Loading
1

0

6

Genre : Keluarga
Penulis : Abot
Bab : 10
Dibuat : 21 Maret 2022
Pembaca : 4
Nama : Pandu
Buku : 1

Istriku Sholikha

Sinopsis

"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar." QS. An-Nisa'[4]:34

Wahai SUAMI topanglah bahtera ini sekuat PILAR... Wahai ISTRI bersamailah perjalanan bahtera ini setenang MALAM..... Karna SUAMI yang QOWAMAH dan ISTRI yang SHOLEHAH kunci keberhasilan rumah tangga, dan akan menghasilkan keturunan yang QUROTAN A'YUN...Insya Allah... ISTRIKU SHOLIKHA....Begitu setidaknya orang memanggil namanya..
Tags :
#keluarga #ayahidolaku #suamiidaman

HUKUMAN ADALAH BAGIAN DARI PENDIDIKAN ? BENARKAH ?

1 0

Pagi senin itu adalah hari seperti hari2 biasanya. Kegiatan pagi itu anak2 sibuk mempersiapkan diri dengan persiapan terbaik mereka untuk siap menuju majelis ilmu (sekolah).

Jam dinding telah menunjukkan posisi setengah tujuh pagi itu, saat nya berangkat. Ayo anak2 kita berangkat, ucapku sambil menuju ke kendaraan.

Sesampainya di pintu gerbang sekolah seperti biasa mereka berpamitan kepadaku...hati2 ya nak, ucapku yang diiringi cium tangan mereka kemudian mereka pun bergegas menuju kelas mereka masing2. Didepan gerbang sekolah sudah siap menunggu guru2 menyambut kedatangan seluruh murid2nya.

Saat itu genap sepekan sekolah dimulai setelah panjang nya liburan, maka aku menuju kantor sekolah karna hendak membayar kewajiban bulanan kami.

Selesai menunaikan kewajiban, aku melihat hal yg tak biasa di depan gerbang sekolah. Gerbang sekolah telah ditutup rapat dan terlihat beberapa siswa tampak berdiri di depan gerbang diluar pagar karna menunggu gerbang dibuka. Tampak guru2 yang bertugas pada saat itu mencatat siswa yang terlambat masuk jam sekolah.. Hmmm gumamku, sekarang ternyata ada aturan itu...ternyata hari ini dimulainya aturan yang mengharuskan anak2 datang tepat waktu dan meng "hukum" mereka ketika telah keluar dari aturan itu...

Hukuman....kata yang hampir hilang dimasa ini...terkhusus jika berbicara dalam dunia pendidikan sekolah. Alih alih ingin menghukum anak2 murid, mereka para guru akan segera dihadapkan dengan sejuta aturan aturan...inti nya semua bentuk hukuman dalam dunia pendidikan seolah2 sesuatu yg keji, tak berprikemanusiaan dan berpotensi merusak psikologi anak.

Benarkah jika pendidikan itu bisa berjalan tanpa menghukum. Atau justru sebaliknya bahwa Hukuman justru bagian dari pendidikan itu..?

Mari kita mencoba belajar dari seseorang yang terbaik yang pernah dimiliki bumi ini..Rasulullah. Karna tidak akan pernah sempurna generasi ini kecuali dengan cara yang pernah dipakai untuk memperbaiki generasi awal.

Pernah kah kita mendengar kisah sahabat yang diamanahkan Rasulullah untuk memberi anggur kepada ibunya, tetapi sebelum sampai pada ibunya anggur itu sdh habis dimakan. Lalu Rasul menjewer telinganya dan menjuluki nya dengan panggilan Ghudar (pelanggar amanah).

Pernah kah kita mendengar kisah Rasul yang memaksa mengeluarkan kurma yang telah terlanjur dimakan oleh Hasan dengan telunjuk beliau, karna Hasan mengambil sebiji kurma dari tempat kurma2 zakat/sedekah. Padahal saat itu Hasan masih dalam usia anak2. Tapi rasul tidak pernah kompromi dengan hal2 yang justru akan menjerumuskan keluarga nya dari api neraka walaupun usia Hasan pada saat itu masih sangat kecil. Mungkin kalau hari ini sama seperti ketika kita melihat anak2 kita sedang asyik bermain gadget lalu kita langsung mengambilnya dengan paksa, pasti akan menangis...

Hukuman dalam dunia pendidikan itu bukan hanya membuat pelaku kapok dan tidak akan melakukannya lagi, karna kalau hanya untuk itu, tdk perlu seorang guru/orangtua untuk melakukan nya...Lebih dari itu, hukumam dalam pendidikan itu adalah untuk membuat anak menjadi beradab...yaitu dapat membuat mereka membenci perbuatan yang buruk yang telah di lakukan dan mencintai perbuat yang baik.

Dengan tujuan itu maka tetap harus ada rambu2 dalam menghukum. Menghukum itu ibarat memberi obat kepada pasien. Sehingga dosis nya pun berbeda2 tiap anak, tergantung dari seberapa serius penyakit yang diderita. Kalau pun sampai melakukan tindakan mengamputasi, itu semata2 bukan karna benci tapi justru untuk mempertahankan keberlangsungan kehidupan. Karna dalam mengobati tujuan nya adalah untuk sembuh bukan semata2 membunuh penyakit nya. Karna kalau hanya untuk membunuh penyakitnya, tidak perlu dokter untuk melakukan nya. Bunuh saja pemilik tubuhnya maka pasti penyakitnya pun akan mati, begitu juga cara kita menghukum.

Menghukum itu cara kita mendidik dan membuat anak menjadi beradab bukan mematikan kreatifitas mereka.

Hukuman adalah bagian dari pendidikan.

#cerdasmendidik #menjadiayahsholeh #menjadiortuygcerdas

"FOKUS"

0 0

Ada seorang anak yang setiap hari rajin sholat ke masjid, lalu suatu hari ia berkata kepada ayahnya,
"Yah mulai hari ini saya tidak mau ke masjid lagi"

"Lho kenapa?" sahut sang ayah.

"Karena di masjid saya menemukan orang² yang kelihatannya agamis tapi sebenarnya tidak, ada yang sibuk dengan gadgetnya, sementara yang lain membicarakan keburukan orang lain".

Sang ayah pun berpikir sejenak dan berkata, "Baiklah kalau begitu, tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan setelah itu terserah kamu".

"Apa itu?"

"Ambillah air satu gelas penuh, lalu bawa keliling masjid, ingat jangan sampai ada air yang tumpah".

Si anak pun membawa segelas air berkeliling masjid dengan hati², hingga tak ada setetes air pun yang jatuh.

Sesampai di rumah sang ayah bertanya, "Bagaimana sudah kamu bawa air itu keliling masjid?",

"Sudah".

"Apakah ada yang tumpah?"

"Tidak".

"Apakah di masjid tadi ada orang yang sibuk dengan gadgetnya?".

"Wah, saya tidak tahu karena pandangan saya hanya tertuju pada gelas ini", jawab si anak.

"Apakah di masjid tadi ada orang² yang membicarakan kejelekan orang lain?", tanya sang ayah lagi.

"Wah, saya tidak dengar karena saya hanya konsentrasi menjaga air dalam gelas".

Sang ayah pun tersenyum lalu berkata, "Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu".

Marilah kita fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi positif.

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat...

#fokustujuan 

Lihat Lebih Sedikit

KEBERKAHAN DARI LANGIT YANG TERLUPAKAN

0 0

Mandi hujan....


Mungkin terdengar biasa di masa kita kanak2. Permainan ini sangat mengasyikan bagi anak-anak, selain murah meriah tentu nya. Sangat berbeda jika kita perhatikan dizaman ini. Zaman dimana anak-anak lebih memilih untuk bermain bola dengan jemari nya (bermain bola pada game android) ketimbang untuk mendatangi lapangan dan berkotor kotor dengan rumput dan tanah.

Lalu bagaimana Islam memandang mandi hujan dan apakah Rasul pernah melakukan nya atau bahkan menganjurkan nya...?

Dalam hadist riwayat Muslim, Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata, "Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kehujanan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya: Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan ini?""

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, "Karena ia (hujan) baru saja datang dari Tuhannya ta’ala'." (HR. Muslim)

Imam Nawawi, dalam kitab Al Minhaj, menjelaskan makna hadist ini. Maknanya bahwa hujan adalah rahmat, ia baru saja diciptakan Allah ta’ala. Maka kita ambil keberkahannya.

Hadits ini juga menjadi dalil bagi pernyataan sahabat-sahabat bahwa dianjurkan saat hujan pertama untuk menyingkap yang bukan aurat agar terkena hujan.

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para sahabat Nabi pun sengaja hujan-hujanan seperti Utsman bin Affan.

Demikian juga Abdullah bin Abbas, jika hujan turun dia berkata: "Wahai Ikrimah keluarkan pelana, keluarkan ini, keluarkan itu agar terkena hujan."

Ibnu Rajab juga menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib jika sedang hujan, keluar untuk hujan-hujanan. Jika hujan mengenai kepalanya yang gundul itu, dia mengusapkan ke seluruh kepala, wajah dan badan kemudian berkata : "Keberkahan turun dari langit yang belum tersentuh tangan juga bejana."

Abu al-Abbas Al Qurthubi juga menjelaskan, "Ini yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mencari keberkahan dengan hujan dan mencari obat. Karena Allah ta’ala telah menamainya rahmat, diberkahi, suci, sebab kehidupan dan menjauhkan dari hukuman." (Al Mufhim)

Ayah bunda mari kita biasakan lagi permainan mengasyikan ini, seperti masa2 kecil kita dulu. Jangan biarkan anak-anak terlewatkan akan keberkahan nya (hujan).

Mumpung lagi musim hujan nih... ayo anak-anak kita mandi hujan. Lebih seru lagi kalo umi ikut juga ya....????????????????

(Jangan mencari Abi dalam foto, karna lagi sibuk cari sudut yang pas dan booming...????????????)

AYAH !!! AMBILLAH PERANMU

0 0
Tiba waktunya di hari yang ditunggu tunggu, pada hari ini hari tes teteh (sebutan anak sulung kami) masuk pondok pesantren. Karna jarak yang cukup jauh dari rumah, memaksa kami harus pergi di awal hari, sebelum shubuh. Hari yang sangat ditunggu tunggu bagi semua ayah, menghantarkan putra putri nya untuk mencari kan guru
terbaik.
 
(Semoga Allah menerima amal ibadah ini para ayah).
 
Ya ayah...perlu kita ingat..mencari nafkah adalah kewajiban kita, dan mencarikan seorang guru
terbaik
 
bagi anak-anak kita juga kewajiban kita.
Sesampai dilokasi tepat pukul delapan pagi, kami langsung bergegas menuju meja registrasi. Telah berkumpul para ayah ayah
hebat
 
sedang antusias mengantri untuk menunggu nama anak nya dipanggil.
Tidak lama nama teteh dipanggil, kemudian teteh dan umi masuk keruangan khusus akhwat untuk melakukan tes dan wawancara orang tua.
Disela sela waktu menunggu saya mencoba untuk berbincang-bincang dengan ayah ayah yang telah hadir terlebih dahulu..
Ayah pertama bercerita tentang anak nya yang dulu sangat nakal dan membandel, hingga akhirnya anak nya dapat menyelesaikan 5 juzz dan bercita cita ingin mondok. Semua itu berawal ketika sang ayah yg dulu berprofesi sebagai pegawai/karyawan yg menjalankan bisnis riba mencoba untuk hijrah dan resign dari pekerjaan nya.
"Saya hijrah gini berkat anak saya pak.." cerita beliau kepadaku...
"Kok bisa begitu pak..?" Tanya ku penasaran...
"Iya pak...dulu itu saya kerja kantoran pak...kalo pergi pagi hari dan pulang malam hari. Suatu ketika saya tersentak oleh kata2 anak pak.."
"Yah nanti aku nggak mau kerja kantoran ah.., jadi mending sekolah nya ke pesantren aja" cerita sang ayah mengikuti perkataan anak nya..
"Iya kerja kantoran itu nggak enak, kayak ayah... Pergi pagi pulang malam hari, jadi nggak ada waktu dirumah. Ditambah lagi kerjaan ayah itu kan ada riba nya yah..."
"Ya Allah pak, saya saat itu merasa menjadi ayah yang sangat pendosa pak..
Astagfirullah... Bagai tersambar petir disiang bolong pak..." Sesal samg ayah pertama.
"Tidak papa pak teruslah merasa berdosa dihadapan Sang Khaliq..karna ada orang akan digiring ke neraka justru karna ilmu/amalan baiknya, tapi ada juga orang yang akan digiring ke surga justru karna dosa nya" jawabku...
"Nah karna tekat nya itulah pak, maka saya pindahkan sekolahnya dari sekolah umum ke sekolah islam terpadu." Alhamdulillah pak setelah saya resign, dan anak saya fokus pada hapalan quran, sikap dan adab anak saya membaik pak. Malah sekarang dia sendiri yang mau masuk ke pesantren.."
Alhamdulillah..
Kemudian ayah kedua pun bercerita.."Iya pak betul itu...memang kesolehan orangtua itu sangat berpengaruh pada kesolehan anak pak."
"Saya punya teman yang memang bergerak dalam bidang permasalahan anak, khusus nya anak2 yang terjerumus dalam permasalahan narkoba dan sex bebas."
"Beliau pernah menganalisa dan membuat semacam kuisioner. Beliau kumpulkan semua anak2 yang terkena masalah narkoba. Hampir 100% dari anak yang bermasalah narkoba itu pasti bemasalah dengan sang ayah. Dan kuisoner kedua beliau kumpulkan anak2 yang terkena masalah sex bebas. Dan ternyata sedikit anak yang tidak terjerumus kepada sex bebas itu dikarnakan mereka selalu terbayang dan teringat wajah sang ayah. Sehingga mereka tdk jadi melakukan hal2 yang buruk. Jadi teringat kisah Nabi Yusuf as. yang terbebas dari cengkraman maksiat itu berkat teringat sang ayah yang tidak lain adalah nabi Yaqub as."
Masya Allah... Memang sangat besarnya peran Ayah dalam keluarga. Ayah merupakan benteng pertama bagi anak-anak. Bagaimana jadinya ketika benteng pertama itu rapuh.
Maka para ayah.. . mari ambil peran lebih banyak dalam pendidikan anak. Karna kesolehan kita adalah cermin kesolehan mereka (anak)..
Salam takzim kepada para ayah dimana pun kau berada
Segera lah bergerak dan ambil peran dalam pendidikan anak anakmu....
Kalau bukan sekarang kapan lagi ....
Kalau bukan kita maka siapa lagi....
Semoga Allah mudahkan kita semua...

ANAK LANANGKU YANG LAKI BANGET...

0 0
Sore itu selepas pulang kerja...
Umi : "Abi sepertinya kakak (panggilan anak laki2 kami) perlu di beri kisah-kisah tentang keutamaan ibu dibanding seorang ayah.... Dia sepertinya belum mengerti tentang besar nya peran ibu dalam keluarga....padahal kan rasul mengatakan ibumu...ibumu...ibumu...."
Abi : "Sebentar sebentar.... Ada apa ini...abi nggak ngerti...?
Umi : "Jadi gini... Tadi pagi kan kakak dan hatta (nama samaran teman akrab kakak) lagi main di teras rumah, nah ada beberapa obrolan mereka yang menarik...."
Ini dialog kakak dan Hatta...
Hatta : "Kak menurut mu siapa yang harus diselamatkan dulu jika ayah dan ibu sedang butuh bantuan dalam waktu yang sama...?"
Kakak : " Ya ayah lah...."
Hatta : "Lah kok ayah...ya ibu lah...gimana sih kamu....ibukan yang melahirkan kita..."
Kakak : "Ya ayah lah...kan Ayah kuat...kalo ayah bisa diselamatkan duluan...kan ayah nanti bisa bantu nyelamatin ibu..."
------------------
Umi : "Begitu bi ceritanya..., gimana sih kakak... Kok gak paham paham...harus di pertajam lagi hadits2 yang berhubungan dengan ibu kalo gitu bi...ni anak belom paham berarti..."
Abi : "Bentar... Menurut abi sih justru kakak sangat paham hadits itu mi..."
Umi : "Lah gimana sih abi... Kok malah bener kakak...ah abi sih karna ngerasa ditolong pertama oleh anak jadinya seneng..."
Abi : "Owala...kok jadi abi yang dimarahi...yo wis nanti abi coba ajak ngobrol kakak lagi..."
Selang beberapa minggu berlalu, tiba saat nya kami belanja rutinitas untuk membeli perlengkapan warung kecil kami dirumah (baca tentang warung kecil ini di postingan sebelumnya....https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155978945651778&id=573546777)
Pada waktu turun dari kendaraan umi menawaran pada anak2...
Umi : "Siapa yang mau ikut...?"
Kakak : "Kakak"..ucap kakak dengan sigap..
Teteh : "iiih..kok kakak sih."
Kakak : "iya lah...kakak kan laki2..harus jagain umi.."
Ya sudah hayu...jawab umi sambil berpikir perkataan kakak barusan...
Singkat cerita.... Selesailah mereka berdua berbelanja.... Dan terlihat kakak dengan semangat berusaha membawa belanjaan umi walaupun sepertinya agak keberatan...
Sudah belanja nya...ucapku...sambil bergegas menyiapkan uang parkir...
"Bi tahu nggak tadi....kakak bi...masya allah...anak lanang umi..." cerita umi yang penuh semangat...
"Emang kenapa kakak..?" Tanyaku....
"Iya bi tadi tuh kan belanja an nya banyak...tapi kakak langsung berusaha bawa semua bawaan...kak jangan semua biar umi aja..."
"Nggak papa mi....kakak yg bawa..."
"Padahal bawanya sampe keringetan bi... Kakak memang laki2 banget ya bi.... Tanggung jawab nya ada....masya allah anak lanang umi...Qowamah nya sdh mulai tertanam insya allah bi"
"Ya itulah kakak mi....dia bukan tidak paham tentang hadits keutamaan seorang ibu... Justru dia lebih paham dari apa yang kita sangka kan....dia paham bahwa laki2 itu harus qowamah dari seorang perempuan...Makanya kejadian tempo hari itu abi sdh dapat penjelasan dari kakak....kakak menganggap kalo menolong ibu terlebih dahulu...mungkin bisa tapi dengan tenaga yang dia miliki tdk mungkin harus menolong ayah selanjutnya....tapi ketika kakak bisa menolong ayah...maka kakak akan bisa menolong ibu dengan bantuan ayah.."
Masya allah Kakak....barakallah kakak...
Abi : "Jadi gimana mi....?"
Umi : "Gimana apanya bi..?"
Abi : "Jadi nggak ibu nya sampe 3 kali..? "
Umi : "aabiiiiiiiiii...????????????????

Engkau dan Hartamu milik Ayahmu

0 0
Jutaan orang bahkan tak menyadari, bahwa harta, kesenangan, dan kebahagiaan yang direguknya kini hanyalah cipratan berkah dari sujud panjang dan munajat ikhlas dari orangtua kepada anak-anaknya. Kita terkadang lupa, menyangka apa yang ia miliki kini adalah hasil jerih payahnya sendiri.
Ada juga sebagian orang yang mungkin memberikan sebagian rezekinya kepada orang tua, tetapi terkadang mereka lupa akan tujuan nya (yaitu untuk mendapat ridho orangtua), sehingga akhirnya merekapun berbangga bangga dengan amalannya tersebut.
Keridhaan orangtua dimulaikan dari buah ketulusan. Berapapun harta yang diberikan anak kepada orangtua, namun tak disertai ketulusan, tentunya tidak mendapat jaminan ridha dari orangtua.
Sebab ridha orangtua bukanlah persoalan berapa nominal harta atau materi lainnya. Perhatian tulus, keinginan untuk menyenangkan, membantu, memuliakannya, selalu mendoakan dan membahagiakan kedua orangtua itulah yang melahirkan keridhoannya.
Karna sejatinya harta yang kita miliki saat ini adalah harta mereka (orangtua) yang Allah titipkan kepada kita.
Dalam hadis riwayat Thabrani dari Jarir RA, ada seorang anak muda mengadu kepada Rasulullah SAW.
Ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku.”
Mendengar pengaduan anak muda itu, Rasul berkata, “Pergilah kamu dan bawa ayahmu kesini!”
Setelah anak muda itu berlalu, Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata; “Ya, Muhammad, Allah 'Azza wa Jalla menyampaikan salam untukmu, dan berpesan, kalau orang tuanya datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh telinganya.”
Tak lama, anak muda itu datang bersama ayahnya. Rasulullah kemudian bertanya orang tua itu. “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?”
Sang ayah yang sudah tua itu menjawab, “Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah. Bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu)-nya, dan untuk keperluan saya sendiri?”
Rasulullah bersabda lagi, “Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu.”
Maka wajah keriput lelaki tua itu pun menjadi cerah dan tampak bahagia. Dia berkata, “Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah SWT berkenan menambah kuat keimananku dengan kerasulanmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya.”
Rasulullah mendesak, “Katakanlah, aku ingin mendengarnya.”
Orang tua itu berkata dengan air mata yang berlinang. “Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini, 'Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah. Lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita.”
“Lalu air mataku berlinang-linang dan mengucur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan.”
“Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan aku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu. Seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.”
Selanjutnya Jabir berkata, “Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu, seraya berkata, ‘Engkau dan hartamu milik ayahmu!”
Marilah para Ayah, kita perbaiki hubungan kita dengan orangtua kita. Tanyakan pada diri kita sendiri, kapan terakhir kita menyapa mereka, kapan terakhir kali kita bertanya tentang kebutuhan mereka, memberikan sebagian harta kita yang sebenarnya juga harta mereka.
Bila sudah kita lakukan, istiqomahlah dalam menjalankan nya, dan jangan lupa bersihkan niat kita, janganlah kita berbangga diri dengan amalan itu. Karna hanya dengan keikhlasan keridhoan mereka dapat kita raih...
Semoga Allah mudahkan semua urusan kita.
Ayah Mama, jangan lah sekali2 meminta minta harta2 yang ada padaku, ambillah sesuka hati sebanyak yang kau mau....Karna aku dan hartaku adalah milikmu....

TAMENGKU DI AKHIRAT....

0 0

"Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat."

(HR. Ahmad 17403, Ibnu Majah 3669, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

"Siapa yang memiliki anak perempuan, dia tidak membunuhnya dengan dikubur hidup-hidup, tidak menghinanya, dan tidak lebih mengunggulkan anak laki-laki dari pada anak perempuan, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga."

(HR. Abu Daud 5146, Ahmad 1957 dan didhaifkan Syuaib al-Arnauth).

“Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan dan minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi pelindungnya pada hari kiamat”. (HR Ibnu Majah)

Masya allah, banyak kita jumpai pada hadits hadits shahih tentang keutamaan memiliki anak perempuan.

Jika kita mampu mengajarkan nya tentang adab dan ilmu, maka sejatinya anak perempuan akan lebih cepat tampil kedewasaan nya dalam kehidupan sehari hari.

Mereka lebih peka pada lingkungan sekitar. Dibanding anak laki2, anak perempuan lebih peka pada kondisi orangtua nya. Membantu memasak ketika umi nya sedang sakit/ sibuk, menanyakan dan melayani abi nya ketika sedang sakit, menyiapkan sarapan pagi bahkan berbelanja kepasar.

Benarlah adanya, mereka akan menjadi tameng kita di akhirat nanti insya allah...bahkan didunia pun dapat kita rasakan.

Tapi ingat ayah bunda, semua itu dapat kita miliki ketika sedari kecil kita mampu mengajarkan dan mendidik mereka tentang adab-adab menjadi seorang anak yang sholehah.

Ketika kita tidak mampu mendidik mereka, jangankan menjadi tameng, bahkan mereka (anak perempuan) justru akan menyeret kita (ayah) ke dalam neraka...naudzubillah...

Maka dari itu ayah bunda, bersamailah mereka didunia ini. Ajari pada mereka adab adab menjadi muslimah. Bekali mereka ilmu agama (dien), kelak nanti di akhirat mereka akan menjadi tameng bagi kita dari api neraka.

Karna mendidik anak perempuan bukanlah perkara yang bisa selesai dalam hitungan hari atau bulan. Dibutuhkan masa yang panjang, kesabaran, usaha dan kesungguhan. Maka hendaklah kita banyak berdoa. Semoga Allah mudahkan kita semua.

Jika para pemuda (anak laki2) adalah generasi selanjutnya, maka para pemudi (anak perempuan) adalah pencetak generasi selanjutnya....

#menjadilebihbaik #ayahyangsholeh #ortuyangcerdas #cerdasmendidik

SANG QOWWAMAH

0 0

SANG QOWWAMAH

Mencari nafkah adalah kewajiban kita sebagai suami dan ayah. Tapi perlu diingat, bahwa mencari nafkah bukan lah tentang "memeras keringat dan membanting tulang". Mencari nafkah adalah masalah ketaqwaan kepada Allah.

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Namun ayat itu tidak menunjukkan bahwa orang yang tidak bertakwa tidak diberi rizki. Bahkan setiap makhluk akan diberi rizki sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (QS. Huud: 6).

Bahkan hamba yang menerjang yang haram termasuk yang diberi rizki.

Sedangkan orang yang bertakwa, Allah memberi rizki pada mereka dari jalan yang tidak terduga. Rizkinya tidak mungkin diperoleh dengan cara-cara yang haram, juga tidak mungkin rizki mereka dari yang khobits (yang kotor-kotor).

Maka bersemangatlah dalam mencari nafkah para ayah. Tapi tetap lah selalu diingat mencari nafkah adalah masalah ketaqwaan kepada Allah, mencari nafkah hanya lah salah satu dari sekian banyak kewajiban kita sebagai Ayah. Mencari nafkah bukanlah hanya sekedar mengumpulkan uang lalu membelanjakannya. Mencari nafkah itu adalah untuk beribadah kepada Allah bukan untuk mengumpulkan uang.

Karna tugas utama kita sebagai Ayah/Suami adalah memelihara dan menjaga mereka (Anak/Istri) dari api neraka.

Allah ta'ala berfirman,

??????????????? ??????????????

“Dan bergaullah dengan mereka dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).

????????? ?????? ??????? ??????????? ??????????????

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al Baqarah: 228).

Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

?????????? ?????????? ????????? ??????? ?????????? ????????

“Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang paling berbuat baik pada keluargaku” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9: 484. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Karna ada hak waktu mu yang lain selain mencari nafkah.

Bersamailah mereka (anak) dalam memurojaah hapalan mereka, carikan lah guru yang terbaik untuk mereka, hantarkan mereka menuju majelis ilmu dengan pakaian dan kondisi yang terbaik.

Ajarkan kepada mereka ilmu dien ini. Sehingga kelak mereka akan dapat mendoakan kita orangtuanya dan menarik kita ke dalam syurga....aamiin

Semoga Allah mudahkan kita semua, para ayah yang selalu ingin yang terbaik untuk keluarga, istri dan anak nya


NAMA ADALAH DOA

0 0

Masya Allah.....

Andaikata rasa sakit saat melahirkan membawa keburukan besar bagi bayi yang dilahirkan beserta ibunya, tentu Allah Ta’ala mencabut rasa sakit itu.

Andaikata rasa sakit saat bersalin membawa keburukan besar niscaya Tak ada lagi yang mau melahirkan disebabkan besarnya rasa sakit.

Andaikata Allah Subhanahu wata’ala menghendaki, tak ada yang sulit untuk menghapus rasa sakit itu. Mudah pula bagi Allah Ta’ala untuk mencabut susah payah yang dirasakan oleh ibu-ibu hamil sejak awal mengandung hingga siap melahirkan.

Berjuta-juta ibu tetap tersenyum bahagia justru beberapa detik setelah melewati rasa sakit itu.

Karna semua itu ada hikmah dan pahala....

Justru Allah cabut rasa sakit itu bagi wanita-wanita yang melahirkan dari hasil zina dan Allah cabut hikmah dan pahala bagi mereka...(naudzubillah)

Dan...

Di hari itu kami belajar hikmah dari rasa sakit itu. Di hari itu begitu lambat waktu ini berjalan.

Di hari itu betapa kami merasa sangat durhaka terhadap orangtua kami (terlebih kepada ibu kami)....

Kepanikan bukan solusi menghadapi situasi ini, hanya doa dan istigfar yang dapat menenangkan hati.

Bagi seorang istri, inilah waktu pembersihan dosa. Semoga Allah mengikis habis dosa-dosa kecil dari tiap detik rasa sakit ini.

Setiap diri (suami & istri) diuji dalam kapasitas nya masing-masing. Doa dan istigfar menjadi kunci keberhasilan dalam melewati ujian ini.

Amanah ini bukan main-main. Perlu pengorbanan dan ujian untuk mendapatkan nya.

Ku buka Quran untuk menenangkan hatiku dan istriku. Tak sengaja ternyata surat yang kubuka adalah surat ketujuh, Al A'raf dan kami sedang bersiap menyambut kehadiran anak yang ketujuh. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, karna Allah telah menggariskan semua di lauful mahfud. Semua pasti ada hikmah nya.

Surah al-A’raf (bahasa Arab:???????, al-A’r?f, yang berarti “Tempat Tertinggi”) adalah salah satu dari tujuh surat dalam al-Qur’an yang memilik banyak ayat atau disebut juga surah Assab’u Ththiwaal (tujuh surat terpanjang).

Didalam nya terdapat kisah-kisah para nabi, salah satu nya adalah Nabi Musa as. Nabi yang termasuk pada Ulul Azmi. Bahkan kesabaran beliau dipuji oleh Rasulullah saw.

Kami menaruh banyak harapan pada mu Nak, dan setiap harapan itu kan kusertakan doa untukmu. Dan nama adalah doa bagimu dan kehidupan mu.

Semoga engkau kelak dapat mencapai derajat dan tempat tertinggi, bersabar dan kuat seperti Musa as dalam membela kebenaran.

Kan kuberi engkau nama :

RAFI MUSA NASHRULHAQ

Barakallah fiikum...
Yaa Allah mudahkan kami dalam mendidiknya....
Berikan kami keluasan ilmu, keistiqomahan dan kesabaran

#cerdasmendidik #namaadalahdoa

HUKUMAN ADALAH BAGIAN DARI PENDIDIKAN ? BENARKAH ? part (2)

0 0

Pagi senin itu adalah hari seperti hari2 biasanya. Kegiatan pagi itu anak2 sibuk mempersiapkan diri dengan persiapan terbaik mereka untuk siap menuju majelis ilmu (sekolah).

Jam dinding telah menunjukkan posisi setengah tujuh pagi itu, saat nya berangkat. Ayo anak2 kita berangkat, ucapku sambil menuju ke kendaraan.

Sesampainya di pintu gerbang sekolah seperti biasa mereka berpamitan kepadaku...hati2 ya nak, ucapku yang diiringi cium tangan mereka kemudian mereka pun bergegas menuju kelas mereka masing2. Didepan gerbang sekolah sudah siap menunggu guru2 menyambut kedatangan seluruh murid2nya.

Saat itu genap sepekan sekolah dimulai setelah panjang nya liburan, maka aku menuju kantor sekolah karna hendak membayar kewajiban bulanan kami.

Selesai menunaikan kewajiban, aku melihat hal yg tak biasa di depan gerbang sekolah. Gerbang sekolah telah ditutup rapat dan terlihat beberapa siswa tampak berdiri di depan gerbang diluar pagar karna menunggu gerbang dibuka. Tampak guru2 yang bertugas pada saat itu mencatat siswa yang terlambat masuk jam sekolah.. Hmmm gumamku, sekarang ternyata ada aturan itu...ternyata hari ini dimulainya aturan yang mengharuskan anak2 datang tepat waktu dan meng "hukum" mereka ketika telah keluar dari aturan itu...

Hukuman....kata yang hampir hilang dimasa ini...terkhusus jika berbicara dalam dunia pendidikan sekolah. Alih alih ingin menghukum anak2 murid, mereka para guru akan segera dihadapkan dengan sejuta aturan aturan...inti nya semua bentuk hukuman dalam dunia pendidikan seolah2 sesuatu yg keji, tak berprikemanusiaan dan berpotensi merusak psikologi anak.

Benarkah jika pendidikan itu bisa berjalan tanpa menghukum. Atau justru sebaliknya bahwa Hukuman justru bagian dari pendidikan itu..?

Mari kita mencoba belajar dari seseorang yang terbaik yang pernah dimiliki bumi ini..Rasulullah. Karna tidak akan pernah sempurna generasi ini kecuali dengan cara yang pernah dipakai untuk memperbaiki generasi awal.

Pernah kah kita mendengar kisah sahabat yang diamanahkan Rasulullah untuk memberi anggur kepada ibunya, tetapi sebelum sampai pada ibunya anggur itu sdh habis dimakan. Lalu Rasul menjewer telinganya dan menjuluki nya dengan panggilan Ghudar (pelanggar amanah).

Pernah kah kita mendengar kisah Rasul yang memaksa mengeluarkan kurma yang telah terlanjur dimakan oleh Hasan dengan telunjuk beliau, karna Hasan mengambil sebiji kurma dari tempat kurma2 zakat/sedekah. Padahal saat itu Hasan masih dalam usia anak2. Tapi rasul tidak pernah kompromi dengan hal2 yang justru akan menjerumuskan keluarga nya dari api neraka walaupun usia Hasan pada saat itu masih sangat kecil. Mungkin kalau hari ini sama seperti ketika kita melihat anak2 kita sedang asyik bermain gadget lalu kita langsung mengambilnya dengan paksa, pasti akan menangis...

Hukuman dalam dunia pendidikan itu bukan hanya membuat pelaku kapok dan tidak akan melakukannya lagi, karna kalau hanya untuk itu, tdk perlu seorang guru/orangtua untuk melakukan nya...Lebih dari itu, hukumam dalam pendidikan itu adalah untuk membuat anak menjadi beradab...yaitu dapat membuat mereka membenci perbuatan yang buruk yang telah di lakukan dan mencintai perbuat yang baik.

Dengan tujuan itu maka tetap harus ada rambu2 dalam menghukum. Menghukum itu ibarat memberi obat kepada pasien. Sehingga dosis nya pun berbeda2 tiap anak, tergantung dari seberapa serius penyakit yang diderita. Kalau pun sampai melakukan tindakan mengamputasi, itu semata2 bukan karna benci tapi justru untuk mempertahankan keberlangsungan kehidupan. Karna dalam mengobati tujuan nya adalah untuk sembuh bukan semata2 membunuh penyakit nya. Karna kalau hanya untuk membunuh penyakitnya, tidak perlu dokter untuk melakukan nya. Bunuh saja pemilik tubuhnya maka pasti penyakitnya pun akan mati, begitu juga cara kita menghukum.

Menghukum itu cara kita mendidik dan membuat anak menjadi beradab bukan mematikan kreatifitas mereka.

Hukuman adalah bagian dari pendidikan.

#cerdasmendidik #menjadiayahsholeh #menjadiortuygcerdas

Mungkin saja kamu suka

Ajeung Moetiara...
Rumahku bukan tempat pulang
Annisa Aurelia
Di sepertiga malam
ira puspita sar...
MURTAD
Lala Aisha
Unconditional Love

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil