Loading
5

0

3

Genre : Teenlite
Penulis : Diva Laily Pramesti
Bab : 6
Dibuat : 23 Maret 2022
Pembaca : 3
Nama : Diva Laily Pramesti
Buku : 1

Uri

Sinopsis

Kisah dari tiga remaja yang baru menginjak umur delapan belas tahun, dimana mereka memulai kisah barunya di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu kuliah. Saat SMA, mereka adalah perempuan yang sangat ditakuti oleh adik kelas maupun kakak kelasnya, namun apakah mereka juga bisa menaklukkan dunianya di perkuliahan?
Tags :
#Kuliah #Remaja #Fiksi #Keluarga #Teman

Bagian 1

1 0

"Push up dan sit up masing-masing 10 kali!" Semua pandangan tampak tertuju pada pria beralmamater biru dongker di sebelah selatan lapangan fakultas Bahasa.

Pria itu menatap tajam tiga perempuan - yang di ketahui adalah adik tingkatnya, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana miliknya. Pembawaannya tegas dan dingin, membuat siapa saja yang berhadapan dengannya patuh dengan ucapannya.

Namun tidak dengan tiga perempuan di depannya saat ini. Mereka tetap berdiri di tempatnya seraya balik melihat kakak tingkatnya dengan tajam. Benar-benar berani. "Kenapa diem aja?" Tanya pria itu setelah merasa diabaikan beberapa saat oleh adik tingkat di hadapannya.

"Maaf sebelumnya. Tapi kami salah apa ya kak?" Ucap salah satu dari tiga perempuan tersebut. Dia sedikit memajukan badannya -seperti menantang, tapi bukan itu maksudnya. Ia hanya ingin memperjelas apa kesalahan mereka.

Kini pria itu ikut maju mendekat. "Kalian terlambat satu menit dari jadwal yang telah ditentukan," ucapnya dingin. Kini seorang perempuan dengan almamater yang sama menghampiri mereka dan sedikit berbisik,

"Damar, mereka sudah izin sama gue."

Kini perempuan dengan kacamata ikut andil berbicara, "kak Damar sudah dengar sendiri bukan? Kami sudah izin, dan kak Salma yang kasih izin."

"Tetap saja kalian terlambat."

Perempuan yang berada di tengah kini menghembuskan nafasnya pelan lalu berbisik kepada teman-teman di kanan dan kirinya. "Susah banget ngomong sama orang caper," senyum miring miliknya terpampang jelas, tanda ia tidak suka dan merasa terganggu.

"Maaf kak. Dalam aturan yang kakak bacakan kemarin tidak ada peraturan yang menyatakan bahwa 'mahasiswa baru yang telat dengan izin, tetap terkena hukuman' bukan?" ucapnya sedikit meledek.

"Peraturan ada dua macam. Peraturan tertulis dan peraturan tidak tertulis. Kalian paham soal itu?" kini ketiga perempuan itu mengangguk tanpa ragu. "Yang ini termasuk peraturan tidak tertulis," ucap pria yang di ketahui namanya adalah Damar.

"Walaupun tidak tertulis bukankah seharusnya tetap di bacakan? Supaya mahasiswa baru pun mengerti tentang semua peraturan yang ada. Tidak melanggar dan tidak ada yang dirugikan," perempuan yang berada di tengah kembali berbicara dengan lantang dan mantap. Menatap dalam mata lawan bicara.

"Jadi kalian mersa dirugikan karena di beri hukuman?"

"Udah lah Lyn ngalah aja kita. Kasihan yang lainnya," bisik perempuan berkacamata kepada temannya yang berada di tengah.

Perempuan yang diketahui bernama Lyn itu menghela nafasnya dan mengangguk. Dengan hitungan detik mereka mengambil posisi push up dan menghadap ke arah panitia OSPEK.

"Jadi kalian menyerah? Dan menerima konsekuensi kan? Masih merasa dirugikan?" tanya Damar berturut-turut. Seringai kememenangan muncul di wajah tampannya. Tak lupa tangan yang sedari tadi berada di saku celananya berpindah posisi menjadi bersedekap di depan dadanya.

"Bukannya kami menyerah. Kami hanya kasihan dengan teman-teman kami. Panas dan terlalu lama untuk menunggu kami berdebat," kini perempuan bermata sipit ikut bicara.

"Satu!" Lyn dengan suara lantangnya menginstrupsi teman-temannya untuk push up. Selanjutnya mereka bergilir untuk menghitung. "Sepuluh," ucap Lyn mengakhiri hitungan untuk push up. Kini mereka merubah posisi menjadi terlentang. Mereka menekuk lututnya dan kaki mereka saling bertumpu di tengah. Membentuk posisi sit up dengan kaki saling mengunci satu sama lain.

"Satu!" Kini berganti perempuan bermata sipit yang memberi intrupsi. Mereka menghetikan kegiatan sit up mereka setelah hitungan ke sepuluh. Lalu berdiri menghadap kepada panitia. "Kami sudah melaksanakan hukuman," ucap Lyn seraya membersihkan bagian belakang bajunya yang sedikit kotor karena pasir.

"Silahkan kembali ke barisan." mereka bertiga berjalan teratur menuju barisan mereka, pandangan menghadap ke depan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Karena mereka memang tidak salah.

"Lo gapapa?" tanya seorang laki-laki di samping anak beracamata tadi.

"No problem. Biasa buat gue kaya tadi," jawabnya santai.

Bagian 2

1 0

Amora Carolyn

Perempuan bersuara berat dan serak, dengan rambut bergelombang se punggung, dan bola mata berwarna cokelat yang indah. Carolyn atau yang sering dipanggil Lyn, adalah keturunan Belanda yang kebetulan kakek dan neneknya lah yang asli Belanda dan berakhir pada papanya yang menikah dengan pribumi.

Sebenarnya kakek dan nenek Carolyn sudah lama tinggal di Indonesia. Sejak penjajahan Indonesia katanya. Kakek dan neneknya hidup tiga tahun sebelum Indonesia merdeka. Dan memilih menetap di Indonesia setelah menikah dan mempunyai anak. Begitupun dengan papanya yang memilih untuk menjadi warga negara Indonesia serta menikah dengan wanita pribumi yang telah membuatnya jatuh hati.

Carolyn mempunyai dua kakak perempuan dan satu kakak laki-laki serta satu adik laki-laki. Anak ke empat dari lima bersaudara. Semasa SMA, Carolyn berteman dekat dengan Diaz dan Darra. Walaupun mereka tidak sekelas, pertemanan mereka tetap berjalan bahkan hampir seluruh penjuru sekolah kenal dengan tiga perempuan tersebut.

Darra Azzahra

Sering dipanggil Darra. Perempuan imut dengan mata sipit dan bibir kecil namun berisi, tak lupa juga pipi yang mengembang lucu seperti bakpao. Kalau Kata Diaz 'makan tuh di telen. Jangan disimpen mulu di pipi' dan terjadilah baku hantam.

Paling cerewet di antara teman-temannya, apalagi kalau bicara tentang Kpop. 'EXO gue tu!' 'sumpah icing ganteng banget' 'kai seksinya bikin gue hamil onlen gila!' dan banyak lagi. Bisanya Darra merengek kepada kedua temannya untuk menemaninya fangirling boy band kesukaannya. Dia juga pernah menangkap basah Diaz, menonton dan menyanyi beberapa lagu Korea, tentunya Diaz yang kepergok langsung kabur karena malu.

Paling preman di antara teman-temannya. Suka baku hantam dan cari masalah. Tidak mau disalahkan padahal dia melakukan kesalahan. Benar-benar ciri manusia menjengkelkan. Namun herannya, Lyn dan Diaz masih betah berteman dengan anak satu ini.

Diaz Maula Pratama

Sering dikira laki-laki ketika pertama kali mendengarkan namanya. Anak tunggal dari pemilik perusahaan Pratama Entertain ini sebelumnya diprediksi lahir berjenis kelamin laki-laki oleh dokter, sehingga orang tuanya yang telah mengumumkan namanya sehari sebelum kelahirannya pun memberi nama Diaz Maulana Pratama.

Namun saat kelahirannya tiba, Diaz lahir tidak sesuai prediksi dokter. Jenis kelaminnya perempuan, sehingga orang tuanya mengganti nama tengahnya menjadi Maula. Katanya 'ya biar ga ke laki-laki an banget lah' gitu. Paling sering dibully dan disuruh-suruh oleh teman-temannya. Tipe-tipe perempuan tidak banyak bicara tapi langsung kerja. Kalau kata Darra 'dasar tsundere' dan berakhir dengan baku hantam.

Paling diam-diam mematikan. Sekali ngomong udah kelar idup lo. Tapi kalau sudah kepergok sama teman-temannya saat menyanyi atau menari mengikuti gaya idol KPOP yang biasanya dilihat oleh Darra, seketika ia menjadi orang yang pemalu dan menjadi cerewet. Karena dia selalu mencari alasan untuk lepas dadi godaan-godaan teman-temannya.

 

Bagian 3

1 0

"KAK! DIAZ PINGSAN!" seorang perempuan berteriak menghebohkan seluruh lapangan, memaksa seluruh mata melihat ke arah datangnya suara. Tanpa tunggu lama semua mahasiswa baru sudah berkumpul dan mengerumuni tempat suara datang, tak terkecuali panitia ospek.

Darra dan Lyn yang merasa nama sahabatnya di teriakkan keraspun langsung bergegas menuju sumber suara. Namun sayangnya mahasiswa yang berkumpul terlampau banyak.

"misi-misi!" laki-laki yang sedari tadi memperhatikan acara dari belakang kini datang ke tempat suara datang dengan Diaz yang lemas tak sadarkan diri, membelah kerumunan mahasiswa yang hanya diam melihat dan tidak membantu.

"tolong naikkan dia ke punggung saya. Saya antar dia ke ruang kesehatan!" suruhnya kepada perempuan yang berteriak serta menopang badan Diaz agar tidak terjatuh di lapangan beraspal yang panas. Posisi laki-laki itu berjongkok dengan tumpuan satu lutut di aspal -membuat celananya sedikit kotor, lalu kaki lainnya bertumpu pada telapak kakinya.

Saat merasa punggungnya terisi penuh, laki-laki itu segera membawa lari Diaz menuju ruang kesehatan yang berada cukup jauh dari lapangan.

Sesampainya di ruang kesehatan laki-laki itu menaruh Diaz di atas banker dan menutupi setengah dari badannya dengan selimut. Kebetulan sekali dokter atau mahasiswa yang biasa berjaga di ruang kesehatan sedang tidak ada di ruangan. Laki-laki itu berinisiatif untuk mencari sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh.

Sebelumnya dia pernah mendapatkan pelatihan pertolongan pertama pada orang pingsan saat di SMP, dan baru sekarang ia gunakan ilmunya untuk menolong orang.

Dia membuka selimut yang menutupi setengah dari badan Diaz dan mengoleskan minyak kayu putih di telapak kaki Diaz yang terasa sangat dingin. Tak lupa ia oleskan juga pada telapak tangan dan juga bagian pelipis sang perempuan di depannya saat ini.

Panas. Satu kata yang menggambarkan keadaan kening Diaz. Tanpa menunggu lama, laki-laki ini segera mengambil baskom yang telah di sediakan dan kain kompres di dekatnya. Ia mengambil air dari wastafel yang ada di dalam ruangan dan segera mencelupkan kain kompres kedalamnya. Ia menempelkan perlahan kain tersebut di kening Diaz.

"pasien pingsan berapa menit?" tanya seseorang yang memberhentikan kegiatan laki-laki tersebut. "eh Jae? Kamu yang tangani pasien dari tadi?" tanya perempuan yang berhadapan dengan laki-laki yang ia panggil Jae tadi. Laki-laki itu tersenyum dan sedikit menggeser, memberi celah agar perempuan itu bisa memeriksa pasiennya.

"iya Wen. Dia pingsan sekitar 5 menit yang lalu lah."

"badannya panas Jae. Mungkin dia kecapean, atau belum makan," ucap Wendi. Perempuan dari fakultas kedokteran yang memang berjaga hari ini. "kalau ada orang pingsan itu jangan di kasih minyak kayu putih di hidungnya. Kalau mau bangunin cukup di kasih stimulasi aja Jae sam- eh Jae mau ke mana?" ucapnya terputus karena melihat Jaeffry keluar ruang kesehatan tanpa pamit.

"Mau ke kantin. Beli in dia roti," ucap Jae singkat dan meninggalkan Wendi dengan adik tingkatnya berdua di ruang kesehatan.

 

"gimana? Udah enakan?" tanya Jae saat Diaz sudah sadar dan menggegam segelas teh hangat di tangannya. Diaz tersenyum manis hingga lesung pipi tipisnya terlihat, lalu mengangguk menjawab pertanyaan Jaeffry.

"ini ada roti. Makan dulu biar gak lemes," ucap Jaeffry mengulurkan tangannya yang menggenggam roti isi cokelat, sengaja ia belikan untuk Diaz.

"makasih kak."

"kalau ada keluhan langsung bilang ya. Saya di sini untuk jaga kamu," ucap Jaeffry seraya mendudukkan dirinya pada kursi yang telah disediakan di samping banker pasien.

"oh ya wen. Kondisi dia gimana?" tanya Jaeffry sedikit menengok agar bisa melihat Wendi yang sibuk meracik obat.

"gapapa Jae. Dia belum sarapan tadi, makanya lemes," jawabnya seraya membawa beberapa obat untuk Diaz minum. "habis makan roti obatnya diminum ya."

"makasih banyak kak," ucap Diaz lembut. Diaz merasa sangat lemas. Badannya terasa remuk dan sakit di beberapa area.

Sebenarnya penyebab utama Diaz pingsan bukan karena belum sarapan, hanya saja saat ini adalah tanggal dimana jatah datang bulannya. Sehingga ia harus merasakan dismenore (nyeri haid) yang cukup sakit dan tak bisa ia tahan. Namun karena malu dan belum kenal dekat dengan Jaeffry, Diaz menyuruh Wendi agar berbohong kepada Jae. Bukan sepenuhnya berbohong, hanya ada informasi yang tidak disampaikan saja.

Tok tok tok

"permisi," seorang laki-laki dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru membuka sedikit pintu ruang kesehatan. "maaf saya boleh masuk?" tanyanya sopan.

"loh bang Tio? Ada apa nih kok ke sini?" tanya Jaeffry yang kebetulan mengenal Tio -orang yang baru saja masuk ke dalam ruang kesehatan.
"tuh. Adek sepupu gue," tunjuknya pada Diaz yang kini terlihat muram.

"oh adek lo bang. Kalau gitu gue cabut lah," ucap Jaeffry setelah mengetahui bahwa Tio adalah kakak sepupu Diaz.

"eh jangan! Gue mau ada kelas 15 menit lagi. Bentaran doang gue," ucapnya seraya mencekal tangan Jaeffry. Jaeffry kembali ke tempatnya. Kini ia bertumpu pada banker sebelah banker  yang Diaz gunakan, sedangkan Tio duduk di tempat yang sebelumnya Jaeffry gunakan.

"sakit apa? Kan udah mas bilang kalau pagi itu sarapan dulu," ucapnya lembut, tapi berhasil membuat Diaz yang sensitif karena hormon datang bulannya tambah merengut. Kini tangannya mengusap lembut kepala Diaz dan beralih ke pipi gembil adiknya. "nanti setelah mas selesai kelas, makan di kantin ya. Kalau gak kuat jalan mas beliin makan."

"ngga usah mas!" cegahnya segera setelah mendengar Tio akan membelikan makanan. Kini Diaz menghela nafas bersamaan dengan Tio. Ia menggerakkan tangannya menarik lengan kemeja Tio, mengintrupsi agar Tio mendekat.

"..."

"kamu datang- aww! Sakit dek!" teriak Tio setelah merasakan cubitan kecil di lengannya.

"jangan keras-keras mas. Malu" bisiknya lagi.

Helaan nafas terdengar dari Tio. Kini tangannya memijat pelan tangan adik sepupunya tersebut. "kalau gitu setelah mas kelas langsung izin pulang aja. Pasti sakit semua kan?" pertanyaan itu dibalas anggukan pelan dari Diaz menandakan kebenaran atas pertanyaan tersebut.

"tapi aku ngga mau langsung pulang mas. Darra sama Lyn masih di lapangan. Kasihan masa aku pulang," ucapnya lirih. Sifat alami dari Diaz yang memang terlihat cuek tapi aslinya perhatian. Di tengah rasa sakit yang ia alami pun, ia masih mengingat kedua temannya yang masih di ospek di tengah lapangan yang panas.

"kalau sakit pulang aja gapapa. Biar besok bisa vit lagi buat penutupan osjurnya," kini Jaeffry ikut berbicara meyakinkan Diaz.

Tapi bukan malah menolak atau mensetujui, Diaz terdiam -dengan tangan yang memegang roti, beralih mencekal kuat perutnya. Nyeri yang sempat mereda kini datang kembali, membuat ia harus menahan perut bagian bawahnya. Posisi tubuhnya pun berubah. Kini ia sedikit membungkuk demi mengurangi rasa sakit yang ia rasakan di perutnya. "sakit," lirihnya setelah merasakan nyeri.

"eh sakit lagi dek?" tanya Tio yang jelas tidak akan dijawab oleh Diaz.

"wen! Ini perut dia sakit deh keliatannya," ucap Jaeffry memanggil Wendi agar perempuan itu memeriksa dan mengobati adik tingkatnya.

Wendi segera mengambil air panas yang ia masukkan kedalam hot water bottle (botol khusus untuk air panas ) lalu menutupnya. Ia mengubah posisi Diaz menjadi terlentang dengan bantuan Jaeffry dan juga Tio. Dan meletakkan botol tadi di atas perut Diaz yang tertutup kain bajunya. Apa yang dilakukan oleh Wendi adalah salah satu penanganan untuk dismenore di daerah perut bawah.

"sakit apa sih bang adek lo?" tanya Jaeffry sedikit penasaran.

"biasa cewek kalau lagi ada tamu suka gini," ucapnya santai. Namun beda dengan ekspresi yang kini Diaz tunjukkan. Matanya melebar dengan alis yang menukik tajam. Berbeda dengan Jaeffry yang manggut-manggut paham.

"kamu kuat nunggu mas sampe kelar kelas dek? Kira-kira ada 3 jam-an. Mas kasihan sama kamu kalau di sini terus. Kalau di rumah ada bude, ada yang jaga," ucap Tio khawatir dengan kondisi adiknya yang tidak segera membaik.

"gapapa mas. Kuat kok. Nanti kalau aku ngga kuat aku pesen ojek online aja," jawabnya dengan sedikit senyum.

"eh kok gitu. Enggak selama mas ada kamu gak boleh pake ojek-ojek lah. Mas skip kelas dulu aja," ucap Tio yang melarang adiknya untuk pulang sendiri.

"ih kok skip si! Nanti kalau keponakan aku punya ayah yang bego kan susah."

"kamu ngatain mas?"

"enggak. Kenyataannya kan."

"kamu ini kok-"

"eh kok malah berantem," potong Jaeffry setelah mendengar beberapa pertengkaran kecil dari dua orang bersaudara di depannya. "dari pada bang Tio skip, terus Diaz naik ojek online jadi pada ribut, mending Diaz gue anter aja bang. Rumah lo masih sama kan bang? Kebetulan gue bawa mobil. Biar gue yang izin ke panitia sekalian gue izin anterin dia pulang," ucap Jaeffry sebagai penengah.

"bener juga. Tapi gapapa Jae? Lo ga repot?"
Belum Jaeffry menjawab, Diaz sudah menyelanya terlebih dahulu, "eh enggak enggak! Aku pake ojek aja mas. Nanti ngerepotin kak Jae."

"gapapa. Kalau kamu gak istirahat, besok penutupan osjurnya gimana? Kamu gak mau ikut?" tanya Jaeffry yang membuat Diaz bungkam. "nanti saya izinkan ke panitia. Kamu tunggu aja di sini," lanjutnya.

Kini Jaeffry beralih berbicara pada Tio, "minta tolong bilangkan temen deketnya lah bang buat beresin barangnya. Gue tunggu di depan panggung gitu aja deh gampangnya. Gue izin sekalian ambil mobil gue di parkiran," ucapnya final.

"oke. Gue sekalian balik, mau ada kelas. Gue titip adek gue ya. Jagain. Makasih banyak Jae," ucap Tio seraya menepuk pelan pundak Jaeffry. "mas kelas dulu ya dek. Jaga diri. Kalau ada apa-apa langsung telpon mas ya!" Diaz mengangguk pelan sebagai jawaban dan melambaikan tangannya.

"wen gue titip dulu bentar. Gue mau ambil mobil gue dulu," ucap Jaeffry sebelum menutup pintu ruang kesehatan dan di balas anggukan oleh Wendi.

 

Bagian 4

1 0

"Gimana? Udah enakan?" Tanya Jae saat Diaz sudah sadar dan menggegam segelas teh hangat di tangannya. Diaz tersenyum manis hingga lesung pipi tipisnya terlihat, lalu mengangguk menjawab pertanyaan Jaeffry.

"Ini ada roti. Makan dulu biar gak lemes," ucap Jaeffry mengulurkan tangannya yang menggenggam roti isi cokelat, sengaja ia belikan untuk Diaz.

"Makasih kak."

"Kalau ada keluhan langsung bilang ya. Saya di sini untuk jaga kamu," ucap Jaeffry seraya mendudukkan dirinya pada kursi yang telah disediakan di samping banker pasien.

"Oh ya wen. Kondisi dia gimana?" tanya Jaeffry sedikit menengok agar bisa melihat Wendi yang sibuk meracik obat.

"Gapapa Jae. Dia belum sarapan tadi, makanya lemes," jawabnya seraya membawa beberapa obat untuk Diaz minum. "habis makan roti obatnya diminum ya."

"Makasih banyak kak," ucap Diaz lembut. Diaz merasa sangat lemas. Badannya terasa remuk dan sakit di beberapa area.

Sebenarnya penyebab utama Diaz pingsan bukan karena belum sarapan, hanya saja saat ini adalah tanggal dimana jatah datang bulannya. Sehingga ia harus merasakan dismenore (nyeri haid) yang cukup sakit dan tak bisa ia tahan. Namun karena malu dan belum kenal dekat dengan Jaeffry, Diaz menyuruh Wendi agar berbohong kepada Jae. Bukan sepenuhnya berbohong, hanya ada informasi yang tidak disampaikan saja.

Tok tok tok

"Permisi," seorang laki-laki dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru membuka sedikit pintu ruang kesehatan. "maaf saya boleh masuk?" tanyanya sopan.

"Loh bang Tio? Ada apa nih kok ke sini?" tanya Jaeffry yang kebetulan mengenal Tio -orang yang baru saja masuk ke dalam ruang kesehatan.
"Tuh. Adek sepupu gue," tunjuknya pada Diaz yang kini terlihat muram.

"Oh adek lo bang. Kalau gitu gue cabut lah," ucap Jaeffry setelah mengetahui bahwa Tio adalah kakak sepupu Diaz.

"Eh jangan! Gue mau ada kelas 15 menit lagi. Bentaran doang gue," ucapnya seraya mencekal tangan Jaeffry. Jaeffry kembali ke tempatnya. Kini ia bertumpu pada banker sebelah banker  yang Diaz gunakan, sedangkan Tio duduk di tempat yang sebelumnya Jaeffry gunakan.

"Sakit apa? Kan udah mas bilang kalau pagi itu sarapan dulu," ucapnya lembut, tapi berhasil membuat Diaz yang sensitif karena hormon datang bulannya tambah merengut. Kini tangannya mengusap lembut kepala Diaz dan beralih ke pipi gembil adiknya. "nanti setelah mas selesai kelas, makan di kantin ya. Kalau gak kuat jalan mas beliin makan."

"Ngga usah mas!" cegahnya segera setelah mendengar Tio akan membelikan makanan. Kini Diaz menghela nafas bersamaan dengan Tio. Ia menggerakkan tangannya menarik lengan kemeja Tio, mengintrupsi agar Tio mendekat.

"..."

"Kamu datang- aww! Sakit dek!" teriak Tio setelah merasakan cubitan kecil di lengannya.

"Jangan keras-keras mas. Malu" bisiknya lagi.

Helaan nafas terdengar dari Tio. Kini tangannya memijat pelan tangan adik sepupunya tersebut. "kalau gitu setelah mas kelas langsung izin pulang aja. Pasti sakit semua kan?" pertanyaan itu dibalas anggukan pelan dari Diaz menandakan kebenaran atas pertanyaan tersebut.

"Tapi aku ngga mau langsung pulang mas. Darra sama Lyn masih di lapangan. Kasihan masa aku pulang," ucapnya lirih. Sifat alami dari Diaz yang memang terlihat cuek tapi aslinya perhatian. Di tengah rasa sakit yang ia alami pun, ia masih mengingat kedua temannya yang masih di ospek di tengah lapangan yang panas.

"Kalau sakit pulang aja gapapa. Biar besok bisa vit lagi buat penutupan osjurnya," kini Jaeffry ikut berbicara meyakinkan Diaz.

Tapi bukan malah menolak atau mensetujui, Diaz terdiam -dengan tangan yang memegang roti, beralih mencekal kuat perutnya. Nyeri yang sempat mereda kini datang kembali, membuat ia harus menahan perut bagian bawahnya. Posisi tubuhnya pun berubah. Kini ia sedikit membungkuk demi mengurangi rasa sakit yang ia rasakan di perutnya. "sakit," lirihnya setelah merasakan nyeri.

"Eh sakit lagi dek?" tanya Tio yang jelas tidak akan dijawab oleh Diaz.

"Wen! Ini perut dia sakit deh keliatannya," ucap Jaeffry memanggil Wendi agar perempuan itu memeriksa dan mengobati adik tingkatnya.

Wendi segera mengambil air panas yang ia masukkan kedalam hot water bottle (botol khusus untuk air panas ) lalu menutupnya. Ia mengubah posisi Diaz menjadi terlentang dengan bantuan Jaeffry dan juga Tio. Dan meletakkan botol tadi di atas perut Diaz yang tertutup kain bajunya. Apa yang dilakukan oleh Wendi adalah salah satu penanganan untuk dismenore di daerah perut bawah.

"sakit apa sih bang adek lo?" tanya Jaeffry sedikit penasaran.

"biasa cewek kalau lagi ada tamu suka gini," ucapnya santai. Namun beda dengan ekspresi yang kini Diaz tunjukkan. Matanya melebar dengan alis yang menukik tajam. Berbeda dengan Jaeffry yang manggut-manggut paham.

"kamu kuat nunggu mas sampe kelar kelas dek? Kira-kira ada 3 jam-an. Mas kasihan sama kamu kalau di sini terus. Kalau di rumah ada bude, ada yang jaga," ucap Tio khawatir dengan kondisi adiknya yang tidak segera membaik.

"gapapa mas. Kuat kok. Nanti kalau aku ngga kuat aku pesen ojek online aja," jawabnya dengan sedikit senyum.

"eh kok gitu. Enggak selama mas ada kamu gak boleh pake ojek-ojek lah. Mas skip kelas dulu aja," ucap Tio yang melarang adiknya untuk pulang sendiri.

"ih kok skip si! Nanti kalau keponakan aku punya ayah yang bego kan susah."

"kamu ngatain mas?"

"enggak. Kenyataannya kan."

"kamu ini kok-"

"eh kok malah berantem," potong Jaeffry setelah mendengar beberapa pertengkaran kecil dari dua orang bersaudara di depannya. "dari pada bang Tio skip, terus Diaz naik ojek online jadi pada ribut, mending Diaz gue anter aja bang. Rumah lo masih sama kan bang? Kebetulan gue bawa mobil. Biar gue yang izin ke panitia sekalian gue izin anterin dia pulang," ucap Jaeffry sebagai penengah.

"bener juga. Tapi gapapa Jae? Lo ga repot?"
Belum Jaeffry menjawab, Diaz sudah menyelanya terlebih dahulu, "eh enggak enggak! Aku pake ojek aja mas. Nanti ngerepotin kak Jae."

"gapapa. Kalau kamu gak istirahat, besok penutupan osjurnya gimana? Kamu gak mau ikut?" tanya Jaeffry yang membuat Diaz bungkam. "nanti saya izinkan ke panitia. Kamu tunggu aja di sini," lanjutnya.

Kini Jaeffry beralih berbicara pada Tio, "minta tolong bilangkan temen deketnya lah bang buat beresin barangnya. Gue tunggu di depan panggung gitu aja deh gampangnya. Gue izin sekalian ambil mobil gue di parkiran," ucapnya final.

"oke. Gue sekalian balik, mau ada kelas. Gue titip adek gue ya. Jagain. Makasih banyak Jae," ucap Tio seraya menepuk pelan pundak Jaeffry. "mas kelas dulu ya dek. Jaga diri. Kalau ada apa-apa langsung telpon mas ya!" Diaz mengangguk pelan sebagai jawaban dan melambaikan tangannya.

"wen gue titip dulu bentar. Gue mau ambil mobil gue dulu," ucap Jaeffry sebelum menutup pintu ruang kesehatan dan di balas anggukan oleh Wendi.

Bagian 5

1 0

"hahaha anjir lucu sumpah!" gelak tawa Darra dan Lyn tak bisa dihindari, kini sambungan telepon mereka dengan Diaz terputus.


"lah dimatiin," ucap Lyn kecewa. Padahal ia ingin bercerita tentang harinya dengan Darra di kampus setelah ditinggal pulang oleh Diaz. "telpon pake hp lo gih!" suruhnya pada Darra.

"hehe gak ada kuota gue," sudah kebiasaan Darra ketika disuruh untuk menghubungi sesorang. Dia adalah tipe orang dengan rasa gengsi yang sangat besar. Jadi menurutnya menghubungi orang -tentunya tanpa alasan yang mendesak, adalah sesuatu yang membuatnya malu.

"pake hotspot ni! Lo mah gitu kalau udah disuruh hubungi orang ada aja alasannya."
"halo Yaz! Ih gue belom selesai cerita, main lo tutup aja telponnya," omel Lyn saat mendengar suara sedikit berisik di seberang telponnya.

"apa lagi? Sini lo semua dari pada ngabisin paketan mending ke rumah mas Tio aja. Bude juga lagi keluar. Jadi santai aja. Nanti langsung masuk. Gue males keluar," omel Diaz.

"buset Yaz, lo PMSnya kebangetan deh. Tumben banget ngomongnya panjang bener," sahut Darra keheranan.

"ck! Udah si. Buruan sini. Langsung masuk ke kamar gue. Gak usah pake mainin bel ya!" cegah Diaz sebelum hal yang sering terjadi itu kembali terulang. Memang kedua sohibnya suka sekali bermain bel. Sampai-sampai budenya -orang tua Tio, memarahi mereka bertiga. Padahal yang salah cuma Darra dan Lyn yang iseng mainin bel rumah keluarga Tio.

"iye bawel. Ini otw. Jajan yang banyak yes. Jangan lupa es!" lalu sambungan telepon terputus begitu saja. "ye bangsatnya itu lo yang gak pernah ilang emang," omel Lyn yang merasa pesan terakhirnya tidak di dengarkan oleh Diaz.

Butuh waktu sekitar 45 menit dari kampus menuju kediaman Tio. Mereka berdua sudah sangat hafal, bahkan keluarga mereka bertiga kenal satu sama lain tak terkecuali saudara-saudaranya. Kadang mereka juga mengadakan acara arisan bersama. Tentu saja orang tua Diaz sebagai sponsor dan pendonor dana paling besar.
Di rumah Tio pun hanya diisi oleh Tio, Diaz, Hendra -adik Tio, pak de -ayah Tio dan bude -mama Tio. Diaz dititipkan pada budenya sejak memasuki kelas akhir di SMA, yaitu kelas 12. Orang tua Diaz takut anaknya akan kelelahan karena jarak rumah mereka dengan SMA Diaz cukup jauh dan memakan waktu kira-kira satu sampai satu setengah jam apabila macet melanda. Tak jarang orang tua Tio tidak pulang ke rumah karena pekerjaan. Kebetulan ayah Tio adalah seorang pilot dan mamanya adalah seorang pengusaha restoran cukup terkenal di daerahnya. Ketika restoran ramai, mama Tio atau bude -panggilan dari orang jawa untuk kakak perempuan dari orang tua, harus meninggalkan rumahnya untuk beberapa saat. Seperti saat ini. Rumah Tio sangat sepi. Namun dapat Darra dan Lyn lihat, terdapat mobil yang tidak familiar bagi mereka, terparkir di area pekarangan rumah Tio.

"mobil siapa Lyn?" tanya Darra yang kebetulan kadar kekepoannya sangat tinggi. Namun jawaban yang diberikan oleh Lyn hanya sebuah gelengan kepala, yang artinya Lyn pun tidak tahu mobil milik siapa yang mereka lihat sekarang.

Sesuai perintah dari Diaz, mereka segera masuk kedalam rumah. Tanpa salam dan memencet bel. Mereka sudah hapal dengan letak rumah ini. Bagaimana tidak, sepulang sekolah mereka selalu bimbingan di rumah ini. Belum lagi kalau libur, mereka menjadikan rumah keluarga Tio sebagai basecamp milik mereka. Toh keluarga Tio pun tidak keberatan dengan kehadiran mereka.

"loh kak Jae bukan sih?" tanya Darra yang bermaksud berbisik, namun suaranya kelewat keras. Membuat pemilik nama pun mengalihkan pandangannya dari laptop.

"kalian? Kapan dateng?" tanya Jae yang sebelumnya tidak menjawab pertanyaan dari Darra.

"iya kak. Barusan aja. Tadi bos besar minta dijengukin," kata Lyn yang menyebut Diaz dengan sebutan 'bos besar'.

Jaeffry terkekeh mendengar jawaban dari Lyn. "anaknya di-"

"CAROLYN! DARRA! MASUK LO SINI!" suara teriakan terdengar dari atas kamar dengan pintu berwarna biru tosca dengan stiker dua bendera hitam bersilangan. Ketiga orang yang berada di ruang tengah terkejut bukan main.

Ceklek

Kini terdengar suara pintu terbuka, dan menampakkan seorang perempuan dengan rambut cepolnya mengesot di lantai rumahnya. "naik sini ih!" suruhnya kepada Darra dan Lyn.

"lo ngapain ngesot-ngesot Yaz?" tanya Lyn yang tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu. Namun berbeda jauh dengan sikap yang Lyn dan Darra tunjukkan, Jaeffry justru langsung mengambil langkah menaiki anak tangga yang cukup banyak dan segera membantu Diaz berdiri di ambang pintu.

"caper gila," sahut Darra tidak terima.
Sedangkan di atas, Jaeffry langsung menanyakan keadaan Diaz dan memapahnya masuk ke dalam kamarnya kembali. Melihat hal tersebut, Darra dan Lyn segera menuju ke kamar Diaz. Mengantisipasi adanya kejahatan yang akan dilakukan Diaz kepada makhluk tampan di jurusan mereka. Padahal Diaz tidak tertarik sedikitpun dengan Jaeffry yang sedari tadi membantu dan menunjukkan sikap manisnya kepada Diaz.

"udah kak. Saya gapapa. Kalau semisal ada apa-apa saya bisa minta tolong ke dua bocah ini," ucap Diaz kepada Jaeffry, bermaksud menenangkan Jaeffry yang terlihat cukup panik.

"kak santuy ajalah. Dia gak bakal mati gara-gara dismenore kok," ucap Darra secara frontal.

"ngomong sekali lagi gue depak lo dari kehidupan gue," mata tajamnya mengintimidasi Darra, sehingga membuat yang di tatapnya pun memundurkan langkah dan menyengir tanpa dosa.

"kalau gitu saya pulang dulu ya. Terimakasih banyak sudah menjamu saya."

"eh, saya yang terimakasih kak. Kakak sudah banyak membantu saya. Maaf kalau saya merepotkan kak. Sekali lagi terimakasih kak," kini kedua insan lawan jenis itu bertatapan mata dan saling melempar senyuman terbaik mereka. Tidak hanya Diaz, Jaeffry pun menampakkan lesung pipi indahnya.

Jaeffry sedikit berdehem dan memajukan badannya mendekat, tangannya terulur mengacak kecil poni Diaz seraya berkata, "saya pulang dulu ya. Jaga kesehatan!" dan berlalu setelah pamit dengan kedua teman Diaz juga.

"kak saya gak digituin juga apa?" ucap Darra memelas, setelah Jaeffry menutup rapat pintu kamar Diaz.

Dan selanjutnya, kalian pasti tahu apa yang terjadi pada Diaz dan teman-temannya. Yup! Ghibah. Mereka langsung membuat lingkaran tak beraturan di atas kasur empuk milik Diaz. Dua pasang mata tajam kini menuntut Diaz untuk bercerita lebih dari yang ia ceritakan di sambungan telepon tadi. Baik Darra maupun Lyn sudah memasang muka tak sedap yang pastinya membuat Diaz mau tak mau bercerita.

Bagian 6

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Indonesia

- KMO Batch 43

- Kelompok 5

- Writing Lab

- Jumlah Kata 578

- Day 6

 

"huh" helaan nafas ringan keluar dari mulut Diaz. "Jadi ceritanya habis di antar kak Jae pulang, bude malah pamit mau pergi ngurus restorannya. Terus bude titip ke kak Jae buat jaga gue sebentar sampe mas Tio dateng. Sebelumnya dia juga mapah gue ke kamar, gue bener-bener ga bisa jalan. Sumpah sakit!" Wajah Diaz berubah masam mengingat kejadian memalukan tadi.

Jaeffry dengan sekuat tenaga memapah Diaz untuk menaiki anak tangga yang cukup banyak, menuju kamar Diaz yang tak jauh dari anak tangga teratas. Tak sampai depan kamar saja, Jaeffry pun memastikan bahwa Diaz telah tertidur di atas kasur empuk miliknya.
Namun tanpa sepengetahuan Jaeffry, sebenarnya Diaz belum tidur dan menghubungi kedua teman-temannya.

Jaeffry terpaksa menetap hingga Tio pulang dan mengerjakan tugas kampus di ruang tengah rumah keluarga Tio. Sebelum bude meninggalkan Diaz dan Jaeffry, ia membuatkan teh hangat untuk Diaz dan juz mangga untuk Jaeffry. Tak lupa beberapa cemilan ia keluarkan untuk makan Jaeffry selama menunggu Tio pulang kampus.

"Kalau laper ambil aja di dapur. Tante masak sayur bayem, ada juga ayam bakar, bakwan jagung, sama telor dadar. Kamu ambil aja. Nasinya ada di rice cooker ya," ucap bude lalu pergi meninggalkan Jaeffry sendiri di ruang tengah dan Diaz di kamarnya.

Hingga Darra dan Lyn datang membawa keributan kecil di rumah Tio sekarang. Membuat Jaeffry yang merasa kedua orang itu cukup untuk menjaga Diaz, memutuskan untuk pulang dan mengerjakan tugas kuliahnya. Tak lupa rapat panitia osjur setelah maghrib, membuat Jaeffry menancap gasnya cepat membelah jalanan.

"Udah intinya gitu ah," tutup Diaz mengakhiri ceritanya.

"Hahaha baper ga lo sama kak Jae? Udah ganteng perhatian pula," tawa Darra memecahkan keheningan setelah cerita Diaz berakhir.

"Ya kali gue baper. Mikir badan gue aja puyeng," jawabnya seraya bersandar pada  headboard kasurnya.

"Sakit banget Yaz?" Tanya Lyn lembut

"Parah."

"Nih," kini Darra mengulurkan tangan berisi kantong putih kecil dengan logo semut di depannya. Diaz mengeluarkan isi yang ada di dalam kantong plastik seraya berdecak kesal "katanya zero waste."

Diaz, Darra, maupun Lyn adalah siswa pecinta alam -yang saat masa baktinya di organisasi, mereka mempunyai program kerja zero waste. Artinya nol sampah. Program kerja itu terpikirkan oleh mereka karena saat mereka mendaki, banyak sekali sampah yang berserakan. Belum lagi kejadian kebakaran hutan, hal itu membuat hati mereka tergerak untuk melakukan pengurangan sampah di bumi.

"Hehehe lupa gue," sahut Darra menyadari kesalahannya.

"Ye salah-salah aja. Gak usah ajak-ajak lupa. Kasihan dia," tukas Lyn tidak terima.
"Oh ya Yaz! Lo tau, gue di tunjuk jadi ketua angkatan masa," kini muka Lyn berubah masam. Tangannya memegang erat lengan Diaz dan menunjukkan lengkungan kebawah di bibirnya.

"Bukannya kemarin udah ada yang di tunjuk?"

"Ya itu yang bikin kesel! Dianya mengundurkan diri. Banyak alasan banget sumpah. Mau gue anjing-anjingin. Tapi ogah urusan sama Komdisnya,"

"Gak laki banget" respon Diaz singkat setelah meneguk minuman kemasan khusus wanita datang bulan yang Darra berikan.

"Ih lo mah gitu. Kasih respon yang lain dong!"

"Maksa banget sih lo Lyn. Tapi gila banget ga sih Yaz. Masa Lyn tiba-tiba ditunjuk sama si Komdis galak tapi ganteng itu,"

"Yeu! Itu sih mau-maunya lo aja. Lo kata dia ganteng dari mananya Dar? Lo liat muka galak banget kek ibu kos narikin duit tau ga," protes Lyn.

"Jadi ini mau ribut atau mau cerita?" Bungkam. Kedua perempuan banyak cakap di depan Diaz pun terdiam seraya melihat Diaz dengan tatapan memelasnya. "Apa?" kini Diaz tak paham dengan tatapan mereka.

"Punya temen tsundere gini amat ya Lyn."
Dan setelahnya suara gaduh muncul dari kamar Diaz, yang pasti berantakan.

 

 

Mungkin saja kamu suka

Aaf Mahfudli Fi...
Hujan Sore Tadi
Tantan
Star For Caca
Hasan Komarudin
Salik
Afniza Ainur
Pelangi Terindah
hanaitsy
Pohon Trauma
Fitri Nur Aeni
DI PENGHUJUNG NOVEMBER

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil