Loading
0

0

3

Genre : Romance
Penulis : Nur Cahaya
Bab : 11
Dibuat : 24 Juli 2022
Pembaca : 2
Nama : Sulistiyana
Buku : 2

Sekuntum Janji

Sinopsis

Janji dibuat untuk di tepati, bukan sebuah komitmen yang seenaknya untuk di ingkari.
Tags :
#firstLove #Sarkat

Bab 1

0 0

#Sarapankata
#KMOBatch47
#kelompok9
#Day1
#jumlahkata554

Sekuntum Janji
Bab 1

Sepasang mata seorang Arlandika terlihat sangat gelisah. Tatapannya terus mencari sosok yang sudah tiga tahun lamanya ia nantikan kehadirannya. Dari berdiri, hingga duduk kembali ia lakukan berulang kali.
Satu buket bunga dan satu kotak coklat ada di sampingnya. Bahkan sesekali ia mengeluarkan kotak perhiasan berbentuk hati dari kantong jaketnya. Memperhatikannya dengan senyuman mengembang dari bibirnya. Kemudian ia kembali menyimpannya dan melihat arah pintu keluar para penumpang pesawat.
Tapi tiba-tiba kandung kemihnya terasa penuh. Ia Pun berlari menuju toilet, dan meninggalkan buket bunga bersama kotak coklatnya diatas bangku. Sepuluh menit kemudian ia kembali, dan melihat box coklatnya ada yang sedang menikmatinya. Sontak membuatnya secepat kilat berlari dan merebutnya cepat.
"Hei! Coklat gue!" teriaknya kencang, sambil merebut box coklat yang di pangku gadis tersebut.
Hingga membuat wanita yang sedang memakan coklat itu terkejut dan menatap Arlan dengan terkesiap.
"Heh! Gue nemu ya, tergeletak nganggur di kursi. Enak saja ngaku-ngaku! Kembalikan!" pekiknya tak kalah sengit. Arlan menghindari gadis itu. Mereka saling berebut coklat itu, dan Arlan menghentikan gerakannya, saat tatapannya menangkap sosok yang sedang ia tunggu-tunggu. Dan berhasil melepaskan coklat yang ia pertahankan dalam pelukannya ke tangan gadis itu.
"Shila…," gumamnya lirih dengan tatapan perih.
Bagaimana tidak, ia melihat sang pujaan berjalan bersama seorang pemuda dengan mengapit tangannya mesra. Terlihat kelakar diantara mereka dengan senyum yang mengembang di antara keduanya.
Arlan paham betul siapa Rashila. Gadis pendiam, jutek, dan sangat dingin. Jarang sekali terlihat menampakkan senyuman seperti yang sekarang Arlan lihat. Ada perih yang menjalar di dalam dadanya. Kobaran api yang terasa membakar di dalam palung terdalamnya.
Arlan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu sebelum menemui pujaan hatinya. Ia membawa kepingan hatinya yang hancur lebur bagai debu. Membawa kendaraan roda empatnya dengan rasa hati yang tak tergambarkan lagi lara dan sakitnya.
"Rashila, sekian lama aku menunggu, menyimpan rapih janji cinta kita. Tapi kamu mengingkarinya sendiri, semudah itu kamu melupakan semua janji yang kau ucapkan. Munafik!"
Berulang kali ia memukulkan tangannya ke setir kemudi. Melampiaskan kemarahannya, bentuk kecewa yang terdalam dari lara yang terpendam.
"Aaaargh! Seperti orang bodoh aku percaya janjimu Rashila. Bodoh!" gerutunya lagi.
Ia menghentikan cepat laju kendaraanya, lalu menjerit kuat untuk kemudian menenggelamkan wajahnya ke setir kemudinya. Berusaha mengatur nafasnya yang begitu sesak di dadanya. Lalu ia kembali melajukan kendaraannya menuju tempat yang baginya akan mampu menghilangkan kegundahannya.
Di Bawah gemerlap lampu warna warni yang sinarnya temaram dan lebih dominan gelap. Arlandika meneguk minuman beralkohol yang ada di hadapannya. Entah sudah berapa gelas air yang sudah ia teguk. Hingga cegukan di lehernya berulang kali terdengar dan mengganggunya.
Lagi, kandung kemihnya terasa sangat penuh. Ia mencebik, lalu menyeret langkahnya berat menuju toilet. Saat kembali, ia langsung menuju kursinya. Dan betapa terkejutnya ia, saat melihat seorang wanita yang sedang duduk disana. Dengan kaki terangkat dan bertumpu di kaki yang lainnya.
Ia bersiul sambil matanya mengedar ke sekeliling. Arlan menghampirinya dan menarik kuat tangannya. Lalu menghempaskannya begitu saja. Membuat wanita tersebut terhuyung, tapi sial. Tangan wanita itu mencengkram tangan Arlan dengan kuat. Sehingga tubuh wanita itu kembali lagi dan jatuh dipelukan Arlan.
"Auw!" teriak Arlan.
Nafas mereka terengah, lalu saling tatap dan tercengang bersamaan. Mereka saling menghindar, tapi rok lebar gadis itu terhimpit kaki Arlan. Sehingga membuat keduanya kembali berpelukan.
Hening, hanya ada dua pasang mata yang saling tatap tanpa kata. Dengan nafas menderu dalam detakan jantung yang sudah berdentum tak menentu.

Bab 2

0 0

#Sarapankata
#KMOBatch47
#kelompok9
#Day2
#jumlahkata571

Sekuntum Janji
Bab 2 Pov Rashila

Gadis bertubuh jangkung, dengan kedua lesung pipi, gigi kelinci dan rambut ikal coklat tergerai. Rashila Diandra, berkali-kali melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.
"Lama sekali sih," keluhnya sambil mencebik kesal.
"Kenapa, nggak sabar ya ketemu Abang Arlandika," goda Richard sang kakak tirinya.
"Apa sih, sok tau," kilah Shila dengan wajah merona, menutupi kebohongannya.
Iya, Shila sangat gelisah, karena hari ini, hari yang ia janjikan pada sang pujaan hati—Arlandika. Setelah tiga tahun ia pergi, meneruskan pendidikannya bersama sang ayah di Australia.
Pesawat akhirnya mendarat, dan dengan cepat Rashila segera bersiap untuk turun. Sang Kakak yang untuk pertama kalinya datang ke tanah kelahiran Rashila. Lebih bersemangat dari Rashila.
"Yuk, janji ya… ajak keliling kota," ujar sang kakak.
"Yee, besok lah, hari ini capek, mau istirahat, wlek…," balas Rashila menggodanya.
"Hahahaha, ya iyalah, aku juga capek kali," balas sang kakak sambil merangkul bahu Rashila.
Mereka pun turun dari pesawat dan masuk ke dalam ruang penjemputan. Mata Rashila memindai sekeliling, berharap menemukan sosok yang ingin ia temui saat ini.
"Duh, yang gelisah mau ketemu pujaan hatinya. Mana sih, kenalin sama kakak tergantengmu ini, hmm," lagi-lagi, Richard menggoda adiknya itu.
"Yee, ini juga lagi nyariin. Kamu diem deh, sana pulang duluan," protes Rashila, sambil mendorong tubuh sang kakak agar menjauhinya.
"Baiklah, aku ke toilet dulu ya," pamit sang kakak.
Rashila tak menghiraukannya, ia fokus mencari sosok pria yang selama ini mengisi hari-harinya. Meski tak pernah saling berkabar, tapi janji itu, mereka ukir dalam palung terdalam. Terkhusus Rashila. Karena baginya, Arlan adalah pria pertama yang membuatnya jatuh hati, dan mengajarkan arti Rindu.
"Kamu di mana sih Arlan…," bisiknya lirih, sambil terus mencari sosok kekasihnya itu.
Sementara itu, Richard yang menuju toilet, tak sengaja bertabrakan dengan seorang pemuda yang berlari ke arah tujuan yang sama.
"Hai, hati-hati kalau jalan," pekik Richard padanya.
"Ma-maaf, saya buru-buru," balas pemuda tersebut.
Pemuda itu mendahului Richard, dan masuk ke toilet yang kosong.
"Shila, tunggu aku…," gumamnya lirih, sambil membuang hajatnya dengan gelisah.
Ia keluar dengan cepat, setelah menyelesaikan hajatnya, dan mencuci tangannya hingga bersih. Lagi, saat hendak keluar, ia kembali bertabrakan dengan Richard.
"Astaga… apa kamu tidak punya mata, tadi sudah menabrak, sekarang di ulangi lagi, ya ampun…," pekiknya mulai kesal.
"Maaf, saya minta maaf….," pemuda yang tak lain adalah Arlan, berlalu dengan cepat setelah meminta maaf pada Richard. Ia berlari, dan menuju bangku tunggunya. Sementara di tempat lain, Rashila melihatnya dari kejauhan.
Gadis itu melangkahkan kakinya panjang, dan hendak berlari. Tapi langkahnya terhenti, saat melihat Arlan dengan seorang gadis yang memegang box coklat, sementara Arlan dengan buket bunga di tangannya.
Deg, dada Rashila terguncang, berdegup lara dan terasa perih. Ia meremas syal biru yang sudah ia siapkan, dan hendak ia berikan kepada sang kekasih.
"Pecundang… penghianat… sekali playboy, selamanya akan tetap menjadi playboy. Kenapa aku mempercayai ucapannya dulu, ih," keluhnya dengan mata yang memerah.
Ia melemparkan syal itu ke tong sampah, dan memejamkan matanya sekejap, lalu menghela nafasnya panjang.
"Hai, bagaimana… sudah ketemu," sapa Richard yang kembali dari toilet.
"Lupakan, kita pulang sekarang. Aku sangat lapar, kita cari makan dulu ya," balas Rashila menyelipkan tangannya ke lengan sang kakak.
"Oke… kita makan apa nih," tanya Richard yang tak tahu kondisi hati sang adik.
"Makan hati, hahahaha," kekeh Rashila, menyembunyikan perih yang sedang merajai perasaannya.
"Hahahaha, hati ayam atau hati sapi," kelakar Richard.
Dan saat langkah mereka terayun, sepasang mata menatapnya dari kejauhan. Menyaksikan keakraban adik kakak yang sedang berkelakar dalam canda mereka.

Bab 3

0 0

#Sarapankata
#KMOBatch47
#kelompok9
#Day3
#jumlahkata552

Cerbung by Sulistiyana

Sekuntum Janji

Tiga tahun yang lalu.
Rashila baru turun dari panggung, setelah mendapatkan toga kelulusan dari kepala sekolahnya. Ia berjalan dengan senyum kemenangan. Setelah sampai di bawah, ia langsung berlari dan menemui sang Ayah.
"Mau janjinya," tagihnya pada sang ayah—Suhendar Bagaskoro.
"Iya… memangnya mau berangkat sekarang?" balas sang Ayah.
"Hehe, satu pekan lagi. Shila mau jalan-jalan dulu, menyimpan kenangan di sini. Setelah menutup diri bak kepompong," ucapnya yang tak dimengerti oleh sang ayah.
"Kamu… betul Rashila Diandra?" tanya seseorang yang mendekatinya dengan tatapan heran.
Shila menoleh, lalu mengapit tangan sang Ayah.
"Iya, kenapa?" balas Shila tegas dan sangat percaya diri.
"Hah… masa sih, permak di mana kamu, bisa secantik ini," protesnya.
"Heh, bicara apa kamu, anak saya selalu berpenampilan sangat baik. Apa maksud ucapanmu," kritik Suhendar.
Shila terkikik, lalu berbisik pada sang Ayah.
"Papa terlalu sibuk sih, jadi nggak tahu kan, Shila seperti apa kalau ke sekolah," ucapnya lirih.
Suhendar mengerutkan keningnya, menatap heran pada putrinya. "Nggak penting pa… sudahlah, ayo pulang."
Shila menarik tangan sang ayah, meninggalkan temannya yang bertanya tadi.
"Hey gadis kampung, jawab dulu pertanyaanku, main nyelonong pergi saja," pekiknya.
Namun tak Shila hiraukan, gadis cantik itu terus menarik lengan sang ayah yang ia apit dengan erat.
"Itu tadi teman shila?" tanya sang Ayah.
"he eh, kenapa?" jawab Shila santai.
"Kok sampai nggak kenal Shila," tanya sang Ayah lagi semakin di buat bingung.
"Kan tadi Shilla udah bilang… nggak penting pa, yang terpenting adalah Shila jadi murid terbaik di sekolah ini. Dan Papa sudah janji, mau bawa Shila ke Australia, sampai S2 Shila selesai. Oke…," jawab Rashila sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Hmmm, baiklah, papa tak akan memaksa Shilla untuk berbagi cerita sama Papa. Tapi, apa shila tidak punya pacar nak. Kok Papa lihat kamu tidak ada yang mendekati sekarang. Disaat banyak teman-teman Shila saling berfoto, dengan pasangan mereka masing-masing."
"Shila nggak mau pacaran, kecuali ada pria seperti Papa," jawab Rashila.
"Shila… tidak baik bicara begitu. Papa juga bukan pria baik-baik nak. Doa papa shila akan mendapatkan jodoh yang lebih baik, dan bertanggung jawab. Juga yang setia dan sayang sama Shilla," ujar sang ayah sambil merangkul erat bahu sang anak.
"Terserah, yang shila tahu, papa adalah pria terhebat yang shila punya," balasnya sambil mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang sang Ayah.
"Astaga, anak gadis Papa ini."
"Shila!"
Sebuah suara membuat shila dan sang ayah menoleh dan menatap ke arah sumber suara. Suhendar menatap lekat sang putri, saat melihat sosok pemuda tampan berdiri di belakang mereka dengan buket bunga dan satu kotak coklat di tangannya.
"Happy graduation ya, hmm, buat kamu," ujarnya, sambil menyerahkan semua benda yang ada dalam genggaman tangannya.
Rashila mengerutkan keningnya, menatap kedua benda yang belum pernah ia dapatkan dari seorang pria. Ia mendongak, dan menatap wajah sang Ayah. Tapi sang Ayah hanya mengedikkan bahunya.
"Maksudnya apa ini?" tanya Rashila bingung.
Karena tak tahu harus melakukan apa, pada bunga juga coklat yang di sodorkan ke hadapannya.
"I love you Shila, maukah kau bertunangan denganku," tembaknya langsung tanpa basa basi.
Rashila dan sang Ayah tercengang dengan mata membulat dan bibir yang menganga lebar karena kaget.
"Tunangan? Apa maksudnya," tanya Rashila masih tak mengerti.
"Aku mencintaimu Shilla, dan aku ingin lebih dekat lagi denganmu," aku pemuda itu lagi.
Rashila menelan salivanya berat, sambil menatap wajah sang Ayah.
"Pacar kamu?" tanya Suhendar pada Shila.

Bab 4

0 0

#Sarapankata
#KMOBatch47
#kelompok9
#Day4
#jumlahkata474

Cerbung by Sulistiyana
Sekuntum Janji

Dua insan yang masih mengenakan seragam kelulusan, berdiri di taman belakang sekolah mereka. Meninggalkan euforia pesta yang sedang berlangsung di aula sekolah mereka.

Hembusan sepoi sang raja klana menyapu lembut wajah keduanya, yang hening terbawa suasana. Arlan masih menggenggam buket bunga, yang Shila tolak mentah-mentah. Sekotak coklat pun masih Arlan peluk dengan erat di dadanya.

"Apa maksud ucapanmu tadi," ucap Shila memecah keheningan.

"Aku ingin melamarmu Shila, aku serius," balas Arlan dengan yakin.

"Seorang Arlandika, playboy akut di sekolahan, mau melamarku? Hahahaha… mimpi kamu," kekeh Shila, menambatkan gelar yang memang terkenal begitu di sekolah mereka.

"Aku akan berhenti dari itu semua Shila, sungguh. Sebetulnya, sejak kelas tiga kemarin aku sudah tidak pernah dekat dengan cewek manapun," akunya.

Yang sudah pasti tidak Shila percayai. Shila tersenyum sinis, melirik nyalang Arlan. Ia mendesis mencibir pengakuan Arlandika.

"Sekali playboy, selamanya akan tetap playboy. Paham kamu," tuduh Shila tanpa basi basi.

"Sungguh Shila, sejak aku tahu siapa kamu. Aku sudah jatuh cinta sama kamu. Tapi, aku tak pernah punya keberanian untuk mengatakannya," akunya lagi.

"Hahahaha, Arlan… seorang Arlandika, tidak berani nembak cewek… hahahaha, pandai juga kamu melawak. Tapi sorry, aku tidak berminat. Jangankan tunangan, temenan juga enggan," cibir Shila lagi.

Gadis itu melenggang pergi, hendak meninggalkan Arlandika. Tapi Arlan menarik tangan Shila kuat, hingga gadis itu terhuyung dan hampir jatuh. Arlan sigap, dan langsung menangkap tubuh Shila. Dan membuat mereka saling berpelukan, dengan wajah yang berjarak hanya satu senti saja.

Tatapan mereka beradu, nafas keduanya menderu. Arlan menatap penuh bibir penuh Raya yang sedikit terbuka. Perlahan, Arlan mendekatkan bibirnya ke sana. Dan, dengan satu gerakan saja. Arlan tiba-tiba menjerit kesakitan.

"Auw… ampun Shila, ampun… maaf, maaf… aku tidak bermaksud…."

"Kamu pikir aku bisa kamu goda, iya. Dasar, pecundang… jangan mimpi kamu bisa dekati aku, uuh," ucap Shila dengan wajah memerah, ia mendorong kuat tubuh Arlan yang ia kunci tangannya sambil dipelintirnya kuat.

Bugh… tubuh Arlan tersungkur ke tanah. Ia mengaduh, sambil memegangi pergelangan tangannya yang masih terasa sakit.

"Shila… aku serius Shila. Aku mohon, beri aku kesempatan sekali saja, akan aku buktikan kalau aku betul-betul sudah taubat. Dan aku bersungguh-sungguh ingin melamarmu," bujuknya sambil mensejajari langkah Shila yang berjalan meninggalkannya.

"Hah… kesempatan… apa sih, nggak jelas banget kamu ini," balas Shila kesal. Tanpa menghentikan langkahnya.

"Shila, please… aku bersungguh-sungguh."

Arlan terus mengejar langkah Shila yang sangat lebar dan cepat. Tapi gadis itu tak menghiraukan rayuan Arlandika. Ia terus berjalan, dan langsung masuk ke mobil yang menjemputnya. Dan membiarkan teman satu kelasnya itu sibuk berbicara sendiri, sambil mengetuk - ketuk kaca jendela mobilnya.

"Shila… please Shila, sekali saja, aku mohon…."

Arlan menghela nafasnya, kala kendaraan roda empat yang membawa Rashila berlalu dari hadapannya. Ia menatap perih kendaraan mewah itu, yang semakin menghilang dari pandangannya.

"Rashila, aku sungguh-sungguh dengan hatiku," gumamnya lirih, menatap bayangan Rashila yang bahkan sudah tak terlihat olehnya.

Bab 5

0 0

#Sarapankata
#KMOBatch47
#kelompok9
#Day5
#jumlahkata793

Cerbung by Sulistiyana
Sekuntum Janji

Kilauan cahaya yang terpantul dari air kolam, yang tertimpa sinar raja siang, menghadirkan pelangi indah. Sepoi angin berhembus landai, menyapa wajah teduh seorang Pemuda yang berdiri menatap jauh hamparan air yang berombak kecil, akibat tamparan raja klana.
Buket bunga masih tergenggam erat di tangannya. Menggantung, menjuntai sampai hampir menyentuh tanah rerumputan nan hijau di tepian kolam tersebut. Senja di ufuk barat hampir tenggelam, tapi pemuda yang bergelar playboy akut itu. Masih tak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Aku ingin memilikimu Shila," gumamnya lirih.
Tubuhnya bergerak perlahan, lututnya tertekuk, dan ia pun duduk di atas rerumputan. Bersila, dan meletakkan buket bunga di atas pangkuannya. Merogoh kantong celana, dan mengambil kotak perhiasan berbentuk hati, dengan warna hitam. Teduh, ia menatap ring berhias berlian dengan warna blue safir itu.
"Aku akan menyematkan ini di jari manismu Shila. Pasti aku akan melakukannya," kukuhnya pasti.
Plup, ia menutup box perhiasan tersebut, dan menggenggamnya erat. Sekali lagi, ia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan melalui mulutnya yang sedikit terbuka.
"Den, maaf… sudah hampir malam. Tuan dan Nyonya pasti akan mengkhawatirkan den Arlan," ujar seseorang berpakaian serba hitam menghampiri Arlan dengan jarak sekitar tiga meter dari tempat Arlam terduduk.
Arlan melirik arlojinya, lalu menghela nafasnya kasar. Kemudian menoleh ke arah si pengawal pribadinya.
"Sepuluh menit lagi ya pak," ujarnya ramah dan sopan.
"Tapi ini sudah gelap den. Saya takut Tuan akan marah-marah nanti," protes si pengawal.
Arlan mencebik, dan akhirnya berdiri sambil membawa buket bunga dan box coklat nya. Lalu berjalan dengan gontai menyeret langkahnya malas.
"Pak, apa bapak pernah jatuh cinta," tanyanya pada si pengawal, sekaligus supir pribadinya itu.
"Ya pernah lah den, namanya juga pernah muda," sahutnya malu-malu.
"Tersampaikan tidak Pak, eum, rasanya itu gimana sih Pak. Apa memang segila ini?" cerocosnya memberondong tanya.
Hingga mereka sampai ke mansion milik sang ayah, Arlan masih terus bertanya.
"Dari mana kamu," seru Bastian—sang ayah. Saat Arlan baru menginjakkan kakinya di rumah besar itu. Tapi si anak bergeming, ia terus mengayunkan langkahnya hingga menaiki tangga menuju kamarnya.
"Arlan!" pekik sang Ayah.
Yang dipanggil menghentikan langkahnya, dan menoleh menatap sang ayah.
"Iya, ada apa Pa?" sahutnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Ditanya kok main nyelonong saja, dari mana kamu," protes sang ayah, mengulangi pertanyaannya.
"Oh… tadi papa tanya ke aku. Sorry… habisnya papa nggak sebutin nama sih, jadi aku pikir papa sedang berbicara dengan orang lain," jawab Arlan dengan senyum mencibir.
"Jaga sikapmu Arlan!" bentak sang Ibu—Rossana yang keluar dari kamarnya dengan wajah memerah menatap nyalang sang putra.
"Huft, kalau kalian kembali ke rumah hanya untuk marah-marah. Mendingan kalian tetap tinggal di london saja, aku lebih nyaman tanpa kalian," keluhnya sambil berlalu masuk ke kamarnya.
Brak! Suara pintu kamar Arlan yang dibanting kuat olehnya, menyuarakan perasaannya saat ini. Kedua orang tuanya saling pandang, dan menghela nafasnya kasar.
"Permisi, ma-maaf tuan, nyonya, ini… ijazah den Arlan. Ketinggalan di mobil," timpal si pengawal, yang tiba-tiba masuk dan membawa map berwarna hitam, beserta seragam Arlandika.
"Ijazah?" kedua orang tua Arlan saling tatap dan menjawab dengan tercengang.
"Iya tuan, den Arlan hari ini kelulusan sekolah. Karena itu, tadi agak terlambat pulang, ada sedikit acara bersama beberapa temannya," jelas si pengawal.
Hening, si ibu yang langsung turun ke lantai bawah, meraih map hitam yang tergeletak di atas meja. Ia membuka map tersebut dan membulatkan kedua bola matanya.
"Arlan…," gumamya dengan netra yang berair.
Ia berpaling menatap kamar sang putra, lalu berjalan cepat menuju kamar tersebut.
"Sayang… buka pintunya nak," ujar sang Ibu sambil mengetuk pintu kamar tersebut.
Namun hening, tak ada jawaban apapun dari dalam kamar tersebut. Sekali lagi, si ibu mengetuk dan memanggil nama Arlan, tapi pintu itu masih tertutup rapat dan terkunci dari dalam.
Si ibu pasrah dan kembali turun ke lantai bawah, duduk di samping suaminya dengan wajah bersedih. Tak berselang lama, pintu kamar Arlan terbuka dan si pemilik kamar keluar dengan pakaian formal, membawa buket bunga dan box coklat itu lagi.
Berjalan dengan pasti, dan percaya diri. Ia berlalu begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya yang menatapnya penuh tanya.
"Arlan, tunggu sayang," panggil sang ibu menghampirinya.
Arlan menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah sang ibu.
"Kamu mau kemana sayang," tanya si ibu sambil memperhatikan penampilan putranya itu.
"Bukan urusan mama," jawab Arlan ketus.
"Tidak sayang, mama minta maaf. Mama tidak tahu nak, kalau pagi tadi kamu wisuda kelulusan sekolah. Maafkan kami ya nak," pintanya dengan rasa bersalah yang dalam.
"Hah… maaf, tidak tahu… ckckck, itu sudah cukup menjawab, kalau mama sama papa tidak membaca pesan dariku sama sekali. Lalu apa peduli mama papa sih, dengan apa yang ingin aku lakukan, syit, sok perhatian. Urus saja bisnis mama papa sana. Jangan lagi pedulikan aku," Umpatnya dengan wajah merah, dan ia kembali berjalan keluar rumah.
"Arlan, tunggu nak…."
Tapi teriakan sang ibu tak membuat langkah Arlan terhenti.

Bab 6

0 0

#Sarapankata
#KMOBatch47
#kelompok9
#Day6
#jumlahkata638

Cerbung by Sulistiyana
Sekuntum Janji

Rossana berlari mengejar putranya yang masih terus mengayunkan langkahnya menuju kendaraan pribadi yang dikhususkan untuknya.
"Arlan… tunggu sayang. Iya… mama minta maaf, mama sangat sibuk, nak, tolong pahamilah," bujuk sang ibu.
"Oh, sibuk… ya sudah, mama urus saja kesibukannya mama. Aku bisa urus diriku sendiri. Bukankah memang sedari kecil aku terbiasa kalian tinggal sendiri," balasnya sambil terus berjalan.
"Jangan bicara begitu nak, kami begini juga buat kamu," ujar sang ibu.
"Oh ya… untuk apa? Uang… apa mama papa pikir hanya dengan uang aku bisa bahagia. Iya, ckckck… menyedihkan," balas Arlan dengan senyum sinisnya.
"Arlan… semua fasilitas yang mama papa beri, itu semua juga kan hasil kerja keras kami nak. Untuk semua kebutuhan hidup kamu," ujar sang ibu lagi. Tak mau semua kerja kerasnya tak di hargai oleh putranya.
Arlan menghentikan langkahnya, dan menatap nyalang sang ibu.
"Apa hanya demi semua itu, sampai mama tak punya waktu sama sekali buatku. Meskipun hanya sehari, untuk menghadiri acara kelulusanku," protesnya lagi.
Sang ibu terdiam, ia sadar, memang dirinya bersalah dalam hal ini. Dan melihat kediaman yang ibu, Arlan mendesis kesal.
"Sudahlah, bahkan sampai aku selesai sekolah sekarang. Belum pernah mama atau papa bertanya, apa kesulitanku, kebutuhanku, keinginanku. Yang papa mama tahu, semua uang kalian bisa membeli kebahagiaanku. Begitu kan, konsep yang tertanam dari kalian. Astaga… semua temanku berfoto di apit kedua orang tuanya. Tersenyum bahagia, anak-anaknya lulus sekolah. Mama papa… kemana? Bahkan tidak tahu sama sekali, kalau anaknya sudah lulus. Keren… hebat, konsep yang sempurna, ckckck," oceh Arlan. Tepat saat sang ayah datang mendekati mereka yang sedang berdebat.
" Jangan bicara semaumu kamu," protes sang ayah.
"Hahahaha, baiklah… aku ini akan selalu salah buat Papa. Bahkan berbicara saja pasti salah. Jadi, silahkan hidup dengan kehidupan kalian. Jangan urus kehidupan ku," tegas Arlan dengan mata yang memerah.
Ia memasuki kendaraan roda empatnya, dan berlalu begitu saja. Tak menghiraukan sang Ibu yang memanggilnya dengan berteriak kencang. Arlan melajukan kendaraannya dengan kecepatan maksimal. Ia tidak peduli, jika memang hidupnya harus berakhir saat ini juga, ia siap.
Matanya basah dan memerah, hatinya terluka dan terasa teramat perih di sana. Di dalam dadanya, bagai ribuan jarum sedang tertancap di sana.
"Aaaargh! Kenapa hidupku sesial ini!" pekiknya sambil menginjak rem dalam-dalam. Membuat kendaraan itu berhenti mendadak. Tepat, di jembatan besar, yang sangat sepi dan sunyi. Tangisnya pecah, sejak dua hari yang lalu perasaanya sudah tak menentu. Karena sang ibu dan ayahnya, tak kunjung membaca pesan darinya.
"Shila…! Aku cinta kamu!" teriaknya. Meluapkan emosi hatinya yang membuncah.
Ia masih menggenggam buket bunga dan box coklat itu. Berdiri di tepi jembatan, menatap gelap air sungai yang mengalir perlahan dari hulu ke hilir. Iya, hanya Rashila yang kini memenuhi isi hatinya, membuatnya bersemangat untuk hidup.
Keluarga, ia sudah sangat kecewa sedari kecil. Kemewahan yang ia dapat, tak membuatnya hidup layaknya anak lainnya. Ia selalu bermimpi, berjalan bersama ayah ibundanya, sejak taman kanak-kanak dulu.
Namun, setiap ia mengutarakannya, jawabannya selalu sama, "Arlan sama Bik Indah ya, mama papa banyak kerjaan. Kan mama papa cari uang buat Arlan, mm."
"Mama jahat! Papa egois! Shila! Kenapa kau menolakku! Kenapa…!" pekiknya kencang.
Ia menatap dalam sungai yang berair gelap itu. Dalam, dan terlihat sangat mengerikan. Arlan menarik nafasnya dalam-dalam, dan membuangnya perlahan.
"Iya, biarkan aku mati saja. Jika mencintai saja aku tak bisa, mendapatkan cinta pun tak mampu. Kematian lebih baik dari itu semua," gumamnya lirih.
Arlan menjatuhkan buket bunga dan box coklat itu begitu saja di lantai. Lalu anak muda itu, dengan tangan gemetaran, menaiki besi pembatas jembatan.
Tujuan utamanya adalah terjun ke bawah, dan mengakhiri hidupnya. Ia berhasil naik di atas pagar jembatan. Matanya terpejam kuat, dengan tangan menggenggam besi-besi kokoh itu. Tekadnya bulat, "aku harus mati, daripada hidup dalam kesendirian." ia sudah bersiap melompat.
Namun tiba-tiba, ada sebuah tangan yang menarik tubuhnya yang gemetaran. Hingga mereka jatuh bersama.
"Aaaa!" pekik Arlan ketakutan.

Bab 7

0 0

#Sarapankata
#KMOBatch47
#kelompok9
#Day7
#jumlahkata648

Cerbung by, Sulistiyana
Sekuntum Janji

Arlan menoleh cepat, menatap sosok yang menariknya sampai ia jatuh ke jalanan kembali.
"Shila," pekiknya dengan wajah tercengang.
"Kamu… hmmm, kalau aku tahu itu kamu, pasti aku biarkan saja kamu nyebur tadi, ck," dengusnya kesal.
Rashila beranjak meninggalkan Arlan kembali. Tapi, Arlan mengejarnya cepat. Ia menarik tangan Shila kuat. Hingga ia kembali bisa memeluk tubuh jangkung gadis tersebut, yang merupakan teman sekelasnya. Dan sangat ia idam-idamkan, setahun belakangan ini.
"Ish, lepaskan. Sudah sana lompat lagi, nggak akan aku halangi, tenang saja. Aman pokoknya, besok aku janji bakal melayat kok," ucap Shila santai.
"Tidak, kita harus bicara," paksa Arlan, tak mempedulikan ronta dari si gadis.
"Bicara apa, siapa kita, kenapa harus bicara," protes Shila sambil terus meronta dan memberontak.
"Lalu, apa maksudnya kamu menolongku barusan."
"Hah… nolong… hahaha. Kepedean banget kamu," protesnya lagi. "Aku hanya tahu itu bukan kamu, kalau saja aku tahu, kamu, ogah aku nolongin. Biar saja kamu mati. Biar nggak ada lagi cewek yang tersakiti, playboy," imbuhnya lagi dengan suara naik satu oktaf. "Lepaskan, aku mau pulang," paksa Shila terus memberontak dari pelukan Arlan.
Arlan melepaskan dekapannya, pupus kembali harapannya. Lebur bersama berlalunya angin malam yang berhembus sayu. Ia menghela nafasnya panjang, lalu menyeret langkahnya gontai, mundur.
"Baiklah, memang sepantasnya aku mati. Bahkan tak ada seorangpun yang tulus, mau menyayangiku," ujarnya dengan wajah kecewanya.
"Aaaah!" jeritnya kencang. Sambil mengacak kasar, rambut di kepalanya. Ia bersimpuh di jalanan, meluapkan lara yang terpendam dalam sanubarinya. Tangisnya pecah, buket bunga dan box coklat yang tergeletak tak jauh darinya, terlihat oleh Shila. Yang masih menatap bingung sosok Arlandika.
"Apa yang terjadi dengannya, kenapa ia terlihat begitu frustasi, kasihan," gumamnya penuh tanya.
Perlahan ia mendekat, dan melihatnya dengan lekat. Ada iba yang menghampirinya. Melihat sosok tampan, yang selama ini selalu tebar pesona. Tertawa bangga dengan ketampanannya. Saat ini menangis histeris, seakan ujung hidupnya akan habis terkikis.
Shila memungut buket bunga itu, lalu box coklatnya. Dan ia berjalan mendekati Arlan, yang masih meraung dalam tangisnya.
"Pergi! Pergi sana! Jangan dekati aku! Kalian semua jahat! Aku benci kalian!" umpatnya dengan wajah dan mata yang memerah.
Shila membuka box coklat yang ia pegang, setelah ia duduk bersila di samping Arlan. Lalu ia mengambil satu buah coklat, dan memberikan pada pemuda itu.
"Makanlah, coklat baik loh, buat mood booster. Aku sering memakannya, kalau pikiranku sedang kacau balau, cobalah," ujarnya sambil menyodorkan coklat itu pada Arlan.
Pemuda itu bergeming, tak mengambil coklat yang Shila berikan padanya. Tapi, tangisnya kini mereda. Shila menggerakkan coklat itu, berharap Arlan segera mengambilnya.
"Hai, ayo ambil, cobalah sedikit. Kamu akan tahu hasilnya, setelah mencobanya," paksa Shila.
Tak juga merespon, shila menempelkan coklat itu ke bibir Arlan. Pemuda itu mengangkat kepalanya, dan membuka mulutnya. Ia melirik Shila, yang mengulas senyuman padanya. Senyuman yang tak akan ia temukan selama di sekolah.
"Ngapain masih di sini. Katanya mau pulang," protes Arlan sedikit merajuk.
Shila terkekeh, melihat tingkah Arlan, yang baginya seperti perempuan yang sedang ngambek pada kekasihnya.
"Ngetawain aku?" protes Arlan lagi, merasa Shila sedang mengejeknya.
"Hahahaha, tidak seperti itu playboy. Aneh saja aku tuh. Kamu, yang biasanya dengan percaya diri godain cewek, berkelakar, dan selalu riang. Tiba-tiba menangis histeris, seakan kehilangan hal besar dalam hidupmu," jelas Shila jujur.
Arlan tertawa tipis, ia mengambil satu butir coklat lagi, dari pangkuan Shila dan langsung mengunyahnya.
"Iya, aku memang sedang kehilangan hal besar dalam hidupku," jawabnya pasti.
"Oh ya… kenapa? Mama kamu baru meninggal, atau papa kamu? Kok kami nggak tahu sama sekali. Memangnya nggak diumumkan di sekolah ya?" tebak Shila asal.
Arlan terdiam, ia memainkan bungkus coklat yang masih ia pegang ditangannya. Dengan wajah tertunduk dan helaan nafas yang berat. Ia tak kunjung membalas ucapan Shila.
"Mama Papaku masih hidup, tapi mereka sudah mati sejak dulu."
Shila menaikkan kedua alisnya, sambil menatap lekat Arlan.
"Maksudmu?" tanya Shila tak mengerti ucapan Arlan.
Arlan menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan.
"Mereka bukan apa-apa, yang sedang aku sesali adalah kamu," jelas Arlan sambil menatap lekat Shila.
"Apa?"

Bab 8

0 0

#Sarapankata
#KMOBatch47
#kelompok9
#Day8
#jumlahkata563

Cerbung by Sulistiyana
Sekuntum Janji

Arlan mengangkat wajahnya perlahan, lalu menatap Shila lekat. Sementara Shila membalas tatapan Arlan dengan penuh tanda tanya.

"Maksudmu apa?" tegas Rashila.

"Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku Shil, aku mencintaimu," jawabnya pasti.

"Hahahaha, sudahlah. Jangan ucapkan itu lagi padaku. Kalimatmu itu, sungguh membuat perutku mual. Nih makan coklat saja yang banyak. Biar bete kamu hilang," balas Rashila sambil menyodorkan kotak coklatnya pada Arlan.

"Kenapa kamu tak mempercayai ucapanku?" protes Arlan dengan wajah masam.

Rashila kembali terkekeh, sampai harus membungkam mulutnya yang tak mau berhenti tertawa.

"Bahkan aku belum pernah seserius itu, menyatakan cinta pada gadis-gadis lainnya," ujarnya lagi.

Berharap gadisnya itu akan mengerti, bahwa hatinya begitu tulus dengan perasaannya. Tapi, lagi. Rashila semakin terpingkal dalam tawa.

"Sudah dong melawaknya," ujar Shila yang akhirnya berhenti tertawa karena perutnya yang sudah kaku.

"Apa cintaku ini lucu bagimu Shil?" tanya Arlan dengan perasaan sedihnya.

Rashila akhirnya terdiam, ia menatap lekat wajah tampan si casanova sekolahnya itu. Angin malam mulai menyeruak, menyapa kulit tubuh mereka. Dan menghadirkan dingin pada dua insan tersebut.

"Sudah, berhenti membahas hal yang tak ingin aku dengar. Lebih baik kamu cepat pulang, hari sudah semakin larut dan dingin," ujar Shila mulai tak suka dengan tema pembicaraan yang Arlan utarakan.

"Tapi aku sungguh-sungguh ingin membina kisah baru denganmu Shil," tegas Arlan penuh penekanan.

Shila kembali menarik nafasnya, dan membuangnya melalui bibir tipisnya yang sedikit terbuka. Ia membetulkan letak jaketnya. Karena dingin semakin terasa menusuk di kulit tubuhnya.

"Aku benci hal semacam itu. Jadi, jika ingin mengobrol denganku, berhentilah membicarakannya," jawab Shila pasti.

Arlan menatap lekat gadis itu. Ia tak mengerti, kenapa gadis yang sangat dingin ini bisa berkata seperti itu. Padahal, tak sedikit ia menolak gadis-gadis yang menyatakan cinta padanya lebih dulu.

"Kamu, tidak suka pada laki-laki," tanya Arlan ragu-ragu.

"Hahahaha," kekeh Shila mendengar terkaan tentangnya dari Arlan.

"Kok tertawa," protes Arlan.

"Sudahlah, bukan hal penting bagimu bukan. Kita pulang, aku pasti sudah di tunggu Papaku dirumah," ujar Shila. Gadis itu sudah berdiri sambil menyimpan kedua telapak tangannya di dalam saku jaketnya.

"Tapi aku ingin tahu Shil, kenapa kamu tidak suka pacaran," tanya Arlan lagi, yang sudah berdiri di hadapan gadis itu.

"Hmm, bukan benci pacaran. Aku hanya tak ingin tersakiti. Karena cinta, hanya omong kosong yang banyak hal bisa saja hadir, dan bisa melukai perasaan si pemiliknya," jawabnya.

"Maksudnya," timpal Arlan yang tak mengerti arah pembicaraan Shila.

"Papaku sangat mencintai mamaku. Tapi, nyatanya mama tega mengkhianati papa, dan papa dengan mudahnya memaafkan kesalahan besar itu. Hah, aku benci hal tersebut. Munafik sekali bagiku, menyebalkan," tutur Shila meluapkan rasa sesak di hatinya. Mengingat hal menjijikkan yang ia alami di dalam keluarganya.

"Ya, begitulah cinta. Ia punya kekuatan untuk memaafkan, meski luka itu seluas samudra," jelas Arlan.

"Apa, ya ampun… males banget ya. Kenapa harus dimaafkan, itu kan menyakitkan. Sampai jijik aku melihat mamaku, tapi papa, bersikap biasa saja, seakan tak pernah terjadi apapun terhadap mereka," ucap Shila lagi.

"Aku akan setia untukmu Shil, aku janji."

Shila menoleh cepat, menatap Arlan yang sudah dengan box berbentuk hati, dengan sebuah cincin tersemat di dalamnya.

"Aku janji, tidak akan menyakitimu, seperti mamamu yang menyakiti papamu. Aku akan menjagamu selamanya," ucapnya lagi.
Dengan bertumpu lutut di tanah, ia menyodorkan cincin itu pada Shila. Gadis itu mengerutkan keningnya, menatap cincin indah yang ada di hadapannya itu.
"Jadilah tunanganku Shila, Rashila Diandra."

Berat rasanya saliva yang ingin Shila telan melalui tenggorokannya itu.

Bab 9

0 0

#Sarapankata
#KMOBatch47
#kelompok9
#Day9
#jumlahkata588

Cerbung by Sulistiyana
Sekuntum Janji

Malam dingin, yang temaram dan sepi itu, menjadi saksi dua insan yang sedang berbagi rasa. Bukan cinta, tapi dilema hidup yang mereka alami sejak masa-masa kecil mereka.
Sepoi angin malam tak terasa sejuk, tapi menusuk hingga ke tulang. Membuat jaket tebal Arlan dan Shila pun tak mampu menahan dinginnya malam itu. Shila berkali-kali mengusap-usap kedua telapak tangannya. Guna mengurangi rasa dingin yang menyeruak di tubuhnya.
"Brrr, dingin sekali ya, pulang yuk," ajak Shila. Yang sepertinya sudah tak sanggup bertahan berdiam bersama si casanova di atas jembatan kota itu.
"Tapi, aku masih ingin bersamamu, Shil," tolak Arlan.
Entah apa yang membuatnya sangat nyaman berada di samping gadis yang terkenal cupu di sekolahan tempat mereka menimba ilmu itu.
"Besok kita ketemu lagi. Ini sudah sangat larut, dan aku nggak kuat lagi. Dingin banget tau," protesnya.
Arlan ikut berdiri, dan meraih telapak tangan Shila. Lalu menggenggamnya erat.
"Jadilah kekasihku, Shil, aku mohon. Hanya kamu yang memaksaku bertahan sampai detik ini, please," rengek Arlan penuh iba.
"Jadi pacar kamu?" tanya Shila pura-pura tak mengerti.
"Calon istri, ya…," semangat Arlan membara. Mendengar jawaban Shila seakan ada lampu hijau untuknya. Shila menarik tangannya dari genggaman Arlan. Lalu menghela nafasnya panjang.
"Aku pikir-pikir dulu deh," jawabnya singkat.
"Shil… please," paksanya lagi.
"Apa sih, ini sudah larut, Arlan, kita harus segera pulang."
"Terima dulu cintaku, baru aku mau pulang," jawab Arlan menolak ajakan Shila.
"Jadi kamu mau bermalam disini, kalau aku tak menjawabnya sekarang?" tantang Shila.
"Iya, aku akan menunggumu di sini, sampai kamu datang menerima cintaku," jawabnya pasti.
Rashila tersenyum menyeringai, lalu berjalan pasti meninggalkan Arlan. Arlan tercengang, ancaman darinya tak berpengaruh pada gadis yang kini berubah penampilan, menjadi sosok gadis cantik bak bidadari.
"Shila! Tunggu!"pekiknya kencang, mengejar langkah Shila yang panjang dan lebar.
"Jawab dulu Shil, "rengeknya lagi.
"Tunggu saja tiga tahun lagi, aku akan memberikan jawaban itu nanti," balas Shila.
"Hah? Tiga tahun, astaga Shila. Jadi bangkai dong aku disini nungguin kamu sampai tiga tahun," protes Arlan.
"Siapa suruh nunggu di sini," balas Shila cetus.
Arlan terus mengejar langkah lebar Shila. Sampai mendapatkan kembali telapak tangannya. Dan ia genggam dengan begitu erat.
"Lepas, aku mau pulang," tepis Shila kuat.
Shila langsung masuk ke mobilnya. Mobil hadiah dari sang ayah, karena berhasil menjadi peserta didik yang terbaik. Arlan mengetuk kaca jendela mobil Shila. Gadis itu membukanya perlahan.
"Shil, coklatnya bawa ya, tinggal satu tapi. Besok, aku main ke rumahmu, boleh?"
"Tidak, tidak akan pernah boleh." tolaknya lantang.
"Kenapa? Kan cuma main," protes Arlan tak mengerti.
"Aku besok mau prepare, pekan depan, aku berangkat ke Australia. Jadi besok aku akan sangat sibuk sekali pasti," jelasnya.
"Kamu, mau kuliah disana Shil?" tanya Arlan dengan raut wajah sedih.
"Iya, aku capek ketemu Mama terus. Biar puas juga Mama menikmati kebusukannya. Pengen ganti suasana baru," jawa Shila dengan senyum mengembang.
"Terus, hubungan kita, bagaimana?" tanya Arlan dengan mata yang memerah.
"Hey, kamu itu playboy, nggak pantas cengeng begitu. Sudahlah, aku doakan, kamu dapat kekasih yang tulus sayang sama kamu. Dan, keluargamu, membaik hubungannya," balasnya.
"Tapi Shil…."
Mesin kendaraan Shila sudah menyala, gadis itu menatap Arlan lekat. Ada iba dalam hatinya, melihat wajah layu pemuda tampan itu.
"Sini, mana cincinnya tadi," pinta Shila.
Arlan menggeragap, ia dengan cepat mengambil kotak perhiasan yang ia simpan di kantong jaketnya. Dan memberikannya pada gadis itu. Wajahnya sumringah, dengan senyum indah di wajahnya.
"Aku akan pikirkan semua tawaran mu, besok malam, kita ketemu lagi di sini, pukul tujuh," ucapnya.
Kaca jendela mobil itu pun tertutup, dan roda menggelinding perlahan, meninggalkan Arlan yang berjingkrak kegirangan.

Bab 10

0 0

#Sarapankata
#KMOBatch47
#kelompok9
#Day10
#jumlahkata582

Cerbung by Sulistiyana

SEKUNTUM JANJI
Sinar sang surya mengintip dari balik celah tirai jendela kamar Rashila. Sementara gadis itu masih meringkuk di balik selimutnya. Tiba-tiba tirai itu tersibak, dan membuat sinar itu menyeruak masuk memenuhi kamar gadis itu.
"Papa… masih ngantuk. Jangan buka dulu tirainya," rengek Rashila manja.
Saat ujung ekor matanya, melirik ada sang ayah yang sedang menyibak tirai-tirai jendela kamarnya. Pria yang masih terlihat gagah nan tampan, di usianya yang tak lagi muda itu, mendekat dan duduk di tepi ranjang sang putri.
"Katanya mau cari sesuatu buat di bawa besok kalau mau berangkat," ucap Sang ayah.
Rashila merentangkan tangannya, menggeliat di balik selimutnya. Sambil menguap lebar yang tak ia tutup mulutnya, dan mata yang menyipit. Ia kembali menarik selimutnya dan bersembunyi di dalamnya.
"Sebentar lagi ya pa, tiga puluh menit, saja, oke," pintanya.
Sang ayah menarik selimut dari tubuh putrinya, sambil mencebik kesal.
"Tidak bisa, nanti sore papa sudah harus kembali ke Australia nak. Kita harus membagi waktu seefisien mungkin. Ayo cepat, bangun. Atau papa tidak akan menemanimu," ancam sang ayah.
"Ya sudah, Shila pergi sendiri nanti," balas Rashila tak menghiraukan ancaman sang ayah.
Suhendar menghela nafasnya panjang. Lalu berdiri dan berjalan ke pintu.
"Kalau tidak, pergilah bersama mama ya?" ujar sang ayah.
Rashila membuka selimutnya cepat dan nyalang menatap sang ayah.
"Apa! No way! Will never! Shila jijik jalan sama mama! Nggak mau…!" pekiknya dengan wajah memerah.
Suhendar menarik nafasnya berat, lalu membuangnya cepat. Ia menatap teduh wajah sang anak. Lalu kembali berjalan mendekati putri tersayangnya itu. Duduk di tepi ranjang, yang kini si putri telah duduk bersila dengan wajah cemberut.
Suhendar mengusap lembut bahu Rashila. Menatap lekat wajah ayu putri semata wayangnya itu. Dan, sekali lagi, ia menghela nafasnya berat.
"Shila, sampai kapan kamu akan menyimpan dendam itu, nak? Tidak baik menyimpan bangkai terlalu lama di hatimu," tutur lembut sang ayah.
Rashila kian nyalang menatap sang ayah yang justru dengan teduh membalas tatapannya.
"Papa itu terlalu lemah, kenapa bisa diam saja melihat mama begitu. Shila benci mama, benci…!"
Sang ayah sampai memejamkan matanya, menikmati pekikan kencang suara dari lengkingan teriakan sang putri. Dan tangis Rashila pecah begitu saja. Bayangan saat ia menyaksikan pergumulan sang ibu, dengan sopir pribadinya itu. Melintas begitu saja di dalam memori kepalanya.
"Shila kecewa pa, sakit… mama yang Shila banggakan, yang Shila sayang dengan segenap hati. Contoh dan panutan yang selalu Shila ikuti. Adalah sosok menjijikkan yang justru duri busuk yang hanya menjelma bak bidadari dan menggerogoti hati kita. Shila malu punya mama seperti dia, Shila tidak suka Pa…. "
Histeris dan meraung, suara Rashila memenuhi isi kamarnya. Sang ayah merangkulnya lembut. Mencium hangat puncak kepala sang putri. Dadanya seperti dihujam kembali dengan bodem besar, yang menghancurkan isi di dalamnya.
Tetes bening bak kristal itu kembali lolos dari kedua netra rentanya. Ingin sekali ia meraung dan menjerit lalu menangis histeris. Seperti yang putrinya lakukan. Tapi, ia tak bisa melakukannya. Ia tak ingin menunjukkan ke putri tercintanya itu. Betapa lemahnya dia kini, bahkan sang putri tak pernah tahu. Apa yang ia alami selama ini, selama tinggal di negeri kanguru itu.
Sungguh, ia menyimpannya sendiri, rapat dan tersembunyi. Tapi kali ini, luka yang melebur itu, seakan terbang, terbawa angin. Hanyut, terbawa air, dan luruh bersama tetesan airmata sang putri yang baginya begitu menyayat hati.
"Papa sudah menceraikan mamamu sejak lama sayang, maafkan papa, tak pernah membicarakan ini padamu," ungkapnya lirih.
Rashila mendorong tubuh sanga ayah, dan melepaskan pelukan itu cepat. Matanya nyalang menatap wajah sang ayah, dengan nafas yang seakan berhenti tiba-tiba.

Bab 11

0 0

#Sarapankata
#KMOBatch47
#kelompok9
#Day11
#jumlahkata704

Cerbung by Sulistiyana
Sekuntum Janji

Air dari langit runtuh dengan tiba-tiba. Membasahi bumi yang seakan haus guyuran penyejuk darinya. Sejuk dan dingin, dari aroma basah air hujan. Seharusnya menjadi penyejuk untuk setiap insan. Karena terik yang terjadi selama hampir satu bulan itu, cukup mengeringkan keadaan sekitar.
Namun, di mansion besar milik keluarga Suhendar. Panas itu kian meradang, kala Rashila akhirnya mengetahui sebuah kebenaran. Ia masih menatap nyalang sang ayah. Yang wajahnya tertunduk, penuh kesedihan.
"Lalu, kenapa wanita itu masih ada di sini, pa?" hardiknya penuh kemarahan.
Suhendar menghela nafasnya cepat. Ia mengangkat wajahnya, dan menatap sang putri lekat.
"Papa pikir, kamu sudah melupakan semua itu, nak. Dan, rumah ini, memang papa berikan pada mamamu, sebagai hadiah perkawinan dulu," jelasnya.
Wajah Rashila semakin memerah, tangannya mengepal kuat. Geram, sungguh hatinya sangat marah mendengar kenyataan yang sangat pahit, bahkan getir tersebut.
"Papa, kenapa tak pernah mengatakannya padaku, kenapa! Kalau saja Shila tau, dia bukan ibuku lagi…."
"Dia tetap ibumu Shila. Seburuk apapun perangainya, dia adalah wanita yang telah melahirkanmu. Ibu kandungmu," potong sang ayah.
Membalas nyalang tatapan putri tercintanya.
"Aaaarg. Jangan anggap aku putrinya! Shila jijik punya ibu senista itu, huaaaaa!" Tangis Shila menggema di kamar seluas 4x5 meter tersebut.
Suhendar menatapnya miris, perih itu seakan kian menusuk dalam kalbunya. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dengan cepat dan lebar.
"Rashila, ada apa nak, kenapa kamu menangis histeris begitu," pekik wanita cantik berambut coklat sebahu, yang tak lain adalah Indira—ibunda Rashila—istri Suhendar Bagaskoro.
Wanita yang tak lagi berusia muda, tapi penampilannya lebih mempesona dari Shila itu. Berjalan cepat menghampiri sang putri. Mendengar teriakannya, yang diiringi dengan teriakan kencang. Membuatnya juga khawatir terhadap putri semata wayangnya itu.
"Berhenti!" suara Rashila naik satu oktaf.
Matanya nyalang menatap wanita cantik nan seksi tersebut. Dengan telapak tangan terbuka dan menghadap sang ibu. Ia meminta sang ibu tak mendekatinya.
"Kamu kenapa, sayang…." Indira tampak kecewa dengan sikap putrinya, yang sebetulnya bukan hal baru baginya. Kebencian Rashila terhadapnya, sudah terlihat jelas sehari-hari. Bahkan, meski mereka tinggal satu atap dengan sang ibu. Rashila tak pernah bertegur sapa dengan sosok yang telah melahirkannya itu.
"Bukan urusanmu! Pergi!" teriak Rashila dengan wajah kian memerah.
Ia meraih bantal dan melempar kuat ke arah sang ibu. Suhendar memejamkan matanya kuat, menahan segala emosi yang sedang menguasainya. Indira mundur cepat, sehingga bantal yang Shila lempar tak mengenainya. Wanita itu hanya tercengang, menatap sikap sang putri yang kian menjadi, dan membencinya itu.
"Shil! Cukup!" bentaknya Suhendar dengan suara serak yang meninggi.
Membuat Rashila tersentak dengan teriakan sang ayah. Ini kali pertama, ia mendengar suara sang ayah, dengan intonasi yang begitu tinggi dan melengking. Gadis itu tercengang, sayapnya seakan patah seketika. Ada yang seakan runtuh di dalam dadanya. Genangan itu kembali tumpah dari kedua netra indahnya.
Tangannya meremas kuat, selimut putih yang masih menutupi bagian kakinya. Tatapan pilu, hanya di satu titik. Wajah sang ayah, yang teramat sangat ia cintai, sayangi dan begitu ia hormati.
Perlahan, wajahnya tertunduk, dan isak kembali memenuhi rongga dadanya. Sesak dan teramat perih ia rasakan. Tak lagi terlukiskan, entah seperti apa hancurnya di dalam sana.
Suhendar mengusap kasar wajahnya. Lalu tatapannya beralih ke Indira, dengan nyalang dan penuh kebencian.
"Setelah kami pergi dari sini, mungkin kami tak akan kembali. Cukup sudah sandiwara kita selama ini. Aku bebaskan kamu bersama piaraanmu itu," tegas Suhendar pada Indira.
"Apa? Apa maksudmu, mas? Aku tak mengerti," pekik Indira meradang. "Aku tidak mau bercerai! Sudah kukatakan berulang kali, mas! Aku istrimu, selamanya aku ini istrimu!" lantang dan penuh penekanan, Andira bersuara seakan kesetanan. Berteriak dan membentak.
Suhendar tersenyum miring, lalu ia berlalu dan keluar dari kamar Shila. Indira membuntutinya, dan berusaha meraih tangannya untuk ia genggam. Tapi pria itu melangkah dengan sangat lebar. Ia menuju ke ruang kerjanya, dan membuka laci mejanya. Mengambil sebuah map, lalu melemparkan kasar ke wajah Indira.
"Baca baik-baik, itu sudah finally. Tak ada lagi toleransi ataupun basa basi. Jangan lagi mencari kami, mengerti!" sentaknya lagi.
Indira membuka map itu dengan cepat, lalu membacanya dengan seksama. Sementara Suhendar sudah pergi dari tempat itu, setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Tidak….!"
Lengkingan dari teriakan Indira menggema di seisi rumah besar itu. Tubuhnya luruh, bersimpuh di lantai dengan perasaan hancur tak terbentuk. Ia masih menatap tak percaya, kertas yang ia pegang dengan tangan gemetarnya.

Mungkin saja kamu suka

Nur Maulidiyah
PASRAH DENGAN TAKDIR ALAM
Sartalenta
SABRATHENA
Jamini Efendi
Serpihan Hati Aira
Tazkirahmania
Merpati yang hilang

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil