Loading
10

0

0

Genre : Inspirasi
Penulis : Ummurazaqqa
Bab : 30
Pembaca : 0
Nama : Ummurazaqqa2
Buku : 1

Sekolah Dua Bintang

Sinopsis

Buku fiksi ini menceritakan tentang perjalanan menggapai cita dan harapan.
Tags :
#KmoBatch39

Hari Pertama Sekolah

1 0

Bagian cerita penting untuk masa depanku kelak. Mimpiku, anganku setinggi bintang yang bersinar di sekolah dua bintang. Sekolah idamanku, kini hari pertamaku menginjakan kaki disitu. Sebelum aku berangkat ke sekolah, aku berpamitan kepada bapak dan ibuku. Wajah yang letih tampak menghiasi wajah bapakku. Entah mengapa hari ini beliau terlihat berbeda. “Aku berangkat dulu,pak.” Sahutku sambil mencium tangannya. “Belajar yang rajin biar kelak menjadi orang sukses.” sambil mengusap kepalaku. “Insyaalloh pak”. Ucapku sambil lirih. “Dimana ibu?” tanyaku pada bapak. “Ibu sedang ke warung membeli obat” jelasnya. “Kalau begitu aku pergi ya.”seruku. Perjalanan dari rumah ke sekolah hampir satu jam lebih. Aku pergi berjalan kaki dengan semangat. Setengah perjalanan telah aku lalui, padahal ini masih pagi. Jalanan kota yang ramai penuh dengan mobil dan motor saat itu aku lalui. Begitu bersemangatnya akhirnya akupun sampai di halaman sekolah. Sebelum masuk kelas aku memeriksa nama di depan pintu ruangan sekolah. Setiap ruangan kelas ditempelkan daftar nama-nama murid di dalamnya. Akhirnya aku menemukan namaku di kelas X.I-IPA. Akupun langsung masuk ke kelas tersebut untuk menyimpan tas. Ku pikir aku orang pertama yang datang ke sekolah ternyata tidak. Sudah ada dua tas lainnya di dalam kelas. Seorang penjaga sekolah pun sedang asyik membersihkan halaman. “Assalamualaikum,pak!” sapaku. “Waalaikumussalam.” Jawabnya. “Boleh saya bantu pak?” Tanyaku “Boleh, nak.” Jawabnya Orang pertama yang aku kenal di sekolah ini adalah Pak Sakir namanya, dia penjaga sekolah yang usianya hampir sama dengan bapakku. Aku membantu ia mengerjakan pekerjaannya mulai dari menyapu sampai mengepel lantai. Aku senang bisa membantu beliau. “Terimakasih, ya neng!”seru pak Sakir “Sama-sama pak. Saya masuk kelas dulu ya” Jawabku. Saat aku masuk ruangan kelas. Nampak dua orang anak laki-laki sedang asyik mengobrol. Aku tersenyum dan menyapa mereka, dan akhirnya kami berkenalan. Mereka adalah Dio dan Rega. Setelah itupun kelas menjadi penuh dan kami mulai berkenalan satu sama lain. Perasaan yang senang meliputiku hari itu. Hari pertama tidak ada pembelajaran yang serius. Guru dan murid masih berkenalan di hari itu. Akhirnya waktu telah tiba untuk pulang. Akupun bergegas pulang. Sesampainya di halaman rumah, aku terkejut melihat bendera kuning dipasangkan di tiang rumahku. Akupun berlari ke dalam rumah. Ternyata bapakku sudah meninggal dunia. Perasaan yang sangat sedih dan tak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang mewakili perasaanku.

Doa Untuk Bapakku

1 0

Sore itu langit serasa mendung, senja yang begitu suram kurasakan. Serasa sesak menghimpit dada. Tangisanku meledak melihat orang yang kusayangi di dunia ini telah tiada. Beliau yang setiap hari menemaniku kini telah tiada. Pertemuanku pagi tadi menjadi pertemuan terakhir dengannya. Aku ingat pesannya terakhir "belajarlah yang rajin agar jadi anak yang sukses!." Kata-kata yang akan selalu kuingat sepanjang hidupku. Sebelum di kapani, jasad bapakku dimandikan terlebih dahulu. Aku, ibuku dan beberapa tetangga membantu kami untuk menyiapkan pemakaman bapakku. Ku sentuh badannya yang sudah pucat, ku mandikan perlahan. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tangan yang selalu berjuang untuk kehidupan keluarganya. Kaki yang senantiasa melangkah berikhtiar bertanggungjawab memberikan nafkah kini telah tiada. Berkali-kali air mataku menetes, namun ku usap, seakan aku sangat kuat. Begitupun ibuku yang masih menangis terisak-isak di dalam rumah. Dia tak sanggup untuk memandikan jasad ayahku. Ku kecup kening ibuku dan berkata "Kita harus kuat." walau dalam hatiku sebenarnya sangat hancur. Selesai dimandikan, sesuai kewajiban di agama islam bahwa jenazah harus segera dikuburkan apabila telah siap. Setelah dimandikan, dikafani, dan disholatkan kami bergegas ke pemakaman. Pemakamannya tak jauh dari rumahku. Diiringi saudara, kerabat, dan tetangga aku mengantarkan jenazah bapakku. Tidak dengan ibuku. Aku pikir itu akan lebih baik untuknya. Mungkin hatinya masih sangat sedih mengahadapi kenyataan bahwa orang yang sangat ia cintai telah tiada. Tiga puluh tahun mereka hidup bersama, kulihat mereka tidak pernah bertengkar serius selama hidup berumahtangga. Mereka hidup dalam kesederhanaan, rumahtangga yang harmonis walau kadang banyak kekurangan materi. Ayahku adalah orang yang sangat penyayang dan ramah, semasa hidupnya. Banyak sekali orang yang melayat dan mengantarkan beliau di pembaringan terakhirnya. Tanah demi tanah mengubur jenazah bapakku sampai tak terlihat. Batu nisan dan taburan bunga di atas tanah yang basah menjadi pemandangan menyakitkan hari itu. Setiap mahluk yang bernyawa pasti akan pulang kepada Sang Pencipta. Setiap pribadi mempunyai cerita masing-masing dalam hidupnya. Kenangan semasa hidupku bersamanya akan selalu menjadi cerita indah dihidupku. Aku berjanji kepada diriku sendiri untuk menjaga ibuku untuk seterusnya. Aku adalah anak tunggal dikeluarga ku. Kepergian bapakku membuat rumah kami semakin sepi dan sunyi. Beruntung saudara dan tetangga selalu menghibur kami dengan kedatangan mereka. Tak terasa malam pun telah larut. Hari bersejarah, dimana aku ditinggalkan seorang yang kusayangi. Sebelum bergegas tidur aku berdoa untuknya. "Allohumagfirlahu wa afihi wa afu anhu". Semoga Allah mengampuni semua dosaku dan dosanya. Semoga kelak aku dikumpulkan dengan keluargaku di jannah-Nya. Aamiin

Mimpi dan Kenangan

1 0

Gemericik air hujan di luar rumah membuatku terbangun pagi itu. Mataku sembab karena terlalu banyak menangis tadi malam. Kepalaku sedikit terasa pusing. Aku memaksakan untuk bangun dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Selesai mandi dan bersiap, kulihat ibuku yang sedang duduk termenung memandangi foto almarhum bapakku. "Bu, jangan terlalu sedih ya!" seruku. "Iya, nak" diiringi air mata yang berlinang. "Aku pergi sekolah dulu ya, bu?" tanyaku. Dia hanya mengangguk. Saat aku hendak pergi, beberapa saudara dan tetangga berkunjung ke rumahku. Mungkin mereka hendak bertakziah. Salah seorang dari mereka membawa makanan yang sangat banyak. "Ndo, mau sekolah ya?" tanya salah seorang dari mereka. "Iya, Bu." Sahutku sambil bergegas pergi setelah mencium tangan ibuku dan yang lainnya. Seperti biasa aku pergi dengan berjalan kaki, menyusuri jalan pesawahan. Langkah kakiku terhenti melihat dua orang yang ku kenal di pinggir jalan sedang asyik mengobrol. Aku bertemu Pak Agus dan Bu Marni. Aku menghampiri mereka "Asyik bener ngobrol nya pak!" sapaku. "Eh, Bintang" sambil tersenyum dia memandangiku. "Ibu sama bapak tadinya mau ke rumah kamu" kata Bu Marni sambil mengelus rambutku. "Oh, begitu Bu". Ucapku Aku berpamitan kepada mereka karena aku takut telat datang ke sekolah. Sambil terengah-engah aku duduk di ruangan kelas. Aku mengatur nafas agar bisa tenang. "Capek ya, Non" aku terkaget mendengar suara itu. "Pak Sakir ngagetin aja!" seruku. "Lagian kenapa lari-lari ?" tanyanya. "Takut kesiangan pak" jawabku. "Rajin banget non" sambil tersenyum padaku. "Saya bantu ya pak?" Tanyaku. "Gak usah, kamu keliatannya sedang kurang sehat?" Tanya pak Sakir sambil memandangiku. Aku menjelaskan kepada pak Sakir tentang peristiwa kemarin. Tiba-tiba Rega datang memasuki kelas. "Inalillahi wa Ina ilaihi roji'un" kata Rega. Waktu terus berjalan, pagi itu seakan terasa sebentar. Saking asyiknya mengobrol bel pun berbunyi. Pelajaran demi pelajaran telah berlalu. Tiba saatnya waktu istirahat, akupun mengambil waktu senggang untuk pergi ke perpustakaan. Benar saja aku menemukan Lisa sahabatku sedang asyik membaca buku. "Lis, kamu di kelas berapa?" tanyaku. "X.1 IPS" jelasnya. Dia sedang asyik membaca ilmu ketatanegaraan. Dia bercita-cita suatu hari nanti ingin menjadi ahli hukum di negara ini. Akupun meninggalkan Lisa yang sedang sibuk membaca. Aku berputar mengelilingi perpustakaan sekolah. Pandanganku terarah pada buku-buku religi Islam. Aku meminjam salah satu buku tentang kesabaran untuk ku bawa pulang ke rumah. Bel masuk pun berbunyi. Aku berlari menuju kelas untuk melanjutkan belajar. Pelajaran fisika yang sangat aku sukai. Bahkan aku senang sekali menghafal rumus-rumusnya. Guruku menanyakan beberapa rumus. Bagiku mudah, karena sewaktu SMP aku telah mempelajari banyak hal tentang fisika. Berkali-kali temanku menyorakiku sambil bertepuk tangan. Mereka membuatku malu, seakan aku ini Albert Einstein yang berhasil memecahkan rumus-rumus. Setelah pelajaran selesai kamipun pulang.

Air Mata Kedua

1 0

Sore itu, aku pulang menuju rumah kediamanku. Hujan deras disertai petir menggelegar terdengar. Aku memutuskan untuk mengamankan tasku dibalik kerudung. Hujan tak berhenti, bahkan bertambah deras. Saat aku sedang berjalan dengan basah kuyup, mobil mewah nampak di belakangku. Klaksonnya berbunyi dengan kencang. Langkah kakiku terhenti. "Eh, buset ngapain hujan-hujanan non?" tampak seorang yang ku kenal membukakan kaca mobilnya, dia adalah Rega teman sekelasku. "Lupa gak bawa payung." Sambil menutupi tas aku berteduh di halaman bangunan tua. "Ayo, masuk!" Seru Rega sambil membukakan pintu mobilnya. "Gak usah, sebentar lagi sampai kok" jelasku. Sambil menarik tanganku, dia menyuruhku duduk di bangku depan menemaninya menyetir mobil. "Tuh kan seragamnya basah semua" ujar Rega. "Saya tidak menyangka, kamu orang kaya ya?" Tanyaku. "Biasa aja, ini juga mobil punya orangtuaku" jelas Rega. Hujan yang sangat deras membuat mobil yang ku tumpangi susah melaju. Kami berduapun berbincang-bincang sangat lama. Sudah hampir dua jam, namun hujan masih saja deras. Berkali-kali petir seakan berada di atas kepalaku. Aku meminta Rega untuk kembali ke rumahnya, sedangkan aku memaksa berjalan kaki untuk pulang. Akhirnya hujan sedikit demi sedikit reda. Sudah hampir magrib saat itu. Setelah tiba di rumah aku langsung mandi dan mencuci sepatuku. Aku tersadar setelah beberapa lama, dan ku panggil ibuku tak ada di rumah. Aku berpikir mungkin ibuku sedang mengikuti pengajian di mushola. "Neng Bintang, Neng. Udah pulang" suara dari luar terdengar. "Sudah, Bu Sami. Saya kira ibu pengajian dengan ibu saya?" Tanyaku. "Sayang, sabar ya. Ibumu sekarang ada di rumah sakit. Ibu mau pergi kesana sekarang" jelasnya. Sontak air mataku terurai, berkali-kali hancur hati ini. Akupun langsung pergi menuju rumah sakit ditemani Bu Sami. Dia adalah tetangga kami yang sangat baik, dan peduli. Dia menjelaskan bahwa ibuku tergeletak di lantai saat Bu Sami hendak mengambil toples di dapur. Hatiku hancur berkeping-keping melihat badan ibuku terkulai lemas. Matanya tertutup rapat, beberapa selang dipasang di tubuh ibuku. Miris sekali melihat orang yang paling ku sayang tak berdaya. "Bu, Bintang di sini." Ku usap kepala ibuku sambil berbisik ketelinganya. *** Malam telah larut, ibuku tak kunjung bangun. Suster berkali-kali memeriksa ibuku. Namun faktanya, kondisi ibuku tak kunjung membaik. Aku menyuruh Bu Sami untuk pulang ke rumahnya. Jadi hanya aku yang berjaga menunggu ibuku. Doa yang tulus aku panjatkan kepada-Nya. Harapanku melihat ibuku terbangun kembali.

Senyuman Terakhir Ibu

1 0

Satu pekan sudah ibuku berbaring di rumah sakit. Badannya lemah lesu, sesekali ia menggerakkan jarinya. Dokter masih belum mengetahui penyakit yang dideritanya. Aku masih belum bisa bersekolah karena ibuku masih dalam perawatan. Terkadang Bu Sami menggantikan ku untuk berjaga. Tak pernah lelah dan berhenti berdoa kepada-Nya. Kondisi ibuku semakin hari semakin lemah. Kadang aku menangis di saat malam hari. Begitu berat hidup yang kurasakan. Setelah kepergian bapakku, kini ibuku masih koma. Tumpuan hidupku, sedang berjuang melewati masa kritisnya. Dalam hatiku berkecamuk rasa khawatir. Tak ada yang lebih aku inginkan saat itu selain kesembuhan ibuku. Tiada senyuman yang paling ku inginkan, yaitu senyuman ibuku. Jiwaku kian melayang tak tentu seakan separuh hidupku hilang. Dalam hatiku berkata-kata "Ibu, aku sakit melihat mu sakit. Kasih sayangmu padaku tak akan lekang oleh waktu. Semasa kecil aku selalu menyusahkan mu. Oh ibu, kembalilah padaku. Cepatlah kau sembuh" ** Malam itu suster mondar-mandir seperti kelimpungan dengan kepanikannya. Pikiranku semakin kacau, melihat kondisinya. Dokter bergegas memasuki ruangan. Mereka berkata bahwa saluran saturasinya memburuk, kondisi ibuku semakin parah. Hanya doa yang bisa aku lakukan saat itu. Aku tidak memahami perkataan mereka saat itu. Namun mereka mengatakan bahwa ibuku harus berpindah ke rumah sakit yang lain. Sesaat aku dan suster akan memindahkan ibuku ke rumah sakit lain. Ibuku tersadar dan tersenyum padaku. Tak banyak yang ia katakan namun yang jelas sekali aku dengar "Bintang yang kuat,ya" pelukan terakhir darinya menjadi perjumpaan terakhir denganku. Matanya tertutup dan senyumannya jelas. Kembali luka ini begitu menyayat kalbu, belum sebulan ayahku meninggalkanku. Ibuku pun pergi ke pangkuan ilahi. Berat namun ini takdir yang harus kujalani dengan sabar dan tawakal. Menurut Bu Sami akupun pingsan tak sadarkan diri. Hidup yang sangat menderita ku rasakan. Sakit dan luka yang sangat perih. Berbeda dengan anak-anak yang lain seusiaku. Aku harus menjalani kehidupan yang prihatin. Aku percaya bahwa suatu saat nanti aku pasti berhasil menjalani hidup ini

Senyuman Bintang

1 0

Tahun ini adalah tahun yang sangat menyakitkan untukku. Kedua orangtuaku meninggal hampir bersamaan. Kini aku tinggal seorang diri. Rumah yang sangat sederhana dan sepi. Ladang peninggalan orangtuaku pun tidak terurus, karena aku terlalu sibuk dengan urusan sekolah. Sesekali Bu Marni dan Pak Agus mengajakku menginap di rumahnya. Mereka menginginkan agar aku menjadi anak angkat mereka. Walau aku tinggal sendiri, namun banyak sekali orang yang menyayangiku, begitupun Bu Sami. Tetangga terdekatku, sekaligus orang yang sangat peduli denganku. Tak jarang dia membawakan makanan, sabun, bahkan peralatan sekolah. Bu Sami sangat pandai membuat kue, aku memutuskan untuk berjualan kue-kue basah hasil buatannya di sekolah. Aku tidak mau menjadi beban untuk mereka menghidupiku. Aku harus berjuang untuk masa depanku. Hasil dari berjualan kue aku gunakan untuk membeli beras, membayar listrik, dan lain-lain. Hampir setiap hari senin dan kamis aku berpuasa sunnah, salah satu caraku untuk berhemat. Sesekali air mataku menangis terurai saat memakan makanan hasil jerih payahku. Aku teringat kedua orangtua yang telah memberiku makan setiap hari. ** Pagi itu aku berangkat ke sekolah seperti biasa, sambil membawa beberapa kotak berisi kue. Kadang aku merasakan letih dalam perjalanan, tanganku terasa pegal harus membawa kotak kue yang agak berat. Namun, aku ikhlas menerima semua ini. Tujuanku hidup adalah untuk beribadah kepada-Nya. Ridho atas ketentuanNya adalah hal yang wajib dilakukan. Sabar merupakan kunci untama dalam kehidupan. Banyak orang yang kurang bersyukur atas kehidupannya kini. Manusia kadang bersifat keluh kesah, termasuk aku sendiri. Padahal Alloh tidak pernah tertidur dan tak pernah mengabaikan umatNya. Aku bersyukur atas kehidupanku saat ini, walau sudah yatim piatu. Bisa bersekolah dan berjualan menanggung semua beban kehidupan sendiri merupakan kebanggaan tersendiri untukku. Dukungan dari semua orang membuatku kuat menghadapi kenyataan kehidupan ini. Saat bel masuk berbunyi, seorang dari teman sekelasku berteriak. " Yesss, gurunya gak ada." "Duh rugi dong, saya gak bisa persentasi tugas" keluhku. "Eh Miss Einsten, jangan kebanyakan belajar. Sekali-kali have fun gitu." Ketus Rega. "Ah, kamu" dengan kesal aku menjawab. "Kuemu masih banyak gak?" Tanyanya. "Masih ada dua puluhan lagi, kenapa emangnya?" ku jawab sambil menghitung kue. "Saya beli semua buat teman-teman" Rega menyodorkan uang padaku. Akupun sangat senang, daganganku laris hari itu. Dengan bergembira aku memanggil teman-temanku untuk membagikan kue yang dibeli Rega. "Ini bonus untuk kamu!"ujarku sambil menyodorkan kue terakhir pada Rega. "Makan aja sama kamu. Saya sudah kenyang" Ucapnya. "Jangan begitu, menolak pemberian itu tidak baik" jelasku. "Baik, Miss Einsten" dengan tersenyum dia memakan kuenya. Suasana kelas menjadi riang gembira, keributan kecil terdengar sampai ke ruangan kelas sebelah. Saat kami sedang asyik bercanda, tiba-tiba kepala sekolah datang menghampiri kami. "Bintang Lestari ikut Bapak" dengan raut muka serius Bapak Kepala Sekolah memanggilku. "Baik, Pak." Jawabku dengan gugup. Aku berpikir aku akan dimarahi karena berjualan disaat guru sedang tidak ada. "Selamat ya, kamu terpilih mewakili sekolah ini untuk kejuaraan olimpiade Fisika se- Jawa Barat." Jelasnya. "Alhamdulillah, semoga saya bisa mengharumkan nama sekolah ini ya pak." Dengan perasaan gembira saat itu. Dalam hatiku sangat senang, usahaku tidak sia-sia. Bermodalkan ikhtiar dan doa aku bisa membuktikan, bahwa orang miskin sekalipun berhak belajar. Aku ingin sekali bersinar di masa depan seperti namaku. "Bintang".

Meraih Cita

1 0

Aku mewakili sekolahku dalam kejuaraan olimpiade Fisika seJawa Barat. Sepulang sekolah, aku harus menjalani latihan mengerjakan soal-soal tes olimpiade. Jam belajarku semakin panjang karena serangkaian kegiatan sebelum kejuaraan ini. Hafalan rumus dan praktikum dijejali oleh guruku. Aku senang mengikutinya. Walaupun begitu sibuknya, aku tak pernah mengabaikan kewajibanku sebagai hamba. Solat lima waktu tak pernah ku tinggalkan. Kadang-kadang aku menginap di sekolah bersama teman-teman sekelasku dengan diawasi bapak/ibu guru. Belajar merupakan kewajiban seluruh muslim. Baik laki-laki maupun perempuan. Belajar bisa di mana saja. Banyak di antara anak-anak tidak mampu bersekolah. Harapanku kelak aku bisa mendirikan sekolah gratis seperti sekolah ini. Sekolah yang mampu mewujudkan impian-impian orang miskin sepertiku. Anak-anak mestilah mendapatkan hak pengajaran dari pendidik, baik orang kaya maupun orang miskin. Masa depan sebuah negeri tercermin dari generasi mudanya. Seperti di Jepang generasi muda yang ulet, rajin dan menjunjung tinggi nilai norma walaupun mereka non muslim. Berbeda sekali dengan anak zaman sekarang di Indonesia. Aku sebagai generasi penerus bangsa ini ingin sekali melihat negeri ini maju terlebih dibidang pendidikan. Aku sangat bersemangat mengikuti kejuaraan ini. Aku sangat bersyukur karena diberi kepercayaan mengemban tugas ini. Walaupun terkadang aku teringat dengan ibu dan bapakku. Mungkin mereka akan senang ketika melihatku kini. ** Tiba saat hari bersejarah itu, aku mengikuti tes olimpiade di kampus ITB. Aku kagum melihat kampus idaman tempat para intelektual berkumpul di sini. "Ayo nak, kamu pasti bisa," tangan Bapak kepala sekolah menggiringku ke suatu ruangan yang sangat luas. Di sana banyak sekali peserta yang akan bersiap mengikuti tes nya. Perasaanku sangat deg-degan. Namun, aku harus tetap percaya diri dengan kemampuanku. Akupun mengikuti tes nya dengan baik. Secara tertulis maupun praktek, aku ikuti dengan seksama. Tujuannya selain membawa kemenangan untuk sekolahku, yaitu beasiswa berupa uang yang akan diberikan kepada sang juara. Aku sangat mengharapkan itu. Setelah beberapa jam mengikuti acaranya. Tiba saat penentuan yaitu pengumuman pemenang. Hatiku bergejolak tak karuan. Saat dibacakan, nama itu, mataku terpejam seraya berdoa dan meyakinkan pada diri. Bahwa sang Pencipta tidak akan pernah tidur. "Bintang Lestari dari Sekolah Dua Bintang." Mataku terbuka lebar, alangkah senangnya waktu itu. Akhirnya satu per satu impianku kuraih. Bapak kepala sekolah dengan sangat bangga menuju ke depan podium mengambil hadiahnya, yaitu berupa piala dan uang beasiswa untukku. Alhamdulillah, semua kerja kerasku akhirnya terbayar.

Sahabat Terbaik

1 0

Keesokan harinya aku sangat kelelahan dan sedikit kurang sehat. Kepalaku terasa pusing, badanku meriang. Mungkin ini karena efek kemarin mengikuti kejuaraan itu. Seringkali aku basah kuyup kehujanan sewaktu pulang sekolah, sehingga membuat badanku masuk angin. Di tambah seragam, kerudung, sepatu dan tas ku yang basah. Akupun memutuskan untuk meminta izin beristirahat kepada wali kelas, lewat telepon Bu Sami. "Kamu makan dan beristirahatlah." Bu Sami menyuruhku tetap berbaring di kasur. "Terima kasih, ya Bu." Ucapku. Bu Sami seorang janda tanpa anak, selain karena beliau tetanggaku yang paling dekat. Ia juga salah satu aktivis sosial di kampung ku. Beliau sangat peduli dengan semua orang. Aku berpikir suatu saat nanti aku ingin seperti Bu Sami, berguna untuk semua orang. Menjadi pribadi yang sangat menyenangkan dikenal orang banyak. Hari itu aku beristirahat setelah memakan makanan yang dibawakan Bu Sami. Tak terasa aku tertidur begitu lama. Ketika aku tersadar waktu sudah pukul 11:00. Akupun beranjak dari tempat tidur. Bergegas mencuci pakaian yang belum ku cuci. Adzan dzuhur telah berkumandang. Selesai mencuci, mandi dan membereskan pekerjaan, aku langsung menunaikan kewajiban ku. Seperti biasa selesai sholat aku berdoa untuk kedua orang tuaku yang sudah tiada. Ketika aku berzikir, tiba-tiba sekelompok orang ku dengar dan memanggil namaku. "Bintang, ini ada teman-teman." Teriak Bu Sami dari luar. "Silahkan masuk aja nak." Bu Sami menyuruh mereka masuk. Sebelum sempat melepas mukena, Mereka masuk ke ruangan rumahku yang sempit. Lisa, Rega, Doni, dan Siska menjenguk keadaanku. "Alhamdulillah, kalian sudah datang." Seraya memberikan air putih pada mereka. "Ini kami beli makanan buat kamu " Kata Rega "Saya sudah baikan,kok. Kita makan bareng-bareng aja." seruku. "Siap ". Doni menyambar makanan yang hendak diberikan padaku. Kamipun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Doni. *** Sore itu kami sangat bersenang-senang. Hatiku sangat bergembira mempunyai sahabat yang baik seperti mereka. Walaupun mereka orang kaya dan aku orang miskin. Mereka tetap menghargaiku. Sahabat yang selalu memberikan dukungan setiap saat. Sedih dan senang mereka selalu menemaniku. Canda tawa mereka adalah penghibur diriku. Aku selalu kuat dengan dukungan mereka.

Rinduku

1 0

Keesokan harinya kondisiku membaik. Aku memutuskan untuk pergi ke sekolah. Usai sholat subuh, seperti biasa aku bergegas pergi ke sekolah. Hari itu aku tak membawa kue untuk dijual, karena Bu Sami belum membuat kue karena sibuk. Langkah kakiku terasa ringan, udara pagi itu sangat segar. Burung berkicau seraya menemaniku. Allah berikan kenikmatan rezeki hidup untuk semua mahluk. Sesekali aku menarik nafas panjang dan merasakan betapa nikmatnya udara yang Alloh berikan. Sesampainya di sekolah, aku tak menemukan Pak Sakir yang biasanya sudah sibuk dengan pekerjaannya. Halaman, ruangan kelas dan lapangan semuanya tampak bersih dan sudah rapi. Aku berjalan-jalan di depan koridor pagi itu. Nampak bayangan seseorang di ruangan perpustakaan sedang berdiri. Dia berkerudung dan tingginya hampir sama denganku. Akupun masuk ke perpustakaan yang saat itu pintunya terbuka. "Kamu rajin benar Lisa." Aku takjub melihat sahabatku sedang sibuk membaca ilmu politik dunia. "Eh, Bintang. Sudah sembuh?" Tanyanya sambil memegang bukunya. "Alhamdulillah." Aku berkeliling menyusuri lemari-lemari buku yang tertata rapi di perpustakaan. Setelah itu, aku mengajak Lisa untuk pergi ke kelasku. Kami mengobrol banyak sekali. "Bintang ikut Bapak." Aku terkaget mendengar suara Bapak Kepala Sekolah memanggilku. Aku pergi meninggalkan Lisa dan pergi ke ruangannya. "Maaf, kemarin saya sakit. Jadi tidak masuk sekolah Pak." Kujelaskan padanya. "Iya tidak apa-apa." Beliau memberikan sejumlah uang yang sangat banyak padaku saat itu. Itu hadiah beasiswa atas kemenanganku di olimpiade. Mataku terbelalak melihat uang yang sangat banyak. Dalam hidupku tak pernah melihat uang sebanyak puluhan juta. Bahkan membayangkannya saja tak bisa. Ku percayakan uang itu kepada Bapak Kepala Sekolah untuk menyimpannya. Aku akan menggunakan uang itu untuk biaya kuliahku nanti. Biaya kehidupan sehari-hari bisa aku dapatkan dari hasil berjualan kue. Sebelum aku pergi meninggalkan ruangannya aku bertanya kepadanya "Kenapa nama sekolahnya Dua Bintang pak?" "Dulu, Bapak dan saudara Bapak sama seperti kamu. Kami orang miskin yang sangat ingin sekali bersekolah. Ketika malam hari itu, kami melihat bintang kembar di langit, dan kami berjanji akan mendirikan sekolah gratis suatu saat nanti." Beliau menjelaskan dengan penuh haru padaku. Aku sangat senang bisa mendengarkan motivasi dan cerita beliau. Perasaanku menjadi rindu kepada kedua orang tuaku, mungkin mereka akan bangga melihatku saat ini. Namun sayang, mereka telah tiada. Hanya Rindu dalam doa yang ku kirimkan pada mereka setiap hari.

Berkemah

1 0

Matahari mulai naik, panas menyeruak kurasakan. Lapangan sekolah yang di pakai untuk berolahraga saat itu terasa gersang. Pak Iwan guru olahraga kami meninggalkan lapangan. Kukira pelajaran dihentikan karena panasnya cuaca. Ternyata aku salah, beliaupun kembali dan menyuruh kami untuk push-up, shit-up, serta berlari sprin. Sebelum kami meninggalkan lapangan, kami diberitahu olehnya bahwa besok akan diadakan perkemahan, lokasinya agak jauh dari sekolah. Kami sangat senang sekali dengan pengumuman itu. Kami di izinkan pulang cepat untuk mempersiapkan untuk acara besok. ** Pagi itu, pukul 07:00 kami semua sudah berkumpul di depan sekolah untuk menunggu mobil truk yang akan kami tumpangi. Peralatan memasak hingga peralatan tidur kami bawa. Aku, Santi, Tari, dan Mona satu kelompok. Mereka sangat ramah, walaupun bukan sahabat baikku. Aku ditugaskan membawa tenda dan tikar. Sedangkan Santi dan Tari membawa perlengkapan memasak. Begitupun Mona yang menyiapkan peralatan tidur dan lainnya. Truk yang sangat besar tiba di sekolah kami, dengan bersemangat kami naik truk itu. Didampingi Bapak Kepala Sekolah dan guru yang lain, kegiatan berkemah ini diadakan dua hari. Tempat yang begitu asri dan sejuk. Pohon pinus mengelilingi gunung yang hijau menjadikan pemandangan sangat indah. Dingin daerah Lembang membuatku beberapa kali bersin. Tiba di lokasi perkemahan, kami menaiki bukit dengan membawa banyak sekali peralatan. Kakiku pegal dan aku merasa tidak bisa melanjutkan perjalanan. "Minum dulu nih." Rega memberikan sebotol air mineral kepadaku. "Akhirnya ada malaikat juga masuk ke dalam hutan" kataku sambil membuka tutup botol air tersebut. "Ayo, sebentar lagi sampai. Semangat" dia pergi berlalu meninggalkanku. Setibanya di perkemahan aku langsung bergabung dengan kelompokku untuk mendirikan tenda. Pak guru menyuruh kami untuk beristirahat di dalam tenda masing-masing. Hujan turun dengan sangat lebat. Aku dan teman-temanku berdiam di dalam tenda, sambil menikmati makanan kecil yang Mona bawa. Malam itu hujan masih turun. Gelap dan sunyi hanya suara hujan yang deras kami dengarkan. Hanya berbekal lentera kami menerangi tenda kami. Malam yang dingin dan sangat sunyi membuat ku tertidur lelap. Bersambung

Berkemah Part II

0 0

Malam itu seakan lama sekali. Mataku terpejam namun pikiranku melayang kemana-mana. Kukira hanya aku yang tak bisa tidur, ternyata Mona juga sama. Sesekali dia membuka pintu tenda. "Bintang kamu dengar suara itu?." Mona memelankan suaranya. "Seperti suara yang tak asing." ucapku dengan menajamkan pendengaran. "Kita keluar mau gak?" Ajak Mona padaku. Aku dan Mona menelusuri kawasan perkemahan. Rintik-rintik hujan kian membasahi baju kami. Aku dan Mona terus mencari kearah suara yang sayup-sayup terdengar. Aku melihat api yang dikelilingi beberapa orang. Kamipun menghampiri mereka. Ternyata Rega dan yang lainnya membuat api unggun di sana. Aku dan Mona bergabung bersama mereka. Kami bernyanyi dengan riang gembira. Bercerita satu sama lain. Perasaan yang sangat bahagia. Momentum yang tidak akan pernah aku lupakan dalam hidup. Adzan subuh terdengar indah. Tak terasa aku dan teman-temanku bergadang semalaman. Kami kembali ke tenda masing-masing. Kami menunaikan sholat berjamaah di area perkemahan di pimpin oleh Pak Tarto, guru agama kami. Selesai sholat kami mendengarkan beberapa lantunan Kalamullah yang dibacakan beliau. Udara yang begitu dingin berganti menjadi hangat. Mentari beranjak menampakkan cahayanya. Sungguh subuh yang indah. Setelah itu, banyak kegiatan yang kami lakukan di sana. Bermain Flying Fox, mencari jejak dengan melewati jalan gunung yang berliku dan sungai yang mengalir. Acap kali kami berputar-putar di tempat yang sama karena memilih jalan yang salah. Namun akhirnya kami sampai juga di area perkemahan. Sungguh kegiatan yang mengasyikan dan seru sekali. Sebelum kami pulang ke sekolah, kamipun membereskan tenda dan peralatan lainnya. Sampah-sampah yang berserakan bekas makanan dan minuman kami bawa pulang juga. Aku tak mau tempat yang indah itu menjadi penuh sampah karena kegiatan ini. Seumur hidup aku baru mengenal tempat ini. Tempat yang begitu sejuk, indah, asri dan jauh dari keramaian. Ingin sekali berlama-lama di sana. Namun kegiatan kami sudah usai, sore itu kami kembali ke sekolah. Sesampainya di sekolah aku berniat langsung pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Namun, Doni menarik tanganku dan menyuruhku naik ke dalam mobil Rega. **

Makan Bersama

0 0

Di dalam mobil itu aku terheran kenapa Rega, Doni, dan Lisa menyuruhku naik bersama mereka. "Hari ini, kita makan di rumahmu Bintang!" dengan tegas Lisa mengatakan itu padaku. "Boleh, tapi masaknya bantuin ya!" dengan senang hati aku bersama ketiga sahabatku membeli bahan makanan yang akan kami masak nanti. Sesampainya di rumahku, kami langsung memasak apa yang kami beli tadi. Aku dan Lisa bertugas memotong daging dan sayuran. Sementara Rega dan Doni memasak nasi di rice cooker dan membuat sambal. Aku sangat lapar karena seusai acara perkemahan itu, aku belum makan apapun. Aku sangat bersemangat untuk menyajikan makanan untukku dan teman-teman. "Ayo, sikat." Tak sabar melihat makanan yang sudah kami buat untuk kami santap bersama. "Berdoa dulu kali Bintang". Sambil tersenyum Lisa mengambilkan sendok dan piring. "Oke." Aku langsung menyantap makanan itu. "Mantap dah.!" Seru Doni si jago makan. Rega dan Doni tampak bersemangat melahap sambal buatan mereka. Sudah lama sekali aku tak pernah makan bersama. Terakhir kali aku makan bersama kedua orang tuaku sekitar 6 bulan yang lalu. Setelah kepergian mereka, aku selalu makan sendiri. Kadang-kadang air mataku menetes saat makan. Karena makanan apapun menjadi tak enak ketika dimakan sendirian. Aku sangat senang bisa makan dengan ketiga sahabatku saat itu. Nasi beserta lauk-pauk nya habis tak tersisa. "Alhamdulillah, enak banget makanannya." Ucapku sambil membereskan piring yang kotor. "Kalau gitu kami pulang ya." Lisa bergegas menyapu ruangan tengah rumahku dan mereka pulang. "Terima kasih teman-teman." Kataku sambil melambaikan tangan pada mereka. Setelah menutup pintu rumahku. Aku melihat sebungkus keresek hitam yang agak besar disimpan dekat meja yang bersebelahan dengan lemari. Di dalamnya ada kue dan camilan. Aku terheran dan bertanya-tanya siapa yang membelikan makanan sebanyak ini. Ada sepucuk surat di dalamnya. Ternyata Lisa yang memberikan itu, di dalam suratnya dia mengatakan aku terlihat kurus sehingga aku harus makan banyak. Aku tersenyum membaca surat itu. Hidupku menjadi berwarna dengan hadirnya mereka. Kawan yang saling mengingatkan, menegur, dan menyemangati hidup. Aku beruntung mempunyai sahabat seperti mereka. Senja berubah menjadi malam, bintang-bintang menampakkan cahayanya. Bintang timur yang sangat terang terlihat jelas mendominasi di langit, seperti perasaanku saat itu.

UAS

0 0

Tak terasa satu semester sudah, ku bersekolah di sini. Teman, guru dan yang lainnya seolah menjadi keluarga dekatku. Tiba saatnya UAS. Saat penentuan hasil pembelajaran selama setengah tahun. Memang benar, dalam kehidupan kita tak lepas dari ujian. Semua orang diuji dengan kadar kemampuannya. Alloh tidak pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan seseorang. Aku berbahagia atas hidup yang telah Alloh berikan. Semua kepahitan dalam hidup yang kurasakan, maka di situlah Dia memberikan pertolongan yang nyata untuk hamba-Nya. Layaknya aku yang sedang bersekolah, untuk naik tingkat ke kelas yang lebih tinggi maka ujian diadakan. Hari pertama ujian yaitu mata pelajaran olahraga dan bahasa Arab. ** Aku tak terlalu senang berenang, bahkan dari kecil hingga saat ini jarang sekali aku berenang. Olahraga yang sangat aku gemari adalah berlari. Berlari bisa membuat pikiranku senang dan melupakan masalah dalam sesaat. Namun ujian olahraga kali ini memaksaku untuk masuk ke dalam kolam renang. Aku selalu memakai kerudungku bahkan saat berenang. Udara kota Bandung yang sangat dingin dan air kolam yang begitu dingin pula membuat sekujur badan kedinginan. Aku dan semua teman perempuanku memasuki area kolam renang. Beruntung guru berenang kami perempuan, jadi kami bisa leluasa. Walaupun aku tidak mahir berenang, aku berusaha semampuku. Aku berpikir mungkin nilai olahraga kali ini akan buruk. Berenang adalah salah satu olahraga yang dianjurkan dalam agama Islam. Namun aku tak terlalu mahir. Sepulang dari kolam renang, kami kembali ke sekolah. Kolam renangnya tak jauh dari sekolah kami. Ujian selanjutnya menunggu. Sebelum itu, kami beristirahat di kantin sekolah. Ketika aku hendak membeli makanan, aku lupa tidak membawa uang. Aku meletakkan kembali makanan yang telah diambil. Aku kembali ke ruangan kelas, dengan rasa lapar. Setelah beberapa menit berlalu, Lisa datang membawa makanan dan menaruhnya di atas mejaku. "Mari makan, kamu harus banyak makan biar ujiannya dapat nilai bagus!" Serunya sambil memberikan sendok padaku. Aku dan Lisa melahap makanan yang dibuat oleh ibunya. Bel pun berbunyi. Lisa meninggalkan kelasku dan melambaikan tangan. ** Ujian kali ini sangat berbeda, ujian lisan dilaksanakan. Pelajaran Bahasa Arab tidaklah mudah. Hari itu aku merasa lelah setelah berenang dan ujian lisan. Aku pulang dengan letih.

Pergi Berbelanja

0 0

Besok adalah hari terakhir UAS. Detak jantungku berpacu dengan keras. Mataku tak bisa terlelap, malam telah larut. Namun, aku masih saja berkutat dengan beberapa buku dan pena. Kadang-kadang aku menguap. Namun setelah beberapa lama, rasanya mataku semakin mengantuk. Aku tak menyadari, aku tertidur pulas dengan buku berserakan di meja belajarku. Pagi itu, aku terburu-buru berangkat ke sekolah. Beruntung bel belum berbunyi, aku langsung masuk ke kelas. "Tumben kamu kesiangan?" tanya Doni. "Iya, semalaman saya bergadang" ucapku. "Ngapain bergadang, Bintang?" Tanya lagi Doni. "Ya kalau Bintang pastinya belajar. Memangnya kamu kalau bergadang pasti nonton film". Rega tertawa. "Sst.. sudah jangan ribut. Hari ini terakhir kita ujian, semoga nilainya bagus semua" jelasku pada mereka. "Ya udah pasti ketebak juara kelasnya pasti kamu, sang juara olimpiade" dengan sinis Doni mengatakannya. "Aamiin". ** Ujian akhir semester ini akan berakhir hari ini, aku tak mau melewatkan hari ini tanpa nilai yang bagus. Nilai-nilai pelajaran yang bagus akan membuat motivasiku naik. Tekad yang kuat dan kerja keras haruslah kita miliki. Terlebih lagi aku masih muda. Banyak impian dan cita yang harus ku raih. Siang itu kami menyelesaikan ujian dengan baik. Ketika aku sedang menghapus papan tulis, Bu Eva guru kimia sekaligus wakil kepala sekolah memintaku untuk keluar dan mengajak pergi padaku. Aku bergegas membereskan tas dan pergi bersamanya. Kami pergi dengan menggunakan motor milik Bu Eva. Beliau guru yang sangat mahir dalam mengendarai motor, aku kagum pada Bu Eva. Cara mengendalikan motor yang sangat profesional, tak jarang dia menyalip beberapa mobil di jalanan. Di balik jilbab yang menutupi rapat tubuhnya, ternyata dia adalah mantan pembalap. Siang itu aku diminta olehnya untuk berbelanja dengannya. Setelah ujian berakhir akan diadakan pekan olahraga dan seni. Berbagai perlombaan akan diadakan di sekolah. Setiap kelas harus mengikuti perlombaan, dan setiap pemenang lomba akan diberikan hadiah. Kami membeli berbagai peralatan untuk lomba beserta hadiah-hadiah yang akan diberikan nanti. Aku sangat senang bisa menemani Bu Eva berbelanja. Di pusat perbelanjaan Bu Eva mengajakku ke kedai makanan, dan mengajakku makan. Aku sangat bersemangat sekali, karena dari pagi aku belum sempat memakan apapun. Setelah menghabiskan makanan yang dibelikan Bu Eva, kamipun kembali ke sekolah.

PORSENI

0 0

Setelah menyelesaikan ujian pekan lalu, kini kami menyelenggarakan pekan olahraga dan seni. Kegiatan ini, bermanfaat mengusir penat dan lelah karena telah menyelesaikan ujian. Kami sangat senang dengan acara ini. Setiap murid wajib mengikuti kegiatan ini sesuai bakat. Rega dan Doni mengikuti perlombaan seni karena mereka berbakat memainkan musik. Mona dan lainnya mengikuti perlombaan bola voli dan basket mewakili kelas kami. Sedangkan aku, memilih untuk mengikuti lomba main catur. Dulu ketika almarhum Bapakku masih hidup, aku selalu memainkan permainan itu. *** Saat itu aku sedang menonton permainan bola basket antara kelasku dan kelas X.1 IPS. Aku melihat Lisa sahabatku dengan lincah memainkan bola basket. Begitupun Mona dan yang lainnya, mereka tak mau kalah darinya poin demi poin, sangat sengit mereka kumpulkan. Pertandingan yang sangat seru. Berulang-ulang Mona mengantisipasi serangan Lisa dan teman-temannya. Dia sangat mahir memasukan bola ke dalam keranjang. Perawakan tinggi dan besar begitu menyulitkan lawan. Mona nampak seperti benteng yang kokoh, sehingga lawan sangat sulit menembusnya. Serangan demi serangan dilancarkan oleh Mona. Hingga peluit terakhir berbunyi tanda permainan telah berakhir. Kelas kami menang dengan skor 40-27. Sorak Sorai kemenangan, terdengar di ruangan kelasku. Aku bangga pada temanku Mona. Dia mengantarkan kelas kami menjadi juara nomor satu di perlombaan bola basket. Dia menjadi pemain terbaik putri di sekolah kami. Setelah itu, perlombaan catur dimulai. Aku bersiap memainkan bidak di atas papan catur dengan semangat. Tiba-tiba aku tercengang melihat kertas jadwal pertandingan, karena lawan pertamaku adalah Pak Sakir. Aku mengira hanya murid saja yang mengikuti lomba, ternyata tidak. Guru, karyawan bahkan Kepala Sekolah mengikuti perlombaan catur ini. ** Kami duduk berhadapan dengan konsentrasi, Pak Sakir memulai langkah-langkahnya agar membuat permainanku terhenti. Pion demi pion milik Pak Sakir dilalap habis oleh kudaku. Namun, Pak Sakir tidak menyerah seringkali berbalik menyerang. Waktu sudah setengah jam berlalu, aku masih memikirkan bagaimana cara untuk memenangkan permainan ini. Mengatasi pemain senior sangatlah tidak mudah. Di bidang permainanku hanya tersisa kuda, ratu, raja dan benteng. Sedangkan di bidang lawanku masih banyak pasukan berderet. Tiba-tiba aku melihat celah kosong di bidak area paling belakang Pak Sakir. Akupun membabat habis pasukannya. "Skak-mat, Pak" dengan tersenyum lega. "Hebat Bintang, bapak kalah." Pak Sakir menjabat tanganku mengucapkan selamat. "Yes, akhirnya semi final." Ucapku. Aku kembali tercengang lawan yang sangat berat menanti. Besok aku akan berhadapan dengan Bapak Kepala Sekolah. Perasaanku sedikit khawatir karena takut tidak bisa mengimbangi permainannya.

Pertandingan Penentuan

0 0

Pagi itu di lapangan sekolah sangat ramai sekali, mereka sedang menyaksikan perlombaan seni. Mulai dari pameran lukisan, musik, nyanyi dan lainnya ditampilkan. Doni dan Rega mereka menampilkan nyanyian yang sangat indah. Suara Doni yang merdu dan diiringi petikan gitar Rega membuat aku terkesima. Aku tak menyangka mereka sangat keren sekali. Setiap orang memiliki kemampuan berbeda-beda begitu juga dengan minat dan bakat. Mereka teman-temanku yang luar biasa. Matahari kian beranjak naik. Acara seni telah usai. Aku kembali ke kelas. Silmi ketua kelas sekaligus ketua panitia perlombaan, memberitahukan padaku untuk bersiap-siap dalam perlombaan catur. Aku sedikit ragu dan gugup. Lawanku kali ini orang nomor satu di sekolah ini. Bapak Kepala Sekolah sudah bersiap di mejanya, akupun menghampirinya. Papan permainan sudah di bereskan. Kami tinggal memulai pertarungannya. Tiba-tiba perutku terasa sakit, aku meminta izin kepada panitia dan yang lainnya untuk pergi sebentar ke toilet. Selepas itu perasaan gugupku agak berkurang. Kami memulai bermain catur. Aku memilih pasukan berwarna hitam untuk dimainkan. Papan kami mulai tak beraturan. Beliau tampak serius memikirkan permainan catur ini. Aku tak mau kalah darinya. Sebaik mungkin aku pertahankan permainanku. Pertahanan yang kokoh tak akan membuatku lengah. Beruntung permainan catur hanya diadakan di dalam kelas yang tertutup. Hanya panitia dan guru yang boleh menontonnya. Konsentrasi dan kemampuan di atas bidak ditunjukkan oleh Pak Kepala Sekolah. Satu per satu pasukan kami mulai hilang . Kuda, benteng, pion dan yang lainnya sudah tak berdiri di kotak permainan. Hanya tersisa beberapa pion, ratu dan raja. Hampir dua jam kami bermain catur namun hasilnya remis atau seri. Aku merasa sedikit kecewa karena tak bisa mengalahkan Pak Kepala Sekolah namun satu pertandingan penentuan akan dilaksanakan lagi. Panitia perlombaan menyuruhku beristirahat sebentar. Kepalaku sedikit terasa pusing karena terlalu banyak menunduk karena pertandingan tadi. ** Aku berpikir untuk keluar sebentar untuk melihat pertandingan lain. Di lapangan bola voli, tampak Mona dan timnya sedang membicarakan strategi yang akan dimainkan. Aku bersorak menyemangati mereka. Bola-bola lambung, smash keras dan servis-servis dari Mona sangat menyusahkan lawan. Dia sebagai kapten memang terlihat sekali dominan. Dia sangat mahir dalam berolahraga apapun. Berbeda denganku yang hanya bisa mengandalkan kemampuan intelektual saja. Tiba-tiba namaku diumumkan dengan pengeras suara "Juara catur pertama adalah Bintang Lestari". Aku terkaget mendengar namaku disebut. Padahal aku harus menyelesaikan satu pertandingan lagi. Aku diberitahukan Kak Silmi karena orang yang akan melawanku berhalangan hadir jadi otomatis aku pemenangnya. Doni, Rega dan Lisa menghampiriku mereka berteriak dan bertepuk tangan.

Pembagian Rapor

0 0

Ujian berakhir dan pekan olahraga telah usai. Kami tinggal menunggu hasil ujiannya. Besok orang tua atau wali murid akan mengambil hasil rapor anak-anaknya. Aku bingung, hasil rapor tidak boleh diambil oleh murid. Aku berpikir untuk membicarakan ini pada Bu Sami. Aku meminta bantuan beliau untuk hadir di acara besok. Aku pergi ke rumahnya. Namun, di sana banyak sekali tamu. Aku langsung kembali ke rumahku. Aku takut mengganggu Bu Sami. Rumah saudara ibu dan bapakku jauh, aku tinggal di kampung ini sendiri. Pergi ke kampung halaman ibu atau bapakku memakan waktu berjam-jam. Aku berpikir meminta bantuan Pak Agus saja. Aku pergi ke rumah Pak Agus dengan harapan beliau bisa membantuku datang ke acara pembagian rapor besok. Sesampainya di rumah pak Agus. Ku lihat pagar depan rumahnya terkunci gembok. Mungkin mereka sedang pergi, pikirku. Akupun kembali ke rumah. Entah siapa yang akan mengambil hasil rapornya besok. ** Pagi itu selesai sarapan, aku terdiam sejenak. Aku memutuskan pergi ke sekolah untuk mengambil hasil rapor. Aku pergi berjalan kaki seperti biasanya. Sampai di sekolah, kondisinya begitu ramai. Orang tua wali murid berdatangan ada yang membawakan hadiah dan juga makanan. Aku memutuskan menemui wali kelasku. "Bintang masuk," Bu Siti memanggilku untuk duduk. "Baik bu!" seruku. Nampak para orang tua memandangiku. "Ini Bintang, Juara umum di sekolah ini sekaligus pemenang olimpiade fisika se-Jawa Barat." jelas Bu Siti pada mereka. Aku tersipu malu dibuatnya. Wajahku memerah karena mereka tampak memandangiku. Satu per satu orang tua dari murid kelas X.1 IPA dipanggil oleh Bu Siti. Usai dibagikan rapor mereka pergi. Akhirnya setelah menunggu lama namaku dipanggil oleh Bu Siti. "Bu, maaf saya ..." belum selesai berbicara beliau memotong pembicaraan. "Sudah, ibu mengerti. Ini hasil belajar kamu, selama satu semester. Semua hasilnya memuaskan. Selamat sudah menjadi juara umum di sekolah ini." Bu Siti mengulurkan tangan mengucapkan selamat. "Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan. Hanya doa yang terbaik saja untuk ibu dan guru yang lainnya." Jelasku. "Tidak apa-apa, nak. Terus berusaha dan berjuang lebih keras. Kamu pasti bisa" dengan air mata yang berlinang Bu Siti memelukku. Mereka tahu aku sudah yatim piatu. Mungkin hanya aku murid yang datang ke sekolah saat itu. Aku bangga dengan hasil belajarku selama ini. Doa dan kerja keras akan membuahkan hasil yang bagus. Selama kita mampu, selama kita hidup teruslah belajar.

Liburan Sekolah

0 0

Setelah akhir semester sekolah di liburkan selama dua pekan. Bagiku liburan sekolah selama itu akan membuatku jenuh dan bosan. Teman-temanku pasti menikmati liburan panjang ini. Beruntung aku sempat meminjam beberapa buku di perpustakaan. Hanya buku-buku tersebut yang bisa menemaniku. ***

Sudah beberapa hari aku lewatkan waktu liburanku dengan berdiam di rumah saja. Hanya kegiatan membereskan seisi rumah dan membersihkan halaman setiap harinya. Bu Sami kadang-kadang datang ke rumah untuk menemaniku makan dan mengobrol. Seseorang sederhana sepertiku tak banyak mengenal dunia luar. Ditakdirkan hidup di keluarga yang sangat sederhana, seingatku aku tak pernah berlibur. Ingin sekali rasanya melihat pantai atau tempat wisata lainnya. Terkadang aku iri mendengar cerita teman-teman yang asyik pergi berlibur dengan keluarganya. Aku hanya bisa bersabar dan menahan segala keinginan. Satu pekan sudah aku menghabiskan waktu berdiam di rumah. Sesekali aku pergi ke rumah Bu Sami untuk menonton televisi. Aku tidak terlalu tertarik dengan acara tontonan di televisi. Aku tak begitu terhibur dengan acara sinetron dan lainnya. Aku berpikir besok atau lusa, aku harus pergi ke ladang dan makam orang tuaku. Sudah lama sekali ladang peninggalan bapakku tak terawat. Aku ingin melihat tanaman apa saja yang ada di ladang itu. ** Keesokan hari nya, selepas membereskan rumah, aku pergi ke makam orang tuaku. Aku membersihkan rumput di sekitar makam itu. Aku usap batu nisan orang tuaku serta mendoakan mereka. Sepulang dari tempat pemakaman, aku pergi ke ladang. Ladang yang dulu ditanami sayur mayur kini tak terurus. Terlihat rumput dan duri yang meninggi serta ranting-ranting pohon berserakan. Aku membersihkannya agar lahan tersebut bisa ditanam kembali. Belum selesai membabat rumput-rumput liar tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara tangis anak-anak yang sayup terdengar. Aku tak menggubrisnya, aku hiraukan suara itu. Hari masih siang jadi tak mungkin ada hantu atau semacamnya. Aku tak pernah membiarkan hal-hal mistis dan membesar-besarkan ketakutan dalam diri. Selalu berusaha tenang dan berpikir dengan akal sehat. Matahari sangat panas saat itu, pekerjaanku belum selesai juga. Aku berpikir akan melanjutkan pekerjaannya besok. Badanku sudah dibasahi keringat kerudungku tampak basah oleh itu. Perasaan lelah dan lapar membuatku kembali ke rumah. Aku bergegas mandi dan bersiap untuk memasak. Ketika aku hendak memasak nasi, ternyata persediaan beras di rumah kosong. Aku tak punya uang untuk membeli beras. Uang hasil berjualan kue juga habis. Aku duduk termenung memikirkannya.

Bantuan Sosial

0 0

Aku pergi ke rumah Bu Sami bermaksud meminjam beras saat itu. Aku tak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Aku mendatanginya dengan rasa malu. Belum aku sempat berkata-kata, Bu Sami memberiku banyak makanan. Mulai dari beras, telur, mie instan, sabun dan cemilan lainnya. Ternyata ini bantuan dari pemerintah untuk orang-orang tidak mampu. Aku sangat senang sekali. Aku berpikir sumber dana bantuan ini berasal dari uang rakyat jadi memang semestinya disalurkan untuk masyarakat yang membutuhkan. Para elit politik yang korupsi saja bisa hidup enak. Harusnya kami sebagai rakyat bisa hidup sejahtera juga. Mereka dipilih oleh kami dan harusnya mengedepankan kepentingan rakyat pula. Aku tak banyak paham dengan persoalan-persoalan di negeri tercinta ini. Lisa sahabatku sangat terobsesi dengan dunia politik, mungkin dia lebih tahu tentang pasal-pasal dan hukum di Indonesia. Lisa berharap bisa menjadi penegak hukum yang adil. Cita-citanya menjadi anggota KPK. Pengetahuannya dalam bidang ilmu sosial sangat mencolok. Sewaktu SMP dia di daulat sebagai duta sosial. Bapaknya Lisa adalah Kepala Desa di kampung kami. Beliau menjabat tiga periode. Beliau dipercaya masyarakat karena pemerintahannya yang jujur dan transparan. Beliau sangat ramah dan sederhana. Lisa aktif diberbagai lembaga kemasyarakatan membantunya. "Ini buat saya semua Bu?" tanyaku pada Bu Sami. "Iya, semuanya. Ibu juga sama dapat" jawab Bu Sami sambil menunjukan sembakonya di pojok. "Alhamdulillah, kalau begitu saya bawa ya Bu!". Seruku sambil membawa barang-barang tersebut. Aku bisa menggunakan bahan-bahan ini untuk bekal satu minggu kedepan. Aku tahu Alloh tak pernah tidur dan semua rezeki setiap orang telah diatur. Aku yakin pertolongan Alloh pasti akan tepat pada waktunya, tidak telat dan tidak juga cepat. Hanya orang-orang yang bersabar senantiasa mendapatkan pertolongan Alloh. Banyak kulihat orang-orang yang depresi diakibatkan kekurangan ekonomi. Padahal Alloh tak pernah membebani permasalahan diluar batas kemampuan seseorang. Selalu yakin dan percaya kepada-Nya kunci dari semua permasalah. Berpasrahlah hanya pada-Nya. Aku beranjak dari tempat dudukku. Aku bergegas memasak nasi dan yang lainnya. Aku nyalakan perapian dalam tungku. Kompor gas yang berada di ruangan dapur tak digunakan karena gasnya habis. Aku belum bisa membeli itu. Aku tak sabar menunggu untuk kembali bersekolah agar aku bisa belajar dan berjualan kue kembali untuk bisa mendapatkan uang.

Murid Baru

0 0

Liburan sekolah telah usai. Kini saatnya kembali ke sekolah. Berbekal semangat baru dan perasaan kegembiraan yang meliputi. Kami memulai belajar kembali. Matahari sepenggalah naik, saat beristirahat tiba. Udara panas memenuhi ruangan kelas saat itu. Aku beranjak pergi ke kantin, mengeluarkan kue jualanku. Pagi tadi Bu Sami memberikan kue jualannya dengan banyak padaku. Saat aku masih berdiri membereskan kotak kue. Tiba-tiba Doni berteriak "hari ini ulang tahun saya, ambil semua kue jualannya Bintang." "Selamat Ulang tahun ya, Don. Maaf aku gak punya apa-apa. Hanya punya doa, semoga kamu sehat selalu, banyak rezeki dan jadi anak yang sholeh" ucapku sambil menjabat tangan Doni. "Makasih Bintang. Tak apa-apa yang terpenting doa untuk saya" ucap Doni sambil tersenyum. Semua teman sekelas bergembira saat Doni berulang tahun. Kue jualanku habis laris semua, bahkan kurang. Ada beberapa teman yang berbeda kelas mendatangi Doni dan mengucapkan selamat padanya. "Yah kuenya habis. Kalau gitu kita ke kantin" Doni mengajak Rega dan mereka untuk makan di kantin. Doni adalah temanku yang paling royal. Dia anak salah satu pengusaha kuliner ternama di Bandung. Walaupun aku dan beberapa teman lainnya berbeda kasta, kami tidak pernah berselisih. Saling menghargai dan menghormati adalah kunci persahabatan yang murni. Sahabat yang paling baik adalah dia yang mampu menemani kita saat sedih. Aku sangat beruntung mempunyai teman baik seperti mereka. ** Bel masuk telah berbunyi. Aku membereskan kotak kue di meja paling belakang. Tak jarang guru menegurku karena kotak-kotak itu. Terkadang hatiku sakit, karena selain harus memikirkan sekolah aku juga harus berjualan demi kehidupanku. Cibiran- cibiran, cemoohan seringkali terdengar namun aku tak menghiraukan mereka. Aku bangga dengan diriku. Alloh mampukan aku hidup sebagai seorang yatim piatu bisa bersekolah dan menghidupi diri sendiri. Terdengar suara sepatu seseorang memasuki kelasku. Bu Eva nampak menggandeng seorang murid perempuan yang cantik. Wajahnya putih berseri mirip peranakan Jepang. Dia berdiri di depan kelas dan memperkenalkan dirinya. Dia bernama Maisyaroh. Murid baru yang akan bersekolah di sini. Bangku sebelahku kosong, Bu Eva menyuruh Maisyaroh duduk denganku. Aku senang bisa duduk dengan murid baru itu. Setelah perkenalan Maisyaroh, kami melanjutkan pelajaran. Bu Eva merupakan guru yang tegas namun menyenangkan. Tak terasa dua jam pelajaran berlalu dan bel pulang berbunyi. Aku berpamitan kepada Maisyaroh untuk pulang duluan sambil membawa kotak-kotak kue.

Cinta di Sekolah

0 0

Angin kencang menyertai pagi saat aku sampai di sekolah. Aku beristirahat di teras mushola. Ketika aku sedang duduk, ku lihat Maisyaroh sedang melaksanakan sholat dhuha. Wajahnya yang putih bersih ditutupi mukena, ku lihat dia sedang berdoa dengan khusyuk. Aku melepas lelahku sambil memijat kakiku. Rasa pegal membuat aku tak beranjak dari teras mushola. Maisyaroh menghampiriku. Senyuman ramah nan cantik membuat banyak murid laki-laki jatuh cinta padanya. Walaupun murid baru, Maisyaroh sangat ramah dan pintar bergaul. *** Aku dan Maisyaroh pergi ke kelas untuk menyimpan tas. Hari ini Bu Sami tak menitipkan kue jualannya sehingga aku tidak terlalu repot dengan kotak-kotak kue yang biasa dibawa. Ternyata Rega, Doni dan yang lainnya sudah berada di kelas. Mereka sedang asyik mengobrol. Aku mendatangi mereka namun tiba-tiba mulutnya terdiam. Maisyaroh yang sedang sibuk menyalin jadwal pelajaran tidak memerhatikan kami. *Ada apa?" tanyaku yang sangat ingin tahu. "Gak apa-apa Bintang." Ujar Rega sambil tersipu malu. Aku heran melihat gelagat kedua sahabatku yang aneh saat itu. Sesekali aku memerhatikan Rega menatap Maisyaroh dengan gembira. Doni yang duduk di sebelahnya berbisik sambil melihat ke arahnya. Walaupun aku orang yang sangat cuek, namun mengenai perasaan aku selalu peka. "Kamu jatuh cinta sama Maisyaroh?" aku berbisik pada mereka berdua. "Iya, si Rega dari kemarin nanyain terus tentang Maisyaroh" balas Doni dengan berbisik. Wajah Rega memerah tersipu malu. "Hati-hati Bapaknya TNI" . Kataku Aku menghampiri Maisyaroh dan mengatakan bahwa aku ingin duduk sebangku dengan Doni. Aku menyuruh Maisyaroh berganti posisi dengan Doni. Rega terlihat gugup. Aku dan Doni tertawa melihat tingkah lakunya. Rega menatap ke arah kami berdua dan memberikan kode kepalan tangan padaku. Maisyaroh Sang primadona kelas yang sangat cantik, ramah dan baik hati duduk bersebelahan dengan sahabatku. ** Rega dan Maisyaroh yang duduk di bangku depan baris kedua tampak tak banyak kata. Aku sesekali memerhatikan ekspresi wajah keduanya yang sama-sama terlihat malu. Aku yang duduk di bangku paling belakang bisa melihatnya. Aku yang sama sekali belum pernah tahu rasanya jatuh cinta heran melihat itu. Pelajaran demi pelajaran telah kami ikuti. Namun, Rega dan Maisyaroh tetap terlihat kaku.

Rumah Idaman

0 0

Semakin hari, kulihat Maisyaroh dan Rega menjadi sangat akrab. Aku senang melihat kedekatan mereka. Rega sering mengantar Maisyaroh ke rumahnya sepulang sekolah. Mereka tampak serasi. Aku berharap mereka kelak bisa menikah. Sesekali mereka berkunjung ke rumahku untuk mengadakan acara makan-makan. Mereka berdua menjadi pemandangan romantis setiap berada di sekolah. Tak banyak rayuan atau kata-kata, ungkapan rasa kasih sayang tergambar dari gerak-gerik keduanya. Pada suatu hari Rega tidak masuk sekolah karena sakit. Maisyaroh mengajakku untuk pergi bersama Doni pergi menjenguknya. Seusai sekolah kami pergi ke rumahnya. Kami mengendarai mobil ayahnya Doni. Doni yang sudah mahir menyetir mobil menancapkan gas untuk bergegas. Perjalanan dari sekolah ke rumah Rega lumayan jauh. ** Setelah beberapa lama, kami sampai ke rumah yang sangat besar di tengah-tengah pemukiman warga yang asri dan sepi bertengger rumah tiga lantai yang kokoh. Mataku terbelalak melihat itu. Halaman rumahnya yang besar, empat kali lipat dari rumahku. Seumur hidupku, aku tak pernah mengunjungi rumah elit. Pohon dan bunga terlihat rapi di halamannya. Kami turun dari mobil Doni. "Sudah sampai, ini rumahnya Rega" ujar Doni. "Ayo kita masuk!" Seru Maisyaroh. Mereka meninggalkanku yang masih sibuk melihat-lihat di sekeliling rumah. Seketika aku kaget karena mereka bergegas menuju pintu depan rumahnya. Aku beranjak menemui mereka. Doni menelpon Rega untuk membukakan pintu rumahnya. Tak lama setelah itu pembantu Rega membukakan pintu rumah tersebut. "Silahkan masuk!" Seru pembantu Rega. Kami masuk ke ruangan rumahnya. Di dalamnya terdapat lukisan, pernak-pernik hiasan dinding yang sangat menarik. Kursi yang kami duduki sangat empuk. Kami menunggu Rega di sana. Tiba-tiba aku tak bisa menahan untuk pergi ke toilet. Toilet yang sangat besar dua kali dari besarnya dari rumahku. Sepulang dari toilet, pembantu Rega menjamu kami dengan sangat baik. Makanan dan minuman disuguhkan di meja. Pembantunya pergi ke kamar Rega untuk memanggilkannya. Rega dengan menggunakan baju tidurnya turun dari lantai dua menghampiri kami. Dia menyuruh kami untuk memakan makanan yang ada di meja. Dia terlihat pucat karena sakit. Kami mengobrol dan bercanda. Rega tak memberitahukan penyakit yang diidapnya. Setelah beberapa lama kami langsung pulang.

Jilbab Baru

0 0

Satu tahun telah berlalu, aku dan kehidupanku telah berubah. Dulu aku selalu murung, sedih dan merasa kesepian. Kini warna hidupku berubah setelah mengenal teman-teman baru dan lingkungan sekolah yang aku sukai. Semangat, dukungan dan motivasi untuk menjadi seseorang yang lebih baik mereka berikan. Bu Sami, tetangga terbaik selalu memerhatikan kehidupanku. Walaupun aku yatim piatu, kini hidupku tak kesepian. Rega, Lisa, Doni, Mona dan Maisyaroh mereka sahabat-sahabat yang selalu mendukung dikehidupanku. ** Sore sepulang sekolah, aku dan teman-temanku pergi ke kedai es krim di tengah kota. Aku tidak mempunyai uang banyak untuk membelinya, beruntung mempunyai teman seperti Doni. Dia membayar semua es krim yang kami beli. Tiba-tiba seorang pengemis datang saat kami hendak pulang. Dia berpenampilan layaknya orang biasa, masih muda dan bertenaga. Kami tidak memberikan dia apa-apa. Aku berpikir generasi muda di negeri ini banyak orang yang tak mau bekerja keras seperti dia contohnya. Setelah kami pulang dari kedai es krim. Doni dan yang lainnya mengajakku ke pusat perbelanjaan. Kami mengendarai mobil milik Rega. Seumur hidupku aku tak pernah pergi ke tempat seperti itu. Mereka dengan memaksa menyuruhku untuk ikut bersama mereka. Sesampainya di tempat itu. Aku diajak Doni ke tempat pakaian. Pakaian-pakaian dengan logo mahal terpampang di patung-patung itu. Mataku tertuju pada jilbab bercadar berwarna pink. Aku tak berani melihat harga jilbab itu. Doni, Rega, Lisa dan Maisyaroh sibuk dengan pakaian yang akan mereka beli. Rega dan Maisyaroh menghampiriku. "Bintang kalau suka ini ambil saja." Maisyaroh dengan penuh semangat mengambilkannya untukku. "Gak usah repot. Saya gak punya uang." Ucapku sambil memegang jilbab itu. Rega menyambar jilbab itu dan bergegas pergi ke kasir untuk membayarnya. Dalam hatiku malu, karena mereka banyak sekali membantu. Aku berjanji suatu hari nanti aku pasti bisa membalas budi pada mereka. Teman baikku yang sering memberikan kebahagiaan untukku.

Pengetahuan Lingkungan

0 0

Kini adalah tahun terakhir aku bersekolah di sini. Tak terasa dua tahun sudah aku menempuh pendidikan di sekolah ini. Setiap awal semester diadakan kegiatan pengetahuan lingkungan. Sewaktu aku duduk di bangku kelas XI, aku dan teman-temanku berkunjung ke gua, museum, bangunan bersejarah dan yang lainnya. Sekolah Dua Bintang walaupun sederhana namun modern. Beriman, cerdas dan kreatif adalah semboyan sekolah ini. Kami tidak hanya dituntut mengikuti pelajaran eksakta saja, pelajaran agama dan sosial juga diutamakan. Hari demi hari berjalan, aku selalu berada di rangking teratas setiap semester. Awal semester kami berkunjung untuk mengikuti pengetahuan lingkungan. Hari minggu saat pekan pertama kami berkunjung ke pusat konservasi alam di daerah Bogor. Kami berangkat pagi sekali. Seperti biasa kami menaiki truk yang sama setiap kegiatan. Lokasi tempat kami berkunjung tempatnya berada di tengah pemukiman warga. Jalan berkelok penuh bebatuan membuat truk bergoyang. Enam jam perjalanan dari Bandung menuju Bogor membuat kami kelelahan. Tak sedikit temanku yang muntah di perjalanan. Akupun kadang-kadang merasa pusing. Setelah beberapa lama, kami tiba di tempat konservasi alam. Pemandangan alam yang begitu memukau membuat pengunjungnya betah. Tempat itu sangat terawat. Pohon-pohon bambu tersusun rapi. Penginapan sederhana yang terbuat dari kayu tampak unik. Kolam ikan dan kebun sayuran terhampar dengan sangat rapi. "Bintang, ayo kita ke sana." Lisa menarik lenganku mengajakku ke arah danau buatan di ujung penginapan. Aku menyetujui ajakannya. Di sana diletakan sampan kecil untuk dinaiki. Aku dan Lisa menaiki kapal itu. Perasaan ku hanyut dalam suasana. Aku sangat senang dengan hal ini. Kami menyusuri danau dengan sampan kecil. Ini adalah kenangan indah yang tak akan pernah aku lupakan. Aku dan Lisa yang sudah berteman sejak kecil. Kenangan-kenangan yang senang dan sedih kami alami. Kami berjanji akan menjadi sahabat seumur hidup. Suasana alam yang begitu indah membuat aku dan Lisa penuh haru ketika kami menceritakan cita-cita kami suatu saat nanti.

Ulat Bulu

0 0

Setelah selesai menaiki sampan, aku dan Lisa menghampiri guru dan teman-temanku. Pak Rahmat membuat permainan sepakbola di sawah yang penuh lumpur. Aku sudah terbiasa dengan tanah dan lumpur. Namun, tidak dengan Rega dan yang lainnya. Mereka anak orang kota yang jarang sekali berhubungan dengan alam bebas. Kami memainkan sepakbola bergantian antara laki-laki dan perempuan. Wajah dan pakaian dipenuhi lumpur. Jilbab baruku yang dibelikan oleh Rega kotor juga. Kami sangat menikmati permainan itu. Jatuh bangun dalam kubangan lumpur membuat suasana mengasyikkan. Setelah permainan selesai, kami beranjak membersihkan pakaian bergantian di toilet penginapan. Doni yang saat itu membawa banyak makanan, dia membagikan makanan dan minuman ke setiap orang. Guru-guru dan sopir juga diberikan makanan dan minuman. Aku memakan bekalku. Kue dan makanan kecil yang diberikan Doni langsung dimakan olehku. Doni mempunyai sifat dermawan dan peduli terhadap sesama. Setelah selesai membersihkan pakaian, kami meneliti tumbuhan yang ada di sekitar pusat konservasi. Aku ditugaskan Pak Rahmat meneliti beberapa tanaman bambu dengan variasi yang berbeda-beda. Saat hendak meneliti batang bambu, aku melihat sekawanan kepompong bergelantung di pohon bambu. Aku teringat saat almarhum Bapakku berkata bahwa banyak pelajaran dari kepompong. Saat proses berubah dari ulat menjadi kupu-kupu. Kepompong berpuasa selama beberapa hari. Aku baru mengerti bahwa setiap perubahan yang lebih baik akan ada proses dan hambatan. Seperti hidup yang aku alami, suka duka aku rasakan. Namun, ketika terjatuh, aku akan semakin kuat. Mimpi dan cita-cita yang akan aku buktikan kepada dunia didalamnya terdapat proses-proses yang berat. Sore hari kami pulang menaiki truk yang sama. Malam kian larut, perjalanan kami pulang menuju Bandung di iringi dengan hujan yang begitu deras. Beruntung atap truk dilapisi terpal membuat kami tak terguyur hujan. Namun, udara dingin dan membuat kami sangat tak nyaman. Setengah perjalanan kami lalui dan hujan semakin deras. Saat tiba waktu magrib, kami memutuskan untuk mampir di masjid di daerah Cianjur. ***

Sabar

0 0

Aku sudah duduk di bangku kelas XII jurusan IPA. Suka duka bersekolah di sini telah aku rasakan selama tiga tahun ini. Semester terakhir ini menjadi saat-saat yang tak pernah terlupakan. Aku sangat senang selalu menjadi juara umum. Piala bahkan beasiswa telah banyak kudapatkan. Aku beruntung Alloh menguatkan hati dan kesabaranku. Ada makna dimana setiap orang diuji, hidup ini haruslah diiringi dengan kesabaran yang tiada henti untuk berjuang terus dalam hidup. Jalan yang dipenuhi onak berduri tak jarang membuat motivasiku turun. Namun orang-orang terdekat selalu memberikan semangat. Rumah yang sepi tanpa kedua orangtuaku, suasananya telah berubah. Aku dibantu teman-temanku mendekor ulang rumahku. Cat tembok yang berubah warna dan tata letak ruangannya yang berubah membuat rumahku semakin tampak ramai. Ruangan rumah yang sempit dipenuhi foto-foto sahabatku membuat aku senang tinggal di rumah. Ladang yang tak terurus, kini mulai terawat kembali. Aku menanam beberapa tanaman palawija dan sayur-sayuran. Kadang-kadang teman-temanku datang untuk membantu mengerjakan pekerjaan ini. Gubuk tempat untuk beristirahat yang berbeda di ladang, dibenahi oleh ku. Hidupku sedikit demi sedikit terasa berubah. Takdir baik maupun buruk membuatku semakin dewasa dan bersyukur. Aku berjalan di fase kehidupan yang tak semua orang akan mampu menjalaninya. Aku selalu bersyukur atas apa yang telah Alloh berikan. Aku berharap suatu saat nanti setelah aku dewasa, aku bisa menemukan orang yang tepat untuk bersama menjalani hidup. Seperti Rega dan Maisyaroh yang sedang merajut cinta. Mereka berjanji untuk sukses bersama. Seringkali pertikaian terjadi dengan mereka, tapi aku selalu membantu mereka mengatasi kesalah pahaman yang terjadi. Walaupun mereka dari kasta yang berbeda namun cinta telah menyatukan mereka. Aku berharap suatu saat mereka menikah dan selalu berada di dekatku menjadi sahabat yang selalu menemaniku. Doni dan Lisa juga mereka teman-teman baikku. Aku ingin menua bersama mereka. Menggapai cita-cita bersama orang-orang yang kusayangi. Walaupun kami akan berpisah namun persahabatan kami akan tetap terjaga walaupun terpisah jarak.

Cemas Saat Menunggu Hasil

0 0

Hari kelulusan semakin dekat. Selepas UAN, kami diberikan kelonggaran waktu untuk pulang lebih awal. Aku bertemu dengan Mona di koridor. Dia nampak murung dan sedih. Aku menghampiri dia karena khawatir. “ Kamu kenapa Mona?” tanyaku. “Aku sedikit khawatir dengan hasil ujianku” dia menjelaskan. “Tenang, berdoa dan selalu berusaha. Pasti kamu lulus” ujarku memberi semangat pada Mona. Aku mengajak Mona ke rumahku. Namun, dia tak bisa pergi karena akan berlatih bulutangkis. Kemampuan pada bidang olahraga, membuat Mona selalu mengikuti perlombaan. Ayahnya sebagai pelatih bulutangkis selalu menyertakan Mona mengikuti berbagai kejuaraan. Mona mengajakku untuk pergi ke lapangan dekat rumahnya. Kebetulan rumahnya searah dengan rumahku. Aku memutuskan pergi ke rumah Mona. Selain untuk melihat kegiatannya, aku juga ingin menghibur dirinya. Dia terlalu takut, khawatir memikirkan hasil ujian. Aku bergegas pergi dengannya menggunakan motor yang di kendarai Mona. Saat aku hendak menaiki motor Mona, tiba-tiba datang Doni. “Kalian mau kemana?” tanya Doni sambil memegang tasku. “Mau ke rumah Mona, Mau ikut latihan bulutangkis” jelasku. “Kalau begitu saya ikut ya” Doni memaksa untuk pergi bersama kami. “Ayo” ucap Mona. Doni yang membawa Mobil menyusul kami yang sudah pergi duluan. Di perjalanan aku beberapa kali menengok ke belakang, karena takut Doni salah memilih arah jalan. Sesekali aku menyuruh Mona untuk berhenti sebentar untuk menunggu Doni. Nampak mobil Doni dari arah kejauhan, sehingga kami melanjutkan perjalanan. Tiba di rumah Mona. Kami langsung pergi ke lapangan untuk melihat Mona berlatih. Aku menunggu Doni di halaman lapangan. Setelah Mona masuk ke lapangannya. Doni turun dari mobilnya. “Ayo masuk Bintang!” seru Doni. Seperti biasa, Doni membawakan makanan untuk kami. Aku membawa beberapa buah-buahan yang dibeli Doni. Aku dan Doni, melihat Mona yang sedang berlatih. Dia terlihat serius mendengarkan arahan ayahnya. Setelah beberapa lama dia berlatih. Dia menyuruh aku dan Doni memegang raket dan memainkannya. Aku dan Doni sangat senang bisa bermain bulutangkis. Kami tertawa terbahak-bahak, kadang jilbabku tersibak dan Mona menegurku. Aku sangat berkeringat, begitupun Doni. Selesai bermain, kami disuguhi makanan oleh Mona. Di rumahnya yang berdekatan dengan lapangan bulu tangkis, Mona hanya tinggal bersama ayahnya. Ibu Mona yang sudah menikah lagi, bertempat jauh dari rumahnya.

Tahajud Bersama

0 0

Kecemasan mulai timbul saat menjelang pengumuman kelulusan sekolah. Aku dan teman-temanku sedikit gelisah karena itu. Penantian selama tiga tahun, kini akan berbuah sesuai hasil kerja keras. Usai UAN, kami diberikan kelonggaran untuk pulang lebih awal. Minggu ini akan diumumkan hasilnya. Guru-guru begitu sibuk dengan kegiatan penerimaan siswa baru dan persiapan kelulusan kami. Siang itu Bu Eva masuk ke kelas XII IPA memberitahukan bahwa besok akan diadakan acara doa bersama khusus untuk kelas XII. Kami diwajibkan membawa alat shalat dan membawa makanan. Aku senang mendengar itu. Saat aku duduk di bangku kelas XI IPA, aku pernah mengikuti acara doa bersama untuk acara keagamaan. Kami dipersilahkan untuk pulang oleh Bu Eva. Beberapa saat teman-temanku keluar, aku menatap ruangan sekolah dan tata letaknya. Akupun keluar mengamati semua bangunan sekolah. Aku terenyuh dengan suasana hatiku. Aku akan mengenang semua kejadian di sekolah ini. Air mataku menetes, tak sadar. Aku akan pergi dari sekolah ini, sekolah yang begitu membawa perubahan dalam hidup ini. Sekolah, guru-guru, karyawan dan semua teman-temanku yang menjadi inspirasi dihidupku akan berubah seiring dengan waktu. Aku berdiri, terdiam merasakan suasana yang sangat mendalam. Tiba-tiba seseorang mengusap air mataku. "Bintang jangan menangis. Ayo kita pulang!" seru Lisa padaku. Dengan balasan senyuman aku mengangguk kepadanya. Dia menggandeng tanganku dan bercerita banyak sekali. *** Setibanya di rumah, aku langsung mempersiapkan pakaian dan mukena untuk besok. "Tok-tok-tok" suara orang mengetuk pintu dari luar. " Ya tunggu sebentar" aku memakai jilbab terlebih dahulu untuk pergi melihatnya. Ternyata Lisa dan Doni datang ke rumah. Sebelum aku mempersilahkan masuk, mereka dengan terburu-buru memberitahukan bahwa acara tahajud bersama dilaksanakan malam ini. Mereka diberitahu oleh wali kelas lewat telepon seluler. Aku yang tidak memiliki telepon seluler tidak tahu tentang hal itu, beruntunglah karena aku mempunyai teman yang baik seperti mereka. Aku langsung bersiap-siap dan pergi bersama mereka dengan mengendarai mobil Doni. Aku tak sempat membawa makanan. Sesampainya di sekolah kami langsung menuju mushola. Selepas magrib acara dilanjutkan dengan tadarus. Setelah shalat isya diadakan acara tausiyah oleh guru agama dan beberapa narasumber lainnya. Mataku mengantuk saat mendengarkan ceramah, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11:00 malam. Kami diizinkan tidur sebentar dan akan dibangunkan saat pagi harinya. Murid laki-laki tidur di mushola, sedangkan murid perempuan di ruangan UKS dengan alas seadanya. Aku memutuskan untuk tidur dan tak menghiraukan Lisa yang asyik bercerita di ruangan itu. Waktu terasa sangat cepat, suara ketukan pintu terdengar sangat kencang. Bu Eva membangunkan kami untuk segera mengikuti shalat tahajud bersama. Kami mengambil wudhu dan shalat. Dipimpin oleh guru agama, malam yang sangat sakral dan penuh harapan itu sangat berkesan untukku. Seusai shalat, kami berdoa bersama untuk meminta kelulusan dan kesehatan. Ceramah dari beberapa narasumber lainnya kembali berlanjut hingga waktu subuh.

Kabar Gembira

0 0

Pagi seusai sholat subuh berjamaah, aku pergi ke kelas. Kami menginap di sekolah, dan paginya langsung berlanjut seperti biasanya. Kami mengganti baju yang dipakai dengan seragam sekolah. Mata yang masih mengantuk, dan udara dingin Kota Bandung membuat aku ingin tidur kembali. Hari ini adalah pengumuman kelulusan. Kami cemas dan khawatir mengenai hasilnya. Doa bersama yang kami lakukan malam tadi mudah-mudahan menjadi karunia Alloh atas hasil UAN kami. Bu Eva memasuki ruangan kelas pagi itu. Kami masih bermalas-malasan di bangku belajar karena mengantuk. "Ini masih pagi sekali, jadi kalian harus sarapan dulu. Bintang tolong ambilkan makanannya ke kelas ya!" Seru Bu Eva mengajakku mengambil makanan. "Baik, Bu " Jelasku dengan semangat. Aku dan Bu Eva membagikan nasi kotak dan air mineral untuk dibagikan kepada murid kelas XII IPA dan XII IPS. "Saya boleh dua?" Doni menggoda Bu Eva. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Aku tak heran melihat Doni. "Nanti kalau kantin sudah buka, kamu bisa makan sepuasnya." Bu Eva menjelaskan sambil tersenyum dan mengusap kepala Doni. Kamipun ikut tertawa dibuatnya. Kami memakan nasi kotak yang di berikan sekolah untuk kami. Selang beberapa waktu setelah makan, mataku terpejam pelan-pelan. Aku menundukan kepalaku di meja. Bel masuk berbunyi sayup di telinga, nyaris tak terdengar oleh ku. Aku tak peduli dengan keributan yang ada di sekitar. Aku hanya ingin tertidur sebentar. Tiba-tiba cubitan kecil membuatku terbangun. Mona yang duduk di bangku sebelahku membangunkan. "Masih mengantuk ya?" tanya Bapak Kepala Sekolah yang sudah berdiri di hadapan kami. "Iya" kami menjawab kompak. "Bapak sudah mendapatkan bocoran hasil ujian kalian dari teman Bapak yang bekerja di DIKNAS" dia menjelaskan dengan raut wajah yang serius. Seketika jantungku terasa berdetak kencang. Perasaan cemas menghampiri. "Ada satu orang yang tidak lulus di sekolah ini" lanjutnya. Suasana tak mengenakan dan khawatir menghampiri kami semua. Gelisah dengan segala hasilnya. "Tapi bohong. Selamat kelas XII IPA atau IPS semuanya lulus dengan nilai yang baik" lanjutnya lagi. Kami bertepuk tangan dengan gembira. Tangisan terpecahkan oleh beberapa temanku. Suasana haru meliputi kami semua. Mona memeluk erat, dia sangat bahagia atas kabar ini begitu juga aku. *** Siang harinya kami pulang dari sekolah dengan membawa kabar yang menggembirakan.

Hari Kelulusan

0 0

Lapangan sekolah diubah menjadi pelataran yang sangat indah. Panggung yang sederhana, kursi-kursi berjajar rapi serta dekorasi yang indah menghiasi sekolah kami. Acara pelepasan dan perpisahan kelas XII sangat semarak diselenggarakan. Teman-temanku tampak cantik dan tampan mengenakan pakaian batik. Aku mengenakan pakaian batik yang dibelikan almarhumah ibuku dulu. Aku tampak sangat sederhana dibandingkan yang lainnya. Jilbab berwarna hitam menutupi tubuhku. Aku berdiri di depan panggung itu, memandangi semuanya. Aku masih tak percaya, hari ini adalah hari kelulusanku. Di tempat ini aku mengukirkan cita-cita dan harapan. Sekolah impian yang tak pernah meminta sedikitpun biaya untuk orang-orang kalangan ekonomi lemah. Para wali murid mendampingi anak-anak mereka untuk menyaksikan kelulusan. Aku ditemani Bu Sami saat itu. Kami duduk di kursi paling depan. Aku menoleh ke belakang namun teman-temanku tak nampak di sana. Aku hanya melihat beberapa temanku yang lain yang sedang sibuk membicarakan pakaian mereka. Acara pelepasan murid kelas XII berjalan dengan sakral. Kepala Sekolah dan sambutan dari beberapa guru membuat perasaanku semakin tak karuan menahan haru bahagia bercampur sedih. Pesan-pesan moral yang mereka berikan akan selalu ada dalam ingatanku. Acara demi acara dilanjutkan, tibalah saat puncak penyerahan ijazah. "Bintang Lestari, Ini murid terbaik sekolah ini. Murid teladan yang sangat baik di bidang prestasi pendidikan dan sangat baik kepribadiannya" Kepala Sekolah mengumumkan namaku di atas podium. "Silahkan maju" Bu Sami menyuruhku untuk naik ke panggung. Saat aku hendak menerima ijazah, tepukan tangan ramai terdengar. Air mataku kembali menetes. Momentum ini tak akan pernah aku lupakan. Aku menerima ijazah dan tropi. Bapak Kepala Sekolah mengelus kepalaku dan berkata "Selamat ya, kamu lulus dengan nilai yang sangat baik. Nilai Ujian Nasional yang terbaik di Jawa Barat". "Alhamdulillah" dengan sangat gembira aku mencium tangannya. Seusai turun dari panggung, aku dan Bu Sami pulang. Namun, sahabat-sahabatku muncul dan mengajak pergi. Bu Sami mengerti dan membiarkan aku untuk pergi bersama mereka. Bu Sami pulang sendirian ke rumah. Aku diajak ke ruangan kelas oleh mereka. Lisa dan yang lainnya ternyata menyiapkan hadiah untukku. Beberapa kado mereka persiapkan untukku. Hari kelulusan di sekolah ini adalah hari yang sangat menggembirakan di hidupku.

Mungkin saja kamu suka

Ainun Mahya
Perspektif
Ayu Martha Karu...
Mors
Maulid Dina Qur...
Rainbow Story
Mellaisyah
Gadis Perindu Surga

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil