Loading
3

0

3

Genre : Romance
Penulis : Fadhilah16syah
Bab : 2
Dibuat : 20 Maret 2022
Pembaca : 6
Nama : Dhiny Fadhilahsyah Eddy
Buku : 1

Mencintaimu Dalam Diamku

Sinopsis

Cinta dalam diam? Ya, itulah yang tengah kualami saat ini. Berawal dari sebuah pertemuan yang tak kuketahui darimana asalnya. Sosok _ikhwan_ (lelaki) yang bagiku sangat miserius hingga saat ini, membuatku bertanya-tanya. Ya Allah, rasa apakah ini? Bertemu dengannya, telah membawaku menjalani hidup yang penuh warna. Bagiku, dialah sosok yang selalu kubincangkan dengan Rabb-ku di sepertiga malam. Tangis dan tawa, selalu beriringan hingga aku tak tahu, bahwa sebenarnya itu haram tuk kurasakan. Ingin rasanya ikrar suci segera terucap, bilamana Sang Maha Cinta mengizinkannya. Namun, entah kapan itu terjadi. Apakah pertemuan ini berlanjut hingga ke syurga-Nya? Atau hanya sekadar bertemu sebagai teman? Lalu siapakah sosok _ikhwan_ (lelaki) tersebut? Kuserahkan semuanya pada Sang Maha Pemilik Hati, Illahi Rabbi. #Fatimah Nur Fadhilah
Tags :
#bidadarisyurga #izzahiffah #remajamuslimah #muslimahberkarya #mawartersembunyi #mawardaun #cintadalamdiam

Perkenalan

2 0

- Sarapan Kata

- KMO Bacth 43

- Kelompok 5 

- Writing Lab 

- Day 1 

-  Jumlah Kata 1350 

- Sarkat Jadi Buku 

Prolog

Mengenalmu adalah hal pertama, di mana aku mulai mengenal Rabb-ku. Memandangmu, membuatku semakin takut pada Rabb-ku, akan perbuatan yang selalu dilarang oleh-Nya. Memandangmu di kala bercengkrama dengan Rabb-ku, membuatku semakin ingat akan kasih sayang-Nya, hingga tak pernah menghilangkan rasa syukurku terhadap-Nya. Kau adalah insan yang kukenal, di mana dirimu telah menumbuhkan rasa cintaku kepada-Nya. Kaulah yang mengenalkanku akan nasihat suci dari insan pilihan dan kekasih-Nya. Namamu selalu mengingatkanku akan segala cahaya kebaikan, yang kau torehkan untukku, persis seperti namamu itulah yang selalu memancarkan cahaya kebaikan. Ada satu hal yang telah membuatku kagum akan dirimu, yaitu di saat kau selalu bercengkrama mesra dengan Rabb-ku, di saat itulah aku merasakan sebuah ketenangan kala dapat mengenalmu. Tatkala kumendengar lantunan ayat-ayat cinta-Nya yang kau baca, tanpa kusadari aku terlelap di dalamnya, sebab makna yang kau baca begitu indah 'tuk didengar, hingga menangis sendu di dalamnya mengingat tumpukan dosa yang kumiliki sejauh ini. Yaa Allah. Setiap makhluk pasti memiliki pasangannya masing-masing. Dan berharap ada kebaikan di dalamnya. Aku tak bisa memaksakan kehendak-Nya, bila di Lauhul Mahfudzku sudah tertulis satu nama yang ditakdirkan-Nya untukku. Aku hanya bisa berdo'a, kelak yang terbaik lah bisa bersanding denganku di suatu masa. Maka izinkan aku 'tuk mengukir namamu dalam bait-bait do'aku, untuk kudiskusikan di sepanjang sujudku. Aku hanya bisa menengadahkan tangan dan memohon pada Sang Maha Cinta, kelak kau adalah salah satu di antara ribuan nama yang bersanding di Lauhul Mahfudzku. Namun, aku hanya bisa pasrah akan segala ketetapan-Nya, meski kau tak diciptakan untukku sebagai pelengkap iman. Akan tetapi, aku berharap pada-Nya, bahwa kau bisa membawaku ke syurga-Nya sebagai tanda bahwa dulu kita pernah berada pada jalan yang di ridhoi-Nya. In syaa Allah. Aamiin Allahumma Aamiin.

Perkenalan

Kadang kala hati ini tak dapat berkata dusta, walau roda kehidupan terus bergulir. Nyatanya hati ini masih merindukan. Entah siapa yang dirindukan? Tiba masanya aku digiring menuju masa penantian yang melelahkan, namun mampu membawaku ke masa kebahagiaan. Di saat seseorang dapat mendampingiku selalu hingga menapaki Syurga-Nya...

"Alhamdulillah nak, namamu sudah ada di PPDB. Ternyata namamu hilang itu, karena PPDB nya yang eror, bukan karena kamu tidak diterima nak. Alhamdulillah." jelas abbie dengan nada bahagia.

"Na'am abbie, Alhamdulillah. Akhirnya Fatimah bisa sekolah di sini abbie, meskipun sekolahnya sederhana, tapi kelihatannya sekolah ini udah menghasilkan alumni yang berkualitas abbie."

Ya, beliau adalah ayahku yang senantiasa mendukungku dan memberiku arahan ke arah yang lebih baik. Aku sangat bersyukur, berkat ayahku ini aku bisa ada pada posisiku sekarang yang tak mudah menyerah. Tak menunggu lama, akhirnya aku dan ayahku pergi mendaftar ulang untuk memberikan berkas-berkasku kembali yang sudah diarahkan sebelumnya. Ruangannya sesuai dengan nomor urut yang ada di PPDB. Ruangan yang kutuju merupakan ruangan siswa PPDB dari nomor urut 1-52, dan kebetulan aku ada di peringkat ketiga. Alhamdulillah tidak begitu lama, akhirnya selesai juga. Aku dan ayahku beranjak pulang dan tinggal menunggu MPLS besok yang akan diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut.

***

Tibalah masa MPLS yang pertama. Aku bersiap-siap pergi ke sekolah baruku. Hmmm bukan... Calon sekolah maksudnya hehe, kan aku belum resmi menjadi siswa di sekolah itu sebelum MPLS usai. Tak lupa kubalutkan hijab putih dengan bros yang kusematkan di sebelah kiri... Hmmm nampak cantik dan anggun. Untuk hari pertama MPLS ini, aku pergi diantar oleh abbie. Tak lupa aku pun segera berpamitan dengan ummi dan kedua adikku yang masih kecil.

"Sudah nak?" tanya abbie padaku.

"Na'am abbie sudah... Ummi, Fatimah berangkat dulu yah. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam.... Ingat! nasinya jangan lupa dimakan yah."

"Na'am ummi." jawabku sambil pergi meninggalkan ummi di halaman rumah. Ummi merupakan ibu yang kusayangi, juga sangat perhatian padaku. Kemanapun aku pergi, ummi selalu mengingatkan kalau aku jangan sampai telat makan, karena ummi tahu kalau aku itu mudah sekali masuk angin jika tidak makan, apalagi pergi kemana-mana mengendarai motor tanpa mengenakan jaket, sudahlah angin masuk menghampiri tubuhku ini, tapi berkat adanya kain tebal kesukaanku yang sering kukenakan ke sekolah, bisa menjagaku dari hembusan angin sekaligus. Akhirnya tibalah aku di SMA NEGERI 16. Aku segera turun dari motor dan menyalami ayahku yang baru mengantarku.

"Fat, nanti kalo mau pulang, ingat pilih ojegnya yang sudah tua yah nak... Soalnya abbie khawatir kalo nanti ada apa-apa sama kamu Fat..."

"Iyah abbie, Fatimah In syaa Allah bisa jaga diri kok bbie. Kan ada Allah. "

"Ya sudah, ingat pesan abbie yah, abbie cerewet seperti ini karena ini juga demi kebaikan kamu Fatimah, dan kamu tahu kan, tempat ini baru kita tempati. Nah sedangkan kita kan belum tahu bagaimana sifat dari orang-orang yang ada di sini." jelas Abbie penuh ketakutan dan kekhawatiran.

"Iyah abbie, Fatimah in syaa Allah ingat pesan abbie. Okh iyah bbie, Fatimah masuk dulu yah, soalnya kelihatannya siswa lain udah pada masuk, Assalamu'alaikum abbie." pamitku pada abbie, sambil meninggalkan abbie di depan gerbang sekolah.

"Iyah, hati-hati Fatimah. Wa'alaikumussalam."

***

Pagi itu, seluruh siswa sedang menunggu pengumuman akan dimulainya acara MPLS.

"Baik, untuk seluruh siswa baru diharapkan berbaris di lapangan." tegas seorang guru yang menyuruh seluruh siswa berbaris, begitu pun denganku yang langsung berbaris terlebih dulu di lapangan, tanpa menunggu siapapun. Tidak seperti yang lainnya, saling berbondong-bondong dengan teman satu sekolahnya, namun berbeda denganku yang hanya sendiri dari SMP sekolah asalku, sebab teman-teman SMP ku lebih banyak sekolah di SMK dan kini akhirnya aku dapat membawa harum nama SMP ku itu. Tapi bukan berarti aku tidak semangat karena tiada teman dan sahabat yang satu sekolah denganku saat ini. Namun, aku menganggap bahwa semua ini adalah rencana yang terbaik dari Allah untukku. In syaa Allah, Aamiin Allahumma Aamiin. Aku percaya, pasti ada yang terbaik untukku, entah itu dari seorang teman, guru, atau bahkan yang memberikan dampak positif bagiku kelak. Di tengah keramaian pada saat baris, tak lupa seseorang yang ada di atas mimbar itu atau sebutlah beliau seorang guru, rupanya yang kini tengah mulai mengabsen para calon siswa baru. Setelah diabsen, semua siswa akhirnya dipersilahkan untuk duduk di tempatnya masing-masing, tatkala diintruksikan oleh anak OSIS yang ada di sekolah itu.

"Baik, untuk ruangan 5 saya harap kalian semua diam! Tidak ada yang bersuara! Jika masih ada yang bersuara, ibu tidak akan melanjutkan sebelum kalian diam!" tegas seorang guru yang sangat lantang.

"Heyyy... Sssttt... Kalian diem cobaaa..." sergah salah seorang anggota OSIS yang tengah bertugas sebagai panitia MPLS.

"Hufffttt... Iyah kak..." dengus salah seorang siswa yang terpaksa harus menuruti perkataan kakak kelasnya itu. Aku tak begitu menghiraukannya, karena hal semacam itu sudah biasa kutemui sejak zaman SMP dulu. Aku hanya bisa berusaha menuruti perintahnya, dan menghargai seseorang yang sedang berbicara di depan. Selesai sudah kericuhan kecil tersebut, pengabsenan pun kembali dilanjutkan. Kini absen berjalan hingga pemanggilan nama siswa untuk ditempatkan ke ruang lima.

"Fatimah Nur Fadhilah!" sontak seketika aku berdiri dan pergi keluar barisan, mengikuti beberapa siswa yang diabsen sebelumnya menuju ruang lima. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menemukan ruangan MPLS ku. Saat aku memasukinya, rasanya seperti berbeda. Inikah nantinya yang akan menjadi temanku??? Tanyaku dalam hati. Alhamdulillah, aku rasa mereka semua baik-baik orangnya. Alhamdulillah Yaa Rabb, inilah mungkin arti dari semuanya, syukran Yaa Rabb. Dan di sinilah aku juga menemukan seorang teman akhwat yang begitu ramah.

"Assalamu'alaikum ukh, mari duduk sama saya ajja."

" Wa'alaikumussalam, na'am ukh syukran." jawabku singkat.

"Okh iyah ukh, kenalin, namaku Aurum Fitriani, biasa dipanggil Aurum, kalo nama ukhty siapa???" tanyanya padaku.

"Okh iyah, nama saya Fatimah Nur Fadhilah, biasa dipanggil Fatimah."

"Hmmm na'am, nama ukhty bagus, sama seperti orangnya."

"Hehe ukhty bisa ajja, ukhty pun sama, syukran ukh, jazakillah khair."jawabku tersipu malu.

" Hehe na'am ukh waiyyaki." Dan kita pun saling mengenal dengan menanyakan hal mengenai sekolah, dan juga beberapa hal tentang keluarga, agar semakin akrab. Tak terasa, waktu pun berjalan hingga cahaya benderang tepat di atas objek. Sudah habislah waktu dalam masa pengenalan ini. Dan menunggu hari esok tiba 'tuk hari kedua MPLS.

"Fat... Kamu pulang sama siapa?" tanya Aurum saat hendak pulang.

"Hmmm... Aku nunggu ojeg rum."

"Hmmm... kalo gitu mending kamu ikut sama aku ajja, mumpung aku lagi gak ada temen nih. Gimana?" tawarnya kembali. Akupun langsung mengiyahkannya karena mumpung masih ada orang yang baik sama aku. Alhamulillah, syukran Ya Rabb.

"Ok deh... kalo kamu ikhlas membantuku rum, alhamdulillah jazakillah khair yah..."

"Na'am Fat, waiyyaki, anggap ajja aku ini saudaramu yah..."

"Na'am rum, in syaa Allah... Siappp." jawabku semangat.

Pertengahan MPLS

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Bacth 43

- Kelompok 5 

- Writing Lab 

- Day 2

-  Jumlah Kata 1079

- Sarkat Jadi Buku 

 

Pertengahan MPLS

Hari yang begitu melelahkan, di mana hari pertengahan MPLS. Rasanya ingin sekali kegiatan ini berakhir dengan cepat. Ingin segera resmi menjadi siswa SMAN 16, tapi tak begitu mudah, semua perlu adanya proses. Baiklah aku ikuti prosedur yang ada, mungkin saja banyak pembelajaran dari kegiatan ini agar bisa diambil sebagai ilmu baru, selain itu juga akan menambah teman baru dengan berbagai karakter. Tak menunggu waktu lama, seperti biasanya semua siswa baris terlebih dahulu, kemudian masuk ke ruangannya masing-masing. Ketika aku hendak menuju ruanganku, Aurum sudah menyapaku dan kami pun masuk bersama.

"Ehh Fat... Kira-kira sekarang kegiatannya apa yah?" tanyanya padaku.

"Hmmm... Mungkin saja materi atau pengenalan guru atau..."

"Hmmm sudahlah kita lihat saja nanti." potongnya mengiyahkanku dan mengakhiri perbincangan kecil itu. Lima menit kemudian salah seorang panitia yang lebih tepatnya ialah salah satu anggota OSIS tengah memasuki ruanganku kemudian memulai acara dengan begitu khidmatnya.

"Baik kegiatan kali ini adalah materi yang akan disampaikan oleh Bu Mita. Nanti kalian diharuskan menelaah dan memperhatikan apa yang disampaikan oleh Bu Mita. Bisa dimengerti...??"

"Siappp bisa." jawab secara serempak.

"Okk kalo gitu kakak permisi keluar. Instrupsi izin keluar."

"Siap silahkan." jawab kami dengan serempak. Hufttt benar-benar terdengar asing dan diucapkan, juga mengapa tak ada salam jika setiap memasuki ruangan atau keluar ruangan??? Sungguh sekolah yang aneh. Penerapan agamanya terlihat kurang disampaikan, masih berpacu pada hal yang merupakan peraturan. Entahlah akan menjadi apa kedepannya. Tak terasa akhirnya siang pun menjelang sore, tiba saatnya seluruh siswa pulang. Yeee pulang telah tiba... Pulang telah tiba... Pulang telah tibaaa... Hatiiiku gembiraaa... Hehehe jadi nyanyi. Entah kenapa aku ingin sekali pulang, soalnya hari ini Aurum tak bisa mengantarku pulang dan sekarang aku terpaksa harus menunggu jemputan Ayahku. Setengah jam aku menunggu, namun ayah tak kunjung datang... Hufttt lelah, tapi sudah jalannya seperti ini. Sambil menunggu, aku memanfaatkan waktu tuk membaca buku agar tak membuatku jenuh. Tak lama setelah aku baca buku akhirnya Ayah datang juga.

"Fatimahh... Maafkan abbie yah nakk tadi abbie ada keperluan sebentar jadi sedikit telat."

"Na'am bbie alhamdulillah gapapa, yang penting Fatimah bisa pulang hehehe..." ujarku dengan rasa malu berkata. Sesampai di rumah, ummi menyapaku begitupun juga abbie. Sungguh senang hidup dengan mereka yang benar-benar menyayangiku. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?

***

Waktu bergulir dengan begitu cepat, yang pada akhirnya aku dibawa pergi menuju alam dimana aku harus mengikuti kegiatan MPLS yang terakhir. Yahhh terakhirrr akhirnyaaa...

"Yesss... Sekarang katanya ada penampilan ekskul yah?" kata salah seorang siswa disampingku. Haaahhh apakah benar sekarang ada penampilan ekskul??? Gumamku dalam hati. Kira-kira ada berapa ekskul yah? Semua pertanyaan yang kupertanyakan akhirnya kutanyakan pada Aurum yang untungnya dia sebangku denganku.

"Rum kira-kira di sini ada berapa ekakul yah?" tanyaku penasaran.

"Hmmm katanya sihh ada 17 ekskul."

"Maa syaa Allah... Banyak banget, kira-kira kamu mau pilih yang mana?"

"Hmmm entahlah gimana nanti aja setelah kita lihat penampilannya."

"Ohhh okk." jawabku singkat. Di sela pembicaraanku dengan Aurum, salah satu OSIS memanggil seluruh peserta MPLS untuk membawa koran dan perbekalan yang dibawa masing-masing menuju lapangan. Sepertinya ini untuk menonton penampilan setiap ekskul, tebakku.

"Fat,duduk  di sini aja yuk, biar kelihatan." "Boleh-bolehhh..."

"Aku boleh ikutan?" tanya salah seorang siswi pada kami berdua.

"Hmmm... Ohhh boleh-boleh silahkan." kataku mempersilahkan.

"Ohh iya kenalin namaku Irma, aku dari ruang lima juga."

"Hmmm berarti sama yah, aku juga dari ruang lima, tapi kok gak pernah kelihatan yah?"

"Hmmhehe iya soalnya aku duduk di bangku belakang."

"Ohhh iya-iya. Kenalin namaku Fatimah Nur Fadhilah, panggil ajja Fatimah, dan ini Aurum teman sebangkuku."

"Haiii... Salam kenal." balas Aurum sambil melambaikan tangannya.

"Ohh iyah salam kenal juga, ehhh iyah ternyata kita ini satu ruangan yah... Tidak disangka." ungkap Irma.

"Iyah, semoga aja kita bisa satu kelas yah... Ohhh iyah kamu mau ngambil jurusan apa Ma?" tanyaku penasaran pada Irma.

"In syaa Allah jurusan IPA."

"Hmmm... alhamdulillah yah, sama kalo gitu aku juga mau ngambil jurusan IPA." jelasku dengan begitu semangatnya sambil membuka bungkus roti yang kubawa.

"Hmm kalo teman di sebelah kamu mau ambil jurusan apa?" Aku pun langsung memanggil Aurum tanda aku tak mengetahui apa yang ingin Aurum pilih.

"Iya."

"Rum... Irma nanya kamu mau ngambil jurusan apa nanti?"

"In syaa Allah aku mau ambil jurusan IPA juga."

"In syaa Allah semoga dapat satu kelas lagi yah."

"Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin." jawab kami secara berbarengan. Setelah obrolan singkat yang begitu mengasyikkan, akhirnya acara penampilan ekskul pun akan segera dimulai.

"Hmmm kira-kira ini ekskul apa yah?" tanya Aurum padaku, yang sebenarnya aku pun juga kurang tahu.

"Aku tebak ini pasti ekskul Rohis." tebak Irma pada kami berdua.

"Kenapa kamu bisa tahu?" tanyaku kebingungan.

"Soalnya ini ada aksi panahannya sama penampilan hadrohnya, nih lihat brosurnya pun memiliki daftar yang sama dengan penampilannya, jadi sudah jelas kan." jelas Irma sambil memberiku brosur itu.

"Kamu dapat darimana?"

"Kamu belum dapet? Hmmm tadi ada yang ngasih ke aku ya udah aku terima aja."

"Sepertinya ini ekskul yang seru dehh, coba aja lihat kalo aku ada di posisi kakak itu, udah cantik, keren, apalagi perempuan, kan kalo perempuan megang panahan kelihatannya keren bangett ditambah kelihatan tangguh Maa syaa Allah." ujar Aurum yang sangat menginginkan masuk ekskul itu.

"Boleh jugaa tuh, Fatimah juga ingin bisa panahan seperti kakak itu."

"Coba bayangin kalo kita main panahan sambil bercadar?? Wahhh Maa syaa Allah keren." ujar Irma.

"Maa syaa Allah... pikiranmu sangat matang dalam hal seperti itu, apalagi kalau dipake buat berperang di zaman Rasul hmmm seperti Khaulah Al-Azhwar, wanita tangguh yang bercadar pada saat perang." jelasku meyakinkan mereka.

"Ya udah kita sepakat yah untuk daftar keanggotaan Rohis?"

"Boleh-boleh aku setuju." jawabku dan Aurum berbarengan. Setelah usai penampilan ekskul dari awal hingga akhir, kini saatnya seluruh siswa mulai memilih ekskul apa yang akan diikuti. Tak mengambil waktu lama, aku, Aurum, dan Irma pergi menghampiri sekumpulan kakak-kakak berseragam hitam putih di dekat masjid sekolah.

"Assalamu'alaikum kak, kita boleh minta formulirnya sekitar 3 lembar?" tanyaku dengan memberanikan diri.

"Ohhh boleh-boleh bentar yah. Kakak mau ambil formulirnya di temen kakak, soalnya kakak gak megang formulirnya dek." jawab kakak tersebut.

"Ohh iya kak gapapa kita tunggu." Setelah itu pun akhirnya bisa mendapatkan formulir pendaftaran. Waktu jam pulang pun akan segera tiba dan kini akhirnya penutupan acara MPLS. Setelah semua berakhir, kini seluruh siswa kembali ke rumahnya masing-masing dan beristirahat hingga kembali melanjutkan awal pembelajaran esok hari, dan kini akhirnya seluruh peserta MPLS sudah resmi menjadi siswa siswi SMAN 16. Seperti biasa, Fatimah ikut pulang dengan Aurum yang kebetulan satu arah dengannya.

Mungkin saja kamu suka

Revi Nuraini
Senja untuk Elisha
Sri Mulyati
TIARA
Nazwa camilla
Khawla Habba
Ellovinza
Lila&Lazuardi

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil