Loading
0

0

30

Genre : Keluarga
Penulis : Indah Wulan
Bab : 30
Dibuat : 19 Mei 2022
Pembaca : 5
Nama : Indah Wulan
Buku : 1

Perempuan Terbuang

Sinopsis

Seorang perempuan yang terjaga dalam penjagaan dan didikan yang baik dari kedua orangtuanya. Tumbuh menjadi seseorang yang membuat orang ingin berharap bahwa kelak ia menjadi seseorang yang hebat. Tunbuh bahagia dan memenuhi harapan tiap orang. Begitu seharusnya, namun diantara kebahagiaan dan pencapaian, dia memiliki keinginan untuk bebas. Bahagia dengan sudut pandang dan jalan yang dipilih sendiri. Pada sesal di akhir jalan, dia bertahan dan terus mempertanyakan bagaimana selanjutnya.
Tags :
#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch45 #Kelompok6 #Aster #keluarga

1

0 0

Sarapan Kata KMO batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 10

Jumlah kata 482

Di penghujung malam, aku tengadahkan tangan ke arah langit. Diksi dari doa-doa yang terpanjat tidaklah seromantis milik para penyair. Namun, ini adalah doa tulus dari dasar penyesalan dan harapan. Tangisku menjadi tatkala mengingat berbagai doa yang pernah aku lakukan, dan aib-aib yang masih tertutup rapi. Sungguh Allah yang Maha Pengasih telah menutup cela diri.

Andai bisa, aku ingin melupakan berbagai kenangan buruk dalam hidup sayangnya tidak bisa. Jika hal ini bisa dilakukan berapa banyak orang yang akan saling melupakan? Padahal diantara pengalaman buruk itu ada pelajaran dan hikmah yang dapat diambil.

Tahun ini usiaku 26 tahun. Masih belum menikah, untung saja aku tinggal di kontrakan sendiri. Tidak bisa terbayangkan jika hidup di desa, pasti sudah dicap “perawan tua”. Saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan makanan sehat. Aku baru pindah sekitar enam bulan yang lalu. Sebelumnya aku bekerja agak jauh dari sini. Dikarenakan hal “itu” aku harus pergi dan meninggalkan tempat kerja sebelumnya.

Aku seorang perempuan yang berada dibawah penjagaan ketat orang tua. Segala tindak tanduk telah diatur, namun aku beruntung karena bisa mendapat kepercayaan mereka hingga bisa kerja dan tinggal sendiri walau jauh dari rumah.

Semua orang yang pernah ku temui selalu mengatakan bahwa aku pendiam. Iya, benar sekali. Aku memang tak banyak bicara, aku tak banyak bersosialisasi dengan orang lain, tak pernah keluar kecuali ada hal darurat atau menyangkut pekerjaan.

Di kantor ini, aku menghafal nama, suara dan tempat duduknya, namun tidak dengan wajah mereka. Aku selalu menunduk dan memang enggan menatap mereka. Entah kenapa, aku terkadang merasa sangat benci manusia.

“Sudah makan? Ayo istirahat dulu.” Sapa seorang pekerja perempuan yang mejanya tak lebih jauh dariku. Tanpa menjawab dengan kata, aku hanya mengangguk dan tersenyum.

“Kamu sudah lama disini. Setidaknya mari saling berbincang dan ngobrol santai.” Seru Ibu tersebut sembari memegang tanganku dan menarik ke arah luar.

“Mari kita makan dan bicara.” Dia mempersilahkan aku duduk terlebih dahulu. Kemudian kami memesan makanan dan minuman.

“Bagaimana kabar kamu hari ini?” tanya beliau.

“Alhamdulillah, baik,” jawabku seperlunya.

“Katanya kamu tinggal di kontrakan sendirian, ya?” tanyanya menelisik. Aku menjawab dengan anggukan.

“Berarti masak sendiri atau beli?” Aku tidak tau, beliau bertanya karena penasaran atau apa?

“Masak sendiri, bu,” jawabku.

“Wah, setiap pagi kamu selalu masak sendiri? Berarti sudah sarapan dong ya, tiap pagi,” tanyanya lagi.

“I-iya. Kurang lebih seperti itu.” Aku memang selalu masak sendiri, untuk menghemat pengeluaran dan agar tidak sering keluar rumah.

“Masuk sini sudah berapa lama? Ada enam bulan?” tanya ibu tersebut. Beliau adalah Bu Aini, asisten manajer satu, terkenal ramah dan sangat perhatian kepada pekerja lain.

“Saya tidak tau, kamu ada masalah apa. Entah itu masalah pribadi atau apapun saya tidak tau dan tidak ingin tau. Tapi, jika ada masalah terkait kantor dan pekerjaan, saya ingin dan harus tau. Kamu selama ini selalu diam. Apakah ada masalah terkait pekerjaan?” dengan perlahan Bu Aini bertanya. Jantungku berdetak sangat cepat. Aku berharap tak ada yang bisa mendengar detak jantung ini.


2

0 0

Sarapan Kata KMO batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 11

Jumlah kata 555

“Masuk sini sudah berapa lama? Ada enam bulan?” tanya ibu tersebut. Beliau adalah Bu Aini, asisten manajer satu, terkenal ramah dan sangat perhatian kepada pekerja lain.

“Saya tidak tau, kamu ada masalah apa. Entah itu masalah pribadi atau apapun saya tidak tau dan tidak ingin tau. Tapi, jika ada masalah terkait kantor dan pekerjaan, saya ingin dan harus tau. Kamu selama ini selalu diam. Apakah ada masalah terkait pekerjaan?” dengan perlahan Bu Aini bertanya. Jantungku berdetak sangat cepat. Aku berharap tak ada yang bisa mendengar detak jantung ini.

“Ti-tidak ada masalah kok, bu,” jawabku. Tanganku terasa sangat dingin. Sekejap aku bisa melihat Bu Aini tersenyum.

“Jadi, kamu ada masalah pribadi?” kedua tangan Bu Aini dinaikkan ke atas meja.

“Ah, tenang saja. Saya kan sudah bilang jika ini masalah pribadi saya tidak mau tau. Saya tidak berhak ikut campur. Jadi tenang saja.” Percakapan ini terjeda saat pelayan datang memberi kami minuman dan makanan.

“Mari kita makan dulu.” Kami akhirnya makan dan diam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kurang lebih lima belas menit kemudian, kami selesai makan dan kembali.

“Kalau ingin cerita, silakan cerita ke saya. Siap mendengarkan kok” ucap Bu Aini selagi pergi ke kursinya.

Bu Aini selalu ramah seperti itu. Aku selalu diperlukan hangat, ah tidak tepatnya semua yang bekerja disini mendapat perlakuan seperti itu. Berkali-kali Bu Aini mengajak makan, lembur bersama dan melakukan perjalanan bisnis dengan mengajakku. Namun tetap aku menutup diri. Belum, aku masih belum bisa percaya kepada siapapun, entah esok atau kapan, tapi bukan sekarang.

Keesokannya Bu Aini mengajak makan siang bahkan beliau mengajak pulang bersama. Aku sudah menolak dengan halus, namun ia memang pandai membuat aku luluh. Bahkan ia mengantarkanku sampai di depan rumah.

Hatiku menghangat, seperti kegelapan yang selama ini berkelit perlahan dimasuki cahaya. Aku menghela napas. Terimakasih. Entah kepada siapapun aku berterima kasih.

Di kantor beberapa kali aku tak sengaja mendengar teman-teman membicarakan diriku. Diantara mereka ada yang berkata bahwa aku ini sombong, sampai tidak mau berbaur. Aku hanya diam mendengar hal ini.

“Kamu ini pandai, cakap dalam bekerja, perencanaan yang kamu usulkan selalu berhasil dilakukan dengan tingkat kerugian rendah. Kami bangga memiliki kamu. Namun, satu hal yang menjadi kekurangan, diamnya kamu.” Akhirnya Bu Aini mengatakan hal ini. Aku sudah menduga. Selama ini ia mendekati untuk perihal ini. Aku tersenyum. Tebakanku benar, walau dengan waktu yang lebih lama. Memang sudah keharusan bagi Bu Aini untuk menasihati karyawan lainnya.

“Saya tidak masalah kamu selalu menghindar dari orang lain. Karena saya tidak tahu, masalalu apa yang telah kamu lalui. Pasti berat hingga membuat kamu begini. Tapi, mengapa tak memberi satu kesempatan lagi kepada dirimu? Berikan maaf atas kesalahan diri sendiri. Berdamailah….” Ucapnya terhenti beberapa detik.

“Ah, maaf. Haha…. Saya bicara seperti ini bukan hanya sebagai atasan, tapi juga sebagai teman. Bagaimanapun juga, akan ada masa kamu tidak bisa sendiri, kamu butuh orang lain, atau malah oranglain membutuhkanmu.” Aku masih terdiam. Sebenarnya aku juga menginginkan diriku baik-baik saja, ceria dan ramah seperti dahulu.

“Coba saja dulu. Mulai dengan hal sederhana, lihat sekitar lebih luas dari sebelumnya. Mulai dari dirimu sendiri, berhenti menyalahkan diri atas kesalahan yang telah lalu. Dan mulai dari sekarang, karena perbuatan baik jangan ditunda-tunda, nanti menyesal.” Perkataan Bu Aini terhenti saat teleponnya berdering.

 “Sebentar ya, saya angkat telepon dulu.” Aku mendongakkan kepala, mengikuti Bu Aini yang beranjak pergi. Meninggalkan aku yang masih mencerna kalimatnya. Aku tak bisa membuat alasan lagi.


3

0 0

Sarapan Kata KMO batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 12

Jumlah Kata 407

“Coba saja dulu. Mulai dengan hal sederhana, lihat sekitar lebih luas dari sebelumnya. Mulai dari dirimu sendiri, berhenti menyalahkan diri atas kesalahan yang telah lalu. Dan mulai dari sekarang, karena perbuatan baik jangan ditunda-tunda, nanti menyesal.” Perkataan Bu Aini terhenti saat teleponnya berdering.

 “Sebentar ya, saya angkat telepon dulu.” Aku mendongakkan kepala, mengikuti Bu Aini yang beranjak pergi. Meninggalkan aku yang masih mencerna kalimatnya. Aku tak bisa membuat alasan lagi.

Kalimat-kalimat dari Bu Aini terus terngiang. Seperti rekaman yang terdengar berulang. Apalagi kalimat terakhir sebelum pulang. “Berterimakasihlah kepada dirimu sendiri, sudah bertahan sejauh ini. Tidak mudah, bukan?” ucap Bu Aini sambi lalu pergi.

Benar juga, sudah berkali-kali aku ingin mengakhiri hidup, namun tak bisa. Bagaimanapun pahitnya hidup, remuknya hati, hancurnya harapan-harapan, tetap saja aku tak bisa mengakhiri hidup dengan cara keji. Alhamdulillah. Ucapku pelan sembari melangkah keluar.

Tiap langkah aku selalu menunduk, tidak mau tau dengan keadaan sekitar. Namun, sekali lagi mari mencoba. Begitu pikirku.

Sore itu aku melihat jalanan padat dan macet, seperti biasanya. Tapi tidak biasanya aku melihat bahwa diantara kemacetan, ada beberapa orang yang memanfaatkan. Berjualan koran, makanan, bahkan barang-barang. Padahal berbahaya, padahal hasilnya tak seberapa. Mereka harus rela diterpa panasnya kota, debu-debu jalanan dan asap kendaraan. Aku kembali menunduk. Begitu ya? Orang-orang sedang berjuang.

Bertahan. Kata yang mudah diucap namun sulit dipertahankan. Aku tersenyum dalam sepi. Benar juga, aku sudah bertahan sejauh ini.

Esoknya sepulang kantor, aku memilih jalan berbeda dari biasanya. Jalanan yang lebih jauh. Jalanan yang harus melewati gang sempit dan rumah-rumah yang sangat berimpitan.

Aku melihat anak-anak berlarian, mengejar satu sama lain. Padahal bajunya compang camping, tubuhnya kurus kering, terlihat kulitnya sering terpapar sinar matahari. Mereka bermain dengan bahagia. Seperti tak ada yang dikhawatirkan di masa lalu, sekarang ataupun esok.

Saat keluar dari gang, ada beberapa penarik becak sedang tertidur pulas, dua lainnya sedang menyulut rokok dan menghisapnya. Mengeluarkan asap dari kulut dan hidung, seperti berharap bahwa bebannya ikut keluar bersama asap-asap itu.

Malam itu, sulit untuk memejamkan mata. Berguling ke kanan dan ke kiri. Mataku ingin terpejam tapi pikiran masih berkelana kemana-mana. Sebenarnya, kenapa sih aku bertahan selama ini? Padahal kan sakit. Hampir tiap hari terasa abu-abu, warnanya hitam, putih, atau abu-abu. Sepeti itu. Demi orang tua? Tidak juga, bahkan mereka aku yakin bahagia tanpa aku. Demi teman? Jangan bercanda, aku tak memiliki satupun teman. Aku telah memutuskan hubungan dengan mereka. Demi seseorang yang aku cinta? Aku tidak tertarik dengan percintaan. Ah, sudahlah sepertinya aku memang harus segera tidur.


4

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 45

- Kelompok 6 

- Day 1

- Jumlah Kata 434

Kenapa aku harus bertahan hidup? Kenapa aku harus tegar menerima pahitnya kenyataan? Kenapa aku harus tersenyum padahal hatiku remuk redam tanpa tahu harus bagaimana? Kenapa?

Pertanyaan yang terus menghantui pikiran, entah sejak kapan. Aku tetap bertahan, walau menyerah ada pilihan paling mudah. Tentu saja untuk alasan yang masih aku cari.

“Nak, mau beli bunga? Mawarnya indah, bukan?” Seorang lelaki paruh baya menawarkan setangkai mawar. Pakaiannya kusut, sandalnya tipis hampir putus. Aku melihat bunga-bunga di bawa menggunakan keranjang dari bambu.

“Saya beli satu pak” jawabku menyerahkan lembaran uang dari dompet. Aku melihat setangkai mawar putih dan mengambilnya.

“Kembaliannya untuk bapak saja.” Bapak tersebut terus merogoh saku celana tanpa mengindahkan perkataan ku. Padahal aku tidak menuntut kembaliannya.

“Pak….” Kalimat ku terhenti saat bapak tersebut meraih sesuatu dari sakunya.

“Ini buat kamu” ada lima permen warna-warni.

“Tidak usah kembaliannya pak, buat bapak saja” aku berusaha menolak dengan halus.

“Bukan, ini bukan kembalian. Ini buat kamu.” Aku terdiam melihat tangan bapak tersebut.

“Kamu tau kan, bahwa dunia ini memiliki warna tidak hanya hitam dan putih. Banyak warna lainnya. Bapak ini gak tau kamu kenapa. Tapi, coba kamu lihat sekeliling kamu.” Permen tersebut aku ambil tanpa berkata-kata. Aku tidak terlalu paham perkataan bapak ini.

“Di taman sebelah timur, ada danau yang kebetulan beberapa bunga sedang bermekaran. Indah sekali” ucap bapak tersebut sebelum pergi meninggalkan ku dengan permen warna-warni. Aku masih tidak paham. Taman sebelah timur, disana memang ada danau yang tidak terlalu luas. Bukan ide buruk juga untuk kesana. Waktuku masih banyak.

Aku memasukkan permen-permen ke tas. Segera aku berjalan ke arah timur. Mendung hitam makin tebal. Benar saja, tak lama setelah berjalan hujan tiba-tiba turun makin deras. Aku berlari ke arah pondok kayu samping danau.

 Di pondok kayu samping danau ini, aku melihat dedauan hijau basah oleh hujan. Bunga-bunga cantik yang berjejer di pinggir danau seperti menari-nari, apakah ia senang karena hujan? Beberapa orang masih berlalu lalang di bawah payung, beberapa yang lain berlarian seperti tak ingin basah tapi tak banyak pilihan.

 Tanpa sadar aku tersenyum. Sudah lama aku tak melihat hujan dengan bahagia. Hujan yang dulunya ku rindu, menjadi kenangan buruk setelah kejadian itu.

 Aku menghela napas panjang, merasakan udara dingin yang masuk ke dalam hidungku. Segar sekali. Hingga tanpa sadar aku menjatuhkan botol minum. Ceroboh sekali.

 “Ini, lain kali hati-hati” ucap seorang pria sambil menyerahkan botol yang menggelinding ke arah sepatunya. Aku tidak sadar bahwa sedari tadi aku tidak sendiri.

 “Terimakasih” jawabku singkat. Untuk pertama kali dari sekian waktu yang berlalu, aku mengangkat wajahku ke arah lelaki asing. Mata kami bertemu dan dia tersenyum. Kembali lelaki berkemeja hitam itu duduk dan membaca bukunya. Lelaki yang keren.


Nama

0 0

SARKAT KMO BATCH 45

Day 2

Kelompok 6 Aster

Jumlah Kata 463


Aku kembali duduk dan memalingkan wajahku ke arah danau hingga rintik hujan mereda. Aku bersiap pulang, tak ku sangka lelaki itu juga sudah pergi. Sepertinya aku terlalu menikmati pemandangan hingga tidak mendengar suara dia pergi.

 Hari berlalu begitu cepat, hujan masih sering turun. “Sepertinya sudah mulai musim hujan, ya?” Batinku. Aku tersenyum melihat langit yang mendung. Di pondok kayu dekat danau ini, aku menghabiskan soreku. Melihat rintik hujan yang terjatuh di atas air, bunga-bunga dan pepohonan yang terlihat riang di bawah hujan. Makin lama hatiku makin hangat. Ada semai harapan untuk terus melangkah. Walau masih belum ku temukan alasan yang tepat, setidaknya aku harus menemukan meski harus memecah butir-butir hujan. Satu lagi yang makin membuat hatiku makin hangat, lelaki yang setiap hujan ku temui.

 Kami tak berbicara panjang lebar, hanya sekadarnya. Berbicara walau hanya satu topik, membuat embusan baru dalam hidupku. Sepertinya terlalu lama aku sendiri.

 “Setiap hujan, kamu selalu ke sini. Apa tidak bawa payung atau mantel?” Tanyaku melihat lelaki itu berlari di bawah jas hitam.

 “Tidak juga. Aku hanya suka berada di sini saat hujan” dia bicara sambil tersenyum. Aku juga membalas senyumannya.

 “Kamu, sebegitu sukanya sama bunga? Ah, atau kamu menyukai danaunya?” Lelaki itu bertanya.

 “Semuanya. Aku menyukai bunga, danau, hujan, dan… se-semuanya” entah kenapa aku malah gugup. Dia tertawa agak keras.

 “Lucu ya” ucapnya pelan hampir tak terdengar. Aku hanya melirik sedikit.

 “Ah iya, apakah kamu tidak mengenaliku?” Dia bertanya lagi. Tumben sekali. Hari ini dia lebih banyak bertanya.

 “Tidak, apakah kita pernah bertemu?” Aku yakin kita tidak bertemu.

 Sebelum dia menjawab, hanya senyuman yang terlihat tak percaya. “Aku tau kamu, loh” jawaban yang tak bisa ku percaya.

 “Kita pernah bertemu di salah satu pelatihan di provinsi” lelaki itu menjawab dengan serius.

 “Kita pernah satu perusahaan. Cuma beda divisi.” Lanjutnya dengan membuka tutup botol air putih yang sedari tadi dipegang.

 Aku tersentak mendengar jawabannya. Kantor yang mana? Dulu atau sekarang?

 “Perusahaan mana?” Raut muka ku langsung berubah. Aku khawatir jika dia dari kantor lamaku, karena itu berarti dia mengetahui hal yang aku sembunyikan selama ini.

 “Pe-perusahaan … A-anu sekarang aku sudah pindah. Sekarang aku pindah perusahaan tepat disebelahnya. Itu di sebelah gedung kamu” lelaki itu menunjuk gedung yang dari sini terlihat tinggi. Syukurlah, dia dari perusahaanku yang sekarang. Aku menghela napas dalam.

 “Kamu kenapa kaget begitu?” Tanyanya.

 “Tidak ada. Kok gak pernah lihat kamu ya?” Aku mengalihkan pembicaraan.

 “Pfffftt… Bagaimana kamu bisa mengenal teman kerja kalau kamu menutup diri. Kamu terkenal pendiam. Padahal kinerja kamu bagus.” Aku terdiam.

 “Haha… Sudah-sudah. Mendingan kita kenalan. Aku sudah tau nama kamu. Tapi sepertinya tidak denganmu” pertanyaan dengan jawaban yang jelas.

 “Namaku Fatih. Dulu satu divisi dengan Pak Hasan. Itu bapak-bapak yang sekarang satu divisi sama kamu” setelah beberapa minggu akhirnya aku tau nama dia, bahkan tak terduga dia sudah mengenal dari lama.











Langkah Awal

0 0

Sarkat KMO batch 45

Day 3

Kelompok 6 Aster

Jumlah kata 412

“Namaku Fatih. Dulu satu divisi dengan Pak Hasan. Itu bapak-bapak yang sekarang satu divisi sama kamu.” Setelah beberapa minggu akhirnya aku tau nama dia, bahkan tak terduga dia sudah mengenalku sejak lama.

 “Lantas, kenapa kamu baru mengatakan hal ini?” Fatih diam dan alisnya diangkat satu.

 “Bagaimana bisa aku bicara dengan seseorang yang sedang asyik bersama dunianya sendiri? Bukan, bukan lebih tepatnya seseorang yang membangun tembok besar, membiarkan dirinya terisolasi dari orang lain?” Apa begitu jelas aku menghindar dari orang lain.

 “Kan tidak mungkin kalau aku tiba-tiba bilang, hai kamu, aku mengenal kamu. Haha… Bisa-bisa kamu lari.” Dia tertawa dan membuatku makin tidak bisa berkata apa-apa.

 “Tapi, beberapa hari ini, kamu berbeda. Entahlah apa yang membuat kamu berubah. Seperti kamu mulai membongkar tembok besar itu perlahan.” Nada bicaranya rendah, pelan namun aku bisa langsung paham apa maksudnya.

 “Eh lihat itu, di sebelah sana” Fatih menunjuk ke arah selatan danau.

 “Bunga yang minggu lalu tak terlihat, hari ini sudah bermekaran.” Aku melihat ke arah bunga yang bermekaran. Minggu lalu kami sempat berbincang mengenai bunga itu. Hari ini bermekaran, indah.

Angin berembus pelan menggoyangkan rumput dan bunga-bunga. Bunga berwarna ungu yang indah. Kami menikmatinya sembari berbincang tentang banyak hal. Dia orang yang ramah. Aku merasa bahwa bertemu dengannya adalah anugerah.

“Weekend ini sudah ada rencana?” Tanya Fatih.

“Belum. Atau lebih tepatnya setiap libur tidak pernah memiliki rencana khusus.” Aku memang tidak pernah keluar, jalan-jalan atau rencana bersenang-senang lainnya

“Nonton yuk. Ada film bagus yang rilis minggu ini.” Ajaknya dengan senyum merekah. Memperlihatkan bahwa dia percaya bahwa aku akan ikut. Bukan ide buruk, mengingat aku memang menyukai film. Namun, bisakah lelaki yang baru beberapa minggu aku kenal ini bisa dipercaya? Bagaimana jika dia hanya lelaki bermuka dua seperti yang sebelumnya aku temui?

Sejujurnya aku masih berada dalam bayang-bayang ketakutan untuk sekadar mengenal laki-laki. Trauma masa lalu yang diberikan oleh seorang laki-laki beja* itu masih sangat aku ingat, bahkan mungkin seumur hidup aku tidak bisa melupakan.

Meskipun demikian, niat untuk mulai melangkah, mengubah diri ke arah lebih baik, bangkit dari rasa sakit, lebih aku prioritaskan daripada rasa takut. Hari Sabtu, sesuai janji kita, untuk pertama kalinya aku bertemu Fatih di luar taman.

Seorang laki-laki memakai kemeja abu-abu berdiri sambil melambaikan tangannya ke arahku. “Mau makan dulu? Masih ada waktu 45 menit sebelum filmnya dimulai.” Aku terdiam. Jantungku berdetak sangat kencang. Hingga tanpa sadar aku memegang dadaku.

“Hei. Kenapa?” Wajahnya merendah menyamakan dengan posisiku. Aku masih terdiam. Tiba-tiba rasa panik dan takut menyerang. Ajakan Fatih ternyata membangunkan trauma.

Sebuah Ingatan

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Day 4

Kelompok 6

Aster

Jumlah Kata 434

Aku berpamitan ke kamar mandi. Berlari ke arah kamar mandi yang saat masuk tadi tak sengaja ku lihat. Basuhan air sedikit menenangkan. Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat takut. Padahal Fatih adalah orang baik yang tidak mungkin melakukan hal jahat. Ah, tidak juga, dulu dia juga terlihat baik namun kenyataannya berbanding terbalik.

Jariku dingin membiru, badanku gemetar, dadaku sesak, dan napasku memburu. Aku terdiam di depan cermin. Memandang wajah yang terlihat pucat. Bahkan kerudungku sedikit basah karena terburu-buru membasuh wajah.

Aku memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam. Mencoba menenangkan diri. Sembari terus meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, aku merapikan kerudung dan riasan agar tidak terlihat pucat.

Setelah lima belas menit di kamar mandi, aku kembali. Fatih terlihat duduk dengan wajah gusar. Bismillah, ucapku pelan. Aku menyapanya dari jauh.

“Maaf ya, tadi keburu ke kamar mandi. Hehe.” Sebisa mungkin aku terlihat bahagia. Semoga senyum palsu ini tidak terlihat jelas.

“Kamu kenapa? Ya ampun, aku khawatir sekali. Kamu sakit? Mau pulang?,” ocehnya tanpa henti dengan melihatku secara seksama.

“Aku tidak apa-apa kok. Maaf banget membuat kamu khawatir.” Aku merasa tidak enak sudah membuat orang lain khawatir.

“Kita beli minum dulu, yuk,” ajaknya. Kami berjalan ke arah kedai minuman.

“Kita batalkan saja rencana kita. Kamu pulang dan istirahat. Bagaimana?” tanyanya setelah kami mendapat minuman.

“A-aku..,” belum selesai aku menjawab.

“Aku akan mengantarmu. Tidak usah merasa bersalah. Kita bisa keluar kapan saja, tapi hari ini kamu harus pulang dan istirahat.” Dia berbicara dengan wajah cemas. Ternyata selama ini ada orang yang baik di sekitarku.

Daripada berdebat, aku mengiyakan dia. Namun aku harus pulang sendiri. Aku menjelaskan bahwa aku tidak enak dengan tetangga jika ada laki-laki yang mengantar. Padahal aku tinggal di sebuah kontrakan yang lingkungannya tidak terlau ramai. Orang-orang di sana juga tidak terlalu suka ikut campur dengan urusan orang lain.

“Aku memesankan kamu taxi. Maaf karena tidak bisa mengantarkan sampai rumahmu,” ucap Fatih sembari membuka pintu dan mempersilahkan masuk. Dia tersenyum dengan kekhawatiran yang terlihat jelas.

“Pastikan kamu makan dan istirahat yang cukup,” lanjutnya sembari melambaikan tangan.

“Terimakasih banyak. Assalamualaikum.” Aku menutup kaca mobil dengan harapan dia tulus dan tidak kecewa karena rencana kita gagal.

Aku merebahkan tubuh di kasur. Lelah sekali. Padahal aku hanya keluar kurang dari dua jam. Entahlah aku merasa sangat lelah.

Sejak kami memutuskan untuk keluar nonton, aku merasa sangat antusias. Aku pikir setelah sekian lama akan merasakan lagi serunya nonton film. Bahkan Fatih juga termasuk orang suka sekali menonton film. Ternyata gagal.

Pikiranku mulai melayang-layang. Kembali kepada hari dimana aku bisa bersenang-senang dengan teman-teman. Hari dimana kami selali mengoceh tentang film, komik dan hal aneh lainnya. Aku tersenyum sendiri mengingat hal ini.



Ingatan

0 0

Sarapan Kata KMO batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 5

Jumlah kata 415


Sembilan tahun yang lalu…

Masa SMA adalah masa yang paling bahagia, begitu katanya. Hal ini yang aku rasakan kala memasuki SMA. Memiliki cerita dan teman baru. Maklum saja saat SMP aku tidak memiliki teman, tepatnya tidak berani untuk memiliki teman.

“Dian.. Kamu tau gak minggu depan film Magical Sound rilis, loh.” Aku berteriak kepada sahabatku. Diana Putri Wijaya, kami baru ketemu saat SMA dan langsung akrab. Kami sama-sama menyukai film dan komik. Hampir setiap hari, tidak ada habisnya kami membahas tentang film ataupun komik.

“Tau dong. Aku sudah meminta Kakak untuk memesankan tiketnya. Aku pastikan mendapat tempat duduk terbaik deh,” jawab Dian dengan wajah cerah. Tapi aku merasa sedih. Bulan lalu aku dihukum berat karena ketahuan keluar tanpa izin dan malah menonton film di bioskop. Abah juga tau, bahwa beberapa kali izin aku berbohong. Beliau mengancam untuk mengirim ke pondok pesantren yang snagat ketat. Sebenarnya aku tidak masalah ke pondok, hanya saja aku kurang suka dengan cara Abah.

“O iya, ini komik vol. 3, baru selesai baca semalam. Ya ampun aku sedih sekaligus gereget. Habisnya ya…” belum selesai Dian mengoceh aku berteriak.

“Aaaaaa… stop. Hus, berhenti. Jangan pernah mengatakan apapun. Aku benci spoiler.” Aku merengek meminta Dian tidak melanjutkan ceritanya. Aku tipe pembaca yang benci spoiler. Aku benci karena kalau mengetahui cerita sebelum membaca sendiri, bagaimanapun alurnya, bahkan plot twist akan terasa hambar. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan nyata, yang hampir tiap saat aku mencari bocoran tentang apa yang akan terjadi di masa depan.

“Haha… makanya cepetan baca. Aku gak tahan ini. Di rumah juga kamu bmgak bakal sempet baca komik.” Benar kata Dian, di rumah aku harus memendam sisi yang seperti ini. Menutupi keinginan dan hobi dan mengikuti apa yang sudah menjadi aturan dari orangtua.

Aku memiliki seorang kakak perempuan, satu-satunya saudara dan juga pendengar di rumah. Ketertarikan pada film dan komik berawal dari kakaknu yang sering bercerita tentang apa yang dibaca. Hingga suatu hari Abah memergoki kakakku yang seharusnya deres al Qur’an malah membaca komik. Abah geram dan membakar semua komik dan melarang kami bermain komputer. Sejak saat itu, kakak berubah. Dia yang ceria makin lama makin muram. Dia dikirim ke luar negeri untuk kuliah dan belajar di sana. Kami yang dulu akrab makin lama makin asing.

Kakak berpesan bahwa aku harus menjadi anak yang berbakti, menuruti kemauan dan aturan Abah. Pendam keinginan sejauh dan sedalam hati. Sakit memang, tapi ini agar suatu hari, aku bisa menggapai kebebasan dengan kepercayaan Abah. Meskipun demikian, gejolak ingin ini dan itu, kadang tidak mudah untuk dikendalikan.


Ingatan (2)

0 0

Sarapan Kata KMO batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 6

Jumlah kata 545

Aku sangat bersyukur berada di tengah-tengah keluarga ini. Abah dan Umi keduanya adalah orang hebat. Orang yang kehadirannya saja membuat yang melihat menghormati dan selalu ingin mendapat perhatiannya.

Satu jam sebelum magrib aku sudah harus berada di mushola rumah. Bersama belasan remaja lainnya, kami mengikuti kajian kitab aqidah, fiqih, dan keilmuan lain sesuai jadwal. Abah yang mengajarkan pada kami.

Aku dan Abah setiap hari bertemu, aku mendengar suaranya. Dia menyampaikan ilmunya. Tapi dia makin jauh. Terasa memasang tembok besar kepadaku. Kenapa? Padahal dulu tak begitu?

Setelah shalat magrib aku harus setor hafalan kepada umi. Setelah isya’ Abah, Umi dan aku biasanya murajaah bersama. Satu jam setelahnya belajar dan mengulang pelajaran. Umi biasanya menemaniku belajar. Kami akan belajar bersama di perpustakaan rumah. Kedua orangtuaku adalah orang-orang haus ilmu, hal ini membuat di rumah kami banyak buku dan beragam literatur.

“Umi, suatu hari di masa depan, apakah aku bisa melakukan semua yang aku inginkan?,” tanyaku pada umi yang sedang membaca buku.

Umi tersenyum dan menjawab “tidak. Tidak akan semua yang kamu inginkan bisa kamu lakukan. Lebih tepatnya tidak semua yang kamu inginkan harus dilakukan.” Jawab umi sembari mengusap kepalaku. Dia orang yang hebat, seorang dosen di salah satu universitas. Sayang sekali, bagiku umi terlalu jauh untuk aku gapai. Entah kenapa, sejak kakak pergi ke luar negeri, umi juga makin menjauh. Aku merasa tak tahu apa-apa.

“Umi, kakak pergi sudah tiga tahun, tidak ada kabar sama sekali. Kapan dia pulang? Apa kakak gak kangen kita.” Umi masih menatap bukunya, namun raut wajahnya berubah. Ada perasaan sedih dan marah yang dipendam dalam diamnya. Aku harus berpuas diri mendengar jawaban diamnya.

“Besok ujian semster dimulai. Sini mendekat.” Kata umi sembari menutup buku dan menoleh ke arahku. Aku mendekat dan mencondongkan kepalaku padanya.

“Besok umi berangkat pagi, takut terburu-buru dan tidak sempat.” Tangan lembutnya memgang kepalaku. Membacakan doa-doa berharap bahwa ilmu yang aku tekuni akan berkah dan ujian besok akan diberi kelancaran.

Aku bisa mendengar napasnya yang berat. Tubuhnya terasa sedikit bergetar. Umi menahan tangisnya. Entah apa yang membuatnya sedih, aku atau apa?

“Abah dan Umi minta maaf, nak. Semua yang kami lakukan untukmu adalah hal yang menurut kami benar. Kami tak mau tau pendapatnu. Kami tak mau tau apa yang kamu mau, karena kamu masih kecil dan belum bisa membuat keputusan sendiri. Tahanlah sedikit lagi.” Umi terisak dan aku terdiam. Aku kaget kenapa beliau yang selama ini terlihat tak peduli, tiba-tiba menangis dan berkta demikian.

“Maaf, maaf, maafkan umi tak bisa berbuat banyak terhadapmu. Umi hanya mohon jadilah anak yang berada di jalan yang diridhoi Allah.” Aku masih terdiam.

“Abah dan Umi juga sedih. Membuat kamu tertekan, membuat kamu tak bisa bebas. Kami membuat jarak yang lebar untukmu. Kenapa? Agar kamu tidak manja. Agar kamu tumbuh kuat. Maafkan kami harus dengan cara seperti ini. Karena kami telah gagal mendidik kakak dan tak ingin gagal pula dalam mendidikmu.” Aku ingat, dulu kakak dan aku sangat manja dan dimanja. Kakak yang menyukai komik akan dibelikan banyak sekali buku-buku. Kakak yang pandai melukis, diberikan waktu untuk les melukis dan diberi banyak fasilitas untuk belajar. Kami dibebaskan untuk menjadi apa saja.

Kepalaku tiba-tiba sakit, mencoba mengingat darimana semua ini berubah? Apa benar hanya karena waktu yang seharusnya untuk baca al Qur’an malah kakak sembunyi-sembunyi baca komik? Sepeti ada hal penting lain yang aku lupakan.


Ingatan (3)

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 7

Jumlah kata 409

Kepalaku tiba-tiba sakit, mencoba mengingat darimana semua ini berubah? Apa benar hanya karena waktu yang seharusnya untuk baca al Qur’an malah kakak sembunyi-sembunyi baca komik? Sepeti ada hal penting lain yang aku lupakan.

Umi makin erat memeluk. Dalam isaknya ia berbisik “ikhlaskan kepergian kakakmu.” Kepalaku makin sakit hingga tak sengaja aku mendorong umi. Aku memegang kepalaku. Kenapa sesakit ini?

Kakak adalah wanita luar biasa. Dia selalu ceria dan semangat dalam belajar. Sepulang sekolah dia selalu bercerita tentang teman dan cita-cita. Dia pandai bersosialisasi, bukan hanya dengan teman satu kelas bahkan dia juga akrab dengan beberapa guru. Tentunya dalam batasan murid dan guru.

Menjadi sorotan dimanapun kakak berada. Menjadi sosok yang diharapkan banyak orang, bahwa dia akan menjadi wanita yang cerdas dan sukses di masa depan. Senyumnya yang indah juga menjadi daya tarik siapapun yang memandangnya.

Dia memiliki cita yang tinggi. Ingin kuliah ke luar negeri, menjelajah seluruh negeri dan mengabadikan dengan lukisannya sendiri. Dukungan orangtua dia dapatkan, fasilitas dan kasih sayang tidak pernah kurang. Namun, dia tetaplah remaja yang polos. Suatu hari dia jatuh hati pada seorang lelaki. Kakak kelas yang dia temui dalam satu organisasi. Dia mulai berubah, perhatian terhadap kehidupan sekolahnya perlahan berubah.

Suatu hari, kakak melakukan kesalahan besar yang membuat orang tua kami murka.

“Nafisah. Apa-apaan ini!” teriak Abah sembari membanting handphone di depan kakak. Kakak hanya diam dan menunduk.

“Ya Allah, nak. Apa yang telah kamu lakukan. Kamu telah membuat abah malu, bukan hanya di depan manusia tapi juga di depan Allah. Bagaimana bisa kamu membuat aib yang begitu menjijikkan.” Abah masih berteriak tanpa menurunkan sedikit suaranya. Aku tak bisa melakukan apapun. Aku hanya duduk mengintip dari celah pintu kamarku yang berhadapan langsung dengan kamar kakakku.

“Nafis bisa jelasin, Ba.” Kakak mencoba menjelaskan apa yang terjadi namun tamparan keras tiba-tiba melayang. Demi Allah, Abah tidak pernah seperti ini. Aku yang melihatnya hanya terdiam menahan tangis. Tak tega rasanya. Apa yang terjadi?

Tiba-tiba Umi datang dan segera masuk ke kamar kakak. Terlihat Umi melempar tas dan duduk di sebelah kakak. Umi menangis memeluk kakak. Aku ingin ke sana namun rasa takut ini begitu besar.

“Ada apa ini? Kenapa seperti ini?” Umi tak tahan melihat kondisi kakak yang tidak karuan. Pipinya memerah bekas tamparan matanya sembab menahan air mata yang terus keluar.

“Lihat apa yang dilakukan anak kurang ajar ini.” Abah memperlihatkan sebuah foto. Belakangan ini aku tau itu adalah foto kakak yang setengah sadar dan sedang dicium oleh laki-laki yang merupakan kakak kelas yang dia suka.


8

0 0

Sarapan Kata KMO batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 8

Jumlah kata 412

Dalam lamunan, aku terhenyak mendengar suara dering telepon. Menarik kesadaran pada kenyataan. Sebuah panggilan masuk dari Fatih. Aku segera bangun dan mengusap mataku. Ternyata sedari tadi mataku telah basah oleh tangis yang tidak ku sadari.

“Sudah sampai rumah?” tanya Fatih.

“Iya, sudah dari tadi,” jawabku pelan. Takut suara yang serak ini menambah kekhawatiran dia.

“Alhamdulillah. Segera makan dan istirahat yang cukup ya.” Desahan napas lega cukup terdengar dari seberang telepon. Setelahnya panggilan kami tutup.

Aku baru sadar ternyata kurang lebih ada lima pesan dan dua panggilan tak terjawab dari Fatih. Aku tersenyum. Entah kenapa rasanya sedikit menyenangkan dikhawatirkan oleh orang lain.

Kembali aku rebahkan tubuh ini. Melihat langit-langit kamar, putih dan kosong. Aku memejamkan mata, menajamkan telinga, sepi. Mengapa siang ini sepi sekali?. Napas ku tarik dalam-dalam, mempersilakan rasa kantuk yang mulai menjalar. Sepertinya sebentar lagi benar-benar akan terlelap dalam tidur yang panjang.

Matahari mulai menampakkan diri, cahaya lembutnya menghangatkan pagi. Aku berjalan menuju tempat kerja. Waktu tempuh menuju tempat kerja kurang lebih dua puluh menit dengan berjalan kaki. Diantara hal yang aku suka di kota ini adalah trotoar yang terawat dengan apik. Banyak pohon rindang yang membuat teduh. Kanan kirinya di tanam beberapa bunga yang memanjakan mata. Kursi-kursi panjang juga tersedia di beberapa titik. Tempat sampah warna-warni juga tidak sulit untuk ditemui. Fasilitas inilah yang membuat masyarakat nyaman berjalan kaki.

Tidak seperti hari sebelumnya, aku yang biasanya hanya menunduk dan tenggelam dalam lamunan, hari ini aku mulai melihat sekitar. Ternyata sepanjang trotoar ini banyak toko yang menjual berbagai produk. Bahkan ternyata ada toko roti yang cukup mewah di ujung jalan. Sepertinya buka mulai pagi, bau khas roti makin kuat saat aku mendekat. Aku melihat jam tangan, masih ada waktu dua puluh menit sebelum jam masuk kerja. Sepertinya aku harus mampir.

Aku mendorong pintu kaca dan masuk ke dalam toko. Berbagai hiasan klasik menyambut mataku. Lampu-lampu yang digantung menambah kesan hangat. Ternyata tempat ini lebih luas dari kelihatannya. Di dalam tersedia beberapa meja dan kursi yang telah penuh oleh beberapa pengunjung.

Saat aku melihat ke arah lain, tak sengaja aku menabrak seseorang.

“Maaf, maafkan saya karena tidak melihat….” Aku sedikit kaget. Perempuan yang tadi aku tabrak sedang menggendong bayi dan sekarang bayi itu menangis.

“Saya yang minta maaf, karena terburu-buru sampai tidak sengaja menabrak orang lain.” Perempuan tersebut meminta maaf dan segera pergi tanpa menunggu jawabanku. Aku terdiam. Seorang bayi yang cantik, aku tersenyum namun dengan perasaan sedih dan hati yang sakit. Mengingatkan pada sesuatu yang seharusnya aku buang, namun sepertinya gagal.



9

0 0

Sarapan Kata KMO batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 9

Jumlah kata 458

Aku berjalan gontai menuju tempat dudukku. Sebuah kursi dan meja yang berada di pojok ruangan ini. Keresek putih dengan motif coklat yang berisi beberapa potong roti, aku taruh di atas meja, bersama tangan dan kepala yang terasa berat. Aku terdiam, menenggelamkan kepala dalam kepalan tangan. Mencoba untuk tetap tenang.

“Sudah datang? Wah tumben.” Sapa Bu Aini, asisten manajer yang biasanya datang sangat awal.

“Iya, bu. Kebetulan saja.” Aku biasanya datang sangat mepet dengan jam masuk. Alasannya sederhana, agar tidak banyak basa-basi membahas hal tidak penting. Aku juga bukan orang yang gampang bicara terlebih dahulu sebelum ada yang mengajak bicara.

“Sudah sarapan? Ibu bawa bekal, tadi buatin bekal anak-anak jadi sekalian saya bawa. Hahaha” Bu Aini membawa bekalnya dan duduk di sampingku. Aku hanya diam sambil tersenyum.

“Kamu kenapa terlihat pucat? Sakit? Ayo makan dulu.” Beliau adalah seorang karyawan senior yang berusia kurang lebih empat puluh tahunan. Terkenal perhatian dan ramah dengan semua karyawan.

“Tidak usah, bu. Saya tadi beli roti. Ini masih utuh belum dimakan.” Aku menunjukkan roti yang masih terbungkus rapi.

“Ya sudah, ayo makan dulu. Makan bareng. Pokoknya kamu harus makan, ya.” Apa aku terlihat begitu menyedihkan sampai orang lain mengkhawatirkanku?

Akhirnya aku ikut makan bekal bu Aini. Sudah aku coba untuk menolak, bahkan aku sudah membuka roti, tapi bu Aini tetap memaksa untuk menyuapkan nasinya.

“Kalau ada masalah, butuh pendengar yang bisa dipercaya, cerita sama saya, oke.” Sambil lalu pergi Bu Aini menepuk pelan bahuku.

“Terimakasih, bu.” Aku tersenyum mendapat perlakuan hangat.

Aku masih terhitung baru bekerja di kantor ini. Sebelumnya aku berada di perusahaan lain yang jauh dari kota ini. Orang-orang disini semuanya berperilaku baik kepadaku, hanya saja memang aku yang membatasi diri. Aku belum siap untuk membuka diri.

Waktu berlalu seperti biasa. Tak ada yang istimewa. Hingga waktu pulang telah tiba. Hari ini aku terburu-buru untuk pulang. Namun, aku terhenti. Di depan pintu keluar, ada seorang lelaki yang aku kenal. Melambaikan tangan dan tersenyum hangat. Aku hanya membalas dengan senyuman.

“Mau langsung pulang?” tanya Fatih.

“Iya. Memangnya mau kemana lagi?” Aku memang ingin langsung pulang saja.

“Yaaa… biasanya kan, mampir di tempat biasa.” Sambil memberikan kode dengan matanya, dia menunjuk ke arah danau tempat kita biasa bertemu.

Akhirnya aku mengikuti lelaki ini. Bo*oh sekali rasanya. Padahal aku sangat lelah, namun malah pergi. Tapi aku tidak terlalu menyesali hal ini.

“Hei, lihat anak-anak itu. Mereka berlarian tanpa takut terjatuh. Hahaha” Fatih menunjuk ke arah anak-anak yang sedang bermain di taman.

“Enaknya jadi anak kecil, jadi pengen kecil lagi.” Fatih bergumam sendiri. Aku sedikit tertawa melihat tingkahnya.

“Lalu, bagaimana kalau kita dengarkan cerita masa kecilmu?” Aku bertanya pada Fatih. Kami telah sampai di pondok samping danau. Fatih melihat ke arahku.

“Baiklah, mari kita dengarkan cerita hebat dari masa kecilku” Dia berbicara dengan sangat percaya diri.


13

0 0

Sarapan Kata KMO batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 13

Jumlah Kata 423

Hari berlalu hubunganku dengan Fatih bertambah dekat. Suasana hati yang sebelumnya selalu suram, sekarang perlahan mulai hangat dan membaik. Seiring dengan hal itu, aku makin mengikhlaskan dan memaafkan diri sendiri. Memperbaiki hubungan dengan orang lain, walau tak seramah dan ramai orang sanguin, setidaknya aku akan membalas sapaan orang lain lebih dari sekadar senyum dan anggukan.

“Aku tidak tau kenapa, kamu selalu menolak pemberian orang lain,” tanya Fatih saat kami membeli minuman.

“Hem… entahlah,” jawabku. Ingin aku bercerita sejujurnya namun belum saatnya.

“Aku sih gak kepoin masalah kamu, cuma aku tuh ingin beliin sesuatu untukmu.” Dia bicara dengan ekspresi kecewa.

“Terus kenapa kamu gak langsung beliin aja?” tanyaku memancing.

“Pasti kamu tolak,” jawabnya dengan yakin. Hal ini membuat aku tertawa.

“Aku yakin kamu tolak, bayangan saat kamu marah-marah hanya dipaksa ambil kopi saat rapat masih menghantui ku.” Ya ampun, dia ternyata masih ingat kejadian itu. Itu saat aku baru dua bulan masuk kantor.

Siang itu kami sedang rapat terkait evaluasi pemasaran produk baru bulan itu. Diikuti hampir seluruh karyawan. Saat hampir selesai, ada karyawan yang membagikan minuman. Setiap orang mendapatkan satu gelas minuman sejenis kopi. Aku sudah menolak dengan halus tawarannya.

“Saya tidak usah,” ucapku kepada seorang laki-laki yang membagikan minuman tersebut.

“Ini ambil saja. Ah, atau mau yang varian lain? Itu masih ada beberapa varian yang mungkin cocok untuk ibu,” ucapnya dengan ramah, namun terdengar agak memaksa.

“Tidak, tidak usah.” Aku menolak lagi.

“Ini produk baru kita bu, enak loh. Wah, seharusnya ibu coba sih. Apalagi ini enak banget. Saya taruh meja sini ya,” ucapnya selagi menaruh minuman di atas meja.

“Tidak!” Aku berteriak dan tidak sengaja tangan ini mengenai minuman tersebut. Hingga jatuh dan berantakan membasahi meja. Aku terkesiap dan seketika orang-orang yang ada di ruangan ini melihat ke arahku. Aku segera berdiri dan meninggalkan ruangan iyu tanpa sepatah katapun.

Fatih tiba-tiba tertawa kencang. “Aku kaget banget denger kamu teriak dan tiba-tiba lari. Asli kita yang lagi nikmati Latte yang seger, seketika jadi terasa hambar.” Dia bicara sambil tertawa. Mengingat saat itu rasanya malu sekali.

“Maaf ya, aku tertawa. Aku kira kamu gak bakal bisa diajak ngobrol asik begini.” Dia bicara sambil mengusap mata. Saking kerasnya tertawa air matanya sampai keluar.

“Mengingatnya saja aku malu tau.” Malu banget rasanya, tapi waktu itu benar-benar tidak bisa mengontrol emosi. Rasanya sangat jengkel saat dipaksa untuk menerima sesuatu yang tidak diinginkan.

“Sekarang, mari kita saling memperbaiki diri. Melupakan dan mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu. Kamu hebat bisa bertahan sendirian.” Mendengar dia mengatakannya, membuat aku tersenyum malu. Senang sekali ada orang-orang yang mau mengerti.


14

0 0

Sarapan Kata KMO batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 14

Jumlah kata 496

“Aku sudah memperhatikan kamu sejak lama, loh. Saat kamu masuk ke kantor, aku bisa melihat bahwa kamu wanita luar biasa.” Aku diam mendengar ocehan yang masih berlanjut.

“Aku….” Kalimatnya terjeda agak lama.

“Ah, bulan depan kamu ulang tahun ya?” Aku spontan menoleh.

“Tau dari mana?” tanyaku.

“Tidak sengaja tau,” jawabnya.

“Ih, mana ada.” Tentu saja aku takkan percaya.

Dia tiba-tiba tertawa, “Beneran deh, aku pernah tidak sengaja melihat daftar karyawan dan tanggal lahirnya. Kebetulan…..” dia memberi jeda pada kalimatnya. Membuat aku penasaran saja.

“Kebetulan ulang tahun kamu sama dengan ulangtahun mamaku.” Aku kaget mendengarnya.

“Wah, kebetulan sekali,” jawabku dengan wajah cerah. Berbeda dengan raut wajahnya yang terlihat sedih.

“Sayangnya aku tidak bisa mengenalkanmu pada mama.” Dia berucap dengan memainkan jari-jarinya.

“Kenapa tidak?” Aku bertanya dengan penasaran.

“Sayang sekali, beliau sudah tak ada tiga tahun yang lalu,” jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.

“Ah, maaf.” Aku tidak tau bakal berujung pada rasa canggung begini.

“Lah… kenapa jadi mode sedih begini ya?” Dia mengangkat kepalanya dan tertawa.

“Kehilangan ada hal wajar dalam hidup. Hidupku, hidupmu, dan hidup semua orang.” Aku diam dan meneliti wajahnya. Terlihat ketegaran yang sedikit dipaksa.

“Hari itu, peringatan kematian mama. Aku harus tetap masuk kerja, menyelesaikan deadline penting. Sedih banget rasanya. Ternyata bertepatan dengan masuknya salah seorang karyawan baru. Seorang perempuan yang dari pintu masuk dan sampai memperkenalkan diri tetap menunduk. Seorang perempuan yang tidak berani menatap wajah kami.” Dia menatap kearahku dan tertawa.

“Aku bisa menebak, bahwa ekspresi yang selalu kamu tampilkan adalah bukti bahwa kamu telah melewati banyak hal. Aku paham banget ekspresi seperti itu, karena sebelumnya ada seseorang yang aku kenal sepertimu.” Dia benar-benar membicarakanku sedari tadi. Aku tak merespon, hanya menunggu dia selesai bicara.

“Awalnya aku heran, kenapa di kantor yang keramahan diutamakan ini bisa menerima seorang pegawai sepertimu. Aku bahkan menduga kamu masuk jalur orang dalam” ucapnya menggoda.

“Mana mungkin, ah…” segera aku menyangkal sangkaan tanpa dasar itu.

“Ternyata aku salah, kamu memang orang jenius. Kompetensi dalam pekerjaan ini memuaskan. Selain hubungan personal si.” Dia tertawa lagi. Benar-benar suka sekali dia menggoda. Tapi entah kenapa aku tidak marah. Semua yang dikatakan benar adanya. Aku diberi kemudahan untuk masuk ke perusahaan karena kompetensi dan pengalaman. Selama kuliah S1 dan S2 aku manfaatkan bukan hanya mencari ilmu namun juga pengalaman bekerja. Hal ini ternyata sangat membantu dalam menemukan pekerjaan, bahkan aku sudah berpindah-pindah tempat kerja.

“Hei, malah bengong.” Fatih menepuk tangannya di depan wajahku.

“Gimana?” Tanya Fatih.

“Apa?” tentang apa?

“Mau aku antar pulang? Sudah hampir magrib ini?” Benar juga. Hari makin gelap tanpa kusadari.

“Tidak deh. Mau jalan aja.” Aku menolak.

“Ya sudah, aku temani jalan, gimana?” Rasanya dia sedikit memaksa.

“Padahal pulang sendiri gak bakal nyasar.” Candaku.

“Kali aja diculik Wewe, anak kecil gak boleh pulang sendiri.” Aku tertawa mendengar ocehannya. Akhirnya aku mengiyakan dia. Dia mengantarkan pulang.

“Jadi mandiri itu baik, tapi sekali-kali bergantung pada orang lain tidak apa-apa.” Katanya saat kami mulai berjalan. Aku pikir juga begitu, sekali-kali percaya dan bergantung kepada orang lain, mungkin menyenangkan.


15

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 15

Jumlah Kata 406

Rumah yang aku sewa dan tinggali beberapa bulan ini, sudah terlihat dari kejauhan. Sejenak aku pandangi dari balik pagar. “apa alasanku bertahan? Mungkin salah satunya adalah untuk menempati rumah ini, membersihkan, dan merawat bunga-bunga yang ada di depan.” Aku membuka pintu, mengedarkan pandangan pada benda-benda sekitar. Ternyata rumah ini lebih luas dari perasaanku sebelumnya.

Aku membuka kulkas dan mengambil dua butir telur. Aku bilang memasak sendiri, iya benar, namun selama ini hanya memasak makanan seadanya. Mungkin kapan-kapan harus coba masak makanan lain. Dulu aku sangat senang membantu umi masak, memasak adalah kegiatan menyenangkan. Apalagi saat melihat orang lain menikmati masakan kita.

Selesai makan segera aku bersihkan dapur dan mencuci piring. Kemudian mengecek hp yang sejak sore tidak aku hiraukan. Aku mendapati dua panggilan tak terjawab dari umi. “Tumben sekali,” pikirku.

Segera aku telepon kembali nomor yang entah kapan terakhir aku melihatnya. Dari ujung telepon kudengar suara perempuan yang lembut mengucap salam.

“Wa’alaikumussalam…,” jawabku sembari duduk di kursi usang ruang tamu.

“Bagaimana kabarnya?” Perempuan yang selalu menjadi tujuan hidupku, perempuan yang terlalu besar untuk sekadar duduk di sampingnya.

“Alhamdulillah. Bagaimana kabar umi?” Aku bertanya kembali.

“Alhamdulillah, tidak pernah sebaik mendengar suara putri umi,” ucapnya yang membuat hatiku sakit.

“Abah sehat? Maaf umi, tidak pernah memberi kabar.” Aku merasa bersalah.

“Abah dua hari kemarin dirawat di rumah sakit. Tadi pagi sudah pulang.” Aku kaget mendengar hal ini. Seorang laki-laki yang amat aku patuh dan takuti, namun begitu aku tetap menyayangi sebagai kata orang, cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Aku paham itu.

“Umi kenapa tidak kasih kabar kalau abah sakit?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.

“Memangnya kamu akan pulang jika umi memberi kabar?” Air mata yang ku tahan, jatuh menetes tanpa bisa dibendung lagi.

“Umi, aku minta maaf…” Suaraku tercekat. Berapa maaf yang bisa menebus rasa bersalah? Umi terdengar tertawa kecil. Tidak ada kata balasan, memberi ruang sepi beberapa saat.

“Kapan pulang?” Pertanyaan yang paling aku takuti. Karena jawabannya adalah alasan penuh kebohongan. Aku masih terdiam.

“Sudah satu tahun lebih kamu tak pulang. Padahal jarak kita tidak terlalu jauh,” lanjut umi.

“Bulan depan, peringatan kematian kakak, pulang,ya?” Tangisku makin jadi. Kakak meninggal karena kecelakaan mobil saat menuju pondok. Menigggal saat kami, abah, umi, dan aku memberi luka besar. Sebuah kecelakaan yang membuat Abah dan Umi terluka. Lukanya lebih perih dari yang terlihat. Aku tak tahu bagaimana perasaan mereka, namun perlakuan mereka terhadapku berubah. Makin ketat dan makin keras dalam mendidikku. Kesalahan kecil bisa menjadi masalah besar.

Pertemanan dan pergaulanku harus diketahui oleh abah. Makin lama akhirnya aku mengikuti semua alur dan peraturan dari abah. Berharap suatu saat, orang tuaku bisa memberikan aku ruang gerak lebih banyak. Dan hal itu terjadi saat aku berhasil menjadi wisudawan terbaik S1. Abah berjanji akan mengabulkan satu permintaanku, dan permintaan itu adalah aku yang melanjutkan studi dan bekerja jauh dari rumah. Awalnya mereka menolak keinginanku, namun entah kenapa abah kemudian mengizinkan. Sejak saat itu, aku perlahan-lahan menjauh dari kedua orangtuaku. Aku memberikan banyak alasan untuk menghindar. Aku melarikan diri dari rasa sakit yang selama ini aku tahan.

“Insyaallah, aku pulang,” jawabku pada akhirnya, tak ada lagi alasan untuk lari dari masalah ini.


16

0 0

Sarapan Kata KMO batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 16

Jumlah kata 486

“Kapan pulang?” Pertanyaan yang paling aku takuti. Karena jawabannya adalah alasan penuh kebohongan. Aku masih terdiam.

“Sudah satu tahun lebih kamu tak pulang. Padahal jarak kita tidak terlalu jauh,” lanjut umi.

“Bulan depan, peringatan kematian kakak, pulang,ya?” Tangisku makin jadi. Kakak meninggal karena kecelakaan mobil saat menuju pondok. Menigggal saat kami, abah, umi, dan aku memberi luka besar. Sebuah kecelakaan yang membuat Abah dan Umi terluka. Lukanya lebih perih dari yang terlihat. Aku tak tahu bagaimana perasaan mereka, namun perlakuan mereka terhadapku berubah. Makin ketat dan makin keras dalam mendidikku. Kesalahan kecil bisa menjadi masalah besar.

Pertemanan dan pergaulanku harus diketahui oleh abah. Makin lama akhirnya aku mengikuti semua alur dan peraturan dari abah. Berharap suatu saat, orang tuaku bisa memberikan aku ruang gerak lebih banyak. Dan hal itu terjadi saat aku berhasil menjadi wisudawan terbaik S1. Abah berjanji akan mengabulkan satu permintaanku, dan permintaan itu adalah aku yang melanjutkan studi dan bekerja jauh dari rumah. Awalnya mereka menolak keinginanku, namun entah kenapa abah kemudian mengizinkan. Sejak saat itu, aku perlahan-lahan menjauh dari kedua orangtuaku. Aku memberikan banyak alasan untuk menghindar. Aku melarikan diri dari rasa sakit yang selama ini aku tahan.

“Insyaallah, aku pulang,” jawabku pada akhirnya, tak ada lagi alasan untuk lari dari masalah ini.

“Terimakasih…” terdengar suara umi yang bergetar. Sepertinya dia juga tak bisa menahan tangis.

“Umi, sudah makan? Jaga kesehatan ya,” ucapku mengalihkan topik.

“Sudah. Umi kangen masakanmu.” Hatiku makin sakit mendengarnya. Bagaimana kerinduan orangtua terhadap putrinya? Aku tidak tau, mungkin tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya.

“Enggeh, insyaallah nanti kita masak bareng seperti dulu.” Aku menyandarkan tubuhku pada kursi.

“Umi juga kangen nyimak hapalanmu, malam-malam sambil menahan kantuk,” ucapnya sambil sedikit tertawa.

“Masih rajin murajaah kan?” tanya umi. Aku diam. Aku malu. Hapalanku tidak seberapa, namun akhir-akhir ini aku jarang mengulang kembali. Bo*oh sekali, sepertinya dunia benar-benar mengalihkan diriku.

“Sesibuk apapun kamu, jangan pernah duakan Allah. Jangan pernah merasa cukup hanya dengan dunia yang bisa kamu dapat. Sudah malam, umi mau istirahat dulu ya. Kamu juga segera tidur, biar tahajud gak ngantuk,” timpal umi. Sudah lama tak mendengar nasihatnya. Apa dia sehangat ini dahulu? Telepon kami tutup dengan salam, juga harapan bahwa kedekatan kami dulu bisa kembali.

Sejenak aku terdiam. Berapa lama ibadah hanya yang wajib saja. Padahal dahulu, lelah dan kantuk bisa mengabaikannya. Ternyata lingkunganku dulu sangat baik, ya. Tak lama kemudian aku segera bersiap tidur.

Ulang tahun bagiku kini tidaklah semenyenangkan dulu, karena peringatan ini berdekatan dengan hari kematian kakak. Ada yang bilang, kematian secara mendadak akan mengakibatkan rasa kehilangan yang sangat besar. Benar sekali. Hari itu, Kak Nafis menjanjikan sebuah barang sebagai kado ulang tahun. Dia anak yang ceria, selalu optimis dan sedikit keras kepala. Kepergiannya menjadi duka yang dalam bagi kami yang mengenalnya.

“Baiklah, kali ini mari kita hadapi, jangan lari, jangan lari.” Bisikku pada diri sendiri.

Seminggu sebelum peringatan kematian kakak, aku segera mengajukan cuti, tiga hari cuti dan dua hari libur. Aku harap perjalanan ini baik-baik saja.


17

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 17

Jumlah Kata 420

Aku berjalan gontai menuju tempat dudukku. Sebuah kursi dan meja yang berada di pojok ruangan ini. Keresek putih dengan motif coklat yang berisi beberapa potong roti, aku taruh di atas meja, bersama tangan dan kepala yang terasa berat. Aku terdiam, menenggelamkan kepala dalam kepalan tangan. Mencoba untuk tetap tenang.

“Sudah datang? Wah tumben.” Sapa Bu Aini, asisten manajer yang biasanya datang sangat awal.

“Iya, bu. Kebetulan saja.” Aku biasanya datang sangat mepet dengan jam masuk. Alasannya sederhana, agar tidak banyak basa-basi membahas hal tidak penting. Aku juga bukan orang yang gampang bicara terlebih dahulu sebelum ada yang mengajak bicara.

“Sudah sarapan? Ibu bawa bekal, tadi buatin bekal anak-anak jadi sekalian saya bawa. Hahaha” Bu Aini membawa bekalnya dan duduk di sampingku. Aku hanya diam sambil tersenyum.

“Kamu kenapa terlihat pucat? Sakit? Ayo makan dulu.” Beliau adalah seorang karyawan senior yang berusia kurang lebih empat puluh tahunan. Terkenal perhatian dan ramah dengan semua karyawan.

“Tidak usah, bu. Saya tadi beli roti. Ini masih utuh belum dimakan.” Aku menunjukkan roti yang masih terbungkus rapi.

“Ya sudah, ayo makan dulu. Makan bareng. Pokoknya kamu harus makan, ya.” Apa aku terlihat begitu menyedihkan sampai orang lain mengkhawatirkanku?

Akhirnya aku ikut makan bekal bu Aini. Sudah aku coba untuk menolak, bahkan aku sudah membuka roti, tapi bu Aini tetap memaksa untuk menyuapkan nasinya.

“Kalau ada masalah, butuh pendengar yang bisa dipercaya, cerita sama saya, oke.” Sambil lalu pergi Bu Aini menepuk pelan bahuku.

“Terimakasih, bu.” Aku tersenyum mendapat perlakuan hangat.

Aku masih terhitung baru bekerja di kantor ini. Sebelumnya aku berada di perusahaan lain yang jauh dari kota ini. Orang-orang disini semuanya berperilaku baik kepadaku, hanya saja memang aku yang membatasi diri. Aku belum siap untuk membuka diri.

Waktu berlalu seperti biasa. Tak ada yang istimewa. Hingga waktu pulang telah tiba. Hari ini aku terburu-buru untuk pulang. Namun, aku terhenti. Di depan pintu keluar, ada seorang lelaki yang aku kenal. Melambaikan tangan dan tersenyum hangat. Aku hanya membalas dengan senyuman.

“Mau langsung pulang?” tanya Fatih.

“Iya. Memangnya mau kemana lagi?” Aku memang ingin langsung pulang saja.

“Yaaa… biasanya kan, mampir di tempat biasa.” Sambil memberikan kode dengan matanya, dia menunjuk ke arah danau tempat kita biasa bertemu.

Akhirnya aku mengikuti lelaki ini. Bo*oh sekali rasanya. Padahal aku sangat lelah, namun malah pergi. Tapi aku tidak terlalu menyesali hal ini.

“Hei, lihat anak-anak itu. Mereka berlarian tanpa takut terjatuh. Hahaha” Fatih menunjuk ke arah anak-anak yang sedang bermain di taman.

“Enaknya jadi anak kecil, jadi pengen kecil lagi.” Fatih bergumam sendiri. Aku sedikit tertawa melihat tingkahnya.


18

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 18

Jumlah Kata 429

Seminggu sebelum peringatan kematian kakak, aku segera mengajukan saja. Tiga hari cuti dan dua hari libur, aku pikir sudah cukup. Aku harap perjalanan ini baik-baik saja.

Selama perjalanan, aku lebih banyak melihat ke arah jendela, mengabaikan sekitar, dan pura-pura tak peduli dengan apapun. Kereta ini melaju kencang, melewati tengah kota dengan gedung tinggi hingga pematang sawah yang terhampar luas.

Sesekali aku mengecek hp, tidak ada notifikasi penting. Hanya chat dari grup kerja. Aku menghela napas dan mematikan kembali. Padahal aku berharap mendapat chat dari seseorang. Ah, tidak tidak. Sepertinya tidak mungkin dia akan menghubungi dengan segera, karena sebelumnya aku sudah bercerita bahwa aku akan pulang.

Punggungku mulai sakit, langit di luar juga mulai gelap. Sepertinya aku akan segera sampai. Aku memesan ojek online, karena tahu tidak akan ada yang menjemput.

Setelah perjalan lebih dari delapan jam, aku tiba di stasiun kota kelahiran. Udaranya malam ini lumayan dingin. Untung saja jaket yang kupakai tebal.

Ojek yang aku pesan sudah sampai, segera aku menaikinya. Butuh sekitar lima belas menit untuk sampai di rumah. Jantungku mulai berdegup tak karuan. Pikiranku kemana-mana. Ah, sudahlah, semua akan baik-baik saja.

Aku berhenti tepat di depan pintu pagar coklat yang tidak terlalu tinggi. Rumah yang aku tinggalkan dengan luka, kini berada tepat di depan mata. Aku mendorong pagar, dan melihat seorang perempuan berkerudung hijau baru keluar. Ia tersenyum, memperjelas kerutan di wajahnya.

“Assalamualaikum…” ucapku.

Umi memeluk dan menjawab salamku “waalaikumussalam..”

“Ayo masuk dulu,” ucap umi sambil membawakan tote bag yang sedari aku tenteng.

Abah terlihat sedang duduk di ruang tamu. Badannya lebih kurus dari yang kuingat sebelumnya. Aku mendekat dan memberi salam. Saat tangannya aku cium, tiba-tiba dia memeluk dengan erat. Dia menangis tak bersuara. Aku diam menahan tangis.

“Alhamdulillah, kamu sampai dengan selamat,” ucapnya sembari melepas pelukannya. Matanya terlihat sembab, seperti sudah menangis sebelumnya.

“Gimana kabar abah?” tanyaku.

“Seperti yang kamu lihat, sehat. Bahkan tambah sehat setelah melihatmu.” Dia tersenyum. Seperti bukan karakternya dia saja.

“Syukur kalau begitu. Maaf ya, jarang ngabarin, jarang pulang….”

“Sudah, sudah. Sekarang kamu mandi dulu, istirahat, terus makan. Besok kita bicara lagi,” ucap abah memotong kalimatku

Aku mengiyakan dan segera beranjak. Menuju kamar yang masih sama seperti dulu. Sejenak aku memandang sebuah pintu yang berhadapan dengan pintu kamarku. Aku membuka pintu kamarku, di dalam tidak banyak perubahan. Penataan interior masih seperti dulu.

Setelah mandi umi mengajak untuk makan. Awalnya aku menolak, tapi sudah memasak makanan banyak katanya. Di meja ada abah dan umi, sudah lama ya kita tidak makan bersama.

Kami makan tanpa mengatakan apapun, hanya obrolan kecil perihal makanan. Tapi aku yakin masing-masing dari kami, ingin mengatakan banyak hal.


19

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 19

Jumlah Kata 509

Kami makan tanpa mengatakan apapun, hanya obrolan kecil perihal makanan. Tapi aku yakin masing-masing dari kami, ingin mengatakan banyak hal.

“Setelah makan dan beres-beres, temui abah di ruang tengah,” ucap abah sambil lalu meninggalkan kami. Permintaan yang terdengar seperti perintah. Aku tau kami memang harus bicara.

Ruang tengah begitu kami menyebutnya, ruangan yang menjadi tempat berkumpul kami dulu. Penataan di dalamnya masih sama. Saat baru masuk, kota akan berjalan di lorong kecil kecil selebar satu setengah meter, kanan kirinya penuh dengan foto-foto keluarga. Lampu berwarna kuning memberi kesan hangat.

Selanjutnya ruangan yang lebih luas, terlihat cat putihnya sudah mulai usang. Di sebelah timur ada lemari setinggi lima meter berdiri kokoh berisi buku-buku berbagai ilmu pengetahuan umum. Di hadapannya ada lemari yang sama persis, berisi al Qur’an, kitab hadis, tafsir, dan berbagai keilmuan agama lainnya.

Jendela besar berada di antara keduanya. Jika dibuka, angin akan masuk bersemilir menerbangkan kelambu tipis yang menutupinya. Mataku makin jauh menelisik setiap sudut ruangan yang menyimpan banyak kenangan. Di tengah ruangan ada kursi baca dan meja yang biasa kami gunakan saat mengaji atau belajar bersama.

Di pojok dekat jendela, ada kursi kecil berwarna pink, kursi favoritku dulu. Aku akan marah jika ada yang menggunakan kursi itu tanpa izin. Ah, menyenangkan sekali.

“Sini, duduk,” ucap abah membuyarkan lamunan. Aku segera duduk, berhadapan langsung dengan abah.

Sebelum bicara, terdengar beliau menarik napasnya dalam.

“Bagiamana kabarmu hari ini, nduk?” Beliau berkata dengan pelan.

“Alhamdulillah. Kabar baik,” jawabku.

“Kapan terakhir kamu masuk kemari?” Aku berfikir sejenak. Kapan?. Aku bahkan tak ingat.

Abah tertawa kecil. “Saking lamanya sampai lupa, ya?”

“Ternyata tak banyak yang berubah di ruangan ini.” Aku menjawab sambil melihat sekitar.

“Terlihat sama, namun sebenarnya sudah banyak berubah.” Abah menjawab dengan sorot mata sedih.

“Abah, sakit apa? Kenapa gak ngabarin saya kalau sakit? Tanyaku mengalihkan.

“Memangnya kalau abah telpon kamu mau pulang?”

“Setidaknya kan dibarin dulu, gitu?” jawabku kemudian abah tersenyum.

“Kamu sendiri yang selalu menolak panggilan kami, umi kamu itu, berkali-kali hubungi kamu dari dulu. Tapi, sepertinya kamu yang menghindar.” Aku tak bisa berkomentar.

“Ya…. Bukan salah kamu. Anak itu, jadi apa gedenya, bisa dilihat dari didikan krang tuanya. Kamu jadi seperti ini, karena kami. Kamu benci kami, bukan sepenuhnya salahmu.” Aku sangat ingin mengatakan bahwa aku tidak membenci, tapi sangat terasa berat untuk mengucapkannya.

Pintu terdengar dibuka. Umi masuk membawa nampan berisi minuman dan cemilan. Kami menghentikan obrolan.

“Nduk, kami minta maaf ya,” ucap umi baru saja duduk. Mataku berkaca-kaca. Tidak tidak, seharusnya aku yang minta maaf.

“Kami sadar, mendidikmu terlalu keras. Berharap dirimu terlalu tinggi. Kami hanya peduli dengan keinginan orangtua hingga tak pernah mendengar keinginanmu.” Abah menambahkan.

“Tidak-tidak…. Seharusnya aku yang minta maaf. Mengecewakan kalian…” kataku terhenti saat umi memeluk erat. Padahal tak apa jika kalian membenciku, padahal tak apa jika kalian kini marah padaku, begitu seharusnya. Aku sudah mengecewakan kalian.

“Cukup bagi kami kehilangan Nafis, kami tak ingin kehilangan lagi.” Cukup, kalian tidak boleh minta maaf. Tanpa kalian tau aku telah mengecewakan kalian, telah gagal menjadi seorang perempuan. Ingin berteriak kencang, namun tak ada satupun kata yang keluar kecuali tangis yang makin deras.


20

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 20

Jumlah Kata 520

“Cukup bagi kami kehilangan Nafis, kami tak ingin kehilangan lagi.” Cukup, kalian tidak boleh minta maaf. Tanpa kalian tahu aku telah mengecewakan kalian, telah gagal menjadi seorang perempuan. Ingin berteriak kencang, namun tak ada satupun kata yang keluar kecuali tangis yang makin deras.

“Beri kami kesempatan sekali lagi…” Aku tak tau harus bagaimana. Aku tak bisa. Di belakang kalian aku sudah berbuat dosa.

“Mari kita mulai kembali, dari awal lagi,” tambah umi sembari mengelus punggungku.

Udara pagi itu terasa makin panas. Menguapkan penyesalan yang datang silih berganti. Memangnya aku bisa memulai dari awal? Sedang selama ini aku melarikan diri?

Aku tak bisa mengaku bahwa putri yang kalian peluk, yang sedari tadi kalian mengaku menyesal, meminta maaf, -telah berbuat dosa besar.

Dosaku tak ada apa-apanya dibanding kesalahan kalian terhadapku. Aku pembawa dosa besar yang beruntung aibnya ditutup rapat. Atau tepatnya masih beruntung belum terbuka?

Sebuah cerita klasik, tentang seorang putri yang tumbuh di tengah keluarga terhormat. Keluarga yang dari segala segi tercukupi bahkan lebih, begitu yang terlihat orang lain. Keluarga yang menjadi impian banyak orang.

Keluarga yang sempurna di mata orang, hingga terlihat tidak ada kekurangan apapun. Namun ternyata, ujian terbesar terletak pada anak-anaknya. Anak-anak yang telah dididik tiada kurang, didoakan tiada henti. Nyatanya membawa petaka besar bagi orangtua.

Putri pertama, entah kerasukan setan apa, entah terhasut oleh nafsu apa terpelosok ke jurang dosa. Permata yang selama ini diasah dengan baik, terjatuh kotor dan tergores dengan goresan yang tak mudah hilang. Rasa sedih, kecewa, marah juga khawatir orangtua, terhadap putrinya teramat besar. Sehingga putri-putrinya bersangka tak lagi disayang. Padahal, seburuk apapun anak, orang tua tidak semudah itu lupa.

Diantara marah dan khawatir, putri yang baru saja bertobat, hendak memperbaiki dirinya, malah menemui akhir hayatnya. Bagaimana tak remuk hati orangtua? Bagaimana tak hancur hidupnya? Perasaan menyesal tak bisa memberikan yang terbaik bagi sabg putri, akan terus menghantui entah sampai kapan.

Dampak sesal dirasakan oleh sang adik. Dia yang masih kecil harus menanggung beban berat, tentang kehilangan, harapan dan pupusnya kebebasan. Kehilangan saudara satu-satunya sudah cukup membuat jatuh pada jurang kesedihan. Belum lagi lebih ketatnya pendidikan dan peraturan dari orang tua. Awalnya berontak, namun makin lama ia hanya ikuti saja, mencari waktu yang tepat untuk meloloskan diri, untuk pergi mencari kebebasan sendiri.

Kebebasan yang ia idam-idamkan, terwujud. Berat bagi orangtuanya, namun dengan segenap kepercayaan, akhirnya dia dibebaskan. Meraih impian dengan jalan pilihan. Bisakah sang putri menjaga kepercayaan orangtua? Bisa, begitu pikir orangtuanya. Bahkan orangtuanya merasa amat bersalah, karena putri satu-satunya makin menjauh. Menyadari tentang masalalu membuat bersangka bahwa ini kesalahan orangtua. Benarkah begitu? Tidak juga. Sang putri awalnya memang menjauh karena benci, namun makin lama ia menjauh karena merasa bersalah.

Sang putri terbuai kebebasan. Sang putri terlalu senang menikmati kebebasan yang tak seberapa. Dia terjatuh, dia tergoda bersama setan-setan tak bertanggungjawab. Dia dimanfaatkan oleh seseorang. Ditiduri lalu ditinggal pergi. Satu kesalahan yang membuat hancur berkeping-keping. Sendiri, tanpa mampu bercerita kepada satupun manusia.

Sekarang dia sedang dipeluk oleh orangtua yang menangis meminta maaf. Hatinya makin hancur. Bagaimana caranya bilang bahwa dirinya tak lebih buruk dari sampah? Bagaimana bisa dia menghancurkan kehangatan yang telah lama ia rindu? Bagaimana bisa dia mengulang rasa sakit masa lalu?

21

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 21

Jumlah Kata 425

Sekarang dia sedang dipeluk oleh orangtua yang menangis meminta maaf. Hatinya makin hancur. Bagaimana caranya bilang bahwa dirinya tak lebih buruk dari sampah? Bagaimana bisa dia menghancurkan kehangatan yang telah lama ia rindu? Bagaimana bisa dia mengulang rasa sakit masa lalu?

Sejenak, lebih lama. Berharap bahwa kehangatan ini bisa lebih lama.

“Tapi, aku juga bersalah.....” Aku mengatakan kalimat yang dari tadi mengganggu.

“Di belakang kalian aku telah melakukan kesalahan....”

“Cukup,” potong umi cepat. “Kita mulai dari awal. Masa lalu biarkan saja. Lupakan, maafkan.” Matanya terlihat sembab. Aku tak tega harus mengatakan kebenaran. Baiklah, mungkin bukan sekarang. Mari lebih lama kita melupakan dan berpura-pura baik-baik saja.

“Mungkin agak terlambat, tapi pada waktu yang sedikit ini, mari kita bersama-sama menjadi lebih baik,” ucap abah dengan suara yang tenang.

Pernahkah dahulu kita sehangat ini? Pikiranku terbang jauh, menelisik waktu-waktu yang lalu.

“Nafis mau beli buku ini,” ucap gadis kecil dengan rambut panjang terurai. Tangan kecilnya menunjuk ke arah layar komputer.

“Iya, nanti kita ke toko buku,ya,” jawab laki-laki yang memangku sang gadis.

“Aku juga mau, belikan lima!” teriak sang adik yang baru tiba dan mendengar ucapan kakaknya.

“Gak boleh banyak-banyak tau!” protes sang kakak.

“Gak, pokoknya lima,” teriak sang adik sembari mengangkat lima jarinya.

“Adik loh gak pernah baca buku. Gak boleh beli.” Tutur sang kakak sembari memajukan bibirnya. Tingkah kedua putri membuat sang ayah tertawa.

“Adik mau beli buku juga. Sini, mau beli yang mana?” ucap ayahnya sambil membiarkan putri keduanya mendekat ke layar komputer.

“Besok kita ke toko buku.”

“Kenapa gak sekarang?” tanya sang kakak.

“Sekarang masih hujan. Tuh lihat.” Ayahnya menunjuk ke arah jendela besar di belakangnya.

“Wah, hujannya gede-gede,” ucap sang adik membuka tirai.

“Abah, Nafis pengen hujan-hujanan.” Kakaknya memelas ke sang ayah.

“Hujannya gede-gede, kamu masih kecil. Nanti sakit kalau ditabrak hujan.” Jelas ayahnya. Putrinya hanya diam, matanya berkaca-kaca.

“Sekarang, kita main di sini saja. Ayo mau dibacakan buku yang mana?” Seru sang ayah berusaha mengalihkan perhatian putrinya. Ternyata kedua putrinya sangat senang.

“Bacakan cerita Penyamun dan Unta!” Sang adik semangat menjawab pertanyaan ayahnya.

“Ya sudah mari duduk.” Dengan membawa buku yang dimaksud, mereka bertiga duduk di sofa tengah.

“Kakak!” teriak sang adik. “Itu kursiku. Pergi!” Sang adik marah tatkala melihat kakaknya duduk di kursi yang menjadi favoritnya.

“ihhh.. pelit” balas kakaknya sembari berpindah tempat. Sang ayah hanya tertawa melihat tingkah mereka.

“Assalamualaikum...” ucap ibunya dengan membawa camilan.

“wah, umi bawa apa?” tanya sang adik dengan mata berbinar.

“Punyaku!” Sang kakak mengambil terlebih dahulu camilan yang sudah disediakan di mangkuk kecil.

“Sudah sudah. Semuanya dapat kok.” Balas ibu melihat keduanya akan kembali bertengkar.


22

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 22

Jumlah Kata 403

Hari berlalu hingga selesai acara peringatan kematian kakak. Hubunganku dengan orang tua makin membaik. Walau masih ada rasa canggung namun semua bisa kami atasi.

Waktu kembali akhirnya tiba. Aku meninggalkan kota kelahiran menuju ke kota tempat kerja.

“Semoga berkah dan dilindungi Allah dimanapun kamu berada,” ucap Abah saat mencium tangannya.

“Kalau ada apa-apa, kabarin ya. Cerita sama kami. Kalau ada masalah atau kendala apapun, selama kami bisa akan dibantu.” Nasihat dari umi.

“Bahkan kalau mau cerita, siapa yang lagi deket sama kamu, tidak apa-apa,” bisik umi tiba-tiba.

“Ih, umi... Apaan si? Aku kan tidak dekat dengan siapa-siapa” balasku tersenyum.

“Beneran dekat dengan siapa juga tidak apa-apa loh. Itu yang biasanya kamu chat sambil senyum-senyum sendiri,” goda umi.

“Sudah ah. Assalamualaikum...” ucapku segera meninggalkan rumah.

Aku berangkat dengan perasaan berbunga-bunga. Tak bisa sedetik aku menyembunyikan perasaan bahagia ini. Perkataan umi sebelum berangkat, juga masih terngiang-ngiang.

Pagi ini aku berangkat kerja seperti biasa. Berjalan kaki menikmati udara pagi yang tidak lagi segar. Asap kendaraan mulai memenuhi jalanan. Kota yang sibuk hampir 24 jam.

Di depan pintu masuk, aku melihat seseorang yang tak asing.

“Assalamualaikum... pagi,” ucapnya sembari memberikan sebuah kantung yang lumayan berat.

“Waalaikumsalam... Apa ini?” tanyaku menerima kantung berwarna putih.

“Tolong diterima ya. Biarkan aku berbuat baik. Itu untuk kamu sarapan. Aku langsung pamit. Bye....” jawabnya sambil buru-buru. Mungkin dia takut aku kembalikan, sampai pergi setengah berlari.

Aku menimang-nimang bungkusan itu. Ada aroma sedap yang keluar saat aku buka. Ternyata sebungkus roti lapis, dan satu cup susu. Aku tertawa melihatnya. Mengingatkan pada bekal sekolah.

Tadi pagi aku memang bercerita, gara-gara bangun agak terlambat jadi tidak sempat buat sarapan. Ah, jadi tidak enak cerita seperti itu. Bahkan aku belum sempat terima kasih. Bodohnya. Aku tertawa kecil, mungkin wajahku sekarang sedikit memerah.

Hubunganku dengan Fatih memang bertambah baik tiap harinya. Kami lebih sering ngobrol walau sekadar dari media sosial. Dia bercerita bahwa tak bisa setiap hari bertemu, urusan pekerjaan katanya. Aku tak pernah mempermasalahkan hal ini. Bertemu atau tidak, selama mendapat kabar darinya sudah membuatku bahagia.

Aku masih sering mampir di taman dekat danau. Walau sendiri rasanya sangat nyaman. Seperti sore ini. Bunga-bunga yang kemarin bermekaran kini terlihat mulai berguguran. Seperti itu ya kehidupan? Seindah apapun tak ada yang abadi. Yang bermekaran akan gugur, namun dari yang gugur akan ada semi yang baru.

 Aku memang belum bisa memaafkan diriku sepenuhnya, namun akan aku coba perlahan-lahan. Tak bisa berbohong kalau tiap harinya aku masih sering menangisi kebodohanku.



23

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 23

Jumlah Kata 481

Hubunganku dengan Fatih memang bertambah baik tiap harinya. Kami lebih sering ngobrol walau sekadar dari media sosial. Dia bercerita bahwa tak bisa setiap hari bertemu, urusan pekerjaan katanya. Aku tak pernah mempermasalahkan hal ini. Bertemu atau tidak, selama mendapat kabar darinya sudah membuatku bahagia.

Aku masih sering mampir di taman dekat danau. Walau sendiri rasanya sangat nyaman. Seperti sore ini. Bunga-bunga yang kemarin bermekaran kini terlihat mulai berguguran. Seperti itu ya kehidupan? Seindah apa pun tak ada yang abadi. Yang bermekaran akan gugur, namun dari yang gugur akan ada semi yang baru.

 Aku memang belum bisa memaafkan diriku sepenuhnya, namun akan aku coba perlahan-lahan. Tak bisa berbohong kalau tiap harinya aku masih sering menangisi kebodohanku.

“Minggu besok kita akan sangat sibuk. Rapat evaluasi tahunan, dan beberapa deadline lain. Tetap semangat dan jaga kesehatan. Terima kasih.” Kalimat penutup dari kepala manajer membuat kepalaku makin pening. Dari kemarin kami sudah banyak lembur. Rasanya tubuh ini sangat lelah.

“Laporan dari divisi personalia apa sudah diselesaikan?” tanya Pak Salim yang merupakan kepala manajer.

“Masih ada beberapa data yang belum diselesaikan, pak,” jawabku sembari berdiri saat Pak Salim yang entah sejak kapan berdiri di depan mejaku.

“Tumben, biasanya kamu menyelesaikan lebih awal daripada divisi lain.” Aku hanya diam mendengar hal ini.

“Ya sudah, kerjakan dengan bahagia dan jaga kesehatan,” ucapan beliau sembari pergi meninggalkan mejaku.

Benar juga, biasanya aku bisa mengerjakan semua ini dalam waktu singkat. Tapi saat ini rasanya susah untuk sepenuhnya fokus. Entah apa yang menggangguku.

Aku pergi ke kantin terlebih dahulu, membeli segelas kopi dan camilan untuk mengganjal perut.

“Loh, kok belum pulang?” tanya Fatih saat melihatku makan sendirian.

“Iya, masih ada kerjaan.” Aku menjawab seperlunya.

“Boleh aku duduk di sini?” Aku menjawab dengan anggukan.

“Pasti sibuk ya? Sepertinya ada proyek yang lumayan besar.” Dia bertanya dengan mulut penuh kentang goreng.

“Iyap, barengan sama evaluasi tahunan. Lumayan keteteran.” Rasanya melelahkan. Mengerjakan banyak hal sekaligus rasanya sangat menguras tenaga.

“Jangan malam-malam kalau pulang....” Dia berucap dengan melihatku teliti.

“Hemm.. sepertinya kamu harus segera pulang. Lihat tuh mukanya kusut banget.” Dia mengeluarkan hp dan menunjuk bayangan wajahku di layar hpnya. Tawanya yang terdengar mengejek juga masih terdengar lama.

“Ih, apaan sih. Kamu sendiri kenapa belum pulang?” tanyaku mengalihkan topik.

“Nungguin kamu, lah,” jawabnya dengan nada tak peduli. Dia tertawa lagi.

“Ketawa mulu, seneng banget ya.” Ucapku heran melihat dia.

“Seneng banget bisa ketemu kamu.”

“Kesambet apa kamu? Asli dari tadi gombal mulu ya,” ucapku sambil melempar bungkus camilan.

“Makanya kamu itu, dari luar sana tuh...” Dia menunjuk ke arah luar. “kamu dipanggil gak denger. Kan ngeselin,” jelasnya.

Aku dari tadi memang terlalu tenggelam dalam lamunan, serius aku tak mendengar seseorang memanggilku.

“Serius? Ya maaf.” Tanpa sadar aku meminta maaf sambil tersenyum-senyum.

“Nah, gitu dong, senyum. Kan makin cantik.” Walau lirih kata-katanya masih terdengar.

“Aku mau kembali dulu, biar pulangnya gak malam-malam. Duluan ya.” Aku segera pergi, karena tak mau Fatih tau aku senyum-senyum karena malu.




24

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 24

Jumlah Kata 475

Hari-hariku berlalu dengan disibukkan oleh pekerjaan. Hampir semua wajah yang ku temui di kantor memiliki aura yang tidak baik. Bagaimana tidak, pekerjaan yang seharusnya jam empat sore sudah selesai, harus dibawa pulang atau lembur untuk mengejar deadline.

Hari ini adalah Jumat, selalu ada perasaan bahagia menjelang hari libur.

“Sabtu, joging yuk.” Sebuah pop-up pesan muncul. Dari dering pesannya sudah bisa ditebak siapa.

“Boleh, mumpung penat banget ini kepala,” balasku. Tidak ada balasan lain setelah dia mengirim stiker kucing yang menari-nari.

Aku tidak tahu apa maksud dan tujuan dari orang satu ini. Dia selalu baik, perhatian, bahkan tak jarang melakukan hal tak terduga.

“Hei, tumben senyum-senyum sendiri, pasti lagi chat sama mas ganteng dari gedung depan ya?” ucap Kak Ayun, partner kerja dari divisi pemasaran yang entah sejak kapan ada di belakangku.

“Eh, Mas ganteng? Siapa kak?” Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kagetku dan bertanya apa maksudnya.

“Gak usah ngelak, itu yang biasanya bareng sama kamu,” balasnya sambil berlalu pergi dengan tawa yang menggoda.

Wajahku panas, pasti sudah memerah. Duh, apa-apaan aku ini, serasa remaja yang digoda dengan pacar barunya.

Pagi hari yang dinantikan telah tiba. Matahari belum sepenuhnya muncul, tapi aku sudah siap untuk berangkat ke taman.

Seseorang dengan kaus putih melambai ke arahku. Aku balas lambaiannya. Tanpa banyak bercakap, kami berdua langsung berlari kecil.

“Kalau lari, jangan ngobrol ya, biar gak cepat capek,” Fatih memulai obrolan.

“Ih, siapa juga yang mau ngobrol,” balasku.

“Itu tuh, hahaha, kamu balas obrolanku,” timpalnya masih tertawa. Aku mempercepat lari, dan meninggalkan dia yang tertawa sendirian.

Setelah lima putaran, kami beristirahat di kursi panjang yang ada di tengah taman. Terdengar helaan napas panjang dari Fatih. Aku menoleh sedikit.

“Masak gitu aja udah capek,” ucapku melihat keringat yang membuat kausnya basah.

“Ngeledek nih ya, maklum aku udah tua Gampang capek.” Dia menjawab setelah meneguk air putih. Aku tertawa mendengarnya.

“Kelihatan banget gak pernah olahraga.” Padahal aku sendiri jarang olahraga, tapi masih mending karena hampir setiap hari berangkat kerja dengan jalan kaki.

“Ya sudah, kamu temenin aku olahraga aja tiap Sabtu,” ajaknya.

“Ogah, lari bareng kamu banyak ngobrolnya,” balasku.

“Sayang banget ada cewek cantik gak diajak ngobrol,” katanya setengah berbisik. Aku diam pura-pura tak mendengar.

Beberapa waktu kami saling diam, entah disibukkan oleh pikiran yang seperti apa.

“Besok acaranya ke mana?” Dia bertanya sambil mengubah posisi duduk menghadap ke arahku.

“Tidur,” jawabku singkat.

“Hiii... Masak tidur doang. Jalan kemana gitu. Self reward mumpung kerjaan di kantor banyak yang selesai,” ocehnya.

“Gini ya, tidur itu termasuk self reward bagiku, hemat energi, gak capek,” jelasku.

“Ayo jalan sama aku aja, gak bakal capek, entar kalau capek aku bawain kursi roda deh,” aku tertawa mendengarnya.

“Hei, masak gitu,” protesku.

“Loh, mau aku gendong juga belum halal,” balasnya yang membuatku ingin memukulnya. Aku hanya tertawa tak peduli.

“Gimana? Mau aku gendong? Tapi harus halal,” ucapnya menggoda. Aku tak tahu dia ini serius atau hanya bercanda.


25

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day  25

Jumlah Kata 460

Pagi hari yang dinantikan telah tiba. Matahari belum sepenuhnya muncul, tapi aku sudah siap untuk berangkat ke taman.

Seseorang dengan kaus putih melambai ke arahku. Aku balas lambaiannya. Tanpa banyak bercakap, kami berdua langsung berlari kecil.

“Kalau lari, jangan ngobrol ya, biar gak cepat capek,” Fatih memulai obrolan.

“Ih, siapa juga yang mau ngobrol,” balasku.

“Itu tuh, hahaha, kamu balas obrolanku,” timpalnya masih tertawa. Aku mempercepat lari, dan meninggalkan dia yang tertawa sendirian.

Setelah lima putaran, kami beristirahat di kursi panjang yang ada di tengah taman. Terdengar helaan napas panjang dari Fatih. Aku menoleh sedikit.

“Masak gitu aja udah capek,” ucapku melihat keringat yang membuat kausnya basah.

“Ngeledek nih ya, maklum aku udah tua Gampang capek.” Dia menjawab setelah meneguk air putih. Aku tertawa mendengarnya.

“Kelihatan banget gak pernah olahraga.” Padahal aku sendiri jarang olahraga, tapi masih mending karena hampir setiap hari berangkat kerja dengan jalan kaki.

“Ya sudah, kamu temenin aku olahraga aja tiap Sabtu,” ajaknya.

“Ogah, lari bareng kamu banyak ngobrolnya,” balasku.

“Sayang banget ada cewek cantik gak diajak ngobrol,” katanya setengah berbisik. Aku diam pura-pura tak mendengar.

Beberapa waktu kami saling diam, entah disibukkan oleh pikiran yang seperti apa.

“Besok acaranya ke mana?” Dia bertanya sambil mengubah posisi duduk menghadap ke arahku.

“Tidur,” jawabku singkat.

“Hiii... Masak tidur doang. Jalan kemana gitu. Self reward mumpung kerjaan di kantor banyak yang selesai,” ocehnya.

“Gini ya, tidur itu termasuk self reward bagiku, hemat energi, gak capek,” jelasku.

“Ayo jalan sama aku aja, gak bakal capek, entar kalau capek aku bawain kursi roda deh,” aku tertawa mendengarnya.

“Hei, masak gitu,” protesku.

“Loh, mau aku gendong juga belum halal,” balasnya yang membuatku ingin memukulnya. Aku hanya tertawa tak peduli.

“Gimana? Mau aku gendong? Tapi harus halal,” ucapnya menggoda. Aku tak tahu dia ini serius atau hanya bercanda.

“Lah, kok diam si, jawab dong,” tanyanya karena aku hanya diam.

“Apa sih,” jawabku.

“Gimana, mau gak?”

“Digendong ih gak mau, lah.” Aku menjawab

“Kalau dihalalin,” tanyanya menggoda.

Aku langsung berdiri, “bercanda mulu,” kemudian berjalan pergi.

“Hei, mau kemana? Aku serius,” ucapanya sambil tertawa.

“Mau pulang, udah siang.” Dari pada pulang, sebenarnya aku melarikan diri. Aku tak tahu apa maksudnya, aku bingung, rasanya gak mungkin kalau dia beneran serius.

Fatih itu pria populer yang diidam-idamkan oleh wanita yang mengenalnya. Wajahnya tampan, mapan, dari keluarga terhormat. Apakah aku tertarik kepadanya? Entahlah, aku ragu. Rasa senang saat bertemu dan berinteraksi dengan dia, entah senang sebagai apa. Bisa saja karena dia datang sebagai seorang yang mengisi kekosongan dalam diri, datang saat diriku hancur. Aku heran, kenapa dia begitu baik kepadaku. Bisa jadi karena dia memang kasihan.

Sebuah pesan masuk, “kamu gak marah kan?” Aku hanya melihat tanpa membalasnya.

Sebenarnya aku tidak marah, ah benarkah? Jangan-jangan aku memang marah karena dia selalu bercanda tentang sesuatu yang menurutku serius.


26

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 26

Jumlah Kata 403

“Gimana? Mau aku gendong? Tapi harus halal,” ucapnya menggoda. Aku tak tahu dia ini serius atau hanya bercanda.

“Lah, kok diam si, jawab dong,” tanyanya karena aku hanya diam.

“Apa sih,” jawabku.

“Gimana, mau gak?”

“Digendong ih gak mau, lah.” Aku menjawab

“Kalau dihalalin,” tanyanya menggoda.

Aku langsung berdiri, “bercanda mulu,” kemudian berjalan pergi.

“Hei, mau kemana? Aku serius,” ucapanya sambil tertawa.

“Mau pulang, udah siang.” Dari pada pulang, sebenarnya aku melarikan diri. Aku tak tahu apa maksudnya, aku bingung, rasanya gak mungkin kalau dia beneran serius.

Fatih itu pria populer yang diidam-idamkan oleh wanita yang mengenalnya. Wajahnya tampan, mapan, dari keluarga terhormat. Apakah aku tertarik kepadanya? Entahlah, aku ragu. Rasa senang saat bertemu dan berinteraksi dengan dia, entah senang sebagai apa. Bisa saja karena dia datang sebagai seorang yang mengisi kekosongan dalam diri, datang saat diriku hancur. Aku heran, kenapa dia begitu baik kepadaku. Bisa jadi karena dia memang kasihan.

Sebuah pesan masuk, “kamu gak marah kan?” Aku hanya melihat tanpa membalasnya.

Sebenarnya aku tidak marah, ah benarkah? Jangan-jangan aku memang marah karena dia selalu bercanda tentang sesuatu yang menurutku serius.

Sudah seminggu yang lalu aku terakhir bertemu Fatih, dia masih sering mengirim pesan, Beberapa kali dia juga menemuiku, namun aku menghindar.

“Hei, masih marah?” Sebuah pesan masuk Pada pukul sebelas malam, dan baru aku buka pada pagi harinya.

Tidak kok, tidak marah. Tapi aku benar-benar menghindar dari dia. Aku butuh sendiri. Aku butuh menata hati. Apa yang aku inginkan?

Alarm pukul tiga pagi berbunyi dengan kencang. Membangunkan lelapnya tidur. Tanpa menunda, aku segera bangun dan mengambil wudhu.

Diantara shalat aku beristikharah, memohon petunjuk Allah yang ilmu-Nya maha tahu segalanya. Memohon ketepatan hati pada perkara yang mengusik.

“Ya Allah sesungguhnya saya memohon kepada-Mu memilihkan mana yang baik menurut pengetahuan-Mu dan saya memohon kepada-Mu untuk memberi ketentuan dengan kekuasaan-Mu, dan saya memohon anugerah-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedangkan saya tidak berkuasa dan Engkau Maha Mengetahui sedangkan saya tidak mengetahui dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui akan yang gaib. Ya Allah apabila Engkau ketahui bahwa perkara ini baik bagiku, dalam agamaku, penghidupanku, dan baik akibatnya maka tetapkanlah perkara itu untukku dan mudahkanlah bagiku dan berikanlah keberkahan bagiku. Apabila Engkau ketahui bahwa perkara buruk bagiku dalam agamaku, untuk penghidupanku dan buruk akibatnya maka jauhkanlah perkara itu dariku dan jauhkanlah aku dari padanya dan tetapkanlah yang baik untukku di mana saja berada. Lalu jadikanlah saya rida denganmu. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu”.


27

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6

Aster

Day 27

Jumlah Kata 400

Apa sih,” jawabku.

“Gimana, mau gak?”

“Digendong ih gak mau, lah.” Aku menjawab

“Kalau dihalalin,” tanyanya menggoda.

Aku langsung berdiri, “bercanda mulu,” kemudian berjalan pergi.

“Hei, mau kemana? Aku serius,” ucapanya sambil tertawa.

“Mau pulang, udah siang.” Dari pada pulang, sebenarnya aku melarikan diri. Aku tak tahu apa maksudnya, aku bingung, rasanya gak mungkin kalau dia beneran serius.

Fatih itu pria populer yang diidam-idamkan oleh wanita yang mengenalnya. Wajahnya tampan, mapan, dari keluarga terhormat. Apakah aku tertarik kepadanya? Entahlah, aku ragu. Rasa senang saat bertemu dan berinteraksi dengan dia, entah senang sebagai apa. Bisa saja karena dia datang sebagai seorang yang mengisi kekosongan dalam diri, datang saat diriku hancur. Aku heran, kenapa dia begitu baik kepadaku. Bisa jadi karena dia memang kasihan.

Sebuah pesan masuk, “kamu gak marah kan?” Aku hanya melihat tanpa membalasnya.

Sebenarnya aku tidak marah, ah benarkah? Jangan-jangan aku memang marah karena dia selalu bercanda tentang sesuatu yang menurutku serius.

Sudah seminggu yang lalu aku terakhir bertemu Fatih, dia masih sering mengirim pesan, Beberapa kali dia juga menemuiku, namun aku menghindar.

“Hei, masih marah?” Sebuah pesan masuk Pada pukul sebelas malam, dan baru aku buka pada pagi harinya.

Tidak kok, tidak marah. Tapi aku benar-benar menghindar dari dia. Aku butuh sendiri. Aku butuh menata hati. Apa yang aku inginkan?

Alarm pukul tiga pagi berbunyi dengan kencang. Membangunkan lelapnya tidur. Tanpa menunda, aku segera bangun dan mengambil wudhu.

Di antara shalat aku beristikharah, memohon petunjuk Allah yang ilmu-Nya maha tahu segalanya. Memohon ketepatan hati pada perkara yang mengusik.

Tanganku menghadap langit, “Ya Allah sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu memilihkan mana yang baik menurut pengetahuan-Mu dan hamba memohon kepada-Mu untuk memberi ketentuan dengan kekuasaan-Mu, dan hamba memohon anugerah-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedangkan hamba tidak berkuasa dan Engkau Maha Mengetahui sedangkan hamba tidak mengetahui dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui akan yang gaib.”

Aku makin tenggelam dalam doa ini, “Ya Allah apabila Engkau ketahui bahwa bersama Fatih baik bagiku, dalam agamaku, penghidupanku, dan baik akibatnya maka tetapkanlah perkara ini untukku dan mudahkanlah bagiku dan berikanlah keberkahan bagiku. Apabila Engkau ketahui bahwa bersama Fatih buruk bagiku dalam agamaku, untuk penghidupanku dan buruk akibatnya maka jauhkanlah perkara itu dariku dan jauhkanlah aku dari padanya dan tetapkanlah yang baik untukku di mana saja berada. Lalu jadikanlah saya rida denganmu. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu”.

Dalam amin aku lambungkan harap. Agar semua dapat segera mendapat petunjuk. Bagaimana akhirnya? Aku berserah.


28

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6 Aster

Day 28

Jumlah Kata 409

“Hei, masih marah?” Sebuah pesan masuk Pada pukul sebelas malam, dan baru aku buka pada pagi harinya.

Tidak kok, tidak marah. Tapi aku benar-benar menghindar dari dia. Aku butuh sendiri. Aku butuh menata hati. Apa yang aku inginkan?

Alarm pukul tiga pagi berbunyi dengan kencang. Membangunkan lelapnya tidur. Tanpa menunda, aku segera bangun dan mengambil wudhu.

Di antara shalat aku beristikharah, memohon petunjuk Allah yang ilmu-Nya maha tahu segalanya. Memohon ketepatan hati pada perkara yang mengusik.

Tanganku menghadap langit, “Ya Allah sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu memilihkan mana yang baik menurut pengetahuan-Mu dan hamba memohon kepada-Mu untuk memberi ketentuan dengan kekuasaan-Mu, dan hamba memohon anugerah-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedangkan hamba tidak berkuasa dan Engkau Maha Mengetahui sedangkan hamba tidak mengetahui dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui akan yang gaib.”

Aku makin tenggelam dalam doa ini, “Ya Allah apabila Engkau ketahui bahwa bersama Fatih baik bagiku, dalam agamaku, penghidupanku, dan baik akibatnya maka tetapkanlah perkara ini untukku dan mudahkanlah bagiku dan berikanlah keberkahan bagiku. Apabila Engkau ketahui bahwa bersama Fatih buruk bagiku dalam agamaku, untuk penghidupanku dan buruk akibatnya maka jauhkanlah perkara itu dariku dan jauhkanlah aku dari padanya dan tetapkanlah yang baik untukku di mana saja berada. Lalu jadikanlah saya rida denganmu. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu”.

Dalam amin aku lambungkan harap. Agar semua dapat segera mendapat petunjuk. Bagaimana akhirnya? Aku berserah.

Hari berlalu begitu saja. Perasaan yang kemarin menggebu-gebu, kusut dan bingung, makin lama makin terasa ringan. Hatiku makin tenang.

Fatih masih baik seperti biasanya. Dia bersikap seperti tidak ada apa-apa. Perlakuan baiknya tiada berkurang bahkan saat aku tak memedulikan dia.

Ada sebuah kotak berwarna putih, sebuah kartu ucapan ada di sampingnya.

“Dimakan ya, jaga kesehatan, jika sakit nanti susah kalau mau ngilang” dengan emoticon sedih pada akhir kalimatnya. Aku tertawa, ada-ada saja.

Di pojok bawah, ada tulisan kecil, “aku buat sendiri, please bilang enak walaupun gak enak.”

Saat aku buka ternyata di dalamnya nasi goreng, dengan telur dadar, sosis dan beberapa sayur di atasnya.

Sebelum makan, aku foto dulu dan kirimkan ke Fatih, “terima kasih banyak, niat banget buat beginian.”

“Cepet dimakan, terus kasih tahu gimana rasanya,” balasnya beberapa menit kemudian.

“Enak banget,” balasku.

“Enak karena diancam apa serius?” tanyanya dengan emoticon sedih.

“Tambah enak karena dipaksa bilang enak,”

“Haha, enak banget pastinya. Itu percobaan keberapa kali.” Aku tertawa gara-gara pengakuannya.

“Serius?”

“Banget, itu sudah aku simpan loh resepnya, mau tiap hari makan nasi goreng?”

“Tiap hari?? Lambungku bisa-bisa bau nasi goreng,” candaku.


29

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6 Aster

Day 29

Jumlah Kata 489

“Tiap hari?? Lambungku bisa-bisa bau nasi goreng,” candaku.

“Haha, ya sudah. Aku buatkan menu lain, gimana?” balasnya kemudian.

“Enggak usah. Terima kasih. Takutnya kamu malah lebih jago masak dari pada aku,” balasku sambil senyum-senyum sendiri.

“Mau mampir gak? Di tempat biasa. Rasanya lama gak ke sana.” Aku paham maksudnya, dia ingin mengajakku ke taman.

“Mampir sendiri saja, aku mau langsung pulang. Hari ini bakal banyak kesibukan.” Bukan sekadar menghindar, aku benar-benar ingin segera pulang setelah kerja. Saat ini masih pagi, tapi deadline berbagai kerjaan sudah mepet dan harus segera diselesaikan.

“Sayang banget, aku gak jadi mampir deh,” balasannya dengan nada kecewa.

“Sambung nanti lagi, aku mau lanjut kerjaan,” ucapku mengakhiri percakapan. Sudah pukul delapan lewat lima ternyata. Segera aku menyimpan hp dan lanjut membuka laptop dengan lebih semangat dari sebelumnya.

Sejak siang, awan hitam bergelantungan di langit-langit kota. Menutup mentari yang seharusnya bersinar terang. Ah, ternyata sore ini turun juga, hujannya.

Aku mengurungkan niat untuk segera pulang. Langkah kaki ku arahkan ke kedai kopi terdekat. Untuk sekadar memesan kopi dan camilan hangat. Kursi dekat jendela aku pilih, bisa menikmati hujan adalah kenikmatan tersendiri.

Banyak orang yang berlarian menghindari hujan, lainnya memakai payung dan jas hujan. Kota ini hampir 24 jam sibuk, ya? Untuk mengejar waktu berlarian walau harus basah-basahan. Tapi, ada juga orang-orang yang tertawa di bawah basahnya hujan. Dua orang remaja yang sedang bercanda. Tawa bahagianya membuat siapa pun yang melihat ikut tersenyum.

Melihat mereka berdua membuat aku termenung, apa ya tujuan hidupku? Kenapa aku berjuang sekeras ini? Kenapa aku berjalan sejauh ini? Ke mana? Untuk apa? Uang yang tak seberapa? Kebahagiaan yang hanya sementara? Aku tersenyum kecut. Benar juga, selama ini hidupku kaku. Melihat ke arah yang terlalu jauh, sampai lupa kebahagiaan diri sendiri.

Segera aku habiskan kopi yang hampir dingin. Kemudian aku keluar, berjalan di bawah hujan yang tak kunjung reda. Tetesannya membuat aku mengingat hal-hal yang lalu.

Setiap rintik yang membasahi wajah terasa dingin tapi menyenangkan. Berapa lama aku menghindari hujan? Bukankah aku selalu menyanjungnya.

Selang beberapa saat, terdengar langkah kaki setengah lari dari belakang. Fatih menghampiri ku dengan tangannya yang menggenggam erat payung hitam.

“Kok hujan-hujanan? Nanti sakit loh?,” tanyanya yang terlihat panik.

“Aku memang sengaja kok,” jawabku sambil menjauh darinya. Payung ini tak terlalu besar. Jika kami berjalan berdua di bawah payung yang sama, akan membuat jarak kami makin dekat.

“Kamu lagi sedih?” Tiba-tiba dia menghentikan langkahku.

“Apa hubungannya?” Aku menjawab sambil tertawa, “aku cuma ingin hujan-hujanan,” lanjutku.

“Serius?” Aku hanya mengangguk. Dia sejenak berhenti, kemudian melipat payungnya.

“Loh, kok dilipat?”

“Nemenin kamu,” jawabnya singkat. Kemudian dia menyusul dan berjalan di sebelahku.

“Besok kalau sakit, gimana?” tanyaku.

“Gak bakal, aku sudah kebal,” balasnya percaya diri.

Kami akhirnya berjalan pulang bersama-sama. Berbagai obrolan mengisi kebersamaan kita. Banyak sekali cerita yang saling kami lempar. Padahal tak begitu lama kami tak jumpa, bukan?

Malam hari aku mendapat pesan dari Fatih, “badanku panas, kamu gak apa-apa kan?” aku spontan tertawa.

“Aku kan kebal. Gak bakal sakit,” balasku


30

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 45

Kelompok 6 Aster

Day 30

Jumlah kata 615

Kami akhirnya berjalan pulang bersama-sama. Berbagai obrolan mengisi kebersamaan kita. Banyak sekali cerita yang saling kami lempar. Padahal tak begitu lama kami tak jumpa, bukan?

Malam hari aku mendapat pesan dari Fatih, “badanku panas, kamu gak apa-apa kan?” aku spontan tertawa.

“Aku kan kebal. Gak bakal sakit,” balasku.

“Semoga cepet sembuh ya,” sambungku.

Tak balasan, mungkin dia sudah tidur. Sepertinya aku harus segera tidur juga, kalau tidak segera istirahat bisa sakit juga.

Matahari sudah tinggi, aku yang sudah berada di depan laptop merasa cemas. Berkali-kali aku melihat handphone, berharap satu dua pesan dari seseorang.

Apa dia masih sakit ya? Bagaimana kalau sakitnya makin parah.

Ah, dari tadi banyak sekali pikiran negatif tentang dia. Tidak, tidak... Semoga saja dia sehat. Mungkin nanti dia tiba-tiba nyamperin dan bakal tertawa-tawa kalau tau aku cemas.

“Mbak, pacarmu itu sakit ya?” tanya Dinda tiba-tiba. Dia adalah teman satu divisi Fatih dulu. Beberapa kali tahu kalau kami dekat.

“Tahu dari mana?” tanyaku.

“Jangan curiga mbak. Kebetulan adiknya Mas Fatih itu temen kuliah, ini di story WA lagi di rumah sakit, nganter kakak katanya” jawabnya sambil memperlihatkan layar handphone.

“Di rumah sakit? Rumah sakit mana? Din, tolong tanyain dong.” Kepanikan ini tak bisa aku sembunyikan lagi.

“Loh, mbak jangan panik. Aku kirim kontak adiknya ya.” Gimana gak panik, sejak semalam dia hilang dan sekarang ada di rumah sakit.

Setelah menghubungi adiknya, aku segera meminta izin untuk ke rumah sakit. Jangan-jangan dia sakit karena menemani hujan-hujanan kemarin. Aku jadi merasa bersalah.

Di ruangan yang aku tuju, ada seorang perempuan yang mungkin tiga tahun lebih muda dariku sedang duduk memainkan handphone.

“Permisi, apa ini Farah?” tanyaku.

“Ah, iya. Oh temannya Mas Fatih, ya?” Aku segera duduk di sampingnya.

“ Fatih sakit apa?” Tanyaku berusaha menutupi kepanikan.

“Tipesnya kambuh mbak,” jawabnya sambil setengah tertawa. Apanya yang lucu, kenapa kakaknya sakit dia malah tertawa.

“Maaf mbak, saya tertawa bukan karena apa, cuma Mas Fatih itu beberapa hari yang lalu sakit, eh kemarin malah hujan-hujanan. Saat aku tanya kenapa gak pakai payung padahal dibawa, eh dia malah tertawa sambil teriak kalau demi perempuan yang dicintai. Ya sudah malamnya badannya banget. Gak habis pikir dia sedang bucin ternyata....” dia menghentikan ucapannya dan sedikit melirik ke arahku.

Dengan tangan yang menutup mulutnya, dia sedikit kaget, “Jangan-jangan habis hujan-hujanan sama mbak ya?”

Aku sedikit salah tingkah mendengar pertanyaannya, “I-iya... Eh, dia habis sakit?” tanyaku mengalihkan perhatian.

“Beberapa hari yang lalu, karena sering begadang sampai sakit. Bentar mbak, mbak ini yang dikasih nasi goreng sama Mas Fatih?” Aku tidak segera menjawab pertanyaannya.

“Ah, maaf mbak, bukan bermaksud mencampuri urusan kalian berdua. Tapi, semenjak ibu kami meninggal, Mas Fatih hampir setiap hari selalu murung, padahal dulu dia orang yang sangat ceria. Boro-boro bucin, merawat dirinya saja seperti enggan. Melihat perubahan yang terjadi akhir-akhir ini, aku pikir ada seseorang yang mengubah dia. Aku... berterima kasih sama mbak.” Jujur saja, aku baru tahu hari ini Fatih memiliki adik, aku baru tahu ibunya telah meninggal, ah... Ternyata banyak sekali yang belum aku ketahui dari dirinya.

“Mbak kalau mau masuk, silakan. Tadi sih tidur, tapi gak apa-apa dibangunkan saja. Tidur mulu dari pagi.” Aku segera masuk ke kamar tempat Fatih dirawat. Pintu aku buka perlahan, jika memang dia tertidur aku keluar saja.

“Masyaallah...,” teriak pasien yang segera bangun dan duduk.

“Aku gak salah lihat, kan?” tanya Fatih dengan muka sok heran.

“Apaan sih,” jawabku dan segera duduk di kursi samping kasur.

“Kok kamu bisa tau aku disini? Wah wah wah... Kamu pasti khawatir banget kan...” tanyanya sedikit menggoda.

“Gimana gak khawatir, bilang sakit terus hilang,” jawabku. Dia tertawa terbahak-bahak.

“Maaf ya, setelah bales pesan kamu, saking gemeternya tanganku, hapeku jatuh dari tangga. Ya sudah, rusak deh,” jelasnya.

“Jangan hilang, aku panik tau kalau kamu tiba-tiba hilang,” ucapku. Aku tak tau harus berkata apa, mungkin ini adalah keinginan hatiku terdalam. Aku ingin terus bersama dia


Mungkin saja kamu suka

Sky_Sea_Arsy
Sirius
Yesi Susanti
Ayah, Cintai Aku
LilBee Quinque
Not My Dream List

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil