Loading
0

0

10

Genre : Romance
Penulis : Rindiana Novita
Bab : 31
Dibuat : 18 Agustus 2022
Pembaca : 4
Nama : Rindiana Novita Sari
Buku : 1

Me After You

Sinopsis

Bagaimana bisa, ketika rumah yang biasa dipenuhi dengan lantunan kalamullah kini dihuni oleh pria pecandu alkohol? Bahkan, tanpa direncanakan harapan wanita itu sirna ketika hidupnya diberikan pada imam keluarga yang justru jauh dari kata taat. Bagaimana bisa wanita itu percaya?
Tags :
#batch48 #kmo #perjuangan #inspirasi #percintaan #pernikahan

Prolog

0 0

#sarkatKMObatch48

#Kelompok6

#Baswaraaksa

#Day1

#264kata



°°°°°

Matahari tetap memancarkan cahayanya, meskipun tidak selalu ada orang yang memperhatikannya. Begitupun kehidupan Elsafina Madinah, gadis cantik yang kini sedang menyetorkan pesanan keripik tempe di warung Mbok Hayu. Dia tetap berjualan, mengajar ngaji, kuliah, meskipun dilihat dari ekonominya saja seperti tidak mampu untuk menyelesaikan kuliahnya.

Sekarang semua serba dipermudah. Jika takut tidak mampu membiayai kuliah, Elsa bisa mengandalkan beasiswa. Lagipula Elsa bisa diterima karena memang Elsa anak yang pandai dan rajin. Selain itu juga, dia sejak SMP memang sudah mempunyai impian untuk melanjutkan pendidikannya minimal S1. Dengan segala tekadnya, dia mampu menembus kuliah dengan jalur beasiswa. Diringankan biayanya, namun harus diganti dengan keseriusannya dalam belajar.

Dengan mengendarai sepeda peninggalan almarhumah ibunya, Elsa tetap bersyukur atas apapun yang menjadi takdirnya, toh, apapun yang ada di dunia ini murni hanya titipan. Elsa menaruh sepedanya tepat di depan warung Mbok Hayu. Dia mengambil keranjang kosong yang berada di warung, kemudian mengisi ulang keranjang itu dengan keripik tempe.

Terhitung sudah hampir lima tahun ini Elsa berjualan. Sejak ibunya meninggal, sampai sekarang diteruskan ke Elsa untuk menyambung usaha ibunya. Lumayan, minimal bisa untuk membiayai kehidupannya sehari-hari.

“Mbok, ini yang biasanya, ya?” ucap Elsa, kemudian menaruh keranjang itu di jajaran meja tempat Mbok Hayu berjualan.

“Iya,” ucap Mbok Hayu ramah, kemudian memberikan beberapa lembar uang hasil dari penjualan keripik tempe milik Elsa.

“Terima kasih, Mbok. Elsa sekalian pamit dulu, ya? Assalamu’alaikum,” salam Elsa, kemudian dijawab oleh Mbok Hayu.

Elsa baru mau menggayuh sepedanya, namun beberapa saat ada seseorang yang tengah memanggilnya. Sontak Elsa berhenti dan mencari sumber suara. Begitu pandangan Elsa bertemu, seuntai senyuman terbit di bibir manis Elsa.

“Ya?”




Kehidupan Elsafina

0 0

#sarkatKMObatch48

#Kelompok6

#Baswaraaksa

#Day1

#946kata



°°°°°

Awan masih sangatlah terik. Matahari tepat di atas kepala, jam pun menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Beberapa saat kemudian azan bergema, menandakan bahwa sudah masuk solat duhur.

“Nak, solat duhur dulu,” teriak laki-laki berumur 58 itu dari depan rumah.

“Iya Pak,” jawab gadis itu.

Gadis itu mematikan kompor, kemudian bergegas menuju ke kamar mandi untuk bersiap solat duhur. Namanya Elsafina Madinah, puteri dari bapak Irham yang masih berumur 23 tahun. Gadis penurut, cantik, dan sopan itu sekarang sudah menduduki semester akhir.

Elsa menunaikan solat duhur di rumah. Sementara bapaknya, begitu mendengar azan juga langsung berangkat ke mushola dekat dengan rumahnya. Bapak memang sejak dulu sudah menerapkan solat tepat waktu. Untuk tidak menunda waktu, dan menyegerakan solat begitu mendnegar azan berkumandang.

Manusia tak lepas dari ketidak sempurnaan. Meskipun memiliki ciri gadis yang penurut, cantik, dan juga sopan. Namun Elsa juga manusia, yang jauh dari kesempurnaan. Keluarganya bukan tergolong dari keluaraga yang berada. Ekonomi masih terbilang minim, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu juga, Elsa ini juga kurang kasih sayang dari seorang ibu. Sebab sejak beberapa tahun yang lalu, ibunya meninggal karena sakit. Hal itulah yang mengharuskan Elsa harus hidup mandiri bersama dengan bapaknya.

Sikap dan kepribadian Elsa memang baik. Namun juga layaknya seorang manusia, dia juga bisa marah ataupun kesal. Kadang bisa dia tenangkan sendiri, namun kadang juga dia lampiaskan. Misalnya dengan menangis atau hal-hal lainnya.

Sudah hampir tiga puluh menit, Elsa berdiam diri di kamarnya. Usai solat tadi, Elsa melakukan rutinitasnya, yakni menghafal ayat al quran beberapa ayat. Dia belum menjadi penghafal al quran tiga puluh juz. Baru surat-surat pilihan saja, sebab memang Elsa belum menemukan niat yang sesungguhnya bagaimana menjadi penghafal al quran itu.

Namun, meski begitu setiap harinya dia selalu mengajar di yayasan milik Kyai Abdurrahman. Meski belum menjadi penghafal namun, Elsa mengamalkan sedikit demi sedikit ilmu pada al quran. Mulai dari tajwidnya, cara membacanya dari ilmu nahwu, atau menafsirkan dari al quran. Sebenarnya belum banyak yang Elsa tahu, tapi dari sedikit yang Elsa tahu, di situlah Elsa memiliki kesempatan untuk mengajarkannya. Bersama-sama.

"Assalamu'alaikum," salam Bapak saat masuk ke dalam rumah.

Elsa beranjak, lalu melepas mukenanya dan mengganti dengan hijab. Kemudian melangkahkan kaki menuju ke pintu depan.

"Wa'alaikumussalam Waarahmatullah. Bapak, Elsa sebentar lagi mau ke tempatnya bu Irma. Kemarin pesan lima bungkus keripik tempe. Katanya mau dibawa ke tempat saudaranya," kata Elsa begitu menjumpai Bapaknya yang baru masuk ke dalam rumah.

"Iya, nak. Bapak di rumah, ya, soalnya jam dua nanti harus sampai di yayasan. Kyai ngajak Bapak ke acara di pesantren," kata Bapak.

"Pesantren mana, pak?" tanya Elsa.

"Itu, pesantren Manbaul Ilmi, di luar kota. Kyai ada undangan. Lalu minta bapak untuk menemaninya," kata Bapak menjelaskan.

"Oh, begitu. Lalu ada yang perlu Elsa persiapkan buat bapak?" tanya Elsa.

"Sudah cukup. Sepertinya tidak ada," kata Bapak.

"Kalau begitu Elsa pamit ya, Pak, assalamu'alaikum," salam Elsa sambil mencium tangan Bapaknya.

Setelah itu Elsa mengambil tas di atas meja ruang tamunya yang berisi pesanan Bu Irma. Lalu setelah itu dia mengambil sepedanya dan melaju menuju ke tempat tujuannya.

Usaha dagang milik Elsa ini memang tidak begitu besar. Namun, meski seperti itu dia sudah punya beberapa langganan tetap yang setiap harinya dia setori. Hasilnya pun meski tidak banyak tetapi syukur selalu ada untungnya meski tidak banyak. Elsa sendiri juga pintar dalam memanajemen uang. Setiap harinya dia selalu mengusahakan untuk menabung lima belas ribu setiap harinya. Meskipun hanya sedikit, namun hal itu selalu rutin Elsa lakukan. Elsa memiliki prinsip jika hal sekecil apapun jika ditelateni bisa menjadi hal yang besar.

Misalnya dari tabungannya yang lima belas ribu itu dalam sehari. Jika dikalikan dalam satu bulan, itu bisa mencapai kurang lebih empat ratus lima puluh ribu. Dan kalau empat ratus lima puluh ribu itu dikalikan dalam setahun, kemungkinan hasilnya kurang lebih bisa mencapai lima juta empat puluh ribu. Jumlahnya mungkin kecil namun, uang itu bisa Elsa gunakan untuk hal-hal yang Elsa butuhkan. Atau bisa diandalkan di saat ada keperluan mendesak.

Jarak antara rumah Elsa dengan Bu Irma memang tidak terlalu jauh. Hanya perlu dua puluh menit untuk sampai. Sebab kecepatan sepeda tidak bisa diajak kompromi jika keadaan sangat mendesak. Elsa melajunya juga santai saja. Tidak terburu-buru, karena Elsa sangat mengutamakan keselamatan.

"Assalamu'alaikum Bu Irma," salam Elsa begitu sampai di tempat Bu Irma.

Pintu rumahnya tertutup. Namun Elsa yakini masih ada orang di rumah sebab masih ada motor milik Bu Irma di depan rumahnya.

"Bu Irma, ini Elsa," teriak Elsa.

"Ya, wa'alaikumussalam Waarahmatullah. Sebentar nak," teriak seseorang dari dalam rumah.

Elsa menunggu ibu Irma dengan duduk di kursi depan rumahnya. Sambil menunggu Bu Irma datang, Elsa melihat lingkungan rumah bu Irma yang saat itu sedang sepi. Maklum, siang hari memang di desa kadang juga sepi. Jam-jam istirahat.

Beberapa saat kemudian Elsa mendengar motor melaju dengan kencang. Bising, hingga mengganggu gendang telinga Elsa. Elsa sontak berdiri, melihat pelaku yang saat itu melaju dengan kencang.

Mata Elsa mendapati tiga motor besar, yang Elsa prediksi harga motornya saja tidak bisa dibeli dengan tabungan Elsa seumur hidupnya. Mahal-mahal pastinya.

"Astaghfirullah," pekik Bu Irma sambil muncul dari balik pintu.

"Itu orang nggak ada adab apa, ya?" tanya Bu Irma meluapkan kekesalannya.

"Maklumlah, Bu," kata Elsa diiringi dengan senyuman.

"Besok-besok gapura RT mau saya tutup. Biar mereka-mereka nggak ganggu. Kebiasaan banget," kata Bu Irma selanjutnya.

"Gimana nutupnya, bu?" tanya Elsa basa-basi.

"Ya nggak tahu sih, hehe," Bu Irma meringis.

"Ya habisnya kesel banget dengernya," ucap Bu Irma.

Elsa yang mendapati Bu Irma meringis itu kembali tersenyum. Sebab kekesalan Bu Irma sebelumnya bisa dengan gampang hilang hanya karena ditanyakan hal-hal random yang sulit dijawab olehnya. Hal itu membuat Elsa salut dan membuat Elsa heran pada dirinya sendiri, sebab ada masa di mana Elsa sedang marah, namun untuk menahan amarahnya saja masih sulit Elsa lakukan.



TO BE CONTINUE

Terima kasih yang sudah mampir

Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya


Fii Amanillah




Perjuangan Elsa

0 0

#sarapankata

#KMObatch48

#Kelompok6

#Baswaraaksa

#Day2

#454kata



°°°°°

Bintang berpijar dengan indah. Lampu malam pemilik rumah-rumah sudah sempurna menyala semua. Begitu juga dengan rumah Elsa. Jam sudah menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh lima menit. Menandakan jika sebentar lagi azan magrib akan berkumandang.

Elsa masih sibuk di dapurnya. Dia sedang menghangatkan masakannya yang sudah dimasak pagi tadi. Hanya menambahkan lauk baru yang menurutnya cocok untuk disantap saat malam nanti bersama dengan Bapaknya. Hampir setiap hari seperti itu.

Bapaknya Elsa belum juga pulang dari yayasan. Katanya, memang acara itu agak lama. Lagi pula Bapak juga berangkatnya jam dua siang tadi.

ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR

Gema azan sudah terdengar dengan nyaring. Memang masjid di tempat Elsa ini hanya ada satu. Letaknya tidak jauh dari rumah Elsa. Masjid itu juga terbilang besar di antara RT lainnya, yakni terbesar di desa Elsa. Masjid yayasan lebih besar, namun letaknya beda desa dari rumah Elsa.

Pas sekali. Saat mendengar azan, Elsa sudah menyelesaikan tugasnya di dapur. Hanya tinggal menutup makanan itu dengan tudungnya, lalu meninggalkan dapur dan dengan segera melaksanakan solat magrib.

Elsa mengambil air wudu terlebih dahulu. Posisi dapur dengan kamar mandi juga searah, dalam arti masih menjadi satu tempat meski hanya ada sekat tembok yang menghalangi. Setelah selesai wudhu, Elsa menuju ke depan sebentar untuk menutup jendela yang lupa dia tutup dan mengunci pintu depan.

"Bapak belum juga pulang," lirih Elsa sembari menutup jendela.

Setelah itu Elsa menunaikan solat magrib di kamarnya sendirian.

Elsa ini anak piatu yang ditinggal oleh Ibunya sejak Elsa masih duduk di SMA. Saat itu Elsa sedang ujian nasional hari terakhir. Tepat jam delapan pagi, ibunya dikabarkan meninggal karena sakit. Memang saat itu, ibunya sudah sakit-sakitan. Dan saat ibunya tiada, pihak sekolah merahasiakan kabar itu sebentar sampai Elsa selesai mengerjakan ujian terakhirnya.

Dibilang sulit memang sulit. Elsa harus berjuang dan giat belajar di waktu ibunya juga sedang berjuang pada sakitnya. Perjuangan itu benar-benar menjadi hal besar yang pernah Elsa lalui. Bertahan di saat ibunya mempertaruhkan nyawanya. Sebenarnya memang Ibunya Elsa menahan sakit sejak lama. Entah sakit apa, yang jelas tidak pernah diperiksakan pada dokter. Ibu selalu menolak tiap kali diperiksa. Biasanya setiap hari Ibu hanya mengkonsumsi obat-obat warung atau membuat ramuan herbal.

Lulus SMA ini Elsa tidak akan melanjutkan pendidikannya lagi. Namun, Ibunya hampir setiap hari memberikan dorongan jika Elsa harus melanjutkan pendidikannya. Dengan melihat keadaan Ibu yang seperti itu, Elsa putuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya.

"Ibu maunya kamu kuliah, nak," kata Ibu.

"Tapi, Elsa maunya di sini. Nemenin Ibu. Ibu perlu istirahat yang banyak. Nanti biar Elsa yang lanjutin usahanya," lanjut Elsa.

"Hei, nggak boleh begitu. Elsa harus lanjut menuntut ilmu. Elsa harus semangat cari ilmu. Ibu yakin Elsa mampu. Nggak ada yang enggak mungkin kalai Elsa sudah bertekad. Ya?" bujuk Ibu.

Elsa hanya diam saja dengan sesekali tersenyum pada Ibunya.


TO BE CONTINUE

Terima kasih yang sudah mampir

Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah



Ilmu Tajwid

0 0

#sarapankata

#KMObatch48

#Kelompok6

#Baswaraaksa

#Day3

#497kata



°°°°°

“Assalamu’alaikum,” suara dari balik pintu terdengar nyaring di telinga Elsa.

Elsa tersadar dari lamunannya di saat dia tengah teringat oleh almarhumah ibunya. Elsa biasanya akan teringat di setiap selesai solat. Terlebih saat dia di rumah sendirian, di situlah Elsa mampu merasakan jika dirinya merindukan sosok ibunya.

“Astagfirullah,” ucap Elsa sembari menggelengkan kepala.

Elsa baru tersadar jika usai solat tadi dia tidak segera membaca tahlil, berdoa atau membaca al quran. Namun justru dia melamun. Melamunkan takdir Allah yang sedang bergerak dengan semestinya.

“Iya, waalaikumussalam waarahmatullah,” jawab Elsa lalu berdiri dari duduknya.

Elsa tidak melepas mukenannya namun, dengan segera dia menghampiri orang di balik pintu yang tadi mengucap salam. Yang tidak lain adalah bapaknya. Dengan siap dan sigap Elsa mendahulukan perintah tersebut.

“Waalaikumussalam bapak,” ucap Elsa lalu mencium punggung tangan bapaknya.

Elsa dan Bapak masuk ke dalam rumah.

“Bapak tadi masih solat di yayasan. Udah pulang sebelum magrib,” kata Bapak sambil merebahkan diri di kursi rumahnya.

“Bapak mau makan atau mau istirahat dulu?” tanya Elsa.

Bapak memejamkan matanya sebentar sambil menarik napas dalam-dalam seolah membuang rasa lelahnya lewat napas yang kemudian dibuangnya.

Elsa diam, tidak mengatakan hal apapun karena menyadari jika Bapaknya tengah kelelahan. Bapak terlelap dalam tidurnya yang masih di posisi duduk dengan bersandar di kursi.

Sebenarnya kepergian bapaknya ini tidak terlalu lama ataupun jauh. Mungkin hanya tiga puluh menit di perjalanan dan hanya perlu satu jam acara. Sebab usai solat magrib, di yayasan Kyai juga ada acara yang mengharuskan Kyai harus segera berada di yayasan.

Di pondok pesantren yang di hadiri Kyai Abdurrahman ini sedang ada acara pengesahan gedung asrama barunya yang baru diberi nama. Kebetulan saja beliau-pemilik pondok- itu adalah teman akrabnya Kyai Abdurrahman. Dan teman bapaknya Elsa juga. Untuk itu kehadiran mereka sangat diharapkan di sana.

Elsa kembali ke kamarnya begitu mendapati Bapaknya tertidur. Setelah itu Elsa melipat kembali mukenannya lalu mengganti dengan hijab. Baru setelah itu Elsa mengambil al qurannya, dan kembali duduk di ruang tamu. Lebih tepatnya di dekat bapaknya.

Elsa membaca al quran tersebut dengan suara yang lirih.

“Audzubillahiminnasyaitonirrojim…,” baca Elsa dengan khidmah.

Elsa membaca al quran dari halaman ke halaman berikutnya. Dia hampir setiap hari bermurojaah di rumahnya setiap selesai menunaikan solat lima waktu. Tidak selalu banyak lembaran yang Elsa baca, mungkin hanya beberapa saja. Namun, Elsa ini lebih mengedepankan keistiqomahan daripada kecepatan dalam membaca al quran. Dengan memperhatikan huruf, tanda baca, dan juga ilmu tajwidnya, bacaan Elsa seolah enak didengar meskipun tidak menggunakan nada.

Ilmu tajwid ini adalah ilmu yang mempelajari bacaan-bacaan al quran. Misalnya bagaimana melafazhkan huruf hijaiyyah dengan baik sesuai makhraj dan sifatnya. Selain itu juga untuk memelihara kemurnian al quran. Dan juga untuk menjaga dari kesalahan lisan agar tidak berakibatkan dosa.

Yang jelas, manfaat mempelajari tajwid yang utama adalah menghindari kesalahan dan perubahan makna saat membaca ayat-ayat Al-qur'an. Karena kesalahan pembacaan harakat atau hurufnya saja bisa menyebabkan perubahan arti yang berbeda dan fatal. Meski pengetahuan Elsa baru sedikit namun, dari sedikitnya ilmu yang Elsa ketahui itu Elsa mengamalkannya saat mengajar TPA, dan saat dia membaca al quran.



TO BE CONTINUE

Terima kasih yang sudah mampir

Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya


Fii Amanillah

Tragedi

0 0

#sarapankata

#KMObatch48

#Kelompok6

#Baswaraaksa

#Day4

#433kata



°°°°°

“Nak Elsa…,” panggil Bapak.

“Shodaqallahuladzim.” Dengan segera Elsa menutup mushafnya lalu menghampiri Bapaknya yang berada di sampingnya.

Bapak masih memejamkan mata, namun jarinya mengurut pelan kepalanya.

“Iya, bapak,” ucap Elsa.

“Ada obat sakit kepala, nggak? Kepala bapak pusing, nih,” ucap Elsa.

Elsa beranjak lalu mencari obat di dalam kotak yang berada di laci meja dekat dengan televisi. Elsa mencari-carinya namun tidak ada. Dengan segera Elsa mengambil uang, lalu meminta izin pada bapaknya untuk membelikan sebentar di apotik.

“Elsa belikan dulu. Bapak tunggu, ya, assalamualaikum,” salam Elsa kemudian berlalu meninggalkan bapaknya yang masih duduk di kursi itu.

Azan isya memang sudah terdengar sejak sepuluh menit tadi. Namun, bukan karena tidak ingin menyegerakan salat, tetapi ada perintah dari Bapak yang benar-benar tidak bisa Elsa tinggalkan. Elsa menaiki sepedanya, lalu mengayuh sepeda itu menuju ke apotek.

Apotek memang lumayan jauh dari rumah Elsa. Tempatnya hampir sama jauhnya dengan yayasan. Bahkan lebih jauh dari yayasan. Sebab untuk sampai ke apotek, Elsa harus melalui yayasan itu.

Kyai memang mengusahakan pulang terlebih dahulu sebab setiap malam jumat Kyai selalu memimpin acara tahlil dan dilanjutkan dengan mengaji atau bersolawat. Seperti yang sempat Elsa lihat ketika melintasi yayasan, jamaah salat isya memang terlihat banyak dari biasanya. Itu karena banyak orang luar yayasan yang ikut acara mengaji.

Sekarang jam sudah menunjukkan jika waktu salat isya sudah masuk sejak tadi. Dengan segera Elsa kembali pulang setelah apa yang dia butuhkan telah terpenuhi. Elsa kembali menggayuh sepeda miliknya. Berusaha lebih cepat karena ada dua kebutuhan yang harus segera Elsa tunaikan. Satu, salatnya. Dan yang kedua adalah obat untuk Bapaknya.

Saat Elsa menggayuh sepeda menuju ke jalanan, Elsa menyadari sesuatu jika saat itu jalanan memang sedang sepi sebab orang-orang masih berada di masjid. Namun tiba-tiba saja Elsa berhenti.

“Astagfirullah, itu apa?” gumam Elsa.

Elsa masih melihat dari kejauhan. Memandanginya lamat-lamat. Sebenarnya dalam hati Elsa sendiri merasa tidak tenang karena takut. Elsa sendiri jarang, bahkan tidak pernah keluar malam sendirian. Apalagi jam sudah hampir menunjukkan jika salat isya sudah selesai. Bagi Elsa ini sudah sangat malam.

Elsa turun dari sepedanya. Kemudian menjagang sepeda itu dan berjalan sedikit mendekat. Di sana, dihadapan Elsa ada orang yang baru saja terjatuh dari motor. Anehnya, bukan tabrakan atau benar-benar terjatuh. Dia seperti sengaja menjatuhkan diri dari motor. Bahkan, dia sekarang tidak berusaha untuk bangun.

Awalnya Elsa ragu untuk menolongnya karena jalanan itu sepi dan orang yang terjatuh adalah seorang pria. Tidak mungkin dia akan berdua-duaan dengan seorang lelaki di tempat yang sepi di malam hari. Tapi, keadaan itu sangat darurat.

“Ya Allah, Elsa harus bagaimana?” lirih Elsa sambil memandang ke arah langit, lalu kembali menatap pria yang tengah mengaduh kesakitan.



TO BE CONTINUE

Terima kasih yang sudah mampir

Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah


Kejadian

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day5
#576kata

°°°

Saat Elsa tengah memikirkan apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba saja Elsa mendengar suara lirih tangisan yang tidak lain adalah suara dari pria itu. Dia menangis, lirih, bahkan nyaris tidak terdengar. Pria itu memegangi kepalanya, sesekali membenturkan kepalanya di tanah. Motor besarnya yang menindih kakinya itu masih berbunyi.
“Bismillah,” ucap Elsa dengan tekad untuk membantunya.
Elsa berjalan mendekati pria itu. Sambil berjaga-jaga jika saja pria itu hanya berpura-pura. Elsa masih sesekali berteriak meminta tolong orang di sekitar. Namun karena keadaannya sepi, dan Elsa juga sudah jauh dari area apotek tadi maka Elsa sendiri berjalan mendekat.
“Siapapun, tolong!” teriak Elsa, lagi dan lagi.
Elsa berlari lagi menjauh dari pria itu. Ke sana ke mari mencari pertolongan. Ada perasaan ragu saat Elsa mendekat. Namun, di saat mata Elsa melihat pria itu semakin mengaduh dan mengencangkan teriak tangisannya, Elsa kembali berlari mendekat.
“Astagfirullah, mas. Bagaimana bisa begini,” nada suara Elsa terdengar bergetar.
Saat itu Elsa berusaha untuk membangunkan motornya terlebih dahulu. Setelah itu barulah Elsa menolong pria yang menutup kepalanya dengan kedua tangannya. Pria itu masih merintih kesakitan. Meski begitu, dia berusaha bangun yang hendak memegang kakinya yang sempat tertindih motor tadi.
“Sakit,” rintihnya.
Elsa dengan segera mendekat dan sebenarnya Elsa bingung harus membantunya dengan cara bagaimana. Elsa tidak bisa melakukannya sendiri.
“Mas,” panggil Elsa.
Elsa berusaha untuk membantu membangunkan tubuh pria itu. Namun saat Elsa sudah berada di depannya, secara sengaja pria itu justru memeluk Elsa. Pelukan itu sangat kuat, hingga aksi itu benar-benar membuat Elsa tercengang.
“Sakit,” lirih pria itu dalam pelukan Elsa.
“Mas,”
Elsa berontak dari pelukan itu. Meskipun tenaga pria itu semakin melemah, namun tetap saja pelukannya kuat bagi Elsa yang bertenaga perempuan ini. Elsa berusaha melepaskan pelukan itu, namun pria itu seolah menyandarkan semua bebannya pada Elsa. Elsa mampu merasakan tubuh pria itu yang berat. Hingga untuk membangkitkan kembali tubuhnya saja sulit Elsa lakukan.
“Allahuakbar … astagfiruulah,” Elsa menitikan air mata.
Elsa menangis. Elsa benar-benar takut dengan keadaan ini. Elsa menyesal karena harus terjebak pada situasi yang mencengangkan. Elsa tidak tahu harus bagaimana. Sekuat tenaga Elsa berusaha untuk melepaskan dekapan itu. Namun tetap saja hasilnya tidak ada. Elsa hanya mampu memohon kepada pria di depannya, namun pria itu seolah tidak mampu mendengarkan. Pria itu abai terhadap tangisan Elsa.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu,” lirih Elsa yang masih diiringi dengan tangisan.
Baru setelah itu Elsa mencoba untuk meminta pertolongan lagi. Dengan tenaga yang masih Elsa punya, dia berteriak meminta bantuan pada orang sekitar. Sementara pria itu tubuhnya melemah dalam tubuh Elsa, seolah-olah raganya sudah menumpu pada Elsa. Elsa sendiri merasakan berat.
“Sakit,” sejak tadi hanya kata itu yang dilontarkan oleh sang pria itu.
“Tolong!” teriak Elsa diiringi dengan isak tangisan. Elsa menunduk. Lelah rasanya.
“Astagfirullah,” suara itu terdengar dari jauh saat Elsa menundukkan kepalanya.
Buru-buru Elsa mendongakkan kepala saat dia mendnegar suara yang muncul dari arah belakang Elsa.
“Astagfirullah, apa ini?” tanya suara orang di belakang Elsa, yang Elsa tebak adalah suara khas milik bapak-bapak.
“Tolong,” lirih Elsa, sambil mencoba melepaskan dekapan itu.
Pria itu mendongak, hal itu mampu Elsa rasakan saat kepalanya tiba-tiba bergerak.
“Subhanallah, apa yang kalian lakukan?” tanya salah satu dari bapak-bapak ittu.
Dan saat itulah, Elsa merasakan sesuatu hal yang akan terjadi. Suatu hal besar yang akan menimpa Elsa. Ketakutan Elsa seolah terjadi, jika saja ada satu laki-laki dan satu wanita berdua-duaan di tempat yang sepi, maka jika bukan setan yang menjadi pihak ketiga maka fitnah yang akan menjadi di antaranya. Elsa takut, akan ada fitnah di antara Elsa dengan pria itu.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Kepergok Warga

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day6
#504kata

°°°

Subhanallah, maha suci Allah. Allah tidak melakukan hal-hal yang tidak baik.
Orang-orang yang memergoki Elsa dan juga pria itu datang mendekat. Entah mengapa, mereka memperlihatkan wajah geramnya, seolah-olah akan memarahi Elsa dan juga pria itu. Saat orang-orang semakin dekat, pria itu melepas dekapannya yang sontak membuat Elsa langsung terbangun dan berdiri.
“Loh, ini Elsa,” ucap salah satu warga.
Setelah Elsa mengetahui, ternyata di sana ada tiga orang yang berdiri tepat dihadapan Elsa. Elsa sontak langsung tertunduk. Sementara pria itu masih duduk di temapt di mana dia terjatuh. Sepertinya untuk berdiri memang sulit dia lakukan.
“Astagfirullah nak Elsa … apa yang kalian lakukan?”
Sudah pasti para warga mengenal Elsa. Bagaimana tidak, Elsa ini adalah orang yang setiap harinya mengajar ngaji di yayasan. Selain itu juga, para warga sekitar yayasan pun sudah pasti mengenal bapaknya, Pak Rahman. Apalagi keluaga Elsa ini dikenal baik oleh masyarakat.
“Pak, saya bisa ceritakan kejadiannya,” ucap Elsa dengan tergesa.
Lalu beberapa jamaah isya pulang dari masjid. Mereka ikut bergabung, dan berkerumun di tempat itu.
“Ada apa, pak?”
“Tadi saat kami lewat sini, tiba-tiba saja ada dua orang ini yang sedang berpelukan. Ternyata Elsa sama pria ini. saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu.” Saat salah satu warga menjelaskan hal itu, Elsa hanya tertunduk. Air matanya sejak tadi terus saja mengalir.
“Saya akan menjelaskan,” ucap Elsa sembari mendongak menatap orang-orang.
“Silakan dijelaskan, tapi lebih baik dijelaskan di tempatnya Kyai saja. Mari ke sana,”
“Gue nggak mau.”
Pria itu menolak. Dia masih duduk di tanah. Sontak orang-orang menatapnya heran dan geram.
“Harusnya kalian dengarkan dulu penjelasan cewek ini. kejadiannya nggak seperti yang kalian lihat,” sarkas pria itu.
Sejak tadi Elsa hanya menunduk dengan diam saja. Elsa benar-benar takut jika saja orang-orang berpikiran lain. Sebab bagaimanapun, sebenarnya kejadiannya tidak seperti yang dilihat. Sebenarnya Elsa menurut saja jika harus menjelaskan di tempat Kyai. Mau bagaimanapun Elsa yakin jika Kyai bisa mengerti.
Satu orang akan memiliki beda pandangan dari orang lain. Sedangkan yang berada di sana sudah lebih dari lima orang. Jika beberapa orang memiliki pandangan baik. Sudah pasti yang lain memiliki pandangan lain.
“Sama saja, kan? Di sini dia akan menjelaskan, di sana nanti dia juga akan menjelaskan,” jawab salah satu warga.
“Kalian nggak ngerti, cewek ini barusaja nolongin gue dari jatuh. Gue nggak bisa bangun gara-gara tadi motornya nindih kaki gue. Cewek ini hanya nolong gue,” pria itu menjelaskan.
“Ya, kalau dia menolong … tapi, gimana ceritanya kok sampai peluk-pelukan? Astagfirullah,” warga itu seolah miris melihat kejadian Elsa dengan pria itu.
“Ya,” kata Elsa sambil mengangguk-angguk, “baiknya saya jelaskan di tempat Pak Kyai. Lebih cepat lebih baik,” ucap Elsa seolah pasrah dengan situasi seperti itu.
Setelah itu warga yang berada di sana ikut mengantarkan Elsa dan juga pria itu.
“Gue nggak bisa berdiri,” kata pria itu. Wajahnya tampak kesal pada warga,
“Kami akan bantu,” ucap salah satu warga.
Pria yang masih kesulitan untuk berdiri itu dibantu oleh warga. Mereka meninggalkan motor dan sepedanya di tempat kejadian. Dengan jalan yang susah payah, pria itu dibantu warga dan mengikuti warga menuju ke rumah Kyai. Di Yayasan.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Tenang

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day7
#524kata

°°°

Dinding-dinding putih berhiaskan figura bergambar ka’bah, masjid, dan beberapa foto di ruang tamu itu terlihat serasi dengan nuansa yayasan. Lantai yang bersih, suasana yang seolah mampu memberi kenyamanan di dalam hati mampu membuat air mata Elsa berhenti sejenak. Meskipun tetap saja, pikiran Elsa tidak bisa tenang.
“Semua akan baik-baik saja, insyaallah,” batin Elsa.
Tiba-tiba saja Elsa teringat sesuatu hingga membuat dia mendongak dan menoleh ke belakang.
“Bapak! Pak, saya mau kasih obat ke Bapak sebentar,” ucap Elsa seolah meminta izin pada orang yang berada di belakang Elsa.
Posisi Elsa sekarang yaitu duduk di kursi tamu, bersama dengan pria itu yang berdiri di depan Elsa, dengan sekat meja pastinya. Sekarang beberapa warga dengan Elsa dan juga pria itu tenga menunggu Kyai Abdurrahman yang masih di masjid. Mereka sedang menunggu kedatangannya.
“Bapakmu akan ke sini. Pak Soleh sudah memanggil Bapakmu,” mendengar hal tersebut, Elsa tampak terkejut. Bagaimana bisa bapaknya ke sini? Sementara sekarang beliau sedang sakit.
“Bapak saya sakit, Pak. Tadi saya keluar buat beli obat untuk beliau,” Elsa tampak khawatir begitu mengatakan.
Bahkan yang diajak berbicara tidak menanggapi sama sekali. Dia diam, yang jujur saja membuat Elsa lebih cemas dari sebelumnya.
Sementara pria yang berada di seberang Elsa sejak tadi dia memilih diam dan sesekali meringgis kesakitan. Elsa memilih untuk tidak mengajaknya berbicara. Elsa takut jika nanti akan menimbulkan fitnah selanjutnya. Apalagi Elsa dan pria itu tidak saling mengenal.
Sembari menunggu kedatangan Kyai, Elsa tidak henti-hentinya untuk melangitkan kalimat takbir. Elsa yakin, apapun yang terjadi berikutnya adalah kuasa Allah. Elsa juga yakin, jika Kyai yang turun tangan insyaallah semua akan baik-baik saja. Ya, Elsa yakin itu.
“Ambilin gue minum,” ucap pria itu tiba-tiba.
Semua mata menoleh padanya. Elsa sendiri juga paham apa yang sedang dirasakan. Tanpa menunggu lama bapak-bapak yang tadi duduk didekatnya bangkit lalu mengambil minum untuk pria itu, dan juga untuk Elsa.
Elsa teringat sesuatu. Saat tadi Elsa menolong pria itu, Elsa merasakan jika saja pria itu sedang dalam kesadaran penuh. Maksudnya, tidak dalam keadaan mabuk. Elsa tidak mencium aroma minuman keras, bahkan pria itu sempat membela dan berdebat dengan warga. Yang jadi pertanyaan, kenapa tiba-tiba saja pria itu memeluk Elsa?
Saat Elsa memikirkan sesuatu, bapaknya datang dengan mengucapkan salam. Hal itu sontak membuat Elsa benar-benar terkejut dan khawatir terhadap bapaknya. Elsa bangkit dan menghampiri bapaknya.
“Bapak,” lirih Elsa sembari memeluk bapaknya.
Elsa mendekap kuat tubuh Bapaknya. Air matanya kembali mengalir. Dia seolah meluapkan kesedihan dan ketakutannya pada Bapak Rahman. Semua mata menyaksikan hal yang dilakukan Elsa dengan bapaknya. Termasuk pria itu.
“Semua akan baik-baik saja.” Bapak mencoba menenangkan Elsa dengan mengelus kepala Elsa dengan lembut. Elsa membalasnya dengan anggukan.
“Tapi bapak percaya Elsa, kan? Elsa tidak mungkin melakukan hal itu.” Elsa mencoba untuk meyakinkan Bapak jika saja dirinya tidak bersalah.
“Bapak percaya. Bapak yakin, Allah akan senantiasa melindungi kita,” ucap Bapak dengan senyuman.
Selalu saja begitu. Pak Rahman selalu bisa tampak tenang dan menenangkan di setiap kali berada di situasi yang mencengangkan. Bahkan, di saat keadaannya sedang kurang sehat.
Elsa mengambil minum di meja sisanyanya tadi. Lalu menyodorkan gelas berisi air putih itu dan mengajaknya untuk duduk.
“Bapak minum obat dulu, ya? Ini obatnya,” kata Elsa, lalu memberikan obat itu pada bapaknya.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Berbohong

0 0

#PR
#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day8
#531kata

°°°

Tidak sampai menunggu terlalu lama, kini Kyai sudah datang menuju ke ruang tamu. Tepat di rumahnya. Kyai memang sering balik akhir ketika jamaah sudah balik dari solat, biasanya Kyai masih duduk sebentar di masjid. Entah untuk mengaji, iktikaf, atau untuk berbincang dengan orang-orang yang menginginkan nasihat Kyai.
Panggilan Kyai ini biasa dilontarkan oleh anak-anak yayasan. Meski tidak menetap di Yayasan tapi Elsa dan keluarganya juga memanggilnya dengan sebutan tersebut. Sementara warga sekitar lebih akrab memanggil beliau dengan sebutan “Abah”. Usia beliau memang sudah tidak muda lagi. Sebab sekarang saja usiannya sudah menginjak enam puluh sembilan.
“Assalamualaikum,” salam Kyai begitu masuk dan mendapati keramaian di rumahnya.
Memang di rumah Kyai saat ini tengah dipenuhi dengan orang-orang yang sejak tadi ingin meluruskan apa yang telah terjadi pada Elsa dan pria tersebut. Jika boleh jujur, beberapa dari mereka memilih untuk percaya dengan kejadian tersebut. Namun dari kalangan lain memilih untuk menilainnya dengan sebuah ketidaksengajaan.
Setelah mendengar jawaban salam dari orang-orang di ruang tamu, Kyai berjalan dan ikut duduk di jajaran kursi paling depan yang seolah menjadi hakim dalam sebuah sidang.
“Ada apa? Loh, Pak Rahman.” Kyai baru menyadari jika yang sedang duduk di depannya kini adalah Pak Rahman, bapaknya Elsa. Padahal baru sore tadi mereka bertemu. Pak Rahman memilih diam karena tidak mengetahui apa-apa.
“Saya tadi menyaksikan kejadian yang tidak baik di jalan, Pak,”
“Elsa dan pria ini, pelukan di tempat gelap dan sepi,” tiba-tiba warga mengucapkan hal itu yang mampu membuat hati Elsa mencelos. Samar-samar terdengar Kyai melangitkan istigfar.
“Kami tidak tahu jelas bagaimana kejadiannya. Yang jelas mereka sudah berpelukan. Saya tidak bisa berpikir apa yang akan terjadi jika saja kami tidak segera memergokinya,” ucapan salah satu warga mampu membuat Bapak tiba-tiba menoleh melihat Elsa lalu menatap ke arah pria itu.
Kyai tidak langsung menyimpulkan begitu saja. Meskipun banyak warga yang datang, dan beberapa yang mendukung ungkapan tersebut.
“Benar, nak?” tanya Kyai pada Elsa. Dengan segera Elsa menggelengkan kepala.
“Ngaku saja, nak,” ucapan dari warga yang terdengar sudah geram.
“Sebentar, biar Nak Elsa jelaskan dulu.” Kyai mencegah terjadinya perseteruan. Beliau meminta Elsa dengan segera untuk menjelaskan kronologinya.
Dengan sangat jelas Elsa menceritakan kronologi tersebut. mulai dari bapaknya pulang dari yayasan lalu sakit. Saat Bapak merasakan pusing kepala dan meminta Elsa untuk mencarikan obat. Elsa juga menceritakan saat dia berniat untuk pergi membeli obat ke apotik. Sepulangnya dari apotik, Elsa melihat seorang pria yang tiba-tiba saja terjatuh dari motor. Elsa menjelaskan bagaimana posisi pria itu terjatuh.
“Saya sudah mencoba untuk mencari bantuan. Saya melihat di sekeliling tampak sepi. Saya berusaha untuk pergi tanpa memikirkan pria tersebut, tapi dia menangis dan mengaduh kesakitan. Saya sendiri tidak tahu, apakah pria ini sedang mabuk atau tidak. Lalu dengan segera saya menghampirinya sebab kakinya tertindih motor. Setelah itu saya mencoba untuk bantu membangunkannya, tapi pria itu memeluk saya dengan sengaja. Saya tidak tahu, apa alasannya,” Elsa menjeda kalimatnya.
Dia tidak tahu lagi apa yang akan dikatakannya. Sebab setelah itu, dengan kesadaraan pria itu mendekap Elsa kuat-kuat. Elsa sudah berusaha untuk berontak, tapi karena dekapan itu sangat kuat Elsa tidak mampu melepaskannya. Elsa tidak tahu apa alasannya. Bahkan Elsa sendiripun baru mengetahui pria itu untuk pertama kalinya.
“Bohong,” kata pria itu tiba-tiba yang membuat semua mata langsung tertuju padanya.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Keputusan

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day9
#425kata

°°°

“Bohong,” kata pria itu tiba-tiba yang membuat semua mata langsung tertuju padanya.
“Memang gue terjatuh dari motor, tapi setelah itu kami berpelukan dengan keadaan sadar. Gue tidak lagi mabuk. Kalian mencium aroma alcohol dari tubuh gue, nggak?” tanya pria itu pada warga.
“Gue, sama Elsa benar-benar pelukan dalam keadaan sadar.” Bahkan pria itu menyebut nama Elsa seolah dia sudah mengenalnya.
Jangan ditanyakan lagi bagaimana perasaan Elsa. Yang jelas dia sudah sangat kesal dan ingin marah saat pria itu mengatakan hal yang tidak jujur. Pria itu berbohong. Pria itu memberi kesaksian yang salah.
Warga kompak mengucapkan istigfar. Hal itu membuat Bapak dan Kyai langsung menatap Elsa. Elsa mampu menggelengkan kepala saja. Kyai tidak bisa memberi kesimpulan, sementara Bapak sudah pasti memilih diam meskipun beliau yakin jika Elsa tidak mungkin melakukan hal itu. Bapak yang berada didekat Elsa hanya mengelus pundaknya, menyalurkan kekuatan pada Elsa.
“Katakan yang sejujurnya, apa alasan kamu meluk saya? Jangan ciptakan fitnah, sementara saya sendiri tidak tahu apa-apa.” Air mata Elsa kembali keluar.
Elsa memohon pada pria itu untuk mengatakan hal yang sejujurnya. Memang benar apa yang telah dikatakan pria tersebut jika mereka memang melakukannya dengan sadar. Namun, bukan berarti Elsa melakukannya dengan cuma-cuma. Bahkan tadi saja Elsa sudah berusaha untuk berontak.
“Apa yang perlu Gue katakan?” tanya pria itu pada Elsa.
Dengan berani Elsa menatap wajah pria itu. Dan sebaliknya, pria itu juga menatap Elsa. Mengunci matanya.
Jujur saja mata Elsa menunjukkan kebencian pada kebohongan yang telah pria itu perbuat. Namun sirat mata lainnya, Elsa memohon pada pria itu untuk mengatakan yang sejujurnya.
Pria itu diam. Menatap lekap manik hazel mata Elsa.
"Gue ... gue sengaja melakukannya. Gue sadar dengan tindakan yang sudah gue perbuat," ucapan pria itu membuat air mata Elsa lolos terjatuh lagi. Mereka masih saling menatap mata satu sama lain. Elsa sangat berharap, dengan tatapan itu mampu membuat pria itu berkata jujur. Namun ternyata, dia masih tidak mengatakan hal yang sesungguhnya.
"Siapa nama kamu, nak?" Pertanyaan Kyai mampu membuat keduanya mengalihkan tatapan itu.
Elsa menunduk, membiarkan air matanya terus mengalir. Sementara pria itu menatap ke arah Kyai.
"Kevin. Nama gue Kevin,"
"Rumahnya di mana?" tanya Kyai itu lagi.
"Komplek 5, kurang lebih dua ratus meter dari alun-alun kota," pria itu menjawabnya.
Sementara warga masih terdiam mengikuti apa yang akan terjadi berikutnya. Jelas saja warga tidak bisa diam begitu melihat kejadian tadi. Sudah pasti mereka tidak ingin mencemarkan nama baik lingkungan, terlebih lagi lingkungan ini kental sekali dengan agama.
"Lalu ini bagaimana jalan keluarnya, Kyai? Kami tidak bisa membiarkan kejadian itu terulang lagi." Mulai terdengar suara-suara keras dari warga.
"Dinikahkan,"

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Innaallaha ma'anaa

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day10
#614kata

°°°

“Dinikahkan.” Sontak saja Elsa mendongak. Dia langsung menatap penuh keyakinan pada Kyai dan berharap jika Kyai sedang mencairkan suasana dengan bercanda.
Elsa menggelengkan kepala karena tidak percaya. Secepat itukah dia harus menikah?
“Kyai, katakan yang sesungguhnya.” Elsa mencoba menangkap kesungguhan dari mata Kyai.
“Saya hanya menyarankan. Sekarang kita obrolkan baik-baik dulu,” ucap Kyai.
Setelah mengatakan hal tersebut, Kyai meminta semua orang selain Bapak dan juga dua warga yang melihat kejadian tersebut untuk tetap tinggal. Di dalam ruang tamu itu hanya ada empat orang saja. Setelah itu, Kyai meminta untuk menceritakan bagaimana kronologi kejadiannya.
Dua orang itu menceritakan semuanya. Meski tidak memiliki bukti apapun, tapi dua orang itu cukup untuk memberi kesaksian. Mereka memang tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jika dikatakan kecelakaan, tapi saat itu posisi motornya tidak ambruk ke tanah. Dan lagi, jika benar laki-laki itu sedang tersungkur dan tertindih oleh motornya, kenapa pria bernama Kevin itu mampu untuk memeluknya? Bahkan pria itu mengatakan jika keduanya saling sadar. Lalu saat Elsa dipeluk, kenapa dia tidak minta pertolongan? Justru Elsa memilih untuk diam.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat teka-teki dalam pikiran dua warga tersebut. Sebenarnya bukan karena suudzon memiliki pikiran buruk terhadap hal itu. Namun tetap saja, inginnya warga tersebut adalah memberi kejelasan bagaimana kejadian tersebut terjadi. Untung saja tadi hanya ada beberapa dari warga tetangga. Bagaimana jika warga dari lain daerah juga mengetahuinya? Sudah pasti hal tersebut dapat mencemarkan nama baik tempat itu.
Sementara Pak Rahman, dia memilih untuk diam dan mendengarkan. Jika sejujurnya saja dia lebih percaya dengan Elsa, anaknya. Elsa tidak mungkin melakukan hal tersebut. Apalagi kepergian Elsa tadi untuk membelikan obat untuknya. Sudah pasti bapaknya mempercayai Elsa. Namun, bapaknya bisa apa? Dia tidak punya bukti apa-apa.
Pak Rahman ini terkenal orang yang ramah. Beliau temannya Kyai. Teman saat mengaji sejak masih kecil. Meski menjadi teman, tetap saja jika di yayasan Pak Rahman menghormati Abdurrahman ini sebagai Kyai. Ya, menghormati ilmunya.
Sebaliknya, meski Pak Rahman adalah teman dari Kyai, hal itu tidak menjadikan beliau memperlakukan dan memaklumi kejadian tadi. Kyai Abdurrahman tahu jika Pak Rahman ini adalah orang yang memilih mengalah dan pasrah di setiap keadaan. Selagi baik dan benar di jalan Allah.
Sementara yang berada di luar ruangan, suara hening menyapa beberapa orang yang berada di sana. Warga masih siaga di pelataran rumah Kyai, sementara Elsa dan Kevin berdiri tak jauh dari pintu utama rumah Kyai. Jarak mereka lumayan jauh, meski hanya berjarak lima langkah saja.
“Kenapa kamu lakukan semua ini?” tanya Elsa memecah keheningan.
Pria itu memilih untuk duduk sebab kakinya mulai terasa lagi. Elsa membuang napasnya gusar.
“Saya harap, setelah ini kamu benar-benar mengatakan jujur. Saya mohon,” suara Elsa terdengar memelas.
“Kenapa?” tanya pria itu tiba-tiba.
“Kamu akan dipaksa menerima resiko dan konsekwensinya. Semuanya. Termasuk saya,” ucap Elsa namun terpotong saat pintu itu terbuka.
Bapak keluar dengan melontarkan senyuman pada Elsa. Sementara Elsa langsung menghampiri bapaknya, dan memeluknya sebentar.
“Bagaimana, Pak?”
“Seperti yang Bapak katakan tadi, semua akan baik-baik saja. Percaya saja. Allah itu bersama kita. Pasrahkan saja, ya?”
“Oh iya … apapun keputusannya nanti, Elsa harus terima, ya? Bapak sama Pak Abdurrahman ini berteman baik. Bapak pastikan apapun keputusannya, insyaallah itu adalah keputusan yang terbaik. Sekarang masuklah, ditunggu beliau di dalam,” pinta Pak Rahman.
Elsa mengangguk sembari tersenyum. Baru setelah itu Elsa masuk ke dalam. Sementara Pak Rahman memilih untuk menghampiri pria itu. Ikut duduk di sampingnya.
“Nak,” panggil Pak Rahman. Kevin menoleh,
“Ditunggu Kyai di dalam, masuklah,” pinta Bapak pada Kevin.
Kevin tersenyum untuk pertama kalinya, “ya, Pak.”
Lalu Kevin berdiri dan berjalan untuk masuk ke dalam. Meski tertatih ketika berjalan, Kevin mampu untuk berdiri sendiri. Luknyaa memang tidak terlihat, bahkan tidak ada. Namun memar warna ungu mulai kelihat di kaki di bagian tertindih tadi.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Membersihkan Nama Baik

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day11
#450kata

°°°

Kevin langsung masuk begitu saja. Dia ikut bergabung dengan Kyai dan juga Elsa. Bertiga. Dengan Kyai yang menjadi penengahnya.
“Ada beberapa pertanyaan yang perlu saya tanyakan.” Kyai menjeda kalimatnya.
Elsa tertunduk, tangannya sejak masuk ke dalam ruang tamu terus saja bergetar.
“Yang pertama untuk kamu, nak Elsa.” Tunjuk Kyai sambil melihat ke arah Elsa.
“Saya sangat percaya dengan kamu, nak. Kamu ini orang yang baik, anak penurut, sopan dan jujur. Sekarang untuk terakhir kali, apakah yang kamu ceritakan tadi sesuai dengan kejadian?” tanya Kyai begitu serius. Elsa mendongak, kemudian menatap ke arah Kyai.
“Saya bersumpah demi apapun. Demi Allah saya tidak melakukan hal itu dengan sengaja. Saya benar-benar berniat menolongnya saat kecelakaan. Namun, tiba-tiba saja laki-laki ini mendekap saya. Sangat kuat. Saya sudah berusaha untuk berontak, tapi tetap saja Saya tidak bisa melepaskan dekapan itu,” ucap Elsa dengan mantap, selayaknya orang yang berani di kala benar.
Kyai mengangguk.
“Lalu kamu, nak Kevin.” Dia memilih diam.
“Apakah Ibu Bapakmu masih ada?” pertanyaan Kyai dijawab dengan anggukan oleh Kevin.
“Lalu … apakah apa yang kamu ucapkan tadi benar?”
Cukup lama Kevin menjawabnya. Dia memandang lurus ke arah Kyai. Dan sebaliknya juga Kyai menatap Kevin dengan menunggu Kevin segera menjawabnya.
“Yang dikatakan Elsa memang benar. Saya memang terjatuh dari motor. Setelah itu Elsa mencoba membantu saya. Saya sendiri tahu, jika sebelum menolong saya Elsa ini masih ragu. Dia ke sana-ke mari mencari seseorang. Tapi tidak ada. Saat itu saya mulai merasakan kaki yang ditindih motor sangat sakit. Di situlah … Elsa menolong saya. Saat Elsa mau membantu saya, saya memeluknya dengan kuat. Sangat kuat. Hingga tanpa saya tahu, ada warga yang lewat. Mereka memergoki kami.” Kevin menjelaskan dengan masih menatap ke arah Kyai.
Kyai pun tersenyum mendengar pengakuan dari Elsa maupun Kevin. Di situlah kyai merasa puas dan yakin dengan jawabannya.
“Sekarang saya tanya … kalian tahu apa konsekwensi dari tindakan tadi?” tanya Kyai yang membuat Elsa dan Kevin diam mematung. Detik demi detik berjalan, mereka masih memilih untuk diam karena tidak tahu kemungkinan yang akan terjadi.
“Kalian menikah,”
“Apa?” mata Elsa kontan melebar. Baru setelah itu dia melangitkan kalimat istigfar.
“Yang jelas dengan pertimbangan kalian, dan orang tua kalian.” Kyai mencoba untuk menenangkan Elsa.
“Nak Elsa … saya percaya nak Elsa tidak mungkin melakukan hal itu. Tapi, bagaimana dengan warga? Apa mereka bisa tinggal diam?”
“Warga masih bersikeras untuk menyelesaikan masalah ini. terlebih untuk menjaga nama baik lingkungan, dan menghindari fitnah pastinya.” Perkataan Kyai membuat air mata Elsa menetes lagi. Elsa menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kyai … Elsa masih harus jagain bapak. Elsa harus selesain kuliah untuk almarhumah Ibu. Elsa belum bisa apa-apa, Elsa ma---
“Saya siap menikahi,” ungkapan itu mampu membuat Kyai dan Elsa menatap lekat ke arah Kevin.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Menerima Takdir

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day11
#404kata

°°°

“Saya siap menikahi,” ungkapan itu mampu membuat Kyai dan Elsa menatap lekat ke arah Kevin.
Hening sejenak. Entah apa yang sedang dipikirkan masing-masing, yang jelas Kyai dan Elsa menatap Kevin dengan heran.
“Kamu yakin, nak?” tanya Kyai pada Kevin.
“Bukankah itu konsekwensinya?” pertanyaan itu lolos dari bibir Kevin yang membuat Elsa semakin tidak mengerti.
Posisi yang dialami Elsa ini memang tidak mudah. Dia harus terjebak di dalam situasi yang seolah memang harus Elsa hadapi. Jika meninggalkan atau mengabaikan masalah itu saja jelas tidak mungkin Elsa lakukan.
“Tapi tetap harus dihadiri orang tua masing-masing. Mereka wajib tahu. Dan kamu … nak Elsa. Bapak sudah menyerahkan semuannya. Bapak mempercayakan pada saya jika saja kamu dan juga nak Kevin menikah,”
“Tapi Kyai …,” ucap Elsa tercekat.
Setelah itu masih ada perdebatan di antara mereka. Elsa masih mencoba untuk mempertimbangkan lagi keputusan. Bukan karena menolak, hanya saja Elsa berharap ada cara lain lagi selain menikah.
Namun, Kyai memberi keputusan tersebut sebab itu cara terbaik untuk menjaga nama baik lingkungan sesuai yang disarankan oleh beberapa warga. Kyai menampung beberapa saran, namun dirasa keputusan tersebut adalah keputusan terbaik. Kyai takut, jika ke depan Elsa akan dipandang kotor oleh warga. Untuk itu, sebagai pembersih dari fitnah tersebut adalah, menikah. Perdebatan itu tidak cukup lama, sebab Kevin seolah begitu yakin untuk menikahi Elsa. Kevin mengatakan itu pada Kyai dengan penuh keyakinan, entah ada apa dengannya.
Kejadian itu cukup memakan waktu terlalu lama, bahkan jam telah menunjukkan pukul sembilan malam saja semua belum juga selesai. Kevin diminta untuk menghubungi kedua orang tuanya agar segera datang di yayasan, tempat Kyai. Sementara Pak Rahman dan dua warga yang melihat tadi tetap tinggal di tempat. Elsa sendiri minta izin untuk melaksanakan solat isya terlebih dahulu, sembari menenangkan raga dan pikirannya. Elsa benar-benar belum bisa mempercayai semuai ini.
Elsa dan bapak sempat membicarakan hal tersebut berdua. Mereka memisahkan diri dari beberapa orang yang berada di sana.
“Bapak …,” lirih Elsa.
Mereka duduk di pelataran sembari menatap langit dan bintang-bintang yang menjadi saksi.
“Tahu, nggak, jika semua ini sudah ditakdirkan. Barangkali ini memang cara Allah buat meluk kamu,”
“Kita diminta, ah mungkin dipaksa buat nerima ini semua. Kita seolah-olah tahu jika ini tidak benar, ini tidak baik, dan ini sulit diterima. Tapi … apapun yang terjadi, kan, atas dasar izin Allah. Iya, nggak?” tanya Bapak pada Elsa. Elsa menyandarkan dirinya pada bahu Bapak.
Elsa diam, tapi menitikan air mata. Dia mencoba meresapi setiap nasihat-nasihat yang diucapkan oleh Bapak.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Menahan Emosi

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day12
#406kata

°°°

"Semua ini sudah jalannya takdir, ya, kan? Elsa harus sabar. Elsa harus terima semuanya. Semua akan baik-baik saja. Ada Bapak, di sana ada Allah sama Ibu kamu," ucap Bapak sambil menunjuk ke atas langit.
Diamnya Elsa selalu berfikir. Kenapa Bapaknya selalu bisa menerima keadaan-keadaan yang dirasa sulit. Bahkan saat seperti ini saja, Bapak masih terima. Elsa difitnah, lalu dia harus jatuh pada laki-laki yang bahkan belum pernah mereka kenal. Bisakah Elsa terima itu semua?
Elsa bangkit dari sandarannya. Dia menyapu pipinya dengan telapak tangannya lalu tersenyum pada Bapak. Senyuman paksaan namun tulus untuk Bapaknya. Bapak membalasnya dengan senyuman yang lebih tulus dari itu.
"Elsa mau solat dulu, tadi belum solat isya." Setelah mendapat anggukan kepala, Elsa pergi meninggalkan Bapak di pelataran itu. Dia segera menuju ke asrama putri. Mengambil wudhu terlebih dahulu, lalu segera menuju ke yayasan.
***
"Assalamualaikum, mbak," salam Elsa.
Kontan yang diajak bicara menoleh. Ada dua santri yang duduk berjaga di dalam kantor. Dia melihat ada Elsa yang sedang berdiri di ambang pintu. Sekarang Elsa berada di asrama putri. Tepatnya di kantor utama yayasan.
"Waalaikumussalam waarahmatullah ..., wah mbak Elsa," kata salah satu dari mbak-mbak yayasan yang sedang berjaga itu.
Mereka berbincang sekejap. Namun bukan membincangkan perihal yang baru terjadi. Lalu setelah itu Elsa meminjam mukena pada mbak-mbak yayasan, lalu solat di sana. Elsa memang seolah sudah biasa di tempat itu. Sebab hampir setiap hari dia bisa datang dan pergi untuk mengajar. Meski tidak tinggal di yayasan, tapi Elsa dan Bapaknya ini seolah sudah dianggap sebagai keluarga yayasan.
Sementara Kevin, dia terlihat frustasi dengan gadget-nya. Sejak tadi dia mengusap layar, menempelkan pada telingan dan mengeceknya bolak-balik.
"Ck! Angat dong." Kata itu keluar dari bibir Kevin.
"Nggak mungkin gue harus nghubungin Papa," nada suara Kevin terdengar cemas lagi.
Sekarang Kevin berada di tempat sepi, dengan sedikit menjauh dari ruang tamu milik Kyai.
"Tapi, tetap saja harus ada Papa," lirihnya lagi lalu menggulir layar itu.
Kevin mencari nama Papanya, lalu setelah itu dia menempelkan gadget di telinganya. Beberapa detik belum ada jawaban. Namun di detik ke sepuluh, panggilan itu diterima.
"Ada suatu hal yang mengharuskan Anda datang,"
Entah apa yang sudah terjadi, Kevin begitu formal berbicara dengan lawannya.
"..."
"Saya akan nikah, malam ini juga."
"..."
Tiba-tiba Kevin mengepalkan tangannya.
"Segera datang. Saya akan sharelock."
Setelah Kevin mengirimkan lokasi, dia masih mengepalkan tangannya. Entah karena apa, yang jelas dia mencoba menahan emosinya. Hal itu bisa dibuktikan dari urat di lehernya yang mulai keras dan terlihat.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Umi Zahra

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day14
#PR
#409kata

°°°

Kini seolah tiba waktunya. Di mana Pak Rahman dan Kevin duduk saling berhadapan. Mereka akan saling berjabat tangan, kemudian mengucapkan kata yang sakral. Akan nikah yang akan membuat Elsa dan Kevin resmi menjadi suami istri.
Kata Kyai, semua akan dimulai jika dari kedua orang tua sudah datang, terutama orang tua Kevin. Kevin sendiri pun sudah menghubungi orang tuanya. Mereka mengatakan akan datang, tapi entah sampai sekarang belum juga datang. Sekarang pukul sembilan lebih dua puluh menit. Mereka akan memulainya begitu orang tua Kevin datang, di jam berapapun itu.
Di masjid yayasan itu, mereka menunggu kedatangan orang tua Kevin. Sambil menunggu, mereka diberi wejangan oleh Kyai. Sesekali Pak Rahman bertanya mengenai keluarga Kevin. Mulai dari letak rumahnya, kegiatannya sekarang, dan kondisi orang tuanya. Dengan senang hati Kevin menjawab di mana letak rumahnya yang berada di dekat kota. Kevin juga mengatakan jika sekarang dia masih menjadi mahasiswa semester akhir. Namun entah kenapa, saat ditanya mengenai orang tua, jawaban Kevin hanya singat; sehat dan masih hidup.
Hal aneh yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, kenapa Kevin tiba-tiba saja bersedia menikah dengan wanita yang belum dikenalinya. Bagaimana latar belakang kehidupan Elsa, bagaimana keluarga Elsa, pendidikannya, dan kegiatan Elsa setiap harinya. Bahkan, sikap berandal dan cueknya terhadap wanita seolah hilang begitu saja. Sebenarnya apa alasan Kevin?
Kevin ini mahasiswa akhir, yang harusnya sudah lulus tahun kemarin. Namun karena sifatnya yang berandalan dan suka menunda-nunda waktu, skripsi belum diajukan, secara jelas dia tidak bisa menyegerakan wisuda. Padahal, orang tua Kevin hampir setiap hari memarahinya agar Kevin menyegerakan lulus. Namun semua percuma saja jika Kevin tidak melakukan apa-apa.
Meski mengetahui bagaimana Kevin sekilas, Pak Rahman tidak meminta syarat lebih selain Kevin harus beragama islam. Pak Rahman takut, jika mereka berbeda dalam keyakinan tapi dipaksakan untuk menikah. Bagaimana bisa mereka menjadi satu tapi dengan tujuan yang berbeda. Begitu Kevin mengatakan jika dirinya beragama islam, di situlah Pak Rahman merestuinya. Sesederhana itu. Lambat laun Elsa dan Pak Rahman akan mengetahui bagaimana latar belakang Kevin. Begitu juga sebaliknya.
Sementara Elsa kini masih berada di asrama. Usai solat tadi dia menyegerakan diri untuk menemui Umi Zahra, isteri Kyai Abdurrahman. Umi Zahra ini seolah sudah menganggap Elsa sebagai puterinya sejak ibunya meninggal. Begitu sampai di tempat Umi Zahra, Elsa kontan memeluk dan menangis di dalam pelukan Umi Zahra. Tidak mungkin Umi Zahra tidak dengar atau mengetahui, sementara acara sidang dan acara pernikahan dilaksanakan di yayasan. Bahkan, yang menyiapkan sajian dan beberapa keperluan adalah Umi Zahra dengan Mbak-mbak Yayasan.
"Umi ...," lirih Elsa.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Yakin Pada Takdir Allah

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day15
#403kata

°°°

"Umi ...," lirih Elsa.
"Iya," jawab Umi sembari mengelus pundak Elsa. Umi Zahra berusaha untuk menyalurkan kekuatan agar Elsa tabah dalam menghadapi ujian ini.
Setelah hal itu, Umi dan Elsa memisahkan diri. Umi Zahra mengajak Elsa menuju ke kamar Umi. Di sanalah, Umi akan merias Elsa dengan sederhana sembari memberikan nasihat pada Elsa.
"Siap enggak siap, Elsa harus siap," ucap Umi.
Kini Elsa tengah memakai gamis putih milik Umi. Meski tidak datang saat acara sakral itu, tetap saja Elsa harus menyambut kedatangan calon suaminya itu. Kini Umi memakaikan hijab pasmina untuk Elsa.
"Belum saling mengenal, kan? Nanti sama-sama belajar." Umi berkata sambil memasang jarum pentol.
Elsa seolah pasrah saja dengan apa yang dilakukan Umi Zahra. Dia sudah tidak punya daya apa-apa setelah lelah dari tangisnya.
"Bentar-bentar ... ini nggak boleh gini," ucap Umi Zahra sambil mengelap air mata Elsa.
"Setelah Umi kasih celak sama bedak, pokoknya air matanya nggak boleh turun. Sia-sia dong kerjanya Umi." Umi mulai memberi bedak pada wajah Elsa. Setelah diancam seperti itu bukannya malah berhenti tapi kelopak mata Elsa sudah penuh dengan air mata.
Tubuh Elsa jatuh pada pelukan Umi. Elsa kembali menangis, lebih kencang dari sebelumnya.
"Harus kuat. Umi yakin Elsa mampu melaluinya," kata Umi lagi.
"Elsa nggak yakin Umi. Elsa nggak yakin bisa menjalani semua ini. Gimana kalau Elsa nyerah? Gimana kalau semua nggak sesuai yang Elsa inginkan? Elsa takut jatuh pada imam yang salah," tangis Elsa.
"Nggak yakin sama takdir Allah?"
"Dengerin Umi ... semua hal yang terjadi di dunia ini, semua kejadian yang sedang kamu alami, ini semua bagian dari rencana Allah. Allah nggak cuma-cuma kasih kamu ujian, tapi ada hikmah. Elsa masih ingat, kan, firman Allah yang berbunyi Allah tidak akan menguji hamba-Nya, melainkan tanpa kesanggupannya. Jadi kalau Allah kasih ujian seperti ini, itu tandanya Elsa mampu melaluinya. Elsa masih ingat, kan?" tanya Umi.
"Soal imam ... percayalah jika apa yang Allah kasih adalah yang terbaik. Entah terbaik buat kamu, atau terbaik untuk calon suami itu, atau bahkan terbaik untuk keduanya. Elsa bisa kok, belajar dari kisah para nabi. Kalau misalnya suamu itu jauh dari kata soleh, berarti itu jadi jihadnya Elsa untuk mengubahnya. Elsa belajar jadi siti Asiyah, ya?"
"Kalau ternyata dia mau berjalan menuju ke jalan kebaikan. Kalian sama-sama berjuang untuk meraih rido dari Allah. Bisa kan, ya?"
"Satu lagi ... jangan berhenti berdoa. Minta yang terbaik dari Allah, dan selalu minta perlindungan dari Allah. Percaya deh, Allah bakal kasih yang terbaik."

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

SAH

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day16
#435kata

°°°

Elsa mengangguk. Ucapan Umi Zahra tadi berhasil membuat Elsa lebih tenang dari sebelumnya. Kini air matanya tidak lagi keluar meski matanya sudah memerah hebat. Elsa tersenyum sebentar.
"Terima kasih Umi, udah bantu Elsa sampai di titik ini. Udah buat Elsa kuat meskipun sebenarnya Elsa ini mudah rapuh. Maafin Elsa juga, karena masih sulit menerima kenyataan yang sudah menjadi takdir Elsa." Elsa menatap mata Umi dengan lekat.
"Minta maafnya ke Allah, bukan ke Umi. Tapi … awas saja kalau sampai celaknya luntur, Umi nggak akan maafin kamu," ancam Umi diselingi dengan gelak tawa.
"SAH!"
Suara itu mampu membuat Umi Zahra dan juga Elsa diam. Mereka mampu mendengar suara kencang yang terdengar dari masjid. Umi memejamkan mata sekilas, lalu tersenyum pada Elsa.
"Bismillah ...," ucap Umi Zahra. Elsa hanya mampu menganggukkan kepala.
Setelah mendengar kata SAH tadi, itu berarti jika Elsa dan Kevin sudah resmi menjadi suami isteri menurut agama. Meski belum banyak orang yang tahu. Kini Elsa dan Umi Zahra berjalan menuju ke masjid, menghadiri acara di tengah keberadaan akad nikah.
Umi Zahra mampu merasakan jika Elsa sedang gugup. Itu terbukti dari tangannya yang gemetar saat Umi Zahra menggenggamnya. Namun Umi Zahra mampu memahaminya, dia makin mengeratkan genggamannya.
“Tenang … Umi di sini,” bisik Umi tatkala mereka sudah menginjakkan kaki di serambi masjid.
Begitu masuk ke dalam masjid, Elsa hanya mampu menundukkan kepalanya dengan dalam. Selain gugup dan malu, Elsa juga belum siap dengan semua ini. Elsa benar-benar  belum bisa menerimanya meskipun sekarang dia harus memaksakan diri untuk menerima takdir yang sama sekali belum Elsa sangka.
Allah punya rencana terbaik dari setiap kejadian. Bahkan yang menurut kita tidak baik sekalipun, semua sudah menjadi rencana terbaik menurut Allah.
“Duduk di sana, Umi antar,” bisik Umi meminta Elsa untuk duduk di dekat sang suami. Namun Elsa malah berjalan mendekat ke Bapaknya. Hal pertama yang Elsa lakukan adalah, mencium punggung tangan bapak, lalu memeluknya. Saat memeluknya, Elsa mencoba untuk memejamkan mata dalam-dalam. Elsa teringat oleh ancaman Umi yang mengatakan jika saja air matanya turun, maka Umi tidak akan memaafkannya. Meski hanya bercanda, tapi Elsa tidak mau membuat Umi Zahra kecewa.
“Minta ridhonya, ya, Pak. Doakan Elsa,” bisik Elsa di dalam dekapan Bapak.
Bapak tersenyum sambil menganggukan kepala. “Pasti dan selalu Bapak doakan,” kata Bapak. Sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu.
“Sambut dia. Jabat tangan suamimu dengan hormat. Sekarang dia pemimpinmu, imam keluargamu,” kata Bapak sambil tersenyum dan terlihat bahagia. Entah bahagia bagaimana definisinya. Elsa mengangguk, lalu mendekat ke arah Kevin.
“Mas,” lirih Elsa sambil mengulurkan tangannya. Saat itu pun, Elsa belum juga berani mendongak. Dia hanya tertunduk. Lalu Kevin menerima uluran tangan itu, dan dengan sekejap Elsa mencium punggung tangannya.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Kalung

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day17
#401kata

°°°

"Sini!" Pekik Papa Kevin yang datang bersama dengan Mamanya.
Kevin menghampiri mereka. Saat ini mereka berada di gerbang depan, tempat di mana mobil orang tua Kevin di parkirkan. Orang tua Kevin datang satu jam setelah dihubungi. Mereka terlihat cemas begitu mendengar Kevin akan menyegerakan menikah. Dengan mendadak, dan malam itu juga.
Plak!
Tamparan itu mendarat di pipi Kevin. Rasanya panas, nyeri, dan perihnya menuju ke hati. Kevin memilih diam, meski sebenarnya dia ingin berontak.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Vin?"
"Kamu boleh marah sama papa, tapi nggak harus gini juga yang kamu lampiaskan. Kamu keterlaluan Vin. Papa nggak pernah ngajari kamu kayak gini," pekik Papa Abdi.
"Entah apa yang sudah gue lakukan, seenggaknya gue mau tanggung jawab. Gue bersedia nikahin cewek itu," lirih Kevin.
Suasana mulai hening, meski semakin panas sebab mereka bertengkar lagi. Mama yang berada di sampingnya hanya bisa diam sembari menyaksikan suami dan anaknya bertengkar.
"Nggak seperti Papa, yang lari begitu saja tanpa memerdulikan kami," lanjut Kevin.
Papa Abdi ingin menampar Kevin lagi, tapi berhasil dicegah oleh Mama Anis. Mama Anis berjalan mendekat ke arah Kevin. Dia mendekat lalu menggengam tangan Kevin.
"Mama minta maaf karena belum bisa memberikan yang terbaik. Mama minta maaf, sayang. Namun, Mama benar-benar bangga sama kamu karena telah berani berbuat dan bertanggungjawab. Entah bagaimana apa yang terjadi, Mama akan selalu ada untukmu," kata Mama tepat di depan Kevin. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Papa akan restui kalian. Namun kamu harus berjanji, kamu harus bertanggungjawab untuk dia. Dia anak orang. Dan kamu yang menarik dia masuk dalam masalah ini. Ingat pesan papa." Ayah berpesan pada Kevin, yang membuat Kevin tersenyum menyeringai.
"Dari papa Kevin belajar buat lebih bertanggungjawab sama apa yang sudah Kevin lakukan. But, thanks for everything," kata Kevin selanjutnya.
Mama kontan memeluk Kevin. Dan sebaliknya, Kevin mengeratkan pelukan itu. Untuk saat ini, wanita yang paling Kevin cintai adalah Mamanya. Bukan hanya untuk kaum wanita, bahkan seluruhnya saja tidak akan mampu menggantikan posisi Mama di dalam hati Kevin.
"Ah, Mama ingat sesuatu." Mama membuka tasnya, lalu dia berikan kotak pada Kevin. Raut wajah Kevin berubah bertanya-tanya.
"Apa, ma?" Tanya Kevin sembari menerima kotak itu. Tanpa diperintah, Kevin membukanya.
"Kalung?" tanya Kevin begitu mendapati kalung silver berbandul bunga. Mama Anis mengangguk.
"Kasih ke dia. Jadikan mahar sementara," pesan Mama Anis. Kevin tersenyum sambil mengangguk mengiyakan.
"Makasih, Ma," ucap Kevin diiringi dengan kecupan di kening mamanya.
Setelah itu Kevin mengajak orangtuanya masuk ke yayasan.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Orang Tua Kevin

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day18
#405kata

“Mas,” lirih Elsa sambil mengulurkan tangannya. Saat itu pun, Elsa belum juga berani mendongak. Dia hanya tertunduk. Lalu Kevin menerima uluran tangan itu, dan dengan sekejap Elsa mencium punggung tangannya.
Dua tangan yang saling menggengam itu saling bergemetar. Lalu dengan cepat Kevin melepas tangan Elsa.
"Alhamdulillah, kalian sudah sah suami isteri. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan rahmah. Saling mengerti satu sama lain, dan atas rido Allah bersama sampai jannah-Nya," doa Kyai.
"Aamiin ...." serempak orang yang hadir di sana.
Setelah akad nikah itu, Kyai, Umi Zahra, orang tua Kevin dan Elsa dan juga dua warga kini tengah menikmati jamuan dadakan yang disiapkan oleh mbak-mbak yayasan.
Meski dadakan dan tidak ramai-ramai, tapi semua penghuni yayasan tahu jika Kevin dan Elsa menikah.
Dengan persiapan yang minim, semua lancar tanpa ada halangan apapun. Kevin memberikan kalung silver yang tadi diberi oleh Mamanya. Sebenarnya Mamanya telah mempersiapkan itu sejak dulu, saat Kevin baru masuk kuliah. Kalung itu seolah seperti warisan yang kelak akan diberikan untuk isteri Kevin. Sebenarnya suasananya terlihat hening dan masih di selingi kesedihan, tapi Kyai Abdurrahman selalu bisa membuat suasan itu kembali hangat dan menyenangkan. Kyai mengajak mereka berbincang, entah membicarakan beberapa hasil panen di desa, atau bahkan memberikan guyonan untuk mencairkan suasana itu.
Kevin dan Elsa memilih diam. Namun beberapa saat orang tua Kevin izin untuk segera meninggalkan tempat. Katanya ada kesibukan mendesak yang mengharuskan mereka segera pergi. Kevin cukup tersenyum dengan seringaian.
Sementara Elsa, dia izin untuk memisahkan diri dengan keluar dari masjid.
Elsa duduk diam di serambi masjid. Setelah mengetahui Mama dan Papa Kevin yang baru saja ikut keluar dari masjid, Elsa kontan berdiri dan langsung menghampirinya.
"Assalamualaikum Tante, Om," salam Elsa.
Mama Anis tersenyum sejenak. Sementara Papanya Kevin diam sambil memandangi Elsa.
"Waalaikumussalam waarahmatullah, nak, panggilnya jangan tante dong. Kan, saya juga mama kamu," pinta Mama Anis.
Elsa masih menunduk, tapi senyuman itu muncul dari bibirnya. Mama Anis mendekat, lalu menyentuh dagu Elsa agar mendongak dan memandang ke arah Mama Anis.
"Panggil Mama ya, nak." Elsa mengangguk.
"Dan ini papa kamu," kata Mama Anis sambil menunjuk ke arah Papa Kevin.
"Ini papanya Kevin,"
"Ma-Pa, katanya mau pulang." Kevin tiba-tiba datang. Semua mata tertuju pada kedatangan Kevin yang secara tiba-tiba.
"Ini, masih mau memperkenalkan sama nak Elsa,"
"Nggak perlu. Kevin bisa kasih tahu sendiri." Mendengar hal itu sebenarnya membuat Elsa bingung dengan tingkah Kevin. Mengapa ucapannya terdengar ketus dan abai? Padahal, jelas saja yang diajak bicara adalah Mama dan Papanya, orang tuanya.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Rumah Elsa

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day19
#414kata

°°°

Semua acara telah selesai. Kevin memilih untuk tidak pulang ke rumahnya dan memilih untuk pulang ke rumah Elsa. Pak Rahman tidak mempermasalahkan hal itu sebab mereka sekarang sudah sah menjadi suami isteri. Pak Rahman pulang lebih dahulu dengan diantar oleh salah satu warga sebab sejak tadi memang beliau memaksakan baik-baik saja padahal sedang pusing. Sementara Elsa, dia mengambil sepedanya di tempat kejadian tadi bersama dengan Kevin.
Kevin masih tertatih ketika berjalan, tapi tetap dia paksa mengambil motor dan membawanya ke rumah Elsa. Sepanjang perjalanan, Elsa memilih diam dan membiarkan Kevin. Bukan karena apa, hanya saja Elsa belum sepenuhnya mampu menerima Kevin. Ini terlalu mendadak dan berjalan karena ketidak sengajaan.
Elsa menggayuh sepedanya menuju ke rumah, sementara Kevin berada di belakangnya. Sampai di rumah, Elsa langsung masuk ke dalam rumah dan membiarkan Kevin begitu saja. Elsa pergi menghampiri bapaknya.
"Assalamualaikum," salam Elsa begitu berdiri di depan pintu kamar Bapak lalu membukanya. Di sana Bapak terbaring dan sepertinya akan tidur. Namun karena Elsa datang, Pak Rahman bangkit.
"Waalaikumussalam, nak Elsa." Elsa berjalan mendekati Bapak. Lalu ikut duduk di pinggir ranjang dekat bapaknya.
"Udah mendingan belum? Elsa khawatir sama Bapak," kata Elsa yang dibalas dengan senyuman oleh Pak Rahman.
"Sudah mendingan. Masih kerasa pusing sedikit, mungkin kalau bapak istirahat, besoknya sudah enakan." Jawaban Pak Rahman mendapat senyuman dari Elsa.
"Kalau begitu Bapak segera istirahat, ya? Elsa mau balik ke kamar," izin Elsa.
"Kevin tadi ikut ke sini, kan? Di mana sekarang?" tanya Bapak.
"Ah, i-itu ... di ruang tamu," jawab Elsa terdengar gugup sebab sebenarnya Elsa tidak tahu keberadaan Kevin sekarang.
"Ya sudah, istirahatlah," kata bapak selanjutnya lalu mencium kening Elsa. Sengaja Bapak lakukan dengan harapan semoga mampu membuat Elsa kuat menjalani kehidupan barunya.
"Elsa keluar dulu, assalamualaikum," salam Elsa lalu berlalu meninggalkan Pak Rahman.
Setelah keluar dari ruangan Elsa mencoba untuk memastikan di mana keberadaan Kevin. Meski sebenarnya kesal dan benci terhadap Kevin namun tetap saja dia harus berbuat baik untuk suaminya. Dalam hati Elsa merasa kasihan pada Kevin.
Saat mata Elsa melihat Kevin yang kini berada di ruang tamu, Elsa memperhatikan dari kejauhan. Baru setelah itu Elsa pergi entah ke mana.
Kevin duduk di kursi ruang tamu sambil menyelonjorkan kakinya di kursi sembari memijit dan meringis kesakitan. Kevin sesekali memandangi rumah yang tampak sederhana itu, melihat ke atas yang ada genting dan beberapa kayu yang terlihat sudah tua. Dia mengedarkan pandangan melihat isi rumah yang tampak sangat sederhana, bahkan sangat berbeda dengan isi rumah Kevin.
"Ini," ucap Elsa tiba-tiba yang mampu membuat pandangan Kevin teralihkan

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Menghilang

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day20
#509kata

°°°

"Ini," ucap Elsa tiba-tiba yang mampu membuat pandangan Kevin teralihkan.
Kevin diam, sembari melihat apa yang tengah Elsa bawa. Cukup lama, hingga membuat Kevin tersadar dan menerimanya. Kevin menyeka kakinya dengan air hangat yang diberi oleh Elsa. Elsa sendiri yang berdiri didekatnya tak sampai hati melihat ada goresan luka di kaki Kevin yang tak sengaja dia lihat.
"Berhenti! Ini bakalan perih kalau kamu seka." Elsa mehanan sambil mengambil alih kain yang digunakan untuk menyeka. Lalu Elsa duduk didekat Kevin dan membantunya untuk mengobati luka.
Elsa meminta Kevin untuk menyeka kakinya yang terlihat ada lebam. Sementara Elsa, dia mengambil plester lengkap dengan obatnya yang sudah dia bawa. Hening menyapa keduanya.
"Aw!" Pekik Kevin.
Elsa menghentikan aksinya ketika menyadari jika Kevin merasakan sakit dan perih di bagian kakinya yang diobati. Setelah sedikit tenang, Elsa kembali mengobatinya lagi. Semua luka sudah tuntas Elsa obati, setelah itu Elsa bangkit dari duduknya. Namun sebelum itu, Elsa menyodorkan beberapa obat pada Kevin.
"Nih, aku sarankan diminum biar nanti nggak nyeri," ucap Elsa, sebelum akhirnya berbalik badan.
"Terima kasih," ucapan Kevin yang tiba-tiba membuat Elsa menghentikan langkahnya.
"Oh iya. Kalau tidur di kamar itu," ucap Elsa tanpa berbalik badan sembari menunjuk ke kamar milik Elsa. Setelah itu dia berjalan meninggalkan Kevin seorang diri di ruang tamu itu.
Elsa menunjuk ke arah kamar miliknya, tapi dia sendiri juga masuk ke dalam kamar itu. Kevin mengabaikannya dengan kembali menyeka kakinya dengan air hangat. Sementara Elsa, dia membersihkan kamarnya dengan menata bantal, guling dan melengkapinya dengan selimut. Dan lagi, Elsa memilih untuk menggelar tikar, lalu menggelar kasur lantai di sana. Baru setelah itu dia merebahkan tubuhnya di atas tikar itu.
Sebenarnya niat Elsa adalah, dihadapan bapaknya dia ingin terlihat baik-baik saja pada Kevin. Tidur sekamar layaknya suami isteri. Elsa sudah khawatir dengan kondisi Bapaknya, jika ditambah dengan tingkah Elsa yang membuat kecewa, itu justru membuat Elsa semakin khawatir dengan kondisi bapak selanjutnya. Untuk itu Elsa mencoba untuk menutupi semuanya. Elsa memutuskan untuk tidur di lantai dengan membiarkan Kevin tidur di kasur tempat biasanya Elsa merebahkan tubuhnya. Mau bagaimanapun, tugas Elsa sekarang tetaplah memberikan yang terbaik untuk Kevin, suaminya. Meskipun terpaksa dan sulit dia lakukan.
Malam telah tergantikan oleh suara gema azan subuh yang berkumandang. Bintang yang semula tak terhitung di langit sana kini mulai tak terlihat lagi. Sementara bulan, dia masuh menampakkan elok cahaya dan wujudnya.
Mata Elsa mengerjap, lalu terbuka secara perlahan. Elsa menggeliat sejenak lalu tersadar saat dia tidur di lantai.
"Astagfirullah, aku lupa," pekik Elsa sembari bangun dari tidurnya. Setelah itu dia melihat ke arah ranjang kasurnya tapi nihil tidak ada siapapun. Bahkan ranjang kasurnya masih rapi seolah tidak tersentuh. Elsa langsung berdiri dan mencari orang yang dia cari. Elsa keluar dari kamarnya, namun saat mendapati ruang tamu dia tidak melihat siapapun. Elsa mencari di semua ruangan di rumahnya namun tidak ada. Elsa malah bertemu dengan bapaknya, yang baru selesai mengambil air wudhu.
"Bapak ...," panggil Elsa.
"Ada apa? Kamu seperti orang yang sedang bingung gitu," tanya Bapak.
"Oh i-itu ... bapak lihat Mas Kevin tidak? Soalnya tiba-tiba nggak ada." Pertanyaan Elsa membuat bapak mengernyitkan dahinya.


TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Alkohol

0 0

#PR
#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day21
#403kata

"Ada apa? Kamu seperti orang yang sedang bingung gitu," tanya Bapak.
"Oh i-itu ... bapak lihat Mas Kevin tidak? Soalnya tiba-tiba nggak ada." Pertanyaan Elsa membuat bapak mengernyitkan dahinya.
"Bapak belum lihat. Ada apa?" tanya Bapak.
"Jadi, waktu Elsa bangun udah nggak ada di kamar. Nggak tahu ke mana." Elsa teringat akan sesuatu. Tidak mungkin dia mengatakan jika di kamar mereka memisahkan tempat tidur. Bahkan, tempat tidurnya masih rapi seolah belum terjamah.
"Oh, mungkin dia ke mana gitu kali, ya, Pak. Oh, iya ... Bapak udah enakan?" tanya Elsa mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Alhamdulillah, sudah. Ini bapak mau ke masjid dulu," kata Bapak sembari mengucap salam dan berpamitan pada Elsa.
Elsa sendiri pun berlalu untuk mengambil air wudhu, dan melupakan kepergian Kevin yang mendadak. Dengan segera Elsa menunaikan solat subuh di rumah dan dilanjutkan dengan kegiatan membaca al-quran.
Hampir setiap hari selalu Elsa lakukan. Namun yang sering, usai subuh Elsa gunakan untuk menghafal al-quran. Sebab kata orang, waktu terbaik untuk menghafal adalah saat pagi hari, ketika pikiran masih belum terisi. Namun pagi ini Elsa tidak melanjutkan hafalannya, melainkan dia mengulang surat untuk menjaga hafalannya yang sudah selesai.
"Di mana, ya?" lirih Elsa ketika dia menutup mushafnya.
Elsa bangkit dari duduknya, melepas mukena dan bergegas untuk menyiapkan diri pergi kuliah. Namun baru selesai melepas mukena, dia mendengar orang mengetuk pintu dengan kencang.
Dari caranya mengetuk pintu, Elsa menyadari jika itu bukan bapaknya. Sebab bapak baru berangkat ke masjid, dan ketukannya terlalu keras untuk ukuran bapak. Elsa segera menghampiri ke depan pintu.
Baru membuka pintu, Elsa melihat ada Kevin yang tengah sempoyongan lalu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya pada Elsa. Elsa terkejut.
"Astagfirullah, mas!" pekik Elsa.
Saat tubuh Kevin jatuh pada Elsa, Elsa mencium aroma alkohol keluar dari napas Kevin. Elsa menyadari jika Kevin tengah mabok. Tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, Elsa membawa Kevin agar masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu. Setelah itu Elsa membawa ke kamar tidurnya.
Berat, tapi Elsa mampu membawa Kevin dan membaringkan tubuhnya di ranjang. Kevin menutup mata, tapi kesadarannya masih ada meskipun sudah dipenuhi oleh alkohol. Ini kali pertama Elsa mengetahui orang mabuk berat. Elsa tidak tahu harus bagaimana, tapi setelah membaringkan tubuh Kevin dengan segera dia meninggalkan Kevin. Namun, tiba-tiba dia menahan tangan Elsa.
"Stay in here ... aku butuh kamu," rancu Kevin.
Elsa langsung menghempaskan tangan Kevin lalu berlalu pergi. Kali ini bukan karena marah, tapi karena Elsa takut. Elsa menutup pintu dan menguncinya, membiarkan Kevin tertidur dan sadar dari halusinasinya. Sekarang Elsa bingung harus bagaimana. Dia tidak tahu apa yang akan Elsa lakukan setelah ini.
"Ya Allah Elsa harus bagaimana?" tanya Elsa pada dirinya.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Menenangkan

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day22
#revisi
#404kata

"Ya Allah Elsa harus bagaimana?" tanya Elsa pada dirinya.
Namun saat Elsa mau melangkahkan kakinya, Bapak muncul dari pintu depan.
"Gimana?"
"Em, i-itu ... sakit. Mas Kevin sakit. Tadi orangnya keluar sebentar, eh sekarang sakit. I-ini sedang istirahat. Elsa suruh istirahat. Ya, tidur." Perkataan Elsa menunjukkan kalau dia berbohong, sebab orang yang jarang bahkan tidak pernah berbohong, satu kali dia berbohong maka akan terasa.
Bapak tersenyum.
"Benar begitu?" tanya Bapak merasa kurang yakin dengan ucapan Elsa.
"Benar." Elsa membukakan pintu yang baru dikunci oleh Elsa.
"Hehe, biar nggak ilang lagi," kata Elsa lalu membuka pintu dan terlihat Kevin yang sedang tertidur.
"Nah, kan ...." Elsa kembali menutup pintu.
"Mungkin jatuh dari motor kemarin baru kerasa sakitnya," ucap Elsa lalu berjalan bersama dengan bapaknya menuju ke dapur. Bapak duduk di kursi. Sementara Elsa membuatkan air teh untuk bapak. Baru setelah itu dia memasak nasi dan beberapa masakan untuk sarapan pagi.
"Nak ...," panggil Bapak pada Elsa. Elsa sedang mengaduk air dalam gelas itu.
"Hm?"
"Mau bagaimanapun Kevin, sekarang kamu punya kewajiban taat sama dia." Elsa memberikan segelas air teh pada Bapak.
"Meskipun dia bukan orang baik?" tanya Elsa lalu ikut duduk di sebelah bapak.
"Iya. Kalau dia bukan orang baik, mungkin Allah menakdirkan kamu buat jadi perantaranya agar dia jadi baik."
"Kalau nyatanya nggak bisa?"pertanyaan Elsa mampu membuat bapak tersenyum.
"Siapa yang enggak bisa?" Bapak balik bertanya.
"Elsa yang nggak bisa? Kenapa? Coba kasih bapak alasan yang logis." Ucapan bapak mampu membuat Elsa diam. Elsa mendengarkan, kemudian mengolah lagi apa yang baru saja Bapak lontarkan. Elsa memilih diam sebab dia tidak tahu alasan apa yang akan dia ucapkan.
"Nggak ada yang nggak bisa selagi kita berusaha. Ya, mungkin memang akan sangat susah. Namun kalau kita tetap sabar, berusaha, dan senantiasa berdoa sama Allah, insyaallah akan Allah mudahkan." Bapak menyeruput tehnya.
"Ingat kejadian hajar Aswad yang sudah belajar selama empat puluh tahun namun belum juga diberi pintar?" tanya Bapak. Elsa menjawabnya dengan anggukan menandakan jika dirinya ingat.
"Sekeras-kerasnya batu, kalau setiap hari tertetes air, dia akan berlubang juga. Sama kayak suami kamu ... sekeras-kerasnya dia, dia akan lunak pada waktunya. Yang jelas kalau keras dibalas dengan keras juga akan mantul. Nggak akan bisa jadi satu. Elsa paham?"  Ucapan bapak membuat Elsa mulai paham dengan apa sebenarnya yang harus Elsa lakukan. Pagi itu Elsa diberi semangat untuk tetap kuat menjalani hari pertamanya di kehidupan barunya. Kehidupan baru yang entah bagaimana ke depannya. Yang jelas semua sudah takdirnya.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Kesempatan

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day17
#kata

Embun pagi telah sirna ketika sang surya mulai menampakkan rupanya. Jam masih menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit. Elsa sudah menyelesaikan beberapa tugasnya, memasak dan membersihkan rumah. Baru setelah itu dia bersiap diri untuk berangkat kuliah. Meski semalam dia baru sah menjadi istri orang, namun seluruh teman-teman di kampusnya belum ada yang mengetahui tentang hal itu. Bahkan Arin, sahabat Elsa juga tidak tahu apa-apa.
Sebelum mandi tadi, Elsa putuskan untuk masuk ke kamarnya mengambil pakaian dan membawa ke kamar mandi. Elsa sempat melihat Kevin yang tengah tidur terlelap di kamarnya. Sebelum berangkat ke kampus, Elsa membiasakan diri untuk solat dhuha meski hanya dua rakaat saja. Dua rakaat, tapi Elsa berusaha untuk istiqomah melakukannya.
Tepat jam tujuh, Elsa siap untuk berangkat. Bapaknya sejak pagi tadi sudah izin untuk pergi ke ladangnya. Katanya ingin segera memanen kacang panjang dan dititipkan ke warung sayur milik Pak Amir. Elsa hendak mengambil sepedanya, tapi dia teringat sesuatu hingga membuatnya kembali masuk ke dalam kamar.
"Masih ada waktu sejam," lirih Elsa berbicara pada dirinya.
Elsa pergi ke dapurnya untuk memasak sesuatu. Tidak sampai lama, kira-kira lima belas menit dia sudah menyajikan bubur di dalam mangkuk. Baru setelah itu berjalan menuju ke kamarnya. Di sana, Kevin masih memejamkan mata. Dia sama sekali tidak bergerak kecuali gerakan perutnya yang naik turun karena bernapas. Elsa mengembuskan napasnya gusar, sebelum akhirnya dia menaruh bubur di meja dekat Kevin terbaring. Elsa tidak meninggalkan pesan apapun selain kotak obat.
"Mau bagaimanapun kamu adalah suamiku," batin Elsa sembari melangkahkan kaki keluar kamarnya. Setelah menutup rumah, Elsa berangkat menuju ke kampus.
Elsa ini adalah mahasiswa semester tujuh. Dia mengambil jurusan pendidikan. Sebenarnya keinginannya dulu adalah bekerja, tapi karena sudah menjadi amanah dari Ibunya, mau tidak mau Elsa harus bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginan almarhumah ibunya. Elsa sudah niatkan, tapi tetap saja dia harus mencari jalan keluar lainnya agar tidak terlalu membebankan semuanya pada orang tua yaitu bapaknya.
Akhirnya Elsa mengambil langkah dengan cara mendaftarkan diri dengan jalur beasiswa. Entah beasiswa tidak mampu, atau beasiswa berprestasi yang jelas dua jalur itu Elsa jalani. Dan atas izin Allah, Elsa diterima lewat jalur beasiswa berprestasi.
Selalu ada jalan jika kita bertekad untuk mewujudkan. Elsa sudah memiliki pintu untuk masuk, langkah selanjutnya yaitu menjalankan apa yang sekarang menjadi pilihannya. Dengan cara menunjukkan yang terbaik dan tidak mengecewakan orang-orang terdekatnya. Atas izin Allah Elsa telah mendapatkan kesempatan. Dan sekarang yang menjadi tugas Elsa yaitu dengan menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Teman Kuliah

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day24
#415kata

Jalanan memang ramai di pagi hari. Banyak orang berlalu lalang menjalankan aktivitasnya. Elsa sendiri pun begitu. Dia biasa naik sepeda menuju ke kampusnya yang tidak jauh dari rumahnya. Kira-kira tidak sampai tiga kilo jarak antara rumah dengan kampusnya. Berada di pinggir kota, sementara rumah Elsa berada di desa. Elsa biasa menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit agar sampai ke kampus.
Belum sampai di kampus tepat di depan kampus Elsa menghentikan sepeda dan memarkirkan di depan toko. Lalu Elsa berjalan masuk ke dalam toko tersebut dan membeli sesuatu. Jam menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh menit, menandakan jika dua puluh menit lagi mata kuliah akan dimulai. Elsa tidak lama di toko sebab baru beberapa menit dia sudah keluar.
Elsa kembali menggayuhkan sepeda, lalu masuk ke kampus dan dengan segera masuk ke kelasnya. Elsa menghampiri seseorang yang tengah duduk sibuk sambil membaca buku. Tepatnya membaca novel.
"Assalamualaykum," salam Elsa. Lalu orang yang tengah membaca novel itu menutup bukunya dan menatap ke arah Elsa.
"Waalaikumussalam ... noh, baru sampai?" tanya orang itu.
Elsa meringis. Setelah itu dia mengeluarkan sesuatu yang baru dibeli olehnya tadi.
"Nih, buat kamu." Elsa menyodorkan sesuatu itu.
"Wah, cokelat! Buat Hana?" tanya orang di depan Elsa itu. Elsa mengangguk. Tempat duduk mereka memang bersebelahan.
"Ah sebentar-sebentar ... pasti ada hal yang enggak beres tiba-tiba kasih cokelat. Maaf ya, Hana nggak bisa menerima sogokan," kilah Hana, belagak menolak pemberian cokelat dari Elsa.
Elsa mengeryitkan keningnya, lalu mengambil cokelat kembali.
"Yaudah kalau nggak mau. Aku makan sendiri, lumayan." Dengan segera Hana menahan Elsa, lalu mengambil cokelat itu.
"Hehe, nggak jadi. Ini buat Hana, kan?" tanya Hana saat ditangannya sudah memegang cokelat.
"Makasih Elsa ... baik banget," ucap Hana sambil mencubit pipi Elsa.
"Nah, jadi ada apa? Ah, nggak jadi nggak jadi." Hana mengalihkan topik pembicaraannya.
Sambil menunggu dosen datang, Hana membuka bungkus cokelat tersebut kemudian memakannya. Hana sudah tidak memikirkan alasan apa Elsa membelikannya secara tiba-tiba. Tidak seperti biasanya memang, hal itu sebenarnya menjadi pertanyaan bagi Hana. Namun Hana abai, karena cara Elsa lebih mempan daripada ancaman Hana.
"Semalam aku menikah." Ucapan Elsa yang tiba-tiba membuat mata Hana membulat.
"APA?" pekik Hana karena terkejut.
Elsa menenangkan Hana agar tidak terkejut dan mengecilkan intonasi ucapannya.
"Assalamualaikum," salam dosen yang baru masuk ke kelas. Setelah itu Elsa tersenyum hambar pada Hana.
"Nanti Elsa ceritakan semuanya," ucap Elsa sebelum akhirnya membuka mata pelajaran kuliah pada saat itu.
Hana dan Elsa sudah bersahabat sejak mereka masuk ke kampus. Saat menjadi mahasiswa baru. Mereka saling mengenal saat bersama di orientasi mahasiswa

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Meluapkan

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day25
#404kata

Hana dan Elsa sudah bersahabat sejak mereka masuk ke kampus. Saat menjadi mahasiswa baru. Mereka saling mengenal saat bersama di orientasi mahasiswa. Mereka sama-sama berhijab dan ternyata satu jurusan juga.
Kelas ekonominya memang tidak sama, sebab Hana tergolong orang yang berada.  Namun meskipun seperti itu, tetapi Hana memiliki hati yang baik pada yang lainnya. Hana paham jika kekayaannya semata-mata adalah titipan pada keluarga Hana. Kedua orang tua Hana sama-sama menjadi dosen di pusat kota. Kakaknya seorang angkatan darat dan Hana sendiri adalah seorang mahasiswi yang berteman dengan Elsa. Meskipun Hana memiliki ekonomi yang cukup, tetapi hal itu tidak membatasi cara berteman Hana dengan yang lain.
Hal yang bisa membuat Hana dan Elsa bisa sampai dan bersama sampai titik saat ini adalah, mereka satu frekwensi. Mereka memiliki cara berpikir yang sama, bukan sama persis tetapi memiliki pemikiran yang arahnya hampir sama. Hana dan Elsa bisa saling menghargai satu sama lain. Selain itu juga dia satu tujuan, yakni sama-sama membahagiakan orangtua dengan cara mereka.
Hana ingin mewujudkan impian orangtuanya yang menginginkan dia menjadi orang yang mampu menyebarkan ilmunya. Sementara Elsa, dia ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk sekitarnya. Mudah memang, terlihat sederhana juga. Namun saat melakukannya memang perlu pengorbanan yang sangat keras.
Detik demi detik telah berlalu. Satu mata pelajaran telah dilalui dengan seksama. Para mahasiswa begitu kidmah mengikuti mata kuliah pada saat itu. Namun, tidak pada Hana. Berbagai pertanyaan ada dalam pikirannya.
"Elsa!" pekik Hana yang sudah berada di dekat Elsa. Elsa langsung mengalihkan pandangannya ke arah Hana.
"Gara-gara cerita nggantung tadi, pikiranku jadi nggak fokus pelajaran." Hana duduk di depan Elsa.
"Kamu becanda, kan, Sa?" tanya Hana merasa tidak percaya dengan Elsa. Elsa menyiapkan diri untuk bercerita pada Hana. Jam sudah istirahat, beberapa dari mahasiswa sudah keluar dari ruangan. Sebagian yang lainnya juga masih memilih duduk di tempat.
"Aku ... aku nggak ngerti harus seneng atau sedih. Yang jelas, ini masih sulit aku terima. Aku serius ... semalam aku sudah jadi isteri orang yang aku sendiri saja belum tahu dia siapa, dia bagaimana." Hana mengelus punggung tangan Elsa yang terletak di atas meja.
"Semua terjadi secara tiba-tiba. Tanpa aku duga sebelumnya. Aku bener-bener nggak ngerti harus bagaimana, yang jelas semua sudah terjadi. Aku sudah menjadi seorang isteri," lirih Elsa yang tiba-tiba air matanya sudah mengalir begitu saja.
Hana bangkit dari duduknya, setelah itu dia mendekat ke arah Elsa dan memeluknya. Hana berharap, pelukan itu mampu meluapkan dan melegakan perasaan tertahan yang sedang Hana jalani.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Perasaan Lain

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day26
#425kata

"Aku percaya kamu bicara jujur. Tapi aku kurang mempercayai kenapa semua terjadi? Nanti ya, kita ngobrol di tempat lain. Yang jelas tidak di sini. Aku mau kamu cerita semuanya." Hana mengelus punggung Elsa saat berada dalam pelukannya. Elsa mengangguk, lalu melepas pelukan itu sembari menyapu pipinya dari air mata.
"I can ... ya," ucap Elsa sembari melemparkan senyuman.
"Cokelatnya jangan lupa dimakan. Itu bakalan jadi saksi dari pernikahanku," ucap Elsa, bercanda. Hana langsung mengambil cokelat itu di atas meja lalu membuka dan melahapnya lagi.
"Ini dimakan. Pasti habis kok, terima kasih banyak." Elsa tersenyum mendengar hal itu.
Mereka ini sedang menjalani semester tujuh. Banyak tugas dan menjelang ujian skripsi memang hal besar yang akan menjadi pengalaman berharga saat duduk di bangku kuliah. Elsa sendiri sudah mendaftarkan diri menuju sidang skripsi yang tinggal dua minggu lagi. Pun Hana, dia memiliki jadwal sidang yang sama juga. Mereka akan sidang dua minggu lagi. Mereka ini saling support satu sama lain, di semester tujuh saja dia lebih cepat menyelesaikan berbagai ujian.
Tepat jam tiga sore, mereka telah menyelesaikan pembelajaran mata kuliah. Setelah selesai, mereka putuskan untuk menuju ke masjid kampus persiapan solat ashar. Saat ini mereka sedang berjalan bersama menuju ke tempat itu.
"Diem aja, mikirin apa sih?" ucapan Elsa memecahkan keheningan saat mereka tengah berjalan bersama menuju ke masjid.
"Anam!" jawab Hana spontanitas.
"Ha?" Elsa terkejut.
"Kenapa dengan Anam?" tanya Elsa merasa aneh karena tiba-tiba saja Hana memikirkan Anam.
"Anam gimana, ya? Eh, Anam tahu kalau kamu sudah menikah?" tanya Hana.
"Aku nggak tahu sih. Tapi lambat laun juga tahu. Kemarin ijabnya aja di masjid yayasan, nggak mungkinlah, Anam nggak tahu. Memangnya kenapa?"
"Iihhh ... aku nggak sabar denger kamu cerita," rintih Hana.
"Iya, jawab dulu memangnya kenapa dengan Anam?" tanya Elsa. Mereka masih berjalan menuju ke masjid yang bangunannya sudah tampak di depan mereka.
"Kamu nggak ngerasa Anam ada perasaan sama kamu gitu? Atau ... kamu nggak ada perasaan apa-apa sama Anam?" tanya Hana terdengar berbelit-belit.
"Sebentar ... gimana sih maksudnya?" Elsa menghentikan langkahnya lalu menayap lekat manik hazel milik Hana. Hana ikut menatap ke arah Elsa.
"Come on ... ya kali kamu nggak ada perasaan apapun ke Anam. Dia baik banget loh ke kamu. Ya kali nggak ngerasa apa gitu?" tanya Hana merasa heran sama Elsa.
Elsa menggelengkan kepala.
"Aku nggak ngerti maksudnya gimana. Yang jelas gini ya ... Umi Zahra sama Abah sudah aku anggap seperti orangtua sendiri. Termasuk Anam, dia sudah aku anggap seperti kakak aku. Udah gitu aja," Elsa menjelaskan pada Hana dengan jelas yang membuat Hana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Mi Ayam

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day27
#410kata

“Serius gitu aja?” tanya Hana mencoba memastikan lagi. Elsa mengangguk.
“Dahlah, cepetan kita solat ashar dulu.” Dengan segera Elsa menarik tangan Hana agar lebih cepat melaksanakan solat ashar. Mereka mengambil air wudhu terlebih dahulu, setelah itu mereka masuk ke dalam masjid dan di bagian shaf puteri.
Kampus masih ramai di jam segiini. Meski ada beberapa yang memilih untuk pulang usai pembelajaran. Elsa dan Hana melaksanakan solat dengan berjamaah.
Usai solat tadi, mereka memilih untuk pergi ke kedai makanan. Tempatnya masih di sekitar kampus. Elsa sendiri pun sudah meminta izin pada Bapak untuk pulang agak sore. Bapak pun mengizinkan. Namun sebenarnya Bapak lebih memerintahkan pada Elsa agar membiasakan diri untuk meminta izin pada suaminya. Karena baru pertama dan belum terbiasa, Bapak memaklumi itu. Bapak juga mengabarkan jika Kevin sudah sembuh dari sakitnya.
Sementara Hana, dia sudah memesan es jeruk lengkap dengan mi ayam dua porsi. Hana sudah siap mendengarkan semua yang akan diceritakan oleh Elsa.
“Mulai ya … tapi nggak bisa lama-lama. Takut nanti Bapak khawatir.” Hana mengangguk.
“Jadi … kalian saling mengenal?” tanya Hana. Elsa menggeleng.
“Bahkan sampai sekarang pun kami belum saling mengenal. Tahu namanya karena sering mendengar orang memanggil namanya. Pun sebaliknya.”
Pesanan mereka pun datang. Dengan segera Hana mengeksekusi makanannya dengan menambah saus, kecap, dan sedikit sambal.
“Sambalnya jangan banyak-banyak … kambuh lagi aku nggak bisa nemenin kamu lagi loh, ya?”
“Iya-iya …”
“Jadi ceritanya tuh, usai solat magrib bapak ngerasain sakit kepala nah, aku coba cari obat ternyata nggak ada. Akhirnya, aku putuskan buat beli di apotek.” Setelah itu Elsa menceritakan kronologi kejadian bagaimana dia bisa menikah mendadak dengan pria yang tidak dikenalinya. Hana mendengarkan dengan perasaan kasian, sedih, tetapi masih lahap memakan mi ayam itu. Sementara Elsa, dia memilih untuk bercerita dan mengabaikan mi ayam yang asapnya sudah tak terlihat lagi.
“Akhirnya … mau nggak mau Aku harus terima ini semua. Sulit memang, tapi Bapak selalu kasih aku motivasi semangat. Entahlah, kenapa bapakku bisa selegowo itu.”
“Lalu, kamu sama dia gimana? Siapa tadi namanya? Kevin ya?” tanya Hana lagi.
“Gimana orangnya saja aku nggak ngerti. Maksudnya dia sangat bersedia menikah denganku juga aku nggak ngerti karena apa. Semua bener-bener cepat banget terjadinya,”
“Makan dulu tuh, udah dingin juga. Ntar dilanjut lagi,” Hana meminta Elsa untuk segera memakan mi ayam yang sudah hampir dingin itu. Elsa mengalihkan pandnagannya menuju ke mi ayam yang malang itu. Buru-buru Elsa melangitkan istigfar sembari mengambil saus, kecap dan juga sedikit sambal. Karena terlalu mendalami ceritanya, Elsa sampai lupa dengan makanannya.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Perasaan Takut

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day28
#409kata

"Assalamualaikum," salam Elsa begitu sampai di depan rumahnya. Tepat jam lima sore tadi, Elsa baru sampai di rumahnya.
Semua kejadian sudah diceritakan pada Hana secara lengkap. Elsa menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi, Hana sendiri sempat kasihan pada Elsa. Namun, Hana yakin dibalik semua ini pasti ada rahasia terbaik dari Allah. Hana juga yakin, diturunkannya ujian ini untuk mengukur dan meninggikan derajat hamba-Nya.
"Waalaikumussalam waarahmatullah ...." Terdengar jawaban salam dari dalam rumah yang tidak lain adalah Bapaknya Elsa.
Begitu pintu terbuka, Elsa menyambar tangan bapak untuk menyalaminya.
"Baru pulang, nak?" tanya Bapak pada Elsa. Yang ditanya menjawab dengan senyuman.
"Tadi masih ada janji sama Hana. Alhamdulillah sudah terlaksana," jawab Elsa seadanya.
"Yuk masuk. Tadi bapak sudah masak tumis kacang sama tempe kesukaanmu." Lalu mereka masuk ke dalam rumah. Elsa diam, tetapi pikirannya berkelana ingin menanyakan keberadaan Kevin. Bukannya apa-apa, hanya saja Elsa ingin tahu bagaimana keadaan Kevin setelah dia tidak disadarkan oleh alkohol itu. Ingin bertanya pada Bapak, tapi Elsa enggan menanyakan itu.
"Hana masuk ke kamar dulu," pamit Hana lalu berjalan menuju ke kamarnya.
Sampainya di kamar, Elsa tidak melihat siapapun di sana. Kamar terlihat rapi seolah tidak terjamah oleh siapapun. Elsa meletakkan tas dan bukunya di nakas. Setelah itu dia mengambil beberapa pakaian untuk persiapan mandi dan berganti pakaian.
"Ke mana orang itu?" Guman Elsa. Tetapi Elsa abaikan dan memilih untuk keluar dari kamarnya.
Sebenarnya niat Elsa ingin ke dapur menyusul bapaknya. Namun, Elsa berpikir lain untuk mandi terlebih dahulu sebelum dia membantu memasak.
"Elsa mandi dulu ya, pak? Ke buru malem. Nanti Elsa nyusul," pamit Elsa sembari berjalan menuju ke kamar mandi.
"Ya nak," jawab Bapak dari dapur.
Elsa berjalan menuju ke kamar mandi. Memang hampir bersebelahan dengan dapur, tetapi masih ada sekat antara kamar mandi dengan dapur tersebut. Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, tiba-tiba saja pintu terbuka. Di sana muncul orang laki-laki yang mengeringkan rambutnya yang tak lain adalah orang yang dari tadi Elsa cari.
Mereka saling pandang sejenak, sebab setelah pandangan itu bertemu Elsa segera mengalihkan pandangan itu dengan menunduk. Udara hening menerpa dua insan yang kini sedang saling diam, padahal dalam pikirannya ingin mengatakan sesuatu.
"Ma-mau mandi," ucap Elsa terdengar gugup.
Yang diajak bicara hanya menganggukkan kepala lalu sedikit memberi jalan pada Elsa. Dengan segera Elsa masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya. Elsa diam sejenak sembari menetralkan jantungnya. Bukan karena apa, Elsa masih diselimuti oleh rasa takut pada dirinya. Elsa takut pada sikap Kevin yang terlihat brutal dan kebiasaan-kebiasaan buruknya.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Kesal

0 0

#PR
#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day29
#403kata

Usai mandi, Elsa memilih untuk langsung ke dapur. Dia segera menyusul bapaknya yang kini tengah duduk terdiam di kursi yang ada di dapur. Begitu Elsa datang, bapak mengalihkan pandangannya menuju kea rah lain.
“Ngelamun saja bapak ini.” Tanpa harus mengalihkan pandangan Elsa sudah melihat bapaknya yang tengah melamun. Spontan saja bapak tersenyum sebab Elsa menyadari apa yang sudah bapak lakukan.
“Mau makan dulu apa ntar habis magrib?” tanya bapak.
“Masih ada lima belas menit menjelang magrib sih, Pak. Makan dulu saja deh. Ntar habis magrib langsung ngaji.” Elsa mengambil piringnya.
“Nak Kevin?” Pertanyaan bapak membuat Elsa menghentikan kegiatannya.
“Nggak diajak sekalian? Atau mau nanti apa gimana?” Bapak bertanya lagi.
“Nggak tahulah, Pak.” Jawab Elsa seadanya.
“Ada, ya, yang isterinya Kenyan tapi suaminya kelaparan?” tanya bapak.
Elsa berpikir kembali. Bukan memikirkan kebenaran yang sudah dikatakan oleh bapaknya. Namun malah Elsa memikirkan mengapa bapak bisa sesantai itu, seolah-olah beradaptasi dengan orang asing saja begitu mudah. Elsa bukan seperti itu.
“Belum berani, ya?” tanya Bapak.
Elsa memandangi bapak sejenak. Elsa harap bapak mampu menemukan jawabannya dari sorot mata Elsa.
“Memang semuanya perlu dilatih. Perlu pembelajaran dan pembiasaan terlebih dahulu. tapi, kalau belum juga dimulai, kapan ada kemajuan?” bapak mengatakan hal itu pada Elsa saat mata mereka saling pandang.
“Tapi kalau memang masih belum berani juga tidak apa-apa. Semua memang butuh proses.” Bapak mengambil piringnya lalu mengambil nasi. Tiba-tiba saja Elsa berdiri dari duduknya sembari bergeming.
Bapak hanya melihat Elsa yang meninggalkan meja makan tanpa mengatakan apapun. Dan sebaliknya, Bapak tidak bertanya apapun pada dirinya.
Elsa meninggalkan tempat lalu berjalan menuju ke kamarnya. Namun sampai di depan pintu dia menghentikan langkahnya. Elsa sempat berpikir sejenak, baru setelah itu dia mengetuk pintu kamarnya. Elsa mengetuk pintu tanpa mengatakan atau memanggil apapun. Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka. Di sana muncul Kevin yang sudah berganti pakaian. Elsa menundukkan kepala. Sempat hening sejenak menerpa mereka.
"Aku sama Bapak mau makan. Bapak tanya, kamu mau makan kapan?" tanya Elsa terdengar pelan.
"Yang tanya bapak?" Kevin kembali bertanya. Elsa diam.
"Tapi yang ngomong kamu." Kevin keluar kamar dan menutup pintu.
"Ya. Soalnya habis magrib kami mau ngaji," jawab Elsa lalu berbalik dan meninggalkan Kevin.
Elsa kembali ke dapur untuk menyusul bapaknya. Meski ada sesuatu yang tengah Elsa tahan, tetapi dihadapan Bapak Elsa melemparkan senyuman dengan ramah. Seolah semu sedang baik-baik saja.
"Udah ditanyain, tapi Elsa nggak tahu jawabannya. Sudahlah, pak. Kita makan duluan, nanti kalau lapar pasti di---"
"Nak Kevin," panggil Bapak.

TO BE CONTINUE
Terima kasih yang sudah mampir
Sampai bertemu besok, di sarkat day selanjutnya

Fii Amanillah

Kesederhanaan

0 0

#sarapankata
#KMObatch48
#Kelompok6
#Baswaraaksa
#Day30
#414kata

"Nak Kevin," panggil Bapak.
“Sini … makan sama-sama.” Elsa langsung terdiam begitu Bapaknya mengatakan hal itu. Elsa tersadar jika Kevin baru saja datang menghampiri mereka. Kevin tersenyum, lalu ikut duduk di meja makan yang bundar itu.
“Ayok makan. Keburu solat magrib,” pinta bapak pada Kevin.
Kevin langsung mengambil piringnya dan mengambil nasi beserta lauk secukupnya. Suasana di meja makan itu kembali hening. Mereka saling sibuk dengan makanannya. Apalagi Elsa, yang lebih banyak diam dari sebelum-sebelumnya.
“Habis magrib nanti kami mau mengaji di yayasan. Nak Kevin mau ikut?” tanya Bapak yang sontak saja membuat Elsa dan juga Kevin terdiam dari aktivitasnya.
Elsa memilih diam sebab Elsa tahu bagaimana kemungkinan jawaban Kevin nanti. Elsa tahu jika Kevin akan menolak ajakan itu. Bukan karena apa-apa, tetapi karena mengaji adalah hal yang tidak mungkin akan dilakukan oleh Kevin. Ingat kejadian kemarin, saat Kevin merancu tidak sadarkan diri dari alcohol? Itulah kebiasaannya.
Dan sebaliknya, Kevin sudah pasti memilih diam karena tidak tahu jawaban apa yang akan dia lontarkan. Menolak ajakannya sudah pasti segan. Namun jika mengiyakan sudah pasti hal itu akan membuat dirinya terpaksa dan tersiksa dengan kegiatan itu.
“Saya nanti ada kegiatan lain, Pak.”
Elsa sontak saja tersenyum menyeringai. Senyuman tanda jika apa yang Elsa pikirkan adalah benar.
“Iya. Nggak apa-apa, lain waktu saja,” kata Bapak mengakhiri.
Elsa melanjutkan makannya tanpa mendengarkan apapun, meski sebenarnya Elsa mampu mendengarkan semuanya.
“Tapi … kalau misalnya harus ikut juga tidak apa-apa. Acaranya biar aku undur nanti setelah ngaji saja,” kata Kevin melanjutkan.
“Nggak usah. Kami tidak akan mengganggu kegiatan pribadimu. Kami akan berangkat berdua,” lirih Elsa namun mampu didengar orang yang duduk di ruang makan itu.
“Nak Elsa …” panggil Bapak.
“Ya sudah. Saya fix ikut,” Kevin menjeda kalimatnya sejenak. “Boleh, kan?” lanjut Kevin sembari melirik ke arah Elsa.
“Kalau niatnya baik nggak apa-apa,” jawab Elsa.
Bapak spontan saja tersenyum. Kevin menganggukkan jawaban Elsa. Baru setelah itu terdengar azan magrib yang bergema. Dari satu masjid ke masjid lainnya saling bersautan. Bapak melangitkan takbir.
“Alhamdulillah …, bapak mau ke belakang dulu, ya? Persiapan solat magrib.” Ucapan hamdalah sebab selesai dari makan. Lalu bapak beranjak, meninggalkan meja makan itu.
“Saya juga,” Elsa berdiri dari duduknya sembari membawa piring itu menuju ke tempat cuci piring.
Sementara Kevin, dia masih duduk di tempat sembari meninggalkan senyuman yang entah memberi makna apa. Kevin melanjutkan makanan dengan menu sederhana, tetapi memiliki kenikmatan tersendiri. Kevin menyadari sesuatu jika kesempurnaan hati tidak perlu sesuatu yang mewah. Cukup dengan kesederhanaan, tetapi hati memberi kesan dan kebahagiaan. Tenteram, lega dan menenangkan.

Mungkin saja kamu suka

Annisa Aurelia
Di sepertiga malam
Hasna Nayla Taz...
Allah Akan Selalu MenolongMu
Sekar Hidayatun...
Hati yang Terpilih
Aisyah Rika Hus...
Purnama
Rita Anggraeni
AGATHA dan ANGGITA

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil