Loading
69

0

34

Genre : Inspirasi
Penulis : Izzah Avanti
Bab : 30
Dibuat : 19 Agustus 2022
Pembaca : 22
Nama : Izzah Avanti
Buku : 1

Titik Dewasa

Sinopsis

Setiap manusia berjalan mengarungi waktu dan masanya. Seiring berjalannya waktu dan masa, manusia akan mengalami fase-fase dalam hidupnya, berkembang dan tumbuh dari satu fase ke fase selanjutnya. Akan tiba saatnya, manusia sampai pada titik dari fase yang disebut dengan dewasa. Dalam fase tersebut, tidak sedikit manusia baru mulai menyadari bahwa idealita sering kali berjauhan dengan realita. Sehingga ekspektasi yang dulu pernah diharapkan menjadi pupus bahkan sirna. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya harus merasa kecewa dan putus asa. Di samping itu, semakin berumur, semakin pula manusia dituntut untuk bersikap lebih dewasa. Namun sayangnya banyak manusia yang belum memahami bagaimana sikap dewasa itu sendiri. Bertambah dewasa merupakan suatu fitrah bagi semua manusia yang hidup dan tinggal di hamparan bumi. Dewasa, Satu kata yang perlu diperjuangkan oleh setiap orang untuk mencapainya. Dewasa, sebuah fase yang di mulai sejak usia dua puluhan, di mana seseorang akan masuk di tahap waktu yang akan terus berjalan cepat menentukan bagaimana masa yang akan dihadapi di masa mendatang. Namun dewasa di sini bukan hanya semata fungsi usia tapi juga pengendalian diri dari segala yang menguasai. Dewasa, adalah ketika seseorang mampu memutuskan tindakan dan sikap yang baik di atas kemungkinan buruk seperti emosi dan hasutan. Buku ini mengajak pembacanya untuk memahami dewasa dan makna kedewasaan juga mengajarkan bagaimana cara berproses dalam fase tersebut dengan baik khususnya pada fase awal dewasa. Buku ini berisi tentang titik-titik keputusan dan tindakan yang menjadikan fase dewasa lebih indah, bahagia dan bermakna. Ingatlah selalu bahwa dewasamu butuh kau rancang, latih dan persiapkan!
Tags :
#dewasa #motivasi #inspirasi #nasehat #QLC #kedewasaan #tumbuh #berkembang

Titik Eka: Makna dan Hakikat Dewasa

4 6


Titik Eka

Hakikat Dan Makna Dewasa

“Dewasa adalah proses, pemikiran, tindakan, dan pengendalian”

Setiap manusia yang bertumbuh dan berkembang akan berjalan mengarungi waktu dan masanya. Mereka akan melewati proses demi proses kehidupan yang memiliki karakteristik dan tantangannya masing-masing sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya saat itu. Seorang bayi hidup di bagian proses kehidupan yang mengharuskan dirinya membuka matanya dan mengenal hal-hal tersurat yang ada pada dunia, kemudian memaksanya untuk bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya tak mampu dilakukannya menjadi hal yang bisa ia lakukan. Contoh sederhananya, bayi belajar untuk memiringkan badannya, duduk, dan banyak gerakan lainnya hingga ia mampu berada pada proses kehidupan dalam fase selanjutnya. Fase-fase tersebut adalah fase balita, anak-anak, remaja hingga pada akhirnya menuju dewasa.

 Manusia tidak akan pernah bisa mengulang setiap detik, menit, jam, dan seluruh yang menjadi bagian waktu dan masa yang telah dilaluinya. Karena waktu yang berlalu sudah menjadi bagian dalam hidup yang berganti status dan disebut sebagai masa lalu. Mereka tak akan berjalan mundur dalam dimensi yang dianugrahkan kepadanya, akan tetapi mereka akan terus bergerak maju ke depan. Seiring dengan berjalannya waktu dan masa, manusia akan terus mengalami fase-fase dalam hidupnya, bertumbuh dan berkembang dari satu fase ke fase selanjutnya. Bertumbuh dan berkembang terus akan dirasakannya sehingga ia akan selalu mendapatkan hal-hal baru yang akan terus menyempurnakannya.

Akan tiba saatnya, setiap manusia akan sampai pada titik dari fase yang disebut dengan dewasa yang merupakan fase terakhir dalam hidupnya yang menuntut pada kesempurnan dan keutuhan dari kehidupan, pertumbuhan, dan perkembangan yang sudah ia jalani dan rasakan dari mulai terciptanya dirinya hingga saat ini. Dewasa, kata dan fase yang tak lagi asing didengar, diperbincangkan bahkan diperjuangkan oleh banyak orang khususnya pada seseorang yang tengah memasuki usia dua-puluhan hingga empat sampai lima puluhan. Mereka sudah akan mulai berada pada puncak dalam hidupnya. Banyak orang mempunyai makna, definisi dan pandangan yang berbeda-beda dalam memahami makna dewasa. Maka memahami makna dan hakikat dewasa sangatlah penting bagi setiap yang akan dan tengah menghadapi proses tersebut. Di buku sederhana ini, kita akan mencoba mengulas dan mengupas tentang makna dan hakikat dari sebuah kata “dewasa”.

Dewasa memiliki beberapa makna secara bahasa yang tertulis di berbagai kamus-kamus kebahasaan dunia. Dalam kamus besar bahasa Bahasa Indonesia disebukan bahwa makna dewasa  berarti sampai umur, akil balig (bukan kanak-kanak atau remaja lagi), telah mencapai kematangan kelamin, dan matang dalam pikiran dan pandangan. Dalam Al-Maany disebutkan bahwa arti dewasa adalah “Sinnu al-bulugh wa at-ta’aqul, as-sinnu idza balaghoha al-mar’u istaqalla bi tashorrufaatihi” (sebuah pencapaian kedewasaan dan akal dan merupakan usia yang jika seseorang mencapainya, ia sudah dapat memutuskan tindakannya). Sedang dalam Oxford, dewasa diartikan sebagai “behaving in a sensible way, like an adult” (berperilaku dengan cara yang masuk akal, seperti orang dewasa), “fully grown and developed” (sepenuhnya tumbuh dan berkembang, dan lain sebagainya.

Dalam salah satu ensiklopedia online “wikipedia” menyebutkan bahwa “dewasa” melambangkan segala organisme yang telah matang yang lazimnya merujuk pada manusia yang bukan lagi anak-anak dan telah menjadi pria atau wanita. Hal ini menunjukkan bahwa makna dewasa tidak hanya dipandang dari salah satu aspek saja, tidak hanya dari fisiknya semata, ataupun non-fisiknya semata. Tapi merupakan gabungan dan kolaborasi dari kematangan dan keutuhan fisik dan non fisiknya. Berbagai aspek kedewasaan ini sering tidak konsisten dan kontradiktif. Seseorang bisa saja dewasa secara biologis, dan memiliki karakteristik perilaku dewasa, tetapi tetap diperlakukan sebagai anak kecil jika berada di bawah umur dewasa secara hukum. Sebaliknya, seseorang dapat secara legal dianggap dewasa, tetapi tidak memiliki kematangan dan tanggung jawab yang mencerminkan karakter dewasa.

 Dalam ensiklopedia tersebut juga disebutkan bahwa istilah dewasa dapat didefinisikan dari aspek biologi yaitu sudah akil baligh, hukum sudah berusia 16 tahun ke atas atau sudah menikah, menurut Undang-undang perkawinan yaitu 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita dan karakter pribadi yaitu kematangan dan tanggung jawab. Sedang dalam bidang ilmu psikologi, dewasa adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia dua-puluhan tahun dan yang berakhir pada usia tiga-puluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karier, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.

Sedang dalam Islam sendiri “Dewasa” lebih cenderung diartikan sebagai “akil baligh”. “Akil” yang berakal, atau yang sehat akalnya, tidak gila, dapat berpikir. Sedangkan kata “Balig” berarti sampai, yaitu sampai dalam memasuki usia dewasa. Balig dalam fiqih Islam adalah batasan seseorang mulai  dibebani  kewajiban-kewajiban hukum syar’i, seperti ibadah-ibadah tertentu. Datangnya masa akil balig ditandai secara khusus oleh datangnya menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki, dan secara umum bisa dilihat dari kemampuan seseorang membedakan antara yang benar dan salah.

Di samping pemaknaan tersebut, telah banyak para tokoh ataupun non-tokoh yang mendeskripsikan makna dewasa sesuai dengan yang dipahami, difikirkan, dan dirasakannya. Diantara pendeskripsian dewasa adalah sebagai berikut:

“Seseorang disebut dewasa ketika ia memutuskan tindakan dan sikap yang baik diatas kemungkinan-kemungkinan buruk karena emosi, kemarahan, ketergesaan, hasutan atau ajakan yang tidak baik. Kedewasaan bukanlah fungsi usia tapi fungsi pengendalian. Seseorang yang dewasa dapat mengendalikan dirinya dan mengontrol dirinya.” -Mario Teguh-

“Orang dewasa adalah seseorang yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukannya di masyarakat bersama orang dewasa lainnya.” -Hurlock-

“Dewasa itu bukan berapa umurnya, tetapi seberapa bisa ia mengontrol, mengendalikan, dan bertanggungjawab atas dirinya dan orang lain.” -Unknown-

“Sikap dewasa atau kekanak-kanankan seseorang akan terlihat ketika dia sedang menghadapi masalahnya. Bukan pada usianya.” -Unknown-

Setelah mengetahui banyak makna dan deskripsi dari kata dewasa juga tengah berproses di dalamnya. Menurutmu, apa makna dewasa?


user

22 August 2022 07:58 Ismi Nuri maasya Allah, dapat ilmu baru neh... ????

user

22 August 2022 07:58 Ismi Nuri semangat, kak Izzah ????????

user

22 August 2022 09:18 Annan Fase Jadi manusia sebenarnya tidak pernah mundur ya kak? Mereka maju bersama sang waktu, entah sadar atau terpaksa. Ehm.... Sudah lama tidak baca buku, kangen buku yang membahas tema seperti ini.

user

22 August 2022 09:19 Annan Fase Di tunggu lanjutannya kak????

user

23 August 2022 13:17 Izzah Avanti Semangat selalu, Terima kasih kak Ismi Nuri

user

23 August 2022 13:20 Izzah Avanti Iya kak Annan, manusia maju terus bersama waktu yang juga melaju

Titik Dwi: Memahami Kedewasaan, Menjadi Pribadi Yang Dewasa

4 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Jumlah Kata 878

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Dwi

Memahami Kedewasaan, Menjadi Pribadi Yang Dewasa

“Seorang pribadi yang dewasa akan selalu tepat dalam segala hal, ia dapat berfikir dengan logis dan sistematis, ia dapat menyikapi segala sesuatu yang terjadi padanya, ia akan terlihat sangat bijaksana karena selalu memetik hikmah juga karena ia benar-benar menjadi penguasa mutlak atas diri, ego, dan emosinya”

Kata memahami adalah kata yang mengajak kita pada suatu hal yang dalam yang bersifat filosofis yang membutuhkan kedalaman pemikiran untuk mengetahui, mengamati, meneliti sampai dapat menemukan hasil dan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaan-pertanyaan yang ada pada dirinya. Berfilsafat sendiri merupakan suatu jalan untuk mengungkapkan kebenaran tentang fase-fase kehidupan yang telah, sedang dan akan dijalani oleh seseorang agar ia lebih menyadari bagaimana sesuatu itu mempengaruhi dirinya dan lebih mengetahui sesuatu dengan kebenaran dan hakikatnya. Maka memahami kedewasaan menjadi salah satu hal yang sangat perlu kita kupas dari berbagai sudut, agar seseorang bisa menemukan jawaban maupun kebenaran tentangnya.

Setiap manusia dituntut untuk menjadi manusia yang utuh dan sempurna meskipun kesempurnaan yang hakiki hanya dimiliki sang pencipta bukan pada dirinya. Salah satu usaha untuk menjadikannya sebagai mahluk yang sempurna adalah dengan menjadi sosok dan pribadi yang dewasa dengan memahami apa, siapa, mengapa, bagaimana, dimana dan kapan tentang kedewasaan. Dengan mengetahui satu-satu dari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membuat diri kita mengerti, dan akhirnya paham kemudian bisa memutuskan apa saja yang seharusnya dilakukan, dilaksanakan, diusahakan, dan diperjuangkan.

Pertanyaan pertama dibuka dengan kata “apa” yang menanyakan apa itu kedewasaan. Kedewasaan secara harfiah diartikan sebagai hal atau keadaan telah dewasa, akan tetapi kedewasaan yang dimaksudkan disini adalah kematangan dan kemampuan dalam berpikir, bersikap, bertindak dalam mengambil suatu keputusan dengan tepat dan bijaksana. Kemudian pertanyaan definisi tersebut disusul dengan pertanyaan apa yang menjadi ciri dan tanda dari kedewasaan seseorang. Diantara yang menjadi tanda-tanda atau ciri kedewasaan menurut Gordon Allport dalam pembahasan teorinya dibidang psikologi adalah memiliki konsep diri atau sense of self yang semakin kuat, dapat menjalin hubungan dengan orang lain dengan baik sehat, mempunyai emosi yang matang sehingga kestabilan emosinya tidak bergantung pada keadaan atau aksi dan reaksi orang lain sepenuhnya, menerima dirinya seutuhnya dan apa yang menjadi kelebihan juga kekurangannya secara sehat dan seimbang, memiliki pendapat, persepsi, dan tindakan sesuai dengan kenyataan di luar dirinya, menjalani hidup sesuai dengan hukum kehidupan yang berlaku sehingga harmonis hidupnya. Selain hal-hal tersebut atau apa yang disampaikan oleh Goldon Allport masih terdapat tanda ataupun ciri lainnya, namun pada umumnya sama dengan apa yang telah dikemukakannya.

Pertanyaan kedua dilanjutkan dengan kata “siapa” dengan pertanyaan siapakah yang harus menempuh dan meraih kedewasaan tersebut atau lebih sederhananya adalah pertanyaan siapakah yang harus mendewasakan diri. Yang harus mendewasakan diri adalah seluruh manusia harus mendewasakan diri, tanpa terkecuali dan tanpa pengkhususan pada ras, golongan atau partai tertentu. Kemudian disusul dengan siapa yang berperan dan berpengaruh dalam proses pendewasaan tersebut? Mereka adalah sekelompok manusia yang berada disekitarnya atau yang membersamainya karena setiap manusia akan saling memberikan pengaruh entah positif maupun negatif. Perkembangan dari proses kedewasaan sangat ditentukan oleh banyak hal, dan keberadaan manusia yang membersamainya sangat menentukan bagaimana proses kedewasaan itu dijalaninya. Dan yang terakhir adalah pertanyaan siapakah sosok dan pribadi yang dewasa itu? Mereka adalah seseorang yang memenuhi kriteria, ciri dan tanda kedewasaan seperti yang telah disebutkan diatas.

“Mengapa” menjadi kelanjutan dari pertanyaan yang sebelumnya. Pertanyaan mengapa adalah adalah pertanyaan paling filosofis yang setara atau dibawah kata apa. Karenanya akan membuka banyak tabir yang belum terbuka dan memberikan jawaban dan alasan yang sangat kuat akan suatu hal. Maka mengapa harus memahami kedewasaan? Mengapa harus dewasa dan mendewasakan diri? Mengapa harus menjadi pribadi yang dewasa? Mendewasakan diri semuda dan sedini mungkin? Karena seseorang harus menyempurnakan dirinya untuk menjadi sosok yang berproses menjadi lebih baik juga agar seseorang siap dan mampu untuk menjalankan kehidupannya dengan sebaik-baiknya, karena semakin lama seseorang hidup atau semakin matang usianya, ia akan memiliki tanggungjawab yang semakin komplek disertai tantangan-tantangan hidup yang lebih nyata.

Untuk menjadi sosok atau pribadi yang dewasa kita membutuhkan cara untuk menggapainya. Karena kedewasaan sendiri adalah proses perjalanan yang tidak membutuhkan waktu yang singkat dalam pencapaiannya, dimana dalam proses tersebut terdapat tingkatan-tingkatan yang harus diraihnya, terdapat halang dan juga rintang yang harus siap ia hadapi, terdapat ujian-ujian yang harus ditemui, dan juga terdapat hal-hal lainnya yang harus dilalui, diatasi dan diselesaikan. Maka pertanyaan “bagaimana” yang akan mencari jawaban darinya. Bagaimanakah cara mendewasakan diri? Hanya ada dua cara untuk mendewasakan diri, yaitu dengan cara belajar dan berlatih. Namun keduanya memiliki cabang yang tak terhingga. Diantaranya adalah belajar dan berlatih untuk berfikir dan bertindak, belajar dan berlatih untuk mengendalikan diri dan emosi, belajar dan berlatih untuk bertanggungjawab serta masih banyak hal lainnya yang merupakan proses belajar dan berlatih untuk mendewasakan diri.

Dan yang terakhir pertanyaan “dimana” dan “kapan” menjadi pertanyaan pelengkap diantara pertanyaan yang lain. Dimana seseorang dapat mendewasakan dirinya? Di lingkungan yang baik atau di tanah dimana ia berpijak. Karena sejatinya semua tempat dapat dijadikan tempat pembelajaran dan pelatihan diri menuju kedewasaan. Dan pertanyaan kapan seseorang harus mendewasakan diri memiliki jawaban yang sangat pasti yaitu sesegera dan semuda mungkin dimulai dari saat ini. Masih terdapat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban dari ke-enam cabang pertanyaan apa, siapa, mengapa, bagaimana, dimana, dan kapan. Namun setidaknya yang sedikit dari yang telah disampaikan menjadi pandangan dasar untuk memahami kedewasaan sehingga seseorang dapat menjadi sosok dan pribadi yang dewasa. Mari memahami kedewasaan lalu berproses menuju kedewasaan tersebut!


user

23 August 2022 13:18 Izzah Avanti Yuk belajar dewasa bersama yuk...

Titik Tri: Berkenalan Dengan Diri Sendiri

4 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 3

Jumlah Kata 1048

Sarkat Jadi Buku

Titik Tri

Berkenalan Dengan Diri

“Mengenal diri adalah sebaik-baik cara memperlakukan diri dengan baik, peduli terhadapnya, menyayanginya bahkan mencintainya”

Ada sebuah pepatah terkenal yang sudah banyak didengar orang yaitu tak kenal, maka tak sayang. Pepatah ini tidak hanya berlaku untuk mengenal orang lain, namun juga berlaku pada diri sendiri. Ketika seseorang tidak bisa mengenal dirinya dengan baik, maka dia tak akan pernah bisa menyayangi dirinya. Seseorang yang tidak mengenal dirinya dengan baik baik maka dia tidak akan mengacuhkan dirinya dengan baik, dia tidak akan bisa mengerti apa yang menjadi kebutuhan dirinya saat ini, dia tidak akan memahami apa yang seharusnya dia lakukan untuk dirinya kini dan nanti.

Betapa banyak kita temukan seseorang lebih mengenal diri orang lain, namun tidak mengenal dirinya, sehingga ia fokus pada apa yang menjadi keinginan orang lain, harapan orang lain, kesenangan dan kesedihan orang lain, bahkan kebahagiaan orang lain. Dan yang seperti inilah yang akan membuat seseorang hidup dibayangan orang lain dan tidak hidup dengan dirinya sendiri. Dia memperjuangkan hidupnya untuk orang-orang di sekitarnya tapi dia lupa untuk memperjuangkan kehidupannya yang juga butuh untuk diperjuangkan. Hal ini juga merupakan tindakan paling bodoh karena sejatinya kita tidak akan bisa membahagiakan atau membuat senang semua orang. Yang ada energi kita justru akan terkuras sia-sia.

Betapa banyak orang sakit bukan dikarenakan virus ataupun hal ilmiah lainnya yang menjadikan seseorang harus mengalami sakit, namun hal itu karena ia tidak mengenali, memahami bahkan menyayangi dirinya. Ia mengabaikan dirinya juga apa yang menjadi sinyal-sinyal yang dikirim oleh tubuhnya demi mementingkan ego, kebahagiaan dan keinginan sesaat yang membutakan. Banyak orang yang drop dan melemah, setelah ia mengabaikan sinyal-sinyal yang telah banyak berkata padanya. Ada juga yang menderita maagh ataupun typus juga karena penyebab yang sama. Tubuhnya telah mengatakan “Aku sudah lelah, aku butuh rehat sejenak, aku butuh tidur sejenak” namun ia mengabaikannya dengan jawaban “Nanggung mumpung sudah sampai sore kerjanya, mumpung lagi asik film atau novelnya, mumpung sudah sampai level terakhir gamenya” “Gak papalah begadang sekali-kali biar bisa main bersama teman-teman” “Lembur ajalah biar dapat uang lebih banyak” “Nanti ajalah makannya” “Gak usah makan gak-papa kayaknya, toh aku kuat-kuat saja selama ini” dan lain sebagainya. Karena terlalu sering

Betapa banyak orang lain menyesal hanya karena rasa tidak enakan. Telah banyak kita temukan hal-hal yang seperti ini. Ketika seseorang meminta atau mengajak seseorang lainnya melakukan hal yang dia ragu atau bahkan tidak mampu, namun seseorang tersebut tidak mampu untuk menolaknya. Dan hasilnya justru membuat orang tersebut dengan terpaksa melakukannya dan menyesali pilihan dan keputusannya. Bukankah hal tersebut menjadi justru akan merusak dan mendzolimi dirinya dengan memaksakan diri untuk melakukan apa yang tidak mampu ia lakukan hanya karena rasa tidak enak atau dalam bahasa Jawa disebut sebagai “rasa sungkan”

Bertanyalah kepada dirimu, siapakah dirimu dimasa lalu, siapakah dirimu dimasa kini, dan siapakah dirimu di masa depan? Tidak perlu malu untuk mengungkapkannya kepada dirimu sendiri. Tidak perlu berfikiran negatif yang justru akan merendahkanmu, seperti “Aku kan di masa lalu hanya anak seorang buruh, yang untuk makan dan sekolah saja tidak mampu, pantaslah kalau sekarang jadi nggak pintar-pintar amat, gak tahu deh nanti mau jadi apa”. Pemikiran seperti inilah yang justru akan menghancurkan seseorang dengan cepat. Ingatlah bahwa manusia mungkin bisa menjadi lebih kuat atau sedikit lebih lemah ketika banyak cacian, gunjingan bahkan hinaan yang ia dapatkan dari luar dirinya atau orang lain. Dan dia pasti masih bisa bertahan, namun berbeda ketika cacian, gunjingan bahkan hinaan datang dari dalam dirinya sendiri, maka lambat laun dia akan hancur dengan dirinya sendiri. Kita perlu melihat dan mengenal diri kita di masa lalu sebagai pembelajaran dan agar tidak lupa dari mana kita berasal. Kita perlu melihat dan mengenal diri kita di masa kini sebagai semangat perjuangan yang kita usahakan. Dan kita melihat dan mengenal diri kita di masa depan sebagai acuan dan tujuan yang akan kita gapai dan cita-citakan.

Bertanyalah kepada dirimu, tentang apa yang menjadi kelebihan dan kekuranganmu? Karena nyatanya tidak semua orang menyadari dan mengetahui apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya. Bisa jadi kamu tak mengetahui apa yang menjadi kelebihan dan kekuranganmu secara mendalam atau bahkan tak mengenalinya sama sekali. Sehingga tak tahu apa yang menjadi potensi diri yang menjadi senjata ataupun kekuatan untuk merealisasikan mimpi-mimpimu juga menjalankan kehidupanmu, ataupun apa yang menjadi kelemahanmu saat ini yang perlu kamu atasi, kamu pahami, kamu selesaikan, dan kamu tingkatkan, agar tidak menjadi penghalang dalam perjalanan hidupmu. Kekuatan ataupu kelebihanmu adalah modal, sedang kekurangan ataupun kelemahanmu adalah adalah tantangan untuk dirimu yang perlu kamu hadapi dan tahlukan.

Bertanyalah kepada dirimu, tentang apa yang menjadi kebutuhanmu juga keinginanmu? Ingatlah bahwa apa yang menjadi kebutuhanmu merupakan suatu yang primer yang harus segera dipenuhi, karena dengannya kamu telah memberikan apa yang seharusnya diterima oleh dirimu. Ketika apa yang menjadi kebutuhanmu teracuhkan, maka akan selalu ada saja efek buruk dari pada diri baik secara fisik maupun secara psikis. Setelah berhasil memenuhi kebutuhanmu bertanyalah apa yang menjadi keinginanmu, sehingga setelahnya engkau dapat berjuang dalam pencapaiannya dan akhirnya merasa puas atasnya. Dengan memenuhinya, kamu akan bisa hidup dengan bahagia.

Katakan dan jawablah dengan sejujur-jujurnya tiga pertanyaan sederhana diatas, tanpa ada sesuatu yang perlu untuk kamu tutup-tutupi. Setelah kamu melakukannya, maka pahami dan kenali dirimu. Maka akan banyak hal yang akhirnya kamu sadari, kamu mengerti, dan kamu pahami. Sehingga setelahnya kamu akan menyayangi dan mencintai dirimu. Namun sayangnya, masih banyak orang yang tidak mau jujur dengan dirinya, bahkan seringkali membohong-bohongi dirinya sendiri, seakan ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya sangatlah bahagia, padahal justru pada kenyataannya malah sebaliknya dirinya sedang dirundung oleh duka dan nestapa.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan sebagai usaha untuk mengenal diri sendiri yang salah satunya disampaikan oleh Andy Kurniawan dalam bukunya 15 Menit mengenal diri sendiri, diantaranya: Mengetahui dan memahami kelebihan dan kekurangan, mengamati bidang yang dikuasai dan tidak dikuasai, bersikap jujur pada diri sendiri, mendengarkan suara hati, memusatkan perhatian saat menjalani keseharian, belajar mendeskripsikan penampilan diri sendiri, menyadari dan memahami peran dalam kehidupan, meminta orang lain dalam memberikan feedback, menentukan visi dan misi hidup, mengikuti tes kepribadian atau berkonsultasi, dan lain sebagainya.

Mari mengenali diri sendiri, walau mengenal diri bukanlah suatu perkara yang mudah jika dibandingkan dengan mengenal atau memahami orang lain dan kepribadiannya. Namun ketika seseorang sudah dapat mengenali dirinya sendiri, ia akan dapat menerima dirinya sehingga ia akan semakin bersyukur, ia juga akan mencintai dirinya sehingga ia memenuhi apa yang menjadi kewajiban dan hak atas dan untuk dirinya.


Titik Catur: Menentukan Arah Dan Tujuan Hidup

4 3

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 4

Jumlah Kata 805

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Catur

Menentukan Arah Dan Tujuan Kehidupan

“Tujuan adalah sasaran dan cita-cita. Tujuan lebih dari sekedar mimpi dan hayalan belaka. Namun tujuan adalah mimpi yang harus diperjuangkan, diwujudkan, dan direalisasikan.”

Setiap manusia yang hidup di hamparan bumi ini harus memiliki tujuan dalam hidupnya dengan target-target tertentu, kemudian ia memfokuskan tujuan hidupnya untuk mencapai dan merealisasikannya dengan cara merencanakan, memulai dan mengusahakannya. Karena ketika ia berhasil mencapai tujuan-tujuan hidupnya, sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenangan dan keberhasilan yang luar biasa.

Orang dewasa akan bertanggung jawab dengan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Ketika seseorang sudah memiliki tujuan hidupnya, maka ia akan tahu langkah apakah yang harus ia tempuh, lewat jalan manakah yang akan ia jalani, dan dengan apakah ia melalui dan menempuhnya. Tidak peduli betapa beratnya rintangan dan tantangan yang ada dalam hidupnya. Ia akan terus maju dan pantang menyerah.

Berbeda jika seseorang tidak tahu apa yang menjadi tujuan untuk kedepannya, bagaimana ia berencana untuk sampai ke target tujuan? Dan apa yang akan dicapai dalam hidupnya? Bukankah orang-orang yang gagal dalam hidupnya, adalah orang-orang yang hidup namun tidak mengerti mengapa mereka hidup, apa tugasnya dalam kehidupannya? Maka menjadi seperti orang yang tersesat yang tak tahu arah, hanya berjalan ke kanan dan ke kiri tanpa ada sesuatu yang ia perjuangkan.

Seseorang yang tak memiliki tujuan seringkali diibaratkan berjalan tanpa arah, berlari tanpa adanya sesuatu yang pasti, berlayar tanpa sebuah cita dan harapan. Mudah dipatahkan, mudah digoyahkan, mudah dipermainkan, mudah diseret angin ataupun ombak. Seseorang yang seperti ini hanya menghabiskan umur yang diberikan oleh Tuhan secara sia-sia juga menjadikan hidup yang dianugrahkan oleh-Nya tak bernilai bahkan berharga. Terlebih dari pada itu, bahkan orang-orang yang tak memiliki tujuan atau orang yang tersesat seringkali merugikan perjalanan hidup orang lain.

Penetapan tujuan merupakan upaya untuk menghargai hidup, hidup yang sekali, hidup yang harus penuh makna dan arti. Penetapan tujuan juga merupakan usaha agar waktu dan hidup seorang manusia tidak menjadi sia-sia dan terbuang habis karenanya memungkinkan setiap manusia untuk menargetkan energinya dan fokus pada aktivitas yang akan membantu mendorong kita menuju apa yang ingin dicapai. Seorang motivator mengatakan bahwa orang yang mempunyai tujuan itu akan lebih hemat dalam menggunakan apapun.

Seseorang yang memiliki tujuan tidak akan peduli dengan dari mana ia memulai, ada dalam posisi mana sekarang. Yang terpenting adalah bagaimana usaha mereka sehingga dapat sampai pada kelas tersebut. Mereka berjuang tanpa mengenal lelah, sampai mereka berhasil sampai kepada titik tersebut. Kalaupun ada hal-hal yang mengganggu ataupun menghalangi akan sampainya tujuan tersebut, mereka akan berusaha dengan kuat untuk mengatasi dan menghadapinya. Hal-hal tersebut mereka anggap sebagai kerikil-kerikil yang ada di jalan maupun batu yang besar. Mereka akan berhati-hati dalam menghadapinya dan bukan menyerah apalagi putus asa.

Ada tiga macam tujuan, ada tujuan jangka pendek, tujuan jangka menengah, dan tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek adalah tujuan-tujuan sederhana yang sekiranya pencapaiannya lebih mudah dan lebih cepat untuk digapai dan dilakukan. Tujuan jangka pendek juga merupakan bagian-bagian dari jalan yang harus dilalui dan ditempuh untuk menggapai tujuan yang mempunyai jangka yang lebih panjang. Tujuan jangka menengah bersifat lebih panjang dari jangka pendek untuk masa yang sedikit lebih panjang. Sedangkan tujuan jangka panjang menjadi target-target dalam kurun yang lebih panjang atau bahkan menjadi garis finis akhir dari proses-proses yang ia lalui.

Sebuah kesuksesan yang besar butuh perencanaan yang besar dan matang. Tidak ada kesuksesan yang datang secara tiba-tiba atau dadakan. Semuanya butuh proses yang panjang juga butuh usaha-usaha yang keras. Ada sebuah kalimat aksiomatik yang sering kita dengar kalimat itu adalah “Sukses itu harus direncanakan, kalau tidak merencanakan kesuksesan sesungguhnya ia sedang merencanakan kegagalan”. Dari sini dapat dipahami bahwa jika seseorang tidak mau merencanakan sebuah kesuksesan, maka ia harus bersiap untuk menghadapi kegagalannya. David J. Schwartz mengatakan bahwa:Tujuan lebih dari sekedar pernyataan kabur “Saya berharap dapat ...”. Namun tujuan adalah pernyataan yang jelas “Inilah yang saya usahakan agar tercapai””.

Seorang yang akan membuat dan merancang perencanaan yang matang harus menetapkan tujuan harus jelas, tercatat dan terukur juga memperkirakan hal-hal yang bersifat kemungkinan-kemungkinan yang bisa ia dapati pada pertengahan perjalanannya menuju tujuan tersebut. Agar ia dapat menyiapkan dan mempersiapkan dirinya dengan segala hal yang akan dijumpai dan dihadapinya nanti. Dan mengapa tujuan harus jelas, tercatat dan terukur? Jawabannya adalah agar kita dapat menetapkan dan menepatkan langkah-langkah yang akan dijalani dan membantu memfokuskan hidup kita.

Rancanglah hidupmu sebelum dirancang orang lain. Seseorang yang tidak merancang apa-apa yang akan dilakukannya dalam hidupnya, maka ia akan hidup dengan rancangan-rancangan yang dibuat oleh orang lain. Maka jangan salahkan jika nantinya ia tak bisa sebahagia seperti apa yang ia inginkan. Karena ia hanya hidup di bawah rancangan-rancangan hidup orang-orang lain.

Orang yang memiliki tujuan berarti orang yang memiliki cita-cita dan harapan, orang yang memiliki cita-cita dan harapan akan menjadi orang yang selalu berfikir besar dan berjiwa besar, orang yang berfikir besar dan berjiwa besar adalah orang yang siap menghadapi kehidupan, dan orang yang siap menghadapi kehidupan adalah orang sukses yang sesungguhnya.


user

25 August 2022 13:43 Ismi Nuri keren. tidak hanya sebagai penhgetahuan tetapi juga sebagai pengingat diri.

user

25 August 2022 13:44 Ismi Nuri semangat... sampai day 30 ^0^

user

25 August 2022 14:20 Izzah Avanti Semangat....

Titik Panca: Dewasa, Dipersiapkan Bukan Hanya Dijalani

3 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 5

Jumlah Kata 1090

Sarkat Jadi Buku

Titik Panca

Dewasa, Dipersiapkan Bukan Hanya Dijalani

“Tidak ada segala sesuatu yang tak dipersiapkan berakhir dengan hasil kesempurnaan. Dan apa yang dipersiapkan akan jauh lebih dekat dengan kesempurnaanya”

Banyak orang yang kaget dengan apa yang sedang mereka hadapi pada fase ini khususnya pada awal memasukinya. Dimulai dari kekecewaan yang mereka alami karena baru saja mengerti bahwa apa yang terjadi tak selamanya sesuai dengan apa yang mereka harapkan jauh sebelum mereka menginjak fase ini. Banyak pula orang yang mulai untuk putus asa, karena usaha-usaha yang mereka lakukan tak berbuah seperti yang diimpikan, justru malah mereka banyak menghadapi tuntutan-tuntunan dari banyak hal. Dan akhirnya mereka tak bisa menjalani hidupnya dengan bahagia.

Mengapa semua itu terjadi? Semua itu terjadi karena masa dewasa mereka belum dipersiapkan secara matang atau mereka belum menyiapkan dirinya untuk memasuki dan menghadapi fase dewasa dan peralihan fase remaja kepada fase tersebut. Maka solusi terbaik dari permasalahan tersebut adalah mempersiapkan diri untuk memasuki dan menghadapi fase tersebut karena nyatanya untuk dapat memasuki dan menghadapi fase tersebut butuh persiapan yang sangat matang, tidak hanya sekedar asal.

Lalu, Apa yang harus dipersiapkan oleh diri untuk menghadapi fase tersebut? bagaimanakah cara untuk mempersiapkan diri untuk memasuki fase tersebut? Menjawab pertanyaan yang pertama tentang apa yang harus dipersiapkan, yang harus dipersiapkan adalah segala-gala yang ia butuhkan, dan lebih spesifiknya seseorang harus menyiapkan fisik dan psikisnya atau amoral dan mentalnya. Hal tersebut harus dilatih dan dipersiapkan bagaimana seseorang harus bisa menjadi sosok kuat secara fisik dan psikisnya, kuat menghadapi tantangan, kuat menghadapi permasalahan dan kuat untuk menghadapi hal-hal yang akan terjadi pada dirinya.

Sedang jawaban untuk pertanyaan selanjutnya, tentang bagaimana cara untuk mempersiapkan diri untuk memasuki fase tersebut, belajar dan berlatih adalah cara terbaiknya. Dimulai dari mempelajari hal-hal sederhana, hingga hal-hal yang bersifat rumit dan konkrit. Seseorang harus belajar dan berlatih bertanggungjawab atas dirinya dan orang lain serta hal-hal yang diamanahkan kepadanya, seseorang harus belajar dan berlatih untuk mengetahui apa yang menjadi tujuan hidupnya, merencanakannya, dan mengusahakannya, seseorang harus belajar dan berlatih untuk berfikir dan bertindak secara dewasa, seseorang harus belajar dan berlatih untuk menghadapi tantangan dan mengatasi solusi dari permasalahannya, seseorang harus belajar dan berlatih untuk membedakan hal penting, lebih penting dan paling penting dalam prioritas hidupnya, seseorang harus belajar dan berlatih untuk menghargai hidup dan waktunya, dan masih banyak lagi yang perlu dipelajari dan dilatih oleh seseorang yang akan memasuki dan menghadapi fase dewasa dan kedewasaannya.

Salah satu faktor yang terkadang membuat manusia bingung saat bertumbuh dan berkembang pada awal fase dewasa adalah karena mereka tidak mempunyai figur atau sosok yang dapat dijadikan teladan untuk kehidupannya. Sehingga mereka tidak pernah tahu atau bahkan tidak diajarkan bagaimana menjadi sosok yang dewasa, bagaimana harus melangkah, bagaimana harus bersikap dan lain seterusnya. Siapakah figur dan sosok yang harusnya mereka jadikan teladan adalah orang-orang terdekat mereka seperti sosok ayah, ibu, kakak dan orang terdekat lainnya.

Seseorang yang tumbuh dewasa membutuhkan sosok-sosok yang mau dan mampu memberikan bimbingan dan arahan. Maka tidak jarang pula di usia-usia dua puluhan hingga tiga puluhan, mereka seringkali bertanya kepada orang-orang di sekitar mereka hingga mendapatkan jawaban yang puas. Mereka akan memulai pertanyaan kepada orang tuanya, ataupun gurunya, atau sanak saudaranya, atau orang-orang yang lebih dewasa dari mereka, atau juga pada teman-temannya. Namun terkadang seringkali mereka belum puas terhadap jawaban-jawaban yang diberikan oleh seseorang tertentu sehingga harus bertanya dan mencari jawaban pada sosok-sosok yang lain. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya justru malah tak mendapat jawaban yang memuaskan akhirnya kecewa mungkin karena jawaban dari segala pertanyaan berbobotnya hanya dijawab dengan kalimat, “Ya udah sih, jalanin aja hidupmu”.

Jawaban kalimat tersebut tak memberikan arti ataupun jawaban bagi sebagian orang yang sedang mencari jati diri juga hakekat kehidupan sehingga ia akan terus mencari, namun jawaban tersebut juga dijadikan oleh sebagian adalah jawaban terakhir atau satu-satunya jawaban yang memang harus ia terima tanpa ada penolakan layaknya kehidupan yang sedang disodorkan kepada mereka. Dan akhirnya sebagian merekapun harus berpasrah pada konsep yang salah. Walau sebenarnya tidak ada konsep yang sepenuh-penuhnya benar atau memiliki kadar kebenaran yang mutlak. Terkadang hal tersebut masih dicampurkan dengan kemaslahatan atau kebaikan maupun kepentingan-kepentingan tertentu. Karena ternyata ada sebagian orang yang terlalu memikirkan akan masa dewasanya atau overthinking, sehingga orang-orang seperti ini memang perlu disadarkan dengan kata “jalani” agar mereka berhenti untuk terlalu memikirkan yang membuat mereka tak bergerak, tak bertindak, tak berjalan dan memberikan perubahan pada dirinya dan kehidupannya.

Kembali pada topik pertanyaan tersebut, diantara dari segolongan manusia akan mempertanyakan “apakah pada saat dewasa, seseorang masih mencari jati dirinya?” “apakah tidak cukup masa muda atau masa remajanya untuk mencari jati dirinya sehingga ia harus melakukan hal yang persis dilakukan oleh anak-anak remaja?”. Hal itu memang biasanya masih terjadi pada sebagian orang yang masih belum menyelesaikan masa remajanya walau usianya telah bertambah, atau mereka merasakan hal tersebut kembali dengan keadaan yang berbeda atau lebih mendesaknya karena banyaknya tuntuan yang harus dihadapinya.  

Bagi seseorang yang benar-benar ingin mendapatkan jawaban dari hal-hal yang ia ingin ketahui, maka carilah orang yang tepat dan bersedia untuk menjawab jawaban tersebut sampai ia dapat menemukan jawaban yang tepat dan bisa membuat hati tergerak untuk melaksanakan suatu perubahan dan kebaikan. Dan jika tak ada yang mengajari, maka ia yang harus belajar sendiri. Tidak ada alasan untuk tidak berhasil menemukan apa yang ingin didapatkan. Tidak ada sandaran terbaik kecuali sang pencipta dan diri sendiri. Maka selamatkanlah dirimu dengan bersandar hanya kepada-Nya dan kepada dirimu. Walau seseorang tak mempunyai figur-figur dekat yang bisa mengajarinya, dia masih bisa mencari figur-figur jauh yang mengajarinya. Jika tak ada lagi figur-figur hidup yang mengajarinya, maka masih ada figur-figur mati yang bersedia mengajarinya. Tidak ada kata ataupun kalimat yang membentuk alasan untuk tidak belajar. Darimana mulai belajar? Tidak ada jawaban untuk pertanyaan ini kecuali jawaban dari sekarang, semakin dini dan cepat seseorang mulai belajar, semakin baik seseorang itu dalam mempersiapkan dirinya.

Kalau ada seseorang yang mengatakan aku pasrah sajalah pada tuhan, toh berjalannya hidupnya layaknya jalannya waktu, layaknya hembusan angin, layaknya aliran air bahkan seperti gelombang ombak yang menerpa.Ini merupakan suatu konsep kepasrahan yang salah. Bahkan benar-benar salah. Karena sebenarnya Tuhan selalu memberikan kesempatan, fasilitas, dan sarana bagi yang menghendaki kebaikan dan perubahan. Sesungguhnya Ia tak akan mengubah nasib ataupun kehidupan seorang hamba kecuali hamba itu sendiri yang mengubahnya.

 Konsep pasrah pada Tuhan adalah penyerahan keputusan hasil akhir setelah sang hamba melakukan perencanaan, pengusahaan, pengupayaan, perjuangan dan juga do’a. Mengapa perlu diserahkan kepada Tuhan? Karena hanya Tuhanlah yang mengetahui yang terbaik untuk hambanya. Karena manusia masih punya banyak keterbatasan-keterbatasan juga kesalahan-kesalahan dalam menentukan jalan hidupnya. Maka dewasamu harus dipersiapkan, diperjuangkan dan diusahakan, dan dipasrahkan kepada Tuhan dan bukan hanya dijalani saja tanpa perencanaan, perjuangan, arah dan tujuan.


Titik Sat: Menghadapi Ketakutan Dan Kekecewaan Pada Fase Awal Dewasa

3 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 6

Jumlah Kata 829

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Sat

Menghadapi Ketakutan Dan Kekecewaan Pada Fase Awal Dewasa

“Ketakutan adalah hal buruk sebelum kejadian, sedang kekecewaan adalah hal buruk sesudah kejadian, keduanya bisa dihancurkan melalui keseriusan, persiapan, dan pelaksanaan yang matang”

Memasuki fase awal dewasa layaknya menyebrangi lautan luas dengan sebuah jembatan, karena lagi dan lagi manusia mengalami transisi kehidupan dari fase remaja menuju fase dewasa. Setiap bertransisi manusia akan mengalami banyak perubahan-perubahan pada dirinya juga pada kehidupannya. Dimulai dari fisiknya hingga psikisnya. Pada masa awal dewasa ini, fisik dan psikis manusia akan disempurnakan dan dimatangkan dengan kesempurnaan dan kematangan setelah ia melewati masa remajanya atau masa permulaan perubahan besar pada fisik dan psikisnya.

Namun sayangnya, banyak sekali manusia yang belum benar-benar menyiapkan datangnya fase dewasa tersebut dengan berbagai sebab dan alasan. Diantaranya, sebagian dari orang terlalu menikmati masa remajanya, hanyut didalamnya hingga ia lupa untuk mempersiapkan sebuah fase besar yang perlu persiapan yang besar, sebagian orang yang lain tidak tahu atau tidak mengerti apa yang akan dijalaninya nanti di fase dewasa, sebagian yang lain telah salah sangka dan berspekulasi tentang fase dewasa. Karena mereka tak mempelajarinya dengan benar.

Banyak orang sebelum mereka memasuki masa dewasa ini beranggapan bahwa menjadi dewasa itu menyenangkan dan membahagiakan. Seorang anak kecil memandang bahwa menjadi dewasa itu menyenangkan, ia berfikir bahwa hidupnya bahwa hidup sebagai seseorang dewasa adalah kehidupan yang sempurna karena sudah mengetahui banyak hal dan berpengetahuan, mempunyai kehidupan yang tertata, bebas melakukan hal-hal yang diinginkan, tidak harus selalu dituntut belajar oleh sekolah dan guru. Sehingga tidak sedikit pula yang berpikir untuk ingin cepat-cepat bertumbuh menjadi dewasa.

Banyak para kalangan remaja yang berfikir untuk cepat cepat lulus SMA ataupun kuliah karena ingin cepat kerja. Mereka berfikir dengan bekerja, mereka akan terputus dari tuntutan-tuntutan untuk belajar dan mengerjakan tugas. Mereka berfikir bahwa mereka akan terbebas dari sulitnya berfikir dan mengerjakan soal-soal ujian, kebosanannya dalam suasana pendidikan, juga karena lelahnya proses pembelajaran yang panjang dan berulang. Mereka berfikir bahwa dengan bekerjalah mereka akan menghasilkan uang, dengan menghasilkan uang mereka akan mendapat apa yang mereka inginkan, dan dengan didapatkannya apa yang mereka inginkan membuat mereka bahagia di dunia.

Namun apa yang didapatinya adalah salah. Mereka justru menemukan dan mendapati hal-hal di luar kepala mereka. Tak seindah yang mereka kira. Namun inilah fase dewasa khususnya pada fase awal dewasa. Dalam fase dan masa itulah, tidak sedikit manusia baru mulai menyadari bahwa idealita seringkali berjauhan dengan realita. Sehingga ekspektasi yang dulu pernah diharapkan menjadi pupus bahkan sirna. Dalam bahasa lain bisa dikatakan bahwa banyak orang yang kaget atau shock dengan yang namanya fase dewasa.

Tak sedikit dari mereka yang akhirnya harus merasa kecewa dan putus asa. Rasa kecewa itu yang teramat membuat seseorang terkadang merasa lelah dalam hidupnya, ditambah dengan tuntutan-tuntutan yang datang pada setiap harinya beserta tindakan yang harus cepat diambil. Rasanya lelah bila setiap hari harus kecewa, namun tiada sangka rasa itu terkadang hadir dan terus hadir saat apa-apa yang kita harapkan tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Namun seseorang harus tetap coba untuk melawan rasa itu, namunnya lagi rasa itu terkadang hadir jauh lebih besar dengan energi yang mampu membawa kepada titik bernama putus asa.

Banyak orang yang ketika ia kecil ia berani menyatakan cita-citanya dengan lantang tanpa sedikit rasa ragu, namun seiring berjalannya waktu keberanian itu menghilang, bukan menghilang tapi mungkin lebih tepatnya adalah terkikis sedikit demi sedikit. Perlahan tapi pasti saat seseorang mulai dihadapkan dengan kerasnya kehidupan dan ia harus tetap berdiri dengan tegak demi melangsungkan kehidupannya. Terkadang cita-cita itu pergi menjauh ketika ia menyadari bahwa apa yang ia cita-citakan terlihat sangat tinggi untuk ia gapai sedang tak kurang adanya faktor pendukung yang memberikan dorongan kuat dan energi yang besar untuk mengantarkannya pada cita-cita tersebut, contohnya adalah faktor keluarga, ekonomi maupun lingkungan.

Tapi juga terkadang cita-cita itu pergi menjauh karena seseorang itu tidak mau untuk mengupayakannnya? Ia menganggap bahwa jalannya itu terlalu banyak rintangan dan duri, sehingga ia ragu ataupun takut untuk mengambil resiko terburuknya dari upaya itu yang biasanya disebut sebagai kegagalan. Padahal dunia sudah mengatakan bahwa orang yang sukses adalah orang yang mencari jalan dan orang yang gagal adalah orang yang mencari alasan. Memang dunia bukanlah permainan belaka, namun ia adalah medan pertempuran yang sesungguhnya, yang menuntut setiap manusia untuk selalu “survive and revive”. Bertahan dan bangkit. Keduanya memang tak mudah untuk dibayangkan tapi akan selalu ada jalan bagi yang hendak menjalankan. Sekali lagi “survive and revive!”

Pada fase awal dewasa, perasaan takut, khawatir, kaget, kecewa dan putus asa selalu ada pada setiap orang. Tak peduli orang itu dari golongan mana, kelas ekonomi mana, laki-laki ataupun perempuan semuanya akan merasakan hal tersebut. Namun yang membedakan satu orang dengan orang lainnya adalah bagaimana mereka mengendalikan fikiran dan emosi mereka, bagaimana mereka memutuskan untuk melanjutkan hidupnya, dan bagaimana mereka mengambil tindakan? Karena seseorang yang dewasa, sesungguhnya ia akan sadar dan tak berlarut-larut dalam keadaan tersebut. Ingat sebuah perkataan bijak Umar Bin Khattab “Tidak ada rasa bersalah yang dapat mengubah masa lalu, dan tidak ada kekhawatiran yang dapat mengubah masa depan.” Karena yang mengubah masa depan adalah kamu, keputusan dan tindakanmu.


user

27 August 2022 14:20 Izzah Avanti Terima kasih sudah berkunjung dan membaca buku ini.Berikan saran dan ide yang membangun untuk tulisan ini. ????

Titik Sapta: Menghadapi Masalah Dan Permasalahan Pada Fase Dewasa

3 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 7

Jumlah Kata 881

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Sapta

Mengatasi Masalah-Masalah Pada Fase Dewasa

“Tidak ada masalah yang tak bisa diatasi dan tak memiliki solusi, Tidak ada soal ujian yang tak bisa diselesaikan dan tak memiliki jawaban. Karena keduanya merupakan setali tiga uang pada ruang, dimensi dan medan yang berbeda.”

Masalah dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti sesuatu yang butuh dipecahkan dan diselesaikan. Sedang menurut wikipedia masalah diartikan sebagai sebagai suatu pernyataan tentang keadaan yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Bisa juga diartikan kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan. Masalah-masalah kedewasaan atau masalah-masalah pada fase dewasa biasanya bersifat lebih komplek dari pada masalah-masalah yang dihadapi saat fase kanak-kanak maupun remaja.

Permasalahan-permasalahan dewasa ada pada setiap bidang dan aspek kehidupan seperti aspek sosial, aspek ekonomi, aspek psikologi, aspek hukum, dan lain sebagainya. Contoh dari permasalahan-permasalahan dewasa adalah insecurity, QLC, karir, ekonomi, hubungan dan lain sebagainya. Sebagian permasalahan tersebut hadir dimulai dari adanya tuntutan-tuntutan atas dirinya. Dan lebih kepada tuntutan kesempurnaan dan kematangan pada aspek-aspek kehidupan. Walau masih banyak lagi sebab dari timbulnya permasalahan-permasalahan lain yang ada pada fase dewasa.

Seseorang yang sedang dilanda dan ditimpa masalah tak dapat mengetahui, mungkin sekarang ia tak dapat mengerti, mungkin sekarang ia tak dapat memahami, dan mungkin sekarang ia masih sering bertanya-tanya. “Mengapa aku? Mengapa harus aku? Mengapa dengan aku? Mengapa masalah ini? Dan segala pertanyaan beruntun yang tidak akan pernah ada habisnya. Pertanyaan itu dilontarkan secara verbal atau non verbal oleh sebagian orang yang mengalaminya, sebagai rasa kecewa ataupun rasa tak menerima dengan apa yang sedang dijalaninya, bahkan terkadang menjadi sebuah rasa penuduhan tak bermakna pada Tuhan-nya, orang lain, dan keadaan.

Namun perlu setiap orang sadari bahwa nanti, pada suatu masa dari bagian masa depannya akan menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan tersebut, semua itu akan terjawab oleh masa yang akan dilalui dengan rahasia dan kejutan indah yang telah tercipta oleh Sang Pencipta dengan hikmah-hikmah saat ia sudah dapat menyelesaikan masalah tersebut. Bukankah tidak ada sesuatu di dunia ini yang diciptakan tanpa pasangan, yang berarti masalah juga tak diciptakan sendiri, melainkan dengan solusi dari permasalahan tersebut.

Ingatlah dan pahamilah bahwa langit tak selamanya mendung, akan ada waktu dimana ia bersinar dengan senyuman mentari. Malam tak selalu menggelapkan bumi, akan ada masa dimana siang menjadi penerang baginya. Sama halnya dengan es batu yang tak selamanya beku dan dingin, akan ada masanya ia akan mencair dan tak bersuhu dingin lagi. Akan ada masanya juga sesuatu yang panas bisa menjadi dingin karena adanya hal-hal tertentu.

Semua masalah yang telah, sedang dan akan dihadapi oleh manusia adalah pendidikan bagi dirinya. Karena saat ini seluruh manusia sedang berada di universitas kehidupan yang penuh dengan nilai sakralitas, bisa jadi sekarang mengeluh dengan segala pekerjaan, menggerutu dalam hati, bergumam buruk pada orang-orang disekitarnya, dan merasakan gesekan panas yang begitu terasa. Dan itulah yang akan membuat manusia menjadi sosok yang lebih dewasa yang mampu bertahan, berilmu dan berpengalaman untuk petualangan hidup yang akan dijalaninya di masa depannya.

Sebagai manusia biasa pasti selalu berharap agar dirinya sedang dan selalu dalam keadaan yang baik-baik saja, tenang tak bermasalah juga dalam keadaan yang dipenuhi dengan rahmat, nikmat, dan karunia Tuhan-nya. Namun perlu disadari bahwa hidup ini adalah perjuangan, dimana manusia dituntut untuk menjadi pejuang. Dan untuk menjadi pejuang yang handal dan kuat, dibutuhkan latihan-latihan sebagai upaya pembentukan mental dan fisik yang kuat. Latihan-latihan tersebut berbentuk permasalahan-permasalahan yang diberikan pada hidup-nya. Ombak yang tenang tak akan menciptakan nahkoda yang handal, justru sebaliknya ombak yang semakin besar akan menciptakan nahkoda yang juga semakin handal.

Setiap manusia mempunyai permasalahan-permasalahan hidupnya masing-masing. Tidak ada satu manusiapun yang bisa terbebas dari permasalahan-permasalahan. Karena masalah sendiri menjadi sesuatu yang fitrah bagi kehidupan manusia. Semakin besar permasalahan yang dihadapi seseorang, semakin besar pula kepercayaan Tuhannya atas dirinya bahwa ia mampu untuk memikul masalah-masalah tersebut, menjalaninya, menemukan solusi atasnya, dan menyelesaikannya. Karena seseorang tak akan diuji melebihi batas kemampuannya. Begitupula dengan masalah yang diamanahkan kepadanya.

Dewasa seseorang juga bisa diukur dari bagaimana ia dapat mengatasi masalahnya. Bagaimana seseorang yang dewasa menyelesaikan permasalahannya berbeda dengan seseorang yang belum dewasa secara mental. Seseorang yang dewasa memandang masalah dan permasalahan sebagai batu loncatan dalam hidupnya juga sebagai latihan agar dirinya bisa menjadi sosok yang lebih baik. Seseorang yang dewasa akan menghadapi masalah dan permasalahannya dengan bijaksana dan tenang. Ia akan menerima permasalahan tersebut, mempelajarinya, mengetahui sebab-sebab darinya, lalu mencari solusi dan mengatasinya. Dan jika ia tidak dapat mengatasinya sendiri ia akan meminta bantuan pada orang lain. Sedang orang yang tidak dewasa atau belum mendewasakan dirinya justru tidak bisa menghadapi masalah dengan tenang, ia menghadapinya dengan emosi yang kurang baik, yang pada akhirnya bisa membuatnya putus asa atau bahkan menjatuhkan dirinya.

Sedikit penulis ingin memberikan sedikit sinergi positif dari kata-kata sederhana di bawah ini, baca dan resapilah maknanya. “Jika kini ataupun nanti kamu sedang tidak baik-baik saja atau sedang dalam lingkaran permasalahan yang berat, Syukurilah dan nikmatilah!. Sehingga darinya kita akan mendapat dan mengambil sesuatu berharga yaitu ibroh dan hibroh (pelajaran dan pengalaman) yang menjadikanmu lebih kuat dan lebih dewasa. Karena seorang yang bijak berkata bahwa “Masalah yang tak membunuhmu membuat dirimu lebih kuat dan tangguh”. Dan jika saat ini kita sedang benar-benar dalam titik terendah karena sesuatu yang menghantam, maka ketahuilah bahwa titik terendah adalah posisi terbaik untuk membangun suatu bangunan yang tinggi nan megah. Keep survive and revive! Bertahan dan bangkitlah!


user

28 August 2022 08:51 Izzah Avanti Semoga bermanfaat! Semoga berkah!

Titik Asta: Menentukan Pilihan-Pilihan Kehidupan Dengan Tepat

3 2

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 8

Jumlah Kata 1032

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Asta

Menentukan Pilihan-Pilihan Kehidupan Dengan Tepat

“Hidup itu adalah pilihan. Hidup seorang dari mulai sejak lahir hingga wafatnya adalah sebuah pilihan. Hidup seseorang dari mulai bangunnya hingga tidurnya adalah pilihan. Maka tentukan sebaik-baik pilihanmu agar engkau hidup dengan kedamaian bukan penyesalan”  

Pilihan-pilihan hidup selalu hadir dalam setiap hidup seseorang. Dimulai dari pilihan-pilihan kecil ataupun pilihan sederhana hingga pada pilihan-pilihan besar yang sangat mempengaruhi hidupnya. Seseorang yang hidup akan juga akan selalu dihadapkan oleh pilihan yang dimana seseorang tersebut tidak akan pernah dapat ia hindari. Pilihan akan menuntut pertanggungjawaban kepada orang yang memilihnya atau dengan kata lain seseorang yang memilih akan menerima segala konsekuensi dari apa-apa yang telah dipilihnya. Tidak patut jika seseorang menyalahkan orang-lain dalam pilihan-pilihan yang telah ia tetapkan.

Kita mulai dari hidupnya seseorang, hakikat seseorang yang hidup di bumi ini dan menjalani kehidupan adalah seseorang atau yang dahulunya memilih untuk menjadi manusia ketika dihadapkan dengan pilihan yang diberikan oleh Tuhannya dan melakukan perjanjian dengan Rabb-nya. Seseorang akan ditanya siapa Tuhannya, juga pertanyaan-pertanyaan lainnya sebelum akhirnya dia hidup di dunia. Lalu apakah kematianpun itu pilihan? Kematianpun ternyata juga merupakan pilihan. Seseorang yang ingin meninggal dunia atau mati dalam keadaan yang baik atau husnul khotimah, harus menjalankan dan mengerjakan hal-hal baik untuk dirinya dan sesamanya. Seseorang yang ingin mati dalam keadaan syahid harus berjuang menegakkan agama Allah dengan peperangan dan jihad-jihad lainnya. Sedang seseorang yang ingin mati dalam keadaan yang tidak baik maka ia cukup mengerjekan keburukan-keburukan selama hidupnya. Bukankah seseorang akan meninggal kurang lebih sama dengan kebiasaan dan perilakunya? Wallahu A’lam Bi Shawwab.

Ketika menjelang pagi, setiap manusia diberi pilihan untuk bangun atau meneruskan tidurnya. Setiap manusia diberi pilihan untuk bangun jam berapa saja. Ada sebagian yang memilih bangun disepertiga malam untuk melaksanakan aktivitas keagamaan atau memadu kasih dengan Tuhannya, ada juga yang bangun sebelum itu, karena hendak mengusahakan rezekinya, menyiapkan dagangannya, ataupun aktivitas lainnya, adapula yang bangun pada saat adzan terdengar, karena ia ingin melaksanakan kewajibannya tepat bahkan di awal waktu, adapula yang bangun saat langit sudah tak lagi gelap, adapula yang bangun saat matahari mulai menyapa, bahkan adapula yang bangun tepat jarum jam berada di angka 8, 9, bahkan 10. Bukankah semua itu adalah pilihan?

Aktivitas yang dijalani setelah bangun tidurpun juga merupakan pilihan, akankah aktivitas pertamanya adalah do’a? akankah aktivitas pertamanya adalah meminum segelas air di sebelahnya? akankah aktivitas pertamanya adalah bergelut dengan gawai atau hpnya? akankah aktivitas pertamanya adalah mencium dan memeluk pasangannya? akankah aktivitas pertamanya adalah cuci muka atau bahkan mandi? Bukankah semua itu adalah pilihan? Semua itu adalah pilihan.

Namun, apakah ada pilihan-pilihan yang terbatasi? Apakah semua hal itu pilihan? Jika ditanya apakah ada pilihan-pilihan yang terbatasi, maka jawabannya adalah iya. Dan apakah semua hal itu pilihan? Maka jawabannya adalah tidak. Ada hal-hal yang berada diluar kendali manusia. Karena sejatinya manusia adalah mahluk dan hanya mahluk. Bukan Kholiq atau Sang Pencipta yang berkuasa atas segala. Contoh dari hal-hal yang tidak bisa kita pilih dan kita kontrol adalah dari rahim manakah kita lahir, di tanah manakah kita dilahirkan dan akan mati juga dikebumikan, atau beberapa hal yang sifatnya seperti ujian dan cobaan yang didatangkan. Tapi tetap bahwa cara dan keputusan apa yang akan kita ambil ketika ujian itu datang adalah pilihan. Karena ketidakberdayaan manusia untuk mengatur beberapa hal dalam hidupnya, maka ia dianjurkan untuk mendekat dan memohon kepada Rabb-nya agar diberikan pilihan yang terbaik.

Seseorang yang dewasa menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya sangat bijaksana. Ia akan berfikir dan mempertimbangkannya dengan matang apakah pilihannya merupakan pilihan yang tepat untuk dirinya dan masa depannya, ia akan mempertimbangkan pilihan tersebut tidak hanya dengan akalnya tapi juga hatinya. Karena setiap diri seseorang diberikan sebuah nurani atau dhomir yang selalu menuntun kehidupannya dalam kebaikan. Hal ini juga dikarenakan akal dan hati saling bersinergi untuk saling melengkapi. Di samping itu seseorang yang dewasa akan menyetabilkan emosi dan perasaan karena keputusan dan pilihan yang baik dihasilkan ketika seseorang dalam keadaan emosi yang stabil, bukan pada waktu yang terlalu senang, sedih ataupun marah.

Hal lain yang juga dilakukan oleh orang yang dewasa dalam mengambil pilihan dan keputusannya adalah mereka memperhitungkan konsekuensi dari pilihannya, mereka akan berfikir akan tentang hal-hal positif dan hal-hal negatif dari pilihan tersebut juga hal-hal yang bersifak kemungkinan-kemungkinan. Karena pilihan tersebut tidak hanya berdampak pada dirinya maupun kehidupannya, namun juga berdampak pada orang-orang disekitarnya juga kehidupan manusia-manusia lain. Ketika dirasa sulit untuk menentukan pilihan, seseorang yang dewasa akan meminta saran dan pendapat orang lain yang terpercaya, seperti para ahli, keluarga, psikolog, life-coach dan lain sebagainya. Hal ini boleh dilakukan, namun bukan berarti setelah itu ia akan dikendalikan oleh orang lain, percaya dengan dirinya.

Menentukan pilihan dan mengambil keputusan terkadang menjadi hal yang sulit. Apalagi pilihan tersebut merupakan hal yang sangat besar. Karena kita pun tahu bahwa semakin besar dan berat pilihan hidup seseorang, semakin itu pula ia akan menemukan hasil yang sepadan dari apa yang dipilihnya. Namun terkadang pilihan-pilihan yang seperti itulah yang banyak membuat seseorang ragu, bimbang dan bingung. Dan hal-hal tersebut akan menimbulkan penggunaan waktu yang amat panjang dalam pemilihan tersebut. Maka yang perlu dilakukan adalah percaya pada dirinya, mengembalikan atau menyelaraskan pilihan hidupnya dengan tujuan hidupnya, lalu memasrahkan pada Tuhan-nya.

Dalam agama islam ada yang namanya sholat istikhoroh atau sholat untuk meminta keputusan penentuan yang terbaik dalam hidupnya. Apalagi hal-hal tersebut berpengaruh besar untuk kehidupannya. Contohnya adalah untuk menentukan langkah besar yang akan dijalani untuk studi, pekerjaan, karir, pernikahan dan lain sebagainya. Perhatikanlah doa istikhoroh berikut!

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” Dan istikhoroh adalah salah satu konsep pemasrahan terbaik pada Tuhan, karena ia mempercayakan urusannya pada Tuhan dan meminta petunjuk pada-Nya, juga keridhoan atas-Nya.


user

29 August 2022 12:33 Izzah Avanti ????? ??? ???????!

user

29 August 2022 12:33 Izzah Avanti Tafadholi Ala Alqiro'ah

Titik Nawa: Menjalani Kehidupan Dengan Optimis

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 9

Jumlah Kata 932

Sarkat Jadi Buku

Titik Nawa

Menjalani Kehidupan Dengan Optimis

“Optimis membawamu pada sesuatu yang positif, sesuatu yang positif membawamu pada kebahagiaan dan kedamaian. Pesimis membawamu pada sesuatu yang negatif, sesuatu yang negatif membawamu pada kesedihan dan keresahan. Maka tentukan dengan rasa apa dirimu menghadapi dunia dan kehidupan”

Kehidupan merupakan anugrah kehidupan yang telah diamanahkan Tuhan. Kehidupan yang penuh amanah ini dititipkan pada mahluk hidup khususnya manusia yang diberikan kelebihan khusus dari yang lain. Kelebihan itu adalah akal yang membuat manusia menggunakan logikanya untuk berfikir. Dalam kehidupan dan di dunia ini, banyaklah terdapat kesenangan, kebahagiaan, kepuasan, dan juga kedamaian. Namun apakah yang membuat sebagian orang justru memandang dengan kebalikannya, mereka yang yang memandang bahwa dunia ini justru tampak lebih banyak kejahatan, kesuraman, kepedihan, kesedihan, dan kekerasan. Hal itu mutlak karena diri mereka sendiri. Karena apa yang membuat dunia tanpak penuh dengan apa yang mereka pikirkan adalah karena diri seseorang itu sendiri yang melihat dari sudut pandang negatif.

Sudut pandang negatif merupakan salah satu bagian dari rasa pesimis atau suatu rasa yang menganggap bahwa segala sesuatu yang ada pada dasarnya adalah buruk atau jahat. Ada sebuah gambaran dari bagaimana pesimis mempengaruhi banyak orang dalam tindakan dan fikiran mereka dan hal itu banyak diterapkan dalam keseharian mereka dari sebuah buku berjudul “Al-Qira’ah Al-Wafiyah” karya Imam Subakir Ahmad. Seseorang yang memandang kehidupannya dengan pesimis ketika membeli 20 buah apel, dimana buah apel tersebut adalah buah yang segar, manis, dan terbaik, namun ada salah satu buah yang kurang baik, maka mereka tidak melihat kepada 19 buah apel yang baik lalu mensyukurinya, akan tetapi justru mereka terfokus pada satu buah apel tersebut yang kurang baik, memakinya, menyalahkannya, dan akhirnya mengkufurinya. Dan contoh lainnya adalah ketika seseorang memasuki rumah indahnya, mereka mengatakan bahwa rumahnya sangat berantakan padahal yang berantakan hanyalah satu sudut atau satu ruangan dalam rumah tersebut.

Karena rasa pesimis, banyak emosi-emosi negatif seperti kesedihan, kemarahan, ketidakikhlasan dan lain sebagainya yang akhirnya ditimbulkan karena hal-hal kecil dan cukup remeh. Contohnya adalah karena pecahnya piring, hilangnya satu bulpoin, robeknya suatu pakaian, rusaknya sebuah benda yang dimilikinya dan masih banyak hal lainnya. Ketika seseorang mempunyai rasa tersebut, maka ia tak akan bisa sampai pada hal-hal yang besar, mendapatkan hasil yang besar, dan menghadapi hal-hal yang besar. Bagaimana mau disampaikan pada hal-hal tersebut, apabila sebelum ia bertindak dan melakukan, ia sudah terhalang oleh pikiran dan perasaannya. Itulah mengapa ada istilah gagal sebelum gagal, ataupun gagal sebelum ia memulai dan berjuang. Dan apabila rasa pesimis itu semakin dipupuk, maka semakin besar rasa sakit yang akan dirasakan seseorang dalam menjalani kehidupannya.

Optimis adalah perasaan yang dimiliki seseorang dengan sudut pandang atau melihat sesuatu hal dengan pikiran positif. Sedang pesimis adalah perasaan yang dimiliki seseorang dengan sudut pandang atau melihat sesuatu hal dengan pikiran negatif. Mengapa seseorang perlu untuk beroptimis dalam memandang dan menjalani kehidupannya? Karena dalam beroptimis akan membawa seseorang pada dampak-dampak yang positif. Terlebih seseorang yang dewasa atau mulai beranjak dewasa, mereka benar-benar harus beroptimis. Karena di masa ini, mereka akan banyak melewati tantangan-tantangan yang ada, karena di masa ini mereka banyak akan memulai langkah-langkah perjuangan yang sangat akan berpengaruh untuk masa depannya seperti karir dan pekerjaan, karena di masa ini akan banyak tuntutan-tuntutan yang disodorkan kepada mereka dan juga karena banyak lagi alasan-alasan yang lain.

Rasa optimis akan membantu seseorang melewati situasi sulit dan mengatasi rintangan yang akan dilemparkan kehidupan kepada seseorang itu, yang pada akhirnya akan memberikan kekuatan-kekuatan untuk menjalani hidupnya dengan baik, mendatangkan pola pikir yang positif yang akhirnya mendatangkan ide, motivasi, inspirasi dan solusi untuknya. Optimis membuat seseorang percaya akan dirinya, juga membuatnya mensyukuri dan menghargai atas apa yang ada pada dirinya yang telah dianugrahkan oleh Tuhan-nya

Optimis juga menjadikan seseorang tidak mudah stres atau depresi dengan keadaan yang dihadapi. Karena seseorang yang optimis selalu memiliki harapan, cita-cita dan tujuan, sehingga tidak akan mudah untuk kecewa ataupun dikecewakan. Ketika seseorang jauh dari keadaan stres dan depresi, maka ia juga akan menjadi sehat secara psikis dan fisik. Oleh karenanya banyak ilmuwan-ilmuawan atau para pakar psikologi yang meneliti hubungan dari rasa optimis dan juga kesehatan seseorang.

Seseorang yang optimis cenderung lebih mudah bangkit saat kegagalan menjumpainya, bahkan ketika seseorang tersebut jatuh pada titik terendahnya. Contohnya dalam hal ekonomi, seseorang yang optimis akan tetap bisa bangkit walau hartanya habis, walau ia harus bangkrut dan merugi. Contoh dalam hal lainnya adalah dalam pencapaian karirnya dan cita-citanya, sesulit apapun, semenderita apapun, dan sekeras apapun jalannya. Ia akan tetap berjuang. Ia tidak larut dalam kesedihan dan keterpurukannya juga masa lalunya. Ia akan bangkit dengan harapan-harapan baru dengan mempelajari masa lalu, juga pada kesalahan tindakan yang keliru. Dan jika seseorang tak mempunyai rasa optimisme, bagaimana ia akan bertahan dengan keadaan dan bagaimana ia akan bangkit dari kegagalan?

Sedangkan rasa pesimis menciptakan berbagai emosi yang tidak akan membantu seseorang untuk tumbuh. Justru kehidupannya akan dipenuhi rasa kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan dalam memulai, dalam berjuang dan memperjuangkan, juga dalam menjalani hidupnya. Bahkan kemungkinan terburuknya adalah mereka tak dapat menjalani hidupnya karena rasa kecewa dan putus asa dan mereka tak dapat bangkit dari keduanya sehingga harus memutuskan dan mengakhiri hidupnya.

Perlu diperhatikan bahwa untuk memiliki rasa dan sikap yang optimis tidak serta merta hadir dan bisa dilakukan oleh seseorang secara tiba-tiba dan instan. Namun rasa dan sikap tersebut perlu untuk dibiasakan dan dipelajari dengan cara melatih diri untuk berfikir positif, mengambil hikmah dan ibroh dari kejadian-kejadian yang telah dialami, mengikhlaskan hal-hal yang kurang membuat hati berkenan, memandang kehidupan dengan pemikiran yang luas dan dari berbagai sudut pandang, memfokuskan diri pada masa kini dan masa depan, dan masih banyak hal- hal lainnya. Mari kita biasakan untuk memiliki rasa optimis dan menghindari rasa pesimis demi berharganya anugrah Tuhan berupa indahnya kehidupan.


Titik Dasa: Memulai Langkah Dan Perjuangan

3 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 10

Jumlah Kata 838

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Dasa

 Memulai Langkah Dan Perjuangan

“Jika tak berani memulai, berarti sudah berakhir sebuah perjuangan. Jika tak berani memulai, maka tak akan pernah akan akhir dan kesuksesan dari sebuah cita dan harapan”

Banyak orang mempunyai cita-cita yang tinggi namun bingung untuk memulai mengupayakannya, banyak orang beridealita tinggi namun tak mampu untuk menentukan langkah pertamanya, banyak orang yang berambisi kuat namun tak bisa mendorong dirinya untuk mengambil tindakan yang menyampaikannya pada ambisi-ambisi tersebut, dan diantara manusia juga banyak yang memiliki rencana-rencana besar namun masih enggan untuk bergerak, menunda dalam pelaksanaanya karena rasa ragu yang membimbangkan hatinya, atau takut yang melemahkannya ataupun karena rasa malas yang membuatnya merasakan kenikmatan yang mendorongnya pada suatu lembah yang bernama kegagalan.

Itulah permasalahan terbesar kita sebagai manusia yang tak mau memulai. Selama tidak ada kemauan maka selama itu pula tidak akan pernah ada jalan. Dan sebaliknya jika ada kemauan maka akan ada banyak jalan yang akan dibukakan. Maka jika kita sebagai manusia mau untuk memulai langkah, ia akan didorong dan dibimbing Tuhan. Ketika ia mau untuk belajar pada saat tak mengetahui ataupun tak mengerti akan suatu ilmu, maka ia akan diberikan, diajarkan, dan dimengertikan, dipahamkan, bahkan diahlikan dengan ilmu tersebut oleh Tuhan.

 Namun terkadang juga bukan rasa tak mau memulai yang menutup sebuah langkah kemajuan dan pergerakan, akan tetapi lebih kepada rasa takut untuk memulai. Takut akan salah langkah, takut bila terjatuh lalu ditertawakan, takut kalau gagal dan memalukan, takut kalau tidak sampai pada tujuan yang diharapkan, dan takut-takut lainnya yang merasuki jiwa manusia. Jika selamanya rasa takut menguasai diri, dan tak ada usaha untuk melepaskan dari belenggu-belenggu tersebut maka selamanyanya ia tak akan bisa untuk menggapai apa yang dicita-citakan dan diharapkan. Dan hanya menjadikan semuanya itu sebagai mimpi yang berarti bunga tidur.

Rasa takut sebenarnya wajar dimiliki oleh seseorang, bahkan semua orang yang ada di dunia ini selalu merasa takut dalam memulai langkahnya, tindakannya, juga keputusannya. Karena kemungkinan-kemungkinan buruk dalam suatu hal pasti ada. Namun orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang berhasil menepis rasa takutnya. Seorang motivator hebat yang akan memberi motivasi didepan ribuan bahkan jutaan orang juga masih dihadapkan oleh rasa takut dan keragu-raguan, akan tetapi ia berhasil menepis rasa tersebut dan mengendalikan dirinya dengan lebih baik. Seorang ahli bisnis terkenal, juga masih merasakan rasa takut dalam memulai proyek-proyek barunya, namun rasa takut tersebut berhasil ia tundukan dengan keberanian dan keyakinan atas suksesnya hal tersebut seperti dan sesuai dengan yang dicita-citakan. Bukankah demikian?

Hakikat seseorang yang takut atas kegagalan, sesungguhnya ia sudah gagal, hakikat seseorang yang takut dengan kesalahan, sesungguhnya ia telah salah, hakikat seseorang yang takut dengan kehinaan, sesungguhnya ia telah hina. Oleh karenanya, salah satu hal yang perlu dipersiapkan, dimiliki, ditanamkan bahkan dipupuk adalah rasa keberanian. Karena keberanian akan melumpuhkan segala jenis rasa takut, rasa ragu, rasa pesimis dan masih banyak rasa-rasa yang berasal dari emosi-emosi negatif seseorang.

Masih ada orang yang tidak tahu atau belum tahu bagaimana ia akan memulai langkahnya untuk melakukan perubahan dirinya untuk menjadi lebih baik, bagaimana ia kan memulai langkahnya untuk meraih apa yang menjadi tujuan hidupnya, cita-citanya, dan harapannya, bagaimana memulai suatu karir atau hubungan dengan orang lain. Hal-hal tersebut terjadi karena beberapa kemungkinan, diantaranya adalah minimnya pengetahuan dan wawasan yang mereka miliki, tidak adanya keinginan untuk belajar atau mencari tahu tentang hal-hal yang berkenaan dengan apa yang dibutuhkan, tidak adanya pandangan ke depan dan lain sebagainya.

 Namun mirisnya masih lebih banyak orang yang sudah tahu, paham dan mengerti apa yang harus dilakukan namun belum mau mengerjakan karena banyak alasan yang dilontarkan, berupa rasa takut, rasa malas, ingin menunda, masih ingin mencari-cari informasi lainnya dan lain sebagainya. Mungkin itulah nanti yang menjadi salah satu pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Tuhan kepada manusia “Mengapa kamu sudah tahu, namun engkau tak lakukan?” Banyak sudah, kalimat-kalimat yang semisal dengannya yang juga sudah tertulis dalam Al-Qur’an.

Perjalanan seribu langkah dimulai dari langkah pertama. Memang yang paling berat dalam menjalankan sesuatu adalah permulaannya. Tapi tak akan pernah ada langkah kedua, langkah ketiga, langkah tengah, langkah akhir, hingga puncak tujuan tanpa adanya langkah pertama. Langkah pertama bisa dikatakan langkah yang paling berat diantara langkah-langkah lainnya, karena langkah pertama tidak hanya dipengaruhi oleh langkah-langkah ekstenal namun juga langkah internal yang berhubungan dirinya, hati juga pikirannya. Sedang langkah-langkah selanjutnya menjadi penerus langkah pertama yang telah ia mulai.

Mengapa kata dan tindakan “memulai” harus diperkenalkan dan dipahamkan untuk seluruh manusia dan terkhusus untuk orang-orang dewasa. Karena seseorang selalu tertuntut untuk melakukan suatu hal, dan untuk melakukan segala hal, seseorang berkali-kali diharuskan untuk memulainya. Dan pada fase dewasa, akan lebih banyak hal-hal besar yang harus dimulai lalu dilakukan, dijalani dan dilaksanakan. Contohnya adalah memulai membangun karir dan bisnis, memulai untuk berhubungan dengan manusia lainnya, memulai untuk merealisasikan tujuan-tujuan hidupnya, memulai untuk menjalin komitmen dan lain sebagainya.

Untuk memulai langkah, diperlukan kekuatan yang besar dari dalam diri, diperlukan mental yang kuat untuk berani menghadapi, diperlukan bekal ilmu, pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk menjadi arah, petunjuk, dan pedoman. Dan inti dari segala yang disebutkan adalah untuk memulai langkah diperlukan persiapan yang matang dari segala sisi dan bidang, dari psikis dan fisiknya hingga dari hal-hal lainnya.


user

30 September 2022 22:09 Izzah Avanti Get enjoy reading and studying ????

Titik Ekadasa: Membangun Kesadaran Diri (Self-Awareness)

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 11

Jumlah Kata 758

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Eka Dasa

Membangun Kesadaran Diri (Self-Awareness)

“Seseorang benar-benar dikatakan hidup ketika ia membangun kesadaran atas dirinya. Karena sukses hanya didapatkan oleh orang-orang yang membangun kesadaran atas dirinya untuknya”

Ada sebuah ungkapan hikmah yang saya dapatkan dari ajaran salah satu guru saya di pondok. Beliau mengatakan bahwa sebesar keinsyafanmu sebesar itu pula keberuntunganmu. Insyaf disini artinya sadar atau kesadaran diri. Sehingga semakin seseorang sadar, semakin orang tersebut akan mendapat keberuntungan. Namun sebaliknya, semakin seseorang jauh dari kesadaran dirinya, maka akan semakin jauh pula keberuntungannya.

Seringkali kita mendapatkan dan menjumpai dua orang yang memiliki umur yang sama, namun memiliki kualitas hidup yang berbeda. Yang satu hidup dengan penuh kemakmuran dan keharmonisan juga telah mencapai titik-titik yang menjadi rencana-rencana hidupnya, dan yang lain masih terombang-ambing kesana dan kemari karena belum mengetahui apa yang menjadi fokus hidupnya. Hal ini dikarenakan kesadaran diri seseorang terhadap hidupnya berbeda-beda satu dengan yang lain.

Ada secuil hasil renungan diri yang saya pahami dari sebuah kesadaran diri dan  selalu saya katakan pada anak-anak didik saya ketika saya menjadi seorang guru di salah satu lembaga institusi besar adalah:

“Kalian semua, satu dengan yang lainnya, A dengan B dengan C sampai Z sama-sama pergi kelas ini, sama-sama mengikuti pelajaran yang sama dengan waktu, bangku, buku bahkan guru yang sama. Apakah hasil dari proses pembelajaran yang kamu dapatkan sama dengan yang didapat oleh orang-orang yang membersamaimu saat ini? Jawabannya adalah tentu “tidak”. Saya kembali mengatakan jika A, B, C, D dan E diberikan kesempatan yang sama dalam mengikuti program pengembangan seni dan ketrampilan dengan jurusan yang sama, pelatih yang sama, tempat yang sama. Apakah hasil dari proses pelatihan yang didapatkan antara A, B, C, D dan E sama dengan yang didapat oleh orang-orang yang membersamaimu saat ini? Jawabannya adalah tentu “tidak”. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena tingkat kesadaran mereka atau satu orang dengan yang lainnya tidaklah sama. Ada yang mementingkan pembelajan ini sampai 100 persen dari hidupnya namun masih ada juga yang kurang mementingkannya.”

“Jika ada 1500 alumni dari institusi ini atau institusi lain yang lulus pada tahun ini. Apakah apa yang didapat satu alumni dengan alumni yang lain sama karena mereka dididik dan digembeng dengan kurikulum dan metode yang sama? Tetap jawabannya adalah “tidak”. Hal inipun berlaku sama pada ribuan orang yang mengikuti seminar dengan tema yang sama. Juga pada ribuan orang yang membaca judul buku yang sama. Juga pada ribuan orang yang membaca kitab suci yang sama. Sekali lagi, mengapa tidak sama? Apa yang membedakan satu dengan yang lain, yang membedakan satu dengan yang lain adalah “kesadaran atas dirinya”. Kesadaran yang bagaimana? Kesadaran akan berharganya suatu hal ini, sehingga ia bisa memutuskan tindakan dan langkah yang tepat untuk diambilnya. Karena Kesadaran dirilah yang mempengaruhi cara berfikir dan bersikap seseorangakan suatu hal yang dijalani

Kesadaran diri adalah salah satu kemampuan seseorang dalam memahami kesadaran pikiran, perasaan, dan evaluasi diri sehingga ia dapat mengetahui ketakutan dan kelemahan yang ada pada dirinya, juga dorongan, hingga nilai yang ada pada dirinya sendiri juga orang lain. Kesadaran diri dapat juga dimengerti dan dipahami bahwa sejauh manakah seseorang sadar dan menyadari akan keadaan diri dan hubungannya dengan orang lain dalam banyak aspek.

Seseorang yang memiliki kesadaran diri yang baik akan tetap tenang menghadapi masa kritisnya, karena seseorang yang memiliki kesadaran diri akan memiliki kemampuan pengendalian emosi yang cukup baik, ia akan memperhatikan apa yang menjadi pola pikir dan sikapnya akan suatu hal. Seseorang yang memiliki kesadaran diri yang baik akan dapat memahami situasi sosial, dapat menikmati masa hidupnya, bekerja lebih keras, menjaga kesehatan dan lain sebagainya karena mereka menyadari bahwa hidup itu sungguh anugrah yang berarti dan bermakna.

Menurut beberapa psikolog dan ilmuwan, ada beberapa aspek-aspek kesadaran diri. Yang pertama menurut Ahmad (2008) aspek-aspek tersebut adalah konsep diri atau gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, proses menghargai diri sendiri, dan identitas diri individu yang berbeda-beda. Sedangkan menurut Golemen, aspek-aspek itu adalah kemampuan dalam mengenali emosi serta pengaruh dari emosi tersebut, kemampuan pengakuakan diri yang akurat meliputi pengetahuan akan sumber daya batiniah, kemampuan mempercayai diri sendiri dalam arti memiliki kepercayaan diri dan kesadaran yang kuat terkait harga diri serta kemampuan dirinya.

Sedang indikator seseorang sudah memiliki kesadaran diri diantaranya sebagai berikut: Memahami diri sendiri, mengenali perasaan dan perilaku diri sendiri, mengenali kelebihan dan kekurangan diri, mempunyai sikap mandiri, mempunyai nilai-nilai dan tujuan –tujuan kehidupan, mampu untuk membuat keputusan dengan tepat, dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya, dapat mengontrol dirinya dan mengendalikan emosinya, dapat mengevaluasi dirinya, dan masih banyak indikator lainnya. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah apakah sudah ada indikator kesadaran diri pada diri kita? Sudahkah kita mempunyai dan memiliki kesadaran diri atau self awareness?


Titik Dvasasa: Mendengarkan Hati Nurani

2 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 12

Jumlah Kata 851

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Dvasasa

Mendengarkan Hati Nurani

Dalam setiap diri manusia terdapat kekuatan dalam lubuk hatinya yang senantiasa menunjukkannya kepada hal-hal kebaikan, memotivasinya, mendorongnya untuk melakukannya, dan mengapresiasinya ketika ia telah selesai melakukannya. Kekuatan ini juga memperingatkannya kepada hal-hal yang buruk agar tidak melakukan keburukan tersebut jika seseorang tergoda untuk melakukannya. Bahkan kekuatan ini selalu berusaha untuk mencegahnya sampai seseorang tersebut meninggalkannya.

Seperti seseorang yang menemukan seorang pengemis dijalanan, dan melihatnya dalam keadaan yang sangat tidak layak karena kemiskinan dan kelemahannya, maka akan ada kekuatan dalam hatinya yang mendorongnya untuk melakukan hal-hal baik untuk menolong pengemis dengan memberinya bantuan, uang dan lain sebagainya. Seperti seseorang yang melihat sampah berserakan di jalan ataupun di halaman rumahnya, maka akan ada kekuatan yang akan mendorongnya melakukan hal-hal kebaikan seperti menyapu dan membersihkannya. Ketika seseorang mengikuti apa yang ada dalam lubuk hatinya untuk melakukan hal-hal baik, maka akan ada dukungan yang besar dari dalam hatinya untuk terus semangat melakukan hal tersebut, dan ketika kebaikan tersebut telah dilakukannya maka akan ada apresiasi besar dari hatinya yang membuatnya merasa tenang, bahagia dan damai. Namun apabila seseorang menghiraukan kekuatan tersebut dan menolak melakukan kebaikan tersebut, maka ia akan merasakan penyesalan dan rasa tidak nyaman, dan akan muncul rasa janji untuk melakukan kebaikan di kesempatan yang lain.

Sedang contoh dari pelarangan dan pencegahan atas keburukan atau kejahatan adalah seperti seseorang yang ingin mencuri barang milik teman atau tetangganya, di dalam hatinya akan terdapat kekuatan yang melarang perbuatan tersebut, bahkan kekuatan penolakan dan pencegahan tersebut semakin kuat dirasakan ketika seseorang sudah mulai untuk melakukannya. Seperti seorang siswa ataupun pelajar yang ingin berbuat curang dengan menyontek saat ujian, ia akan merasakan adanya gemuruh dalam hatinya yang sedang berusaha mencegah kelakuan buruknya. Bahkan ketika kelakuan atau pekerjaan itu telah selesai, kekuatan itu lagi-lagi menegurnya dan memperingatkannya karena ia telah melakukan perbuatan tersebut, dan dia mulai menyesali apa yang telah dia lakukan dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Kekuatan tersebut, yang senantiasa melarang dan memerintah seseorang akan suatu hal disebut dengan "hati nurani" sebuah kekuatan yang selalu manusia rasakan sebagai suara yang memancar dari hati yang terdalam sebagai petunjuk, pengingat dan penegur manusia, memerintahkannya untuk berbuat baik dan melarangnya untuk berbuat keburukan dan kejahatan tanpa mengharapkan sebuah balasan ataupun tanpa rasa takut atas sebuah hukuman.

Kita telah banyak melihat seseorang yang dalam keadaan susah, bahkan untuk makan dan kehidupannya pun sangatlah susah, kemudian ia menemukan sebuah harta atau uang di jalan atau di sebuah tempat, namun ia tidak mengambilnya tetapi mengembalikan kepada pemiliknya atau kepada seseorang yang berhak mengelola barang temuan, ia menjaga dirinya dari hal-hal tersebut, tidak ada orang lain yang mengetahui dan itu hanya terlihat dan diketahui dengan Tuhan-nya. Lalu apa yang membuatnya melakukan itu?

Dalam kisah nyata lainnya, saya mempunyai seorang teman yang sangat pintar dan sangat ambisius. Dia telah lama mencita-citakan untuk berkuliah di Turki. Ia juga sudah mempersiapkannya dengan baik dan telah berkonsultasi dengan orang-orang hebat dan terpercaya (karena saat itu saya ikut menemaninya), tidak lama dari itu, saya mendengar berita bahwa ia tidak jadi melanjutkan pendidikannya ke Turki, namun dia malah mengabdikan dirinya untuk menjadi guru di sebuah sekolah dan pondok pesantren. Ketika saya bertanya apa yang membuatnya melakukan itu? Ia hanya menjawab satu kata yang membuat saya berfikir, mengerti, dan paham atas keputusannya. Jawaban tersebut adalah “keterpanggilan” dan keterpanggilan adalah suara yang dihasilkan oleh hati nurani.

Pertanyaan apa yang membuat seseorang melakukannya? Melakukan suatu kebaikan tanpa adanya pengharapan atas suatu balasan, melakukan suatu kebaikan walau tak akan ada orang yang tahu, tak ada balasan ataupun tak ada apresiasi, menghindari keburukan walau ada kesempatan yang besar, menolak kejahatan walau terdapat keuntungan besar untuk dirinya. Bukankah banyak orang-orang yang mau mengabdikan diri tanpa berharap gaji, melakukan kebaikan besar dan perubahan tanpa balasan? Sekali lagi, mengapa? Karena mereka mendengarkan hati nuraninya yang akan mengapresiasi dirinya dan mendamaikan hidupnya.

Hati nurani dianugrahkan kepada manusia dan sudah ada dari ia hidup di dunia. Hati nurani tidak hanya ada pada orang-orang dewasa namun juga ada pada anak kecil. Perhatikanlah seorang anak kecil yang sedang melakukan kesalahan, biasanya ia akan terlihat malu karena telah melakukan kesalahan yang ia perbuat untuk masalahnya. Itu adalah bukti hati nurani yang ada padanya. Bahkan ada buku-buku yang mengatakan bahwa hewanpun juga memilikinya.

Jika seseorang bingung atas sebuah keputusan, maka hendaklah ia bertanya kepada hati nuraninya. Jika seseorang bimbang dalam menentukan sikap, perbuatan bahkan jalan hidupnya, maka hendaklah ia bertanya kepada hati nuraninya. Hati nurani semakin ditaati dan dilatih, maka ia akan semakin tajam dan akan menciptakan naluri dan intuisi yang kuat. Namun apabila ia terlalu sering diabaikan, ditolak dan dilawan maka lama-lama hati nuranipun akan meredup dan mati. Jika sudah mati hati nurani seseorang, maka bisa dipastikan ia akan hidup dengan keras, pada jalan yang tidak baik, dan tidak ada kedamaian dalam hidupnya. Seringkali, seseorang tidak merasa damai dalam kehidupannya karena ia menjalani hidup dengan melanggar hati nuraninya. Sebagai seseorang yang dewasa, jika sebelumnya sering mengacuhkan dan mengabaikan hati nurani, maka mulai sekarang coba dengarkanlah ia dan taatilah ia. Dengan begitu ia akan selalu menemukan petujuk dan pedoman untuk segala hal dalam kehidupannya. Karena hati nurani merupakan perantara hidayah dan petunjuk Tuhan untuk membimbing hambanya menuju kemuliaan dan kebaikan.


user

03 September 2022 10:16 Izzah Avanti Menulislah, kata imam ghazali, "kalau kamu bukan anak raja atau bukan anak ulama' yang besar, maka menulislah!

Titik Tridasa: Beradaptasi Dengan Tepat Dan Cepat

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 13

Jumlah Kata 885

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Tridasa

Beradaptasi Dengan Tepat dan Cepat

Setiap seseorang yang bertumbuh dewasa pasti memiliki beberapa tuntutan untuk melakukan mobilitas atau perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya, dari lingkungan lama hingga berpindah ke lingkungan barunya. Hal tersebut tidak melulu diartikan sebagai pindah rumah, dari satu rumah ke rumah lainnya, namun ia berarti sangat luas dan dalam segala bidang. Tidak ada satu manusia pun yang tidak mengalami hal ini. Karena kehidupan merupakan kedinamisan yang berarti selalu terdapat pergerakan dan perubahan.

Contoh kecil dari perpindahan tersebut dalam bidang pendidikan adalah perpindahan dari sekolah lama menuju ke sekolah baru dengan tingkatan yang lebih tinggi, atau ketika seseorang memutuskan untuk mengambil kelas kursus dan pelatihan, atau mengikuti keorganisasian dan himpunan. Semua itu termasuk lingkungan baru dalam dunia pendidikan. Contoh dari bidang lainnya adalah pada bidang pekerjaan, dimana seseorang harus berpindah dari sebuah pekerjaan ke pekerjaan lainnya, atau dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya dan lain sebagainya.

Beberapa nasehat para ulama ataupun orang-orang sukses terdahulu juga menganjurkan manusia untuk melakukan perpindahan, pergerakan dan perjalanan dengan tujuan-tujuan mulia seperti menuntut ilmu, mencari rezeki, memperjuangkan negara, dan lain sebagainya. Beberapa permisalan digambarkan dalam syair-syair indah yang banyak dibaca dan dipelajari masyarakat dunia. Diantara isi syair-syair tersebut ada sebuah syair karya Imam Syafi’i yang sangat saya kagumi.

Berdiam diri saja di tempat mukim, sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab # maka tinggalkan negerimu dan merantaulah (demi menuntut ilmu dan kemuliaan).

Berkelanalah, niscaya kan kau temukan pengganti orang-orang yang kau tinggalkan. Bersungguh-sungguh lah dalam usaha dan upaya, karena sesungguhnya kelezatan hidup itu ada pada kesungguhan dalam usaha dan upaya.

Sungguh aku melihat, diamnya air hanya akan merusaknya. Jika saja air tersebut mengalir, tentu ia akan terasa lezat menyegarkan. Berbeda jika ia tidak mengalir.

Dan sekawanan singa, andai tidak meninggalkan sarangnya, tidak akan terlatih lagi kebuasannya # Dan anak panah andai tidak melesat meninggalkan busurnya, maka jangan pernah bermimpi akan mengenai sasaran.

Dan sang surya, andai selalu terpaku di ufuk # niscaya manusia akan mencelanya, baik bangsa arab, dan selain mereka.

Dan bijih emas yang terkubur di bebatuan, hanyalah sebongkah batu tak bernilai, yang terbengkalai di tempat asalnya # Demikian halnya dengan gaharu di belantara hutan, hanya sebatang kayu, sama seperti kayu biasa lainnya.

Andai saja gaharu tersebut keluar dari belantara hutan, ia adalah parfum yang bernilai tinggi # Dan andaikata bijih itu keluar dari tempatnya, ia akan menjadi emas yang sangat berharga.

Namun ternyata perpindahan yang dilakukan oleh manusia bukanlah hal sederhana dan mudah dilakukan oleh banyak orang. Bukan karena tenaga atau biaya yang harus dikeluarkan saja yang membuat sebagian besar menjadikannya sebuah beban atau permasalahan, tapi pada kesiapan mental mereka dalam menerima dan menjalani hidupnya di tempat barunya atau lebih singkatnya adalah bagaimana cara mereka beradaptasi. Karena beradaptasi tidak hanya dengan manusia lainnya namun juga terhadap lingkungan barunya, budayanya, pekerjaannya dan lain sebagainya.

Adaptasi sendiri diartikan sebagai cara atau proses penyesuaian diri pada individu atau manusia terhadap lingkungan barunya. Proses adaptasi yang dialami oleh setiap manusia berbeda-beda. Ada yang melakukan adaptasi dengan cepat den mudah, namun adapula yang membutuhkan kurun waktu yang tidak sebentar. Adaptasi, memang sangat dibutuhkan oleh setiap orang karena manusia merupakan mahluk sosial yang akan selalu berhubungan dengan mahluk lainnya.

Tidak ada pertumbuhan dalam zona nyaman, Tidak ada kenyamanan pada zona pertumbuhan” Kata mutiara ini pun tidak asing lagi untuk didengar. Ketahuilah bahwa dalam setiap dimensi dan ruang kehidupan memiliki tantangan tersendiri yang mengharuskan manusia untuk mengenal dan menghadapinya dan bukan tak acuh dan meninggalkannya. Karena seseorang yang hanya memilih zona nyaman pada kehidupannya, ia tak akan mengalami proses pertumbuhan yang sempurna, tidak akan menjadi kuat dan tangguh karena tak pernah jatuh, terluka dan dihadapkan dengan ujian dan cobaan yang nyata.

 Ada juga satu kalimat atau quote lainnya yaitu: “Mutasi itu biasa, mutasi dari satu tempat ke tempat lainnya itu biasa, toh pada akhirnya kita akan mutasi ke kuburan”. Ini adalah perkataan sederhana penuh makna dan petuah yang selalu diucapkan oleh guru-guru kami di sebuah lembaga pendidikan islam yang menjalani lahan perjuangan bagi seseorang yang rela dan tulus melakukan pengabdian untuk kemaslahatan islam dan pendidikan. Seseorang yang mengabdi, diharuskan untuk siap ditempatkan dimana saja dan dalam sektor ataupun bagian yang akan diamanahkan kepadanya. Tidak ada penolakan atau rasa tak berterimaan dengan hal tersebut. Walau terkadang merasa berat, walau terkadang merasa tidak mampu, namun mereka akan berupaya dengan ikhlas dan tulus menjalaninya. Yang perlu dilakukan adalah beradaptasi dan mulai belajar.

Perkataan tersebut sebenarnya juga menjadi penguat bagi seseorang yang terkadang merasa susah atau merasa tidak mudah dalam melakukan mobilitas atau mutasi dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Karena beberapa alasan, bisa jadi terlanjur nyaman dengan tempat sebelumnya atau ia mempunyai masalah adaptasi di tempat-tempat yang baru. Maka disini penulis akan memaparkan beberapa cara agar kita dapat melakukan adaptasi dengan cepat dan tepat. Diantaranya adalah sebagai berikut:

·         Mempersiapkan diri dan mental

·         Menjadi diri sendiri dan apa adanya tapi tetap bisa meletakkan diri sesuai dengan posisinya

·         Memikirkan hal-hal positif untuk tempat baru yang akan ditempati dan tidak terlalu membayangkan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi

·         Menghargai setiap perbedaan yang ada pada setiap orang, tempat, lingkungan dan budaya, serta tidak membandingkan dengan apa yang ada terdahulu

·         Membangun hubungan dengan banyak orang, tidak ragu berkenalan atau menyapa, memulai pembicaraan, senyuman dan lain sebagainya

·         Tidak malu untuk bertanya tentang hal-hal yang belum diketahui

·         Mengenal lebih tentang lingkungan tersebut

·         Belajar, dan masih banyak cara lainnya


Titik Caturdasa: Berbicara Dengan Kebijaksanaan Dan Kewibawaan

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 14

Jumlah Kata 1092

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Caturdasa

Berbicara Dengan Kebijaksanaan Dan Kewibawaan

“Berbicaralah, maka aku akan tahu siapa dirimu”

Seseorang yang ingin menuju proses kedewasaannya harus belajar berbicara. Berbicara  bukan hanya sekedar mengucap kata. Belajar berbicara adalah salah satu proses pengendalian diri saat dewasa. Karena dewasa bukan apa yang diucapkan, apa yang dikatakan, dan juga apa yang dibicarakan semata, terlebih dari pada itu adalah bagaimana ia mengucapkan, ia mengatakan, dan ia membicarakan. Dalam kata lain berarti bahwa memperhatikan apa yang dibicarakan adalah sesuatu yang sangat penting namun ada sesuatu hal yang lebih penting dari pada itu, yaitu bagaimana cara penyampaian isi pembicaraan tersebut.

Pertama, kita akan membahas mengapa seseorang harus memperhatikan apa yang dibicarakan, kata dan kalimat apa yang akan dikeluarkan dari lisan juga mulutnya. Hal tersebut dikarenakan perkataaan adalah sesuatu hal yang lebih tajam dari pada pedang, lebih kuat dari pada besi dan baja. Ia bisa memberikan kekuatan lebih dari yang diberikan suplemen kepada tubuh kita, namun ia juga dapat menghancurkan lebih dari tajamnya tombak dan pedang. Betapa banyak orang dihormati karena lisannya, namun betapa banyak pula seseorang direndahkan dan dihinakan juga karena lisannya. Banyak orang sukses karena lisannya, tapi juga banyak orang yang tergelincir karena lisannya.

Seseorang yang ingin berbicara harus benar-benar berfikir terlebih dahulu, apakah yang akan diucapkan merupakan sesuatu yang baik dan akan membawa kebaikan, atau apakah yang diucapkan merupakan sesuatu yang tidak baik yang justru akan membawa keburukan. Hati dan pikiran seseorang terlihat dari apa yang dibicarakan. Ketika seseorang membiasakan untuk berkata baik, maka ia akan terbiasa mengatakan hal-hal yang baik. Namun ketika seseorang membiasakan untuk berkata buruk, maka ia juga akan terbiasa dengan kata-kata tersebut dan akan melekat pada kepribadiannya. Contoh kecilnya adalah ketika seseorang tersandung batu di jalan, ketika ia terbiasa mengucapkan perkataan baik, maka secara reflek dan naluriahnya akan berkata “innalillahi wa inna ilaihi raaji’un” atau perkataan baik lainnya, namun jika seseorang terbiasa untuk mengucapkan sesuatu yang buruk, maka yang keluar dari lisannya adalah umpatan atau kata-kata buruk lainnya.

Jika memang seseorang tidak dapat untuk berkata baik. Maka alangkah lebih baiknya dia diam. Karena diam akan menyelamatkannya dan menyelamatkan orang lain dari perkataan buruk yang ditimbulkan oleh lisannya. Nasehat Rasulullah SAW dalam sebuah potongan hadist berisi “Maka hendaklah berkata baik atau diam”. Umar bin Khattab juga berkata “Aku tidak pernah sekali-kali menyesali diamku. Tetapi aku berkali-kali menyesali bicaraku.” Hal ini dikarenakan lidah yang tak bertulang ini lebih mudah untuk tergelincir dari pada kaki ataupun yang lain secara sengaja maupun dengan tidak sengaja.

Kedua, mengapa cara penyampaian itu lebih penting dari apa yang dibicarakan. Betapa banyak nasehat atau petuah berharga yang diberikan kepada orang lain dengan emosi yang buruk, mungkin dengan cacian, marah, hinaan, atau sindiran tidak dapat  diterima dengan baik, bahkan nilai-nilai kebaikan dari perkataan tersebut turut hilang. Nasehat yang sama jika diucapkan dengan cara yang berbeda, akan dipahami dengan cara yang berbeda pula. Seseorang perlu untuk mempelajari cara berbicara dengan baik karena sedikit banyak hidup seseorang berubah karena ia mengubah cara bicaranya. “Ubahlah cara bicaramu, ia akan mengubah hidupmu.” Hendaknya seorang yang berbicara juga mengetahui dan mengenal siapa lawan bicaranya, sehingga ia bisa memposisikan perkataan dan juga cara penyampaiannya.

Seorang shahabiyah Utsman bin Affan mengatakan bahwa “Tidak seorangpun yang menyembunyikan suatu rahasia di dalam hatinya, kecuali Allah akan menampakkan pada raut wajahnya atau melalui perkataan yang terlontar dari lidahnya.” Hal ini menunjukkan bahwa perkataan dan ucapan akan menunjukkan karakter seseorang juga ilmu seseorang, seseorang yang tegas akan terlihat dari bagaimana ia berbicara, seseorang yang lemah lembut juga akan terlihat bagaimana ia berbicara, kadar atau dalam strata sosial yang ditempati seseorang juga bisa tercermin dari apa yang ia bicarakan, tingkat keilmuan dan pendidikan yang ditempuh juga terlihat dari apa yang ia sampaikan. Bahkan kesan pertama kita mengenal seseorang juga dari bagaimana ia berbicara.

Diam adalah emas, jika bicara memang tidak dibutuhkan dan diperlukan, jika mendengar lebih dibutuhkan dan dipentingkan, jika apa yang diucapkannya akan menjadi sesuatu yang sia-sia bahkan sesuatu yang membawa kepada keburukan, jika diammu akan menunjukkan kewibawaanmu, jika diammu adalah bentuk dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang bodoh. Namun jika bicara lebih dibutuhkan maka bicara bisa menjadi dua kali emasnya diam bahkan menjadi berlian dan permata. Karena bicara mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki oleh diam. Bicara bisa membangkitkan jiwa seseorang namun juga bisa menjatuhkan, bicara dapat menggerakkan dan bisa memberikan perubahan, bicara bisa mempengaruhi kawan dan lawan. Sehingga pikirkan sekarang, diammu atau bicaramu yang lebih engkau butuhkan dan dibutuhkan?

Apakah kemampuan bicara perlu latihan ataukah ia adalah bawaan? Kemampuan berbicara perlu dilatih dan dipelajari, ia tak bisa dimiliki oleh seseorang dengan tiba-tiba. Banyak pembicara-pembicara sukses yang menyatakan bahwa ia telah berlatih dari kecil dengan mendengar dan menirukan, membaca buku-buku tertentu, mengikuti perlombaan-perlombaan dan masih banyak hal lainnya. Banyak sedikit kemampuan bicara seseorang dipengaruhi oleh pendidikan yang ia dapatkan dari orang tuanya saat ia kecil atau saat ia belajar berbicara dan bertumbuh sampai adanya faktor-faktor lain yang juga memberikan pengaruhnya.

Terdapat beberapa faktor yang membuat seseorang tidak dapat berbicara dengan lancar, diantaranya:

·         Alat pengucap tidak berfungsi dengan baik, menurut ilmu bahasa atau linguistik setidaknya ada   bagian alat pengucap, jika salah satu bagian tersebut

·         Mengalami masalah kesehatan yang buruk, baik fisik ataupun psikisnya.

Disamping itu, ada juga seseorang yang selalu ragu dan takut dalam berbicara, menurut Oh Su Hyang hal tersebut biasanya disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, dan yang paling umum disebabkan oleh trauma salah ucap yang pernah dialaminya di masa lalu dan memberikan dampak yang cukup besar hingga saat ini. Akibat dari trauma tersebut menyebabkan seseorang tidak dapat berbicara dengan normal dan akhirnya mereka berbicara terbata-bata, menggunakan suara kecil dan bergetar, gagap dan gugup berlebihan, juga tidak berani untuk menatap lawan bicara. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah membuang rasa takut itu sendiri, ia harus mengubah rasa trauma dan rendah dirinya menjadi semangat yang menantang.

Di sisi yang lain, kita juga menemukan beberapa atau cukup banyak orang kurang percaya diri dalam berbicara sehingga ia tak bisa merasa tenang saat ia berbicara, sehingga rasa gugup selalu menghampirinya. Ada beberapa cara untuk mengatasinya, diantaranya:

·         Yakin kepada diri sendiri dan mensugesti dan mengafirmasinya dengan pikiran-pikiran yang baik

·         Mempelajari dan menguasai isi atau materi dari pembicaraan yang akan disampaikan

·         Memperhatikan dan mengetahui para pendengar dengan baik

·         Tidak berfikiran negatif dan merendahkan diri sendiri

·         Memperbanyak latihan

Seseorang yang dewasa adalah seseorang yang dapat berbicara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan, yang dalam arti sederhananya ia bisa berbicara dengan adil atau menempatkan perkataan pada tempatnya dengan cara yang juga sesuai. Dewasamu adalah apa yang kau ucapkan, do’amu adalah apa yang kau ucapkan, masa depanmu apa yang kau ucapkan, dan hidupmu adalah apa yang kau ucapkan. Maka ucapkanlah kata-kata yang baik untuk dirimu dan orang-orang disekitarmu!


Titik Pancadasa: Dewasa dan Pekerjaaan

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 15

Jumlah Kata 1005

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Pancadasa

Dewasa Dan Pekerjaan

“Hidup adalah kedinamisan, salah satu bukti akan kedinamisan tersebut adalah selalu adanya pekerjaan yang dilakukan.”

Bekerja sesungguhnya adalah salah satu fitrah dari Yang Maha Kuasa. Karena setiap manusia diberikan energi dan kekuatan dalam dirinya untuk melakukan pekerjaan, dan kekuatan tersebut bisa menjadi suatu hal yang buruk jika tidak digunakan.  Jika seseorang tidak mau bekerja dan melakukan pekerjaan, maka bisa dipastikan secara cepat atau lambat ia akan merasakan ledakan pada dirinya akibat adanya terlalu banyak energi dan kekuatan yang tidak digunakan bahkan malah disia-siakan.

Di masa dewasa inilah, seseorang mulai dituntut untuk mencari pekerjaan yang baik dan layak untuk menghidupi dirinya sendiri juga keluarganya. Walau juga tidak sedikit dari manusia dan masyarakat yang sudah bekerja sebelum mereka beranjak dewasa. Namun mengapa tuntutan untuk bekerja banyak diajukan kepada orang-orang dewasa? Karena mereka sudah dipercaya bahwa mereka sudah mempunyai bekal ilmu dan pengalaman yang cukup, karena mereka sudah dipercaya mampu untuk berdiri sendiri dengan kaki dan tangan yang mereka miliki, mereka bukanlah seorang anak kecil yang masih bergantung penuh pada orang tuanya, karena mereka dipercaya bisa menjadi sosok yang diharapkan dan dicita-dicitakan menjadi sosok yang sukses dan bermanfaat bagi umat.

Setiap orang harus bekerja untuk mencari rezekinya. Karena seseorang tidak akan bisa hidup dengan tenang orang yang hanya mengandalkan harta dan kekayaan dari warisan orang tuanya. Karena nyatanya, harta warisan lebih cepat habis menguap dari pada harta yang dicari dengan cara bekerja. Mengapa? Logikanya sangat sederhana, ketika seseorang mendapatkan harta secara cuma-cuma atau tanpa bekerja apalagi berusaha akan cenderung lebih mudah untuk menggunakannya, menghabiskannya, dan menghamburkannya. Namun jika harta ataupun uang tersebut merupakan hasil dari usaha dan tetesan keringat yang dihasilkan sendiri, maka mereka tentu akan cenderung hemat karena mereka merasakan bagaimana harta itu didapatkan dan diperjuangkan.

Ada sebuah kisah dari salah satu buku mutholaah (buku bacaan cerita bahasa Arab untuk meningkatkan skil membaca) yang pernah saya baca. Kisah itu menceritakan bahwa ada sosok laki-laki yang beranjak dewasa dan sudah menyelesaikan studinya. Hari-hari di masa studinya hanya digunakan untuk bermain-main dan bersenang-senang dengan kawannya. Hingga pada akhirnya sang Ayah pun merasa marah den berniat untuk membimbing dan mengubah anaknya menjadi lebih baik dengan cara mendaftarkannya di salah satu tempat usaha milik temannya dengan syarat ia harus menyerahkan gaji hariannya kepada sang ayah sebagai bukti bahwa dia telah bekerja.

Namun apadaya, setiap harinya ia tetap saja bermain dengan teman-temannya karena ia memiliki seorang ibu yang memanjakannya yang memberikan ia uang untuk diberikan kepada ayahnya. Dan setiap hari setelah menerima uang tersebut, sang ayah selalu melemparkannya ke jendela dan pergi meninggalkannya. Hari berganti hari berlalu, hingga sang ibu sudah tidak mempunyai uang lagi yang bisa ia berikan kepada sang anak. Akhirnya sang anak terpaksa harus bekerja. Ketika sore, ia memberikan gajinya pada sang ayah, namun saat sang ayah ingin melempar uangnya ke jendela seperti biasa. Sang anak laki-laki pun berkata: “Ayah, janganlah engkau membuangnya, karena itu adalah hasil jerih payah dari usaha dan keringatku!”

Dari kisah sederhana ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa, jika seseorang bekerja dengan hasil kerja kerasnya, maka ia akan lebih menghargai apa yang dimilikinya dan tidak menganggapnya sia-sia dan tidak berwarna. Bekerja adalah fase perjuangan, yang artinya butuh usaha untuk mendapatkan apa yang diharapkan dan dicita-citakan. Tidak mudah prosesnya, karena butuh kerja keras, kesabaran, dan pembelajaran. Bahkan banyak orang yang harus merasakan kegagalan yang bertubi-tubi demi pekerjaannya.

Pekerjaan sebenarnya tidak selalu dibatasi dengan kata mencari kerja yang artinya seseorang harus melamar pekerjaan di tempat kerja, perusahaan ataupun tempat-tempat yang memerlukan tenaga kerja. Sesungguhnya mencari kerja juga mempunyai makna menghasilkan atau menciptakan pekerjaan untuk dirinya, bisa dengan menjadi pengusaha, penulis, pelukis dan lain sebagainya. Pekerjaan juga tidak melulu dibatasi dengan arti mencari uang untuk sumber pangan dan kehidupan, namun ia juga berarti pekerjaan yang menghasilkan manfaat tanpa menjadikan uang sebagai tujuannya. Seperti yang dilakukan seseorang yang menjalankan pengabdian, menjadi relawan, menjadi ibu rumah tangga, dan lain sebagainya.

Setiap manusia yang hidup diberikan pilihan. Pilihan tersebut bukanlah pilihan untuk bekerja atau tidak bekerja, namun pilihan tersebut ada pada jenis pekerjaan yang akan dilakukan. Karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang berbeda antar individu. Karena perbedaan inilah menghasilkan bakat dan juga kemampuan yang berbeda-beda dalam setiap bidangnya. Ada condong pada akademik, politik, ekonomi, seni, dan lain sebagainya.

Orang-orang yang terkenal dan dikenang oleh dunia adalah orang-orang yang melakukan perubahan besar melalui pekerjaannya dan daya juangnya, bukan karena nasab dan hal lainnya. Orang-orang yang namanya tak habis ditelan oleh waktu, yang namanya terkenang dan abadi dalam sejarah adalah orang-orang yang mengerjakan suatu “pekerjaan” yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang. Semakin banyak hasil pekerjaan seseorang yang dapat bermanfaat untuk umat, semakin baiklah pekerjaan yang ia lakukan. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya.

Bekerja yang baik adalah pekerjaan yang dilakukan dengan ilmu, bukan asal dilakukan. Maka dari itu, salah jika seseorang berfikir tidak mau lama-lama mencari ilmu atau sekolah, agar ia cepat untuk mendapatkan pekerjaan, atau ingin cepat-cepat lulus agar tidak ada beban pelajaran, ujian dan lain sebagainya. Nyatanya justru pada saat bekerja amanah seseorang justru semakin berat, ujian, masalah dan tantangannya justru malah lebih komplek dan bermacam-macam. Maka untuk sampai pada fase ini, dibutuhkan persiapan yang matang.

Ada banyak sekali permasalahan pekerjaan, diantaranya adalah lingkungan kerja, tugas dan pekerjaan yang kurang cocok, bos atau atasan yang kurang baik, kebosanan dalam bekerja, gaji yang terlalu kecil, usaha yang tak kunjung berhasil, kerugian bahkan kebangkrutan yang besar, sepinya pembeli dan lain sebagainya. Namun perlu disadari bahwa tidak ada permasalahan yang diciptakan tanpa ada solusi dan jalan keluar. Maka tugas seseorang yang berada pada permasalahan tersebut adalah mencari jalan keluar yang sesuai dengan permasalahannya.

Salah satu permasalahan pekerjaan adalah kebosanan dalam bekerja itu sendiri. Bekerja memang menjadi salah satu aktivitas yang terkadang terkesan membosankan. Karena dalam suatu pekerjaan ada yang namanya aktivitas berulang. Aktivitas yang berulang biasa membuat bosan pelakunya. Maka jangan lupa untuk menyelipkan aktivitas-aktivitas lain, yang berbeda, yang menggembirakan, yang dapat merefresh otak dan tubuh, juga jiwa dan raga. Seperti berlibur, beristirahat, melakukan hobi dan lain sebagainya. Semangat bekerja, karena hidup adalah ladangnya pekerjaan dan perbuatan baik yang akan kita tuai dihadapan Tuhan.


Titik Shash: Mencintai Diri Sendiri

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 16

Jumlah Kata 734

Sarkat Jadi Buku

Titik Shash

Mencintai Diri Sendiri (Self-Love)

“Kalau tidak mencintai diri, berarti membenci. Kalau tidak menghargai diri, berarti merendahkan. Kalau tidak menyayangi diri, berarti antipati pada diri. Maka sayangi dirimu, sebagai bentuk rasa syukurmu pada Tuhanmu!”

Mencintai diri sendiri adalah suatu yang penting sebagai wujud syukur dan terima kasih kita pada Tuhan yang telah menciptakan juga untuk diri sendiri yang telah berjuang untuk menjalankan amanat yang besar di hamparan dunia ini. Mencintai diri sendiri mempunyai arti yang cukup besar dan luas, bahkan setiap orang mempunyai definisi dan pandangan yang berbeda-beda dalam mencintai dirinya. Tidak hanya pada definisi dan pandangan, namun juga pada sikap dan perilaku yang mereka lakukan.

Sederhananya mencintai diri sendiri artinya menyayangi diri sendiri dengan menerimanya sepenuh dan setulus hati atas apa yang ada dalam diri termasuk kelebihan-kelebihannya juga kekurangan-kekurangannya. Mencintai diri sendiri berarti merasa puas atau qana’ah dengan apa yang dimilikinya, tidak membandingkan dengan apa yang dimiliki atau yang dianugrahkan kepada orang lain, mempercayai bahwa Tuhan telah menciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk penciptaan, meyakini bahwa kita adalah keunikan tersendiri dari perbedaan-perbedaan yang diciptakan sebagai rahmat. Mencintai diri sendiri juga berarti memberikan yang terbaik untuk diri sendiri.

Namun sama halnya dengan mengenal diri sendiri, nampaknya bagi sebagian atau lebih banyak orang lebih sulit mencintai dirinya sendiri dibandingkan dengan mencintai orang lain. Banyak orang lebih memperhatikan orang lain bahkan mencintainya, namun lupa akan dirinya. Banyak juga orang yang selalu sibuk berusaha untuk membahagiakan orang lain, namun tak ada waktu untuk membahagiakan dirinya sendiri. Banyak orang yang lebih percaya pada kacamata dan suara hati orang lain, namun sama sekali tak mau melihat dengan kacamata sendiri dan mendengar suara hatinya.

Ada cukup banyak hal yang membuat seseorang belum atau tidak bisa mencintai dirinya sendiri, diantaranya adalah rasa kurang bersyukur dan berterima terhadap diri sendiri. Seseorng yang seperti ini biasanya akan berfikir dan mempertanyakan suatu hal yang seharusnya tidak perlu ia tanyakan, seperti mengapa aku terlahir sebagai orang yang pendek, mengapa tubuhku tidak seindah para model, mengapa kemampuanku hanya terbatas pada bidang-bidang tertentu, mengapa aku tak seperti dia, dia, dan dia. Karena rasa kurang bersyukur akan membawa manusia kepada rasa kufur, iri, dengki dan banyak keburukan lainnya yang akhirnya membuatnya sulit untuk tertawa dan bahagia.

Menghargai diri sendiri merupakan salah satu cara untuk mencintai diri kita sendiri. Seperti berterima kasih ke diri sendiri karena telah memberikan hal-hal yang terbaik di setiap harinya. Dan kalaupun ada hal-hal yang belum sesuai yang diharapkan atau tidak sengaja melakukan kesalahan, maksa seseorang tersebut tidak menyalahkan diri terlalu dalam atau merasakan kecewa atas diri sendiri. Namun hendaknya tetap mensyukuri, mengintropeksi diri, lalu memperbaiki diri.

Jika ada hal-hal yang memang belum sempat kita lakukan, maka mari kita jadwalkan ulang. Jika ada hal-hal yang belum terselesaikan, maka mari kita sempurnakan. Jika ada hal-hal yang kurang, maka mari kita lengkapi. Jika ada hal-hal yang salah, maka mari kita perbaiki. Jika ada yang menyakitkan, mari kita obati. Dan jika ada suatu hal yang mengecewakan, maka camkan pada jiwa setelah ini akan ada sesuatu besar yang membanggakan.

Ketika seseorang sudah mencintai dirinya, maka seseorang tersebut lebih cenderung bahagia, bijaksana dan damai. Seseorang yang mencintai dirinya akan lebih fokus dengan hidupnya dan menjadikannya lebih hidup dan lebih berwarna. Seseorang yang mencintai dirinya cenderung lebih sehat secara fisik dan maupun psikisnya karena seseorang tersebut memperhatikan apa yang sedang dibutuhkan oleh tubuhnya, apa yang dirasakan oleh tubuhnya, apa yang menjadi permasalahan bagi tubuhnya, dan lain sebagainya.

Hal-hal tersebut dikarenakan ia telah menunaikan kewajiban dan hak yang harus dipenuhi untuk diri sendiri. Jika kewajiban dan hak diri sendiri telah terpenuhi, maka ia juga akan menjadi seseorang yang dapat menunaikan hak dan kewajibannya kepada orang lain. Seseorang yang nyaman dan bahagia dengan dirinya akan mampu membuat orang lain nyaman dan bahagia dengan dirinya. Namun seseorang yang tak nyaman dan bahagia dengan dirinya, ia tak akan mampu untuk membuat orang lain nyaman dan bahagia saat bersamanya.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mulai mencintai diri sendiri, diantarnya:

·         Mengenal diri sendiri luar dan dalam, fisik dan psikisnya serta semua hal yang bersangkautan pada diri

·         Memenuhi apa yang menjadi kebutuhan diri dari sesuatu yang berwujud juga dari sesuatu yang hanya bisa dirasakan

·         Memberikan ruang dan waktu untuk diri sendiri

·         Meluapkan isi hati dan mendengarkannya dengan baik

·         Selalu berfikir hal-hal yang positif dan menjauhi segala hal yang bersifat negatif

·         Selalu mengapresiasi diri ketika ia berhasil melakukan kebaikan dan memaafkannya ketika membuat kesalahan lalu memperbaikinya

·         Bersyukur kepada Tuhan atas penciptaan diri yang diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk


Titik Saptadasa: Mengatur Dan Mempergunakan Waktu Dengan Sebaik-Baiknya

2 0

Titik Saptadasa

Mengatur Dan Mempergunakan Waktu Dengan Sebaik-Baiknya

Detik terus akan berganti detik, menit juga akan terus berganti. Inilah kehidupan yang tidak luput dari yang namanya dimensi waktu. Ada 3 dimensi waktu yang dimiliki oleh manusia, tiga dimensi itu adalah dimenti masa lalu, dimensi masa kini, dan dimensi masa depan. Setiap dimensi tersebut mempunyai makna dan hikmah tersendiri. Yang pertama adalah masa lalu, masa lalu adalah sebuah masa dari bagian hidup yang telah berlalu. Yang kedua adalah masa kini, masa kini adalah sebuah masa dari bagian hidup yang sedang berjalan. Dan yang ketiga adalah dimensi masa depan, masa depan adalah sebuah masa dari bagian hidup yang akan dituju dan dijalani.

Setiap dimensi waktu menuntun dan menuntut manusia untuk melakukan sesuatu, seperti masa lalu yang memberikan pelajaran yang berharga untuk masa kini dan masa depan, ia tak bisa diputar dan dikembalikan dengan cara apapun, hanya bisa diikhlaskan dan diperbaiki dimasa kini. Sedang masa kini, adalah medan tempat manusia berjuang untuk meraih kesuksesan-kesuksesannya. Dan masa depan menjadi harapan dan tujuan yang akan digapainya. Menjalani hidup disetiap dimensi waktu harus dengan sebaik-sebaiknya, agar seseorang dapat hidup dengan kedamaian tanpa penyesalan.

Manusia berpacu dengan waktu. Setiap waktu berjalan, ia memberikan semakin banyak tuntutan dan pekerjaan yang harus dikerjakan dan dituntaskan oleh manusia. Banyak orang yang mengeluhkan bahwa waktu yang ada kurang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang harus dikerjakan atau dengan kata lain pekerjaan yang ada lebih banyak dari pada waktu yang tersedia. Inilah yang dirasakan oleh sebagian banyak manusia. Namun jika ada seseorang yang mengatakan tidak punya pekerjaan yang harus dilakukan itu keliru. Karena hakikatnya pekerjaan jika dicari itu banyak, dan jika dikerjakan tidak akan pernah ada habisnya.

Karena banyaknya pekerjaan atau hal-hal yang harus diselesaikan oleh manusia dengan cepat sebelum datangnya pekerjaan atau hal-hal yang lain, maka setiap manusia butuh untuk mengatur atau memanage waktunya dengan baik. Manajemen waktu atau pengaturan waktu adalah cara untuk membagi dan mengelola waktu yang dimiliki untuk berbagai pekerjaan dan aktivitas agar memaksimalkan produktifitas untuk mencapai tujuan-tujuan beserta target-target yang ditetapkan dan direncanakan. Kemampuan manajemen dan pengaturan waktu seseorang akan membantunya memanfaatkan waktu secara optimal dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan tepat dan membawanya kepada kesuksesan-kesuksesan setiap harinya.

Ada beberapa cara dan tips untuk mengatur waktu dengan baik, diantaranya:

·         Membuat perencanaan, karena membuat perencanaan pada pekerjaan akan meenghemat setengah waktu yang akan digunakan. Salah satu contoh membuat perencanaan adalah menuliskan “to do list”, membuat jadwal, dan lain sebagainya.

·         Menentukan target atau sasaran yang akan dicapai dengan batas-batas waktu tertentu. Hal ini akan mendorong seseorang untuk dapat menyelesaikan sebelum batas waktu tersebut.

·         Menyusun skala prioritas, belajar mana yang penting, lebih penting dan paling penting. Jika seseorang berhasil menyusun skala prioritasnya maka ia akan terbantu untuk menyelesaikan tugas-tugasnya dengan tepat waktu.

·         Berlatih untuk fokus. Seseorang yang fokus akan cenderung memberikan seluruh tenaganya untuk pekerjaan tersebut, sehingga pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dengan maksimal dan baik. Namun apabila seseorang tidak dapat memfokuskan dirinya, maka yang terjadi justru sebaliknya, tidak akan sampai pada tujuannya dengan baik dan cepat

·         Berani mengambil keputusan dan langkah, karena jika seseorang diliputi rasa keraguan dalam hidupnya, maka langkah-langkah ke depannya akan menjadi terhambat.

·         Meninggalkan hal-hal yang tidak berguna, karena hal-hal yang tidak berguna justru akan memakan waktu seseorang lebih lama karena daya tarik dan tipuannya yang seolah-olah membuat seseorang senang dan nyaman.

·         Mengurangi hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian dari pekerjaan utama, seperti hp, media sosial, dan lain sebagainya.

·         Bertanggungjawab dan tidak melalaikan tugas dan amanat.

·         Menyelesaikan lebih awal, yang artinya tidak menunda-nunda pekerjaan tersebut. Lebih baik kita meluangkan sisa waktu di akhir dari pada mempergunakannya di awal. Karena kita juga tidak akan pernah tahu hal-hal baru atau pekerjaan-pekerjaan baru yang datang dan juga harus diselesaikan pada waktu yang bersamaan.

·         Mengerjakan sesuatu sambil menunggu, menunggu adalah suatu hal yang tidak luput dari setiap orang di berbagai keadaan, maka jangan sampai waktu hanya akan habis dengan menunggu, tapi kerjakanlah sesuatu yang bermanfaat seraya menunggu, seperti membaca, menulis dan lain sebagainya.

Seseorang yang dapat mengatur waktunya dengan baik juga akan merasakan manfaat-manfaat yang berguna untuk dirinya, diantaranya:

·         Meningkatkan produktifitas, karena dengan pengaturan waktu memungkinkan manusia untuk mengerjakan lebih banyak pekerjaan dari pada seseorang yang tidak mengatur waktunya.

·         Membuat seseorang lebih disiplin, terencana, dan lebih rapi dalam kehidupannya sehari-hari.

·         Memiliki waktu luang lebih banyak, karena pekerjaan yang dikerjakan akan lebih cepat tuntas dan terselesaikan.

·         Menurunkan rasa stress yang biasa ditimbulkan oleh pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk. Karena pengaturan waktu dapat meminimalisir ketidakteraturan dalam kehidupan

·         Mencapai target, tujuan dan kesuksesan lebih cepat

·         Meningkatkan kualitan hidup yang baik

Menggunakan waktu dengan baik adalah kewajiban bagi setiap orang dan bukan pilihan, karena waktu adalah anugrah dan nikmat tuhan yang nantinya juga akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Sebuah hadist berbunyi: “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai 4 hal: umurnya, untuk apa ia habiskan? Jasadnya, untuk apa ia gunakan? Ilmunya, apakah telah ia amalkan? Dan hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan. (H.R. Ibnu Hibban dan At-Tirmidzi) Maka setiap orang harus belajar menggunakan waktunya dengan baik dengan mengisinya dengan hal-hal yang baik pula.


Titik Astadasa: Mengendalikan Emosi

2 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 18

Jumlah Kata 707

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Astadasa

Mengendalikan Emosi

Emosi adalah mekanisme umpan balik yang mengatakan kepada kita yang mengatakan seuatu benar atau salah. Dalam wikipedia disebutkan bahwa emosi adalah adalah perasaan intens reaksi terhadap seseorang atau kejadian dan dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu. Emosi memiliki empat aspek fundamental, diantaranya adalah: biologi emosi, intensitas, frekuensi dan durasi, juga rasionalitas.

Mempelajari cara mengendalikan emosi adalah tanda sebuah kedewasaan. Ketika kita membiarkan emosi mengendalikan tindakan pada diri kita, hal-hal bisa menjadi tidak terkendali dengan cepat atau menjadi lepas kontrol akan diri kita sendiri. Ketika kita tidak mampu untuk menguasai, maka kitalah yang akan dikuasai. Ketika kita tidak mampu untuk mengendalikan, maka kitalah yang akan dikendalikan. Maka tiap-tiap diri harus belajar untuk menganalisis dan mengelola emosi dan perilakunya karena hal tersebut bisa membuat diri menjadi lebih baik.

Saya pernah menjadi sosok yang pernah marah sebesar-besarnya, dan itu membuat saya juga menyesal sebesar-besarnya. Saya pernah menjadi sosok yang sedih dengan kepiluhan dan kepedihan, dan itu membuat saya terluka dan tersakiti. Rentetan emosi dari kejadian dan peristiwa yang saya alami membuat diri inipun tersadar dan akhirnya belajar bahwa kita tidak boleh terlalu larut pada emosi negatif kita. Karena hal tersebut justru akan merugikan diri kita sendiri. Tidak perlu terlalu senang, sehingga lupa diri. Tidak pula terlalu sedih, sehingga justru akan menyiksa diri. Semuanya harus dilakukan sewajarnya. Tidak semuanya perlu ditampakkan kepada semua orang. Karena justru hal tersebut terkadang mengandung suatu hal yang kurang baik.

Emosi yang dimiliki dan dirasakan seseorang akan mempengaruhi pikiran dan tindakan yang ada pada dirinya. Emosi menjadi cerminan bagi keadaan jiwanya, yang akan secara nyata terlihat pada perubahan jasmaninya. Emosi sebenarnya tidak selalu dicondongkan pada hal-hal yang bersifat negatif, namun juga terdapat emosi-emosi positif. Namun memang secara umum, banyak dipahami pada arti yang sama dengan marah dan kondisi emosi lainnya. Emosi yang positif membawa manusia kepada pikiran dan tindakan yang positif. Sebaliknya emosi yang negatif juga akan membawa manusia kepada pikiran dan tindakan yang negatif pula.

Ada banyak tingkatan, level, ataupun jenis dan macam emosi yang telah dikaji dan dikemukakan oleh para ahli khususnya pada bidang psikologi. Dan salah satunya adalah x tingkatan level emosi yang fitrah di miliki oleh manusia menurut dr Aisyah Dahlan. Belia menyebutkan ada sepuluh level emosi, yaitu depresi, apatis, sedih, takut, buru-buru, marah, sombong, semangat, menerima, serta damai.

Emosi memiliki dua faktor pemicunya, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang memicu timbulnya emosi seseorang adalah perasaan negatif yang timbul dari dirinya sendiri seperti perasaan sedih karena kurang diperhatikan dan dicintai,  perasaan ketidakmampuan, perasaan kecewa terhadap diri sendiri, perassan iri, dan lain sebagainya ataupun juga disebabkan faktor kepribadian dan watak seseorang. Sedangkan faktor eksternal pemicu emosi ini meliputi faktor lingkungan dan keadaan yang ada disekitarnya, pendidikan dan pengajaran yang diterimannya, perlakuan orang-orang yang ada disekitarnya, juga tuntutan dan aktivitas yang ada.

Maka apa perbedaan emosi yang dimiliki seseorang yang sudah mendewasakan diri dan seseorang yang belum mendewasakan dirinya? Sebenarnya tidak ada perbedaan emosi yang dirasakan oleh orang yang mendewasakan diri dan orang yang tidak mendewasakan dirinya. Yang membedakan keduanya adalah pada proses pengendalian diri atas emosi-emosi tersebut dan tindakan yang diputuskan setelahnya dan dijalaninya. Seseorang yang mendewasakan dirinya dapat untuk mengontrol dan mengendalikan dirinya dengan baik, sedangkan seseorang yang belum mendewasakan dirinya terkadang lebih sering untuk loss control atau tidak mampu untuk mengontrol dan mengendalikan dirinya

Mario Teguh pernah mengatakan bahwa seseorang yang ingin menuju proses kedewasaannya harus belajar marah yang anggun atau marah yang bijaksana, bukan marah yang menghambakan orang lain untuk dirinya, bukan marah karena keangkuhannya dan kesombongannya, sehingga ia bisa menjatuhkan dan menghinakan orang lain. Begitu pula dengan dengan emosi-emosi yang lain.

Ada beberapa cara ataupun tips untuk mengendalikan emosi, diantaranya:

·         Mengalihkan fokus perhatiaan

·         Memancarkan emosi positif

·         Mengubah pemikiran atau membuang pikiran-pikiran buruk

·         Mengingatkan diri akan dampak-dampak negatif yang akan ditimbulkan darinya

·         Menghindari peluapan reaksi buruk

·         Mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang membuat emosi negatif

·         Menerima dan bersyukur dengan keadaan yang ada

·         Mendengarkan musik

·         Mencari pelampiasan yang positif, seperti bermain musik dan menulis

·         Mengatasinya dengan tindakan-tindakan sederhana, seperti: menarik nafas, berhitung, relaksasi otot, dan berolahraga

·         Mencoba diam dan tidak bicara

·         Menenangkan diri dan berhenti sejenak untuk tidak beraktivitas

·         Belajar untuk mengendalikan bukan meredam atau memendam

·         Mempelajari cara untuk mengontrol diri

·         Melakukan konseling dan terapi bersama psikolog


user

10 September 2022 09:59 Izzah Avanti Menulis dengan cinta...

Titik Navadasa: Dewasa, Perekonomian Dan Finansial

2 1

Titik Navadasa

Dewasa: Perekonomian Dan Finansial

Semakin dewasa seseorang atau dalam artian semakin bertambahnya usia seseorang, seseorang tersebut dituntut untuk dapat memenuhi kehidupannya sendiri dangan menyetabilkan perekonomian atau keuangannya. Seseorang harus mampu untuk hidup di atas kaki sendiri, bukan di atas kaki orang lain. Karena tidak mungkin, seseorang akan terus menerus bersandar pada orang tuanya atau keluarganya.

Semakin dewasa, semakin ia harus bekerja keras untuk membangun kemandirian keuangan atau financial, hal itu juga membutuhkan niat, usaha dan doa dalam pencapaiannya. Sebagian orang memang dilahirkan dalam kondisi perekonomian keluarga yang cukup stabil, bahkan lebih dari cukup. Hal ini pun tak meluputkan dan menafikan usaha yang terus harus dilakukannya. Karena tidak akan ada yang menjamin bahwa kekayaan yang dimiliki keluarganya akan tetap abadi. Maka ia pun harus tetap belajar untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan harta kekayaan keluargannya.

Sebagian banyak orang yang lain, tidak mengalami keadaan tersebut, yaitu keadaan dimana ia terlahir di tengah keluarga yang sangat mampu, namun justru ia terlahir di tengah keluarga yang sederhana atau bahkan kurang mampu. Ini bukanlah nasib atau takdir buruk, namun ini adalah kepercayaan Tuhan bahwa kita mampu untuk berjuang lebih dari manusia yang lain. Tuhan ingin kita bertumbuh dan berproses lebih indah dan sempurna. Tuhan ingin melihat sejauh mana kita mampu menjalankan amanahnya untuk menjadi sebaik-baik makhluk di dunia. Maka yang harus dilakukan adalah belajar dan berusaha.

Bagaimana agar seseorang dapat memenuhi kebutuhannya? Bagaimana seseorang dapat menyetabilkan keuangan dan perekonomiannya? Jawabannya mungkin sederhana, yaitu seseorang harus bekerja. Karena bekerja merupakan pergerakan, jika tak ada gerakan maka tak akan ada sesuatu yang dihasilkan. Lalu, bekerja yang bagaimana? Bekerja yang sesuai dengan yang kita butuhkan dan kita inginkan. Bekerja tidak hanya terbatasi dengan mencari pekerjaan ataupun menjadi karyawan atau pekerja. Karena makna bekerja sangatlah luas, bisa dengan mendirikan usaha pelayanan, perdagangan, penciptaan karya, dan lain sebagainya.

Secara realistis, bekerja akan menghasilkan uang, dan uang akan membantuk finansial dan perekonomian kita. Namun perlu dipahami, bahwa bekerja tidaklah melulu tentang uang, terlebih dari pada itu. Bekerja adalah salah satu cara memenuhi fitrah yang diberikan Tuhan, cara untuk memenuhi hak dan kewajiban pada diri sendiri dan orang lain, dan cara untuk menjadi pribadi yang bermanfaat untuk umat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya? Kalau kita hanya bekerja karena uang, maka tidak akan ada keikhlasan dan ketulusan yang akhirnya bisa membawa manusia pada kedamaian.

Berhati-hatilah dengan uang! Ada banyak motivator bisnis dan ekonomi mengatakan, “Jadikan uang menjadi pelayanmu dan jangan jadikan uang sebagai tuanmu.” Mengapa ada banyak sekali pesan yang seperti ini? Karena pada kenyataannya, banyak waktu yang dihabiskan oleh manusia untuk menghambakan diri kepada uang. Banyak kebahagiaan yang dikorbankan manusia untuk menghambakan diri kepada uang. Banyak kesehatan yang ditukarkan dengan uang. Sehingga banyak manusia yang tidak mempunyai waktu untuk dirinya dan keluarganya, yang berujung tak kepedulian dan perhatian.  Seluruh waktu dan tenaganya habis untuk mencari uang, hingga kondisi kesehatannya pun ikut terkikis.

Cara yang kedua setelah bekerja adalah tentang menejemen keuangan atau pengelolahan uang itu sendiri. Salah satu kunci sukses untuk meraih keberhasilan finansial adalah dengan menerapkan pengelolaan dan manajemen keuangan yang efektif. Dari waktu ke waktu seseorang yang dewasa harus mengusahakan kemandirian finansial. Keinginannya harus ditentukan oleh kebutuhan dan tujuannya. Ada beberapa cara untuk mengelola keuangan, diantaranya:

·       Memisahkan antara keinginan dan kebutuhan

·       Membuat catatan keuangan pribadi

·       Membuat anggaran harian, bulanan, dan tahunan

·       Menabung, menyisakan uang untuk ditabung dan menabungkan uang sisa

·       Hemat, Tidak mudah menghambur-hamburkan uang

·       Berinvestasi, karena investasi akan membawa keuntungan

·       Menghindari kredit dan hutang. Jika terpaksa melakukan kredit dan hutang, maka usahakan untuk cepat membayar dan melunasinya

·       Mempunyai anggaran dana darurat

·       Mempersiapkan dana-dana rancangan masa depan, seperti pendidikan lanjutan, pernikahan, keuangan keluarga, pensiunan, dan lain sebagainya.

 

Gunakan uang dan bakat yang kamu miliki untuk membuat hidup menjadi lebih menyenangkan bagi orang lain lewat pelayanan dan pemberian amal, infaq, ataupun sedekah. Hartamu tidak akan pernah habis karena bersedekah, justru Tuhan akan menambah, meluaskan, melapangkan, dan melipatgandakan  harta dan rezekimu Ketika kamu membantu orang lain. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, karena manusia tak akan pernah merasa pada titik kaya. Ada hukum manusia yang tidak tertulis mengatakan bahwa manusia mencari apa yang  belum ia dapatkan dan miliki, ketika ia mendapatkan dan memiliki, ia akan mencari sesuatu yang lebih. Bersedekahlah, karena di dalam harta yang dititipkan oleh Tuhanmu, terdapat hak orang lain juga.


user

10 September 2022 09:58 Izzah Avanti Hammasah li nafsy...!

Titik Vimsati: Bersosialisasi Dan Berinteraksi

2 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 20

Jumlah Kata 763

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Vimsati

Bersosialisasi Dan Berinteraksi

Manusia adalah makhluk sosial. Dimana manusia satu dengan yang lainnya saling serba membantu dan menggantungkan. Tidak ada satupun manusia yang dapat hidup dengan dirinya sendiri tanpa perlu uluran tangan orang lain. Sekalipun dia adalah orang terkuat, orang terpandai, orang terkaya di seantera jagad raya. Sekalipun dia adalah orang yang paling introvert yang lebih suka hidup sendiri dengan ketenangannya. Dia tetap membutuhkan orang lain untuk bersandar dan mendukungnya.

Bersosialisasi adalah suatu proses interaksi dan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang manusia dari sejak lahir hingga akhir hidupnya di dalam suatu budaya dan lingkungan masyarakat untuk dapat mengenali tempat hidupnya. Dengan bersosialisasi manusia akan mengetahui posisinya dalam masyarakat, sehingga ia juga tahu apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Bersosialisi sendiri juga sering diartikan dengan sederhana yaitu proses berinteraksi dan bersikap kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Ada beberapa media bersosialisasi, diantaranya ada keluarga, masyarakat sekitar, tempat sekolah dan kerja, media masa, dan lain sebagainya

Bersosialisasi sangatlah penting karena dengan bersosialisasi seseorang dapat mempererat hubungannya dengan masyarakat dan orang lain di tiap-tiap lingkungan yang ia tempati, mengembangkan potensi kemanusiaan, mendapatkan rasa nyaman, saling mendapat dan memberi manfaat seperti memperoleh ilmu, wawasan, dan pengetahuan dari orang lain, mendapatkan sinergi positif dari orang lain seperti inspirasi, motivasi dan dukungan, dan lain sebagainya. Hal-hal itulah yang akhirnya membentuk seorang manusia menjadi sosok  dan pribadi yang baik, dewasa dan berarti.

Seseorang yang tidak mau bersosialisasi atau bahkan tidak mau untuk mempelajarinya, ia akan mendapatkan kesulitan dalam kehidupan bermasyarakat dan lingkungannya, baik lingkungan rumahnya, tempat sekolahnya, tempat kerjanya atau tempat-tempat umum lainnya. Karena ia tidak akan tahu bagaimana ia harus berlaku dan bersikap dengan baik untuk dirinya dan orang lain, bahkan tak peduli dengan kewajiban dan hak atas dirinya dan orang lain. Orang yang seperti ini terlihat sangat egois, hanya mempedulikan dirinya tanpa mau mempedulikan sekitarnya.

Ada banyak orang bertanya-tanya bahkan menyalahkan kehidupannya dengan berkata “Mengapa semua orang tidak peduli denganku? Mengapa orang lain tidak menghargaiku? Mengapa orang lain menyayanginya namun tidak menyayangiku? Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya harus dibalikkan dan ditujukan kepada dirinya sendiri dengan pertanyaan “Sudahkah diri ini peduli dengan orang lain sehingga ia juga layak dipedulikan? Sudahkan diri ini menghargai orang lain sehingga ia layak juga untuk dihargai? Sudahkah diri ini menyayangi orang lain sehingga ia juga layak mendapatkan kasih sayang orang lain? Temukan jawaban tersebut! Perilaku ataupun feedback orang lain, tidak jauh berbeda dengan bagaimana kita memperlakukannya.

Jika ingin ditolong, tolonglah juga yang lain. Jika ingin dicintai, cintai juga yang lain, jika ingin disayang, maka sayangi yang lain, jika ingin dipedulikan, maka pedulikan yang lain. Jika ingin dimengerti, maka mengertilah yang lain. Jika ingin dihargai, maka hargailah orang lain. Jika ingin dihormati, maka hormati juga orang lain. Kita memang tidak berlaku dan berbuat baik untuk meminta balasan atau agar orang lain berlaku dan berbuat baik pada kita. Tapi perlu kita sadari bahwa ada hukum timbal balik di dunia ini yang sangat berlaku.

Kita memang tak selalu mendapatkan balasan kebaikan dari orang-orang yang kita perlakukan dengan baik, tak jarang juga bahkan balasan yang didapat justru balasan yang buruk dan menyakitkan. Namun kita punya Tuhan, yang tidak melalaikan suatu urusan terkecil apapun yang ada di dunia. Tuhan kita akan membalasnya dengan kebaikan-kebaikan yang kita rasakan langsung, atau menitipkannya dengan perantara orang lain. Kebaikan akan menumbuhkan kebaikan lainnya, dan sebaliknya keburukan dan kejahatan juga akan menumbuhkan keburukan dan kejahatan yang lainnya.

Bersosialisasi mungkin saja mudah dilakukan oleh sebagian orang, namun juga tak sedikit dari manusia yang merasakan kesulitan dalam berkomunikasi. Berikut adalah cara yang bisa diaplikasikan untuk memulai dan belajar bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar kita, baik di rumah, masyarakat, sekolah atau tempat pendidikan lainnya, dan juga tempat kerja:

·       Belajar untuk menerima diri sendiri karena terkadang seseorang belum bisa menerima dan bersosialisasi dengan orang lain karena seseorang tersebut belum bisa menerima dirinya sendiri

·       Membuka percakapan dengan percakapan sederhana seperti berkenalan jika belum kenal, menanyakan kabar atau hal-hal yang bisa menjadi topik percakapan dan pembicaraan

·       Menunjukkan ketertarikan pada pembicaraan orang tersebut

·       Membuang rasa takut tidak diterima, ditolak, diremehkan dan dianggap dengan sesuatu yang negatif

·       Membangun hubungan dengan melibatkan diri untuk ikut dalam acara-acara tertentu atau kegiatan sosial

·       Berteman dan berkomunikasi tidak hanya melalui online saja namun juga secara offline

·       Membantu orang lain yang terlihat membutuhkan sesuatu

·       Berbagi sesuatu yang bisa dibagi, seperti membagikan buah tangan kepada orang-orang terdekat kita di lingkungan rumah atau kerja setelah kita berlibur ke daerah tertentu atau mengadakan tasyakuran sederhana karena telah mendapat rezeki

·       Senyum, salam, sapa kepada orang-orang terdekat kita

·       Tidak terlalu menutup atau membatasi diri, kecuali dalam keadaan yang benar-benar diperlukan

·       Saling menghormati dan toleransi dengan orang lain

·       Menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungan


user

10 September 2022 09:58 Izzah Avanti Keep spirit!

Titik Eka Vimsati: Menjawab Pertanyaan, Tekanan, Dan Tuntutan

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 21

Jumlah Kata 771

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Eka Vimsati

Menjawab Pertanyaan, Tekanan Dan Tuntutan

Seorang yang beranjak dewasa atau telah sampai pada usia yang yang matang seringkali akan banyak mendapati pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menekan atau menuntut. Seperti pertanyaan “kapan lulus?” “Kapan kerja?” “Kapan lanjut studinya?” “kapan sukses” “kapan nikah” dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya datang dari orang-orang biasa yang mengenal kita, justru pertanyaan ini lebih sering diajukan oleh orang-orang terdekat kita seperti orang tua, keluarga, kerabat dan bahkan mungkin sahabat kita. Bukankah begitu, wahai para sosok yang sedang atau telah beranjak dewasa?

Terkadang bagi sebagian orang pertanyaan-pertanyaan ini memang dianggap biasa layaknya angin yang selalu berhembus, namun bagi sebagian besar lainnya, pertanyaan ini cukup menyita fokus, pemikiran dan juga hatinya. Sehingga ia tidak tenang, kepikiran, merasa terbebani dan lain sebagainya. Bahkan untuk sebagian orang yang lain pertanyaan-pertanyaan ini sangat menyebalkan dan menjengkelkan. Mungkin jika seseorang bisa bebas berkata tanpa mengenal etika dan norma ia akan berteriak “Ini hidup saya, dan saya lebih mengerti tentang hidup saya, lebih baik anda mengurusi hidup anda sendiri!” Namun sayangnya lebih banyak orang yang menjawabnya dengan diam dan senyuman. Apakah kalian juga salah satu dari banyaknya orang di dunia yang ditanya dengan pertanyaan seperti ini?

Ada satu jawaban yang menurut saya tepat untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas di antara banyaknya jawaban yang pernah saya cari, temukan dan tanyakan. Jawaban tersebut saya dapatkan dari sebuah video youtube Mario Teguh yang sedang membahas pertanyaan kapan nikah? Jawaban tersebut kemudian saya kembangkan dan saya tafsirkan dengan pemahaman dan pemikiran saya sendiri tentang jawaban tersebut juga saya luaskan pada hal-hal yang tidak hanya berkenaan tentang pernikahan. Jawaban sederhana namun sungguh luar biasa itu berbunyi “On process” Maka jika ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan di atas. Jawablah dengan kata “On process”.

Kapan lulus? On process

Kapan lanjut studinya? On process

Kapan kerja? On process

Kapan sukses? On process

Kapan nikah? On process

Kapan punya rumah? On process

On process” artinya sedang dicita-citakan, sedang diusahakan, sedang diperjuangkan, sedang diikhtiyarkan, sedang didoakan dan sedang diserahkan kepada Tuhan. Jawaban “On process” itu tidak berarti serta merta diam, jamid, statis, mati. Namun ia adalah jawaban sedang menjalani, sedang menempuh, sedang akan sampai. Jawaban On process juga bukanlah jawaban pasrah yang berarti ikut ajalah dengan kehidupan yang ada, namun aku sedang mengusahakan yang terbaik dalam menjalani prosesku agar nantinya bisa sampai pada sebaik-baik hasil juga.

Tidak perlu kecewa ketika banyak perkataan yang menghujam diri kita. Tidak perlu bingung untuk menjawab pertanyaan bahkan tuntutan yang ada di sekitar kita. Cukup dengarkan, jika kita rasa perlu untuk kita pikirkan dan tanggapi, maka kita lakukan. Namun jika kita merasa tidak perlu untuk kita pikirkan dan tanggapi, maka abaikan. Di dunia ini banyak hal-hal yang tidak bisa kita kontrol dan kendalikan, contohnya adalah penilaian orang lain terhadap diri kita, begitu pula dengan ucapan dan tindakan mereka. Maka, yang perlu kita lakukan adalah berfokus pada hal-hal yang masih bisa kita kontrol dan kendalikan, kita berhak memilih tindakan dan feedback apa yang akan kita berikan kepada orang lain, kita juga berhak menentukan tanggapan dari pertanyaan dan tuntutan yang dihadapkan. Akankah kita menerimanya atau menolaknya? Ingatlah selalu bahwa dipuji tidak akan menjadikan kita tinggi dan dicaci tidak akan pernah menjadikan kita hina. Karena itu semua adalah sudut pandang manusia yang bisa menjadi benar maupun salah.

Kita tidak perlu untuk selalu mengiyakan perkataan dan tuntutan orang lain atas diri kita. Kita tidak perlu melakukannya agar kita bisa membahagiakan semua orang, karena nyatanya kita tak akan pernah bisa membahagiakan semua orang. Kita harus mencernanya terlebih dahulu, kemudian berpikir apakah perkataan orang lain telah sesuai dengan diri kita, telah sesuai dengan apa yang kita butuhkan, telah sesuai dengan jalan hidup yang kita tempuh, dan telah sesuai dengan tujuan hidup kita?

Ada kalanya penolakan dan pengabaian suatu hal tidak selalu bermakna negatif dan berdampak buruk, justru bisa membawa kepada kontranya yaitu bermakna positif dan berdampak baik. Namun juga tidak sedikit penerimaan dan pengiyaan yang akhirnya justru berakibat tidak baik untuk hidupnya. Maka kejujuran atas diri sendiri sangat perlu dipahami untuk menentukan keputusan yang akan dijalani. Tidak mungkin seseorang dapat bahagia seutuhnya bila kehidupannya selalu diputuskan dan diatur oleh orang lain. Namun perlu diingat bahwa penolakan pun membutuhkan seni yang baik. Tidak asal menolak dengan kata-kata yang kasar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa tuntutan, tekanan dan pertanyaan-pertanyaan tersebut juga merupakan bentuk kasih sayang dan perhatian orang lain untuk diri kita, maka bijaksanalah dalam menyikapinya. Tidak perlu terlalu sedih ataupun marah atasnya, anggap saja semua tuntutan, tekanan dan pertanyaan-pertanyaan orang lain sebagai batu karang yang kita letakkan di bawah kaki kita, agar kita semakin naik dan tinggi. Dan jangan di letakkan di bahu dan punggung kita, karenanya dapat membuat diri kita merunduk, lemah dan tak berdaya.

 


Titik Dwi Vimsati: Dewasa, Ilmu Pengetahuan Dan Belajar

2 0

Titik Dwi Vimsati

Dewasa, Ilmu Pengetahuan Dan Belajar

Ilmu merupakan sesuatu yang terus dicari, harus dipelajari, harus diamalkan harus dijadikan pedoman yang selalu mengiri perjalanan hidup. Karena tanpa ilmu seseorang akan tersesat dan buta dalam memilih jalannya. Ilmu bagaikan cahaya di kegelapan yang memberinya sinar agar masih tetap bertahan dan berjalan. Ilmu juga bagaikan pelindung dan penyelamat seseorang dalam menghadapi banyak dan kerasnya tantangan dunia.

Dewasa bukan berarti waktu untuk menutup lembaran buku lalu membuka lembaran hidup tanpa mau menyentuhnya lagi. Bahkan ada istilah buka terop tutup buku. Karena menuntut ilmu tak terbatas dengan tempat pendidikan atau sekolahan juga gelar. Namun menuntut ilmu merupakan kegiatan long-life yang bersifat seumur hidup. Belajar tidak hanya terbatas dengan guru-guru yang ada di sekolah ataupun para dosen di perguruan tinggi, namun segala proses yang memasukkan ilmu atau internalisasi ilmu pada diri yang membawa perubahan disebut dengan belajar.

Seorang ulama’ pernah mengatakan pelajarilah 2 jenis buku di dunia, dua jenis buku tersebut adalah kitabun rathbun (buku basah) dan kitabun Jaaffun (buku kering). kitabun Jaaffun (buku kering) adalah buku-buku yang biasa kita baca berupa cetak maupun digital, sedang kitabun rathbun (buku basah) adalah buku yang kita lihat dan perhatikan dari kehidupan yang nyata ini termasuk seluruh kejadian yang ada juga kehidupan manusia bahkan kehidupan makhluk lainnya.

Seorang manusia bagi manusia yang lainnya adalah guru atau dengan kata lain bahwa setiap manusia itu guru. Mengapa demikian? Karena setiap manusia akan mengajarkan manusia lainnya untuk tersenyum, untuk tafakur, untuk bersyukur, untuk merasakan kebahagiaan, tidak hanya pada hal-hal tersebut namun juga mengajarkan apa itu kecewa, marah, putus asa dan lain sebagainya. Maka setiap orang harus pandai-pandai untuk membaca dan belajar dari keadaan orang lain.

Ada ungkapan dalam bahasa Arab yang berbunyi “Al-Amalu Bil Ilmi” Segala pekerjaan itu dengan ilmunya. Karena jika tidak menggunakan ilmu, maka pekerjaan tersebut akan cenderung asal dikerjakan tanpa ada rasa tanggung jawab, dan jangan ditanya tentang hasilnya, karena hasilnya pun akan jauh berbeda dengan seseorang yang bekerja menggunakan ilmunya. Jika diamati dengan seksama orang yang bekerja dengan ilmunya jauh sungguh berbeda dengan seseorang yang bekerja tanpa ilmu.

Untuk menjadi pengusaha yang andal, seseorang harus memahami ekonomi dan ilmu bisnis agar ia mengetahui apa yang harus diusahakan dan dilakukan. Untuk bisa membangun karier, ia harus mempelajari bidangnya dan berlatih dalam hal tersebut. Untuk bisa membangun rumah tangga yang indah juga dibutuhkan ilmu-ilmu tentang pernikahan dan ilmu untuk memahami pasangan. Untuk bisa mendidik anak dengan baik juga dibutuhkan ilmu parenting atau seni mengasuh anak. Jadi apakah ada pekerjaan di dunia ini yang bisa dikerjakan tanpa adanya ilmu?

Biasanya wanita jika sudah menikah, ia cenderung lebih malas untuk membaca dan mempelajari tentang ilmu-ilmu baru. Mereka disibukkan dengan hal-hal yang menyita perhatian mereka seperti mengurus rumah dan keluarga. Begitu pula dengan para lelaki jika sudah disibukkan dengan pekerjaannya. Maka terkadang ia juga akan melupakan belajarnya. Padahal jika seseorang terus belajar dan mempelajari ilmu, seseorang akan mendapatkan jauh lebih banyak, kemudahan, bantuan dan keuntungan. Di antaranya adalah peningkatan kualitas dan mutu dirinya.

Kewajiban menuntut ilmu dan belajar ditujukan oleh semua orang yang hidup di dunia dalam usia berapa pun, dalam kondisi apa pun dan di mana pun. Seorang anak kecil butuh untuk menuntut ilmu dan belajar untuk mendukungnya dalam melangsungkan kehidupannya dengan memasukkan ilmu dan pengetahuan yang akan menjadi bekalnya sehingga ia siap untuk memenuhi hidupnya dan bersosialisasi dengan masyarakat. Sedang orang dewasa pun masih butuh untuk belajar, karena tantangan yang akan dihadapinya justru akan semakin konkret dan komplit.

Ada banyak sekali alasan mengapa seseorang sangat membutuhkan ilmu pengetahuan dan juga belajar. Di antaranya agar ia dapat bertumbuh dan berkembang dengan sebaik-baiknya proses yang dialaminya dalam kehidupannya agar ia dapat hidup dengan lebih baik, untuk mempersiapkan diri menghadapi segala jenis tantangan, cobaan, dan ujian kehidupan sehingga ia tahu dan paham apa yang menjadi keputusannya dan akhirnya bisa menjadi tindakannya, untuk kesuksesan hidupnya di dunia dan juga di akhirat kelak.

Tidak ada alasan untuk tidak mengenyam pendidikan pada saat ini, karena nyatanya pemerintah sudah mengusahakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan bantuan operasional sekolah bahkan dalam tataran perkuliahan banyak sekali beasiswa-beasiswa yang disediakan. Tidak ada alasan untuk tidak belajar, karena nyatanya pada zaman ini kita selalu dimudahkan untuk mendapatkan fasilitas pembelajaran melalui program-program kelembagaan ataupun dengan jaringan di internet yang juga menyediakan berbagai ilmu pengetahuan.


Titik Tri Vimsati: Bersikap Dan Bertindak Secara Dewasa

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 23

Jumlah Kata 700

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Tri Vimsati

Bersikap Dan Bertindak Secara Dewasa

“Kedewasaan seseorang sangat terukur jelas dari sikap dan tindakannya. Lihat dan tengok sikap dan tindakanmu, maka engkau akan tahu seberapa dewasakah dirimu”

Kedewasaan seseorang tidak hanya tampak atau bisa dilihat dari seberapa tua umurnya atau seberapa lama ia telah menghabiskan waktunya untuk hidup di dunia. Terlebih dari pada itu kedewasaan seseorang tampak dan terlihat dari bagaimana ia bersikap dan bertindak. Seorang yang dewasa seharusnya mampu bersikap dan bertindak dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kendali dirinya selayaknya orang yang dewasa. Sikap dan tindakan dewasa bisa dilatih, dipelajari, dan dibiasakan sehingga akhirnya bisa menjadi melekat pada sosok yang dewasa.

Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa yang mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu. Sikap juga diartikan sebagai segala perbuatan dan tindakan yang berdasarkan pada pendirian dan keyakinan yang dimiliki. Tindakan adalah suatu perbuatan, perilaku, dan aksi yang dilakukan manusia sepanjang hidupnya guna mencapai tujuan tertentu.

Bersikap dan bertindak secara dewasa berarti mengambil dan melakukan sikap dan tindakan dengan penuh kesadaran, pertimbangan dan tujuan. Bersikap dan bertindak secara dewasa juga bisa diartikan sebagai bersikap dan bertindak secara bijaksana atau bersikap dan bertindak dengan tepat dan benar dalam menyikapi setiap keadaan dari setiap peristiwa dan kejadian. Karena bijaksana adalah sebuah ketepatan dan kebenaran.

Sikap dan tindakan seseorang biasanya banyak dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya adalah kebiasaan yang dilakukan, lingkungan tempat tinggal termasuk adat dan budayanya, pendidikan yang ia tempuh, nilai dan falsafah kehidupan yang diyakini, tujuan hidup yang dicita-citakan, pengalaman hidupnya, dan juga faktor emosional. Hal ini juga yang menyebabkan setiap sikap dan tindakan seseorang dengan orang yang lainnya berbeda.

Perlu diketahui dan dipahami bahwa seseorang yang dapat bersikap dan bertindak dengan baik, dewasa dan bijaksana akan sangat bermanfaat dan berdampak baik untuk dirinya dan orang lain. Di mana diri sendiri dan orang lain tidak akan dirugikan karena kesalahan-kesalahan dalam bersikap atau bertindak. Namun sebaliknya apabila seseorang tidak dapat bersikap dan bertindak dengan baik, dewasa dan bijaksana maka ia akan banyak merugikan dirinya dan orang lain.

Sejatinya orang yang berlaku baik tidak hanya akan menghasilkan kebaikan untuk dirinya sendiri, tapi juga menghasilkan kebaikan untuk orang lain bahkan hal yang lain. Karena satu sikap dan tindakan kebaikan akan menumbuhkan sikap dan tindakan kebaikan yang lain. Hukum alam selalu nyata adanya bahwa ketika seseorang berbuat baik, maka dunia pun akan berbuat baik kepadanya. Namun apabila seseorang bersikap dan berbuat buruk maka dunia pun juga akan berbuat buruk kepadanya. Hal ini bukan berarti tidak ada tantangan dalam melakukan setiap perbuatan baik.

Banyak sekali sikap yang menggambarkan tentang kedewasaan seseorang, karena segala sikap dan tindakan yang bersifat positif cenderung menggambarkan kedewasaan pelakunya. Di antara sikap dan tindakan tersebut, yaitu:

·       Mampu membedakan sesuatu yang baik dan buruk, benar dan salah, sisi positif dan juga sisi negatif

·       Dapat menerima saran, nasehat, dan kritikan orang lain

·       Menentukan tujuan hidup, merencanakannya, serta mengusahakannya

·       Berpikir sebelum bertindak

·       Bertanggungjawab atas tindakan dan keputusannya

·       Memiliki sudut pandang dan pola pikir yang positif

·       Dapat menguasai dan mengendalikan diri atau tidak terpancing emosi

·       Menghargai orang lain dan perbedaan yang ada

·       Saling menghormati dan berlaku sopan

·       Mengendalikan hal-hal yang dapat dikendalikan, dan menyiapkan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan

·       Dan lain sebagainya

Di antara sikap dan tindakan dewasa tersebut telah di bahas dan dikupas secara ringkas dalam buku ini, namun masih ada pula yang belum dikupas secara mendalam pada buku ini. Ada banyak sekali pesan-pesan moral tertulis maupun tidak tertulis yang diajarkan oleh orang-orang sukses, orang-orang yang bijaksana dan dewasa yang hidup sebelum kita yang menggambarkan bagaimana seseorang itu bersikap dan bertindak dalam kehidupannya, juga dalam menghadapi permasalahan-permasalahan hidupnya. Sehingga kita, sebagai generasi yang hidup di zaman ini seharusnya bisa mengambil pelajaran dari nilai-nilai yang telah ditinggalkan.

Sebuah kata-kata mutiara yang diucapkan oleh Ali bin Abi tholib yang berbunyi “Janganlah kau berjanji saat senang dan janganlah engkau memutuskan ketika marah” merupakan salah satu nasehat-nasehat tentang sikap dan tindakan yang dewasa. Karena sebagai sosok yang dewasa harus bisa menetapkan keputusan, sikap den tindakannya secara sadar, bukan karena adanya pengaruh-pengaruh dari hal yang lain.    Bahkan Umar bin Khattab juga berpesan bahwa cara terbaik untuk mengalahkan seseorang adakah mengalahkannya dengan kesopanan. Bukan dengan emosi atau sikap dan tindakan yang buruk. Untuk menjadi sosok dewasa yang sesungguhnya kita harus selalu belajar untuk bersikap dan bertindak.


Titik Catur Vimsati: Berteman Dan Bersahabat Dengan Cerdas

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 24

Jumlah Kata 743

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Catur Vimsati

Berteman Dan Bersahabat Dengan Cerdas

Berteman ataupun bersahabat sangat penting karena manusia tidak mungkin hidup sendiri, ia membutuhkan manusia yang lain dalam hidupnya. Pertemanan dan persahabatan memegang peranan penting dalam keadaan mental dan fisik manusia. Mengapa demikian? Karena dengan berteman dan bersahabat ia akan dapat memenuhi kebutuhan dirinya seperti rasa nyaman dan aman, kasih sayang, dukungan, inspirasi, motivasi, bantuan dan lain sebagainya. Teman atau sahabat juga membantu kita untuk bersosialisasi dan berinteraksi.

Bagi sebagian orang menjalin pertemanan dan persahabatan bukanlah suatu hal yang sulit, namun bagi sebagian orang yang lain merasakan kesulitan dalam menjalin pertemanan. Hal ini memang sedikit dipengaruhi oleh watak dan karakter seseorang. Sehingga sebagian orang memiliki teman yang banyak atau cukup banyak, namun ada pula yang hanya memiliki sedikit teman. Namun perlu dipahami bahwa untuk mencari teman dan menjalin hubungan masih dapat  tersebut bisa dilatih dan dipelajari dengan cara berkenalan, bertanya, menyapa, membantu dan lain sebagainya.

Seseorang dengan orang lainnya tentu mempunyai latar belakang dan kehidupan yang berbeda. Sehingga satu teman dengan teman lainnya harus saling menghormati dan menghargai. Tidak ada teman yang sempurna tanpa cacat, teman yang 100 persen cocok dan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Jika kita mencari teman yang sempurna, maka bersiaplah dengan tidak mempunyai teman sepanjang hidup. Basyar bin Burd dalam syairnya mengatakan:

Kalau engkau selalu melihat aib pada diri sahabatmu # Maka engkau tak akan menemui seorang sahabat pun yang tak memiliki aib

Maka hiduplah sendiri atau jalinlah hubungan dengan saudaramu # Yang sesekali melakukan kesalahan, dan di lain waktu menjauhi kesalahan tersebut

Kalau tidak mau minum kecuali hanya air yang benar-benar bersih dari kotoran, kau akan kehausan # Dan manusia manakah yang air minumnya benar-benar jernih (dari kotoran)?

Adakah orang yang seluruh perangainya benar bisa diterima? # Seseorang cukup untuk disebut mulia meskipun ia masih memiliki aib

Kehidupan seseorang banyak dipengaruhi oleh temannya, bahkan terkadang suara teman menjadi suara yang paling tinggi dan banyak didengar oleh sebagian besar kaum remaja dan sebagian kaum dewasa. Seperti keputusan-keputusan besar yang akan diambilnya dalam bidang pendidikan, bidang pekerjaan, bidang perekonomian bahkan tentang hubungan dan komitmen. Sehingga seseorang harus benar-benar memperhatikan siapa temannya.

Ada sebuah pertanyaan yang sering kita jumpai tentang pertemanan yaitu haruskah kita berteman dengan semua orang atau kita harus memilih dalam menjalin pertemanan? Kita memang sering mendengar slogan atau nasehat “jangan memilih-milih teman” hal itu tidak mutlak salah karena maksudnya di sini kita tidak membedakan antara teman yang kaya atau yang miskin, teman yang sesuku dan sedaerah atau tidak, teman yang tinggi atau yang pendek. Namun kita justru diharuskan untuk memilih teman yang baik, karena teman yang baik akan membawa kepada kebaikan, kemajuan dan kesuksesan.

Aristoteles mengatakan bahwa berteman dengan siapa saja berarti tidak berteman dengan siapa-siapa. Karena seiring berjalannya waktu atau semakin dewasa seseorang, seseorang tersebut tidak lagi membutuhkan banyak sekali teman, ia hanya butuh teman yang bisa mendukungnya dalam cita-cita dan masa depannya. Banyak teman yang mau ikut bahagia dan tertawa tapi tidak banyak teman yang bisa selalu ada dalam duka ataupun lara.

Rasulullah SAW memberikan perumpamaan pertemanan dalam sebuah hadis yang berbunyi: “Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi, Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekedar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap.”

Dari hadis ini bisa kita petik hikmahnya bahwa kita tidak boleh abai dan acuh dengan masalah pertemanan karena teman menentukan baik atau buruknya perilaku kita. Sedikit banyak teman menggambarkan siapa diri kita, bahkan telah banyak pepatah ataupun kata-kata mutiara yang mengatakan bahwa jika engkau hendak dan ingin mengetahui diri atau sosok seseorang, maka lihatlah dengan siapa ia berteman, maka lihatlah siapa yang menjadi temannya. Karena seseorang bisa dinilai dengan siapa bergaul.

Memilih teman bukan berarti kita hanya mau bergaul dan menyapa teman-teman tertentu, namun kita memilih teman yang akan mendampingi kita dalam perjuangan kita. Dan itu tidak menyempitkan makna tidak berbuat baik kepada setiap orang. Karena walaupun seseorang hanya berteman dengan sebagian orang, namun ia harus tetap berbuat baik kepada semua orang.

Cara memilih teman dan sahabat dengan cerdas:

·       Memilih teman yang menerima kita apa adanya

·       Memilih teman yang bertakwa dan beriman

·       Memilih teman yang selalu mengajak kepada kebaikan dan memberikan energi positif untuk kita

·       Memilih teman yang jujur dan amanah

·       Memilih teman yang ada dalam suka dan duka

·       Memilih teman yang menemani kita

·       Memilih teman yang suka membantu


Titik Panca Vimsati: Quarter Life Crisis (QLC) Dan Insecurity

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 25

Jumlah Kata 925

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Panca Vimsati

Quarter Life Crisis (QLC) Dan Insecurity

Quarter life crisis adalah sebuah periode ketika seseorang cemas, ragu, gelisah, bingung atau krisis emosional terhadap tujuan hidupnya. Tidak hanya tujuan, kondisi ini terjadi pula pada orang yang ragu pada masa depan dan kualitas hidup, seperti pekerjaan, asmara, hubungan dengan orang lain, hingga keuangan. Quarter life crisis adalah proses pencarian jati diri buat orang-orang yang mulai memasuki usia dewasa awal Krisis ini sangat sering terjadi ketika seseorang mulai memasuki usia 20-30 tahun. Beberapa orang juga terkadang yang menghadapi krisis ini usia 18 tahun. Ada beberapa faktor pemicu dari quarter life crisis, diantaranya;

·       Ketidakmampuan mengelola emosi

·       Membandingkan diri dengan orang lain

·       Kurang mempersiapkan diri untuk menuju fase dewasa

Ada banyak pertanyaan yang muncul saat beranjak atau saat dewasa itu datang atau pada fase quarter life crisis ini. Banyak manusia yang mulai mempertanyakan tujuan hidupnya, mempertanyakan apa hal-hal yang telah diraihnya di umur ini, mmpertanyakan akankah ia sukses atau gagal dimasa mendatang, dan lain sebagainya. Yang tidak sedikit dari mereka yang akhirnya membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Terkadang saat seseorang mulai berhasil untuk menikmati hidupnya, seseorang tersebut pun masih tetap dihadapkan oleh omongan atau perkataan orang lain yang akhirnya mengusik hidupnya.

Contoh sederhananya adalah ketika seseorang mulai nyaman dengan kesederhanaan rumah dan gajinya, selalu akan ada orang yang berkata “kok rumahnya sempit ya, gak ingin bangun atau beli rumah baru, makannya kok cuma itu-itu saja dan lain sebagainya.” Yang pada akhirnya pertahanannya pun ikut runtuh. Di samping hal itu seseorang yang mengalami quarter life crisis juga akan merasakan terjebak dalam keadaan yang terombang-ambing, bingung dan takut menghadapi kehidupannya.

Disamping quarter life crisis, pada saat beranjak dewasa sampai pada fase dewasa itu sendiri banyak yang mengalami “insecure”. Insecure sendiri berasal dari kata bahasa Inggris yang secara bahasa atau verbal dapat diartikan sebagai rasa tidak nyaman. Sedangkan secara makna dapat diartikan sebagai perasaan tidak percaya diri, malu, takut, khawatir, gelisah sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi dirinya. Rasa tidak nyaman ini akan berdampak besar bagi kehidupannya dan berhubungan dengan bagaimana ia memosisikan dirinya dan berinteraksi dengan masyarakat. Rasa insecure yang sangat parah dapat membuat diri seseorang menarik dirinya dari masyarakat dan lingkungannya.

Setiap manusia tanpa terkecuali pun pernah merasakan keadaan insecure ini, ada yang insecure karena alasan fisik, alasan kecantikan, alasan pekerjaan dan karier, alasan pendidikan, alasan ekonomi, finansial, dan strata sosial, serta masih banyak alasan lagi. Dari alasan yang sepele dan sederhana hingga alasan yang besar. Seseorang yang insecure selalu memandang rendah dirinya dalam berbagai sisi dan juga bidang.

Ada 2 faktor yang membuat seseorang merasa insecure, yaitu faktor internal yang berasal dari dirinya sendiri dan juga faktor eksternal yang berasal dari luar dirinya sendiri. Di antara faktor internal yang membuat sesorang merasa insecure adalah rasa takut gagal atau tidak berhasil, terlalu perfeksionis, selalu membandingkan diri dengan orang lain dan lain sebagainya. Sedangkan faktor eksternal yang membuat seseorang merasa insecure adalah penolakan dari masyarakat, kecemasan sosial, standar sosial yang menuntut, trauma dan kejadian buruk yang membuat rapuh, menjadi korban yang dihina atau dibully, selalu dikritisi dan kurang apresiasi dan lain sebagainya.

Kita sebagai sosok yang ingin menjadi pribadi yang dewasa harus sadar apa yang membuat kita insecure, kemudian memahaminya dan mengatasinya. Setiap orang mempunyai pilihan untuk memandang insecurity tersebut dengan pandangan negatif dan pandangan yang positif. Ketika seseorang memandang dengan pandangan yang negatif, maka ia akan terus menyalahkan dirinya, takdirnya dan hidupnya dengan mempertanyakan mengapa aku? Mengapa aku tidak? Dan lain sebagainya yang akan menolak rasa keberterimaan dan kesyukuran yang akhirnya terus akan kecewa dan putus asa.

Maka lihat dan rasakan insecure dari sudut pandang positif. Pikirkan bahwa jika seseorang benar-benar tahu akan kekurangan dirinya, ia akan belajar, berkembang dan memperbaiki diri. Justru saat seseorang tidak tahu kekurangannya, maka dia akan merasa hidupnya baik-baik saja dan tidak akan melakukan suatu hal untuk meningkatkan dan mengembangkan dirinya. Namun perlu diingat bahwa waktu kita terbatas jika hanya berpikir tentang hal ini, maka berpikir sewajarnya saja kemudian ambil tindakan dan buktikan.

Ada beberapa cara untuk mengatasi quarter life crisis dan insecurity, namun cara yang paling efektifnya adalah keberterimaan dan penerimaan atas diri sendiri, memahami bahwa Tuhan telah menciptakannya dengan sebaik-baik bentuk dan ciptaan. Setiap orang Kelebihan dan kekurangan, tugas manusia adalah mengoptimalkan dan fokus pada kelebihan serta melengkapi, mempelajari dan menyempurnakan pada kekurangan yang dimiliki. Di dunia ini, ada yang bisa dikontrol dan dikendalikan seperti usaha dan harapan namun juga ada yang tak bisa dikontrol dan dikendalikan, seperti tempat kelahiran, orang tua, dan juga fisik seseorang. Maka cara kedua adalah bersyukur atas rahmat, hidayat, dan anugerah terbaiknya.

Ingatlah bahwa ketika kita mengeluhkan fisik kita, masih banyak orang-orang yang lebih diuji kehidupannya karena ketidaksempurnaan fisiknya. Ketika kita mengeluhkan background keluarga atau status sosial, masih banyak orang-orang yang lebih menderita di bawah kita, yang mungkin sudah tidak punya orang tuanya, ataupun tidak ada dana dan biaya untuk sesuap nasi. Kita mengembangkan kelebihan kita menjadi sesuatu kekuatan dan kita belajar akan kekuranganku sebagai bentuk ikhtiyar.

Mengurangi sosial media juga dapat menurunkan rasa insecure pada seseorang, karena ketika seseorang sudah masuk dalam sosial media maka ia tak akan henti-hentinya membandingkan dirinya dengan yang lain yang akhirnya berpikir bahwa orang lain lebih hebat, aku tidak hebat, takut berjuang lebih percaya kepada orang lain dari pada diri sendiri.

Sebuah nasehat pernah kami dapatkan dari seorang guru bijaksana kami yang berbunyi bahwa banyak orang yang tidak bisa melihat dirinya sendiri bahwa di dalam dirinya penuh dengan nikmat. Banyak orang yang tidak bisa hidup dengan bahagia kerena tidak bisa mensyukuri hidupnya. Orang yang mampu melihat kelebihan dirinya dan mampu mensyukurinya maka akan hidup penuh nikmat. Maka harus sering-sering bermuhasabah diri.



Titik Sat Vimsati: Dewasa Dan Produktivitas

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 26

Jumlah Kata 708

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Sat Vimsati

Dewasa Dan Produktivitas

Produktivitas dapat dimaknai sebagai kemampuan sebuah perusahaan, kelompok, atau individu untuk bekerja dengan efisien dalam kurun waktu tertentu. Dalam kamus besar bahasa Indonesia produktivitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu atau kegiatan untuk menghasilkan sesuatu. Produktivitas juga dimaknai dengan ukuran efisiensi produktif. Sedangkan produktivitas diri adalah cara optimasi pencapaian tujuan hidup dengan cara yang nyaman. Produktivitas diri seseorang dapat diukur dari banyaknya pencapaian yang telah dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu biasanya rumus produktivitas dihitung dari input dan output dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia.

Setiap orang mempunyai waktu yang sama dalam hidupnya, setiap orang memiliki 24 jam dalam sehari atau setara dengan 1440 menit dan setara dengan 86400 detik. Namun ada yang membedakan satu orang dengan orang lainnya, yaitu bagaimana seseorang memanfaatkan waktu dan kesempatan yang telah diberikan kepadanya. Sebagian orang bisa dan dapat mengungguli sebagian yang lain atau dalam artian lebih produktif dari pada yang lain. Mereka dapat menghasilkan lebih banyak manfaat dari apa yang telah mereka lakukan dan kerjakan. Tidak dapat dipungkiri bahwa sering kali pekerjaan dan tugas-tugas yang ada lebih banyak dari waktu yang disediakan.

Banyak faktor yang dapat memengaruhi produktivitas diri seseorang, mulai dari cita-cita, tujuan, target, motivasi, inspirasi, harapan, pengetahuan, pengajaran, pendidikan, ketrampilan, kemampuan, sikap, perilaku, agama dan lain sebagainya. Kemampuan seseorang untuk bisa mengoptimalkan waktu yang ia punya berbeda-beda, tapi hal ini dapat dan bisa untuk dilatih. Proses latihan ini pun juga memerlukan waktu untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Seorang guru pernah mengatakan pada muridnya jangan engkau sibukkan dirimu tapi produktifkan dirimu! Mengapa demikian? Karena sibuk dan produktif itu berbeda. Sibuk artinya waktu seseorang tersita untuk menjalankan aktivitas tertentu yang bisa bermanfaat atau pun juga pada hal yang tidak ada manfaatnya. Sedang produktif berarti aktif untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menghasilkan, dan hasilnya bisa dirasakan oleh orang lain. Maka berhati-hatilah, karena jangan-jangan kita hanya sibuk tapi tidak produktif.

Mengapa produktivitas diri itu penting? Karena ia akan membawa seseorang lebih dekat dengan target, tujuan dan kesuksesan hidupnya. Dengan begitu berarti seseorang telah menghargai hidupnya dan telah membuat hidupnya lebih berarti dan bermakna dengan tidak menyia-nyiakan hidupnya walau hanya satu detik. Di samping itu sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya. Manfaat tersebut tidak hanya dapat dirasakan oleh dirinya sendiri namun juga orang-orang lain yang berada di sekitarnya atau bahkan yang jauh darinya.

Produktivitas diri bukan berarti juga kita harus terus produktif 24 jam perhari. Kita juga masih manusia yang bisa hilang fokus, kelelahan, kecapekan, dan kebosanan. Tidak masalah untuk berhenti dan beristirahat sejenak dan mengambil napas. Sebagai manusia, kita akan terus belajar, selama apa pun waktu yang kita habiskan untuk menyesuaikan diri, pada dasarnya kegiatan satu ini memang tidak akan berhenti. Hingga kita akan selalu berusaha untuk belajar mencari cara paling efektif dalam mengoptimalkan diri. Tapi cara yang kita pikir sudah ditemukan sekalipun tidak akan berlaku selamanya. Jadi jangan takut untuk mencoba pola baru atau suasana baru untuk mencari cara agar kita bisa lebih produktif terutama ketika bekerja dari rumah.

Ada banyak tantangan yang harus kita hadapi sebagai individu yang produktif. Kualitas dari produktivitas diri juga ditentukan oleh kualitas tidur, kepribadian, olahraga, suasana hari dalam seminggu dan waktu dalam sehari, stress, kestabilan emosi gender, usia, tenaga, dan aktivitas sosial. Maka seseorang harus terus belajar untuk mengendalikan dirinya. Peningkatan produktivitas diri ini perlu dilakukan di mana pun dan kapan pun, di rumah, masyarakat, lingkungan pendidikan bahkan lingkungan kerja.

Produktivitas diri dalam optimasi dan optimalisasi pelaksanaan pekerjaan seseorang tidak berhubungan dengan kesadaran atau kontrol diri, melainkan lebih mengarah pada pengalaman dan kemampuan kerja. Maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya untuk menjadi lebih produktif bisa dilatih seiring dengan berjalannya waktu. Berikut adalah beberapa cara yang telah kami rangkum dari beberapa artikel dan buku untuk bisa menjadi pribadi yang produktif:

·       Menetapkan tujuan hidup dan membuat rencana

·       Menghargai, mengelola dan memanajemen waktu dengan baik

·       Mengatur skala prioritas atau membedakan tingkatan kepentingan dari suatu hal atau pekerjaan yang akan dilaksanakan

·       Melakukan hal-hal yang bermanfaat

·       Menghabiskan energi untuk hal-hal yang positif

·       Menghindari hal-hal yang bersifat negatif seperti hal-hal yang mengganggu produktivitas diri dan hal-hal yang sia-sia

·       Bekerja dengan cerdas dan ilmu

·       Memanfaatkan waktu-waktu senggang atau sela-sela waktu untuk melakukan pekerjaan yang lain

·       Meningkatkan kinerja dan mengevaluasi kinerja diri

·       Menyeimbangkan hidup atau memberikan hak-hak kehidupan untuk diri

·       Memfokuskan diri dengan ketrampilan dan kelebihan yang dimiliki



Titik Sapta Vimsati: Jati Diri, Harga Diri Dan Martabat Diri

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 27

Jumlah Kata 914

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Sapta Vimsati

Jati Diri, Harga Diri Dan Martabat Diri

 

Seseorang yang tumbuh dewasa akan selalu mencari jati diri, meningkatkan harga diri dan menjaga martabat dirinya. Pertama, dalam tulisan ini kita akan membahasa tentang “jati diri” yang sudah mulai dicari sejak seseorang bertumbuh pada fase remaja dan selalu menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap sosoknya. Bahkan ada beberapa orang yang mengatakan bahwa mencari jati diri adalah setengah perjalanan dari kehidupan manusia. Tidak asing lagi kita mendengar kata "Inilah jati diriku” atau perkataan-perkataan lain yang semisal dengannya. Jati diri dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda, bisa pula berarti identitas, inti, jiwa, semangat, dan daya gerak dari dalam atau spiritualitas.  

Dalam mencari jati diri, manusia harus melewati dan menjalani proses yang panjang. Jati diri tidak semerta-merta diketahui dan didapatkan oleh seseorang. Dalam prosesnya seseorang harus menjadi dirinya sendiri, tegak dengan tujuan, prinsip dan nilai-nilai hidupnya. Bukan menjadi seseorang yang terombang-ambing ke kanan dan ke kiri karena bisikan dan ajakan orang lain dan tidak mau mempertahankan apa yang telah menjadi prinsip dan tujuan hidupnya. Seseorang yang ingin mencari jati diri biasanya akan memulai untuk mengenal siapa dirinya, apa bakat dan kemampuannya, bagaimana pribadi dan wataknya, di mana letak kelebihan dan kekurangannya dan lain sebagainya. Sehingga dengan itu, seseorang bisa menyelaraskan dirinya dengan cita-cita dan tujuan hidupnya.

Seseorang yang sudah mendapatkan jati dirinya cenderung lebih mengenal dirinya lebih dalam. Dan ketika seseorang sudah berhasil mengenal dirinya lebih dalam maka ia akan dapat hidup dengan lebih banyak kebahagiaan. Kepercayaan dirinya pun meningkat sehingga ia dapat meningkatkan mutu, kualitas dan produktivitas hidupnya. Jika ada pertanyaan mengapa banyak orang belum bisa menemukan jati dirinya, maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah karena seseorang tersebut belum mengenal dirinya, belum mengetahui apa yang ia inginkan dari hidupnya, atau jangan-jangan seseorang tersebut belum bisa membedakan antara keinginan yang muncul atas dirinya sendiri dengan yang muncul karena orang lain menginginkannya. Maka kenalilah diri sendiri kemudian yakin dan percayalah dengannya.

Yang kedua adalah harga diri. Harga diri adalah pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri. Harga diri seseorang atau nilai seseorang tidak diukur dari tingginya nilai di rapor atau ijazahnya, bukan dihitung dari seberapa banyak saldo yang ada di buku tabungan dan rekeningnya, bukan dipandang dari seberapa tinggi jabatan, pangkat dan kedudukannya, juga bukan dilihat dari berapa banyak follower dan subcribernya di facebook, instagram, atau youtubenya. Harga diri seseorang tidak ditentukan dari kepintaran, kesuksesan dan hartanya. Mengapa demikian? karena harga diri seseorang dan nilai seseorang bukan ditentukan oleh dunia dan manusia namun ia datang dari sang penguasa dunia, yaitu Tuhannya.

Harga diri seseorang tampak dan tergantung pada bagaimana ia menghargai dirinya sendiri dan bagaimana ia menghargai orang lain. Karena nyatanya tidak sedikit manusia yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri yang akhirnya ia juga gagal menghargai orang lain. Betapa sering kita melihat dan mengetahui bahwa ada tidak sedikit orang yang membenci dirinya sendiri, berkecil hati, merasa tidak dihargai, merasa tidak pantas, merasa rendah diri karena beberapa hal yang menyudutkan hidupnya seperti kecewa, sakit hati, gagal, dihina, direndahkan dan tidak dipuji.

Apa pun keadaannya teruslah untuk menghargai dirimu. Karena sesungguhnya dirimu sangat berharga. Tidak peduli bagaimana orang lain menilaimu dengan apa karena kata Tuhan manusia adalah makhluk yang berharga yang telah diciptakannya dan diamanahi sebagai khalifah di dunia. Ingatlah bahwa jangan pernah sekali-kali merasa dirimu tidak berharga, insecure atau minder dengan yang lain atau bahkan sampai merendahkan dirimu sendiri. Karena sungguh jika itu terjadi, maka kamu telah membahayakan dirimu sendiri. Karena kamu mungkin masih bisa kuat dan berdiri tegak saat ada beribu orang merendahkanmu, namun jika dirimu sendiri yang merendahkannya, maka dari manakah kekuatan yang akan diberikan kepada dirimu. Ingatlah bahwa merendahkan diri sendiri seribu kali lipat berbahaya dari pada direndahkan oleh seribu orang.

Ali bin Abi Thalib pernah menasehati sekelompok muslimin kala itu, dan nasehat beliau adalah: “Kamu tak perlu bersikeras menjelaskan siapa dirimu. Orang yang mencintaimu tak membutuhkan itu, dan orang yang membencimu tak akan percaya itu”. Yang tahu dan paham betul dengan perjuangan dan kerja kerasmu adalah kamu dan Tuhan, Yang tahu dan paham betul dengan usaha dan totalitasmu hanya kamu dan Tuhan. Maka wajar dan tak perlu kecewa jika orang lain tidak tepat dalam memberikan penilaian tentangmu.

Maka cukup berikanlah versi terbaikmu dan jadilah yang terbaik semampumu. Dan hal itu bukan untuk menunjukkan kepada dunia tentang seberapa besar kepintaranmu, kehebatanmu dan kesempurnaanmu. Namun semua itu karena dan demi bukti dan rasa syukurmu kepada Sang Maha Kuasa yang telah menciptakanmu dengan sangat sempurna. Dan jangan pernah menyandarkan dan menggantungkan kesuksesanmu dengan pujian dan apresiasi manusia. Agar engkau tak kecewa dengan apa pun yang akan terjadi. Ingatlah kata Ali bin Abi Tholib “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup ini, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia”.

Yang ketiga adalah martabat diri. Martabat dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan tingkat harkat kemanusiaan atau bisa disinonimkan dengan harga diri pada aspek-aspek tertentu. Martabat diri adalah kemuliaan yang dimiliki manusia, terlepas bagaimana keadaan fisiknya, sosialnya, ekonominya dan berbagai hal lainnya. Karena hakikatnya manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Tuhannya dan itu terbukti dan tertulis dalam berbagai kitab-kitab keagamaan.

Oleh karena kemuliaan tersebut, maka seseorang wajib untuk menjaga martabatnya dengan tutur katanya, perilakunya, dan kesopanannya. Jangan sampai seseorang itu sendiri yang justru merendahkan atau menginjak harkat dan martabatnya dengan melakukan hal-hal buruk, keji dan tidak mulia dan hal-hal tersebut biasanya terjadi karena ketidakmampuan dalam mengontrol dirinya. Sekali seseorang kehilangan harkat dan martabatnya, maka akan sulit bahkan butuh waktu yang lama untuk memperbaikinya. Maka setiap orang hendaknya belajar untuk mengontrol dirinya.


Titik Asta Vimsati: Hidup Bermanfaat, Berkhidmat Pada Umat

2 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 28

Jumlah Kata 801

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Asta Vimsati

Hidup Bermanfaat, Berkhidmat Pada Umat

 

Seseorang hidup mencari banyak banyak hal, dimulai dari mencari ilmu, mencari bakat, mencari kemampuan, mencari pekerjaan, mencari uang dan lain sebagainya. Maka setelah proses pencarian tersebut, lalu apa? Apa sikap dan tindakan yang tepat setelah mencari. Karena hasil dari mencari adalah mendapatkan, maka yang perlu dilakukan setelahnya adalah memberi. Apa yang akan engkau beri pada dunia? Apa yang akan engkau beri pada masyarakat? Apa yang akan engkau berikan pada alam?

Manusia dengan manusia yang lain adalah makhluk yang saling membutuhkan. Tak mungkin manusia dapat hidup tanpa bantuan dari yang lainnya. Ini sudah menjadi sesuatu yang digariskan Tuhan agar manusia mampu mengambil pelajaran. Hal inilah yang menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Oleh karenanya setiap manusia harus mengambil peran di masyarakatnya sesuai dengan kemampuannya. Manusia harus menjadi bermanfaat bagi sesamanya. Seseorang yang mempunyai kemampuan dengan hartanya, maka hendaklah ia menjadi bermanfaat dengan harta tersebut. Seseorang yang mempunyai kemampuan dalam keilmuannya, maka hendaklah ia bermanfaat dengan ilmunya. Dan seseorang yang mempunyai kemampuan dengan tenaganya, hendaknya ia bermanfaat dengan tenaganya.

Hal tersebut selaras dengan sebuah hadist Rasulullah yang berbunyi, “Barang siapa memiliki harta, maka hendaklah ia bersedekah dengan hartanya, barang siapa memiliki ilmu, maka hendaklah ia bersedekah dengan ilmunya, dan barang siapa memiliki kekuatan, maka hendaklah ia bersedekah dengan kekuatannya itu”

Seseorang yang ingin abadi, harus memberi dan meninggalkan jariyah. Jariyah adalah salah satu bentuk amal yang tidak akan pernah putus pahalanya walau raga tak lagi bernyawa. Bentuk dari amal jariyah ini sangat bermacam-macam, tidak selalu tentang uang. Amal jariyah juga bisa berbentuk ilmu, sistem, program-program yang kita susun, bentuk kemudian kita terapkan dan implementasikan di suatu lembaga pekerjaan atau pendidikan. Seseorang jika telah tiba ajalnya dan tak lagi bernyawa, apa yang tertinggal darinya? Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan

Ambillah peran di masyarakatmu, ambillah peran di negaramu, ambillah peran di agamamu. Ambillah peran sesuai dengan kemampuanmu, kecakapanmu, bakatmu, dan apa yang di anugerahkan dari Tuhanmu kepadamu. Setiap orang memiliki kemampuan dan kelebihannya masing-masing, maka dengan itulah kita bisa berperan di masyarakat dan mendedikasikan hidup kita kepada mereka.

Jika seseorang pandai dalam hal perekonomian, hendaklah ia berjuang di medan perekonomian dengan mendirikan banyak perusahaan, pasar, koperasi dan lain sebagainya yang menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Jika seseorang pakar dalam bidang pendidikan, maka hendaklah ia terjun dalam pembangunan pendidikan masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika seseorang andal di bidang politik, maka hendaklah ia berkecimpung di dalamnya dan membangun kesejahteraan dan kepemimpinan yang baik untuk daerah dan negaranya. Begitu juga dalam bidang-bidang lainnya.

Melayani umat bukanlah suatu hal yang hina. Namun merupakan pekerjaan yang mulia. Melayani juga bukan berarti menjadi pelayan. Melayani bukan juga berarti merendahkan diri di hadapan makhluk yang lain. Tapi melayani adalah memberi manfaat dan bantuan serta kemudahan bagi orang lain. Seorang pemimpin harus melayani rakyatnya, seorang bos harus juga melayani pegawainya. Dan itu tidak menjadikan pemimpin rendah di hadapan rakyatnya, juga tidak menjadikan seorang bos rendah di mata pegawainya.

Ada istilah gelar yang ditujukan kepada ahli Makkah dan Madinah, Gelar itu bernama “Khodimul Haromain” yang berarti “pelayan dua kota mulia”. Gelar tersebut diberikan kepada ahli Makkah dan Madinah yang senantiasa melayani tamu-tamu Allah. Dan itu tidak membuat keduanya terhina, bahkan justru menjadikannya mulia di mata Tuhannya dan di mata dunia.

Sebuah pepatah Arab berbunyi “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat” Maka bermanfaatlah bagi umat. Harga dan nilai seseorang tergantung dari kadar kebaikannya. Semakin besar dan banyak manfaatnya semakin besar harga dan nilai seseorang. Namun perlu diingat bahwa harga dan nilai itu tidak ditentukan hanya dengan kacamata manusia saja. Terlebih dari pada itu nilai yang sesungguhnya ada pada yang diberikan Tuhan-nya.

Di mana bumi di pijak, di situlah tempat perjuangan yang telah Allah siapkan. Seseorang yang hidup harus berproses dari seorang pelajar atau pembelajar menjadi pengajar kemudian menjadi pemikir atau pengonsep kemudian menjadi penggerak kemudian menjadi pejuang. Dalam istilah bahasa Arab seseorang harus berproses dari mutta’allim menjadi mu’allim kemudian menjadi mufakkir kemudian menjadi mujahid. Untuk menjadi mujahid atau seorang pejuang tidaklah mudah. Keikhlasan dedikasinya senantiasa menjadi cobaan karena banyaknya tantangan dan juga ujian.

Orientasi kehidupan seseorang haruslah berorientasikan perjuangan. Karena hidup itu sendiri adalah perjuangan. Mengutip kata-kata dan nasehat dari seorang kyai besar kepada santri-santrinya, ustadz Hasan Abdullah Sahal yang mengatakan bahwa jika orientasi hidup hanya belajar sampai SMA, kuliah S1, S2, kerja, nikah, punya anak, pergi haji, lalu mati. Berarti hidupmu sangat murah, murah dan sangat murah, anak. Surganya itu hanya seperti emperan toko bukan seperti hotel yang berbintang lima.

Maksud adalah jika manusia hidup hanya untuk dirinya sendiri, berorientasi hidup hanya untuk hidup enak, makan enak dan tidur enak, maka ia tak lebih hanya menjadi manusia yang berharga murah atau tidak ada harganya. Karena orientasi hidupnya pun tak kurang lebih seperti hidupnya kambing atau binatang-binatang yang lainnya. Orientasi hidup yang mahal adalah hidup yang penuh dengan perjuangan, menabur manfaat dan berkhidmat pada umat.


Titik Nava Vimsati: Kesuksesan Di Mata Orang Dewasa

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 29

Jumlah Kata 705

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Nava Vimsati

Kesuksesan Di Mata Orang Dewasa

Kesuksesan adalah keberhasilan dan keberuntungan. Kesuksesan merupakan hal yang ingin dicapai oleh banyak orang bahkan semua orang yang ada di dunia. Dalam pencapaian kesuksesan diperlukan usaha yang sangat besar, tidak hanya materi namun juga hal-hal penting lainnya, yaitu perjuangan, pengorbanan, kemauan, tekad, dan kesabaran. Kesuksesan yang dimiliki atau dicapai oleh setiap orang berbeda, tidak dapat kita mengukur kesuksesan satu orang dengan yang lainnya.

Setiap orang mempunyai definisi kesuksesan yang berbeda-beda juga dalam cara pandang terhadap kesuksesan itu sendiri. Ada yang memandang dan mendefinisikan kesuksesannya dengan ukuran pendidikan Maka ketika seseorang dapat menempuh studinya hingga pada titik tertingginya atau pada tingkat doktoral atau profesor ataupun gelar-gelar tertentu, atau telah melakukan penelitian-penelitian tertentu, kajian-kajian tertentu, penulisan karya-karya spektakuler, barulah mereka akan menganggap diri mereka telah sukses.

Ada yang memandang dan mendefinisikan kesuksesannya dengan ukuran finansial. Maka ketika seseorang dapat mencapai kekayaan, kemapanan hidup, kelayakan dan kepemilikan harta dan benda hingga pada titik kebebasan ekonomi mereka akan menganggap mereka telah mencapai kesuksesannya. Orang-orang yang mengukur kesuksesannya secara finansial biasanya menetapkan kesuksesannya dengan ukuran materi tertentu, seperti kepemilikan rumah, kendaraan, perhiasan dengan karakteristik tertentu.

Ada yang memandang dan mendefinisikan kesuksesannya dengan pencapaian cita-citanya atau kariernya, seperti menjadi artis terkenal, seniman andal, dokter ahli atau spesialis, olahragawan terbaik, dan lain sebagainya. Ada yang memandang dan mendefinisikan kesuksesannya dengan banyaknya manfaat dan pengaruhnya terhadap orang lain dan perkembangan serta kemajuan yang dibawa untuk bangsanya, negaranya, golongannya, atau lembaganya.

Ada juga yang memandang dan mendefinisikan kesuksesannya dengan pencapaian-pencapaian hidupnya yang sederhana juga kebahagiaan yang dirasakannya, ketenteraman yang dibangun di keluarganya, kerukunan yang tercipta di antara saudara-saudaranya. Ada pula yang memandang dan mendefinisikan kesuksesannya dengan kedekatan antara dirinya dengan Tuhannya, keimanannya, ketakwaannya, dan kedamaian hatinya.

Semua pandangan dan definisi kesuksesan banyak dipengaruhi cita-cita dan tujuan hidupnya yang keduanya dipengaruhi oleh hasil pendidikan yang diperolehnya dari masa kanak-kanak hingga ia dewasa. Penulis sendiri mempunyai pandangan dan kesuksesannya sendiri, sukses adalah ketika seseorang berhasil hidup dengan baik di dunia dan di akhirat. Dan hal ini selaras dengan hadis yang disampaikan Nabi Muhammad kepada umatnya: “Bekerjalah untuk duniamu, seakan-akan engkau akan hidup abadi. Dan bekerjalah untuk akhiratmu, seakan-akan engkau akan mati.” Hal ini juga selaras dengan doa yang sering kali kita baca, yang mempunyai arti: “Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat.”

Ada salah satu guru kami yang mengatakan bahwa sesungguhnya tempat tujuan manusia hanya ada dua, yaitu Makkah yang berarti seseorang melaksanakan haji dan yang kedua adalah akhirat atau tempat kembalinya manusia kepada Tuhannya, dan tidak lebih dari pada itu, sedang tempat-tempat lain hanya menjadi tempat tujuan sekunder saja yang tidak bersifat keharusan atau kewajiban.

Setiap orang dewasa mentargetkan dan mencita-citakan agar hidupnya akan sampai pada titik kesuksesan. Semakin muda ia dapat mendapatkan dan meraih kesuksesan, semakin pula ia akan dianggap dan dihormati sebagai orang. Namun bagaimanakah jika kesuksesan tidak kunjung datang? Sebenarnya sukses memang tak pernah datang, namun ia didatangi oleh para pejuangnya. Bagi kebanyakan orang pasti akan merisaukannya dan mempermasalahkannya, ada yang akhirinya bangkit lebih semangat, namun ada pula yang justru malah kehilangan semangat hidupnya. Karena sukses sendiri tidak hanya menjadi tujuan namun juga menjadi tuntutan bagi setiap orang.

 Di samping kesuksesan yang harus seseorang fokuskan dalam hidupnya, terkadang banyak orang dihadapkan dengan berbagai kesuksesan orang lain di depan matanya bhakan mendahuluinya. Maka bagaimana menyikapi kesuksesan orang lain? Cara menyikapinya adalah tidak menumbuhkan rasa iri dalam diri yang membuat rusaknya hati, namun memberikan selamat, merasa senang atas kesuksesan orang lain, dan belajar dari jalan-jalan yang ditempuh orang lain dalam menggapainya.

Kesuksesan sendiri juga merupakan bagian dari proses kehidupan yang manusia jalani, dalam pencapaiannya tidak langsung mendapatkan hasil terbesar atau terbaiknya. Karena kesuksesan yang besar selalu di awali kesuksesan-kesuksesan kecil yang didapatkan seseorang secara berkala. Lawan kata dari kesuksesan adalah kegagalan, kegagalan sering diartikan dengan makna yang negatif. Padahal jika seseorang berhasil menyikapi kegagalannya, maka selanjutnya kegagalan tersebut akan membawa pada kesuksesan yang nyata dan luar biasa.

Kunci-kunci kesuksesan, di antaranya:

·       Mempunyai niat, tekad dan tujuan yang kuat

·       Memperjuangkan dan mengusahakan dalam pencapaiannya

·       Mendoakan perjuangan dan usaha tersebut

·       Disiplin dan terampil

·       Gigih dan bersabar

Perjuangkanlah suksesmu, karena suksesmu tanda dari perjuanganmu, karena suksesmu adalah kesungguhanmu, karena suksesmu adalah kebahagiaan untukmu dan orang-orang di sekitarmu, dan karena suksesmu kamu akan mengerti makna kehidupan.


Titik Trimsati: Kedamaian Jiwa Bukti Dari Kedewasaan

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 30

Jumlah Kata 843

Sarkat Jadi Buku

 

Titik Trimsati

Kedamaian Jiwa Bukti Dari Kedewasaan

“Berdamailah dengan dirimu, berdamailah dengan fikiranmu, dan berdamailah dengan hatimu, Maka dengan itulah hidupmu akan penuh dengan kedamaian.”

Kedewasaan adalah kemampuan seseorang  dalam mendamaikan diri atau berdamai dengan diri sendiri. Karena pencapaian kedamaian adalah bukti dari pencapaian kedewasaan dalam menghadapi hidup. Kedamaian adalah berada dalam keadaan yang aman dan tentram,  tidak adanya konflik secara internal maupun eksternal yang mengganggu kenyamanan dan ketentraman diri manusia tersebut. Secara internal, berarti terbebas dari gangguan-gangguan yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri, seperti perasaan kecewa, stres. Sedangkan secara eksternal, berarti terbebas dari gangguan-gangguan yang ditimbulkan dari luar dirinya.

Arti terbebas dari gangguan bukan berarti tidak adanya gangguan-gangguan yang datang pada diri seseorang karena yang namanya hidup pasti terdapat halang rintangnya. Namun terbebas dari gangguan berarti ia mampu menaklukkan hal-hal yang mengganggu kehidupannya dan dapat mengambil tindakan serta memperlakukannya dengan baik. Jika ditanya apa yang perlu didamaikan? Yang perlu didamaikan adalah diri seseorang, hati dan juga pikirannya. Karena kedamaian berasal dari dalam diri bukan dari luar dirinya. Tidak ada faktor eksternal yang bisa benar-benar mendamaikan diri seseorang. Karena bagaimanapun keadaan yang terjadi di luar dirinya, ketika seseorang dapat mengatur, mengontrol dan mengendalikan dirinya dengan baik, kedamaian itu masih akan terus dirasakannya.

Berdamai dengan diri sendiri adalah suatu keadaan di mana kita menerima segala yang ada dalam diri kita dan hidup kita atau penerimaan atas diri sepenuhnya, termasuk semua kelemahan, kelebihan, serta kesalahan-kesalahan yang pernah kamu perbuat. Karena dengannya barulah diri akan merasa nyaman. Proses mendamaikan diri ini tidak mudah bagi anak-anak remaja hingga proses menuju dewasa awal karena emosi yang meledup-ledup bahkan meledak-ledak. Ketika merasa marah, gejolak emosinya akan naik, ketika sedih, maka dirinya akan menjadi lemah, begitu pula ketika dihadapkan dengan emosi-emosi yang lain. Karena masa remaja hingga awal kedewasaan adalah masa di mana tingkat emosi meningkat, sehingga tiap-tiap diri harus belajar untuk mengontrol dan mengendalikannya.

Berdamai dengan diri juga merupakan hal yang sulit dilakukan jika seseorang tidak merasa siap untuk melakukannya. Banyak orang yang terjebak dengan perasaan dan pikiran negatif yang berasal dari dirinya. Banyak juga orang yang masih terjebak dengan masa lalunya. Sehingga ia belum bisa bangkit dan melawan segala keterpurukannya seakan ada dinding besar yang menghalanginya untuk maju dan bertumbuh. Kedamaian diri seseorang sangatlah penting, karena kedamaian dirinya akan membawa dirinya kepada sikap, tindakan, dan tuturan yang benar. Betapa banyak kita melihat dan mengamati seseorang yang tidak mendamaikan dirinya selalu salah dalam bersikap, bertindak dan bertutur.

Banyak cara-cara yang bisa diusahakan untuk berdamai dengan diri sendiri, seperti mengenal dan menerima diri sendiri, bersyukur atas anugerah Tuhan, memperbaiki pola dan cara berpikir, mengikhlaskan semua yang telah berlalu, membuang emosi-emosi negatif, tidak memaksakan diri, mendekatkan diri pada Tuhan dan lain sebagainya.

Menurut Stephen E. Covey kita sebagai manusia memiliki tiga kehidupan yang berbeda. Pertama kehidupan publik, yaitu kehidupan yang diamati oleh orang lain. Kedua kehidupan pribadi, adalah kehidupan yang kita lakukan sendirian. Dan yang ketiga kehidupan batin adalah tempat pergi ketika ingin memeriksa motif dan hasrat yang terdalam. Maka perlu bagi kita untuk memberikan porsi perhatian pada tiap-tiap kehidupan tersebut, bersikap bijak dan adil atau meletakkan pada tempatnya masing-masing. Jangan sampai ada satu kehidupan yang merusak tatanan kehidupan yang lain, karena pasti hal tersebut juga akan merusak kedamaian yang ada dalam diri dan kehidupan seseorang.

Ada salah satu faktor besar yang membuat hidup seseorang jauh dari kata kedamaian. Sering kali, ketika seseorang tidak merasa damai dalam kehidupannya karena seseorang menjalani hidup dengan melanggar hati nurani. Sering kali manusia berperang dengan nuraninya dengan mengabaikan apa yang telah ia tunjukkan dan bisikkan atau justru malah berbalik melakukan hal-hal yang telah diperingatkannya untuk tidak dilakukan. Ketika hidup seseorang selalu mengikuti nuraninya maka ia akan bisa hidup dengan damai dan bahagia.

Kehidupan orang dewasa haruslah mampu untuk sampai pada titik kedamaian yang akhirnya mengantarkannya pada kebahagiaan yang hakiki. Kebanyakan faktor yang mempersulit diri untuk sampai pada titik kedamaian dan kebahagiaan adalah karena faktor dari diri sendiri yang mempersulit keadaannya dengan berbagai alasan dan upayanya. Ciptakan damai dan bahagiamu dengan keyakinan yang kuat yang ditumbuhkan dari hati yang terdalam. Oleh karena kedamaian tumbuh dari keyakinan, seseorang yang beragama, yakin dan percaya pada Tuhannya akan merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang nyata.

Tidak ada segala sesuatu pun yang menjamin kedamaian diri seseorang kecuali agama. Kaya tidak menjamin seseorang akan hidup dengan damai, jabatan yang tinggi juga tidak menjamin kedamaian diri seseorang, kecantikan juga tidak menjamin kedamaian dirinya. Ketika seseorang dalam keadaan yang kacau, maka jangan pernah sekali-kali ia menjatuhkan dirinya atau membawa dirinya ke tempat-tempat yang salah untuk menutupi kegelisahannya, kesedihannya juga keterpurukannya. Karena tempat-tempat itu tidak menyembuhkannya atau mengobatinya, tempat tersebut hanya bisa membuat seseorang melupakannya sejenak, namun akan memberikan kekacauan dan kehancuran yang lebih.

Kapankah seseorang akan sampai pada titik kedamaian? Ketika seseorang sudah menemukan nilai-nilai, tujuan dan maksud dalam hidupnya, yaitu kembali kepada kodratnya sebagai seorang hamba yang akan selalu kembali pada Tuhannya. Maka kedamaian dan kebahagiaan yang nyata didapatkan dari kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya dengan melakukan kebaikan dan segala perintahnya, serta menjauhi keburukan dan meninggalkan larangannya. Tidak ada satu pun manusia yang berada pada jalan Tuhannya yang jauh dari kata bahagia dan damai.


Mungkin saja kamu suka

Aaf Mahfudli Fi...
Hujan Sore Tadi
Putri Ayu Agust...
SUCI
Natalia Susanti
Loving You
Nurfa Triya
TERNYATA KITA BERBEDA
Prasetyaningsih
Kembali Pada-Nya
Auristela Re
Aku Ikhlas!

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil