Loading
10

1

30

Genre : Romance
Penulis : Mukaromah
Bab : 30
Dibuat : 17 April 2022
Pembaca : 3
Nama : Mukaromah
Buku : 1

Harapan diatas Cinta-Mu

Sinopsis

Satu detik dalam hidup ini begitu berarti jika tak terlewat bersama angin malam yang menggelitik hati untuk terus mengharap dalam untaian doa pada-Nya. Doa yang mungkin semua orang panjatkan ke langit. Berharap menembus angan-angan dan terwujud di dunia ini. Dara tertunduk lemas di atas sajadah merahnya. Butiran air mata dan isak telah kering di makan waktu. Ia kecewa, tetapi tak lagi berguna. Kesadarannya semakin pulih berkat adanya bimbingan dari seseorang yang terus berusaha mendobrak kekosongan hatinya. Namun, respon Dara mengejutkan. Tak sepenuhnya kosong. Hatinya terisi kuliah-kuliah nyata secara tidak sadar ia lihat, rasakan ketika melihat teman sebayanya yang menikah muda tak bertahan lama. Ia mengingingkan suatu hal lumrah. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Di usianya yang menginjak kepala tiga, membuat telinganya semakin keras mendengar cibiran. Nasehat-nasehat diberikan padanya, tetapi sama sekali tak dianggap. Ia hanya berprinsip lelaki yang berjodoh denganya, akan datang dengan kabar kebaikan. Walau, seumur hidup tak pernah dirasakannya manis perhatian seorang kekasih. "Kalau memang berjodoh semua kan berjalan lancar sampai pernikahan atas kehendak Tuhan." Kira-kita begitulah kalimat yang selalu terdengar dari bibirnya tatkala para tetangga bertanya, kekasihmu orang mana, bekerja dimana, dan kapan menikah? Tidakkah koyakan itu menyakitkan? Tetiba tangisnya berhenti. Ia menurunkan kepala bersujud pada Tuhan tempat menggantungkan segala harap. Tempat yang tak pernah memberikan kekecewaan. Hatinya yang lemah, mendadak kuat dan tenang. Seperti itulah, Dara menenangkan pikiran yang terombang-ambing oleh cinta di dunia. Setiap hari, Dara pergi ke sekolah untuk membagi pengalaman kepada siswanya. Tuhan Maha Adil memberikan pekerjaan kepada setiap makhluk-Nya. Keberhasilannya dalam dunia pendidikan sedikit mampu menghilangkan penat berkutat dengan topik percintaan, walau hanya 5%. Entah, dunia mereka hanya seperti terisi pembicaraan tak penting. Apakah ini namanya bullying? Pernikahan bukan sebuah permainan. Tanggung jawab besar menunggu untuk dipikul. Persiapan mental lahir dan batin kedua mempelai harus maksimal. Mungkin, calon teman hidup Dara belum memiliki kesiapan yang matang, baik dari segi materiil atau immateril. Wallahu a'lam.
Tags :
#SarapanKata

Satu

1 1

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 401


Dara duduk kursi taman belakang rumahnya. Kebetulan kompleks perumahan Dara sangat padat penduduk, pun bangunannya. Orang-orang banyak bergerombol di persimpangan jalan sembari menunggu tukang sayur datang.

Dara tersenyum manis sembari membuka lembaran buku di tangan. Tangan kanannya dengan lembut menorehkan berbait-bait aksara berisi penguatan dan pandangan mata yang mengarah pada seorang bayi. Bayi laki-laki itu ditaksir masih berusia satu tahun. Ia berlari mengejar kawanan anak lainnya yang tengah bermain petak umpet. Beberapa diantaranya berteriak memanggil nama Dara dengan sebutan, Bu.

Tetiba Dara melempar buku dan pensilnya. Ia berlari kearah bayi itu dan menggendongnya ke tepi jalan. Bayi itu menangis, meraung akibat luka kedua lutut yang jatuh tersungkur di jalan.

"Hei nak, who is your name?", tanya Dara kelepasan menggunakan bahasa asing. Dara kembali memeluknya setelah sempat menatap wajahnya yang menyedihkan.

"Oke, mari kita ambil minum untukmu!", entah perasaan apa dalam dirinya. Ia bahkan tak mengenal sosok bayi mungil ini. Dara jarang sekali berinteraksi dengan bayi sebab kakak-kakaknya yang telah menikah jarang pulang ke rumah akibat perbedaan pulau.

"Ibu! Ibu! Ibu!", bayi itu bersuara. Dara menurunkan gendongan. Bu Ita datang membawa segelas air putih dan beberapa peralatan untuk mengobati luka si kecil.

"Siapa ibumu, nak?", Dara tersenyum sembari memegang pundaknya. Ia membantu bayi itu minum air dari gelas. Bu Ita dan Dara tertegun. Bayi itu seperti sedang mencari sosok yang sering orang panggil dengan ibu. Sesaat kemudian, ia berlari dan memeluk kembali Dara. Bu Ita tersenyum sembari mengusap kepala bayi dan jilbab Dara.

"Bayi aja tau lo kalau kamu sudah waktunya jadi ibu!" ledek Bu Ita. Dara merengut dan berdiri menghadap sang ibunda.

"Calon mana calon, bund?" Dara menjawab bundanya dengan pertanyaan pula.

"Coba kamu keluar, pasti akan ketemu.", ucap bu Ita mengarang, kemudian pergi meninggalkan Dara dan bayi itu sendirian.

"Bunda, ini bayi bagaimana?"

"Coba cari diluar, sayang. Mungkin mereka sedang mencari." Dara melangkah keluar pintu. Ia merasakan hembusan angin tak biasa. Napasnya tersapu lembut oleh ujung jilbab yang berkibar. Bayi ini tertidur pulas di pundak Dara. Gadis cantik dengan sejuta pesona. Tetapi, kenapa dia tak memiliki pasangan?

Dara melihat banyak orang di sekitar rumahnya, sembari meneriaki "Lana". Ia mendekati salah seorang dan mulai bertanya. Dan ternyata bayi inilah yang dicari.

"Bagaimana bayi ini ada bersamamu?", tanya seorang wanita paruh baya. Ia kemudian meraih bayi itu. Tetapi sungguh naas, bayi ini tak mau melepaskan pelukan Dara. "Nak, ini putramu!", karena sang bayi tak mau diambil, wanita itu memanggil orang tua bayi.

user

17 April 2022 17:51 Salisatur Rosikhoh Waiting for the next part ????

Dua

1 1

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 723

"Lana!", ucapnya lembut. Telinga Dara seolah mendengar hembusan surgawi. Matanya kabur tertutup asap bekas pembakaran sampah di rumah sebelah. Tubuhnya kaku tak dapat bergerak.

"Dara, ada apa denganmu?", tanya wanita itu.

"Ah tidak bu, mata saya terasa pedas. Asap itu benar-benar sukses membuatku hampir kesulitan bernapas." jawab Dara. Ia mengambil posisi membelakangi wanita itu.

"Nak, Lana ternyata aman bersama nak Dara." ujar wanita itu pada seseorang. Dara masih sibuk mengucek matanya yang pedih. Telinganya mendengar suara bariton sedikit serak.

"Ya Allah, ayah mencarimu sayang." ujar pemilik suara bariton. Dara membalikkan badan dan tak sengaja menyenggol tangan pria itu.

"Maafkan saya." Dara mendesis sembari menelangkupkan kedua tangan.

"Saya yang harus berterimakasih, karena mbak sudah menolong putra saya." ucapnya. Lagi-lagi di telinga Dara seperti berhembus angin sedap. Ia mengangkat wajahnya dan tersipu menatap pria itu tersenyum.

"Tak apa." ujarnya dengan grogi. Ia memberikan Lana pada sang ayah. Tetapi, bayi ini menolak. Ia tetap ingin dalam gendongan Dara.

"Kalian cocok!" Wanita paruh baya itu beringsut pergi meninggalkan mereka bertiga. Kedua insan itu tersipu. Sebelumnya, wanita itu berkata bahwa pria ini adalah pendatang. Dia hanya tinggal bersama putranya. Pria yang tampan. Postur tubuh tinggi dengan dada sedikit kekar. Tubuhnya tak begitu berisi tetapi cukup terlihat atletis. Ia berpakaian layaknya anak muda yang masih mencari cinta.

Astaga! Apa yang ada pikiran Dara. "Suami orang ini mah", batin Dara menyadari suatu hal. Tetapi kemudian ditentang oleh keadaan mengapa hanya tinggal berdua bersama putranya saja.

"Biar saya antar saja. Sekalian silahturahmi dengan ibunya." ucap Dara. Ia membopong Lana dan melangkah diiringi pria itu.

"Raihan", gumam pria itu sembari tersenyum menatap Dara yang bingung hendak memanggilnya siapa.

"Dara." jawab Dara. Ia menaksir usia pria ini tiga tahun diatasnya persis. Tak bisa dipungkiri, ia menikmati ketampanan pria itu.

Sesaat kemudian keduanya sampai di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Sepanjang jalan, pria itu bercerita tentang kehidupannya tanpa sungkan. Ia seolah menganggap perempuan disampingnya adalah teman yang lama tak dijumpainya.

"Oh mas Raihan, maaf saya sampai sini saja. Salam buat istri mas ya.", kata Dara sembari menyerahkan Lana. Pundaknya terasa nyeri pegal. Tetapi dia harus terbiasa dengan itu, sebab tak ada yang tau masa depan. Dara juga akan memiliki anak.

"Terimakasih mbak Dara." jawab pria itu.
Dara melangkah kembali ke rumah. Ia menelisik perasaan dalam hati. Ada air sejuk mengalir. Ada matahari bersinar tanpa menyengat. Ada tetesan hujan yang tak membasahi. Ada pula kumpulan salju yang menutupi permukaan hati. Perasaan yang belum sekalipun ia rasa.

"Dia sudah beristri, Tuhan." desisinya. Bu Ita dan suami mendengar celetuk gadis bungsunya.

"Ayah dengar lo nak. Siapa itu?", tanya sang ayah.

"Orang baru, yah. Tetapi kenapa ya Dara seperti merasa beda gitu. Teman Dara laki-laki banyak, tetapi ini beda."

"Itu tandanya Allah mengabulkan doamu selama ini.", celetuk bu Ita.

"Hush bunda jangan sembarangan. Itu orang punya istri.", jawab Dara sedikit terdengar ketus.

"Tuhan Maha Membolak balikkan hati, nak. Kalau memang pria itu jodoh putri ayah, pasti nanti akan datang kemari memintamu baik-baik.", nasehat ayah begitu menenangkan. Bahkan Dara sendiri perasaan itu apakah benar atau sekedar nafsu semata.

Malam menelisik ke setiap penjuru rumah. Kamar Dara dihias beberapa daun plastik yang menempel di dinding. Bergoyang diterpa angin malam. Dara terkesiap duduk di ranjangnya. Menatap langit-langit kamar yang berwarna gelap. Hatinya berbedab hebat. Matanya tak terasa menitikkan air mata. Ia menatap kearah jam dan bergegas bangun.
Dara duduk diatas sajadah merah. Mukena berwarna hitam miliknya menambah aura suci dalam dirinya. Ia melantunkan ayat-ayat suci dalam Al-Quran sembari menunggu adzan subuh. Matanya mulai rabun. Kantuk menyerang kedua pelupuk mata, dan akhirnya ia tertidur.

"Dara, tunggu aku." kata seseorang di depan pandangan matanya. Tetapi begitu jauh sehingga terlihat samar.

"Siapa kau?", teriaknya. Dara mencoba lari mengejar sosok itu. Beribu langkah ia lewati. Sosok itu semakin jauh. Menembus asap yang entah dari mana. Tanah ini luas tak berbatas. Tak ada apapun dan siapapun disini, kecuali Dara dan ...

"Ibu.", suara itu terdengar tidak asing. Dara menoleh ke belakang dan terlihat sosok Lana, bayi yang ditemukannya tempo hari.

"Hai bagaimana kau berada disini, nak?", Dara berusaha mendekat dan menyentuh jari mungilnya.

Dara mengerjap dan bangun mendengar adzan subuh. Tuhan merencanakan apa untuk dirinya. Ia tak mengingat dengan jelas mimpinya itu. Hanya sesesok pria berbaju putih meminta untuk menunggu. Lalu, bayi itu?

"Daraaa!", teriak bu Ita. Pintu kamar digedor sudah beberapa kali. Dara beranjak dan lari menuju kamar mandi untuk ambil wudhu.

"Iya bunda."

user

18 April 2022 18:19 Salisatur Rosikhoh Satu, dua ... tiganya besok yeay!

Tiga

1 1

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 470 

Matahari menyapa membawa semangat baru. Raihan tinggal bersama ibu dan putranya. Entah kemana istrinya pergi. Ia peegi membawa luka mendalam. Keinginannya untuk menjadi kaum elit membinasikan kasih pada si kecil. Beberapa minggu ia pergi mencari cinta dari pria kaya raya. Hingga akhirnya, Raihan memutuskan pindah agar kenangan itu bisa sedikit lenyap. Segala keperluan dia siapkan sendiri. Ia tak lagi mau menjadi beban bagi ibunya yang sudah renta. Menitipkan putranya saja terasa begitu merepotkan, walau tak pernah dikata.

"Sarapan dulu, bu! Biar Lana bersamaku dulu." Raihan meraih putranya dan berjalan keluar. Ia mengajak putranya berkeliling kompleks. Ia juga memastikan keadaan perempuan itu. Walau baru saling mengenal, Raihan merasa dia orang yang baik. Terlebih ketulusannya kepada Lana.

"Assalamualaikum, Mbak Dara." sapanya. Dara terlihat mengenakan pakaian batik berwarna dasar merah. Wajahnya nampak berseri dibalut hijab merah hati.

"Waalaikumsalam, lagi jalan-jalan ya, Mas Raihan." jawab Dara sembari berusaha mengeluarkan motornya. Lana turun dari gendongan ayahnya dan berlari. Ia memeluk kaki Dara sebelah kanan. "Hei, ada apa, Lana?" tanyanya.

Dari kejauhan nampak seorang wanita cantik dengan busana terbuka berjalan mendekati Raihan. Ia berjalan lambat sebab sepatu high heels yang menjulang tinggi. Tumitnya seperti menara yang meninggalkan jemari. Rambutnya terurai dengan variasi warna pirang. Modis dan menarik perhatian kaum adam. Raihan tersentak dan meraih putranya.

"Maaf mbak, silahkan. Saya permisi dulu." Raihan beringsut pergi membawa putranya pulang.

"Mas! Tunggu aku." teriak wanita itu. Raihan melajukan langkah semakin cepat. Ada perasaan ganjil dalam dirinya. Kekecewaan yang luar biasa tak lagi mampu membuat wanita itu kembali ke sudut hatinya.

Dor
Dor
Dor

Wanita itu menggedor pintu kasar. Teriakannya menyudutkan Raihan dalam posisi tak beruntung. Banyak warga datang mencari sumber suara. Mereka terkejut, karena sama sekali tak mengenali wanita itu.

"Siapa kau?"

"Aku Nia, istri Mas Raihan!" jawabnya ketus. Karena iba, warga kemudian membantu Nia agar bisa masuk ke dalam rumah. Beberapa menit mereka membujuk Raihan dan akhirnya membuka pintu.

Raihan duduk di kursi tamu bersama Nia, istrinya. Ia memangku kepala dengan tangan kanan yang bersandar pada kursi. Sedangkan Nia duduk di depan samping kiri sembari membenahi penampilannya. Wanita ini memang cantik, tetapi cantik fisik tak selamanya. Keabadian hati yang lebih utama. Telah berpuluh kali, Raihan mengingatkannya.

"Apa maumu?" Raihan membuka suara. Setelah sekian menit keheningan menggerogoti suasana rumah.

"Aku ingin kau tanggung jawab, Mas!"

"Apa maksudmu?"

"Aku hamil anakmu. Adik dari Lana." jawab Nia ketus. Ia seolah sudah benci dengan lingkaran rumah tangga bersama Raihan. Hanya sebab kehamilannya.

Raihan terkejut. Telah lama ia meninggalkan serpihan hati bersama buah hatinya. Bagaimana hatinya terluka tetapi bisa begitu percaya akan kalimat istrinya. Talak yang sudah dijatuhkan tempo lalu tak lagi berlaku jika memang si wanita hamil. Hamil anak Raihan? Ada perasaan bahagia, tetapi rasa sakit itu, mungkin sedikit harus ditepis. Ia tak boleh mementingkan ego daripada kesadaran akan kasih-Nya. Raihan hanya meminta pada Tuhan, agar memberikan jalan yang terbaik untuk hidup.

user

22 May 2022 06:34 Salisatur Rosikhoh Baru ngeh kalau suara gedor pintu itu, 'Dor!' :D

Empat

1 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 724

Dara beringsut pergi ke sekolah dengan berpura-pura tak melihat kejadian yang ada di depannya. Pertanyaan-pertanyaan muncul di benak dan meluap-luap. Perasaan apa ini? Dara sendiri tak mengerti. Ia merasakan matanya gelap seketika. Langkahnya melemah. Ia tersungkur di kursi di ruang kerja.

"Dara, kau tak apa?", tanya seseorang dari balik punggungnya.
"Iya ustadz, tak apa hanya sedikit pusing." Dara membetulkan posisi duduknya dan mulai mengerjakan tugas-tugas.
"Oh ya, Dara boleh saya main ke rumah?" tanyanya. Pria yang akrab disapa Ustadz Attar itu berucap sesuatu yang membuat penat Dara hilang. Gadis itu terpaku tak mampu berkata. Wajahnya pucat pasi. Ia seperti baru mendapat omelan dari atasan.
"Ustadz mau main ke rumah?", gumamnya. Ia terdengar begitu grogi.
"Iya. Sore ini bisa? Sekalian mau silahturahmi." ucap Ustadz Attar.
"Iya tadz", Dara tak mungkin bisa menolak. Bagaimanapun Attar adalah atasan sekaligus Ustadz yang biasa ia dengar setiap kalimat ceramahnya.
Malam itu adalah puncak dari segala macam rasa. Jantung Dara berdebar keras sembari menampilkan semburat bunga-bunga kecil. Senyum di wajahnya tak henti merekah. Ia mengingat sebuah kalimat manis dari Attar kepada ayahnya. Sikap santun dan keseriusannya berhasil meluluhkan hari keluarga Dara. Mungkinkah ini jawaban atas segala doa diatas sepertiga malam?
"Tuhan tidak kira-kira." gumamnya. Merasa tak pantas bersanding dengan pria seperti Attar. Seorang penghafal Al-Quran dan ustadz yang teramat disegani. Pintanya hanya seorang yang fahmi , tetapi Tuhan memberi yang keindahannya tak terdefinisi.
"Senyum terus si cantik!" cubit sang bunda. Dara tertawa dan memeluk bundanya.
"Terimakasih, Bunda. Pemberian Tuhan kali ini adalah yang lama kita tunggu."
"Iya selamat, Nak. Semoga kamu bahagia selalu." Bu Ita meninggalkan putrinya yang masih berkutat dengan kemekaran hati. Beberapa bulan mereka berkenalan, kemudian dijodoh-jodohkan rekan sejawat, lalu sekarang -
Keberhasilan dan keindahan takdir tercipta murni dari Tuhan. Bukan sebab itu, manusia tak wajib berikhtiar. Doa terpanjat atas harap-harap yang orang lain anggap semu dan hampa, biar saja. Walau kini hanya mampu bermimpi, jalani saja. Siapa yang tau keadaan saat nanti terbangun?
Kabar itu santer menyebar ke penjuru desa. Bahkan lubang-lubang tikus pun turut mendengar jeritan kawanan burung yang tengah bergembira. Mereka menanti hadirnya kisah baru seorang gadis yang lama menunggu dijemput kekasihnya. Acara pertunangan dihadiri keluarga besar juga kawan. Tak ingin menunggu lama, Ibu Attar memasangkan cincin pada jari manis Dara. Tepukan tangan menggema seantero ruangan. Beberapa pasang mata menitikkan air dari pelupuknya, selfi-selfi, makan, ngobrol dan lainnya. Sementara Dara hanya berani mencuri pandang pada pria di depannya. Attar melempar selembar kertas padanya.
"Sungguh, Tuhan begitu indah menciptakanmu!" Dara tersenyum menampilkan sederet gigi. Ia tersipu menyaksikan kalimat dari bakal teman hidupnya.
Attar merasakan mabuk cinta pada gadisnya. Keindahan akhlak turut menghias seri wajahnya. Sore itu mereka bertemu di pinggiran danau dekat rumah Dara. Untuk berkomunikasi dari hati ke hatinya. Dara ditemani keponakannya menunggu kehadiran Attar. Mereka duduk ditepi danau sembari menenggelakan kaki.
"Dara!" gumam Attar dari balik pohon. Dara terksiap dan menutup kakinya. Ia tak mau seorang laki pun melihat auratnya.
"Waalaikumsalam, Ustadz."
"Ah iya. Assalamualaikum." Attar terlihat malu. Ia menata posisi duduk sejajar dengan gadis di sampingnya. "Jangan panggil ustadz lagi sekarang." lanjutnya.
"Lalu?"
"Panggil seperti calon suami pada umumnya. Kangmas, Mas, Kakak, atau Sayang?" keduanya tertawa. Si kecil anak dari abang Dara asyik bermain ponsel. Tak mengerti apa yang kedua insan ini bincangkan.
"Inggih, Ustadz. Eh maksudnya, Mas." bukannya bahagia, Attar justru tertawa. Katanya terdengar geli.
"Dara, aku ingin memberimu ini. Sebagai hadiah pertama dari pria yang teramat mengagumi jndah ciptaan Tuhan. Kumohon terimalah." ucap Attar sembari memberikan selembar jilbab pada Dara. Berbentuk segiempat dengan motif bunga yang menawan. Warna biru, dengan kombinasi merah muda. Dara tersenyum dan memegang kotak hadiah itu. Bertanya mengapa sekarang?
Attar menatap langit. Percikan air memuncrat keatas ketika sebuah kerikil dilempar olehnya. Ia sedang merangkai kata, untuk menyampaikan isi hati dan rasa cinta pada si gadis cantik. Tak ada penglaman dalam urusan macam ini. Tak ada pembelajaran khusus, atau metode untuk bisa memgatakannya. Hanya segelintir ejekan sahabat yang berujung tutor bagi Attar. Sungguh, ia lebih memilih menyebur danau daripada begini.
"Em em ... " masih grogi. Ia melihat catatan kecil di tangan kanannya. "Dara, mmmmph. Aku."
"Ada apa, Mas?"
Jantung Attar mencelos mendengar sapaan berbeda dari Dara itu. Tetapi ia tetap memasang raut wajah profesional. Walau hatinya berteriak dan borjoget mesra. "Aku cin - " ia berhenti lagi.
"Cin - ?"
"Aku cinta kamu." akhirnya satu kalimat itu keluar. Attar segera memalingkan wajah. Takut terlihat grogi dan malu

Lima

1 3

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata
- PR

Menggelitik alam semesta. Mempesona keindahan corak Indonesia. Tak sedikit pun nampak mendung oleh kawanan kabut. Beberapa diantaranya lenyap sebelum menyelimuti dunia. Tersisa satu, rasa khawatir pada setiap hati manusia. Tinggal sedikit saja. Namun waktu tak lagi bisa menunggu. Attar harus terbang ke Yaman guna memperdalam lagi ilmu. Ia memilih negeri Yaman sebagai labuhan adalah sebab tanahnya para ulama besar dan kampungnya Dzuriyyah Rasulullah atau anak keturunan Rasulullah. Yaman terletak di semenanjung Arab, Asia Barat.
Di negara Yaman, terdapat sebuah larangan untuk memfoto wanita. Hal ini karena dianggap tidak sopan atau tidak menyenangkan. Para wanita pun tidak sekali pun diperbolehkan meninggalkan rumah tanpa izin dari suaminya meski dalam keadaan darurat.
Kemulian wanita terjaga di negara itu. Tak mengejutkan apabila para Dzuriyah Rasulullah banyak menetap disana. Attar menimba sumur ilmu di Tarim, Hadramaut, Yaman. Sebuah wilayah dimana terdapat sosok karismatik bernama Habib 'Umar bin Hafidz. Attar mendapat kesempatan itu, tatkala Sang Habib 'Umar berdakwah di Indonesia. Sebuah tiket berhasil ia dapatkan dengan cuma-cuma.
"Apakah kau mengizinkanku?" desisnya. Attar menposisikan diri sejajar dengan Dara. Ia memperhatikan sekilas wajah gadis itu. Terlihat murung.
"Bagaimana bisa diriku tidak mengiyakan?" ucapnya sembari memaksakan sebuah senyum.
Attar berkecil hati. Ia merasakan kesedihan gadis itu. Sebenarnya, ia berniat mengajak Dara turut serta. Tetapi apalah daya? Dara belum halal baginya. Tak mungkin ia membawa gadis tanpa ikatan pergi bersama.
"Maaf!"
"Tidak. Mas Attar belajar ilmu agama disana. Aku akan tetap disini. Menunggumu kembali." kali ini senyum Dara tampak tulus. Ia sadar betul tak seharusnya bersedih melihat bakal teman hidupnya hendak menuntut ilmu. Kesempatan inipun jarang didapat. Maka, tak sepatutnya ia menunjukkan ekspresi sedih pada Attar.
Sesampainya di rumah, Dara melemparkan dirinya keatas ranjang dengan posisi telungkup. Ia meraung sejadinya. Wajahnya ditetapkan pada bantal, sehingga tak satu pun mendengar jeritan suara pun hatinya. Tak sanggup ia menyembunyikan kesedihan. Rencana pernikahan itu mungkin akan tertunda lebih lama. Oleh sebab, Attar akan kembali kurang lebih satu tahun. Belum pasti.
Attar menyerahkan satu tas kepada Dara sebagai hadiah kedua darinya. Berisi beberapa benda penting yang di simpan Attar sekian lama. Ia pernah berjanji akan memberikan benda-benda itu kepada calon pendamping hidupnya. Dara membuka tas itu dan mengeluarkan satu benda.
"Apa ini?" gumamnya. Selembar kertas berisi puisi. Kertas usang berwarna kecoklatan dan telah sobek-sobek. Ada sebuah coretan titi mangsa bertanggal 12 Desember 2015. Tujuh tahun berlalu dan masih bisa terbaca jelas. Berjudul "Kau dan Sejuta Rasa".
"Baca di rumah saja." ucap Attar menegaskan agar ia kembali fokus pada situasi saat ini. "Aku hanya ingin mengatakan, tolong tunggu aku."

user

21 April 2022 22:23 Salisatur Rosikhoh Semoga jadi satu

user

21 April 2022 22:22 Salisatur Rosikhoh Karena akan ada benda atau hal-hal yang bisa menarik kita pada ingatan masa lalu

user

21 April 2022 22:21 Salisatur Rosikhoh Kata Kak Bee alias Kak Farahvia kita harus siap menghadapi apapun

Enam

1 1

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 712

"Sayang!" teriak Nia meminta Raihan datang membawakan makanan. Semenjak kedatangannya, tak sekali pun ia membantu pekerjaan rumah. Dalih sakit perut, mual atau lainnya. Ya, semua hanya dalih. Faktanya ia sering sekali keluar rumah tuk sekedar belanja sehelai pakaian. Pakaian milik pribadi, dengan model mini edition.
"Jaga Lana sekalian." ucap Raihan sembari melipat beberapa helai baju hasil jahitan ibunya. Kemudian membawanya pergi keluar untuk diantar kepada pemiliknya.
Nia melirik kearah Lana, putranya. Ia menyuapkan beberapa pulukan nasi ke dalam mulut kecilnya. Hambar, tanpa lauk sedikit pun. Paha ayam goreng disantapnya sendiri tanpa iba pada anaknya. Oleh sebab itu, sang anak memuntahkan nasi dari mulutnya. Nia melotot tajam. Piring di tangannya di lempar ke lantai hingga berkeping. Terdengar tarikan napas Lana. Ia berlari keluar rumah sembari menangis memanggil ayahnya. Ibu Raihan mendengar itu langaung berlari dari dapur.
"Ada apa, Nak?" tanyanya. Ia terkejut melihat piring dan nasi berserakan di lantai.
"Cucu ibu, menumpahkan semua ini." gerutu Nia. Ia menyuruh ibu mertuanya untuk membersihkan lantai agar tak terlihat oleh Raihan nanti.
"Iya, Nak." sang ibu menahan amarahnya. Tak begitu saja percaya akan kalimat wanita sarkas itu.
Lana menyusuri jalanan kompleks. Anak laki-laki berusia satu tahun lebih itu menerobos kawanan emak-emak sang tukang sayur lovers. Mereka dibuat bingung melihat tingkah Nia yang justru bersantai dengan ponsel. Salah satu diantaranya berteriak untuk sedikit waras demi anak. Tak ada respon. Ia masih fokus berjalan santai sembari menscroll media sosial.
"Ibu!" Lana melihat seorang wanita membungkuk di balik bunga-bunga bermekaran. Ia lantas berlari kearahnya. Beruntung, jalanan kompleks sedang tak padat. Ia memeluk kaki wanita itu.
"Nak, lama tak berjumpa denganmu. Bersama siapa?" wanita itu menggendong Lana sembari mengusap butiran air matanya. Ia meletakkan teko air untuk menyirami tanamannya.
"Dara, bayi itu lagi?" tanya Bu Ita. Wanita itu adalah Dara. Dara yang selalu dipanggil ibu oleh Lana. "Kau mau menikah ya. Ingat!"
"Iya bunda. Dara dengar ibu anak ini sudah kembali. Katanya hamil." jawabnya ketus.
Dara menyuapkan beberapa potong buah pada anak itu. Ia tersenyum hangat menikmati manisnya buah bersama. Sesekali ia meringis sebab jemari yang digigit. Tak begitu terasa sakitnya, hanya meninggalkan nyeri sesaat. Ia merogoh saku mengambil ponsel. Tak ada notifikasi sama sekali. Beberapa bulan berlalu, semakin sibuk dia yang disana. Tuk mengabari pun kadang tak sempat.
"Ayah!"
Dara terkesiap bangun dari lamunan. Anak itu merengek mencari sang ayah. Ia mendengar kasak kusuk di depan rumah. Ada suara seorang wanita terdengar keras menggelegar. Ia lantas membuka pintu keluar. Semua pasang mata tertuju pada Dara dan seorang anak di gendongannya. Wanita itu menunjuk-nunjuk kearah Dara sembari mengatakan bahwa anaknya telah diculik.
"Dia datang sendiri padaku." Dara berusaha membela dirinya.
"Alah tidak mungkin. Ibu-ibu ini perempuan suka sama suamiku. Makanya anakku jadi sasaran buat mendapatkan bapaknya." wanita itu terus saja mengatakan kebohongan.
"Ti -
Dara tak sempat membela diri lagi. Para tetangga justru termakan fitnah dari wanita itu, yang tak lain adalah Nia. Parasnya yang cantik dan nampak lugu, menjadi senjata mempengaruhi. Terlebih perut buncitnya yang kian membesar.
"Calon suaminya di luar negri, eh malah selingkuh. Ya Ampun." Begitu salah seorang menyindir. Dara tak sekali pun menitikkan air mata. Ia hanya geram, tetapi mampu meredam. "Dasar pelakor." timpal yang lain. Dara menelan ludah. Kata sarkas seperti itu tak patut dilontarkan terlebih di kalangan kompleks yang padat akan anak kecil. "Jangan-jangan dia sudah hamil." Kalimat ini terdengar jelas di telinganya.
"Kalau kalian tidak percaya, akan kubuktikan siapa yang benar." Dara menyerahkan Lana kepada Sang Ibu. Benar saja, anak itu enggan merengkuh badan ibunya sendiri. Ia masih tetap erat memeluk Dara. "Kalian lihat sendiri. Siapa yang benar dan yang berkata bohong?"
"Anak itu mungkin saja kan hasil perselingkuhanmu!" ucapan itu benar-benar menohok. Bu Ita mendengar dan membela putrinya. Tak terima dihina seperti itu.
Tetiba Raihan dan ibu-ibu yang melihat Lana jalan sendiri datang sebab mendengar para tetangga rumahnya bergunjing tentang dirinya, Nia, dan Dara. Kabar burung tentang perselingkuhan itu. Ia membawa beberapa foto sebagai bukti bahwa Lana adalah anak darinya dan Nia. Untuk membuktikan bahwa Dara adalah gadis baik dan tulus. Ketulusannya yang membuat Lana memilih dia, bukan ibunya. Efek kehamilan kedua ini, kemungkinan yang membuat istrinya merasa selalu cemburu dengan siapa pun itu. Semua orang mulai mengerti. Akar permasalahannya adalah pada Nia. Bagaimana mungkin seorang anak yang lahir dari rahimnya sendiri, enggan memegang tangan. Ini sebuah keanehan. Raihan menarik Nia dan putranya untuk kembali ke rumah. Ia malu sebab keonaran itu hampir saja membuat citra orang jatuh.

user

22 April 2022 07:40 Salisatur Rosikhoh Aroma pelakor terdeteksi kuat :-!

Tujuh

1 1

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 440

Dedaunan bergoyang mendengar senandung rindu dari gadis berhijab merah hati. Secercah harapan menanti di musim semi. Pintu-pintu kebahagiaan terbuka menyambut gemerlap dunia. Ada sepasang sepatu berjejer rapi menanti sang pemilik. Ia keluar dan pergi beraktifitas seperti biasa.
"Astagfirullah!" gumamnya. Ia terduduk lemas menyaksikan siaran televisi di kantor. "Tidak mungkin." tangisnya pecah. Beberapa rekan mendekati dan turut berduka atas kejadian tersebut.
Dunia terlalu sering mempermainkan terlebih mengecewakan. Tetapi, tuk pengharapan pada Tuhan bukan begitu? Tuhan menyimpan sejuta hikmah di balik pemberian ujian. Pundak manusia pasti kuat menghalau itu, sebab Tuhan Maha Adil. Semangat hidup tinggi dan kekuatan mental dibentuk dari pemberian bermacam ujian pada manusia. Terlebih jika manusia tetap bersabar, tentu kan menggapai kenikmatan kelak.
"Kamu sabar ya, Dar." beberapa rekan meneguhkan hati sahabatnya ini. Dara memejamkan matanya. Mengingat pesan yang terakhir ia terima dari Attar. Bahwa ia selalu berkata agar Dara tetap menunggu kedatangannya. Hatinya terasa remuk berkeping-keping. Berita terkini dari televisi membuat seorang gadis lemah terkulai. Beberapa panggilan telepon masuk, tak digubris.
Berita terkait sebuah pesawat yang jatuh di Samudra Hindia. Bangkai pesawat beberapa ditemukan. Petugas belum menyampaikan jumlah korban jiwa dari kecelakaan maut itu. Informasi sementara bahwa kemungkinan tak ada satu pun yang selamat, mengingat bentangan Samidra yang luas. Timsar masih terus menyusuri sampai titik darah penghabisan.
"Sabar ya, Dar!" batin Dara terkoyak. Ia hanya menatap jendela setelah beberapa saat duduk di kursinya. Berharap Attar datang membawa selembar puisi sambungan dari puisi lamanya. Ia menangis menderu sampai terasa sesak dalam dada. Beberapa orang lain pun merasakan hal sama, oleh sebab anggota keluarga yang terbang bersama Attar.
Dara merasakan sesak luar biasa. Air matanya mulai mengering. Kemudian rasa pusing menyerang. Ia tersungkur di meja kerjanya berpangku tangan kanan. Matanya terpejam rapat, tak mendengar apapun. Ia pingsan. Tak ada orang yang menyadari itu. Mereka masih sibuk menguatkan satu sama lain.
"Dara, maafkan aku karena belum bisa menepati janji." ucapnya. Sosok pria dengan pakaian putih berdiri di hadapan Dara. Ia tersenyum manis dengan wajah yang berseri-seri. Tak ada lagi kerut di petengahan kedua alisnya.
"Jangan pergi!" rintih Dara. Pria itu pergi lenyap dari pandangan. Ia terbangun dan melihat sekeliling banyak orang. Mereka menatap Dara iba. Ia harus rela melepaskan kepergian calon imamnya.
Berhari-hari Dara hanya mengurung diri di kamar. Bu Ita yang merasa kasihan, setiap hari menyuapi putri bungsunya. Satu suap dua suap cukup. Hari-hari berisi kekalutan yang tiada arti. Selembar kertas dari Attar cukup sebagai ganti kehadirannya. Walau tak semua kepingan hati itu menyatu.
Selain di kamar, Dara juga merenungi nasibnya di pelataran tepi danau. Tempat biasa mereka bersenda gurau. Menumpahkan segala tangis dan teriakan hampa pada semesta. Setidaknya, hal itu mampu menghapus luka akan kenyataan yang tak mungkin diubah

user

24 April 2022 04:07 Salisatur Rosikhoh Next part-nya Kakak. Hiks :-(

Delapan

1 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 431

Raihan menunggu proses persalinan Sang Istri di sebuah rumah sakit. Jantungnya terus berdoa pada Tuhan agar semua berjalan lancar. Kelahiran kedua ini cukup berbeda denganyang pertama. Nia lebih posesif. Sudah beberapa hari, tetapi masih juga belum lengkap bukaan. Kandungan pun sudah berusia lebih dari pada umumnya. Hari ke-4 di rumah sakit, akhirnya dokter menyarankan agar dilakukan operasi sesar.
"Maaf pak!" ucapan dokter itu selalu bisa ditebak. Hasil dari operasi itu mungkin akan kurang memuaskan. Benar saja, sang bayi tak terselamatkan. Bayi itu mengalami komplikasi dan lemah semasa di rahim. Tangis Raihan pecah. Ia mencintai bayi itu walau sekali pun belum pernah bertemu.
Ia menemui Nia yang masih belum sadarkan diri. Ponsel di samping wanita itu berdering. Tertulis disana, Sayang. Padahal itu bukan dirinya. Raihan menarik ikon terima panggilan dan mendengarkan suara di seberang. Suara seorang pria.
"Sayang, bagaimana kondisi anak kita?" pria itu berkata sembari mengeraskan suaranya.
Telinga Raihan getir. Tamparan keras bagi dirinya sendiri. Ia mengobrak-abrik ponsel istrinya. Selama ini dibelakang main api. Bahkan wanita di depannya adalah penipu. Ia merutuki diri, mengapa harus mempercayai wanita itu lagi. Sudah kesekian kali, ini yang terparah. Ia mengaku hamil anak Raihan padahal bukan.
"Keterlaluan." Ia berjalan pergi. Meninggalkan sebuah pesan pada beranda pesan kepada si pria. Ia menemui jenasah bayi tak berdosa itu di ruang khusus. Kemudian membawa bayi itu pulang selepas disucikan. Ia merasa sedih menyaksikan jenasah sang bayi, walau kenyataannya tak beraliran darah denganya.
Proses pemakaman berjalan dengan lancar. Semua orang bertanya kondisi dari Nia. Raihan bungkam tak mau bercerita. Ia hanya menumpahkan perasaannya pada kasih sayang seorang ibu. Beberapa hari setelah pemakaman, Nia datang bersama kekasihnya. Bertanya dimanakah letak makam putrinya. Raihan acuh, tak peduli kedatangannya. Sudah terlalu banyak luka, hingga tak tersisa maaf setitik pun baginya.
"Pergi dari sini. Kau bukan siapa-siapa bagiku." usir Raihan. Ia tak tahan melihat kebersamaan dua insan itu. Api besar membara sekujur tubuh. Ia begitu percaya, tetapi ini semua tipuan. Sebab pria itu juga memiliki istri dan tak mau istrinya yang kaya mengetahui kehamilan Nia. Nia yang kebingungan akhirnya memutuskan untuk kembali kepada Raihan, tanpa berpisah dari kekasihnya.
Air mata Raihan kering. Walau tak pernah ditunjukkan pada siapa pun. Ia hanya insan biasa. Yang hatinya bisa kuat juga lemah. Ia menengadah pada Tuhan. Menitipkan selembar doa terbaik bagi hidupnya. Hidup tak melulu tentang cinta pada makhluk-Nya. Mencintai Sang Pencipta, akan membawa makhluk pada dirinya, kelak. Semenjak itu, ia selalu menutup telinga rapat enggan mengetahui kelanjutan kisah Nia. Lana tak rewel sama sekali karena memang terdidik tak pernah merasa amat disayangi Nia. Semua memanglah diatur Tuhan dengan rapi.
"Assalamualaikum, Nak Raihan."
"Waalaikumsalam, Bu Ita."

Sembilan

1 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 530

Begitu sulit melupakan kisah. Tangisan mengering dan hati yang tetap hancur. Fisiknya melemah. Bertahun-tahun ia menunggu moment itu, semua hancur. Tak ada raut bahagia sedikit pun darinya. Kemurungan dan kesedihan.
"Kasihan banget tuh cewek. Gagal nikah padahal usianya mendekati kepala tiga. Jangan deket-deket deh, ntar ketiban sial." berbisik, kasihan, menertawakan semua adalah pekerjaan mereka. Saeribu sayang, kebanyakan sesama perempuan. Dara menelan pahit perkataan itu dengan ikhlas. Itu bukan fitnah dan sesuai kenyataan.
"Itu akibat suka pilih-pilih lelaki. Yang diterima kan cuma yang bergelar ustadz, ya to mbak?" tiada henti menggunjing. Seperti tak ada pokok pembahasan lebih bermanfaat. Dara memang tipikal orang selektif. Jika itu kesalahan, maka tentu menyalahi hukum alam. Bahwa setiap perkara adalah pilihan. Ia juga memilih demi kebaikan dalam hidup. Itu wajar.
"Biar saja. Tuhan mengatur yang terbaik untukmu!" nasihat ayah bunda hanya seperti itu. Tak lebih tak kurang. Tak pernah sekali pun membahas tentang Attar.
"Ra, coba kamu bawa mushaf Al-Quran ini ke masjid. Banyak yang mau belajar mengaji sama ayah."
"Inggih, yah." jawab Dara sembari mengangkat semua mushaf di meja kerja ayahnya. Tumpukan itu terasa sangat berat. Ia meletakkannya di tepi serambi diatas meja kecil. Serambi masjid dihiasi dengan tirai-tirai yang menjuntai panjang dan bertumpuk. Tirai-tirai itu bergoyang dihembus angin. Dara mengibas beberapa helai tirai yang mengenai wajahnya.
"Subhanallah." gumam seorang pria dari balik tirai. Ia tengah meletakkan sebuah kardus berisi minuman kemas. Ketika mengibas tirai, ia berhadapan langsung dengan seorang gadis. Jarak keduanya hanya sejengkal orang dewasa. Kedua manik mata mereka bertemu. Pria itu terpesona dengan keindahan makhluk di depannya. Matanya lebar dihias celak hitam. Wajahnya putih bersih tak ada noda. Tetapi, tak ada senyum menghiasi wajah gadis itu. Sontak pria itu langsung berucap kalimat tasbih memuji Tuhan atas ciptaan-Nya. "Maafkan saya." lanjutnya. Kemudian meninggalkan Dara yang juga kemudian bergabung bersama warga mendengarkan kultum ayahnya.
"Assalamualaikum." ucap salam dari seorang pria dari arah pintu masuk. Dara mendongak menatap pria yang bertemu dua menit lalu.
"Waalaikumsalam, Nak Raihan." jawab semua orang. Kali pertama Dara mengikuti kultum dan mengaji ayahnya yang rutin diadakan setiap minggu di masjid dekat rumah.
Raihan duduk di samping kanan sang pemateri. Sedangkan Dara duduk di sebelah kiri ayahnya. Ia tak sekali pun menampilkan senyum. Ia tak peduli mau orang berkata apa. Ayahnya menyinggung masalah tentang takdir Allah. Wawasan itu perlahan membuka hati Dara yang mulai gelap diterpa ujian. Dara bahkan meninggalkan kebiasaan shalat tahajudnya. Bahwa takdir itu sudah ditetapkan sejak sebelum manusia dilahirkan. Setiap kejadian juga pasti mengandung hikmah luar biasa. Dan meninggalkan kebaikan adalah perbuatan orang yang rugi. Setiap kalimat dari ayahnya terasa menohok dada Dara. Ia merasakan penyesalan besar telah meninggalkan kebiasan malamnya. Juga sering menyalahkan takdir di hidupnya.
"Terlebih ketika menghadapi ujian, itu adalah uji coba kelayakan kita naik ke level lebih tinggi. Insha Allah." tutur ayah Dara untuk menutup kultum. Beliau merangkul dua orang di sisinya. Semua orang bersorak tepuk tangan.
"Oh Tuhanku, ampuni aku yang berlumuran dosa ini." desisnya dalam barisan permohonan ampunan. Ia beranjak dari duduk dan meninggalkan masjid membantu bu Ita menyiapkan makanan.
"Dara." telinga Dara bergetar. Teralun dari belakang punggungnya. Ia menoleh dan menjawab.
"Inggih. Ada apa ya?" tanyanya. Pria itu menunduk kemudian menyerahkan beberapa mangkuk yang tertinggal di serambi masjid. Kemudian beringsut pergi.

Sepuluh

1 1

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 413

Selepas berkegiatan, Dara dipanggil ayahnya duduk di ruang tamu. Kakak iparnya yang pulang, memanggil Dara yang tengah asyik menuliskan bait puisi berisi lantunan hati. Dara tersentak mendengar ayahnya memanggil. Kesalahan apa yang mungkin telah ia lakukan?
Ia segera mengenakan hijabnya dan keluar bersama kakak iparnya. Suara tawa dari ruang tamu terdengar. Ia menjadi bingung. Sudah lama sekali tak terdengar tawa bersama abangnya. Tidak biasanya, si abang main jauh-jauh ke rumah mendadak. Dan, tangan Dara di pegang seperti tak sanggup berjalan sendirian.
"Ada apa kak?" gerutunya. Ia melepas genggaman kedua iparnya. Mereka mendengus. Dara membalasnya dengan dengusan pula.
"Sudah ikut saja bersama kami. Jarang-jarang kan kumpul seperti ini." ucap salah satu diantaranya. Ia menghela napas panjang lalu membuka tirai pemisah ruang tamu dan ruang keluarga.
Semua orang disana menatap kearah tiga wanita itu. Dara menunduk malu sesaat setelah menyadari kehadiran seorang yang bukan anggota keluarganya. Dua abangnya tersenyum dan meneriaki sang bungsu.
"Hei sini tak pangku." katanya sembari menepuk pahanya sendiri. Semua tertawa pun juga dia.
Dara duduk diantara dua abangnya. Para keponakan bermain bersama di luar. Ayah dan Ibu mereka duduk bersebelahan. Suasana mendadak hening. "Jadi ini putri ayah yang mau tak jodohkan sama kamu, nak." gumam lirih sang ayah. Telinga Dara yang sensitif langsung menangkap maksud tersebut. Ia mendongak dan melotot kearah ayahnya.
"Tapi, yah-
"Kalau Nak Raihan mau, insha Allah pertunangan akan segera dilaksanakan." kata ayah tanpa mengindahkan ucapan Dara. Dalam hatinya, berharap besar pada pria itu.
"Yah- hmm." Dara masih mencoba bersuara tetapi dibungkam abangnya.
"Maaf pak, apakah Dara mau menerima kehadiran saya dan maaf saya punya seorang anak." kalimat Raihan terasa menohok dada semua orang. Terlebih kedua abang Dara yang mengira pria itu perjaka.
"Saya yakin Dara akan menjadi ibu yang baik untuk anakmu." jawab Bu Ita. Mereka semua sepakat untuk menikahkan Raihan dan Dara. Tanpa mengindahkan protes dari Dara. Toh, cinta juga akan tumbuh seiring berjalan waktu.
"Insha Allah saya siap menikahi Dara." akhirnya keputusan sudah matang. Dara berdecak kesal sebab tak mendengar ucapannya. Yang menikah dirinya, mengapa yang mengatur mereka. Ah, tetapi perempuan ini tak mampu melawan kehendak sang ayah. Ia hanya pasrah menerima kenyataan untuk menjadi bagian hidup dari Raihan, kelak.
Semua keluarga meninggalkan tempat, menyisakan dua insan di ruang tamu. Raihan menatap tajam Dara. Sedang Dara menunduk menitikkan air mata. Ia masih belum sepenuhnya merelakan kepergian kekasihnya. Terlebih dengan keputusan san ayah secara sepihak. Raihan tersentuh mendengar isakannya. Tangannya mengulur kearah Dara khawatir. Ia sedikit ragu keputusannya menerima itu akan berdampak baik bagi kehidupan selanjutnya.

user

10 May 2022 08:19 Salisatur Rosikhoh Semakin menjadi ya. Tapi buat part selanjutnya belum punya kuncinya. Hiks

Sebelas

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 406

"Jika ini tak membuatmu bahagia, aku bisa bicara pada ayahmu." gumam Raihan menenangkan suasana hati Dara yang kalut. Ia tengah di rundung perasaan campur aduk.
"Percuma." desisnya. Kemudian mendongakkan kepala menatap pria di depannya. Ia mengusap wajah yang penuh air mata.
"Apa yang kamu inginkan?" Raihan pun dirundung kebimbangan jika seperti ini. Dalam hatinya, sesungguhnya masih belum sepenuhnya mampu menghilangkan trauma mencintai wanita. Terlebih ia harus memilih calon istri dan ibu bagi anaknya.
"Aku butuh waktu. Mungkin benar kata ayah, bahwa cinta akan datang saat terbiasa. Tetapi, mana sanggup aku menghapusnya dari hatiku ini, Mas? Hiks." isaknya semakin menjadi. Raihan berpindah posisi mendekat pada Dara. Ia menepuk pundak Dara guna menenangkan hatinya.
"Tidak. Aku tidak akan bisa menggantikannya. Aku hanya ingin ada setitik tempat kecil di hatimu untukku. Cukup." ucap Raihan. Dara menatapnya haru. Tak disangka ia benar mau menerima dirinya yang jelas-jelas belum bisa melupakan mantan. "Dan aku siap menunggu itu."
***
Rembulan menyerukan umat bangun dari tidur untuk melaksanakan shalat sunnah. Sepertiga malam akhir menjelang subuh. Dara terbangun dan melirik jam beker di nakas samping ranjangnya. Badannya terasa pegal dan matanya sembab. Tak lepas air mata menghiasi setiap malamnya menjelang tidur.
Di sujud terakhirnya, ia menyisipkan barisan doa agar menunjukkan jalan terbaik. Membuat semua berjalan dengan lancar jika pria itu adalah jodohnya. Tak lupa ia memohon ampun dan menghadiahi beberapa leluhur pun Attar yang masih menjadi misteri. Jenasah seluruh penghuni pesawat belum ditemukan. Hanya sang pilot, selebihnya tanda tanya.
Disisi lain, Raihan dalam barisan doanya meminta kebaikan dalam hidup. Ujian dalam hidup adalah tahap untuk bisa naik level lebih tinggi. Ujian adalah kemarin dan Dara adalah masa depannya. Lana yang duduk di samping ayahnya tersenyum menatap ponsel. Ia mengotak-atik ponsel sembari menciumi gambar yang ada disana.
"Ibu... ayah..." katanya sembari menunjukkan ponsel pada ayahnya. Raihan sontak terkejut. Ia lupa belum mengganti wallpaper semalam selepas mencoba menjadikan foto calon istrinya itu.
"Iya ibu. Doakan ya, Nak!" Raihan merebut ponsel dan mengganti wallpaper. Takut kelupaan dan terciduk oleh sang pemilik postur.
Kedua manusia itu menitipkan salam lewat semesta. Tatakala langit terbuka, sehingga doa tersampai lebih cepat. Dara mulai membuka hati pada Raihan setelah melihat ketulusan hatinya. Walau tak sepenuhnya bisa, Dara masih terus berusaha. Ia tak mengerti lagi, terbuat dari apa hati pria itu. Ia tak segan menemaninya kemana pun pergi. Pria itu juga bisa menjaga jarak sebagaimana muslim. Menjaga dan melindungi kehormatan wanita, ucap Dara kepada ibundanya tentang sosok Raihan yang baru beberapa hari dekat.

Dua belas

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 415

Deretan angin menata puing-puing daun kering tak beraturan. Percikan air danau tak bergeming lagi mendengar alunan qasidah. Banyak ikan menampilkan gelembung di permukaan. Turut serta bahagia menyambut hati yang mencinta. Inilah keajaiban Tuhan membolak-balikkan hati. Menata sedemikian rupa sehingga pertemuan menjadi berarti. Ia seperti mengatakan pada alam bahwa cinta telah mendarah pada dirinya.
"Dara, Dara." panggil Kia sahabatnya. Napasnya terengah selepas berlari. Ia menepuk pundak Dara dan menyerobot bot minum.
"Kenapa sih?" Dara terlihat kebingungan. Kia memegang tangannya dan memohon untuk tidak bersedih.
"Ayo kamu lihat sendiri." Kia menarik tangan Dara berdiri dan beranjak dari tepi danau. Perasaannya mulai khawatir.
Dara tersentak melihat sosok di depannya. Puing-puing yang ia susun sedemikian manis tetiba jatuh krmbali dan hancur. Matanya sendu hendak menitikkan air mata. Setetes mengandung jutaan rasa kecewa. Bahagia yang ia rasa, selalu berujung pada duka. Ia berlari menyeru pada semesta. Melemparkan suara teriakan pada kesepian dan kesedihan. Kia meminta agar Dara sabar dalam segala ujian. Kali ini, keadaan benar-benar menyayat lalu mengoyak hatinya.
"Sabar!" Kia berusaha menenangkan Dara yang terus menerus meneriaki ikan-ikan di air. Malam yang terasa sangat gelap baginya. Tak ada rembulan menunjukkan diri. Suasana menjadi mendung turut pada perasaan gadis ini.
"Kenapa Tuhan mengujiku seperti ini, Ki?" Dara memeluk sahabatnya denga erat. Menumpahkan segala duka pada pundak yang selalu menenangkannya. Kia juga ikut menangis menyaksikan duka yang tak kunjung berakhir. Bukan maksud menyalahkan takdir, tetapi entah bagaimana mendeskripsikan hati. Dara Andini menyusuri lembaran hidup yang terlihat sulit. Terlebih perihal kekasih. Tak ada yang benar tahu isi hati gadis itu.
"Aku rasa kamu harus dengar dulu penjelasannya." kata Kia. Dara hanya sibuk menangis dan melempari air dengan kerikil. Tak ada respon sama sekali. Sekian menit ia hanya menatap air dan melambungkan air mata yang menyatu pada danau. "Heh lama-lama danau ini bisa banjir."
"Bisa aja. Mungkin tidak akan sesakit ini kalau aku tidak jatuh cinta." Dara sedikit tertawa. Kemudian lenyap lagi. Ia melemparkan cincin pemberian dari pria itu. Mengapung di air kemudian jatuh tak terlihat.
Setelah terlewati pukul sembilan malam, Kia memaksa Dara pulang. Tak baik perempuan malam-malam di air. Banyak setan berkeliaran menguji iman. Kegelapan malam membuat Kia bergidik ngeri. Terlebih menyaksikan tatapan kosong dari sahabatnya. Tak begitu dengan Dara. Ia berjalan santai tanpa melihat kanan kiri. Ia meninggalkan lembaran foto di tempat ia duduk tadi. Foto bertiga antara Dara, dia, dan seorang bayi. Kedua orang tua Dara tak mampu mendekati sang anak. Ada perasaan kecewa tetapi juga tak percaya. Yang terlihat di depan mata belum tentu seperti apa yang sesungguhnya.

Tiga belas

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 416

Raihan P.O.V
Senja menjelang malam hari, aku mengendarai angkutan umum hendak ke pasar. Beberapa orang turut serta. Sepanjang perjalanan bersenda gurau alias ngobrol. Kemungkinan besar membicarakan kehidupan pribadi atau curhat. Aku memperhatikan setiap kalimat yang terucap. Barangkali dapat menjadi pelajaran baginya. Ada sebuah cinta yang bersembunyi di balik kerasnya hati. Sedang apakah dia sekarang? Kemudian tertawa sendiri.
Toko perlengkapan muslim di depan mata. Aku turun dengan menyampaikan ongkos pada sopir angkot. Ia menerima dengan senang. Kemudian memberikan kembalian. Kami sudah akrab sebab intensitasku dalam mengikuti angkotnya tinggi.
Aku melangkahkan kaki ke dalam toko guna membeli beberapa butir sarung dan baju koko. Aku berniat tampil lebih menarik dengan pakaian baru, sebab bajuku banyak yang lusuh. Topi hitam kugunakan untuk melindungi kepala dari paparan sinar matahari. Aku membawa tas selempang, berisi beberapa butir uang. Aku juga berniat untuk membeli beberapa helai pakaian untuk Lana dan ibu. Tak lupa aku membawa tasbih pemberian dari ayah Dara.
"Fiuh! Belanja ternyata super lelah." Aku menatap jalanan sembari mencari keberadaan angkot.
"Ayo, Han." teriak si sopir angkot. Pria itu melambaikan tangan. Aku segera masuk dan mengambil duduk di samping pintu.
Perjalanan lumayan jauh tertempuh sekitar 30 menit. Hal ini karena angkot sering berhenti menurunkan penumpang. Seorang wanita duduk disampingku, dengan pakaian terbuka sepanjang perjalanan menatapku. Ia terlihat manis nampak dari mata lentiknya. Hidung sampai dagu tertutup dengan masker. Aku menyibak pandangan.
Aku turun di depan gang menuju rumah. Kuucapkan terima kasih pada sahabatku itu. Disambut oleh Lana yang meminta jajan. Ibuku tersenyum menatap beberapa tas di tanganku. Senyum seolah mengejek.
"Lelah bukan?" ledeknya. Ibu meraih beberapa tas dan menaruhnya di meja.
"Perempuan memang hebat." kataku. Kemudian membantu ibu membongkar barang-barang dari tas. Aku merogoh tas di bahuku. Tak kutemukan benda yang kubawa kemana pun pergi. Tasbih pemberian ayah Dara sangat berarti. Katanya, sebagai hadiah karena aku mau menikahi putrinya. Tasbih yang dibeli asli dari Makkah.
"Oh Tuhan." Aku menepuk jidat sembari menelpon Juna si sopir angkot. Tadi selepas di dalam, guna menampim tatapan wanita itu, aku melantunkan bait dzikir menggunakan alat itu. Mungkin saja tertinggal di angkot.
"Tidak ada apapun di dalam." jawab Juna. Ia memberi tahu bahwa kemungkinan benda itu terbawa wanita bermasker tadi. Aku tersentak. Bagaimanapun caranya, tasbih itu harus kembali. Tetapi kemana harus kucari. Bahkan tak kutahu dimana tempat tinggal wanita itu.
Aku berlari mendatangi tempat bernuansa remang-remang yang dihiasi dengan kerlap lampu di mana-mana. Aku berhenti tak mampu berjalan masuk. Tak sekali pun aku pernah masuk. Tetapi benda ini sangat penting. Aku harus menguatkan diri agar bisa mengambil benda itu.

Empat belas

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 435

Aku memasuki pintu menuju dunia yang gelap. Berisi wanita-wanita berdandan ketat dan rias berlebihan. Aku menatap sekilas kemudian tak sanggup. Mataku terasa panas melihat pemandangan di sekitar. Diantaranya banyak pria tengah bermesraan dengan beberapa wanita. Aku bergegas menghampiri meja panjang berisi barisan minuman botol diatasnya.
"Permisi pak, bisakah aku bertemu dengan Mira?" tanyaku. Pria itu melotot mendengar nama yang kusebut. Kemudian menunjuk kearah lantai dua.
"Punya uang berapa kau?" katanya sembari tertawa. Aku tersenyum kecut lalu menunduk sebagai ucapan terimakasih.
Musik di putar kencang. Suara teriakan bernyanyi bercampur. Mereka berdansa di bawah lampu kerlap-kerlip ala disko. Aku bergegas meninggalkan mereka dan menaiki anak tangga baru. Bacaan istigfar tak lepas dari mulut, sebagai perisai diri. Aku berhenti di sebuah pintu ruangan. Ternyata di lantai dua ini hanya ada satu ruangan ini saja. Bau wewangian mencuat dari dalam. Pintu itu terbuka sedikit.
"Permisi." Aku mencoba memberi tau pemilik kamar untuk keluar.
Kret! Suara pintu berderit dibuka. Aku melihat sosok yang Juna bicarakan. Seorang wanita cantik dengan balutan pakaian ketat. Wajahnya tak dipoles make up sama sekali. Terlihat alami keindahan parasnya. Dadaku terasa berdesir. Sepersekian detik kemudian mataku langsung menunduk. Mengingat tujuan datang kemari adalah untuk mengambil barang yang terbawa olehnya.
"Masuklah." ucap wanita itu. Aku tak bergeming. Wanita itu mundur beberapa langkah memberi jalan untukku masuk.
"Tasbihku." desisku dengan posisi tak berani menatapnya.
"Kau bisa mengambilnya di dalam." ucapnya. Aku merasa kebingungan. Jika aku masuk, sama saja dengan bunuh diri. Tetapi, barang itu sangat penting. Tak ada pilihan lain, aku meneguhkan hati dan mulai melangkah. Wanita itu mundur mendekati handle pintu.
Brak! Pintu kamar itu di tutup. Aku menoleh ke belakang dan melihat wanita itu disana. Ia melangkah maju sembari menampilkan senyuman. Kuakui wanita itu sangat cantik.
Bruk! Refleks tanganku mendorong wanita itu hingga jatuh di ranjangnya. Aku bergegas meraih handle pintu dan keluar. Keringat dingin mengucur keras dari dahi dan sekujur tubuh.
"Hai, kau melupakan barangmu."
"Kau bisa ambil barang itu. Aku berharap kau bisa berubah. Jalan hidup yang kau tempuh bukan jalan terbaik. Masih banyak pekerjaan baik di luar. Tak kau sisihkan keindahanmu untuk masa depan. Aku permisi. Kau bisa mengambil tasbih itu, sebab aku tak sanggup mengambilnya. Permisi." Aku bergegas pergi.
"Tunggu!" teriaknya. Ia meraih benda itu dari nakas dan berlari kearahku. Suara langkah kakinya semakin mendekat dan aku pun menjauh. "Aku tidak bisa menggunakannya." lanjutnya sembari memberikan tasbih padaku. Aku meraihnya dan mengucapkan terimakasih. Tak kusangka, kakiku dengan berani masuk ke dalam jurang hitam. Untuk naik kembali ke titik semula sungguh luar biasa. Pemandangan tak biasa terpampang jelas di depan mata. Dalam keremangan di sepanjang jalan keluar dari lorong kegelapan.

15

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 400
Aku menengok jam tangan. Jam empat sore ini aku memiliki janji bersama Dara. Mengajaknya berkeliling desa bersama Lana. Keduanya saling mengakrabi. Dara yang mencintai anak kecil dan Lana yang merindukan sosok figur ibunya.
Aku terbangun dari lamunan. Menengok ke belakang memastikan sang putra telah selesai dimandikan ibu. Bayangan wanita itu datang. Terkibas oleh seruan dari seseorang. Yang suaranya bak panggilan surga. Perempuan itu menuntun sebuah motor. Ia terlihat anggun dengan pakaian gamisnya.
"Assalamualaikum." suara Dara memecah kabut dalam hatiku. Ia terlihat cantik dengan pakaian berwarna dasar merah hati.
"Waalaikumsalam, Dara." jawabku lalu berdiri dan menyambutnya. Aku merasakan deburan lautan berpindah di hati. Gelora apa ini? Senyumnya menawan di bibir yabg dilapisi lipstik berwarna merah gelap juga.
"Sehat?" tanyanya. Mungkinkah gadis ini melihat rasa canggung yang menggerogoti hatiku. Kali pertama ia menemuiku di rumah.
"Tentu! Ayo masuk. Lana masih dandan." aku meminta Dara masuk. Di pintu rumah terdapat lonjakan anak tangga yang kecil. Banyak orang tak menyadari itu. Banyak orag pula yang terjatuh terjerbam ke lantai olehnya.
Bruk! Dara tersandung. Ia menubruk tubuhku yang ada di depannya tepat. Kami berdua tersungkur di lantai. Sepersekian detik, wajah kami berdua berdekatan. Ia jatuh tepat diatasku, sedangan aku beralas lantai sedikit bahagia bisa sedekat itu. Dia calon istriku, kan?
Mata Dara nanar. Ia segera bangkit dan berdiri membelakangiku. Kurasa ia malu. Keheningan melanda beberapa saat. Merongrong kedua hati yang tengah merasa berdebar. Dua bibir itu sama melafalkan barisan istigfar. Memohon ampun serta perlindungan. Tak ada yang mengetahui kejadian apa yang akan terjadi. Kita hanya berencana, selebihnya Tuhan yang berkuasa.
"Ayah." memecah keheningan suara Lana. Anakku penyelamatku. Tak bisa dibilang berlebih sebab hidup ini seluruhnya adalah pembelajaran. Untuk anak-anak juga dewasa. Semua pasti dapat memetik hikmah. Tetapi, menghadapi situasi sulit seperti ini aku benar-benar bersyukur Lana datang tepat waktu. Saat bibirku kelu tak mampu bersuara apapun. Kurangkai beberapa kalimat tetapi tak sanggup dilontarkan. Astaga terserang virus apakah diriku?
Kami pergi mengendarai motor Dara. Tak ada canggung lagi. Dara terlihat asyik bermain bersama putraku. Dari balik kaca spion, tawanya sungguh menawan. Jarak diantara kami terpisahkan seorang bayi mungil ini. Aku tersenyum tipis. Lama tak terlihat pemandangan manis seperti itu. Tak ada keraguan diantaranya. Semakin kesini aku semakin yakin atas kesempatan berteman dengannya. Apalagi jika sampai berjodoh dengannya. Tuhan menciptakan kesulitan yang lalu untuk menggapai kebahagiaan yang lebih indah. Kutitipkan salam cinta pada hembusan angin kepada Tuhan yang menciptakan Dara dan jalan hidup yang sedikit rumit ini.

16

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 410

Pagi itu aku menerobos jalanan di sekitar kompleks tuk menjelajahi hunian-hunian manusia yang berserakan di pekarangan rumah. Langkahku terhenti mendadak selepas menatap sosok perempuan keluar dari masjid dekat rumah Dara. Wajahnya terlihat tak asing. Ia berpakaian sopan dengan hijab berwarna merah. Walau masih belum sempurna seperti kaum muslimah pada umumnya. Menyembunyikan rambut sampai ke anaknya. Satu helai pun mereka masukkan tanpa orang lain ketahui. Dia berbeda. Aku masih mengangan-angan siapa sebenarnya perempuan itu.
Deg! Jantungku berhenti sesaat. Spontan kupalingkan badan membelakangi. Perempuan itu tak lain tak bukan adalah perempuan yang berasal dari dunia kegelapan. Baru beberapa hari lalu kutemui di sebuah angkot dan ruangan bercahaya remang dan beberapa titik dihiasi lampu berwarna-warni. Aku benar-benar tersentak. Menatap perubahan drastis dari perempuan itu.
"Assalamualaikum!" ia mengucapkan salam. Pemandangan yang bersimpangan dengan pakaiannya di masa lalu. Kutau namanya adalah Hida. Terlihat anggun dan rapi.
"Waalaikumsalam." Aku menghadap arahnya dan terkejut ketika tiba-tiba dia berada tepat di depanku.
Tak bisa aku bersamanya dalam waktu lama. Bergegas ke tujuan utama. Aku ingin memberikan sebuah cincin sebagai tanda keseriusan kepada Dara. Tetapi perempuan itu menarik bajuku. Karena terkejut, aku terpental hampir menabrak dirinya. Untunglah, kakiku dengan sigap menahan agar tak jatuh. Kemudian meminta maaf dan pergi dari sana.
Dara masuk ke ruang tamu ditemani seorang perempuan. Bayangannya nampak di balik tirai. Entah siapa, barangkali kakak iparnya. Ia menunduk dan menyatukan tangannya. Sedangkan bahunya di pegangi perempuan itu. Ada beberapa hal yang kubicarakan dengannya.
"Siapa dia?" tanyaku. Aku tak sampai melihat kearahnya dengan jelas. Hanya sekelabat tetapi pakaiannya, astaga. Itu Hida. Ia langsung masuk ke dalam tanpa menyapaku. Pikiranku berputar, mengapa dia berada disini? Bersama Dara dan keluarga. Apakah mereka berkerabat?
"Dia Hida. Perempuan yang ingin hijrah. Ia tak memliki sanak keluarga. Kemarin saat Dara pulang kerja hampir saja menabraknya, dan diajaklah ke rumah. Kebetulan juga disini ada sebuah ruang di belakang rumah yang kosong." kata Ayah Dara menjelaskan siapa Hida. Kurasa mereka semua tak tau asal usul perempuan itu. Lorong gelap dengan celoteh dan musik khas anak rock. Ya, bekerja dari hal yang tak seharusnya dikerjakan.
Otakku berputar. Haruskah kusampaikan bahwa dia adalah perempuan lorong itu. Yang kutemui beberapa hari lalu. Yang tidak berpakaian seperti sekarang dan tentu saja tidak sesopan saat ini? Kurasa tidak perlu. Biar saja mereka tau kehidupan masa lalunya sendiri. Lagi pula ia sudah berhijrah. Tak pantas diri ini mengungkit masa lalu yang telah ia tinggalkan. Semoga saja, ini merupakan awal baik baginya. Dan tak lagi mau kembali ke dunia gelap itu.

17

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 484

- PR

"Dari sekian perempuan yang kutemui. Hanya kamu yang membuatku tak sedetik pun bisa berpaling. Kalau kata orang, cinta yang benar adalah yang tak akan menjauhkan dari Tuhan. Kurasa kau adalah cinta itu. Maukah kau menikah denganku?" aku merangkai kalimat dengan grogi. Dara menunduk malu. Kulihat air matanya mengalir sebab tangan kanannya reflek mengusap pipi. Apakah cinta tak datang mengeyuk pintu hatinya? "Kalau kau belum siap menjawab aku tak apa. Jika kau tak mencintaiku, dan tak mampu untuknya, aku ikhlas kau meninggalkan kepingan hati yang akan terpecah belah ini." hatiku merasakan kesedihan luar biasa. Kurasa dia belum siap dan hati kecilnya masih pada Attar. Kalau tidak, mengapa dia tak bergeming. Ruangan itu sepi tak ada suara. Aku menunduk sedih. Anggota keluarga Dara menunggu keputusan kami di dalam. Menyisakan gelombang sunyi diantara dua hati.
"Aku - " desisnya. Dara menarik napas dalam. Bibirnya terlihat bergetar. Tak pantas kesedihan terus berada disana. Kalimatnya terpotong, aku mengerti mungkin tak enak hati menolak secara langsung.
"Baiklah, aku permisi dulu. Semoga kau bisa menemuka pria yang terbaik. Yang bisa memberimu kebahagian, karena tak pantas wajah cantik ciptaan Tuhan terus bersedih seperti ini. Maafkan aku jika selama kita berteman, tak sengaja pernah kusayat hatimu. Assalamualaikum." aku beranjak dari kursi dan melangkah keluar. Kusampaikan salam pada serpihan angin yang memberi kabar pada orang di dalam.
Aku berlari menjauh tak mau menampilkan kesedihan dalam diri. Tak sadar, diri ini meninggalkan sebuah pegangan tuk tak terlalu berharap pada selain-Nya. Aku menyesali ini dan memohon ampun pada Tuhan. Gerimis berjatuhan. Membasahi sekujur tubuhku yang tengah duduk di kursi halte. Bisakah diriku meninggalkan setiap memori itu. Menghadapi kenyataan bahwa ia tak mungkin termiliki.
"A A A A A A A A A!" sekeras mungkin kukeluarkan suara. Sesak terasa menggerogoti dada. Cinta adalah anugerah yang tak bisa dipaksa. Aku memejamkan mata, menyandarkan kepala di kursi menghadap langit. Merasakan tetesan air dari langit. Dengan inilah, air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya lolos. Tak bisa kubendung lagi. Bagaimana kubisa berkata pada putraku, Tuhan?
"Katakan padanya,-" sebuah suara mendekat. Tak kurasakan lagi tetesan air hujan di wajahku. Aku membuka kelopak mataku perlahan. Sebuah payung berwarna pelangi menutup langit menghambat air jatuhi wajahku. "Katakan bahwa aku adalah akan menjadi ibunya." lanjutnya. Aku bangkit dan menoleh ke belakang. Gadis itu basah kuyup.
"Dara." gumamku. Tak sanggup aku berkata apapun. Ia meletakkan payung itu dan duduk di sampingku. Aku menatapnya tak percaya. Senyumnya merekah manis sekali. Ia memberikan kotak cincin yang kutinggalkan.
"Kau pergi saat aku belum mengatakan apapun." Ia tersenyum sembari mengelap wajahnya yang dipenuhi air hujan. "Semua orang menyalahkan aku. Maaf karena tak bisa menyadari perasaanku sendiri. Bahwa tak bisa barang sedetik pun aku melupakanmu dari pikiranku." aku melihat air mata mengalir dari matanya, walau dihapus oleh hujan.
"Dara!" Gadis itu menutup mulutku tanpa menyentuh. Ia mengurkan tangan kanan agar dipasangi cincin olehku. Aku tak bisa menahan bahagia itu. Kusematkan cicin dijari manisnya. Sebagai tanda bahwa keseriusan akan membawa kebahagiaan.

18

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 437
***

Udara dingin menyelimuti hati. Setiap insan tengah bergelut dengan massa dan waktu masing-masing. Tak terlintas dalam benak tuk keluar rumah oleh sebab angin malam yang menggelitik. Aku berusaha menidurkan bayi mungil yang lahir tanpa kasih sayang dari ibunya sampai saat ini pun. Aku selalu merasa kasihan padanya. Ia punya ibu, seperti tak ada. Selepas menaruhnya dalam kamar, aku berjalan ke beranda rumah. Menantang dingin udara. Ia membuka ponsel dan menyaksikan banyak pesan masuk ke aplikasi whatsapp. Dara membalas pesanku dengan emoticon love. Sungguh bunga-bunga bermekaran dalam kalbu. Tak terasa senyumku merekah.
"Nomor siapa ini?" Aku terkejut menyaksikan pesan dari nomor tak dikenal. Tak terlihat poto profil di bagian atas. Sebuah pesan bertuliskan permintaan tolong. Beberapa saat kemudian panggilan masuk darinya.
"Tolong aku!" sepertinya aku mengenali suara itu. Suara berisik api terdengar dari sana.
"Hida! Apa yang terjadi." Tak ada respon darinya. Panggilan terputus. Dadaku terserang panik. Aku bergegas menuju masjid. Di belakang masjid tepat terlihat ada cahay api keluar dari sana. Aku terkejut manakala tak seorang pun mengetahui hal itu. Mereka tengah sibuk beristirahat dari penatnya hari. Walau jam menunjuk pada angka yang belum terlalu malam.
"Hida! Buka pintunya!" Aku terus menggedor pintu. Beberapa kali tak ada respon. Entah mengapa firasat buruk menyesup ke dalam dadaku. Tetapi tugas menolong sesama mengalahkan semua itu. Aku mendobrak pintu rumah Hida. Aku terkejut, menyaksikan pemandangan di hadapanku. Kututup mata sembari melangkah ke belakang. Aku mengedarkan pandangan, mencari titik kebakaran itu. Tak ada satu kain pun tergeletak disana. Akhirnya dengan sigap kulepas kemeja yang kukenakan untuk mematikan api agar tidak membara setelah kubasahi air. Api padam, Hida tersenyum lega. Aku melangkah mundur menghindari fitnah. Tetiba tangan Hida menarikku. Kami berdua jatuh diatas sofa dengan posisi membelakangi pintu. Kakiku yang terjungkal tak sengaja menutup pintu dari dalam.
Brak! Pintu dibuka dengan kasar. Aku terperanjat dan berdiri membenahi pakaianku yang ditarik Hida. Tatapan melotot kudapati dari mereka. Ada sorot amarah dan hina. Ayah Dara membuka jalan dari belakang untuk turut menyaksikan. Beliau tampak terkejut. Sesaat kemudian, kudapati Dara menengok ke dalam. "Mas Raihan." desisnya. Ia berlari pergi dari rumah Hida. Aku merasa bersalah padanya. Dara menyaksikan sesuatu tanpa mengetahui keadaan aslinya. Ia hanya melihatku yang jatuh diatas Hida dengan kaos dalaman lengan pendek. Ditambah lagi dengan penampilan Hida yang menggunakan pakaian terbuka khas seperti yang kulihat di lorong gelap tempo lalu.
"Dara." gumamku. Beberapa pria menarikku paksa. Aku hanya sempat melihat Dara yang lari sekencang mungkin diikuti sahabatnya. Hida yang menampilkan ekspresi sedih membuatku kesal. Bagaimana semua ini terjadi atas rencananya. Ia sengaja menbuatku datang. Dan bodohnya diriku tak merasa aneh saat itu. Sekarang, resiko entah apa yang akan terjadi atas fitnah ini.

19

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 407

Aku diglandang masuk ke dalam rumah Dara. Kujelajahi semua dengan mata, tak kutemui dia. Semua warga mengeluh akan tindakan kami. Ibuku datang bersama Lana. Ia tersedu tak menyangka putranya melakukan hal tak senonoh. Ia berteriak pada agar agar diam, tak mungkin anaknya berbuat zina. Sejenak kemudian ibu pergi bersama anakku atas perintah Ibunda Dara. Mereka harus siap menghadapi hukuman setelah melakukan kesalahan. Hida, menangis tersedu di dalam kamar. Merasa terdzolimi atas tindakanku. Tangisannya menggema, terdengar sampai runag tamu. Semua terus menerus menyalahkanku.
"Nikahkan saja, lalu usir dari kampung kita." ucap salah seorang. Tatapan melotot kuterima dengan ridha. Ini murni kesalahanku, kecerobohanku. Bibirku kelu tak berani mengutarakan apapun. Untuk membela diri kurasa tak perlu, tak akan ada yang percaya. Aku menunduk tak kuasa menghadapi amukan warga.
"Sebelum itu kita cambuk dia, biar kapok! Pendatang kok meresahkan." timpalnya. Ayah Dara termenung. Diam seribu bahasa mendengar pendapat warga. Kurasa perasaannya beraduk. Memikirkan putrinya juga kemaslahatan umatnya.
"Dimana wanita itu, biarkan dia melihat pacarnya ini menderita di cambuk. Pak Haji untung saja borok calon menantu anda segera terbuka." timpal yang lain. Mereka tak henti mengolokku. Kubenci sekali saat menyangkut ibu dan anakku.
"Ayo kita seret dan hukum dia." semua warga bersikukuh. Pak haji masih berdiam tak menggubris. Ia membiarkan warga menghajarku, menggundul rambutku, dan mencambukiku dengan sabuk yang melingkar di pinggang beberapa orang.
Rambutku di babat habis tak meninggalkan sehelai pun. Mahkota manusia yang selama ini selalu bertengger rapi, hilang sekejab. Aku merasa ini keterlaluan. Kutampik tangan mereka. Tak bisa kuterima perbuatan keji, fitnah keji yang mereka lontarkan. Aku memang bersalah, tetapi tidak dengan cara seperti ini. Kesalahanku tak sebesar perbuatan mereka. Mereka tambah mengamuk. Beberapa warga memegangi kedua tanganku agar tidak melawan. Mulailah, hujaman tangan dan cambukan kudapati. Tak bisa kulawan sendiri, jumlah kami tidak sebanding.
Rasa sakit menjalar ke sekujur tubuhku. Terutama di punggung. Beberapa bagian inderaku mulai berkurang. Pertahanan air mataku pecah. Jatuh berguguran disambut dengan hujaman warga. Mereka hanya menghukumku. Sedangkan, Hida menyaksikan dengan tangisan yang tak bisa berhenti. Tak bisakah mereka mengerti apa yang terjadi sesungguhnya? Tak kumengerti. Tubuhku terjatuh, lututku di tendang keras. Aku tersungkur di tanah. Semua wanita merasa kasihan. Terasa berat, kepalaku mulai pening. Darah mengucur lembut dari hidungku.
"Raihan!" suara teriakan khas masih terdengar nyaring di telinga. Aku melihat dia berlari mengejarku yang hampir tak sadarkan diri. Ia membantuku bangun. Tatapannya dan tangisannya sebagai bukti kasih sayang yang luar biasa. Ia mengusap darahku yang bercucuran. "Dara." desisku dan seketika itu pandanganku gelap.

20

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 405

Aku mengerjapkan mata. Napasku terengah menyisakan memoar tentang kejadian yang berlalu. Saat tubuhku di gladak dengan paksa oleh manusia tanpa mendengar tutur kataku. Apakah hukum kini berdiri tak mau mendengar jeritan terdakwa? Kejam sekali, batinku. Di sebuah ruangan berwarna putih. Di sampingku berjejer rapi alat medis tuk mengontrol kesehatan. Aku menggoyangkan tangan, terasa berat. Ada seseorang yang menahannya.
"Assalamualaikum, cinta." kututurkan salam kepadanya. Ia mendongak dan tersenyum sembari terkejut. Ia berlari kearah pintu dan kembali bersama beberapa orang tinggi besar berseragam putih. Di leher tergantung alat pengukur detak jantung.
"Alhamdulillah, Allah mendengar doamu!" katanya. Kemudian memberikan suntikan nutrisi pada kotak infus. Aku tersenyum melihat perempuan itu. Dara, duduk di sampingku tak bersuara apapun. Tak pantas diriku yang telah menyakiti menatapnya terlalu lama. Kurasa ia telah mengakhiri hubungan diantaranya.
"Kau disini?" desisku. Ia mendongak. Air mata mengalir dari pelupuk matanya. Tak kuasa aku melihat, tanganku bergerak hendak meraih pipinya. Naas, aku harus sadar diri.
"Maafkan aku. Tak mempercayai dirimu yang selalu menjaga hati dimana pun. Maaf!" Ia menunduk lalu mengusap air matanya.
"Aku yang salah, karena tak menyadari kejanggalan yang terjadi." ucapku menenangkan hatinya. Ia tersedu diatas tangan kananku. Sedang, tangan kiriku berusaha mengusap kepalanya. "Aw!" punggungku terasa sangat sakit. Aku berusaha bangun untuk duduk. Tetapi naas, punggungku terkoyak cukup parah. Dara membantuku kembali keatas ranjang rumah sakit. Ia membenarkan posisi tidurku. Harum wanginya tercium sampai hidungku.
"Jangan bergerak dulu. Kau harus banyak istirahat." katanya. Aku menengok kearah pintu. Berharap ibu dan putraku datang kemari. Turut merasakan rasa cinta yang menyeruak dalam dada. Bahkan mengalahkan sakit yang terus bergelora. Ujian Tuhan kali ini tak kusangka membawaku jatuh ke dalam jurang sekaligus terbang keatas awan. Mereka yang menghajarku malam itu menyesali perbuatannya karena bertindak gegabah, tutur Dara. Termasuk Hida yang mengakui kesalahannya. Ia sadar betul pria yang ia fitnah sangat berpegang teguh pada apa yang telah ia imani. Tak terlihat hasrat untuk dirinya. Mungkin kini ia akan malu tatkala bertemu denganku, nanti.
"Kau pasti nanti akan menemukan pria yang baik. Pergilah, aku ingin kau bahagia bersama pria lain. Bukan aku yang kotor ini." ucapku gemetar. Tak pantas diriku mengharapkan gadis ini bersanding. Aku sadar diri.
"Kau-" ia menutup mulutnya. Matanya melotot tak percaya. Kemudian berlari menerjang ibuku yang masuk bersama Lana. Putraku berteriak memanggil 'Ibu' untuk Dara. Tetapi, tak direspon. Ia menangis sedih. Ibu meletakkan Lana diatas ranjang tempatku berbaring. Matanya sembab karena setiap hari rewel ditinggalku. Ya, satu minggu penuh aku terbaring koma disini, kata Ibu.

21

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 408

Ibu duduk sembari memegangi tanganku. Bercerita bagaimana Hida mengakui kesalahannya. Beberapa hari setelah diriku dilarikan ke rumah sakit, Hida datang menjenguk. Ia menatap dalam diriku yang terbaring tak berdaya. Luka memar di sekujur tubuh. Juga olesan obat merah yang menghiasi wajah mulusku. Hida menangis tersedu. Tak tahan dirinya melihatku yang lemah. Kemudian ia lari keluar. Menurut cerita yang ibuku dengar, wanita itu ke rumah Pak Haji dan Pak RT untuk menjelaskan kronologi sesungguhnya.
"Setelah itu semua warga bergantian kemari untuk menengokmu." kata ibu diakhir kisahnya. Lana mulai terlelap dibantu sebotol susu dalam dot mini. Aku mengusapnya, bersyukur masih diberikan napas agar anak kecil ini tak merasa kehilangan kedua kali.
"Ibu, Dara!" desisku. Ibu menahan air matanya. Ibu merasa terharu akan jasa Dara selama satu minggu ini. "Benarkah?" ucapku selepas mendengar tutur kata ibu.
"Dia yang menolongmu dari mereka. Mungkin saja jika dia tak menghadang warga, kau tak akan selamat. Kau kehilangan banyak sekali darah. Sedangkan ibu, tak bisa menyumbang sebab usia tak lagi muda. Dengan ridha, dia menawarkan darah merahnya kepadamu agar kau selamat. Lalu, sekarang apa yang kau lakukan? Kau menyakiti hatinya lagi?" jelas ibu lalu mengusap matanya.
Aku menatap langit rumah sakit. Melukiskan rasa sakit seperti apa yang ia rasakan. Hanya dia orang yang mempercayaiku. Aku memeluk Lana erat. Menumpahkan emosi dan air mata di balik tubuhnya. Ibu mengelus puncak kepalaku sembari berbisik pelan. "Telpon dia dan minta maaflah."
Hatiku gusar. Gadis itu tak pantas merasakan sakit lagi. Kuingin melepasnya agar bahagia, tetapi bahagiaku ada padanya. Kuingin mempertahankannya, tetapi bagaimana dengan rasa sakit yang telah kuberikan? Maukah ia memaafkan diriku yang dua kali menyakitinya? Lalu keluarganya?
"Assalamualaikum." seseorang datang. Masuk ke dalam ruangan tempatku dibaringkan. Ibu mundur menggendong Lana untuk memindahkannya di sofa.
"Waalaikumsalam." jawab kami bersamaan. Pak Haji dan istrinya datang menjenguk. Tangannya menenteng satu bucket buah berisi macam-macam. Tersenyum manis menatapku yang telah tersadar dari koma.
"Dimana Dara? Biasanya ia disini setiap hari." kata Pak Haji selepas bertutur maaf padaku. Deg! Hatiku mencelos. Setiap hari? Jadi selama berhari-hari yang kudengar murotal ayat suci Al-Quran itu bukan berasal dari ponsel? Suara Dara, yang membantuku bangun.
"Mungkin Dara pulang ke rumah sebentar ya." kata Bu Ita. Pikiranku masih kemana-mana. Terlebih setelah satu suntikan obat masuk ke dalam tubuhku. Tubuhku seperti diambang kematian, tetapi ditarik sebuah magnet entah apa. Tuhan, jika aku pantas bersamanya maka dekatkan hati yang telah kurajut dulu menjadi satu kembali. Ampuni aku Tuhan terimalah napasku yang kedua ini tuk menjadi insan lebih baik.

22

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 422
______
Normal P.O.V
Dara duduk termenung di bawah langit teduh. Ia merasakan segala kesakitan masuk mencabik-cabik hatinya. Tak ada satu pun yang bisa ia harap lagi. Terlebih pada manusia. Ia pasrah pada putaran roda kehidupan yang terus menerus mengelilingi otaknya. Salahnya, mengapa tak percaya kepada Raihan. Kini, tinggal puing kesedihan yang harus ia terima.
"Dara!" sosok tinggi kekar berdiri dan memanggil namanya. Dara menoleh mendapati seorang pria yang ia sangat kenal. Jantungnya mencelos. Pria itu adalah yang pernah dengan indah singgah di hatinya. Attar, tersenyum manis dan berjalan kearahnya. Ia menenteng sebuah kitab berukuran persis Al-Quran. Ia juga memberikan lembaran-lembaran puisi pada Dara.
"Bang Attar! Kau masih hidup?" Dara memegangi lengan Attar. Entah sejak kapan ia memanggil Attaf dengan sebutan 'Bang'. Pria itu tersenyum menampakkan deretan gigi yang rapi. Ia berpakaian serba putih. Wajhanya bersinar terang. Ia menitipkan pesan untuk kembali, dan pergi dari tepat ini.
"Jangan putus asa. Kau harus menuntaskan kisahmu yang belum usai." katanya sembari memegang puncak kepala Dara. Ia menyerahkan segala hal yang dipegang. Kemudian berjalan mundur. Setiap langkah pandangan Dara menjadi buram. Lalu lenyap di tengah rimbunan hijau dedaunan.
"Astagfirullah!" jantungnya kembali berdetak. Teriakan Dara membuyarkan tangisan orang-orang. Ia membuka matanya dan dadanya kembang kempis melafalkan istigfar. Ia menatap satu persatu orang yang mengerumuni ranjang tempatnya terbaring. Mereka terkesima tak percaya, pada alat pemantau detak jantung menyatakan Dara positif meninggal. Tiba-tiba berubah garis zig-zag dengan kencang. Semua orang bersyukur.
"Dara."gumam Raihan. Ia duduk di kursi roda sembari memeluk telapak tangan kanan Dara. Sprei basah oleh air mata penyesalannya. Ia sesenggukan sembari melafalkan kalimah tahmid. Ia menyentuh pipi Dara sembari memastikan gadis itu benar-benar bernapas.
"Mas Raihan." Raihan mengangguk. Bu Ita memeluknya dengan erat sebagai syukur atas napas kedua bagi putrinya. Tak ada yang tau persis kronologi kecelakaan yang dialami Dara. Semua orang masih fokus pada Raihan yang baru sadar. Menurut penuturan Dara, ia berlari ke halte terdekat. Tak sengaja ia temui seorang ibu yang menggendong bayi laki-laki. Tangan kanannya menggandeng anak perempuan yang diperkirakan anak kedua. Dan tangan kiri menggandengan anak laki-laki yang kulihat sedikit berbeda. Ia sedang merajuk enggan diajak menyeberang jalan.
Bruk! Tubuh mungil Dara terpental kearah seberang jalan. Anak kecil itu terdorong kearah sang ibu. Ia tertatih mendekati Dara, juga sang ibu dan dua anak lainnya. Mereka terkejut menatap Dara yang lemah. Tak ada darah keluar dari tubuhnya. Tetapi kemungkinan jantungnya terkena panic attack. Ia kemudian tak sadarkan diri.
"Maafkan aku." desis Raihan. Wajah bersalah dan merasa telah menjadi alasan gadis itu terbaring disana. Belum juga luka bekas transfusi darahnya kering, harus merasakan sakitnya bersinggungan dengan jalanan.

23

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 412

Angin berhembus kencang. Menemukan segala perih untuk menjawab segala macam masalah. Terjawab sudah apa yang seharusnya menjadi milik dan bukan milik. Tuhan Maha Adil memberikan kasih sayang pasa setiap makhluk-Nya. Hati yang lapang juga jiwa yang mau kembali terima.
Dara menangis tersedu. Tatkala ia mengangkat kaki, terasa keras. Kaku layaknya besi beton. Ia tak merasakan apapun di sekitar pergelangan kakinya. Semua orang melotot heran. Mungkin saja kaki Dara tertabarak dengan keras oleh mobil. Ia terjatuh pun cukup keras. Menurut keterangan dokter, ada satu tulang yang patah.
"Tak apa, kau harus bersabar." kalimat Raihan menyentuh hatinya. Air mata tiada henti. Mengalir dengan berjalannya roda kesedihan. Raihan menyeka pipi Dara dengan kain sapu tangan. Perlahan tubuhnya mulai pulih. Keduanya diizinkan untuk rawat jalan di rumah.
Mereka berada di dalam kendaraan berbeda. Raihan dijemput sang ibu menggunakan jasa ojek mobil online. Sedangkan Dara, ia naik mobil asli milik keluarga. Tak ayal mereka berasal dari keluarga cukup berada. Di sepanjang jalan, Raihan melamun menyaksikan angin menyapu debu menimpali wajah para pengendara. Semua sibuk merajut kisah untuk berjalan diatas bumi ini. Ia melihat sepasang manusia yang memiliki kekurangan, menjajakan dagangannya di depan toko. Senyum merekah terlihat pada wajah mereka. Sang ibu duduk diatas kursi roda yang dibuat sendiri dari bahan seadanya. Sedang si bapak, duduk diatas kursi sembari menegakkan tongkat untuk membantunya mengidentifikasi tanjakan keatas atau ke bawah di bumi. Ya, si ibu lumpuh dan si bapak buta. Raihan tertegun, kisah cinta yang luar biasa. Saling mengasihi dalam suka maupun duka.
"Assalanualaikum." ucapnya di ponsel. Menunggu respon sang juru bicara di seberang.
"Waalaikumsalam." jawabnya.
"Dara, dari sekian banyak jalan kau adalah tempat kembali. Maukah engkau kembali menerima diriku ini menjadi calon pendamping hidupmu?" Raihan menarik napas dalam. Ia menutup mata sebab mendengar hembusan napas Dara yang keluar keras. Sepertinya ia terkejut.
"Aku, aku-" ia terbata. Dara sendiri mengakui dalam hatinya mulai tumbuh rasa kehilangan sejak ucapan Raihan kala itu. Ia menutup mata, menenggelamkan jiwa di kedalaman samudera hati. "Aku mau menjadi bagian terpenting dalam hidupmu. Saling menemani dan mencintai di saat apapun. Insha Allah." ia merasa lega.
"Alhamdulillah. Terimakasih."Raihan mengakhiri perbincangan dengan kalimat salam yang membuat sang pujaan terbang. "Waalaikumsalam, cinta." Raihan menutup ponsel dan meraih Lana ke dalam pelukannya. Bayi itu tersenyum seperti mengerti perasaan sang ayah. Ia berharap kasihnya tak akan berubah meski kelak memiliki buah cinta yang kan lahir dari surganya.
"Ayah! Cinta." Lana menirukan kata terakhir Raihan. Ia tertawa sembari menutup bibir Lana agar ibunya tidak mendengar. Bisa malu sedunia dirinya jika terdengar.

24

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 415
***

"Saya,-" kalimat Raihan terhenti. Seseorang datang dari pelataran utama. Suara hentakan kakinya mengguncang. Masjid yang dipenuhi huru-hara mendadak senyap sepi mendapati pria berkumis tebal dan pakaian lusuh menghampiri. Tatapannya menyedihkan, terlihat kecewa juga sedih. Sudah satu tahun berlalu dengan cepat. Pria itu muncul dengan tiba-tiba. Pandangan mata semua orang tertuju pada sosok itu. Memandang dengan mata kosong tak percaya. Bukti kuasa Tuhan itu ada dan nyata.
"Attar." gumam Pak Haji melihat pemandangan di depannya. Tak terduga sama sekali. Bumi terasa bergetar mendengar salam. Attar datang ke masjid dengan perasaan bahagia. Ia berjalan menggunakan kain serban yang diberikan Pak Haji padanya. Sebagai isyarah inilah calon menantunya. Attar segera mengecup tangan Pak Haji dan memeluknya. Mentransfer segala perih, luka, bahagia, dan kesempatan kedua baginya. Tiada yang tidak mungkin terjadi sebab Tuhan itu ada.
"Bang Attar!" gumam Dara. Senyumnya mengembang sesaat kemudian lenyap tatkala memandang pria di sampingnya. Pria yang tengah berkutat dengan dua tangan yang disatukan. Ia sedang kebingungan hendak berkata apa padanya.
Attar berjalan ke dalam masjid menghampiri meja tempat sakral. Jabatan tangan antara Raihan dan Pak Haji terlepas. Ia menyembunyikan tangan dan memeluk Attar dengan erat. Tak terasa air jatuh dari matanya. Hatinya berkecamuk. Tiada kata selain maaf yang dapat ia bisikkan pada Attar. Walau sebenarnya tiada saling kenal. Mereka dipertemukan kali pertama. Melalui jalur langit, keduanya bisa saling bersimpuh dan meminta kasih sayang.
"Tak apa." Attar menepuk pundak Raihan. Sementara mtanya tertuju pada gadis disampingnya. Dara tertunduk menangis. Bagaimana bisa ia menata hatinya yang berkeping telah hancur tanpa hadirnya Raihan. Tetapi, dalam hatinya masih ada ukiran nama Attar. Pria yang dulu pernah menjadi calon pelengkap ibadahnya. Attar mengedipkan kedua matanya sembari tersenyum. Terlihat mengikhlaskan cintanya berpindah hati.
"Dara, maafkan aku. Kau harus kembali kepadanya." ucap Raihan lalu berdiri dan pergi dari tempatnya. Ia meletakkan Al-Quran tulisan tangan Attar dan lembar puisi diatas meja. Mempersilahkan Attar mengambil alih posisinya.
"Saya terima nikahnya Dara Aulia Az Zahra, ............" kalimat lantang itu disaksikan oleh banyak manusia. Semua bersyukur mengangkat tangan, menitipkan doa bagi pengantin baru itu. Kedua orang tua Dara menarik napas panjang. Merasakan hakikat sesungguhnya cinta.
Awan berlayar diatas bentangan kanvas jagad yang dicipta Tuhan. Hembusan sepoi angin turut serta menyejukkan urusan setiap manusia. Tiada kata menyerah dalam hidup, selama Tuhan bersama. Tiada menuai jika tak diawali menanam. Kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya tak boleh salah guna. Memperbaiki diri dan terus melakukannya. Tuhan tidak diam, dan alam tidak akan menolak kebahagiaan. Dua insan berlabuh dalam bahtera kehidupan bersama. Menciptakan rasa dan buah cinta yang sholih sholihah.

25

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 418

Keheningan malam di belahan dunia terjadi. Ada dua setengah bagian lain yang tengah merasakan indahnya matahari. Disini malam, terasa mencekam. Pengantin baru ini duduk di teras sembari membuka sosial media. Banyak sekali pesan berisi ucapan selamat. Keduanya merasa canggung. Duduk berdua sedekat itu belum pernah terjadi. Dara yang mulai bosan, akhirnya yang membuka suara.
"Suamiku, apa boleh diriku ini bersandar di bahumu?" Pria itu menoleh dan tersenyum. Ia mengangguk sembari memposisikan diri agar sang istri mudah. Dara merapatkan duduk dan menyandarkan kepala dibahu nyaman milik pria yang berstatus suami itu. Dara mendongak menatap wajah suaminya. Ia mendekat sembari menutup kedua mata. Terdengar detak jantung yang mulai tak beraturan. Kedua bibir itu hampir saja bersentuhan.
"Ehem ehem." suara berdehem membuyarkan lamunan mereka dalam pejaman mata. Senyumnya merekah tetapi terheran melihat seorang pria bersama bayi kecil tengah menarik koper besar.
"Mau kemana?" Dara bertanya sembari berdiri. Melepaskan pelukan hangat untuk menghampiri bayi itu. Teramat cinta ia padanya.
"Izinkan aku kembali ke Yaman. Aku ingin menetap disana. Mencari pendamping dan menua bersamanya." Dua insan di depannya tersentak. Baru saja ia selamat dari hantaman musibah, hendak pergi kesana lagi. Dara berusaha mencegah dengan argumennya. Ia membopong Lana yang sedari sore terus ikut dengan Attar.
"Kenapa kau harus pergi, Attar?" Raihan maju dan meminta Attar tetap disana. Membantunya memahami makna dunia dengan syariat dari luar. Attar adalah pecinta ilmu sedangkan Raihan adalah pecinta ... hm anak. Attar mengutarakan maksud kepergiannya seolah bukan karena benci dan belum sepenuhnya ikhlas melepas Dara untuk Raihan. Tetapi, tentang panggilan hati. Ia ingin berkumpul bersama waliyallah yang mencintai ilmu dan Al-Quran. Ia titipkan Dara pada Raihan tuk dijaga.
"Kutitipkan dia, jaga dia dan jangan menyakiti hatinya." kata Attar kemudian pergi selepas berpamitan dengan orang tua Dara yang anggap sebagai orang tuanya sendiri.
Kepergiannya tuk kedua kali tak lagi menyisakan duka. Dara bahagia dengan pernikahannya bersama Raihan. Hidupnya terasa lengkap dengan hadirnya Lana di tengah. Tak ada rasa gerutu hanya cinta. Mereka terpejam dalam lautan asmara. Kegelapan malan, ditemani remang lampu. Di balik kain tebal terdengar lenguhan panjang. Dinding pertahanan cinta roboh terbangun kembali dengan kasih yang meluap-luap. Kehangatan masuk ke dalam sekujur tubuh dan menyisakan derit yang jadi saksi malam itu. Tiada gundah dan sedih melanda, tersisa bahagia dan peluh yang bercucuran. Menyatukan kasih untuk Sang Maha Kekasih. Buah cinta terlambung doa pada Pencipta. Menjadikan mereka shalih shalihah seperti baginda. Terbangunlah mereka dari tidur melelahkan. Bersuci bersama dan menunaikan amalan sepertiga malam. Barisan langit menjadi atap, dan sepertiga malam adalah jalur langit untuk mendapatkan Dara. Ialah istri Raihan.

26

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 465

Dalam bayang-bayang kehidupan, cinta bersemi diantara kisah rumit manusia. Sederet masa dan seukir nama yang terus ada di hati. Menuntaskan makna dari kata yang belum rampung diseduh. Dara membuka mahar yang ia terima. Beberapa kertas jatuh berserakan. Ia memungutnya dan mulai melihat tulisan tangan indah disana. Tulisan itu ia berikan pada Raihan untuk tambahan mahar pernikahan. Attar yang menuliskan puisi dan mushaf Al-Quran itu telah pergi menjemput kebahagiaan.
"Ternyata ini lanjutan puisi dulu." Dara tersenyum penasaran akan kelanjutan kisah puisinya dulu. Ia menengok ke kanan ke kiri. Tetapi tak berjumpa dengan sang kekasih. Ia merebahkan diri di ranjang bersama Lana, putranya.
Tiada masa yang lurus
Tiada hujan yang tak berhenti
Tiada api jika tak disuluti
Hanya ada sebuah mimpi yang terus kutangisi
Aku melihat di puncak sidratul muntaha
Tak kutemui kau di lembaran takdirku
Apakah kau adalah mawar merah?
Yang dihiasi oleh keharuman dan keindahan
Kuharap mawar merah kan bertemu lebah pintar
Untuk menitipkan satu putik yang berkembang
Puisi itu diakhiri gambaran luas membentang lautan. Seakan menceritakan kisah hidup Attar di sepanjang perjalanan menuju pengharibaan. Tetapi sayang, ia mendapatkan kekuatan untuk bertahan. Dengan bantuan sepotong bangkai pesawat, ia terapung-apung di samudera. Napasnya tak letih melafalkan dzikir. Tiga hari berturut, tiada yang menemukan. Diakhir kisahnya ia ditemukan oleh seorang nelayan. Napasnya telah melemah, tetapi jiwanya menolak pergi. Ia harus bangun tuk menyampaikan mimpinya sesaat sebelum kejadian itu berlansung. Pesawat yang ditumpanginya kala itu menghadapi cuaca buruk mendadak. Sang pilot berujar untuk selalu berdoa keselamatan.
"Dara, sedang apa kau?" Suara Raihan memecah tangisnya. Ia bergegas mengusap mata dan pergi menghampiri. Kakinya terasa sakit. Ia terjungkal di lantai ketika hendak berjalan.
"Hati-hati. Masih sakit?" tanya Raihan sembari menahan tawa. Dara menabok punggungnya keras. Dia mengejek Dara lagi, padahal itu salah satu perbuatannya.
"Ada apa, Mas?" Dara mengalihkan topik sembari menelan ludah sebab berdekatan langsung dengan Raihan. Ia di bopong ke ruang tamu untuk menemui kedua orang tuanya. Dara tersipu, ketika ayahnya mrlihat adegan romantis itu.
"Wah wah apa ini, Bun? Bunci?" Pak Haji bertanya pada istrinya tentang virus anak muda zaman sekarang. Keduanya paham mengapa Dara harus di bopong oleh Raihan. Pasti hasil perbuatan pria itu.
"Bucin, Yah." sahut Dara. Ia menutup pembicaraan tentang malam itu pada orang tuanya. Malu rasanya terlihat kesakitan seperti itu. Ia juga masih merasa canggung bersama Raihan. Kali pertama ia sedekat dan semesra itu dengan pria lain, kecuali mahramnya.
"Gimana, Le?" Pak Haji mengompori lagi setelah beberapa waktu membicarakan masa depan dan penerus pengurus masjid yang akan diserahkan kepada Raihan. Pak Haji menahan tawa menatap putrinya tersipu malu. Istrinya menepuk paha Pak Haji agar berhenti menggoda Dara.
"Mantab, Yah. Mantab." mereka semua tergelak bersama. Malu sebenarnya. Tetapi memang faktanya, ia harus siap menghadapi fase itu. Dimana Sang suami berhak menanamkan kebaikan pada dirinya.
"Kalau kata ayah sih, bakal langaung jadi." sahut Pak Haji

27

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 477

Benar saja kata Pak Haji waktu itu. Pagi itu Dara merasakan sakit perut luar biasa. Ia sampai bersujud menahan sakit yang tak biasa ia rasa. Pikirannya berkata jika haid tak mungkin sesakit ini. Wajahnya sampai pucat pasi. Ia duduk di kantor dengan menghadap layar komputer. Pekerjaannya sebagai Tata Usaha di sekolah cukup membuatnya sibuk. Sesekali atau tepatnya tak jarang ia harus menggantikan guru yang berhalangan hadir untuk mengisi kelasnya. Ia meraih obat maag di samping komputer kemudian mengunyahnya. Sedikit terobati, memang ia jarang sarapan sebelum kerja. Tetapi kali pertama ia rasa sakit luar biasa.
"Astagfirullah." teriak Bapak Kepala Sekolah melihat Dara terbujur di lantai. Tangan kanan masih sibuk meremas perut. Ia masih sedikit sadar.
Di sepanjang perjalanan menuju puskesmas, Raihan terus melantunkan doa dan tak lupa menguatkan Dara. Ia sendiri bingung mengapa sang istri seperti ini. Ia belum pernah bercerita tentang sakit atau apapun itu. Katanya, ia tak apa mungkin telat makan saja. Raihan menggenggam tangan kanan Dara sembari menciuminya. Sesekali ia memegang perutnya dan mengelusnya dengan niat membantu agar tak rasa sakit.
"Tolong lebih diperhatikan kembali ya, Ibu dan Bapak. Terutama pola makannya ibu. Karena di dalam ada calon buah hati. Selamat ya, Pak dan Ibu." sahut bidan dengan sumringah. Di detik awal keduanya saling tegang, tetapi kejutan itu hadir. Perasaan bahagia meluap-lupa di hati. Mereka kembali ke rumah dan memberikan sedekah atas karunia Tuhan kali ini. Semua orang berdoa kebaikan untuk Dara dan suami.
"Benar kata ayah, Raihan memang topcer!" sahut Pak Haji tatkala berkunjung lagi ke rumah. Mendengar berita kehamilan putri satu-satunya membuatnya berbunga. Ia membagikan nasi bungkus setiap hari dalam seminggu di masjid untuk para jamaah. Berharap Tuhan melindungi anak-anaknya dan juga cucunya. Terutama yang masih di perut Dara.
"Jadi, Lana bakal punya adik." kata Bu Ita. Walau tak memiliki ikatan darah dengannya, beliau menyayangi Lana tulus. Tiada membedakan antara cucunya sendiri dan lainnya. Sosok panutan yang dirindukan Dara setiap malam. Lana terlihat bahagia walau belum mengerti hakikat adik yang sesungguhnya. Ia selalu menemani Dara kemana pun pergi. Seperti tak ingin adiknya kenapa-napa pula.
Di sepanjang malam, Dara tak bisa tidur nyenyak. Ia selalu resah gelisah. Perasaannya sensitif sekali. Setelah putranya tidur, Raihan naik keatas ranjang dan memeluk Dara. Tangan kanannya mengelus perut dimana jabang bayi berada. Ia lafalkan dzikir dan shalawat agar kelak sang buah hati menjadi anak shalih maupun shalihah. "Sayang, kamu kan hamil. Pasti tidak mestruasi."
Deg! Jantung Dara mencelos. Ia takut pikiran negatif Raihan muncul. Lagian tak mungkin ia memaksa dalam kondisinya yang tengah mengandung. "Ini kesempatan buat kamu lebih dekat sama Tuhan. Perbanyak shalat malam dan Al-Quran demi kebaikanmu dan calon bayi kita." lanjutnya. Dara merasa lega. Ia pun mulai terbuka pikiran. Benar saja kata Raihan. Waktu 9 bulan adalah waktu dimana seorang perempuan tidak haid sehingga bisa mengistiqomahkan ibadah.
"Inggih, tolong dibantu ya, Mas." ucap Dara menerima. Raihan mengangguk sambil tersenyum bahagia.
"Kita lakukan bersama." jawab Raihan.

28

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 531
***
Tiada yang tetap sama, kecuali hanya Dia. Siang berubah malam. Situasi harmonis pun tak luput selalu seperti itu. Ada saat dimana kerikil menjegal kaki salah satu tiang. Dalam kehidupan rumah tangga, selalu ada permasalahan. Sebagai batu loncatan menata hati dan menguatkan cinta. Pagi ini, semua orang beraktifitas dengan santai. Pekerja berat maupun ringan libur sehari guna menata struktur tubuh yang loyo.
"Nak, dimana suamimu?" tanya Bu Dewi selaku tetangga dekat rumah Dara. Berita kehamilan Dara membuatnya harus kembali ke rumah orang tuanya. Sedamgkan rumah Raihan di kontrakan. Sang ibu kembali ke kampung menemani keluarga putri pertamanya disana.
"Tadi ke lapangan mau jogging, bu." sahut Dara. Ia bangkit dari duduk. Lana turu dari pangkuan dan masuk ke rumah. Ia merasa sedikit lelah hari ini. Perutnya yang mulai membesar, sedikit membuat perubahan diri Dara. Pipinya sedikit menggembung. Selebihnya sama.
"Tadi saya lihat ada perempuan lorong itu, Nak. Sedang berduaan sama Raihan." ucapnya. Lalu bergegas meninggalkan Dara yang pucat pasi. Ia selalu percaya pada Raihan, tetapi jika menyangkut Hida takut terjadi hal buruk lagi.
Dara mulai panik. Tak mungkin ia biarkan suaminya berdekatan dengan wanita lorong yang pernah memfitnahnya. Lagi pula, ia juga pernah berjanji tak akan lagi mau bertemu dengan Hida. Lalu ini apa? Tega sekali Raihan membohongi istrinya yang tengah mengandung.
"Mas!" celetuk Dara. Ia membalikkan badan menutup wajahnya. Air mata mulai menggenangi pipi. Ia mengelus perutnya dan beranjak pergi.
"Dara, sayang kamu disini?" sebuah suara pria terdengar tak asing dan dekat. Dara menoleh mendapati Raihan disana. Secepat itu Raihan sampai di belakangnya. Dara mencari-cari Hida. Ia menemukan wanita itu tetap berada di tempat dimana Raihan menautkan apa yang seharusnya hanya Dara rasakan. Hida tersenyum manis disana.
"Dara, mau kemana kamu?" Raihan berteriak melihat sang istri berlari kencang dalam keadaan hamil besar.
"Kamu gila, Mas!" teriak Dara sedikit membentak. Ia tak menyangka emosi yang meluap-lupa tak bisa terkendali. Tangisnya menjadi. Ia takut azab Tuhan datang menimpali dirinya yang membentak suami. Dara tertunduk lemah di jalan. Ia meraung histeris. Kebohongan Raihan terlewat batas. Sedangkan Raihan berdiri kaku me.demgar bentakan Dara. Ia sendiri tak mengerti mengapa istrinya begitu marah. Pikirannya semakin rumit, ia tak ingat sama sekali perbuatan apa yang ia lakukan sampai Dara marah seperti ini. Ia berjongkok mensejajarkan diri. Kedua tangannya merangkul Dara. Tetapi, Dara menolak. "Pergi!"
"Apa salahku? Kalau karena aku bertemu Hida saja kau cemburu, lalu apa ini yang kau bilang kepercayaan?"
"Jangan pernah bicara kepercayaan disini, Mas!" Dara masih terbawa emosi. Ia geram sebab Raihan masih berkelit tak mengakui kesalahannya.
"Lalu apa? Berubah ya kau! Aku hanya bertemu dengannya tanpa sengaja." jelas Raihan. Dara mengernyit.
"Tak sengaja? Lihat bibirmu, Mas! Aku lihat dengan mataku ini kau berciuman dengannya!" ia tak sanggup melanjutkan. Sementara Raihan terkejut. Ia mengusap bibir dan mendapati sebuah lipstik disana. Tetapi pagi bukankah mereka sempat berciuman juga. Raihan masih merasa tak bersalah.
"Ini bekas lisptikmu lagi tadi."
"Kau bohong lagi, Mas. Aku tidak pernah menggunakan lipstik seperti itu. Sudahlah, Mas kau bisa melanjutkan hubungan bersamanya. Dia lebih cantik dari diriku yang gendut ini." Dara berjalan meninggalkan Raihan. Ia tak mengindahkan segala penjelasan Raihan karena tak sedikitpun merasa bersalah atau mengakui perbuatannya. Dara mendiamkan pria itu. Sampai pria itu lama-lama frustasi sendiri setelah seharian dimusuhi sang istri.

29

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 456
"Masih marah ya?" tanyanya sembari memasang mimik wajah memelas. Dara mengernyitkan dahi. Bibirnya seperti komat kamit kesal. Raihan lalu mendekat dan mulai menjalankan misinya.
"Mas geli, ya ampun." gumam Dara mendapat gelitikan dari suaminya. Ia sampai terpingkal hanpir terjungkal. Raihan tak berhenti menggelitiki sampai Dara mengatakan tak akan mendiamkannya lagi. Ya, dengan terpaksa ia mengaku salah karena telah berdiam. Tetapi, ia juga masih menunggu jawaban penjelasan dari Raihan.
"Assalamualaikum." Sebuah suara terdengar diluar menguluk salam. Keduanya bergegas mendekati pintu. Mendapati beberapa warga datang, membawa Hida. Ia di himpir warga sebab meronta ingin pergi.
"Waalaikumsalam, ada apa ini, Bapak Ibu?" Raihan menjadi penasaran. Baru kemarin lalu ia bertemu dengan Hida di lapangan, sekarang ia disini bersama mereka. Apa lagi yang ia perbuat.
"Mas perempuan ini teman anda bukan? Kami mau mengusir dia dari kampung sebab perbuatan yang tidak senonoh. Ia menghipnotis setiap pria agar bisa digunakan sebagai alat memuaskan diri. Dan, dengan itu hubungan harmonis setiap pasangan suami istri akan berakhir. Lebih tepatnya ia menginginkan suami orang. Lalu menjarah harta mereka. Banyak yang jadi korban, Mas." jawab salah satu warga. Kebetulan sekali, di kampung mereka Raihan dipercaya sebagai ketua RT sehingga segala macam pengaduan dilaporkan dulu padanya.
"Hah hipnotis?" desis Dara. Ia mengingat kejadian kemarin hari. Berarti memang benar Raihan tidak melakukan perbuatan keji itu. Dara menatap suaminya dengan penyesalan. Ia menggamit lengan Raihan dan mengecup tangan kanannya yang hendak pergi ke kantor polisi. Melaporkan tindak tak beradap tersebut.
"Mas pergi dulu, Sayang." Raihan tersenyum tipis mendapati istrinya yang menyesal. Ia merasa puas sebab pokok permasalahan yang ia hadapi berakhir. Raihan mencium kening istri dan perut yang di dalamnya ada sang buah hati hasil keringatnya berdua.
Musim penghujan mendatangi setiap sudut kota. Di perkampungan atau kompleks juga terasa. Setiap malam datang, Dara hanya menunggu tangan Raihan. Mengusap perut yang merindukan sentuhan ayahnya. Lana selalu tidur di tengah. Ketika hendak berpelukan, Lana selalu menolak. Ia merangkul Dara dan adiknya dengan emosional. Seperti mendapatkan emas besar yang ia ambil dari toko. Benar saja, wanita di samping Raihan terasa seperti emas yang sangat mulia.
"Dara!" desisnya. Kakinya mensejajarkan. Jari jempolnya bergerak menggelitik telapak kaki Dara. Matanya mengedip sebelah. Seperti sebuah kode rahasia. Ia langsung paham. Tangannya yang mengelus punggung Lana langsung berpindah menunjuk perut buncitnya. Lagi lagi, Raihan harus menahan diri. Hasratnya tengah meluap, ia meraih Lana dan meletakkan di tepi ranjang. Kemudian ia peluk istrinya erat sembari menautkan perasaan masing-masing. Mereka terbangun setelah empat jam terlelap dalam posisi itu. Bergegas menjalankan shalat malam dan membaca surat pilihan. Setiap hari begitu, walau dalam kondisi saling emosi. Kebiasaan itu mereka lakukan demi kebaikan calon bayi, Lana dan diri mereka sendiri. Doa agung dilantunkan dengan air mata bahagianya. Dara menari diatas penantiannya yang telah lama. Kini, sudah ada di depan mata. Alhamdulillah.

30

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 44
- Kelompok 11
- Goresan Sastra
- Jumlah kata 473
***
Syukur tiada tara terlantun diatas sajadah panjang. Menitipkan salam hangat pada setiap barisan doa manusia. Alam serentak tunduk pada Pencipta. Mengisyaratkan agar tak berani melawan kehendak-Nya. Permasalahan dalam hidup adalah anak tangga. Semakin tinggi seseorang berdiri, semakin besar pula gelombang yang kan menerjang. Cara Tuhan merindu rintihan umat-Nya. Unik ya hidup ini. Orang yang sekali pun berpikir tentang percintaan, kemungkinan besar digoda oleh itu lebih besar. Pun sebaliknya. Banyak rintihan yang terurai bersamaan air matanya. Entah perasaan iri pada lain atau sebab sepinya hidup tanpa cinta.
"Sayang, kamu pasti kuat." tegas Raihan sembari menggenggam tangan kanan Dara. Wanita itu terbaring lemah menahan sakit di bagian perutnya. Kontraksi dadakan yang akhirnya harus memaksa dikeluarkan. Semua anggota keluarga harus ikhlas bayi itu keluar dari kehangatan rahim dengan jalan caesar.
"Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah." lantunan dzikir permohonan ampun tiada henti dari bibir merah Dara. Air matanya tak kunjung berhenti. Rasa sakitnya memang berkurang oleh obat cair yang disuntikkan pasukan berseragam putih itu. Ada selembar kain berwarna hijau menutupi tubuh Dara sebagian bawah. Menyisakan para dokter yang tengah mengiris-ngiris lapisan perutnya.
Lama waktu berjalan. Bunda dan ayah Dara serta Ibu Raihan masih sibuk berkomat kamit. Memasrahkan segala urusan pada kuasa Tuhan. Lana dipangkuan ibu Raihan masih setia menunggu calon adiknya. Ia mulai aktif berbicara, menanyakan keadaan, tak lupa menirukan segala suara yang di dengar. Sesekali ia berbaring di pangkuan neneknya sembari menyedot botol susu.
"Bunda, tenang dong." Pak Haji berusaha memberikan ketenangan pada sang istri. Sesama wanita pasti mengerti rasa apa yang ada di tubuh Dara.
Drrrrt. Pintu terbuka. Dokter utama keluar ruang operasi dan memberi arahan kepada Raihan dan keluarga untuk masuk ke ruangannya. Dara di dalam merasakan setengah dari hidupnya mulai pergi. Tangisan putri kecilnya terdengar bak panggilan surgawi. Tetiba ia terlelap. Alat pemantau jantung menampilkan deretan garis lurus. Dara tersenggal-senggal dan kejang. Para suster di dalam terserang panik. Seorang diantaranya memanggil dokter guna mengecek kondisi Dara.
"Maaf, Pak. Istri anda mengalami komplikasi dan saat ini sudah tidak bernyawa." ujar dokter tatkala kembali ke ruangan. Raihan menatapnya kosong. Tiada percaya diri pada apa yang terjadi. Air matanya menetes deras. Ia teringat hal-hal manis bersama dengan Dara. Pandangannya teralih pada Lana. Bayi itu tersenyum dan ingin berpindah pada sang ayah.
"Tidak mungkin." teriak Raihan. Ia berlari kearah ruang operasi sambil tertatih membopong Lana. Meninggalkan penjelasan dokter kepada keluarganya. Ia hanya ingin melihat apakah benar Dara meninggalkannya dengan sejuta harapan dan cita masa depan. "Dara!" Ia mengguncang tubuh Dara. Ia ciumi wajahnya yang mulai memucat.
"Ibu!" Lana mendesis pelan. Raihan menoleh padanya dan memeluknya. Para suster mulai menjauhkan Raihan. Tetapi ia mendorong suster itu, karena masih yakin Dara tak akan meninggalkannya sendiri lagi. "Ibu!" Sekali lagi Lana mendesis. Tangannya kini berada di tangan Dara. Raihan mendudukan Lana di tepi ranjang Dara.
"Mas!" suara itu tak sing terdengar. Masih sama seperti malam dimana aku bisa menyentuhnya dengan bebas.

Mungkin saja kamu suka

Husnayaini Hawa...
Aziya
NIMAS AYU KUSUM...
Biarkan Ku Meraih Impian
Alya kania
First Love

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil