Loading
0

0

0

Genre : Misteri
Penulis : Tasnia Elmino
Bab : 25
Pembaca : 1
Nama : Tasnia
Buku : 1

DIATAS NORMAL

Sinopsis

Jeni Nirmala, seorang gadis yang kerap merasakan hal-hal ganjil dalam kehidupannya. Dia adalah gadis yang dianugerahi kelebihan berupa dapat memprediksi sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat bahkan dia juga mampu melihat makhluk-makhluk yang tak kasat mata. Menurutnya ini bukanlah sebuah kelebihan melainkan suatu ketidaknormalan dalam dirinya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menjadi manusia normal seperti yang lainnya. Mampukah jeni melakukannya?
Tags :
#sarkat #kmoclubbatch40 #kelompok26juro#fiksi #mysteri#

Trauma

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26 #Day1 #SarkatJadiBuku #PR Judul: DIATAS NORMAL Penulis : Tasnia Elmino Pj : Irma Fitriani Ketua : Yuyun Artika BeeZam Neng jaga : Midah Sang Pemimpi Bab 1 Part 1 Nama ku Jeni Nirmala banyak orang mengatakan bahwa aku adalah orang yang aneh. Sejak Sekolah Dasar aku sudah tidak menyukai keramaian, aku benci dengan orang-orang yang berbicara dengan suara begitu kencang. Aku sangat ketakutan saat melihat purnama bersinar dan mentari memancar. Trauma dimasa kecil telah berhasil membuatku seperti kekalutan mental. Namun anehnya disisi lain aku sangat menyukai melodi dan music, nyaris setiap hari berpuisi di ruang sepi sebagai caraku menghibur diri. ************************ Deg, seketika sore itu membawaku teringat akan masa kecilku sekitar 9 tahun yang lalu. Entah mengapa semua kenangan masa lalu tiba-tiba saja menari-nari dalam ingatanku. “Jen, kita ada tamu, ini lima belas ribu dan pergilah ke warung beli roti sama teh” perintah mbak maya kepadaku. “tapi mbak ini kan sudah magrib” bantah ku. “sudah tidak apa-apa kan warungnya nggak terlalu jauh toh” “ya sudahlah” jawabku menurut. Langit jingga menemani perjalananku hingga sampai di sebuah warung yang cukup besar, kondisi yang ramai membuatku harus menunggu lama. Setelah mendapatkan apa yang mbak Maya perintahkan aku langsung melangkah pulang diiringi dengan rintikan jangkrik yang saling bersahutan, ku perpanjang langkah agar cepat sampah di rumah. Bruuuugggh, Dooorrrrrr…………. “Aaaaaaaaaaaaaaaa………………..” suara teriakan ku mengalihkan perhatian semua tetangga yang ada disekitar hingga berbondong-bondong keluar. Ternyata anak-anak komplek sudah mengintai perjalananku tadi hingga mereka mengatur siasat untuk mengerjaiku dengan bersembunyi dibalik batang besar sambil melemparkan pelepah daun kelapa ditambah dengan suara teriakan mereka yang bersahutan dan kemudian keluar secara bersamaan membuat jantungku berdegup 100 x lebih cepat. Aku teriak dan menangis sejadi-jadinya. Aku berlari pulang tanpa mengatakan sepatah katapun. Berselimut hingga menutupi sekujur tubuhku meskipun keringat mengucur deras. Detik waktu seolah mengutukku hari itu. Suara jam dinding terdengar begitu kencang, tak ada yang dapat aku fikirkan saat itu selain rasa takut dan khawatir yang terus menghantui ku. ************* Selang seling suara ayam saling bersahutan, si raja langit perlahan naik hingga gelapnya malam kian menghilang. Aku bergegas bangkit dari perselimutan yang begitu nyaman. Ku intip jendela, ternyata pagi telah tiba. Semua kejadian itu masih terasa begitu nyata, jantungku masih berdegup seolah baru selesai lomba lari 1000 meter, aku kira semalam aku tengah bermimpi namun tidak. Oh tidak, kenyataannya aku memang tidak bermimpi, rasa kaget yang aku rasakan sungguh sangat luar biasa sehingga membuatku tak bisa lupa. Ah mengapa aku terlalu berlebihan, namun pasalnya begitulah keadaannya, naluri mencoba untuk menenangkan diri namun kenyataanya pikiran terus saja mengajak berperang. Banyak pertanyaan yang tak menemukan jawaban. Apakah aku terlalu berlebihan? Mengapa demikian? Aku sungguh tidak bisa berdamai dengan pikiran. “Jen… cepat mandi, hari sudah siang jangan sampai kamu terlambat kesekolah lagi” Suara teriakan ibu seketika memecahkan lamunan ku. Ya aku memang sering sekali datang terlambat, sepagi apapun mata ini terbangun rasanya jarang sekali aku datang tepat waktu. “baik bu” Aku segera bergegas dan bertekad hari ini tidak boleh telat, akan sangat malu jika sampai diberi surat peringatan. Tampak pasukan berseragam olah raga warna biru tua tengah berhamburan keluar menuju sebuah lapangan persegi panjang untuk mengatur barisan. Iya, layaknya pasar, semua bersuara seolah ingin menunjukkan suara siapa yang paling kencang. “Jen, cepat letakkan tas mu, ayo kita ke lapangan” Suara melengking Seli dan Sari lagi-lagi mengejutkan ku. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa seperti kebingungan sendiri dan...

Mengapa Begini

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMObatch40 #kelompok26 #Day2 #SarkatJadiBuku Judul : Diatas Normal Penulis : Tasnia Elmino Pj : Irma Fitriani KK : Yuyun Artika BeeZam Neng Jaga : Midah Sang Pemimpi Part 2 Entah mengapa aku merasa seperti orang yang kebingungn. Iya, mereka adalah sahabat tersegalanya bagiku, kami berteman sejak di bangku Sekolah Dasar. Meskipun kami sering bertengkar, meributkan hal-hal sepele namun sebenarnya kami saling sayang dan perduli satu sama lain. “Iya kalian duluan saja, sebentar lagi aku nyusul” “Oke, jangan lama-lama yaa” “iya –iya bawel amat” Ku letakkan tas jingga tepat di meja bagian tengah barisan paling depan, aku tidak pernah mau duduk dibangku nomor dua, tiga, atau lainnya, aku hanya ingin duduk di barisan paling pertama, alasannya simple, supaya tidak ada yang ngajak ngobrol ketika guru tengah menjelaskan. Segera ku susul Seli dan Sari. Semua pasukan termasuk guru dan siswa sudah berbaris dengan begitu rapi layaknya pasukan pengiring bendera di istana merdeka. Aku menyempil dibarisan pertengahan. Semua instruktur telah berbaris didepan. Irama mulai diputar pertanda senam akan segera dimulai. Saat tengah mengikuti gerakan, seekor ular lewat tepat didepan barisanku dan terlihat jelas oleh mata sipit ku. Sontak aku berteriak sehingga menghentikan semua gerakan dan menjadikan ku pusat perhatian. “ada apa Jen?” Dengan wajah panik Seli bertanya kepadaku “ada ular, aku takut” “mana ularnya? Tidak ada ular disini” “ada, jelas tadi aku melihatnya” “mana buktinya sekarang nggak ada” “kalian tidak percaya dengan ku” “bukan tidak percaya, mukamu terlihat pucat sekali, barangkali kamu berhalusinasi. Kamu kenapa? Sakit?” Desak sari dengan raut wajah khawatir. Badan ku memang sedikit kurang fit tapi apa mungkin aku berhalusinasi ah rasanya tidak mungkin. Aku terus meyakinkan diri bahwa aku tidak berhalusinasi. Apa yang aku lihat itu benar. “kalian nggak usah cemas, aku baik-baik saja, mungkin iya aku berhalusinasi karna semalam kurang cukup istirahat jadi agak kurang sehat” Aku mencoba untuk menenangkan mereka meskipun dalam hati masih bertanya-tanya. Keringat dingin mengucur begitu derasnya. aku merasakan keanehan sedang terjadi dalam diriku. Aku merasa begitu sangat takut dan cemas. Rasa takut yang tak wajar seketika ku lihat tambang pengerek bendera bergoyang-goyang terkena angin. Aku juga takut melihat kabel panjang yang menghubungkan tiap-tiap penerangan di sekolah. Hari ini aku benar-benar merasa seperti orang gila. Bagaimana bisa aku begotu takut melihat benda-benda ini, bagaimana bisa, berbagai pertanyaan tak wajar lagi-lagi membanjiri pikiran ku. Aku coba menenangkan diri dengan tidak memikirkan apapun. Teeeetttt…. Tteeeettt…. Teeeeettt…. Teetttt… Empat kali denting bel berbunyi, pertanda semua jam pelajaran telah selesai. “Sari, Seli aku duluan yaa ada yang mau aku beli nih” Pamitku pada Sari dan Seli “Oke, hati-hati ya, kalo perlu bantuan telfon aja” “Aman” Aku berjalan meninggalkan Sari dan Seli yang masih bergegas membereskan buku-buku pelajaran. Aku berjalan ditemani dengan terik mentari yang seolah ingin membakar diri. Jarak 25 kilo meter harus ku tempuh dengan jalan kaki itu sudah biasa. DRnnnnnnnnnnnn……………………. Tiba-tiba langkah ku dihentikan oleh sebuah pemandangan yang lewat di sampingku. Sebuah truk puso berwarna hijau dengan muatan barang yang begitu banyak sehingga terlihat seperti begitu berat untuk dikendarai. Entah ada apa tiba-tiba kecemasan itu datang, seketika rasa takut kembali ingin membekukan saliva ku. Bagaimana mungkin aku dibuat takut dan cemas oleh truk puso itu, apa yang salah dengan kendaraan roda delapaan itu. Aku terus menghardik ruang pikiran ku. Merasa sangat aneh, apa yang sebenarnya terjadi kepadaku. Kenapa aku jadi sering ketakutan tanpa alasan. Ya Allah, ada apa dengan diriku? Ada siapa dijiwaku? Aku terus bertanya pada diriku meskipun sebenarnya aku pun tidak tau alasannya. ******************* “Assalamualaikum” “waalaikumsalam, tumben udah pulang, biasanya sore terus pulangnya. Kamu nggak ikut ekstra?” “hari ini Jeni izin dulu bu, lagi kurang enak badan” “kamu sakit” “enggak bu, Cuma kurang istirahat aja” “ya udah istirahat sana, jangan lupa sholat dan makan ya” “baik bu” Ku rebahkan badan ku di sebuah ranjang berkasur busa. Rasanya lelah sekali, lelah dengan segala keanehan yang begitu sulit dijangkau oleh nalar. Ku tarik gawai dari dalam tas dan mencoba mencari jawaban lewat aplikasi berlambang huruf G. ku ketik apa yang aku alami disana ternya Not Found (hasil tidak ditemukan), goggle saja tidak tau apa yang aku alami lalu kemana aku harus mencari tau. Sampai kapan aku akan terus terperangkap seperti ini. Eh tapi sepertinya aku tau, kemana aku harus mencari solusi,..

Antara Mimpi dan Kenyataan

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day3 #SarkatJadiBuku Judul : Diatas Normal Penulis : Tasnia Elmino Pj : Irma Fitriani KK : Yuyun Artika BeeZam NengJaga : Midah Sang Pemimpi Jumlah kata :560 BAB 3 Sore itu hujan memandikan bumi dengan begitu lebatnya, sepertinya aku tau apa yang harus aku lakukan. Ku ambil diary ku yang sudah berdebu karna tak pernah tersentuh dan mencoba menuliskan semua kejanggalan yang aku rasakan. Iya, kata orang menulis adalah cara yang ampuh untuk mengekspresikan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Hampir satu jam jari-jari ini memenuhkan tiap-tiap lembar kertas, aku beranjak membuka jendela untuk menyaksikan bagaimana suasana di luar. Langit masih terlihat begitu pucat, hujan semakin deras bahkan kini diiringi dengan dentuman-dentuman geludug yang saling bersahutan. Cukup lama aku terpaku menatap langit hingga suara getar itu membangkitkanku dari lamunan, ku ambil gawai yang sedari tadi tergeletak di atas kasur, “Jen, besokkan hari minggu. Kita maraton yuk bareng Sari juga, entar kita jemput deh. Kamu mau ya, jam 07.00 oke!” Sebuah pesan whatsapp dari Seli. “ya udah deh, aku ikut kalian aja, tapi bener jemput ya” “iya, aman pokoknya” Perputaran bumi telah sampai di ufuk barat pertanda malam kian menjelang. Entah mengapa malam ini rasanya aku ingin sekali menonton film horror namun aku lebih tertarik menonton film horror yang di produksi oleh negara lintas benua. Ku pilih menonton sebuah film bergenre horror dari Amerika, mengisahkan tentang sebuah keluarga yang harus pindah ke luar kota karena urusan kerja, karena belum mendapatkan rumah baru akhirnya mereka menyewa sebuah vila untuk beberapa waktu. Vila tersebut ditunggu di jaga oleh seorang kakek tua bersama penghuni lainnya. Siapakah penghuni lainnya itu? Tidak lain adalah para korban mafia yang bersekutu dengan iblis dengan alasan kekuasaan dan kekuatan. Singkat cerita untungnya keluarga yang baru pindah tersebut berhasil menyelamatkan diri sehingga tidak menjadi korban mafia jahanam. Film-film lintas benua memang selalu punya daya tarik tersendiri untuk mengguide para penggemarnya. Menonton sampai ketiduran itulah kebiasaan yang sulit aku hindari terkadang sampai low battery karena lupa mematikan. Malam semakin sunyi aku terhanyut oleh mimpi, seseorang yang hanya samar-samar mendatangiku dan mengatakan bahwa dia akan selalu membersamaiku dan aku tidak perlu takut akan hal itu. Dreeeeeeddd…..dreeedddd…..dreeedddd Suara alarm mengoyak telinga hingga menyadarkan ku dari alam mimpi. Ku ambil gawai, waktu menunjukkan pukul 04.45. adzan subuh berkumandang dengan begitu merdunya. Seketika aku tertegun teringat tentang apa yang baru saja aku mimpikan. Apa maksudnya? Siapa dia? Mengapa ingin membersamaiku? Ah itu kan hanya mimpi, bunga tidur saja aku tidak boleh terpancing untuk terus memikirkannya. Aku beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berwudhu agar terhindar dari pikiran-pikiran aneh yang sering bergentayangan di pikiranku. *********** “assalamualaikum, bulek ada Jeni” “waalaikumsalam, ada itu lagi berberes di dalam ayo masuk, Jen ini ada temenmu” “Iya bu sebentar” Ternyata Sari dan Seli tepat janji juga hehe. “Bu, Jeni izin mau maraton sama Seli dan Sari ya” “Iya, kalian hati-hati ya” “Iya bu” Kami berlari-lari kecil hingga menyusuri sebuah taman kota, udara terasa begitu menyejukkan, mentari perlahan menampakkan diri dari persembunyiannya. Sungguh pagi yang sangat indah. Kami terus berlari kecil mengelilingi taman. “Jeni tunggu” Seketika langkahku terhenti, dikejutkan oleh suara yang tidak asing lagi terdengar memanggil nama ku. Aku mencoba menoleh kebelakang namun tidak ada satu orang pun yang aku kenal, ku toleh lagi kekanan dan kiri namun masih sama, tidak ada orang yang aku kenal disana. Lantas siapa yang barusan memanggilku? Ah mungkin aku salah dengar, aku terus melanjutkan langkah ku mengejar Seli dan Sari yang telah jauh dari ku tanpa mereka sadari karena terlalu asik menikmati suasana pagi. Aku terus berlari namun tiba-tiba, Bersambung….

Lelaki Bertubuh Besar Itu Ternyata...

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day4 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 577 Pj : Irma Fitriani KK : Yuyun Artika BeeZam Neng Jaga : Midah Sang Pemimpi PART 4 (Lelaki Bertubuh Besar itu Ternyata?) Aku terus berlari namun seseorang tiba-tiba merangkulku dari belakang. “Siapa kamu?” Sontak saja aku terkejut dan berusaha untuk menepis namun tak ada seorang pun disamping ku, lantas tangan siapa tadi? Sentuhannya benar-benar terasa, aku mengernyitkan dahi kebingungan. Bukan kebetulan, belakangan ini aku sering sekali merasakan keanehan pada diri ku. Ada apa ini? Apakah ini ada hubungannya dengan mimpiku tempo hari yang lalu? Ah Tidak! Tidak! Tidak! Itu hanyalah mimpi, aku tidak percaya dengan mimpi yang selayaknya hanya bunga tidur, mungkin saja ini semua kebetulan. Aku terduduk disebuah kursi taman, keringat masih mengucur deras disekujur tubuh ku. “ Jeni….” Suara melengking Seli berteriak memanggilku. Aku tak menjawab sepatah katapun, lagi-lagi pikiranku diacak-acak oleh berbagai pertanyaan yang tak masuk akal. Siapa orang itu? Mengapa serasa ada bersamaku? Bagaimana bisa? Adakah orang yang mengalami seperti ku? Atau aku sudah gila? Ah entahlah pertanyaan tak masuk akal ini malas sekali aku memikirkannya, hanya menambah pusing kepala saja. “Hey Jen, kok malah duduk disini sih, kami kira tadi kamu disamping kami eh taunya malah duduk disini” protes Sari. “Biasanya kamu paling semangat kalo diajak maraton, katanya sekalian cuci mata. Kenapa sih kayaknya hari ini loyo banget, sakit?” Tambah Seli sembari sok jadi detektif pengecek suhu tubuh. “apaan sih, enggak aku sehat-sehat aja. Cuma capek aja, mataharinya cerah sekali jadi panas dan haus nih” “ya udah kita cari minum yuk” “boleh, ayok” Kami berjalan memutari taman, warung disini lumayan jauh. Belum ada orang berjualan disekitar taman karena hari masih pagi. Kami mencari jalan pintas agar tidak terlalu panas dengan melewati jalan setapak yang dikelilingi banyak pohon-pohon besar. Cukup jauh kami berjalan namun belum juga menemukan toko manisan. Kali ini kami sampai dipersimpangan namun jalanan begitu sepi, ku lihat seorang laki-laki bertubuh besar dan tinggi. Sorot matanya terlihat begitu tajam layaknya singa yang ingin menerkam mangsanya. Dia terus memandangi kami dengan tatapan sinis seolah melihat musuh beridiri didepan mata. Tanpa berkata apa-apa lagi aku mengajak Sari dan Seli untuk memperpanjang langkah kaki agar cepat berlalu dari tempat dimana laki-laki menyeramkan itu berdiri. “Jen, tunggu. Cepet banget sih jalannya” protes Sari “Iya jangan cepet-cepet, capek tau” Keluh Seli “Kita harus berjalan lebih cepat, disini jalannya sepi. Aku takut lelaki bertubuh besar dan menyeramkan itu bertindak macam-macam sama kita?” “Hah, laki-laki? Laki-laki yang mana? Aku tidak melihat ada laki-laki sepanjang kita berjalan” tanya Sari keheranan. “Sama, aku juga tidak melihat ada laki-laki. Hanya ada kita bertiga saja sepanjang perjalanan. Jangan ngada-ngada deh” Imbuh Seli tidak percaya “Siapa yang ngada-ngada sih, jelas-jelas tadi lelaki besar tinggi, matanya begitu tajam menatap kita dengan tatapan sinis seolah ingin menerkam kita. Masa kalian nggak lihat sih, aneh banget kalian” “Bukan kami yang aneh tapi kamu Jen, kami enggak buta dan mata kami juga masih normal emang enggak ada siapa-siapa kok. Halusinasi kamu tuh” “Enggak, aku yakin aku enggak lagi berhalusinasi. Jelas-jelas aku lihat dan bener-bener nyata ada didepan mata” “Iya tapi buktinya aku sama Seli enggak lihat kan, udah mungkin kamu lagi banyak pikiran makanya jadi halusinasi gitu. Udahlah dari pada debat enggak jelas mending kita pulang aja deh kita minum di rumah saja karena sepertinya disekitar sini memang tidak ada yang berjualan” Aku tak menampik omongan Sari, mungkin saja apa yang mereka katakana itu benar jika aku hanya berhalusinasi. Kami melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk pulang. Sesampai di rumah aku langsung menuju kekamar dan bergegas untuk mandi. Namun ternyata lelaki bertubuh besar itu sudah berdiri di depan pintu kamar ku dan mengatakan sesuatu yang membuat pikiran ku kacau seketika. Bersambung…

Dia Bukan Manusia

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day5 #SarkatJadiBuku Judul : DIATAS NORMAL Penulis : Tasnia Elmino Jumlah kata : 630 PJ : Irma Fitriani KK : Yuyun Artika BeeZam Neng Jaga : Midah Sang Pemimpi PART 5 (Dia Bukan Manusia?) Entah sejak kapan dia berdiri di balik pintu kamarku. Bukankah orang ini yang tadi berdiri dipersimpangan jalan, mengapa sekarang tiba-tiba ada disini? Mengapa ibu membiarkannya masuk? Atau mungkin ia masuk diam-diam lewat jendela? Darimana dia tau rumah ku? Siapa dia sebenernya dan mau apa? Berbagai pertanyaan seketika berhamburan dan mulai menggerogoti pikiranku. Tak ada kata yang mampu ku ucapkan. Lidahku begitu kaku dan mulutku serasa terkunci seketika sementara tubuhku masih berdiri gemetaran. “Hai Jeni, mengapa kamu menatapku seperti itu? Kamu pasti kaget mengapa aku bisa ada disini ha…ha…ha…” Aku masih tak mengerti dengan semua ini. Ibu, Ayah, kalian dimana, tolong aku. Aku terus memekik dalam hati namun rupanya sia-sia tak seorangpun datang memberikan pertolongan. “Tenanglah Jeni, lama-lama kamu akan sering melihatku bahkan yang lebih menyeramkan dari aku” Astaga, apa maksud lelaki ini. Kenapa aku sulit sekali bergerak bahkan sekedar membuka mulut saja aku tidak bisa dan kali ini mata ku pun turut terpejam. Rasanya benar-benar seperti terborgol oleh hipnotis. Aku masih terdiam tidak mengerti dengan semuanya sampai suara berat itu akhirnya menyadarkanku dari keterpakuan. “Jen… bangun udah jam 10 tadi katanya mau mandi kok malah tidur lagi ini masih pagi loh enggak baik tidur jam segini” Itu seperti suara ayah, ku buka mata ini perlahan untuk memastikan dan ternyata benar ayah sudah berdiri didepan ku dan berusaha membangunkan aku tapi sejak kapan aku tertidur bukannya sepulang dari maraton tadi aku langsung bergegas untuk mandi tapi mengapa aku bisa berada diatas tempat tidur bahkan sempat tertidur pula. Astaga, aku teringat dengan sesosok pria yang tiba-tiba berdiri dibalik pintu kamar ku. Kemana pria itu sekarang apakah ayah sudah mengusirnya? Apakah aku bermimpi? “Ayah apakah sebelum ayah datang tadi ada seseorang di kamar ku?” “Orang? Tidak ada siapapun disini kecuali kamu sendiri yang lagi tidur nyenyak tapi terpaksa ayah bangunkan karna hari sudah hampir siang” “Benarkah ayah?” “iya bener masa ayah bohong, memangnya ada apa?” “enggak papa yah” “apa kamu merasa ada orang lain yang masuk ke kamar ini? Kok kamu pucat sekali ada apa ayo cerita” “enggak papa yah mungkin karena Jeni belum mandi aja jadi kelihatan kusam sebenernya, bukan pucat” “ya sudah cepat mandi, ayah keluar dulu” “iya yah” Aku masih tidak habis pikir kenapa tiba-tiba aku bisa tertidur padahal sedari tadi aku tidak merasa ngantuk sama sekali jadi rasanya tidak mungkin kalau aku ketiduran. Dan lelaki berbadan besar itu, iya jelas sekali aku melihat lelaki itu lagi. Lelaki yang aku temui dipersimpangan jalan saat maraton tadi tiba-tiba muncul di muka pintu kamar ku tapi kenapa ayah bilang tidak melihat siapapun? aku sangat yakin ini bukan mimpi apalagi halusinasi, tidak aku bukan orang yang suka berhalusinasi. Sorot matanya begitu tajam, suaranya menggelegar dan tatapannya begitu mengerikan. Aku yakin sekali ini bukan mimpi dan lelaki itu sempat mengatakan sesuatu bahwa aku tidak perlu takut melihatnya karena aku akan sering melihat dia bahkan yang lebih menyeramkan darinya suara itu terdengar begitu jelas oleh telingaku bahkan tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya yang aku lupa. Semua masih sangat aku ingat jadi ini pasti bukan mimpi tapi apa maksudnya, mengapa aku dia mengatakan kalau aku akan sering melihatnya apakah dia hantu? Tidak aku tidak percaya dengan hantu. Melihatnya saja aku sudah begitu ketakutan apalagi jika harus melihat yang lebih menyeramkan darinya. Tapi siapa yang lebih menyeramkan dari dirinya? Apakah hantu, Jin, Setan, ahhh aku tidak ingin mempercayainya dan aku tidak ingin melihatnya. Ya Allah apakah aku sudah tidak waras? Tolong aku ya Allah, aku ingin menjadi manusia normal yang sewajarnya. Aku benar-benar tidak mengerti dengan kejadian yang baru saja aku alami. Pikiranku benar-benar kacau sebaiknya aku mandi agar setelahnya bisa berfikir dengan jernih. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi dan berdiri didepan cermin untuk membersihkan muka. Dug, lagi-lagi jantung ku hampir copot melihat selembar kain berwarna merah lewat persis di belakang ku. ****

Apakah Aku Gila

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 6 #SarkatJadiBuku Judul: Diatas Normal Penulis : Tasnia Elmino Jumlah Kata : 530 PJ : Irma Fitriani KK : Yuyun Artika BeeZam Neng Jaga : Midah Sang Pemimpi PART 6 (Apakah Aku Gila?) Pergerakan tanganku terhenti seketika, astaga benda apa yang aku lihat barusan? Warnanya begitu merah menyala seperti kobaran api namun berbentuk sehelai kain. Aku bahkan tidak berani menoleh kebelakang untuk sekedar memastikan. Aku berusaha keras untuk meyakinkan diri lebih tepatnya membohongi diri sendiri kalau barusan aku tidak melihat apa-apa agar aku tak terpancing rasa ketakutan. Kembali ku raih gayung dan mempercepat pergerakan agar segera selesai semua aktifitasku di kamar mandi. “Jen, sudah selesai madinya? Ayo temani ibu kepasar” Kedatangan ibu benar-benar mengagetkan ku. Entah mengapa belakangan ini aku begitu mudah sekali terkejut. “Iya bu, ayo kita berangkat sekarang saja nanti keburu kesiangan” Ku starter kan honda berwarna biru kesayanganku itu dan memulai perjalanan menuju pasar. Tak ada obrolan antara aku dan ibu, sedari tadi aku hanya diam dan membisu serasa kehabisan kata-kata begitupun dengan ibu, tumben sekali kali ini beliau pun ikut terdiam padahal biasanya ia selalu punya sejuta cerita untuk mengisi waktu perjalanan kami. “ya ampun Jen kalo nge-rem jangan ngejut gitu ngapa, hampir saja ibu terpental, kenapa sih kok berhenti mendadak” “iya maaf bu Jeni nggak sengaja, cuma reflex aja tadi soalnya ada kucing tiba-tiba nyebrang. Takut tertabrak makanya Jeni nge-rem mendadak” “kucing? Ibu tidak melihat ada kucing nyebrang tuh, halu aja kamu tu makanya kalo nyetir itu fokus jangan sambil melamun” Aku tak membalas perkataan ibu, sepertinya ku jelaskan pun akan percuma. Ibu pasti tidak akan mempercayainya barangkali kejadian kucing ini sama halnya dengan kejadian saat aku melihat lelaki bertubuh besar pagi tadi. Aku semakin yakin kalau aku tidak berhalusinasi, semua kejadian ini benar-benar nyata. Aku harus berusaha memberanikan diri untuk mencari tau ini semua. Aku tidak ingin dibuat gila koleh kejanggalan yang akhir-akhir ini sering aku rasakan. Ku lanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah pasar tradisional yang cukup ramai. Semua pedagang saling berlomba-lomba menawarkan barang dagangannya. Benar-benar ramai sekali, aku tidak suka dengan semua ini, aku benci keramaian ingin sekali rasanya aku berlari dari tempat aneh ini. “Bu, masih lama belanjanya?” “ya jelas masih lah, kita aja baru nyampe. Ibu aja belum dapet belanjaan apa-apa” Mau tidak mau aku terpaksa menahan diri untuk berada ditempat ini. Aku terus membuntuti ibu hingga sampai di penjual daging. Ibu tengah sibuk melakukan tawar menawar kepada penjual sembari memilih daging segar namun tiba-tiba suasana berubah menjadi kacau. “Ibu awasss!” “awas apanya, kamu jangan teriak-teriak disini, ini pasar, malu” Semua pandangan baik penjual maupun pembeli yang ada di pasar itu tertuju padaku. Muka ibu memerah, terlihat begitu malu menyaksikan kelakuanku. Bagaimana mungkin aku diam saja melihat penjual itu membawa pisau pemotong daging yang begitu besar dan terlihat sangat tajam diacungkan tepat diatas kepala ibu. Ku tarik nafas dalam-dalam hingga beberapa kali kemudian ku coba menutup mata sejenak dan membukanya kembali, tak ada pisau besar seperti yang ku lihat barusan, penjual itupun tengah asik menimbang daging dagangannya. Lagi dan lagi pikiranku dikacaukan oleh ketidakmasukakalan. Aku terdiam berusaha tak menghiraukan semua pandangan yang tertuju padaku. Aku yakin ini pasti ulah makhluk bertubuh besar itu yang sudah berani mencabik-cabik akal sehat ku. Siapa lelaki itu, aku yakin dia pasti bukan manusia. Apakah dia jin? Aku harus berusaha mendamaikan antara pikiran dengan keadaan agar aku bisa mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku. *******

Aku Tau Apa yang Akan Terjadi Denganmu

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 7 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 526 PJ : Irma Fitriani kk : Yuyun Artika BeeZam Neng jaga : Midah Sang Pemimpi PART 7 (AKU TAU APA YANG AKAN TERJADI DENGAN MU) Setelah selesai berbelanja, ku antarkan ibu pulang dan langsung berpamitan untuk pergi ke rumah Sari. “Bu, Jeni pamit mau ke rumah Sari dulu ya” “Loh enggak makan dulu” “enggak bu, nanti saja” Ku ayunkan sepeda menuju rumah Sari. Niatnya pengen curhat tentang semua kejanggalan yang akhir-akhir ini sering aku rasakan. Tapi ternyata batinku melonjak seketika saat, “Assalammualaikum, Sari” “Waalaikumsalam, hei Jen masuk” Belum sempat aku langkahkan kaki untuk masuk kedalam rumah Sari, aku terkejut seketika melihat wajah Sari begitu pucat dan berlumuran darah. Ku kucek mata ku berkali-berkali demi memastikan apakah yang aku saksikan ini nyata. Aku merasa Sari akan mengalami suatu kejadian yang menyedihkan. “Sari, kamu baik-baik aja kan?” “Iya aku baik-baik aja, emang kenapa? Kok tiba-tiba nanya gitu” “Enggak, ini tandanya aku perhatian, seharusnya kamu peka dong” “Idih sok perhatian, btw ada apa? Tumben kesini enggak ngabari dulu?” “nggak papa, cuma pengen main aja” Tak ku lanjutkan niat ku untuk curhat ke Sari. Sepertinya ini bukan waktu tepat, lebih baik aku tahan saja dulu. “Eh Sar ke rumah Seli yuk. Sekalian kita kerjakan PR bu Diah, kan besok di kumpul” “Boleh tu, aku ambil buku dulu ya” Teriknya mentari menemani sepanjang perjalanan kami menuju rumah Seli. “Jen, kita udah nyampe di rumah Seli. Kamu duluan aja ya, aku mau beli cemilan dulu buat nemenin kita ngerjakan tugas” “Aku ikut yaa” “Enggak usah biar aku sendiri aja, kamu duluan suruh Seli siapin minuman” “Tumben enggak mau ditemenin, biasanya kan seorang Sari paling males kalo belanja sendiri, yakin berani?” “Iya itu kan kemaren, everyone can change, udah sana” “Ok deh jangan lama-lama ya” Ku tinggalkan Sari yang masih berdiri di seberang mini market, kali ini benar-benar aneh, dia memperhatikan ku dengan begitu teliti hingga aku sampai di halaman rumah Seli. BRAAKKKKKK………………. Tidaaaaakkkkkk…………………. Hatiku terbanting seketika menyaksikan pemandangan menyedihkan itu. Orang-orang mulai berhamburan menuju sumber suara. Aku berlari sekuat tenaga menuju keramaian itu. Hati ku ngilu dan perih, kaki ku gemetar dan tubuhku terasa kaku. Air mata sontak mengalir dengan begitu derasnya. Aku tak kuasa menyaksikan tubuh sahabat ku tergeletak tak sadarkan diri dibanjiri darah segar yang terus mengalir. Sebuah mobil tronton telah melindas tubuh Sari ketika ia hendak menyeberang. “Anda yang sudah menabrak sahabat ku, anda harus bertanggung jawab atau aku akan melaporkan anada ke polisi” Ku gertak seorang lelaki sekitar 35 tahun yang terlihat setengah mabuk sehingga tidak mampu mengendalikan mobilnya. “Pak, bu tolong sahabat saya, tolong telponkan ambulance untuk mengantarkan dia ke rumah sakit” “Sari tolong bangun Sari, buka mata kamu. Kamu yang kuat ya, tolong jangan tinggalin aku pliss” Air mata ku tumpah turut membasahi tubuh Sari. “Pak ayo cepat telpon ambulance jangan diem aja, tolong sahabat saya” “Iya dek, bapak telponkan. Kamu yang tenang yaa” Seorang lelaki paruh baya tengah berusaha menghubungi nomor sopir ambulance. Tak lama sekitar 10 menit petugas ambulance pun sampai, mereka berusaha mengangkat tubuh sari dan memasukkannya kedalam ambulance. Dug, sontak hati ku terkejut. Dia lagi, kenapa dia bisa ada disini dan berdiri di samping tubuh Sari, dari mana dia datang. Lelaki bertubuh besar, mata tajam, dan tatapan sinis itu kembali muncul di depan mata ku. Apakah ini ada hubungannya dengan dia? Apakah kecelakaan Sari ini dialah penyebabnya?

Dan Dia Kembali Datang

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 8 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 933 PJ : Irma Fitriani KK : Yuyun Artika BeeZam Neng Jaga : Midah Sang Pemimpi PART 8 (Dan Dia Kembali Datang) Ingin sekali rasanya ku hampiri lelaki mesterius itu tapi untuk saat ini Sari lebih penting, aku harus ikut menemaninya hingga di rumah sakit. Ambulance melaju dengan begitu cepatnya, tak terasa kini kami telah sampai didepan UGD rumah sakit. Beberapa perawat dengan sigap mengantarkan Sari hingga ke ruang perawatan untuk segera mendapat penanganan. Begitu banyak peralatan medis yang harus terpasang di tubuh Sari. Ingin sekali rasanya aku berada disampingnya, memberikannya dukungan agar tetap kuat dan bertahan, sayangnya langkahku dihalangi oleh kaca yang menyelimuti ruangan. Kaki ku masih sangat gemetar, netra tak kunjung berhenti membasahi pipi, hatiku terenyuh memikirkan bagaimana nasib Sari. Ku putuskan untuk duduk sejenak menenangkan pikiran dari segala kekacauan. “Keluarga nona Sari” Lelaki bersuara tegas dan penuh kewibawaan itu ternyata telah berdiri di muka pintu, membuat ku tersadar dari ketermenungan. “Saya sahabatnya dokter, bagaimana keadaan Sari dok? Dia baik-baik aja kan?” “Maaf dek, apakah ada orang tua nya atau keluarga inti karena ada hal penting yang harus disampaikan kepada keluarganya” Astaga, aku bahkan lupa untuk mengabari orang tua Sari bahkan Seli. Ku raih gawai dari dalam tas dan segera mensearch kontak orang tua Sari. “Assalamualaikum, tante ini Jeni” “Waalaikumsalam, iya Jen ada apa tumben nelpon?” “Tante bisa tolong datang ke rumah sakit sekarang? Nanti Jeni kirim alamatnya” “Loh kamu ngapain di rumah sakit, kamu sakit ya” “Enggak tante, maaf Jeni telat memberi kabar tadi Sari mengalami kecelakaan ketika hendak menyeberang, sekarang Sari sudah di rumah sakit tante yang sabar ya” “Apa! Sari kecelakaan, ya Allah anak ku. Jen, kamu kirim alamatnya tante kesana sekarag” “Iya tante, Jeni kirim. Tante hati-hati ya” Lima belas menit berlalu, ku lihat seorang perempuan 45 tahun berjalan dengan tergesa-gesa sambil berurai air mata. “Tante Ratna” “Jeni, dimana Sari” “Ada didalam bersama dokter tan” Dengan penuh kepanikan tante Ratna menerobos masuk kedalam ruang perawatan Sari. “Sari… ya Allah nak kenapa bisa seperti ini. Dokter, saya ibunya, bagaimana keadaan anak saya dok? Dia baik-baik saja kan? Kenapa dibadannya banyak sekali kabel terpasang?” “Bu, ibu tenang dulu ya. Mari ikut ke ruangan saya. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan” “Baik dok” Tante Ratna berjalan mengikuti langkah dokter. Aku berusaha mengejarnya demi memastikan keadaan Sari. “Tante, Jeni ikut ya plisss Jeni mohon tan, Jeni khawatir dengan keadaan Sari tan” “Ya sudah ayo nak, kita sama-sama do’a kan Sari ya” Aku mengangguk dan mengiring langkah tante Ratna. Sebuah ruangan persegi full AC seolah membekukan tulang-tulang ku. “Jadi gimana keadaan anak saya dok?’ “Begini bu, luka yang dialami Sari cukup parah, benturan di kepalanya cukup kuat itulah yang mengakibatkan dia mengalami pendarahan pada otak kecil nya dan maaf terpaksa saya sampaikan kalau nona Sari saat ini mengalami koma dan kami juga belum bisa memastikan sampai kapan dia akan sadar” “Apaaa? Anak saya koma?” Tante Ratna beranjak dan menangis sejadi-jadinya tak kuasa jika harus menyaksikan anak tunggalnya kini harus terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. Raut wajahnya kian memucat, tubuhnya terlihat sempoyongan hingga terjatuh ke lantai dan pingsan. “Ya Allah tante Ratna, sadar tan, tante. Suster tolong sus” Hatiku benar-benar tercabik menyaksikan kejadian pilu ini. Beberapa perawat mengangat tubuh tante Ratna dan membawanya kesebuah ruangan untuk beristirahat. Ku ambil gaway untuk meminta bantuan. Tante Ratna tidak boleh sendirian. “Hallo Seli” “Hallo ada apa Jen” “Seli plisss kamu jangan banyak tanya dulu sekarang tolong kamu ke rumah sakit, alamatnya nanti aku kirim, sekarang ya” “Ada apa sih kok buru-buru banget” “Udah nanti aja nanya nya pokoknya kamu kesini sekarang urgent” “Iya iya aku OTW sekarang, cepet share lokasinya ya” “Iya udah aku kirim” Sedari tadi aku terus bolak balik dari ruang tante Ratna kemudia ruang Sari karena aku tidak tega jika harus meninggalkan salah satu dari mereka. “Seli Alhamdulillah akhirnya kamu sampai juga” “Ada apa sih Jen, aku sampai lari-lari nih dari lobby sampai sini. Emang siapa yang sakit?” “Sari kecelakaan dan tante Ratna pingsan karena tidak kuat menahan kesedihan” “Apaaa? Kok bisa, gimana ceritanya?” “Tadi aku sama Sari berniat mau ngerjakan tugas bareng di rumah mu, terus Sari nyuruh aku duluan karena dia mau beli cemilan dulu katanya, ketika hendak menyeberang ada mobil tronton yang melaju cepat sehingga kecelakaan tidak bisa terelakkan lagi” “Ya Allah, kasian sekali Sari. Terus keadaanya sekarang gimana?” “lukanya cukup parah, kata dokter terjadi pendarahan di kepala Sari sehingga dia harus terbaring koma” “Apaaa, Sari koma? Ya Allah malang sekali nasib kamu Sar” “Sekarang aku minta tolong kamu temenin dan jagain tante Ratna dulu ya, aku mau nemenin Sari di dalam” “Sebenernya aku pengen lihat keadaan Sari, tapi ya udahlah kita do’a kan semoga Sari cepat sadar kembali, aku temenin tante ratna dulu ya” “Aamiin, Iya” Aku berjalan menuju ruang tempat Sari dirawat. Ku dorong gagang pintu dan kembali ku lihat Sari yang malang tengah terbaring tak berdaya. Ya Allah, aku tau ini kehendak-Mu, tapi aku mohon ya Allah berikanlah kesempatan untuk Sari, sadarkan ia dari koma dan sembuhkanlah dia Ya Allah. Barisan netra seolah tak ingin berhenti dan kembali menutupi wajahku hingga sampai ke tubuh Sari. Ku genggam erat tangan Sari dan sesekali membisikkan penyemangatan untuknya. Ayo Sari, aku tau kamu kuat aku yakin kamu pasti bisa melawan rasa sakit ini. Tolong kamu sadar ya, kami semua sangat menyayangi mu. Pandanganku semakin kabur tertutup untaian netra yang tak kunjung berhenti. Ditengah pandang yang samar-samar ku lihat lagi lelaki bertubuh tinggi itu tiba-tiba berada di sudut ruangan dengan tatapan tajam memandai kami berdua. Entah dari mana dia datang, aku tak melihatnya masuk namun tiba-tiba ada didalam. Ah itu ku pikirkan nanti saja yang jelas saat ini aku harus bisa berbicara dengannya, aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini, akan ku selesaikan semuanya disini.

Apakah Dia Malaikat?

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 9 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 619 PJ : Irma Fitriani KK : Yuyun Artika BeeZam Neng Jaga : Midah Sang Pemimpi PART 9 (APAKAH DIA MALAIKAT?) segera aku beranjak dari tempat duduk, kali ini aku harus punya keberanian, dengan langkah gemetar ku paksakan diri untuk berhadapan dengannya, aku tidak ingin terus-terusan di hantui oleh kehadirannya yang sering muncul tiba-tiba. “Hei, tunggu!” ku hentikan langkahnya yang ingin beranjak keluar. “Anda memanggilku nona cantik?” Dia memutarkan kembali tubuhnya sembari membulirkan senyuman sinis. “Siapa kamu sebenarnya? Mengapa selalu muncul tiba-tiba dan menghilangpun tiba-tiba. Apakah ada yang menyuruhmu untuk mengikuti ku? Ayo jawab!” “Nona Jeni yang sangat cantik, tentu saja aku sama seperti mu. Tuhan menciptakan aku sama dengan Tuhan menciptakan kamu” “Jika engkau manusia kenapa engkau selalu muncul tiba-tiba? Pertama kali kita bertemu di persimpangan jalan, kemudian tiba-tiba saja kau sudah berdiri di muka pintu kamar ku, dari mana kau tau rumah ku dan untuk apa kau datang hingga masuk kedalam bahkan tanpa ada orang yang tau. Kau penjahat, siapa yang menyuruhmu” Berbagai pertanyaan ku lontarkan seketika, sebenarnya masih banyak sekali pertanyaan yang memenuhi kepala ku namun belum sempat ku layangkan. “Nona Jeni, tidak perlu memenuhi pikiranmu dengan pertanyaan-pertanyaan yang justru akan mengganggu konsentrasi mu. Fokus saja dengan apa yang sedang kamu jalani saat ini. Aku akan lebih sering lagi memantaumu” “Memantau ku, apa maksud mu? siapa kau ini, tinggal mengaku saja apa susahnya. Siapa yang menyuruhmu ayo cepat katakana” “Tidak ada satu makhlukpun yang berani memerintah ku” “Omong kosong, aku tidak percaya. Ayo cepat katakan, apa yang sebenarnya kau inginkan dari ku?” “Tentu kau harus percaya padaku nona, aku memilihmu karena kau memiliki aura yang tidak orang lain miliki” “Aura?” “Aura iya aura, ha…ha…ha…” “Tunggu, hei tunggu” Seketika lelaki aneh bertubuh besar itupun berlalu meninggalkanku. Tak ada satupun dari pertanyaanku yang ia jawab. Ingin sekali aku mengejarnya dan tidak membiarkannya pergi sebelum ia menjawab pertanyaanku namun tidak mungkin ku tinggalkan Sari sendirian. Rasa penasaranku semakin mencuat kini berbagai pertanyaan-pertanyaan baru kian bertumpuk di kepalaku. Jika aku bertemu dengannya lagi tak akan ku biarkan ia pergi sebelum semua pertanyaanku ia jawab. **** “Halo, Assalamualaikum buk” “Waalaikumsalam, kenapa nak kok jam segini belum pulang, memangnya tugas kalian belum selesai?” “Maaf bu, malam ini Jeni izin enggak pulang ya, mau nginap di rumah sakit soalnya tadi siang Sari kecelakaan” “Astagfirullah, kok bisa, gimana keadaannya sekarang nak” “Sekarang koma bu, besok Jeni ceritakan kronologisnya. Maaf bu Jeni tutup dulu telfonnya ya soalnya Jeni mau menghubungi Seli. Assalamualaikum bu” “Ya Allah koma, ya sudah kamu jaga diri baik-baik ya, waalaikumsalam” Detik waktu terus berlalu. Ku lihat arloji menunjukkan pukul 21.00. Suasana terasa begitu sunyi dan sepi. Suara hentakkan kaki sudah hampir tak terdengar lagi sepertinya para penunggu pasien lainnya sudah tertidur. Suara suster yang berjaga pun hanya terdengar samar-samar padahal ini kan belum terlalu malam. Ku ambil gaway dan menguhubungi Seli untuk menanyakan kondisi tante Ratna. “Hallo Sel, gimana keadaan tante Ratna. Beliau udah sadar kan?” “Iya Jen, Alhamdulillah tante Ratna udah sadar cuma kondisinya masih lemes tadi dia maksa mau ke ruang Sari cuma aku tahan dulu takut dia drop lagi” “Iya Sel lebih baik tante Ratna istirahat aja dulu ya, bentar lagi aku kesana, kamu bisa tolong kesini enggak tungguin Sari sebentar” “Bisa ya udah aku kesana ya” “Ok, aku tunggu” *** “Jen, gimana keadaan Sari” “Hei Sel Alhamdulillah kamu udah dateng. Sari dari tadi masih belum sadar. Tolong kamu tungguin bentar ya aku mau lihat tante Ratna” “Iya aku tungguin, tenang aja” “Ya udah tinggal dulu yaa” Aku berjalan melewati beberapa ruang rawat untuk melihat kondisi tante Ratna. Rupanya cukup jauh ruangan antara tante Ratna dan Sari. Kali ini aku melewati sebuah ruang ruang rawat yang kosong. Hanya ada seorang suster tengah merapikan ruangan tersebut. Dug jantungku berdebar seketika, aku melihat seorang perempuan dengan gaun putih menjuntai tiba-tiba berdiri di samping suster tersebut. Bahkan mereka terlihat seperti sedang berkomunikasi.

Aroma Rumah Sakit

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 10 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 604 Pj : Irma Fitriani KK : Yuyun Artika BeeZam Neng Jaga : Midah Sang Pemimpi PART 10 (AROMA RUMAH SAKIT) Ku toleh kekanan dan kiri namun tak ada seorangpun yang terlihat kecuali suster yang tengah merapikan ruang rawat yang pasiennya baru pulang siang tadi dan juga seorang perempuan bergaun putih. Aku kembali mengarahkan pandangku pada ruangan itu. Iya mereka masih disana dan terlihat asik bercerita, entah apa yang tengah mereka ceritakan sehingga tawanya terdengar lepas hingga sampai ditelingaku. Aku tak ingin menghiraukan dan terus berjalan menuju ruangan tante Ratna. Perlahan ku dorong pintu, “Tante Ratna, tante belum tidur?” “Belum Jen, tante tidak bisa tidur sedari tadi terus kepikiran Sari. Kepala tante sakit sekali, bagaimana keadaan Sari sekarang” “Tante, tante harus istirahat ya biar cepet sehat. Tante tenang aja, ada aku sama Seli kok yang akan selalu jagain Sari” “Makasih ya Jen, tante enggak tau lagi harus gimana kalo tidak ada kalian. Sejak papa nya meninggal, Cuma Sari satu-satunya yang tante punya” “Iya tan, pokoknya tante percaya deh sama Jeni, Allah itu maha baik, pasti Allah akan kasih kesembuhan untuk Sari. Kita berdoa aja ya tan semoga Allah mengabulkan” “Iya Jen, Aamiin” “Ya udah sekarangkan udah malem, tante istirahat dan tidur ya biar Jeni temenin” “Iya Jen, makasih ya” “Sama-sama tante” Hembusan angin malam seketika menusuk hingga ketulangku. Rupanya di luar sedang hujan deras pantas saja udaranya sangat dingin. Ku lihat tante Ratna sudah mulai tertidur, mukanya terlihat begitu pucat dan kelelahan, ya Allah sadarkanlah Sari dari komanya kasihan sekali tante Ratna. *** Aku harus berjaga mala mini, siapa tau tante Ratna memerlukan bantuan sebab aku kalau sudah terlanjur tidur sulit sekali dibangunkan, tapi badanku terasa lelah sekali, ingin sekali berbaring dan pejamkan mata. Eh tapi aku tidak boleh tidur. Ku ambil gaway dari dalam tas. Ah aku baca online story aja deh barangkali bisa mengusir kantuk. (Pemuja Setan) wah sepertinya ini cerita seru. Ku baca tiap-tiap part yang tersaji didalamnya dan terlarut dalam cerita. “Hah, bau apa ini kok wangi sekali. Siapa yang pakai parfum malam-malam begini” Bau wangi seolah menumpahi seisi ruangan, benar-benar wangi sekali. Seketika ku hentikan aktivitas membaca ku dan memperhatikan tiap-tiap sudut ruangan, tak ada seorang pun terlihat lewat di depan namun bau wangi semakin menusuk, entah wangi parfum, bunga, atau apa yang jelas bau ini tak pernah ku cium sebelumnya. Ah sudahlah, barangkali disebelah ada yang lagi menyemprot ruangan jadi baunya sampai kesini. Ku alihkan pikiranku pada bau itu dan kembali ku lanjutkan membaca online story yang mulai menuju klimaks permasalahan tersebut. *** Belum selesai aku membaca, seketika aroma yang tadi tercium begitu wangi perlahan menghilang dan kini bau busuk tiba-tiba menyebar di seisi ruangan. Benar-benar busuk sekali bahkan lebih busuk dari bangkai binatang. “Ya ampun, bau apa lagi ini. Tadi bau sangat wangi bahkan lebih wangi dari sekian bunga yang paling wangi, kenapa tiba-tiba jadi bau busuk sekali. Apakah karena hujan jadi sampah yang ada desiring melumbab, tapikan tadi kulihat siring samping rumah sakit sangat bersih, hanya ada ikan-ikan saja disana” Bau busuk yang menyebar benar-benar mengoyak seisi perutku, beberapa kali aku ke kamar mandi karena ingin muntah. Apa mungkin ada sungai besar yang melumbab jadi bau busuknya tercium dari sini. Dimana ada sungai yang dekat dengan rumah sakit ini? Yang aku tau sungai besar didekat pemukiman warga berjarak sekitar 150 KM dari sini. Ah mungkin ini bau sampah hasil dari ulah tangan jahil yang membuangnya di bantaran sungai. Lagi-lagi ku alihkan pikiranku dari hal-hal negatif. Ku buka pintu dan keluar berniat mencari angin segar agar terhindar dari bau busuk itu. Aku bersandar di sebuah tiang besar sembari menatap hujan yang membasahi taman-taman. Rasa kagetpun tak bisa terhindarkan ketika seseorang menepuk bahu ku dari belakang. Spontan aku menoleh, ternyata ada dua orang wanita yang berdiri disisi kanan ku.

Apakah Dia Kunti?

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 11 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 648 Pj : Irma Fitriani KK : Yuyun Artika BeeZam Neng Jaga : Midah Sang Pemimpi PART 11 (APAKAH DIA KUNTI?) Iya lebih tepatnya seorang wanita paruh baya dan satu lagi seorang wanita muda kisaran 21 tahun. Mungkin mereka adalah ibu dan anak. Aku menatap keheranan, wanita muda itu terlihat begitu pucat. Apa mungkin dia salah satu pasien di rumah sakit ini. Tapi kenapa ibunya malah mengajaknya keluar malam-malam. Bukankah seharusnya ia beristirahat. “Maaf, kalian siapa ya? Apakah ada yang bisa saya bantu?” “Bisakah kamu ikut dengan kami?” “Ikut, ikut kemana?” “Nanti juga kamu akan tau, ayolah nak” “Maaf bu, aku tidak bisa sebab aku harus menjaga tante di dalam” “Tante mu tidak akan kenapa-kenapa, ayolah kamu mau ya” “Maaf bu, aku benar-benar tidak bisa, aku permisi dulu” Aku merasa ada yang aneh. Jangan-jangan mereka penculik yang sengaja menyamar untuk mendapatkan target. Aku berlalu meninggalkan dua wanita itu. “Tunggu, kami benar-benar membutuhkan bantuanmu, tolonglah kami, kami mohon” Langkahku terhenti seketika mendengar suara iba dari wanita paruh baya itu. Mereka terus membujukku untuk mengikutinya. Rasa tak tega pun muncul, aku membayangkan bagaimana seandainya yang membutuhkan bantuan itu adalah saudaraku, atau bahkan ibu ku sendiri sedangkan tidak ada orang yang mau menolongnya. Sepertinya mereka bukan orang jahat ataupun penculik. Entah kenapa hatiku mulai merasa iba. Dilema turut hadir seketika, bagaimana jika mereka memang benar-benar membutuhkan bantuan akan sangat jahat jika aku tak membantunya. “Memangnya apa yang bisa aku bantu bu?” “Anak saya baru saja melahirkan, namun bayinya di culik” “Apa, siapa yang menculiknya bu, kenapa tidak lapor polisi saja?” “Polisi? Apa itu polisi. Aku tidak membutuhkan bantuan polisi aku hanya membutuhkan bantuan mu, tolonglah kami” Hah bagaimana mungkin ibu ini tidak tau polisi, ah mungkin bukan tidak tau hanya saja karena terlalu panik. “Apa yang bisa aku lakukan bu, bagaimana bisa aku melawan penculik. Aku hanya anak SMA dan aku tidak terlalu mengerti bagaimana bisa melawan penculik, kita cari bantuan ke orang lain juga ya bu. Aku pasti tidak akan bisa melakukannya sendirian” “Tidak, jangan, tidak ada orang yang bisa membantu kami selain kamu sendiri. Karena kamu memiliki kelebihan yang tidak orang lain miliki” “Tapi aku tidak memiliki kelebihan apapun bu, memangnya penculiknya ada dimana dan siapa” “Kamu memiliki aura yang tidak dimiliki oleh orang lainnya, penculik itu akan takut dengan mu. Cukup kamu katakan kepadanya untuk mengembalikan bayi itu. Katakan dengan lantang jika tidak dia…” “Jika tidak apa bu” “Jika tidak maka dia akan melawan mu” Hah, apa maksudnya ini. Aku seperti sedang terhipnotis, aku merasakan keganjilan yang teramat sangat. Bagaimana mungkin aku bisa melawan penculik, dan bagaimana mungkin penculiknya bisa takut denganku, benar-benar tidak masuk akal sama sekali. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Apakah ibu ini memiliki gangguan kejiwaan atau mungkin aku yang sudah gila. Ah ya sudah lah supaya cepat selesai masalahnya tak ada salahnya aku membantu ibu ini barangkali apa yang dia katakana benar. Semoga Allah melindungi niat baik ku untuk membantu ibu ini. “Bu, sebenarnya aku sangat takut” “Kami mohon, tolong kami” “Dimana penculiknya bud an berapa orang?” “Dia membawanya lari ke sudut sana, hanya satu dan perempuan kami yakin dia masih ada di sekitar sana” Ibu itu menunjuk ke arah kanan tidak jauh dari jalan lintas kendaraan namun sangat gelap, lampu yang terpasang tidak menyala mungkin bola lampu nya putus atau memang sudah rusak. Aku berjalan menuju lokasi yang telah ditunjukkan bersama ibu paruh baya dan anaknya. “Itu dia penculiknya, kembalikan anak ku” Wanita muda itu berteriak hingga mengagetkan ku. Aku menoleh kea rah sebuah pohon besar. Kali ini badanku benar-benar lemas, berdiri ku sempoyongan, keringat dingin turut membanjiri tubuh ku dengan begitu derasanya. Aku terpaku disatu tempat, kaki ku tak bisa lagi melangkah, jantung ku terasa di pompa seribu kali lebih cepat dari biasanya. Ya Allah, apa yang aku lihat ini, sesosok makhluk bergaun putih menjuntai dengan rambut yang teramat sangat panjang tengah asik tertawa lepas sambil menggendong bayi, apakah dia hantu? inikah yang dinamakan dengan kuntilanak?. Ingin rasanya aku berlari sekencang-kencangnya tapi kaki ku terasa kaku tak bisa digerakkan. Apakah aku sedang bermimpi?

Bayi Jin

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 12 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 617 Pj : Irma Fitriani Kk : Yuyun Artika BeeZam Neng Jaga : Midah Sang Pemimpi BAB 2.6 (BAYI JIN) Kali ini aku benar-benar menjadi patung. Aku memekik sekuat-kuatnya namun tak mengeluarkan suara. Ini bukanlah mimpi melainkan kenyataan. Bayi itu, apakah bayi itu adalah anak dari wanita muda itu kenapa bisa berada dalam dekapan makhluk mengerikan itu, bagaimana bisa? “Ayo tolong ambilkan bayi itu dari tangannya cepat lakukan sesuatu” “A..aapaa yyyaang hha ha rus aa ku laakukan bu” Berkali-kali wanita paruh baya dan wanita muda itu menggoyang-goyangkan tubuhku. Lidahku terasa kaku, aku hampir tak bisa bicara terkurung rasa takut namun wanita muda itu terus memaksa ku. Apa yang harus aku lakukan, bagaimana mungkin aku bisa melawan kunti itu, mendengar tawa nya saja aku sudah kehilangan nyali. Iya tawanya benar-benar sangat lepas, sungguh mengerikan. “Cepat tatap matanya dan katakan kalau kamu tidak takut dengannya. Percayalah dia akan tunduk kepadamu karena aura mu akan membuatnya takut” ucap wanita paruh baya itu sembari meyakinkan. Apaa? Aku harus menatap matanya? Oh tidak, aku tidak akan mungkin bisa melakukannya. Melihat wajahnya sekilas saja aku sudah tidak berdaya apalagi jika harus menatap matanya. Mungkin lebih baik aku pingsan saja. “Tolonglah anak ku, sebelum dia membawanya jauh dari sini dan tidak akan pernah kembali lagi” Wanita muda itu terus menangis meratapi anaknya yang kini tengah dalam gendongan kuntilanak yang kini tengah melayang-layangkan tubuhnya keatas. Aku sungguh tidak sanggup jika harus menatap mata makhluk meyeramkan itu, ya dari kejauhan matanya terlihat seperti berapi-api tapi aku juga tidak tega melihat wanita muda it uterus menangis sesegukan, bagaimana mungkin seorang ibu yang baru saja melahirkan harus dipisahkan dengan anaknya. Baiklah, aku tidak perduli apa yang akan terjadi setelah ini, sekarang aku harus bisa merebut bayi itu. Ku tarik nafas ku dalam-dalam dan ku paksakan mulut ini untuk terbuka, “Hei kau kunti, lihat aku” Kuntilanak itu terdiam sejenak dan mengalihkan pandangannya pada ku. kali ini kami benar-benar saling bertatapan. Astaga, matanya benar-benar sangat mengerikan, tajam dan berapi-api. Aku harus meruntuhkan semua rasa takutku untuk menundukkan kunti itu atau ia yang justru akan menerkam ku. “Hei kau kuntilanak, aku tidak takut padamu. Cepat kembalikan bayi itu dan pergilah dari sini atau aku akan menendangmu ke neraka” Astaga apa yang aku ucapkan ini, berani-beraninya aku berbicara seperti itu bagaimana jika dia akan membunuhku. Kuntilanak itu melayangkan tubuhnya hingga ke tanah dan menatapku sungguh dekat. Ku tahan rasa takut dan gemetar dan ku paksakan mata ku untuk membalas tatapannya. Seketika saja ia memberikan bayi itu kepadaku sembari menangis. Iya kuntilanak itu benar-benar menangis di hadapan ku namun suaranya terdengar sangat jauh. Ku ambil bayi itu dari tangannya yang berlumuran darah. Ia kembali melayangkan tubuhnya keatas diringin dengan suara tawa yang sangat lepas hingga perlahan menghilang. Aku benar-benar tak percaya dengan semua kejadian yang baru saja aku alami. Bagaimana bisa aku berhadapan langsung dengan sesosok makhluk yang mengerikan itu. Ku alihkan pandanganku pada bayi mungil yang kini berada dalam dekapanku dan, “Tidakkkkkk, makhluk apa yang aku pegang ini” Spontan aku melemparkan bayi itu ke wanita muda yang baru saja melahirkan bayi mengerikan itu. Bagaimana tidak, bayi itu memiliki taring dan tanduk kepala. Aku seperti tersihir dengan semua kejadian ini. Aku merasa ini bukan diriku yang sebenarnya. Baru saja aku berhadapan dengan kuntilanak dan sekarang bayi bertaring dan bertanduk. “Bu, tolong jelaskan pada ku, apa maksud dari semua ini?” “Kami benar-benar berterimakasih padamu karena telah menolong kami dan menyelamatkan anak ku” ucap wanita muda itu. “Kenapa bayi itu….” Aku tak melanjutkan perkataanku. “Iya, dia keturunan kami, kami memang berbeda dengan mu karena kami bukan dari golongan mu. “Apa maksudnya, aku tidak mengerti” “Iya, sebenarnya kami bukan manusia dan ini bukan wujud kami yang sebenarnya, kami meminjam rupa manusia agar kau mau membantu kami sebab jika kami menampakkan wujud kami kau pasti akan lari atau tidak akan mau menolong kami” “Bukan manusia, lantas apa?”

Kutukan atau Takdir

0 0

SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 13 #SarkatJadiBuku

BAB 2.7 (KUTUKAN ATAU TAKDIR?) “Sebenarnya tidak semua manusia bisa melihat kami tapi kau bisa melakukannya itu sebabnya kami menghampirimu” “Apakah kalian…..” Aku tak melanjutkan perkataanku, seketika pandanganku teralih dan tidak sengaja melihat, Aaaaa………. Aku menjerit spontan. Bagaimana mungkin seseorang bisa berdiri mengambang tanpa meyentuh tanah. “Tidak ini tidak mungkin, aku pasti sedang bermimpi” “Kau tidak sedang bermipi ini nyata. Kami dari golongan jin namun kami tidak mengusik manusia kecuali manusia yang mengusik kami. Dan kami berterimakasih kau telah menyelamatkan bayi ku” ucap wanita paruh baya itu. “Apa? Kalian jin, jadi yang sedang bersamaku ini adalah jin tidak, tidak, tidaaaaaakkkkkkk………………..” Aku berlari ketakutan dan meninggalkan tiga makhluk yang ternyata adalah jin. “Ini benar-benar gila. Ini gila, apa yang terjadi padaku, aku semakin tidak mengenali diriku sendiri, apa yang harus aku lakukan ya Tuhan” Ku ketuk kepalaku berkali-kali dan merobohkan tubuhku ku lantai sudut rumah sakit. Aku benar-benar merasa seperti orang yang sedang mabuk dan berhalusinasi. Aku sangat berharap ini semua adalah mimpi, namun harapanku sirna ini bukan mimpi, aku benar-benar mengalaminya semua kejadian ini sungguh nyata. “Nona Jeni, bangkitlah. berdirilah” Suara yang tidak lagi asing itu tiba-tiba saja terdengar. Aku seperti mengenal suara itu. Ya seperti suara lelaki bertubuh besar tinggi. Aku pernah mendengar suaranya beberapa kali jadi aku cukup paham dengan ciri suaranya yang bergetar. Ku angkat kepala ku dan, “Kamu lagi, mengapa kau bisa ada disini, jangan-jangan ini semua ulah mu lagi. Kau yang mendatangkan kuntilanak dan tiga jin itu, iya kan” “Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakana nona” “Halah, sudahlah mengaku saja. Atau jangan-jangan kau juga jin?” Ku arahkan pandangku kebawah tepatnya pada kaki lelaki aneh ini. Berdirinya sangat kokoh bahkan menyentuh tanah lantas makhluk apa dia ini. Jika dia manusia kenapa selalu muncul tiba-tiba dan kalo jin kenapa tidak bertanduk dan bisa menyentuh tanah. Wajahnya pun seperti wajah manusia normal hanya saja tubuhnya lebih besar. “Tidak perlu menerka-nerka tentang siapa diriki, kau tidak perlu. Aku hanya ingin mengingatkan mu sekali lagi bahwa mulai saat ini kau harus terbiasa dengan hal-hal yang menurut mu tak masuk akal, kau pun harus terbiasa dengan makhluk-makhluk yang bukan dari golongan mu karena mata mu kini telah terbuka dan itu kelebihanmu nona” “Hei apa maksud mu, aku tak butuh kelebihan jika hal itu justru membuatku seperti orang gila, kau ambil saja kelebihan itu aku tidak membutuhkannya. Jangan pernah kau muncul dihadapan ku lagi, pergi kau pergiii….” Aku berteriak histeris, suasana disekitar sana sangat sepi sehingga tak seorang pun malihat dan mendengarku. Ku tegakkan kaki ku dan berdiri, rupaya lelaki itu telah pergi dan tinggal aku sendirian. Suasanya benar-benar sunyi hanya ada suara jangkrik di sekitar selokan. Ku lihat gaway ku dan, “Ya ampun sudah jam 1 malam, tante Ratna gimana jangan-jangan dia mencariku sedari tadi. Aku harus cepat kembali ke ruangannya” Aku berlari kecil melewati beberapa kamar rawat hingga sampai di ruang nomor 3 dari ujung kanan. Tante Ratna masih tertidur pulas sepertinya benar-benar kelelahan karena habis menangis seharian, syukurlah berarti ia tak mencariku. Ku rebahkan tubuhku diatas sofa tidak jauh dari tante Ratna tidur. Semua kejadian yang baru saja aku alami tak bisa lepas dan terus mengganggu pikiranku terlebih dengan perkataan lelaki aneh itu. Bagaimana jika yang ia katakana benar, aku tidak ingin melihat makhluk-makhluk menyeramkan lagi sudah cukup aku hampir pingsan melawan rasa ketakutan. Jika lelaki itu mengatakan ini semua adalah kelebihan tolong ambil saja kelebihan ini Tuhan, aku ingin menjadi manusia biasa saja. Ya Allah ya Tuhan ku. mengapa harus aku yang mengalami semua ini, apakah ini kutukan karena aku banyak dosa atau ini takdir dari-Mu?

Tersadar dari Koma

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 14 #SarkatJadiBuku BAB 2.8 (TERSADAR DARI KOMA) “Jen, bangun nak. Udah jam tujuh lewat” Tante Ratna menggoyangkan tubuh ku berkali-kali karena aku memang sulit di bangunkan, aku tersadar dari kenyenyakan. ku buka mata perlahan, tampak silau mentari menembus kaca. Rasanya baru beberapa menit saja aku terpejam, mata ku masih begitu ngantuk, kenapa bumi cepat sekali berputar. “Kamu masih ngantuk yaa?” tanya tante Ratna “Iya tante, tapi enggak papa. Jeni cuci muka dulu ya tan” Aku melangkah ke kamar mandi, ku nyalakan keran dan beberapa kali mengucurkannya ke muka. Pagi ini tak seperti biasanya, rasanya lelah sekali. Aku baru ingat jika semalam aku telah menguji nyali yang sama sekali tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Bayangan kuntilanak dan bayi jin itu masih begitu jelas di pelupuk mata. Setelah Sari keluar dari rumah sakit nanti aku harus lebih mencari tau lagi tentang apa yang aku alami. Aku akan mencari psikolog barangkali akal sehat ku sudah terkontaminasi dengan hal-hal aneh dan horror ini. “Tante kelihatan lebih seger, tante udah sehat?” “Alhamdulillah tante udah mendingan kok Jen” “Syukurlah kalau gitu tan, jadi kita bisa jenguk Sari sekarang ya” “Iya Jen, ayo tante udah enggak sabar mau lihat kondisinya Sari” “Iya ayok tan” Kami berjalan melewati beberapa ruang, dokter dan perawat tampak berlalu lalang mengecek kondisi pasiennya. Tante Ratna mempercepat langkahnya dan menyambangi Sari yang masih terbaring tak sadarkan diri. “Sari anakku ini mama nak, kamu cepet bangun. Mama kangen banget sama kamu” Beberapa kali tante Ratna mengecup kening putrinya sembari kembali menguraikan air mata. “Tante yang kuat ya, kita do’akan terus untuk kesembuhan Sari, oh iya Sel gimana kondisi Sari semalam?” “Aku kurang tau sih Jen soalnya tidak ada dokter maupun suster yang masuk kesini tadi malam karena infus Sari masih banyak tapi semalam tangan Sari sempet gerak-gerak gitu, aku coba telfon kamu berkali-kali tapi enggak diangkat” “Ya ampun sorry ya tadi malem aku lagi berhadapan sama….” Aduh kebiasaan sekali mulut ini suka kali keceplosan, enggak mungkin aku bahas kuntilanak itu disini kalaupun ku bahas mana mungkin Seli akan percaya. “Sama siapa, kok enggak dilanjutkan” “Sama, sama, sama nyamuk.. iya soalnya tadi males banyk banget nyamuk jadi enggak sempet lihat hp karena sibuk nepukin” “Kirain berhadapan sama kuntilanak” Aku terkejut, bagaimana bisa omongan sari yang hanya candaan itu pada kenyataannya benar. Semalam aku memang berhadapan dengan si kunti. “Selamat Pagi” “Pagi dok” “Kita cek dulu kondisi nona Sari ya” “Gimana keadaan anak saya dokter?” tanya tante Ratna “Dok tadi malam tangan Sari gerak-gerak” imbuh Seli “Ini luar biasa, sejauh ini perkembangannya cukup baik apalagi sudah ada tanda-tanda tangannya bergerak. Insya Allah tidak lama lagi nona Sari akan tersadar dari koma nya, kita berdo’a saja” “Alhamdulillah terimakasih dok” ungkap kami bertiga Dokter berlalu meninggalkan rungan. Ku tatap wajah sahabat ku yang kini masih belum sadar. Ku lihat ia membuka mata dan tersenyum lebar. Ah masa sih, ku kucek-kucek mata dan kembali lagi menatap wajahnya ternyata mata dan bibir Sari masih tertutup tidak seperti yang ku lihat sebelumnya. Ah mungkin aku terlalu merindukan sosoknya untuk ku jahili. Ku raih kursi dan duduk disamping Seli. “Mm…maaa….” “Sari, kamu udah sadar nak. Masha Allah. Alhamdulillah ya Allah. Jeni, Seli, Sari sudah sadar” Hah Sari sadar, aku dan Seli langsung bangkit dari tempat duduk kami dan menghampiri Sari. Ku tatap wajah Sari, kini matanya benar-benar telah terbuka, bibirnya tersenyum tipis dengan wajah yang masih pucat.

Langkah Misterius

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 15 #SarkatJadiBuku BAB 3.1 (LANGKAH MISTERIUS) “Sari udah sadar tante Alhamdulillah, akhirnya Allah mengabulkan do’a-do’a kita” Aku benar-benar bersyukur akhirnya sahabatku bangkit dari koma. Aku tidak perlu khawatir lagi untuk meninggalkannya dan tante Ratna juga kondisinya sudah baik-baik saja setelah ini aku harus segera mencari jawaban dari semua kemisteriusan yang aku alami belakangan ini. “Tante, Seli panggil dokter dulu ya untuk mengecek kembali kondisi Sari” “Iya nak Seli” *** “Permisi bu, saya dengar katanya nona Sari sudah siuman, saya cek dulu kondisinya yaa” “Oh iya dokter, silahkan dok” “Semangat nona Sari untuk sembuh sangat kuat sehingga ia bisa melewati masa koma nya dengan cepat, sejauh ini kondisinya juga semakin membaik hanya butuh waktu istirahat saja untuk memulihkan kembali kondisinya tolong jangan diajak banyak bicara dulu yaa” “Iya dokter Alhamdulillah, terimakasih ya dok” “Sama-sama bu, kalau begitu saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa silahkan panggil saya” “Iya baik dok” Langit yang semula begitu mendung akhirnya kini cerah kembali, mentari berhasil mengusir kabut yang menyelimuti bumi. Kira-kira begitulah ungkapan yang selaras untuk seorang ibu dan anak ini. Kini tante Ratna tak lagi dirundung pilu, tak lagi meneteskan netra yang membanjiri wajahnya. Terimakasih wahai dzat yang maha baik, terimakasih ya Allah. “Hai Sari, aku seneng banget akhirnya kamu sadar juga, aku udah kangen kita maraton bareng, makan bareng, konyol bareng, pokoknya semua hal yang sering kita lakukan bareng” Ku berikan senyum terindah untuk menyambut bangunnya sari dari koma begitupun dengan Sari yang turut membalasnya. “Iya Sar, aku juga kangen. Cepat pulih yaa” imbuh Seli “Aku juga kangen sama kalian” jawab Sari pelan “Oh iya tante Alhamdulillah Sari kan udah sadar jadi Jeni mau pamit pulang dulu ya tan pasti ibu sama bapak di rumah udah kangen sama Jeni heee” “Iya tan Seli juga pamit dulu ya, Insya Allah nanti malem kesini lagi” “Ya udah enggak apa-apa, makasih ya kalian udah bantu tante jagain Sari. Maaf kalo kami merepotkan. Kalian hati-hati ya pulang nya” “Enggak apa-apa tan udah sewajarnya saling menolong. Kami permisi ya tan, Assalamualaikum” “Waalaikum salam” Aku dan Seli berjalan keluar meninggalkan rumah sakit. Hari itu mentari begitu cerah seolah menggambarkan bahwa bumi tengah ceria, kami duduk dan berteduh dibawah pohon mangga yang cukup besar sembari menunggu angkot ataupun taxi yang lewat. Hanya ada aku dan Seli ditempat ini. Aku merenung sejenak sembari berdialog batin, apa aku ceritakan saja semuanya ke Seli sekarang ya kebetulan disini kan cuma kami berdua barangkali Seli bisa memberikan solusi. Ah tidak ada salahnya aku mencoba. “Hey Jen ngelamun aja, mikirin apa sih?” tiba-tiba saja Seli menepuk pundakku. “Astaga, ngejutin aja sih” “Lah salah siapa melamun, kesambet baru tau rasa. Emang lagi lamunin apaan?” “Emmm……. Enggak ini kenapa kok enggak ada angkot ataupun taxi yang lewat ya” Aduhh, kenapa susah sekali mau ngomongin ini ke Seli, bagaimana kalau dia malah justru bilang aku halusinasi lagi. “Iya nih apa kita jalan kaki sampai depan aja ya, siapa tau aja nanti ada angkot lewat disana, tapi panas sih” keluh Seli “Boleh juga tuh dari pada nunggu disini mau sampai kapan, udah hampir 2 jam kita disini, gak papalah panas dikit aja kok, ayok” “Ya udah deh terpaksa dari pada gak pulang” Kami kembali berjalan menuju perempatan, jalalan tidak begitu ramai, hanya ada beberapa kendaran saja yang berlalu karena memang masih jam kerja. Kali ini aku merasa ada yang berbeda, aku merasa ada yang berjalan mengikuti kami. Sesekali aku menoleh kebelakang namun tak ada siapapun namun aku bisa mendengar langkah kakinya. Iya itu bukan suara langkah kaki ku maupun Seli melainkan langkah kaki orang ketiga. “Eh Jen, itu ada angkot ayo kita lari nanti kita ketinggalan” “Oke” Tak ku hiraukan lagi suara hentakan kaki yang mengikuti kami. Aku dan Seli berlari hingga sampai di sebuah angkot berwarna kuning. Padat sekali, penumpang berdesak-desakan karena mungkin dari tadi memang belum ada angkutan umum yang lewat. “Minggir pak” Angkot yang ku tumpangi seketika berhenti dipinggir kiri jalan. “Sel aku udah nyampek nih, kamu mau mampir?” “Kayaknya enggak deh Jen aku mau langsung pulang aja mau istirahat. Salam aja buat ibu sama bapak kamu ya” “Oh ya udah deh kamu hati-hati ya, aku turun dulu daaa” Ah, akhirnya sampai juga di rumah tercinta. Ibu sama bapak lagi ngapain ya, aku mau kejutin mereka ah. Aku berjalan namun seketika langkahku terhenti, lagi-lagi aku mendengar suara hentakan kaki seolah mengikuti ku dari belakang. Lagi-lagi aku menoleh kebelakang, kanan, dan kiri namun tidak ada siapapun selain aku. langkah siapa itu?

Tawa Kamar Mandi

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 16 #SarkatJadiBuku #PR Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 525 PJ : Irma Fitriani Ketkel : Yuyun Artika BeeZam Neng jaga : Midah Sang Pemimpi BAB 3.1 (TAWA KAMAR MANDI) Aku terdiam sejenak tak melanjutkan langkahku untuk memastikan apakah suara itu masih ada atau tidak. Jika masih mungkin saja suara alam yang kebetulan mirip dengan suara langkah kaki namun ternyata langkah itu tidak lagi terdengar jadi kesimpulannya ini bukan suara alam sebab suara ini juga aku dengan tadi ketika hendak mencari angkot. Apakah ada yang sedang mengikuti ku? siapa? “Jen, kamu udah pulang kenapa enggak masuk, malah diam disitu” Hah suara ibu dari depan pintu mengejutkan ku saja. “Iya bu ini Jeni mau masuk” Segera ku ambil langkah dan masuk ke rumah. Hah senang sekali rasanya bisa pulang dan nanti malam bisa tidur nyenyak. “Gimana kondisinya temen kamu Sari nak” tanya bapak penasaran “Alhamdulillah Sari udah sadar dari komanya pak” “Alhamdulillah, senoga Sari cepat sembuh ya. Rencananya nanti sore ibu sama bapak mau jenguk dia” ucap ibu “Iya bu kebetulan tante Ratna juga sendirian disana sebab Seli juga ikut pulang bareng Jeni tadi. Bu Jeni mau mandi dulu ya udah gerah nih nanti kita lanjut lagi yaa” “Oh iya-iya mandi sana terus makan ya” “Ok bu” Aku bergegas mengambil handuk dan ke kamar mandi. Ku nyalakan shower ah benar-benar segar sekali. Ditengah asiknya menikmati kucuran air tiba-tiba saja, Aaha hhhaa ahaaa ahhaaahaa Seperti suara tawa anak kecil, siapa ya perasaan disekitar sini tidak ada yang punya anak kecil. Oh mungkin lagi ada tamu, ngomong-ngomong siapa ya tamunya. Bikin penasaran saja, ah aku mau mandi cepat-cepat. *** Aku kembali ke kamar, ternyata dari sini suaranya lebih kencang. Siapa ya tamunya perasaan saudara ibuk tidak ada yang punya anak kecil bapak pun sama. Ku putuskan untuk berjalan ke ruang tamu dan, “Loh buk, tamunya sudah pulang?” “Tamu, enggak ada tamu kok” “Lah tadi ada suara anak kecil ketawa, Jeni kira lagi ada tamu” “Bisa aja kamu, enggak ada siapa-siapa” Aku menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal, terus yang aku dengan di kamar dan kamar mandi tadi suara anak siapa, apa mungkin ada tetangga baru atau… “Ya udah deh bu, Jeni mau makan dulu” “Iya makan dulu sana” Ku bolak-balik nasi diatas piring yang ada dihadapan ku. Sebenernya aku masih penasaran, apa mungkin ada tetangga baru kalaupun iya kok bisa suaranya terdengar sampai sini. Rumah ini kan jauh dari rumah-rumah tetangga. Apa mungkin itu suara jin, ah benarkah itu jin. Apakah ini ada hubungannya dengan suara langkah yang mengikutiku tadi, apakah dia jin. Enggak, bukan, aku tidak ingin dikuasai oleh pikiran-pikiran nyeleneh, mungkin aku masih trauma dengan kejadian semalam. Lebih baik setelah makan aku langsung istirahat saja. *** Bumi masih setia menghantarkan surya ke peraduannya. Kini senja telah tiba, langit setengah mendung tampak menyapa. Tak lama kemudian, ku dengar merdu adzan saling bersahut-sahutan. “Jen, nanti setelah magrib ibu sama bapak mau ke rumah sakit jenguk Sari, kamu mau ikut?” tanya ibu “Sepertinya enggak deh bu, Jeni mau ngerjakan tugas sekolah yang kemaren belum sempat dikerjakan. Takutnya nanti Jeni nggak dapet nilai. Titip salam aja buat Sari ya bu” “Oh ya udah kalau gitu, kamu hati-hati di rumah ya, pintu rumah kunci saja ibu ada serepnya” pesan ibu “Baik bu” Aku beranjak ke kamar, sesekali berdiri di depan cermin dan menyaksikan raut wajahku yang penuh dengan sejuta tanya.

Menangis Namun Tertawa

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 17 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 555 Pj : Irma Fitriani Ketkel : Yuyun Artika BeeZam Neng jaga : Midah Sang Pemimpi BAB 3.2 (MENANGIS NAMUN TERTAWA) Ku ambil buku dan pulpen dan mulai mengerjakan tiap-tiap soal yang bu guru berikan beberapa hari yang lalu. Sesekali aku ke dapur untuk mengambil minum. Kali ini rumah sudah sepi, sepertinya ibu dan bapak sudah berangkat ke rumah sakit. Aku berniat untuk segera menyelesaikan tugas ku dan segera tidur agar tidak kepikiran oleh hal-hal mistik lagi. *** Akhirnya tugasku terselesaikan juga, saat nya aku untuk tidur. Ku raih selimut sembari memainkan gaway ku. sesekali terdengar suara geludug berdentuman namun terdengar jauh, sepertinya kota seberang tengah hujan deras. Diluar juga terdengar hujan rintik-rintik tidak menuntut kemungkinan bahwa disini juga nanti akan hujan deras mana ibu sama bapak belum pulang lagi, lebih baik aku cepat-cepat tidur. Ku tarik lagi selimutku dan bersembunyi didalamnya. Berkali-kali aku mencoba memejamkan mata tapi susah sekali rasanya karena tak biasanya aku tidur dibawah jam sepuluh malam. Ku putuskan untuk bermain sosial media. Ditengah keasikan ku memainkan gaway, Aahhhahahhaha ahahhaahhaa ahhaahahaaa Suara orang tertawa, siapa yang tertawa di rumah ini kan hanya ada aku sendiri. Suara tawanya persis seperti suara tawa aku dengar di kamar mandi siang tadi. Aku berusaha mencari fokus sumber suara itu namun tidak menemukan titik pusatnya. Dari mana asalnya suara itu, jangan-jangan itu suara tawa jin. Aku dulu tak ingin percaya dengan hal-hal mistik tapi pertemuan ku dengan kuntilanak dan keluarga jin di area rumah sakit malam itu seketika memecahkan segalanya. Iya aku baru teringat dengan perkataan pria itu yang mengatakan jika aku akan sering menjumpai yang demikian apakah ini arti dari perkataannya tempo hari yang lalu. Aku benar-benar tidak ingin mempercayai perkataan lelaki itu, aku bahkan sangat membencinya. Ku ambil earphone dan sengaja ku nyalakan music dengan volume full agar aku terhindar dari suara tawa itu namun sia-sia saja sebab suara tawanya mampu menembus kencangnya suara music kini tawa itu seakan benar-benar berada dalam telinga ku sehingga tidak bisa aku hindari lagi. “Tidakkkkk, pergi kau dari sini dan jangan ganggu aku. Pergi! pergi! pergi!“ Aku kembali berusaha menghindari suara itu dan menutup kedua telinga dengan telapak tanganku. Sesekali suara itu menghilang namun datang lagi. Tak ada yang bisa menolongku saat ini selain diriku sendiri. Ku eratkan telapak tanganku yang masih menempel di telinga. Kali ini suara tawa itu benar-benar enyah entah kemana, mungkin saja pergi terbawa hujan. Aku masih terduduk diatas tempat tidur sesekali ku toleh kanan dan kiri, rasa haus seketika melanda. Ku paksakan kaki ini untuk melangkah mengambil segelas air di dapur. Ku tuangkan air dari teko itu kedalam gelas dan menghabiskannya seketika. Tak ingin berlama-lama aku segera kembali ke kamar namun langkahku kembali terhenti, ya suara itu terdengar lagi namun kali ini bukan suara tawa melainkan suara tangis orang dewasa. Tangisan itu terdengar begitu serak dan tersedu-sedu. Jantungku berdegup kencang, suasana semakin sunyi dengan rintik hujan yang berjatuhan diatas genteng. Ibu dan bapak dan kunjung pulang mungkin saja disana masih hujan deras. Aku sangat yakin jika itu pasti bukan suara manusia pasti ini adalah rentetan dari suara langkah kaki siang tadi. Bulu kudukku kian berdiri, kaki ku seperti terikat disatu tempat sehingga tak bisa melangkah kemanapun. Iya suara tangisan itu benar-benar menyesakkan, aku hanya bisa menoleh kesekitar dan kini tibalah mataku menatap kearah kaca yang hordengnya sesekali hordengnya menyingkup karena angin. Iya mataku terpaku menatap kesana dan tak ku sangka ternyata suara tangisan itu bersumber dari sana. Aku terperanjat seketika sesosok perempuan berdiri dibalik kaca.

Bisikan Setan

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 18 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 542 Pj : Irma Fitriani Ketkel : Yuyun Artika BeeZam Neng jaga : Midah Sang Pemimpi BAB 3.3 (BISIKAN SETAN) Perempuan yang sangat cantik bergaun pengantin lengkap dengan riasannya namun wajahnya terlihat sedikit pucat. Siapa dia, kenapa bisa berdiri disana, apakah dia jin yang sedang menyerupai manusia atau mungkinkah dia manusia? Suara tangis itu perlahan memudar dari telingaku. Ku lihat bibir wanita itu seperti sedang mengatakan sesuatu tapi entah apa yang dikatakannya, pendengaranku terhalang oleh suara hujan yang kini mulai bertambah deras. Sama sekali aku tak terpikir jika perempuan itu adalah jin atau sejenisnya sebab kehadirannya telah berhasil membuatku tidak lagi ketakutan, iya rasa takut yang sejak tadi aku rasakan perlahan memudar dan hilang saat ini aku merasa seperti mempunyai teman. Tapi pertanyaanku akan siapa orang itu masih tetap mencuat. Wajahnya tampak pilu, ku beranikan diri untuk menghampiri perempuan cantik yang tengah berdiri itu namun hanya tinggal selangkah lagi kaki ku sampai kearahnya tiba-tiba saja ia berlari. “Hei tunggu” Seketika perempuan cantik itu berhenti sejenak, belum sempat aku membuka mulut untuk berkata-kata, ia kembali berlari menembus hujan hingga gelapnya malam menenggelamkan bayanganya. Aneh sekali orang itu, datang tanpa permisi dan pergi pun tanpa pamit seperti ada yang sedang diintainya. Tapi kehadirannya telah berhasil mengusir ku dari ketakutan ah siapa dia, sungguh misterius. “Loh Jen kamu belum tidur, ngapain berdiri disini” “Oh bapak mengagetkan ku saja, enggak tadi Jeni mau benarin hordeng. Bapak sudah pulang, diluarkan masih hujan” “Iya kami sengaja menerobos hujannya khawatir kamu takut hujan deras begini di rumah sendiri, untung tadi bawa mantel” Mana mungkin aku tidak ketakutan pak kalau berbagai suara-suara aneh mengepungku sebelum bapak pulang, gumam ku dalam hati. “Ah bapak, Jeni kan pemberani, ibu mana pak?” ucapku meyakinkan meski sebenarnya bertolak belakang. “Ibu lagi ganti pakaian soalnya basah. Kamu cepat tidur sana udah malam” “Oh oke deh have nice dream” “Nice dream too” Aku bergegas ke kamar, kali ini aku akan tidur dengan nyenyak. Ibu dan bapak sudah di rumah jadi aku bisa lebih tenang, semoga saja suara-suara itu tidak lagi mengganggu ku. kembali ku tarik selimut dan menenggelamkan tubuhku didalamnya dan mulai memejamkan mata. Ku nikmati nyamannya tidur di tengah malam yang berbalut hujan. Aduh apa ini, belum sampai 5 menit mataku terpejam, bahkan belum sempat tenggelam dalam indahnya mimpi. Seketika aku kembali membuka mata, sesuatu telah menyemburkan angin di telinga ku, lebih tepatnya seperti tiupan. Siapa yang telah meniup telingaku, apakah ini ulah para jin jahil itu lagi, mengapa mereka suka sekali mengganggu ku, apa salahku padanya. Apa karena aku takut lantas mereka suka menggangguku, baiklah kalau itu maunya, kali ini aku harus bisa membunuh rasa takutku, semoga saja tak ada yang menampakkan wujudnya. Kembali ku raih selimut dan memejamkan mata dan tiupan itu beberapa kali kembali berhembus ditelingaku, rasanya tidak nyaman sekali tapi aku harus pura-pura tidak merasakannya agar mereka segera pergi dan tidak mengganggu ku lagi. Aku harus berani melawannya, aku tidak boleh takut lagi atau mereka akan terus mengikutiku kemanapun aku pergi. Ku raih gaway dan kembali ku nyalakan music kesukaanku agar pikiranku teralih pada suara music itu saja. Aku terheran seketika, music di gaway ku tiba-tiba saja terhenti tanpa aku menyentuhnya, ku raih kembali handpone yang masih tergeletak disamping badan ku untuk memeriksanya. Sontak hatiku terkejut, jantungku berdebar begitu cepat, tiupan itu masih menggandengi telingaku namun kali ini bukanlah tiupan angin melainkan bisikan, iya bisikan yang berhasil membuat pikiran ku berkecamuk.

Menembus Mimpi

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 19 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 544 Pj : Irma Fitriani Ketkel : Yuyun Artika BeeZam Neng jaga : Midah Sang Pemimpi BAB 3.4 (MENEMBUS MIMPI) Terdengar suara berat membisikkan sesuatu tepat ditelingaku, perkataannya tak begitu jelas karena diiringi dengan suara angin yang memenuhi telingaku seperti sedang bertengkar antar keduanya, yang ku dengar hanya kata “harus berani” setelahnya suara itu melebur dan hilang, pun sama dengan hembusan angin ditelingaku yang turut melenyap. Tapi suara bisikan itu seperti tak asing bagiku. Iya seperti suara lelaki bertubuh besar itu tapi mengapa aku tidak melihat kehadirannya disini, aku ingat beberapa hari yang lalu selepas pertemuanku dengan bayi jin dan kuntilanak itu, lelaki bertubuh besar itu datang dan mengatakn jika aku harus terbiasa dengan makhluk-makhluk dari golongan lain. Apakah ini yang dimaksud dengan lelaki itu, hingga sekarang makhluk itu terus saja mengganggu ku. tapi sebenarnya siapa lelaki itu kenapa bisa tau apa yang akan terjadi padaku. Ah siapapun itu mulai saat ini aku harus membuang semua rasa takutku dan mulai terbiasa dengan hal-hal seperti ini agar mereka tidak lagi mengganggu ku. Benar-benar menyebalkan sekali mereka ini, selalu saja mengganggu ketenanganku. Sepertinya makhluk-makhluk itu telah benar-benar pergi. Ku raih kembali selimut dan ku pejamkan mata. Kali ini aku harus benar-benar tidur dengan nyenyak, tak ada yang boleh mengganggu ku lagi. “aaahah…. Ahahhaa… ahaahhaa ahhaaa….” “ngeee…. Ngeee…. Nggeee…..” Seperti suara tertawa lagi, tapi disebelah sana seperti suara tangisan. Ya ampun dimana aku sekarang, bukankah tadi aku berada dikamar dan tidur kenapa tiba-tiba sekarang berada disini dan tempat ini seram sekali, semua dindingnya tersusun dari batu-batu yang sangat besar tempat apa ini, siapa yang telah membawaku kesini. Tidak, aku tidak mau berada disini, apakah makhluk-makhluk itu yang membawaku kesini. Tidak, tidak akan ku biarkan mereka menggangguku lagi, aku harus pergi dari sini. Aku berjalan menuju sebuah tempat yang mana sedikit tertutupi oleh beberapa lembar kain tipis. Astaga ku lihat sekelompok anak kecil dengan wajah berlumur darah tengah menangis, di sudut lain aku melihat seorang laki-laki bertanduk dan beberapa perempuan bergaun putih menjuntai tengah asik tertawa lepas bahkan sebagian ada yang melayang-layang. Tempat apa ini sebenarnya, apakah ini sarang makhluk halus, atau tempat apa. Aku tidak ingin terjebak di tempat ini, aku harus segera pergi tapi lewat mana, seperti tak ada celah untuk keluar dari tempat ini. Aku terus berjalan kesana kemari hingga, nah itu dia sepertinya aku bisa keluar lewat sana. Akhirnya ku temukan celah untuk keluar dari tempat ini, ya aku bisa memanfaatkan lubang itu, semoga saja muat untuk mengeluarkan tubuh ku dari sini. Aku berlari menuju lubang tersebut namun ketika hendak menaikkan kaki tiba-tiba sekelompok anak kecil mengepungku, iya kini aku berada ditengah-tengah mereka. Apa yang akan mereka lakukan padaku. Ku dorong sebagian dari mereka dan berlari sekencang-kencangnya hingga ku temukan sebuah ruang yang tampak kosong. Sepertinya untuk sementara waktu aku bisa bersembunyi disana hingga mereka tidak lagi mengejarku. Sampai keadaan aman aku akan mencoba keluar dari sini, semoga saja tidak ada yang melihat ku disini. Sesekali aku mengintip ke luar, mereka tidak mengejarku lagi, sepertinya keadaan sudah cukup aman. Aku harus berhati-hati agar cepat keluar dari sini. Ku balikkan badan dan mencoba keluar namun, Aaaaaaaaaaaaaaa……………………. Jangan ganggu aku, jangan, jangan, jangan……. Keringat dingin seketika mengucur ditubuhku, sekejap ku buka mata, hah, syukurlah ternyata hanya mimpi, tapi sungguh menyeramkan sekali mimpiku ini. Aku beranjak dan duduk bersandar diatas tempat tidur. Aaaaa… Kedua kalinya aku terkejut yang mengundang teriakan, mengapa tiba-tiba dia datang dan berdiri disampingku.

Yang Tak Terlihat

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 20 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 531 pj : Irma Fitriani Ketkel : Yuyun Artika BeeZam Neng jaga : Midah Sang Pemimpi BAB 3.5 (YANG TAK TERLIHAT) “Kau…..” Aku tak jadi melanjutkan kata-kata ku sembari menoleh ke kanan dan kiri serta memikirkan dari mana dia masuk, benar-benar seperti hantu yang selalu muncul tiba-tiba. “Jen, ada apa kamu teriak-teriak jam segini?” Terdengar suara ibu yang kini telah berdiri di depan pintu. “Mmmm enggak bu tadi Jeni liat cicak di kaki makanya teriak, maaf ya bu” Maafkan Jeni terpaksa bohong bu. Gumamku dalam hati. “Oh ya udah kalau gitu kirain ada apaan, lagian sama cicak aja takut” Aku tersenyum tipis, yang kemudian disusul pelengosan dari ibu sembari berlalu, tapi kenapa ibu tidak melihat lelaki ini padahal ibu tadi melihat kearahnya. Tapi kok enggak ada reaksi dari ibu. Tubuhku masih begitu gemetaran, “Mengapa ibuku tidak melihat mu?” “Tentu saja ibu itu tidak melihat ku sebab tak ada manusia yang bisa melihatku kecuali dirimu nona” “Hah, makhluk apa kau ini sebenarnya” “Sudah pernah aku katakan, kau tidak perlu tau siapa aku yang jelasnya hanya kau yang bisa melihat ku dan aku dikirim untuk mengawasi mu dari makhluk-makhluk jahil” “Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang kau katakana” “Perlahan kau pasti akan mengerti nona” “Apakah makhluk jahil yang kau maksud itu termasuk suara-suara aneh yang mengganggu ku semalam” “Yaa bisa jadi begitu, sesungguhnya mimpi yang baru saja kau alami bukan sekedar mimpi biasa” “Hah mimpi, dari mana kau tau kalau aku baru saja bermimpi” “Tidak sulit bagiku untuk mencari tau, sesungguhnya mimpimu semalam adalah dendam dari makhluk-makhluk yang belum puas menggangu mu karena semalam aku mengusirnya sepertinya selepas aku pergi mereka datang lagi” “Jadi maksud mu semalam aku tidak sedang bermimpi, tapi tipu daya dari mereka, begitukah?” “Ya begitulah, maka ku ingatkan sekali lagi nona, jangan pernah takut dengan mereka, jika mereka mengajakmu bermain-main lawanlah, karena semakin kau takut mereka akan semakin senang dan beramai-ramai mengganggu mu” “Bagaimana mungkin aku tidak takut jika suaranya saja sudah menyeramkan, tapi ada hal yang ingin aku tanyakan padamu” “Katakan saja nona” “Kenapa mereka ingin mengganggu ku, kenapa harus aku. Memangnya apa salahku?” Sengaja ku tahan emosiku yang meluap-luap agar aku masih bisa terlihat tenang, kali ini aku tak akan membiarkannya pergi sebelum semua pertanyaanku terjawab sudah. Entah mengapa bercerita dengannya membuatku sedikit lega, setidaknya tumpukan pertanyaan yang memberatkan kepalaku sedikit berkurang. “Tidak ada kesalahan yang kau lakukan terkhusus pada mereka hanya saja mereka yang tertarik akan aura yang kau miliki, ya aura yang tdak dimiliki semua orang” “Aura apa, kalau begitu tolong cabut aura itu dariku agar aku tak lagi berurusan dengannya” Kali ini lelaki itu tak menjawab, sesekali hanya tersenyum tipis. Semakin membuat darah ku memanas. “Jangan tampakkan senyum sinis itu. Apa kau sedang mengejek ku?” “Bukan begitu, hanya kau ini sangat lucu, apa kau pikir aku ini Tuhan yang bisa mengubah takdir seseorang, tentu saja aku tidak bisa nona, itu sudah menjadi takdir yang di tujukan untuk mu” Aku terdiam seketika mulutku tak mampu berkata-berkata lagi mendengar ucapannya. Jika benar ini adalah takdir, bagaimana mungkin aku bisa menyalahkannya. “Baiklah jika ini memang takdir aku akan berusaha menerimanya, lantas apa yang harus aku lakukan jika seketika mereka kembali datang?” “Bersikaplah biasa saja nona” Biasa saja, enak sekali dia ngomong begitu, dia tidak tau bagaimana rasanya diteror setiap malam bahkan setiap saat. Gumam ku dalam hati.

Darah yang Tertinggal

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 21 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Jumlah kata : 512 Pj : Irma Fitriani Ketkel : Yuyun Artika BeeZam Neng jaga : Midah Sang Pemimpi BAB 3.6 (DARAH YANG TERTINGGAL) Aku terkejut seketika menoleh kesamping ternyata lelaki itu sudah menghilang entah kemana, benar-benar cepat sekali pergerakannya. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kejendela, ku sisihkan hordeng yang menghalanginya, tampak surya pelan-pelan keluar dari persembunyiannya. Benar-benar pagi yang indah. Aku melangkah ke kamar mandi dan, Hah percikan darah apa ini, perasaan aku tidak sedang kedatangan tamu rutin. Apakah darah tikus? Aku tak tau cara membedakan antara darah hewan dan darah manusia. Aku beranjak keluar untuk menanyakannya pada ibu, “Bu, apakah ibu tadi masuk ke kamar mandi ku?” “Enggak, emang kenapa?” “Di kamar mandi ku ada percikan darah bu, apakah ibu tau?” “Mungkin darah tikus yang dimakan kucing, kamu bersihkan aja” Ibu menjawab dengan santai sementara aku tak yakin kalau itu darah tikus sebab semalam aku tak mendengar suara perkelahian antara kucing dan tikus. Apa aku yang terlalu larut dalam mimpi sehingga tidak mendengar apapun lagi. Ah mungkin saja iya. Aku melangkah kembali ke kamar dengan membawa peralatan lengkap, iya kain pel, sikat, sekaligus cairan pembersihnya. Benar-benar amis sekali, seisi perutku terasa terguncang dan ingin keluar, apakah darah tikus seamis ini. Ku kerahkan segala tenaga untuk menyikatnya namun aneh sekali, bekas percikan darah itu tak kunjung menghilang, seperti telah menyatu dengan lantai. Aku berdiri sejenak, memikirkan bagaimana cara menghilangkannya apalagi baunya menyengat sekali. Ku tinggalkan kamar mandi yang masih berantakan untuk mengambil penyikat yang lebih besar sebab tadi aku hanya menggunakan sikat gigi bekas karena ku pikir sikat yang kecil akan lebih mudah digunakan untuk membersihkan hingga di sela-sela lantai yang kecil sekalipun. Aku benar-benar terkejut ketika kembali lagi ke kamar mandi ternyata darah itu telah menghilang pun dengan bau-baunya tak tercium lagi. Seketika saja aku langsung teringat dengan mimpi yang baru semalam aku alami, iya serombongan anak kecil yang mengejarku dalam mimpi itu bukankah wajahnya berlumuran dengan darah dan bahkan dalam mimpi pun aku mencium bau yang sama. Apakah kejadian ini lagi-lagi berhubungan dengan mimpi ku semalam? Apakah ruang tempat aku bersembunyi dalam mimpi semalam itu ternyata adalah kamar mandi ku sendiri?. Memang semalam hanya mimpi namun suasana yang terasa benar-benar seperti nyata. “Jen, cepat mandi nanti telat ke sekolah” Terdengar suara ibu dari jauh, oh iya hari ini aku harus sekolah karena kemaren sudah izin untuk menemani Sari di rumah sakit. Ah aku benar-benar rindu dengan suasana sekolah, barangkali berkumpul dengan teman-teman bisa membuatku sedikit lebih relax yah setidaknya aku akan lupa sesaat akan mimpi semalam. Tapi sepertinya hari ini tidak akan menjadi hari yang sempurna, tentu saja sebab Sari belum bisa berada diantara aku dan Seli. Aku harus cepat-cepat bergegas mandi dan bersiap ke sekolah. Ku tatap arloji dinding menunjukkan pukul 07:15, ku ayun sepeda menuju sekolah. Hari begitu cerah, mentari pagi menemani perjalanan ku hingga sampai di gerbang. Tampak beberapa siswa sedang berlari-larian, sehari tak sekolah terasa begitu lama sekali. Suasana yang sangat aku rindukan dimana biasanya kami bertiga selalu berbagi cerita. Kriiiiingggg…. Kriiiinggg…. Kriiinggg……. Baru juga sampai, bel sudah berbunyi, aku bergegas menuju ruang kelas ku. kali ini suasana kembali melilit kepalaku. Bagaimana tidak, ketika hendak duduk seketika ku lihat lagi anak kecil semalam tengah duduk di atas mejaku.

Muslihat

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 22 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 543 Pj : Irma Fitriani Ketkel : Yuyun Artika BeeZam Neng Jaga : Midah Sang Pemimpi BAB 3.7 (MUSLIHAT) Iya, dua anak kecil tengah bermain seraya tertawa namun tak ada seorang pun yang melihatnya termasuk Seli. Mengapa dia terus mengikutiku, benar-benar keterlaluan tapi dikelas banyak orang jadi aku tidak boleh terpancing atau mereka semua akan menganggap ku gila, mulai saat ini aku harus terbiasa untuk tidak teriak lagi saat makhluk-makluk ini muncul. Berpura-pura tidak melihatnya akan jauh lebih baik, awas aja kalau mereka berani menggangguku lagi. Sengaja ku letakkan tas ku tepat menyentuh kepala mereka seketika mereka berdua menatapku geram, ku alihkan pandang dan berpura-pura tak menyadari jika mereka kini berada di depan ku. Ingin sekali rasanya aku berpindah tempat duduk namun sayangnya semua bangku terisi penuh sehingga mau tidak mau aku harus berada dihadapan mereka. “Selamat pagi” Terdengar suara bu guru dari depan pintu sembari berjalan masuk. “Pagi buk” “Wali kelas kalian hari ini tidak masuk karena sedang ada kegiatan diluar sekolah tapi ada tugas yang harus kalian kerjakan dan kumpulkan hari ini juga, ibu tulis di papan tulis silahkan disalin ya” “Baik bu” Alhamdulillah, setidaknya kali ini aku bisa melarikan diri dari dua makhluk ini. Segera ku salin semua soal agar cepat bisa meninggalkan ruang kelas, “Sel, ngerjain di perpus aja yok, disini panas” “Ayok, sekalian numpang wifi ya disana hihi” Segera kami bergegas meinggalkan ruang kelas menuju gedung yang full AC serta fasilitas wifi. Ya aku suka sekali dengan perpustakaan karena suasanya tenang sehingga membuat nyaman. Sampailah kami di gedung yang paling besar di sekolah ini. Aku berjalan menyusuri tiap-tiap rak mencari buku yang relevan dengan tugas yang akan ku kerjakan. Entah sudah berapa rak buku yang ku telusuri namun belum juga menemukan apa yang aku cari padahal biasanya banyak buku-buku seputar pencampuran senyawa kimia di deretan ini, apakah petugas perpustakaan sudah merubah susunanya. Aku terus berkeliling hingga Braaaakkk……!!! sebuah kamus KBBI yang cukup besar di rak belakang saya tiba-tiba terjatuh padahal tak ada seorang pun disana, aku kaget setengah mati sekaligus heran bagaimana mungkin buku setebal itu bisa jatuh dengan sendirinya. Tanpa mau menambah pusing kepala lagi segera ku ambil kamus itu dan meletakkan ditempatnya kembali. Di sudut terlihat Seli yang masih asik dengan ponselnya. Sengaja ia memilih tempat paling sudut agar tak ketahuan petugas perpus karena membawa hp ke sekolah. Ah ini dia yang aku cari, akhirnya setelah beberapa rak yang aku kelilingi ternyata disini buku ini bersembunyi. Ku buka tiap-tiap lembar buku karya Unggul Sudarmo, belum selesai aku membacanya tiba-tiba terdengar Sreeekkk... Sreeekkk… Sreeekkkk… Seperti ada suara orang berjalan dibelakangku seketika aku menoleh namun tak ada siapapun. Kembali ku lanjutkan membaca buku itu namun kemudian terdengar lagi suara mendehem tepat disamping kiriku. Tentu saja aku langsung menoleh namun ternyata tidak ada siapa-siapa. Segera ku tinggalkan tempat itu dan berpindah ke sudut baca perpustakaan, tampak masih ada beberapa kursi kosong disana, segera ku isi kursi bagian tengah dan tiba-tiba saja Sreeek… Bruuukkk…!!! Belum sempat aku menduduki kursi itu tiba-tiba seperti ada orang yang menariknya dari belakang sehingga membuatku jatuh tersungkur kebawah, semua tertuju padaku hingga mengundak gelak tawa, pipiku merah seketika. Benar-benar sangat memalukan siapa yang telah melakukan ini padaku. Aku segera bangkit dan menahan kaki yang sebenarnya sakit karena menabrak kaki meja demi membuang malu. Segera ku tarik kursi ajaib yang meundur tiba-tiba dan memastikannya tidak bergerak sehingga aman mendudukinya dan tidak mengundang malu kedua kalinya.

Terkurung

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 23 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 512 pj : Irma Fitriani Ketkel : Yuyun Artika BeeZam Neng jaga : Midah Sang Pemimpi BAB 4.1 (TERKURUNG) Kembali ku bolak balik tiap lembar buku yang ada dihadapanku sembari mencari jawaban dari tugas yang sebentar lagi harus dikumpulkan, ya sepertinya ini akan menjadi tugas terakhir dari bu Sarah wali kelas kami karena minggu depan ujian nasional akan dilaksanakan jadi aku harus mengerjakannya dengan sebaik mungkin sembari mempersiapkan diri kalau saja buku yang ku baca ini materinya ada yang masuk di soal-soal LJK. “Jen, udah selesai? Bagi jawaban ya” ucap Seli dengan entengnya “Bagi- bagi enak aja, mending kerjain sama-sama” “Iya iya, eh nanti pulang sekolah jenguk Sari yok sekalian menanyakan kapan dia boleh pulang” “Oh iya enggak kerasa udah lima hari ya dia dirawat” “Iya, dunia serasa hampa kalo salah satu diantara kita bertiga ada yang enggak ada” ucap Seli dengan wajah lesu. Ku lihat jam yang menempel di dinding perpus, jarum jam sudah menunjukkan pukul 11:45. Setelah tugas kami selesai, aku dan Seli kembali ke kelas. Syukurlah kali ini tak ku lihat lagi dua makhluk yang tadi menduduki meja ku, akhirnya dua makhluk itu enyah juga dari sini, gumam ku dalam hati. Kali ini kelas dalam keadaan jam kosong, tak ada guru yang mengisi karena sepertinya guru piket pun tengah sibuk turut membantu dalam persiapan ujian minggu depan. Beberapa siswa tampak berlari-larian, sebagian tengah asik bercerita hingga saling tertawa, sedangkan Seli sedari tadi tampak sibuk dengan handphone nya entah apa yang tengah dia lakukan pada gawaynya itu. Suasana membuatku benar-benar tak nyaman sebab aku tak suka kebisingan, suara teriakan, dan orang-orang yang berlarian benar-benar membuat pusing. Teeetttt…Teeeetttttt…..Teeeetttttt…. Bunyi bel terdengar dari arah ruang guru, pertanda semua pelajaran telah selesai. Kami bergegas pulang. “Jen, kita langsung ke rumah sakit aja ya” “Boleh, takutnya nanti hujan” Ku lajukan sepedaku menuju rumah sakit sedangkan Seli membonceng di belakangku. Ya kami tak perlu menunggu angkot sebab jarak sekolah dengan rumah sakit tak begitu jauh. Awan mendung mengiringi perjalanan kami hingga sampai pada tujuan. Segera kami melangkah menuju ruang tempat Sari di rawat. “Assalamualaikum” “Waalaikumsalam eh nak Jeni sama nak Seli. Masuk nak” “Gimana kondisi Sari tan, kapan dibolehkan pulang?” “Alhamdulillah kondisinya semakin membaik, kata dokter besok pagi udah boleh pulang” ucap tante Ratna dengan penuh kegembiraan sekaligus disambut senyuman oleh hangat oleh Sari. “Wah iya tan, syukurlah soalnya minggu depan mau ujian nasional nanti takutnya Sari jadi ketinggalan banyak pelajaran, tapi enggak perlu khawatir karena aku sama Seli udah catatatin materi pelajaran di sekolah buat kamu jadi kamu enggak perlu capek-capek nyatet lagi” ucapku sembari membalas senyuman Sari. “Oh ya, makasih ya kalian berdua emang sahabat terbaik sedunia” balas Sari “Sama-sama” ucap Seli “Oh iya tan Jeni permisi ke kamar mandi bentar ya” Aku berjalan mencari kamar mandi untuk membuang air kecil yang sedari tadi ku tahan. Hingga tiba disebuah toilet umum yang terletak disudut ruangan. Setelah selesai dan hendak keluar tiba-tiba saja pintu kamar mandi tidak bisa di buka padahal sudah ku buka kuncinya. Berkali-kali aku mencobanya namun tak membuahkan hasil. Tolong siapapun yang diluar, saya terkurung didalam tolong bukakan pintunya. Berkali-kali aku berteriak namun sepertinya tak seorangpun yang mendengarkan ku, aneh padahal tadi diluar banyak orang kenapa tak seorangpun yang menolongku.

Pertemuan Singkat

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 24 #SarkatJadiBuku Penulis : Tasnia Elmino Judul : Diatas Normal Jumlah kata : 540 Pj : Irma Fitriani Ketkel : Yuyun Artika BeeZam Neng jaga : Midah Sang Pemimpi BAB 4.2 (Pertemuan Singkat) Ku gedor pintu itu berkali-kali dan lagi-lagi ku dengar suara tawa yang begitu lepas terdengar dari atas atap kamar mandi, kian lama suara itu kian kencang seperti tawa puluhan orang yang dilepaskan bersamaan, entah mengapa kali ini kepala ku benar-benar pusing dan badanku semakin melemas hingga tubuhku terduduk ke lantai. Ku tutupi telinga ku dengan kedua telapak tangan namun suara itu tetap saja terdengar. Entah sampai kapan aku harus terjebak disini. Astaga aku baru ingat, bukankah toilet yang ku pakai ini bersebelahan dengan pohon besar tempat dimana aku merebut bayi yang ternyata adalah anak jin itu dari tangan kuntilanak. Apakah ini semua dialah pelakunya karena dendam dengan ku, dan suara itu memang persis sekali dengan suara tawanya malam itu. Ya Tuhan, ku mohon bebaskan aku dari sini dan bebaskan aku dari gangguan semua mahkluk-makhluk itu. Ku sandarkan dagu diatas lutut, sudah cukup lama aku terjebak disini kenapa tak seorangpun yang datang. Ku raih ponsel dalam saku baju ku, ya untuk saja aku tak meletakkannya didalam tas, ku lihat jam di gawai menunjukkan pukul 14:50. Sejam sudah aku terjebak disini kenapa Seli tak berusaha mencari ku apakah dia sudah pulang duluan tapi tidak mungkin tak memberi tau ku. Oh iya lebih baik ku telpon Seli untuk meminta bantuan. Segera ku cari nomor Seli dari contact ponselku lalu ku tekan menu berwarna hijau. Ah, ternyata tak ada sinyal maupun jaringan disini. Apa yang harus aku lakukan, adakah yang bisa menyelamatkan ku dari sini. Aku menunduk pasrah hingga terdengar suara langkah kaki mengarah kesini. Tok! Tok! Tok Terdengar seseorang mengetuk pintu, Alhamdulillah ada juga yang menyelamatkan ku. Dengan segera aku bangkit dan membalas ketukannya sembari berteriak meminta bantuan. “Tolong, siapapun yang diluar tolonglah aku keluar dari sini” Terdengar seseorang dari luar berusaha membuka pintu hingga aku berhasil keluar dari tempat horror ini. Aku membungkukkan badan sebagai bentuk ucapan terimakasih, “Terimakasih sudah menolongku keluar dari sini, aku tidak tau kenapa pintunya bisa tiba-tiba terkunci dari luar, sekali lagi terimakasih” ucapku Aku kembali menaikkan badanku membawa pandangku ke arah seseorang yang kini tengah berdiri didepan ku. Aku tak tau seketika jantungku berdetak lebih cepat, pandangku seperti terkunci di satu titik dan tak bisa berpindah ke lain arah. Benar-benar sesuatu yang sama sekali tak pernah ku rasakan sebelumnya. Ya, seorang laki-laki yang begitu tampan, berkulit putih, tinggi tegap, dialah yang kini berdiri didepan ku sekaligus yang telah menyelamatkanku dari kurungan toilet horror ini. Usianya pun terlihat tak begitu jauh dengan ku. Ya Tuhan, diakah malaikat yang engkau kirim sebagai penyelamatku. “Sekali lagi terimakasih sudah menyelamatkan ku, mmm bagaimana aku harus memanggilmu?” tanya ku bingung sebab tak mungkin aku memanggilnya pak. “Tidak perlu berterimakasih, aku hanya sekedar menolong yang membutuhkan” jawab lelaki itu Masya Allah, suaranya terdengar begitu merdu sekali, sorot matanya terlihat sungguh meneduhkan membuat aku terpaku seketika. “Tapi darimana kau tau jika aku terkurung disini, padahal sedari tadi aku berteriak namun tak seorangpun yang mendengarkan teriakan ku padahal sebelum aku masuk ke toilet ini diluar banyak orang sedang berlalu lalang” tanya ku penasaran “Aku hanya kebetulan lewat saja, jika tak ada yang perlu dibantu lagi saya permisi” jawab pria itu dengan sedikit cuek sembari berlalu. Aku masih terdiam, penyesalan datang seketika kenapa tadi tak sempat menanyakan siapa namanya. Lelaki misterius yang berhasil menggetarkan hatiku.

Penumpang tak Terlihat

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch40 #Kelompok26/JURO #Day 25 #SarkatJadiBuku #Jumlah kata 560 BAB 4.3 (PENUMPANG TAK TERLIHAT) Astagfurullah, jangan agresif Jen. Gumam ku dalam hati sembari mengetuk kepala hingga berkali-kali. Kenapa firasatku mengatakan dia bukanlah pria sembaranga, ada yang lain dari sorot matanya. Ah sudahlah mungkin hanya perasaanku saja. Lebih baik aku segera kembali keruangan, mereka pasti sudah menungguku sedari tadi. Aku berlari kecil meninggalakn toilet horror itu. “Ya ampun Jen nongol juga akhirnya, jangan-jangan ketiduran di toilet” ucap Seli kesal “Barusan aku terkunci dikamar mandi lama banget” ucapku menjelaskan “Hah terkunci, kok bisa nak?” tanya tante Ratna heran “Iya gimana ceritanya” imbuh Sari “Aku juga enggak tau, mungkin ada orang iseng atau memang pintunya yang sudah rusak jadi bisa tiba-tiba ngunci sendiri deh” jelasku karena tak mungkin ku katakana jika semua itu ulah kuntilanak yang dendam dengan ku karena kejadian beberapa malam yang lalu “Terus gimana caranya kamu bisa keluar, kenapa gak telpon kami?” ucap Seli lagi “Untunglah ada orang baik yang mendengar teriakanku dan membantu membuka pintunya, aku udah coba telpon tadi sinyalnya tiba-tiba hilang hemm” “Oh syukurlah nak, kami pikir tadi kemana sebab lama sekali gak balik-balik” ucap tante Ratna Sebenarnya aku masih bertanya-tanya bagaimana bisa lelaki tadi mendengar teriakanku setelah hampir sejam aku terkurung. Padahal diluar banyak orang kenapa hanya dia yang tau aku ada didalam, atau hanya sekedar kebetulan saja kah. “Heh Jen kok malah melamun” tanya Seli sembari melayangkan telapak tangannya di depan mataku “Emm iya ya ayok kita pulang tadi kan belum sempat pamit ke orang tua” “Oh iya ya, tante Ratna, Sari kami pulang dulu yaa. See you tomorrow di rumah yee” ucap Seli “Kalian hati-hati ya” “Siap tante, Assalamualaikum” “Waalaikumsalam” Kami beranjak keluar meninggalkan Sari dan tante Ratna. Sesekali aku kembali menoleh ke sudut yang mengarah ke toilet. Kembali aku teringat dengan mata teduh meski tanpa senyum itu, mungkinkah suatu saat kita akan bertemu lagi. “Jen liatain apaan sih” “Oh enggak, udah ayok cepet jalannya” Matahari tak lagi terik, awan mendung perlahan muncul sedikit diringi desiran angin yang sepoi-sepoi. Kembali ku ayunkan sepedaku pelan seketika kembali teringat akan lelaki itu, ah benar-benar perasaan yang aneh, kenapa bayangnya seolah enggan lepas dari ingatanku. Sesekali aku membayangkan seandainya dialah yang mengayun sepedaku dan aku penumpang dibelakangnya, sesuatu yang indah bukan. “Jen, tumben pelan banget bawa sepedanya biasanya juga kayak pembalap” Protes Seli dari belakang hingga menyadarkanku dari lamunan, aku bahkan tak menyadari bahwa ayunan kaki ku memang benar-benar pelan bahkan hampir terkejar oleh pejalan kaki. “Iya aku ayun lebih cepet nih, pegangan” Ku ayun sepedaku dengan sekuat tenaga hingga tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Seli. “Mampir dulu yuk Jen” tawar Seli “Lain kali aja ya udah sore nih” “Ya udah hati-hati ya, BTW thanks udah nganter” “Your welcome, balik ya bye” Awan mendung terus bergulung, kabut hitam kian membatasi pandang. Ku ayun sepedaku dengan begitu cepat namun rupanya butiran hujan lebih dulu turun sebelum aku sampai di rumah. Jalanan hari ini begitu sepi, seperti ada yang aneh dengan sepedaku kali ini kenapa rasanya berat sekali bahkan lebih berat dari pada ketika ditumpangi Seli, aku hampir tak kuat lagi mengayunnya. Seketika aku berhenti memastikan apakah ban nya kempes. Ah sepertinya tak ada masalah dengan sepedaku tapi kenapa jadi berat sekali. Guyuran hujan semakin deras bahkan diiringi dengan geludug yang kian bersahut-sahutan. Aku nyaris tak kuat lagi mengayun sepeda ini, ku putuskan untuk menuntunnya saja namun tak mengurangi beban yang ku rasakan, huh ku tarik nafas dalam-dalam hingga beberapa kali.

Mungkin saja kamu suka

Yanah Yunita
Cinta Untuk Nindy
Ernisa
OVER LIE
Nur Aulia
Maafkan Nisa, Ayah
Nabima Reyhan
Penelusuran Kain Merah

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil