Loading
0

0

0

Genre : Keluarga
Penulis : Dhiya Ghiga
Bab : 30
Pembaca : 1
Nama : Dhiya
Buku : 1

Wanita Di Penghujung Senja

Sinopsis

Adalah dua sosok wanita tangguh yang sesungguhnya yang nyata kulihat dalam hidupku. Lebih kuat dari Wonderwoman lebih tangguh dari BlackWidow dan lebih bijaksana dari Ibu peri. Mereka adalah Ibuku dan Nenekku. Banyak persamaan antara Ibu dan Nenek. Di usia senja mereka sama-sama tak mau tinggal menetap di salah satu rumah anaknya. Bahkan Nenek tak pernah sekalipun meninggalkan rumah sederhananya meskipun hanya sekadar untuk menginap di rumah anak cucunya. Sempat kami mengira Nenek lebih menyayangi ayam, bebek, serta kucing peliharaannya daripada kami anak cucunya. Sesaat terlintas dalam pikiranku bahwa sikapnya terkesan terlalu pilih kasih kepadaku cucunya. Setelah dewasa, barulah aku memahami tentang pendiriannya yang tak pernah mau pergi dari rumah, paham sikapnya yang seolah agak menjaga jarak bahkan terkesan jauh denganku yang merupakan cucunya tetapi dengan sepupuku yang lain beliau begitu dekat. Paham bahwa Ibu dan Nenek pasti punya alasan atas sikap masing-masing. Kami pernah sangat membencinya saat kecil hingga beranjak remaja. Ketika kami harus pindah rumah meninggalkan tempat kelahiran dengan kondisi yang sangat memilukan. “Dera, temani Ranu ke rumah Nenek. Sekalian kamu temu kangen ,Kakak harus belajar untuk ujian akhir” teriakan Kak Jani dari dalam kamar sembari cekikikan. Rinjani kakakku tahu betul perasaanku terhadap Nenek, kami saling memahami bahkan terkadang saling mengolok memakai alasan Nenek seperti yang dia lakukan. Kecewa dan benci karena kejadian memilukan sewaktu kecil berhasil bertahan dalam dadaku untuk waktu yang lama. Karena rasa itu pula kuputuskan untuk jarang mengunjunginya. Ditambah lagi aku sering mendengar kabar dan cerita dari menantunya yang juga pernah merasa kecewa bahkan seakan cenderung tak suka kepadanya. Dan menantu Nenek yang kecewa itu adalah Ibuku. “Nenekmu itu sayang dan perhatian banget dengan Bude dan Tante serta anak-anak mereka, berbeda jauh sikapnya terhadap kita. Lihat saja betapa sering dia mengunjungi rumah Bude Tin dan Tante Lis. Ke rumah kontrakan kita, setahun ini aja bisa dihitung”, demikian salah satu curhatan Ibuku. Dulu aku tak pernah berusaha mencari tahu alasan mengapa Ibuku begitu terlihat seolah tak menyukai Nenek. Pun tak berani serta tak tertarik untuk menanyakan. Bagiku Ibu adalah segalanya, oleh karena itu aku sangat berhati-hati terhadap perasaan dan moodnya . Karena sejak Ayah pergi menjadi TKI dan pulang dengan sukses membawa pundi-pundi beserta istri baru, hanya Ibu yang berjuang demi kami anak-anaknya. Itulah alasan mengapa aku menjadikan diri sebagai pendengar setia seluruh curhatan Ibu. Karena aku tak mau lagi melihat Ibu sedih apalagi menangis. Suatu hari tiba-tiba aku dikejutkan kabar bahwa Nenek sudah dalam keadaan paling lemah. Sepulang kerja aku tak pulang kerumah tapi langsung menuju rumah Nenek. Sudah ada Bude dan Tante beserta suami mereka, juga para sepupu yang ternyata sudah datang dari luar kota. Setelah aku mengucap salam, mencium tangan, dan mengusap lengan beliau menoleh dan memanggil namaku. Tapi aku tak sanggup melihat tangannya yang bergetar. Belakangan ini baru kutahu, ternyata itu adalah tanda sakaratul maut. Kuputuskan untuk keluar kamar. “Kaldera...atas nama Nenek mohon di maafkan semua kesalahan Nenek agar beliau bisa pulang dengan tenang. Berdasarkan pengalaman Om Hans melihat pasien Om, kondisi seperti ini pertanda bahwa masih ada yang belum ikhlas bahkan memendam perasaan entah apa itu kepada Nenek. Meskipun tidak semua orang yang berada dalam kondisi kritis sedemikian rupa.” “DEG!!!” ada rasa nyeri dan sakit yang entah darimana datangnya. Pesan Om Hans sangat menusuk tepat di hatiku . Kini aku memang tak seperti dulu, aku sering berkunjung ke rumah Nenek tak seperti saat ku remaja. Tapi ternyata memang aku masih menyimpan ingatan kecewa kepadanya. Akhirnya kuputuskan untuk kembali memasuki kamarnya, kucium tangannya dan kubisikkan kalimat dengan pelan ditelinganya. “Nenek, maafin Kaldera sudah banyak salah. Kaldera juga sudah ikhlas atas apa yang dulu terjadi, Dera tidak benar-benar membenci Nenek. Dera sayang Nenek.” Dengan tangan dan badan yang masih bergetar, beliau menoleh padaku berucap maaf dengan sangat pelan. Kemudian aku menuntunnya, Talkin di telinganya dengan kata LAA ILAAHA ILLALLAH..... Innalilahi wainnailaihi rojiuun ,, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada Allah jugalah kita kembali (QS. AL BAQARAH 2:156). Selamat istirahat dan tidur panjang nek, sekarang kami anak cucumu yang akan meneruskan memelihara kucing, ayam dan bebek kesayanganmu.
Tags :
#SARKAT#KMOINDONESIA#KMOBATCH40#KELOMPOK26JURO#SJB

Bab 1. Terasing

0 0

#SarapanKata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#Kelompok26JURO

#JumlahKata521

#Day1

#SarkatJadiBuku

Nenek bagiku hanyalah sekedar panggilan untuk seorang wanita tua yang berstatus Ibu dari Ayahku. Sejauh yang aku ingat dan aku tahu, hampir tak pernah aku merasakan kehangatan seorang nenek kepada cucunya. Tapi hal itu tak berlaku bagi Ninda, Dandi, Aksan dan si kembar Mirna dan Lirna. Mereka para sepupuku selalu mendapat kasih sayang dan kehangatan dari Nenek. Terbukti dengan seringnya Nenek mengunjungi rumah mereka bahkan menginap jika ada acara di rumah Bude dan Tanteku. Sedangkan ke rumahku, datang hanya sebentar kemudian pulang jika acara selesai. Tak pernah sekalipun menginap di rumah kami hingga aku dan Kakakku mengira Nenek lebih menyayangi ayam, bebek serta kucing peliharaannya daripada kami anak cucunya.

Terlintas dalam pikiranku bahwa sikapnya terkesan terlalu pilih kasih kepada ku cucunya. Bahkan ketika aku sakit dan harus opname, tak kulihat seharipun Nenek menjenguk baik di Rumah sakit maupun saat aku sudah kembali ke rumah. Sebagai anak kecil yang terkadang iri melihat teman dan saudara mendapat perlakuan hangat dari Neneknya, tentu saja aku kecewa dengan sikapnya. Karena Hanya dia Nenek yang aku punya, Nenek dari pihak Ibuku sudah meninggal bahkan jauh sebelum aku lahir.

“Nenek boleh ya Dera makan kuenya, kayanya enak nih”, obrolan sore di penghujung hari Minggu.

“Jelas, nenek kan pandai bikin kue. Dijamin enak, tapi jangan serakah bagi-bagi sama yang lain.” Jawab nenek kepadaku. Maksudnya adalah agar aku berbagi dengan para sepupu.

“Kaldera habisin aja semuanya, yang itu mah biasa aja. Kue yang kemarin jauh lebih enak. Ayo dong nek, bikin kue yang kaya kemarin nenek bawa ke rumah” Rengekan si kembar Mirna Lirna membuat aku kaget.

Kutelan sisa kue yang masih di tangan tanpa mengunyah. Kecewa, sedih, terasing dan merasa dikucilkan mendengar bahwa Nenek bukan hanya berkunjung ke rumah para sepupu jika ada acara tetapi juga sering mengirim makanan sedangkan ke rumahku sama sekali tidak pernah.

Sedih yang kurasakan semakin bertambah tatkala aku disuguhkan pemandangan yang melengkapi nyeri di hatiku. Nenek mengusap lembut bahkan mencium si kembar, Ninda, Dandi dan Aksan. Sedangkan kepadaku dan Rinjani kakaku tidak. Suatu hari pernah kami glendotan tapi nenek menghindar karna alasan buru-buru mematikan kompor.

“ahh...mengapa kami selalu diperlakukan berbeda”

Suatu hari sepulang sekolah, aku dikejutkan suara Ibu yang menangis sesenggukan. Samar kudengar Ayah berpamitan. Hendak kemana Ayah? Mengapa hanya berpamitan saja sampai membuat Ibu menangis. Berbagai pertanyaan memenuhi otakku yang setiap harinya hanya berisi tentang rencana menonton film kartun, bermain bersama teman dan tugas-tugas sekolah.

Kudekati Ibu yang masih terisak di sudut ruangan. Entah apa yang dia rasakan sehingga tangisnya terdengar begitu nelangsa. Kudekati Ibu sambil bertanya mengapa dia menangis. Tak ada jawaban, dia hanya menarikku ke pelukannya. Aku hanya bisa pasrah terdiamembiarkan Ibu melanjutkan dan menyelesaikan tangisannya.

Pertama kali dalam hidup otakku bekerja sangat keras. Segala macam pikkran buruk dan prasangka tak hentinya bermain-main di dalam sana. Hal yang melengkapi kebingunganku adalah saat ku lihat ayah hanya duduk diam dengan raut muka yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Ada apa ini, kenapa Ibu menangis dan Ayah mukanya aneh begitu”.

Selama berada di pelukan Ibu, tak mampu ku bersuara. Aku sibuk bertanya sekaligus menjawab semuanya dalam diam, membatin. Satu-satunya harapanku adalah Rinjani, kakakku. Kuharap dia segera pulang untuk bisa sedikit mengurai kekusutan ini.

 bagiku hanyalah sekedar panggilan untuk seorang wanita tua yang berstatus Ibu dari Ayahku. Sejauh yang aku ingat dan aku tahu, hampir tak pernah aku merasakan kehangatan seorang nenek kepada cucunya. Tapi hal itu tak berlaku bagi Ninda, Dandi, Aksan dan si kembar Mirna dan Lirna. Mereka para sepupuku selalu mendapat kasih sayang dan kehangatan dari Nenek. Terbukti dengan seringnya Nenek mengunjungi rumah mereka bahkan menginap jika ada acara di rumah Bude dan Tanteku. Sedangkan ke rumahku, datang hanya sebentar kemudian pulang jika acara selesai. Tak pernah sekalipun menginap di rumah kami hingga aku dan Kakakku mengira Nenek lebih menyayangi ayam, bebek serta kucing peliharaannya daripada kami anak cucunya.

Terlintas dalam pikiranku bahwa sikapnya terkesan terlalu pilih kasih kepada ku cucunya. Bahkan ketika aku sakit dan harus opname, tak kulihat seharipun Nenek menjenguk baik di Rumah sakit maupun saat aku sudah kembali ke rumah. Sebagai anak kecil yang terkadang iri melihat teman dan saudara mendapat perlakuan hangat dari Neneknya, tentu saja aku kecewa dengan sikapnya. Karena Hanya dia Nenek yang aku punya, Nenek dari pihak Ibuku sudah meninggal bahkan jauh sebelum aku lahir.

“Nenek boleh ya Dera makan kuenya, kayanya enak nih”, obrolan sore di penghujung hari Minggu.

“Jelas, nenek kan pandai bikin kue. Dijamin enak, tapi jangan serakah bagi-bagi sama yang lain.” Jawab nenek kepadaku. Maksudnya adalah agar aku berbagi dengan para sepupu.

“Kaldera habisin aja semuanya, yang itu mah biasa aja. Kue yang kemarin jauh lebih enak. Ayo dong nek, bikin kue yang kaya kemarin nenek bawa ke rumah” Rengekan si kembar Mirna Lirna membuat aku kaget.

Kutelan sisa kue yang masih di tangan tanpa mengunyah. Kecewa, sedih, terasing dan merasa dikucilkan mendengar bahwa Nenek bukan hanya berkunjung ke rumah para sepupu jika ada acara tetapi juga sering mengirim makanan sedangkan ke rumahku sama sekali tidak pernah.

Sedih yang kurasakan semakin bertambah tatkala aku disuguhkan pemandangan yang melengkapi nyeri di hatiku. Nenek mengusap lembut bahkan mencium si kembar, Ninda, Dandi dan Aksan. Sedangkan kepadaku dan Rinjani kakaku tidak. Suatu hari pernah kami glendotan tapi nenek menghindar karna alasan buru-buru mematikan kompor.

“ahh...mengapa kami selalu diperlakukan berbeda”

Suatu hari sepulang sekolah, aku dikejutkan suara Ibu yang menangis sesenggukan. Samar kudengar Ayah berpamitan. Hendak kemana Ayah? Mengapa hanya berpamitan saja sampai membuat Ibu menangis. Berbagai pertanyaan memenuhi otakku yang setiap harinya hanya berisi tentang rencana menonton film kartun, bermain bersama teman dan tugas-tugas sekolah.

Kudekati Ibu yang masih terisak di sudut ruangan. Entah apa yang dia rasakan sehingga tangisnya terdengar begitu nelangsa. Kudekati Ibu sambil bertanya mengapa dia menangis. Tak ada jawaban, dia hanya menarikku ke pelukannya. Aku hanya bisa pasrah terdiamembiarkan Ibu melanjutkan dan menyelesaikan tangisannya.

Pertama kali dalam hidup otakku bekerja sangat keras. Segala macam pikkran buruk dan prasangka tak hentinya bermain-main di dalam sana. Hal yang melengkapi kebingunganku adalah saat ku lihat ayah hanya duduk diam dengan raut muka yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Ada apa ini, kenapa Ibu menangis dan Ayah mukanya aneh begitu”.

Selama berada di pelukan Ibu, tak mampu ku bersuara. Aku sibuk bertanya sekaligus menjawab semuanya dalam diam, membatin. Satu-satunya harapanku adalah Rinjani, kakakku. Kuharap dia segera pulang untuk bisa sedikit mengurai kekusutan ini.

*******

Bersambung

 

 

 

 

 

Bab 2. Pamit

0 0

Suara Isak tangis Ibu berhasil membuat suasana hatiku yang riang langsung berantakan. Bagaimana tidak, tadi di sekolah aku berhasil mendapatkan piala dan hadiah sebagai juara umum lomba mata pelajaran Matematika tingkat Kabuoaten. Sepanjang perjalanan pulang sudah kubayangkan sambutan dari Ayah dan Ibu atas kemenanganku ini. Tapi ternyata angan-anganku lenyap tak berbekas. “Ibu kenapa nangis, Ayah juga kenapa mukanya sedih gitu yah?” Dalam kebingungan yang luar biasa samar-samar kudengar suara isakan dari arah kamar depan. Isakan itu begitu nelangsa dan menyayat hati. Kak Rinjani? Ada apa lagi dengan kakaku?. Ternyata dia sudah dirumah, tapi kenapa semua orang harus menangis di hari istimewaku. Hari ini aku mendapatkan prestasi, tidak adakah yang peduli padaku?. “Rinjani, Kaldera..kemari nak. Ayah ingin berbicara dengan kalian berdua”. “Malam ini selepas Isya, Ayah akan berangkat ke Saudi bekerja disana sebagai TKI. Kalian anak Ayah harus saling menjaga dan selalu bersama, utamakan belajar dan Sekolah agar pintar tak gampang dibodohi orang. Tapi juga jangan kalian membodohi orang lain dengan kepintaran yang kalian miliki.” “Junjung tinggi kejujuran dan kebaikan dimanapun kalian berada, meskipun terkadang tak semua orang berlaku jujur dan baik kepada kita.” “Ayah, ada apa ini sebenarnya. Mengapa tiba-tiba begini. Bagaimana dengan Rinjani dan adik-adik?” “Minggu depan Ujian kelulusan Jani, mana mungkin Jani bisa fokus belajar kalau keadaannya seperti ini.” Rinjani kakakku berusaha menahan kepergian Ayah. “Justru inilah waktu untuk kamu membuktikan kepada Ayah, Ibu dan juga adik-adikmu bahwa kamu adalah anak sekaligus kakak yang hebat. Meskipun kita sedang dilanda masalah dengan kondisi ekonomi kita seperti sekarang, kamu harus tetap mengutamakan pendidikan.” “Rinjani, Ayah pamit. Tolong jaga adik-adikmu. Doakan Ayah agar kelak pulang membawa keberhasilan. “Kaldera anak Ayah yang cantik, cerdas, pintar, kuat dan tangguh. Jagain Ibu, Kakak dan Juga Ranu. Tetap rajin belajar ya nak” Akhirnya Ayah mendekatiku yang sedari tadi diam membeku melihat pemandangan menyesakkan ini. Gerimis angin malam yang dingin semakin melengkapi suasana sedih yang kurasakan. Rinjani kakakku masih saja menangis, Ranu adiku hanya dadah-dadah melambaikan tangannya kepada Ayah. Wajar saja karena dia masih terlalu kecil, belum tau apa arti semua ini. Dalam pikirannya mungkin Ayah hanya pergi seminggu lamanya, kemudian pulang seperti biasa sembari membawa robot Ultraman kesukaannya. Tatapanku tak bisa lepas dari Ibu, tak lagi kudengar tangis seperti tadi siang tetapi aku melihat beberapa kali Ibu menyeka matanya. Entahlah, mungkin sudah habis air mata Ibu atau mungkin dia ingin terlihat tegar di depan kami anak-anaknya. Tiga bulan berlalu semenjak kepergian Ayah menjadi TKI, ada mobil berhenti tepat di halaman rumah. Tak lama berselang kudengar suara ketukan pintu. Apakah itu Ayah? Ah sepertinya tak mungkin. “Selamat siang dik, Kami dari Bank apakah Ayah atau Ibumu ada?” Sejenak ku amati dua orang yang bertamu di siang hari itu. Penampilannya rapi, mukanya penuh senyum dan tak menunjukkan ancaman. “Mohon maaf Pak, Ayah kami sedang tidak ada. Hanya ada Ibu” Tak berselang lama, setelah dua orang tamu itu pergi kudapati Ibu menangis sesenggukan sambil berpelukan dengan Kak Jani. Bingung sekaligus heran, ada apalagi ini sebenarnya. “Ibu, Kakak kenapa kalian begini. Ada apa sebenarnya?” “Kaldera bantu Ibu dan Kakak berkemas ya, kita harus segera pindah dari sini. Untungnya petugas Bank memberi kita waktu tiga hari untuk berkemas. Tenang saja rumah kontrakan kita jaraknya lebih dekat dengan sekolah kalian jadi tak perlu nunggu angkutan umum kalau mau ke Sekolah” “Kita pindah kemana Bu, kenapa kita harus pindah? Kita tinggal di rumah Nenek aja ya Bu.” “Astaghfirullahaladziim...huwaaa....huwaaa....Ya Allah” Apa yang salah dengan kalimatku? Mengapa Ibu malah menangis semakin keras setelah aku bilang untuk tinggal saja di rumah Nenek?

Bab 3. Pindah

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#KELOMPOK26JURO

#Day3

#Jumlahkata527

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Nama Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

 

Acara beberes menjadi terasa berat bagi kami terutama Ibu, meskipun tak lagi kulihat dan kudengar suara tangisannya tapi mata Ibu selalu terlihat sembab. Berbeda dengan Rinjani Kakakku yang masih saja menangisi semua yang terjadi pada kami. Seperti saat ini, dia mengikat kardus-kardus berisi barang-barang sambil tetap terisak. Acara beberes ini murni kami yang melakukan, tak ada keluarga Ayah yang datang membantu kami. Hanya Mang Tato dan istrinya, Bi Irah tetangga terdekat kami dan beberapa tetangga yang membantu kami.

Sebuah mobil bak terbuka terparkir di halaman, mobil inilah yang akan membawa kami pindah ke rumah kontrakan. Sedih, bingung, kecewa, jengkel dan marah menjadi satu namun aku hanya terdiam. Mungkin karena terlalu banyak perasaan yang bergejolak dalam hati sehingga aku tidak bisa mengekspresikannya.

Hari ini Aku memilih untuk tak ke sekolah di saat acara kelulusan SMP sekaligus pemberian penghargaan atas prestasiku. Dan akupun tak berani meminta apalagi memaksa Ibu untuk pergi bersamaku. Waktu yang tak tepat untukku menerima tepuk tangan disaat sedang berduka.

Proses angkut mengangkut dimulai namun tak semua barang dirumah diangkut mobil. Kursi tamu, kursi dan meja makan, dipan dan juga beberapa lemari sengaja kami tinggalkan. Menurut Ibu percuma saja dibawa karena di rumah kontrakan yang baru tak akan muat, lebih bagus dijual saja. Adegan selanjutnya mirip sekali dengan drama Korea. Kami berpamitan dengan para tetangga, tangis yang sudah berusaha ditahan Ibu akhirnya tak terbendung juga. Sama halnya dengan Ibu, akupun tak kuat menahan tangis yang sudah lama kutahan ketika Nek Marni tak henti-hentinya memeluk, mencium serta mengusap kepalaku.

“Hati-hati ya Dera, jadi anak Solehah, anak pintar, anak kuat. Sering-sering main ya ke rumah Nenek”, kalimat Nek Marni begitu tulus kudengar.

Dimana Nenekku? Dari kemarin tak kulihat Nenek dan yang lain mengunjungi kami bahkan hanya sekedar memberi dukungan dan ucapan perpisahan. Seumur hidup hanya ada Nenek Marni tetangga samping rumah yang benar-benar berperan seperti Nenek yang sesungguhnya bagiku. Rumahnya sudah menjadi basecamp bagiku, sedari kecil memang Nek Marni lah yang merawatku dan juga Rinjani Kakakku. Itulah mengapa aku begitu dekat dengannya.

Rumah kontrakan kami sangatlah kecil, hanya ada tiga ruangan ditambah satu kamar mandi di pojok. Tak ada kamar apalagi meja dapur. Akhirnya kami memutuskan ruangan tengah kami jadikan sebagai tempat tidur untuk kami berempat. Lingkungan tempat kami mengontrak didominasi oleh warga pendatang yang bekerja di Kota ini. Satu komplek ini terdapat 10 rumah kontrakan yang sangat berdekatan menyerupai kost-kostan yang berjejer rapi. Beruntungnya kami karena pemilik kontrakan ini adalah seorang yang baik hati. Beliau menerima pembayaran kontrakan secara bulanan bahkan bisa dibayar per tiga bulan. Hal ini dikarenakan para penghuni kontrakan yang kebanyakan buruh pabrik, kuli bangunan dan pedagang asongan. Kalau digambar, letak rumah kontrakan kami menyerupai huruf U. Ada sedikit rasa tenang di hatiku karena di tengah-tengah rumah kontrakan kami ada sebuah mushala kecil yang dibangun khusus oleh pemilik untuk kami beribadah.

Barulah seminggu kemudian Tante berkunjung ke rumah kontrakan kami, berikutnya giliran Bude Tin. Nenek? Sampai hampir setengah tahun kami menempati rumah kontrakan tak sekalipun beliau mengunjungi kami. Hal itulah yang kujadikan alasan untuk makin kecewa terhadap Nenek. Sedari kecil hampir tak pernah kurasakan kehadiran dan kasih sayangnya. Irinseringjaki kurasakan ketika melihat temanku berjalan bahkan bersenda gurau bersama Nenek mereka. Mengapa aku diperlakukan berbeda?

 

 

 

 

 

 

 

Bab 4. Apa Itu Malu?

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompok26JURO

#DAY4

#Jumlahkata599

#sarkatjadibuku

Sudah enam bulan berlalu sejak kepergian Ayah ke Saudi menjadi TKI dan masih belum ada kabar gembira untuk Ibu. Masalahnya Gaji ayah harus dipakai untuk membayar agen penyalur tenaga kerja. Karena waktu itu saat Ayah berangkat ke Saudi sama sekali tak membayar bahkan tak sepeserpun uang saku dimilikinya. Semua biaya murni ditanggung oleh agen penyalur TKI yang menaungi Ayah.

Namun hidup terus berjalan dan kami mau tak mau harus menjalani kehidupan ini dengan baik. Tak dipungkiri kebutuhan hidup manusia akan selalu menjadi sebuah masalah jika tak terpenuhi. Kami kini mengalami nya, dan inilah titik terendah dalam hidupku.

Kulihat Ibu yang semakin kurus memikirkan segala kebutuhan baik makanan dan biaya pendidikan. Aku sudah mulai lelah menjawab pertanyaan dari pihak sekolah yang menanyakan perihal tunggakan SPP. Rinjani Kakakku lebih panik lagi, dia terancam tak bisa mengikuti ujian akhir sekolah jika tunggakan SPP belum dilunasi.

“Rinjani, Kaldera mau ga kalian bantu Ibu?” Tanya Ibu di suatu malam.

“Besok Ibu sudah mulai berjualan makanan, karena hanya ini keahlian yang Ibu punya. Ibu harap kalian mau membantu dan buang semua rasa malunya. Kita sudah tak memiliki uang apalagi tabungan.”

“Jani akan membantu Ibu, Jani sama sekali ga malu kok. Malahan Jani berencana untuk tak mengikuti ujian akhir saja Bu. Percuma juga ikut ujian akhir, Jani ga berniat melanjutkan kuliah. Lebih baik uangnya untuk Sekolah Kaldera, Ranu dan biaya hidup kita saja.”

Ibu dan Aku kaget dan menoleh secara bersamaan, Rinjani yang dari dulu bercita-cita menjadi seorang Dokter dan sangat gigih belajar kini menyerah di awal.

“Rinjani, anaku sayang. Kita harus realistis nak. Jaman sekarang tak ada yang mau menerima orang bekerja hanya dengan ijazah SMP, minimal SMA.”

“Anak-anak Ibu harus tetap sekolah minimal sampai lulus SMA, tak peduli susahnya kita. Kalau Allah memberikan rezeki dan memang ridho, inshaaAlloh kalian semua bisa kuliah.”

Perjuangan kami dimulai, jam empat pagi sebelum subuh Ibu sudah membangunkan kami, Aku dan Rinjani kakakku. Ibu menjabarkan segala tugas yang harus diselesaikan masing-masing. Aku bertugas membersihkan dan merapikan teras rumah kontrakan kami serta menata meja sebagai tempat untuk meletakan dagangan Ibu. Sedangkan Rinjani bertugas membantu Ibu di dapur, membungkus aneka makanan hasil masakan Ibu untuk dijadikan sebagai dagangan.

Pukul enam lebih limabelas menit semua dagangan sudah tersusun rapi di meja. Kami menggunakan teras untuk meletakkan dagangan kami, sedangkan ruang tamu digunakan sebagai tempat duduk jika ada yang ingin singgah untuk menikmati dagangan kami di tempat.

“Bismillahirrahmanirrahim, semoga dagangan kita laku ya anak-anak”, kaya Ibu kepada kami.

Sedikit demi sedikit pelanggan Ibu mulai bertambah. Pada awalnya pembeli hanya berasal dari lingkungan kontrakan kami saja, lambat laun ada juga pembeli yang berasal dari luar wilayah kami tinggal. Kontrakan tetangga, bisa kami menyebutnya.

Jadilah kami berempat memiliki kewajiban sebagai rutinitas harian.Jam tiga dini hari Ibu selalu bangun terlebih dahulu untuk mulai memasak dan menyiapkan barang dagangan, satu jam kemudian aku dan kakak menyusul untuk membantu Ibu. Pukul setengah tujuh sampai dengan jam satu aku dan Kakak tak bisa membantu Ibu karena kami bersekolah. Tapi selalu sepulang sekolah kami berdua mampir ke pasar untuk berbelanja bahan makanan sesuai dengan catatan yang dititipkan oleh Ibu.

Perlahan kami mulai terbiasa tanpa Ayah karena rutinitas yang kami jalani, bahkan Ranu adikku kini terlihat lebih dewasa untuk seukuran anak seusianya. Siang hari dia akan menjadi penjaga warung sembari mengabsen apakah dagangan Ibu masih banyak ataukah habis. Jika dagangan Ibu terlihat masih banyak, dia akan segera berlari keluar rumah dan kembali bersama teman-temannya. Ternyata dia mengajak teman-temannya itu untuk jajan di warung kami. Ibu, Kakak dan aku sangat terkejut melihat tingkah lakunya. Ranu adiku, kamu sabgat luar biasa. Semoga kelak kamu akan Menjadi marketing, manajer bahkan Wirausahawan yang sukses.

           Bersambung

 

 

 

 

 

Bab 5. Berjuang Bersama

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#KELOMPOK26JURO

#Day5

#Jumlahkata556

#sarkatjadibuku

Kami sangat bersyukur karena usaha dagangan Ibu mulai ramai dan kondisi ekonomi kami mulai membaik. Ya kami anggap membaik karena kami tak lagi menunggak membayar uang sekolah dan tak perlu lagi memikirkan jawaban jika kami ditegur oleh pihak sekolah. Bisa makan setiap hari, membayar kontrakan dan kebutuhan rumah tangga lainnya kini menjadi hal paling membahagiakan dalam hidup kami terutama untuk Ibu

Rinjani kakakku tak pernah absen membawa kue dagangan Ibu ke Sekolah untuk dia jual. Dia lakukan dengan senang hati tanpa sedikitpun merasa malu, padahal aku tahu dia sering mendapat ejekan dari temannya di sekolah.

Usahanya berjualan kue disekolah ternyata membuat dagangan Ibu semakin lancar, kini Guru dan staff sekolah selalu memesan aneka kue buatan Ibu bukan hanya untuk acara rapat di Sekolah tetapi juga pada saat mereka memiliki acara dan hajat masing-masing dirumahnya.

“Jani pamit ya Bu, doakan Jani semoga lancar ngerjain semua soal ujian. Assalamualaikum”. Kak Jani berpamitan sembari mencium punggung tangan Ibu.

“Wa’alaikumussalam hati-hati di jalan dan semoga kamu lancar mengerjakan semua soal ujian ya nduk.” Jawab Ibu kepada Kak Jani.

“Dera, doain kakak ya. Kamu mumpung libur kerja yang bener di rumah” teriakan Kak Jani kepadaku

Hari ini Rinjani menghadapi ujian akhir dan aku libur karena kini aku baru kelas satu SMA. Giliranku untuk membantu Ibu dan misiku adalah menjual dagangan Ibu habis sebelum waktu Dzuhur tiba.

“Assalamualaikum”. Aku mendengar suara cempreng yang tak asing di teras rumah. Pemilik suara khas itu adalah Dina temanku. Kami berteman dan bersahabat sejak kecil karena bukan hanya rumah kami yang berdekatan tetapi juga kami selalu satu sekolah.

“Wa’alaikumussalam, Dina? Sini masuk. Wajah naik apa kamu kemari?”

“Motor, bete liburan drumah ga ngapa-ngapain.”

“Pas banget, yuk bantuin aku sama Ibu. Ada pesenan kue seratus box untuk nanti sore. Lumayan kan jadi obat bete kamu” ajaku kepada Dina.

 “Bisa aja kamu Dera, oke deh daripada ga ngapa-ngapain”

“Lho..lho.. apa-apaan ini, ga sopan sekali kamu Dera. Tamu kok malah disuruh bantu-bantu. Sudah kalian duduk-duduk di teras saja sana. Biar Ibu yang menyelesaikan ini.”

“Ga apa-apa Bu, Dina malah senang bisa membantu Ibu. Sekalian belajar bagaimana caranya bikin kue juga. Boleh ya Bu?”. Jawaban Dina akhirnya meluluhkan hati Ibu dan memperbolehkan sahabatku itu untuk ikut membantu kami.

“Kaldera, kira-kira Kak Rinjani ngelanjutin kemana ya?”, tanya Dina di sela-sela kami membantu Ibu.

“Lanjutin kuliah, maksud kamu?” Balasku balik bertanya.Dina mengangguk dan berteriak karena aku sengaja menciptakan tepung ke mukanya.

Kulihat Ibu tersenyum simpul melihat kelakuan kami berdua, kuliah adalah hal yang hanya menjadi sebuah impian yang terlalu jauh bagiku dan juga Rinjani. Kami sadar betul dengan kondisi kami. Tidak ada sedikitpun niat untuk membuat Ibu semakin merasakan kesusahan. Cukup sekali saja kami melihatnya berurai air mata yaitu pada saat perpindahan rumah kami.

“Wong bisa makan dan ga nunggak SPP aja udah bersyukur banget Din, aku dan Kak Jani ga kepikiran sama sekali tentang kuliah. Pokoknya kami sekolah dan harus Lulus SMA udah titik.” Jawabku kepada Dina.

“Ah, siswi pintar seperti kamu dan Kak Jani pasti lulus lah, dan sayang banget kalau ga lanjut kuliah.” Jawaban Dina sembari tangannya sibuk memegang mixer.

“Kalau aku mungkin ga akan kuliah Din, entah kalau Kak Rinjani mau lanjut atau engga”.

Aku menjawab pertanyaan Dina sembari menahan sayatan di dalam hati. Bagaimanapun kuliaha salah cita-cita kami termasuk aku. Karena kuliah adalah jenjang pendidikan yang akan memudahkan ku dan juga Kakak untuk meraih mimpi kami.

Bersambung

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 6. Awal Yang Baru

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#Kelompok26Juro

#Day6

#jumlahkata590

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 6. Awal Yang Baru

Alhamdulillah tak henti-hentinya kami bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kami. Entah bagaimana tanggapan orang lain, tapi ini sudah sangat cukup bahkan lebih. Bagaimana tidak, kini kami tak pernah lagi bingung apakah hari ini dan esok bisa makan. Biaya bulanan sekolah juga sudah tak menunggak lagi. Meskipun kami tak bisa mengikuti les di lembaga bimbingan belajar di luar sekolah seperti teman-teman kami yang lain. Aku cukup tau diri untuk tak memintanya kepada Ibu.

Satu lagi anugerah dari Allah untuk kami adalah tanpa disangka aku memperoleh juara lagi karena mengikuti lomba mata pelajaran tingkat SMA, bersamaan dengan kelulusan Rinjani yang ternyata mendapatkan nilai ujian tertinggi di sekolah bahkan di kota kami. Hadiah yang kami dapatkan bukan hanya piala tetapi juga berupa uang, tak tanggung-tanggung jumlahnya karena bagi kami itu adalah jumlah yang sangat besar. Total hadiah yang kami peroleh akan kami jadikan satu sebagai modal untuk menyewa kios diujung gang. Karena pelanggan Ibu sudah mulai banyak dan rumah kontrakan kami yang berada di dalam gang sedikit menyulitkan pembeli untuk mencari tempat parkir

“Ibu, kami memutuskan untuk memberikan uang ini kepada Ibu untuk menyewa kios”, kata Jani kepada Ibu setelah kami salat isya berjamaah.

“Masya Allah nak, kalian anak-anak Ibu sangat baik dan membanggakan. Tidak usah, Lebih baik begini saja. Biarkanlah uang itu kalian simpan masing-masing untuk keperluan kalian.”

“Alhamdulillah Ibu masih memiliki sedikit simpanan uang dari hasil menyisihkan keuntuntungan dagangan kita.”

“Dan kebetulan pemilik kios-kios yang ada di ujung gang adalah pelanggan Ibu, tiap pagi beliau tak absen beli nasi uduk dan jajanan, beliau tinggal berdua dengan anak bungsunya yang bekerja sebagai perawat. Anak-anaknya yang lain sudah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing. Beliau juga seorang janda. Kami menjadi dekat karena sering mengobrol”. Penjelasan Ibu kepada kami.

“waahh, Ibu udah punya sohib nih ceritanya, lumayan deh jadi kita ga perlu repot-repot nego harga dan ga perlu juga muter-muter nyari kios. Ibu keren”, ledekku kepada Ibu sambil mengacungkan kedua jempolku.

Hari yang ditunggu-tunggu tiba, kami mulai berjualan di kios baru Ibu. Letak kios kami berada di ujung gang dengan jarak hanya lima puluh meter dari jalan raya. Hal ini menjadikan kios kami mudah dikunjungi oleh pembeli.

Rinjani Kakakku memutuskan untuk fokus membantu Ibu, dia akan sangat marah jika kami menyinggung tentang kuliah. Kami sangat paham bahwa itu adalah Mujid pertahanan dirinya. Pertahanan diri agar tak sedih apalagi menangis karena tak bisa melanjutkan kuliah. Lambat laun kami pun tak pernah lagi membahas tentang kuliah.

Tanpa terasa sudah hampir dua tahun kami pindah dari rumah kami, dari kampung halaman kami yang begitu banyak memberikan kami kenangan dan cerita. Segala tentang rasa bahagia, sedih, kecewa dan nestapa. Kalau melihat ke belakang ada rasa nyeri di hatiku. Teringat lagi tentang teman masa kecilku selain Dina tentang saudara dan juga tentang Nenek.

Sampai sekarangpun tak pernah Nenek mengunjungi kami, Bude,Pakde, Om dan Tante dari pihak Ayah juga tak ada yang mampir kemari. Perpindahan kamindari rumah lama menjadikan kami benar-benar memiliki kehidupan dan awal yang baru. Hingga saat inipun tak pernah ada kabar dari Ayah, padahal kini sudah banyak telepon genggam yang memudahkan orang untuk berkirim pesan dan berkomunikasi dari jarak jauh. Hal inilah yang membuat Rinjani memutuskan menggunakan tabungannya untuk membeli telepon genggam, memudahkan kami menerima pesanan katanya.

Bulan ini aku mulai jarang membantu Ibu menjaga kios karena Rinjani melarangku. Dia selalu menyuruhku pulang untuk belajar mempersiapkan ujian akhir. Padahal sudah berkali-kali bjuga kukatakan padanya aku tak akan berusaha mendapatkan beasiswa. Percuma saja kalau ternyata uang beasiswa tersebut hanya khusus untuk menanggung biaya semester tiap kuliah, sedangkan untuk diktat, jurnal dan lainnya ditanggung sendiri.

Bersambung

 

 

 

 

 

Bab 7. Mengunjungi Nenek

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#Kelompok26Juro

#Day7

#jumlahkata510

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 7. Mengunjungi Nenek

Dera, temani Ranu ke rumah Nenek. Sekalian kamu temu kangen. Kakak harus menyelesaikan pesanan kue untuk dibawa ke kantor Kecamatan,” teriakan Kak Jani dari dapur sembari cekikikan.

Rinjani kakakku tahu betul perasaanku terhadap Nenek, kami saling memahami bahkan terkadang saling mengolok memakai alasan Nenek seperti yang dia lakukan.

Ibu memberikan tugas yang sebenarnya enggan untuk aku lakukan. Beliau menyuruhku dan Ranu untuk mengunjungi Nenek sembari membawa kue. Setelah sekian lama aku akan mengunjunginya. Nenek yang tak pernah meninggalkan rumah yang selalu ramai oleh suara hewan peliharaannya. Bahkan membeli susu sachet menjadi rutinitasnya setiap hari untuk diberikan kepada kucing kesayangannya. Belakangan baru aku tahu bahwa itu adalah caranya mengusir jenuh sekaligus kesepian.

“Assalamu’alaikum..Dera dan Ranu berangkat ya Bu”, pamitku sambil mencium punggung tangan Ibu.

Jarak rumahku dengan Nenek sebenarnya tidak terlalu jauh hanya dua puluh menit perjalanan jika ditempuh dengan sepeda motor. Tapi jika menggunakan angkutan umum akan lebih lama lagi.

“Kak Dera ngapain sih kita ke rumah Nenek, dia aja ga pernah ke rumah kita” pertanyaan Ranu yang sangat tiba-tiba dan tak pernah kusangka itu berhasil mengagetkanku.

“Ya kan Nenek Ibu dari Ayah kita Ranu, wajib kita menghormatinya meskipun kita ga suka kepadanya.” Aku berusaha memberika. Jawaban yang bijaksana kepada adikku, karena aku tak mau dia tumbuh memendam kebencian sepertiku dan Rinjani kakakku. Meskipun jauh di lubuk hatiku tak pernah hilang rasa kecewa terhadap keluarga Ayah karena peristiwa pindahnya kami dari rumah. Kecewa sekaligus benci kenapa kami dibiarkan terlunta-lunta padahal masih ada rumah yang Nenek tinggali hanya seorang diri. Mengapa saat itu Kakak dan adik Ayah bahkan Nenek tak pernah mencegah kami pindah bahkan sekadar menyarankan untuk menempati rumah Nenek.

“Assalamu’alaikum Nek, Dera dan Ranu datang.”

“Wa’alaikumsalam, Yaa Allah Dera dan Ranu sudah lama ga ketemu. Bagaimana kabar kalian, sekolahnya gimana?” Nenek menyambut kami dan bergantian memeluk serta mencium pipi kami.

Sekilas ada rasa bahagia karena mendapat perlakuan yang sangat jarang Nenek lakukan kepadaku, namun aku menghibur diri bahwa ini hanyalah perasaanku saja.

“Bagaimana kabar Rinjani dan Ibumu, warungnya rame ya. Pesanan juga setiap hari selalu ada?” ,tanya Nenek kepada kami

Nenek mengetahui kesibukan kami, tahu darimana dia. Mengunjungi kami saja tidak pernah. Batinku bergejolak, kalau dia mencari tahu tentang kami mengapa tak mengunjungi kami.

“Alhamdulillah Nek, bisa buat bayar kontrakan setiap bulan dan uang sekolah Dera juga Ranu.”

“Nenek tau sendiri gimana terlunta-luntanya kami setelah Ayah ke Saudi, pindah rumah dan membayar hutang-hutang yang ayah tinggalkan.” Jawabanku kepada Nenek sedikit mengandung sindiran.

Kulihat ekspresi muka Nenek tak seperti biasanya, beliau menatapku dan Ranu dengan tatapan sendu. Entah apa yang ada dalam pikirannya, aku tak tahu dan tak ingin mencari tahu.

“Ranu yang pinter ya sekolahnya, Dera juga sebentar lagi ujian akhir ya. Nenek doakan semoga lancar ujiannya, lulus dan dapat nilai terbaik”

“Terimakasih Nek”, jawabku dan Ranu bersamaan.

“Sampaikan terimakasih Nenek kepada Ibumu ya, lain kali kalau kesini lagi ajak Rinjani juga.”

“nggih Nek, kami pamit. Assalamualaikum”

Kali ini pertemuanku dengan Nenek agak berbeda dari biasanya. Sepanjang obrolan kami tak ku lihat raut wajah Nenek yang cerah. Beliau selalu menatap kami lekat dengan tatapan sendu. Pertanda apakah itu?

Bersambung

 

 

 

 

 

 

Bab 8. Lamaran

0 0

#sarapankata #KMOINDONESIA #KMOBATCH40 #Kelompok26Juro #Day8 #jumlahkata614 #sarkatjadibuku Judul : Wanita Di Penghujung Senja Penulis : Dhiya Ghiga Nama PJ : Irma Fitriani Ketua kelas : Yuyun Artika Neng Jaga : Norhamidah Bab 8. Lamaran Dalam perjalanan pulang dari rumah Nenek, banyak pertanyaan dalam benaku. Tak pernah kulihat raut muka Nenek yang begitu sense menatapku. Bahkan ketika Aku dan Ranu berpamitan, tak henti-hentinya beliau memeluk dan mencium kami. Hal yang sangat jarang dilakukan olehnya kecuali kepada sepupuku yang lain. “Kak Dera, kok tumben ya tadi Nenek mau meluk dan mencium kita. Biasanya kan Cuma usap-usap kepala kita aja kalau kita salim.” Pertanyaan Ranu memecah lamunanku “Iya, Kakak juga ga tau. Hmmm mungkin Nenek kangen banget sama kamu Ranu, kan udah lama ga ketemu.” Jawabku. “Udah ah g boleh banyak ngobrol kalau lagi nyetir motor, bahaya.” Obrolan kecil kami diatas motor berakhir, motorku melaju dengan kecepatan sedang menuju jalan pulang. Tepat pukul setengah empat sore kami sampai dirumah. Nampak Ibu dan Kak Rinjani di teras rumah kontrakan mengobrol dengan tetangga kami. Sore hari adalah waktu istirahat bagi keluarga kami dan juga beberapa penghuni kontrakan. Kebanyakan kami menghabiskannya dengan mengurus tanaman atau hanya duduk-duduk di teras rumah sembari mengobrol satu sama lain. Bukan hanya sekedar basa- tetapi inilah cara kami bersosialisasi. Setibanya aku di rumah, langsung ku mandi berwudhu dan salat Ashar. Sedari dulu selalu kuselipkan permintaan khusus dalam doaku agar Nenek sayang padaku. Kini aku menyadari betapa lucunya permintaanku, dan akupun sudah lupa berapa lama kuselipkan kalimat “Yaa Allah semoga Nenek sayang padaku, Kakak dan Ranu” dalam daftar doaku. Kini kuperbaiki kalimat itu seraya menyelipkan lagi doa untuk Ayah yang sedang berada jauh di Negeri seberang. Selesai salat kudengar suara Ibu, Rinjani dan seseorang di ruang depan. Adakah tamu yang berkunjung? Siapakah dia. Karena Kak Rinjani ikut mengobrol dan menjawab dengan nada yang kaku dan serius. Bukan tipe Rinjani bicara dengan kaku seperti itu. “Terimakasih banyak atas tawaran Bu Retno, ijinkan saya untuk berpikir. Karena jujur saya kaget dengan permintaan yang sangat tiba-tiba ini.” Samar kudengar suara Rinjani dari dalam. Kuputuskan untuk keluar melihat siapa yang datang berkunjung ke rumah kami. Ternyata Bu Retno pemilik rumah kontrakan kami. Wanita paruh baya yang kutaksir umurnya lebih tua di atas umur Ibuku. Wanita yang sangat baik yang sudah mengijinkan kami dan juga tpara tetangga penghuni kontrakan tempat berteduh dengan penuh kebijaksanaan. Dia layaknya Ibu peri bagi kami karena tak pernah sekalipun menagih uang kontrakan jika ternyata kami telat membayarnya. “Eh Kaldera, bagaimana hasil ujiannya. Sudah ada hasil pengumumannya”. Bu Retno menyapaku saat aku memasuki ruang depan “Belum Bu Retno, Senin depan pengumuman kelulusan. Doakan Dera semoga lulus biar bisa fokus bantuin Ibu dan Kak Jani jualan di warung”, jawabku atas pertanyaannya. “inshaa Alloh kamu lulus Dera, tapi masa tujuan dan cita-citamu malah jualan di warung Ibu, ga pengin melanjutkan kuliah? Bu Retno kepengin liat kamu kuliah, jadi anak asuh Ibu mau?” Jawaban sekaligus pertanyaan dari Bu Retno seakan menjadi penyejuk gundahku karena tak bisa melanjutkan kuliah. Tetapi aku tak bisa menerima begitu saja tawarannya. Karena biar bagaimanapun kondisi yang kami alami, aku akan tetap menjalaninya. Bu Retno memang terkenal dermawan, bukan hal yang aneh mendengar tawarannya untuk menjadikanku anak asuh karena hal itu memang sudah biasa dia lakukan. Jumlah anak asuhnya kini tinggal tujuh orang yang masih sekolah dan kuliah. Entah berapa jumlahnya yang sudah lulus. Kami mengetahui kisahnya bukan dari cerita dia sendiri melainkan dari tetangga dan beberapa pelanggan warung Ibu. Sepulang Bu Retno dari Kontrakan kami, Ibu memanggilku untuk ikut duduk diruang depan mengobrol bersama Rinjani. Maksud dan tujuan kedatangan beliau adalah ingin menjodohkan Rinjani dengan putra keduanya yang bekerja sebagai Guru. Hal itu berani dia lakukan karena sudah merasa dekat dengan Ibu. Dan ternyata dia juga sudah mengirim foto Rinjani kepada putranya, perjodohan inipun atas persetujuan dari putranya. Ta’aruf dia menyebutnya, karena anaknya tak ingin berpacaran dan memang sudah memasrahkan masalah pilihan calon istri kepada Bu Retno ibunya. Bersambung

Bab 9. Kabar Dari Ayah

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#Kelokpok26Juro

#Day9

#Jumlahkata530

 

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

 

Bab 9. Kabar Dari Ayah

 

Kedatangan Bu Retno membuat Rinjani resah karena bukan hanya memikirkan masa depan dirinya sendiri tetapi juga keluarganya. Usianya kini memang tergolong usia yang cocok untuk memasuki jenjang pernikahan. Setelah lulus sekolah tak pernah sekalipun terpikirkan olehnya untuk menjalin hubungan dan berpacaran layaknya remaja seusianya apalagi berpikir untuk menikah. Yang ada dipikirannya hanyalah tentang Ibu dan kedua adiknya. 

Hal paling mendasar yang dipikirkan oleh Rinjani adalah bagaimana nanti jika dia menikah dan pergi mengikuti suaminya, tak ada lagi yang akan membantu Ibu dan kedua adiknya. Namun pikirannya yang lain adalah jika dia menikah itu juga berarti beban pengeluaran keluarga lumayan berkurang. Dia merasa cukup sudah masa-masa terpuruk di keluarganya jangan sampai terulang.

Disaat seperti inilah kehadiran Ayah sangat dibutuhkan, dan dia sudah cukup lema memendam rasa rindu kepada Ayah. Sampai saat ini tak pernah ada lagi kabar dari ayah. Enam bulan setelah keberangkatanya ke Saudi, Ayah masih sempat mengirimkan kabar. Sekarang sama sekali tidak ada kabar dari ayah. Aku dan Rinjani pernah menghubungi kantor perwakilan agen penyalur TKI, kami sangat terkejut dengan jawaban mereka. Ternyata sudah enam bulan ini ayah tidak lagi berada dibawah naungan agen tersebut. Kontrak kerja ayah selama tiga tahun sudah habis dan tidak diperpanjang, namun berdasarkan informasi yang kami peroleh Ayah masih tetap bekerja di sana.

Ayah dimana kamu , bagaimana keadaanmu sekarang yah? Kami khawatir memikirkanmu.

Hal inilah yang digunakan Rinjani sebagai alasan untuk tak menerima lamaran dari Bu Retno. Namun tidak demikian dengan Bu Retno dan putranya, justru hal itu membuat mereka semakin memantapkan diri untuk menjadikan Rinjani sebagai menantunya. 

Afgan nama anak Bu Retno, yang berprofesi sebagai guru di sekolah swasta ternama di kota ini ternyata mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Al Azhar. Dia ingin menikahi dan membawa serta Rinjani ke sana. Karena keluarga Bu Retno sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Sangat Rawan bagi seorang pemuda matang seperti Afgan bepergian ke Luar negeri dalam waktu yang lama, akan banyak godaan katanya. 

Tak disangkanya ada nomor asing menghubungi Rinjani. Awalnya dia ragu untuk menerima panggilan telepon tersebut. Hingga siang hari Rinjani memutuskan untuk menerima panggilan telepon tersebut yang ternyata itu adalah panggilan kesepuluh yang sengaja diabaikan olehnya.

“Assalamualaikum, hallo?”, Aku menunggu dan bertanya-tanya siapakah yang menelepon Rinjani? Mengapa wajahnya menegang dan malah meneteskan air mata?

“Dera, ini Ayah.” Dia menyodorkan telepon genggamnya kepadaku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kananya sibuk mengusap air mata.

“Assalamualaikum Ayah, apa kabar? Ayah baik-baik aja kan yah, Gak kekurangan makan dan gak disiksa kan yah?, hanya itu pertanyaan yang langsung keluar dari mulutku.

Berbagai berita tentang kehidupan TKI membuatku selalu merasa khawatir akan Ayah. Terutama berita tentang buruknya perlakuan majikan dan warga pribumi kepada buruh migran. Meskipun tak semua majikan dan warga asing memiliki perangai demikian.

“Wa’alaikumussalam, Ayah baik-baik saja nak. Bagaimana keadaan kalian? Maaf Ayah baru bisa kasih kabar karena selama ini kehidupan Ayah cukup sulit.”

Telepon direbut lagi oleh Rinjani, dia menceritakan semua hal kepada Ayah. Akupun mengalah, biarkan Rinjani melepas rindu sekaligus meminta pertimbangan Ayah. Karena aku tau, Rinjani resah dan bimbang karena lamaran itu. Hampir setiap malam dia berlama-lama duduk di atas sajadahnya. 

Mendengar suara Ayah yang ceria, nampaknya keadaan disana baik-baik saja. Aku bersyukur mendapatkan kabar itu, setidaknya satu kekhawatiran kami terbantahkan.

 

Bersambung

 

Bab 10. Hari Pernikahan

0 0

#sarapankata #KMOINDONESIA #KMOBATCH40 #Kelompok26Juro #Day10 #Jumlahkata549 #sarkatjadibuku Judul : Wanita Di Penghujung Senja Penulis : Dhiya Ghiga Nama PJ : Irma Fitriani Ketua kelas : Yuyun Artika Neng Jaga : Norhamidah Bab 10. Hari Pernikahan “Ayah baik-baik saja nak, tak usah merisaukan kondisi Ayah. Kaldera anak Ayah yang kuat, jaga Ibu dan juga Ranu ya”, pesan ayah kepadaku saat mengakhiri percakapan melalui telepon. Satu rasa yang selama ini menghimpit di dada perlahan kenyal, karena mendapatkan kabar bahwa dia baik-baik saja. Dua hari berturut-turut Ayah menelepon kami, tapi sebenarnya adalah untuk urusan lamaran Rinjani. Sebenarnya aku agak merasa heran, kok waktunya sangat tepat? Disaat Rinjani mengalami permasalahan seperti ini, Ayah hadir meskipun tak bisa bertemu langsung. Sempat kutanyakan kepada Ayah darimana dia bisa mengetahui dan mendapatkan nomor telepon Rinjani, dan bagaimana ceritanya Ayah bisa mengetahui permasalahan yang sedang dialami oleh Rinjani. “Ayah, darimana Ayah mendapatkan nomor telepon Kakak? ,tanyaku kepada Ayah disela-sela percakapan kami melalui telepon. “Ayah mendapatkan nomor telepon Kakakmu dari Bude Lis Nak, sudah berika. Lagi teleponnya pada Ibu atau kakakmu.” Jawaban sekaligus perintah dari Ayah yang bagiku terkesan menyembunyikan sesuatu. Bu Retno datang bersama anak dan beberapa kerabat. Tujuannya adalah untuk melamar Rinjani secara resmi. Dari pertemuan keluarga tersebut disepakati bahwa acara akad nikah Rinjani akan diadakan pada Minggu depan. Sore usai acarra lamaran, kudekati Kakaku yang wajahnya menunjukkan rasa bimbang. “Hey calon penganten, cie...cie...yang mau jadi istri calon dosen. Senyum dong mukanya jelek banget sih kak.” Godaku kepada Rinjani. “Ga tau nih, oerasaanku masih saja ada yang mengganjal. Mungkin karena Ayah tak bisa secara langsung menghadiri acara pernikahanku.” Jawab Rinjani kepadaku. “Kak, beneran kamu udah yakin, kalian baru dua kali ini bertemu kan, pertemuan ketiga besok dipelaminan. Apa ga aneh yah?” “Justru inilah yang dianjurkan oleh ajaran agam kita Dera, Ta’aruf namanya. Proses yang memang harus dijalani sebelum menikah. Perkenalan, setelah perkenalan masing-masing dari kita memantapkan diri serta meminta petunjuk dari Allah dengan cara perbanyak doa dan salat malam. Bukannya pacaran” “Kebanyakan dari kita memang belum mengerti dan paham konsep Ta’aruf, atau mungkin beberapa sebenarnya ada yang sudah mengerti namun tak mau menjalani. Lebih memilih berpacaran, menjalin kasih, kebablasan. Giliran udah diajak kemanapun dan disentuh-sentuh eh bilangnya belum cocok, putus. Yang rugi siapa? Kita pihak perempuan.” Aku tertegun dengan jawaban dan penjelasan Rinjani, penjelasan yang diuraikannya padaku adalah juga cara nya mengajarkan kebaikan kepadaku. Adik perempuan satu-satunya. Hari yang dinantikan telah tiba, dalam sekejap rumah kontrakan kami berubah menjadi tempat photoshoot. Di ruang depan hanya ada dekorasi untuk mempercantik ruangan sekaligus sebagai background foto pernikahan. Di halaman rumah tak ada tenda, hanya beberapa kursi yang ditata berjejer sekadar untuk menghormati para tetangga yang hadir bertamu. Rinjani meminta untuk tak diadakan pesta secara meriah, cukup hanya keluarga dekat dan kerabat saja. Padahal jika dia mau, keluarga Bu Retno sudah menawarkan untuk menggelar acara pernikahan di Gedung. Acara akad nikah dimulai, entah mengapa sepanjang acara Rinjani selalu menundukkan kepalanya. Sedikit banyak aku bisa memahami perasaannya, dihari bahagianya tak ada Ayah yang datang secara langsung untuk menjadi wali nikahnya. Ayah menjadi wali melalui sambungan telepon video jarak jauh. Lantang, jelas dan mantap suara Kak Afgan mengucapkan ikrar dan akad nikah. Air mata haru mewarnai acara pernikahan ini. Saat bersalaman dengan Kak Afgan untuk memberinya selamat, aku juga sekaligus menitipkan Rinjani kepadanya. Tibalah saat tersedihku, harus mengikhlaskan Rinjani, dia adalah Kakak dan juga sahabatku. Kami berpelukan, menangis dalam rasa haru karena bahagia. “Selamat atas pernikahanmu Kak, semoga kalian menjadi pasangan sehidup sesurga, saling menjaga dan mencintai karena Allah dan selalu keluarga kalian diberkahi oleh Allah.” Bersambung

Bab 11. Perpisahan

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#Kelompok26Juro

#Day11

#jumlahkata588

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 11. Perpisahan

Suasana haru mewarnai hari pernikahan Rinjani Kakakku, kami berpelukan cukup lama. Seperti hari-hari kemarin, Kami selalu berbagi tangis berpelukan bersama. Namun hari ini sedikit berbeda karena kami berbagi tangis bahagia di hari pernikahannya. Bahagia sekaligus sedih karena kini Rinjani bukan lagi sepenuhnya miliki, Ranu dan Ibu. Tak bisa lagi kami seperti dulu yang dengan bebas bercanda dan saling bertingkah. Kini ada hati yang harus dijaga oleh Rinjani, ada perasaan yang harus kami hormati.

Setelah menikah Rinjani langsung diboyong ke rumah keluarga Bu Retno. Meskipun hanya limabelas menit waktu yang diperlukan untuk menuju rumah Bu Retno, itu terasa sangat jauh bagiku. Seminggu setelah kepindahanya, Rinjani bersama Kak Afgan suaminya datang mengunjungi kami. Mereka berpamitan karena Kak Afgan akan melanjutkan studinya di Universitas Al azhar, Mesir.

“Ibu, kami mohon doa dan restu dari. Saya akan membawa serta Rinjani ke Mesir untuk menemani saya menyelesaikan study disana. Sebenarnya saya juga ingin Rinjani melanjutkan sekolah, namun dia bersikeras hanya ingin kursus bahasa saja”, Kak Afgan membuka obrolan.

“Inshaa Allah nak Afgan, Ibu pasti selalu berdoa agar hal baik selalu menghampiri kalian. Jaga dan bimbing Rinjani ya Nak Afgan.”

Mendengar percakapan mereka ada perasaan yang berkecamuk di dalam dadaku. Antara bahagia dan juga takut tak bisa berjumpa dan tertawa dengan Rinjani. Tapi aku harus merelakannya.

“Kaldera, Kakak minta ijinmu untuk membawa Rinjani ikut dengan Kakak. Aku tahu kalian sangatlah dekat, sering-seringlah berkirim kabar agar nanti Kak Rinjani tak selalu merasa kangen denganmu. Terimalah ini, jangan ditolak ya. Karena kami juga harus selalu mendapatkan kabar tentang Ibu, Ranu dan juga rencana bisnismu yang luar biasa itu.” Kak Afgan meminta ijinku sembari menyodorkan sebuah telepon genggam kepadaku.

Apakah aku sedang bermimpi, diberinya aku sebuah gawai Yang sama persis di iklan televisi. Sudah terbayang olehku jika dengan menggunakan gawai ini, pasti Bisnisku akan lancar,orderan pasti akan selalu datang karena aku akan berpromosi melalui gawaiku ini. Aah baru membayangkannya saja sudah membuatku senyum-senyum sendiri.

“Sadar woi, diaksih HP bukannya bilang terimakasih malah cengar-cengir ga jelas”, teriakan Ranu menyadarkanku.

“Eh iya, terimakasih banyak Kak Afgan atas hadiah dari Kakak. Semoga perjalanan kalian menyenangkan dan selamat sampai tujuan. Semoga kelak saat kalian pulang sudah membawa keponakan lucu untukku.” Jawabku.

Pukul tujuh pagi aku sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta untuk mengantar Kak Rinjani dan suaminya berangkat ke Mesir. Seumur hidup baru kali ini aku menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Luar biasa sekali bangunan megah yang tersusun rapi dengan desain yang memukau. Pastilah dia orang jenius yang bisa menggambar sampai sedetail ini. Dan pasti juga ada campur tangan Allah kepada arsitek tersebut. Karena tanpa seijin Allah segala sesuatu yang ada di bumi ini tak akan pernah terjadi. Sama halnya dengan yang kualami. Jika Allah tak mengijinkan, mungkin aku juga tak pernah bisa menginjakkan kakiku di bandara ini. Mungkin sekarang aku hanyalah seorang pengantar, bisa jadi dan semoga lusa akulah yang diantar oleh mereka untuk naik pesawat. Hehehe bener-bener berhatap banget saya kepadaMu ya Allah.

Terdengar suara merdu dari bagian informasi yang memberitahukan bahwa pesawat ke Mesir akan segera berangkat. Seluruh penumpang diharap untuk bersiap-siap. Tak terkecuali Kak Rinjani dan suaminya. Dan sudah bisa ditebak, pelukan dan air mata tak pernah absen apalagi diacara perpisahan seperti ini.

“Hati-hati nak, semoga kalian selamat sampai tujuan. Berbaktilah kepada suamimu, jaga dan rawatlah keluargamu selalu tetap utuh. Jangan kau risaukan tentang kami, Ibu dan adik-adikmu baik-baik saja.” Pesan Ibu kepada Rinjani begitu menyentuh.

Tak terasa akupun meneteskan air mata melepas kepergian Kakak. Sampai jumpa lagi Kak, semoga kau selalu berbahagia dan semoga Allah selalu melindungi, menjaga dan memberikan kebahagiaan untukmu dan keluarga barumu.

Bersambung

 

 

 

 

Bab 12. Memulai Usaha

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#Kelomook26juro

#Day12

#jumlahkata610

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 12. Memulai Usaha

Selepas kepergian Rinjani untuk mengikuti dan mendampingi suaminya di Mesir, suasana rumah agak terasa berbeda. Setiap pagi tak ada lagi suara heboh Rinjani yang selalu memberikan komando kepadaku dan Ranu. Tak ada lagi tempatku berkeluh kesah sekaligus tempat rahasia teramanku. Tapi hidup harus terus berjalan, Rinjani sudah memiliki kehidupan sendiri. Kami selalu berharap dan mendoakan hal baik menghampirinya.

“Dera, kamu sudah menentukan pilihan universitas mana yang akan kamu pilih? Jangan risaukan masalah biaya inshaaAlloh Ibu sanggup untuk menggungnya”, suara Ibu membuyarkan lamunanku.

“Sudahlah Bu, tekad Dera sudah bulat. Dera tidak akan melanjutkan kuliah. Mau jadi pengusaha aja. Ibu banyakin dan kencengin doa aja buat Dera, supaya nanti kita bisa ke Mekah bertiga terus mampir mengunjungi Rinjani di Mesir sana.” Jawabku sembari tersenyum kepada Ibu.

Tetapi Ibu tak tah bahwa sebenarnya aku nelangsa dengan jawabanku itu. Kugunakan kesempatan untuk mengusap tetesan bening yang meluncur begitu saja dari sudut mataku ketika Ibu berbalik memunggungiku untuk membereskan dagangan.

“santai Bu santai kaya di pantai, Kaldera anakmu yang cantik pintar cerdas dan lucu ini bakalan jadi wanita mandiri yang sukses. Yuk ah Bu, kita ke warung sekarang.” Kuakhiri obrolan dengan Ibu dengan mengajaknya ke warung.

Aku tahu mungkin masih berat bagi Ibu untuk melewati harinya sebagai kepala keluarga. Meskipun Ayah masih ada tapi kehadirannya tak lagi kami rasakan. Pertemuan terakhir kami adalah pada saat acara pernikahan Rinjani, itupun hanya melalui sambungan video call. Dan sudah lebih dari tiga tahun semenjak Ayah pergi menjadi TKI baru kali ini Ayah mengirim kabar sekaligus mengirimkan kami uang. Mungkin akrena itu Ibu menanyakan sekaligus menawarkanku untuk memilih Universitas.

Keanehan mulai kurasakan, nomor telepon yang tempo hari Ayah pakai untuk menghubungi kami sudah tidak aktif lagi. Berkali-kqli aku mengirimkan pesan dan mencoba menghubungi tetap saja tak ada hasil. Ada apa lagi ini Ya Allah, jagalah Ayah disana.

Lambat laun aku, Ranu dan Ibu mulai terbiasa tanpa ada Rinjani. Kini saatnya kau menata hidupku dan anda depan untuk Ibu dan Ranu. Sudah kuputuskan untuk membuka usaha laundry menggunakan uang kiriman Ayah sebagai modal usaha.

“Ibu, Sera minta ijin dan restu dari Ibu untuk usaha yang akan Dera jalani. Dera berncana membuka laundry karena dari hasil survei Dera daerah sini belum ada yang membuka jasa laundry.”

“Aoakah sudah kamu pikirkan dengan matang keinginanmu itu, terus siapa yang ngurusin cucian dan setrikaan itu?” jawaban sekaligus pertanyaan dari Ibu.

“Tenang Bu, sudah ada mba Lastri tetangga kontrakan kita yang siap membantu. Setelah kematian suaminya dia tak bisa lagi bekerja di pabrik karena khawatir dengan anaknya. Kalau kerja di sekitar tempat tinggal kita dia akan tenang karena masih bisa memantau anaknya. Begitu dia bilang”.

“Ya sudah Ibu merestui usahamu, terus kapan kamu memulai?” masih tanya Ibu kepadaku.

“Sekarang Bu”

“Hah? Yang benar saja lha wong Mesin cuci sabun dan semuanya aja belum ada kok udah mau mulai. Jangan aneh kamu Dera”, Ibu heran sekaligus protes kepadaku.

“Jangan heran gitu dong Ibuku yang cantik, maksud Dera adalah sekarang ayok temani Dera ke Pasar beli mesin cuci dan semua keperluan untuk laundry mumpung Ibu hari ini ga buka warung.”

Akhirnya setelah segala persiapan dan penataan tempat yang cukup menguras tenaga, dibukalah usaha laundry yang semoga bisa menjadi awal untuku. Selain memasang iklan di radio dan menyebar selebaran, aku sengaja membuka jasa antar jemput untuk lebih menjaring banyak pelanggan. Ranu si bungsu tak mau kalah denganku. Dia bertugas menjadi tukang mengangkat baju yang sudah kering dari jemuran dan selanjutnya diberikan padaku dan mba Lastri untuk kami setrika.

Sudah hampir enam bulan usahaku berjalan, Alhamdulillah selalu ada pelanggan setia yang memakai jasa laundry ku. Pelanggan ku mulai bertambah dan aku mulai membutuhkan bantuan satu orang lagi agar kami tak kewalahan mengurus laundry dan membantu Ibu menyiapkan dagangannya.

Bersambung

 

 

 

 

 

 

Bab 13. Kunjungan Nenek

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompok26Juro

#Day13

#jumlahkata607

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 13. Kunjungan Nenek

Kami sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran Rinjani, urusan warung Ibu dan usaha laundry yang kujalankan juga berjalan denga baik. Rutinitasku dimulai sebelum Adzan Subuh, aku setia mendampingi Ibu membungkus aneka makanan untuk dibawa ke warung. Ranu adikku kini menggantikan tugasku membersihkan dan membantu membawa barang dagangan ke warung. Karena sekarang aku menggantikan tugas Rinjani dalam hal membuat adonan kue.

Menjelang siang barulah kubuka kios laundry miliku. Setelah mba Lastri datang aku akan langsung mengantar pakaian yang sudah rapi ke pelanggan sekaligus menjemput pakaian di rumah calon pelanggan baruku.

Ibu tak kuperkenankan membantuku meskipun kutahu dia sangat ingin membantu. Tak tega rasanya jika aku harus melibatkan Ibu dalam urusanku, beliau sudah cukup lelah dengan urusan warung milik ya, belum lagi kalau ada pesanan kue dadakan atau nasi box.

Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan, karena setelah mengantar pakaian ke pelanggan aku harus menjemput cucian kotor ke tiga tempat yang jaraknya lumayan jauh. Sesampainya di rumah aku juga harus segera membantu mbak Lastri mengemas pakaian yang sudah disetrika rapi Ke dalam plastik. Namun tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah suara yang tak asing bagiku.

 “Assalamualaikum, Kaldera bagaimana kabarmu ndhuk”, dan ternyata benar dugaanku.

“Wa’alaikumussalam, kabar Dera baik Nek. Nenek kesini dengan siapa?” jawaban sekaligus pertanyaanku.

Setelah sekian lama, baru kali ini Nenek mengunjungi kami. Bukan hanya satu atau dua jam saja tetapi selepas Ashar barulah Nenek pulang. Bagiku ini merupakan suatu keajaiban. Selama Nenek mengunjungi kontrakan kami, aku sengaja membatasi diri untuk tak terlalu banyak berinteraksi. Aku masih merasakan sedikit nyeri di dalam hati jika teringat peristiwa perpindahan kami beberapa tahun yang lalu.

Kulihat Nenek dan Ibu mengobrol cukup lama, bukan hanya bertanya kabar kami cucunya tetapi juga bercerita tentang keseharian masing-masing. Seolah Nenek berusaha untuk mendekatkan diri kepada kami. Hal yang tak pernah kulihat selama ini. Ada apakah gerangan, adakah peristiwa yang membuat sikap Nenek menjadi berubah. Ekspresi Nenek sama dengan yang kulihat saat kunjungan terakhirku ke rumahnya. Selama hidupku tak pernah kulihat ekspresi seperti itu. Sejauh yang aku tahu Nenek adalah orang yang selalu ceria, namun kepadaku, Rinjani dan Ranu selalu bersikap berbeda, meskipun ceria tetapi selalu menjaga jarak.

Aku mengamati mereka berdua dari kiosku, teras rumah kontrakan yang kusukal menjadi kios laundry. Tak hanya mengobrol dengan Ibu, tetapi Nenek juga berkeliling melihat kondisi rumah kontrakan kami, melihat-lihat isi warung Ibu yang berada di ujung gang serta bertanya perihal usahaku. Saat Ibu menyiapkan makan siang untuk Nenek, kulihat beliau sedang bersenda gurau dengan Ranu adiku. Pemandangan luar biasa bagiku, aku bersyukur Rabu memiliki kesempatan langka itu. Kesempatan yang aku dan Rinjani tak pernah dapatkan karena Nenek bukanlah milik kami melainkan milik para saudara sepupu. Kuabadikan momen langka itu menggunakan gawaiku yang tempo hari kudapatkan sebagai hadiah dari Kak Afgan suami Rinjani. Tak hanya mengambil foto tetapi juga video, karena aku berencana mengirimkan kepada Rinjani Kakakku yang kini masih berada di Mesir mendampingi suaminya.

“Assalamu’alaikum, sudah siap Bu?, ternyata Tante datang menjemput Nenek.

“Wah Kaldera bagaimana kabarmu, kamu hebat sudah punya usaha sendiri”, sapa Tante kepadaku.

“Alhamdulillah Tante, berkat doa dari Ibu. Tapi ini baru permulaan masih merintis. Minta doanya ya Tante, supaya pelanggan Dera makin banyak sehingga usaha Dera makin berkembang.” Jawabku.

“inshaaAlloh, Tante selalu mendoakan kalian semua. Ya sudah Tante pamit ya”

“Kaldera, Nenek pulang dulu ya. Boleh kan Nenek sering-sering main kemari?”, tanya Nenek kepadaku.

“Iya, boleh. Hati-hati Nek.” Kujawab pertanyaan Nenek tanpa memikirkan apapun.

Setelah Nenek pulang, aku tak langsung bertanya kepada Ibu tentang obrolan mereka meskipun sebenarnya aku penasaran. Aku tak mau lagi kecewa dan sakit hati karena mendapat perlakuan berbeda sebagai cucunya. Yang kupikirkan saat ini adalah bagaimana cara untuk lebih memajukan usahaku, mengumoulkan uang untuk membeli rumah serta menyekolahkan adiku.

Bersambung

 

 

 

 

 

 

 

Bab 14. Ranu Adiku

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#Kelompok26juro

#Day14

#jumlahkata587

#sarjatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 14. Ranu Adiku

“Kak Dera, Nenek sekarang baik ya gak kayak dulu”, kata Ranu membuka obrolan.

“Ya emang dari dulu baik, kamu aja yang ga tahu.” Jawabku kepada Ranu.

“Eh beneran lho dulu mana pernah Nenek mau main bareng Ranu lama-lama, makanya Ranu males main ke rumah Nenek terutama klo ada Dandi dan Aksan. Sudah pasti Ranu dicuekin Kak.”

“Eh tapi sekarang Ranu seneng, Nenek udah ga cuek lagi kayak dulu, besok katanya Nenek mau kesini lagi bawain kue kesukaan Ranu.”

“Semoga Nenek sehat terus jadi bisa sering-sering main kesini, nemenin Ranu main. Malah kemarin Nenek bilang mau nemenin Ranu nganterin pakaian laundry ke pelanggan. Tapi yang deket-seket sini aja. Kan Nenek ga kuat jalan jauh.”

Celotehan Ranu bukan sekedar celoteh tetapi juga sekaligus harapan dari seoran anak polos yang merindukan kasih sayang. Semenjak kecil Ranu juga sama sepertiku dan Rinjani kakakku. Sangat jarang kami mendapatkan kasih sayang dari Nenek layaknya sepupu kami. Tak pernah kami bercanda bersenda gurau bahkan saat Ranu usia balita aku tak pernah melihatnya menggendong Ranu. Mungkins Aat aku dan Rinjani bayi juga mendapat perlakuan yang sama.

Aku dan Rinjani memang sengaja tak melibatkan Ranu dalam hal membahas kecewa terhadap Nenek. Kami tak ingin memberikan pengaruh buruk karena menanamkan rasa benci kepadanya yang masih kecil dan sangat polos. Jika ada cerita tentang Nenek dan saudara sepupu kami, aku selalu hanya berbagi cerita dengan Rinjani.

Ranu semoga keinginanmu terwujud, kau tak pernah lagi kesepian. Andaikan keinginanmu ternyata jauh dari kenyataan, aku Kakak mu akan selalu ada untukmu. Karena aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Ibu dan kamu apapun yang terjadi. Aku bersedia berkorban demi keluarga kita, pengorbanan awalku adalah dengan tak melanjutkan kuliah dan memutuskan untuk membuka usahaku sendiri di rumah.

Ya Allah, ridhoilah cita-citaku. Mudahkanlah jalan untukku mewujudkan cita-cita. Semoga aku selalu kuat dalam menghadapi dan menjalani semua ini, karena aku yakin Engkau tak pernah meninggalkanku. Selalu kuselipkan doa ini di setiap shalatku.

Ranu adiku kini berusia sepuluh tahun, wajar baginya jika selalu ingin diperhatikan oleh keluarganya karena sudah terlalu lama dia ditinggal Ayah pergi menjadi TKI. Dia adalah anak lelaki satu-satunya di keluarga kami, sudah sewajarnya anak laki-laki mempunyai panutan dari seorang lelaki agar kelak dia tumbuh menjadi lelaki yang kuat dan bertanggungjawab.

Sungguh luar biasa adiku Ranu meskipun selama ini tak ada kehadiran Ayah, dia tumbuh dengan sangat baik menjadi anak pemberani yang memiliki rasa tanggung. Terbukti selama ini dia selalu berani tanpa malu membantuku dan Ibu mengurus usaha kami, meskipun hanya mengambil peran kecil. Tanggung jawabnya sudah terlihat sejak usianya yang baru menginjak sepuluh tahun. Disaat kawan seusianya selalu asik bermain tanpa memikirkan pekerjaan rumah bahkan membantu orang tua, Ranu adiku berbeda dengan yang lainya.

“Ranu doain Kak Dera ya, semoga usaha Kakak lancar dan makin berkembang. Biar Ranu ga cape dan hanya fokus belajar. Kalau usaha Kaka rame kan nanti akan punya karyawan banyak, jadi Ranu ga perlu bantuin Kakak lagi.” Kalimat yang selalu kuucapkan kepada adikku.

“Gak mau ah Kak, Ranu seneng kok bantuin Kakak. Bisa nambah teman baru. Ranu penginnya usaha Kakak lancar dan berkembang tapi, Ranu masih pengin tetep bantuin Kakak jadi kurir antar jemput hanya daerah sekitar sini aja. Besok kalau Ranu udah gede udah bisa naik motor, boleh ya ambil dan ngantar laundry agak jauhan.” Jawaban sekaligus permintaan Ranu.

Bangga sekaligus terharu aku mendengar jawaban Ranu adiku, aku hanya bisa tersenyum mengangguk sembari mengusap kepalanya. Karena kini tak mau lagi dia dipeluk. Malu katanya terutama kalau ada teman yang melihatnya.

Oh Ranu adiku semoga kau tumbuh menjadi anak yang sukses, kebaikan dan keberuntungan selalu menghampirimu.

Bersambung

 

 

 

 

 

Bab 15. Curhatan Ibu

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#Kelompok26juro

#Day15

#jumlahkata574

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 15. Curhatan Ibu

Kunjungan Nenek memberikan kesan yang sangat dalam bagi Ranu adiku. Bagaimana tidak, selama ini dia tumbuh hanya dengan kasih sayang Ibu, Rinjani dan aku. Dia tidak begitu memahami perasaan kecewa yang aku dan Rinjani pendam selama ini.

Kecewa dan benci karena kejadian memilukan sewaktu kecil berhasil bertahan dalam dadaku untuk waktu yang lama. Karena rasa itu pula kuputuskan untuk jarang mengunjungi Nenek. Ditambah lagi aku sering mendengar kabar dan cerita dari menantunya yang juga pernah merasa kecewa bahkan seakan cenderung tak suka kepadanya. Dan menantu Nenek yang kecewa itu adalah Ibuku.

“Nenekmu itu sayang dan perhatian banget dengan Bude dan Tante serta anak-anak mereka, berbeda jauh sikapnya terhadap kita. Lihat saja betapa sering dia mengunjungi rumah Bude Tin dan Tante Lis. Ke rumah kontrakan kita, setahun ini aja bisa dihitung”, demikian salah satu curhatan Ibuku.

“iya Bu semoga saja yang dikatakan Ranu benar. Kini Nenek sudah tak seperti dulu lagi. Sekarang Kami sudah dianggap blenae2 sebagai cucunya dan anggota keluarganya.”

“Ibu tetap tak yakin Dera, pasti ada sesuatu sehingga nenekmu berubah sikapnya terhadap kalian terutama ibu”.

“Dari dulu, tak pernah Nenekmu bersikap seperti ini. Selama Ibu melahirkan, beliau hanya datang menjenguk tanpa mau ikut mengurus bayi seperti selayaknya sikap seorang Nenek terhadap cucunya.”

“apalagi kalau anak-anak Ibu sakit, mana pernah dia menjenguk. Ayahmu juga keterlaluan, sudah tau anaknya diperlakukan berbeda tetapi hanya diam saja.”

Curhatan panjang dari Ibu berhasil menambah panjang daftar kecewa di hatiku meskipun kehadiran Nenek kemarin berbeda dari biasanya. Sikap yang ditunjukkan Nenek berhasil membuatku sedikit luluh untuk tidak terlalu membencinya. Namun ingatan peristiwa masa kecil selalu saja membayangiku.

Curhatan Ibu sangat berbeda jauh dengan Ranu, kehadiran dan perubahan sikap Nenek masih saja tak bisa meluluhkan hati Ibu. Tapi aku tak mau ambil pusing mengapa Ibu tetap mempertahankan sikap demikian kepada Nenek. Mungkin ada suatu peristiwa yang menyebabkan Ibu mempertahankan sikap kecewa dalam hatinya sama seperti kecewa yang aku rasakan. Menurutnya Ibu adalah seorang menantu perempuan yang kehadirannya tidak terlalu diharapkan oleh keluarga Ayahku. Dari dulu semenjak awal pernikahan mereka, Ibu memang tidak pernah tinggal di rumah mertuanya seperti pengantin baru pada umumnya. Hal itu karena Ayah dan Ibu langsung menempati rumah pemberian dari orang tua Ibu. Sebuah rumah peninggalan simbahku. Saat Rinjani berumur tujuh tahun dan aku dua tahun, rumah kami harus direnovasi karena memang kondisinya yang sudah rapuh dan lapuk. Saat itulah untuk sementara kami tinggal di rumah Nenek.

Masih menurut curhatan Ibu selama kami tinggal di rumah Nenek untuk sementara waktu, banyak hal terjadi di rumah itu. Ketegangan antara mertua dan menantu kerap terjadi meskipun tak diperlihatkan secara nyata. Yang paling sering adalah perselisihan antara Ibu dengan saudara iparnya. Entah karena mereka sesama perempuan yang selalu mengutamakan perasaan dan memiliki rasa sensitif yang tinggi atau karena masalah lain.

“Ibu ga salah kan Dera, kamu juga sudah sering liat dan mengalami sendiri bagaimana sikap Nenek dan saudara-saudara Ayahmu kepada kita?” pertanyaan sekaligus permintaan Ibu untuk dukunganku.

Semua curhatan Ibu memang benar, aku mengalami dan melihat sendiri sikap Nenek dan saudara-saudara Ayah sangat berbeda terhadap kami. Puncaknya adalah pada saat kondisi ekonomi kami terpuruk. Tak ada dukungan apalagi kunjungan sekadar untuk menguatkan dan memberi kami penghiburan. Berbeda ketika Ayah dan Ibu masih berjaya, ketika kondisi ekonomi kami masih stabil. Seperti peribahasa Ada Gula Ada Semut, saat kau memiliki uang, kejayaan dan kekuasaan pasti akan banyak orang yang mendekatimu baik yang kau kenal bahkan yang hanya berlagak mengenalmu. Tapi disaat kau jatuh tak satupun orang yang kau kenal mau mendekatimu.

Bersambung

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 16. Warisan Kebencian

0 0

#sarapankata #KMOINDONESIA #KMOBATCH40 #Kelompok26Juro #Day16 #jumlahkata579 #sarkatjadibuku Judul : Wanita Di Penghujung Senja Penulis : Dhiya Ghiga Nama PJ : Irma Fitriani Ketua Kelas : Yuyun Artika Neng Jaga : Norhamidah Bab 16. Warisan Kebencian Karena sering menjadi tempat curhatan Ibu sekaligus tempatnya berkeluh kesah, membuat alam bawah sadarku semakin merasakan kecewa dengan perlakuan Nenek dan juga sikap Ayah yang seolah tak peduli dengan perasaan anak dan istrinya. Tragedi pindahan rumah menjadi titik balik dari kehidupan kami. Masih terkam jelas dalam otaku setiap detail peristiwa menjelang perpindahan rumah. Tak ada satupun keluarga dari pihak Ayah yang menawarkan kami untuk tinggal di rumah mereka, meskipun hanya sekadar basa-basi. Pikirku kala itu seharusnya Nenek menampung kami, inginku Ayah tak membiarkan kami terlunta-lunta. Kepergian Ayah untuk menjadi TKI ternyata menyisakan banyak PR yang harus diselesaikan oleh Ibu. Pada saat seperti itu seharusnya Ayah menitipkan kami untuk tinggal bersama Nenek karena rumahnya hanya ditempati dia seorang. Tetapi jawaban Nenek, Bude dan Tante sangat menyakitkan bagi kami dan membekas di hatiku, Ibu dan Rinjani. Alasan mengapa mereka tidak menawarkan kami rumah mereka untuk ditempati adalah karena jarak yang agak jauh juga karena rumah mereka tak memiliki kamar kosong. Sedangkan rumah Nenek, mereka beralasan bukan hanya tak ada kamar lebih padahal jelas-jelas Nenek hanya tinggal sendiri. Menurut Bude Lis tdan Tante Tin, jika kami menetap di rumah Nenek maka akan membuat Nenekenjadi terbebani karena merasa bertanggung jawab mengurus dan menghidupi kami. Sedangkan Nenek hanyalah seorang janda yang hidup dari pensiunan Almarhum Kakek yang jumlahnya hanya cukup untuk keperluan Nenek. Seingatku dulu saat Ayah dan Ibu masih menjalankan usahanya, sikap Bude Lis dan Tante Tin cukup ramah bahkan sering sekaliereka datang mengunjungi rumah kami dan juga mampir ke Toko. Belakangan aku tahu kalau ternyata sikap ramah mereka karena kondisi ekonomi Ayah yang terbilang mapan. Kehadiran mereka tak lain adalah dalam rangka meminta jatah, karena menurut mereka anak laki-laki dalam keluarga harus bertanggung jawab terhadap saudara perempuannya. Ayah yang merupakan anak lelaki satu-satunya di keluarga mendapatkan amanah untuk meneruskan usaha Kakek dan Nenek. Meskipun Kakek adalah seorang Guru, tetapi beliau memiliki usaha sampingan berupa toko kelontong. Lambat laun toko peninggalan Kakek semakin berkembang dan besar. Perkembangan toko tak lepas dari peran Ibu yang juga punya andil besar dalam hal modal dan juga pembukuan. Tapi sayang, sepertinya saudari Ayah tak menyadari atau bahkan tak aku tahu bagaimana perjuangan Ayah dan Ibu untuk membuat Toko mereka berkembang. Semua sejarah keluarga dan Toko diceritakan tanpa ada yang tertinggal oleh Ibu kepadaku. Puncak rasa kecewa dan sekaligus kebencian Ibu adalah pada saat kondisi Toko sedang tak baik-baik saja, Ayah justru meminjamkan uang kepada Tante Tin untuk menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya Mirna yang digelar sangat mewah. Tetapi ternyata uang tersebut tidak Ayah pinjamkan, melainkan Ayah beri secara cuma-cuma dengan alasan kekeluargaan. Bukan kekeluargaan yang dipermasalahkan oleh Ibu, tetapi Ibu menyayangkan sikap Ayah yang tak jujur. Padahal uang tersebut adalah uang yang sengaja Ayah pinjam dari Bank untuk modal dan akan dipakai untuk membayar gaji karyawan. Bukan hanya untuk membayar sewa gedung, catering dan segala keperluan pernikahan. Ternyata Ayah memiliki hutang lain yang Ibu tak tahu. Hutang tersebut Ayah gunakan untuk Investasi namun tak sesuai harapan. Ayah ditipu oleh rekan bisnisnya, inilah awal mula goyahnya ekonomi keluarga kami. Pada saat seperti itu, Tak ada satupun yang mau membantu kami. Seolah semua keluarga kami memiliki masalah yang lebih berat dari kami sehingga tak sempat untuk membantu. Harapan kami hanyalah dari keluarga Ayah, bukan hanya karena alasan jarak mereka yang masih tinggal satu kota dengan kami. Tetapi karena Ibu memang tak mempunyai saudara lagi selain saudara sepupu. Ibu adalah anak tunggal, Eyang Kakung meninggal saat Rinjani berumur dua tahun disusul oleh Simbah putri meninggal pada saat umurku enam tahun. Bersambung

Bab 17. Kebenaran Terungkap

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#Kelompok26juro

#Day17

#jumlahkata537

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 17. Kebenaran Terungkap

Hari ini lumayan melelahkan, bolak-bakik aku antar jemput pakaian laundry. Dan kebetulan salah satu pelanggan berlokasi tak jauh dari rumah Nenek. Kuputuskan untuk mampir sebentar, kuhargai niat Nenek tempo hari yang suda bersedia mengunjungi kami.

Sesampainya di halaman rumah Nenek, kulihat ada sebuah mobil berwarna silver terparkir. Siapa gerangan yang mengunjungi Nenek? Karena setahuku Bude Tin dan Suaminya hanya memiliki mobil berwarna hitam. Karena penasaran aku langsung memarkir sepeda motorku dan menuju rumah Nenek, samar kudengar percakapan tanteku tentang kabar ayah yang sudah menikah dan ternyata ayah sudah tak lagi menjadi TKI.

Deg!! Benarkah yang kudengar? Tak mungkin, Ayah tak mungkin menghianati kami. Kuputuskan untuk tetap diam di teras mendengarkan percakapan mereka sampai selesai. Perasaan sedih, kecewa, putus asa dan marah menjadi satu. Kurasakan rahangku mengeras, ingin sekali ku tendang pintu rumah Nenek tapi aku berusaha untuk tetap menguasai diri.

“Sejak kapan Ayah menikah? Wanita mana yang dinikahi oleh Ayah?” aku menerobos masuk tanpa memberikan salam sembari memberondong mereka dengan pertanyaan.

 “Jadi Tante dan Nenek sudah mengetahuinya? Pantas aja sikap Nenek berubah. Jawab Dera Nek, ada apa sebenarnya”.

Tak kupedulikan lagi norma, kukesampingkan tata krama. Tak ada salam dan cium tangan layaknya anak muda menghormati yang lebih tua, tak ada suara lembut dan ngajeni. Amarah sudah terlanjur menguasai ku, kecewa semakin menjadi karena selama ini Nenek dan Tante sudah mengetahui perihal pernikahan Ayah. Hal yang lebih mencengangkan adalah ternyata selama lima tahun semenjak awal kepergiannya dulu, Ayah pernah sekali pulang namun hanya tiga hari lamanya. Tujuannya adalah mengurus persiapan pernikahan nya sekaligus menjemput Nenek untuk ikut menghadiri pernikahan Ayah. Mengapa nenek dan keluarga merahasiakan ini? Apakah ibu mengetahui ini? Tak mungkin pikirku, karena jika ibu mengetahui sudah pasti akan ada tragedi dalam keluarga kami.

 Aku bertanya kepada nenek tentang kebenarannya, dia hanya terdiam menahan tangis. Kupaksa Tante utk menjelaskan, dan aku sangat shock mendengar jawaban sekaligus nasihat yang justru kurasa seperti hinaan.

 “Karna ayahmu menikah lagi, seluruh hutangnya lunas. Hutang sebelum menjadi TKI dan hutang kepada agen penyalur TKI mulai dari akomodasi dan biaya hidup selama ayahmu di penampungan.”

“Dia mengirim uang seratus juta untuk biaya pernikahan dan kuliahmu tapi malah kamu pakai untuk modal usaha, mau jadi apa kamu? Yang lulus sarjana aja banyak yang nganggur, kamu malah dengan percaya dirinya tak mau melanjutkan kuliah.”

Kuakhiri percakapan menyakitkan ini dengan langkah cepat dan sengaja kutabrak Tante saat keluar untuk menghentikan segala ocehannya. Kupacu sepeda motorku dengan sedikit kencang, tanpa memedulikan sekitar. Kuputuskan untuk tak langsung kembali ke rumah melainkan ke hutan kota untuk sejenak menenangkan diri. Karena aku belum siap untuk bertemu Ibu dan Ranu, terutama tak sanggup melihat mereka terluka.

Hutan kota berada agak jauh dari rumah kontrakan kami, hampir satu jam lamanya jarak tempuh jika menggunakan sepeda motor. Daerah ini merupakan hutan kota sekaligus wilayah perbatasan dengan Kabupaten sebelah.

“Aaaarrrgggghhhhhh........Akuuuuu beennccciiiiii Aayyyaaaahhhhh....Beeennciiiii Neneeeekk....benciiii tanteeeee benciiiiiii pelakoorrrrrr beenciiiiiiii smuanyaaaaaaa” aku berteriak untuk menumpahkan segala rasa sesak di dada.

Tak hanya berteriak akupun menangis, entahlah jika ada cermin pasti sudah terlihat betapa kacaunya wajahku. Entah berapa lama aku menangis dan mengeluarkan segala sumpah serapah, aku sudah lelah. Kulihat langit begitu indah berwarna jingga cerah. Pemandangan itu seakan menghibur hatiku yang sedang pilu. Oh Allah, betapa malangnya nasibku.

Bersambung

** Ngajeni = menghormati (dalam bahasa Jawa)

 

 

 

 

 

 

Bab 18. Pertemuan Pertama

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#Kelompok26juro

#Day18

#jumlahkata596

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 18. Pertemuan pertama

“Aaaarrrgggghhhhhh........Akuuuuu beennccciiiiii Aayyyaaaahhhhh....Beeennciiiii Neneeeekk....benciiii tanteeeee benciiiiiii pelakoorrrrrr beenciiiiiiii smuasmuanyaaaaaa.”

Entah sudah berapa kali aku mengucapkan kalimat yang menyerupai sumpah serapah itu. Bahkan sampai suaraku lelah aku masih saja mengucapkan dengan pelan dan lemas. Mirip seorang cenayang sedang merapalkan sebuah mantra.

Ya Allah, apakah ini benar-benar takdir yang harus aku jalani. Ketika aku beranjak remaja aku harus kehilangan Ayah karena dia pergi bekerja sebagai TKI. Dan disaat aku sudah dewasa haruskah aku benar-benar kehilangan karena Ayah memutuskan menikahi wanita lain, meninggalkanku Ibu dan Ranu.

“Keluarga sialan sengaja menutupi fakta bahwa anak dan saudaranya menikah diam-diam, Nenek jahat, Bude, Pade, Om dan Tante semua jahat. Aku mengutuk kalian semua. Semoga kalian tak pernah merasa tenang dan kebahagiaan keluarga kalian hanya bertahan sebentar.”

“Dulu saat aku terlunta-lunta karena harus segera meninggalkan rumah karena ternyata disegel pihak bank, kalian semua tak ada yang menampakan muka. Kami pernah kelaparan, sampai kami sering berpuasa. Tapi kalian sama sekali tak ada yang peduli. Salah apa aku, Ibu, Rinjani dan Ranu kepada kalian? Tunggu saja suatu saat kalian pasti akan menyesal. Semoga suatu hari nanti kalian mengalami kesulitan dan meminta bantuanku. Dan jika saat itu tiba jangan harap aku, Ibu, Rinjani dan Ranu akan membantu kalian. Ciiihhh.....tak sudi aku.” Aku meludah menandakan emosi yang teramat sangat.

Kurasakan dadaku tak lagi terasa sesak seperti tadi. Ternyata menangis dan memaki di tempat tenang seperti ini lumayan membuatku rileks. Haruskah aku setiap sore mampir kemari, membuang penat sembari memandang langit sore. Kalau kata orang bilang ini adalah healing. Sebuah kegiatan untuk menenangkan dan menyembuhkan diri sendiri.

“Ehem....” Terdengar suara seorang pria.

“Hah?” tubuh Kaldera membeku, ada orang ternyata. Jangan-jangan dari tadi orang itu melihat dan mendengar semua yang kulakukan.

Mata Kaldera berkeliling ke segala penjuru mencari asal suara. Dia jatuh terduduk saking kagetnya melihat seorang pria tiba-tiba muncul dari balik pohon. Pria itu berpenampilan rapi meskipun mengenakan pakaian kasual. Hal yang paling membuat Kaldera terkejut adalah, kamera yang dipegang oleh pria itu. Pikiran Kaldera mulai melayang jauh dilengkapi segala prasangka dan curiga.

“Ah, jangan-jangan pria ini diam-diam sudah merekam dan mengambil fotoku yang tadi marah-marah.” Kaldera membatin.

“Siapa anda?” tanya Kaldera

“Saya seorang fotografer yang kebetulan sedang mencari objek foto di sini, sengaja saya menunggu langit jingga disini. Tapi sayang tadi saya ketiduran.” Pria itu menjawab sambil menyunggingkan sebuah senyuman.

Tapi bagi Kaldera, senyuman itu terasa aneh. Tidak terlihat tulus, tetapi jelas mengisyaratkan sesuatu. Semoga saja benar yang dia katakan bahwa dia tadi tertidur sehingga dia tak mendengar segala sumpah serapah dan caci makiku.

“Saya ketiduran, tapi tiba-tiba saya terbangun karena mendengar suara teriakan dan makian. Awalnya saya kaget, saya pikir ada yang memarahi. Ternyata hanya seorang gadis yang entah sedang benar-benar meluapkan amarah atau hanya melatih dialog drama?”

Sial, ternyata pria itu mendengar dan melihat semuanya. Ahh, aku tak peduli. Aku tak mengenalnya dan pertemuan ini hanyalah sebuah kebetulan. Aku hanya cukup minta maaf sudah mengganggunya kemudian berpamitan pulang. Tak perlu basa-basi apalagi memperkenalkan diri.

Lho...lho, kenapa pria itu malah berjalan mendekat dan duduk di sampingku?. Kaldera bangkit dari duduknya, mengibaskan dedaunan kering yang menempel di jilbab dan bajunya sekaligus bersiap untuk pergi.

“Maafkan saya sudah mengganggu tidur anda Tuan saya mohon diri” Kaldera berkata dengan sedikit menyindir.

“Hanya itu saja, tidak ada yang ingin kau jelaskan?” jawaban sekaligus pertanyaan dari pria itu.

“Mohon maaf Tuan, kita sama sekali tidak mengenal jadi saya tidak perlu menjelaskan apapun kepada anda. Sekali lagi saya mohon diri. Assalamualaikum”

Entahlah dia seorang muslim atau bukan, aku mengucap salam karena ingin segera mengakhiri percakapan ini. Segera setelah mengucapkan salam aku berjalan dengan cepat meninggalkan pria itu tanpa menoleh sedikitpun.

Bersambung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 19. Sebuah Pembelaan

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompok26juro

#Day19

#jumlahkata596

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 19. Sebuah Pembelaan

Setelah semua kebohongan terungkap, aku semakin menyibukkan diri. Sengaja kuhabiskan waktu untuk antar jemput pakaian sebagai cara untuk menghindari interaksi dengan Ibu dan Ranu. Bukan karena aku tak ingin berlama-lama apalagi sudah tak sayang dengan mereka. Justru karena besarnya rasa sayangku kepada mereka, aku berusaha untuk menyibukkan diriku. Aku tak mau menangis apalagi keceplosan di depan mereka. Karena setiap sore hari setelah semua kegiatanku selesai, aku tak bisa menahan kesedihan jika melihat Ibu dan Ranu dari kejauhan.

“Kaldera, kamu sedang ada masalah apa sebenarnya”, tanya Ibu di suatu siang.

“Ga kenapa-napa Bu, emang ada yang beda ya dari Dera?”

“Akhir-akhir ini kamu aneh sering diam, mukamu murung, jarang ngobrol dan becanda lagi sama Ibu dan adikmu. Terus kenapa sekarang menerima orderan laundry yang jaraknya jauh. Dulu kamu bilang tidak mau menerima pelanggan yang terlalu jauh jaraknya.”

Ibu selalu tahu segala perubahan anaknya. Itulah alasan mengapa seorang Ibu mendapatkan julukan sebagai Ras terkuat di muka bumi ini. Bagaimana tidak, karena hampir semua hal bisa dilakukan, diprediksi bahkan diatur oleh seorang Ibu.

“Kaldera baik-baik saja Bu, Kaldera sengaja fokus ke laundry biar usaha ini semakin berkembang. Ibu ga usah khawatir, banyakin doa buat Kaldera aja ya.”

Obralan kami terhenti oleh suara mobil yang berhenti tepat di halaman rumah. Sebuah mobil mewah berwarna hitam mirip dengan yang dimiliki artis. Siapakah pemilik mobil itu? Mau berkunjung ke rumah siapa ya. Penasaran aku dibuatnya.

“Assalamu’alaikum, permisi maaf numpang tanya kediaman Ibu Lestari yang mana ya?” suara pria pemilik mobil bertanya ke penghuni rumah kontrakan sebelahku.

Kulihat ekspresi Ibu yang langsung berubah tegang dan langsung ke dapur. Tapi sepertinya aku mengenali suara itu, mirip sekali dengan suara Ayah. Tapi tidak mungkin itu , karena menurut Nenek dan Tante Ayahku masih berada di Saudi.

Ternyata benar, suara seorang pria di halaman rumah adalah suara Ayah. Bertahun tak berjumpa dengannya tak membuatku rindu, kecewa sudah terlanjur menguasaiku. Kulihat penampilan aayah sangatlah berbeda dibandingkan seperti saat awal keberangkatan Ayah menjadi TKI. Betapa sudah suksesnya dia, apalagi dengan mobil mewah yang dikendarainya. Tapi kalau memang dia sudah sukses dan berkecukupan, mengapa dia tak pulang? Mengirim uang saja hanya dua kali. Dulu setelah tiga tahun keberangkatannya dan beberapa hari sebelum pernikahan Rinjani. Oh iya, aku lupa. Jelas saja dia tak mengirimkan uang apalagi kabar. Dia sibuk dengan istri barunya.

“Aku bisa menjelaskan semuanya, maafkan aku yang tak bertanya dan meinta ijinmu terlebih dahulu. Karena pada awaktu itu keadaan benar-benar kacau dan memaksaku harus segera melangsungkan pernikahan itu.” Ayah menjelaskan semuanya kepada kami, lebih tepatnya kepada Ibu.

Tiga tahun adalah jangka waktu kontrak kerja Ayah di Saudi dengan pihak Agensi. Kontrak kerja tersebut biasanya diperbaharui bagi mereka yang melanjutkan bekerja dibawah naungan Agensi. Tetapi Ayahku tidak memperpanjang kontrak kerjanya karena pada saat itu dia mendapat tawaran dari seorang pengusaha Indonesia yang sudah lama menetap di Saudi. Ayah bekerja sebagai sopir dengan penghasilan yang lebih besar serta iming-iming fasilitas memadai membuat Ayah terlena. Puncaknya adalah ternyata pengusaha tersebut menginginkan Ayah untuk menikahinya, menjadi suaminya. Saat wanita tersebut melamar Ayah, pernikahan dilangsungkan sore hari itu juga. Masih menurut penuturan Ayah yang seperti pembelaan, pernikahan mereka segera dilaksanakan mengingat di Saudi tak memperbolehkan Pria dan Wanita yang bukan mahramnya bepergian berdua. Masih kata Ayah, Istri mudanya sangatlah baik dan pengertian. Dia ingin menemui kami di Indonesia. Aku sudah tak percaya lagi kepada Ayah, entahlah semua penjelasan dari ya seolah hanyalah pembelaan diri dan pembenaran atas sikapnya berpoligami.

Bersambung

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 20. Hidupku Untuk Ibu

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#Kleompok26juro

#Day20

#jumlahkata681

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 20. Hidupku untuk Ibu

Meskipun belum menikah, aku bisa merasakan kesedihan para wanita yang ditinggal pergi suaminya karena lebih memilih wanita lain. Mba Lina karyawankunsalah satunya, suaminya pergi disaat dia sedang hamil tua. Awalnya dia merasa tidak sanggup menjalani kehidupannya, lambat laun dia merasa terbiasa dan justru pengalaman hidupnya menjadikannya wanita mandiri dan kuat. Sama halnya dengan Ibu jelas tak mudah baginya untuk menerima kenyataan meskipun kutahu bawha dia pasti sanggup menghadapinya. Karena sejauh yang aku tahu dia adalah wanita tangguh dan kuat. Tak pernah kulihat dia menghabiskan waktu bermalas-malasan bahkan hanya sekedar ke salon atau jalan-jalan untuk dirinya sendiri, dia benar-benar seorang pekerja keras.

Seorang kurir berhasil memecah lamunanku, dia mengantarkan surat hasil putusan cerai ayah dan ibu. Seminggu lamanya Ibu hanya terdiam, tak ada air mata yang menetes di pipinya. Raut mukanya datar tak tahu apa yang dia rasakan, tapi kutahu hatinya sangat hampa dan sikap diamnya adalah perwujudan sedih tingkat tinggi. Hanya diam ingin menangis tapi tak mampu mengeluarkan air mata. Aku memaklumi semua itu, karena akupun merasakan hal yang sama dengannya. Sedih, marah, kecewa tapi rasanya kebas tak bisa mengeluarkan air mata. Berbeda dengan Ranu adiku, sikapnya masih terlihat biasa saja. Tapi dari semuanya aku tahu, dia hanya ingin menunjukkan kepada kami bahwa dia baik-baik saja. Meskipun mungkin jauh di lubuk hatinya ada sesuatu yang berbeda.

 Berbagai kejadian yang menimpaku membuatku semakin dewasa dan kuat menjalani kehidupan. Ku bertekad mengabdikan hidupku untuk ibu dan membesarkan Ranu adiku. Saking sakit hatinya, Ibu bahkan tak sudi menerima dan menggunakan uang kiriman dari Ayah untuk Ranu. Aku pun demikian, kecewa dan benciku pada ayah membuatku tak mau lagi berurusan dengannya.

 Aku fokus dengan usaha laundry ku yang mulai berkembang dengan tiga orang karyawan yang semua adalah tetanggaku sesama penghuni kontrakan. Sekarang aku mengontrak rumah kosong yang berada persis di sebelah rumah kontrakan kami. Rumah itu khusus kujadikan sebagai tempat usahaku, meskipun Bu Retno pemilik kontrakan sekaligus besan Ibu tak mau menerima pembayaran uang sewa tapi aku tetap bersikap profesional. Semoga ini menjadi titik balik bagi kehidupanku dan juga Ibu. Cita-cita ku kini ingin segera membeli rumah untuk kutinggali bersama dengan Ranu dan ibu.

“Kaldera, hari ini kamu mau ngantar pakaian ke perumahan dekat balaikota kan. Ibu minta tolong sekalian antarkan pesanan kue ya. Tenang aja cuma limapuluh box, ga bakal repot kamu.”

“siap, laksanakan Ibu negara!” jawabku.

Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah karena kau telah mengembalikan keceriaan Ibuku. Tak ada pemandangan seindah senyum dan keceriaannya. Kini Ibu sudah kembali membuka warung dan menerima orderan kue meski sudah kularang untuk tak lagi menerima pesanan. Bosan katanya, kalau hanya duduk diam menunggu sore.

“Mba Dera girang banget, mau ketemu siapa sih. Eheeemm jangan-jangan nih?” goda mba Lastri karyawan ku.

“Eh iya, selama ini kita ga pernah liat mba Dera bawa teman cowok kemari. Hayo jangan-jangan blacklist yaa”, timpal mba Lina tak mau kalah ikut menggodaku

“Hah? Blacklist, maksudnya apa mba Lina? Jangan bikin Dera bingung deh.” Bingung aku dengan maksud perkataan mba Lina.

“Itu lho mba kaya anak muda jaman sekarang yang pacarannya ngumpet-ngumpet dirahasiakan.” Penjelasan mba Lina

“Owalah, itu namanya backstreet mba Linaaaa”, jawabku sambil tertawa melihat eksprei mukanya.

Sepanjang perjalanan sempat terpikir tentang obrolan tadi dengan para karyawanku. Sejauh ini aku memang belum pernah sama sekali menjalin hubungan dengan seorang pria. Aku tak pernah berpikir untuk berpacaran, karena semenjak menginjak remaja aku selalu sibuk dengan urusan sekolah serta membantu Ibu dan Kakak berjualan. Aku juga ingin seperti Rinjani kakakku, tak pernah menjalani hubungan pacaran tetapi mendapatkan jodoh seorang suami yang Soleh dan berasal dari keluarga yang baik. Ah Rinjani, bagaimana kabarmu di sana?semoga kamu baik-baik saja, aku akan melanjutkan cita-citamu yang kini menjadi cita-cita ku. Cita-cita untuk membahagiakan, menjaga dan Merawat Ibu hingga akhir hayatnya.

Allahumaghfirlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa.

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku, kasihanilah mereka sebagaimana mereka telah mengasihiku di waktu kecil. Semoga aku mampu dan diberi kemampuan untuk membahagiakan Ibu.

Bersambung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 21. Oppa KW

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompok26juro

#Day21

#jumlahkata849

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 21. Oppa KW

Langit Sabtu sore yang cerah menghadirkan semburat jingga yang tak kalah ramah. Setelah Ibu pulih dan bangkit dari keterpurukannya merupakan anugerah luar biasa yang membuat Kaldera bahagia. Gadis cantik yang selalu enerjik dan ceria kini semakin semangat menjalani hari-harinya. Karena tujuan hidup dan segala beban yang menghimpit selama ini perlahan menghilang meskipun belum sepenuhnya. Bukan Kaldera namanya kalau harus menyerah dengan keadaan. Sedari kecil dia sudah terbiasa berjuang dan menghadapi kerasnya kehidupan. Kini di usianya yang semakin dewasa, segala permasalahan hidup dihadapi dengan penuh kesabaran, tanggung jawab dan selalu memasrahkan kepada Allah untuk setiap hasil akhir.

“Mbak Dera, ini ada calon pelanggan baru minta di ambil cuciannya. Alamatnya di perumahan elit yang ada di dekat perbatasan kota. Baru kali ini lho ada pelanggan dari komplek perumahan itu. Penasaran saya, pasti yang tinggal disitu sultan semua ya”, kata mba Lastri sembari memberikan catatan kepadaku.

“Jelaslah sultan semua, dari jalan aja kelihatan bentuk rumahnya mirip istana. Emang komplek perumahan kita, isinya kontraktor semua. Alias ngontrak. Hahahaha”, mba Lina ikut menimpali dibarengi dengan candaan.

“Baiklah anak buah, Nona Buah mau ambil orderan dulu ya. Kalian para anak buah jaga baik-baik istana sekaligus perusahaan kita, kerja yang giat dan rapi biar akhir tahun jadi piknik kita, Assalamualaikum”, pamitku dibarengi dengan gurauan kepada mereka.

Begitulah kami setiap hari, tak ada batasan majikan dan karyawan. Karena dari awal aku menjalankan usaha ini, sudah kuniatkan kerjasama dengan para tetangga yang benar-benar membutuhkan. Kami bertekad membesarkan dan mempertahankan usaha ini bersama-sama.

Gerbang perumahan Firdaus Regency selalu tak pernah ditinggalkan oleh satpam penjaga komplek. Setiap ada orang lain yang bukan penghuni akan memasuki kawasan elit tersebut wajib lapor dan meninggalkan KTP. Sama halnya denganku, begitu aku memarkirkan sepeda motorku salah satu satpam langsung menghampiriku. Karena protokol keamanannya memang demikian, atau mungkin curiga karena tiba-tiba ada orang asing masuk ke kawasan tersebut. Satpam itu memperhatikanku juga motorku yang sengaja kupasang keranjang di bagian belakang sebagai ganti box untuk tempat pakaian.

“Selamat sore mba, ada yang bisa saya bantu”, tanya satpam kepadaku.

“Selamat sore pak, mohon maaf saya mau ambil laundry ini alamatnya” , kusodorkan secarik kertas berisi alamat serta nama calon pelanggan laundry ku.

“Baik, mari saya antarkan. Tapi mohon maaf sebelumnya mbak harus meninggalkan KTP disini”.

Sampailah aku di depan rumah bergaya klasik minimalis dengan taman kecil yang sangat asri. Tampak beberapa tanaman hias di teras rumah menambah kesan nyaman bagi siapapun yang melihatnya. Pasti penghuni rumah ini sangat telaten, terbukti semua tanamanya terawat. Bahkan pot nya tak ada yang kotor, apa setiap hari dilap dan dibersihkan ya. Berbanding terbalik dengan di rumah. Pot bunga kami tak ada yang mengkilat seperti disini.

Sudah dua kali kutekan bel di pintu namun belum juga ada yang keluar. Sambil menunggu ku edarkan pandanganku ke sekitar rumah. Ternyata rumah di komplek lerumahan ini tak ada satupun yang memiliki pagar di halaman. Mashaaalloh pasti bahagia yang tinggal disini. Aku jadi teringat Ibu, ingin rasanya memiliki rumah disini yang nantinya kutinggali bersama dengan Ibu dan Ranu.

“Siapa ya?”, suara seorang pria dari dalam dan pasti dialah pemilik rumah.

“Laundry Pak”, Jawabku sedikit berteriak dari luar, takut tak terdengar karena rumah ini memiliki dinding dan pintu yang kelihatannya sangat tebal.

Deg!! Ternyata pria ini pemilik rumah. Pria yang beberapa bulan lalu tak sengaja mendengar dan menyaksikan segala sumpah serapahku. Pria yang kutinggalkan dengan tatapan sinis. Ya Allah, bagaimana ini. Pikiranku kacau dan takut dia masih tersinggung dengan sikapku waktu itu.

“Ini ada dua kantong mba. Yang kantong plastik hita. Berisi pakaian sedangkan kantong plastik putih berisi sprei. Kira-kira bisa ga mbak bawa sebanyak ini?”

“Haloo mbak, denger saya ngomong ga?” lambaian tangannya menyadarkanku.

“Eh iya...anu .maaf Tuan. Saya denger ko. Tenang saja Tuan begitu selesai saya akan langsung mengantar pakaian Tuan.”

Sial, kenapa dia tenang banget ya. Pake senyam-senyum lagi. Ahhh betapa konyolnya aku, haruskah aku meminta maaf atas sikapku waktu itu. Atau percuma saja, mungkin saja dia sudah lupa kejadian dan lupa dengan wajahku.

“Ehm..Sa..saya minta maaf atas kejadian waktu itu di hutan kota Tuan”, akhirnya kuputuskan untuk meminta maaf kepadanya. Aku tak mau meninggalkan kesan buruk kepada pelanggan laundry ku.

“Iya ga papa, saya tau pasti waktu itu mbak lagi galau berat. Kayaknya habis diputusin pacar ya?” jawabnya dengan tersenyum.

Lha, ternyata dia ingat. Kupikir dia sudah melupakan kejadian itu. Terserahlah, yang terpenting aku sudah meminta maaf kepadanya. Aku hanya harus berpamitan, besok kemari lagi untuk mengantar pakaian yang sudah bersih. Lain kali akan ku suruh Ranu atau mba Lina yang antar jemput pakaian di komplek perumahan ini. Sungguh aku sangat malu jika teringat kejadian itu.

“Baik, saya pamit dulu Tuan. inshaaAlloh besok pakaian Tuan sudah rapi. Assalamualaikum” pamitku tanpa ingin berbasa-basi

“Wa’alaikumsalam, hati-hati mba jangan mampir hutan kota ya. Sudah mau Maghrib soalnya”.

Ya Allah ya Tuhanku, ternyata pria itu tak seburuk yang aku pikirkan. Dan ternyata penciptaan Mu sangatlah luarbiasa. Pria Itu sangatlah tampan, apalagi jika tersenyum lesung pipinya sangat terlihat. Mirip Oppa dalam drama Korea.

Astaghfirullah , mikir apa sih aku. Bisa jadi dia pria beristri. Terasnya aja penuh dengan tanaman hias yang tersusun rapi dan terawat dengan baik. Sudah pasti hasil karya dan sentuhan tangan seorang wanita yang mungkin adalah istrinya.

Bersambung

 

 

 

 

 

 

 

Bab 22. Keresahan Gibran

0 0

Rapat di kantor membuatku menahan emosi juga menguras tenaga. Aku butuh tempat untuk menghilangkan penat. Kujalankan mobilku dengan kecepatan sedang, kusetel musik untuk sekedar mengalihkan pikiran dari segala sumpah serapah saat di kantor tadi.

Hutan kota menjadi tempat pemberhentian ku, bukan tujuan utama karena aku hanya ingin singgah sebentar membuang semua pengaruh buruk. Oh iya, tak ada salahnya kubawa kameraku untuk menyalurkan hobi memotret ku karena nampaknya tempat ini sangat asri dengan pepohonannya yang rindang.

Hutan ini terletak di perbatasan kota, sengaja dibiarkan tetap ada karena difungsikan sebagai buffer dari segala polusi yang dihasilkan di kota ini. Halaman oerkir yang sangat luas memudahkan pengunjung untuk memarkir kendaraanya, tak ada taruf khusus untuk memasuki wilayah ini. Pengunjung hanya dikenakan tarif parkir kendaraan saja.

Jalan menuju ke tengah hutan sangatlah rapi, aku menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batako dan sebagian malah sudah ada yang diaspal. Jauh dari kesan hutan yang seram. Pepohonan yang rindang menjadi tempat favorit para burung untuk membuat sarang. Kuambil kameraku untuk mengabadikan momen itu. Setelah agak lama berjalan dan mengambil gambar, kuputuskan untuk duduk bersandar sebenrar di bawah pohon besar.

“Aaaarrrgggghhhhhh........Akuuuuu beennccciiiiii Aayyyaaaahhhhh....Beeennciiiii Neneeeekk....benciiii tanteeeee benciiiiiii pelakoorrrrrr beenciiiiiiii semuanyaaaaaa”.

Heh?? Apa aku tak salah dengar, ada suara teriakan, makian dan sumpah serapah penuh kebenciab dari seorang wanita di balik pohon besar yang menjadi tempatku bersandar. Pelan kucari asal suara teriakan bernada makian itu.

Ternyata ada seorang gadis yang sedang menumpahkan keluh kesahnya. Sangat kontras dengan penampilannya yang anggun berhijab tetapi kenapa teriak-teriak begitu? Ah apa mungkin dia sedang berlatih dialog untuk drama. Karena kutaksir usianya baru menginjak Dua puluh, usia anak kuliahan.

Kuputuskan untuk tetap diam mendengarkan, lumayan ada tontonan gratis, pikirku. Kuambil kameraku untuk mengabadikan semuanya. Lho..lho ..tapi kenapa dia menangis, seprofesio Al itukah dia menghayati dialog dramanya?. Oh tidak, sepertinya ini sungguhan. Tangisnya terdengar sangat menyayat hati dan begitu nelangsa.

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompok26juro

#Day22

#jumlahkata508

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis :Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 22. Keresahan Gibran

Apa yang sedang terjadi dengan gadis itu, haruskah aku mendekat dan membantunya. Ada rasa iba dan simpatik muncul, dan ketika suara tangisnya mulai melemah kuhampiri gadis itu.

Sengaja ku berdehem untuk memecah kesunyian. Perlahan gadis itu menengok kearah ku. Mashaaalloh, apa ini kenapa aku berdebar melihatnya. Gadis didepanku bukan saja cantik tapi juga anggun dengan tampilannya meskipun hanya memakai kaos panjang, celana jins dan sepatu ketsnya.

“Saya seorang fotografer yang kebetulan sedang mencari objek foto di sini, sengaja saya menunggu langit jingga disini. Tapi sayang tadi saya ketiduran.” Pria itu menjawab sambil menyunggingkan sebuah senyuman.

“Saya ketiduran, tapi tiba-tiba saya terbangun karena mendengar suara teriakan dan makian. Awalnya saya kaget, saya pikir ada yang memarahi. Ternyata hanya seorang gadis yang entah sedang benar-benar meluapkan amarah atau hanya melatih dialog drama?”

Gadis itu menjawab dengan terkejut. Buru-buru dia pamit dan meninggalkanku. Tak bisa dia tinggalkan aku begitu saja kucegah kepergiannya dengan melontarkan satu pertanyaan, apakah tidak ada yang perlu dia jelaskan kepadaku?. Jawabannya sangat dluar dugaan. Taka da penjelasan apapun karena kita berdua tidak dalam kondisi yang harus saling menjelaskan.

Gadis cantik berkerudung dengan jawaban ketusnya justru membuatku penasaran dan tertantang dengan kalimat akhirnya. Ya Allah ada apa denganku?. Gadis itu berhasil mengalihkan pikiranku.

 

 

Bab 23. Kagum

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompok26juro

#jumlahkata510

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 23. Kagum

Pepatah mengatakan bahwa kesan pertama begitu menggoda tidak berlaku bagi Gibran. Karena gadis itu tidak menggoda dan dia pun tidak tergoda, hanya saja rasa penasaran yang menyelimuti hati Gibran saat ini. Sangat jarang ada gadis yang tidak mau menyapanya. Biasanya dia selalu menggunakan seribu cara dan alasan untuk bisa menghindari dengan para gadis. Wajar saja banyak gadis yang berusaha mencuri perhatiannya karena Gibran memenuhi standar impian para gadis. Wajah tampan, kariernya di usia muda terbilang mapan, serta latar belakang keluarga yang terpandang. Paket komplit adalah julukan yang disematkan para gadis yang mengenal Gibran.

Hari Senin adalah pembuka hari sekaligus awal bagi semua yang manusia di bumi ini melakukan semua kegiatan. Tak berbeda dengan Gibran yang selalu memilih untuk berangkat lebih pagi menuju kantornya demi menghindari kemacetan. Tak disangka ada kemacetan kecil di depannya padahal ini masih terlalu pagi pikirnya.

Tak sengaja matanya menangkap sosok yang selama ini berhasil mengganggu pikirannya. Gadis yang dia jumpai di hutan kota kini ada di hadapannya. Dengan sigap dia menghalau kendaraan dengan cara memarkirkan sepeda motornya secara melintang agar tak ada yang lewat. Penasaran dengan aksinya, aku makin menajamkan pandanganku. Luar biasa ternyata aksinya adalah untuk membantu seorang pedagang tua menyebrang jalan. Dia agak kesusahan mendorong gerobak nya dengan kondisi kaki yang sudah tidak kuat lagi.

Ah apa itu, motornya unik dirombak agar muat menampung dan membawa pakaian laundry. Entah mengapa aku langsung mengambil ponselku dan Kusimpan nomer yang tertera di box belakang motor itu. Entah itu nomornya atau nomor tempatnya bekerja, yang penting aku sudah punya cara untuk bisa bertemu lagi dengannya.

Sekilas kulihat wajah serius dan tulusnya menuntun pedagang tua itu membuatku kagum. Kulihat ada seorang pengendara mobil yang tidak terima dengan aksinya, memaki bahkan meneriakkan kalimat yang tak sepantasnya. Geram aku mendengar dan melihat itu, segera kubuka pintu mobilku untuk menegur pengendara itu. Baru kubuka pintu mobilku, aku sudah dibuat terkejut sekaligus kagum mendengar jawaban gadis itu yang tengah beradu argumen.

“Mohon maaf kalau saya dan kakek ini mengganggu perjalanan Tuan, tapi saya yakin Tuan masih punya hati nurani karena saya masih jelas melihat anda berdiri di hadapan saya, me dengar suara anda dan itu semua menunjukan bahwa anda masih seorang manusia”.

“Anda dilahirkan oleh seorang Ibu, dibesarkan dari keringat Ayah anda. Jadi tolong sedikit saja hargai para lansia yang masih giat bekerja mencari nafkah ini. Mereka memilih susah payah mencari nafkah karena tak mau meminta-minta”. Lantang gadis itu menyuarakan pembelaan untuk lansia yang ditolongnya.

Aku terdiam, kalimatnya sungguh menusuk hatiku dan mungkin juga beberapa pengendara lain yang ada disini menyaksikan adegan ini.

Ya Allah ada apa ini, mengapa aku semakin kagum dengannya. Ternyata kau menciptakan jenis wanita sempurna yang jauh dari pandanganku selama ini. Apakah aku salah jika ingin mengenalnya. Tapi aku yakin betul bahwa dia bukanlah gadis biasa, dari cara bicara dan sikapnya menunjukkan bahwa dia memiliki kecerdasan dan harga diri yang luar biasa.

Ya Allah kalau memang ini saatnya aku harus menikah, aku ingin memiliki istri sepertinya. Buatlah aku berjodoh dengannya, karena aku yakin dia adalah gadis yang memiliki akhlak baik. Yang bisa menjadi istriku sekaligus memantu idaman Ibuku.

 

 

 

 

Bab 24. Senam Jantung

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompok26juro

#Day24

#jumlahkata821

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

 

Bab 24. Senam Jantung

 

Sehari berselang setelah kehadiran pertamanya ke rumah Gibran masing-masing dihantui oleh rasa penasaran. Kaldera yang penasaran dan sempat terpesona dengan wajah tampan mirip Oppa Korea. Sama halnya dengan Gibran yang sejak pertemuan awal mereka di hutan kota membut pria itu penasaran dan ingin mencari tahu siapa sebenarnya Kaldera.

Setelah pertemuan pertama di hutan kota ternyata mereka dipertemukan lagi beberapa kali hanya saja Kaldera tidak menyadarinya. Kesempatan itulah yang digunakan Gibran untuk bertemu lagi dengan Kaldera dengan cara menghubungi tempatnya bekerja. Seolah dia menggunakan jasa laundry tempat Kaldera bekerja. Padahal sebenarnya ini bagian dari rencananya yang sangat ingin berjumpa kembali dengan gadis yang selama ini berhasil mengganggu pikirannya dan tanpa disadari selalu ada dalam doanya.

Hari yang dinanti tiba, ini adalah hari Kaldera kembali ke rumahnya untuk mengantarkan pakaian yang sudah selesai di laundry. Selama di kantor dia tak fokus memikirkan pertemuan yang akan terjadi. Ah betul, dia harus menelpon untuk mengabarkan bahwa di rumahnya hanya ada orang selepas ashar.

“Assalamualaikum selamat siang, minta tolong laundry untuk alamat firdaus Regency dikirim nanti jam empat sore saja ya”.

“Wa’alaikumussalam, baik Pak nanti kami antar”.

Baiklah, saatnya aku menyelesaikan semua pekerjaan dan bersiap-siap pulang. Sepanjang perjalanan pulang Gibran melatih dialog untuk berbincang dengan gadis laundry. Misinya kali inia salah bertanya nama, nomor telepon sekaligus alamat rumahnya. Jodoh memang di tangan Tuhan tetapi jodoh juga harus diperjuangkan, pikirnya.

Di tempat lain masih di Kota yang sama, seorang gadis sama gelisahnya dengan Gibran. Dia adalah Kaldera si gadis laundry. Setelah dia mengambil pakaian di rumah oppa kw dia bertekad untuk tak kembali kesana. Malu karena kenangan saat pertemuan di hutan kota. Mungkin sudah menjadi takdir untuk mereka dipertemukan, mba Lina hari ini tak berangkat karena menemani anaknya yang sedang sakit. Mba Lastri sama sekali tak bisa mengendarai motor, sedangkan Ranu masih belum pulang dari sekolah karena mengikuti pelajaran tambahan. Dan kegelisahan itu bisa ditangkap oleh Ibu.

“Kamu ini kenapa Kaldera, Ibu perhatikan dari tadi uring-uringan ga jelas begitu”.

“Betul Bu, dari tadi mbak Dera ga fokus. Hampir aja salah memasukan baju pelanggan. Kalo kurang bisa bahaya, rusak reputasi laundry kita. Apa lagia da masalah sama pacarnya mungkin Bu”. Mba Lastri ikut menimpali.

Langsung saja aku mendelik sebagai reaksiku atas omongannya. Dan berhasil dia langsung diam namun tetap sambil cekikikan. Sayangnya Ibu tak demikian, dia justru semakin penasaran. Karena akhir-akhir ini obrolan Ibu selalu bertopik tentang teman spesial. Aku paham maksudnya bahwa dia ingin aku mulai memikirkan masa depanku menyusul Rinjani.

“Hmmm seperti ya ada yang mau bertamu ke rumah ini Lastri, kira-kira siapa ya Pria yang beruntung dapat anak Ibu yang luarbiasa baik dan cantik ini”, Ibu dan mba Lastri kompak menggodaku.

“Ibu yang terhormat dan mbak Lastri yang baik hati, Saya tidak sedang dalam suasana hati kasmaran. Kebetulan saja hari ini saya banyak pekerjaan. Jadi anda berdua jangan lagi menambah beban pikiran saya. Ya sudah Mba boss mau antar laundry dlu, anda silahkan dilanjut diskusinya. Assalamualaikum”.

Kuakhiri obrolan yang penuh dengan jebakan ini dan bergegas mengantar laundry. Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang, aku bertekad untuk tak berlama-lama. Entah ada apa dengan diriku, biasanya aku selalu berusaha ramah bahkan mengobrol dengan para pelanggan laundry ku. Tapi dengan si Oppa Kw aku enggan. Ada rasa aneh saat aku berada di dekatnya.

Ya Allah, ternyata dia sudah ada di teras rumah duduk santai memainkan gawainya. Baiklah semangat Kaldera, demi majunya usaha laundry tetap bersikaplah ramah.

“Assalamualaikum, laundry nya Tuan”.

Oh tidak, pria itu menoleh dan tersenyum lagi kenapa aku deg-degan serasa senam jantung begini. Tidak...tidak...sadarlah Kaldera. Mungkin saja dia sudah punya istri. Lihat saja rumahnya yang rapi dan tanaman yang tertata di halaman.

“Terima kasih banyak ya, silahkan duduk dan tunggu sebentar. Saya ambil pakaian di dalam”

Dwuaarrr tiba-tiba saja langit bergemuruh dan dalam sekejap mata hujan turun dengan derasnya. Sial bagi Kaldera karena dia lupa membawa jas hujan. Haruskah aku meminjam jas hujan kepada pria ini, pikirnya.

“Hujannya deras, sebaiknya mbak menunggu disini sebentar karena kebetulan saya tidak punya jas hujan untuk dipinjamkan. Jas hujan yang saya punya sudah sobek, belum sempat beli yang baru”. Dia mempersilahkan sembari memberikanku segelas teh hangat.

“Terimakasih Tuan, tapi kalau saya terlalu lama disini tidak pantas dan tidak enak juga. Nanti kalau istri Tuan marah bagaimana”. Ada apa denganku, kenapa aku malah memberi jawaban dengan pertanyaan yang samar.

“Aku belum beristri dan tolong jangan panggil Tuan, namaku Gibran”. Jawabnya sembari mengulurkan tangan

“Kaldera”, jawabku singkat sembari menerima jabatan tangannya.

Obrolan kami berlanjut, kami bercerita tentang keseharian kami masing-masing tetapi sengaja tak ku ceritakan pedihnya masa lalu ditinggal Ayah dan harus berjuang bersama Ibu dan Ranu.

Hujan reda, saatnya aku pulang. Ada rasa aneh saat ku tinggalkan rumah itu, aku takut untuk menoleh meskipun aku tau lelaki itu, oppa kw masih memandang ku dari teras rumahnya.

 

 

 

 

 

 

Bab 25. So Sweet

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompok26juro

#Day25

#jumlahkata745

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 25. So Sweet

Sikap Gibran berhasil mengganggu pikiran Kaldera yang selama ini hanya berisi tentang Ibu dan adiknya. Bukan salah dia juga sebenarnya, karena kini usianya memang sudah matang dan selayaknya menikmati dunia remaja selayaknya gadis sebayanya. Namun Kaldera terlalu takut untuk melangkah, bayang-bayang kepedihan akan masa lalu masih saja tak bisa dia hapus. Kenangan pahit saat kecil ditambah lagi peristiwa yang melukai hati dan kepercayaan nya kepada manusia bernama pria telah hancur karena penghianatan Ayah kepada Ibunya. Pikirannya melayang jauh, jika saja dia berkeluarga nanti apakah kelak dia dana baknya akan bernasib sama seperti Ibu dan dirinya yang mendapat perlakuan berbeda dari keluarga suaminya.

Ditemani alunan derai hujan, Kaldera termenung membuka kotak harta Karun yang tersimpan jauh di paling hatinya. Dia mencoba mengurai satu persatu kenangan buruk yang semoga saja terselip pesan bahkan mungkin sesuatu yang indah diantara semuanya.

Dulu aku tak pernah berusaha mencari tahu alasan mengapa Ibuku begitu terlihat seolah tak menyukai Nenek. Pun tak berani serta tak tertarik untuk menanyakan. Bagiku Ibu adalah segalanya, oleh karena itu aku sangat berhati-hati terhadap perasaan dan moodnya . Karena sejak Ayah pergi menjadi TKI dan pulang dengan sukses membawa pundi-pundi beserta istri baru, hanya Ibu yang berjuang demi kami anak-anaknya. Itulah alasan mengapa aku menjadikan diri sebagai pendengar setia seluruh curhatan Ibu. Karena aku tak mau lagi melihat Ibu sedih apalagi menangis.

Aku takut atau mungkin terlalu pengecut menghadapi kenyataan bahwa diriku juga merasakan getaran yang berbeda saat ada seseorang yang menawarkan kehidupan baru kepadaku. Pertemuan yang tak disengaja ternyata berhasil mengantarkan kami menemukan sebuah rasa yang entah kapan dan darimana asalnya sudah bersemayam di hati kami masing-masing, namun aku belum berani untuk memantapkan dan mewujudkanya.

“Kaldera, bolehkah aku bertemu dengan orang tuamu. Ijinkan aku untuk meminangmu, mungkin ini terlalu cepat untukmu tapi inshaaAlloh aku sudah memantapkan hatiku kepadamu”, suara Gibran dari seberang sana.

Setelah mereka menyadari perasaan masing-masing, baik Gibran maupun Kaldera sengaja membatasi pertemuan. Komunikasi hanya melalui telepon, kalaupun bertemu hanya pada saat Gibran mengantar dan mengambil laundry. Sekarang Gibran sendiri yang mengambil dan mengantar pakaian untuk di laundry, karena Kaldera selalu saja menggunakan berbagai alasan untuk menghindari pertemuan dengannya.

Bukan Gibran namanya kalau harus menyerah untuk mencapai cita-citanya. Tetapi pemuda itu bukanlah seorang pria muda yang mengesampingkan peran keluarga dan Allah pencipta dan pengatur kehidupannya. Trik yang dia pakai berhasil meluluhkan hati Ibunya dan Ibu Kaldera. Tak tanggung-tanggung dia melancarkan aksinya tanpa diketahui oleh Kaldera. Tanpa sepengatahuan Kaldera, Gibran sering mengunjungi kios laundry dan warung Ibu Kaldera yang berada di ujung gang. Hampir setiap pagi Gibran selaku mampir untuk membeli sarapan di warung Ibu. Bahkan Gibran sudah membawa Ibunya untuk berkenalan dengan Ibu Kaldera. Sebuah usaha gigih untuk mempertemukan besan dan mertua.

Karena seringnya mengobrol dengan Ibunya Kaldera, Gibran jadi tahu banyak tentang kehidupan yang Kaldera jalani. Tentang sedih, perih dan lukanya. Juga tentang traumanya untuk berkeluarga.

Hari ini adalah hari ulang tahun Kaldera, sudah hampir dua Minggu setelah lamaran Gibran melalui telapon yang tak dijawab oleh Kaldera mereka tak pernah bertemu, berbincang telepon atau hanya sekedar mengirimkan pesan. Tak dipungkiri Kaldera terlihat sangat tidak nyaman dan resah. Namun semua ini adalah bagian dari rencana Gibran. Sebelumnya dia mengatur sebuah pesta kejutan dengan Ibunya, Ibu Kaldera, Mba Lastri, Mba Lina dan juga Ranu. Pesta kejutan ini sekaligus sebagai acara lamaran resmi, kalaupun Kaldera ditolak Gibran tak akan gentar karena dia sudah mendapatkan restu dari dua orang wanita yang penting di hidupnya. Ibunya yang seorang janda karena Ayahnya meninggal saat dia masih berusia lima belas tahun dan Ibu Kaldera yang menjadi janda karena ditinggalkan suaminya menikah lagi.

Treeett....teeeettt.....riuh suara terompet saat Kaldera membuka pintu memasuki rumahnya. Dia kaget sekaligus terharu karena seumur hidupnya baru kali ini dia mendapatkan kejutan di hari ulang tahunnya. Cepat Kaldera mengusap buliran bening yang jatuh dari sudut matanya.

“Selamat ulang tahun Kaldera, hari ini ijinkan aku untuk meminangmu menjadikanmu bagian dari hidupku dan Ibuku. Aku berjanji untuk selalu menjadi orang yang bisa kau andalkan, yang akan kau marahi jika kau kesal dan menjadi pendengar setiamu. Maafkan aku karena tanpa sepengetahuanmu sudah lebih dulu mendekati Ibu dan Ranu. InshaaAlloh kita bisa saling melengkapi”.

Seketika tumpah ruah airmata Kaldera, segala rasa yang selama ini dia tahan akhirnya tak terbendung saat Bu Riska, Ibu Gibran berjalan mendekat dan memeluknya. Tak ada sepatah kata yang terucap, dia hanyut dalam pelukan calon Ibu mertuanya.

“Waaahh...so sweet, Lina jadi kepengin dilamar lagi tapi yang sama persis begini. Mas Gibran tolong carikan satu buat Lina ya”, celoteh Mbak Lina berhasil memecah suasana haru di dalam ruangan itu.

 

 

 

Bab 26. Berbahagialah Kaldera

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompok26juro

#Day26

#jumlahkata587

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 26. Berbahagialah Kaldera

Sebuah gedung dengan dekorasi khas pernikahan rerata dengan rapi. Bunga mawar mendominasi setiap sudut ruangan. Kursi pelaminan berwarna putih menambah kesan mewah dalam gedung.

Tak seperti pernikahan Rinjani, kali ini pernikahan Kaldera diselenggarakan di gedung. Meski Kaldera bersikeras untuk menolak tetap saja Gibran dan Ibunya tetap ingin melangsungkan pernikahan mereka di gedung karena pertimbangan banyaknya kolega yang mereka miliki.

Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi seorang gadis, melangkah ke pelaminan bersama dengan pria pujaan hati ditemani oleh Orang tua dan keluarga. Sang ayah akan bertindak sebagai wali nikah dan Ibu selalu mendampingi di sampingnya.

Kini Ayah dan anak akan bertemu setelah beberapa tahun sama sekali tak berkomunikasi. Ada sedikit nyeri berdenyut di dada Kaldera saat pertama kalinya bertatap mata dengan Ayah. Kenangan buruk masa lalu kembali terputar di otaknya bagaikan sebuah film dokumenter berdurasi enam puluh menit. Gambarnya terlalu banyak yang buram meskipun sudah bukan versi hitam putih.

“Saya terima nikahnya Kaldera Annaya binti Bagas Sumantri dengan mas kawin tersebut tunai”. Lantang dan mantap ijab qobul yang diucapkan Gibran.

Alhamdulillah terimakasih Allah, kuatkan aku sekali lagi untuk meminta restu kepada Ayah yang bagaimanapun juga tanpanya aku takkan ada dan takkan kuat sampai sejauh ini, Batin Kaldera.

“Maafkan kesalahan Kaldera yah, Dera mohon ijin dari Ayah”. Lirih Kaldera membisikan kalimat itu sembari memeluk ayahnya.

Sebuah pernikahan Yangs empurna yang diimpikan oleh hampir semua para wanita. Tetapi tidak dengan Kaldera, selama ini dia berusaha untuk tidak memikirkan hal yang diluar jangkauan nya. Gadis itu cukup sadar diri akan posisinya yang memiliki pengalaman hidup tak seindah gadis yang lain.

Pernikahan sempurna ini membuat Kaldera menjelma menjadi cinderela, hampir sama dengan cerita dongeng yang sering dia baca ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Bertemu dengan seorang pria yang memiliki paras dan kehidupan hampir sempurna. Gibran, seorang anak yang dibesarkan oleh seorang Ibu tunggal yang luar biasa baik dan bijaksana. Ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika usia Gibran lima belas tahun. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi istri, anak dan keluarganya. Meninggalkan kenangan indah dan juga warisan kekayaan yang cukup untuk Gibran dan Ibunya. Sepeninggal suaminya praktis dia yang memegang kendali jalannya perusahaan, dengan tangan dinginnya perusahaan yang dikelola berkembang pesat. Kekayaan yang mereka miliki tak membuat sombong dan merendahkan orang lain, justru sebaliknya. Mereka sangat gemar bersedekah dan berbagi dengan sesama.

Latar belakang ekonomi yang mapan itulah acara resepsi pernikahan Gibran dan Kaldera begitu mewah. Meskipun berkali-kali Kaldera dan Ibunya menolak untuk mengadakan pesta.

“Kaldera, ijinkan Ibu memberikan yang terbaik untuk kalian. Terimalah niat baik Ibu, berbahagialah kamu di hari pernikahan dan hari-hari setelahnya”. Pesan Mertua kepada Kaldera.

“Kaldera, berbahagialah. Lupakan semua yang selama ini menghimpit di hatimu. Buang segala pikiran dan pengalaman buruk masa lalu Ibu agar tak membayangi kehidupan pernikahanmu”. Pesan Ibu

“Jangan ikut-ikutan membenci apalagi menaruh dendam kepada keluarga suamimu jika ada perlakuan yang tak sengaja melukai perasaanmu. Jangan kau tiru sikap Ibumu ini, berbahagialah anaku.”

Kusimpan semua petuah dari Ibu dan juga Ibu mertuaku. Kulihat sekeliling ruangan gedung tempat Pernikahan yang sudah mulai sepi tamu undangan. Deg!! Kulihat nasihat da seorang wanita yang duduk sendirian sambil sesekali menyeka air matanya. Dia adalah Nenek ku. Pemandangan luar biasa yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Nenek masih terpaku di sudut ruangan menatapku di pelaminan, menangis yang entah itu tangis bahagia, hari atau tangisan lain hanya dia sendiri yang tahu.

Perlahan dia berjalan mendekat ke arahku, memeluk dan menciumiku. Lama sangat lama dari yang pernah kurasakan. Karena selama hidupku tak pernah aku mendapatkan cium dan peluk dari Nenek lebih dari satu menit.

Ada apa dengan Nenek?

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 27. Pelajaran Berharga

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompok26juro

#Say27

#jumlahkata590

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua Kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 27. Pelajaran Berharga

Episode baru dalam hidupku sudah dimulai, meskipun berat untuk meninggalkan Ibu dan Ranu aku harus tetap menjalani. Suami sama sekali tak melarangku untuk selalu mengunjungi Ibu dan Ranu, tapi aku cukup tahu diri karena sekarang aku sudah berstatus sebagai seorang istri. Meninggalkan dalam kamusku sedikit berbeda dengan kebanyakan orang, karena minimal dua kali dalam seminggu aku masih bisa bertemu dengan Ibu dan Ranu. Bukan hanya untuk bertemu tetapi juga untuk mengecek usaha laundry yang sudah ku rintis sejak dulu.

Meninggalkan dalam kamusku adalah aku tak bisa lagi bersama setiap hari dengan mereka, karena dari sejak aku membuka mata di pagi hari sampai menjelang tidur aku masih bisa bersama dan melihat mereka. Kini aku sudah memiliki kehidupan yang baru bersama keluargaku. Beruntungbya aku dikaruniai seorang suami dengan akhlak yang baik meskipun dia buka keturunan ulama atau murobbi tetapi aku bahagia memili dan dimiliknya. Kami bersama-sama memperbaiki dan menambah wawasan ilmu Agama kami sebagai bekal dan juga landasan bagi keluarga kami sekaligus untuk kami wariskan kepada anak kami kelak.

Dan kini satu lagi peristiwa sekaligus pelajaran hidup kudapatkan dalam rumah tangga kami. Alhamdulillah setelah satu tahun pernikahan kami akhirnya aku mengandung anak pertama kami. Hamil dan melahirkan memberikanku pengalaman luar biasa dalam hidup. Akhirnya kami dianugerahi anak kembar yang tentu saja melalui proses dan drama luar biasa selama kehamilan. Aku merasakan da mengalami sendiri prosesenjadi seorang Ibu, tak pernah bisa dijelaskan dan tak akan pernah ada tamatnya jika dikisahkan.

Mengurus bayi kembar ternyata sangat menyita waktuku, frekwensi kunjunganku ke rumah Ibu agak berkurang tak lagi seperti dulu. Meskipun jarak rumahku dengan Ibu tak terlalu jauh dan hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja, tetapi jika berkunjung ke rumah Ibu banyak sekali barang dan perlengkapan si kecil yang harus kubawa. Dan alasan inilah yang kugunakan sebagai senjata untuk menyandera Ibu. Alasan yang sangat logis untukku meminta Ibu agar tinggal bersamaku karena memudahkan ku juga Ibu untuk bertemu. Terutama Ibu yang sangat bahagia memiliki cucu. Tetapi sia-sia saja, Ibu tak pernah mau benar-benar meninggalkan rumahnya. Rumah kontrakan yang sangat bersejarah bagi kami. Kini rumah itu sudah menjadi milik kami, Allah memberikan kami rezeki untuk membeli dan memilikinya. Aku jadi teringat Nenek yang hampir tak pernah mau mengunjungi ku dulu saat aku kecil. Bedanya Ibu selaku datang berkunjung tanpa Kuningan dan terkadang mau menginap, tetapi tak lebih dari tiga hari. Kasihan Ranu, mba Lastri dan Mba Lina katanya.

Menjadi seorang istri sekaligus Ibu bagi anak-anak ku telah mengajarkan banyak hal kepadak. Sabar, ikhlas dan toleransi tingkat tinggi setiap hari kulatih. Setelah dewasa, barulah aku memahami tentang pendiriannya yang tak pernah mau pergi dari rumah, paham sikapnya yang seolah agak menjaga jarak bahkan terkesan jauh denganku yang merupakan cucunya tetapi dengan sepupuku yang lain beliau begitu dekat. Paham bahwa Ibu dan Nenek pasti punya alasan atas sikap masing-masing. Tak jauh berbeda dengan mertuaku, meskipun di rumahnya tak ada keluarga lain selain karyawan dan saudara sepupu yang sengaja dia ajak tinggal untuk menemani tetap saja Ibu mertuaku tak mau menetap bersama kami.

Dari semua pengalaman hidup yang kualami serta dari sbanyaknya cerita yang kudapatkan kini aku memahami betapa kehidupan rumah tangga terutama mertua dan menantu sangatlah kompleks. Masing-masing mempunyai cerita tersendiri, disinilah harus kita terapkan toleransi tingkat tinggi serta pikiran positif. Karena tak selamanya mertua adalah makhluk paling menyebalkan dan menantu adalah makhluk PING egois.

Tugas dan tujuanku kini adalah mendidik serta membesarkan anak-anak ku dengan nilai-nilai kebaikan serta memiliki empati dan toleransi yang tinggi. Aku harus dan akan selalu mengajarkan anaku tentang nilai kebaikan meskipun hati kita pernah terluka serta tak akan pernah aku mewariskan kebencian.

 

 

 

 

Bab 28. Memperbaiki Hubungan

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompokjuro26

#jumlahkata573

#sarkatjadibuku

Judul : Wanita Di Penghujung Senja

Penulis : Dhiya Ghiga

Nama PJ : Irma Fitriani

Ketua kelas : Yuyun Artika

Neng Jaga : Norhamidah

Bab 28. Memperbaiki Hubungan

Menjalani peran baru dalam hidup membuatku mengerti dan memahami ternyata ada banyak alasan bagi seorang Ibu untuk tetap bertahan dengan semua pilihannya, meskipun terkadan pilihan itu berlawanan dengan hati nuraninya. Bahkan seringkali pilihannya itu tak didukung oleh orang terdekat dan bahkan memberikan bekas luka yang teramat sangat dalam. Tapi aku percaya segala sesuatu ada sebab dan akibatnya. Tak mungkin kita melakukan dan memutuskan sesuatu tanpa didasari oleh pertimbangan

Pilihan setelah aku menjadi seorang Istri sekaligus Ibu dari anak kembar ku adalah, aku tetap menjalankan usaha laundry ku dan meneruskan usaha jual makanan Ibu. Tapi dengan cara yang lain yaitu catering. Sudah kuniatkan untuk tetap menjalankan semua bukan karena aku tidak mau berlama-lama dirumah tetapi aku ingin tetap menjadi diriku sekaligus mengajarkan tentang perjuangan kepada anak-anak ku. Langkahku ini juga sekaligus sebagai upaya untuk memperbaiki hubungan dengan Ayah dan keluarganya terutama Nenek.

Di usia senjanya dia masih setia duduk membuat rajutan di teras rumah ditemanibsi putih kucing kesayangan sembari memandang jauh keluar. Sekilas dia sedang mengawasi ayam dan bebek peliharaanya, tapi aku itu hanyalah cara untuk menghalau segala yang mengganggu pikirannya.

“Ibu, ayo ikut Kaldera ke rumah Nenek. Dera ingin mengenalkan si kembar kepada Nenek Buyutnya, Dera pengen mereka tahu kalau mereka punya saudara yang banyak”.

Ada raut wajah yang tak biasa saat aku mengutarakan rencanaku membawa si kembar ke rumah Nenek. Tapi entah mengapa Ibu setuju dengan ajakanku. Ya Allah, bantulah aku untuk mengurai benang yang bertahun-tahun dibiarkan kusut, bantulah aku untuk menyambung benang yang hampir terputus ini dan menyambung kembali tali silaturahmi.

Gibran benar-benar seorang suami dan Ayah yang siaga. Bukan hanya baik akhlaknya tetapi juga benar-benar bertanggungjawab. Dia juga yang berhasil membujukku dan Ibu untuk sering berkunjung ke rumah Nenek. Seperti sekarang, dia menyempatkan pulang saat jam istirahat siangnya untuk mengantarkan kami mengunjungi rumah Nenek.

Saat mobil kami memasuki halaman rumah Nenek, kulihat wanita yang sudah renta itu sedang duduk di teras dikursi kesayangannya.

“Assalamu’alaikum, apa kabar Nenek buyut ada si kembar datang ini”, sapaku kepada Nenek.

“Bagaimana kabarnya Bu, sehat kan”,sapa Ibu kepada Nenek.

Semoga langkah yang kuambil bisa menyatukan mereka kembali. Meskipun kini status mereka hannyalah sebagai mantan mertua dan mantan menantu. Kulihat wajah Nenek yang ceria karena bermain dengan si kembar, tak henti-hentinya dia menawarkanku untuk menghabiskan kue yang dia suguhkan. Sangat jauh berbeda dengan dulu, jika ingin makan kue Nenek kami harus pasrah menunggu jatah. Bahkan aku dan Rinjani harus siap menahan kecewa kalau kami masing-masing hanya mendapat satu dilarang untuk meminta tambahan.

Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, Gibran suamiku sudah datang untuk menjemput kami pulang. Saat aku sedang membereskan perlengkapan si kembar, nenek menyodorkan sebuah bingkisan kepadaku. Kulihat tatapannya yang sendu, kini setiap dia bertemu denganku selalu kudapati tatapan mata ramah dan sendu berbeda dengan dahulu.

“Ini baju hangat dan topi untuk si kembar, Nenek sendiri yang merajutnya. Jangan dibuang ya Kaldera”, pesan Nenek kepadaku.

“Wah, lucu banget Nek. Si kembar pasti suka, terimakasih banyak. Tapi kenapa Cuma satu Nek, bikinkan lagi yang banyak Nek”, Jawabku kepada Nenek.

“Alhamdulillah, beneran kamu suka Kaldera? Sebenarnya Nenek ragu, takut kamu tidak berkenan. Kalau kamu mau, dengan senang hati Nenek akan buatkan lagi untuk si kembar”, jawab Nenek semangat dengan mata berbinar.

Akhirnya kami pulang, tapi sudah kuniatkan dalam hati untuk sering mengunjungi Nenek. Kulirik Ibu yang duduk di sampingku, wajahnya sudah tak tegang lagi seperti saat keberangkatan kami. Baik Ibu dan Nenek berpisah dengan wajah bahagia, semoga sudah tak ada lagi perasaan yang mengganjal di hati mereka.

 

 

 

 

 

Bab 29. Kabar Mengejutkan

0 0

#sarapankata

#KMOINDONESIA

#KMOBATCH40

#kelompok26juro

#Day29

#jumlahkata785

#sarkatjadibuku

Bab 29. Kabar mengejutkan

Suara adzan subuh terdengar syahdu, sang fajar muncul perlahan menunjukan sinarmya. Suara ayam tak mau kalah ikut serta mengiringi sang fajar membangunkan setiap manusi dari tidur lelapnya. Udara dingin yang sejuk seakan menambah rasa syukur yang terdalam kepada Illahi akan nikmat hidup yang diberikan. Riuh kicauan burung menambah semarak suasana pagi. Tetapi keindahan pagi hari menjadi hilang seketika saat aku menerima kabar bahwa Nenek terjatuh di kamar mandi rumahnya. Aku mendapat kabar melalui pesan singkat dari Tanteku yang sudah tiga bulan terkahir memutuskan untuk menetap bersama Nenek. Kejadiannya belum lama, tadi pagi ketika akan mengambil wudlu untuk shalat Nenek tiba-tiba saja tak bisa berdiri seimbang.

Setelah menitipkan si kembar kepada pengasuh, aku memutuskan untuk mengunjungi rumah Nenek bersama dengan Gibran suamiku. Sengaja tak ku ajak Ibu karena aku khawatir Ibu akan terganggu dengan kehadiran Ayah dan juga istrinya disana. Baru saja kami memasuki pukul setengah tujuh pagi tapi jalanan sudah macet. Tak heran karena ini bukanlah hari libur, hari dimana orang berlaku lalang menuju tempat mereka bekerja dan anak-anak mengejar waktu ke Sekolah agar tidak terlambat. Melihat pemandangan pagi ini membuatku teringat akan diriku dulu. Semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama aku sudah merasakan pahitnya kehidupan. Berawal dari kepergian Ayah ke Saudi untuk menjadi TKI, berlanjut penyitaan rumah dan juga toko satu-satunya penopang ekonomi keluarga kami oleh pihak Bank disusul dengan teror dari para rentenir. Ah sudahlah, aku tak mau lagi mengingat itu semua. Takut akan mempengaruhi pikiranku.

Nenek seorang wanita yang tangguh, yang belakangan ku tahu bahwa dia menyimpan berjuta rasa dalam hatinya. Sikap acuhnya kepadaku tak lain karena rasa bersalahnya telah memiliki anak laki-laki yang mengecewakan yaitu Ayahku. Dulu memang aku sangat membenci keduanya, setelah dewasa perlahan Aku berusaha melihat alasan mereka dengan pikiran positif. Semua hal yang dilakukan Ayah pasti ada alasannya, dia sebagai anak lelaki satu-satunya dalam keluarga merasa bertanggung jawab kepada Ibu dan kedua saudara perempuannya. Apapun yang diminta oleh adik Adam juga kakaknya aka selalu dia usahakan untuk dipenuhi meskipun dengan cara meminjam ke rentenir. Hal inilah yang membuat hutang Ayah menumpuk. Tetapi Nenek menilai sikap Ayah adalah sesuatu yang sangat buruk. Hubungannya dengan rentenir telah mencoreng nama baik keluarga.

Sampailah aku di rumah Nenek, persis seperti dugaanku. Ayah dan istrinya juga sudah berada disana. Aku menyapa Ibu tiriku yang kutaksir berusia sama dengan Tanteku. Parasnya khas timur tengah, karena orang tuanya adalah orang asli Indonesia keturunan Arab. Sebelum menikah dengan Ayahku dia adalah seorang janda kaya, hal itulah yang membuat Ayah tak berpikir panjang untuk menikahinya.

Kulihat Nenek bersandar di tempat tidurnya, kulihat sekeliling kamar Nenek yang begitu rapi tertata. Masih kutemukan linangan, daun sirih dan kapur sirih kesukaan Nenek. Sebenarnya kejadian seperti ini sudah beberapa kali terjadi, Nenek terpeleset atau bahkan jatuh di rumahnya karena memang usianya yang sudah senja dengan mata yang tak lagi sempurna seperti dulu membuatnya terkadang sulit untuk melihat benda yang ada di depannya. Sudah berkali-kali pula dia dibujuk agar ikut salah satu anaknya agar bisa dipantau dua puluh empat jam. Namun, selalu ditolak dengan alasan enggan meninggalkan rumah yang dibangun mendiang suaminya serta tak tega meninggalkan si putih kucing kesayangannya. Tapi aku tau alasan sebenarnya, dia hanya tak enak hati dengan menantunya jika harus tinggal menetap bersama dengan anaknya.

“Makan apa-apa tak enak,” keluh Nenek entah saat Tante menyuapkan bubur kepadanya.

Awalnya anak-anaknya bergilir mengirim makanan, tetapi lama-lama merasa lelah sering diprotes. Karena Nenek menjadi sangat pemilih makanan, tak seperti dulu. Semua makanan harus tanpa cabai, tidak suka beberapa macam sayuran. Bahkan tak jarang Nenek sering muntah, entah kenapa.

“Besok aku masakkan terong saja, masih suka enggak?” tawarku mengingat dulu seringkali Nenek memasak balado terong saat aku kecil.

Nenek menggeleng. “Bosan Kaldera, makan apa-apa tak ada rasanya.”

“Oh, nanti siang aku belikan daging sapi mau ya?” tanyaku lagi.

“Daging pun sudah tak enak, lidah Nenek sudah tak bisa merasakan makanan yang aneh-aneh,” balasnya lagi sebagai pertanda sudah bosan makan daging sapi, padahal tidak sering juga makannya.

Aku hanya menghela napas panjang, melirik ke arah Nenek yang masih konsisten mengunyah kinang, satu-satunya makanan yang menurutnya enak. Aku pun tersenyum pasrah dan memutar otak mencari makanan yang mau diterima Nenek tanpa protes. Pemilihannya harus hati-hati, nanti kalau salah justru menimbulkan penyakit baru. Tante mengeluh banyak sekali yang tidak bisa dimakan. Dimasakkan ini itu selalu bilang jadi diare, sakit perut, kembung, dan semua keluhan lain sampai akhirnya setelah rapat keluarga yang tentu saja tak pernah aku tahu kapan waktunya , memutuskan agar Tante tinggal bersama dengan Nenek. Alasan karena dia sudah tak memiliki suami membuatnya memiliki lebih banyak waktu luang untuk merawat Nenek.

Alhamdulillah, kulihat kondisi Nenek tak begitu lemas dan Mengkhawatirkan. Akhirnya kuputuskan untuk pulang dan berjanji akan kembali lagi esok hari. Ya Allah jagalan Nenek, berikanlah hamba kesempatan untuk bisa berbakti kepadanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 30. Selamat Jalan Nenek

0 0

#sarapankata #KMOINDONESIA #KMOBATCH40 #Kelompok26juro #Day30 #sarkatjadibuku Judul : Wanita Di Penghujung Senja Penulis : Dhiya Ghiga Ketua kelas : Yuyun Artika Neng Jaga : Norhamidah Bab 30. Selamat Jalan Nenek Setelah kabar jatuhnya Nenek untuk kesekian kali, bagiku kemarin adalah yang paling parah. Bukan hanya meninggalkan bekas luka di kaki dan tangannya, tetapi sudah hampir tiga hari ini Nenek sama sekali tak mau makan. Kalaupun ada makanan yang masuk akan selalu dia muntahkan, mual katanya. Sayangnya Nenek bersikeras tak mau kami bawa ke Rumah Sakit. Penglihatan dan pendengaran Nenek memang masih tajam, berbeda jauh dengan lansia sebayanya. Tapi tetap saja kami khawatir dengan kondisi Nenek yang sudah tak bisa lagi berjalan akibat jatuh tempo hari. Hari ini kuputuskan untuk mengajak Ibu dan Ranu mengunjungi rumah Nenek dan menjenguknya, aku sudah siap dengan segala yang terjadi nanti jikalau Ibu dan Ranu harus bertemu dengan Ayah dan Istrinya. Tujuan dan misiku kali ini hanyalah membawa mereka untuk melepaskan segala rasa kecewa di hati masing-masing. Tepat seperti dugaanku, ketika kami memasuki halaman rumah Nenek kulihat dari jauh Ayah dan Istrinya sedang duduk di teras rumah Nenek. Kugenggam erat tangan Ibu seolah memberinya kekuatan untuk mampu menahan rasa kecewa karena kembali bertemu dengan Ayah dan madunya. Diluar dugaan, Ibu justru melenggang dengan santainya menuju rumah Nenek dan bahkan menyapa Ayah serta madunya dengan senyuman. Bedanya hanyalah dia masih tak mau bersalaman. Ibu, luarbiasa sekali wanita yang melahirkan ku ini. Aku tak bisa membayangkan jika aku berada di posisinya. Kulihat Nenek, Ranu dan Ibu berbincang dengan Nenek masih bersandar di ranjangnya. Sesekali obrolan mereka diselingi tawa kecil. Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati. Seminggu berselang semenjak kami mengunjungi Nenek hubungan keluarga Ayah dan kami mencair tak seperti dulu. Aku , Ranu dan Ibu melanjutkan lagi rutinitas kami. Ibu masih tetap membuka warung dan menjalankan usaha catering nya, aku juga masih tetap menjalankan usaha laundry yang kini sudah mempunyai tiga cabang. Suatu hari tiba-tiba aku dikejutkan kabar bahwa Nenek sudah dalam keadaan paling lemah. Sepulang kerja aku tak pulang kerumah tapi langsung menuju rumah Nenek. Sudah ada Bude dan Tante beserta suami mereka, juga para sepupu yang ternyata sudah datang dari luar kota. Setelah aku mengucap salam, mencium tangan, dan mengusap lengan beliau menoleh dan memanggil namaku. Tapi aku tak sanggup melihat tangannya yang bergetar. Belakangan ini baru kutahu, ternyata itu adalah tanda sakaratul maut. Kuputuskan untuk keluar kamar. “Kaldera...atas nama Nenek mohon di maafkan semua kesalahan Nenek agar beliau bisa pulang dengan tenang. Berdasarkan pengalaman Om Hans melihat pasien Om, kondisi seperti ini pertanda bahwa masih ada yang belum ikhlas bahkan memendam perasaan entah apa itu kepada Nenek. Meskipun tidak semua orang yang berada dalam kondisi kritis sedemikian rupa.” “DEG!!!” ada rasa nyeri dan sakit yang entah darimana datangnya. Pesan Om Hans sangat menusuk tepat di hatiku . Kini aku memang tak seperti dulu, aku sering berkunjung ke rumah Nenek tak seperti saat masih remaja. Tapi ternyata memang aku masih menyimpan ingatan kecewa kepadanya. Akhirnya kuputuskan untuk kembali memasuki kamarnya, kucium tangannya dan kubisikkan kalimat dengan pelan ditelinganya. “Nenek, maafin Kaldera sudah banyak salah. Kaldera juga sudah ikhlas atas apa yang dulu terjadi, Dera tidak benar-benar membenci Nenek. Dera sayang Nenek.” Dengan tangan dan badan yang masih bergetar, beliau menoleh padaku berucap maaf dengan sangat pelan. Kemudian aku menuntunnya, Talkin di telinganya dengan kata LAA ILAAHA ILLALLAH..... Innalilahi wainnailaihi rojiuun, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada Allah jugalah kita kembali (QS. AL BAQARAH 2:156). Selamat istirahat dan tidur panjang nek, sekarang kami anak cucumu yang akan meneruskan memelihara kucing, ayam dan bebek kesayanganmu.

Mungkin saja kamu suka

Norma Irnawati
LANGIT MENTARI
Durotun Anisa S...
PRAHARA YANG BERUJUNG PENGADIL
Yusriwiati Yose
Perjalanan
Siti Nurkhayati...
Bahagianya Seorang Ibu

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil