Loading
30

0

18

Genre : Religi
Penulis : Fasilfia
Bab : 30
Dibuat : 26 Juli 2022
Pembaca : 7
Nama : Fasilfia
Buku : 1

Cahaya yang Memudar

Sinopsis

Cahaya. Ia merupakan hal yang penting dalam hidup. Membuat jalan yang akan kita pilih menjadi terang benderang, melihat dengan jelas tanpa ragu melangkah. Tapi, apa jadinya ketika cahaya itu lenyap? Apakah kita masih bisa berjalan tanpa ragu? Apakah kita yakin, kita tidak tersesat? Dan apakah kita yakin kita tidak berjalan menuju jurang kehampaan? Ketika banyak cerita yang mengisahkan tentang penjemputan cahaya, cerita ini menunjukkan bagaimana seseorang bisa kehilangan cahaya tersebut.
Tags :
#religi#mondok#kehilanganarah

Pertama

1 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 1

- Jumlah Kata 700



Matahari mulai meninggi, cahayanya berpijar menerangi setiap sudut di kota yang dijuluki kota kembang. Bayang-bayang benda mulai sama dengan panjang benda tersebut. Beberapa orang di depan sebuah rumah yang sederhana mulai masuk ke dalam mobil Travel. Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah.

Seorang gadis tengah memandang jalanan kota serta ruko-ruko yang berjejer di pinggir jalan. Ia merenungkan cerita yang terjadi sebelum ia akhirnya berada di dalam mobil ini. Perdebatan dengan kedua orang tuanya atas keputusannya menjadi polemik yang akhirnya disetujui oleh mereka.

Harapan yang sering ia panjatkan di keheningan malam. Harapan serta niat tulusnya untuk bisa menggali ilmu agama lebih dalam dan luas meninggalkan berbagai penawaran yang menggiurkan untuknya masuk ke Perguruan Tinggi elit.

Gadis itu menoleh menatap kedua orang tuanya yang sedang terlelap. Garis-garis lembut yang terlihat jelas di wajah mereka membuat hatinya sedikit terenyuh. Beberapa kali mobil terguncang karena lubang-lubang di jalan dan membuat penghuninya pun ikut terguncang. Gadis itu kembali menatap jalanan kota yang dijejali dengan berbagai macam pernak pernikahan ibu kota, seperti kemacetan.

“Shakila!“

Panggil seseorang membuat gadis yang bernama Shakila Adiba Alia menoleh dan mendapati sahabatnya tengah tersenyum dan menawarkan camilan kacang kepadanya. Namun, Shakila menggelengkan kepalanya dengan menarik kedua sudut bibirnya. Sahabatnya itu mencebikkan bibirnya dan masih setia untuk menawarkan makanan tersebut padanya. Shakila terkekeh, mengambil beberapa kacang dari dalam wadah dan mengucapkan terima kasih.

Shakila kembali merenungkan kembali perjalanan hidup yang akan ia tempuh. Ia dan sahabatnya sudah meyakini dengan sepenuh hati bahwa mereka akan melanjutkan pendidikan  di lembaga non formal. Ketika yang lain mengejar SNMPTN dan SBMPTN, mereka berdua mencari pondok pesantren salafi untuk melanjutkan hafalan yang telah mereka punya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mondok di sebuah pesantren yang ada di daerah Jawa Tengah. Hal itu yang membuat mereka harus mengalami pro kontra dengan kedua orang tua mereka.

Shakila pun memutuskan dalam hatinya untuk menimba ilmu dengan sungguh-sungguh. Mencari sebanyak-banyaknya supaya kedua orang tuanya tidak kecewa atas keputusan mereka mengizinkannya mondok yang terbilang jauh dari kediamannya.

Setelah masuk jalan tol yang sepi kendaraan, mobil Travel yang mereka naiki melaju dengan cepat. Kecepatannya di atas 60 Km/Jam, mungkin sekitar 70 Km/Jam. Shakila menebak-nebak kecepatan rata-rata mobil yang ia naiki. Jalan pun mulus tanpa hambatan, persis dengan makna dari jalan tol itu sendiri.

Beberapa jam kemudian, azan Zuhur berkumandang dari ponsel milik Shakila. Ponselnya menyala dan mendapati tulisan peringatan azan Zuhur. Beberapa orang yang berada di dalam mobil tersebut, menggeliat mendengar panggilan untuk salat tersebut. Termasuk kedua orang tua Shakila. Orang-orang dewasa yang berada di dalam mobil memutuskan untuk beristirahat sejenak mencari rest area di sepanjang jalan tol.

Beberapa meter setelahnya terdapat rambu yang mengatakan rest area dijumpai dalam radius 500 meter. Mobil pun mulai mengambil jalan di bahu kiri untuk mempermudah masuk ke dalam rest area. Beberapa menit kemudian, mobil pun telah masuk ke dalam rest area. Beberapa mobil berjejer rapi di parkiran yang dibuat menyerong.

Kedua keluarga itu pun turun dari dalam mobil. Warung-warung makan berjejer menghiasi tepi jalan yang dibagi dua. Terdapat pula beberapa supermarket yang jaraknya tidak begitu jauh dari supermarket yang satu dengan yang lainnya. Mereka berjalan mengitari area tersebut mencari masjid untuk mereka melaksanakan salat zuhur.

Mereka mendapati penunjuk arah menuju masjid, lalu mereka pun sampai di sebuah masjid yang cukup besar. Mereka pun masuk langsung pada tempat wudu yang terletak di bawah bagian samping masjid tersebut, hanya saja perempuan ke arah kanan dan untuk pria ke arah kiri.

Shakila yang telah selesai berwudhu masuk ke dalam masjid diikuti oleh sahabat dan ibu mereka. Begitu juga dengan ayah mereka yang telah menunggu untuk melakukan salat berjamaah. Takbir pun dilantunkan oleh ayah sahabat Shakila. Kemudian diikuti oleh makmum. Sebelum takbir dilakukan oleh Shakila, beberapa detik ia memejamkan matanya. Menghilangkan semua hal yang bersarang di pikirannya, fokusnya cuman satu. Ia akan menghadap sang Ilahi Yang Maha Agung. Baru setelah itu ia mengangkat tangan, mulutnya mengucap takbir pelan bersamaan dengan hatinya yang melafalkan niat.

Seketika, suara-suara yang ramai oleh orang yang mengobrol serta deru mesin mobil sudah tidak bisa ia mengerti. Ia mendengar keramaian tersebut, tapi dirinya seakan tertarik masuk ke dalam kesadaran yang berbeda. Layaknya orang yang tengah menikmati sebuah pemandangan dan termangu memandang keindahan yang tersaji. Sensasi itu hadir menyelimuti hatinya, sebuah ketenangan yang tidak bisa digambarkan oleh kata.


Kedua

1 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 2

- Jumlah Kata 704

- Revisi


Setelah selesai mereka pun berzikir, lalu mengangkat kedua tangan. Menengadah memohon ampun dan pertolongan.


“Naflah,“ panggil Shakila.


Sahabatnya itu menoleh menatap tanya. Pipinya yang tembam menambah siluet manis di wajahnya. Tatapannya menatap Shakila bertanya, seraya bergumam. Sekarang mereka tengah berjalan beriringan, tertinggal oleh kedua orang tua mereka yang sudah berjalan beberapa meter di hadapan mereka.


“Em... Enggak jadi.“ Shakila berucap seraya terkekeh, apalagi melihat sahabatnya itu menatapnya kesal. Lalu memutar bola matanya malas menanggapi sikap Shakila yang membuatnya gemas.


“Aku senang, kita bisa mondok bareng lagi.

Ngelanjutin hafalan kita dan tentunya aku berharap bisa mencari ilmu sebanyaknya di sana.“ Shakila berucap pelan dengan penuh harap seraya menyunggingkan senyumnya, menatap sahabatnya itu yang juga tersenyum hangat ke arahnya.


“Iya, aku juga. Aku harap, saat kita di sana. Kita bisa bersama-sama menghadapi setiap tantangan yang ada. Bagaimana pun, aku merasa bahwa perjalanan kita masih panjang dan terjal. Dan kita harus siap menghadapi itu, untuk bisa menjadi seorang hafizah. Iya, kan?“ Naflah berucap seraya memandang langit yang mulai mendung di atas sana. Menatap langit penuh harap dengan dengungan doa yang terucap di dalam hatinya.


Mereka masih berjalan beriringan, membicarakan banyak hal. Seperti sekolah dan pesantren mereka yang dulu, teman-teman mereka yang tengah sibuk mempersiapkan diri untuk ujian SBMPTN dan sebagian lain yang memilih bekerja setelah lulus SMA.


Mereka tidak pernah tahu tentang takdir yang akan membawa mereka pada jalan yang berbeda. Membuat mereka menjauh dan tentunya perjalanan yang tidak akan pernah terduga sebelumnya oleh Shakila. Yang beranggapan bahwa ia berharap menjadi pribadi yang lebih, lebih bisa mendekatkan diri kepada-Nya. Menafakuri setiap ilmu yang menggiurkan  baginya.


Dan pada akhirnya ia akan mempertanyakan kembali keputusan yang ia ambil. Keputusan yang awalnya ditolak tegas oleh kedua orang tuanya. Ia tidak pernah tahu, yang ia rasakan sekarang adalah kebahagiaan, ketenangan serta kemantapan hati. Jika ia berada pada rute terbaik untuk meraih impiannya.


Dua jam kemudian mereka pun kembali berhenti. Kini, di sebuah masjid dipinggir laut. Ombak menggulung menerjang batu-batu besar. Ombak itu pun pecah seketika. Shakila menarik dan menghembuskan nafas berulang. Dia telah sampai di salah satu kota di Jawa Tengah. Gamis berwarna biru dan senada dengan kerudungnya berkibar, tersibak oleh angin pantai yang berembus kencang. Gadis tersebut menarik kedua sudut bibirnya, menatap hamparan air biru yang terbentang tak berujung, dengan beberapa gugusan yang mengelilingi pantai.


Seseorang menepuk pundaknya. Shakila menoleh, kembali mengembangkan senyumnya. Sesekali deburan ombak yang besar, menimbulkan percikan-percikan air laut. Membuatnya berjalan mundur.


“Indah ya, pantainya?“ Naflah berucap seraya memandangi laut yang membiru, matahari mulai meredup, tidak sepanas siang hari. Shakila mengangguk penuh semangat.


Perjalanan dilanjutkan kembali, setelah selesai menunaikan salat asar dan makan. Tak lupa juga mengambil beberapa foto selfie. Di dalam mobil yang sebelumnya hening, sekarang menjadi lebih ceria. Membahas hal-hal yang lucu dan mengundang gelak tawa. Lalu berlanjut membahas masa lalu dari kedua orang tua mereka.


Tak lama kemudian, matahari mulai tenggelam, menyisakan remang-remang jingga. Shakila menatap takjub matahari terbenam dari balik jendela kaca mobil. Matahari itu berwarna oranye dan tinggal setengah. Terucap Masya Allah berkali-kali di dalam hatinya.


Satu jam lamanya, mobil pun berbelok menuju sebuah gerbang. Memasuki halaman, tempat yang mereka tuju. Pesantren di Jawa Tengah dan berdiri kokoh di seberang lautan yang tak pernah henti, mengirimkan suara ombak yang terbentur oleh batu-batu besar.


Bangunan di depan Shakila berwarna hijau muda dan enak dipandang mata. Bangunan berlantai dua yang lebar dan memanjang ke belakang. Halaman pesantrennya cukup luas, bisa memuat dua sampai tiga buah bus. Shakila kembali mengedarkan pandangannya, beberapa santri laki-laki tengah duduk di sebuah bangunan kecil di samping bangunan utama.


Mereka langsung berlarian, ketika Shakila, Naflah dan kedua orang tua mereka keluar dari dalam mobil. Sementara itu, bagian depan ditutupi oleh kerai bambu berwarna coklat. Dengan sebagian halaman depan, terdapat taman yang ditanami berbagai macam tanaman. Dan terdapat pohon mangga besar, hal itu membuat halaman lebih teduh.


Kedua orang tua Shakila dan Naflah mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Beberapa menit kemudian, barulah seorang pria paruh baya dengan janggutnya yang masih berwarna hitam keluar. Wajahnya cerah dan segar, serta berwibawa. Pria paruh baya tersebut, tersenyum menatap tamunya. Ia adalah Kyai di pesantren yang akan Shakila dan Naflah menuntut ilmu.


Setelah berbincang sebentar dan menawarkan untuk salat berjamaah terlebih dahulu di dalam pondok. Shakila, Naflah dan kedua orang tua mereka mengangguk seraya tersenyum.


Ke-tiga

1 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 3
- Jumlah Kata 708

Lalu pria paruh baya tersebut pamit untuk memanggil istrinya. Dan keduanya pun kembali. Seorang ibu paruh baya keluar dengan kerudung berwarna biru yang ia lilitkan menutup setengah wajahnya. Shakila yakin itu adalah ibu nyai.

Walaupun wajahnya tertutup sampai hidung, saat beliau tersenyum kedua pipinya tertarik ke atas. Beliau menuntun kami masuk melalui daun pintu yang berbeda. Sementara ayah mereka bersama dengan pak Kyai berjalan menuju samping pondok. Beberapa menit kemudian, terdengar suara azan memenuhi ruangan-ruangan pesantren. Menandakan waktu salat magrib telah tiba.

Bu nyai kembali pamit menuju ke dalam ruangan yang mungkin rumah beliau. Karena biasanya pak Kyai dan ibu Nyai tinggal di dalam pondok, supaya santri dan santriwati bisa terkontrol kegiatannya. Kemudian mereka disambut oleh santriwati yang tersenyum lembut menatap Shakila, Naflah dan ibu mereka.

Sesekali ibu Shakila dan Naflah bertanya ini dan itu kepada santriwati tersebut. Dan dijawab dengan lembut. Berbeda dengan Shakila yang masih asing dengan tempat tersebut. Setelah dari ruangan depan yang merupakan ruang tamu, terdapat kamar mandi yang berjejer dan terdapat lima sampai enam buah.

Santriwati yang bernama Farah tersebut mempersilahkan Shakila, Naflah dan ibu mereka untuk berwudhu. Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi. Shakila menautkan kedua alisnya, ketika mendapati bak kamar mandi yang memanjang. Dari ujung ke ujung kamar mandi yang berderet.

Airnya pun rasanya asin saat Shakila berkumur. Ia pun keluar dan mendapati Naflah yang baru saja keluar dari bilik kamar mandi yang lain. Naflah menghampirinya,

“Airnya asin ya?“ tanya Naflah dengan wajah cerianya. Shakila hanya mengangguk membenarkan.

“Mungkin, karena dekat dengan laut kali ya,“ Naflah kembali berucap seraya berjalan beriringan menuju Mushola yang telah diberitahu sebelumnya oleh Mba Farah. Shakila kembali mengangguk, membenarkan.

“Mba namanya siapa?“ tanya seorang perempuan dengan nada medoknya. Shakila memperkenalkan dirinya seraya tersenyum.

Beberapa orang, silih berganti menanyainya. Mengajaknya berkenalan. Begitu juga dengan Naflah. Mereka juga berbicara satu dengan yang lainnya menggunakan bahasa Jawa. Tetapi, entah kenapa Shakila mengerti pembicaraan mereka, walau tidak seluruhnya. Beberapa menit kemudian mereka pergi, menyisakan Shakila, Naflah dan Mba Farah.

Mba Farah sejak tadi menemani, Shakila dan Naflah. Setelah berpamitan penuh harus dengan kedua orang tuanya. Ibunya menangis terisak, saat memeluknya. Ayah Shakila sendiri, ia begitu tegar. Dan meninggalkan beberapa nasihat dan harapan untuknya. Agar Shakila bisa pulang ke kampung halaman dengan ilmu yang bermanfaat. Satu hal yang sangat teringat, ayahnya berharap Shakila bisa menghafal sampai minimal lima belas juz. Supaya bisa belajar ke Al-Azhar.

Mengingat hal itu, Shakila menghela nafas. Dengan tangan yang gesit memasukkan pakaiannya ke dalam lemari. Dibantu dengan Mba Farah yang menempeli dinding lemari dengan koran.

Satu harapan itu memang membuatnya bertambah semangat, namun entah kenapa Shakila merasa ia di sini bukan karena itu. Karena memang ia merasa dengan Al-Quran, hidupnya terasa berwarna, berbeda dengan hidupnya saat masa SMP. Mungkin prospek ayah dengannya berbeda.

Ia juga harus mengingat hal lain, ia hanya diberi kesempatan untuk mondok di sini. Dan entah tahun depan, apakah ia akan di sini? Atau menyelesaikannya? Ia berharap menyelesaikannya sampai tuntas. Ayahnya tetap menginginkan anaknya untuk berkuliah. Hal yang sangat pokok bagi ayah.

Walaupun begitu, Shakila mengepalkan tangannya. Dan meyakinkan dirinya, apa pun yang akan terjadi suatu saat nanti, yang Fifah yakini adalah untuk melakukan yang ada sekarang dengan baik. In Syaa Allah, masa depan adalah tergantung kualitas perbuatan yang ia lakukan pada masa sekarang.

“Kila!“ Mba Farah menegur Shakila seraya memperbaiki letak kacamatanya.

Shakila tersenyum canggung, ia pasti ketahuan melamun lagi.
“Ngelamunin opo?“ ucapnya lagi.

Shakila menggaruk kepalanya yang terbalut kerudung. Shakila menggeleng canggung. Mba Farah hanya terkekeh, lalu ia berdiri dan membenarkan sampingnya. Ia kembali menaikkan kacamatanya yang melorot.

“Mba tinggal dulu, ya. Kalian lanjutin beberesnya.“

Setelah mengucapkan tersebut, Mba Farah pergi dan menghilang di balik tangga.

“Kila!“ Naflah memanggil Shakila.

Shakila menoleh sebentar, lalu beralih pada barang yang akan ia masukkan ke dalam lemari. Lemari ini terdiri dari dua umpak yang lebar dan panjang. Cukup untuk 4 orang. Terletak lebih tinggi dari pinggang Shakila. Dan terdapat tiga lemari yang berdempetan dengan lemarinya.

“Ngelamunin apa kamu?“ tanya Naflah menyelidik.

Shakila menggelengkan kepalanya seraya menarik kedua sudut bibirnya. Naflah kembali berucap,

“Mba-mbanya baik banget ya?“

“Iya, tadi sampai dibantuin ngangkat barang-barang. Terus dikasih koran, ngebantu masangin koran juga,“ Shakila menjawab seraya tersenyum lega.

“Kalau ana masih keinget sama mamah, Kila. Kamu inget enggak?“ Naflah berucap sendu. Pergerakan Shakila terhenti, memikirkan ucapan Naflah.

Ke-empat

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 4
- Jumlah Kata 720

Shakila hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Naflah. Ia memang sedang mengulang kembali memori singkat perpisahan dengan kedua orang tuanya, namun bukan karena rindu, melainkan harapan-harapan yang membuatnya berat dalam memikulnya. Shakila terdiam beberapa saat seraya menatap jarum jam yang menunjukkan pada angka delapan.

Angin malam menyeruak masuk melewati celah-celah fentilasi udara. Shakila mengusap tangannya yang dingin. Suhu udara yang begitu panas di siang hari, sekarang berubah menjadi dingin karena angin pantai yang berembus.

Shakila menoleh pada Naflah yang tengah menata lemarinya itu. Pertanyaan itu terngiang, ada perasaan bersalah ketika ia tidak merindukan kedua orang tuanya. Sebab bagi dirinya, saat ini adalah yang ia tunggu-tunggu. Apa ia salah dengan sikapnya seperti ini? Dan berbagai macam spekulasi kepada dirinya, dengan merenunginya. Shakila tidak mendapatkan jawabannya, ia menggeleng lemah.

“Naflah!” Shakila memanggil temannya itu.
Naflah menoleh dengan kedua alisnya yang terangkat.

“Kita tidur sekarang atau nunggu mba-mba yang lain?” Tanya Shakila. Naflah terdiam beberapa saat, lalu ia berkata dengan seperti biasa, penuturannya yang lembut,

“Kita gelar dulu aja, karpetnya.“

Shakila mengangguk, lalu membantu mempersiapkan tikar mereka. Lebih tepatnya, tikar milik Naflah. Alas tidur yang mereka akan tiduri memang tidak memenuhi standar kesehatan, walaupun begitu tikarnya cukup tebal untuk menjadi alas tidur mereka. Karena beberapa yang mereka lihat sampai saat ini, para santriwati di sini tidak menggunakan kasur tebal seperti yang mereka pakai dulu.

Ruangannya cukup luas, memanjang layaknya aula. Dan mereka memilih untuk tidur di depan lemari mereka. Setelah itu keduanya duduk, hening sesaat. Mereka tenggelam dengan pemikirannya masing-masing. Hingga Naflah berbicara, menetaskan keheningan yang ada,

“Hmm, kangen sama HP. “

Lagi-lagi Shakila hanya mengangguk dan tersenyum. Kalau boleh jujur, ia sama sekali tidak rindu dengan ponsel pintarnya itu. Bukan karena tidak bermerek, karena yang sekarang ada di dalam pikirannya hanya belajar di sini. Kemudian Shakila menimpali, mengajak Naflah berbicara tentang hal yang lain.

Selang beberapa menit kemudian, beberapa orang masuk ke dalam kamar. Menyapa mereka seraya tersenyum. Dan mulai menggelar tikar secara tersusun. Dua sampai tiga orang mendatangi Shakila dan Naflah. Mereka bertiga belum muncul saat yang lain mengerumuninya.

Salah satu orang berkulit coklat dan sedikit berisi berbicara dengan menyapa terlebih dahulu.

"Mba, kenalin nama aku Sekar Ayu, " ucapnya dengan nada yang medok, tangannya terulur bergantian pada Shakila dan Naflah.

Kemudian orang yang berkulit putih mulai memperkenalkan dirinya. Namanya Zainab. Logat suaranya terdengar bukan seperti orang Jawa Tengah. Shakila menelisik. Tapi, masih belum bertanya. Setelah orang yang ketiga memperkenalkan dirinya. Baru, Shakila bertanya. Ia menatap tanya pada Zainab,

"Mba, bukan orang sini ya?"

"Eh, ko sampean weru?" Ayu menyeletuk. Shakila hanya tersenyum menoleh.

"Shuut! Mbanya enggak ngerti bahasa Jawa!" Ucap Linda memperingatkan, orang yang terakhir memperkenalkan dirinya.

"Iya, Mba. Saya memang bukan orang sini, tapi saya dari Cirebon," sekarang Zainab yang menjawab. Shakila mangut-mangut, walaupun tidak tahu daerah Cirebon di mana.

"Emangnya, mba tahu di mana Cirebon?" Tanya Zainab kembali. Shakila menggelengkan kepalanya dan tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih. Zainab mengerutkan keningnya.

"Terus, mba ko bisa tahu saya bukan orang sini?" Tanya Zainab kembali dengan kedua alisnya yang mulai menyatu.

"Ya, emang kelihatan beda, " Shakila menjawab sekenanya, karena memang apa yang ia dengar logatnya berbeda.

Di lain sisi, Naflah dan beberapa orang yang lain tengah mengobrol ria, mengajari Naflah berbicara bahasa Jawa. Sesekali mereka tertawa mendengar pengucapan Naflah, namun dengan logat Sunda. Atau sebaliknya, mereka diajari Naflah untuk berbicara bahasa Sunda, sama seperti Naflah, mereka pun mengucapkannya dengan nada medok. Dengan serempak, Shakila dan Naflah menoleh, lalu tertawa.

"Mba Kila sama Mba Naflah punya sarung kan?" Tanya seseorang yang umurnya lebih tua dari mereka. Shakila mengerutkan keningnya.

"Maksud Mba sarung perempuan?" Naflah memastikan. Perempuan dengan rambut panjangnya yang diikat satu tersebut mengangguk.

"Iya, bawa Mba. Bawa tiga," Naflah kembali menjawab.

"Sampeyan, Mba? Bawa enggak?" Perempuan itu menoleh, menatap Shakila yang terdiam.

"Iya, bawa Mba, " jawab Shakila seraya tersenyum.

"Berapa bawanya?" Tanyanya kembali. Shakila mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya seraya tersenyum.

Perempuan yang belum bisa Shakila ingat namanya, mengatakan kalau di sini, sehari-harinya sarungan. Jadi harus bawa sarung, terutama jika keluar dari kamar. Apalagi sampai ketemu sama Ibu Nyai, Shakila dan Naflah mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Tapi Mba, Kila masih belum bisa pake sarungnya," ucap Kila jujur dengan dua alis yang bertaut.

"Wis, tenang aja. Nanti diajarin, sama mba-mba di sini," ucap perempuan tersebut, kemudian menoleh pada Naflah.

"Sampean bisa?"
Shakila dan yang lain menoleh pada Naflah yang menakutkan kedua alisnya, menunggu jawaban dari Naflah.

Ke-lima

1 0

- Sarapan kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 5
- Jumlah Kata 703
- PR

Naflah mengangguk seraya tersenyum.
“Iya, Mba Ana. Naflah bisa, tapi enggak mahir kayak mba-mba di sini,” ucapnya.

“Ya, ora popo. Sing penting sampeyan bisa. Nanti Kila, mba ajarin caranya.”

Shakila menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan perempuan yang bernama Ana. Shakila harus mengingatnya, walau ia tak menjamin sebuah nama bisa selalu teringat dalam kapasitas otaknya.

“Oh, iya. Kalau belajar sama setoran hafalannya dimulai kapan mba?” Naflah bertanya dengan keningnya yang berkerut.

“In Syaa Allah, hari Rabu,“ jelas Ana. Keduanya mengangguk mengerti.

“Oh, iya. Kalian tahu kenapa dimulai belajarnya hari rabu?” tanya Ana kembali.

“Em, karena emang dimulainya hari rabu.” Shakila menjawab asal.  Ana menggelengkan kepalanya, membuat Shakila terdiam. Naflah pun menggeleng tidak tahu.

“Karena... Kalian cari tahu sendiri, tanya sama mba-mba yang lain. Hehe,” ucap Ana seraya terkekeh senang mempermainkan mereka, tidak menjelaskan dan menyuruh mereka untuk mencari tahu sendiri.

Naflah menautkan kedua alisnya sedangkan  Shakila terdiam dengan pikiran yang sudah mencari semua berkas ingatan yang ada, namun ia tidak mengingatnya. Ia merasa familiar dengan perkataan Ana.

“Wis, wis.. Enggak usah dipikirin, udah malem.
Lebih baik kalian tidur. Dan untuk kalian bertiga,” ucap Ana dan menoleh pada ketiga orang yang tadi menghampiri mereka. Ketiganya menatap Ana dengan menarik kedua sudut bibir hingga menampilkan deretan gigi putih mereka.

Ana berjalan mendekati sakelar yang terdapat di dekat pintu. Sebelum mematikannya, ia menoleh pada Shakila dan bertanya,

“Lampunya dimatiin ya.” Tapi, ditelinga Shakila terdengar seperti pernyataan bukan pertanyaan. Keduanya mengangguk, mengiyakan.

“Soalnya, kalau di sini lampu harus dimatiin, Kila. Biar hemat,” ucap Ana setelah melihat sekilas Shakila yang masih tertegun.

Selama ini Shakila jarang mematikan lampu atau bahkan bisa dihitung jari. Shakila hanya tersenyum seperti tertangkap basah, Ana pun membalas senyuman Shakila.

Setelahnya Ana menasihati mereka dengan bahasa Jawa, Shakila yang hendak menarik selimutnya yang berwarna merah jambu terkekeh pelan mendengar nasihat Ana kepada ketiganya. Naflah yang mendengar Shakila terkekeh menoleh, menatap tanya. Shakila hanya menggeleng pelan.

Dan benar saja, setelah Shakila selesai membaca ayat-ayat tertentu dan doa sebelum tidur. Ketiga orang tersebut belum beranjak dari tempatnya, Shakila menggeleng. Mempertanyakan tingkah laku mereka, tentang mengapa mereka tidak menuruti perkataan Ana yang tidak ada salahnya untuk diikuti. Bukannya perkataan Ana benar dan baik untuk mereka?

Sesaat muncul meremehkan ketiga orang tersebut, beruntungnya ia mengucapkan kalimat istighfar. Mengusir pikiran semacam itu yang hanya akan membuatnya merasa menjadi makhluk yang paling benar.

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bagai bom waktu bagi dirinya sendiri. Tidak ada yang pernah tahu seperti apa orang tersebut pada masa yang akan  datang, walau pada satu detik kemudian. Hanya Dialah yang tahu dan Maha Merencanakan.

????????????????

Shakila terbangun, ia mengerjapkan matanya berulang kali. Dilihatnya menatap samar langit-langit yang berwarna putih. Kamar masih gelap, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Masih belum ada yang bangun.

Shakila bangun dan duduk sebentar, lalu menatap jam seraya menelengkan kepalanya, menajamkan matanya untuk melihat jarum jam menunjukkan pada angka berapa. Pencahayaan bulan yang masuk lewat celah-celah fentilasi udara membantunya, ia bergumam “Jam tiga.”

Ia spontan tersenyum dan mengucap syukur di dalam hatinya masih dikasih kesempatan untuk bisa bangun pada jam-jam terbaik. Ia pun menoleh pada sahabatnya, dan menggoyangkan pundak sahabatnya dengan  pelan seraya memanggil namanya beberapa kali,

“Naflah!”

Setelah panggilan yang ketiga, perempuan berpipi bulat tersebut mengerjakan matanya. Ia bangun dan menatap Shakila, dengan suara paraunya ia bertanya,

“Jam berapa?”

“Jam tiga,” jawab Shakila seraya tersenyum.
Tindakan yang biasa ia lakukan adalah membangunkan sahabatnya itu, sejak mereka pesantren saat SMA. Atau sebaliknya, Naflah yang membangunkan Shakila untuk salat Tahajud.

“Belum pada bangun?” ucap Naflah heran. Shakila menggeleng seraya menyibak selimutnya, udaranya masih terasa dingin menusuk kulit. Tapi, ia sama sekali tidak peduli.

“Dingin ya, Kila.” Naflah kembali berucap. Shakila kembali mengangguk tanpa mengucapkan apa pun. Ia segera bangkit dan berjalan perlahan menuju kamar mandi di sebelah kamar.

“Mau mandi enggak?” Shakila bertanya seraya menoleh pada Naflah yang berada di belakangnya. Naflah menganggukkan kepalanya semangat. Berbeda dengan Naflah, Shakila mencebikkan bibirnya, ia mengeluh,

“Dingin, Naf.”

“Kan tadi aku udah bilang dingin,” jawab Naflah tidak menghiraukan tatapan melas dari temannya itu.

Naflah berjalan mendahului Shakila yang terhenti, di pundaknya menggantung sebuah handuk berwarna biru serta sebuah baju yang berwarna coklat. Lalu ia mengambil peralatan mandinya yang tersimpan berjejer di atas papan dengan peralatan mandi yang lainnya.

“Kamu beneran mau mandi?” Ucap Shakila masih tidak percaya.

Ke-enam

1 0

- Sarapankata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 6
- Jumlah Kata 705
- PR

Tadinya, Shakila hanya berniat untuk berwudu. Tapi, setelah mendengar penuturan Naflah yang mau mandi, ia menjadi ragu dan ingin mandi juga. Naflah menganggukkan kepalanya. Shakila menghela nafasnya, ia pun berkata ragu

“Mandi enggak ya?”

“Ya terserah kamu,” Naflah menjawab, walau ia tahu temannya itu tidak bertanya padanya melainkan pada dirinya sendiri.

“Ya udah deh, aku juga mau mandi,” Shakila pun memutuskan untuk mandi.

Setelah dipikirkan kembali, lebih baik ia mandi sekarang daripada nanti. Toh, mandi pagi bagus untuk kesehatan. Ia kembali berbalik mengambil handuk dan baju ganti di dalam lemari. Kemudian, Shakila pun masuk ke dalam kamar mandi setelah menenteng sebuah keranjang kecil berwarna hijau.

Setelah selesai, Shakila keluar dengan kembali menenteng keranjang di tangan kananya. Handuk tersampir di pundaknya dan tangan kirinya yang membawa sebuah ember berwarna hitam, yang ia dapat dari kamar mandi. Ya, Shakila telah mencucinya.

Shakila pun mendapati sebuah ember berwarna hijau, dan di dalamnya terdapat beberapa baju yang Shakila lihat, itu adalah baju milik Naflah. Shakila menyunggingkan senyum.

Ia pun kembali masuk ke dalam kamar, serta melihat Naflah yang sedang melaksanakan salat.

Tempatnya di samping tikar mereka. Shakila pun berjalan perlahan mendekati lemari, tak sengaja ia menubruk sesuatu, membuat beberapa benda yang di atasnya jatuh. Orang yang berada di dekat benda tersebut terbangun. Ia meringis, melakukan kesalahan.

Shakila menoleh dan mendapati seseorang berambut panjang bangun dan menatapnya. Ia hanya bisa menarik kedua sudut bibirnya. Malu. Dan mengucapkan kata maaf secara perlahan. Orang itu hanya mengangkat tangannya, menandakan ia tidak apa-apa.

“Kalian udah bangun?” Ucap seseorang dan lagi-lagi Shakila tidak mengingat nama orang tersebut, ditambah kamar yang gelap, dan hanya mengandalkan cahaya bulan.

Setelah sampai di samping Naflah yang tengah berdzikir. Shakila membentangkan  sajadahnya. Beberapa orang pun mulai bangun, masing-masing dari mereka ada yang menatap jam sebentar lalu tidur kembali. Ada yang langsung pergi meninggalkan kamar dan ada yang beranjak menuju lemari mereka.

Satu jam kemudian, terdengar beberapa lantunan solawat dari luar pondok. Lima menit berselang, baru kemudian lantunan solawat dari pengeras suara di kamarnya terdengar. Pondok yang tadinya lumayan hening, mulai riuh dengan suara gemercik air serta obrolan-obrolan dari para santri.

Setelah azan berkumandang, beberapa santri yang lain termasuk Shakila dan Naflah bergegas untuk pergi ke Mushola yang berada di lantai bawah. Dan mereka mulai mengisi setiap shaf shalat di mulai dari yang pertama.

Mushola yang disekat oleh dinding triplek, di sampingnya merupakan mushola untuk santri laki-laki. Tetapi, ada satu tempat yang mereka kosongkan dengan menggelarkan dua sajadah secara tumpuk, di dekat pintu menuju mushola laki-laki.

Shakila baru saja menyelesaikan salat sunnah sebelum subuh, lalu pandangannya tertuju pada satu tempat yang dikosongkan. Ia mengerutkan kening. Dan menoleh pada perempuan yang sama-sama memakai model dan warna yang sama. Langsung dan berwarna putih. Ia menepuk pundak orang tersebut pelan. Perempuan tersebut menoleh seraya tersenyum lembut.

Lagi, ia tak mengingat nama orang di sampingnya. Ia pun mengajukan pertanyaan tanpa ragu. Dan dengan senang hati, perempuan yang mempunyai lesung pipi tersebut menjawabnya,

"Itu untuk Ibu Nyai." Shakila ber-oh ria tanda mengerti. Ia pun mengangguk seraya tersenyum dan mengatakan terima kasih. Perempuan tersebut kembali fokus pada hafalannya.

Shakila ingat saat salat Isya, ia berada di shaf terkahir. Jadi ia tidak mengetahui hal tersebut. Setelah itu, Shakila mengambil mushaf di dekat jendela. Dan membuka halaman awal pada surah Al-Baqarah, mengulang hafalan yang belum bisa ia pegang saat Aliyah dulu.

Shakila sudah bertekad untuk mengulang kembali hafalan yang telah ia hafal dan ingin memegangnya dengan kuat. Hafalan yang mutqin.

Sebelum itu, menurut apa yang Shakila dengar. Ia harus menghadap Ibu Nyai untuk setoran hafalan, tujuannya untuk memperbaiki bacaan tajwid serta makhorijul huruf dalam membaca Al-Quran. Baru ia bisa menyetorkan hafalan pada Pak Kyai.

Setelah selesai melakukan salat berjamaah, berdzikir dan salaman. Ketika Ibu Nyai lewat, sajadah pun dilipat. Hal itu kembali membuat Shakila mengerutkan keningnya. Entah sudah berapa kali keningnya berkerut. Ia tidak tahu dan tidak peduli. Banyak hal yang tidak ia dapati di pondok dan malah melihatnya sekarang.

Ia menggelengkan kepalanya dan melipat sajadahnya. Pandangan Shakila tertuju pada Naflah. Ia mendekatinya dan menepuk pundaknya, membuat temannya itu terkejut dan reflek mengucapkan kalimat tahlil.

Naflah menoleh dan mendapati Shakila yang menarik kedua sudut bibirnya, lalu terkekeh pelan. Naflah mengerucutkan bibirnya kesal. Temannya itu jail sekali. Ia melangkah dan tidak menghiraukan Shakila yang memanggilnya dan berseru maaf padanya.

Ke-tujuh

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 7

- Jumlah Kata 710



Shakila menatap jam yang ada di hadapannya. Ia bergumam,

“Jam sembilan.” Setelah itu, ia kembali menatap mushaf Al-Qurannya dengan tubuh yang terbalut dengan mukena.

Dengan menatap setiap baris rangkaian huruf Al-Quran. Tak lupa, ia juga membaca artinya, mendalami dan memahaminya, supaya hafalan tersebut bisa ia hafal dan mengingatnya lebih lama. Dan ia baru menyadari, jikalau ayat satu sampai lima merupakan ciri-ciri dari orang beriman.

Ia merenunginya lebih lama, kemudian seseorang memanggil namanya, membuat renungan Shakila terhenti. Ia pun menoleh dan mengerutkan keningnya, mengingat-ingat kembali orang yang tengah berjalan ke arahnya. Naas, ia tidak mengingatnya. Perlu waktu yang lebih lama untuknya bisa mengingat tentang nama seseorang.

Shakila menyunggingkan senyum, karena orang tersebut sekarang tengah tersenyum ke arahnya. Berjalan perlahan mendekatinya.

“Kila, ayo ke bawah,” ajaknya. Shakila menaikkan salah satu alisnya.

“Ke mana Mba?” tanya Shakila.

“Ya, ke bawah, ojo dewekan,” ucap perempuan tersebut. Shakila hanya mengangguk seraya tersenyum. Tapi, enggan untuk beranjak dari tempatnya.

Shakila lebih suka menyendiri. Tapi, bukan berarti ia tidak suka berinteraksi dengan yang lain. Adakalanya, ia ingin menyendiri, menyelami setiap hal yang ada di dunia, merenunginya dan mengambil makna serta hikmah yang tersimpan. Dan rasanya itu membuatnya kembali menyadari tentang kenyataan, bahwa ia hidup di dunia dengan segala karunia yang ada.

“Yehh, ayo Kila!” Perempuan tersebut masih berusaha membujuk Shakila untuk ikut dengannya.

Melihat kegigihan perempuan yang ada di hadapannya, pada akhirnya ia melipat mukenanya, menyimpannya di sebuah lemari khusus mukena dan sajadah. Lalu ia mengikuti perempuan tersebut, yang telah berjalan terlebih dahulu. Shakila berjalan cepat untuk menyejajarkan langkahnya.

“Sampeyan kelingan jenengku?” Tanyanya.

Shakila menggeleng dengan tersenyum canggung. Tangannya refleks menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Perempuan tersebut menghela nafas.

“Moso, ora siih,” ucapnya gemas. Shakila lagi-lagi hanya bisa tersenyum.

“Nih, sampeyan inget-inget, ojo lali maneh,” lanjutnya. Shakila hanya terdiam menyimak, ia bisa mengerti apa yang disampaikan perempuan yang tingginya sebatas telinganya.

“Jenengku Yuli,” lanjutnya. Shakila mengangguk-anggukan kepalanya seraya mengulang-ulang nama tersebut, lalu menoleh menatap perempuan yang bernama Yuli.

“Sampeyan ngerti aku ngomong apa?” Tanyanya dengan langkah yang beriringan dengan Shakila, menuruni setiap anak tangga. Shakila kembali mengangguk seraya tersenyum.

"Hebat, sampeyan," Yuli berucap, memuji Shakila. Perlahan tapi pasti senyumnya hilang, ia menundukkan kepalanya.

Dalam hatinya ia kembali merutuki dirinya sendiri. Dan mengulang-ulang kalimat istighfar, saat pujian itu kembali membuatnya merasa itu adalah hal yang luar biasa.

Baginya pujian itu paling berat untuk ia terima, karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia sering mengatakan kalau ia hebat. Dan ia sungguh tidak menginginkannya, namun ia tak berdaya untuk menghilangkannya sebelum terucap dalam hati. Ia hanya mampu mengusirnya ketika hadir.

Ia kembali merenungi berapa beratnya itu. Dan akan sampai kapan ia bisa bertahan. Bertahan untuk menjadi orang yang biasa saja, menjadi orang yang tak terlihat itu sepertinya lebih menyenangkan.

Shakila menyunggingkan senyum, ketika mengingat hal tersebut.

Ia juga malah teringat tentang bagaimana para sufi bisa melewati kehidupannya dengan hanya terus beramal. Rabiah Al-Adawiyah terbesit di kepalanya.

Seorang perempuan yang cerdas lagi sholehah, apa ia bisa sepertinya? Seorang perempuan yang taat pada perintah-Nya. Shakila tersenyum miris mengingat hal tersebut.

Mereka melangkah menuju Mushola dan di dalamnya beberapa orang tengah berkumpul membahas sesuatu. Termasuk ada Naflah. Ia tengah membaca salah satu surah, yaitu surah Al-Fatihah.

Mereka pun duduk secara asal. Shakila baru mengerti bahwa temannya itu tengah menyetorkan hafalan kepada Farah. Seorang perempuan yang kemarin membantunya membereskan barang-barang.

Shakila tertegun saat mendengar sepenggal ayat yang diulangi oleh Farah. Suaranya indah, enak untuk di dengar dan dengan makhorijul huruf yang jelas.

Seseorang menepuk pundak Shakila, menyadari bahwa Shakila terpesona dengan suara Farah.

"Suaranya bagus, kan?" Ucapnya dengan nada yang medok. Shakila mengangguk semangat seraya menarik kedua sudut bibirnya. Menyetujui ucapan orang tersebut.

"Eh, sampeyan juga nyobain baca surah Al-Fatihah," kini Yuli yang berbicara. Shakila menoleh dengan kening yang berkerut.

"Kenapa?" Tanya Shakila.

"Sampeyan enggak ngerti?" Yuli balik bertanya membuat Shakila menggeleng lemah.

"Nanti tuh, bacaan surah Al-Fatihah sampeyan di tes sama Bu Nyai, biasanya santri sing anyar di simak dikit sama Mba Farah. Tau kan, kalau yang itu Mba Farah?" Yuli berucap panjang lebar. Shakila menganggukkan kepalanya.

"Lah, terus kenapa sampeyan ora kelingan jenengku?" Yuli bertanya frustasi.

Shakila hanya terkekeh, ia pun tidak mengerti tentang skema dia mengingat sebuah nama. Yuli menghela nafas.

"Mba, Shakila mau tanya, kenapa mulai belajarnya harus hari rabu?" Kilasan balik malam tadi, membuat pertanyaan itu terbersit dalam benaknya.


Ke-delapan

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 8
- Jumlah Kata 410

“Oh, itu, ya karena kata Pak Kyai bilang hari rabu, hari yang baik untuk memulai pelajaran. Ada ko, di kitab apa gitu, aku lali, jeneng kitab'e opo,” Yuli menjelaskan panjang lebar.

Shakila mengangguk tanda paham. Ia pun tersenyum menatap Yuli dan mengucapkan terima kasih. Yuli membalas senyuman Shakila.

“Kila!” Panggil Farah. Shakila segera menoleh dan mendekat pada Farah.

"Ada apa, Mba?"

"Ayo, dibaca surah Al-Fatihah, Mba dengerin, nanti sama Mba dibenerin, kalau ada yang salah," jelas Farah.

Shakila mengangguk dan mulai melafalkan nya. Setelah selesai membaca keseluruhannya, baru Farah mulai membenarkan apa yang salah pada bacaannya.

Shakila berusaha untuk menyamakan bacaannya dengan Farah. Tapi, Farah tetep menggeleng, bahwa bukan seperti itu yang benar. Dan perlu diingat, bahwa sedari tadi ia hanya mengulang-ngulang sepenggal kalimat, yakni Al-hamdu.

"Dalnya, jangan dipetik akhirnya. Coba " Da"," Farah mencoba untuk mencotohkan bagaimana pengucapan huruf Dal.

Menurut Farah pengucapan Dal, jangan sampai seperti ada huruf hamzah yang didukung di belakang. Shakila sendiri merasa tidak mengucapkannya seperti itu.

Shakila berusaha mengucapkannya kembali dan akhirnya berhasil. Keningnya berkerut, ia masih tidak mengerti perbedaan pengucapan huruf Dal yang terakhir dengan huruf Dal yang berulang kali ia ucapkan sebelumnya. Kemudian berlanjut untuk memperbaiki pada ayat-ayat setelahnya.

"Udah, nanti disambung lagi," ucap Farah.

"Aku mau murojaah, dikit, kalian dilanjutinnya nanti lagi, ya," ucapnya. Keduanya mengangguk patuh. Kemudian keluar dari Mushola.

"Kila! Jajan, yu!" Ajak Naflah yang sudah kembali ceria.

Shakila hanya mengangguk dan mengikuti sahabatnya tersebut. Mereka berjalan menuju sebuah koperasi di sebelah Mushola. Santriwati di sini, dilarang untuk keluar dari pondok. Kecuali, jika ada tugas untuk mengantar pulang pergi anak Bu Nyai sekolah.

Mereka telah sampai di ruangan tersebut, di dalamnya terdapat satu etalase yang memanjang. Di dalamnya berjejer makanan ringan dan beberapa peralatan mandi dan makan.

Setelah membeli beberapa camilan, keduanya beranjak dan mengisi gelas dengan air minum.
Mereka kembali berjalan menuju kamar, melewati anak tangga yang terbuat dari besi pegangannya. Beberapa orang yang tengah duduk di beranda kamar, melambaikan tangannya. Keduanya pun duduk dan ikut berkumpul.

"Mba'e jajan apa?" Tanya seorang yang berkulit putih. Shakila ingat, ia adalah Zainab. Naflah pun menyebutkannya.

"Tadi, kalian udah disimak sama mba Farah?" Tanya perempuan yang memakai kerudung berwarna biru. Keduanya kembali mengangguk seraya memasukkan camilan ke dalam mulut.

"Suara ne penak, geh?" Tanyanya.
Shakila mengangguk sedangkan Naflah menautkan kedua alisnya tidak mengerti. Melihat Naflah yang mengerutkan keningnya, seseorang yang berkulit gelap berkata,

"Maksudnya, suara mba Farah enak kan?"
Naflah ber-oh ria. Ia pun mengatakan, jikalau Farah memang mempunyai suara yang enak.

Ke-sembilan

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 9
- Jumlah Kata 593

Setelah melakukan salat berjamaah, Shakila kembali ke kamarnya. Kakinya melangkah, menaiki satu persatu anak tangga dengan mulut yang tidak berhenti mengulang hafalannya. Sesekali ia bertemu dengan yang lain, menyunggingkan senyum dan saling menyapa. Tak terasa ia telah berada di anak tangga terakhir.

Shakila menengadah ke atas, menatap langit yang berwarna biru muda dengan matahari yang berada di atas sana. Sinarnya begitu terik, menyilaukan kedua matanya membuat matanya sedikit menyipit.

“Kila!” Naflah memanggilnya. Ia telah berganti rok menggunakan sarung berwarna hitam dengan motif bunga-bunga berwarna biru, yang tersebar sembarang di bagian bawahnya.

Shakila mengerutkan keningnya. Ia masih mengenakan mukena. Naflah berjalan mendekati Shakila yang sekarang tengah menatap hamparan air laut di seberang sana.

“Kamu mau ikut nelpon enggak?” Tanya Naflah.
Shakila menoleh dengan kedua alis yang bertaut. Di detik selanjutnya, ia menggelengkan kepalanya. Baru satu hari setengah ia berada di tempat ini, tempat nun jauh dengan tempat tinggalnya, ia rasa belum saatnya untuk menelepon orang rumah.

“Hmm, aku juga enggak sih, cuman tadi mba-mba nawarin aku,” jelas Naflah. Shakila hanya menganggukkan kepalanya mengerti.

Shakila masih menatap deburan ombak yang menerjang pantai. Pemandangan yang jarang ia lihat di kotanya. Bandung. Jika di kotanya ia hanya melihat deretan rumah, kemacetan dan beberapa petak sawah yang menghijau saat musimnya. Kini, ia memandang lautan lepas di depan sana, ada yang menyelusup masuk ke dalam hatinya. Ia menyunggingkan senyumnya.

“Aku enggak nyangka, bakal ada di tempat ini. Mamah sama papa aku lagi ngapain ya?” Naflah bergumam.

Pedih rasanya mendengar ucapan Naflah. Entah kenapa ia malah merasa senang berada di sini, ia juga sama merasa asing dan tidak menyangka akan berdiri, menatap lautan yang sekarang warna ombak yang menerjang berwarna coklat.

“Kila! Ganti dulu mukenanya,” ucap Naflah yang menyadari Shakila masih mengenakan mukena. Shakila hanya menampilkan cengiran kudanya.

“Kila!” Naflah mengulangi.

“Iya, sebentar,” ucap Shakila tidak bergerak seinci pun dari tempatnya.

Naflah menghela nafas dengan menatap kesal sahabatnya itu. Naflah yang sudah gerah, karena satu menit berlalu, temannya itu masih setia memandang lautan lepas, kembali bersuara dengan kesal,

“Kila, ganti mukenanya. Nanti kotor.”

Shakila yang mendengar Naflah sudah mulai kesal kepadanya langsung pergi dari tempatnya dengan cepat. Takut temannya itu akan semakin jengkel padanya. Shakila terkekeh setelah sampai di dalam kamar dengan nafas yang tidak teratur.

“Sampeyan kenapa Mba?” Tanya seorang perempuan yang tengah menyisir rambutnya.

Heran dengan tingkah Shakila berlarian dari arah luar. Shakila hanya menyunggingkan senyum jenakanya. Dan menggelengkan kepala bahwa tidak terjadi apa-apa. Muncul ke usulan dalam benaknya, ia meminta perempuan yang ada di depannya untuk diam,

“Naflah! Naflah!” Shakila kembali berjalan keluar dengan memanggil Naflah dengan raut wajah ketakutan. Naflah menghampiri dengan raut wajahnya yang masih kesal.

“Apa?”

“Ada kecoak di dalem lemari kita,” ucap Shakila panik, namun masih sempat untuk membuka mukena, melipatnya dan menyimpan mukenanya. Naflah mengerutkan keningnya, menelisik raut wajah Shakila, ia tidak melihat temannya berbohong,

“Di mana?” Tanya Naflah dengan nada yang sedikit bergetar.

Shakila menarik salah satu sudut bibirnya, namun di detik berikutnya, Naflah kembali berucap membuat Shakila mengendurkan wajah takutnya,

“Kamu donk yang ambil, biasanya juga kamu yang biasa ngambilin kecoak.”

Shakila pun menurut dan pura-pura mencari sesuatu di dalam lemari dengan serius. Ia menghitung dalam hati.

Satu..
Dua..
Tiga..

“Ini Naf, kecoaknya.”

Shakila berucap dengan nada yang mengejutkan dan menyodorkannya ke depan wajahnya Naflah. Tetapi, temannya itu bergeming menatap sinis Shakila. Shakila kembali menampakkan cengiran kudanya dan mengambil langkah seribu untuk menghindari kekesalan Naflah.

“Kabuur,” ucap Shakila dengan intonasi yang sedikit lebih tinggi, namun dengan batas wajar. Shakila berlari kecil menuju lantai bawah.

Perempuan yang masih berada di sana hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku dua santri baru tersebut.

Ke-sepuluh

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 10
- Jumlah Kata 609

“Sampeyan kenapa, Kila?” Tanya Farah seraya mengerutkan keningnya melihat Shakila yang sesekali terkekeh dan dengan nafas yang tidak beraturan.

Shakila menggelengkan kepalanya seraya menyunggingkan senyumnya jenaka. Shakila pun mendekat pada sekumpulan mba-mba, di tengahnya terdapat piring seng. Piring tersebut berisi air yang berwarna coklat yang pekat. Salah seorang yang memakai kerudung berwarna merah muda menuangkan kacang ga*da dari dalam kemasan. Terdapat tiga buah bungkus yang dimasukkan. Ia pun menautkan kedua alisnya

“Kila! Sini cobain makan petis,” ajak yang lain. Perempuan tersebut menyuruh Shakila mendekat.

“Ayo, Kila, nang makan petis. Uenak. Sampeyan belum ngerasain ora?” Kini Yuli yang mengajaknya bergabung seraya menyendokkan kacang ke dalam mulutnya.

Petis?” Shakila bergumam dalam hati. Ia pernah mendengar nama petis. Dan ia ingat, petis itu saudaranya terasi. Makanan yang tidak ia sukai. Ia masih menatap empat orang tersebut, yang memakan makanan tersebut dengan raut wajah menggoda dirinya untuk mencoba makanan tersebut.

“Sampeyan tau petis kan?” Tanya Ana padanya seraya membenarkan kerudung merah mudanya yang tidak dipakai dengan benar. Kerudung tersebut hanya dililitkan seperti selendang di kepalanya. Begitu juga yang lain.

Shakila mengangguk seraya melipat bibirnya.

“Beneran?” Kini Farah yang bertanya seraya menatapnya tidak percaya.

Kemudian Shakila duduk di dekat Yuli. Dan berucap meyakinkan,

“Iya, mba. Kila tau, Kila tau petis.”

“Apa coba perbedaannya?” Ucap Ana mengujinya. Shakila mengerutkan dahinya beberapa saat, ia tidak menemukan jawabannya, namun dengan jelas ia tahu bahwa terasi dan petis itu berbeda.

“Emm... kalau bedanya, Kila enggak tau, tapi Kila yakin kalau petis sama terasi itu beda,” ucap Kila yakin.

Yuli pun menyodorkan sendok yang berisi sedikit air petis dan beberapa buah kacang. Shakila berpikir sejenak, kemudian mengambil alih sendok tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut. Saat cairan coklat yang pekat itu masuk, lidahnya mengecap rasa yang berbeda. Tapi, lidahnya mengajaknya untuk mencoba lagi. Enak. Dan ia rasa petis itu beda dengan terasi.

“Enak kan?!” Ucap Yuli puas dengan suara orang kepedasan. Shakila menganggukkan kepalanya.

Perempuan yang badannya sedikit berisi memberikan sendok kepada Shakila. Shakila menerimanya dan ikut menikmati kuah petis yang dicampurkan dengan beberapa camilan yang berbeda selain kacang. Shakila mengibaskan tangannya, kepedasan.

Ia segera berjalan menuju deretan gelas, mengambilnya secara acak dan mengisinya. Meminumnya hingga tandas. Ia kembali menghampiri keempat orang tersebut.

“Eh, Kila. Ajak Naflah ke sini. Cobain makan petis,” ucap Yuli pada Shakila. Shakila mengangguk dan berlalu menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua.

Shakila pun menghampiri Naflah yang tengah membereskan pakaiannya. Lebih tepatnya melipatnya kembali dengan rapi. Sudah tidak asing lagi bagi Shakila, karena Naflah sangat menyukai kebersihan dan kerapian. Ia perempuan yang giat dan mandiri. Jika dibandingkan dengannya, ia jelas kalah telak.

Dulu saat di pondok, setiap bulannya akan ada pengumuman lemari dan kamar terbersih. Dan Naflah selalu mendapatkan predikat lemari terbersih dan terapi, berbeda dengan dirinya yang selalu mendapatkan lemari terkotor, walau ia pernah mendapatkan predikat itu, namun hanya sekali.

Naflah yang mengetahui keberadaan Shakila, melirik Shakila dengan bibirnya yang masih cemberut. Shakila terkekeh melihatnya.

“Naf!” Panggil Shakila, lalu duduk di depan Naflah yang tengah memasukkan satu tumpukkan pakaiannya di dalam lemari. Pakaian yang terlipat benar-benar sama dari bawah sampai atas dengan kombinasi warna yang apik. Shakila menatap lipatan itu dengan kagum.

“Ayo makan petis,” ajak Shakila to the point.
Naflah berhenti dan menatap Shakila, menelisik matanya. Ia masih ragu dengan ucapan Shakila, karena baru saja ia dibohongi oleh temannya itu.

“Beneran?” Tanyanya ragu. Shakila mengangguk mantap.

“Ya udah, ayo,” ucap Naflah semangat. Dan langsung berdiri, karena ia telah selesai melipat pakaiannya. Shakila terkikik melihat reaksi Naflah. Shakila pun ikut bangun dan berjalan beriringan dengan Naflah.

“Kamu tau petis, Naf?” Tanya Shakila, ia memiringkan kepalanya. Naflah menganggukkan kepalanya.

“Iya, tau. Tapi, aku enggak pernah makan sih,” jelas Naflah. Shakila hanya mangut-mangut saja.

Ke-sebelas

1 0

- Sarapan kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 11
- Jumlah Kata 456

“Abah tindak,” pekik seseorang berkerudung hitam seraya mendekati Farah.

“Tenanan?” Tanya Farah sumringah. Ana, Farah dan
Yuli langsung masuk ke dalam kamar yang berdampingan dengan koperasi. Daun telinga mereka tempelkan ke dinding, Shakila dan Naflah yang memperhatikan mereka dengan tatapan bertanya. Mereka saling pandang. Tidak mengerti.

“Karo ibu?” tanya perempuan berkerudung merah muda tersebut.

“Kayaknya sih, iyo,” ucap perempuan itu kembali, kemudian ia kembali masuk ke dalam kamar.

“Udah biasa, mba-mba kayak gitu, nih ya, kalau abah sama ibu tindak, mba-mba wuuh seneng banget,” ucap seorang perempuan berkerudung merah muda memberi penjelasan.
Shakila dan Naflah mengangguk paham.

“Sampeyan tau bedanya terasi sama petis?” Tanya perempuan tersebut. Shakila dan Naflah kompak menggelengkan kepalanya.

“Sebenernya, petis tuh dibuat dari sisaan bahan bakune terasi,” jelasnya dengan nada yang medok. Wajahnya memerah menahan pedas.

Piring seng berwarna merah yang ada di hadapan mereka pun telah tandas. Ketiga orang yang tadi sedang menguping, sekarang sudah duduk kembali. Farah dan Ana terkekeh seraya melihat Shakila dan Naflah bergantian.

“Abah tindak pun di?” Tanya seorang perempuan berkerudung merah muda.

Shakila memandang lekat perempuan yang berisi tersebut. Shakila sedang mengingat nama perempuan tersebut. Hanya akhirnya yang bisa ia ingat. Si. Tapi, Tidak mungkin namanya hanya Si saja kan?

“Kila!” Naflah berbisik memanggil Shakila.
Shakila pun menoleh. Seraya menautkan kedua alisnya.

“Tindak tuh apa?” Tanya Naflah masih dengan suara yang berbisik pelan.

“Pergi, mungkin,” jawab Shakila menebak. Naflah ber-oh ria. Lalu ia pun melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan kembali mencolek Shakila, temannya itu sedang memperhatikan obrolan mba-mba yang menggunakan bahasa Jawa. Shakila kembali menoleh dan bertanya apa.

“Ayo, kita ke atas,” ajak Naflah. Shakila hanya mengangguk.

Shakila pun berpamitan. Perempuan yang berkerudung merah muda menahan mereka untuk lekas pergi, ia berjalan masuk ke dalam kamar dan kembali lagi dengan membawa satu botol penuh cairan pekat seperti saus, ia pun membawa plastik berukuran sedang dari etalase koperasi.
Perempuan tersebut memasukkan satu sampai tiga sendok petis ke dalam plastik. Shakila dan Naflah hanya menatap heran.

“Nih buat sampeyan-sampeyan karo mba-mba ning duwur,” ucap perempuan tersebut seraya menyerahkan plastik berisi petis pada Naflah yang terdiam, tidak mengerti. Ia hanya mengangguk dan tersenyum.

“Mba, enggak kebanyakan kah?” Ucap Shakila segan.

“Enggak, mba dibawain banyak sama emak,” jawab perempuan tersebut. Shakila ber-oh ria kembali.

“Iya, makasih ya mba,” ucap Shakila seraya menyunggingkan senyum. Setelah itu mereka berdua pun pergi menuju lantai atas.

“Ya, sampein juga kemba-mba yang di atas,” pekik perempuan tersebut yang masih bisa di dengar oleh mereka.

Setelah sampai, ternyata di dalam kamar sudah banyak orang yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang bercanda dan ada pula yang mengobrol. Seseorang yang tengah mengobrol dengan yang lain, tapi sesekali juga ia memurojaah, Quran tersebut menempel pada tangan kanannya.

Shakila menyunggingkan senyum melihat hal tersebut.

Ke-Dua belas

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 12
- Jumlah Kata 432

Setelah sampai di atas, mereka pun menyampaikan pesan mba berkerudung merah muda, yang ternyata bernama Desi. Naflah yang membantu Shakila menyebutkan siapa yang memberikan petis tersebut. Tak pelak, mereka pun langsung membuat petis dan merujaknya.

“Ayo Kila, Naf, nyobain petis,” ajak seorang perempuan yang bernama Maruna. Perempuan asal Papua.

Beberapa yang lainnya, mereka turun ke lantai bawah untuk mengambil peralatan dan membeli makanan ringan. Kila menggelengkan kepalanya, ia sudah rindu berduaan dengan Al-Quran.

“Enggak, Mba. Tadi Kila udah makan,” tolak Shakila. Kemudian berjalan pada rak khusus Al-Quran, dan mengambil mushafnya.

“Beneran?” Maruna kembali bertanya untuk meyakinkan Shakila. Shakila mengangguk yakin dan berlalu pergi ke lantai bawah, menuju Mushola.

????????????????

Hari rabu pun tiba, santri-santri yang tadinya santri-santri mulai menggeliat walau jam masih menunjukkan angka tiga dini hari. Begitu juga dengan Shakila dan Naflah mereka sudah bangun dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

Shakila kini sudah terbiasa mandi jam tiga pagi dengan udara dingin yang menusuk.

Lain halnya dengan mereka, kebanyakan santri di sini hanya menggosok gigi, wudhu, salat Tahajud, kemudian menyiapkan hafalan dan bacaan Al-Quran mereka untuk disetorkan pada abah dan ibu.

"Penyetoran nya, itu. Ada yang hafalan dan bin nazhor. Kalau bin nazhor itu yang setor bacaan Al-Qurannya saja," ucap Farah menjelaskan.

Shakila dan Naflah memperhatikan dengan saksama dan memasang telinga mereka lebar. Karena mereka kini berada di Mushola setelah selesai melaksanakan salat shubuh berjamaah, para santri pun tidak meninggalkan Mushola, mereka menunggu untuk giliran menyetorkan bacaan Al-Quran. Suara-suara dari mba atau kang santri pun terdengar bersahutan. Mushola pun menjadi ramai.

"Terus, na sing bacaannya wis bagus, nanti bisa maju abah. Tapi, na sing bacaan Quran'ne belum bagus, setor ke ibu disi," lanjut Farah menjelaskan seraya membenarkan kacamatanya yang kadang turun.

"Tapi, ibu pengennya kalian sama kayak santri yang lain, sing anyar-anyar setor disik ke aku," tambahnya.

Shakila mengangguk faham. Begitu juga dengan Naflah yang sekarang menarik kedua sudut bibirnya.

"Terus kita nyetorin apa, Mba?" Tanya Shakila.

"Nyetorin sing kemarin, Al-fatihah. Nanti awal setoran ke abah atau ibu, kalian dites bacaan Al-fatihah. Nopo Al-Fatihah? Kenapa enggak surat yang lain, tau sebabnya apa?" Tanya Farah menelisik keduanya.

"Ya, karena Al-Fatihah kan dipake buat salat, jadi harus bener bacaan Al-fatihahnya," Naflah menjawab mendahului Shakila yang hendak menjawab.

"Bener, iku. Nah, sekarang Naflah disik sing setor," ucap Farah. Naflah pun menggeser duduknya untuk berhadapan dengan Farah.

Selama dua minggu ke depan mereka berdua menyetorkan surah AlFatihah pada Farah. Membenarkan tajwid dan panjang pendeknya.
Karena hal ini pula, keduanya menyadari bahwa membaca Al-Quran itu tidak hanya sekedar membaca dan menghafalnya saja, namun harus tartil, entah dari makhorijul huruf dan mad mereka yang masih berantakan.

Ke- 13

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 13
- Jumlah Kata 841
- Revisi

Tiga hari lamanya, Shakila dan Naflah menyetorkan surah AlFatihah pada Farah, hari ini pada hari Sabtu, mereka bisa menyetorkan surah AlFatihah pada ibu Nyai. Pertama kali maju, tangan Shakila mendingin dan jantungnya berpacu dengan cepat. Selain itu, Shakila sedikit was-was, karena ia mendengar cerita dari santri yang lain bahwa ibu sedikit galak.

Shakila menepis pemikiran tersebut, menarik dan menghembuskan nafasnya. Dan selalu melantunkan surah Al-Insyirah. Naflah yang duduk di dekat Shakila berbisik,

“Deg-degan, aku.”

“Sama,” jawab Fifah dengan berbisik pula.

Hingga tiba saatnya, Naflah pun maju. Ia menyetorkan surah AlFatihah sesuai dengan arahan Farah. Sebelum menyetorkan surah tersebut, ibu Nyai bertanya beberapa hal mengenai nama dan apakah sudah pernah hafalan surah, berapa juz yang telah di dapat. Naflah menjawab lima juz. Ibu Nyai mengangguk, namun naas Naflah masih belum lulus surah AlFatihah.

Kini tiba giliran Shakila. Seperti halnya Naflah, Shakila pun ditanya-tanya, pertanyaannya persis atau sama halnya yang ditanyakan pada Naflah. Shakila berbohong mengenai hafalan, ia menjawab telah hafal tiga juz. Lebih tepatnya, ia memang hanya memegang tiga juz. Juz 30,1 dan 2. Selebihnya, Wallahu A'lam, mungkin jika disuruh mengulang, ia tidak akan mampu.

Shakila pun sama masih belum lulus. Shakila pun
beringsut mundur setelah mendapat beberapa petuah dari ibu Nyai. Naflah masih menunggu Shakila untuk keluar dari Mushola bersama, sebelum beranjak, ibu Nyai berkata,

“Iku, Kila, Naflah, belajar lagi sama mba Farah, gih.”
Keduanya mengangguk seraya tersenyum segan.

Lalu ibu Nyai pun memanggil Farah untuk mengajari Shakila dan Naflah, karena ketika menyebutkan huruf masih terdapat koma di akhirnya. Dan mereka pun kembali menyetorkan surah tersebut pada Farah.

“Ora popo, biasa kayak gitu, soalnya sampeyan-sampeyan orang Sunda,” lanjut ibu Nyai.

“Iyo, udah biasa kalau orang Sunda, belakangnya suka ada tanda petik, kayak ono hamza sukene di belakang. Uuh aku jadi keinget, biyen ono orang Aceh, mondok ning kene, ngulang-ngulang surah AlFatihah, tapi enggak lulus-lulus, sampe medal,” ujar Farah dengan intonasi rendah memberi tahu keduanya.

Setelah mengatakan itu, Shakila dan Naflah pun menyetorkan surah tersebut. Keduanya saling tatap saat mendengar ucapan Farah tentang santriwati dari Aceh. Shakila hanya bisa bergumam dalam hatinya,

“Sesulit apa pun sekarang, percayalah Kila! Akan ada kemudahan-kemudahan lainnya, bismillah.”

Dua minggu berlalu..

Rintik-rintik air hujan turun, membasahi bumi, di kala matahari sudah mulai tenggelam dan awan hitam yang menggulung, bertambah gelaplah sore ini. Riuh ramai saling bersahutan melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dari dalam pondok, seperti menerangi dan memberi tanda bahwa segelap apa pun hari, ayat-ayat Al-Quranlah yang menyinari hati setiap orang yang membacanya.

Dua hari setelah dinyatakan masih belum lulus surah AlFatihah, keduanya melanjutkan dengan menyetorkan hafalan juz tiga puluh. Dan sekarang Naflah telah mencapai surah Al-Ikhlas. Jangan ditanya, Shakila masih jauh tertinggal. Ada sepuluh sampai sebelas surah yang harus ia setorkan dan tidak mungkin hari ini ia setorkan semuanya.

Shakila hanya tertegun, di kala Naflah sudah ibu Nyai persilahkan untuk bisa maju menyetorkan hafalan pada pak Kyai. Tetapi, tetap saja harus menyetorkan terlebih dahulu surah AlFatihah. Surah tersebut sangat mulia, karena dibaca berulang kali dalam salat, dan sebuah penentu sah tidaknya salat, maka di pondok ini ia mengetahui bahwa bukan hanya sekedar hafal, namun juga harus tartil. Shakila tahu bahwa selain salah satu rukun dalam salat, surah tersebut merupakan induknya pokok Al-Quran, di mana semua isi pokok Al-Quran terdapat dalam surah Al-Fatihah.

Setelah selesai menyetor, ia beringsut mundur , dan berjalan menggunakan lutut untuk sampai keluar Mushola. Lalu menaiki tangga dengan hati-hati, karena lantainya basah sebab tempias dari air hujan.

Shakila melihat Naflah telah membuka mukenanya. Shakila menyunggingkan senyumnya, walau dalam hati ia juga ingin seperti Naflah yang akan menyetorkan hafalan pada pak Kyai. Shakila menggelengkan kepalanya, karena dalam hidup ini bukan apa yang ia mau, namun apa yang telah ia usahakan.

Sebenarnya, Shakila lulus terlebih dahulu, namun yang terlebih dahulu selesai, Naflah. Ia pun harus tahu, bahwa ini yang terbaik, jalani saja dan syukuri, karena ia pun sedang dalam proses menuju lebih baik. Shakila terus memperingati dirinya dan menenangkan hatinya, sebab Allah jauh lebih mengetahui apa yang terbaik untuknya.

Beberapa orang pun masuk, lalu menghampiri Shakila yang tengah membuka buku catatan. Ia mengulang lagi pelajaran aqidah yang tadi pagi disampaikan oleh ibu. Naflah turun ke bawah sebentar, mengambil jemuran.

“Mba Kila!”

Shakila pun mengalihkan perhatiannya dan bertatap tanya pada orang di sampingnya. Perempuan itu masih mengenakan mukena putih langsungan.

“Ada apa, Mba?”

“Mba Naflah udah bisa maju ke abah ya?” Tanyanya.

Shakila menautkan kedua alisnya seraya mengangguk pelan.

“Mba Kila belum selesai?”

Shakila mengangguk. Ia tidak ingin berbicara banyak, tapi sepertinya perempuan tersebut masih penasaran.

“Masa sih, Mba?”

“Iya,” jawab Shakila pendek.

“Harusnya kan Mba Kila udah bisa nyetor ke abah, kenapa Mba?” Tanya perempuan tersebut. Shakila mengernyitkan dahinya dan menggelengkan tidak tahu.

Dalam beberapa hal, Shakila menyadari bahwa surah-surah yang disetorkan kepada ibu Nyai tidak langsung banyak, tapi hanya satu sampai dua surah. Sementara Naflah langsung tancap gas. Shakila pun mengutarakan pikirannya. Perempuan itu mengangguk mengerti.

“Tapi kan, Mba, harusnya Mba duluan,” ucap perempuan itu kekeh.

Shakila menggelengkan kepalanya, tidak sanggup lagi mengatakan alasan lainnya. Karena ia pun tidak tahu apa, bagi Shakila ini yang memang seharusnya terjadi. Shakila mengabaikan perempuan tersebut. Dan kembali membaca catatannya.

Ke-14

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 14
- Jumlah Kata 499

Perempuan yang tadi terus bertanya kepada Shakila duduk di sampingnya. Lalu ikut membaca catatan buku yang dipegang oleh Shakila.

"Mba, aku juga belum bisa maju ke abah," ucapnya. Shakila menoleh dan menganggukkan kepalanya.

"Semangat, Mba Zai!" ucap Shakila menyemangati perempuan di sampingnya.

"Iya, Mba makasih," ucap Zainab seraya menyunggingkan senyum.

"Mba, aku ko takut ya mau nyetor ke abah," ucap Zainab dengan sendu.

Pasalnya, sudah menjadi hal yang biasa ketika mba-mba salah mengucapkan ayat atau dalam pengucapan makhorijul huruf, dinding yang menjadi pembatas santri perempuan dan laki-laki akan diketuk beberapa kali. Satu kali pelan, namun ketika kesalahannya tidak diperbaiki, maka akan menjadi keras dari ketukan yang awal. Kalau masih salah juga, akan disuruh mundur.

Shakila yang sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi membaca catatannya, menutup bukunya. Dan menoleh pada Zainab. Shakila menarik nafasnya. Lalu berucap dengan niat memberi semangat padanya, yang sama-sama santri baru,

"Nab!"

Zainab menoleh pada Shakila. Perempuan itu tahu, jika Shakila telah memanggil namanya, maka kata-kata bijak itu akan keluar dari mulut Shakila. Setidaknya ia tahu bagaimana Shakila dua minggu ke belakang.

"Emm.. Kenapa takut?" tanya Shakila pada akhirnya.

"Masa enggak tau sih, mba. Ya, gimana nanti kalau digedor mulu sama abah, kan malu. Akeh akang-akang lagi," jawabnya yang sedikit kesal.

"Menurutku, abah kayak gitu ya biar kita bisa. Karena kan setiap orang punya cara masing-masing dalam pembelajaran. Tapi, segitu mah masih wajar sih, coba kamu inget Umar bin Khattab dia juga seorang yang tegas dalam hal baik dan buruk, Abu Bakar yang bijaksana, Utsman bin Affan yang lemah lembut dan Ali yang berani," ucap Shakila bijak.

Zainab manggut-manggut mendengar penjelasan Shakila.

"Kalau mba berapa lagi surahnya?" Shakila bertanya, yang ditanya malah memajukan bibirnya.

"Masih banyak mba. Mba kan tahu, aku terakhiran surah AlFatihahnya," jawab Zainab dengan memberengutkan wajahnya.

"Ya, maaf. Kila kan enggak tahu, mba," ucap Shakila merasa bersalah.

"Aku enggak kesel sama kamu, mba," bantah Zainab.

"Terus kesel kenapa?"

"Andai dulu, aku masuk ke sekolah madrasah, mungkin sekarang aku bisa lancar baca Qurannya," kenang perempuan berkulit putih tersebut.

Shakila terdiam sesaat. Ia tidak sepenuhnya setuju atas gumaman teman barunya itu. Karena tidak semua orang yang masuk ke sekolah madrasah lancar membaca Al-Quran. Dan tidak semua orang yang bersekolah formal, tidak lancar membaca Al-Quran.

"Udah, kan sekarang mba lagi belajar," ucap Shakila menguatkan.

Shakila menoleh ke depan dan mendapati Naflah, ditangannya telah tersampir beberapa baju yang sudah kering. Perempuan yang berjalan anggun menghampiri Shakila, menatap tanya pada Shakila. Shakila hanya menarik kedua sudut bibirnya.

"Mba Zainab," panggil Naflah.

Zainab pun menoleh dan tersenyum dengan ceria.

"Eh, mba Naflah," ucap perempuan tersebut.

"Di bawah, dicariin sama mba Farah." Naflah memberi tahu.

Zainab pun mengangguk dan berucap pamit. Sedangkan Naflah, mengambil sajadah sebagai alas untuk melipat baju.

"Kila!" panggil Naflah.

Shakila menoleh pada Naflah seraya mengerutkan keningnya.

"Baju mu ambil sana, pas aku pegang udah kering kayaknya, kasian mba-mba yang lain mau jemur, enggak ada tempat," ucap Naflah memberi petuah.

Tanpa banyak menyanggah lagi, entah ada angin apa. Shakila segera bangkit dan turun ke bawah untuk mengambil bajunya.

Ke-15

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 15
- Jumlah Kata 455

Hari Rabu pun datang. Kini Naflah sedang menunggu giliran untuk menyetorkan surah AlFatihah. Shakila sesekali memandang Naflah sekilas, tidak terlihat raut cemas di wajah perempuan tersebut.

Shakila menarik kedua sudut bibirnya. Kini giliran Shakila yang maju ke Ibu menyetorkan surah-surah terakhir. Dan akhirnya Shakila diperbolehkan maju, namun nanti hari rabu depan. Shakila mengangguk, ia pun beringsut mundur, lalu keluar dari Mushola dan melangkahkan kaki menuju kamar atas.

Perempuan itu langsung melipat mukena nya dan menyimpannya. Rencananya sekarang ia akan mencuci baju. Shakila menoleh sekilas pada jam yang berdetak.

"Setengah lima," gumamnya.

Ia segera menyambar baju kotornya, lalu memasukkannya ke dalam ember.

Beberapa saat, ketika Shakila tengah mencuci, terdengar beberapa suara yang tengah mengobrol. Shakila tidak tahu siapa pastinya, namun suara ini sering ia dengar.

"Eh, mba Naflah ora lulus saiki?"

Shakila menghentikan pergerakannya. Andai ia tidak mengerti obrolan mereka, Shakila tidak ingin mendengar kelanjutannya. Shakila pun langsung ekstra cepat menyelesaikannya dan segera keluar untuk menjemurnya.

Setelah selesai menjemur. Shakila pun menyiapkan kitab dan buku pelajarannya. Hari ini adalah pelajaran nahwu yang diajarkan oleh Farah untuk menggantikan ibu. Menurut apa yang Shakila dengar, sekarang ibu akan tindak. Seraya menunggu Naflah naik, lalu makan bersama.

Shakila menoleh pada jam yang tergantung di atas. Sudah menunjukkan setengah tujuh. Shakila menutup bukunya, lalu turun ke bawah menuju Mushola.

Musholanya dalam keadaan lengang. Hanya ada beberapa mba-mba yang masih menunggu untuk setor bacaannya pada abah. Terlihat Naflah yang sedang disimak oleh Farah di sudut kanan Mushola. Shakila pun menghampiri keduanya.

"Udah selesai?" tanya Shakila setelah Naflah menyelesaikan bacaannya.

"Belum." Naflah menoleh dan berucap seraya menggelengkan kepalanya.

"Masih lama kah?" tanya Shakila kembali. Naflah menganggukkan kepalanya.

"Kalau mau makan, duluan aja," ucap Naflah.

Shakila menggeleng, ia memilih untuk menunggu temannya itu. Naflah menghela nafas.

"Sana duluan, tuh bareng sama mba Zai," ucap Naflah setengah mengusir temannya itu yang keras kepala seraya menunjuk pada Zainab yang sekarang sudah di ambang pintu Mushola. Melemparkan senyumnya kepada mereka.

"Iya, iya," ucap Shakila dengan nada setengah kesal, karena diusir oleh Naflah.

Shakila pun menghampiri Zainab yang memang mengajak Shakila juga untuk makan bersama.

"Mba'e," panggil Zainab pada Shakila.

"Apa?"

"Kamu tadi udah nyuci?" tanya Zainab.

Keduanya berjalan menuju ruangan khusus untuk makan dan masak mba-mba serta tempat untuk cuci piring. Ruangan tersebut terletak bersebelahan dengan koperasi yang terhalang oleh tembok penyekat tanpa pintu. Jadi untuk masuk ke dalam ruangan tersebut harus melewati koperasi terlebih dahulu.

Shakila mengangguk.

"Sama donk," ucapnya pendek.

"Eh, mba. Mba udah belajar sarungan belum?" tanya Zainab kembali. Shakila mengangguk, ia diajari Sarungan oleh Maruna.

"Em... Aku juga udah, tapi melorot aja, liat!" ucapnya.

Shakila pun menatap sarung Zainab yang hendak melorot. Perempuan tersebut menahan tawanya.

"Iih, kamu tuh malah diketawain, enggak lucu tahu!" Zainab berucap kesal, wajahnya sudah memerah menahan malu.

Ke-16

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 16

- Jumlah Kata 503


Dua hari berlalu, Shakila tidak setoran pada ibu dan belum waktunya ia setoran pada abah. Dan sudah dua hari berlalu, Naflah masih pada setoran yang sama yaitu Al-Fatihah.

Cahaya matahari merambat dan masuk melalui celah-celah jendela. Shakila pun melirik jam yang digantung di dalam Mushola. Jarum jam tersebut sudah menunjukkan angka tujuh, ia pun beranjak dari posisi duduknya. Melangkah keluar untuk mengambil wudhu.

Setelah kembali ia pun mengenakan mukenanya, sekarang Naflah tengah maju untuk setoran hafalan pada pak Kyai. Lalu terdengar suara ketukan yang keras.

Dug.. Dug.. Dug..

Kembali terdengar suara ketukan yang menggema seisi Mushola. Pak Kyai kembali membenarkan bacaan Naflah. Beliau juga menyuruh Naflah untuk membacanya lebih keras.

Shakila terdiam sesaat, lalu menggelengkan kepalanya. Ia pun mengucap takbir dan larut dalam salatnya.

Naflah menjauh dari tembok pembatas tersebut. Karena pak Kyai menyuruhnya berhenti dan minta diajarin lagi sama mba-mba yang lain.

"Mba-mba!" panggil pak Kyai.

"Enggih?" jawab salah satu santri

"Mba! Mba! Sekolahnya libur disi gih," ucap pak Kyai. Santri itu pun menjawabnya dengan sopan. Setelah itu tidak terdengar lagi suara pak Kyai, hanya langkah kaki yang berirama yang semakin menjauh dari Mushola.

Mba-mba pun bersorak senang karena sekolah diliburkan. Salah satu dari mereka yang telah menunaikan salat Dhuha langsung keluar dari Mushola dan menyampaikannya kepada mba-mba yang lain. Terdengar riuh dari mereka saling mengobrol.

Shakila yang telah selesai melaksanakan salat, menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum kecil dan langsung mencari keberadaan Naflah. Temannya itu sedang mengobrol dengan Farah, garis wajahnya terlihat, jikalau ia sedih bercampur kecewa.

Walaupun begitu, Shakila yakin kalau temannya itu tidak akan putus asa menghadapi kesulitan ini. Tiga tahun bersamanya, Shakila tahu Naflah adalah perempuan mandiri dan pintar. Tidak manja sepertinya.

Lagi, Shakila menghela nafas saat dirinya membandingkannya dengan temannya tersebut. Ia juga terus menasihati dirinya dalam hati, kalau masing-masing manusia mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Shakila pun mendekati kedua perempuan yang terpaut tiga tahun tersebut. Tangannya masih mendekap mukena yang terbalut dengan sajadah. Lalu dia duduk, keduanya pun menoleh bersamaan, Shakila menarik kedua sudut bibirnya lebar.

"Kila, ibu bilang kamu setorannya sore aja."

Shakila menautkan kedua alisnya atas pernyataan Farah. Melihat Shakila yang kebingungan, Farah pun kembali berucap,

"Itu kata ibu loh ya, sampeyan setor nya sore aja. Kelamaan kalah rabu."

Shakila menganggukkan kepalanya pasrah dengan raut wajah sedihnya.

"Mba'e!" Zainab datang memanggil hanya dengan kata mba, menghampiri ketiganya. Tentu ketiganya sama-sama mengerutkan keningnya.

"Sampeyan tuh manggil sopo?" tanya Farah menatap jenaka Zaenab.

"Yo aku manggil mba Farah," tukasnya.

"Eh, mba. Sekolah beneran libur?" tanya perempuan berkerudung coklat tersebut.

"Iyo."

"Nanti ajarin aku lagi ya, mba, aku masing ditegur sama ibu," ucapnya sedih.

Farah pun mengiyakan, lalu beranjak berdiri setelah pamit kepada ketiganya karena waktunya ia menyiapkan hafalan untuk sore. Ketiganya mengangguk.

"Mba! Makan yu!" ajak Zainab dengan senyuman cerianya.

"Aku salat dulu ya, mba. Tungguin," ucap Naflah dengan nada merengek.

Shakila terkekeh tanpa sadar, jarang-jarang Naflah berkata manja seperti itu. Naflah hanya menatap tajam Shakila. Shakila langsung menghentikan tawanya dan melipat kedua bibirnya, menahan tawa. Tak pelak juga dengan Zainab yang melakukan hal yang sama dengan Shakila.


Ke-17

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 17
- Jumlah Kata 458

Sore pun datang. Seperti biasa santri yang baru mau menyetorkan Al-Fatihah, setor paling terakhir. Kedua tangan Shakila sudah dingin, degup jantungnya pun berdetak tak beraturan.

Satu persatu santri telah selesai menyetorkan bacaannya. Dan beberapa orang mengirimkan satu kata mujarab "Semangat!", tentu saja Shakila dan Naflah hanya mengangguk. Ada juga yang menawarkan untuk di simak terlebih dahulu.

Tiba saatnya, giliran Shakila. Shakila menarik dan menghembuskan nafasnya. Mendekatkan diri pada tirai yang menghalangi. Lalu melantunkannya dengan keras.

Shakila memang terbiasa membaca Al-Quran dengan suara yang keras. Tetapi, hal itu hanya akan menjadi bumerang untuknya.

Tak ada suara ketukan dari seberang, sehingga Shakila pun melanjutkannya dengan degup jantung yang mulai tenang. Setelah selesai membaca surah Al-Fatihah, dua kali ketukan pun terdengar, menandakan penyetorannya harus berhenti.

"Dilanjut nanti, ya Mba," ucap pak Kyai pelan.

"Enggih," jawab Shakila.

Lalu beringsut mundur dengan tersenyum lega. Shakila pun berjalan keluar dan melangkah menuju lantai dua. Setiap langkahnya teriring ucapan Alhamdulillah.

"Eh, Kila!" panggil seseorang.

Shakila pun menoleh dan mendapati Yuli yang berjalan menghampiri Shakila.

"Piye? Sampeyan bisa?" tanya Yuli dengan senyum yang tak luntur.

"Alhamdulillah, mba. Bisa, nanti sabtu dilanjut lagi," jawab Shakila semangat.

"Alhamdulillah, eh sampeyan kuh ojo manggil aku mba. Kita kan seumuran," larang Yuli pada Shakila.

Shakila mengangguk seraya tersenyum canggung, kemudian langsung pamit ke kamar. Setelah sampai di atas pun seperti halnya mba Yuli. Shakila hanya mengangguk. Setelah selesai melipat mukenanya, Shakila pun termenung, dan bergumam di dalam hatinya,

"Naflah udah bisa belum ya?" Shakila menghela nafasnya.

Terbersit rasa di dalam hati Shakila bahwa bacaannya berarti emang lebih baik. Shakila menggeleng, berusaha mengusir perasaan yang tidak seharusnya ada. Tapi, ia melupakan salah satu cara yang paling penting dalam membersihkan hatinya.

Shakila pun turun ke bawah untuk menemui Naflah dan Shakila juga ingin tahu apakah Naflah sudah bisa lanjut pada surah berikutnya?

Setelah sampai di Mushola, ia pun mendapati Naflah yang tengah membereskan Mushola. Karena sekarang jadwal piket perempuan tersebut.

"Gimana Naf? Udah bisa kan?" tanya Shakila.

"Alhamdulillah, sekarang udah bisa Kila!" ucap Naflah lembut dengan nada bersemangat.

"Alhamdulillah." Shakila pun mengulangi hamdalah.

"Masih lama?" tanya Shakila seraya duduk di dekat pintu Mushola, memperhatikan pergerakan Naflah yang gesit membereskan Mushola.

"Udah, aku ke atas dulu ya, ganti mukena," jawab Naflah, lalu segera menaiki tangga menuju lantai atas.

"Eh, Mba Kila!" panggil Zainab di luar Mushola.

"Iya."

"Gimana rasanya setoran ke abah?" tanya perempuan tersebut.

"Deg-degan," jawab Shakila.

"Aduhh, nanti aku gimana ya Mba?" tanya Zainab dengan raut sedihnya.

"Bisa, jalani aja dulu, hadapi," ucap Shakila memberi semangat.

"Mba ayo bareng," ajak perempuan itu kembali.

"Aku nunggu Naflah," tolak Shakila.

"Oh, ya udah, aku duluan ya Mba."

Setelah mengucapkan tersebut, Zainab pun beranjak meninggalkan Shakila yang sendirian di dalam Mushola. Santri yang lain pun sekarang sudah di ruang makan, berkumpul menunggu adzan berkumandang.

Ke-18

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 18
- Jumlah Kata 414

Ana beringsut mundur setelah membacakan kitab kuning Jurumiyyah dengan tulisan Arab yang tidak mempunyai harakat. Serta memberikan arti menggunakan bahasa Jawa.

Shakila menatap kagum Ana yang tengah menundukkan kepala. Setelahnya, Shakila langsung menatap kitab Jurumiyyah yang masih bersih, tidak ada harokat dan arti.

Benaknya bertanya-tanya mengenai cara memberi harokat pada Arab gundul di hadapannya. Karena di akhir katanya, ada yang menggunakan fathah, ada yang menggunakan kasroh, sukun dan dhommah.

Ibu Nyai pun mulai menjelaskan salah satu bab di dalam Jurumiyyah. Keningnya sedikit berkerut mendengar penjelasan Maf'ul Bih yang sama halnya seperti objek dalam menyusun kalimat di dalam bahasa Indonesia. Menatap penuh selidik pada papan tulis putih di hadapannya.

Pelajaran pun selesai, sebelum beranjak pergi, ibu Nyai memberikan beberapa wejangan kepada santri baru untuk bisa krasan di pondok. Beliau tersenyum singkat. Shakila, Naflah dan Zainab mengangguk dan membalas senyuman ibu Nyai dengan  sungkan.

????????????????

"Kila! Kamu ngerti sama penjelasan ibu tentang Maf'ul bih?" tanya Naflah pada Shakila dengan alis yang bertaut.

Shakila mengangguk singkat. Matanya masih berkutat pada lembaran catatan di depannya.

"Aku enggak ngerti, gimana cara bedain itu Maf'ul bih atau bukan?" tanya Naflah frustasi.

Shakila pun menoleh, dan tersenyum tulus lalu menjelaskan kembali secara jelas sesuai dengan bahasanya sendiri. Terkadang Shakila juga kesulitan dalam menjelaskan.

"Mba, lagi pada ngapain?" Zainab muncul dengan kerudung hitamnya yang sudah tak berbentuk. Keduanya menoleh.

"Ini ngebahas tentang yang tadi," jawab Naflah. Zainab mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menghampiri dan ikut duduk, perempuan itu berkata dengan nada kesalnya,

"Ia aku juga sama, enggak ngerti."

"Aku mau nyuci dulu ya," ucap Naflah seraya beranjak pergi meninggalkan keduanya.

Shakila menoleh. Ia pun ingin mencuci baju juga. Shakila menutup bukunya, lalu menoleh pada Zainab,

"Zai, embernya ada yang kosong enggak?" tanya Shakila dengan penuh harap. Pasalnya ember punyanya masih terisi oleh cucian orang lain dan sedari kemarin belum juga kosong. Entah siapa yang memakainya, membuat Shakila jengah melihatnya.

"Kalau enggak salah, ada, tapi yang kecil mba," jawabnya membuat mata Shakila berbinar, senang.

"Alhamdulillah," ucap Shakila dengan penuh syukur. Ia pun meninggalkan Zainab yang terduduk sendirian. Zainab mengangkat bahunya pelan.

Melirik kanan dan kiri, Zainab pun berencana untuk merapihkan lemarinya yang sudah acak-acakan layaknya kapal pecah. Zainab membuka lemarinya yang berada di samping lemari Shakila dan Naflah. Perempuan itu mendesah pelan melihat pemandangan lemarinya yang akan menguras tenaganya hari ini.

Di lain tempat, Shakila sudah memasukkan baju kotor ke dalam ember kecil yang kosong, tadi ia pun berpapasan dengan Naflah yang mengatasinya, "Ikut-ikutan. Tentu saja Shakila hanya nyengir, karena perkataan temannya itu tidak salah.

Ke-19

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 19

- Jumlah Kata 471

Dug.. Dug.. Dug..

Suara ketukan tongkat kembali terdengar. Ketukan tersebut terdengar tepat di belakang Shakila. Shakila mengerti bahwa itu bukan untuk dirinya, namun tak dapat dipungkiri ia juga sedikit terganggu.

"Iki ko malah meneng?" ucap pak Kyai.

Shakila menghela nafas, karena ia pun terdiam bukan karena tanpa sebab. Konsentrasinya terpecah, membuat ia sedikit ragu ketika akan melanjutkan ayat yang selanjutnya.

Dug.. Dug. Dug..

Lagi ketukan itu terdengar. Kini Shakila memejamkan matanya berusaha konsentrasi untuk menuntaskan halaman terakhir.

"Disimak lagi sama mba yang lain," ujar pak Kyai membuat perempuan yang dibelakang mengangguk lalu berdiri dengan pasrah.

Dug.. Dug..

Dua kali ketukan terdengar. Shakila pun mengakhiri bacaannya. Ia beringsut mundur, tangannya sibuk membolak-balikkan halaman.

"Kila! Jangan lupa, piket di kamar bawah," ucap Ana seraya menepuk pundak Shakila. Perempuan itu pun mengelus dadanya karena terkejut.

"Iya, Mba. Kila, lepas mukenanya dulu," ucap Shakila seraya menoleh pada Ana yang sekarang tengah mengobrol dengan yang lain. Ana mengangguk.

"Iyo, iyo.." Ana mengiyakan.

Shakila pun segera melangkah menaiki tangga. Setelah sampai di atas ia mendapati Naflah tengah mengobrol ria dengan Zainab dan tiga orang lainnya.

"Udah selesai?" tanya Naflah seraya menatap Shakila. Shakila mengangguk singkat.

"Ayo makan," ajak Naflah.

"Duluan aja, Kila mau piket dulu." Shakila menolak dan segera melipat mukenanya dan menyimpannya. Dalam kegiatannya, terbersit lagi pikiran negatif yang tidak patut dicontoh,

"Naflah ko santai banget? Kenapa enggak dipake buat belajar sama mba-mba yang lain."

Kemarin sehabis salat Ashar berjamaah, Naflah kedatangan tamu. Alhasil, perempuan itu tidak menyetorkan hafalannya. Shakila menggelengkan kepalanya. Ia tidak berusaha mengusirnya, dan terus berspekulasi dengan pikirannya sendiri.

Shakila lupa bahwa tidak seharusnya ia mencampuri urusan orang lain. Dan tidak semestinya langsung mengatakan orang lain seperti itu. Apa yang kita lihat di luar belum bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya tersimpan di dalam.

Shakila segera turun ke bawah lalu menemui Ana yang sudah melakukan kegiatan menyapu. Ana menoleh sebentar dan menyunggingkan senyumnya. Perempuan itu berkata,

"Kamu sing ngepel ya, Kila."

Kila mengangguk tanpa membantah. Ia menyadari kalau ia terlambat. Setelah Ana selesai menyapu, Shakila pun segera menyambar alat pel yang teronggok di luar kamar. Mengepel nya dengan serius dan sekuat tenaga. Ia juga sudah berusaha untuk mengepel nya dengan cepat.

Tapi, lima belas menit berlalu. Ia baru selesai mengepel. Jam sudah menunjukkan waktu jam lima lebih sepuluh menit. Ia menghela nafas dan bergumam,

"Kenapa kamu lelet banget sih, Kila!" Shakila bergumam sendiri, beruntung kamar tersebut kosong ditinggal para penghuninya.

Ana pun telah pergi, pamit untuk makan terlebih dahulu. Shakila tentu hanya menganggukkan kepalanya. Shakila segera menggantungkan lap pel di kap stok yang berada di pinggir tempat wudhu.

Koperasi dan Mushola pun terlihat kosong, sepertinya santri-santri tumpah ruah di ruang makan. Pasalnya, makanan yang sekarang di hidangkan berasal dari ibu Nyai. Ikan bakar. Tentu itu adalah hidangan yang spesial dari hari-hari sebelumnya, yang biasanya mereka makan tumis terong yang terkadang tidak ada rasannya.


Ke- 20

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 20
- Jumlah Kata 519

Dua minggu berlalu...

Sekarang Shakila tengah menatap hamparan air laut yang masih membiru, dengan membawa kitab tafsir Al-Qur'an Al-Jalalain yang sedikit tebal. Perempuan itu menutup matanya seraya merasakan angin pantai yang menerpa pipinya. Sejuk.

Shakila mendongak menatap matahari yang perlahan mulai turun. Bibirnya menipis, pemandangan alam yang tidak pernah terbayangkan akan ia lihat.

"Kila!" seseorang memanggil dan menepuk pundaknya.

"Astaghfirullah, kaget aku." Shakila reflek mengucapkan  Istighfar, lalu menoleh pada orang yang menepuk pundaknya.

"Mba, kalau manggil tuh pelan, aku keget," ucap Shakila kesal. Lalu kembali menatap pemandangan yang ada di depannya.

"Ya, maaf. Eh, Kila! Mba mau tanya, sampeyan iki udah sampai mana setoran ke abahnya?" tanya perempuan yang masih mengenakan mukena tersebut.

Perempuan yang masih mengenakan perempuan tersebut telah selesai melaksanakan salat Ashar, dan seharusnya perempuan tersebut masih ada di Mushola untuk menyetorkan hafalannya. Sedangkan Shakila sekarang tengah ada tamu bulanan.

Sebelum menatap pandangan yang ada di hadapannya ia sedang memurojaah hafalannya dengan kitab tafsir sebagai pengganti Al-Quran. Di sini, ketika datang bulan, tidak diperkenankan untuk memegang Al-Quran walaupun untuk memurojaah, dan bisa menggantinya dengan kitab tafsir. Hal yang sebenarnya bertolak belakang dengan apa yang Shakila yakini. Ia hanya menghormati apa yang menjadi peraturan di sini.

Shakila terdiam sejenak, dan berucap pelan,

"Mau selesai juz tiga kayaknya."

"Masa?" ucap perempuan tersebut tidak percaya.

"Iya, kenapa gitu Mba?"

"Sampeyan kan baru dua minggu, sampeyan sekali setoran ke abah berapa halaman kah Mba?" tanya perempuan itu lagi.

"Dua lembar, pagi nambah dan sorenya murojaah," jawabnya.

"Pantes," ucap perempuan tersebut seraya mangut-mangut.

"Mba, udah setoran ke abah?" tanya Shakila mengutarakan kebingungannya.

"Mau piket," jawab perempuan tersebut seraya berlalu meninggalkan Shakila di balkon.

"Loh, emang enggak ada ibu?" tanya Shakila kembali.

"Di Aula," jawabnya pendek.

Shakila ber-oh ria mendengarnya. Sudah menjadi peraturan, jika belum menyetorkan hafalan, maka tidak boleh keluar dari Mushola. Tapi, karena ibu berada di Mushola jadi tidak ada yang mengawasi dan melarangnya.

"Mba Adri, mau Kila bantuin?" ucap Shakila menawarkan bantuan.

Perempuan bernama Adri tersebut menoleh,

"Boleh, sampeyan beresin bantalnya aja," ucap perempuan yang bernama Adri tersebut.

"Hitung-hitung amal," gumam Shakila dalam hati.

Shakila menganggukkan kepalanya semangat. Ia simpan kembali kitab tafsir tersebut, lalu segera membereskan satu dua bantal yang berserakan, karena dipakai untuk tidur siang. Sementara itu, Adri telah selesai melipat kembali tikar.

Setelah selesai membantu Adri, walau hanya sedikit, Shakila pun pamit untuk ke bawah. Ia juga bertanya pada Adri, apakah makanan untuk sore hari sudah ada, dan Adri menganggukkan kepalanya seraya terkekeh melihat Shakila segera melenggang pergi ke bawah.

Ketika melewati Mushola, Shakila mengintip sebentar. Matanya bertemu dengan Zainab yang tengah membereskan Mushola. Zainab tersenyum dan berseru untuk menghampirinya. Shakila pun menghampiri Zainab.

Sebelum itu, Shakila menarik kedua sudut bibirnya melihat Naflah yang tengah bersiap maju untuk menyetorkan hafalan. Naflah pun membalas senyuman Shakila. Dan melanjutkan kembali persiapannya. Khusyuk dengan Al-Quran yang ada di genggamannya.

Perempuan itu langsung memegang kedua tangan Shakila. Raut wajahnya terlihat sangat ceria.

"Mba, aku udah selesai dan bisa setoran ke abah," ucapnya senang walaupun dengan intonasi rendah yang ia jaga.

Shakila pun mengucapkan hamdalah dan selamat pada Zainab. Tetapi, sedetik kemudian  raut wajah Zainab berubah menjadi cemas. Melihatnya, Shakila mengerutkan keningnya.

Ke- 21

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 21
- Jumlah Kata 486

"Aku takut leh, Mba. Gimana kalau abah marah-marah, gara-gara bacaannya enggak bener-bener, gimana coba?" ucap Zainab dengan raut wajah yang ketakutan.

Shakila menghela nafasnya, lalu mengajak Zainab untuk duduk. Kakinya tidak kuat untuk berdiri lama-lama. Apalagi, santri-santri yang masih ada di Mushola tengah duduk.

"Enggak akan kenapa-kenapa, percaya deh. Asal suaranya yang kenceng, kalaupun masih ada yang salah paling disuruh buat mundur, jadi ucapkan dulu bismillah sebelum memulainya." Shakila berucap ringan.

Zainab hanya mengangguk pasrah mendengar ungkapan Shakila yang meringankan ketakutannya. Walaupun masih ada yang mengganjal dalam hatinya.

"Mba, kita makan yu, katanya sekarang makan sama ikan bakar," ajak Shakila dengan binar di matanya.

"Ya Allah, Mba... Masih jam setengah empat, nanti kalau udah ada yang selesai." Zainab berucap seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Shakila yang sangat suka makan.

Zainab kembali membereskan sajadah-sajadah yang ada. Tidak mengacuhkan Shakila yang tengah mencebikkan bibirnya, kesal. Shakila pun urung mengajak Zainab dan tak ingin memaksanya. Shakila segera keluar dari Mushola. Sebelum keluar, seseorang memanggil namanya, Shakila menoleh.

"Mba, boleh tolong disimak, aku mau maju ke abah," ucap seorang perempuan.

"Tapi, Mba. Lebih baik minta disimak ke mba-mba yang lain yang udah mahir," tolak Shakila dengan lembut, setelah duduk di sampingnya.

Perempuan itu menggeleng dan beralasan,

"Enggak bisa, Mba. Mba-mba yang lainnya masih nyiapin buat setoran juga."

"Beneran enggak papa? Nanti gimana kalau ada bacaan yang salah tapi dibenerin, atau malah sebaliknya? kan gaswat." Shakila masih kekeh untuk tidak menyimak perempuan tersebut, karena ia merasa masih belum pantas.

"Ih, enggak papa Mba. Sebisa Mba nya aja."

Shakila pun mau tak mau mengangguk pasrah dan mendengarkan bacaan perempuan tersebut, membenarkan sesuai dengan apa yang ia tahu. Selain itu, ia juga harus menahan rasa laparnya dan keinginannya untuk segera makan ikan bakar.

Beberapa kali setelah dibaca ulang. Perempuan itu mengucapkan Terima kasih, Shakila pun menganggukkan kepalanya seraya menyunggingkan senyum.

Shakila mengedarkan pandangannya kembali, ia tak menemukan sosok Yuli. Shakila pun mengutarakan pertanyaannya. Perempuan yang tadi meminta tolong padanya memberitahu, bahwa Yuli sedang datang bulan.  Mendengarnya, matanya berbinar dan segera pamit, lalu keluar dari Mushola.

Awalnya Shakila mencari Yuli di kamar dan koperasi, ia tak menemukannya, berarti perempuan  tersebut ada di ruang makan. Ia segera melangkahkan kakinya dan melihat Yuli serta Farah tengah makan. Shakila pun segera mendekat dan duduk setelah mengambil jatah makanannya.

"Eh, Kila. Makan La," ucap Yuli tanpa menoleh pada Shakila.

"Ini," ucap Shakila seraya menunjukkan piring seng nya. Yuli mengangguk.

"Eh, Kila! Nanti malem mau ada sinaung bareng, ngebahas tentang haid, sampeyan udah punya belum buku Risalah Mustahadhoh?" tanya Farah menoleh dan menatap Shakila yang tengah menikmati makanannya.

Shakila menggelengkan kepalanya tanpa bersuara.

"Nanti malem dibagiin, atau sampeyan mau sekarang?" ucap Farah menawarkan.

Shakila menoleh, menghentikan kegiatannya.

"Boleh sekarang Mba?" tanya Shakila dengan binar di matanya.

Buku baru selalu membangkitkan kebahagiannya. Bukan hanya sekedar wanginya sebuah buku baru, namun isinya juga pasti membuatnya candu.

Farah terkekeh melihat Shakila yang begitu senang. Farah menganggukkan kepalanya. Senyum Shakila pun semakin melebar.

Ke- 22

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 22
- Jumlah Kata 614

Malam pun tiba, para santriwati telah berkumpul membuat setengah lingkaran, mengelilingi Farah dan sebuah papan tulis berukuran sedang.

Acara belajar bersama pun dimulai dengan salam. Kemudian Farah mulai menjelaskan salah satu bab yang terdapat di buku Risalah Mustahadhoh dengan mengambil satu contoh masalah, yang akan diselesaikan menggunakan teori yang ada di buku tersebut.

"Kila!" panggil Naflah dengan berbisik.

"Ya?"

"Kamu dapet buku itu dari mana?" tanya Naflah.

"Dari Mba Farah," jawab Shakila dengan menunjukkan buku tersebut.

"Mana sini, aku mau liat," pinta Naflah. Shakila pun memberikan buku tersebut. Lalu kembali mendengarkan penjelasan Farah.

Shakila sesekali mengerutkan keningnya. Perempuan itu menghela nafas, karena tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Farah secara keseluruhan.

Shakila pun mengangkat tangannya beberapa kali hanya untuk menanyakan hal-hal yang belum ia mengerti, sampai pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya mengerti.

"Buat santri sing anyar-anyar, njupuk buku ne ning koperasi, tapi harus ada aku loh ya, soalnya tak catet sapa wae sing wis njupuk, kudu duwe kabeh buku iki, yo. Rego ne lima welas ngewu," ucap Farah panjang lebar.

Shakila mengangguk sekilas.

"Kila!" panggil Farah.

Shakila pun menoleh, " Iya, Mba?"

"Sampeyan durung mbayar, kan?" tanya Farah dengan jenaka.

Shakila hanya menampilkan sederet giginya. Tadi sore, Shakila membawa buku itu tanpa membayarnya, sebab ia tidak membawa uang saat itu. Awalnya Shakila kira tidak perlu bayar.

Farah pun mengakhiri acara kecil-kecilan tersebut, setelah menjawab beberapa pertanyaan dari santri yang lain. Ada beberapa di antara mereka yang bukunya hilang dan sobek-sobek, jadi mereka memesan kembali buku tersebut.

"Kila! Anter aku ke bawah ya," pinta Naflah.

Shakila menoleh seraya mengangguk dan tersenyum. Ia kembali memandang tumpukan bajunya yang sudah tidak beraturan. Sepertinya besok ia akan membereskan lemarinya.

Shakila menemani Naflah ke koperasi, karena ia pun belum membayar buku yang telah diambil lebih dahulu. Shakila jadi merasa punya hutang. Dan pastinya membeli beberapa camilan.

Selesai dari koperasi, keduanya pun duduk di balkon yang dihalangi oleh kerai bambu berwarna putih. Walaupun begitu, mereka masih bisa melihat keindahan pantai pada malam hari dan taburan bintang yang menghiasi langit.

Sambil melepas penat seharian ini, mereka mengobrol dan bercanda. Tak lupa kedatangan Zainab dan beberapa orang santri yang lain. Hingga pada akhirnya malah simak menyimak bacaan.

Naflah melihat jam tangannya.

"Udah malem, dingin banget lagi. Ke dalem aja yuk," ajak Naflah. Semuanya mengangguk setuju.

Sebelum menyeberangi alam mimpi. Kebanyakan dari mereka masih menyiapkan diri untuk setoran besok pagi. Sedangkan Shakila sudah menggenggam buku Risalatul Mustahadhoh, lebih tepatnya buku terjemahannya. Jadi, Shakila lebih leluasa untuk membaca dan memahaminya.

Shakila larut dalam bacaan buku tersebut. Ia tidak mengira bahwa menghitung datang dan perginya tamu bulanan itu sesulit ini. Ia harus menghitung masa suci dan masa haid yang harus sesuai dengan syarat-syarat yang ada.

Hingga pada akhirnya panggilan Ana membuyarkan Shakila,

"Kila!"

"Iya, Mba?"

"Sampeyan udah selesai belum?" tanya Ana.

Shakila mengerutkan keningnya, lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Semuanya telah tertidur, kecuali dirinya dan Ana. Shakila tersenyum miris, menggelengkan kepalanya.

"Yo wis, aku enggak akan matiin lampu yang di atas sampeyan. Sampeyan lagi sinaung kan?" ucap Ana.

"Iya, Mba," jawab Shakila seraya mengangkat buku Risalatul Mustahadhoh ke atas.

"Jangan sampe malem banget, ya," ucap Ana mengingatkan. Shakila menganggukkan kepalanya seraya mengucapkan terima kasih.

"Oh, iya. Kalau udah selesai, lampunya dimatiin ya." Ana mengingatkan.

"Iya, Mba," ucap Shakila pelan.

Shakila pun kembali menundukkan kepalanya, membaca dan memahami setiap halaman yang ia lewati dengan suara detik jarum jam yang menemaninya. Ia larut di dalamnya. Sesekali, Shakila melirik jam yang tergantung di atas dinding.

"Tanggung," gumam Shakila.

Buku terjemahan Risalatul Mustahadhoh memang tidak tebal. Dan tepat pada jam dua belas, Shakila telah menyelesaikan bacaannya. Shakila segera menyimpan buku tersebut ke atas meja, ia berjalan menghampiri stop kontak dan mematikannya. Menarik selimut dan melakukan rutinitas sebelum tidur.

Ke- 23

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 23

- Jumlah Kata 483


Dua kali ketikan tongkat beriringan dengan selesainya setoran Shakila. Shakila pun bangkit seraya mengucap hamdalah. Esok hari, ia akan memasuki juz empat.


"Kila!" panggil seseorang.


Shakila menoleh, menatap tanya Yuli seraya menyimpan mushaf nya di atas meja yang berukuran kecil. Setiap santri memiliki meja berukuran kecil untuk dipakai sebagai belajar.


"Sampeyan udah juz berapa?" tanya Yuli.


"Alhamdulillah, juz empat Mba." Shakila menjawab seraya tersenyum. Yuli menganggukkan kepalanya.


Shakila meraih sajadah dan menggelarnya. Sebelum Shakila melakukan takbiratul ihram, Yuli kembali berkata. Perempuan itu juga sama sepertinya akan melakukan salat sunnah Dhuha. Salat yang mempunyai banyak keutamaan.


"Aku juga rabu depan mau setor ke abah, hafalan."


Shakila mengangguk. Ia juga pernah mendengar beberapa hari lalu, kalau Yuli akan menyetorkan hafalannya, dan itu juga atas perintah dari pak Kyai.


Di saat sebelum mengucapkan takbir, ada beberapa orang di belakang Shakila yang sedang berbisik. Bukan, lebih tepatnya mengobrol, karena Shakila masih bisa mendengar suara obrolan mereka.


Beberapa dari mereka mulai memuji Shakila. Hati Shakila langsung terhempas mendengar hal tersebut. Mereka mengatakan dengan bahasa Jawa, namun Shakila masih bisa mendengarnya. Di saat itu, Shakila tidak mengira bahwa kemampuannya itu malah menjerumuskannya.


Mulailah bermunculan, kata andai di dalam hatinya. Andai ia tak mengerti apa yang mereka katakan. Andai mereka tahu siapa dirinya di masa lalu. Andai mereka tahu bagaimana sisi buruk dirinya, apakah mereka akan tetap memujinya setinggi langit?


Setelah menghembuskan nafasnya pelan, Shakila mulai mengangkat tangannya dan mengucapkan takbir. Di dalam salat yang sudah tidak bisa ia kendalikan. Shakila hanya bisa berusaha untuk tidak memikirkannya kembali. Tapi, sulit.


Air matanya mulai menetes di setiap sujud yang ia lakukan dan memohon untuk dikuatkan dan direndahkan hatinya, karena apa yang sekarang ia miliki tak luput dari Maha Kuasa dan Maha Yang Berkehendak.


????????????????????


Kamar yang sepi membuat Shakila terburu-buru mengambil buku dan peralatan tulisnya, santri yang lain telah pergi menuju Aula tempat belajar termasuk Naflah.


Shakila menepuk-nepuk bagian baju yang basah. Lalu pandangannya mengarah pada jam yang tergantung di atas dinding, waktunya hanya lima menit lagi.


Shakila ingat peraturan tertulis yang ada di pondok ini, jika tiga kali terlambat masuk sekolah, maka akan dihukum berdiri saat membaca surah Al-Kahfi pada Jum'at pagi. Shakila menggeleng, tidak mau hal itu sampai terjadi.


Shakila juga sedikit kesal pada dirinya sendiri, karena ia begitu lelet. Padahal menjemur pakaian yang hanya empat sampai lima lembar, namun waktu yang dihabiskan lima belas menit lamanya.


"Eh, Mba!" panggil Zainab yang memakai kerudung berwarna coklat.


Seperti biasa, perempuan itu terlihat berantakan, kerudung yang miring ke kiri, baju yang setengah di masukkan dan setengah lagi keluar, sarung yang juga yang panjang sebelah.


Shakila bernafas lega melihat Zainab yang masih di sini. Shakila tersenyum kecil melihat Zainab.


"Ayo, Mba," ajak Zainab seraya meraih sebuah meja bersampul bunga-bunga.


Shakila mengangguk dan juga meraih mejanya yang bersampul putih polos. Keduanya pun beranjak turun seraya mengobrol beberapa hal. Zainab naik ke atas lagi, karena mejanya tertinggal di kamar. Lebih tepatnya perempuan itu lupa.

Ke- 24

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 24
- Jumlah Kata 463

Hari ini, ibu Nyai menerangkan salah satu bab di buku Risalatul Mustahadhoh. Para santriwati pun terdiam mendengarkan penjelasan dari perempuan paruh baya yang mereka hormati.

Beberapa kali ibu Nyai bertanya bergantian pada santrinya. Dan Shakila bisa menjawab dengan lugas. Berbeda dengan santri yang lain, beberapa dari mereka bahkan tidak bisa menjawabnya.

Shakila bernafas lega, karena mampu menjawab pertanyaan ibu Nyai dengan baik. Shakila menipiskan bibirnya, karena rasa ingin tahunya itu menyelamatkannya. Perempuan itu, seketika lupa bahwa kemampuan yang ia punya tak luput dari Kekuasaan dan Kehendak dari-Nya.

Terlihat garis kecewa di wajahnya yang masih cantik di umurnya yang sudah berkepala lima. Sebelum ditutup, ibu Nyai menyampaikan beberapa nasihat dan memerintah Farah untuk mengajari mereka lagi yang belum bisa. Farah mengangguk dalam tanpa berniat memandang wajah ibu Nyai.

Sekolah pun selesai. Masing-masing dari mereka mulai beranjak dari Aula, ada beberapa yang memilih untuk diam di Aula untuk mempersiapkan setoran.

Shakila memilih untuk beranjak ke lantai atas, perempuan itu berniat untuk membereskan pakaiannya yang sudah acak-acakan. Saat membuka lemari, terlihat sangat kontras perbedaan antara susunan pakaiannya dengan Naflah.

Ia segera mengambil satu tumpuk bajunya, menaruhnya di atas sajadah miliknya.

"Kila!" panggil seseorang yang sedang menghampirinya. Shakila menoleh, mengalihkan perhatiannya dari sebuah baju yang akan ia lipat kembali.

"Ada apa Mba?"

"Tolong simak disi," pinta perempuan berjilbab abu tersebut.

Shakila mengangguk pasrah. Ia jadi sering diminta untuk menyimak bacaan, padahal bacaannya jauh dari kata baik.

Setelah selesai, perempuan yang bernama Najwa itu kembali berkata,

"Mba udah nyiapin buat setoran?"

Shakila menggeleng seraya tersenyum miris.

"Ah, Mba kan enggak perlu lama-lama buat nyiapinnya ya," ucap Najwa.

"Sama aja, ko, paling abis dzuhur. Soalnya, cuman mau nyetor satu halaman aja sih," ucap Shakila tanpa menatap wajah Najwa. Tangannya masih sibuk melipat sebuah baju.

Najwa menganggukkan kepalanya.

"Mba!" panggil perempuan itu kembali.

Shakila menatapnya sekilas.

"Apa?"

"Mba, nanti ajarin aku tentang haid ya," pinta Najwa membuat pergerakan Shakila terhenti. Lalu menatap perempuan yang lebih muda darinya.

"Jangan ke Kila, Mba. Ke Mba Farah aja," tolak Shakila.

"Iya, iya." Najwa menyetujui dengan paksa, kemudian perempuan itu pergi dari hadapan Shakila. Kamar pun kembali kosong, karena penghuninya berada di lantai bawah.

????????????????????

Sejak tadi terdengar suara siulan yang saling bersahutan dari atas. Shakila yang mendengar suara-suara tersebut, terdiam sejenak. Lalu melanjutkan kembali bacaannya yang terhenti dan mengulangnya beberapa kali. Walaupun hatinya bertanya-tanya, siapa gerangan.

Shakila yang sudah tidak nyaman pun segera masuk ke dalam kamar, dan bertanya pada salah seorang perempuan yang bernama Naila.

"Mba Nai!" Shakila memanggil Naila, membuat perempuan tersebut menoleh, menghentikan bacaannya.

"Ada apa Kila?" tanya perempuan tersebut dengan lembut.

"Emangnya, kalau kita duduk di tangga, akang-akang bisa liat kita?" tanya Shakila dengan khawatir.

Naila mengangguk. Shakila pun mendesah pelan. Ia terduduk lemas. Padahal, di tangga paling atas adalah tempat yang paling nyaman untuk memurojaah atau menyiapkan setorannya.

Ke- 25

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 25

- Jumlah Kata 425


Naila menatap tanya Shakila. Perempuan yang lebih muda darinya, namun lebih tinggi darinya, kini tertunduk lesu. Menatap mushaf nya yang terbuka.


"Kenapa gitu, Mba Kila?" tanya Naila pada akhirnya.


Shakila menggeleng, ia malu untuk mengatakannya. Karena ia juga tidak tahu secara pasti, apakah siulan dan dekhaman itu untuknya atau ada yang lain. Yang jelas satu detik setelah membacakannya, suara-suara itu muncul.


Najwa yang mengerti keadaanya segera menuju tangga. Ia duduk di sana dan memurojaah Al-Quran seperti biasa, dengan suara yang tidak pelan dan juga tidak terlampau keras. Hening. Tidak ada apa pun.


Perempuan berkerudung biru itu kembali dan menarik tangan Shakila. Shakila mendesah pelan, ia tidak mau. Dan tetap pada posisi duduknya.


"Ayo, Mba!"


"Enggak mau, Mba Naj," tolak Shakila setelah kesekian kalinya.


Shakila memilih pergi dan menuju ke Mushola. Ia akan menghafal di sana. Tetapi, lagi dan lagi. Mushola yang tadinya hening, entah dari mana dekhaman itu saling menyahut.


Perempuan itu terdiam sejenak. Perasaannya sungguh tak nyaman, namun ia juga tak berani memastikan, kalau itu memang benar untuk dirinya atau dirinya sendiri yang terlalu percaya diri.


Shakila jadi mengingat perkataan Zainab beberapa waktu lalu. Perempuan yang selalu cantik, walaupun pakaiannya berantakan itu mengatakan bahwa suaranya itu bagus. Jujur Shakila juga tidak mengetahui irama siapa yang ia pakai. Shakila hanya mengaji seperti biasanya, tidak ada yang ia buat-buat.


Shakila melanjutkan hafalannya dengan suara yang pelan. Melakukan sesuai dengan kemampuannya.


????????????????


Keesokan harinya. Setelah maju setoran pada pak Kyai, Shakila menggunakan waktu senggangnya untuk mencuci pakaian. Sewaktu Shakila hendak membawa cuciannya, Naflah melewatinya dengan keadaan yang sedang menangis.


Shakila pun meletakkan cuciannya sembarang. Ia segera mengikuti Naflah yang berjalan menuju Aula. Setelah itu ada beberapa santriwati yang lain yang mengikuti terutama Zainab.


"Mba! Mba Naflah nangis," ucap Zainab seraya berjalan beriringan dengan Shakila. Shakila mengangguk sekilas.


Naflah menundukkan kepalanya seraya membereskan beberapa buku secara sembarang. Shakila belum bisa bertanya, karena Naflah tengah dikerumuni oleh mba-mba yang lain.


"Naf, wis jangan nangis. Abah emang begitu, keras. Tapi percaya, abah gitu karena sayang." Naila menasihati.


Yuli serta mba-mba yang lain juga menasihati dan mengatakan hal itu sudah biasa. Mereka sungguh khawatir, bilamana Naflah putus asa dan memilih berhenti.


Shakila memandangi Naflah. Ia bingung apa yang harus ia katakan. Rasanya, perkataan apa pun tak mampu membuat hatinya tenang. Naflah pun bukan perempuan yang gampang menangis, bukan seperti dirinya. Ia juga anti untuk dikasihani.


Naflah hanya mendengarkan, tak menjawab apa pun perkataan-perkataan yang menyemangati dan menasihatinya. Ia terdiam. Jauh di lubuk hatinya, Naflah begitu lelah. Ia sudah semaksimal mungkin membenarkan makhrojnya, namun masih saja ketukan-ketukan itu ada dan lebih keras.

Ke- 26

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 26
- Jumlah Kata 445

Shakila ikut terduduk di samping Naflah bersama Zainab. Kini hanya ada mereka bertiga di Aula.

"Naf!" panggil Shakila dengan pelan. Naflah menoleh dengan wajah malasnya.

"Jangan nangis ya, nanti juga Naflah bisa ko."

Akhirnya setelah sekian lama terdiam, Shakila memilih untuk menyemangati Naflah. Zainab menganggukkan kepalanya.

"Iya," jawab Naflah singkat.

"Naf!" Shakila kembali memanggil, dan hal itu membuat Naflah jengah.

"Udah ah, aku enggak papa. Lebih baik kalian ke sana aja," ucap Naflah mengusir keduanya. Naflah hanya ingin menyendiri saat ini.

"Mba Kila!" Seseorang memanggil Shakila dari lorong kamar mandi. Perempuan itu berdiri di ambang pintu menuju Mushola.

Shakila pun akhirnya menghampiri perempuan tersebut. Perempuan tersebut berkacak pinggang.

"Mba, ember sampeyan itu ada di tengah jalan. Cepet juga jemurin pakaiannya. Aku ngantri ember sampeyan," ucap perempuan tersebut panjang lebar.

"Iya, Mba Yuli," ucap Shakila dengan gemas.

"Mba-mba.. Aja nyeluk aku Mba, kita seumuran Kila," ucap Yuli kesal seraya berlalu pergi dari hadapan Shakila.

Shakila terkekeh mendengar penuturan Yuli yang telah beberapa kali ia dengar. Entahlah, Shakila juga tidak tahu. Kenapa dirinya harus memanggil Yuli dengan embel-embel Mba? Mungkin karena terbiasa pada yang lain juga memakai Mba. Kecuali Zainab. Shakila menghela nafas.

????????????????????????

Setelah selesai salat berjamaah, Shakila memilih Aula sebagai tempat menyiapkan hafalannya. Perempuan itu duduk di depan lemari yang tingginya setengah pinggangnya.

Suara dekhaman itu membuatnya memilih tempat yang lain. Shakila memilih untuk menghindari. Yuli datang menghampiri Shakila dengan senyuman yang melekat.

"Kila, simakin aku yo," ucap Yuli setelah duduk di dekat Shakila.

Awalnya Shakila menolak, namun pada akhirnya juga ia mengangguk pasrah. Mendengarkan hafalan Yuli seraya melihat mushaf nya.

Bacaan Yuli pun terdengar berirama, suaranya lembut nanti merdu. Telunjuk Shakila bergerak mengikuti alunan bacaan Yuli. Ada yang aneh bagi Shakila. Harusnya saat telunjuknya terangkat berarti menunjukkan bacaannya harus dibaca panjang. Tapi, Yuli tidak membacanya dengan tajwid yang semestinya.

"Mba!" panggil Shakila setelah selesai menyimak hafalan Yuli. Yuli menoleh setelah menutup mushaf Al-Quran nya.

"Kenapa Kila?" tanya Yuli dengan memiringkan wajahnya.

Shakila ingin menegur Yuli perihal bacaannya, namun ia takut kalau dirinya yang mungkin salah.

"Hmm, enggak papa."

"Yeh... Sampeyan iku, ngomong suka enggak jadi. Ono sing salah ora?" gemas Yuli seraya terkekeh pelan.

Shakila menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia ragu dan takut salah juga.

"Itu, bacanya jangan cepet-cepet," ucap Shakila pada akhirnya.

"Terus piye?" tanyanya.

Setelah bertanya itu, Yuli kembali mengulang bacaannya. Dan yang sekarang bacaannya tidak terlalu cepat. Shakila mengangguk dengan dua jempol tangannya yang terangkat.

Yuli pun pamit, kini tinggal Shakila yang berada di Aula. Shakila telah selesai menyiapkan setoran dan juga murojaahnya. Perempuan itu berdiri dan memilih menyimpan mushaf di atas lemari, lantas mengambil buku terjemahan atau syarah kitab Al-Jurumiyyah. Shakila pun tenggelam dalam pembahasan nahwu yang begitu rumit.

Ke- 27

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 27
- Jumlah Kata 427

Waktu terus bergulir. Rutinitas di pondok membuat Shakila nyaman dan tentram. Berbeda dengan rutinitas sekolah dengan tugas yang menumpuk.

Shakila sesekali menatap cemas Naflah yang kini tengah menyetorkan hafalannya pada pak Kyai. Shakila mengucap syukur ketika pak Kyai tidak mengetuk dinding triplek tersebut dengan keras.

Setelah Naflah selesai setoran, Shakila segera mengacungkan ibu jarinya seraya tersenyum simpul menatap sahabatnya tersebut. Naflah membalasnya dengan senyuman.

Tiba saatnya, Shakila. Shakila yang baru saja mengucap ta'awudz dengan intonasi yang biasa harus menekankan suaranya, suara dekhaman itu saling sahut membuatnya tak nyaman. Dia sering meyakinkan dirinya bahwa itu bukan untuknya, namun kenyataan  tak berpihak padanya. Shakila jadi menginginkan dirinya untuk menjadi orang yang tidak peka.

Suara ketukan memenuhi gendang telinganya. Pak Kyai menyuruhnya menaikkan kembali volume suara Shakila, Shakila pun terpaksa menaikkannya. Tiga kali ia mengulang bacaannya, hingga dua kali ketukan terdengar menyudahi bacaan hafalannya.

Shakila langsung pergi dari Mushola, menghindari beberapa tatapan yang aneh menurutnya.

Shakila langsung melepas mukenanya, melipat dan menaruhnya dengan rapih di dalam lemari. Perempuan itu terduduk tanpa kata dengan mushaf Al-Quran yang dipeluknya.

"Kila!"

Panggil seseorang membuat Shakila terkejut dan menatap si pemilik suara.

"Ada apa Naf?" tanya Shakila sedikit kesal.

Naflah terkekeh melihat sikap Shakila yang sering melamun. Entah apa yang sedang Shakila pikirkan setiap harinya.

"Ngelamun aja, kalau kesambet baru tau rasa," candanya dengan tertawa kecil.

Shakila menghela nafas. Ia ingat kalau besok jadwal menelpon orang tuanya. Jadwal menelpon memang hanya sekali dalam seminggu yaitu hari Rabu dan Kamis. Karena handphone di pondok hanya ada satu, itu pu  ia harus sabar mengantri panjang. Jika telat mengantri, ia tidak akan ke bagian menelpon.

"Naf, udah ngantri belum?" tanya Shakila yang terdengar ambigu di telinganya Naflah.

"Ngantri apa?" Naflah balik bertanya membuat Shakila mengerucutkan bibirnya.

"Nelpon," jawab Shakila sedikit gemas.

Naflah terkekeh. Nampaknya, Naflah dalam suasana hati yang sedang baik.

"Oh... Udah," jawab Naflah singkat.

"Kan ngantri juga bukan ngantri telpon aja Naf, tapi ada antrian ember, kamar mandi jemuran juga sekarang pada ngantri," tambahnya dengan tertawa melihat Shakila yang kesal melihat tingkahnya.

"Siapa yang terakhir?" tanya Shakila.

"Aku." Jawaban Naflah yang begitu ringan membuat Shakila kesal setengah mati.

"Diih, kenapa enggak langsung bilang, kalau kamu yang terakhir," kesal Shakila.

Naflah tidak mungkin tidak mengerti kan, kenapa dia bertanya tentang artian mengantri. Shakila jadi berniat untuk balas mengerjai temannya itu.

"Kamunya enggak nanya, siapa yang terakhir, kamu kan nanya nya cuman kamu udah ngantri, Naf," ucap Naflah kembali mempraktekan pertanyaan Shakila dengan terkekeh di akhir kalimatnya, apalagi sekarang Shakila malah pergi berlalu dari hadapannya. Naflah menggelengkan kepalanya melihat Shakila yang langsung kesal hanya dikerjai begitu saja.

Ke- 28

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Day 28
- Wohnzimmer
- Jumlah Kata 434

"Kila, tidur," tegur seseorang pada Shakila yang tengah termenung menatap mushaf.

Shakila menoleh dan tersenyum. Shakila memang mempunyai target tersendiri dalam memurojaah hafalannya. Ia ingin dalam sehari bisa menuntaskan tiga juz. Tanpa memikirkan keadaannya.

"Bentar, Mba Ana."

Ana menggelengkan kepalanya, karena beberapa hari ini Shakila terus tidur malam. Memang Shakila tidur lebih malam dari pada yang lain dikarenakan kewajibannya untuk memurojaah. Tetapi, ia juga harusnya memikirkan dirinya sendiri, tubuhnya yang lelah pasti membutuhkan istirahat yang cukup.

"Ya udah, Mba ke dalam duluan," ucap Ana seraya berlalu dari balkon, meninggalkan Shakila sendirian.

Shakila turun ke bawah dengan membawa mukena dan mushaf, ternyata masih ada beberapa orang yang masih terbangun, termasuk Yuli. Setelah selesai melaksanakan salat witir, Yuli menghampiri.

"Kila! Simak," pinta Yuli. Shakila mengangguk. Keduanya pun duduk di depan Mushola.

Shakila menyimak bacaan Yuli yang masih kejar mengejar. Cepat. Tapi, Shakila hanya mendengarkan. Dan beberapa kali ada yang lupa. Karena di halaman tersebut ada beberapa kata yang mirip di setiap ayatnya.

"Kila, gimana caranya ya ngafalnya cepet?" tanya Yuli yang sudah frustasi mengulang satu halaman pada juz dua.

"Ya, enggak tau Mba," jawab Shakila seraya tersenyum. Ia memang tidak tahu caranya.

"Kan sampeyan cepet ngafalin nya, bagi donk." Yuli masih kekeh meminta pendapat dari Shakila.

Shakila terdiam sesaat, benaknya mengulang perkataan Yuli yang mengatakan bahwa ia bisa menghafalkan dengan cepat. Sejenak ia membantah perkataan Yuli dibenaknya, karena pada dasarnya bukan karena cepat menghafal, namun dulu telah menghafalnya.

Tapi, pada akhirnya Shakila mengatakan beberapa cara bagaimana ia bisa menghafal Al-Qur'an dengan cepat.

"Pahami ayatnya, terus baca berulang kali." Yuli mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Shakila.

"Tapi, kalau cara aku gini, dibagi jadi tiga bagian, dibaca dulu berulang-ulang baru dihafal," ucap Yuli memberikan pendapat.

"Gitu juga boleh." Shakila menganggukkan kepalanya, membenarkan. Tapi, terbersit rasa kesal. Shakila ditanya bagaimana caranya, namun Yuli juga punya caranya sendiri. Lantas kalau memang Yuli mempunyai cara tersendiri, kenapa bertanya tentang bagaimana caranya ia menghafal?

Setelah itu, Yuli pun pamit. Tetapi sebelum melangkah pergi, perempuan itu berbalik menatap Shakila yang sudah berdiri hendak pergi.

"Kila!"

"Ada apa Mba?"

"Sampeyan tahu ora?"

"Apa?"

"Kalau di atas tangga itu suka ada perempuan, biasanya duduk dan merhatiin mba-mba dan kadang suka nampakin diri, hati-hati ya," ucap Yuli yang kemudian langsung pergi meninggalkan Shakila yang sekarang tengah bergidik takut.

Namun itu hanya sesaat. Shakila jadi teringat saat ia tiba-tiba terbangun di malam hari, lalu ia melihat bayangan hitam sebesar daun pintu di kamar atas. Awalnya Shakila takut, tapi ia memberanikan diri, karena mungkin itu hanya imajinasinya jadi Shakila terus memandang lekat bayangan tersebut, hingga bayangan itu tiba-tiba hilang. Membuat Shakila bernafal lega dan memejamkan mata untuk tidur kembali.

Ke- 29

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Batch 47
- Kelompok 9
- Wohnzimmer
- Day 29
- Jumlah Kata 511

"Mba Kila, tunggu!" pinta seseorang dari arah belakang. Shakila pun menoleh dan mendapati Najwa yang tengah menuruni anak tangga dengan terburu-buru.

"Hati-hati, Mba," ucap Shakila memperingati. Najwa menanggapinya dengan cengiran kudanya.

"Mba Kila, mejanya mana?" tanya Najwa. Shakila menepuk jidatnya. Kemudian segera berjalan cepat melewati anak tangga.

"Mba, hati-hati." Kini Najwa yang memperingati Shakila untuk berhati-hati.

Najwa pun segera masuk ke dalam Mushola. Mencari tempat yang kosong. Ia pun memilih tempat yang paling belakang, supaya ia bisa menyandarkan punggungnya di dinding.

Di lain tempat, Shakila telah sampai ke kamarnya yang sepi. Matanya menjelajahi isi kamar, namun nihil. Ia tidak melihat mejanya. Shakila pun segera turun, dan mengingat-ingat dimana mejanya itu di simpan. Kini langkahnya telah sampai di Aula. Dan menemukan satu-satunya meja miliknya.

Shakila segera mengambilnya dan berjalan cepat menuju Mushola. Seperti biasanya pada malam Ahad ada pengkajian kitab yang lebih tinggi.

Shakila langsung duduk di tempat yang kosong di samping Naflah. Perempuan itu sudah duduk manis dan tersenyum menatap Shakila, walau hanya sekilas.

Pak Kyai pun memulai penjelasannya, kali ini membahas tentang dzolim. Shakila pun mendengarkan dengan seksama, walaupun sebenarnya fokusnya bercabang.

Pak Kyai menjelaskan tentang macam-macam dzolim yaitu dzolim terhadap diri sendiri, orang lain dan kepada Allah.

Setelah selesai, satu persatu santri pun keluar dari Mushola. Termasuk Shakila.

"Kila!"

Suara Naflah memanggilnya seraya menepuk pundak Shakila. Shakila menoleh.

"Ada apa Naf?"

"Buat Mie yuk!" ajak Naflah.

"Ayo." Shakila menyetujui dengan semangat.

Peraturan memakan mie hanya seminggu dua kali. Tapi, biasanya santri-santri di sini membuat mie hanya seminggu sekali. Karena panci untuk membuat mie pun hanya ada satu, otomatis harus mengantri.

Dan sudah dua minggu lamanya, Shakila tidak memakan mie. Makanan cepat saji yang dari aromanya saja membuatnya lapar. Di sisi lain, mie instan jika dimakan terlalu banyak tidak baik untuk pencernaan, khususnya usus. Maka ibu Nyai membuat peraturan dalam memakan makanan cepat saji tersebut.

"Antri sama siapa?" tanya Shakila setelah sampai di koperasi untuk membeli mie.

Naflah sudah mengambil sebuah mie instan dari merk yang populer, varian rasa sambal goang.

"Duuh, apa ya?" tanya Shakila pada dirinya sendiri dengan melihat-lihat deretan mie dengan berbagai cita rasa.

"Zainab," jawab Naflah singkat.

"Zainab yang terakhir?" tanya Shakila.

"Aku yang antri sama Zainab, Sha-ki-la," ucap Naflah gemas.

Shakila ber-oh ria.

"A...."

"Mba Naf, antri," potong seseorang. Shakila mencebikkan bibirnya kesal. Shakila pun menoleh pada Naila yang telah memotong perkataannya.

"Aku dulu, Mba Nai," sanggah Shakila.

"Aku lah, Mba. Iya, kan Mba Naflah?" Naila meminta Naflah memutuskan.

Shakila pun menatap Naflah dengan penuh harap. Naflah terkekeh.

"Mba Naila dulu," jawab Naflah ringan.

"Naf!" rengek Shakila.

"Naila duluan yang bilang Kila," jawab Naflah bijak.

Naila menjulurkan lidahnya, mengejek Shakila. Shakila mendengus kesal.

"Ya udah, aku antri yo Mba Nai," ucap Shakila malas.

"Mba Maruna," ucap Naila membuat Shakila kesal.

"Hufft, sekarang Mba Marunanya mana?" tanya Shakila pasrah dan berharap Maruna belum ada yang ngantri.

"Tuh di atas sama mba Ana," jawab Naila.

Shakila pun langsung pergi ke kamar, karena hanya kamarnya yang berada di lantai atas. Kalau Maruna sudah ada yang mengantri, lebih baik ia tidak jadi membuat mie, pastinya akan menunggu sampai malam.

Ke- 30

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Batch 47

- Kelompok 9

- Wohnzimmer

- Day 30

- Jumlah Kata 516


Shakila menoleh pada jam berbentuk bulat tersebut. Jarum jam menunjukkan pukul satu malam. Perempuan itu baru saja terbangun. Ia sengaja untuk tidur lebih awal dan bangun lebih awal juga untuk bisa memurojaah hafalannya.

Kini ia telah sampai pada juz enam. Banyak orang yang terkagum-kagum pada pencapaiannya, karena ia termasuk santri yang baru. Hari demi hari, Shakila lewati. Beberapa terakhir ini, ia kadang ditegur karena ada yang salah dengan pengucapan makhrojnya.

Shakila terhenti pada salah satu ayat yang membuatnya ragu. Ragu pada-Nya, pada ke-Esaan-Nya. Ragu pada kesucian-Nya.

Semilir angin malam menerpa kulitnya. Dingin. Suara jangkrik menyapa telinganya disertai detik jarum jam yang teratur. Ia larut dalam pikiran yang membawanya dalam keraguan. Tak ada tempat bertanya, beradu dengan pikirannya sendiri membuatnya hilang kendali dan mulai goyah akan kebenaran.

Setelah satu jam berlalu, ia pun memilih untuk tidur kembali. Benaknya bertanya-tanya, namun ia tak mampu menjawabnya. Andai waktu itu, ada tempat untuknya bertanya dan berdebat bukan hanya dengan dirinya yang mempunyai ilmu dan iman yang lemah.

*???????*

Suara gaduh menyelimuti pendengarannya. Shakila terbangun dan tidak mendapati Naflah di tempatnya. Shakila yang sering terbangun lebih awal dari temannya itu merasa tersaingi, hatinya diselimuti iri dengki, ia tidak ingin ada yang mendahuluinya.

Pujian-pujian yang sering ia dengar telah membuatnya terbiasa dan merasa hal itu memang pantas untuk nya.

"Naf, enggak mandi?" tanya Shakila karena melihat temannya itu kembali lagi dengan pakaian yang sama.

"Ada lagi," jawabnya singkat. Tapi, Shakila mengerti.

"Loh bukannya baru beberapa hari yang lalu?" tanya Shakila menyelidik.

"Enggak tau." Perempuan itu kembali menjawab singkat dengan mengedikkan bahunya.

Shakila mengangguk kecil.

"Tunggu aja, kalau lima belas hari belum selesai, berarti Istihadhah," ucap Shakila dengan apa yang ia tahu.

Naflah mengangguk dan berkata,

"Iya, nanti aku nanya sama mba Farah."

Shakila menarik kedua sudut bibirnya dengan paksa. Shakila tidak suka karena Naflah meremehkannya.

Setelah selesai salat berjamaah Dzuhur.

"Kila!" panggil Naflah.

Shakila menoleh, menghentikan bacaannya. Naflah masih berjalan menghampirinya.

"Ada apa Naf?"

"Kata mba Farah masih darah haidh," ucap Naflah. Shakila mengangguk menyetujui.

"Banyak?" tanya Shakila singkat.

"Enggak, dikit lagi," jawab Naflah seraya meregangkan ibu jari dan telunjuknya.

"Mba Kila!"

Shakila menoleh pada sosok yang memanggilnya dengan suara yang cempreng. Ia sudah tahu siapa gerangan. Santri baru yang umurnya baru tiga belas tahun. Sosok yang akhir-akhir ini sering merecokinya. Beruntung, pada malam hari ia tidur lebih awal.

Perempuan itu bernama Rosa. Mirip dengan salah satu penyanyi terkenal. Tapi, jauh dari kata sama suaranya. Rosa sering bertanya ini dan itu, pelajarannya tertinggal, membuat ibu Nyai memberi perintah untuk mengajari Rosa terhadap pelajaran yang belum ia dimengerti kepada Farah. Tapi, Rosa nyaman dengannya.

Awalnya memang menyenangkan, namun sering bertanya juga menjadikan ia risi. Shakila jadi teringat dirinya sendiri yang sering bertanya banyak hal pada Farah, dan mungkin membuat Farah sedikit risi dengannya. Farah terkadang menghindarinya. Atau mungkin itu hanya prasangka nya.

"Adek kamu dateng, La!" ucap Naflah dengan lirih, kemudian ia terkekeh.

Shakila menghela nafasnya. Sudah tahu apa yang akan terjadi, waktunya pasti tersita banyak akan kehadiran Rosa. Entah itu waktu menghafal, memurojaah dan aktivitas lainnya.

"Mba Kila, aku mau nambal," ucap Rosa dengan tersenyum lebar. Shakila membalasnya dengan tersenyum miris.


Mungkin saja kamu suka

MAILIYANA DIAST...
Lautan Istiqomah
Diah Astri Seti...
Mentari
Gendis Pambayun
Lembayung
Hasan Komarudin
Salik
Marwah Darmon
Tannuur

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil