Loading
2

0

10

Genre : Keluarga
Penulis : Intan syafei
Bab : 32
Dibuat : 21 Maret 2022
Pembaca : 8
Nama : Puti intan akhbari
Buku : 1

Raisya

Sinopsis

Teka-teki dalam kehidupan Raisya penuh dengan rintangan dan lika-liku. Akankah Raisya mampu memecahkan setiap masalah yang terjadi dalam hidupnya? Baca novel ini jika ingin tau jawabannya.
Tags :
#kmoindonesia #raisya #kehidupan #tekateki #rintangan

Prolog

1 0

#Sarapankata

#SarkatJadiBuku

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day1

#Jumlahkata737

#PR

Motor itu terlihat tua. Sepertinya sudah sangat lelah mengembara. Tanpa sengaja, saya melihat seorang ibu paruh baya, duduk termenung di pinggir jalan, pas bersebelahan dengan motor .

Tapi apa?

Barang yang diangkut oleh kendaraan roda dua itu, alangkah banyaknya. Miris sekali nasibmu ‘tor.. Berat beban yang mesti kau tanggung, sepertinya lebih berat dari beban hidup tuanmu. Penuh sesak, depan, belakang, menjulang.. wow. Bak keledai pengangkut barang. Gubraaaaak..

Astaghfirullah.. benar dugaanku. Dia sudah lelah, dan terguling dengan sendirinya.

Jalanan itu sepi. Sesaat kuperhatikan sekeliling, tak satupun ada yang lewat. Segera ku dekati ibu itu.

Spontan, mulutku setengah berteriak... “Yaa Allaaah.. astaghfirullahalaziim.. ibu tidak apa-apa? Ini motor ibu yaa..” mulutku terus bertanya sambil berusaha keras mengangkat motor itu. Kami berdua agak kewalahan. Satu persatu barang bawaannya menggelinding di aspal. “Tidak apa-apa neng, ibu sudah biasa begini” senyuman terukir di wajah manisnya yang sudah mulai keriput.

Sepertinya lebih dari lima menit, akhirnya kami baru bisa memberdirikan motor itu lagi. Dengan tangannya yang sedikit menghitam, mungkin karena terbakar matahari, ibu itu memungut barangnya yang berserakan.

Aku pun tak tinggal diam. Naluri memerintahkan tanganku juga untuk segera membantu ibu itu mengumpulkan botol-botol minuman tersebut. Semuanya masih terisi penuh. Masih segel.

“Bu, nama saya Echa, rumah saya tidak jauh dari sini. Ibu?”

“Ya neng. Terimakasih ya neng. Ibu hanya numpang duduk sebentar disini. Motornya mogok. Biasanya kalau didiamkan limabelas menitan bisa hidup kembali, biasalah neng.. mungkin karena motor tua” ia kembali tersenyum.

Dengan suara yang berat, ibu itu pun akhirnya bercerita...

Namanya Entin Kartini. Biasa dipanggil bu Entin. Usianya saat ini sudah kepala 5. Anaknya 3 orang, yang sulung perempuan sudah menikah. Kedua, laki-laki juga sudah menikah. Sementara si bungsu laki-laki baru selesai SMK dan belum mendapatkan pekerjaan yang layak. Hanya sesekali dibawa temannya mengerjakan proyek bangunan alias kuli bangunan.

Suami bu Entin tidak bekerja. Tadinya bekerja, tapi terkena pengurangan karyawan ketika pandemi dimulai sekitar 2 tahun yang lalu. Mungkin juga karena usia yang sudah tidak muda lagi, maka itu suaminya terkena phk.

Sehari-harinya, bu Entin berjualan keliling. Menawarkan susu dan yogurt dari rumah ke rumah, warung ke warung, sekolah ke sekolah, kantor ke kantor dan seterusnya.

“Jadi ibu berjualan dengan membawa barang segini banyaknya setiap hari?”

Tersenyum lagi.. oh, ramah sekali wajah ibu Entin. Seakan tidak ada beban yang menggantung di bahunya.

“Iya neng, sudah biasa.” Bu Entin terus melanjutkan ceritanya.

 

Matahari pun mulai meredup. Bagaikan lembayung yang malu-malu merona bersemu merah. Dedaunan disekitaran mereka pun menari. Seakan mengikuti lantunan ayat suci yang sayup terdengar dari kejauhan.

“Bismillaahirrahmaanirrahiim.. Ar rahmaan. ‘Allamal qur’an. Khalaqal insan. ‘Allamahul bayan...”

MasyaAllaah.. suaranya merdu sekali. Memanjakan telinga pendengarnya.

“Magrib neng.. Rumahnya dimana neng?”

“Iya bu. Rumah saya sekitar 4 kilo meter dari sini. Ini gimana bu.. motor ibu apakah bisa hidup?”

“Bismillah neng. Mudah-mudahan sudah bisa hidup lagi.”

Bu Entin menaiki motornya, sambil kupegangi supaya gak ambruk lagi. Lalu beliau menyalakannya, dan.. brmm... brmm.. “Alhamdulillaaaah...” senyuman itu begitu lebar.. sederatan gigi putih berbaris rapi menghiasi manisnya.

Sangat terlihat, betapa bu Entin penuh syukur atas apa yang telah terjadi.

“Neng, ibu mau segera pulang ya. Rumah ibu sekitar 8 km lagi, kampung babelan namanya. Kalau ada waktu, main ke rumah ya neng. Jl. Naga no 2 rt 12 rw 3, pas bersebelahan dengan bengkel cuci motor.” Begitu penjelasannya. Lengkap. Jelas. Seorang ibu yang tak pernah lepas menarik sudut bibirnya agar melebar dan menebarkan sedekahnya. Senyum adalah ibadah. Ibadah paling mudah, tapi terkadang kita suka pura-pura lupa akan hal ini. Nauzubillah..

“InsyaAllah bu. InsyaAllah saya akan berkunjung dilain waktu ya bu.” Membatin. Melepas kepergian bu Entin, semakin jauh gerakan motornya, semakin menari pikiranku.

Yaa Allah.. seusia itu.. dengan bawaan sebanyak itu.. sungguh besar perjuangannya.

Fajar senja hampir hilang, tepat saat aku mengangkat tangan. “Allahu akbar”. Takbir. Menjalankan kewajiban seorang hamba pada Sang khalik di sudut kamar kesayangan. Aku tiba dirumah hanya dalam waktu 10 menit. Tidak terlalu jauh rumahku dari tempat aku bertemu dengan bu Entin tadi. “Allahummagh fir lahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum. Allahumma anzilir rahmata wal maghfirata was syafa’ata ‘ala ahlil quburi min ahli la ilaha illallahu Muhammadun rasulullah”.

Aku, Raisya, biasa dipanggil Echa, seorang penyayang kucing, yang saat ini masih kuliah semester empat fakultas kedokteran hewan. Saking sayangnya sama kucing, papa membuatkan kamar khusus agar aku bisa merawat peliharaan kesayangan ku tanpa mesti ribut dengan seisi rumah. Oya, rumahku dua lantai. Dengan luas tanah 250 meter, kami bisa memiliki kolam renang ukuran sedang. Juga halaman yang lumayan lebar untuk ditanami bunga serta pohon-pohon rindang sebagai penyejuk. 

Bab 1

1 0

#Sarapankata

#SarkatJadiBuku

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day2

#Jumlahkata716

#PR

 

Dinding rumah yang dicat putih, kelihatan sangat bersih dan terang. Ada tiga kamar di lantai atas, serta ruang keluarga yang sangat manis dan bersahabat. Sofa besar berwarna soft brown membuat siapa saja yang duduk di ruangan itu merasakan kenyamanan dan bakalan betah berlama-lama disana. Apalagi dilengkapi juga dengan seperangkat sound sistem serta televisi layar datar 52inch yang nempel di dinding bagian utaranya. Selain itu, ada satu kamar mandi juga di atas. Ukurannya lumayan luas, dengan shower, dan cermin lebar, memudahkan penghuninya berdandan agar tampak cantik atau ganteng.

Tok. Tok. Tok. Suara ketukan pintu tiba-tiba membuyarkan lamunan Echa yang baru saja selesai solat magrib. “Masuk aja kak” jawab Echa, seakan tau siapa yang mengetok pintunya. “Dek... Kakak pinjam kerudung kamu yang warna putih ya. Besok kakak ada test interview kerja.” “Alhamdulillah.. akhirnya ada juga yang mau ngajak kakakku yang cantik ini kerja.” sambil memeluk kakak, aku tersenyum. Kakak mulai membongkar lemari dan mencari-cari yang dibutuhkannya.

Zahra. Kakakku satu-satunya yang periang, suka banget becandaan, tapi sangat pintar. Dari cerita mama dulu, kak Zahra sejak kecil selalu rangking di kelasnya. Jaman masih sekolah, ternyata kakak juga pernah jadi ketua OSIS perempuan pertama disekolahnya itu. Dia juga rajin mengikuti seminar, bahkan kejuaraan bidang studi, tak pernah terlewatkan olehnya. Pantas saja, di kamar kakak, berjejer rapi piala, penghargaan, piagam, medali belum lagi souvenir-souvenir lucu. Hasil dari kebiasaannya ikut lomba sana sini. Papa juga membelikan lemari pajang dari jati, dengan design khusus untuk kak Zahra.

Beda dengan aku. Di kamarku, sepi piala, apalagi medali kejuaraan. Gak ada. Aku memang kurang suka mengikuti perlombaan. Tapi bukan berarti aku pemalas. Rangking sekolahku juga selalu masuk 5 besar. Mungkin karena itulah makanya aku masih bisa kuliah di fakultas kedokteran hewan. Kenapa pilih hewan. Karena memang aku sangat menyukai binatang. Kucing, kelinci, monyet, semua itu lucu buatku. Tapi sayangnya, papa hanya mengizinkan aku untuk memelihara kucing. Kamar kucing-kucingku yang jumlahnya lebih dari 10 ekor, terletak di lantai dasar. Agak terpisah dari rumah utama, yaa.. mungkin tujuannya supaya tidak terlalu mengganggu aktivitas penghuni rumah.

“Nah.. ini dia.. ketemu! Alhamdulillah..” dipeluknya aku. “Terimakasih adikku yang super comeeel...” kak Zahra menowel pipiku yang agak gembil. “Sakiiiit kaaaak” Entah teriakan ku terdengar atau tidak, karena kak Zahra sudah keburu keluar dari istanaku.

“Kriiiyuuuuuk..” Yaa Allah. Aku lapar. Aku baru ingat, tadi siang aku hanya makan sepotong browniss dan segelas cappucino hangat di kantin kampus tadi. Setelah melipat mukena dan sajadah, aku segera turun ke bawah. Rencana mau melihat catty dan teman-temannya dulu, baru setelah itu santap malam. “Haaaiii sayangkuuuu.. Lagi ngapain tuh?” Aku melihat Raka sedang nungging sambil melihat bawah meja makan. Secara spontan, aku juga ikut menunduk sembari melemparkan pandangan ke kanan dan kiri. Tapi tidak melihat hal aneh di sana. Sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, aku keheranan. “Kelereng aku tadi menggelinding ke arah sini kak Echa, tapi malah gak keliatan.”

Raka Samudera. Usia 8 tahun. Anak laki-laki satu-satunya di keluarga Pak Ahmad. Anak yang cerdas tapi sangat suka bermain. Semua isi rumah, sayang sama Raka. Bungsu dari 3 bersaudara. Zahra Putri Aqilah. Raisya Fatiya Rahma. Ammar Raka Salam.

Walaupun masih sangat muda, tapi Raka adalah anak yang mandiri. Sejak usia 5 tahun, saat masih duduk di taman kanak-kanak, Raka sudah terbiasa melakukan sesuatu sendiri. Mandi, makan, belajar, bahkan bermain pun sendiri. Karena di rumah itu, dia lelaki sendiri, sementara sang ayah sibuk bekerja.

“Dek.. itu kelerengnya di bawah kursi, yang di pojokan sana. Bukan di bawah meja ini. Ituuu..” kak Echa sambil memonyongkan mulut ke arah tunjukannya. “Waaaaah.. terimakasih kakakku yang sangat cantiiiik..” Raka memeluk Raisya. Erat. Tulus sekali rasa senangnya.

“Adik-adik.. ayoo kita makan” tiba-tiba Kak Zahra muncul mengagetkan mereka yang sedang berpelukan. “Yuuuk..” hampir bersamaan keduanya menyambut ajakan kakak.

“Assalamualaikum..” suara berat, khas bapak-bapak akhirnya memenuhi ruangan yang sedang mereka tempati. Keharmonisan pun terjadi. Mereka makan bersama. Menyantap dengan lahapnya masakan kak Zahra, karena memang dialah yang paling besar dan pintar memasak. Lezat, seperti masakan di restoran terkenal. Dan, besok itu memang hari penentuan. Apakah kak Zahra akan diterima bekerja di sebuah hotel bintang tiga, dipusat kota ? Dia dipanggil untuk tes wawancara. Semoga saja.

Waktu berlalu. Malam semakin larut. Anak-anak sudah terlelap nyenyak, di kamar mereka masing-masing. Tinggallah pak Ahmad duduk sendiri di ruangan yang cukup lebar itu. Ruang tamu sebenarnya, hanya di design sedemikian bersahabat dan kekeluargaan, sehingga sekalian menjadi ruang berkumpul keluarga.

Bab 2

0 0

 

#Sarapankata

#SarkatJadiBuku

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day3

#Jumlahkata757

Sofa-sofa ukuran besar yang empuk untuk diduduki, dengan meja persegi terbuat dari batu pualam. Dindingnya yang berwarna putih bersih, dihiasi gantungan pajangan yang bertuliskan kalimat-kalimat Allah. Sementara lantai keramiknya, di alas dengan permadani berwarna merah maroon. Ada pendingin ruangan atau air conditioner terpasang tepat di atas pintu masuk, hanya saja jarang sekali digunakan, karena ruangan itu di bikin dengan atap yang tinggi, mengikuti atap lantai duanya, sehingga perputaran udaranya pun sangat baik. Sejuk. Sungguh adem penglihatan, ketika berada di ruangan ini.

“Astaqfirullah..” bibir pak Ahmad bergumam seketika, sambil memegang dadanya. Di sudut matanya tampak air menggenang seolah ingin tumpah tapi tertahan. Lalu ia berdiri. Menoleh sebentar ke arah jam dinding besar di sebelah kiri ruangan dekat sofa. Pukul 22.45. Sudah larut. Matanya mulai mengantuk. Berat langkah menuju kamarnya yang berada di lantai dasar. Melawati lorong pendek yang hanya berukuran tiga meter, ia berjalan tertunduk, sambil terus berzikir.

Kamar itu begitu besar. Kalau diperkirakan, panjangnya sekitar sepuluh meteran dan lebar enam atau tujuh meter. Luas sekali. Dengan dekorasi ala Indonesia jaman dulu. Sungguh artistik. Tempat tidur nomor satu lengkap dengan kelambu yang menjuntai dan tiang-tiang penuh ukiran dari pulau dewata. Juga ada sofa warna pastel yang lembut di bagian kanan ruangan yang berhadapan dengan tempat tidur. Meja kecil sederhana ukuran sedang. Ruangan itu hampir di kelilingi dengan lemari pakaian yang dibuat menempel dengan dinding. Hanya yang terlihat agak aneh, ada sesuatu yang tampak sengaja di tutup kain lebar, kain nuansa batik berwarna cokelat, lumayan tinggi dan besar. Apa itu? Kain tersebut sedikit melambai dan berayun, seolah bergerak sendiri seperti terkena angin. Mungkin saja karena hembusan angin dari pendingin ruangan yang memang letaknya berdekatan. Penasaran. Sesuatu rahasia yang selalu disembunyikan pak Ahmad. Ia sering terlihat berdiri di depan sesuatu itu. Seperti malam ini. Dentang jam dua belas malam terdengar sayup. Namun pak Ahmad tersenyum memandangi benda tertutup kain di depannya itu. Sambil bibirnya terus bergumam. Kalimat-kalimat zikir. Sesaat kemudian ia menuju kamar mandi. Di bagian kiri kamar, memang ada pintu lain. Dan itu adalah kamar mandi utama. Lumayan luas. Karena ada bath up, shower khusus, wastafel, dan kloset duduk yang agak kepojokan. Serba putih. Bersih. Kering. Pak Ahmad berwudhu. Sesaat kemudian, tampak sedang sholat.

Seisi rumah hening. Dan malam pun semakin larut.

“Assalamualaikum adikkuuuu..” Tok tok tok, terdengar suara ketokan pintu. Raisya yang baru saja menyelesaikan sholat subuh, hanya berucap sebentar menjawab salam kakaknya dan kembali khusuk berdoa. Kak Zahra sudah masuk dan duduk di pinggiran kasur. Begitu Raisya mengusapkan tangannya ke wajahnya, sambil berucap “aamiin yaa rabbal alaamiin..” Kak Zahra langsung mencecarnya dengan pertanyaan. “Cha.. gimana aku? Sudah cantikkah? Bagus gak? Ini make up nya terlalu menor ya? Ayooo jangan diem aja.. gimanaa ?” “MasyaAllah kak.. sesubuh ini sudah siap aja. Mandi jam berapa tadi?” Kak Zahra cemberut. Pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan lagi. Seakan bisa membaca pikiran kakak kesayangannya itu, Raisya langsung menjawab lagi dengan cepat “Cantiiiiik.. cantiiiik.. iyaa, beneran pas. Mantul deh pokoknya kakakku ini..” sambil memeluk kakaknya Raisya tersenyum. “Jangan kencang-kencang dek.. nanti baju kakak kusut” Lalu mereka berdua tersenyum.

“Baiklah.. karena hari ini kakak sudah rapi, biar aku aja yang menyiapkan sarapan ya. Roti dan teh hangat, mau?” “Mauuuu”

Mereka melangkah keluar kamar. “Eh, kamu duluan aja ke bawah ya. Aku mau cek Raka dulu, dah sholat subuh apa malah belum bangun” “Siap bu booos... Xixixixi” sambil tertawa kecil aku melenggang meninggalkan kak Zahra di atas.

Pintu kamar Raka ternyata sudah terbuka. Berarti Raka sudah bangun. Kak Zahra melongo ke arah dalam kamar. Tiba-tiba “Baaaa” “Astaqfirullaaaaah.. Rakaaaaaaa” teriakan kak Zahra memenuhi ruangan atas. Terdengar sayup sampai ke bawah. Raisya yang ikut mendengar teriakan itu, langsung meletakkan roti yang sedang dipegangnya dan berlari ke atas. Sambil terengah-engah Raisya “a..da.. a..pa.. kak..” sementara kak Zahra dan Raka sedang lari-larian kecil mengelilingi kamar Raka yang tidak terlalu besar itu. Dan dalam sekali tangkapan akhirnya Raka berhasil kena cengkraman kak Zahra.. “Raka nih.. jail banget.. ayooo mau lari kemana kamu..” “Hahahaha... Ampuuun kak.. ampuuuun... Aku kan hanya bercanda kak... Maafin yaa..” Raka terseyum. Kak Zahra masih cemberut sedikit. Soalnya tadi itu, kak Zahra memang super kaget. Memang orangnya kagetan. Dan Raka adalah adik yang usil, senang sekali bikin kakaknya terkaget-kaget. “Astaqfirullah, aku pikir ada apa. Sudahlah kak.. ayoo kita turun. Raka dah sholat subuh?” tanya Raisya. “Sudah kak, aku mau mandi dulu ya kak. Kakak duluan aja” Raka mengambil handuk yang sudah tergantung di kursi belajarnya dan setengah berlari menuju kamar mandi yang ada persis di depan pintu kamarnya. “Ya sudah.. aku duluan kak, tadi aku sedang masak air, mudah2an belum mendidih” Raisya berjalan cepat, meninggalkan kak Zahra sendirian.

Bab 3

0 0
#Sarapankata

#SarkatJadiBuku

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day4

#Jumlahkata706

Kakaknya itu masuk kembali ke kamar Raka. Dilihatnya sekeliling. Kamar nuansa biru, warna kesukaan Raka. Rapi. Kak Zahra tersenyum. Bangga. Adiknya yang sangat usil itu, benar-benar cepat sekali dewasa. Membersihkan kamarnya sendiri, mengaturnya, dan bersih. “Alhamdullillaah..” Dia memandangi sebuah foto di sudut meja belajar, sambil tersenyum. Hanya Raka yang masih memajang foto itu. Sudah agak buram, walaupun tetap bersih dan tidak berdebu. Sesaat kemudian, kak Zahra keluar dari kamar Raka dan menutup pintunya. Menuruni tangga pelan, sambil mengatur baju dan merapikan kerudungnya.

Cantik. Kak Zahra memang cantik.

“Ayah, Zahra berangkat lebih cepat ya. Hari ini ada test wawancara di kota. Zahra pakai motor aja.”

“Kakak berangkat sendirian? Tidak bersama ayah?” jawab ayahnya.

“Iya ayah, gak apa-apa. Soalnya Zahra belum tau selesainya sampai jam berapa.”

“Ya sudah. Tapi tetap hati-hati ya nak. Setelah selesai urusannya, langsung pulang. Tidak main kemana-mana.”

“Baik ayah. Zahra pamit ya” Kak Zahra menciumi tangan ayah.

“Oya, ini untuk uang sakumu.”

“Tidak usah ayah. Uang Zahra masih cukup. Nih ada..” sambil membuka dompetnya, kak Zahra melihatkan beberapa lembar uangnya. “Baiklah. Hati-hati. Jaga diri. Semoga sukses ya nak.”

“Terimakasih ayah.”

“Hati-hati kak Zahra.” Si bungsu ikut nyeletuk, sambil menyalami kakak sulungnya itu. “Ya kak. Semoga berhasil ya. Kami mendoakan kakak.” Raisya juga menyemangati.

“Assalamualaikum”

“Waalaikummussalam”

Lalu kak Zahra melangkah menuju pintu yang mengarah ke garasi. Mengeluarkan motor kesayangannya, dan bersegera berangkat.

Sementara, Raisya, Raka dan pak Ahmad melanjutkan sarapan. Hening sejenak. Menikmati makanan dan minuman yang tersedia di meja. Sampai “Ayah, Raka hari ini ada les bola ya. Jadi nanti Raka pulangnya bareng kak Echa ya.” “Oh baiklah nak.”

“Sekalian berangkat sama kakak aja dek. Hari ini kakak masuk pagi. Mau?”

“Asiiiiik.. mau kak. Boleh ayah?”

“Ya boleh. Asalkan jangan bercanda di atas motor ya”

“Siap pak bos” Raka mengangkat tangannya memberi hormat pada ayah. Raisya tersenyum. Memang ada-ada saja tingkah Raka yang membikin suasana rumah jadi lebih berwarna. “Kak Raisya buruan sana mandi. Aku sudah mandi loh. Nanti kita terlambat.” “Iyaa.. ayah Raisya tinggal ya.. mau siap-siap dulu.” “Aku ikuuuuut kak” sambil berlari kecil Raka menyusul.

“Kak kita berangkat jam setengah tujuh aja ya. Biar Raka ada waktu buat main di sekolahan.” Berusaha membujuk kakaknya. “Terlalu cepat Raka. Kita berangkat jam tujuh kurang lima belas menit.” Ujar Raisya. “Kakak maaah..” Raka merajuk. Raisya mengarahkan pandangannya ke Raka sambil agak membesarkan mata. Mengisyaratkan ketidaksetujuannya. “Ooooh.. jadi kamu minta berangkat sama kakak, supaya bisa lebih pagi sampai sekolah ya? Kalau begitu, kakak gak mau ah. Nanti malah kamu kelamaan main. Keburu capek. Jadi gak fokus belajarnya.” “Kakaaaak.. iyaa.. iyaa.. kita berangkat jam tujuh kurang lima belas deh.”

Raisya membuka pintu kamarnya dan menyuruh Raka beres-beres di kamarnya sendiri. “Dah sana, ganti baju dan siapkan bukunya. Jangan ada yang terringgal.”

“Ya kak”

Raisya pun santai. Masuk kamar mandi dengan agak sedikit malas. Ia berfikir, hari ini akan menjadi hari yang membosankan. Karena kak Zahra seharian mengikuti test, entah sampai malam. Hmmm..

Sambil mandi, pikirannya masih berkelana. Hari ini aku mau petualang aja. Setelah pulang sekolah nanti kan Raka ada les bola. Jadi aku bisa jalan. Pikirnya begitu. Siapa tau nanti aku bisa bertemu ibu yang kemarin. Siapa yaa namanya? Raisya menggaruk kepalanya seakan berfikir keras mengingat kejadian kemarin. Oh iyaaaa... Raisya pun tersenyum. Ibu Entin. Yaa.. mudah-mudahan bisa bertemu lagi.

“Kak Raisya..” suara Raka yerdengar dari depan pintu kamar. “Yaa dek.. sebentar. Kakak masih beberes dulu. Tunggu di bawah aja.” Terdengar suara langkah Raka menjauh. Agak cepat. Sepertinya dia berlari. Memang anak laki-laki, aktifnya berbeda dengan anak perempuan. Tenaganya super. Jadi gerakannya lebih gesit. Lari sana. Lari sini. Mungkin ototnya gatal-gatal ya. Raisya tersenyum sendiri.

“Ayah, ayah kok belum ganti baju?” Tanya Raka terlihat nadanya agak bingung, karena melihat ayah masih duduk di ruang depan dan belum rapi. “Ayah kurang sehat nak. Nanti siang aja ayah ke kantornya.” “Loh, ayah sakit?” Raka mendekat, menyentuh ayah dan berkata, “Tapi tangan ayah tidak panas. Ayah sakit kenapa?” “Tidak apa-apa, hanya perut ayah sedikit sakit. Jadi ayah mau istirahat sebentar.” “Raka ambilkan obat ya ayah.” Sambil berjalan menuju ruangan makan, Raka melanjutkan omongannya “Ayah harus minum obat supaya cepat sembuh perutnya.” Gaya ngomongnya sudah seperri orang dewasa. Padahal ia sendiri tidak tau yang mana obat untuk sakit perut itu. Akhirnya, semua obat yang ada di dalam kotak obat, dikeluarkannya.

Bab 4

0 0

#sarapankata #sarkatjadibuku #kmoindonesia #kmobatch43 #kelompok15 #bluemorpho #day5 #jumlahkata713

 

Ayah hanya tersenyum melihat tingkah anak laki-lakinya itu. “Sudah sini. Biar ayah saja yang mencari obatnya sendiri. Kamu memangnya tau yang mana obatnya?” Raka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Maafin Raka ya ayah..” “Tidak apa-apa nak.” Ayah mengambil satu obat, dan meminumnya. “Alhamdulillaah.. mudah-mudahan ayah cepat sembuh yaa Allah.. aamiin..” Raka berdoa sambil mengangkat kedua tangannya. Ayah masih duduk di ruang makan. Raisya yang melihat ayah minum obat dari kejauhan, menghampiri dan memeluk ayah. “Ayah sehat ya.. Raisya sayang ayah.” “Iya nak.” Melihat adegan itu, si kecil pun tak mau kalah. “Raka juga sayang ayah. Sayaaaang banget.” Tak kalah erat rangkulan Raka. Membuat pak Ahmad tersenyum melihat tingkah anak-anaknya. “Ayah, Raka ijin sekolah aja ya.” “Lho kenapa?” “Raka mau jagain ayah di rumah. Kan ayah lagi sakit.” “Gak usah Raka. Ayah hanya sakit perut sedikit, kan sudah minum obat. Nanti kalau sudah enakan, ayah juga berangkat ke kantor.” “Benar begitu ayah?” Raka meyakinkan dirinya sendiri. Dalam hatinya ia merasa tak tega membiarkan ayah di rumah sendirian karena sedang sakit. Sebaliknya, ketika ia sakit, ayahlah selalu yang mendampinginya. “Berangkatlah nak. Sudah jam tujuh kurang sepuluh itu.” “Iya ayah. Ayah baik-baik ya. Kalau ada apa-apa, telpon Raisya ya ayah.” Raisya, meskipun masih duduk di bangku sekolah, tapi juga pikirannya sudah dewasa. Lebih dewasa dibanding usianya. Karena tuntutan keadaan. Sekolahnya tidak memperkenankan siswanya membawa handphone, tapi jika diperlukan, bisa dititipkan pada guru piket. Tujuannya agar tidak mengganggu saat jam tatap muka. Kalau Raka, memang belum diperbolehkan sama sekali membawa handphone ke sekolah. Karena itu jugalah, ayah belum membelikan Raka handphone sampai saat ini. Masih sekolah dasar. Belum saatnya punya gadget, begitu pikiran ayah. “Raisya berangkat ya ayah.” Lalu mencium tangan ayahnya. Disusul Raka. Ayah tersenyum. “Baik nak, hati-hati di jalan ya.” Anak-anak ayah yang hebat. Mudah-mudahan kalian bisa meraih cita-cita kalian dengan baik. Ayah sayang kalian semua. Zahra. Raisya. Raka. Kalianlah pelita hati ayah. Maafkan ayah yang masih saja kurang dalam memberi perhatian dan memenuhi kebutuhan kalian. Ayah membatin. Seiring Raisya dan Raka melangkah ke garasi. Mengeluarkan motor. Dan tidak berapa lama, terdengar suara motor menjauh. Pak Ahmad melihat dari jendela. Air yang menggenang di pelupuk matanya, menetes juga. Sedari tadi susah payah ditahannya. Yaa Allah. Tolong kuatkan aku menjalani semua ini. Sayangi anak-anak aku yaa Rabb.. Lagi, ia membatin. Kemudian ia berjalan ke kamar, berniat ingin rebahan sebentar. Menghilangkan rasa mual dari sakit perut yang dirasakannya pagi ini. “Dek, nanti di sekolah belajar yang baik ya. Jangan bandel. Jangan usil.” “Iya kak. Aku di sekolah selalu jadi anak baik kok. Kakak gak usah kuatir.” Raisya tersenyum mendengar jawaban adiknya. Pintar. Tidak selalu merepotkan. Walau sedikit usil kalau sedang di rumah. Itulah Raka. “Alhamdulillah.. kita sudah sampai.” Raisya menyalami Raka. “Kakak hati-hati ya. Jangan lupa jemput Raka jam tiga ya. Kan Raka pulang sekolah langsung ada les bola.” “Iya.. iyaa.. kakak ingat kok. Bye dek... Assalamualaikum..” “Waalaikummussalam” Raka memandang kak Raisya yang semakin menjauh. Kemudian ia masuk ke sekolahnya. Dan bertemu dengan teman-temannya. Sekolah Raka jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah Raisya. Sekitar lima belas menitan naik motor. Jadi tidak terlalu sulit bagi Raisya untuk antar jemput Raka. Sudah biasa juga. Setiap ada les bola, Raisya selalu kebagian menjemput Raka. “Hai Raisya!” Suara khas sahabatnya terdengar akrab ditelinga. “Indri? Titi mana?” Raisya menanyakan sahabatnya yang satu lagi. Mereka bertiga dekat. Cukup akrab. “Titi hari ini gak masuk sekolah Cha.. ijin dia.” “Lho.. kenapa In? Sakit?” “Gak sakit sih. Katanya tadi nelpon aku, ada urusan mendadak. Buru-buru gitu ngomongnya. Gak tau juga urusannya apa.” “Hmmm.. begitu ya..” Titi kenapa ya? Gak biasanya dia ijin sekolah. Titi adalah siswa yabg sangat rajin. Juara kelas. Anak yang baik dan sopan. Ramah sama semua teman. Raisya agak bingung, karena Titi tidak menghubunginya. Urusan apa ya? Pikirnya. Mudah-mudahan urusannya untuk kebaikan. Dan dilancarkan. Aamiin. “Yuuk masuk kelas.” Ajak Indri. Raisya tersenyum dan mengangguk. Merekapun segera berjalan ke arah kelas. Indri anaknya riang. Terkadang suka bercanda. Cantik. Anak orang kaya di kampungnya. Bapaknya pengusaha. Peternakan kambing dan sapi. Tapi dia dibesarkan dan tinggal disini dengan tantenya. Adik ibunya yang tidak punya anak. Ayah dan ibunya hidup dikampung. Walau begitu, Indri selalu riang. Ia memilih tinggal di kota kecil ini, karena sekolah dikampungnya terlalu jauh jaraknya dari rumah mereka. Sementara disini, rumah tantenya hanya berjarak lima kilometer dari sekolah. Padahal ia anak semata wayang.

Bab 5

0 0

 

#Sarapankata

#SarkatJadiBuku

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day6

#Jumlahkata712

Kesayangan orang tuanya. Saking sayangnya, apapun yang diminta Indri ke orangtuanya, selalu dipenuhi.

Jam bergerak lamban. Hari terasa begitu lama. Sampai ketika bu Dosen berdiri dan berkata “Terimakasih, kita lanjutkan lusa.”

Suara gemuruh anak-anak menyertai usainya jam pelajaran. Begitulah rutinitas kampus. Ketika jam istirahat tiba, selalu ada teriakan, tawa riang, gurauan, dan suara-suara bergemuruh dari setiap kelas. Hawanya gembira kalau sudah sampai di jam istirahat.

Raisya masih sibuk menunduk dan menulis. “Cha.. ke kantin yuk!” Ajakan Indri sangat sederhana. Tapi cukup membuat Raisya melihatnya dan berhenti menulis. “Aku selesaikan ini sebentar yaa. Setelah itu mau ke toilet dulu.” Jawab Raisya datar. Lalu ia lanjut menunduk, menulis. “Kamu ngerjain apa sih?” penasaran Indri berusaha mendekatkan wajahnya dan membaca rangkaian kata-kata yang di tulis sahabatnya itu. Sesaat kemudian, Indri menggaruk kepalanya, walau tidak gatal. “Gak ngerti aku Cha, apaan itu?”

Raisya tersenyum. “Nah.. sudah selesai.. Aku ke toilet dulu ya..” Raisya merobek kertas bukunya selembar, yang berisi tulisan itu. Melipatnya. Memasukkan ke saku celananya. Bukunya dikembalikan ke dalam tas, berdiri dan berjalan ke arah toilet yang letaknya di ujung lorong dari sederetan kelas. Indri mengikuti langkahnya. “Cha.. aku ikut ya! Setelah itu kita ke kantin loh.” “ Iyaa..” jawab Raisya sekenanya. Toilet kampus mereka sangat bersih. Pak Udin sang petugas kebersihan, memang sangat berhati-hati dan teliti dalam menjalankan tugasnya. Termasuk membersihkan toilet. Disini hanya ada toilet khusus wanita. Sementara untuk pria, toiletnya di ujung lorong satunya. Tata letak yang baik. Sehingga tidak akan ada pertemuan antara siswa perempuan dan laki-laki di dekat toilet, yang akan menimbulkan kegaduhan. Pemikiran yang cerdas. Ibu Nurbaiti selaku dekan fakultas kedokteran hewan, seorang lulusan S3 pendidikan. Wanita yang bijaksana. Wanita hebat yang sudah memimpin kampus ini lebih dari lima tahun. Banyak mahasiswa yang mencintainya, termasuk alumni yang sudah sempat lulus. Jadi bagaimanapun aturan yang berlaku di sini, pasti diterima oleh mereka dengan sangat senang hati.

“Yuk ke kantin!” seru Raisya yang mengagetkan Indri. “Makanya.. jangan sering melamun...” sambungnya. “Aku gak melamun Cha. Cuma lagi mikirin Titi.. Tar kita ke rumahnya yuk..” “Yaa.. pastilah!” mereka berjalan ke kantin. Nah, kalau kantin ini posisinya ada di arah gerbang. Lebih tepatnya dekat tempat parkiran mobil dan motor. Kantin ini lumayan luas. Cukup untuk menampung banyak orang yang ingin duduk dan makan di sana. Yang menarik adalah si ibu pengurus kantin. Biasa dipanggil Bude oleh anak-anak, karena memang logatnya yang jawa medok. Tapi entahlah, asalnya dari mana. Masakannya juga enak-enak. Sesuai dengan selera mereka. Termasuk Raisya, Indri dan Titi yang memang gemar makan di tempat itu. “Walaaaah... Neng-neng ini, kenapa toh cuma berdua an saja? Neng yang satunya mana? Tumben gak ngikut ke kantin?” Begitu sampai, Raisya dan Indri sudah lebih dulu ditegur Bude. “Titi gak masuk Bude. Lagi ada keperluan.” “Waaalaaah... Iya toh.. kalau begitu, mudah-mudahan lancar urusannya yaa neng.. Semoga Allah memberikan kemudahan..” sambung Bude nyerocos panjang. “Aamiiin...” Serentak mereka menjawabnya. “Aku mau pesan nasi goreng yaa Bude. Jangan terlalu pedas. Minumnya teh tawar hangat.” Indri melirik Raisya. Tumben sahabatnya ini pesan makanan berat saat jam istirahat. Bukannya biasanya hanya beli kue-kue dan minuman saja. Melihat Indri hanya diam dan menatapnya, Raisya mengibaskan tangannya persis di depan wajah teman dekatnya itu. “Hellooooww.. ada orangkah di sana?” canda Raisya, membuat Indri terkaget dan sadar. Bude hanya tersenyum dan menggeleng kan kepalanya melihat tingkah laku dua anak remaja didepannya itu. “A..aku.. eh.. mm.. pesan.. apa yaa.. sama aja deh Bude.” Sambil tangannya menunjuk ke arah Raisya, mengisyaratkan pesanan yang sama. “Eh, tapi minumnya air mineral dingin, kan aku gak doyan teh tawar, apalagi kalau panas.” Indri berusaha menjelaskan, walaupun sebenarnya tidak ada yang bertanya tentang itu. Hmmm..

Merekapun duduk di meja agak ke tengah. Berhadapan. “Hai Cha..!!” seseorang melambai ke arah Raisya. Suara itu, semua siswa pasti sudah hafal. Termasuk Indri. Dan Raisya. Rio Afridal. Siapa sih di kampus ini yang tidak mengenalnya. Minimal tau namanya. Populer. Tenar. Yap. Sudah bisa ditebak. Dia memang bintang kampus. Standartlah. Seperti bintang kampus pada umumnya. Tinggi dan berat badannya proporsional. Kulit tidak hitam, tapi juga tidak terlalu putih. Muka? Yaa... Pasti gantenglah. Hidung mancung. Alis tebal berjejer rapi. Mata tajam seperti mata elang. Sosok yang hampir sempurna. Anaknya juga cerdas. Pintar bergaul, jadi disukai semua anak-anak lain. Termasuk tiga sejoli itu.

Indri menoleh ke arah Raisya. Agak bingung. Rio? Kenal dengan Raisya. Kita kan beda jurusan. 

Bab 6

0 0

#Sarapankata

#SarkatJadiBuku

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day7

#Jumlahkata700

Rio anak jurusan Teknik yang sebelahan dengan jurusan mereka, kedokteran hewan. Raisya tak bergeming. Seiring dengan pesanan mereka yang datang diantar pelayan kantin, karyawannya Bude. “Terimakasih.” Suara Raisya terdengar jelas. Namun pelan. Raisya membiarkan Rio mendekat, tanpa menoleh sedikitpun. “Raisya, aku mau ngobrol sebentar ya.” Rio menatap Indri mencoba menyampaikan sesuatu lewat tatapan matanya. Tapi Indri malah melongo. “Boleh? Sebentar saja..” Rio kembali melanjutkan, sambil minta ijin sama Indri, berharap agar Indri bergeser sedikit atau agak menjauh sedikit. Akhirnya Indri pun cukup mengerti. “Baiklah. Silahkan..” Lalu Indri berdiri, meninggalkan pesanannya dan berjalan ke arah kasir, dekat Bude berdiri. Sementara Raisya masih diam. “Cha, semalam chat aku tidak dibalas. Ada apa?” Rio duduk, berhadapan dengan Raisya dan menatapnya tajam, namun lembut. “Gak ada apa-apa. Aku hanya agak lelah semalam.” Sepintas suara Raisya terdengar agak malas. “Tapi kan chat aku itu penting. Kamu malah hanya membacanya saja. Itukan kemarin isinya pertanyaan.” Jelas Rio berharap agar Raisya lebih mengerti. “Sudahlah Rio. Aku gak suka dilihat banyak orang karena kamu duduk di depan aku. Termasuk Indri. Lihat tuh. Matanya tertuju pada kita.” “Astaqfirullaah Raisya.. ada apa?” Rio kebingungan menerima selembar kertas. “Ini apa Cha?” “Baca ya. Biar kamu mengerti. Sudah Rio. Sana buruan. Semakin lama kamu duduk di sini. Semakin lama pula teman-teman melihat aku dengan tatapan yang aneh.” Raisya setengah berbisik. Pelan. Seakan gak mau terdengar yang lainnya. “Baik. Nanti aku tunggu pas pulang ya. Di luar gerbang!” Tegas Rio mengeluarkan kalimat itu. Raisya lagi-lagi hanya diam. Berharap semoga Rio bisa mengerti setelah membaca isi tulisannya itu nanti. Sebelum pergi, Rio sempat menghampiri Indri. “Terimakasih Indri.” Tanpa nada yang jelas, Rio berbicara sangat datar sekali. Tapi Indri menyambutnya dengan terbelalak. Sementara Rio menjauh dan menghilang, Indri berlari ke arah Raisya. “Chaaa... Di.. diaa tau nama aku.. Ri.. rio kenal aku chaaa...” suara Indri sedikit keras. Membuat beberapa mata langsung mengarah kembali ke Raisya. “Aku gak nyangka loh!”

“Ssst.. jangan teriak In.. semua orang ngeliatin kita tuh.” Raisya berucap sambil tetap menunduk dan menyuap makanan nya. Bismillahirrahmanirrahim.. batinnya. Indri melemparkan pandangan ke sekitar. Benar. Beberapa teman di kantin sedang memperhatikan mereka. Ngapain sih, ngurusin masalah orang. Indri kesal. Dia pun duduk kembali. Lalu menyusul Raisya yang audah lebih dulu menyuap makanannya. Nasi goreng buatan Bude ini memang jempolan. Rasanya pas sekali di lidah. Tidak terlalu pedas. Juga tidak kemanisan. Bumbu yang diraciknya pun cukup. Campuran telur, sosis dan suwiran daging ayam, semuanya sesuai porsinya. Jadi kalau kita baru sekali mencobanya, sudah pasti akan ketagihan dan ingin berulang kali memesannya lagi. Tak jarang orang luar pun, ikut bertandang ke kantin Bude, karena ingin mencicipi kenikmatan olahan tangan Bude yang pintar memasak. Mungkin mereka tau dari mulut ke mulut, sehingga pada berdatangan hanya untuk duduk, makan dan ngobrol. Apalagi posisi kantin terletak di bagian parkiran, jadi pas lah. “Cha, Rio tadi ada apa?” Indri sudah melembutkan suaranya. Sambil tetap makan dan mengunyah, ia bertanya, karena rasa penasaran dalam hatinya membuat rasa ingin tahunya tidak bisa dibendung. Walaupun terus mengunyah, ia melanjutkan pertanyaannya. “Rio kenal kamu dimana ya? Kok kamu gak pernah cerita.” “Udaaah.. makan dulu In. Habiskan dulu. Tidak baik ngobrol sambil makanan masih tetap ada dimulut kita. Selesaikan dulu ya..” Raisya berusaha menjelaskan. Tapi Indri tidak mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya tadi. Walau begitu, Indri kembali menunduk, menyuap satu persatu makanannya dengan tempo yang lebih cepat. Tujuannya apa? Yaa.. pastilah supaya ia bisa lebih cepat memuaskan rasa ke-kepo-annya. Hmmm.. Melihat tingkah sahabatnya itu, Raisya hanya tersenyum tipis. Indri.. Indri.. masih saja seperti anak-anak. Gak berubah dari semenjak Raisya mengenalnya di sekolah menengah atas. Yaa.. mereka dulu satu sekolah. Titi juga. Makanya sampai kuliah pun, mereka menjadi sangat akrab. Bukan berarti mereka tidak bergaul dengan teman yang lain. Bukan. Mereka punya banyak teman. Dekat dengan siapa saja. Mereka anak-anak baik. Jadi banyak juga teman yang menyukai mereka. Hanya Raisya, Indri dan Titi, punya frekuensi pertemanan yang sangat dekat dan saling mengisi satu sama lain. The best. Remaja masa kini, harus memberi contoh yang baik untuk adik-adiknya. Agar bangsa kita bisa menjadi bangsa maju yang berakhlak mulia. Aamiin.

“Alhamdulillaah..” Indri menyelesaikan suapan terakhirnya. Berbarengan dengan dengan Raisya yang tinggal beberapa sendok juga habis. “Alhamdulillaah..” “Nasi goreng Bude gak ada tandingannya ya Cha.” Indri mulai mencoba kembali membuka obrolan. 

Bab 7

0 0

#sarapankata #sarkatjadibuku #kmoindonesia #kmobatch43 #kelompok15 #bluemorpho #day8 #jumlahkata705

 

Iya ya.. nikmat banget. Eh, yuuk ke kelas, bukannya setelah ini kita masuk ke pelajaran Pak Edi? Tugasnya kemarin sudah bikin In?” “Tugas apa? Memangnya pak Edi ada tugas ya? Loh.. Yang mana?” Indri tampak bingung. Raisya santai berdiri. Kemudian tersenyum. “Nah.. ayoo.. kita ke kelas. Nanti aku liatkan tugasnya.” “Tunggu. Tugas yang mengumpulkan nama-nama latin itu ya? Itu kan tugas minggu lalu. Aku sudah kerjakan.” “Iyaa yang itu... Minggu lalu kan belum jadi dikumpulkan. Hari ini baru akan diserahkan ke pak Edi.” Raisya menjelaskan. Indri menyunggingkan bibirnya. Senyum sedikit. Ia punya firasat, kalau temannya Raisya berusaha menghindar dari pertanyaannya yang tadi. Pas awal sedang makan. Tentang Rio. “Hmmm.. kamu yaa.. ada aja cara buat menghindar dari aku. Ish.. sama sahabat sendiri juga main rahasia-rahasiaan. Kenapa sih Cha?” “Rahasia apa Indrii?” Jawab Raisya tetap dalam keadaan setenang mungkin. Padahal memang benar. Sahabatnya itu bisa merasakan maksud hati Raisya yang memang malas membahas perihal Rio. Bahwa Rio.. Rio itu.. “Heeii.. malah melamun.. yaa sudahlah. Kalau saat ini kamu belum mau cerita, aku akan tunggu sampai kamu siap bisa cerita. Aku gak mau memaksa. Kamu kan sahabatku. Kesayangan aku.” Indri menyentuh tangan Raisya. “Tapi awas aja yaa! Kalau ternyata Rio suka sama kamu! Dia punya aku!!” Indri ketus membuat pernyataan. Raisya sedikit terkejut. Hatinya bergemuruh. Indri suka Rio. Astaghfirullah... Bagaimana ini? Aku mesti gimana ya? Sementara surat tadi sudah terlanjur diberikannya. Indri. “Hahahaha.. tapi bo’ong! Hahahaha...” dengan nada bercanda dan tertawa sedikit keras, Indri menyambung pernyataan ttadi Tapi dengan begitu, Indri jadi tau. Karena raut muka Raisya saat ia tadi ngerjain sahabatnya itu, terlihat jelas. Raisya. Sebenarnya ia tidak bermaksud menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya itu. Cuma saat ini rasanya belum pas untuk menceritakan semuanya. Jadi ia hanya membiarkan begitu saja, Indri berkecamuk dan menebak-nebak sendiri, tentang kejadian sebenarnya. Biarlah. Karena aku belum siap. “Yuuuk..” Indri menarik tangan Raisya. Mengajaknya melangkah menuju kelas. Sambil menatap lurus ke depan, dan hatinya berantakan. Aku memang menyukainya. Menyukai Rio. Yaa Allaah.. bagaimana ini? Ternyata sahabatnya sudah lebih dulu bergerak. Dan aku. Mesti mengalahkah? Sanggup?

“In, nanti aku pulangnya bareng Raka ya. Dia ada les bola hari ini.” Raisya berujar, membuat buyar lamunan Indri. “Eh, iyaa.. gak apa-apa. Nanti aku bisa bareng teman lain. Mungkin Ara atau Feeza bisa, mereka kan searah dengan aku. Kamu gak usah kuatir.” Indri, walaupun bapaknya banyak duit, tapi tetap saja low profile. Tidak sombong. Bahkan ke sekolah pun terkadang naik angkot, kalau gak ada yang bisa diajakin nebeng. Soalnya Indri gak bisa mengendarai motor. Apalagi mobil. “Maaf ya. Iya, soalnya pas hari ini Titi gak masuk juga. Aku pun gak bisa. Maafin ya In..” “Iyaa.. kamu apa an sih.. kan aku sudah bilang, gak masalah. Santai Cha..” Mereka tersenyum. Lalu masuk ke dalam kelas. Dan duduk bersebelahan. Kuliah pak Edi pun segera dimulai. Profesor itu dengan gagahnya masuk, dan duduk di bangku dosen. Lalu menyalakan proyektor dan mulai menjelaskan satu persatu pelajarannya. Setelah hampir dua jam berkutat dengan penjelasan itu “Nah anak-anak, saatnya kita masuk untuk tugas minggu depan. Tolong segera di catat ya. Kerjakan di kertas hvs, buat serapi mungkin, di jilid, dan kumpulkan saat pertemuan selanjutnya. Baik, pelajaran selesai. Terimakasih. Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam warahmaatullahi wabarakatuh...” serentak anak-anak menjawab dengan lantangnya.

Pak Edi berjalan ke luar kelas. Membawa semua jurnal dan tumpukan tugas kemarin yang sudah dikumpulkan tadi. Seisi kelas berisik. Riuh. Saatnya pulang. Beberapa teman ada yang melanjutkan pengambilan mata kuliah lain. Tapi Raisya dan Indri terlihat tidak. Mereka sudah selesai hari ini. Sambil berjalan ke arah kantor Jurusan, mereka mesti mengambil handphone yang tadi sudah dititipkan. “Cha, aku coba tanya Ara yaa.. kamu kalau mau balik, yaa duluan aja. Gak papa” “Baik In.. kamu hati-hati yaa..” Raisya berjalan. Menjauh dari Indri, menuju arah parkiran motor. Sementara Indri sendirian berdiri tanpa ekspresi. Juga tak ada niat untuk melangkah. Dia hanya diam ditempat itu. Padahal hari ini sangat terik. Matahari bersinar begitu terangnya di jam satu. Lalu Indri tersadar. Astaghfirullah.. aku kan belum sholat zuhur. Raisya juga belum. Apa Raisya lupa ya? Karena tadi terlalu terburu-buru untuk pergi. Indri membalikkan badannya. Dari kejauhan ia malah melihat Rio bersama teman-temannya sedang menuju mushola. Indri menunduk. Mukanya memerah. Seperti putri malu. Padahal kemarin-kemarin, sebelum kejadian di kantin tadi, ia masih biasa saja kalau sedang berselisih pandang sama Rio. Kenapa saat ini malah jadinya jantung serasa mau copot ya.. Hati Indri berbisik. Rio memang tampan. Anak fakultas teknik. Idola banyak mahasiswi di kampus mereka. Seketika Indri tersadar, yaa Allaah.. aku kan mau sholat. Mikir apa sih. Lalu melanjutkan perjalanannya ke arah mushola.

Benar. Rio dan teman-temannya itu juga sholat. Biarlah. Yang penting aku harus menenangkan perasaanku. Hmmmm.. Indri menghela nafas agak dalam dan panjang. Bisa.

 

 

Bab 8

0 0
#sarapankata #sarkatjadibuku #kmoindonesia #kmobatch43 #kelompok15 #bluemorpho #day9 #jumlahkata709

Sementara, Raisya yang sedang mengendarai motornya, tiba-tiba berhenti di pinggiran jalan. Astaghfirullah.. aku kan belum sholat Zuhur. Yaa Allaah.. kenapa aku sampai lupa.. maafkan aku.. Raisya segera menyalakan motornya, dan mengarahkannya ke mesjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berhenti tadi. Mesjid itu juga sudah menjadi langganan Raisya dan teman-temannya kalau sedang jalan janjian jalan keluar. Karena posisinya yang strategis, mudah dijangkau, mesjid Al Amin menjadi tempat favorit mereka berkumpul. Parkirannya yang luas. Pepohonan yang tumbuh subur, berserta taman yang indah, membuat mesjid itu sangat nyaman dan adem. Betah kalau berlama-lama disana. Raisya twringat sahabatnya Indri. Sepertinya Indri juga tadi terlupa ya.. Lalu mengeluqrkan handphone dari dalam tasnya.

*In, aku lagi di Mesjid Al Amin. Kamu sudah sholat Zuhur?*

Tang ting.

Dering chat dari handphone Indri berbunyi. Indri mengeluarkannya, dan langsung membaca. Ia masih berada di teras mushola. Baru selesai sholat.

*Iya, sudah. Baru saja.*

Raisya yang membacanya mengucap syukur. Alhamdulillah.. ternyata Indri tidak lupa. Raisya melipat mukena masjid itu. Mengembalikan dan merapikan letaknya di tempat semula.

Ia melihat sekeliling. Tidak begitu ramai. Hanya beberapa jamaah wanita, dan dua orang jamaah pria yang terlihat sedang melaksanakan sholat.

Ia berjalan keluar. Sambil memakai kembali sepatunya, ia pun bermaksud melangkah ke parkiran.

Tapi apa? Jantungnya berdegup kencang. Ia kaget. Antara yakin atau setengah yakin, ia mengusap matanya.. Yaa Allaaah..

Apakah benar? Ada disini?

Ia melihat motor itu lagi. Motor dengan segunung dus-dus dan botolan terparkir di mesjid tersebut.

Ibu itu lagi. Raisya mengarahkan pandangannya ke dalam. Apa mungkin salah satu dari jamaah yang sedang sholat tersebut merupakan ibu Entin?

Benarkah Allah mempertemukannya lagi dengan ibu itu? Hatinya berkecamuk. Akhirnya ia memilih untuk duduk di teras mesjid itu lagi. Membuka sepatunya. Dan bersila di teras. Sambil terus berzikir, ia sesekali melihat ke arah dalam.

Tak lama, ia pun bertemu pandang dengan ibu itu. Masih lengkap dengan seragam yang kemarin dilihatnya. Putih biru warnanya.

“Ibu..” Lirih Raisya berujar. Ibu itu pun tersenyum. “Neng. Ketemu lagi kita ya..” “Ibu, apa kabar?” Raisya menyalami bu Entin, mencium tangannya. “Alhamdulillaah.. sehat neng. Neng Raisya bagaimana?” Raisya tersenyum bahagia. “Saya baik bu. Ibu bawa barangnya banyak lagi ya, itu saya liat di motor tadi, penuh banget..” ucap Raisya. Bu Entin tertawa. Ya harus banyak dan penuh. Kalau tidak seperti itu, bagaimana jualannya bisa banyak. Kalau jualan gak banyak, bagaimana roda kehidupannya bisa berputar. Hati bu Entin hanya mampu berbisik. “Iya neng, gak apa-apa. Ibu kan sudah biasa. Alhamdulillah motor ibu gak mogok lagi.” Ingin sekali Raisya memeluk bu Entin. Entah kenapa, batinnya merasakan kesedihan yang dirasakan oleh ibu itu. Lara. Perih. Begitulah yang tersirat dari pancaran matanya. Tapi vibirnya selalu ramah. Menyunggingkan senyum yang manis. Sehingga tak seorangpun tau, beban sebesar apa yang sedang dipikulnya, sendiri.

Raisya pun tidak menyangka akan bertemu bu Entin di masjid ini. Alhamdulillah doanya setelah sholat subuh tadi dikabulkan. Allah memang Maha Mengerti. “Ibu sudah makan siang?” “Sudah neng.” Jawab bu Entin cepat. “Tapi saya belum makan bu.. Maukah ibu menemani saya makan..” Raisya sengaja sedikit berbohong. Walaupun sebenarnya tadi ia sudah melahap nasi goreng Bude kantin, tapi ia masih ingin berlama-lama ngobrol dengan bu Entin. Jadilah ia sedikit memaksa ibu itu untuk makan bersamanya. Raisya juga menebak-nebak, sepertinya bu Entin juga menutupi rasa laparnya. Sepertinya bu Entin belum makan siang. Belum sempat makan siang. “Sebentar ya bu. Tunggu disini saja, saya hanya sebentar.” Pamit Raisya. Ia mencari mamang yang biasa bertugas sebagai parkir. Ia bermaksud menitipkan motor bu Entin dan tumpukan barangnya di parkiran, karena hendak mengajak si ibu makan di warung makan dekat Masjid. “Iya neng, gak apa-apa. Saya yang jagain.” “Terimakasih ya mang” Raisya menunduk pelan. Lalu kembali berjalan ke arah bu Entin yang sedang duduk di teras. “Ayo bu, ikut saya ya..” “Kita kemana neng?” “Makan bu. Yuuuk.. naik motor saya saja. Motor ibu dan barang-barangnya sudah saya titipkan sama mamang, yang jaga parkiran sini bu.” Ibu itu hanya mengikuti saja permintaan Raisya. Diam, sambil tetap senyum. Manis sekali. Mereka menaiki motor, kemudian keluar dari halaman masjid Al Amin. Raisya membelokkan motornya ke arah kiri, menuju warung makan langganannya juga. Makanannya disana juga lumayan enak. Walaupun belum bisa menandingi masakan bude kantin. Hehe.”Kita sudah sampai bu, yuuk..” Raisya menggandeng tangan bu Entin memasuki warung tersebut. “Assalamualaikum teh..” ujar Raisya kepada teteh yang sedang asyik memainkan handphone.

 

 

Bab 9

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok15
#Bluemorpho
#Day9
#JumlahKata709

Sementara, Raisya yang sedang mengendarai motornya, tiba-tiba berhenti di pinggiran jalan. Astaghfirullah.. aku kan belum sholat Zuhur. Yaa Allaah.. kenapa aku sampai lupa.. maafkan aku.. Raisya segera menyalakan motornya, dan mengarahkannya ke mesjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berhenti tadi. Mesjid itu juga sudah menjadi langganan Raisya dan teman-temannya kalau sedang jalan janjian jalan keluar. Karena posisinya yang strategis, mudah dijangkau, mesjid Al Amin menjadi tempat favorit mereka berkumpul. Parkirannya yang luas. Pepohonan yang tumbuh subur, berserta taman yang indah, membuat mesjid itu sangat nyaman dan adem. Betah kalau berlama-lama disana. Raisya twringat sahabatnya Indri. Sepertinya Indri juga tadi terlupa ya.. Lalu mengeluqrkan handphone dari dalam tasnya.
*In, aku lagi di Mesjid Al Amin. Kamu sudah sholat Zuhur?*
Tang ting.
Dering chat dari handphone Indri berbunyi. Indri mengeluarkannya, dan langsung membaca. Ia masih berada di teras mushola. Baru selesai sholat.
*Iya, sudah. Baru saja.*
Raisya yang membacanya mengucap syukur. Alhamdulillah.. ternyata Indri tidak lupa. Raisya melipat mukena masjid itu. Mengembalikan dan merapikan letaknya di tempat semula.
Ia melihat sekeliling. Tidak begitu ramai. Hanya beberapa jamaah wanita, dan dua orang jamaah pria yang terlihat sedang melaksanakan sholat.
Ia berjalan keluar. Sambil memakai kembali sepatunya, ia pun bermaksud melangkah ke parkiran.
Tapi apa? Jantungnya berdegup kencang. Ia kaget. Antara yakin atau setengah yakin, ia mengusap matanya.. Yaa Allaaah..
Apakah benar? Ada disini?
Ia melihat motor itu lagi. Motor dengan segunung dus-dus dan botolan terparkir di mesjid tersebut.
Ibu itu lagi. Raisya mengarahkan pandangannya ke dalam. Apa mungkin salah satu dari jamaah yang sedang sholat tersebut merupakan ibu Entin?
Benarkah Allah mempertemukannya lagi dengan ibu itu? Hatinya berkecamuk. Akhirnya ia memilih untuk duduk di teras mesjid itu lagi. Membuka sepatunya. Dan bersila di teras. Sambil terus berzikir, ia sesekali melihat ke arah dalam.
Tak lama, ia pun bertemu pandang dengan ibu itu. Masih lengkap dengan seragam yang kemarin dilihatnya. Putih biru warnanya.
“Ibu..” Lirih Raisya berujar. Ibu itu pun tersenyum. “Neng. Ketemu lagi kita ya..” “Ibu, apa kabar?” Raisya menyalami bu Entin, mencium tangannya. “Alhamdulillaah.. sehat neng. Neng Raisya bagaimana?” Raisya tersenyum bahagia. “Saya baik bu. Ibu bawa barangnya banyak lagi ya, itu saya liat di motor tadi, penuh banget..” ucap Raisya. Bu Entin tertawa. Ya harus banyak dan penuh. Kalau tidak seperti itu, bagaimana jualannya bisa banyak. Kalau jualan gak banyak, bagaimana roda kehidupannya bisa berputar. Hati bu Entin hanya mampu berbisik. “Iya neng, gak apa-apa. Ibu kan sudah biasa. Alhamdulillah motor ibu gak mogok lagi.” Ingin sekali Raisya memeluk bu Entin. Entah kenapa, batinnya merasakan kesedihan yang dirasakan oleh ibu itu. Lara. Perih. Begitulah yang tersirat dari pancaran matanya. Tapi vibirnya selalu ramah. Menyunggingkan senyum yang manis. Sehingga tak seorangpun tau, beban sebesar apa yang sedang dipikulnya, sendiri.
Raisya pun tidak menyangka akan bertemu bu Entin di masjid ini. Alhamdulillah doanya setelah sholat subuh tadi dikabulkan. Allah memang Maha Mengerti. “Ibu sudah makan siang?” “Sudah neng.” Jawab bu Entin cepat. “Tapi saya belum makan bu.. Maukah ibu menemani saya makan..” Raisya sengaja sedikit berbohong. Walaupun sebenarnya tadi ia sudah melahap nasi goreng Bude kantin, tapi ia masih ingin berlama-lama ngobrol dengan bu Entin. Jadilah ia sedikit memaksa ibu itu untuk makan bersamanya. Raisya juga menebak-nebak, sepertinya bu Entin juga menutupi rasa laparnya. Sepertinya bu Entin belum makan siang. Belum sempat makan siang. “Sebentar ya bu. Tunggu disini saja, saya hanya sebentar.” Pamit Raisya. Ia mencari mamang yang biasa bertugas sebagai parkir. Ia bermaksud menitipkan motor bu Entin dan tumpukan barangnya di parkiran, karena hendak mengajak si ibu makan di warung makan dekat Masjid. “Iya neng, gak apa-apa. Saya yang jagain.” “Terimakasih ya mang” Raisya menunduk pelan. Lalu kembali berjalan ke arah bu Entin yang sedang duduk di teras. “Ayo bu, ikut saya ya..” “Kita kemana neng?” “Makan bu. Yuuuk.. naik motor saya saja. Motor ibu dan barang-barangnya sudah saya titipkan sama mamang, yang jaga parkiran sini bu.” Ibu itu hanya mengikuti saja permintaan Raisya. Diam, sambil tetap senyum. Manis sekali. Mereka menaiki motor, kemudian keluar dari halaman masjid Al Amin. Raisya membelokkan motornya ke arah kiri, menuju warung makan langganannya juga. Makanannya disana juga lumayan enak. Walaupun belum bisa menandingi masakan bude kantin. Hehe.”Kita sudah sampai bu, yuuk..” Raisya menggandeng tangan bu Entin memasuki warung tersebut. “Assalamualaikum teh..” ujar Raisya kepada teteh yang sedang asyik memainkan handphone.


Bab 10

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day10

#JumlahKata715

#SarkatJadiBuku

“Waalaikumsalaam... Eeeh.. neng Raisya.. tumben sendirian aja. Mana pasukannya yang lain?” si teteh memberondong pertanyaan. “Aku berdua teh. Ini sama ibu Entin. Makan yaa teh. Jeruk hangat ada teh? Dua ya. Nasinya juga dua.” Raisya semangat sekali. Si teteh mengangguk tanda mengiyakan dan segera mengambilkan pesanan Raisya. Mereka duduk di bagian kanan warung tersebut. Agak kepojokan. Warung itu tidak terlalu luas. Hanya ada empat meja panjang dan kursi yang berjejer. Ada enam kursi di masing-masing meja. Bu Entin mwngeluarkan handphonenya. Masih jadul banget. Layarnya juga terlihat kusam. Bu Entin terlihat sedikit sibuk membaca pesan-pesan yang masuk dihpnya. Sesekali juga membalas dan mengirim chat. Entah untuk siapa. “Neng Raisya, boleh saya minta nomor handphonenya?” “Boleh ibu. Ibu bisa simpan nomor saya. Jadi nanti kita bisa janjian lagi deh.” Raisya memberikan nomor hpnya. Lalu bu Entin menyimpannya. “Coba ibu kirim chat kesaya.” Pinta Raisya. Ibu itu pun mengangguk. “Greek..greek..” hp Raisya bergetar. Lalu ia mengeluarkannya. Handphone dengan merk terkenal, memang bukan keluaran terbaru juga. Karena Raisya bukan tipe yang suka gonta ganti gadget. Baginya, yang penting sudah cocok dengan kebutuhan, maka ia pun akan setia selamanya. Berbeda dengan kepunyaan bu Entin yang lusuh, kalau milik Raisya, jelas terawat. Bersih. Kinclong. Tidak ada guratan-guratan dilayarnya. Menggambarkan kepemilikan secara kasat mata. Mungkin bu Entin terlalu lelah jadi tidak sempat lagi merawat barang-barang pribadi miliknya. Kasihan sekali. “Silahkan neng.. silahkan ibu..” begitu sapa teteh, seraya meletakkan piring berisikan nasi dan beberapa lauk di atas meja mereka. “Terimakasih teh.”

Bu Entin menatap Raisya. Sambil senyum “Terimakasih ya neng.. saya sudah diajak makan. Semoga rezkinya semakin berkah. Aamiin..” “Aamiin.. makasii doanya bu. Yuuk makan..”

Bismillahirrahmanirrahim..

Mereka menikmati makanan pilihan masing-masing. Bu Entin memilih telur dadar dengan sayuran dan sambal. Begitu sederhana. Raisya sesekali melirik ke arah piring bu Entin, “Ayoo bu, diambil ikannya..” Ujar Raisya. Bu Entin mengangguk. Tapi hanya anggukan saja. Tanpa ada gerakan tangan yang hendak mengambil ikan. Ia hanya melanjutkan makannya dengan lahap. Raisya membiarkan. Yang penting baginya saat ini, bisa melihat ibu itu bisa makan dengan nikmat. Senang rasanya. Entah mengapa.

“Alhamdulillaah..” bu Entin mengambil tisu dan melap mulutnya dengan hati-hati. “Saya kenyang sekali. Terimakasih.. terimakasih..”

“Iya ibu.. tidak apa-apa. Saya juga senang sekali bisa mengajak ibu makan. Kalau ibu bersedia, tiap jam segini, kita janjian disini yuk..” Raisya menawarkan ajakan yang membuat bu Entin terkejut. “MasyaAllaah.. neng.. jangan.. Saya juga tidak tiap hari bisa lewat sini. Saya kan jualannya muter-muter, keliling begitu. Jadi belum tentu bisa janjian disini sama neng Raisya. Maafkan saya.” Raisya menatap bu Entin penuh takjub. “Baiklah ibu. Saya kan sudah punya nomor ibu. Jadi kapanpun, ibu bisa chat saya untuk bertemu ya bu. Jangan sungkan. Jujur, saya sangat senang bisa bertemu ibu, sejak kemarin itu.” “Ya neng. Nanti saya hubungi neng Raisya. Alamat rumah saya kan juga sudah saya beritahu. Neng ayoo mampir ke rumah. Hanya jangan siang. Saya ada di rumah, kalau gak pagi banget, sebelum jam delapan, atau setelah magrib. Kalau siang sampai sore, jualan neng.”

“Baik ibu, InsyaAllah saya akan mampir lain waktu. Hari ini adik saya Raka, ada pelajaran les bola di sekolahnya. Saya mesti jemput adik jam tiga ini. Ibu tidak keberatan kalau kita balik ke masjid lagi sekarang?” “Ooh.. kalau begitu ayoo segera neng. Jangan sampai terlambat jemput. Kasian adik neng menunggu lama nanti.” Dengan sopan dan ramah, Raisya mengangguk kembali. Lalu berjalan kearah kasir. “Teh, jadi nya berapa ya?” Teteh menyebutkan nilai rupiah yang harus dibayarkan. Raiwya mengeluarkan selembar uang limapuluh ribuan. Sementara bu Entin terlihat kembali melihat hpnya, karena ada beberapa dering yang masuk sedari tadi. Sambil berjalan keparkiran, ia bergumam, “Pelanggan saya neng. Minta diantar kan pesanan. Alhamdulillah.. hari ini sudah tiga pelanggan yang membeli jualan saya..” senyumnya merekah. Tapi sinar mata itu, tidak bisa berbohong. Sambil mengarahkan motornya ke masjid lagi, Raisya pun bertanya penasaran, “Sehari biasanya berapa pelanggan bu?” “Gak tentu neng. Namanya jualan. Kadang kalau lagi banyak, ramai. Kalau lagi sedikit, yaa nikmati saja..” Mereka sampai di masjid Al Amin lagi. Alhamdulillah.

Raisya memberhentikan motornya, pas disebelah motor bu Entin. “Bu, saya mau dong, beli susu dan yogurtnya. Kami juga beberapa kali pernah beli kalau sedang belanja di swalayan. Adik saya Raka, bahkan sangat menyukai yogurt ini.” Dengan sigap bu Entin membuka tasnya. “Waaaah.. variannya banyak sekali bu.. Saya mau yang ini, ini, ini, terus ini satu, dan yang ini satu lagi. Lima botol ya bu.” “Iya neng.” Bu Entin mengambilkan tas dan memasukkan botol-botol tersebut ke dalamnya. “Jadi berapa bu?” “Jangan neng. Bawa saja.” “Loh.. jangan begitu ibu. Ini kan jualan ibu. Kalau begitu saya tidak jadi aja.” Raisya melihatkan wajah sedikit cemberut. Bu Entin kuatir. “Eh.. iyaa neng. Maksud saya, gak apa-apa, neng. Saya tadi juga sudah berniat memberikan oleh-oleh untuk neng Raisya bawa pulang. Maafkan saya. 

Bab 11

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day11

#JumlahKata707

#SarkatJadiBuku


Raisya tetap mengeluarkan uang selembar lima puluh ribuan dan memberikan ke tangan bu Entin. Akhirnya ibu itu pun menerimanya dengan berat hati. Raisya mengembangkan senyumnya. “Naaah.. begitu ibu yang cantiiiik.. Kalau ibu menerimanya, saya lega. Dan nanti saya akan menjadi pelanggan setia yang membeli susu dan yogurt jualan ibu!” Sambil menyalami bu Entin, kemudian merapikan tas dan bawaannya, Raisya menaiki motor. “Saya berangkat duluan ya bu. Gak apa-apa saya tinggal sendirian kan bu?” “Iya neng.. Neng Raisya hati-hati dijalan yaa.. Salam sayang buat adik neng.” “Baik ibu, assalamualaikum..” Bu Entin melihat Raisya menjauh. Lalu ia melanjutkan menata barang jualannya, agar lebih rapi, dan lanjut menaiki motornya. “Alhamdullillaah yaa Allaah..” Tetiba Bu Entin mengeluarkan suara yang cukup lantang.. karena area halaman itu dia hanya ada sendirian, jadi tidak ada yang mendengar teriakannya. Hanya satu yang pasti mendengarnya. Sang Maha Mendengar.

“Kakaaaaak...” Sambut Raka dengan senang, melihat Kak Raisya sudah tiba di parkiran sekolahnya. “Aku sudah menunggu dari tadi. Kakak lama banget. Teman-teman aku sudah pada pulang semua.” Raka sedikit merajuk. “Maafkan kakak yaa dek. Kakak terlambat. Soalnya tadi kakak pas ada urusan sebentar. Ini kan baru lewat lima menit. Belum lama banget kan?” ujar Raisya. “Tapi aku tadi keluarnya lebih cepat. Karena guru lesnya juga mau ada keperluan. Makanya aku jadi lamaaaa nunggunya.” Raka cemberut.” “Iyaaa.. iyaa.. maafin kakak yaaa.. Ini buat kamu. Hadiah spesial buat adik kakak yang super hebaaat.” Raisya menowel pipi Raka sambil tersenyum. Mengeluarkan yogurt yang tadi dibelinya dari bu Entin. Rasa Blueberry. Kesukaan Raka. Raka pun loncat kegirangan. Dikasih yogurt, berasa dikasih hadiah undian mobil. Saking girangnya, Raka memeluk kakaknya erat. “Aku benar-benar sayaaaaang sama kak Raisya.” Raisya mengelus kepala Raka dengan lembut. Ia juga begitu amat menyayangi Raka. Adik satu-satunya, yang sedari kecil sudah mengurus segala sesuatunya sendiri. Adik yang mandiri. Adik yang luar biasa hebat. Air mata yang hendak menetes, langsung tersurut karena takut kelihatan sama Raka. Raka meminum habis yogurt yang dibwrikan Raisya tadi, sambil sedikit berjongkok di parkiran. Soalnya tidak terlihat ada tempat duduk disekitarnya. Aaah.. “Alhamdulillaah..” Lepas rasanya dahaga Raka yang dari tadi keringatan karena main bola. Pas banget. Dapat yang segar dan sehat. Raka melangkah menjauh, membuang botol bekas yogurtnya itu ke dalam tong sampah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri. “Kak.. kita pulabg sekarang?” tanya Raka. “Ayoook.” Raisya menaiki motornya. Raka pun juga. Duduk di boncengan belakang. Memegang pinggang kakaknya. Dan mereka pun keluar dari halaman sekolah Raka.

Perjalanan pulang ke rumah, tanpa kendala. Lancar, tidak macet.

“Alhamdulillaah.. sudah sampai dek.. Nih kunci rumah, kamu yang buka pintu ya..”

Raka turun dari motor, mengambil kunci yang dikasih kak Raisya, dan segera membuka pintu. “Assalamualaikum...” Raka berujar. “Waalaikumussalam..” Raisya yang menjawabnya. Rumah memang dalam kondisi kosong. Mobil ayah juga tidak terlihat ada di garasi. Berarti, ayah jadi berangkat ke kantor tadi. Berarti juga, perut ayah sudah tidak sakit lagi. Syukurlah. Batin Raisya.

“Ayah sepertinya jadi ke kantor Yaa kak?” Raka melihat ke arah garasi. “Iya, itu kan mobil ayah gak ada. Yuuuk masuk. Kamu bersih-bersih dulu gih. Ganti bajunya yaa.. kakak mau masukin motor dulu.”

“Siap tuan putri...” Raka berlari.. menaiki anak tangga dengan cepat dan langsung masuk ke kamarnya.

Raisya memarkirkan motor dengan baik seperti biasa tempat ia meletakkan motornya itu. Kemudian menutup kembali pagar rumah, dan masuk ke dalam. Raisya tidak langsung ke atas. Ia memilih duduk sebentar di ruangan depan. Bersandar. Dan menengadahkan kepalanya ke atas. Lumayan juga perjalanan hari ini. Sebegini saja, aku begitu lelah. Bagaimana dengan ibu Entin yang setiap hari harus membawa motor dengan barang yang sebanyak itu. Pikirannya kembali menerawang kepertemuannya dengan ibu Entin. Yaa Allaaah.. berikanlah kemudahan dan kelancaran ibu itu dalam menjemput rezki dari Mu. Entah mengapa, ada perasaan sayang yang timbul dalam hatinya. Perasaan takut. Dan juga sedih. Kemudian ia berdiri, menutup pintu depan dan melangkah ke dapur. Memasukkan dan menyusun dalam kulkas beberapa botol yogurt dan susu dari bu Entin tadi. Lalu mengeluarkan sosis dan nugget untuk di gorengnya. Raka. Tadi sepertinya Raka hanya memakan bekal yang dibawa saja. Sudahkah Raka makan nasi siang ini? Pikir Raisya, tapi velum ada jawaban. Ia melanjutkan menggoreng sosis dan nugget itu. Sambil menunggu Raka turun. Tiba-tiba “Kak.. lagi bikin apa?” Raka sudah nongol ditangga. Sudah rapi.

Bab 12

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day12

#JumlahKata704

#SarkatJadiBuku


Baju seragamnya sudah berganti dengan baju yang biasa ia pakai dirumah. Raisya senyum. “Ini sosis dan nugget buat makan kamu.” “Yeeeaaay...” Raka menuruni tangga dengan girang. “Aku mau.. aku mauu.. tadi bekal sekolah sudah habis juga kak. Tapi aku lapar lagi. Aku mau makan sekarang yaa..” “Iya dek.. makanlah..” Raisya meletakkan sepiring nasi yang sudah ada sosis dan nuggetnya. Raka mengambil sendok. Kecap. Saos tomat. “Hmmm.. yammiiii.. Bismillah..”

“Kamu makan sendiri gak apa-apakan? Kakak mau bersih-bersih dulu.” “Yaa kak.. gak apa-apa. Aku sambil setel tivi yaa kak..” Raisya memberikan jempol tangannya, menandakan setuju atas permintaan adiknya itu. Kemudian melangkah ke tangga menuju kamarnya. Ceklek. Pintu kamar terbuka. Aroma khas wangi kamar Raisya pun menyeruak lembut. Kangen. Setelah seharian di luar. Suasana tiba di rumah dan masuk kamar, adalah suasana yang paling ditunggu-tunggu. Raisya mengganti bajunya. Lalu merebahkan punggungnya di tempat tidur. Lega. Bu Entin lagi apa yaa sekarang. Apakah masih jualan? Tiba-tiba pikirannya malah melanglang buana. Memikirkan bu Entin. 

“Kakaaak.. kaaak..” sayup Raisya seperri mendengar suara seseorang memanggilnya. Itu pasti Raka. “Kak.. kakak tertidur yaa.. dari tadi Raka panggil-panggil. Pantesan gak ada jawaban.” “Astaqfirullaah.. maafin kakak dek. Ia.. sepertinya tadi kakak tertidur sebentar.” “Memangnya kakak dah sholat Ashar?” “Belum. Yuuk sholat. Raka udah?” “Raka barusan selesai sholat kak.. sekarang Raka mau ngaji dulu yaa..” “Baiklaah..” Raisya mengangguk. Melihat Raka berlalu, masuk ke kamarnya sendiri. Raisya masih sedikit linglung. Aku tertidur. Yaa Allaah.. untung Raka segera membangunkan aku. Raisya berjalan ke kamar mandi. Mengambil handuk dan berniat sekalian mandi serta wudhu sekalian. 

*Ting tong* Bel rumah berbunyi. Dibarengi dengan ucapan salam dari suara khas milik kak Zahra.

Raisya melihat ke arah jam dinding kamarnya. Pukul lima tiga puluh sore. Jelang magrib. 

“Waalaikumsalam.. sebentar kak..” Raisya menjawab salam kak Zahra. Sambil segera menuruni tangga dan membukakan pintu depan. Ia menyalami kakaknya. “Bagaimana kak?” Raisya penasaran, sehingga langsung mengajukan pertanyaan. “Hmmm.. aku boleh masuk dulukah?” jawab kak Zahra ringan. Sambil senyum tentunya. “Aku lapaar deek..” “Astaqfirullaah.. kakak belum makan siang?” Tanya Raisya lagi. “Sudah. Tapi lapar lagi.” Raisya langsung ke dapur. Membuka kulkas dan mengambil satu botol susu yang dibelinya tadi. “Nih, minum ini dulu. Biar segar.” “Lho. Kamu tadi ke swalayan?” Raisya tersenyum. Ingin sekali menceritakan kepada kak Zahra tentang pertemuannya dengan bu Entin. Tapi belum saatnya. Nanti saja. Raisya tidak menjawab pertanyaan kakaknya. Iaengalihkan pembicaraan dengan kembali bertanya tentang test kerja kak Zahra. “Ayooo cerita... Bagaimana?” sambil menunggu kakZahra bercerita, Raisya duduk di kursi depan. Kak Zahra yang sudah menghabiskan sekotak susu itu, berjalan ke dapur untuk membuang sampahnya. Lalu berlanjut menaiki tangga. “Kakaaaak.. aku malah ditinggal.” “Sabar adek.. kakak mau bersih-bersih dulu. Sudah hampir magrib.” “Baiklah.” Kak Zahra terus menaiki tangga. Sebelum masuk ke kamarnya, ia sengaja membuka pintu kamar Raka terlebih dahulu. “Assalamualaikum Raka..” “Waalaikumsalam kak Zahraa..” Raka melompat kegirangan langsung memeluk kak Zahra. “Aku kangeeen. Kakak sudah pulang.” “Sudah.” Kak Zahra melihat Raka sedang mengaji. Alhamdulillah.. MasyaAllaah.. Adik luar biasa. “Kakak mau bersih-bersih dulu yaa.. kamu lanjutin ngajinya. Bentar lagi Magrib. Sholat di masjid kan?” “Iya kak.” 

Kak Zahra berlalu. Ia bermaksud mandi dan bersih-bersih. Lengket badannya semua. Seharian di luar, membuat urat-uratnya juga menegang. Mungkin kalau diguyur air hangat semuanya akan kembali normal. Begitu pikirannya.

“Kak.. Raka pamit ke masjid yaa..” suara Raka terdengar dari luar kamar mandi. “Iya dek.. hati-hati yaa..” “Iya kak..”

Lalu Raka menuruni tangga dan menuju ruang depan. Ada Raisya disana. “Kak, aku ke masjid.” Raka menyalami kakaknya. “Iya.. hati-hati. Sholat yang benar ya dek. Jangan lupa berdoa.” “Iya kak. Pasti Raka ingat kak. Assalamualaikum..” “Waalaikumsalam.”

Raka membuka pintu dan langaung menutupnya kembali.

Bunyi pintu pagar dibuka dan ditutup. Sembari terdengar suara azan Magrib dari Masjid dekat rumah mereka.

Sudah pukul enam lewat sepuluh menit. Ayah belum pulang. Ayah memang biasa sampai rumah setelah magrib. Jadi mungkin saja saat ini masih sedang dalam perjalanan.

Raisya mengunci pintu rumah. Tapi kuncinya diangkat dan digantung dipaku dekat pintu. Kebiasaan mereka selalu seperti itu, agar Ayah bisa langsung masuk, kalau pulang nanti. Karena kan mereka pasti sedang sholat dan dikamar semua jam segini. Kalau Raka,.sudah biasa pulang nanti setelah Isya. Lalu Raisya naik ke atas.

Kamar mandi sudah kosong. Berarti kak Zahra sudah selesai mandi. Mungkin juga sedang siap-siap sholat Magrib. Raisya berwudhu. Lalu sholat di dalam kamarnya. Selesai sholat.

Bab 13

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day13

#JumlahKata755

#SarkatJadiBuku


Lama sekali Raisya menengadahkan tangannya. Berdoa. Memohon semua segala apa yang diinginkannya. Mendoakan semua keluarganya. Dan saat ini, doanya pun bertambah. Bu Entin. Ibu itu sekarang masuk ke dalam doa-doa Raisya juga. Entah mengapa hati Raisya terikat dengan ibu itu. Ada perasaan mendalam.

Pikirannya pun kembali menerawang. Apakah jam segini, ibu Entin sudah sampai di rumahnya? Dari sore tadi, ia sebenarnya ingin sekali menelpon atau chat bu Entin. Hanya saja, ia takut mengganggu waktu berjualannya. Akhirnya ia pun menahan keinginannya. Sebaiknya aku chat nanti malam saja sebelum Ini. Begitu pikirnya.

Raisya melipat mukena yang selesai dipakainya dengan baik. Lalu melangkah keluar kamar dan “Kak Zahra..” Tok tok tok. 

“Yaa.. masuk aja dek. Pintunya gak dikunci.”

Pintu kamar kak Zahra terbuka. Ada Raisya berdiri depan pintu. “Masuk. Ngapain berdiri disana. Ayooo..” Raisya melangkah masuk. Lalu mengambil posisi untuk duduk di kursi bagian dalam. Kak Zahra tampak baru menyelesaikan sholatnya. “Gimana test nya tadi kak? Lancar?” “Alhamdulillah. Test nya lancar. Hanya saja yang ikut test banyak banget dek. Hahaha..” Kak Zahra bercerita panjang lebar sambil sesekali tertawa. Ia mengatakan kalau peserta test ada beberapa puluh orang. Laki-laki dan juga perempuan. Sementara yang dibutuhkan untuk posisi itu hanya lima orang. Jadi yang akan diterima bekerja nanti, yaa.. hanya lima. “Tinggal berdoa saja. Berusaha nya kan sudah tadi.” Begitu penjelasan kak Zahra.

“Raisya pasti akan bantu doa kak. Raka dan ayah juga. Kakak jangan kuatir yaa..” Raisya menghibur kakaknya. Kak Zahra memeluk Raisya. Ia punya keluarga yang sangat luar biasa. Keluarga yang saling mendukung satu sama lain. Keluarga yang mencintai dan dicintainya. Harmonis sekali.

“Kita siapkan makan malam yuk. Ayah sebentar lagi kayaknya pulang.” “Yuuk.. dikulkas ada sayuran sama ayam yang udah di ungkep kak.”

Mereka beedua lalu turun ke bawah. Ke dapur. Raisya otomatis membuka lulkas dan mengeluarkan ayam yang tinggal digoreng sebentar. Kak Zahra meracik sayuran agar bisa dimasaknya, sambil melanjutkan cerita tentang keseruan sehariannya saat test kerja tadi. Raisya mendengarkan dengan baik, sesekali menimpali dengan tawa renyah dan pertanyaan-pertanyaan ringan.

*Tingtong*

Terdengar suara bel. Sepertinya ayah pulang. Raisya yang baru saja menyelesaikan gorengan ayamnya, menuju pintu utama dan bermaksud ingin membukanya. 

Namun ia sangat terkejut. Ketika ia melihat dari lubang kecil di pintu, ia melihat sesosok tubuh tinggi, laki-laki, sedang membelakanginya. “Astaqfirullaah.. Rio?” bisiknya dalam hati. Benarkah itu Rio?

Dia tau rumah aku dari mana? Hatinya lanjut berbisik. Sesaat Raisya hanya diam. Tidak lanjut membukakan pintu, membuat kak Zahra sedikit keras suaranya bertanya, “ Pintunya kenapa tidak dibuka dek?” 

Dan tiba-tiba, kak Zahra sudah muncul di dekat Raisya. Ia sudah menyelesaikan masakan sayurannya. Lalu tanpa dikomando, kak Zahra juga mengintip lubang itu. “Astaqfirullah.. siapa itu dek?” kak Zahra kaget luar biasa, sampai teelompat ke belakang. “Ganteng.” Begitu lirih suaranya, setengah berbisik. 

“Teman kamu? Atau pacar?”

“Apaan sih kak.. bukan.. bukaan.. itu teman kampus kak. Teman.” Raisya menjawab tegas.

Kak Zahra tersenyum. “Alhamdulillah.. sudah gede adek kakak ini. Sana buruan ambil kerudung kamu. Biar kakak yang membukanya. Kakak kan sudah pakai kerudung. Buruan...” perintah kak Zahra seperti pimpinan pasukan yang sedang menyuruh anggotanya.

Raisya hanya menurut. Melangkah pergi bermaksud ke kamarnya dan mengambil kerudung.

Pintu terbuka.

“Assalamualaikum.. kak..” suara laki-laki itu sungguh enak di dengar. “Yaa.. waalaikumussalam..” “Maaf, kak, saya Rio. Saya temannya Raisya. Raisyanya ada?”

“Yaa.. sebentar yaa.. saya kakaknya Raisya. Kak Zahra.”

Tidak lama mereka bercakap di pintu. Lalu terlihat sorotan lampu mobil ke arah mereka.

Itu pasti ayah. “Maaf, Rio, sebentar ya.. silahkan masuk. Saya mau buka pagar dulu.”

Sementara, Raisya sudah ada diujung tangga paling bawah. Melihat keramaian di depan pintu. Ada sorotan lampu mobil. “Yaa.. Allah.. ayah sudah pulang.” Lirihnya. Rio ngapain ke sini sih. Bikin repot saja. Kesalnya. Namun ia tetap melanjutkan langkahnya menuju ruang depan, dan berhenti di dekat batas ruangan. Ia bisa melihat Rio masih berdiri didepan pintu. Kak Zahra juga masih diluar. Sementara ayah sepertinya sedang memasukkan mobil ke garasi.

“Silahkan masuk Rio..” kak Zahra mengulangi kalimatnya yang tadi sudah diucapkannya. “Iya kak.” Tapi Rio tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Sepertinya ia sengaja, menunggu ayah keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu. Ayah melihatnya. Sesaat. Lalu melihat ke arah kak Zahra. Matanya seakan minta keterangan.

“Assalamualaikum..” suara khas ayah. “Waalaikumussalam..” hampir serentak kak Zahra dan Rio menjawab salam ayah. Termasuk Raisya. Yang ternyata sudah berdiri di dekat pintu juga. Kak Zahra menyalami ayah. Mencium tangan ayah. Begitu juga Raisya. Sementara Rio. Ia juga mengulurkan tangannya. “Rio, om. Teman satu kampus dengan Raisya.” Ayah menyambut tangan Rio. Menjabatnya erat. “Oh. Sudah lama?” tanya ayah. “Baru saja sampai om.” “Bukan, bukan itu. Maksud saya, apakah sudah lama berteman dengan Raisya?"

Bab 14

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day14

#JumlahKata714

#SarkatJadiBuku


“Sudah om.” Jawab Rio agak sedikit gugup. “Baik silahkan masuk. Saya mau ke dalam dulu.”

Kak Zahra melihat ke arah Raisya. Raisya hanya menunduk. Karena belum ada yang berinisiatif untuk masuk, kak Zahra mengulang kembali kalimat yang ayah ucapkan tadi, “Ayoo masuk yuuk..” sambil berjalan masuk, kak Zahra menarik tangan Raisya.

“Ayoo.. masuk Rio,” ulang kak Zahra. Raisya melirik ke arah Rio. Kemudian menganggukkan kepalanya. Rio akhirnya melangkah masuk. Kemudian duduk di kursi yang menghadap ke arah dinding sebelah kanan. Raisya pun duduk, agak menyilang didepan Rio. Sementara kak Zahra masuk ke ruang dalam. “Ada apa ke sini kak?” tanya Raisya basa basi. Sebenarnya ia sudah tau maksud Rio datang. “Ini.” Jawab Rio datar. Mengeluarkan kertas selembar. Kertas yang diberikan Raisya tadi siang. “Kakak kenapa bisa tau rumah aku?” “Aku tanya Indri.” Astaghfirullah... hati Raisya berucap, sambil bibir bergumam.

“Ini maksudnya bagaimana Cha?” Rio balik bertanya. “Kenapa tiba-tiba seperti ini?” Sesaat suasana hening. Raisya hanya diam. Rio juga diam. Tak lama, kak Zahra datang, membawa dua gelas minuman. Teh hangat. Juga potongan kue. “Yuuuk silahkan di minum dulu.” “Ayoo cha.. ajak temanmu minum yaa.. kakak ke dalam dulu” kak Zahra memberi kode. Raisya hanya mengangguk. Tinggallah mereka berdua lagi di ruangan itu.

“Diminum dulu kak..” tawaran Raisya terasa begitu dingin. Tidak sehangat teh yang tersaji di atas meja. Tapi Rio tetap mengambil cangkirnya, meneguknya pelan. Kemudian meletakkan cangkir tersebut.

“Terima kasih. Hangat. Manis. Segar.” Rio mengeluarkan statement sambil melihat ke arah Raisya. “Cha, saya kembalikan ini ya. Saya tidak setuju dengan isi didalamnya. Maaf.” Raisya bingung. “Tapi kak. Saya bukan bermaksud meminta persetujuan dari kakak. Itu adalah pernyataan kak. Saya minta maaf.” “Tapi kenapa Cha? Salah saya dimana? Ada apa?” suara Rio yang berat, terdengar semakin berat karena sebenarnya dia agak terbawa emosi, namun tidak bisa meluapkannya. Tertahan. Karena Rio masih tau sopan santun dan etika bertamu ke rumah orang. Ia tak mau seisi rumah malah kaget dan membencinya. “Jangan sepihak Cha. Mari kita diskusikan. Biar ada penyelesaian yang baik.” “Aku kan sudah bilang kak. Aku mau fokus belajar aja. Aku mau mengejar cita-cita tanpa hambatan. Aku tidak mau pikiranku terbagi-bagi. Aku belum siap kak.” Penjelasan Raisya sedikit panjang. Membuat Rio menatap Raisya lebih kuat. Raisya menundukkan kepalanya. “Saya tidak mengganggu kamu. Saya tidak akan mengganggu kamu. Saya hanya mau, kita tetap seperti dulu. Bersabar Raisya. Saya mohon, kamu mau bersabar. Saat ini kita masih kuliah. InsyaAllah saya akan wisuda tahun ini, dan saya akan segera bekerja. Sudah ada perusahaan besar yang bisa menerima saya Cha. Tempat saya melakukan penelitian kemarin. Mereka sudah meminta saya bekerja disana. InsyaAllah. Kita sama-sama berdoa yaa..” Rio menjelaskan semua panjang lebar.

“Tapi kak...” “Saya mohon. Kamu jangan hanya emosi. Berpikirlah jernih. Setelah dua tahun ini kita berkomitmen dengan tanpa masalah, kenapa dengan tiba-tiba kamu seperti ini. “Tadinya saya ragu untuk datang ke rumah kamu. Hanya setelah saya pikirkan ulang, mungkin ini saat yang tepat yang Allah berikan untuk saya agar bisa kenal dengan orang tua dan saudara kamu. Maaf yaa.. saya tidak memberitahu dulu untuk ke sini.” 

Raisya masih menunduk. Diam. Ia juga merasa kebimbangan. Antara masih ingin berkomitmen, tapi resah karena semakin lama, akan semakin sulit lepas. Lepas? Apakah iya, Raisya memang ingin melepaskan Rio. Apakah memang itu yang ia inginkan? Benarkah seperti itu?

“Kakak pulang dulu yaa..” pinta Raisya. “Aku mau tenangkan pikiran dulu.” Rio menatap Raisya. “Alhamdulillaah.. kamu bisa mempertimbangkan lagi keputusan itu ya Cha. Saya yakin, yakin dengan hati saya. Yakin dengan perasaan kamu. Saya sayang kamu.” Setengah berbisik Rio mengeluarkan kalimat itu. Ia kaget, karena riba-tiba ada yang berdehem di belakangnya. Ayah Raisya. Mengenakan atasan kaus putih dan celana panjang warna krem. Seketika raut muka Rio berubah. Ia merasa bersalah. Ia belum minta ijin sama orang tua Raisya, untuk bisa menyayangi anaknya. Apakah ayah Raisya akan marah padanya?

“Ayah...” hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Raisya. Raisya pun tegang setengah mati. Kaku. Wajahnya agak sedikit merah. Kaget juga. Ayah mengambil posisi duduk di kursi satunya. “Jadi, Rio ya.” Ayah membuka omongan. “Rio satu jurusan kuliahnya sama Raisya?” ayah mulai menginterogasi. “Tidak om. Saya ambil jurusan teknik.” “Hmm.. semester berapa sekarang?” lanjut bagaikan seorang wartawan, ayah bertanya lagi. “Saya saat ini semester akhir om. Saya sedang menunggu jadwal untuk sidang. Kemungkinan dalam bulan depan sudah keluar jadwalnya om.” Cukup lengkap penjelasan Rio.

Bab 15

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day15

#JumlahKata719

#SarkatJadiBuku




Membuat om Ahmad menganggukkan kepalanya. Raisya tak mampu mengeluarkan suaranya. Ia sangat takut kalau ayahnya marah dengan kedatangan Rio. Ayah memang sangat keras untuk hal satu ini. “Anak-anak ayah tidak boleh ada yang pacaran-pacaran, sebelum sekolahnya selesai. Tidak boleh.” Raisya masih teringat saat ayah mengucapkan kalimat itu ketika Raisya masih duduk disekolah menengah pertama. Ternyata kak Zahra juga waktu smp, di ingatkan seperti itu oleh ayah.

“Lalu, maksud kedatangan kamu kesini, apa?” ayah melontarkan pertanyaan pamungkas. “Mohon maaf karena saya lancang datang langsung, tanpa minta ijin untuk datang kesini. Maafkan saya om.” Rio menunduk. “Saya.. saya.. ingin berkenalan dengan om dan keluarga Raisya.” “Ayah..” Raisya lirih mengeluarkan suaranya. “Saya, ingin mengenal Raisya lebih dari hanya berteman om. Mohon maaf, karena kelancangan saya ini.” “Rio. Kalian masih sama-sama muda. Bahkan Raisya pun masih kuliah. Masih panjang masanya. Om tidak melarang kalian berteman. Tapi kalau untuk pacaran-pacaran, seperti kebanyakan anak-anak muda lainnya, om tidak setuju.” Suara Pak Ahmad sedikit keras dan tegas. Membuat Raisya semakin dalam menunduk. Ia pasrah. Dalam hatinya, ia ikhlas kalaupun ayahnya tidak menyetujui hubungan mereka. Toh, tadi siang, ia juga sudah siap mental. Ia sudah membuat tulisan itu. Surat putus, agar bebas dari komitmen yang pernah mereka sepakati dulu. Sebenarnya hal inilah yang membuat Raisya memutuskan membuat surat itu. Ia sangat takut, ayahnya akan marah besar jika tau, mereka menjalin hubungan, tanpa restu dari ayah. Syukurlah, ia selangkah lebih awal, sehingga kemarahan ayah tidak terlalu membuncah. 

Waktu terus bergulir. Terdengar suara Azan Isya, sayup.. dari Masjid. Raka masih disana. Raka sudah terbiasa pulang setelah sholat isya. 

Sementara diruang depan.. hening sejenak. Semua mengerti, bahwa saat azan, alangkah baiknya mendengarkan, dan membalas azan sengan kalimat-kalimat Allah. Lalu mengucapkan doa setelah azan. Begitu sunnahnya. Azan pun selesai. Sesaat masih hening, sampai ayah membuka suara kembali, “Semua sudah jelas ya. Tidak ada yang perlu dipertanyakan kembali.” “Om, maaf. Saya minta waktu sebentar.. saya ingin menjelaskan..” Rio berhenti sejenak, menghela nafas agak dalam dan melanjutkannya.. “Saya dan Raisya tidak pernah pacaran om. Kami juga tidak pernah pergi berduaan. Tidak pernah sama sekali om. Tapi.. ta.. tapi..”

Kalimat Rio yang tadinya lancar keluar dari bibirnya, kalimat keyakinan seorang lelaki dewasa, mendadak ada kata-kata yang terbata-bata. Membuat pak Ahmad tajam melihat ke arah Rio. “Tapi?”

Tanya pak Ahmad.

“Saya menyayangi anak om.. Raisya” pandangan Rio mengarah ke Raisya.

Jeedaaaar... Bagaikan suara petir menyambar keras di telinga Raisya. Hatinya berkecamuk. Parasnya mengeras. Merah. Matanya melotot. Tangannya gemetar. Campur aduk. Antara takut, geram, kecewa, sakit, kesal.. semua berpadu. Tapi jauh dilubuh hati terdalamnya... Seperti ada angin surga yang menyelinap masuk.. sejuk.. semilir..

Pak Ahmad terdiam. Hening. Saat ini lebih mencekam.

Rio dan Raisya menunggu reaksi dari pak Ahmad. Tak ada yang mampu membuka mulut lebih dulu.

Dalam hatinya, Raisya menyesalkan perkataan yang keluar dari mulut Rio. Kenapa Rio segitu nekatnya mengatakan statemant seperti itu. Astaghfirullah. 

“Baik. Baiklah.” Suara pak Ahmad tiba-tiba melunak. “Jadi, kamu menyukai Raisya?” pak Ahmad mempertegas kalimatnya. “Iya om.” Jawab Rio dengan cepat, pendek, dan juga tegas. “Lalu bagaimana dengan kamu nak?” tanya ayah agak lebih pelan pada Raisya. Yang ditanya hanya menunduk. Tak mampu melihat wajah ayahnya. “Raisya..” panggil ayahnya, agak tegas. “Ya ayah.” “Ayah bertanya padamu nak.. atas pernyataan yang tadi dikeluarkan oleh teman kamu ini. Kamu bagaimana?”

“A.. a.. aku..” suara Raisya jelas terlihat sangat gugup. Rio menatap Raisya lembut. Penuh pengharapan. Betapa ia sangat berharap Raisya mau menerimanya. “A.. aa.. aku.. minta waktu ayah.. a.. aku mau berfikir..” Haduuuuuh.. apa sih mulutku ini.. kalimat apa yang barusan dikeluarkannya. Kok mulut tidak kompak sama pikiran yaa.. begitu isi otaknya bergumam. Langsung komplain atas pernyataan yang keluar dari mulutnya sendiri.

Hatinya juga kesal. Kesal sama mulut, kenapa berbeda dengan apa yang ada dihatinya. Di hati terdalamnya. Kacau Raisya.

Rio kelabakan. “Maafkan aku..” sambung Raisya. Ia tau, bukan kalimat itu yang ingin di dengar Rio. “Raisya..” ujar Rio lirih sekali. “Maafkan aku kak. Maafkan aku ayah.” Ucap Raisya. Lalu ia berdiri. Dan berlari ke dalam. Menaiki tangga dengan cepat. Rio juga dengan cepat berdiri. Ingin sekali mengejar Raisya, menangkapnya, menggenggamnya, memeluknya, dan memberikan bahunya untuk tempat Raisya bersandar. Aku mencintai yaa Allah. Sungguh.

Tapi semua itu tidak dilakukannya. Rio sangat tau batasan-batasannya. Rio juga sangat menjaga dirinya agar bisa menunggu waktu, sampai saat halal, agar bisa berdekatan dengan Raisya. Saat ini ia hanya mampu melihat punggung Raisya menjauh, dan akhirnya menghilang.

Bab 16

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day16

#JumlahKata

#SarkatJadiBuku


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


*******


Saya minta maaf om. Saya benar-benar minta maaf. Saya janji, saya akan menjaga Raisya dengan baik. Saya tidak akan biarkan seorang pun menyakiti Raisya, termasuk saya sendiri. Saya benar-benar sangat menyayangi Raisya. Saya akan menunggu sampai Raisya siap menerima perasaan saya. Maksud kedatangan saya kesini tadinya, saya ingin meminta ijin om, ingin meminta restu dari om, saya ingin melamar Raisya.”

Pak Ahmad tidak terkejut. Wajahnya malah terlihat santai. Anak ini. Berani sekali. Lelaki tulen. Pak Ahmad jadi ingat masa lalu. Beberapa puluh tahun lalu. Kejadian yang seperti ini pernah terjadi dulu. Hampir sama. Bibirnya akhirnya menyunggingkan senyum. Pak Ahmad geli sendiri. Ia memikirkan, seperti inilah dirinya dulu. Keras. Tegas. Dan pantang menyerah. Ia mengira, tidak ada lelaki yang akan seperti dia. Berani berbuat dan berkomitmen didepan orang tua wanita idamannya. Dikiranya hanya ia satu-satunya di dunia ini yang punya keberanian super itu.

Ternyata tidak.

Hari ini ia malah merasakan sendiri ketegasan seorang pemuda, dihadapannya.

Om Ahmad sedikit melunak. “Rio. Karena saat ini, kamu dan Raisya masih dalam proses belajar. Maka selesaikanlah tugas kalian dulu. Belajarlah dengan baik, karena itu merupakan tanggung jawab kalian kepada orang tua. Om juga sebagai ayah Raisya, sangat ingin Raisya bisa lulus dengan nilai baik. Jadi cobalah untuk fokus dulu dengan kuliah ini ya.” Pak Ahmad menghela nafas panjang. “Om tidak melarang kamu untuk menepati janji kamu yang ingin menjaga Raisya. Om sangat mengerti. Jagalah Raisya dari jarak yang tepat ya nak. Om akan percaya dengan kamu.”

“Baik om.” Nada suara Rio sangat meyakinkan. “Terimakasih om sudah mau percaya dengan saya. Terimakasih juga om sudah mau menerima kedatangan saya.” Rio membungkukkan sedikit badannya dan menundukkan kepalanya. Pertanda ia sangat menghormati Pak Ahmad. Tak lama kemudian, Rio bangkit. Berdiri dari kursinya. “Saya pamit ya om. InsyaAllah saya akan kembali, jika saatnya sudah tepat. Mohon ijin.”

Rio menyalami Pak Ahmad. “Baiklah anak muda. Kejarlah cita-citamu. Dan jaga dengan baik cintamu.” Pesan Pak Ahmad pada Rio. 

Lalu pemuda itu melangkah keluar.

Bersamaan dengan itu, “Assalamualaikum.. ayah..” suara Raka terdengar menyapa ayahnya. “Waalaikumussalam..” jawab ayah dibarengi Rio yang masih berdiri didepan pintu. Raka menyalami ayah. Dan ragu-ragu menyalami Rio. “Hai adik, saya Rio. Teman kak Raisya. Nama kamu siapa?” sapa Rio agak sedikit kikuk. Apalagi masih ada pak Ahmad berdiri disebelahnya. “Aku Raka, kak. Senang bisa kenal dengan kak Rio.” Kali ini suara Raka lebih lepas. “Senang juga bisa bertemu kamu Raka. Saya pamit dulu. Assalamualaikum..”

Raka dan Pak Ahmad membalasnya. “Waalaikumussalam.”

Rio menyalakan sepeda motornya, lalu berlalu. Raisya melihatnya dari jendela kamar atas. Kamarnya. Ia tak tau, kakaknya pun kak Zahra ikut memperhatikan kepergian Rio, dari jendela kamarnya sendiri. Semwntara Raka dan Pak Ahmad yang melepas kepergian Rio, beranjak masuk rumah. “Makan yuk nak.” Ajak ayah. “Yuuk yah. Raka lapar banget nih..”

Raka berlari ke atas. Bermaksud meletakkan sajadah yang dibawanya ke masjid tadi. Meninggalkan ayah sendirian di bawah, yang sedang menutup pintu rumah dan menguncinya.

Tak lama, suara gemericik air hujan perlahan turun. Gerimis membasahi bumi malam. Tak ada bintang. Awan mendung mungkin saja menutupinya. Tak terlihat, karena gelapnya malam itu.

Berempat mereka menyantap hidangan makan malam yang sudah disiapkan kak Zahra, yang juga dibantu Raisya. Tanpa suara. Hanya dentingan sendok yang sesekali menghapus kesunyian. Setelah selesai makan, dan membersihkan sisa-sisa makanan, anak-anak pada pamit untuk tidur ke kamarnya masing-masing. Mereka menyalami ayah, menciumi dan mengucapkan salam. Setelah itu, benar-benar hening. Lebih hening dari biasanya. Karena termasuk Rakapun, yang sudah terbiasa usil, saat itu juga tanpa bersuara. Sepi sekali. Mungkin karena letih, sejak pagi sampai sore beraktivitas. Jadilah semua langsung masuk kamar masing-masing. 

Raisya, masih duduk di tempat tidurnya. Ia membolakbalikkan handphonenya. Greek.. greek.. bergetar. Ragu Raisya hendak membukanya. Sudah malam. Berani sekali Rio mengirimkan pesan untuknya. Ia mulai kesal. Mengingat kejadian setelah magrib tadi. Dasar Rio, terlalu nekat. Ia juga tak menyangka Rio seberani itu untuk datang ke rumahnya. Padahal dari dulu, Raisya selalu melarangnya, dan tidak pernah memberitahukan alamat rumahnya. Ia juga pernah menceritakan perihal ayahnya yang memang punya aturan sangat ketat. Awas aja besok di kampus. Amarah Raisya tak tertahan.

Antara malas dan sebal, ia membuka juga chat yang barusan masuk dihpnya.

*Assalamualaikum..*

Astaghfirullah... Dugaan Raisya kali ini meleset. Itu bukan chat dari Rio. Tapi..

Bu Entin. MasyaAllaah...

Langsung dengan senyum mengembang bagaikan kelopak mawar yang sedang mekar... Raisya membalas chat itu. *Waalaikumussalam.. ibu sudah di rumah kah?*

*Iya neng. Alhamdulillah. Tadi ibu sampai rumah setelah magrib. Ini baru saja selesai beberes.*

*Syukurlah. Raisya senang ibu sudah sampai. Apa ibu sudah makan?*

*Belum neng. Ibu baru mau makan.*


******


PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 17

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day16

#JumlahKata743

#SarkatJadiBuku


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


*******


Saya minta maaf om. Saya benar-benar minta maaf. Saya janji, saya akan menjaga Raisya dengan baik. Saya tidak akan biarkan seorang pun menyakiti Raisya, termasuk saya sendiri. Saya benar-benar sangat menyayangi Raisya. Saya akan menunggu sampai Raisya siap menerima perasaan saya. Maksud kedatangan saya kesini tadinya, saya ingin meminta ijin om, ingin meminta restu dari om, saya ingin melamar Raisya.”

Pak Ahmad tidak terkejut. Wajahnya malah terlihat santai. Anak ini. Berani sekali. Lelaki tulen. Pak Ahmad jadi ingat masa lalu. Beberapa puluh tahun lalu. Kejadian yang seperti ini pernah terjadi dulu. Hampir sama. Bibirnya akhirnya menyunggingkan senyum. Pak Ahmad geli sendiri. Ia memikirkan, seperti inilah dirinya dulu. Keras. Tegas. Dan pantang menyerah. Ia mengira, tidak ada lelaki yang akan seperti dia. Berani berbuat dan berkomitmen didepan orang tua wanita idamannya. Dikiranya hanya ia satu-satunya di dunia ini yang punya keberanian super itu.

Ternyata tidak.

Hari ini ia malah merasakan sendiri ketegasan seorang pemuda, dihadapannya.

Om Ahmad sedikit melunak. “Rio. Karena saat ini, kamu dan Raisya masih dalam proses belajar. Maka selesaikanlah tugas kalian dulu. Belajarlah dengan baik, karena itu merupakan tanggung jawab kalian kepada orang tua. Om juga sebagai ayah Raisya, sangat ingin Raisya bisa lulus dengan nilai baik. Jadi cobalah untuk fokus dulu dengan kuliah ini ya.” Pak Ahmad menghela nafas panjang. “Om tidak melarang kamu untuk menepati janji kamu yang ingin menjaga Raisya. Om sangat mengerti. Jagalah Raisya dari jarak yang tepat ya nak. Om akan percaya dengan kamu.”

“Baik om.” Nada suara Rio sangat meyakinkan. “Terimakasih om sudah mau percaya dengan saya. Terimakasih juga om sudah mau menerima kedatangan saya.” Rio membungkukkan sedikit badannya dan menundukkan kepalanya. Pertanda ia sangat menghormati Pak Ahmad. Tak lama kemudian, Rio bangkit. Berdiri dari kursinya. “Saya pamit ya om. InsyaAllah saya akan kembali, jika saatnya sudah tepat. Mohon ijin.”

Rio menyalami Pak Ahmad. “Baiklah anak muda. Kejarlah cita-citamu. Dan jaga dengan baik cintamu.” Pesan Pak Ahmad pada Rio. 

Lalu pemuda itu melangkah keluar.

Bersamaan dengan itu, “Assalamualaikum.. ayah..” suara Raka terdengar menyapa ayahnya. “Waalaikumussalam..” jawab ayah dibarengi Rio yang masih berdiri didepan pintu. Raka menyalami ayah. Dan ragu-ragu menyalami Rio. “Hai adik, saya Rio. Teman kak Raisya. Nama kamu siapa?” sapa Rio agak sedikit kikuk. Apalagi masih ada pak Ahmad berdiri disebelahnya. “Aku Raka, kak. Senang bisa kenal dengan kak Rio.” Kali ini suara Raka lebih lepas. “Senang juga bisa bertemu kamu Raka. Saya pamit dulu. Assalamualaikum..”

Raka dan Pak Ahmad membalasnya. “Waalaikumussalam.”

Rio menyalakan sepeda motornya, lalu berlalu. Raisya melihatnya dari jendela kamar atas. Kamarnya. Ia tak tau, kakaknya pun kak Zahra ikut memperhatikan kepergian Rio, dari jendela kamarnya sendiri. Semwntara Raka dan Pak Ahmad yang melepas kepergian Rio, beranjak masuk rumah. “Makan yuk nak.” Ajak ayah. “Yuuk yah. Raka lapar banget nih..”

Raka berlari ke atas. Bermaksud meletakkan sajadah yang dibawanya ke masjid tadi. Meninggalkan ayah sendirian di bawah, yang sedang menutup pintu rumah dan menguncinya.

Tak lama, suara gemericik air hujan perlahan turun. Gerimis membasahi bumi malam. Tak ada bintang. Awan mendung mungkin saja menutupinya. Tak terlihat, karena gelapnya malam itu.

Berempat mereka menyantap hidangan makan malam yang sudah disiapkan kak Zahra, yang juga dibantu Raisya. Tanpa suara. Hanya dentingan sendok yang sesekali menghapus kesunyian. Setelah selesai makan, dan membersihkan sisa-sisa makanan, anak-anak pada pamit untuk tidur ke kamarnya masing-masing. Mereka menyalami ayah, menciumi dan mengucapkan salam. Setelah itu, benar-benar hening. Lebih hening dari biasanya. Karena termasuk Rakapun, yang sudah terbiasa usil, saat itu juga tanpa bersuara. Sepi sekali. Mungkin karena letih, sejak pagi sampai sore beraktivitas. Jadilah semua langsung masuk kamar masing-masing. 

Raisya, masih duduk di tempat tidurnya. Ia membolakbalikkan handphonenya. Greek.. greek.. bergetar. Ragu Raisya hendak membukanya. Sudah malam. Berani sekali Rio mengirimkan pesan untuknya. Ia mulai kesal. Mengingat kejadian setelah magrib tadi. Dasar Rio, terlalu nekat. Ia juga tak menyangka Rio seberani itu untuk datang ke rumahnya. Padahal dari dulu, Raisya selalu melarangnya, dan tidak pernah memberitahukan alamat rumahnya. Ia juga pernah menceritakan perihal ayahnya yang memang punya aturan sangat ketat. Awas aja besok di kampus. Amarah Raisya tak tertahan.

Antara malas dan sebal, ia membuka juga chat yang barusan masuk dihpnya.

*Assalamualaikum..*

Astaghfirullah... Dugaan Raisya kali ini meleset. Itu bukan chat dari Rio. Tapi..

Bu Entin. MasyaAllaah...

Langsung dengan senyum mengembang bagaikan kelopak mawar yang sedang mekar... Raisya membalas chat itu. *Waalaikumussalam.. ibu sudah di rumah kah?*

*Iya neng. Alhamdulillah. Tadi ibu sampai rumah setelah magrib. Ini baru saja selesai beberes.*

*Syukurlah. Raisya senang ibu sudah sampai. Apa ibu sudah makan?*

*Belum neng. Ibu baru mau makan.*


******


PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 18

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day18

#JumlahKata718

#SarkatJadiBuku


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


******


Tapi hal yang tak diduga terjadi. Rio melihat gelagat aneh dari tingkah laku Raisya beberapa hari belakangan ini. Ia ingin sekali bertanya, tapi selalu diurungkan, hanya demi menjaga perasaan Raisya. Tapi hari ini, kekalutan itu terlihat semakin jelas di wajah Raisya, membuat ia dengan keyakinannya, harus segera membantu Raisya menyelesaikan persoalan yang memenuhi pikirannya. 

“Raisya.” Rio menyapa dengan ramah. “Kak Rio. Kenapa ada di depan saya? Maaf, jadinya saya tabrak tadi. Saya gak sengaja kak. Maaf ya.” ujar Raisya menjelaskan. Rio hanya tersenyum melihat ekspresi Raisya yang merasa bersalah. 

Raisya menatap Rio sesaat. Kemudian menundukkan kepalanya kembali. Tapi sayang, ia tak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Seperti sesak dalam dada yang tak bisa ditahan. Air bening itupun akhirnya menetes pelan dari sudut mata Raisya. Rio menunduk sedikit, melihat lebih dekat ke arah Raisya. “Raisya, ada apa? Kenapa? Apa ada yang sakit?” Pertanyaan Rio yang sederetan itu, membuat Raisya semakin meneteskan air matanya. Ia bingung. Bingung bagaimana mesti menceritakan kegelisahan hatinya.

“Kak..”

“Kita duduk sebentar di kursi itu, kamu mau?”

“Jangan kak. Nanti teman-teman ada yang melihat kita kak. Aku gak nyaman.”

Raisya menolaknya halus 

“Kalau begitu, bagaimana? Apa kamu mau cerita di sini saja?”

Raisya kembali menggeleng. Sementara air mata masih menetes perlahan. Lalu Raisya berkata, “Nanti aku cerita melalui chat ya kak.”

“Kamu gak mau cerita disini saja? Biar kakak bisa langsung bantu persoalannya.” Bujuk Rio sabar sekali. “Jangan kak. Aku benar-benar gak nyaman berduaan begini. Nanti ada yang melihat dan pasti mereka langsung curiga. Maaf ya kak.” Penjelasan Raisya panjang lebar dan membuat Rio cukup untuk mengerti.

“Baik, maafkan kakak. Tapi aku tetap menunggu chat kamu ya. Kamu harus cerita. Biar aku bisa bantu. Ijinkan kakak untuk membantu kamu ya.. kakak sayang kamu!”

Dengan tegas Rio menjawab penjelasan Raisya.

Raisya hanya mengangguk. Dan mengusap air matanya. “Dah, sana ke toilet dulu, cuci mukanya, biar gak belepotan gitu.” Titah Rio sambil tersenyum.

“Biar lebih tenang juga.”

“Baik kak. Terimakasih ya, sudah perhatian sama Raisya.”

Ucap Raisya sambil bejalan meninggalkan Rio.

Rio hanya mengacungkan jempolnya ke arah Raisya. Ia tetap berdiri disana, melihat Raisya dari kejauhan, yang melangkah masuk ke toilet.

Mereka berdua tidak menyadari, dari jarak beberapa meter, ada sepasang mata penasaran yang melihat keduanya sedang berbincang-bincang tadi.

Indri.

Lagi-lagi ia menyaksikan kebersamaan Rio dan Raisya. Mereka memang dekat. Mereka memang ada hubungan. Tapi kenapa Raisya tidak mau terbuka bercerita padanya. Sampai detik ini tak satupun kalimat dari mulut Raisya yang menjelaskan kedekatan mereka. Padahal ia dan Raisya sahabat sejak lama.

Penuh teka teki di benak Indri. Apa yang sedang mereka bicarakan. Kenapa Raisya terlihat sangat sedih dan meneteskan air mata. Banyak pertanyaan berkecamuk di otaknya. Indri akhirnya hanya mampu menggelengkan kepalanya sendiri. Disaat yang bersamaan, Titi yang ditinggal dua sahabatnya, duduk sendirian pun tidak betah. Ia mulai mencari-cari sahabatnya itu. Karena tadinya Raisya mengatakan mau ke toilet, Titi berniat menyusulnya. Tapi ia malah melihat Indri berdiri sendiri layaknya patung, di valik dinding gedung yang arah ke toilet. Daaaaaar.. “Astaqfirullaaah...” Reaksi Indri ketika dikagetkan sahabatnya, luar biasa keras. Teriakannya mengagetkan beberapa orang yang lalu lalang, dan langsung melirik ke arah mereka. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Rio pun mendengar suara teriakan Indri. Ia melihat ke arah datangnya suara itu, sekilas, dan menepuk jidatnya sendiri.

Yaa Allaah.. itu ada Indri disana, sejak kapan? Apakah dia mendengarkan pembicaraanku dengan Raisya tadi ya? Tanpa pikir panjang, Rio berjalan mendekati Indri dan Titi yang masih saja terkikik melihat sahabatnya terkaget-kaget.

“Hai kalian berdua..” sapa Rio.

“Haa.. hai.. kak..” mereka menjawab hampir serentak. Agak kaku. Agak gagu.

“Lagi ngapain nih, berdua-duaan disini?” lanjut Rio.

“Kami sedang mencari sahabat kami yang tadi sih, katanya mau ke toilet.” Jawab Indri agak lebih lancar. Diikuti anggukan kepala Titi, yang masih sedikit bengong menatap Rio yang menyapa mereka. “Kakak memangnya kenal sama kami?” Titi malah seperti orang bolot, mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Membuat Indri mengibaskan tangannya ke depan wajah Titi. “Kenal dong. Kalian bersahabat bertigakan? Kenallah. Masak enggak..” jawab Rio. Kemudian menatap sebentar ke arah toilet. Disana ia melihat Raisya sudah keluar dan sedang berjalan ke arah kantin lagi. Syukurlah. Ia tampak lebih tenang. Batin Rio.

“Saya ke perpustakaan dulu yaa.. bye.” Rio berjalan sendiri. Tak lama terlihat beberapa teman cowok menyapanya dan berjalan bersamanya. Memang supel dia.

Indri dan Titi pun melihat Raisya dari kejauhan, memanggilnya sembari melambaikan tangannya. Bertiga mereka kembali ke kantin bude.


******


PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 19

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day19

#JumlahKata734

#SarkatJadiBuku


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


*******


Panas masih terik. Sinar matahari tak henti menyorot kaca-kaca gedung kampus yang menyilaukan. Rumput hijau yang membentang di beberapa lokasi kampus, seakan berteriak kepanasan. Tampak ketiga sahabat itu kembali bercengkrama di kantin. Dari kejauhan sepasang mata tajam, memperhatikan mereka. Mata milik Rio. Alhamdulillah. Mudah-mudahan Raisya bisa lebih tenang. Begitulah doanya.

Ketiga sahabat yang memang sudah akrab dari semenjak baru masuk ke universitas ini, terlihat sudah menyelesaikan makan.

Mereka meninggalkan kantin dan menuju musholla kampus. Ibadah. Sholat Zuhur. 

...

“Assalamualaikum..”

“Assalamualaikum... Kaaak...”

Suara keras Raisya membuat kak Zahra terbangun dari tertidurnya siang tadi.

“Waalaikumsalam... Astaghfirullah.. aku tertidur yaa..” kak Zahra menjawab salam Raisya dengan nada super kaget.

Ceklek. 

Pintu kamar kak Zahra terbuka. Keliatan wajah lelah Raisya nongol di depan pintu.

Lalu tanpa basa basi, ia langsung masuk dan serta merta rebahan si kasur empuk milik kakaknya itu.

“Kakak maah.. dari tadi aku bel gak bukain pintu. Yaa udah, aq buka aja pake kunci serep. Untung bisa.”

“Laah.. kan memang kunci yang ada dikamu itu, harus digunain Cha. Makanya tadi pas kakak naik keatas, kunci sengaja kakak copot, aupaya pas kamu pulang, bisa masuk sendiri.”

Raisya cemberut karena kepulangannya gak disambut sang kakak seperti biasa.

“Raka mana?” tanya kak Zahra. “Yaa.. mana aku tau.. baru juga nyampe.” Raisya menjawab sambil mulai membuka kerudung dan merapikan rambutnya. “Gerah banget eui diluar kak. Matahari lagi marah tuh.” Omongan Raisya seenaknya.

Kak Zahra hanya tersenyum. Kemudian ia melangkah keluar kamar. Menuju kamar Raka. Pintu kamar itu dibukanya. Ia melihat Raka pun tertidur. Nyenyak sekali tidur siangnya. Mungkin Raka lelah setelah beraktivitas seharian.

Ia melihat buku tulis dan pensilnya masih tergeletak di meja belajar Raka. Dibacanya.

Ternyata Raka tadi sepertinya sedang belajar atau mengerjakan tugasnya. Tapi karena ngantuk, akhirnya ia memilih tidur.

Ditatapnya wajah adik kecilnya. Saat ini Raka sudah mulai beranjak ke usia pra remaja. Adik laki-laki kesayangan. Nanti yang akan menjadi penjaga dua kakak perempuannya.

*Kuat ya dek.* Kamu adik yang luar biasa.

“Kak.. aku mau beraih-bersih dulu ya..” tiba-tiba Raisya sudah muncul di kamar Raka. Kak Zahra mengangguk. Tanda menyetujui permintaan Raisya barusan. Raisya lalu menuju kamarnya sendiri. Begitu pintu dibuka, aroma segar dan wewangian khas kamar Raisya sangat terasa. Segaaaaar.

Pikiran Raisya yang tadinya gemuruh bagaikan petir menyambar kesana kemari, sesaat reda. Hujan tak jadi turun. Malah angin sejuk yang berhembus dari jendela kamar yang barusan dibuka, membuat hati yang tertusuk duri, tak jadi terluka.

Raisya duduk sebentar di ujung kasurnya. Menatap lurus ke depan, tepat ke depan cermin yang memantulkan wajah cantiknya. Aku harus mandi. Kucel banget mukaku. Nanti kalau ayah melihatnya, bisa-bisa malah kuatir. Begitu pikirnya. Tak lama kemudian, Raisya sudah berada dalam kamar mandi. Tumpahan air dari shower, membuat kulit kepalanya semakin dingin. Mampu membersihkan pikirannya sejenak. Segarnya.

Ditambah wangi shampo dari merk favoritnya, tak tanggung-tanggung semerbak. Hmmm..

Setelah Raisya selesai berpakaian kembali, kak Zahra muncul sambil membawa kentang goreng. “Mau?” kak Zahra menyodorkan ke arah Raisya. Segera dicomot oelh adiknya itu. Dan dari arah belakang nya, Raka juga sudah siap-siap mau mengagetkannya kembali. Tapi kali ini gagal, karena kak Zahra susah m3ndapatkan kedipan mata dari Raisya. Mengisyaratkan kalau akan terjadi sesuatu dari arah belakangnya. “Hmmmmm... Kamu yaaaaaa.... Selalu sajaaaaa...” kak Zahra dengan cepat membalikkan tubuhnya. Gantian Raka yang terkejut, karena malah dikagetkan kakaknya itu. “Rakaaaaaa...” teriakan kak Zahra memenuhi ruangan kamar Raisya. Raka sertamerta lari memutar, mengelilingi kamar, takut dimarahi kakaknya. “Astaqfirullaaah... Gak kakak, gak adik.. semuanya sama ajaa... Kayak bocah!” seru Raisya.

“Udah.. udah... Ini kentang pada mau gak? Atau aku habiskan yaa....” Raisya mulai sedikit kesal, karena kamarnya jadi awur-awuran akibat ulah keduanya. Akhirnya mereka berhenti berlari. Bukan karena ancaman Raisya. Tapi karena keduanya sudah sangat lelah dan berkeringat lagi, akibat olah raga sore ini.

“Dek, kamu dah sholat ashar?” “Sudah kak. Di kamar tadi. Aku kan tepat bangunnya. Ketiduran tadi, jadi gak sempat ke masjid. Maafin yaa kak.” jawab Raka panjang lebar.

Kak Zahra dan Raisya memakluminya. “Eh kak Raisya.. kemarin itu, kak Rio, teman kakak ya?” Raisya hanya mengangguk dan tatapan matanya beralih ke arah kak Zahra. “Ganteng! Baik lagi.” “Hah.. kamu ketemu dimana?” tanya Raisya. “Dirumah ini lah. Pas kemarin dia mau pulang.” “Trus, tau dia baik, dari mana?” “Dari sorot matanya lah.. gimana sih kakak. Untuk melihat orang itu baik atau enggak, kita bisa baca dari matanya kak..” nada suara Raka agak sedikit sombong menjelaskannya. “Uuuuhhh sok tau kamu anak keciiil..” sahut kak Zahra. “Belum juga dekat, jangan menilai dulu tau!” titah kak Zahra lagi.


******


PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 19

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day19

#JumlahKata734

#SarkatJadiBuku


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


*******


Panas masih terik. Sinar matahari tak henti menyorot kaca-kaca gedung kampus yang menyilaukan. Rumput hijau yang membentang di beberapa lokasi kampus, seakan berteriak kepanasan. Tampak ketiga sahabat itu kembali bercengkrama di kantin. Dari kejauhan sepasang mata tajam, memperhatikan mereka. Mata milik Rio. Alhamdulillah. Mudah-mudahan Raisya bisa lebih tenang. Begitulah doanya.

Ketiga sahabat yang memang sudah akrab dari semenjak baru masuk ke universitas ini, terlihat sudah menyelesaikan makan.

Mereka meninggalkan kantin dan menuju musholla kampus. Ibadah. Sholat Zuhur. 

...

“Assalamualaikum..”

“Assalamualaikum... Kaaak...”

Suara keras Raisya membuat kak Zahra terbangun dari tertidurnya siang tadi.

“Waalaikumsalam... Astaghfirullah.. aku tertidur yaa..” kak Zahra menjawab salam Raisya dengan nada super kaget.

Ceklek. 

Pintu kamar kak Zahra terbuka. Keliatan wajah lelah Raisya nongol di depan pintu.

Lalu tanpa basa basi, ia langsung masuk dan serta merta rebahan si kasur empuk milik kakaknya itu.

“Kakak maah.. dari tadi aku bel gak bukain pintu. Yaa udah, aq buka aja pake kunci serep. Untung bisa.”

“Laah.. kan memang kunci yang ada dikamu itu, harus digunain Cha. Makanya tadi pas kakak naik keatas, kunci sengaja kakak copot, aupaya pas kamu pulang, bisa masuk sendiri.”

Raisya cemberut karena kepulangannya gak disambut sang kakak seperti biasa.

“Raka mana?” tanya kak Zahra. “Yaa.. mana aku tau.. baru juga nyampe.” Raisya menjawab sambil mulai membuka kerudung dan merapikan rambutnya. “Gerah banget eui diluar kak. Matahari lagi marah tuh.” Omongan Raisya seenaknya.

Kak Zahra hanya tersenyum. Kemudian ia melangkah keluar kamar. Menuju kamar Raka. Pintu kamar itu dibukanya. Ia melihat Raka pun tertidur. Nyenyak sekali tidur siangnya. Mungkin Raka lelah setelah beraktivitas seharian.

Ia melihat buku tulis dan pensilnya masih tergeletak di meja belajar Raka. Dibacanya.

Ternyata Raka tadi sepertinya sedang belajar atau mengerjakan tugasnya. Tapi karena ngantuk, akhirnya ia memilih tidur.

Ditatapnya wajah adik kecilnya. Saat ini Raka sudah mulai beranjak ke usia pra remaja. Adik laki-laki kesayangan. Nanti yang akan menjadi penjaga dua kakak perempuannya.

*Kuat ya dek.* Kamu adik yang luar biasa.

“Kak.. aku mau beraih-bersih dulu ya..” tiba-tiba Raisya sudah muncul di kamar Raka. Kak Zahra mengangguk. Tanda menyetujui permintaan Raisya barusan. Raisya lalu menuju kamarnya sendiri. Begitu pintu dibuka, aroma segar dan wewangian khas kamar Raisya sangat terasa. Segaaaaar.

Pikiran Raisya yang tadinya gemuruh bagaikan petir menyambar kesana kemari, sesaat reda. Hujan tak jadi turun. Malah angin sejuk yang berhembus dari jendela kamar yang barusan dibuka, membuat hati yang tertusuk duri, tak jadi terluka.

Raisya duduk sebentar di ujung kasurnya. Menatap lurus ke depan, tepat ke depan cermin yang memantulkan wajah cantiknya. Aku harus mandi. Kucel banget mukaku. Nanti kalau ayah melihatnya, bisa-bisa malah kuatir. Begitu pikirnya. Tak lama kemudian, Raisya sudah berada dalam kamar mandi. Tumpahan air dari shower, membuat kulit kepalanya semakin dingin. Mampu membersihkan pikirannya sejenak. Segarnya.

Ditambah wangi shampo dari merk favoritnya, tak tanggung-tanggung semerbak. Hmmm..

Setelah Raisya selesai berpakaian kembali, kak Zahra muncul sambil membawa kentang goreng. “Mau?” kak Zahra menyodorkan ke arah Raisya. Segera dicomot oelh adiknya itu. Dan dari arah belakang nya, Raka juga sudah siap-siap mau mengagetkannya kembali. Tapi kali ini gagal, karena kak Zahra susah m3ndapatkan kedipan mata dari Raisya. Mengisyaratkan kalau akan terjadi sesuatu dari arah belakangnya. “Hmmmmm... Kamu yaaaaaa.... Selalu sajaaaaa...” kak Zahra dengan cepat membalikkan tubuhnya. Gantian Raka yang terkejut, karena malah dikagetkan kakaknya itu. “Rakaaaaaa...” teriakan kak Zahra memenuhi ruangan kamar Raisya. Raka sertamerta lari memutar, mengelilingi kamar, takut dimarahi kakaknya. “Astaqfirullaaah... Gak kakak, gak adik.. semuanya sama ajaa... Kayak bocah!” seru Raisya.

“Udah.. udah... Ini kentang pada mau gak? Atau aku habiskan yaa....” Raisya mulai sedikit kesal, karena kamarnya jadi awur-awuran akibat ulah keduanya. Akhirnya mereka berhenti berlari. Bukan karena ancaman Raisya. Tapi karena keduanya sudah sangat lelah dan berkeringat lagi, akibat olah raga sore ini.

“Dek, kamu dah sholat ashar?” “Sudah kak. Di kamar tadi. Aku kan tepat bangunnya. Ketiduran tadi, jadi gak sempat ke masjid. Maafin yaa kak.” jawab Raka panjang lebar.

Kak Zahra dan Raisya memakluminya. “Eh kak Raisya.. kemarin itu, kak Rio, teman kakak ya?” Raisya hanya mengangguk dan tatapan matanya beralih ke arah kak Zahra. “Ganteng! Baik lagi.” “Hah.. kamu ketemu dimana?” tanya Raisya. “Dirumah ini lah. Pas kemarin dia mau pulang.” “Trus, tau dia baik, dari mana?” “Dari sorot matanya lah.. gimana sih kakak. Untuk melihat orang itu baik atau enggak, kita bisa baca dari matanya kak..” nada suara Raka agak sedikit sombong menjelaskannya. “Uuuuhhh sok tau kamu anak keciiil..” sahut kak Zahra. “Belum juga dekat, jangan menilai dulu tau!” titah kak Zahra lagi.


******


PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 20

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok15
#BlueMorpho
#Day20
#JumlahKata708
#SarkatJadiBuku

Penulis : Puti Intan Akhbari
Judul : Raisya

******

“Kapan kak Rio mau kesini lagi kak?” pertanyaan Rio jelas bikin Raisya kaget. “Apa-apaan sih Rakaaaa!!” agak teriak Raisya berkata. “Aku kan senang kalau punya kakak laki-laki juga. Jadi aku bisa main bola deh..” Raka menjelaskan permintaannya.
Raisya diam. Matanya menatap kak Zahra yang hanya senyum-senyum sedikit. “Eh, ngomong-ngomong, kakak punya kabar gembira loh!” seru kak Zahra dengan nada yang tentu saja girang.
“Apaa kak?” serentak dua adiknya bertanya penasaran.
“Hayoooo yang bisa nebak, bakal kakak bikinin burger lezaaaaat..” kak Zahra malah main tebak-tebakan, bikin adik-adiknya semakin kepingin tau, kabar gembira apa yang akan disampaikan kak Zahra.
“Kakak dikasih uang sama ayah yaaa..” jawab Raka.
“Salah!”
“Ooohh.. aku tau.. aku tauuu.. pasti kakak diterima kerja kaaaaan???” Raisya menebak sambil mengerlingkan matanya kearah kak Zahra. “Yeeeeeay aku benarkaaan kak?” kak Zahra senyum-senyum. Lalu mengangguk dan mengangkat tangannya ke dekat dada, layaknya sedang berdoa. “Doa kakak diijabah Allah dek.. Alhamdulillah..”
“MasyaAllaah... Alhamdulillah...” hampir serentak Raka dan Raisya mengucap syukur. Allah Maha Baik.
*Lalu.. nikmat Allah mana lagikah yang akan kau dusta ini?*
Mereka berpelukan bertiga. Adik kakak yang selalu support satu sama lain. Yang selalu mengerti kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing. Sehingga jarang sekali ada pertengkaran. Bahkan bisa dibilang tidak pernah ada perselisihan. Betapa hebat didikan orangtuanya. Anak-anak hebat merupakan cerminan dari orang tua yang luar biasa.
“Itu dimana kak? Di Restoran yang kemarin kakak interview itu ya?” tanya Raisya.
“Iya. PT. Swadaya Pratama. Itu nama perusahaannya. Lokasinya di pusat kota. Kakak dipanggilnya untuk penempatan yang di restorannya. Back office. Mengurus keuangan dan pembukuannya.”
“Aku senang dengarnya kak. Mudah-mudahan ini yang terbaik buat kakak dan keluarga kita. Aamiin..”
Tiba-tiba Raka memeluk kak Zahra lagi. “Loh..loh.. ada apa ini dek?” sambut kak Zahra kebingungan. “Hahahaha.. Raisya malah tertawa.. dia takut tuh kak gak kebagian burger yang nikmat.. yeeaaay.. aku dapet dooong..” Raisya malah manas-manasin, seolah tau perasaan Raka. “Kak.. pliiiisss.. aku dibagi yaa burgernya.. walaupun tebakan aku salah..” ternyata benar. Raka malah terang-terangan minta dispensasi agar dibuatkan burger kesukaannya juga. Kak Zahra tersenyum. “Buat adik-adik kakak yang cantik dan ganteng... Pasti akan kakak buatkan..! Ayooo kita kemooon...” ajakan kak Zahra untuk segera turun. Raka yang paling histeris. Paling riang. Dan segera melompat untuk turun. Sementara Raisya berbisik, “Aku ke kamar sebentar ya kak.” Ijinnya. Kak Zahra mengacungkan jempolnya. Menandai setuju atas permintaan Raisya. Ia tau, Raisya sedang ada masalah. Keliatan dari sikap dan gerak-geriknya. *Nanti malam aku akan coba bahas sama Raisya* begitu pikirnya.
.....
*Greeek greeek*
Berkali-kali getaran handphone milik Raisya berbunyi pertanda ada pesan masuk. Tapi yang punya masih asyik bercengkarama dengan saudara-saudaranya. Sementara yang mengirim pesan, malah gak sabaran. Saking gak dibacanya, ia pun mencoba menelpon. Tapi tak juga ada jawaban. Rio sudah uring-uringan. Dia duduk, lalu berdiri. Lalu duduk lagi. Mondar mandir dikamarnya yang ukurannya lumayan luas. Kamar Rio terlihat gagah. Nuansa warna biru tua, putih dan hitam menjadi pilihan nya untuk cat dinding dan dekorasinya. Tempat tidur cukup lebar, dengan tumpukan bantal yang agak banyak. Rio memang penyuka bantal. Ia akan tidak nyenyak tidur, kalau tidak dikelilingi bantal. Agak sedikit aneh memang kebiasaannya. Didinding, tergantung beberapa lukisan dan foto mobil dan motor dengan berbagai bentuk. Hobbinya otomotif. Yang paling menarik, di sudut ruangan terpajang banyak bola basket. Berbagai corak. Beragam merk. Menjadi pemain andalan dalam tim basket semenjak duduk dibangku sekolah, membuatnya mengumpulkan bola-bola bekas dipakainya dari jaman dulu. Kenangan. Begitu pikirnya.
Akhirnya setelah capek bolakbalik, Rio duduk di single sofa yang ada dikamar itu.
Agak gelisah, karena chat yang dikirimnya tidak mendapatkan respon. Ia ke kamar mandi. Berwudhu. Mengulang wudhunya. Karena ia merasa batal wudhu. Berharap dengan wudhu bisa meredakan kekesalan hatinya. Rio membatin. Raisya lagi apa? Kenapa responnya lama yaa.. padahal tadi sudah janji untuk membahasnya melalui chat.
....
Ceklek.
Raisya masuk ke kamarnya lagi.
Segera diraihnya handphone miliknya. Benar dugaan Raisya. Sederetan chat masuk dari Rio sudah menunggu. Lalu mulai dibacanya perlahan.
Isinya sama.
Rio memintanya bercerita tentang kejadian siang tadi dikampus.
Pemuda itu, benar-benar sayang sama aku ya..
Hal kecil pun selalu menjadi perhatiannya.
*Kak. Maaf ya. Aku tadi sedang dikamar Raka.* tulis Raisya di chat pertamanya.
Dan chat itu langaung disambut balasan dari sebrang.
*Ok.*
Lalu hening. Raisya juga pun diam. Beberapa saat lamanya. Ia bingung mau memulai cerita dari mana.
*Kenapa diam Raisya?*
Rio kembali menulis pesan. Audah kurang kesabarannya.

******

PJ : Julwitaaz
KK : Rhara Ratih Ratnawury
Neng Jaga : Alma Cho

Bab 21

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok15
#BlueMorpho
#Day21
#JumlahKata712
#SarkatJadiBuku

Penulis : Puti Intan Akhbari
Judul : Raisya

*****

*Aku bingung harus memulai cerita dari mana kak.* tulis Raisya, membuat Rio yang membacanya semakin tidak sabar.
*Aku ke rumah kamu sekarang ya.* Rio membalas chat Raisya seperti itu.
Astaghfirullah... Spontan Raisya terkaget. Rio selalu refleknya cepat. Untuk sesuatu yang menurutnya penting, ia tidak mau menunda-nunda. Memang pemuda soleh. Seketika dibukanya lemari pakaian, mengambil jaket hitam kesayangannya, tas kecil dan bergerak keluar.
*Kriiiing.. kriiiing..* dering hpnya tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dibuka dan dilihatnya, tertulis *Soulmate*
Raisya ternyata yang telpon. Segera diangkatnya, tanpa pikir panjang lagi.
“Assalamualaikum..” jawab Rio.
“Waalaikumussalaam.. kak Rio Jangan kesini. Kakak kenapa ya, selalu nekat dan mengambil keputusan sepihak seperti itu. Baiknya kakak kalau mau kerumahku, minta ijin dululah. Jadi aku gak perlu kaget. Gimana sih kak Rio ini. Kita kan sudah bikin perjanjian. Kenapa selalu saja ikut campur urusan aku. Selalu mau tau. Aku gak suka!” cerocos Raisya dari ujung telponnya. Diam sebentar, lalu lanjut lagi, padahal Rio belum sama sekali memberikan penjelasan.
“Kakak sudah baca isi surat yang aku kasih ke kakak kemarin kan? Tulisannya jelaskan? Trus sekarang kenapa kakak malah teror aku terus....” nada suara Raisya sedikit tinggi. Sepertinya ia emosi tingkat dewa. Belum pernah Raisya terlihat sebegitu emosinya seperti saat ini.
Hening. Raisya terdiam. Rio juga tidak memberikan tanda-tanda akan membalas perkataan Raisya tadi. Rio seakan memberikan ruang dan waktu, agar Raisya bisa mengeluarkan isi hatinya. Hampir sampai lima menitan, tak ada yang bersuara. Senyap.
Sampai pada..
“Kaaak Raisyaaa..” suara Raka memecahkan kesunyian. Sambil membuka pintu kamar yang tidak terlalu tertutup itu, Raka melongokkan wajahnya ke dalam kamar. Dilihatnya kak Raisya berdiri bagai patung, didekat jendela kamar, memandang keluar, ke arah langit lepas.
Lalu Raka melangkah masuk. Mendekati kakaknya.
“Kak..” suaranya merendah, melemah. Dilihatnya kakaknya seperti orang yang mau menangis. Matanya sudah merah dan air sudah menggenang disana. Hanya tinggal tunggu waktu yang tepat, agar bisa mengalir.
Raka inisiatif, diambilnya handphone yang masih dipegang ditangan kanan Raisya. Maksudnya, hendak meletakkan ke atas meja. Hanya seketika ia melirik ke arah layar hp itu, masih ada panggilan masuk disana. Kak Raisya sedang berbicara sama siapa ya? Raka pun penasaran. Apa orang tersebut yang membuat kakaknya sampai sesedih ini. Orang jahatkah?
Raisya masih mematung. Pikirannya masih mengembara entah kemana.
Ia terduduk dikursi dekat meja belajarnya.
Raka yang masih memegang telpon itu, kemudian mendekatkan telinga dan mulutnya.
“Hallo..” suara Raka agak tegas dan diberat-beratkan.
“Raka! Itu kamu adik kecil?” ujar suara laki-laki dari telpon itu.
“Ini.. siapa?” Raka bukannya menjawab pertanyaan, malah balik bertanya. “Rio. Kak Rio. Kamu masih ingat? Kita kwtemu dirumah kamu waktu itu.”
Astaghfirullah... Raka terkaget. Ternyata kak Rio yang telpon. Berarti kak Rio yang membuat kakaknya hampir menangis. Ups, sekarang malah sudah menangis. Sambil duduk.
“Raisya kenapa diam saja dari tadi dek?” tanya Rio lagi.
“Kak Raisya sedang menangis. Kakak kenapa bikin kakak aku jadi sedih begini? Jangan jahatin kak Raisya kak. Aku sayang kakakku!” Raka panjang lebar menjelaskan. Yaa.. Allaaah .. Raisya menangis lagi. Ternyata ia menangis lagi.. setelah tadi dikampus. Ada apa ini? Ada permasalahan apa yang menimpa Raisya sampai segitu dalamnya. Raisya yang ia kenal, biasanya Raisya yang ceria, walaupun memang sedikit introvert.
“Raka, dengarkan kata-kata kak Rio dengan baik ya dek. Yang pertama, bukan kakak yang menyebabkan kak Raisya menangis. Yang kedua, kakak juga sedang mencari tau, kenapa kak Raisya belakangan agak sering bersedih. Seperti itu. Jadi, kakak gak ada niat sama sekali akan menyakiti kakakmu.” Rio menjelaskan dengan sangat pelan pada Raka, bertujuan Raka bisa mengerti dan mau membantunya menyelesaikan permasalahan Raisya.
“Sekarang gini. Kakak malam ini rencana mau kesana. Tapi kakak masih ragu, apakah akan diijinkan oleh om Ahmad. Raka bisa bantu kak Rio?”
“Ya.. bantu apa kak?”
Rio kembali memberikan penjelasan dengan lebih detil tentang kejadian siang tadi pada Raka. Ia ingin Raka mengerti, bahwa ada sesuatu hal yang harus segera diselesaikan agar tidak berlarut mengganggu kehidupan dan keseharian Raisya.
“Ya.. aku setuju. Baik kak. InsyaAllah pasti aku bantu. Ini demi kakakku. Tapi, satu pertanyaan Raka buat kak Rio.” Diam sejenak. Raka masih ragu sebenernya untuk mengatakan ini, secepat ini. Bahkan disaat ia baru bertemu satu kali dengan Rio. Pertemuan singkat waktu malam itu. Hanya saja, hatinya mengatakan, kalau ia memang harus segera menanyakan ini.
“Maaf ya kak. Bukan maksud Raka ingin masuk ke ruang pribadi kak Rio. Hanya, Raka perlu tau, apa kak Rio sayang sama kak Raisya?”

*******

PJ : Julwitaaz
KK : Rhara Ratih Ratnawury
Neng Jaga : Alma Cho

Bab 22

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok15
#BlueMorpho
#Day22
#JumlahKata700
#SarkatJadiBuku

Penulis : Puti Intan Akhbari
Judul : Raisya

******

Deg. Jantung Rio seakan berhenti. Pertanyaan Raka membuatnya dilema. Disatu sisi, ia berjanji tidak akan membocorkan perihal itu pada Raisya. Disisi lain. Ini yang bertanya adalah adiknya sendiri. Apakah Rio tetap harus menutupinya?
“Raka, kak Rio boleh bicara sebentar dengan kak Raisya?”
Raka lalu menyadarkan Raisya dan menyerahkan hp yang ada ditangannya. “Kak.. ini kak Rio masih mau bicara dengan kakak..”
“Gak usah dek. Tutup saja telponnya.” Jawab Raisya masih sambil bermenung.
Raka mengangguk tanda menyetujui keinginan Raisya. “Hallo kak Rio.. kakak gak mau katanya. Raka tutup dulu telponnya ya..” “Rakaaa.. raakaa.. tungguuu..” tapi teriakan itu percuma. Tuuut...tuuuutt.. tuuuut..
Astaghfirullah.. Rio hampir saja membanting telponnya. Ia jadi ragu. Apakah akan tetap ke rumah Raisya, atau tidak. Kalaupun kesana, ia yakin, Raisya tidak akan mau menemuinya. Kali ini Rio agak menyerah. Ia akan merasa sia-sia kalau tetap memutuskan untuk kesana. Ia pun kembali memutar otak untuk mencari solusi lain. Apa yaa.. apa! Pikirannya seperti sudah mentok. Buntu.
Sementara dirumah Raisya.
“Rakaaaa.. Raisyaaaa..” panggilan kak Zahra kepada dua adiknya itu memecahkan ketegangan yang terjadi dikamar Raisya. Raka yang tersadar lebih dulu, lalu menowel kakaknya. “Kak Zahra mabggilin kita tuh! Burger nya pasti udah jadi.” Tanpa baaa basi lagi, Raka lalu menarik tangan Raisya. “Ayoooo kaaaak...” sedikit memaksa dan seolah masa bodo dengan persoalan tadi, Raka berhasil mengajak Raisya turun. Raisya yang tadinya semangat saat akan mendapatkan burger kesukaannya, sekarang malah teelihat ogah-ogahan melangkah menuju dapur.
“Yeeeeaaay.. mana punya aku kak?” tanya Raka begitu melihat ada tiga burger diatas meja makan. Raka biasa gak pakai saos sambel, jadi gak pedas. “Punya kamu yang ditengah dek. Gak pakai saos sambel. Ayoo Raisya, itu bagian kamu, ambil. Jangan duduk aja bengong.”
Kak Zahra juga ikut makan burger buatannya. Bertiga mereka melahap makanan favorit di keluarga itu.
Tanpa banyak omong. Entah karena saking lapernya. Atau karena sedang menikmati suapan demi suapan.
.....
“Allaaahuakbar.. Allaaahuakbar..”
Azan Magrib berkumandang. Diiringi gemericik hujan yang agak deras. Raka ijin tidak ke masjid. Kali ini ia hanya sholat dikamarnya.
Ayah juga sudah pulang dari sesaat sebelum magrib tadi. Mereka sholat magrib dikamar masing-masing. Sampai azan Isya berkumandang, belum seorang pun yang keluar dari kamarnya.
*Ting tong*
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Sudah malam. Siapa yang bertamu jam segini?
Ayah yang mendengar bunyi bel, langsung keluar kamar dan melihat siapa yang datang. Pria berseragam hijau, memegang bungkusan.
Siapa yang memesan makanan online jam segini? Zahra? Atau Raisya?
Ayah membukakan pintu. Mengambil paket makanan yang diberikan oleh kurir itu.
Tertulis nama Raka disana.
Raka memesan makanan? Ayah kaget. Kok bisa?
Lalu sesaat kemudian, setelah pintu ditutup dan abang kurir itu pergi, “Rakaa..” suara berat ayah memanggil Raka, terdengar juga oleh Raisya dan kak Zahra.
Ketiganya terkaget, karena nada suara ayah yang tak biasa.
“Ya ayah..” jawab Raka dan langsung menuruni tangga. Kak Zahra dan Raisya yang tidak dipanggil pun ikut-ikutan turun kebawah. Mereka juga penasaran, ada apa. Karena tadi ada bel pintu berbunyi dan tak lama ayah memanggil Raka.
“Ini apa?” pertanyaan singkat dari ayah membuat Raka mengernyitkan dahinya. Ia gak ngerti. “Apa ayah? Bungkusan maksud ayah? Apa ini? Iniii.. iniii.. sate padang ayah.. sepertinya sate padang..” lalu ketiganya menatap ayah. Raka malah memeluk ayahnya. “Terimakasih ayah.. ayah beliin kita sate padang. Udah lamaa banget gak makan ini.” Raka langsung mengambil makanan yang ada di tangan ayah. “Tunggu! Ini bukan ayah yang beli.” Jawab ayah datar. “Diantar kurir tadi. Dan nama yang tertulis disini, nama kamu Raka. Kamu belajar pesan makanan begini dari mana?” “Loh.. Raka gak pesan ayah.” Jawab Raka bingung. “Kak Raisya atau kak Zahra mungkin...” Raisya dan kak Zahra saling pandang, kemudian menggelengkan kepalanya. “Aku enggak ayah.” Serentak berduaan menjawabnya.
Siapa yang mengirim ini ya? Pikir Raisya. Apa sahabat-sahabatnya? Karena yang tau kalau satw padang adalah salah satu menu favorit keluarga kan tidak banyak. Paling sahabatnya. Atau... Apa kak Rio ya? Dia yang kirim ini? Raisya langsung pamit ke atas tiba-tiba. Ia mengambil hpnya.
Ada chat disana. Ketika dibacanya. Benar saja.
*Raisya, aku kirim sate padang kesukaan kamu dan keluarga. Salam buat ayah. Raka dan kakak.*
Itu isinya.
Haduuuuuh.. Rio apa-apaan sih. Aku harus menjelaskan bagaimana ke ayah. Apakah ayah akan marah lalu membuangnya? Raisya mengacak-acak rambutnya sendiri karena galau bukan main.
Lalu ia balik turun ke bawah. Sambil membawa hpnya.

******

PJ : Julwitaaz
KK : Rhara Ratih Ratnawury
Neng Jaga : Alma Cho

Bab 23

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day23

#JumlahKata718

#SarkatJadiBuku


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


******


Mereka menikmati makanan kiriman Rio dengan hati dan perasaan masing-masing. Karena semua bungkam. Entah karena malas atau karena enaknya rasa sate tersebut membuat mereka tak berkata-kata satu sama lain.

Hanya Raka yang sesekali terdengar berceloteh mengomentari kenikmatannya. Tanpa ada tanggapan dari siapapun diruangan itu.

Malam semakin kelam. Cuaca tidak rinJikam Tidk hujan. Tapi juga tidak ada bintang. Mungkin langit mendung. Hanya tak terlihat karena gelap gulita. Jika mendung, akankah hujan kembali menemani istirahat malam ini? Lalu hujan yang bagaimana, hanya gemericik atau bahkan hujan yang seperti air ditumpahkan. Tak ada yang bisa menebak itu. Semua keputusan sesuai dengan keinginan Sang Penciptanya. Kita hanya mampu berdoa, berharap, dan menunggu hasilnya. Maka selalu lah mengucapkan kebaikan, agar hal baik itu pula yang akan mewarnai keseharian kita.

Begitupun dengan cinta. Jika mencintai Nya dengan indah, maka kita pun akan dapat balasan dari Nya. Cinta yang berkali-kali lipat lebih indah, sehingga kebahagiaan mewarnai perjalanan hari-hari kita.

“Yaa.. Allah, bantu aku bisa bertemu kembali dengan bu Entin..” 

Begitu permintaan Raisya, sesaat sebelum menutup matanya malam ini. 

.....

Jauh di sana, di rumahnya, Rio masih duduk, ditemani seorang laki-laki dewasa. Tampak rambutnya sebagian juga sudah memutih. Wajahnya walaupun ada beberapa kerutan, namun kegantengannya masih terpancar jelas. Kulit putih, dengan sedikit kumis menghiasi wajahnya. Alis tebal. Hidung mancung. Perawakannya pun terlihat tinggi dengan berat badan yang proporsional. Sepertinya, waktu mudanya, tubuh itu atletis. Istilahnya keren cuy!

Pembicaraan mereka terlihat serius. Duduk berhadapan di ruangan yang cukup luas. Sofa ukuran besar dan meja bulat yang membatasi mereka, membuat ruangan tersebut terasa agak kaku. Sekaku pembicaraan saat itu.

“Papi mau kamu setelah lulus ini, segera ke Singapore, Rio. Semua sudah menunggu disana. Sudah papi siapkan, posisi itu akan kamu yang pegang. Kapan wisuda?”

Ya. Dia adalah orang tua Rio. Pak Imam. Seorang pengusaha yang sudah profesional di bidangnya. Perusahaannya tidak hanya ada di kota ini. Tapi juga di luar negeri. Beberapa kota besar di luar, menjadi sasarannya untuk mengembangkan usaha tersebut. Selama ini, ia menetap di Singapore, bersama istri dan anaknya yang lain. Sementara Rio, anak keduanya, tinggal seorang diri di kota ini, hanya ditemani beberapa pelayan dan pengurus rumah yang selalu siap membantunya dalam urusan rumah tangga.

“Papi. Aku tidak bisa. Aku tidak mau menetap di Singapore. Kan ada kakak juga yang mengurus semua disana. Aku disini saja. Aku bahagia disini.”

Rio mengeluarkan isi hatinya. Ia kaget, karena tiba-tiba, setelah isya tadi, penjaga pintu melaporkan, papinya sudah sampai di gerbang depan. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Tak seperti biasanya. Papi, kalau mau datang, selalu mengabari terlebih dahulu. Karena harus ada persiapan dalam menyambut kedatangannya, termasuk hidangan makan dan minum pun, harus disesuaikan dengan apa yang disukai papi. Makannya terkontrol bagian gizi. Jadi tidak bisa sembarang saja membuat menu untuk Pak Imam.

Tapi hari ini. Dengan tanpa kabar, ia sudah langsung ada di depan pintu gerbang, dan semua penghuni rumah terkejut. Akhirnya, semua langsung sibuk, secara dadakan menyiapkan kebutuhan tuan besar, majikannya yang datang mendadak.

“Papi, kenapa tidak memberi kabar sebelum kemari?”

Tanya Rio agak tegang. Ia melihat raut muka papi mengernyit. Tanda ia kurang suka dengan peetanyaan yang dilontarkan Rio. Dan benar. Pertanyaan itu dibiarkan begitu saja, tanpa jawaban.

“Kamu dengar perkataan papi tadi kan? Pertanyaan papi belum kamu jawab! Kapan wisuda?”

“Bulan depan.”

Singkat. Diam. Sunyi sesaat.

“Bagus. Nanti papi minta pak Alam menyiapkan administrasi keberangkatan kamu. Tugas kamu hanya, menjalani wisuda dengan baik. Ok.”

Rio tertunduk. Tidak ada niat untuk melawan perkataan papinya. Tapi ia juga tidak ada niat untuk meninggalkan kota ini. Ia tidak menyangka sama sekali, kota kelahirannya ini, akan berjauhan dengannya. Bahkan ia sudah menata mimpinya untuk melanjutkan hidup disini saja. Bersama pujaan hatinya. Raisya.

Dengan berat hati, ia akhirnya memberanikan diri membuka forum diskusi dengan papi.

“Maafin aku papi. Aku tidak bermaksud melawan kehendak dan keputusan papi. Aku juga ingin menjadi anak yang berbakti. Seperti kakak yang sudah lebih dulu masuk ke perusahaan yang di Singapore itu. Maukan papi mempertimbangkan semua itu lagi? Biarkan aku yang mengurus bisnis papi disini. Aku juga belum mengenal situasi di negara itu. Akan sangat lamban jalannya, kalau mesti memulai mengenal dari awal lagi. Terlebih sudah ada kakak disana.”

Wajah papi mengeras. Sedikit memerah mendengar penjelasan panjang dari Rio itu. Tak ada dalam kamusnya penolakan. Terlebih penolakan dari anak. Jika ia mengatakan A berarti hanya A yang akan dijalani. Tidak bisa berubah B apalagi Z. Tidak.


******


PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 24

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day24

#JumlahKata704

#SarkatJadiBuku


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


*******


Pak Imam wataknya keras. Prinsipnya jelas. Keyakinannya kuat. Hanya tabiat buruknya, susah menerima pendapat dari orang lain. Rio diam. Ia hanya menatap lurus ke arah jendela. Langit sangat gelap. Tak ada yang terlihat, hanya redup pendar cahaya lampu taman yang membantu memancarkan sinarnya agar ada sedikit cercah.

Ia tau, ia paham benar bagaimana papinya. Rio, juga selama ini sampai usia seperti saat ini, menjadi anak yang selalu menuruti perintah orangtuanya. Bahkan ia tinggal sendiri di Indonesia pun, karena keputusan papi saat itu. Ia masih ingat benar, apa yang papi jelaskan saat itu.

“Rio. Kamu harus segera belajar mandiri. Walaupun kamu baru duduk di bangku sekolah menengah pertama, tapi papi harap kamu bisa segera menyesuaikan dengan kebiasaan baru. Lusa, papi akan berangkat ke Singapore untuk mengikuti prosesi kelulusan kak Ramiy disana. Mami ikut. Adiba juga papi bawa. Selanjutnya, papi dan semua akan tinggal di sana sampai waktu yang belum ditentukan. Papi akan merintis usaha baru disana.” Penjelasan itu cukup panjang. Membuat Rio kecil terkaget. Tiba-tiba sekali. Tak ada diskusi dan tanya jawab sebelumnya.

“Lalu, bisnis papi disini bagaimana?” Rio sedikit kebingungan. “Sudah papi serah terima pada pak Ghani. Sementara beliau akan mengontrol langsung disini.”

Diam sejenak. “Setelah kamu lulus kuliah nanti, kamu akan jadi penerus perusahaan papi disini.”

Mami yang duduk disamping papi saat itu, hanya mampu menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Tak mampu berkata-kata. Tak mampu membuat pernyataan penolakan. Juga tak mengeluarkan persetujuan. Serba salah. Sebagai istri ia harus mengikuti suami. Disisi lain, ia juga seorang ibu. Naluri ibu, yang sangat menyayangi buah hati yang sudah dilahirkannya. Tak tega meninggalkannya sendirian dalam usia semuda itu. Sementara Adiba, adik kecilnya, langsung memeluk Rio dengan erat. Anak usia tujuh tahun itu seolah mengerti bahwa ia akan berpisah dengan sang kakak. Padahal ia sedang senang-senangnya menikmati waktu bermain dengan kakaknya setiap hari. Tiba-tiba harus segera berpisah. Sedih sekali.

Namun, hari ini keputusan itu berubah. Disaat ia merasa sudah sangat betah dengan alur kehidupan disini. Disaat ia sudah sangat menikmati sehari-hari tanpa halangan dan tanpa masalah sendiri.

Papi malah merubahnya keputusannya. Kenapa? 

Hati Rio bergejolak. Astaghfirullah. Berkali-kali bibirnya mengucapkan kalimat istiqfar itu. Ia ingin menenangkan hatinya yang sedari tadi merasakan goncangan luar biasa.

“Papi.. Rio minta maaf.”

Rio berdiri. “Rio sudah menyiapkan kehidupan disini. Rio sudah menata semua pi. Termasuk kehidupan kedepan. Rio juga sudah punya calon untuk menjadi pendamping nanti.”

Papi langsung menatapnya dengan tajam. Tatapan terkejut. Ia tidak menyangka, anaknya sedemikian rupa sudah menyiapkan segalanya disini. Sendiri. Betapa ia berhasil membuat Rio mandiri. Termasuk dalam menghasilkan keputusan sendiri.

Pak Imam berdiri dari kursinya. Berjalan mendekati anak bujangnya. Ditatapnya Rio dalam jarak dekat. Benar. Sudah dewasa ia sekarang. Bukan bocah kecil yang hanya bisa merengek minta permainan, seperti saat ia tinggalkan dulu. Rio sudah tumbuh besar. Tinggi, bahkan melebihi tinggi papinya. Ia tak menyaksikan hari demi hari pertumbuhan itu.

Setelah menatap lama, iapun tertunduk. Terbersit rasa labgsung. sorot matanya. Pak Imam tersadar, selama ini ia merasa kurang memperhkomunikasi.knya yang nomor dua ini. Yaa Allah. Betapa sudah dewasanya ia. Bocah kecil yang aku tinggalkan, dulu masih belum mengerti apa-apa, saat ini ia sudah bisa memutuskan masa depannya sendiri. MasyaAllaah. Anak yang luar biasa. Tumbuh sendiri. Melakukan sesuatu serba mandiri. Sekolah. Dirumah. Berkegiatan. Bergaul. Tanpa bimbingan orang tua langsung. Ia hanya menitipkan Rio pada asistennya yang membantu melancarkan komunikasi.

Saat ini ia sudah tumbuh besar. Menjadi pemuda yang gagah. Pasti saja banyak teman wanitanya yang menyukainya. Cerdas. Tampan. Kaya. Dan sebentar lagi akan lulus kuliah dengan nilai sangat memuaskan. Setelah lulus, juga akan langsung memimpin perusahaan. MasyaAllaah.

Pasti Rio menjadi rebutan di kampusnya. 

“Siapa dia? Wanita pilihanmu itu?” suara papi sedikit melembut. Mencoba untuk memberikan kesempatan kepada anaknya untuk menjelaskan.

Kemudian ia kembali duduk dikursi yang sama dengan yang tadi didudukinya.

Rio pun juga kembali duduk.

“Gadis sederhana papi. Begitu manis. Ia juga cerdas. Hanya saja, saat ini ia masih kuliah di semester empat. Masih sekitar dua tahun lagi baru akan selesai dari kuliahnya. Calon dokter hewan.”

Rio menjelaskan pun dengan perlahan. Berhari-hati sekali, ada sedikit ketakutan dalam dirinya. Takut apakah papi akan menerima penjelasannya itu. Atau bahkan menolaknya mentah-mentah. Yaa Allah. Kuatkan aku. Begitu batinnya.

“Besok jam empat sore, papi tunggu dia disini.” Hanya satu kalimat itu yang keluar dari mulut papinya, setelah ia menjelaskan panjang lebar tadi.


*****


PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 25

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day25

#JumlahKata719

#SarkatJadiBuku


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


*****


Lalu pak Imam bangkit. Berjalan meninggalkan ruangan itu. Menuju kamarnya. Fisiknya sudah lelah. Sudah sangat larut. Ia ingin beristirahat. Dan meninggalkan Rio sendirian disana. Rio belum menjawab permintaan papinya itu. Ia hanya mampu mengangguk dalam kesendirian. 

......

Sinar mentari pagi sudah melihatkan kukunya. Menyapa semua makhluk bumi dengan pancarannya yang langsung terasa terik menyengat. Sepertinya akan panas sekali hari ini.

Semua sudah mulai beraktifitas. Termasuk para kambing, yang sedari tadi terdengar meng embeek... Mungkin itu artinya teriak-teriak meminta makan pada tuannya. Suaranya masih terdengar sayup dari kejauhan. Tidak terlalu jelas sih, tapi Raisya yang sedang asyik memberi makan meong-meong peliharaannya, bisa mendengar teriakan mbek itu.

Ia masih belum rapi. Juga belum mandi. Tak ada jam kuliah pagi hari ini. Jadi ia bisa menyempatkan berlama-lama di kandang meong yang memang special dibikinkan ayah untuk peliharaannya itu. Sambil foto-foto dengan binatang kesayangannya itu, ia juga menyempatkan membuka chat yang masuk. Belum ada balasan dari bu Entin. Chatnya kemarin pun, kayaknya belum masuk ke hp ibu itu. Karena masih ceklist satu dan berwarna abu. Belum masuk. Pikirnya.

Raisya kembali menyibukkan dirinya bermain dengan pus meong. Di rumah, ia hanya sendiri. Ayah, Raka, dan kak Zahra sudah berangkat beraktifitas.

Setelah pada rapi dan sarapan, semua langsung pergi, dan tinggalan Raisya sendirian.

*Tingtong*

Ada yang membunyikan bel pintu. Raisya dengan santai berjalan dan membukakan pintu. Tentu saja setelah mengintip di lubang pintu. “Neng Raisya. Maaf saya telat.”

“Ya bu. Gak apa-apa. Silahkan masuk.”

Ternyata yang datang adalah ibu Irma, ibu yang biasa membantu mereka untuk membersihkan taman, menyetrika baju-baju, membereskan dan melap kaca2 jendela dan perabotan, sekalian bersih2.

Ibu Irma ini hanya datang seminggu 2x. Kalau hari-hari biasa, mereka hanya mengerjakannya sendiri, bergantian adik dan kakak.

Ayah sengaja minta bantuan bu Irma, karena terkadang anak-anaknya sibuk dengan urusan pendidikannya dan pekerjaaannya. 

Bu Irma, tinggal tidak terlalu jauh dari rumah Raisya. Hanya berjarak sekitar 800m. Jadi masih nyaman untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Biasanya bu Irma kerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Jadi seharian, tapi hanya seminggu 2x. Begitu penjelasan ayah pada waktu pertama kali memperkerjakan ibu itu. Syukurnya, bu Irma setuju. Dan ia sangat telaten. Membersihkan rumah dan taman dengan sangat rapi. Membuat isi rumah puas dengan hasil kerjanya. “Neng Raisya, ini kain yang mau disetrika, mana lagi ya? Kenapa hanya sedikit?” bu Irma bertanya seperti itu, karena ia mendapatkan kain hanya ada satu tumpukan. Tidak banyak seperti biasanya.

“Iya bu. Sebagian sudah saya kerjakan bu. Lagi gak sibuk.” Senyum Raisya mengembang. Melihat bu Irma dengan santai. Ia merasa tidak terbebani sama sekali. Ia bahkan senang melakukannya.

“Waaah.. makasih loh neng. Ibu senang sudah dibantu. Tapi lain kali, neng taruh saja semua kain di keranjang ini seperti biasa. Biar saya yang mengerjakannya neng.” Sambut bu Irma mendengar penjelasan Raisya.

Ia hanya mengangguk dan melangkah meninggalkan bu Irma. Aku mau bikin pancake ah.. pancake strawberry. Hmmm..

Belum dibuat saja, ia sudah kelip kelip mata, saking ngebayangin rasa dan nikmatnya panake strawberry itu.

“Bu.. aku didapur ya.. aku mau bikin sesuatu dulu..” pesannya ke bu Irma. 

“Baik neng.” Bu irma lanjut bekerja. Sementara Raisya di dapur mulai menimbang bahan-bahan yang diperlukan itu.

.....

Hari baru menunjukkan jam delapan tigapuluh pagi. Terlihat ada seorang lelaki yang bolak balik dari gedung satu ke gedung lainnya. 

Ia terpaksa masuk ke ruang kelas, karena beberapa kali mondar mandir, tidak menemukan orang yang dicarinya.

“Off. Gak ada kelas pagi ini.” Begitu informasi dari temannya yang beda tingkat.

Langsung saja tanpa tunggu lama, ia mengeluarkan hpnya.

*Assalamualaikum. Kamu dimana?*

Pesan terkirim. Lalu ia menunggu balasannya beberapa saat. Lumayan lama. Tapi tak ada jawaban.

*Raisya. Kamu lagi dimana?*

Pesan kedua dikirim. Dan sama. Ditunggu. Lalu nihil.

Sementara yang dikirimi pesan, sedang asyik didapur membuat pancake sambil bersenandung.

Hpnya tadi sudah diungsikan kekamarnya, untuk di cas karena habis batere setelah selfi-selfi dengan pussyi. Dalam posisi off.

Tak tahan menunggu terlalu lama, pemuda itu lalu mencoba menelpon langsung.

*nut.. nut.. nut..*

Zonk.

Dua kali mencoba hasilnya sama. Ia akhirnya memutuskan untuk izin dari mata kuliah pagi ini.

Ia nekat menemui Raisya labgsung ke rumahnya. Pasti dirumah. Pikirnya.

Raisya yang baru saja menyelesaikan kuenya, kemudian naik kekamar, bermaksud mandi dan bersih-bersih. Segera mengambil handuk dan masuk kamar mandi.

Sejuknya air shower seketika membasahi tubuhnya. Mandi tanpa terburu-buru itu nikmat. Tak ada yang menunggu diluar, tak ada yabg mengetok-ngetok pintunya. Jadi bebas bisa berlama-lama.


*****


PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 26

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day26

#JumlahKata706

#SarkatJadiBuku


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


******


Kuliah juga masih siang. Amanlah.

Baru beberapa saat berpikir begitu, tiba-tiba, *tok tok tok*

Pintu kamar mandi malah ada yang ketok. Pasti bu Irma, siapa lagi kalau bukan ibu itu.

“Ada apa bu? Saya mandi dulu.” Raisya menjawab ketokan itu.

“Neng, ada tamu.” Hening sesaat. Tamu? Jam segini. Siapa?

Raisya hanya bertanya-tanya dalam hati. Tapi si ibu seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran Raisya. “Laki-laki.” Suaranya terdengar sedikit berbisik.

Hah. Raisya terperanjat. Tak sengaja ia menjatuhkan botol shampo yang tadi masih dalam genggamannya. 

Laki-laki? Siapa? Ah.. gak mungkin dia. Gak mungkin senekat itu juga.

“Rio.” Kata bu Irma sambil tetap berbisik.

Kali ini bukan hanya kaget saja. Raisya malah sedikit teriak saking sangat terkejutnya..

“Aaah.. bu.. yang benar saja!”

“I.. iya neng..” ibu ke bawah lagi ya. Masih banyak yang belum ibu kerjakan.

“Iya bu.. makasii yaa..”

Raisya mempercepat mandinya. Ia tak jadi menikmati kesejukan air shower dan berlama-lama dikamar mandi. Sebel ih. Mengganggu kesenangan aja. Mau apa sih kak Rio kesini.

Sementara, Rio sudah dipeesilahkan masuk oleh bu Irma. Ia duduk di ruang depan, sendiri. Bu Irma juga sudah menyuguhkan teh hangat serta beberapa toples kue untuk menjadi temannya dalam masa menunggu. Namun Rio tak menyentuh hidangan itu sama sekali. Ia hanya diam mematung, sambil memainkan hpnya. Membuka beberapa aplikasi berita untuk dibaca. Mungkin ia ingin tau perkembangan yang sedang berjalan dinegri tercinta, tempat kelahirannya ini.

Raisya, sudah rapi, sudah mengenakan kerudung pink dan baju dengan nuansa sama. Cantik sekali. Tanpa berdandan, ia tetap terlihat cemerlang. Raisya melangkah turun ke bawah. Pelan, sambil matanya mengarah ke ruang depan. Pikirannya masih menebak-nebak, ada urusan apa Rio sampai datang ke rumahnya. Ia tak melihat hpnya sama sekali. Jadi ia juga tak tau kalau Rio sudah mengirim pesan untuknya sedari pagi tadi.

Setiba dekat ruangan itu, Raisya menyapa, “Assalamualaikum.”

Rio sedikit kaget, karena ia masih dalam posisi menunduk tadi. “Waalaikumussalam.” Ehm.. Rio seolah batuk. Batuj yang seolah hanya dibuat-buat. Berdehem persisnya.

“Cantik.”

Tiba-tiba kata itu meluncur tanpa sengaja dari mulutnya. Ia terpesona melihat keanggunan wanita didepannya. Bagai sedang melihat bidadari. Raisya tak terlalu menggubris pujian yang telah dilontarkan Rio. “Maaf kak. Ada apa kesini?”

Rio lalu berdiri dan mulai menjelaskan. Ia berbicara terus dalam keadaan tegak. 

“Silahkan duduk dulu kak. Aku tidak mengerti, maksudnya bagaimana ya?” Raisya agak bingung. Kebingungan itu cukup beralasan, karena Rio memang menjelaskannya sedikit memutar-mutar. Memang tidak jelas. Karena Rio pun sebenarnya tak tau harus memulai dari mana. 

Bagaimana ini? Rio malah salah tingkah dan menjadi tidak percaya diri untuk bisa menyampaikan maksud kedatangannya. 

Sejenak sepi. Karena keduanya diam. “Aku ada kuliah jam setengah satu sampai jam setengah tiga.”

“Saya antar.” sambut Rio mendengar kalimat yang dilontarkan Raisya.

“Tidak usah. Aku bisa berangkat sendiri kak. Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi. Aku mau beberes dan siap-siap dulu.”

“Tidak apa-apa Raisya. Aku juga ada jam kuliah nanti. Sekalian aku antar ya.”

Mereka memang terlihat kaku. Karena sejatinya, mereka tidak berpacaran selayaknya remaja sekarang. Rio menyayangi Raisya dan menginginkan Raisya kelak menjadi pendamping hidupnya. Ia hanya berkomitmen untuk bisa menjaga, sampai nanti saatnya tiba. Karena kalau saat ini, Rio belum bisa melamar Raisya, mereka masih dalam masa pendidikan.

Raisya sebenarnya juga sudah punya perasaan sayang untuk seniornya itu. Hanya ia tidak berani mengungkap kan secara terang-terangan. Ia bahkan meminta Rio agar menjaga jarak dan mau menghargai keputusannya untuk tidak berdekatan dan menampilkan keakraban mereka, baik saat berduaan ataupun didepan umum.

Raisya sangat menjaga sekali kepercayaan ayahnya. Yang tidak membolehkan pacaran pada anak-anaknya. Tidak ada dalam Islam seperti itu. Begitu penjelasan ayah. 

“Aku telpon ayah dulu ya kak. Aku harus ijin sama ayah kalau mau berangkat sama kak Rio. Sebentar.”

Raisya akhirnya mencoba menghargai ajakan kak Rio. Ia peedi ke atas, ke kamarnya, untuk mengambil hp dan menelpon ayah.

“Assalamualaikum ayah.”

“Waalaikumussalam, nak.. ada apa?”

“Ayah, maaf Raisya mengganggu pekerjaan ayah.” “Ada apa nak?”

Raisya lalu menjelaskan maksud dirinya menelpon ayah. Ia meminta ijin untuk berangkat ke kampus bersama Rio. “Nanti pulangnya bagaimana nak?” “Pulangnya diantar lagi ayah. Jam setengah empat kuliah ku selesainya nanti ayah.”

Ayah akhirnya mengizinkan anaknya untuk berangkat bersama seorang lelaki yang sudah ia beri kepercayaan teesebut. Ya. Ia sudah yakin Raisya insyaAllah akan aman dalam penjagaan Rio. Rio pemuda yang taat aturan agama, Itu yang menyebabkan ayah memberikan kepercayaan.


******


PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 27

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day27

#JumlahKata742


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


******


“Terimakasih ayah. Raisya sayang ayah.”

Tak lama setelah mengucapkan beberapa pesan, ayah menutup telponnya. 

Ada perasaan senang menyusup dalam hati Raisya. Jauh dilubuk hatinya. Sedikit terlihat diwajah dan di senyum tipisnya. Tapi ia bisa menyembunyikan perasaan itu dengan baik, ketika sedang didepan Rio.

Ia tidak mau melihatkan perasaan sayangnya itu pada orang yang memang disayanginya.

Ia melihat hpnya. Ada beberapa chat yang masuk. Termasuk pesan dari Rio.

Ternyata ada beberapa pesan dan telpon yang ia tidak tau.

Ia sedari tadi mengisi baterai hpnya, dalam keadaan mati.

Kemudian ia kembali turun ke bawah. Menemui Rio. 

“Bagaimana?” Rio yang menunggunya, langsung bertanya. “Boleh. Tapi tidak boleh mampir-mampir. Ke kampus. Setelah itu pulang.”

Astaghfirullah... Rio menepuk kepalanya. Ia kan ingin mengajak Raisya menemui papi hari ini.

Jam empat. Begitu kata-kata papi semalam.

Nanti di dalam mobil saja ia akan membicarakan masalah ini. Jangan sekarang. Yang penting, saat ini Raisya sudah mau berangkat bersama. Jadi tidak sulit untuk melanjutkan pembicaraan nanti. Begitu pikirnya.

“Jadi, kita berangkat sekarang?” tanya Rio. Raisya mengangguk untuk menyetujui permintaan Rio.

 Ia mengambil tas dan keperluan lainnya. Kemudian pamit ke bu Irma yang masih sibuk membersihkan halaman. Rio juga berpamitan.

Merekapun menaiki mobil berwarna hitam keluaran merk terkenal. Mobil inilah yang selalu menemani Rio kemanapun ketika ingin berjalan. Walau ia masih punya satu motor gede dan satu mobil lainnya yang jauh lebih mewah. Tapi Rio paling sering dan paling suka memakai kendaraan yang ini. Lebih merakyat dan lebih nyaman. Begitu pikirnya. Papi memang selalu mencukupi semua kebutuhannya, meskipun ia terpaksa tinggal sendiri di Indonesia.

......

Di dalam mobil, ia mencoba membuka pembicaraan. “Raisya, hari ini kamu kuliah sampai jam setengah empat kan ya?” pertanyaan basa basi, karena sebenarnya ia tadi sudah mengetahuinya. “Iya kak. Oya, apa kakak ada keperluan lama dikampus?” “Tidak.”

Baiklah. Raisya menganggukkan kepalanya. Berarti tidak ada masalah. Ia bisa balik tepat waktu seperti janjinya pada ayah tadi.

“Ada yang mau saya bicarakan sebentar.” Rio menepikan mobilnya. Lalu berhenti.

“Loh, ada apa kak?” tanya Raisya sedikit kaget.

“Begini...” Rio menggantung kalimatnya. Membuat Raisya berpikir aneh-aneh. Ini kak Rio mau apa sih. Jangan-jangan...

“Saya..” Rio menghadap ke arah Raisya duduk. Ia menatap Raisya. Dengan kebingungannya ia berniat memulai pembicaraan.

“Jadi, kemarin malam orang tua saya pulang. Papi datang tiba-tiba sendiri. Selama ini, papi menetap dan bekerja di Singapore. Tapi kemarin malam, beliau datang sendiri.” Rio diam sejenak. Menghela nafasnya. Dan mulai berbicara kembali, “Papi ingin bertemu kamu sore ini. Jam 4. Dirumah saya.” 

Singkat. Jelas. Padat.

Tapi justru yang dirasakan Raisya adalah panjang, tidak jelas, dan meresahkan.

“Bagaimana Raisya?”

“Saya tidak mengerti kak. Ini maksudnya bagaimana?”

“Ya. Jadi saya sudah ceritakan semua tentang kita. Dan papi meminta saya mengenalkan kamu. Apakah kamu bersedia Raisya?”

“Hanya untuk berkenalan sajakan kakak? Tidak untuk hal lain-lain.” “Ya.” Pendek benar jawaban Rio. Karena sejatinya, Rio pun tidak tau pasti maksud papinya mebgundang Raisya kerumah. Apakah memang hanya karena ingin berkenalan, ataukah juga ada maksud-maksud lain. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

“Baiklah. Tapi aku tetap harus ijin ayah dulu. Jangan kecewa kalau ayah tidak mengizinkan ya kak. Ayah prinsipnya keras.” tutur Raisya, ambil tampak menulis pesan di hpnya. Ia sedang menulis permohonan izin ke ayahnya, untuk terlambat pulang kuliah, karena akan mampir ke rumah Rio. Diundang oleh orang tua Rio.

Geeeek.. greeekk.. 

Suara getaran hp Raisya, menandakan pesan masuk. Segera dibacanya.

*Oke.*

Hanya itu yang tertulis. Dan tulisan pendek itu membuat Raisya melihat ke arah Rio. Kok bisa? Kok bisa ya ayah semudah itu memberi izin. Ini ayah gak salah ketik kan ya.. Raisya bingung. Antara yakin atau tidak. Karena ayah biasanya selalu ketat tentang ini. Kenapa kali ini ayah membolehkan. Raisya tidak mengetahui alasan apa yang ada dalam benak ayah dalam hal ini. “Bagaimana Raisya?” Rio yang sedari tadi hanya diam menunggu jawaban, akhirnya bertanya juga.

“Boleh.” Lalu Raisya menunduk.

Rio tersenyum. Bahagia sekali senyumnya kali ini. Ia kembali menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya menuju kampus. Sepanjang jalan hanya ada keheningan. Semua larut dalam pikiran masing-masing.

.....

Pak Ahmad kala itu sedang memimpin rapat dengan klien. Ada proyek besar yang akan di kerjakan oleh perusahaannya. Sehingga ia tidak berfikir panjang tentang izin yang diminta oleh Raisya. Ia juga sudah yakin dan sudah memberikan kepercayaan pada pemuda itu. Ia anak yang baik. InsyaAllah Rio akan menjaga amanah pak Ahmad dengan sangat baik. Alasan itulah ternyata yang membuat pak Ahmad menuliskan satu kata tadi.

Rapat berlangsung cukup lama. Di batasai dengan waktu rehat makan siabg, kemudian dilanjut lagi sampai selesai. Dan belum jelas, akan selesai jam berapa.


******


PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 28

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day28

#JumlahKata738

#SarkatJadiBuku


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


******


Waktu berjalan sangat cepat. Perpindahan dan pergerakan sang surya hampir tak terasa.

Subhanallah. Memang kita sebagai makhlukNya lah yang selalu merasa ketidakmungkinan. Padahal sudah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya dalam Al-Qur’an, bahwa tata surya dan segala isinya adalah milik Allah SWT. Dan karena itulah, tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bahkan sehelai daun yang gugur dari batangnya pun, sudah dipastikan itu karena ada izin Allah didalamnya. 

Waktu ashar sudah masuk sedari tadi. Tiga sahabat itu terlihat sudah selesai melaksanakan sholat. Mereka masih didekat mushola. Sambil mengobrol tentang tugas yang diberikan oleh dosen tadi, mereka bercengkrama.

Greek.. greek..

Handphone Raisya bergetar. Dan hanya Raisya yang tau, karena ia menyimpannya dalam saku rok yang dikenakannya. Ia membacanya sebentar, dan langsung melihat ke arah yang bersebrangan dengan mushola itu.

Ia melihat Rio sudah berdiri disana. Menunggunya.

*Saya tunggu diparkiran ya.*

Itu tulisnya tadi.

Raisya bersiap pamit dengan dua sahabatnya itu. Sudah hampir jam empat sore. Ia melirik jam yang melekat ditangan kirinya. 

“Teman-teman, aku duluan balik ya.” “Loh kenapa buru-buru Cha?” celetukan Titi membuat Raisya spontan menjawab. “Ada perlu sebentar. Makanya mesti buru-buru.” Jawab Raisya sekenanya.

Ia tak mau ada pertanyaan lanjutan, karena itu ia bergegas pergi.

Jalanan tidak begitu padat. Rio tampak agak kencang mengendarai mobilnya. Ia tadi juga sempat menelpon papinya, untuk mengkonfirmasi kalau mereka sudah dalam perjalanan. Sore itu tak ada hujan. Cahaya matahari masih jelas menyinari setiap benda yang terlihat mata. Selang beberapa menit, mereka tiba di pintu gerbang masuk rumah Rio.

MasyaAllaah.

“Kita ke rumah kak Rio kan ya” tanya Raisya lugu.

“Iya.” Lalu untuk apa kita mampir sini dulu?” pertanyaan yang terdengar aneh ditelinga Rio. Namun tidak aneh bagi Raisya.

Mendengarnya, Rio hanya mengangguk. Kemudian tersenyum, sambil meneruskan menyetir mobilnya menuju depan rumahnya.

“Astaghfirullah.” Sedikit berbisik.

Ini rumah atau istana? Raisya langsung terkaget, setelah mengetahui ini adalah rumah Rio yang sedang mereka tuju. 

Rio masih santai. Ia lalu turun, membukakan pintu Raisya dan sudah disambut dengan dua orang pelayan. 

“Silahkan Tuan. Silahkan Nona.”

Raisya turun dari mobil, mengikuti langkah Rio yang berjalan agak lebih didepan. Sampai disuatu ruangan, Rio mempersilahkan Raisya untuk duduk, dan memintanya mau menunggu sebentar. Lalu ia masuk ke ruangan bagian dalam. 

Raisya duduk sendiri diruangan yang sangat lebar itu. Ia melihat beberapa pajangan langka disana. Mewah. Mahal. 

Rio ternyata anak orang kaya. Keturunan sultan. Lalu, aku harus bagaimana?

“Assalamualaikum.” Suara lelaki itu, bukan suara Rio. Lebih berat. Dan terdengar lebih tua, dari warna suaranya. Raisya yang sedang menunduk oun, tak berani mengangkat wajahnya. Ia menjawab salam sambil tetap menunduk. “Waalaikumusalam.”

Kemudian ia berdiri dengan sopan, tapi tetap dalam keadaan menundukkan kepalanya.

“Raisya, perkenalkan, ini pak Imam, papi saya.”

“Papi, ini Raisya.”

Begitu perkenalan singkat yang di moderatori oleh Rio. Pak Imam melihat dengan tatapan tajam dan penuh selidik ke arah Raisya. Yang ditatappun sudah merasakan kebekuan dan ketidaknyamanan dari suasana yang terasa sangat dingin ini. 

“Silahkan duduk.” Pak Imam berkata. “I..iyaa.. om. Terimakasih.”

Kemudian Raisya mendudukkan pantatnya di sofa yang super empuk itu. Hanya saja karena situasinya sedang tegang Raisya tidak merasakan kenyamanan sama sekali duduk disana. Walaupun empuk.

“Jadi, kamu yang namanya Raisya?!” tanya tegas pak Imam.

Lagi-lagi Raisya menunduk. Ia tak punya keberanian menatap orang tua Rio. “I.. iya om..” jawaban pendek saja yang mampu keluar dari bibirnya. 

Rio mengambil posisi duduk disebelah papinya. Bersebrangan dengan Raisya. Ia bisa melihat rona pucat diwajah wanita yang disayanginya itu. Ingin rasanya menenangkannya. Menghiburnya agar tidak teelihat sangat ketakutan seperti ini. Maafkan saya Raisya. Saya sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti kamu. Maafkan saya tadi terlupa menginformasikan seperti apa karakter papi. Saya yakin kamu wanita yang tegar.

Begitu pikiran Rio berkelana.

“Saya Imam. Orang tua Rio. Saya dengar dari Rio.... Bla... Bla... Bla...” pak Imam menjelaskan maksud undangannya ke Raisya agar hari ini datang ke rumahnya. Ia juga menjelaskan tentang posisi Rio yang saat ini sangat ia butuhkan untuk mengikuti keputusannya agar meninggalkan Indonesia, sesegera mungkin, setelah Rio wisuda nanti. Semua dijelaskan dengan sistematik. Kalimat tersusun rapi. Sehingga sangat mudah dicerna oleh otak Raisya yang juga terbilang anak ceedas.

“Jadi, bagaimana? Pertanyaan saya tolong dijawab sekarang. Karena saya mau kepastian yang jelas.” Saatnya pak Imam melontarkan pertanyaan. Setelah panjang lebar ia memberikan penjelasan selayaknya sedang berpidato tadi.

Raisya memberanikan diri mengankat wajahnya. Ia juga mengumpulkan keberanian, untuk menatap Rio. Rio juga membalas tatapannya. Tajam. Tapi ada kehangatan disana. Raisya belum mengerti maksud tatapan Rio itu. Ia hanya mencoba untuk mampu menyusun kalimat yang baik, agar bisa menjawab pertanyaan pak Imam dengan baik. Mampukah?


******


PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 29

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch43

#Kelompok15

#BlueMorpho

#Day29

#JumlahKata700

#Pr


Penulis : Puti Intan Akhbari 

Judul : Raisya


 Raisya juga sempat kaget, karena pak Imam membeberkan rencananya yang akan memindahkan Rio ke luar negeri untuk kelangsungan hidupnya. Ia harus berpisah. Ia harus mengikhlaskan Rio jauh.

Walaupun selama ini seakan tidak peduli dan cenderung cuek, namun Raisya pada dasarnya sayang sama seniornya itu. Mereka juga sudah berniat akan bersama, suatu saat nanti. Hanya menunggu waktu saja. Mereka punya komitmen yang selalu mereka jaga. Pikirannya panjang. Jika memang Rio akan meneruskan hidupnya di luar, lalu bagaimana dengan komitmen itu. Batal? Haruskah?

Keihlasan hati Raisya seolah diuji saat ini. Membuat Rio was was. Pak Imam dan Rio sedang menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Raisya. Dan sepertinya itu nanti menjadi dasar keputusan yang akan dibuat oleh pak Imam.

“Sebelumnya, saya minta maaf om. Saya minta maaf karena telah lancang untuk dekat dengan kak Rio. Dan tidak ijin dengan om. Maafkan saya.” Raisya kembali menunduk.

Lalu ia melanjutkan pembicaraannya, “Saya hanya seorang anak perempuan, dari keluarga sederhana, yang tidak pantas untuk kak Rio. Saya .. saya..” Raisya tak dapat membendung genangan air yang ada dipelupuk matanya sedari tadi. Seketika, Rio yang duduk bersebarangan, langsung berdiri melihat itu. “Papi..” Rio sedikit berteriak. Bermaksud memberikan perhatian pada Raisya, dengan ijin papinya. “Papi, bisakah penbicaraan ini tidak dilanjutkan?” pinta Rio pada papinya dengan suara yang tegas. “Tidak Rio. Segera harus diselesaikan agar papi tenang. Agar papi tidak salah dalam membuat keputusan. Lebih cepat lebih baik.”

Raisya masih tertunduk. Air mata pelan menetes. Ia menyekanya.

“Raisya, maafkan saya.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Rio. 

“Saya menyayangi kak Rio.” Jeedaaaar. Pernyataan Raisya itu seolah petir yang menyambar di sore hari itu.

Rio sampai terkaget. Wajahnya terlihat warna warni. Antara terkejut, senang, tak percaya, takut, dan sebagainya. Selama ini, sejak mereka sepakat membuat komitmen, belum pernah Rio mendengarkan kalimat itu keluar dari mulut Raisya langsung. Ia hanya pernah membacanya di dalam bentuk tulisan. Soalnya setiap diminta untuk ungkapkan perasaannya, Raisya selalu mengelak. Tak pernah mau. Katanya, yang penting adalah dia sudah membuat komitmen. Hanya itu. Rio tak menyangka sama sekali, Raisya berani melakukan ini, malah didepan papinya. Wanita berani. Begitu pikir Rio. Tak salah memang kalau aku sangat mencintainya. Permudahlah niat baik dan jalan kami yaa Allah...

“Baiklah. Saya salut sama kamu nak. Keberanianmu.” Pak Imam masih terus melanjutkan pembicaraannya. Kali ini agak lebih santai. Ia mempersilahkan Raisya untuk minum dan menyantap hidangan yang telah disediakan pelayan.

Rumah itu besar. Hampir selayaknya hotel. Pelayannya ada beberapa orang. Halamannya juga sangat luas. Bangunan seperti ini, biasanya sudah bisa dipastikan ada kolam renang di bagian belakang.

Mungkin jumlah kamarnya ada enam, atau bahkan lebih. Ruangannya juga lebar-lebar. Belum lagi perabotannya. Mewah semua. Lampu-lampu kristal yang bergelantungan, sofa, hiasan dinding, designnya juga elegan. Selama mengenal Rio, Raisya memang belum pernah ke rumahnya. Ia juga belum tertarik untuk mengetahui rumah Rio. Nanti saja. Begitu pikirnya waktu itu. Iapun tak menduga, ternyata dengan cara begini lah ia diperkenalkan dg orangtua dan rumah Rio.

Kemudian pak Imam mengajak Raisya untuk menemaninya minum teh di taman belakang. Persis seperti yang ada dalam benak Raisya. Halaman belakang. Ada kolam renang disana. Seandainya Raka melihat ini, ia bisa jingkrak-jingkrak kesenangan karena bisa berenang kapan saja sesuka hati. Karena itu ia sering kali merayu ayah untuk membuatkan kolam renang, disisa halaman belakang rumah, yang ukurannya tidak terlalu besar.

Rio tak diperbolehkan ikut. Ia hanya bisa memantau dari jarak aman, kuatir Raisya sedih lagi. 

Cukup lama Raisya berdialog dengan pak Imam disana. Tentunya dalam keadaan santai. Sambil menikmati kue dan minuman.

Rio yang hampir tak sabar, ingin sekali bergabung, hanya sejak awal tidak diijinkan oleh papinya.

Apa yang mereka bicarakan ya. Bahkan Raisya pun terlihat tertawa, tersenyum dan sesekali papi pun juga terdengar tawanya 

Mereka jadi sabgat akrab dalam waktu yang tidak lama. Padahal, papi adalah orang yang tipenya sulit bisa dekat dengan orang baru. Papi selalu pilih-pilih orang untuk menjadi rekannya, temannya, mitra bisnisnya, atau bahkan teman anaknya. Tidak semua bisa mudah masuk seperti Raisya saat ini. Ada perasaan lega menyusup dihatinya. Ia sangat bersyukur dengan semua yang dilihatnya saat ini. MasyaAllaah. Terimakasih yaa Allah.

Sore semakin meredup. Tak terasa hari sudah jelang jam lima. Sudah hampir satu jam Raisya dan pak Imam berdialog. Ada tetesan hujan juga disana. Rintik gemericik. Membuat suasana semakin redup. 


*****

PJ : Julwitaaz 

KK : Rhara Ratih Ratnawury 

Neng Jaga : Alma Cho

Bab 30

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok15
#BlueMorpho
#Day30
#JumlahKata701
#Pr

Penulis : Puti Intan Akhbari
Judul : Raisya

Sementara dirumah Raisya, kak Zahra yang sudah pulang sejak jam 4 tadi, mencari Raisya ke kamarnya. Kosong. Raka sedang sholat ashar di masjid. Bu Irma yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaan rumah, hendak pamit pulang. “Neng Zahra. Saya pamit ya. Makanan untuk malam sudah siap dimeja.” “Baik bu. Terimakasih ya. Eh, tapi Raisya tadi ijin kemana ya bu?” “Tadi neng Raisya telpon bapak neng. Saya ndak tau kemana. Tapi tadi perginya sama temannya, laki-laki.” Hah... Seketika Zahra terkejut. Laki-laki? Trus, apa voleh sama ayah? Raisya bohong kah? Tapi tak mungkin adiknya itu berbohong. Ia anak yang patuh dan taat. Tak mungkin bohong. “Apa laki-laki itu, tinggi, putih, ganteng, bu?” “I.. iya neng.. seperti itu..” Rio. Pasti Rio. Gak salah lagi. Siapa juga yang berani datang ke rumah mereka kalau bukan pemuda itu. Beruntung sekali Raisya. Punya teman yang baik dan bisa berkomitmen seperti itu. Kak Zahra kemudian melanjutkan melihat hpnya. “Ibu, baik, terimakasih informasinya. Saya mau telpon Raisya dulu.”
“Baik neng. Saya pulang ya. Assalamualaikum.” “Waalaikumusalam.”
Kak Zahra memencet tombol hp untuk menelpon adiknya. Berdering. Tapi beberapa kali berdering, tak kunjung diangkat oleh penerima disebrang sana. Raisya lagi apa sih. Telpon aku gak diangkat-angkat. Kak Zahra akhirnya mencoba untuk kirim pesan. Dia beralih ke chatting saja. Mungkin bisa dibaca oleh Raisya nanti.
*Dimana dek?*
Singkat saja.
Lalu kak Zahra masuk kekamarnya. Bermaksud ingin bersih-bersih, mandi dan sholat ashar. Lelah juga, pikirnya. Setelah seharian mencoba bekerja di tempat barunya. Tapi dia suka. Teman kerjanya semua baik. Ramah. Sehingga ia berpikir, pasti akan sangat nyaman bekerja disana. Mudah-mudahan seterusnya akan seperti itu. Harapannya.
.....
Rio membukakan pintu mobilnya. Mempersilahkan Raisya masuk. Dan mereka sudah berada dijalan raya sesaat kemudian.
Raisya sudah pamit dengan pak Imam tadi. Pesannya, seringlah berkunjung ke rumah ini. Begitu ungkapan pak Imam didepan Raisya dan Rio. Apakah itu berarti lampu hijau untuk hubunganku dengan Raisya? Rio bertanya-tanya, walaupun masih dalam hati. Belum berani mengungkapkan secara langsung.
Sementara keheningan yang menemani perjalan pulang ke rumah Raisya. Rio diam. Sambil melirik ke arah Raisya yang sibuk dengan hpnya. Raisya terkejut melihat hpnya, ada beberapa chat yang masuk. Kak Zahra. Sohibnya juga. Indri dan Titi. Bahkan ada chat dari ayah.
Yang pertama dibuka dan dibaca adalah chat ayah. Segera ia balas, agar ayah tidak kuatir dengan dirinya. Ia tak mau menyusahkan ayahnya karena harus memikirkan hal lain.
Kemudian ia juga membalas chat kak Zahra. Pendek saja. *Lagi jalan pulang kak.*
Lalu chat Titi dan Indri. Ia hanya tersenyum membaca chat mereka. Sahabat-sahabatnya itu memang pada kepo. Semuanya ingin tau tentang Rio.
Raisya akhirnya melirik ke arah Rio. Ia melihat Rio yang sedang menyetir dalam diam. Apakah ia tidak ingin bertanya tentang papinya yang menginterogasinya dari tadi.
Ehm..
Raisya pura-pura batuk. Berdehem. Rio pun akhirnya melihat. “Ya, ada apa Raisya?”
Loh, kenapa malah ia yang bertanya. Bukannya harusnya aku yang bertanya, kenapa dari tadi Cuma diam saja?
“Gak ada apa-apa kak.” Raisya masih saja sungkan.
“Tadi, papi bicara apa saja?” Akhirnya kalimat yang ditunggu-tunggu pun keluar juga.
“Iya kak. Aku sudah diceritakan sama om Imam, semuanya.”
“Panggil papi saja. Biar lebih akrab.”
“Jangan. Aku masih belum nyaman dengan sebutan itu kak. Om saja. Om Imam tadi juga sudah setuju dengan panggilan itu.” Penjelasan Raisya cukup panjang, membuat Rio akhirnya memakluminya.
“Jadi, cerita apa tadi sama papi?”
Rio kembali mengulangi pertanyaannya.
“Semua. Tentang kak Rio yang akan ke Singapore juga sudah di bahas om Imam.”
“Lalu?”
“Ya, gak apa-apa. Berarri bulan depan, kak Rio akan berangkat ya?”
“Apaaaa???”
Rio kaget. Langsung menginjak rem mobilnya dan tiba-tiba berhenti mendadak. Untungnya tak ada mobil atau motor lain dijalan itu. Sehingga tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Astaghfirullah.
Maksudnya apa ini. Rio bingung. Bukannya ia meminta papi untuk tidak mengirimnya ke Singapore. Bukannya kehadiran Raisya bisa meyakinkan papi untuk tidak menyuruhnya meneruskan kariri di luar negeri. Ia tidak mau. Ia tidak bisa!
“Kak..” Raisya melihat kearah Rio.
“Aku rasa keputusan om Imam, sudah yang terbaik. Om Imam pasti sudah memikirkan baik buruknya. Ia orang tua kakak. Sudah seharusnya kakak menuruti kemauannya, apalagi itu untuk kebaikan kakak.”
“Tidak! Aku tidak bisa!” Rio setengah berteriak. Ia kesal. Ia marah. Ia kecewa. Ada apa ini?
Apa yang ada dalam benak papi.
Kenapa sampai Raisya pun mengikuti keinginan papi. Yaa Allaah...

******

PJ : Julwitaaz
Kk : Rhara Ratih Ratnawury
Neng Jaga : Alma Cho

Mungkin saja kamu suka

Kiki Resita Nur...
NETRA
A.M. Ayume
Ramadan Anak Rantau
Fauziyah Ali An...
Gadis dari 25 Bersaudara
Divo Perdana Ag...
Nature's About ants
Siti Sabili Jah...
VBAC? Bismillah Yakin Bisa
KkentangVc
Sakura Dream

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil