Loading
33

0

34

Genre : Rumah Tangga
Penulis : Iftiatul H
Bab : 30
Dibuat : 20 Agustus 2022
Pembaca : 12
Nama : Iftiatul H
Buku : 1

Cinta Terbaik

Sinopsis

Cinta adalah pengorbanan, perjuangan, dan kesetiaan. Seperti cinta Sayyidah Khadijah kepada Rasulullah yang membuatnya mengorbankan segala hartanya demi dakwah suami tercinta dalam penyebaran islam. Seperti cinta Sayyidah Fatimah kepada sayyidina Ali yang membuatnya rela hidup dalam kesederhanaan teramat, karena surga yang menjadi jaminan. Seperti cinta terbaik lainnya, yang di dalamnya ada perjuangan untuk bertahan dalam perisai iman, ada pengorbanan untuk sebuah ketaatan, ada kesetiaan untuk tetap bertahan, dan ada ketiganya untuk meraih surga yang menjadi tujuan. Tapi, aku hanyalah manusia akhir zaman. Terlalu banyak godaan untuk berpaling dari kisah sang teladan. Namun, satu yang selalu kuingat bahwa pernikahan bukan hanya tentang keindahan, namun bagaimana tetap bertahan dan berjalan pada lintasan kebenaran untuk menggapai cinta-Nya, bersama. *** Sebuah kisah tentang perjalanan dua insan yang terlibat dalam komitmen untuk menggapai surga-Nya.
Tags :
#cinta #pengorbanan #perjuangan

Bab 1 || Aku Memilihmu

2 3

Sarapan Kata KMO Club Batch


Kelompok: 3

Day: 1

Jumlah Kata: 1151

Sarkat Jadi Buku



"Jika ana menerima dan kita menikah, apa harta yang bisa ana dapatkan?"


Pertanyaan yang sama sekali tidak terduga. Uwais kaget. Bagaimana mungkin pertanyaan demikian keluar dari lisan seorang Aisyah yang dikenalnya sebagai sosok sederhana? Kesederhanaan gadis itu juga lah yang menjadi pertimbangan Aisyah memilihnya, sebelum agama dan kemuliaan akhlaknya. Tapi apa ini? Pertanyaan pertama yang dilontarkannya adalah tentang harta? Sungguh, ada rasa kecewa di hati Uwais, entah kepada siapa.


Seperti Uwais, ustazah Qanita dan ustaz Fatih yang menjadi perantara mereka pun kaget mendengarkan pertanyaan yang diucapkan Aisyah. Sementara, yang memberikan pertanyaan masih tetap menunduk. Dia tahu, apa yang ada di pikiran mereka.


Di balik cadarnya, Aisyah tersenyum. Jika dia adalah lelaki yang kucari, maka dia mengerti apa maksud dari pertanyaanku tadi, pikirnya.


Setelah berpikir, Uwais menemukan jawabannya. Laki-laki berwajah teduh itu tersenyum, menampakkan lesung pipi yang dimilikinya. Dia yakin, bukan perihal harta benda yang ditanyakan Aisyah. 


Uwais melirik sekilas kepada Aisyah yang tertunduk sambil memainkan ujung hijabnya. Kemudian dia menatap kepada sepasang suami istri di depannya.


"Bismillah, ana tidak memiliki satu pun harta yang bisa diberikan untuk anti, semua adalah titipan Allah. Tapi, ana janji untuk selalu berusaha memperkaya apa yang ada di dalam hati kita, yakni keimanan dan ketakwaan. Karena itu lah harta yang sesungguhnya," jawab Uwais mantap.


Ustadzah Qanita tersenyum, mengusap lembut bahu Aisyah. Gadis itu berusaha untuk mengontrol detak jantungnya yang tak beraturan. Pipinya memanas. "Allah, kuatkan hati hamba agar tidak merasakan apa yang belum seharusnya hamba rasakan," ucapnya dalam hati sambil memejamkan mata.


"Bagaimana, Aisyah?" tanya ustaz Fatih.


Perempuan bermata tidak langsung menjawab. Dia mengangkat kepalanya, melihat sebentar kepada wajah laki-laki yang ingin melamarnya.


"Boleh tanya lagi, abi?"


Dia memang terbiasa memanggil ustaz Fatih dengan sebutan abi, lantaran sudah beberapa tahun belajar dengan ustazah Qanita yang dia panggil umi.


"Tentu saja, tanyakan apa ingin ditanyakan," ucap abi dengan senyuman.


"Kalau nanti, ibumu membutuhkanmu, namun istrimu tidak membolehkan, siapa yang akan kamu pilih untuk didahulukan?"


Lagi, pertanyaan tak terduga. Tapi, dengan ini Uwais semakin mantap hatinya untuk menikahi gadis di depannya itu. Sangat berbeda dari beberapa perempuan yang sempat bertaaruf dengannya melalui ustaz Fatih, namun gagal karena di tengah jalan banyak sekali perbedaan prinsip dan pemikiran, juga ketidakcocokan lainnya. 


"Insyaallah, ana akan memilih ibu, bagaimana pun, surga ana tergantung pada ridanya. Kecuali, jika beliau rida ana mendahulukan istri atau istri ana jauh lebih membutuhkan. Maka ana akan memilih istri dengan ridanya," jawab Uwais yakin.


"Mengapa?"


"Tujuan ana menikah bukan hanya dunia, melainkan yang utama adalah bisa kembali berkumpul di surga. Jika ana tidak mendapatkan rida dari seorang wanita yang merupakan kunci surga ana, lantas bagaimana mungkin ana bisa membawa istri dan anak-anak kelak ke surga?"


Lagi, Aisyah tersenyum mendengarkan jawaban Uwais. Setelah meyakinkan hatinya, baru lah gadis itu menjawab, "Berikan ana waktu seminggu untuk istikharah, nanti akan ana beritahu jawabannya sama umi. Ana harap, dalam waktu seminggu ini tidak ada interaksi apa pun."


Mendengarkan jawaban Aisyah, semuanya tersenyum. Setelah itu mereka berbincang, mengenai bagaimana taaruf yang sebenarnya. Banyak nasihat yang mereka terima, terutama jangan pernah membuka obrolan jika hanya berdua, termasuk tidak berbalas pesan meskipun membahas hal yang penting.


"Mungkin, awalnya niat kalian baik. Hanya ingin bertanya suatu hal penting, tapi setan tidak pernah diam. Terlebih, kalian memiliki niat baik untuk melangsungkan pernikahan. Bisa saja, setelah pembicaraan penting kalian selesai, setan membisikkan agar ada obrolan lain yang tidak lagi penting. Jadi, kalau ada yang mau ditanyakan, tanyakan saja di grup. Nanti akan abi buat grupnya."


"Insyaallah, Abi," jawab keduanya berbarengan.


"Oh iya ana lupa, ini CV taaruf ana. Insya Allah di sini semuanya lengkap tentang ana." Uap Uwais sambil menyodorkan CV miliknya.


"Baik. Insya Allah, dua atau tiga hari lagi akan ana berikan CV ana melalui umi," ujar Aisyah.


Setelah lama berbincang, mereka pamit karena sudah sore. Awalnya Uwais menawarkan diri untuk mengantarkan Aisyah, namun perempuan itu menolak dengan tegas. Jadilah Uwais mengikuti angkot yang hanya berisikan Aisyah itu dari belakang. Kontrakan perempuan itu lumayan jauh, dan Uwais takut dia kenapa-kenapa. Setelahnya pemuda itu kembali lagi ke tempat tinggalnya yang tidak jauh dari rumah ustaz Fatih tadi.


***


Selama enam hari sejak Uwais mengutarakan niatnya, Aisyah terus melakukan istikharah sebelum tidur dan di sepertiga malam. Dia benar-benar berserah kepada Allah, memaksa ingatannya untuk lupa tentang apa yang diketahuinya mengenai Uwais. Gadis itu tidak ingin, jika keputusan yang diambilnya nanti karena dia sedikit banyaknya telah mengenal Uwais yang merupakan kakak tingkatnya di prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir.


"Ya Allah, jika benar dia jodoh hamba, maka dekatkan dan satukanlah kami dalam rida-Mu. Jika tidak, maka jauhkanlah kami dengan caramu. Jangan biarkan harapan tumbuh di hati kami selain kepada-Mu, agar tidak ada yang merasa kecewa dan sakit hati setelah ini," pinta Aisyah dalam doanya.


Pagi ini, adalah hari terakhir ujian akhir semester ganjil. Namun, Aisyah datang lebih cepat. Dari pada berdiam di kelas, perempuan berpakaian serba hitam itu memilih untuk ke masjid kampus melaksanakan salat sunah duha.


Setelah salat dan berdoa, Aisyah membuka al-qur'an saku yang selalu dibawanya. Dia mengulang kembali ayat-ayat yang dihafalnya setelah subuh tadi.


Sampai pada surah Az-Zumar ayat 53, dia terisak.


Artinya: Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Jangan lah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."


Dia teringat akan apa yang sudah menjadi masa lalunya. Dia yang abai akan perintah Allah, tak acuh akan larangannya. Tapi, Allah Yang Maha Baik itu tak pernah putus memberinya rahmat. Dia telah durhaka pada Allah, melawan hati yang ingin mendekat kepada penciptanya. Entah sudah berapa banyak dosanya menumpuk, namun Allah masih memanggil dengan panggilan yang sangat indah.


Sekarang, semua itu telah berlalu. Gadis itu berjanji untuk tidak kembali, dia telah memutuskan mengikuti kemauan hatinya untuk mendekat kepada Allah. Dia yakin pada Allah Yang Maha Pengampun, seperti apa yang telah tercantum dalam firman-Nya yang mulia.


Aisyah yang tengah fokus tidak sadar ada seseorang yang sedari tadi mendengarkan suara lirihnya saat mengaji. Orang itu adalah Uwais yang sudah berada di balik tirai pembatas sejak sebelum Aisyah datang. 


***


Setelah melaksanakan ujian semester, Aisyah memilih pulang ke kampung halamannya, Bangko yang berada di Kabupaten Merangin. Butuh waktu enam jam untuk sampai ke sana dari Kota Jambi. 


Tapi, sebelum pulang, Aisyah menyampaikan kepada ustazah Qanita dan ustaz Fatih bahwa dia ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya dan meminta Uwais menemui orang tuanya.


Setelah melaksanakan istikharah, berdiskusi dengan ustazah Qanita serta ustaz Fatih, berdiskusi dengan saudara sepersusuannya yang merupakan teman dekat Uwais, dan tak lupa meminta pendapat kedua orang tuanya, pada akhirnya Aisyah yakin memilih Uwais sebagai calon suaminya.


Jangan tanyakan bagaimana senangnya kedua orang tuanya. Setelah sekian orang yang datang dengan niat melamar Aisyah, akhirnya putri semata wayang mereka itu akhirnya menemukan laki-laki yang cocok.


Aisyah tersenyum singkat, mengingat reaksi orang tuanya di telpon tadi malam saat dia mengatakan Uwais akan datang esok hari.


"Bismillah, aku memilihmu sebagai calon imamku. Semoga Allah meridai dan memudahkan langkah kita." Ujar Aisyah dalam hati bersamaan dengan mobil yang melaju pelan memasuki gapura kampungnya.



user

22 August 2022 09:27 Ismi Nuri ditunggu next-nya. penasaran sama konfilknya. keren banget.. ????????

user

22 August 2022 09:30 Annan Fase Masya Alloh, Wajib di contoh ini Kak Aisyah. Lumayan buat bekal ta'aruf an, Hehe....

user

25 August 2022 09:48 Iftiatul H Alhamdulillah...

Bab 2 || Menikah atau Dakwah

2 3

Sarapan Kata KMO Club Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 2

Jumlah Kata: 1252

Sarkat Jadi Buku



"Pernikahan bukanlah masa untuk istirahat dari dakwah. Sebab, dakwah tak berakhir sampai nanti Allah memanggil untuk kembali. Akan tetapi, pernikahan adalah jalan untuk semakin istiqamah di jalan dakwah."



***

Kicauan burung-burung, suara dedaunan jatuh berpadu dengan air yang yang menabrak bebatuan di dalam sungai menciptakan melodi indah penuh damai. Ditambah lagi, hamparan sawah ditumbuhi padi yang mulai subur, semakin memanjakan siapa saja yang mau mengambil pelajaran dari alam.


Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu menghirup napas dalam, menikmati udara pagi yang sudah jarang dia rasakan. Dalam hatinya, ia tak henti bersyukur, memiliki kampung halaman yang masih sangat terjaga. Tidak hanya alamnya, namun juga adat dan lingkungan yang kental akan aturan agama. Tidak ada perempuan yang keluar rumah tanpa kerudung, pun tak nampak pasangan muda-mudi yang berani berduaan.


Dia tersenyum, kemudian membuka mata yang sebelumnya terpejam merasakan betapa sejuk embun pagi membelai wajah. Tak sengaja, matanya menatap ke padang rumput di seberang sawah, tidak terlalu luas, namun sangat indah.


Perlahan, kakinya melangkah melewati pematang yang sedikit licin sisa hujan semalam. Semakin dekat, semakin jelas terlihat. Hijaunya rumput berpadu dengan putihnya dandelion yang beterbangan, membuat pikirannya berkelana ke masa dua tahun lalu.


Pemuda itu adalah Uwais, dan dandelion mengingatkannya pada sosok perempuan yang akan dipinangnya hari ini. Aisyah, si penyuka dandelion. Benar-benar sangat berbeda dengan perempuan lain yang lebih memilih mawar, anggrek, tulip atau bunga-bunga indah dan wangi lainnya.


Uwais ingat, dua tahun lalu tepatnya di Candi Muaro Jambi saat acara prodi. Uwais yang merupakan salah satu panitia, tertinggal di pendopo depan, memastikan sound system dan beberapa alat lainnya aman. Saat akan menyusul ke candi belakang, matanya malah menangkap sosok Aisyah yang tengah asik mengobrol dengan sekumpulan anak-anak.


Niat awal ingin memarahi karena tidak ikut serta dalam rombongan, tapi malah sarafnya seakan terkunci. Rungunya mendengar suara lembut penuh ketegasan itu tengah mengajarkan filosofi dari setangkai dandelion yang dia genggam kepada anak-anak itu.


"Ada yang mau seperti dandelion, gak?" tanya Aisyah.


"Gak mau," jawab mereka kompak.


"Loh, kenapa, sayang? Padahal, dandelion ini bagus loh. Meskipun diterbangkan terus oleh angin, tapi dia tetap tumbuh lagi, dan malah jadi padang yang indah banget. Kakak ingin juga seperti dandelion, meskipun disakiti, terjatuh, gagal, tetap bisa bangkit dan menebarkan manfaat lebih luas. Mau gak kayak gitu?


"Wah, mau kak, mau." Jawab beberapa anak dengan mata berbinar.


Uwais tersenyum sekilas mendengar apa yang diucapkan Aisyah. Lalu memilih berlalu meninggalkan perempuan itu.


Lalu, beberapa kali setelahnya, Uwais kembali melihat Aisyah melakukan hal yang sama. Menimbulkan pandangan berbeda seorang laki-laki kepada perempuan. Namun ia menepis, mungkin hanya kagum karena Aisyah itu berbeda, pikirnya.


Akan tetapi, tidak hanya tentang dandelion. Uwais kembali melihat Aisyah benar-benar merealisasikan apa yang menjadi pemikirannya. Pernah suatu hari, Uwais melihat Aisyah membantu seorang kakek yang tengah berjualan mainan anak-anak dengan sepedanya. Awalnya, kakek itu menolak, dan menuduh Aisyah teroris karena cadar dan pakaian hitam yang dikenakannya. Bahkan, perempuan bermata cokelat pekat itu sempat terdorong. Namun entah bagaimana caranya, kedua orang itu akhirnya akrab layaknya seorang kakek dengan cucunya. Aisyah tanpa ragu mendorong sepeda tua yang kedua bannya kempes. 


Uwais saat itu hanya bisa mengamati, saat Aisyah membawa sepeda ke bengkel untuk ditambah anginnya. Setelah meletakkan di bengkel, Aisyah mengajak pria renta itu ke rumah makan di deretan yang sama.


Saat itu pula Uwais benar-benar mengagumi Aisyah, figur perempuan yang sudah langka di zaman ini. Akan tetapi, Uwais berusaha menepis, dia terlalu takut untuk mengagumi lawan jenis. 


Hanya saja, usahanya tak berhasil. Selama dua tahun setelah itu, dia berkali-kali dibuat kagum oleh Aisyah. Perempuan yang lebih senang menyendiri di masjid dan perpustakaan, di saat teman-temannya nongkrong di kantin. Beberapa kali pula Uwais melihat Aisyah diperlakukan tidak baik oleh mahasiswi lain, namun dia tetap tersenyum dan berbuat baik, seperti mengajarkan materi yang tidak mereka pahami.


Tetapi, selama itu Uwais tidak berani mendekati Aisyah. Baginya, mendekati perempuan tanpa persiapan menikahi adalah sebuah kesalahan fatal seorang pria. 


Hingga di awal semester tujuh, dia sudah memiliki penghasilan yang cukup untuk menikah, di samping selama satu setengah tahun terakhir dia mempelajari ilmu-ilmu yabg dibutuhkan dalam pernikahan dengan beberapa ustaz dan mengikuti kelas-kelas pranikah. Uwais merasa yakin, kemudian mengutarakan niatnya kepada Ustaz Fatih, yang dia tahu Aisyah juga merupakan murid dari istri beliau.


Namun, dia harus rela menguburkan niatnya kala itu. Aisyah, perempuan yang dikaguminya itu sedang ta'aruf dengan sahabatnya sendiri.


Berbekal niat menikah muda, meneladani para ulama besar yang menikah di usia muda, Uwais menerima tawaran ta'aruf dari seorang akhwat yang disampaikan melalui Ustaz Fatih, akan tetapi baru berjalan dua pekan, banyak sekali ketidakcocokan yang ditemukan. Berlanjut ke tiga akhwat berikutnya yang juga ditemukan banyak ketidakcocokan. Mulai dari orang tua yang tidak setuju, sampai ke visi misi yang berbeda. Selama proses itu, Uwais benar-benar berserah kepada Allah, meminta keputusan terbaik melalui istikharah, melupakan tentang kekagumannya kepada Aisyah. Akan tetapi, tidak ada kemudahan dalam proses yang merupakan salah satu jawaban dari istikharah.


Hingga dua pekan lalu, Ustaz Fatih mengatakan bahwa ada akhwat yang sudah siap menikah, namun gagal ta'aruf lantaran tidak cocok. Uwais tidak tau siapa akhwat itu, dia meminta agar Ustaz Fatih hanya mengirimkan visi-misi serta pandangannya tentang pernikahan, tidak perlu mengirimkan nama serta CV lengkap. Dia lebih memilih untuk istikharah terlebih dahulu. Setelah sepekan, hatinya benar-benar mantap, tidak seperti sebelumnya yang masih menyimpan keraguan.


Laki-laki berparas teduh itu segera menghubungi Ustaz Fatih mengatakan bahwa dia siap untuk ta'aruf dengan akhwat yang dimaksud. Alangkah kagetnya dia saat bertemu di rumah Ustaz Fatih, ternyata perempuan yang ada di depannya adalah Aisyah.


"Nak?" Suara perempuan disertai tepukan lembut di bahunya membuyarkan lamunan Uwais.


"Iyo, bu?"


"Kenapo masih di sini? Bukannyo mau ke rumah Aisyah? Ayah udah siap-siap di rumah."


Perempuan itu adalah ibunya. Seorang wanita paruh baya yang masih bekerja sebagai guru honorer di salah satu SD IT.


"Cari udara segar, bu." Jawab Uwais sambil tersenyum lembut.


"Bu, beneran restuin ana dengan Aisyah kan, Bu?"


"Insyaallah, nak. Aisyah perempuan shalehah, insyaallah bisa bantu anak ibu ini dalam meraih surga." Jawab ibunya, kemudian duduk di balai-balai pinggir sawah.


Mendengarkan itu, Uwais tersenyum. Kemudian menyusul duduk di samping wanita kesayangannya.


"Bismillah, do'akan lancar ya, Bu? Gak nyangka, ternyata setelah beberapa kali gagal ta'aruf, Allah udah nyiapin Aisyah untuk menjadi istri ana, insyaallah." 


"Semoga ini menjadi pernikahan yang menjadikan ana semakin istiqamah di jalan dakwah dan mampu bertahan di jalan Allah hingga akhir, lalu bersatu di surga," lanjutnya.


Benar, salah satu alasan dia mau menikah muda adalah untuk menguatkannya di jalan dakwah. Sempat ragu sebenarnya, takut jika menikah di usia muda, fokus dakwahnya jadi teralihkan untuk mengurus rumah tangga. Namun, setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Uwais meminta nasihat kepada Ustaz Fatih.


Sebuah nasihat indah ia dapatkan.


"Akhi... Menikah, dakwah dan jihad itu satu kesatuan. Jangan mau dikacaukan oleh logika. Bukankah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu telah menjadi menantu Rasulullah sebelum sukses memimpin dakwah? Sebelum menjadi panglima, bukankah Usamah bin Zaid juga telah menikah? Jadi, menikah bukan halangan untuk berdakwah. Karena itu, pilihlah pasangan yang mendukung kita untuk berdakwah.


Ingatlah akhi, pernikahan bukanlah rehat dari dakwah. Karena dakwah itu tak terbatas waktu, sampai nanti kita kembali kepada Allah. Lantas, kalau masih memisahkan antara pernikahan dan dakwah, berarti kita tidak akan menikah? Atau, jika menikah dakwah itu berakhir? Jika antum benar serius di jalan dakwah, menikahlah. Mintalah pada Allah pasangan yang bisa mendukung antum untuk berdakwah. Dan, bukankah jika menikah antum lebih bisa menjaga diri?"  kata beliau kala itu.


Nasihat Ustaz Fatih inilah yang menjadi penguat keyakinan Uwais untuk menikah muda, di saat dia bergelut dengan pikiran menikah dulu atau dakwah. Dan, mengenai Aisyah. Dia yakin Aisyah adalah perempuan yang tepat, setelah mendengar dan melihat langsung keseharian perempuan itu 



user

23 August 2022 13:22 Izzah Avanti Kisah cinta yang lillah, billah, fillah

user

23 August 2022 13:25 Izzah Avanti Kak kalau aku boleh memilih, aku ingin memilih keduanya menikah dan dakwah. Boleh nggak?

user

25 August 2022 09:50 Iftiatul H Harus memilih keduanya dong kakak. Tapi ada yang sengaja menunda pernikahan dengan alasan mau fokus dakwah dulu.

Bab 3 || Meraih Berkah

3 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 3

Jumlah kata: 858

#sarkatjadibuku



"... Diantara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah saat menggauli rahimnya (yakni mudah rahimnya untuk melahirkan)." (HR. Ahmad)


***

Bertemunya dua keluarga yang paham akan agama adalah bentuk keindahan yang nyata. Bicaranya adalah ilmu, tawanya tak mengeraskan hati, laki-laki dan perempuannya terjaga dari saling melempar canda dan sentuh.


Rasa syukur yang tak terhingga di hati keduanya. Sebab, pernikahan tidak hanya menyatukan dua insan, dua hati dan dua pemikiran. Namun, menyatukan dua keluarga yang sebelumnya asing.


"Mari makan dulu, umma sudah menyiapkan makanan di belakang." Ujar abinya Aisyah setelah sejenak mengobrol dan saling mengenal.


Beliau tidak langsung menanyakan maksud dari kedatangan tamu dari pihak Uwais, melainkan menyambut dengan ramah dan menjamu dengan makanan terbaik. Sebab, dari nabi Ibrahim alaihi salam hingga Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, demikianlah adab menerima tamu yang diajarkan.


Beragam makanan dihidangkan, menyambut para tamu yang istimewa. Banyaknya, makanan yang dimasak dengan bahan-bahan terbaik untuk mengantisipasi jika ada yang memiliki kolesterol tinggi, hipertensi, jantung ataupun penyakit lainnya. Benar-benar hidangan terbaik.


"Pak, Bu. Bolehkah kami menyampaikan maksud dari kedatangan kami ke sini?" Tanya ayah Uwais setelah semua selesai makan.


"Silakan, Pak."


"Bismillahirrahmanirrahim, kedatangan kami ke sini adalah untuk meminang putri semata wayang bapak untuk putra kami, Uwais al-Qarni. Mereka telah mengenal, meski dalam waktu yang singkat. Namun dengan mengharap ridha Allah dan dengan niat menyempurnakan agama, maka Uwais memutuskan untuk menikahi Aisyah. Apakah bapak dan keluarga menerima pinangan dari putra kami?" 


"Sebelumnya apa Uwais tidak ingin melakukan nazhar?"


"Tidak, pak. Insyaallah saya sudah tau wajah Aisyah, sebelum beliau mengenakkan cadar dulu. Meski samar, namun insyaallah tidak ada hal yang akan membuat saya malas untuk menatap ketika sah." Ujar Uwais dengan kepala tertunduk.


"Baik lah, insyaallah saya dan istri merestui keduanya. Akan tetapi, pernikahan tidak lah terjadi karena keterpaksaan. Maka saya serahkan kepada anak kami untuk menjawabnya. Bagaimana, nak?" 


Aisyah tak berani mengangkat kepalanya barang sedetik pun. Cadarnya telah lembab oleh keringat dingin yang mengairi pelipis.


"Bismillahirrahmanirrahim, dengan mengharap ridha Allah dan niat beribadah serta meraih surga-Nya, insyaallah ana bersedia." Lirih Aisyah dengan jari saling tertaut.


"Alhamdulillah, Aisyah menerima pinangan dari Uwais."


"Alhamdulillah," ujar dua keluarga itu bersamaan.


Selanjutnya mereka berbincang santai, membahas kapan akan dilaksanakan pernikahan dan bagaimana acaranya. Tidak hanya kedua krang tua mereka, namun juga di sana juga ada om dan pamannya Aisyah bersama keluarga mereka, ada juga omnya Uwais dengan keluarga kecilnya.


Setelah berbincang, akhirnya mereka sepakat untuk mengadakan akad dan walimah dua belas hari lagi, tepatnya di hari Jum'at pekan selanjutnya. Sekilas memang terlihat waktunya terlalu singkat untuk menyiapkan semua keperluan. Namun, Aisyah hanya menginginkan acara yang sederhana. Baginya yang paling penting adalah berkah. Karena itu acara didesain dengan sangat hati-hati dan berharap sesuai dengan sunnah.


"Aisyah, kamu mau mahar apa, nak?" Tanya ibu Uwais.


"Apa saja, Bu. Yang penting sesuatu yang bernilai dan tidak memberatkan." 


Aisyah teringat akan pernikahan Sayyidah Fatimah. Jika meninggikan mahar adalah suatu kemuliaan, maka tentu Rasulullah akan meninggikan mahar putrinya. Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasullullah tidak lah menikahi salah seorang istri dan meningkahkan putrinya dengan mahar lebih dari 12 Uqiyah. Pun Aisyah teringat pada Ummu Sulaim, yang disebut Rasulullah sebagai wanita yang paling mulia maharnya. 


Sebagai wanita akhir zaman yang masih sangat jauh sari sang teladan, tentu Aisyah semaksimal mungkin berusaha untuk meneladani apa yang bisa dilakukannya. Salah satunya dengan tidak memberatkan soal mahar. Dia ingin mahar itu diberikan oleh Uwais dengan kerelaan, bukan keterpaksaan yang berujung pada berkurangnya berkah dalam pernikahan.


Mereka melanjutkan perbincangan, mengenai siapa saja yang akan diundang dan dihotel mana akan diadakan. Namun, baik Aisyah maupun Uwais sepakat untuk hanya mengadakan akad dan walimah yang sederhana di rumah. Mereka ingin walimah itu hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat agar silaturahmi yang sempat renggang karena jarak dan kesibukan, kembali tersambung dalam bingkai kebersamaan.


"Kak, gak mau pakai foto pre-wed di undangan?" Tanya salah satu sepupu Aisyah yang saat ini duduk di bangku kelas dua SMA.


"Nak, gak ada pre-wed dalam Islam, apalagi sampai menampilkan di undangan yang jelas akan dilihat oleh banyak pasang mata. Jika yang sudah akad saja bisa menimbulkan fitnah, apalagi yabg belum halal. Laki-laki yang baik tidak akan rela wanitanya dilihat oleh banyak pasang mata yang bukan mahramnya." Ujar uminya Aisyah dengan penuh kelembutan.


"Benar, lagi pula. Membuat undangan yang dihiasi foto calon mempelai adalah bentuk kemubaziran dan kesia-siaan. Lebih baik undangan dibuat dalam bentuk sesuatu yang bermanfaat. Berupa buku zikir, doa atau adab-adab menghadiri walimah, misalnya." Tambah ibu Uwais.


"Buku doa dan zikir." 


"Buku zikir dan doa." Ujar Uwais dan Aisyah berbarengan.


Jawaban itu membuat yang lain gencar menggoda kedua orang yang semakin tertunduk malu itu. Namun mereka sepakat dengan apa yang diucapkan keduanya. Dipilihlah desain undangan berupa buku saku berisi zikir pagi sore dan doa sehari-hari, sementara undangan berada di sampul depan dengan jenis kertas tebal yang sama dengan isinya.


Tak perlu waktu lama untuk membicarakan desain walimah, sebelum adzan zuhur berkumandang, pembicaraan mereka telah selesai. Keluarga Uwais pamit dengan hati gembira, mendapatkan calon besan yang sungguh mengutamakan keberkahan dalam pernikahan.


Pun keluarga Aisyah yang senang karena keluarga Uwais tidak memberatkan. Sebab, banyak pula ditemukan pihak laki-laki yang meminta persiapan begini dan begitu. Sehingga keluarga perempuan terpaksa membelanjakan mahar, atau tak sedikit pula yang berhutang untuk memenuhi tuntutan.




Bab 4 || Menjelang Pernikahan

3 1

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 4

Jumlah kata: 1095

#sarkatjadibuku



"Nak, gak lama lagi tanggung jawab Abi akan beralih kepada Uwais, seorang laki-laki shaleh yang insyaallah bisa meneruskan perjuangan Abi untuk membawa putri kecil Abi ini ke surga. Layani lah dia layaknya raja. Berbakti dan tunduk lah kepadanya di jalan kebenaran, dan ingatkan ia dengan kelembutan jika salah. Insyaallah, Abi dan Umi selama ini selalu meridhai, Aisy. Maka raih pula ridhanya sebagaimana Umi dan Abi." Laki-laki paruh baya itu mengelap air matanya dengan sorban yang tersampir di bahunya.


"Putri Abi yang shalehah, jangan pernah menuntut apapun padanya selain ilmu dan keimanan. Qana'ah lah dengan apa yang dia beri. Jagalah mata dan hidungnya, jangan biarkan ia mencium bau tak sedap dari Aisy dan jangan biarkan ia pulang dengan lelahnya sebelum Aisy berhias untuknya.


Nak, kamu adalah pakaian untuknya dan Uwais adalah pakaian untuk Aisy. Jaga lah segala aibnya, kunci dengan rapat lisan Aisy, jangan biarkan orang lain tau apa yang terjadi dalam rumah tangga kalian..."


"Abii..." Aisyah menghambur ke pelukan abinya. 


Cinta pertama yang mengajarkan kepadanya tentang arti cinta kepada Allah. Laki-laki pertama yang mengenalkan perjuangan untuk menggapai cinta Allah. Dia terisak di dada bidang abinya.


"Aisyah sayang abi," ujarnya.


"Abi juga sayang Aisyah, sayang banget. Abi gak akan rela putri abi jatuh ke pria yang menjauhkannya dari jalan Allah." Ujar abinya sambil mengelus puncak kepala Aisyah yang masih berbalut mukena 


"Nanti, kalau udah nikah terima kemana pun suami membawa Aisy untuk tinggal. Jaga harta dan kehormatannya dengan baik. Jaga hubungan baik dengan keluarganya dan jangan lupa selalu siapkan makanan terbaik untuknya. Ketika dia terlihat memiliki masalah dan diam, jangan tanyakan kenapa, tapi berikan ia waktu untuk menyendiri menenangkan pikirannya. Satu lagi, jangan pernah membantah apalagi meninggikan suara di hadapannya. Abi percaya, putri Abi mampu melakukan semua itu. Abi bersyukur, memilihkan madrasah pertama yang tepat untuk putri Abi."


"Aamiin, doakan Aisyah selalu ya, Bi?" Ujar Aisyah sambil mendongakkan kepalanya, menatap mata abinya yang berkaca-kaca.


"Insyaallah, nak. Besok Abi udah gak bisa memanjakan Aisyah seperti ini lagi, nanti suaminya cemburu."


"Ish, Abi..."


"Haha... Iya, nak. Besok juga kemana-mana udah bukan sama Abi lagi, tapi sama suami. Nanti, mau kemana dan melakukan apapun harus izin sama suami dulu ya, nak?"


Mendengarkan itu pelukan Aisyah semakin erat. Rasanya dia tidak rela harus berpisah dengan abinya yang ketika berada di rumah selalu setia menemani dan mengantarkannya kemanapun ia ingin pergi. Bahkan tak jarang abinya menungguinya saat hang out dengan teman-teman sekolah dulu. Benar-benar figur seorang ayah yang luar biasa baginya. Karena itu pula, Aisyah sangat selektif dalam memilih pasangan.


"Eh, kenapa ini peluk-peluk tapi Umi gak diajak?"


"Hehe, Umi. Abi nih bikin Aisyah sedih..." Jawab Aisyah sambil melepaskan tangannya dari pinggang abi.


"Umi sih, malah keluar." Jawab abinya sambil tersenyum.


"Umi tadi lihat persiapan untuk acaranya, abi."


"Oh iya, gak sampai satu jam lagi subuh. Abi ke masjid aja dulu, sekalian lihat persiapan untuk akadnya di sana."


"Yaudah, abi ke masjid dulu. Umi di sini aja dulu, temani Aisyah. Untuk persiapan di luar biar tantenya dulu yang handle." 


"Iya, Abi. Umi di sini."


"Wassalamu'alaikum penyejuk hati, Abi."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab keduanya kompak.


Sepeninggalan abinya ke masjid, Aisyah beralih memeluk uminya, perempuan hebat yang merelakan karirnya sebagai dosen untuk berbakti kepada suami dan menemani kemana pun abinya berdakwah. Sungguh, tiada yang lebih disyukuri Aisyah selain terlahir dalam keluarga yang selalu memperjuangkan surga bersama.


"Manjanya anak umi..." Ujar wanita berkerudung hitam itu, lalu mengecup puncak kepala Aisyah.


"Umi gak mau kasih nasihat buat Aisyah? Tadi Abi banyak banget nasihatnya, semoga Aisyah bisa ingat dan mempraktekkannya, hehe."


"Emang masih sanggup denger?"


"Sanggup dong umi..."


"Umi cuma mau bilang, nanti kalau udah menikah, Aisyah udah sepenuhnya milik suami, bakti Aisyah juga beralih kepadanya. Kalian akan masuk dalam kehidupan baru yang di dalamnya udah gak ada Umi dan Abi, cuma ada kalian. Jadilah istri sekaligus ibu baginya, tempat ia berkeluh kesah dengan nyaman, tempat ia bermanja-manja, dan menjadi sumber bahagianya. Tapi, Aisy harus ingat, bahwa bakti Uwais tetap ada pada kedua orang tuanya, maka bantulah ia untuk berbakti. Nak, cintai Uwais dengan tulus setelah akad terucap nanti dan bahagia lah dengan kehidupan baru kalian, bagaimana pun keadaannya."


Sambil mendengarkan nasihat uminya, Aisyah tak berhenti mengeluarkan air matanya.


"Insyaallah, Umi. Nanti Aisyah pasti rindu Abi sama Umi."


"Nak, rindu itu pasti. Tapi, Aisy harus terbiasa dengan kehidupan baru."


"Oh iya, Bang Ridho sama Bang Husein gak pulang ya, Mi?"


"Abang gak bisa pulang, Nak. Bang Ridho ada jadwal ujian hafalan dua hari lagi. Bang Husein kan lagi sibuk-sibuknya sama tugaa akhir. Gak apa-apa, kan?"


"Iya, Mi. Gak apa-apa. Tapi nanti Abang bisa hadir online, kan?"


"Insyaallah..."


Aisyah memang putri semata wayang, namun dia memiliki dua kakak laki-laki yang saat ini keduanya berada di Timur Tengah.


***

Visi:

Membangun keluarga qurani yang bermanfaat bagi keluarga dan umat seta kembali berkumpul di surga.


Misi:

1. Mengutamakan Allah di atas segalanya.

2. Shalat tepat waktu dan rawatib.

3. Rutin tahajud dan duha, serta shalat sunnah lainnya.

4. Rutin puasa sunnah dengan izin suami.

5. Menghafal dan mengamalkan Al-Qur'an hingga akhir hayat.

6. Menghafal dan mengamalkan hadits.

7. Tilawah minimal 2 juz per hari.

8. Menghadiri majelis taklim minimal satu kali sepekan.

9. Mendidik anak mengikuti didikan Rasullullah dan orang-orang yang mengikuti beliau.

10. Menjadikan rumah tangga Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau sebagai teladan. 

11. Istiqamah di jalan kebenaran.

12. Istiqamah di jalan dakwah.

13. Misi bisa bertambah seiring berjalannya pernikahan dengan kesepakatan bersama.


Uwais menghela nafas pelan, sudut bibirnya tertarik, namun bersamaan dengan itu ada kekhawatiran mendalam di hatinya. Aisyah adalah sosok perempuan yang sulit dicari di zaman ini, semua itu tak lepas dari didikan orang tua yang luar biasa. Uwais khawatir bila kelak tak mampu melakukan seperti apa yang dituliskan Aisyah dalam CV-nya.


Tapi, laki-laki itu berjanji dengan dirinya sendiri bahwa dia akan menjadi suami yang baik, suami yang mencintai istrinya karena Allah, suami yang membawa istrinya di jalan kebenaran dan berharap Allah mengumpulkan kembali di surga yang menjadi tujuan dari berlabuhnya biduk rumah tangga mereka.


"Nak, sudah siap?" Suara lembut terdengar dari depan pintu.


"Sudah, Bu." Jawabnya sambil membukakan pintu.


"Nak, sini duduk dekat Ibu." Ujar ibunya setelah duduk di atas kasur Uwais.


"Nanti, kalau udah nikah muliakan istrimu seperti kamu memuliakan Ibu. Jangan sakiti dia, jangan biarkan air matanya tumpah selain dalam munajat kepada Allah. Bimbing dan perlakukan dia dengan kelembutan. Jaga mata dari perempuan lain. Ibu yakin, anak Ibu insyaallah sudah paham mengenai ini. Semoga Allah meridhai pernikahan kalian, nak."


"Aamiin, makasih, Bu. Doakan Uwais mampu menjadi suami dan kepala keluarga yang baik."


"Yaudah, yuk kita keluar, yang lain udah oada di mobil."


Keduanya beriringan menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Uwais memasuki mobil dengan detak jantung yang semakin tak beraturan.


user

25 August 2022 14:40 Ismi Nuri lengkap banget ada visi misi nya.. ^_^ keren. :)

Bab 5 || Akad

2 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 5

Jumlah kata: 1735

#sarkatjadibuku



"Sah!"


Satu kata yang serentak terucap dari lisan para saksi itu, menjadi tanda bahwa sebuah pengembaraan akan dimulai oleh dua insan yang saat ini tengah berusaha menormalkan aneh di dalam dada, di tempat yang berbeda. Uwais melaksanakan akad di masjid perumahan, Aisyah menyaksikan prosesi akad lewat monitor yang tersambung ke masjid.


Gemuruh takbir diucapkan oleh jamaah yang masih berada di masjid setelah shalat subuh tadi. Hari ini, jamaah lebih ramai dari biasanya, bahkan ada jamaah dari tempat lain yang sengaja datang ke masjid ini. Karena keduanya sepakat mengundang salah satu ulama besar Merangin yang sudah sepuh, lalu menyebarkan undangan tersebut ke media sosial dan siapapun bebas datang menyaksikan akad dan mendengarkan ceramah tentang pernikahan. Ramainya jama'ah juga tak lain karena abi Aisyah adalah pendakwah yang terkenal.


Rasa lega dan bahagia terpancar jelas dari wajah keduanya yang masih terpisah tempat itu. Meski ada rasa khawatir yang tersembunyi di dalam hati. Khawatir jika kelak tak mampu menjadi imam yang baik, khawatir tak mampu menaati sang suami layaknya para istri-istri, anak-anak Nabi, dan shahabiah yang kisahnya abadi hingga surga.


Tepat dua belas hari setelah lamaran resmi Uwais terhadap Aisyah, di waktu Fajar hari Jum'at ini mereka telah sah menjadi suami istri. Kedua keluarga sepakat untuk menyegerakan niat baik mereka, khawatir setan menghasut keduanya untuk mendekati zina. Bukan tanpa alasan, meski mereka tidak berkomunikasi secara langsung, namun keduanya bisa saja tetap bertemu di fakultas yang sama. Tidak ada yang dapat menjamin keduanya mampu menjaga pandangan dan hati.


Menjelang akad adalah waktu yang begitu berat bagi mereka, keraguan yang muncul berbarengan kekhawatiran untuk menikah di usia muda, begitu lah setan yang tidak ingin manusia menikah agar mendekati zina. Beruntungnya Uwais memiliki banyak orang-orang baik di sekitarnya, mereka yang bisa Uwais mintai nasihat kapan pun ia ingin.


Pun dengan Aisyah yang sempat ragu akan kah ia mampu menjalankan perannya sebagai istri dan mungkin ibu, sambil tetap melanjutkan pendidikannya.


Namun, pada akhirnya keduanya mampu melawan semua keraguan itu. Istikharah dan rida kedua orang tua lah yang menjadi penguat keyakinan mereka untuk bersatu dalam ikatan halal.


***


Perlahan, Aisyah dengan digandeng oleh uminya dan kakak sepupunya, berjalan mendekati Uwais yang sudah kembali dari masjid, bersama keluarga inti mereka, beberapa tamu undangan penting,  pihak KUA serta pembawa acara. Jika tidak untuk menghargai keluarganya, tentu Aisyah memilih untuk tetap di kamar biar lah Uwais yang menemuinya. Sebab, di ruang tempat Uwais berada, ada banyak laki-laki di sana.


Aisyah duduk di samping Uwais, di atas karpet putih dengan meja kecil berada di sana. Aisyah sama sekali tidak berani menatap suaminya, begitu pun sebaliknya. Benar-benar, canggung.


"Mempelai wanita, silakan mencium tangan suaminya!" Instruksi dari pembawa acara membuat keduanya semakin salah tingkah.


Detak jantung yang tak seperti biasanya, serta keringat yang tiba-tiba membasahi dahi di tengah ruangan yang begitu sejuk menjadi pengantar bertemunya dua tangan yang sebelumnya tak pernah saling menyentuh. Perlahan, ragu-ragu Aisyah menyambut uluran tangan pria yang beberapa menit lalu telah sah menjadi suaminya. Suara tamu memenuhi ruangan, melemparkan godaan untuk dua orang yang masih malu-malu itu.


"Assalamualaikum, yaa habibati." Ucap Uwais sambil menyentuh puncak kepala Aisyah.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aisyah lirih.


Uwais kemudian membacakan sebait doa dengan tangan yang masih menempel di kepala Aisyah. Keduanya sama-sama gugup, terlebih ketika pembawa acara menginstruksikan Uwais untuk mencium kening istrinya.


Seulas senyum terbit di wajah Uwais. Netranya menatap penuh cinta kepada istrinya yang tengah menunduk sambil memainkan ujung jilbabnya yang menjuntai. Cinta yang muncul setelah kata sah terucap, begitu indah dan kuat.


Uwais perlahan kembali menyentuh kepala Aisyah dengan kedua tangannya, mengikis jarak keduanya. Namun, di luar dugaan, bukannya melakukan apa yang diinstruksikan, Uwais malah mendekatkan mulutnya ke telinga Aisyah.


"Istriku, aku mencintaimu karena Allah. Tapi, bukan karena cinta aku memilihmu. Melainkan karena aku membutuhkanmu dalam misiku untuk meraih surga bersamamu. Semoga Allah memberkahi pernikahan kita dan meridaimu menjadi bidadari surgaku. Kamu cantik dan aku tidak rela istriku dilihat oleh orang-orang yang bukan mahramnya dalam dandanan seperti ini." Bisik Uwais yang berhasil menerbitkan senyum di balik cadar Aisyah.


"Ayo, pengantin pria. Silakan mencium kening istrinya! Jangan malu-malu, udah sah kok!" Ucap pembawa acara mengulang instruksinya dengan nada menggoda pasangan baru yang masih canggung itu. Namun, keduanya seolah tak terusik oleh suara bising di sekeliling mereka.


"Insyaallah, aku pun mencintaimu karena Allah. Tapi, jika kamu menyerah di tengah misi itu, maka aku akan berhenti mencintaimu. Maaf jika dandanan ini membuatmu cemburu." Balas Aisyah sambil tersenyum, setelah melawan rasa gugupnya.


Uwais tersenyum, kemudian melepaskan perlahan tangan kanannya yang berada di kepala Aisyah. Tidak ada acara cium kening layaknya pengantin kebanyakan. Bagi Uwais itu adalah privasinya. Jika saja bukan karena menghargai orang-orang yang telah terlibat dalam suksesnya acara hari ini, tentu Uwais tidak ingin istrinya berada di depannya saat ini, terlebih dengan pakaian dan dandanan sederhana yang semakin mempercantik kekasih halalnya itu, meskipun yang terlihat hanyalah bagian mata dan dahi.


Katakan saja ia berlebihan, namun memang demikian lah yang dicontohkan oleh orang-orang saleh terdahulu. Istri-istri mereka terjaga dari pandangan laki-laki yang bukan mahram. Jangankan melihat, sebagian dari mereka bahkan tidak rela suara langkah kaki istrinya terdengar oleh yang bukan mahram.


Dulu, memang pernah terlintas dipikirannya bahwa ketika menikah nanti dia akan memajang foto-foto mesra bersama istrinya di sosial media. Namun, waktu mengubah pola pikirnya, Allah Yang Maha Baik pun kemudian mempertemukannya dengan Aisyah. Perempuan yang sama sekali tidak ia temukan fotonya di sosial media.



"Baik, karena pengantinnya masih malu-malu. Kita persilahkan kepada bapak Ustaz Abdullah untuk menyampaikan nasihat kepada menantu dan putri tercinta." Suara MC kembali memenangkan suasana yang riuh karena menggoda pasangan baru itu.



Abi Aisyah kemudian mengambil alih mikrofon, memberikan salam pembuka dan sapaan layaknya sedang berceramah. Hingga tiba pada bagian nasihat, kedua matanya berkaca-kaca, menatap keduanya.



"Nak Uwais, Aisyah adalah satu-satunya putriku, sebagaimana dua putraku yang lain, aku mendidiknya dengan penuh kelembutan dan ketegasan. Aku menjaga shalatnya agar selalu tepat waktu, menjaga puasanya, menjaga ibadahnya, keimanannya, juga baktinya padaku dan uminya. Mengajarkannya ilmu agama, mengantarkan dan membawanya dari satu majelis ke majelisain. Kami berusaha semaksimal yang kami bisa, memperjuangkan surga sebagai tempat kembalinya.



Namun, kini tanggung jawabku telah berpindah kepada engkau. Jaga dan bimbing dia sebagaimana aku menjaga dan membimbingnya selama ini. Aku tidak rela jika putriku menunda shalat, aku tidak rela jika putriku berhenti belajar ilmu agama, aku tidak rela jika hafalan yang telah dijaganya terlepas karena kelalaian dalam murojaah, aku tidak reka jika ketakwaannya menurun setelah menikah. Sungguh, aku tidak rela. Tapi, abi yakin engkau mampu menjaganya dan membimbingnya di jalan Allah. Setelah akad tadi, abi serahkan Aisyah kepadamu. Bawalah kemana pun engkau pergi, abi dan umi tidak akan menahan Aisyah di sini. Namu, harus ingat pesan abi tadi. Selamat datang di keluarga kami, anakku."



Uwais dan Aisyah tak kuasa menahan air mata. Betapa berat tugas Uwais setelah ini, betapa besar kepercayaan abi kepadanya, hanya dengan pertolongan dan petunjuk Allah semua akan terlaksana dengan baik.



"Untuk putriku, mulai hari ini baktimu bukan milik abi dan umi lagi. Seorang laki-laki shaleh insyaallah telah mengambil alih tugas abi. Berbaktilah kepadanya, jangan sekali-kali engkau membantah perintah kebaikan darinya, dan ikutlah kemana pun ia membawa Aisyah pergi. Sesulit apapun keadaan kalian, tetaplah setia di sampingnya dan jaga nama baik suamimu. Aisyah, putri abi. Dengan segala keridhaan, abi melepasmu untuk mengabdi sepenuhnya kepada Uwais. Namun, datang lah kepada Umi dan Abi kapanpun kalian ingin."



Setelah nasihat-nasihat pernikahan dari orang tua dan beberapa kerabat, Aisyah dan Uwais menyalami orang tua. Tangisan tak dapat dibendung.



***



Setelah serangkaian acara akad dan menyelesaikan segala keperluan dengan KUA, mereka sama-sama menyantap sarapan berupa kue-kue dan makanan lain. Baru setelahnya beberapa ada yang shalat dhuha, termasuk Uwais dan Aisyah yang masih belum berani di satu ruangan hanya berdua, gugup. Sehingga Aisyah shalat di kamar, Uwais memilih shalat bersama para laki-laki di masjid, masing-masing.


Selesai shalat, Uwais diantar oleh ibu mertuanya ke kamar Aisyah, hanya sebatas pintu. Dengan canggung, Uwais mengetuk pintu berwarna coklat tersebut dan mengucapkan salam. Tak berselang lama, terdengar Aisyah menjawab salamnya, disusul pintu yang perlahan terbuka.


Keduanya mematung, tak ada yang berinisiatif membuka obrolan, pun bergerak dari pintu. Uwais yang sadar Aisyah masih sama canggungnya, akhirnya memberanikan diri masuk ke kamar bernuansa abu-abu tersebut.


"Assalamualaikum istriku..."


"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Abang."


Hati Uwais berdesir, mendengar panggilan Abang yang dilontarkan Aisyah dengan lembut.


"Aisyah, tidak inginkah kamu menatap wajah suamimu?" Tanya Uwais canggung.


Perlahan, Aisyah mengangkat kepalanya, pandangan keduanya kemudian bertemu. Uwais terpaku menatap wajah Aisyah yang berbalut mukena dan telah bersih dari make up. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah Aisyah tanpa cadar setelah beberapa tahun lalu.


"Masyaallah..." Lirihnya dengan mata yang tak lepas dari mata indah Aisyah.


"Emm, Abang.. Aisyah malu ditatap kayak gitu."


"Astaghfirullah, maafkan Abang. Abang, tau kamu masih canggung sama mas. Tapi, kamu benar-benar cantik, dik." Ujar Uwais yang berhasil membuat pipi Aisyah bersemu merah.



"Bolehkah mas minta satu hal?"


Aisyah mengangguk, dia tidak akan mengatakan tidak jika perintah dan pinta suaminya adalah hal yang baik dan mendatangkan pahala.


"Matamu sangat indah, Abang tidak rela jika orang lain menatap mata indah ini diperindah lagi dengan hiasan. Abang minta, untuk resepsi tidak perlu dandan, boleh?"



Aisyah dengan mantap mengangguk. Dia teramat senang dan bersyukur Uwais begitu menjaganya, bahkan untuk hal kecil pun tak luput dari perhatiannya.



Dengan senyum yang mengembang sempurna, Uwais membawa Aisyah ke pelukannya, meski canggung. Dia benar-benar bersyukur karena Allah tekah mengizinkannya menikah dengan Aisyah yang insyaallah sangat taat kepada Allah dan suami.


Uwais sekilas melirik ke jam digital yang ada di meja belajar Aisyah, sudah hampir setengah sembilan, itu artinya sebentar lagi acara resepsi mereka akan dimulai. Dia menyuruh Aisyah untuk segera berganti pakaian, pun dengan dia yang membawa pakaian ganti ke kamar mandi.


Setelah dia selesai, Uwais tidak langsung keluar, melainkan menunggu beberapa saat, memberikan waktu kepada Aisyah untuk memakai jilbabnya. Ketika dirasa Aisyah telah selesai, barulah dia keluar dari kamar mandi.


Matanya terpaku menatap Aisyah yang menampilkan senyum malu menunggunya di ujung tempat tidur. Istrinya telah siap, bahkan dengan kaos kakinya. Hanya cadar yang belum dipakainya.


Aisyah benar-benar terlihat cantik, meski tanpa riasan. Kulit putihnya kontras dengan pakaian yang gelap, membuatnya semakin terlihat bersinar.


"Mas, Aisyah boleh minta tolong pakaikan niqabnya?" Tanya Aisyah pelan.


Uwais tersenyum, dengan segera dia memakaikan niqab berwarna gelap itu, kontras dengan kulit putih Aisyah dan hanya menampakkan netra jernih yang dibingkai oleh bulu mata lentik.


Keduanya kembali terdiam, namun saling menatap.


"Cantik." Ucap Uwais tanpa sadar.


Dengan ragu dia mengulurkan tangannya pada Aisyah yang disambut dengan ragu pula. Mereka bergandengan, menuju tempat para keluarga berkumpul. Uwais ke tempat laki-laki, dan Aisyah ke tempat perempuan. Mereka berpisah setelah menuruni tangga.



Bab 6 || Awal

0 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 6

Jumlah kata: 1303

#sarkatjadibuku

#PR


Rasa lelah tentu saja ada, namun itu tak mampu menghalangi mereka dari kegiatan rutin yang telah keduanya jalani masing-masing sebelum menikah.


Pasangan baru itu kini tengah duduk berhadapan di atas sajadah, setelah melaksanakan tahajjud. Keduanya berharap, sepertiga malam kedepannya akan selalu terbangun dan bermunajat kepada Allah. Uwais dan Aisyah sadar betul bahwa manusia itu lemah, hanya Allah yang mampu menguatkan dalam banyaknya rintangan yang akan dihadapi sepanjang pelayaran biduk rumah tangga mereka.


Uwais mengulurkan tangannya kepada wanita berparas teduh di depannya itu. Aisyah pun menyambut dengan bahagia. Rasa gugup dan canggung sepakat mereka hilangkan sejak tadi malam, walau sulit. Bagaimana pun juga, sebelumnya mereka adalah dua orang asing yang belum lama bertemu.


"Humaira, bantu abang untuk mewujudkan surga bagi keluarga kita kelak. Abang enggak bisa berjalan sendiri, kita harus bekerja sama." Ucap Uwais sambil menggenggam tangan istrinya dan tersenyum lembut.


Aisyah tak menjawab. Dia melepaskan genggaman tangan Uwais, yang berhasil menciptakan kernyitan di dahi pria itu.

Aisyah segera beranjak menuju nakas yang terletak di samping tempat tidur mereka. Sebuah buku bersampul hitam kini telah berada di tangannya. Uwais terus memperhatikan istrinya, terlebih wajah Aisyah yang nampak bersinar dalam balutan mukena putih.


"Buku ini berisi semua tentang pernikahan yang adek inginkan. Ada visi misi, bagaimana adek harus bersikap kepada suami, sikap terhadap orang tua dan mertua, apa yang boleh dan tidak boleh adek lakukan, tentang parenting, juga tentang pendidikan anak-anak kelak. Semua adek tulis untuk menjadi pengingat kalau adek lupa. Dan buku ini milik Abang juga, jangan ragu buat ingatin adek kalau salah. Kalau Abang mau nambahin catatannya, boleh banget." Ucap Aisyah sambil memberikan sebuah notebook berwarna hitam itu kepada suaminya.


Lagi, untuk kesekian kalinya, Uwais dibuat kagum oleh hal indah yang tak terduga dari istrinya. Visi misi di CV kemarin saja sudah berhasil membuatnya kagum, apalagi sekarang. Entah kejutan apa lagi yang akan ia dapat dari bidadarinya itu.


"Masyaallah, abang enggak tahu harus bilang apa lagi, selain masyaallah dan alhamdulilah. Abang benar-benar bersyukur Allah berikan kesempatan untuk mencintai dan menikahimu, Sayang." Ucap Uwais setelah melihat sekilas isi dari buku itu, kemudian mencium kening istrinya penuh cinta.


"Dek, abang ingin jujur, boleh? Tapi, mungkin ini menyakitkan buat kamu," lanjut Uwais.


"Enggak masalah, Bang. Lebih baik jujur di awal pernikahan, dari pada Aisy tahu dari orang lain."


"Waktu abang pulang dari rumah ini pertama kali, ada bapak-bapak yang datang ke tempat tinggal abang. Dia ayah dari Dinda, mantan abang dulu. Dia bilang, anaknya lagi dirawat di rumah sakit, leukimia stadium akhir. Dia ingin abang menikah dengan anaknya, tapi abang menolak karena abang sudah yakin untuk menikah dengan kamu." Uwais menjeda kalimatnya dan menarik napas dalam.


"Sayang, maafkan abang yang enggak bisa menjaga diri hanya untuk istri abang. Jujur, abang pernah pacaran dua kali, tapi keduanya enggak lebih dari komunikasi via telpon atau sesekali mengantar mereka pulang dari kampus. Kita enggak pernah pegangan tangan, apalagi lebih dari itu. Maafkan abang, sayang." Lanjut Uwais penuh penyesalan.


"Habibi, itu semua masa lalu. Insyaallah, Allah akan mengampuni semua itu. Aisy pun juga enggak terlepas dari kesalahan masa lalu. Sekarang, yang terpenting kita fokus ke masa depan di dunia, dan terutama di akhirat kelak." Jawab Aisyah sambil tersenyum dan menyenderkan kepalanya di bahu sang suami.


"Jazakillah khair, Sayang." Ujar Uwais, lalu mendekap erat istrinya. Rasa bahagia dan syukur benar-benar membuncah dalam hatinya. Betapa Maha Baiknya Allah, mengirimkan seorang perempuan istimewa untuknya yang masih berselimut dosa, pikirnya. Dia yang dulu abai akan perintah Allah, abai akan baktinya kepada orang tua, tidak peduli lingkungan sekitar, namun semua itu benar-benar berbalik setelah dia bertemu Aisyah.


"Sayang, abang boleh minta satu hal?"

Aisyah mengangguk yakin menjawab pertanyaan suaminya.


"Bantu abang untuk selalu berbakti kepada orang tua dengan tidak membuat kamu merasa dinomorduakan ya sayang?"


"Insyaallah, Abang." Jawab Aisyah penuh kelembutan.


"Adek juga mau minta satu hal. Kalau sekiranya nanti Abang tertarik dengan wanita di luar sana, katakan pada Aisy. Biar Aisy bisa memperbaiki kesalahan yang ada. Jika pun perempuan itu adalah orang yang butuh perlindungan dan pendamping, kemudian abang tertarik, katakan sama Aisy. Biar kita bisa minta solusinya sama-sama ke Allah," lanjut Aisyah.


Uwais sama sekali tak menyangka hal demikian diucapkan oleh istrinya. Bahkan, Uwais sendiri tak pernah sekali pun terlintas untuk menikahi wanita selain istri salihahnya ini. Namun, Uwais tetap menganggukkan kepalanya sambil mengelus puncak kepala Aisyah yang dibalut mukena.


Jam menunjukkan pukul empat, pengantin baru itu kemudian larut dalam murojaah bergantian setelah membahas beberapa hal yang dirasa penting. Keduanya sepakat untuk selalu jujur kepada pasangan, meskipun itu hal yang menyakitkan. Mereka yakin, bahwa awal dari pertengkaran dalam rumah tangga adalah adanya ketidakjujuran terhadap pasangan, terlebih jika itu menyangkut keputusan penting.

Tiada harap yang lebih besar bagi mereka di dunia ini, selain meningkatnya iman dan taqwa di dalam hati. Tiada pula harapan yang lebih besar untuk akhirat kelak, selain kembali berkumpul dengan keluarga dan orang-orang yang dicintai di surga Allah.


Kata sah yang diucapkan oleh saksi kemarin, menjadi amanah terbesar bagi Uwais hingga akhir hayatnya. Tidak hanya tanggung jawab untuk menjaga dan membimbing istrinya agar menjadi perempuan yang dicintai Allah, namun insyaallah kelak akan ada keturunan mereka yang juga menjadi tanggung jawabnya dunia dan akhirat.


Uwais sadar bahwa ketika ia memutuskan untuk menikah, akan ada empat peran yang harus dijalaninya dengan baik kedepannya, jika lalai maka ia akan gagal menjadi keempatnya.


Dia adalah seorang hamba yang harus taat pada Allah, dia adalah anak yang harus berbakti kepada orang tuanya, dia adalah suami yang harus menyayangi dan menjaga istrinya dari api neraka, kemudian dia akan menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab akan dunia dan akhirat anak-anaknya. Empat peran yang berkaitan erat, tidak ada pilihan, selain menjalani semuanya dengan optimal.


Dan setelah membaca catatan yang diberikan istrinya tadi, Uwais yakin bahwa Aisyah adalah perempuan terbaik yang Allah pilihkan untuk membantunya dalam menjalankan keempat peran itu secara maksimal.


***

Azan sebentar lagi akan berkumandang, pasangan baru itu telah siap untuk menunaikan salat. Uwais dengan jubah putihnya yang membuat laki-laki itu terlihat semakin bersinar. Dan Aisyah dengan mukena putih yang membuat parasnya semakin anggun.


"Abang, kenapa masih di sini? Enggak ke masjid?" Tanya Aisyah saat melihat suaminya itu masih duduk di pinggir tempat tidur sambil memperhatikannya.


"Abang pengen banget imamin kamu shalat subuh, boleh ya?" Tanya Uwais dengan wajah memelas.


"Abang harus shalat berjamaah di masjid. Sama seperti sebelum kita menikah. Kecuali kalau emang ada uzur syari. Aisy enggak mau karena Aisy Abang malah melalaikan kewajiban Abang." Jawab Aisyah sambil tersenyum.


"Lagian, insyaallah masih ada sepertiga malam selama kita masih hidup untuk Abang imamin Aisy shalat. Imam bukan cuma pas shalat aja kan, Abang? yang penting Abang selalu berusaha untuk menjadi imam bagi keluarga kita agar selalu berada di jalan yang Allah ridhai." Lanjut Aisyah, kemudian menyerahkan sajadah kepada suaminya.


"Masyaallah, enggak terhitung berapa kali Abang dibuat kagum sama kamu dalam waktu belum satu hari kita bersama. Semoga, dengan awal yang baik, langkah kita selanjutnya selalu dirahmati Allah ya dek. Abang benar-benar bersyukur bisa menjadi laki-laki yang dipercayai Allah untuk menjadi suami kamu. Insyaallah, Abang akan selalu meridhai langkahmu." Ucap Uwais kemudian melirik ke arah jam dinding.


"Lima menit lagi azan, Abang berangkat dulu ya." Lanjutnya sambil mengusap kepala sang istri yang dibalut mukena.


"Iya, Abang. Ini sajadahnya." Jawab Aisyah sambil menyerahkan sajadah berwarna hitam miliknya.


Sebelum pergi, Uwais menyempatkan untuk mengecup puncak kepala istrinya, menyalurkan rasa sayang yang membuncah. Menerima perlakuan demikian, sontak membuat Aisyah bertambah gugup. Tapi, dia tetap mencium tangan suaminya dengan tangan beralas mukena.


"Assalamualaikum, sayang. Abang pergi dulu," pamitnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, yaa zauji."


Sepeninggal sang suami ke masjid, Aisyah lantas tersenyum menampakkan gigi ginsulnya yang menambah keindahan. Aisyah bahagia, sangat bahagia bisa memiliki suami seperti Uwais. Walaupun dia tahu ini baru awal untuk pelayaran mereka mengarungi samudera kehidupan dengan kapal bernama rumah tangga. Dia tahu, ada begitu banyak tantangan dan rintangan di depan sana. Tapi jika petunjuk jalan dan tujuannya sama, lantas apa yang harus dikhawatirkan?


Bab 7 || Romantisme Pengantin Baru

1 1

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 7

Jumlah kata: 1080

#sarkatjadibuku


Pernikahan adalah langkah bersama, ada komitmen yang harus dijaga, ada syahadah yang butuh pembuktian nyata, dan ada surga yang harus dikejar sebagai tempat berlabuhnya kapal.


***

"Aku sudah menikah! Aku sudah sudah menikah wooi!"


Teriakan itu tertahan sebatas bisikan. Tidak etis jika berteriak di rumah mertua, apalagi hari pertama.


Sejak bertahun-tahun lamanya, akhirnya hari itu tiba. Kemarin, ia telah sah menjadi seorang suami. Aneka rasa di dada menggelegakkan ruh, menerbitkan senyum lebar tanpa perlu diminta.

Sepeninggal Aisyah ke dapur, ia membaca kembali catatan-catatan yang telah dibuat oleh ratunya. Jeli, netranya membidik baris demi baris dengan senyum yang semakin mengembang. Gumaman rasa syukur dan kagum tak henti terdengar.


Tiba-tiba senyumnya lenyap, berganti raut tak terbaca setelah menutup buku bersampul hitam itu. Dia teringat akan frasa indah yang hanya muncul tiga kali dalam redaksi 30 juz. Miitsaaqan ghaliizhaa, perjanjian yang agung. Kemarin ia telah berjanji dengan janji paling suci dan berat itu. Suasana haru dan sensasi indahnya debaran pertama telah ia rasakan. Dan kini, tugasnya adalah menjaga kesucian janji itu.


"Allah, mampukan hamba untuk menjadi seorang suami yang baik baginya. Suami yang membawanya untuk selalu istiqamah di jalan-Mu sebagaimana cita-cita dan tujuannya." Bisiknya lirih, lalu bangkit meletakkan kembali buku itu di meja belajar Aisyah.


Tak sengaja pula ia melihat buku tentang pernikahan. Dibukanya acak, manik jernihnya terfokus pada sebuah hadits di lembaran itu.


"Jika seorang hamba menikah, maka telah menjadi sempurna lah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada setengah yang lainnya." (HR. Hakim dan Thabrani)


Uwais tercenung, memaknainya dengan penghayatan mendalam, menyentuh sukma. Sudut bibirnya terangkat. Ia merasa telah melakukan pembaruan juga sebuah lompatan terbesar dalam hidupnya. Berpindah dari dunia kebebasan dalam bertindak, ke dunia penuh tanggung jawab. Juga, satu dimensi ke dimensi lain.


Sejenak, ia membayangkan pula rumah yang ramai akan suara tawa dan tangis anak-anak, suara seorang ibu yang mengajarkan dengan penuh cinta. Alangkah indah suasana demikian.


"Assalamualaikum, Abang...." Suara lembut menyapa rungu, menyadarkan Uwais dari khayalan indah penuh perhitungan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Adek. Masyaalllah, kenapa makanannya dibawa ke sini?"


"Enggak apa-apa. Di bawah banyak adik-adik perempuan Aisy lagi sarapan, tadi juga masak bareng mereka. Takutnya Abang enggak nyaman." Jawab Aisyah setelah meletakkan nampan berisi makanan dan segelas air putih di atas meja lesehan kecil.


"Masyaalllah, jazakillah yaa zaujati." Ujar Uwais menyusul duduk di samping Aisyah.


"Waiyyaka, Abang. Piring sama gelasnya cuma satu, sendoknya juga. Enggak apa-apa kan, Abang?"


"Iya, malah Abang suka. Sini sendoknya, biar Abang yang suapin Adek."


Keduanya makan dengan penuh bahagia. Kunyahan berlomba-lomba dengan gemuruh jantung.


***


"Adek, nanti mau punya anak berapa?" Tanya Uwais saat mereka bersantai di balkon setelah sarapan tadi.


"Terserah Allah aja, Abang. Insyaallah berapa pun Aisyah siap."


"Masyaalllah. Semoga Allah segera menghadirkannya ya, Sayang. Abang enggak sabar melihat kamu jadi seorang ibu, Insyaallah akan mendidik dengan didikan terbaik."


"Aaamiin...."


"Adek, sekarang kita adalah suami istri. Kita masih menikmati jenak-jenak kebahagiaan yang baru kita rasakan. Tapi, pernikahan bukan hanya tentang bahagia atau tidaknya. Kita harus selalu mengusahakan barakah yang dicapai dengan nilai-nilai taqwa yang semakin kuat."


"Insyaallah, Abang."


"Tapi, kita gak boleh cukup dengan ketaqwaan pribadi. Wajib bagi kita untuk menciptakan, mendidik generasi dengan taqwa dan keimanan yang kuat pula. Kita akan menjadi madrasah peradaban, tidak hanya Adek yang nantinya akan menjadi ibu. Abang juga akan menjadi seorang ayah."


"Dan sebagai madrasah peradaban, mari kita sama-sama berjuang di jalan dakwah. Karena kita juga dituntut untuk membuat ketaqwaan itu jamak di tengah masyarakat. Bisa, Sayang?"


"Insyaallah, Aisy akan berusaha, Abang."


Uwais merangkul punda Aisyah. Keduanya bertatapan mesra, binar cinta jelas terlihat di manik keduanya. Udara segar ikut andil, mengalirkan kedamaian, menciptakan suasana penuh candu.


Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Sementara sepasang suami istri yang paham akan agama dan tugasnya sebagai manusia adalah madrasah peradaban.


"Insyaallah Abang akan menyiapkan sarana-sarana tarbiyah islamiyah sebagaimana yang Aisy inginkan. Kita bangun sama-sama rumah tangga ini di atas nilai-nilai islam. Di sini kita ciptakan proses belajar, menyerap ilmu, sampai nanti kita mampu mengaplikasikan dalam kehidupan."


"Insyaallah Aisy siap bantu, Abang. Kita harus selalu jaga proses belajar itu terus dan jangan sampai terputus."


"Aamiin, sama-sama kita berharap sama Allah ya, Dek. Tapi, sebaik apapun nilai yang kita yakini, kita sangat memerlukan figur teladan sebagai bukti kalau itu memang sebuah kebaikan. Dan insyaallah, kita jadikan Rasullullah dan rumah tangga beliau sebagai teladan kita ya, Dek."


"Abang tau, di tengah jalan nanti Adek mungkin akan menemukan banyak kekurangan dalam diri Abang. Begitupun dengan Abang terhadap Adek. Tapi, sebagai suami istri kita harus saling mengingatkan. Jangan biarkan hal kecil menjadi bumerang dalam rumah tangga kita."


Aisyah tak henti-hentinya tersenyum, mendengarkan kalimat demi kalimat yang mengalir dari lisan sang suami.


"Abang, janji ya untuk selalu menjadikan Rasulullah sebagai teladan? Ya meskipun Adek tau kita berdua sangat jauh dari beliau dan istri-istri beliau."


"Insyaallah, Sayang."


"Abang minta beberapa hal lagi, boleh?" Tanya Uwais yang mendapat anggukan dari Aisyah.


"Zaujati, kita menikah di atas landasan ibadah. Maka, Abang ingin kita menerapkan nilai-nilai islam secara kaaffah, saling membantu untuk menegakkan adab Islam, menjaga diri kita dari apa yang tidak sesuai dengan ruh Islam, membangun benteng yang kuat dari pengaruh lingkungan yang buruk, dan terakhir Abang ingin kita ikut serta dalam pembinaan masyarakat."


"Insyaallah Aisy juga ingin rumah tangga kita tidak hanya damai berdua, tapi juga bermanfaat bagi orang lain, Abang. Aisy enggak akan larang Abang untuk berdakwah. Aisy beruntung banget punya suami kayak Abang." Ujar Aisyah diakhiri dengan senyum manis.


"Aamiin..."


"Dek, Abang sedikit tempramen. Sulit dalam mengontrol tindakan kalau Abang lagi marah. Nanti, kalau Aisy lihat Abang marah, buatlah Abang ridha, tenangi Abang ya. Dan Abang juga akan melakukan hal yang sama jika Adek marah.

Nanti, kalau ada kesalahpahaman atau mendengarkan omongan orang lain, tanyakan langsung  kepada Abang. Jangan menahan untuk meminta maaf, membiarkan amarah dan menekan kesalahpahaman tanpa penyelesaian, karena itu akan menutupi cinta."


"Insyaallah, Abang. Aisyah juga suka merajuk, suka nangis enggak jelas. Nanti kalau Abang temuin Aisy kayak gitu, tenangin Aisy ya, Abang. Sungguh, Aisy enggak suka diabaikan."


Alangkah sejuk mendengar perbincangan sepasang pengantin baru yang tidak hanya bicara soal rasa yang mendebarkan. Sungguh romantis bila seorang suami mengingatkan istrinya akan perkara-perkara yang lebih besar dari sekedar rayuan semata.


Seorang kepala rumah tangga yang baik ia tau bahwa pernikahan bukan lah romantisme belaka. Namun penuh perencanaan, banyak hal yang perlu dimusyawarahkan dan dibuat kesepakatan. Kelak akan ada rahasia hati yang akan terungkap, ada pula kesalahpahaman dan amarah yang mencuat ke permukaan.


Dan, pernikahan adalah langkah bersama, ada komitmen yang harus dijaga, ada syahadah yang butuh pembuktian nyata, dan ada surga yang harus dikejar sebagai tempat berlabuhnya kapal.



user

28 August 2022 15:30 Izzah Avanti Terus semangat nulisnya neng jaga ku!

Bab 8 || Bersama Mertua

1 1

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 8

Jumlah kata: 793

#sarkatjadibuku


Sejuk dan damai, itulah yang dirasakan Aisyah saat pertama kali sampai di kampung Uwais. Dia tersenyum dan tak hentinya memuji Allah.


"Adek udah pernah ke sini belum?"


"Belum, Abang. Padahal dekat banget dari rumah Abi. Tapi, Aisy kan emang jarang banget keluar jalan-jalan."


"Iya, cuma lima belas menit. Bedanya, Aisy masih di kota, Abang di desa pinggir kota."


"Yuk balik ke rumah. Ibu sama ayah udah nungguin." Ujar Uwais kemudian mengambil tangan sang pujaan hati untuk digandeng.


"Enggak usah, Abang. Malu sama tetangga."


"Oh iya, di sini jarang banget ada yang gandengan gini. Mereka malu terlihat romantis di depan orang lain. Sama kayak Ibu dan Ayah, di rumah nanti bisa lihat sendiri gimana romantisnya mereka. Tapi, kalau di luar gak pernah gandengan."


"Tapi bukannya emang lebih bagus begitu ya, Abang? Ntar kalau mesra-mesraan depan di depan orang lain, bisa jadi ada yang iri karena pasangannya gak begitu. Terus nanti bisa bikin mereka jadi banyak tuntutan sama pasangan dan malah memicu pertengkaran."


"Abang setuju. Terus kasian juga yang belum menikah, nanti malah bikin jadi buru-buru mau nikah dan lupa sama tujuan pernikahan yang sebenarnya."


Keduanya berjalan santai dari sawah menuju rumah, sesekali tertawa lirih di sela-sela pembahasan mengenai kemesraan di depan umum.


***


"Kalian nginap berapa lama di sini?"


"Insyaallah tiga malam, Yah. Sama kayak di rumah Abi kemarin."


"Habis itu balik ke Jambi? Rumah kamu udah siap?"


"Insyaallah, Yah. Alhamdulillah udah. Tinggal beli perlengkapan aja."


"Alhamdulillah kalau gitu, nak. Maaf ya Ibu sama Ayah nanti enggak bisa ngantar."


"Iya, Bu. Enggak apa-apa." Ujar Aisyah.


"Yaudah, yuk sarapan dulu!" Ujar ibu Uwais kemudian beranjak ke ruang makan yang menyatu dengan dapur.


Netra Aisyah menangkap sebuah meja lesehan berbentuk bulat di samping tempat masak. Di atasnya sudah tertata makanan dan air putih untuk sarapan. Ada soto yang kuahnya masih berasap, dan juga gado-gado yang kuahnya masih berada di dalam cobek.


"Kakak kamu enggak pulang, Nak?" Tanya wanita paruh baya itu saat mereka telah duduk melingkari meja.


"Belum bisa pulang, Bu. Waktu akad kemarin rencananya mereka mau hadir online, tapi ternyata ada agenda yang gak bisa ditunda."


"Oh begitu. Aisyah gimana? Ada rencana mau lanjut S2?"


"Untuk sekarang belum, Yah. Aisy ikut Abang aja."


Selanjutnya mereka sarapan dengan tenang, hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring.


***


Seringkali terdengar di tengah masyarakat bahwa hubungan antara menantu dan mertua bagai air dan minyak, sulit untuk disatukan. Anggapan itu ditekankan pula oleh banyaknya sinetron yang menggambarkan betapa tidak harmonisnya hubungan antara menantu perempuan dan mertua perempuan. Sampai ada yang mengatakan alangkah indahnya pernikahan tanpa mertua perempuan.


Padahal, seorang suami yang baik tidak lain adalah buah dari didikan seorang ibu yang baik. Dan karena itu pula pentingnya restu orang tua sebelum pernikahan. Jika pun ditemukan mertua yang tidak bersahabat, maka sejatinya itu menjadi tugas seorang menantu untuk mengambil hatinya. Berbuat baik layaknya kepada orang tua sendiri. Sebab, ketika menikah maka orang tua pasangan adalah orang tua kita juga.


Aisyah beruntung, dia memiliki mertua yang begitu baik dan menyayanginya. Seperti saat ini, keduanya asik membuat kue kesukaan Uwais dan ayah mertuanya. Sambil menunggu kedua laki-laki itu mengecek sawah.


"Nak, Uwais itu enggak pemilih soal makanan. Apapun yang Ibu hidangkan, dia akan makan. Meskipun kadang gak enak, dia tetap akan makan dengan lahap. Tapi, dia paling suka sama ikan kuah kuning yang dikasih belimbing wuluh."


"Masyaalllah, Alhamdulillah ternyata makanan kesukaan kita sama."


"Tapi, Abang Uwais paling enggak suka sama sikap seseorang yang gimana, Bu?"


"Dia paling anti sama kebohongan, kata kasar dan bantahan. Insyaallah, nak Aisyah bukan orang yang seperti itu."


"Aamiin, semoga nanti Aisy gak gitu, Bu."


Sambil menunggu bolu pandan yang mereka buat matang, keduanya kembali bercerita mengenai Uwais. Ibu juga menunjukkan album yang berisi foto sejak masa kecil Uwais hingga sekarang.


Aisyah baru tahu juga jika Uwais telah membangun rumah sendiri dari hasil kerja kerasnya selama kuliah. Tidak besar memang, tali sangat cukup untuk keluarga kecilnya nanti.


"Nak, jadilah penenang bagi Uwais. Gantikan Ibu untuk menjaganya, jangan biarkan dia pergi keluar sebelum perutnya terisi, jangan biarkan dia pulang sebelum Aisy menyiapkan diri. Berhias lah selalu untuk suami, Nak. Laki-laki itu menyukai keindahan, meskipun dia gak akan berkata."


"Dia memang suami dan imam Aisy. Tapi, jika dia salah jangan ragu untuk mengingatkannya, Nak. Karena seorang imam enggak selalu benar, adakalanya dia akan keliru dalam melangkah. Ibu tau sebelum ini Aisy selalu mengecas diri dengan ilmu, karena itu bawa juga dia untuk belajar, Nak. Kadang, laki-laki itu kalau sudah sibuk dengan pekerjaan, dia akan lupa dengan sekeliling. Jangan biarkan dia tenggelam dalam kesibukan dunia, Nak."


"Insyaallah, Bu. Doakan Aisy bisa menjadi istri yang baik bagi Abang dan menjadi menantu yang baik untuk Ibu sama Ayah."


Perbincangan demikianlah yang akan selalu Aisyah rindu jika hidup terpisah dengan orang tua dan mertua. Namun dia harus terbiasa hidup hanya berdua dengan suami.


user

29 August 2022 12:35 Izzah Avanti Keep Hamasah!

Bab 9 || Romantisme Pasangan 2

2 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 9

Jumlah kata: 700

#sarkatjadibuku


Salah jika seseorang menganggap bahwa pasangannya yang sama mencintai akan melakukan hal dan reaksi serupa dengan apa yang dia lakukan ketika mencintai. Sungguh, laki-laki dan perempuan itu berbeda, termasuk dalam perilaku mencintai.


Setelah ibu dan ayah mertuanya pergi bekerja, Aisyah memilih untuk mengepel dan membereskan apa yang perlu. Sementara, Uwais mencuci motor miliknya di depan rumah.


"Allahuakbar!!!" 


Teriakan dari dalam rumah membuat Uwais segera masuk. Dilihatnya Aisyah terduduk di lantai dengan air pel yang menggenang di sekelilingnya.


"Kenapa, Sayang?"


"Jatuuuuh..."


"Ya udah, sini Abang bantu. Lain kali hati-hati ya, Abang enggak mau Aisy sakit." Ujarnya terlihat tenang sambil mengulurkan tangannya.


Aisyah tak langsung menanggapi, melainkan hanya memandang sang suami dengan mata berkaca-kaca.


"Abang, sakit..."


"Iya, makanya sini berdiri dulu."


"Sakit, Abang." Ujarnya kemudian menyambut uluran tangan Uwais yang ia abaikan.


Dengan sabar, Uwais membawa istrinya ke kamarnya yang berada di samping ruang tamu. Kemudian mendudukkan Aisyah di kursi kerja miliknya.


"Hei, kenapa cemberut? Masih sakit?"


"Abang kok kayak enggak khawatir gitu sama Adek? Adek jatuh, sakit..." Tuding Aisyah dengan air mata yang perlahan menetes.


"Jadi itu yang buat Adek sedih? Sayang, Abang khawatir, banget malah."


"Tapi kok Abang kelihatan tenang banget?"


"Sayang, dengarkan ini ya. Abang paham sebagai istri, Adek ingin Abang panik kalau Adek kenapa-kenapa."


"Tapi, di balik tenangnya Abang, adek harus tau kalau Abang lagi mencari solusi. Enggak cuma masalah seperti ini, tapi ke depannya juga begitu. Yang perlu Adek ingat, Abang insyaallah akan selalu khawatir sama Adek. Udah ya, jangan nangis?"


Aisyah menghentikan tangisnya. Ia paham, bahwa bahasa cintanya dan Uwais berbeda.


"Iya, Abang. Maafkan Aisy... Maaf udah salah paham. Makasih, Abang."


"Sama-sama, Sayang. Maafkan Abang juga kalau Abang enggak romantis."


***


Selesai shalat Zuhur, keduanya tidak langsung makan siang. Mereka lebih memilih untuk saling menyimak hafalan. Sesekali mereka saling mengoreksi bacaan yang keliru.


Setelah satu jam, barulah keduanya makan siang. Aisyah menghidangkan ikan patin kuah kuning yang telah ia buat tadi, bersama sepiring nasi putih yang telah didinginkan sebelumnya, karena tidak baik meniup makanan yang panas.


"Abang, Aisy senang. Ternyata makanan kesukaan kita sama, hehe."


"Benarkah? Alhamdulillah kalau gitu, Adek enggak pusing masaknya."


Mereka kemudian makan dalam diam, baru setelahnya mereka duduk santai di depan televisi yang menampilkan acara dakwah.


"Abang, Aisy ambil pena sama buku buat nyatat ya.."


Uwais tersenyum, kemudian mengangguk. Pandangannya tak lepas dari punggung sang istri yang kemudian hilang di balik pintu. Alangkah beruntungnya dia memiliki istri yang amat mencintai ilmu. Bahkan di saat harusnya mereka bersantai, Aisyah justru memilih untuk mencatat apa yang disampaikan oleh ustadz di televisi.


"Dek, sini duduk. Abang mau bilang sesuatu." Pinta Uwais ketika Aisyah sampai di depannya.


"Nanti, kita pasti akan menemukan banyak masalah ke depannya. Abang harap, apa pun masalahnya kita mampu menyelesaikan dengan baik, dengan melibatkan Allah dalam penyelesaian setiap masalah."


"Layaknya kapal yang tengah berlayar, tentu akan banyak rintangan yang akan dihadapi. Jadi, kita butuh kerjasama yang baik agar kapal itu sampai ke tujuan dengan selamat. Dan tujuan kita, adalah surga."


"Abang akan berusaha untuk mengerti apa yang Adek inginkan dari Abang, berusaha untuk mengungkapkan rasa cinta setiap harinya. Karena, Abang pernah baca. Kalau cinta itu enggak seperti perasaan lain. Cinta itu butuh kata lebih dari apapun. Dan ketika cinta berkembang dalam jiwa setiap manusia, akan ada dorongan untuk menyatakannya dalam kata. Tapi, enggak semua orang bisa. Ada yang saat dorongan itu datang, justru ada ego yang memintanya untuk tidak mengatakan, ada yang gengsi dengan prinsip yang dimiliki. Semoga Abang bisa mengungkapkan dan memperlakukan Adek sebaik-baiknya."


"Makasih, Abang. Aisy bersyukur banget bisa memiliki suami seperti Abang. Uhibbuka fillah yaa zauji."


"Uhibbuki fillah yaa zaujati."


Ada banyak sumber yang mendatangkan cinta. Dalam kata yang indah, perhatian, pengertian, dandanan, kebersamaan, semuanya ada cinta di sana. Tinggal bagaimana pasangan dalam mengekspresikan cintanya.


Dan romantis tak selalu tentang kata dan perlakukan yang manis. Ada yang romantis dengan menuntut ilmu bersama, seperti Aisyah dan Uwais saat ini.


Setelah berdiskusi singkat, keduanya fokus pada apa yang disampaikan oleh pendakwah. Ceramah yang berisi tentang nasihat pernikahan, sangat pas dengan apa yang mereka butuhkan saat ini.


Tak ada yang bersuara di antara keduanya, sesekali mereka saling menatap lalu tersenyum malu. Kadang, Aisyah yang mencatat, lalu bergantian dengan Uwais. 


Sungguh, pemandangan indah yang berbeda ketika sepasang pengantin saling mendukung dalam menuntut ilmu.



Bab 10 || Biduk Baru

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 10

Jumlah kata: 1177

#sarkatjadibuku


"Alhamdulillah, akhirnyo teroris pegi jugo dari kampung kito. Kok Uwais tu mau be dengan cewek macam itu?"


"Iyo, padahal banyak cewek kampung ni yang lebih elok dari si Aisyah tu."


"Pakai pelet mungkin, Yuk. Tengok, cuma matonyo be yang nampak. Ish, jangan sampai adik aku nikah dengan cewek macam itu."


"Cadar tu bukan budaya kito. Pegi be lah ke Arab situ kalau nak pakai cadar."


"Iyo nian lah. Kadang jijik aku dengan cewek yang sok-sokan bercadar tapi kelakuan dak jelas. Ado pulo yang dulu tu pelacur, tapi biak dianggap alim pakai cadar."


"Sayang, udah ya jangan didengerin omongan mereka. Ngabisin energi dan waktu kita aja." Tegur Uwais melihat Aisyah yang tiba-tiba menghentikan kegiatannya menyapu halaman, kemudian menoleh ke sekumpulan ibu-ibu yang tengah menggosip sambil memilih-milih sayuran.


"Udah biasa kalau di kampung ibu-ibu berkumpul buat menggosip begitu, Nak. Apalagi rumah di samping warung, siap-siap jadi bahan gosip." Timpal ibunya Uwais yang tengah bekerjasama dengan Aisyah membersihkan halaman.


Aisyah hanya mengangguk sembari tersenyum. Sebenarnya, Aisyah tak masalah saat mereka mengatakannya teroris. Namun, saat mereka mengatakan yang sangat tidak baik mengenai perempuan bercadar, hatinya terpanggil untuk menghentikan.


"Nak, nanti berangkat jam berapa?"


"Insyaallah jam 10, Bu," jawab Uwais.


"Baru juga tiga hari sama kalian, udah harus pisah lagi."


"Insyaallah nanti kalau ada waktu kita bakal pulang, Bu."


"Iya, Bu. Abang kan mau kerja." Timpal Aisyah pelan.


"Nanti, kalau udah tinggal berdua, apa pun yang terjadi kalian harus bisa menghadapi semuanya dengan kepala dingin. Uwais, nanti kalau ada sesuatu yang membuatmu marah, jaga emosimu, Nak. Jangan sampai kamu menyakiti Aisyah dengan kata-kata atau pun perbuatan." 


"Insyaallah, Bu. Doakan kita mampu ya, Bu."


"Ibu akan selalu mendoakan anak-anak Ibu."


Aisyah dan Uwais tersenyum mendengarkan jawaban dari Ibunya. Kemudian mereka melanjutkan aksi bersih-bersih.


"Ibu gak kerja hari ini?" Tanya Aisyah. 


"Nanti, Ibu enggak ada jadwal pagi. Setelah kalian pergi baru Ibu ikut pergi kerja."


"Kalian siap-siap gih!" Titah Ibu setelah mereka membersihkan perkarangan depan.


***


Dari rumah orang tua Uwais, mereka kemudian berlanjut ke rumah orang tua Aisyah menggunakan motor. 


"Abi...."


"Iya, Nak. Jangan nangis. Putri kecil Abi harus kuat, harus terbiasa tanpa Abi dan Umi. Udah ada Uwais yang akan menggantikan kami." Ujar abinya sambil mengelap air mata Aisyah.


"Nak, surgamu sekarang dipegang oleh Uwais. Berbakti lah kepadanya dengan sebaik-baik bakti. Jangan pernah menganggap diri kamu ratu, Nak. Tapi, layani dia layaknya pelayan melayani raja. Aisyah mengerti, kan?" Tanya abinya yang membuat Aisyah mengangguk pelan.


"Aisyah, putri kesayangan Umi. Pengembaraan kalian akan dimulai, jadilah pendamping setia untuk Uwais. Jangan memaksakan kehendakmu, jangan membangkitkan amarahnya, buatlah dia selalu tenang saat bersama istrinya."


"Insyaallah, Umi."


"Uwais, jaga anak Abi yang manja ini ya. Jangan biarkan dia menangis selain air mata syukur dan bahagia karena engkau yang menjadi suaminya."


Uwais tahu, ada tanggung jawab besar ketika ia menikah. Menjaga seorang putri yang dulunya begitu terjaga ibadahnya, terjaga kebahagiaan dan juga kehidupannya. 


"Doakan ana bisa seperti Abi." Jawab Uwais tersenyum lembut.


Laki-laki paruh baya itu merangkul Uwais erat, sesekali menepuk pundak menantunya penuh bangga. Ia tak menyesal menikahkan Aisyah dengan Uwais, putra dari sahabat seperjuangannya di pondok dulu. 


Setelah berbincang-bincang, akhirnya Aisyah dan Uwais pamit. Mereka berangkat ke Kota Jambi menggunakan mobil abi, sementara motor Uwais dimasukkan ke dalam mobil.


Mobil hitam itu melaju teratur, membawa pasangan baru itu menuju biduk yang sesungguhnya, hanya berdua sebelum nanti adanya sang buah hati.


***


Rumah-rumah minimalis nan megah terlihat berjejer mengapit jalan utama perumahan, tak lama mobil memasuki cluster dengan rumah yang lebih sederhana namun terlihat sangat nyaman. Setiap rumah memiliki satu pohon kurma dan taman kecil yang hampir serupa.

Tak lama mobil berhenti di depan sebuah rumah yang serupa dengan yang lainnya. Bedanya, di taman depan ada beberapa buah-buahan yang terlihat belum lama di tanam.


"Selamat datang di rumah kita, Sayang." Ujar Uwais setelah memarkirkan mobil di car port.


"Terimakasih, Abang."


"Adek suka?" Tanya Uwais kepada Aisyah yang melihat-lihat ke sekeliling perkarangan.


"Suka, Abang. Lingkungannya nyaman, tetangga juga sepertinya asik. Di sana lagi kajian ya, Abang?" Tanya Aisyah sambil menunjuk ke salah satu rumah yang tidak jauh dari rumah mereka.


"Iya, di sini sering ada kajian. Abang sengaja beli rumah di lingkungan islami, alhamdulilah Allah kasih rezekinya."


"Yuk, masuk." Ajak Uwais setelah membuka pintu.


Aura damai langsung menerpa keduanya. Uwais mengajak Aisyah berkeliling sebentar. Rumah minimalis itu memiliki dua kamar yang dilengkapi kamar mandi, satu ruang tamu, satu ruang keluarga dan juga dapur semuanya terlihat sangat nyaman. 


Warna beige menjadi pilihan Uwais setelah bertanya rumah impian Aisyah kepada abinya. Sebuah rak yang sudah lengkap dengan bukunya terlihat menghiasi ruang keluarga, di tengah-tengah rak itu terdapat sebuah televisi kecil.


Tidak jauh berbeda dengan ruang keluarga, ruang tamu juga memiliki warna yang sama.

Sementara, dapur dibuat tertutup, agar Aisyah tetap nyaman menggunakannya meski pun ada tamu. Berbeda dengan dua ruangan lain, Uwais memilih warna putih untuk dapur, begitupun dengan kitchen set yang tidak terlalu panjang. Dilengkapi pula dengan beberapa  perkakas berwarna hitam.


Di samping kitchen set ada meja makan dengan empat kursi. Dari meja makan langsung terlihat taman belakang, karena Uwais menggunakan pintu kaca besar di bagian belakang.


Uwais kemudian membawa Aisyah ke taman belakang. Lumayan luas, terdapat sebuah kolam ikan dan juga beberapa tanaman. Di samping kolam, diletakkan sebuah meja kecil dengan dua kursi. Sangat nyaman, apalagi dibatasi dengan tembok tinggi untuk menjaga privasi.


"Nah, ini kamar kita. Di samping ada kamar tamu, kalau orang tua mau nginap di sini." Ujar Uwais sambil membuka pintu.


"Kamu suka?" Tanya Uwais saat keduanya duduk di atas kasur yang belum diberi sprei dan bedcover.


"Suka banget. Abang kok bisa tau Aisy suka warna ini?"


"Abang tanya sama Abi dan Umi. Alhamdulillah kalau kamu suka. Beberapa hari sebelum nikah, Abang udah selesai renovasi rumahnya dan cat ulang. Kalau dapur, emang kitchen setnya udah tersedia. Terus perabotan, kemaren Abang minta tolong sama sepupu-sepupu Abang. Tapi masih banyak yang belum, nanti kita beli sama-sama ya, biar Adek bisa pilih yang Adek suka."


"Makasih, Abang. Semoga Allah memberkahi rumah tangga kita." Ujar Aisyah kemudian menghambur ke pelukan Uwais.


"Abang berharap dengan berada di lingkungan yang baik, menjadi titik awal yang baik bagi rumah tangga kita."


"Aamiin yaa Allah..."


"Dek, Abang tau mungkin Adek sedih harus berpisah dari orang tua. Tapi, Abang harus membawa Adek pergi. Abang ingin satu biduk hanya ada satu nahkoda, bukan dua nahkoda. Agar Abang bisa maksimal dalam kepemimpinan Abang, Adek juga bisa lepas dari ikatan keluarga sebagai anak dan maksimal dalam menjalankan oeran sebagai istri."


"Abang juga berharap, dalam kondisi yang tenang, kekokohan jiwa kita lebih mudah terbentuk. Adek tau bukan kalau kita harus belajar saling pengertian dengan intens tanpa campur tangan orang tua dan mertua? Tapi, bukan berarti kita berlepas sepenuhnya dari mereka. Sebagai anak kita tetap harus berbakti."


"Iya, Abang. Aisy mengerti. Insyaallah Adek akan berusaha untuk menjadi sebaik-baiknya istri bagi Abang dan Ibu bagi anak-anak kita nanti."


"Ini lah biduk baru yang akan kita bawa berlayar. Bantu Abang ya dek?"


"Kita saling membantu, Abang."


Seorang anak perempuan yang telah menikah, maka sepenuhnya dia adalah milik suaminya. Namun, hal ini lah yang banyak terlupakan di masyarakat, terlebih di desa Uwais yang biasanya justru seorang suami yang harus mengikuti istrinya.


Bab 11 || Sisi Berbeda

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 11

Jumlah kata: 801

#sarkatjadibuku


Pagi sekali, pengantin baru itu berkeliling kompleks. Sekedar bergerak ringan dan sesekali menyapa tetangga yang melakukan aktivitas serupa.


Suara nasyid mengalun dari ponsel Uwais saat mereka tengah asik bercerita.


"Angkat aja, Abang."


"Tapi enggak tau nomor siapa, Adek."


"Enggak apa-apa, siapa tau ada hal penting, Abang."


Uwais kemudian menggeser tombol hijau ke atas. Sementara Aisyah memperhatikan dengan seksama mimik wajah suaminya yang berubah gusar. Tangannya terangkat, mengusap lembut bahu sang suami.


Setelah menutup telepon, Uwais menggenggam tangan Aisyah, kemudian berkata, "Adek, jangan marah ya. Telpon barusan dari papa Dinda. Dia bilang Dinda baru aja melewati masa kritisnya di rumah sakit. Beliau minta Abang ke sana. Gimana?"


"Abang, kesana aja. Tapi, Aisy enggak bisa ikut ke rumah sakit."


"Loh, kenapa, Sayang?"


Aisyah tidak menjawab, matanya menyipit seiring gelengan di kepalanya.


"Kalau Adek enggak pergi, Abang juga enggak akan pergi. Abang enggak mau nanti ada kesalahpahaman."


"Sekarang kita pulang dulu yuk, Abang."


Uwais mengangguk, kemudian merangkul Aisyah untuk pulang ke rumah yang masih terlihat kosong itu.


"Sayang, ini beneran ke rumah sakit? Kan kita mau belanja."


"Iya, Abang. Nanti dari rumah sakit baru lanjut belanja."


"Ya udah, tapi Adek ikut Abang ke rumah sakit juga ya?"


Aisyah tidak langsung menjawab, jari-jarinya membelit satu sama lain, pandangannya berubah sendu.


"Kenapa, Sayang?"


"Adek ikut. Enggak baik juga kalau Abang pergi sendiri."


"Alhamdulillah, terimakasih istriku."


Setelahnya, Aisyah menyiapkan sarapan untuk mereka. Hanya segelas susu kedelai dan semangkuk smoothies berwarna pink yang didalamnya sudah lengkap nutrisi yang dibutuhkan untuk menjalani hari.


Saat selesai, Aisyah memanggil Uwais yang tengah membersihkan mobil di depan rumah.


"Masyaalllah, sarapan sehat dari istri tercinta. Nikmat pagi yang luar biasa," ungkap Uwais. Memandang Aisyah penuh cinta, kemudian mengusap pelan kepala Aisyah yang tertutup jilbab instan.


"Abang...." Ujar Aisyah dengan pipi yang tiba-tiba memerah.


***


"Udah siap?"


"Udah, Abang."


"Yaudah, yuk kita berangkat. Nanti keburu siang, jadi enggak sempat belanja."


Uwais berjalan ke sisi kiri mobil, membukakan pintu untuk si penenang hatinya.


"Terimakasih, Abang," ujar Aisyah.


"Terimakasih kembali permata hatiku."


Hari ini, Aisyah mengenakan pakaian dengan warna yang sama dengan hari-hari biasa, hitam. Uwais juga mengenakkan kemeja dan celana dengan warna senada dengannya.


Sepanjang jalan, Aisyah tidak begitu fokus dengan apa yang suaminya bicarakan. Ada raut berbeda yang sedang ia coba tutupi. Tadi, sengaja ia gunakan kaos tangan, agar tidak kentara perubahan suhu tubuhnya. Sesekali, ia mengalihkan pandangan ke samping, memperhatikan jajaran bangunan yang mengapit jalan.


"Adek, kenapa? Kok kayak gelisah gitu?"


"Aisyah baik-baik aja, Abang." 


Uwais yang tak ingin memperpanjang sesuatu yang tidak seharusnya, memilih diam. Sesekali memperhatikan sang istri yang tak hentinya memainkan ujung jilbab.


"Kita singgah beli buah dulu ya?" Tanya Uwais yang mendapat anggukan dari Aisyah.


Laki-laki bermata tajam itu menghentikan mobilnya di depan sebuah toko yang menjual beraneka buah. Dia langsung turun setelah lagi-lagi hanya mendapatkan anggukan dari Aisyah.


Setelah membeli buah yang sudah dalam bentuk parsel, Uwais segera menjalankan mobilnya kembali. Raut khawatir jelas terlihat di wajahnya melihat sang istri sedari tadi hanya terdiam, terlihat seperti ada yang ditutup-tutupi.


Sesampainya di rumah sakit, Uwais mengajak Aisyah untuk turun. Kemudian menggandeng istrinya yang membisu itu untuk masuk ke dalam, mencari ruangan yang dikatakan papa Dinda di telpon tadi.


"Adek?" Panggil Uwais saat mereka sampai di depan pintu sebuah ruang inap VIP berwarna putih.


Namun Aisyah tak menyahuti, perempuan itu terdiam dengan pandangan kosong ke arah ruang ICU yang tidak jauh dari sana.


"Adek?" Panggil Uwais sekali lagi sambil menyentuh pundak Aisyah.


"Astaghfirullah..." kaget Aisyah.


"Maaf, Abang bikin Adek kaget. Adek kenapa melamun? Ada apa sayang?"


Aisyah lagi-lagi hanya menggeleng, dia merapatkan tubuhnya kepada Uwais.


"Yuk, kita masuk. Ini ruangannya." Ajak Uwais kemudian menggandeng Aisyah untuk masuk, sementara satu tangannya ia gunakan untuk menenteng parsel buah yang mereka beli sebelum ke sini tadi.


"Assalamualaikum..." Ucap Uwais sambil mengetuk pintu.


Tak lama, terdengar sahutan orang menjawab salam. Bersamaan dengan itu, pintu kamar inap itu terbuka, menampilkan wanita paruh baya yang menyambut mereka dengan senyum merekah.


Uwais mengatupkan tangannya, sementara Aisyah memaksakan senyum dan menyalami tangan wanita paruh baya yang tersenyum lembut itu.


"Masyaalllah, cantik sekali istrimu, Nak," ujar mama Dinda.


"Alhamdulillah, Tante."


"Dinda lagi tidur, tadi malam sempat kritis. Untungnya enggak lama."


"Alhamdulillah..."


"Oh iya, ini ada sedikit buah dari kami, Tante." Ujar Uwais menyerahkan parsel itu kepada mama Dinda.


"Adek..." Panggil Uwais dengan lembut.


"Iya, Abang?" Jawab Aisyah tanpa mengalihkan pandangannya dari Dinda yang terbaring dengan wajah pucat dengan berbagai alat yang menempel, namun terlihat cantik dengan hijab instan yang membingkai wajah bulatnya.

"Kenapa melamun lagi?" 


Entahlah, Uwais merasa ada hal yang sangat berbeda dengan istrinya hari ini. Biasanya, Aisyah sangat aktif dan tidak pernah mengabaikannya. Namun, hari ini perempuan itu lebih banyak diam. Belum lagi raut gelisah yang kentara sekali dari netranya yang kebingungan.


Apakah ada hubungannya dengan rumah sakit? Tanya itu memenuhi benak Uwais. Sebab, tadi lagi Aisyah masih sangat ceria, berbeda sejak dia mengajak ke rumah sakit.


Bab 12 || Sebuah Pinta

0 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 12

Jumlah kata: 924

#sarkatjadibuku


"Kakak?" Suara lemah itu terdengar seiring kelopak mata yang perlahan terbuka.


Panggilan itu membuat atensi laki-laki yang tengah mengamati perubahan istrinya itu teralihkan. Netranya menangkap sepasang manik yang menatapnya penuh minat. Segera ia mengalihkan pandangan, kembali menatap istrinya.


"Iya, ini kakak,"


"Dan, ini istri kakak," lanjutnya. 


"Istri?" 


"Iya, istri. Namanya Aisyah." 


Tangannya merangkul penuh kasih, lantas berkata, "Sayang, yuk kenalan dulu."


Aisyah yang sedari tadi hanya diam dengan pandangan kosong, mengalihkan pandangannya kepada Uwais. Kemudian sambil tersenyum samar ia berkata, "kita sudah lama kenal, Abang."


"Aisyah??" Tanya Dinda, membulatkan matanya saat Aisyah mengangkat kepala menatapnya. 


"Iya, ini aku, Din," ujarnya.


Aisyah menjatuhkan dirinya, memeluk Dinda dengan hati-hati. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. Pelukan yang tidak terlalu erat, namun sarat akan kerinduan.


"Kamu beneran Aisyah?"


"Iya, Din. Aku kangen banget. Kenapa enggak bilang kalau kamu sakit?"


"Anak-anak pada nyariin kamu, Din. Mereka rindu banget," lanjut Aisyah dengan kristal bening yang masih mengalir.


"Kalian kok bisa kenal?" Potong Uwais.


"Aku dan Aisyah sering ngajar dan bawa buku buat anak-anak kurang beruntung di jalanan, sering juga ke panti bareng, Kak," ungkap Dinda.


"Benarkah?"


"Iya, Abang. Maaf, Adek belum kasih tau, Abang," jawab Aisyah.


Uwais tak menjawab, namun tatapan lembutnya menyiratkan kekaguman yang nyata kepada istrinya.


"Ini nak Aisyah?" Tanya wanita paruh baya yang sejak awal hanya diam mengamati.


"Iya, Ma. Ini Aisy..."


"Ya Allah, udah lama banget enggak ketemu. Kangen Mama sama kamu, Nak."


"Aisyah juga kangen, Mama." Ujarnya, kemudian menghambur ke pelukan wanita yang dulu sangat dekat dengannya itu.


"Kenapa enggak bilang kalau ini kamu, Nak? Pantesan Mama ngerasa familiar sama mata cantik ini."


Mereka berbincang-bincang ringan. Namun Uwais menyadari, tawa istrinya tak seperti biasa, matanya jelas menggambarkan kegelisahan. Entah apa itu, setelah ini ia akan bertanya kepada Aisyah.


"Din, kamu mau menikah?" Tanya Aisyah saat Uwais dan mama Dinda memilih keluar, memberikan ruang pada dua sahabat itu melepas rindu.


"Siapa yang mau dengan perempuan penyakitan seperti aku, Aisy. Enggak ada," jawab Dinda dengan senyum sendu.


"Abang Uwais, bagaimana? Bukankah sebelum ini kamu ingin menikah dengannya?" 


"Aisy, mana mungkin aku tega menyakitimu. Sudah, aku ikhlas jika dia menikah dengan sahabatku, perempuan yang berkali-kali lipat lebih baik dari aku." 


"Tapi, Din...." 


"Aisy, kamu itu jodoh yang udah disiapkan Allah untuk kak Uwais, bukan aku. Udah ya, kamu enggak perlu merasa bersalah."


"Din, kamu tau apa yang pernah terjadi pada kita sebelum ini. Haruskah aku menyakiti sahabatku lagi? Haruskah aku kehilangan lagi dan diliputi rasa bersalah? Aku enggak mau, Din!"


"Aisyah, umur seseorang enggak ada yang tau. Meninggalnya Ifa bukan kesalahan kamu, tapi takdir Allah. Begitupun nanti kalau Allah panggil aku duluan, itu juga bukan kesalahan kamu," jelas Dinda menenangkan Aisyah.


Dinda paham betul apa yang saat ini melingkupi hati sahabatnya itu. Kehilangan dan rasa bersalah, juga trauma membuatnya tak mampu berpikir jernih.


Dia jelas kaget, saat Uwais datang setelah beberapa tahun tak bertemu malah sudah bersama istrinya. Tapi, yang membuatnya lebih kaget lagi adalah perempuan itu Aisyah, sahabat seperjuangannya dalam memberantas buta huruf dan buta Al-Qur'an bagi anak-anak jalanan dua tahun belakangan ini. Namun, Dinda lega. Aisyah adalah perempuan yang tepat bagi Uwais. 


"Aisy, perasaan itu udah enggak ada. Kemarin aku hanya bingung, makanya minta papa suruh kak Uwais ke sini. Lagi pula, kemarin aku enggak tau kalau dia udah nikah, apalagi sama sahabatku sendiri." 


"Enggak, Din. Aku udah menghancurkan kebahagiaan sahabatku. Aku udah jahat sama kamu. Kamu harus nikah sama Abang, Din!!" Ujar Aisyah dengan air mata yang semakin deras. 


Deru nafasnya memburu, keringat dingin membasahi pakaiannya. Kedua tangannya menutup telinga, tubuhnya melemah, akhirnya ia terduduk di atas dinginnya lantai rumah sakit. 


"Aisyah! Tolong, sekali ini aja bantuin aku! Terakhir kalinya, Aisy!"


"Enggak, aku enggak mau Ifa!"


"Aisy, please! Cuma kamu yang bisa nolong aku, Aisy!!"


"Enggak!" 


"Gitu ya? Makasih ya Aisy, udah jadi sahabat terbaikku. Selamat tinggal," kalimat itu terdengar lemah, diikuti senyum sendu dan mata yang perlahan menutup, serta lirih kalimat persaksian terdengar.


"Enggak!!!" Teriak Aisyah saat potongan kejadian itu terputar begitu saja di kepalanya.


"Aisyah?"


"Syah, jangan gini... Kamu harus bangkit, Aisy. Gimana kalau kak Uwais melihat kamu seperti ini?" Ujar Dinda, berusaha bangkit dari kasur pasien, namun tak bisa, tubuhnya terlalu lemah.


Melihat Aisyah yang malah semakin parah, Dinda mengambil ponselnya di nakas. Jarinya terburu-buru mencari kontak Uwais yang masih tersimpan di ponselnya. 


Namun saat panggilan belum tersambung, pintu ruang rawat itu terdorong kuat. Setengah berlari Uwais menghampiri sang istri. Tadi, dia mendengar teriakan Aisyah yang terdengar frustrasi. 


Hatinya teriris melihat Aisyah yang jauh dari kata baik-baik saja. Segera ia memeluk erat tubuh lemah yang bergetar kuat itu. Dengan hati-hati, dia menggendong Aisyah, meletakkan di sofa yang terletak di samping jendela. 


Dia mendekap Aisyah, menyalurkan ketenangan sambil mengelus pelan puncak kepala sang istri, sesekali mengecup keningnya. Matanya teralih ke Dinda yang juga tengah menatap mereka. Lewat isyarat, dia bertanya kepada Dinda apa yang telah terjadi pada Aisyah, namun hanya gelengan dan raut khawatir yang dia dapatkan. 


"Adek, lihat Abang," pinta Uwais, menguraikan dekapnya. 


Perlahan, ia menyeka air yang terus mengalir dari mata yang kian memerah itu. Namun, Aisyah tetap enggan untuk menatapnya. 


"Abang ada di sini. Adek enggak boleh sedih. Ada Allah sayang, ada Allah di sini. Aisyah harus ingat itu."  Ujar Uwais, kemudian meletakkan tangannya tepat di bagian hati Aisyah. 


"Sayang... Istighfar, ingat Allah, Adek..."


"Abang, menikah lah dengan Dinda," pinta Aisyah dengan pandangan kosong. 


Uwais reflek melemparkan pandangan tajamnya kepada Dinda. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan tadi, hingga istrinya begitu tak tersentuh seperti sekarang. Uwais merasa asing dengan sisi Aisyah yang seperti ini. Namun, pandangan marah dan sarat akan tudingan itu terputus kala tubuh Aisyah limbung di pelukannya.


Bab 13 || Sebuah Alasan

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 13

Jumlah kata: 1141

#sarkatjadibuku


Netra coklat itu terbuka perlahan, menyesuaikan dengan cahaya lampu yang menusuk mata. Sejenak di liriknya ruangan apa yang menjadi tempatnya terbaring saat ini. Diam-diam perempuan itu menghela nafas lega karena berada di kamar milik sendiri, bukan rumah sakit. Menoleh ke kanan, dia mendapati seorang laki-laki tengah tersenyum menatapnya.


"Alhamdulillah, akhirnya Adek sadar." Laki-laki itu menggenggam erat tangan dinginnya, lalu mengecupnya.


"Adek kenapa, Abang?" tanya perempuan berparas manis itu.


"Harusnya Abang yang tanya. Adek tadi kenapa? Kok tiba-tiba minta Abang nikah sama Dinda?"

Aisyah tidak menjawab, air mata yang mulai menggenangi pelupuk membuat Uwais enggan untuk kembali bertanya.


"Nanti aja ceritanya. Adek makan dulu ya. Abang ambil makanan ke dapur sebentar." Uwais kemudian beranjak meninggalkan sang istri yang diliputi rasa bersalah karena menutupi hal besar darinya.


Sepeninggal Uwais, Aisyah menatap kosong langit-langit kamar berwarna beige itu. Ingatannya kembali ke masa satu tahun lalu. Di rumah sakit, tepatnya ruangan ICU. Awal dari masa kelam yang tak pernah henti menghantuinya. 


Dialihkannya pandangan ke jam digital yang ada di nakas, sudah menunjukkan pukul satu lewat enam belas menit. Teringat belum solat, buru-buru Aisyah bangkit melupakan keadaannya yang masih lemah. Karena tidak berhati-hati, kakinya tersandung gamis yang dipakai, membuat lututnya terhempas ke lantai.


"Adek?" kaget Uwais. Segera dia meletakkan makanan yang dibawa di atas nakas, kemudian membantu sang istri untuk bangun dan kembali membawanya ke tempat tidur. 


Batin laki-laki itu teriris melihat keadaan istrinya yang begitu lemah. Didekapnya pelan, sementara satu tangan ia gunakan untuk mengelus lutut Aisyah yang terhempas ke lantai. Tanpa suara, hanya terdengar isak tangis perempuan yang amat dicintainya itu.


"Abang, Adek belum shalat," adu Aisyah menyandarkan kepalanya di dada Uwais.


"Kuat shalatnya?"


"Insyaallah, bantu Adek wudhu," pinta Aisyah.


Uwais menuntun Aisyah ke kamar mandi, memastikan wanitanya tidak jatuh kembali.

Setelah wudhu, Aisyah melaksanakan shalat. Dia berusaha untuk tetap berdiri. Tapi, karena tubuh yang lemah, akhirnya ia shalat dalam posisi duduk. Allah selalu memberikan kemudahan, tinggal bagaimana manusia menyambut uluran kasih sayang itu atau justru menjauh dengan berbagai alasan.


Selesai shalat, Uwais menyuapi Aisyah. Hanya semangkuk oatmeal dengan toping pisang yang diberikan sesendok madu. Sebab hanya itu yang ada di rumah. Rencana belanja mereka hari ini batal karena kondisi Aisyah yang sangat tidak memungkinkan. 


"Udah, Abang." Aisyah mengelak dari suapan Uwais.


"Masih ada sedikit ini. Mubazir, Adek. Lihat banyak di luar sana yang enggak bisa makan, masa Adek mau buang-buang makanan?"


"Tapi Adek kenyang, Abang. Enggak mau lagi. Abang aja yang makan," bantah Aisyah.


"Kok jadi Abang? Kan yang sakit Adek."


"Abang kok maksa?" Mata Aisyah kembali berkaca-kaca.


"Kenapa nangis? Kalau enggak mau makan ya sudah, paling nanti kalau orang-orang di jalanan sana tau mereka bakal sedih. Belum lagi mubadzir itu... ." 


"Saudaranya setan. Terus Abang bilangin Adek saudara setan gitu? Kok jahat!" Aisyah kembali membaringkan dirinya, menyelimuti seluruh tubuhnya bahkan hingga kepala.


"Adek," panggil Uwais.


"Hei, marah ya? Maafkan Abang. Abang hanya bercanda, Sayang."


Bukannya bangun, suara tangis itu semakin jelas terdengar.


Uwais berlalu, meletakkan mangkuk yang sudah ia habiskan isinya itu di dapur. Kemudian memilih untuk berwudhu menenangkan pikiran, agar tidak terbawa emosi menghadapi Aisyah yang sangat berbeda hari ini.


Setelah berwudhu, Uwais kembali mendekati Aisyah. Ditariknya perlahan selimut yang menutupi kepala wanita terkasihnya. Mata itu telah terpejam, menyisakan jejak air mata yang belum kering di pipi. Entah dia yang terlalu lama meninggalkan, atau memang Aisyah yang mudah tertidur jika menangis.


Tak ingin mengganggu, Uwais mengambil Al-Qur'an kecil di atas meja kerjanya. Dibukanya lembaran demi lembaran sambil membaca dengan lirih.


***


Gemintang menghiasi gelapnya cakrawala, tanpa rembulan, sangat indah. 


Secangkir teh hijau dan coklat panas menemani dua insan yang tengah terdiam, menatap kagum indahnya cakrawala yang melingkupi bentala. Sesekali keduanya saling menatap dalam sendu. Hanya terdengar deru nafas yang memberat, ada beban di hati masing-masing yang harus diselesaikan.


"Abang, maafkan Adek untuk hari ini." Aisyah menatap suaminya dengan perasaan bersalah.


"Iya, Adek. Abang maafkan. Tapi, lain kali Adek harus cerita sama Abang," jawab Uwais. Tangannya menggenggam jari-jari lentik yang melayaninya dengan penuh kelembutan itu.


"Tapi, kenapa Adek bisa di rumah, Abang? Harusnya kan kalau pingsan di rumah sakit, di rawat di sana juga."


"Dinda melarang Abang untuk membiarkan kamu dirawat di rumah sakit. Dan, masyaalllah ternyata tetangga kita dokter di rumah sakit itu. Beliau bilang, tadi pagi lihat kita jalan, makanya tau kalau tetangga. Terus, katanya bawa aja pulang, kalau ada apa-apa tinggal panggil beliau. Jadi, Abang bawa pulang." 


"Masyaalllah, Allah baik banget." Perempuan berstatus istri itu merapatkan kursinya ke sang imam, lantas bersandar di punda yang memberikannya kenyamanan itu.


"Adek mau cerita," ujar Aisyah.


"Abang siap dengar." Uwais tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala Aisyah.


"Aisy punya dua sahabat, Dinda dan Ifa. Tapi, satu tahun lalu Ifa meninggal tepat di depan mata Aisy. Hari itu kita bertiga bagi-bagi buku baru buat adik-adik di jalan, tapi qadarullah Ifa tertabrak mobil. Aisy yang sebelumnya fobia darah, terpaksa ikut dalam ambulans nemenin Ifa, sementara Dinda mengkondisikan anak-anak yang histeris.


"Sepanjang jalan, Aisy berusaha untuk enggak pingsan karena banyaknya darah yang keluar dari tubuh Ifa. Singkat cerita, saat Ifa ditangani di IGD Adek sekilas dengar ada dokter yang bilang kalau Ifa juga pasien beliau, kangker otak stadium tiga. Waktu orang tua Ifa datang, Adek tanyakan langsung, dan ternyata benar. Makanya, pas tau Dinda juga terkena kangker Adek sedih banget, kenapa dua sahabat yang paling dekat sama Adek harus menyembunyikan hal sebesar ini dari Adek... ," Aisyah menjeda ceritanya.


Uwais tidak menyela, memberikan ruang kepada Aisyah mengungkapkan semuanya.


"Setelah ditangani di IGD, Ifa dinyatakan koma dan beberapa hari dirawat di ICU. Waktu sadar, dia minta ketemu sama Adek. Tapi, yang bikin kaget dia minta Adek untuk menggantikannya menikah dengan calon suaminya. Adek menolak dengan tegas waktu itu.


"Terus, setelah dengar penolakan dari Adek, Ifa kembali drop dan meninggal, tepat di saat penolakan terakhir dari Adek. Itu yang bikin Adek minta Abang nikahin Dinda. Adek enggak mau dihantui perasaan bersalah setiap waktunya. Udah cukup rasa bersalah sama Ifa, jangan sampai Dinda juga. Tapi, Adek enggak maksa. Adek tau takdir setiap orang itu udah ditetapkan sama Allah, tapi entah kenapa terlalu sulit untuk menghilangkan rasa bersalah," jelas Aisyah panjang lebar.


"Tapi, kenapa Adek kelihatan trauma banget sama rumah sakit? Ada alasan lain, kan?"


"Enggak ada, Abang. Tapi, mungkin karena selama lima hari Ifa dirawat, Adek dan Dinda selalu bolak balik ke rumah sakit. Karena letak ICU yang berada di belakang dan harus lewatin IGD, Adek sering banget ketemu sama korban kecelakaan yang berlumuran darah.


"Beberapa waktu setelah kepergian Ifa, Adek ngerasa ada yang aneh sama kondisi mental Adek. Jadi, Adek ke psikolog dan ternyata Adek mengalami PTSD. Makanya, rumah sakit selalu ngingetin Adek sama kecelakaan dan kematian Ifa, sekaligus rasa bersalah Adek."


"Maafkan Abang. Tadi siang enggak bisa ngertiin Adek." Uwais mencium puncak kepala Aisyah.


"Iya, Abang." 


Keduanya tersenyum, menatap kembali cakrawala yang mulai tertutup awan. Malam ini, mereka berhasil langsung menyelesaikan satu masalah yang datang. Berharap, selanjutnya tetap demikian, tidak ada masalah yabg berlarut-larut karena ketidakjujuran.


Bab 14 || Sakit

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48
Kelompok: 3 Tinta Aksara
Day: 14
Jumlah kata: 840
#sarkatjadibuku

Apakah perasaannya yang terlalu sensitif atau suami yang kurang peka. Ia dilanda kebingungan, suami yang begitu romantis dan selalu menenangkan di dua pekan pertama pernikahan, tiba-tiba berubah cuek, terkesan tak peduli akan suasana hatinya.

Bicara pun tak lagi komunikasi, layaknya penyiar yang berbicara tanpa ada yang menyambungkan dengan frekuensi sama. Tangisan pun hanya sebatas melodi yang didengarkan dalam diam tanpa komentar.

"Abang, mau makan atau mandi dulu?" Tanya Aisyah setelah membukakan pintu untuk Uwais.

"Abang mau istirahat aja. Capek banget hari ini. Tadi udah makan sama teman-teman satu bimbingan," jawab Uwais tak acuh.

Aisyah tersenyum, menatap tangannya yang menggantung, bergantian dengan punggung suaminya yang berlalu dan hilang ditelan pintu kamar. "Mungkin Abang kecapekan hari ini," lirihnya sendu.

Tak tinggal diam, perempuan itu menyusul, mengabaikan makanan yang telah susah payah ia buat di tengah kondisi tubuh yang melemah.

"Abang, Aisy pijat ya?" pinta Aisyah penuh harap.

"Enggak perlu, Abang mau langsung tidur aja. Adek juga tidur ya, udah malam." jawab Uwais dengan mata terpejam.

Tanpa menjawab, Aisyah membaringkan diri di samping sang suami yang membelakanginya. Memberikan waktu kepada pria itu untuk menenangkan diri, meski ia ingin meringankan lelah itu.

Matanya menatap sendu punggung Uwais. Gelombang suara dengkuran halus menyapa rungu. Selelah itukah suaminya? Pikir Aisyah.

Lama terdiam sambil mengingat ayat-ayat yang tadi akan disetorkan, Aisyah akhirnya bangkit dari kasur. Teringat belum shalat witir dan membaca surah Al-Mulk.

Pemilik netra coklat itu segera berwudhu kembali, menenangkan pikiran yang kian riuh. Setelah berwudhu, ia menggelar sajadah, lalu menatap kembali ke punggung yang biasanya hanya membelakanginya saat shalat.

Tak ingin mengganggu, Aisyah shalat sendiri. Selesai shalat, ia larut dalam zikir dan munajat kepada Allah. Baru kemudian dia memurojaah hafalannya dalam tangis yang berusaha ia bendung.

Satu jam lamanya ia lantunkan ayat-ayat indah itu dengan suara lirih, kemudian Aisyah mengemasi kembali perlengkapan shalatnya dan beranjak menyusul sang suami yang sudah sangat nyenyak.

Namun, ia tak kunjung bisa tidur. Mata itu terlejam, namun bukan karena tertidur. Panas di dada mulai menjalar ke tenggorokan, nafasnya mulai tak beraturan, keringat dingin ikut mengambil bagian. Bersusah payah ia menahan agar tak membangunkan sang suami, tangannya mencengkram kuat sprei, menyalurkan rasa sakit.

Uwais yang merasakan ada pergerakan di sampingnya terbangun, membalikkan badan dan matanya terbelalak menatap keringat yang mengucur di pelipis istrinya, belum lagi ekspresi kesakitan yang menyayat hatinya. Pria itu lantas beristighfar, menyadari kesalahannya.

"Adek, kenapa, Sayang?" Raut wajahnya tak tenang.

Diusapnya keringat dingin yang mengalir, lalu meletakkan bantal satu lagi agar Aisyah bisa bersandar. "Sayang," ujarnya sambil mengelus rambut panjang yang tergerai itu.

"Adek?"

Uwais teringat, Aisyah memiliki gerd yang cukup parah, membuat perempuan itu tak bisa banyak pikiran dan telat makan. Apakah istrinya ini belum makan karena menunggunya? Pikir Uwais semakin kalut.

"Adek, tunggu sebentar ya. Abang panggil dokter ke sebelah." Uwais menjauh dari Aisyah.

Namun belum sempat ia turun dari kasur, Aisyah memanggilnya dengan lirih. Akhirnya, ia tak jadi memanggil dokter, tak tega meninggalkan sang istri yang tengah kesakitan itu sendirian.

"Abang di sini aja, Aisy enggak mau sendiri." Aisyah memeluk erat Uwais.

"Adek makan ya?"

"Pahit," rajuk Aisyah.

"Abang ambil air hangat sama bubur dulu. Tinggu sebentar ya?"

Langkah lebar itu tergesa-gesa ke dapur, mengambil bubur yang tersedia di kulkas, lalu menghangatkannya. Setelah selesai, ia kembali ke kamar dengan semangkuk bubur dan segelas air hangat.

"Ini, Sayang. Abang suapin ya?"

Aisyah mengangguk, matanya terbuka menatap Uwais yang terlihat sangat khawatir. Dia tersenyum, praduganya salah mengatakan Uwais tak peduli, nyatanya pria itu sangatlah khawatir ketika ia sakit seperti saat ini.

Dengan hati-hati, Uwais menyuapi Aisyah. Sesekali, mengelap sisa bubur yang menempel di sisi bibir si permata hatinya. Setelah habis, Uwais kembali ke dapur meletakkan mangkuk. Kemudian mengambil makanan yang telah dimasak Aisyah tadi, membawanya ke kamar.

"Aisy kenyang, Abang," ujar Aisyah melihat Uwais membawa makanan kembali ke kamar.

"Bukan buat Adek, tapi Abang." Uwais makan dengan lahap, meski perutnya masih terasa penuh karena makanan yang ia makan bersama teman-teman seperjuangannya di kafe tadi.

Bibir tipis yang terlihat pucat itu tertarik, menampakkan gigi gingsul miliknya. Pun dengan pupilnya yang ikut menyipit. Suaminya masih tetap sama, pikir Aisyah.

"Abang bukannya udah kenyang tadi?" tanya Aisyah setelah Uwais menghabiskan makanan.

"Itukan tadi, Sayang. Mana mungkin Abang melewatkan makanan spesial dari istri Abang yang cantik dan shalehah ini," tukas Uwais dengan senyum mengembang.

Uwais menjatuhkan diri di samping Aisyah, membawa tubuh lemah itu ke dalam pelukannya. "Sayang, maafkan Abang beberapa hari ini, ya? Abang enggak bermaksud cuekin Adek. Tapi, karena kerjaan yang numpuk dan skripsi juga bikin Abang susah bagi waktu," sesal Uwais.

"Iya, Abang. Maafkan Adek juga yang enggak bisa bantu Abang."

"Adek enggak salah. Insyaallah ke depannya Abang usahakan enggak kayak gini lagi. Abang usahakan untuk tetap makan makanan yang Adek masak, terus murojaah dan shalat sunnah bareng sebelum tidur seperti biasanya. Maafkan Abang ya?" ujar Uwais. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menggenggam jemari mungil nan lentik itu.

Aisyah mengangguk sambil tersenyum, kemudian menyenderkan kepalanya di dada bidang yang selalu berhasil memberikannya kenyamanan itu. Perempuan itu sadar betul bahwa dalam rumah tangga akan selalu ada bumbu-bumbu yang membuat semakin panas, namun jika pandai mengelolanya maka akan menjadi nikmat.

Bab 15 || Inikah Alasannya?

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok: 3 Tinta Aksara

Day: 15

Jumlah kata: 832

#sarkatjadibuku

#PR


Sembab yang tertangkap oleh netra Dinda saat Aisyah berkunjung ke rumahnya menimbulkan tanya dalam benak perempuan itu. Tapi, ia tak akan bertanya. Bisa saja karena rindu pada orang tuanya, pikir perempuan yang tengah duduk menikmati teh hijau di balkon kamar.


"Aisyah, kamu belum masuk kuliah ya?"


"Besok, Din. Besok baru masuk. Kamu udah masuk ya pekan ini?" ujar Aisyah, kemudian menyusul duduk di kursi samping sahabatnya itu.


"Iya. Tapi aku masih pemulihan, belum dibolehkan masuk kuliah." Dinda sesekali menyesap teh hijaunya.


"Din, kamu beneran gak suka lagi sama Bang Uwais?" Aisyah menatap penuh tanya.


Dinda meletakkan dengan hati-hati cangkirnya, menatap netra coklat yang menunggu jawaban penuh harap. "Enggak, Aisy. Aku benar-benar ikhlas dan kamu enggak perlu khawatir hal itu. Lagi pula, jodoh itu udah diatur sama Allah," ujar Dinda menenangkan.


"Tapi—"


"Aisyah, yang perlu kamu pikirkan adalah gimana caranya menjadi yang terbaik selalu bagi Uwais. Bukan mikirin aku. Aku bahagia, kalau sahabatku bahagia. Kalau ada yang nyakitin kamu, kasih tau aku ya?" Dinda memotong ucapan Aisyah. Dia sudah hafal dengan kalimat-kalimat Aisyah yang penuh rasa bersalah itu.


Aisyah memeluk sahabat satu-satunya itu. Satu pekan setelah Aisyah menjenguk Dinda di rumah sakit kala itu, mereka belum pernah bertemu, hanya komunikasi via telepon yang tak seintens dulu.


Rasa rindu itu selalu ada. Aisyah sempat menyayangkan Dinda tak bisa hadir di hari bahagianya, bahkan mengabarkannya pun tak bisa lantaran perempuan itu menonaktifkan semua akses komunikasi.


Namun, dia bahagia, sangat bahagia masih bisa bertemu Dinda meski tak bisa selalu bersama seperti dulu lagi. Kegiatan sosial yang sering mereka lakukan bersama, beralih hanya Aisyah yang sesekali menemui anak-anak bersama Uwais.


"Din... ," Aisyah menjeda ucapannya.


"Kenapa Aisy?"


"Sanggup enggak ya aku kuliah sambil tetap ngurusin rumah dan juga Bang Uwais dengan baik?"


"Insyaallah, Aisy. Aku yakin kamu bisa. Dan, sepertinya Uwais bukan laki-laki yang menuntut ini itu, bukan?"


"Iya, sih. Tapi aku takut aja," jawab Aisyah.


"Yang penting tetap jaga komunikasi dan selalu usahakan yang terbaik. Lakukan semua karena mengharap ridha Allah, biar kalau kamu jenuh dengan semuanya, kamu punya alasan untuk tetap bertahan. Sebab, alasan kamu bukan manusia, tapi Allah."


"Insyaallah, Din. Doakan aku bisa, ya?" pinta Aisyah, kemudian menyesap coklat panas yang tadi diantar asisten rumah orang tua Dinda.


"Selalu, Aisy." 


Keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil menatap pemandangan kompleks yang menyejukkan mata. Sesekali, kendaraan keluar masuk melewati jalan utama perumahan.


Aisyah mengingat kembali Uwais yang akhir-akhir ini sangat sibuk, membuat waktu berdua mereka jadi berkurang. Suaminya bilang, caffe yang dirintisnya tengah mengalami masalah ditambah Uwais yang juga harus fokus dengan skripsinya.


Jika biasanya Uwais selalu pulang sore, kini laki-laki itu justru pulang larut malam. Tak jarang pula Aisyah harus makan sendirian karena Uwais yang ketika pulang langsung tidur.


Bahkan, saat Aisyah diam-diam menangis karena merindukan momen murojaah dan ibadah bersama, Uwais sama sekali tak menyadarinya. Pria yang sudah sah menjadi suaminya itu benar-benar melupakan janji mereka untuk selalu mengutamakan Allah meski di sela-sela kesibukan.


"Kamu murojaah sendiri, ya? Abang capek, mau langsung istirahat." 


Ucapan Uwais tadi malam masih membekas di benaknya. Aisyah tersenyum miris, ternyata menikah tak seindah yang dibayangkan. 


"Aisy?" panggil Dinda mengagetkan Aisyah.


"Kenapa, Din?"


"Kamu kok melamun mulu, enggak kayak biasanya?"


"Enggak apa-apa. Cuma rindu aja."


"Yang udah nikah mah beda, lamunannya tentang rindu." Aisyah tersenyum menanggapi.


Mereka kemudian berbincang banyak hal, terutama membahas anak-anak jalanan yang sudah lama tak mereka kunjungi sama-sama. Aisyah menceritakan bagaimana anak-anak itu terus-terusan mencari Dinda setelah lebih dari tiga bulan perempuan itu menghilang tanpa kabar.


Setelah cukup lama berbincang, perempuan berstelan donker dengan cadar berwarna hitam itu memilih pulang, memberikan waktu untuk sang sahabat beristirahat.


***


Aisyah bergegas naik ke ojek yang sudah menunggunya di depan rumah Dinda. Mbak Yana begitu Aisyah memanggilnya, beliau adalah ojek perempuan langganan Aisyah selama satu tahun belakangan ini.


"Mbak, langsung pulang?" tanyanya saat Aisyah sudah duduk dengan nyaman.


"Iya, Mbak," jawab Aisyah.


Aisyah mengisi perjalanannya dengan zikir, sesekali menimpali perkataan perempuan berumur tiga puluh tahunan di depannya itu. Tak jarang, hatinya mengiba melihat anak-anak yang dipaksa bekerja dibawah terik, ada pula lansia yang sudah renta berjalan tertatih membawa dagangan yang tak dilirik oleh para manusia yang abai akan sekitar.


Beberapa kali Aisyah meminta Mbak Yana mengentikan motornya, menghampiri para pekerja keras dengan kulit kecoklatan dan bulir-bulir keringat yang mengairi pelipis. Perempuan itu membawa mereka ke rumah makan terdekat, membeli makanan sekalian untuk keluarga mereka yang menunggu di rumah.


Mbak Yana yang sudah hafal dengan sifat Aisyah yang satu ini tak hentinya tersenyum, merasa beruntung bertemu dengan perempuan yang tengah duduk di boncengannya ini.


"Mbak, pelan-pelan," pinta Aisyah.


Dia menarik kaca helmnya ke atas, pupilnya menajam memperhatikan sosok laki-laki di seberang jalan. Setelah memastikan, dia meminta Mbak Yana menghentikan motor.


Di seberang sana, tepatnya di sebuah kafe outdoor, sosok yang selalu dipercayainya terlihat sangat nyaman bercanda dengan seorang perempuan yang tidak dikenalnya.


Matanya mengembun, sesak menghantam dada. Segera dia meminta Mbak Yana melajukan kembali motornya. Inikah alasan dari perubahan sikap prianya itu akhir-akhir ini? 


Pikiran negatif berhasil mengambil alih, mendatangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja menjadi bumerang bagi biduk mereka.



Bab 16 || Penjelasan

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 16

Jumlah kata 1040

Sarkat jadi buku


Pria itu menuju pintu rumah dengan perasaan berbunga-bunga. Satu kresek berisi makanan berada di tangan kirinya, sementara sebuah paper bag berada di tangan sebelahnya. Senyum terus mengembang sambil memberikan salam kepada sang istri. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sayang," salamnya.


Tidak ada sahutan, dia mengucapkan salam sekali lagi. Namun lagi-lagi hanya hening yang ia temukan. Dia jelas tahu istrinya itu telah pulang duluan.


Akhirnya Uwais memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, tanpa sambutan hangat yang menenangkan seperti biasa. Pandangannya mengedar, namun tak menemukan Aisyah.

Setelah meletakkan makanan di meja makan, langkahnya tergesa-gesa menuju kamar. Saat pintu didorong oleh tangan kokohnya, netranya menangkap perempuan yang dicintainya itu tengah tertidur, masih berbalut mukena dengan sebuah buku di pelukannya.


Perlahan ia mendekat, menaiki kasur, lalu menyibak mukena yang menutupi wajah Aisyah dan mengambil buku itu. Ragu, dia melihat ada bekas air mata yang menempel di pipi sang kekasih halal. Hati-hati, dikecupnya kening Aisyah dan juga pipi yang terdapat air mata itu. "Maafkan Abang, Sayang," bisiknya kemudian ikut berbaring dan memeluk Aisyah, menyusul untuk tidur siang.


Aisyah yang merasa ada beban di perutnya kemudian menggeliat, tak lama kemudian mata lentik itu mengerjap. Pandangannya beralih ke samping, didapatinya wajah sang suami yang begitu dekat. Alis tebal, hidup bangir, bulu mata lentik, tulang pipi yang tinggi, dan bibir tebal yang cerah, semua tak luput dari perhatian Aisyah.


Tangannya menyeka keringat yang masih menempel di pelipis Uwais. Kerutan tak tenang tergambar di dahi laki-laki itu, menarik tangan Aisyah untuk mengusapnya. Mata sembabnya menyipit seiring sudut bibir yang tertarik.

Lama mengamati, Aisyah tersadar, diliriknya arloji yang masih menempel di pergelangan tangan Uwais, pukul dua siang.  Dengan hati-hati dia melepaskan pelukan Uwais, kemudian perlahan bangun dari tidurnya agar tidak membangunkan laki-laki yang tertidur nyenyak itu.


Setelah membuka mukena dan mengenakkan jilbab instan, Aisyah beranjak ke dapur, berniat memasak makanan untuk makan siang yang sudah telat, lantaran dia yang ketiduran setelah shalat tadi.


Belum sempat membuka kulkas, maniknya melihat ada makanan di atas meja makan. Dia membuka bungkusan yang ternyata berisi sebungkus nasi Padang kesukaan mereka. Serta beberapa bungkusan lain berupa lauk, ada rendang, ayam goreng lengkuas, urap, sup kerang, dan juga martabak Mesir kesukaannya. Aisyah tersenyum, namun sorot matanya menyiratkan sendu. Tangannya lincah menyiapkan makanan, memanaskan sup yang telah dingin dan memindahkan lauk-lauk ke food container kecil. 


Setelah selesai, Aisyah kembali ke kamar, membangunkan Uwais untuk makan bersama. "Abang, bangun yuk. Udah siang, belum makan," panggilnya mengelus lembut pipi Uwais.


Laki-laki itu menerjapkan matanya, lalu tersenyum menatap Aisyah yang sangat dekat dengannya. "Sayang, maafkan Abang ya. Adek kesepian ya karena Abang jarang ada waktu sama Adek?" tanya Uwais menggenggam tangan Aisyah.


Wanita itu tersenyum, tak menjawab namun menjatuhkan tubuhnya di atas sang suami yang masih berbaring, kemudian berujar, "Adek rindu sama Abang." Matanya berkaca-kaca.


"Abang juga, maafkan Abang yang akhir-akhir ini sibuk. Alhamdulillah, tadi skripsi Abang udah di-acc sama pembimbing dua, tinggal pembimbing satu yang belum. Insyaallah dalam minggu ini selesai. Nanti, Abang ajak adek jalan-jalan, ya. Insyaallah Abang kenalin ke karyawan kafe juga." Mata laki-laki itu menatap wajah sedih sang istri, kemudian mengusap mata yang sering kali ia genangi itu.


"Iya, Abang. Ya udah, kita makan dulu, yuk?" Aisyah bangkit, kemudian disusul Uwais.

Keduanya makan dengan lahap sebungkus nasi Padang dari rumah makan favorit mereka. Sesekali melempar canda saat saling menyuapi. Melupakan apa yang terjadi belakangan ini.


Setelah makan dan bersama-sama membereskan meja makan, Uwais membawa Aisyah ke ruang keluarga, duduk lesehan di karpet dan bersandar di sofa. Aisyah berbaring, menjadikan paha Uwais sebagai bantal. Dari posisi ini dia dapat melihat dengan jelas gurat lelah di wajah tegas itu.


"Abang, enggak ada yang mau diomongin sama Aisy?" tanya Aisyah penuh harap.


"Tadi, Abang bimbingan sama dosen pembimbing satu, barengan sama teman-teman yang lain juga. Kita berlima, tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Alhamdulillah, skripsi Abang ACC." Tangannya terus mengelus lembut kepala yang tertutup kain hitam itu dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. 


"Beneran cuma itu?"


"Hey, kenapa? Kok kayak curiga gitu sama Abang, hmm?"


"Maaf, tapi Abang berubah akhir-akhir ini." Aisyah berujar sedih.


"Maafkan Abang. Akhir-akhir ini Abang disibukkan sama kafe yang lagi ada masalah keuangan, belum lagi skripsi. Abang kecapekan banget. Maafkan Abang yang belum bisa selalu temenin Adek makan, murojaah, dan ibadah sunnah bareng ya, Sayang? Insyaallah Sabtu nanti kita ikut kajian, ya?"


Aisyah hanya mengangguk, namun matanya tak lepas memperhatikan setiap ekspresi sang suami. Ia tak menemukan ketidakjujuran di manik itu. Tapi, ia yakin apa yang tadi dilihatnya nyata.


"Kenapa lihatin Abang segitunya, Sayang?" Uwais mengecup lembut kening yang berkerut itu.

"Adek tadi lihat Abang di kafe pinggir jalan, tapi sama cewek," rajuk Aisyah.


"Ya Allah, ternyata karena itu istri Abang begini?" Laki-laki itu tersenyum yang membuat Aisyah semakin cemberut.


"Maafkan Abang. Tadi itu kita diminta ketemu di kafe sama dosen, karena rumah beliau di dekat kafe itu. Yang kamu lihat, mungkin waktu yang lain belum datang. Baru Abang sama Nurul," jelas Uwais.


"Tapi bukannya Abang bilang bimbingannya pagi makanya enggak bisa anterin Adek ke rumah Dinda?"


"Rencananya iya. Tapi bapaknya minta jam 11, karena pagi beliau ada acara."


"Terus kenapa Abang malah bercanda sama dia?" Aisyah berubah jutek. 


Uwais tersenyum, ia tahu Aisyah tengah cemburu. Tapi, ia senang dicemburui oleh sang istri.


"Maafkan Abang. Insyaallah tidak lagi. Dosen pembimbing satu kita beda kok, Sayang. Maaf ya, Abang salah dan bikin Adek cemburu."


"Tapi Adek enggak suka Abang bercanda sama perempuan lain, apalagi sampai ketawa gitu. Terus Abang juga cuek sama Adek, kan Adek jadi negatif mikirnya." Aisyah memajukan bibirnya, merajuk.

"Iya, insyaallah Abang enggak mengulanginya lagi. Maafkan Abang ya? Kebiasaan sebelum hijrah dulu kadang kebawa kalau lagi ngobrol," sesal Uwais.


Aisyah terdiam, entah kenapa beberapa hari ini dia begitu sensitif. Harusnya, dia percaya jika Uwais tak akan macam-macam dengan perempuan lain di luar sana. Tapi, pikiran-pikiran negatif terus menghantuinya seiring kesibukan Uwais yang bertambah. 


"Abang senang Adek cemburu, Adek ungkapin apa yang salah dan kurang dari Abang. Jadi, Abang bisa memperbaiki. Selalu seperti ini ya, Adek. Biar enggak ada masalah yang berlarut dan melunturkan kepercayaan satu sama lain." Tangan kokoh itu memeluk erat sang istri.


Uwais merasa bahagia memiliki Aisyah yang selalu bisa mengerti dirinya. Ia bertekad akan melakukan hal yang sama dengan perempuan itu. Uwais berjanji untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan sang istri, terutama untuk belajar dan ibadah sunnah bersama.


Bab 17 || Perpustakaan

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 17

Jumlah kata 1033

Sarkat jadi buku


Dua bintang yang tak pernah terlihat saling mendekat itu berboncengan. Menciptakan aneka raut di wajah para pengamat. Isu-isu negatif mulai terdengar riuh meski sebatas bisik-bisik. Tapi, dua anak manusia itu tak peduli. Mereka melangkah beriringan, lalu berpisah di koridor ke tujuan masing-masing, kantor dan kelas.


Pandangan tajam yang disamarkan oleh poni selembar cadar itu menyelisik, mencari teman seperjuangan di kelas yang sama. Tapi, belum ada yang terlihat. Masih jam delapan kurang, wajar jika belum ada yang datang, karena kelas akan dilaksanakan jam sembilan.


Tak ingin kebingungan, dia memilih untuk ke perpustakaan. Sangat sepi, tapi itu lah suasana yang dirindukannya dari kampus. Dia menelusuri rak demi rak, lalu menjatuhkan pilihan pada ensiklopedia sejarah Islam.


Netranya meneliti daftar isi, tapi semuanya menarik untuk dibaca, jadi lah ia membaca dari awal. Perempuan itu kemudian tenggelam dalam halaman demi halaman buku yang menggambarkan bagaimana jayanya Islam di masa lalu. Sesekali tangannya menyeka air mata yang tiba-tiba menetes.


Ponselnya yang sedari tadi menampilkan ada yang menelepon tak disadarinya, karena ponsel itu tak bersuara. Dia sama sekali tak menyadari, sudah terlalu lama berada di perpustakaan lantai tiga yang sepi itu.


Saking fokusnya membaca, perempuan itu tak menyadari bahwa berjarak beberapa meja darinya, duduk seseorang laki-laki yang tak henti memperhatikan setiap pergerakan dan juga diamnya. Kadang, laki-laki itu tersenyum melihat perubahan ekspresi yang terlihat dari netranya yang terbingkai cadar.


***


"Afwan. Antum lihat Aisyah?" tanya laki-laki yang tengah kelimpungan mencari istrinya.


"Enggak, Bang," jawab salah satu teman sekelas Aisyah yang baru keluar ruangan mengekori dosen yang mengajar.


"Tadi enggak masuk ya?" 


"Enggak, tumben dia enggak masuk. Biasanya enggak pernah absen." Jawaban itu justru menambah khawatir di hati Uwais.


"Tadi pagi bukannya pergi sama Abang?" tanya teman perempuannya. Teman-teman sekelas Aisyah memang sudah tau jika mereka menikah saat libur semester lalu.


"Iya, tapi kita pisah di depan. Saya ke kantor prodi, dia katanya mau langsung ke kelas. Ya udah, kalau gitu saya permisi. Tolong sampaikan kalau Aisyah udah di kelas, bilang saya mencarinya." Uwais kemudian pamit, lanjut mencari Aisyah ke tempat lain.


Khawatir menyelimuti hatinya. Rasanya, tidak ada masalah sebelum ke kampus tadi yang membuat Aisyah menghilang tanpa menjawab teleponnya seperti ini. Tiba-tiba ia terpikir untuk mencari ke masjid, siapa tau Aisyah berada di sana memurojaah hafalannya.


Langkah lebarnya menuju ke masjid kampus, tapi tak ada satu pun sepatu di pintu khusus perempuan. Tapi, karena sudah sampai di masjid, dia memilih untuk shalat dua rakaat terlebih dahulu, menenangkan hati yang tengah gelisah.


Setelah shalat, Uwais duduk termenung di teras masjid. Memikirkan kemungkinan di mana istrinya itu berada. Matanya kemudian tertuju pada gedung perpustakaan yang berdiri kokoh di seberang masjid.


Pupilnya kemudian menyipit bersamaan dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. Mungkin Aisyah berada di sana, pikirnya. Uwais baru ingat jika Aisyah menyukai buku dan jika sudah membaca maka perempuan itu tak akan sadar dengan apa yang ada di sekitarnya.


Uwais kemudian menyeberang jalan yang sepi, menuju gedung perpustakaan yang menjadi tempat bersembunyi bagi para pecinta buku dan mahasiswa tingkat akhir yang disibukkan dengan skripsi. Sementara, mahasiswa lain umumnya lebih memilih kafe atau kost teman sebagai tempat berkumpul membuat tugas. Jelas segala yang bersumber dari internet lebih menarik perhatian mereka dari pada harus membolak-balik halaman per halaman buku tebal itu.


Laki-laki berjambang tipis itu meletakkan ranselnya di loker setelah mengeluarkan barang-barang berharga miliknya, hanya ponsel, laptop dan dompet. Setelah mengisi laman pengunjung di komputer, Uwais segera mencari Aisyah.


Matanya menelusuri lantai satu, namun hanya ada beberapa petugas dan juga mahasiswa yang tengah berkumpul, memegang laptop masing-masing dengan beberapa buku tebal juga print out skripsi, jelas itu mahasiswa tingkat akhir. Tak ingin menunda, dia langsung menapaki satu per satu anak tangga. Sampai di lantai dua, kembali ia tak menemukan perempuan yang dicintainya itu.


Berlanjut ke lantai tiga, matanya menatap siluet perempuan berpakaian hitam di meja yang berada di balik rak buku. Uwais segera menghampiri, ia yakin itu adalah Aisyah. Lirih alhamdulilah kemudian terucap oleh lisannya, raut lega kentara di wajah tegasnya.


Langkahnya mendekat, tapi tak langsung menghampiri. Ia memilih untuk memperhatikan wanitanya dari balik rak. Kepalanya ia gelengkan pelan, seberkas senyum terbit di bibir tebalnya. Benar-benar istrinya ini, pikirnya. Harusnya ia langsung menuju ke perpustakaan, mengingat belum genap dua bulan pernikahan mereka, Aisyah telah berhasil membaca seluruh bukunya di rumah, padahal ia sendiri hanya membaca di saat butuh saja.


Namun, pandangannya menangkap keanehan dari seorang laki-laki yang duduk di meja yang ada di dekat dinding. Uwais menangkap maksud dari tatapan laki-laki itu, jelas menyiratkan kekaguman dan rasa suka.


Segera ia menghampiri Aisyah dan duduk berdempetan dengan perempuan kesayangannya itu. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh yaa zaujati," salam Uwais yang membuat Aisyah kembali ke permukaan.

"Abang?" kagetnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Abang," Aisyah menjawab salam Uwais.


"Kok Abang bisa di sini?" tanyanya penasaran.

Uwais kembali melirik, laki-laki tadi terlihat terkejut akan kehadirannya. Tapi ia tersenyum, melihat laki-laki berpakaian casual itu segera beranjak dari sana.


"Yang harusnya tanya gitu Abang, bukan Adek." Uwais mengusap kepala Aisyah gemas.


"Abang, nanti dilihat orang," protesnya.


"Enggak ada orang, Sayang. Petugas kan cuma ada di lantai satu dan dua, paking CCTV doang," ujar Uwais yang mendapatkan pelototan gemas dari Aisyah.


"Jadi, kenapa Adek di sini? Udah selesai ke—"

"Astaghfirullah, ini jam berapa Abang?" potong Aisyah panik.


"Hampir jam sebelas, Adek. Abang dari tadi nyariin kamu loh, susah banget dihubungi."


"Maaf, Abang," sesal Aisyah sambil menunduk.


"Iya, Abang maafkan. Lain kali enggak boleh gini ya, Sayang?"


"Insyaallah, Abang."


Keduanya kemudian menghabiskan waktu di perpustakaan, karena Aisyah hanya ada satu kelas pagi ini dan telah ia lewatkan. Aisyah menceritakan apa yang didapatnya dari buku yang telah ia baca, sementara Uwais fokus mengamati Aisyah yang begitu bersemangat jika membahas buku-buku yang dia baca, seperti biasa.


"Adek, kita ke bawah yuk!" Uwais membantu Aisyah meletakkan buku itu kembali ke rak.


Mereka menuruni anak tangga, namun di anak tangga terakhir ada yang mencegat. Uwais meminta Aisyah ke loker lebih dulu, mengambil tas.


"Afwan, ada apa, Zal?" Uwais mengenalinya, pria ini adalah mahasiswa fakultas Dakwah yang seangkatan dengannya.


Laki-laki yang ia ketahui bernama Rizal itu kemudian mengajaknya duduk sebentar di kursi tunggu pinggir tangga. Uwais merasa tak nyaman, karena laki-laki ini lah yang tadi memperhatikan istrinya begitu intens.


"Boleh minta waktunya sebentar kan, Akhi?"


"Iya, boleh," jawabnya.


"Aisyah adik antum, kan? Ana tertarik padanya. Boleh ana ta'aruf dengannya?"


Bab 18 || Aneh

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 18

Jumlah kata 764

Sarkat jadi buku


Aisyah menangkap banyak keanehan pada suaminya itu sepulang dari kampus tadi. Tapi ia enggan bertanya, bisa jadi ada masalah dengan dosen, pikirnya. Aisyah selalu ingat akan perkataan abinya dulu bahwa laki-laki itu jika ada masalah, biarkan dia menyendiri dalam guanya, jangan diusik karena dia lagi merumuskan solusi.


Tak henti-hentinya Aisyah mencuri pandang kepada Uwais yang tengah menatap buku yang terbuka namun terbalik. Tak ingin semakin bingung, Aisyah memilih untuk menyiapkan makanan untuk makan malam yang biasanya dilakukan sore hari jika Uwais di rumah. Sebab, makan berat di malam hari membuat sulit bangun untuk qiyamullail, dan mereka tidak ingin itu terjadi. 


Aisyah mengeluarkan ikan nila yang sudah bersih dari kulkas, daun ketumbar, selada romaine, tomat cherry, dan dressing yang dibuatnya sendiri. Jari lentiknya kemudian mengambil beberapa bumbu, lalu mengulek kasar dan dilumuri ke ikan. Hari ini dia ingin masak yang simpel namun tetap bergizi, ikan nila kukus dan salad.


Setelah dibumbui, Aisyah memasukkan daun ketumbar ke dalam perut ikan, dan mengukusnya. Sambil mengukus, Aisyah memotong selada, tomat cherry, dan daun ketumbar kemudian memasukkannya ke dalam mangkuk. Setelahnya, ia ingin mengambil kacang mete yang belum sempat diturunkan ke rak bawah, sehingga menyulitkannya. Tapi, sebelum ia menjangkau toples itu, sebuah tangan lebih dulu mengambilkan untuknya.


Aisyah berbalik, menemukan wajah sang suami yang tengah tersenyum memandangnya. "Kalau enggak sampai, panggil Abang, Adek," ujar prianya itu.


"Maaf, Abang. Habisnya, Abang melamun terus dari tadi," rajuk Aisyah. 


"Maafkan Abang. Ya udah, sini Abang yang bantu cincang kacangnya sama bikin salad. Adek duduk aja, ikannya biar Abang yang angkat nanti," ujar Uwais.


"Enggak mau. Masa Abang yang ngerjainnya, ini kan tugas Aisy," kekeh Aisyah.


"Kata siapa ini tugas istri? Ini tugas Abang. Bukannya Abang wajib menafkahi Adek lahir dan batin? Dan salah satu bentuk nafkah ya menyediakan makanan untuk istri, termasuk memasakkan," jelas Uwais sambil mencincang kasar kacang mete di atas talenan.


"Tapi—"


"Enggak pakai tapi, Adek. Udah, duduk di sini." Uwais mendudukkan Aisyah di kursi meja makan.


Aisyah menurut. Dia menyangga dagu dengan kedua tangan, netranya mengikuti setiap gerak gerik Uwais. Pupilnya menyipit karena sudut bibir yang tertarik.


Langkah terakhir, Uwais menyiram dressing yang sudah dibuat Aisyah Ahad kemarin. Setelah selesai pria itu mematikan kompor dan mengangkat tutup kukusan, uap panas langsung menghantarkan wangi daun ketumbar ke indra penciumannya. Hati-hati dia mengangkat piring yang di dalamnya berisi ikan.


"Alhamdulillah, udah matang. Sebentar ya, Abang siapin semuanya dulu. Adek cuma boleh duduk terus makan, enggak boleh yang lain," tegasnya.


Pria itu mengambil piring kemudian memasukkan nasi merah, meletakkannya di depan Aisyah. "Ayo makan, Sayang. Abang suapin ya?" pinta Uwais yang membuat Aisyah mengernyit bingung. 


"Eh, tunggu dulu. Sini tangan kamu," pinta Uwais.


Aisyah menurut, semakin dibuat heran saat suaminya itu menggenggam tangannya di atas meja, kemudian memotret beserta makanan. Tak sampai disitu, suaminya malah mengunggah ke story Instagram dan men-tag akunnya.


Ada apa dengan suaminya ini, pikir Aisyah. Biasanya memang romantis, tapi tak sampai seperti ini. Namun, dia menikmati dengan rasa bahagia yang membuncah. Meskipun tak dapat menghilangkan keheranan akan tingkah aneh suaminya itu.


"Ya udah, lanjut makan." Uwais menyuwir ikan itu, kemudian mengambil sesuap nasi untuk Aisyah.


"Abang kenapa?" tanya Aisyah.


"Biar orang-orang tau kalau Adek udah nikah sama Abang. Biar Adek selalu sayang sama Abang. Biar Adek enggak tertarik sama cowok lain. Jadi Abang berusaha untuk melakukan yang terbaik buat Adek."


"Ada yang menggangu pikiran Abang?"


"Tadi ada yang minta izin sama Abang mau ta'aruf sama kamu," rajuknya dengan bibir yang dimajukan.


Aisyah tertawa pelan. Sekarang ia mengerti alasan di balik tingkah Uwais hari ini. Begini kah jika laki-laki kesayangannya itu cemburu, pikir Aisyah. "Abang, mungkin orangnya enggak tau kalau Aisy udah nikah. Insyaallah, apapun keadaannya Aisy akan selalu bersama Abang." Aisyah menenangkan suaminya.


"Kalai nanti Abang enggak romantis Ad—"


"Abang, Adek mencintai Abang karena Allah. Selama Allah selalu menjadi yang utama bagi Abang, insyaallah cinta itu akan selalu ada dan bertambah seiring cinta Abang sama Allah yang juga semakin besar," ungkap Aisyah yang mendatangkan ketenangan bagi Uwais.


"Maaf, Abang udah cemburu. Tapi, Abang beneran mau belajar melakukan yang terbaik buat Adek." Uwais menggenggam tangan Aisyah, menatap manik coklat di seberangnya itu penuh cinta.


"Ya udah, kita makan. Nanti keburu Maghrib, kita belum mandi juga." Aisyah mengangguk.


Dengan telaten, Uwais menyuapi Aisyah. Tapi, di suapan ketiga, Aisyah merasakan ada sesuatu yang mendorong makanan itu untuk kembali ke luar. Perutnya bergejolak. "Ayo Sayang, buka mulutnya," ujar Uwais karena Aisyah malah terdiam tak berniat menerima suapannya.


Aisyah menggeleng, dengan tergesa-gesa ia menuju westafel menumpahkan makanan yang sudah berkumpul di kerongkongan. "Adek kenapa?" panik Uwais.


"Mual, Abang," adu Aisyah dengan mata berkaca-kaca.


Uwais berusaha tetap tenang, meskipun ia merasakan panik yang teramat melihat wajah lemah istrinya yang basah oleh air mata.



Bab 19 || Amanah dan Pilihan

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 19

Jumlah kata 799

Sarkat jadi buku


Maniknya berkaca-kaca, tangan kanannya tak henti mengelus puncak kepala perempuan yang terbaring lemah di ranjang pasien. Lisannya tak henti melantunkan surah Al-Kahf.


Sementara sebelah tangannya menggenggam tangan dingin yang sangat pas di genggamannya itu, sesekali mengecupnya penuh harap. "Sayang, kenapa belum bangun?" lirihnya.


"Assalamualaikum," suara salam menghentikan kegiatan Uwais.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh," jawabnya.


"Gimana keadaan Aisyah, Nak?" Perempuan paruh baya yang mengenakan jas putih kebanggaannya itu masuk ke ruang rawat yang tidak begitu besar.


"Belum sadar, Dok." Uwais memberi ruang kepada dokter itu untuk memeriksa sang istri.


"Tadi saya belum bisa pulang, masih ada pasien. Belum diperiksa sama perawat ya?"


"Tidak apa-apa, Dok. Tadi sudah, cuma kata mereka Aisyah tidak apa-apa," jawab Uwais.


"Sebentar, sepertinya harus diperiksa lebih lanjut dengan USG." Dokter itu melepaskan kembali stetoskop dari telinganya.


"Apa separah itu Dok, sampai harus di-USG?"


Wajah yang mulai keriput itu tersenyum lembut, kemudian berkata, "perihal Aisyah yang belum sadar, dia hanya kelelahan dan imun tubuhnya yang menurun, ditambah kekurangan cairan karena terlalu banyak muntah. Insyaallah kalian akan mendapatkan kabar bahagia setelah ini."


"Maksudnya, Dok?" Uwais semakin bingung dengan apa yang disampaikan oleh dokter.


"Sebentar, Aisyah dipindahkan ke ruang USG dulu, ya?"


Dokter berpakaian syar'i itu kemudian keluar, meminta perawat di kliniknya untuk memindahkan Aisyah juga menyiapkan segala keperluan.


***


"Nak Uwais lihat titik kecil ini?" Tangan yang mulai berkerut itu menunjuk layar.


"Itu apa, Dok?" tanya Uwais bingung.


"Masyaalllah, itu calon anak kalian, Nak. Kalian akan menjadi orang tua."


"Anak, Dok?" Matanya menyorot tak percaya.


"Iya, ini calon anak kalian. Alhamdulillah, dia kuat walaupun umanya dalam kondisi lemah."


"Alhamdulillah yaa Allah." Laki-laki itu spontan bersujud.


Kristal bening mengalir dari maniknya. Dia bangkit, kemudian menempelkan bibirnya ke kening Aisyah, cukup lama. Uwais kemudian berujar, "Adek, kita akan jadi orang tua, Sayang." Air matanya mengenai pipi sang istri.


"Saya tinggal dulu ya, Nak? Insyaallah, Aisyah sebentar lagi sadar. Nanti untuk resep obat dan vitamin minta sama suster di depan. Wassalamu'alaikum." Pamit dokter.


"Terima kasih, Dok. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Uwais.


Sepeninggal dokter, Uwais tak hentinya mengecup tangan Aisyah, menyalurkan rasa cinta sekaligus syukur karena akan menjadi orang tua.


Tidak lama, bulu mata lentik itu bergerak, menampakkan manik bening yang terlihat kebingungan. Tapi Uwais tak menyadarinya.


"Abang?" Panggilan itu membuat Uwais yang menelungkupkan kepala di samping Aisyah, mendongakkan kepalanya.


Netranya menangkap istrinya yang sudah bangun. "Alhamdulillah yaa Allah, akhirnya Adek bangun juga. Abang nungguin Adek, tapi Adek belum bangun-bangun juga dari tadi. Lama banget tidurnya," adu Uwais terkesan manja.


"Adek di mana, Abang?" Aisyah memucat menyadari ruangan tempat mereka berada.


"Tenang, Adek. Enggak boleh mikir yang aneh-aneh. Adek sekarang lagi di klinik Dokter Maryam, bukan di rumah sakit, Sayang," jelas Uwais yang mengendurkan wajah Aisyah yang tadi menegang.


"Adek kenapa, Abang?" tanya Aisyah membuat Uwais tersenyum.


"Adek, kita bakal jadi orang tua. Allah kasih kita kepercayaan, Sayang. Di sini, ada calon buah hati yang harus kita jaga dan kita bawa ke surga." Uwais meletakkan tangannya di perut Aisyah yang masih datar.


"Abang, beneran?"


"Iya, Sayang." Aisyah tak dapat membendung tangisnya. Ungkap syukur tak henti dilontarkannya. 


Uwais memeluk Aisyah dengan hati-hati. Cukup lama mereka berpelukan, Aisyah mendorong sedikit badan Uwais.


"Abang, Adek mau cuti kuliah," ujar Aisyah tiba-tiba.


"Kenapa cuti, Sayang?"


"Adek mau fokus sama amanah ini. Adek mau fokus mendidiknya semenjak dari dalam kandungan. Adek enggak mau dia mendengarkan yang tidak baik di luar sana. Boleh ya Abang?"


"Tapi kan enggak harus cuti, Adek."


"Enggak, Abang. Ini bukan keputusan tanpa pertimbangan. Adek udah memikirkan ini bahkan jauh sebelum kita menikah. Walaupun dia masih di dalam kandungan, masih kecil, Adek enggak mau dia cuma mendapatkan waktu sisa. Adek ingin mengajaknya mendengarkan kajian, belajar banyak hal, mengaji, dan hal-hal lainnya yang mungkin sulit Adek lakukan jika Adek masih kuliah."


"Tap—"


"Abang, Adek serius. Insyaallah Adek enggak akan nyesal. Lagi pula, Adek kuliah kan ngejar ilmunya, bukan gelarnya. Jadi enggak masalah jika lambat selesai. Toh, di komplek ini selalu ada kajian muslimah hampir setiap hari, jadi Adek tetap bisa menimba ilmu, mungkin lebih intens." Aisyah menatap netra tajam di depannya penuh harap.


"Udah bilang Abi sama Umi?"


"Bahkan, Adek udah diskusikan ini sama Umi dan Abi dari Adek masih sekolah dulu, Abang. Mereka setuju. Bagi mereka, pendidikan tinggi itu bukan hanya didapatkan dari kampus, tapi sejauh mana kita mau belajar dan mengamalkan," jelas Aisyah.


"Ya udah, kalau emang Adek maunya begitu. Abang enggak akan maksa Adek buat kuliah. Tapi, Abang enggak mau Adek berhenti belajar. Kita akan menjadi madrasah peradaban, pesantren bagi anak-anak kita nanti. Dan, pesantren enggak cuma mengajarkan satu ilmu saja. Jadi, tetap semangat belajar, ya?"


Aisyah mengangguk. Dia senang, Uwais mendukungnya. Aisyah sejak dulu memang sering kali memiliki pemikiran berbeda dari teman-temannya. Di saat orang lain ingin kuliah yang tinggi dan mengejar karir, baginya karir sebagai seorang istri dan ibu yang baik adalah impiannya. Dan itu bisa dicapai dengan belajar yang sungguh-sungguh.


Bab 20 || Pergilah, Aku Ikhlas

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 20

Jumlah kata 1074

Sarkat jadi buku


"Yaa Allah, amanah ini dari-Mu. Maka kepada-Mu pula hamba memohon petunjuk untuk mendidiknya sebagaimana Rasulullah mendidik putri-putri beliau, sebagaimana Imran dan istrinya mendidik Maryam, dan sebagaimana orang-orang shaleh mendidik anak-anak mereka. Yaa Rabb, kepada-Mu juga hamba serahkan penjagaan sepenuhnya. Jaga hamba dari sifat-sifat tidak baik yang menyusahkan suami dan jaga kami dari segala bentuk gangguan jin dan setan, Yaa Allah," doa yang selalu Aisyah pinta di setiap waktu.


Dua bulan kehamilannya, dia benar-benar tidak pernah merasakan ngidam yang aneh-aneh, tidak pula memiliki mood yang berubah-ubah. Dia masih tetap seperti biasa, hanya saja lebih giat dalam menuntut ilmu. Seperti sore ini, harusnya menikmati waktu santai seperti sebelum hamil dulu. Tapi, selama hamil, sore hari setelah makan selalu dihabiskan untuk mendiskusikan buku-buku yang sudah dia baca saat Uwais tidak di rumah, atau menyetorkan hafalan.


"Abang, tadi Adek baca buku Sayyidah Fatimah. Adek enggak bisa berhenti nangis, masyaalllah indah sekali kehidupan sederhana yang dijalani ratu bidadari surga," cerita Aisyah.


"Buku tentang beliau yang baru kemarin kita beli lagi ya, Sayang?"


"Iya, Abang. Udah Adek baca setengah."


"Masyaalllah istri Abang ini, bisa kuat baca sampai setengah. Tapi enggak lupa murojaah sama tilawah kan, Adek?"


"Enggak, Abang. Adek tadi udah murojaah surah Ali Imran," ujar Aisyah. Kemudian bersandar di dada bidang Uwais yang tengah duduk di sofa.


"Gimana kalau sore ini Adek setorkan lagi? Kan tadi pagi enggak sempat Abang simak. Untuk bukunya besok aja kita bahas." Uwais mengelus puncak kepala Aisyah.


"Iya, Abang. Tapi kayaknya enggak terkejar kalau semuanya. Kan Abang juga mau shalat Maghrib ke masjid." Uwais mengangguk.


Suara lembut Aisyah terdengar memenuhi ruang keluarga, melantunkan ayat demi ayat yang dia hayati sepenuh jiwa. Surah Ali-Imran menjadi salah satu surah favoritnya selama hamil. Bahkan, di malam hari mereka mentadabburi minimal lima ayat dari surah ini. 


Uwais menyimak dengan saksama, sesekali dia mengoreksi ketika ada harakat atau mad yang keliru. Untuk hafalan, Uwais benar-benar mengagumi Aisyah. Selama mereka murojaah, tidak ia temukan Aisyah yang keliru dalam menyambung ayat demi ayat. Sementara dia, seringkali salah dalam melanjutkan ke ayat berikutnya atau tertukar antara ayat-ayat yang memiliki kemiripan.


Jam enam tepat, Aisyah menyudahi bacaannya, sampai di ayat 91. Sebenarnya, bisa saja dia lebih cepat dari itu. Tapi, baginya membaca atau menghafalkan Al-Qur'an bukan lah sebanyak apa yang bisa dibaca di dalam waktu tiga puluh menit itu. Melainkan, bagaimana menghadirkan jiwa dalam bacaan itu, konsisten setiap harinya, dan perlahan memahami ayat demi ayat.


"Masyaalllah, seperti biasa hafalan kamu selalu kuat. Abang jadi iri. Tapi, perhatikan lagi panjang pendeknya ya Adek, harus konsisten. Huruf juga, perhatikan huruf-huruf ithbaq, Adek tadi huruf Shad dan Tha beberapa kali kurang terangkat tengah lidahnya jadi kedengaran seperti huruf Sin dan Ta yang ditebalkan. Terus, untuk huruf-huruf isti'la, enggak boleh memonyongkan bibir. Tadi saat huruf Tha dan Qaf, Adek beberapa kali memajukan bibir. Udah, itu aja koreksiannya," jelas Uwais.


"Jazakallah khair suaminya Aisy." Aisyah menatap manik suaminya yang juga menatapnya. Kemudian mengambil tangan yang selalu memperlakukannya dengan lembut, mencium dengan takzim.


"Abang ke masjid dulu ya, Adek. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, habibati," pamit Uwais.


Aisyah tersenyum, kemudian membalas salam Uwais, "wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, yaa zauji."


Uwais pamit ke masjid, seperti biasa. Selama menikah, Uwais tidak pernah mengimami Aisyah shalat fardhu, hanya saat witir dan tahajjud mereka berjamaah di rumah. Tapi, Aisyah tak pernah mempermasalahkan itu, justru selalu mengingatkan Uwais untuk tidak pernah meninggalkan shalat jamaah kecuali jika ada alasan syar'i.


Sepeninggal Uwais, Aisyah kembali ke kamar, memperbarui wudhunya terlebih dahulu. Baru setelah itu dia menghamparkan sajadah dan memakai mukena. Menjelang azan dikumandangkan, Aisyah memilih untuk berzikir serta memohon ampun kepada Allah atas segala kekhilafan di siang hari tadi.


Allahuakbar, Allahuakbar


Kumandang azan menyapa rungunya. Sudut bibirnya tertarik tatkala mengenali suara sang muazin. "Nanti jadi seperti Aba ya, Nak." Aisyah mengelus perutnya yang mulai membucit itu dengan sayang. Lalu, sebagaimana yang diperintahkan, Aisyah menjawab seruan azan, kemudian berdoa.


Perempuan bermukena putih itu melaksanakan shalat dengan khusyu, melupakan dunia yang selalu mengusik tatkala berusaha untuk fokus kepada Allah dalam shalat.


***


Suara salam terdengar, dengan sedikit terburu Aisyah membuka pintu, sementara tangan kanannya masih memeluk Al-Qur'an.


"Masyaalllah, lagi tilawah ya, Dek?" Uwais masuk ke rumah, setelah mengunci pintu kembali.


"Iya, Abang." Aisyah berjalan menuju taman belakang rumah, spot favorit mereka di malam hari.


"Sekarang gantian simak hafalan Abang, boleh?" Uwais menarik lembut Aisyah untuk duduk di kursi taman.


"Boleh, Abang."


Uwais melantunkan ayat yang telah dimurojaahnya tadi siang di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa semester akhir dan pemilik cafe. Aisyah dengan sabar dan penuh kelembutan mengoreksi ayat-ayat yang keliru.


Sebenarnya, sebelum menikah mereka sama-sama telah menyelesaikan 30 juz. Hanya saja, setelah wisuda tak berarti kewajiban mereka untuk menghafal selesai. Justru, tanggung jawab mereka semakin berat untuk menjaga ayat-ayat suci itu tetap terpatri di dalam hati dan pikiran, juga melekat dalam tindakan.


Selesai menyetorkan, keduanya bercerita tentang aktifitas masing-masing. Banyaknya, Aisyah yang menceritakan bagaimana indahnya berkumpul dengan wanita-wanita yang selalu mengingatkan akan akhirat saat duduk di majelis tadi siang, tentang buku yang dibacanya, juga dia yang beberapa kali tertidur saat membaca buku. Uwais tak hentinya tersenyum, memperhatikan bagaimana semangatnya Aisyah bercerita.


"Oh iya, Adek mau kasih tau Abang sesuatu," ujar Aisyah setelah bercerita panjang lebar.


"Masyaalllah, mau kasih tau apa sayang?"


"Tadi, Adek dapat informasi dari grup, kalau di Palembang bakal ada dauroh Syarh Jazariyah. Abang ikut aja ya?"


"Tapi Adek sendirian loh di sini. Belum lagi biayanya, lumayan mahal."


"Enggak apa-apa, kan sesekali. Insyaallah rezeki selalu ada, Abang. Sayang loh kalau ilmunya enggak dijemput. Nanti kalau ada di Jambi ikut lagi."


"Tabungannya kan buat nanti lahiran, Adek."


"Lahirannya kan masih lama, Abang. Lagian kan umi bisa ke sini temenin Adek, atau Adek yang pulang ke Bangko selama Abang ke sana."


"Saya—"


Aisyah menggenggam tangan Uwais, memotong ucapan suaminya itu, "Abang, enggak boleh khawatir soal rezeki. Insyaallah untuk ilmu selalu ada rezeki kok. Bukannya Abang mau buka rumah tahfiz?"


"Tapi Abang enggak tega ninggalin Adek sendiri, apalagi sedang hamil begini."


"Pergilah Abang, insyaallah Adek ikhlas jika Abang pergi untuk menuntut ilmu. Bukankah kita akan menjadi madrasah peradaban? Itu artinya kita butuh ilmu yang banyak, jadi dimana pun ada sumber ilmu harus kita kejar."


Uwais tak bisa berkata-kata lagi. Memang, sebelum menikah dia sering mengikuti dauroh ataupun workshop yang diadakan baik oleh komunitas maupun lembaga. Tapi, setelah menikah tentu dia juga harus memikirkan uang untuk keperluan istri dan anak-anaknya nanti.


Laki-laki itu tersenyum, kemudian mengangguk. Melihat Aisyah yang begitu antusias memintanya untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut, menghadirkan tatapan bangga di matanya. Sungguh, dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan perempuan pecinta ilmu seperti Aisyah.


Bab 21 || Masalah

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 21

Jumlah kata 1036

Sarkat jadi buku


"Beneran Adek enggak apa-apa Abang tinggal?" 


Aisyah mengangguk dengan senyuman yang mengembang di balik cadarnya, meyakinkan Uwais bahwa dia baik-baik saja.


"Tapi Umi belum datang," ujar Uwais lagi.


"Enggak apa-apa, Abang. Dinda mau ke sini pagi ini. Insyaallah nanti siang juga umi sama abi udah sampai. Abang fokus aja belajar di sana, pulangnya harus bawa banyak ilmu untuk Adek dan anak kita." Aisyah menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


"Insyaallah, Adek. Kalau gitu Abang berangkat, ya?"


"Iya, Abang. Fii amanillah, Aba," jawab Aisyah.


"Wassalamu'alaikum." Uwais mencium puncak kepala Aisyah cukup lama, kemudian beralih ke perut Aisyah yang tertutup jilbab lebar.


"Anak Aba, baik-baik ya sama Uma. Aba pergi enggak lama kok, nanti pulang kita belajar bareng lagi, ya?" Uwais berbisik lembut tepat di depan perut Aisyah


"Insyaallah, Aba." Aisyah menirukan suara anak kecil yang membuat Uwais tertawa lirih.


"Wassalamualaikum," pamit Uwais sekali lagi sebelum benar-benar masuk ke travel yang sudah menunggu.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Abang." 


Tidak ada air mata, hanya ada senyum yang penuh harap. Berharap kepergian sang suami untuk sementara ini membawa banyak ilmu saat kembali.


Sepeninggal Uwais, Aisyah segera masuk kembali, mengunci pintu, lalu duduk di sofa bersama buku sirah baru yang kemarin dia beli lagi.


Perempuan itu larut dalam bacaannya, air mata mengalir saat membaca lembar demi lembar kisah perjalanan Rasulullah yang entah sudah berapa kali dia baca dari buku dan kitab yang berbeda-beda. Tapi, ia tak pernah mampu membendung kristal bening itu.


"AISYAH!" Teriakan seorang perempuan menyadarkan Aisyah. Dengan hati-hati dia bangkit, membuka pintu.


"Assalamualaikum, Dinda," sindir Aisyah mendapati sahabatnya yang berpakaian casual itu di depan pintu dengan cengiran lebarnya.


"Wa'alaikumussalam, aku udah salam loh tadi, tapi kamu enggak nyahut-nyahut juga, ya udah aku teriak aja. Pasti lagi baca buku ya?" Dinda mengekori dengan menenteng kresek di tangan kirinya.


Matanya menelusuri setiap sudut rumah, ini kali pertama Dinda berkunjung ke rumah minimalis itu. Aisyah membawanya ke ruang keluarga. "Aisy, kamu enggak bosan apa cuti kuliah? tanya Dinda saat keduanya telah duduk dengan nyaman di sofa.


"Alhamdulillah, sejauh ini belum. Bang Uwais selalu nyempetin untuk nemenin aku. Kan beliau tinggal ngurus sidang aja, jadi jarang ke kampus. Ke kafe juga kadang aku diajak. Apalagi ada banyak buku, mana bisa bikin aku bosan di rumah, Din?"


"Dasar introvert. Kalau aku mau senyaman apapun rumah, tetap enggak akan nyaman tiap hari di rumah sendirian." Dinda membuka kresek yang dibawanya tadi, ada martabak red velvet dengan isian kacang coklat dan chicken katsu saus asam manis yang sering mereka beli bersama anak-anak.


"Kan enggak sendirian, Dinda. Terus, di sini juga hampir setiap hari ada kajian muslimah, jadi aku sering ikutan. Makanya, kamu sering-sering ke sini, biar kajian bareng." Aisyah mengambil sepotong martabak dan memakannya perlahan.


"Nanti lah Aisy. Lagian, aku enggak bisa sering-sering keluar, kata dokter aku harus istirahat yang cukup biar enggak kambuh. Ya walaupun bosan di rumah mulu, tapi enggak apa-apa, yang penting mama sama papa enggak sedih lihat aku terbaring di ranjang rumah sakit," ujar Dinda dengan mata menerawang ke depan.


"Iya, Din. Di rumah juga masih bisa belajar, dengerin ceramah, ngaji. Banyak banget kegiatan positif yang bisa kita lakukan di rumah untuk meng-upgrade diri kita," balas Aisyah.


"Setuju sih. Biar pun mungkin akan ada rasa bosan bagi orang-orang ekstrovert seperti aku. Dan, aku enggak setuju sih sama orang-orang yang bilang kalau mereka yang berdiam diri di rumah enggak bisa upgrade diri, anti sosial, pergaulannya sempit dan statemen negatif lainnya.


Kamu contohnya, diam di rumah tapi tiap hari selalu melahap buku yang beda-beda, belum lagi ikut kajian, terus kelas-kelas online juga yang membuat pergaulan kamu bahkan lebih luas daripada aku yang notabenenya sering banget main di luar waktu masih sehat dulu," ujar Dinda.


"Alhamdulillah, tapi aku sama aja dengan orang lain, Din," bantah Aisyah.


Asik ngobrol tanpa sadar satu kotak martabak telah mereka habiskan. Sudah satu jam pula mereka menghabiskan waktu. Aisyah mengajak Dinda untuk salat duha. Perempuan itu mengambil mukenanya di kamar, membawanya ke kamar tamu. Aisyah ingat saat Uwais melarangnya membawa masuk siapa pun ke dalam kamar pribadi mereka, selain orang tua, termasuk sahabat dekat tidak dibolehkan. Karena kamar adalah tempat paling privasi bagi suami istri.


Mereka salat sendiri-sendiri. Setelah salat, Dinda meminta Aisyah untuk menyimak hafalannya yang baru sampai di juz 3, berbeda dengan Aisyah yang sudah khatam. Mereka dulu sering melakukan ini, hannya saja semenjak Dinda menghilang tanpa kabar beberapa bulan lalu dan dinyatakan sakut, mereka jarang bertemu untuk melakukan kebiasaan baik ini.


Dengan saksama, Aisyah mendengarkan bacaan dan hafalan Dinda yang semakin bagus setiap harinya. Aisyah bersyukur, memiliki sahabat seperti Dinda. Meskipun mereka berbeda dalam selera pakaian, pemikiran yang sering bertolak belakang. Tapi, Dinda adalah perempuan yang memiliki semangat tinggi untuk belajar.


"Assalamualaikum," suara salam dari luar menghentikan kegiatan mereka.


Aisyah memakai kembali cadarnya setelah melepas mukena. Keduanya keluar, menemui tamu yang terdengar dari suaranya adalah seorang laki-laki.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aisyah tanpa membuka pintu terlebih dahulu.


"Maaf, suami saya lagi tidak di rumah. Boleh saya tau ada keperluan apa?" tanya Aisyah di balik pintu.


"Bang Uwais ada? Ini ada sedikit masalah di kafe."


Dengan ditemani Dinda, akhirnya Aisyah keluar.


"Silakan duduk, maaf tidak bisa mengizinkan ke dalam, karena Bang Uwais sedang tidak di rumah." Aisyah mempersilahkan laki-laki itu duduk di kursi kayu samping pintu masuk.


"Begini, kafe sedang ada masalah yang cukup serius untuk saat ini. Salah satu karyawan berhasil membawa kabur uang yang enggak sedikit. Uang itu untuk bayar gaji karyawan dan sebagian untuk tambahan donasi. Kami sudah coba untuk mencari kemana dia pergi, tapi belum ditemukan. Sementara, gaji karyawan harus dibayar besok."


"Jangan dilaporkan ke Bang Uwais, biar saya yang bicara dengan beliau, selama seminggu ini biarkan dia belajar dengan tenang di Palembang. Untuk ini, insyaallah akan saya carikan solusi secepatnya," ujar Aisyah tenang.


Laki-laki itu kemudian pamit, meninggalkan Aisyah dan Dinda yang sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aisy, kamu enggak mau ngomong soal ini ke suami?"


"Ngomong kok, Din. Tapi aku akan cari cara dulu biar abang enggak kepikiran dan tetap tenang di sana." Aisyah memikirkan apa yang harus dia lakukan.


Tapi, dia tetaplah seorang istri, setiap hal yang dilakukannya haruslah dengan izin suami, meskipun sejak awal Uwais mengatakan rida atas setiap hal baik yang dia lakukan. Tetap saja, cafe adalah milik Uwais. Maka, satu-satunya cara adalah menelpon Uwais dan meminta izin menyelesaikan masalah ini.


Bab 22 || Rindu

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 22

Jumlah kata 845

Sarkat jadi buku


Matanya menerawang, menatap lurus ke langit malam yang terlihat sangat polos malam ini. Di tangannya terdapat Al-Qur'an dan sebuah tasbih hadiah dari sang suami. Jaket kebesaran milik pria yang dicintainya pun seakan memeluk tubuhnya yang sedikit menggigil karena angin malam yang menusuk tulang.


Sementara di depan pintu, seorang wanita paruh baya memperhatikan putri kesayangannya yang termenung itu dengan sudut bibir yang tertarik.


"Mi." Panggilan itu membuat atensinya.


"Iya, Bi?"


"Anak kita kenapa melamun mulu dari tadi?" Tangan kokoh itu merangkul sang istri.


"Biasa, Bi. Rindu." Keduanya terkekeh pelan.


"Alhamdulillah ya, Mi. Uwais menjaga anak kita dengan baik. Mencukupi kebutuhannya untuk menuntut ilmu. Lihat aja rak buku yang segede itu udah gak muat lagi sama buku-buku," ujar laki-laki paruh baya itu.


"Iya, Bi. Lihat aja Aisyah sampai merenung gitu mikirin suaminya yang belum ngabarin."


"Panggil aja, Mi. Udah malam ini. Kasian juga cucu kita dibawa melamun malam-malam di luar rumah."


Mendengarkan itu, umi memanggil Aisyah. Beberapa kali, tapi tak disahuti. Pemilik bulu mata lentik itu tetap bergeming.


"Nak, ayo masuk!" Tangan lembut itu menyentuh bahu Aisyah, membuat perempuan itu terkejut.


"Astaghfirullah," kagetnya.


"Umi?" Aisyah menolehkan kepalanya ke samping, mendapati wanita hebatnya tengah tersenyum lembut.


"Iya, Nak. Ayo masuk, udah malam. Nanti Uwais marah loh sama Umi karena biarin istri kesayangannya ini di luar malam-malam." 


"Tapi, biasanya kita murojaah di sini malam-malam, Mi," bantah Aisyah, namun tak urung ia bangkit dari duduknya mengikuti langkah umi yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.


"Ya udah, murojaah sama Abi aja. Itu Abi lagi nganggur."


Aisyah menghampiri abinya, memeluk laki-laki paruh baya itu dengan erat. 


"Kenapa, Nak?"


"Aisyah kangen Abang, Abi. Kok belum telpon Aisy? Masa cuma chat aja bilang udah sampai," rajuknya.

"Kan lagi belajar, Nak."


"Tapi masa enggak sempat telpon sebentar? Aisy sama anak kita kan kangen." Bibirnya dimajukan, wajahnya cemberut, dengan air mata yang menggenang di pelupuk.


"Hei, kan Aisy yang minta Abang untuk ikut. Jadi enggak boleh sedih gitu, ya?"


"Tapi, Abi. Hari ini kan baru pembukaan, belum belajar. Masa Abang enggak telepon?"


Kedua orang tuanya saling lirik kemudian tersenyum melihat putri satu-satunya mereka tengah merajuk karena rindu pada suami.


"Kita hubungi Bang Ridho aja gimana? Udah lama kan Aisy enggak telpon Abang?"


"Maunya Bang Uwais, Abi. Bang Ridho mah usil sama Aisy." Aisyah menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah.


"Iya, nanti telepon. Ya udah. Murojaah aja gimana?"


Aisyah kemudian mengangguk. Segera ia ke kamar untuk berwudhu dan mengambil Al-Qur'an. Karena abinya selalu menyimak dengan melihat Al-Qur'an, meskipun beliau telah khatam berkali-kali hafalannya.


Aisyah kembali dengan mengenakan mukena hitam serta Al-Qur'an berwarna dongker. Wanita itu duduk di atas sofa, di antara umi dan abinya. Kemudian Aisyah membacakan ayat-ayat yang telah dihafalkannya. Berbeda dengan Uwais yang akan menanyakan tema dari ayat yang dibaca, abinya selalu meminta Aisyah untuk membacakan terjemahannya juga. Kemudian beliau akan menjelaskan tafsir dari ayat tersebut.


Setelah murojaah, Aisyah berbaring di paha uminya sambil mengelus pelan perutnya yang mulai membuncit. Berdoa dalam hati agar Allah menjaga dan membimbingnya dalam mendidik keturunannya nanti.


"Abi, Aisyah rindu loh sama nasihat Abi, Umi juga." Kepalanya mendongak menatap sang ayah.


"Mau dinasihati apa, Nak?"


"Enggak tau, terserah Abi. Aisyah terima-terima aja," ujarnya sambil tersenyum.


"Dengarkan Abi ya. Aisyah dan Uwais telah menjadi orang tua, meskipun anak ini belum terlahir. Tugas kalian bukan cuma mendidiknya saat sudah lahir atau saat udah pandai berbicara, tapi mulai dari sekarang. Kalian harus rajin belajar. Aisy enggak boleh minta yang aneh-aneh sama suami dengan alasan karena permintaan cucu Abi.


Minta sama Allah untuk menjaga kalian dari hal-hal yang tidak baik, Nak. Minta sama Allah dijaga nafsunya agar tidak minta yang aneh-aneh, hanya boleh hal yang baik-baik aja. Ibadahnya ditingkatkan, belajarnya dikecangin, sedekahnya lebih banyak lagi. Pokoknya, selalu tingkatkan hal baik setiao harinya, begitulah cara kalian mendidiknya sejak dalam kandungan."


Aisyah terdiam menyimak, nasihat abinya selalu menyejukkan. Sesekali dia mengangguk sambil terus mengelus perutnya, menyalurkan rasa sayang kepada calon buah hati.


"Abi. Tadi ada karyawan kafe yang ke sini, dia bilang uang untuk gaji karyawan sama donasi dibawa kabur sama salah satu karyawan dan belum ketemu. Aisy boleh enggak langsung pakai uang tabungan Aisyah untuk gaji mereka?"


"Jangan dulu, Nak. Minta izin sama Uwais. Seorang istri enggak boleh mendahului suaminya, meskipun untuk hal baik. Tetap harus dengan izin suami," jelas Abinya.


"Tapi Bang Uwais bel—"


Perempuan itu segera bangkit tanpa menyelesaikan kalimatnya, melupakan di dalam perutnya ada buah hati yang harus dijaga dengan hati-hati. Tapi mendengar nasyid yang mengalun dari ponselnya yang di kamar, membuat perempuan itu sangat bersemangat. Dia hafal, yang menelepon adalah suaminya yang dari tadi dia rindukan.


Kedua orang tuanya hanya bisa menggelengkan kepala, melihat semangat yang muncul dari putri mereka yang sedari tadi merajuk karena tidak ditelepon suami.


"Abang!" teriak Aisyah saat layar ponsel menampilkan suaminya yang tersenyum.


"Salam dulu, Adek."


"Hehe, maaf. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Abang." 


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, istri salihahnya Abang." Uwais tak melepaskan senyumnya, melihat wajah sang istri yang berseri-seri.


"Kenapa, hmm?"


"Kok Abang baru telepon?"


"Maaf, sayang. Tadi lagi pembukaan," jawab Uwais.


"Kangen ya sama Abang?" goda Uwais.


"Enggak. Aisy rindu aja sama Abang," rajuk Aisyah.


Uwais lagi-lagi tersenyum melihat wajah istrinya yang tiba-tiba cemberut. 


Bab 23 || Kafe

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48
Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 23

Jumlah kata 933

Sarkat jadi buku

"Abang, Aisy mau bilang sesuatu. Tapi Abang percaya kan kalau Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya?" tanya Aisyah yang membuat Uwais kebingungan.

"Insyaallah percaya, memangnya ada apa Adek?" tanya Uwais dari seberang sana.

"Abang, qadarullah ada sesuatu yang terjadi di kafe. Mungkin Allah ingin Abang naikin gaji karyawan dan banyakin lagi sedekahnya."

Uwais mengernyitkan dahinya, tapi kemudian mengerti bahwa ada sesuatu yang tidak inginkan terjadi di kafe yang baru ditinggalnya sehari.

"Gimana kalau kita naikin gaji karyawannya, Abang?"

"Adek, memang ada masalah apa?"

"Uang gaji dan sedekahnya mungkin kurang, Abang. Jadi dibawa pergi sama salah satu karyawan. Allah baik kan Abang? Kasih teguran ke kita biar lebih memperhatikan kesejahteraan karyawan?"

Uwais kemudian tersenyum, mengerti kemana arah pembicaraan istrinya itu. Pria itu menggumamkan syukur, tatkala Aisyah begitu pandai memilih kalimat yang menenangkannya dalam menyampaikan masalah yang terjadi. Mungkin, kalau laporan ini langsung disampaikan kepadanya, saat itu juga dia akan langsung pulang dalam keadaan panik.

"Alhamdulillah," ujar Uwais sambil tersenyum.

"Gimana menurut Adek solusinya? Abang pulang atau tetap belajar dulu di sini?" lanjut pria itu.

"Abang fokus belajar aja dulu. Untuk ini, Adek boleh pakai uang yang ada di tabungan Adek dulu, Abang? Kasian juga karyawan kalau gajinya belum dibayarkan."

"Nanti Abang minta waktu aja sama mereka untuk bayar gaji, lagian tabungan yang ada kan untuk persiapan melahirkan. Nanti kalau udah waktunya gak ada uang gimana, Sayang?"

"Abang, gak boleh khawatir soal rezeki. Besok pun waktunya dan hari ini belum ada uang, insyaallah selalu ada rezeki kok Abang. Yang penting kita usaha." Senyum terbit di bibir Uwais mendengarkan jawaban Aisyah.

"Ya udah, uang di tabungan Adek untuk yang lain aja, kalau mau donasi boleh. Untuk gaji karyawan pakai ATM Abang yang ada di laci meja kerja, sandinya tanggal pernikahan kita. Kalau Adek mau nambah gaji karyawan, Abang kasih kebebasan. Abang percaya kalau Adek akan melakukan yang terbaik," putus Uwais.

Wanita itu tersenyum, mendengarkan keputusan sang suami. Setelahnya, mereka berbincang-bincang, melepas rindu walaupun belum genap dua puluh empat jam tidak bertemu.

***
Pagi setelah salat duha, Aisyah ditemani oleh abi dan umi bertolak ke kafe yang tidak begitu jauh dari rumah mereka. Ini adalah kali pertama Aisyah ke sana, biasanya dia lebih memilih berdiam di rumah atau ke majelis taklim muslimah saat Uwais ke kafe. Tapi, hari ini mau tidak mau, dia harus berkunjung untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. 

Sampai di depan kafe, Aisyah melihat ada beberapa tulisan di samping pintu yang berisi aturan pada kafe ini. Salah satunya, tidak boleh laki-laki dan perempuan yang bukan mahram masuk ke kafe ini dan duduk berdua. Ada pula area khusus perempuan, laki-laki, keluarga dan juga umum yang bisa dimasuki oleh anak kuliahan yang ingin berdiskusi dengan tetap memperhatikan adab interaksi dengan lawan jenis.

Dengan langkah santai, Aisyah masuk dengan senyum yang tak lepas di balik cadarnya. Dia memilih duduk bersama abi dan umi layaknya pelanggan biasa di area keluarga, karena memang tidak ada yang tahu dia adalah istri Uwais.

Aisyah mengamati interior kafe yang sangat nyaman. Matanya menangkap ada empat area dengan konsep berbeda, tertera pula keterangan untuk siapa area itu. Matanya menyipit, suaminya itu sangat pandai dalam mendesain kafe yang mengusung konsep syariah. Di dekat tangga terlihat petunjuk untuk ruangan yang ada di lantai dua, ada meeting room, private room khusus keluarga, dan mushalla untuk perempuan.

"Masyaalllah, pinter banget Uwais pilih konsep. Kafenya juga luas banget, alhamdulillah," ujar abi sambil memperhatikan sekeliling.

Kedua wanita berbeda generasi itu mengangguk, setuju dengan apa yang dikatakan oleh abi. Kemudian antensi mereka beralih, saat seorang pelayan datang utnuk mencatat pesanan.

"Loh, kak Aisyah?"

"Iya," ujar Aisyah.

"Maaf, kalau mau ke atas mari saya antar Pak, Bu. Di sana ada ruangan yang disiapkan Bang Uwais untuk keluarga," jelas laki-laki yang kemarin menemui Aisyah di rumah.

"Nanti aja, kita mau di sini aja dulu. Terima kasih ya, Bang," ujar abi sambil tersenyum penuh wibawa.

Aisyah memperhatikan, untuk area keluarga dan laki-laki, yang mengantarkan atau mencatat makanan seluruhnya adalah laki-laki, sementara di area perempuan pelayannya adalah perempuan dan terlihat mereka membawa makanan dari pintu dapur yang berbeda. Aisyah ingat, suaminya sempat bercerita jika kafe ini memiliki dua dapur untuk meminimalisir interaksi antara karyawan laki-laki dan perempuan.

Tidak hanya konsepnya, kafe ini juga menyediakan berbagai makana?n dan minuman yang aman untuk penderita diabetes dan juga kolesterol, maka tak heran pula banyak orang-orang dewasa yang rambutnya mulai memutih lebih memilih berkumpul di kafe ini.

Setelah memesan makanan, Aisyah dan kedua orang tuanya berbincang sejenak, baru lah setelah itu mereka meminta untuk diantarkan ke atas.

"Silakan Pak, Bu. Ini ruangan Bang Uwais dan di belakang ini ada ruangan lagi, khusus untuk keluarga atau sahabat beliau," ujar karyawan laki-laki yang merupakan orang kepercayaan Uwais itu.

"Di sini saja dulu, ada yang mau saya bicarakan," pinta Aisyah.

Aisyah menjelaskan dengan tegas terkait masalah yang terjadi. Dia juga mengatakan bahwa akan menaikkan gaji karyawan dua puluh persen dari gaji sebelumnya dan menambah persentase penghasilan kafe untuk didonasikan.

Setelah selesai, perempuan itu menyerahkan amplop berisi uang untuk gaji karyawan bulan ini. Dengan raut bahagia, laki-laki yang ia ketahui bernama Fahmi itu pamit.

"Masyaalllah, bangga Abi sama kalian berdua." Tangan kokoh itu menepuk pelan puncak kepala Aisyah yang tengah bersender di pundanya. 

"Alhamdulillah, Abi."

"Umi juga bangga sama kalian. Alhamdulillah kita gak salah menerima Uwais sebagai pendamping putri kesayangan Abi dan Umi ini." Wanita paruh baya yang Aisyah panggil umi itu pun tersenyum bangga, menghiasi wajahnya yang mulai keriput.

Tentu sangat melegakan bagi orang tua ketika putri mereka mendapatkan pasangan yang tepat. Seorang laki-laki yang tidak hanya mencukupi segala keperluan istrinya, tapi juga membimbingnya menjadi lebih baik dan juga mencukupi apa yang menjadi kebutuhan nuraninya, seperti ilmu dan keimanan yang bertambah.

Bab 24 || Siapa Dia?

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 24

Jumlah kata 1003

Sarkat jadi buku


Matanya memerah dengan kristal bening yang membasahi pelupuk. Tubuhnya melemas, perutnya serasa diaduk, membuat sesuatu mendesak untuk keluar dari lambung. Tapi tidak ada, hanya sebatas perasaan ingin mengeluarkan sesuatu.


Makanan yang telah disiapkan umi sebelum kedua orang tuanya itu kembali ke kampung lantaran ada kewajiban, tak kunjung ia sentuh. Rasa lelah mendominasi saat berkali-kali harus bolak-balik ke wastafel. Kepalanya ia tempelkan ke meja makan, berharap sedikit membaik. Dalam lelahnya ia menarik sudut bibir, mengelus permukaan perut yang tertutup gamis itu dengan sayang.


"Sebentar lagi Aba insyaallah sampai, Nak. Dedek udah enggak sabar mau ketemu Aba ya?" ujarnya kepada janin yang belum ditiupkan ruh itu.


Aisyah mengecek ponselnya, tapi tak ada satu pun pesan dari Uwais. Dia khawatir, tapi tak bisa menelepon karena nomor yang dituju tidak aktif sejak semalam. Harusnya, Uwais sudah sampai di rumah, sebab laki-laki itu bilang akan naik pesawat untuk pulang agar sampai lebih cepat.


Dirasa perutnya sudah nyaman, Aisyah beranjak ke tamu setelah sebelumnya mengambil sebuah buku dari rak. Ia tak ingin waktunya terbuang sia-sia karena pikiran negatif yang terus-terusan mencuat ke permukaan. Ia menjatuhkan tubuhnya dengan hati-hati ke sofa yang ada di ruang tamu. Setelahnya, perempuan itu tenggelam dalam bacaannya, sebuah buku yang berisi tentang karakter-karakter istri salehah. Saking nyamannya, matanya malah terpejam dan buku itu terjatuh ke pelukannya.


Aisyah tak menyadari bahwa ada mobil yang berhenti di depan rumah. Terlihat pula seorang pria turun dengan menenteng ransel dari mobil yang merupakan taksi online itu. Tapi bukannya langsung mengetuk pintu rumah setelah meletakkan barang di depan pintu, pria bergaris wajah tegas itu kembali ke mobil. Seorang perempuan berpakaian sedikit terbuka terlihat menapaki kaki, keluar dari mobil tersebut yang langsung dirangkul dengan erat oleh sang pria


"Terima kasih, Pak," ujar pemilik jambang tipis itu sebelum menutup pintu mobil.


Pria itu adalah Uwais, suami yang selalu dipercaya oleh Aisyah. Tapi entah bagaimana reaksi perempuan itu jika terbangun dan mendapati sang suami memapah perempuan lain yang jelas bukan mahramnya. Uwais sudah menyiapkan mental dan mencari-cari jawaban yang tepat atas setiap kemungkinan yang akan ditanyakan oleh Aisyah. Dia akan menerima jika Aisyah marah padanya, tapi dia tak punya pilihan lain selain membawa perempuan itu ke rumah mereka. Sifatnya sebelum hijrah dulu kembali lagi.


Ragu, ia mengetuk pintu, mengucapkan salam kepada wanita terkasih yang tengah mengandung anaknya. Tapi setelah beberapa kali, tak kunjung ada jawaban. Uwais menaikan sedikit taraf intensitas suaranya, berharap perempuan itu mendengar. Lagi-lagi, ia terabaikan. Rasa lelah dan pikiran yang sedang kacau membuat rasa kesal mulai tumbuh di hatinya, ditambah lagi harus menopang tubuh perempuan yang ia tau salah jika bersentuhan.


"Emang ada siapa di dalam, Uwais?" tanya perempuan yang dirangkulnya itu.


Uwais tak menjawab, ia mengambil ponsel miliknya, menghidupkan kembali setelah semalaman ia matikan dengan maksud memberikan kejutan kepada sang istri saat sudah berada di rumah. Jarinya mencari nomor sang istri, kemudian menghubunginya. Terdengar suara ponsel itu berada di ruang tamu, beberapa kali barulah ia mendapatkan jawaban.


"Assalamualaikum, Abang." Suara serak Aisyah terdengar. 


Rasa kesal yang sempat mendominasi, langsung berganti dengan rasa damai saat mendengar suara yang amat dirindukannya itu. Matanya tajamnya menyipit, kemudian berkata, "wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Abang di depan, Adek. Buka pintunya."


Aisyah tak menjawab, tapi Uwais mendengar suara benda jatuh dari ruang tamu, disusul suara kunci yang diputar.


"Assalamualaikum, Adek," ujar Uwais ceria.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aisyah dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Tubuh wanita yang tengah hamil muda itu mematung, matanya yang tengah berkaca-kaca menyorot tak percaya pada apa yang dilihatnya. Seorang perempuan cantik berada dalam rangkulan suami yang amat dirindukannya.


"Adek?" panggil Uwais, menyadarkan Aisyah dari keterkejutannya.


Aisyah tak menjawab, tanpa memperdulikan tubuhnya yang masih lemas, ia mengambil alih perempuan yang terlihat sedikit acak-acakan dengan lutut dan siku terluka dari rangkulan suaminya. Dalam diam, ia memapah perempuan itu perlahan ke sofa ruang tamu.


"Adek, biar Abang aja." Uwais berujar khawatir.


"Adek enggak mau Abang melakukan dosa di depan mata Adek," ujar Aisyah yang membuat Uwais terdiam, tak mampu membantah. Benar adanya apa yang dikatakan Aisyah.


Setelah membawa perempuan yang terlihat kebingungan itu ke sofa, Aisyah mengambil ransel Uwais yang masih ada di depan pintu, berniat membawanya ke kamar.


"Adeknya Uwais ya?" tanya perempuan yang dibawa Uwais itu.


"Mbak, tunggu sebentar ya. Saya ambil obat dulu," ujar Aisyah mengabaikan pertanyaan yang membuat sesak di dadanya semakin bertambah.


"Abang, mau makan atau mandi dulu? Makanan yang dimasak Umi sebelum berangkat tadi masih ada, biar Adek panaskan, kalau mau mandi Adek siapkan pakaian," tanya Aisyah menghadap ke Uwais dengan senyum yang tak sampai ke matanya.


Pertanyaan itu membuat rasa bersalah semakin dalam di hati Uwais. Terlebih, saat melihat senyum kecil di wajah Aisyah yang terlihat dipaksakan. Tapi, tak urung Uwais menjawab, "mandi aja dulu, Adek."


Aisyah mengangguk kemudian segera beranjak ke kamar mereka yang diikuti oleh Uwais. Tanpa bicara, Aisyah menyiapkan segala keperluan suaminya. Sesekali, jari lentiknya menghapus air mata yang tak tertampung lagi oleh pelupuk.


"Adek marah?" tanya Uwais hati-hati.


Aisyah menggeleng, tapi kristal bening semakin deras mengalir tatkala Uwais mengusapnya.


"Sayang, maafkan Abang. Abang enggak bermaksud menyakiti Adek," ujar Uwais dengan suara yang sedikit tertahan.


"Kenapa Abang?"


"Kalau dia memang kecelakaan, harusnya Abang bawa ke rumah sakit, bukan ke rumah kita. Apa Abang kenal sama dia? Adek enggak boleh salah paham kan, Abang?" lanjut Aisyah.


"Dia... ," Uwais menjeda ucapannya.


"Siapa dia, Abang? Sepertinya Abang kenal ya?"


"Iya," jawab Uwais yang membuat Aisyah melepaskan tangan Uwais yang memeluk pinggangnya.


Aisyah tersenyum dalam tangisnya, menatap mata yang selalu menjadi favoritnya itu. Mencari kebohongan, berharap apa yang didengarnya tidaklah benar. Tapi ia tak menemukannya. Dengan cepat, Aisyah berlalu dari hadapan Uwais, mengambil kotak P3K yang ada di rak dekat meja kerja Uwais.


"Adek keluar dulu, Abang. Kasian kalau lukanya enggak segera dibersihkan, nanti infeksi," izin Aisyah, kemudian keluar dari kamar tanpa mendengarkan jawaban Uwais terlebih dahulu.


Bukannya langsung ke ruang tamu, Aisyah memilih untuk ke kamar mandi yang ada di dekat dapur terlebih dahulu. Wanita berbadan dua itu berwudhu, menenangkan pikiran agar tidak mengucapkan kata-kata yang tidak baik karena cemburu yang bercokol di hatinya.


Tapi, pertanyaan mengenai siapa perempuan itu, tak kunjung pergi dari benaknya.


Bab 25 || Kenyataannya

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 25

Jumlah kata 1149

Sarkat jadi buku


Telaten, Aisyah membersihkan luka yang tidak begitu besar itu dengan kapas yang diberikan alcohol. Sesekali terdengar ringisan dari perempuan yang mencuri-curi pandang kepadanya itu. Setelah bersih, Aisyah menutup goresan-goresan akibat aspal itu dengan kain kasa yang telah diberi obat, lalu merekatkannya dengan plester.


"Terima kasih," ujar perempuan itu.


Aisyah mengangguk kemudian tersenyum sekilas. Saat akan beranjak, tangannya dicekal.


"Udah, sini aja dulu sama kakak," ujar pemilik surai hitam yang belum Aisyah ketahui namanya itu.


Aisyah memilih untuk mengikuti, walaupun ia tetap bungkam. Cemburunya belum hilang melihat Uwais membawa perempuan lain ke rumahnya, terlebih Uwais mengenalnya. Walaupun, perempuan itu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Kenalin, aku Zulfa. Calon istri Uwais," tangan lembut itu mengambil tangan Aisyah.


Bagai ada beban berat yang menimpa, dadanya terasa sesak. Aisyah semakin terdiam, tak tau harus mengatakan apa. Benarkah perempuan ini adalah calon istri Uwais?


"Maaf ya, Uwais bawa Kakak ke sini, dia tau kalau Kakak enggak bisa ke rumah sakit ataupun klinik, ada trauma," jelasnya lagi.


Aisyah tertunduk, menarik nafas dalam untuk mengademkan hati yang tiba-tiba panas. "Maaf, Kak. Saya istrinya beliau. Menjaga nama baik beliau dan menghindarkan beliau dari dosa adalah tanggung jawab saya. Lagi pula, saya percaya beliau enggak akan menyakiti saya. Kalau pun beliau mau poligami, insyaallah beliau akan bilang langsung kepada saya, bukan dengan membawa perempuan seperti sekarang," tegas Aisyah.


"Oooh, istrinya? Kalau gitu, aku calon istri keduanya," ujar Zulfa memanasi Aisyah.


Aisyah bangkit dari sofa, memilih untuk ke taman belakang. Tapi sebelum itu, dia berujar, "Bang Uwais enggak akan nikah kalau saya enggak setuju, Kak. Semoga Kakak mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari beliau."


Kristal bening mengalir deras, membasahi pipinya yang chubby. Aisyah membekap mulutnya dengan tangan yang menganggur, setelah meletakkan kotak P3K di ruang keluarga, ia buru-buru ke belakang, khawatir Uwais melihatnya.


"Kenapa?" tanyanya dengan air mata yang semakin deras, entah kepada siapa.

Sebelah tangannya mengelus perut yang terasa sedikit keram, sementara tangan yang satunya ia gunakan sebagai bantalan antara dahi dan meja. Isak tangisnya terdengar pilu, lisannya menggumamkan zikir, khawatir setan menguasai hatinya.


Lelah menangis dan menunggu Uwais yang tak kunjung selesai, membuat Aisyah tertidur dengan pipi yang masih basah. Jilbab instan yang dikenakannya sedikit acak-acakan.


***


"Adek?" panggil Uwais saat keluar dari kamar selesai mandi.


Namun, ia tak mendengarkan sang istri menjawab. Segera ia langkahkan kaki ke ruang tamu, tapi hanya ada Zulfa yang tengah terkikik tak jelas menghadap ke ponsel di genggamannya. Uwais menggeleng, heran dengan perempuan yang sejak kecil ia kenal itu.


"Zul, Aisyah kemana?" tanya Uwais mengalihkan perhatian Zulfa.


"Enak aja manggil Zul, dikira aku cowok?" protes Zulfa.


"Lah kan nama kamu Zulfa, kenapa harus protes? Aisyah di mana? Pasti kamu ngomong yang aneh-aneh ya sama istriku?"


"Apaan sih? Su'uzhon mulu. Aku tuh baik tau!"


"Ya gimana enggak curiga, orang tadi aja kamu tanya Aisyah adik aku atau bukan, padahal kamu tau dia istriku. Ngaku enggak?" Uwais berkacak pinggang di depan Zulfa, dibatasi oleh meja.


"Noh, di belakang. Nangis kayaknya," jawab Zulfa cuek, lalu kembali pada gawainya.


Uwais berdecak, ia yakin sekali jika Zulfa berkata yang aneh-aneh kepada Aisyah. Mengingat, perempuan itu yang super usil dan hobinya membuat orang lain menangis.


Tak ingin memperpanjang, Uwais segera ke taman belakang dengan sebuah kotak kecil di genggamannya. Dari pintu, ia melihat wanita yang sangat ia rindukan itu tengah menelungkupkan kepala di atas meja, sedikit memiringkan kepala. Uwais mendekat, sudut bibirnya tak henti tertarik ke atas. Ia ingin meluapkan segala kerinduannya, tapi ia urung untuk memeluk, karena melihat Aisyah yang tertidur.


Uwais membetulkan kerudung Aisyah yang sedikit berantakan, mengelus lembut kepala yang berisi banyak ilmu itu, kemudian mengusap sisa air mata yang masih menempel di sudut mata wanitanya. "Sayang, bangun yuk?" ujar Uwais, lalu mengecup lembut dahi Aisyah, membuat perempuan itu menggeliat.


Mata indah Aisyah terbuka perlahan, menyesuaikan dengan cahaya. Wajah tampan yang dirindukannya beberapa hari ini menjadi pemandangan pertama saat pupilnya sempurna terbuka. "Abang?" ujarnya.


"Iya, Sayang. Kenapa tidur di sini, hmm?" Uwais duduk di samping Aisyah.


"Abang enggak temenin kak Zulfa?"


Uwais tersenyum, tidak menjawab. Tangan kanannya meletakkan sebuah kotak kecil di depan Aisyah, kemudian berkata, "Barakallah fii umrik, Humaira." 


"Loh, Adek ulang tahun ya, Abang?" Uwais mengacak gemas kerudung Aisyah.


"Iya, Adek. Doanya enggak usah disebut ya? insyaallah setiap hari Abang doakan Adek dan keluarga kita," ujar Uwais dengan mata yang menyipit.


"Jazakallah khair, Habibi." Aisyah mencium punggung tangan yang selalu memberikannya rasa aman itu.


"Waiyyaki, Humaira. Kok bisa lupa sama hari kelahiran sendiri?" 


"Adek terlalu fokus mikirin Abang, makanya lupa," adu Aisyah.


"Maafkan Abang, Habibati. Abang sama sekali enggak bermaksud menyakiti Adek. Kemarin emang sengaja matikan hp, mau kasih surprise ke Adek. Tapi malah ketemu Zulfa dijalan, keserempet motor waktu mau nyebrang," jelas Uwais penuh penyesalan.


"Adek percaya, Abang. Boleh Adek tau dia siapa?"


Belum sempat Uwais menjawab, suara perempuan yang mereka bicarakan telah memenuhi indra pendengaran. "Aku calon istrinya, masa masih nanya juga. Ya kan, Sayang?" Zulfa berdiri di depan mereka, mengedipkan matanya dengan genit ke arah Uwais yang membuat laki-laki itu bergidik.


"Jangan dengerin perempuan aneh ini, Sayang. Abang memang kenal sama dia, sejak kecil ma—"


"Tuh, dengerin, Syah. Kita udah kenal sebelum kamu kenal dia. Jadi enggak ada salahnya kan kalau aku jadi istri kedua Uwais?"


Aisyah terdiam, tapi matanya mengamati ekspresi Uwais yang bergidik mendengar penuturan Zulfa.  Dia percaya, ada sesuatu yang tidak diketahuinya tentang hubungan mereka. "Bener begitu, Abang?" tanya Aisyah.


"Kita sepupuan, Sayang."


"Sepupu kan bisa nikah," celetuk Zulfa memanas-manasi pasangan suami istri itu.


Mendengarkan itu, mata Uwais melotot ke arah Zulfa, seolah meminta perempuan itu untuk diam. "Bohong, Sayang. Dia itu udah punya suami. Lagi pula, kamu udah sangat lebih dari cukup untuk Abang. Apalagi ada calon buah hati kita di sini," jelas Uwais cepat sebelum Zulfa kembali memotong.


"Ah, enggak asik. Pake segala dibilang udah punya suami. Aku kan mau lihat kalian ribut." Zulfa berdecak kemudian meninggalkan Aisyah dan Uwais.


Aisyah membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang Uwais katakan. Zulfa sama sekali tak terlihat seperti perempuan yang sudah bersuami karena wajah baby face yang dimilikinya.


"Maafkan Abang, ya? Abang tau salah, karena udah berani nyentuh yang bukan mahram Abang. Tapi Zulfa punya trauma yang lebih parah daripada kamu terhadap segala yang berbau fasilitas kesehatan, Sayang. Makanya Abang bawa ke sini, karena lukanya enggak terlalu parah."


"Abang rindu banget sama Adek." Uwais memeluk erat tubuh yang menjadi candunya itu.


"Kita juga kangen sama Aba. Maafkan Adek yang udah salah sangka." Aisyah menengadahkan kepalanya di dada bidang Uwais, menatap wajah teduh itu.


"Enggak apa-apa, Sayang. Anak Aba gimana kabarnya?" Tangan lebarnya menyentuh lembut perut Aisyah.


Aisyah tersenyum, melupakan tangis yang membuatnya sesak tadi. Bersyukur, ia tak sempat marah atau pun mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakiti. Benar lah kata Uwais, bahwa apa pun yang mengganggu di hati, harus lah ditegaskan dengan pertanyaan dan obrolan yang sejuk. Sebab, kesalahpahaman terjadi tidak lain adalah karena terlalu tenggelam dalam ego masing-masing, istri yang terlalu percaya pada prasangkanya dan suami yang gengsi untuk menjelaskan atau meminta maaf tanpa diminta.


Bab 26 || Kekhawatiran

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48

Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 26

Jumlah kata 859

Sarkat jadi buku


Lantunan surah Ali-Imran terdengar menggema dalam kamar yang tidak begitu luas. Aisyah membaringkan kepalanya di atas paha Uwais, sementara pria itu terus mengelus perut Aisyah, menyalurkan kasih sayang kepada anak mereka yang sudah sudah bernyawa. Tadi siang, keduanya cek kandungan Aisyah ke dokter, syukurnya perkembangan bayi mereka normal.


Di usia kehamilan yang menginjak lima bulan ini, Aisyah mengalami sesak nafas, tak bisa beraktivitas yang agak berat, pekerjaan dapur misalnya. Uwais dengan telaten menjaga Aisyah, mengambil alih pekerjaan dapur, melayani perempuan itu layaknya ratu. Tapi, tak jarang Aisyah menangis karena merasa bersalah tak bisa melayani segala keperluan Uwais seperti dulu.


"Abang, kapan sidang? Perasaan skripsi Abang udah lama selesai," tanya Aisyah setelah Uwais menutup Al-Qur'an.


"Insyaallah lusa, Adek. Maaf, Abang lupa kasih tau Adek." Uwais mencubit pipi Aisyah yang semakin tembem.


"Ih Abang, kok dicubit sih?" protes Aisyah.


"Maaf, Sayang. Habisnya ini pipi makin gembul, makin gemesin."


"Jadi Adek makin gendut, gitu maksudnya?" Aisyah semakin menggembungkan pipinya, merajuk.


"Bukan Adek, jadi makin cantik," goda Uwais membuat semburat merah semakin nyata di pipi Aisyah.


"Abang, nanti kalau anaknya lahir, Abang maunya anak kita laki-laki atau perempuan?"


"Apa yang Allah percayakan kepada kita, insyaallah Abang terima, Adek."


"Beneran?" Aisyah mengamati wajah Uwais dari bawah, terlihat semakin tampan.


"Insyaallah, Adek."


"Abang, gimana kalau misalnya anak kita enggak selamat sampai lahir nanti?"


"Hei, Adek ngomong apa?" Uwais menatap Aisyah heran.


"Enggak tau, Abang. Adek ngerasa aneh aja beberapa hari ini, takut terjadi hal yang gak diinginkan," adu Aisyah.


Aisyah beberapa hari ini sering bermimpi yang baginya terlihat seperti nyata. Dalam mimpi itu, seorang anak kecil datang kepadanya, namun wajah mungil itu tertutup oleh cahaya. Setiap datang, ia selalu berkata, "Umi, Fatimah tunggu Umi dan Abi di sini ya." Setelah itu, ia terbangun dengan perasaan gelisah. Tapi Aisyah tidak menceritakannya kepada Uwais. Khawatir menambah pikiran suaminya yang sudah banyak beban pikiran itu.


"Adek tenang. Insyaallah, Allah akan kasih yang terbaik buat kita. Yang paling penting, apapun yang Allah takdirkan untuk kita, harus diterima dengan keridhaan." Pria berpeci hitam itu memeluk sang istri dengan sayang.


"Insyaallah, Abang."


"Abang, Adek pengen deh uang yang ada di tabungan Adek didonasikan aja," ujar Aisyah setelah beberapa saat mereka dilanda hening.

Perempuan itu selalu terpikir uangnya yang ada di tabungan hanya menganggur. Ia teringat akan Sayyidah Khadijah yang seluruh harta kekayaannya digunakan untuk kepentingan dakwah Islam dan Rasulullah. Bahkan disebutkan dalam sirah, bahwa dua pertiga kekayaan kota Mekah adalah milik Sayyidah Khadijah.


Tidak ada sisa kekayaannya yang bertumpuk, semuanya ia serahkan kepada Rasulullah. Hingga saat beliau wafat, Rasulullah pun bersedih karena tidak ada kain yang tersisa sebagai kafan yang akan menutupi jasad istri tercinta. Tapi, Allah mendatangkan Malaikat Jibril, membawakan lima kain kafan, salah satunya untuk perempuan mulia itu.


Teringat pula ia akan perkataan wanita yang kemuliaannya diserahkan kepada Allah dan Rasulullah itu, tak cukup seluruh harta dan kemuliaan yang ia serahkan. Sehingga dari lisannya yang mulia keluar lah sebuah pesan, jika nanti setelah ia wafat, dan perjuangan sang suami tercinta belum usai, sekiranya hendak menyebrang dan tidak menemukan jembatan atau pun rakit, maka gali lah kuburnya, ambil lah tulang belulangnya untuk dijadikan sebagai jembatan.


Sungguh, tiada perjuangan seorang istri yang lebih dahsyat dan indah daripada perjuangan Sayyidah Khadijah untuk Rasulullah dan Islam. Adakah perempuan di zaman ini yang mampu berkata demikian kepada suaminya?


Aisyah tergugu, mengingat nama seorang istri Rasulullah yang mulia pun melekat dalam namanya, namun tak mampu mengikuti estafet perjuangan mereka. 


"Sayang, kenapa nangis?" Uwais mengusap air mata yang menganak sungai di wajah istrinya.


Aisyah tersenyum, sangat manis. Matanya menerawang ke langit-langit kamar, kemudian berkata, "Abang, Adek ingin mengikuti jejak Sayyidah Khadijah. Rasanya, sia-sia Adek menyimpan uang Adek di tabungan karena khawatir nanti ada keperluan mendesak kita sedang tidak ada uang. Padahal, rezeki Allah selalu mengalir untuk hamba-hamba-Nya. Adek ingin uang itu bisa bermanfaat di jalan Allah."


"Jadi, Adek maunya gimana?"


"Adek ingin mendirikan rumah quran gratis untuk siapa pun yang serius belajar Al-Qur'an, Abang. Insyaallah, tabungan itu cukup untuk sewa tempat, infaq untuk guru beberapa bulan. Selanjutnya, kita usahakan sama-sama. Dari kafe kan juga ada, jadi insyaallah selalu ada rezeki. Adek pikir, ini adalah salah satu cara kita untuk meneruskan estafet perjuangan Islam.


"Karena, di zaman yang serba canggih ini, banyak anak-anak, remaja atau pun orang dewasa yang lebih sibuk dengan gadget daripada belajar Al-Qur'an. Ada yang beralasan enggak ada uang, tapi untuk dunia selalu ada. Nanti, kita bikin semenarik mungkin, biar mereka betah untuk belajar, lalu perlahan gadget hanya sebatas keperluan saja, bukan lagi hiburan bagi mereka. Termasuk bagi kita," jelas Aisyah panjang lebar.


Uwais dengan serius menyimak, retinanya menyiratkan kekaguman. Pemikiran Aisyah terkadang tak dapat ditebaknya.


"Masyaalllah, Abang setuju, Sayang. Nanti kita minta bantuan Abi juga untuk mencari guru-guru yang berkompeten dan memiliki sanad keilmuan yang teruji. Insyaallah, nanti dari penghasilan kafe Abang tambahkan lagi persentase untuk donasi." Uwais menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening Aisyah, lalu mengecupnya lembut.


Uwais benar-benar bersyukur, memiliki istri yang tidak mencintai harta dunia seperti Aisyah. Setengah tahun menikah, bahkan tak pernah sekali pun Aisyah meminta dibelikan barang. Termasuk kebutuhan dapur, apa yang Uwais belikan itu lah yang ia masak. Benar-benar figur wanita qana'ah yang didambakannya. Tapi, karena itu pula Uwais selalu ingin memberikan hadiah untuk istri salehahnya itu.


Bab 27 || Sidang

0 0

Sarapan kata KMO Batch 48
Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 27

Jumlah kata 775

Sarkat jadi buku

Pagi sekali, sepasang suami istri yang tengah menanti kehadiran calon buah hati itu terlihat berjalan santai, menelusuri jalan kompleks. Seperti biasa, aktivitas itu selalu ditemani oleh celotehan Aisyah yang bercerita banyak hal dan Uwais yang selalu setia mendengarkan, sesekali menjawab.

"Abang, nanti Adek ikut ke kampus, boleh?" tanya Aisyah.

"Boleh, tapi Abang perginya agak cepat. Adek enggak apa-apa nanti nunggu sendirian sembari Abang menyiapkan berkas sidangnya?"

"Enggak apa-apa, Abang. Adek rindu suasana kampus," ujar Aisyah sendu.

Sudut bibir Uwais tertarik ke atas, menampakkan lesung pipi dan membuat matanya menyipit. Pemilik mata tajam itu menatap lembut pada Aisyah. Dia paham jika Aisyah pasti merindukan kampus, terlebih perpustakaan yang menjadi tempat istirahat perempuan itu di sela-sela kepadatan jadwal kuliah.

"Maafkan Abang enggak pernah ajak adek jalan-jalan ke kampus ya, Sayang." Uwais mengelus puncak kepala Aisyah pelan.

"Iya, Abang. Lagian, Adek kan di rumah juga banyak kegiatan, sering ikut kelas juga. Jadi enggak masalah."

"Insyaallah setelah Abang sidang, kita ke perpustakaan. Adek rindu, kan?"

"Rindu banget. Apalagi banyak buku-buku yang belum sempat Adek baca di sana," rajuk Aisyah.

Tak terasa karena keasikan ngobrol, mereka telah sampai di depan tempat mereka bernaung dari panas dan hujan. Aisyah dan Uwais segera masuk.

Uwais memilih untuk membersihkan badan terlebih dahulu, sementara Aisyah menyiapkan sarapan untuk mereka. Hanya sarapan sederhana berupa segelas green smoothies dengan tambahan protein powder dan roti gandum yang diolesi selai kacang buatannya. Sebisa mungkin, mereka tidak makan karbohidrat simpleks di pagi hari dan makan yang tidak terlalu berat, agar tetap semangat menjalani hari tanpa rasa kantuk yang menyerang.

Setelah menyiapkan sarapan, Aisyah menyusul Uwais ke kamar, menyiapkan pakaian untuk Uwais. Tangannya membuka lemari, mengambil celana dasar berwarna hitam, kemeja putih, serta almamater biru yang menjadi kebanggaan. Perempuan itu tersenyum, menatap sendu pada almamater di tangannya. Dia memang rindu pada kampus, tapi sama sekali tidak ada penyesalan dalam hatinya karena memilih untuk cuti.

Usai meletakkan pakaian di atas kasur, Aisyah beranjak ke meja kerja Uwais. Memasukkan berkas dan juga skripsi cetak yang sudah Uwais siapkan di atas meja ke dalam ransel berwarna hitam. Senyum tak luntur dari wajahnya, ia yakin Uwais akan lulus dengan nilai yang memuaskan dan ilmu yang melekat dalam hati.

"Abang, pakaiannya udah Adek siapkan," ujar Aisyah melihat prianya keluar dari kamar mandi.

"Jazakillah khair, Zaujati. Adek enggak mandi?" 

"Fajazakallah khair, Habibi. Kan tadi udah, sebelum subuh, Abang."

"Emang enggak gerah nanti? Kan kita baru dari luar juga," tanya Uwais sambil memakai pakaian yang disiapkan Aisyah.

"Insyaallah, enggak Abang. Adek mau siap-siap juga. Habis ini kita sarapan ya, Abang. Udah Adek siapkan di meja makan."

***
Setelah sarapan, Aisyah dan Uwais berangkat ke kampus dengan mobil yang sengaja ditinggal oleh abinya untuk mereka, khawatir jika terjadi sesuatu pada Aisyah. Sepanjang jalan, Aisyah tak berhenti memberikan dukungan dan semangat kepada Uwais. Sementara Uwais tak henti tersenyum dan bersyukur.

"Adek, kalau nilai Abang rendah gimana?" tanya Uwais saat mobil yang dia kendarai memasuki gerbang kampus berwarna biru yang menjulang kokoh.

"Enggak apa-apa, Abang. Mau tinggi atau rendah nilainya, yang paling penting adalah ilmunya. Percuma kalau nilai tinggi, tapi ilmunya enggak bisa dipertanggungjawabkan, enggak bermanfaat buat diri sendiri, keluarga dan umat.

"Yang penting, Abang tetap fokus lakukan yang terbaik," ujar Aisyah menenangkan.

"Doakan Abang, ya?"

"Selalu, Abang."

Setelah tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di parkiran Fakultas Ushuluddin. Dibantu oleh Uwais, Aisyah turun dari mobil. Senyum merekah di balik cadarnya, sudah berbulan-bulan ia tidak menginjakkan kaki di sini.

Uwais menuntun Aisyah ke depan ruangan yang akan menjadi tempat sidangnya nanti. Masih ada waktu tiga puluh menit, cukup bagi Uwais menyiapkan semuanya dengan bantuan petugas.

"Istrinya Uwais ya?" tanya seorang perempuan berwajah ayu yang tiba-tiba duduk di samping Aisyah.

"Iya, Kak." Aisyah tersenyum di balik cadarnya, kemudian mengulurkan tangan kepada perempuan berpakaian syar'i itu.

"Aisyah, Kak. Nama Kakak siapa?"

"Aina. Saya teman dekatnya Uwais di kampus." Ujarnya menyambut uluran tangan Aisyah, tali segera ia lepaskan.

Aisyah menangkap nada berbeda dalam suara lembut itu. Namun, ia abaikan, lebih fokus pada kata teman dekat yang diucapkan oleh perempuan itu.

Keduanya terdiam, Aisyah merasa canggung untuk memulai pembicaraan. Padahal, biasanya ia selalu bisa mengakrabkan diri dengan orang baru.

"Adek, Abang mau mulai sidangnya. Ayo masuk, sidangnya terbuka."

Suara Uwais membuat Aisyah mendongak, kemudian mengikuti Uwais untuk masuk ke dalam.

Setengah jam lebih, Aisyah diliputi cemas. Lisannya tak berhenti berzikir, serta berdoa agar Allah memberikan kelancaran kepada Uwais. Setelah selesai, semuanya diminta untuk keluar, sementara para penguji mengambil keputusan.

"Abang, banyakin zikir biar tenang," ujar Aisyah melihat Uwais yang terlihat cemas sambil menggenggam tangannya erat.

Tak lama, akhirnya Uwais dipanggil, hanya sebentar. Aisyah menunggu di luar dengan sabar. 

"Adek, Abang lulus!!" teriak Uwais cukup kencang, membuat teman-temannya yang berada di sana menggelengkan kepala.

Bab 28 || Allah, Jangan Ambil Dia

1 0

Sarapan kata KMO Batch 48
Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 28

Jumlah kata 752

Sarkat jadi buku

"Uwais, ini hadiah buat kamu, ada Al-Qur'an saku juga di dalamnya, biar bisa ngaji di mana aja." Tangan itu sedikit gemetar saat menyerahkan sebuah paper bag berwarna hitam.

Wajahnya menunduk, tak berani menatap pria di depannya. Diabaikannya tatapan tak suka dari orang-orang di sekitar, tekadnya sudah bulat. 

"Maaf, Aina. Tapi saya sudah memiliki Al-Qur'an yang diberikan istri saya. Tidak mungkin saya menerima hadiah yang sama dari perempuan lain, itu hanya akan menyakiti hati istri saya," tegas Uwais sambil menggenggam tangan bidadari dunianya itu.

Perempuan yang dipanggil Aina itu tertunduk malu, menarik kembali paper bag yang diulurkannya. Kemudian segera pergi dari sana bersama rasa malu dan dendam yang bersemayam dalam hatinya. Dalam benaknya, ia berpikir harusnya dia lah yang akan menjadi istri Uwais.

Dua bulan sebelum Uwais menikah, mereka pernah ta'aruf. Tapi, karena mereka yang saat itu sibuk dengan KKN dan PPL selanjutnya akan banyak waktu yang tersita untuk skripsi, akhirnya dia meminta waktu kepada Uwais. Namun, hal itu ditolak oleh Uwais. Pria itu tidak ingin berlama-lama, khawatir jika ada komunikasi yabg tidak seharusnya, apalagi mereka adalah teman sekelas.

Gadis itu mau tak mau menerima keputusan Uwais dengan harapan setelah ia siap nanti, dia masih bisa menikah dengan Uwais. Namun, sayang, pria itu telah menikah dengan seorang perempuan bercadar yang merupakan adik tingkat mereka. Aina jelas tahu siapa Aisyah, mahasiswi yang selalu dibanggakan para dosen dan menjadi incaran para mahasiswa di fakultas mereka. Hanya saja, saat ini, rasa dendam lah yang bercokol di hatinya, tak peduli pada banyak kelebihan yang ada pada Aisyah. 

Baginya, dia lah perempuan yang tepat untuk mendampingi Uwais. Sebab, mereka sama-sama aktif di lembaga dakwah kampus, sementara Aisyah hanya lah mahasiswi kupu-kupu yang hanya mementingkan akademik di matanya.

Dia berdiri di dekat tangga, memepetkan tubuhnya ke besi pagar koridor lantai dua. Matanya mengamati taman kampus, menenangkan diri setelah tadi dipermalukan Uwais. Saat menghadap ke samping, retinanya menangkap jika Aisyah berjalan ke arahnya. Sebuah rencana licik tiba-tiba menguasai pikiran dan jiwanya.

***

"Abang enggak boleh gitu, Adek enggak apa-apa," ujar Aisyah pelan.

"Enggak apa-apa, Adek. Nanti Abang ceritakan siapa dia, kalau Adek mau tau alasan Abang menolak hadiah itu." Uwais merangkul pundak Aisyah.

"Masih pada single lillah loh kita ini," celetuk seorang teman Uwais yang melihat kemesraan mereka.

Aisyah segera melepas diri dari Uwais, ia tertunduk, merasa malu karena kepergok bermesraan dengan sang suami. 

"Makanya nikah!" ledek Uwais.

"Nanti aja lah bro. Masih panjang ini perjalanan," jawab laki-laki berpakaian casual, berbeda dari teman-temannya yang memakai kurta dan peci.

"Nanti kapan? Kalau udah ada calon ya dilamar. Nanti keburu diambil orang. Perjalanan sendiri itu enggak enak, Akhi. Lebih enak berdua, ada yang ngingetin kalau salah, nemenin belajar, kasih masukan. Pokoknya banyak lebihnya kalau jalan berdua," jelas Uwais dengan senyum mengembang di wajahnya.

"Yee, Antum malah bikin ane pengen nikah sekarang juga. Sayang, calonnya belum ada." 

Celetukan itu membuat mereka tertawa, tak terkecuali Aisyah yang ikut tersenyum di balik cadarnya.

"Abang, Adek mau ke toilet dulu ya?" biisik Aisyah kepada Uwais. 

"Abang antar ya?"

"Abang di sini aja, lagian udah jarang kumpul juga kan sama mereka?" 

Uwais mengangguk, kemudian berujar, "fii amanilllah, zaujati."

Aisyah segera berlalu dari hadapan mereka. Dengan langkah gontai, ia menelusuri koridor lantai dua. Namun, netranya menangkap Aina yang termenung di dekat tangga. Wanita berbadan dua itu berinisiatif menyapa kakak tingkatnya itu, sekalian meminta maaf atas tindakan Uwais tadi.

Belum sempat ia memanggil, Aina sudah berbalik saat ia sampai di belakang perempuan itu. Aisyah yang sangat peka dengan raut wajah dan tatapan seseorang, merasa ada sesuatu yang berbeda dari Aina. Wajah ayu itu tidak seayu tadi, saat pertama mereka bertemu. Namun, ia tak ingin su'uzhan.

"Hai, Syah," sapa Aina.

"Assalamualaikum, Kak," salam Aisyah yang membuat Aina berdecak pelan.

"Wa'alaikumussalam," jawabnya malas.

"Mau kemana?"

"Ke toilet, Kak. Oh iya, maaf ya atas perlakuan Bang Uwais tadi ya, Kak," ujar Aisyah.

"Santai aja. Salah ana juga. Ngomong-ngomong, selamat ya atas kehamilannya. Maaf baru bisa ngucapin sekarang, baru ketemu soalnya. Enggak lama lagi lahiran berarti ya?"

"Syukron, Kak. Insyaallah enggak sampai tiga bulan lagi, Kak."

"Oh iya, ana permisi dulu ya, Kak. Mau ke toilet. Wassalamu'alaikum," lanjut Aisyah.

Aisyah segera berbalik badan, meninggalkan Aina yang tersenyum smirk.

"Allahuakbar!" teriak Aisyah saat baru saja menginjakkan kaki di anak tangga pertama.

Aina yang syok dengan apa yang baru saja dia lakukan, segera pergi dari sana. Meninggalkan Aisyah yang berguling di tangga dengan tangan yang memegang perutnya. "Allah, jangan ambil dia," ujarnya lemah. Namun, kesadarannya menghilang, saat kepalanya menghantam dinding di belokan tangga. 

Tidak ada yang melihatnya, perempuan itu sendirian dalam keadaan tak sadarkan diri.

Bab 29 || Dia Tidak Pergi

0 0

Sarapan kata KMO Batch 48
Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 29

Jumlah kata 1352

Sarkat jadi buku

PR

"Uwais!" 

Panggilan seseorang mengagetkan Uwais yang tengah ngobrol dengan sahabat-sahabatnya. Terlihat seorang perempuan yang merupakan teman seangkatannya, berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka. Wajah itu terlihat panik. 

"Kenapa, Ra?" tanya Uwais.

"Aisyah! Aisyah!" ujarnya panik. Nafasnya terdengar memburu saat sampai di depan Uwais. 

"Kenapa dengan Aisyah?" Uwais mulai tak tenang.

"Di tangga. Aisyah jat—"

Tanpa menunggu perempuan yang dia panggil Ra itu menyelesaikan ucapannya, Uwais segera berlari, meninggalkan semua barang bawaannya, wajahnya kentara sekali panik.

Sampai di pangkal tangga, tubuhnya hampir ambruk, melihat sosok berpakaian hitam yang sangat dikenalinya tergolek tak berdaya di pertengahan tangga. Dengan kaki yang melemas, Uwais menghampiri tubuh itu.

"Adek!" Tangannya menepuk lembut pipi sang istri yang tertutup cadar.

"Adek!" panggilnya sekali lagi. 

Matanya mengembun, rasa khawatir menyelimuti hatinya, terlebih saat tangannya merasa ada sesuatu yang basah di gamis istrinya.

"Astaghfirullah, kenapa, Akhi?" Sahabat-sahabat Uwais yang menyusul, kaget melihat apa yang terjadi.

Uwais menggeleng, tak tau harus menjawab apa. Otaknya seketika tidak bisa diajak bekerjasama.

"Ayo bawa ke rumah sakit!" teriak salah satu dari mereka panik.

"Astaghfirullah darah! Ayo cepat, Akhi!"

Teriakan mereka menyadarkan Uwais dari keterdiamannya. Buru-buru dia mengangkat Aisyah, membawa wanita tercintanya itu ke mobil.

Beberapa orang sahabatnya ikut ke parkiran, tapi hanya dua orang yang ikut ke rumah sakit. Yang tersisa, menuntaskan permasalahan di kampus, menyelidiki apakah Aisyah jatuh sendiri atau ada yang mendorongnya. Ragu, rasanya tak mungkin Aisyah jatuh sendiri, belum pernah selama ini ada yang jatuh dan menggelinding di tangga.

"Biar ana aja yang bawa mobil," ujar salah satu sahabatnya.

Uwais tak bicara, namun langsung mengangkat Aisyah ke bangku tengah, membaringkan calon ibu dari anaknya itu dengan hati-hati.

"Jangan ada yang lihat ke belakang," ujar Uwais kepada dua sahabatnya yang ikut di mobil ini.

"Na'am, Akhi."

Gemetar, tangannya menyingkap cadar Aisyah, memberikan jalan bagi oksigen. Netranya menangkap ada darah yang mengalir dari pelipus Aisyah.

Tangannya mengelap lembut darah itu, syukurnya hanya sedikit. Kemudian pria itu tak melepaskan genggaman pada jari-jari yang terasa dingin itu? sesekali mengecupnya.

"Sayang, kenapa enggak bangun?" lirihnya.

"Yaa Allah, macet," keluh dua sahabatnya membuat Uwais mengalihkan pandangannya ke depan. 

Mobil mereka terjebak di antara truk-truk batubara yang bersusun sepanjang jalan. Belum lagi mobil-mobil yang tak tau aturan membuat jalur baru, memotong truk-truk besar tersebut.

Uwais mengembuskan nafas dengan kasar, rasa khawatirnya semakin bertambah. Darah yang mengalir di antara kedua paha istrinya terlihat semakin banyak, walaupun mengenakkan pakaian hitam, tapi terlihat dari jok mobil.

"Sayang, Abang mohon, bertahan!" Uwais mengecup kening Aisyah dan memeluk kepala Aisyah yang beralaskan pahanya.

"Salip aja, itu ngikutin mobil di depan. Sepertinya bisa."

"Tapi nanti kalau sama terjebaknya bagaimana, Ki?"

"Udah, coba aja. Nanti kita pikirin lagi di depan."

Beberapa tahun terakhir, batubara menjadi masalah yang cukup serius bagi masyarakat yang ingin menuju kota Jambi. Terlebih tahun ini, truk pengangkut batubara semakin bertambah. Namun, seakan tak ada tindakan. Saat beberapa mahasiswa dan warga menjadi korban jiwa akibat tertabrak truk tersebut, tetap saja jumlahnya tak berkurang, malah semakin bertambah. Permasalahannya, jalan yang mereka gunakan, sama dengan yang digunakan oleh ribuan mahasiswa ke kampus.

Uwais benar-benar miris dengan keadaan jalan yang seharusnya lancar, tanpa truk-truk besar itu yang menghalangi jalan. Teringat pula bahwa beberapa saat lalu, ada pasien yang akan dirujuk ke kota meninggal di jalan, akibat tiga kali lipat lebih lama waktunya dalam ambulans daripada normal. Uwais tak hentinya berzikir, ia tak ingin jika istri dan anaknya menjadi korban akibat terlalu lama di dalam mobil dengan keadaan yang jauh dari kata baik.

"Alhamdulillah, bisa lewat!" teriak Rifki, yang mengendarai mobil.

"Hati-hati, Ki," ujar Rizal yang berada di sampingnya.

Rifki mengendarai mobil dengan hati-hati, mengikuti jalan mobil di depannya yang membuat jalur baru di pinggir jalan, bersisian dengan got. Sebenarnya, jarang sekali ia melakukan hal ini, tapi tak mungkin jika harus menunggu, bisa-bisa Aisyah kehabisan darah di dalam mobil.

Sampai di simpang dua yang merupakan jalan ke Kota Jambi dan Muaro Jambi, Rifki mengambil jalan ke arah Muaro Jambi yang sepi. Jalan tersebut juga akan tembus ke Kota pusat Kota Jambi dan lebih dekat ke rumah sakit.

"Alhamdulillah," ujar Uwais saat mobil berhenti di depan IGD Rumah Sakit Umum Raden Mattaher. 

"Suster! Tolong, istri teman saya di depan!" Rizal segera menghampiri salah satu suster yang bertugas.

Dengan gesit, para petugas membawa brangkar, lalu Uwais meletakkan Aisyah di atasnya. Uwais membantu para petugas membawa Aisyah ke dalam.

***
"Keluarganya?" tanya seorang dokter perempuan yang keluar dari ruangan tempat Aisyah diberi tindakan, operasi.

"Saya suaminya, Dok," jawab Uwais yang sedang menunggu dengan gelisah.

"Mari ikut ke ruangan saya, Mas."

Uwais melangkah dengan lunglai, mengikuti sosok perempuan paruh baya berjas putih tersebut.

Sesampai di ruangan, Uwais diminta untuk duduk di kursi konsultasi.

"Sebelumnya, saya mohon maaf jika nanti apa yang disampaikan tidak berkenan di hati, Mas. Tapi, sungguh ini adalah kabar bahagia sekaligus sedih untuk kalian."

"Apa itu, Dokter?" tanya Uwais diliputi rasa cemas. 

"Alhamdulillah, Allah menyayangi kalian. Allah siapkan tabungan untuk kalian di surga," ujar dokter dengan senyum sendu di wajahnya yang berbingkai hijab syar'i.

Uwais terdiam, mencerna apa yang dimaksud oleh dokter. Baru beberapa saat kemudian ia mengerti, jika bayi yang mereka nanti telah tak bernyawa.

"Semua takdir Allah. Insyaallah kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, kalau pun bayi kalian masih bernyawa, dia harus hidup di dalam inkubator selama beberapa waktu, Mas."

Pilihan kata yang menyejukkan dari dokter, membuat sesak di hati Uwais terobati. Meski ada sesal karena tak mampu menjaga Aisyah dan calon buah hati mereka, sehingga keduanya harus merasakan sakit.

"Istri saya bagaimana, Dok?" ujar Uwais setelah berhasil mengontrol diri.

"Alhamdulillah, keadaannya baik. Di kepalanya ada luka, tapi alhamdulilah tidak begitu parah. Hanya saja, mungkin saat jatuh perutnya membentur tangga beberapa kali." Penjelasan itu membuat Uwais meringis ngilu, membayangkan wanita terkasihnya berguling di tangga sambil berusaha menjaga buah hati yang mereka nantikan.

"Insyaallah dua atau tiga jam lagi akan sadar, sampai efek biusnya habis. Silakan anaknya diurusi dulu, kasian jika tidak dimakamkan dengan segera."

***
Meski tidak tega, Uwais tetap harus menyelenggarakan hak bayinya. Semua ia lakukan sendiri dengan bantuan sahabat dan juga beberapa tetangga. Sementara orang tua dan mertuanya masih berada di perjalanan, perlu sekitar satu jam lagi untuk sampai. Mungkin, akan bertepatan dengan Aisyah yang membuka matanya, tersadar.

Setelah menyolatkan, sang anak dibawa ke lokasi pemakaman yang disediakan oleh kompleks. Dengan mata yang mengembun, Uwais memeluk sekali lagi tubuh mungil berbalut kafan itu dengan mata yang mengembun, sebelum memasukkan ke liang lahat.

"Sabar, Akhi. Alhamdulillah, ente mendapatkan hadiah dari Allah, berupa tabungan di surga. Enggak semua orang bisa mendapatkannya," ujar Rizal yang diangguki oleh sahabatnya yang lain.

Mereka bergantian memeluk Uwais, memberikan kekuatan.

***
Tak berapa lama setelah Uwais kembali menemani Aisyah di ruang serba putih itu, akhirnya mata jernih yang selalu dirindukannya, mengerjap. Jari-jari dingin di genggamannya bergerak pelan. Uwais tersenyum, menyembunyikan perih di hatinya.

"Adek udah bangun?" tanya Uwais lembut.

"Adek di mana, Abang?" Aisyah memperhatikan detail ruangan putih itu.

"Adek tenang ya, enggak apa-apa di sini dulu. Semua baik-baik aja, Sayang."

"Abang, anak kita baik-baik aja, kan?" tanya Aisyah panik saat tangannya menyentuh perut yang sudah datar.

Uwais menggenggam tangan Aisyah yabg terbebas dari infus, kemudian mengecupnya. "Alhamdulillah, sangat baik, Sayang. Dia udah lahir." Uwais sekuat mungkin menahan agar suaranya tak bergetar.

"Tapi kan baru masuk bulan ke tujuh, Abang," ujar Aisyah.

"Iya, Sayang. Tapi alhamdulilah Allah kasih takdir yang sangat indah untuk permata hati kita."

"Maksud, Abang?" Aisyah semakin dibuat bingung oleh ucapan Uwais.

"Adek nanti boleh nangis, tapi enggak boleh ngomong dan mikir yang aneh-aneh, janji?"

"Insyaallah, Abang."

"Alhamdulillah, dia sudah menanti kita di surga. Allah sangat menyayangi dia dan kita kan, Sayang?"

"Maksud Abang, anak kita udah pergi?" Tangis Aisyah pecah saat ia mengerti ucapan sang suami.

"Sayang, dengarkan Abang. Adek wanita kuat, ibu yang hebat, cerdas, dan shalehah. Terima ya, Sayang?"

"Tapi, anak kita udah pergi, Abang," ujar Aisyah di sela tangisnya.

Uwais memeluk Aisyah hati-hati, takut mengenai luka bekas operasinya. Kemudian mengecup lembut kening yang berbalut kasa steril.

"Adek, dia tidak pergi. Tapi dia sedang menunggu kita di sana, Sayang. Di surga. Kita harus ikhlas, Allah yang menjanjikan itu semua, Sayang," ujar Uwais menenangkan Aisyah, meski dia sama sedihnya karena kehilangan bayi yang mereka nanti.

Uwais yakin, apapun yang Allah takdirkan dalam hidupnya adalah yabg terbaik baginya.

Bab 30 || Pengakuan

0 0

Sarapan kata KMO Batch 48
Kelompok 3 Tinta Aksara

Day 30

Jumlah kata 711

Sarkat jadi buku

Dua hari setelah kelahiran sekaligus kepergian sang buah hati, Uwais dan Aisyah yang ditemani orang tua mereka kini berada di lokasi pemakaman yang masih baru itu.

Uwais mendorong kursi roda yang diduduki Aisyah, menguatkan wanita terkasihnya itu dengan sesekali mengelus lembut puncak kepalanya.

Aisyah sekuat hati menahan agar matanya tak berair, tapi gagal. Ia kembali menangis, mengingat di dalam sana ada sosok mungil yang dinantinya.

Tidak begitu jauh dari gapura, terlihat makam kecil yang masih basah. "Abang, apa Adek bisa kuat?" tanya Aisyah tak yakin.

"Insyaallah, Sayang. Ingat yang selalu Abang bilang, putra kita sudah menunggu di surga," ujar Uwais menenangkan.

Sesampainya di depan makam, Aisyah memilih turun dari kursi rodanya, bersimpuh di hadapan makam bertuliskan 'Salman Al-Farisi bin Uwais Al-Qarni'.

"Sayang, tunggu uma dan aba di sana ya, Nak? Kalau amal uma dan aba gak cukup untuk masuk ke surga, tolong tarik kami ke sana ya, Nak? Maafkan uma gak bisa jagain jagoan uma. Nama kamu Salman Al-farisi, Nak. Nama yang sangat indah, kan?" ujar Aisyah berlinang air mata.

Uwais tak melepaskan rangkulannya dari punda sang istri. Sementara kedua orang tua mereka menyaksikan itu dalam diam. Abi Aisyah bersyukur, putrinya berada di tangan yang tepat.

Setelah puas, Aisyah kembali naik ke kursi roda. Mereka melanjutkan dengan do'a yang dipimpin oleh Uwais. Sebenarnya, pria itu ingin Abi Aisyah lah yang memimpin doa, tapi laki-laki paruh baya itu ingin orang tua lah yang mendoakan anaknya dengan ketulusan dan pengharapan yang tulus.

Mereka berdoa dengan sangat khusyuk. Air mata menganak sungai di wajah mereka, terlebih Aisyah dan Uwais. Tiada hal lain yang mereka harapkan selain kembali dipertemukan di surga kelak.

"Aisyah, putri Abi yang kuat dan shalehah, ikhlaskan ya, Nak?" ujar abi saat Aisyah masih enggan untuk beranjak dari makam tersebut.

"Bener, Nak. Aisy harus ikhlas, kalian udah ada tabungan di surga loh. Jadi harus bahagia," sambung bunda Uwais.

Aisyah mengangguk, membiarkan suaminya menghapus air mata yang masih mengalir, walau percuma.

"Aisy, Umi bangga loh sama kalian. Alhamdulillah, Allah berikan takdir yabg sangat indah untuk putra-putri Umi."

"Ayah jadi iri sama kalian," ujar ayah Uwais.

Baik Aisyah maupun Uwais tak hentinya bersyukur dengan semua yang terjadi dalam hidup mereka, sampai hari ini dan seterusnya, terlebih hidup dalam lingkungan keluarga yang sangat kental akan agama.

Setelah Aisyah tenang, mereka memutuskan untuk pulang, kembali ke rumah Aisyah. Sebenarnya, wanita itu masih harus dirawat di rumah sakit, tapi karena mentalnya yang bisa saja down, Uwais mengabulkan permintaan Aisyah untuk rawat jalan saja di rumah mengingat ada beberapa dokter juga di komplek mereka.

"Umi, nanti Aisy masih dipercaya gak ya sama Allah untuk hamil terus jadi orang tua?" tanya Aisyah sedih.

Mereka yang mendengarkan itu tersenyum lembut, memahami bahwa mental Aisyah belum lah sepenuhnya pulih. Apalagi, kejadian itu bukan murni kecelakaan, melainkan ada yang sengaja mendorongnya.

"Insyaallah, Nak. Kalian cuma perlu yakin kalau takdir Allah itu yang terbaik, terus meminta sama Allah, perihal dikasih atau tidaknya, pasrahkan semuanya sama Allah setelah kita berusaha. Paham, Nak?"

"Aamiin, makasih Umi." Aisyah memeluk uminya erat, mengabaikan bahu Uwais yang biasa menjadi sandaran ternyamannya.

Tepat saat mobil berhenti di depan rumah, seorang perempuan terlihat menunggu, duduk di kursi yang ada di teras. Uwais tak melihat wajahnya, karena perempuan itu menunduk.

Setelah ayahnya memarkirkan mobil, mereka beriringan menuju pintu.

"Assalamualaikum," ujar Aisyah melihat perempuan yang tertunduk itu masih terdiam.

"Wa'alaikumussalam," suara lirih terdengar menjawab salam Aisyah.

"Mari masuk, Kak. Kita bicarakan di dalam saja." Mereka masih belum mengetahui siapa perempuan itu.

Baru lah beberapa saat terdiam, kepala yang tertunduk itu terangkat.

"Kak Aina!"

"Aina!"

Kaget Aisyah dan Uwais berbarengan. Bedanya, yang membuat mereka kaget itu berbeda. Aisyah merasa ketakutan sementara Uwais merasa aneh, ada apa perempuan itu kemari.

Uwais mengajak semuanya masuk dan duduk berkumpul di ruang keluarga, karena ruang tamu tidak muat.

Umi dan bunda memilih izin ke belakang, menyiapkan makanan untuk makan siang mereka, serta minuman. 

"Aisy," panggil Aina pelan.

"Iya, Kak?" sahut Aisyah tak tenang.

"Maaf—"

"Tunggu, ini ada apa?" potong Uwais.

"Maaf, ana yang sudah menyebabkan Aisyah jatuh kemaren. Maaf, maafkan ana. Ana juga gak ngerti, semuanya terjadi begitu aja."

Uwais tak mampu berkata-kata, apa benar perempuan ini yang menyebabkan semuanya?

Sungguh, laki-laki itu tak habis pikir dengan jalan pikiran perempuan yang ia anggap baik itu.

Mungkin saja kamu suka

Putri Ayu Agust...
PAEDAGOGY
Inna Syani Pert...
Dia Bilang Kesini Saja !
Julifrans
PERJALANAN SAHABAT
Fitri Fatimah
Pesona Gelang Emas

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil