Loading
0

0

37

Genre : Inspirasi
Penulis : Endang Noviya D
Bab : 30
Dibuat : 19 Oktober 2022
Pembaca : 6
Nama : Endang Noviya D
Buku : 1

Asam Manis Sebuah Keluarga

Sinopsis

Keluarga adalah hal terpenting dalam hidup kita. Perjalanan sebuah keluarga tergantung siapa pemimpinnya, bagaimana ilmunya dan kesiapannya dalam membangun sebuah keluarga. Setiap keluarga memiliki aturannya masing-masing. Setiap anggota keluarga, tentu ada yang patuh terhadap aturan, adapula yang melanggar aturan. Untuk itu kita wajib mengetahui dan memiliki pengalaman sebelum membangun sebuah keluarga, agar tercipta sebuah keluarga yang rukun.
Tags :
Keluarga

Bab 1 (1)

0 0

- Sarapan kata KMO club' batch 50

- Kelompok 2

- Day 1

- Jumlah Kata 492



"Pacar sepupuku"

Oleh: Endang Noviya D


Riana, usiaku saat ini menginjak 16 tahun. Akan tetapi masih menduduki bangku SMP. Putri semata wayang di keluargaku. Kenapa di usia yang seharusnya SMA, aku justru masih dibanhku SMP. Aku termasuk anak yang manja dan ketergantungan.


Ayah adalah seorang pegawai kecamatan, sedangkan ibu hanya bekerja dirumah. Hingga usia 12 tahun, aku tidak bisa mandiri. Ibu tidak berhasil menyapihku, kal itu. Sehingga aku masih saja seperti anak bayi. Karena kebiasaan yang seharusnya kutinggalkan itu, akupun tak mau bersekolah lagi.


Namun, ayah memaksaku untuk tetap melanjutkan sekolah, agar kelak menjadi anak yang sukses kebanggan keluarga. Tinggal di sebuah desa yang lumayan ramai penduduknya, membuat ayahku dikenal banyak orang. Sebab, ayah kerapkali memudahkan urusan di desa kami. Makanya, ayah berpesan agar aku terus rajin sekolah agar bisa menggantikannya suatu hari.


Saat lulus SD, aku masuk disebuah SMP yang tidak jauh dari kediaman. Ayah meluangkan waktunya setiap untuk mengantar dan menjemputku, saat pergi dan pulang sekolah. Beliau melakukannya agar aku merasa betah dan nyaman saat bersekolah. Berbekal motor KTM yang dimiliki ayah, aku diboncengnya setiap hari.


Selain bekerja dirumah, ibuku juga menyadap (menoreh) kebun karet milik keluargaku. Sehari-hari beliau menghabiskan waktu untuk itu selama aku berada di sekolah. Meskipun kediaman kami terlihat mewah, namun tidak sejahtera untuk soap financial keluarga. Itulah penyebab ibuku mencari sedikit rezeki dari kebun karet yang ditoreh setiap harinya.

Aku tidak tau dunia luar, bahkan belum pernah sama sekali pergi ke kota bersama ayah dan ibu.


Kampungan? Sudah pasti. Jangankan baju terbaru, dibelikan baju model lamapun aku sudah sangat gembira. Uang jajan 5000 rupiah, yang dulu terlihat sangat banyak, karena semua jajanan terasa murah harganya. Di sore hari jika tidak ada kegiatan sekolah, aku pergi mengaji dirumah kakak sepupuku yang pandai mengaji. Beliau lulusan Madrasah di kota ini. Anaknya baik dan ramah.


Nuning namanya. Ibu kak Nuning adalah kakak kandung dari ayahku. Pekerjaannya tak beda dengan ibuku. Mengais rezeki lewat kebun karet keluarganya. Aku bertemankan hanya dengan Kak Nuning. Setiap kali aku menyambangi kak Nuning, disana ada sosok lelaki yang tak kukenal. Kabarnya itu adalah kekasih kak Nuning, mereka satu sekolah. Arfan namanya.

Kak Arfan itu sosok lelaki yang baik buat kak Nuning, selain tampan, dia juga sopan. Setiap hari selalu

bersikap puitis. Lewat kata-kata yang ia kirim setiap harinya pada kak Nuning. Bahagia sekali setiap kali kak Nuning menunjukkan chat dari bang Arfan.


Bang Arfan adalah anak TNI, yang dikenal sebulan lalu.


Suatu hari, aku bilang pada kak Nuning untuk mrncarikanku pacar sepertinya. Kak Nuning mengiyakan. Bahkan kak Arfan sudah mengetahui pembicaraan kami.


"Eh, Ran. Aku punya temen cowok, dia sekolah di SMK Harapan. Kamu mau dikenalin gak? seru kak Arfan


"Ih, mau dong. Serius?. Tanya Riana.


"Serius. Dia anaknya baik, anak TNI juga dia mah, kami tetanggaan loh". kata Arfan lagi


"Yaudah, boleh deh. Biar bisa jalan bareng sama kalian". Jawab Riana girang.


Seminggu kemudian aku bertemu kak Arfan di rumah Kak Nuning. Belia datang bersama temannya. "Apa ini teman kak Arfan yang ia ceritakan?" gumamku.







Bab 1 (2)

0 0

- Sarapan kata KMO club' batch 50

- Kelompok 2

- Day 2

- Jumlah Kata 408



"Kenalan Baru"


"Hei, kenalin ini Dani, temanku yang kuceritakan waktu itu". Kak Arfan memperkenalkan kami.


"Halo, Aku Riana, sepupu kak Nuning". aku menyodorkan tangan.


"Aku Dani, teman Arfan". Sambutnya.


Aduh, aku mulai salah tingkah. Padahal aku cuma bercanda pad akak Nuning. Akupun takut pacaran, apalagi kalo sampai ayah tau. Sekolah aja males-malesan kok pacaran.


Sabtu ini ada pembukaan pasar malam di kota. Kak Nuning mengajakku, agar bisa pergi bersamanya. Namun, aku harus izin jauh hari pada ayah. Entah ayah akan mengijinkan atau tidak. Apalagi jika ayah tau kami pergi dengan orang yang baru dikenal.


Perasaanku campur aduk, meski ayah mengizinkan kami pergi. Kedoknya, aku akan pergi bersama kak Nuning. Sedangkan dijalan nanti, kami akan bertukar. Kak Nuning dan Arfan, aku dengan Dani. Couple date bahasa gaulnya.


Kami sudah bertemu diperjalanan, sesuai dengan janji. Aku akan berboncengan dengan Kak Dani sedang Kak Nuning bersama kak Arfan. Kami menuju tempat yang sudah di sepakati.


Sesampainya disana, kami mengitari lokasi pasar malam sembari mencari jajanan dan wahana permainan. Jujur, ini pertama kalinya aku mengunjungi pasar malam seperti ini. Kedua orangtuaku memang kurang mengenal dunia luar. Bahkan bisa dikatakan kampungan.


Jaman secanggih ini, ibukupun tak mengenal handphone dan tidak bisa menggunakan roda dua. Aku sangat bahagia malam ini, karena bisa jalan-jalan dan mengenal dunia luar. Sesekali aku mencuri pandang pada kak Dani yang berjalan di sebelahku. Begitupun dengannya, yang selalu memperhatikanmu sepanjang jalan.


Degup jantung mulai tak beraturan, ketika kak Dani mulai mengajakku bicara. Sebelumnya aku memang belum pernah sedekat ini dengan pria manapun.

"Ri, kamu suka gulali gak? tanya Dani.


"Emm, suka kok kak. Cuma belum pernah beli" jawab Riana.


"Oh, ya? Kamu serius belum pernah makan gulali? Dani terkejut atas pernyataan Riana.


"Iya, kak. Serius belum pernah. Ini aja kali pertama loh aku pergi keluar rumah bareng temen cowok" jelasnya lagi.


"Ya, udah. Kita beli yuk! Ajak Dani.


Kami berdua menuju ke tukang gulali di depan sana. Selain itu, kak Dani membelikanku minuman serta popcorn kesukaan. Biasanya, setiap kali ayah gajian dan pergi ke kota, ayah selalu membelinya untukku. Begitu saja aku sudah bahagia ketika melihat ayah pulang dari pasar.


"Kak, maaf ya sudah ngerepotin" Riana membuka suara.


"Gak apa-apa, Ri. Aku juga seneng kok bisa ajak kamu jalan" sahut kak Dani tersenyum.


"Oh, ya kak. Kakak sudah lama berteman dengan Kak Arfan ya? tanya Riana.


"Hu'um lumayan lama. Sejak aku pindah kesini. Emangnya kenapa? Dani bertanya balik.

"Gak apa, kak. Aku cuma ingin tau aja. Seberapa lama kalian berteman" Riana tersenyum.





Bab 1 (3)

0 0

- Sarapan kata KMO club' batch 50

- Kelompok 2

- Day 3

- Jumlah Kata 417


"Semakin dekat"


"Baiklah. Btw, kamu sekarang kelas 9 ya. Berarti sebentar lagi bakal jadi anak SMA dong" Dani mulai berani mengajak Riana bercanda.


"Hehe, iya nih, Kak. Kenapa?" jawab Riana.

"Rencananya, kamu masuk SMA mana, RI?" Dani mulai penasaran.


"Belum tau sih, Kak. Soalnya aku juga gak paham sekolah mana yang bagus" jelas Riana.


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30. Aku menghubungi kak Nuning, begitupun Dani yang menghubungi kak Arfan. Kami Janji bertemu dipintu masuk pasar malam, seperti tadi saat kami masuk. Aku berusaha menundukkan wajah, karena kak Dani tak henti-hentinya memerhatikan wajahku.


Degup jantungku kembali tak beraturan. Lama sekali mereka datang. Rasanya, ingin pingsan daritadi diperhatikan oleh pria tampan di sebelahku. Selain tampan, tubuhnya juga semampai. Sesuai dengan kriteriaku. Baru saja jalan pertama kali, rasanya aku sudah jatuh cinta pada kak Dani. Ah, ini terlalu cepat. Atau aku saja yang kepedean. Gumamku dalam hati.


"Hai!" Terasa ada yang menepuk pundakku kuat sekali. Tanpa sadar, kak Nuning dan kak Arfan datang.


Mereka mengejutkan kami berdua yang saat itu sedang bergulat dengan pikiran masing-masing.

"Ihh, ngagetin deh. Lama banget sih jalannya, nanti kita pulang terlambat loh! aku mengerucutkan bibir.


"Sabar dong, kan kitanya jalan kaki. Mana pas keluar rame banget jadinya macet" kata kak Nuning.


"Ya udah, ayo kita pulang, kak" ajakku pada kak Nuning.


Kami berdua pamit pada Dani dan Arfan. Kemudian langsung melajukan si kuda besi milik kak Nuning. Sepanjang jalan kami bercerita saat di pasar malam tadi. Rasanya bahagia sekali bisa jalan-jalan.


Kuperintahkan kak Nuning agar sedikit lebih cepat mengendarai motor. Karena sudah semakin larut.

Aku khawatir ayah akan marah karena kami pulang terlalu malam. Tetapi, kak Nuning bilang "Santai". Begitulah kata gadis pendiam itu.


Ya, kak Nuning memang sedikit kalem dan pendiam. Karena dia dikenal sebagai guru mengaji anak-anak. Akupun belajar mengaji pada kak Nuning selepas Maghrib.


Syukurlah, akhirnya kami berdua sampai dengan selamat. Aku segera pamit dengan kak Nuning dan memasuki rumah. Ternyata ayah dan ibu belum tidur, mereka sedang menonton TV diruang tamu.

"Assalamualaikum, yah, bu. Riana pulang" aku menyalami keduanya


"Waalaikumsalam," ayah dan ibu menyambut uluran tanganku.


"Ya sudah, ganti baju dan tidur ya." perintah ibu.

Aku bergegas memasuki kamar dan berganti pakaian. Tak lupa mengeluarkan semua isi dalam tas yang kubawa pergi tadi. Handphon, dompet dan charger. Berniat mengisi daya di hp yang tinggal 10% tadi. Aku justru melihat ada pesan masuk.


Ternyata kak Dani yang mengirim pesan. "Ri, apa kamu sudah sampai?" katanya. Aku membalas dengan wajah tersenyum bahagia. Ya ampun, romantis banget sih kak Dani. Lalu, kubalas pesannya "Alhamdulillah, sudah kak."



Bab 1 (4)

0 0

- Sarapan kata KMO club' batch 50

- Kelompok 2

- Day 4

- Jumlah Kata 401

- PR


"Romantis"


"Assalamualaikum, yah, Bu. Riana pulang" aku menyalami keduanya.


"Ya sudah, ganti baju dan tidur ya." perintah ibu.

Aku bergegas memasuki kamar dan berganti pakaian. Tak lupa mengeluarkan semua isi dalam tas yang kubawa pergi tadi. Handphon, dompet dan charger. Berniat mengisi daya di hp yang tinggal 10% tadi. Aku justru melihat ada pesan masuk.


Ternyata kak Dani yang mengirim pesan. "Ri, apa kamu sudah sampai?" katanya. Aku membalas dengan wajah tersenyum bahagia. Ya ampun, romantis banget sih kak Dani. Lalu, kubalas pesannya "Alhamdulillah, sudah kak."


"Baiklah. Kamu mau langsung tidur, Ri?" tanya kak Dani.


"Mm, belum sih kak. Tadinya mau salat isya dulu, karna belum salat kan." Sahut Rania.


"Ya, udah. Kakak tidur duluan ya, sampe ketemu besok." Dani menutup percakapan.


Hhm, gini ya rasanya ada yang perhatian. Pantes aja, kak Nuning semangat setiap harinya. Hihi. Gumamku dalam hati.


Keesokan hari, tidak seperti hari-hari biasanya. Aku seringkali mengecek handphone, karna sekarang sudah beda. Ada yang mengabari setiap hari, jadi handphoneku tidak sepi lagi.


Sesampainya di sekolah, aku melihat beberapa teman bergerombol di depan kelas. Sepertinya ada pengumuman baru. Aku belum tertarik untuk menerobos kerumunan itu.


"Hai, Ri. Mukanya seger banget, abis dapet wangsit ya," goda Siska.


"Eleh, sok tau kamu. Aku lagi bahagia aja." Sahutku.

"Apaan, cerita dong, kepo nih." Siska mulai penasaran.


"Nanti deh, aku ceritain. Aku lagi penasaran ada apa tuh di depan," sanggahku.


"Oh, itu. Mereka lagi liat model pebasket yang menang mewakili kota kita." Siska menjelaskan.

Ahh, gak biasanya aku sekepo ini. Siapa sih pebasketnya. Bel masuk berbunyi, tanda pelajaran akan segera dimulai. Aku mematikan handphone dan menyimpannya di dalam saku tas. Tampak, pak Setyo sedang menuju ke kelas.


Hari ini ada pelajaran bahasa Inggris. Salah satu mata pelajaran yang paling kusukai. Hari ini aku akan menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan, karna bacaanku kemarin belum selesai.


Aku akan mengajak Siska kesana. Bel istirahat berbunyi, aku bergegas menuju perpustakaan. Selain inginmembaca buku disana, aku akan mengembalikan juga buku yang kupinjam kemarin.

Sehari-hari aku lebih suka membaca buku. Karna aku tidak pernah bermain seperti anak lain, aku hanya sering dirumah dan bermain sendiri. Karna aku adalah anak tunggal di keluarga, sehingga tidak punya teman bermain.


Ayah dan ibu adalah teman paling setia, yang kemana-mana kamu selalu bersama. Dulu, ibuku memang takut akan memiliki anak lagi, karena riwayat medis tertentu yang mengatakan ibu tidak boleh melahirkan lagi.



Bab 2 (1)

0 0

- Sarapan kata KMO club' batch 50

- Kelompok 2

- Day 5

- Jumlah Kata 406



"Bucin"


Tak terasa, sebulan sudah aku dan kak Dani pendekatan. Namun, belum ada kata pacaran. Aku sangat berharap, kak Dani bisa dekat denganku dan menjadi sepasang kekasih seperti kak Arfan dan kak Nuning.


Teman-teman dikelas sudah mengetahui, jika aku sedang dekat dengan seseorang yang bukan berasal dari sekolahku. Seringkali kak Dani menjemputku sepulang sekolah. Akan tetapi, hanya mengantar hingga depan gang saja.


Aku masih takut, jika ketahuan ayah dan ibu pasti akan dimarahi. Apalagi kami masih sama-sam sekolah. Ayah dan ibu tidak tau apa yang aku rasakan saat ini, bahagia bukan main. Menemukan sosok yang belum pernah kukenal sebelumnya.


Pesan singkat yang dikirim oleh kak Dani, ia berjanji akan menjemputku lagi dan mengajakku jalan, meskipun hanya sebentar. Aku selalu mengiyakan ajakannya kemanapun dia pergi.


Hari ini, pertama kalinya kak Dani mengantarku sampai kedepan rumah. Kondisi rumah sepertinya kosong. Mungkin ibu masih di kebun, sedangkan ayah berada dikantornya.


Aku mengajak kak Dani untuk masuk lebih dulu. Meskipun kak Dani sepertinya masih takut dan malu-malu. Kondisi rumah memang sedang tidak ada siapa-siapa. Tetapi, tetangga terdekatku hampir semuanya adalah saudara ibu dan ayah.


Tak lama kemudian, setelah duduk sebentar. Kak Dani izin untuk pulang. Akupun mengiyakan, meski sejujurnya aku tak ingin pisah darinya. Sejak kami jadian, rasanya tak ingin absen mendengar kabarnya.


Berbekal handphone BBS, kami menyebutnya. Jalinan kasih antara aku dan kak Dani berjalan baik. Kak Dani sering menyambangi rumah ketika hari libur, atau kamu sekedar berkumpul dirumah kak Nuning.


Hubunganku dan kak Dani sudah tercium satu kampung. Hingga mereka tau, jika aku berpacaran dengan kak Dani. Tidak ada komentar apapun dari ayah dan ibu, yang sudah pasti tau kabar ini.


Semakin hari, rasanya kami semakin dekat.

Sesekali kak Dani membelikanku buku bacaan, agar nanti saat tak punya pulsa, aku tidak merasa kesepian tanpa kabarnya. Maklum saja, kami hanya anak sekolah yang belum memiliki penghasilan sendiri. Jadi, ketika tak memiliki pulsa, kami tidak saling mengabari.


Pernah, suatu hari aku dan kak Dani sama-sam tidak  berkabar. Akan tetapi Kekasih kak Nuning memberiku peluang, agar bisa menghubungi Dani, melalui handphone nya. Baik sekali mereka berdua, semoga hubungan mereka pun langgeng hingga pelaminan.


"Kak, apa kabar. Ini aku Riana, pinjam handphon kak Dani. Bales aja ya, biar disini yang bayarin SMS-nya"


Beberapa menit kemudian terlihat balasan dari Dani.


"Alhamdulillah, baik Dek. Kamu pasti kangen ya sama aku. Soalnya aku juga"


Aku tersenyum gemas ketika membaca pesan balasan dari Dani. Tak lama, akupun membalasnya.

"Iya, kak. Kangen banget malah. Kapan kita ketemu"



Bab 2 (2)

0 0

- Sarapan kata KMO club' batch 50

- Kelompok 2

- Day 6

- Jumlah Kata 404





Aku tersenyum gemas ketika membaca pesan balasan dari Dani. Tak lama, akupun membalasnya.

"Iya, kak. Kangen banget malah. Kapan kita ketemu"

"Kamu yang sabar ya, dek." balas kak Dani.

Ya ampun, kak Dani. Makin kesini makin bikin jatuh cinta aja deh. Gumamku dalam hati. Nanti, seandainya aku dan kak Dani sampai menikah, punya anak yang lucu, pasti bahagia sekali.

"Heh senyum-senyum sendiri, ngapain. Buruan dibales chatnya, ntar kak Arfan keburu pulang loh " kak Nuning menyenggol lenganku hingga tubuhku terguncang.

"Iya ... Iya ... Ntar aku balikin handphonenya, belum kelar nih bacain bolak balik pesannya," balasku dengan wajah cemberut.

Akhirnya, hari yang dinanti tiba. Hari ini aku dan kak Dani akan bertemu, sepertinya dia akan menjemputku dirumah kak Nuning. Karna kami akan jalan-jalan sore. Seoerti biasa, dari rumah aku dan kak Nuning berboncengan, sedangkan dijalan nanti kami akan bertukar pasangan. Aku dan kak Dani sedangkaan kak Nuning bersama kak Arfan.

Tak sabaran ingin segera bertemu. Sepulang sekolah aku bergegas tidur siang, karna sorenya akan pergi. Jika tidak, maka ibu tidak akan mengijinkan aku bermain.

Setelah waktu ashar tiba, aku segera mandi. Kukenakan baju yang sedari malam kupersiapkan. Memoles sedikit wajah dekat bedak padat milik ibu dan lipgloss sebagai pelembab bibir. Rambutku, cukup dikuncir saja seperti biasanya.

Setelah siap, aku pamit pada ibu menuju rumah kak Ning.

"Bu, aku pergi ya sama kak Nuning, mau ke ulangtahun temennya," pamitku sambil mencium punggung tangannya.

"Iya, hati-hati ya dijalan. Kalo pulang jangan terlalu malam, nanti ayahmu marah." Ibu memberi pesan.

"Siap, bos!" aku melintangkan tangan dipelipis seperti orang hormat.

Sesampainya dirumah kak Nuning, iapun sudah siap berangkat dengan duduk diatas motor.

"Yuk, kita langsung aja. Mereka sudah nunggu di pinggir jalan besar," ajakknya.

Segera kunaiki motor kak Nuning dan kami melaju dengan kecepatan sedang. Diperempatan, aku sudah bisa menebak dua orang yang menunggu disana. Siapa lagi kalau bukan kak Arfan dan kak Dani.

Sampai hari ini aku belum bisa memanggilnya dengan sebutan sayang. Aku masih terlalu malu ketika ia memanggilku dengan panggilan sayang. Rasanya ingin terbang keluar angkasa saja.

Pernah beberapa waktu lalu, kak Dani menanyakan hal itu padaku. Kenapa aku tidak mau memanggilnya dengan panggilan sayang, seperti ia memanggilku saat ini.

Aku hanya tersipu malu. Kujawab saja sekenanya, bahwa aku takut ketahuan ayah dan ibu. Karna handphone yang kugunakan adalah handphone ayahku juga. Jadi, kami dirumah hanya menggunakan satu handphone saja.

Begitu diperjalanan, kak Dani banyak cerita tentangnya. Ternyata ia baru saja memenangkan pertandingan daerah bersama team basket sekolahnya.



Bab 2 (3)

0 0

- Sarapan kata KMO club batch 50

- Kelompok 2

- Day 7

- Jumlah Kata 416



Tepat pukul 19.00 aku tiba dirumah. Cukup puas dengan jalan-jalan sore tadi. Aku dan Dani kini sudah tak malu-malu lagi seperti awal berkenalan. Tembok yang membatasi selama ini sudah runtuh. Di runtuhkan oleh perasaan masing-masing.


Saat dimotor, Danilah yang selalu memulai pembicaraan lebih dulu. Mungkin, supaya aku tak hanya diam dan menjawab sekenanya.


"Kamu cantik sekali sore ini". Kata yang sampai detik ini menari-nari dikepala. Membuat hatiku semakin berbunga-bunga. Oh, Dani kekasih pertamaku. Semoga saja perasaanya tidak berubah sampai kapanpun.


Sebab aku merasa cemburu ketika mendengar Dani dikerumuni oleh gadis-gadis di sekolahnya. Ya, Dani memang salah satu anggota team basket disekolah. Untuk itu ia begitu dikenal. Terkadang, gift datang silih berganti, entah darimana.


Beberapa waktu lalu, aku sempat membaca pesan singkat di handphonenya, beberapa teman wanita mengajak bertemu dan bersantai. Huh, betapa sakitnya hatiku membaca itu semua.


"Udah dikasihtau, jangan dibaca."  ujarnya.

"Penasaran aja, kamu bener gak sayang sama aku," balasku dengan wajah cemberut.


"Ya, sayanglah. Ngapain aku anter jemput kamu dan ngajakin kamu jalan kalau gak sayang." Dani mengerdipkan matanya menggoda.


"Iya, deh iya. Maaf,"  mengakhiri kecemburuanku.

Cuaca begitu dingin malam ini. Kurebahkan tubuh dan menarik selimut tipisku. Mataku masih enggan terpejam. Membuka handphone dan mengecek apakah ada pesan masuk dari Dani.


Ah, benar saja. Sudah tercantum namanya disana, ia mengirimi pesan singkat romantis. Seperti biasanya, membuatku tak henti tersipu malu. Ya, malu-malu tapi mau.


Entah, aku yang berlebihan atau memang ini kali pertama aku menjalin kasih dengan seorang lelaki. Banyak tetangga dan saudara yang melarang dan mengingatkan, jika aku masih sekolah tak pantas pacaran sebab belum memiliki pekerjaan, khawatir terjadi sesuatu dilain waktu.


Namun, aku abai dengan perkataan mereka. Terlebih lagi, paman (adik dari ibuku) yang melarang keras aku berpacaran. Akan tetapi aku masih tak peduli. Karna aku merasa pacaran kami masih biasa saja dan transparan.


Semakin lama, banyak yang membicarakan ku hubunganku. Terlebih keluarga dekat yang berada di kanan-kiri rumah ayah. Ayah dan ibu saja tidak melarangku, kenapa orang lain yang repot? Pikirku.


Semakin hari, perjumpaan dengan Dani semakin intens. Dia sudah sering mengantar hingga depan rumah tanpa ragu. Dani juga sudah bertemu dengan ayah ibu. Tetapi berkenalan sebagai temanku dan kak Nuning. Memang, itu kujadikan tameng agar ayah dan ibu tak curiga, begitu juga mereka tak percaya dengan ucapan tetangga serta keluarga.


Terasa seperti artis papan atas yang dibicarakan kesana-kemari. Terlebih ketika aku pergi keluar rumah. Ada saja yang menegur dan menanyakan tentangku dan Dani. Aku masih sangat tidak peduli dan menjawab sekedarnya. Lagipula apa urusan mereka dengan hal kecil seperti ini.


Bab 2 (4)

0 0

- Sarapan kata KMO club batch 50

- Kelompok 2

- Day 8

- Jumlah Kata 404



"Riani ...!" panggil Siska dari depan rumah.

Ibu mendatangi Riani di depan rumah.


Menyampaikan bahwa hari ini aku tak masuk sekolah. Kepalaku teras pusing dan badan menggigil. Sepertinya tipesku kambuh.


Ayah mengatakan akan membawaku berobat ke puskesmas. Tetapi aku menolak. Seperti biasanya, demam akan sembuh dengan sendirinya hanya dengan meminum Paracetamol saja.


Samar-samar kudengar getaran handphone dibalik bantal. Dengan malas kugapai handphone itu dan membukanya. Ternyata ada pesan dari Dani. Ia sepertinya mengetahui keadaanku dari kak Nuning. Sebab pagi tadi kak Nuning mengantar sepiring makanan kerumah.


"Dek, kamu sakit ya?"

Begitu pesan singkat Dani. Aku bingung akan menjawab iya atau berbohong. Jika aku berkata benar bahwa aku sakit, pasti dia akan khawatir.

"Ehm, iya kak. Tau darimana?" balasku.


"Aku tau dari Nuning. Kamu udah minum obat?" tanyanya khawatir.


"Udah, kak. Tadi ayah mau bawa ke puskesmas tapi aku gak mau, soalnya ribet antrian," balasku menenangkan.


"Kenapa gak mau sih. Kan bisa cepet sembuhnya," ujar Dani.


"Gak apa-apa nanti juga sembuh sendiri kok," aku memotong pembicaraan.


Setelah berkirim pesan, aku meminta izin pada kak Dani untuk istirahat, agar tubuh kembali fit dan bisa bersekolah besok. Kalau aku gak sekolah, artinya aku tidak bisa bertemu kak Dani setiap hari.


Tepat pukul 17.40. Suara adzan Maghrib menggema. Ternyata aku tidur sangat pulas. Entahlah, mungkin kelelahan karna kegiatan sekolah yang padat. Badan sudah terasa ringan dan segar.

Segera aku mengambil handuk dan mandi. Akan tetapi ibu melarangku mandi. Khawatir tubuhku akan panas tinggi lagi. Mengabaikan kekhawatiran ibu, aku bergegas masuk kekamar mandi.


Menunaikan 3 rakaat dan mengaji dirumah kak Nuning adalah rutinitas ku setiap sore. Dirumah kak Nuning aku bisa leluas abercerita, menceritakan segala tentangku dan Dani sejak kami jadian.


Kurasa hanya kak Nuning yang tak pernah menggunjingku dan selalu mendengar semua ceritaku. Kak Nuning memang orang baik.


Begitupun keluarganya yang tidak banyak bicara dan santun. Tak seperti saudara ayah dan ibu yang lain, selalu saja membicarakan dan mencari kesalahan keluarga sendiri.


Wajtu menunjukkan pukul 06.30. Sarapan sudah kuhabiskan dan buku pelajaran sudah siap sejak malam tadi. Berjalan kaki beramai-ramai dengan teman lainnya, sudah menjadi tradisi disini. Karna anak seusia kami belum diperbolehkan menggunakan kendaraan roda dua.


Hari ini diam-diam aku membawa handphone ke sekolah. Agar bisa berkomunikasi dengan kak Dani. Seperti biasa, kak Dani pasti akan menjemputku.


Duh, bahagia sekali hari ini, akhirnya bisa bertemu pacar kesayangan setelah beberapa waktu aku izin masuk sekolah. Kak Dani memang pengertian dan baik. Membuat konsentrasi belajarku terganggu saja mengingat keromantisannya.


Bab 3 (1)

0 0


- Sarapan kata KMO club batch 50

- Kelompok 2

- Day 9

- Jumlah Kata 421


"Terjerat"


Hari ini diam-diam aku membawa handphone ke sekolah. Agar bisa berkomunikasi dengan kak Dani. Seperti biasa, kak Dani pasti akan menjemputku.


Duh, bahagia sekali hari ini, akhirnya bisa bertemu pacar kesayangan setelah beberapa waktu aku izin masuk sekolah. Kak Dani memang pengertian dan baik. Membuat konsentrasi belajarku terganggu saja mengingat keromantisannya.


Lonceng tanda pelajaran berakhir. Pulang sekolah adalah waktu yang paling di nanti-nanti oleh semua siswa termasuk aku.


Mengabaikan panggilan Siska, aku bergegas menuju gerbang sekolah. Pasti kak Dani sudah menungguku disana. Karna aku tak sempat menghidupkan handphone. Dia mengirim pesanpun aku tidak tahu.

Dikejauhan aku sudah melihat kak Dani. Dengan jaket Levis kebanggaanya serta helm standar ala anak muda jaman sekarang.


Aku memandangi dirinya tengah mengutak-atik handphone. "Kak Dani!". Aku menghampiri dengan wajah semringah. Ia pun membalas senyumku,

"Kita langsung aja?" tanya Dani.


"Emangnya kita mau kemana?" aku balik bertanya.


"Terserah adek aja, mau jalan dulu atau langsung pulang. Kalo Mas pengennya kita jalan dulu," Dani memberi penawaran.


"Ya udah, kita jalan dulu bentar ya, abis itu pulang," aku memutuskan untuk jalan-jalan dulu.


Di sepanjang jalan, aku menceritakan aktifitas ku selama kami tidak bertemu. Begitupun dengannya. Kak Dani sempat menanyakan, apakah aku mau jika dibawa main kerumahnya, bertemu ayah dan ibu.


Rasanya, aku belum siap melakukan hal itu. Pasti aku akan dimarahi karena masih sekolah sudah pacaran. Kujawab saja belum bisa. Apa kata mereka jika aku dibawa kesana. Untuk apa juga, jika ayah dan ibuku tahu pun pasti akan dimarahi.


Setelah berjalan, kak Dani langsung membawaku pulang. Sampai di depan rumah, aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tetapi tak ada jawaban dari dalam. Kubuka gagang pintu ternyata tidak terkunci. Kemana ayah dan ibu, tumben sekali jam segini rumah kosong.


Akupun mengajak kak Dani untuk mampir dan mempersilahkannya duduk. Aku izin untuk mengganti pakaian padanya. Setelah aku berganti menggunakan baju rumahan, barulah aku duduk menemuinya di ruang tamu.


"Tumben banget dek, rumah sepi. Kemana ayah dan ibu?" tanya Dani.


"Gak tau juga Mas, gak biasanya mereka ninggalin rumah jam segini." jawabku.


"Kalau gitu, Mas pulang dulu ya, nanti kita telponan aja, gimana?" Dani pamit.


"Jangan, aku takut sendirian dirumah," aku bergelayut manja pada Dani.


Biasanya jika ayah dan ibu pergi, aku main kerumah kak Nuning atau Nia sepupuku disebelah rumah. Ayah Nia adalah adik kandung ayah. Rumahnya persis disebelah kiri rumahku. Tetapi hari ini mereka juga sepertinya tidak ada dirumah, jadi aku takut jika harus sendirian dirumah.


"Ya, udah. Mas temenin sampe mereka pulang ya, tapi buatin mas minum, haus nih." Dani membatalkan niatnya untuk pulang dan menemani Riani.




Bab 3 (2)

0 0

- KMO Indonesia

- KMO Club' batch 50

- Day 10

- Jumlah Kata 406



"Ya, udah. Mas temenin sampe mereka pulang ya, tapi buatin mas minum, hasu nih." Dani membatalkan niatnya untuk pulang dan memilih mrnrmaniku.


Aku menghidupkan televisi, untuk sekedar hiburan kami berdua. Kunikmati waktu bersama dirumah, sebelum ayah dan ibu datang.


Aku duduk di kursi yang berjarak dari kak Dani sebagai pembatas. Menghindari sewaktu-waktu ayah datang. Ini kali pertama, setelah satu jam dirumah berdua bersama kak Dani. Tiba-tiba saja ia mengambil tanganku dan mengelus-elusnya. Aku tak menolak sama sekali, karena aku merasa itu adalah tanda sayang dari kak Dani.


Ia menoleh, memandangi wajahku, kubalas dengan senyum termanis kala itu. Sambil sesekali melihat ke arah televisi dan pintu. Khawatir orangtuaku datang tanpa mengucap salam.


Kemudian, kak Dani beranjak dan duduk persis di sebelahku. Masih dengan posisi menggenggam jemariku. Lalu ia sesekali menciumnya.


Memindahkan tangan kanannya ke arah pinggang.

Aku merasa ada sesuatu yang beda. Ini pertama kalinya aku menjalin hubungan dengan seseorang. Aku tidak menolak apa yang dilakukan kak Dani. Justru aku merasa bahwa begitulah caranya mencintaiku.


"Sayang kan sama Mas?" tanya Dani.


"Sayang dong, kak," sahutku.


"Sesayang apa?" tanyanya lagi.


"Sesayang Ainun kepada Habibie!" aku menjawab asal.


"Hahahaha, kamu tambah lucu deh," kata Dani.


"Iyalah, emang aku lucu dari orok," ketusku.


Tiba-tiba saja sebuah ciuman mendarat di pipiku. Aku tak menyangka kak Dani seberani ini. Apakah ini yang dikatakan cinta?. Gumamku.


"Ihh, kok gitu sih!" Aku mencubit perut Dani.


"Gitu, kenapa? Gak boleh ya," tanya Dani.


"Ya ... Boleh, tapi, kan malu Mas," aku tersipu malu.

"Malu, apa seneng. Ayo, jujur." Dani mencolek hidungku.


"Malu iya, seneng iya," jawabku.


Kemudian kami kompak terkekeh. Ternyata kak Dani tidak sekaku yang kukira. Jika melihat parasnya yang garang dan tubuhnya yang besar tinggi, pasti siapapun akan takut meski hanya memandang wajahnya.


Degup jantungku terasa sangat kencang. Sejak tadi, kak Dani terus membuatku melayang keatas awan rasanya. Inikah yang namanya cinta? Tidak peduli kapan dan dimana.


Aku memang tidak begitu paham sifat seseorang. Hanya saja, kak Dani terus menunjukkan sikap baiknya terhadapku. Seperti menjemputku pulang sekolah, mengajakku jalan-jalan, hingga menemaniku dirumah saat ayah ibu tidak ada.

Semakin hari semakin banyak yang tak suka dengan kehadiran kak Dani dilingkungan ku. Paman Ahmad, adik bungsu dari ibuku melarang keras aku berpacaran dengan orang yang tak mereka kenal.


Apalagi sering pergi keluar dan berdua-duaan.

Paman Ahmad termasuk orang yang fanatik dan pandai agama. Wajar saja jika ia tak suka keponakannya berpacaran. Tapi, sudahlah. Aku sangat bahagia memiliki kak Dani saat ini. Semoga selamanya kami bisa bersama.



Bab 3 (3)

0 0

- KMO Indonesia

- KMO Club' batch 50

- Day 12

- Jumlah Kata 402


Paman Ahmad termasuk orang yang fanatik dan pandai agama. Wajar saja jika ia tak suka keponakannya berpacaran. Tapi, sudahlah. Aku sangat bahagia memiliki kak Dani saat ini. Semoga selamanya kami bisa bersama.

Waktu menunjukkan pukul 13.00, ayah belum juga datang. Ternyata, katanya keluarga pergi ke kampung sebelah, ada acara pernikahan saudara jauh ayah. Pantas saja ayah dan ibu lama perginya.

Kak Dani pamit pulang, karna hari sudah siang. Rasanya tak ingin aku berpisah darinya. Tapi apa hendak dikata, kak Dani harus segera pulang sebelum ayah dan ibu datang. Jika ayah dan ibu tau, kami berlama-lama dirumah hari ini.

Setelah kak Dani pamit. Aku makan siang dan segera beristirahat. Sorenya aku pergi kerumah kak Nuning untuk mengaji. Disana telah berkumpul saudara, teman dan tetangga yang seumuran denganku.

"Cieee, Riani. Enak nih tiap hari di antar pulang pacarnya," goda mereka

"Enak nih tiap hari berduaan," goda yang lainnya.

Aku hanya membalas dengan senyuman malu-malu. Kemudian bergabung dengan mereka seperti biasanya. Aku dan kak Nuning sepupu paling dekat, sehingga cerita hal apapun pasti dengan kak Nuning. Kak Nuning bukanlah sepupu julid seperti yang lainnya.

Lagi-lagi, paman Ahmad menegurku. Dia mengatakan katanya gaya pacaranku tidak sehat. Katanya lagi kak Dani bukanlah anak baik, sehingga paman Ahmad menyuruhku untuk memutuskan hubungan.

Hah, siapa dia melarangku seperti itu, bukankah kehidupannya pun berantakan. Kata kak Nuning, paman Ahmad juga ternyata melarangnya berpacaran dengan kak Arfan. Bahkan kak Arfan seringkali bertengkar, hanya karna keusilan paman Ahmad.

Entahlah, apa yang harus kulakukan. Ayah dan ibu saja tidak menanggapi terlalu serius. Meskipun hubunganku dan Dani memang intens.

Sepulang mengaji, aku langsung pulang kerumah untuk makan malam dan beristirahat. Agar besok siap pergi kesekolah.

Aku mengambil handphone yang kutaruh di bawah bantal. Ternyata sedari siang, ada pesan masuk dari kak Dani. Ia mengabari jika sudah sampai dirumah. Lalu sore harinya pun ia sempat mengirimkan pesan, menanyakan aku sedang apa Dan dimana.

Segera kubalas pesan singkatnya, tak sabaran mendapat balasan cinta darinya. Hihi. Setelah beberapa menit, akhirnya kak Dani membalas pesanku.

"Iya, Dek. Gapapa kalo baru balas. Pasti adek sibuk ya,? katanya.

"Iya kak, itu kegiatan adek setiap hari," jawabku.

"Gapapa, Dek. Yang penting adek sehat," katanya lagi.

"Makasih ya kak, pengertiannya," aku memberikan tanda senyum.

Ya ampun, bahagianya aku punya kak Dani. Selalu saja ia mengabari dan menghawatirkan kondisiku. Bagaimana bisa aku melupakannya, apalagi jika harus meninggalkannya begitu saja. Belum tentu nanti setelahnya aku menemukan orang baru sebaik dan seperhatian kak Dani.



Bab 3 (4)

0 0

POV Paman Ahmad

Aku adalah adik kandung ibu Veni, ibu dari Riani. Rumahku tak jauh dari rumah Nuning, yang juga keponakanku. Karena rumah kami berdekatan, aktifitas mereka pun selalu terekspose oleh mata ini.

Nuning, siswi Madrasah Aliyah negeri kelas 2. Saya rasa, itu adalah usia labil, yang cenderung memikirkan kesenangan belaka. Saya selalu berpesan kepada saudara dan keponakan saya khususnya wanita. Jangan pacaran, jika masih bersekolah. Karna akibatnya akan fatal jika kelewatan.

Saya rasa Nuning sudah bisa memilah mana yang baik dan tidak. Saya melarangnya berpacaran karena saya takut akan terjadi sesuatu diantara mereka. Apa jadinya jika usia sekolah yang harusnya dinikmati dengan bahagia, menjadi petaka untuk hidup mereka sendiri.

Siapa yang akan marah dan kecewa, saat anaknya gagal dalam didikan orangtua dan sekolah. Saya katakan pada mereka, saya memang bukan paman terbaik mereka, tapi jika boleh saya bisa melindungi mereka dari kejauhan.

Kenapa saya katakan demikian, sebab orangtua mereka adalah orangtua yang kolot dan masih khas pedesaan. Tidak tahu alat komunikasi, tidak tahu sosial media, tidak tahu pergaulan diluar desanya.

Mereka membiarkan anak perempuannya kesana kemari dengan lelaki yang belum dikenal, berduaan dan menjadikan itu sebagai konsumsi publik, tentu akan salah kaprah.

Saya juga memiliki dua anak perempuan, sungguh tidak ingin anak saya di permainkan oleh lelaki manapun. Itu yang paling saya khawatirkan.

Namun, sikap saya di nilai salah oleh mereka. Apa yang saya nasehatkan pada mereka, mereka justru abai dan tidak peduli. Masih saja melanjutkan hal yang salah.

Riani, dia adalah keponakan kandung saya. Sebab ibunya adalah kakak kedua saya dalam keluarga. Memang, kak Veni tidak pernah bersuara atas apa yang dilakukan anaknya. Hanya saja saya selalu mengingatkan untuk selalu mengawasi anak semata wayangnya.

Jangan karena dia anak tunggal, apapun yang diinginkan dan dilakukan itu selalu dituruti. Riani siswi SMPN negeri kelas 3. Dia adalah keponakan paling lugu dan kecil saat ini. Anak tunggal dikeluarganya.

Dulu Riani tak kenal dunia luar. Namun saat Nuning memiliki kekasih diluar desa ini, Riani pun berubah. Ia menjalin kasih dengan teman dekatnya kekasih Nuning, Arfan.

Sama saja, dia juga anak sekolah kelas 2 SMK negeri. Setiap hari mereka berkumpul dan bercengkrama dirumah Nuning. Wajar bila saya menyaksikan langsung gaya pacaran mereka. Belum lagi Riani, yang berani memasukkan anak SMK itu kedalam rumah, saat orangtua mereka tidak dirumah. Saya mendapati laporan itu dari tetangga persis sebelah rumahnya yang juga paman Riani dari ayahnya.

Sungguh mereka keterlaluan juga memalukan. Lihat saja nanti, apa yang akan terjadi.

Bab 4 (1)

0 0

- Sarapan kata KMO club' batch 50
- Kelompok 2
- Day 13
- Jumlah Kata 406

Tak terasa, sebulan sudah aku dan kak Dani pendekatan. Namun, belum ada kata pacaran. Aku sangat berharap, kak Dani bisa dekat denganku dan menjadi sepasang kekasih seperti kak Arfan dan kak Nuning.

Teman-teman dikelas sudah mengetahui, jika aku sedang dekat dengan seseorang yang bukan berasal dari sekolahku. Seringkali kak Dani menjemputku sepulang sekolah. Akan tetapi, hanya mengantar hingga depan gang saja.

Aku masih takut, jika ketahuan ayah dan ibu pasti akan dimarahi. Apalagi kami masih sama-sam sekolah. Ayah dan ibu tidak tau apa yang aku rasakan saat ini, bahagia bukan main. Menemukan sosok yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Pesan singkat yang dikirim oleh kak Dani, ia berjanji akan menjemputku lagi dan mengajakku jalan, meskipun hanya sebentar. Aku selalu mengiyakan ajakannya kemanapun dia pergi.

Hari ini, pertama kalinya kak Dani mengantarku sampai kedepan rumah. Kondisi rumah sepertinya kosong. Mungkin ibu masih di kebun, sedangkan ayah berada dikantornya.

Aku mengajak kak Dani untuk masuk lebih dulu. Meskipun kak Dani sepertinya masih takut dan malu-malu. Kondisi rumah memang sedang tidak ada siapa-siapa. Tetapi, tetangga terdekatku hampir semuanya adalah saudara ibu dan ayah.

Tak lama kemudian, setelah duduk sebentar. Kak Dani izin untuk pulang. Akupun mengiyakan, meski sejujurnya aku tak ingin pisah darinya. Sejak kami jadian, rasanya tak ingin absen mendengar kabarnya.

Berbekal handphone BBS, kami menyebutnya. Jalinan kasih antara aku dan kak Dani berjalan baik. Kak Dani sering menyambangi rumah ketika hari libur, atau kamu sekedar berkumpul dirumah kak Nuning.

Hubunganku dan kak Dani sudah tercium satu kampung. Hingga mereka tau, jika aku berpacaran dengan kak Dani. Tidak ada komentar apapun dari ayah dan ibu, yang sudah pasti tau kabar ini.

Semakin hari, rasanya kami semakin dekat.
Sesekali kak Dani membelikanku buku bacaan, agar nanti saat tak punya pulsa, aku tidak merasa kesepian tanpa kabarnya. Maklum saja, kami hanya anak sekolah yang belum memiliki penghasilan sendiri. Jadi, ketika tak memiliki pulsa, kami tidak saling mengabari.

Pernah, suatu hari aku dan kak Dani sama-sam tidak  berkabar. Akan tetapi Kekasih kak Nuning memberiku peluang, agar bisa menghubungi Dani, melalui handphone nya. Baik sekali mereka berdua, semoga hubungan mereka pun langgeng hingga pelaminan.

"Kak, apa kabar. Ini aku Riana, pinjam handphon kak Dani. Bales aja ya, biar disini yang bayarin SMS-nya"

Beberapa menit kemudian terlihat balasan dari Dani.

"Alhamdulillah, baik Dek. Kamu pasti kangen ya sama aku. Soalnya aku juga"

Aku tersenyum gemas ketika membaca pesan balasan dari Dani. Tak lama, akupun membalasnya.
"Iya, kak. Kangen banget malah. Kapan kita ketemu"

Bab 4 (2)

0 0

- KMO Indonesia

- KMO club' batch 50

- Day 14

- Jumlah Kata 402



"Terlalu rumit"

"Mas, kayaknya kita gak usah ketemu dulu deh".

Aku kirimkan pesan pada Dani. Aku mengantisipasi akan terjadi sesuatu jika kami bertemu terlalu sering.

Sengaja kutinggalkan handphone dirumah hari ini. Untuk mengatur fokusku saat disekolah.

Lagi, supaya aku tak membaca pesan balasan dari Dani, yang akan menggangguku seharian jika ia bertanya kenapa aku mengajaknya untuk tidak bertemu.

Hari ini ada test persiapan ujian nasional. Karna tidak lama lagi kami akan menghadapi ujian akhir. Belum terfikir olehku, akan kemana setelah lulus. Kak Dani sudah merekomendasikan agar aku bersekolah ditempatnya. Kemungkinan agar kami sering bertemu dan dia bisa mengantar jemput.

Biarlah, kulupakan sejenak tentangnya hari ini. Ya, hari ini saja.

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Sudah lama rasanya aku pulang sekolah tak berjalan kaki dengan teman-teman.

"Tumben kamu jalan kaki, mana pacarmu?" kata Siska.

"Mmm, dia gak jemput, soalnya ada kegiatan," sanggahku.

"Oh. Pantesan baru inget sama aku." Siska memasang wajah judesnya.

"Jadi, gak boleh nih kita pulang bareng? Yaudah deh, aku duluan aja kalo gitu," aku mendahului Siska dengan wajah kecewa.

Aku tidak menyangka, teman-teman akan bersikap seperti tadi. Hanya karena aku terlalu fokus dengan hubunganku dan Dani.

Memang, sejak aku dekat dengan Dani, aku hampir tidak pernah bermain atau pulang sekolah berjalan kaki seperti dulu. Wajar saja jika teman-teman menjauhiku. Bahkan dikelas, sikap mereka pun terlihat menghindar.

Aku berjalan dengan wajah tertunduk kecewa. Sesekali menendang kerikil yang terlihat di jalan menuju gerbang sekolah.

Saat melewatinya, aku dikejutkan oleh seseorang yang tak asing bagiku. Siapa lagi jika bukan Dani. Tiba-tiba saja dia sudah berada di depan gerbang sekolah. Aku benar-benar kaget dibuatnya.

Berjalan pelan sambil mendekat kearahnya. Aku tidak tahu harus menyembunyikan wajah merahku yang seperti udang rebus, ketika berhadapan dengannya.

Dia tersenyum. Sedang badanku gemetar karna salah tingkah. Aku teringat pesan yang kukirimakn pagi tadi. Seharusnya dia marah, kenapa malah senyam-senyum begitu.

"Mau diantar pulang apa pulang sendiri?" Dani bertanya padaku.

"Aa ... Eh ... ." Tak bisa mengatakan apapun karna grogi.

"Udah, ayo naik ke moto," perintahnya.

Aku tidak bisa menolak ajakannya kali ini. Anggap saja pagi tadi adalah pesan rinduku untuknya, hihi.

Diperjalanan, Dani bertanya apakah aku ada masalah? Dengan siapa? Kenapa mengirimkan pesan seperti pagi tadi.

Detak jantungku semakin tak karuan. Ini memang salahku, mengirimkan pesan itu karna emosi yang menjejaki kepala. Sakit rasanya, jika ada yang membicarakan hubungan kami kesana-kemari. Belum lagi nanti jika omongan itu sampai di sekolah, bisa-bisa aku dikeluarkan oleh kepala sekolah. Seperti yang kutahu, wali kelas adalah guru yang tegas gan galak


Bab 4 (3)

0 0

- KMO Indonesia

- KMO batch 50

- kelompok 2 Narasi semesta

- day 15

- jumlah kata 402




Sesampainya di depan rumah. Aku segera turun dari motor Dani. Lalu masuk kedalam rumah tanpa sepatah katapun. Dani sepertinya heran terhadap sikapku, hanya saja aku benar-benar menjaga agar tak banyak mata yang memerhatikan ku kali ini.

"Mas pulang langsung aja yah, adek mau istirahat cepet soalnya sore ada kegiatan." kataku pada Dani.

"Hm, tumben sekali adek kayak gini," sahutnya.

"Gak apa-apa mas, biar banyak istirahatnya, takut sakit kayak kemarin," aku mencoba menenangkan.

Aku sangat kaget, Dani tak menggubris omonganku. Dia justru turun dari motor ya, melepas helm dan ikut kedalam rumah.

Aku tak bisa menolaknya, khawatir dia akan marah dan memutuskan hubungan kami sesaat. Dengan mempersilahkannya duduk di sofa, aku pamit untuk berganti pakaian.

Sungguh aneh laki-laki itu. Terbuat dari apa hatinya. Padahal sudah dua kali dalam sehari aku mengatakan hal bodoh yang tak seharusnya.

Kenapa Dani tidak marah. Itu yang aku pertanyakan. Harusnya jika dia memang mau marah, bisa saja. Ini memang sifatnya atau karna kami baru pacaran saja sikapnya manis.

Setelah berganti pakaian aku keluar sambil membawakannya teh manis. Ini kali pertama aku membuatkan tamu minuman dari dapur. Karna selama ini, ibulah satu-satunya orang yang repot ketika ada yang bertamu.

"Minum mas, gak tau manis atau nggak, hehe." aku tersenyum kecut.

"Dek, kamu kenapa sih dari pagi aneh. Ngirimin pesan gak bisa ketemu segala macem. Ini lagi mas di usir bukannya disuruh mampir," Dani membukan obrolan.

"Gak apa-apa mas. Cuma labu takut aja. Soalnya orang dikampung sini mencurigai hubungan kita, karna seringnya kita berdua. Apalagi sekarang kamu sudah berani mampir." jelasku pada Dani.

"Lah, emangnya kenapa? Lagian kita gak ciuman n ngapa-ngaoain tengah lapangan," sanggah Dani.

"Iya, emang bener sih. Tapi ... ." aku menggantung bicaraku.

"Kenapa lagi? Pasti bukan hanya itu yang bikin kamu berubah kan?" Dani mulai curiga. Namun aku takut untuk membicarakan kelanjutannya.

"Itu, mas. Tau paman Ahmad kan. Yang rumahnya Deket kak Nuning ?" aku mulai menjelaskan.

"Iya, tau. Yang kerja di PDAM itu kan ya. Kenapa dia?" tanya Dani penasaran.

"Dia marah-marah ke adek dan kak Nuning. Katanya kita gak boleh pacaran masih sekolah dan dia gak suka keponakannya dibawa kesana kemari oleh pria asing, yang bahkan tak ia kenali." jelasku panjang.

"Oh, emang kenapa dia ngelarang begitu. Bukannya ayah ibu mu biasa aja dek. Lagian kamu bisa jelasin kalo kita gak ngapa-ngaoain," kata Dani.

"Udah, mas. Adek udah jelasin. Adek bilang kalo kita hanya jalan-jalan gak lebih." aku mengeruc7tkan bibir karna kesal dengan paman Ahmad yang kepowers.


Bab 4 (4)

0 0

- KMO indonesia

- KMO club' batch 50

- Kelompok 2 Narasi semesta

- Day 16

- jumlah kata 401





Aku menolak keras tuduhan orang-orang sekitar. Meskipun kenyataannya, aku dan Dani memang lengket seperti perangko. Rasanya aku tak ingin jauh-jauh darinya sedetikpun.

"Yang menjalani hubungan, kita. Kenapa orang lain yang seolah gak suka sama kita, ya?" Dani berfikir sambil menopang dagu.

"Namanya juga dikampung kak, setiap kali ada orang asing atau anak sini berhubungan dengan anak luar, pasti lebih," jelasku.

"Kolot juga ya mereka, Dek. Padahal niat Mas baik datang dikampung ini. Soalnya Mas kan belum pernah punya kampung halaman," Dani tertawa.

"Hmmm, halaman berapa emangnya?" Aku tertawa lebih kencang kali ini.

Wajah Dani tersipu malu, ketika aku menggodanya. Ini bukan kali pertama Dani mampir kerumah, saat ayah dan ibu tidak ada. Kami seringkali melakukan hal-hal kecil layaknya orang pacaran.

Hari Minggu besok, Arfan mau mengajakku kerumahnya. Entah apa kata ibunya, aku hanya bisa pasrah saja. Sebelum kesana, sebelumnya aku sudah pendekatan dengan adik Dani. Namanya Dina. Dian seusia denganku, bedanya aku masih dibangku SMP sedangkan dia dibangku SMA.

Sekedar menanyakan kabar Dina, atau menanyakan kemana mas Dani pergi, jika tidak ada kabar. Bisa dikatakan, Dina adalah mata-mataku.

Ibu terlihat pulang dari kebun dengan membawa berbagai sayuran dari kebun. Dani menyapa ibu dengan sopan. Begitupula ibu bersikap pada Dani.

"Ibu tinggal dulu, ya," ibu berlalu kedapur, dengan membawa kantong bawaannya.

Mas Dani pamit untuk pulang, karna ibu sudah datang, mungkin merasa tak nyaman lama-lama bertamu. Aku mengantarkan mas Dani kedepan pintu.

Tiba-tiba saja, ibu memanggil dari dalam dengan membawa plastik hitam.

"Ria, ini untuk Dani bawa pulang. Mau gak mereka sayur dan ikan hasil memancing di sungai ini," ibu memberikan plastik hitam itu padaku dan kuberikan pada Dani.

"Makasih ya, Bu. Jangan repot-repot," Dani menerima pemberian ibu.

Itu kali pertama ibu bertemu langsung dengan mas Dani. Ibu memang tak pernah banyak suara, apalagi perihal anak semata wayangnya. Meskipun aku belum pernah memberikan yang terbaik pada ibu.

Ibu tersenyum dan kembali ke dapur. Begitupun mas Dani, berlalu meninggalkan pelataran rumah. Dalam hatiku, "ada lampu hijau dari ibu". Akan tetapi tidak tau dengan ayah, karna ayah juga tipe pendiam yang keras kepala. Jika aturannya dilanggar, beliau bisa marah besar.

Melihat sikap kedua orangtuaku yang hebat, sabar dan pantang menyerah. Terkadang aku kasihan pada mereka, harus menjual hasil kebun karet setiap Minggu, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Keluargaku bukan keluarga kaya. Meskipun rumah ayah itu terkesan besar dan mewah, namun isinya sangat sederhana serta apa adanya. Wajar bila keluarga lain ada yang irinterhadap ayah


Bab 5 (1)

0 0

- KMO indonesia

- KMO club' batch 50

- kelompok 2 Narasi semesta

- Day 17

- Jumlah Kata 412


POV Ibu


Namaku Diana. Aku adalah ibu Riani. Riani anakku satu-satunya. Setahun menikah, aku tak kunjung dikaruniai momongan. Sehingga kami menjadi bahan gunjingan keluarga suamiku.



Mereka mengaitkan kehamilanku yang tak kunjung datang dengan problem keluarga mereka. Mereka berfikir aku yang menekan kehamilan dengan kontrasepsi. Padahal itu sama sekali tidak benar. Bahkan aku tak mengetahui apa itu kontrasepsi.

Sebenarnya, aku bukanlah asli warga dikampung ini. Karena menikah dengan ayah Riani, kami menetap dan membangun hunian disini.


Dulu, kami dihina dan di caci karena kemiskinan. Tinggal disebuah gubuk ditengah hutan yang tanahnya adalah peninggalan orangtua suami.

Karna problem keluarga mereka, aku kerap menjadi sasarannya. Mungkin itu juga penyebab stres yang kualami sehingga aku tak kunjung hamil.


Tahun kedua, di bulan Juni. Aku mengalami keram di bagian perut bawah. Sebelumnya aku tak pernah mengalami ini. Belum lagi, tubuh yang terasa capek dan ingin istirahat lebih lama.


Karna keluhanku itu, suamiku mengajak untuk ke bidan setempat. Sesampainya disana, aku menjalani pemeriksaan seperti tes urin dan tes kehamilan.


Betapa terkejutnya ketika mendengarkan penjelasan bidan, katanya aku hamil. Bahagia tersiratbdi raut wajah suamiku. Terjawab sudah keresahan hati kami selama ini.


Setelah dari bidan. Aku dibawa kepasar untuk membeli aneka sayur dan buah-buahan untuk mendukung gizi dan nutrisi saat aku hamil, katanya. Itu juga saran terbaik dari bidan.


Saat genap 9 bulan kehamilanku, sesuai dengan hari perkiraan lahir dari bidan. Dibilang Februari, lahirlah seorang bayi berjenis kelamin perempuan dengan berat 2.700 gram.


Terasa bahagia bukan main. Semua keluarga turut bahagia atas kelahiran anak perempuan kami. Karna melahirkan secara normal, hanya 2 hari saja perawatan di klinik bidan akhirnya aku di perbolehkan pulang kerumah.


Dirumah, semua keluarga sudah menungguku. Rumah sudah terlihat rapi dan kamar bayi disiapkan. Aku tau, ini yang keluarga suamiku tunggu, buktinya mereka antusias menyambut kehadiranku dirumah.


Tawa ceria mereka ramai terdengar dirumah. Sedang bayi mungilku terus tidur pulas. Mungkin juga karna cuaca sedang hujan.


Dirumah, ibu mertua sudah mempersiapkan aneka makanan yang hanya boleh dikonsumsi wanita nifas dan menyusui. Meskipun tak sesuai dengan selera dan lidah, namun harus kuhargai rasa kasih sayangnya padaku juga cucunya.


Beruntung, aku mendapat perhatian khusus dari ibu mertua, yang belum tentu orang lain mendapatkannya.


Tak menyangka, kejahatan yang keluarga suamiku lakukan terhapus dengan lahirnya anak pertamaku. Sungguh ini karena takdir Allah yang tak bisa dihentikan oleh siapapun. Kebencian memang tak boleh dibalas, tetapi harus dibuktikan dengan kebaikan-kebaikan lainnya.


Kubisikkan di samping telinga anakku, bahwa nanti ia harus menjadi wanita dewasa yang sukses dan mandiri agar orangtuanya tak lagi dihina karna kemiskinan.



Bab 5 (2)

0 0

- KMO indonesia

- KMO club' batch 50

- kelompok 2 Narasi semesta

- Day 18

- Jumlah Kata 401



"Dek, kata ibu mas terimakasih banyak titipannya dari ini tadi. Keliarmtannya ibu seneng banget loh," Dani mengirim pesan padaku.


Aku membacanya dengan senyum bahagia. Syujurlah, jika orang kota menerima makanan dari kampung. Hanya itu yang ibu bisa berikan. Karna setiap hari ibu ke kebun dan hasilnya adalah sayuran kampung.


"Syukurlah mas kalo gitu, adek ikut seneng," balasku.


Aku menyampaikan ucapan terimakasih itu pada ibu.


"Bu, tau gak. Titipan ibu kemarin udah diterima oleh ibu mas Dani. Katanya terimakasih banyak, ibunya seneng," begitu kusampaikan pesan Dani.


Besok adalah hari Minggu, seperti biasa mas dani mengajakku jalan. Hanya saja kali ini tak melalui kak Nuning. Sebab mas Dani sudah berani kerumah tanpa kak Arfan.


Katanya lagi, mas Dani akan mencuri perhatian ayah dan ibu maklum saja, kalau ayah sendiri agak sedikit cuek dengan orang baru. Beda dengan ibu yang selalu welcome.


"Bu, kalo anak ibu ini dekat dengan mas Dani, bolehkan?" aku mendatangi ibu di dapur.


"Hmm, kalo ibu sih bebas asal baik-baik aja gak nrok-neko, ibu percaya Dani anak baik, begitupun kamu," ucap ibu.


"Baiklah, kalo gitu. Riani akan ingat pesan-pesan ibu. Tapi, gimana dengan ayah ya, Bu," tanyaku lagi.


"Sudahlah kamu gak usah khawatirin ayah. Ayah itu baik pasti dibolehin asal pacarannya sehat. Kamu tau sendiri ayah adalah perangkat desa, semua orang mengenalnya, jadi jangan sekli-kali berbuat tak senonoh." Ibu menasihati panjang lebar.


Aku mengerti, semua orangtua pasti mengharapkan anaknya sukses dan menjunjung nama baik keluarganya. Apalagi aku adalah anak perempuan satu-satunya. Saat ini usiaku 16 tahun. Sebentar lagi akan meninggalkan bangku SMP.


Banyak yang bertanya, kenapa usiaku yang seharusnya SMA, malah justru aku duduk di bangku SMP. Ya, itu semua karna kebodohanku dulu yang tak mau sekolah karna dibully oleh teman-teman.


Di usia yang sudah remaja, katanya aku masih menyusu pada ibu, itulah penyebab aku dibuli jika sekolah.


Ayah sudah menasihati untuk tidak meladeni teman-teman, hingga mendatangi kepala sekolah untuk menindak anak-anak yang membully, tetapi tidak berhasil.


Hari-hari kuhabiskan dirumah bersama ibu saat tidak sekolah. Menyadap karet, memancing ikan dengan alat tradisional. Tidak ada lagi kegiatan Antar jemput sekolah saat itu oleh ayah.


Beberapa dewan guru sempat merayu agar aku kembali bersekolah, namun aku tetap pada pendirian, aku tak ingin sekolah sebab teman-teman mengolok-olok.


Tidak mudah, hari-hariku dirumah justru menjadikanku anak yang minder. Setiap bertemu teman sekolah, aku langsung bersembunyi di dalam rumah karna malu.


Aku tau, ibu sering memperhatikan, tetapi ibu enggan bicara. Mungkin karna menghargai perasaanku saat itu


Bab 5 (3)

0 0

- KMO Indonesia

- kmo batch 50

- Kelompok 2 Narasi semesta

- Day 19

- Jumlah Kata 402




Korban Bullying




Di usia menginjak 14 tahun, mungkin trauma yang kualami sudah menghilang. Pada akhirnya aku meminta ayah untuk masuk sekolah lagi. Seharusnya usia itu aku sudah kelas 2 SMP. Namun tak mengapa, niatku sudah bulat, agar aku tak mengecewakan ayah dan ibu.

Ayah mengusahakannya. Akhirnya, aku menyelesaikan sekolah dasar dengan baik. Masuk di sekolah menengah pertama yang tak jauh dari kediamanku.

Disana banyak bertemu teman baru, tak ada satupun yang mencoba membuliku. Mungkin karna mereka tidak tahu latar belakangku. justru itu yang aku inginkan, agar bisa bersekolah tanpa ada yang mengganggu.

Aku tahu, ayah dan ibu turut bahagia. Namun tetap saja mereka menjadikanku ratu dirumah. Kukatakan pada ibu, bahwa aku sudah beranjak remaja jangan terlalu mengurusi segala hal yang aku bisa lakukan sendiri.

Untuk saat itu, aku sudah mengetahui rasa malu. Bagaimana aku bisa mandiri jika semua ibu yang mengerjakan.

Saat naik ke kelas 2, disitulah aku mengenal sosok mas Dani dari kak Nuning. Lelaki selain ayah, yang kuanggap baik segalanya, sama seperti ayah. Sejak mengenal mas Dani, dialah yang jadi teman setia satu-satunya.

Mas Dani pernah bilang, kalau ada yang mengganggu disekolah kabari saja dirinya. Maka dia akan memarahi orang itu. Ah, bagaimana tidak aku bahagia sedangkan aku dilindungi oleh lelaki sepertinya.

Mungkin ini kebahagiaan, karna selama ini aku tak memiliki kakak maupun adik. Kuanggap saja dia kakakku yang memberikan sepenuh hatinya untukku.

Lagi, mas Dani menawarkan untuk mengajakku kerumahnya. Katanya sambil perkenalan, karna ibunya tipe yang sulit mengenal orang baru.

Benar saja, ibunya sangat welcome meskipun sedikit banyak tanya. Ibu Dani memiliki usaha sembako. Karna melihat penampilanku yang biasa saja, ibu Dani menawarkan, apakah mau jika aku diberi pakaian layak pakai dari adiknya Dani yang seusiaku. Aku lantas menjawab mau.

Sejak itulah penampilanku berubah drastis. Bahkan penilaian orang-orang dikampung juga demikian. Kebahagiaanku bertambah. Dari situlah aku menganggap bahwa keluarga Dani bisa menerima kondisiku tanpa menghinakanku.

Selalu saja ada pemberian dari ibunya baik pakaian, perlengkapan sekolah maupun makanan yang dikirimkan melalui Dani. Ibuku turut bahagia melihatnya.

Hubunganku dengan Dani semakin erat bahkan tanpa jarak. Ayah dan ibu pun sudah mengetahui, bahkan sejak mas Dani semakin sering menyambangi rumah.

Sebentar lagi mas Dani lulus sekolah. Kabarnya ia akan mengikuti tes masuk TNI Ad. Karna ayahnya adalah seorang TNI Ad. Maka ia akan meneruskan citanya sebagai TNI.

Ada rasa sedih dan bahagia disana. Sedih karna jika mas Dani benar mengikuti tes dan lolos, kami akan LDR beberapa waktu. Bahagia, karna masa depanku ada disana.


Bab 5 (4)

0 0

- KMO Indonesia
- KMO club batch 50
- Kelompok 2 Narasi semesta
- Day 20
- Jumlah Kata 402

Di usia menginjak 14 tahun, mungkin trauma yang kualami sudah menghilang. Pada akhirnya aku meminta ayah untuk masuk sekolah lagi. Seharusnya usia itu aku sudah kelas 2 SMP. Namun tak mengapa, niatku sudah bulat, agar aku tak mengecewakan ayah dan ibu.

Ayah mengusahakannya. Akhirnya, aku menyelesaikan sekolah dasar dengan baik. Masuk di sekolah menengah pertama yang tak jauh dari kediamanku.

Disana banyak bertemu teman baru, tak ada satupun yang mencoba membuliku. Mungkin karna mereka tidak tahu latar belakangku. justru itu yang aku inginkan, agar bisa bersekolah tanpa ada yang mengganggu.

Aku tahu, ayah dan ibu turut bahagia. Namun tetap saja mereka menjadikanku ratu dirumah. Kukatakan pada ibu, bahwa aku sudah beranjak remaja jangan terlalu mengurusi segala hal yang aku bisa lakukan sendiri.

Untuk saat itu, aku sudah mengetahui rasa malu. Bagaimana aku bisa mandiri jika semua ibu yang mengerjakan.

Saat naik ke kelas 2, disitulah aku mengenal sosok mas Dani dari kak Nuning. Lelaki selain ayah, yang kuanggap baik segalanya, sama seperti ayah. Sejak mengenal mas Dani, dialah yang jadi teman setia satu-satunya.

Mas Dani pernah bilang, kalau ada yang mengganggu disekolah kabari saja dirinya. Maka dia akan memarahi orang itu. Ah, bagaimana tidak aku bahagia sedangkan aku dilindungi oleh lelaki sepertinya.

Mungkin ini kebahagiaan, karna selama ini aku tak memiliki kakak maupun adik. Kuanggap saja dia kakakku yang memberikan sepenuh hatinya untukku.

Lagi, mas Dani menawarkan untuk mengajakku kerumahnya. Katanya sambil perkenalan, karna ibunya tipe yang sulit mengenal orang baru.

Benar saja, ibunya sangat welcome meskipun sedikit banyak tanya. Ibu Dani memiliki usaha sembako. Karna melihat penampilanku yang biasa saja, ibu Dani menawarkan, apakah mau jika aku diberi pakaian layak pakai dari adiknya Dani yang seusiaku. Aku lantas menjawab mau.

Sejak itulah penampilanku berubah drastis. Bahkan penilaian orang-orang dikampung juga demikian. Kebahagiaanku bertambah. Dari situlah aku menganggap bahwa keluarga Dani bisa menerima kondisiku tanpa menghinakanku.

Selalu saja ada pemberian dari ibunya baik pakaian, perlengkapan sekolah maupun makanan yang dikirimkan melalui Dani. Ibuku turut bahagia melihatnya.

Hubunganku dengan Dani semakin erat bahkan tanpa jarak. Ayah dan ibu pun sudah mengetahui, bahkan sejak mas Dani semakin sering menyambangi rumah.

Sebentar lagi mas Dani lulus sekolah. Kabarnya ia akan mengikuti tes masuk TNI Ad. Karna ayahnya adalah seorang TNI Ad. Maka ia akan meneruskan citanya sebagai TNI.

Ada rasa sedih dan bahagia disana. Sedih karna jika mas Dani benar mengikuti tes dan lolos, kami akan LDR beberapa waktu. Bahagia, karna masa depanku ada disana

Bab 6 (1)

0 0

- KMO Indonesia
- KMO club batch 50
- Kelompok 2 Narasi semesta
- Day 21
- Jumlah Kata 402

POV Ibu

Namaku Diana. Aku adalah ibu Riani. Riani anakku satu-satunya. Setahun menikah, aku tak kunjung dikaruniai momongan. Sehingga kami menjadi bahan gunjingan keluarga suamiku.

Mereka mengaitkan kehamilanku yang tak kunjung datang dengan problem keluarga mereka. Mereka berfikir aku yang menekan kehamilan dengan kontrasepsi. Padahal itu sama sekali tidak benar. Bahkan aku tak mengetahui apa itu kontrasepsi.
Sebenarnya, aku bukanlah asli warga dikampung ini. Karena menikah dengan ayah Riani, kami menetap dan membangun hunian disini.

Dulu, kami dihina dan di caci karena kemiskinan. Tinggal disebuah gubuk ditengah hutan yang tanahnya adalah peninggalan orangtua suami.
Karna problem keluarga mereka, aku kerap menjadi sasarannya. Mungkin itu juga penyebab stres yang kualami sehingga aku tak kunjung hamil.

Tahun kedua, di bulan Juni. Aku mengalami keram di bagian perut bawah. Sebelumnya aku tak pernah mengalami ini. Belum lagi, tubuh yang terasa capek dan ingin istirahat lebih lama.

Karna keluhanku itu, suamiku mengajak untuk ke bidan setempat. Sesampainya disana, aku menjalani pemeriksaan seperti tes urin dan tes kehamilan.

Betapa terkejutnya ketika mendengarkan penjelasan bidan, katanya aku hamil. Bahagia tersiratbdi raut wajah suamiku. Terjawab sudah keresahan hati kami selama ini.

Setelah dari bidan. Aku dibawa kepasar untuk membeli aneka sayur dan buah-buahan untuk mendukung gizi dan nutrisi saat aku hamil, katanya. Itu juga saran terbaik dari bidan.

Saat genap 9 bulan kehamilanku, sesuai dengan hari perkiraan lahir dari bidan. Dibilang Februari, lahirlah seorang bayi berjenis kelamin perempuan dengan berat 2.700 gram.

Terasa bahagia bukan main. Semua keluarga turut bahagia atas kelahiran anak perempuan kami. Karna melahirkan secara normal, hanya 2 hari saja perawatan di klinik bidan akhirnya aku di perbolehkan pulang kerumah.

Dirumah, semua keluarga sudah menungguku. Rumah sudah terlihat rapi dan kamar bayi disiapkan. Aku tau, ini yang keluarga suamiku tunggu, buktinya mereka antusias menyambut kehadiranku dirumah.

Tawa ceria mereka ramai terdengar dirumah. Sedang bayi mungilku terus tidur pulas. Mungkin juga karna cuaca sedang hujan.

Dirumah, ibu mertua sudah mempersiapkan aneka makanan yang hanya boleh dikonsumsi wanita nifas dan menyusui. Meskipun tak sesuai dengan selera dan lidah, namun harus kuhargai rasa kasih sayangnya padaku juga cucunya.

Beruntung, aku mendapat perhatian khusus dari ibu mertua, yang belum tentu orang lain mendapatkannya.

Tak menyangka, kejahatan yang keluarga suamiku lakukan terhapus dengan lahirnya anak pertamaku. Sungguh ini karena takdir Allah yang tak bisa dihentikan oleh siapapun. Kebencian memang tak boleh dibalas, tetapi harus dibuktikan dengan kebaikan-kebaikan lainnya.

Kubisikkan di samping telinga anakku, bahwa nanti ia harus menjadi wanita dewasa yang sukses dan mandiri agar orangtuanya tak lagi dihina karna kemiskinan.

Bab 6 (2)

0 0

- KMO Indonesia
- KMO club'batch 50
- kelompok 2 Narasi semesta
- Day 22
- Jumlah Kata 402

"Kelulusan mas Dani"

Hari kelulusan mas Dani sudah lewat. Kini ia sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar. Tetapi kami justru semakin sering bertemu, karna banyak waktu luang.

Aku naik kekelas 9. Rasanya lelah belajar sudah menerpa. Tahun depan baru memasuki ujian akhir dan aku akan melanjutkan jenjang SMA.

Mas Dani sudah memasuki babak baru di kehidupannya. Mempersiapkan segala berkas untuk tahap awal tes kedinasan menjadi tamtama TNI Ad. Harapanku adalah mas Dani lolos dengan sempurna hingga test akhir.

Aku semakin sering dibawa kerumahnya. Ibunya sangat baik dan ramah. Setiap kali pulang dari sana, selalu dibawakannya buah tangan. Entah makanan atau pakaian layak pakai dari adiknya.

Sedangkan ayah mas Dani tak pernah kujumpai, mungkin karna saat aku kesana, ayahnya masih dikantor.

Gosip dikampungku semakin merebak, akan tetapi aku dan mas Dani tak pernah goyah. Nanti itu akan dibuktikan olehnya, jika mas Dani adalah anak baik.

Seminggu lagi, mas Dani akan berangkat ke luar kota. Sesuai agenda yang ditentukan oleh kesatuan kodim setempat. Artinya mas Dani akan meninggalkanku beberapa saat kedepan.

Sedih bercampur bahagia. Sedih akan tidak bertemu dengannya. Bahagia, jika mas Dani benar-benar lulus. Langkah baru setelahnya aku tidak tau. Sebab jika mas Dani menjadi seorang TNI, tidak tau akan ditempatkan di daerah mana. Bisa saja selama bertahun-tahun kami tidak akan jumpa.

Yang paling kukhawatirkan adalah, ketika jauh dariku, mas Dani lupa dan menemukan orang baru.

"Hehh!" Aku dikejutkan oleh tepukan kasar sahabatku. Akupun tersentak dan bangun dari lamunan.

"Ngelamun, mikirin apa?" Tanya Siska judes.

"Gak mikirin apa-apa, pengen menghayal aja," jawabku sekenanya.

"Bohong kamu, kalo kamu kayak gini udah pasti mikirin sesuatu," sanggahnya lagi.

"Udah tau ya, kalo orang bengong itu pasti ada yang difikirin, pake acara nanya," jawabku sewot.

"Cerita dong," Siska memaksaku.

"Lagi mikirin mas Dani. Dia sekarang lagi test masuk TNI," jelasku.

"Ya, bagus dong, RI. Kok kamu malah sedih sih," Siska mengangkat daguku.

"Sedihlah, soalnya bakalan LDR sementara waktu. Apalagi kalo mas Dani beneran lolos, bakal gak ketemu aku sama dia." aku mrnangkupkan wajah pada telapak tangan.

"Yaelah, RI. Berdo'a aja Napa, supaya kalian itu berjodoh sampe pelaminan. Lagian kamu anak SMP mikirin masa depan, haha." Siska terbahak-bahak.

"Ye, berdoa ya pastilah. Cuma kan apa salahnya aku sebagai kekasih mengkhawatirkan ya." aku gemas pada Siska sembari membuang wajah kearah taman sekolah.

"Yaudah, daripada disini makan angin, kita krkanton yuk, aku lapar nih," ajak Siska.

"Yaudah, hayuk. Aku juga lapar, daritadi makan angin sambil bengong," keduanya tertawa lebar dan menuju kantin sekolah.

Bab 6 (3)

0 0

- KMO Indonesia

- KMO club'batch 50

- kelompok 2 Narasi semesta

- day 23

- jumlah kata 405



"Eh, Ri Jadi, gimana komunikasi sama Dani? Lancar kan?" Siska melanjutkan perbincangan.

"Masih, dong. Tapi kan gak seintens kemarin." jawabku singkat.

"Ya, gak apa-apa. Namanya juga dia lagi sibuk, jangan di ganggu dulu, nanti rusak konsentrasinya," Siska menenangkan.

"Iya deh iya. Habisin dulu baksonya, keburu dingin kayak hati kamu nanti," Aku mencoba menghibur diri.

Teet ... Teet ... Teet ... Tanda bel masuk berbunyi. Segera kuhabiskan bakso dan segelas es teh yang tadi kudiamkan sejenak karna sibuk curhat dengan Siska. Kami berdua berlari menuju kelas masing-masing.

Aku dan Siska berbeda kelas. Terkadang waktu pulang pun tak bersamaan. Maka dari itu aku sering dijemput mas Dani. Karna selain Siska, temanku adalah anak laki-laki semua.

Minggu depan ada ulangan umum. Dimana aku harus fokus akan itu. Ayah melarangku keluar atau memainkan handphone. Selama itu pula aku tidak berkomunikasi dengan mas Dani.

Saat ini mas Dani sudah berada diluar kota dan menjalani rangkaian test masuk TNI. Doaku selalu agar mas Dani bisa lulus dan segera kembali keisni.

Aku m3ncuri kabar mas Dani dari adiknya. Adiknya begitu baik dan terbuka. Tidak sombong seperti anak kota lainnya.  Mungkin itu juga alasan mengapa aku tak ingin berpaling darinya, sebab belum tentu aku dipertemukan dengan orang sebaik dia nanti.

Tumben sekali, hari ini ayah menjemputku pulang sekolah. Apakah ada sinyal bahwa jemoutanku biasanya tidak datang. Gumamku dalam hati

Sampai dirumah, ibu membukakan pintu untukku. Beliau pun bertanya, kemana Dani sudah seminggu tidak pernah muncul.

Lalu kukatakan pada ibu, bahwa mas Dani sedang mengikuti test masuk TNI, diluar kota, tidak ada disini. Ibu tersenyum bangga. Aku tau, beliaupun pasti bahagia jika anaknya bersuamika. Seorang TNI yang gagah dan perkasa.

Sehanis Maghrib, aku meminta izin pada ayah dan ibu untuk belajar dirumah kak Nuning. Ini hanyalah sedikit alasan, agar aku bisa meminjam handphone kak Nuning untuk menghubungi Dani.

Ah, sejak kapan aku jadi anak pembohong. Ya, sejak mengenal dunia luar. Karna selama ini aku meras kampungan dan terkekang. Tidak memiliki kebebasan sama sekali.

Bahagia, itu yang kurasa saat mendengar jawaban mas Dani bahwa dirinya baik-baik saja, dan test masih berlanjut. Tak lupa mas danipun menanyakan kabarku serta ayah dan ibu.

"Nanti, kalo mas pulang, mas belikan adek oleh-oleh ya" pesannya padaku tadi.

Akupun tak mau terlambat dan segera membalas pesannya. Tidak enak juga meminjam handphone terlalu lama. Meskipun kak Nuning mengatakan pakai saja dulu.

Dia memang terbaik soal percintaan ku dengan mas Dani. Bukan hanya dukungan, tapi juga semangat agar aku tetap setia walau hubungan jarak jauh


Bab 6 (4)

0 0

- KMO Indonesia
- KMO club'batch 50
- Kelompok 2 Narasi semesta
- Day 24
- Jumlah kata 402

Dia memang terbaik soal percintaan ku dengan mas Dani. Bukan hanya dukungan, tapi juga semangat agar aku tetap setia walau hubungan jarak jauh

Dua Minggu kemudian. Aku mendapat kabar dari mas Dani, bahwa ia akan pulang. Bahkan, iapun memberitahu jam keberangkatannya dan menggunakan apa.

Senang bercampur bahagia mendengar kabarnya. Tetapi, kenapa pulangnya secepat itu, apakah mas Dani tidak lulus?. Gumamku dalam hati.

Ah, sudahlah. Yang penting kekasihku pulang dan bisa bersama lagi. Akhirnya ada yang antar jemput lagi. Aku menyusun perasaan gembiraku untuk esok hari.

Tiga hari setelah mas Dani kembali kekota ini. Iapun berkunjung kerumah. Seperti biasa, berencana mengajakku jalan-jalan ke kota. Kali ini mas Dani benar-benar meminta izin langsung pada ayah dan ibu. Tidak lagi kucing-kucingan seperti sebelumnya.

Mas Dani tidak menceritakan apapun saat dirumah. Bahkan sebab kembalinya ia. Akan tetapi sepanjang perjalanan mas Dani justru banyak cerita padaku. Ia tidak lulus seleksi di kesehatan mata.

"Menurut hasil pemeriksaan, katanya mata mas minus sebelah kiri, loh dek," mas Dani membuka suara.

"Kok, bisa ya mas. Padahal sejak pemeriksaan disini kan matanya baik-baik aja," aku menimpali.

"Nah, itu dia yang mas heran. Masa mata temen mas yang minus kanan kiri lolos, dek," mas Dani mengeluarkan kekecewaannya.

"Yasudah, sabar. Berarti bukan jalannya, hehe." Aku mrngajaknya tertawa agar terhibur. Aku tau ia sangat kecewa dan sedih. Sebab itu satu-satunya cita yang ia impikan sejak kecil. Karna sering melihat sang ayah berpakaian loreng dengan gagah.

Lagipula, jaman sekarang jika tidak ada camour tangan uang, apapun tidak akan mujur. Contohnya ayah, yang berkali-kali diutus menjadi calon kepala desa. Lagi-lagi yang menang adalah mereka yang beruang.

Kami sampai disebuah mini cafe. Mas Dani mengajakku masuk dan memesan makanan juga minuman. Dia memang belum memiliki gaji, tetapi selalu bisa menyenangkanku. Itu juga salah satu penyebab aku sangat menyayanginya.

Setelah makanan dan minuman kami datang, kami menyantapnya dengan tenang dan bahagia. Sesekali mas Dani melanjutkan cerita-ceritanya saat disana.

Mas dani mengatakan, ia akan mencari pekerjaan apa saja yang penting halal dan ada uangnya. Akupun mendukung dan menyetujuinya, asalkan ia tidak sedih lagi.

Setelah dari cafe, kami memulai perjalanan lagi. Kupikir mas Dani akan mengantarku pulang, ternyata ia menuju jalan kerumahnya. Deg degan bukan main setiap kali mas Dani mengajakku kesana.

Bukan karna tak ingin bertemu keluarganya, aku hanya merasa tak pantas ada disana, apalagi jika menyadari hanya seorang anak sekolah menengah pertama. Tentu saja terlalu kecil bagi mereka, untukku menjalin hubungan serius seperti orang dewasa pada umumnya.

Bwb 7 (1)

0 0

- KMO Indonesia
- KMO club'batch 50
- Kelompok 2 Narasi semesta
- Day 25
- Jumlah Kata 402

Dia memang terbaik soal percintaan ku dengan mas Dani. Bukan hanya dukungan, tapi juga semangat agar aku tetap setia walau hubungan jarak jauh
Dua Minggu kemudian. Aku mendapat kabar dari mas Dani, bahwa ia akan pulang. Bahkan, iapun memberitahu jam keberangkatannya dan menggunakan apa.
Senang bercampur bahagia mendengar kabarnya. Tetapi, kenapa pulangnya secepat itu, apakah mas Dani tidak lulus?. Gumamku dalam hati.
Ah, sudahlah. Yang penting kekasihku pulang dan bisa bersama lagi. Akhirnya ada yang antar jemput lagi. Aku menyusun perasaan gembiraku untuk esok hari.
Tiga hari setelah mas Dani kembali kekota ini. Iapun berkunjung kerumah. Seperti biasa, berencana mengajakku jalan-jalan ke kota. Kali ini mas Dani benar-benar meminta izin langsung pada ayah dan ibu. Tidak lagi kucing-kucingan seperti sebelumnya.
Mas Dani tidak menceritakan apapun saat dirumah. Bahkan sebab kembalinya ia. Akan tetapi sepanjang perjalanan mas Dani justru banyak cerita padaku. Ia tidak lulus seleksi di kesehatan mata.
"Menurut hasil pemeriksaan, katanya mata mas minus sebelah kiri, loh dek," mas Dani membuka suara.
"Kok, bisa ya mas. Padahal sejak pemeriksaan disini kan matanya baik-baik aja," aku menimpali.
"Nah, itu dia yang mas heran. Masa mata temen mas yang minus kanan kiri lolos, dek," mas Dani mengeluarkan kekecewaannya.
"Yasudah, sabar. Berarti bukan jalannya, hehe." Aku mrngajaknya tertawa agar terhibur. Aku tau ia sangat kecewa dan sedih. Sebab itu satu-satunya cita yang ia impikan sejak kecil. Karna sering melihat sang ayah berpakaian loreng dengan gagah.
Lagipula, jaman sekarang jika tidak ada camour tangan uang, apapun tidak akan mujur. Contohnya ayah, yang berkali-kali diutus menjadi calon kepala desa. Lagi-lagi yang menang adalah mereka yang beruang.
Kami sampai disebuah mini cafe. Mas Dani mengajakku masuk dan memesan makanan juga minuman. Dia memang belum memiliki gaji, tetapi selalu bisa menyenangkanku. Itu juga salah satu penyebab aku sangat menyayanginya.
Setelah makanan dan minuman kami datang, kami menyantapnya dengan tenang dan bahagia. Sesekali mas Dani melanjutkan cerita-ceritanya saat disana.
Mas dani mengatakan, ia akan mencari pekerjaan apa saja yang penting halal dan ada uangnya. Akupun mendukung dan menyetujuinya, asalkan ia tidak sedih lagi.
Setelah dari cafe, kami memulai perjalanan lagi. Kupikir mas Dani akan mengantarku pulang, ternyata ia menuju jalan kerumahnya. Deg degan bukan main setiap kali mas Dani mengajakku kesana.
Bukan karna tak ingin bertemu keluarganya, aku hanya merasa tak pantas ada disana, apalagi jika menyadari hanya seorang anak sekolah menengah pertama. Tentu saja terlalu kecil bagi mereka, untukku menjalin hubungan serius seperti orang dewasa pada umumnya.

Bab 7 (2)

0 0

- KMO Indonesia

- KMO club'batch 50

- kelompok 2 Narasi semesta

- Day 26

- Jumlah Kata 408


"Semakin intens"

Mas Dani sering membawaku pada keluarganya. Setiap kali ada libur atau luang. Aku tak lagi merasa risih dan canggung. Apalagi aku sudah dianggap sebagai anak mereka sendiri.

Aku hanyalah seorang anak kampung, yang memiliki hubungan dengan anak kota, mas Dani. Jarang sekali pertengkaran terjadi diantara kami. Kecuali karna kecembu4uan mas Dani pada teman lelakiku.

Aku tak masalah, itu tandanya mas Dani tulus mencintaiku. Lagipula, apa yang ia lakukan untukku sudah lebih dari cukup. Jarang sekali ada keluarga yang mau menerima orang baru, apalagi gadis kampung sepertiku.

Nanti, jika menikah dengannya, pasti akan lebih bahagia. Begitu yang pernah ia ucapkan padaku. wanita mana yang tak jatuh hati dan merasa dicintai, jika lelakinya mengatakan hal demikian.

Akhir-akhir ini badanku terasa lemah dan tulang belulang rasanya sakit. Perasaan ingin tidur datang setiap pagi, saat jam pelajaran baru akan dimulai. Batinku, apakah tipesku kambuh, karna beberapa bulan lalu aku sakit, tetapi tidak seperti ini.

Mas Dani mengajakku bertandang kerumahnya. Ibu mas Dani adalah seorang pedagang makanan. Setiap kali kesana, aku selalu diberinya menu jualan ibu.

Tetapi, tidak untuk kali ini. Mulutku terasa pahit dan tidak selera makan. Ibu menyuruhku berbaring dikamar bersama adiknya Dani, yang saat itu juga sedang sakit.

Ibu Dani sangat baik, akan tetapi jika bicara terkadang ketus dan lancang, dengan logat khas Jawa yang kental.

"Jangan-jangan kamu hamil, Ri. Kamu jangan mau di apa-apain Dani, kamu masih kecil". Tiba-tiba saja ibu mengatakan demikian. Aku sedikit tersentak, apakah benar aku hamil. Tidak seperti biasanya aku tak berselera makan. Kali ini benar-benar aneh.

Aku hanya menjawab, "Gak, Bu.". Kemudian beristirahat dikamar. Sore harinya, aku diantar pulang oleh mas Dani. Mas Dani tidak mengatakan apapun tentang kondisiku, karna yang kami tau ini hanya sakit biasa dan butuh istirahat.

Keesokan harinya, aku tidak mampu berangkat kesekolah. Kepalaku terasa berat dan badanku lemas. Ibu menyuruhku beristirahat, sedangkan ayah mengizinkan kesekolah.

Ayah mengatakan, akan membawaku berobat ke puskesmas. Namun, aku menolak. Aku hanya butuh beristirahat saja, tidak lebih.

"Nanti, kalo kamu sakit berlanjut giman? Kan semua yang repot," kata Ayah.

"Udahlah, yah. Gak papa aku pengen tidur aja, biar besok bisa sekolah dan baikan lagi. Ayah berangkat kerja aja," lagi aku menolak ajakan ayah.

Sedang ibu menyetujui krminginanku untuk beristirahat. Dirumah, ibu membuatkanku bubur ayam kesukaan. Ciri khas setiap kali ada yang sakit dirumah. Tetapi, mencium aroma masakannya saja perutku langsung seperti di kocok. Mual dan muntah yang kurasakan hingga badanku lemah lunglai. Ibu hanya bisa melakukan hal bisanya untuk mengatasi rasa sakitku.


Bab 7 (3)

0 0

- KMO Indonesia

- KMO club' batch 50

- Kelompok 2 Narasi semesta

- Day 27

- Jumlah kata 404


Sudah seminggu aku beristirahat dirumah. Demam tidak lagi kurasakan, tapi nafsu makan masih tidak ada.

Hampir setiap hari mas Dani menjenguk dan melihat kondisiku. Ayah sudah membawakan mantri kerumah, katanya sakit tipesku kambuh.

Setelah kuingat-ingat, sepertinya bulan ini aku tidak datang bulan. Sedangkan kemarin aku mengalami keram dibagian perut bawah. Sakit apa ini sebenarnya, kenapa tak kunjung sembuh. Guru disekolah sudah mendatangi rumahku dan menjenguk.

Hari ini genap 2 Minggu aku tak bersekolah. Badanku semakin terasa tak karuan. Tetangga bahkan keluarga sudah meributkan kondisiku. Terutama paman Ahmad. Dia paling tau jika terjadi sesuatu padaku.

Ayah dan ibu tidak peduli, mereka senantiasa merawatku selama sakit. Mas Dani hari ini akan membawaku kerumahnya, mencari hiburan, sekaligus agar aku segera pulih.

Sekali lagi, ibu mas Dani mencurigaiku hamil. Katanya aku harus tesoack untuk memastikan. Tetapi aku mengatakan tidak, mas Dani tidak pernah berbuat seperti itu padaku.

Meski kenyataannya, aku telah berulangkali melakukan hal terlarang itu saat rumah kosong. Ketika mas Dani mengantarku pulang kerumah, sedangkan ayah ibu pergi.

Aku tak bisa menahan diri saat mas Dani merayuku. Itu kali pertama aku melakukan hal yang tak pernah kulakukan dengan siapapun sebelumnya.

Suatu hari, mas Dani mengantarku pulang. Ketika sampai dirumah, ternyata ibu dan ayah tidak dirumah. Akupun mengajak mas Dani untuk singgah walau sebentar. Mas Dani menurutiku, ia masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan aku mengganti pakaian.

Saat aku keluar, mas Dani menyuruhku duduk disebelahnya. Ia memegangi jemariku, menciumi pipiku, semakin lama, kami semakin larut dalam kenikmatan sesaat. Lalu terjadilah perbuatan terlarang namun membawa nikmat itu.

Hari ini aku meminta pada mas Dani untuk membelikan testpack. Ada benarnya juga kata ibu mas Dani, jangan-jangan aku hamil. Bagaimana jika itu benar terjadi, apa yang harus kulakukan, apa kabar sekolahku. Semua pertanyaan campur aduk di dalam kepalaku.

Apa kata tetangga dan saudara dikampung ini jika mengetahui kondisiku sebenarnya. Ayah dan ibu bagaimana jika mengetahuinya. Marahkan mereka padaku, ya Allah.

Akhirnya, mas Dani datang dengan membawa pesananku. Kami berdiskusi untuk cara penggunaannya. Ini pertama kalinya aku dan mas Dani mengetahui alat bernama tespack.

Setelah membaca cara penggunaan testpack, akupun langsung menuju kamar mandi untuk menggunakannya.

Beberapa menit kemudian, hasil testpack terlihat. Aku terkejut bukan main. Ternyata sakit yang kualami bukanlah tipes, melainkan aku hamil. Kemudian aku membawa hasil tespack itu keluar dan menemui mas Dani.

Mas Dani tak kalah terkejut ketika mengetahui hasilnya, dengan memegangi tespack, wajahnya pucat dengan gaya keheranan. Kemudian ia bungkam seribu bahasa, lalu duduk kembali.


Bab 7 (4)

0 0

- KMO Indonesia
- KMO club' batch 50
- Kelompok 2 Narasi semesta
- Day 28
- Jumlah kata 404

Sudah seminggu aku beristirahat dirumah. Demam tidak lagi kurasakan, tapi nafsu makan masih tidak ada.
Hampir setiap hari mas Dani menjenguk dan melihat kondisiku. Ayah sudah membawakan mantri kerumah, katanya sakit tipesku kambuh.
Setelah kuingat-ingat, sepertinya bulan ini aku tidak datang bulan. Sedangkan kemarin aku mengalami keram dibagian perut bawah. Sakit apa ini sebenarnya, kenapa tak kunjung sembuh. Guru disekolah sudah mendatangi rumahku dan menjenguk.
Hari ini genap 2 Minggu aku tak bersekolah. Badanku semakin terasa tak karuan. Tetangga bahkan keluarga sudah meributkan kondisiku. Terutama paman Ahmad. Dia paling tau jika terjadi sesuatu padaku.
Ayah dan ibu tidak peduli, mereka senantiasa merawatku selama sakit. Mas Dani hari ini akan membawaku kerumahnya, mencari hiburan, sekaligus agar aku segera pulih.
Sekali lagi, ibu mas Dani mencurigaiku hamil. Katanya aku harus tesoack untuk memastikan. Tetapi aku mengatakan tidak, mas Dani tidak pernah berbuat seperti itu padaku.
Meski kenyataannya, aku telah berulangkali melakukan hal terlarang itu saat rumah kosong. Ketika mas Dani mengantarku pulang kerumah, sedangkan ayah ibu pergi.
Aku tak bisa menahan diri saat mas Dani merayuku. Itu kali pertama aku melakukan hal yang tak pernah kulakukan dengan siapapun sebelumnya.
Suatu hari, mas Dani mengantarku pulang. Ketika sampai dirumah, ternyata ibu dan ayah tidak dirumah. Akupun mengajak mas Dani untuk singgah walau sebentar. Mas Dani menurutiku, ia masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan aku mengganti pakaian.
Saat aku keluar, mas Dani menyuruhku duduk disebelahnya. Ia memegangi jemariku, menciumi pipiku, semakin lama, kami semakin larut dalam kenikmatan sesaat. Lalu terjadilah perbuatan terlarang namun membawa nikmat itu.
Hari ini aku meminta pada mas Dani untuk membelikan testpack. Ada benarnya juga kata ibu mas Dani, jangan-jangan aku hamil. Bagaimana jika itu benar terjadi, apa yang harus kulakukan, apa kabar sekolahku. Semua pertanyaan campur aduk di dalam kepalaku.
Apa kata tetangga dan saudara dikampung ini jika mengetahui kondisiku sebenarnya. Ayah dan ibu bagaimana jika mengetahuinya. Marahkan mereka padaku, ya Allah.
Akhirnya, mas Dani datang dengan membawa pesananku. Kami berdiskusi untuk cara penggunaannya. Ini pertama kalinya aku dan mas Dani mengetahui alat bernama tespack.
Setelah membaca cara penggunaan testpack, akupun langsung menuju kamar mandi untuk menggunakannya.
Beberapa menit kemudian, hasil testpack terlihat. Aku terkejut bukan main. Ternyata sakit yang kualami bukanlah tipes, melainkan aku hamil. Kemudian aku membawa hasil tespack itu keluar dan menemui mas Dani.
Mas Dani tak kalah terkejut ketika mengetahui hasilnya, dengan memegangi tespack, wajahnya pucat dengan gaya keheranan. Kemudian ia bungkam seribu bahasa, lalu duduk kembali.

Bab 8 (1)

0 0

- KMO Indonesia
- KMO club' batch 50
- Kelompok 2 Narasi semesta
- Day 28
- Jumlah kata 404

Sudah seminggu aku beristirahat dirumah. Demam tidak lagi kurasakan, tapi nafsu makan masih tidak ada.
Hampir setiap hari mas Dani menjenguk dan melihat kondisiku. Ayah sudah membawakan mantri kerumah, katanya sakit tipesku kambuh.
Setelah kuingat-ingat, sepertinya bulan ini aku tidak datang bulan. Sedangkan kemarin aku mengalami keram dibagian perut bawah. Sakit apa ini sebenarnya, kenapa tak kunjung sembuh. Guru disekolah sudah mendatangi rumahku dan menjenguk.
Hari ini genap 2 Minggu aku tak bersekolah. Badanku semakin terasa tak karuan. Tetangga bahkan keluarga sudah meributkan kondisiku. Terutama paman Ahmad. Dia paling tau jika terjadi sesuatu padaku.
Ayah dan ibu tidak peduli, mereka senantiasa merawatku selama sakit. Mas Dani hari ini akan membawaku kerumahnya, mencari hiburan, sekaligus agar aku segera pulih.
Sekali lagi, ibu mas Dani mencurigaiku hamil. Katanya aku harus tesoack untuk memastikan. Tetapi aku mengatakan tidak, mas Dani tidak pernah berbuat seperti itu padaku.
Meski kenyataannya, aku telah berulangkali melakukan hal terlarang itu saat rumah kosong. Ketika mas Dani mengantarku pulang kerumah, sedangkan ayah ibu pergi.
Aku tak bisa menahan diri saat mas Dani merayuku. Itu kali pertama aku melakukan hal yang tak pernah kulakukan dengan siapapun sebelumnya.
Suatu hari, mas Dani mengantarku pulang. Ketika sampai dirumah, ternyata ibu dan ayah tidak dirumah. Akupun mengajak mas Dani untuk singgah walau sebentar. Mas Dani menurutiku, ia masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan aku mengganti pakaian.
Saat aku keluar, mas Dani menyuruhku duduk disebelahnya. Ia memegangi jemariku, menciumi pipiku, semakin lama, kami semakin larut dalam kenikmatan sesaat. Lalu terjadilah perbuatan terlarang namun membawa nikmat itu.
Hari ini aku meminta pada mas Dani untuk membelikan testpack. Ada benarnya juga kata ibu mas Dani, jangan-jangan aku hamil. Bagaimana jika itu benar terjadi, apa yang harus kulakukan, apa kabar sekolahku. Semua pertanyaan campur aduk di dalam kepalaku.
Apa kata tetangga dan saudara dikampung ini jika mengetahui kondisiku sebenarnya. Ayah dan ibu bagaimana jika mengetahuinya. Marahkan mereka padaku, ya Allah.
Akhirnya, mas Dani datang dengan membawa pesananku. Kami berdiskusi untuk cara penggunaannya. Ini pertama kalinya aku dan mas Dani mengetahui alat bernama tespack.
Setelah membaca cara penggunaan testpack, akupun langsung menuju kamar mandi untuk menggunakannya.
Beberapa menit kemudian, hasil testpack terlihat. Aku terkejut bukan main. Ternyata sakit yang kualami bukanlah tipes, melainkan aku hamil. Kemudian aku membawa hasil tespack itu keluar dan menemui mas Dani.
Mas Dani tak kalah terkejut ketika mengetahui hasilnya, dengan memegangi tespack, wajahnya pucat dengan gaya keheranan. Kemudian ia bungkam seribu bahasa, lalu duduk kembali.

Bab 8 (2)

0 0

- KMO Indonesia
- KMO club' batch 50
- Kelompok 2 Narasi semesta
- Day 30
- Jumlah Kata 400

Pada akhirnya, semua orang telah mendengar kabar kehamilanku. Wali kelas, Bu Nindi sudah menyambangi rumah dan bertemu dengan ayah dan ibu. Bu Nindi menanyakan kondisiku saat ini dan kenapa aku tak kunjung masuk sekolah, sedangkan tak lama lagi ujian akhir sekolah untuk siswa kelas 9.

Aku hanya mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu kamar. Ayah dan ibu mengatakan jika aku tak ingin lagi bersekolah. Tak sampai disitu, Bu Nindi jelas penasaran apa penyebab aku tak lagi mau sekolah.

Namun ayah dan ibu menutupi kondisiku saat ini. Mereka mengatakan jika aku lelah karena sering sakit dan tak masuk sekolah.

Setelah kepulangan Bu Nindi, aku keluar kamar dan bicara pada ibu. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya, apakah harus kubiarkan anak dalam kandunganku tumbuh tanpa pernikahan, atau mendatangi kedua orangtua mas Dani untuk bertanggung jawab.

Ibu menanggapi obrolanku sekenanya. Ibu mengatakan aku harus tenang, biar ayah yang mengurus semuanya.

Aku tau, ibu saat ini pasti sangat terpukul karna perbuatanku. Ibu melarangku bergaul dengan anak-anak kota yang nakal, melarangku pergi keluar kampung bahkan melarangku mengikuti segala kegiatan sekolah karna khawatir akan terjadi sesuatu, mengingat aku adalah anak satu-satunya mereka.

Akan tetapi, apa boleh dikata. Nasi sudah menjadi bubur, takdir Allah memang tidak bisa di ubah. Aku yang tidak pernah mengenal dunia luar, justru dipertemukan dengan orang luar yang sejak awal kukenal baik.

Aku yakin tak akan salah pilih. Dan akupun yakin, mas Dani adalah jodoh terakhirku. Malu pada teman, keluarga dan tetangga sudah kuikhlaskan rasa itu.

Nyatanya, inilah hasil dari perbuatan yang juga sempat di tentang oleh paman Ahmad. Paman Ahmad marah ketika mengetahui kondisiku. Dia mengatakan akan melakukan sesuatu jika mas Dani tak bertanggung jawab atas ini.

Tetapi aku tak khawatir. Sebab mas Dani berkata akan bertanggung jawab atas perbuatan kami berdua. Ini bukan hanya salahku tetapi juga salahnya, yang telah merayuku selama ini.

Aku terlena dalam cinta buta. Menemukan satu-satunya dan tak bisa memilih yang lain. Setelah kejadian ini, aku banyak berdiam diri dikamar. Sebelum menemukan kejelasan apa selanjutnya yang allah sediakan untukku.

Kak Nuning dan kak Arfan terus menyemangati ku. Mereka berkata jika mas Dani adalah anak baik dari keluarga yang baik pula. Dia pasti akan bertanggung jawab. Hanya butuh waktu dan kesabaran yang luas. Karna, sesuatu yang tergesa dan terburu-buru itu hasilnya tak akan baik untukku maupun untuk mas Dani

Aku terus menenangkan pikiran dan mencoba menerima diri ini kedepannya dengan keadaan yang berbeda dan situasi yang berbeda pula.

Mungkin saja kamu suka

Pegi Melati Suk...
Awal Mula
Ivan Brian Alda...
Teddy Bear
Malika Khoirunn...
Anti Romantic

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil