Loading
36

1

37

Genre : Romance
Penulis : Jn. Fadhilah
Bab : 27
Dibuat : 13 Juli 2022
Pembaca : 19
Nama : Jn Fadhilah
Buku : 1

Menggapai Cahaya Cinta

Sinopsis

Dan kau datang seperti air mengalir Suaranya membawa ketenangan Selembut angin datang menyapaku Berikan kesejukan yang mendalam Gurun yang terhampar gersang Merindukan siraman hujan Hadirmu membuat perbedaan Bagai pohon yang meneduhkan" Hanum seorang gadis manis yang mengidolakan sahabatnya, baginya Elfran layaknya seorang pangeran tampan berkuda putih yang dikirim untuk menyelamatkannya. Elfran ialah seorang pemuda yang percaya bahwa setiap orang memiliki takdir kehidupannya, termasuk kehidupan cinta. Meskipun lama ia memendam rasa kepada seorang wanita, ia yakin akan tiba saatnya, dimana takdir akan mengantarkan ia kepadanya. Dalam kisahnya sebuah cahaya hadir, mengetuk dan menuntun mereka. Ketika perasaan diantaranya saling terbuka, takdir lain mulai menyapa. Bahwa waktu berjalan membawa rahasia dan waktu juga yang akan menguaknya perlahan. Dikala tunas mulai tumbuh, haruskah dipatahkan karena cuaca yang tak berpihak? Ketika cinta tak hanya butuh keyakinan dan perjuangan akan tetapi pengorbanan dan keikhlasan.
Tags :
KMOclub

Kala Hujan Menghantarkan Cahaya

4 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 47

- Kelompok 5

- Day 1

- Jumlah Kata 703


                           BAB 1

     Kala Hujan Menghantarkan Cahaya



        Malam yang damai dengan menikmati secangkir minuman hangat dibalik jendela ditemani iringan rintik hujan, dimana suara tetesannya mengalun seperti melodi yang memberikan relaksasi pada tubuh dan pikiran. Begitu damai, sangat nyaman untuk mengisi daya bagi tubuh yang lelah. Terhanyut oleh suasana, Hanum tenggelam dengan perasaannya, kata kata berlalu lalang dalam pikirannya dituangkan pada secarik kertas dan dituliskan dalam sebuah bait.


"Dan Kau datang seperti air mengalir

Suaranya membawa ketenangan

Selembut angin datang menyapaku

Berikan kesejukan yang mendalam

      Gurun yang terhampar gersang

      Merindukan siraman hujan

      Hadirmu membuat perbedaan

      Bagai pohon yang meneduhkan"



  Suara pintu terdengar perlahan terbuka, rupanya Vira yang pulang dari agenda kencan butanya.


      “ohh, hari yang melelahkan..” keluhnya sembari menjatuhkan dirinya ke kasur.


      “Uhh, Sepertinya kencan ini tak berjalan sempurna” ucap Hanum dengan nada meledek melihatnya berguling di tempat tidur.


Vira pun terbangun dengan bibir manyun berjalan menghampiri, digesernya kursi dan duduk di depan Hanum.  Sembari melirik yang dilakukan Hanum, Vira menyahut kertas yang berisi coretannya tadi.



       “Wawww, biar aku tunjukkan esoklah, ini untuk elfran kan? wait, sepertinya bagus jika ada pesawat pesan cinta terjatuh di depannya, hmmm, ehh no no no, mungkinkah dia penasaran kalo ada sepucuk puisi cinta tanpa nama di mobilnya”  celotehnya dengan pasang senyum menggoda Hanum.



       “Tapi gimana kalo dia pulang bersama wanita lain,uuppsss.” Lanjutnya.

   

   

        "Eeiiihh, hey yyaaaaakk………” sahutku menghentikan pikirannya yang semakin konyol.

  

    

        “Lagian mau sampai kapan kamu akan terus begini? Aku rasa nggak ada salahnya untuk memulai. Coba pikir, banyak wanita yang mau sama dia tapi dia-nya yang selalu datar menanggapi mereka, setauku nggak ada yang dia respon. Artinya, dia udah punya seseorang yang dia jaga di hatinya. Aku yakin itu kamu” ucapan Vira terlihat yakin bak seorang Cenayang sedang meramalkan nasib.



       “Entahlah . .” tangkis Hanum yang sesaat tersihir kata – kata Vira.



        Perasaan takut akan kehilangan lebih besar daripada sebuah pengakuan, Hanum khawatir jika nanti kelegaan yang ia cari akan mengubah hubungannya dengan Elfran. Baginya, selama ia berada disisi Elfran adalah hal yang ia jaga, meski sebagai sahabat, lebih baik menunggu adalah keputusannya.


“Lagian, aku dan elfran ketemu lagi saat kita kuliah, entah apa perasaannya masih sama atau enggak, mungkin yang dia nyatakan dulu hanya ungkapan anak-anak, karna sampai sekarang juga Elfran nggak ada sinyal ke aku.” jelas Hanum mengutarakan keraguan hati.


        Perasaan buncah, ketika pilihan datang antara membiarkan tumbuh atau memangkasnya. Disaat rasa sudah jauh berkembang dari suka menjadi tertarik lalu nyaman dan ingin memiliki. Bagaimana cara mengobati luka jika jatuh karena ulah sendiri?


     Jatuh cinta sama halnya dengan bertanam, akan butuh waktu agar benih bertunas, saat ditanam maka konsistensi perawatan sangat berperan untuk membantunya tumbuh dan berkembang. Seperti halnya cinta, terkadang disadari atau tidak, benih cinta mulai muncul, saat bertunas, maka diri sudah terlanjur jatuh cinta. Jika disirami dengan kasih sayang dan perhatian maka cinta akan tumbuh kuat dan indah, ketika angin dan hujan datang maka tibalah dimana keyakinan dan perasaannya perlu pengorbanan dan perjuangan

***


     Sinar Sang Surya menyambut perlahan, embun yang masih tersisa dan tetesan air yang tertinggal di dedaunan, tercium segar bau tanah basah selepas hujan tadi malam. Kesejukan pagi ini ku serap penuh, sembari menunggu Elfran yang akan mengantar Hanum dan Vira karena searah dengan tujuannya hari ini.


   Vira dan Hanum bekerja di sebuah instansi perusahaan yang sama namun departemennya berbeda. Vira selalu pulang terlambat, semangat loyalitas bagian keuangan sangat diperlukan, bekerja lembur adalah aktivitas rutin mereka di setiap minggu akhir hingga minggu awal bulan. Yaps, begitulah resiko bekerja di ranah sensitif sebuah perusahaan. Namun, meski dengan jam kerja yang sibuk, dia tetap tidak pernah rela melewatkan agenda akhir pekannya untuk quality time-nya. Ia adalah tipe pekerja dengan time management yang sangat baik.


     Tampak Elfran sudah menghampiri, Hanum dan Vira bergegas berangkat bersama. Elfran yakni lelaki idola Hanum yang tak pernah berubah semenjak mereka bertemu. Singkat cerita, sekitar 20 tahun yang lalu, ada kejadian di sebuah taman kota ketika Hanum dan vira sedang bermain ayunan. Kala itu Elfran melihat kawanan anak lelaki yang mengganggu Hanum dan Vira yang tengah bermain ayunan. Dimata Hanum, Elfran sangat spesial, seorang lelaki pemberani bagaikan pangeran berkuda putih. Sosok anak tampan, tinggi dan berani yang datang untuk menolongnya dari kawanan anak nakal itu.

Pertemanan mereka pun berlanjut, karena Elfran dan Hanum rekan satu kelas di sekolah dasar, namun saat lulus Elfran melanjutkan sekolahnya ke sebuah perpondokan di Jawa Timur. ***











Kala Hujan Menghantarkan Cahaya

3 0

Sarapan kata KMO club Batch 47

- Kelompok 5

- Day 2

- Jumlah kata 779


                            BAB 2

   Kala Hujan Menghantarkan Cahaya



"Rintik – rintik cahaya hikmah

Bagai hujan tak kasat mata

Tersentuh aku oleh cahaya lembut

Merasuk dalam jiwa yang berkabut

      Semilir angin membawa kesejukan

      Tersihir aku untuk mengikutinya

      Menuntunku pada sebuah keyakinan

      Yang selama ini aku ragukan"


        Di tengah perjalanan terjadi kemacetan panjang. Kami pun penasaran dengan penyebabnya, karena tidak biasanya terjadi kemacetan sepagi ini di jalan yang memang tidak terlalu padat oleh pengendara jalan. Dari kejauhan terlihat kondisi ramai di depan sana, lambat kami berjalan perlahan, suara sirine ambulance terdengar semakin nyaring, banyak polisi penjaga sedang mencoba mengarahkan pengendara jalan serta menepikan orang  - orang  yang berkerumunan di sekitar jalan.


         Rupanya telah terjadi kecelakaan beruntun dimana sebuah truk yang hilang kendali menabrak pengendara jalan lain dan terguling. Saat kami melintas, terlihat sebuah mobil dengan kerusakan parah pada bagian depan bertabrakan dengan mobil lainnya, lalu sebuah truk yang terguling di tengah jalan serta beberapa motor yang ikut dalam insiden kecelakaan mengerikan.


       “IInnalillahi wa inna ilaihhi roji’un...” sahut Elfran melihat para korban.


       Suasana mencekam di kecelakaan pagi itu, para korban yang masih dalam proses evakuasi, seorang lelaki usia setengah baya masih terbujur di tengah jalan ditutupi oleh lembaran kertas koran, darah bersimbah dimana – mana, suara teriakan, dan isakan tangis dari korban yang cedera dan trauma, serta tim medis dan polisi yang masih mengusahakan evakuasi korban yang terjepit pada badan mobil bersama korban lainnya. Dan, tepat disamping, tak jauh dari pandangan Hanum, ia melihat seorang gadis remaja yang tak sadarkan diri, wajahnya berlumur darah sedang diangkat ke tandu untuk segera dibawa ambulance dan dilarikan ke rumah sakit. Hanum yang melihat gadis itu seketika terkejut, ia pun terdiam, syok tergambar pada raut mukanya. Tak kuasa dengan suasana yang menyayat hati, mengundang tangis dan iba, semua ikut menunduk berempati mendoakan para korban.


         Memang, waktu adalah misteri, yang membawa sebuah rahasia akan teka teki kehidupan, sebab tiada yang tahu apa yang akan terjadi mendatang . Dikala senyum berubah menjadi tangis kemudian, atau tangis menjadi tawa kemudian. Waktu yang berlalu adalah kenangan, sejarah, dan juga sebuah pelajaran, sedangkan waktu yang akan datang sering disebut dengan kesempatan dan harapan.

***


        Kejadian pagi itu masih terbayang dalam ingatan Hanum terlebih gambaran seorang gadis remaja yang masih tampak jelas dimatanya. Rasa cemas membuatnya mencoba mencari informasi melalui artikel untuk berita kecelakan yang belum lama terjadi, berulang kali ia scroll layar Hand Phone dan membaca banyak artikel berita namun tidak ada kabar tentang remaja itu. Selintas terpikirkan oleh Hanum, bahwasannya takdir selalu bersandingan, apa yang terjadi pada diri adalah takdir yang sudah digariskan. Lantas, bagaimana dengan dirinya seandainya ia bertukar nasib atau memiliki nasib yang naas seperti yang dialami oleh gadis remaja itu. Sungguh malang, dengan diri ini yang masih jauh dari kata siap untuk bertemu dengan takdir kematian. Pikiran Hanum pun membawanya menuju memori otak yang mengingatkan perbincangan ia dengan Elfran.


       Kala itu kami sedang berada dalam sebuah acara sosial, Hanum duduk di sebuah kursi depan dengan sengaja meletakkan tas di bangku sebelahnya untuk Elfran yang tengah menjadi salah satu panitia acara. Sorot matanya bagai sinar laser tembak yang mencari target sasaran, dengan cepat ia mengamati sekitar dan menemukan Elfran yang sedang berdiri diantara para panitia. Acara yang sudah dimulai, Elfran melangkah menghampiri dan duduk di sebelah Hanum, mulai melirik mengamati Hanum yang penampilannya tampak berbeda dari biasanya (curi-curi pandang). Hanum yang terbiasa menggunakan pakaian kasual berubah menjadi wanita anggun, mengenakan pakaian gamis panjang coklat dengan outer dan hijab yang senada membuatnya tampak elegan. Elfran pun terpesona dengan penampilannya. Dalam sela – sela perbincangan, Elfran memuji Hanum.


     “kamu cantik pakai hijab, mau dikenakan terus ini?” Canda Elfran sambil tersenyum, namun sebenarnya bermaksud  serius dalam candaanya.


      Mendengar pujian Elfran yang tiba – tiba membuat Hanum tersenyum malu, hatinya pun berdebar, ia berusaha menahan diri agar tidak terbang.

(‘belum saatnya, num’.. ucapnya dalam hati sembari mengatur nafas)


      "hmmm hehe, iyalah El nanti, kalo sekarang belum siap keknya, tunggu sebentar lagi ye, masih perlu waktu untuk belajar memantaskan diri nih..” balasku memasang senyum tinggi – tinggi.


       Bagi Hanum, Ketika berkomitmen untuk menutup aurat, harus punya ilmu dan adab agar tidak mengurangi nilai dari kemuliaan dan kehormatan wanita muslimah. Sebab, pakaian akan menggambarkan citra diri, tanggung jawab serta identitas. Sehingga ia merasa masih belum pantas, dan lebih memilih untuk memulai dari dalam diri, dengan memperbaiki dan menata hatinya dulu, sebelum memantapkan diri untuk berhijab.


       Namun, setelah insiden kecelakaan dan gadis remaja itu, seakan mematahkan argumennya. Rasa khawatir menyelimuti hatinya. Sebuah pemikiran yang melintas ini seakan sebuah pertanda baginya.

Hanum membuka lemarinya, ia tarik selembar kain, ia melangkah di depan cermin lalu dijulurkannya kain itu diatas kepala menutupi rambutnya, ia tata lalu tersenyum. Satu hal yang dipikirkan oleh Hanum yang mampu mengubah alasannya, bahwa berhijab diniatkan untuk menjalakan perintah-Nya, dengan memakai kerudung akan menjadi tameng pelindung bagi seorang wanita dari keburukan, sebab ketika ia bercermin akan mengingatkan dirinya, tentang kewajiban, dan kemuliaan seorang wanita Muslimah.











Kala Hujan Menghantarkan Cahaya

3 0

Sarapan kata KMO club Batch 47

- Kelompok 5

- Day 3

- Jumlah kata 602


                             BAB 2

    Kala Hujan Menghantarkan Cahaya


     Hikmah dan hidayah selalu ada, tetesan rahmat-Nya selalu mengalir bagi ciptaan-Nya, baik dalam hal besar maupun kecil, kehadirannya terkadang terasa nyata kadang juga begitu lembut, hingga sampai kepada diri ini sering  tanpa disadari. Ketika sebuah cahaya lembut datang lalu menyentuh, bersinggah ke dalam hati menjadikannya perasaan tentram dan penuh syukur.


      Setitik air mata menetes jatuh di pipi Hanum, tersentuh dengan hidayah yang mendatanginya, bagaikan sebuah pesan surat yang turun dari langit untuknya.

Kini, ia yakin akan pilihannya, menetapkan langkah untuk menjalankan perintah-Nya menjaga aurat dengan sempurna. Diawali sebuah penampilan baru dengan niat yang tulus, Hanum lebih percaya diri bahwa ia mampu melaksanakannya dan menjaga diri. **


       Hal baik yang diperjuangkan akan menuntun ke arah yang positif, dimana lingkungan dan tempat yang baik akan membangun keyakinan yang lebih dalam. Hanum sering berkumpul dengan komunitas sosial yang disarankan oleh Elfran. Hanum ikut menceburkan diri dalam kegiatan amal sosial yang kebanyakan dari mereka ialah teman – temannya Elfran yang sudah menjadi sebuah keluarga komunitas amal. Waktu pun berlalu, disibukkan dalam kegiatan yang sama membuat kedekatan mereka semakin intens.


       Dalam sebuah acara amal anak yatim  yang digelar, Hanum menjadi pengisi acara untuk menghibur anak – anak, ia bertugas untuk membacakan sebuah cerita dongeng fabel. Penampilannya yang menawan, membuat Elfran terpesona, mengamati dari awal hingga akhir acara, pandangannya tak bisa jauh dari bidadari cantik itu. Tatapan matanya berbinar selagi memperhatikan Hanum. Dalam hatinya, ia bertekad ingin melanjutkan kembali apa yang sempat pernah dulu ia ungkapkan ke Hanum saat di bangku kelas 6 SD, kali ini dengan keyakinan yang kuat, ia akan mempersiapkannya dengan baik.


      Selesai acara, Hanum mendekati Elfran yang sedang menghibur anak – anak membuat origami kertas. Elfran yang sedang sibuk membuat origami kelinci  dan memberikannya ke anak -anak kecil yang mengelilingi. Salah seorang anak kecil datang kepada Hanum, menunjukkan origami kelinci miliknya.


      “kakak, kelinci ku bagus kan? Aku punya dua kelinci, yang biru ini yang buat aku sendiri.” Ungkapnya bahagia.


       “Wah, cantiknya. Pandai kamu membuatnya sayang. Hebaat!” sembari Hanum tepuk tangan memberikan apresiasi dan sebuah acungan jempol untuk mendukungnya, anak kecil itu pun tersenyum lebar dan berlari bahagia menuju ke teman – temannya.


        Setelah melihat anak - anak yang bermain, Hanum menengok Elfran.

     

      “Untukku mana, El? Yang lain udah jadi, punyaku mana?” Canda hanum ke Elfran.


       “Jeng Jeng, ini dia si itik, hadiah untuk sang pembaca dongeng The Ugly Duckling” dengan nada pembawa kuis, ia memamerkan origami angsa yang dia buat.


         “Yuhuuu, bukan bebek yang buruk rupa, tapi si Angsa yang cantik rupawan” balas Hanum mengambil origaminya dengan senyum.

                                ***

   

[kilas balik 14 tahun lalu]  


    Saat itu sedang acara perpisahan kelas, digelarlah sebuah acara pentas seni sebagai pelepasan wisuda murid anak kelas 6 SD. Kelas kami pun mementaskan tarian daerah. Selesai pentas, Elfran dan Hanum duduk di barisan penonton deretan belakang melihat pertunjukkan selanjutnya. Elfran mengeluarkan sebuah es krim dari kantong hitam yang dia bawa.


       “Hanum, ini aku belikan kamu es krim” Elfran sengaja memilihkan es krim rasa coklat yang manis.


        “Oh iya, terima kasih Elfran.” Hanum pun membuka bungkus es krimnya.


         “Han, kamu mau sekolah dimana nanti? pokoknya kamu harus jadi pemberani dan rajin belajar ya, nanti kita ketemu lagi.” Pesan Elfran.


         “Iya, tapi kamu mau kemana, El? Kita nggak sekolah bareng lagi? Tanya Hanum penasaran.


         “Aku mau sekolah di Jawa Timur, Ayahku sudah mendaftarkan aku kesana. Jadi besok kami berangkat.” Jawabnya.


      Mendengar kabar itu Hanum merasa sedih karena harus berpisah dengan Elfran, tanpa sadar ia menurunkan es krimnya yang dimakannya.


     “Kamu enggak suka es krimnya?” Tanya Elfran


       Hanum memandang es krim nya, "suka" jawabnya pelan dan memakannya.


       “Enak nggak? manis kan?’ Lanjut Elfran.


       “Iya”  Jawab Hanum dengan kepala tertunduk.


        “Aku pilihkan rasa coklat karna kamu suka coklat. Dan, aku suka kamu seperti kamu suka coklat.” Kata Elfran.


       "Aku lebih suka kamu daripada coklat” balas Hanum melihat Elfran.


        Elfran tersenyum malu dan senang. Ia pun menepuk bahu Hanum.


        “Jangan sedih, nanti kan kita ketemu lagi. Jangan lupa ya.” Elfran memberikan janji jari kelingking ke Hanum, dan Hanum pun menautkan jari kelingkingnya.

***











Ada Tawa Ada Luka

3 0

-        Sarapan Kata KMO Club Batch 47

-        Kelompok 5

-        Day 4

-        Jumlah Kata 543

-        

                               Bab 3

                  Ada Tawa Ada Luka


 

   (Klunting) bunyi sebuah pesan suara masuk dari Elfran, yang memberitahu jika dia sudah di depan kantor Hanum.


    “Meluncur” balasnya pada pesan singkat, tak lupa tuk sematkan emoticon pesawat.

     

     Mereka sering berangkat dan pulang kerja bersama, bukan semata untuk tujuan pendekatan. Namun, Elfran yang mencemaskan Hanum karena beberapa hari lalu, Hanum sedang banyak pekerjaan di kantornya hingga ia sering melewatkan jam makan, akibatnya penyakit asam lambung yang ia derita pun kambuh. Menghindari hal itu terulang, Elfran sengaja mengantar jemput Hanum untuk memastikannya sarapan dan tak melewatkan jam makan malam atau asal makan instan karena badan yang sudah lelah disibukkan oleh pekerjaan.


       Malam ini Vira ikut bergabung makan malam, Vira terlihat gembira dan antusias seperti ada hal yang ingin dia sampaikan. Kami pun melaju ke sebuah rumah makan, kali ini Vira merekomendasikan sebuah tempat makan baru dengan konsep prasmanan dengan berbagai menu santapan nusantara yang dihidangkan. Letaknya tak cukup jauh dari lokasi kami. Sesampainya disana, kami pun memilih tempat dan memilih beberapa menu makanan. Patut diakui jika tempat ini memang selalu ramai, penyajiannya bukan hanya di menu dan kualitas makanan, namun mereka juga memberikan nuansa nyaman dan hangat. Sebuah rumah makan bertema khusus yang didominasi material kayu, mengangkat gaya desain interior klasik, dengan penataan lampu hias gantung dan lampu hias dinding memberikan visual yang seimbang. Warna tembok coklat gradasi yang berpadu padan dengan warna furniture dan aksesoris ruangan menunjukkan kesan elegan dan mewah.


        “Nyaman banget restonya ini, karna masih baru juga jadi semua visualnya dapet.” Komen si Vira.


        ”Memang penataannya yang pas, dan dekorasinya bagus, jadi nuansanya pun hidup" jelasnya sembari tersenyum mendengar komentar Vira.


       “Iya, dengan suasana begini, pembeli pun akan jenak makan disini, aku pun mau jadi pelanggannya loh.” ucap Hanum.


        “He’em, bener. Bakal jadi list resto favorit aku nih, jatuh cinta ama tempatnya, masakannya juga enak.” Vira pun sepakat dengan Hanum.


        Tanpa sepengetahuan Vira dan Hanum, Elfran adalah salah satu tim desain dan pemilik rumah makan itu, ia menjalankan bisnis dengan temannya, ia sebagai pihak penanam modal dan pengurus administrasi, sedangkan temannya yang mengurus pemasaran dan perawatan lapangan. Selagi pembicaraan desain dan makanan, Vira kemudian mengalihkan topik informasi menyampaikan kabar bahagianya.


       “Hmm, btw, guys, aku mau kasih tau ke kalian kalau aku ditunjuk sebagai salah satu karyawan promosi“ ucap Vira girang.


       “Alhamdulillah, selamat yaaa, waw, yuhhuuu, mantul, cakep dah….” Kami bersorak mendukungnya dan memberi applause.


       “Iya, alhamdulillah, dan akhir tahun ini aku akan program pelatihan selama 3 bulan di Surabaya, namun aku khawatir jika nanti ada rotasi penempatan posisi di anak cabang.” Ungkap Vira sedikit khawatir memikirkan kondisi nantinya.


        “Jalani dulu aja prosesnya, mau dimana pun nanti, sudah ada ketentuannya. Pasti semua terbaik buat kamu. Dan, Selamat atas promosinya, Vir.” Elfran mengacungkan dua jempol ke arah Vira memberikan semangat untuknya.


         “Aku juga setuju sama El, nikmati dulu prosesnya, kalo pun nanti jarak menjadi batas, kamu harus sering mengunjungi aku, Okey? Canda Hanum mengedipkan mata, “aku selalu pendukungmuu...” lanjutnya melayangkan 2 simbol jari pistol ke Vira.


       “Baiklah, kita kan sibuk nih akhir - akhir ini gimana kalo kita agendakan  buat healing ke pantai akhir bulan ini?.” Ajak Elfran.


         “Wah setuju”. Vira dan Hanum langsung bersepakat.


          Setelah berdiskusi panjang kami pun pulang. Dalam perjalanan, Elfran memberi tahu jika beberapa waktu ke depan mungkin tidak bisa mengantar jemputnya karena agendanya cukup sibuk, dan beberapa jadwal tugas ke luar kota. ***








Ada Tawa Ada Luka

2 0

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 5

- Jumlah kata 430


                              Bab 3

                    Ada Tawa Ada Luka

 


       Beberapa hari Hanum mengeluh sakit perut, padahal ia sudah meminum obat asam lambung yang biasa ia konsumsi tetapi belum ada perubahan. Vira menyarankan untuk pergi ke dokter supaya dilakukan pemeriksaan.

Esok harinya, Vira mengantar Hanum pergi ke rumah sakit, ia memeriksakan diri ke doker umum, mendengar penjelasan penyakit Hanum yang lama menderita asam lambung dan sekarang kambuhnya lebih sering, dokter menyarankan untuk diperiksa oleh dokter spesialis supaya dilakukan proses screening.  


       Mendengar saran dokter umum, Hanum menjadi cemas. Khawatir akan suatu hal terjadi dan berita yang tidak diinginkan. Maju mundur niat untuk meneruskan pemeriksaan. Menyiapkan mental dan berpikir positif bahwa tidak ada hal apapun yang akan terjadi. Semua baik – baik saja. Hanum mencoba menenangkan hatinya agar tidak terlalu gelisah. Kami dirujuk ke dokter spesialis gastroenterologi, yang memiliki keahlian khusus dalam mengobati beragam gangguan pada lambung, usus, hati dan kerongkongan. Berdebar jantung Hanum saat kakinya melangkah melewati koridor menuju ruang dokter.


        Kami berdiri tepat di depan pintu ruang dokter, seorang perawat jaga menyuruh kami masuk ke ruangan, terlihat seorang dokter menyambut dengan senyum hangat, ia mempersilakan kami duduk. Dokter pun bertanya terkait keluhan periksa, Hanum menjelaskan bila ia dirujuk dari dokter umum sebab gejala yang ia rasakan. Belakangan ini ia sering merasakan gejala seperti nyeri ulu hati dan mual, biasanya ketika ia mulai merasakan gejala asam lambungnya naik ia meminum obat, dan membaik. Namun, beberapa hari ia masih merasakan sakit, badannya lemas dan mudah lelah.  Hanum telah lama menderita penyakit gangguan pencernaan. Sedari kecil Hanum memiliki riwayat penyakit bibit maag, dan pernah mengalami keluhan hebat hingga ia sering dirawat di rumah sakit ketika SMA, setelah pemeriksaan lebih lanjut ia didiagnosis menderita tukak lambung. Dengan pengalaman penyakitnya, ia sering membawa obat asam lambung jika merasakan gejala atau keluhan pada perutnya.

 

        Dari penjelasan Hanum, dokter melakukan pemeriksaan fisik dan meminta Hanum melanjutkan pemeriksaan darah serta USG Abdomen untuk melihat kondisi bagian perutnya, memastikan apakah ada kemungkinan terdapat kelainan pada bagian perut atau organ dalam lainnya, biasanya sebuah jaringan abnormal atau benjolan yang biasa disebut tumor, bila ukurannya cukup besar maka masa akan terlihat. Hal ini juga untuk berjaga – jaga dengan melihat kondisi Hanum jika nanti diperlukan tindakan medis lanjutan.

Setelah pemeriksaan, kami diminta kembali esok hari untuk melihat hasil pemeriksaan yang akan dijelaskan oleh dokter. Namun penjelasan dokter yang lugas tadi, seketika membuat hati gelisah tak menentu. Kami keluar dari ruangan dengan kaki lemas dan perasaan cemas. Banyak hal yang dipikirkan oleh Hanum. Tak tega melihat sahabatnya, Vira merangkul dan menuntun Hanum, hatinya tak jauh berbeda dengan kesedihan yang dirasakan Hanum. Untuk saat ini, pemeriksaan masih disimpan sebagai rahasia mereka berdua, sebab tak ingin membuat banyak pihak khawatir.










Ada Tawa Ada Luka

2 0

‘- Sarapan Kata KMO Batch 47

‘- Kelompok 5

‘- Day 6

‘- Jumlah kata 505

                 

                       Bab 3

            Ada Tawa Ada Luka



      Besoknya Hanum kembali ke rumah sakit, ia datang sendiri karena tak sabar untuk mengetahui hasil pemeriksaan, tak tahan dengan perasaan gelisah. Dia berjalan menuju ruang pengambilan hasil USG.


      “Pasien Nona Hanum Larasati Dewi” panggil salah seorang perawat yang membagikan hasil USG kepada para pasien.


        “Iya, saya.” Jawab Hanum yang berdiri di depan loket pengambilan.


           Setelah pemeriksaan data, sebuah amplop coklat berukuran folio diserahkan. Didalamnya berisi lembar informasi yang tidak bisa Hanum mengerti penjelasan sebenarnya. Ia pun berjalan ke arah ruang dokter spesialis yang menanganinya.  Vira datang menyusul, menghampiri Hanum yang sedang memperhatikan sebuah kertas yang dipeganginya sembari berjalan diantara orang -orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit.


          “Han, Hanum!” panggil Vira sambil melambaikan tangannya.


          Hanum melihat Vira yang terengah-engah, tampaknya dia berlari ke rumah sakit dari tempat kerja. 


        “Vira!” sahutnya.


         Hanum memperlihatkan hasil USG nya ke Vira, mencoba membahasnya mungkin ada hal yang patut dicurigai pada gambarnya. Kami pun duduk menunggu antrean pemeriksaan di ruang tunggu dokter spesialis yang menangani Hanum. Tak lama kemudian seorang perawat keluar dari ruangan untuk memanggil pasien berikutnya.


         “Nona Hanum Larasati Dewi” seorang perawat memanggil, mengantar kami masuk ke ruangan dokter.


        Hanum menyerahkan sebuah amplop coklat yang berisikan hasil USG tadi. Berdasarkan observasi sementara, Dokter yang menaruh curiga pada hasil dan gejala Hanum, maka menyarankan Hanum melakukan proses tindak endoskopi lambung, yaitu suatu tindakan medis untuk mengetahui kondisi lambung dengan lebih jelas dan nyata. Apabila dalam proses tindakan nanti ditemukan sebuah jaringan abnormal, maka akan dilakukan biopsi saat itu juga, yaitu tindakan pengambilan sampel jaringan untuk diperiksa di laboratorium agar diketahui jenis tumornya. Mendengar hal itu, jantung Hanum semakin berdebar, ia takut terjadi hal yang buruk pada dirinya. 


          Sesampai di rumah, kondisi Hanum masih lemas, mendapat penjelasan dokter tadi bagaikan goresan tinta diatas kertas yang lapuk. Dalam kondisi lemah, ia memikirkan segala potensi penyakitnya, semakin rapuh Hanum, ketakutannya luar biasa, pikirannya kemana – mana diisi oleh kekhawatiran yang terjadi nanti. Tumpah air mata Hanum, tak kuasa menahan kegelisahan hatinya. Air matanya luruh, jiwanya kalut, pikirannya buntu, terasa berat dan menyesakkan. Meski mencoba menerima apapun yang terjadi, mencoba lapang dan bersabar, menguatkan diri untuk menghadapi hal di depan nanti. Namun, keberanian itu hanya sementara, terpatahkan oleh rasa takut dan kembali ambruk.


          Berapa kali bangkit dan berapa kali terjatuh, Hanum menjalani hari dengan perasaan resah, semua penjelasan dokter masih terngiang jelas di telinga. Ia menjadi tak bersemangat, lebih banyak tidur dan sering melamun. Seakan tak ingin melakukan apa – apa, dan tak ingin memikirkan apapun, berharap waktu dapat berhenti sejenak. Melihat Hanum yang sedih dan tak karuan terpuruk dalam kesedihan. Vira mencoba memahami situasinya, saat ini hanya bisa memberi dukungan untuk sahabatnya. Sebuah rangkulan dan sandaran bagi sahabanya, ia mencoba membuat Hanum tersenyum agar tidak larut diantara kesedihan dan kekhawatiran.



        Semenjak pulang dari rumah sakit, Hanum tak bisa tidur nyenyak di malam hari. Meski masih terasa berat untuk mengambil keputusan, hari demi hari ia selalu mempertimbangkan, meminta masukan dari sahabatnya Vira. Mencari beberapa referensi dan informasi tentang penyakit lambung dengan gejala seperti yang dialami. Namun, bukannya ia merasa tenang justru malah semakin banyak perkiraan yang melintas di pikirannya, semakin besar kekhawatirannya akan hal buruk nanti.




Ada Tawa Ada Luka

2 3

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 7

- Jumlah kata 586

 

                             BAB 4

                  Ada Tawa Ada Luka


     Malam itu, dadanya terasa penuh dan sesak, Hanum duduk bersimpuh di hamparan sajadah. Tangan menengadah, dengan nada lembut  menyampaikan sejuta keluh kesahnya kepada Sang Pencipta, derai tetesan air mata mengalir deras, butiran mutiara doa ia panjatkan, dalam pasrah memohon akan kelembutan hati, serta ketenangan atas kegelisahan yang membebaninya selama ini, ia mengadukan kepada Sang Pemilik, dzat yang maha membolak – balikkan hati.



     Mentari terbit untuk menyapa bumi, dengan mata sembab Hanum duduk di kursi dekat jendela. Ia duduk termenung mengamati dunia luar di balik jendela. Langit terlihat berawan, sepertinya akan turun hujan. Dalam lamunannya, teringat dengan kejadian kecelakaan kala itu, dimana takdir kematian menjemput  tanpa memberi aba-aba, tak ada waktu untuk persiapan lebih dulu, begitu mendadak, kejadian yang tiba – tiba, bahkan banyak pihak yang syok dan trauma dengan peristiwa mencekam kecelakaan beruntun pagi itu. Sebuah peristiwa tragis itu, ia bandingkan para korban dengan keadaan dirinya saat ini, yang masih diberi kesempatan untuk berharap hal baik yang akan datang, dan waktu untuk menerima apabila memang hal buruk yang terjadi kemudian, mungkin itu adalah takdir yang sudah digariskan untuknya. Hanum terlarut dalam pikirannya, ia berpikir bahwa hendaknya masih bersyukur akan keadaannya saat ini, yang masih diberi waktu mempersiapkan diri menghadapi sesuatunya.


       Satu minggu kemudian Vira menemani Hanum pergi ke rumah sakit, Hanum menarik nafas dalam – dalam sebelum memasuki pintu rumah sakit. Hanum memberanikan dirinya, bersiap untuk menjalani tes pemeriksaan, ia pun sudah berpuasa sebagai syarat tindakan nanti. Dokter spesialis gastroenterologi pun memberi arahan kepada Hanum, ia menjelaskan kembali untuk setiap pemeriksaan yang akan dilakukan Hanum serta gambaran tindakan di ruang operasi nanti. Bahwa pemeriksaan ini adalah tahap awal untuk memastikan kondisi lambung secara jelas.



     Kami pun diarahkan menuju kamar inap, sebuah jarum infus terpasang di tangan kanan Hanum. Baginya sudah terbiasa rebahan di kasur rumah sakit, tetapi tidak pernah terlintas akan memasuki ruang operasi. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, dimana tindakan Hanum akan segera dilaksanakan. Hanum memasuki ruang operasi bagian ‘transfer’ dimana di ruangan ini pasien akan mengganti semua bajunya dengan baju OK atau baju Kamar Operasi, selembar kain berwarna hijau yang sudah  disiapkan oleh perawat. Setelah mengganti baju biasa dan hanya memakai seragam operasi tanpa aksesoris apapun. Tubuhnya terasa dingin, dan rasa takut masih membayangi, untuk pertama kalinya Hanum melangkahkan kaki jenjangnya di ruangan dengan suhu yang sangat dingin seperti berada di ruangan pembeku.


      Kemudian, seorang perawat menghampiri Hanum memberikan beberapa pertanyaan untuk memastikan kondisinya sebelum operasi. Hanum juga diminta menandatangani beberapa dokumen pertanggung jawaban atas segala tindakan di ruang operasi dan menunjuk Vira sebagai saksi atas berlangsungnya tindakan operasi.

    


     Hanum berbaring di ranjang operasi, sejumlah cairan disuntikkan ke dalam jarum infus, ternyata sebuah proses anestesi  baru saja dilakukan, Hanum perlahan mulai tak sadarkan diri. Dan proses endoskopi pun berlangsung, sebuah tabung kecil seperti selang yang dilengkapi kamera di ujungnya dimasukkan melalui mulut ke kerongkongan. Dalam prosesnya, ditemukan adanya benjolan yang dicurigai, maka dokter memutuskan untuk  tindakan biopsi guna memastikannya, kemudian dibawalah sampel itu untuk diserahkan ke laboratorium. Setelah proses endoskopi selesei, Hanum dipindahkan ke tepi ruang, menunggu kesadarannya kembali. Kurang lebih satu jam, Vira menunggu Hanum yang berada di depan ruang operasi. Dengan rasa cemas ia mondar - mandir di ruang tunggu, salah seorang petugas keluar dari kamar operasi Hanum, memberi tahu sebuah benjolan yang ditemukan pada saat tindakan berlangsung, perawat menunjukkan sampel yang diambilnya sebelum diantarkan ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.


      Ketika surat takdir dilayangkan

     Berisikan cerita garis kehidupan

     Manusia boleh memiliki harapan

      Takdir yang akan menentukan

   

  Waktu membuka rahasia                 

 Meski terkadang tak sesuai bayang

Semua yang terjadi sudah suratan

Pemilik semesta punya cerita






user

23 July 2022 19:30 Anis Keswati Hanum,.????

user

23 July 2022 19:36 Anis Keswati ????

user

23 July 2022 20:07 Jn Fadhilah apa jadi ni?

Cinta Berselimut Air Mata

2 0

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 8

- Jumlah kata 545

 

                  Bab 4

        Cinta Berselimut Air Mata



          Waktu terasa lambat berjalan, Vira menggigit kuku ibu jarinya, duduk dengan perasaaan khawatir dan gugup, menunggu sahabatnya keluar dari kamar operasi.

      

      “Oh Tuhan, semoga Hanum baik – baik saja” permohonan hati Vira yang dilayangkan dalam sebuah doa untuk sahabatnya yang masih terbaring di ranjang operasi.


     Kekhawatiran yang luar biasa dirasakan Vira, dirinya saja terguncang setelah mendengar kabar itu, lantas bagaimana dengan Hanum? tak mampu Vira membayangkannya. Suara pintu terbuka, ranjang Hanum didorong menuju kamar inap oleh tenaga medis. Vira mengikutinya dari belakang, tampak Hanum yang sepertinya masih setengah sadar. Hanum masih merasa mual dan pusing dari efek samping bius tadi, bibirnya kering dan wajah pasrah, Vira tak tega melihat Hanum yang terbujur lemas tak berdaya. Semalam Vira begadang menjaga Hanum, meskipun kondisi Hanum sudah membaik, namun ia tak bisa tidur. Terpikirikan olehnya untuk memberitahu pihak kelurga Hanum dan Elfran, namun ia masih bimbang.

 

     Pihak rumah sakit sudah mengizinkan Hanum pulang, Vira menyelesaikan semua administrasi dan membawa surat kontrol di akhir pekan ini.

    

     "Sudah beres semuanya Vir?" Tanya Hanum memastikan.

   

     “Udah kok, ini jadwal check up nya akhir pekan ini di hari Jumat. Nanti aku anterin lagi kita lihat hasilnya sama – sama.” Ucap Vira tersenyum menenangkan.

    

      Hanum membalas senyum dan menganggukkan kepalanya.


     “Thanks ya Vir, aku berutang budi sama kamu. Kamu banyak banget bantuin aku, aku bersyukur punya kamu Vir” lanjut Hanum dengan nada yang membuat haru.


    "Aku juga bersyukur punya sahabat kek kamu, Han. Satu orang yang banyak melukis warna indah di hidup aku selama ini” ucapnya sembari memeluk dan mengelus punggung sahabatnya.


     “Coba pikirkan lagi Han, baiknya kita berdua yang kesini atau memberi tahu keluarga dulu, lalu kita denger hasilnya bareng – bareng. Setidaknya kamu dapat support dari banyak orang yang sayang sama kamu Han. Itu akan membantu juga.” Vira melepas pelukan sembari memberikan sebuah amplop putih.


     Hanum seraya mengangguk mendengar saran dari sahabatnya. Ia sebenarnya tak ingin menyembunyikan hal ini, apa yang dia lakukan berkebalikan dengan hatinya yang rapuh ingin bersandar memeluk ibunya.


     “Pasti. Aku akan pertimbangkan hal ini, Vir, tetapi aku pikirkan dulu cara menyampaikannya nanti. Makasih ya Vir.” Jawab Hanum.


***

 

      Dua hari sebelum jadwal kontrolnya, Elfran menjemput Hanum yang mengajaknya keluar makan malam. Malam itu malam spesial bagi Elfran, yang akan memberikan sebuah kejutan kepada Hanum. Sebuah makan malam romantis di sebuah tempat makan, cahaya lilin tampak menghiasi pemandangan yang semua telah direncanakan oleh Elfran. Hanum dibuat kagum oleh jamuan makan malamnya yang tampak begitu indah kala itu. Sebuah tatapan serius Elfran tersirat ingin mengungkapkan sesuatu, irama jantungnya berpacu, dia mengatur nafasnya berusaha tetap tenang, meski hatinya dag dig dug ia tak ingin terlihat grogi di depan wanita pujaannya saat menyatakan perasaannya selama ini.


     “Han, butuh bagiku bertahun – tahun untuk mengulang kata ini, janji yang pernah aku ucapkan ke kamu dulu saat kita masih kecil. Kamu inget kah?”


     Hanum tersenyum malu mengangguk, jantungnya juga berdebar serasa ingin meloncat, merasakan hal yang dinantikannya selama ini akhirnya datang. Tersirat wajahnya yang bahagia, matanya berbinar terang menatap Elfran.

    

     “Han, aku menyukai kamu, dari dulu dan masih hingga saat ini, izinkan aku meminangmu, menjadikanmu kekasih yang halal bagiku. Apakah kamu bersedia menjadi pasangan hidupku?” Ungkap Elfran dengan memberikan sebuket bunga.


     Hanum tak kuasa menahan senyum bahagia, pipinya merah, terharu rasa bahagia serasa ingin memeluknya namun belum mahramnya. (uhmm)


     “InsyaAllah, yess, aku bersedia menerimamu, El.” Jawab Hanum.

   

     Sebuah jawaban yang mencairkan hati Elfran, kebahagian memenuhi malam itu. Dalam waktu dekat ia akan melamar Hanum secara resmi ke rumahnya.






Cinta Berselimut Air Mata

2 1

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 9

- Jumlah kata 500


                          Bab 4

        Cinta Berselimut Air Mata



        Hanum menceritakan kabar bahagianya ke Vira lalu berteriak memeluknya dan melonjak – lonjak kegirangan.


 


          “Alhamdulillah akhirnya Han, Doa yang selalu dikirimkan dijawab sama Allah. Waktu yang dinantikan akhirnya datang juga menemuimu.” Ucap Vira ikut berbahagia.


 


         “Iya Vir, alhamdulillah. Perasaanku lega banget, dan aku bersyukur ternyata Efran orangnya yang akan menjadi takdirku.”



           Kebahagiaan menghapus luka, sebuah kabar dari harapan besarnya yang dinanti akhirnya datang. Kesedihan yang menguras air matanya selama beberapa waktu, kini berganti garis senyum yang merekah melukis bibir merah mudanya.


 


            Hanum memutuskan pulang ke rumah untuk memberitahukan keluarga. Ia menempuh perjalanan selama 2 hingga 3 jam ke rumahnya. Namun, wajahnya tampak berbeda dengan kemarin, ia memikirkan dirinya yang membawa dua kabar berita yang bertolak belakang.


 


             “Assalamu’alaikum” Hanum memberi salam kepada ibunya dan keluarga yang menunggunya di rumah.


 


            “Wa’alaikumussalam, anakku” Ciuman dan pelukan hangat seorang ibu yang bahagia melihat anaknya.


 


           “Bagaimana kabarmu, Nak? Kamu sehat kan? Kamu baik – baik saja disana kan? Ibu memasakkan makanan kesukaanmu, kita makan dulu ya.”


 

        Layaknya ibu kebanyakan yang menyambut anak – anaknya dengan penuh cinta dan kasih. Pertanyaan kondisi anak adalah pertanyaan awal dan utama diajukan yang menggambarkan kecemasan seorang ibu ketika jauh dari anaknya.



         Beberapa masakan tampak lezat sudah disajikan di meja makan.



          “Gimana kondisi Kamu dan Vira disana? Amankan? Sehat kalian?”


 


         “Iya, Yah, insyaAllah aman. Biar Hanum yang ambilkan makannya ya” Terang Hanum sembari menyiapkan makanan untuk sang Ayah.


 


        “Spesial for you, my best daddy. Sepiring makanan yang disiapkan dengan penuh cinta dan kasih, dariku” gurau Hanum sembari menyajikan makan di meja ayahnya.


 


         “Semua lancar kan? Kalo ada apa – apa segera hubungi Ayah. Selalu siap di garda depan untuk anak ayah.” Kata sang ayah yang serius dalam gurauannya.


 


        “InsyaAllah, selalu aman anak cantik ibu. Allah yang jaga Hanum dengan semua tentaranya untuk jaga anak ibu.”


 


         Sungguh bahagia Hanum mendengar obrolan dan guarauan orang tuanya. Hanum juga memiliki seorang adik lelaki bernama Haris yang duduk di bangku kelas tiga SMA.


 


        “Ayah dengar dari Ibumu kamu ada hal penting yang akan kamu sampaikan?” Tanya sang ayah.


 


         “Iya, insyaAllah ada seorang lelaki yang akan meminta izin Ayah dan Ibu untuk meminang Hanum.” Jelasnya.


 


          “MasyaaAllah, alhamdulillah. Siapa gerangan itu? Biarkan Ayah dan Ibumu mengenalnya dulu.”


 


         “InsyaAllah Ayah dan Ibu sudah mengenalnya dengan baik selama ini.”


 


      “Nak Elfran?” Sahut sang ibu.


 


      “Iya, Bu” Hanum tersenyum malu menganggukkan kepanya.


 


       “Barakallah, sungguh bahagia jika Nak Elfran yang akan melamarmu kesini.” Sang ibu tersenyum.


 


       “Jadi, si Elfran dan kelurganya yang akan kesini. Kira – kira kapan waktunya?”


 


       “InsyaAllah segera, Yah. Elfran sedang mengusahakan secepatnya.”


 


      “Baguslah, kita akan persiapkan untuk menyambut keluarganya nanti.”


 


       Sebuah kabar bahagia sudah tersampaikan. Hanum mengajak ibunya ke dalam kamar untuk pembicaraan yang lebih dekat. Hanum bersandar di pangkuan ibunya. Sang ibu mengelus rambut panjang anak gadisnya.


 


       “Bu, ada yang ingin Hanum sampaikan.”


 


        “Iya, ada apa Nak?”


 


        “Ini sedikit serius, tapi Ibu jangan kaget yah.”


 


        “Iya, kenapa, Nak? Ceritakan saja ke Ibu”


 


       “Hanum kemarin melakukan pemeriksaan, Bu. Asam lambungku kemarin kambuh, dan dokter menyarankan untuk screening. Ternyata dokter nemuin benjolan di lambung saat Hanum melakukan operasi kecil, dan saat ini hasilnya sedang di cek di lab.”  ucapnya meneteskan air mata menggambarkan hatinya.


Sang ibu mendekap Hanum yang menanggung kepedihan hatinya.



user

29 July 2022 20:43 Anis Keswati <3

Cinta Berselimut Air Mata

1 1

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 10

- Jumlah kata 552



                           Bab 4

        Cinta Berselimut Air Mata



       “Hanum” sang ibu memanggil pelan mengelus pelipis Hanum dengan tatapan sedih.



       “Kenapa tak memberitahu Ibu sedari awal, Nak?” Sang ibu khawatir anaknya menjalani hari yang berat sendirian.



       “Hanum tidak mau membuat Ibu khawatir dengan pemeriksaanku, Bu.”



       “Yang sabar ya Nak. Tetap husnudzon kepada Allah, Hanum hamba-Nya yang kuat dan tabah. Yang Kuat ya sayang yaa.” Sang ibu memeluk putri terkasihnya, rasa getir mendengar kabarnya, kepedihan seorang ibu melihat anaknya menderita sakit.



        “Lalu apa yang terjadi? Apa hasilnya sudah keluar?” Sang ibu penasaran menatap Hanum dan memegang pundak anaknya.



        “Belum” Hanum menggelengkan kepalanya.



        “Kira – kira kapan hasilnya bisa keluar? Apa dokter menerangkan sesuatu?”



        “Besok. Besok Hanum akan ke rumah sakit bertemu dokter dan mengambil hasil lab.”



        “Ibu ikut kamu kesana ya, besok pagi kita sama-sama berangkat dari sini diantar sama bapak kamu nanti.”



      “Elfran juga sudah tahu hal ini?”



       “Belum Hanum kasih tau, Bu. Mungkin nanti setelah hasilnya keluar akan aku ceritakan.”



        “Yasudahlah, nanti dipikirkan untuk memberitahukannya. Ibu akan coba jelaskan hal ini kepada ayahmu dulu pelan-pelan nanti.”



       “Kamu harus tegar ya Nak, Allah pasti punya cerita yang indah untuk semua makhluk-Nya, kita serahkan semuanya ya, dan Ibu berharap sangat - sangat mengharap dan mendokan semoga hasilnya semua baik-baik saja besok.” Setitik air mata jatuh menetes membasahi pipi yang segera diusapnya.



        “Dah sekarang, kamu isitirahat karena besok kita akan pergi. Kamu nggak boleh keleleahan segera tidur ya.” Sang ibu menepuk Pundak Hanum lalu berjalan melangkah keluar kamar.



         Sang ibu terhenti langkahnya dan merambat ke kursi, tangan kanannya memegang dada bagian kirinya. Matanya menitikkan air mata perlahan, ia mengeluarkan kecemasannya dengan air mata yang semakin deras. Saat merasa sedikit lebih tenang, ia kembali melangkah untuk membicarakannya kepada sang suami, Ayah Hanum.



         Sinar mentari memberi salam pada bumi, sebuah mobil melaju dari kediaman Hanum. Semu pihak keluarga dan juga Vira tampak cemas menantikan hasil lab yang akan dijelaskan dokter.



        Sebuah map hijau diserahkan oleh perawat yang berisikan rekaman medis Hanum, di dalamnya terdapat sebuah amplop putih berstempel laboratorium. Dokter membuka amplop yang masih disegel dan mengeluarkan selembar kertas hasil pemeriksaan. Dokter menunjukkan dan menjelaskan bahwa telah ditemukan sebuah masa yang bersifat ganas, Hanum telah divonis sebagai penderita kanker stadium III dan diminta segera menjalankan pengobatan agar dapat diobservasi untuk mengusahakan penyembuhannya. Sontak hal itu membuat semua orang terkejut.



        Hanum terkulai lemas, bagaikan petir datang menyambar, mengusir musim semi yang berlalu singkat dalam hidupnya. Kemarin dia tertawa bahagia penuh syukur, dan sekarang ia meratapi nasib pilunya. sebuah angin berita yang datang membawa badai menumbangkan dirinya. Sang ibu tak kuasa menahan tangis melihat anaknya yang malang lalu mengelus dan dipeluklah si Hanum.



       “Yang sabar ya nak, insyaAllah kita bisa menghadapinya. Ibu akan selalu mengusahakan yang terbaik buat Hanum”. Air mata pecah dalam pelukan ibu dan anak.



       “Allah” ucapnya menyandarkan dirinya pada dinding, kakinya lemas dengan kenyatan pahit yang menghampiri. Sang Ayah merasa penjelasan dokter bagai peluru yang menusuk relung hatinya. Putri yang dicintainya divonis penyakit serius, bahkan bisa merenggut nyawa putrinya.



Hanum tak bisa berkata apa – apa, air matanya sudah mewakili perasaannya. Suasana pilu memenuhi ruangan, Vira keluar dari ruang dokter, ia duduk di kursi depan, ia menangis khawatir dengan kondisi sahabatnya.



Masa depan ialah rahasia, waktu berputar menguak cerita perlahan, apa yang sudah terjadi memanglah takdir yang digariskan, namun manusia memiliki kebebasan untuk menjalankan peran, memainkan skenario indah yang sudah disiapkan. Skenario terbaik dari Sang Khaliq.


user

29 July 2022 20:49 Anis Keswati T_T ikut sedih saat baca hanum dan ibunya,,

Cinta Berselimut Air Mata

1 0

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 11

- Jumlah kata 544

 

                        Bab 5


         Cinta Berselimut Air Mata


 

       Empat puluh sembilan panggilan tidak terjawab. Elfran terus menghubungi Hanum, tetapi dengan sengaja Hanum tidak menjawabnya. Hatinya masih kalut, dia tak sanggup bertemu dengan Elfran untuk sementara waktu. Hanum memutuskan pergi sementara bersama ibunya untuk menenangkan diri.

 

        Di sisi lain, Elfran tampak sedih kebingungan, di ujung lelah dan putus asa, sudah dua minggu dia tidak bisa menghubungi Hanum, sedangkan Vira terus berusaha menghindarinya. Vira selalu menghilang saat mereka sadar akan berpapasan. Situasi yang membuat geram, Elfran memaksa bertemu dengan Vira untuk menjelaskan perubahan Hanum yang tiba – tiba menghilang.

 

“Vir, tolong jangan hindari aku, please, kali ini. Ada apa dengan sikap kalian?”

 

Vira terus berjalan tanpa menoleh Elfran yang memohon disampingnya.

 

Elfran mengejarnya, berdiri di depan Vira untuk menghentikannya.

“Sampai kapan kamu ngehindar terus gini? Sampai kapan Hanum sembunyi? Apa kalian nggak bisa menghargai aku? Aku ada. Aku disini. Dan aku yang ngak ngerti sama sikap kalian” kesal Elfran yang sudah lelah terbebani rasa gelisah, membuat Vira tergerak hatinya tuk bercerita.

  

      “El, aku mau ngomong serius sama kamu, aku tau kamu sekarang bingung dan sedih dengan sikap Hanum. Namun, entah ini bener atau salah, aku sampaikan ini ke kamu. Aku rasa kamu emang harus tau kondisinya Hanum saat ini” ucap Vira mode serius.

  

    “Iya Vir, tolong, tolong banget jelasin Hanum dimana dan apa alasannya dia seperti ini.” Elfran memohon dengan penasaran.

 

     ”Saat ini Hanum sedang bersama ibunya untuk menenangkan diri. Apa yang dialami Hanum sangat tidak adil, entah alasan apa dan kenapa ini harus terjadi padanya?” Vira tiba – tiba menangis dan membuat Elfran tampak bingung dan khawatir.

  

       “Sebenarnya ada apa Vir? Kenapa kamu malah nangis kek gini, ada apa dengannya? Tolong jangan buat aku semakin bingung.” Tanya Elfran.

“Hanum, El. Dia didiagnosa menderita kanker lambung stadium 3 saat ini, jika tidak segera ditangani kankernya bisa menyebar.” Elfran terkejut dengan ucapan Vira. Bukanlah sebuah mimpi atau candaan semata, tetapi sebuah kenyataan perih yang harus dihadapi Hanum.

       “Astagfirullahal’adzim, kanker?” kata Elfran dengan mata melebar.

        Vira mengangguk mengusap air mata dengan sapu tangannya. Elfran yang terkesiap dengan kabarnya, hanya terlintas bayangan Hanum di kepalanya.

“Allah”. Keluh Elfran bersandar pada bangku mobil, ia mencemaskan kondisi Hanum yang sedang menghadapi ini.        

                “Saat kamu dinas di luar kota, aku nganter Hanum periksa, dokter menyarankan untuk USG perut awalnya, karna ada curiga dilanjut proses endoskopi, dan akhirnya ditemukan sebuah tumor yang dinyatakan sifatnya ganas.” Vira menjelaskan dengan terbata – bata menahan isakan tangisnya.

   

      Elfran masih terkejut dengan penjelasan Vira. Pikirannya kini hanya tertuju pada Hanum. Wanita yang sangat dia cintai kini sedang terpuruk, ia yakin Hanum sengaja menjauhkan diri darinya sebab tak mampu untuk bercerita. Elfran meminta tolong Vira untuk mengantarnya menemui Hanum yang sedang berada di kampung halaman ibunya.

Setibanya disana, Hanum sedang di depan rumah bersama ibunya, terheran melihat kedatangan Vira dan Elfran. Sang ibu datang menyambut mereka, dan mempersilakan masuk. Sebuah kisah pedih anaknya diceritakan dari sang Ibu.

     Hanum dan Elfran pergi keluar untuk berjalan – jalan di sekitar, mereka ingin berbicara empat mata. Sorot mata kerinduan ada pada keduanya, namun Hanum mencoba menepisnya.

 

   Dikala tunas mulai tumbuh, haruskah dipatahkan hanya karena cuaca tak berpihak? Akankah hujan yang menyirami membuatnya tetap tumbuh?

Sebuah bibit kasih yang ditanam mulai tumbuh ke permukaan. Tunas cinta timbul di hati insan. Kasih sayang merajut tali kasih asmara. Rasa ketertarikan mengikat untuk saling melemparkan perhatian. ***




Biarkan Cinta Memberi Salam

1 0

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok

- Day 12

- .Jumlah kata 544



                           Bab 5


       Biarkan Cinta Memberi Salam



     Bak karpet hijau luas membentang, sebuah pedesaan dengan pemandangan alam yang masih asri, suasana damai dan udara yang menyegarkan merupakan tempat yang tepat untuk menenangkan diri.

 


      Hanum canggung bertemu dengan Elfran yang datang tiba – tiba.


      “Syukurlah, melihatmu baik – baik saja, Han.”


       Hanum mengangguk, enggan menoleh Elfran.


       Ia membentengi hatinya karena pasti akan luluh melihat sosok yang dirindukannya ada di depan mata, apalagi menatapnya akan membuat hati semakin berat.

 

        “Nice place. Kamu pinter milih tempat yang bagus, suasana tenang, udara yang sejuk dan segar.” Ucap Elfran memecah kecanggungan suasana, menghirup nafas panjang kemudian menatap sudut – sudut pemandangan dengan jari – jarinya yang membentuk persegi seperti sedang memotret pemandangan.


        Dengan sengaja, Elfran berjalan didepan Hanum agar dapat berbalik bertatapan dengannya.


       “Han, coba tengok itu.” Elfran menunjuk asal.


         Hanum menghampiri Elfran yang duduk di sebuah gazebo,  melihat ke arah yang ditunjuknya, tetapi tidak melihat apapun selain pemandangan bukit persawahan yang membentang.


        "Ada apa?” Tak sengaja Hanum menoleh, dan mata saling bertemu.

“Kamu marah?” Tanya Elfran mendekat ke Hanum, gemas dengan sikapnya yang sedari tadi memalingkan muka dan menghindar darinya.


         “Enggak” singkat Hanum yang sadar lalu menoleh ke arah lain.


          “Lalu kenapa? Ada yang salah denganku?”


         Hanum terdiam.


        “Tak senangkah kamu, denganku disini? Salahkah aku bila mengkhawatirkan mu?” tanya Elfran dengan nada halus.


        Hanum masih diam, meski hatinya sebenarnya meronta.


       “Aku minta maaf, aku tak ingin melihatmu sedih atau marah. Bisakah kita bicarakan baik-baik kali ini?”

Hanum melirik Elfran.


      “Tolong lihat aku, Han” pinta  Elfran dengan nada halus.


      Hanum masih menatap lurus ke depan, ia mulai membahas mengenai dirinya.


      “Vira, sudah menjelaskan semua tentangku, dan kamu pun sudah tahu benar dengan keadaanku saat ini. Jadi apa tujuanmu, El?”


     “Tujuanku kesini hanya ingin bertemu kamu” ujar Elfran.


      Hanum melirik meminta keseriusan jawaban pertanyaannya.


      "Hanya ingin melihatmu, bisa bersamamu seperti kita duduk saat ini.” Jawab El yang memang serius dengan pernyataannya menatap Hanum.


   

  “Kamu aneh.”

     


      "iya, aku putus asa kamu tidak ada kabar, aku terluka. Namun, hilang begitu aku melihatmu tadi. Aneh emang, kamu bisa jelasin itu,  Han?”


      “Kamu layak mendapatkan yang lebih baik dariku, El. InsyaAllah aku ikhlas” kata Hanum meminta Elfran tuk melepasnya.


      “Tapi kamu yang terbaik, Han” tegas Elfran.


       “Tidak ada alasan bagiku untuk mencari yang sudah kutemukan” lanjutnya.


       “Apa kamu ngga ngerti atau pura – pura ngga ngerti? Waktu ku entah berapa lama lagi dan lebih banyak akan kuhabiskan di rumah sakit nanti. Tolong mengertilah, El.” Ucap Hanum yang putus asa.


       “Kita semua punya takdir hidup, Han. Dan aku tak pernah meragukanmu karena hal itu. Kita punya garis waktu yang sudah ditentukan, cepat atau lambat bukan kehendak kita. Bukankah, kita masih bisa berjuang untuk kesembuhanmu, masih ada waktu dan harapan. Kenapa harus menyerah sekarang, Han?”


       “Apa kamu tau El, rasanya ketika dunia berbalik? Ketika hanya bayangan saja yang kau punya? Semua terasa gelap.” Ungkap Hanum.


      “Menatap setiap orang dengan wajah kesedihan yang tersirat di wajah mereka. Seakan – akan, aku membawa mereka terjebak di  waktu  perpisahan yang panjang. Kamu tau perihnya hati, jika melihat orang yang disayangi menahan kesedihan karnamu?” Hanum melanjutkan.



Biarkan Cinta Memberi Salam

1 0

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 13

- Jumlah kata 529

 

       “Pernahkah kamu hanya ingin membiarkan waktu berlalu begitu saja? Aku hanya ingin, bisa melewati hariku dengan tenang, El. Jadi, aku mohon, aku nggak kan sanggup melihatmu juga diantara mereka. Aku berusaha mengabaikanmu, aku menghilang darimu, dan kau pun tau keadaanku, aku rasa itu sudah cukup, untuk membuatmu menjauh dariku, tidakkah itu lebih dari cukup alasan untukmu?” Hanum menatap Elfran. Perih

 


       “Tapi aku masih mencintaimu, Han” sahut Elfran, matanya memerah, dirinya tidak tega melihat Hanum terpuruk dalam jurang keputusasaan, memendam berat pedihnya sendirian.

 


       Hanum terdiam. Butiran mutiara mengalir di pipi tirusnya, hatinya berkecamuk. Elfran yang masih teguh dengan perasaannya membuat hati bergejolak menggoyahkan dinding yang sudah ia bangun.

 


      “Aku lemah El, perasaanku rasanya seperti tercabik. Semua kenyataan ini tidak mudah El, tak mudah menerima semua proses ini. Saat aku kesal dengan diriku, aku seperti tak ingin melakukan apapun. Hanya sesak yang tertahan di dada.” Hanum terisak.

 


        Elfran tak kuasa melihat wanita yang dicintainya tenggelam dalam kesedihan. Ia kesal dengan dirinya, hatinya marah dan sakit melihat Hanum yang lemah dan terpuruk.

 

      

      “Han, ku mohon, berbagilah berat itu denganku, Lebih baik untukku daripada harus menjauh darimu. Aku tak karuan saat kamu tak ada kabar. Aku memohon Vira untuk memberiku kabar tentangmu. Tolong, jangan memintaku pergi, karna aku bahagia bersamamu” ucapnya pelan memohon dengan tulus.

 


     “Lantas bagaimana denganku, El? Bagaimana perasaanku yang tak bisa membiarkanmu sedih, melihatku lemah dan tersiksa merasakan sakit?”

 


     “Kita akan hadapi bersama, Han, kita kuat jika kita saling, bahagia ada untuk menghapus luka.” Pangkas Elfran menatap dalam.



      Hanum yang tak mampu menangkisnya, kenyataan dirinya juga tersiksa ketika berada jauh dari Elfran, meniti waktu dengan bayangan kenangan yang mengusik ruang batin kerinduan membuatnya semakin tak karuan.

 


    “Hanum, sekali lagi pintaku, izinkan aku mencintaimu. Kita bisa melewati semua bersama. Aku bahagia di sisimu, Han” Pinta Elfran.


 

       Hanum termenung mendengar ungkapan Elfran. Ia tak percaya, lelaki yang berada di depannya, sekali lagi mengulurkan tangannya disaat dirinya kesulitan, terjerembab dalam pahitnya kehidupan. Bagaikan secercah cahaya bertahan dalam hidupnya yang dirundung kegelapan. Sebuah kekuatan dirasakan Hanum dibalik senyum manis lelaki yang dicintainya ini. Dinding yang membentengi pun roboh tak tersisa. Dirinya tak mampu melepaskan Elfran.

 


Tuhan, izinkan aku bersamanya hingga akhir sisa waktuku. Buatlah dia bahagia saat di sisiku dan nanti bila aku tak bisa membersamainya lagi

            Angin membawa tetes air mata yang mengandung doa dari lubuk sanubari. Sebuah permohonan tulus tuk menjaga hati orang terkasih.   ***



       Makan malam disiapkan, dalam tradisi keluarga Hanum, mereka suka mengangkat pembicaraan di tengah – tengah makan keluarga, guna menghidupkan suasana hangat berbagai macam topik ringan menjadi perbincangan. Elfran mendekatkan diri dengan keluarga Hanum dan berbagi canda. Ia melihat ibu Hanum sedang bersantai di ruang tamu, Elfran mendekatinya, sebagai pembukaan pembicaraan Elfran berbasa-basi sebelum mengutarakan maksud utamanya. Ia meminta izin ibunya Hanum untuk meneruskan niat awalnya yakni melamar anaknya Hanum Larasati Dewi.


       “Ibu percaya keputusan ini pasti kamu sudah menimbangnya dengan baik.  Jika semua pihak keluarga menyetujui, maka pernikahan bisa segera dilaksanakan” jelas sang ibu kepada Elfran.



      “Baik Bu, insyaAllah dengan restu Ibu, maka lusa Elfran akan melamar Dik Hanum” tegasnya.



      Hanum mendengar pernyataan maksud Elfran dari balik lemari kayu yang menjadi pembatas ruang tamu dengan ruang tengah.



     “MasyaaAllah..” Hanum memejamkan mata seraya mendoakan keputusan yang Elfran sepakati bersama ibunya.




Biarkan Cinta Memberi Salam

1 1

-Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 14

- Jumlah kata 632

                          bab 5

        Biarkan Cinta Memberi Salam


      Bila semua sudah menjadi garis-Nya, yang menjadi milikmu maka tak akan tertukar ataupun terlewat, bila kau tak menjemputnya maka ia akan menjumpaimu.

 

       Kabar bahagia tersampaikan ke keluarga Hanum mengenai keluarga Elfran yang berkunjung ke rumah melamar Hanum. Bersyukurlah semua pihak keluarga menyetujui hubungan mereka. Sebuah moment yang merupakan hari membahagiakan, tidak ada kesedihan dan air mata yang selama ini melukis wajah keduanya, selain garis senyuman merekah indah dan rasa syukur tersirat pada ekspresinya.

 

       Proses pernikahan akan digelar dua minggu kemudian, selagi Hanum menjalani pengobatan rawat jalan, sebelum memulai jadwal terapi. Waktu persiapan yang padat meski acara akan diadakan secara sederhana. Hanum meminta Vira menemaninya fitting baju pernikahan, ketika memilih baju Hanum tiba – tiba pingsan, jatuh tergeletak tak sadarkan diri. Vira cemas dan panik, sontak berteriak minta tolong, dengan tangan gemetar ia merangkul sahabatnya dan memanggil nama Hanum berharap mendapatkan responnya.

 

      Nguing Nguing Nguing.. Sirine ambulance terdengar dan segera membawa Hanum ke rumah sakit. Wajahnya putih pucat, dengan jari gemetar dia mengambil ponsel untuk segera memberi kabar pada  Elfran dan seluruh keluarga.

 

      Elfran yang tengah perjalanan tugas langsung memutar balik menuju rumah sakit, dengan tergesa-gesa berlari ke UGD dan bertemu Vira.

 

        “Vir, apa yang terjadi? Hanum kenapa?” Tanya Elfran panik.

 

         “Aku nggak tau El, dia tiba – tiba pingsan di butik tadi.” Vira terbata menjelaskan, ia pun khawatir Hanum terjadi sesuatu.

 

        Seorang dokter UGD keluar dari ruangan memberi penjelasan, bahwa kondisi Hanum lemah dan membutuhkan banyak istirahat, berdasarkan dari hasil catatan medis yang menginformasikan riwayat penyakit, dokter menyarankan untuk segera menjalani perawatan pengobatan.

 

        Elfran tertunduk, rasa bersalah membayanginya, melangkah mendekati Ibu Hanum yang masih syok mendengar kabar anaknya.

 

        “Maafkan saya Bu, Hanum kelelahan mempersiapkan acara kami.” Ucap Elfran bernada pelan dengan pandangan mata menurun.


Ibu Hanum mengelus Elfran, hatinya masih kaget hingga tak sanggup berkata – kata, hanya menyiratkan bahwa dia tak menyalahkan siapa pun.

 

        Elfran selalu berada di sisi Hanum sejak dipindah ke ruang perawatan inap. Kali ini juga ada sesuatu yang ingin diungkapkan oleh Hanum.


       “El” Hanum memanggil lirih.


       "Ya” jawabnya.


       “Kamu tidak tidur?” Tanya Hanum yang melihat Elfran masih berjaga disampingnya.


       “Aku belum ngantuk”


      “Kamu pasti lelah”


      Elfran menggeleng dan tersenyum.


      “Aku masih ingin melihatmu”


      “El, boleh ku tanyakan sesuatu?”


      “He’em, tentu. Apa itu?”


       “Apakah kamu yakin dengan pernikahan ini? Aku tidak akan lari ke mana pun, aku hanya ingin memberimu waktu agar bisa berpikir jernih dan memutuskan semua dengan baik – baik. Belum terlambat untuk kita membatalkannya, dan aku nggak akan kesal atau pun kecewa dengan hal itu. Tolong pikirkanlah kembali” pinta Hanum.


      “Jawabanku masih sama Han, kalau hal ini justru membuatmu bimbang, kita langsungkan akad besok saja.” balas Elfran.


     “Bagaimana ia memikirkan hal serius ini dengan mudahnya?” Hanum berpikir heran atas jawaban yang ia dengar, entah bagaimana pola pikiran Elfran, terlihat konyol baginya, tetapi tatap matanya begitu tulus dan dalam.


      “Kenapa kau begitu yakin, jika pernikahan ini keputusan yang terbaik? Kau melihat jelas diriku, aku mungkin tak bisa membahagiakanmu seperti wanita lain saat ini, bahkan mungkin hanya akan menjadi bebanmu” Hanum mencoba menggoyahkan.


      “sssttt, kenapa kau mengatakan hal seperti itu. Masa depan masih rahasia. Saat ini pengobatanmu yang utama. Salah satu aku di sini adalah obatmu” goda Elfran sambil tersenyum.


    “Dalam obrolan seperti ini kamu masih sempat untuk bercanda. Jangan mencoba merayu.” Hanum menggeleng.

Elfran tersenyum menggoda Hanum yang semakin kesal hingga membalikkan badan dan menutup tubuhnya dengan selimut.


      “Aku serius, El” keluhnya di bawah selimut.


     “Harus berapa kali lagi aku ucapkan, Han, alasanku hanya satu, aku tidak mau menyesal sebab aku sangat mencintaimu, Hanum Larasati Dewi. Aku ingin memilikimu dan menjagamu. Butuh waktu berapa lama lagi untukku bisa memegang tanganmu, berbagi waktu berdua, dan bisa menyemangatimu lebih dari saat ini.” Ungkap Elfran.


       Hanum paham posisi Elfran. Ia segan bahkan tidak berani berbalik untuk melihatnya, terharu dengan pengakuan Elfran.


      “Ya sudah kita lanjutkan pembicaraan besok lagi, kamu harus banyak istirahat dan lekas pulih yaa” Pesan Elfran melangkah pergi keluar. ***





user

29 July 2022 21:00 Anis Keswati (?º?º?)?

Biarkan Cinta Memberi Salam

1 0

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 15

- Jumlah kata 596



                             Bab 5

      Biarkan Cinta Memberi Salam



Setelah pemeriksaan lanjutan, kondisi Hanum berangsur pulih membaik,ia melanjutkan pengobatan rawat jalan, dan akhir bulan ini adalah jadwal untuknya menjalani kemoterapi.

 

            Meski keraguan terus membayang bak batang yang dihembus angin, tetapi pupuk kepercayaan menguatkan akar agar tetap kokoh.

 


Kelambu Pengantin


            Langit berguncang ketika perjanjian dibuat oleh seorang makhluk di depan Allah SWT dan disaksikan oleh para malaikat dan manusia. Sebuah janji yang berat dengan pertanggung jawaban yang besar, yaitu telah disatukannya dua insan dari keturunan adam dan hawa sebagai ibadah dalam  penyempurnaan separuh agama.

 

            Hanum melangkah keluar setelah ijab kabul dilisankan, bagaikan angsa putih yang menawan, semua tamu terpana dengan keanggunan penampilan pengantin wanita yang berjalan dengan elegannya di altar pernikahan. Mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan detail lace bertabur payet dan kristal Swarovski semakin memamerkan paras cantiknya yang tampak memesona. Elfran terpukau melihat kecantikan sang pujaan hati yang duduk disampingnya. Kini ia dan Hanum sudah sah menjadi pasangan yang halal.


     “Assalamu’alaikum, istriku”

    

      “Wa’alaikumussalam, suamiku” Hanum mencium tangan sang suami sebagai tanda kepatuhan.


                     ***


 

         Pancaran sinar sang rembulan membayang pada tirai – tirai jendela, gemerlap bintang bak permata hiasi langit malam, sajikan suasana malam yang syahdu.


        

        “Assalamu’alaikum warohmatullah” usai sholat Hanum meraih dan mencium tangan Elfran setelah menjalankan sunnah sholat zifaf.



        Bersandar pada sofa mereka berbincang bercanda mesra, seiring waktu mengalun tangan mulai berpegangan enggan melepas, berawal curi pandang hingga saling bertatapan, menyibakkan sedikit rambut Hanum ke belakang telinganya.



        “Wangi sekali aromamu, sayang?” goda Elfran.



       “Tentulah, apalagi sudah bersuami mesti tampak cantik dan wangi” ucapnya dengan nada manja.




       Hanum menyandarkan diri di tengah dada Elfran yang bidang, sembari senyum malu manja yang ia suguhkan. Merasa gemas, Elfran mengusap pipinya sembari ia perhatikan satu per satu bagian wajah Hanum yang semakin menawan, dari matanya, alisnya, pelipisnya, kedua pipinya, tulang selangka yang terbuka, bibir merah muda yang basah.



       “I love you” ucapnya dengan tatapan mengunci pandangan.



     “I love you more” sahut Hanum dengan mata berkilau.


    

        Elfran membelai rambut panjangnya lalu mendaratkan sebuah kecupan manis di keningnya. Hanum membalas memeluk sang suami. Sihir cinta yang menghipnotis menjadikan malam yang romantis.



       Suara alarm berbunyi, Hanum memicingkan mata, langit masih gelap, ia tengok jam di sebelahnya rupanya menjelang pagi. Elfran dibangunkan sang istri, dengan nada manja menggeliat, diciumnya sang istri kemudian beranjak dari kasurnya.  Suara panggilan subuh mulai terdengar, Elfran membersihkan diri dan bersiap pergi.



      Matahari bersinar cerah, cuaca yang bagus untuk perjalanan ke pantai,

Hanum dan Elfran berencana mengunjungi pantai terdekat, sebuah agenda yang dulu pernah direncanakan.

Desir pasir putih tampakkan keelokan pantai, dedaunan yang melambai mengirim angin sepoi – sepoi, warna langit biru dengan goretan awan putih salju bercampur sinar matahari yang akan terbenam, rona rona senja tampak apik dan cantik dengan latar suara deburan ombak.



       “Sayang” Elfran memanggil Hanum yang tampak puas menikmati pemandangan apik.



        Hanum menoleh kemudian sebuah kalung berliontin swan in love menjuntai dari kepalan Elfran di hadapannya.

Matanya berkilau, refleks tangan kanan menutup bibir yang setengah terbuka, disusul senyum merekah di wajahnya.



        “Cantik” Hanum memandang liontinnya.


     

        Elfran menyukai momennya, ia mendekatkan wajahnya menatap mata Hanum yang nampak indah saat berkilau, diakhiri usapan lembut ke pipi Hanum. Elfran memasangkan kalung cantik itu melingkar menghiasi  leher Hanum.



      “Sayang, kamu tau filosofi ini?” Elfran menunjukkan liontin angsa putih.

 

  

       “Kenapa dia sebagai simbol kasih sayang?”Elfran melirik mesra.

 


      “Karena dia indah, menawan?” Jawab Hanum mengarang.

 


      “Hmmmm (menggelengkan kepala), angsa putih memang sering dikaitkan dengan keanggunan dan keindahannya. Tapi alasannya sebagai lambang kasih sayang dan kesetiaan, karena cintanya yang romantis, mereka adalah hewan monogami, yang selalu menemani pasangannya sampai akhir. Mereka juga bersifat protektif dan solid.”

 


      “Makanya kamu memilih liontin ini?” sembari senyum genit.

 



      “He’em, karna kamu begitu berharga untukku” ucap Elfran bangga dan memeluk sang istri. ***


Ketika Takdir Lain Menyapa

1 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 47
- Kelompok 5
- Day 16
- Jumlah Kata 557

                           Bab 6

         Ketika Takdir Lain Menyapa


 


         Satu tahun berjalan pengobatan, Hanum menjalani kemoterapi dan radioterapi, dokter menegaskan apabila kondisinya semakin membaik maka ada kesempatan operasi pengangkatan tumor dilaksanakan. Sebagai cancer fighter, membutuhkan perjuangan berat dan panjang, rasa lelah dan efek samping yang ditimbulkan oleh pengobatan terapi membuatnya gampang moody, emosi naik turun.

 

         “Selamat pagi cantik” nada semangat Vira memecah keheningan, berjalan ke meja sebelah Hanum meletakkan sebuah bingkisan dan tak tertinggalkan sebuket bunga mawar kuning yang merupakan oleh – oleh setianya.

 

        “Selamat pagi” Hanum tersenyum melihat sahabatnya yang hadir membawa suasana ramai.

 

        “Elfran memberi tahuku kalo kamu amat sangat merindukanku, miss you, Han” Vira memeluk Hanum.

 

       “Umm, miss you too Vir, kangen kamu yang bawel” Hanum tertawa melepas rindu.

 

      “Pastinya dong, cuma aku yang bebas brondong abc ke kamu” ungkapnya renyah.

 

       Semenjak Vira kembali dari pelatihan di Surabaya, Elfran bergantian menjaga Hanum di rumah sakit untuk menghindari perubahan suasana hati Hanum yang negatif.

 

        Sudah dua minggu Hanum dirawat setelah menjalani proses radioterapi. Efek sampingnya bertambah yang dirasakan pada tubuh Hanum, seakan menolak dan membuatnya ssemakin lemah.

 

        Suatu ketika Vira mengantar Hanum jalan – jalan keluar untuk menghirup angin segar di taman rumah sakit. Melihat orang – orang bercengkerama dan menikmati alam.

 

       Sembari mengelus dagu ia memerhatikan seorang remaja yang  dituntun sang ibu, tampak tak asing, Hanum mengamati gadis itu.

      “Vir, kamu kenal gadis itu?” Hanum menunjukkan ke arah jam 1.

      “Tampak tak asing” ungkapnya.

     “Apa kita pernah betemu?”

     “Ehmmm, entahlah, aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya?” Vira menyilangkan tangannya dengan pandangan menyipit.

     “Oohhh!!”

      “Siapa dia?” Hanum penasaran.

      “Entahlah, mungkin dulu adik kelas kita” jawab mengarang.

     “Aku rasa bukan, ada sesuatu, tapi apa ya?

Meski mencoba mengingat hasilnya tetap nihil. Vira pergi membelikan es krim coklat dan strawberry.

“Nih kamu yang coklat dan aku yang straw.. (plukk)” es krim lezat yang terbuang percuma.

“Vir, dia gadis yang kita lihat pas kejadian kecelakaan itu. Iya, bener Vir, aku ingat jelas mukanya dan itu dia tadi.”

“Hee?”

“Iya bener itu dia Vir, tapi.. , coba kejar dulu Vir.” Perintahnya

“Haaa?” Tanpa pikir panjang Vira menoleh mencari ibu dan anak tadi, bergegas untuk menyusulnya. Namun tidak terkejar.”

“Ada apa ya Vir?

“Periksa kayaknya deh”

“Iya tau periksa, ngapain ke rumah sakit kalo ga da tujuan periksa. Hihhh” kesalnya

“Ya bisa jadi barangkali sekedar menjenguk.” Vira ngeles.

“Iya juga sih”.

Setelah kembali ke kamarnya Hanum masih memikirkan gadis tadi. Hanum menjadi penasaraan dipertemukan kembali dengan gadis yang tersimpan di kenangannya, hadirnya dari sebuah peristiwa yang secara tidak langsung membawa banyak arti baginya.

Hanum menceritakan hal itu kepada Elfran, tetapi tanggapan Elfran sama seperti Vira tidak seserius Hanum.

“Hih kamu mah, aku tuh penasaran dengan kondisinya, mas.”

“Ya, mungkin sudah lebih baik keadannya saat ini, kamu melihatnya baik – baik saja kan tadi?”

“Tapi ibunya seperti menuntunnya tadi.”
            “Aku rasa kamu terlalu mengkhawatirkannya. Apa ada sesuatu?”

Hanum tersenyum, lalu mencium pipi kanan  Elfran dengan penuh kasih Elfran.

Elfran mengerutkan alisnya, heran dengan sikap Hanum.

“Aku ingin berterima kasih sama Mas, sama seperti aku ingin berterima kasih sama dia.”

“Kamu akan menciumnya?”

“Bukan, tapi setulus itulah rasa terima kasihku yang ingin ku sampaikan”

“Andai aku bisa dekat dengannya, akan ku anggap dia seperti adikku.” lanjut Hanum membayangkan.

“Emm, setulus tadi? Mas lupa tadi rasanya hanya sekilas saja. Coba lagi, sedalam apa emang?”

“Hisshh, genitnya”

“Loh kok genit? Kan Mas penasaran aja. Ayo dong, lagi..”

Sebuah kecupan manis yang menyasar ke area merah muda.***

Ketika Takdir Lain Menyapa

1 0

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 17

- Jumlah kata 570

 

                            Bab 6

       Ketika Takdir Lain Menyapa



        Namun,  dibalik senyuman yang selalu tergambar di wajahnya, ada suara isakan tangis menahan rasa nyeri perut yang semakin sakit terasa, dengan daya tubuhnya yang semakin lemah, berat badannya yang semakin menurun dan rambutnya pun semakin menipis, tak jarang rasa ingin menyerah menyelimuti Hanum.


 


          Elfran dipanggil oleh dokter, menjelaskan hasil observasi CT scan terbaru milik Hanum, bahwa kanker yang di lambung sudah menyebar ke area perut luar, dalam medis kasus Hanum sudah masuk awal stadium 4. Saat ini dokter menyarankan agar terus menyemangati pasien melakukan pengobatan dan menjaga berat badan yang dapat mempengaruhi imun tubuh.


 


        Layaknya karang yang tetap tegar meski diterpa ombak di lautan. Elfran paham bahwa kekuatan dirinya yang menjadi pondasi Hanum, sehingga dia tidak ingin memperllihatkan kesedihan atau apapun yang akan membuat Hanum resah dan menyerah.


 


       Elfran kembali ke bilik kamar, terlihat Hanum sudah terlelap. Ia merendam handuk di sebuah baskom berisi air hangat untuk mengompres tangan Hanum yang membengkak setelah menjalani kemoterapi sore tadi.


 


      “Sayang, kamu sudah berjuang keras hari ini, tidurlah yang nyenyak dan mimpi indah” Elfran mengelus dan mengamati wajah istrinya, air mata menggenang, ia membuka pintu dan berdiri di balkon sudut kamar untuk menenangkan dirinya.


 


       Kabar berita kesehatan Hanum tersampaikan ke keluarga dan juga Vira. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan hati orang tua melihat anaknya sakit, bahkan tumpah tangis air mata tak mampu mewakili semua perasaannya. Kesedihan yang sama dirasakan oleh Vira yang sudah bagaikan saudaranya.


 


       “Selalu ada harapan, walau Cuma 1% masih ada harapan, El. Aku yakin akan ada keajaiban yang datang” ucap Vira dengan tatapan penuh harap.


 


       “Iya, aku yakin akan ada takdir baik yang memihak kami. Ini hanya bagian lembah kecil yang harus kami lewati.”


 


 


       Memang, Menerima adalah langkah terbaik tuk menikmati setiap proses. Bertahan dan Berjuang adalah langkah terbaik setelah menerima kenyataan. ***


 


       Hanum duduk di kursi roda, mengajak sang ibu untuk berkeliling taman rumah sakit. Di tengah – tengah obrolan dengan sang ibu, Hanum melihat gadis remaja waktu itu berjalan di sampingnya. Tampak sang ibu menuntun sang anak.


 


       Tepat. Sesuai dengan perkiraan Hanum, gadis itu buta. Hanum meminta sang ibu bersamanya untuk mengikuti langkah gadis itu. Di barisan kursi ruang tunggu dokter mata, mereka duduk.


 


     Hanum ragu, akan menghampiri dan menyapa, tetapi hatinya enggan untuk meneruskannya. Ia mengamati gadis itu dari kejauhan.


 


      “Kamu seperti mengenalnya, dia temen kamu?"


      “Bukan, tapi dia berarti bagi Hanum, Bu”


       “Memang siapa dia, Num?”


       “Seseorang yang mengubah hidup Hanum secara tidak langsung”


       “Kamu tidak pernah cerita. Kenapa kita tidak kesana untuk menyapa?”


       “Hanum malu, Bu.”


      “Siapa Namanya, Nak?”


     “Hanum juga belum tahu, Bu. Kami bertemu tanpa sengaja.”


      “Kamu yakin tidak mau menemuinya? Biar Ibu bantu.”


      “Kita kembali ke kamar saja ya, Bu”

Sesuatu mengganjal di pikiran Hanum, dan ia lebih memilih mundur karena tak yakin untuk menemuinya. Bila takdir menyiapkan cerita untuk mereka, maka akan ada saatnya tiba dimana mereka akan dipertemukan kembali. ***



      Jalan takdir memang unik. Tanpa mencari tahu, sebuah kabar telah tersampaikan kepadanya.


     “Num, kamu inget dengan gadis yang kamu cari bersama ibu kala itu?


     “Iya, ibu bertemu dengan dia?



     “Iya, tadi kami tidak sengaja bertemu di cafetaria. Ibunya sangat senang, dia menceritakan bahwa bulan ini anaknya akan mendapatkan donor mata. Sebuah hal membahagiakan atas jerih payah mereka.”



      “Alhamudulillah, akhirnya sebuah keajaiban menghampirinya” Hanum terasa senang, sebuah kabar yang melegakan.




     “Kenapa gadis itu bisa berarti dalam hidupmu, Nak. Kamu saja tidak mengenalnya.”



      Hanum pun menceritakan kisah dirinya dengan gadis itu, alasan dia begitu berarti baginya, yang mengantarkan hikmah dalam hidupnya.




Ketika Takdir Lain Menyapa

1 0

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 18

- Jumlah kata 540

                         BAB 6

          Ketika Takdir Lain Menyapa



Di taman rumah sakit, seorang gadis tidak sengaja menabrak Hanum yang berada di sebelahnya.



       “Oh, maafkan saya, saya kurang berhati – hati” ucap gadis itu dengan setengah membungkuk.



     “Oh iya tidak apa -apa, tidak ada cedera, jadi tidak masalah” Hanum melihat gadis buta itu yang menabraknya.



      “Kamu ingin duduk disini?”



     “Iya, saya salah perkiraan ternyata, saya kira tadi di sebelah sini,” sembari mengarahkan dengan tongkat.



      “Oh tidak apa, mungkin tidak sengaja terhalang oleh ku tadi, silakan duduk sebelah sini” Hanum mengarahkannya ke kursi taman di sebelahnya.



       “Cuaca hari ini cerah dan sejuk, sangat bagus berada di taman saat ini” Hanum mengawali pembicaraan.



        “Lega rasanya bisa merasakan hembusan angin dan suara gemerisik dedaunan yang bergesekan, dengan mendengar alunan melodinya terbayangkan keindahannya”ucap gadis itu.



        “Benar, alunan suara yang syahdu membuat hati terasa damai” balas Hanum.



        “Iya! Namun, sebenarnya ini juga bentuk usaha terapiku untuk berdamai pada diriku”ungkapnya.



Hanum menoleh kepadanya, ia teringat peristiwa kecelakaan mencekam kala itu, dan ia paham maksud dari apa yang akan diceritakannya.



“Ada hal yang luar biasa datang menimpaku, yang mampu membuatku trauma dengan hujan, dan terpuruk selama beberapa waktu, karna aku menyalahkan diriku atas kepergian Ayah”


“Hanya ibu yang selalu mendukungku dan membujuk diriku dengan segala caranya agar aku tetap berusaha hidup” lanjut gadis itu bercerita.



“Terkadang saat kita terpuruk, orang yang memegang tangan kitalah yang memberikan kekuatan untuk bertahan, mereka penyelamat saat diri terjun dalam lembah keputusasaan” sahut Hanum.



“Benar kak, kini aku mengerti karna aku merasakannya, dimana orang yang berada di ujung tepi jurang dapat diselamatkan, jika ada satu diantaranya yang memberikan kata – kata untuknya bertahan, tangan yang meraihnya saat hendak menyerah, dan rangkulan yang membuat diri ini tidak merasa sendirian.”


“Ibukku sangat berjasa, Dia membantuku berdiri hingga aku bisa sampai di posisi saat ini, dan membangun kembali pondasi jiwaku untuk bertahan menerima takdir kehidupan”



“Semua memiliki takdir masing – masing, percayalah takdir baik mu sudah menunggu di depanmu, bersabarlah, bertahanlah, sebentar lagi, kamu bisa!” Ucap Hanum sembari memegang erat kedua tangan gadis itu.



Waktu membantu mereka untuk pendekatan hati dan mengantarnya menjalin sebuah persaudaraan, mereka sering bercengkerama di taman rumah sakit untuk saling menghibur dan saling menguatkan.



Suatu ketika, Hanum sedang berjalan di lorong koridor rumah sakit bersama Vira melihat sang ibu gadis itu sedang menangis sesenggukan.



“Ibu, ada apa? Apa terjadi suatu hal dengan anak ibu?”



Sang ibu memeluk Hanum erat, isakan tangisnya yang tersedu – sedu membuatnya sulit tuk berkata, Hanum mengelus dan menepuk pelan punggung sang ibu untuk menenangkan.



“Minta tolong ambilkan air minum untuk ibu ya” Hanum menoleh ke Vira yang sedang bersamanya.



“Boleh ceritakan ke Hanum, hal apa yang membuat ibu menangis?”



Sang ibu awalnya menggeleng, tetapi beban yang terasa sangat berat membuatnya ingin sedikit melepaskan rasa sesak yang tertampung di dadanya.



“Anak Ibu, Han, sepertinya tidak bisa melakukan operasi, sebab si pendonor tiba - tiba membatalkan perjanjian donor matanya, sehingga kami harus menunggu lagi pendonor yang cocok untuknya dan entah sampai kapan. Ibu hanya tidak tega dan bingung, bagaimana Ibu akan menyampaikan ini kepadanya?” jelas sang ibu dengan bibir bergetar.



Hanum mengelus pundak sang ibu yang masih terisak, hatinya pun sedih mendengar kabarnya.



“Ibu, sampaikan saja jika donor matanya ditunda, pasti akan ada jalan lain di balik semua ini” ucap Hanum sembari mengusap air matanya karena suasana yang mengundang derai air mata. ***


Ketika Takdir Lain Menyapa

1 0

Sarapan Kata KMO Batch 47


‘- Kelompok 5


‘- Day 19


‘- Jumlah kata 516


 


 


Kondisi Hanum semakin lama semakin lemah, asupan gizi dan makanan yang masuk ke tubuhnya semakin terbatas. Hari demi hari, aktivitas Hanum hanya berbaring di ranjang, reaksi obat dan gejala efek sampingnya terasa kian menyakitkan bagi Hanum. Rasa lelah berjuang untuk bertahan kini mendekati batasnya.


 


“Mas, kamu mau jalan – jalan bersamaku? Aku sudah bosan disini, aku sudah menjelajah di semua sudut rumah sakit ini. Rasanya ini lebih dari seperti rumahku sendiri.”


 


“Iya, nanti kita jalan – jalan jika kondisimu mulai membaik kembali ya” ucapnya mengusap lembut pipi istrinya.


 


“Aku nggak mau nanti, bisakah sekarang saja kita pergi dari rumah sakit?” Sahut Hanum menahan tangan Elfran di pipinya.


 


“Tapi kamu sangat lemah, aku khawatir jika terjadi sesuatu nanti.”



“Mas, aku paham dengan kondisiku, aku tau presentase kesembuhanku mungkin hanya menunggu keajaiban. Aku tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi disini. Aku hanya ingin mengulang waktu kita bersama di sisa waktuku.”


 


Elfran menahan air mata yang menggenang karena mendengar salam perpisahan dari istrinya.


 


“Apa maksud kamu, Han? Kita tidak boleh menyerah, kita harus terus berusaha demi kesembuhanmu.”


 


“Iya, tetapi hati kan juga perlu diobati, aku sudah lama menunggu kesempatan untuk bisa keluar dari sini, aku hanya merindukan momen romantis bersamamu” Hanum menatap dengan mata memelas.


 


“Tunggu ya, kamu mau bersabar sebentar lagi kan?”


 


Hanum menggeleng.


 


“Mas, ayolah, kita pergi ya? Kita ajak suster yang akan jagain aku, buat jaga - jaga kalo nanti ada apa-apa, dia akan bantu berikan pertolongan pertama. Kita juga tidak pergi jauh, anggaplah kita liburan sekali ini.”


“Mas mengkhawatirkanmu, sayang.” Elfran tetap menolak permintaan Hanum.



“Ya sudahlah, mungkin hanya rumah sakit ini yang akan mengenang kisah kita. Aku hanya berusaha agar kenangan kita tidak teringat seperti kisah yang menyedihkan” ujar Hanum.



“Bukan seperti itu, Sayang. Justru, aku takut menyesal dengan keputusanmu karena itu terlalu beresiko untukmu”  terang Elfran.



“Kalau mas tak ingin menyesal, turutin aku sekali ini saja, please” Hanum memohon.



“Meskipun ini permintaan terakhirku, Mas tak ingin kabulkan juga?” Hanum melanjutkan permohonannya.



“Kenapa bicara seperti itu, Han? Tolonglah jangan katakan hal yang membuat Mas gusar” pangkas Elfran.



“Aku serius, Mas. Tolong mengertilah” ucap Hanum lirih.



“Aku minta maaf, tapi aku ingin keluar dari sini sekali ini, bersamamu” lanjutnya.


Dengan desakan Hanum, Elfran mengabulkan permintaannya ingin pergi ke pantai, mereka menginap di sebuah villa terdekat untuk melihat sunrise esok hari.



Langit berwarna merah kekuning – kuningan membuat semua pengunjung berdecak kagum akan keindahan alam yang disajikan. Melihat sang surya perlahan – lahan menunjukkan mega sinarnya dari sebelah timur. Deburan ombak yang menghantam pengahalang abrasi silih berganti, menciptakan suasana begitu damai dan tenang. Burung berkicau menyambut sang Mentari.



Terpesona dengan suguhan pemandangan alam, Hanum dan Elfran menghabiskan waktu dengan canda dan tawa di pagi hari. Layaknya anak kecil yang berlarian di bibir pantai, mereka bermain cipratan air, merasakan alunan ombak yang mengguyur kaki mereka, kemudian duduk menikmati pesona alam dengan sandaran mesra Hanum di pundak Elfran.



“Kamu lelah?”



“Enggak, aku sangat bahagia” jawab Hanum dengan senyum lebar.



“Kamu bahagia? Ayo kita nikmati momen ini untuk waktu yang lama”



“Hu um, entah kini atau nanti, aku harap bisa terus melihatmu tersenyum seperti ini. Angsa putih yang tampak menawan di mataku.”


Ketika Takdir Lain Menyapa

1 0

- Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5
- Day 20
- Jumlah kata 565

 

                          Bab 6
         Ketika Takdir Lain Menyapa

 


“Kamu tau, kenapa angsa putih yang dilambangkan keindahan?”


 


“sebab dia anggun dan cantik macam aku?”


 


Elfran tersenyum sembari mengusap ubun – ubun istrinya yang mengenakan topi.


 


“Angsa putih simbol keindahan sebab gerakan menarinya yang indah, dibalik tariannya ada kerja keras ayuhan kakinya tanpa henti. Meskipun, dia anggun dan terlihat lemah, tetapi Angsa adalah hewan yang kuat.”


 


“Seperti kamu, terlihat lemah tanpaku, tetapi aku yakin, kamu kuat” gurau Hanum.


 


“Kamu juga harus berusaha keras, kamu wanita hebat, kamu kuat, Han” puji Elfran menyemangati.


 


“Kita sudah berusaha keras selama ini Mas, aku kuat bertahan selama ini berkat Mas yang selalu menemaniku disini. Kamu malaikatku di sepanjang hidupku, kamu yang pertama dan terakhir untukku.”


 


“Kamu sangat berharga untukku, Sayang. Akan ku lakukan apapun untukmu, asal kamu bahagia.” Elfran mencium punggung tangan istrinya dan memegang erat.


 


“Terima kasih Sayang, sudah menggenggamku selama ini, tetapi kita juga harus ikhlas, harus bersiap merelakan tuk melepaskan genggaman kita, menerima takdir cerita-Nya” ucapnya dengan butiran bening menetes perlahan ke pipi Hanum.


 


Elfran mencium dahi Hanum dan memeluknya erat.


 


Panas mulai terik, mereka berniat untuk beristirahat kembali ke Villa.


 


“Sayang, muka kamu tambah pucat. Kamu pasti kelelahan, dari tadi kamu juga mual dan muntah, kita bersiap kembali ke rumah sakit yaa, sini aku gendong” Elfran  bersigap menggendong sang istri.


 


Hanum merasakan tubuhnya yang semakin lemas, rasanya semua energi dirinya telah terserap habis. Meski begitu ia bahagia bisa mengukir kenangan indah terakhir kalinya bersama Elfran, sebab dia tidak ingin menghabiskan waktu terakhirnya hanya di ranjang rumah sakit. Hanum terus memandangi wajah Elfran yang khawatir dengan dirinya, ia mengupayakan dirinya untuk terus tersenyum agar Elfran tidak merasa bersalah. Hanum merasakan kantuk yang tak tertahankan,


 


“Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah” ucap Hanum lirih, semakin lama dirinya semakin lemah tidak berdaya, rasa kantuk menutup matanya dan gelap.

Langit tak selalu cerah hidup tak selalu indah

 Ada malam ada siang, ada gelap ada terang
Ada suka ada tawa, ada tangis ada galabah

  Ada derita ada bahagia, ada susah juga senang


  Dunia tak selalu manis, tapi jalan tak selamanya terjal
Keadaan disajikan dalam berbagai rasa mewarnai perjalanan

Karena dalam setiap pertemuan, akan tiba salam perpisahan

Ada ucapan selamat datang juga ada selamat tinggal


Elfran tertunduk, air matanya mengalir lebih deras daripada langkahnya. Dia berlari terhuyung - huyung merasakan tubuh istrinya yang dingin. Bersama suster penjaga, Elfran segera melarikan Hanum ke rumah sakit, dokter menyatakan bahwa Hanum sudah tiada. Meski tidak ada penyesalan baginya karena ia pun telah menyetujui permintaan terakhir Hanum, tetapi duka mendalam membekas di hatinya.

 

Elfran memberitahukan kabar pada Vira, kakinya masih gemetar menggeligis menyaksikan istrinya yang telah tiada di dekapannya.

 

Klothak, Vira terkesiap dengan berita duka sahabatnya, hingga HP meluncur dari tangannya. Tidak akan menyangka Hanum akan pergi secepat itu, pertemuan terakhir merupakan sebuah pamitan. Berlutut dengan kaki lemas, seakan berada di ruang waktu, dimana semua kenangan masa lalunya dengan Hanum melintas berkelebatan di dalam ingatannya, membuat tumpah air mata dan hati luluh lantak.

 

Hari yang tenang lenyap seketika, hembusan angin menyentuh barisan payung hitam yang mulai berdatangan, rasa haru dan ribuan air mata iringi kepergiannya, acara pemakaman pun segera diberlangsungkan.

 

Suasana duka menyelimuti seluruh keluarga selama beberapa waktu lamanya. Keheningan dan kesenyapan bukan hanya terasa di rumah Elfran, tetapi juga di hatinya. Selama ini, ia telah tumbuh bersama dengan seseorang yang selalu menghangatkan hatinya, tetapi kini lilin itu telah padam. Tak pernah terbayangkan, hatinya menjadi kosong dan sepi***

 

Waktu Membawa Rahasia

1 0

‘- Sarapan Kata KMO Batch 47

‘- Kelompok 5

‘- Day 21

‘- Jumlah kata 520




Bab 7

   Waktu Membawa Rahasia                  

Kekosongan menatap asa

Emosi menyelimuti rasa

Menutup semua logika

Terjebak di ruang hampa

Siang malam tak terhitung

Berjalan di lorong tak berujung

Kerinduan berkabutkan senyap

Letih mengundang lelap

Duka, sebuah perasaan yang hadir dari kesedihan hati karena  melepaskan sesuatu yang sangat berarti, antara siap atau tidak, tetap akan meninggalkan bekas di hati.

“Kita semua berduka El, tetapi kita juga harus bangkit. Silakan sembunyi untuk menata hati, boleh bersandar asal kamu sadar, menangislah sepuas kamu asal tau kapan akan berhenti. Tapi, jangan lupa untuk bangun, siapkan diri untuk melangkah kembali, karna hidup itu singkat, kita harus kuat” Vira tak lelah memberi masukan bagi sahabatnya yang kian menyendiri.

“Aku masih perlu waktu, Vir” Elfran masih kekeh mengurung dirinya.

“Silakan, sekali dua kali, seribu dua ribu kali aku akan selalu kesini dan mengucapkan hal yang sama, El.”

Waktu demi waktu, tahun pun berlalu, bulan berjalan, dan hari silih berganti.

1-2-3-4 Tahun Kemudian.

Waktu bagaikan detik yang berlalu bagi Elfran, fokus membenahi diri dan menjalani aktivitas rutin, tenggelam dalam kesibukkan yang menantinya.

Ada sebuah kebiasaan baru semenjak empat tahun yang lalu, Elfran menyempatkan diri untuk mengunjungi pantai kenangan terakhirnya bersama Hanum, menikmati waktu pagi atau sore hari meski hanya untuk berjalan atau sekedar duduk di daratan pantai berteman angin dan deburan ombak.

Netra yang dimanjakan oleh suguhan panorama alam. Pesona pantai tak pernah pudar melukiskan keindahan, pamerkan keelokannya.

suara harmoni dari deburan ombak mengalun padu bersama hembusan tiupan angin dari pohon yang menari, kicauan burung menambah kesyahduan suasana. Disambut kecantikan sinar matahari yang terbit dari timur bagaikan sebuah balasan salam kerinduan hatinya, dan apabila senja tiba, seakan matahari terbenam untuk kembali sampaikan salam rindunya. Begitulah caranya bertahan melanjutkan hidup, sebab setiap orang memiliki versinya dalam merelakan seseorang. Kenangan bahagia yang diukir, terbingkai di lemari kisah yang akan tersimpan di cerita perjalanan kehidupannya. ***

Vira dan Elfran saling memberikan support satu sama lain, tetapi kedekatan mereka justru membuat mata orang – orang sekitar menaruh harapan. Desas – desus pun mulai terdengar, entah darimana mulanya gosip pun cepat menyebar luas.

“Selamat malam, Bu. Tadi saya melihat Pak Elfran sudah menunggu di depan” ucap salah seorang anak buahnya menggoda Vira.

“Oh iya, terima kasih, Anung. Kalau begitu saya pulang duluan ya, kalian jangan terlalu memaksakan diri untuk hari ini, masih ada hari esok. Terus Semangat!” ucap Vira menyemangati karyawannya yang masih bekerja lembur. Vira dikenal sebagai atasan yang ramah, dan merangkul bawahannya sehingga banyak yang menyukainya dan mendukung hubungannya jika bersama Elfran.

Meski banyak yang salah paham, mereka sering terlihat bersama karena ia dilibatkan dalam kerjasama bisnis Elfran, yang mempunyai proyek mengelola restoran di sebuah hotel.

            “Vir, menurutku EO yang kita pilih ini bisa diandalkan untuk acara besar nanti, selama ini tim ku selalu bekerjasama dengannya dan  hasilnya selalu maksimal” ujar Elfran.

            “Kali ini, aku akan kenalkan kamu sama Farah ya, dia ownernya, nanti disana aku akan tunjukkan draft-nya lalu kita diskusikan bersama” Elfran melanjutkan pembahasan.

            “Huft, aku terseret lagi? Kalo aku andil dalam bisnismu lagi, kamu harus menandatangani kontrak, El” celotehnya bergurau.

“Haahaahaa” Elfran membalas tertawa dan melangkah keluar mobil lalu diikuti Vira.


Waktu Membawa Rahasia

1 0

- Sarapan Kata KMO Batch 47 
- Kelompok 5
- Day 22
- Jumlah Kata 617
      

                        Bab 7
         Waktu Membawa Rahasia

         Farah dan Elfran sudah tiga tahun bekerjasama sebagai rekan kerja, mereka berada dalam satu tim di setiap acara yang diadakan di hotel. Farah gadis yang ceria, parasnya cantik dan memiliki sifat supel sehingga mudah akrab dengan orang. Pertemuan intens menjadikan mereka dekat, tak hanya pembicaraan bisnis, bahkan menyentuh sedikit kisah masalalu masing - masing yang membuat keduanya saling memaklumi rasa ditinggalkan orang terkasih.

 

         Sesampainya di ruang rapat, semua tampak telah dipersiapkan, semua orang duduk di kursi yang disediakan, tetapi Elfran tidak melihat seseorang yang harusnya hadir diantara mereka. Tak lama kemudian, seorang asisten datang menghampirinya.

 

  .   “Maaf Pak Elfran, Bu Farah tadi sudah hadir untuk meninjau semua persiapan, tetapi beliau terpaksa izin dalam rapat ini, karena tiba – tiba ada suatu keperluan yang mendesak” jelasnya.

 

      “Apakah beliau baru saja pergi?”

 

      “Beliau pergi sekitar satu jam yang lalu, dan ini beberapa proposal yang akan diajukan untuk tema acara”

 

         “Baiklah, terima kasih” Elfran mengangguk dan menyerahkan salinan berkasnya kepada Vira untuk ditunjukkan.

 

       Vira melihat – lihat berkas materinya, ia mengangguk setuju dengan ide – ide yang diajukan.

 

     “Ini masuk semua idenya tinggal menata …” Vira menghentikan pembicaraannya karena melihat Elfran yang tidak fokus.

 

    “Kamu kenapa, El? Ada sesuatu?”

     Elfran tersadar dengan pertanyaan Vira, ia menggeleng dan melihat halaman berkas yang disodorkan Vira.

 

    “Oh iya, siapa tadi? Namanya Farah? Dimana dia?”

 

    “Sepertinya lain kali, kesempatan kalian tuk bertemu. Dia izin dalam rapat ini karena ada urusan mendesak. Tapi, tadi dia sudah sempat meninjau semuanya, tinggal kita tentukan pilihan.” Jelas Elfran. Namun, Vira merasa ada yang aneh dengan sahabatnya, seakan berusaha tenang menutupi kecemasannya.

 

    “Kamu mencemaskan dia?”

 

     “Bukan, hanya saja dia tidak biasa …, uhmm beberapa waktu lalu dia sempat bercerita jika ibunya sakit” ucap Elfran yang teringat sesuatu.

 

        “Kenapa coba tidak menanyakan, barangkali ada suatu hal”

 

        Elfran mencoba menghubungi Farah tetapi panggilannya tidak terjawab lalu meninggalkan pesan untuknya. Vira memperhatikan sikap Elfran. ***

 

          Sebuah dering telepon berbunyi sebagai permohonan maaf agar tidak terlihat formal Farah mengajak Eflran bertemu di sebuah tempat makan.

          “Maaf ya kak, kemarin tiba-tiba aku tidak hadir dalam rapat penting karena alasan pribadiku.”

          “Tidak apa-apa, bagamana dengan ibumu? Apakah sudah pulih?

           “Alhamdulillah, kondisinya sudah jauh lebih baik, mungkin kemarin aku panik jadi langsung pergi begitu saja. Handphone ku juga lowbat semalam, baru sempat lihat pesan kakak tadi, jadi aku hubungi kakak.”

        “Iya, nggak masalah. Semuanya udah oke, dan aman.” Elfran lega mendengarnya.

     “Oh iya kak, untuk acara inti nanti saat pertunjukkan instrument piano ada beberapa ide yang saya tawarkan, apa sudah dipertimbangkan?”

      “Emm, tapi aku tidak terlalu mengerti tentang musik, nanti Vira akan bantu diskusikan hal ini”

     “Vira?”

      “Iya, sebenarnya kemarin aku ingin kenalin dia tapi mungkin belum waktunya, jadi mungkin lain kali”

      “Oh iya, tidak apa kak, kita kan sering bertemu, mau dikenalkan kapan pun akan aku luangkan waktunya.”ungkap Farah tersenyum tipis.

       Gerimis mulai membasahi bumi, rintik -  rintik hujan di balik kaca menjadi background dalam perbincangan mereka. Namun, mimik muka tegang terlihat jelas dari wajah Farah ketika sorot matanya melihat garis petir yang menyambar di langit dengan awan mendung.***

          Farah, seorang wanita yang mengawali karir dengan bermusik, ada kisah suka duka dibalik bakatnya. Baginya, piano memegang peran penting dalam kisah hidupnya, denting piano mewakili setiap emosi yang mencurahkan isi hatinya, yang mampu membuatnya bertahan dikala dunia berpaling darinya.

         Masa lalu menjadi pelajaran besar baginya, meski meninggalkan bekas luka yang mendalam. Namun, memang benar adanya, jika pengalaman adalah guru terbaik, dan akan menjadi guru yang bijak jika mau belajar dari pengalaman diri sendiri maupun orang lain.

       Farah sangat memuliakan ibunya karena jasa yang sangat besar di hidupnya. Ia merelakan mimpinya sebagai pianis hebat dan memilih  untuk membangun sebuah event organizer yang digawangi olehnya, dengan memberikan sebuah pertunjukkan yang mementaskan kemahiran jari - jemarinya menari dengan lincah diatas tuts piano. ***

Waktu Membawa Rahasia

0 0


‘- Sarapan Kata KMO Batch 47
‘- Kelompok 5
‘- Day 23
‘- Jumlah kata 806

                           Bab 7
         Waktu Membawa Rahasia

Hari ini adalah rapat pembahasan lanjutan untuk acara besar yang akan diadakan yakni Hari Jadi Hotel ke 25. Elfran dan Vira hadir bersama dan bertemu dengan Farah, setelah beberapa kali melewatkan kesempatan.

“Farah perkenalkan ini Vira, dan Vira kenalin ini Farah.” Elfran menengahi keduanya dan mereka pun saling menyapa. Dalam sesaat mereka mulai akrab, setelah larut dalam obrolan satu frekuensi, diam-diam Vira memperhatikan Farah, sebab ia merasa ada yang ganjal.

“Anyway, kita pernah ketemu sebelumnya kah?” Vira memperhatikan Farah yang tampak tak asing.

“Entahlah, Kak. Saya juga merasa familiar dengan Kak Vira. Apa pendekatan kita terlalu cepat?” Guraunya sembari tertawa.

“Oiya, bisa jadi hal seperti itu..haha” Vira tertawa membalas gurauannya.

Hubungan hangat antara keduanya terikat. Namun, ada rasa kecewa di hati Farah setiap melihat Vira bersama dengan Elfran. Ia mengira Vira adalah kekasih Elfran, perlahan ia menata hati untuk memilih membatasi dirinya.

Lambat laun, Elfran mulai menyadari perubahan sikap Farah yang terkadang tegas dan dingin kepadanya. Awalnya, ia menahan diri untuk menanyakan, karena mungkin hanya sebatas penasaran sekilas. Namun, akhir – akhir ini rasa penasarannya semakin bertambah, saat Farah merespon dingin kepadanya.

Vira yang hafal dengan gerak gerik sahabatnya, gemas melihatnya.

“Kamu kenapa sih, El? Ada masalah dikerjaan?”

“Enggak apa-apa, semuanya lancar, aman” jawabnya singkat, Elfran melirik.

“Kamu nggak pandai nutupin dari aku, ada apa? Pilih sekarang cerita atau aku yang cari tau, hmm?” gertak Vira dengan mata menyipit menyilangkan tangan.

“Farah ada sedang ada masalah kah? Atau cerita ke kamu sesuatu?” Elfran melihat Vira yang bersikap konyol.

“Soal?”

“Ya apa aja, yang mengusiknya mungkin.”

“Kamu bete karna Farah?” Vira melirik Farah yang berdiri di seberang ruangan Elfran, terlihat di jendela ruangan ia sedang berbincang dengan seorang pegawai.

“Aku heran sama Farah, akhir – akhir ini sikapnya berubah, kadang terlalu tegas kadang begitu dingin, mungkin ada sesuatu yang mengganggunya.” Elfran menjelaskan sambil mengingat reaksi yang ia terima dari Farah.

“Kenapa kamu penasaran? Kamu biasanya datar jika menyangkut hal pribadi orang lain” pungkas Vira.

“Farah kan bukan orang lain, Vir. Dia partner kerjaku, ya wajar dong kalo aku tau perubahan sikap dia dari yang biasanya.”

“Sejak kapan kamu begitu memikirkan dia? Yaa, nggak apa sih, cuma aku rasa kamu terlalu memperhatikannya” ketus Vira.

Elfran terdiam memikirkan perkataan Vira. Meski berusaha mengabaikannya tetapi ia tidak nyaman dengan sikap Farah kepadanya.

***

Guna persiapan acara, Farah mengajak Vira pergi ke studio kecil yang dikelolanya. Dalam keseruan mereka mencoba memainkan nada – nada, denting piano mengalun merdu dan harmonis menggema di ruangan. Sebuah melodi lagu “shimpony” dimainkan oleh Farah, mereka larut dalam nyanyian yang menyentuh hati. Vira terbayang kenangan akan sahabatnya, karena ini adalah lagu kesukaan Hanum. Ingatannya lalu membawa kepingan teka teki jawaban dari keganjalannya pada Farah. Vira terperangah, kini ia mengerti alasan Farah terlihat familiar baginya.

Dengan mata berkaca ia mendekati Farah, setitik air mata menetes segera diusapnya. Ia menatap dalam sembari tersenyum pada Farah, meski matanya  terus menggenang air mata.

“Farah, apa kamu kenal seseorang yang bernama Hanum?”

Pertanyaan Vira mengejutkan Farah, matanya melebar, ia tercengang.

“Bagaimana Kak Vira tahu? Kakak mengenal Kak Hanum?”

“Vira memegang tangan Farah, aku sahabatnya juga saudaranya. Kala itu, kita pernah sempat bertemu di taman rumah sakit walau tidak sering, sungguh bersyukurnya aku, kini kita dipertemukan lagi.” Vira memeluk Farah dengan erat, air mata mengalir mengenang rasa bersama Hanum.

“Kak Vira!“ Farah membalas pelukan Vira dengan hangat.

“Maafkan Farah ya Kak, Farah tidak cepat mengenali kakak.”

“Iya, aku yakin kamu pun tidak tau. Sungguh melegakan melihatmu tumbuh baik seperti sekarang ini”

“Iya, alhamdulillah kak, hanya ini yang bisa ku lakukan untuk membalas terima kasihku.”

“Iya, Hanum pasti tau kamu adalah wanita hebat dan luar biasa, Farah.”

“Setelah berhasil menjalani operasi mata, Ibu memberitahu jika pendonornya adalah Kak Hanum. Ibu juga menceritakan kondisi Kak Hanum saat berjuang melawan penyakitnya. Bagiku, Kak Hanum sosok wanita hebat. Sudah lama aku mencoba mencari informasi apapun terkait Kak Hanum ,tetapi pihak rumah sakit selalu menolaknya. Mereka bersikeras untuk merahasiakan semua informasi pendonor meski aku memohon berulang kali kesana tetapi hasilnya selalu nihil.  Aku sangat merindukannya, aku harap Kak Hanum tersenyum melihatku dari sana.”

“Emm, Kak bolehkah aku minta tolong?”

“Tentu saja, apa itu?”

“Bisakah antarkan aku ke pusaranya, Kak?”

“He’em baiklah, akan ku tunjukkan tempatnya, kita nanti kesana” Vira mengangguk tersenyum haru melihat Farah.

Setelah mengetahui tempat pusaranya Hanum, Farah rutin mengunjunginya membawakan bunga mawar kuning sebagai hadiahnya.

Suatu ketika, Elfran berpapasan dengan Farah, tanpa mengetahui tujuan mereka yang sama.

“Farah”

“Kak Elfran”

“Kamu hendak berziarah ke makam ayahmu?”

            “Bukan, pusara ayahku tidak disini kak. Ini saudara” terangnya.

Mereka masuk bersama dari pintu gerbang pemakaman, langkah kaki menuju ke tempat pusara yang sama, terhenti mereka berdiri di depan pusara Hanum.

“Kamu saudara istriku?” Tanya Elfran Heran.

            “Kak Hanum, istri Kakak?” Farah terkejut.

Banyak pertanyaan melintas di pikiran keduanya, tetapi tidak ada kata yang terucap. Elfran menunggu penjelasan dari Farah. Namun, bibir Farah seakan terkunci rapat, tidak tau mengawali dari mana.  

Waktu Membuka Rahasia

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 47


‘- Kelompok 5


- Day 24


- Jumlah kata 510                 Bab 7

           Waktu Membuka Rahasia

Melihat kenyataan jika Elfran adalah suami dari Hanum, membuat Farah tak mampu berkata. Diam seribu bahasa, dan ingin segera melangkah pergi dari situasi ini.

 

Sikap Farah membuat Elfran semakin penasaran dengannya, perubahan sikap sebelumnya yang belum ia ketahui alasannya dan juga pertemuan tadi di depan pusara Hanum serta pengakuaannya sebagai saudara Hanum. Elfran tak berhenti memikirkannya tetapi ia pun tak dapatkan jawabannya. Teka – teki menjadi rumit baginya, sebab semenjak pertemuan itu Farah tidak terlihat lagi.

 

Ia mencoba menghubungi Farah, tetapi tak pernah diangkat sekalipun olehnya, satu pesan dan terakhir dari Farah ialah meminta tolong terkait semua pekerjaan yang berhubungan dengannya dikuasakan penuh kepada asistennya.

 

Kesulitan Elfran mendapatkan informasi tentang Farah membuat dirinya berniat pergi ke rumahnya. Setibanya di halaman rumah Farah, tiba - tiba percakapan Vira terlintas di benaknya, dan  menimbulkan sebuah keraguan yang mampu menghentikan langkahnya dan mengemudikan mobilnya putar balik.

 

Menimang rasa di hatinya, Elfran termangu. Perasaan cemas mengusik hatinya, menghadirkan ketidaknyaman dan penasaran. Dalam kebimbangannya ia menghubungi Vira.

 

“Vir, kamu tau apa yang terjadi dengan Farah? Dia tidak pernah hadir dalam pertemuan kerja.”

 

“Kamu sudah menghubunginya?”

 

“Dia tidak mengangkat telepon dariku.”

 

“Terakhir aku hubungi dia juga sekitar satu minggu lalu, dia membalas singkat.  Tapi dia tidak ada cerita apapun jadi aku kira semua baik – baik saja.”

 

            Harapannya akan mendapat informasi dari Vira pun pupus. Satu – satunya penyelesaiannya hanya dengan bertemu dengannya. Sekali lagi, ia memakirkan mobilnya di halaman Farah, ia tepiskan segala keraguannya.

 

“Assalamu’alaikum” ucapnya memberi salam.

 

“Wa’alaikumussalam” seorang ibu keluar dari pintu menemui Elfran.

 

“Selamat siang bu, saya Elfran rekan kerja Farah” terang Elfran memperkenalkan dirinya sembari memberikan parcel buah.

 

“Selamat siang, Nak. Oh iya, mari, silakan duduk” sang ibu menyambut ramah.

“Ibu sudah sehat?”

 

“Alhamdulillah sudah jauh lebih baik ini, Farah banyak cerita kepada Nak Elfran ya?” jawab sang ibu tersenyum hangat.

 

“Iya bu, Farah sangat mengkhawatirkan kondisi ibunya. Alhamdulillah, saya ikut senang melihat Ibu sudah sehat kembali” Elfan menganggukkan kepala dan membalas hangat senyum sang ibu.

 

“Oh iya, Farah ada di dalam, biar Ibu panggilkan dulu ya, sekalian siapin minum untuk tamu” ujar sang ibu melangkah masuk ke dalam rumah.

 

“Kak Elfran?” Farah tidak diberitahu sang ibu mengenai tamunya, ia pun terkejut Elfran datang ke rumahnya.

 

“Maaf, jika aku langsung di sini, aku sudah menghubungimu tapi tidak kamu respon. Sepertinya ada beberapa hal yang perlu dibicarakan.”

 

            Farah duduk di kursi berhadapan dengan Elfran. Matanya melirik berulang kali ke arah Elfran.

            “Aku minta maaf, Kak. Sebelumnya aku benar – benar minta maaf karena langsung pergi begitu saja saat itu. Ada hal yang ingin aku jelaskan mengenai pertemuan kita di pusara Kak Hanum.”

 

“Aku dan Kak Hanum bertemu saat di rumah sakit, kami sering bercerita dan menjadi dekat, bagiku dia seperti seorang kakak yang sudah memperhatikanku dengan baik, dan memelukku dengan hangat. Saat remaja aku dan ayahku mengalami kecelakaan beruntun, kejadian itu membuatku sempat membuatku trauma. Ayahku meninggal di tempat dan aku mengalami cedera parah, yang mengakibatkan kebutaan.  Sekitar Empat tahun lalu, aku menjalani operasi mata akan tetapi pendonorku membatalkannya seminggu sebelum jadwal operasi. Kak Hanum mengetahui hal itu, dan ia menggantikannya untuk menjadi pendonorku” Hanum menjelaskan.


Setiap Pertemuan Ada Alasan

0 0

                           Bab 8

              Setiap Pertemuan Ada Alasan

Bukan karena dunia yang sempit, namun cerita takdir yang menggandeng mereka agar bertemu. Sejauh apapun kan berlari, selama mungkin tuk bersembunyi, apabila takdir mengizinkan mereka tuk bertemu maka tak ada yang dapat mengelak, bahkan alam pun memberi jalan.

Elfran terdiam sejenak, penjelasan yang ia dengar memang membuat terkejut, sebab diantara ribuan manusia di bumi, ia dipertemukan dengan Farah.

“Terimakasih sudah membantu Hanum, dan tumbuh dengan baik.” Elfran menatap Farah yang memandangnya karena ucapan yang dikatakan.

            Angin berhembus menaburkan bibit – bibit perasaan di hati mereka. Keduanya saling menatap, meski bibir tak berucap tetapi hati seakan saling menyapa.

            “Apakah itu juga alasan yang mempengaruhi perubahan sikapmu?”

            “Sebenarnya ada alasan lain yang membuatku malu. Bagaimana mungkin aku bisa menanggungnya jika setiap hari bertemu denganmu? Hanya membuatku tampak tak tau diri”

            Elfran menatap Farah dengan bingung dan penasaran. “Apa maksudmu?”

          

            “Kak Hanum sudah sangat baik dan berjasa dalam hidupku. Hendaknya, aku tak menginginkan hal lain lagi darinya. Tapi, aku mengetahui semuanya terlambat. Harus aku apa kan perasaan ini yang telah tumbuh untukmu?” ungkap Farah dengan tatapan sedih dan pasrah, air mata menggenang di matanya, ia merasa sudah melakukan hal yang salah.

            Elfran membisu, matanya melebar lalu menggerakkan matanya ke segala arah, sebuah pernyataan tiba-tiba dari ungkapan Farah, meminta jawaban dari kondisi yang diluar dugaannya.

            Perasaan layaknya sebuah pohon jika dirawat ia akan tumbuh kokoh dan mengakar kuat, jika tidak maka hanya ada dua pilihan, akan layu seiring berjalannya waktu, atau tetap tumbuh menjadi liar.

                        “Pada dasarnya perasaan adalah hak seseorang, aku tak punya kuasa atas perasaanmu, tapi aku menghargainya. Dan jangan jadikan hal ini sebagai beban untukmu, karena kamu tidak bersalah atas perasaanmu” Jawab Elfran menatap Farah dengan tatapan hangat, layaknya seorang kakak yang melindungi adiknya.

                        “Kembalilah bekerja besok, aku menunggumu” Ucap Elfran melanjutkan dan berdiri berpamitan pulang. ***

4 Tahun Lalu

Terdengar suara rintik hujan turun, Elfran menutup tirai jendela rumah sakit. Kala itu, ia sedang menemani istrinya, Hanum, yang terbaring lemah dan lelah. Elfran mengambil kain basah untuk mengompres tangan Hanum yang membengkak setelah menjalani kemoterapi siang tadi.

“Hari ini aku lelah sekali, rasanya seperti terus mengantuk, tapi tidak bisa tidur.”

Elfran mengusap ubun – ubun istrinya, kemudian dikecupnya dahi sang istri.

“Kamu wanita hebat dan luar biasa sayang. Kamu wanita kuat” ucap Elfran memandang penuh kasih pada istrinya.

“Aku rindu suasana romantis, Mas mau menyanyikan lagu untukku? Sekali ini saja, mau yaa?” rayu Hanum pada sang suami.

Tak kuasa menolak permintaan istrinya yang menatap penuh harap dengan mata sayunya. Elfran mulai menyanyikan sebuah lagu symphoni.  Syair bait terakhir mengalun mengiriringi sang istri yang sudah terlelap dalam tidurnya.

Elfran masih terjaga, ia mengambil sebuah buku yang ada di meja, sepucuk surat berada diantara halaman buku.  Dilipatan luar pojok kanan atas tertulis to : suami terkasih dan tersayang, rupanya surat itu ditujukan untuk Elfran.

Bismillah,

            Assalamu’alaikum Mas,

Tinta di atas kertas, dan hitam diatas putih, menjadi bukti, maksud dari kesungguhan hati.  Ada perkataan mas yang terngiang di pikiranku ketika aku memutuskan menulis surat ini.

Bahwa  setiap pertemuan itu ada cerita, orang-orang yang dihadirkan dalam hidup kita masing – masing membawa cerita baik sebagai petunjuk ataupun bekal, tetapi semua berkenaan dengan diri kita.

Hari ini aku bertemu dengan ibu dari gadis itu sedang menangis terisak – isak, karena pendonor putrinya membatalkan janji. Mas, izinkan aku atas niatku mengajukan diri sebagai pendonornya. Gadis itu pernah kehilangan gairah hidup, tetapi kini dia kembali bersemangat, sifatnya periang dan hangat, aku yakin ia mampu menjalani kehidupannya dengan baik. Bukan maksudku menyerah pada semua, tetapi untuk berjaga jika memang sudah garis takdirku berpulang, biarkan aku bisa memberi manfaat, terlebih pada gadis itu, sebagaimana ia telah menjadi perantara hidayah yang datang menuntunku. Aku sangat bahagia jika bisa melakukan kebaikan untuknya.

Kita tidak tau cerita apa yang telah disiapkan di depan nanti. Aku hanya berharap bisa melihatmu lebih lama lagi meski aku tak bisa menemani. Aku ingin memastikan senyum manismu masih terlukiskan di wajah tampanmu meski raga ini telah terpisahkan.

Tapi masa depan adalah rahasia, diantara jutaan insan dunia, ku harap takdir baik mu selalu menuntun langkahmu, malaikat pelindungku.

Salam hangat penuh cinta,

Kekasihmu.



Setiap Pertemuan Ada Alasan

0 0

Sarapan Kata KMO Batch 47

- Kelompok 5

- Day 26

- Jumlah kata 532


Sepucuk surat yang dibacanya tak lain adalah sebuah wasiat dari sang istri. Keinginan terakhir yang mulia, tak mampu Elfran menghalangi atau pun menolaknya. Ia mengamati Hanum dengan ketulusan mendalam, wanita yang sedang terlelap layaknya bidadari di matanya, kecantikan tiada duanya. Bahagia tapi sedih bercampur di hatinya, sebuah perasaan haru yang sangat mendalam.***

Setelah pertemuannya dengan Farah, Elfran termenung di pantai, mengingat kenangannya bersama Hanum. Ia melihat kembali surat wasiat istrinya yang disimpannya. Apa yang diharapkan Hanum ternyata segaris dengan takdir yang mempertemukannya dengan Farah. Selama 3 tahun bekerjasama dengannya, ia baru mengetahui semuanya. 


Semilir angin berhembus menyapa Elfran yang tenggelam dalam pikirannya. Matahari sudah terbenam meninggalkan senja, senja memudar menyambut malam, sang bulan bersinar ditemani taburan cahaya bintang.

Keesokan harinya, Elfran melihat Farah sudah berada di kantor dengan kesibukannya, garis senyum mengukir kedua sudut bibir Elfran lalu melangkah ke ruangannya. Acara hari jadi semakin dekat, kesibukan pun bertahan selama beberapa minggu, saling bersikap professional dan mengesampingkan urusan pribadi.

            Sebagai seorang wanita yang bertumpu pada hati dan rasa, bukanlah hal mudah baginya bersikap professional di depan Elfran. Sesekali ia meliriknya, dan  mengamati Elfran di tengah kesibukannya. Hatinya semakin berdebar, meski berusaha menampiknya, tetapi ia tak bisa mengelak perasaan atas dirinya.

“Kamu harus bisa! Ya! Aku harus menghadapinya. Kita bertahan selama beberapa saat lagi. Oke! Jika ingin menyerah, kita akhiri setelah acara ini berakhir, Fighting!” Farah melakukan monolog di depan cermin toilet, lalu membasuh muka dan menepukkan tangan di kedua pipi untuk menyadarkan dirinya. ***

Setelah persiapan matang dari seluruh tim, pemeriksaan kesiapan semua titik acara dan gladi resik sudah sempurna. Acara Hari Jadi Hotel ke 25 pun segera berlangsung. Tim EO yang dikomando oleh Farah sedang melakukan persiapan untuk acara puncaknya. Elfran dan Vira bergabung untuk memberi salam kepada para tamu undangan yang hadir dan mengawasi perjalanan acara. Terlihat seorang wanita cantik rupawan muncul dari balik panggung, langkahnya yang elegan mengenakan dress panjang berkerah vintage dengan detail puff sleeves ditambah aksen pita manis membuatnya tampak menawan, sepatu heels putih menambah kesan dirinya yang berkelas. Farah menyambut para hadirin dan duduk di balik piano yang dipamerkan di atas panggung, sebuah iringan melodi (Shane Filan - Beautiful in White) x Canon in D dan Yiruma Rivers Flow in You x Kiss the Rain mengalun merdu menggema di seluruh penjuru aula. Semua terkesima dengan penampilan Farah yang tampil apik dan istimewa. Tepuk tangan meriah mengiringi akhir dari penampilannya, ia pun membungkuk sebagai ucapan terimakasih dari para hadirin yang menikmati suguhan penampilannya.

Ucapan selamat dan pujiann terus terdengar hingga ia kembali bergabung dengan tim organisasinya. Dari segala ucapan yang didengar, Farah hanya memfokuskan perhatiannya pada Elfran.

“Selamat yaa, penampilanmu sungguh apik dan sangat mempesona, menyentuh hati pada setiap orang yang mendengar ayunan jemarimu memainkan piano.” Vira semangat memberikan pujian.

“Terima kasih Kak Vira, ini juga berkat bantuan Kakak, hasil diskusi kita kala itu.” Farah tersenyum memberi sanjungan balik.

“Selamat Farah, kamu mementaskannya dengan sangat baik, tampilanmu tampak anggun dan luar biasa” ucap Elfran memujinya.

“Terima kasih Kak, ini juga karena support dari design team yang membuat penampilanku tampak luar biasa” ucap Farah membalasnya.

Dalam hatinya tampak rasa puas dan bahagia, karena pujian Elfran yang tersentuh pada penampilannya. Bibit yang telah bertunas bukannya layu justru kian tumbuh berkembang.


Setiap Pertemuan Ada Alasan

0 0

- Sarapan Kata KMO Batch 47
- Kelompok 5
- Day 27
-Jumlah Kata 532

              Bab 8
  Setiap Pertemuan Ada Alasan

Bibit cinta nampak bertunas
Berharap tumbuh di tanah tandus
Perasaan yang tak kunjung berbalas

Kena relakan harapan yang pupus

Sebuah pergelutan terjadi di hati Farah, kebimbangannya menandatangani kontrak kerjasama bisnis lagi dengan Elfran. Dalam pikiran Farah, sikap dingin Elfran diibaratkan tanah yang tandus, maka pilihan terbaik diantaranya adalah dengan memangkasnya. Berkat penampilan luar bisa pada puncak acara, Farah mendapat berbagai tawaran partner kerja bisnis, meski ragu akan pilihannya tetapi ia mempertimbangkan untuk mengakhiri kontrak kerjasamanya dengan Elfran.

Tiga hari setelah acara Hari Jadi Hotel, mereka mengadakan acara syukuran tim sebagai apresiasi diri yang bekerja keras demi kesuksesan project, serta pembahasan mengenai strategi bisnis juga evaluasi dari project sebelumnya.

          

Farah mencoba menemuinya, akan tetapi Vira selalu berada disamping Elfran membuatnya sulit untuk berbicara empat mata dengannya, melihat mereka yang bercengkerama penuh canda tawa membuat perasaan Farah semakin kalut. Elfran tak sengaja menoleh dan melihat Farah yang menepi menyendiri, ia pun menghampirinya.

“Kamu bosan? Mau jalan – jalan keluar sebentar?”

Farah mengangguk setuju, mereka lalu melangkah keluar dari ruangan.  Udara malam yang sejuk, langit yang cerah bertabur bintang menemani mereka.

“Emm, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, tapi aku melihat Kak Elfran sangat asyik bercakap dengan Kak Vira yang terlihat sangat cocok.”

            “hmm.. (Elfran tersenyum menanggapi). Jika terlihat seperti itu, pantas banyak yang salah paham dengan menganggap kami berpasangan.”

“Apa Kak Elfran pernah menyukai Kak Vira?” Farah menatap serius Elfran.

Elfran menatap balik Farah, “Kamu cemburu?”

Farah batuk berdehem, tersentak oleh pertanyaan Elfran. Mengalihkan padangangannya sembari berjalan, mengambil nafas dan menggembungkan pipinya, kedua tangannya menepuk – nepuk pelan pipinya yang memerah.

Elfran tersenyum gemas, sikap Farah terlihat lucu di pandangannya.

“Farah, tunggu. Tadi katanya kamu mau ngomong sesuatu” Elfran mengikutinya dari belakang berjalan pelan.

Mereka duduk di kursi yang menghadap jalan, banyak kendaraan berlalu lalang tampak di sebrang mereka.

“Penampilanmu luar biasa pada acara kemarin, aku melihat besar cinta kamu pada musik hingga pesan emosi sangat tersampaikan dan menyentuh hati audience.”

“Saat aku buta, meski aku tak bisa melihat ekspresi orang – orang di sekitarku, tetapi aku merasakan bagaimana cara mereka memandangku. Tak sedikit dari mereka yang meremehkanku dengan alibi rasa kasihan, membuatku terasa sangat lemah dan tak mampu, dipandang sebelah mata yang membatasi kemampuanku. Hanya sedikit diantaranya yang berekspresi sesuai dengan kata hati mereka, dan hanya aku yang bisa merasakan itu. Terkadang, aku menganggap diriku yang insecure, jadi aku coba menunjukkan diriku. Namun, pemikiran itu justru membuatku semakin merasa gila. Aku tak tahu, diriku yang bernyali kecil atau dunia yang sedang bermain topeng denganku” ujar Farah.

“Aku takut jika aku kehilangan diriku, dan semakin tak mengenal diriku yang sebenarnya. Karena hal yang aku dengar, omongan dari mereka mendukungku yang merasa bersalah semakin menghukum diriku atas kepergian ayah. Kala itu aku memaksakan diri untuk mengikuti lomba festival piano. Selama beberapa tahun, aku tidak sudi melihat piano, hanya ibu yang selalu membantuku berbaikan dengan diriku agar berdamai dengan masa lalu.

Saat aku melihat piano, awalnya rasa marah dan benci, tetapi berakhir dengan isakan tangis, tangisan yang tersedu -sedu hingga terlelap disana. Setelah capek nangis, jari – jariku menjadi perantara perasaanku, hingga akhirnya aku bisa meluapkan semua emosi padanya, nada melodi piano menggambarkan semua perasan hati yang berkeluh kesah, menutupi suara tangisanku yang lelah pada dunia.” Lanjut Farah.

Mungkin saja kamu suka

Temaram_Ray
Dalam Kelam
Nabilla Aulia
Setelah tidak Bersamamu
Kris Muntari
Rasa Literasi
Ismi Mutiya Rah...
Black Heaven
mynameisfyar
Harapan untuk Asha

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil