terakhirnya.”

 

“Kalau dia sudah mendapat donor sumsum itu, apa yang dikhawatirkan lagi? Mengapa dia menolakku?”

 

“Belakangan, Papa baru diberitahu oleh Jamal kalau putrinya kembali mengalami gejala-gejala seperti yang pernah dideritanya saat Rose masih kecil. Kata dokter yang sekarang memeriksanya, sumsum tulang belakang hasil donor dua tahun yang lalu itu, sudah tidak cukup baik untuk melawan sel kanker yang ternyata masih bersarang di tubuh Kamelia. Karena mengingat pendonor itu orang yang sudah tua dan juga Bu Aminah punya penyakit jantung dan paru-paru.

 

Alhasil, dokter kembali memvonis Kamelia terkena Leukimia. Untuk stadium berapa, Papa belum tahu. Nanti Papa akan segera menghubungi dokter Budi yang dulu pernah menangani Kamelia.”

 

Abian terdiam, ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Seketika lututnya melemas, tubuhnya meremang. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana pedihnya tatkala gadis yang ia cintai sedang menahan sakit.

 

“Abian, apapun keputusanmu tentang gadis itu ... Papa mendukungmu. Kau putra Papa yang hebat, pasti bisa mengambil keputusan yang terbaik untukmu dan Rose. Papa percaya padamu pasti bisa melewati  ujian ini.”

 

“Ya, terima kasih, Pah,” jawab Abian dengan suara tercekak, menahan gemuruh di dada yang ingin sekali ia keluarkan.

 

Telpon ditutup. Abian terduduk di tepi ranjang. Fakta mencengangkan yang ia dapat, sungguh meruntuhkan jiwa egonya. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui sesuatu hal yang sangat penting tentang gadis yang dicintai itu. Selama ini, ia hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Bahkan ia terlalu sering menyiksa gadis itu untuk mengerjakan berbagai macam tugas.

 

Andai saja ia tahu, pasti ia akan memperlakukan gadis itu dengan baik, pikirnya.

 

“Ya Tuhan, kenapa aku baru tahu sekarang? Arrrggh ....” Abian memukul kasur sambil berteriak kencang, mengeluarkan rasa sesak di dada.

 

Perasaan bimbang akan menikahi gadis absurd itu juga menghantui dirinya. Rasa cinta yang terlanjur tumbuh pada Rose tidak bisa dihancurkan begitu saja dengan mudah.Trauma akibat kehilangan orang yang dicintai pun kembali berkelebat dalam jiwa dan benaknya. Abian merasa dilanda dilema. Tapi ia harus segera mengambil keputusan.

 

“Aku harus segera balik ke Bandung,” ucapnya dengan tegas.

 

(Bersambung)

BAT 32 Melamar

1 0

BAT 32

 

“Udah cukup. Terimakasih, Kak.”

 

“Oh...dalem banget. Sumpah aku tuh dengernya sampe mau nangis. Sampe berdebar-debar gitu, ini ceritanya kayak sinetron yang lagi viral ya. Hehe... Oke Kamelia, semoga dia mendengar curhatan kamu, ya. Ini aku kasih lagu spesial buat kamu. Judulnya Matahariku lagu dari Agnes Monica. Selamat mendengarkan!”

 

Musik mulai mengalun merdu menggantikan suara penyiar tadi. Rose duduk menyandar di ranjang kasur sambil mendengar lagu Agnes Monica yang sungguh mengiris hati. Bait-bait syair itu seakan mewakili perjalanan cintanya bersama Abian.

 

Dengarlah Matahariku, suara tangisanku

Kubersedih karena panah cinta menusuk jantungku

Ucapkan Matahariku, puisi tentang hidupku

Tentangku yang tak mampu menaklukan waktu.

 

Tak terasa  air mata kembali jatuh membasahi pipi. Rose terlalu meresapi lagu itu, membuat batinnya terisak perih.

***

 

“Yah... Ayah di mana?” Rose berjalan sambil memegangi tembok, tak ditemukan pula lelaki tua yang menjadi ayahnya. Perlahan ia menuruni anak tangga dengan tetap berpegangan. Tubuhnya begitu lemah seperti tak ada tenaga.

 

Gadis yang masih memakai piyama itu hanya ingin ke dapur, mengambil minum.

 

‘Mungkin ayah sudah pergi bekerja,’ batinnya.

 

Rose lupa kalau semalam, Pak Burhan sudah memberitahu kalau sehabis subuh, ia akan pergi ke pasar mengantar pesanan Bu Joko yang ingin syukuran aqiqah cucunya siang nanti.

 

Rose berhasil sampai di dapur dan kini duduk di meja makan. Di sana sudah ada segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng serta semangkuk bubur nasi. Rupanya, ayahnya sudah masak sebelum berangkat. Rose mulai menikmati hidangan sarapan itu, walau terasa hambar, di mulut dan di hati.

 

“Ibu,” lirih Rose dengan mata mulai mengembang sambil tangannya yang memegang sendok mengaduk-ngaduk bubur. Ia teringat, Bu Aminah yang selalu menyuapinya  dikala ia sakit dulu.

 

Tetiba perutnya terasa mulas. Panggilan alam membuatnya harus segera ke kamar mandi. Dengan susah payah ia kembali berjalan dan menuju toilet yang bersebelahan dengan dapur. Untungnya semua berjalan dengan lancar. Namun, ketika ia keluar dari kamar mandi dan ingin kembali duduk di meja makan, ia terpeleset dan terjatuh.

 

“ALLAHU AKBAR!” pekik Rose kala itu. Tubuhnya tergeletak di lantai dengan kepala terbentur ujung rak piring yang terbuat dari besi. Darah mengalir di keningnya. Ia tak bisa bangkit.

 

“Ayah... ayah...,” ucap Rose dengan lirih meminta pertolongan.

 

‘Ya Tuhan, kalau memang hari ini takdirku untuk bertemu denganmu, aku mohon bahagiakan orang-orang yang kucintai, termasuk Pak Abian!’ pintanya dalam hati.

 

Samar-samar Rose mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Tapi itu bukan suara ayahnya. Melainkan ... Abian.

 

“Rose  di mana kamu? Rose ....” Abian memberanikan diri untuk masuk ke rumah itu karena sebelumnya ia telah berulangkali mengetuk pintu tapi tak ada jawaban.

 

Abian terkejut mendapati Rose yang sudah tergeletak di lantai dengan lumuran darah. Ia segera mendekati gadis itu. Diangkatnya kepala Rose dan diletakkannya dalam pelukan.

 

“Rose, kamu tidak apa-apa? Tolong jawab aku, Rose!” Abian teringat akan penyakit yang diderita oleh Rose. Ia takut terjadi hal yang buruk pada gadis yang dicintainya itu. Abian mencoba menepuk pipi  gadis itu dengan lembut agar tersadar.

 

“Pak Abian,” ucap Rose pelan sambil tersenyum. Ini seperti mimpi baginya, bertemu dengan orang yang dicintai yang ia tahu sedang berada di Bali. Namun pria tersebut kini berada di depannya.

 

Mata rose mengerjap dan semuanya menjadi gelap.

 

“ROSE!!!” pekik Abian membahana ke seluruh ruangan.

***

 

“Apa kamu yakin dengan keputusanmu, Nak Abian? Saya tidak mau ada penyesalan nantinya,” ucap Burhan menanyakan keseriusan pemuda yang tidak lain adalah anak dari sahabatnya, Jamal tentang lamarannya kepada Rose Kamelia.

 

“Saya sudah memikirkannya matang-matang. Saya mencintainya, Pak. Justru saya merasa bersalah jika saya menjauh darinya. Saya minta maaf karena selama ini saya tidak tahu akan keadaan Rose sebenarnya.”

 

“Tidak apa-apa. Itu bukan salahmu. Putriku hanya tidak ingin menyusahkanmu dan dia takut kalau kau kembali menderita karena kehilangan.”

 

“Rose lebih menderita dari pada saya, Pak. Ijinkan saya untuk menemaninya. Saya ingin menikahinya.”

 

Burhan terdiam. Hatinya bimbang dengan keputusan yang akan ia ambil. Sebenarnya, pria berjenggot itu sangat senang kalau putrinya telah menemukan jodohnya. Akan tetapi di sisi lain, ia tak bisa menyangkal akan kondisi Rose yang semakin melemah akibat penyakit kanker yang dideritanya.

 

Burhan mengambil napas panjang lalu mengucap bismillah dalam hati. “Baiklah. Aku menerima lamaranmu untuk puteriku.”

 

Abian tersentak lalu berulangkali mengucap syukur. Dengan serta merta ia mencium punggung tangan calon mertuanya. Di bankar, Rose mendengar jelas apa yang dibicarakan oleh dua orang lelaki tadi. Air matanya mengalir deras tanpa suara. Entah seperti apa suasana hatinya saat ini. Senang haru bercampur sedih.

 

“Jangan menatapku seperti itu, Pak. Saya tidak mau dikasihani,” ucap Rose kala hening tercipta sejak tadi. Abian tersenyum, lalu duduk di tepi ranjang yang ditempati oleh Rose.

 

“Saya bukan kasihan sama kamu, tapi sayang.”

 

Kali ini Rose yang menatapnya lama, menit kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ada rona merah tercipta di wajah putih itu.

 

“Kenapa? Gak boleh? Aku udah minta ijin ke ayahmu dan beliau setuju, bulan depan kita menikah.”

 

“Apa? Bu-bulan depan?”

 

“Iya, kamu gak mau? Atau kita majuin aja jadi minggu depan. Kayaknya itu ide bagus. Aku udah ga sabar buat malam pertama kita?”

 

“Pak Abian!”

Abian menarik hidung bangir milik Rose karena gadis itu melotot ke arahnya.

***

 

Rencana pernikahan yang semula digelar satu bulan lagi, kini benar-benar dimajukan menjadi minggu depan. Rupanya duda beranak satu itu tak main-main dengan ucapannya. Beruntung keadaan Rose semakin membaik. Kehadiran Abian yang setiap hari menemaninya menjadi mood boster tersendiri bagi gadis penyuka warna pink itu.

 

“Semua sudah siap? Gak ada yang ketinggalan?” tanya Abian pada Rose yang tengah duduk di sofa, ruang rawap inap VIP. Pagi tadi, dokter telah mengijinkan Rose untuk rawat jalan sehingga siang ini mereka bersiap-siap untuk segera pulang.

 

“Ada.”

 

“Apa? Aku gak mau balik ke sini untuk mengambil barang ketinggalan. Gak ada waktu, Sayang. Aku pingin nyiapain pernikahan kita besok.”

 

Upz!

 

Sambil tersenyum, Rose menempelkan telunjuknya ke mulut Abian agar lelaki itu berhenti nyerocos. Ia tak menyangka kalau atasannya itu sangat antusias dalam menyambut hari pernikahan mereka. Sontak Abian terkejut dan langsung memegang tangan halus asdosnya itu.

 

“Hati saya, Pak, yang ketinggalan di tempat Bapak.”

 

“Oh, kalo itu harus. Hati kamu harus selalu berada di hatiku. Takkan kubiarkan dia pergi.” Senyum manis menghiasi wajah tampan Abian yang kali ini mendadak menjadi bucin.

 

Hati Rose menghangat, ia tak menyangka kalau pria di depannya yang selama ini menjadi dosen killer akan menjadi calon suaminya.

 (Bersambung)

BAT 33 Halaman Terakhir

1 0

BAT 33

 

Hari pernikahan tiba. Rumah berlantai dua dengan gaya eropa itu telah dihias sedemikian rupa. Tenda ungu sudah terpasang di halaman rumah lengkap dengan kursi, meja dan hiasan tenda dengan warna senada. Sedangkan untuk pelaminan dihiasi dengan pernak pernik bunga berwarna pink muda.

 

“Saya terima nikah dan kawinnya Rose Kamelia dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas senilai 50 gram dibayar tunai.” Dengan lantang serta jelas, Abian Pratama mengucapkan ikrar janji suci di depan Jamal, ayah Rose beserta para saksi dan undangan yang hadir. Seluruh pengunjung mengucap kata ‘Sah’ dan mulai membacakan doa untuk kedua mempelai.

 

Rose yang sedang duduk menunggu di dalam kamar, tak kuasa menahan haru. Berkali-kali ia mengucap syukur untuk kebahagiaan yang tak terkira ini. Bahkan ia sempat mencubit tangannya sendiri hanya untuk memastikan bahwa ini bukanlah angan atau mimpi semata.

 

Pintu kamarnya terbuka. Terlihat di sana, Jamal berdiri seraya tersenyum bahagia.

 

“Ayah, makasih.” Kedua mata wanita itu mengembun. Ada berbagai rasa berkumpul jadi satu di sana. Rose tak mampu untuk mengungkapkan semua. Berbagai macam ujian telah mereka berdua lalui.

 

Jamal mengangguk lalu berujar, “kamu berhak bahagia, Sayang.”

 

Pria tua itu menuntun tangan Rose Kamelia dan membawanya pada Abian Pratama yang sudah menunggunya di pelaminan.

 

Bagai seorang puteri di kerajaan, Rose berjalan dengan sangat anggun sesuai dengan alunan musik yang mengiringinya. Gaun pengantin berwarna putih itu menjuntai hingga menyapu lantai. Sambil kedua tangannya berpegangan erat pada lengan Jamal, Rose terus menatap ke depan dengan senyum kebahagiaan yang terus memancar dari wajah cantiknya.

 

Di ujung sana, terlihat seorang pria tampan yang mengenakan jas pengantin berwarna senada dengan Rose. Di samping pria itu, berdiri malaikat kecil yang sangat cantik, Zenia Pratama.

 

Tinggal beberapa langkah lagi, Rose tiba di dekat Abian. Bahkan tangan kanan lelaki itu sudah terulur, siap menerima kedua tangan milik Rose. Sepasang kekasih yang kini sudah sah menjadi suami isteri itu saling bertukar senyum.

 

Tiba-tiba.

 

Jantung Rose berdetak hebat, tubuhnya melemah, pandangannya berkabut. Nafasnya kian memburu. Bayangan terakhir yang ia lihat adalah senyuman Abian yang semakin memudar. Dan seketika tubuh Rose terjatuh, ambruk ke lantai. Abian yang begitu terkejut, langsung mendekati Rose. Dirangkulnya tubuh wanita itu dalam dekapan.

 

“ROSE! ROSE! BANGUN, ROSE!”

 

Abian mencoba menepuk pelan kedua pipi isterinya tetapi gadis itu tetap terpejam.

 

Seluruh mata yang melihat kejadian itu seakan mematung, tak menyangka dengan apa yang mereka lihat.

 

***

Abian menutup pintu kamar lalu memandang kamar pengantin dengan sendu. Kamar pribadi Rose yang disulap menjadi kamar pengantin yang cantik. Harum parfum bunga mawar masih memenuhi ruangan bernuansa putih dan baby pink. Abian memejamkan mata, menghidu aroma yang menjadi kesukaan wanita terkasihnya.

 

Ya, ia bisa merasakan kehadiran Rose di kamar ini, di dekat sini.

 

Abian menghela. Lalu berjalan pelan ke arah deretan buku-buku yang juga punya kenangan antara ia dengan asisten dosen absurd itu. Namun, matanya tertuju pada salah satu buku yang tingginya tidak sama dengan yang lain. Sebelumnya, ia belum pernah melihat buku yang mirip diary itu. Lalu, tangan kanannya menarik buku berwarna pink itu.

 

BUKU RAHASIA

 

Nama buku itu dan tertulis dalam covernya. Karena penasaran, Abian mulai membuka dan membacanya.

--

Hari ini pertama kali aku kerja jadi asdos. Aku seneng banget. Tapi apa kau tahu yang jadi atasanku itu siapa? OMG. Dia itu tetanggaku, Papi Zen. Tampangnya keren seh, tapi nyebelin. Dia itu kaku, dingin plus galak banget. Masa hari pertama aku kerja, dia udah ngasih aku tugas banyak banget. Kesel akutuh...

 

Abian tersenyum, ia ingat dengan kejadian di ruang kerjanya. Gadis itu sangat menjengkelkan. Itulah kesan pertama yang ia dapat.

Lalu, ia mulai membuka halaman selanjutnya.

 

---

Namanya Zen, gadis kecil yang lucu, imut dan ceria. Aku suka sekali dengannya. Aku seperti terbawa pada masa kecilku yang tidak sempurna. Tawa riang Zen, seperti mengobati kerinduanku akan masa kanak-kanak yang seharusnya penuh ceria. Bukan sepertiku yang sering sekali terbaring di rumah sakit. Kasihan ibu sama ayah. Mereka pasti sudah banyak berkorban untukku. Terima kasih karena kalian sudah merawatku dengan penuh cinta. I love you, ayah ibu.

 

Abian lanjut membaca di lembar berikutnya. Kali ini, ia duduk menyandar di atas ranjang.

---

Dosen killer itu mendadak nyuruh aku buat ngajar gantiin dia. Ya Tuhan, tuh orang hobi banget ngerjain orang kali, ya! Trus dia janji buat traktir aku. tapi mana buktinya. Dia lupa apa sengaja lupa. Hadeeh... Pak Abian! Awas kau, ya!

 

Abian tersenyum geli, baca curhatan Rose. Ia bisa membayangkan ketika perempuan itu sedang menulis dengan kesal. Di buku itu juga terdapat gambar karikatur seorang pria dengan dua tanduk di atasnya. Abian bisa menebak itu adalah dirinya.

 

“Rose, aku kangen,” lirih Abian.

 

Lagi, Abian kembali membaca buku rahasia itu walau malam beranjak naik.

 

Apa? Menikah? Mana bisa bapaknya dosen killer itu nyuruh kami buat nikah. Ada-ada aja. mana mau dia nikah sama aku. kalau aku? ya, aku ... jual mahal dikit. Aku punya harga diri.

Ini semua tuh gara-gara cewek yang dateng ke rumah Pak Abian. Aku ngerjain dia, aku bilang aja kalau Pak Abian lagi kena penyakit menular. Malah pak abian yang balas ngerjain aku. dia bilang, biar aku –orang pertama yang akan kena penyakit menularnya. Omg, dia meluk aku, gaes! Dan langsung tertangkap basah sama bapaknya.

 

---

Ya Tuhan, rasa apa ini? hatiku seperti dicubit lihat Pak Abian jalan bareng sama Bu Anita. Mereka nampak terasi, eh serasi. Kalau aku? huwa... aku kok jadi pingin nangis.

Tapi Diary, apa kamu tahu? Tadi sore aku pulang bareng sama dosen killer itu. Dia ngajak aku naik mobilnya. Terus dia pakein aku self-belt. Wajah kami deket banget, jantungku kayak mau copot. Rasanya nano-nano.

---

Tragedi. Ini bener-bener tragedi alias musibah.

Dosen killer itu pegang punya gue. Eh, maksudku, bukan yang itu. Tapi, anu. Eh, buah dada. Ya, itu.

Gara-gara kecoa, aku teriak kencang dan kaget, langsung menubruk Pak Abian di sebelahku.

Dasar modus! Ya, dia pasti modus, pingin megang.

Huwaa...punyaku udah gak perawan!!

 

Sambil tertawa geli, Abian terus membaca lembar demi lembar kisah cinta mereka berdua.

 

---

Akhirnya, jadi juga dia traktir aku makan. Mumpung gratis, aku pesan makanan yang banyak, perbaikan gizi, kapan lagi. Ye kan... tapi, Upz! Perutku, ga bisa diajak damai. Gawat! Dia ngajak ribut di kamar mandi.

Sayang banget, tuh, makanan mahal dibuang. Apa perut aku, ya, emang gak cocok. Hadeuh.. parahnya lagi, pak abian ninggalin aku gitu aja, tanpa pesan dan tanpa pamrih. Eh,

Untungnya udah dibayar. Kalo belum. Awas aja, kau, Pak Abian!

---

Wanita mana yang tak bahagia bisa berdampingan dengan lelaki tampan. Hatiku berbunga seperti ingin terbang melayang.

Dan dari tempat tinggi itu, aku terjatuh ke dasar bumi yangpaling dalam.

Aku menemaninya, pergi ke pertemuan penting malam itu. Pak Abian yang kini menjadi dekan fakultas ekonomi terlihat begitu sempurna. Wajah tampan dengan postur tubuh yang ideal. Di sampoingnya bu Anita yang begitu cantik primadona. Sedangkan aku, hanyalah serang asisten atau pembantu.

Tak sengaja, aku melihat mereka berdua, berdiri di dekat kolam renang. Posisi mereka sangat dekat, seperti sepasang kekasih yang sedang memadu cinta, berciuman. Oh, tidak. Kenapa aku harus melihat adegan menjijikan itu.

Aku berlari sambil menahan tangis dan segera pergi meninggalkan hotel tanpa memberitahunya.

 

Abian terpejam, seperti merasakan sakit yang dialami Rose waktu itu. Tiba-tiba ia merasa menjadi orang yang sangat jahat karena telah menyakiti wanita yang ia cintai. Tak puas membaca sampai di situ, Abian kembali melanjutkan lembar berikutnya.

---

Namanya Fatma Syaqila, cantik seperti orangnya. Untungnya, sifat perempuan itu tidak seperti Anita yang jutek, galak dan nyebelin. Dia baik hati dan juga ramah. Tentu saja, dia adalah pesaing baruku.ya, pesaing terberatku.

---

Tubuhku kembali melemah. Ya Tuhan, apakah ini sudah waktunya aku menghadapmu? Aku kembali melanjutkan check-up ke dokter. Katanya, donor sumsum tulang belakang yang pernah aku terima sudah tidak kuat lagi. Dan waktu hidupku di dunia ini sudah tidak lama lagi.

---

Abian kembali membuka lembaran demi lembaran tapi tak ditemukan curhatan Rose seperti tadi. Raut wajahnya mulai cemas. ‘Hanya sampai disitu kah ia curhat tentang aku? padahal kan banyak.’ Abian menggerutu. Seharusnya ada coretan lebih banyak lagi agar ada bukti kenangan yang tertinggal. Jadi, ketika rindu menyerang, ia akan bukan buku diary ini.

 

Abian pasrah. Lalu, ditutupnya diary berwarna pink itu dengan hampa. Namun, sekilas ia melihat ada tulisan di bagian akhir dari buku diary itu. Langsung saja Abian membuka dan membacanya. Benar, ini tulisan tangan Rose. Tapi kenapa ditulis di halaman terakhir?

 

 

Aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia ini karena mendapatkan pria sebaik dirimu, Pak Abian. Sebentar lagi, kau dan aku menikah. Hidup bahagia dalam satu rumah.Itu adalah impianku.

Terima kasih telah mencintaiku.

Terima kasih telah menerima kekuranganku.

Maafkan aku yang tidak bisa selalu berada di sisimu.

Maafkan aku yang selalu merepotkanmu.

Maafkan aku yang membuatmu jatuh cinta padaku.

Tetaplah tersenyum, Pak Abian. Karena senyummu itu adalah matahari bagi orang-orang terdekatmu.

Berjanjilah kau akan tetap tersenyum dan hidup bahagia, demi Anyelir, demi Zenia dan demi aku.

Cintaku memang tidak sempurna, tapi ketulusanku mampu meniadakan ketidaksempurnaan itu.

I Love you.

 

Abian memeluk buku diary itu sambil berurai. Rasa sakit akan kehilangan itu kembali hadir dan begitu nyata.

 

“Rose, I promise.”

 

TAMAT.

 

Gimana manteman? Semoga suka endingnya. Baca part ini sambil dengerin lagu Ost. Winter Sonata, pas banget. Huwaa...

Makasih, ya..

Mungkin saja kamu suka

Ika Mulyani
Senang Terakhir
Dhini Afiana
Haunted
Jifaziyah
NAVISHA
Puja Ayu Ragita
LUKA DI MASA TUA
Mita Mulyani
Petang dan Senja

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil