Loading
0

0

29

Genre : Romance
Penulis : Tri Mulyani
Bab : 31
Dibuat : 18 April 2022
Pembaca : 3
Nama : Tri Mulyani
Buku : 1

Catatan Perawat Magel

Sinopsis

Kamila seorang perempuan muda yang bercita-cita ingin menjadi polisi atau tentara,namun kenyataan tidak seperti yang ia harapkan. Bagaimana kisah kehidupanny dan bagaimana ia menjalani takdirnya. Semua terangkum dalam Catatan Perawat Magel
Tags :
#Sarapankata #KMOIndonesia #KMOBatch44 #Kelompok19 #Day1 @zizahra3 @animayani

Hidup Adalah Pilihan

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day1

#JumlahKata577

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

BAB I

Hidup Adalah Pilihan

 

“Aku ingin menjadi polisi atau tentara” kata seorang anak perempuan SMA ketika ia ditanya apa cita-citanya. Dengan semangat dia melatih fisiknya agar sehat dan kuat sehingga bisa masuk seleksi secaba POLRI. Bersama seorang temannya yang juga ingin menjadi polisi. Sepulang sekolah ia tak pernah bermain tapi waktu yang ada digunakan untuk berlatih dan berlatih. Namun apa yang Allah takdirkan tidak sesuai dengan keinginannya.

 

Segala sesuatu yang Allah ciptakan di dunia ini pasti berpasangan atau ada dua sisi yang berlawanan.seperti siang dan malam, ada laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, susah senang dan lain sebagainya. Dari situ kita harus pahami bahwa hidup adalah pilihan dimana kita tak bisa memilih dua-duanya dari apa yang ditentukan Allah kepada kita. Sepertihalnya kita diciptakan Allah menjadi seorang perempuan pastilah ada hikmah yang tersembunyi kenapa kita dilahirkan menjadi perempuan.

 

Saat kita terlahir menjadi seorang perempuan itu sudah menjadi pilihan mutlak yang harus kita terima, kita tak bisa merubah takdir itu. Maka dengan sendirinya kita akan tahu apa yang harus dilakukan oleh seorang perempuan. Apa yang pantas digunakan oleh perempuan dan kita tahu apa kodrat kita sebagai perempuan. Meskipun dijaman sekarang kita sering mendengar adanya persamaan gender namun kita tak bisa merubah kodrat kita yang tak bisa dilakukan oleh laki-laki.

 

Begitupun tentang kehidupan kita apa itu jodoh, pekerjaan maupun yang lainnya. Semua sudah ditentukan. Terkadang kita belajar, sekolah, kuliah di satu fakultas yang kita pilih namun ketika kita selesai kuliah ternyata sangat sulit mencari pekerjaan dan akhirnya kita memilih bekerja ditempat yang mau menerima kita bukan bekerja ditempat yang kita inginkan yang sesuai dengan ijazah yang kita miliki.

 

Menjalani hidup sesuai impian kita rasanya sangat membahagiakan, sekolah ditempat favorit, bekerja sesuai kemampuan kita, berteman dengan orang-orang yang sejajar, berada dilingkungan yang nyaman, berinteraksi dengan damai dan tak ada konflik. Namun pada kenyataannya hidup tak seindah yang kita bayangkan, karena kehidupan yang kita pilih pasti akan mengalami berbagai macam rintangan,hambatan dan cobaan.

 

Lalu bagaimana kita bisa menjalani kehidupan nyata yang kita pilih namun tidak sesuai dengan impian kita? Jawabannya ada dihati kita masing-masing, apakah kita akan menyesali pilihan hidup yang telah kita pilih dan terus menyalahkan keadaan tanpa berfikir untuk merubah takdir agar menjadi lebih baik? Atau kita berfikir positif dari apa yang telah kita terima dan menerima dengan lapang dada? Mari tanyakan pada hati kita.

 

Sesungguhnya kebahagiaan bukan dari impian kita tapi dari rasa syukur menerima dengan ikhlas atas apa yang telah Tuhan berikan kepada kita dan sebaik mungkin kita memanfaatkan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Dan mulailah dengan selalu tersenyum, seperti kata pepatah “nasib baik akan selalu datang ketika memulai segalanya dengan senyuman”

 

Sebagai makhluk Tuhan kita mempunyai fase-fase kehidupan yang harus kita lalui satu persatu. Dimulai dalam kandungan ibu lalu lahir kedunia menjalani kehidupan sebagai manusia dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa sampai menjadi orangtua. Setelah itu kita akan menghadapi fase selanjutnya yaitu kematian dan alam kubur. Dan selanjutnya kita akan dikumpulkan dipadang maksyar hingga akhir perjalanan kita akan berada di surga atau neraka, Allahualam.

 

 Tahap awal dari kehidupan manusia adalah didalam kandungan. Dimana setelah adanya pernikahan maka akan terjadi hubungan suami istri sehingga terjadi pembuahan yang akan menjadikan seorang perempuan hamil. Dikutip dari Cleveland Clinic, inti dari proses pembuahan adalah ketika sel sperma masuk kedalam rahim, berhasil melewati tuba falopi lalu bertemu dengan sel telur di rahim. Kehamilan diawali oleh proses fertilisasi (pembuahan) yang berlangsung selama 72jam setelah sperma bertemu ovum (sel telur). Setelah itu berkembang menjadi janin dan terus berkembang menjadi bayi yang sempurna.

 

 

 

 

 

 

 

 


Hidup Adalah Pilihan

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day2

#JumlahKata421

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

Tahapan selanjutnya dari kehidupan seorang manusia adalah alam dunia, disinilah kita manusia ditempa dengan berbagai ujian dan cobaan. Ketika masih bayi atau anak-anak mungkin kita tidak merasakan beratnya cobaan hidup karena kita tidak disibukan dengan beban berat seperti mencari nafkah, menghadapi masalah dengan teman kerja, tetangga, orangtua dan sebagainya.

Secara psikologis usia dewasa muda berkisar antara 19-40 tahun. Pada tahap pertumbuhan manusia ini telah tercapai kematangan dalam berbagai aspek. Fokus kehidupan dimasa dewasa muda terletak pada pekerjaan, pernikahan dan keluarga. Manusia pada masa ini tampak prima, mandiri, bertanggungjawab, dan mampu mempertimbangkan konsekuensi yang dihadapi atas perbuatan mereka. Selanjutnya fase dewasa tengah terjadi pada usia 40-60 tahun. Fokus mereka adalah merawat anak, bekerja, berkontribusi dalam masyarakat. Namun masa ini mereka mulai kurang prima karena bagi perempuan mereka mulai mengalami menopause.

Fase selanjutnya adalah masa lansia atau dewasa akhir usia 60 tahun keatas. Pada masa ini manusia mulai mengalami kemunduran pada pertumbuhan dan perkembangannya. Baik fungsi kognitif maupun psikomotorik, dimana mereka mengalami keterbatasan kata, aktifitas, dan biasanya lebih fokus pada spiritualnya. Lansia lebih banyak melakukan aktifitas dirumah seperti berkebun, merawat bunga atau tanaman, merajut atau sekedar membaca buku.

Ketika memasuki masa sekolah kita mulai merasakan beban hidup, ujian sekolah dimana kalau tidak belajar dia akan mengalami kegagalan diakhir studynya. Mulai ada konflik dengan teman-temannya, mulai merasakan kesulitan menghadapi mata pelajaran yang dianggap sulit dan masalah-masalah kecil lainnya. Usia sekolah kita masih labil dan belum bisa berfikir dengan baik bagaimana menghadapi masalah yang ada, dan masa sekolah adalah masa dimana kita sering membangkang dan semaunya dalam bertindak karena remaja belum memahami efek atau akibat dari perbuatan yang dilakukan.

Setelah masa sekolah dilalui kita akan merasakan beban yang lebih berat didunia kampus. Bagaimana kita beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dengan sekolah,bagaimana kita bergaul dengan teman-teman baru dengan beragam karakter serta status sosialnya juga bagaimana menghadapi system pembelajaran yang lebih canggih dibandingkan dengan di sekolah. Dari sini kedewasaan seseorang mulai terbentuk. Kita mulai bisa memahami mana yang baik mana yang tidak baik. Kita bisa merencanakan sesuatu, bisa mengambil keputusan dan juga bisa menentukan tujuan.

Ketika kita mulai memasuki dunia kerja setelah mendapatkan ijazah dari kuliah kita akan merasakan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan kerja, dengan rekan kerja yang kadang tidak sejalan dengan cara kerja kita. Kita juga akan berhadapan dengan atasan yang memiliki karakter yang tidak sesuai bayangan kita. Dimana ada beberapa tipe karakter pemimpin, diantaranya pemimpin dengan tipe demokratis, otoriter, karismatik, militeristik, dan paternalistic. Ketika kita tidak siap menghadapi karakter pimpinan kita ditempat kerja maka kita tidak bisa bekerja dengan nyaman dan berdedikasi tinggi dalam pekerjaan.


Hidup Adalah Pilihan

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day3

#JumlahKata522

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

Seperti yang dialami Kamila seorang perempuan muda yang punya cita-cita menjadi polisi atau tentara. Kamila tinggal disebuah desa dibawah gunung slamet. Sejak kecil ia tumbuh menjadi anak yang aktif, ceria dan ramah. Ia juga anak yang patuh pada kedua orangtuanya, meski sejak kecil ia lebih banyak tinggal bersama neneknya, karena adiknya yang masih bayi sering sakit-sakitan, namun ia tetap dekat dengan orangtuanya.

Terutama dengan ayahnya ia sangat dekat, benar kata pepatah bahwa ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan. Kemanapun ayahnya pergi ia sering ikut atau diajak pergi. Seperti menggembala kambing dan kerbau, tak jarang ia sampai tertidur diatas punuk kerbau karena kecapaian. Sambil menggembala ia bermain layangan bersama ayahnya. Kadang juga bermain air disungai yang jernih.

Kamila tumbuh di lingkungan yang cukup baik, keluarganya harmonis, tetangganya baik, dan suasana desanya yang sejuk dan damai membuat orang yang datang merasa nyaman. Meski begitu ternyata ia mengalami masa-masa yang membuatnya kecewa, sedih dan akhirnya harus memilih jalan hidup yang sudah ditentukan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sejak SD ia selalu bisa mendapat ranking 3 besar dikelasnya, namun ketika lulus SD dia kecewa karena mendapatkan ranking 3 sehingga tidak bisa melanjutkan ke SMP N 1 yang menjadi favorit diwilayahnya saat itu. Dan yang lebih mengecewakan temannya yang ranking satu dan dua tidak melanjutkan sekolah. “aah... Kenapa nilainya ngga buat aku saja? Dengan nilainya aku bisa masuk SMPN 1” begitu pikirnya. Begitulah awal kekecewaan yang dirasakan Kamila, yang akhirnya ia masuk ke SMPN 2 di wilayahnya.

Meski tidak masuk SMP favorit namun Kamila tetap bersemangat untuk belajar bersama teman-teman barunya. Ia memang mudah bergaul jadi mudah mendapatkan teman baru. Selama belajar di SMP ia tidak menonjol dalam pelajaran, karena banyak saingan dari berbagai desa di wilayah kecamatannya. Ia hanya menonjol dari keaktifannya, karena keceriaannya dan keramahannya.

Setiap anak mempunyai keistimewaan atau kecerdasannya masing-masing. Ini yang sering tidak dipahami oleh kebanyakan orangtua. Mereka hanya berfokus pada nilai akademiknya saja, orngtua sering menuntut kepada anak-anaknya agar menjadi juara, menjadi bintang kelas, dan selalu mendapat ranking 1 dikelasnya. Padahal anak-anak punya kecerdasan yang berbeda. Ada anak yang memiliki kecerdasan IQ, ada juga yang memiliki kecerdasan dari sisi EQnya. Orangtua tidak bisa memaksakan anaknya menjadi seperti anak yang lain. Seorang anak tidak bisa memilih saat dia dilahirkan mau menjadi pintar apa bodoh, menjadi bintang kelas ataupun juara. Mereka hanya menerima pilihan yang sudah ditentukan oleh sang pencipta yang maha sempurna. Dialah Alloh yang memberikan kita kekurangan namun diimbangi dengan kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

Kembali pada Kamila, ia tak bisa memilih kehidupan seperti orang lain. Dia tetap bahagia menjalani kehidupannya yang enjoy walaupun dengan keterbatasan materi maupun sarana hidup.

Lulus SMP Kamila mulai bimbang apakah akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMA atau tidak. Ia melihat kondisi perekonomian orangtuanya yang pas pasan rasanya sulit untuk dia melanjutkan sekolah ke SMA atau SMK. Namun orangtuanya yang mendukung ia untuk melanjutkan sekolah, masalah biaya sekolah itu urusan orangtua. “Tugas kamu hanya belajar, tidak usah memikirkan soal biaya” begitu kata orangtuanya, sehingga Kamila mencoba mendaftarkan diri di SMA N yang baru satu tahun berdiri. Dengan pemikiran karena sekolah baru mungkin biayanya tak semahal sekolah favorit yang sudah berdiri lama.


Hidup Adalah Pilihan

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day4

#JumlahKata559

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

Dengan bismillah Kamila memulai masuk sekolah di SMU N yang baru satu tahun berdiri. Dengan sarana dan prasarana yang terbatas para siswa mengikuti pelajaran dan praktikum ala kadarnya. Tak jarang mereka membawa peralatan dari rumah masing-masing, meski begitu ilmu yang diteruskan harus sampai kepada anak-anak sekolah. Anak-anak pun tidak ada yang protes dengan sarana yang terbatas.

Saat itu gedung juga belum lengkap, baru beberapa ruangan saja yang tersedia, ruang kelas juga baru ada tiga, sehingga anak-anak harus masuk bergantian. Bila minggu ini kelas 2 masuk pagi maka kelas 1 masuk sore, begitu sebaliknya. Kamila sering merasakan ketika ia mendapatkan masuk sore maka akan sulit mencari angkutan. Tak jarang ia harus menghentikan mobil truk atau bis besar agar ia bisa sampai ke sekolah. Dan saat pulang tak bisa menemukan angkutan yang akhirnya membuat ia pulang ke rumah temannya yang dekat dengan sekolah mereka.

Hari demi hari, bulan demi bulan ia lalui seperti itu, menjadi pelajar petualang dengan cerita yang selalu berbeda setiap harinya selama bersekolah disana.

Kegiatan ektrakulikuler pun ia ikuti meski membuatnya tidak bisa pulang kerumah. Entah bagaimana kecemasan orangtuanya karena saat itu belum ada alat komunikasi handphone seperti sekarang ini. Namun bermodal kepercayaan orangtuanya bahwa apapun yang ia lakukan asal itu hal positif, meski tidak ada kabar kepulangannya,ia akan baik-baik saja. Karena itu Kamila tidak pernah takut atau ambil pusing. Kalau temannya tidak bisa menampungnya untuk bermalam ia bisa mencari tempat lain, atau tidur di sekolah.

Sampai akhirnya ia di kelas 3 SMA dimana anak-anak mulai ditanya akan melanjutkan kemana setelah lulus SMA. Apa cita-cita yang mereka inginkan kelak. "Aku ingin menjadi polisi atau tentara" begitu jawab Kamila dengan tegas. Sejak ia tahu tentang seleksi calon bintara setiap hari ia melakukan latihan fisik, pulang sekolah ia berlari mengelilingi lapangan atau menelusuri jalan desa dengan waktu yang ditentukan. Sampai akhirnya waktu seleksi tiba, ia bersama temannya pergi ke polres setempat untuk meminta formulir pendaftaran. Diawali dengan pemeriksaan fisik seperti mengukur tinggi badan dan berat badan, dan beberapa pertanyaan lain.

Untuk formulir dibawa pulang karena terdapat form persetujuan orangtua. Setelah sampai dirumah ia memberikan surat persetujuan itu kepada ayahnya. Dengan senang hati ayahnya langsung memberikan tanda tangannya dan memberikan semangat agar ia bisa lolos dan menjadi polisi yang membanggakan. Namun ketika surat itu diberikan kepada ibunya ia mulai merasa sedih, ibunya tidak mau menandatangani surat itu dan sambil menangis ibunya mengatakan "ibu takut kamu nanti ditempatkan diluar pulau jawa, ibu takut tidak bisa melihat kamu lagi dan ibu takut kamu pulang tinggal nama...".

Akhirnya dengan berat hati Kamila memilih untuk tidak melanjutkan proses secaba polri itu. Ia tidak mau membuat ibunya sedih, meski ayahnya mendukung penuh namun restu ibu adalah segalanya bagi Kamila. Meski kecewa karena tidak bisa menggapai cita-citanya namun Kamila yakin dengan pilihannya untuk taat kepada orangtua. Dengan taat kepada orangtuanya ia yakin kelak akan mendapatkan yang lebih baik daripada menjadi seorang polisi.

Sejak saat itu Kamila bingung apakah ia bisa kuliah atau ia harus mencari kerja. Melihat kondisi perekonomian keluarganya rasanya tidak mungkin ia bisa kuliah, namun jika tidak kuliah maka besar kemungkinan ia akan menikah dini, karena ketika ia memutuskan untuk lanjut ke SMA juga karena sudah ada orang yang datang kepada ayahnya untuk melamarnya, apalagi sekarang ketika ia sudah lulus SMA. Kamila tidak ingin menjadi beban tapi ia ingin melanjutkan sekolahnya, maka ia ingin menjadi polisi karena yang ia tahu pendidikan polisi tidak ada biayanya.


Kenyataan Tak Seindah Mimpi

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day5

#JumlahKata468

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani



Bab 2

Kenyataan Tak Seindah Mimpi

Kegagalan masuk secapa polri akhirnya membuat Kamila memutuskan untuk melupakan cita-citanya menjadi polisi. Setelah ia berfikir bagaimana cara ia bisa menghindari lamaran orang, mau ikut jadi TKW seperti yang sedang ramai dilakukan perempuan-perempuan muda didesa itu, namun ayahnya tidak setuju. "Ayah tidak ingin anak ayah jadi pembantu, apalagi diluar negeri, ayah tidak mau anak ayah dibentak-bentak oleh majikannya, bagaimanapun kamu harus melanjutkan sekolah! " begitu kata ayah Kamila dengan penuh semangat. Kamila lalu masih berfikir dimana ia harus kuliah? Tidak mungkin rasanya kuliah dikampus umum karena menurut pengamatannya teman-temannya yang kuliah di fakultas ekonomi misalnya mereka selain belajar juga bergaya mengikuti trend yang sedang naik daun (berbeda dengan sekarang, jangankan anak kuliah, anak SMA saja gayanya minta ampun) sementara ia tahu diri dengan kondisi ekonomi keluarganya, baju yang pantas saja tidak punya, hanya baju harian kaos oblong, clana kulot yang jadi andalannya.

Setelah kesan kemari akhirnya Kamila memutuskan untuk masuk ke AKPER (Akademi Keperawatan) karena disana ia akan memakai seragam dan tinggal di asrama, jadi tidak perlu sering beli baju untuk ganti tiap hari. Dan ketika ia minta ijin kepada orangtuanya mereka seruju dan akhirnya masuk kuliah keperawatan. Meski orangtuanya tahu kuliah di fakultas ilmu kesehatan tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan, namun orangtuanya sangat mendukung karena ingin anaknya bisa meningkatkan derajat atau status sosial orangtuanya. Orangtuanya ingin anaknya bisa membanggakan karena punya pendidikan tinggi, tidak seperti ayah dan ibunya yang hanya lulus SD. "Bismillah ya nak... Kita prihatin bersama, kamu yang rajin belajarnya, kami yang semangat bekerja untuk biayanya" begitu tekad yang kami ucapkan bersama demi menggapai cita-cita besar seorang yang tidak mampu.

Dengan penuh semangat Kamila mengikuti pelajaran, SKS demi SKS tanpa memikirkan bagaimana orangtuanya bersusah payah mencari uang untuk biaya kuliahnya. Teori dan praktek ia lalui dengan gembira, meski kadang mendapatkan omelan dosen, mendapat remidi ketika test sampai gagal pada ujian sidang dan harus mengulang, namun Kamila tetap gambira dan menikmati proses itu. Sampai akhirnya ia bisa wisuda dengan gelar AMd. Kep (ahli madya keperawatan)

Betapa bahagianya kedua orangtua Kamila melihat anaknya memakai toga dan mendapatkan ijazah dari kampus yang selama ini tidak pernah terbayang kalau anaknya bisa belajar disini. Betapa bangganya orangtua yang tidak berada namun bisa menyekolahkan anaknya sampai D3, keperawatan pula, yang kala itu masih dianggap mahal dan bergengsi karena masih jarang yang bisa masuk kesana. Semoga ilmunya barokah dan bermanfaat. Aamiin

Usai wisuda mereka kembali kerumah, Kamila mulai merenung kemana ia akan mencari kerja setelah ini. Tidak mungkin rasanya kalau harus berdiam diri jadi pengangguran setelah selama tiga tahun ia dan orangtuanya berjuang mati-matian untuk bisa mendapatkan ijazah D3 keperawatan. Kamila mulai membuat surat lamaran baik ke RS pemerintah maupun swasta yang ada disekitarnya. Juga ke klinik dan praktek dokter swasta ia masuki untuk memberikan surat lamaran. Sampai satu bulanan tidak ada kabar dari manapun.


 


Kenyataan Tak Seindah Mimpi

0 0

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-536869121 1107305727 33554432 0 415 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-469750017 -1073732485 9 0 511 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-font-kerning:1.0pt; mso-ligatures:standardcontextual; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-font-kerning:1.0pt; mso-ligatures:standardcontextual; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:8.0pt; line-height:107%;} @page WordSection1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.WordSection1 {page:WordSection1;} -->

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day5

#JumlahKata468

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani


<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-536869121 1107305727 33554432 0 415 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-469750017 -1073732485 9 0 511 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:8.0pt; line-height:107%;} @page WordSection1 {size:595.3pt 841.9pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.WordSection1 {page:WordSection1;} -->

Bab 2

Kenyataan Tak Seindah Mimpi

Kegagalan masuk secapa polri akhirnya membuat Kamila memutuskan untuk melupakan cita-citanya menjadi polisi. Setelah ia berfikir bagaimana cara ia bisa menghindari lamaran orang, mau ikut jadi TKW seperti yang sedang ramai dilakukan perempuan-perempuan muda didesa itu, namun ayahnya tidak setuju. "Ayah tidak ingin anak ayah jadi pembantu, apalagi diluar negeri, ayah tidak mau anak ayah dibentak-bentak oleh majikannya, bagaimanapun kamu harus melanjutkan sekolah! " begitu kata ayah Kamila dengan penuh semangat. Kamila lalu masih berfikir dimana ia harus kuliah? Tidak mungkin rasanya kuliah dikampus umum karena menurut pengamatannya teman-temannya yang kuliah di fakultas ekonomi misalnya mereka selain belajar juga bergaya mengikuti trend yang sedang naik daun (berbeda dengan sekarang, jangankan anak kuliah, anak SMA saja gayanya minta ampun) sementara ia tahu diri dengan kondisi ekonomi keluarganya, baju yang pantas saja tidak punya, hanya baju harian kaos oblong, clana kulot yang jadi andalannya.

Setelah kesan kemari akhirnya Kamila memutuskan untuk masuk ke AKPER (Akademi Keperawatan) karena disana ia akan memakai seragam dan tinggal di asrama, jadi tidak perlu sering beli baju untuk ganti tiap hari. Dan ketika ia minta ijin kepada orangtuanya mereka seruju dan akhirnya masuk kuliah keperawatan. Meski orangtuanya tahu kuliah di fakultas ilmu kesehatan tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan, namun orangtuanya sangat mendukung karena ingin anaknya bisa meningkatkan derajat atau status sosial orangtuanya. Orangtuanya ingin anaknya bisa membanggakan karena punya pendidikan tinggi, tidak seperti ayah dan ibunya yang hanya lulus SD. "Bismillah ya nak... Kita prihatin bersama, kamu yang rajin belajarnya, kami yang semangat bekerja untuk biayanya" begitu tekad yang kami ucapkan bersama demi menggapai cita-cita besar seorang yang tidak mampu.

Dengan penuh semangat Kamila mengikuti pelajaran, SKS demi SKS tanpa memikirkan bagaimana orangtuanya bersusah payah mencari uang untuk biaya kuliahnya. Teori dan praktek ia lalui dengan gembira, meski kadang mendapatkan omelan dosen, mendapat remidi ketika test sampai gagal pada ujian sidang dan harus mengulang, namun Kamila tetap gambira dan menikmati proses itu. Sampai akhirnya ia bisa wisuda dengan gelar AMd. Kep (ahli madya keperawatan)

Betapa bahagianya kedua orangtua Kamila melihat anaknya memakai toga dan mendapatkan ijazah dari kampus yang selama ini tidak pernah terbayang kalau anaknya bisa belajar disini. Betapa bangganya orangtua yang tidak berada namun bisa menyekolahkan anaknya sampai D3, keperawatan pula, yang kala itu masih dianggap mahal dan bergengsi karena masih jarang yang bisa masuk kesana. Semoga ilmunya barokah dan bermanfaat. Aamiin

Usai wisuda mereka kembali kerumah, Kamila mulai merenung kemana ia akan mencari kerja setelah ini. Tidak mungkin rasanya kalau harus berdiam diri jadi pengangguran setelah selama tiga tahun ia dan orangtuanya berjuang mati-matian untuk bisa mendapatkan ijazah D3 keperawatan. Kamila mulai membuat surat lamaran baik ke RS pemerintah maupun swasta yang ada disekitarnya. Juga ke klinik dan praktek dokter swasta ia masuki untuk memberikan surat lamaran. Sampai satu bulanan tidak ada kabar dari manapun.


Kenyataan Tak Seindah Mimpi

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day6

#JumlahKata776

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani



Kamila adalah anak yang kurang sabar, ia merasa tak bisa berlama-lama menunggu dan harus menganggur tanpa kegiatan apalagi ijazah sudah ditangan. Menunggu kabar dari lamaran yang ia sebar rasanya hanya membuang-buang waktu, akhirnya ia putuskan untuk merantau ke ibukota bersama saudaranya yang sudah lama hidup disana. Kerika saudarnya kembali dari mudiknya ia ikut ke kota untung mencari keberuntungan.

Berangkatlah ia ke Jakarta bermodalkan fotocopy ijazah dan tanskrip nilai. Sesampainya di Jakarta ia langsung menyebar lamaran ke RS dan klinik yang ada disekitar rumah kontrakan saudaranya. Hari ketiga ia berjalan-jalan mengelililingi Jakarta, ia melihat ada sebuah rumah bersalin menuliskan lowongan pekerjaan untuk bidan atau perawat. Langsung saja ia masuk dan memasukan lamarannya. Tidak disangka ia langsung bertemu dengan pemilik rumah bersalin itu dan memintanya besok langsung berangkat. Betapa senangnya Kamila mendengar itu, ia langsung bersiap agar besok bisa bekerja dengan baik.

Hari pertama di dunia kerja akhirnya datang. Setelah mandi dan sarapan Kamila bersiap berangkat menggunakan angkot. Sambil menghafalkan jalan takut nyasar atau terlewat Kamila menikmati hiruk pikuk jalanan Jakarta yang dipadati orang-orang yang menuju tempat kerjanya. Rame kaki lima berjejer menawarkan menu untuk sarapan. Bunyi peluit tukang parkir tak mau kalah ikut meramaikan suasana pagi itu.

Sekitar dua puluh menit perjalanan akhirnya sampailah ia di rumah bersalin yang menjadi tempat pertama seorang Kamila bekerja. Dengan mengucap salam ia masuk dan mencari penghuni di klinik bersalin itu, namun tak ada jawaban, karena penasaran ia memberanikan diri memasuki lobi lalu menengok ke kanan kiri ke beberapa ruangan yang ada, berharap ada seseorang disana, namun tetap sunyi tak ada seorangpun disana. "Benarkah ini klinik bersalin? Kenapa sesunyi ini? " gumam Kamila dalam hatinya.

Selang beberapa menit munculah seorang gadis dengan tergopoh-gopoh lalu menanyakan kepada Kamila apakah dia karyawan baru yang diceritakan bosnya. Kamila mengangguk dan dengan cepat gadis itu menyeret Kamila memasuki sebuah ruangan yang ternyata ruang bersalin. Betapa kagetnya Kamila melihat didalam ruangan itu ada seorang ibu hamil yang sedang mengejan sudah siap untuk melahirkan. Kamila menanyakan kepada gadis itu yang ternyata seorang asisten rumah tangga namun sudah seperti seorang bidan. Bagaimana status ibu hamil ini dan apa yang harus ia lakukan. PRT itu dengan cepat menjelaskan bahwa ibu ini G2P1A0 (kehamilan kedua, sudah pernah melahirkan sekali dan belum pernah abortus atau keguguran) pembukaan 8 saat ibu pergi (pemilik rumah bersalin). "Ya Alloh apa yang harus aku lakukan sekarang? Kebidanan ini mata kuliah yang paling aku benci, kenapa sekarang Kau hadapkan aku dengan kasus kebidanan ya Alloh?" ucap Kamila dalam hatinya sambil mengepalkan tangannya. Bagaimana ia tidak panik, ia baru lulus, belum pernah melakukan tindakan tanpa pengawasan dosen atau seniornya, sekarang harus berhadapan langsung dengan pasien, sendiri, belum orientasi ruangan pula. Namun karena dorongan dari Susi sang IRT rasa bidan itu akhirnya Kamila sadar bahwa ada 2 nyawa yang sedang menanti untuk diselamatkan. Akhirnya ia gunakan sarung tangan dan meminta ibu hamil itu untuk mengatur posisinya agar mudah melakukan VT (vagina toucher yaitu pemeriksaan ke dalam vagina dengan menggunakan dua jari telunjuk dan jari tengah untuk mengetahui pembukaan jalan lahir) namun belum sempat ia melakukan VT ternyata kepala bayi sudah mulai keliatan. Akhirnya dengan membaca basmallah Kamila memimpin persalinan dibantu ART. Kamila mengajarkan cara mengejan yang ia ingat dalam teori. "Gunakan otot perut bukan otot leher ibu...ayo lebih kuat lagi, dedenya hampir keluar ibu, ayo lagi lagi lagi... " prott...terdengar suara cairan yang menyelimuti bayi yang baru saja keluar dari seorang perempuan. Bayi itu langsung diambil oleh Susi untuk dibersihkan diatas dada ibunya. Terdengar suara tangisannya yang kenceng.

Sementara Kamila masih dalam kondisi syok sendiri karena dia tidak menyangka bisa memimpin persalinan sendiri tanpa persiapan matang. Ia masih bingung apa yang harus ia lakukan, saat itu tidak sengaja matanya melihat ada kertas menempel di dinding yang ternyata adalah tulisan prosedur persalinan. Dengan cepat ia membaca sekilas apa yang harus ia lakukan setelah bayi keluar. Lalu ia mencari obat oxytosin lalu menyuntikan dipaha kanan ibu yang baru melahirkan agar ibu itu mules lagi dan mengeluarkan plasentanya. Setelah plasenta keluar ia menyuntikan methergin agar tidak terjadi pendarahan.

Setelah plasenta keluar Kamila menarik nafas panjang, proses menolong persalinan masih belum selesai. Ia harua menjahit luka robek yang terjadi karena ia lupa mengingatkan dan tadi ibunya mengangkat pantatnya sehingga terjadi ruptur atau robekan dijalan lahirnya. Karena pengalaman pertama menjahit langsung pada perinium Kamila sedikit gemetar memegang nalpuder hecting, ia bingung harus memulai dari mana karena lukanya sedikir berantakan. Akhirnya selesai juga proses menjahir dengan sisa keringat yang mengalir dileher dan dahinya. Alhamdulillah kesan pertama yang luar biasa di hari pertama ia bekerja.

Inilah catatan pertama kenapa tulisan ini berjudul Catatan Perawat Magel, magel dalam bahasa daerah dimana Kamila tinggal berarti bantat. Magel karena ia yang seorang perawat harus berperan menjadi seorang bidan.



Kenyataan Tak Seindah Mimpi

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day7

#JumlahKata666

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

Kamila masih menjalani aktifitasnya menjadi bidan di RB (rumah bersalin) itu. Pemilik RB yang lebih menyibukan diri dengan bisnis MLM yang sedang ramai pada saat itu, sehingga mempercayakan RBnya kepada Kamila. Sempat ada tambahan karyawan baru seorang perawat juga, namun dia tidak mau bertahan, hanya satu minggu saja dia sudah kabur karena tidak kuat menghadapi persalinan sendiri. Kamilapun merasakan hal yang sama, namun ia masih berusaha bertahan demi bisa membahagiakan orangtuanya dan juga demi mengumpulkan tabungan.

Selain itu Kamila berfikir inilah saatnya dia mencari pengalaman. Walaupun kenyataan tak seindah mimpinya ia ingin mencari hikmah dari apa yang dialaminya. Walau awalnya ia ingin menjadi perawat di RS dengan seragam yang bersih dan rapi, duduk di ruang perawat, melayani pasien dengan sepenuh hati dan bisa membantu proses penyembuhannya dan bisa memberikan upaya menjaga kesehatan setelah pasien pulang. Namun apa daya ia harus menjalani harinya sebagi bidan. Tidak masalah, banyak hal yang ia dapatkan dari beberapa kasus persalina. Ia jadi makin pandai menentukan angka pembukaan jalan lahir dengan tepat, bisa memimpin persalinan dengan tenang dan membuat pasien nyaman sehingga bisa mengejan dengan benar, dan juga makin rapi dalam menjahit perinium yang robek atau karena di episiotomi (tindakan medis dimana memotong daerah antara jalan lahir dan anus, untuk melebarkan jalan lahir agar bayi mudah keluar)

Banyak pengalaman yang dialami Kamila sejak memimpin persalinan pertama kali. Bagaimana ketika plasenta tidak cepat keluar, ia harus mengambilnya secara manual, diambil dengan tangannya masuk kedalam rahim ibu yang melahirkan. Bagaimana ketika harus melahirkan bayi kembar, bagaimana ketika menghadapi karakter dan emosi ibu yang mau melahirkan, bagaimana menenangkan suami ibu yang mau melahirkan malah dia yang pingsan karena melihat istrinya kesakitan, bagaimana menghadapi dua persalinan sekaligus.

Sampai suatu hari Kamila mendapati seorang ibu yang datang dalam kondisi sedang mules, setelah dicek pembukaan 5, setelah dianamnesa diketahui statusnya G6P5A0, usianya juga sudah kepala empat, kalau kondisi ini terjadi sekarang tidak mungkin dilahirkan hanya di RB yang minim peralatan. Namun saat itu ibu itu tetep diterima dan dilayani untuk persalinan. Setelah menyiapkan kamar, Kamila mempersilahkan ibu itu masuk dan memintanya tidur miring kiri agar proses persalinannya lebih cepat. Benar saja tidak sampai satu jam pembukaan sudah lengkap. Kamila mulai memimpin persalinan dengan didampingi Susi seperti biasanya.

Ibu mulai mengejan, kepala bayi sudah mulai kelihatan. Namun seiring berjalannya waktu bayi itu tidak keluar-keluar meski kepalanya sudah nampak keseluruhan sampai leher. Kamila dan susi panik, Kamila mencoba mengeluarkan bayi itu dengan menarik ketiak kanannya namun terasa alot dan pundak bayi masuk lagi lalu diulangi dari ketiak kiri namun hasilnya sama. Kamila menelfon ibu pemilik rumah bersalin dan menjelaskan kondisi pasiennya. Ibu menyuruhnya menelfon dokter kandungan yang biasa praktek di RB untuk konsultasi, namun dokter sedang praktek jd tidak bisa menerima telpon,begitu kata asistennya. Kembali ia menelpon ibu untuk melaporkan hasil telpon dokter dan  menanyakan apa yang harus dilakukan.

Akhirnya ibu RB pulang dan mengatakan untuk merujuk pasiennya ke RS. Kamila segera menyiapkan pasien dan membawanya ke mobil dengan keadaan kepala bayi sudah diluar. Berangkatlah ibu membawa pasien ke RS, sementara perasaan Kamila berkecamuk, apa yang akan terjadi dengan bayi itu, apakah ibu dan bayinya bisa selamat? Kamila hanya bisa berdoa. Semalaman kamila tak bisa tidur memikirkan nasib ibu dan bayinya, waktu itu belum ada hp jadi ia tidak bisa menanyakan kabar secepatnya. Keesokan harinya ia Kembali ke RB dan lagi-lagi ibu bos sudah pergi dengan urusan bisnisnya. Kemudian ia menanyakan kepada Susi apa yang terjadi pada ibu dan bayi itu. Susi mengatakan bayinya meninggal karena lilitan tali pusat, ibunya selamat dan sehat.

Mendengar itu Kamila merasa lemas, apakah ini kesalahannya, apakah ia telah menjadi pembunuh? Berbagai pertanyaan menyelimuti hatinya. Siangnya datanga seorang perempuan anak sulung dari ibu yang melahirkan untuk menyelesaikan administrasi perawatan ibunya. Kamila minta maaf kepada gadis itu atas ketidakberdayaannya. Namun gadis itu mengatakan bahwa mereka ikhlas dengan kejadian ini, yang penting ibunya sehat-sehat saja. Meski begitu Kamila masih merasa bersalah, sehingga sebelum pulang kerja ia membuat surat pengunduran diri dan berhenti bekerja diRB itu. Ia ingin menenangkan diri dan menghilangkan stress yang selama ini ia tahan.


Kenyataan Tak Seindah Mimpi

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day8

#JumlahKata576

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

Hanya bertahan kurang dari setengah tahun Kamila di rumah bersalin itu. Ia takut dituntut jika itu adalah mal praktek, meski bosnya yang harus lebih bertanggungjawab. Ia masih diliputi rasa bersalah pada ibu yang melahirkan, meskipun anaknya mengatakan tidak apa-apa dan ibunya juga ikhlas menerima kenyataan itu, namun sebagai seorang wanita tentunya Kamila merasakan bagaimana sedihnya, bagaimana sakitnya ketika anak yang dikandungnya selama sembilan bulan harus pergi setelah ibunya berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkannya.

Hingga beberapa minggu Kamila mulai merasa tenang dan move on atas kejadian itu. Ia kembali bangkit mengingat tabungannya makin berkurang karena selama beberapa minggu ini ia tidak bekerja. Ia mulai berjalan mencari lowongan pekerjaan. Sempat ia dipanggil sebuah RS swasta namun pada saat wawancara ia diwajibkan membuka jilbab, sehingga ia menolak. Bukan karena ia sok alim namun pemikirannya saat itu adalah kalau ia kerja tanpa jilbab maka ia harus menggunakan make up, dan Kamila tidak suka menggunakan make up yang berlebihan. Disamping itu ia ingat pesan ibunya, "Hidup di ibukota itu rawan kejahatan, kamu harus jaga diri baik-baik, pakailah jilbabmu terus agar kamu terlindungi" karena itu ia tak mau melepas jilbabnya.

Pernah juga ia menerima panggilan dari RS lain, namun ia tolak lagi, karena ia harus longsift namun gaji tidak sesuai. Kata teman sekontrakannya "Hidup di Jakarta itu jangan kalah sama keadaan, kita butuh makan, kalau lo kerja tapi gak dapet duit lo bakal kelaparan disini dan lo bakal makin kurus tahu! " meski awalnya akan ia terima dan mencoba menjalani namun teman-temannya yang sudah lama tinggal di Jakarta menyarankan untuk menolaknya.

Sampai suatu hari ia sedang berjalan usai belanja di swalayan terdekat, ia melihat klinik kecil yang menulis lowongan pekerjaan. Esoknya ia datang membawa berkas lamaran. Lagi-lagi ia langsung diwawancarai, dan ketika pemilik klinik itu yang seorang dokter menanyakan asalnya, malah jadi ngobrol kesana kemari. Ternyata dokter itu pernah ikut PMDK di universitas negeri di Purwokerto. Akhirnya Kamila hanya berbincang-bincang santai dan dinyatakan diterima sebagai karyawan klinik swasta itu. "Mulai besok kamu bisa bekerja di klinik kami"

Pagi-pagi Kamila bersiap untuk berangkat kerja ditempat yang baru, sebuah klinik praktek dokter bersama, ada dokter umum, dokter kandungan, dokter gigi, radiologi dan laboratorium. Kamila masuk kedalam klinik dan mulai berkenalan dengan karyawan yang sudah ada disana, satu persatu saling mengenalkan diri, ada Aroh dari Cirebon, Baiq dari Lombok, Cici dari Sukabumi, Elin dari Bogor, Tanti dari Lampung dan ada juga yang sama dari Jawa. Baiq selaku senior mengajak Kamila untuk orientasi ruangan. Ada beberapa ruangan di klinik itu, ada IGD, ruang pemeriksaan dokter umum, ruang dokter gigi, KIA, ruang dokter kandungan, ruang rontgen, laboratorium, apotik dan kasir.

Hari pertama kerja Kamila digembleng oleh Aroh di ruang apotik. Aroh mengajarkan kepada kamila tentang resep obat yang sudah ditandai oleh dokter, dimana dokter hanya memberikan sandi, maka ia sudah tahu resepnya berisi apa saja. Begitu juga dengan resep obat pasien TB sudah ada catatan dosis sesuai berat badan. Aroh yang notabene hanya lulusan SMP namun sudah bekerja lama di klinik itu sampai hafal nama-nama obat dan resep untuk beberapa penyakit.

Selama satu minggu Kamila tidak boleh keluar dari apotik sampai ia bisa membungkus puyer dengan cepat. "Gila... Kemarin aku jadi bidan, sekarang aku harus jadi apoteker" kata Mila dalam hati. Aroh yang orang Cirebon akan murka jika Mila terlalu lambat dalam melipat kertas puyer. "Ya Tuhan...galak banget nih orang" Selama seminggu menjadi catatan bagi Mila bagaimana seorang perawat yang beralih menjadi apoteker. Mila bercanda kepada temannya "AMKku bukan lagi Ahli Madya Keperawatan tapi Ahli Melipat Kertas...hahaha"


Kenyataan Tak Seindah Mimpi

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day9

#JumlahKata528

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

Usai digembleng di apotik Kamila mulai belajar di ruang dokter, ia menganamnesa pasien sebelum di periksa dokter. Menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk memeriksa pasien seperti stetoscop, senter, palu reflek dan sebagainya. Ketika dokter datang ia mulai memanggil pasien satu persatu. Sesekali ia membantu membuka bagian tubuh pasien yang sakit agar mudah diperiksa dokter. Tak jarang ia juga melakukan tindakan keperawatan pada pasien yang kontrol luka atau buka jahitan / aff hecting. Kemudian ia mencatat bahan habis pakai yang digunakan dalam perawatan yang nantinya masuk dalam tagihan biaya pemeriksaan.

Kamila juga sering memberikan nasehat kepada pasien berkaitan dengan keluhan pasien. Kepada pasien hipertensi ia menganjurkan untuk mengurangi garam, hindari makan berlemak, olahraga teratur, konsumsi buah dan sayur, hindari rokok dan alkohol. Kepada pasien dengan gangguan asam lambung ia menganjurkan agar makan teratur, hindari makan asam dan pedas, makanan bersantan, berminyak, ketan, hindari buah dengan gas tinggi seperti nangka, durian dll. Dan yang tak kalah penting bagi penderita lambung hindari stress dan jangan tidur/tiduran setelah makan, karena bisa membuat sesak atau secara media disebut GERD.

Kamila juga tak segan-segan membantu pasien post stroke untuk melakukan ROM (Range Of Motion) yaitu latihan menggerakan bagian tubuh untuk memelihara fleksibilitas dan kemampuan gerak sendi. Dimulai dari bagian kepala dengan menengok ke kanan dan kekiri, mematahkan leher ke kanan dan kekiri, mengangguk kedepan dan ke belakang serta memutar kepala ke arah kanan dan kiri dengan hitungan yang sama. Menggerakan jari tangan seperti menggenggam, mengangkat lengan sebatas siku, memutar lengan kedepan dan ke belakang. Gerakan kaki menarik telapak kaki kedepan dan kebelakang, memutar pergelangan kaki, mengangkata lutut dan sebagainya. Pasien-pasien yang mendapat perhatian dari Kamilapun merasa senang dan bertambah semangat untuk sembuh. Pasien anak-anak juga tak luput dari perhatian Kamila, ia suka mengajaknya bercanda dan kadang sampai membuatnya menangis, namun dengan mudah dibuat kembali tertawa riang. Teman-teman Kamila juga ikut merasakan kehangatan sejak kehadiran Kamila di klinik ini.

Hingga beberapa bulan kemudian dokter pemilik klinik mengajaknya tinggal di mes karyawan bersama dengan beberapa orang yang sudah tinggal disana. Karena tak jarang Kamila sering diminta membantu kasir untuk mengecek dan menghitung pengeluaran dan pemasukan setiap harinya. Kala itu belum ada mesin penghitung otomatis dan belum ada program yang secara otomatis bisa menghitung sendiri. Hal itu membuat kasir dan Kamila sering pulang larut malam, hal itu membuat dokter pemilik klinik merasa bertanggungjawab dan khawatir terjadi sesuatu dijalan saat pulang kerja. Setelah berdiskusi dengan teman kost dan sodaranya akhirnya Kamila masuk kedalam mes dan tinggal disana. "Lumayan bisa berhamat" begitu yang terpikir oleh Kamila.

Hari demi hari ia lalui dengan gembira, walau harus kembali ke kamarnya di tengah malam karena harus menghitung penghasilan dari klinik, namun Kamila tidak merasa lelah, ia merasa senang karena bisa bermanfaat bagi orang lain. Meski itu bukan pekerjaan perawat tp tidak ada salahnya ia belajar dalam masalah keuangan. Ia jadi tahu bahwa dalam berbisnis kita harus untung. Bagi Kamila meski itu bukan keuntungan baginya namun ia akan ikut merasakan keuntungan itu, ia akan mendapatkan gaji tepat pada waktunya jika perusahaan mendapatkan untung banyak. Namun jika perusahaan sedang rugi maka iapun akan terkena imbasnya. Gajinya bisa telat diberikan atau bahkan bisa terjadi pengurangan gaji bagi karyawan. Jadilah catatan selanjutnya perawat menjadi seorang kasir.

 


Terima Takdir Dengan Ikhlas

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day10

#JumlahKata564


Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani


Kamila mulai merasa betah tinggal di klinik bersama dengan banyak teman dan juga banyak pengalaman.  Di IGD Kamila juga mendapatkan banyak pengalaman dalam melakukan tindakan medis. Dimana ia sering melakukan hecting jika ada pasien kecelakaan, memasang spalk pada tangan atau kaki yang patah dan tindakan-tindakan lainnya. Semakin hari semakin sering ia melakukannya semakin tangkas pula gerakannya. Jika diawal-awal ia merasa takut dan gemetar lama kelamaan ia melakukan Tindakan dengan tenang dan teliti. Selain tindakan IGD takjarang Kamila ikut melakukan cirkumsisi atau sunat,apalagi kalau musim liburan daftar pasien untuk sunat bisa sampai serratus lebih.maka  hampir semua perawat dituntut untuk bisa menkhitan. Meski kebanyakan perawat laki-laki yang melakukannya namun tidak dengan Kamila,ia penasaran dan ingin mencoba belajar melakukan cirkumsisi.

Setelah kemarin ia bisa menjadi menjadi apoteker dan kasir, kini Kamila belajar jadi radiografer dan juga analis. Kamila memang banyak ingin tahunya jadi tidak heran kalau dia bisa menikmati semua perannya. Ketika ia melihat antrian di depan ruang radiologi maka ia dengan entengnya menawarkan diri untuk membantu. Setelah diberi arahan dan cara memasang film juga posisi yang benar dengan mudah ia bisa merontgen pasien. Jadi ketika ia membantu merontgen, radiografer bisa menyelesaikan proses selanjutnya di kamar gelap agar hasil rontgen segera selesai.

Begitupun di bagian laboratorium, Kamila akan menawarkan diri ketika analis sedang keteteran karena banyak pasien mengantri didepan ruang laboratorium. Kalau sekedar mengambil sample darah dari pasien dewasa itu akan terasa mudah baginya, namun ketika harus mengambil sample darah dari pasien anak-anak itu yang butuh latihan. Kamila belajar dari melihat dulu kemudian mencoba yang sekiranya mudah, sampai ia menemukan kasus yang sulit.

Kamila sangat bersyukur bisa belajar banyak hal disana. Tidak monoton merawat pasien saja tapi juga bisa melakukan hal lain yang bukan keahliannya. Di klinik ini Kamila benar-benar mendapatnya banyak hal baru yang belum ia temukan selama kuliah maupun praktek di RS. Ia juga belajar berhadapan dengan berbagai macam karakter dan kebiasaan pasien, karena di Jakarta masyarakatnya berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dimana mereka berada di Jakarta sebagai perantau. Jadi ia bisa sedikit memahami bahasa dan karakter dari beberapa daerah.

Selain menjadi analis dan radiografer Kamila juga sering dipanggil oleh ibu pemilik klinik untuk mengajari anak-anaknya belajar ngaji. Kamila merasa malu ketika harus mengajarkan iqro atau al Qur'an karena ia merasa dia juga belum pandai dalam membaca Al Qur'an, namun karena bosnya sering mendengar ia membaca Al Qur'an sehabis subuh membuat bosnya merasa kalau Kamila bisa mengajarkan anak-anaknya belajar Al Qur'an. Mulailah ia mengajarkan iqro pada ketiga anak bosnya yang masih usia SD dan belum sekolah. Ia ingat kata ustadznya bahwa "sampaikanlah dariku (Muhammad) walau hanya satu ayat" kata ustadz meskipun kamu belum pandai ilmu agama namun sudah mengetahui satu atau dua ayat atau hadist maka kamu berkewajiban untuk menyampaikannya kepada oranglain agar ilmu yang kamu dapatkan bisa bermanfaat dan bernilai pahala yang akan terus mengalir kepadamu. Dari situ Kamila merasa berani untuk mengajarkan iqro pada anak-anak bosnya. Sebatas kemampuan yang ia miliki ia sampaikan cara membaca huruf hijaiyah kepada anak-anak. Terkadang ia meminta nenek atau kakek untuk menemani agar mereka bisa mengoreksi apa yang ia ajarkan pada anak-anak. Ternyata anak-anak juga senang belajar iqro bersama Kamila, karena meski ada galak-galaknya namun tak jarang ia menyisipkan candaan ketika sedang belajar. Kamila merasa bahagia bisa mengajarkan membaca iqro karena hal itu membuatnya ikut belajar juga untuk memperbaiki bacaan Al Qur'an nya. Selama ini ia merasa jarang sekali mentadaburi Al Qur'an karena asyik dengan kesibukan dunia.



Terima Takdir Dengan Ikhlas

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day11

#JumlahKata507

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

 

Tiga tahun lebih Kamila merantau di Jakarta. Berbagai pengalaman hidup ia jalani dengan gembira, keluar masuk mes pernah dijalani kala ia dan teman-temannya merasa bosan dengan rutinitas yang monoton. Satu persatu dari teman-temannya mulai menikah. Ada yang melanjutkan bekerja ada pula yang berhenti karena mengikuti suami. Begitupun Kamila, meski selama di Jakarta ia tidak punya hubungan dengan laki-laki, namun orangtuanya menginginkan ia segera menikah, apalagi adiknya sudah 3 tahun lebih dulu menikah.

Sebagai orangtua pasti merasa khawatir jika memiliki anak gadis yang sudah berumur apalagi sudah dilangkahi adiknya lebih dulu yang menikah. Orangtua mana yang tidak khawatir anaknya jadi tidak mau menikah karena keasyikan bekerja. Karena itu orangtua Kamila memintanya untuk pulang dan segera menikah. Namun Kmila masih menolak dengan alasan ia harus mengajukan pengunduran diri minimal tiga bulan sebelumnya. Padahal itu hanya alasan agar ia bisa bertahan lebih lama lagi di klinik.

Namun apa daya jika qodarulloh sudah menentukan nasib, jodoh dan maut seseorang. Selama mengulur waktu itu ada soerang teman kuliahnya mengatakan bahwa sodaranya ingin mencari calon istri, dia laki-laki yang sholeh, dari keluarga baik-baik. Seperti kerbau dicucuk hidungnya Kamila mengatakan iya saja kepada temannya. Lalu ia memberikan nomor telponnya untuk diberikan kepada sodara temannya itu. Selang beberapa hari laki-laki itu mengirimkan SMS, memperkenalkan diri dan mengatakan maksudnya. Beberapa kali mereka saling berkirim pesan dan terkadang melakukan panggilan jika ada gratisan telpon. Karena pada saat itu biaya rooming lumayan tinggi.

Dari bahasa telephon mereka tampak ada kemistri walau belum betatap muka. Akhirnya laki-laki itu mengingkapkan persaannya dan ingin segera menikah. "serius? Cepet banget... Kita kan belum ketemu dan belum saling mengenal?" kata Kamila yang bingung mendengar ucapan baik dari laki-laki itu. Kamila minta waktu untuk memikirkannya, ia meminta pendapat dari teman-temannya tentang keinginan laki-laki itu yang ingin menikahinya. Ada yang memberikan masukan menikahlah ketika sudah ads calon suami yang baik yang datang melamarmu. Namun ada juga yang menolak niat baik ini. Mereka khawatir jika menikah tanpa dasar cinta, tanpa memikirkan efek jangka panjang dari sebuah pernikahan. Apakah orangtuanya akan setuju mereka menikah dalam waktu dekat?

Ketika Kamila pulang kampung ia menyampaikan niat baik laki-laki yang melamarnya lewat telphon. Dan tanpa berfikir panjang orangtuanya langsung setuju menerima lamaran itu. Kamilapun mengabarkan kepada laki-laki itu bahwa orangtuanya merestui mereka. Esok harinya laki-laki itu mengajak bertemu dan saling mengenalkan kepada keluarga masing-masing.

Pertemuan mereka menjadi momen yang jauh dari kata romantis, tetapi justru menjadi kesan yang sangat membuat mereka sama-sama ilfeel. Kamila mengira dari suaranya dia laki-laki yang berwibawa, dewasa dan penampilannya rapi. Ternyata dia berpenampilan kucel, bajunya kelihatan tidak disetrika dan mukanya biasa aja. Sementara Kamila yang dikira adalah wanita solehah ternyata dari penampilannya ia adalah anak gaul dengan celana jeansnya.

Namun karena mereka sudah memutuskan untuk menikah akhirnya mereka hanya bisa memantapkan hati dengan istikharah.

Dan setelah beberapa bulan Kamila bisa berpamitan kepada atasannya di klinik dan kembali ke kampung halaman untuk mempersiapkan pernikahannya. Disaat ia sedang semangat-semangatnya bekerja, disaat ia sedang sangat menikmati kebersamaannya dengan teman-temannya ia harus kembali dan ikhlas menerima takdirnya menikah dengan laki-laki yang semoga menjadi laki-laki terbaik yang Allah pilih untuknya.

 

 

 

 

 


Terima Takdir Dengan Ikhlas

0 0

#SarapanKata

#KMOBatch44

#Kelompok19

#Day12

#JumlahKata

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani 

PJ: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

Hanya dalam waktu singkat dan cuma tiga atau empat kali pertemuan akhirnya mereka menikah. Dengan resepsi yang sederhana tidak mengurangi kebahagian mereka dan keluarga besarnya. Dua hari setelah menikah Kamila langsung diboyong kerumah suaminya. Disana ia mulai beradaptasi menjadi seorang istri dan menantu.
Kamila mulai merasa bosan dengan kesehariannya menjadi ibu rumahtangga. Ia meminta ijin pada suaminya untuk mencari kerja. Suaminya mengijinkan dan ia segera membuat lamaran kesana sini. Akhirnya ada sebuah klinik yang menerimanya bekerja. Kamila mulai bekerja lagi walau dengan gaji yang jauh lebih kecil dari gaji yang ia dapatkan di Jakarta namun ia mencoba bertahan karena ia tidak bisa berdiam diri dirumah saja. Karena dirumah ia tidak bisa ikut membantu mertuanya bertani atau berkebun, meski ia anak petani juga namun kulitnya sensitif dan gampang alergi jika bersentuhan dengan tanaman atau batang padi.
Di klinik ini tidak seramai dan selengkap klinik sebelumnya. Disini hanya ada praktek dokter umum dan dokter gigi saja. Dan untuk pemeriksaan penunjang ada laboratorium mini dan radiologi. Pasien dalam sehari juga masih dibawah jumlah pasien di klinik sebelumnya. Hanya berkisar 100-130 orang per harinya. Berdasarkan pengalaman yang ia dapatkan Kamila bisa diandalkan di klinik ini, ia bisa melakukan tindakan medis dan juga bisa membantu bila ada khitan dan sebagainya.
Setelah beberapa bulan Kamila mulai hamil, gerakannya mulai terbatas karena perutnya yang makin membesar. Namun ia masih tetap energik dalam melakukan tindakan ataupun pekerjaan-pekerjaan lainnya. Selain bekerja Kamila juga mulai bergabung dengan ibu-ibu di lingkungannya, ada PKK ada kajian dan kegiatan-kegiatan lainnya. Kamila yang supel memang mudah sekali berbaur dan beradaptasi dengan berbagai karakter dan kebiasaan orang-orang disekitarnya. Meski banyak hal-hal baru yang ia temukan namun tidak menyulitkannya untuk bisa memahami itu.
Kamila bukan tidak merasa tertekan namun ia berusaha menerima semua yang sudah Alloh tentukan menjadi jalan hidupnya. Ia hanya ingin seperti air yang mengalir, seperti apapun sulitnya jalan yang dilalui air ia tidak mau bersedih hati ataupun bermuram durja. Air akan terus mengalir sesulit apapun jalan yang ia lewati. Air akan tetap bermanfaat dimanapun ia berada, air menjadi sumber kehidupan bagi semua makhluk. Air bisa menjadi apapun bentuk yang ia isi.
Kamila ingin menjadi manusia yang baik, dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Itulah yang menjadi motto hidupnya. Meskipun ia tidak bisa menjadi perawat sesuai impiannya namun ia ingin tetap bisa bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya. Karena tugas perawat bukan hanya merawat pasien tapi tugas perawat adalah memberikan asuhan keperawatan individu, keluarga, kelompok dalam keadaan sakit maupun sehat.
Setelah melahirkan Kamila diminta resign oleh suaminya agar ia bisa fokus merawat anaknya. Dan Kamila harus kembali menguatkan hatinya untuk menerima takdir bahwa ia tidak bisa menjadi perawat di RS atau klinik seperti pada umumnya. Namun kembali pada tugas pokok seorang perawat adalah memberikan asuhan keperawatan individu, keluarga dan kelompok baik dalam kondisi sehat maupun sakit maka dari itu Kamila tidak patah semangat. Ia bisa berperan sebagai perawat di lingkungannya. Ia bisa memberikan usaha promotif dan preventif kepada keluarganya, kepada kelompok-kelompok yang ia bergabung di dalamnya dan masyarakat pada umumnya.
Tidak jarang ia diminta mengisi kajian atau ceramah, karena ia merasa ilmu agaman belum seberapa maka disitulah ia memulai perannya sebagai seorang perawat. Ia sampaikan beberapa hal tentang penkes (pendidikan kesehatan) dari kesehatan diri seperti PHBS sampai ke masalah-masalah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga dan upaya bagaimana memperbaiki dan menjaga kesehatan baik fisik maupun mental. Dengan cara seperti itu maka Kamila merasa hidupnya menjadi lebih berarti. Walau ia tidak mendapatkan gaji namun ada kepuasan yang tidak ia rasakan ketika menerima gaji.


Terima Takdir Dengan Ikhlas

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#Day13

#JumlahKata


Judul: Catatan Perawat Magel 

Penulis: Tri Mulyani 

PJ: Nur Azizatuz Zahra

Ketua kelas: Ulil Anwar

Neng jaga: Ani Mayani 


Setelah keluar dari klinik Kamila hanya aktif di lingkungan saja, sambil mengasuh anaknya ia ikuti kajian dan beberapa kegiatan sosial. Namun setelah anaknya lepas ASI ia mulai merasa ingin bekerja lagi. Ia mencoba kembali ke klinik, dan ternyata diijinkan oleh pemilik klinik tersebut. Anaknya ia titipkan kepada pengasuh yang notabene adalah kakak sepupunya.
Hari-hari dengan peran ganda ia lalui dengan gembira. Menjadi wanita karier dan menjadi ibu rumah tangga, walau kadang ia merasa repot ketika berangkat ia harus menyiapkan segala sesuatunya untuk suami dan anaknya. Ia tidak ingin meninggalkan perannya begitu saja.
Terkadang ia harus membawa anaknya ke klinik ketika anaknya tantrum atau pengasuhnya tidak bisa datang. Kadang ia juga harus membagi waktunya untuk kegiatan di masyarakat yang sudah biasa ia kerjakan. Pagi kerja, siang PKK, sore kajian. Atau sebaliknya kalau ia dapat sift siang atau malam maka pagi atau siangnya ia gunakan untuk kegiatan lainnya.
Menjadi perawat memang dituntut multi talent karena ia harus bisa melakukan beberapa hal dalam sekali waktu, ia harus mengingat beberapa hal yang akan dilakukan, dan mencatat apa yang sudah dilakukan sebagai bukti dari tindakannya. Jika itu tidak dilakukan maka bila suatu saat ada kelalaian atau kesalahan dalam melakukan tindakan itu menjadi bukti yang akurat.
Menjadi perawat itu harus siap jiwa raga, karena ia bertugas menjaga orang lain selama 24 jam, jadi ia harus sehat secara fisik dan juga mentalnya. Ketika fisiknya sehat maka ia akan mudah melakukan segala sesuatu untuk membantu orang lain. Namun jika ia sakit maka ia tidak bisa menyehatkan dunia. Karena itu menjadi perawat harus pintar mengatur gaya hidupnya, pola makannya dan juga tetap berolahraga.
Begitupun psikisnya juga harus sehat. Menjadi perawat ia harus punya emosi yang stabil, jiwa yang kuat. Karena menghadapi pasien baik itu pasien sehat maupun sakit butuh emosi yang stabil. Pasien adalah orang yang membutuhkan perhatian, mereka sedang merasakan penderitaan baik fisik maupun psikisnya, ketika seorang perawat tidak kuat maka ia tidak bisa memahami karakter pasiennya, ia tidak bisa mengerti apa yang diinginkan pasien dan juga ia tidak bisa berempati terhadap kondisi pasien.
Sering kita mendapati ada pasien yang berteriak kesakitan malah dimarahi oleh perawat. Atau sebaliknya perawat salah sedikit saja dimarahi habis habisan oleh pasien atau keluarganya. Itu terjadi karena kondisi fisik dan jiwa mereka sedang sama-sama tidak stabil. Bisa jadi disaat pasien membutuhkan perawat, kondisi perawat sedang sangat kelelahan akhirnya dalam melakukan tindakan kurang konsentrasi yang menjadikan ia lalai dan melakukan kesalahan.
Alangkah indahnya jika kehidupan pasien dan perawat bisa sejalan bergandengan seirama. Bisa saling memahami bahwa mereka adalah dua orang yang saling membutuhkan. Seperti halnya kumbang dan bunga yang saling memberi dan menerima. Perawat merawat pasien dengan sepenuh hati dan pasien yang dirawat menerima dengan ikhlas semua perlakuan yang diberikan perawat. Karena seyogyanya kita adala manusia sosial, makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain. Orang sakit disebut pasien karena ada dokter atau perawat yang merawatnya. Pun begitu juga seorang dikatakan sebagai perawat karena adanya pasien yang harus dirawat olehnya. Ketika mereka saling menyadari bahwa mereka saling membutuhkan maka tidak akan ada terikan-teriakan yang menyayat hati, tidak akan ada pelaporan ke pihak berwajib hanya karena sebuah ucapan yang tidak pantas. Indahnya dunia jika kita bisa saling membantu satu sama lain. Perawat tidak merasa sombong bahwa ia sudah sangat membantu pasien, dan pasien tidak semena-mena hanya karena ia telah membayar mahal tenaga seorang perawat. Ataupun sebaliknya tidak ada perawat yang membentak bentak pasien hanya karena dia pasien BPJS kelas 3. Hidup adalah pilihan, ketika kita sudah memilih menjadi pasien maka kita harus siap dengan segala resikonya. Begitupun dengan takdir yang telah Tuhan tentukan, meski kadang takdir tak seindah impian namun kita harus ikhlas menerima takdir itu dengan ikhlas tanpa syarat. Dengan begitu hidup akan terasa indah dan tidak akan terasa berat.

Wanita Bekerja

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day14

#JumlahKata636

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani



Hari demi hari dilalui sebagai ibu rumahtangga, dari usianya yang sudah 25 tahun membuat Kamila mudah beradaptasi dengan keluarga baru, kondisi baru sebagai ibu dan dengan lingkungan yang baru pula. Seiring berjalannya waktu perkembangan dan pertumbuhan anaknyapun bertambah. Anaknya mulai masuk TK dan ia mulai merasakan bertambah repot setiap paginya karena sebelum berangkat kerja ia harus menyiapkan perlengkapan dan bekal untuk anaknya.

Kehidupan seorang wanita memang dituntut untuk semua bisa dilakukan. Dari perannya sebagai ibu, sebagai istri dan juga sebagai anak. Belum lagi bila ia menjadi seorang wanita karier. Butuh tenaga ekstra untuk melalui setiap harinya. Tidak hanya kekuatan fisik yang harus kuat tapi secara mentalpun ia harus kuat. Karena tak jarang kita jumpai seirang wanita karier ia hanya fokus pada pekerjaannya dan melupakan tugasnya sebagai seorang istri atau seorang ibu. Anaknya ia serahkan seutuhnya kepada pembantu sampai perkembangannya tidak diperhatikan. Ia lupa tentang kebutuhan psikologi anak-anaknya, yang ia pikirkan hanya mencari uang dan memenuhi semua kebutuhan fisiknya saja.

Sering kali wanita karier lupa bahwa seorang anak butuh kasih sayangnya, anak butuh belaiannya, butuh perhatiannya, butuh didengarkan dan butuh siraman rohaninya dari orangtuanya. Karena secara psikologi anak yang kurang mendapat perhatian atau perlakuan yang baik dari orangtuanya kelak anak itu bisa menjadi anak yang tidak peka terhadap oranglain, anak bisa melampiaskan kekesalannya kepada hal-hal negatif dan perilaku kekerasan. Berapa banyak anak yang lari ke narkoba, berapa banyak anak melakukan pergaulan bebas. Itu terjadi bukan karena mereka salah pergaulan tapi karena mereka kurang mendapat perhatian dari orangtuanya sehingga mencari pelampiasan, mereka mencari perhatian dari oranglain tetapi dengan cara yang salah.

Belum lagi efek terhadap suami dan rumahtangganya, tak jarang terjadi pertengkaran sampai perselingkuhan yang menyebabkan perceraian. Semua itu terjadi karena seorang istri kurang memperhatikan suaminya. Dari kebutuhan biologis sampai kepada hal-hal kecil yang dianggap sepele, seperti menyiapkan makan, pakaian dll. Seorang istri yang bekerja sering lupa bahwa ia mempunyai kewajiban yang lebih utama yaitu kepada suami, karena asyiknya bekerja ia lupa mengurus suaminya, ia lupa menyiapkan makan suaminya bahkan sampai lupa melayani suaminya dikasur.

Alangkah indahnya jika seorang istri yang disebut sebagai makhluk multi taskin bisa melakukan semua pekerjaannya dengan baik. Ia bisa melayani suami dan keluarganya namun ia tetap bisa bekerja dengan kinerja yang bagus pula. Namun pada kenyataannya itu sangat jarang terjadi karena hidup adalah pilihan. Ketika kita sudah memilih menjadi wanita karier maka kita harus siap dengan konsekuensi yang harus dihadapi. Sebagai wanita yang bekerja kita tetap dituntut untuk bisa mengatur rumahtangganya. Setidaknya jangan sampai dengan kita sibuk bekerja suami kita terlantar dan mencari orang lain yang bisa merawatnya. Jangan sampai karena kita bekerja kita lupakan perkembangan psikologi anak-anak kita. Jangan sampai anak kita lebih taat kepada pembantu,jangan sampai anak-anak kita lari kepada hal-hal yang tidak kita inginkan hanya karena keegoisan kita sebagai ibu yang ingin tetep bekerja.

Kita akan kehilangan masa-masa indah bersama anak kita, kita tidak bisa merasakan bagaimana indahnya menyuapi anak, memandikan anak, mengajarkan anak membaca dan menulis, kita akan kehilangan masa bermain bersama anak-anak kita kalau kita hanya sibuk mengejar karier dan jabatan. Kita tak bisa bercerita bagaimana repotnya mengurus anak, dari menyusui, mengajarkan berjalan sampai ketika mereka mengalami masa baligh. Masa-masa itu tidak akan terulang ketika mereka tahu-tahu sudah dewasa, ketika mereka tahu tahu sudah pergi dari rumah. Kita akan menyesal ketika mereka terlanjur berpaling kepada orang lain, ketika mereka lari kepada hal-hal yang tidak kita inginkan.

Penyesalan datang ketika kita sudah tidak bisa lagi mengulang atau memperbaiki kondisi yang terjadi. Karena itu sebelum terlambat kita harus paham apa yang sebaiknya kita lakukan. Kita boleh jadi wanita bekerja tapi kita harus tetap memperhatikan tugas dan tanggungjawab kita sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu. Semua akan baik-baik saja bila kita bisa membagi waktu antara pekerjaan dan urusan rumahtangga. Kita boleh dibantu oleh asisten rumah tangga, namun untuk hal-hal yang bersifat pribadi dan prinsip kita harus bisa lakukan sendiri.

Wanita Bekerja

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day15

#JumlahKata451

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

Kamila berangkat kerja ke klinik dengan sepeda motornya, jalanan darirumahnya ke klinik berkisar 3km dimana sebagian jalan masih ada yang belum di aspal. Apalagi kalau ia ingin memotong jalan ia harus melewati sungai dengan getek atau perahu kayu atau bambu. Meski perahu sederhana namun bisa muat 5-7 sepeda motor dan lebih dari 10 orang dengan barang bawaannya. Waktu awal-awal Kamila naik perahu itu ia merasa takut namun setelah beberapa tahun tinggal disana ia mulai terbiasa mengikuti kebiasaan warga sekitar sungai Tajum ini. Dulu ia harus minta tolong pada penumpang laki-laki bila ia akan menaikan motornya, namun sekarang ia bisa menaikannya sendiri. Bahkan ia pernah mengalami kecelakaan, dimana saat ia mau menyeberang sendirian tidak ada penumpang lainnya. Karena terganjal bibir dermaga (bantalan yang menghubungkan penumpang ke dalam perahu) sehingga ia merasa keberatan, akhirnya ianyalakan mesin motor. Alhasil motor ngegas dan terpental nyebur kedalam sungai.

Beruntung disekitar sungai ada beberapa penambang pasir yang segera menolongnya. Mereka mengangkat motornys dan mengantarnya sampai ke badan jalan. Akhirnya ia tidak jadi berangkat kerja dan mengantar anaknya sekolah. Seperti itulah yang dialami warga sekitar sungai Tajum bila hendak bepergian ke pasar, sekolah atau bekerja. Mereka harus melewati sungai yang kadang meluap dan kadang surut. Saat air surut maka warga sekitar akan membuat jembatan gantung yang terbuat dari bambu, yang hanya bisa dilewati satu kendaran roda dua dan pejalan kaki. Dan ketika musim hujan tiba maka air akan meluap menerjang jembatan itu, wargapun tak bisa melewati jalan itu sampai air sedikit surut lalu menggunakan perahu kayu lagi. Bila tidak kunjung surut maka warga akan memutar jalan yang jaraknya dua kali lipat bila mereka menggunakan perahu.

Begitulah yang dialami warga bertahun-tahun sampai akhirnya pemerintah desa dan kabupaten membuatkan  jembatan layang yang lebih bagus sehingga bisa menjadi akses warga bepergian. Meski jembatannya hanya bisa dilalui sepeda motor namun warga sangat bahagia karena mereka tidak harus membuat jembatan bambu atau berkali-kali memperbaiki perahu sebagai alat transportasi. Namun disaat banjir datang jembatan akan terendan dan jalan menuju kearah jembatan tidak bisa dilewati karena penuh dengan lumpur dari luapan sungai.

Bagi Kamila suasana seperti itu sudah tidak menakutkan lagi karena banjir yang sering datang pernah lebih besar dari itu sampai masuk ke rumah warga yang berada disekitar aliran sungai. Apalagi dijaman sekarang saat banjir datang malah dijadikan onjek foto atau selfi lalu diunggah menjadi status. Selain itu di sungai Tajum ini juga sering terjadi orang hanyut terbawa arus. Bisa karena saat menyeberang terpeleset atau anak-anak saat bermain menyelap tidak bisa naik lagi. Semua sudah menjadi bagian dari cerita warga disini yang menjadikan romansa kehidupan menjadi lebih berwarna. Bekerja naik getek/perahu sambil selfi dan menikmati pemandangan disekitar sungai. Dan juga bisa bersenda gurau dengan penumpang lain atau saut-sautan antara penumpang dengan para penambang pasir.


Wanita Bekerja

0 0

#SarapanKata

#KMOIndoneaia

#KMOBatch44

#GangstersAksara

#Day16

#JumlahKata


PJ: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani 


Bekerja sambil memantau anak di TK cukup membuat Kamila resah, apalagi anak sulungnya ini sangat introvert. Dia susah bergaul dan lebih banyak diem. Jadi ketika jam pulang tiba membuat Kamila harus segera menjemputnya. Namun ia juga harus tetap profesional terhadap tanggungjawabnya di klinik. Apalagi jam pulang anaknya sering berbarengan dengan visite dokter ke ruang perawatan yang ia jaga, mau tidak mau ia harus menyelesaikan dulu tugasnya baru bisa ijin menjemput anaknya. Beruntung guru TKnya adalah teman Kamila di organisasi kemasyarakatan yang ia bergabung didalamnya, jadi ia bisa menitipkan dulu kepada gurunya sampai ia datang menjemput.
Ditengah tahun pelajaran Kamila bertambah lagi bebannya karena ia mulai hamil anak kedua jadi ia harus bekerja ektra agar kesibukannya tidak berpengaruh pada kehamilannya. Makan dan minum ia penuhi sesuai kebutuhan seorang ibu hamil. Susu yang biasanya ia tidak suka terpaksa ia minum agar tubuhnya lebih fit. Bahkan jatah makan dari klinikpun selalu ia habiskan, menu makan yang biasanya tidak disukaipun bisa ia makan.
Kamila hamil kedua tidak merasakan hal-hal aneh atau kata orang ngidam, tidak sama sekali. Semua makanan tidak ada yang dipantang, yang tidak biasa ia makan saja bisa masuk ke perutnya, apalagi makanan yang ia sukai. Aktifitaspun ia jalani dengan penuh semangat, berbeda saat hamil anak pertama, ia merasakan sering mengantuk dan tidak suka makan sayur. Kali ini benar-benar membuat Kamila rakus apapun bisa ia makan dan dalam sehari ia bisa berkali kali makan, apapun lauknya ia terima.
Anak sulungnya lulus TK, usia kehamilannya memasuki tujuh bulan. Ia mulai sedikit lega karena tidak harus antar jemput anaknya ke sekolah, ia tinggal fokus dengan persiapan persalinannya. Dengan perut yang makin membesar ia tetap bekerja, melakukan semua tanggungjawabnya di klinik. Sampai akhirnya ia harus melahirkan diusia kehamilannya baru 37 plus beberapa hari. Sebelumnya ia sempat ANC (ante natal care) pemeriksaan kehamilan ke bidan terdekat, kata bidan ia harus banyak istirahat karena sejak usia tujuh bulan bayi sudah masuk PAP (pintu atas panggul) artinya sewaktu-waktu bayinya bisa lahir sebelum waktunya.
Mungkin karena selama hamil Kamila terlalu aktif, tiap hari naik sepeda motor dengan medan jalanan yang lumayan keras dan juga berbagai kegiatan diluar klinik membuatnya beresiko melahirkan prematur. Namun sejak itu Kamila mencoba mengurangi aktifitasnya yang dirasa cukup berat. Sampai akhirnya bayinya lahir dengan sangat mudah tanpa ada robekan apalagi jahitan dijalan lahirnya. Bayi dengan berat 3300 gram dan panjang 50 cm dengan kelamin laki-laki lahir dengan normal. Bayi itu tak nampak bayi yang baru lahir namun kelihatan sudah berumur beberapa bulan. Meski kalau dilihat dari berat badan dan panjangnya termasuk normal namun secara kasat mata bayi itu nampak besat seperti bayi yang sudah berumur. Pipinya tebal, rambutnya keriting tebal diatas ubun-ubunnya dan suara tangisannya yang sangat kenceng membuat siapapun yang mendengar akan berkomentar "masya Alloh kencengnya suaranya"

Ibu mengASIhi

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day17

#JumlahKata429

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani



Memiliki dua anak sambil tetap bekerja bagi Sebagian orang akan terasa sangat berat. Begitupun bagi Kamila, ia harus lebih gesit dalam menyelesaikan pekerjaan rumah dan juga pekerjaan di tempat kerjanya. Meski ada sepupunya yang membantu mengasuh anaknya namun sebisa mungkin ia bisa menyelesaikan pekerjaannya sebelum sepupunya datang untuk melanjutkan mengasuh anaknya. Kamila berangkat kerja dengan membawa anak pertamanya yang sudah sekolah. Sementara bayinya ia titipkan kepada sepupunya. Ketika ada waktu senggang ia akan pulang untuk menyusui anaknya, karena waktu itu belum ramai model pumping yang bisa menyimpan stok ASI di dalam kulkas. Secara psikologis maupun secara syar’i pendidikan ketauhidan yang diberikan kepada anaknya adalah menyusui selama dua tahun, menyusui bukan sekedar memberikan ASI atau pumping.

ASI dapat memenuhi semua kebutuhan dasar bayi untuk tumbuh dan berkembang, baik kebutuhan fisik, psikologis, emosi, dan kedekatan attachment atau bonding ibu dengan bayi.  Secara psikologi dengan kita menyusui maka akan terjalin kedekatan secara emosional dan juga spiritual antara ibu dan bayi. Karena disaat seorang ibu menyusui bayinya kulit mereka bersentuhan, mata mereka saling memandang, dan hati mereka juga menjadi lebih dekat. Kemudian bila bayi tumbuh sehat dan tenang, sang ibupun akan semakin nyaman dan reflek pengaliran ASI makin lancer, sehingga bayi mudah menyusu. Bayi juga akan merasa tenang, aman, nyaman, kenyang dan kuat karena kebutuhannya terpenuhi.

Ketika menyusui ini akan membentuk hubungan emosi yang kuat, seperti kehangatan, rasa saling membutuhkan, kasih saying, dicintai dan saling bergantungan (emotional  bonding). Panca indra bayi juga semakin berkembang melalui tatapan, sentuhan, senandung atau ucapan perkataan ibunya. Bayi akan membaui khas ASI dan aroma tubuh ibunya serta gerakan-gerakan atau posisi tubuh ibunya saat menyusui. Menyusui juga dapat mengembangkan proses belajar atau kecerdasan bayi. Karena itulah kenapa kita sangat dianjurkan untuk bisa menyusui ASI hingga 2 tahun. Seperti dijelaskan dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 233 “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”.

Sedangkan ASI eksklusif menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni inisiasi menyusu dini (IMD) pada satu jam pertama setelah lahir. Kemudian menyusui eksklusif berarti tidak memberikan makanan atau minuman apapun termasuk air. ASI eksklusif sebenarnya adalah menyusui sesuai keinginan bayi, baik pagi dan malam, serta menghindari botol, dot, dan empeng. Para ibu atau calon ibu tidak perlu khawatir bayi akan kekurangan gizi. Menurut data dari situs Ikatan Dokter Anak Indonesia, sejumlah bukti ilmiah memperlihatkan bahwa ASI yang diberikan secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan dapat mencukupi kebutuhan nutrisi bayi untuk tumbuh kembang. Seperti kolostrum pada pemberian ASI di hari 1-5 kaya akan protein dan laktosa sebagai sumber karbohidrat yang diserap tubuh lebih baik dari susu selain ASI.


Anak Hiperaktif

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day18

#JumlahKata428

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani



Hari berganti hari tak terasa sudah 2 tahun usia anak kedua Kamila. Anak itu tumbuh dengan sangat baik karena mendapatkan asupan gizi yang cukup. Berbeda dengan kakaknya yang sejak dalam kandungan juga sulit makan atau pilih-pilih makanan. Anak kedua Kamila sangat aktif dan kreatif, dia suka naik turun tangga, tak jarang suka main perosotan di pegangan tangga, kalau pamongnya lengah saja dia sudah keluar rumah bermain air, bermain pasir dan apapun yang menarik perhatiannya akan dijadikan mainan. Bahkan sering terjadi anak itu keluar rumah dengan membawa wajan dan soled untuk menyalukan imajinasinya dalam memasak.

Kalau bermain air akan butuh waktu yang sangat lama untuk menghentikannya. Seperti suatu pagi dia diajak mandi, dengan sendirinya dia membuka bajunya dan langsung membuka kran di kamar mandinya dan asyik bermain sabun, bermain bebek atau mainan yang dia bawa kedalam bak mandinya. Ketika Kamila mengajaknya bangun karena ia akan segera berangkat maka anak itu menolak, karena berkali-kali diminta bangun tetap tidak mau, akhirnya Kamila meninggalkan anaknya ketika pamongnya sudah datang. Dan ternyata sama pamongnya dibiarkan sampai anak itu bangun dengan sendirinya. Anak itu akan bangun ketika dia sudah merasa puas, dan kepuasannya itu bisa sampai 4jam.

Memiliki anak yang sangat aktif membuat Kamila merasa khawatir kalau anaknya termasuk anak Hiperaktif. Karena anaknya suka bergerak cepat dari satu aktifitas ke aktifitas yang lain. Namun Kamila mencoba menenangkan diri sambil membaca tentang proses tumbuh kembang anak usia pra sekolah. Ia juga sering sharing dengan teman-temannya sesame nakes, baik kepada bidan maupun dokter yang bekerja bersamanya. Hiperaktif merupakan keadaan aktif yang tidak biasa atau tidak normal. Jika kita mempunyai anak yang aktif kita perlu mencari tahu penyebab anak itu tidak bisa diam, diantaranya;

1.       Kemungkinan ADHD

Attention deficit hyperactivity disorder, adalah kondisi kronis berupa kesulitan fokus, hiperaktif dan impulsive. Ditandai dengan sering menyela, kesulitan mengikuti instruksi dan mengatur tugas, pelupa, tidak sabar, sering bicara tidak pada gilirannya,

2.       Adiktif terhadap makanan

Anak-anak dengan ADHD biasanya sensitif terhadap beberapa zat adiktif yang ada pada makanan. Jika ini terjadi maka hindari atau kurangi makanan yang mengandung zat adiktif buatan seperti permen, minuman buah, soda, sereal berwarna cerah, dan junk food.

3.       Rumah terlalu bising

Terkadang kondisi rumah yang bising dapat membuat anak sulit untuk relaks. Terlalu banyak konflik keluarga dapat membuat stress. Begitu juga jadwal yang tidak teratur dan kurang tidur. Jika  ini penyebabnya maka usahakan agar suasana setenang mungkin, rangkullah anak, ajak duduk Bersama, bacakan cerita atau menonton tv Bersama.

4.       Kurang berolahraga

Anak-anak akan menjadi gelisah jika mereka tidak mendapatkan aktifitas fisik untuk membakar energinya. Kita bisa membantu anak mendapatkan aktifitas fisik atau olahraga yang dibutuhkan.        


Karakter Manusia

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day19

#JumlahKata456

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

Dengan bertambahnya usia anaknya membuat Kamila mulai kewalahan, apalagi dengan karakter anak keduanya yang sangat aktif membuat ia harus selalu memutar otaknya agar bisa menghadapi setiap kelakuan anaknya. Tidak hanya aktif tapi anaknya ini sering tantrum yang kadang membuat Kamila sulit untuk menenangkannya. Ia tahu tentang apa itu tantrus, penyebab dan bagaimana cara mengatasinya, namun pada kenyataannya ia sering lupa dan salah dalam menghadapi anaknya yang tantrum. Yang hanya berujung diam tak bisa berbuat apa-apa ketika anaknya mulai mengamuk atau memukulinya.

Seorang ibu memang harus selalu belajar walau bukan di bangku sekolah. Ibu harus terus belajar meskipun ia sudah menjadi sarjana. Karena setiap hari dalam fase kehidupannya adalah belajar dan belajar. Mungkin seorang ibu yang notabene seorang sarjana namun dalam mendidik anak ia akan belajar bagaimana menghadapi anak-anaknya. Dari anak pertama ia belajar memahami karakter anak sulung seperti apa, ia belajar bahasa kasih dari anaknya. Karena bahasa kasih ini sangat berpengaruh kepada karakter anak. Bila ibu salah dalam memberikan kasih sayangnya yang tidak sesuai dengan karakter dan bahasa kasih yang dimiliki anak, maka akan terjadi pola asuh yang salah dan menyebabkan anak tidak terpenuhi baterai kasihnya. Kita akan bisa menghadapi anak yang tantrum jika kita sudah mengenal karakter dan bahasa kasih dari anak kita. Kadang kita sendiri saja tidak paham apa karakter kita apalagi bisa memahami karakter orang lain. Itulah kenapa sebagai seorang ibu kita harus terus belajar, bisa dengan membaca artikel, mendengarkan kajian atau melihat konten-konten di media tentang parenting. Karena akan berbeda hasilnya anak yang dididik oleh ibu yang berwawasan luas dengan ibu yang hanya mendidik anaknya sesuai kebiasaan atau mengikuti cara mendidik orangtuanya dulu, meskipun ibu itu berpendidikan tinggi.

Berdasarkan buku-buku tentang kepribadian, ada empat jenis kepribadian manusia, yaitu sanguinis, melankolis, plegmatis, dan koleris.

1.     Sanguinis

 Para sanguinis adalah orang-orang yang memiliki jiwa terbuka, mudah bergaul, ceria, tegas, aktif, dan suka bersosialisasi. Mereka cenderung ekstrovert. Ada dua kualitas dasar dalam karakter sanguinis, yaitu keterlibatan antar individu dan antusiasme. Dari berbagai kekuatan karakter sanguinis, mereka tetap memiliki kelemahan. Bersifat impulsif, menjadi salah satu kelemahan para sanguinis. Mereka kurang baik dalam hal organisir agenda atau kegiatan pada kesehariannya.

2.     Melankolis

Berbeda dengan sanguinis, mereka dengan karakter melankolis biasanya adalah orang-orang introvert. Mereka dengan karakter melankolis merasa lebih nyaman menyampaikan isi hati melalui kata-kata. Orang dengan karakter ini mungkin terlihat selalu serius, tertutup, berhati-hati atau bahkan penuh curiga. Kekuatan lainnya dari jenis kepribadian melankolis, yaitu teliti dan detail dalam menghadapi segala hal. Menjadikan mereka perfeksionis. Namun, para melankolis juga memiliki kelemahan, yaitu sifat pesimisnya yang tinggi. Mereka sering kali merasa pesimis dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Selain itu, emosi yang tidak stabil juga menjadi kelemahan dari melankolis. Jika sudah emosi, melankolis akan merasa stres dan hal ini malah akan menghambat kemajuan dirinya sendiri.

3.     Plegmatis

 

 

 

 

 

 


Karakter Manusia

0 0


#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day20

#JumlahKata405

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

3. Plegmatis

Para plegmatis dikenal sebagai sosok yang introvert dan tidak suka dengan keramaian. Hal ini membuat mereka cenderung memiliki pembawaan yang tenang dan emosi yang stabil. Meski mereka lebih senang menyendiri, para plegmatis suka berada di sekitar orang-orang yang mereka percaya dan sayangi. Kekuatan lainnya dari jenis kepribadian plegmatis, yaitu mereka tidak suka menghakimi orang lain. Untuk itu, mereka dapat menyelesaikan masalah dengan netral, tidak bersikap subyektif, dan tidak memihak siapa pun. Namun, kelemahan dari karakter ini, yaitu dikenal kurang antusias dan tidak suka untuk dikritik. Kecenderungan mereka adalah memahami orang lain melalui imajinasinya sendiri.

4. Koleris

Kepribadian satu ini identik dengan seseorang yang menggebu-gebu dan ambisius. Hal ini yang menjadi kekuatan para koleris dan membuat mereka menjadi sosok yang dominan. Kekuatan mereka lainnya, yaitu memiliki sifat yang mandiri dan percaya diri yang tinggi. Para koleris umumnya memiliki sifat mandiri, kompetitif, dan percaya diri. Maka tak heran jika si koleris adalah sosok yang paling menonjol atau dominan di antara orang-orang sekitarnya. Kekuatan dari para koleris ini membuat mereka memiliki sifat kepimpinan yang tinggi.

Sifat egois, keras kepala, dan suka mengatur orang lain menjadi kelemahan dari para koleris. Ketika berhadapan dengan orang lain yang tidak sependapat, ia tidak akan segan untuk mempermalukan orang tersebut. Tujuannya agar terlihat unggul dari orang lain. Melihat dari penjelasan tentang karakter, Kamila bisa menyimpulkan anaknya yang kedua ini memiliki karakter sanguinis. Dimana anaknya selalu gembira, gampang tertawa, mudah bergaul, dan seenaknya yang membuat rumah berantakan karena ulahnya. Namun ia biarkan kondisi seperti itu, karena jika dibereskan anaknya akan marah dan mengacak-acak lagi mainannya.

Selain sanguinis anaknya memili karakter pendukung koleris, itu yang membuat kemauannya keras dan mudah tantrum. Hal itu yang sulit diatasi oleh Kamila. Hamper tiap pagi anaknya mencari perhatiannya agar ia tidak berangkat kerja, dia tidak mau digendong pamongnya, dialihkan mandi atau bermainpun tidak mau. Karena takut terlambat maka ia memaksakan agar pamongnya segera membawanya pergi. Karena itulah ia memutuskan untuk resign dari tempat kerjanya agar meminimalisir tantrum anaknya. Seringkali ia harus membawa anaknya jika pamong tidak bisa memaksa anaknya untuk lepas dari gendongannya. Kamila merasa tidak enak ketika bekerja ia harus membawa anaknya karena saat berangkat dia menangis minta ikut kerja. Ia merasa tidak profesional karena bekerja sambil mengurus anak. Apalagi jika di klinik anaknya masih melanjutkan tantrumnya, maka ia akan sulit menyelesikan tugas-tugasnya. Kasian teman-temannya yang harus menggantikan pekerjaannya. Karena itulah ia memutuskan berhenti bekerja di klinik tersebut. Walau hatinya masih ingin tetap bekerja, namun ia tidak mau anaknya menjadi korban keegoisannya.

 

 

 

 


Ibu Rumah tangga

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day21

#JumlahKata525

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani


Setelah berhenti bekerja Kamila sibuk menikmati menjadi ibu rumahtangga dengan dua anak. Pamong yang biasa membantunya juga ikut berhenti membantunya merawat anak-anaknya. Ia berharap dengan berhenti bekerja ia bisa fokus merawat dan mendidik anak-anaknya tanpa ada campur tangan orang lain. Setiap pagi ia mulai mengatur kegiatannya dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sebelum anak-anaknya bangun ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan nyapu ngepel dan sebagainya. Ketika anaknya bangun semua sudah bersih dan siap memberi makan mereka. Selesai mengurus anak-anaknya ia mengantar si sulung ke sekolah. Terkadang adeknya minta sekolah seperti kakaknya, maka Kamila memilih bertahan di sekolah agar si kecil tidak ngambek.

Usia tiga tahun si kecil sangat bersemangat sekolah, meski Kamila belum ingin memasukan anaknya ke sekolah (PAUD) namun melihat semangat anaknya yang hampir tiap hari minta ke sekolah, akhirnya ia masukan anaknya ke PAUD terdekat. Daripada ia hanya numpang momong jd lebih baik didaftarkan saja menjadi peserta didik di PAUD itu. Namun karena anaknya memiliki karakter sanguinis maka dia mudah bosan dengan lingkungan yang sama, sehingga selesai semester awal dia tidak mau berangkat ke sekolah lagi. Dia lebih asyik dengan dunianya sendiri, bermain masak-masakan, bermain sepeda dan lain sebagainya. Dia tidak suka bermain balok, menyusun puzzel ataupun merangkai. Mungkin itu yang membuat ia merasa bosan berada di sekolah.

Berbeda dengan anak sulungnya yang sekarang sudah di kelas 3. Sejak di TK anaknya sangat pendiam, susah bersosialisasi dan tidak banyak yang dilakukan. Tiap berangkat sekolah dia hanya duduk dibangkunya sambil menunggu gurunya datang. Dia tidak punya banyak teman, hanya ada 3 temannya itupun karena ibunya yang berteman jadi mereka ikut kenal. Soal tempat dudukpun dia hanya mau duduk bersebelahan dengan seorang teman. Jika dipindah oleh gurunya mka ia tidak mau belajar atau menangis.

Bila temannya tidak berangkat maka dia akan badmood dalam belajar. Bahkan bisa tidak mau belajar jika kursi disebelahnya diduduki oleh orang lain. Begitulah dua karakter yang sangat berbeda dari dua anak yang dimiliki Kamila. Yang satu periang dan pembuat keributan dan yang satu pendiam dan penakut. Namun mereka berdua punya kelebihan masing-masing. Anak sulungnya meski banyak diam namun dia pandai dalam berhitung. Sedangkan si pembuat onar dia suka sekali memasak dan selalu ingim mencoba apa yang dilkukan ibunya. Anak ini akan meminta sapu jika Kamila sedang menyapu rumah, ia akan membantu masak tip kali ibunya sedang memasak. Dia juga akan ikutberkotor-kotor jika orangtuanya sedang bercocok tanam dia akan merebut cangkulnya untuk ikut membersihkan rumput atau ikut menanam tanaman yang sudah disiapkan. Apalagi kalau Kamila mencuci dengan senang hati dia akan membantu meski kadang malah jadi berantakan, karena kebanyakan sabun atau cucian dicampur-campur.

Begitulah sehari-hari selama Kamila tidak bekerja. Ia sangat menikmati kebahagiaan menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki yang berbeda karakter 180°. Terkadang ia harus membawa anaknya ke kajian ibu-ibu. Walau nantinya ia harus mengeluarkan banyak uang untuk jajan anak-anaknya namun ia harus melatih anaknya ikut kajian dan bersosialisasi. Tak jarang juga si kecil masih kumat-kumatan tantrumnya, jika ia akan pergi kajian atau kegiatan organisasi kemasyarakatan anaknya akan menggoda dengan susah diajak tetapi tidak mau ditinggal. Yang akhirnya berujung gagal pergi daripada tantrum berkepanjangan. Karena kalau sudah terlanjur jadi tantrum maka akan sulit untuk menyembuhkannya.


Tantrum

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#Day22

#JumlahKata

PJ: Nur Azizatuz Zahra

Ketua kelas: Ulil Anwar

Neng jaga: Ani Mayani 

Ternyata tidak gampang menjadi seorang ibu dengan anak-anaknya yang berbeda karakter. Menghadapai anak dengan katakter plegmatis Kamila harus selalu aktif mengajaknya bicara agar anaknya bisa mengeluarkan isi hatinya atau mengutarakan pendapatnya. Karena anak sulungnya yang introvert bawaan dari karakternya yang plegmatis maka dia akan selalu menerima dan mengalah, jadi kalau tidak diperhatikan maka dia akan selalu kalah oleh adiknya. Namun karena dia selalu memendam keinginannya, maka kalau tidak dicolek atau ditanya maka akan mengurangi semangatnya. Misal saja kalau dia tidak ditanya tentang lauk untuk makannya dia akan ngambek tidak mau makan karena tidak cocok dengan seleranya. Meski tidak menuntut namun dia akan murung dan tidak mau makan meski akan dibuatkan makanan kesukaannya.
Berbeda dengan anak keduanya, karena dia tipe sanguinis maka apapun masakan yang Kamila buat dia bisa menerimanya. Walaupun bukan makanan kesukaannya namun dia bisa mencoba dan memakannya sampai habis. Dia akan mengomentari dengan jujur tentang rasa atau kekurangan dari makanan itu. Tak jarang dia mengejek kalau makanan yang tersaji tidak enak, terlalu pedes, asin atau asem. Namun meski begitu tetap dia habiskan. Bila ingin makan sesuatu juga dia dengan terbukanya meminta untuk dimasakan.
Kekurangannya adalah masih suka tantrum karena dia selalu ingin apa yang diinginkannya terpenuhi. Bila Kamila telat atau gagal memahami keinginannya maka dia akan marah, nangis bahkan berguling sampai keinginannya terpenuhi.
Apa itu tantrum?
Tantrum adalah perilaku anak yang menangis histeris hingga sulit ditenangkan. Bahkan tantrum dapat disertai dg aktifitas motorik seperti memukul, membanting barang atau berguling dilantai.

Berikut cara mengatasi anak tantrum
1. Jangan panik
Panik membuat orangtua tidak bisa berfikir jernih untuk menghadapi perilaku anak.

2. Kendalikan emosi
Orgtua yang emosi saat anak sedang tantrum justru membuat tantrum anak semakin parah.

3. Perhatikan keamanan anak
Jauhkan benda-benda berbahaya di sekitar anak

4. Alihkan perhatian anak
Alihkan dg memberikan mainan kesukaan, makanan kesukaan, hewan peliharaan, gambar, musik dsb.

5. Beri sentuhan kasih sayang
Belaian, pelukan, usapan bisa melembutkan hati anak

6. Beri penjelasan
Setelah tenang dari tantrum, beri penjelasan dg bahasa yg baik dan lembut. Jelaskan kenapa orgtua tdk menuruti kemauan anak.

QS Ali Imran : 159
Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentu mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.

7. Jangan menuruti semua kemauan anak
Sebab anak akan menjadikan tantrum sbg senjata agar dia dituruti kemauannya.

8. Cegah tantrum
Sebelum terjadi tantrum terapkan sistem reward dan punishmen.
Jika anak bisa mengurangi tantrum maka akan diberi hadiah atau minimal pujian.
Jika anak masih tetap tuntrum maka beri hukuman.

Perbedaan Karakter Anak

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day23

#JumlahKata461

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

Kondisi seperti itu masih sering dialami oleh Kamila, pernah suatu saat Kamila akan pergi ke kajian. Sebelum bersiap ia mencoba memberitahukan kepada anaknya tentang rencana kegiatannya hari ini, namun anaknya tak bergeming dari posisinya yang sedang bermain puzzel. Setelah ia selesai bersiap ia kembali menanyakan kepada anaknya apakah dia akan ikut atau dirumah saja dengan mainannya. Anaknya hanya menggelengkan kepalanya sambil terus bermain. Akhirnya Kamila mengeluarkan motor dan memanaskannya, saat berpamitan anaknya mulai merespon dengan merengek. Kemudian Kamila menegaskan kenapa dia merengek, mau ikut atau bagaimana. Namun anaknya makin menjadi rengekannya lalu dia menggoyang-goyangkan motor hingga motor itu roboh. Akhirnya Kamila tidak berani pergi ke kajian dengan kondisi anaknya seperti itu. Pernah juga terjadi saat Kamila menjadi panitia sebuah acara dan ia menjadi bagian dari tim paduan suara. Saat latihan ia berani membawa anaknya, namun saat hari H ia coba menyerahkan anaknya pada suaminya. Ternyata anak itu kembali tantrum hingga ayahnya lelah dan pasrah tak bisa menghadapinya. Pada saat tim paduan suara akan tampil dipanggung suaminya membawa anaknya kedepan ruangan acara. Bertambahlah tangis dan mengamuknya. Ayahnya membawa berkeliling dengan sepeda motor sampai akhirnya melewati toko sepeda ditawari beli sepeda dia mengangguk. Dibelilah sepeda roda empat sebagai penawar tantrumnya.

Sejak saat itu dia mulai sibuk dengan bermain sepeda, baik hujan maupun panas dia tetap main sepeda. Jika lelah maka sepedanya dibalik lalu mengayun sepeda dengan tangannya. Kadang ditambah balon yang ditaruh dibelakang jok sehingga akan muncul suara yang membuatnya senang. Begitulah hari-hari yang penuh warna bagi si kecil yang keras kepala namun sangat ceria dan kreatif.

Lalu bagaimana dengan si kakak yang so cool? Setiap hari sepulang sekolah dia tidur, saat bangun dia akan nonton tv, sesekali membuka komputer bermain game bawaan yang ada di komputer itu. Terkadang dia main corat coret di komputer, meski Kamila tak mengajarinya namun instingnya ketika memegang komputer cukup bagus. Awalnya mungkin asal klik namun setelah di tahu isi dan kegunaannya dia gunakan untuk berimaginasi. Sorenya kalau ada omnya yang ngajakin main bola dia mau ikut bersama ke lapangan. Kalau dilihat anak sulung Kamila ini punya bakat dalam bermain sepak bola, kata Kamila sejak hamil ia suka nonton bola hampir tiap malam, jadi mungkin bakatnya sudah muncul sejak dalam kandungan. Tendangan kaki kirinya cukup membuat kagum teman-temannya, karena pemain sepak bola kidal itu jarang dan biasanya akan jadi andalan.

Kamila ingin memasukan anaknya itu ke sekolah sepak bola (SSB) ia sudah mencoba mencari SSB terdekat. Namun suaminya kurang mendukung meskipun dia suka nonton bola. Kamila ingin memaksakan namun tidak berani. Akhirnya sampai anaknya menjadi remaja hobbynya tidak tersalurkan. Kamila merasa bersalah karena ia telah menyia-nyiakan kesempatan anaknya berekspresi dan bersosialisasi dengan menyalurkan hobbynya. Padahal ia tahu bahwa anak plegmatis itu harus diarahkan, karena dia tidak akan memiliki kemauan atau semangat dari dalam dirinya untuk berkembang lebih maju.

 

 

 

 


Kembali Bekerja

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day24

#JumlahKata500

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani


Kembali lagi bahwa hidup itu adalah pilihan dan hidup adalah proses belajar yang tak ada hentinya. Dan proses belajar itu butuh waktu yang lama untuk bisa mempraktekan secara keseluruhan. Karena kita hidup tidak sendiri, kitanya sudah paham dan tahu teorinya, namun pada prakteknya kita berhadapan dengan dua atau lebih individu yang berbeda karakter dan juga pola pikir dalam memahami sesuatu. Sehingga kita akan sulit untuk mempraktekan ilmu yang sudah kita pelajari atau kita miliki. Begitu juga sebaliknya oranglain sudah paham dan mengerti tentang suatu ilmu, namun kita belum mengetahuinya maka orang itu akan sulit mengajak kita untuk berubah atau memahami apa yang sudah dia pelajari dan ingin dipraktekan.

Idealnya sepasang suami istri itu sebelum mereka menikah mereka sudah memahami konsep dalam berumah tangga, dan juga memahami bagaimana cara mendidik anak agar ketika mereka menikah dan punya anak, mereka sudah punya dasar dalam mendidik anak-anaknya. Namun pada kenyataannya seorang profesorpun akan mengalami masa pembelajaran ketika mereka baru berumahtangga dan memiliki anak. Mereka tetap akan mengalami masa-masa sulit dalam mendidik anak.

Seiring berjalannya waktu Kamila sudah terbiasa dengan kondisi melelahkan dalam menjadi pengasuh dan pendidik anak-anaknya. Rasa bersalah kepada orangtuanya karena ia memutuskan resign dari pekerjaannyapun mulai hilang karena orangtuanya juga mulai memahami bahwasanya anaknya sudah dewasa dan sudah berkeluarga, maka konsekuensinya adalah taat kepada suaminya dan siap mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Karena itulah Kamila bisa lebih tenang ketika ia berkunjung kembali ke rumah orangtuanya. Tidak seperti sebelumnya ia akan merasa enggan ketika harus pulang untuk menengok kedua orangtuanya. Ia takut dimarahi meski sebenernya orangtuanya tak akan melakukan itu.

Empat tahun kemudian ketika anak sulungnya sudah di SMP dan si kecil sudah masuk SD, Kamila mendapat informasi bahwa ada Puskesmas yang sedang membuka lowongan untuk tenaga perawat dan lainnya. Ia segera membuka berkas-berkas lamaran, ijazah, transkip nilai dan juga STR perawat sebagai modal utamanya. Beruntung diujung masa aktif STRnya ia masih bisa menggunakan itu untuk melamar pekerjaan. Semua proses ia lalui sampai akhirnya ia diterima di Puskesmas itu. Bersama dua orang perawat lainnya dan beberapa tenaga lainnya mereka mulai bekerja dengan sistem yang baru. Puskesmas itu baru saja menjalani renovasi dimana aturan mengharuskan bangunan dan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar operasional. Bila dulu bangunan Puskesmas layaknya bangunan rumah sederhana yang tidak terlalu tinggi dengan ruangan yang sangat sempit, pelayanan yang serba manual.

Kini puskesmas telah berubah menjadi bangunan yang kokoh dan megah layaknya RS tipe D. Dari halaman yang cukup luas, bisa untuk parkir kendaraan pengunjung, bisa untuk apel pagi atau senam, bisa juga untuk kegiatan luar gedung seperti posyandu dan prolanis. Masuk kedalam ada mesin antrian dan ruang tunggu yang luas dengan kursi yang baru pula. Ruang pendaftaran layaknya ruang resepsionis dengan terpasang speaker dan komputer berjejer. Disebelah kanan pendaftaran ada ruang pemeriksaan dokter yang bersebelahan dengan UGD pada bagian depannya. Sementara disebelah ruang periksa ada ruang pemeriksaan gigi. Sementara disebelah kiri ruang pendaftaran, bagian depan ada apotik, sebelahnya ada ruang KIA, gizi dan ruang konseling serta ruang bermain bagi anak-anak. Bagian belakang ada ruang laboratorium dan vk atau ruang bersalin.


Kerjasama

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day25

#JumlahKata425

Hampir semua puskesmas sudah poned (Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar) hal itu sebagai upaya untuk mengurangi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Bagian belakang dijadikan ruang tunggu bersalin yang diseting sebagai taman dengan aneka bunga dan terdapat kolam ikan dan air mancur yang membuat nyaman keluarga pasien yang sedang menunggu pasien yang akan bersalin.

Karyawan baru termasuk Kamila mulai menjalani masa training selama tiga bulan. Namun pada prakteknya mereka justru dijadikan subjek perubahan pelayanan di puskesmas itu. Dimana para senior yang sebelumnya melakukan kegiatan pelayanan secara manual dan sebagian besar dari mereka pegawai yang sudah berumur tentu saja menjadikan mereka merasa kesulitan dengan SOP yang baru diterapkan. Dimana semua berbasis komputer dan teknologi. Karena itu baik Kamila maupun teman-teman yang lain belajar beradaptasi dengan otodidak, karena mereka tidak bisa menanyakan kepada siapapun disana. Mereka hanya bisa menanyakan tentang hal-hal yang dasar, namun dalam implementasinya kedalam aplikasi mereka belajar sendiri dengan saling melengkapi satu sama lain. Begitulah semestinya setiap orang yang akan bekerja, dia harus siap bekerja dimanapun dia diposisikan, dia harus siap kerja tim, dia harus cekatan dan punya dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaannya.

Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang mempunyai kegiatan di dalam gedung dan di luar gedung, kegiatan dalam gedung seperti pemeriksaan di ruang dokter, KIA, MTBS dan konseling gizi, sanitasi, capeng, jiwa dan perkesmas. Sebagai tenaga perawat Kamila dan perawat lainnya dituntut untuk bisa berada pada semua ruang pelayanan. Bahkan ketika petugas loket pendaftaran, apotik, laboratorium sedang tidak ditempat sebagai perawat mereka biasa membantu menggantikan pekerjaannya. Di pelayanan vk juga tak jarang para perawat dimintai bantuannya untuk menginfus atau ikut membantu persalinan. Untuk kegiatan luar gedung diantaranya pelayanan promosi Kesehatan (PROMKES) termasuk UKS, pelayanan program Kesehatan lingkungan, Kesehatan ibu dan anak seperti posyandu, pelayanan program gizi, dan pelayanan program pencegahan dan penanganan penyakit,seperti kunjungan keluarga rawan, keluarga dengan anggota keluarga hiv, TB, HT, DM dan sebagainya.

Semua kegiatan sudah terjadwal dan dilaksanakan secara bergantian agar pelayanan didalam gedung dan luar gedung bisa berjalan dengan baik. Terkadang satu kegiatan bisa mewakili beberapa program. Contohnya ketika kita melakukan kunjungan keluarga dengan HIV ternyata dalam keluarga tersebut ada balita maka seorang perawat bisa pergi dengan seorang bidan bersama kerumah itu untuk melaksanakan program P2PTM dan program KIA. Atau kunjungan sanitasi keluarga dan didalam keluarga ada yang merokok dan mempunyai penyakit TB, maka pemegang program TB dan sanitarian bisa berangkat bareng untuk menganjurkan perbaikan sanitasi dan UBM. Atau bisa juga promkes/ UKS dengan program Kesehatan jiwa melakukan screening bersama pada sekolah-sekolah. Dan masih banyak contoh kegiatan yang bisa dilakukan Bersama-sama.

 

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani


Bekerja Dimasa Pandemi

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day26

#JumlahKata526

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani


Semakin hari pelayanan Puskesmas dimana Kamila bekerja mengalami peningkatan, yang tadinya banyak komplenan karena pelayanan lambat kini mulai lebih cepat, keakraban yang tadinya seperti ada gep perawat hanya berteman dengan perawat,bidan dengan bidan kini mereka mulai membaur jadi satu kesatuan. Rasa sosial dalam diri mereka juga ikut naik. Ketika ada salah satu yang sakit maka secara bergantian atau bareng-bareng mereka menengoknya. Begitupun ketika ada yang menikah, melahirkan atau ada hajat yang lain, maka mereka dengan gembira membantu satu sama lain. Yang tadinya kerja hanya sebagai rutinitas kini ditambah dengan dedikasi dan nilai ibadah mereka niatkan dalam hati masing-masing. Management juga mulai teratur dengan adanya akreditasi. Sarana dan prasarana mulai dilengkapi untuk memenuhi standar pelayanan.

Pelayanan dan kegiatan-kegiatan mulai terganggu ketika pandemi Covid-19 datang. Sejak kedatangan virus corona hari-hari Kamila terasa sangat padat, dimana anak-anak mulai disuruh belajar dirumah, karena aturan lockdown, anak sulungnya yang akan menghadapi ujian akhir sekolah akhirnya harus melakukan ujiannya secara online, ujian praktekpun dilakukan dirumah dengan video yang dikirimkan ke sekolah, sebagai orangtua Kamila ikut sibuk mempersiapkannya, dari praktek membuat tempe, hafalan, dan sebagainya. Begitu juga dengan anak keduanya yang setiap hari diberi tugas oleh gurunya.

Ketika sampai di Puskesmas Kamila harus melupakan anak-anaknya dirumah hanya dengan beberapa pesan,agar tidak kemana-mana, sering cuci tangan dan pake masker jika keluar rumah. Ia harus fokus pada pekerjaannya, melayani pasien dan masyarakat yang membutuhkanku. Apalagi dengan adanya angka ODP dan PDP yang terus meningkat maka semua karyawan mulai sibuk dengan kegiatan promosi kesehatan untuk melaksanakan protokol kesehatan. Sejak itu Puskesmas mulai mengusahakan APD (alat pelindung diri) bagi tenaga kesehatan, yang tadinya mereka di ruang pemeriksaan hanya menggunakan sarung tangan dan masker, kini mereka diberi tambahan dengan pemberian APD berupa mantel atau lebih tepatnya jas hujan. Yang baca jangan tertawa ya... tapi yang pasti anda bertanya dalam hati jas hujan dipakai untuk APD tenaga medis? Yah begitulah adanya. Karena anggaran untuk membeli APD sesuai standar belum masuk dalam RAB tahunan.

Hari pertama jas hujan itu dibagikan mereka seolah berebut karena meeka menganggap APD itu sangat mereka butuhkan sebagai perlindungan dari virus yang menakutkan itu, Kamila dan teman-temanku di ruang pemeriksaan termasuk dokterpun dengan semangat menggunakannya. Dan hari pertama itu mereka lalui dengan gembira tanpa merasakan keluhan. Tapi setelah hari kedua, ketiga, keempat dan seterusnya mereka baru sadar betapa panasnya menggunakan APD itu, bagaimana mereka tidak bisa melihat karena kaca mata atau gogle yang mereka pakai bereembun, rasa haus yang luar biasa karena kepanasan selama menggunakan jas hujan itu. Apalagi setelah jas hujan itu dilepas saat pelayanan selesai, mereka seperti baru saja kehujanan karena baju mereka basah kuyup sampai ke pakaian dalam mereka,. Setelah jas hujan itu dibersihkan dengan disinfektan dan dicuci besoknya dipakai lagi, dan mereka harus merasakan hal yang sama lagi.

Belum lagi saat ada tindakan di ruang UGD atau lebih tepatnya UGD itu dijadikan ruang tindakan, melakukan tindakan yang kadang tidak cukup dengan waktu 15 menit itu rasanya luar biasa, handscon (sarung tangan) seperti balon diisi air dan itu mengganggu kinerja mereka dalam melakukan tindakan. Belum lagi keringat yang bercucuran di dahi, yang membuat takut menetes ke luka atau tubuh pasien, yang bisa mengotori luka pasien, sementara mereka tak bisa mengelapnya walau hanya sedikit.

 

 

 

 



Bekerja Dimasa Pandemi

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day27

#JumlahKata443

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani


Hari-hari selama menggunakan jas hujan itu terasa berat dan lama, tapi ada hikmah yang mereka ambil dari penggunaan jas hujan itu, terutama bagi mereka yang bobot tubuhnya diatas rata-rata, kata mereka anggaplah sedang sauna gratis setiap hari, bayangkan kita sauna di spa atau salon termahal maka apa yang kita lakukan setiap hari akan terasa indah dan ringan. Entah itu kalimat jujur atau hanya gurauan yang pasti itulah hikmah dari menggunakan jas hujan dalam melaksanakan tugas di pelayanan, setidaknya setiap hari ada beberapa kalori yang terbakar sehingga bisa mengurangi lemak bagi yang berlebihan lemaknya.

Setelah merasakan kenikmatan menggunakan jas hujan itu maka mereka berfikir untuk membeli APD secara mandiri, meskipun bukan dari bahan yang sesuai standar, tapi setidaknya dapat melindungi mereka sehingga tidak terlalu merasakan beratnya menggunakan jas hujan lagi. merekapun memesan APD itu, dan ternyata saat itu mulai datang bantuan APD dari para relawan, jadi sambil menunggu pesanan mereka menggunakan APD yang diberikan oleh donatur. Dan akhirnya mereka bisa mulai merasa sedikit lega dan bisa lebih leluasa dalam bergerak.

Kamila dan teman-temannya semakin gencar melakukan menyuluhan, pemahaman terhadap masyarakat tentang apa itu covid-19, bagaimana tanda-tandanya, bagaimana penularannya, dan bagaimana pencegahan dan penanganannya dengan cara langsung maupun media, dalam story wa. Berbagai komentar di masyarakat tentang covid-19 bermunculan, baik yang berkomentar positifmaupun yang negatif menanggapi himbauan dari pemerintah. Namun dengan sabar para nakes memberikan pemahaman kepada mereka. Komentar-komentar itu muncul karena masyarakat sedang diliputi rasa takut dan kebingungan bagaimana harus bersikap ditengah pandemi yang menakutkan ini.

Waktu terus berjalan, mereka menjalani aktifitas baru yang melelahkan tanpa boleh mengeluh. Siang dan malam tak ada hentinya mereka memantau perkembangan angka covid di grup wa Puskesmas. Mereka bergantian mengantar dan menjemput pasien terkonfirmasi positif ke karantina. Mereka hanya bisa berdoa diberi kekuatan, kesehatan agar mereka bisa kuat menjalani tugas mulia ini. Lelah yang tak berhujung demi raga yang lain. Semoga Allah membalas semuanya. Selain mengantar dan menjemput PDP ke dan dari RS, masih ada lagi tugas mereka yang lain, yaitu mengawasi ODP dan PDP yang sudah diperbolehkan isolasi mandiri di rumah. Saking banyaknya jumlah ODP dan PDP yang tercatat Puskesmas maka setiap karyawan mendapatkan tugas sekitar 8-10 orang yang harus dipantau setiap hari lewat telepon atau WA, mereka  harus mencatat pula dalam lembar pantauan sampai masa karantina mereka selesai 14 hari. Banyak cerita selama mereka memantau pasien itu. Ada yang langsung menjawab pertanyaan kami,ada yang belum ditanya sudah lapor duluan, ada yang menunggu di telpon karena malas menjawab wa kami, ada yang membalas dengan senyuman ada pula yang menjawab dengan candaan, seperti “saya baik-baik saja,sehat walafiat,tapi kantong saya yang tidak sehat”. Bahkan ada pula yang memblokir nomer petugas dan membuat status di wa yang menyudutkan tenaga kesehatan.

 

 


Positif Covid-19

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch44

#Kelompok19

#GangsterAksara

#Day28

#JumlahKata583

 

Judul: Catatan Perawat Magel

Penulis: Tri Mulyani

Pj: Nur Azizatuz Zahra

Ketua Kelas: Ulil Anwar

Neng Jaga: Ani Mayani

 

Menjadi tenaga kesehatan memang harus siap dengan segala konsekuensinya termasuk tertular penyakit. Seperti yang dialami Kamila, karena ia sering kontak dengan ODP, PDP bahkan pasien yang terkonfirmasi positif, akhirnya iapun ikut terpapar covid-19. Sebenernya Kamila tidak merasakan gejala yang terlalu menonjol, ia merasa sehat dan baik-baik saja. Dalam dua pekan memang di Puskesmas banyak karyawan yang mengalami batuk pilek termasuk Kamila, namun pada saat ada pemeriksaan swab kepada seluruh karyawan Kamila kejatuhan naas, surveylan mengabarkan kepadanya lewat telphon bahwa hasil swab kemarin positif covid-19.

Posisi Kamila saat mendapatkan kabar itu ia sedang berada dirumah ibunya. Betapa syoknya ia mendengar kabar itu. Ia tidak khawatir dengan dirinya, namun ia takut orangtuanya yang sudah lansia, apalagi ibunya yang punya comorbid terkena virus yang ia bawa. Dengan cepat Kamila pamit pulang dan menganjurkan semua yang ada dirumah ibunya untuk isoman sampai mereka mendapat tracking dari puskesmas. Dengan perasaan khawatir terhadap orangtuanya Kamila membawa motornya seperti melayang. Bagaimana tidak, ia tahu bagaimana kondisi pasien-pasien di RS yang terkonfirmasi positif covid-19, apalagi jika pasien itu memiliki comorbid atau penyakit bawaan, maka akan fatal. Kamila tidak takut dengan kondisinya karena ia merasa baik-baik saja tidak ada keluhan sama sekali. Yang ia takutkan bagaimana jika ibunya sudah tertular olehnya. Ia khawatir ibunya akan down dan masuk RS dan mengalami hal-hal yang mengerikan itu, di oksigen, atau bahkan di ventilator. Pikirannya berkecamuk sampai ia tidak sadar sudah sampai dirumah. Dengan cepat ia siapkan baju seperlunya lalu bersiap berangkat lagi ke puskesmas karena mobil penjemputnya sedang dalam perjalanan untuk mengantarnya ke RS untuk diisolasi. Sebenernya ia bisa saja menunggu di rumah tapi ia tidak mau menambah stress orang-orang disekitar rumahnya yang bakal takut dan khawatir tertular. Sehingga Kamila memilih pergi ke puskesmas dan menunggu jemputan ambulan disana.

Kamila menjadi nakes pertama di puskesmasnya yang terkena virus yang sedang viral ini. Jadi semua merasa khawatir dan takut akan tertular. Sesampainya di puskesmas tampak tim sterilisasi hampir selesai menyemprot disinfektan ke seluruh lingkungan puskesmas. Ada beberapa karyawan yang bertugas sebagai gugus tugas bersiapa didepan puskesmas dengan APD lengkap. Mereka menyambut Kamila dengan sedih dan takut. Ingin memeluk Kamila memberikan support agar ia kuat namun mereka tidak berani. Akhirnya hanya memberikan ciuman dan pelukan dari jarak 3-4 meter.

Berbeda dengan Kamila, ia justru tertawa melihat teman-temannya yang bersikap seperti itu. Meski dalam hatinya masih kacau dengan bebagai pikiran dan prasangka namun ia bisa menutupinya dengan tersenyum dan tertawa. "kawan... Jangan menangis, aku baik-baik saja, aku sehat dan aku akan cepat kembali bersama kalian" serentak teman-temannya menangis mendengar kata-kata Kamila. "Bukannya takut malah tertawa, apa ia sudah tidak waras?" begitu kata temannya melihat sikap Kamila.

Akhirnya ambulan penjemput datang dan Kamila naik ambulan dengan perasaan seperti disayat namun tidak terlihat oleh siapapun, karena selain memakai masker ia tampak tersenyum. Berangkatlah ambulan menuju RS rujukan covid-19. Kamila dengan perasaan yang tidak menentu namun ia masih sempat memotret sopir dan pendamping yang duduk diaebelahnya lalu ia membuat status di wa nya. Biasanya ia yang duduk didepan, kini ia duduk dibelakang sebagai pasien. Yah dunia memang berputar, kadang kita diatas kadang kita dibawah. Tanpa disadari ia berpikir banyak hal selama dalam perjalanan. Bagaimana hasil swab keluarganya besok? Bagaimana respon tetangganya? Bagaimana efek psikologis terhadap keluarga dan anak-anaknya? Kamila tak bisa berfikir jernih, ia hanya bisa menarik nafas panjang. Meski bibirnya bisa tersenyum namun ia tak bisa menyembunyikan perasaan dan kekhawatirannya. Apalagi ia tahu di media bagaimana mereka menceritakan tentang resiko yang dihadapi orang yang terkena virus ini. Bagaimana rasanya diasingkan, dikucilkan dan ditakuti orang hanya karena divonis positif covid-19.


Efek Psikologi Covid-19

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch44
#Kelompok19
#GangsterAksara
#Day29
#JumlahKata715

Judul: Catatan Perawat Magel
Penulis: Tri Mulyani
Pj: Nur Azizatuz Zahra
Ketua Kelas: Ulil Anwar
Neng Jaga: Ani Mayani

Menjalani masa karantina di RS sebagai pasien covid-19 bagi sebagian orang akan menambah rasa cemas dan bahkan makin menurunkan imunitas tubuh. Tapi tidak bagi Kamila, hari pertama di RS ia bangun dengan segar karena pada dasarnya ia merasa sehat karena tidak ada keluhan. Kamila mengajak teman kamar sebelah yang sama-sama tidak ada keluhan untuk keluar kamar dan berolahraga. Ia dan beberapa pasien keluar kamar menuju halaman yang cukup kena sinar matahari. Mereka berlari-lari kecil mengelilingi halaman ruang perawatan itu lalu dilanjut malakukan senam ringan yang dipandu pasien yang paling muda diantara mereka melalui tutorial di youtube. Selesai senam mereka ngobrol dan saling mengenal satu sama lain dan juga bertukar no telpon.
Setelah itu mereka mandi dan sarapan, tak lupa mereka yang sehat memberikan support kepada pasien kamar sebelah yang nampak lemas dan terpasang infus. Ada juga pasien yang sudah hamper satu bulan berada disana karena setiap pekan dilakukan swab hasilnya masih positif. Entah seperti apa perasaan pasien itu berada di RS dengan status karantina. Dengan support yang diberikan setidaknya sedikit bisa menguatkan mereka yang sudah lama di kamar karantina. “Ayo semangat, makan yang banyak dan selalu berfikir positif, kita pasti sembuh” begitu yang dikatakan Kamila didepan kamar teman-temannya yang didalam tertidur lemah.
Hari demi hari dilalui Kamila dengan tetap tersenyum dan penuh semangat, meski jika malam tiba ia merasa sedih apalagi bila ibunya telpon menanyakan kondisinya. Ia merasa sedih karena telah membuat panik dan khawatir yang dirumah, sementara ia sendiri dalam kondisi baik-baik saja. Tiap malam ia berdoa untuk kebaikan orangtua, suami, anak dan keluarganya. Apalagi adiknya juga menceritakan bagaimana kondisi dirumah dimana warga sekitar tahu bahwa Kamila positif covid-19. Mereka seolah mengucilkan keluarganya. Bila adiknya Kamila pergi ke warung atau melewati mereka maka mereka langsung menghindar dan masuk kerumah masing-masing. Sikap warga yang terlalu berlebihan itu yang bisa mempengaruhi psikis keluarga dengan anggota terkonfirmasi covid-19. Begitupun yang terjadi dengan suami dan anak-anak Kamila dirumah. Mereka isolasi mandiri, dimana rumah selalu tertutup. Untuk makan mereka beli lewat hp atau ada warga yang memberikan bantuan dengan menaruh bahan makanan didepan pintu.
Tetapi bagi mereka yang takut akan menghindar walau hanya sekedar lewat gang samping rumah. Kamila sangat merasakan efek psikis tersebut, dia dan keluarganya mungkin bisa tahan, namun bagi orang awam pasti akan sangat berpengaruh pada psikis mereka. Pantas saja mereka yang merasakan ada keluhan batuk pilek bahkan sesak lebih memilih berdiam diri dirumah, bahkan ada yang sampai meninggal tetap dirumah, daripada ke puskesmas atau RS pasti akan di swab dan mereka tidak akan kuat jika hasilnya positif. Begitulah yang terjadi dimasyarakat, mereka tidak paham tentang ap aitu covid-19 tetapi gampang percaya dengan berita-berita yang menakutkan sehingga membuat psikis mereka down dan imunitaspun ikut turun. Akan berbeda jika masyarakat mau menerima penjelasan dari pemerintah lewat tenaga kesehatan dan menjalankan protokol kesehaan dalam keseharian mereka, maka penyebaran virus covid-19 ini tidak akan sampai meluas seperti ini.
Namun tidak bisa dipungkiri, kita berada dinegara berkembang, jika dinegara maju pemerintah menganjurkan lockdown maka konsekuensinya pemerintah menjamin kesejahteraan bagi warganya. Sementara di Indonesia yang masih berkembang akan sulit bagi pemerintah memberikan kompensasi untuk warganya. Karena itu wajarlah kenapa warga Indonesia sulit mengikuti aturan lockdown, karena jika mereka tidak bekerja maka mereka tidak akan bisa makan. Dilema hidup dinegara berkembang, akan sulit menerapkan peraturan jika efeknya berimbas pada kehidupan ekonomi rakyat.    
Empat hari Kamila di RS, akhirnya ia bisa pulang setelah hasil swab ulang hasilnya negatif. Dengan dijemput ambulan ia pulang kerumahnya. Anak-anaknya menyambut dengan gembira kepulangannya. Dengan suka cita si kecil menunjukan betapa banyak makanan dan buah-buahan dari teman dan saudara yang peduli pada kondisi mereka saat isoman. Kamila terharu melihat banyaknya makanan di dapur. Ia teringat selama di RS juga banyak teman-temannya yang mengantar makanan dan keperluannya yang lupa ia bawa. Ia bersyukur dikelilingi orang-orang yang baik yang mengerti keadaannya.
Kamila hanya istirahat dirumah selama tiga hari, karena pekerjaan di puskesmas sudah sangat menumpuk. Namun ada yang aneh ketika ia memasuki ruangan, ada beberapa teman yang seolah menghindar bertemu dengannya. Apa seperti ini efek dari covid-19? Pantas saja banyak yang down dan sangat ketakutan dengan swab dan satus hasilnya. Kamila tahu diri, ia lebih banyak diruangannya, tidak seperti biasanya yang selalu berkeliaran menyapa semua orang di puskesmas. Seiring berjalannya waktu satu persatu mereka bergantian ikut terkonfirmasi positif, namun mereka tidak menjalani isolasi di RS tapi isolasi mandiri dirumah masing-masing

Inilah Akhir Kieahku

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch44
#Kelompok19
#GangsterAksara
#Day30
#JumlahKata507

Judul: Catatan Perawat Magel
Penulis: Tri Mulyani
Pj: Nur Azizatuz Zahra
Ketua Kelas: Ulil Anwar
Neng Jaga: Ani Mayani

Setelah sekian lama akhirnya pandemi mulai meredup, aktifitas percovidan mulai menurun. Namun kesibukan para nakes belum berakhir, pemerintah mulai menggalakan vaksinasi kepada seluruh warga masyarakat Indonesia. Kegiatan lain pun mulai kembali normal termasuk proses seleksi CPNS,dari sinilah takdir akhir karir Kamila tertulis. Desas desus bahwa puskesmas akan kedatangan CPNS khususnya perawat sudah Kamila dan teman-temannya dengar. Namun tidak ada gambaran bagaimana nasib Kamila dan teman-temannya yang tidak lolos CPNS. Siska yang sudah menjadi PNS ditahun lalu sempat menanyakan kepada kepala puskesmas tentang nasib Kamila dan Merry. Kata kepala puskesmas beliau tidak berani mengeluakan mereka berdua. Siskapun merasa lega.
Namun sebulan kemudian tanpa ada pemberitahuan apalagi dipanggil kepala puskesmas atau kepala TU, saat apel pagi kepala puskesmas mengumumkan tentang kedatangan sejumlah CPNS dan PHK terhadap beberapa tenaga kontrak. Kamila merasa sedikit sesek didada mendengar kabar tersebut. Meski ia tahu akan kemungkinan itu namun ia cukup kaget dengan keputusan yang disampaikan kepala puskesmas, padahal sebelumnya Siska mengatakan bahwa mereka tidak akan dikeluarkan dari puskesmas. Sedangkan Mery yang sedang isoman hanya membalas emotikon pasrah setelah Kamila mengabarkan berita itu. Mau tidak mau mereka yang diPHK harus terima keputusan itu.
Dua hari kemudian puskesmas mengadakan perpisahan untuk karyawan yang lolos CPNS dan juga perpisahan bagi karyawan yang di PHK. Merry tidak ikut dalam acara tersebut, Kamila dan apoteker yang sama-sama diPHK hadir Bersama mereka yang lolos CPNS. Ketika ada sepatah kata perpisahan dari perwakilan karyawan yang akan meninggalkan puskesmas, Kamila tak kuasa untuk berbicara, ia menyerahkan kepada apoteker yang tampak kecewa dengan pemberhentiannya. Akhirnya acara selesai dengan tangis haru bagi mereka yang lolos CPNS dan tangis pilu bagi Kamila yang ia sembunyikan dibalik senyum tawanya. Kamila berusaha tegar menerima kenyataan dia harus mengakhiri karirnya sampai disini. Meski teman-temannya yang memeluk sambil menangis, namun ia berusaha tidak mengeluarkan air mata.
Sebelum pulang Kamila masih sempat menawarkan diri untuk melanjutkan tugasnya sampai CPNS masuk lalu melimpahkan tugasnya kepada mereka. Namun pihak managemen mengatakan tidak perlu karena tidak ada anggaran untuk membayar tenaganya. Kamila merasa malu karena niat baiknya tidak dihargai, akhirnya dia pulang dengan perasaan sedih yang memuncak. Lagi-lagi ia membawa motor tanpa sadar karena pikirannya kacau. Namun karena pada dasarnya ia anak yang periang atau sanguinis seperti anak keduanya, baru sampai didepan rumah ia sudah bisa tersenyum dan selfi dengan motornya yang penuh dengan barang bawaan kado kenang-kenangan dari puskesmas. “Cekrek..” lalu bikin status “inilah akhir kisahku…catatan perawat magel”
Setelah mandi dan istirahat, Kamila merenungi nasibnya. Yah…dia harus ikhlas menerima takdirnya. Sebesar apapun semangatnya dalam bekerja, secinta apapun dia terhadap pekerjaannya, Ketika atasan sudah mengatakan berhenti ya dia harus berhenti. Dan dia harus tetap semangat dan yakin bahwa rejeki tidak akan tertukar, ia akan mendapatkan rejeki dari jalan yang Allah tentukan. Meski ia tidak bisa menjadi perawat lagi di puskesmas, namun ia bisa menjadi perawat bagi keluarganya, bagi lingkungannya dan bagi sesama manusia pada umumnya. Karena menjadi perawat bukan hanya merawat orang sakit di puskesmas atau RS, tetapi perawat bertugas menyehatkan masyarakat Indonesia. Menjaga yang sehat tetap sehat dan yang sakit menjadi sehat.
Kerja kerja kerja… maju bersama sukses Bersama
Sehatkan Indonesia

Mungkin saja kamu suka

Desbinta Fitria
Geraldan Bintang
Evi Rachmawati
Jendela Yang Berbeda
ERLAN JAELANI
Thank You Ramadhan
Nezbrebie
Zalim
Novi Tri Wuland...
Mencintai Dua Hati

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil