Loading
57

0

10

Genre : Comedy
Penulis : Shofie Widdianto
Bab : 42
Dibuat : 20 Februari 2022
Pembaca : 15
Nama : Shofie Widdianto
Buku : 3

Babang Ojol

Sinopsis

Baca aja! Dijamin ngakak. Kisah seorang mahasiawi labil dan dosen yang menyamar menjadi ojek online.
Tags :
#baper #ngakak #nambahimunsaatcovid

Angkutan

3 0

“Duh, gimana nih! Udah telat, mana dosen kiler pula.”

 

Aku mondar-mandir menunggu angkutan umum. Gerakan kakiku sudah seperti setrika yang melicinkan baju. Perjalanan ke kampus membutuhkan waktu selama lima belas menit, jika telat sedikit saja aku bisa mendapatkan nilai C. Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat hingga setengah jam angkutan tidak kunjung datang.

 

Aku mulai resah menunggu hingga datanglah angkutan warna orange. Kulambaikan tangan hingga ia menepi. Hanya ada dua penumpang di dalamnya, seorang perempuan membawa pisang beberapa tundun dan satunya lagi nenek tua yang sudah tertidur.

 

“Jalan, Bang!”

 

“Ngetem dulu, Neng. Nunggu penumpangnya banyak,” jawab Pak Supir.

 

“Ya Allah ... ini hari Sabtu, Bang. Gak bakal ada anak sekolah. Udah siang, nih, aku bisa telat!”

 

Berkali kulihat jam di ponsel, tetapi angkutan tidak kunjung melaju.

 

“Sabar, Neng. Orang sabar disayang pacar.”

 

“Gak punya pacar, Bang. Jomlo lillahi ta'ala.”

 

“Mau jadi pacar Abang, nggak?” ucapnya sambil mengerlingkan mata.

 

“Idih, sorry, Bang!” Aku bergidik ngeri.

 

Dasar nggak tahu malu, tidak ingat sama anak dan istri di rumah.

 

“Ayo, Bang! Buruan jalan. Aku turun, nih.”

 

Aku sengaja mengancamnya agar angkutan segera jalan. Akhirnya angkutan melaju dengan pelan. Pelan, pelan dan sangat pelan. Pedagang pisang yang sedari tadi duduk di sampingku sudah tidur. Mungkin mengantuk karena terlalu lama menunggu.

 

Sudah sepuluh menit tetapi baru jalan sekitar satu kilo meter. Ini niat jalan apa enggak, sih?

 

“Bang, cepetan jalannya. Mau nunggu sampai kiamat juga ngak bakal ada yang naik kalau angkutannya lelet kayak siput!”

 

Pasalnya, di zaman sekarang ini banyak orang yang sudah memiliki kendaraan pribadi. Hanya orang-orang sepertiku yang masih menggunakan angkutan umum. Aku tidak memiliki kendaraan pribadi. Jangankan motor, bahkan sepeda pun tidak punya.

 

“Kalau mau turun, ya, turun aja, Neng!” Pak Sopir menepikan angkutan di jalan yang sangat sepi. Sepertinya dia sengaja mengerjaiku. Dia pikir aku takut? Tidak! Aku hanya takut sama Allah.

 

Mau naik apa kalau aku turun? Setengah jam lagi kelas dimulai, aku bisa terlambat.

 

“Kenapa bengong? Nggak berani turun, kan?” ejek Pak Supir.

 

“Siapa yang bilang takut? Oke, aku turun di sini!”

 

Aku menundukkan kepala kemudian turun dari angkutan.

 

“Dasar supir g*la!”

 

Tega sekali dia meninggalkan gadis cantik sepertiku di jalanan sepi seperti ini. Kalau aku diculik gimana? Sekarang lagi musim penculikan dan pembunuhan. Organ tubuhku akan dijual dan mayatku dimutilasi.

 

Tidak ada rumah ataupun orang di sekitar sini. Hanya ada pepohonan yang rindang dan gelap. Sinar matahari tidak mampu menembus celah dedaunan. Benar-benar gelap. Dasar tukang angkutan sialan! Kutendang udara kosong di depanku sampai aku jatuh terjungkal. Benar-benar sial.

 

Aku berdiri dan melambaikan tangan kepada semua kendaraan yang lewat. Entah bagaimana caranya, aku harus bisa sampai kampus. Namun tidak satupun kendaraan yang berhenti. Aku mulai putus asa, tertunduk lemah di pinggir jalan. Hingga sebuah motor honda astrea berhenti di depanku.

 

“Ojek, Neng?”

 

Aku menoleh ke arah asal suara. Kulihat seorang lelaki tampan memakai helm dan jaket dengan warna senada ala ojol zaman now. Oh, tidak! Senyumnya membuat duniaku runtuh. Ya Allah, mungkinkah dia jodohku, malaikat penolong yang Kau kirimkan untukku?

 

“Kok bengong?”

 

“Eh, anu, maaf. Bisa antarkan saya ke kampus Anak Negeri?”

 

Untung aku segera sadar. Tatapannya mampu menghipnotisku. Dia menyerahkan helm kemudian memintaku duduk di belakangnya.

 

“Bisa, Neng.”

 

“Ngebut, ya, Mas. Saya terlambat ini, gara-gara naik angkutan umum. Angkutannya jalannya pelan banget, sampai penumpangnya pada tidur.”

 

“Harusnya sudah sampai dong kalau naik angkutan dari tadi.”

 

“Nah, Mas lihat angkutan yang di depan itu? Pelan banget ‘kan jalannya, saya omelin dari tadi. Hingga akhirnya diturunin di jalanan sepi. Emang dasar nggak punya perasaan.”

 

“Kok malah saya yang diomelin, sih, Neng?”

 

“Eh, iya, lupa. Maaf ya, Mas. Saya terlalu laper. Eh, baper.”

 

Aku rasanya ingin memberi pelajaran kepada supir angkutan itu. Dia udah bikin aku terlambat. Udah gitu sampai kampus kudu ketemu Bu Endang. Bisa-bisa aku mengulang tahun depan. Oh tidak, aku bisa kelamaan lulusnya. Nanti jadi perawan tua. Amit-amit, deh.

 

“Mas, cepetan jalannya. Kita salip angkutan itu. Biar dia tahu rasa, nanti pas deketan sama supirnya saya mau kasih sesuatu buat dia.”

 

“Jangan macam-macam, Neng. Bahaya kalau ugal-ugalan di jalan.”

 

“Udah, Masnya nurut aja! Saya pasti bayar. Biar begini saya sudah kerja, dan bisa menghasilkan uang sendiri untuk biaya kuliah.”

 

“Keren, deh. Pegangan, Neng! Siap, ya.”

 

Motor melaju dengan cepat, karena kaget, aku memeluk Babang ojol dari belakang. Duh, kenapa jantungku berdebar seperti ini?

 

“Jangan kenceng-kenceng meluknya, awas nanti jatuh cinta!”

 

“Ih, dasar!” Aku mencebik kesal dan melepaskan pelukan.

 

“Siap-siap, udah dekat dengan angkutan!”

 

Aku sudah menyiapkan kata-kata yang tepat untuk si supir angkutan yang rese. Tepat di samping kemudi supir, motor berjalan pelan seperti slowmotion. Sengaja aku meminta si Babang ojol agar mengklakson dengan kencang.

 

“Bye-bye, Pak! Aku duluan, ya! Ha ha ha.”

 

Aku tertawa puas melihatnya. Sepanjang perjalanan, aku mengobrol dengan Mas Ojol ini. Tanpa terasa aku sudah tiba di kampus. Aku segera turun dan berlari menuju kelas. Namun suara seseorang dari belakang menghentikanku.

 

“Tunggu dulu, Neng!”

 

Aku menoleh sejenak ke belakang. Ada apa lagi, sih?

 

Bersambung ....

Helm

3 0

Sesampainya di kampus, aku segera turun dan berlari menuju kelas. Namun suara seseorang dari belakang menghentikanku.

 

“Tunggu dulu, Neng!”

 

Aku menoleh sejenak ke belakang. Ada apa lagi, sih?

 

Babang ojol berlari mendekatiku. Dag dig dug jantungku berdegup kencang saat melihatnya, dia terlihat begitu manis setelah membuka helmnya. Duh, bisa diabetes ini, Mas.

 

“Ada apa, Mas? Aku ‘kan udah bayar!”

 

Lagi, dia tersenyum kepadaku. Ya Allah, meleleh hati ini. Dia mengulurkan tangan kanannya, apakah dia mau kenalan? Tahan senyum, Syifa! Jangan bertingkah bodoh.

 

“Helmnya, Neng,” ucapnya sambil tersenyum.

 

Sial, pipiku sudah semerah kepiting rebus. Rasanya aku ingin mengubur diriku hidup-hidup ke dalam tanah.

 

“Maaf, Mas, kelupaan.” Aku segera melepas helem dan mengembalikannya.

 

“Meskipun jelek begini, harganya mahal, Neng. Lebih mahal daripada gaji saya sehari.”

 

Aku melihat helm hitam dengan kaca bening itu, di belakangnya ada tulisan ‘H * N D A' yang sudah sangat familiar. Dasar tukang bohong, helm gratisan aja bilang mahal. Dikiranya aku bohoh? Heh!

 

“Iya-iya, maaf, Mas. Saya kan udah bilang kalau lupa. Saya buru-buru, dosennya galak banget!”

 

“Neng, tunggu!”

 

“Ada apa lagi, Mas?”

 

Dia tersenyum lagi, please kuatkan hatimu, Syifa.

 

“Lipstiknya sampai jidat.”

 

“Apa?”

 

Aku segera membuka tas dan mengambil ponselku. Aku hendak membuka kamera dan melihat wajahku. Namun, jam di ponsel menyadarkanku akan hal yang lebih penting. Kumasukkan kembali ponselku. Aku sudah membayar dan mengembalikan helmnya. Yang terpenting aku harus segera sampai di kelas sebelum jam delapan.

 

Aku berlari secepat kilat meninggalkan babang ojol dan mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap heran. Mungkin mereka terpana melihat wanita cantik lari terbirit-birit seperti dikejar induk ayam. Apa jangan-jangan lipstikku memang sampai jidat?

 

Aku berhenti sejenak mengambil napas dalam-dalam. Aku baru ingat, aku ‘kan nggak pernah memakai make up? Aku menepuk jidat seketika. Dasar babang ojol sialan! Awas saja kalau sampai ketemu dia lagi.

 

Sesampainya di depan kelas, aku memelankan langkah. Keadaan sangat sepi dan sunyi. Aku berjalan menunduk agar tidak terlihat dari jendela. Mengapa tidak ada suara sama sekali? Apa jangan-jangan mereka dihukum Bu Endang?

 

Ya Allah selamatkan hambamu ini. Semoga selamat dari amukan Bu Endang. Aku merapalkan berbagai doa sebelum masuk kelas, berharap diperbolehkan masuk. Aku mulai melafalkan doa mau makan sampai doa sapu jagat.

 

Robbana aatina fid dunya hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqina adzabannar. Aamiiin.” Kutangkupkan kedua tangan ke wajah.

 

Kuketuk pintu pelan, tetapi hening tidak ada jawaban. Masuk tidak, masuk tidak. Aku mulai bingung, masuk nggak, ya?

 

Bismillah, aku harus masuk. Kuputar gagang pintu ke arah kanan. Kulihat meja dosen masih kosong. Huft, aku bernapas lega. Namun baru selangkah masuk, aku dikejutkan dengan suara terompet dan balon meletus.

 

Happy birthday, Syifa!” Ya Allah, aku kena prank! Bagaimana aku bisa lupa dengan hari ulang tahunku?

 

Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun, sambil membawa kue. Brownis kecil dengan lilin berbentuk angka 19 menghiasinya. Aku terharu hingga menitikkan air mata, ingusku pun juga ikut keluar.

 

“Ini tisunya, Fa. Sudah aku siapkan.” Mizka memberikan sekotak tisu kepadaku.

 

“Tiup lilinnya, tiup lilinnya.

Tiup lilinnya sekarang juga.

Sekarang juga, sekarang juga.”

 

“Make a wish dulu, Fa,” ucap Nabil.

 

Aku segera menyampaikan semua harapanku di usiaku yang ke-19 ini. “Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus kepada kita semua, aamiiin.”

 

Setelahnya teman-teman ikut mengamini doaku. Aku meniup lilin hingga apinya padam. Mereka bersorak bergembira, kemudian menumpahkan kuenya tepat di wajahku. Mereka melemparkan tepung dan telur ke tubuhku. Aku hendak berlari, tetapi dua teman memegangi tanganku. Aku sudah tidak bisa mengelak lagi. Mereka terlalu kuat.

 

“Ampun, please! Bajuku kotor semua ini.” Aku berteriak kencang, tetapi mereka tidak menghiraukan.

 

“Ini buat kamu.” Ibrahim, ketua kelas kami memberikan sebuah kado. Dia pernah menyatakan perasaannya kepadaku beberapa waktu yang lalu, tetapi auk menolaknya. Aku harus harus waspada. Cinta ditolak, dukun bertindak.

 

“Apa ini?”

 

“Buka saja! hadiah kecil dari kami. Tenang aja, ini patungan, kok.”

 

Aku hendak menolak, tetapi tidak enak. Lumayan daripada tidak mendapat apa-apa sama sekali. Mereka memberikanku gamis warna pink dengan jilbab senada. Padahal aku tidak suka memakai jilbab. Dengan terpaksa aku berganti baju.

 

Kali ini aku harus berhati-hati ketika masuk kelas. Ruangan ini memang sudah dibersihkan, tetapi bisa jadi mereka akan memberikan kejutan lagi. Kudengar Bu Endang sedang tidak enak badan, alhamdulillah selamat. Aku sedikit lega.

 

Dengan santai aku memasuki kelas, tetapi betapa terkejutnya ketika kulihat ada seorang laki-laki berdiri tepat di samping meja dosen. Aku mengucek mataku berulang kali, aku tidak salah lihat, ‘kan?

 

Bersambung ....

Kenalan

3 0

Aku mengucek mataku berulang kali, aku tidak salah lihat, ‘kan? Aku segera memakai kacamata minus agar penglihatanku tidak buram. Ngapain dia masuk ke sini.

 

Aku melihat lelaki yang pagi ini sudah menolong sekaligus membuatku naik darah. Dia sudah terlalu membuat hati ini baper, eh, langsung dijatuhkan gitu aja. Udah gitu aku habis ditipu sama dia. Aku harus memberikan pelajaran padanya.

 

Aku melipat lengan gamisku hingga ke siku. Bersiap memberikan sebuah pelajaran kepada babang ojol. Aku tidak boleh terpesona dengan ketampanannya. Pelan tapi pasti, aku berjalan dengan berkacak pinggang hingga sampai di sampingnya. Dia menoleh ke arahku.

 

“Heh, ngapain kamu ke sini? Bayarannya kurang?”

 

“Udah lunas, kok. Tenang aja.”

 

Dia tersenyum lagi, tapi maaf, aku tidak akan terpengaruh. Aku sudah menutupi mataku dengan tahu dan tempe.

 

“Lalu? Kamu buntutin aku, ya? Apa jangan-jangan kamu naksir sama aku? Heh, jangan mimpi!”

 

“Aku cuma—“

 

“Cuma apa? Mau modus, atau tebar pesona?”

 

Kulihat penampilannya sudah berbeda. Dia tidak lagi memakai jaket ojol warna hijau. Semua mahasiswi di kelas ini menatapnya tanpa berkedip. Dia sudah menghipnotis semua temanku. Ini bisa bahaya.

 

“Aku ke sini mau—“

 

“Mau bohongi aku lagi?” Aku tersenyum sinis melihatnya tak bisa berbicara.

 

“Ehem, Syifa!” Ibrahim memanggilku. Suara Ibrahim menyadarkan lamunan anak-anak.

 

Mereka memelototiku seketika. Ada apa? Mengapa wajah mereka mendadak ketakutan? Aku melirik ke arah Nindi, teman sebangkuku. Dia menyuruhku segera duduk kembali. ‘Ada apa?’ tanyaku dengan gerakan bola mata yang melirik ke babang ojol.

 

Dia meletakkan sebuah jari telunjuk di depan mulutnya, mengisyaratkanku untuk diam. Kemudian memintaku segera duduk. Aku masih mencerna dengan apa yang terjadi di kelas ini. Otakku terlalu lola jika sedang emosi.

 

“Saudari Nurus Syifa, silahkan kembali ke tempat!” ucap si babang ojol dengan suara yang tegas.

 

Dari mana dia tahu namaku? Kulihat dia membawa buku absen mahasiswa. Mampus aku. Jangan-jangan dia ....

 

Aku segera meninggalkannya dan duduk di samping Nindi.

 

“Oke, cukup, ya  perkenalan hari ini. Langsung saja kita mulai mata kuliah pagi ini.”

 

Kenalan? Aku bahkan melewatkannya. Ternyata dia adalah dosen pengganti Bu Endang, betapa bodohnya diriku. Aku sudah mempermalukan diriku sendiri di depan banyak orang. Aku harus meminta penjelasan kepada Nindi, tetapi sepertinya dia sedang asyik menikmati wajah ganteng si Babang ojol.

 

Semua mahasiswa menyimak materi yang disampaikan si babang ojol. Lebih tepatnya dosen, ya! Oke aku ralat, ternyata dia dosen. Dia menyampaikan materi dengan gaya bahasa yang mudah dipahami. Lebih selow dan santai. Suasana di kelas ini cukup kondusif, tidak tegang seperti kelas Bu Endang.

 

“Ada yang ditanyakan?” tanyanya setelah menyampaikan materi.

 

Ya elah, semua cewek masih pada bengong. Dia memang memesona. Hidung mancung, kulit putih dan bersih, matanya sipit seperti oppa korea, badan tegap, tinggi dan so perfect. Tanpa sadar aku menatap matanya, begitu juga dengannya.

 

Mengapa jantungku berdebar seperti ini? Aku sudah sarapan, tidak mungkin aku kelaparan. Aku segera mengalihkan pandangan darinya.

 

“Jika tidak ada yang bertanya, saya akhiri mata kuliah hari ini. Sampai jumpa minggu depan.”

 

Dia sudah berdiri hendak pergi meninggalkan ruangan ini, tetapi aku segera mengacungkan jari.

 

“Silakan saudari Syifa!”

 

“Bapak udah punya pacar?”

 

“Huuu !” Terdengar riuh suara teman satu kelas. Nindi sampai mencubit pinggangku.

 

Beberapa mahasiswa mentertawakanku, hanya dua lelaki yang diam, Ibra dan babang ojol.

 

“Maaf, sepertinya saya tidak perlu menjawabnya. Saudari bisa menemui saya di ruangan setelah jam istirahat!”

 

“Saya juga, Pak?” tanya Nindi.

 

“Cukup yang terlambat ke kelas. Saya harus laporan sama Bu Endang.”

 

Fix, satu kelas kicep semua. Dia memang kalem, tetapi juga berwibawa. Duh, kenapa mesti pakai dilaporin ke Bu Endang segala, sih.

 

“Ada lagi yang ditanyakan?”

 

“Nggak ada, Pak,” jawab kami serempak.

 

“Baik kalau begitu,saya permisi dulu. Wassalamu’alaikum.”

 

“Tunggu, Pak!” Thalita berdiri dan mengejar Pak Dosen ganteng.

 

Bersambung ....

“Iya, ada apa?”

Hukuman

3 0

“Tunggu, Pak!” Thalita berdiri dan mengejar Pak Dosen ganteng.

 

Nah, mau ngapain juga Thalita? Dasar ganjen! Kemarin dia udah deketin Ibra dan sekarang beralih ke babang ojol.

 

“Iya, ada apa?”

 

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

 

“Ehem, jangan menatap saya seperti itu, nanti kamu naksir!”

 

“Maaf, Pak. Saya mau minta laptop saya yang Bapak pinjam tadi.” Thalita menunjuk sebuah laptop yang dibawa babang ojol.

 

Hening, namun aku tidak kuat menahan tawa. Akhirnya aku kelepasan dan tertawa hinge tubuhku berguncang.

 

“Oh, iya maaf, saya lupa karena mendadak jadi dosen. Makasih, ya.” Dia menyerahkan laptop Thalita kemudian berbalik menghadapku.

 

Heh, apa dia bilang? Mendadak jadi dosen? Aneh sekali.

 

“Saudari Syifa bisa ikut saya ke ruangan sekarang juga!”

 

“Tapi, Pak—“

 

“Sekarang atau kamu mengulang tahun depan!”

 

“Ish, menyebalkan.”

 

“Kamu ngomong apa barusan?”

 

“Bapak ganteng, deh.”

 

“Mutlak, saya emang ganteng dari lahir.”

 

Ya Alah, sumpah aku menyesal telah memujinya. Tingkat kepercayaan dirinya begitu tinggi. Aku segera mengikutinya daripada mengulang kuliah tahun depan.

 

Sampai di ruangan dosen ternyata tidak ada siapapun. Mungkin mereka masih mengajar di kelas karena pergantian jam masih 10 menit lagi.

 

“Ngapain kamu berdiri di sana?”

 

Ngapain? Tentu saja aku takut. Di ruangan ini hanya ada kami. Dua manusia berlawanan jenis. Aku takut ada orang ketiga. Apalagi aku sudah mempermalukannya di kelas. Bahaya jika sampai dia mengerjaiku seperti cerita di novel online warna hijau.

 

“Kita bukan muhrim, Pak. Tidak diperbolehkan dua orang lawan jenis berduaan di dalam ruangan yang sepi.”

 

“Kalau aku halalin, mau nggak, Neng?”

 

What? Aku melotot dibuatnya. Baru sekali bertemu dan dia langsung ngajak nikah? Buset deh.

 

“Maaf, saya bercanda. Silakan duduk.”

 

Sial! Kenapa jantung ini tidak bisa diajak kompromi. Rasanya mau loncat dari tempatnya.

 

Aku duduk di kursi berseberangan dengannya. Ada sebuah meja di antara kami. Cukup aman dengan jarak radius 100 sentimeter. Kulihat sebuah papan nama di meja, ‘Arshaka Bumi' nama yang indah, sesuai dengan orangnya.

 

“Pak ...” Aku bingung harus memanggilnya siapa. Arsya, Shaka atau Bumi?

 

“Panggil saja Arfan, bukankah kamu mengenalku sebagai mas ojol?” dia bertanya masih dengan senyum mautnya.

 

Lah, meja siapa yang dia duduki? Dasar aneh! Mengapa dia selalu tersenyum seperti itu, sih? Makin menjadi-jadi nih jantung.

 

“Maaf, Pak. Saya tidak tahu.”

 

“Bu Endang izin selama satu bulan, beliau mau menjenguk anaknya di Kalimantan. Jadi, saya akan menggantikannya untuk sementara waktu. Namun, saya akan tetap memberikan hukuman karena kamu terlambat.”

 

Apa? Sontak aku menggebrak meja di depanku. Bisa-bisanya dia memberikanku hukuman. Enak saja main hukum sembarangan.

 

“Karena saya orang yang baik hati dan tidak sombong, hukuman kamu jadi ringan.”

 

“Tunggu dulu, Bapak kan juga terlambat, kita berangkatnya barengan loh, Pak.”

 

“Justru itu, kamu yang membuat saya terlambat. Saya mau minta tolong antarkan ke kelas Bu Endang, tetapi kamu malah lari. Jadilah saya terlambat karena harus mencari kelas.”

 

“Maaf, saya kira Bapak tukang ojek.”

 

“Saya memang tukang ojek. Jadi dosen itu gajinya sedikit. Nggak cukup untuk membiayai anak dan istri.”

 

Oh, ternyata dia sudah punya istri. Aku memegangi dadaku, kenapa hati ini rasanya sakit? Sepertinya bakal ada yang rombongan patah hati.

 

“Silakan kembali ke kelas, kamu bisa melanjutkan kuliah. Nanti sore temui saya di sini!”

 

“Baik, Pak. Saya permisi.”

 

Syukurlah, aku bernapas lega. Paling hukumannya merangkum materi yang disampaikan.

 

Mata kuliah kedua berjalan dengan lancar. Sesekali aku mengibaskan jilbabku. Rasanya panas sekali seperti dioven. Apalagi di kelas ini tidak ada AC-nya. Aku heran mengapa Nindi betah menggunakan jilbab setiap hari. Berbeda denganku cewek tomboi yang selalu memakai celana dan kaos oblong lengan pendek.

 

Namun aku selalu memakai pakaian yang sopan ketika kuliah. “Ajining raga saka busana.” Seperti pagi tadi sebelum aku memakai gamis pinky ini. Aku mengenakan hem kotak-kotak abu dan jeans biru.

 

“Gimana tadi? Pasti seneng banget diajak ke ruangan dosen ganteng,” tanya Mizka.

 

Mereka pikir aku bebas dari hukuman. Aku heran mengapa temanku tak henti-hentinya memuji dosen itu.

 

“Seneng apanya? Aku dapat hukuman bukan dapet lotre. Padahal ini hari ulang tahunku. Bukannya dapat jodoh malah dapat hukuman. Dasar dosen sialan!”

 

“Eh, jangan gitu, Fa. Nanti jodoh, loh!” ucap Tasya.

 

“Jodoh? Heh, nggak mungkin. Jangan ngadi-ngadi” Aku tertawa hambar.

 

“Kenapa nggak mungkin? Nggak ada yang nggak mungkin bagi Allah. Kun fayakuun.” Nindi mengeluarkan mauidlo hasanahnya.

 

“Kalian nggak tahu, kan? Ternyata dia itu ....”

 

Bersambung ....

“Ternyata apa?”

Ternyata

3 0

“Kalian nggak tahu, kan? Ternyata—“

 

“Ternyata apa?” tanya Mizka penuh selidik.

 

“Ternyata dia udah punya anak dan istri.”

 

Byur! Nindi menyeburkan minumannya tepat di mukaku. Apes banget hari ini. Mulai dari angkutan sialan, kejutan ulang tahun, dan sekarang disembur air. Belum lagi nanti pulang kuliah masih ada hukuman yang menantiku.

 

“Kurang asem! Kenapa cuma disembur, nggak sekalian bacain doanya? Biar aku terbebas dari kesialan.”

 

“Ha ha ha! Habisnya kamu bercandanya nggak lucu.” Tasya menimpali.

 

“Eh, aku serius. Beneran dia ngomong sendiri tadi di ruangan dosen.”

 

“Kamu aja yang nggak tahu. Tadi dia udah perkenalan di kelas. Kamu ‘kan lagi ganti baju. Aku aja udah catat nomornya, nih.” Nindi memperlihatkan sebuah kontak di ponselnya, ‘Pak Dosen Arfan' hanya sebuah nama tetapi mampu membuat hatiku bergetar.

 

Baru melihat namanya kenapa aku gelisah sekali. Perasaan apa ini? Sepertinya aku kena guna-guna.

 

“Beneran, ya . Aku nggak bohong. Dia tuh punya sampingan selain dosen. Dia ternyata tukang ojek.”

 

“Duh, mau banget aku kalau ojeknya ganteng gitu, lumayan bisa peluk dari belakang.” Mizka memegang tangan Nindi sambil tersenyum. Aku bergidik ngeri. Geli banget aku melihat kelakuan sahabatku.

 

“Dasar omes! Memangnya apa, sih, istimewanya tuh dosen?”

 

“Sepertinya kamu perlu lepas kacamata, deh, Fa. Kacamatamu dah rusak kali,” ucap Nindi. “Ganteng iya, body keren, dan pinter lagi. Duuuh, idaman wanita pokoknya.”

 

“Tapi dia dah punya istri, woy! Tadi dia bilang ngojek tuh buat sampingan. Gaji dosen cuma sedikit.”

 

“Gapapa, deh. Aku mau dijadikan istri keduanya.” Mizka mulai mengkhayal lagi.

 

“Sya, selain Nindi siapa lagi, ya, yang bisa rukiah? Sepertinya otakku sedang tidak waras!”

 

“Memangnya sejak kapan kamu waras?” Nindi berucap sebal.

 

“Dah, ah. Aku mau keluar. Gerah banget ruangan ini gara-gara kalian.” Aku segera bangkit dan ke luar kelas mencari udara segar. Terlalu lama di kelas membuatku benar-benar gila.

 

***

Siang ini udara di kota kretek terasa sangat panas. Aku duduk dan bersandar di bawah pohon menikmati setiap oksigen hasil fotosintesis alami dari dedaunan. Hawa sejuk ini membuatku tenang dan hampir terlelap. Namun, sebuah tangan memegang pundakku, aku sontak menoleh ke belakang dan menyiapkan tinju di tangan. Ternyata Ibrahim, ketua kelas kami.

 

Tanpa meminta persetujuan, dia duduk di sampingku dan membawa sebotol air mineral alami yang ada manis-manisnya.

 

“Ini buat kamu.” Ibra menyodorkan sebuah botol kepadaku.

 

“Apa ini? Nggak ada guna-gunanya ‘kan?”

 

“Astaghfirullah, Syifa!” Sontak Ibra menoyor kepalaku.

 

Aku memang harus waspada. Lelaki zaman sekarang suka nekat. Cinta ditolak, dukun bertindak.

 

“Ini air mineral, Fa. Lihat deh masih ada segelnya. Masih perawan, belum aku apa-apain,” jawabnya sambil membukakan tutup botol milikku. 

 

Kenapa aku jadi suuzonan begini, ya? Mungkin karena kebanyakan membaca novel online. Otakku jadi tercemar.

 

“Maaf, aku nggak bermaksud—“

 

“Lupakan saja soal kemarin. Aku terlalu terbawa perasaan. Kamu mau ‘kan berteman denganku?”

 

“Teman?”

 

“Iya, kita bisa berteman. Aku janji, aku nggak akan membawa perasaan dalam pertemanan kita.” Ibra mengulurkan satu jari kelingkingnya. Dia seperti anak kecil saja.

 

Aku mengerutkan dahi. Pasalnya tidak ada pertemanan yang abadi antara lelaki dan perempuan dewasa. Apalagi aku sudah mengetahui jika dia menyimpan perasaan kepadaku. Bagaimana ini?

 

Belum sempat aku menjawab, dia sudah memegang tanganku dan menautkan jari kelingking kami. “Sekarang kita berteman.”

 

Aku bingung harus menjawab apa. Aku bahkan belum menyetujuinya dan dia mengambil kesimpulan sendiri.

 

“Nanti sore aku anterin pulang, ya, Fa. Kita ‘kan berteman.”

 

“Maaf, aku nggak bisa. Aku udah pesan ojol.”

 

“Kamu lucu. Pulangnya masih nanti sore dan sudah pesan ojol sekarang?” Dia tersenyum hambar.

 

“Kamu tahu sendiri, kan, gimana galaknya Ayah. Aku nggak berani diantar teman lelaki. Bisa digorok leherku kalau sampai ketahuan Ayah.”

 

“Aku jadi penasaran dengan Ayah kamu.”

 

“Nggak usah penasaran, nanti bisa kebawa mimpi. Nggak lucu dong laki mimpiin laki juga.”

 

Sebenarnya Ibra pria yang baik. Aku sering melihatnya salat ketika jam istirahat siang. Begitu juga ketika sore hari, dia salat Asar dulu sebelum pulang. Bacaan ngajinya juga fasih. Aku sempat terpesona olehnya, tetapi kehadiran Thalita membuatku mundur.

 

Jika jodoh adalah cerminan diri, aku yakin 100% kami bukan jodoh. Dia terlalu baik untukku. Kepribadiannya bertolak belakang denganku yang selengekan.

 

“Balik ke kelas, yuk! Bentar lagi jam terakhir dimulai.”

 

Setelah mata kuliah terakhir, aku harus menemui Pak Arfan. Masih ada satu masalah yang harus kuselesaikan. Aku bisa dikeluarkan dari KK jika terlambat pulang. Suasana di luar kelas cukup ramai, bisa dipastikan aku tidak akan berduaan dengan dosen itu. Aku merasa sedikit lega.

 

Pintu ruangan dosen terbuka, aku masuk setelah mengucapkan salam dan meminta izin bertemu Pak Arfan. Aku segera menuju ke meja tempat kami bertemu tadi siang.  Sepertinya dia bukan dosen baru, nyatanya dosen di sini sudah mengenalinya.

 

Astaga ...! Aku memekik melihat adegan di depanku.

 

Bersambung ....

Benarkah yang aku lihat saat ini?

Suka Jajan

2 0

Astaga ...! Aku memekik melihat adegan di depanku.

 

Benarkah yang kulihat saat ini? Aku segera memalingkan wajah, mataku bisa ternodai. Tidak sepantasnya aku melihatnya. Dua anak manusia dalam satu ruangan, dan dosen itu tidak memakai baju. Baru kali ini aku melihat aurat lelaki selain Ayah dan adik lelakiku. Ada yang menggelitik di hati ini hinge membuat bulu kudukku meremang.

 

Meja yang tadinya rapi menjadi berantakan. Buku berjatuhan di lantai, botol air mineral berceceran. Sungguh kotor dan penuh sampah.

 

Aku hendak keluar, tetapi tanpa sengaja menabrak seseorang saat aku berbalik.

 

Grompyang!

 

Barang bawaan Bu Tika jatuh semua di lantai. Sebuah plastik warna putih bergambar minimarket sobek. Isinya keluar dan berceceran di lantai. Aku membantu membersihkannya.

 

Ada beberapa obat masuk angin, minuman kaleng untuk mengobati sakit tenggorokan, snack dan camilan. Ternyata Bu Tika suka jajan.

 

“Maaf, Bu Tika, saya tidak sengaja.” Dua orang lelaki yang sedari tadi mengacuhkanku langsung terperanjat. Pak Arfan langsung mengambil bajunya yang tergeletak di meja.

 

“Kamu ngapain ke sini, Fa?” tanya Pak Lucky sambil menutup botol berwarna hijau

 

“Eh, anu ... itu, Pak. Saya dipanggil sama Pak Arfan.”

 

“Oh, iya. Silakan masuk! Maaf saya lupa,” ucap Pak Arfan sambil mengancingkan baju.

 

Ya Allah, aku datang di saat yang tidak tepat. Hampir saja aku khilaf melihat roti sobek Pak Arfan. Sepertinya aku harus ganti kacamata hitam.

 

“Aku balik dulu sama Tika, ya, Fan. Ini aku kembalikan milikmu.” Pak Lucky menyerahkan sebuah koin emas dan botol minyak telon berwarna hijau.

 

“Makasih udah dikerokin, lumayan udah lega.”

 

“Ini obat tolak anginnya jangan lupa diminum. Segera pulang sebelum hujan. Mendadak mendung, nih!” ucap Bu Tika sambil menggandeng mesra tangan Pak Lucky.

 

“Makasih, ya! Kalian juga buruan nikah. Nggak baik kelamaan pacaran.”

 

Uwuw! Ada gosip baru, nih. Ternyata mereka pacaran. Bakal seru kalau sampai anak-anak tahu. Mereka selama ini tidak pernah terlihat bersama, tetapi di ruang dosen sudah terang-terangan pegangan tangan. Mataku melihatnya tanpa berkedip hingga mereka lenyap di balik pintu.

 

“Udah selesai lihatnya?”

 

“Ya Allah! Bapak ngagetin aja.” Sangking kagetnya, aku menabok punggung Pak Arfan. Entah sejak kapan dia berdiri di sampingku.

 

“Aduh, duh, duh! Sakit, nih, punggungku habis kerokan. Kamu mau hukumanmu kutambah?”

 

“Ampun, Pak. Maaf! Saya tidak sengaja!”

 

“Mau hujan, buruan bantu saya beresin ruangan Pak Bumi. Saya bisa dipecat nanti.”

 

“What?”

 

“Yah, hukuman kamu bantuin saya beresin ruangan ini. Habis itu kamu boleh pulang.”

 

Ternyata Pak Bumi adalah seorang Rektor di kampus ini. Namun beliau jarang sekali berangkat. Ruangannya full AC dan nyaman, tetapi sayang ruangan ini bak kapal pecah karena ulah dosen yang tidak bertanggung jawab.

 

“Kenapa Bapak bisa berada di ruangan rektor? Saya curiga sama Bapak.”

 

“Curiga apa? Nih saya dapat pesan disuruh ambil dokumen Pak Bumi. Makanya berantakan.” Dia menyodorkan ponselnya di depanku. Sebuah pesan dari ‘Pak Rektor'.

 

Alhamdulillah, aku bernapas lega. Ternyata hukumannya cukup ringan. Aku akan melakukannya dengan cepat karena sudah terbiasa membantu Ibu membersihkan rumah.

 

Aku mulai membereskan buku-buku di meja, kemudian menyapu dan membuang sampah pada tempatnya.

 

“Saya sudah selesai, Pak. Boleh saya pulang?”

 

“Silakan. Makasih, ya, ingat jangan ulangi kesalahan yang sama!”

 

Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Aku mulai kesulitan mencari angkutan. Kampus sudah sepi, tinggal beberapa dosen dan mahasiswa semester akhir yang masih di kampus. Aku tidak mengenal mereka sama sekali. Nindi sudah pulang, biasanya dia yang selalu mengantarkanku.

 

Aku mulai resah karena gerimis mulai turun, tidak ada payung ataupun jas hujan. Aku segera berteduh di halte agar bajuku tidak basah. Ribet sekali memakai gamis, bahaya jika terkena angin bisa terbang. Aku menyesal karena harus berbohong kepada Ibra dan menolak tawaran pulang bareng.

 

Sepertinya aku harus membeli motor sendiri. Gajiku sebagai penjaga toko tidak cukup untuk membeli motor, aku harus cari sampingan supaya bisa mendapatkan uang tambahan. Namun bagaimana caranya?

 

Sebuah angkutan berhenti di depan halte. Beberapa mahasiswa langsung berebut masuk. Aku kalah cepat karena terlalu banyak melamun.

 

“Maaf, udah penuh, Neng.” Kulihat memang penumpangnya sudah penuh dan berdesakan. Akhirnya aju kembali duduk di halte.

 

Berkali kulihat jam di ponsel, tetapi sepertinya tidak ada tanda-tanda angkutan datang. Seorang wanita di sebelahku akhirnya memesan ojol. Kulihat uang di dalam dompetku, isinya tinggal 5 lembar uang gambar orang membawa piring. Mana cukup buat ngojek?

 

Tidak lama kemudian datang dua lelaki yang turun dari truk. Sepertinya mereka bukan orang baik. Bagaimana ini? Oh Tuhan, selamatkan aku ....

 

Bersambung ....

Sekarat

2 0

Cuaca semakin buruk, angin berembus kencang dan hujan semakin deras. Tinggal aku sendiri di tempat ini hingga sebuah truk besar berhenti di dekat halte.

 

Tidak lama kemudian datang dua lelaki yang turun dari truk. Mereka memakai baju hitam dan penutup muka. Hanya terlihat matanya saja. Sepertinya mereka bukan orang baik. Bagaimana ini? Oh Tuhan, selamatkan aku.

 

Mereka berjalan mendekat hingga membuatku sangat panik. Bagaimana kalau aku diculik, diperkosa lalu dibuang ke waduk Logung? Ya Allah, ampunilah segala dosaku. Salah satu di antara mereka membawa senjata tajam. Jantungku berdebar, tetapi bukan jatuh cinta.

 

“Berteduh, Neng? Mau Abang anterin, nggak?” tanya lelaki yang membawa senjata. Dia berjalan menuju ke arahku.

 

“I–iya, Bang. Eh, nggak usah. Makasih tawarannya.”

Cuacanya sangat dingin, tetapi tubuhku terasa panas. Keringat bercucuran di keningku. Aku menggeser tubuhku kala lelaki yang satunya mendekat.

 

“Jangan jauh-jauh, Neng! Nanti jatuh. Di sana licin.” Tatapan matanya menelisik dari ujung kepala sampai ujung kakiku.

 

Aku menelan ludah dan semakin mundur kala lelaki di sampingku semakin mendekat.

 

“Ya Allah, kirimkanlah malaikat penolong untukku. Jika perempuan, aku akan menjadikannya saudaraku, jika laki-laki aku bersedia menikah dengannya,” ucapku lirih.

 

“Ngomong apaan, sih, Neng? Hujan-hujan begini nggak bakal ada orang lewat!”

 

Aku semakin ketakutan dibuatnya. Dia mengangkat senjata ke arahku. Aku berteriak sekencang-kencangnya dan menutup mataku. “Aaa ... tolooong!”

 

“Permisi, Neng. Kami mau ambil sampah. Dari tadi si Eneng halangin terus.”

 

Aku membuka mataku perlahan kemudian berdiri. Kulihat sebuah tong sampah besar berada di belakangku. Heh? Aku gagal fokus. Aku mengambil kacamataku dari dalam tas. Setelah memakainya, terlihat jelas tulisan di atas truk tersebut, ‘Mobil Pengangkut Sampah.’ Pantas saja mereka sangat bau.

 

Aku kembali duduk di kursi panjang, masih setia menanti angkutan lewat. Sebaiknya aku mengabari Ilham, adik lelakiku supaya Ayah tidak mengkhawatirkanku.

 

“Assalamu’alaikum, Ham. Kakak telat, nih, terjebak hujan di halte. Tolong sampaikan sama Ayah, ya!”

 

Hujan mulai reda. Kembali kumasukkan ponsel ke dalam tas ransel. Rasanya begitu berat menggendongnya. Ada sepasang baju basah yang bercampur tepung dan telur. Baunya sungguh tidak sedap, untung sudah kumasukkan ke dalam kantong kresek.

 

Terlihat dari ujung jalan ada sebuah angkutan yang hendak ke mari. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa pulang. Aku segera berdiri dan melambaikan tangan supaya angkutan berhenti, tetapi ternyata sudah penuh.

 

Sudah setengah jam berlalu, tetapi tidak ada kendaraan yang lewat. Perutku lapar, aku harus mengganjalnya dengan sesuatu. Di seberang jalan ada penjual bakso. Pasti nikmat hujan-hujan begini makan bakso. Tapi nanti aku pulangnya gimana? Uangku tinggal sepuluh ribu dan besok baru gajian.

 

Kulihat kanan dan kiri sebelum menyeberangi jalan. Setelah terlihat sepi, aku segera berjalan dengan cepat. Cacing di perut sudah berdemo minta diisi ulang. Kupegang perutku yang masih berbunyi nyaring, please jangan malu-maluin.

 

Aku berdiri di depan gerobak bakso, kulihat daftar menu yang ditempelkan di kaca.

 

Bakso = 10.000

Mie ayam = 8.000

Mie bakso = 12.000

 

Es teh = 2.000

Es jeruk = 3.000

 

“Bakso, Neng?” Suara si Abang bakso mengagetkanku.

 

“Bentar, Bang. Saya lihat dulu daftar harganya.”

 

Sepuluh ribu cukup, lah, untuk beli mie ayam dan teh hangat. Namun, aku nggak bisa pulang ke rumah. Kalau jalan kaki bisa malam hari sampai rumah. Langsung dikeluarin dari KK sama Ayah.

 

“Bang, mie ayam sama teh hangat satu, ya!” Akhirnya aku memesan mie ayam. Bagaimana aku pulang jika kelaparan? Bisa pingsan di jalan nanti.

 

Aku duduk di kursi plastik yang disediakan, seharusnya lebih enak lesehan, tetapi karena usai hujan tikarnya basah.

 

“Ini pesanannya, Neng.” Setelah menunggu beberapa menit akhirnya datang juga. Aku makan dengan lahap karena sudah sangat lapar. Kini tinggal mangkok dan gelas yang kosong. Sangat bersih dan tak tersisa sedikitpun.

 

“Semuanya berapa, Bang?”

Usai makan, aku segera membayarnya. Meskipun sudah tahu harganya, aku pura-pura bertanya, kali aja harganya turun jadi lima ribu. Lumayan masih bisa buat bayar angkutan.

 

“Sepuluh ribu, Neng.”

 

Aku mengambil dompet dari dalam tas dan segera membayarnya. Kuserahkan semua uangku kepada Abang bakso. Ternyata nggak ada diskon, apalagi gratis ongkir. Semua itu hanya ada di zhopii.

 

“Pas, ya, Bang.”

 

“Loh, kurang ini, Neng. Uangnya cuma delapan ribu.”

 

“Masa sih, Bang? Perasaan uangku sepuluh ribu.”

 

“Nih, coba hitung sendiri!”

 

Aku menerima kembali uangku dan menghitungnya lagi, ternyata yang 2 lembar adalah uang seribuan. Tadi siang perasaan masih sepuluh ribu, deh.

 

“Wah, gimana, ya, Bang. Uang saya sudah habis.” Aku menunjukkan dompetku yang sudah sekarat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

 

“Saya nggak mau tahu, pokoknya Neng harus bayar.”

 

“Saya bayar besok, ya, Bang. Besok saya kuliah lagi. Saya biasa nunggu angkutan di sana.” Aku menunjuk ke arah halte di seberang jalan.

 

“Alah bohong, saya sudah sering ketipu sama mahasiswa model kaya kamu.”

 

“Ya Allah, Bang. Suwer deh, besok saya bayar. Sesama muslim kita harus saling percaya, Bang.”

 

“Saya nggak percaya sama kamu. Saya hanya percaya sama Allah. Percaya sama manusia itu musyrik. Apalagi sama dukun.”

 

Heh, apa dia pikir aku dukun?

 

“Ada apa, Bang?” Sebuah motor berhenti di depan gerobak bakso.

 

Suara itu ....

 

Bersambung ....

Pesugihan

2 0

Sebuah motor berhenti di depan gerobak bakso. Motor itu tidak asing bagiku. Apalagi suara itu, aku sangat hafal.

 

“Eh, Mas Arfan. Ini Mas ada cewek udah makan nggak mau bayar.”

 

Dia lagi,  bukankah masih banyak manusia di bumi ini? Kenapa hanya dia yang selalu Engkau pertemukan denganku? Seharusnya Mas Aldebaran saja yang datang, biar dicari Andin.

 

“Aku udah bayar, ya. Kurang dua ribu doang.”

 

“Tetep aja kurang, Neng.”

 

“Biar saya yang bayar, Bang. Sekalian bungkusin 2 bakso kayak biasanya, ya!”

 

“Siap, Mas Arfan. Tunggu sebentar, ya.”

 

Dia turun dari motor dan duduk di kursi plastik berhadapan denganku. Aku segera menggeser kursi, tidak enak rasanya berhadapan dengan lelaki yang sudah beristri, apalagi dia dosenku.

 

“Kenapa mundur?” tanyanya dengan senyum manis.

 

“Jangan dekat-dekat, Pak.” Aku bisa diabetes jika dia selalu tersenyum seperti itu. Besok aku harus pergi ke dokter untuk memeriksa kadar gula darah.

 

“Kita sedang tidak di kampus, jangan panggil ‘Pak’ nanti aku dikira Bapakmu. Nggak lucu kan ganteng-ganteng begini dikira udah punya anak?”

 

“Bapak kan emang udah punya anak dan istri.”

 

“Ha ha ha.” Dia tertawa sampai memegangi perutnya.

 

“Kenapa Bapak tertawa? Memang benar ‘kan Bapak udah punya anak dan istri.”

 

“Memangnya ada yang mau nikah sama saya? Dosen itu gajinya sedikit. Hidup berumah tangga tidak hanya soal cinta, tetapi juga perlu materi. Ganteng aja nggak cukup!”

 

“Bukannya Bapak bilang jadi ojol karena untuk menghidupi anak dan istri?”

 

“Memang, sih. Masih nabung dulu. Nanti kalau sudah ada yang cocok mau langsung saya lamar.”

 

Mendengar jawabannya rasanya hatiku begitu senang.

 

“Ini, Mas, baksonya.” Abang penjual bakso memberikan pesanan Pak Arfan.

 

“Kembaliannya buat besok aja, Bang.” Dia memberikan selembar uang kertas berwarna biru.

 

Katanya gajinya sedikit, tetapi kenapa dompetnya tebal? Tidak mungkin hasil ngojek bisa sebanyak itu. Jangan-jangan selain dosen dan ojol, dia juga ngepet.

 

“Selain ojol, Bapak punya sampingan apalagi?”

 

Bukannya menjawab malah tersenyum. Gemas sekali rasanya.

 

“Kamu tahu dari mana kalau saya punya banyak sampingan?”

 

Heh, tuh kan bener. Dia sepertinya pakai pesugihan babi ngepet. Apa jangan-jangan aku mau dijadikan tumbalnya? Mendadak bulu kudukku merinding.

 

“Duit Bapak banyak, nggak mungkin kalau ngojek dapat banyak segitu.”

 

“Pinter. Kamu suka baca novel online, nggak?”

 

“Novel online? Lumayan, sih. Makanya aku sampai pakai kacamata gini.”

 

Dia tersenyum lagi, sumpah bisa jantungan jika lama-lama berdekatan dengannya.

 

“Seharusnya kamu jangan hanya baca. Coba nulis, deh. Menulis itu mudah, cari idenya yang susah.”

 

“Kalau saya nih punya ide banyak, Pak. Hanya saja saya belum ada niat untuk menulis, masih suka baca aja. Rasanya itu susah sekali mau menuangkan ide dalam bentuk tulisan.”

 

Aku memang sering membaca novel online. Tidak hanya di aplikasi hijau, tetapi di aplikasi biru dan orange juga. Aku sampai follow akun author kesayanganku. Dia beda dari author famous yang lainnya. Di saat yang lain suka menulis tentang drama rumah tangga, dia nulis tema romance comedy.

 

“Memangnya siapa author favorit kamu? Boleh saya tahu? Saya juga suka baca novel online. Apalagi yang gratisan.”

 

Dasar medit. Biar begini aku masih nyisain sedikit uangku untuk buka gembok.

 

“Kenapa Bapak kepo sekali?”

 

“Kali aja kita ngefans sama author yang sama.”

 

Aku memalingkan wajah. Takut  radiasi senyumannya.

 

“Hmmm ... kasih tahu nggak, ya?”

 

Bersambung ....

Dukun, ya?

2 0

Aku memang pernah bermimpi menjadi seorang penulis, tetapi karena kesibukan, aku menguburnya dalam-dalam. Aku mulai menulis dengan hal-hal receh di buku diary. Menulis nota pembayaran, status galau habis putus sama pacar di pesbuk dan di aplikasi berlogo gambar burung warna biru.

 

Namun semua berubah setelah negara api menyerang. Aku harus bekerja membantu Ayah menghidupi adik-adikku. Ibu meninggal 12 tahun yang lalu setelah melahirkan Faiha.

 

“Ditanya bukannya jawab malah melamun.” Pak Arfan mebcibir.

 

Aku tersadar dari lamunan. Mengapa dia kepo sekali? Aku jadi penasaran siapa penulis favoritnya.

 

“Eh, maaf, Pak. Aku suka banget sama author Fan'z, dia itu kalau nulis bisa bikin pembaca ketawa-ketawa sendiri.”

 

“Oh, ya? Kok sama, jangan-jangan kita jodoh,” ucapnya dengan mata berbinar.

 

Heh, apa hubungannya dengan jodoh? Dia terlau mengada-ada.

 

“Nggak ada hubungannya kali, Pak. Kalaupun aku disuruh memilih, aku lebih memilih author Fan'z daripada Bapak.”

 

Dia tertawa tertawa hingga deretan giginya seolah memenuhi wajah

 

“Idih, kenapa Bapak tertawa?”

 

“Dia nggak bakal mau sama kamu.”

 

“Bapak sok tahu, deh. Mungkin saat ini dia memang belum mengenalku, tapi aku yakin kalau dia jodohku. Allah itu Maha membolak-balikkan hati manusia.”

 

“Beneran kamu ngefans sama dia?” tanyanya. Aku menganggukkan kepala.

 

“Kamu udah follow akun igi dan efbinya?”

 

“Udah dong. Aku follow semua akun sosmednya, tapi dia nggak pernah bales DM aku.”

 

“Berarti kamu dah baca story dia hari ini, ‘kan? Penulis itu tugasnya menulis, bukan nyinyirin tetangga. Dia nggak mau bales curhatan fans yang isinya ghibahin tetangga.”

 

Eh, kenapa Pak Arfan tahu kalau aku DM kirim curhatan? Aku jadi curiga.

 

“Bapak kenal sama author Fan'z?”

 

Dia hanya mengangguk kemudian menghampiri motornya. Eh, kenapa aku ditinggal? Aku juga mau pulang. Sudah hampir jam 5 sore.

 

“Pak, tunggu!” Aku berdiri dan mengejarnya.

 

“Ada yang ketinggalan?” tanyanya sambil memakai helm.

 

“Hatiku nyangkut di hati Bapak!” ucapku malu-malu.

Ini benar-benar memalukan. Aku berusaha merayunya. Kali aja dapat tawaran ojek gratis. Aku harus segera pulang sebelum malam.

 

Hening ... krik ... krik ...

 

“Maaf, saya nggak punya recehan!”

Ah sial, susah sekali merayunya. Aku memang bukan pujangga yang pandai merangkai kata.

 

“Yang merah atau biru juga saya mau, Pak.”

 

“Enak saja! Saya mau anterin bakso dulu. Pesenan orang, nih. Nanti kalau adem saya kena komplain.”

 

Beneran dia itu ojol? Sebenarnya aku masih tidak percaya. Bagaimana bisa dia kuliah sampai menjadi seorang dosen. Aku jadi semakin penasaran.

 

“Pak, saya mau pulang juga.”

 

“Lalu?”

 

“Saya mau ngojek, tapi uang saya tinggal delapan ribu.” Aku menunjukkan senyuman mautku. Biasanya orang akan iba melihatnya.

 

“Sebutkan alamat sebelum saya berubah pikiran!”

 

What? Dia mau nganterin aku pulang, kebetulan sekali. Aku segera menyebutkan alamat rumahku sebelum dia berubah pikiran.

 

Perjalanan kali ini sangat hening. Aku duduk menyamping dan tidak berani berpegangan. Berbeda sekali dengan keadaanku tadi pagi yang masih memakai celana. Aku bahkan sempat memeluknya dari belakang. Malu sekali bila mengingat kejadian tadi pagi.

 

Jalanan licin karena habis hujan. Sedikit kujinjing gamisku karena Sedikit basah terkena cipratan dari genangan air.

 

“Kenapa diam?”

 

“Eh, apa?”

 

“Kamu nggak lagi mikirin, aku, ‘kan?”

 

Aku? Dia sudah berubah jadi babang ojol ternyata. Rasanya berbeda sekali ketika dia menjadi dosen. Kaku dan dingin seperti es batu dari kulkas empat pintu.

 

“Enggak. Aku lagi mikirin Ayah, biasanya aku dah bantu nyiapin dagangan. Ini malah belum pulang.”

 

“Memangnya Ayah kamu jualan apa?”

 

“Jualan bubur kacang ijo, Pak. Resep dari Nenek yang turun temurun. Aku juga sudah bisa membuatnya meskipun belum mahir.”

 

“Wah, boleh dong saya nyobain buburnya.”

 

“Tentu saja, nanti aku kasih gratis spesial buat Bapak.”

 

Kami mengobrol layaknya tukang ojek dan penumpang. Tidak ada sekat lagi di antara kami.

 

“Loh, Pak. Kok kita ke sini. Mau ngapain?”

 

Aneh sekali memang. Dia mengajakku ke sebuah pemakaman. Siapa yang pesan bakso di tempat seperti ini? Mbak kunti? Om pocong atau jangan-jangan—.

 

“Kamu jangan suuzon. Tenang aja. Aku nggak akan jadikan kamu sebagai tumbal.”

 

Aku melotot hingga kedua bola mataku membulat. Dia bisa membaca pikiranku, jangan-jangan dia juga seorang dukun.

 

“Bapak dukun, ya?”

 

“Bukan, tanpa dukun pun nggak bakal ada wanita yang menolak pesonaku.”

 

Motor berhenti di  area parkir. Kami turun dan mulai memasuki area pemakaman. Aku berhenti sejenak. Sepertinya aku menunggu di sini saja. Ngapain juga ikutin dia. Sampai parkiran saja sudah membuat bulu kudukku merinding.

 

“Kamu nggak mau ikut? Penasaran nggak bakso ini buat siapa?”

 

Aku menggeleng.

 

“Kalau begitu kamu di sana saja, jagain motor saya.” Belum sempat aku menjawab, dia sudah pergi begitu saja.

 

Dasar ojol nggak ada akhlak. Main tinggal aja, nggak lucu kan kalau penumpangnya yang cantik jelita ini diculik pocong.

 

Sebenarnya aku penasaran siapa yang dia kirimi bakso sore-sore begini. Di kuburan pula.

 

Bersambung ....

Makam

2 0

Matahari mungkin sudah terbenam, tetapi tidak ada bedanya sama sekali karena sedari tadi mendung setelah hujan. Tidak ada pelangi di matamu, apalagi di langit.

 

Di parkiran makam ini hanya ada tiga kendaraan terparkir. Dua sepeda motor dan sebuah sepeda onthel. Aku duduk di atas motor butut milik Pak Arfan. Unik juga dia. Di saat anak-anak muda bergaya dengan motor gede seperti di tipi-tipi, dia cukup dengan motor astrea hijau. Namun motor ini begitu terawat, masih kinclong warnanya.

 

Bunga kamboja warna putih menghiasi kuburan, harum semerbak menyeruak ke dalam hidung. Membuatku bersin-bersin karena alergi, ditambah dengan dinginnya udara sore ini . Untung saja aku memakai khimar sehingga tidak membuatku menggigil, ternyata ada gunanya juga.

 

Kulihat sosok lelaki dari arah makam menghampiri. Dia membawa cangkul dan karung. Mungkinkah dia penjaga kuburan? Namun, apa yang dia bawa di dalam karung? Oh tidak! Jangan-jangan kepala Pak Arfan di dalamnya.

 

Astaghfirullah .... Bismillahirrohmaanirrohiim, Allahu la ilaaha illa huwal hayyul qoyyum ....” Lelaki itu kaget melihatku hingga membaca ayat kursi. Dia menjatuhkan karung dan cangkulnya.

 

Apa dia pikir aku ini kuntilanak, dedemit, pocong? Sepertinya matanya sudah rabun. Cantik-cantik begini dikira setan.

 

“Pak, saya ini manusia bukan makhluk halus. Nggak mempan dibacain ayat suci.”

 

Dia mengelus dadanya pelan sambil beristighfar, “Maaf, Neng. Saya kira setan.”

 

“Ck! Mana ada setan pakai gamis pink, Pak?”

 

“Neng nggak tahu, sih, setan zaman now udah nggak pakai baju putih. Pemutih di minimarket udah habis semenjak wabah covid melanda.”

 

“Jadi, Bapak ngatain saya setan, nih?” ucapku bersungut-sungut. Ingin rasanya aku melempar mukanya dengan spion motor Pak Arfan.

 

“Bukan gitu, Neng. Lagian ini tempat pemakaman, yang ada di sini cuma lelembut dan sejenisnya. Kalau bidadari ya di kahyangan,” ucapnya seraya mengambil karung dan cangkulnya.

 

Aku jadi penasaran, sebenarnya benda apa yang ada di dalam karung tersebut.

 

“Permisi, Neng. Saya mau ambil sepeda.” Dia memasukkan cangkul ke dalam karung. Aku semakin penasaran dengan isi karungnya.

 

“Eh, tunggu dulu, Pak.”

 

“Ya, Neng. Ada apa?” tanyanya sambil mengikat karung di belakang sepeda.

 

Apa jangan-jangan dia mencuri tali pocong untuk— Ah, tidak! Aku tidak boleh suuzon. Lebih baik aku bertanya daripada menerka-nerka.

 

“Bapak tukang gali kubur?”

 

“Bukan, Neng. Saya hanya penjaga kuburan.”

 

Ternyata cangkul itu untuk membersihkan rumput. Pikiranku sudah traveling ke mana-mana.

 

“Kalau boleh saya tahu, yang di dalam karung Bapak itu isinya apa, ya?”

 

“Oh, ini.” Dia menepuk-nepuk karung warna putih kecoklatan yang diikat di belakang sepeda. Sepertinya karungnya kotor sekali dan tidak pernah dicuci.

 

“Ini beras, Neng. Biasanya Bapak dapat beras dari peziarah karena sudah membersihkan makam keluarganya.”

 

Hm ... aku mengangguk pelan. Terjawab sudah semua kecurigaanku yang tiada guna.

 

“Nungguin siapa, Neng? Pacarnya, ya?”

 

“Bukan, lagi nunggu kakak saya.”

 

Ngapain juga aku berbohong. Nih mulut kenapa, sih?

 

“Mas ojol tadi, ya?”

 

“Iya, Pak.”

 

“Berarti yang lagi nangis di makam itu pacarnya, ya? Kasihan banget. Ibunya sudah meninggal tiga hari yang lalu. Namun dia tidak bosan mengunjungi makam setiap sore meskipun habis hujan begini.”

 

What? Pacar? Mengapa rasanya aku tidak terima jika dia sudah punya pacar? Sadar Syifa, kamu bukan siapa-siapanya.

 

“Pacar?” Aku masih tidak mempercayainya.

 

“Iya, lalu siapanya kalau bukan pacar. Tiap hari gadis berjilbab itu baru pulang jika sudah dibawakan bakso sama mas ojol tadi.”

 

Rasanya hati ini memanas. Darah di sekujur tubuhku mendidih, mengepulkan asap yang terasa sesak di dada. Sebentar lagi bakal muncul dua tanduk merah di kepalaku.

 

“Nah, itu dia orangnya. Panjang umur memang, baru saja diomongin sudah muncul.” Si penjaga kubur menunjuk ke arah pohon kenanga.

 

Pak Arfan berjalan dengan hati-hati karena tanahnya masih basah. Dia tersenyum menatapku. Ya Allah, mengapa Pak Arfan Engkau berikan senyum yang begitu menawan? Klepek-klepek hati ini, Bang.

 

“Lama, ya, Nunggunya?”

 

“Lama banget.”

 

Aku tidak boleh tersihir dengan senyum mautnya.

 

“Saya duluan, Mas. Lain kali adiknya jangan ditinggalin sendirian. Takut dirasuki lelembut,” ujar penjaga kubur itu kemudian mengayuh sepedanya dengan pelan.

 

Duh, ketahuan kalau aku ngaku-ngaku jadi adiknya. Matilah aku.

 

“Jadi, Dek Syifa udah nggak sabar pingin pulang?” tanyanya sambil mengerlingkan mata.

 

Rasanya pipiku memanas, ketahuan banget bohongnya. Aku turun dari motor kemudian segera memakai helm. Aku harus segera menutup wajahku. Malu sekali rasanya.

 

“Buruan, Pak. Sebentar lagi azan Maghrib.”

 

“Iya-iya sabar.” Dia mencari kunci motornya di jaket, tetapi tidak ditemukan.

 

“Duh, kuncinya di mana, ya? Jangan-jangan jatuh di kuburan. Aku balik sebentar, ya!”

 

Belum sempat dia berbalik, seorang gadis cantik memakai hijab putih datang bersama lelaki paruh baya.

 

Bersambung ....

Kunci

1 0

Emang dasar Pak Arfan. Bisa-bisanya dia lupa naruh kunci motor. Ini ‘kan kuburan. Malam minggu bukannya kencan di kafe malah di makam. Aku jadi merinding.

 

“Duh, kuncinya di mana, ya? Jangan-jangan jatuh di kuburan. Aku balik sebentar, ya!”

 

Belum sempat dia berbalik, seorang gadis cantik memakai hijab putih datang bersama lelaki paruh baya. Mereka berjalan ke arah kami, sepertinya motor di sebelah kami ini milik mereka.

 

“Makasih, ya, Mas, sudah mau direpotkan sama saya. Ini tadi kunci motornya jatuh,” ucap bapak-bapak tersebut sambil menyerahkan sebuah kunci dengan gantungan daun sirih.

 

Norak sekali Pak Arfan. Gantungan kuncinya saja daun sirih. Penampilannya kece badai ala anak muda zaman now, sayang seleranya begitu. Aku ingin tertawa, tetapi takut dosa.

 

“Alhamdulillah, ternyata masih rezeki saya. Makasih, ya, Pak.”

 

“Sama-sama, ini siapa, Mas? Adiknya, ya?” tanya lelaki yang rambutnya sudah ditumbuhi uban itu.

 

Pak Arfan melirikku sebentar. Rasanya aku ingin menyanyi jika bukan di makam.

 ‘Lirikan matamu menarik hati, oh senyumanmu manis sekali.’ Aseek! Tarik sis!

 

“Dia calon istri saya,” ucapnya dengan mantap.

 

Apa? Aku enggak salah denger ‘kan? Dia menyebutku calon istrinya. Detak jantungku tidak karuan, ingin tersenyum tetapi malu. Aku enggak boleh baper. Lelaki sering kali memberi harapan palsu.

 

Wanita di depanku sontak mengangkat muka mendengar penuturan Pak Arfan. Cantik sekali wanita itu, meskipun matanya bengkak tetap saja aura kecantikannya terpancar. Muka bulat dengan bulu mata lentik, hidung pesek dan bibirnya sedikit tebal. Sedetik kemudian bulir air matanya kembali membasahi pipi. Mungkin dia masih bersedih kehilangan ibunya.

 

“Oh ternyata sudah punya calon istri, saya kira adiknya, wajahnya mirip.”

 

Wajah kami mirip? Seulas senyum terbit di wajahku. Bukankah jodoh itu sligaraning nyowo? Duh, kenapa aku jadi baper, sih?

 

“Benarkah kami mirip? Wah, mungkin memang udah jodoh saya, Pak.”

 

“Cepetan dihalalin, Mas. Nanti ditikung orang.”

 

Setelah menerima kunci, Pak Arfan langsung berpamitan. “Kami duluan, ya, Pak.”

 

“Sayang, nanti pegangan yang kenceng, ya!” ucapnya sambil menarik tanganku di pinggangnya. Mataku membulat karena perlakuannya. Dasar babang ojol sialan, lama-lama aku bisa jantungan kalau begini.

 

Apa jangan-jangan dia hanya akting untuk memanas-manasi wanita itu? Tatapan matanya tidak lepas dari Pak Arfan. Anggap saja aku sedang main film. Aku tidak boleh jatuh cinta pada lawan main. Bisa-bisa jadi gosip popular today.

 

Tunggu dulu, aku merasakan tubuhnya bergetar saat berpegangan. Sepertinya dia tidak pernah dipegang wanita. Aku tersenyum penuh kemenangan. Lihat saja, Bang. Aku akan mengerjaimu.

 

Sesampainya di jalan, aku masih melingkarkan tangan kananku di pinggangnya. Kusandarkan kepalaku di punggungnya. Sungguh aku tak kuat menahan tawa. Untung saja dia tidak melihatnya. Namun, rasanya aku ingin berlama-lama bersandar, punggungnya sangat nyaman.

 

“Syifa, lepasin tanganmu!” perintahnya, tetapi aku pura-pura tidak mendengar. Aku sangat menikmati adegan ini.

 

“Apa? Aku enggak denger, Pak.” Aku semakin menggila. Harus kuat menahan tawa supaya aktingku meyakinkan.

 

“Lepasin tangan kamu!” Sampai di perempatan Kerawang akhirnya dia melepaskan tanganku secara paksa ketika berhenti di lampu merah.

 

“Katanya calon istri, enggak apa-apa dong, Pak. Bentar lagi ‘kan halal.”

 

“Memangnya kamu mau hidup sama dosen yang kere begini?”

 

Aku berpikir sejenak, aku sudah hidup susah selama ini. Tentu saja aku ingin mendapatkan lelaki kaya yang bisa menghidupiku. Tidak cuma ganteng, tetapi juga bisa menjadi imam yang baik. Namun, sepertinya mimpiku ketinggian.

 

“Enggak, Bapak terlalu tua.”

 

“Ya sudah, enggak jadi deh. Padahal niatnya aku mau melamarmu begitu sampai di rumah.”

 

Sesak. Rasanya aku nggak bisa bernapas. Benarkah yang kudengar barusan? Rasanya aku ingin pingsan.

 

“Memangnya segampang itu melamar anak orang?”

 

“Apa sih yang enggak bisa aku lakukan. Tinggal menjentikkan jari saja,” ucapnya sombong.

 

“Langsung keturutan, Pak?“

 

“Enggak.” Dia tertawa hingga tubuhnya berguncang.

 

“Nanti aku ajak ngamen di simpang tujuh, biar cepet dapet duit. Apapun maumu pasti terwujud.”

 

“Ngamen?” Memangnya dia bisa menyanyi?

 

Sebenarnya siapa, sih, dia?

Dosen jelas iya.

Ojol juga iya, aku sendiri yang menjadi saksinya.

Lelaki ini benar-benar misterius.

 

“Bercandanya enggak lucu, Pak.”

 

“Aku serius, cuma kamu satu-satunya wanita yang mental. Tidak tertarik sama sekali dengan pesonaku.”

 

“Idih, pede banget!” Lagi, dia tertawa terbahak-bahak.

 

“Mungkin karena kamu pakai kacamata kali, ya? Agak siwer,” ucapnya terkekeh.

 

Heh? Omongannya enggak bisa disaring. Menyebalkan sekali.

 

Bersambung ....

Nyangkut

1 0

Sayup terdengar suara azan Maghrib, tetapi kami masih di jalan. Tidak biasanya aku pulang petang karena takut ayah marah. Motor melaju dengan kecepatan sedang. Mungkin dia takut kupeluk jika ngebut. Padahal aku sudah ingin segera sampai rumah.

 

“Kita ke masjid dulu, ya!” ajak Pak Arfan.

 

“Mau ngapain?”

 

“Salat dulu. Lebih baik berhenti dulu saat azan Maghrib berkumandang.” Wih, ternyata dia bisa ceramah. Multi talenta sepertinya.

 

“Rumahku sudah dekat, Pak. Pertigaan depan belok ke kiri.”

 

“Memangnya ayahmu memperbolehkan lelaki datang ke rumah?”

 

“Boleh, Pak. Apalagi kalau borong jualan ayah saya.”

 

“Katanya tadi gratis buat saya?” Dih, ternyata dia suka pamrih.

 

“Iya deh, nanti saya kasih bubur gratis buat Bapak. Azannya sudah selesai, jalan lagi, yuk, Pak.”

 

Setelah hari ini aku usahakan tidak akan terlambat kuliah. Bertemu dengannya membuatku sial. Entah sudah berapa kali aku mengalaminya hari ini.

 

“Udah nggak sabar, ya, pingin segera kulamar?” Dia terkekeh geli.

 

Plak! Aku memukul pungungnya cukup keras sampai dia mengaduh kesakitan. Bisa-bisanya dia bercanda di saat genting begini.

 

“Belok kiri, Pak! Kemudian lurus kira-kira 500 meter.”

 

Alhamdulillah, akhirnya sebentar lagi sampai rumah. Setelah berbelok, tiba-tiba seperti ada yang menarik gamisku. Aku menoleh ke belakang, tetapi tidak ada siapapun.

 

Langit jingga menghiasi kota Kudus. Suara salawat masih terdengar dari masjid dan musala. Penglihatanku semakin buram di jam-jam seperti ini. Tidak ada apa-apa di belakangku. Aku jadi merinding.

 

“Pak, kayak ada yang narik bajuku.”

 

“Hmmm?”

 

“Pas kulihat enggak ada orang.” Makin lama tarikannya semakin kuat. Ternyata gamisku terkena rantai motor.

 

“Pak, berhenti!” Aku menepuk-nepuk punggungnya dengan sangat keras berharap dia berhenti secepatnya.

 

“Apa lagi? Tenang, aku tadi bercanda. Aku enggak bakal lamar kamu sekarang.”

 

Nih orang bukannya berhenti malah makin menjadi-jadi. Aku menarik-narik gamisku, tetapi tidak bisa terlepas. Ya Allah,selamatkanlah kami.

 

“Gamisku kena rantai, Pak. Cepetan berhenti!” Sekali lagi aku berteriak. Kalau dia tidak segera berhenti, aku bisa jatuh terjungkal ke jalan aspal. Sayang sekali bukan? Apalagi jalanan masih basah sisa air hujan.

 

“Apa?” Dia menghentikan motornya mendadak hingga membuatku jatuh.

 

Aku jatuh di aspal yang masih basah. Setelah ini sepertinya kesialanku makin menjadi-jadi. Hari ulang tahun yang benar-benar mengesankan. Aku pasti tidak akan melupakannya.

 

“Aw, sakit sekali, Pak,” ucapku sambil memegangi pantat. Rasanya lebih sakit daripada jatuh dari atas tempat tidur.

 

“Kamu enggak apa-apa?” tanyanya panik.

 

Dia membantuku berdiri dengan mengulurkan tangannya. Bajuku jadi kotor semua. Gamis pink hadiah dari teman-teman kini bercampur dengan warna cokelat. Masalah tidak cukup sampai di situ. Ternyata gamisku masih nyangkut di rantai motor.

 

“Gimana ini, Pak?”

 

“Aku bantu lepasin gamisnya, ya!” Dia meminta izin melepaskan gamis.

 

What? Aku menyilangkan kedua tanganku di dada. Bisa-bisanya dia modus di saat seperti ini.

 

“Bapak g!la, ya? Mau nelanjangin anak orang di pinggir jalan.”

 

“Astaghfirullah, ternyata kecil-kecil kamu omes.” Dia menjitak keningku kemudian berjongkok di hadapanku.

 

“Bapak mau ngapain? Jangan mencoba mengintip!”

 

Dia menunjuk ke arah rantai kemudian bajuku secara bergantian. Malu sekali rasanya, aku sudah suuzon kepadanya. Dia memutar-mutar roda belakang berkali-kali hingga sedikit demi sedikit gamisku mulai terlepas.

 

“Ada gunting?” tanyanya.

 

“Nggak ada, Pak. Saya bukan tukang cukur.”

 

“Memangnya cuma tukang cukur yang punya gunting?” Dia membuka jaket ojolnya kemudian mengambil sesuatu di saku dalamnya.

 

“Pake ini aja, ya!” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah cutter warna merah.

 

Heh? Dia bawa senjata tajam. Aku jadi semakin curiga dengannya. Sebenarnya siapa dia?

 

“Bapak kok bawa cutter? Itu ‘kan senjata tajam, Pak.”

 

Dia memutar cutter hingga keluar pisaunya. Tajam dan menyilaukan mata. Aku jadi merinding. Pelan tapi pasti, dia membantuku melepaskan gamisku dari rantai motornya.

 

Bersambung ....

Wewe Gembel

1 0

Langit sudah gelap, sudah tidak terdengar lagi suara azan. Gamisku sudah terlepas dari rantai berkat cutter milik Pak Arfan. Sekarang aku sudah mirip seperti wewe gembel. Bajuku compang-camping tidak karuan. Bolong-bolong sampai lutut seperti style trio macan.

 

“Gamis trend masa kini,” ucap Pak Arfan setelah gamisku terlepas. Dia tertawa hingga memegangi perut.

 

Bukannya merasa bersalah malah diketawain. Untung aku bukan ukhty hijabers ala pondok pesantren. Aku sudah terbiasa memakai baju terbuka.

 

“Aku mau jalan kaki aja, sudah dekat. Aku nggak mau bayar! Ojolnya sedang oleng.” Aku berjalan kaki meninggalkannya sendiri.

 

Kenapa dia nggak ngejar, sih? Kan masih jauh. Sudah lemas lututku, seharian ini terasa begitu melelahkan. Rasanya aku ingin segera sampai rumah dan memeluk guling.

 

Aku berhenti sejenak dan menengok ke belakang. Kulihat dia mengacak-acak rambutnya. Ada apa dengannya? Ah, masa bodoh. Aku berbalik mengabaikannya.

 

“Syifa, tunggu!” ucapnya berteriak.

 

Yes, sepertinya dia mau anterin aku pulang. Aku berbalik dengan mata berbinar.

 

“Iya, Pak.”

 

“Bantuin aku dorong motor, please. Bensinnya habis, katanya rumahmu sudah dekat, udah mau habis waktu Maghrib, nih,” ucapnya dengan senyuman.

 

Benar-benar menyebalkan. Dengan kesal aku membantunya mendorong motor hingga sampai di depan rumah.

 

Gerobak bubur kacang ijo milik ayah sudah berdiri gagah di emperan rumah. Kami memang belum memiliki lahan untuk membuat warung. Teras rumah kami sulap menjadi kedai supaya pelanggan bisa makan bubur dengan nyaman.

 

Biasanya pembeli akan datang mulai habis Maghrib. Tidak ada siapapun di depan rumah. Sepertinya mereka sedang salat.

 

“Assalamu’alaikum.” Aku mengetuk pintu kemudian segera masuk ke dalam rumah karena pintu terbuka.

 

Aku mempersilakan Pak Arfan untuk duduk di ruang tamu.

 

“Bapak mau salat atau istirahat dulu?”

 

“Aku langsung salat saja karena waktu Maghrib itu tidak banyak. Akhir waktu salat Maghrib adalah saat mega merah telah hilang, yang juga merupakan tanda masuknya waktu salat Isya.”

 

Aku melongo mendengar penjelasannya. Dia sudah seperti ustaz yang memberikan tausiyah di tipi ketika habis Subuh.

 

“Kamar mandinya di bel—“

Ucapanku terputus karena tiba-tiba Ayah keluar.

 

“Siapa kamu? Berani-beraninya masuk rumah orang. Kamu mau mencuri?” Ayah berkacak pinggang dan memelototiku.

 

“Ayah, aku ini Syifa, anakmu.” Aku bergelayut manja di lengan Ayah.

 

Ayah melepaskan tangan lalu memegang kedua pundakku. Dia menatapku dari ujung kepala hingga kaki.

 

“Masya Allah, anak Ayah cantik sekali. Akhirnya kamu insyaf.”

 

“Aku terpaksa, Yah.”

 

“Terpaksa? Apakah lelaki itu yang memaksamu?” Ayah menunjuk Pak Arfan yang sedang melepaskan jaketnya.

 

“Bukan, Yah. Dia itu—“

 

“Pasti dia yang sudah membuatmu seperti ini. Kamu habis diapain sama dia? Kenapa bajumu seperti mak lampir yang bangkit dari kubur?”

 

“Yah, dengerin Syifa dulu, dia yang sudah—“

 

“Alah, kamu nggak usah belain dia! Pasti kamu sudah diancam.”

 

Kenapa jadi runyam seperti ini?

 

Bersambung ....

Kipas Portabel

1 0

 

Ayah masih saja melanjutkan mauidlo hasanahnya. Daripada aku ngomong dan selalu dipotong, lebih baik diam. Kulihat Pak Arfan sedari tadi memijat pelipisnya.

 

“Sudah, Yah? Sekarang giliran Syifa yang ngomong. Dia itu dosen Syifa, mau numpang salat Maghrib.”

 

“Dosen? Jangan bohong, pakaiannya saja ojol.” Ayah tersenyum sinis.

 

Aku menarik lengan ayah dan membisikkan sesuatu di telinganya. Bisa bahaya kalau ayah masih nyerocos terus. Kulihat wajah ayah nampak pucat pasi. Dia menggaruk-garuk kepalanya.

 

“Eh, maaf Pak Dosen, saya tidak tahu. Mari saya antar ke musala,” ucap ayah sungkan.

 

Pak Arfan hanya menanggapi dengan senyuman. Sepertinya dia sedang ada di mode ‘dosen' on bukan babang ojol lagi. Sikapnya seperti es, dingin dan kaku.

 

Kami mempunyai musala kecil ukuran 3x3m di dalam rumah. Di sebelahnya ada sebuah kamar mandi kecil untuk wudu. Setiap hari ayah selalu membiasakan salat jamaah bersama kami.

 

Aku segera mengambil baju ganti dan mandi terlebih dahulu. Saat aku hendak masuk ke kamar mandi, ayah menarik lenganku.

 

“Siapa tuh dosen? Calon mantu Ayah?”

 

“Heh? Ayah jangan mengada-ada. Dia itu ojol. Ayah mau punya mantu kere?”

 

Ayah selalu bilang kepadaku. Kamu harus sekolah biar punya kerjaan yang layak. Jangan kayak ayah yang cuma jualan bubur kacang ijo di rumah. Ayah hanya lulusan SMP, tentu saja beliau ingin anak-anaknya sekolah tinggi.

 

“Memang dulunya Ayah kepingin punya menantu yang kaya raya, tetapi kita juga harus sadar. Mana ada orang kaya yang mau nikah sama anak penjual bubur? Dia pasti takut disuruh bantuin jualan. Kamu pakai logika aja, deh,” ujar ayah.

 

“Tau, ah. Aku mau mandi dulu.” Kututup pintu kamar mandi hingga menimbulkan suara.

 

Skip adegan mandi.

 

Usai salat kulihat Pak Arfan masih setia duduk di atas sajadah sambil komat-kamit seperti mbah dukun. Dari belakang punggungnya terlihat lebar, sepertinya nyaman untuk sandaran. Menyadari keberadaanku dia menoleh dan tersenyum. Ya Allah, manis sekali dia. Hatiku berdebar melihatnya.

 

Aku harus segera pergi membantu Ayah di depan. Sepertinya lumayan ramai. Mungkin karena habis hujan, banyak orang yang membutuhkan kehangatan.

 

“Syifa, kamu nggak pakai jilbab lagi?” tanya ayah saat aku sudah di sampingnya. Aku membantu memasukkan bubur kacang ijo ke dalam plastik.

 

Aku sudah tidak memakai gamis lagi. Tidak ada koleksi jilbab di almari. Hanya beberapa kaos, kemeja dan celana. Rok panjang bisa dihitung dengan jari.

 

Malam Minggu seperti ini banyak muda-mudi yang apel di rumah pacarnya. Mereka biasanya membawakan buah tangan untuk calon mertua. Cie ....

 

“Tidak, Yah. Aku ‘kan sudah bilang, tadi terpaksa pakai jilbab karena aku habis dilempar pakai telur sama temen-temen.”

 

“Kamu sudah besar, Nak. Tidak sepantasnya kekanak-kanakan seperti itu,” tutur ayah.

 

“Sepertinya ada yang punya pacar baru, nih.” Ilham datang membawa nampan kosong usai mengantarkan pesanan. Dia melirik ke arah pintu depan.

 

Pak Arfan terlihat berbeda setelah salat, ketampanannya berlipat ganda setelah terkena siraman air wudu. Aku akan menyiapkan semangkuk bubur untuknya sesuai janji. Setelah siap, aku membawanya ke ruang tamu.

 

“Bapak makan di sini saja, ya!” Kuletakkan bubur di meja.

 

“Kenapa nggak boleh di luar? Aku ingin membantu calon mertua.”

 

“Ck, paling Bapak mau tebar pesona. Di luar ada banyak cewek.”

 

Aku sudah hafal sifatnya, dia akan selalu tebar pesona kepada wanita di sekeliling. Dia sangat pintar mencari perhatian.

 

“Kamu cemburu, ya?” tanyanya menggoda.

 

Aku memotar bola mata jengah. “Enggak. Pede banget sih, Pak.”

 

“Aku makan sekarang, ya?” Dia kemudian menyeruput bubur kacang ijo yang baru kuhidangkan. Padahal asapnya masih mengepul di udara.

 

“Kok nggak bilang sih kalau buburnya panas?”

 

“Ditiup dulu, Pak!”

 

Dia malah tersenyum kemudian meletakkan sendok ke dalam mangkuk.

 

“Rasul mengajarkan kita untuk tidak meniup minuman panas. Kamu tahu alasannya?” Aku menggeleng.

 

“Apabila makanan panas ditiup, maka kuman atau bakteri yang ada di mulut bisa berpindah ke dalam makanan. Paham, Syifa?”

 

“Oh, ternyata begitu.” Aku mengangguk paham, “Saya ambilkan kipas angin saja, ya, Pak.”

 

Tanpa menunggu persetujuannya, aku mengambil kipas angin portabel berbentuk doraemon. Kuhidupkan dan kuletakkan kipas di dekat bubur supaya lekas adem dan dia cepat pulang. Namun siapa sangka kipasnya ambruk dan masuk ke dalam mangkuk.

 

Bubur otomatis menciprat ke mana-mana. Termasuk ke wajah rupawan Pak Arfan. Aku harus segera kabur.

 

“Syifa!” teriaknya marah.

 

Mampus aku. Aku berhenti di tengah pintu kemudian berbalik menghadapnya.

 

“Saya ambilkan bubur lagi, ya, Pak.” Aku tersenyum manis, sangat manis hingga bisa membuat readers diabetes.

 

“Saya sudah kenyang! Ambilkan baju ganti. Kemeja saya jadi kotor semua.” Dia membersihkan sisa bubur di bajunya.

 

Aku segera pergi ke kamar Ilham untuk mengambil baju. Oh iya, lupa. Aku menepuk jidatku. Ilham ‘kan baru kelas 1 SMA, pasti tidak muat. Akhirnya aku mengambil kaos oblong milikku. Aku memiliki banyak kaos berukuran besar karena tidak suka memakai baju ketat.

 

Saat aku keluar, Pak Arfan sudah melepas kemejanya. Oh tidak! Mataku ternodai lagi. Ingin berpaling tapi sayang.

 

“Maaf, Pak, bajunya biar nanti saya yang nyuci.” Aku menyerahkan kaos berwarna ungu kepadanya.

 

Dia tidak lekas menerima kaosku.  “Tidak ada warna lain? Terlalu girly.”

 

“Warna pink, mau?”

 

“Baiklah, yang ini saja.” Dia menerima kaos yang kuberikan. Namun nahas, aku terpeleset bubur yang tercecer di lantai.

 

Bersambung ....

Adegan Romantis 17+

1 0

Pak Arfan menerima kaos yang kuberikan. Namun nahas, aku terpeleset bubur yang tercecer di lantai.

 

Aku berteriak kencang hingga suaraku memenuhi udara. Aku hampir saja oleng jika Pak Arfan tidak menolong.

 

Dia segera berdiri dan menangkap tubuhku. Aku yang mendapatkan pertolongan pun refleks memegang bahunya. Tatapan bola mata kami bertemu, aku tidak bisa berpaling darinya. Ya Allah, hentikan waktu ini satu jam saja.

 

Dengan jarak sedekat ini, aku bisa menikmati keindahan yang selama ini kuabaikan. Dia memang tampan. Senyumnya sungguh memesona. Inikah cinta pada pandangan pertama? Jantungku berdebar hebat, menari mengikuti irama.

 

“Astaghfirullahalazim!” teriakan Ilham membuyarkan adegan romantis kami. Dia tiba-tiba datang di saat yang tidak tepat. Mengganggu saja.

 

“Ayah, Faiha, cepat kemari!” Ilham keluar dan memangil Ayah. Oh tidak! Ini tidak bisa dibiarkan.

 

Brak! Pak Arfan yang kaget segera mengambil kaos dan melepaskanku. Astaga tega sekali dia menjatuhkanku. Dia segera memakai kaos milikku warna ungu yang bertuliskan ‘Cliquers'. Aku memang penggermar band Ungu. Namun sayang, sekarang mereka sudah jarang tampil karena sang vokalis menjadi Wali Kota.

 

“Aw, punggungku.” Aku memegangi pinggangku yang yang terasa remuk. Tamat sudah riwayatku. Setelah ini aku tidak bisa membantu ayah berjualan. Belum sembuh sakit karena habis jatuh dari motor, sekarang ditambah jatuh dari pelukan Pak Arfan. Sepertinya esok aku tidak bisa kuliah.

 

“Maaf ... kamu terlalu berat,” ucap Pak Arfan sambil terkekeh. Dia mengulurkan tangan kepadaku.

 

Aha! Muncul sebuah ide jahil di kepalaku. Ingin rasanya aku menjabat tangan lalu menjatuhkannya. Biar dia tahu rasa.

 

Aku mengulurkan tangan, tetapi saat aku hendak berdiri Pak Arfan malah terpeleset.

 

“Astaghfirullah!” Bapak yang baru datang langsung mengelus dadanya.

 

“Ini tidak seperti yang anda lihat, Pak. Saya tidak melakukan apa-apa dengan Syifa.” Pak Arfan segera berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya. Celananya jadi kotor terkena bubur.

 

Untung saja dia jatuh di sampingku. Bisa berabe kalau jatuh di atasku. Pembaca pasti membayangkan yang iya-iya seperti di novel online.

 

Ayah dan Ilham segera membantuku berdiri. Ternyata kakiku keseleo, aku tidak bisa berdiri.

 

“Ayah nggak kuat gendong kamu, Fa. Kamu berat,” ucap ayah.

 

“Kita pikul saja, Yah. Berdua lebih ringan. Berat sama dijinjing, ringan sama dipikul.” Ilham mencoba memberikan ide yang cemerlang.

 

“Dipikul? Emangnya aku barang? Kalian jahat!” Aku mendengkus sebal.

 

Beginilah rumahku. Aku dilahirkan di keluarga yang hangat. Selalu ada pertikaian, tetapi nyatanya itu semua bentuk kasih sayang di antara kami.

 

“Faiha, tolong rapikan kamar kakakmu!” Ayah meminta adik bungsuku merapikan kamar.

 

“Kakak sepertinya harus diet mulai besok,” ucap Ilham kemudian meletakkan lenganku di pundaknya.

 

“Biar saya saja yang menggendong Syifa, Pak. Sebagai permintaan maaf.” Pak Arfan mencoba menawarkan bantuan.

 

Benarkah? Aku tersenyum membayangkan akan digendong dosen ganteng ala bridal style. Bakal nggak bisa tidur, nih.

 

“Kamu mau cari kesempatan dalam kesempitan, ya? Saya tahu kamu pasti akan berusaha menggerayahi anak saya. Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”

 

Astaga, aku dan Ilham menepuk jidat bersamaan. Ambyar deh khayalanku. Bisa bisanya Ayah berpikiran seperti itu.

 

“Ayah ngomongin apaan, sih?” Aku merasa sangat tidak enak dengan Pak Arfan.

 

“Saya janji tidak akan melakukannya sebelum terucap ijab dan qabul.”

 

Heh? Apa maksud Pak Arfan? Jawabannya membuatku jadi baper begini. Ya Allah kuatkan hati hamba.

 

“Kamu mau menikahi anak saya? Tidak semudah itu, Ferguso!” ujar Ayah.

 

“Bukan seperti itu, Pak. Saya tidak akan berani menyentuh wanita sebelum menikah. Begitu maksud saya. Jadi, saya tulus membantu Syifa dan tidak ada niat jelek sedikit pun,” jelas Pak Arfan.

 

Dia berjongkok di depanku kemudian menggendongku ke kamar. Di ruangan ini sudah ada Faiha, jadi aman, ya karena tidak ada orang ketiga.

 

“Kamu istirahat saja, dulu. Saya mau pulang.” Pak Arfan berpamitan setelah Ayah dan Ilham masuk ke kamar.

 

Kamar ini tidak terlalu lebar, tetapi cukup untuk menampung sepuluh orang. Ruangan berukuran 3x4m ini hanya berisikan satu tempat tidur dan sebuah almari kayu.

 

“Motor Bapak ‘kan bensinnya habis. Minta tolong ilham saja buat beliin bensin.”

 

“Tolong belikan bensin 2 liter, ya. Nanti kembaliannya buat kamu.” Pak Arfan memberikan uang kertas berwarna hijau kepada Ilham.

 

“Tambah dong, Mas. Masa iya calon kakak ipar pelit begini?” rayu Ilham.

 

Kenapa keluargaku jadi oleng begini, sih. Mereka tidak tahu jika Pak Arfan adalah dosen killer. Bisa-bisa aku dihukum lagi, menyebalkan sekali!

 

“Nih, aku tambahin. Buat ongkos beli bensin,” ucap Pak Arfan terkekeh. Dia memberikan uang lima ribu kepada Ilham.

 

“Ya sudah, kalau begitu aku ambil botol dulu.” Ilham segera berdiri dari dusuknya.

 

“Botol buat apaan, kak?” tanya Faiha.

 

“Buat isi bensin. Biar nggak bolak-balik. Ongkosnya pas-pasan,” ucap Ilham kemudian berlalu meninggalkan kamar.

 

Ilham memang pintar, dia selalu menjadi juara kelas. Otaknya juga cemerlang, dia selalu berpikir realistis. Jika dia membawa botol dari rumah, dia tidak perlu mengembalikan botol kepada penjuan bensin.

 

Ayah melanjutkan berjualan bubur kacang ijo karena pelanggan sudah menunggu. Tidak lama kemudian Pak Arfan juga keluar.

 

“Makasih, ya, Pak,” ucapku sebelum akhirnya dia keluar.

 

Dia mengangguk kemudian keluar.

 

Pak Arfan pulang, tidak jadi menginap seperti yang dibayangkan pembaca ????????????

 

BERSAMBUNG ....

Author Fan'z

1 0

 

Aku terbangun kala mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an dari masjid. Sebentar lagi azan Subuh berkumandang. Aku menggeliat pelan dan aw, punggungku seperti retak. Aku lupa jika punggungku sakit.

 

Aku berteriak dan menjerit kesakitan hingga Faiha terbangun. Setelah kejadian tadi malam, Ayah melanjutkan jualannya dibantu Ilham. Sedangkan Faiha menemani dan memijit kakiku hingga terlelap.

 

“Kakak mau ngapain?” tanya Faiha.

 

“Kebelet, kemarin makan mie ayam pedes banget!” Aku memegangi perutku yang rasanya mules luar biasa hingga membuat semua persendianku linu.

 

Tidak lama kemudian terdengar suara angin keluar dari lubangnya. Faiha segera menutup hidung. Akupun tidak tahan dengan baunya. Benar-benar busuk. Apalagi sudah dua hari tidak BAB.

 

“Ih, kakak jorok banget!” Faiha mengibas-ngibaskan tangannya di udara. Dia hampir saja muntah.

 

Aku terkekeh, “Alhamdulillah lega, bantu kakak ke kamar mandi, Fai.”

 

“Aku nggak perlu nungguin kakak sampai selesai, ‘kan?” tanyanya sambil menguap. Sepertinya dia mengantuk karena memijitku semalam.

 

“Nggak perlu, nanti kamu kepingin.”

 

“Kepingin apa? Aku dah punya sendiri.”

 

“Kepingin berak, terbawa perasaan.” Tawaku menggema di kamar. Rasanya aku sudah tidak tahan lagi.

 

Faiha membantuku berdiri. Kakiku sudah bisa digerakkan, tetapi masih sedikit sakit. Dia mengantarkanku ke kamar mandi dekat dapur. Hanya ada dua kamar mandi di sini. Di dapur dan dekat musala. Namun, hanya satu yang ada klosetnya.

 

“Kamu boleh pergi, kakak bisa sendiri.”

 

“Yakin?” tanya Faiha dan aku mengangguk.

 

Baru saja Faiha keluar dan menutup pintu kamar mandi, aku teringat akan sesuatu. Di kamar mandi ini hanya ada wc jongkok. Aku tidak mungkin melakukannya karena kakiku sakit, akhirnya aku meminta bantuan Faiha.

 

“Fai, ambilin kursi kecil. Kakak nggak bisa jongkok.”

 

“Apa? Nggak denger,” teriak Faiha dari luar.

 

“Kursi kecil.” Aku juga tidak mau kalah dengan Faiha. Teriakanku lebih kencang darinya.

 

“Aku taruh di depan pintu, Kak.”

 

Skip adegan selanjutnya.

***

Usai membuang hajat aku bersiap melaksanakan salat Subuh. Aku salat sendiri sambil duduk di kamar karena tidak bisa rukuk. Tubuhku terasa nyeri dan kaku.

 

“Salatlah dengan berdiri, jika kamu tidak bisa maka duduklah, dan jika tidak bisa maka salat dengan berbaring.” (HR. Bukhori, Abu Daud dan Nasa’i)

 

“Syifa, bangunin Ilham!” perintah Ayah. Dia sudah memakai sarung dan koko berwarna putih.

 

“Aku salat di kamar ya, Yah. Kakiku nggak bisa ditekuk.”

 

“Ya,” jawabnya singkat.

 

Apakah ayah lupa jika aku sakit? Dia masih saja memerintahku. Terkadang aku merasa bukan anak kandungnya.

 

Aku berjalan dengan tertatih dan sedikit pincang. Aku menggedor-gedor pintu kamar Ilham karena dikunci. Kebiasaannya yang selalu dijaga. Mengunci pintu ketika tidur supaya tidak diganggu.

 

“Ham, bangun! Udah jam enam. Beli lauk, gih, di warung!”

 

Aku yakin tanpa menunggu lama, dia pasti bangun. Yang ada di pikirannya hanya makanan. Benar saja, pintu kamarnya langsung terbuka. Dia mengulurkan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri masih membawa bantal boboiboy.

 

“Mana duitnya?”

 

Cetak! Aku menjitak jidatnya. “Salat Subuh dulu! Udah ditunggu sama ayah dan Faiha.”

 

Dia hendak kembali ke tempat tidur, tetapi aku segera mengeluarkan jurus andalan. Aku sudah membawa sebuah panci yang penyok dan sebuah irus. Dia tidak bisa tidur jika aku sudah memainkan musik. Kupukul pancinya berkali-kali hingga membuat telinganya merah.

 

“Iya-iya,” ucapnya sambil melempar bantal boboiboy ke mukaku.

 

Aku akan menghubungi Nindi untuk izin tidak masuk kuliah. Kuambil ponsel yang semalaman aku charger. Aku menulis dan mengirimkan pesan kepada Nindi.

 

[Ndi, aku izin, ya. Tolong bikinin surat. Aku habis jatuh dari motor.]

 

Terkirim. Aku mau rebahan saja hari ini. Lagian hari Minggu, Ilham dan Faiha libur sekolah. Aku hanya perlu memasak nasi. Untuk lauk dan sayur bisa beli di warung Bu Warti, sepuluh ribu masih dapat kembalian.

 

Saat aku hendak ke dapur, ada sebuah notifikasi dari aplikasi hijau, author Fan'z sudah update bab 18. Aku segera membuka dan membacanya.

 

Aku selalu tersenyum saat membaca tulisannya hinge membuatku sangat penasaran dengan orangnya.  Apa jangan-jangan orangnya dekil, jelek, ih, amit-amit. Atau jangan-jangan wajahnya rupawan seperti Pak Arfan. Aku tersenyum simpul membayangkannya. Eh, kenapa malah bayangan babang ojol yang muncul?

 

Aku menepis bayangnya dari pikiranku. Mungkin aku terlalu lelah, kurang piknik. Sepertinya aku akan cuti selama beberapa hari. Aku akan izin kepada Pak Herman untuk tidak bekerja dulu. Mumpung ada alasan, sakit.

 

Sesampainya di dapur, sudah ada Faiha dan Ayah.

 

“Kamu ngapain, Fa? Sana balik ke kamar. Biar Ayah yang masak.”

 

“Yakin? Enggak beli di warung aja, Yah?”

 

Aku sebenarnya meragukan kemampuan memasak ayahku sendiri. Dia memang ahli membuat bubur kacang ijo, tetapi jika memasak disamakan dengan membuat bubur, rasanya pasti aneh. Ada manis-manisnya gitu.

 

“Udah, kakak tenang aja. Faiha bakal bantuin Ayah. Kakak istirahat saja.”

 

Adik perempuan yang usianya selisih lima tahun denganku itu baru saja masuk kelas satu SMP. Dia cukup mandiri dibanding dengan anak perempuan seusianya. Dia sudah bisa memasak nasi di rice cooker.

 

“Ya sudah, kakak balik ke kamar.”

 

“Nanti kalau udah matang aku panggil,” ucap Faiha sambil memotong kangkung.

 

Aku kembali ke kamar untuk tidur, tetapi mata ini sudah tidak bisa merem. Akhirnya aku berselancar di dunia maya. Aku mau kepoin akun author Fan'z. Kira-kira quotes apa yang dia bagikan hati ini?

 

Saat kubuka aplikasi dengan logo gambar kamera, namanya terlihat paling depan.

 

“Berkali-kali aku dipeluk perempuan, hanya dia yang membuat jantungku berdebar. Inikah cinta?”

 

Ah sial. Mataku memanas melihat tulisannya. Ternyata dia pria mesum. Sudah banyak wanita yang memeluknya. Aku jadi jijik. Kubanting ponselku di kasur. Sayang kalau di lantai, bisa pecah.

 

Pagi hari yang dingin malah membuatku gerah. Ingin rasanya aku menenggelamkan kepalaku di kulkas supaya dingin. Taklama kemudian terdengar suara pintu kamarku diketuk.

 

“Kak, ada tamu,” ucap Ilham.

 

Tamu? Siapa yang pagi-pagi begini datang ke rumah? Aku tidak memiliki janji dengan siapapun.

 

BERSAMBUNG ....

Sarapan

1 0

“Kak, ada tamu,” ucap Ilham.

 

Tamu? Siapa yang pagi-pagi begini datang ke rumah? Aku tidak memiliki janji dengan siapapun. Kulihat ponselku, tidak ada satu pun pesan yang masuk. Dengan tertatih aku membuka pintu kamar.

 

“Siapa, Ham?” tanyaku sambil mengikat rambut yang berantakan dengan karet gelang warna kuning. Senada dengan kaos yang kupakai, gambar Pikachu.

 

“Nggak tahu. Katanya teman kakak,” jawab Ilham sambil mengedikkan bahu.

 

“Bukan yang tadi malam, ‘kan?”

 

“Bukan, yang ini lebih muda. Lebih fresh.”

 

“Lebih muda? Memangnya yang kemarin udah tua?”

 

“Kalau yang kemarin itu udah nggak muda, Kak. Mateng.”

 

Memang benar, sih, Pak Arfan lebih tua usianya. Namun, dia termasuk salah satu dosen muda di kampus. Nyatanya banyak wanita yang mengg!lainya. Kecuali aku.

 

Aku jadi penasaran, siapa yang pagi-pagi begini datang ke rumah? Aku melihat ke ruang tamu. Hanya ada meja dan kursi kosong.

 

“Ilham! Nggak ada orang. Kamu jahat banget bohongin kakak.”

 

Dasar adik lucknut! Ingin rasanya aku melemparnya dengan sandal. Padahal aku sudah bersusah payah jalan dengan kaki pincang seperti ini.

 

“Tuh, orangnya di luar.” Ilham menunjuk ke teras.

 

Aku berjalan ke dekat jendela, kusibak gorden tipis yang tergantung. Ada seorang laki-laki yang memakai jaket warna navy. Dia duduk di kursi yang biasa digunakan para pembeli makan bubur di tempat. Tapi siapa? Aku sepertinya tidak asing lagi dengan gestur tubuhnya. Aku berjalan sampai pintu depan, berdehem supaya dia menyadari kehadiranku. Oh my god, aku menutup melutku seketika. Bagaimana dia bisa mengetahui alamat rumahku?

 

“Ibra?”

 

“Hai, Fa,” ucapnya ragu. Kenapa dia bertingkah aneh seperti itu?

 

“Dari mana kamu tahu rumahku?”

 

“Aku tanya sama—“

 

“Sama Nindi, ‘kan?”

 

Dia tersenyum hingga memperlihatkan semua giginya. Nindi memang nggak bisa diandalkan. Dasar ember.

 

“Masuk, yuk! Tidak enak dilihatin tetangga.”

 

Aku mengajaknya masuk ke rumah supaya tidak ada yang suuzon. Namanya hidup di desa tidak akan lepas dari tetangga. Memang tidak semuanya julid, tetapi mau atau tidak, kita harus tetap menerima kehadiran mereka.

 

“Nggak usah, di sini saja. Kalau di dalam malah mereka tambah suuzon. Dikira kita sedang—“ ucapannya menggantung.

 

“Sedang apa?”

 

“Tuh lihat!” Ibra menunjuk ke arah jam 3. Dua orang wanita paruh baya berbisik-bisik melihat kami.

 

“Mending di dalam, ada Ayah sama adik-adiku.”

 

“Baiklah. Oh iya, ini ada sesuatu buat kamu.” Ibra menyerahkan sebuah kresek warna pink.

 

“Apa ini?” aku menerima plastik tersebut dan mengintip isinya. Ternyata gorengan. Lumayan lah daripada nggak dibawain apa-apa.

 

Aku mempersilakan Ibra masuk dan duduk. Dia merasa sangat canggung. Padahal dia sudah berjanji menjadi teman dan mengesampingkan perasaannya. Lelaki yang dulu pernah membuat hati ini bergetar, tetapi sekarang sudah berbeda. Kemanakah hilangnya getaran itu?

 

“Makasih, gorengannya. Kamu sudah sarapan belum?”

 

“Belum.”

 

“Kita sarapan bareng, ya!”

 

“Nggak usah, makasih,” tolaknya.

 

Kebetulan kalau dia nggak mau, bahaya jika dia sampai merasakan masakan ayah. Sesaat kemudian ayah keluar. Panjang umur, baru saja diomongin langsung muncul.

 

“Eh ada tamu, siapa, nih? Kok beda lagi sama yang kemarin?” tanya Ayah.

 

OMG ayah, aku menepuk jidatku. Kenapa mesti diomongin segala, sih? Benar-benar tidak bisa menjaga rahasia.

 

Ibra nampak berpikiir, tetapi dia hanya tersenyum. “Saya Ibrahim. Temannya Syifa di kampus.”

 

“Beneran cuma temen?” tanya ayah selidik.

 

“Ayah!” Aku memelototi ayah, tetapi tidak dihiraukan.

 

“Iya, Pak. Hanya teman.”

 

“Alhamdulillah, saya lega. Ayah lebih suka sama yang kemarin.”

 

What? Apa maksud ayah? Sontak mataku membulat mendengar penururan ayah. Dia terlalu jujur. Gawat kalau sampai Ibra tahu aku pulang dianterin babang ojol kemarin. Aku bakal jadi bulan-bulanan di kampus.

 

“Oh, ya. Nak Ibra, mari sekalian sarapan. Kami baru saja selesai memasak.”

 

“I—iya, Pak.”

 

“Ilham, Faiha, bawa sarapannya ke sini!” perintah Ayah.

 

“Anggap saja seperti jajan di warung, ya. Jangan anggap seperti rumah sendiri. Saya sudah punya calon mantu,” ucap ayah percaya diri.

 

“Yah, yang kemarin itu bukan calon mantu. Aku sudah bilang ‘kan tidak ada hubungan apa-apa sama dia.”

 

“Siapa, sih, Fa?” tanya Ibra penasaran.

 

“Bukan siapa-siapa. Babang ojol. Masak iya aku mau nikah sama tukang ojek online?” Aku tertawa sumbang.

 

“Alah, nggak usah gitu, Fa. Ayah tahu kamu sering menatapnya diam-diam. Kemarin ayah lihat kamu lagi lihatin dia salat.”

 

Duh, mati kutu. Aku terciduk. Sebaiknya aku diam, ayah tidak akan pernah mengalah. Dia memang menjalankan perannya sebagai single parent dengan sungguh-sungguh. Selain sebagai ayah, dia juga bisa mengomel seperti ibu.

 

“Aku mau ke belakang aja, bantuin Faiha sama Ilham.”

 

Aku meninggalkan ayah dan Ibra berdua di ruang tamu. Lebih baik aku membantu adik-adikku menyiapkan sarapan.

 

“Kalian ngapain?” tanyaku saat sampai di dapur. Ilham dan Faiha sedang berbisik-bisik seperti tetangga di depan rumah tadi.

 

“Eh, Kak Syifa, ini aku bingung mau buatin kopi apa teh buat teman kakak.” Ilham menggaruk-garuk kepalanya.

 

“Kopi aja. Ayo kakak bantuin bawa nasinya.”

 

“Eh jangan, itu berat, biar aku yang bawa. Kakak bawa kopi saja, aku takut tumpah,” ucap Faiha sambil mengaduk tiga gelas kopi.

 

Dengan hati-hati aku membawa kopi dan teh ke depan.

 

“Silakan diminum, Nak Ibra. Kopi buatan Syifa sangat mantap. Bahkan saya sendiri tidak bisa membuat kopi seenak itu.”

 

Aku hanya tersenyum, pasalnya bukan aku yang membuat kopi ini. Ibra langsung mengambil satu gelas kopi dan meminumnya. Satu tegukan pertama kulihat wajahnya berubah masam. 

 

“Enak ‘kan kopinya?” tanya ayah. “Ayo diminum lagi!”

 

Ibra hanya mengangguk. Tegukan kedua, mukanya terlihat pucat, dia seperti sedang menahan sesuatu.

 

Kemudian Ilham datang bersama Syifa membawa mejikom, piring, sendok dan tumis kangkung. Diletakkannya semua ke meja.

 

“Aku ambil kerupuknya dulu di belakang,” ucap Faiha.

 

Saat Faiha ke belakang, ayah mengambil centong untuk menyendok nasi. Namun, raut wajah ayah berubah setelah membuka mejikom.

 

“Ada apa, Yah?”

 

BERSAMBUNG ....

Rasanya Asin

1 0

 

Wajah ayah berubah menjadi pucat setelah membuka mejikom. Dilepaskannya centong hingga jatuh ke lantai. Kemudian menutup mejikom kembali.

 

Aku penasaran kenapa ayah sampai shock? Aku berdiri dan hendak membukanya, tetapi dilarang ayah.

 

“Jangan dibuka, kamu bisa pingsan!”

 

Tanganku urung membukanya meskipun penasaran. “Memangnya kenapa, Yah?”

 

“Astaghfirullah, Faiha!” Ayah meletakkan piringnya kembali dan duduk memegangi dadanya.

 

“Kenapa, Yah?” Faiha datang membawa setoples kerupuk.

 

“Nasinya masih mentah, Fai. Kamu lupa colokin, ya?”

 

Aku memegang mejikom di depanku, anget. Berarti sudah dicolokkan. Tapi kenapa nasinya masih mentah? Apa sudah rusak, ya?

 

“Udah, Yah. Tadi panas, kok,” jawab Faiha.

 

“Coba kamu lihat!” perintah ayah.

 

“Sepertinya aku lupa tekan cook, Yah. Apa aku belikan nasi saja di warung?” tanya Faiha.

 

“Ayah belum laper. Ya sudah, kamu taruh di belakang lagi. Ayah mau ngopi dulu.”

 

Aku mengambilkan secangkir kopi untuk ayah.

 

Byur! Ibra terkena semburan kopi dari mulut ayah. Ilham yang melihatnya terkikik geli. Aku pun sama.

 

“Kopi macam apa ini? Kenapa rasanya asin?”

 

Hah, asin? Aku melirik Ilham. Dia mengedikkan bahu. Seolah-olah dia tidak tahu apa-apa. Aku jadi semakin curiga dengannya.

 

“Ya sudah, ayah minum tehnya Syifa saja.” Aku memberikan tehku kepada ayah. Namun, sejenak kemudian Ibra terkena semburan teh dari ayah.

 

“Kenapa lagi, Yah?”

 

“Tehnya lebih asin lagi. Bisa-bisa darah tinggi kalau begini. Siapa yang bikin teh ini?” Ayah melirik ke arahku, Faiha, dan Ilham bergantian.

 

Aku menggelengkan kepala, “Bukan aku, Yah. Suwer deh. Pasti Ilham, nih.”

 

Memang toples di dapur warnanya sama. Antara garam, gula dan micin letaknya berdampingan.  Aku sudah mengajarkan kepada Faiha membedakan semua bumbu dapur. Tidak mungkin Faiha salah menaruh garam.

 

“Tadi aku udah tanya sama Faiha, katanya yang ada tulisannya ‘gula', bentar deh aku ambil toplesnya kalau nggak percaya.” Ilham pergi mengambil toples gula di dapur.

 

Tanpa menunggu lama, Ilham pun kembali. “Ini toplesnya. Bener, ‘kan tulisannya gula.”

 

“Sini kakak cek!” Ilham memberikan toples warna ungu.

 

Semua perabot di dapur kebanyakan berwarna ungu. Aku sangat menyukai warna ungu.

 

“Ini garam, Ham. Tutupnya ketuker, nih!” Aku hanya menuliskan nama di tutup, tidak pada toplesnya.

 

Pantas saja Ibra mukanya ditekuk setelah minum kopi. Ternyata rasanya asin. Aku yakin setelah ini dia akan sakit perut.

 

“Aku boleh numpang ke kamar mandi, nggak? Perutku sakit,” ucap Ibra.

 

“Aku antar, Kak. Maafin Ilham, ya.” Ilham hendak mengantar Ibra ke belakang.

 

“Biar aku saja. Sekalian bikin kopi yang baru buat ayah sama Ibra.” Aku segera membawa nampan yang berisikan minuman larutan garam. Ada-ada saja Ilham. Untung saja aku belum meminumnya. Bisa gawat jika aku ikutan minum. Ujung-ujungnya malah rebutan kamar mandi.

 

“Aku udah mau berangkat, Fa. Nggak usah bikinin kopi lagi,” ucap Ibra sungkan.

 

“Tidak apa-apa. Sebagai ucapan permintaan maaf adikku, nih.”

 

Ilham juga kebangetan sekali. Dia ‘kan biasanya bikin kopi sendiri. Kenapa sampai tidak bisa membedakan garam dan gula. Apa jangan-jangan dia sengaja mau mengerjai Ibra.

 

“Aku mau langsung ke kampus saja. Ada jadwal presentasi di jam pertama.”

 

Aku terdiam sejenak, “Ya sudah, aku antar ke belakang biar nggak nyasar.”

 

Aku mengantarkan Ibra ke kamar mandi kemudian membuat dua gelas kopi dengan gula. Aku sampai mencicipi rasanya, takut tertukar lagi. Ibra juga sudah keluar, dia mencuci mukanya yang terkena semburan kopi dari ayah.

 

“Maaf, ya, Bra. Jaket kamu jadi kotor.”

 

“Iya, nggak apa-apa. Lagian warnanya gelap, jadi tidak begitu kelihatan.”

 

Aku hendak membawa dua cangkir kopi ke depan, tetapi Ibra mencegah. “Biar aku saja yang bawa, kakimu masih sakit.”

 

Dia memang lelaki yang baik, perlakuannya membuatku speechless. Namun, kini semuanya terasa berbeda. Entah apa yang terjadi padaku. Aku tidak tertarik dengan lelaki yang ada di depan mata.

 

Aku lebih suka dengan author Fan'z meskipun belum pernah bertemu dengannya. Setiap membaca ceritanya, aku merasa hidup di dalamnya. Aku seperti melihat diriku di dalam novelnya, tetapi semenjak melihat feed ig-nya, aku merasa geli.

 

Dia ternyata cowok mesum. Bahkan dia mengakui telah berkali-kali dipeluk wanita. Aku bergidik ngeri membayangkannya.

 

“Syifa, ayo!” Ibra sudah sampai di depan, dia membuyarkan lamunanku.

 

Saat kami tiba sampai di depan, sudah ada lima bungkus nasi beserta lauk dan sayurnya. Berasa dapat rejeki nomplok. Ayah dan kedua adikku sudah makan dengan lahap. Tidak hanya gorengan, tetapi ada ayam dan ikan bakar. Aku menelan ludah melihat semua makanan yang tersaji di meja.

 

“Ibra, sebaiknya kamu sarapan dulu. Biar kamu kuat menghadapi kenyataan,” ucap Ayah.

 

“Saya mau presentasi, Pak. Saya sudah ditunggu sama teman-teman,” tolak Ibra. Dia sudah memakai tas ranselnya dan siap berangkat.

 

Perjalanan dari rumah sampai ke kampus membutuhkan waktu 40 menit, sekarang sudah pukul 07.15, Ibra bisa sampai tepat waktu tanpa sarapan.

 

“Sarapan dulu, Kak. Mumpung gratis,” ucap Ilham.

 

“Gratis? Memangnya siapa yang mengirimkan nasi pagi-pagi begini?”

 

Aku penasaran, kenapa bisa ada kebetulan seperti ini. Ketika nasi yang dimasak Faiha tidak matang dan ada seseorang yang mengirimkan nasi. Seperti ada sesuatu yang sangat berkaitan.

 

“Calon mantu ayah,” jawab ayah sambil memakan ikan nila bakar.

 

“Babang ojol yang kemarin,” jawab Ilham.

 

“Babang ojol?” tanya Ibra, dia tertawa meremehkan.

 

Ah, sial. Dia pasti berpikir seleraku rendahan. Apalagi ayah selalu membangga-banggakan babang ojol. Untung saja mereka tidak menyebut nama Pak Arfan. Mampus aku jika ketahuan sama Ibra.

 

“Tadi tuh, calon kakak ipar datang, tapi dia cuma sebentar, katanya buru-buru!” ujar Faiha.

 

“Kakak ipar? Woy, jangan ngarang. Aku masih ingin kuliah dan jadi sarjana.”

 

Benar-benar kebangetan, mereka makan tanpaku. Aku segera mengambil sebungkus nasi dan memberikannya kepada Ibra.

 

“Masih sisa 1, bawa aja buat makan siang.”

 

“Makasih, salam buat calon suamimu,” ucapnya kemudian pergi.

 

Saat Ibra pergi, kulihat Ilham dan Faiha membagi uang. Sepertinya ada yang tidak beres di sini.

 

BERSAMBUNG ....

Kakak Ipar

1 0

Ilham membagikan dua lembar uang kertas warna hijau kepada Faiha. Sedangkan dia mendapatkan tiga lembar.

 

“Kalian dapat uang dari mana?” Mereka terdiam mendengar pertanyaanku. Mereka saling pandang kemudian tersenyum. Aku semakin curiga dibuatnya.

 

Ayah tidak akan memberikan uang cuma-cuma kepada anaknya, kecuali untuk membayar SPP. Faiha sendiri tidak pernah membayar SPP karena ada program pemerintah wajib belajar hingga 9 tahun.

 

“Kakak mau?” tanya Faiha.

 

“Mau!” Aku segera mendekati mereka. Tentu saja aku tidak menolaknya. Lumayan buat beli paket data, dapat unlimited satu minggu, tetapi sayang, nggak bisa buka platform online warna hijau. Apalagi beli koin emas, aku harus menabung lebih dulu.

 

“Enak saja, minta sendiri sama orangnya!” Ilham memasukkan uangnya ke dalam saku celana kemudian pergi.

 

“Eh, awas kamu, ya! Ntar nggak aku masakin.”

 

“Masih ada ayam dan ikan bakar dari Mas Arfan, Kak. Mubazir kalau kakak masak lagi, kita habisin aja yang ada,” ucap Faiha sambil membereskan kertas minyak bungkus nasi.

 

“Tunggu dulu, Mas Arfan?”

 

“Iya, dia kan calon kakak iparku,” jawab Faiha polos.

 

Pak Arfan pasti sudah menyogok mereka. Apa sih maunya? Ini tidak bisa dibiarkan. Dia bisa mengotori pikiran adik-adikku.

 

“Memangnya Pak Arfan ngapain bagi-bagi duit? Dia mau nyaingin Mr. Money?” Aku berdecak sebal.

 

Dosen itu gajinya sedikit, ojol apalagi. Dia pasti memiliki sampingan lain, tetapi apa? Jangan-jangan dia mau menjadikan keluargaku sebagai tumbal pesugihan. Dan dia menyebut dirinya calon kakak ipar? Oh tidak. Dia pasti membutuhkan darah perawanku untuk dikorbankan.

 

“Udah kakak nggak usah suuzon, aku tahu isi pikiranmu,” ucap Faiha membawa piring yang masih bersih ke belakang karena tidak jadi digunakan.

 

Kami terlalu sering menonton film horor, sepertinya aku terbawa perasaan.

 

Aku juga membantu Faiha membereskan sisa makanan dan yang lainnya, tidak lupa kucolokkan mejikom di dapur supaya nasinya matang. Setelah memastikan tombolnya sudah kutekan menjadi cook, aku kembali ke kamar.

 

Ayah pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang sudah habis. Biasanya aku berangkat kerja diantar ayah, barulah dia ke pasar. Jarak rumah ke pasar tidak terlalu jauh. Ayah lebih suka berbelanja setiap hari, sambil melihat keramaian katanya.

 

“Kak, Fai mau main layangan dulu, ya!”

 

“Iya, jangan lupa tutup pintunya!”

 

Faiha sama sepertiku. Mungkin karena hanya aku wanita yang dilihatnya sejak kecil. Sehingga cewek tomboi sepertiku yang dia idolakan. Dia suka bermain layangan di lapangan bersama anak laki-laki. Namun, dia tidak pernah melalaikan kewajibannya. Setiap waktu Zuhur, dia akan pulang untuk mengaji.

 

Aku juga ingin menjadi wanita salihah, perhiasan dunia ini. Namun, sepertinya aku tidak pantas. Mimpiku terlalu tinggi.

 

Hari ini aku sudah izin libur kerja, sebaiknya istirahat saja. Aku membuang napas lelah, merebahkan raga ini di kasur yang sedikit apek. Aku sudah lama tidak menjemurnya.

 

Kamar ini menjadi tempat paling nyaman untukku. Aku bisa betah seharian tinggal di kamar jika dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ada sebuah bingkai foto keluarga terpampang jelas di dinding. Terlihat Ayah, Ibu, Ilham dan aku tersenyum bahagia. Belum ada Faiha saat itu, bersyukur dia tidak pernah mempertanyakannya.

 

Aku mengecek ponsel, tidak ada pesan atau panggilan sama sekali. Sepertinya aku memang harus tidur, mumpung tidak ada yang mengganggu. Kuletakkan ponsel di meja, tetapi tidak lama kemudian ada sebuah notifikasi dari aplikasi hijau. Nomor tidak dikenal, siapa, ya?

 

[Nanti siang aku akan datang melamarmu ????]

 

Astaga, pesan dari siapa itu? Aku kaget hingga melempar ponsel ke kasur, tidak ke lantai karena takut pecah. Ini pasti kerjaan Ilham. Hanya dia yang selalu gonta ganti nomor wa karena suka membeli nomor baru. Katanya lebih murah daripada paket data. Awas saja kalau dia pulang, aku akan memberikannya pelajaran.

 

***

Siang ini cuaca panas sekali. Namun sayang, aku tidak mencuci baju. Pasti cucian bisa langsung kering jika terik begini. Aku bangun dan melempar  selimut asal. Tubuhku mengeluarkan keringat yang sangat menyengat. Tentu saja karena aku belum mandi. Badanku sudah mendingan, tetapi masih sedikit meriang.

 

Kugerak-gerakkan kakiku pelan, rasanya sudah lebih baik. Aku ingin segera sembuh, bisa menjadi alay seperti Faiha.

 

“Kakak, bangun!” Faiha menggedor-gedor pintu kamar. Padahal tidak dikunci, kebiasannya kalau panik, dia jadi lupa segalanya.

 

“Ada apa?”

 

“Ada yang kangen sama kakak, dia dah nunggu di depan, tuh.” Mata Faiha terlihat berbinar mengatakannya.

 

“Siapa?”

 

“Udah, temuin aja. Dia lagi ngobrol sama ayah.”

 

“Laki apa perempuan?”

 

“Cowok, buruan kakak keluar, ntar dia pergi, loh!”

 

“Kakak pakai celana dulu.” Pasalnya aku selalu memakai celana pendek ketika tidur. Tidak etis bukan jika aku menemui lelaki dan memperlihatkan paha? Bahkan di depan Ilham dan ayah sekalipun.

 

“Kakak keluar pakai begitu aja, biar dia terpesona. Yakin, deh, kakak bakal langsung dinikahin.”

 

“Astaghfirullah, Faiha!” aku menjitak dahinya. “Kamu nggak sayang sama kakak? Sampai-sampai kamu ingin kakak segera menikah?”

 

Faiha menggaruk-garuk kepalanya. “Bercanda, Kak. Daripada kakak sama yang tadi pagi, mending sama yang ini.”

 

“Siapa lagi, Fai? Kamu jangan mengada-ngada, deh.”

 

Belum juga menjawab pertanyaanku, Faiha berlari kegirangan. Dasar bocah! Aku segera memakai celana panjang dan menuju ruang tamu.

 

“Nah, ini dia Syifa. Duduk sini, Nak!” aku memutar bola mata malas melihat siapa yang datang.

 

Aku duduk di dekat ayah. Sungkan sekali rasanya. Apalagi dia sudah membelikan nasi untuk kami tadi pagi.

 

“Ayah tinggal dulu, ya, Fa. Ayah mau bikin bubur dulu.”

 

“Jangan tinggalin aku berduaan sama dia, Yah! Bukankah ayah sendiri yang bilang, tidak baik berduaan dengan lawan jenis dalam satu ruangan?” Aku takut melihat Pak Arfan yang sedari tadi tersenyum. Jujur aku takut khilaf.

 

“Hm, ayah panggilin Faiha, ya?”

 

“Tidak perlu, Pak. Saya tidak akan apa-apain Syifa. Kalau saya mau, saya bisa bawa dia kabur ke hotel sekarang juga.”

 

Astaga, pikiranku sudah traveling membayangkannya. Oh tidak. Ini nyata, tidak akan ada cerita dosen menganiaya mahasiswa kemudian membunuhnya di hotel.

 

“Memang kamu berani sama saya?” tanya ayah dengan berkacak pinggang, akhirnya dibelain juga anaknya ini.

 

“Kenapa nggak berani? Saya hanya takut sama Allah,” jawab Pak Arfan santai.

 

“Ya sudah, sana bawa Syifa!”

 

What? Ayah sehat, ‘kan? Kenapa ayah membiarkanku dibawa sembarang lelaki? Ayah jahat!”

 

Aku benar-benar merasa terbuang. Sakit sekali mengetahui fakta jika ayah tidak menginginkanku menjadi anaknya lagi. Dia bahkan membiarkanku dibawa babang ojol, si dosen mesum.

 

“Beneran, saya boleh bawa Syifa?” tanya Pak Arfan sekali lagi.

 

“Boleh, tetapi kamu harus menikahinya lebih dahulu.”

 

BERSAMBUNG ....

Pizza

1 0

Aku benar-benar merasa terbuang. Sakit sekali mengetahui fakta jika ayah tidak menginginkanku menjadi anaknya lagi. Dia bahkan membiarkanku dibawa babang ojol, si dosen mesum.

 

“Beneran, saya boleh bawa Syifa?” tanya Pak Arfan girang.

 

“Boleh, tetapi kamu harus menikahinya terlebih dahulu. Enak saja main bawa anak orang. Menikah itu harus dipertimbangkan matang-matang, minimal istikhoroh. Sudah berapa lama kamu kenal anak saya?” tanya Ayah.

 

Terkadang aku sangat bosan jika ayah sudah mengeluarkan tausiyahnya, tetapi kali ini aku merasa speechless.

 

“Baru kemarin pagi,” ucapnya sambil tersenyum.

 

Kemarin adalah kali pertama aku bertemu dengannya. Si babang ojol yang sudah membantuku, dan ternyata dia adalah dosen. Diciptakan dari apakah manusia di depanku ini? Kenapa dia selalu tersenyum manis, aku takut diabetes.

 

“Baru kenal sehari?” Ayah nampak berpikir.

 

“Ya sudah, ayah tinggal dulu. Lanjutkan pedekate–nya. Nanti ayah panggilkan Faiha biar datang ke sini.”

 

Aku menepuk jidatku, kukira ayah akan menyuruhnya pergi.

 

“Jangan Faiha, Yah!”

 

“Memangnya kenapa? Kamu mau kita hanya berdua saja?” tanya Pak Arfan sambil mengerlingkan mata.

 

“Ilham saja, Yah. Biar jadi obat nyamuk.”

 

Setelah kepergian ayah, tidak lama kemudian Ilham datang. Dia membawa ponsel dan main game kesukaannya. Apalagi kalau bukan mobile legend.

 

“Hai, calon kakak ipar,” ucapnya sambil tos dengan Pak Arfan.

 

Mereka baru kenal tadi malam dan sudah seakrab itu. Begitu juga dengan ayah. Sepertinya ada sebuah konspirasi di sini.

 

“Hai, Ilham. Ini ada pizza buat kamu sama Faiha.” Pak Arfan menyerahkan sekotak pizza yang kuyakin harganya mahal.

 

“Wah, makasih, Mas. Benar-benar calon kakak ipar yang baik.” Ilham menerima sekotak pizza kemudian membawanya ke belakang. Dasar Ilham, makanan melulu yang ada di otaknya.

 

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pundakku. Pak Arfan sudah duduk di sebelahku. Ya Allah, aku baru sadar, dia telah membuat semua orang pergi dari sini. Kini tinggal kami berdua.

 

Dengan segera kulepaskan tangannya dari pundak. Aku menggeser tubuh menjauh darinya. “Maaf, Pak. Kita tidak boleh terlalu dekat.”

 

“Tidak apa-apa. Tidak akan ada yang tahu. Mereka sedang asyik memakan pizza.” Dia bukannya menjauh, tetapi malah semakin mendekat.

 

Ya Allah, selamatkan aku.

 

“Pak, kumohon jangan lakukan ini pada saya, saya tidak akan mengganggu Bapak lagi.”

 

Dia semakin mendekat dan tersenyum menyeringai. Dia menatapku seperti binatang buas yang sudah kelaparan. Aku berteriak memanggil ayah dan kedua adikku, tetapi sepertinya mereka tidak mendengar. Jangan-jangan dia memberikan racun pada pizza tersebut.

 

Aku harus segera kabur, tetapi bagaimana caranya? Kakiku saja masih pincang.

 

“Kamu cantik, Syifa.” Dia memegang daguku.

 

“Jangan sentuh saya, Pak.” Aku semakin mundur hingga sampai di ujung kursi. Aku tidak bisa mundur lagi.

 

“Kamu tidak bisa lari dariku, Syifa.”

 

Jantungku berdebar hebat, dia sudah semakin dekat. Dia memeluk tubuhku dengan erat, aku benar-benar tidak bisa melawannya. Dia terlalu kuat.

 

“Lepaskan saya, Pak!”

 

Kuinjak kakinya, tetapi dia bergeming. Kupukul dadanya dengan kuat, tetapi dia semakin memelukku erat. Aku hampir tidak bisa bernapas. Kugigit lengannya hingga mulutku terasa asin. Anyir, ketika sebuah cairan menembus lengannya. Dia mengaduh kesakitan dan melepaskanku. Dengan sekuat tenaga aku berdiri dan melarikan diri. Namun, nahas kakiku menatap kaki meja. Aku terjatuh di lantai.

 

“Ampun, Pak. Tolong jangan apa-apain saya!”

 

“Kak, bangun! Udah siang, nih.” Ilham dan Faiha bergantian mengguncang-guncangkan tubuhku.

 

Aku tersadar dari tidur. Ternyata semuanya hanya mimpi. Aku bernapas lega. Tubuhku lemas, keringat dingin bercucuran, padahal sedari tadi aku menghidupkan kipas doraemon.

 

“Astaghfirullah, Kakak mimpi buruk, Fai.” Aku memeluk Faiha erat. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka benar-benar diracuni Pak Arfan.

 

Mereka adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki. Aku sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini.

 

“Kakak kenapa, sih? Kebanyakan nonton film india, nih, kayaknya,” ucap Faiha.

 

Aku memang tomboi, tetapi hanya penampilan saja. Masalah hati sungguh sangat berbeda. Aku tetaplah seorang wanita yang lemah lembut, melihat kisah Anjeli dan Rahul saja aku menangis.

 

Aku melirik Ilham yang sedari tadi diam sambil mengunyah makanan. “Kamu makan apa, Ham?”

 

“Pizza,” jawabnya dengan terus mengunyah.

 

Pizza? Aku masih ingat dengan sebuah kejadian yang baru saja aku alami. Kuambil pizza yang dimakan Ilham kemudian membuangnya keluar jendela.

 

“Eeeh! Kakak apaan, sih? Itu pizza mahal, kakak nggak mampu beli itu buat kita.” Ilham merajuk.

 

Ya Allah, kenapa sakit sekali mendengar pernyataan Ilham? Aku memang tidak akan mampu membelikan pizza semahal itu. Aku hanya mampu membelikan mereka pizza mahal seharga 20.000. Itupun harus COD di ujung jalan utama. Udah gitu, bantet pula. Aku merasa gagal menjadi seorang kakak.

 

“Maafin kakak, ya. Kakak berjanji bulan depan habis gajian akan belikan pizza mahal buat kalian. Tapi jangan makan pizza yang tadi.”

 

“Memangnya kenapa, Kak?” tanya Faiha penasaran.

 

“Pizza yang itu ada racunnya.” Aku berusaha meyakinkan kedua adikku.

 

“Kakak ngacau, deh! Aku mau ambil lagi. Masih ada 5 kotak.” Ilham pergi keluar kamar.

 

“Keluar, yuk, Kak. Ada Mas Arfan. Dia datang bawa banyak makanan. Bawa mobil bagus banget.”

 

Aku mengerutkan kening. Pak Arfan bawa banyak makanan dan mobil? Heh, ternyata dia sales. Paling lagi keliling mau setor makanan. Aku jadi penasaran, kali ini dia memakai seragam seperti apa.

 

Aku berdiri dari tempat tidur, dan berjalan pelan. Namun, sepertinya ada yang berbeda. “Fai, kaki kakak sudah nggak sakit. Lihat, deh. Kakak sudah bisa berjalan dengan normal.”

 

Aku berjalan kesana-kemari dengan perasaan bahagia karena sudah bisa berjalan dengan normal.

 

“Ya sudah, kakak buruan keluar, gih! Calon kakak ipar sudah menunggu.”

 

“Kalian kok yakin banget dia bakal jadi kakak ipar? Kesimpulan dari mana?”

 

“Wajah kalian mirip, kayak kakak adik,” jawab Faiha.

 

Benarkah yang dikatakan Faiha? Aku segera bercermin di kaca almari. Tidak ada mirip-miripnya. Dia terlalu tampan, sedangkan aku biasa saja.

 

“Ih, ngaca. Kakak baper, ya. Padahal aku cuma bercanda.” Faiha terkekeh geli. Ya Allah, gini amat punya adik masih SMP. Benar-benar menyebalkan.

 

Rasanya aku ingin menenggelamkan wajahku ke dalam baskom supaya adem. Kepalaku sudah keluar tanduknya. Terlihat dari cermin di depanku.

 

“Faiha ...!” Aku mengambil bantal kemudian melempar ke arah Faiha.

 

“Kabur!” dia berlari meninggalkanku sendiri.

 

Aku pun tidak mau kalah, aku mengejarnya hingga sampai di ruang tamu. Kulempar bantal ke punggung Faiha, dia bersembunyi di samping ayah yang duduk di kursi.

 

“Kalian ngapain, sih? Kejar-kejaran kayak anak TK. Masa kecil kurang bahagia?” tanya ayah.

 

“Dia ngerjain Syifa, Yah. Usil banget!” Aku melipat kedua tangan di dada.

 

“Kamu juga, tumben pake baju begitu di luar kamar. Bikin malu ayah!”

 

“Bikin malu? Yang penting nggak malu-maluin!”

 

“Ehem.” Terdengar suara lelaki yang suaranya tidak asing bagiku. Aku menoleh ke belakang. Astaga!

 

Aku segera berlari ke kamar dan mengunci pintu. Aku sangat malu melihat penampilanku. Kaos tanpa lengan dan celana pendek di atas lutut. Rambutku berantakan seperti iklan shampo di televisi. Tidak bisa disiair jari.

 

Tidak lama pintu diketuk, “Kak, cepetan keluar! Mas Arfan sudah mau pulang.”

 

Keluar nggak ya?

Jodoh?

1 0

Aku sudah terlampau malu. Aku tidak mungkin menunjukkan mukaku ke hadapannya. Lebih baik aku sembunyi di kamar hingga dia pergi.

 

Setelah beberapa saat kudengar suara motor pergi menjauh. Sepertinya dia sudah pulang. Aku bernapas lega. Kubuka pintu kamar dan keluar, benar ternyata dia sudah tidak ada.

 

Malam harinya aku sudah bisa membantu ayah berjualan bubur seperti biasanya. Malam ini nampak sepi, sudah hampir jam sembilan, tetapi bubur masih sisa setengah kuali.

 

“Pak, bungkus buburnya lima!” Seorang lelaki paruh baya turun dari mobil bersama istrinya.

 

Ayah tersenyum semringah, “Iya, Pak. Silakan duduk dulu. Tunggu sebentar.”

 

Aku segera membantu ayah menyiapkan bubur dan memasukkannya ke dalam plastik. Akhirnya ada juga pembeli di detik-detik terakhir. Aku sudah mengantuk, Ilham dan Faiha sudah kuminta istirahat karena esok mereka berangkat sekolah.

 

“Semuanya lima belas ribu, Pak.” Ayah menyerahkan buburnya kepada pembeli tersebut.

 

“Menerima pesanan atau tidak, Pak? Saya mau ada acara hajatan di rumah besok lusa.”

 

“Bisa, Pak. Mau berapa porsi? Nanti saya siapkan.”

 

Alhamdulillah ya Allah, akhirnya ada yang memesan bubur ayah lagi. Sudah lama kami tidak mendapatkan pesanan. Paling acara yasin dan tahlil rutin tetangga-tetangga. Itupun hanya orang tertentu.

 

“Saya pesan 200 porsi, ini saya kasih DP 300 ribu dulu, Pak. Kurangannya sekalian pas bubur diantar, ya, Pak.”

 

Pembeli tersebut mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan. Ayah menerimanya dengan mata berbinar, “Terima kasih, Pak.”

 

“Ah iya, dan ini alamatnya.” Pria paruh baya tersebut memberikan secarik kertas bertuliskan alamat rumah. Karena penasaran, aku segera melihatnya.

 

Ternyata alamat ini adalah perumahan elit di dekat kampusku. Nindi pernah bilang jika ada salah satu dosen yang tinggal di sana. Namun, aku sama sekali belum pernah ke tempat itu. Tidak ada alasan untuk pergi ke sana.

 

Mobil sedan putih perlahan menghilang dari jalanan. Ayah kembali duduk dan menopang dagu di atas meja.

 

“Fa, kamu buruan nikah, deh. Biar kamu ada yang bayarin kuliah. Dagangan ayah sekarang mulai sepi. Sedangkan adik-adikmu masih sekolah.”

 

“Yah, aku ‘kan dapat beasiswa. Aku juga bekerja, aku akan bantu ayah nyekolahin Ilham sama Faiha sampai mereka lulus.”

 

Aku tidak mungkin membiarkan ayah berjuang sendirian. Selama ini aku kerja keras untuk membantunya, meskipun gajiku tidak banyak, tetapi cukup untuk memberikan sedikit uang jajan kepada kedua adikku.

 

“Sebenarnya Ayah terlalu baper ketika kamu mengajak laki-laki datang ke rumah. Ayah kira dia pacar kamu.”

 

Ayah menatapku sejenak, “Apalagi kelihatannya dia pria dewasa.”

 

Aku beristighfar mendengar penuturan ayah.

 

“Dia itu dosenku, Yah. Mana mungkin dia menikahi mahasiswanya yang barbar sepertiku. Dan rentang usia kami terlampau jauh.”

 

“Nggak ada yang tahu tentang jodoh, Fa. Kamu tahu? Nabi menikahi Aisya ketika masih berusia 9 tahun.”

 

Nindi bilang usia Pak Arfan 26 tahun, berarti ketika dia kelas 1 SD, aku baru dilahirkan. Baru lahir udah punya pacar. Tanpa sadar aku tersenyum membayangkannya.

 

“Dia lebih tua 7 tahun dariku, Yah.”

 

“Nah, bagus itu usia segitu. Sudah sepantasnya dia menikah. Dulu ayah nikah usia 25 tahun, satu tahun kemudian kamu lahir.”

 

“Tapi usiaku baru 19 tahun, Yah. Aku belum mau punya anak. Aku mau lulus kuliah dulu. Nanti siapa yang mengurus anak jika aku kuliah?”

 

Ayah nampak berpikir, “Kalian bisa bawa anak ke kampus. Bukankah dia dosen?”

 

Aku tidak habis pikir. Bagaimana ayah bisa berpikir seperti itu. Memangnya kampus milik mbahku? Bisa berbuat seenak jidat.

 

***

Hari yang dinantikan akhirnya tiba, ayah menyewa angkutan untuk mengantarkan bubur ke perumahan elit. Aku membolak-balik kertas yang bertuliskan nama dan alamat tersebut. Aku tidak asing dengan nama ini. Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana?

 

“Ini ke arah mana tujuannya, Pak?” tanya supir angkutan.

 

Aku memberikan kartu nama kepada supir angkutan.

 

“Oh, perumahan elit dekat kampus itu, ya? Saya pernah ke sana nganterin ibu-ibu yang sedang melahirkan,” ucap Pak supir.

 

Bisa-bisanya di perumahan elit seperti itu ada yang naik angkutan umum.

 

“Iya, Pak. Saya juga kuliah di kampus itu, tetapi tidak tahu jika di sana ada perumahan elit.”

 

Tujuanku kuliah yaitu menambah ilmu pengetahuan dan bisa menjadi sarjana. Aku ingin mengangkat derajat kedua orang tuaku. Meskipun kami bukan orang kaya, ayah bisa menyekolahkan anaknya dan tentunya ingin menjadi orang yang sukses.

 

Setibanya di pos satpam, aku turun dari mobil dan bertanya pada salah seorang penjaga pos. Mereka menjalankan tugas dengan baik, yang satu tidur dan yang satunya main game.

 

“Tahu alamat ini, Pak?” aku menunjukkan kartu nama yang sedari tadi kupegang.

 

“Oh, ini rumahnya Pak Shaka. Mbaknya lurus aja ke depan. Habis perempatan jangan ngiri. Nganan aja, lurus kira-kira 300 meter. Setelah itu baru belok kiri. Cat rumahnya warna hijau bolu pandan.” Penjaga pos itu menjawab dengan ramah.

 

“Makasih, Mas.” Aku hendak masuk ke angkutan lagi, tetapi lelaki itu memanggilku.

 

“Tunggu, Mbak!”

 

Aku menoleh ke belakang, “Ya, ada apa, Mas?”

 

“Mbak dari panti asuhan mana? Acaranya sudah mau dimulai. Pasti mau minta sumbangan.”

 

Panti asuhan? Apa maksudnya? Lelaki itu menatapku dari ujung kepala hingga kaki. Sepertinya tidak ada yang salah dengan penampilanku. Masa iya cantik-cantik begini dikira dari panti asuhan.

 

“Saya mau nganterin pesanan, Mas. Saya bukan dari panti asuhan.” Dasar sinting!

 

Lelaki itu tertawa terbahak-bahak hingga membangunkan temannya. Dengan kesal aku kembali ke mobil. Kami melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Shaka sesuai arahan lelaki itu.

 

Setibanya di rumah mewah dengan cat warna hijau bolu pandan, kami disambut oleh dua lelaki memakai baju satpam.

 

 “Ada yang bisa kami bantu, Pak?” tanyanya pada ayah.

 

“Saya mau mengantarkan pesanan Pak Shaka.”

 

“Bubur kacang ijo, ya, Pak?”

 

“Iya, Pak.”

 

“Mari kami bantu.” Mereka membantu ayah menurunkan 5 kuali bubur. Pas ada lima orang, aku, ayah, pak supir, dan kedua satpam. Kami membawa bubur bersama-sama ke dalam rumah.

Aku begitu takjub melihat pemandangan di depan bangunan ini. Tiga buah bis besar terparkir dengan nama yayasan sosial yang berbeda. Pantas saja aku dikira dari panti sosial. Aku penasaran, sebenarnya ada acara apa di dalam?

 

Beberapa mobil terparkir dengan rapi, tetapi tidak kulihat mobil yang dipakai Pak Shaka waktu itu. Kami masuk lewat pintu samping. Pintu depan sudah penuh dengan anak-anak kecil berpakaian putih.

 

“Memangnya ada acara apa sih, Pak?” aku bertanya kepada satpam yang membantu membawa bubur.

 

“Sampean tanya sama saya, Mbak?”

 

“Iya, lah, Pak. Masak pada rumput yang bergoyang.”

 

Dia malah tertawa terkekeh. “Santunan yatim piatu, Mbak. Setiap tanggal 10 Muharram, Pak Shaka dan keluarga memberikan santunan kepada anak yatim dan piatu.”

 

Oh, santunan anak yatim ternyata. Seharusnya aku mengajak Ilham dan Faiha. Lumayan kalau dapat, bisa buat nambah uang jajan.

 

“Syifa, ayo cepat. Jangan ngobrol terus!” Ayah sudah sampai di depan pintu.

 

Kami segera menyusul ayah, aku sudah tertinggal jauh hingga ayah masuk ke rumah. Beberapa sepeda motor bahkan terparkir tapi sampai ke halaman belakang. Banyak sekali tamu undangannya. Namun, ada sebuah motor yang tidak asing bagiku. Milik babang ojol.

 

“Ini motornya Pak Arfan ‘kan?”

 

“Iya, itu motornya Mas Arfan,” jawab lelaki berseragam satpam di sampingku.

 

“Mas Arfan?” Aku memicingkan mata.

 

“Iya, Mbak. Dia itu—“

 

“Syifa, kamu kelamaan. Sini biar ayah yang bawa!” Ayah merebut bubur yang kubawa.

 

Aku terdiam sejenak, kenapa babang ojol di sini? Dia anak yatim kah? Pasti dia mau minta santunan. Dasar kere!

 

“Tunggu, Yah.” Aku segera menyusul ayah. Pak Satpam bilang kami tidak perlu menunggu. Sudah ada pelayan yang akan mengurus bubur kami. Bahkan uang kekurangannya sudah disiapkan. Kami bisa langsung pulang tanpa menunggu Pak Shaka. Beliau pasti sangat sibuk.

 

Saat memasuki ruangan, suasana terasa sunyi. Mereka memakai baju putih semua, aku terlihat sangat mencolok karena memakai kaos warna ungu, tanpa jilbab pula. Ayah sudah menggandeng tanganku dan akan segera pulang. Aku merasa ini bukan tempat yang pantas untukku. Namun, langkahku terhenti kala mendengar lantunan ayat suci dari seseorang yang tidak asing lagi.

 

“Bukankah itu suara Nak Arfan?” tanya ayah.

Mantu Idaman

1 0

Langkahku terhenti kala mendengar lantunan ayat suci dari seseorang yang tidak asing lagi.

 

“Bukankah itu suara Nak Arfan?” tanya ayah. Bahkan ayahku sudah hafal suara calon menantunya. Ups, aku keceplosan. Untung ayah tidak mendengar.

 

“Benar, Pak. Itu suara Mas Arfan. Mari saya antar ke luar,” ujar Pak satpam.

 

“Ayo pulang, Yah! Ini bukan tempat yang layak untuk kita.” Aku menggandeng tangan ayah. Secara tidak langsung, kedua satpam itu mengusir kami.

 

“Tunggu sebentar, ayah mau lihat calon mantu dulu.”

 

Sekarang malah ayah yang kepo. Dia tidak jadi mau pulang. Ya Allah, semoga tidak ada yang mendengar ucapan ayah.

 

Kedua satpam itu saling pandang, “Nanti setelah lihat calon mantu mohon segera keluar, ya, Pak. Karena acara sedang berlangsung, kami yang bertanggung jawab jika terjadi kerusuhan.”

 

Aku paham dengan ucapan mereka. Sakit, tapi tidak berdarah. Supir angkutan tadi sudah keluar. Semoga dia masih mau menunggu kami. Uangnya saja masih kubawa. Dia tidak akan pulang tanpa uang, bisa-bisa istrinya minta cerai.

 

“Iya, Pak. Nanti saya akan segera keluar bersama ayah saya.”

 

Mereka tertawa kecil kemudian berjalan keluar. Samar terdengar perbincangan mereka di telingaku, “Mas Arfan gak mungkin kali punya calon istri model begitu.”

 

Mengapa aku rasanya ingin marah? Dadaku bergemuruh, rasanya aku ingin meledakkan kepalaku di ruagan ini.

 

“Fa, lihat ke sana, yuk!”

Ayah mengintip dari belakang orang yang mempersiapkan makanan. Aku mengikuti ayah dari belakang, bahaya jika kelepasan.

 

Mereka sepertinya orang yang diperkerjakan untuk konsumsi. Banyak sekali makanan di sini. Ada bakso, soto kudus, sate ayam, sate kambing dan masih banyak lagi. Rasanya aku ingin membungkusnya untuk Ilham dan Faiha. Lumayan tidak perlu capek-capek masak.

 

Dari sini terlihat jelas ratusan anak kecil sedang duduk di tikar menyimak lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Di belakang mereka nampak beberapa orang dewasa memakai baju putih senada. Sepertinya mereka adalah orang tua asuh.

 

Di depan mereka terlihat jelas lelaki yang beberapa hari ini membuatku jantungan. Dia memakai koko, peci, dan sarung. Dia seperti malaikat tanpa sayap yang sudah siap menjemput nyawaku. Jantungku selalu berdebar hebat kala mendengar suaranya. Apalagi melihat orangnya langsung, semoga dia tidak melihatku. Aku bisa pingsan di tempat.

 

“Fa, lihat ke sana, itu beneran Nak Arfan.”

 

Aku melihat ke arah yang ditunjukkan ayah. Tanpa ayah ketahui jika aku yang melihat Pak Arfan lebih dahulu. Kami melihatnya dari kejauhan, tetapi ayah ingin mendekat.

 

“Fa!”

 

“Hmmm.”

 

“Syifa, kamu mau ya nikah sama Nak Arfan?”

 

Heh? Ayah kenapa makin menjadi-jadi, sih? Aku tidak mau menjawab pertanyaan konyol dari ayah. Pak Arfan saja tidak pernah pernah melamarku. Apa ayah terlalu baper karena sering dibawakan makanan?

 

Kami berada di depan meja prasmanan. Aku pura-pura membantu menata sate ayam. Di setiap piring kuletakkan lima tusuk sate.

 

“Fa, sekali ini saja kamu dengerin ayah. Ayah nggak minta menantu yang kaya, cukup anak yang salih. Masalah pekerjaan, bukankah dia sudah bekerja menjadi dosen dan—“

 

“Dan apa?” Aku masih memegang toples dan menyiramkan bumbu kacang di atas sate.

 

“Dan ojol,” ucap ayah dengan terkikik geli.

 

“Ayah kenapa ngebet banget sama Pak Arfan, sih?”

 

“Dia itu baik, sopan, rajin ngaji dan salih. Ngajinya juga fasih banget, ayah aja kesemsem. Masa kamu enggak, Fa?”

 

Aku menggeleng, menepis semua fakta yang diungkapkan ayah.

 

“Ayah kepingin punya menantu yang salih, supaya bisa mendoakan ayah dan ibumu, Nak.”

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW. bersabda: "Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih yang berdoa baginya." HR. Muslim.

 

“Kami bertiga sudah cukup salih dan salihah, Yah. Ayah masih muda, belum saatnya mati. Nggak usah berpikir yang aneh-aneh, deh.”

 

“Dia juga ganteng, Fa. Lumayan, loh.”

 

Aku memicingkan mata. Wajah ganteng tidak menjamin keutuhan dalam rumah tangga. Justru banyak cobaannya. Apalagi Pak Arfan yang digandrungi banyak wanita.

 

“Jadi, ayah itu sebenarnya kepingin punya menantu yang bagaimana? Kaya, salih atau ganteng?”

 

“Kalau bisa sih, yang perfect. Salih dan ganteng sebenarnya sudah cukup, masalah uang bisa dicari. Rizki sudah disiapkan oleh Allah. Tinggal bagaimana cara kita menjemputnya.

 

Kamu tahu, kemarin pas kamu sakit, Nak Arfan yang bantuin Ayah jualan. Bubur terjual habis karena dia yang di depan. Banyak cewek yang datang membeli bubur sampai tidak kebagian.”

 

“Apa?” Bisa-bisanya dia keganjenan, caper sama pembeli. Rasanya tandukku sudah mulai keluar.

 

Aku menggebrak meja hingga semua orang menoleh. Wanita yang menata sate di sampingku sampai kaget hingga menjatuhkan piring.

 

Prang! Semua mata tertuju padaku. Suasana menjadi riuh, saling pandang dan berbisik. Pak Arfan menghentikan bacaannya dan meletakkan kitab suci di meja kemudian berdiri.

 

Ups, aku menutup mulut seketika. Ingin rasanya aku bersembunyi. Aku segera berjongkok di bawah meja. Namun nahas, mejanya terlalu pendek hingga kepalaku terbentur meja. Aku memegangi kepalaku yang sudah pasti benjol.

 

Ingin rasanya aku menghilang seperti jin. Cling, langsung pindah tempat. Atau lewat pintu ajaib Doraemon.

 

“Syifa?” Pak Arfan tiba-tiba sudah ada di depanku. Dia berjongkok hingga membuatku kaget.

 

Refleks aku berdiri, tanpa sadar jika sedang berada di bawah meja. Astaga, rasanya kepalaku sakit sekali. Benjolan di kepalaku pasti sudah sebesar onde-onde. Mataku berkunang-kunang. Aku ingin pingsan.

 

“Syifa!” Ayah menghampiriku. “Jangan pingsan di sini, ayah tidak kuat menggendongmu.”

 

Ya Ampun, gini amat ayahku.

 

Pak Arfan tertawa kecil, “Biar saya bantu.”

 

Dia mengulurkan tangannya. Aku berdiri dibantu ayah dan Pak Arfan.

 

“Makasih, Nak Arfan. Maaf sudah mengganggu acaranya. Kami mau permisi dulu.”

 

Ayah pasti sangat malu karena kelakuan anaknya. Aku sudah tidak punya muka lagi, menjadi pusat perhatian di tempat seperti ini.

 

“Mau saya antar, Pak?” tanya Pak Arfan.

 

“Tidak perlu, Nak. Kami sudah menyewa angkutan,” tolak ayah.

 

Pak Arfan mengambil sebuah kain putih yang ada di pundaknya. Dia membuka kain itu hingga terlihat seperti kerudung. Dia pakaikan di kepalaku hingga menutup sebagian tubuhku. Uwuw! Serasa nonton film wanita berkerudung sorban.

 

“Kamu lebih cantik jika memakai jilbab.”

 

Benarkah? Kenapa aku jadi grogi begini? Aku menatap matanya sejenak, tetapi dia berpaling. Jantungku mulai kambuh. Aku harus segera pergi dari sini sebelum pingsan beneran.

 

“Bapak ustaz, ya?” Sedari tadi aku sangat penasaran. Sebenarnya siapa dia?

 

“Ustaz?” Dia malah tertawa hingga tubuhnya terguncang-guncang. Semua pelayan di sini juga ikut tertawa.

 

Pak Arfan melirik ke arah pelayan, mereka semua terdiam tanpa kata. Mereka melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Acara santunan juga dilanjutkan setelah Pak Arfan menjentikkan jari. Aku dan ayah bingung melihat semua keanehan ini.

 

“Bukan, mana ada ustaz pandai merayu.”

 

Dasar sengklek! Dia bilang aku cantik, dan sekarang dia bilang hanya merayu? Sumpah, rasanya aku ingin membungkus mukaku dengan sorban. Aku benar-benar sangat malu. Mukaku pasti sudah semerah cabai keriting.

Benda Keramat

1 0

 

Benar juga, mana ada ustaz pandai merayu? Heh, dia pasti ustaz gadungan. Penampilannya saja yang menipu, nyatanya dia dosen mesum dan pandai merayu.

 

“Tunggu dulu!”

 

Aku menoleh ke belakang, Pak Arfan meminta pelayan membungkus makanan.

 

“Tolong bawa ini, Pak. Cacing di perut Syifa sudah berdemo,” ucapnya sambil melirik ke arah perutku.

 

Peka sekali telinganya, bahkan dia bisa mendengar suara cacing di perut. Aku memang belum sarapan ketika datang ke sini. Dia tersenyum ke arahku, jangan-jangan dia tahu isi hatiku. Aku menyilangkan kedua tangan di dada.

 

“Makasih, Nak Arfan.” Kami segera keluar sebelum dia membuka semua aibku.

 

Aku dan ayah sudah sampai di luar, tetapi mobil angkutan umum yang tadi kami sewa sudah tiada.

 

“Ayah coba cari dulu, ya! Mungkin dia memarkirkan mobilnya di luar.”

 

Aku menghentak-hentakkan kaki kesal. Sepertinya supir angkutan itu tidak mau dibayar. Belum dikasih uang sudah kabur begitu saja. Dasar supir nggak ada akhlak!

 

“Fa, mobilnya sudah tidak ada. Gimana kita pulangnya?”

 

Aku tertunduk lemas. Cacing di perutku semakin memberontak. Tidak ada angkutan di sini. Aku harus berjalan sampai ke jalan utama untuk bisa mendapatkan angkutan.

 

“Ayah kuat jalan, nggak? Kita harus ke halte depan kampus kalau mau naik angkutan.”

 

“Ayah kuat, tetapi sepertinya kamu yang tidak kuat. Kamu kenapa, Nak? Syifa, bangun!”

 

“Pak, tolong! Tolongin anak saya!” Ayah berteriak meminta tolong.

 

Aku merasa pusing, kepalaku terasa berat. Aku tidak bisa mendengar suara ayah lagi.

 

***

Aku tersadar kala mendengar gemericik air dari arah pintu. Aku terperanjat karena tidur di tempat asing. Kamar siapa ini? Jangan-jangan ....

 

Tubuhku masih memakai baju, syukurlah aku aman. Masih teringat jelas aku tadinya akan pulang bersama ayah. Lalu di mana ayah? Apakah dia meninggalkanku sendiri di sini? Kejam sekali.

 

Tidak lama terdengar pintu dibuka. “Kamu sudah sadar, Fa? Alhamdulillah ayah lega.

 

Sudah waktu Zuhur, kamu tidak salat?”

 

Aku menggeleng. Tadi malam aku kedatangan tamu bulanan. Oh tidak, sepreinya putih, aku segera mengecek apakah tembus atau tidak. Aku segera berdiri dari tempat tidur, ada noda merah di sana.

 

“Yah, ini kamar siapa?”

 

“Kamar tamu, kita masih di rumah Pak Shaka. Tadi kamu pingsan, Nak Arfan yang bawa kamu ke sini.”

 

Ayah menggelar sajadah kemudian menunaikan salat. Aku tidak habis pikir. Mengapa Pak Arfan membawaku ke sini?

 

Aku melihat sekeliling, tidak ada tanda-tanda kamar ini dihuni, tetapi begitu bersih dan tertata rapi. Bagaimana jika pemilik rumah tahu spreinya ada noda darah? Aku segera menutupnya dengan bad cover.

 

Aman, sekarang aku harus mencari cara supaya bisa mendapatkan pembalut dan baju ganti.

 

Ayah sudah selesai dengan salatnya, dia merapikan kembali sajadah dan menyimpannya di almari. Kenapa ayah seperti sudah hafal dengan kamar ini?

 

“Ayah pernah ke sini?”

 

“Oh, tentu saja tidak. Ini pertama kalinya ayah ke sini.” Ayah terlihat gugup. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu. Pasti ada udang dibalik bakwan.

 

Aku memicingkan mata, menelisik setiap gerakan ayah. Dia terlihat salah tingkah kemudian segera mengambil piring yang ada di meja.

 

“Kamu makan aja dulu, habis ini kita pulang.”

 

“Ayah sudah makan?”

 

“Sudah, ayah makan di luar bareng-bareng sama Nak Arfan dan—“ Ayah menutup mulutnya. Dia terlihat semakin gugup.

 

“Dan siapa?” Sebentar lagi ayah pasti akan keceplosan. Dia bukan orang yang pandai menjaga rahasia.

 

“Dan pelayan-pelayan tadi. Iya, para wanita yang tadi bersama kita.” Ayah menggaruk-garuk kepalanya. Aku semakin yakin jika ada sesuatu yang tidak beres di sini.

 

Tidak lama terdengar suara pintu diketuk, “Mobilnya sudah siap, Pak.”

 

Pak Arfan kaget melihatku sudah memegang piring, sepertinya ada yang mereka sembunyikan dariku.

 

“Kamu dah bangun, Fa?”

 

“Sudah.”

 

“Ada yang perlu saya bantu?”

 

Aku mengambil uang dalam saku celana. Kemudian memberikannya pada Pak Arfan.

 

“Apa ini? Kamu mau nyogok saya?”

 

“Tolong belikan pembalut!” Wajah Pak Arfan berubah masam.

 

“Syifa, kamu nggak sopan sama dosenmu.” Aku mengabaikan ayah.

 

Sekali ini saja, aku ingin mengerjainya. Dia sudah tidak memakai baju koko. Dia mengganti pakaian dengan celana pendek dan kaos oblong. Dia terlihat berbeda. Tagan kekar yang dia gunakan untuk mengangkatku, terlihat sempurna.

 

Astaghfirullah, mengapa aku jadi membayangkan yang iya-iya?

 

“Ada lagi?”

 

“Em, aku malu mengatakannya.”

 

Haruskah kukatakan aku butuh celana dalam dan baju ganti? Oh itu tidak mungkin.

 

“Katakan saja!”

 

“Tidak perlu, Pak! Cukup itu saja.”

 

Dia menghilang dari balik pintu, aku melanjutkan makan siang yang tertunda. Ayah segera menghampiriku.

 

“Kamu kelewatan, Syifa! Ayah tidak pernah mengajarkanmu bertingkah seperti itu.”

 

Aku masih mengunyah nasi dan sate ayam yang lezat ini. Bumbunya lumer dan pas di lidah. Jarang-jarang makan makanan enak begini.

 

“Syifa, kamu denger ayah, ‘kan?”

 

“Denger, Yah.”

 

“Dia itu calon suami kamu, seharusnya kamu bersikap sopan.”

 

Calon suami, calon kakak ipar, bosen aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulut ayah dan adik-adikku.

 

“Baru calon, Yah. Biarin aja dia latihan beli pembalut buat calon istrinya.”

 

“Astaghfirullah,” ucap ayah sambil memegang dada.

 

“Memangnya ayah mau jika aku meminta ayah membelikannya?”

 

“Jelas dong!

.

.

.

.

Ayah nggak mau, lah!” Ayah menjitak kepalaku. Aku mengaduh kesakitan, tega sekali ayah melakukannya padaku.

 

Pintu dibuka dan dia sudah kembali. Mengapa cepat sekali? Bahkan belum ada sepuluh menit.

 

“Cepat sekali, Pak!”

 

“Sudah berapa kali saya bilang, jangan panggil Bapak.” Dia melemparkan sebungkus pembalut padaku.

 

“Dari mana Bapak mendapatkannya?”

 

“Gampang, cukup dengan menjentikkan jari saja, mereka langsung datang berdesak-desakan.”

 

“Heh? Siapa?” Aku melongo dibuatnya.

 

“Para gadis di dapur Pak Shaka.” Dia terkekeh.

 

Dengan kesal aku menuju kamar mandi.

 

“Tunggu!”

 

“Apa lagi?”

 

“Em, ada yang berdarah di—“ dia menunjuk ke arah pantatnya.

 

Ah sial, dia melihatnya. Aku berjalan mundur karena malu. Namun, dia malah mendekat. Ya Allah kuatkan jantung hamba. Dia tersenyum sangat manis.

 

Ternyata dia melewatiku. Dia menuju ke arah almari pakaian dan membukanya. Dia mengambil sebuah gamis set jilbab warna ungu dengan motif abstrak.

 

“Pakai ini!” Dia menyerahkan pakaian tersebut kepadaku, “Dan ini.”

 

Mataku membulat melihatnya. Bahkan ada benda keramat berbentuk segitiga di atas gamis itu. Milik siapa ini?

 

“Tenang aja, itu masih baru, belum pernah ada yang memakainya.”

 

What? Mengapa dia seolah-olah sudah mempersiapkan semua pakaian wanita ini? Siapa dia sebenarnya? Dan mengapa dia masih berada di rumah ini? Banyak sekali tanda tanya di kepalaku ini. Ayo bantuin aku menghitungnya!

 

“Ayah tunggu di luar, ya.” Ayah sudah bersiap keluar, tetapi aku melarangnya.

 

“Jangan, Yah! Aku takut.” Aku melirik ke arah Pak Arfan.

 

Dia tersenyum, “Tenang saja, saya juga akan keluar.”

 

Aku menutup pintu setelah mereka keluar. Ya Allah, cobaan apalagi ini? Kenapa aku harus memakai gamis lagi. Pakaian yang membuatku gerah. Menyebalkan!

 

Usai ganti baju, aku membungkus pakaian yang kukenakan tadi. Gamis ini berbeda, rasanya adem dan ringan. Aku yakin harganya pasti mahal. Aku melihat lewat pantulan cermin, ternyata aku memang terlihat lebih cantik jika memakai jilbab. Aku tersenyum mengingat perlakuannya tadi pagi. Dia so sweet banget.

 

Eh, aku tidak boleh terpengaruh oleh ucapannya.

Dosen Mesum

1 0

 

Aku keluar dengan perasaan bahagia. Kututup pintu dan betapa terkejutnya aku kala melihat pemandangan di depan pintu kamar. Aku seperti sedang mimpi. Mana mungkin tamu tidur di lantai atas? Aku melihat sekeliling, ada beberapa kamar yang tertutup rapat.

 

Nampak indah sebuah pemandangan di samping rumah. Aku mengintip dari jendela kaca yang besar. Ada taman bunga kecil dan gazebo. Tidak ada kolam renang, hanya ada kolam ikan.

 

Aku menoleh saat mendengar seseorang membuka pintu ruangan di sebelah kamar yang kutempati. Seorang wanita berjilbab menghampiriku. Dia cantik sekali, kulit putih, hidung mancung, dan giginya gingsul.

 

“Mbak Syifa, sudah ditunggu Mas Arfan di bawah.”

 

“Mas Arfan?” Mengapa semua orang memanggilnya ‘Mas’?

 

Wanita itu tersenyum kemudian memegang tanganku. Tangannya halus dan putih, tidak mungkin dia pembantu di rumah ini.

 

“Iya, kami semua yang ada di sini memanggilnya ‘Mas’ karena dia laki-laki. Kalau wanita pasti dipanggil Mbak.”

 

Mengapa aku lega mendengar jawabannya? Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang ada di dalam hatiku. Jantungku berdebar ketika di dekatnya, selalu gemas dan ingin marah-marah, tetapi aku juga tidak rela jika dia dekat dengan wanita lain. Ya Allah, perasaan apa ini? Aku takut jatuh cinta.

 

“Mbak ini siapa? Mengapa ada di rumah ini?” tanyaku ragu.

 

“Aku Nia, anak Pak Shaka.”

 

Pantas saja, penampilannya sangat berbeda. Dia memakai gamis cream polos dengan jilbab senada. Meskipun terlihat sederhana tetapi sangat anggun.

 

Kami turun melewati tangga dengan model yang cukup mewah. Bentuknya yang sangat artistik melengkung layaknya tangga di istana-istana dunia Disney Princess akan menampakkan keindahan dan kemegahan ruangan.

 

Aku membayangkan bagaimana Pak Arfan menggendongku hingga sampai kamar atas. Bukankah sangat jauh dan berat tentunya.

 

Acara tadi pagi sudah selesai. Tinggal beberapa pelayan yang membantu membersihkan ruangan dan  membereskan makanan di meja. Kulihat ayah duduk di ruang tamu bersama Pak Shaka dan istrinya. Mereka nampak serius.

 

“Eh, Syifa sudah selesai?” tanya Pak Shaka. Aku hanya mengangguk.

 

“Ini kuncinya, tolong antarkan Pak Rukin dan anaknya pulang ke rumah. Setelah itu antarkan Nia ke Mall. Dia mau membeli perlengkapan kecantikan katanya.” Pak Shaka memberikan sebuah kunci mobil kepada Pak Arfan.

 

Jadi, dia juga seorang supir ternyata. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa dia multi talenta seperti itu? Banyak sekali pekerjaan yang dilakukannya.

 

Ayah duduk di depan bersama Pak Arfan. Sedangkan aku di belakang bersama Nia. Kulihat babang ojol sesekali melirik ke spion kaca. Dasar genit, dia pasti mau godain Nia.

 

Aku membuang muka ke arah samping, mengapa dadaku bergemuruh seperti ini melihat Nia juga tersenyum melihat ke depan? Inikah cemburu?

 

“Nak Arfan supirnya Pak Shaka?” tanya ayah. Akhirnya pertanyaanku terwakilkan.

 

“Em, ah iya, Pak. Saya ini supir. Supir ojol,” ucapnya terkekeh sambil melirik ke belakang. Kulihat Nia juga tersenyum.

 

“Mas Arfan jangan merendah gitu, ah. Aku tahu Mas Arfan punya banyak rahasia.”

 

Sedekat itukah mereka? Melihat kedekatan mereka membuatku kepalaku mendidih. Padahal mobil ini ber-AC.

 

“Dek Nia bisa aja,” ucapnya sambil menoleh ke belakang.

 

Ya Allah, hentikan drama ini. Bahkan dia memanggil Nia dengan sebutan ‘Dek'. Sebenarnya siapa Nia?

 

Terdengar suara dengkuran dari depan, ternyata ayah tertidur. Kini aku menjadi obat nyamuk antara Pak Arfan dan Nia. Mereka memang diam, tetapi sedari tadi selalu saling lirik lewat kaca.

 

“Mas, nyalain dong, musiknya. Biar nggak sepi.” Nia memberikan sebuah flash disk.

 

“Tidak perlu, kita dengerin radio aja, Dek. Bisa sekalian kirim salam.” Pak Arfan mengembalikan flaskdisk kepada pemiliknya.

 

Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Kesal dan amarah seluruhnya ada di benakku. Lebih baik aku pura-pura tidur. Aku menguap dan kemudian memejamkan mata. Namun mereka masih diam membisu.

 

“Syifa tidur, Mas.” Nada suara Nia berubah jengkel.

 

“Masa, sih? Bukannya dia baru bangun tidur?”

 

Lupa, kenapa aku bisa lupa jika baru bangun. Pak Arfan pasti tidak percaya.

 

“Beneran, coba lihat!”

 

“Padahal bentar lagi sampai. Nanti bangunin, ya. Capek kalau aku gendong dia mulu. Entah berapa berat badannya. Punggungku bisa encok lama-lama.”

 

Nia terkekeh geli. “Habis ini temenin aku belanja, ya, Mas. Aku kan lama nggak ditraktir.”

 

Mereka terlihat sangat akrab. Bukan terlihat seperti supir dan majikan. Apa jangan-jangan mereka memiliki hubungan spesial? Dada ini rasanya nyeri.

 

“Beneran Mas serius sama Syifa? Cewek model begini?”

 

“Iya, dia itu unik. Berbeda dari yang lain.”

 

Rasanya aku ingin tersenyum jika tidak mengingat aku sedang akting. Tidak lama mobil berhenti, sepertinya sudah sampai di rumah. Aku masih memejamkan mata, aku tidak boleh lengah.

 

“Pak, bangun! Kita sudah sampai.” Kudengar dia membangunkan Ayah.

 

“Syifa, bangun! Kita sudah sampai.“ Nia menepuk-nepuk tanganku. Aku masih menikmati peranku sebagai puteri tidur.

 

“Oh, sudah sampai, ya. Makasih Nak Arfan.” Terdengar suara pintu mobil terbuka. Ayah pasti sudah keluar, tetapi kenapa ayah tidak membangunkanku?

 

“Dia nggak bangun, Mas. Kia culik aja, yuk.”

 

Apa? Mereka mau menculikku? Ini tidak bisa dibiarkan.

 

Aku mendengar suara pintu di dwkatku terbuka. Mereka berdua diam. Apa yang mereka lakukan? Aku tidak mungkin membuka mataku, nanti bisa ketahuan. Aku memegang kedua tanganku erat, aku sangat gugup. Bagaimana ini?

 

“Cantik!”

 

Aku mendengar suara Pak Arfan begitu dekat.

 

“Cantik memang,” sahut Nia.

 

“Namun aku nggak kuat gendong dia, gimana nih, kita seret aja?”

 

Apa? Dia mau menyeretku,dasar g!la!

 

“Nia, dosa nggak sih, nyium anak orang? Aku gemes lihat bibirnya.”

 

Astaga? Mereka mau berciuman? Ini tidak bisa dibiarkan.

 

Nia tertawa hingga mobilnya berguncang. “Nikahin dulu, Mas. Syifa itu masih polos.”

 

“Dia bagai putri tidur yang haus akan belaian kasih sayang. Aku harus memberikan ciuman supaya dia terbangun.”

 

Kurasakan sebuah tangan mengusap jilbabku. Oh tidak, jangan-jangan dia mau menciumku. Kurasakan embusan napas menerpa pipiku. Ya Allah, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku harus segera kabur.

 

Bismillah, sampai hitungan ketiga aku harus berlari secepat kilat. Aku membuka mata kemudian mendorong tubuhnya hingga terjungkal.

 

“Dasar dosen mesum!” aku menghentak-hentakkan kaki kemudian melemparnya dengan baju yang kotor karwna bekas darah. Namun sejenak kemudian aku memintanya. “Kembalikan bajuku!”

 

Nia yang melihat sampai tertawa terbahak-bahak. “Makanya jangan usil, Mas.”

 

Aku tidak mempedulikan mereka berdua. Aku langsung berlari mengejar ayah. “Ayah! Tunggu aku, anakmu mau diperkosa.”

 

Sakit rasanya hati ini menerima perlakuan Pak Arfan. Dia yang kupikir lelaki baik dan bertanggung jawab, ternyata suka mempermainkan lerempuan. Dia hampir melecehkanku di depan wanita.

 

“Ya Allah, Sifa! Ayah lupa jika tadi pergi sama kamu. Mana Nak Arfan?”

 

Tidak lama kemudian mereka masuk rumah. Aku bersembunyi di balik punggung ayah.

 

“Assalamu’alaikum, Pak. Ini tidak seperti yang dikatakan Syifa. Semua ini hanya salah paham. Bapak bisa tanyakan kepada Nia. Dia melihat semuanya. Mana mungkin saya melecehkan wanita di depan wanita lain? Harusnya saya culik dan bawa Syifa ke tempat yang sepi.”

 

“Benar itu, Pak. Mas Arfan belum apa-apain Syifa, baru pemanasan.”

 

Cetak! Pak Arfan menjitak Nia. Mengapa Nia tidak membalas? Dia hanya memegangi kepalanya. Sepertinya ada yang janggal di sini. Tidak mungkin seorang supir berani menjitak kepala majikannya.

 

“Astaghfirullah, sepertinya Nak Arfan sudah tidak sabar, bagaimana kalau kita langsung ke rumah pak penghulu saja?”

 

Hah?

POV Arfan

1 0

Aku baru saja pulang dari Yogyakarta satu minggu yang lalu karena diminta untuk menjadi dosen selama satu bulan ke depan. Ayah sibuk dengan bisnisnya di luar kota, sehingga dia memintaku untuk sementara menggantikannya. 

 

Aku sudah lulus S2 tiga bulan yang lalu, tetapi aku tidak lantas pulang karena Ayah akan memintaku untuk segera menikah. Namun, aku selalu menolaknya dengan alasan pekerjaan. Mencari pekerjaan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, apalagi mencari jodoh. Aku sudah berusaha kesana-kemari, tetapi tidak satupun perusahaan menerimaku. Ayah selalu memaksaku menjadi dosen, sungguh hal yang membosankan bagiku.

 

“Gaji dosen itu sedikit, bagaimana Aku menghidupi anak dan istriku?” Selalu itu yang kukatakan jika Ayah memaksaku menikah. Akhirnya dia diam dan membiarkanku menempuh jalan sendiri.

 

Sebagai seorang rektor, Ayah dengan mudah dia bisa saja memberikan gaji yang banyak untuk anak kesayangannya. Tetapi aku menolak, aku lebih suka menjadi ojol, bisa cuci mata setiap hari. Aku bisa bekerja dengan part time, sedangkan di waktu luang kugunakan untuk menulis.

 

Aku suka menulis sejak esde hingga sekarang, aku lulusan UGM jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Aku sudah menulis di platform online semenjak kuliah, kini penghasilanku sudah puluhan juta, lumayan buat modal kawin.

 

Namun, aku belum menemukan wanita yang bisa membuat hati ini bergetar. Hingga pada akhirnya aku dipertemukan dengan seorang wanita di pinggir jalan, dia tertunduk lemas. Mungkin dia habis dicopet.

 

Sudah lama aku tidak merasakan getaran ini, mengapa aku bisa deg-degan bersama cewek barbar seperti ini? Aku menyentuh kening, hangat, sepertinya aku kurang sehat.

 

Ternyata dia adalah mahasiswa di kampus tempatku mengajar. Kebetulan aku juga mau ke sana. Aku tidak perlu meminta bantuan orang untuk pergi ke kelas. Pasalnya aku tidak pernah datang ke kampus ini. Malas sekali melihat mahasiswi yang berteriak alay ketika melihatku. Aku memang memesona, tetapi kenapa wanita yang satu ini tidak terpengaruh sama sekali? Apakah kegantenganku sudah luntur?

 

“Neng, tunggu!”

 

“Ada apa lagi, Mas?” Dia berbalik.

 

“Lipstiknya sampai jidat.” Aku mencoba mengerjainya. Dia memang berbeda, bahkan dia tidak melirikku sama sekali.

 

“Apa?” Dia membuka tas tetapi malah meninggalkanku sendirian. Kurang asem! Baru kali ini aku dikacangin.

 

Akhirnya aku terlambat masuk kelas karena harus mencari ruangan demi ruangan kelas. Aku tidak menyangka jika ternyata dia adalah mahasiswaku. Aku akan memberikan hukuman kepadanya, tetapi dia malah memergokiku sedang kerokan di ruangan Ayah. Untung saja dia tidak curiga.

 

Aku tidak mau ada mahasiswa yang mengetahui identitasku, berbeda dengan dosen-dosen di kampus ini. Mereka pasti sudah mengenalku karena sering bertemu saat ada acara di rumah.

 

Pulang kuliah aku mendapatkan orderan gol food. Namun, siapa sangka aku bertemu dengannya lagi. Mungkinkah ini jodoh? Dia juga sama sepertiku, aku suka menulis dan dia hobi membaca novel.

 

“Oh, ya? Kok sama, jangan-jangan kita jodoh.”

 

“Nggak ada hubungannya kali, Pak. Kalaupun aku disuruh memilih, aku lebih memilih author Fan'z daripada Bapak.”

 

Dia lucu sekali, bahkan dia sudah memfollow semua akunku. Aku jadi penasaran dengan nama akunnya. Selama ini banyak sekali DM yang aku lewatkan.

 

Satu hari bersamanya membuatku merasa kasmaran. Senyum terukir indah di sudit bibir. Aku sudah seperti abege yang sedang dimabuk cinta.

 

Dan hari ini aku tidak menyangka jika Ayah sendiri yang membuatnya datang ke rumah. Ayah memesan bubur Syifa untuk menjamu tamu dalam acara santunan. Aku terkejut melihatnya menjatuhkan piring di meja prasmanan. Aku segera menemuinya supaya penyamaranku tidak terbongkar. Pasti tidak seru lagi jika pembaca tahu.

 

Syukurlah dia mengira aku adalah seorang ustaz. Sebenarnya aku bukan ustaz. Di kota kudus banyak sekali pondok pesantren dan madrasah islamiyah. Dari kecil aku sudah sekolah di madrasah. Aku tidak hafal Al-Qur'an, tetapi aku bisa membacanya. Aku sudah biasa mengisi qiro'ah di berbagai acara. Lumayan, Ayah tidak perlu membayarku untuk acara hari ini.

 

Setelah mereka pergi, aku menjelaskan kepada kudua orang tua dan adikku.

 

“Biarkan gadis itu mengira aku bekerja di rumah ini, please!” Aku memohon kepada keluargaku. Semua orang mentertawakanku, termasuk ART di rumah ini.

 

Tidak lama kemudian salah seorang satpam menghampiri, dia bilang ada seorang gadis yang memakai sorban pingsan di depan. Aku yakin dia Syifa. Aku segera pergi ke luar.

 

“Syifa kenapa, Pak?” Aku sangat panik melihatnya tidak sadarkan diri. Ya Allah, tolong selamatkan dia.

 

“Dia pingsan, Nak. Mungkin magnya kambuh. Dia belum sarapan dari tadi pagi.”

 

“Astaghfirullah ....” Tanpa pikir panjang aku menggendongnya dan membawa ke kamarku.

 

Aku baru sadar setelah sampai di anak tangga teratas. Kenapa aku membawanya ke kamarku? Seharusnya aku membawanya ke kamar tamu di bawah! Berat sekali dia. Rasanya punggungku encoknya mau kambuh.

 

“Bapak temenin syifa, ya! Aku mau ke bawah. Acara belum selesai.”

 

Aku tidak mau berlama-lama menatapnya, aku bisa khilaf. Meski bagaimanapun, aku lelaki normal.

 

Aku menemuinya setelah acara selesai, ternyata dia sudah bangun. Aku pura-pura menjadi supir Ayahku supaya bisa mengantarkannya pulang. Tidak mungkin aku mengantarkan mereka dengan motor. Bisa dikira cabe-cabean.

 

Pak Rukin sudah tertidur pulas hingga mendengkur. Aku mulai menjalankan aksiku dengan Nia. Aku ingin tahu bagaimana perasaannya kepadaku. Terlihat jelas dari kaca mobil, dia terlihat manyun. Namun, tidak lama kemudian Syifa tertidur.

 

“Masa, sih? Bukannya dia baru bangun tidur?”

 

“Beneran, coba lihat!” jawab Nia.

 

“Padahal bentar lagi sampai. Nanti bangunin, ya. Capek kalau aku gendong dia mulu. Entah berapa berat badannya.”

 

Setelah sampai di rumahnya aku membangunkan Pak Rukin, dia langsung keluar dan masuk rumah tanpa mempedulikan anaknya.

 

“Dia nggak bangun, Mas. Kita culik aja, yuk.”

 

Aku melihat Syifa meremas tangannya. Berarti dia hanya pura-pura tidur. Dia pikir aku bisa tertipu? Lihat saja nanti. Aku berbicara dengan Nia menggunakan bahasa isyarat.

 

“Cantik!”

 

“Cantik memang,” sahut Nia.

 

Nia hanya terkekeh.

 

“Nia, dosa nggak sih, nyium anak orang? Aku gemas melihat bibirnya.

 

Dia bagai putri tidur yang haus akan belaian kasih sayang. Aku harus memberikan ciuman supaya dia terbangun.”

 

Namun, siapa sangka jika Syifa membuka mata dan mendorongku.

 

“Dasar dosen mesum!” Dia lari ketakutan, aku harus segera menyusulnya. Ini tidak seperti apa yang dia pikirkan. Niatku hanya mengerjai saja.

 

“Assalamu’alaikum, Pak. Ini tidak seperti yang dikatakan Syifa. Semua ini hanya salah paham. Bapak bisa tanyakan kepada Nia. Dia melihat semuanya. Mana mungkin saya melecehkan wanita di depan wanita lain? Harusnya saya culik dan bawa Syifa ke tempat yang sepi.”

 

“Benar itu, Pak. Mas Arfan belum apa-apain Syifa, baru pemanasan.”

 

Cetak! Aku menjitak Nia.

 

“Astaghfirullah, sepertinya Nak Arfan sudah tidak sabar, bagaimana kalau kita langsung ke rumah pak penghulu saja?”

 

“Pak Rukin tidak sedang bercanda, kan?”

 

“Saya serius, Nak.”

 

“Bapak rela Syifa hidup miskin dengan saya?”

 

Pak Rukin nampak berpikir. Aku yakin setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya.

 

“Saya ikhlas, Nak. Sepertinya Syifa juga suka sama Nak Arfan.” Syifa menendang kaki Ayahnya.

 

Tiga hari yang lalu aku hendak melamar Syifa. Namun kuurungkan niatku karena belum mengenalkannya kepada orang tuaku. Aku hanya memberikan makanan dan camilan. Pedekate dulu sama calon adik ipar dan calon mertua. Syifa susah sekali ditakhlukkan.

 

“Beneran Bapak merestui saya untuk jadi calon suami Syifa?”

 

“Tentu saja!”

 

“Ayah!” Syifa memelototi Ayahnya. Lucu sekali keluarga ini. Dia menghentak-hentakkan kakinya kesal kemudian pergi meninggalkan kami bertiga.

 

“Baiklah, Pak. Saya akan meminta orang tua saya untuk datang melamar Syifa.”

 

“Hari ini juga bisa, Nak.”

 

“Ayaaah!” teriak Syifa dari belakang. Terdengar suara panci dibanting.

 

Setelah hari ini, aku akan meminta Ayah melamar Syifa untukku. Semoga saja Ayah mau menuruti permintaanku ini.

 

“Baiklah, saya mau antar Nia dulu ke mall. Kami pamit dulu, Pak.” Aku mencium punggung tangan Pak Rukin.

 

***

Aku bernapas lega, akhirnya aku mendapatkan restu dari Pak Rukin. Kupikir selama ini mereka bercanda memintaku menjadi suami Syifa.

 

Malam itu, Ilham bilang jika dia kasihan kepada kakaknya. Dia ingin kakaknya mendapatkan kebahagiaan jika sudah menikah. Aku ingin membahagiakan wanita itu. Semalaman aku tak bisa tidur tenang karena selalu terbayang wajahnya. Sepertinya aku sudah tidak waras, g!la karena cinta.

 

“Mas Arfan ngapain senyum-senyum sendiri?” Nia tak henti-hentinya menggodaku.

 

Saat ini kami sedang menuju mall di pusat kota Kudus. Nia juga seorang mahasiswa, tetapi dia sebentar lagi lulus. Dia hafizah, jauh berbeda denganku.

 

“Lagi kasmaran,” jawabku sambil menghidupkan musik.

 

Dan kau hadir merubah segalanya

Menjadi lebih indah

Kau bawa cintaku setinggi angkasa

Membuatku merasa sempurna

(Adera-Lebih Indah)

 

Aku bernyanyi menikmati alunan lagu, tetapi Nia mengganggunya.

 

“Kalau Mas milih Syifa, lalu cewek yang kemarin bagaimana?”

 

Aku melirik ke arah Nia. “Aku nggak suka sama dia.”

 

Aku sudah bilang sama Ayahnya kalau aku sudah memiliki calon istri. Wanita itu tidak akan berani datang kembali.

 

“Mas Arfan, awas ...!”

Ikatan Batin

1 0

 

Syukurlah akhirnya dia pulang juga. Aku kembali mencuci perabot dapur yang kotor. Tadi pagi kami belum sempat beres-beres karena dikejar waktu. Aku hanya memasak nasi, sedangkan lauknya beli di warung.

 

Kami masih punya sisa bubur untuk jualan nanti malam. Jadi, siang ini Ayah bisa istirahat dengan tenang. Kulihat nasi tadi pagi masih banyak. Aku tidak perlu memasak lagi.

 

Aku melihat sebuah bingkisan dari rumah Pak Shaka. Lumayan dapat sate ayam 20 tusuk. Aku mengambil sebuah piring dan mangkuk untuk menyajikannya. Piring untuk sate dan mangkuk untuk bumbunya. Namun, saat aku menuangkan bumbu, seperti ada yang menyenggol tanganku. Alhasil mangkuknya pecah. Untung saja bumbunya belum kumasukkan semuanya.

 

Aku mengambil sapu dan membersihkan sisa pecahan mangkuk, tetapi nahas. Jari telunjukku terkena pecahan beling. Darah mengucur deras hingga tercecer di lantai. Aku segera mengambil obat untuk lukaku.

 

“Ya Allah, Nak. Tangan kamu kenapa?”

 

Ayah berlari menghampiri saat melihatku mengambil perban.

 

“Kena beling, Yah.”

 

“Sini Ayah bantu,” ucapnya mengambil alih perban dan gunting.

 

“Perasaanku kok, nggak enak, Yah. Aku takut terjadi sesuatu dengan Pak Arfan.” Ups! Aku menutup mulutku.

 

“Eh bukan, maksudku Ilham atau Faiha.” Aku menggaruk-garuk kepala. Bisa-bisanya keceplosan.

 

“Nak Arfan? Ayah tidak salah dengar, kan? Sepertinya anak Ayah sedang jatuh cinta.”

 

“Enggak, Yah. Aku—“ Aku bingung harus memakai alibi apa.

 

Untuk apa aku malah memikirkannya? Dia pasti sedang bersenang-senang dengan Nia. Dia sangat pandai membual. Aku memang sempat tersanjung dengan semua perlakuannya. Tetapi melihatnya pergi bersama Nia membuatku sesak.

 

Nia anak orang kaya, cantik dan saliha. Cocok sekali dengan Pak Arfan. Dia dosen juga uztaz. Mereka sangat serasi.

 

“Kamu sudah besar, Nak. Ayah tahu isi hatimu tanpa kamu ucapkan. Ayah bisa melihat dari matamu.

 

Nah, selesai. Kamu istirahat aja, biar Ayah yang melanjutkan. Tinggal menuangkan bumbu, kan?”

 

Aku mengangguk kemudian pergi ke kamar. Aku mengecek ponsel dan membuka media sosial. Pertama kali yang terlihat adalah story author Fan'z.

 

Akhirnya aku mendapatkan lampu hijau, aku akan datang melamarmu, kekasih yang belum diridloi Allah.

 

Pembaca novelku yang berinisial ‘N’ i love you.

 

Deg, author Fan’z sudah memiliki pujaan hati? Sunggu perih menerima kenyataan ini. Sepertinya aku harus move on. Aku tidak mau dicap sebagai valakor. Habis ini bakal ada rombongan patah hati berjamaah.

 

Aku membanting ponsel ke kasur. Ku ingin marah, melampiaskan, tapi aku hanyalah sendiri di sini. Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada bahwa hatiku kecewa. Duh, malah nyanyi.

 

Tidak lama kemudian ponselku bergetar, kulihat sebuah nomor baru sedang memanggil. Angkat tidak, ya?

 

“Halo, aku Nia. Mbak Syifa bisa datang ke rumah sakit sebentar? Mas Arfan lagi di IGD.”

 

Apa? Dia di rumah sakit? Sebenarnya apa yang terjadi? Benarkah firasatku ini?

 

“Di rumah sakit mana?”

 

“RSU Mbak, tetapi—“

 

Aku mematikan telepon tanpa menunggu penjelasan Nia, aku segera keluar dan mencari Ayah.

 

“Ayah!” Aku berteriak mencari Ayah kesana-kemari, tetapi tidak kutemukan. Aku mencoba pergi ke kamarnya, tetapi juga kosong.

 

Aku semakin panik dibuatnya. Apa yang terjadi dengan Pak Arfan?

 

Masih memakai gamis dan hijab, aku mengendarai motor Ayah sendirian ke RSU. Jalanan sangat ramai, apalagi jam makan siang seperti ini.

 

Aku yang tidak memiliki SIM nekat membawa motor sendiri. Semoga saja tidak ketahuan polisi. Setelah kurang lebih 25 menit, aku sampai di rumah sakit.

 

Aku mencoba menghubungi nomor tadi, tetapi tidak diangkat. Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit hingga tidak sengaja aku melihat dua orang lelaki dan perempuan sedang bergurau bersama. Mereka tidak menyadari kehadiranku.

 

Lelaki itu menyandarkan kepalanya di bahu si perempuan. Kepalanya terlilit perban dan ada sedikit bercak darah. Rasanya aku ingin memberikan pelajaran kepada mereka. Percuma aku datang ke sini jika hanya menjadi penonton. Seharusnya aku yang ada di sana.

 

“Pak Arfan ....” Nada suaraku bergetar. Aku tidak sanggup melihat semua ini.

 

Pyar! Ponselku jatuh bersama dengan luruhnya air mata ini.

 

“Syifa,” ucapnya kaget. Dia dan Nia melihatku sudah berdiri dengan derai air mata.

 

Aku Ingin segera pergi dari sini, tetapi kakiku lemas. Aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk berlari. Kulihat Pak Arfan berjalan mendekat, kakinya sedikit pincang. Lututnya berdarah, sepertinya perih sekali.

 

“Syifa, akhirnya kamu datang.” Dia hendak merengkuh tubuhku. Tetapi aku mendorongnya.

 

“Jangan sentuh saya, Pak. Tangan bapak sudah menyentuh wanita lain!” Aku melirik ke arah Nia. Wanita itu bahkan tidak melihat ke arahku. Dia tidak merasa bersalah sama sekali.

 

Dia tersenyum dan mundur satu langkah, “Ini tidak seperti apa yang kamu lihat, Syifa.”

 

“Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Bapak brengs*k! Setelah mampu mengambil hatiku dan juga keluargaku, kini bapak memporak-porandakah perasaan ini.” Aku sudah tidak kuasa menahannya. Tangisku pecah seketika.

 

Dia bergeming, “Syifa, kamu harus tahu semuanya. Aku akan menjelaskan kesalahpahaman ini. Memang tidak seharusnya aku menyembunyikannya darimu.”

 

Akhirnya kamu harus jujur, Pak.

 

Semua orang heran melihat kami. Mungkin mereka pikir aku sedang akting. Dikira syuting sinetron ala ikan terbang.

 

Dia hendak bersujud, tetapi aku mundur satu langkah. “Bahkan meskipun Bapak bersujud di hadapanku, tidak akan pernah bisa aku maafkan.”

 

Dia tidak menghiraukanku dan tetap melakukan aksinya. Lebih baik aku pergi. Hati ini terlampau sakit.

 

“Syifa, tunggu!”

 

Baru lima langkah, kakiku terhenti. Dia mendekat, aku bisa mendengar derap langkah kakinya. Namun aku bergeming. Aku tidak akan berbalik lagi.

 

“Hapemu ketinggalan.”

 

Hening

 

Aku bahkan melupakan ponselku yang jatuh di lantai. Segera aku berbalik dan melihatnya sudah di tangan Pak Arfan. Tinggiku yang hanya 160 cm tidak bisa meraihnya. Dia mengangkat ponselku lebih tinggi di atas kepalanya.

 

“Berikan ponsel saya, Pak!”

 

Aku mencoba meraihnya, sekalipun aku berjinjit, aku tidak bisa menggapainya. Orang yang tadinya terdiam melihat kami, kini mereka tertawa. Nia juga ikut tertawa hingga memegangi perutnya.

 

“Aku akan memberikan ponselmu jika kamu mau mendengarkan penjelasanku.”

 

Aku berhenti, capek. Dia terlampau tinggi. Entah berapa tingginya, dia sudah seperti tiang listrik.

 

Dia memegang tanganku dan mengajak duduk di samping Nia. Dia duduk di tengah kami, aku sudah seperti obat nyamuk saja. Mereka saling berbisik dan sesekali tertawa. Sedekat itukah mereka? Jangan-jangan mereka suami istri. Ya Allah, mengapa aku jadi baper begini.

 

Nia mengambil ponsel dari dalam tasnya kemudian memberikannya kepadaku. Aku mengernyitkan dahi.

 

“Mbak Syifa bawa ponselnya Mas Arfan saja, biar hapenya dibenerin dulu, layarnya rusak, ‘kan?”

 

Bahkan hape juga dibawa Nia. Sebenarnya mereka memiliki hubungan apa?

 

Aku menerima ponsel pintar dengan layar 5 inchi. Dari mereknya terlihat ini ponsel mahal. Ada gambar apel krowak di belakangnya.

 

“Sandinya ‘i love you' tanpa spasi,” ucap Pak Arfan terkekeh. “Nanti aku kembalikan ponselmu kalau sudah jadi.”

 

“Jadi, sebenarnya Pak Arfan mau menjelaskan yang mana dulu?”

 

“Ehem, aku mau pergi dulu. Tadi aku sudah menghubungi taksi online. Keburu diskonnya hangus. Dan ini, jangan lupa urus mobilnya.” Nia berdiri memberikan sebuah kunci dan uang kepada Pak Arfan.

 

“Siap, maaf tidak bisa menemani shoping.”

 

“Oke, bye! Nitip Mas Arfan ya, Syifa. Jewer saja kalau nakal!” aku hanya tersenyum. Kemdudian Nia perlahan menghilang di ujung ruangan.

 

“Kita ke kantin, yuk! Nggak enak ngobrol di sini.”

 

“Jadi, aku ditelepon siang-siang begini hanya untuk menemani ngobrol?”

 

Menyebalkan sekali. Kalau hanya untuk ngobrol, bukankah bisa lewat telepon?

 

“Ini penting,” ucapnya.

 

“Bapak bisa jalan sendiri, ‘kan?”

 

“Bisa, tenang aja. Kamu nggak perlu gendong aku.”

 

Kami duduk di kantin sambil menikmati es teh. Sebenarnya aku penasaran, mengapa dia bisa babak belur seperti ini? Sedangkan Nia tidak ada luka sedikitpun.

 

“Kamu penasaran tentang hubunganku sama Nia, ‘kan?”

 

Aku melongo mendengar penuturannya. Mengapa dia bisa tahu isi hatiku?

 

“Dia itu anak majikanku, dan kami sudah berteman lama. Tidak ada hubungan spesial di antara kami.”

 

Benarkah? Rasanya aku ingin berteriak kegirangan. Tepuk tangan pemirsa!

 

“Lalu, luka itu?” Aku menunjuk kepalanya yang diperban.

 

“Nia ngomong terus di mobil, aku nggak konsentrasi dan menabrak kucing. Saat aku keluar hendak melihatnya, sebuah motor menyerempet hingga aku jatuh terpental di aspal.

 

Ah, iya. Aku pinjam ponselku. Aku mau menghubungi temanku untuk antar mobil ke rumah Pak Shaka. Kepalaku pusing.”

 

Aku mengambil ponselnya yang sudah kumasukkan ke dalam jaket. Usai menelepon, dia mengembalikannya lagi kepadaku.

 

“Ya sudah, aku balik dulu kalau gitu. Bapak sudah mau dijemput temannya, kan?”

 

“Aku maunya diantar sama kamu.”

 

Heh?

Rumah

1 0

“Aku maunya diantar sama kamu.”

 

Heh?

 

“Nggak bisa lah, Pak. Yang ada tuh lelaki boncengin perempuan. Bukan sebaliknya.”

 

Dia pasti mau modus. Kalau bisa naik mobil, kenapa mesti naik motor? Paling dia mau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

 

“Pasti kamu mikir kotor, dasar omes!”

 

“Bapak tuh yang omes, pasti Bapak mau gerayah-gerayahin aku dari belakang, ’kan?”

 

“Tuh ‘kan suuzon. Memangnya kamu mau aku yang di depan? Nanti kita sama-sama nyemplung ke got.”

 

Benar juga katanya. Kalau masuk got malah tambah parah.

 

“Ya sudah aku antar, tetapi jangan pegang-pegang!” Mendengar jawabanku, dia tersenyum semringah.

 

Kemudian kami menikmati segelas es teh masing-masing hingga tandas. Sudah tidak ada obrolan lagi di antara kami, benar-benar canggung.

 

Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki memakai baju lusuh, banyak oli di bajunya. Nampaknya orang dari bengkel.

 

“Kuncinya mana, Fan?”

 

Pak Arfan memberikan kunci dan uang yang didapatkan dari Nia tadi. “Sekalian servis ya. Nanti antar ke rumah kalau sudah jadi.”

 

“Tumben kasih DP, biasanya juga langsung transfer,” ucap lelaki itu. Mau tidak mau aku jadi kepo.

 

“Transfer?” tanyaku penasaran.

 

“Em, iya. Biasanya Pak Shaka akan transfer setelah mobilnya diantar.” Pak Arfan nampaknya sedang menyembunyikan sesuatu.

 

“Aku balik dulu, Fan.” Lelaki itu kemudian segera pergi. Buru-buru sekali. Padahal aku masih ingin bertanya.

 

Sudah hampir jam dua siang,  aku harus segera mengantarkan Pak Arfan. Ayah pasti khawatir karena aku tidak bisa dihubungi.

 

“Rumah Pak Arfan di mana? Aku antar sekarang. Keburu sore.”

 

Bukannya menjawab malah bengong. Dia nampak berpikir. Dasar aneh, dia bukan amnesia, masak rumah sendiri tidak ingat?

 

“Em, rumahku jauh.” Dia nampak berpikir.

 

“Masih di daerah kudus, ‘kan?” Dia hanya mengangguk.

 

“Daerah mana?”

 

“Deket menara Kudus.”

 

Ternyata dekat, kenapa dia bilang jauh? Dari rumah sakit ini ke menara sekitar sepuluh menit.

 

“Ya sudah, ayo, Pak.”

 

Kami berjalan beriringan hingga di parkiran. Aku baru sadar jika lupa membawa helm. Untung saja tidak ada polisi di jalan. Adanya cuma polisi tidur. Mereka melaksanakan tugasnya dengan baik.

 

“Kamu enggak bawa helm, Fa?”

 

“Tidak, Pak. Lupa, aku terburu-buru,” jawabku sambil menghidupkan mesin motor.

 

“Terburu-buru? Segitu khawatirnya sama aku,” ucapnya percaya diri.

 

“Ih, Bapak kepedean.” Aku menyesal telah mengatakannya.

 

Dia itu benar-benar memiliki kepercayaan diri yang tinggi, narsis, dan menyebalkan.

 

“Awas jangan pegang-pegang! Jaga jarak, PPKM diperpanjang terus,” ucapku kala dia sudah duduk di belakangku.

 

Dia hanya terkekeh. Tumben dia tidak banyak bicara, mungkin kepalanya masih sakit.

 

Setelah sampai di komplek makam, aku menanyakan alamat rumahnya. “Habis ini ke arah mana, Pak?”

 

“Em, ke kanan. Iya, nanti setelah ada perempatan baru belok kiri.”

 

Aku belum pernah masuk ke daerah sini. Semoga nanti pulangnya tidak nyasar.

 

“Masih jauh, Pak?”

 

“Bentar lagi sampai. Lurus 300 meter. Setelah masjid kiri jalan, itu tempat tinggalku.”

 

Akhirnya kami turun di sebuah bangunan rumah minimalis. Di depannya ada kolam ikan kecil, desainnya hampir sama dengan kolam di rumah Pak Shaka.

 

Ada sebuah sepeda motor gede di garasi. Motor siapa itu? Aku tidak pernah melihatnya memakai motor gede. Dia selalu menggunakan motor bututnya.

 

“Itu motor siapa, Pak?”

 

“Itu motorku. Maklum aku punya banyak sampingan, jadi penghasilanku juga banyak.” Sombong sekali dia. Baru begitu aja sudah besar kepala.

 

Sebenarnya aku ingin masuk, tetapi aku takut. Rumah ini sangat sepi.

 

“Tenang aja, di rumah ini enggak ada siapa-siapa. Kita bebas mau ngapain aja.” Dia mengerlingkan matanya hingga membuatku bergidik ngeri.

 

“Enggak, deh. Saya mau langsung pulang saja.”

 

“Kamu nggak penasaran dengan keluarga saya? Di dalam ada banyak foto keluarga.”

 

Untuk apa aku penasaran? Bukankah dia sendiri yang bilang akan datang melamar? Aku tinggal menunggu di rumah saja. Itupun jika ucapannya benar.

 

“Saya pulang saja, sudah sore. Ayah pasti nyariin. Bapak masuk aja dulu. Aku akan pergi setelah Bapak aman. Setidaknya tidak pingsan di luar rumah. “

 

“Baiklah, aku masuk dulu,” ucapnya.

 

Namun,hingga beberapa menit dia tidak juga masuk. Kenapa dia tidak lekas membuka pintu? Apa jangan-jangan ini bukan rumahnya? Aku mulai curiga.

 

“Beneran ini rumah Bapak, ‘kan?”

 

“Iya, ini rumah saya.” Dia menggaruk-garuk kepalanya.

 

“Kenapa garuk-garuk kepala? Bapak punya kutu?”

 

“Enak saja, saya lupa naruh kunci. Sini bantu cari kuncinya. Saya nggak bisa jongkok.”

 

Luka di lututnya sudah mengering, pasti rasanya kaku sehingga tidak bisa digunakan jongkok. Akhirnya aku turun dari motor dan membantunya mencari kunci.

 

“Biasanya ditaruh di mana kuncinya?”

 

“Di bawah pot bunga, tetapi aku lupa entah yang mana,” ucapnya cengengesan.

 

Aku menepuk jidatku pelan. “Kenapa gak dibawa aja, sih, Pak? Lagi musim maling, apalagi motor di luar begitu.”

 

“Motornya aku gembok.”

 

Ada-ada saja memang. Di masa paceklik seperti ini banyak orang yang menghalalkan segara cara untuk mendapatkan uang.

 

Kata Bang Rhoma Irama, “Cari yang haram aja udah susah, apalagi yang halal?”

 

Aku melihat berbagai tanaman bunga di sini, mulai dari berbagai jenis aglonema dan miana. Tanaman sebanyak ini tidak mungkin dia merawatnya sendiri. Apalagi laki-laki sepertinya, tidak ada auranya suka sama bunga.

 

“Pot yang mana ini, Pak?”

 

“Nggak tahu. Sini ponsel saya!”

 

Ponsel sudah di tanganku, tetapi dari tadi dia yang selalu menggunakannya. Aku sudah seperti tempat penitipan barang saja.

 

“Mbak, tadi kunci rumah ditaruh di mana, ya?” tanyanya pada seseorang di telepon.

 

Mbak? Siapa yang tinggal di rumah ini? Apa dia tinggal bersama kakak perempuannya?

 

“Oke, makasih!” Dia mengembalikan ponselnya kepadaku. “Kuncinya di bawah aglonema red Sumatera.”

 

“Yang mana, Pak? Aku enggak ngerti jenis-jenis bunga.”

 

“Haduh, kamu kan wanita, kaum yang menyukai bunga.”

 

Aku sama sekali tidak menyukai bunga. Selain tidak sempat mengurus, mereka akan mati sia-sia dimakan ayam tetangga. Hidup di desa masih banyak binatang ternak yang hidup liar. Mereka suka jalan-jalan di rumah tetangga, meninggalkan tai ayam dan memakan tanaman.

 

“Aglonema red Sumatera, red itu artinya merah. Cari yang daunnya merah.”

 

“Oke, sabar, Pak.”

 

Aku melihat ada 4 pot tanaman dengan daun berwarna merah. Aku mengangkat satu persatu hingga kunci berhasil ditemukan.

 

“Akhirnya ketemu juga kuncinya.” Aku menyerahkan sebuah kunci dengan gantungan daun sirih kepada Pak Arfan.

 

Aku baru ingat, kunci motornya juga memiliki gantungan yang sama. Ternyata setelah kulihat-lihat, itu bukanlah daun sirih, melainkan tanaman hias. Namun aku tidak tahu nama dan jenisnya. Banyak sekali tanaman di rumah ini. Meskipun di kota, tetapi rasanya adem. Mungkin aku betah jika tinggal di rumah ini. Eh, kenapa aku jadi baper.

 

“Makasih, ya. Beneran nggak mau masuk dulu?” tanyanya.

 

“Tidak, Pak. Lain kali saja.”

 

Aku segera pulang sebelum hujan turun, mendadak langit berubah gelap. Aku tidak mau terjebak di sini. Bersamanya bisa membuat jantungku berdebar hebat, aku takut mati muda terkena serangan jantung. 

 

Aku segera menghidupkan mesin motor setelah Pak Arfan masuk, tetapi dia juga tidak mau menutup pintu sebelum aku pergi.

 

“Aku akan melihatmu dari sini sampai hilang dari pandangan.”

 

Cieeee ...

 

Aku sudah bersiap menjalankan motor, tetapi ponsel di saku gamis terus saja bergetar, sepertinya ada sebuah panggilan. Kumatikan motor dan melihat sebuah nama muncul di layar.

 

“Mama?”

Kepo

1 0

“Mama?” ucapku pelan.

 

Pak Arfan nampak terkejut, dia membelalakkan matanya. Aku penasaran dengan nama ‘mama’ di ponsel ini. Sebenarnya ini ibu atau istrinya. Jangan-jangan dia sudah beristri, dan bunga-bunga itu milik istrinya.

 

Angkat tidak, ya? Angkat aja lah, daripada penasaran. Kugeser tombol warna hijau dan panggilan terhubung.

 

“Arfan, kamu pulang ke mana? Buruan balik ke rumah! Mama khawatir denger kabar kamu kecelakaan.” Aku segera menjauhkan ponsel dari telingaku. Kencang sekali suaranya. Khas emak-emak yang sedang memarahi anaknya.

 

Aku harus jawab apa ini? Aku bingung. Bukankah Pak Arfan sudah sampai di rumah?

 

“Maaf, Pak Arfan sudah sampai rumah. Saya yang—“ Ah sial, belum selesai aku berbicara dan ponselnya direbut Pak Arfan.

 

“Aku pulang ke rumahku, Ma. Lebih dekat pulang ke sini daripada ke rumah mama.”

 

Rumahku? Berarti ini rumah Pak Arfan sendiri? Hebat sekali dia, eh tapi bisa jadi dia dibuatkan rumah orang tuanya. Anak zaman now nggak mungkin bisa bikin rumah sendiri di usia muda.

 

Aku tidak bisa mendengar suaranya lagi karena panggilan tidak di-loudspeaker. Namun, samar terdengar ibunya mengomel.

 

“Bukan, dia calon istriku. Tenang aja, aku nggak bakal aneh-aneh sama anak orang, Ma,” ucapnya terkekeh.

 

Calon istri? Benarkah dia sungguh-sungguh dengan ucapannya? Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Rasanya seperti mimpi. Aku mencoba mencubit tanganku, dan aw, ternyata sakit. Ini nyata.

 

“Iya-iya, Ma. Wa’alaikumsalam.”

 

Panggilan sudah berakhir. Dia mengembalikan lagi ponselnya padaku.

 

“Kalau nanti mama telepon lagi tidak perlu diangkat. Mama akan datang ke sini, aku akan menjelaskan semuanya.”

 

“Beneran ini hapenya boleh kupakai dulu?” Aku masih tidak percaya jika dia meminjamkan ponselnya untukku.

 

“Iya, nanti kuantar ke rumah jika sudah jadi.”

 

Baiklah, aku harus segera pulang sebelum khilaf. Dari tadi nggak jadi pulang-pulang. Ada sesuatu yang mengganjal di hati, berat ingin meninggalkannya sendiri di sini.

 

Sepanjang perjalanan pulang aku tersenyum bahagia. Aku ingin segera sampai di rumah.

 

Sesampainya di rumah, kulihat Ayah sudah mulai membersihkan gerobaknya. Sebentar lagi waktu Asar.

 

“Dari mana aja kamu, Fa?”

 

“Em, aku tadi dari rumah sakit. Pak Arfan kecelakaan.”

 

“Ya Allah, kok bisa, sih? Terus gimana keadaan calon mantu Ayah?“

 

“Alhamdulillah sudah mendingan, Yah. Hanya ada beberapa luka kecil. Maaf aku tidak bisa memberikan kabar kepada Ayah. Ponselku rusak.”

 

“Rusak? Pantas saja tidak bisa dihubungi. Ya sudah, masuk sana. Dan ganti baju.”

 

Aku masuk ke rumah dan langsung melepas jilbab seketika. Tidak lupa kuhidupkan kipas mini supaya adem. Cuaca memang mendung, tetapi justru membuat tubuhku berkeringat.

 

Seperti biasanya, aku akan berselancar di dunia maya jika sedang rebahan di kasur. Kubuka aplikasi berlogo huruf ‘f’ dan mencari tahu story author Fan’z hari ini. Aku masih berharap menjadi kekasihnya, entah mengapa berat sekali sehari tanpa kabar darinya.

 

Namun, sepertinya ada yang berubah. Kenapa tampilannya seperti ini? Perasaan tadi pagi masih biasa saja. Aku tidak mengenal nama-nama akun yang lewat di beranda.

 

Aku meng-klik gambar profil di efbe, dan betapa terkejutnya aku kala melihat nama si pemilik akun.

 

“Author Fan’z?” Kenapa ada di ponsel milik Pak Arfan? Aku duduk dan mengucek mataku berulang-ulang. Benar, aku tidak salah lihat.

 

Aku mencoba melihat profilnya, ini benar-benar akun author Fan’z. Aku mencari aplikasi platform online yang digunakan untuk menulis author Fan’z. Mataku membulat melihatnya, aku tidak menyangka, dia benar-benar author Fan’z. Aku memukul kepalaku berulang-ulang.

 

Pantas saja Pak Arfan tahu semua tentang author Fan’z. Jadi selama ini aku sering berbalas pesan dengan Pak Arfan. Mampus aku. Aku sering curhat kepada author Fan’z jika aku punya dosen baru yang nyebelin. Tanpa sengaja aku juga sudah memuji-muji author Fan’z di depannya.

 

Rasanya aku ingin mengubur diriku hidup-hidup. Aku terlampau malu. Aku mondar-mandir di kamar, bagaimana aku menghadapinya jika bertemu nanti? Haruskah aku marah karena dia telah membohongiku? Atau aku harus senang karena bisa bertemu author Fan’z?

 

Aha, muncul sebuah ide di kepalaku. Lebih baik aku pura-pura tidak tahu. Dengan begitu tidak ada kecanggungan lagi. Yah, lebih baik seperti itu.

 

Namun, jiwa kekepoanku masih meronta-ronta. Aku ingin melihat isi ponselnya.

 

Aku mulai membuka galeri foto, tetapi tidak ada foto dirinya. Hanya beberapa capture tentang novelnya. Tidak asyik sama sekali. Padahal aku ingin melihat fotonya. Dia lelaki yang narsis, pasti lucu sekali jika dia berfoto selfie.

 

Aku menscroll layar ponsel pelan hingga pandanganku berhenti pada sebuah foto yang tidak asing bagiku. Ini seperti fotoku, aku yakin ini adalah aku meskipun nampak dari belakang. Aku memperbesar foto tersebut, dan memang benar, gadis di foto itu adalah aku. Aku tidak mungkin melupakan tas ransel kesayanganku, tetapi dari mana dia mendapatkan foto itu? Jangan-jangan dia mengikutiku ketika pulang kuliah.

 

Aku masih saja melihat beberapa foto gadis berkerudung pink. Tidak ada foto yang nampak dari depan, hanya dari samping dan belakang. Pandanganku terhenti kala melihat sebuah foto Pak Arfan sedang tertidur. Entah siapa yang mengambil foto ini. Dia terlihat manis tertidur tanpa kaos.

 

Dada bidangnya, uwuw. Rasanya aku ingin tidur di peluknya. Bulu keteknya, oh menggoda iman.

 

“Ya Allah, cakep bener. Siapa itu, kak?”

 

“Astaghfirullah, kakak kaget, Fai. Sejak kapan kamu di sini?”

 

Tiba-tiba Faiha sudah ada di sampingku. Dia juga ikut melihat roti kotak-kotak milik Pak Arfan. Mampus deh kalau bisa sampai ke Ayah. Bisa dikira aku melihat konten porno.

 

“Sejak kakak bilang ‘menggoda iman' aku langsung penasaran. Ternyata kakak mesum, suka lihat foto laki-laki tanpa busana. Aku akan menceritakannya kepada Mas Arfan.”

 

Bahaya kalau Faiha ember sama Pak Arfan. Ketahuan habis kepoin ponselnya.

 

“Eh, jangan macam-macam, Fai. Ini tuh ponsel calon suamiku. Jadi bebas dong kakak mau ngapain.”

 

“Calon suami?” tanya Faiha penasaran.

 

“Hape kakak rusak, jadi dipinjamin punya Pak Arfan dulu.”

 

“Rusak?” tanyanya lagi.

 

“Iya, layarnya pecah. Mau dibenerin dulu sama Pak Arfan.”

 

“What? Layarnya pecah? Memangnya kalian habis ngapain? Jangan-jangan kakak habis iya-iya sama Mas Arfan, ya? Terus kakak fotoin dia pas tertidur.”

 

Plak!

 

Aku menabok pantat Faiha. “Enak saja. Ini kakak nemu di galerinya. Jangan suuzon deh sama kakak.”

 

“Hehe, maaf, Kak.” Faiha menggaruk-garuk kepalamya.

 

“Eh iya, lupa. Ada temen kakak di depan. Namanya Nindi.”

 

Nindi? Ngapain dia ke sini. Tumben anak itu mau main ke rumah.

 

“Suruh masuk ke sini, kakak mau ganti baju dulu.”

 

Faiha pergi ke luar kamar dan menutup pintu. Aku baru ingat jika tadi lupa mengunci pintu. Tidak lama kemudian terdengar pintu terbuka. Nindi masuk dan langsung merebahkan diri ke kasur.

 

“Tumben kamu ke sini siang-siang begini?”

 

“Tadi nggak sengaja aku lihat Pak Arfan bersama wanita berjilbab di jalan. Wanita itu ngeboncengin Pak Arfan yang kepalanya dibalut perban.”

 

“Iya, aku tahu.”

 

“Kamu tahu dari mana?” tanya Nindi penasaran. Dia menatapku penuh curiga.

 

Duh, aku keceplosan. Bagaimana ini?

 

Keceplosan

1 0

“Tadi nggak sengaja aku lihat Pak Arfan bersama wanita berjilbab di jalan. Wanita itu ngeboncengin Pak Arfan yang kepalanya dibalut perban.”

 

“Iya, aku tahu,” ucapku sambil memakai kaos oblong.

 

“Kamu tahu dari mana?” tanya Nindi penasaran.

 

Duh, ‘kan aku keceplosan. Bagaimana ini? Semoga Nindi tidak curiga. Ah, kenapa aku jadi gugup begini.

 

“Aku juga melihatnya tadi.”

 

“Oh, ya?” tanya Nindi sembari penatapku penuh selidik.

 

Aku harus segera menyembunyikan gamisku. Kalau dia memang melihatku, dia pasti akan mengenali gamis yang kupakai tadi. Di mana pula jilbabnya? Menyebalkan, kenapa bisa sampai tercecer seperti ini?

 

Aku melihat ke arah kakiku. Baru saja aku berganti baju. Gamis warna ungu pemberian Pak Arfan masih tergeletak di dekat almari. Aku melempar asal gamisku ke bawah dipan. Untung saja Nindi membelakangiku.

 

“Iya, aku ketemu di jalan sama Faiha.”

 

Duh, mulut! Lincah amat bohongnya. Aku harus bilang apalagi ini? Faktanya memang akulah yang menantarkan Pak Arfan sampai ke rumahnya.

 

Aku menyusul Nindi dan berbaring di sampingnya. Dipan dengan ukuran 200x180 cm ini cukup luas untuk kami berdua. Kami menghadap ke atas melihat genteng dan kayu. Sejenak kami termenung.

 

“Fa, aku tuh ngefans ama Pak Arfan. Jadi, aku mau ke sini buat curhat sama kamu.”

 

“Apa?” Aku terperanjat mendengarnya.

 

Weh, ladalah. Kamu curhat sama orang yang salah Ndi, aku juga ngefans sama Pak Arfan. Eh maksudku author Fan’z.

 

“Kamu kan udah punya author Fan’z. Aku yakin kamu nggak bakal nikung aku, Fa.”

 

Ya Allah, sahabatku sendiri mengharapkan Pak Arfan. Aku sudah melepaskan Ibra untuk Thalita, haruskah aku melepaskan author Fan’z untuk Nindi? Jiwaku meronta-ronta. Aku nggak mau, apa aku jujur sama Nindi saja?

 

“Ndi, kalau aku jujur kira-kira kamu bakal marah enggak sama aku?”

 

Rasulullah SAW. Bersabda, "Qulil haq walau kaana murron." HR. Ahmad dan Shahih. Artinya sampaikanlah walaupun itu pahit.

 

Lebih baik aku mengatakannya sekarang daripada dia mendengarnya dari orang lain. Bukankah lebih baik begitu?

 

“Duh, apaan sih, ini? Ganggu banget.” Nindi bangun dan mengambil jilbab ungu di bawah punggungnya.

 

Mampus aku. Fix, aku harus jujur. Dia menatapku bergantian dengan jilbab itu.

 

“Bukankah ini jilbab yang dipakai wanita yang mengantarkan Pak Arfan?”

 

Aku tersenyum lebar hingga menunjukkan semua deretan gigiku. “Aku bisa jelasin semuanya, tapi janji kamu jangan marah sama aku. Kamu satu-satunya sahabat yang aku miliki.”

 

Aku ambilkan es teh dulu supaya pikiranmu dingin. Aku segera mengambil setoples camilan dan 2 gelas es teh. Kami duduk berhadapan di lantai lengkap dengan gamis yang tadi kusembunyikan di bawah kolong tempat tidur dan tidak lupa ponsel milik Pak Arfan.

 

“Jadi?” tanya Nindi bersungut-sungut.

 

“Aku tidak sengaja bertemu Pak Arfan di rumah Pak Shaka. Ayah mendapatkan pesanan bubur tadi pagi. Ternyata ada babang ojol di sana. Em, maksudku Pak Arfan. Dia mengantarkanku pulang, tetapi dia mengalami kecelakaan setelah mengantarkanku. Dan orang yang dihubungi adalah aku. Jadi, aku diminta mengantarkannya ke rumah.”

 

“Ya Allah, beruntung banget kamu,Fa. Pasti dipeluk-peluk Pak Arfan dari belakang.”

 

“Astaghfirullah, ya enggak lah. Biar begini juga aku punya harga diri,” ucapku sambil mengelus dada.

 

Meskipun aku suka sama Pak Arfan, aku enggak mungkin mau dipeluk-peluk sebelum ada lebel halal. Memangnya aku cewek apaan?

 

“Kamu lihat ini!” Aku menunjukkan ponsel Pak Arfan kepada Nindi.

 

“Wah, hape baru, ya? Pinjam sini.” Nindi merebut ponsel dari tanganku.

 

Dia mencoba membukan password tetapi selalu gagal. “Sandinya apa, Fa?”

 

“I love you tanpa spasi.”

 

“Najis luh, masa jeruk makan jeruk?” Nindi bergidik ngeri.

 

Aku tertawa hingga terbahak-bahak, lucu sekali dia, dikiranya aku nembak.

 

“Sandinya itu ‘iloveyou’ tanpa spasi. Jadi gandeng semua seperti ini.” Aku mengambil ponsel dan memasukkan sandinya.

 

Terlihat jelas wallpaper depan jika ponsel itu milik Pak Arfan. Terlihat dia sedang memeluk tiang listrik di Malioboro. Mungkin dia pernah kuliah di Yogyakarta.

 

“Norak banget!” cibir Nindi saat mengetahui passwordnya.

 

Dia akan lebih terkejut lagi jika melihat foto Pak Arfan. Aku tidak akan memperlihatkan roti sobeknya kepada Nindi. Enak saja dia mau lihat aurat calon suamiku. Hanya aku yang boleh melihatnya.

 

Aku membuka aplikasi berwarna biru di ponsel dan memperlihatkan kepada Nindi. “Ini akun author Fan’z.”

 

Dia segera merebut ponselku dan mengecek akun pesbuk tersebut. “Ini beneran milik author Fan’z. Kamu beli hape second ya?”

 

Aku menceritakan semuanya kepada Nindi. Dahlah, enggak ada yang perlu aku tutupi. Sepandai apapun aku menyembunyikan bangkai, pasti baunya akan terendus.

 

“Jadi, Pak Arfan itu babang ojol yang kamu ceritakan kemarin? Dan dia adalah author Fan’z?”

 

Aku mengangguk pasti. Nindi hampir tidak percaya. Dia meneguk es teh yang belum kuaduk hingga tandas. Pasti rasanya tidak enak.

 

“Sepet banget tehnya, Syifa!”

 

“Maaf, belum kuaduk,” ucapku terkekeh geli.

 

“Sini aku pinjam ponselnya Lagi.” Nindi mengotak-atik akun milik author Fan’z, kemudian mengembalikannya kepadaku.

 

“Kamu tahu nama panjang Pak Arfan”

 

Aku menggeleng, Aku hanya mengenal nama panggilannya saja. Awal bertemu aku terlambat masuk kelas, sehingga aku tidak mengetahui nama lengkapnya. Aku memang datang ke ruangannya, tetapi bukan namanya ynag terpampang melainkan nama orang lain.

 

“Ini beneran ponsel Pak Arfan? Aku boleh lihat fotonya?”

 

“Enggak boleh!”

 

Pelit mode on. Aku gak mungkin memperlihatkan semua isi ponsel ini kepada Nindi.

 

“Beruntung banget kamu, Fa. Kalau aku jadi kamu, aku sudah adain syukuran di kelas. Kamu ‘kan habis ulang tahun, dapat rezeki nomplok pula.”

 

Nindi memakan ceriping pisang dan meminum tehku.

 

“Eh, itu ‘kan minumanku.” Aku merebutnya dari Nindi.

 

“Kamu ikhlas ’kan Ndi kalau aku nikah sama Pak Arfan?”

 

Nindi menatapku dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin dia percaya kepada orang yang suka bercandadan halu seperti author ini? Wkwkwkwk

 

“Dosa enggak sih, nikung sahabat sendiri?” tanya Nindi.

 

“Jahaaat!” Aku berteriak hingga Ayah mengetuk pintu dari luar.

 

“Anak cewek jangan keras-keras teriaknya!” Mendengar ucapan Ayah, Nindi tertawa hingga memegangi perutnya.

 

“Ndi, aku mau tanya. Pak Shaka itu siapa? Aku melihat namanya di kampus.”

 

“Kamu itu kuliah atau nguli? Masa nama rektor di kampus sendiri enggak tahu?”

 

“Rektor?”

 

“Iya, dia itu rektor, tetapi jarang sekali ke kampus. Memangnya kenapa kamu nanyain itu?”

 

Mahasiswa macam apa aku ini? Bahkan rektor di kampus pun aku tidak mengenalnya. Pantas saja Pak Arfan berani masuk ke ruangannya. Ternyata dia supir. Aku jadi teringat kejadian di ruangan Pak Shaka waktu itu. Memalukan sekali, seorang dosen kerokan di dalam ruangan rektor.

 

“Pak Arfan jadi supir di rumahnya.” Nindi menyemburkan teh dari mulutnya seperti mbah dukun.

 

“Apa?”

 

 

Wanita Itu

1 0

Pagi ini langit nampak indah, secerah wajahku yang sedang berbahagia. Aku sudah berada di toko sembako milik Pak Herman. Toko buka mulai pukul 06.00-17.00. Aku selalu masuk shift pagi, sehingga sudah bisa pulang setelah Zuhur kemudian membantu Ayah berjualan.

 

“Mbak, telurnya 2 kilogram sama terigu 3 kilogram.” Seorang ibu-ibu muda penjual kue selalu menjadi langgananku setiap hari.

 

“Enggak sekalian sama margarin, Bu?” Biasanya dia akan membeli berbagai bahan pengembang makanan dan pelengkapnya.

 

Toko ini selalu rame setiap hari. Pak Herman bahkan memperkerjakan 4 orang karyawan di tokonya. Aku masuk shift pagi bersama Udin. Dia yang membantu menata belanjaan dan aku yang melayani serta menulis catatan belanjaan. Sedangkan di kasir sudah ada Pak Herman yang setia menunggu recehan.

 

“Margarinnya masih, Neng. Kemarin sudah beli satu dus.”

 

Seperti halnya toko grosir, harga barang akan semakin murah jika membeli lebih dari 3 pcs.

 

Aku memberikan nota di kertas kemudian Udin yang menata dan membawa barang ke kasir. Setelah membayar, wanita itu pergi. Hari Kamis seperti ini toko lumayan ramai. Biasanya banyak warga yang mengikuti kegiatan yasinan, sehingga toko kami laris manis.

 

Sesekali aku mengobrol dengan Udin. Dia itu lucu, tidak pernah ngomong kalau tidak diajak ngobrol lebih dahulu. Dia sudah seperti teletubbies, mendengar perintah tetapi tidak bersuara kecuali ketika tertawa dan bersin. Sempat aku mengira dia itu tuna wicara.

 

“Din, nanti aku nebeng, ya!”

 

“Iya,” ucapnya sambil menunduk. Dia tidak pernah menatapku ketika berbicara.

 

Dia teman sekolahku sejak kecil, rumah kami lumayan jauh, tetapi dia mau mengantar meskipun tidak melewati rumahku. Dia belok kanan sedangkan aku ngiri.

 

Berbeda sekali dengan Mamat. Dia masuk shift siang bersama Puji. Mamat orangnya humble, dia menjadi kesayangan ibu-ibu karena pandai ngegombal.

 

“Selamat siang, Syifa,” ucap Mamat sambil mengedipkan mata.

 

“Kenapa, Mat? Kelilipan, ya?”

 

“Kamu kok nggak peka, sih? Aku tuh naksir kamu udah lama.” Aku bosan mendengar kalimat itu setiap hari. Dia pandai membual hingga membuatku ingin muntah.

 

Dia selalu datang lebih awal, supaya bisa lebih lama bertemu denganku. Padahal shift siang seharusnya masuk pukul sebelas. Haish, ada-ada saja. Tadinya kami satu shift, tetapi karena dia keseringan menggodaku, akhirnya dipisahkan. Banyak penjual yang komplain karena ulahnya.

 

“Mbak, beras raja lelenya ada?” Aku mendongak menatap wanita di depanku. Aku tidak asing dengan wajahnya. Sepertinya kami pernah bertemu.

 

“Ada banyak, Mbak. Mau berapa?”

 

“Seperempat, Mbak.”

 

“Din, raja lele kemasan 25 kilogram.”

Aku meminta Udin mengambilkan berasnya.

 

“Biar aku saja, Beb.” Mamat dengan semangat 46 mengambilkan sekarung beras dan membawanya ke kasir.

 

“Ada lagi, Mbak?” wanita itu tidak kunjung pergi, mungkin dia masih membutuhkan sesuatu.

 

“Sampean orang yang pernah ketemu di makam sama Arfan, ‘kan?”

 

Ah, aku ingat. Jangan-jangan dia wanita yang waktu itu. Aku tidak sempat mengingat wajahnya karena baru pertama kali bertemu.

 

“Iya, memangnya kenapa, Mbak?”

 

“Tolong jauhi dia. Aku calon istrinya!” ucapnya.

 

Deg, Apakah yang dikatakan wanita itu benar? Lalu aku? Apakah selama ini Pak Arfan hanya menggodaku saja? Nyesek banget, Gaes.

 

“Bukankah kamu sudah punya ‘bebeb' di sini?” Wanita itu melirik ke arah Mamat.

 

Ish, aku jadi merinding. Wanita itu pergi meninggalkanku yang penuh dengan seribu tanya di kepala.

 

Puji sudah datang, dia mengambil alih pekerjaanku. Aku membantu membungkus terigu dengan kemasan 1 kilogram. Warga desa dan tetangga biasanya hanya membeli terigu sekilo untuk konsumsi sehari-hari.

 

Usai Zuhur aku pulang bersama Udin. Dia mengantarkanku sampai rumah, tetapi selalu saja menolak jika aku memintanya mampir sejenak.

 

“Enggak mampir dulu, Le?” tanya Ayah.

 

“Mboten, Pak. Kapan-apan mawon.” Dia selalu bilang kapan-kapan tetapi entah sampai kapan.

 

“Faiha udah pulang, Yah?” Aku duduk di kursi plastik depan gerobak kacang ijo milik Ayah.

 

“Sudah, baru saja masuk.”

 

“Kalau Ilham?”

 

“Belum, dia ‘kan pulang jam dua.”

 

Aku ingin mengatakan kepada Ayah jika ada wanita yang memintaku menjauhi Pak Arfan. Namun aku masih ragu. Berkali-kali aku mengecek ponsel, tetapi tidak ada satupun kabar dari Pak Arfan. Aku rasanya naik darah ketika mendengar perkataan wanita itu. Perasaan apa ini ya Allah?

 

“Kamu kenapa gelisah?”

 

“Em, enggak, Yah. Kesel aja tadi toko ramai. Capek banget.”

 

“Ya sudah, istirahat dulu terus mandi dan salat!”

 

Aku segera ke kamar dan rebahan di lantai supaya adem. Kipasku tidak bisa dihidupkan karena lupa menchargernya tadi pagi. Benar-benar sial.

 

Aku terperanjat kala mendengar ponselku berbunyi. Dari kemarin hanya ibunya Pak Arfan yang menelepon. Aku tidak pernah mengangkatnya sesuai anjuran anaknya. Benar-benar calon menantu yang gak ada akhlak.

 

Sebuah nama bertuliskan ‘Dewi’ sedang memanggil, tetapi tidak ada fotonya. Aku mengangkat telepon, tetapi wanita itu diam.

 

“Halo, siapa di sana?”

 

Namun tidak ada jawaban. Suaranya seperti sedang di pinggir jalan, terdengar jelas suara lalu lalang kendaraan bising.

 

“Kalau nggak ngomong aku tutup, ya!”

 

“Tunggu!” Akhirnya wanita itu berbicara.

 

Suara itu? Bukankah dia wanita yang tadi pagi? Kepalaku rasanya panas, kobaran api cemburu mengepul.

 

“Ada yang bisa saya bantu?”Tahan, Syifa, kamu harus bisa mengontrol emosi.

 

“Aku mau bicara dengan Arfan.”

 

“Maaf, tidak bisa. Dia sedang istirahat.” Mungkin lebih baik aku berbohong. Meskipun terkesan egois.

 

“Di mana?”

 

“Di rumahku, dia ada di kamar.” Aku menutup mulutku. Rasanya aku ingin tertawa kencang.

 

Hening.

 

Dia tidak mengeluarkan suara lagi, tetapi terdengar isakan. Sejenak kemudian telepon terputus. Aku jahat enggak, sih?

 

Lebih baik aku mandi dan salat supaya pikiranku adem. Sepertinya banyak setan di kepalaku. Rasanya ingin emosi melulu.

 

Setelah kembali dari kamar mandi, kulihat ponselku berkedip. Sebuah video call dari ‘cewek barbar'. Siapa lagi ini? Sepertinya aku harus waspada memegang ponsel ini. Banyak wanita tak terduga yang menghubungi.

 

Kebetulan aku habis keramas dan masih memakai handuk. Aku ingin mengerjai cewek barbar ini. Berani-beraninya dia meminta panggilan video.

 

Perlahan kuusap tombol warna hijau dan ternyata, “Aaa ...!”

 

Aku melempar ponsel ke kasur. Astaghfirullah, ternyata wajah Pak Arfan yang muncul.

 

“Astaghfirullah, Syifa!”

 

Aku melirik dari kejauhan, untung saja ponselnya mengkurep. Jadi, tidak terlihat dari kamera belakang.

 

“Syifa,” panggil Pak Arfan.

 

“Hm ...”

 

“Kamu masih dengerin saya, ‘kan?”

 

 “Ya.”

 

“Ponselmu sudah jadi, nanti malam aku antar, ya!”

 

“Ya.”

 

“Jangan lupa pakai baju sexy!” Kemudian terdengar suara tut tut tut, panggilan terputus.

 

Dasar gila! Aku mengumpat. Bisa-biisanya dia memberikan nama ‘cewek barbar' di ponselnya.

 

Aku penasaran dengan nama-nama orang di kontaknya. Ah iya, aku ingat. Aku ingin tahu ada nama Nia atau tidak. Jika mereka memiliki hubungan, tentu ada riwayat chat.

 

Kubuka aplikasi berwarna hijau. Anggap saja dia sudah memberikanku akses ponselnya. Dia sendiri yang memintaku membawanya. Jadi bukan salahku jika aku mengotak-atiknya.

 

Paling atas ada sebuah nama ‘adikku’, isinya hanya pesan biasa, terlihat jelas seperti adik kakak. Namun saat aku membuka profilnya, ternyata hanya gambar bunga. Mirip dengan yang ada di depan rumah Pak Arfan.

 

Selanjutnya beberapa grup dengan pesan ribuan. Aku malas membukanya, nama grupnya saja absurd. Begitukah para lelaki dewasa? Hish, aku jadi memikirkan yang iya-iya.

 

Akhirnya aku menemukan nama Dewi. Mataku membulat melihatnya. Benarkah ini dia? Aku tidak menyangka dia melakukan ini.

 

Ide Gila

1 0

Wanita yang kutemui tadi pagi adalah wanita yang pernah berjumpa di makam waktu itu. Ternyata dia sengaja meminta Ayahnya untuk melamar Pak Arfan. Dunia sudah terbalik. Namun, tidak satupun pesannya yang dibalas Pak Arfan. Benar-benar lelaki cuek bebek. Dia tidak mau memberikan harapan palsu, tetapi sepertinya wanita itu tidak terima.

 

“Syifa, jangan kelamaan melamun! Nanti kesambet.” Ucapan Ayah membuyarkan lamunanku.

 

Duh, kenapa aku jadi bengong begini? Sebaiknya aku menanyakannya langsung kepada Pak Arfan. Aku berdiri dan hendak masuk ke rumah. Malam Jum'at biasanya sepi pembeli.

 

Aku mengambil ponsel di kamar, ada sebuah pesan dari ‘cewek barbar'.

 [Otewe.]

 

What? Dia udah di jalan. Aku segera berdiri di depan cermin melihat penampilanku. Dia bilang ingin melihatku memakai baju sexy, enak saja! Aku mengenakan celana jeans hitam dan jaket abu-abu gambar kelinci di punggung. Lumayan longgar dan tidak ketat.

 

Aku keluar saat mendengar bunyi motor gede. “Siapa, sih, malam-malam begini berisik banget?”

 

Astaga, sepertinya ada model yang nyasar ke sini. Aku melihat beberapa pembeli berfoto dengan lelaki yang ada di atas motor tersebut. Siapa, sih? Sok keren banget. Aku hanya bisa melihatnya dari belakang.

 

Aku hendak berbalik masuk ke rumah lagi. Sudah ada Ilham yang membantu Ayah di depan. Namun, terdengar samar orang sedang memanggil namaku.

 

“Syifa!” teriaknya.

 

Benarkah suara yang kudengar ini? Pak Arfan sudah datang? Saat aku berbalik, ternyata lelaki yang duduk di atas motor gede adalah Pak Arfan. Aku menatapnya dengan tidak percaya.

 

“Pak Arfan?”

 

“Aku nggak disuruh masuk?”

 

“Ah, iya. Silakan masuk, Pak.” Aku hampir saja ngeces melihatnya. Untung tidak kebablasan.

 

Dia melepas jaket dan duduk di kursi. Terlihat jelas tangan dan lengannya yang berotot. Ya Allah, pikiranku ternodai oleh gambar di ponselnya. Aku harus segera mengembalikannya.

 

“Ponselmu sudah jadi.” Dia menyerahkan ponselku yang dia simpan di dalam jaket.

 

Aku menerima ponsel itu kemudian membukanya. Sudah kembali normal, tetapi kenapa ada yang aneh?

 

“Ini bukan ponselku, Pak.” Tipenya memang sama, tetapi ini ponsel baru.

 

“Maaf, ponselmu tidak bisa diselamatkan.” Dia menggaruk-garuk kepalanya.

 

“Memory card-nya mana, Pak?”

 

“Masih di dalam ponsel lamamu,” jawabnya santai.

 

“Balikin, ya, Pak. Benda penting itu.”

 

Bahaya kalau sampai ada yang melihatnya. Aku juga memiliki banyak foto selfie di kamar. Semoga dia tidak membukanya.

 

“Memangnya ada apanya? Yang kamu pegang juga sudah ada memory card-nya.”

 

“Ada fotoku yang kurang pantas dilihat orang,” ucapku malu-malu hingga menundukkan wajah.

 

“Aku sudah melihatnya.”

 

What? Aku melotot mendengarnya. “Sini balikin!”

 

“Kembalikan dulu ponsel saya! Kamu pasti juga sudah membukanya.”

 

“Author Fan’z?” Aku tertawa mengejeknya.

 

“Bukankah kamu ngefans sama aku?”

 

Kini giliran dia yang mengejekku. Sial, aku mati kutu. Dia pasti sudah tahu jika selama ini aku mengidolakannya. Aku bahkan terang-terangan memintanya menjadi pacarku. Mau ditaruh mana mukaku?

 

“Dewi itu siapa, Pak?” Lebih baik aku mengalihkan topik.

 

Dia terdiam. Duh, mengapa dia jadi dingin, sih. Sepertinya aku harus mencairkan suasana. Mungkin dengan sedikit bubur kacang ijo, dia bisa kembali meleleh. Aku tidak suka Sikapnya yang dingin. Aku lebih suka dia menggodaku. Seperti ada yang menggelitik di hati.

 

“Balikin ponsel saya, mau pulang sekarang.”

 

“Ih, ngambek, ya?” Aku mendekatinya, tetapi dia malah mundur. Haish, nesu mode on.

 

“Jangan dekat-dekat, Syifa!” Dia menjadi salah tingkah.

 

Aha, muncul ide g!la di kepalaku. Dia semakin mundur saat jarak kami semakin dekat. Aku memepetnya hingga dia duduk di pojokan.

 

“Kamu mau ngapain, Fa? Enggak usah aneh-aneh!”

 

“Aku lagi kangen sama author Fan’z.”

 

Aku yakin dia pasti takut aku grayang-grayangi. Ekspresi mukanya terlihat lucu. Aku gemas dan ingin mencubit pipinya.

 

Sejenak kemudian dia tersenyum. “Beneran kamu kangen sama aku?”

 

Pelan tapi pasti, aku mengangguk. Dia tersenyum menyeringai dan memegang pundakku. Duh, mengapa jadi aku yang merinding? Aku beringsut mundur.

 

“Bapak mau ngapain?”

 

“Aku juga kangen kamu, Fa. Ke kamar, yuk! Malem Jum’at, loh,” ucapnya sambil mengerlingkan mata.

 

Tanpa membuang waktu, aku berlari ke depan menemui Ayah. Kudengar dia tertawa terbahak-bahak sendirian. Menyebalkan sekali. Bulu kudukku masih meremang, mungkin inilah alasan kenapa laki-laki dan perempuan tidak diperkenankan berduaan dalam satu ruangan. Hampir saja khilaf.

 

“Ham, tolong ambilin bubur untuk Pak Arfan!”

 

“Kenapa enggak kakak sendiri aja?”

 

“Kalau kakak yang antar, bakal ada setan yang gangguin.”

 

“Ck, dasar! Bilang saja cari obat nyamuk.” Ilham berdecak sebal. “Ya sudah, aku temenin, tapi di depan, ya. Kalau ada apa-apa bisa panggil aku.”

 

Akhirnya aku kembali dengan semangkuk bubur untuk Pak Arfan.

 

“Pak Arfan makan bubur dulu biar pikirannya jernih.”

 

“Makasih,” ucapnya.

 

Dia sudah memainkan ponselnya. Aku meletakkannya di meja sebelum keluar.

 

“Kamu masih penasaran dengan Dewi? Dia mantan pacarku.”

 

Deg, dia punya mantan? Mengapa rasanya dadaku sesak? Aku sudah menjaga hubunganku hingga tidak pernah pacaran. Bahkan aku tidak pernah mempermainkan lelaki. Benarkah dia jodohku? Jika jodoh adalah cerminan diri, sepertinya kacaku tertukar.

 

“Bapak punya mantan?” Aku masih tidak percaya.

 

“Banyak.” Dia mulai menyuapkan bubur sedikit demi sedikit.

 

Astaga, mantannya banyak. Aku dapat bekas orang nih.

 

“Tenang saja, semua hanya masa lalu. Aku sudah tidak ada hubugan dengan mereka. Hanya dewi satu-satunya mantan yang masih menghubungiku.

 

Aku yakin kamu pasti tahu. Kamu sudah membaca pesannya kan? Dia masih bersedih karena kepergian ibunya. Besok adalah acara 7 hari. Dia memintaku untuk datang.”

 

“Bapak akan datang?”

 

“Insya Allah.”

 

“Aku boleh ikut?” Aku harus ikut dengannya. Aku tidak akan membiarkannya bertemu dengan wanita itu. Bisa-bisa imannya goyah.

 

“Bukannya kamu kerja?”

 

Aku menepuk jidatku. Bahkan aku lupa jika esok aku harus bekerja. “Aku akan izin.”

 

“Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah memantapkan hatiku untukmu. Aku tidak akan goyah.”

 

Heh? Dia tahu isi hatiku?

 

Bubur di mangkuknya tinggal sedikit. Dia lahap sekali makannya. Tetapi tidak satu pun suapannya masuk ke dalam mulutku. Ya Allah, kenapa aku memiliki pikiran seperti ini?

 

“Aku mau bicara dengan Ayahmu sebentar.”

 

“Ngomong aja, Pak. Nanti aku sampaikan sama Ayah.”

 

Memangnya dia mau ngomong apalagi? Paling dia hanya mau merayu Ayahku saja.

 

“Bentar lagi Ayah pasti datang, buburnya tinggal sedikit.”

 

Malam Jum’at seperti ini, Ayah hanya membuat bubur dengan porsi sedikit, kecuali jika ada pesanan. Malam ini kebalikan dari malam Minggu. Sepi dan sunyi. Tidak lama kemudian Ayah datang.

 

“Nak Arfan datang malam-malam begini ada perlu apa?” tanya Ayah. Diusapnya peluh yang membanjiri keningnya.

 

“Saya mau meminta izin untuk melamar putri Bapak. Saya akan datang bersama kedua orang tua saya besok lusa. Insya Allah malam minggu nanti.”

 

Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku lagi. Hati ini senang mendengarnya.

 

“Aku ingin kamu memakai ini dalam acara lusa.” Dia menyerahkan sebuah kotak kado. Isinya apa ya kira-kira

 

“Apa ini?”

 

“Jangan dibuka sekarang. Nanti saja kalau saya sudah pulang.”

 

“Kira-kira berapa orang yang datang, Nak? Biar Bapak bisa siap-siap,” tanya Ayah.

 

“Hanya keluarga saya, Pak. Ayah, ibu dan adik saya. Bapak tidak perlu repot-repot menyiapkan apapun. Cukup hidangkan bubur, kami sudah senang bisa diterima di sini.”

 

“Bailkah, Nak. Bapak mau beresin dagangan dulu. Silakan dilanjut lagi ngobrolnya.”

 

“Saya mau pulang saja, Pak. Sudah larut malam.”

 

Dia memakai jaket dan membawa ponselnya. Mengapa singkat sekali? Padahal aku masih ingin mengobrol dengannya. Kami mengantarkannya hingga pintu depan.

 

“Aku pamit, ya. Assalamu’alaikum.”

 

Aku langsung membawa kado darinya ke kamar. Aku penasaran dengan isinya. Meskipun kutahu paling-paling isinya gamis. Namun, pemberian dari seseorang yang spesial akan tetap teraa spesial sampai kapanpun.

 

Kubuka kotak kado berwarna pink itu, dan ternyata isinya .... Benar-benar keterlaluan! Baru saja dia terbangkanku ke awan, kini sudah dia hempaskan. Ingin rasanya aku memakinya.

 

Nackal

1 0

Aku sangat penasaran dengan kado yang diberikan Pak Arfan. Perlahan kubuka kotak berwarna pink itu, dan ternyata isinya .... Benar-benar keterlaluan! Baru saja dia terbangkanku ke awan, kini sudah dia hempaskan. Ingin rasanya aku memakinya.

 

Dasar cowok nackal! Belum juga jadi suami, dia sudah memberikanku baju tidur seperti ini. Aku menenteng sebuah gaun tipis warna violet. Kemudian berdiri di depan kaca. Begitu mengerikan, tipis seperti saringan teh. Tidak ada lengannya pula. Ayah pasti akan mengira anaknya menjadi gembel jika memakai pakaian kurang bahan seperti ini.

 

Aku melipat kembali gaun itu. Tanpa sengaja aku melihat label harganya. Ya Allah, mahal banget baju beginian. Kalau beli daster udah dapat 5 biji. Pemborosan sekali. 

 

Kemudian kuambil gamis warna mocca di bawahnya. Sangat manis dan elegan. Banyak payet berbentuk bunga dan manik-manik yang bling-bling. Ternyata bajunya berat, ada nih kalau satu kilogram.

 

Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba. Kulihat pantulan diriku di cermin. Aku bagaikan seorang putri memakai baju ini. Aku memutar tubuhku berkali-kali, memang sangat indah.

 

“Syifa! Sudah tidur? Tolong keluar sebentar, Ayah mau bicara.” Terdengar sebuah ketukan pintu dari luar.

 

Ayah mengganggu saja, baru juga lagi nyobain baju. “Iya, Yah. Tunggu sebentar!”

 

Aku lekas membuka gaun tersebut, tetapi belum sempat aku melepaanya, sebuah panggilan video masuk. Aku tersenyum melihat nama dan fotonya terlihat jelas, Author Fan'z.

 

Aku belum sempat menyimpan nomornya, tetapi dia sudah meulisnya sendiri. Aku malu bila mengingatnya. Dosenku, babang ojolku akhirnya jadi calon suamiku.

 

Angkat tidak, ya? Sudah lebih dari jam 10 malam. Kata Ayah tidak baik anak gadis teleponan di malam hari, tetapi hati kecilku mengatakan aku harus mengangkatnya.

 

“Hallo, Syifa. Belum tidur?” tanyanya. Dia sudah rebahan di kasur.

 

Sepertinya aku mengenal warna seprei itu. Aku tidak asing dengan tempat itu, tetapi di mana?

 

“Wa’alaikumsalam.” Bukannya mengucapkan salam malah say Hallo.

 

“Eh iya, lupa. Assalamu’alaikum, Syifa.” Dia menggaruk-garuk kepalanya kemudian duduk. Rambutnya masih basah, sepertinya dia baru selesai salat.

 

“Udah aku jawab tadi.”

 

“Lagi nyobain baju, ya?” Dia pasti sudah melihatnya. Ah sial, aku harus mematikan kamera.

 

“Iya.”

 

“Pas ‘kan? Yang satunya sudah dicoba belum?” Kenapa pula dia menanyakan baju yang satunya?  Baju tidak layak pakai.

 

“Gamisnya kepanjangan sedikit. Kalau baju yang satunya belum aku coba. Bajunya tidak layak pakai.”

 

Terdengar suara tawanya terbahak-bahak. Memang benar kan? Baju seperti itu tidak bisa dipakai.

 

“Coba aktifin kameranya, aku mau lihat, dong!” Dasar kang modus.

 

“Enggak! Aku sudah ngantuk, mau tidur.”

 

“Syifa! Cepetan, mumpung Ilham dan Faiha dah tidur.” Lagi, Ayah mengetuk pintu.

 

“Ayah kamu mau ngapain? Belum tidur?”

 

“Besok aku telepon lagi, aku ada perlu sama Ayah. Assalamu’alaikum.” Segera kumatikan telepon sebelum dia menjawab salam. Aku takut Ayah marah.

 

Kami duduk di ruang tengah depan televisi. Ayah tiba-tiba memelukku, kubalas pelukannya dengan erat. Hening dan kurasakan punggungku mulai basah. “Ayah menangis?”

 

“Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak menyangka akan berpisah denganmu secepat ini. Kemarin kamu masih suka main layangan dan suka keluar ingusnya.” Ayah mengusap air matanya.

 

Perlahan bulir air mataku juga luruh. “Haruskah aku berpisah dengan Ayah? Aku tidak boleh tinggal di sini lagi?”

 

Ayah mengusap kepalaku. “Kamu boleh datang ke rumah ini kapan pun kamu mau. Namun, kamu juga harus tahu. Seorang istri wajib taat dengan suaminya.

 

Apabila seorang istri berbakti kepada suaminya, maka surga Allah akan selalu menantinya. Tidak hanya di akhirat, di dunia kalau dia taat dan berbakti kepada suami dia akan mendapat kebahagiaan dan ketentraman hidup di dunia dan rumah tangganya.”

 

“Aku rindu ibu, Yah.” Sudah lama aku tidak pernah mengunjungi makam ibu. Apalagi semenjak kuliah, padahal Ayah selalu memgajak kami ziarah setiap hari Jum'at.

 

“Besok kita sama-sama ke makam ibumu. Sekarang sudah malam, lebih baik kamu segera istirahat. “

 

Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan diri di kasur. Kumatikan lampu dan tidur.

 

***

Keesokan harinya aku bekerja seperti biasanya. Hari Jum’at itu berat, bagaimana tidak? Jika Udin dan Pak Herman pergi jum'atan, aku menjaga toko sendirian. Aku kewalahan melayani pembeli, terutama emak-emak yang suka beli beras.

 

“Kalau beli beras pagi aja, ya, Mak! Kalau siang begini temannya pergi. Saya bisa encok.” Aku sering mengatakan hal itu kepada pembeli.

 

Aku bahkan pernah protes kepada Pak Herman. “Apa enggak sebaiknya toko ditutup saat jum'atan, Pak?”

 

“Tidak apa-apa, nanti dibantu sama istri saya,” ucap Pak Herman waktu itu, tetapi kenyataannya dia hanya datang beberapa kali saja. Aku sudah meminta Puji untuk datang lebih awal, sebagai gantinya aku akan pulang lebih siang. Namun, dia tidak bisa karena harus menjemput ibunya yang berjualan di pasar.

 

Sore ini aku akan pergi ke makam ibu bersama Ayah dan kedua adikku. Karena hanya ada sebuah sepeda motor, kami gantian berziarah. Pertama Ayah dan Ilham berangkat lebih dahulu. Kemudian, aku dan Faiha berangkat setelah Ayah pulang.

 

“Kamu masih ingat makam ibu, ‘kan, Fa?” tanya Ayah.

 

Aku sebenarnya sudah lupa. Hampir satu tahun aku tidak pernah ke sana. Dulu aku menanam bunga kesukaan ibu di belakang nisan. Semoga tanaman itu masih hidup.

 

“Kamu ingat nggak, Fai?” tanyaku kepada Faiha. Dia biasanya pergi bersama Ayah tanpaku.

 

“Aku?” Dia menunjuk dirinya sendiri kemudian garuk-garuk kepala. “Semoga saja ingat. Bukankah di atasnya ada bunga kamboja warna pink?”

 

Aku menepuk jidatku pelan. Ah iya, pasti makam ibu berbeda dari yang lain. Meskipun namanya sudah tidak terlihat karena kayunya sudah dimakan rayap, tetapi ada sebuah bunga kamboja yang kutanam di sana.

 

“Ya sudah, ayo berangkat!”

 

“Tadi Ayah kasih botol di bawah bunga kamboja. Ingat ya, kayak iklan di tipi, air mineral yang ada manis-manisnya.”

 

Aku dan Faiha berangkat memakai baju putih dan celana panjang. Aku masih trauma memakai gamis. Takut terkena rantai motor. Mungkin aku tidak cocok jadi orang kere, seharusnya aku menjadi orang kaya. Ke mana-mana naik mobil. Pakai gamis pun tidak akan panas karena memiliki rumah dan kendaraan ber-AC.

 

Hais, khayalanku terlalu tinggi. Setelah perjalanan 10 menit, kami sampai di makam. Tidak begitu ramai di Jum'at sore, karena biasanya peziarah akan datang pada malam Jum’at.

 

“Makamnya ibu lewat sini, ‘kan, Fai?”

 

“Iya, Kak.” Aku berjalan di depan sedangkan Faiha di belakangku.

 

Aku sampai di sebuah makam dengan bunga kamboja kecil dan bunganya berwarna pink. Pasti ini makam ibu.

 

“Yang ini, Fai?”

 

“Aku lupa, Kak. Terakhir sepertinya bunganya sudah besar. Apa dipotong penjaga makam, ya?”

 

Kulihat ada sebuah botol air di bawahnya. “Pasti yang ini, Fai.”

 

“Botolnya kok warna orange kak? Itu bukan air mineral, tapi minuman rasa jeruk.”

 

“Pasti Ayah lupa, Fai. Ini kan juga minuman yang ada manis-manisnya.”

 

Akhirnya Faiha juga ikut duduk di sebelahku. Beralaskan sandal jepit swallow, kami duduk dan berdoa di depan makam ibu. Kami menaburkan bunga dan air di atas makam. Tanahnya masih basah, pasti Ayah dan Ilham yang menyiramnya. Kucabuti rumput kecil yang tumbuh dan kubersihkan nisannya. Sama sekali sudah jelek, tidak lagi terlihat namanya.

 

“Bu, sebentar lagi aku akan menikah. Aku minta restu ibu.” Ya Allah, mengapa rasanya sesak sekali? Aku malu menangis di depan Faiha.

 

“Kak,” ucap Faiha sambil mengelus pundakku.

 

Aku tidak kuat melanjutkannya. Aku menangis tergugu di pelukan Faiha. “Mengapa ibu meninggalkan kita, Fai? Aku sudah jadi anak yang baik. Aku sudah tidak nakal lagi.”

 

“Kakak beruntung bisa melihat ibu, sedangkan aku–“ Kupeluk Faiha erat-erat, aku tidak akan membiarkannya menangis. Aku lebih beruntung darinya karena masih bisa merasakan kasih sayang seorang ibu.

 

“Maaf, permisi, Mbak. Jangan nangis di makam nenek saya!” Seorang laki-laki muda datang menghampiri kami.

 

“Ini makam ibu kami, Mas. Buktinya ada bunga kamboja pink di atasnya. Saya sendiri yang menanamnya.”

 

Di makam ini hanya ada bunga kamboja putih. Aku menanam bunga terakhir milik ibu di atas makamnya. Tanaman yang lainnya sudah mati dimakan ayam tetangga.

 

“Mbak, udah berapa lama tidak ke tempat ini?” tanya lelaki itu.

 

“Satu tahun, kayaknya.”

 

“Coba lihat di sekeliling makam ini! Di samping kanan, belakang, dan di belakang saya juga ada tanaman kamboja pink.” Lelaki itu terkekeh.

 

Kulihat makam di sebelahku, tanahnya kering. Begitu juga di belakang lelaki itu, nampak kering dan tidak ada taburan bunga. Aku menoleh ke belakangku, dan ada sebuah tanaman kamboja, pohonnya rimbun tetapi tidak berbunga. Di bawahnya ada sebuah botol dengan ciri-ciri yang desebutkan Ayah. Tanahnya masih basah dan ada taburan bunga.

 

“Ya Allah, Fai ... sepertinya kita salah makam.”

 

Cemburu Buta

1 0

Sinar mentari pagi menghangatkan tubuhku. Bukan berjemur, aku hanya menjemur cucian. Aku takut hitam jika lama-lama kepanasan. Nanti enggak imbang sama kulit putihnya Pak Arfan.

 

Hari ini aku berangkat kuliah bersama Nindi. Aku memintanya menjemputku karena ada hal yang harus aku ceritakan. Seharusnya ini menjadi hari bahagiaku karena nanti malam aku akan dilamar. Namun, seperti ada yang mengganggu hati ini.

 

Wanita itu menyebalkan sekali. Bisa-bisanya dia meminta Pak Arfan mengaji di rumahnya. Bukankah ada banyak ustaz di sini? Kenapa mesti calon suamiku? Dan aku tidak diizinkan ikut pula. Huf, aku membuang napas lelah.

 

“Fa, Nindi udah datang!” teriak Ayah.

 

Ayah sedang sarapan di dapur bersama Faiha dan Ilham. Aku sudah sarapan lebih dahulu kemudian menjemur baju. 

 

Usai berjemur, aku langsung menemui Nindi. “Tunggu sebentar, aku ambil tas dulu.”

 

Aku mengambil tas dan pergi. Sesampainya di kampus, aku mengajak Nindi langsung ke kelas. “Ayo kita masuk, mumpung belum ada anak-anak.”

 

“Mau ngomongin apaan? Buruan, gih!” ujar Nindi.

 

Aku melihat sekeliling ruangan ini masih sepi. Aku menengok ke luar kelas untuk memastikannya. Kudorong tubuh Nindi hingga dia duduk di kursinya. Kemudian aku duduk di sebelahnya.

 

“Kamu bisa enggak nanti malam datang ke rumahku?” tanyaku pelan-pelan. Masih dengan rasa waswas, takut jika ada yang mendengarnya.

 

“Ngapain? Mau bagi-bagi bubur gratis, ya?” tanyanya.

 

“Pak Arfan mau datang ke rumah buat ngelamar aku.”

 

“Apaaa?” teriak Nindi terkejut hingga menggebrak meja.

 

“Astaghfirullah, kamu mengagetkanku saja, Ndi.” Aku kaget hingga memegangi dada. Hampir copot jantungku.

 

“Beneran tega kamu, Fa. Kukira kamu hanya bercanda, ternyata kamu tidak main-main.” Sejenak aku membiarkan Nindi mengomel. Lebih baik diungkapkan daripada menjadi jerawat di pipi.

 

Ternyata selain Nindi ada seorang laki-laki yang sepertinya mendengar percakapan kami. Dia mematung di tengah-tengah pintu. Oh tidak, bagaimana ini? Aku menyenggol lengan Nindi supaya dia berhenti nyerocos.

 

“Ndi, ada Ibra.” Sontak Nindi menoleh ke arah pintu.

 

Ibra berjalan mendekati kami. Tatapannya tertuju padaku. Menelisik hingga menembus jantung. Mengapa ada perasaan bersalah di sini. Aku segera memalingkan pandanganku.

 

“Jadi, kamu hanya memberikan kabar bahagia itu kepada Nindi?” tanya Ibra.

 

Dia tersenyum penuh misteri, aku tidak bisa mengartikannya. “Maksud kamu?” Aku mengerutkan dahi.

 

“Pak Arfan pasti sibuk mempersiapkan acara nanti malam, berarti jam kosong, dong?” tanya Ibra nampak antusias.

 

Heh? Apa-apaan dia? Kukira dia akan marah, malah ndagel. Aku saling tatap dengan Nindi melihat kelakuan Ibra. Dia bersorak-sorak bergembira mengetahui kabar dariku.

 

“Kamu senang karena jam kosong atau karena Syifa mau nikah, Bra?” tanya Nindi.

 

Ibra mengambil kursi dan duduk di depan kami. Posisi kami sudah seperti orang yang sedang rapat.

 

“Aku seneng karena jam kosong, kita geret Syifa ke kantin buat traktir kita. Ya ‘kan, Fa?” tanya Ibra.

 

“Heh, aku belum gajian. Nanti aja makan-makannya pas resepsi.” Aku menopang dagu dengan kedua tangan.

 

“Belum gajian tapi hapenya baru,” cibir Ibra.

 

“Dibeliin ama ayang mbeb,” jawab Nindi terkekeh geli.

 

“Eh, tapi nih muka kok kusut amat, ya, Ndi?” Ibra memencet hidungku.

 

“Iiih, lepas! Aku lagi kesel. Pak Arfan nggak masuk bukan karena mau mempersiapkan acara nanti malam. Dia lagi ngaji di rumah mantannya. Acara 7 harinan.”

 

Tawa Nindi dan Ibra pecah. Mereka tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya.

 

“Aku kayaknya tadi denger ada yang mau lamaran. Siapa, Sayang?” Thalita tiba-tiba masuk dan memeluk Ibra dari belakang.

 

Hais, kenapa aku merinding melihat adegan mereka bermesraan di depan umum. Aku bergidik ngeri.

 

“Syifa yang mau dilamar,” jawab Ibra ketus. “Kita ke kantin, yuk.”

 

“Hayuk!” Thalita dengan semangat 95 menggandeng tangan Ibra. Posesif sekali wanita itu.

 

Tidak lama kemudian ada pesan di WAG kelas.

[Jam pertama kosong, gaes. Pak Arfan izin.]

Di bawahnya disertakan capture izin dari Pak Arfan kepada Ibra.

 

Jadi, Ibra sudah tahu jika Pak Arfan izin? Benar-benar menyebalkan.

 

Jam pertama aku habiskan untuk mengobrol dengan Nindi. Jam kedua aku tidak konsen. Aku selalu mengirimkan pesan setiap 30 menit kepada Pak Arfan, tetapi centang dua warna abu-abu.

 

Tega sekali Pak Arfan. Dia lebih memilih datang ke rumah mantan daripada ke kampus. Dosen macam apa itu? Seenak jidat dan semaunya sendiri. Memangnya kampus milik bapaknya?

 

Jam istirahat kulihat ponselku masih sama. Tidak ada balasan darinya. “Ya Allah, gini amat nasibku.”

 

“Kenapa, Fa?” tanya Nindi.

 

Kami sedang makan soto di kantin, tetapi pikiranku sudah traveling ke rumah Dewi. Ini jam makan siang, seharusnya Pak Arfan istirahat. Pasti Dewi yang menyajikan makanan untuknya. Ya Allah, perasaan apa ini? Kepalaku rasanya panas. Bagaikan gunung berapi yang ingin mengeluarkan cairan magma.

 

“Pak Arfan nggak ada kabar.”

 

“Gak sabar amat! Namanya ngaji tuh lihat Al-Qur'an, Fa. Kalau lihat hape namanya kepo. Udahlah, yang sabar aja, nanti pasti dia ngasih kabar,” ucap Nindi sambil meminum es jeruk.

 

Benar kata Nindi, aku harus sabar dan husnuzon. Aku akan makan yang banyak agar kuat menghadapi kenyataan. Tidak lama ponselku berbunyi. Pak Arfan menghubungiku, panjang umur dia. Dengan mata berbinar aku mengangkatnya.

 

“Halo, assalamu’alaikum,”

 

“Kamu dah makan?” tanyanya.

 

“On proses.”

 

“Jangan lupa minum air putih yang banyak, biar pikiranmu jernih,” ucapnya terkekeh.

 

Memang sedari tadi pagi aku selalu menanyakan kabarnya. Aku sampai menyebut nama Dewi lebih dari lima kali. Tambah tiga dapat piring cantik.

 

“Aku minum es jeruk aja, biar kepalaku dingin.” Aku tak mau kalah darinya.

 

“Jangan lupa salat supaya pikiran tenang. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Nanti sore aku jemput.”

 

“Baiklah.” Aku menggigit kukuku, pasalnya aku sedang uzur. Ya Allah, seneng banget rasanya. Telepon dimatikan setelah dia mengucapkan salam.

 

Hingga mata kuliah terakhir, aku selalu tersenyum. Tidak sabar menjemput sore karena akan bertemu sang pujaan hati. Dia bilang aku harus bersabar karena dia sedikit terlambat. Jam empat sore aku keluar kelas. Aku meminta Nindi menemaniku sebelum Pak Arfan datang.

 

“Temenin aku dulu, aku takut diculik dedemit.”

 

“Dasar tukang halu! Kamu kebanyakan baca novel online.”

 

Aku terkekeh. Memang benar kata Nindi. Aku keseringan baca novel online sehingga membuat pikiranku oleng. Aku takut punya ibu tiri sehingga berkali-kali menolak Ayah menikah lagi. Padahal kami butuh seorang ibu. Aku juga tidak mau pacaran, aku takut diajak ML sama pacar. Tadinya aku juga takut menikah jika hanya mendapat nafkah 20 ribu sehari. Takut jika suamiku menghilang di malam pertama atau memiliki ipar dan mertua jahat. Haish, pikiran macam apa ini?

 

Tidak lama kemudian datanglah seorang laki-laki memakai sarung dan baju putih serta helm yang sudah sangat aku kenal. Namun dia tidak membawa motor butut, kali ini dia memakai motor gede. Wah pengalaman pertama buatku naik motor begini. Norak, ya, authornya. Wkwkwkwk.

 

“Sudah datang, Ndi. Aku balik dulu, ya!”

 

“Beneran itu Pak Arfan?”

 

“Iya, dia bilang mau nyamar biar nggak ada yang tahu,” ucapku berbisik.

 

Pak Arfan memang sudah memberiku isyarat jika dia tidak akan turun dari motor atau melepas helm. Takut jika banyak mahasiswa yang heboh melihat kedatangannya.

 

“Buruan naik!” ucapnya.

 

Aku segera naik dan duduk di belakangnya. Perjalanan selama 30 menit terasa sebentar. Kami berbincang-bincang hingga tanpa terasa sudah sampai di depan rumah.

 

“Turun, sudah sampai, Syifa!” teriak Ayah.

 

Astaga, aku merutuki diriku sendiri. Sudah disambut Ayah dengan gagang sapu dan kemoceng di depan rumah. Aku segera turun kemudian mencium punggung tangan Ayah.

 

“Buruan beres-beres rumah!”

 

“Makasih, calon suamiku,” ucapku kepada Pak Arfan kemudian mengambil kemoceng dan sapu dari Ayah. Aku tidak punya muka lagi, aku langsung lari terbirit-birit dan menutup pintu.

 

Aku mengintipnya dari jendela kaca, Pak Arfan geleng-geleng kepala kemudian berpamitam kepada Ayah.

 

Pak Arfan bilang jika dia akan datang habis Isya, tetapi baru setengah tujuh kudengar suara mobil sudah datang. Dia terlalu bersemangat rupanya. Aku segera merapikan jilbab dan segera keluar.

 

Namun, saat aku sampai di depan, kenapa yang datang malah Nia dan keluarganya? Apakah mereka mau memesan bubur lagi?

 

Ingin Pingsan

1 0

Malam ini aku sangat bahagia. Langit nampak cerah diterangi cahaya rembulan, beribu bintang di langit bersinar terang. Mereka seolah tersenyum kepadaku.

 

Dengan gaun yang indah aku bersiap menyambut keluarga Pak Arfan, tetapi yang datang malah keluarga Pak Shaka. Mereka tersenyum dari kejauhan kemudian mengucapkan salam setelah sampai di depan rumah.

 

“Wa’alaikum salam, Bapak mau cari Ayah saya? Mau beli bubur lagi, ya? Maaf hari ini kami tidak berjualan.”

 

Mereka pasti mau membeli bubur kacang ijo.

 

“Em, iya, kami–“

 

“Sebentar, saya panggilkan Ayah dulu.”

 

Aku tidak akan membiarkan mereka masuk. Bisa kacau acara malam ini kalau sampai mereka lama berbincang dengan Ayah. Padahal setengah jam lagi keluarga dari Pak Arfan akan datang.

 

“Yah, Ayah!” Aku mencari Ayah hingga ke dapur, ternyata Ayah sedang ada di kamar mandi. “Buruan, Yah. Ada Pak Shaka!”

 

Setelah menyampaikan kedatangan Pak Shaka kepada Ayah, aku kembali ke depan mempersilakan mereka duduk. “Silakan duduk, Pak.”

 

“Terima kasih, Nak,” ucap Bu Shaka. Mereka kemudian hendak masuk ke dalam, tetapi aku mencegahnya.

 

“Em, sebelumnya saya minta maaf. Mau ada tamu. Jadi, Bapak dan Ibu bisa duduk di teras saja!” ucapku sambil menunjukkan kursi yang tersedia di depan rumah.

 

Nia melotot, dia hendak marah, tetapi ibunya melarang dan memintanya duduk. Kulihat dia mengepalkan tangan.

 

“Duduk aja, Nduk!” perintah Pak Shaka.

 

“Tunggu sebentar, ya, Pak. Ayah sedang wirid. Memang sedikit lama biasanya.” Enggak mungkin ‘kan aku bilang jika Ayah sedak berak?

 

Kemudian aku kembali masuk ke kamar. Aku segera mengecek ponsel, apakah Pak Arfan sudah dalam perjalanan atau masih di rumah. Ada sebuah pesan darinya.

 

[Maaf, aku sedikit terlambat.]

 

Dengan perasaan kecewa aku membalas pesannya.

[Enggak usah datang aja sekalian!]

 

Aku meletakkan ponsel di atas meja. Sudah dandan cantik, pakai bedak dan lipstik, tetapi dia bilang terlambat? Bagaimana jika bedaknya luntur? Oh, tidak! Nindi bilang bedaknya tahan lama hingga 8 jam.

 

Aku meminta Nindi datang untuk merias wajahku supaya terlihat cantik. Jangankan pakai lipstik, pakai bedak saja aku tidak bisa. Kening tebal, pipi tipis, sudah seperti badut saja. Lebih baik aku meminta pertolongannya daripada malu-maluin.

 

“Syifa, tamunya di mana? Kok sepi, ya?” tanya Ayah yang sudah masuk kamar. Aku memang tidak menutupnya karena hanya akan mengecek ponsel.

 

“Tamunya belum datang, Yah. Pak Arfan bilang dia sedikit terlambat. Yang datang malah keluarga Pak Shaka.”

 

“Astaghfirullah, Syifa!” Ayah lari tenggang langgang meninggalkanku dengan sejuta tanya. Kenapa Ayah sepanik itu? Biarin aja, deh. Bukan urusanku.

 

Sudah azan Isya', tetapi keluarga Pak Arfan belum datang juga. Perasaanku semakin resah dibuatnya. Ya Allah, bagaimana jika dia hanya mempermainkan perasaanku? Aku sudah terlampau baper.

 

Di tengah kerisauanku, terdengar bunyi motor dari orang yang selalu mengusik hati ini. Aku segera keluar dan menyambutnya.

 

Dia memakai kemeja putih bergaris dan celana jeans warna navy. Jaketnya disampirkan di atas motor. Ayah dan keluarga Pak Shaka juga ikut berdiri. Aku baru ingat jika mereka pasti mengenal Pak Arfan karena dia adalah dosen di kampus Anak Negeri.

 

Dengan bangga aku memperkenalkan Pak Arfan kepada mereka. “Perkenalkan, Pak Arfan ini adalah calon suami saya.”

 

Ya Allah, entah dari mana aku dapat kekuatan hingga berani berkata seperti itu. Pak Arfan tersenyum, tetapi seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Dia menggaruk-garuk kepalanya. Mungkin ada kutunya.

 

“Em, Syifa, sebenarnya –“

 

“Bapak datang sendiri? Keluarga Bapak mana?” Aku menengok ke jalanan. Tidak ada mobil atau pun motor terparkir. Hanya mobil Pak Shaka.

 

Kulihat Ayah memegangi kepalanya, seperti sedang frustrasi. Kemudian dia berdiri dan membisikkan sesuatu di telingaku. “Syifa, mereka ini sebenarnya keluarga Pak Arfan. “

 

Aku sangat terkejut dengan pernyataan Ayah. Rasanya aku ingin pingsan, mendadak tubuhku lemas. Untung saja Pak Arfan segera menangkapku. Namun, kenapa Ayah sepertinya biasa saja? Apakah Ayah sudah mengetahuinya?

 

Ya Allah, jadi selama ini dia sudah membohongiku. Hati ini memanas mengetahui semua kenyataan yang sesungguhnya. Sesakit inikah dibohongi orang yang kita sayang?

 

“Ternyata kalian sudah sejauh ini?” Pak Shaka geleng-geleng kepala. “Pantas saja Arfan ngebet kepingin segera melamar kamu, Nak.”

 

Pak Arfan tersadar kemudian menuntunku ke dalam. Aku menarik tanganku dan menjauh darinya. Aku belum bisa menerima kenyataan ini. Kami duduk berenam di ruang tamu. Ilham dan Faiha hanya mengantarkan camilan dan minuman. Tidak lupa bubur kacang ijo andalan Ayah.

 

“Nak Syifa, mohon maaf sebelumnya. Kami tidak bermaksud membohongimu. Arfan selalu menolak wanita yang kami pilihkan untuknya. Namun, kemarin dia bilang jika harus melakukan semua ini agar bisa mendapatkan calon istri yang benar-benar bisa menerima kekurangannya.

Hanya kamu wanita yang bisa meluluhkannya. Tanpa mengurangi rasa hormat, maukah kamu menerima lamaran anak kami?”

 

Mengapa Pak Shaka to the point? Enggak pakai basa basi sama sekali. Aku melirik Pak Arfan, dia diam seribu bahasa. Berbeda jika tanpa kedua orang tuanya. Aku rasanya ingin menolak, tetapi sayang. Aku sudah terlanjur menaruh hati kepadanya.

 

Namun aku juga belum bisa menerima kebohongan yang telah dia lalukan. Mungkin jika hanya tentang author Fan’z, aku bisa memaafkannya, tetapi dia sudah berbohong tentang keluarganya. Ya Allah, aku tidak punya muka di depan keluarganya.

 

“Bismillah, saya mau.” Aku mengucapkannya sambil menunduk. Wajahku sudah semerah tomat. Malu tapi mau.

 

“Alhamdulillah,” ucap semua orang bersama-sama.

 

“Bagaimana kalau sekalian kita tetapkan tanggal nikahnya?” usul Bu Shaka.

 

Hah? Sontak aku mendongak ke arah mereka. Bukankah baru saja aku menerima lamaran mereka? Mengapa secepat ini? Aku masih ingin kuliah.

 

“Saya setuju, Pak. Apalagi Nak Arfan sering datang ke sini. Saya takut mereka khilaf jika terlalu lama berinteraksi.” Ayah ember sekali. Mengapa dia tidak bisa bohong sedikit saja. Aku menepuk jidatku.

 

“Aku juga setuju, Pa. Mereka harus segera menikah,” ucap Nia mengompori.

 

Kulihat Pak Arfan nampak tenang. Apakah dia sudah tidak sabar ingin menikah denganku? Aku baru sadar jika dia adalah pria dewasa. Haish, dia tentu sudah ingin berkeluarga. Bagaimana dengan nasibku? Aku belum genap 20 tahun.

 

“Syifa, tolong ambilkan kalender!” pinta Ayah. Aku tersadar dari lamunan dan segera mengambil kalender di dinding kemudian memberikannya kepada Ayah.

 

“Maaf sebelumnya, Pak Shaka. Saya boleh tahu wetonnya Nak Arfan? Saya mau mencocokkan dengan wetonnya Syifa,” ujar Ayah.

 

Weton jawa kerap digunakan untuk menentukan tanggal yang baik saat ingin melangsungkan acara pernikahan agar menghindari hari yang dianggap sial. Selain itu, weton juga bisa digunakan untuk menghitung kecocokan pasangan.

 

Sejenak keluarga Pak Arfan saling tatap, tetapi kemudian tersenyum. “Tentu saja boleh, Pak. Kita sebagai orang jawa harus memghormati adat istiadat. Bukankah begitu, Pa?” jawab Bu Shaka santun.

 

“Tentu saja. Kami setuju jika pernikahan ini dihitung berdasarkan weton. Arfan lahir di hari Jum’at Kliwon, Pak.” Pak Shaka sudah menyebutkan hari lahir Pak Arfan. Sekarang tinggal Ayah yang menghitungnya.

 

Sebenarnya aku tidak percaya dengan hitungan jawa seperti itu. Namun, aku hanya bisa diam, yang penting manut sama orang tua.

 

Ayah membuka buku primbon yang dia siapkan di meja. Dilihat dari ekspresinya, Ayah seperti melihat sesuatu yang tidak baik. Wajahnya terlihat sedih.

 

“Bagaimana, Pak Rukin? Sudah ketemu harinya?” tanya Pak Shaka.

 

“Hari baik untuk mereka menikah adalah besok pagi. Atau bisa diundur bulan depan di hari yang sama, Ahad legi.”

 

“Besok?” Aku pun ikut terkejut.

 

“Kalau saya, tergantung sama Arfan. Dia yang akan mengarungi bahtera rumah tangganya.” Pak Shaka menyerahkan semua keputusan kepada anaknya.

 

Kini semua orang menatapnya. Jujur aku belum siap menikah dan berpisah dengan Ayah serta kedua adikku.

 

“Kalau saya, sih, maunya besok.” Semua orang tertawa mendengar jawabannya.

 

“Mas Arfan sudah nggak sabar, ya?” Nia mulai menggoda kakaknya.

 

“Bukankan lebih cepat lebih baik? Daripada mendekati zina?” Dia mengucapkan dengan mantap. Tetapannya tertuju padaku sehingga membuatku salah tingkah.

 

“Besok aku kuliah. Enggak bisa dong, kalau mendadak menikah. Bulan depan saja, masih sabar ‘kan, Pak?” Semua orang tertawa mendengar jawabanku. Kami merasa menjadi pelawak malam ini. Banyak yang mentertawakan kami.

 

“Calon suami kok dipanggil Bapak. Kamu ada-ada saja, Nak. Panggil ‘Mas’ dong!” pinta Bu Shaka.

 

Aku sudah terbiasa memanggilnya Pak Arfan setelah mengetahui bahwa dia dosenku. Rasanya kaku sekali jika memanggilnya mas.

 

“Saya sendiri belum siap jika Syifa menikah besok. Masih banyak hal yang perlu dipersiapkan,” ucap Ayah.

 

“Baiklah, kalau begitu pernikahannya akan digelar satu bulan lagi. Nanti biar saya yang mengurus semua keperluan untuk acara hajatan. Bapak tidak perlu repot-repot.” Pak Shaka akan membantu kami mempersiapkan acara bulan depan. Semoga semuanya berjalan dengan lancar.

 

Mantan

1 0

Hari ini aku harus berangkat pagi karena ada presentasi di jam pertama. Aku pergi membawa motor Ayah setiap Faiha dan Ilham libur. Ayah masih mempunyai stok bahan untuk membuat bubur karena kemarin tidak berjualan. Semoga saja tidak ditangkap polisi, aku belum memiliki SIM. Maunya ditangkap babang ojol, eh.

 

“Aku berangkat dulu, Yah.” Kucium punggung tangan orang yang selama ini merawat dan membesarkan kami. Ayah memiliki peran doblel, selain sebagai seorang bapak, beliau juga menjadi ibu bagi kami. Ayahku pahlawanku. Dia bisa melakukan semuanya meskipun tidak sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah.

 

“Hati-hati, jangan ngebut, Fa!” teriak Ayah. Aku sudah memakai helm warna ungu terong dengan gambar huruf ‘g’ yang ada tanduknya. (Hanya anak yang lahir tahun 90’an yang paham.)

 

Aku menjalankan motor dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Aku memelankan laju kendaraan ketika sampai di lampu lalu lintas. Biasanya hari Minggu seperti ini jalanan lengang, tetapi mengapa di depan ramai sekali? Sepertinya sedang terjadi kecelakaan.

 

“Tin tin tin!” Terdengar auara klakson dari belakang. Ternyata lampu merah sudah berubah menjadi hijau. Aku segera menjalankan motor, tetapi aku kepo dengan kerumunan di depan.

 

Akhirnya aku turun dan bertanya kepada seorang kakek-kakek. “Ada apa itu, Kek?”

 

“Ada seorang wanita yang kesrempet, Neng,” jawab kakek tersebut.

 

Aku penasaran, jalanan sepi seperti ini kenapa bisa sampai ada kecelakaan? Mungkin wanita itu sedang melamun. Aku berjinjit mengintip wanita yang sedang dikerumuni oleh warga. Aku menutup mulutku seketikw.

 

Benarkah yang kulihat ini? Dewi adalah wanita korban kecelakaan, sedangkan laki-laki yang menolongnya adalah Pak Arfan. Dia membopong Dewi ke dalam angkutan yang dihentikan oleh warga. Tidakkah dia melihat keberadaanku? Mengapa dia sepanik itu jika memang Dewi hanyalah mantan?

 

Setetes cairan bening meluncur dari pelupuk mata. Dada ini sesak melihatnya. “Lihatlah aku, Pak! Aku di belakangmu,” lirihku dalam hati.

 

Aku akan menghitung sampai sepuluh, jika dia menoleh ke belakang, berarti dia mencintaiku.

 

Satu

Dua

Tiga

Dia belum menoleh.

 

Empat

Lima

Enam

Dia tidak juga berbalik.

 

Tujuh

Delapan

Sembilan

Dia tidak kunjung melihat keberadaanku.

 

Sepul— Dia menoleh dan melihatku sudah banjir dengan air mata.

 

“Syifa!” teriak Pak Arfan. Dia berusaha mengejarku, tetapi Dewi menggenggam erat tangannya.

 

Aku segera menghapus air mata dan menjalankan motor dengan kecepatan tinggi. Mataku semakin memanas melihat mereka. Mungkin dia bukan jodohku, atau bahkan bukan takdirku. Dia masih berhubungan dengan mantannya. Aku tidak bisa bersamanya jika di hatinya masih ada wanita lain. Aku hanya akan menjadi bunshin-nya Dewi.

 

Sepanjang perjalanan kulihat dari spion motor, ternyata dia tidak mengejarku. Hancur sudah hati ini menjadi berkeping-keping. Dia tidak mempedulikan perasaanku.

 

Namun, beberapa saat kemudian nampak dua orang polisi berboncengan muncul di spion. Aku melihat ke depan tidak ada siapa pun di sana. Apakah mereka mengejarku? Memangnya aku salah apa? Bukannya dikejar Pak Arfan malah dikejar polisi. Aku semakin frustrasi.

 

Mereka semakin mendekat dan menyejajarku. “Mampus aku!”

 

“Bisa berhenti sebentar, Mbak?” tanya polisi yang duduk di belakang. Namun aku pura-pura tidak mendengar dan menambah kecepatan.

 

Aku tertawa terbahak-bahak ketika melihat mereka sudah tidak nampak di belakang. “Mereka pasti tidak bisa mengejarku.”

 

Mengapa aku jadi tertawa? Bukankah seharusnya aku sedih? Aku tertawa sumbang. Namun tiba-tiba dari pertigaan gang depan, dua polisi itu muncul. Ah sial, ternyata aku tertipu. Sebuah mobil dan motor polisi menghadang. Oke, aku menyerah.

 

“Permisi, Mbak. Anda telah melakukan pelanggaran dengan menerobos lampu merah. Boleh kami lihat SIM dan STNK?”

 

Mampus aku, hanya ada STNK di dalam dompet. Aku sangat emosi sehingga tidak melihat lampu merah. Untung saja jalanan sepi.

 

“Atau jangan-jangan ini motor hasil curian?”

 

“Bukan! Enak saja, ini motornya Ayah. Sebentar saya ambil STNK-nya.”

 

Aku mengambil dompet dari dalam tas kemudian mencoba membukanya, semoga mereka sabar. Aku membukanya dengan gerakan slow motion sambil mencari-cari alasan kenapa belum memiliki SIM.

 

“Cepetan, Mbak! Atau langsung ikut kami ke kantor polisi.”

 

Haish, ancamannya membuatku bergidik ngeri.

 

“Ini, Pak.” Aku menyerahkan STNK dan KTM. Warnanya hampir sama dengan SIM.

 

“Usia sudah 19 tahun, mahasiswi Universitas Anak Negeri. SIM-nya?” Polisi itu membaca KTM milikku. Wah, bakal ketahuan ini.

 

Bagaimana jika aku dibawa ke kantor polisi? Kasihan teman-teman, aku yang membawa bahan presentasi. Aku harus minta tolong kepada siapa?

 

“Pak, damai aja, ya! Saya belum punya SIM.” Aku menggaruk-garuk kepala. Biasanya polisi mau berdamai jika dikasih fulus.

 

Aku mengeluarkan uang berwarna biru kemudian memberikannya kepada salah satu polisi. “Apa ini?” tanyanya.

 

“Uang damai, Pak.” Aku tersenyum manis, semoga mereka melepaskanku. Kemudian mereka saling berbisik.

 

“Tambah lagi!” Heh? Kukira mereka tidak mau.

 

Aku mengambil uang lagi, kutambahkan selembar uang kertas warna hijau. Itu adalah uang jajanku hari ini. Namun polisi itu terkekeh. “Mahasiswi kere! Kuliahnya aja di kampus elit, tetapi enggak ada duit.”

 

Apa dia bilang aku kere? Memang benar, sih. Mereka hanya belum tahu siapa calon suamiku.

 

Kulihat polisi itu sudah menuliskan surat cinta untukku. Eh, surat tilang. Siap-siap dimarahi Ayah.

 

“Ya sudah kalau tidak mau, sini kembalikan uang saya!” Lebih baik aku ditilang dan mengikuti sidang minggu depan. Namun belum sempat polisi itu mengembalikan uangku, sebuah motor honda berhenti di sampingku.

 

“Ada apa ini, Pak?”

 

“Eh, Mas Arfan. Gadis ini tidak punya SIM. Dia menerobos lampu merah dan malah memberikan uang. Mau damai katanya.”

 

Waduh, kenapa jujur sekali polisi itu? Mau ditaruh mana mukaku?

 

“Sudah, Pak. Sini surat tilangnya! Saya harus segera ke kampus.” Aku segera pergi karena ingin menghindarinya.

 

Luka di hati ini belum sembuh karena dia telah membohongiku, kini dia torehkan lagi luka yang lebih dalam.

 

Sesampainya di kampus, parkiran masih sepi. Pak Arfan juga belum terlihat batang hidungnya. Yes, aman! Aku harus segera sembunyi. Aku berjalan mengendap-endap seperti pencuri yang takut ketahuan. Aku segera menutup pintu setelah sampai di kelas.

 

Huft, aku bernapas lega. Kusandarkan tubuhku ke pintu dan betapa terkejutnya kala melihat kursi dosen. Dia sudah duduk santai sambil bermain ponsel.

 

“Kamu tidak bisa menghindariku terus, Syifa!” ucapnya ketika aku hendak pergi dari ruangan ini.

 

Dia berdiri dan mendekat. “Stop! Jangan dekat-dekat.” Aku bisa jantungan jika berdekatan denganmu, Pak. Dia berhenti lima langkah di depanku.

 

“Kamu jangan kekanakan, Syifa! Berpikirlah dewasa. Aku menolong Dewi karena rasa kemanusiaan. Aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya.

Yakinlah, hanya kamu Pemilik hati ini.” Dia menunjuk ke dadanya.

 

“Bukannya yang di dada itu jantung, Pak?”

 

“Astaga, Syifa! Mungkin saya akan awet muda memiliki istri seperti dirimu.”

 

Aku tidak tahu yang dia ucapkan itu pujian atau hinaan. Yang jelas sesak di dada semakin berkurang.

 

“Sini surat tilangnya, biar aku yang urus!”

 

Aku segera mencari surat itu kemudian memberikan kepadanya. Syukurlah dia masih mau membantuku.

 

“Bu Endang sudah kembali. Mulai minggu depan aku sudah tidak mengajar lagi.”

 

“Heh? Bapak mau ngojek lagi?” tanyaku penasaran. Dia mau ngapain lagi kalau bukan ngojek?

 

“Aku mau rebahan aja di rumah. Sudah lama tidak menulis. Kamu tahu ‘kan akhir-akhir ini author Fan’z lama tidak update?”

 

Ah iya, aku hampir melupakannya jika Pak Arfan adalah seorang author femes. Sesaat kemudian dia sudah berdiri di depanku. Jarak kami sangat dekat, hingga membuatku mundur dan bersandar ke pintu.

 

Perasaan apa ini? Mengapa aku menjadi gugup? Wajahnya mendekat, aku mulai menutup mataku. Kurasakan embusan napasnya di wajahku. Namun, hingga beberapa detik, tidak ada pergerakan sama sekali. Dengan penuh penasaran kubuka sebelah mataku.

 

Dia tersenyum simpul, “Ada upil di hidungmu!”

 

Kampreeet! Benar-benar dosen sialan. Kukira dia akan menciumku seperti cerita di novel online.

 

Besar Kepala

1 0

Dia tersenyum simpul, “Ada upil di hidungmu!”

 

Kampreeet! Benar-benar dosen sialan. Kukira dia akan menciumku seperti cerita di novel online.

 

Dia terkekeh kemudian memundurkan langkahnya, “Permisi, aku mau lewat! Kamu menghalangi jalan.”

 

Aku segera menggeser tubuh supaya dia bisa keluar. Ya Allah betapa bodohnya aku. Tempat parkir dosen berbeda dengan mahasiswa. Pantas saja aku tidak melihatnya. Dan yang barusan aku lakukan? Ah, memalukan sekali. Aku merutuki diriku sendiri.

 

Aku tertunduk lemas di lantai, bagaikan tersengat listrik berdekatan dengannya. Aku harus menjaga jarak aman. Belum sempat aku berdiri, suara langkah kaki mendekat. Ibra si ketua kelas selalu berangkat pagi.

 

“Kamu ngapain di situ, Fa?” tanya Ibra. Dia ikut berjongkok di depanku.

 

“Uangku jatuh, bantuin cari, ya!” Dengan segera aku berpura-pura mencarinya. Demi meyakinkan Ibra, aku mengambil sapu di pojokan kemudian mencarinya di bawah meja dan kursi.

 

Ibra berlari mengekoriku dari belakang. “Memangnya berapa uangmu yang hilang?”

 

“Tujuh puluh lima ribu, uang keluaran terbaru.”

 

Ibra mengerutkan dahi, tetapi dia tetap membantuku mencarinya. Padahal dicari sampai hari kiamat juga enggak bakal ketemu.

 

"Fa, tadi aku lihat Pak Arfan keluar dari sini. Kamu enggak lagi ngapa-ngapain, 'kan?"

 

What? Ibra melihatnya, bahaya kalau sampai anak-anak tahu. "Ngapain? Kamu jangan mikir yang aneh-aneh, Bra. Dia cuma mau pamitan, kok. Minggu depan Bu Endang sudah masuk. Jadi, dia sudah tidak mengajar lagi."

 

"Yes!" Ibra nampak semangat. Entah apa yang membuatnya seperti itu, sangat tidak jelas.

 

Hingga beberapa menit kemudian uang yang kami cari tidak juga ditemukan. Nindi sudah datang bersama teman yang lainnya.

 

"Kalian ngapain berduaan di kolong meja?"

 

Astaga, aku segera keluar dari bawah meja. Ibra terperanjat karena tidak melihat kedatangan Nindi. Dia berdiri hingga kepalanya terbentur meja. Pasti sakit sekali.

 

"Ya ampun, kepalaku bisa benjol ini." Ibra memegangi kepalanya.

 

Kemudian Thalita segera membantu kekasihnya duduk. "Ibra sayang, kamu enggak hati-hati, sih. Ngapain berduaan sama Syifa di bawah meja?"

 

"Uang Syifa hilang, kasihan nanti enggak bisa makan," jawab Ibra.

 

"Berapa, sih? Aku ganti aja, deh!" ujar Thalita. Dia memang besar kepala, tetapi aku justru bisa memanfaatkan kesombongannya.

 

"Seratus lima puluh ribu, uang kertas keluaran terbaru. Pecahan 75.000, kamu punya? Pasti enggak punya 'kan?" tanyaku mengejek.

 

"Ealah, uang segitu doang bikin ayangku benjol. Nih aku kasih 150 ribu." Thalita mengeluarkan 3 lembar uang lima puluh ribu.

 

Mimpi apa aku semalam, dapat rejeki nomplok seperti ini? Astaghfirullah, uang hasil bohong.

 

"Enggak mau, aku maunya pecahan 75 ribu."

 

"Belagu agu banget jadi orang! Nih aku tambahin, 200 ribu." Thalita mengeluarkan selembar uang 50 ribu lagi. Aku segera mengambilnya sebelum dia berubah pikiran.

 

"Makasih, Tha. Nanti siang aku traktir deh satu kelas," ucapku sambil mengangkat tinggi-tinggi uang itu. Teman-teman nampak kegirangan.

 

Mata kuliah pagi ini berjalan lancar Presentasiku juga tidak ada kendala apapun. Kami mendapatkan pujian dari dosen karena bisa mempresentasikan materi dengan baik.

 

Mata kuliah kedua nampak membosankan. Dosennya sudah tua dan tidak menarik lagi, apalagi bahasannya tentang ilmu pendidikan. Membuatku ingin kabur saja. Kulihat beberapa anak laki-laki tertidur pulas. Bahkan ada yang sampai ngiler. Benar-benar menjijikkan. Berbeda jika Pak Arfan yang mengajar. Tidak ada yang berani tertawa apalagi tidur.

 

"Ada yang mau ditanyakan?" tanya Pak Doni.

 

"Istirahatnya kapan, Pak?" celetuk anak laki-laki  di belakangku. Benar-benar mereka tidak punya sopan santun.

 

"Baiklah kalau dirasa materi yang saya sampaikan sudah jelas, kita istirahat dulu."

 

"Tunggu, Pak. Saya mau bertanya." Aku mengacungkan jari. Bukankah lebih baik bertanya daripada sesat di jalan. 

 

"Silakan, Syifa."

 

"Metode pembelajaran untuk anak esde sebaiknya menggunakan apa, Pak? Banyak tetangga yang meminta les. Namun saya belum menguasai materinya. Bingung juga dengan materi yang harus saya ajarkan. Apalagi setelah anak-anak daring."

 

Meskipun aku bertanya, teman-teman tidak ada yang menyimak jawabannya. Setelah bel berbunyi, kami keluar dan pergi ke kantin bersama. Sesuai janjiku, hari ini aku yang bayar. "Boleh makan apa saja, asal jangan lebih dari 10 ribu."

 

Tidak semua teman ikut pergi ke kantin. Mereka ada yang membawa bekal dari rumah. Aku sendiri membeli bakso dan es sirup.

 

Saat aku makan, tiba-tiba seorang laki-laki duduk di depanku. "Aku enggak ditraktir juga? Hari terakhir di sini, loh?"

 

Pak Arfan tersenyum manis kemudian meminum es sirup milikku. Aku hanya berdua duduk dengan Nindi. Teman yang lain masih mengantri.

 

"Itu milikku, Pak. Ada bekasku di sana."

 

Nindi menginjak kakiku dari bawah meja. Dia berbisik kepadaku. "Biarin aja, Fa. Itu namanya romantis. Dia minum dengan sedotan yang sama denganmu."

 

Aseeek ... Tarik sisss!

 

"Pesenin bakso yang sama kayak punyamu!" pinta Pak Arfan.

 

Aku segera berdiri untuk memesankan bakso, tetapi Nindi mencegah. "Biar aku saja," ucap Nindi.

 

Kini tinggal kami berdua di meja ini.  Perasaan apa ini? Mengapa rasanya sangat canggung? Aku mulai menyuapkan sedikit demi sedikit kuah bakso untuk mengurangi kegugupan.

 

"Mengapa kamu segugup itu? Mau aku suapin?" tanyanya berbisik.

 

Aku tersedak mendengar perkataannya. Dengan segera aku meminum es sirup milikku yang tinggal separuh.

 

Dia terkekeh, "Seger?" Aku mengangguk.

 

"Ada bekasku di sana." Dia menunjuk sedotan yang ada di dalam gelasku. Ingin rasanya aku menyemburkan minumanku ke mukanya.

 

Tidak lama Nindi datang membawa bakso. "Loh, minumanmu habis, Fa? Aku pesenin lagi?"

 

"Tidak perlu, aku bawa air putih." Pak Arfan mengeluarkan sebotol air putih. Sepertinya dia membawanya dari rumah.

 

"Aku pindah, ya. Enggak enak ganggu orang pacaran." Nindi pergi membawa makanan dan minumannya.

 

"Jangan Ndi! Nanti kalau ada setan gimana?"

 

Nindi terkekeh, "Enggak ada setan di siang bolong. Lagian ini kantin. Banyak orang, Fa. Tenang aja enggak bakal ada yang gangguin."

 

Syukurlah, Nindi pergi. Aku bebas berbicara dengan Pak Arfan tanpa didengar temanku.

 

"Bapak ngapain ke sini?" tanyaku celingak-celinguk karena menjadi pusat perhatian.

 

"Kangen sama kamu." Dia mulai memakan baksonya.

 

Mengapa aku baru sadar jika Pak Arfan lebih ganteng bila dilihat dari jarak dekat? Tanpa sadar aku menopang dagu menatapnya. "So cute."

 

"Apa? Coba ulangi lagi!"

 

Astaga, aku bilang apa barusan? "Em, aku enggak bilang apa-apa." Aku segera menghabiskan baksoku sebelum dingin.

 

"Aku akan kembali ke Yogyakarta nanti sore."

 

Hening ....

 

Aku menatap matanya, ada sedikit air menggenang di sana. Peluh keluar dari keningnya, diusapnya dengan tisu kemudian mengelap mulut. Aku meneguk ludah melihat indahnya ciptaan-Nya.

 

"Bapak mau ngapain?"

 

"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan di sana. Tidak lama, paling dua minggu."

 

Hari pernikahan sudah dekat, dan dia mau pergi? Oh tidak! Bagaimana jika dia tidak datang di hari pernikahan kami?

 

"Sebut namaku jika kau rindukan aku,

Aku akan datang ...."

 

Aku mendongak kala mendengarnya menyanyikan sebuah lagu. Ternyata suaranya bagus hingga semua orang melihat ke arah kami.

 

"Bapak jin, ya?"

 

"Kok jadi jin?" tanyanya.

 

"Katanya tinggal sebut nama. Langsung datang. Apalagi kalau bukan jin?"

 

"Duh." Aku mengaduh kesakitan karena Pak Arfan menjitak kepalaku.

 

"Itu hanya lagu, Fa. Aku akan datang di mimpimu. Kamu pasti bakal kangen berat sama aku."

 

Ih, pede sekali Pak Arfan.

Rindu

1 0

“Sebut namaku jika kau rindukan aku ...”

Lagu terakhir yang masih kuingat hingga sekarang. Baru sehari dia pergi, mengapa aku sudah kelimpungan seperti ini?

 

Dari tadi pagi aku tidak konsen bekerja. Berkali-kali kulihat ponsel, namun tidak ada satupun pesan darinya. Aku bisa g!la jika tidak mendapat kabar darinya.

 

Pak Arfan berangkat ke Yogyakarta tadi pagi sehabis Subuh. Dia hanya mengirimkan pesan jika dia sudah otewe. Aku sudah membalasnya, tetapi hingga sekarang tidak ada balasan. Padahal sudah centang dua warna abu.

 

"Ehem, jangan main hape terus, Fa! Dilihatin Pak Herman tuh." Udin melirik ke arah kasir.

 

Aku segera menyimpan ponselku kembali. "Lagi sepi, Din. Gapapa kali."

 

"Kamu 'kan disuruh cek barang, buruan, gih!" Udin baik sekali kepadaku, dia selalu mengingatkan jika aku melakukan kesalahan.

 

Aku segera berdiri mengambil buku serta bolpoin. Setiap hari, aku harus mengecek barang-barang yang sudah habis. Setelah itu, aku akan memberikan catatan kepada Pak Herman. Dia yang akan menghubungi sales untuk mengirimkan barang ke toko.

 

"Ngapain kamu ikutin aku, Din?" Tidak biasanya Udin membuntutiku seperti ini. Biasanya dia akan duduk manis di samping karung beras. Kadang aku sampai sulit membedakan antara Udin dan karung beras.

 

"Aku mau nanya sesuatu sama kamu," ucap Udin malu-malu.

 

"Ngomong aja!"

 

"Cincin kamu bagus, beli di mana? Kayaknya Jumat kemarin belum ada."

 

Dia melihat cincin putih yang kupakai. Ini adalah cincin pemberian Ibunya Pak Arfan ketika datang melamarku. Haruskah aku jujur kepada Udin?

 

"Ini cincin dari ibunya Pak Arfan."

 

Udin nampak berpikir, "Siapa Pak Arfan?"

 

"Dia dosenku." Sekaligus calon suamiku, lanjutku dalam hati.

 

"Dosen? Pasti sudah tua."

 

Dia memang lebih tua, tetapi dia lebih pantas dibilang mapan. Umurnya udah matang, tampan, punya pekerjaan dan salih.

 

"Menurutku dia cukup mapan untuk membimbingku menjadi istri saliha." Udin tersedak mendengar ucapanku.

 

"Istri saleha? Kamu mau menikah dengannya?" tanya Udin penasaran.

 

"Tentu saja, dia sudah melamarku." aku mengelus cincin yang tersemat di jari manisku. Memang warnanya putih, tetapi sepertinya ini barang mahal.

 

"Aku telat, ya, Fa?"

 

"Telat ke mana? Bukankah kamu tadi berangkat pagi?"

 

"Telat datang ke rumahmu!"

 

"Belum terlambat, bulan depan aku menikah. Kamu jangan lupa datang."

 

"Astaghfirullah, Syifa. Semoga calon suamimu kuat menghadapimu." Udin mengelus dadanya.  Maksudnya apa, coba? Aneh sekali anak itu.

 

Tidak lama kemudian datanglah para pembeli. Aku sibuk sekali hingga tidak sempat mengecek ponsel sampai jam pulang tiba.

 

***

Sore ini langit mendung, angin bertiup kencang hingga membuat beberapa dalamanku jatuh ke tanah. Akhir-akhir ini sering turun hujan di malam hari. Aku segera mengangkat jemuran yang sudah kering kemudian melipatnya bersama Faiha.

 

"Kak, Mas Arfan lama enggak ke sini, ya?" tanya Faiha.

 

Pak Arfan sudah tiga hari tidak ada kabar. Dia memang selalu update novel setiap hari. Mungkin sudah punya filenya. Namun, dia tidak pernah update status di media sosial.

 

Aku selalu mengirimkan pesan, tetapi tidak pernah ada balasan. Sedang apa dia sekarang? Aku ingin telepon, tetapi takut mengganggunya.

 

"Dia lagi sibuk, Fai. Kamu tahu, 'kan dia itu sebenarnya anak orang kaya."

 

"Kakak enggak kangen?"

 

Kangen? Apa benar aku merindukannya? Aku selalu gelisah menunggu pesan darinya. Berkali-kali membuka ponsel di saat jam kerja hanya untuk menunggu balasan. Setiap gerik langkahku, hanya bayangnya yang selalu muncul. Aku sudah seperti orang yang kena guna-guna.

 

"Entahlah, Fai. Tiga hari tanpanya sembuatku frustrasi. Aku ingin bertemu dan berantem lagi dengannya."

 

"Mengapa malah ingin berantem? Dipeluk gitu, disayang-sayang."

 

"Anak kecil enggak boleh ngomong begitu, Fai. Saru!"  Faiha hanya terkekeh. Aku kembali melihat ponsel yang tergeletak di meja. Masih sama seperti hari kemarin, sepi.

 

Aku dan Faiha sudah selesai melipat baju. Kami sudah memisahkan pakaian milikku, Faiha, Ilham dan Ayah. Tinggal memasukkan ke dalam almari saja.

 

"Fai, tolong punya Ilham bawa ke kamarnya!" Faiha menurut membawa sebagian bajunya dan Ilham.

 

Aku ke kamar Ayah meletakkan baju kemudian ke kamar. Kututup pintu jendela supaya nyamuknya tidak masuk. Langit sudah berwarna jingga, sebentar lagi waktu Magrib tiba.

 

Kami salat jamaah bersama di rumah. Usai salat, Ayah langsung pergi ke depan. Faiha dan Ilham belajar lebih dahulu, sedangkan aku masih berdoa di atas sajadah.

 

"Ya Allah, aku merindukannya. Inikah rasanya rindu?"

 

Kutadahkan tangan, memohon kepada-Nya. "Ya Allah, lindungilah di mana pun dia berada."

 

Aku melepaskan mukena dan melipatnya dengan sajadah. Sekelebat bayangan Pak Arfan muncul di hadapanku. Masih teringat jelas ketika dia salat di tempat ini.

 

Astaghfirullah, aku menggelengkan kepala. Pikiranku telah dipenuhi olehnya.

 

Aku segera keluar membantu Ayah berjualan, tetapi ketika melewati ruang tamu kulihat Pak Arfan tersenyum. Dia duduk bersandar di kursi dan menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Dia meminta untuk duduk di sampingnya. Aku segera duduk di kursi. Ingin mencurahkan semua perasaan ini kepadanya. Namun, saat aku duduk, Pak Arfan menghilang. Ternyata hanya bayang semu.

 

Mungkin benar kata Dilan, rindu itu berat. Sebulir air mata menetes di pipi. Mengapa kau siksa aku dengan perasaan ini? Aku harus segera menghubunginya.

 

Panggilan pertama terhubung, tetapi tidak ada jawaban. Panggilan kedua masih sama, tidak terjawab. Mungkin dia masih wiridan. Lebih baik aku membantu Ayah dulu.

 

Di depan sudah ada pembeli yang mengantri. Aku menghidupkan radio supaya suasananya tidak hening. Sehabis Magrib, biasanya banyak lagu-lagu salawat yang dimainkan. Mungkin dengan mendengarkannya, semua setan yang ada di tubuhku bisa pergi.

 

“Fa, bantuin Ayah bungkusin bubur! Ada yang mau memborong, nih.”

 

Alhamdulillah, semoga Isya nanti sudah habis buburnya. Aku ingin segera mendengar suaranya. “Iya, Yah, tunggu sebentar.”

 

Aku mendekat ke arah gerobak. Ada dua wanita berjilbab memborong bubur. Mereka duduk membelakangiku menatap jalan, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Mereka sedang asyik bermain ponsel, sepertinya mereka suka membaca novel online. Biasanya mereka akan membelikan bubur yang banyak untuk menyambangi anak yang nyantri di pondok pesantren.

 

Aku memasukkan 20 porsi bubur kacang ijo menjadi dua bagian, masing-masing 10 bungkus. “Ini buburnya, Mbak.”

 

Sesaat kemudian wanita itu berdiri dan berbalik. “Dewi?” aku terkejut hingga hampir saja melepaskan bubur dari tangan. Untung saja tidak sampai jatuh. Bisa rugi kalau buburnya ambyar.

 

“Ternyata kamu yang jualan bubur," ucapnya sinis. Dia melirik penampilanku dari ujung rambut hingga sandal jepit yang kupakai.

 

"Iya, memangnya kenapa?"

 

"Arfan enggak mungkin suka sama cewek tengil kayak kamu. Kamu pasti sudah menggunakan ilmu sihir, 'kan?"

 

Astaghfirullah, ternyata bukan hanya diriku yang kudu dirukiyah. Wanita ini juga sepertinya sedang kerasukan dedemit.

 

"Kamu salah! Pak Arfan yang sudah memberikanku guna-guna. Bahkan di setiap detik waktuku selalu ada bayangnya."

 

"Dasar sinting! Bisa ketulatan g!la kalau aku lama-lama berada di sini. Ini uangnya, kembaliannya buat kamu saja." Dewi memberikan uang kertas warna merah. Lumayan, masih sisa empat puluh ribu. Gadis berjilbab navy itu pergi bersama temannya.

 

"Makasih, ya. Lain kali aku kasih bonus kalau beli banyak." Aku memberikan uang tersebut kepada Ayah.

 

Syukurlah, dia sudah pergi. Aku kembali duduk di kursi panjang dan memainkan ponsel. Lebih baik aku berselancar di dunia maya untuk mengurangi stres.

 

Beberapa menit kemudian, datanglah sosok laki-laki yang tidak asing bagiku. Ngapain dia datang ke sini? Kayak jalangkung aja. Datang tidak diundang, pulang tidak diantar.

 

"Syifa, buburnya satu, ya! Makan di sini." Ibra langsung duduk di sampingku. Aku risih berada di dekatnya, parfumnya terlalu berlebihan. Membuatku ingin muntah.

 

Aku menggeser tubuhku menjaga jarak aman, tetapi dia juga ikut menggeser tubuhnya. Mengapa dia jadi agresif seperti ini? Aku jadi merinding. Aneh sekali, jangan-jangan dia kesambet di jalan. Aku sudah sampai di ujung, tetapi dia masih menggeser tubuhnya. Aku bisa jatuh jika tidak segera berdiri.

 

"Bentar, aku ambilkan." Lebih baik aku segera mengambilkan bubur supaya dia lekas pergi.

 

"Silakan, Bra. Aku tinggal dulu, ya!" Aku tidak tahan mencium aroma parfumnya, bau melati membuatku bergidik ngeri.

 

Berbeda dengan Pak Arfan, aroma maskulin dari jaketnya membuatku tidak bisa tidur semalaman. Rasanya aku ingin memeluknya lagi. Aku memegang dadaku, baru membayangkannya saja sudah membuat jantungku berdebar. Ya Allah, mengapa otakku jadi mesum begini.

 

"Temenin, dong, Fa. Bentar aja, deh."

 

Aku hendak duduk menemani Ibra, tetapi ada sebuah pesan dari Pak Arfan.

[Assalamu'alaikum, maaf baru bisa memberi kabar. Bisa aku telepon?]

 

Mataku berbinar membaca pesan darinya. Tidak mungkin aku mengangkat telepon di sini. "Yah, aku masuk dulu, ya! Biar Ilham yang bantuin."

 

"Mau ke mana, Fa?" tanya Ayah.

 

"Angkat telepon sebentar."

 

Belum sempat Ayah menjawab, sebuah panggilan video masuk. Aku segera berlari dan memanggil adik laki-lakiku.

"Ilham, bantuin Ayah sebentar. Kakak mau pacaran daring."

 

Aku sudah tidak sabar mendengar suaranya. Aku mengatur napas sejenak, tidak lucu 'kan jika aku berbicara sambil ngos-ngosan. Nanti dikira mendesah. Bisa traveling nanti readersnya.

 

Tidak lupa aku berkaca di depan cermin, aku takut ada yang kurang. Duh, mengapa aku segugup ini? Aku menggeser tombol warna hijau, tetapi panggilan sudah berakhir.

 

Hah? Ambyar sudah.

Oleh-oleh

1 0

Kulihat penampilanku di cermin sudah oke. Namun saat aku menggeser tombol warna hijau, panggilan sudah berakhir.

 

Hah? Ambyar sudah.

 

Aku mencoba menghubunginya kembali, tetapi sedang sibuk. Dia sedang menghubungi siapa? Ah menyebalkan sekali. Lebih baik aku menunggunya. Mungkin saja dia sedang menghubungi orang tuanya, atu jangan-jangan dia sedang menghubungi mantan?

 

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dia menelepon lagi. Aku segera mengangkatnya sebelum dimatikan lagi.

 

“Assalamu’alaikum, Syifa.”

 

“Wa’alaikum salam, Mas.” Duh keceplosan. Aku menutup mulutku. Aku segera mengganti video dengan kamera belakang.

 

“Barusan kamu bilang apa?”

 

“Aku cuma menjawab salam.”

 

Kulihat dia terkekeh menatap ke kamera. “Mengapa kameranya diganti? Aku enggak bisa lihat wajah kamu, nih.”

 

“Biarin! Bapak nyebelin.”

 

“Kok Bapak lagi? Enakan dipanggil ‘Mas’ loh.” Benar ‘kan dia itu menyebalkan.

 

“Maaf, tadi khilaf. Sekarang aku udah sadar.” Aku sedang menahan tawa. Rasanya aku ingin bilang jika aku merindukannya. Namun, sepertinya sangat memalukan jika aku yang mengatakannya lebih dulu.

 

“Kamu enggak kangen sama aku?” tanyanya. Ya Allah, aku sangat kangen sama dia. Jujur enggak, ya?

 

“Iya.” Aku mengakui perasaanku. Rasanya benar-benar lega. Ingin aku bernyanyi sorak-sorak bergembira.

 

“Matiin aja teleponnya kalau gitu!”

 

“Eh, kenapa dimatikan? Bapak enggak kangen sama aku?”

 

“Kangen pake banget. Aku takut khilaf lama-lama video call sama kamu.”

 

“Khilaf kenapa? Kita tidak sedang berduaan di tempat sepi, Pak.”

 

“Kita memang tidak sedang berdua, tetapi melihat kakimu yang mulus bisa membuat pikiranku traveling.” Dia menutup matanya dengan sebelah tangan.

 

Ya Allah, aku baru sadar jika sedang memakai celana pendek. Aku bersandar dengan tembok di atas tempat tidur. Kakiku berselonjor memangku bantal. Aku terlalu fokus melihat wajahnya sehingga tidak sadar pada kamera sendiri. Kukira sudah aman asal tidak memperlihatkan wajah.

 

Aku segera mengambil selimut untuk menitupi kaki. “Udah enggak kelihatan, Pak.”

 

Dia tersenyum dan kembali membuka mata. “Aku lagi di Malioboro.” Dia mengganti kamera dengan kamera belakang. Yah, padahal aku masih ingin lama-lama memandang wajahnya.

 

“Kamu mau aku bawain oleh-oleh apa? Lusa aku sudah pulang.”

 

“Cepat sekali, enggak jadi 2 minggu?”

 

“Aku enggak kuat LDR lama-lama denganmu.” Aseeeek ... tarik sis ????????????

 

 Apakah dia sedang menggombal? Aku menggeleng-gelengkan kepala.

 

Namun, sedetik kemudian dia memperlihatkan sebuah toko baju. Terpampang jelas berbagai macam pakaian laki-laki dan perempuan dengan motif batik. “Kamu mau aku belikan daster?”

 

Hah? Daster, kuno sekali. Masa iya aku pakai daster kaya emak-emak yang suka ghibah di tukang sayur?

 

“Yang bagusan dikit ada, enggak?”

 

“Daster nih udah bagus, loh. Seragam kebanggaan emak-emak. Kamu tahu enggak lagu ‘Mendung tanpo Udan'yang dinyanyikan Ndarboy?”

 

Itu ‘kan lagu kesukaanku. “Iya, aku tahu. Memangnya kenapa?”

 

“Coba nyanyikan!”

 

“Awakdewe tau duwe bayangan

Besok yen wes wAyah omah-omahan

Aku moco koran sarungan

Kowe blonjo dasteran ....”

 

Pak Arfan tertawa saat aku menyanyikan lagu tersebut. Beberapa kali kami mencoba menyanyi bersama.

 

“Mama selalu memakai seragam kebanggaan emak-emak jika sedang di rumah. Memangnya ibu kamu enggak pernah pakai daster?”

 

Ibu ... Ibuku sudah lama meninggal. Aku tidak pernah melihatnya memakai daster. Ibu selalu memakai gamis dan jilbab.

 

“Fa, Syifa! Kamu belum tidur, ‘kan?” teriak Pak Arfan.

Lebih baik aku mematikan telepon. Saat ingatanku kembali pada sosok ibu, aku tidak mampu berucap lagi. Hanya air mata yang bicara.

 

Aku segera menghapus sisa air mata. Lebih baik aku membantu Ayah berjualan. Eh, tetapi ada Ibra di depan. Aku tidak mau menemuinya, moodku sedang tidak bagus. Lebih baik aku menenangkan diri.

 

Kuangkat selimut hingga menutupi seluruh tubuh. Aku menangis tergugu mengingat sosok ibu. Ibu, maafkan anakmu ini. Mengapa kau tinggalkan kami secepat itu. Aku juga ingin seperti teman-teman, mereka memiliki sosok ibu yang bisa mendengarkan semua curahan hati.

 

Kubuka selimut saat mendengar ponsel berbunyi. Pak Arfan menghubungiku lagi. Tanpa berpikir panjang kumatikan telepon. Aku memegangi dadaku yang sesak. Aku merindukanmu, Bu.

 

***

Aku terbangun ketika pagi menjemput. Suara kokok ayam bersahut-sahutan. Sepertinya aku bangun kesiangan. Kulihat jam di ponsel, gelap. Ternyata ponselku mati. Aku Segera mencharger-nya.

 

Dengan tergesa aku pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudu. Sepertinya Ayah dan kedua adikku sudah selesai salat. Mereka pasti sudah bersusah pAyah membangunkanku. Astaghfirullah, sepertinya tidurku terlalu nyenyak.

 

Aku salat di kamar karena tidak ada teman. Namun, saat aku membaca doa qunut, terdengar lirih suara azan dari kejauhan. Aku masih melanjutkan salat hingga sujud. Akan tetapi, ketika aku duduk dari sujud, terdengar jelas suara azan menggema di seluruh penjuru bumi.

 

Ya Allah, beneran ini azan Subuh? Aku tetap melanjutkan salatku hingga salam.

 

Aku segera menghidupkan ponsel. Ya Allah, baru jam 4 pagi. Padahal tinggal sujud dan tahiyat akhir. Aku menepuk jidatku. Tidak lama kemudian Ayah memanggilku dibalik pintu.

 

“Syifa, bangun! Kita salat jamaah, yuk!”

 

Aku segera keluar mengikuti Ayah. Faiha dan Ilham baru saja selesai wudu. “Tumben kakak udah pakai mukena? Habis tahajud, ya?” tanya Faiha.

 

Aku jawab apa coba? Biasanya aku yang paling terakhir bangun. “Enggak, tadi kakak bikin alarm. Biar enggak kalah sama kalian.”

 

Beberapa hari kemudian.

Sore ini Pak Arfan datang ke rumah bersama Nia. Dia membawa beberapa bingkisan. Nampaknya dia benar-benar membawakan oleh-oleh dari Yogyakarta.

 

“Syifa, ini aku bawain oleh-oleh buat kamu.” Dia memberikan sebuah tote bag kepadaku. “Dan ini buat Ayah dan adikmu.”

 

“Tenang aja, aku yang pilih. Mas Arfan enggak ngerti kesukaan wanita. Dia tahunya ngegombal,” ucap Nia terkekeh.

 

“Syifa, seharusnya minggu depan kita ada fitting baju pengantin. Namun, aku ada kerjaan. Jadi, kita berangkat hari ini saja, ya!”

 

“Sekarang?” tanyaku heran.

 

“Aku sudah izin sama Ayah kamu. Ilham yang akan membantunya berjualan. Aku sudah mengajak Nia. Jadi, kita tidak hanya berdua,” ucap Pak Arfan sambil mengerlingkan mata.

 

Ya Allah, mengapa dia masih membahasnya. Bagaimana kalau Nia tahu. Memalukan sekali.

 

“Aku ganti baju dulu, ya!” Aku segera berganti baju dan siap-siap berangkat. Namun saat aku keluar, Pak Arfan sudah tidak ada. Aku berjalan ke luar rumah, ternyata mereka sudah di depan.

 

Nia sudah di dalam mobil, sedangkan Pak Arfan masih berbincang dengan Ayah.

 

“Syifa berangkat dulu, Yah.” Aku mencium punggung tangan Ayah.

 

“Hati-hati, ya, jangan nakal.”

 

Sepanjang perjalanan Nia tak henti-hentinya meledek Pak Arfan. Dia menceritakan semua kebucinan kakaknya. Aku tidak menyangka ternyata Pak Arfan bisa bucin. Seulas senyum terbit di wajah. Kukira hanya aku yang bucin.

 

“Kamu tahu ketika dia di Yogyakarta–“

 

“Sudah Nia, jangan dibahas!” kulihat wajah Pak Arfan memerah.

 

“Aku masih penasaran, nih.” Aku dan nia tertawa hingga memegangi perut.

 

Akhirnya kami sampai di sebuah butik. Dari luar sudah terlihat berbagai macam baju pengantin. Pak Arfan tidak mempermasalahkan aku mau berhijab atau tidak, yang penting sopan katanya. Aku memilih gaun panjang yang menutup lengan hingga kaki. Namun saat aku mencobanya, Pak Arfan menggelengkan kepala. Dia menyilangkan tangan ke dada. Terlalu terbuka.

 

Gaun kedua lumayan, kerahnya sampai leher dan panjang menutup kaki. Namun saat aku berbalik, Pak Arfan menutup mata. “Punggungnya, terlalu mulus. Aku tidak mau hal itu menjadi tontonan.”

 

Menyebalkan sekali. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Dia pasti omes.

 

Nia membantuku mencari gaun yang cocok. Pak Arfan tidak mau melihat tubuh istrinya dilihat banyak orang. Akhirnya pilihanku jatuh kepada gaun pengantin muslimah. Lebih baik berhijab daripada bingung memilih gaun.

 

Aku keluar setelah mencoba 5 gaun pengantin. “Bagaimana dengan yang ini?”

 

Pak Arfan menatapku tanpa berkedip. Apakah salah lagi? Aku sudah capek rasanya. Lebih baik memakai gamis yang dia berikan kemarin ketika acara lamaran.

 

“Awas kelilipan!” Nia menyenggol lengan kakaknya. “Bagaimana? Bagus ‘kan pilihanku?”

 

“Astaghfirullah,” ucapnya sambil menggelengkan kepala. “Cantik, yang itu saja.”

 

Pak Arfan sudah mencoba baju, cukup sekali dan tinggal mencocokkan dengan warna yang kupilih. Aku menyukai warna ungu, tetapi kali ini aku memilih gaun warna silver.

 

Aku pulang setelah azan Isya. Pak Arfan dan Nia tidak mau mampir. Mereka bilang masih ada banyak urusan. Ayah sudah tidak ada di depan, begitu juga Ilham. Sepertinya Ayah kelarisan.

 

“Assalamu’alaikum,” ucapku ketika memasuki rumah. Namun tidak ada yang menjawab. Mereka ke mana, ya? Pintu terbuka tetapi tidak ada seorang pun di rumah. Aku berjalan menuju ke belakang. Di ruang TV juga tidak ada orang.

 

Semakin ke belakang, aku mendengar suara orang cekikikan. Aku menguping dari depan pintu kamar Ilham, suaranya bukan berasal dari sini. Sepertinya suara itu berasal dari kamarku. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

 

Dipingit

1 0

Aku penasaran, sedang apa mereka di kamarku? Kuputar knop pintu dan mereka langsung duduk terdiam.

 

“Syifa, kamu sudah pulang?” tanya Ayah gugup.

 

“Kalian sedang apa?” Mereka menyembunyikan tangan ke belakang. Sangat mencurigakan.

 

“Kami lagi buka oleh-oleh dari Mas Arfan. Bagus enggak, Kak?” tanya Faiha. Dia membawa tunik panjang dengan motif batik. Sangat cocok untuk anak muda sepertinya.

 

“Sepertinya Nak Arfan sudah mempersiapkan semuanya, Fa. Dia membelikan baju batik untuk kita. Lihatlah, semuanya seragam. Sangat cocok untuk resepsi nanti,” ujar Ayah.

 

Akad nikah akan dilangsungkan secara sederhana dan resepsi di gedung yang sudah disewakan Pak Shaka. Tadinya Ayah tidak mau karena ingin menggelar resepsi di rumah, tetapi Pak Shaka menolak karena rumah kami terlalu sempit.

 

“Keluarga kami sangat banyak, Pak. Pernikahan Arfan sangat dinanti-nantikan karena dia adalah cucu pertama di keluarga kami.”

 

Akhirnya Ayah menyetujuinya. Ayah sudah menyebar undangan ke semua sanak saudara. Aku juga sudah membagikan undangan ke teman kuliah. Mereka terkejut karena tidak menyangka jika selama ini Pak Arfan adalah anak rektor. Fans Pak Arfan alhamdulillah sudah jinak, semoga tidak ada yang menyerangku di hari pernikahan.

 

“Fa, milikmu belum kami buka. Nanti cobain sendiri. Ayah keluar dulu, ya!” ucap Ayah.

 

“Fai, ayo keluar. Jangan ganggu calon pengantin.” Ilham menarik tangan Faiha ke luar.

 

Ah sial! Kamarku menjadi berantakan. Seharusnya aku tadi langsung memberikannya kepada mereka sehingga tidak perlu mengacak kamarku. Masih ada sebuah tote bag milikku. Isinya apa, ya? Aku penasaran dengan isinya.

 

Kuambil tas tersebut dan melihat isinya. Ada dua buah baju. Sepertinya kainnya sama, hanya berbeda warna. Ada sebuah gamis batik dengan kombinasi warna yang senada. Aku mematut diriku di cermin, gamis yang indah. Pasti ini pilihan Nia. Setelah itu aku mengambil baju yang satunya. Ternyata dia benar-benar membelikanku daster.

 

Kutenteng daster batik dengan motif bunga dan kupu-kupu. Aku tidak tahu namanya batik apa. Aku penasaran bagaimana mungkin baju daster seperti ini bisa dibilang seragam kebanggaan emak-emak. Aku akan mencobanya.

 

Aku terlihat cantik memakai daster ini, tetapi rasanya agak sempriwing-sempriwing. Bagian atas terlalu terbuka lebar. Bagian lengan juga, baju ini mungkin hanya bisa dipakai saat di dalam rumah. Tidak lucu ‘kan kalau saat menjemur baju kelihatan ketiaknya.

 

***

Hari pernikahan tinggal satu minggu. Saudara Ayah sudah mulai berdatangan. Mereka memberikan sumbangan sebelum hari H dengan tujuan bisa membantu meringankan biaya sewa gedung, padahal semuanya dibayar Pak Shaka. Sedangkan saudara dari ibu belum ada satu pun yang datang.

 

“Syifa, sini! Bulek mau bicara.” Bulek Astuti, adik dari Ayah jauh-jauh datang dari Jepara untuk memberikanku nasihat.

 

“Iya, Bulek.” Aku baru saja pulang kerja, kemudian menghampiri bulek yang sedang duduk di ruang televisi.

 

“Satu minggu lagi ‘kan kamu menikah. Dalam adat Jawa, biasanya pengantin wanita harus dipingit. Kamu sudah tahu belum?”

 

“Dipingit?” Aku mengerutkan dahi.

 

“Pingit atau pingitan adalah salah satu tradisi dalam proses pernikahan adat Jawa, di mana calon pengantin perempuan dilarang ke luar rumah atau bertemu calon pengantin laki-laki selama waktu yang ditentukan. Biasanya, keduanya enggak boleh bertemu sampai acara pernikahan tiba.”

 

Ah, iya, aku paham maksud bulek. “Maksud Bulek, aku enggak boleh bekerja dan ke luar rumah?”

 

“Benar Syifa, Ayah lupa mengatakannya. Mulai hari ini Ayah sudah tidak berjualan. Libur dulu,” sahut Ayah.

 

“Em, kalau telepon boleh?”

 

“Emang dasar anak muda zaman sekarang! Benar kalian tidak bertemu, tetapi kalau masih telepon atau video call, apa gunanya dipingit?” ucap bude Lastri. Bude Lastri tinggal di Rembang, sengaja datang lebih awal. Katanya mau ‘melekan.’

 

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Kalau aku kangen gimana? Haish, ada-ada saja.

 

“Oh, ya, Syifa. Tolong sampaikan ke Nak Arfan kalau akad nikahnya harus jam tujuh pagi. Menurut weton, kalian harus menikah di jam itu,” ucap Ayah.

 

“Kalau terlambat gimana, Yah?”

 

“Enggak boleh terlambat, sri-nya jam segitu kudu akad nikah.” Ayah duduk di samping bude. Kakak tertua Ayah. Ayah menjadi satu-satunya anak lelaki, sehingga ketiga saudaranya sangat menyayanginya.

 

“Berarti boleh telepon, ya? Gimana cara menghubunginya kalau tidak boleh telepon?”

 

“Ya sudah, cepat telepon! Nanti Ayah yang akan ke toko Pak Herman untuk meminta izin. Kamu di rumah saja mulai hari ini.”

 

Yes! Aku bersorak dalam hati. Akhirnya bisa liburan satu minggu. Namun, bisakah aku menahan rindu padanya? Segera kutelepon Pak Arfan setelah aku sampai di kamar. Aku takut jika menelepon di depan banyak orang, dia suka ngomong absurd.

 

“Assalamu’alaikum,” ucapku gugup saat telepon diangkat.

 

“Wa’alaikumsalam, tumben siang-siang telepon? Biasanya kamu suka video call,” tanyanya. Sepertinya dia baru bangun tidur. Suaranya terdengar serak.

 

“Ada yang perlu aku sampaikan, pesan dari Ayah.”

 

“Pesan? Adakah persiapan yang kurang?”

 

“Bukan, persiapan sudah siap semuanya. Ayah bilang akad nikahnya harus dilaksanakan jam tujuh pagi, sesuai dengan hitungan weton.” Dia terdiam cukup lama. Apakah dia keberatan?

 

Aku melihat ponselku. Sudah 2 menit dia terdiam, tetapi panggilan masih terhubung. Aku memanggilnya berulang-ulang, tetapi tidak ada jawaban. Apa dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka? Kenapa tidak pamitan? Menyebalkan sekali.

 

Namun, beberapa detik kemudian terdengar suara dengkuran. Dengan kesal aku mematikan telepon. Dasar babang ojol! Ternyata dia ketiduran. Susah pAyah aku berbicara dengannya sampai tangan gemetar dan keringat dingin bercucuran.

 

Aku segera menghubunginya kembali. Kali ini aku menggunakan video call. Dia langsung mengangkatnya.

 

“Maaf, aku ketiduran. Tadi mau ngomong apa?” tanyanya sambil mengucek mata. Ya Allah, mataku ternodai. Dia hanya memakai kaos dalam.

 

“Akad nikahnya harus dilaksanakan jam 7 pagi, bisa ‘kan datang lebih awal?”

 

“Tentu saja. Subuh pun aku siap.” Dia berdiri dan meletakkan ponselnya. Kulihat dia mengambil kaos dan memakainya. Pemandangan macam apa ini? Aku melihat ketiaknya saat dia mengangkat tangan. Bulu keteknya terlihat sangat eksotis. Astaghfirullah, aku menggelengkan kepala. Menepis keomesan di dalam otakku.

 

“Hei, berkediplah! Jangan menatapku seperti itu,” ucapnya terkekeh. Tanpa kusadari dia sudah memegang ponselnya kembali.

 

Astaga, aku terciduk telah memperhatikannya. Aku terlalu fokus dengan ketiaknya. “Idih, geer banget. Aku lagi galau, nih.”

 

“Galau kenapa?”

 

“Aku dipingit, enggak boleh keluar rumah.”

 

“Bagus, dong. Aku juga dipingit.”

 

What? Dia juga dipingit? Benarkah laki-laki juga melakukannya? Ah, tetapi itu lebih baik, supaya dia tidak keseringan bertemu dengan mantannya.

 

“Sepertinya aku bakalan kangen.”

 

“Memang itulah tujuannya, supaya saat bertemu nanti kita bisa romantis. Enggak bosan karena sudah sering bertemu. Biar ada manis-manisnya pas malam pertama.”

 

Tuh, ‘kan, omongan dia selalu membuat pikiranku traveling. “Ya sudah, aku mau istirahat juga. Baru pulang kerja.”

 

Kumatikan telepon setelah dia menjawab salam. Mulai hari ini dan selama satu minggu ke depan, aku akan dipingit. Daripada bingung mau ngaoain, aku putuskan untuk membaca novel online.

 

“Kak, aku boleh masuk?” ucap Faiha sambil mengetuk pintu.

 

“Masuk saja, Fai!”

 

Faiha langsung menghampiriku ke kasur. Dia merebahkan tubuhnya di sampingku. “Aku disuruh nemenin kakak. Bude sama bulek mau menginap di sini. Jadi, mereka mau tidur di kamarku, Kak.”

 

Apa? Acara masih satu minggu dan mereka mau menginap dari sekarang? Ini tidak bisa dibiarkan. Setiap hari aku akan mendapat ceramah gratis dari Mamah Dedeh.

 

“Mengapa mereka enggak datang pas mendekati hari H saja, Fai? Bukankah terlalu lama jika menginap dari sekarang? Bude Siti yang dari Semarang saja datang hari Sabtu.”

 

Faiha mengedikkan bahu, “Entahlah, mereka maunya begitu. Kak Ilham nanti malam juga tidur sama Ayah. Paklek sama pakde katanya mau tidur di ruang televisi saja.”

 

“Menyebalkan sekali. Aku pasti tidak bisa bebas jika banyak orang yang tinggal di rumah ini.”

 

***

Keesokan harinya.

“Fa, bangun! Bude mau masak, gimana cara menghidupkan kompor?” teriak bude dari luar kamar. Aku sengaja tidur lagi setelah Subuh. Malas sekali mendengar bude dan bulek yang sedang melepas rindu. Padahal setiap hari mereka saling sapa lewat telepon.

 

“Tinggal puter aja, Bude.” Aku berteriak dari dalam kamar.

 

“Enggak hidup, Fa. Coba bantuin bude, deh! Ayahmu sudah pergi ke pasar.”

 

Dengan malas aku keluar kamar menuju dapur. Aku selalu memakai baju panjang karena ada pakde dan paklik. Mereka bukan muhrimku. Mungkin aku akan lebih leluasa jika bude dan bulik datang tanpa suami.

 

Di dapur, kulihat bulik sedang mencuci beras. Sedangkan bude memotong sayuran. Sepertinya dia akan memasak tumis. Aku mencoba menghidupkan kompor, tetapi hingga beberapa kali tidak hidup. Jangan-jangan gasnya habis.

 

Aku mencoba mencopot regulator, tetapi masih terdengar suara gas. Berarti masih hidup. Aku memasangnya lagi dan mencoba menghidupkan kompor, tetapi tidak mau hidup.

 

“Sepertinya gasnya bocor bude!” Aku mengeluarkan gas dari dalam almari, mungkin saja selangnya bocor. Namun, saat aku menarik selang, ternyata selangnya patah.

 

“Walah-walah, pantesan ra urip. Selange pedhot!” (Pantas saja tidak hidup, selangnya patah!) ucap bude.

 

Kulihat ada bekas gigitan binatang, tapi binatang apa yang mau makan selang gas? Aneh sekali memang.

 

“Mungkin dimakan tikus, Nduk. Ya sudah, bulek masak nasi dulu. Nanti lauknya kita beli di warung saja.”

 

Faiha dan Ilham sedang bersiap-siap pergi ke sekolah, mereka menunggu bude dan bulik pulang dari warung. “Sabar, ya. Bentar lagi bulek pasti pulang.”

 

“Sudah setengah tujuh, Kak. Aku bisa terlambat.” Ilham mulai resah menunggu bulik yang tidak kunjung datang.

 

“Ya sudah, kalian sarapan di sekolah saja. Ini kakak tambahin uang jajannya.”

 

Setelah kepergian kedua adikku, aku pergi ke dapur untuk membuat kopi. Biasanya aku menyiapkan kopi untuk Ayah. Namun, langkahku terhenti kala melihat pakde dan paklik menghadangku di depan pintu dapur.

 

Mau apa mereka? Ayah tidak ada di rumah, bude dan bulik belum juga datang. Ya Allah, selamatkanlah aku.

 

Gak jadi, deh

1 0

Setelah kepergian kedua adikku, aku pergi ke dapur untuk membuat kopi. Biasanya aku menyiapkan kopi untuk Ayah. Namun, langkahku terhenti kala melihat pakde dan paklik menghadangku di depan pintu dapur.

 

Mau apa mereka? Ayah tidak ada di rumah, bude dan bulik belum juga datang. Ya Allah, selamatkanlah aku.

 

“Kamu mau ke mana, Fa?” tanya Paklik sambil tersenyum. Sedangkan pakde berbisik di samping telinga paklik.

 

Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu. Aku harus waspada. Jangan sampai kejadian di novel online itu terjadi padaku. Mengerikan sekali ketika ada seorang gadis yang dinodai 30 pria, dan orang yang menjebaknya adalah pamannya sendiri.

 

“Aku mau bikin kopi buat Ayah,” jawabku gugup. Mereka tersenyum menyeringai. Ayah, cepatlah pulang, anakmu sedang ketakutan.

 

“Kebetulan sekali, Fa. Kami mau bikin kopi, tapi enggak tahu gulanya di mana,” jawab pakde sambil menggaruk kepala.

 

Aku menepuk jidatku, separah inikah pengaruh novel online terhadapku? Aku menjadi orang yang selalu suuzon.

 

“Em, ya sudah. Aku bikinin sekalian. Pakde sama paklik tunggu di depan aja.”

 

Akhirnya pakde dan paklik memberikanku jalan menuju ke dapur. Aku bernapas lega, ternyata semuanya hanya ketakutanku saja. Namun, beberapa saat kemudian pakde menyusulku ke dapur. Dia semakin mendekat hingga membuatku mundur. Di belakangku sudah ada air panas. Akan kusiramkan ke muka jika dia berani macam-macam.

 

“Syifa, gulanya sedikit saja. Lihat kamu udah manis!”

 

“Astaghfirullah, Bapak! Keponakan sendiri digodain.” Tiba-tiba bude datang dn menjewer telinga pakde. Aku tersenyum menahan tawa. Astaga, udah gede masih suka jewer-jeweran.

 

“Ampun, Buk, ampun!” Pakde mengaduh kesakitan.

 

“Jangan dengerin pakdemu, Fa. Dia nih punya diabetes, makanya enggak doyan manis. Sini biar bude yang bikin kopi!”

 

Alhamdulillah, aku selamat. Tidak lama kemudian Ayah juga datang. Dia membawa berbagai macam barang untuk acara hajatan. Tadinya kami mau memesan catering, tetapi bulik melarang. Katanya lebih irit jika memasak sendiri.

 

“Fa, tadi selang regulatornya rusak. Sudah diganti belum?” tanya Ayah sambil meletakkan barang bawaannya.

 

“Sudah, Yah. Aku ambil yang ada di gerobak depan.” Jadi, ternyata Ayah sudah tahu kalau selangnya patah, kenapa enggak diganti, sih? Selepas kepergian bude dan bulik tadi, aku mengganti selang regulator supaya bisa memasak air.

 

Aku sudah terbiasa mengganti dan memasang gas, regulator dan mengganti galon. Aku harus menjadi wanita perkasa, tidak boleh lemah karena ada dua adik yang harus kujaga.

 

Ah, iya, aku harus berbicara kepada Ayah. Aku butuh ke luar rumah supaya tidak stress. Di rumah sendiri rasanya tidak aman. Baru satu hari mereka tinggal di sini dan sudah banyak drama. Lama-lama bisa difilmkan kisah ini.

 

“Yah, aku mau ke rumah Nindi. Boleh enggak?” Aku menemui Ayah di kamarnya setelah sarapan.

 

“Enggak boleh, Fa. Nanti kamu diomelin sama bude dan bulekmu. Mereka sengaja datang lebih awal ke sini untuk membantu kita.”

 

“Tapi, Yah, paklik sama pakde tuh bikin aku enggak nyaman. Mereka bukan muhrim Syifa. Ayah tahu ‘kan kebiasaan Syifa?”

 

“Iya, Ayah ngerti. Ayah akan coba bicara sama bude, tetapi kamu tetep enggak boleh keluar.” Kemudian Ayah berlalu pergi meninggalkanku. Ah menyebalkan sekali. Lebih baik aku yang meminta Nindi datang ke sini.

 

Sore ini Nindi datang setelah mengantarkan adiknya les privat. Aku tidak mau dia melihat kelakuan pakde dan paklik. Aku langsung mengajaknya ke kamar.

 

“Wah, kasihan banget yang lagi dipingit. Pasti enggak bisa ke luar lama-lama,” ucap Nindi sambil mengunyah bakso. Dia membawa makanan kesukaanku. Aku sengaja memintanya membelikan bakso karena tidak bisa jajan di luar.

 

“Yah, mau gimana lagi? Ada pawangnya pula. Aku tidak bisa berkutik.”

 

“Lusa mau aku bawain apa?” tanya Nindi.

 

Lusa ada acara selametan di rumahku. Di daerah Kudus biasanya diadakan acara doa bersama sebelum melaksanakan hajat, baik pernikahan maupun acara khitanan.

 

“Enggak usah, nanti bakal ada banyak makanan. Kamu bantuin aja, rewang di dapur. Nyuci piring dan gelas, bantuin bude ama bulik. Enggak enak ‘kan kalau mereka semua yang megang, jadi aku minta bantuan kamu.” Aku mengucap dengan mata melas.

 

“Astaga Syifa! Tega kamu sama sahabat sendiri.”

 

***

Hari ini acara doa bersama akan dilaksanakan. Sudah lima hari Pak Arfan tidak menghubungiku. Pernikahan tinggal dua hari. Jadi apa enggak, sih, kawinnya? Aku menghitung sepuluh jari tangan. Jadi, enggak, jadi, enggak ... Hah? Gak jadi, deh. Aku takut. Lebih baik membantu bulik dan bude memasak di dapur.

 

Saudara almarhumah ibuku banyak yang hadir. Ibu asli Kudus, dan hanya dua bersaudara. Om Anam, adik ibuku tinggal di Glagah bersama istrinya. Dia jarang datang ke rumah semenjak menikah dengan tante Nuri. Istrinya suka cemburu melihat kedekatanku dengan om. Namun sayang, hingga lima tahun pernikahan, mereka belum dikaruniai momongan.

 

“Tante Nuri, besok hadir, ya ke acara pernikahanku.”

 

Kami sedang berada di teras depan. Dia tidak suka berkumpul dengan emak-emak di dapur, jadi aku menemaninya ngobrol.

 

“Kamu jadi sewa gedung?” tanyanya.

 

“Jadi, Tante. Rumah ini terlalu sempit. Keluarga calon suamiku banyak banget katanya.”

 

“Iyakah?” tanyanya sinis.

 

Keluargaku memang banyak yang belum mengenal keluarga calon suamiku. Hanya Ayah dan kedua adikku yang tahu. Mereka hanya tahu jika calon suamiku adalah dosen.

 

“Calon mertuamu pasti mencari hutang di mana-mana untuk bisa menggelar acara resepsi di gedung itu. Tidak semua orang bisa menyewanya. Apalagi cuma seorang dosen.”

 

“Ya begitulah, apa aja yang penting halal ‘kan, Tante.”

 

“Kamu beneran mau nikah di usia muda? Malam pertama itu sakit, loh, Fa!”

 

“Sakit? Apanya yang sakit? Bukankah malam pertama itu yang dinanti-nantikan setiap pengantin baru?”

 

“Ehem, Nuri! Jangan nakut-nakutin, Syifa. Dia itu masih polos.” Om Anam tiba-tiba datang memeluk istrinya.

 

“Ish, kalian enggak tahu malu. Tuh, banyak yang lihatin!” Di depan rumah ada beberapa orang yang memasang tenda biru untuk acara nanti malam.

 

“Ih, ketahuan belum pernah dipeluk, ya?”

 

“Om Anam ngeselin, ih.” Aku pergi meninggalkan mereka yang sedang pacaran.

 

Belum sempat aku masuk kamar, terdengar sebuah teriakan memanggilku. “Syifa!”

 

Om Anam masuk bersama istrinya, “Fa, ada yang cari kamu di depan.”

 

Aku segera keluar untuk mencari tahu siapa yang mencariku siang-siang begini. Mungkinkah Pak Arfan yang datang? Tidak mungkin, dia juga dipingit.

 

“Ibra? Ngapain kamu ke sini? Acaranya masih nanti malam.” Ibra datang membawa sebuah kotak kado. Aku sangat terkejut melihat penampilannya. Dia nampak sedang tidak baik-baik saja.

 

“Aku mau kasih ini ke kamu.” Dia memberikan kotak tersebut kepadaku.

 

“Apa ini?”

 

“Buka saja!”

 

Aku mengerutkan dahi dan mulai membuka kotak berwarna pink tersebut. Ternyata isinya sebuah surat, dan kalung emas berinisial huruf S. Apa maksud Ibra? Aku mulai bertanya-tanya dalam hati.

 

“Baca suratnya, Fa! Kumohon,” ucapnya memelas.

 

Aku duduk dan meletakkan kotak di meja, kupegang kalungnya kemudian membaca surat dari Ibra.

 

Satu per satu kata kubaca pelan. Hingga sebuah pernyataan yang membuat mataku membulat. Ini benar-benar g!la. Tiba-tiba Ibra sudah berjongkok di depanku.

 

“Fa, maaf aku melakukan semua ini. Kamu tahu aku suka sama kamu. Aku tidak rela kamu menikah dengan Pak Arfan. Aku yang mengenalmu lebih dulu. Jadi, will you marry me?”

 

What? Sepertinya Ibra sedang konslet otaknya.

 

“Hahaha, kamu lucu banget, sih, Ibra?” aku tertawa hingga memegangi perut.

 

“Aku serius, Fa. Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu.”

 

“Tidak Ibra, kamu sudah bersama Thalita. Jangan sakiti perasaannya! Aku sudah dilamar Pak Arfan dan akan segera menikah. Nasi sudah menjadi bubur, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu. Maafkan aku.”

 

“Tidak, Fa. Sebelum janur kuning melengkung, aku akan mengacaukan semuanya.”

 

“Jangan g!la, Ibra. Kamu harus wudu supaya setan di tubuhmu pergi!”

 

“Aku bukan kesurupan. Aku sadar, Fa. Akan kutebang semua pohon kelapa supaya tidak ada janur kuning yang melengkung!” ucap Ibra sambil tertawa. Sepertinya benar, ada yang merasuki tubuhnya.

 

Byur!

Tiba-tiba Ayah datang menyiram Ibra dengan air dingin satu ember. “Pulang sana! Dicari emakmu.”

 

“Astaghfirullah, kenapa saya disiram, Pak?” tanya Ibra. Nada bicaranya sudah berubah.

 

Ayah nampak berpikir, “Maaf saya tidak sengaja, Nak Ibra. Saya kira pengemis!” Ayah terkekeh. Sebenarnya aku juga ingin tertawa, tetapi takut dosa.

 

“Aku bukan pengemis cin—ta.”

 

Alhamdulillah, SAH

1 0

Terdengar berisik suara gedoran pintu kamarku. Siapa, sih, pagi buta begini gangguin orang saja. Aku menarik selimut hingga menutup kepala. Kulihat Faiha masih tertidur pulas. Namun, beberapa saat kemudian suara Bulik terdengar melengking dari luar jendela.

 

“Syifa! Kamu jadi nikah apa enggak, sih? Periasnya sudah datang,” teriak bulik sambil menggedor-gedor jendela kamar.

 

Astaga, aku terperanjat dan segera mengecek ponsel. Tanggal 10 Oktober 2021. Ya Allah, hari ini aku akan melepas masa remaja. Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi. Gasik sekali datangnya. Aku harus segera mandi dan salat Subuh.

 

“Iya Bulek, aku keluar.” Aku segera bangun dan turun dari tempat tidur. Namun nahas, kakiku semutan sehingga membuatku jatuh terjungkal. Aku tergeletak di lantai. Kakiku mati rasa, aku harus menunggunya hingga kembali pulih. Ya Allah, gini amat punya adik syemok. Kaki Faiha menindih kakiku hingga membuatnya kesemutan.

 

Aku segera membangunkan Faiha dan mengajaknya salat, tetapi dia tidak kunjung bangun. Semalam kami begadang bercerita tentang banyak hal. Mungkin setelah ini aku tidak akan tidur berdua lagi dengannya.

 

“Fai, bangun!” Aku berteriak hingga adik perempuanku bangun.

 

“Loh, ngapain kakak selonjoran di lantai?” Dia bangun dan turun dari tempat tidur.

 

“Kaki kakak kesemutan.” Aku menunjuk ke arah kaki kanan. Rasanya masih griming-griming.

 

“Yang ini?” ucapnya sambil memegang kakiku.

 

“Aaa ... jangan disentuh, Fai!”

 

“Maaf,” ucapnya terkekeh.

 

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya aku bisa berjalan. Di dapur sudah ramai emak-emak dengan seragam kebanggaannya. Mereka sedang mempersiapkan sarapan dan beberapa masakan untuk tamu yang datang ke rumah.

 

“Calon pengantin kok jam segini baru bangun. Kamu mau calon suamimu menikah dengan wanita pengganti gara-gara mempelai wanitanya tidak datang?” tanya bude Lastri. Dia pasti korban novel online juga.

 

“Enggak mau, lah.” Mana mungkin aku melepaskan Pak Arfan. Aku sudah lama menunggu momen ini.

 

Aku mengambil handuk dan segera mandi. Tetapi bulik astuti berteriak. “Jangan mandi, Fa. Pengantin itu enggak boleh mandi.”

 

“Bau dong, Bulik, kalau enggak mandi. Ada-ada saja.”

 

“Eh, kamu tahu enggak? Kalau pengantin mandi, biasanya akan turun hujan. Bahaya dong kalau tamu undangan kehujanan semua?”

 

“Jangan dengerin bulik, Fa. Semua itu hanya mitos. Sekarang udah enggak zaman. Mau ketemu calon suami tuh ya harus wangi,” jelas bude Lastri.

 

Aku dimake over usai salat Subuh. Tadinya bude dan bulek ikut masuk ke kamar, tetapi mereka diminta keluar karena mengganggu konsentrasi akibat selalu berbicara. “Mohon maaf bu-ibu, bisa keluar sebentar?”

 

Akhirnya mereka keluar. Aku juga meminta supaya Faiha dimake up agar terlihat menawan di saat resepsi. Aku tidak boleh melihat cermin, katanya ra ilok (pamali).

 

“Enggak boleh lihat cermin, ya, Mbak! Sampean yakin aja, saya bisa menyulap wajah Mbak menjadi cantik bagaikan bidadari. Hari ini adalah sejarah karena Mbak akan menjadi ratu sehari,” ucap perias ini. Dia cerewet sekali ternyata.

 

“Memangnya kenapa, sih, Mbak? Kok enggak oleh lihat cermin?”

 

“Udah, ikutin aja kata orang tua. Enggak baik ngebantah,” ucapnya sambil tersenyum.

 

Faiha sudah selesai dengan make upnya. Dia berfoto selfie dengan ponselku. Katanya ponselku ada kamera jahatnya. “Mbak, Mas Arfan telepon.”

 

“Sini, aku mau lihat.”

 

“Telepon, Kak. Bukan video call,” ucap Faiha sambil menyerahkan ponsel kepadaku.

 

Ada sedikit rasa kecewa sebenarnya. Satu minggu tanpa komunikasi membuatku rindu. Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengannya. Jantungku berdegup kencang hanya dengan melihat namanya, mengapa aku segugup ini? Kuangkat telepon dan kudengar suaranya mengucap salam.

 

“Assalamu’alaikum, Fa. Maaf, sepertinya nanti kami sedikit terlambat. Ada kecelakaan kecil di rumah.”

 

“Kecelakaan apa? Kamu baik-baik saja, ‘kan?

 

“Aku baik, mama jatuh dari tangga. Kami harus membawa mama ke rumah sakit dulu.”

 

“Jam tujuh sudah harus datang, ya! Enggak boleh terlambat.”

 

“Insya Allah. Aku akan datang sebelum jam tujuh. Assalamu’alaikum.”

 

“Tap—“ Belum sempat aku berbicara dan dia sudah mematikan telepon. Menyebalkan sekali.

 

“Ada apa, Kak?”

 

“Mamanya Pak Arfan jatuh dari tangga.” Faiha menutup mulutnya dengan telapak tangan.

 

Perasaanku menjadi tak menentu. Bagaimana ini? Aku sudah mengikuti semua aturan dan menghindari segala pantangan, tetapi mengapa semua ini bisa terjadi di saat hari pernikahanku? Ya Allah, hanya kepadamu aku meminta. Kumohon lancarkanlah pernikahanku hari ini.

 

“Jangan bilang sama Ayah, Fai. Bilang saja macet di jalan.”

 

Kami berangkat ke gedung pernikahan setelah riasanku selasai. Syukurlah Pak Arfan mengirimkan mobil untukku. Aku tidak perlu naik mobil angkutan umum yang sudah disewakan Ayah.

 

Kami tiba di lokasi setengah jam sebelum akad nikah dimulai. Bunga-bunga indah tersusun rapi dari depan gedung. Berbagai bingkai ucapan selamat tertata rapi di sepanjang pagar hingga pintu masuk.

 

Aku turun dari mobil dituntun Faiha dan Ayah. Gaun ini membuatku susah berjalan, terlalu berat dan harus dijinjing supaya tidak terinjak. Untung saja aku tidak memakai jarit.

 

Nia sudah menyambutku di depan gedung. Dia menggantikan posisi Ayah di sampingku. “Masya Allah, cantik sekali kakak iparku.” Nia mengeluarkan ponsel dan mengajak berfoto selfie.

 

Aku tersipu malu mendengarnya. Nia menunjukkan hasil jepretan kameranya. “Nih, kamu cantik banget Syifa. Mas Arfan pasti klepek-klepek melihat pengantinnya.”

 

Syukurlah wajahku benar-benar berubah cantik. Aku takut jika alisku digambar kecil dan tipis seperti ekor cicak. Bisa viral nanti, istri dosen kampus ternama di Kudus tidak memiliki alis ketika menikah. Haish, membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri.

 

“Pak Arfan mana?” Aku melihat sekeliling saat sudah memasuki gedung. Tempat akad nikah hanya diduduki oleh seorang penghulu. Tidak ada Pak Arfan di sana. Tamu undangan sudah mulai berdatangan dan duduk di tempat yang sudah di sediakan. Pelaminan masih kosong.

 

“Bentar lagi sampai. Baru perjalanan dari RS.”

 

“Mama gimana?”

 

“Tidak apa-apa. Hanya luka kecil.” Syukurlah, aku bernapas lega.

 

Nia membawaku masuk di sebuah ruangan ber-AC. Akhirnya aku tidak kepanasan lagi. Cuaca hari ini cerah, tidak ada tanda-tanda hujan. Tadi pagi aku tetap mandi, tidak menghiraukan bulik. Semoga saja tidak hujan.

 

“Aku tinggal sebentar, ya. Mau angkat telepon dulu.” Nia tergesa meninggalkanku hanya berdua dengan Faiha. Apa ada sesuatu yang terjadi? Mengapa Nia nampak cemas ketika mengangkat telepon?

 

“Kamarnya indah, ya, Kak. Lihat deh, banyak bunga di ranjang. Sepertinya ini kamar pengantin,” ucap Faiha sambil berjalan ke arah tempat tidur. “Lihat, deh, Kak! Hotel ini sepertinya milik Pak Shaka.”

 

Faiha memberikanku sebuah brosur yang dia dapatkan dari meja. Aku baru sadar jika ruangan ini adalah kamar pengantin. “Fai, kamu masih bawa ponsel kakak?”

 

“Iya, aku taruh di dalam tas.”

 

Aku segera membuka google. Aku mencari nama pemilik hotel ini. Benar saja, pemiliknya adalah Pak Shaka. Nama hotel ini diambil dari namanya. Aku hanya beberapa kali ke tempat ini menghadiri acara resepsi orang-orang kaya, tetapi aku tidak menyangka jika aku menjadi menantu dari pemilik hotel.

 

“Fai, kakak gugup banget, nih. Tinggal sepuluh menit lagi, tetapi Pak Arfan belum datang.” Aku mengintip dari pintu kamar. Di luar sudah banyak tamu undangan yang siap menyaksikan janji suci. Kulihat Ayah sudah duduk di samping pak penghulu. Aku mondar-mandir menunggu kedatangannya hingga Nia datang membuka pintu.

 

“Mas Arfan sudah datang, acara akan segera dimulai.”

 

“Alhamdulillah.” Aku bernapas lega.

Aku berjalan menuju tempat yang sudah di sediakan bersama Nia dan Faiha. Mereka mengantarkanku hingga bersanding dengan Pak Arfan. Semua mata tertuju padaku. Kulihat Pak Arfan nampak tenang, berbeda denganku yang gugup setengah mati.

 

Di belakang kami ada pak penghulu dan Ayah. Dua orang saksi di samping kiri dan kanan. Di belakang kami ada keluargaku dan keluarga Pak Arfan. Mereka sudah siap menjadi saksi akad nikah ini.

 

“Sudah siap, Nak Arfan?” tanya Pak Penghulu.

 

“Insya Allah, saya siap, Pak.”

 

“Baiklah, kita mulai acaranya.”

 

“SAH!” ucap semua orang setelah ijab kabul dilaksanakan. Benarkah ini? Aku seperti sedang berada dalam mimpi.

 

“Alhamdulillah, sah,” ucap Ayah. Dia merasa sangat lega.

 

Pak Arfan mengulurkan tangannya di depanku. “Apa ini?”

 

“Astaghfirullah, Syifa! Kamu cium tangan suamimu. Kalian sudah halal.” Ayah menepuk jidatnya.

 

Aku segera mencium punggung tangan suamiku. Sejenak kemudian aku mendongak. Namun, ternyata bebarengan dengan Pak Arfan yang hendak mencium keningku.

 

“Uhuy.”

“Ciyeee!”

“Ehem-ehem!”

Terdengar riuh sorakan dari tamu undangan. Tidak menyangka jika my first kiss berada di tempat akad nikah.

 

“Sudah, sekarang kalian istirahat dulu di kamar. Kalian akan menemui tamu jam delapan nanti. Masih ada waktu satu jam untuk melanjutkan yang tadi.” Pak Shaka menepuk bahu anaknya.

 

“Jangan buka-bukaan dulu, nanti riasannya rusak.” Ibu mertuaku juga tidak kalah jahil. Kulihat di keningnya ada perban tipis, tetapi tidak begitu terlihat karena tertutup jilbab.

 

“Pelan-pelan aja, Nak Arfan, Syifa masih polos.” Astaga, Ayahku tidak mau kalah ternyata.

 

“Tenang saja, semuanya aman,” ucap Pak Arfan.

 

Kami berjalan bergandengan menuju kamar, rasanya lututku lemas. Kuremas kuat tangan suamiku untuk mengurangi rasa gugup. “Mau kugendong?”

 

Aku membelalakkan mata. Tidak menyangka dia tahu isi hatiku. Aku mengangguk pasrah, daripada pingsan. Dia membopongku ala bridal style. Bukan seperti mengangkat karung beras. Aku menenggelamkan muka ke dadanya. Pipiku pasti sudah sangat merah. “Ternyata kamu tambah berat.”

 

What?

 

Malam Pengantin (END)

1 0

Setelah sampai di kamar, Pak Arfan merebahkanku di kasur. Dia menatapku cukup lama hingga membuatku berpaling. Ya Allah, kami sudah halal, beginikah rasanya berduaan dengan laki-laki di dalam kamar?

 

Jantungku berdebar tidak karuan, ada rasa yang menggelitik di hati. Ingin rasanya aku—

 

“Kamu mikirin apa sampai senyum-senyum begitu?”

 

Aku tersadar dari lamunan. “Enggak, aku cuma—“

 

Suamiku masih dengan posisi yang sama, masih menatapku dalam. Kemudian semakin mengikis jarak di antara kami. “Bolehkan aku melakukannya lagi?”

 

“Melakukan apa?” Pertanyaannya sangat ambigu.

 

“Kiss,” ucapnya sambil menempelkan dua jari di bibirnya.

 

Aku mengangguk karena tidak kuasa menolaknya. Tentu saja aku mau. Suamiku semakin mendekat hingga membuatku menutup mata. Namun tiba-tiba teriakan Faiha mengagetkan kami.

 

Pak Arfan langsung berdiri dan melepaskanku. Begitu juga denganku yang langsung duduk di ranjang. “Kamu ngapain di sini, Fai?”

 

“Aku habis buang air, mau ambil tas.” Faiha menutup matanya lalu menunjuk ke arah sofa di sudut ruangan. Dia mengambil tasnya kemudian pergi ke luar.

 

“Aku pergi, silakan dilanjut lagi.” Faiha berlari kemudian menutup pintu. Nakal sekali anak itu.

 

Kulihat suamiku menutup gorden jendela kemudian berjalan ke arah kamar mandi. “Aku mau mengecek di dalam sana. Kali aja ada Ilham.”

 

Astaga, aku ingin ngakak. Bisa-bisanya Pak Arfan berpikir seperti itu.

 

Setelah itu dia berjalan dan mengunci pintu. “Sekarang aman. Tidak ada siapa pun kecuali kita berdua.” Dia menautkan kedua jari telunjuknya.

 

Aku memegang tengkuk, rasanya bulu kudukku meremang. Jangan-jangan di sini ada setan. Perutku rasanya sakit, dari tadi ingin buang air tetapi kutahan. “Pak, aku mau ke kamar mandi dulu.”

 

“Pak? Kita sudah menikah, Fa. Jangan panggil ‘Pak’ dong!”

 

“Lalu? Mau dipanggil apa?”

 

“Sayang,” ucapnya terkekeh. Dia berjalan mendekat ke arahku.

 

“Aku dah kebelet, minggir!” Aku memegangi perutku yang ngilu karena sudah tidak kuasa menahannya. Bisa ngompol kalau dia menahanku seperti ini

 

“Sabar, kita masih harus resepsi. Nanti malam akan menjadi malam yang panjang untuk kita.”

 

Dengan kesal kuinjak kaki suamiku hingga mengaduh kesakitan. “Awww, Syifa! Awas kamu, ya!”

 

Aku berlari dan mengunci pintu kamar mandi. Benar-benar memacu andrenalin berduaan dengannya.

 

Aku mencuci tangan setelah menunaikan hajat, lega sekali rasanya. Kubuka pintu pelan, tetapi tidak ada siapa pun. Ke mana suamiku pergi?

 

Aku berjalan menuju meja rias. Kulihat pantulan diri di cermin. Seperti bukan diriku, sangat cantik dan anggun.

 

“Kamu sudah selesai? Makan, yuk!” Pak Arfan datang dan membawa sepiring nasi, lauk dan minuman. “Kamu pasti belum sarapan, kita butuh energi supaya bisa menghadapi kenyataan. Eh, tamu undangan maksudnya.”

 

Kami makan sepiring berdua sebelum acara resepsi dimulai. Benar-benar romantis. Pembaca dilarang ngiri. Nganan aja!

 

Kami sudah duduk di pelaminan bersama kedua orang tua menyalami semua tamu undangan yang hadir. Baru satu jam tetapi kakiku rasanya sudah lelah. Sepatu ini sangat tidak nyaman. Terlalu sempit. Tidak cocok untuk kakiku yang lebar.

 

Tamu undangan silih berganti menyalami kami. Sesekali aku duduk jika tidak ada tamu yang naik ke pelaminan.

 

“Kamu capek?” tanya Pak Arfan.

 

“Kakiku pegel, sepatunya sempit.”

 

“Lepas saja, enggak ada yang lihat! Gaunmu cukup panjang untuk menutup kaki.”

 

Ah iya, benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran. Aku segera melepas sepatu dan menaruhnya di bawah kursi pengantin. Sekarang aman, kakiku selamat.

 

Keluargaku sudah pulang usai foto keluarga. Tinggal Faiha, Ilham dan Ayah. Bude Nurul, kakak dari Ayah mendampinginya berdiri di pelaminan menggantikan posisi ibu.

 

Kulihat teman-temanku datang. Mereka sengaja kuundang jam sepuluh supaya tamu sudah mulai berkurang. Nindi, Thalita, Ibra dan yang lainnya datang berpasang-pasangan. Ibra dan Thalita nampak serasi. Mereka memakai batik yang sama, so sweet sekali.

 

“Syifa, selamat, ya, atas pernikahannya. Semoga samaraba,” ucap Ibra.

 

“Doakan kami semoga cepat nyusul kamu ke pelaminan,” ujar Thalita sambil menggandeng lengan Ibra. Aku hanya tersenyum masam. Sorry aku enggak bakal cemburu.

 

Aku juga tidak mau kalah, kupegang lengan suamiku hingga mengikis jarak di antara kami. “Makasih, ya, Ibra dan Thalita. Semoga kalian cepat menikah. Nanti keburu janur kuningnya habis.” Masih ingat, ‘kan perkataan Ibra kemarin?

 

“Makasih, kalian sudah datang dan mendoakan kami.” Pak Arfan berucap sopan. Dia terlihat sangat berwibawa jika di depan mahasiswa dan dosen. Berbeda sekali ketika bersamaku. Apalagi saat berada di kamar. Duh, otakku ketularan omes.

 

Setelah teman-temanku pergi, kini giliran teman-teman Pak Arfan, termasuk dosen-dosen dari kampus. Mereka saling bertegur sapa dan berpelukan seperti teletubbies.

 

Suasana semakin sepi, acara resepsi tinggal satu jam. Untung saja acara dimulai dari pagi. Malamnya aku bisa istirahat dengan tenang. Benerapa tamu undangan mulai meninggalkan ruangan. Namun, kulihat sosok wanita berhijab datang bersama Pak Herman dan keluarga serta karyawannya? Siapa dia?

 

Ternyata wanita itu adalah Dewi. Dia datang bersama Udin? Dia nampak malu-malu berjalan di samping Udin. Aneh sekali wanita itu. Mereka mulai naik ke pelaminan. Pak Herman dan istrinya memberikan ucapan selamat kepada kami.

 

“Setelah ini kamu masih kerja di tempat saya apa enggak, Fa?” tanya Bu Herman.

 

“Em, gimana, ya, Bu? Saya mah ngikut sama suami.” Aku melirik ke arah Pak Arfan. “Gimana, Sayang? Aku masih boleh kerja? “

 

Pak Arfan nampak gugup saat aku memanggilnya ‘sayang’. “Syifa tidak perlu bekerja lagi, Bu. Karena mulai saat ini dia sudah menjadi tanggung jawab saya.”

 

“Ayo, Bu, kita turun. Gantian sama yang lain.” Pak Herman segera menarik tangan istrinya.

 

Selanjutnya Udin dan Dewi. “Selamat, Fa. Semoga kami cepat menyusul,” ucap Udin malu-malu.

 

“Kalian jadian?” tanyaku penasaran. Bagaimana mungkin Dewi mau sama Udin? Memang Udin itu anak baik, tetapi rasanya ini muhal.

 

“Baru kemarin, Udin selalu membantuku setiap belanja. Dia sopan dan menundukkan pandangan. Lagipula Arfan sudah tidak mencintaiku. Untuk apa aku mengejarnya jika bertepuk sebelah tangan?” ucap Dewi santai. Sepertinya dia sudah move on.

 

“Witing tresno jalaran soko kulino, aku juga menaruh hati kepada Dewi. Namun aku hanya diam karena dia tidak selevel denganku yang hanya kuli di toko sembako.” Udin memang selalu rendah diri.

 

“Semoga kalian segera menyusul, jangan lama-lama pedekate. Nanti diganggu setan,” ucapku terkekeh.

 

“Selamat, ya, Fan. Semoga lekas dikaruniai momongan,” ucap Dewi kemudian menyalami suamiku, tetapi Pak Arfan hanya menangkupkan kedua tangan.

 

“Makasih, Dewi,” balas Pak Arfan.

 

Akhirnya semua tamu mulai meninggalkan gedung. Tinggal beberapa kolega Pak Shaka yang datang. Ayah dan kedua adikku sebentat lagi diantar pulang sore ini.

 

***

Aku kembali ke kamar setelah tidak ada seorang pun tamu. Lelah sekali rasanya berdiri seharian. Pak Shaka dan Mama sudah pulang setelah Ayah pergi. Gedung untuk acara resepsi sudah dibersihkan.

 

“Fa, aku mandi dulu. Kamu mau ikut?” tanya Pak Arfan sambil mengerlingkan mata.

 

“Enggak, nanti yang ada enggak jadi mandi.”

 

“Terus ngapain?” tanya suamiku. Aku harus jawab apa? Duh, nih mulut kenapa asal jawab.

 

“Ngapain, ya? Aku enggak tahu. Masih polos.”

 

“Sini aku ajarin!”

 

Heh? Aku melotot dibuatnya.

 

“Aku bercanda. Kamu jangan omes!” Dia tertawa hingga tubuhnya terguncang. Dengan kesal aku melempar bantal ke arahnya. Namun dia kabur, menyebalkan sekali.

 

Kulepaskan hijab dan aksesorisnya yang terasa berat di kepala. Aku membersihkan sisa make up dengan milk cleanser dan face tonic. Wajahku terasa lebih ringan tanpa make up. Kemudian mencari baju ganti di dalam almari.

 

Nia bilang jika kakaknya sudah mempersiapkan pakaian kami selama 3 hari di sini. Dengan semangat 46 aku membukanya, berharap menemukan kaos dan celana pendek. Lebih nyaman tidur menggunakan pakaian sederhana seperti itu. Namun betapa terkejutnya kala melihat isi almari di depanku. Hanya ada baju tipis yang kurang bahan. Aku bisa masuk angin jika mengenakannya.

 

“Aku sudah selesai. Kamu kapan mandi?” Tiba-tiba Pak Arfan memelukku dari belakang. Karena kaget, aku menyikut perutnya hingga dia terjatuh.

 

“Syifa! Sepertinya aku harus memberimu pelajaran. Baru sehari jadi istri, suamimu udah kamu pukulin.” Ya Allah, mataku ternodai. Dia hanya memakai handuk dililit sepinggang.

 

“Maaf.”

 

“Buruan mandi, kita salat bareng.”

 

Aku sudah selesai membersihkan diri dan melaksanakan salat  bersama Pak Arfan.

 

“Tidur, yuk!” Pak Arfan sudah melepas sarung dan kokonya. Dia hanya memakai boxer dan kaos pendek.

 

Tadinya aku meminta kaosnya, tetapi dia akan bertelanjang dada jika aku memakainya. Lebih baik aku yang mengalah. Terpaksa memakai lingerie.

 

Aku melipat sajadah dan menghampirinya. “Kamu mau tidur memakai mukena?”

 

“Tentu saja. Aku tidak mau masuk angin.”

 

Pak Arfan terkekeh. “Aku akan menyelimutimu, membuatmu selalu hangat di pelukan.” Aku memutar bola mata jengah.

 

“Enggak mau?”

 

“Tutup mata dulu. Setelah aku masuk selimut, Bapak boleh membuka mata.”

 

Kulihat dia menutup mata dengan kedua tangan. Perlahan kulepaskan mukena dan masuk ke dalam selimut.

 

“Sudah, Fa?”

 

“Sudah.”

 

“Ya sudah, ayo tidur!” Pak Arfan berbaring di sampingku dan menutup mata.

 

Hah? Udah gitu aja? Dia enggak mau ngajakin aku mesra-mesraan gitu? Dengan kesal aku berbaring memunggunginya. Namun, sebuah sentuhan hangat menggelitik di perut. Pak Arfan memelukku dari belakang.

 

Astaga, aku berkeringat. Mendadak tubuhku bagai disengat listrik. Jantungku berdebar hebat. Dia pasti bisa merasakannya. Ingin rasanya aku mengubur diriku hidup-hidup.

 

“Aku capek!” Aku memindahkan tangannya dari pinggangku.

 

“Mau aku pijitin?” tanyanya. Aku berbalik menghadap ke arahnya.

 

“Boleh, nanti gantian, deh!”

 

“Pijit plus plus, ya?” Dia menggerakkan alisnya naik turun.

 

Aku berpikir sejenak, “Hayuk!”

Tarik sisss ...!

 

Akhirnya kami melewati malam pengantin yang panjang.

 

***

 

TAMAT

Mungkin saja kamu suka

Wella Triana
Kumpulan Cerpen
Mirdayana Selfi...
Jejak Cinta-Mu
Sartika Alpiant...
THE WOUND
Nur Sarah
Langkah
Dayu Woori
Nol Koma

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil