Loading
0

0

14

Genre : Keluarga
Penulis : Nezbrebie
Bab : 15
Dibuat : 05 Agustus 2022
Pembaca : 7
Nama : Nezbrebie
Buku : 4

Special Gift

Sinopsis

Perjuangan seorang ibu menghidupi tiga orang anaknya. Suami yang dicintai merantau, tetapi berbulan-bulan tiada kabarnya. Sudah sejak awal memang sang ibu ini khawatir. Namun, tidak juga kuasa menahan karena suami memaksa. Ke tiga buah hati yang dia tinggalkan butuh biaya makan. Keperluan sekolah, bahkan harus mengenakan baju bekas demi bisa menimba ilmu. Beruntung bisa masuk sekolah negeri, tanpa izasah TK (taman kanak-kanak) Clara bisa bersekolah walau serba kekurangan. Apakah pekerjaan yang cocok bagi ibu muda ini, sedangkan anaknya masih kecil-kecil? Clara usia tujuh tahun. Viona, umur empat tahun serta Brena berusia dua tahun. Perpisahan yang awalnya berniat memperbaiki hidup, membuat Isha harus berjuang sendiri menghidupi dan menyekolahkan buah hatinya. Bila kisah-kisah sebelumnya selalu ada kebahagiaan dan muzijat. Kali ini, murni diangkat dari kisah kehidupan sebenarnya. Dilarang mewek baca tulisan ini.
Tags :
Perjuangan, hidup ibu muda, susah, sedih, lelah namun terus berjuang

Melepas kepergian

0 0

Part 1

Mendung terlihat sangat jelas di netra wanita berusia dua puluh tujuh tahun, yang memangku bocah kecil yang sibuk memainkan boneka mini berbahan plastik. Meski saat ini hatinya sangat kacau dan sedih, Isha tetap tersenyum ketika Brena mengajaknya bercanda.

“Mas, harus pergi?” lirih suara Isha terdengar menghampiri sang suami.

“Hemmm,” jawab Kardo, suami Isha singkat.

“Bagaimana aku akan mengurus anak-anak ini tanpamu? Kami masih membutuhkanmu, Mas.” Air bening itu lolos begitu saja membasahi pipinya yang kini tidak lagi terawat setelah kelahiran putri bungsunya, Brena.

“Sha, justru kita akan semakin tersiksa bila bersama. Sedangkan, penghasilanku tidak menentu. Kadang ada, lebih seringnya tidak ada. Kita memiliki tiga buah hati yang harus saya nafkahi. Termasuk kamu. Kapan lagi aku akan mendapatkan kesempatan baik seperti ini? Lagian, alamat yang Joni berikan jelas dan pekerjaan sudah menunggu di sana.”

“Bagaimana kamu akan mengirimkan uang kalau kita tidak punya rekening. Jangankan rekening, telepon genggam saja kita tidak punya.” Isha menatap Kardo dalam, mengusap air matanya kasar.

“Tenanglah, bisa aku titipkan nanti. Atau lewat apa saja. Bukankah sekarang sudah canggih?” Kardo kembali berusaha meyakinkan Isha.

“Terserah kamu saja, Mas. Jujur sangat berat bagiku. Apalagi mengurus anak-anak sendirian.” Kardo mendekat, menangkup wajah Isha dengan kedua tangannya dan menatap dalam. Sungguh, Isha tidak melihat kebohongan di sana. Sebagai wanita, pastilah dia merasa khawatir. Namun, memilih untuk menepis pikiran buruknya itu.

“Percayalah, Sha. Aku begini demi kita, untuk kebahagiaan anak-anak dan juga kamu. Semua yang aku lakukan adalah untuk kalian.” Kardo membawa Isha dalam pelukannya.

“Janji, Mas. Jangan macam-macam di sana. Anak kita perempuan semua, loh.” Isha membalas pelukan erat suaminya.

“Iya, Sayang. Pasti. Kalian segalanya bagiku.” Kardo melepas pelukan, mengambil tas ransel yang berisi beberapa potong pakaian dan menggendongnya.

Brenna yang sudah tidur pulas di atas kasur, Kardo cium sekilas kemudian menghampiri Clara dan Viona. Mencium mereka bergantian, lalu meninggalkan Isha serta Clara dan Viona yang menatap kepergiannya di depan pintu. Sekuat tenaga Isha menahan agar tidak menangis di depan anak-anaknya. Pertama kalinya setelah delapan tahun menikah dia harus berpisah dengan Kardo.

Pekerjaan yang tidak menentu membuat Kardo memutuskan merantau ke Jakarta. Joni adalah sepupu Kardo, bukan sepupu dekat, tetapi Isha mengenalnya dan seluruh keluarganya. Pengeluaran semakin membengkak setelah kelahiran anak ke tiga mereka. Kardo bukan perokok, bukan juga pemabuk apalagi pecandu. Hanya saja, karena memang tidak memiliki pekerjaan tetap membuatnya harus banting tulang setiap hari.

Meski demikian, lebih sering kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Dua bulan lagi, Clara akan masuk sekolah karena sudah berumur tujuh tahun. Jangankan memasukannya ke sekolah taman kanak-kanak. Untuk makan sehari-hari saja, mereka sangat kesulitan.

Uang dua ratus ribu yang Kardo tinggalkan, segera Isha membelikan beras sepuluh kilo seharga seratus dua puluh ribu, delapan puluh ribu sisanya, dia belikan telur sepuluh ribu, minyak goreng setengah kilo, kerupuk seperempat kilo, lalu garam serta penyedap rasa. Uang yang dia pegang kini tersisa lima puluh ribu. Uang itu untuk jaga-jaga. Bisa saja gas habis, atau listrik habis.

Karena hanya ke warung di dekat rumah, Isha berani meninggalkan Clara, Viona dan Brena di rumah meski hanya bertiga. Lagian, saat ini si bungsu sedang tidur. Clara dan Viona bermain masak-masakan. Mereka mengumpulkan beberapa sendok plastik bekas, botol minuman plastik bekas, serta mangkok plastik bekas pula. Clara dan Viona merobek daun-daunan. Mereka bercerita bahwa mereka sedang memasak seperti Isha yang sering mereka perhatikan.

Ihsa tersenyum melihat aktivitas ke dua putrinya tersebut di halaman rumah. Rumah peninggalan almarhum ibunya tepatnya. Isha kemudian masuk melewati ke dua buah hatinya. Aneisha adalah nama lengkapnya. Orang terdekat memanggilnya Isha, sedangkan orang yang baru mengenalnya akan memanggil dengan Anies, atau Nies.

Wanita cantik dengan bulu mata lentik, alis tebal, kulit putih, lesung pipi di pipi kirinya, serta rambut panjang hitam nan legam. Giginya rapi, putih dan bibir yang tipis. Hanya saja tubuhnya agak sedikit berisi setelah kelahiran putri bungsunya. Semakin tidak terurus lagi, saat suaminya diberhentikan dari perusahaan pembuatan batako karena pengurangan karyawan.

Padahal, setelah Kardo keluar dari pekerjaan tersebut, perusahaan menerima lagi karyawan besar-besaran. Kardo dan Isha tidak pernah mau mencari tahu kenapa dirumahkan. Padahal setelah berhentinya, perusahaan malah menerima karyawan besar-besaran. Beberapa desas-desus yang dia dengar adalah, perusahaan tidak ingin membayarkan tunjangan hari raya.

Kardo dan Isha memilih untuk pasrah dan mencari pekerjaan lain saja. Lagian, belum tentu suara orang kecil akan didengarkan. Siapakah mereka ini sehingga berani memutuskan komplain masalah tersebut? Hingga akhirnya, Kardo menjadi pekerja serabutan. Hidup mereka pas-pasan. Tidak jarang pula Kardo puasa agar seluruh anggota keluarganya makan walau dengan lauk seadanya.

Isha menarik napas dalam setelah meletakkan barang belanjaannya di dapur. Dia terduduk di hadapan barang belanjaan tersebut. Ihsa berpikir, untuk sebulan ke depan, tidak mungkin cukup beras sepuluh kilo ini dan lima butir telur yang baru saja dia beli. Isha harus memutar otak agar bisa memiliki penghasilan. Kalau pun Kardo akan mengirimkan uang, pastilah sebulan dari sekarang. Memang orang gajian setelah sebulan bekerja bukan?

Hingga malam tiba, Isha belum memiliki ide untuk memiliki penghasilan. Isha kemudian menidurkan ke tiga buah hatinya di kasur ukuran besar yang sempat mereka beli dulu. Clara harus rela tidur di bagian paling pinggir bersama Viona, sedangkan Brena di dekat Isha dan dia tidur di pinggir satunya lagi. Beruntung, Clara dekat dengan tembok, sehingga tidak mungkin terjatuh. Biasanya, Clara tidur di tengah, di antara Viona dan Brena. Kemudian, Viona di dekat Kardo serta Brena di dekat Isha karena masih menyusu.

Malam telah larut, Isha tidak bisa tidur. Bukan hanya masalah uang serta uang masuk yang menjadi pikirannya. Suaminya juga menjadi salah satu penyebab dia tidak bisa terpejam. Perjalanan menuju Jakarta dari Kabanjahe bukan perjalanan pendek. Memakan waktu tiga hari dua malam menggunakan bis.

“Sudah sampai di mana kamu, Mas?” tanyanya di dalam kesunyian malam. Tentu tidak ada jawaban.

“Coba kalau kita masih punya telepon genggam, aku pasti akan menanyakan sudah sampai di mana kamu. Aku khawatir, Mas. Semoga, Allah melindungimu di dalam perjalananmu, selamat sampai tujuan, serta mendapatkan pekerjaan yang bagus dan sungguh merubah hidup kita, Mas.” Isha duduk, dan menatap ke tiga putrinya bergantian.

“Aku tidak tahu seperti apa masa depan kalian kelak, Nak. Aku juga tidak tahu keputusan berpisah dengan Bapak kalian juga adalah hal terbaik atau bukan. Aku justru sangat takut kehilangan Bapak kalian.” Isha kembali menangis. Entah berapa lama dia menagis hingga kelelahan dan tertidur.

Isha bangun kesiangan karena terlalu larut malam tidurnya. Terbangun pun karena Viona bangun dan merengek minta makan.

“Jam berapa ini?” Isha bergumam sendirian mengumpulkan kesadarannya. Dia terduduk ketika melihat seberkas cahaya memasuki kamar melalui celah jendela.

“Ma, makan …,” rengek Viona lagi. Sedangkan Claran dan Brena masih terlelap dan pulas.

“Ayo, bangun. Kita makan,” ajak Isha kepada Viona. Bocah empat tahun itu segera bangkit dan mengikuti.

“Cuci muka dulu, ya Nak. Sama kumur-kumur.” Isha membantu Viona memasuki kamar mandi dan membantu membasuh wajahnya. Di usianya kini, Viona sudah pintar kumur-kumur. Harusnya memang gosok gigi. Hanya saja saat ini odolnya sedang habis dan Isha belum membelinya lagi.

“Mah, gosok gigi.” Viona menunjuk odol dewasa yang ada di rak sabun.

“Yakin? Pedas, lho.” Isha mengoleskan sedikit saja odol tersebut di sikat gigi Viona. Viona menerima dengan senang hati.

“Enggak pedas, De?” Isha memastikan ketika Viona menggosok giginya perlahan. Bocah itu hanya menggeleng dan tersenyum.

“Maaah!” terikan Clara dari kamar serta suara tangisan Brena membuat Isha meninggalkan Viona yang masih asyik menggosok giginya sendiri.

 

Bersambung.



Perih

0 0

Part 2

Tergopoh Isha menghampiri Clara di kamar, dia kaget karena Brena kini sudah ada di bawah kasur. Terjatuh dan menangis kencang, sedangkan Clara pun ikutan menangis.

“Ya, ampun, Nak. Kamu jatuh, Sayang?” Isha memeluk Brena dan menenangkannya. Memeriksa beberapa bagian tubuh sang buah hati, ternyata tidak ada luka maupun lecet.

“Kakak kenapa ikut menangis?” tanya Isha. Clara semakin menangis kencang.

“Sudah, Nak. Jangan menangis lagi. Tidak apa-apa. Mama enggak marah,” ucap Isha mengusap wajah Clara sambil terus menangkan Brena di gendongannya. Clara meastikan Isha benar tidak marah dengan menatap mamanya. Setelah Isha tersenyum, Clara menghentikan tangisnya. Sesungguhnya, Isha sudah ingin sekali ikut menangis bersama anak-anaknya. Namun, urung karena kini terdengar suara Viona yang menangis.

“Yuk, makan dulu. Cuci muka dulu tapi, ya.” Isha ke luar kamar dan Clara mengikutinya.

“Coba ada kamu, Mas. Kamu pasti sudah membantuku dan aku tidak serepot ini. Biasanya, kamu akan menghalangi anak-anak agar tidak terjatuh. Lihatlah, Mas. Baru hari pertama, semua sudah kacau,” ucap Isha dalam hati.

Sesampainya di dapur, Isha menatap Viona dengan nanar. Bocah empat tahun itu menggunakan odol sebagai sabun mencuci wajahnya. Sepertinya terkena mata sehingga dia menangis kencang. Sungguh, Isha kerepotan sendirian. Jika saja Kardo ada di sini, maka dia akan membantu Isha menyelesaikan semua pekerjaan ini, terutama menjaga anak-anak.

Saat Kardo masih bersamanya, belum pernah ada kejadian seperti pagi ini. Brena jatuh dari tempat tidur, Viona yang memakai odol sebagai sabun cuci muka, dan Clara yang menangis karena entah apa. Isha belum menanyakan hal itu. Tak dapat ditahan lagi, bulir bening itu membasahi pipi. Dadanya terasa sangat sesak, maka dia menumpahkan semua dengan deraian air mata.  

“Maaf, Ma, tidak sengaja menjatuhkan Brena,” ucap Clara membantu menjaga Brena yang sudah diam duduk di lantai dapur. Isha bahkan tidak mampu menjawab pernyataan maaf dari si buah hati karena tergesa membersihkan wajah dan mata Viona. Clara menemani Brena bermain, lalu gantian mencuci wajah setelah Viona keluar dari kamar mandi.

Isha membasuh wajahnya serta wajah Brena sekaligus dalam gendongannya. Dia bahkan lupa menggosok giginya sendiri. Setelahnya, gegas Isha memasak kuah bawang, kemudian memasukkan satu butir telur yang dia aduk agar cukup untuk mereka makan berempat.

Selesai makan, Isha mengajak ke tiga buah hatinya sekedar berjalan-jalan di sekitar rumah. Mereka tinggal di dekat pasar, di mana pasar ini beroperasi setiap hari. Termasuk hari minggu, pasar ini adalah Pajak Singa, Kabanjahe. Di sini semua hasil pertanian dari daerah tanah Karo bisa di jual. Meski di daerah lain juga ada seperti Pajak Roga, Berastagi atau Pajak Tiga Panah, tetapi orang lebih mengenal Pajak Singa, Kabanjahe karena berada di pusat Kota Kabanjahe.

Isha menggendong Brena dengan kain jarik, lalu memegang tangan Viona dan Clara, satu sebalh kiri dan satu sebelah kanan. Isha tidak tahu pasti akan pergi ke mana, tetapi dia merasa harus ke luar rumah untuk sekedar mencari angin segar. Syukur-syukur kalau mendapatkan pekerjaan nanti.

“Mau ke mana, Mak Clara?” tanya Mak Cinta, tetangga Isha. Di Tanah Karo orang-orang akan dipanggil sesuai nama anaknya. Seperti Isha yang dipanggil Mak Clara, karena anak pertamanya adalah Clara. Tidak sopan memanggil nama jika seseorang tersebut sudah memiliki keturunan. Sama halnya dengan Kardo, dia akan dipanggil Pak Clara. Berlaku kepada siapa saja yang merupakan sebaya atau seumuran.

“Ke depan, Kak Mak Cinta. Bosan di rumah terus,” jawab Isha dengan senyuman.

“Pak Clara jadi berangkat?” tanya Mak Cinta kepo.

“Jadi, Kak.” Isha berusaha tertawa walau hatinya getir.

“Kalau aku, enggak bakal aku kasih izin suamiku pergi. Apa lagi, harus mengurus anak sendirian. Ih, amit-amit, takut kawin lagi, sih.” Mak Cinta mulai membuat Isha tidak nyaman. Di lingkungan mereka, Mak Cinta memang terkenal dengan sebutan CCTV kampung.

“Kalau memang iya, berarti sudah takdir saya, Kak. Yang hidup bersama saja tidak ada jaminan, apalagi LDR seperti saya.” Ucapan Isha membuat Mak Cinta mati kutu. Karena beberapa waktu lalu dia ribut dengan suaminya, lelaki itu ketahuan chat dengan wanita lain. Bak senjata makan tuan, Mak Cinta meninggalkan Isha dengan tatapan sinis. Bukan maksud Isha menyindir Mak Cinta, tetapi kata-kata itu memang dia persiapkan untuk mengobati hatinya dari sekarang. Jaga-jaga bila hal itu sampai terjadi suatu saat nanti.

Apalagi Kardo memang asli orang Jawa, dia merantau ke Kabanjahe sepuluh tahun lalu. Bertemu dengan Isha kala bekerja di salah satu rumah makan, dan Kardo sering makan di sana sepulang kerja sebagai buruh pembuatan batako. Itulah alasan utama Isha tidak mengizinkan Kardo pergi, dia takut suaminya itu tidak akan pernah kembali lagi.

Meski selama mengenal dan hidup bersama, Kardo tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan kembali ke tanah kelahirannya, sebagai manusia biasa tentu Isha takut. Kardo memang anak yatim piatu, karena tidak diperlakukan dengan baik oleh paman dan bibinya, dia pergi dari rumah dan merantau jauh ke Sumatera. Kardo pun enggan sekedar memberi kabar kepada paman dan bibinya. Itulah yang mempertemukan Isha dengannya, merajut kasih hingga menikah.

Isha melihat ada sebuah warung yang membuat tulisan besar bahwa warung tersebut membuka lowongan pekerjaan. Dengan berbinar, Isha menghampiri. Harapannya adalah bisa bekerja dan menghasilkan uang.

“Selamat pagi, Bu,” sapa Isha.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” Senyum pemilik warung merekah layaknya melayani pembeli.

“Eh, ini Bu. Apakah Ibu masih menerima karyawan?” tanya Isha gugup sambil menatap tulisan tersebut. Tangannya masih erat memegang ke dua buah hatinya, Brena asyik saja memainkan boneka plastik mini di gendongan mamanya.

“Oh, iya. Ibu kesulitan melayani pembeli saat pagi dan sore hari. Untuk siapa? Saudaranya?” tanya pemilik warung tersenyum ramah.

“Untuk saya, Bu. Boleh?” tanya Isha was-was.

“Boleh-boleh.” Pemilik warung terlihat senang, tentu saja Isha jauh lebih senang.

“Ini anak-anak kamu?” tanya pemilik warung tersebut.

“Iya, Bu,” jawab Isha bersemangat.

“Saat kamu bekerja, siapa yang akan menjaga mereka?” tanya pemilik warung. Isha terdiam, seketika senyumnya redup, dia bahkan lupa bahwa tidak ada yang menjaga anak-anaknya jika dia harus bekerja. Dia tidak memikirkan hal itu sedari tadi, dia hanya merasa sangat senang membaca lowongan pekerjaan tersebut tanpa memikirkan anak-anaknya.

“Aduh, Bu. Maaf, saya lupa. Saya tidak jadi, Bu. Ibu benar, tidak ada yang menjaga mereka.” Isha tunduk dalam.

“Tidak apa. Di mana ayahnya?” si pemilik warung terlihat simpati.

“Baru saja pergi merantau kemarin, Bu. Untuk sebulan ke depan, pasti belum ada kiriman. Sedangkan kami butuh untuk sehari-hari.” Isha seketika bungkam karena merasa telah terlalu banyak berbicara bahkan menceritakan masalah rumah tangganya.

“Owalah, saya juga minta maaf, ya. Kalau membawa anak sepertinya saya juga tidak bisa menerima. Karena saat pagi dan sore itu sibuk sekali.” Pemilik warung tersebut menangkupkan tangannya di depan dada menunjukkan bahwa dia merasa tidak enak kepada Isha.

“Tidak apa-apa, Bu. Saya juga salah, tanpa pikir panjang saya malah menawarkan diri. Kami pamit, ya Bu,” ucap Isha lalu melangkahkan kaki.

“Tunggu,” ucap pemilik warung karena merasa iba melihat Clara dan Viona beberapa kali menelan ludah melihat banyak sekali makanan yang terpajang di warung tersebut. Isha menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke belakang. Dengan cepat si pemilik warung memasukkan beberapa camilan ke dalam plastik, lalu menyerahkannya kepada Viona.

“Jangan ditolak, ini untuk anak-anak. Dimakan, ya.” Pemilik warung mengusap wajah Clara dan Viona bergantian.

“Terima kasih, Bu. Berapa?” tanya Isha mengeluarkan uang dari saku celananya.

“Tidak usah, saya ikhlas. Doakan saja agar saya segera mendapatkan momonga, ya.” Pemilik warung pun masuk ke dalam hingga tak terlihat lagi. Isha membawa anak-anaknya pergi berniat kembali ke rumah.

Ihsa memutar arah ke Pajak Singa. Isha berniat hanya melihat-lihat saja, entah ada satu ide usaha yang muncul di kepalanya ketika melihat aktivitas pasar tersebut. Isha menatap bergantian orang-orang yang sibuk di sana, Isha hanya terus memperhatikan akttivitas mereka.

Ketika hari sudah siang, pajak ini sangat ramai oleh pembeli dan penjual sayuran. Di antara mereka ada agen dari Jawa, Kota Medan dan juga dari daerah lainnya untuk memasok sayuran ke berbagai daerah. Bahkan, dari sini sayuran banyak dikirim ke Pulau Jawa. Baik itu jeruk, wortel, cabai merah, cabai rawit, buncis, kacang polong, tomat dan berbagai sayuran lainnya.

Hingga netranya menagkap banyak sekali sayuran yang berjatuhan, rasanya sangat sayang kalau sayuran itu terbuang begitu saja. Isha berusaha mengambil tomat yang jatuh, tetapi keburu diinjak oleh orang yang berlalu lalang. Pun sayuran yang lainnya, banyak sayuran tersebut yang terjatuh tidak sengaja.

Pembeli biasanya membuka keranjang, melihat dan memeriksa kualitas buah tomat, kemudian tomat tersebut terlepas dari genggaman karena orang tersebut tersenggol atau tertabrak orang yang sibuk. Pada dasarnya, pembeli suka membongkar keranjang dan mengeluarkan bagian atasnya, menumpuk di pinggir agar separuh isi kerangjang terlihat. Terkadang, tumpukan di samping itu terlalu tinggi sehingga buah tomat pun terjatuh.

Melihat banyaknya buah dan sayur yang terbuang sia-sia, Isha terpikir untuk memulung dan memasaknya untuk mereka. Karena sejatinya sayuran tersebut bersih, hanya saja yang membuat kotor ketika sudah terinjak dan lepek bahkan hancur.

“Isha!” panggil seseorang membuat wanita cantik itu menoleh, tetapi seketika bergegas pergi melalui gang kecil agar tidak terlihat oleh orang yang mengejarnya.

 

Bersambung.

 

 




Marah

0 0

Part 3

Sekuat apapun Isha mencoba kabur, terasa sulit untuk tidak bertemu dengan orang tersebut. Dua anak yang sedang dia tuntun, serta anak yang digendong menyusahkan dirinya bergerak cepat.

“Isha, kenapa kabur? Aku hanya ingin bertemu denganmu.” Dana, lelaki yang sedari dulu mengejar cinta Isha, bahkan lelaki itu tidak menikah agar bisa bersama Isha. Namun, cinta memang tidak bisa dipaksakan, Isha menikah dengan Kardo walau Dana tidak ikhlas.

“Apalagi, sih Bang? Saya wanita bersuami, tidak sepantasnya Abang mengejar saya seperti ini. Pergilah, sedari dulu saya tidak ingin bersama Abang, itu sudah jelas.” Isha nampak begitu kesal.

“Isha, bukankah suamimu sudah pergi? Apa kamu yakin dia akan kembali?” Pertanyaan yang semakin menyesakkan dada. Jujur, Isha sendiri tidak yakin, tetapi cintanya kepada pria berjambang tipis itu memaksa untuk mempercayai semuanya. Terlebih lagi ada tiga anak dari buah cinta mereka.

“Dia pasti kembali. Kalau bukan untukku, setidaknya untuk anak-anak ini!” Tegas Isha, kemudian meninggalkan Dana begitu saja.

“Aku masih menunggu, Sha. Dengan ke tiga putrimu, aku sanggup. Aku mampu membahagiakan kalian, bukalah sedikit saja hatimu untukku.”

Tidak ada balasan dari Isha, dengan langkah tergesa, dia menarik Clara dan Viona hingga gadis kecil itu agak terseret. Ada sedikit penyesalan di dalam hati Isha karena harus melalui pajak. Coba saja dari jalan lainnya, mungkin tidak akan bertemu Dana. Dia lupa kalau Dana memang salah satu agen yang mengirim sayuran ke Jawa.

Menyadari tidak diikuti oleh Dana, Isha berjalan perlahan. Karena dia jelas tahu Clara dan Viona kesulitan mengimbangi langkahnya. Kemudian ketika tiba di kios kosong, mereka berhenti sementara. Isha membuka kain jarik, lalu membiarkan Brena berjalan beriringan bersama ke dua kakaknya. Clara mengulurkan tangannya kepada si bungsu, pun Viona melakukan hal yang sama, kini Brena berada di tengah kakak-kakaknya.

Isha berjalan di belakang ke tiganya, pundak yang pegal, terasa lebih ringan. Menatap dari belakang, ke tiga buah hatinya saling menggenggam, berjalan beriringan, bersenandung kecil bersama dan bersahut-sahutan, tidak terasa bibir mungil itu terangkat sedikit. Ada rasa bahagia di sana serta hampa yang seketika menghampiri.

“Tetaplah seperti ini hingga dewasa kelak, Nak. Hingga kalian sama-sama mandiri, selalu saling menyayangi dan selalu ada ketika salah satu di antara kalian butuh bantuan atau dukungan.” Isha mengusap bulir bening yang berhasil lolos membasahi pipi. Beruntung deretan kios itu sepi, sehingga tidak ada yang melihatnya menangis.

Hari hampir siang ketika mereka tiba di rumah. Clara, Viona, dan Brena masih saja bersenandung ria hingga masuk ke dalam rumah. Clara segera mengambil kertas yang berserakan, lalu melipat kertas tersebut tanpa arah. Entah apa yang dia buat, Isha masih duduk di pintu rumah menatap aktivitas ke tiga putrinya. Viona mengambil mangkok plastik di sudut ruangan, ke luar rumah dan mulai mengisinya dengan tanah. Sedangkan Brena asyik memainkan boneka plastiknya sambil tiduran di atas karpet di lantai.

“Ra, jaga adik-adik, ya Nak. Mama masak dulu, kalian pasti lapar.” Isha berdiri setelah Clara mengangguk.

Pisau dapur di tangan bersiap mengupas bawang merah, tiba-tiba terdengar suara tangisan dan teriakan kencang dari arah depan.

“Mamaaa!” Clara dan Vioana serempak berteriak kencang di sela tangis si bungsu. Seketika saja pisau dapur terlempar entah ke mana. Panik, itu yang Isha rasakan sehingga ketika berlari ke ruang depan hampir terjerembab. Namun, kembali tegap melihat semua wajah dan mata Brena penuh tanah.

“Clara! Ada apa ini?” Teriak Isha karena panik dan terkejut. Bukannya menjawab, Clara malah menangis tangannya masih memegangi mangkok plastik bersama dengan Viona, sepertinya mereka saling berebut. Sedangkan di dalamnya berisi tanah yang sebagian sudah berserakan di lantai. Ketika tanah itu tumpah, nahas malah mengenai wajah, mata serta hidung Brena, membuat si bungsu menangis histeris.

Gegas, ibu tiga anak itu menggendong Brena ke kamar mandi dan segera membersihkan wajah, mata serta hidungnya yang kemasukan tanah. Kesal, marah dan emosi menjadi satu. Dia benar-benar marah kali ini kepada Clara, bukannya menjaga adiknya, dia malah berebut mangkok berisi tanah tersebut. Setelah benar-benar bersih, Isha mengganti baju Brena, kemudian memanggil Clara.

“Clara, mama meminta bantuan kamu menjaga adik, kenapa malah membuat mata adiknya kena tanah?” tanya Isha setengah berteriak. Gadis kecil itu hanya diam, tunduk memainkan ke dua tangannya. Isha mendudukkan Brena yang sudah diam dan tidak menangis di atas karpet. Melihat bekas tanah yang sudah bersih disapu oleh Clara.

“Clara! Jawab mama!” teriakan kencang akhirnya terdengar memekakan telinga.

“Vi-Vio membawa tanah masuk, Ma.” Clara menjawab tergagap. “Ara mau ajak main di luar, Vio enggak mau.” Clara mengusap air matanya. Isha diam, tetapi tatapannya masih terdapat kilatan amarah.

“Ara hanya ingin mengajaknya ke luar dengan memegang tangannya, ternyata saat menariknya tanah itu tumpah dan kena adik Brena.” Clara masih tunduk dalam, bahunya naik turun. Spontan saja Isha memeluk Clara dengan erat. Masih hari pertama, dirinya bahkan tidak dapat mengendalikan amarahnya. Padahal, sebelumnya dia merupakan pribadi yang sangat lembut dan selalu tersenyum kepada putri-putrinya.

“Maaf, Ma. Ara tidak sengaja.” Clara membalas pelukan Isha erat.

Isha mengurai pelukan, menatap dalam netra putri pertamanya, hatinya sakit mendapati perlakuannya kini kepada anak-anak, kemudian mengusap jejak air yang telah membasahi wajah mungil itu, mengecup pipi dan dahinya lembut. “Mama juga minta maaf, Sayang.” Clara mengangguk, Isha menghampiri Viona yang kini berdiri di dekat jendela.

“Viona, kalau mau main tanah di luar, Sayang. Di dalam kotor, kasihan juga adiknya kena mata, jadinya nangis.” Isha berlutut di hadapan gadis kecilnya tersebut, kemudian memeluk serta menciumi wajahnya gemas. Viona hanya mengangguk dan tersenyum.

“Sekarang, Clara jagain adik Brena di sini. Viona, kalau mau main di luar saja, ya. Atau main di dalam, tapi enggak boleh bawa tanah. Gimana?” tanya Isha kepada Viona.

“Di dalam saja, Ma. Di luar panas.” Viona kembali memasuki rumah di mana dia sempat ke luar hendak bermain kembali.

“Kalau begitu, cuci tangan, kaki dan wajahnya dulu. Biar bersih, itu ada bekas tanahnya.” Viona memasuki rumah setelah membuang tanah di mangkok plastiknya.

“Ma, sekalian cuci ini, ya. Buat main di dalam, boleh?” tanya Viona mengikuti Isha ke dapur.

“Boleh, Sayang. Bisa cuci sendiri, ‘kan?” Viona mengangguk menjawab pertanyaan mamanya.

Setelah makan siang, Isha menidurkan ke tiga buah hatinya. Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk bertahan hidup ke depannya. Untuk saat ini, yang perlu dia lakukan adalah menjaga buah hatinya, agar kecelakaan-kecelakaan kecil tidak terjadi lagi.

Sore telah menyapa, tetapi Isha belum memiliki ide usaha apa agar memiliki uang masuk. Jika kuli di ladang orang pun, dia tidak yakin akan diterima karena tidak ada yang menjaga anak-anaknya. Dia sudah tahu, uang dua ratus ribu itu tidak akan cukup selama sebulan, tetapi apa yang bisa dia lakukan selain pasrah dan menerima.

Malam ini, mereka makan hanya dengan nasi goreng tanpa kecap serta satu telur yang diorak-arik. Satu telur untuk berempat. Itu pun sudah sangat nikmat dan mengenyangkan. Isha bersyukur, walau kekurangan, anak-anak tidak rewel dan memilih makanan. Apa saja yang dia masak, anak-anak selalu bahagia dan selalu menghabiskan makanannya.

Malam pun hadir, setelah semua putrinya tertidur, Isha membuka pintu dan duduk di teras, menatap bulan yang terang serta bintang-bintang yang menari di atas langit. Sepi kembali memeluk sanubari, air mata kembali menghampiri. Teringat tragedi yang mengacaukan harinya sejak bangun tidur. Brena jatuh dari kasur, odol jadi sabun wajah oleh Viona, dan kembali Brena yang terkena tanah mata serta wajahnya. Pun Clara yang menjadi sasaran kemarahannya.

“Mas, aku rindu. Andaikan saja kamu memilih bertahan, Mas. Aku tidak pernah menuntut apa-apa darimu. Aku sungguh sangat pincang di sini, Mas. Tanpamu,” isak yang tidak terlalu terdengar, tetapi dapat terlihat jelas oleh seseorang yang tengah memperhatikan dari kejauhan. Pancaran sinar rembulan tidak dapat menutupi bulir-bulir bening yang terus membasahi pipinya.

Bersambung.




Peringatan

0 0

Part 4

Lelah menangis ditemani temaran sinar rembulan serta bintang yang menari, Isha memutuskan kembali ke dalam rumah. Duduk di bibir kasur, menatap bergantian ke tiga buah hatinya, kemudian mengecup satu per satu dan berbaring di dekat Brena. Isha menyadari satu hal, seharian ini Brena tidak meminta ASI, sehingga dadanya terasa penuh. Usianya baru dua tahun, apa mungkin dia ingin disapih? Isha mencari posisi yang pas untuk tidur agar dadanya tidak sakit, tak lama setelahnya dia pun tertidur.

Pagi menyapa, Isha menghalangi tempat tidur dengan bantal guling agar kejadian kemarin tidak terulang kembali. Isha segera memasak nasi dan membuat kuah bawang lagi, sempat terpikir membeli sayur ke warung Mak Winda, warung tempat biasanya Isha berbelanja. Namun, setelah dipikir lagi, dia urungkan karena uangnya tersisa lima puluh ribu Rupiah. Gas hampir saja habis, pun token mendekati krisis.

Sebelum anak-anak bangun, wanita berambut panjang itu kemudian merendam pakaian di kamar mandi. Saat hendak mencuci, ternyata sabun cuci habis. Mau tidak mau dia harus membeli ke warung. Tidak bisa tidak, sudah sangat darurat. Baju yang terlanjur direndam akan bau jika tidak segera dicuci dan dijemur.

“Token dua puluh tiga ribu, gas dua puluh ribu, total empat puluh tiga ribu. Sabun cuci batangan dua ribu lima ratus, sisa uang empat ribu lima ratus. Aku tidak bisa membeli apa pun untuk anak-anak.” Isha bergumam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Sebagai seorang ibu, jelas dia sangat ingin agar anak-anaknya jajan seperti anak-anak lainnya. Tetapi, dia bahkan tidak mampu untuk memberi makan mereka dengan layak. Isha teringat makanan yang kemarin, jajanan yang diberikan oleh pemilik warung yang membutuhkan lowongan pekerjaan tersebut. Dia bahkan lupa, pun anak-anak tidak ingat karena tidak terbiasa jajan.

Gegas, Isha pulang. Sekitar lima langkah lagi sampai di rumah terdengar suara tangisan dari Viona. Ini sangat membuat Isha heran, dari semua putrinya Viona bukan termasuk anak yang cengeng dibandingkan Claran dan Brena. Langkahnya sedikit berlari, Isha membuka kunci pintu secepat yang dia bisa. Mamasuki kamar dan segera memeluk Viona.

“Ada apa, Sayang? Ada apa, Nak?” Viona terus saja menangis dalam dekapannya. Sabun dia letakkan di lantai, mengusap wajah putrinya lembut serta membersihkan bekas air mata yang membasahi pipi mungilnya.

“Mama, Bapak pergi. Mama jangan pergi juga,” tangisan Viona semakin kencang terdengar. Seperti ada angin yang menyapu jantung Isha. Seketika debaran di dadanya berdetak tak beraturan. Perasaannya campur aduk.

“Ini ada mama, Sayang. Mama enggak pergi, Cuma beli sabun. Mama mau cuci baju Vio, nanti kalau bajunya abis, masa Vio enggak pakai baju?” tanyanya sedikit mundur karena merasa sakit di bagian dada. Jelas saja, air susu yang sehari semalam tidak dikeluarkan lagi membuat bengkak dan rasa sakit yang lumayan, harus dia tahan. Saat menyapih Clara dan Viona dulu, sakitnya hanya dua hari. Pun kali ini, Isha berharap hanya dua hari saja.

“Tadi Mama enggak ada,” ucap Viona masih menangis. Khawatir menganggu Clara dan Brena, Isha menuntun Viona ke luar kamar. Dalam hati Isha sebenarnya jauh lebih sakit ketika Viona seperti ini. Namun, dia mencoba lebih tegar dan tersenyum agar si buah hati tidak terlalu memikirkannya.

“Sayang, Bapak itu pergi untuk bekerja. Supaya nanti, saat Vio ingin apa-apa, bisa kita beli.” Isha mengusap kembali air mata putri ke duanya, lalu menyematkan rambut yang menutupi wajah Viona di balik telinganya.

“Besok, Mama ke warung, Viona harus ikut.” Bibir gadis mungil itu mengerucut sontak membuat Isha tersenyum dan mencium pipi putrinya gemas.

“Oke, Sayangku,” jawab Isha lalu melanjutkan cuciannya setelah mencuci wajah Viona. Kali ini, dia tidak meminta gosok gigi lagi. Mungkin kapok, padahal harusnya mandi dan gosok gigi. Itu tidak dilakukan, Isha harus mengirit sabun mandi, odol dan lainnya yang masih ada di rumah. Belum tentu kapan dirinya akan memiliki uang lagi untuk membeli semua barang yang habis.

“Ma, lapar.” Isha menoleh ketika mendengar Brena kali ini yang menghampirinya ke kamar mandi.

“Wah, anak mama sudah bangun. Sini, cuci muka dulu.” Wanita berambut panjang sepinggang tersebut kemudian menggendong si bungsu dan membawanya ke kamar mandi, lalu mencuci wajahnya. Sedikit menggelitik sehingga Brena tertawa terbahak. Itu merupakan hiburan tersendiri bagi Isha.

“Tunggu di sini, ya.” Isha mendudukkan Brena di dekat Viona, mereka bermain bersama. Ada beberapa kertas gambar dan beberapa mainan plastik lainnya yang dia temukan di jalan, kemudian dicuci dan dijadikan mainan anak-anaknya. Gambar kertas tersebut tidak dipulung, tetapi diberikan orang lain yang kasihan kepadanya.

“Ra, bangun Nak.”

Isha membangunkan Clara, biasanya putri sulungnya itu bangun paling awal, hari ini dia malah bangun paling lambat. Satu hal yang tidak disadari oleh Isha adalah, Clara pun tidak tidur ketika mendengar isak tangisnya semalam. Dia merasakan kepedihan sang mama, tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa menghiburnya. Sehingga dia memilih menunggu Isha di depan pintu kamar, menunggu hingga wanita yang selalu melindunginya itu menutup pintu ruangan depan. Berlari memasuki kamar, dan menutup tubuhnya dengan selimut hingga dada, dan menutup matanya rapat. Anak sekecil itu harus bersandiwara agar tidak ketahuan mengamati mamanya dari kejauhan.

Isha terlalu larut dalam kesedihannya. Dia tidak menyangka, harus ditinggal meninggal ke dua orang tuanya ketika usianya beranjak tujuh belas tahun, dan harus berpisah juga dengan suami yang sangat dia cintai. Sedangkan, dia harus menghidupi, merawat, menjaga serta mendidik anaknya sendirian. Tidak hanya satu anak, tiga sekaligus, dan sendiria. Tidak ada keluarga yang mendukung, sanak saudara, bahkan tetangga.

Hari ke tiga, seharusnya Kardo sudah sampai di Jakarta. Hati dan perasaan Isha sedikit gelisah pula, akankah sang suami memberinya kabar, atau tidak sama sekali.

“Ra, bangun, Sayang.” Isha mengecup lembut pucuk kepala sang putri.

“Ma,” jawabnya serak, seketika saja Clara berhambur ke pelukan Isha saat kesadarannya mulai penuh. Mendekap erat dan enggan melepaskan. Entah apa yang anak-anak ini rasakan, sehingga pagi ini berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Tentu saja selain tidak hadirnya sang suami.

“Kenapa, Nak?” tanya Isha bingung.

Clara melepas pelukan, kemudian menggeleng. Mengecup pipi mamanya bergantian, kemudian memeluknya lagi erat, lalu meninggalkannya begitu saja. Seperti itulah anak-anak, tidak dapat mengungkapkan apa yang dia rasakan, tidak dapat menguatkan dengan kata-kata, hanya dengan dekapan dan kecupan di pipi menandakan bahwa dirinya sangat menyayangi orang tua.

Selesai membersihkan dan merapikan tempat tidur, Isha mendapati kini Clara sudah melayani adik-adiknya makan dengan kuah bawang yang telah dia buatkan tadi. Isha menghampiri putri sulungnya, mengecup sekilas kepala dengan rambut lurus hitam lebat itu, lalu berlalu melanjutkan cuciannya di kamar mandi.

Dengan telaten Clara menyuapi Brena makan, sedangkan Viona sudah bisa makan sendiri. Sibuk menjemur pakaian di samping rumah, Indra yang juga merupakan sepupu jauh dari Isha menghampiri.

“Sha, Kardo sudah sampai, apa kamu mau video call?” tanyanya santai.

“Mau, Bang. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya,” jawab Isha cepat, segera merapikan rambutnya, dan menggendong Brena, serta memberitahukan Viona dan Clara. Mereka berempat kini sudah duduk di depan rumah beralaskan rumput.

“Ini, sudah tersambung.” Indra menyerahkan telepon genggamnya.

“Halo, Mas.” Senyum Isha dibuat senatural mungkin, padahal kenyataannya dia sangat ingin menangis dan menumpahkan semua keluh kesahnya dua hari tiga malam ini.

“Halo, Ma. Kalian semua sehat? Bapak juga sehat.” Pertama kalinya Kardo memanggil istrinya dengan sebutan itu. Isha sedikit terkejut, tetapi ada rasa bahagia yang membuncah di dadanya.

“Sehat, Pak. Bagaimana perjalanan ke sana?” tanya Isha lembut, khawatir tentu saja.

“Lancar, tidak ada hambatan sama sekali.” Jawabannya membuat Viona menoleh dan menatapnya sinis, kemudian pergi dari pangkuan sang mama.

“Anak-anak bagaimana?” tanya Kardo sedikit berbisik. Semakin aneh yang Isha rasakan.

“Sehat semua, nih Mas bisa lihat sendiri.”

“Ya syukur kalau begitu,” ucap Kardo seakan sungkan, tatapannya yang menyiratkan hal itu. Isha sudah tahu ada yang janggal dan aneh, hanya saja masih berusaha menepis pikiran buruknya tersebut.

“Bagaimana nan-,“ Belum sempat Isha bertanya, panggilan terputus. Clara pun belum sempat menyapa, Brena yang belum paham, serta Viona yang keburu merajuk.

“Sudah? Cepat amat?” tanya Indra ketika Isha menyerahkan gawai tersebut kepadanya.

“Entahlah, Bang. Mungkin sinyalnya jelek,” jawab Isha gugup.

“Ya sudah, abang pulang. Yang penting sekarang sudah tahu kabar suamimu.” Indra menatap dalam Isha.

“Iya, Bang.” Isha tunduk, merasa tidak enak dipandangi seperti ini.

“Sha, maafkan abang. Sejak dulu, abang tidak suka kepada suamimu ini, tetapi kamu berikeras. Abang hanya takut terjadi sesuatu padamu, Sha.” Indra mengusap rambut Viona sekilas.

“Tidak akan terjadi, Bang,” jawab Isha tersenyum dipaksakan.

“Semoga saja, ya. Tetapi, feeling abang sudah tidak enak.” Indra menatap kembali sepupunya itu.

“Maaf, Sha. Bukannya menghiburmu, tapi malah membuatmu kepikiran. Hanya saja, abang ini juga lelaki. Perasaan kami mungkin tidak jauh beda, apalagi sikap dan cara berbicaranya barusan,” ucap Indra tunduk.

“Ya, sudah. Abang pulang dulu.” Indra menyalami Clara, ternyata menyelipkan uang seratus ribuan di tangan mungil itu.

“Iya, bang. Titip salam sama Kakak dan keponakan, ya. Terima kasih, sekali lagi, Bang.” Isha menuju tali jemuran. Indra sudah hilang dari pandangan.

”Ma.” Clara menyerahkan uang seratus ribu tersebut. Sontak Isha kaget dan melotot.

“Dapat dari mana?” tanyanya panik.



Bersambung.




Pemulung

0 0

Part 5


“Dari Mama Indra,” jawabnya polos.


Di Tanah Karo, saudara Mama/ibu itu dipanggil mama. Meski saudara jauh, jika dia laki-laki dan secara tutur adat Karo disebut Turang, maka keturunan si wanita akan memanggil si laki-laki ini dengan sebutan mama, pun ketika dia sudah mengakui dan menganggap seseorang itu saudara/saudarinya, maka ikatan adat dan kekeluargaan sudah merekat di antara mereka. Saling menghargai, menghormati dan saling menyayangi.


Isha luruh ke tanah, dia sudah sangat bingung, ternyata Tuhan masih mengirimkan orang untuk membantunya. Meski demikian jelas uang seratus ribu itu tidak akan cukup sebulan ke depan, dan dia masih harus terus berusaha mendapatkan uang masuk, Isha sangat bersyukur.


“Terima kasih, Bang. Aku doakan, Kakak dan Abang mendapatkan rezeki yang berlimpah,” lirih Isha kemudian bangkit.


Harapannya kepada Kardo sebenarnya pupus sudah, hati kecilnya mengatakan bahwa dirinya tidak perlu mengharapkan lelaki itu lagi, meski selalu berusaha menyangkal, lagi-lagi hati kecilnya memaksa agar dia mandiri.


Air mata tidak dapat dibendung, luruh begitu saja. Sakit, pedih dan perih bercampur jadi satu.

Walau belum jelas kalimat perpisahan yang diucapkan oleh sang suami, sudah jelas itu yang akan terjadi jika di telepon saja dia ragu untuk menyapa anak-anaknya. Ragu mengucapkan dengan lantang kalau dia adalah lelaki beristri. Jangankan beristri, anak-anaknya tak satu pun dia sapa.

Isha bangkit berdiri, memasukkan uang ke dalam saku celana dan menyelesaikan menjemur pakaian. Isha melamun, padahal selama ini anak-anak sangat dekat dengan Kardo, kenapa seakan-akan mereka memilih untuk menjauh. Apa karena saat pergi, terkesan sangat mendadak dan tidak meminta izin anak-anak?


Wanita dengan rambut panjang itu memijit pelipis yang terasa berdenyut, nyeri. Apakah ini sinyal dari anak-anaknya, bahwa suaminya tidak akan kembali?


Isha mencari pegangan karena hampir saja terjatuh. Gelak tawa ke tiga buah hatinya menyadarkan diri, menguatkan dan mencengkeram tiang jemuran lebih erat.


“Kuat, Sha. Tatap anak-anak ini. Lihatlah keceriaan mereka, mereka butuh kamu.” Batin Isha berteriak kencang. Belum begitu kuat dirinya untuk berdiri tegak, kepalanya masih berat, lututnya terasa lemas.


“Isha! Bangkit! Kalau bukan kamu, siapa lagi? Apa kamu tega membiarkan ke tiga putrimu ini? Apa jadinya mereka jika kamu lemah seperti? Isha! Bangun! Kuatkan kakimu!” Akhirnya setelah memusatkan pikiran, tenaga kembali terkumpul dan Isha berdiri tegak.


Menarik napas dalam, hembuskan perlahan dan diulangi beberapa kali, Isha melangkahkan kaki ke dapur. Mengingat bahwa dirinya belum makan apa-apa sejak pagi, dan hari hampir saja siang, dia kemudian menggoreng kerupuk yang sempat dibeli dua hari lalu.


Makan siang kali ini menunya kuah bawang dengan kerupuk, anak-anak makan dengan lahap seperti biasanya. Pikiran Isha menerawang jauh, mata yang tertuju ke botol plastik bekas memberinya ide untuk memulung sampah plastik. Setidaknya, dengan demikian dia bisa bekerja sambil menjaga anak-anaknya.


Tidak menunggu lama, setelah membereskan semua peralatan makan, Isha bergegas mengambil karung di dapur. Entah akan mendapatkan banyak atau tidak, yang penting usaha dulu. Hanya itu yang dia pikirkan. Kalau tidak sekarang, kapan lagi. Isha menggendong Brena di belakang dengan kain jarik, agar memudahkannya memulung, serta menuntun Clara dan Viona.


“Mau ke mana?” Mak Cinta menyapa ketika tiba di depan rumahnya. Posisi rumah Isha adalah paling ujung di gang.


“Ke luar, Kak. Mencari sesuatu, entah botol bekas atau apa saja. Yang penting menghasilkan uang.” Isha tersenyum walau hatinya ketar-ketir. Ucapan apa lagi yang akan dilontarkan tetangganya itu.


“Oh, ya sudah. Hati-hati, ya. Clara sama Viona di sini saja, main sama Cinta. Kamu pasti kesulitan kalau mereka juga ikut.” Kali ini, sikap Mak Cinta sedikit berubah. Entah apa yang menggerakkan hatinya, tetapi Isha bersyukur akan hal itu.


“Tidak, Kak. Justru saya kesepian, kami belum pernah berpisah. Aku tidak bisa,” ucap Isha nyengir menolak secara halus. Kebenaran memang mereka tidak pernah berpisah walau sedetik, tetapi kenyataan lain adalah Isha tidak tenang dan tidak percaya menitipkan anaknya kepada siapapun.


“Ya, sudah. Hati-hati kalau begitu.” Mak Cinta menatap kepergian Isha dan ke tiga putrinya.


“Ma, kita ke mana?” tanya Clara.


“Kita mencari botol plastik, Sayang. siapa tahu setelah banyak nanti, bisa dijual.” Senyum Isha merekah menatap putri sulungnya.


“Yang seperti apa, Ma?” kali ini Viona yang bertanya.


“Nanti juga kalau ada, mama kasih tahu. Apa anak mama ini mau bantu?” tanya Isha menggenggam erat tangan ke dua putrinya sambil tersenyum.


“Mau,” jawab mereka serempak.


“Anak pintar,” puji Isha.


Beberapa waktu mereka berjalan, tidak menemukan satu pun sampah botol plastik. Isha hampir saja menyerah karena sudah lelah berjalan, memasuki pemukiman warga yang agak padat, Isha menemukan keranjang sampah yang lumayan penuh. Isha mencoba mengorek dengan tangan kosong. Aroma sampah yang menguar membuatnya harus menutup hidung dengan tangan kirinya.


“Ma, bau.” Viona mundur, sedangkan Clara malah maju tanpa menutup hidungnya, lalu membantu Isha mengorek sampah tersebut.


“Itu, Ra. Masukin sini, ya.” Isha membuka lebar karung yang dia bawa dari rumah.


“Ini, Ma? Ini juga?” Clara semangat membantu sang mama, tak terlihat lelah di wajahnya. Padahal, sudah berjalan lumayan jauh.


“Hati-hati, Ra. Tangan dan kaki, takut ada kaca.”


“Iya, Ma.” Bocah itu asyik mengumpulkan botol plastik bekas. Selesai satu tempat sampah mereka datangi dan merapikan kembali setelah diacak-acak, mereka pergi mencari tempat sampah lainnya.


Puas berkeliling hari ini, Isha hanya mendapatkan sedikit saja isi karungnya. Hampir semua tempat sampah kosong plastik bekas, mungkin sudah didahului orang lain. Megingat sulitnya mencari uang zaman sekarang, sampah pun kini menjadi rebutan.


Meski demikian, Isha tidak akan menyerah. Setidaknya dengan begini, harapan mulai hadir di benaknya. Niatnya, esok hari dia akan berusaha lebih maksimal. Bangun lebih pagi, dan mencari lebih jauh. Untuk saat ini, tidak ada pilihan lain selain memulung.


“Mak Clara, tahun ini Clara jadi sekolah, masuk SD?” tanya Mak Cinta begitu mereka tiba di depan rumah tetangga yang suka kepo itu. Karung yang dijinjing Ihsa diletakkan sebentar, lalu teresenyum.


“Harus jadi, Kak. Usianya sudah tujuh tahun, aku tidak mau dia terlambat sekolah.”


“Sudah ada peralatan sekolahnya? Sudah daftar?” tanya Mak Cinta lagi.


“Belum, Kak. Akan aku usahakan, lagian masih ada waktu dua bulan lagi masuk sekolah. Bulan depan baru buka pendaftaran,” jawab Isha.


“Oh, iya. Semoga saja saat tiba waktunya nanti, Pak Clara kirim uang, ya. ‘Kan nanti sudah lebih sebulan. Pastilah sudah gajian,” ujar Mak Cinta.


“Iya, Kak. Doakan saja. Kami pulang dulu, ya. Sudah sore, mau mandi.” Isha pamit dan meninggalkan Mak Cinta yang masih saja menatapnya hingga tak terlihat lagi.


“Ma, kakak mau sekolah?” tanya Clara setibanya mereka di rumah.


“Iya, Nak. Kamu mau, ‘kan?” tanya Isha meletakkan karung di samping rumah di bawah tiang jemuran.


“Mau, mau, mau,” jawabnya riang.


“Ya sudah, sekarang ayo kita mandi.” Isha membawa ke tiga buah hatinya ke kamar mandi, memandikan dan dia pun mandi setelah semua putrinya mengenakan baju.


Isha teringat makanan yang diberikan pemilik warung tempo hari, dia simpan di rak piring. Diambil, lalu menatap dengan nanar. Tiga botol susu kotak, tiga buah roti selai coklat, serta tiga bungkus keripik.


“Aku tidak pernah membelikan yang seperti ini untuk mereka, akankah hidup kami berubah nantinya? Mungkinkah Mas Kardo mengirim uang sedangkan ….” Isha tidak meneruskan kalimatnya. Wanita dengan bibir tipis itu menghampiri ke tiga putrinya dengan membawa tiga bungkus roti saja.


“Kalian mau makan roti?” tanya Isha, ke tiga putrinya malah bingung. Biasanya, kalau pun ada makanan, paling pisang rebus, singkong rebus, atau jagung rebus yang diberi oleh pemilik ladang ketika Kardo bekerja di ladang mereka.

“Ini, Nak. Enak, cobain.” Isha membuka plastiknya, lalu menyerahkan kepada Brena terlebih dahulu. Walau bingung awalnya, akhirnya Brena menerima dan memakan dengan lahap. Penasaran kini yang Viona rasakan sehingga bocah itu berteriak.



Bersambung.



Dana

0 0

Part 6


“Mau! Mau! Mau!” Viona berteriak sambil bertepuk tangan.


“Sabar, Sayang.” Isha membuka plastik yang ke dua, kemudian menyerahkan kepada Viona.


“Clara kenapa diam saja? Enggak bisa buka?” tanya Isha, putri sulungnya itu malah tersenyum. Isha membukakan untuk si sulung, hal tak terduga justru yang diterima oleh Isha. Clara membagi roti itu menjadi dua dan menyerahkan sebagian kepada mamanya.


“Clara saja, mama enggak suka.” Isha meninggalkan Clara beserta adik-adiknya di depan, dan segera memasak di dapur. Ketika Isha hendak meletakkan panci berisi air di atas kompor, air matanya luruh seketika.


Dia mendapati setengah roti milik Clara diletakkan di atas plastik pembungkus roti tersebut, persis di samping kompor gas. Isha menyalakan kompor, lalu duduk di lantai. Diraihnya roti itu dan memasukkannya ke dalam mulut.

Sedikit digigit, rasa manis, legit dan lembut dirasakan di lidah. Isha memejamkan mata menikmati gigitan pertamanya, sudah sangat lama dia tidak memakan roti sejenis itu. Nikmat yang tiada tara, rasa rindunya terobati di lidah walau hanya sedikit saja.


Tidak punya pilihan lain, jika membeli roti dia tidak bisa membeli beras. Yang utama adalah beras, karena perut ke tiga putrinya adalah prioritas. Tak terasa air mata mengalir di wajahnya yang semakin tirus. Disadari atau tidak, pikiran dan raganya lelah. Wanita berambut panjang itu merasakan derap langkah menuju dirinya, segera air mata itu diusap kasar. Menoleh dan tersenyum.


“Ada apa, Sayang?” Brena yang menghampirinya.


“Minum.” Tentu saja, tenggorokannya pasti kering setelah dilewati oleh roti barusan.


“Duduk di sini, mama ambilkan.” Putri bungsunya manut dan segera duduk di bawah meja dekat kompor gas.


“Minumlah,” ucap Isha menyodorkan gelas plastik di depan bibir mungil putrinya, kemudian duduk di hadapan Brena.


“Enak rotinya?” tanya Isha.


“Emmm,” jawab Brena dengan mengacungkan jempolnya.


“Suka?” tanya Isha lagi.


“Suka banget.” Brena menaiki pangkuan mamanya. Dia duduk, memeluk leher dan menciumi pipi sang mama. Dibalas oleh Isha, kemudian mulai menggelitik si buah hati. Gelak tawa kini terdengar memenuhi dapur.


“Clara!” Mak Cinta memanggil. Gegas Isha menuju pintu depan, Mak Cinta sudah berdidi di depan pintu.


“Iya, Kak. Mari masuk,” tawar Isha.


“Enggak usah, ini ada sedikit rezeki. Ada sedikit daun singkong. Apa kalian suka? Kalau tidak aku buang saja.” Mak Cinta terlihat ragu.


“Eh, suka Kak, suka.” Isha mengulurkan tangan bersiap menerima daun singkong yang terlihat masih segar tersebut.


“Ini, enggak banyak. Cuma sedikit,” ucap Mak Cinta.


“Tidak apa, Kak. Terima kasih. Ini juga cukup.” Isha tersenyum bahagia.


“Mak Clara, cobalah tanam pohon singkong di samping, lumayan masih ada lahan itu sedikit. Setidaknya untuk sayur sendiri enggak beli. Kalau mau, aku ambil nanti pohonnya.” Mak Cinta memberi saran.


“Eh, iya Kak. Aku juga berpikir begitu, tetapi enggak ada bibitnya. Bingung juga.” Isha nyengir.


“Kamu beneran mau? Aku ada bibit sayur lainnya, seperti pakcoy dan kangkung. Lumayanlah, untuk konsumsi sendiri.”


“Ini saja sudah banyak terima kasih, Kak. Saya tidak enak.” Isha sungkan.


“Tidak apa, sebentar saya ambilkan. Yuk, langsung tanam, lalu siram. Mumpung masih sore.” Mak Cinta menarik tangan Isha ke rumahnya. Isha hanya menunggu di depan rumah Mak Cinta. Ada beberapa bibit sayur yang dia berikan, kangkung, pakcoy, bayam, serta beberapa batang pohon singkong.


“Banyak sekali, Kak. Terima kasih banyak, ya.” Isha kemudian pamit undur diri.


Setibanya di rumah, Isha segera menanam pohon singkong di bagian pinggir. Untuk kangkung, bayam dan pakcoy Isha membuat satu bedengan kecil memanjang. Brena dan Viona ikut bermain tanah.


Wajah mereka kotor dan cemong karena tanah mereka mainkan, ditabur, serta dilempar. Sedangkan Clara membuat bulatan-bulatan kecil dari tanah. Gelak tawa anak-anak itu terdengar sangat bahagia. Padahal tadi sudah mandi, nanti harus mandi lagi, meski demikian Isha tidak marah. Dia justru tertawa melihat tingkah laku dan kotornya anak-anak ini. Tawa lepas mereka yang tanpa beban semakin menyadarkan Isha bahwa dirinyalah satu-satunya harapan anak-anak ini.


“Isha ….” Panggilan suara berat menyadarkan Isha dari lamunan, menoleh dan tunduk.


“Ada apa, Bang? Malah mencari sampai ke sini. Pergi sana!” usir Isha, menggendog Brena dan sedikit menyeret Viona masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Clara segera memasuki rumah sebelum disuruh. Dia begitu paham apa yang ditakuti oleh Isha, dan apa yang diinginkan sang mama. Clara membantu Isha menutup pintu, sebelumnya sempat menatap dalam netra Dana. Clara tahu lelaki itu tulus, dia sempat melmparkan senyuman, tetapi tidak terlihat oleh Dana karena terlanjur sedih terus mendapatkan penolakan. Dana, yang masih berdiri tunduk mengangkat wajahnya ketika mendengar pintu terbuka kembali.


Hatinya bergetar hebat karna Isha keluar rumah, lalu menutup pintu dan menghampirinya. Mungkin saja wanitanya itu telah menyerah dan mau menerimanya. Langkah demi langkah bagaikan gerak lambat. Begitu tiba di hadapan, Isha menatapnya tajam. Bak harimau yang siap menerkam mangsanya.


“Apa sebenarnya yang Abang inginkan?”


“Kamulah, apa lagi?” jawaban santai Dana membuat Isha semakin geram.


“Apa Abang sungguh mencintaiku?” tanya Isha dengan suara mulai melemah, bagaikan angin segar, perut Dana bagikan diterbangi ribuan kupu-kupu. Delapan tahun lebih penantian, akhirnya Isha bertutur kata lembut meski matanya menunjukkan kilatan amarah.


“Tentu saja, Sha. Sejak dulu, sampai napas ini terlepas dari raga. Kamu lihat, abang bahkan tidak menikah demi menunggumu.”


“Jika aku meminta sesuatu apakah Abang akan mengabulkannya?” tanya Isha kini lembut. Dia terlihat tidak berdaya, membuat Dana semakin yakin, wanita di hadapannya ini akan jatuh ke pelukannya.


“Apa itu, Sha? Selagi aku mampu, apa pun akan kuberikan, uang, rumah, mobil, baju, apa pun! Apa pun!” Dana bersemangat dengan tatapan penuh cinta.


Isha masih diam di tempat, air matanya luruh. Sesungguhnya, dia tidak tega melihat Dana seperti ini. Terus memperjuangkan dirinya, bahkan dahulu Dana sering membantu Kardo diam-diam agar bisa menghidupi dirinya dan anak-anaknya dengan layak.


“Katakanlah, Sha. Apa itu?” tanya Dana tidak sabar.


“Aku tidak yakin Abang akan memenuhinya.” Isha mengusap air matanya.


“Sha, jangan menangis.” Dana hendak mengusap air mata itu, tetapi urung karena masih tahu batasan.


“Katakanlah.”


“Tolong Abang menikah, dan jangan pernah datangi aku lagi. Lupakan aku dan semua harapan yang pernah Abang buat untukku. Aku tidak pantas untuk Abang. Itulah pembuktian cinta Abang kepadaku. Ingat, Bang. Kalau Abang berani ke sini lagi, atau membantu kami secara diam-diam lagi, aku akan bunuh diri, Bang. Jangankan melihatku dari kejahuan, bahkan jasadku pun tidak akan pernah Abang lihat lagi.” Isha berbalik dan melangkah.


“Sha, aku sangat mencintaimu.” Dana menarik rambutnya kencang. Seketika hatinya berdenyut nyeri, harapnya pupus sudah.


“ Jika itu adalah buktinya, jika penantianku selama hampir sembilan tahun ini tidak ada artinya, maka baiklah. Abang akan menikah. Apakah aku boleh mengundangmu?” tanya Dana dengan tatapan sayu. Dia tidak menduga ini yang akan diucapkan oleh Isha. Wanita berambut panjang itu mengangguk.


“Apakah aku boleh memberimu sesuatu sebelum aku benar-benar pergi dan menikah dengan orang lain? Kumohon jangan menolak.” Dana mendekat.


“Tidak, Bang. Jangan memberiku apa pun. Berikan saja pada orang lain. Aku tidak ingin apa pun darimu, hanya satu itu pintaku. Agar kamu menikah dan jangan pernah melihatku lagi.”


“Baiklah, Sha. Kamu juga ingat satu hal, kapan pun, kalau kamu butuh bantuan, jangan pernah ragu untuk datang. Abang akan selalu ada, dan selalu siap membantu.”


“Iya, pergilah.”


“Satu lagi, jika ada yang menyakitimu, aku akan korbankan nyawaku untukmu! Diterima atau tidak, aku tidak peduli!” ucap Dana berapi-api. Isha memasuki rumah dan menutup pintu, lalu menguncinya.


“Apa orang itu jahat?” tanya Viona begitu Isha memasuki rumah.


“Enggak,” jawab Isha tersenyum.

“Kenapa Mama selalu mengusirnya?” tanya Viona lagi. Clara memilih diam dan mendengarkan.


“Karena dia bukan siapa-siapa, Nak.”


“Bukankah kata Mama kita harus baik sama orang? Kenapa Mama malah marah-marah?” tanya Viona lagi.


Isha hanya bungkam kali ini. Bingung menjelaskan kepada anak berusia empat tahun tersebut. Bahwa seorang wanita yang sudah menikah, tidak patut membuka hati atau malah menjalin hubungan dengan pria lain. Serta batasan-batasan lainnya sebagai wanita bersuami.


Selain itu, Isha tidak ingin membuka peluang masuknya pihak ke tiga atas kehancuran rumah tangganya. Kalau pun hal itu terjadi, jangan sampai kesalahan ada pada dirinya. Itulah prinsip yang selama ini dia pegang. Lagi pula, dia tidak pernah mencintai Dana, dia juga tidak pernah membuka hati untuk pria itu sejak dahulu.


“Ma, jawab,” desak Viona.

 

Bersambung.

 

 

 



Pekerjaan

0 0

Part 7


“Ayo, kita mandi lagi. Kalian sudah sangat kotor main tanah." Isha mengalihkan pembicaraan. Viona mengerucutkan bibir, tetapi tetap mengikuti mamanya.


Malam ini rasanya lebih panjang dari malam-malam sebelumnya, pikiran Isha semakin kacau dengan sikap Kardo. Hampir pagi, Isha belum juga bisa tertidur, akhirnya memilih bangkit dan memasak nasi. Tiga kotak susu di atas rak piring mengalihkan perhatiannya.


Andaikan saja dirinya mampu, bila saja dulu dia tetap bekerja, jika saja rumah makan tempatnya bekerja dulu tidak bangkrut, tentu dia bisa memenuhi kebutuhan anak-anak ini. Menyentuh susu kotak sekilas, lalu terduduk di lantai, menangis dan meratapi nasib.

Dahulu, dia sempat diingatkan oleh Indra, oleh Dana, dan oleh tetangga sekitar. Akan sangat riskan menikah dengan orang yang bukan suku asli.


Ada kemungkinan, dia akan kembali ke daerah asalnya, dan tidak balik lagi. Sayangnya, Isha bersikukuh dengan keyakinannya pribadi. Sehingga inilah yang sekarang yang terjadi. Susu itu akhirnya dia berikan kepada anak-anak ketika siang hari, saat mereka memulung botol bekas dan panas terik di jalanan.


Isha mulai mempersiapkan segala sesuatunya, dia harus lebih mandiri lagi dalam menjaga dan membesarkan buah hatinya. Meski tidak terlalu yakin, dia harus berusaha terlebih dahulu bukan? Clara mulai diajari masak makanan ringan seperti menggoreng telur, membuat kuah bawang, serta menggoreng kerupuk. Hidup mereka bergantung kepada botol bekas dan pemberian tetangga, Isha sangat malu akan hal itu, maka Isha bertekad akan mencari pekerjaan, bahkan dirinya hampir menyerah.


Botol plastik bekas terkadang hanya menghasilkan uang lima ribu Rupiah, paling banyak dua puluh ribu, itu pun sudah dua karung besar. Sedangkan mengumpulkan hingga dua karung besar butuh waktu semingguan. Namun, beras sepuluh kilo itu sudah habis tak tersisa.


Dua minggu berlalu, Isha mulai kelimpungan, puasa agar anak-anaknya bisa makan walau dengan garam. Isha menerima ketika Mak Cinta memintanya membantu membersihkan halaman serta kebun samping rumahnya yang tak seberapa. Isha diberikan uang dua puluh ribu, Isha membelikan uang itu beras dua liter.


Hari berganti, Isha mulai terbiasa dengan kegiatannya, sesekali masih ada tragedi yang tidak terduga terjadi. Seperti Viona terpleset di kamar mandi, Clara yang lupa mematikan kompor sehingga telur yang akan mereka santap gosong hingga mereka berempat harus makan dengan garam, pun dengan drama Brena yang semakin manja.


Dalam sebulan ini pula, Kardo tidak pernah lagi ada kabarnya. Isha beberapa kali ke rumah Indra memastikan. Terakhir hari ini, Isha memohon agar menghubungi suaminya itu. Indra menghubungi, tetapi ternyata nomor Indra diblokir oleh Joni. Sedangkan, Kardo dan Isha sama-sama tidak memiliki telepon genggam.


Setelah kejadian itu, Isha memilih untuk tidak berharap lagi. Mata bening itu berkabut sepanjang jalan menuju pulang, ocehan serta candaan buah hatinya tak terdengar sama sekali. Telinganya seakan tuli oleh pikirannya yang melambung entah ke mana. Bahkan, orang-orang yang menyapa dihiraukan olehnya.


Setibanya di rumah, bendungan air mata itu tumpah tanpa dapat dibendung lagi. Isha menutup pintu deoan dan menguncinya, lalu membiarkan anak-anaknya bermain di ruangan depan. Isha memasuki kamar, mengunci pintu dan menjatuhkan tubuh ke atas kasur.


Harapannya kini sirna sudah, rasanya dia sudah tak mampu lagi. Bagaimana dia akan bertahan dengan semua ini, bagaimana nasib anak-anaknya setelah ini? Sebulan terakhir ini, dia berpikir positif, mengharapkan kiriman dari sang suami, tetapi kenyataan yang dia terima lebih pahit dari empedu.


Isha menutupi wajahnya dengan bantal, berteriak kencang di sana agar suaranya teredam. Dia tidak ingin anak-anaknya mendengar teriakannya. Emosinya akhir-akhir ini tidak stabil, terkadang ada keinginan untuk menghilang dari dunia ini bersama anak-anaknya. Namun, tidak pernah dia lakukan karena masih memiliki harapan.


Meski dengan berteriak tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi hatinya merasa lebih lega. Puas menangis di dalam kamar, dia ke luar karena tidak mendengar suara apa pun dari ke tiga buah hatinya. Dia ketakutan, jangan-jangan terjadi sesuatu kepada buah hatinya.


Isha luruh ke lantai mendapati anak-anaknya tertidur di lantai tanpa alas, Clara membantu adik-adiknya tidur, karpet yang dulu sudah robek dan dia buang. Maka, anak-anak ini tidur di lantai tanpa alas. Entah Clara mendengar ketika Isha berteriak, sehingga menjaga adiknya dengan baik tanpa harus menganggu sang mama.


“Nak, mamafin mama,” ucap Isha lirih. Wanita dengan rambut pendek itu memindahkan putrinya satu per satu ke kamar, menciumi wajahnya, kemudian duduk di bibir kasur.


“Apa yang telah aku lakukan? Aku egois!” Isha memukul dadanya. Tidak tega menatap anak-anaknya yang tertidur pulas.


“ Memangnya kenapa kalau dia tidak mengirimkan uang? Kenapa kalau dia tidak kembali? Haruskah aku menyerah? Anak-anak ini bergantung kepadaku.” Isha mengusap air matanya, dia duduk lalu mengeluarkan semua uang dari kantong celananya.


Hanya ada dua lembar pecahan dua ribu, dua lembar pecahan seribu, dan empat logam lima ratusan. Delapan ribu Rupiah, di samping rumah kangkung sudah bisa dipanen untuk sayur sendiri esok hari. Jika dibeli telur, hanya dapat dua biji, maka Isha memilih membeli ikan asin kepala batu. Di Kabanjahe, orang mengenal ikan ini dengan sebutan ikan kuli.


Isha berkaca sebentar memastikan wajahnya tidak terlalu lusuh, dan mata yang tidak membengkak akibat menangis, kemudian ke warung. Padahal hari sudah malam, Isha hanya ingin membeli ikan asin ke warung Mak Winda.


“Beli apa, Mak Clara?” tanya Mak Winda ramah.


“Ini, Kak. Apa aku boleh hutang beras dulu?” tanya Isha ragu.


“Oh, boleh. Berapa tumba?” tanya Mak Winda. Tumba adalah sebutan untuk orang Karo. Satu tumba itu isinya dua liter.


“Satu saja, Kak.” Isha tunduk. Mak Winda segera menyiapkan beras yang diminta oleh Isha.


“Apa lagi, Mak Clara?” tanya Mak Winda tersenyum ramah.


“Ikan kuli, Kak. Ikan kulinya aku bayar, ya Kak. Satu ons saja.” Isha menyerahkan dua lembar uang dua ribuan serta dua lembar uang seribuan kepada Mak Winda.


“Mak Clara, nanti saja sekalian enggak apa-apa. Kita ‘kan tetangga, masa begitu aja enggak bisa saling membantu?” tanya Mak Winda.


“Enggak apa-apa, Kak. Hutang beras saja, ya. Saya takut tidak bisa membayarnya nanti karena terlalu banyak.” Isha jujur.


Karena kejujurannya inilah, Mak Winda selalu mengizinkan Isha mengutang. Sekaligus membantu tetangganya tersebut. Meski demikian, perasaan tidak enak yang selalu Isha rasakan, sehingga Mak Winda semakin yakin membantunya. Terkadang, ada juga orang yang dikasih hati malah minta jantung. Berbeda dengan Isha, dia selalu tahu diri.


Tidak ada kabar dari suaminya, membuat Isha semakin memiliki tekad kuat untuk bekerja. Dia mencari botol plastik bekas lebih giat, pun sayuran di samping rumah sudah bisa dipanen dan dia sayur sendiri. Wanita cantik itu memotong pendek rambutnya, tidak pernah dipotong karena permintaan Kardo. Walau sudut hatinya paling dalam masih berharap, dia lebih berpikir logis untuk saat ini. Tidak ada waktu memikirkan cinta-cintaan, rindu dan sebagainya. Fokus Isha kini adalah mencari uang untuk anak-anaknya.


Rambut panjangnya dia jual ke tukang salon, selain potong rambut gratis, dia juga memiliki uang untuk belanja dapur. Ketika ada tawaran untuknya bekerja, dia langsung menerimanya. Pekerjaan itu hanya dilakukan setiap sore hingga malam hari. Upah yang dia terima adalah empat puluh sampai lima puluh ribu sehari. Jam empat sore, dia harus sudah sampai di gudang. Akan pulang ketika semua cabai selesai dipilih dan disusun kemudian diangkut ke dalam truk.


Bersambung.



Seragam Sekolah Bekas

0 0

Part 8


Isha akan dipanggil ketika banyak barang saja, itu pun membuat Isha sangat bersyukur. Dia juga beruntung karena Clara sudah bisa menjaga adik-adiknya dengan baik. Waktu bermain gadis kecil itu kini tersita untuk membantu sang mama ketika mamanya harus bekerja di gudang cabai.


Isha mau menerima pekerjaan itu juga, karena Dana sudah pindah ke Jawa. Dari kabar burung yang Isha dengar, Dana sudah menikah dan menetap di Jawa. Dana juga memilih berhenti jadi agen pengiriman sayur dari Kabanjahe, dan memilih membuka usaha di Jawa.


Gudang agen cabai tempatnya bekerja saat ini pemiliknya adalah seorang wanita yang selama ini bekerja seperti dirinya, tetapi bukan bekerja kepada Dana. Wanita itu belajar banyak ketika sedang turun tangan memilah cabai, dipercaya berbelanja cabai, mengirim ke Jawa dan akhirnya memiliki modal sendiri serta membuka gudangnya sendiri.


Sedangkan, gudang sayur milik Dana dijual kepada orang lain, dan kabarnya sudah direnovasi dan lebih besar dari sebelumnya. Gudang tempat Isha bekerja ini letaknya tidak jauh dari gudang milik Dana dahulu. Meski demikian, Isha tenang vekerja karena kini Dana sudah pergi. Setidaknya begitu yang dia ketahui, dan dia pun tidak pernah lagi melihat lelaki itu.


Isha bertemu Kak Agi, pemilik gudang di warung Mak Winda. Di sanalah pekerjaan itu dia tawarkan. Isha menerimanya setelah memastikan bahwa Kak Agi bukan suruhan Dana.

Pagi-pagi, Isha harus mencari botol bekas. Isha tetap membawa ke tiga putrinya, dia tidak ingin meninggalkan mereka karena akan pergi sangat lama.


Sedangkan sore, setelah mandi, dia menuju gudang untuk memilah cabai, menyusun di dalam karung, serta menimbang, lalu ada kernek yang mengangkat ke atas truk. Isha terkadang membantu hanya memilah, kadang membantu menimbang, dan segera pulang. Hanya saja, jika banyak barang dan terkadang harus lembur, Isha suka izin pulang sebentar memastikan keadaan anak-anaknya.

Agi bukanlah wanita yang pelit dan sombong, dia justru sangat kasihan kepada Isha, tetapi wanita dengan tiga putri itu selalu menolak bantuan. Dia lebih memilih hidup mandiri dan berusaha sendiri. Perlahan, kehidupan Isha membaik. Tidak seperti sebelumnya, walau masih makan dengan ikan asin, mereka tidak pernah tidak makan lagi.


Clara akan masuk sekolah, tetapi Isha belum memiliki tabungan sama sekali untuk mendaftarkan putrinya sekolah. Dia berusaha tetap tetang, walau sebenarnya tidak bisa tenang.


“Mak Clara, Clara suah daftar sekolah?” tanya Mak Cinta datang ke rumah.


“Belum, Kak. Kabarnya pendaftaran minggu depan.” Isha tersenyum getir, uang yang dia pegang saat ini hanya seratus ribu.


“Oh, bajunya sudah kamu beli?” tanya Mak Cinta. Isha terdiam seketika.


Beberapa waktu lalu, dia sempat menanyakan harga baju sekolah di pasar, harganya sangat mahal. Lengkap sepaket baju merah putih, baju pramuka dan kaos kaki serta topi, hampir lima ratus ribu Rupiah.


“Belum, Kak. Mahal ternyata, kemarin sempat tanya-tanya hampir lima ratus ribuan. Belum sepatu serta yang lainnya.” Isha tersenyum, tetapi getir yang dia rasakan di dalam hatinya.


“Mau enggak, kalau pakai baju Cinta saja? Cinta punya empat baju putih, lagian sudah kekecilan, tetapi masih bagus. Kalau mau, nanti saya kasih ke kamu. Anaknya cepat sekali tinggi, jadi bajunya cepat kekecilan.” Mak Cinta terlihat bersemangat.


“Tidak apa-apa memangnya, Kak?” tanya Isha.


“Tidak apa-apa kalau kamu mau. Cuma saya agak gimana gitu, takut kamu menolak.” Mak Cinta terlihat sungguh-sungguh.


“Mau, Kak. Biar bagaimanapun, untuk saat ini gaji saya cukup hanya untuk makan dan bayar hutang di warung.”


Isha tersenyum, meski sesungguhnya dia ingin membelikan baju baru, ternyata uangnya dari menjual botol plastik bekas dan upah memilah cabai tidaklah besar. Makan setiap hari, listrik, air dan gas. Cukup untuk memenuhi itu saja dia sudah sangat bersyukur.


Tabungan seratus ribu itu, dia kumpulkan memang sengaja untuk biaya sekolah Clara, belum lagi biaya sekolah Viona dan Brena. Dia cukup pusing sesungguhnya, tetapi untuk Viona dan Brena masih jauh. Masih ada beberapa tahun lagi dari sekarang.


“Ya sudah, saya ambilkan.” Mak Cinta pergi. Tidak lama Mak Cinta kembali dan menyerahkan baju merah putih, topi, baju pramuka dan juga topi serta dasinya.


“Nih, Mak Clara. Masih bagus, kok. Warnanya juga masih cerah. Hanya kekecilan saja untuk Cinta.” Mak Cinta menyerahkan baju itu.


“Saya langsung pulang, ya.” Mak Cinta pamit, Isha menatap baju itu dengan pandangan berkabut. Tidak lama terdengar tangisan Cinta dari rumahnya.


“Baju Cinta, Ma. Kenapa dikasih ke orang?” Cinta berteriak kencang.


“Sayang, bajunya sudah kecil. Lagian ada baju yang baru kemarin mama belikan. Jangan nangis, jangan cengeng. Kasihan Dek Clara enggak ada baju sekolah.” Mak Cinta terdengar membujuk.


“Bukan urusan Mama, bukan urusan kita. Itu urusan mamanya dan papanya.” Cinta masih berteriak.


“Lagian, Nak. Baju itu sudah kecil, enggak muat lagi dipakai Cinta.” Mak Cinta memberikan pengertian kepada putrinya, hingga akhirnya Cinta tidak lagi berteriak.


Isha ingin sekali mengembalikan baju itu, tetapi dia juga membutuhkannya. Haruskan dia egois dengan mengorbankan perasaan anak orang lain demi anaknya sendiri? Isha menjadi serba salah, ingin mengembalikan, tetapi Mak Cinta pasti sedih karena pemberiannya ditolak. Isha akhirnya memutuskan masuk rumah.


“Ma, itu baju sekolah?” tanya Clara berbinar.


“Iya, Nak. Kamu akan sekolah nanti.” Isha tersenyum mengusap rambut Clara lembut.


“Asyik, Clara sekolah. Cobain, Ma?” tanya Clara penuh harap.


“Cobalah,” jawab Isha. Segera dia pakaikan baju seragam tersebut dan tertawa riang. Clara memang sudah bisa memakai baju sendiri.


“Aku akan sekolah, aku akan sekolah,” ucapnya sambil menari-nari dan berputar saking bahagianya. Tak terasa, setitik bulir bening menetes di pipi Isha. Segera dia usap dan menghampiri Clara.


“Nak, kamu sudah besar, dan akan masuk sekolah. Jadi anak kebanggan mama, ya.” Isha menangkup wajah putri sulungnya dengan kedua tangan, lalu mengecup dahinya dengan lembut. Seketika saja Clara memeluk mamanya.


“Clara akan jadi anak kebanggaan Mama, jangan pernah tinggalkan kami, ya Ma,” ucapnya tersenyum dengan wajah polos. Permintaan yang sederhana, tetapi situasi yang mereka alami kini membuat pertahanan Isha roboh.


“Tidak akan, tidak akan pernah. Mama akan selalu ada untuk kalian, mama ingin menyaksikan kalian sukses.” Isha mengusap wajah putrinya lembut. Brena datang dari belakang mamanya, memeluk dan ikut berpelukan, Viona tak mau kalah pun ikut memeluk dari belakang.


“Mak Clara mau ke mana? Rapi benar?” tanya Mak Cinta.


“Ke sekolah, Kak. Mau daftar,” jawab Isha dengan ramah. Hatinya sedikit bahagia ketika akan mendaftarkan putrinya sekolah.


“Oh, semoga sukses, ya. SD negeri di dekat prapatan itu ‘kan gratis. Daftar di sana saja.” Mak Cinta memberi saran.


“Iya, Kak. Memang mau daftar di situ,” jawab Isha.


“Oke, hati-hati di jalan,” ucapnya kemudian memasuki rumah, Cinta yang pulang dari warung bersama bapaknya, menatap sinis ke arah Clara. Isha menyadari itu, tetapi memilih pura-pura tidak lihat. Isha jelas tahu, pasti baju seragam itu masalahnya.


“Selamat pagi, Bu?” sapa Isha kepada petugas piket sekolah dasar di mana Clara akan didaftarkan.


“Selamat pagi,” jawab pertugas piket ramah.


“Saya Isha, mamanya Clara. Saya ingin mendaftarkan anak saya di sini, Bu.” Isha sedikit gugup. Sudah lebih dari sepuluh tahun dia tidak menginjakkan kaki di sekolah.


“Ibu bawa surat-suratnya?” tanya petugas piket.


Bersambung.






Rapuh

0 0

Part 9

“Apa saja surat yang dibutuhkan, Bu?”


“Fotocopy kartu keluarga, fotocopy akta kelahiran, fotocopy kartu identias anak jika ada, serta fotocopy kertu identitas ke dua orang tua.” Petugas piket sangat ramah.


“Saya bawa fotocopy KK, akta kelahiran dan fotocopy KTP saya, Bu. Kalau bapaknya lagi di luar daerah, apa bisa fotocopy KTP saya saja?” tanya Isha sedikit takut. Dia khawatir, jikalau tidak diperbolehkan, tentu saja dia akan sangat kerepotan.


“Oh, bisa Bu. Coba mana saya lihat.” Petugas piket memeriksa data Clara, kemudian menyerahkan formulir pendaftaran untuk Isha isi.


“Bu, saya tidak memiliki telepon, apa bisa dikosongkan saja?” tanya Isha lagi.


“Bisa, Bu. Kosongkan saja.”


“Berapa yang harus saya bayar untuk biaya pendaftarannya, Bu?”


“Gratis, Ibu.” Senyum petugas piket sangat ramah.


“Sungguh?” Netra cokelat milik Isha terlihat berbinar mendengar ucapan petugas piket.


“Tentu saja, Bu.” Dibalas dengan senyuman pula.


“Baiklah, Bu. Apa lagi yang harus saya persiapkan? Terus buku apa saja yang harus saya beli? Pensil, penggaris, atau apa?” Isha sangat antusias.


“Ibu hanya membeli baju merah putih, dan baju pramuka. Untuk topi, dasi, baju olah raga serta baju batik dari sekolah. Antribut juga dari sekolah, ya Bu. Untuk alat tulisnya Ibu beli pensil dan penhapus saja dulu, setelah masuk sekolah nanti, sekolah menyediakan buku paket untuk anak-anak.”


“Oh, begitu, Bu? tanggal berapa masuk sekolah, Bu?”


“Dua minggu dari sekarang, Bu. Tanggal enam belas nanti.”


“Baik, Bu. Terima kasih.”


“Ada lagi yang bisa saya bantu, Bu?”


“Berapa biaya yang harus saya siapkan untuk baju olah raga dan baju batiknya, Bu?” tanya Isha mulai gugup.


“Tiga ratus ribu Rupiah, Bu. Bisa dibayar saat masuk nanti, atau kalau mau dicicil dari sekarang juga bisa.”


“Lima puluh ribu dulu bisa, Bu?” Isha gugup.


“Bisa, Bu.” Isha menyerahkan uang lima puluh ribu Rupiah dalam bentuk dua ribuan.


“Maaf, Bu. Receh.” Isha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gugup dan takut dia rasakan.


“Tidak apa, Bu.” Petugas piket menghitung uangnya, kemudian menuliskan kwitansi dan menyerahkannya kepada Isha.


“Sudah, Bu. Kalian sudah boleh pulang, atau kalau mau lihat-lihat dulu gedung sekolahnya, silakan.”  


Petugas piket mempersilakan Isha, sedangkan Brena dan Viona sedari tadi asyik mengelilingi sekolah mengikuti Clara. Putri sulung Isha itu sangat antusias bersekolah, begitu sampai dia langsung berkeliling mengajak adiknya, sehingga mamanya bisa dengan leluasa mendaftarkan dirinya.


“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu.” Isha kemudian meninggalkan ruangan piket setelah petugas piket mengangguk.


“Ra, ayo pulang, Nak.” Isha memanggil ketiga putrinya.


Mereka segera berlari menghampiri Isha, wanita itu sempat melirik tumpukan sampah di sudut sekolah. Hatinya ingin sekali memungut botol plastik bekas minuman anak-anak. Namun, ada keraguan. Takut kalau-kalau petugas sekolah menegur atau memarahinya.


“Kakak sekolah di sini, Ma?” Clara memegang tangan Isha menuju gerbang sekolah.


“Iya, kamu suka?”


“Suka sekali.” Senyumnya merekah karena bahagia.


“Aku juga, ya ‘kan, Ma?” Viona tak mau kalah.


“Aku juga, aku juga.” Kini Brena yang ikut bersuara.


“Iya, kalian semua akan sekolah di sini.” Isha segera menggendong Brena.


“Ma, turun. Mau jalan sendiri.” Brena turun dari gendongan mamanya.


“Oke, pegangan tangan sama kakak kalau mau jalan sendiri.” Kompak, ke tiga putri Isha itu segera saling menggandeng, seperti biasa posisi Brena ada di tengah, dan Isha di belakangnya.


Sambil pulang, ketika melihat botol plastik bekas, Isha pun memungutnya. Hingga sampai di rumah seperti itu, jarak sekolah Clara dari rumah sekitar sepuluh menit jalan kaki. Lumayan, Isha mendapatkan beberapa botol untuk manambah botol plastik yang sudah ada di rumah.


“Ma, kapan Bapak pulang?” Pertanyaan Brena membuat Isha menoleh.


“Nanti setelah Bapak dapat uang banyak, Bapak akan pulang.” Isha tersenyum, mengangkat Brena ke pangkuannya.


“Lama sekali, ya Ma?” tanya gadis kecil itu dengan tatapan menerawang.


Jantung Isha bagaikan ditusuk oleh tombak runcing nan tajam. Dia yang bersusah payah mencoba menerima dan bersikap pura-pura tegar, kini harus menghadapi putrinya yang menanyakan keberadaan bapaknya.


“Sabar, ya Nak. Mama juga rindu.” Isha memeluk Brena, mencoba menenangkan putri bungsunya itu.


“Bapak-bapak, bapak enggak ingat ada anak.” Viona mencibir.


“De, kok gitu ngomongnya?” Isha mencoba memperingatkan putri keduanya.


“Maaf, Ma.” Clara menutup mulut Viona dan menariknya ke kamar bermain.


Isha teruss memikirkan ucapan Viona tadi. Darimana anak sekecil itu bisa berkata begitu, padahal selama ini Isha selalu memberikan ucapan dan kata-kata positif untuk anaknya. Isha merasakan ada yang tidak beres, meski demikian dia masih mencoba berpikir positif. Tidak lama, Brena kembali lupa dan bermain boneka sendirian, sedangkan di kamar Clara dan Viona bercanda tertawa bersama.


“Adek enggak rindu Bapak?” tanya Clara membuat Isha yang hendak menghampiri urung dan berdiri di balik pintu.


“Enggak,” jawab Viona.


“Kok gitu?” tanya Clara.


“Ngapain rindu? Bapak aja enggak rindu,” jawab Viona ketus.


“Enggak boleh gitu, Dek. Nanti, Mama sedih.” Clara mengusap rambut Viona lembut. Terlihat, Clara sangat menyayangi adiknya.


“Biarin!” Viona masih menjawab ketus. Lama keduanya terdiam, memainkan mainan masing-masing. Isha pun larut dalam lamunan.


“Kakak emang rindu?” tanya Viona, membuyarkan lamunan Isha.


“Rindu, sangat rindu. Ingin digendong Bapak lagi, diajak bercanda. Ke mana-mana selalu dijagain. Kalau jatuh, enggak dimarahi, tetapi langsung digendong.” Isha luruh ke lantai mendengar pengakuan putri sulungnya itu.


Benar, ketika dia terjatuh saat berjalan, kardo memang selalu menggendongnya. Tidak pernah marah, bahkan selalu membujuk agar dia tidak menangis. Berbeda dengan Isha, ketika salah satu dari mereka terjatuh, dia malah marah dan menyalahkan karena tidak melihat jalan.


Bahkan, Isha pernah mencubit Clara karena Viona jatuh dari meja. Ketika itu, Siha baru pulang dari gudang, Viona katanya hendak minum dan Brena sedang mengantuk. Clara yang sedang menggaruk punggung si bungsu agar tidur, menyuruh Viona mengambil sendiri. air minum ada di meja dekat kompor gas, sedangkan dia tidak sampai kalau tidak majat. Maka, Viona menaiki meja, air yang tunpah dari gelas membuatnya terpeleset dan jatuh. Isha sangat murka dan langsung mencubit Clara tanpa bertanya terlebih dahulu.


Lelah yang dirasa, serta tekanan pekerjaan membuatnya tidak berpikir dua kali dan langsung melayangkan cubitan. Walau pada akhirnya dia sangat menyesal, ketiak Clara yang dicubit itu membiru. Isha menangis semalaman karena peristiwa itu, tetapi sudah terjadi. Menyesal pun tiada arti.


“Apa mungkin Bapak masih ingat kita?” tanya Viona. Clara yang mengingat peristiwa bersama Kardo malah tertidur.


“Ih, tidur!” Viona meninggalkan Clara begitu saja. Isha yang merasakan kehadiran Viona segera meninggalkan pintu kamar dan menggendong Brena.


“Kalian enggak tidur siang? Kakak sdah tidur, tuh.” Isha menunjuk Clara dengan dagunya.


“Mau main, Ma.” Viona menolak tidur siang.


“Ya sudah, mama tidurkan Brena dulu. Kamu jangan nakal, ya. Jangan manjat lagi.” Isha membantu Brena naik ke kasur, dan berbaring di sebelahnya.


“Aku pun rindu dia, Nak. Entah dia rindu kita atau tidak,” bisik Isha di telinga Clara, seketika saja wajahnya memerah, jantungnya bertalu tak menentu. Entah sejak kapan, Viona ada di samping Clara berbaring. Putri ke duanya itu hanya tersenyum. Bak tertangkap basah sedang mencuri sesuatu, Isha yang salah tingkah membelakangi ke tiga putrinya.


“Ma, garuk,” rengek Brena. Setelah hatinya benar-benar tenang, Isha berbalik dan menggaruk punggung Brena. Ke tiga putrinya tertidur, Isha langsung membersihkan kebun di samping rumah.



Bersambung.





Demam rindu

0 0

Part 10


“Ra, bangun Nak. Sudah sore.” Isha menggoncangkan tubuh Clara. Tidak ada respon, tubuh putri sulungnya itu terasa panas ketika kulit Isha bersentuhan dengan kulit Clara. Isha mulai panik, apa lagi dulu Clara pernah kejang. Dia sangat takut kalau sedikit saja anaknya demam, peristiwa masa silam membuat Isha ketakutan. Bagaimana tidak, mata melotot, tubuh kejang-kejang, dan tidak ada respon saat dipanggil. Pengalaman yang sangat menakutkan bagi Isha.


Bergegas, wanita berambut pendek itu ke warung, membeli obat penurun panas, dan mengompres bagian keningnya dengan kain basah. Air yang digunakan adalah air hangat, saat dulu Clara sempat kejang, dokter yang menanganinya menyarankan anak yang panas dikompres dengan air hangat saja. Tujuannya agar suhu tubuh normal perlahan, jika yang digunakan air dingin atau air es, maka tubuh akan terkejut sehingga dapat menyebabkan kejang.


“Bapak, rindu …,” gumam Clara di tengah tidurnya, badannya yang masih panas membuat Isha semakin sedih.


Takut, panik, marah, kesal, dan rindu campur aduk di dalam hatinya. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain terus pasrah dan terus mengompres. Obat penurus panas dia hancurkan, kemudian diberi sedikit air di dalam sendok. Tubuh Clara dia angkat perlahan hingga posisi tubuh Clara setengah duduk. Obat itu dia masukkan ke dalam mulut, masih ada respon, Clara menengguk dan segera menelannya.


“Minum dulu, Sayang,” ucap Isha air matanya kembali jatuh membasahi pipi. Air di dalam gelas habis oleh Clara. Putri sulungnya itu akhirnya tertidur dan tidak mengigau lagi.


“Ma, Kakak sakit?” Brena mendekat.


“Heeem.” Isha menyelipkan rambut yang menutupi wajah Brena di balik telinga.


“Nanti juga sembuh, ya Ma. Sudah minum obat, ‘kan?” tanya Brena.


“Iya, Dede jangan berisik, ya. Biarkan Kakak istirahat.” Isha menggendong Brena ke luar kamar. Seluruh persendian Isha rasanya remuk, tubuh putrinya yang lemas membuat raganya tak bertenaga. Hanya penyakit yang dia takutkan saat ini, dan itu pula yang menghampiri.


Apalagi saat ini, dia tidak memegang uang sepeser pun lagi. Uang yang tersisa telah dia belikan obat penurun demam. Bagaimana nasib mereka malam ini? Sedangkan, beras di warung Mak Winda pun belum dia lunasi. Isha menuju penanak nasi, masih cukup untuk makan malam ini. Namun, hanya untuk anak-anak saja, dirinya akan kelaparan lagi, puasa lagi. Isha tersenyum kecut.


“Vi, boleh jaga adik sebentar?”


“Mama mau ke mana?”


“Ke warung Kak Winda.”


“Beli makanan, ya Ma?” Isha terdiam, bagaimana dirinya membeli makanan, sedangkan saat ini niatnya adalah mengutang lagi. Beras dan kerupuk saja sudah cukup. Sayur masih ada bayam di samping rumah yang bisa dia ambil untuk dimasak.


“Ya udah, enggak jadi.” Viona meninggalkan Isha begitu saja menuju dapur. Isha mengikuti, berlutut di hadapannya dan menatap dalam.


“De, kenapa jadi susah dikasih tahu?” Isha menangkup wajah putri ke duanya dan tersenyum.


“Bapak enggak akan pulang, ‘kan? Kenapa Mama bohong? Semua orang juga bilang begitu!” ketus Viona melepaskan tangan Isha di pipinya.


“Loh, siapa yang bilang?” tanya Isha panik.


“Bik Mak Cinta bilang. Mama aja bohong terus.” Viona melipat ke dua tangannya di depan dada.


“Sayang, itu tidak benar. Vio percaya omongan orang lain? Kapan mama bohon sama Vio?” tanya Isha dengan hati yang tersayat-sayat.


“Tapi, Bapak juga enggak telepon.” Kini air mata mengalir dari wajah putri ke duanya itu. Isha memeluk erat dan menenangkannya.


“Bapak di sana itu harus kerja, kalau telepon kita, uangnya enggak bisa dia kumpulkan. Kalau uangnya dipakai terus, Bapak enggak bisa pulang.” Isha mengusap punggung putrinya dengan hati gamang. Entah Viona mengerti akan hal itu entah tidak, pun dia tidak yakin akan apa yang dia ucapkan.


“Benar, ‘kan Ma? Bapak pasti akan pulang ‘kan? Vio rindu,” isak Viona kembali memeluk mamanya erat. Dia yang awalnya tidak mengakui di hadapan Clara, mengakui di hadapan Isha. Wanita berambut pendek itu pun menangis bersama putrinya.


“Tentu saja, Sayang. Bapak pasti pulang dan membawa uang banyak.” Isha mengusap kembali punggung Viona lembut. Hatinya sangat hancur, Clara jatuh sakit karena rindu, Viona menangisi bapaknya, juga karena rindu pula. Hanya Brena yang terlihat tenang, entah karena belum paham atau memang tidak ada rindu itu.


“Sore, Kak Isha!” Panggilan dari depan pintu membuat Isha mengusap wajahnya dan berkaca sekilas memastikan tidak ada jejak air mata di sana.


“Iya, Man.” Isha tersenyum ketika melihat Arman ke rumah, pasti menjemput bekerja di gudang.


“Kak, ke gudang ya. Hari ini, jam tujuh saja. Masih banyak barang masuk, tetapi mungkin pulangnya bisa sampai jam sebelas malam. Kak Agi berpesan begitu.” Arman tersenyum dan mengusap rambut Viona.


“Sebentar, ya Man.” Isha memasuki kamar, memastikan keadaan Clara terlebih dahulu.


“Adek nangis, ya? Matanya merah.” Arman menyapa Viona. Tetapi bocah itu hanya diam.


“Nih, mama ada coklat. Mau?” Arman menyodorkan dua buah coklat yang dia bawa. Viona menatap coklat itu lama, ada keinginan mengambil, tetapi dia tidak berani. Isha selalu mengajarkannya agar tidak sembarangan dan menerima apa pun dari orang lain.


“Terimalah, Vi.” Isha kini berdiri di belakang Viona.


“Gimana, Kak?” tanya Arman.


“Boleh, Man. Nanti saya menyusul, ya.” Isha tersenyum dan sedikit membungkuk ketika Viona menerima dua buah coklat tersebut.


“Oke, Kak. Arman duluan.” Pria dua puluh tahun dengan rambut cepak itu berlalu setelah Isha mengucapkan terima kasih.


“Ma, dia siapa?” tanya Viona. Bocah yang satu ini begitu penasaran kepada setiap orang yang datang.


“Mama Arman, dia teman mama di gudang, dan marganya adalah Ginting. Sama seperti mama, jadi kamu harus panggil dia mama.” Isha mengusap wajah Viona lembut.


“Buka, Ma.” Viona menyerahkan satu coklat kepada Isha. Melihat Kakaknya memilki makanan, Brena pun menghampiri. Merebut coklat yang satunya, sehingga Viona hampir saja terjatuh mempertahankan coklatnya.


“Vi!” Teriakan Isha membuat Viona mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya, Isha tidak berniat berteriak, hanya karena terkejut dan panik, dia malah berteriak. Brena malah menangis mendengar mamanya berteriak.


“Mama enggak mau bukain coklatnya. Harusnya mengalah sama adiknya, kamu itu Kakak. Sama seperti Kak Clara yang selalu mengalah sama kamu.” Isha menatap tajam Viona dan membantu Brena bangkit. Isha mengusap punggung si bungsu agar tenang, kini ke dua coklat itu sudah berada di tangan Viona kembali.


Isha memilih duduk di sudut, dia marah karena Viona tidak mau mengalah kepada adiknya. Viona akhirnya mendekat setelah beberapa saat terdiam. Dia menyerahkan satu buah coklat kepada adiknya, dan menyerahkan kepada Isha untuk dibukakan bungkusnya. Isha menerima coklat itu, tetapi belum membukanya. Dia ingin tahu, apakah Viona mengingat apa saja yang dia ajarkan selama ini.


“Ma, Vio minta maaf. Tolong bukain, dong.” Viona akhirnya buka suara setelah menunduk dan memainkan jari beberapa saat. Matanya yang dikedip-kedipkan, membuat Isha tersenyum pada akhirnya dan membukakan bungkus coklat tersebut.Viona merupakan anak yang cerdas, sedikit keras kepala, dan sulit meminta maaf. Berbeda dengan Clara dan Brena yang senang sekali meminta maaf walau terkadang tidak bersalah.

Bersambung. 




Fitnah

0 0

Part 11


“Ma, kenapa mama baik sama Mama yang tadi. Mau menerima coklatnya, dan senyum sama dia?” pertanyaan mulai lagi dilontarkan oleh Viona. Isha merasa bahwa topik ini sudah berlalu, ternyata Viona masih penasaran.


“Nak, Mama yang tadi selain marganya Ginting, dia juga baik. Dia sama seperti mama Indra. Kayak adik-kakak gitu.” Isha bingung mau berkata apa. Setelah ini, pasti muncul pertanyaan lain dari putrinya itu.


“Loh, mama yang diusir dulu juga baik. Tapi, Mama usir.” Isha menggeleng karena pertanyaan ini dia juga bingung menjelaskannya.


“Kata Bik Mak Cinta, mama yang mama usir itu suka sama Mama. Iya ‘kan? Aku mau kok punya Bapak seperti dia.”


“Viona! Jangan tanyakan itu lagi!” Isha terpancing emosi. Ternyata di balik sikap baik Mak Cinta, dia mempengaruhi Viona.


“Dengar, walau dia baik, dia bukan siapa-siapa kita. Dia orang asing yang bisa saja menyakiti kita!” Bahu Isha naik-turun. Pasokan oksigen yang masuk ke dalam rongga ternggorokannya seakan sulit dia hirup. Ingin sekali dia marah kepada Mak Cinta, tetapi rasanya tidak mungkin. Terlanjur, dia menerima kebaikan wanita itu.


“Ma, lapar.” Clara ke luar kamar.


“Makan, Nak? Pakai garam dulu enggak apa?” tanya Isha segera bangkit menghampiri Clara. Putri sulungnya itu mengangguk. Isha ke dapur dan menyiapkan nasi di piring, serta membawa minuman dalam gelas sekaligus.


“Ayo, Nak. Mama suap.” Isha duduk di hadapan Clara.


Dia sentuh dahi putrinya lembut, panasnya sudah turun dan Isha sangat bersyukur. Clara mengambil gelas berisi air putih dan menenggaknya hingga habis. Dia ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil, kemudian makan disuapi oleh Isha.


Viona dan Brena pun duduk di hadapan, menerima suapan demi suapan dari mamanya. Lama sudah mereka tidak disuapi. Makan biasanya sendiri, karena mereka semua sudah bisa makan sendiri. pun Clara hanya membantu menyiapkan saja.


“Enak banget.” Viona mengoceh.


“Seenak apa sih makan hanya dengan garam?” Batin Isha menjerit.


“Enak, ya De. Karena disuapin Mama.” Clara menyambung.


“Benar, sudah lama tidak mama suapin, ya? Kalian sangat lapar bukan? Ayolah, makan yang banyak.” Isha bersemangat menyuapi ke tiga buah hatinya hingga nasi di piring tandas.


“Ma, tambah.” Brena merengek.


“Nanti lagi, Sayang ya. Nasinya habis. Yang penting, perutnya enggak kosong. Heeem?” Isha menoel dagu putri bungsunya.


“Ah, masih lapar,” rengeknya lagi.


“Wah? Masih lapar?” Isha tersenyum, padahal hatinya sangat sakit.


“Iya,” jawabnya ketus.


“Oke, tunggu ya. Mama ke warung dulu beli beras. Lalu mama masak untuk kalian.”


Isha beranjak dan menyimpan piring di dapur. Clara terlihat sudah membaik dan mulai bermain bersama adiknya. Sejujurnya, kalau saja dia measih memegang uang, dia memilih untuk menjaga Clara di rumah saja. Tidak usah pergi bekerja, tetapi dia tidak memegang uang sama sekali, beras pun ludes, Isha tidak punya pilihan lain.

Mak Winda masih memberikan apa yang Isha butuhkan, tetapi Isha cukup tahu diri. Dia hanya mengutang satu tumba beras dan pulang. Setibanya di rumah, langsung menanak nasi. Kemudian pergi bekerja setelah ke tiga putrinya makan kembali.


Dengan langkah tergesa Isha menuju gudang, dia takut terlambat. Kak Agi tidak biasa marah, tetapi Isha hanya ingin profesional dalam bekerja. Masih diberi pekerjaan pun baginya sudah sangat bersyukur sekali, dan dia tidak ingin membuat kesalahan.


Tidak ada yang aneh ketika mereka bekerja hari ini, masih seperti biasa. Hanya saja karena memang pulang malam, Isha dan pkerja lainnya dibeli nasi bungkus untuk makan di gudang. Namun, Isha memilih makan di rumah saja, dia tidak ingin makan enak sendirian. Sedangkan tadi anak-anaknya hanya makan dengan garam.


Sebelum pulang, Erwita menyuruh Isha menyimpan sesuatu di bagian kantor. Di mana transaksi jual beli biasanya dilakukan. Isha tidak curiga sama sekali, dan mengikuti saja perintah Erwita. Isha pun pulang setelah menyelesaikan semua tugas yang Erwita berikan. Truk pun sudah berangkat.


Pagi-pagi sekali, Isha dikejutkan oleh orang yang mengetuk pintu tidak sabaran. Dengan perasaan bingung, Isha membukakan pintu dan Erwtia lansung masuk menabrak tubunya. Isha tersungkur ke belakang, tulang ekornya terasa sangat sakit. Kak Agi dan Arman pun ada di depan pintu.


“Mana uangnya, Sha?” teriak Erwita seketika.


“U-uang apa?” tanya Isha bingung, sambil bangkit menahan sakit.


“Kak Agi sama Arman masuk dulu, ada apa sebenarnya?” tanya Isha mencoba berdiri tetapi sangat sakit hingga dia memilih duduk di lantai.


“Uang apa, uang apa! Semalam kamu yang terakhir masuk kantor. Pagi ini Kak Agi kehilangan uang sepuluh juta. Ngaku kamu!” Erwita menoyor kepala Isha.


“Se-sepuluh juta?” Isha melotot tidak percaya.


“Iya, sepuluh juta! Kembalikan!” Erwita melipat tangan di dada. Kak Agi hanya mengamati dan kasihan kepada Isha karena sikap Erwita. Mesksi demikian, Kak Agi tidak bisa membela siapa pun. Uang yang hilang tersebut cukup besar. Sedangkan Arman hanya menggeleng. Dia percaya kepada Isha.


“Loh, apa yang harus saya kembalikan? Saya tidak merasa mengambilnya?”


Isha mencoba membela diri. Beberapa warga di dekat rumah Isha mulai berkumpul karna mendengar keributan.

Bisik-bisik tetangga mulai terdengar sumbang. Ada yang menghina karena Isha memang miskin. Ada yang percaya ibu tiga anak itu memang pencuri demi membiayai anak-anaknya. Tidak sedikit juga yang tidak percaya.


“Jangan berbohong kamu! Rumah ini akan kami geledah!” Erwita mengancam.


“Geledah saja, Kak. Saya tidak merasa melakukannya, maka saya tidak takut.”


Anak-anak yang terbangun karena keributan, memeluk Isha. Apalagi di luar sana sudah banyak orang yang berkumpul menyaksikan keributan ini.

Erwita memasuki kamar, mengeluarkan semua isi lemari.


Ketika Arman menoleh, dengan cepat Erwita meletakkan segepok uang di dalam lemari baju yang sedang dia kosongkan isinya. Kak Agi menghadap dapur, sehingga tidak dapat melihat Erwita memasukkan uang itu. Gerakan tangannya sangat cepat, sehingga siapa pun tidak melihatnya.


“Nah, ini apa?” tanya Erwita, Kak Agi dan Arman menghampiri. Isha pun bangkit perlahan. Alangkah terkejut dirinya melihat segepok uang merah di lemarinya. Isha menutup mulutnya dengan ke dua tangan, rasa sakit di bokong tidak terasa kini, justru hatinya jauh lebih sakit. Dirinya difitnah.

Kak Agi menggeleng dan Arman pun melakukan hal yang sama. Jelas Arman dan Kak Agi tidak percaya.


Namun, apa yang mereka lihat pun tidak bisa disanggah. Erwita mengambil uang itu kemudian menyerahkan kepada Kak Agi. Kak Agi hanya diam menerima, dan meninggalkan rumah Isha begitu saja. Ada kecewa yang sangat mendalam yang dia rasakan. Semua orang akhirnya bubar karena Kak Agi mendahului pergi, diikuti oleh Erwita.


“Kak, aku tidak percaya akan hal ini. Aku akan menyelidikinya nanti.” Arman meletakkan uang dua ratus ribu di depan Isha.


“Man, ini apa? Bawa saja. Sudah nasib kami seperti ini.” Isha menyodorkan kembali uang yang Arman tinggalkan.



Bersambung.



Bangkit? Bisakah?

0 0

Part 12

“Tidak, Kak. Kalian lebih membutuhkannya. Aku yakin, setelah ini Kakak tidak akan datang bekerja lagi, walau Kak Agi tidak memecat Kakak, bukan berarti harga diri Kakak bisa dinjak-injak dan kembali bekerja di sana. Kalau Kakak punya keahlian, sebaiknya Kakak berjualan saja. Keripik atau apa saja, Kak. Itu lebih terjamin dan Bere-bere bisa Kakak jaga di rumah. Sekiranya uang ini tidak cukup untuk modal, akan saya tambahi lagi nanti.” Arman menambahkan uang tiga ratus ribu lagi di atas uang dua ratus ribu yang tadi sempat ditolak Isha. Bere-bere adalah sebutan untuk keponakan di tanah Karo.


“Tapi, Man ….”


“Tidak ada tapi-tapi, Kak. Saya senang membantu. Saya juga dibesarkan oleh wanita tangguh seperti Kakak. Bapak tidak tahu entah di mana sampai sekarang. Aku paham apa yang Kakak rasakan. Tuhan kirim aku membantu Kakak, aku bersykur bisa membantu. Hidup kami jauh lebih baik sekarang. Terima, ya. Saya pergi.” Arman meninggalkan Isha yang kini menangis sambil berlutut. Ke tiga buah hatinya kini memeluknya erat. Mereka malah menangis karena melihat ibunya menangis.


“Apa salah dan dosaku ya Tuhan?” Isha meratap. Clara mengusap air matanya lembut.


“Ma, kita cari botol lagi saja, yuk.” Clara membuat Isha menatap putrinya dalam.


“Sepertinya tidak, Nak. Mama sangat lelah, semalam pulang sangat malam. Itu ada nasi dengan lauk ayam, kalian makanlah.” Isha menunjuk ke arah sebuah nasi bungkus di dekat pintu dapur.


Clara segera makan bersama ke dua adiknya. Ayam tersebut dibumbui dan lumayan pedas, tetapi anak-anak itu terlihat sangat menikmatinya.


“Enak, Ma. Kapan lagi bisa kita beli, ya?” tanya Viona.


“Entahlah, Nak.” Isha bergumam pelan.


“Ma, aku boleh bantu Mama?” tanya Clara.


“Bantu apa?” tanya Isha.


“Bantu apa saja.” Clara tersenyum penuh arti.


“Selama ini juga Kakak sudah bantu mama.” Isha tersenyum.


“Iya, tetapi bantu yang lainnya lagi.” Clara tersenyum, entah apa yang anak ini rencanakan.


“Apa itu?” tanya Isha penasaran.


“Mama boleh apa enggak?” Clara balik bertanya.


“Boleh, Sayang.” Dalam pikiran Isha paling anak ini hanya membantu pekerjaan rumah seperti mencuci piring, menyapu rumah dan memasak.

“Oke.” Clara menari-nari karena sangat senang. Isha pun melupakan sejenak permasalahan yang baru saja menimpanya. Dituduh mencuri padahal tidak melakukannya sama sekali. Tidak ada yang tahu apa sebenarnya tujuan Erwita membuat seperti itu. Isha tidak ingin memikirkannya.


Isha tertidur lagi karena belum masih merasa sangat lelah, belum lagi tulang bokongnya pun masih terasa nyeri. Ketika bangun, Isha tida mendapati Clara dan Viona, hanya Brena yang tertidur di sebelahnya. Panik, itu yang Isha rasakan. Bergegas bangun, mencari ke samping rumah dan sekitar. Tidak menemukan mereka di mana pun. Isha menarik rambut kasar, bingung harus mencari putrinya ke mana lagi.


Isha kemudian menggendong Brena, putri bungsunya itu masih terlelap. Isha hendak mencari ke paar, siapa tahu bermain di sana dan lupa pulang. Setelah pintu dia kunci, dia setengah berlari agar segera tiba.


“Clara! Viona!” teriak Isha sepanjang jalan. Ketika berpapasan dengan Mak Cinta, wanita cantik itu tidak lagi ramah, malah sinis memandang Isha. Dia beruaha acuh dan terus mencari putrinya. Lelah mencari ke sana ke mari, Isha memutuskan duduk di kios kosong.


“Ma, kita di mana?” Brena sadar dari tidurnya.


“Di pasar, Sayang.”


“Ngapain?”


“Cari Kak Clara sama Viona.”


“Turun,” rengek Brena. Isha menurunkan si bungsu perlahan.


Merasa bebas diturunkan, Brena bermain dan berlari ke sana ke mari, hingga akhirnya melihat ke dua kakaknya dari kejauhan membawa dua karung kecil. Masing-masing membawa karung berisi botol plastik bekas. Isha belum menyadari kehadiran mereka.

“Kak Ara! Kak Vio!” Brena berlari menghampiri ke dua kakaknya. Isha yang kemudian sadar menoleh dan terharu mendapati ke dua putrinya membawa karung berisi botol plastik bekas. Isha menghampiri Clara dan segera mencubitnya. Sudah lelah mencari mereka, sikap mereka berdua menunjukkan rasa tidak bersalah membuat hati Isha geram.


“Siapa yang izinkan pergi? Kamu tidak tahu mama khawatir? Siapa yang suruh kamu mencari ini?” Isha melempar karung di tangan Clara dan menangis di sela amarahnya. Dia berlutut dan menangkup wajahnya dengan ke dua tangannya. Ada perasaan lega karena sudah menemukan putrinya.


Sedangkan, marah, kesal, dan kecewa terhadap dirinya sendiri. Jika saja dia tidak tidur, mungkin anak-anak ini tidak akan pergi.


“Ma-maaf, Ma. Tadi Clara sudah izin dan Mama bilang boleh.” Isha menoleh, tatapan tajam dia layangkan kepada Clara. Dia yang tidak sadar, entah lupa telah memberi izin malah semakin marah.


“Aku bilang boleh itu, untuk cuci piring, sapu rumah. Bukan pergi dari rumah. Paham enggak, sih?” Isha kembali berteriak. Clara dan Viona pun menangis kemudian. Brena malah asyik mengumpulkan kembali botol yang berserakan tersebut.


“Cepat pulang!” Isha menarik tangan Brena dan Viona. Sedangkan Clara dia biarkan berjalan sendirian dan mengikutinya dengan kesulitan karena pada akhirnya dia membawa dua karung kecil sendirian.


“Mak Clara?” panggil Mak Winda. Isha mengusap air matanya dan berhenti.


“Iya, Kak. Sebentar, saya ambil uangnya dulu di rumah. Hutang saya lunasi hari ini juga.” Isha menoleh sekilas, kemudian kembali melanjutkan berjalan.


Clara, setibanya di rumah segera mandi dan memandikan adik-adiknya. Dia tidak ingin diamuk lagi oleh Isha. Dia sangat sedih, dia berharap Isha akan bahagia. Atau setidaknya beban sang mama sedikit berkurang jika dirinya membantu. Ternyata, amarah yang dia dapatkan. Clara mengusap air matanya menatap merah pergelangan tangan yang sempat mamanya cubit tadi.


Selesai memandikan adiknya, dia pun berbegas memakai baju dan membantu adik-adiknya makan. Seperti biasanya, dia lakukan dengan baik. Meski usianya baru genap tujuh tahun dua bulan yang lalu dia cukup mahir dan telaten mengurus adik-adiknya. Isha sendiri segera menuju warung dan membayar semua hutangnya.


“Mak Clara, yang sabar, ya.” Mak Winda adalah salah satu orang yang percaya kepadanya. Isha menoleh dan menyelami netra Mak Winda, dia tidak mendapatkan kebohongan di sana. Isha tersenyum dan mengangguk.


“Beginilah nasib orang miskin, Kak. Apa lagi yang dapat saya lakukan ketika difitnah dengan keji begini? Tatapan orang-orang seakan menguliti saya hidup-hidup. Padahal, saya bahkan tidak pernah melihat uang sebanyak itu.” Isha tersenyum getir, netranya kembali berkaca.


“Sudahlah, yang sabar, ya. Kamu bisa bikin keripik enggak?”


“Bisa, Kak. Kenapa?” tanya Isha.


“Kamu buat keripik singkong, kentang atau ubi jalar, nanti titip di warung saya. Kamu pasti sudah dipecat, bukan?”


“Tidak ada ucapan Kak Agi memecat, Kak. Tetapi, saya sendiri pun sudah malas ke sana. Walau tidak saya jelaskan, Kakak psti tahu aoa yan akan terjadi bila saya ke sana.” Mak Winda mengangguk.


“Itu maksud saya. Makanya, kamu bikin keripik saja. Minyaknya, ambil di sini saja dulu. Enggak apa-apa. Nanti, begitu jualannya laris, kamu boleh bayar. Itu ada alat untuk membuat keripik.” Mak Winda menunjukkan sebuah alat pengiris. Alat itu bisa digunakan mengiris apa saja jika ingin membuat keripik.


“Saya akan pikirkan dulu, Kak. Sebenarnya bukan tidak ingin, saya sangat ingin. Hanya saja, hati saya masih sangat sakit. Saya akan kembali, Kak. Saya akan membuat keripik itu. Tetapi, menunggu hati saya tenang dulu. Boleh?” Isha menatap Mak Winda dalam, air mata kini jatuh di pipinya.



Bersambung.



Dari nol

0 0

Part 13


“Boleh-boleh. Datanglah kapan saja.”

Isha kemudian pulang, dia melihat ke tiga buah hatinya asyik bermain. Piring terlihat basah sepertinya habis dicuci.


Clara masih belum berani menatap mamanya. Dia masih takut akan hal itu. Sebenarnya, clara menjadi seperti ini karena kemarin ketika mamanya sedang bekerja, Mak Cinta kembali mendatangi mereka. Dia mengatakan bahwa Kardo sudah menikah lagi, sehingga Clara berinisiatif membantu sang mama.


Niatnya adalah mengurangi beban sang mama. Hanya saja, karena tidak menyadari hal itu, Isha justru marah. Tentu saja, sebagai seorang ibu dia jelas khawatir ketika tidak mengetahui keberadaan putrinya. Apa lagi mereka pergi ketika dirinya tertidur pulas.


Isha duduk di lantai dapur, dia menatap tangannya yang dengan mudah meluncurkan cubitan kepada buah hatinya. Dia membenci kelakuannya itu, dia marah pada dirinya sendiri. Namun, semua sudah terjadi. Pergelangan tangan si putri sulung terlanjur merah dan berbekas.


“Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku selalu bertindak tanpa pikir panjang?” Isha bergumam sendirian.


“Aku harus meminta maaf kepada Clara,” ucap Isha, lalu beranjak. Dia menatap putri sulungnya lembut. Clara masih saja tunduk ketika menyadari sang mama menghampiri. Isha duduk di sebelah Clara, mengusap punggungnya lembut kemudian memeluknya. Pelukan itu segera berbalas.


“Maafkan mama, Nak.” Isha menciumi pipi Clara dan pergelangan tangan yang memerah itu.


“Lain kali, jangan pergi, ya. Kalau mau bantu, perginya sama mama. Mama takut kalian hilang. Bagaima jika kalian diculik, dijadikan tumbal atau organ tubuh kalian dijual orang tidak bertanggung jawab? Mama pasti tidak akan bertemu kalian lagi.” Isha mengusap wajah putrinya tersebut lembut. Clara mengangguk pelan.


“Kalian harus janji, jangan pernah pergi lagi. Mama takut kehilangan kalian.”


Clara dan Viona mengangguk. Tatapan Viona menyiratkan bahwa dia sudah menolak ajakan Clara, tetapi sang kakak memaksa. Hingga akhirnya dimarahi oleh Isha, bahkan dicubit.


“Sakit ‘kan, Nak?” Isha mengusap pergelangan tangan yang merah itu.


“Tidak apa-apa, Ma. Kakak enggak apa-apa. Kakak memang salah.”


“Ssst. Jangan berbicara begitu, ini semua salah mama. Mama yng tidak bisa membahagiakan kalian, mama yang selalu gagal dalam segala usaha.” Isha kembali menangis di dalam pelukan Clara.


“Sudah, Ma. Kakak enggak apa-apa.” Clara menyuguhkan senyum termanisnya untuk sang mama.


“Kalian sudah makan, ‘kan?”


“Sudah, Ma. Mama makanlah, kakak ambilkan?” Clara berdiri. Cepat, Isha menangkap tangan putri sulungnya tersebut.


“Tidak usah, mainlah. Biar mama saja.”


Clara kembali duduk dan bermain. Namanya anak-anak, dia pun telah ceria kembali bersama ke dua adiknya. Bermain bersama, bernyanyi gembira dan tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan, tetapi gelak itu mampu membuat Isha pun tersenyum di dapur saat sedang makan.


Isha mengingat tawaran Mak Winda tentang membuat keripik. Dia pernah membuat keripik singkong kala mamanya masih hidup. Dia masih ingat resepnya, Isha menarik napas dalam. Dia akan mencoba berjualan keripik. Bukankah itu lebih bagus, dan mungkin tidak akan dipandang rendah lagi.


Memulung pun sudah sangat banyak saingannya. Pekerjaan tak punya, lalu apa lagi yang dia tunggu? Hari telah gelap, ketika Isha membuka pintu depan rumah. Mencoba menatap langit yang mulai berubah warna menuju gelap. Tamaram mulai menerangi halama, karena satu per satu lampu tetangga telah dinyalakan. Isha terkesiap tatkala merasa Kardo berdiri tidak jauh dari sana. Dia mengerjap, bayangan itu malah menghilang begitu saja.


Isha mengusap wajahnya dan segera menutup pintu rumah. Pergantian sore ke malam memang rawan ada hantu yang lewat katanya, padahal bisa saja itu merupakan bayangan atau pendar cahaya matahari yang mulai tenggelam dipeluk malam.


Hari berganti, Isha pergi ke pasar membeli satu kilogram singkong dan bumbu yang dibutuhkan. Wanita berambut pendek itu akan memulai usahanya hari ini. Satu kilogram itu mungkin akan mendapatkan cukup banyak keripik. Lagian, ini merupakan percobaan pertama. Isha tidak ingin membuat sia-sia keripik itu nantinya jika saja gagal. Lebih sebelas tahun dia tidak membuat keripik iyu, dia ragu apakah masih ingat resep dan cara membuatnya atau tidak.


“Ma, dari mana?” Viona merengek lagi seperti biasa. Isha memang meninggalkan anak-anaknya ketika masih tidur. Sengaja, agar anak-anak ini aman meski sesungguhnya Clara sudah dapat dipercaya menjaga adik-adiknya, tetapi Isha masih saja khawatir bila meninggalkan mereka terlalu lama.


“Beli singkong, mama mau membuat keripik.” Isha menunjukkan barang belanjaannya.


“Bantu?” tanya Viona sembari mengulurkan tangan mengambil barang belanjaan Isha.


“Wah, boleh. Anak mama sudah pintar sekarang.”


Isha menyerahkan plastik bumbu untuk ditenteng Viona ke dapur. Karena kalau ditolak bantuannya, sudah dipastikan Viona akan ngambek.


Setelah meletakkan belanjaan di dapur, Isha memasak terlebih dahulu untuk anak-anaknya. Dia membeli daging ayam setengah kilogram. Sengaja, karena sudah sangat lama anak-anak ini tidak makan daging. Mumpung masih pegang uang sedikit, apa salahnya membahagiakan anak-anak ini. Begitulah pemikiran Isha.


Setelah memberihskan daging dan memotongnya meenjadi beberapa bagian, Isha meletakkan di meja kompor. Viona yang rasa penasarannya tinggi seperti biasanya, langsung menghampiri.


“Ini apa, Ma?”


“Daging ayam.” Viona segera menyentuh karena penasaran.


“Sayang, jangan dipegang. Bau amis,” ucapan Isha tidak didengarkan, dan benar saja tangan Viona segera mengucurkan darah. Pisau yang diletakkan di atas panci mengenai tangannya. Beruntung tidak terlalu dalam, tetapi bukan Viona namanya kalau malah menangis dan kapok. Justru, pisaunya dia sampingkan dan asyik memainkan daging ayam tersebut ketika sang mama sibuk membuat bumbunya.


Isha segera meninggalkan bumbu yang sedang dia ulek, membawa Viona ke kamar mandi untuk membersihkan lukanya. Isha berlari ke luar rumah dan mengambil daun sintrong, dia lumatkan di kedua telapak tangan, dengan cara memutarnya berulang-ulang hingga cairan hijau berkumpul jadi satu. Cairan sintrong ini, sangat cepat menyembuhkan luka.


Di tanah Karo, daun ini sering kali digunakan ketika sedang mencangkul di ladang, kaki terkena cangkul, maka daun sintrong adalah pertolongan pertama untuk luka-luka kecil. Rasanya ketika terkena luka, sangat perih. Istimewanya, pendarahan akan segera berhenti.


“Dede, dengarkan mama. Selain memainkan daging ayam itu tidak bagus karena akan kotor kembali, tangan adek juga terkena pisau yang mama simpan di atas pancinya.”


Isha memberi pengertian kepada putri bungsunya. Entha sejak kapan Brena bangun, dia menyaksikan tangan Viona yang dibaluri daun sintrong. Viona meringis ketika merasakan perihnya kulit yang terluka bersentuhan langsung dengan daun sintrong tersebut.


“Sakit ‘kan, Sayang?”


Isha mengusap wajah putrinya lembut. Viona hanya mengangguk. Isha  mencuci tangannya dan mencuci kembali daging ayam tersebut. Tidak ada lagi drama setelahnya. Anak-anak makan dengan sangat lahap, bayangkan saja ini pertama kalinya mereka makan daging dengan bebas setelah hampir empat tahun terakhir. Kehidupan mereka mulai sulit ketika Viona berusia dua bulan, saat itulah Kardo dirumahkan.


Isha membuat keripik singkong setelah putrinya kenyang makan. Setelah mencicipi hasilnya, dia sangat puas karena keripik singkong itu masih enak rasanya. Dia tidak lupa resep dan cara membuatnya, hingga hasil akhirnya gurih, renyah dan enak.


Bersambung.




Sindiran Pedas

0 0

Part 14


Karena bahagia, Isha segera membawa keripiknya ke warung Mak Winda. Bukan memamerkan hasil masakannya, tetapi hanya sekedar meminta pendapat. Mak Winda mengacungkan dua jempol yang artinya sudah mantap dan tidak perlu ditambah apa-apa lagi atau dikurangi. Isha sangat bahagia, bergegas pulang setelah membeli plastik kecil dan lilin untuk membungkus keripik itu nantinya.


Hari telah sore ketika Isha menitipkan keripik itu di warung. Hanya tersisa satu minggu lagi, Clara akan masuk sekolah. Dengan uang yang tersisa, Isha membelikan spatu bekas di Pasar Senen. Di Pajak Singa ini, ada pasar setiap hari Senin. Namanya Pasar Senen.


Apa saja ada, mulai dari baju, sepatu, topi, tas, dan ikan asin, ayam sampai bahan pokok lainnya. Pasar ini termasuk pasar yang lengkap ketika beroperasi setiap hari Senin. Bila hari-hari biasa, kios-kios ini akan kosong. Jika Isha membeli di Senin depan, artinya Clara tidak bisa mengenakannya nanti saat sekolah.


Kaos kaki, tas dan sepatu Isha beli bekas untuk Clara. Segitu juga sudah sangat bersyukur. Isha membeli satu buah pensil dan satu buah buku tulis, serta penghapus. Yang lainnya, semuanya bekas. Hanya buku, pensil dan penghapus yang baru.


Clara sangat bahagia menerima itu. Walau bekas, rasa senangnya sangat membuat Isha terharu. Bagaimana tidak, Kardo tidak bisa menyaksikan anaknya sekolah. Isha berjuang sekuat tenaga untuk kesuksesan anak-anak ini kelak. Beruntung, ada orang baik yang mau membantunya.


Hari pertama sekolah, Isha bangun lebih pagi. Pun seminggu belakangan anak-anak dia bangunkan lebih pagi agar terbiasa saat sekolah. Benar saja, tidak sulit membangunkan Clara dan adik-adiknya. Meski hanya si sulung yang bersekolah, tetapi semua mereka bersiap mengantarkan sang kakak ke sekolah.


Tidak ada baju baru, semua sudah pudar warnanya. Meski demikian, itu adalah baju terbaik yang mereka miliki. Clara sangat bersemangat, Viona dan Brena tidak kalah. Jika biasanya mereka hanya mencuci muka di saat bangun pagi, pagi ini semuanya mandi. Termasuk Isha, dia pun sangat bersemangat melihat semangat Clara.


“Yuk, sudah siap?” Isha menunggu di depan pintu. Clara telah mengenakan seragam sekolah yang semuanya bekas. Dia tidak peduli, dia tetap terlihat sangat ceria.


Kali ini, mereka berempat berpegangan tangan. Isha menggenggam tangan kanan Viona, dan Brena di tangan kririnya. Sedangkan Clara di tangan kiri si bungsu. Mereka berjalan dengan riang dan gembira. Tidak sedikit pun terbersit rasa malu di dalam hati Isha. Dia justru bangga karena kini anaknya akan sekolah.


Baru saja memasuki gerbang sekolah, dua pasang mata tertuju pada mereka yang berakhir dengan bisik-bisik yang menyindir. Isha mendengar, tetapi memilih diam dan acuh. Isha terus menuntun anak-anaknya memasuki ruangan kelas satu. Isha tahu betul, tidak ada gunanya meladeni orang-orang seperti ini. Yang hanya akan menambah sakit hati, dan semakin merendahkan.


“Eh, Bu, buka bookingan enggak? Lumayan, biar bisa ganti baju anaknya. Kelihatannya itu bekas.” Isha menahan debaran jantung yang mulai berdetak tak beraturan.


“Buka aja, yuk. Penghasilan keripik tidak seberapa.”


Tawa di antara mereka pecah. Isha menangis di dalam hati. Meski susah, dia tidak pernah memiliki pikiran seperti yang mereka ucapkan.


“Betul, tuh. Dari pada maling, ya ‘kan?” sambung yang lainnya.


“Uh, hati-hati, Bu. Takutnya malah maling laki nanti. Suami-suami kita harus ekstra dijagain, nih.” Yang lainnya semakin memanasi.


Isha menghindar dan memilih memasuki ruangan kelas. Dia melihat banyak anak-anak yang sudah asyik bermain di dalam sana. Di dalam kelas, Clara langsung memiliki teman.


Beberapa anak langsung memamerkan buku mereka yang bagus serta pensil bermerk pula. Clara pun tak mau kalah, dia pun menunjukkan buku tulis dan pensilnya.


Isha bersyukur, karena anak-anak ini tidak memilih teman. Setidaknya, Clara memiliki teman di sekolah. Hanya beberapa anak yang masih di luar bersama orang tuanya yang tidak mau menyapa Clara.


Sakit hati, tentu saja. Begitu gurunya memasuki ruangan, Isha mencoba mengintip dari balik pintu. Pun ibu-ibu yang lainnya, tetapi guru kelas Clara menyuruh semua orang tua pulang. Cukup antar dan jemput anak sekolah saja.


Isha belum yakin meninggalkan Clara sendirian, jadi dia memilih menunggu di depan gerbang sekolah. Isha mendengar anak-anak saling memperkenalkan diri, dan memberitahukan di mana mereka tinggal. Ada yang tidak tahu di mana alamat mereka, Isha hanya tersenyum ketika mendengarnya. Letak kelas satu tidak jauh dari gerbang sekolah, sehingga kegiatan di dalamnya jelas terdengar.


Tiba giliran Clara, dia sangat pintar menjawab pertanyaan gurunya. Isha sangat bangga akan jawaban putrinya. Setelahnya, anak-anak diajari huruf abjad, menghitung dengan bernada. Sembari menunggu, Viona dan Brena bermain. Beberapa anak yang ikut bersama orang tuanya pun melakukan hal yang sama. Di antara mereka ada yang jajan.


Beberapa kali Viona dan Brena menatap mereka dan menelan ludah. Isha tahu itu, hatinya terasa perih karena menyaksikan hal itu. Yang paling menyakitkan adalah ketika anak-anak tidak meminta, padahal dia sangat menginginkan sesuatu. Isha merasa dirinya tidak berguna sama sekali. Rasanya, dia ingin menangis meraung-raung. Kalau tidak malu, guling-guling sekalian. Dia tidak memegang uang lagi saat ini.


Harapannya satu-satunya adalah dari hasil jualan keripik. Itupun tidak langsung habis begitu diantarkan ke warung Mak Winda.


Hingga jam pulang sekolah tiba. Clara keluar kelas dan segera memeluk mamanya, menyuguhkan senyum semringah.


“Bagaimana belajarnya? Seru?”


“Hemmm.”


“Kamu lapar?”


“Iya, haus juga.”


“Yuk, cepat-cepat pulangnya. Sampai di rumah kita langsung makan.”


Kembali ke formasi awal, Clara dan Viona menggandeng tangan adiknya menuju jalan pulang. Isha menemukan beberapa botol plastik, dia tidak malu memungutnya dan membawanya pulang. Setibanya di rumah, Clara segera mengganti bajunya dan menggantung di balik pintu kamar. Diusapnya baju seragam itu, lalu tersenyum.


“Kenapa?” tanya Isha penasaran.


“Enggak, ma.” Clara nyengir.


“Loh, terus kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Isha lagi.


“Enggak, Ara merasa akan sukses dengan seragam ini. Walau tidak ganti sampai tamat, Clara akan bahagia yang penting bisa sekolah dan membuat mama bangga.” Seketika saja air mata Isha turun membasahi pipi. Dia begitu tersentuh karena ucapan putri sulungnya.


“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, itu urusan mama. Kamu cukup belajar yang rajin saja. Jadi anak pintar. Sekuat dan semampu mama, mama akan sekolahkan kamu.”


Isha mengusap wajah putrinya lembut, kemudian memeluknya. Sesak di dada rasanya sangat plong ketika memeluk si buah hati.


“Iya, setelah Ara besar nanti, Mama tidak perlu jualan keripik lagi, tidak perlu mulung lagi, Ara akan bekerja untuk membeli semuanya.” Clara mengusap punggung Isha.


“Ayo cepat, bukankah tadi katanya lapar?” Clara mengangguk.


Mereka makan bersama, kemudian Isha membuat keripik singkong lagi. Kali ini, dia berniat menitipkannya di warung-warung lainnya yang pernah dirinya lewati saat memulung.



Bersambung.




Badai Baru

0 0

Part 15

Setelah selesai dan mendapatkan empat bungkus besar, Isha segera mandi dan mempersiapkan diri untuk mengantarkan keripik itu di warung. Walau bukan dengan baju bagus, setidaknya bajunya tidak kotor dan robek.


Isha sangat gelisah membawa empat bukus besar keripik tersebut. Dia khawatir akan penolakan, tetapi dia harus mencoba. Dia harus mengubah kehidupan ke depannya, menjadi lebih layak. Warung pertama meminta sampel, karena mereka tidak ingin menjual kalau belum mencobanya. Bersyukur Ihsa membawa beberapa bungkus untuk tes rasa. Pemilik warung menyukainya dan langsung menerimanya. Tanpa negosiasi harga, mereka langsung menerima harga yang ditawarkan oleh Isha.


Wanita berambut pendek itu sangat bersyukur, usahanya ternyata tidak sia-sia. Saat berjalan masih membawa tiga bungkus keripik lagi, dia sangat ingin mengumpulkan botol bekas yang tercecer di jalanan. Hanya saja, setelah menimbang beberapa hal, dia memilih untuk tidak memulung. Karena untuk saat ini, jualan pasti yang pertama orang lihat adalah kebersihan, terutama makanan.


Warung ke dua yang Isha datangi adalah warung yang dahulu sempat menawarkan lowongan pekerjaan. Dia pun segera menerima keripik buatan Isha, bahkan melunasi di awal. Satu bungkus besar keripik itu berisi dua puluh lima bungkus. Satu bungkusnya diecer seribu, dan cukup dibayar delapan ratus saja untuk Isha. Jadi, pemilik warung mendapatkan keuntungan lima ribu Rupiah dalam setiap satu bungkus besar.


Tak henti-hentinya senyum terukir di wajah Isha, dia memegang uang kini, walau hanya dua puluh ridu Rupiah. Baginya sudah sangat bersyukur. Beras masih ada, dia membeli sepuluh kilogram saat Arman memberinya uang. Sisanya dia gunakan sebagai modal dan untuk keperluan shari-hari serta membeli peralatan sekolah Clara.


Menuju warung ke tiga, Isha menerima penolakan. Di warung selanjutnya, Isha berhasil menitipkan dua bungkus besar lagi keripiknya. Saat menuju pulang, wanita berambut pendek itu tetap memulung botol plastik di jalan. Untuk tambah-tambah, tidak ada lagi malu atau gengsi. Baginya saat ini yang terpenting adalah perut anak-anaknya tidak kelaparan.


Bulan berganti, Isha sudah menambah beberapa macam keripik seperti keripik pisang dan keripik ubi jalar. Dengan demikian uang masuknya lebih besar walau masih pas-pasan. Isha juga membuat keripik bawang yang dititipkan di warung langganan juga kantin sekolah Clara. Ingin menitipkan di warung daerah lain juga, tetapi Isha belum memiliki kendaraan untuk itu.


Meski demikian, dia sangat bersyukur, anak-anak tidak pernah lagi kelaparan. Baju sudah bisa beli baru walau belum yang mahal, pun keperluan sekolah Clara sudah bisa dia penuhi secara sederhana. Isha tidak berhenti memulung, Clara suka mengumpulkan botol plastik bekas di sekolah saat istirahat dan pulang sekolah. Teman-temannya ada yang mengejek, tetapi ada pula yang membantu.


“Clara, botolnya hari ini banyak. Aku bantu kamu, ya.” Dia adalah Chelsy teman sekelas Clara.


“Enggak usah, aku bisa sendiri.” Clara menolak secara halus.


“Bisakah? Enggak apa, hari ini aku enggak dijempu Mama. Jadi, kita bisa pulang bersama.”


“Baiklah, terima kasih.” Clara menyimpan buku ke dalam tasnya dan bergegas pulang. Dia biasa menyimpan botol plastik itu di balik pagar. Siang ini, botol yang lumayan banyak dia kumpulkan malah hilang. Clara sangat sedih, dan murung.


“Clara, kita cari saja di jalan, yuk.” Chelsy mengajak Clara.


“Enggak, aku takut Mama mencariku kelamaan pulang. Ayo, kita pulang saja.” Clara berjalan lambat, matanya sesekali masih melirik ke arah belakang pagar. Tidak ada tumpukan di sana dengan plastik hitam. Karena tidak hati-hati, Clara terjatuh dan lututnya lecet. Air matanya tumpah sudah.


Chelsy pun tidak dapat berbuat banyak selain menemani Clara sampai depan gang, kemudian mereka berpisah. Sebelum memasuki rumah, dia membersihkan wajah dan matanya, walau lutut terasa perih, dia berusaha sebaik mungkin agar tidak ketahuan.


“Ma, Clara pulang.”


“Masuk, Nak.”


Clara langsung mengganti baju, dan mengenakan celana panjang. Cara berjalannya membuat Isha penasaran sekaligus curiga.


“Kamu kenapa?” Wajah Clara pucat seketika.


“Nak, kamu kenapa?” Isha mendekat panik. Hal-hal negatif begitu banyak bermunculan di otaknya.


“Jatuh, Ma.” Clara merenggut, lututnya terasa perih saat berjalan.


“Mana, mama lihat.” Isha menaikkan celana ke atas lutut.


“Aduh, Sayang. Bagaimana bisa jatuh?” Isha lebih lembut dari sebelumnya. Karena saat ini dirinya sudah berdamai dengan keadaan. Clara menagis kembali.


“Tadi, di sekolah, Ara ngumpulin botol lagi. Ada dua plastik. Eh, hilang.”


“Apa hubungannya dengan jatuh?”


“Ara melihat ke belakang sambil jalan, tersandung lalu jatuh.”


“Ya, sudah mama obati dulu. Kamu duduk di sini. Biar mama ambilkan daun sintrong.” Isha bergegas ke luar rumah dan seperti biasa mengobati luka ringan dengan daun sintrong.


“Sudah, Sayang. jangan menangis lagi, nanti juga sembuh.” Clara akhirnya diam dan menuruti kemauan mamanya. Ada kebahagiaan yang tiada terkira. Sang mama kini tidak pernah marah-marah lagi, sikapnya kembali lembut seperti dahulu walau waktunya malah sibuk dengan keripik dan keripik.


Kesedihan Clara sebenarnya adalah karena kehilangan botol bekas miliknya. Dia berharap dengan botol bekas itu dapat mengurangi beban sang mama. Ternyata, yang terjadi tidak sesuai harapan, dia bisa apa selain bersedih. Beruntung, sang mama sudah tidak seperti dulu yang sering marah dan mencubit. Itu semua karena dia lelah secara batin, fisik dan juga hati.


Keeceriaan anak kecil sangat sederhana, ketika sang mama mendekat, memeluk dan berkata secara lembut aja sudah pulih kembali suasana hatinya. Berbeda dengan orang dewasa yang mampu membawa masalah kecil hingga berlarut-larut.


Clara akan segera naik ke kelas dua sekolah dasar. Di sinilah, masalah mulai muncul kembali. Emosi Isha kembali kacau akibat pengaruh Mak Cinta.


“Mak Clara,” panggilnya dari depan rumah. Isha yang baru saja selesai membungkus keripik menghampiri dan tersenyum.


“Ada apa, Kak?”


“Ini suami kamu bukan?” Mak Cinta menunjukkan sebuah gambar di telepon genggamnya.


 Mama Clara sedikit membungkuk, mencoba menelisik gambar di layar gawai tersebut. Mak Cinta menyerahkan gawai agar Isha bebas melihat, dan mengenali. Isha yang awalnya tidak percaya, meneliti dengan saksama. Semakin diperhatikan, jantungnya bagaikan dihujam ribuan tombak, semakinlama semakin terasa perih. Setahun kepergiannya, tidak ada kabar, tidak ada kiriman uang, kini yang Isha dapatkan adalah sebuah foto pernikahan dari media sosial milik Mak Cinta.


“Ah, bukan. Bapak anak-anak lebih hitam, Kak.” Isha tersenyum kecut, mencoba menenangkan debaran dalam dada.


“Ih, kok mirip kali sama suamimu? Lihat, istrinya juga cantik banget.” Mak Cinta yakin dengan apa yang dia lihat. Foto pernikahan itu, memang di akun seorang wanita yang bernama Ayu Mustika. Hati Isha semakin teriris. Walau dia mulai tidak peduli dan mempersiapkan segala kemungkinan, ketika hal itu muncul di depan mata, Isha ingin sekali menangis kencang.


“Ah, kebetulan saja mungkin, Kak. Apa Kakak mau beli keripik? Baru saja selesai saya bungkus.” Isha mengalihkan topik pembicaraan. Dia sudah tidak tahan ingin menangis, ingin segera menutup pintu dan meluapkan kekesalan serta kekecewaannya.


“Tapi, aku yakin ini suamimu, lo.” Mak Cinta masih memandangi layar gawainya.


“Kak, kalau suami saya, pasti langsung saya kenal. Tuh, fotonya di dinding rumah. Lebih hitam dan lebih pendek.” Isha menunjukkan gambar pernikahannya dahulu.


“Iya, juga, sih. Tapi ‘kan bisa saja berubah. Apalagi sekarang di kota, dan memiliki pekerjaan yang lumayan bagus, pasti tubuhnya terawat.” Mak Cinta berusaha meyakinkan. Padahal, tanpa diyakinkan pun hati Isha sudah hancur berkeping-keping.


“Saya yakin bukan, Kak.” Isha memasuki rumah karena Mak Cinta tetap bersikukuh dengan pendapatnya. Melihat Mak Cinta meninggalkan rumah, Isha mengunci pintu dan menangis sejadi-jadinya.


 

 

Bersambung.


Mungkin saja kamu suka

Sarah Jihan
Tafuna On'nanoko
Desbinta Fitria
Geraldan Bintang
Syaja'ah
Muslimah Al-aqsa

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil