Loading
1

0

32

Genre : Romance
Penulis : Haruko
Bab : 30
Dibuat : 18 Agustus 2022
Pembaca : 4
Nama : Risky Aulia
Buku : 1

Murobba'

Sinopsis

Pada kompetisi kaligrafer tahun ini Rama ambil bagian untuk mengikuti lomba. Ketika acara masuk ke sesi pembukaan lomba oleh salah satu perwakilan sekolah, konon katanya pengisi sesi acara telah juara berkali-kali dan membuat semua penonton terkagum dengan hadirnya. Kecuali Rama, yang terdiam ketika melihat pengisi sesi acara tersebut, perlahan Rama mencoba mengingat suara dan bentuk wajahnya. Siapakah dia? Apakah dia orang yang selama ini mengisi hidupnya lalu menghilang tanpa kabar?
Tags :
#Batch48 #Persahabatan #Cinta

Prolog

1 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6

#BaswaraAksa
#Day1

Jumlah kata : 400

Gemercik hujan di luar menghiasi ruang dengarku. Aku duduk di dalam ruangan kecil yang penuh dengan karya-karya anggota ekstrakurikuler kaligrafi. Sambil menikmati teh dan menatap jajaran huruf kufi yang terhampar di dalam mejaku. Monitor komputer bersiaga untuk menjadi tempat curahan ideku. 


Aku akan bercerita padamu, tentang sahabatku yang mendapat julukan unik di sekolah. Bukan karena prestasi tapi karena tingkah unik yang dia lakukan. Api semangatnya masih tersimpan di tiap karya-karyaku.


 5 tahun lalu, di ruangan yang sama kami pernah mengukir cerita. Pertamakali melihat marahnya. Jangan tanya seperti apa, lebih serem dari pada apa yang terseram di muka bumi. Namun, sisi baiknya juga melebihi apa yang terbaik.

Banyak kata-kata yang tak sengaja dia ucapkan kepadaku, entah itu soal Kufi atau kehidupan. Mungkin karena itu juga Aku bertahan di sekolah ini. Bertahan untuk menunggunya kembali hadir dalam hidupku.

Keberadaannya pernah menghiasi hari-hariku. Banyak hal yang kita lalui. Tapi, yang paling kuingat ketika kita diajak pembina kita berjalan-jalan dihari pertama masuk ekstrakurikuler. Iya, Jalan-jalan... jalan kaki mengitari sawah dekat sekolah. Aku yang hanya anak baru ikut saja dan agak heran. Bukannya langsung praktek kenapa malah jalan-jalan?


“Sesungguhnya... alam adalah lukisan yang maha indah, kalau ingin membuat karya yang indah harus meresapi keindahan tuhan terlebih dahulu, mengagumi, mensyukuri dan meresapi itu inti penting hari ini” ucapnya sambil memegangi padi yang masih menghijau. Lalu, dia berdiri dan memejamkam matanya. Menarik nafas dan menghembuskan pelan. 

Aku hanya menatapnya. Pikiranku terfokus dengan omongannya. Bibirku membeku tak bisa memberikan komentar. Saat itu memang Aku tidak terlalu menyukai kaligrafi. Aku masuk ekstrakurikuler ini karena penasaran. Tapi, melihat dia yang begitu meresapi. Aku jadi paham kenapa ayahku sangat berjuang untuk mengembangkan seni ini. Kenapa beliau selalu bersemangat jika teman-temannya membahas kaligrafinya.
  

Mungkin itu awal aku semakin tertarik pada dunia kaligrafi kufi. Dunia yang tak terpikirkan Aku bisa menikmati tiap proses pembuatan karyanya. Bagai datum yang memisahkan huruf karena sifat huruf yang berbeda dan beberapa faktor yang tidak mendukung, itulah kami. Dia yang membuatku paham dengan ayahku, kini menghilang entah kemana.


Pertemuan terakhirku di ruangan ini. Dia terisak sedih di depan komputer sambil memegangi jilbabnya. Aku pikir dia sedih karena kalah kompetisi denganku. Tapi, sepertinya tidak seperti itu. Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu, sampai hari ini aku mencoba mengingatnya, mungkin cerita kedepan bisa memberiku jawaban isaknya hari itu.

Karena itu, tulisan ini sisa ingatanku tentang kamu, aku harap kamu membaca ini dan kembali di sini. Menyemangatiku dan tersenyum padaku, wahai Tuan Putri.

Halte

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6

#BaswaraAksa

#Day2

Jumlah kata : 400


16 Juni 2018


“Kufi tak selamanya kaku, orang yang keras tak selamnya keras.”


Mungkin itu kata-kata yang kuingat ketika Aku berusaha mengingat namanya. Ini adalah kisahku yang tak sengaja mengenalnya di halte bus kala itu. Seperti biasa sang fajar mulai menampakkan dirinya. Aku berjalan menuju gang yang tidak terlalu lebar, sambil melangkahkan kaki Aku coba menikmati terpaan angin pagi yang selalu menyegarkan siapa saja yang bersentuhan dengannya. Perkenalkan namaku Aulia Ramadhani baru pindah dari Jakarta ke Malang karena ibuku baru saja dipindah ke kota ini, kota yang dikenal dengan apelnya. 


Aku siswa sekolah kelas XI yang sedang gundah dengan kehidupan perekonomian keluargaku. “Lanjut sekolah gak ya?” gumamku pelan. Jarak rumah ke sekolah lumayan jauh maka dari itu setiap hari Aku akan naik bus yang untungnya gratis, kenapa Aku gundah soal kondisi ekonomi keluargaku? Jika kau tahu ibuku adalah single parent sejak meninggalnya ayahku. Beliau berjuang kesana kemari demi membiayai sekolahku.


  Tiba ... tiba .....
  *Bruak .....  

 
Seseorang menabrakku, yang membuat tubuhku sedikit terdorong kedepan. Kubalikan badanku dan anak perempuan yang kelihatannya seumuran denganku dan dari seragamnya sepertinya satu sekolah denganku. Dia menunduk sejenak, mungkin karena syok bertabrakan denganku. Buku-buku tebal yang dia bawa berceceran di jalan.
“Kamu nggak papa?”, Tanyaku sambil jongkok dan membatu dia memunguti sisa-sisa bukunya. “Nggak papa”, Jawabnya singkat sambil meraih buku yang ada ditanganku. “Udah dulu ya”, sambungnya lalu pergi jalan lagi tanpa melihat ke arahku lagi. “Aneh”, ujarku pelan sambil memandangi dia yang semakin menjauh dari pandanganku.

Kubersihkan celanaku yang agak kotor terkena debu dijalan dan kurapihkan lagi bajuku, lalu kulangkahkan lagi kakiku menuju halte bus di samping gang rumahku. Rumah demi rumah ku lewati dinginnya pagi ini berganti hangatnya matahari yang cahayanya berusaha masuk melewati sela-sela dedaunan dari pepohonan yang berada di sepanjang jalan. Kulihat jam tangan yang melingkar ditanganku, jam menunjukkan pukul 06.30 yang seolah memaksaku untuk berjalan lebih cepat lagi agar lekas sampai halte. 

Akhirnya Aku sampai dimulut gang, bisingnya suara knalpot dan klakson mulai mengisi ruang dengarku. “Berisik banget” keluhku pada suasana pagi ini yang agak macet. Sebenarnya jalan di depan gang bukanlah jalan utama dan harusnya tidak macet.

Kutahan rasa kesalku sambil berjalan ke samping gang. Akhirnya aku sampainya di halte, disana kulihat seorang anak perempuan yang sepertinya tadi menabrakku. Jilbab putih, seragam putih, buku-buku tebal yang dipangkunya dan wajahnya yang manis tapi dia sekarang lagi sedikit manyun. Sedang fokus sama gawai yang di pegangnya dan beberapa kali dia menyentuhnya.

Halte bagian 2

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6

#BaswaraAksa

#Day3

Jumlah kata : 400


Perlahan Aku menghampirinya pelan dan berkata, “Boleh Aku duduk di sini?” Sambil kutunjuk bangku di sampingnya menggunakan ibu jari menandakan Aku lagi jaga sopan santun sama orang yang baru ingin kukenal. “Duduk ya duduk aja sih! Repot amat izin segala” bentaknya sambil masih menunduk fokus dengan gawainya. “Apaan sih? Fokus amat, nge-game?” gumamku pelan sambil duduk disampingnya, tiba-tiba wajahnya yang lagi manyun itu pelan-pelan merekahkan senyum lalu berteriak, “Alhamdulillah Ya Allah! Asyiik!!”. Jujur, teriakannya bikin telingaku sakit. Sakiiit banget. Tapi, lihat senyumannya rasa sakit ini enggak terasa.


“Nama kamu siapa?”, tanyanya sambil masih fokus ke gawainya. “Rama, Aulia Ramadhani”, jawabku singkat sambil cemas karena bis tidak kunjung datang. Jam masuk sekolahku adalah jam 07.00 tepat dan sekarang 06.59, bakalan telat banget, kan?


“Nggak usah panik, bisnya memang selalu telat”, ucapnya menenangkanku, dia tak menatapku dan masih menunduk melihat gawainya. Entah harus tenang atau semakin panik. Aku gak mau rekor tepat waktuku hancur gara-gara ini. Selama di Jakarta, Aku memecahkan rekor itu. Karena bagiku disiplin nomor satu.

 
“Udah biasa gini?”, tanyaku singkat padanya sambil kutoleh dia. “iya”, jawabnya singkat sambil menyimpan gawainya di tas kecilnya. Lalu dia mengeluarkan ekspresi kesal dengan mengkerutkan dahi dan berkata, “Uuhhhhh .... asal kamu tau yah, tiap hari telat begini, tapi sekolah gak mau ngerti!”. Lalu dia menggenggam erat-erat buku-buku di pangkuannya, mungkin ekspresi kekesalannya. Dia menghela nafas. “Gak tau dah, om-om bisnya lagi ngopi dulu kali”, sambungnya. “Mu ... mungkin sih”, balasku sambil menggaruk kepala meski gak gatal tandaku kebingungan dengan apa yang Dia katakan.


“Namaku Putri, Aisyah Putri”, ujarnya sambil tersenyum padaku. Wajah yang tadi marah dan kesal karena bis yang tak kunjung datang berganti senyum yang meneduhkan hati. “Eh ... iya salam kenal yah”, balasku dengan senyum kecil karena agak heran pergantian ekspresinya begitu drastis, secepat pelangi yang hadir setelah hujan. Terlebih senyumnya sedikit mengobati rasa kesalku padanya. Ternyata agak lucu sih kalo dipikir-pikir. Aku tertawa kecil di hadapannya. Langsung saja mukanya berubah jadi serius lagi. “Ngapain ketawa?”, tanyanya padaku dengan wajah marahnya yang imut dan agak seram. Aku langsung terdiam seketika dan kupalingkan pandanganku darinya.

 
Lama bis masih belum kunjung datang, waktu menunjukkan pukul 07.30. Padahal hari ini Aku baru masuk ke sekolah ini. Melihatku yang cemas “Naik angkot yuk !”, ajaknya. Sedikit bikin terkejut sih. Kenapa tiba-tiba ngajak? Ada sih uang tapi ini uang saku buat makan di sekolah. “Maaf put ... Aku nggak ada uang sebenarnya” jawabku halus menolak ajakannya.

Angkot

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6

#BaswaraAksa
#Day4

Jumlah kata : 400

“Ayo ... keburu telat banget, ish”
“I ... iya”, Balasku sambil beranjak dari tempat duduk, lalu menemani dia berdiri di bibir trotorar. Suasana lalu lintas sudah tak sepadat pagi tadi, hanya terlihat motor-motor dan beberapa mobil saja yang lewat. Mungkin karena tadi jam sibuk berangkat kerja. Tak lama, mobil berwarna biru menghampiri kami berdua. Mobil itu bertuliskan GA di sisi kanan dan depannya. Setelah muka pintu angkotnya lurus menghadap Kami. Dia menarikku untuk mengajakku masuk ke angkot.
Di dalam angkot, kupandangi gedung-gedung kota berjalan ke belakang. Kulihat juga beberapa kendaraan yang berusaha menyusul angkot kami. Dia menundukkan kepalanya, menempelkannya pada buku yang di pangkuannya. Tiba-tiba denting gawainya berbunyi. Hal itu membuatnya terkejut seraya menegakkan kepalanya cepat-cepat. Sambil memasang muka malasnya dia bergumam, “Siapa ish”. Dia ambil gawainya yang tersimpan rapat di dalam tas. Lalu Dia pandangi benda pipih itu, Dia agak memicingkan mata. Lalu .....
“ASTAGA !” teriaknya yang membuat lamunanku pecah. Dia menunjukkan layar gawainya padaku. Disana bertuliskan, “Maaf untuk bus sekolah berhenti operasi karena ada perbaikan”. Dia kembali menunduk lesu dan menunjukkan raut yang kecewa.
Semua yang ada di angkot melihatnya heran, suasana angkot saat itu hanya berisi kami dan dua orang yang kelihatannya suami istri. Aku pun ikut terheran, karena Aku anak baru disini wajar bila aku tidak mengetahui hal ini. Namun, dia sudah harusnya sudah mengetahui karena dari tadi dia memegang gawai. Aku masih menatapnya heran.
“Maaf yah ....”, ucapnya pelan. “Aku kemarin aktifin mode jangan ganggu otomatis dan waktu berakhirnya itu sekarang.”
“Nggak papa”, jawabku singkat sambil memalingkan pandanganku dari dia. Aku paham betul mungkin dia merasa bersalah karena seperti kataku diatas. Agak kesal sih, tapi ya sudahlah pikirku. Tapi, Aku masih bertanya-tanya soal apa yang membuat fokus dan begitu girang tadi, terlebih kenapa sampai membuat gawainya di mode jangan ganggu. Belajar? Rajin banget yah.
Karena isi penumpang angkot hanya kita berdua. Angkot yang semula melaju agak kencang, kini berjalan agak melambat di sekolah yang di gapura depannya bertuliskan “SMA MUARA BHAKTI”. Iya, ini adalah tempatku bersekolah kedepannya, konon katanya SMA ini di isi sama anak-anak yang unggul dalam akademis dan yang Aku tahu ayahku pernah mengajar di sini.
Kami segera beranjak dari tempat duduk untuk keluar dari angkot, dia memberikan ongkos ke supir dan angkot itu pun pergi meninggalkan kami berdua. Kami langsung bergegas masuk ke sekolah yang sudah sepi karena harusnya jam segini para siswa sudah melaksanakan pembelajaran. Hari ini sial banget deh.

Kelas

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6

#BaswaraAksa

#Day5


Jumlah kata : 400

“Wah ... wah tuan putri telat lagi” sambut seseorang dari yang berbadan kekar menggunakan baju serba hitam, sepertinya dia adalah satpam di sini.
“Bisnya nggak beroperasi pak, toloong jangan di suruh nyatet lagi di buku itu ... “, pinta Putri pada orang itu. Panggilan akrab Tuan Putri ini sepertinya panggilan akrab mereka. Akrabnya sepertinya karena dia suka telat deh.
“Siapa dia?” tanya seseorang yang namanya ternyata Suprapto, kenapa Aku tahu? Dari tadi Aku memperhatikan pakaian yang dia kenakan. Dan menemukan nama yang tertulis di dada sebelah kirinya. “Anak baru pak, Saya baru kenal di halte sih” jawab Putri.
“Nama Saya Aulia Ramadhani pak” sahutku, entah mengapa si Putri tertawa meledek sambil berkata. “Aulia? Kayak cewek dah”.
  “Itu nama asliku ya”, jawabku sambil melirik sinis kepadanya, “Sudah ... sudah ... jadi gini ya Aulia, di sekolah ini kalau telat harus menulis di buku merah yang ada di pos Saya, buat apa? Pastinya buat saya laporkan ke bagian kesiswaan agar kalian dapat sanksi dari sekolah” jelas pak Suprapto pada kami. Aku pun terkejut mendengarnya, Cuma dapet sanksi? Kalau di sekolahku nggak boleh masuk tuh.
  “Pak ... tolong jangan suruh kami nulis disana” pinta Putri lagi dengan memasang wajah melas. “Lagipula kami telat karena kesalahan busnya” sambungnya, “Kenapa gak pakai angkot? Lagi pula pengumuman itu sudah di infokan sejak pagi, sudah jangan banyak alasan !”, jawab pak Suprapto dengan agak meninggikan suaranya. Kami hanya tertunduk dan perlahan menuju pos satpam.

  “Maaf yah”, ucap Putri padaku sambil menulis nama dan kelasnya pada buku itu.
  “Udahlah, gak papa” balasku yang tak sabar mengisi buku dan lekas ke kelas. Setelah selesai menulis nama dan kelas kami, kami pun berpamitan ke pak Suprapto lalu beranjak dari sana dengan berlari karena Kami telat pakai banget. Dan yang bikin Aku agak terkejut lagi ternyata Putri satu kelas denganku. Aku tahu karena pas nulis tadi sih. Hehe..
  “Di mana kelasnya ?” , tanyaku sambil berlari. “udah ikut aja !” balasnya sambil berlari dan menenteng buku-buku tebalnya. Lorong demi lorong kami susuri, riuhnya suasana kelas yang kita lewati membuat kami semakin panik. Setelah lama berlari akhirnya kami sampai di depan kelas kami yang pintunya tertutup rapat.
  “Udah, Aku aja yang mengetuk pintunya”, ujar Putri
  Dia mengetuk pintu beberapa kali, kami berdiri di hadapan pintu sambil sama-sama cemas dan takut. Tak lama, terdengar suara dari dalam, samar dan hampir tidak terdengar. mungkin karena riuhnya kelas pagi ini membuat suara itu tenggelam.

Kelas bagian 2

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day6

Jumlah kata : 400

Terdengar suara langkah sepatu dari dalam, mendekat ke arah pintu didepan kami. Gagang pintu itu berputar ke bawah, entah hatiku semakin bergetar. Pintu itu pun terbuka ke dalam, di balik pintu terlihat perempuan berhijab merah muda dan gamis dengan warna yang senada, tinggi semampai dan wajahnya putih bersih.
  Mungkin itu guru kami pikirku atau wali kelas kami? Aku penasaran.
  “Iya siapa-“, ucap perempuan berhijab itu sambil melihat ke arah kami. “Ya Allah ... Tuan Putri ! telat lagi?” sambungnya dengan meninggikan suaranya.
  “Ma .... maaf, Bu.”, jawab Putri lirih sambil menundukkan kepalanya. Aku terdiam mungkin karena heran. Iya, heran karena kenapa Putri dipanggil tuan, apakah dia anak kepala sekolah? Ah, mungkin tidak.
  “Siapa dia, Put?”, tanyanya sambil memandangiku dan membenarkan posisi kacamatanya yang agak jatuh kebawah. Perempuan itu memandangiku dengan ekspresi bertanya-tanya. Mungkin karena Aku bisa telat bersama Putri. Atau karena ingin tahu karena Aku belum begitu dikenal.
  “Murid baru bu”, balas Putri pelan sambil ikut memandangiku.
  “Siapa namamu? Murid baru ya?”
  “Nama saya Aulia Ramadhan, Bu”, jawabku singkat sambil tersenyum padanya
  Perempuan itu memejamkan mata. Seperti ingin mengingat sesuatu, suasana kelas mulai ramai. Di tengah riuhnya kelas di dalam, hatiku tidak berhenti berdebar. Aku selalu gugup ketika bertemu orang baru.
  “Oh .... iya aku ingat”, seru perempuan itu. “Aulia ya? Anak Pak Ka? Kenapa gak bilang?”. Aku hanya bisa tersenyum, memang ayahku pernah mengajar di sini. Beliau mengajar ekstrakurikuler kaligrafi. Aku tidak tahu ternyata semua guru di sini tahu tentang ayahku karena Aku sendiri tidak tahu lebih dalam tentang ayahku. Jika kau tanya mengapa mungkin jawabku adalah karena ayahku jarang pulang, ayahku orangnya pekerja keras untuk menyebarkan ilmu kaligrafinya, bagi beliau belajar dan mengajar sudah menjadi nafasnya.
  “Silahkan masuk”, ujar perempuan itu. “Nama ibu adalah Siti Maysaroh, panggil saja Bu May, yah”. Setelah dipersilahkan masuk, Aku berjalan perlahan memasuki kelas itu. Riuhnya kelas perlahan menghilang dan berganti bisikan bisikan lirih yang kudengar. Semuanya saling berbisik bertanya siapa Aku dan pindahan dari sekolah mana.
  Putri yang sedari tadi berjalan di depanku, mulai menuju bangkunya. Bu May pun juga mulai duduk di bangkunya menghadap kelas. Melihatku kebingungan di depan kelas Bu May pun berkata pada kelas. “Hari ini kita kedatangan murid baru yah, silahkan kenalkan diri kamu”. Aku segera berdiri tegap bagai komandan upacara yang memimpin pasukan. Perlahan kubuang rasa takut dan menghentikan sejenak debaran dalam jantungku. Kutarik perlahan nafasku, lalu kubuang melalui mulut. Aroma kelas yang wangi karena pengharum ruangan telah melewati indra penciumanku.
  “Perkenalkan namaku Aulia Ramadhani, bisa dipanggil Rama, Aku murid pindahan dari jakarta, tadi telat karena bisnya nggak beroperasi,. Sialnya, Aku baru tau barusan”, jelasku pada kelas dengan suara agak lantang. “Mohon kerjasamanya dan salam kenal semua”.


Perkenalan yang memalukan

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day7

Jumlah kata : 448


Aku masih berada di depan kelas dengan senyum ramahku dan sedikit bingung. Kenapa Aku curhat depan kelas gini. Mungkin ini adalah momen memalukan pertama yang aku alami di kota ini.
Suasana kelas hening, semua mata menatapku heran. “Baik, silahkan duduk di samping Putri ya”, ujar Bu May memecahkan keheningan kelas, lalu Aku menuju ke bangku sebelah Putri sambil menundukkan kepalaku. Aku duduk di samping Putri. Ya, di samping Putri. Mungkin ini kali pertama Aku duduk dekat perempuan, perasaan berdebar itu mulai muncul kembali.
“Baik, Anak-anak kita lanjutkan pelajaran kita, dicatat ya!”, Seru Bu May kepada kelas. Selain putri di samping kananku ada murid perempuan yang sibuk mencatat tulisan yang ada di papan tulis. Sepertinya kutu buku karena di mejanya begitu banyak buku. Dia menunduk sesekali lalu memandangi papan lagi. Aku juga menebak dia adalah murid yang rajin.
“Ngapain lihat-lihat si Salma? Naksir? Baru juga pertama sekolah, hadeh .....”, sahut Putri sambil mengeluarkan beberapa buku pelajaran dan merapikan buku yang dia bawa ke tasnya. Naksir? Mana ada aku naksir. Aku hanya kagum aja. Ternyata banyak murid rajin di sini.
“Nggak ish”, jawabku singkat sambil membuka isi tasku dan mencoba mengeluarkan isinya. Setelah kukeluarkan semua buku sesuai jadwal. Aku berusaha mencari kotak pensilku. Dan ternyata ... Aku nggak bawa ... Aku memandangi sekitarku, mau pinjam sih niatnya. Tapi, aku murid baru. Belum kenal semuanya. Mau manggil siapa juga nggak tahu.
Satu-satunya yang kukenal cuma Putri aja. Tapi, setelah kuarahkan pandanganku ke Putri. Dia sepertinya nggak bawa alat tulis lebih. “Gimana ini? Gak bisa nyatet dong” gumamku pelan.
Tiba-tiba dari kananku si Salma menyodorkan bulpoin kepadaku. “Nih”, ucapnya pelan sambil masih fokus pada bukunya. “Dipinjemin si Salma, tuh.” Sahut Putri. Aku menerima bulpoin itu sambil berkata, “Terimakasih ya”. Aku pun menulis pelajaran hari ini. Agak memalukan kalau diingat-ingat. Sudah telat terus nggak bawa tempat pensil, Haduh ....
Tak terasa, bel istirahat pun berbunyi. Bu May mengakhiri pelajaran dan pergi meninggalkan kami. Suasana kelas pun mulai ramai, ada beberapa yang pergi ke kantin dan ada yang memilih memakan bekal di dalam kelas. “Nggak ke kantin?”, Tanya Putri padaku. Aku menggelengkan kepalaku pelan beberapa kali. Entah, hari itu aku nggak pengen makan sama sekali. “Aku temenin, yah”, ucap putri sambil membuka buku tebal yang dia bawa pagi tadi.
Putri fokus membaca buku itu sambil sesekali dia mencatat di buku kecilnya. Aku memandangi sampul depan buku itu yang penuh dengan kaligrafi diwani. Buku itu berjudul Dasar Dasar Kaligrafi. “Suka kaligrafi?”, tanyaku pelan pada Putri. Dia tidak merespon, mungkin karena suara ku terlalu pelan. Suasana kelas dan sekolah terlalu riuh saat istirahat. “Putri dan kaligrafi itu bagai lebah dan bunga” anak yang duduk di depanku menyahutiku sambil membalikkan badannya kepadaku.

Kufi dan Ayahku

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day8

Jumlah kata : 521

Anak itu bernama Mario. Kenapa aku tahu? Lagi-lagi aku tahu dari seragam yang dia kenakan. Putih bersih dengan rambut yang rapih aku mengingat betul. Kacamata hitam berlensa tebal yang dia kenakan membuat aku berasumsi kalau dia kutu buku tapi nyatanya ....
“Apaan sih, ganggu aja kalian”, sahut Putri yang agak meninggikan suaranya
“Lebay banget sih,”, balas Mario kesal. “Oh iya, salam kenal yah, namaku Mario” sambungnya sambil menyodorkan tanganya padaku. Aku menjabatangannya pelan sambil berkata, “iyah salam kenal yah”. Jabat tangan kami terlepas setelah itu.
“Nanti sore ke basecamp kan put?”, tanya Mario pada putri
“Pasti doong, Aku mau latihan kufi nih, susah betul”, jawab Putri bernada kesal
“Kalau Rama mau ikut ekstra apa?”, tanya Mario padaku sambil mengecek gawainya
“Kalau Rama, sih. ikut ekstra SLP”, sahut Putri dan tersenyum meledekku. “SLP?”, balasku sambil keheranan. “Iya, Sekolah Langsung Pulang”, balas Putri sambil tertawa kepadaku. Aku hanya terdiam dan agak sedikit jengkel kepadanya.
“Putri nih, Rama ikut ekskul kaligrafi yuk” ajak Mario padaku. “Banyak yang kita pelajari nanti. Termasuk ini” sambungnya lalu menunjukkan gawainya kepadaku.
Aku melihat dilayar gawainya terpampang kaligrafi arab kotak-kotak seperti yang di sukai ayahku dulu. Aku terdiam sebentar, melihatnya membuat hatiku sedikit terluka. Kenapa? Karena ini ayahku meninggal dan tidak terlalu dekat denganku, entah karena apa ibuku memindahkan sekolahku kemari. Padahal masih banyak sekolah lain yang masih bisa aku masuki.
“Jadi, gimana? Tertarik?”, ucap Mario memecahkan diamku.
“Tidak, Aku tidak mau”, jawabku sambil memalingkan wajahku kebawah.
“Kenapa?”, tanya Mario singkat.
Entah mengapa air mataku menetes perlahan, aku ingat ayahku. Meski kami tidak begitu dekat tapi beliau pernah berpesan untuk mengejar mimpiku. Namun, sampai sekarang saja aku nggak tahu mau jadi apa kedepannya.
“Maaf yah, kamu ingat ayahmu ya” tanya Putri sembari meletakkan bukunya lalu menenangkanku. “Aku pernah baca buku seorang kaligrafer, katanya beliau pernah mengajar disini. Yang aku ingat di awal bab dia berpesan kalau buku itu di dedikasikan untuk putranya” sambungmya
“Dimana emang bukunya? Kok kamu bisa langsung tau Rama anaknya?”, tanya mario heran
“Kasim Mulyadi? Nama ayahmu, kan?”, ucap Putri kepadaku. “Buku nya di basecamp , pada awal bukunya ditulis ciri-ciri anaknya, terlebih Bu May ingat dengan nama panggilan ayahnya”
Aku nggak terkejut soal itu, karena Putri suka baca buku. Memang, Ayahku sempat menulis buku sebelum meninggal. Namun, Ibu tidak pernah menerima royalti apapun dari pihak penerbit. Kenapa? Alasannya sih karena royalti nggak bisa turun ke istro penulis dan itu ketetapan penerbit, nggak adil banget, kan?
“Aku dan Mario satu ekskul yang sama, kalau mau gabung datang ke basecamp sore nanti yah” pinta putri padaku. Aku masih terdiam dan malas membalas ajakannya.
“Kami sedang kekurangan anggota untuk kompetisi berkelompok, pembina kami juga ingin mengundang kamu” jelas Mario. “Kami berdua sedang mengerjakan kufi”
Jadi namanya kufi. Aku baru tahu karena cuma tau bentuknya aja. Perlahan tapi pasti aku mencoba menahan sesak dalam dadaku. Aku juga ingin sebenarnya mendalami apa yang ayahku cintai. Aku menghela nafasku lalu berkata, “Iya udah ... aku gabung”.
Tampak sumringah wajah mereka lalu mereka mengepalkan tangannya lalu beradu tinju. “Kami tunggi yah nanti sore...”, ucap mereka kompak.
Suara bel kembali berbunyi, tak terasa waktu masuk kelas pun tiba dan kami memulai pelajaran kembali

Sedikit tentang Tuan Putri

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day9

Jumlah kata : 512

Pelajaran demi pelajaran aku lewati, tak terasa sinar matahari mulai mencoba masuk dari arah barat kelas. Menerangi buku-buku pelajaranku dan Putri yang berjajar rapih diatas meja. Tempat duduk kami berdua di dekat jendela lurus dengan meja guru. Aku ingat betul angin menjelang sore menerpa tirai dan menggerakkannya perlahan. Kulihat jam tanganku yang sedang menunjukkan pukul 15.25. Bel pulang pun berbunyi dan guru yang mengajar kami mengakhiri pelajaran hari ini.
Suasana kelas waktu jam pulang lumayan riuh, beberapa murid ada yang langsung pulang, tapi tak sedikit yang siap-siap untuk mengikuti ekstrakurikuler. Tak terkecuali aku, Putri dan Mario. Seingatku sebelum keluar kelas, kami janjian bertemu di Ruang B5, tapi aku izin untuk kekatin mengisi perutku yang dari tadi sudah keroncongan hebat. Bukan aku saja, mario pun juga izin sebentar untuk rapat di ambalan Pramukanya. Putri memahami kondisi kami berdua, dia langsung bergegas menuju ruangan yang sudah kami sepakati untuk bertemu disana.
“Laper” keluhku pelan sambil berjalan menyusuri lorong sekolah menuju kantin, “Kantinnya dimana ya?. Langkahku terhenti di depan denah sekolah dan melihat cara menuju kekantin, setelah memahaminya aku pun langsung beranjak kesana.
Di tengah perjalanan, aku melihat Putri di taman sekolah. Dia memejamkan mata sambil menggerakan jarinya di udara. Agak heran, sih. Ngapain coba? Sendirian pula.
“Putri? Tuan Putri?”, ucap seseorang dari belakang. “Dia memang begitu, maka dari itu dia bisa meraih banyak prestasi.” Sambungnya. Kupalingkan pandanganku pada sumber suara yang sedaritadi mengisi ruang dengarku. Ternyata itu si Mario. Dia tersenyum kepadaku. Entah kenapa dia begitu, apakah itu ekspresi yang mencurigaiku atau bagaimana aku tak paham.
“Katanya ke ambalan?”
“Aman, sudah ada yang handle. Mau kemana kamu?”, tanya Mario kepadaku.
“Ke kantin, Cuma dari tadi aku nyasar padahal udah paham jalannya tapi masih nyasar.”
Dia kembali tersenyum lalu tertawa kecil, “Wajar sih, sekolah ini gede banget kayak labirin yah. Yuk aku anterin”
Aku mengangguk setuju. Kami berdua berjalan menuju kantin, menyusuri lorong dan melewati beberapa taman, sampailah kami di kantin. Mario menghampiri kios makanan ringan dan membeli beberapa jajanan untuk ia santap sedangkan aku hanya membeli minuman dingin untuk melegakan dahagaku setelah berjalan kesana kemari mencari kantin.
Aku duduk di depan Mario yang sedang sibuk menyantap jajanan sambil fokus pada gawainya. “Kamu bilang dia banyak prestasi? Beneran?”, tanyaku pada Mario sambil menyeruput minumanku. “Putri? Eh, Tuan Putri?”. Balasnya. “Kamu kira julukan Tuan itu apa?”. Sambung Mario menjelaskan dan melanjutkan mengigit jajananya. “Suka telat?” jawabku singkat.
Mario hanya tersenyum, lalu dia berkata, “Dia berkali-kali menjuarai kompetisi kaligrafi”. Aku agak terkejut karena aku mengira kalau panggilan tuan itu karena dia suka telat, ternyata tidak.
“Tapi dia bilang kalau kompetisi ini adalah kompetisi yang terakhir dia ikuti”, jelas mario dengan raut muka yang agak muram. “Kenapa terakhir? Dia mau fokus ke pelajaran?”, tanyaku sedikit bingung apa maksud terakhir. “Entahlah, dia nggak ngasih tau alasannya, tapi sesekali ketika aku menjadi partnernya saat kompetisi. Dia sempat pingsan di akhir lomba”
Apakah dia benar-benar penggila kaligrafi? Sampai dia pingsan? Entahlah, bahkan partner terbaiknya saja nggak tahu soal itu. Aku menghabiskan sisa minumanku, dahagaku sudah terpuaskan. Jajanan mario juga sudah habis. Kami mulai beranjak ke ruangan B5 untuk mengikuti ekstrakurikuler kaligrafi.

Misi yang sukses

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day10
Jumlah Kata : 475

Sesampainya di ruangan B5. Kami berdua duduk sejenak di depan ruangan, lokasi ruangan ini dekat dengan masjid dan gerbang sekolah. Agak jauh, menyita energi kami yang baru saja di isi di kantin tadi.
Dari kejauhan aku melihat putri yang berjalan menuju kearah kami. masih sama, tangan kanan dan jemarinya bergerak seperti menulis di udara. Sambil sesekali bibirnya berucap pelan.
“Putri !”, panggil Mario sambil melambaikan tangannya Putri. Seketika Putri seperti baru sadar dari hipnotis lalu memandang ke arah mario, dia mempercepat langkahnya sambil menenteng buku tebal di tangannya.
Ketika dia berada didekat kami, dia langsung meletakkan tas hitam yang terlihat super berat disamping kami. Kalau aku tebak sepertinya isinya laptop dan beberapa buku pelajaran. Lalu dia duduk disamping Mario.
Dia memasang raut cemas dan berkata, “Bisa atau nggak ya, mar?”. Mario hanya tersenyum lalu membenarkan posisi kacamatanya yang agak bergeser posisinya. Senyum Mario terlihat sangat yakin dengan kemampuan Putri. Terlihat dari raut mukanya yang penuh keyakinan bahwa semua bisa dilewati dengan mudah oleh putri.
“Eh, kunci mana kunci?” Tanya Mario pada Putri.
“Kemarin diminta Pak Ryan”
“Oh begitu? Okelah”
Tak lama, datang laki-laki dengan perawakan tinggi dan dengan wajah yang meneduhkan. Kedatangannya disambut dengan Mario dan Putri yang seraya kompak berdiri. Aku pun ikut berdiri menyambutnya.
“Waduh, Tuan Putri sama mario hadir. Maaf yah lama. Bapak lagi ngurusin rekap nilai buat penilaian mingguan”, ucap laki-laki itu. “Eh, udah hadir yah ... bagus, misi dari saya kalian kerjakan dengan bail” sambungnya.
“Yaiya dong ... Putri gitu loh”, sahut Putri sambil berekspresi agak sombong. “Heleh ... aku bantuin juga padahal”, balas Mario dengan nada yang agak meremehkan. Aku hanya terdiam melihat tingkah mereka.
“Hahaha ... baiklah, pasti kamu Rama kan? Saya adalah Pak Ryan, pembina ekstrakurikuler kaligrafi disini, salam kenal”, jelas laki-laki itu yang ternyata bernama Pak Ryan.
“Salam kenal juga pak, kalau boleh tahu, dari mana bapak tahu nama saya?”
“Ayah dan ibu kamu adalah sahabat bapak sejak kuliah”, balasnya sambil memberikan kunci ke Mario, Mario dan Putri melepas sepatunya, ketika Mario selesai membuka kunci pintu mereka masuk ke dalam. “Terlebih ayahmu, beliau adalah cikgu bapak. Pertama kali mendalami kaligrafi karena beliau. Cara ajar beliau sungguh mengena dihati, sampai bapak memutuskan untuk melanjutkan perjuangannya disini, ekstrakurikuler yang beliau bangun disini” jelas Pak Ryan kepadaku. Aku sedikit merasa bangga dengan apa yang kudengar, hal itu sedikit demi sedikit menyembuhkan luka hatiku. Iya, luka hati karena kurangnya perhatian ayah kepadaku.
“Malah diem, silahkan masuk”
“Oh iya, Pak. Maaf “ lamunanku pecah dan bergegas melepaskan sepatu lalu masuk ke ruangan mengikuti pak Ryan.
Ketika didalam mataku tak henti-hentinya memandangi sekitar, berjajar lukisan lukisan kaligrafi dan beberapa sepertinya dibuat secara digital dan dicetak sesuai ukuran kanvas. Ada salah satu kaligrafi yang menarik hatiku, kalau tak salah ingat. Di bagian bawah bertuliskan “QS AN-NAS”. Berwarna biru menyala indah. Dia kotak-kotak mungkin itu kufi. Tak lupa juga jajaran piala dan piagam kejuaraan kaligrafi dan beberapa komputer yang berjejer rapih didepan pintu masuk ruangan.

Sebuah titik yang berarti

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day11

Jumlah kata : 451


Di sudut ruangan juga ada koleksi buku-buku kaligrafi yang sepertinya dari kaligrafer kenamaan seluruh Indonesia. Di sampingnya terhampar karpet hijau dan beberapa meja kecil. Kami bertiga duduk disana menanti materi yang akan disampaikan oleh Pak Ryan.
“Baik, kita mulai yah”, ucap pak Ryan kepada kami. Mario dan Putri bergegas mengeluarkan gawai dan alat tulis. Lalu dia membuka juga tabel huruf yang betuliskan charta diatasnya.
“Jadi, kita akan mengikuti kompetisi kaligrafi digital, untuk pertama kalinya penyelenggara hanya menggunakan satu jenis khat, yaitu kufi muroba.”, ujar Pak Ryan. “Hari ini kita belum mulai latihan yah, mungkin besok pagi kita mulai latihan”
“Besok pagi pak?”, tanya Putri
“Kami gak sekolah pak?” sahut Mario dengan raut wajah yang bertanya-tanya
Aku hanya terdiam, karena aku anggota baru dan belum tahu menahu soal ini. Pak Ryan menghela nafasnya lalu melanjutkan. “Besok sepertinya hanya akan ada acara bersih-bersih, pembelajaran ditiadakan, saya sudah mengizinkan kalian dan Bu May tidak masalah kalau kalian ikut latihan”
Wajah Mario dan Putri tampak lega mendapat kejelasan. Mereka kembali menyimak apa yang akan disampaikan Pak Ryan berikutnya.
“Maka dari itu saya jelaskan dulu dasar-dasar kufi ini sedikit, sebelum ini saya sudah menginstruksikan agar kalian cari materi seadanya dulu kan”, lanjut Pak Ryan pada kami. Mario dan Putri mengangguk kompak. “Nanti Rama minta tolong dibantu ya”
Mereka serempak menjawab “Baik, pak”. Aku masih terdiam berusaha memahami situasi yang ada. Kalau boleh jujur sebenarnya waktu itu aku bingung karena hari pertama aku sekolah dan ikut ekskul langsung diikutkan tim lomba, padahal gak bisa apa-apa aku ini.
“Sebelum itu, saya tanya kenapa kufi murobba’ disebut murobba’?”, tanya Pak Ryan pada kami. Mario dan Putri tampak kebingungan, membuka lembar demi lembar buku catatannya. Aku berpikir sambil memandangi kaligrafi surat An-Nas yang sedari tadi menarik perhatianku.
“Karena bentuknya kotak pak, kan rata-rata bentuknya kotak memang”, jawab Putri asal karena sudah menyerah tidak menemukan apa-apa dicatatannya.
“Salah, mungkin Mario atau Rama mau menjawab?”
Aku dan Mario terdiam sejenak, tapi sia-sia saja berfikir, bagaikan mesin yang kehabisan bahan bakar. Otak ini berhenti seketika dan kehabisan ide untuk menjawab. Kalau ditanya begitu mungkin jawabanku sama dengan Putri. Namun, Pak Ryan sudah bilang itu salah.
Melihat kami lama berfikir, Pak Ryan mengeluarkan gawainya dan memencetnya beberapa kali. Lalu menunjukka sesuatu pada kami.
Pada layar gawainya terpampang garis yang saling bertemu membentuk sebuah grid kosong yang terisi hanya satu, sebuah titik yang berbentuk bujur sangkar. Lalu Pak Ryan berkata, “Inilah Murobba’ itu”.
Aku melihat ekspresi Putri yang memasang muka tak percaya, sedangkan Mario hanya manggut-manggut saja. Oh iya, ekstrakurikuler di sekolah ini baru kali ini mengikuti kompetisi kufi. Sebenarnya ketika ayahku masih mengajar disini, kaligrafi utama yang diajarkan adalah kufi. Namun karena ayahku tak lagi mengajar disini, ekstrakurikuler ini sempat vakum dan berganti-ganti pembina.

Sebuah pertanyaan

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day12

Jumlah kata : 532

“Kok bisa pak?”, tanya Putri heran.
Pak Ryan kembali menekan beberapa kali gawainya, mengisi beberapa grid hingga membentuk huruf wau. “Sekarang coba lihat”, ucap Pak Ryan. Mario, Putri dan aku melihatnya dengan seksama. “Tanpa titik tadi kita tidak bisa membuat huruf wau, karena ....”.
“Karena titik kotak tadi yang menyusun huruf ya pak?”, sahutku pelan.
“Benar”
Putri melepas ekspresi herannya lalu memandangiku dan merekahkan senyum manisnya. Entah kenapa hatiku berdebar melihat senyumnya, meskipun pagi tadi aku melihat senyumnya juga tapi sekarang senyum itu berbeda. Mungkin senang karena aku bisa mengikuti ekstrakurikuler ini dengan baik.
“Baik, mungkin itu saja dulu ... besok bapak tunggu jam 9 disini yah”, ucap Pak Ryan. “Saya akhiri karena sudah terlalu sore, nanti saya kirimkan ke grup, silahkan masukkan Rama ke grup kita ya, Mar.”
“Baik, pak”, balas Mario
Setelah itu Pak Ryan meninggalkan kami bertiga, jam dinding di ruangan menunjukkan jam 16.30, kami bertiga bergegas pulang tak lupa aku berikan nomorku pada Mario agar aku dimasukkan ke grup ekstrakurikuler kaligrafi.
“Eh, Rama pulang naik apa?”, tanya Putri sambil mengenakan sepatunya.
“Kayaknya ngangkot lagi, sengaja tadi aku nggak beli jajanan biar bisa hemat”
“Ngangkot sama aku yuk”, ajak putri. “Kayak tadi pagi” sambungnya
Mario yang selesai mengenakan sepatunya lalu berdiri sambil berkata, “Kalian tadi pagi ngangkot bareng?”
“Iya”, jawab kami kompak.
Mario tersenyum tipis lalu berkata, “Pantesan, bisa telat bareng”. Putri hanya tertawa kecil kepada Mario. Putri dan aku selesai mengenakan sepatu nyaris sama dan berdiri hampir bersamaan. “Mau yah?”, tanyanya sekali lagi. Aku mengangguk pelan, ya ... gimana gak bareng kan tujuan rumah kita sama. Mau gak mau sih bareng...
“Ya mau gamau sih, kan jalan pulang kita searah”, ucapku pelan.
Putri hanya tersenyum, lalu berjalan menuju gerbang depan, terlihat tas hitam yang ia kenakan membebani pundaknya belum lagi buku yang dia tenteng dari tadi pagi, kulangkahkan kakiku ke arah yang sama dengan Putri. Sedangkan Mario kembali ke tempat parkir belakang untuk mengambil motornya.
Sesampainya di depan gerbang, aku dan Putri berdiri berjajar. Menunggu angkot arah kami pulang. Suasana lalu lintas sore itu nggak begitu ramai. Hawa dingin sore Kota Malang merasuk menuju tulangku. Langit menguning sebab sang fajar hendak menghilang ke ufuk barat.
“Agak nggak penting sih materi tadi, tapi Aku terkesan Kamu menyadarinya”, ucap putri. “Aku juga mau tanya sama Kamu, mungkin ga penting juga sih”.
Aku memandanginya seraya berkata, “Apa itu?”
“Apa tujuan Kamu belajar Kaligrafi?”, ucapnya sembari menatapku lekat. “Aku tahu, kami yang memaksamu masuk ke ekstrakurikuler ini, tapi apakah ada alasan lain?” sambungnya
Aku mengalihkan arah pandanganku darinya, kuhela nafasku perlahan. “Ayahku pernah sesekali berkata kepadaku, kaligrafi bisa merubah hidup”, ucapku padanya. “Aku ingin membuktikannya”.
“Di dalam bukunya nggak ditulis, tapi sesekali aku pernah baca artikel beliau pernah berkata seperti itu”, balas Putri lalu menengadahkan wajahnya ke arah langit. “Jika benar begitu, aku berharap hidupku berubah setelah menjari master kaligrafi”.
“Ngefans banget, yah?”
“Sama ayah kamu?” balas Putri yang masih menengadahkan kepalanya. “Siapa yang nggak kenal pak Ka? Beliau master kaligrafi di kota ini dan aku bersyukur bisa sekolah yang pernah di ajar pak Ka.”
“Setidaknya Aku akan melakukan hal terbaik di sisa-sisa waktuku”, ujarnya sambil menatapku kuat-kuat, tatapannya berbeda dan penuh makna waktu itu. Namun bodohnya diriku yang belum menyadari semuanya.

Putri dan kesibukan pagi hari

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day13
Jumlah kata : 499


17 Juni 2018
Seperti kemarin hawa dingin kembali merasuk, hari ini aku nggak berangkat bersama dengan Putri. Mungkin lagi siap-siap di ruangan, sih. Biarlah aku nggak paham. Padahal kemarin ketika berpisah untuk menuju rumah masing-masing janjian mau berangkat bareng-bareng lagi. Nyatanya dia nggak ada di halte.
Bis yang aku naiki berhenti tepat di depan gerbang sekolah, tampak semua siswa mengenakan seragam olahraga berwarna biru. Hanya aku yang agak berbeda, aku memakai seragam lain. Iya aku masih memakai putih abu-abu, kenapa? Karena baju olahragaku di sekolah lama tertinggal di rumahku yang lama, ini semua karena salahku yang teledor.
Suasana sekolah pagi hari di depan gerbang sekolah dihiasi bunyi peluit pak Suprapto, beliau sibuk menyebrangkan anak-anak, motor dan mobil dari seberang sekolah. Hari ini nggak telat karena bis beroperasi kembali.
Kulangkahkan kakiku menuju ruang B5 karena sesuai instruksi pak Ryan hari ini latihan akan dimulai dari pagi, sembari berjalan aku ambil gawaiku yang sedaritadi berdering, nampaknya Mario telepon dan mengirim pesan kepadaku berkali-kali. Isi pesannya sama, yaitu menanyakan kabar Putri.
Sesampainya di depan ruang B5, terlihat Mario yang tampak cemas. Ketika aku didekatnya pandangannya menuju ke arahku, ia menghujaniku pertanyaan tentang Putri bertubi-tubi. Alasan dia seperti itu karena dia khawatir soal kesehatan putri yang kian memburuk.
“Emang sakit apa?”, tanyaku sambil melepaskan sepatuku.
“Kata dokter leukimia”
“Serius?”
Mario mengangguk pelan, aku mencoba menenangkan mario. “Aku kira dia sudah disini”, ucapku menenangkan Mario.
“Belum”, jawabnya singkat. “Dari kemarin malam dia nggak balas chatku”.
“Udahlah, doain aja yuk, semoga dia gak papa”
Pak Ryan menuju kearah kami perlahan, beliau mengenakan baju olahraha lengkap dengan sepatunya. Kehadirannya memecahkan kecemasan kami.
Tak lama, dari kejauhan tampak perempuan yang memakai baju olahraga tergopoh-gopoh berlari ke arah kami, nampaknya itu Putri.
Putri terhenti di samping pak Ryan, tubuhnya membentuk posisi ruku’ dengan wajah yang tertunduk ke tanah. “Kemana aja sih, gak balas pesanku kema ...”, perkataan Mario terhenti karena Putri mengangkat tangannya, terlihat telapak tangannya yang putih, dia seolah menyuruh Mario berhenti bicara.
“Telat lagi, Put?”, tanya pak Ryan sambil menepuk dahi dengan tangan kanannya. Putri menegakkan badannya seraya berkata, “Maaf Pak ... Putri kemarin capek banget, tadi kesiangan bangun hehe”
“Putriiiiii”, sahut Mario kesal, Putri merekahkan senyumnya sambil membentuk huruf v pada tangannya.
Aku lega dia baik-baik saja, tapi aku cemas ketika tahu apa yang ia derita. Aku mengingat kata-kata terakhirnya sebelum kami berdua naik angkot, seburuk itu kah kondisinya? Tapi kenapa dia energik sekali?
“Mau istirahat dulu, Put?”, tanya pak Ryan pada Putri yang mencoba mengatur nafasnya.
“Nggak usah pak, ayuk latihan saya udah bawa panduan lengkap nih”
“Yasudah, simpan dulu tas kalian di ruang ....”, perkataan pak Ryan terhenti ketika melihatku. “Rama, kenapa gak pake baju olahraga?”.
Aku tersenyum sambil menggaruk kepalaku, “Olahraga saya ketinggalan di Jakarta, tapi saya bawa training sama kaos, sih”, balasku
“Yasudah, Rama ganti dulu ya, yang udah pakai olahrag silahkan simpan tas kalian di ruangan, habis ini kita jalan-jalan”
“Jalan-jalan, pak?”, tanya Putri heran.
Aku juga agak heran, katanya latihan kaligrafi malah jalan-jalan.
“Kemana pak?”, tanya Mario yang penasaran.

Tentang keindahan dan tugas pertama

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day14
Jumlah kata : 450
Pak Ryan hanya tersenyum tipis tanpa melontarkan jawaban, Putri dan Mario yang keheranan akhirnya mematahkan rasa penasarannya dan menurut saja untuk menyimpan tasnya di ruangan. Aku bergegas mengganti pakaianku setelah mereka menyimpan tasnya di dalam ruangan.
Setelah semua selesai, kami pun berjalan keluar gerbang, menuju gang di samping sekolah, pagi itu menunjukkan pukul 08.30, cahaya mentari perlahan menghangatkan badan kami. Setelah lama berjalan, kami berhenti di sebuah daerah persawahan yang tenang dan hening jauh dari hingar bingar perkotaan.
Sejauh mata kami memandang terhampar luas padi-padi yang mulai menguning.
“Kaligrafer perlu melihat ini, mengapa?”, tanya pak Ryan kepada kami.
Kami hanya terdiam ditengah angin yang mulai kesana kemari bermain riang menerpa kami berempat. Putri menundukkan kepalanya. Matanya terpejam didahinya muncul beberapa kerutan. Dia tersenyum lalu menyentuh padi-padi yang bergoyang pelan tertiup angin.
“Bersyukur”
“Menikmati”
“Tadabbur alam?”
Tiga hal ini yang terus menerus dia gumamkan. Pak Ryan yang seprtiny paham maksud muridnya itu perlahan menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya. Ia perlahan menyentuh padi seraya berkata, “Allah maha indah, lantas kenapa kita tidak mencintai keindahan yang Allah ciptakan?"
"Angin ini ...”
“Langit biru ini ...”
“Dan semua yang kita lihat, adalah bukti nyata indahnya ciptaan Allah.”
“Kaligrafer harus sadar akan hal ini, agar keindahan mengalir di tiap nadi”
Putri perlahan membuka matanya, Mario dan aku hanya manggut-manggut paham. “Halaman 34, bab tadabbur alam untuk kaligrafer.”, gumam Putri pelan. Aku tahu betul pasti itu adalah salah satu bab buku dari ayahku.
“Jadi, tujuan Bapak mengajak kami kemari untuk ini?”, tanyaku sembari memandangi hamparan padi dan langit yang membiru cerah.
“Iya, biar pikiran kalian fresh juga sih”
“Aku tahu kalian anak kota jarang bisa memahami hal ini, kalau nggak main ke yang alam banget gitu, yaa ... bapak harap kalian bisa paham dan mengambil pelajaran dari jalan-jalan kita hari ini”, ucap pak Ryan.
Aku, Mario dan Putri masih meresapi perkataan pak Ryan, menjadikannya dasar untuk kami berlatih kedepannya.
“Tugas pertama untuk latihan, silahkan buat kufi ayat surat Ali-Imran ayat 191, bikin disini yah, bawa gawai semua kan?”, tanya pak Ryan pada kami.
Kami kompak menggerayai saku celana kami untuk mengecek apakah kami membawa gawai, ternyata tanpa sadar kami membawa semua. Kami bertiga kompak menjawab, “kami bawa semua, pak”
“Dasar tehnik sudah saya kasih di grup chat kita, untuk refrensi silahkan bisa lihat di instagram saya, bisa dipahami?”, ujar pak Ryan. “Silahkan berkarya dan nikmati pemandangannya”, sambungnya.
Setelahnya kami bergegas mengecek gawai kami, kami berempat mencari tempat duduk untuk bikin kufi, sampailah kami disebuah gubuk bambu. Kami duduk di sana sembari mencob mengerjakan tugas.
Semilir angin, bunyi padi yang saling bergesek dan suara-suara serangga sawah menghiasi suasana kala itu, bagi Mario dan Putri mungkin mudah saja memahami panduan, sedangkan aku? Sangat kesulitan kalau kau tahu ...

Cerita hari itu

0 0


#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day15


Jumlah kata : 462


Kepala Mario dan Putri tertunduk seperti ada burung di atas kepalanya, secara bergantian mereka membuka dan menutup aplikasi Al Qur’an online dan desainnya. Namun aku masih mencoba memahami panduan yang ada, halaman demi halaman kubaca, aku belum mengambil langkah untuk menorehkan pikiranku dalam aplikasi desainku, setelah memantapkan hati, aku coba menuangkan pemahamanku pada lembar kerja aplikasi. Tanganku mulai bergeser pelan membuat freeflow untuk memulai membuat kufi.
“Langkah yang bagus”, ujar Pak Ryan dengan senyumnya.
“Terus setelah bikin ini, lalu apalagi, Pak?”, tangaku sembari menunjukkan layar gawaiku padanya
Pak Ryan mengkerutkan dahinya, tangannya mengelus dagunya perlahan sambil mengamati huruf demi huruf yang aku buat.
“Coba perbaiki huruf ini dulu”, ucap Pak Ryan sambil mengarahkan telunjuknya ke arah layar gawaiku.
Aku coba lihat lagi freeflow yang baru saja kubuat, ternyata memang ada huruf yang nggak sesuai standar, kubuka kembali tabel huruf dan kucoba perbaiki kesalahanku itu.
“Setelah ini pahami konsep dasar kufi square, seperti huruf variasi dan soal datum”.
“Datum?”
“Datum itu ... tempat huruf berpijak, gini nih”, sahut Putri sambil menunjukkan gawainya kepadaku. Terpampang disana sebuah kufi yang seingatku berukuran 25x25 dengan warna hijau ditengah-tengah grid yang terhampar bebas dilayar.
“Nah, datum itu ada 4. Yaitu selatan, barat, utara dan timur”, ucapny sembari menunjuk mana saja huruf huruf yang masuk dalam datum tersebut. “Mulai bacanya dari sini nih”, sambungnya sambil mengarahkan telunjukknya ke pojok kanan bawah kufi tersebut.
Aku sejak tadi mengamati dan mencoba membuka materi tentang kufi square. Memahami tiap penjelasan Putri, Mario masih asyik dengan gawainya dan tak memperdulikan percakapan kami.
“Bagus Put, udah jadi aja, cepet banget.” Puji Pak Ryan.
Putri hanya tersenyum dan berkata, “Kebetulan langsung tergambar di luar pikiran, Pak”
Pak Ryan tertawa kecil lalu meraih pundakku, sesekali mengelus pundakku pelan seperti seorang ayah yang menenangkan anaknya.
“Belajar banyak sama Putri ya”, ucap Pak Ryan pelan.
“Aaahhhhh”, teriak Mario memecahkan percakapan kami, dia mengkerutkan dahinya, nampaknya sedang kesal dengan gawainya, dia meletakkan gawainya, memejamkan mata lalu menghela nafas.
“Kenapa, Mar?”, tanya Putri yang perasaannya diisi rasa penasaran. Putri melihat gawai Mario yang menyala dan masih membuka aplikasi. Mario tak bergeming, dia masih saja memejamkan matanya dan menghela nafas berkali-kali.
Ketika sudah puas. Mario membuka matanya dan kembali meraih gawainya.
“Kenapa, sih kamu?”, tanya Putri kembali dengan rasa penasaran yang masih belum terpuaskan. Begitu juga aku dan Pak Ryan yang sedang melihat mereka. Memang dua teman baruku ini agak aneh, pikirku.
“Titiiiikk ..... kenapa sih harus ketemu titik ini?”, Mario menunjukkan gawainya pada kami, sambil menopang dahinya dengan tangan kirinya.
Putri tersenyum prihatin melihat tingkah Mario yang nampaknya frustasi dengan sebuah titik pada salah satu huruf.
Suasana hari itu agak kacau, tugas dadakan ini yang membuat kami bertiga berpikir habis-habisan. Sejujurnya yang kami nantikan materi dan pengarahan. Ini nggak, malah jalan-jalan terus ngasih tugas. “Kuatkan kami ya Allah”, batinku.



Makna titik dan cinta

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day16
Jumlah Kata : 511
Hari itu berlalu begitu cepat, tugas pertama itu mampu kami selesaikan walau bikinnya harus berjam-jam. Setelah selesai kami kembali sekolah, suasana sore Kota Malang kembali menemuiku dengan suasana jalanan yang mulai padat, langit senja menyapa pelan dengan menunjukkan cantiknya warna oranye.
“Bagaimana ?”, tanya Putri kepadaku sembari dia melngkahkan kakinya.
“Apanya?”
“Hari ini, seru? Meski agak bikin pusing sih, hehe”, balasnya
Aku hanya terdiam, karena pikiranku masih dipenuhi huruf-huruf kufi yang seolah bermain riang ditengah-tegah ruang pikirku. Putri yang melihatku terdiam, dia menepuk bahuku.
“Hey !”, seru Putri
Aku terkejut, ia memecahkan diamku, perlahan huruf-huruf kufi membubarkan diri dan kesadaranku mulai kembali, aku toleh sampingku ternyata Mario juga sama, dari raut wajahnya dia juga masih memikirkan tugas hari ini.
“Kalau aku, soal titik”, gumam Mario. “Namun aku semakin penasaran kalau nggak aku selesaikan”.
Putri yang mendengarkan Mario, ia manggut-manggut sambil memasang raut muka serius sembari berkata. “Titik ya?”
Pak Ryan yang sedari tadi menyimak murid-muridnya, sedang memahami apa yang kami obrolkan. Ia lalu merangkul Aku dan Mario seraya berkata, “Sudah, jangan dipikirkan terlalu jauh. Bapak suka kalian mulai mengerti, tapi jangan sampai membebani pikiran kalian, ya”
Aku dan Mario masih terdiam entah karena memahami perkataan Pak Ryan atau karena masih dihiasi huruf -huruf. “Apa yang sulit tadi?”, tanya Pak Ryan kepada kami berdua sambil melepaskan rangkulannya.
“Titik, Pak”, jawab kami kompak dan satu suara.
“Tapi bikin penasaran, kan?”
“Iya, Pak”, jawab Mario singkat
“Bikin kepikiran, kan?”
“Iya, Pak”, jawabku sambil menoleh kearah Pak Ryan.
“Titik itu ...”, ucap Pak Ryan terhenti.
“Titik itu hal kecil, namun mampu bisa bikin kita berfikir lebih untuk menyempurnakan kufi kita, begitu juga dengan cinta”, sahut Putri.
Pak Ryan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju, tak terkecuali aku yang sedari tadi terdiam mulai menganggukkan kepalaku pelan. Cinta? Kufi? Titik? Aku mencoba mencerna perkataan Putri dalam pikiran dan hatiku. Apakah aku mulai mencintai kufi?.
Terlebih pada Putri yang sejak awal selalu membuka apa-apa yang mungkin menjadikan alasan ayahku mencintai kaligrafi ini, wajar saja dia fans maniak ayahku, semua bukunya dia baca dan hafal.
Setelah lama berjalan, kami sampai di sekolah lalu melanjutkan perjalanan kami masing-masing untuk pulang. Sesampainya di rumah aku masih mencoba meresapi kata-kata Putri sembari duduk di kursi ruang tamu.
Perlahan aku memainkan jari dilayar gawaiku untuk mencoba membuat kufi. Entah mengapa setiap melihat kufi hatiku berdebar, kata-kata Putri terngiang dan senyumnya menghiasi tiap sudut ruang pikirku. Kenapa ini? Cinta?
Tiba-tiba ponselku bergetar bersama notifkasi pup-up muncul diatas layar gawaiku, ternyata dari Putri.
[Udah nyampe rumah, kan?]
[Udah.]
[Alhamdulillah, aku kepikiran kamu]
Debaran hatiku makin kencang, kenapa Putri tiba-tiba begini? Ada apa?, memang sih diantara kami bertiga, aku yang paling belum paham materinya.
[Kepikiran kenapa?]
[Nggak tau, khawatir aja]
[Khawatir kenapa?]
Obrolan kami terhenti di sini, aku menunggu balasannya, tapi sampai larut pun pesanku belum dibala olehnya, mungkin udah ketiduran. Dari luar bunyi sirine ambulans sangat keras mengisi ruang dengarku, lampu merah yang berputar-putar perlahan bergantian memasuki ruang tamuku. Ambulans itu melintas begitu saja ke dalam gangku. Jarang sekali sebenernya ambulans lewat kesini karena jalan depan rumah adalah bukan jalan utama.
“Ada apa ya?”, gumamku

Memikirkan dia

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day17
Jumlah Kata : 597
Suara sirine barusan terdengar kembali sampai ke kamarku, seraya aku menuju ke ruang tamu dan menengok kelur jendela, suara sirine itu semakin mendekat dan lampunya menyala-nyala kembali merasuki jendela ruang tamuku. Ambulans itu melaju kencang melintasi rumahku, aku masih berdiri di depan jendela ruang tamu sambil menggenggam gawaiku. Hatiku dipenuhi rasa penasaran, apakah ada hubungannya dengan sikap putri?
Putri berhenti mengirim pesan kepadaku, pertanyaan demi pertanyaan kian kesana kemari berlalu lalang di pikiranku. Pesan terakhir Putri dan ambulans yang tiba-tiba melintas itu.
“Putri, kamu gapapa kan?” gumamku pelan sambil teringat perkataan Mario, leukimia yang Putri derita kian memburuk.
Kupejamkan mata sejenak lalu kuhela nafas, aku berharap putri baik-baik saja, kubuka mataku perlahan. Pemandangan gelap malam berhias bintang sungguh indah. Aku, Mario dan Putri pulang terlalu sore, mungkin jam 17.00. sesampainya di depan gang, aku dan Putri memutuskan salat dulu di salah satu masjid dekat rumah kami karena adzan maghrib sudah berkumandang saat itu.
Selesai sholat, dari kejauhan aku melihat Putri dengan wajah yang agak pucat, tubuhnya lemas dan wajahnya muram. Seperti bukan Putri yang kukenal. Ketika mendekat ia langsung saja mengubah raut wajah yang muram menjadi senyum, seolah berkata dia tidak apa-apa, dia berusaha berdiri dan berjalan. Sesekali dia terjatuh tapi dia tetap berusaha kembali berjalan.
Berkali-kali aku mencoba membantunya, tapi dia menolak tawaranku. Akhirnya aku mengikutinya diam-diam di belakagnya, ketika sampai rumahnya aku kembali ke arah jalan pulangku, waktu itu kalau kau tahu, aku nggak begitu menyadari bahwa itu gejalanya dan harus menelpon siapa ketika kondisi seperti itu, kenapa? Putri selalu menyembunyikan rasa sakitnya dengan senyumannya. Jalan-jalan hari itu memang agak jauh, terlebih di tengah terik matahari. Lalu kami mengerjakan tugas yang lumayan menguras tenaga.
Aku beranjak dari ruang tamu menuju kamarku, kurebahkan badanku dengan gawai yang masih kugenggam, aku berusaha membuang semua pertanyaan yang mengusik hati. Aku mencoba berdoa semoga ia baik-baik saja, sesekali aku mengecek gawaiku untuk melihat apakah Putri sudah membalasku.
Sudah kucoba hubungi Mario tapi nggak dibalas sama sekali, mungkin sudah tidur, setelah lama menunggu dan akhirnya aku menyerah, aku memejamkan mata untuk menuju ke dunia mimpi, wajah Putri sesekali muncul dan jantungku berdebar. Perasaan yang belum pernah kurasakan. Perasaan apa ini?
Keesokan harinya, aku berjalan sendiri sampai halte seperti kemarin. Di tengah perjalananku rasa cemas menyelimuti pagi ini. meskipun mentari tersenyum menyapa dengan sinarnya, hati ini masih saja gulana. Meski kucoba hilangkan semua pertanyaan, tetap saja rasa penasaran ini membebaniku.
Setelah perjalanan panjang menuju sekolah, akhirnya aku sampai di depan gerbang sekolah. Aku melangkahkan kaki dan dari kejauhan kulihat Salma yang sedari tadi berdiri di depan ruang B5. Dia tampak berbicara dengan orang dari dalam ruangan.
Aku berlalu begitu saja, aku tak memperdulikan hal itu. Karena rasa penasaran yang membebaniku tentang Putri sudah menguasai tiap sudut ruang pikirku. Aku berjalan menuju kelas sambil latihan membuat kufi sederhana.
“Rama !”, panggil seseorang entah siapa, aku mencoba mencari sumber suara. Ternyata Mario. wajahnya temaram, rona keceriaannya menghilang dan sepertinya dia memikirkan sesuatu.
Perlahan dia mendekat, dia langsung bertanya kondisi Putri padaku.
“Mana Putri?”, tanyanya sambil memastikan bahwa aku tak bersama Putri.
“Aku juga lagi nyariin”
Gawai kami berdua nyaris berdering bersama, ternyata itu dari grup ekstrakurikuler kaligrafi.
“Mario, ini beneran?”
Wajah Mario semakin muram, seperti sedang putus asa. Kesedihan tergambar jelas di diri Mario, aku tahu itu. Mengapa? Putri adalah satu-satunya sahabat baiknya sejak awal masuk sekolah ini dan rekannya membangun ekstrakurikuler kaligrafi.
Mario menggeleng pelan sambil menaikkan pundaknya bersamaan.
“Kalau memang iya, nanti pulang sekolah ayo ke rumah sakit”, ajakku pada Mario, tanpa kata ia hanya membalasku dengan anggukkan. Bel pun berbunyi, kami menyudahi pertemuan itu lalu masuk ke kelas masing-masing.


Menghilang

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day18
Jumlah Kata : 611

Hari itu berlalu begitu cepat, semua terlewati begitu saja tanpa menghilangkan sedikitipun rasa khawatirku, Aku bersandar di gerbang sekolah sambil sesekali kuhentak kecil kakiku, aku menoleh ke kanan dan ke kiri cemas menunggu jam pulang Mario.
Pertanyaaan dan perasaan yang kemarin masih saja sama. Semua itu tentang kufi, ambulans kemarin malam dan Putri. Apa yang sebenarnya terjadi pada Putri? Perlahan kuraih gawai dari saku bajuku, di sana aku coba menghafalkan jalan menuju Rumah Sakit yang di berikan di grup ekstrakurikuler kaligrafi. Di dalam grup Pak Ryan menginfokan bahwa Putri dirawat di rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari sekolah.
“Nungguin siapa?”, tanya Salma yang menghentikan langkahnya.
Aku masih sibuk dengan gawaiku, suara Salma pun tenggelam di antara riuhnya suasana siswa-siswi yang hendak pulang.
“Rama?’, panggilnya dengan nada yang agak meninggi.
“Oh iya, Sal”, jawabku singkat. “Kenapa?”.
“Nunggu siapa?”
“Mario nih, belum pulang juga dia”
Tiba-tiba suara bising motor dua tak mendekat kepadaku, terlihat wajah Mario yang kian cemas, dia memberikan gerakan seolah mengajakku untuk menaiki motornya.
“Mau kemana kalian?”, tanya Salma pada kami berdua.
Aku melangkah ke motor Mario, sambil menaikinya aku berkata, “Ke Putri”.
Raut wajah Salma tiba-tiba berubah, suram dan seperti tak suk dengan kabar yang kami sampaikan.
“Oh”, jawabnya sembari membulatkan bibirnya.
Dia berlalu begitu saja, entah kenapa dia merespon kami seperti itu. Yang jelas si Salma dan Putri memang sebelumnya nggak akur-akur banget. Apa karena iri ya? Entahlah.
Mario tanpa ragu memacu motornya kencang melawan angin yang sedari menerpa. Detak jantungku semkin berdebar ketika semakin dekat dengan rumah sakit. Untung saja, sore ini lalu lintas nggak begitu macet walau waktunya jam pulang.
Setelah lama kami melewati jalana Kota Malang, sampailah kami di rumah sakit yang gedungnya putih dan menjulang tinggi. Dari parkiran kami menuju ke dalam rumah sakit. Ketika sampai di bagian pendaftaran kami langsung menanyakan apakah ada Putri disana
“Permisi, Mbak” , ucap Mario pelan.
“Iya, Mas. Ada yang bisa dibantu?”, balas perempuan yang duduk di belakang meja pendaftaran.
“Maaf mau tanya mbak, apa benar ada pasien bernama Putri? Aisyah Putri”, sahutku cemas.
“Saya coba cari dulu di komputer, yah”
Kami menganguk pelan, perempuan yang tadi kami tanyai menggerakkan tetikusnya. Kami menatapnya cemas, sesekali aku memandangi jam dinding di ruangan pendaftaran. Tiap detik yang berbunyi selaras dengan detak jantungku.
Mario tertunduk pasrah, mungkin rasa cemanya berganti pasrah karena ia lebih tau kondisi Putri yang sebenarnya.
“Aisyah Putri ya, Mas?”, tanya perempuan itu sembari masih fokus ke komputernya.
Kami kompak mengiyakan pertanyaan perempuan itu.
“Maaf Mas, Pasien atas nama Putri di pindahkan ke rumah sakit lain oleh pihak keluarganya dan kami tidak diberitahu untuk info lebih lanjutnya” jelas perempuan itu. “Kalau boleh tahu, kalian siapanya pasien itu?”
“Kami berdua temannya, Mbak”, jawabku
“Mario dan Rama? Kemarin ketika dia pertama kali masuk, dia membawa buku catatan kecil, sepertinya buku diary nya, di halaman pertama tertulis nama kalian”.
Perempuan itu membuka lacinya, dan mengeluarkan buku diary yang seingatku bergambar beruang teddy. Dibalik buku itu tergambar jelas kufi nama lengkap Putri.
“Saya titip ke kalian yah, sepertinya kalian sahabat dekat yah?” tanya perempuan itu sambil perlahan menyodorkan buku itu kepada kami.
Kami mengangguk dengan kompak, aku meraih buku itu dan menggenggamnya erat ditanganku. Karena kami tidak mendapatkan info apapun, kami beranjak dari sana dan pulang ke rumah kami masing-masing.
Kami berdua masih menyimpan tanya dan dihantui penasaran yang tak kunjung mereda, terlebih sekarang kami berdua benar-benar kehilangan informasi tentang Putri, tapi entah apa isi buku ini, ketika di perjalanan Mario menyuruhku untuk membuka dan menyimpan buku itu. Mario juga menjelaskan sedikit soal perasaan kawannya itu kepadaku.
“Putri itu tertarik sama kamu, Ram”
Aku yang mendengarnya hanya terdiam tanpa kata, tertarik? Aku? Sejujurnya debaran hatiku kemarin itu belum kuketahui p

Secarik kertas tentang Putri

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day19
Jumlah Kata : 729
Jam alarm berdering begitu kencang, dinginnya malam dan suara adzan subuh saling bersahutan mengisi suasana pagiku. Aku terbangun dan mencoba sadar, aku menoleh ke arah ponselku yang sedang menampilkan gambar jam yang bergetar-getar. Aku mengambil gawai itu menutup layar alarm yang sedari tadi mengisi ruang dengarku. Aku segera beranjak dan bersiap untuk salat subuh.
Ketika aku akan membuka pintu kamarku, langkahku terhenti pada buku kecil yang diberikan perempuan ketika aku dan Mario di rumah sakit. Kata perempuan itu buku itu tertinggal di kamar ketika Putri dirawat disana.
Aku menghampiri mejaku, duduk dibangku yang sepenuhnya dibuat dari kayu. Mengambil dan membuka buku kecil itu. Tidak ada yang menarik tapi di halaman pertama tertulis nama Putri, kufi nama lengkap Putri, nama Mario dan namaku. Mungkin yang membuatku heran, kenapa namaku dilingkari? Apakah aku targetnya?
Ketika aku membuka lembar yang lain, ada kertas yang tiba-tiba terjatuh. Aku memungutnya dan membuka lipatan kertas itu. Setelah aku coba baca, ternyata itu berisi ungkapan perasaannya selama ini.
Dalam kertas itu tertulis bahagianya bertemu seseorang, seseorang yang berani memanggil namanya saja padahal baru kenal dan masih banyak lagi perasaan-perasaan yang ia ungkapkan di secarik kertas itu,.
Sampai di mana aku membaca sebuah kalimat yang membuat hatiku tidak lagi bertanya-tanya tentang yang Mario katakan kepadaku. Yaitu “Dia yang seperti itu seperti titik, aku mencintainya dan bersyukur pagi itu bisa bertemu dengannya, kenapa bersyukur dan menganggapnya seperti titik? Karenanya aku bertahan dan berfikir lebih untuk mencintainya.”
Hatiku kembali berdebar, entah kenapa tanganku kaku setelah membacanya, bukan karena dinginnya pagi tapi bayang-bayang Putri menghiasi pikiranku. Aku tak berfikir aneh-aneh, aku taruh kertas itu di mejaku dan membuka lembar demi lembar buku itu.
Nggak ada yang spesial kalau kau tahu, semuanya hanya berisi materi kaligrafi kufi dan beberapa ungkapan yang sepertinya dari buku ayahku.
“Putri..”, gumamku pelan sambil meletakkan buku dan bersadar pada kursiku.
Tak lama gawaiku berdering, ternyata pesan dari Mario. Katanya hari ini ada latihan dan aku diminta untuk hadir, rasa malas menyelimutiku. Ekstrakurikuler ini bukan yang aku mau, tapi karena Putri yang perlahan menjelaskan dan membuatku mengerti kenapa ayahku begitu mati-matian memperjuangkan semua ini. Putri menghilang dan hilang juga hasratku untuk hadir kesana.
Aku menutup buku dan merapihkan kembali kertas yang tadi jatuh, aku menekan tombol power gawaiku untuk mengembalikan ke mode tidur. Lalu aku beranjak untuk mandi dan sholat subuh sambil mencoba menguatkan diri untuk hadir ke latihan hari itu.
Mentari pagi kembali menyapa, suasana jalanan sepi mengingat hari ini adalah hari cuti bersama. Aku menaiki angkot untuk kesekolah karena bis tidak beroperasi hari ini, sesampainya di sekolah. Aku berjalan menuju ruang B5 sambil menunduk membaca pesan tiap pesan yang sedari tadi Mario kirimkan kepadaku.
Suasana sekolah hari ini sepi, mungkin hanya ada aku, satpam dan beberapa anak dari ekstrakurikule kaligrafi. Tak lama berjalan aku sampai di ruangan B5. Di dalam aku melihat Mario dan Pak Ryan yang sedang duduk berhadapan di karpet.
Mereka menyambutku dengan senyum mereka masing-masing.
“Rama, kenapa?”, tanya Pak Ryan kepadaku yang sedari tadi memasang raut malas.
“Nggak papa, pak”
Pak Ryan tersenyum tipis tanda ia mengerti kondisiku, lalu beliau menginstruksikan untuk mengerjakan beberapa ayat. Dari arah pintu masuk, aku mendengar ketukan pintu, Pak Ryan dan Mario menoleh ke arah ketukan itu, kecuali aku yang tak mau tahu siapa yang mengetuk pintu. Aku berharap itu Putri.
“Salma ... silahkan masuk, Sal” sahut Pak Ryan.
Aku berharap yang mengetuk adalah Putri tapi ternyata lain. Salma berjalan menuju kearah kami lalu menggabungkan diri ke tempat kami duduk. Pak Ryan mengubah posisi duduknya dan memasang raut ceria seolah ingin menyambut seseorang
“Karena Putri tidak memungkinkan ikut, saya memutuskan untuk mengajak Salma untuk bergabung dengan kalian mengingat lomba semakin dekat”, ujar pak Ryan.
Salma hanya tersenyum kepada kami berdua, aku masih memasang wajah muram dan memikirkan Putri. Semua berlalu begitu saja, kami melanjutkan tugas yang diberikan pada kami. Salma bersama dengan Pak Ryan untuk diberi materi dasar dan lanjutan.
Setelah lama kami mengerjakan tugas dari pak Ryan, beliau menyuruh kami istirahat. Tiba-tiba Salma menarik leganku seperti mengajakku kesuatu tempat.
“Ngapain, Sal !”,
“Udah ikut aja, ada yang pengen aku obrolin sama kamu”, ucap Salma yang menarikku ke arah taman sekolah.
Dari jauh, aku melihat Mario yang masih menunduk sedih, temaram wajahnya masih terlihat. Dia duduk di depan ruangan B5.
“Putri itu..”, ucap Salma terhenti, air matanya berlinang membasahi pipiya.
Entah apa yang mau dia katakan, yang jelas perkataannya menghentikan lamunanku sejenak yang sedari tadi melihat Mario.

Salma dan Putri

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day20
Jumlah Kata : 442
Desir angin hari itu mengiringi tangisan Salma yang semakin menjadi, daun-daun perlahan berguguran di sekitar kami. Salma menyeka air matanya dan perlahan memandangku sambil berkata, “Putri itu rivalku, dulu aku juga ikut ekstrakurikuler ini, tapi ...,”
Ucapannya terhenti, dia tertunduk dan terdiam. Aku yang masih bingung dengan perkataannya mencoba untuk menenangkannya. Yang aku pahami mereka adalah rival, tapi apa selanjutnya? Kenapa dia menangis begitu hebat.
“Karena Putri namaku terlupakan”, ucap Salma.
“Terlupakan?”
“Iya, Terlupakan”, balas Salma seraya menyeka bersih air mat di pipnya.
“Putri itu orangnya periang, selalu bersemangat dan energik, awal aku ikut ekstrakurikuler ini aku terinspirasi olehnya, kemampuan kami bisa jadi sebanding”, sambung Salma.
Dia menengadahkan kepalanya, sambil mengangkat tangannya, perlahan ia memejamkan matanya lalu berkata, “Sampai suatu hari, hari itu terjadi”
“Apa?”, tanyaku singkat.
Salma menoleh kepadaku dan menatapku tajam, “Aku selalu digantikan oleh dia, karena ketika lomba aku selalu berhalangan hadir”
“Karena apa?”
“Sakit”
Salma menurunkan tangannya yang sedari tadi ia angkat tinggi-tinggi seperti ingin meraih sesuatu.
“Putri juga memiliki penyakit bukan?, apakah kau tahu?”, tanya Salma padaku.
“Iya, leukimia”
“Penyakitnya sudah stadium akhir jika kau tahu, tapi dia bandel tetep sekolah dan ikut ekstrakurikuler, meski dia rivalku tapi mendengarnya sakit aku sedih sekali, rival tak selamanya rival kan? Kami juga bersahabat meski kami bersaing untuk menjadi yang terbaik”
Aku mengangguk setuju, tapi entah mengapa pikiranku masih terbayang soal Putri. Perkataan Salma semakin menguatkan apa yang ada di secarik kertas dla buku Putri.
“Aku sempat nggak mau”, ucap Salma yang mengalihkan pandanganya kedepan.
“Kenapa?”, tanyaku sambil memasang raut penasaran.
“Aku sudah tidak ingin masuk lagi ke eksktrakurikuler ini, karena menurutku sudah ada Putri yang kemampuannya sekarang mungkin sudah melampaui diriku, selama ini aku nggak pernah latihan, jadi tadi harus di ulang lagi materi dari awal”
Aku sekarang paham kenapa waktu itu dia berdiri agak lama di depan B5 mungkin Pak Ryan membujuknya agar mau menggantikan Putri.
“Mungkin itu yang bisa aku sampaikan, ayuk berjuang bersama untuk sekolah dan terlebih Putri !”
Aku mengangguk setuju dan menunjukkan raut wajah yang mendukung perkataannya.
“Putri ... berjuanglah melawan penyakitmu, terimakasih sudah menyadarkanku soal apa yang ayahku bangun, kami disini juga berjuang menjaga apa yang kau cintai”, gumamku
Matahari bersinar begitu terik, cahayanya berusaha melewati rimbunnya daun di taman sekolah, aku dan Salma beranjak dari sana. Gawaiku tiba-tiba saja getar, sambil berjalan menuju ruangan aku mencoba meraihnya di kantong celanaku, aku melihat Salma yang sudah berjalan jauh di depanku. Gawai yang sedari tadi bergetar kini berada di taganku. Ternyata ada pesan dari seseorang yang nomornya tak kukenali
“Siapa ya?”, gumamku
[Rama, aku rindu]
Kira-kira siapa ya? Nomor tidak dikenal? Putri? Ah pasti orang iseng. Kuabaikan pesan itu dan melanjutkan langkahku menuju ruangan.

Akhir cerita nomor tak dikenal

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day21
Jumlah Kata : 621
Suara hujan mengguyur atap rumahku begitu deras malam itu. Aku yang sedari tadi terbaring di kasur mencoba menikmatinya. Gawaiku bergetar berkali-kali, masih dari nomor yang sama. Dia mengirimiku pesan yang sama seperti hari itu.
“Siapa, ya” gumamku sembari memandangi layar gawaiku
Aku sudah coba tanya ke Mario, tapi dia menjawab tidak tahu. Entah nomor siapa ini, tiap hari mengirim kata-kata rindu kepadaku dan Mario. Mario tak tertarik menyelidikinya. Namun hatiku menyimpan tanya yang begitu besar karena ini.
Aku yang lelah karena itu semua, mencoba memejamkan mata dan berusaha tidur. Gawaiku masih sibuk berdering, aku sudah mencoba menanyai namanya berkali-kali, tapi dia nggak memberikan identitasnya kepadaku.
Malam berganti pagi, kuawali pagiku seperti biasa lalu bergegas ke sekolah, aku mendapatkan dispensasi dari sekolah untuk lomba kaligrafi ini, beberapa hari ke depan aku tak memasuki kelas dan fokus untuk berlatih.
Aku melangkahkan kakiku ke ruangan B5 seperti biasa, mengerjakan tugas dan ada beberapa materi dari pak Ryan. Waktu begitu cepat berlalu, hari demi hari kami lewati bersama tanpa Putri.
Mungkin sudah satu bulan lebih kami berlatih, Putri pun tak kunjung mememberikan kabar kepada kami. Pada suatu hari, waktu istirahat latihan aku duduk di taman yang tak jauh dari ruangan, menikmati rimbunnya pepohonan dan cantiknya bunga yang habis diguyur gerimis sore itu.
Aroma hujan ini menenangkan hatiku yang akhir-akhir ini masih cemas soal Putri dan lomba ini. Mario menghampiriku dan duduk di sampingku. Raut wajahnya masih saja sama semenjak Putri hilang kabar.
“Kenapa, Mar?”, tanyaku pelan padanya.
Mario bergeming, dia diam tanpa suara sembari menatap bunga-bunga yang setengah basah itu. Aku mengelus pundaknya bagai kakak menenangkan adiknya. Perlahan air matanya berlinang perlahan namun pasti membasahi pipinya itu.
“Satu hal yang berharga bagiku, kini entah kemana, lantas bagaimana aku bisa tenang mengikuti lomba ini?”
“Tenang, Mar. Putri pasti kembali.”
Mario mencoba tersenyum kepadaku walau air matanya masih mengalir. Sore itu perasaan Mario yang sejak awal terpendam keluar semua. Tangisnya pecah, dia begitu kehilangan karena sahabatnya itu adalah satu-satunya partner membangun ekstrakurikuler ini.
Sore itu berakhir dengan hujan yang lebat hingga malam. Aku, Mario dan pak Ryan memutuskan untuk tinggal sebentar di ruangan. Pak Ryan sibuk mengecek layar monitornya, perlahan menggerakkan tetikusnya untuk mengecek beberapa hasil latihan kami.
“Sejauh ini, sudah bagus”, ucap pak Ryan.
Pak Ryan memutar kursinya menghadap kami, menopang dagunya seperti berpikir akan sesuatu, Mario sibuk membaca buku dan aku terlentang di karpet ruangan. Suara hujan perlahan mereda.
“Dua hari lagi ya, siap-siap, tetap semangat yah”
“Baik, pak” jawab kami kompak.
Setelah reda kami bertiga beranjak dari ruangan itu dan pulang kerumah masing-masing, sesampainya di rumah aku mencoba untuk menelpon nomor itu, kuberanikan diriku untuk memuaskan rasa penasaranku terhadap nomor ini.
Tapi sayang, hari itu nomor itu berhenti mengirimiku pesan dan nomor itu telah tidak aktif, berkali-kali kucoba juga masih dengan hasil yang sama. Aku agak kesal dengan hal ini. Kalau ini Putri kenapa nggak ngomong langsung, apakah disana dia ditekan seseorang?
Sesekali aku ke rumah Putri aku mengira dia masih tinggal d isana. Namun rumah itu telah kosong, kata tetangga sekitar sudah diangkut oleh jasa pindah rumah, ketika aku coba tanya tentang tujuannya kemana semua tetanggaku hampir semua menjawab tidak tahu.
Pesan terakhir nomor itu berisi tentang pertemuan kembali dan sempat aku baca kalau nggak salah ingat, ada kata-kata sampai jumpa. Apa maksudnya? Aku saja nggak tahu namanya tapi tiba-tiba berakata seperti itu.
Gaya tulis dari nomor ini juga nggak seperti Putri, sempat aku coba menanyakan pada Mario tapi dia membantah argumenku karena dia melihat gaya tulisnya. Sejak hari itu gawaiku berhenti bergetar, pesan berhenti masuk. Antara takut dan bertanya-tanya ketika menerima pesan demi pesan dari nomor itu, aku berkali-kali mencoba membalas tapi dia terus mencoba seperti mengungangkapkan hatinya dan tak memperdulikan balasan dariku.
 



Lomba kaligrafi, dimulai!

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day22
Jumlah Kata : 623
Lomba akan berlangsung dua hari lagi, aku dan Mario sepakat untuk menenangkan diri untuk melupakan sejenak tentang Putri, kami fokus berlatih dan mendalami lagi soal disiplin Kufi. Tak terkecuali Salma.
Detik-detik terakhir sebelum lomba kami gunakan sebaik mungkin hingga sampailah kami pada hari kompetisi. Riuhnya peserta lain dan pengunjung pameran mengisi pagiku hari itu. Kami bertiga bersama pak Ryan mendaftarkan ulang tim kami.
Setelah mendaftar ulang, kami di arahkan ke ruang tunggu peserta. Kami melangkahkan kaki ke sana. Aku lihat wajah Mario yang tampak berusaha tegar dan berlinang air mata.
“Nggak papa, Mar?”, tanyaku sembari menolehnya.
Mario hanya mengangguk dan tersenyum kepadaku. sesampainya di ruang tunggu peserta, kami meletakkan tas kami lalu duduk sambil memegang gawai kami masing-masing untuk melihat beberapa materi yang dikirim oleh pak Ryan.
Tanganku sempat bergetar, tubuhku dingin dan detak jantungku berdebar keras. Selama aku bersekolah baru kali ini aku mengikuti lomba. Aku selama bersekolah di Jakarta hanya menjadi siswa biasa. Itulah yang membuatku kurang pintar bergaul dan selalu saja menyendiri.
Pak Ryan yang sedari tadi hilir mudik menyapa beberapa panitia dan menanyakan soal apa-apa yang kami perlukan selama lomba, tiba-tiba duduk di antara kami.
“Tunjukkan yang terbaik yah, untuk sekolah, kita sendiri dan ...,” ucap pak Ryan terhenti lalu menghela nafas sejenak. “Putri” sambungnya
Kami mengalihkan perhatian kami, dan menatap penuh yakin kepada pak Ryan. Tiba saatnya semua peserta di panggil ke ruangan lomba.
Ruangan lomba berada di sebuah aula yang di terjejer rapih bangku dan meja beserta komputer-komputer. Semua peserta duduk di bangku sesuai nomor urut yang dibagikan, tak terkecuali kami.
Beberapa orang naik dan menuruni panggung untuk memberikan sambutannya dan menjelaskan mekanisme lombanya, seingatku lomba ini beregu tiga orang. Dua orang kufi dan satu orang untuk desain, waktu pengerjaan disediakan tiga jam kurang lebih. Tidak boleh plagiat dan semua memakai disiplin yang sama.
Ketika semua peserta memahami semua aturan itu, lomba pun di mulai. Suasana tenang aula itu membuat aku sempat tertekan. Semua hanya berbisik, yang terdengar hanya tekanan dari tetikus dan papan ketik mereka.
Huruf demi huruf kami olah, pengetahuan datum dan pengembangan variasi huruf kami terapkan betul-betul. Ayat kali ini cukup panjang, tampak wajah Mario yang mulai berkeringat. Ada banyak titik yang menjadi kelemahannya.
“Ini masih bisa, Mar”. Ucapku sambil nggeser tetikus dan menekannya beberapa kali.
Mario masih memasang raut yang serius memahami, Salma sedang sibuk sendiri mencari aset untuk desain kami.
“Aku ada ide”, dengan cepat Mario merebut tetikus dariku. Dia menggerakkan tangannya cepat sekali. Dia berusaha membentuk layout in out square. Layout yang lumayan sulit mengingat ada beberapa disiplin tambahan.
“Mar, serius pake ini?”, tanyaku.
Mario mengangguk yakin dengan memasang raut yang serius, dia menoleh ke arah Salma sembari berkata, “Nanti huruf ini aku warnain lain, biarin yah jangan diapa-apain, soalnya nanti awal bacaaanya dari sini”
Salma menoleh dan melihat monitor Mario, dia memasang raut wajah yang heran. Mungkin karena dia tau lay out ini jarang digunakan karena kebanyakan susah menemukan bentuk squarenya.
Layout in out square adalah salah satu layout yang cara bacanya dari dalam keluar, permainan huruf variasi sangat ditonjolkan disini karena harus melengkapi ruang kosong keluar.
“Ram, coba lihat bagaimana?”, tanya Mario yang wajahnya penuh peluh.
Aku mencoba menatap layar monitornya, ada beberapa disana sini yang masih bisa di perbaiki.
“Kirim kesini aku perbaikin sedikit”
Mario dengan cepat mengirim file mentahan itu lewat jaringan lokal kami. Setelah masuk ke komputerku, aku melakukan detailing sedikit hingga mencapai ukuran yang benar benar sederhana.
“Gimana?”, tanyaku sambil berusaha menunjukkan hasil detailingku.
Mario tersenyum lebar dan mengangkat jempolnya.
“Mana sini aku finishing”, sahut Salma.
Aku mengirim hasil detailingku ke Salma, dia mendesain dengan indah. Jarinya kesana kemari menyatukan beberapa elemen desain.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, desain kufi kami telah siap dan bel waktu selesai pun berbunyi. Kami bertiga mengehela nafas lega.

Juara tapi hampa

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day23
Jumlah Kata : 629

Suasana hari itu begitu menegangkan, setiap kaligrafer mencurahkan idenya di kanvas digital. Lomba kali ini diadakan beregu, setiap regu berisi tiga orang yang masing-masing memiliki pekerjaan masing-masing. Konsep yang lumayan unik karena setiap regu di tuntut bukan hanya membuat karya yang sesuai disiplin saja namun juga kekompakan tim.
Awalnya aku masuk tim finishing, lalu Mario dan Putri menjadi garda depan dalam menulis kufi, tapi karena Putri yang entah kemana, mau tidak mau menggantikan posisi Putri. Pertemuan yang singkat dengannya memberiku semangat meski pada akhirnya api semangat itu tak lagi berkobar, hanya menjadi bara kecil yang sekedar menerangi saja.
Begitu juga Mario dan Salma, aku rasa mengalami hal yang sama. Setelah bel berbunyi kami menyandarkan badan ke kursi dan menyeka peluh yang sedari tadi berlinang di seluruh wajah kami.
“Siap babak dua, Ram”, tanya Mario yang wajahnya menengadah ke langit-langit aula.
“Babak dua apaan?”
“Setelah ini kita bikin karya terbesar untuk Putri”
“Boleh”, jawabku singkat
“Aku ikut dong, jahat kalian gak ngajak aku”, sahut Salma kesal.
“Bukannya kamu benci Putri?”, tanya Mario
Salma menunduk lesu, bibirnya membeku namun perlahan badannya menghadap ke arah kami. “Kamu salah paham”, ujar Salma
“Kalau aku benci, kenapa aku nemenin kalian?”
Mario hanya terdiam mendengar perkataam Salma, dia seolah tidak peduli dengan apa yang dikatakan Salma. Dari depan sana, pembawa acara memperbolehkan kami untuk meninggalkan tempat lomba.
“Aku mau ke kamar mandi dulu”, Mario beranjak dari kursinya dan berjalan cepat diantara kerumunan kaligrafer-kaligrafer yang juga ingin keluar dari aula.
Aku melihat Salma yang meneteskan air mata, dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkanku jauh dibelakangnya.
“Gimana?”, tanya pak Ryan yang nampaknya sedang menunggu kami keluar. Pak Ryan duduk di bangku yang terletak di depan pintu keluar aula.
“Alhamdulilllah lancar, tinggal nunggu penjurian”, jawabku sambil perlahan duduk di samping Pak Ryan.
Pak Ryan tersenyum, dibalik senyumnya seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tapi terhenti juga karena sesuatu.
Waktu berlalu begitu cepat, gelapnya malam menyelimuti kota malang, tampak hilir mudik penyeleggara ditengah kerumunan yang berada didepanku. Mereka sedang berusaha memasang layar proyektor untuk menampilkan karya peserta.
Daerah depan aula semakin ramai, perlahan proyektor-proyektor itu menampilkan karya karya peserta, aku juga melihat karya kami, layout in out yang kami buat nampaknya menarik beberapa pengunjung, tak heran apa yang kami bikinm jarang sekali yang pakai.
Aku melihat jam, deretan angka itu menunjukkan pukul 18.30, bersamaan dengan itu pembawa acara kembali menyerukan untuk semua peserta kembali ke aula untuk mendengarkan hasil penjurian.
Sampai hampir penjurian, Mario dan Salma belum terlihat juga. Entah kemana, yang jelas diantra mereka memiliki masalah, sampai hari ini aku nggak bisa paham.
Di dalam aula, aku melihat yang tadi berupa meja dan komputer, kini berganti dengan pemandangan hamparan kursi yang ada di mana-mana.
Aku dan pak Ryan mengambil duduk paling depan untuk melihat lebih jelas pemenangnya nanti, acara dibuka dengan ditutupnya acara itu, dan beberapa sambutan dari ketua pelaksana. Pengumuman pun dimulai, kategori demi kategori kami belum lolos satu pun.
Hatiku mulai pasrah dan hanya bisa berserah, sesekali pak Ryan mengelus pundakku untuk menenangkan aku. Mungkin melihat banyak peluh yang bercucuran.
Kategori demi kategori dibacakan seperti desain terbaik, kaligrafer terbaik, kufi dengan skor tertinggi. Namun pembawa acara terhenti sejenak ketika membicarakan kategori layout terbagus. Dia menyebut suara sekolahku dengan lantang.
Terbayar sudah, rasa tegang dan aku mencoba untuk menghela nafas agar tetap sadar. Sadar dari kenyataan bahwa kami menang malah tanpa Putri.
Kufi yang kami buat menghiasi monitor besar dipanggung beberapa menit, aku bersyukur sembari menerima piala. Setelah itu acara berlanjut seperti biasa.
Pak Ryan tersenyum padaku, aku bergegas menuju kursi disampingnya. Aku melihat sejak tadi pak Ryan sedari tadi seperti menghubungi seseorang via telepon. Dengan kabar ini aku berharap sedikit mengobati rasa sedih Pak Ryan dan mereka yang merasa butuh banget sama dia.
“Put, Kami menang nih”, gumamku sambil mengenggam erat piala itu.

Setelah juara

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day24
Jumlah Kata : 643

Seusai lomba hari itu, kami berempat langsung menuju ke sekolah. Senyum kami menghiasi hari itu karena kemenangan itu. Kami sejenak melupakan soal Putri, terbawa suasana hingga isi pembicaraan kami hanya tentang lomba. Meski hanya menang di kategori layout terbagus kami sudah senang dan lega.
“Siapa yang tadi mencetuskan buat pakai layout in out?”, tanya pak Ryan sambil melihat gawainya yang sedang menampilkan kaligrafi yang kami buat unuk lomba.
Aku dan Salma kompak menoleh ke Mario, seperti biasa dia tersenyum lebar sambil membenarkan posisi kacamatanya.
"Mario? Belajar dari mana?", tanya pak Ryan kepada Mario.
“Putri”, jawab Mario singkat.
“Layout ini, termasuk layout yang susah. Karena butuh pengetahuan huruf variasi yang sangat dalam untuk memenuhi ruang, tapi kalian mampu membuat layout ini dengan baik”, ucap pak Ryan.
“Yaa... meski dengan penuh rasa deg-degan sih, Pak”, balas Salma dengan tertawa kecil.
Aku, Mario dan pak Ryan ikut tertawa kecil, ruangan hari itu dipenuhi dengan tawa kami dan cerita-cerita seputar lomba. Di tengah riuhnya hujan di luar dan dinginnya kota Malang yang selalu menghiasi hari-hari kami, suasana kala itu begitu hangat dan menghangatkan.
Tak lama hujan mereda, menyisakan genangan air yang berada di luar ruangan. Karena hari sudah menuju senja, kami memutuskan untuk pulang dan mengakhiri hari itu.
Seperti biasa aku sedang menunggu angkot di depan sekolah sambil duduk di hate yang setengah basah diguyur hujan hari itu. Suara motor yang dari kejauhan terdengar tiba-tiba berhenti di depanku, ternyata itu Mario.
“Ayo, bareng sama aku aja”
Aku mengangguk dan beranjak dari halte dan menaiki motor Mario, hujan kembali turun sore itu gerimis tipis. Sepanjang jalan yang kami lalui basah dan menyisakan beberapa genangan. Mobil-mobil pun juga basah seperti habis dicuci.
Sepanjang jalan Mario dan aku membahas soal Putri, dia menceritakan bagaimana Putri ketika mengajari layout in out itu. Dia bercerita dengan asyik sambil sesekali dia tertawa karena banyak cerita lucu yang dia lalui bersama Putri.
“Ternyata Putri orangnya lucu yah”, ucapku yang berusaha mengalahkan suara deru mesin motor Mario.
“iyaaa”, balas Mario dengan sedikit meninggikan suaranya agar aku mendengarkannya.
Jalan demi jalan kami lalui, akhirnya kami sampai di rumahku. Aku sempat menawari Mario untuk mampir ke rumahku. Namun dia menolak karena sudah terlalu sore katanya, setelah berpamitan kepadaku dia memacu motornya pergi meninggalkan rumahku.
Aku melangkahkan kaki ke depan pintu rumah yang nampaknya kosong, di depan pintu ada sebuah pesan yang berisikan letak kunci. Aku bergegas mengambil kunci dan membuka pintu rumahku. Setelah aku berhasil masuk, aku coba rebahkan diriku di kursi ruang tamu dengan membiarkan pintu depan menganga. Aku letakkan tas dan gawaiku di atas meja.
Aku berpikir untuk melaju ke lomba nasional yang diadakan beberapa bulan lagi, pikiranku sudah tidak lagi terisi soal Putri. Namun terisi untuk memajukan ekstrakurikuler yang Putri cintai ini. Aku mencoba untuk meraih tasku dan mengeluarkan amplop putih. Di dalamnya ada beberapa lembar uang yang aku dapat dari sekolah sebelum aku dan teman-teman berangkat lomba.
Ini belum uang dari juara, sekolah ini memang mendukung penuh siswa siswinya yang ikut lomba. Jadi tak heran jika kami berangkat pasti diberikan akomodasi terbaik. Mungkin ini alasanku masuk ke ekstrakurikuler, memperbaiki hidupku seperti yang ayah ucapkan kala itu.
Kau pasti juga ingat, kan? Kalau ibuku selama ini mencoba memenuhi kebutuhanku, aku harap dengan ini aku bisa sedikit-sedikit membantunya.
Aku meraih gawaiku yang sedari tadi berdering ternyata dari bu May yang sedang mengirimiku rangkuman materi dan tugas-tugas yang harus aku kerjakan, beliau juga mengucapkan selamat pada kami. Katanya beliau dengar dari pak Ryan.
Setelah membaca pesan itu aku bergegas mandi dan segera mengerjakan tugas itu, setelah itu aku juga iseng ingin membuka kufi galeriku di instagram. Siapa tahu ada yang pesen kufi, kan?
Sore berganti malam, hujan tak henti hentinya mengguyur atap rumahku, sampai malam ibuku belum pulang entah kemana, biasanya nggak pernah pulang semalam ini. Aku mencoba menghubungi gawainya tapi tidak ada respon.
“Mungkin lagi berteduh”, ucapku sambil melihat hujan deras dari balik jendela kamarku

Surat dari Putri? Mungkin.

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day25
Jumlah Kata : 440
Dari arah ruang tamu, terdengar suara pintu depan terbuka. Di tengah hujan suara ibu memanggilku halus, aku bergegas menuju ke ruang tamu dan melihat ibu yang sedang melepas jas hujan yang sudah basah kuyup di guyur hujan.
Setelah melepas dan melipat jas hujannya, ibu duduk di ruang tamu sambil melihat gawainya dan tampak kesal dengan sesuatu. Aku coba duduk di sampingnya dan mencoba menghiburnya.
“Bu, Rama menang har ini.”, ucapku pelan pada ibu.
“Menang apa kamu?”
“Lomba Kaligrafi”
Ibu terdiam sejenak, pandangannya kosong meski masih mengarah ke gawai. Rasa kesalnya tergenti berganti air mata yang berlinang. Ibu meletakkan gawainyaa, lalu memelukku erat. Semakin pecah tangisnya. Aku bisa paham dan membalas pelukannya sambil menenangkan ibuku.
“Kenapa, Bu”, tanyaku pelan
“Entah, ibu keinget almarhum ayah kamu”, balas ibu sambil pelan-pelan melepas pelukannya.
“Siapa yang bisa bikin kamu kuat kayak gini?”. Tambahnya.
Aku terdiam, bayangan Putri berbayang lagi dimana-mana. Kenangan-kenanganku bersamanya seperti diputar ulang di dalam ruang pikirku.
“Ada, Bu. Anaknya cantik”, ujarku memecahkan kediamanku
Ibu menatapku menggoda sambil menyeka air matanya, “Cewek nih ...,”. balas ibu. “Tumben bisa ngobrol sama cewek”. Tambah ibuku dengan nada yang sedikit menggoda.
Aku hanya tertawa kecil, ibu pun juga. Aku mencoba untuk tidak salah tingkah. Meskipun aku sepertinya memang ada rasa dengan Putri, tapi dia entah kemana pun aku tak tahu. Suasana malam itu hanya kami isi berdua dengan obrolan ibu dan anak. Tawa kami lepas menghapus kesedihan kami masing-masing. Ibu dengan ayah dan aku dengan Putri yang kini menghilang bagai senja yang keindahannya hanya sesaat.
Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Aku hampir telat karena bisnya datang nggak sesuai dengan jadwal. Sesampainya di sekolah, aku bergegas menuju kelas dengan sedikit berlari karena bel masuk bersahut-sahutan dari pengeras suara di sudut-sudut sekolah.
Di tengah pelajaran sesekali aku melihat bangku Putri yang kosong, aku teringat kenangan hari itu, aku coba tanyakan pada bu Mey soal Putri, tapi beliau tidak mengetahui juga keberadaan Putri, Bu Mey berusaha menghubungi walinya juga nggak bisa kata beliau.
Putri di Malang ini tinggal bersama walinya, ayah dan ibunya telah lama meninggal. Namun saudara-saudara Putri sangat peduli dengannya, biaya hidupnya kebanyakan di biayai oleh adek dan kakak dari ayahnya. Aku baru tahu ini dari bu May. Beliau bercerita panjang soal Putri, banyak hal yang baru aku ketahui.
Akhirnya aku menenangkan hatiku, aku menuju ruangan B5. Tampak dari kejauhan pintu ruangan terbuka, ketika aku di depan ruangan. Aku melihat pak Ryan yang sibuk dengan komputernya.
Beliau seperti tahu dengan kedatanganku, pak Ryan mencoba mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ternyata surat dengan amplop merah muda dan ada tulisan namaku. Beliau memberikan kepadaku.
“Surat apa ini, pak?” tanyaku sambil menerima surat dan keheranan.
“Baca aja”.

Perasaan Putri

0 0

#KMOIndonesia

#KMOBatch48

#Kelompok6

#BaswaraAksa

#Day26

Jumlah Kata : 442


Aku membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya, pak Ryan memandangiku dengan raut yang agak cemas. Di dalam amplop itu yang aku ingat ada selembar kertas yang di lipat denga rapih dan beberapa potongan kertas yang berisi nama Putri, namaku dan nama Mario, beberapa berisi kata-kata dari buku ayahku.

Aku perlahan membuka lipatan kertas itu dan ternyata itu adalah surat dari Putri, tanggal suratnya adalah ketika aku dan dia pertama kali bertemu.

“Dari Putri, Pak?”, tanyaku yang mencoba memastikan dan melepas rasa penasaranku.

Pak Ryan hanya mengangguk pelan, beliau mengiyakan apa yang aku tanyakan. Aku lekas mengalihkan pandanganku ke surat itu dan membaca isi suratnya, kalau nggak salah isi suratnya seperti ini.


Dear Rama

Maaf kalau aku tiba-tiba menghilang, kalau kamu menerima surat ini berarti aku sudah dirawat di rumah sakit lain dan aku sudah nggak masuk sekolah. Bagaimana ekstrakurikuler kita? Lomba kita? Kalian juara kan? Wah selamat yah ... ini tebakanku saja sih tapi kalau salah tetap semangat yah ....

Oh iya, kalau kamu baca surat ini, aku titip salam sama semuanya ya, bilang aku baik-baik saja ... meskipun nggak sih, biar mereka nggak khawatir hehe .....

Terimakasih ya, meski singkat kamu udah nemenin aku selama ini, aku masih teringat waktu kita pertama kali bertemu, di halte ya? Hehe ... siapa sangka kamu anaknya pak Ka, orang yang jadi pedomanku dalam mendalami kaligrafi.

Mungkin kamu sudah tahu alasanku mendalami kaligrafi. belum? Alasanku mendalami kaligrafi adalah seperti kata ayahmu, aku berharap bisa merubah hidup, meskipun terdengar mustahil tapi aku yakin akan itu. Mungkin aku salah memaknainya.

Alasan utamaku aku ingin meninggalkan jejak indah sebelum aku pergi. Jangan tanya pergi kemana, pasti kamu sudah tahu penyakit yang aku derita. Iya kan? Mario padahal sudah aku suruh diem biar kamu nggak kepikiran.

Satu lagi ya sebelum terakhir, semenjak pertama kali bertemu aku sudah yakin darah ayahmu mengalir di nadimu, semangatnya berdenyut dan api semangatnya masih ada. Namun kamu enggan mendalaminya, hari itu aku dan Mario ditugasi pak Ryan untuk membujuk kamu masuk ekskul ini. Maaf ya, agak memaksa aku harap kamu bisa berkembang seperti ayahmu..

Rama, entah mengapa setiap pertemuan kita berakhir karena senja yang sudah menampakkan dirinya, setelah menyusuri gang demi gang bersama. Malamnya aku merasa sendu. Pikiranku terisi oleh bayang-bayang senyummu, tapi kalau bertemu hati berdebar dan mampu hapuskan sedih yang membelenggu hati.

Mungkin ini cinta, ya ... Aku mencintaimu Rama ... Maaf aku sampaikan di sini karena aku kemarin masih memastikan perasaan ini..


Perlahan air mataku menetes membasahi kertas itu, tanganku kaku dan aku tak mampu mengeluarkan kata-kata.

“Aku juga Putri” gumamku di tengah air mata yang tak henti-hentinya menetes. Pak Ryan yang sedari tadi memandangiku beranjak dan mengelus-elus pundakku untuk menenangkanku.




Tenang

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day27
Jumlah Kata : 513
Perlahan rintik hujan terdengar selaras dengan suasana hatiku setelah membac surat ini. Kumpulan awan hitam berkumpul dan menumpahkan semua isinya. Air mataku masih saja berlinang. Rasa sedih dan rindu tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
Pak Ryan masih mencoba menenangkanku dengan nasehat-nasehat yang masih kuingat sedikit yaitu, “udahlah ikhlaskan aja, kasih doa yang terbaik, ini memang dititipkan ke saya menunggu momen yang pas dan hari ini adalah momen yang pas menurut bapak”
Jujur sebenarnya sudah ikhlas sejak tahu dia di pindah ke rumah sakit lain, aku menduga kalau rumah sakit yang merawatnya pertama kali kurang lengkap peralatannya. Namun separah itu kah? Padahal kelihatannya sebelum itu dia baik-baik saja.
Air mataku berangsur-angsur mereda, hatiku perlahan tenang dan pandanganku menuju semua karya yang dibuat oleh Putri.
“Ini Putri semua yang bikin, Pak?”, tanyaku pada pak Ryan.
Pak Ryan merapihkan berapa buku dan catatan-catatan ke dalam tasnya seraya menjawab, “Iya, itu karya dia semua tahun kemarin.”
“Dia itu periang sekali dan ingin membuat kenang-kenangan terakhir yang indah, bapak kira kenang-kenangan apa, ternyata bapak paham ketika wali Putri bercerita tentang semuanya”
“Mario pernah cerita kalau dia sempat pingsan, kan?”, tanya pak Ryan.
“Iya, pak” jawabku singkat.
“Nah itu, pertama kali dan terakhir kalinya bapak bertemu dengan wali Putri”
“Terakhir?”
“Iya, setelah itu beliau nggak pernah menemui bapak lagi.”
Pak Ryan beranjak dari tempat duduknya, aku pun juga, tak terasa bel masuk berbunyi dengan keras, pak Ryan menyudahi obrolan itu dan tak henti-hentinya menasehatiku. Aku melangkah kembali ke kelas dengan perasaan tenang sambil membawa amplop itu.
Sesampainya di kelas aku mengikuti pelajaran demi pelajaran, tak terasa waktu pulang pun tiba. Aku berencana untuk latihan di ruangan setelah kelas usai, aku menuju ke ruangan B5 lagi. Maksudku latihan untuk menenangkan hatiku, aku sengaja meminta kunci di Mario dan aku sudah ijin untuk memakai ruangan sampai larut.
Ayat demi ayat aku coba kufikan, tak terhitung lagi mungkin puluhan sudah kubuat. Setelah membuat kufi aku coba desain sebisaku dan memasukkannya ke akun kufi galeriku. Cahaya matahari perlahan menghilang. Cahaya yang sedari tadi masuk melalui jendela perlahan menghilang dan suasana ruangan menjadi gulita. Satu-satunya cahaya yang mengisi adalah dari layar monitor sekolah.
Beberapa kali gawaiku berdering, setelah aku angkat, ternyata dari ibu yang menanyakan posisiku, aku mencoba membalasnya sambil menghidupkan lampu ruangan dan melanjutkan desainku.
Tak terasa mungkin sudah berjam-jam aku disini, jam yang sedari tadi berdetik sudah menunjukkan pukul 20.00. jangan heran ya, di sekolah ini memang wajar banyak siswa yang pulang malam, entah itu untuk ekstrakurikuler ataupun pembinaan olimpiade.
Aku menyelesaikan desain terahirku lalu mematikan komputer dan bergegas pulang ke rumah. Lampu-lampu di pinggir jalan bersinar dengan terang, jalanan mulai lengang dan sepi. Aku melihat pak Suprapto yang sedang berusaha menyulut rokok di depan pos satpam. Aku menyapanya sebentar dan seperti biasa sapaanku diabaikannya.
Aku menunggu di halte yang bangkunya setengah basah, di tengah gelapnya malam dan jalan-jalan yang di hiasi air yang menggenang. Aku hanya terdiam sambil sesekali melihat gawaiku, hatiku sudah tenang sepenuhnya, bayang-bayang Putri sudah memudar perlahan bersama semua doa yang kupanjatkan untuknya.
“Putri, dimanapun kamu semoga baik-baik aja yah”, gumamku ditengah deru mesin mobil yang melintas.

Latihan

0 0


#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day28
Jumlah Kata : 430
Hari demi hari aku lalui, setiap pulang sekolah aku selalu berlatih di ruangan. Tak peduli aku sakit maupun sehat, aku tetap latihan. Aku sedang membayangkan kejuaraan nasional yang di adakan sebentar lagi, mengingat ini adalah lomba individu karena itulah aku latihan menambah pemahaman kufiku.
Pak Ryan sesekali mengecekku, berkali-kali beliau bilang jangan memaksakan diri, tapi dasar aku yang keras kepala. Aku tak memperdulikan omongan beliau dan terus berlatih. Tak jarang Mario datang ke ruangan untuk memberi koreksi pada karya-karyaku.
“Kamu masih berharap ketemu Putri, ya?”, tanya Mario sembari melihat-lihat file kufi yang barusan aku bikin.
“Nggak”
“Lalu?”, Mario berhenti melihat-lihat file kufiku dan matanya menatapku dengan penuh rasa penasaran.
Aku hanya terdiam, malas menanggapi pertanyaan Mario, di tengah ruangan yang mulai gelap di mana satu-satunya cahaya hanya dari monitor komputerku. Suara hujan dari luar begitu deras. Beberapa dering dari gawaiku dan Mario saling bersahutan, ibu kami sama-sama menanyakan kabar kami.
Kami pun bergegas pulang, tak ada kata-kata yang kami lontarkan. Baik aku atau Mario terdiam beribu bahasa. Aku malas menjawab pertanyaan terkait Putri, karena aku yakin dia di tempat terbaik. Untuk apa menanyakan padaku? Soal aku berharap untuk bertemu lagi.
Aku sejenak melupakan soal Putri, aku ingin fokus untuk mengejar mimpi yang belum sempat Putri raih.
Bulan berganti bulan, hujan perlahan berganti teriknya mentari. Banyak hal yang aku lalui namun nggak bisa aku ceritain semuanya, mungkin kabar yang agak bikin sedih, lomba kufi nasional di undur sampai tahun depan.
Berarti ketika aku kelas tiga, aku baru bisa ikut. Entah harus sedih atau malah senang karena aku punya banyak waktu untuk latihan lagi sembari aku mempersiapkan adek tingkatku untuk lomba-lomba berikutnya.
Untuk sementara aku menggantikan pak Ryan untuk melakukan pembinaan, karena beliau di pindah divisi ke kantor pusat dan tidak punya banyak waktu untuk mengajar ekstrakurikuler lagi. Aku sebagai pembina dan Mario sebagai assistenku.
Selama pembinaan yang aku lakukan bersama Mario, aku tetap menanamkan nilai-nilai yang berusaha di tanamkan oleh pak Ryan. Alhamdulillah semua senang mengikuti pembinaan dari kami.
Di tengah riuhnya adek tingkat yang sedang istirahat, perlahan Mario duduk di sampingku. Kami berdua menatap adek tingkat yang sedang bercanda kesana kemari.
“Yakin mau ikut lomba Nasional?”, tanya Mario.
“Yakin, aku ingin mengangkat nama ekstrakurikuler ini”, jawabku penuh semangat.
“Semangat”, balas Mario sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Cikguu ....., ayo latihan bikin kufi”, teriak salah satu adek tingkat kami.
Kami berdua beranjak dari tempat duduk kami dan melakukan pembinaan kembali di dalam ruangan, kami memulai dengan materi cara membaca charta sampai pembuatan freeflow atau kufi dalam bentuk lurus linier.
Semuanya menyimak dengan baik, aku bersyukur dan bisa menambah semangatku untuk melaju ke lomba nasional.


Guest star

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day29
Jumlah Kata : 518
Setelah berbulan-bulan berlatih, akhirnya hari itu pun hadir. Aku sepenuhnya siap untuk menghadapi hari ini. Lomba tingkat nasional itu kebetulan di selenggarakan di kota Malang. Aku berangkat sendiri karena Mario aku tugasi untuk menangani pembinaan di sekolah.
Aku mantap berangkat menuju tempat lomba, sesuai perhitungan ketika lomba ini di selenggarakan aku sudah kelas tiga SMA, yang harusnya sudah nggak boleh lagi ikut-ikut lomba seperti ini, tapi karena masih semester awal dan kesibukan murid kelas tiga belum begitu banyak. Bapak kepala sekolah memberiku izin untuk mengikuti lomba ini, terlebih ini skalanya nasional yang jika menang akan mengangkat nama sekolah jauh lebih tinggi lagi.
Sebelum hari ini aku mendapat sebuah pesan, gawaiku berdering malam itu dan ada sebuah pesan dari nomor yang sama. Yang waktu itu berkali-kali mengirim pesan rindu kepadaku, dia mengirim pesan lagi kali ini dengan kata-kata yang seolah dia akan bertemu denganku.
Entah darimana dan siapa pengirimnya, aku malas menyelidikinya lagi. Karena aku fokus berlatih untuk lomba hari ini. Di tempat lomba aku lihat sekelilingku yang penuh dengan siswa siswi yang berseragam putih abu. Mereka seperti merapal sesuatu, ada yang mencoba berlatih kufi dan ada yang asyik memakan jajanan yang ada di sana.
Aku berjalan perlahan ke dalam tempat lomba, dan menuju bangku dari logam yang dingin karena hawa kota Malang di pagi hari, aku mencoba menenangkan hati dan pikiranku dengan membaca buku, lembar demi lembar aku buka hingga aku bosan. Aku melihat jam tanganku ternyata masih pukul 06.30, lomba di laksanakan pada pukul 07.00, masih ada waktu untuk berlatih namun entah mengapa semakin dekat dengan lomba aku semakin enggan berlatih.
Dari arah kejauhan, tepatnya di pintu masuk. Aku melihat kerumunan orang yang bergerombol melihat ke arah luar jendela. Aku yang penasaran, mencoba berjalan menuju arah kerumunan itu dan mendengar beberapa gumaman seseorang.
“Andai dia udah dewasa, pasti sudah aku nikahin”
“Ya ... ditunggu aja kan abis ini dia lulus tuh”
“Dia berbakat sekali, aku pengen dekat dengan dia”
“Dia masuk ke arah VIP ya, dia nanti ngasih sambutan, kan?”
Mungkin sebagian besar yang kudengar adalah hal hal diatas, entah mengapa karena celotehan mereka yang semakin menjadi, rasa penasaranku semakin hilang saja. Aku pun kembali duduk di kursi yang tadi aku duduk tadi.
“Ada-ada aja deh bocil jaman sekarang yah”, gumamku pelan sambil kembali membaca buku.
Tak lama setelah itu, kerumunan yang tadi begitu padat berangsur-angsur bubar dengan sendirinya, lalu terdengar pengumuman dari pusat informasi untuk segera melakukan daftar ulang dibagian pendaftaran setelah itu memasuki aula pertama untuk menyimak sambutan dari penyelenggara dan beberapa guest star.
Memang sih di poster yang masuk di ruangan B5 tertulis ada guest star, katanya ahli kaligrafi termuda dan sudah melahirkan karya tingkat internasional, ketika poster itu masuk sudah membuat aku bertanya-tanya, kira-kira siapa orang yang seperti itu.
Aku coba lupakan sejenak soal guest star itu, setelah daftar ulang aku pun di perbolehkan masuk ke aula pertama. Tempatnya luas dan lebih mirip gedung orkestra dari pada sebuah aula biasa karena posisi tempat duduk yang di tata sedemikian rupa. Aku memilih tepat duduk agak di tengah yang mengarah lurus ke panggung, biar enak aja sih..
“Siapa ya kira-kira?”, gumamku pelan dengan nada penasaran

Akhir Cerita

0 0

#KMOIndonesia
#KMOBatch48
#Kelompok6
#BaswaraAksa
#Day30
Jumlah Kata : 449
Aku pun duduk di dalam aula utama, kondisi ruangan saat itu sedikit gelap karena yang menyala hanya lampu lampu kecil di sekitaran panggung. Aku dan semua peserta memainkan gawai masing-masing, suasana ruangan kala itu berisikan gemerlap cahaya gawai dari semua orang yang ada di sana.
Lampu utama tiba-tiba dinyalakan, mengarah tepat ke panggung berbarengan dengan lagu sambutan untuk semua peserta dan pembawa acara masuk ditengah-tengah panggung. Arah perhatian semua orang kini kembali ke panggung yang agak luas itu karena pembawa acara memberi tahukan run down acara dan siapa-siapa saja yang akn memberi sambutan. Setelah semua usai. Aku menyimak sambutan demi sambutan yang sesuai di beritahukan oleh pembawa acara.
Entah karena bosan atau karena aku kurang tidur, aku terkantuk-kantuk hampir ketiduran. Untung saja di tengah-tengah sambutan ada beberapa tampilan dari beberapa sekolah dari kota Malang dan kota-kota lainnya.
Hingga sampailah pada sambutan guest star semua orang berbisik pelan dan sesekali aku mendengar nama Putri di sela-sela bisik-bisik mereka.
“Itu Putri kah?”, bisik seseorang
“Aku harap begitu”
“Ah ... Nggak sabar dah”
Hatiku mulai penasaran, apa benar dia Putri? Nggak mungkin sih, ruangan kembali gelap dan layar monitor menunjukkan beberapa video dokumenter dari seseorang. Seperti pembuatan kufi dan hingga sampai lomba internasional. Namun tidak di tampilkan siapa dibalik itu semua.
Tiba-tiba salah satu lampu dari panggung menyorot ke satu orang di podium sambutan dan ternyata .....
Itu Putri .....
Semua orang bertepuk tangan dengan suka ria, kecuali aku yang masih diam membeku karena tidak percaya kalau itu benar-benar dia. Wajahnya jauh dari Putri yang aku kenal dulu, gaun yang ia kenakan dan tak lupa model hijab yang selalu ia kenakan, aku hafal betul soal itu.
“Putri..” gumamku tanpa terasa air mataku berlinang
Putri memberikan sedikit sambutan dan semangat kepada kami para peserta dan akan memberikan hadiah bonus jika ada karya yang terbaik. Jujur, waktu itu aku ingin naik panggung dan menyapanya dan bertanya kemana aja selama ini, tapi aku tak mampu karena kakiku membeku.
Setelah semua itu selesai, lomba berjalan seperti biasa dan aku masih belum bisa bertemu Putri. Bahkan sampai lomba berakhir itu pun aku coba tanya ke panitia, katanya Putri sudah tidak ada di stage karena ada panggilan mendadak untuk lomba di luar negeri.
Aku agak kecewa tapi aku mengerti, mungkin ini adalah hiburan Tuhan padaku yang selama ini sedih. Tak apa, yah ... aku akhiri ceritaku tentang Putri sampai disini, sampai sekarang aku masih belum bisa bertemu dia. Namun setidaknya aku tahu dia baik-baik saja itu sudah cukup membuatku bahagia, setelah aku lulus aku mencoba menyelidiki nomor yang sering mengirim pesan kepadaku.
Ternyata itu Putri, akhirnya dia mengaku dan mengakui hilangnya hari itu karena dia dibawa ke rumah sakit lain oleh keluarganya dan sekarang dia sudah sembuh sepenuhnya

Mungkin saja kamu suka

Miftahul Jannah
Kisah Arumi
Silvia Rif'aini
Bulan Suci di Kampung Damai
Lita Jelita
Lingkaran Setan
Maulid Dina Qur...
Rainbow Story
Jamal Irfani
Robot dari Ibu

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil