Loading
5

0

37

Genre : Lain-lain
Penulis : Mas Laelasari
Bab : 28
Dibuat : 14 Juli 2022
Pembaca : 18
Nama : Mas laelasari
Buku : 1

Secercah Cahaya Impian

Sinopsis

Karena keserakahan paman dan bibi, Seruni harus kehilangan keluarga dan penglihatannya. Namun di antara orang-orang serakah ada orang baik, dia adalah bude Ambar adik dari ayah Seruni. Dan orang yang menemani Seruni untuk memperjuangkan haknya. Selain bude Ambar, ada yang lebih mendukung Seruni untuk melanjutkan masa depannya dan dia diam-diam menyukai Seruni, dari dulu Damar menyimpan rasa untuk Seruni. Namun Damar tidak berani mengungkapkannya, karena Damar tahu siapa Seruni.
Tags :
#KMOIndinesia

Kasih sayang bude Ambar

0 1

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5_Gempita

#Day1

#Jumlahkata664






"Seruni ... !" Bude Ambar memanggil, tapi tidak ada sahutan dari dalam rumah.


Hari itu Bude Ambar pulang dari pasar, Bude berjualan sayur mayur di pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Seruni dan bude Ambar. Bude berangkat pukul 03:00 dini hari dan pulang pukul 09:00 pagi.


Padahal perusahaan ayahnya Seruni sangat besar. Namun, apalah daya Seruni tidak bisa mengurus perusahaan itu karena keterbatasannya.


Bude tidak tega meninggalkan Seruni terlalu lama.


"Kemana ya Seruni?" Bude bergumam, sambil sesekali melihat ke arah pintu.


"Seruni..." bude memanggilnya kembali,


Bude Ambar tidak langsung masuk ke dalam sepulang dari pasar, Bude paling tidak bisa melihat halaman yang berserakan sampah. Bude langsung membersihkan halaman dengan sapu lidi, di halaman rumah yang asri, bunga, pohon, dan rumput yang sengaja di tanam, sehingga terlihat indah dan sejuk.


Seruni menuju keluar, karena terdengar suara sapu lidi yang sedang di gunakan oleh Bude.


"Pasti bude udah pulang." ucap Seruni dalam hati.


"Bude ...  Bude sudah pulang?" Seruni berusaha mengikuti suara sapu lidi yang sedang di gunakan oleh bude.


"Iya, baru saja sampai." Bude masih terus membersihkan halaman dari daun - daun kering.


"Kamu sudah sarapan, Seruni?" Bude menghampiri  Seruni.


Sambil berjalan meraba-raba dinding bilik bambu, mungkin Seruni tidak seperti orang lain yang dapat berlari, untuk berjalan saja kesulitan. Karena Seruni tidak dapat melihat semenjak kecelakaan maut, hanya Seruni yang selamat dari kejadian itu. Namun kini Seruni kehilangan penglihatannya.


"Sudah bude, tadi di temani Damar." Seruni berdiri di depan pintu.


Nasib Seruni mungkin tidak seperti anak yang lain,  dapat melewati masa kecil yang seru. Tapi seruni masih beruntung mempunyai Bude Ambar yang sampai saat ini menemani dan memberi semangat kepadanya.


Selain Bude Ambar, ada Damar tetangga seruni yang selalu menemaninya. Seruni tidak kesepian, karena masih ada orang - orang yang sayang kepadanya.


Apabila bude Ambar pergi ke pasar atau pergi ke luar kota, Seruni selalu di temani Damar. Damar terpaksa putus sekolah sewaktu kelas 5 SD, karena masalah biaya. Keluarga Damar keluarga tidak mampu, ayah dan ibunya hanya seorang buruh.


Ayahnya Damar buruh tidak tetap, sedangkan ibunya buruh cuci pakaian.

Sebelum menjadi buruh, orang tua Damar bekerja di rumah Seruni di kota. Lima adik Damar masih sangat kecil. Damar di rumah Seruni selain menemaninya, dia selalu membantu pekerjaan rumah yang tidak bisa Seruni lakukan.


Keluarga Damar sudah sangat dekat dengan keluarga Seruni dari sejak Seruni belum lahir, dulu Seruni di asuh oleh ibunya Damar dan ayahnya Damar sebagai tukang kebun di rumahnya Seruni.


Dulu Seruni tidak bisa berbuat apa - apa, tetapi sekarang sudah terbiasa dengan keterbatasannya. Dan sudah menghapal setiap sudut ruangan di rumah bude Ambar, walaupun kecil tetapi nyaman.


Bude Ambar kakak dari ayah Seruni, walau Seruni tinggal bersama Budenya, tapi tidak membuat Seruni kehilangan kasih sayang. Karena Bude membesarkan Seruni dengan penuh kasih sayang, Bude Ambar tidak mempunyai anak, karena sebelum merasakan menjadi seorang ibu, sudah di tinggal suaminya.


Entah kemana pakde, tanpa pamit menghilang begitu saja seperti di telan bumi. Bude sudah berusaha mencarinya selama bertahun - tahun, tapi setiap pencarian selalu nihil. Dan akhirnya bude menyerah dan hanya tinggal do`a di setiap penghujung shalatnya, berharap suaminya kembali kepadanya.


Sekarang hanya Seruni satu - satunya keluarga di desa itu, semua saudara bude sudah pada pindah ke kota. Alasan bude tidak ikut saudaranya yang lain karena takut suaminya pulang.


Sedangkan Seruni hanya ingin bersama bude Ambar, dia tidak dekat dengan saudara ibunya. Hanya bude Ambar yang baik kepada Seruni.


***


Malam dan siang tidak ada bedanya untuk Seruni, Bude di dapur sedang memasak untuk makan malam.


Seruni menghampiri bude yang sedang memasak, "Bude, sedang masak apa wangi sekali?" Seruni meraba-raba mencari kursi yang ada di ruang makan.

Ruang makan dan dapur saling bersebelahan.


"Pokoknya malam ini kita makan enak!" Bude bersemangat masak malam ini.


"Bude, apakah bude masak banyak?" Seruni mencium bau makanan yang sedap.


"Iya Runi, Bude masak banyak, agar bisa makan bersama Ibu Nani dan keluarganya." Tangan Bude yang terampil memasak, selalu memanjakan lidah yang memakan masakannya.









user

30 July 2022 19:45 Umdzatul Khasanah Jam 03:00 seharusnya pukul 03:00, penggunaan anamatope srek srek srek sebaiknya dihindari.

Jamuan bude Ambar

1 1

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day2

#Jumlahkata647




Ibu Nani adalah ibunya Damar, ia juga yang ikut merawat Seruni dari semenjak dilahirkan. Sebelum menjadi buruh cuci ibu Nani adalah seorang asisten rumah tangga, di rumah Seruni sewaktu masih tinggal di kota, tetapi sekarang ibu Nani ikut ke kampung, karena majikan yang baru tidak cocok dengannya.


Jadi tidak salah kalau Seruni sekarang menganggap keluarga ibu Nani sebagai keluarganya juga. Bahkan Damar sudah di anggap sebagai kakaknya.


Seiring waktu Damar mulai menyukai Seruni, tetapi dia tidak percaya diri dan takut Untuk mengungkapkannya. Dia hanya bisa memendam perasaan itu, karena takut bertepuk sebelah tangan.


Sedangkan Seruni merasa nyaman apabila Damar berada di sampingnya, karena hanya damar yang selalu menemaninya. Dulu Seruni pernah di sukai oleh lelaki lain, tetapi keluarga laki-laki itu tidak dapat merestuinya karena keadaan Seruni buta.


Setelah itu Seruni pasrah dengan keadaannya, dan tidak berharap mempunyai suami. Mempunyai kakak seperti Damar sudah sangat bersyukur. Apalagi Damar yang selalu ada di saat Seruni membutuhkan.


Masakan Bude sudah selesai, kemudian Bude menatanya di atas meja makan. Makanan yang terhidang sangat banyak seperti akan ada tamu spesial.


" Seruni... Bude mau panggil dulu ibu Nani dan keluarganya, ya ... !" Bude menata masakannya seperti di restoran. Namun Seruni tidak bisa melihatnya.


" Iya Bude...!" Seru Seruni.

Seruni menunggu mereka di meja makan, sambil menikmati harumnya masakan Bude. Walau hanya bisa mencium baunya saja Seruni sudah merasakan kalau masakan Bude pasti lezat.


Keluarga ibu Nani sudah datang, di sambut senyuman seruni dan masakan Bude yang terlihat lezat.


"Mari Bu ... Kita makan bersama!" Bude mempersilahkan ibu Nani dan keluarganya.


Merekapun bersiap untuk menyantap masakan Bude yang lezat. Di mulai dengan doa yang di pimpin oleh Damar.


Mereka makan bersama menikmati makanan yang tersaji, adik-adiknya Damar makan dengan lahap. Setelah selesai makan adik-adiknya Damar tak henti memuji masakan Bude.


Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga sambil berbincang ringan, sedangkan adik-adiknya Damar menemani Seruni yang sedang mendengarkan acara anak di televisi. Seruni tidak dapat melihat, tapi dia dapat mendengar dan berimajinasi dengan apa yang dia dengar.


Malam semakin larut, adik-adiknya Damar satu persatu tidur. Ibu Nani pun berpamitan dan sangat berterima kasih kepada Bude Ambar, Damar dan ayahnya menggendong adik-adiknya.


" Bu Ambar... terima kasih atas jamuan nya dan kami pamit pulang, karena hari sudah malam!" Terlihat Ibu Nani sangat bahagia, karena keluarga Seruni masih menganggapnya keluarga.


" Iya sama-sama, Bu! Jangan kapok ya, dan terima kasih kepada nak Damar selalu menemani Seruni!" Bude Ambar mengantar mereka sampai ke depan pintu.


" Bude...Seruni sangat bahagia!" Bude menatap wajah Seruni yang ceria.

Namun Bude Ambar membayangkan jika suatu hari Seruni harus berjuang mengambil haknya, Bude Ambar harus tetap berada di sampingnya.


" Apakah dia akan bisa?" gumam bude dalam hati.


" Seruni usiamu kini sudah hampir dua puluh tahun, apakah kamu tidak mau menikah?" Pertanyaan Bude membuat Seruni kaget.


" Bude...memangnya siapa yang mau sama gadis buta?" Seruni hanya tersenyum, dengan menyembunyikan kesedihannya di depan Bude.


" Damar sangat baik seruni!" Bude sangat berharap Damar yang menjadi pendamping seruni.


" Bude Damar berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dan normal, Runi gak mau merepotkan Damar!" Padahal dalam hati Seruni bertolak belakang dengan kata-katanya yang di ucapkan kepada Bude.


Namun Seruni tidak ingin merepotkan banyak orang. Diam-diam Seruni menyimpan rasa kepada Damar.

" Tapi Runi, bude tidak akan bisa selamanya menjagamu, bude akan menua!" seru Bude.


" Bude...kalau Bude sudah renta, Runi ingin tetap di samping bude, Runi tidak ingin jauh dengan bude!" Seruni tidur di pangkuan bude yang masih di depan televisi.


" Apakah kamu tidak ingin kembali ke kota?" Bude mengelus-elus kepala Seruni.

" Emang paman dan bibi akan menerima saya? Apakah Bude sudah tidak mau menemani Seruni?" Seruni bangkit dari pangkuan bude, pelupuk mata seruni mulai panas.


Seruni masuk ke dalam kamar, walaupun ditahan buliran bening di ujung pelupuk matanya itu mulai berderai. Pikiran Seruni mulai kemana-mana, Seruni mulai berfikir kalau dia sudah tidak disayangi lagi oleh semua orang. Dan dia harus mulai belajar mandiri.

***



user

30 July 2022 19:48 Umdzatul Khasanah Di pimpin seharusnya dipimpin????

Masih banyak orang yang sayang Seruni

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day3

#Jumlahkata717










Pagi yang cerah, Seruni hanya dapat merasakan dari hangatnya matahari yang baru terbit, tanpa bisa melihatnya. Pagi itu Seruni Sendiri pergi ke dapur berusaha untuk menyiapkan sarapan sendiri, tetapi dengan keterbatasannya Seruni memecahkan sebuah piring.



"Praaaang..." Piring pecah.



Namun Bude sudah pergi ke pasar, padahal sarapan sudah siap di atas meja, tetapi Seruni ingin berusaha sendiri.



Damar datang," Ada apa ini Seruni?" Sambil memungut dan mengumpulkan pecahan piring.



Seruni hanya diam tidak menjawab, Damar melihat mata Seruni yang sembab.



" Pasti Seruni ada masalah, terus bagaimana saya bisa meninggalkannya?" Gumam Damar dalam hati, karena dia yang selalu menemaninya di saat Bude berangkat ke pasar.



Mereka kini saling terdiam, karena Damar tidak mau menebak-nebak yang sedang terjadi. Setelah serpihan piring telah bersih, Seruni di gandeng ke dalam ruang tamu.



Masih dalam keadaan hening, tanpa ada sepatah katapun.



"Ya Tuhan...apakah bude sudah tidak ingin menemaniku lagi?" tanya Seruni dalam hati.



"Assalamualaikum...!" suara adik-adiknya Damar memecah keheningan di ruangan itu.



"Wa'alaikumsalam..." jawab Seruni sambil menghapus sisa air mata yang menempel di matanya.



Seruni memasang senyum, karena Seruni tidak ingin membuat Novi dan Nova sedih.



"Ka ... tadi ada apa Ka?" tanya nova.



Novi dan Nova adalah adiknya Damar, pulang sekolah mereka selalu main bersama Seruni.



Damar keluar dari ruangan itu dengan hati yang di penuhi pertanyaan.



" Ka Damar mau kemana?" tanya nova, sambil langsung mendekati Seruni yang duduk di pojok kursi.



Namun Damar tidak menjawab pertanyaan nova.



" Ka Runi ... kalian bertengkar ya?" Nova semakin kepo, karena dia melihat mata Seruni yang sembab.



" Nggak ko Va.." Seruni mencari Nova dan Novi, sambil meraba-raba kursi.



" Eh kalian sudah pada pulang? Berarti sekarang sudah jam 12 ya?" Seruni mengalihkan pembicaraan, supaya Nova dan Novi tidak bertanya semakin mendalam.



Tapi Seruni mulai melamun lagi, " Kemana ya bude?" tanya Seruni dalam hati.



Biasanya bude pulang sebelum Nova dan Novi pulang sekolah.



Hati Seruni semakin tidak karuan, pertanyaan-pertanyaan mulai memenuhi hati Seruni.



" Ka Runi...bude belum pulang ya?" Novi celingukan ke arah dapur.



"Belum...Vi !" jawab Seruni disertai senyuman yang khas dari Seruni.



" Mungkin masih di jalan!" ucap Seruni sambil melihat ke arah pintu dengan sedikit rasa cemas.



" Ya sudah Ka, ayo kita ke dapur! Kita bikin kejutan buat bude!" ajak Nova.



" Emangnya kejutan apa Va?" Seruni mengerutkan keningnya.



" Kita bikin makanan, jadi pas nanti bude sampai rumah tidak usah memasak!" Nova dengan semangat empat limanya, menuntun Seruni ke arah dapur.



"Ternyata masih ada yang mau menemani gadis buta sepertiku!" gumam dalam hati Seruni.



Dalam pikiran Seruni sekarang sedang berperang mana yang benar, apakah mereka masih peduli atau mereka sudah tidak peduli kepadanya.



" Kak ... kenapa kakak jadi melamun?" Nova dan Novi menatap Seruni yang sedang melamun.



" Ti ...tidak ko, tidak melamun!" Seruni mencari tempat untuk duduk.



Walaupun Seruni tidak dapat melihat, tapi dia tahu resep masakan yang selalu bude masak.



Mereka mulai mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan, Nova dan Novi sibuk memasak tetapi Seruni sibuk melamun karena keterbatasannya itu, dia kembali bersedih.



Pelupuk matanya mulai terasa panas, buliran air mulai berderai membasahi pipinya. Seruni menelungkup wajahnya di atas meja makan, sedangkan Nova dan Novi tengah asik memasak.



Nova dan Novi sudah terbiasa memasak, karena di rumahnya mereka sudah sering memasak.



" Tok tok tok" tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.



Seruni buru-buru mengusap matanya yang basah karena guyuran air mata. Nova dan Novi bukan langsung menuju pintu, tetapi mereka saling menatap karena keheranan melihat Seruni yang tengah menghapus air mata.



" Tolong buka pintunya Va...!" suruh Seruni.



" Iya ka ... " Nova menuju arah pintu.



Namun Novi mendekati Seruni dan memandang wajah Seruni yang di basahi air mata.



" Kakak menangis ya?" tiba-tiba Novi sudah terdengar di dekatnya Seruni.



" Siapa yang datang ya Vi? Apakah bude pulang?" Seruni bertanya tanpa menjawab pertanyaan Novi.



" Entahlah Ka ... Nova lama sekali di depan." Novi celingukan ke arah pintu luar.



" Ayo antar kakak ke depan Vi...!" ajak Seruni, dia sudah berdiri dan berjalan sambil di gandeng oleh Novi ke depan.



Setelah berada di ruang tamu Novi melihat bude bersama Nova yang sedang duduk bersama, tetapi Novi di kejutkan oleh bude yang kakinya di balut dengan perban.



Namun bude dan Nova menempelkan telunjuk di depan mulutnya, tanda bahwa keadaan bude saat ini tidak ingin di ketahui oleh Seruni, bude tidak ingin membuat Seruni sedih.



kekhawatiran Seruni

1 1

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day4

#Jumlahkata720



" Siapa yang datang Vi?" tanya Seruni.


" Bude sudah pulang ya?" lanjut Seruni, dia tahu karena tercium  aroma minyak wangi bude yang khas.


" Iya Runi bude baru pulang." sahut bude.


" Kenapa bude terlambat? Tumben, biasanya bude pulang sebelum Nova dan Novi pulang?" Seruni nyerocos karena panik bude baru pulang.


" Tadi bude ketemu teman dulu, terus di ajak beli bakso!" bude Ambar sudah menyiapkan alasan untuk Seruni, Karena bude tahu Seruni pasti akan bertanya seperti itu.


" Tapi kenapa Nova dan Novi diam, biasanya kalian heboh kalau bude datang bawa makanan." teliti Seruni.


" Oh i..ini ka, emhh a..anu!" Nova tergagap tidak bisa menjawab karena masih merasa kaget melihat keadaan bude.


" Itu ka Nova langsung menyiapkan bakso yang di bawa bude untuk kita." Novi buru-buru menjawab sebelum Seruni lebih banyak bertanya.


Namun hati Seruni terasa tidak enak dan merasa ada yang di sembunyikan oleh mereka.


" Tapi tadi ada suara laki-laki?" Seruni masih penasaran dan terus bertanya.


Tiba-tiba Damar datang dan menyelamatkan bude dan adik-adiknya dari pertanyaan-pertanyaan Seruni  " Itu suaraku Runi!"


" Oh..." dengan datar Seruni seolah tidak mendapatkan jawaban atas kekhawatirannya itu.


" Ya sudah...pasti kalian belum makan kan?" Bude membuyarkan ketegangan orang-orang." Ayo buka baksonya!"


" Bude ke kamar dulu ya ganti baju dulu, he he he ... masih bau pasar!" Bude dipapah oleh Damar ke kamar bude.


Nova dan Novi mengelus dada menandakan bahwa mereka kali ini selamat dari pertanyaan-pertanyaan Seruni.


Nova dan Novi menikmati bakso yang sudah di bawa oleh bude.


" Ka Ayo...baksonya enak sekali!" Novi terus mengunyah baksonya.


Akhirnya hati Seruni mulai lumer, dia mulai menikmati baksonya. Dia yang dari pagi belum makan apapun, sekarang perutnya mulai terisi makanan.


" Bude masih menyayangiku?" tanya Seruni dalam hati.


" Sepertinya aku harus minta maaf kepada bude." gumam Seruni dan masih menikmati baksonya.


" Ka mau di bantu potongin baksonya ga?" Nova menawarkan bantuan kepada Seruni, karena Nova melihatnya seperti kesulitan.


Sebelum Nova membantunya, Damar duluan yang menghampiri Seruni dan membantu Seruni memotong baksonya.


" Cieee..." tiba-tiba suara Nova terdengar meledek.


" Kenapa ?" Seruni terdiam.


Tiba-tiba ada yang menyuapinya bakso.


"Va udah deh ... kakak bisa sendiri makan baksonya!" Seruni mencari sendok bakso yang tadinya ada di depannya.


" Ehemm..." Damar memberi tanda kalau dia sekarang berada di depan Seruni.


Wajah Seruni mulai memerah seperti buah tomat yang sudah matang.


" Eh kamu Damar ... sudah saya bisa makan sendiri ko." Seruni mencoba mengambil mangkok bakso yang sekarang masih di pegang oleh Damar.


" Sudahlah buka mulutmu!" suruh Damar kepada Seruni.


" Malu tau ... sama ade-ade mu !" tapi Seruni tidak berhenti menerima suapan dari Damar.


" Udah Ka ... terusin aja biar terlihat romantis, sekalian Ka Damar belajar untuk menjadi suami yang baik, he he he ..." Nova masih dengan ledekan-ledekannya.

Seruni berhenti menerima suapan dari Damar.


" Uhuk uhuk...Hah ... Suami?" Seruni terkesiap dengan kata yang dilontarkan Nova.


Tetapi Damar hanya tersenyum dan terus menyuapi Seruni.


Seruni semakin salah tingkah, karena jauh dari lubuk hatinya sebenarnya dia ingin sekali Damar terus berada di dekatnya, tetapi ego Seruni yang tidak ingin membebani Damar membuat Seruni berusaha jauh dari Damar.


Karena Seruni menginginkan Damar mendapatkan pendamping yang sempurna, Damar orang yang Sholeh dan baik kepada semua orang.


" Benar Seruni terima Damar menjadi suamimu!" tiba-tiba bude keluar dari kamar.


Damar dengan sigap menyimpan mangkok yang sedang di pegang nya dan membantu bude berjalan menuju kursi.


Damar hanya melempar senyuman kepada semua orang, karena itu yang di mau oleh dia.


Mereka bersenda gurau sambil menikmati baksonya. Dan tak terasa hari sudah hampir sore.


Setelah bakso habis Nova dan Novi melanjutkan membereskan dapur yang tadi siang di buat berantakan oleh mereka, dan menyimpan masakan yang di buat oleh mereka di atas meja makan.


"Bude...tadi kami masak, Nova simpan di meja makan ya!" seru Nova kepada bude.

" Oh iya terimakasih ya ... Nak!" Bude terlihat meringis menahan rasa sakit di kakinya.


" Bude ... maafkan Runi ya!" Seruni mencari tangan yang sudah keriput itu.


Bude mendekati Seruni " Minta maaf untuk apa, Runi?" tanya bude, sambil menatap wajah Seruni yang terlihat matanya bengkak karena sedari bangun tidur terus menangis.


" Runi ... kenapa matamu? Kamu habis menangis ya?" tangan bude yang mengelus elus kepala Seruni.


" Seruni takut di jauhi oleh kalian semua, hiks hiks..." Pecah lagi suara tangisan dari Seruni.


user

30 July 2022 20:07 Umdzatul Khasanah Setelah sapaan atau sebelum sapaan sebaiknya diberi tanda koma.

Hati yang terluka

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day5

#Jumlahkata771



" Siapa yang akan meninggalkanmu?" bude langsung memeluk Seruni, dan membayangkan kalau kejadian tadi siang merenggut nyawanya.


Bagaimana dengan nasib Seruni, pelupuk mata bude mulai memanas dan keluarlah buliran air bening di ujung matanya.


" Kami tidak akan meninggalkanmu, Runi!" Damar ikut menenangkan Seruni.


" Bude kenapa semua ini harus terjadi kepadaku? Kenapa aku harus kehilangan penglihatanku? Apa salahku...hiks hiks hiks..." Seruni masih terus menangis.


" Kamu tidak salah apa-apa Runi, yang salah ...!" Bude tidak melanjutkan kata-katanya, karena bude belum mempunyai bukti kuat untuk mengungkap kecelakaan yang menimpa kakaknya itu.


" Siapa yang salah bude?" Runi menyeka air matanya.


" Tidak ada yang salah, Runi!" tukas Damar.


Damar yang menjadi saksi mata sebelum kejadian kecelakaan itu, tetapi dia di ancam oleh pamannya Seruni agar tidak memberi tahu siapapun, waktu kejadian usia Damar masih belum dewasa dan dia takut kehilangan keluarganya juga.


Paman dan bibinya Seruni orang yang sangat kejam dan rakus.


" Damar sekarang kamu sudah dewasa, apakah kamu mau menolong Seruni untuk mendapatkan keadilan dan haknya kembali." ucap bude kepada Damar.


Damar menatap kosong ke depan, dia masih ada trauma dulu saat paman Seruni mengancamnya.


" Tapi ... bude bagaimana dengan keluarga ku?" Damar tidak ingin terjadi sesuatu kepada keluarganya, tetapi hati kecil Damar ingin membantu Seruni.


" Ya sudahlah biar bude memikirkan cara untuk mengungkap semuanya! terimakasih Damar karena kamu sudah menemani Seruni dan mengorbankan waktumu untuk Seruni!" ucap bude, yang sedikit bingung untuk masa depan Seruni.


" Baiklah bude karena sekarang sudah sore kami pamit dulu, sekarang mungkin bapak dan ibu sudah pulang!" Damar dan adik-adiknya berpamitan.


" Oh ya, Damar tolong pikirkan lagi mungkin kamu bisa menolong Seruni!" Bude Ambar penuh harapan kepada Damar.


Damar hanya melempar senyuman kepada bude. Mereka pulang dan rumah kembali sepi, tinggal bude dan Seruni.


" Bude ... " Seruni berdiri dan mencari bude Ambar yang sudah masuk ke dalam kamar.


" Ada apa dengan bude?" gumam Seruni.


Bude tidak kunjung keluar, Seruni berusah berjalan menyusuri dinding bilik bambu, tangannya meraba-raba agar tidak ada yang tertubruk olehnya. Dan tidak sengaja Seruni mendengar bude seperti sedang berbicara dengan seseorang.


Tadinya Seruni tidak ingin mendengar percakapan bude, tetapi sekilas terdengar bude menyebut namanya. Seruni yang tadinya mau langsung masuk kamar, tetapi hatinya menghentikannya dan tetap berdiri di depan pintu kamar bude.


Kini Seruni jadi mendengar percakapan bude.


" Iya de ... Kakak hanya ingin haknya seruni! Damar sepertinya tidak mau membantu, karena dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada keluarganya." suara bude dari dalam kamar terdengar jelas.


" Kapan kamu akan ke sini de...?"


" Sepertinya bude sedang berbicara dengan pakle!" Seruni terus mendengar percakapan bude.


" Tapi kenapa bude bilang ingin mengambil hakku, sebenarnya mereka sedang membicarakan apa?" dalam hati Seruni bertambah pertanyaan.


Bude Ambar melihat Seruni yang berada di depan pintu kamar, kemudian dia menutup telponnya dan meneruskannya dengan mengirimkan pesan kepada adik bungsunya.


[" Sudah dulu de ... Seruni mendengar percakapan kita!"]


[" Baiklah mbak, nanti pas  libur saya ke rumah Mbak!"] balasan dari adiknya bude, yang berada di luar kota.


Bude menyimpan ponselnya dan menghampiri Seruni yang tidak menyadari kalau budenya sudah berada di depannya.


" Kenapa tidak ada suara lagi?" gumam Seruni yang masih berdiri di depan pintu kamar bude.


"Runi..." sapa bude .


" Eeh bu...bude!" Seruni terkesiap dengan adanya bude di depannya.


" Kamu mau masuk kamar sekarang?" bude masih meringis kesakitan, tetapi menahannya agar seruni tidak tahu dan tidak kepikiran.


" Ayo bude antar kamu ke kamar!" Bude hendak menuntun Seruni, padahal dia pun sedang kesulitan berjalan.


" Tidak bude ... Seruni mau mengambil air wudhu!" Seruni meneruskan langkahnya menuju ke kamar mandi.


" Biarlah Seruni sendiri...Seruni pasti bisa ko!"


" Baiklah hati-hati licin!" Bude pun menungguinya di kursi meja makan.


Seruni masih belum tahu kaki bude cedera. Namun bude menahan rasa sakit itu, karena jangan sampai Seruni menghentikannya untuk berjualan ke pasar.


Setelah mengambil air wudhu Seruni masuk ke dalam kamarnya dan tidak keluar lagi.


Keadaan terasa canggung, karena bude menyembunyikan sesuatu dan Seruni merasa ada yang tidak beres.


Di kamar, Seruni kembali meluapkan rasa sakit hatinya. Dan menyalahkan dirinya sendiri.


" Kenapa harus terjadi? Kenapa penglihatanku kau renggut? Kenapa mama dan papa harus pergi begitu cepat? Kenapa kenapa kenapa... Hiks hiks hiks..." Seruni yg terus bertanya kepada dirinya sendiri.


Dia atas sajadah dia tertidur, karena dia kelelahan seharian ini dia terus menangis. Hingga mata indahnya kini membengkak.


" Mama ... Papa...mama...papa...jangan tinggalkan Seruni, hiks hiks hiks" Seruni melihat kejadian naas itu dalam mimpinya.


" Runi ... Runi ... bangun nak!" Bude membangunkan Seruni, karena teriakan Seruni terdengar sampai kamarnya, antara kamar kamar Seruni dan kamar bude hanya terhalang oleh bilik bambu, maka akan terdengar dengan jelas.



Kembalinya Paman Anto

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day6

#Jumlahkata708



Hari masih gelap dan bude Ambar harus tetap melakukan rutinitasnya, walaupun cedera di kakinya belum terlihat membaik, tapi tuntutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bude Ambar tidak menghiraukan rasa sakit yang di rasakan di kakinya.


" Kakak ... " suara laki-laki dibalik pintu membuat bude Ambar terkesiap.


" Anto? Itu kamu?" Bude menghampiri pintu sambil terpincang-pincang.


" Iya ka ... ini aku !" sahutan dari balik pintu.

" Sebentar...!" Bude masih kesulitan untuk berjalan.


Bude langsung memeluk adik bungsunya yang baru datang.


" Anto ... dari kota kamu jam berapa?" tanya bude, yang melihat di samping adiknya itu ada seorang laki-laki yang seumuran adiknya.


" Ka ... ini dingin sekali nggak di suruh masuk nih?" Anto masih berdiri di depan pintu.


" Eh iya, saking kagetnya kakak lupa menyuruh kalian masuk, ayo masuk!" ajak bude.


Mereka masuk kedalam, yang tadinya bude akan pergi ke pasar untuk menyambung kehidupan, karena bude dan Seruni masih bertahan dari hasil berdagang sayuran di pasar tidak jadi. Bude tidak enak meninggalkan adiknya yang baru datang dan yang terutama bude masih kangen kepada adik bungsunya itu.


Setelah meninggalnya kakaknya, Anto tidak pernah berkunjung lagi ke tempat bude Ambar. Kecelakaan maut itu meninggalkan goresan di hati semua orang yang dekat dengan ayahnya Seruni, karena ayahnya Seruni adalah orang yang sangat baik kepada semua orang.


" Ka Seruni masih tidur?" Anto yang celingukan melihat ke arah kamar Seruni yang masih sepi.


" Belum, kakak sengaja tidak membangunkan Seruni, kalau sudah bangun kasihan di tidak ada teman, paling nanti kalau Damar pulang dari masjid baru Seruni di bangunkan oleh Damar."


" Ooh...Damar masih suka nemenin Seruni toh?" Anto sambil memanyunkan bibirnya.


" Iya karena hanya Damar yang selalu setia menemani Seruni!"


" Terus itu kaki kakak kenapa? Apa yang sudah terjadi?" tanya Anto, melihat kakaknya itu dari atas kebawah. Yang dulunya kakaknya itu pandai berdandan, kali ini terlihat tua dan terlihat kusam.


" Kakak kemarin tertabrak sepeda motor, tapi Seruni tidak tahu tentang ini hanya Damar yang tahu. Kakak tidak mau membuat Seruni jadi kepikiran."


" Untung Damar masih setia menemani keluarga kita." lanjut bude Ambar.


" Entah apa yang akan terjadi pada Seruni, kalau pas kecelakaan itu merenggut nyawa kakak!" Bude Ambar meneteskan air dari sudut pelupuk matanya.


" Hus... Kakak seorang wanita hebat dan kuat, Anto percaya sama kakak!" hati Anto sedikit teriris dengan kata-kata kakaknya itu.


" Oh iya, sampai lupa perkenalkan ini Husen teman Anto dari kota, Husen ... nah ini kakakku yang sering aku ceritain!"


" Husen ..." Husen menyodorkan tangannya kepada bude Ambar.


" Ambar, kakaknya Anto!" Bude menyalami Husen.


Kreeek...


Seruni membuka pintu, dan menuju arah ruang tamu.


" Bude ... ada yang datang ya?" Seruni mencari asal suara.


Anto tidak tega melihat keadaan Seruni saat ini, mata Anto memerah berkaca-kaca. Anto langsung menghampiri Seruni dan memeluknya.


" Bude..." Seruni mencium bau farpum yang asing.


" Ini paman, Seruni..." buliran bening dari pelupuk mata Anto tak tertahan, terus mengalir melewati pipinya.


" Paman...hiks hiks hiks!" Seruni membalas pelukan Anto dengan kencang, rasa rindunya yang sudah sekian lama tidak bertemu terluapkan.


" Paman kenapa baru datang? Runi sama bude kesepian di sini!" Seruni menyeka air mata yang telah membasahi pipinya.


" Paman banyak urusan di kota! Sekarang Runi sehat?" Anto mengelus rambut Seruni.


" Runi takut, paman... Hiks hiks hiks!" air mata terus berderai, sehingga membasahi baju Anto.


" Takut apa, Runi...?" tanya Anto dan menaikan alisnya.


" Runi takut di tinggalkan sama orang-orang yang sayang sama Runi, ayah sama ibu sudah meninggalkan Runi!" derai air di pipinya tidak kunjung berhenti.


" Runi ... sekarang paman akan menemanimu."


Seruni mulai tenang, terdengar suara adzan subuh yang di kumandangkan oleh Damar, suara yang indah.


" Seruni, kakak...Anto ijin ke mesjid dulu bersama Husen!" ucap Anto yang melepaskan pelukan Seruni.


"Baiklah ... sambil menunggu kalian dari mesjid kakak akan siapkan sarapan!" Bude beranjak dari kursi.


Anto dan Husen keluar dari rumah menuju masjid.


" Bude ... Siapa Husen? memangnya paman ke sini tidak sendirian?"


" Husen temannya pamanmu dari kota."

Di mesjid Anto bertemu sama Damar, karena sudah lama tidak berjumpa Anto hampir tidak mengenali Damar. Namun Damar masih mengingat Anto.


" Paman Anto..." dari dekat mimbar masjid Damar memanggil Anto.


Karena merasa di panggil Anto celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya.


" Damar?"


Damar cemburu 1

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day7

#Jumlahkata765


Damar menyalami Anto dan Husen. Mereka memulai shalat berjamaah, setelah selesai shalat mereka menuju rumah bude Ambar.


Hari ini Damar melihat Seruni sedikit berseri-seri, walaupun mata Seruni bengkak dan wajah yang merah bekas tangisan. Damar sudah agak merasa tenang setelah melihat Seruni berseri-seri.


" Ayo kita sarapan bersama! Selesai sarapan kalian istirahat, mungkin kalian semalaman sudah bergadang di jalan." ajak bude Ambar.


Damar berdiri dan pamit pulang karena tidak ingin mengganggu Anto dan Husen temannya.


" Paman, bude...saya pamit pulang!" seru Damar.


" Loh...kenapa pulang ayo sarapan bersama dulu!" ajak Anto.


" Terimakasih paman, ibu dan bapak pasti sekarang sedang menungguku!" Damar menolak Dangan halus.


" Ya sudahlah kalau tidak mau sarapan bersama, gih pulang sana!" Seruni sudah mulai bisa bercanda lagi.


Semua orang melihat ke arah Seruni, yang sudah berjalan menyusuri bilik-bilik kayu rumahnya. Dan Damar buru-buru membantu Seruni dan menggandengnya ke arah meja makan.


" Damar, kenapa kamu membantuku? Bukannya kamu mau pulang? Sana pulang sekarang!" hanya dengan mencium aroma minyak wangi Damar, Seruni dapat mengenali orang yang membantunya.


Husen menaikan alisnya dan melihat ke arah Anto, dia merasa heran dengan apa yang dilihatnya.


" Bukannya Seruni itu tidak bisa melihat?" bisik Husen kepada Anto.


Anto hanya menjawab pertanyaan Husen dengan sebuah senyuman. Husen mendekati Seruni dan melambai-lambaikan tangan di depan mata Seruni.


" Siapa kamu? Paman...Damar...bude...!" Seruni memanggil semua orang kecuali Husen.


" Iya Runi..." bude mendekati dan membantu mengisi piring kosong dengan nasi goreng lezat buatan bude.


" Siapa yang barusan mendekatiku? Kenapa aroma farpum itu asing?" Hanya dengan mengenali farpum dia akan tahu siapa yang sedang berada dekat dengan dirinya.


" Kenalkan saya Husen temannya Anto!" Husen mendekati lagi Seruni dan menyalami tangan Seruni.


" Oh teman paman ya? Maaf karena farpum paman Husen asing buat Runi!" Seruni sekarang sudah mulai bisa membuat senyuman di bibir mungilnya.


" Eh jangan panggil paman! Sepertinya panggilan itu terlalu tua untuk saya!" gurau Husen kepada Seruni, tapi memang benar panggilan itu terlalu tua untuknya. Husen seumuran dengan Damar dan Anto.


Anto pun umurnya belum begitu tua, karena sewaktu neneknya Seruni hami besar, ibunya Seruni hamil muda. Maka dari itu Seruni dan Anto tidak berbeda jauh. Seruni masih ada paman yang lain, tetapi yang dekat bersama Seruni hanya Anto dan bude Ambar.


Damar merasa cemburu melihat keakraban antara Anto, Husen dan Seruni. Dia merasa kalau dia sudah tidak di butuhkan lagi oleh Seruni, karena setelah kedatangan Anto, Seruni terlihat bahagia.


" Ayo Damar, sini!" ajak bude.


" Kenapa kamu hanya terus berdiri di sana?" tanya Anto.


" Sudahlah paman, mungkin Damar sudah tidak mau menemaniku!" tukas Seruni.


Damar yang tadinya pamit pulang, sekarang dia menuju kursi yang berada dekat Seruni.


" Damar? Eh kenapa kamu, bukannya tidak ingin sarapan bersama kami?" canda Seruni, yang sudah mulai bisa bercanda seperti sedia kala.


Damar yang baru menempelkan dirinya dengan kursi tiba-tiba dia berdiri kembali, karena tersinggung ucapan Seruni.


" Mau kemana kamu, Mar?" Anto melongo melihat Damar berdiri lagi, yang terlihat seperti tersinggung.


" Ayo, sudahlah Seruni hanya bercanda, jangan anggap serius!" lanjut Anto.


Damar nyengir, dan kembali duduk. Kemudian mereka mulai menikmati sarapan yang telah dibuatkan oleh bude.


" Ka Ambar... baru kali ini saya sarapan yang lezat seperti ini!" puji Husen kepada bude.


" Jangan terlalu memuji, nanti kakakku ini bisa-bisa terbang!" tukas Anto.


Kini suasana rumah mulai hangat lagi, dari mulai Seruni yang sudah mulai bisa tersenyum dan bude yang merasa tenang melihat semuanya.


" Bude karena sarapan sudah selesai dan paman Anto akan beristirahat, saya pamit pulang ya!" Damar berdiri dan pamit kepada semua orang.


" Lah kenapa pulang? Mari kita berbincang dulu sebentar!" Anto berbasa basi, padahal dia sudah keleyengan karena dari semalam dia tidak tidur menemani Husen yang menyetir mobil.


" Besok saja paman kita berbincang, Sekarang saya di tunggu oleh keluargaku!" kali ini Damar benar-benar pamit.


" Ya sudahlah, besok kamu kesini lagi soalnya banyak yang harus kita bicarakan!" wajah Anto terlihat serius dan menekan kata-katanya.


Damar merasa aneh dengan kata-kata Anto yang agak di tekan. Sepertinya memang ada yang penting.


" Baiklah paman!" jawab Damar. Dia pun berlalu.


" Runi ... Paman dan Husen harus istirahat dulu ya!" ujar bude.


" Baiklah bude...Runi tidak akan mengganggu ko! Selamat istirahat paman Anto...paman Husen...!" Seruni mulai berdiri dan di bantu Husen menuju ke ruang tamu.


Damar yang baru sampai pintu depan melihat Seruni yang di bantu oleh Husen, dia merasa ada yang tidak beres dengan hatinya. Karena biasanya dia yang selalu membantu Seruni di saat bude berada di pasar.


Hari ini bude tidak jadi pergi ke pasar, karena dia ingin melepas rindu kepada adiknya yang sudah sekian lama tidak jumpa.




Damar cemburu 2

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day8

#Jumlahkata738






Hari ini bude tidak jadi pergi ke pasar, karena dia ingin melepas rindu kepada adiknya yang sudah sekian lama tidak jumpa.



Setelah semua urusan di rumahnya, Damar langsung kembali ke tempat bude Ambar. Namun, Damar di suguhi pemandangan yang membuat hatinya kegerahan. Seruni dan Husen sedang berbincang di teras rumah.



Damar mempercepat jalannya dan langsung duduk tanpa permisi.



" Runi ... kamu sudah baikan?" tanya Damar yang tiba-tiba.



" Damar ? Aku baik-baik saja ko! Tumben kamu nanya keadaan ku?" Seruni memasang senyum manisnya.



" Oh ya, Mar! Ternyata om Husen seorang dokter!" Seruni seakan bangga mempunyai teman baru seorang dokter pula.



" Runi akan di bawa ke kota untuk memeriksa mataku!" Runi sumringah.



Deg



Hati Damar semakin tidak karuan, entah apa yang sedang ia rasakan saat ini.



Damar takut Setelah dapat melihat, Seruni meninggalkannya dan mencari laki-laki yang mapan dan tampan.



" Baguslah !" jawab Damar yang singkat.



" Runi... Jangan panggil om, kenapa masih memanggil om?" ucap Husen.



" Terus panggil apa dong? Kan paman Husen temannya paman Anto!" Seruni menghargai Husen sebagai teman Anto.



" Panggil mas aja, kan saya belum terlalu tua, he he he ..." Husen nyengir.



Husen dan Seruni terlihat sangat akrab. Mereka berhasil membuat Damar kepanasan.



" Runi kamu ga gerah?" tiba-tiba Damar bertanya, padahal hari ini tidak terlalu panas.



Husen melihat Damar yang salah tingkah, tetapi Husen semakin ingin mengerjainya.



" Sepertinya Damar cemburu." gumam dalam hati Husen.



Husen semakin merapat kepada Seruni.



" Damar ... apa pekerjaanmu?" tanya Husen dengan ramah.



" Dia ustadz, loh mas...!" Seruni mendahului menjawab pertanyaan Husen.



" Dia juga merangkap sebagai artis kampung..." ejek Seruni.



" Ibu-ibu di sini mengidolakannya!" lanjut Seruni, yang terus berkata-kata lurus seperti jalan tol.



Damar langsung berdiri dan beranjak dari tempatnya, karena dia pikir kalau terus berada di sana akan terus terbakar api asmara.



"Runi ... bude tidak pergi ke pasar?" tanya Damar agak di tekan.



" Nggak tuh, sekarang bude sedang beberes di dapur sambil masak buat makan siang nanti!" Seruni tidak menyadari kecemburuan Damar, karena Seruni tidak dapat melihat gelagat Damar yang salah tingkah.



" Paman Anto di mana?" Damar celingukan.



" Dia di dalam, mas" ucap Husen.



" Jangan panggil mas, kan kita seumuran!" sanggah Damar.



" Oh baiklah kalau begitu, Anto ada di dalam!" Husen menunjuk ke arah dalam rumah.



" Sudahlah sana kamu mau ketemu paman Anto kan?" Ucap Runi kepada Damar.



" I ... Iya!" Damar tidak kunjung berdiri, dia masih mepet ke dekat Seruni.



" Mas Damar ... Anto di dalam!" ucap Husen mempertegas.



" Eh damar, kamu masih di sini?" tanya Seruni, seakan dia merasa terganggu. Karena jarang ada yang ngajak ngobrol Seruni.



Seruni seakan mempunyai teman lagi, seperti sebelum dia kehilangan penglihatannya.



Hanyalah Damar yang menemaninya selama ini.



Damar pun berdiri dan menuju ke arah dapur. Langkahnya terlihat berat.



" Runi ... Damar pacar kamu ya?" tanya Husen polos.



" Hah ... Bukaaaan!" Seruni terkesiap dengan pertanyaan Husen.



" Kenapa mas Husen bisa bertanya seperti itu? Dia hanya teman biasa!" Seruni menyanggahnya, padahal perasaan seruni sangat berharap lebih. Wajah Seruni memerah.



" Tapi kayaknya dia mencintai kamu deh...!" Husen berhasil membuat Seruni berbunga-bunga.



" Tapi selain dia ada yang diam-diam menyukaimu juga loh!" Husen terus menggoda seruni.



Seruni mengerutkan keningnya, " Siapa itu mas?" tanya Seruni heran, karena tidak ada orang lain yang dekat dengannya selain damar selama ini.



Husen dapat membaca tingkah seruni dan Damar, kalau mereka saling menyukai.



Di dapur Anto dan bude Ambar sedang membicarakan Seruni, serta merancang rencana untuk kembali ke rumah lama Seruni yang berada di kota.



Damar pun tidak sengaja mendengar percakapan bude dan Anto.



" Ehemm..." Damar berdiri di pintu dapur.



" Eh kamu Mar? Sini saya ingin berbicara banyak kepadamu!" Anto menepuk kursi yang berada di dekatnya, mengisyaratkan kalau Damar harus duduk di kursi itu.



" I ... Iya om!" Damar mendekati Anto dan bude yang sedang mengobrol.



" Eh ... kenapa wajahmu kusut, Mar?" tanya bude, sambil menyelidik Damar.



" Kusut bagaimana?" Damar melempar senyuman yang di buat-buat.



" Waaah ... ada yang cemburu nih, Ka!" ejek Anto.



Wajah Damar memerah, dia mengelus-elus dagu yang berjenggot.



" Siapa yang cemburu?" sanggah Damar.



" Ternyata ada yang kebakaran jenggot, he he he...!" tak henti-hentinya Anto mengganggu Damar yang sedang kepanasan karena dalam hatinya kebakaran.



" Oh ya ... Paman mau bicara soal apa denganku?" Damar mengalihkan pembicaraan.



Mereka termenung sesaat, suasana hening seketika.



Bude Ambar dan Anto saling memandang sebelum memulai pembicaraan.




menyusun rencana 1

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day9

#Jumlahkata608


Duduklah Mar!" Anto menghela nafas berat.


" Bude sudah membicarakan semuanya,!" lanjut Anto.


Damar sudah mengerti apa yang akan di bicarakan oleh Anto.


" Saya di kota pernah membaca surat kabar dan perusahaan kakak saya yang saat ini dikendalikan oleh Wahyu sudah hampir bangkrut." Anto hanya mamberi tahu keadaan terkini perusahaan yang seharusnya menjadi milik Seruni.


Wahyu adik dari ibunya Seruni, dia yang mengambil alih semua harta kekayaan Seruni dan dia yang merancang kecelakaan maut yang terjadi kepada keluarga Seruni.


Seruni belum mengetahui semua yang terjadi, karena waktu dia kecelakaan masih dibawah umur, dia belum cukup dewasa.


Namun tak di sadari oleh mereka bertiga, Seruni sudah berdiri di pintu dapur yang di gandeng oleh Husen.


" Paman ... kenapa bisa?" tiba-tiba Seruni mengagetkan bude dan Anto.


" Runi...!" mereka terkesiap melihat Seruni yang sudah berdiri di belakang mereka.


Namun, Damar bukan terkejut karena Seruni mendengar kenyataan yang selama ini dirahasiakan oleh bude, tetapi dia terkejut melihat Husen yang menggandeng tangan Seruni.


" Uhuk uhuk uhuk..." Damar tiba-tiba batuk sambil melihat Ka arah tangan Husen yang masih menggandeng Seruni.


Husen pun melihat sorotan mata Damar yang terlihat cemburu, tetapi Husen bukan menurunkan tangannya malah semakin mendekatkan tubuhnya kepada Seruni.


Seruni hanya terdiam, karena Seruni terkejut dengan apa yang di bicarakan Anto.


" Paman ... apakah benar dengan semua itu?" tanya Seruni.


" Kenapa Seruni tidak di beri tahu tentang semua ini?" suara Seruni yang agak di tekan.


" Runi ... duduklah dulu." dengan lemah lembut bude berdiri dan membantu Seruni untuk duduk.


" Runi ... Bukannya kami merahasiakannya dari kamu, tapi kami tahu kalau kamu mengetahui tentang semua ini kamu pasti terpukul dengan kenyataan yang sebenarnya!" jelas bude dengan lemah lembut.


" Baiklah ... Runi tahu kalau dulu sifatku buruk, kalau Runi ingin sesuatu pasti harus langsung di laksanakan, tetapi Runi Sekarang sudah dewasa bude...!" seru Seruni.


" Walaupun Runi tidak bisa melihat, tapi setidaknya Runi bisa sedikit membantu dalam rencana bude." lanjut Seruni.


Husen membalikkan badannya untuk keluar, karena dia tahu bahwa dia hanya orang asing. Namun, sebelumnya Husen sudah tahu apa yang terjadi kepada keluarga Seruni, karena Anto sebelumnya sudah menceritakannya.


" Husen ... kamu mau kemana?" panggil Anto.


Sebelumnya Anto dan bude sudah merencanakan agar Husen ikut serta dalam rencana yang di rancang oleh mereka.


" Sen ... kamu juga sudah tahu, kan? tentang yang saya ceritakan tempo hari." lanjut Anto.


Yang tadinya Husen akan menuju keluar, sekarang dia ikut duduk dan memperhatikan semua orang yang terlihat serius.


" Runi ... Sebenarnya saya sudah tahu semuanya, karena saya yang dulu merawatmu dirumah sakit dan saya melihat kamu dan keluargamu menjadi korban kecelakaan, saya dulu belum menjadi dokter, dulu saya perawat di bagian UGD!"


" Waktu itu telpon yang bisa di hubungi hanya nomor Anto, suster yang lain membantu saya menghubungi Anto."


" Waktu itu saya dan Anto mulai berkenalan, saya melihat dia sendirian tidak ada keluarga lain yang menemani Anto."


" Di hari berikutnya saya melihat sepasang suami istri dan dia menuju ke ruang perawatan keluarga Seruni, awalnya saya tidak tahu siapa mereka."


" Waktu itu saya bertanya kepada pasangan itu, dan mereka tidak mau menjelaskan siapa mereka."


Husen menjelaskan semua yang terjadi saat Seruni masih koma di rumah sakit, waktu itu ayahnya sempat sadarkan sebelum menghembuskan napas terakhir ayahnya Seruni, menitipkan Seruni kepada Husen, karena saat itu tidak ada siapapun diruangan itu dan ayah menyebut-nyebut nama Wahyu.


Anto menundukkan kepalanya dan tak terasa air mata melewati pipinya, dia teringat kembali kejadian naas itu, dia teringat saat ibunya Seruni menitipkan Seruni, dia teringat wajah saudara-saudara Seruni yang berlumuran darah, dia teringat Seruni yang mengalami koma selama sebulan.


Bude yang waktu itu belum tiba di rumah sakit .


Menyusun rencana 2

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day10

#Jumlahkata705


Seruni tertegun mendengar cerita Husen, mata yang berkaca-kaca. Pelupuk mata Seruni terasa panas, deraian air dari ujung pelupuk mata akhirnya terjatuh di atas tangannya.


" Terus bagaimana dengan perusahaan paman wahyu, apakah paman Anto pernah ke tempatnya?" tanya Seruni yang mulai khawatir.


" Dulu paman pernah datang ke perusahaan ayahmu, tapi sebelum masuk ke dalam perusahaan, paman sudah di usir terlebih dahulu!" seru Anto.


" Kenapa seperti itu paman?" tanya Damar.


" Entahlah..." Anto menghela napas.


" Bude sudah duga dari pertama Wahyu tidak menghadiri pemakaman, sampai tiba-tiba dia datang saat Seruni masih di rumah sakit, dia bukan menanyakan keadaan Seruni, dia malah memberi sebuah koper yang berisi baju-baju Seruni!" Bude menitikkan bulir bening dari ujung pelupuk matanya.


" Apa ...?" hati Seruni mulai memanas.


" Ka Ambar... Kalau kakak memerlukan bantuan, Husen siap membantu!" Husen merasa iba dengan keadaan Seruni.


Damar melihat ke arah Husen dan mengerutkan dahinya.


" Baiklah kalau begitu, Damar juga siap membantu!" alasan Damar ingin membantu karena tidak ingin kehilangan Seruni. Damar merasa Husen ingin mendekati Seruni.


Bude dan Anto melihat ke arah Damar dan terkejut dengan perkataan Damar yang sangat meyakinkan.


" Bukannya kamu tidak bisa  membantu!" ucap bude sambil terus menatap Damar.


" Bude kali ini Damar akan membantu, karena kunci untuk menjebloskan paman Wahyu adalah saya!" Damar dengan sangat percaya diri ingin membantu. Dan menganggap pasti mudah karena ada saksi mata.


" Tapi kita harus tetap hati-hati, karena yang saya dengar dia mempunyai banyak teman yang sangat berpengaruh dan dia sangat kejam, siapa saja yang menghalangi jalannya, dia tidak segan-segan melenyapkannya!" lanjut Damar.


Dulu sebelum kejadian Wahyu pernah berbincang dengan seseorang di ruang belakang, Damar saat itu sedang bermain di rumah Seruni yang berada di kota.


Namun, waktu itu Damar hanya bocah ingusan yang belum mengerti apa-apa.


" Terus bagaimana cara kita bisa masuk ke perusahaan itu?" tanya Seruni.


" Adik saya seorang pengusaha juga, dia juga mempunyai perusahaan yang tak kalah besarnya dari perusahaan ayahmu, bagaimana kalau dia jalin kerjasama dengan pihak Wahyu, karena Wahyu tidak akan tahu siapa adikku itu!" Husen memberi saran yang sangat baik.


" Damar akan ikut dengan adikku nanti, sebagai petunjuk!" lanjut Husen.


" Tapi ... saya tidak terlalu paham tentang perusahaan, SD pun saya tidak tamat!" keluh Damar, yang tadinya dia yang paling bersemangat.


" Masalah itu serahkan kepadaku, nanti kamu akan belajar bersamaku, sambil menjalankan rencana, kamu nanti sambil belajar!" tukas Anto.


" Paman kalau begitu Seruni dan bude yang akan mengendalikan keadaan rumah!" Seruni sekarang ikut bersama, karena sekarang dia sadar bahwa orang yang berada di sekitarnya itu sangat memperdulikannya.


" Baiklah besok kita pergi ke kota!" ajak Anto.


" Damar ajak pula keluargamu, supaya nantinya kamu tidak teringat terus kepada keluargamu." bude sambil menepuk pundak Damar.


" Tapi bude bagaimana dengan sekolah adik-adikku?" tanya Damar, dia sangat peduli dengan pendidikan, karena dia tidak ingin adik-adiknya itu seperti dirinya yang tidak tamat sekolah.


" Masalah itu gampang, adik-adikmu pindah sekolah ke kota!" Husen mendekati Damar.


" Tapi ... biaya sekolah dikota sangat mahal!" Damar menjadi tidak yakin.


" Masalah biaya biar paman yang akan menanggungnya, bila perlu sampai kuliah, toh paman di kota sendiri belum mempunyai keluarga." masalah Damar terpecahkan.


" Benarkah paman? Paman mau membiayai sekolah adik-adikku?" Damar berubah sumringah.


" Baiklah saya akan bawa keluargaku ke kota dan di sana saya akan mengambil mencari pekerjaan!" lanjut Damar.


" Hiks hiks hiks..." tiba-tiba suara tangis Seruni membuat pembicaraan terhenti dan mereka semua melihat ke arah Seruni.


" Kenapa Runi?" tanya bude yang merasa terkejut.


" Iya kenapa kamu, Runi? Apakah ada yang sakit?" Damar ikut khawatir.


" Runi tidak apa-apa, hiks hiks hiks..."


" Terus kenapa kamu menangis seperti itu?" tanya Husen.


" Runi hanya bahagia ternyata kalian semua masih memperdulikan saya." ucap Seruni.


" Oooh...!" mereka serentak.


" Runi sangat berterima kasih, karena kalian semua mau membantu Runi!"


" Runi ini semua sudah menjadi kewajiban bude, karena bude pengganti orang tuamu!" bude memeluk Seruni.


" Baiklah Damar, sekarang kamu temui keluargamu dan bersiap-siaplah, masalah surat pindah sekolah adik-adikmu nanti menyusul!" seru Anto.


"Bude sekarang persiapkan semuanya untuk besok!" lanjut Anto.


" Anto sekarang ingin berkeliling dulu di kampung, Anto sangat merindukan suasana di kampung!"


Anto dan Husen menuju keluar dan berkeliling menemui teman-teman Anto sewaktu kecil.


Tiba di kota

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day11

#Jumlahkata686





Pagi hari yang cerah Seruni dan bude Ambar sudah bersiap-siap, Seruni sudah tidak sabar untuk pulang ke rumahnya.


" Runi ... apakah kamu sudah siap untuk bertemu dengan pamanmu dan saudara sepupumu?" Anto sambil menjinjing koper punya Seruni dan bude Ambar.


" Insyaallah siap Paman!" jawab Seruni dengan penuh keyakinan.


" Kakak, mana keluarga Damar?" Anto celingukan mencari keluar rumah.


" Biar Kakak yang panggil!" ujar bude Ambar.


" Baiklah, ayo Runi kamu masuk mobil duluan!" ajak Anto, sambil di gandeng menuju mobil.


" Untung saya bawa mobil besar, he he he...!" Husen sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Seruni belum mau masuk ke dalam mobil, dia masih berdiri di dekat pintu mobil yang di temani oleh Husen.


Namun, Husen melihat rombongan keluarga Damar berjalan ke arah mobilnya. Terlihat mata yang sinis menatap dirinya.


" Duh, kayanya ada yang terbakar jenggot lagi." canda Husen.


Seruni tidak mengerti dengan ucapan Husen.


" Mas Husen, bagaimana sudah pada datang belum?" tanya Seruni kepada Husen.


" Nah ... gitu dong panggil mas, enakkan dengarnya!" Husen berkata-kata dengan suara yang keras, agar terdengar oleh Damar yang sedang berjalan menuju mobil.


" Sudah, mereka sekarang sedang menuju kemari." lanjut Husen.


Wajah tegang mulai terlukis di wajah Seruni. Dia memikirkan apa yang akan terjadi apabila dia kembali ke rumahnya, saat ini seruni sudah tidak di harapkan lagi oleh paman dan bibinya.


" Runi, kenapa belum masuk?" tanya bude yang melihat ketegangan di wajah Seruni.


" Apakah ada yang tertinggal?" tanya Anto.


" Tidak paman, saya hanya ... !" Seruni tidak melanjutkan ucapannya.


Anto dan Husen tidak menghiraukannya. " Ayo, semuanya masuk, Ade-ade duduk di belakang ya!" ucap Anto.


" Biar Bapak dan Damar yang duduk di belakang, Nova dan Novi juga di belakang, ya Nak!" seru bapaknya Damar.


" Baiklah ... " mata Damar masih tertuju ke arah Seruni dan Husen yang semakin menempel.


Setelah yang di belakang sudah pada naik, giliran Seruni yang masih ke dalam mobil dengan di bantu oleh Husen.


" Mari, tuan putri saya bantu untuk menaiki kereta emasnya!" canda Husen didepan banyak orang.


" Ah mas Husen bisa saja!" seru Seruni.


"Ehemm..." suara dari belakang menandakan ada yang cemburu.


" Baiklah, sekarang kita berangkat!" Anto mulai menyetir.


Selama setengah perjalanan keadaan sangat hening, tidak ada seorangpun yang mengeluarkan suara.


" Kita akan ke rumahku dulu, Damar dan keluargamu tinggal di tempatku!" Anto memecahkan keheningan di dalam mobil.


" Baiklah!" jawab Damar singkat.


" Dan Kakak dan Seruni nanti saya antar ke rumahmu, Runi!" lanjut Anto.


" Baiklah Paman, tapi nanti Paman ikut dulu masuk ke dalam, karena Seruni takut!" Seruni takut kalau dia akan di usir dari rumahnya sendiri.


" Tenang Runi, saya akan menjadi ajudanmu!" celoteh Husen, yang terus dengan sengaja mamanas manasi Damar.


Tiga jam perjalanan, akhirnya tiba di kediaman Anto. Ternyata sekarang Anto sudah mapan, bahkan bude sebagai kakaknya baru mengetahuinya.


Bukan Anto tidak ingin mengajak kakaknya itu untuk tinggal bersama, tetapi bude Ambar yang selalu menolak untuk diajak tinggal bersamanya, Seruni yang selalu menjadi alasan penolakannya.


Semuanya beristirahat sejenak di rumah Anto. Melepas lelah karena perjalanan jauh.


Lagi-lagi Husen merapat kepada Seruni. Anto pun yang melihatnya semakin lama semakin aneh, tidak biasanya Husen mendekati seorang perempuan.


" Husen...kamu sehat kan?" tanya Anto sambil menyelidik.


" Saya sehat, lebih sehat dari hari biasa!" Husen nyengir.


" Paman... apakah boleh Seruni bermalam dulu di sini?" tanya Seruni. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Baiklah besok kita baru ke rumahmu!" seru Anto.


" Kalau begitu saya pamit saja dulu, karena sore ini saya ada jadwal masuk kerja, besok pagi saya ke sini lagi untuk mengantarkan Damar menemui adik saya!" Husen berpamitan untuk pulang dan sore ini dia masuk kerja.


" Oh ... apakah rumah mas Husen dekat dari sini?" tanya Seruni, membuat Damar semakin dag dig dug.


" Tidak jauh ko, Runi mau main ke rumah Mas Husen?" tanya Husen dengan semangat.


"Sudahlah Sen, kamu jangan terus manas-manasin!" mata Anto mendelik ke arah Damar.


" Mas, kapan Runi mulai memeriksakan mata Runi?" semangat Runi untuk dapat melihat kembali.




Damar mengungkapkan perasaannya

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day12

#Jumlahkata659




" Mas konsultasi dulu sama temen mas, ya!"


" Runi sudah tidak sabar ingin bisa melihat kembali."


" Mas pulang dulu ya, Runi!" Husen menenteng tas bawaannya.


" Baiklah, Mas!" jawab Runi.


Anto mengantar Husen keluar dan mengembalikan kunci mobil milik Husen.


" Husen tolong Runi, ya! Berapapun biayanya, lanjutkan saja!" seru Anto penuh harapan.


" Ya saya yakin kalau masalah biaya, tapi ... ." ucapan Husen terhenti.


" Tapi kenapa, Sen?" tanya Anto, sambil mengerutkan dahinya.


" Dalam operasi mata banyak sekali yang harus di periksa dan yang paling sulit mencari donor mata!" jelas Husen singkat.


" Baiklah kita berdoa saja, mudah-mudahan di permudah jalannya!" lanjut Anto dengan penuh keyakinan.


Mungkin dengan Seruni dapat melihat lagi, akan lebih mudah mengambil milik Seruni dari tangan Wahyu.


Anto kembali ke dalam rumah, dan mengantar keluarga Damar ke kamarnya masing-masing.


" Kakak, untuk malam ini Kakak sama Seruni tidur di kamarku saja, ya!" ucap Anto.


" Untuk Kakak di manapun tidak masalah!" jawab bude Ambar.


Di kamar Damar.


Tok tok tok


" Mar, bagaimana kamu nyaman di kamar ini?" tanya Anto.


" Nyaman paman, terimakasih paman!" jawab Damar, wajahnya kusut karena hatinya tergores.


" Tapi, kenapa wajahmu kusut seperti itu?" tanya Anto penuh selidik.


" Lelah karena perjalanan jauh, Paman!" Damar ingin menyembunyikan perasaannya terhadap Seruni, karena dia menyadari kalau status Seruni dan statusnya berbeda.


" Jujur saja Damar, Paman akan menyetujui siapa saja yang akan menjadi pendamping Seruni, asalkan laki-laki itu menyayanginya dan menerima keadaan Seruni baik sekarang maupun nanti!" seru Anto.


" Paman... ." Damar menatap dalam Anto.


" Ya, Paman tahu kalau kamu diam-diam mencintai Seruni, itu semua terlihat dari sikap yang kamu perlihatkan selama ini!"

Damar hanya tersenyum sungging, dia merasa tidak pantas untuk mendampingi Seruni, dia ingin melihat Seruni bahagia siapapun yang akan di pilih oleh Seruni, Damar akan menerima keputusan Seruni.


" Paman, saya tidak ingin kecewa dan tidak ingin mengecewakan!" ujar Damar.


" Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Anto yang merasa heran.


Damar menarik napas panjang.


" Mar, kamu bisa mencoba untuk mengutarakan perasaanmu kepada Seruni!" tawar Anto.


" Bagaimana kalau dia sudah memiliki ... .?" suara yang tertahan.


" Cobalah dulu, sebelum kamu menyesal!" Anto beranjak dari tempat duduknya.


" Sepertinya benar kata Paman Anto, saya harus mencobanya!" Gumam Damar.


Malam tiba, Seruni duduk di kursi luar bersama bude Ambar. Karena di kota sangat berbeda, walaupun malam tapi terasa panas . Berbeda dengan di kampung, Baru menjelang sore saja sudah terasa dingin, apalagi malam hari.


"Bude, Seruni ... !" sapa Damar.


" Kamu juga kegerahan, ya?" tanya bude.


Damar melempar senyum kepada bude, tetapi matanya melirik ke arah Seruni.


" Boleh Damar ikut duduk di sini?" rasa canggung menghinggapinya, karena dia bermaksud untuk mengutarakan perasaannya kepada Seruni. Bude pun mengerti maksud Damar. Kemudian bude masuk ke dalam meninggalkan Damar dan Seruni.


" Runi, Bude masuk dulu, ya!" bude berdiri dan meninggalkan mereka berdua.


" Tenang bude, Damar akan menjaga Seruni!" seru Damar dengan senyuman sumringah.


" Runi, gimana kamu kerasan di sini?" basa basi Damar memulai pembicaraan.


" Ah, di mana saja siang atau malam tetap sama!" ujar Seruni.


" Runi, bolehkah Saya bertanya sesuatu?" dag dig dug perasaan Damar, campur aduk tegang, takut pokonya seperti rasa permen nano nano.


" Bertanya apa, Mar?" Seruni memainkan radio yang selalu dia bawa kemana-mana.


" Andaikan kamu dilamar seseorang apakah kamu akan menerimanya?" tanya Damar dengan serius.


" Ha ha ha , siapa yang mau sama gadis buta?"


" Kamu cantik, Runi!" Damar masih berbelit-belit.


" Cantik, tapi buta? Laki-laki pasti menginginkan perempuan sempurna!" ujar Seruni yang beranjak dari tempat duduknya.


" Kamu mau kemana, Runi?" Damar memegang tangan Seruni.


" Mau masuk ke dalam, kenapa? tidak boleh saya masuk ke dalam?" Seruni berucap dengan nada yang tertahan, dia paling tidak suka kalau sudah berbicara tentang pasangan. Karena dia merasa hanya akan merepotkan pasangannya.


" Tunggu ... !" cegah Damar.


" Seruni, bagaimana kalau yang diam-diam mencintaimu itu adalah saya?"

Seruni tertegun mendengar ucapan Seruni.


Masih tertegun

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day13

#Jumlahkata717



" Damar !" Seruni terduduk kembali.


" Iya, saya mencintai kamu, Runi!" Damar duduk dibawah kursi yang seruni duduki.


" Tapi !" Seruni masih tertegun, padahal dia sudah tahu kalau Damar menyukainya, tapi Seruni tidak menyangka Damar akan mengutarakan sebelum Seruni dapat melihat.


" Kenapa Runi, apakah dihatimu sudah ada orang lain?" tanya Damar yang belum melepaskan tangan Seruni.


Seruni terus diam tidak bisa berkata-kata, dia bertanya dalam hatinya antara terima atau tidak, karena sebenarnya dia juga mencintai Damar.


Namun, Seruni tidak ingin merepotkan Damar dengan keadaannya yang saat ini.


" Bagaimana kalau saya jawab nanti setelah mata saya sembuh?" Seruni menghela napas panjang.


" Kenapa?" tanya Damar yang berharap cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


" Saya !"


" Baiklah, kalau kamu belum bisa memberi jawaban, saya ngga maksa ko!" Damar melepaskan tangan Seruni.


Damar meninggalkan Seruni sendiri di luar.


" Damar, kenapa kamu masuk sendiri, Seruni mana?" tanya Anto yang sedang rebahan di kursi.


" Masih di luar, Paman!" Damar lurus menuju kamarnya.


Bude Ambar menyusul Seruni, karena Seruni masih belum paham rumah Anto.


" Runi, kenapa kamu belum masuk?" bude mendekati Seruni yang sedang melamun.


" Bude, hiks hiks hiks ... !" air mata Seruni berjatuhan membasahi pipinya.


" Runi, kenapa kamu menangis?" bude Ambar mendekap Seruni, sehingga air mata membasahi baju bude Ambar.


" Ayo, kita masuk ke kamar dan tenangkan dulu hatimu!" bude menggandeng Seruni masuk ke dalam.


" Runi, kenapa kamu?" tanya Anto dan bangun dari duduknya.


Bude hanya memberi isyarat dengan mengedipkan matanya. Anto langsung mengerti dengan isyaratnya.


" Pasti Damar sudah mengutarakan isi hatinya!" gumam Anto dalam hatinya.


Anto melanjutkan menonton televisi di kursi. Keadaan berubah menjadi sepi semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing, hanya suara televisi yang terdengar.


Pagi yang bisanya terasa sejuk dan terdengar suara siulan burung yang indah, tetapi di kota pagi-pagi sudah terdengar riuh orang-orang yang akan berangkat kerja dan suara bising motor dan mobil.


" Kakak, Anto pergi bekerja dulu, nanti Husen akan kemari menjemput Damar untuk menemui adiknya!" seru Anto yang sibuk mempersiapkan dirinya untuk bekerja.


" Kita akan ke rumah Seruni nanti sore!" lanjut Anto.


" Baiklah, nanti Kakak sampaikan kepada Damar dan Seruni!"


Bude Ambar dan Ibunya Damar sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Anto sudah terdengar menyalakan mobilnya, bude Ambar lari ke depan karena Anto belum terlihat sarapan.


" Anto, kenapa kamu tidak sarapan dulu?" tanya bude Ambar sedikit berteriak.


" Tidak sempat, Ka! Nanti sarapan di kantor saja!" sahut Anto.


" Ka, Anto berangkat sekarang, Assalamualaikum ... !" Anto menyambar tangan bude Ambar dan menciumnya, bude Ambar adalah pengganti ibunya yang sudah lama meninggal.


" Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan dan jangan lupa sarapan!" selain bude Ambar, tunangannya Anto juga sama perhatiannya seperti bude Ambar.


Bude Ambar kembali ke dapur dan Seruni sudah berdiri lama di pintu kamarnya. Mata Seruni terlihat bengkak, karena menangis semalaman.


" Runi, ayo kita sarapan!" ajak bude Ambar, bude belum berani bertanya kepada Seruni tentang kejadian semalam.


" Bude, tolong antar Seruni ke depan televisi saja, sarapannya nanti saja!" seru Seruni.


" Tapi, keluarga Damar sudah ada di meja makan menunggumu untuk sarapan!" bujuk bude Ambar.


" Seruni belum mau sarapan, Bude!" Seruni masih kekeh tidak mau sarapan bersama, karena dia berpikir Damar akan terasa canggung apabila dia sarapan bersama di meja makan.


" Baiklah, bude tidak akan memaksa kamu!" ujar bude Ambar.


" Bude kembali dulu ke dapur, ya !"


" Iya, Bude!" Seruni di depan televisi dan hanya mendengarkan suaranya saja.


Di ruang makan Damar dan keluarganya sudah berkumpul menunggu bude Ambar dan Seruni.


" Bu Ambar, Seruni kemana?" tanya ibunya Damar.


" Dia di depan televisi, katanya dia belum lapar!" ujar bude Ambar.


" Mari, kita sarapan duluan saja!" lanjut Bude Ambar.


Keluarga Damar memulai sarapan bersama, tetapi Damar beranjak dari tempat duduknya.


" Mau kemana kamu, Damar?" tanya bapaknya Damar.


" Ke depan!" jawab Damar singkat.


Damar mengambil sepiring nasi goreng, dan menuju ke tempat seruni berada.


Seruni mencium wanginya nasi goreng.


" Bude !" panggil seruni lirih .

Damar duduk di samping Seruni tanpa bersuara, dia menyodorkan sesuap nasi goreng ke mulut Seruni.


" Bude, enak sekali nasi gorengnya!" Akhirnya Seruni sarapan, dia tidak tahu kalau yang menyuapinya adalah Damar.


"Ini suapan terakhir!"

Mendengar suara Damar, Seruni berhenti mengunyah nasi goreng.


" Kenapa berhenti?" Damar menyimpan sisa nasi di piring.




Canggung

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day14

#Jumlahkata639


" Ka kamu!" Seruni terkesiap.


" Matamu terlihat bengkak, pasti kamu menangis semalaman!" ujar Damar.


" Maafkan saya, jangan kau pikirkan lagi ucapanku tadi malam!" lanjut Damar sambil memandangi wajah cantik Seruni, walaupun mata bengkak tapi tidak menghapus kecantikan Seruni.


Seruni menjadi canggung, dia merasa sedang berbicara dengan orang asing.


" Hari ini saya akan ke tempat adiknya Husen dan sore ini kamu akan pulang ke rumah lama!" Damar merasa berat kalau harus tinggal jauh bersama dengan Seruni.


" Oh, iya!" jawab Seruni yang masih terdengar canggung.


Damar meninggalkan Seruni dan kembali ke dapur.


" Damar!' panggil bude yang masih berada di meja makan.


" I iya, Bude?" sahut Damar.


Bude menatap wajah Damar yang terlihat banyak pertanyaan, mereka terdiam sejenak membuat ruangan hening.


" Ka ... !" Nova memecah keheningan.


" Ada apa, Va?" tanya Damar tanpa menoleh ke arah Nova.


" Nova sama Novi, kapan mulai Sekolah?" tanya Nova.


" Nanti, sabar dulu ya!" karena Damar sibuk dengan perasaannya, dia lupa kalau dia masih banyak yang harus dilakukan.


" Oke, baiklah!" Nova mengacungkan ibu jarinya.


" Assalamualaikum!" Terdengar suara Husen dari luar.


" Damar, Husen sudah menjemputmu, sana kamu siap-siap!" seru bude Ambar.


" Baiklah, Bude?" jawab Damar yang langsung menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


Namun, di rumah tengah ada sebuah pemandangan yang membuat hati Damar sesak.


Husen tidak menyadari, kalau Damar sudah berdiri lama melihat keakraban antara Seruni dan dirinya.


" Eh, Mar bagaimana kamu sudah siap, hari ini kita akan pergi ke tempat adikku!" Husen memasang senyuman ceria.


" Oh ya, saya sudah siap, bagaimana kalau berangkat sekarang juga!" Damar tidak ingin melihat Seruni dekat dengan Husen, karena membuat luka di hatinya.


Seruni pun langsung memasang wajah canggung lagi dihadapan Damar.


" Runi, Mas Husen dan Damar berangkat dulu ya, doakan agar semuanya berjalan mulus!" ujar Husen kepada Seruni, seakan mereka mempunyai hubungan khusus.


Damar hanya melengos dan menuju ke luar duluan tanpa berpamitan kepada semua orang. Cinta dapat membuat orang berubah, karena cinta Damar dan Seruni seakan terlihat asing.


" Hati-hati di jalan, Damar!" Gumam Seruni dalam hati.


" Sampai jumpa lagi, Seruni!" Hanya suara Husen yang terdengar, Seruni mencari suara laki-laki yang sekarang menjadi asing menurutnya.


" Iya mas!" Seruni berdiri bermaksud ingin mengantar Husen keluar.


" Seruni!" Panggil Bude.


" Iya, Bude!"


" Ayo sarapan dulu!"


" Sudah, Bude!"


" Hah, sudah?"


" Bukannya dari tadi kamu di sini?" lanjut bude Ambar.


" Jadi Bude tidak tahu, Damar memberiku sarapan!" gumam Seruni dalam hati.


" Tadi di bawakan sarapan sama Damar!" ujar Seruni.


" Jadi, sarapan yang tadi di bawa Damar itu untuk kamu? Terus Damar tidak sarapan?" bude Ambar sekarang bisa menebak, apa yang terjadi waktu malam tadi.


" Hah, dia tidak sarapan hanya karena Runi!" Gumam Seruni, hatinya bergejolak.


" Apakah dia benar-benar menyayangiku apa adanya?"


" Apakah Aku harus menerimanya?"


Banyak pertanyaan di hati Seruni, padahal perasaannya sudah tumbuh dari dulu.


" Runi, kenapa kamu melamun?" tanya bude.


" Bude, pantaskah Runi untuk mempunyai pasangan?" lirih Seruni.


" Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Bude mengerutkan dahinya.


" Saya takut kecewa lagi, Bude!"

Kenangan pahit setelah kehilangan segalanya, Seruni pernah di sakiti oleh laki-laki.


Karena dia buta dan laki-laki itu hanya tahu kalau Seruni hanya keponakan seorang pedagang sayuran yang tidak mempunyai harta.


Namun, kecantikan Seruni dapat membuat semua laki-laki tertarik kepadanya.


" Runi, kita siap-siap untuk kembali ke rumahmu!" Bude mencairkan suasana.


" Bude, apakah Paman tidak akan berbuat kasar kepada kita?"


" Kita akan pergi bersama Pamanmu Anto, jadi tidak usah takut kepada Wahyu!"


" Bude, Tiar mungkin sekarang seumurku, apakah Paman Wahyu akan melepaskan semua milik ayah?"


Tiar putri sulung Wahyu, dari sejak kecil dia selalu iri kepada Seruni. Seruni suka berbagi kepada Tiar, tetapi Tiar selalu menginginkan apa yang di miliki oleh Seruni.


" Seruni, kamu harus yakin kalau kita akan berhasil!" Bude memberi semangat kepada Seruni.


Rumah Seruni

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day15

#Jumlahkata574


Sore itu Seruni, bude Ambar dan Anto pergi ke rumah Seruni yang dulu. Mereka di sambut oleh orang tua yang sudah berumur, beliau adalah pak Udin supir ayahnya Seruni. Beliau orang yang pernah diajak kerja sama oleh Wahyu untuk mencelakai kakaknya, ayah dan ibunya Seruni.


" Pak Udin!" sapa Anto, mereka bersalaman.


Pak Udin melihat Seruni, beliau menatap wajah Seruni yang mirip dengan ibunya.


" Ini ... ?" Tunjuk pak Udin,  yang tidak bisa membendung air matanya.


" Iya, Pak! Ini Seruni, yang dulu masih remaja saat ini dia sudah dewasa." Jelas Anto kepada pak Udin.


Pak Udin merangkul Seruni, penyesalan masih ada di hatinya.


Mereka di bawa masuk oleh pak Udin, Wahyu dan keluarganya sedang tidak ada di rumah. Mereka selalu berwisata mata, tiada hari tanpa shopping.


" Pak, kenapa di rumah sepi?" tanya Anto sambil melihat sekeliling rumah, yang sekarang sudah berubah.


Foto-foto keluarga Seruni sudah tidak ada di tempatnya, foto-foto itu sudah di ganti dengan foto keluarga Wahyu, Bude dan Seruni hanya terdiam sambil mendengarkan obrolan pak Udin dan Anto.


" Nak, bagaimana sehat?" tanya pak Udin kepada Seruni, pak Udin melihat Seruni yang memandang lurus tanpa melihat ke arahnya.


" Alhamdulillah Pak, saya sehat! Bagaimana dengan Bapa?"

Pak Udin melambaikan tangannya di depan mata Seruni, air mata pak Udin bertumpah ruah.


" Kenapa pak Udin menangis?" tanya Seruni yang kebingungan.


Bude dan Anto pun tidak dapat menahan air yang sudah berkumpul di ujung pelupuk matanya.


Pak Udin berniat menebus kesalahannya kepada Seruni, untuk membantunya.


Karena pak Udin tahu siapa Wahyu, dia adalah orang yang paling kejam. Apapun bisa dilakukannya untuk memuaskan dirinya.


" Pak, biasanya Wahyu pulang jam berapa?" tanya bude .


" Mereka suka pulang larut malam." sahut Pak Udin.


" Mari kita ke kamar dulu!" ajak pak Udin.

Seruni dan bude di ajak ke kamar, tetapi mereka di antar ke kamar tamu.


Bude hanya mengerutkan keningnya tanpa berkomentar. Bude mengerti dengan keadaan yang sekarang.


" Bude, Runi kangen sama kamar Runi!" Wajah Seruni berseri-seri.


Anto sangat kecewa kepada Wahyu, yang sudah mengambil alih semua harta kakaknya, padahal masih ada pewarisnya.


" Maaf ya tuan, saya bawa kalian ke kamar tamu!" Pak Udin Marasa tidak enak hati.


" Hah, kamar tamu?" Seruni tercengang.

Bude memegang tangan Seruni, agar Seruni tetap mengontrol emosinya.


" Sabar, Runi!" Bude berbisik.


Seruni menarik napas, ternyata benar yang dia dengar tentang pamannya itu .


Semuanya di kuasai oleh keluarga pamannya, bahkan kamar Seruni sudah berani di tempati oleh putri pamannya.


" Tuan, Nyonya ... Saya tinggal dulu untuk ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk kalian!" Pak Udin keluar yang di ikuti oleh Anto.


"Pak ... sepertinya malam ini saya bermalam dulu di sini, untuk menjaga sesuatu hal yang tidak di inginkan!" Ujar Anto.


" Baiklah, Tuan bisa tidur di kamar sebelah!" sahut Pak Udin.


Yang masih bertahan di sana ada juga ibu Ijah, sama seperti ibu Nani ibunya Damar.


Ibu Ijah istrinya pak Udin, mereka bertahan untuk menunggu majikan mudanya.


Sekarang Seruni sudah kembali, mereka sangat bahagia. Karena setelah orang tuanya Seruni meninggal, mereka sangat menderita dengan penyesalan yang mereka pendam selama Seruni tinggal di tempat Bude Ambar.


" Istriku!" Teriak pak Udin dari ruang tamu.


" Iya pak, ada apa?" sahut ibu Ijah.


" Sepertinya Bapa sekarang sedang bahagia?" Ibu Ijah yang sudah terlihat agak renta mendekati pak Udin suaminya.


" Benar Bu, bapak sangat bahagia saat ini!" Pak Udin memeluk ibu Ijah.


" Memangnya ada apa, Pak?" Ibu Ijah menjadi penasaran.




Seruni geram

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day16

#Jumlahkata606





" Sekarang Ibu masak yang enak dan banyak!"


" Buat apa Pak, kan Nyonya pasti sudah makan di luar?"


" Bukan buat keluarga Wahyu, tapi buat Nona kita!"


" Apa? Nona kita sudah kembali? Di mana dia sekarang?"


" Mereka di kamar, nanti saja bertemu sama Nona, sekarang Ibu masak enak dulu!"


" Baiklah, sekarang Ibu masak dulu!" Ibu Ijah bergegas ke dapur dan masak kesukaan Seruni. Beliau masih ingat masakan kesukaan Seruni.


" Bapak kembali ke depan dulu, mau menemani Tuan Anto dulu!"


" Oh, Tuan Anto juga akan makan malam di sini?"


" Iya, sudahlah jangan terus mengobrol!"

Pak Udin kembali ke ruang tamu, dan menemani Anto yang sedang melihat-lihat isi rumah yang berubah drastis.


" Tuan ... !"


" Oh iya Pak, di mana Wahyu menyimpan foto-foto keluarga kakakku?"


" Mereka menyuruhku menyimpannya di gudang!"


" Berani sekali ya, mereka?"


" Benar Tuan, maafkan saya yang tidak bisa berbuat apa-apa!"


" Sebenarnya, Bapa sudah mau bertahan di rumah ini juga sudah lebih dari cukup!"


" Tuan, apakah Non Seruni akan bisa melihat lagi?"


" Kami baru akan berusaha, ya kesalahanku dulu aku tidak langsung mengobati Seruni, karena waktu itu saya masih belum bisa menerima kepergian Kakakku!"


" Pengacaranya Tuan besar saat ini masih setia kepada Mendiang Tuan besar!"


" Jadi kalau kita membawa ke jalur hukum, tinggal bukti-bukti yang harus kita kumpulkan!" lanjut Pak Udin.


" Saya sudah menyimpan bukti-bukti yang di pakai Wahyu!" Ujar pak Udin yang merasa geram dari dulu, baru terluapkan.


" Tetapi, kita tetap harus hati-hati" timpal Anto.


" Baiklah, sambil menjalankan rencana , kita akan mengobati Seruni oleh temanku!" lanjut Anto.


" Karena kebutaan Seruni akan menjadi senjata untuk mereka, kalau Seruni sudah dapat melihat mungkin dia akan mempunyai kekuatan untuk dirinya!" ujar Anto.


" Benar Tuan, tetapi kita tidak boleh lengah Tuan, kita harus menjaga Non Seruni!"


" Benar Tuan, saya sendiri pernah mendengar mereka menyusun rencana lagi untuk mencelakai Non Seruni, Tuan!" ujar Ibu Ijah yang keluar dari arah dapur.


Tercium aroma masakan, Seruni mengajak bude Ambar untuk keluar kamar.


" Bude, ini wangi masakan kesukaan Runi!" Seruni menikmati aroma masakan itu.


" Pasti, Bi Ijah yang memasak, apakah beliau masih bekerja di sini?" tanya Seruni.


" Iya pasti Seruni, kan Pak Udin suaminya masih bekerja di sini, setahu Bude Ibu Ijah itu tidak mempunyai siapa-siapa!"


Bude mengandeng tangan Seruni untuk keluar kamar, karena rumah ini menjadi asing untuk Seruni.


Anto, Pak Udin dan Ibu Ijah masih mengobrol di ruang tamu. Mereka terlihat serius, Bude yang melihat situasi di ruang tamu timbul banyak pertanyaan dalam benak bude.


" Bude, kenapa Bi Ijah tidak menemui Runi, ya?" tanya Seruni.


" Sepertinya Ibu Ijah sedang sibuk, Runi!"


" Eem ... !" Setelah tiba di ruang tamu bude berdehem.


Mata orang-orang yang berada di ruangan itu tertuju kepada Seruni dan bude Ambar yang berdiri di ambang pintu.


" Ibu Ambar ... !" sapa Ibu Ijah, sambil menyalami bude.


Mereka berpelukan, seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu, Ibu Ijah melihat Seruni dengan penuh rasa iba.


" Non Seruni, Sekarang kamu sudah berubah ya, dulu Non masih imut!" Ibu Ijah merangkul Seruni.


" Emangnya sekarang sudah tidak imut ya, Bi?" canda Seruni.


" Sekarang tambah cantik, Non ... " puji ibu Ijah.


" Bi, Runi kangen sama semuanya!" Mata Seruni berkaca-kaca.


" Bibi juga, Non ... !"


" Tapi yang masih bertahan di sini hanya bi Ijah sama bapak!" lanjut bi Ijah.


" Iya Bi, Runi sudah tahu, paman Anto yang memberi tahu!"


Bi Ijah merasa aneh melihat Nona mudanya itu, Seruni mengobrol dengan ibu Ijah tapi matanya melihat lurus ke depan.


Ibu Ijah belum mengetahui keadaan Seruni setelah kecelakaan itu.


Terbayang Seruni

0 1

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day17

#jumlahkata718




POV Damar.


" Kenapa ya, hati ini teringat Seruni?" Gumam Damar.


" Padahal tadi pagi saya masih bersamanya, apakah Seruni baik-baik saja?"


" Haruskah ku telpon paman Anto?"


" Ah ... sepertinya malam ini saya tidak akan bisa tidur!"


Pikiran Damar sedang berjalan-jalan memikirkan keluarganya yang sekarang tinggal di rumah Anto dan dia berpikir bagaimana keadaan Seruni.


" Ah ... besok saya mulai bekerja, badanku harus fit!"


" Eh kamu belum tidur, Mar?" Husen tak sengaja melihat Damar yang sedang bolak balik di kamar.


Malam ini Damar tidur di tempat Husen, karena terlalu larut untuk pulang. Hari ini Damar sudah mendapat materi untuk besok memulai bekerja di perusahaan adiknya Husen.


Dia hanya akan menjadi asisten adiknya Husen, Walaupun Damar tidak sekolah tetapi dia dapat dengan cepat menangkap materi, karena dia selalu membaca, baik itu koran bekas, majalah bekas, kadang di tempat dia mengajar anak-anak mengaji banyak sekali buku yang suka dia baca.


Jadi tidak terlalu sulit menerangkan materi kepada Damar. Menurutnya membaca itu jembatan ilmu, bahkan kalau mereka yang bersekolah tinggi tapi tidak suka membaca, mereka akan merugi menurutnya.


" Iya nih, terus kenapa Mas Husen juga belum tidur?"


" Aduh, jangan panggil Mas panggil saja namaku!" Husen mendekati Damar.


" Tadi Anto menelpon!" lanjut Husen.


" Bagaimana kata Paman Anto?" Damar terlihat penasaran.


Husen mengerutkan keningnya. " Kenapa kamu begitu penasaran?"


" Ah, sepertinya kamu bukan penasaran kepada Anto, tapi kamu pasti kangen sama seseorang, ya?" canda Husen.


" Saya, hanya ingin tahu bagaimana keluargaku di rumah Paman Anto!"


" Ah kenapa  Husen tahu isi hatiku sih ... ?" Gumam Damar dalam hati.


" Anto saat ini bermalam di rumah Seruni, dia bilang belum bertemu dengan keluarga Wahyu!" Husen meninggalkan Damar.


" Eh, Kenapa belum bertemu?"


" Katanya keluarga Wahyu sedang keluar, katanya juga mereka suka pulang dini hari!"


" Sudahlah kamu istirahat!" Punggung Husen sudah tidak terlihat.


Informasi dari Husen belum membuat hati Damar tenang. Pulang dari dapur Husen masih melihat Damar belum tidur.


" Cepatlah istirahat, besok kamu sudah mulai melaksanakan tugas!" Sambil berlalu Husen mengingat Damar, kalau besok dia sudah harus melancarkan rencana pertama.


Dia berusaha untuk memejamkan matanya, tetapi setiap terpejam terbayang wajah Seruni.


" Ah, kenapa sih kamu selalu menggangguku?" Damar membolak balik bantalnya.


Sudah hampir tengah malam mata Damar masih belum bisa terpejam.


" Seruni ... !" Teriak Damar dalam hatinya.

Akhirnya jam sudah menunjukkan jam 02.00, Damar keluar kamar dan mengambil air wudhu, untuk melaksanakan shalat malam.


" Ya Allah ... lindungilah keluargaku dan orang-orang yang saya cintai, karena hanya Engkaulah yang dapat menjaga mereka." Hati Damar mulai tenang, dia tertidur di atas sajadah.


Tidak lama kemudian dia terbangun oleh suara adzan subuh. Dia bergegas ke kamar mandi dan langsung membersihkan dirinya.


Usai shalat subuh, dia menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Husen. Dan Husen terbangun dengan kebisingan di dapur.


Biasanya selesai shalat Husen suka tidur kembali, tapi kali ini dia tidak bisa tertidur lagi, karena suara Damar yang sedang menyiapkan sarapan terdengar sampai kamarnya.


Husen menggeliat dan berjalan menuju dapur. Dia melihat Damar yang sangat cekatan.


" Mar, ini masih gelap, kenapa kamu sudah berisik, hah?" Husen sambil mengucek matanya yang kembali mengantuk.


" Oh, kamu terganggu ya? Maaf, soalnya saya sudah terbiasa seperti ini." ujar Damar.


" Baiklah, nanti adikku akan menjemputmu ke sini!"


" Saya akan segera bersiap!" Damar terlihat semangat.


Adik Husen seorang perempuan yang sangat cantik dan berwibawa, awalnya Damar merasa canggung, tetapi demi kelancaran rencana dia harus bisa melawan kecanggungan itu.


Damar dan Husen sarapan bersama.


" Mar, ini untuk komunikasi!" Husen menyodorkan ponsel bekas, tapi terlihat masih baru.


Damar membolak-balik ponsel itu, dia baru pertama kali memegang ponsel mewah.


" Ini untuk saya?" Damar masih melihat-lihat ponsel itu.


" Iya !" Jawab Husen singkat, karena sedang mengunyah sarapan buatan Damar.


" Tapi ..."


" Di sana sudah ada nomor saya, nomor Anto, nomor adik saya!"


" Kamu pintar masak juga, ya!" Puji Husen.


Damar masih memandang ponsel yang ada di tangannya, dia masih bingung bagaimana cara memakainya.


" Kenapa?" tanya Husen.


" Ini, bagaimana cara mengoperasikannya?" Damar terlihat kebingungan.


Husen menepuk jidatnya, kemudian dia menerangkan bagaimana cara mengoperasikannya.


Tin tin tin


Suara klakson mobil dari luar. Damar dan Husen pun bergegas keluar.


Adiknya Husen sudah berada di luar, menunggu Damar.


Dengan setelan blazer wanita, adiknya Husen terlihat elegan. Damar ternganga melihat penampilan adiknya Husen.



user

30 July 2022 20:24 Umdzatul Khasanah Penulisan ku seharusnya digabung dengan kata yang mengikutinya.

Damar melepas rindu

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day18

#Jumlahkata518


Rumah Seruni



Pukul 02:00 keluarga Wahyu pulang ke rumah, mereka belum menyadari kalau Seruni sudah berada di rumah ini. Karena mereka pulang dengan keadaan mabuk.


Bude Ambar yang sudah terbiasa bangun lebih awal melihat mereka berjalan sempoyongan, bude hanya menggelengkan kepalanya.


"Jadi seperti ini kelakuan mereka?" Gumam bude Ambar.


Bude terus berjalan ke arah dapur tanpa menghiraukan mereka. Di dapur sudah berdiri Ibu Ijah yang sedang bersih-bersih, bi Ijah yang ditemani pelayan lain.


"Ibu Ambar, ada yang bisa saya bantu?" tanya bi Ijah,


"Tidak Bi, justru saya yang mau menawarkan bantuan!" Ucap Bude Ambar.


"Tidak perlu Bu, di sini sudah ada yang membantu!" Sahut Ibu Ijah.


"Oh ya Bi, memangnya Wahyu suka pulang pagi seperti ini?" tanya Bude Ambar.


"Iya Bu, mereka pulang jam segini, terus berangkat bekerja siang!"


"Pantas saja perusahaan sekarang di ambang kebangkrutan!"


Bude menjadi sangat geram melihat kelakuan Wahyu, bude Ambar kembali ke kamarnya dan mengambil air wudhu.


Seruni yang mendengar suara guyuran air dari arah kamar mandi terbangun, dia duduk di ujung tempat tidur.


"Kamu sudah bangun, Runi?" tanya bude sambil mengambil sajadah,


"Iya bude, memangnya ini jam berapa, bude?" tanya Seruni.


"Sekarang baru pukul dua, kamu mau ikut shalat, Runi?"


"Iya, Bude!"


"Ayo Bude bantu untuk mengambil wudhu!" Bude menggandeng Seruni ke kamar mandi yang berada di kamarnya.


Di kampung Seruni sudah tidak di bantu kalau hanya untuk ke kamar mandi, karena sudah menghapal tata ruang rumah bude.


Mereka mulai shalat, usai shalat bude memberi tahu seruni kalau pamannya baru pulang.


"Runi, Pamanmu Wahyu baru pulang, mereka pulang dengan keadaan mabuk!"


"Ya ampun, benarkah itu bude?"


"Pagi ini kita telpon pengacara ayahmu, mudah-mudahan beliau masih mau membantu kita." Ujar bude.


"Runi, ini Damar menelpon!" Bude memberikan ponselnya kepada Seruni.

"Assalamualaikum ... !"


"Wa'alaikumsalam ... !" Dari seberang telepon terdengar suara yang halus.


"Damar, apa kabar?" tanya Seruni,


"Baik, bagaimana keadaanmu, Runi?" Suara Damar terdengar canggung,


"Alhamdulillah!"


Damar dan Seruni berbicara seakan baru kenalan, suasana akrab hilang dan tinggal suasana canggung.


"Bagaimana keadaan di rumahmu?" Damar ingin mencairkan suasana, karena dari pertemuan terakhir mereka tidak saling berbicara.


"Paman Wahyu baru pulang tadi pukul Dua dini hari, terus bagaimana dengan pekerjaanmu, apakah kamu dapat mengikutinya?"


"Alhamdulillah Adiknya Husen baik, dia sangat berwibawa walaupun dia seorang wanita, tapi dia dapat menjalankan perusahaannya sediri dengan baik!" Tanpa sadar Damar telah memuji adiknya Husen.


Seruni tidak bersuara setelah mendengar Damar memuji adiknya Husen yang menurut Damar dia seorang wanita yang hebat.


"Halo ... Runi, apakah kamu masih di sana?"


"I iya!"


"Kenapa kamu terdiam? Bagaimana keadaan di rumahmu, ayo ceritakan!" Damar tidak tahu, kalau Seruni mulai mempunyai rasa cemburu.


"Tidak ada yang spesial di sini!" Jawab Seruni dingin.


"Bagaimana saudara perempuanmu?"


"Kami belum bertemu!" Seruni menjawab singkat, karena ada rasa cemburu di hati Seruni, tapi Seruni tidak ingin mengakui kalau hatinya cemburu.


"Runi, saya mau siap-siap untuk bekerja dulu, karena sebentar lagi di jemput oleh adiknya Husen!"  Damar sudah merasa tenang, karena sudah mendengar suara Seruni.


Namun, Seruni terdiam setelah menutup telepon dari Damar.


"Apakah Damar menyukai adiknya Husen?" Gumam Seruni.


"Waktu dikampung Damar bilang cinta kepadaku, tapi sekarang dia memuji orang lain!" Seruni melempar ponsel milik bude.


Wahyu kaget dengan kedatangan Seruni

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day19

#Jumlahkata747


Hangatnya sinar matahari pagi, melewati jendela di kamar Seruni. Seruni berdiri dekat jendela yang sedang menikmati hangatnya sinar matahari pagi. Sambil mendengarkan Radio kesayangannya, sambil membayangkan kenangan masa kecil bersama keluarganya di rumah ini.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu, membuat bayangan Seruni buyar.


"Siapa?" Seruni sedikit berteriak, karena kamar yang sangat luas, jarak dari pintu ke tempat Seruni berdiri lumayan jauh.


Ukuran kamar Seruni saat ini tiga kali lipat dari kamar yang ada di rumah Bude.


"Ini Paman, Runi!" Suara di balik pintu.


"Masuk Paman!"


Anto masuk ke dalam kamar hanya terlihat Seruni, dia melihat ke sekitar kamar tidak ada yang di carinya.


"Kemana Bude, Runi?" Anto mencari kakak tercintanya.


"Entahlah, Paman! Dari tadi Runi tidak mendengar suaranya!" Ucap Seruni.


"Tadinya Paman mau pamit, Paman mau berangkat bekerja dulu, nanti malam paman ke sini lagi!"


"Baiklah Paman, nanti kalau Bude ada, Seruni akan sampaikan kepada Bude!"


"Apa yang mau di sampaikan kepada Bude?" Suara bude dari arah pintu.


"Eh, Kakak!" Anto langsung membalikkan badannya.


"Ini Kak, saya pamit berangkat bekerja dulu, nanti malam saya kembali ke sini, kalau ada apa-apa langsung telepon saja!" Ucap Anto.


"Iya, hati-hati di jalan!" Bude Ambar menggandeng seruni dan duduk di ujung tempat tidur.


"Paman salam ke Nova dan Novi, ya!"


"Oke, nanti Paman sampaikan!" Anto meninggalkan mereka berdua.


Seruni dan Bude keluar kamar, bude mengajak seruni untuk menghitung langkah dari kamar sampai ruang tamu, seperti yang pernah di ajarkannya di kampung.


Di depan kamar Wahyu mereka berpapasan dengan bibinya.


"Kalian?" Mata bibinya melotot, dia kaget melihat Seruni dan bude Ambar.


"Kenapa kalian berada disini?" Suara yang kasar terdengar di telinga Seruni.


"Lah, ini kan rumahku!" Tukas Seruni kepada bibinya.


"Ayah," bibinya Seruni berteriak memanggil Wahyu, tapi tidak bangun juga. Karena hari masih pagi, biasanya mereka bangun siang dimana matahari sudah berada di atas kepalanya.


Bibinya Seruni masuk lagi ke dalam kamar dengan tergesa-gesa, sambil mulutnya tidak berhenti mengatakan sumpah serapan.


"Runi, ayo kita lanjutkan. Biar kita tunggu mereka di ruang tamu! Sudah berapa langkah tadi?" Dengan sabar bude menggandeng Seruni.


"Yah, lupa bude. Habisnya tadi Runi kaget dengan suara Bibi." Seruni nyengir.


Seruni dan Bude sudah sampai di ruang tamu, mereka duduk dan berbincang ringan.


Datang pak Udin, "eh Nona, mau dibikinin teh?" Tawar pak Udin.


"Boleh, Pak!" Bude tersenyum lebar ke pak Udin.


Dari arah kamar terlihat Wahyu dan istrinya menuju ke arah Seruni dan Bude yang sedang duduk di ruang tamu.


"Udin, Ijah!" Teriak Wahyu memanggil Asisten rumah tangganya, yang masih setia dari waktu ayahnya Seruni masih hidup.


Di dapur para asisten rumah tangga pada riuh dan ketakutan, karena biasanya kalau yang salah satu orang tapi yang di hukum semuanya.


"Pak, ada apa. Tuan besar berteriak memanggil kita?" Tanya salah satu asisten rumah tangga.


"Ah, ini pasti mereka sudah melihat Nona Seruni!" Gumam pak Udin.


"Sudahlah, Wahyu hanya memanggil kami berdua. Kalian teruskan saja bekerja, karena pekerjaan kalian masih banyak."


Pak Udin dan Ibu Ijah berjalan menuju ruang tamu. Dua orang tua yang sudah sedikit keriput berjalan bergandengan, mereka sudah lama menyiapkan mental untuk menghadapi kemurkaan majikannya yang arogan.


Wahyu sudah berkacak pinggang, di depan Seruni dan bude. Namun mereka terlihat tenang di depan Wahyu, bahkan pak Udin dan Ibu Ijah juga terlihat santai.


Bibinya Seruni melihat mereka semua yang terlihat santai semakin geram.


"Udin, kenapa mereka bisa berada di sini?" Wahyu menunjuk Seruni dan bude Ambar dengan sangat marah, matanya melotot seakan bola matanya akan lompat ke luar.


"Kenapa harus bertanya kepada Bi Ijah dan Pak Udin? Dari tadi kami di sini, tidak Paman sapa keponakanmu ini?" Dengan santai Seruni berkata.


Seruni tidak dapat melihat wajah Wahyu dan istrinya yang sangat geram dan berkacak pinggang di depan dia.


"Kenapa kamu sangat marah, Wahyu? Memangnya salah ya, kami berada di sini?" Bude menahan emosinya, agar tidak salah bicara nantinya.


Bude berpikir, kalau dia menghadapi Wahyu dengan marah pasti akan terjadi perdebatan yang sengit. Bude dan Seruni menghadapi Wahyu dengan tenang, supaya tidak salah bicara.


"Ya tentu salah, karena kalian masuk tanpa ijin pemilik rumah!" Istrinya Wahyu berkata, seakan rumah ini adalah miliknya.


"Hei, kata siapa ini rumahmu?" Bude Ambar hendak berdiri, tetapi Seruni memegang tangan bude Ambar.


"Memang benar sekarang rumah ini sudah menjadi milik kami! Kakakku mewariskan semua hartanya kepadaku!" Wahyu membusungkan dadanya yang mencerminkan kepribadiannya yang sombong.


"Paman, rumah ini dan perusahaan milik ayah saya. Jadi yang paling berhak atas semuanya yaitu saya!" Suara Seruni masih bernada rendah.


"Kamu, anak kecil buta tahu apa?" Bibi berkata seakan seruni tidak tahu apa-apa dan menganggap Seruni tidak berguna.


Diam-diam Kagum

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMObatch47

#Kelompok5Gempita

#Day20

#Jumlahkata548


Seorang wanita dengan blazer dan sepatu high heels, berjalan gontai menuju ruangan Damar. Farpum yang khas sudah tercium, padahal orang yang menggunakan farpum itu baru sampai pintu.

Damar berdiri menyambut atasannya yang cantik, "Ibu Ranum,"

"Duduklah," Ranum mengeluarkan beberapa map, untuk persiapan kerja sama dengan perusahaan yang sedang di pimpin oleh Wahyu.

Ranum sendiri yang langsung menerangkan isi map itu, tanpa bantuan sekretarisnya. Karena atas permintaan kakaknya.

Husen ingin semua rencana berjalan dengan lancar, Husen tidak ingin mengecewakan Seruni.

"Ayo pelajari map-map ini, mas Damar!" Ranum dengan lembut menerangkan isi map itu, Damar langsung mengerti.

Entah Damar yang pintar, atau Ranum yang pandai menerangkannya. Dengan kecerdasan Ranum, Damar langsung mengerti hanya dalam beberapa kali menerangkan.

"Mas Damar, anda hebat bisa langsung paham. Padahal orang lain belum tentu bisa langsung paham, butuh waktu beberapa hari untuk memahami semua ini." Ranum mulai mengagumi Damar.

"Ah, jangan berlebihan Bu! Mungkin saja, justru anda yang pintar untuk mengajarkannya."

Mereka sudah mulai saling memuji. Ranum menatap wajah yang mempunyai tipis, dia baru kali ini bertemu dengan orang yang benar-benar ingin belajar.

Biasanya Ranum mempekerjakan karyawan yang sudah benar-benar ahli.

"Baiklah, besok kita akan meeting bersama pihak perusahaan Wahyu. Dan pelajari lagi semuanya, jangan sampai orang-orang Wahyu mencurigai." Ranum menata kembali map-map yang berserakan dan menyodorkannya kepada Damar.

"Baiklah, Bu!"

"Sekarang waktunya jam istirahat, mari kita makan siang bersama!"

"Apa Bu? Memangnya saya pantas makan siang bersama anda? Saya hanya bawahan Anda, Bu!"

"Di dalam perusahaan anda adalah bawahan, tetapi di luar anda adalah teman kakakku!"

"Oh, baiklah kalau begitu, mari!" Damar beranjak dari tempat duduknya.

Baru kali ini Damar berjalan dengan wanita lain, di kampung hanya Seruni gadis yang dekat dengannya. Damar di kampung selain dengan Seruni dia selalu bersama murid -muridnya yang masih kecil, sedangkan dia selalu menjaga jarak dengan wanita-wanita di kampung.

Mereka menuju kantin yang berada di perusahaan itu. Walaupun Damar dari kampung, tapi dia cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

"Mau makan apa, mas?" Ranum memang selalu baik kepada semua karyawan dan tidak membeda-bedakan mereka, tetapi entah kenapa Ranum merasa berbeda berada di dekat Damar.

Ranum baru kali ini mengajak seorang laki-laki dan mengaguminya.

Ranum dan Husen orang yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, mereka tidak pernah memikirkan perasaan mereka. Orang tua mereka selalu menanyakan kapan menikah. Namun, mereka berdua hanya menginginkan karirnya.

"Sama saja, seperti pesanan ibu!"

"Di sini jangan panggil ibu, panggil saja Ranum. Supaya tidak terlalu formal."

"Ah, tapi ini masih di lingkungan perusahaan! Tidak enak kalau di dengar karyawan lain."

"Tidak apa-apa, mas!"

"Ranum," suara laki-laki memanggil dari kejauhan.

"Kakak, kenapa bisa ada di sini?"

"Memangnya tidak boleh?" Husen mengecup kening Ranum.

"Hai, Mar?"

Damar hanya melempar senyum lebar kepada Husen.

"Bagaimana kerja pertamamu, Mar?"

"Alhamdulillah, lancar Ka. Damar orangnya cepat mengerti, jadi tidak perlu menerangkan berulang-ulang."

"Lah, kenapa kakak bertanya sama Damar, jadi kamu yang ... !" Husen menaikkan alisnya dan melihat kepada Damar dan Ranum secara bergantian.

"Ranum, hati-hati kamu jatuh hati sama Damar. Dia sudah ada yang punya!"

"Kakak ... !"

Damar tersenyum sungging mendengar ocehan Husen.

"Besok kami meeting bersama Wahyu, Ka!" Ranum mengalihkan pembicaraan.

"Sukses ya, Mar! Semoga meeting besok lancar." Husen menepuk bahu Damar.

Damar tidak banyak bicara, karena dia masih merasa cemburu kepada Husen.

"Mar, baru kali ini loh, adikku memuji orang!" Husen masih saja mengganggu Damar.


Kabar baik Damar

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch47
#Kelompok5Gempita
#Day21
#Jumlahkata407

Pagi ini Damar di jemput Ranum, mereka selalu pergi ke kantor bersama. Walaupun Damar sudah menolak untuk di jemput, tetapi Ranum kekeh ingin pergi bersama.

"Hari ini kita akan meeting, persiapkan dirimu." Ranum mengingatkan Damar.

"Apakah saya akan bisa?"

"Pasti, Mas pasti bisa."

Damar membayangkan, sudah beberapa tahun dia tidak bertemu dengan keluarga Wahyu. Terakhir kali dia berbicara langsung, saat Wahyu mengancam dirinya.

Ranum dan Damar tiba di kantor, mereka mempersiapkan semuanya agar berjalan dengan lancar. Pihak dari Wahyu sudah tiba di kantor Ranum.

Damar dan Ranum menuju ke ruang meeting, langkah kaki Damar terasa berat.

Wahyu berdiri menyambut Ranum, ternyata dia tidak mengenali Damar.

"Bu," sapa Wahyu kepada Ranum dan saling bersalaman.

"Silahkan duduk," Ranum langsung memulai meeting.

"Ternyata dia tidak mengenaliku." Gumam Damar dalam hati.

Ini kesempatan untuk melakukan rencananya.

Damar begitu percaya diri, karena Wahyu tidak mengenalinya maka ini kesempatan paling bagus.

Meeting berjalan lancar tanpa ada halangan, perusahaan Ranum dan Perusahaan Wahyu akhirnya terikat kontrak.

Setelah mereka bubar, Damar tidak sabar untuk memberi kabar kepada Seruni.

"Assalamualaikum ... ," 

"Bude, ada kabar baik!"

"Kabar apa?"

" Alhamdulillah rencana pertama berhasil, kita sekarang sudah dekat dengan rencana baru."

"Oh, syukurlah."

" Bude, baik-baik saja kan?"

"Emmh ... ."

"Pasti ada yang tidak beres," Gumam Damar.

"Bude, yakin baik-baik saja?" Damar sedikit menyelidik.

"Damar ... "

"Iya, Bude?"

"Bude dan Seruni gagal untuk tinggal di sini, ternyata mereka sudah membalik nama semua aset yang di miliki adikku. Pengacara Adikku telah tiada, kasusnya masih di usut oleh polisi. Sekarang Kami sedang siap-siap kembali ke rumah Anto.

"Apa?" Damar terkesiap dan berfikir sejenak untuk mencari rencana baru.

"Bolehkah Damar bicara sama Seruni?"

"Baiklah," Bude memberikan ponselnya kepada Seruni.

"Iya, Damar?"

"Bagaimana keadaanmu?"

"Sedang tidak baik."

"Sekarang saya akan ijin pulang cepat."

"Jangan, di sini sudah ada Bude sama paman Anto."

"Tapi ... " Ucapan Damar tertahan.

"Sudahlah, selesaikan pekerjaanmu."

"Baiklah,"

"Runi," hati Damar tiba-tiba berdebar kencang.

"Apa?"

"Runi, Aku kangen sama kamu."

Seruni tidak menjawab, dan terdengar sepi.

"Runi, apakah kamu masih di sana?"

Masih tidak ada jawaban.

"Damar, saya mencintaimu."

Sambungan telepon tiba-tiba terputus, hati Damar berbunga-bunga. Dia senyum-senyum sendiri.

Ranum berdiri di pintu, dia mendengar apa yang dibicarakan Damar.

"Kenapa hatiku terasa tidak nyaman?" Gumam Ranum dalam hati.

"Damar," Ranum menatap wajah Damar yang sedang berbunga-bunga.

"I Ibu," Damar berdiri.

"Ibu dari tadi?"

"Tidak, baru saja."

"Oh iya, sekarang kamu lembur ya! Ada yang harus saya sampaikan, nanti."

Nada bicara Ranum berbeda, tidak seperti biasanya.

Apakah Ranum cemburu? Apakah Damar akan setia kepada Seruni?
Simak terus ceritanya.

Seruni kembali ke rumah Anto

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch47
#Kelompok5Gempita
#Day22
#Jumlahkata506

Setelah menyelesaikan kerja lemburnya, Damar tergesa-gesa meninggalkan ruang kerjanya. Dia mencari Ranum untuk berpamitan pulang dan melaporkan hasil kerjanya.

Namun, Ranum tak kunjung di temukan.

"Aduh, kemana ya Bu Ranum?" Damar bertanya kepada dirinya sendiri, sambil terus berjalan mencari Ranum. Dari ruangan satu ke ruangan yang lain.

Hari semakin larut, akhirnya semua hasil kerjanya dia simpan di atas meja Ranum.

Dia bergegas turun menggunakan lift. Ranum ada di lift itu, dia menjinjing sebuah keresek yang berisi makanan.

"Mau kemana, kamu?" Tanya Ranum dan melirik Damar dari atas sampai ke bawah.

"Oh, kebetulan Bu, kita bertemu di sini. Saya mau pamit pulang, karena pekerjaan saya sudah selesai."

"Tapi," Ranum menunjukkan keresek yang dia bawa.

"Maaf, Bu. Saya ijin pulang karena ada kepentingan." Damar tetap ingin pulang, karena ingin segera bertemu Seruni.

"Baiklah kalau begitu, saya akan mengantarmu pulang."

"Tidak usah, Bu. Karena hari sudah terlalu larut dan rumah Paman Anto jauh dari tempat tinggal Ibu, sedangkan kalau ibu pulang dari sini lebih dekat, kan? Damar menolak tawaran Ranum.

"Tidak apa-apa, nanti saya pulang ke tempat kakak saya!"

Damar terdiam sejenak, dia tidak ingin Seruni melihat dirinya dengan Ranum.

"Baiklah, kalau begitu."

Mereka pulang bersama, mereka masuk ke dalam lift. Dan hanya mereka berdua yang berada di dalam lift itu, tiba-tiba keadaan berubah menjadi canggung. Mereka menuju parkiran dan memasuki mobil mewah.

Selama perjalanan mereka tidak saling bicara, karena terasa canggung.

Tiba di rumah Paman Anto, Damar turun dari mobil dan mengajak Ranum untuk mampir sebentar.

"Mari mampir dulu, Bu."

"Ah tidak, terimakasih!"
Seruni yang dari tadi duduk di ruang tamu mendengar suara Damar.

"Kalau begitu terimakasih sudah mengantarku, hati-hati di jalan!"

Mobil Ranum berlalu dari pandangan Damar, dia masuk dan melihat semua orang belum tidur kecuali adik-adiknya Damar.

Mereka terlihat sedang membicarakan yang sangat serius.

"Mar, kamu sudah pulang. Barusan diantar Ranum lagi?" Tanya Anto.

"Iya, paman." Jawaban yang sangat singkat.

"Hai, Runi. Bagaimana kabarmu?" Damar menyapa Seruni dan dia masih penasaran dengan apa yang di katakan Seruni waktu di telpon.

"Baik."

"Sudah, bersihkan badanmu dulu." Ucap Anto.

"Baiklah, saya pamit ke belakang dulu." Mata Damar terus tertuju kepada Seruni. Berharap Seruni mengatakan sesuatu lagi.
Usai membersihkan diri, Damar ikut berkumpul di ruangan itu.

"Damar, bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya bude.

"Alhamdulillah, lancar Bude!"

"Bagaimana ceritanya, Bude. Bisa sampai terjadi seperti ini?" tanya Damar.

Bude menceritakan semuanya dari mulai semua aset di balik namakan oleh Wahyu, sampai berita kematian pengacara ayahnya.

"Berarti kita harus mencari pengacara yang mau bekerja sama dengan kita?"
Mencari pengacara yang benar-benar tulus, seperti pengacara sebelumnya itu sulit.

Mereka terdiam, memikirkan bagaimana cara untuk mencari pengacara yang benar-benar mendukung mereka.

"Baiklah besok kita ajak ngobrol Husen, siapa tahu dia mempunyai teman seorang pengacara.

"Hah, Husen lagi?" Gumam Damar dalam hati.

"Oh iya, paman sekalian saya memeriksa mataku!"

"Biar besok saya yang antar!" Ucap Damar dengan semangat.

"Bukankah kamu bekerja, Damar?" Anto mengedipkan matanya kepada Damar.

"Tidak apa-apa, biar nanti saya minta ijin kepada Ranum."

"Sudahlah biar paman yang antar Seruni."

Damar tidak bisa memaksa lagi, dia sangat berat hati kalau Seruni bertemu dengan Husen.

Pagi yang panas

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch47
#Kelompok5Gempita
#Day23
#Jumlahkata550

Pagi hari, Seruni sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit tempat Husen bekerja. Dan ternyata Damar pun sudah di jemput oleh Ranum, Damar menunggu Seruni untuk berangkat terlebih dahulu.
"Mas Damar," Ranum menghampiri Damar yang sedang duduk di teras untuk menunggu Seruni.
"Ibu, silahkan duduk Bu."
"Mas, jangan panggil Ibu. Ini kan di luar, panggil nama saja!" Suara manja Ranum terdengar oleh Seruni, yang sedang duduk di ruang tamu.
"Tapi saya merasa tidak enak, Bu." Ujar Damar.
"Tapi usia saya lebih muda dari kamu, Mas!"
"Hah, biasanya Ranum memanggilku dengan sebutan anda. Tapi, sekarang?" Gumam Damar dalam hati.
"Baiklah, Ranum." Damar merasa tidak biasa memanggilnya dengan sebutan Ranum.
"Damar berbicara sama siapa, Bude?" Tanya Seruni kepada bude yang sedang duduk di sampingnya.
"Dia Ranum, adiknya Husen." Anto yang sudah siap berangkat.
"Oh," jawab Seruni yang singkat mewakili kecemburuannya.
"Paman, kita berangkat sekarang!" Seruni berdiri dan tersandung meja, hatinya mulai panas. Sakit karena tersandung tidak terasa olehnya, tetapi panas hatinya tidak dapat di kipasi dingan kipas angin.
"Ayo, nanti kesiangan." Tukas Bude.
"Baiklah, tunggu aku di depan. Aku ambil kunci mobil dulu." Anto kembali ke kamarnya.
Bude menggandeng Seruni ke depan.
"Eh, ada tamu?" Bude berbasa-basi padahal dari tadi sudah mendengar percakapan antara Damar dan Ranum.
"Ini Ranum, Bude. Adiknya Husen." Damar langsung menghampiri Seruni.
"Kenalkan, saya kakaknya Anto!" Bude menyodorkan tangannya.
"Ranum, Ka!" Senyuman Ranum merekah indah.
"Ini, Seruni? Yang selalu di ceritakan oleh Kakakku, Husen." lanjut Ranum dengan Ramah.
"Benar, Ka. Saya Seruni."
"Jangan panggil Kakak, kita seumuran loh." Ranum mendekati Seruni dan membantu Seruni untuk duduk.
Sebelum sampai ke kursi, Anto sudah berdiri di pintu.
"Eh, ada Ranum. Jemput Damar, ya?"
"Iya, Ka!" Jawab Ranum singkat.
"Tuh Mar, Kenapa kamu belum berangkat bekerja? Kasihan Ranum nungguin kamu." Anto menaikkan alisnya sambil tersenyum.
"Ayo kita berangkat." Anto menggandeng Seruni ke mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah yang sudah bersebelahan dengan mobil Ranum.
Mereka memasuki mobil masing-masing, tetapi Damar malah mengikuti Anto.
"Mar, kenapa kamu ikut ke mobil ini? Tuh kasihan Ranum, dari tadi nungguin kamu." Anto masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan untuk menyetir.
Damar mobil Ranum, Ranum sudah bersiap di mobil dan memegang setir mobil.
"Ayo mas, hari sudah siang." Ucap ranum yang tanpa ekspresi.
Damar masuk mobil Ranum, dia duduk di samping Ranum.
Tidak ada sepatah katapun selama perjalanan, hening sampai gerbang kantor.
Mereka masuk ke ruangan masing-masing tanpa ada pamit.
Suasana serasa canggung.
***
Di dalam mobil Seruni tidak berkata apa-apa, dia cemberut karena Damar di jemput oleh atasannya. Jarang-jarang ada atasan yang menjemput bawahannya.
"Paman, memangnya Damar setiap hari di jemput?" Seruni memecah keheningan dalam mobil Anto.
"Iya, memangnya kenapa? Kamu cemburu, Runi?" Anto masih berkonsentrasi ke jalan raya yang sedang macet.
"Tidak." Wajah Seruni memerah.
"Apakah Ranum itu cantik, paman?"
" Kenapa kamu bertanya seperti itu, ya jelas cantik lah. Paman saja menyukainya."
Anto semakin membuat hati Seruni memanas.
Tiba di rumah sakit, Husen sudah menunggu di tempat tunggu pasien. Hari ini Husen cuti, dia ke rumah sakit hanya khusus untuk mengantarkan Seruni untuk memeriksa matanya.
Teman seprofesinya sudah menunggu mereka di ruang periksa.
"Hai, Runi. Lama kita tak jumpa." Gombalan Husen di mulai.
"Hah, baru dua hari kamu tidak bertemu Seruni. Bilang sudah lama? Kangen ya?"
"Baik, Mas." Jawab Seruni singkat.
"Masa baik, dari tadi sepanjang perjalanan kamu cemberut."

rencana Wahyu yang ke dua kali

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch47
#Kelompok5Gempita
#Day24
#Jumlahkata450


Setelah Seruni memeriksakan matanya, dokter memberi tahu bahwa matanya akan sembuh dengan operasi. Jadi ada kesempatan untuk sembuh, Seruni merasa bahagia.
"Paman, Bude, Runi akan sembuh."
"Alhamdulillah, Runi."
"Bude nanti kita bikin kejutan kepada untuk Damar, ya!"
Bude Ambar dan Anto saling memandang, mereka mendukung Seruni untuk menjadi pasangan Damar. Karena mereka tahu bagaimana keluarga Damar, Bude senang akhirnya Seruni membuka hatinya.
"Baiklah, nanti bude masak yang banyak." Ucap bude dengan semangat juga.
Setelah mereka keluar ruangan dokter, mereka bertemu dengan bibinya Seruni.
Istrinya Wahyu melihat mereka keluar dari ruang periksa mata, dia memalingkan muka tanpa menyapa kepada Seruni.
"Runi, barusan ada bibimu masuk ruang kandungan. Dia bersama sepupumu!" Ucap bude.
"Apa? Memang siapa ya yang hamil, Bude?" tanya Seruni.
"Entahlah, dia seperti masih marah kepada kita. Tidak mau menyapa kita."
Bude Ambar dan Seruni tidak memikirkan keluarga Wahyu lagi, sekarang Seruni hanya konsentrasi kepada kesembuhan matanya. Namun Anto yang melihat bibinya Seruni sinis, dia merasa takut terjadi apa-apa kepada Seruni.
Dia segera menelpon Pak Udin, dan ternyata pak Udin tidak mengangkat telepon darinya.
Hati Anto semakin gundah, akhirnya dia kembali ke ruang dokter. Di sana Husen sedang berbincang dengan dokter yang memeriksa mata Seruni. Dia langsung membicarakan apa yang di takutkan olehnya.
Akhirnya Husen ikut pulang ke rumah Anto bersama mereka.
"Runi, Mas ikut kamu ya?" Husen mencairkan ketegangan mereka.
Bude yang sedang menggandeng Seruni keluar, berusaha untuk berfikir positif.
***
Di kediaman Wahyu, istrinya dan putrinya Wahyu langsung berteriak memanggil Wahyu yang sedang bersantai di halaman belakang.
"Ayah, Ayah, Ayah di mana?" Putrinya Wahyu memanggilnya dengan berteriak-teriak.
Mereka menuju ke halaman belakang, karena biasanya Wahyu selalu menikmati kopi sambil memandang keindahan taman belakang yang masih terawat.
"Ada apa kalian berteriak-teriak?" Wahyu sambil menghisap rokok yang berada di tangannya.
"Ayah, tadi di rumah sakit aku melihat Seruni keluar dari ruangan dokter mata." Ucap putrinya.
"Benar Ayah, yang di bilang putrimu itu." lanjut istrinya.
"Ya itu hak mereka." jawaban yang dingin dari Wahyu.
"Terus bagaimana keadaan putrimu? Apakah benar dia hamil?" Dengan nada marah Wahyu naik satu oktaf.
Putrinya menundukkan kepala dan tidak berani lagi melihat ke arah ayahnya yang sedang marah.
"Dasar kamu istri yang tidak bisa mengurus anak, padahal anakmu hanya satu." Wahyu menunjuk wajah istrinya.
"Wahyu kamu jangan dulu marah, sekarang pikirkan dulu bagaimana kalau Seruni bisa melihat dan mengambil semuanya dari kita?" Bibi berusaha menenangkan dulu Wahyu, karena yang di pikirannya adalah harta.
Wahyu terdiam sejenak, dia lebih memikirkan hartanya.
"Seruni biar menjadi urusanku, sekarang urus putri kesayanganmu ini." Wahyu menunjuk ke wajah putrinya.
Wahyu langsung beranjak dari tempat duduknya, dia keluar dan menelpon seseorang.
Dia merencanakan pembunuhan yang ke dua kalinya.
"Pokoknya sekarang kamu tidak boleh gagal, dia harus lenyap. Masalah bayaran nanti saya transfer."

Kabar duka Damar

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch47
#Kelompok5Gempita
#Day25
#Jumlahkata545

Wahyu menjalankan rencananya dengan mengirimkan orang suruhannya, dia sangat berobsesi untuk mencelakakan Seruni. Karena dia takut kehilangan yang selama ia rampas dari kakak iparnya.
Pagi ini Seruni akan pergi ke rumah sakit untuk cek up selanjutnya, tetapi tiba-tiba Seruni mengurungkan niatnya untuk cek up pagi. Karena hari ini Husen yang akan menemaninya ada kepentingan mendadak.
Anto dan Damar berangkat bersama, sebelumnya Damar mengabari Ranum untuk tidak menjemputnya.
"Paman, hari ini saya ikut bersama paman ya!" Damar sambil membuntuti Anto yang hendak ke garasi untuk memanaskan mobilnya.
"Lah, biasanya kan kamu di jemput sama Ranum. Apa kalian sedang berantem?"
"Tidak, paman."
Damar kembali ke dalam rumah dan pamitan kepada semua orang yang ada di rumah.
"Bu, pak, Damar pamit dulu ya!" Entah kenapa ibunya Damar merasa tidak enak hati.
"Hati-hati ya," ibunya mencium keningnya.
"Nova, Novi, kalian harus patuh sama ibu dan bapak, ya!"
"Bude, Damar banyak salah sama Bude." Damar dari bangun tidur sampai saat ini terus menyebar senyuman.
"Seruni, aku sayang kamu." Damar berbisik kepada Seruni.
Wajah Seruni memerah, seperti memakai blush-on. Wajah yang merah merona, dia pegang wajahnya sedikit panas.
Hari ini Damar berpamitan, seakan tidak akan bertemu lagi.
"Damar, ayo kita berangkat sekarang. Nanti kita kesiangan." Teriak Anto dari luar.
Ibu dan bapaknya Damar terasa berat melepaskan tangan Damar, perasaan yang aneh menyelimuti hati mereka.
Anto mulai mengemudikan mobilnya. Sepanjang perjalanan Damar sangat ceria, tidak seperti biasanya yang hanya berbicara seperlunya saja. Namun, dia saat ini banyak sekali berbicara. Dia bercerita kepada Anto, bahwa dia sudah mengutarakan isi hatinya kepada Seruni.
"Paman, sepertinya aku ingin sekali cepat melamar Seruni."
Anto mengerutkan keningnya, karena Damar terlihat seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.
"Iya, nanti kita atur waktunya. Sekarang kita fokus untuk penyembuhan mata Seruni."
"Paman, aku rela memberikan penglihatanku kepada Seruni."
Paman tidak menanggapi kata-kata Damar. Dia hanya fokus mengendarai mobil.
Sampai ke jalan yang sepi, karena untuk sampai ke tempat kerja mereka harus melewati jalan sepi itu.
Di tengah perjalanan mereka di hadang oleh orang-orang suruhan Wahyu. Mobil Anto berhenti, orang suruhan Wahyu masuk ke dalam mobil.
Anto melihat mereka membawa senjata, Anto bergegas share lokasi kepada Husen.
Husen yang sama dalam perjalanan melihat ponselnya dan dia heran kenapa Anto memberikan lokasi terkini kepadanya.
"Hah, itu kan jalan sepi. Pasti Anto dalam kesulitan." Gumam Husen.
Husen bergegas menelepon Anto, untuk memastikan keadaannya. Anto sempat mengangkat teleponnya, Husen hanya mendengar orang sedang berteriak minta tolong.
Tanpa berpikir panjang, Husen menelepon polisi sambil membalik arah mobilnya.
Di tempat kejadian terlihat Damar sudah bersimbah darah, sedangkan Anto sedang memegang salah satu orang suruhan Wahyu.
Polisi mengamankan pelaku, sedangkan Husen dan Anto segera melarikan Damar ke rumah sakit terdekat.
Damar banyak kehilangan darah, sedangkan Anto terluka di bagian lengannya.
Damar saat itu terkena tembakan dan tusukan di badannya. Damar tidak dinyatakan koma oleh dokter yang memeriksanya.
Anto mengabari kepada Bude, tetapi Anto meminta agar Seruni jangan di beri tahu dulu.
"Kakak," lirih Anto.
"Iya, Anto ada apa? Ada barang yang tertinggal?" Bude berusaha mendengar suara Anto yang hampir tidak terdengar.
"Kakak, bisa ke rumah sakit bersama Ibu dan bapaknya Damar? Tetapi seruni jangan dulu di ajak."
"Hah, memangnya apa yang terjadi sama Damar?" Teriak bude Ambar di dalam telepon.
" Pokoknya kalian ke sini dulu, nanti saya jelaskan semuanya di sini." Anto langsung menutup teleponnya.

Rencana pak Udin

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch47
#Kelompok5Gempita
#Day26
#jumlahkata456


Orang tua Damar dan Bude tiba di rumah sakit, mereka masih belum bisa ke dalam ruang ICU. Untuk kedua kalinya Anto berada di rumah sakit dan situasi yang sama.
"Anto," Bude duduk di samping Anto, yang sedang menundukkan kepalanya.
"Kakak, aku yakin semua ini rencana Wahyu."
"Memangnya apa yang terjadi, Nak Anto?" Tanya bapaknya Damar.
"Di tengah perjalanan kami di hadang segerombolan orang, tapi kami tidak tahu siapa mereka. Setelah mereka melukai Damar, mereka seperti mencari sesuatu lagi ke dalam mobil." Jelas Anto.
"Tetapi ada satu orang yang tertangkap, tetapi sekarang dia juga sedang tidak sadarkan diri, karena di tembak oleh temannya." Lanjut Anto.
Husen yang sudah di pinta keterangan oleh polisi  menghampiri Anto.
"To, polisi belum menemukan petunjuk. Ternyata yang tertangkap meninggal karena kehilangan banyak darah dan luka tembaknya di kepala." Jelas Husen.
Anto bangkit dan merogoh kantong celananya, mengambil ponsel. Kemudian dia mencoba lagi menelpon ke pak Udin, kali ini Pak Udin mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Pak bisa datang ke rumah sakit?"
"Baik Tuan, saya akan segera ke sana." Jawab pak Udin. Anto menutup teleponnya.
Tidak memerlukan waktu lama pak Udin untuk sampai ke rumah Sakit, karena kebetulan pak Udin sedang berada di luar rumah. Pak Udin menelepon Anto untuk mengabari kalau pak Udin sudah sampai rumah sakit. Telepon masih berdering, tetapi Anto sudah ada di belakang pak Udin.
"Pak," panggil Anto.
Dibelakang pak Udin sudah berdiri Anto dan Husen, mereka melihat ke sekeliling pak Udin.
"Bapak sendiri?" Tanya Anto.
"Iya Tuan, memangnya siapa yang sakit? Apakah Nona baik-baik saja?" Wajah Pak Udin yang terlihat sangat khawatir.
"Seruni baik-baik saja, sekarang dia ada di rumah." Anto mengusap wajahnya, dan duduk di kursi.
"Lantas siapa yang sakit?" Tanya pak Udin lagi.
"Damar, pak." Anto menyenderkan kepalanya ke dinding.
"Sakit apa, Nak Damar?"
Anto menjelaskan kronologi kejadian kepada pak Udin, sorotan meta pak Udin berubah. Pak Udin langsung memberikan sebuah nomor ponsel, Nomor ponsel itu milik orang suruhan Wahyu, dia masih saudara pak Udin.
"Telepon dia, ajak bertemu."
"Memangnya apa hubungan orang ini dengan kami?" Anto mengerutkan keningnya.
"Dia orang suruhan Wahyu."
"Jika kalian ingin menemuinya, bawa polisi juga." Lanjut pak Udin.
"Apa? Wahyu menyuruh orang untuk mencelakai kami?" Mata Anto membulat.
"Bukan kalian, mereka mencari Seruni."
"Ya ampun, Seruni sekarang di rumah hanya bersama anak-anak."
Anto membagi tugas, Husen dan Bude Ambar ke rumah Anto untuk memastikan Seruni baik-baik saja dan menemaninya. Damar di rumah sakit di jaga orang tuanya, sedangkan Anto dan pak Udin terlebih dahulu kekantor polisi.
Pak Udin bersedia menjadi saksi atas kejadian hari ini. Dia mengetahui semua rencana Wahyu. Sebelumnya pak Udin menitipkan istrinya di rumah sahabatnya.
Pak Udin sudah menyusun rencana dari hari sebelum kejadian hari ini, untuk melaporkan Wahyu kepada polisi.
Namun, ternyata pak Udin terlambat. Saat ini Damar sudah tergeletak di tempat tidur pasien dalam keadaan koma.

Berita duka

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch47
#Kelompok5Gempita
#Day27
#Jumlahkata523

"Assalamualaikum," Bude mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam," Nova membuka pintu, dia melihat ke belakang bude.
"Mana Bapak dan Ibu?" Tanya Nova.
"Mereka menunggu Damar di rumah sakit."
Bude duduk di kursi depan televisi, di susul Nova dan Husen.
"Memangnya ka Damar kenapa, Bude?" Wajah Nova berubah menjadi serius.
"Mana Seruni dan yang lain?" Bude tidak menjawab pertanyaan Nova.
"Ada di kamar, terus bagaimana dengan Ka Damar?"
"Kita do'akan saja yang terbaik untuk Kakakmu."
Mata Nova memanas, air bening berkumpul di ujung pelupuk matanya. Dia menundukkan kepalanya, tak terasa air bening menetes di atas tangannya.
"Bude, bolehkah Husen bertemu dengan seruni?" Husen minta ijin kepada Bude.
Bude melihat ke arah Husen, "Nova, antar Husen kepada Seruni!"
Nova beranjak dari tempat duduknya, dan mengantar Husen ke kamar Seruni.
"Seruni," Husen mendekati Seruni.
"Mas Husen, ya?"
"Iya, Seruni."
"Mas, sendiri ke sini?"
"Aku tadi mengantar Bude pulang, sekalian ingin mengobrol sama kamu, Runi!"
"Oh, bude sekarang sudah pulang? Apa yang terjadi, Kenapa semua orang ke rumah sakit?"
"Emh, Runi ... " Husen memegang tangan Seruni.
"Kamu harus sabar dan tenang, Damar sekarang koma."
"Apa?" Seruni melepaskan genggaman tangan Husen.
"Runi, sebelum Damar masuk ruang ICU dia sempat memanggil-manggil namamu. Karena dia banyak kehilangan darah dan mengakibatkan komplikasi!"
Air mata yang tak terbendung membasahi pipi Seruni, berkali-kali dia menghapusnya tetapi air itu terus berderai tiada henti. Entah kenapa air itu tidak dapat di hentikan. Padahal pagi-pagi Seruni sudah merasa bahagia, Damar dan Seruni sudah saling menyatakan satu sama lain. Salah satu impian Seruni hampir terwujud, baru saja Seruni mendapat secercah impian tetapi dia sudah harus bersedih kembali.
"Sabar ya, Runi. Kita do'akan yang terbaik untuk Damar." Husen membelai rambut Seruni.
Ponsel Husen berdering, membuat sipemiliknya terkesiap.
"Iya, pak?"
"Pasien atas nama Damar telah meninggal dunia."
"Innalilahi ... . Baiklah saya akan segera ke sana."
"Runi, kamu tunggu di sini bersama Bude. Aku ada urusan dulu."
"A apa yang terjadi, Mas?"
"Aku belum tahu jelas." Damar berjalan cepat menuju ke ruang tamu.
"Bude, aku ke rumah sakit dulu. Nanti saya jelaskan setelah infomasinya jelas."
"Iya, hati-hati Husen " Bude mengantar Husen sampai pintu dan menguncinya.
Bude menghampiri Seruni yang masih berada di kamar, Nova dan yang lain juga berkumpul di kamar dan berdoa bersama.
Di rumah sakit Husen di suguhi orang tua Damar yang sedang berduka.
Husen langsung menemui dokter yang menangani Damar, saat itu Husen ikut memeriksa ulang Damar yang sudah tidak bernyawa.
Pikiran Husen saat itu sangat kacau, dia tidak ingin membuat Seruni bersedih kembali.
Dokter yang menangani Damar menceritakan semuanya kepada Husen, yang saat sebelum di nyatakan meninggal, Damar ingin memberikan matanya kepada Seruni.
"Dokter Husen, memangnya siapa Seruni itu?" Tanya teman seprofesinya.
"Dia kekasihnya. Aku bingung untuk menjelaskannya."
"Sabar ya, Dokter Husen?"
Dokter yang menangani Damar keluar dan mempersilahkan keluarganya untuk masuk.
"Damar," suara tangis ibunya Damar semakin menjadi, setelah dia melihat putra sulungnya terbujur kaku.
Ibu dan bapaknya Damar harus kuat, karena mereka ingin mewujudkan mimpi Damar untuk menyekolahkan adik-adiknya sampai berhasil.
Akhirnya Husen harus mengabari Anto yang sedang berada di kantor polisi bersama pak Udin. Serta dia harus mengabari Seruni berita duka ini, karena ini kenyataan yang tidak bisa di rubah oleh semua orang.

Pemakaman Damar

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch47
#Kelompok5Gempita
#Day28
#Jumlahkata421

Bersamaan dengan meninggalnya Damar, akhirnya Wahyu dapat tertangkap. Tetapi dalam proses penangkapan tidak semulus yang di harapkan, Wahyu mencoba melarikan diri.
"Ayo, cepat kita harus pergi." Wahyu dan istrinya memasukkan semua baju beserta uang dan surat-surat berharga ke dalam koper.
"Kita akan pergi ke mana?" Tanya putrinya yang sedang merasakan mual muntah.
"Pokoknya kita harus segera pergi dari rumah ini, Ayah sudah menjual rumah ini."
"Apa? Padahal saya betah disini, yah!" Putrinya tidak mau beranjak dari tempat tidurnya, karena dia tidak kuat untuk perjalanan jauh.
"Ya sudah, kamu tinggal di sini sendiri." Istrinya Wahyu ikut panik.
Bel pintu berbunyi, pelayan membuka pintu. Dan ternyata Pak Udin bersama polisi.
Karena kaget Wahyu dan keluarganya keluar melewati pintu belakang, tetapi karena berjalan tidak berhati-hati putrinya terjatuh dan pendarahan hebat.
"Aduh, Ayah sakit." Putrinya meringis, Wahyu hanya memperdulikan kopernya.
Wahyu meninggalkan istri dan putrinya, dia masuk ke dalam mobilnya dan berhasil kabur. Namun, polisi menangkap istrinya dan putrinya di larikan ke rumah sakit.
Didalam perjalanan putrinya terus meringis darah tidak berhenti keluar. Akhirnya putrinya meninggal di perjalanan.
Tiba di rumah sakit mereka bertemu dengan keluarga Damar, istrinya Wahyu bukan minta maaf kepada mereka tapi malah menyalahkan orang tuanya Damar.
"Hah, ibu Nani?" Istrinya Wahyu membelalakkan matanya kepada ibunya Damar.
"Gara-gara kamu melaporkan kami ke polisi putriku meninggal," istrinya Wahyu berdiri di samping mayat putrinya.
Orang tuanya Damar tidak berkata apa-apa, karena mereka juga sama sedang berduka dengan kepergian putra sulungnya.
Ibu Nani saat ini tidak ingin menyalahkan siapapun, karena dia berfikir menyalahkan orang tidak akan membuat Damar kembali kepadanya.
Dokter memeriksa ulang jenazah Damar, sebelum dokter memeriksanya Ibu Nani meminta dokter memberikan mata Damar untuk Seruni.
Walaupun mereka belum memberitahu Seruni, Ibu Nani ingin menganggap Seruni sebagai putrinya. Dengan seperti itu impian Damar yang ingin membawa Seruni ke rumahnya sebagai menantu, tetapi sekarang Ibu Nani membawa Seruni sebagai putrinya.
Damar di makamkan di kampung, semua orang terdekat menghadiri pemakamannya termasuk Seruni.
"Damar kamu bohong, katanya kamu mencintaiku. Tetapi Kenapa kamu meninggalkanku? Kamu telah memberi harapan kepadaku, tetapi kamu sekarang menyakitiku dengan meninggalkanku." Seruni tidak berhenti meneteskan air matanya.
"Runi, Damar tidak ingin melihatmu menangis. Dia akan sedih di sana apabila melihatmu terus bersedih seperti ini." Husen mencoba menenangkan Seruni.
"Tapi Mas, dia sudah bohong. Dia bilang akan mendampingiku, itu semua bohong Mas." Tukas Seruni.
"Dia tidak meninggalkanmu, dia akan selalu ada bersamamu."
"Besok kita harus kembali ke kota, masih banyak yang belum di selesaikan." Anto memotong pembicaraan Seruni dan Husen.
Proses pemakaman Damar berjalan dengan lancar, semua merasa kehilangan sosok laki-laki baik hati.

Mungkin saja kamu suka

Syamsinar
Misteri Tamu Pagi
Mariam Jamilah
Pernikahan Paksa
Wie Dew Wie
Balas Dendam Sang Iri
Hariyanti
Jejak Bertuan

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil