Loading
0

0

26

Genre : Keluarga
Penulis : Kyora
Bab : 30
Dibuat : 27 April 2022
Pembaca : 4
Nama : Kyora
Buku : 1

Because of Me

Sinopsis

Seorang gadis berambut pendek bernama Abbeyla Viecan Rogastein memiliki paras yang cukup cantik, namun mempunyai kisah kelam di hidupnya. Dia pindah sekolah ke akademi musik yang terkenal. Di akademi musik ini, dia tidak akan menyangka bahwa akan terkuak masalah yang dirahasiakan oleh ayahnya selama ini. Dan juga, dia akan bertemu dengan orang yang mempunyai hubungan dengan keluarganya. Selain itu, dia juga akan mendapatkan masalah karena kesalahpahaman di antara dia, sahabat, dan kekasihnya. "Kenapa kamu tak mempercayaiku? Apakah segitunya kamu membenciku sekarang? Bahkan kamu tidak tau apa yang terjadi sebenarnya!" Vie kecewa, matanya tak lagi dapat menahan air mata. Hingga akhirnya dia pergi dari hadapan lelaki yang ia cintai. Apa yang terjadi pada Vie selanjutnya? Dan siapakah orang yang memiliki hubungan darah dengan Vie? Apa yang terjadi pada keluarga Vie dahulunya? Temukan semua jawabannya di cerita ini!
Tags :
#Sarapankata

Prolog

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch

-Kelompok 9

-Day 1

-Jumlah Kata 400


Tampak seorang gadis berambut pendek bergelombang memakai hoodie bewarna merah maron, gadis itu tengah melewati jalan yang tengah diserbu oleh ribuan tetes air yang turun dari langit. Sebelah tangan gadis itu sedang memegang payung bewarna biru langit bermotif bintik-bintik putih. Terlihat bola matanya yang bergerak mengikuti arah kendaraan kota yang berlalu-lalang di jalan raya. Sejenak, gadis itu berhenti berjalan, dan berdiri di tengah alun-alun kota. Siapa gadis itu? Ya gadis itu adalah aku.

Hujan turun dengan derasnya di kota yang aku tinggali saat ini. Aku masih tetap berdiri di tempat tanpa bergerak sedikitpun, kecuali bola mataku yang bergerak ke sana ke mari.

Dinginnya malam itu, membuat pikiranku kosong. Perasaan yang ingin kulupakan kembali lagi malam itu.

Aku bukanlah seorang gadis yang terlihat cantik, hanya saja beberapa orang mengatakan aku sebagai gadis yang imut. Sayangnya, aku memiliki mata yang redup, mata itu terlihat mati. Aku tersenyum tipis, kemudian menjulurkan tangan keluar dari payung, dan tetesan hujan mulai membasahi tanganku. Tanpa sadar aku menunjukkan raut wajah sedih. Kesepian, itulah makna sebenarnya dari mataku yang terlihat redup dan mati. Hidupku terasa sangat suram.

Apa yang sedang kuperbuat? Aku hanya sedang menunggu seseorang datang kepadaku, dan meminta maaf. Mustahil! Ucapku dalam hati sambil tersenyum, senyum yang terlihat hambar. Itulah senyuman tanda perubahan hidupku, aku yang dulunya berubah menjadi ceria karena keadaan, sekarang aku kembali lagi menjadi seorang gadis yang penyedih karena keadaan.

"Viecan!" teriak seseorang memanggil namaku. Aku tidak menoleh, aku tak peduli jika ada yang memanggilku atau tidak.

"Vie!" teriak seseorang lagi, tapi bukan dengan orang yang sama—itu terlihat jelas dari suaranya yang berbeda.

Kenapa kalian mencariku? Bukankah kalian karena kesalahpahaman kalian sendiri? Tetapi, aku merindukan kalian, batinku dalam hati, lalu kembali berjalan di atas trotoar.

"VIECAN AWAS!" teriakkan ketiga dari seseorang yang sedang kutunggu-tunggu. Aku menoleh, mataku menangkap sorot cahaya yang menyilaukan, cahaya itu dari sebuah truk yang akan melintas. Aku pasrah, apakah ini akhir dari hidupku?

"VIECAAAN!" teriakannya yang mendekat membuatku tersadar bahwa semua itu hanyalah ilusi. Aku berangan, soal aku diteriaki dan tertabrak oleh truk hanyalah sebuah kebohongan.

50 Missed Calls

Huh? Sebanyak ini? Bukankah ini terlalu keterlaluan? Padahal aku hanya berkeliling sebentar di alun-alun kota, sedihku dalam hati ketika aku mengambil ponsel dari saku dan melihat banyak notifikasi panggilan tak terjawab. Aku tersenyum hambar dan memasukkan kembali ponselku ke dalam saku hoodie, lalu kembali berjalan melintasi rintik hujan. Aku berniat kembali ke rumah sebelum aku dimarahi habis-habisan oleh ayah.

Bab 1: In New School

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch

-Kelompok 9

-Day 2

-Jumlah kata 515


Namaku Abbeyla Viecan Rogastein, seorang gadis berambut pendek bergelombang dengan keadaan rambut yang terikat. Biasanya, orang-orang sekitar memanggilku Vie, View, dan Piw. Aku tidak masalah dengan nama itu, yang penting tidak menganggu kehidupanku yang sudah cukup suram ini.

Hm? Apakah ini sudah rapi? Ah ya, terserahlah! Gumamku ketika sedang bercermin, memperbaiki posisi rambutku, lalu menyambar hoodie dan memakainya.

Aku menggandeng tas sekolahku, dan langsung berangkat ke sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu. Aku tidak perlu berangkat memakai kendaraan umum maupun pribadi, karena sekolahku letaknya cuma beberapa ratus meter dari asramaku. Ya, aku tinggal di asrama sekolah yang memiliki luas dua atau tiga hektar ini. 

Aku menghela napas, ini pertama kalinya aku bersekolah di sekolah yang memiliki luas yang bukan main. Bukan apa-apa, hanya saja beberapa hari yang lalu, ayahku mendadak mengatakan bahwa aku harus pindah sekolah. Aku tidak masalah, lagipula sekolah lamaku sangat membosankan, tapi aku juga tidak menyangka akan bersekolah di sini.

Bukan itu saja, ternyata sekolah ini adalah akademi musik! Nama sekolahnya Vlatrista High Academia. Hei, sepertinya aku pernah mendengar nama itu di media sosial. Hum, oh ya! Aku baru ingat! Akademi ini adalah akademi musik yang memproduksi banyak idol ternama, pantas saja sangat terkenal.

Hari ini adalah hari Senin, hari pertamaku belajar di sekolah musik ini. Aku melangkah cepat masuk ke dalam bangunan sekolah khusus kelas 11. Bayangkan saja, akademi musik ini memiliki tiga bangunan terpisah sesuai tingkat kelas. Aku menuju resepsionis, bertanya di mana letak kelas 11-A. Kemudian, salah satu petugas resepsionis mengantarkanku sampai di depan pintu kelas yang bertuliskan “11-A”. Aku menunduk dan berterimakasih kepada petugas resepsionis itu, dia pun kembali ke tempatnya. Aku gugup, tapi aku mencoba melatih ekspresiku terlebih dahulu sebelum masuk kelas, ya itu untuk menutupi kegugupanku. Baiklah aku sudah siap, ini dia!

“Murid-murid sekalian, hari ini kalian akan mendapatkan teman baru. Silakan masuk, Nona!” perintah guru wali kelas baruku itu. Aku pun langsung melangkah masuk ke dalam kelas. Sesaat, aku kagum dengan isi kelas ini. Kelas ini sangat sangat bersih, rapi, dan juga luas! Namun, ini bukan waktunya untuk terkagum-kagum.

“Selamat pagi semuanya! Perkenalkan, namaku Abbeyla Viecan Rogastein, kalian bisa memanggilku Vie atau Viecan. Sebelumnya aku bersekolah di Louisville Academy. Kuharap aku bisa dekat dengan kalian semua,” ucapku memperkenalkan diri, lalu tersenyum lebar dan melambaikan tangan.

“Baiklah, kamu bisa duduk di sebelah Falzye. Kursi ketiga dari urutan sebelah kanan, barisan nomor dua,” jelas guru wali kelas baruku itu. Aku mengangguk, lalu duduk di bangku yang dimaksudkan. Kulihat orang yang duduk di samping bangkuku, tampak seorang lelaki yang sedang asik mencoret-coret kertas. Dia tidak menyadari atas kehadiranku, tapi aku tidak terlalu mempermasalahkannya.

Tiba-tiba dia berteriak, “Aaah! Ke mana semua isnpirasiku?!”

Aku terperanjat kaget mendengar teriakannya yang memekakkan seisi kelas. Tiba-tiba guru wali kelasku melemparkan penghapus papan tulis ke kepalanya. “Falzye! Kalau kamu berteriak sekali lagi, saya akan menghukum kamu membersihkan ruang latihan selama tiga bulan! SEN-DI-RI-AN!” amuk guru wali kelasku, aku bergidik ngeri. Laki-laki yang bernama Falzye itu menunduk meminta maaf, dan kembali duduk sembari mengelus-elus kepalanya yang sakit akibat lemparan penghapus papan tulis.

Yah hari, pertama yang sungguh berisik. Tetapi, di dalam diriku, aku masih merasa kesepian.

Bab 2: A Step in Life Change

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 3

-Jumlah kata 609


Bel tanda waktu istirahat telah berbunyi, beberapa siswa-siswi berebut keluar kelas. Aku melirik sekeliling, tidak ada yang tertarik untuk berkenalan denganku, mungkin. Aku mendengus, sekolah ini mungkin akan menjadi tempat yang membosankan juga bagiku. Untuk mengusir kebosanan, aku mengambil headset dari dalam tas, dan memasangnya di kedua telingaku, lalu memutar sebuah lagu tentang kehidupan seorang anak yang tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.

Aku menutup mataku, aku merasa diriku ini telah masuk ke dalam alunan lirik-lirik lagu yang menyentuh hati. Lagu ini seperti kisah hidupku. Tanpa sadar, aku meneteskan air mata sambil tersenyum hambar. Sepi, batinku sedih.

Tiba-tiba bahuku ditepuk pelan, dan aku kembali tersadarkan ke dunia nyata. Aku buru-buru menghapus air mataku yang mengalir dari pelupuk mata, dan tersenyum. “Ya ada apa?” tanyaku kepada orangnya yang menepuk bahuku, ternyata orang itu adalah Falzye.

“Kau menangis? Kau baik-baik saja? Aaah! Jangan sedih! Ayo berteman denganku dan kau akan merasa senang, Vi-e-can!” tuturnya girang. Aku menngira dia tidak menyimak perkenalanku tadi, karena dia sibuk dengan pena dan kertasnya. Ternyata aku salah, dia tetap menyimak walau sedang disibukkan oleh hobinya yang unik itu.

Aku tersenyum, lalu mengangguk. “Aku baik-baik saja. Tentu, aku ingin berteman denganmu.”

Tiba-tiba dia melompat, tangannya yang tengah memegang beberapa lembar kertas berhamburan di udara, dan membuat orang-orang di sekitarnya kesal dengan tingkah lakunya. Anak ini terlihat senang sekali, sampai-sampai ia membuat seisi kelas berantakan.

Ketua kelas—yang tidak kuketahui namanya—datang menghampiri Falzye, lalu menjitak kepalanya. Aku meringis melihatnya, aku tidak terbiasa melihat kekerasan. Aku sontak berdiri, baru kali ini aku merasakan khawatir kepada seorang teman.

“Falzye kamu tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.

Dia memegang kepalanya, dan tersenyum padaku. “Terimakasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku oke! Yahaha!”

Aku menepuk jidat. Lihatlah anak ini! Bagaimana bisa dia tersenyum dan tertawa saat kepalanya dijitak oleh ketua kelas? Anak ini punya kepribadian yang unik juga ternyata.

“Falzye! Jangan menghamburkan kertas-kertasmu yang tidak berguna itu! Kamu membuat seisi kelas menjadi berantakan!” tegur ketua kelas.

“Apa katamu?! Tidak berguna?! Hei! Kertas-kertas yang penuh dengan inspirasi hebatku ini dikatakan tidak berguna?! Suatu saat nanti kau akan terkagum-kagum mendengarkan karya hebatku ini!” kesal Falzye.

“Ogah! Aku tidak akan terkagum dengan karya aneh mu itu!” ejek ketua kelas.

“Hei hei, berhenti bertengkar. Aku tidak suka pertengkaran,” pintaku pada mereka berdua. Mendengar permintaanku, sang ketua kelas memilih pergi meninggalkan kami berdua. Aku menghela napas. Syukurlah!

Kulihat Falzye yang sedang memungut kertas-kertasnya yang berhamburan, wajahnya memerah menahan amarah. Namun, itu tidak bertahan lama, unek-unek di dalam kepalanya pun akhirnya meledak, “DASAAAAR!! Ingin sekali aku menjitak kepalanya kembali!”

Aku yang ikut membantu memungut kertas-kertasnya hanya bisa cengengesan melihat dirinya emosi. “Sabar ya, hehehe.”

Dari belakang kelas, terlihat seorang lelaki datang di hadapan kami. Wajahnya dingin, tapi juga sedikit terlihat pucat. Dia pun bertanya, “Kamu berbuat ulah lagi Fal, makanya ketua marah padamu.”

Falzye menggeleng. “Aku tidak berulah, dia tuh yang berulah!”

“Jelas-jelas itu ulahmu, hei! Oh ada anak baru, salam kenal! Namaku Zarlendra Darelino de Razellione,” ucap lelaki itu. Aku termangu, selain namanya yang panjang, pengucapannya juga sulit.

“Oh ya, salam kenal. Namaku Abbeyla Viecan Rogastein, panggil aku Viecan atau Vie. Jangan panggil aku dengan sebuat View apalagi Piw, itu tidak lucu,” jelasku sambil terkekeh.

Lelaki itu tertawa kecil, “Hahaha. Baiklah, untuk panggilan, panggil saja aku ‘Relino’, dan jangan memanggilku dengan sebutan ‘Ikan Lele’.”  

Aku ikut tertawa kecil, dan mengangguk, “Baiklah Relino.”

Kini, aku mendapatkan dua teman baru. Sekolah ini tidak terlalu buruk juga menurutku. Di bandingkan dengan sekolah lamaku, aku lebih menyukai sekolah ini. Bukan karena sistem belajar dan fasilitas sekolahnya, melainkan karena aku mempunyai teman di sini. Di sekolah lama, aku tidak mempunyai teman, makanya aku sering kesepian. Tapi untuk sekarang tidak, aku bersyukur sekali dipindahkan ke sini!

Bab 3: Little Quarrel

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 4

-Jumlah kata 462


Aku berjalan keluar kelas dengan kedua teman baruku itu, aku diajak berkeliling untuk melihat beberapa fasilitas di sini. Akademi musik yang memiliki akreditasi tinggi ini sangat menakjubkan. Pertama kalinya, aku ditunjukkan ruang latihan, ruangan ini luas dan memiliki beberapa alat yang digunakan untuk melatih gerakan para idol. Di sudut ruangan terdapat kain untuk mengelap keringat saat setelah latihan. Bukan hanya itu, di salah satu sisi ruangan terdapat cermin yang luasnya setara dengan dinding di sisi lain ruangan ini.

Setelah puas melihat ruangan ini, aku diajak untuk melihat ruang musik. Yap, ruangan ini penuh dengan segala jenis alat musik. Aku iseng menekan tuts-tuts piano, sudah lama sekali aku tidak bermain piano, terakhir kali aku bermain di saat aku masih berumur tujuh tahun. 

Aku duduk di kursi piano, dan mulai memainkan salah satu musik klasik, Chopin: Ballade No. 1, G Minor, Op. 23. Ternyata kemampuanku bermain piano masih ada. Falzye dan Relino sampai menikmati permainanku. Setelah selesai bermain, kedua temanku bertepuk tangan atas permainanku. 

“Itu hebat sekali, Vie! Kau bisa menjadi seorang pianis, menurutku!” puji Falzye. Aku tersipu malu.

“Permainanmu mengagumkan, Vie. Pertahankan kemampuanmu itu,” pesan Relino. 

“Terimakasih semua. Hm, semoga saja ya bisa jadi pianis, hehehe. Baiklah, akan kupertahankan kemampuanku ini!” balasku pada mereka. 

Setelah puas berada di ruang musik, kami pergi keluar. Di hari pertamaku ini, aku mendapatkan perhatian dari banyak orang. Mungkin karena aku adalah murid baru, atau karena aku memakai hoodie merah maron kesukaanku di saat murid lain memakai seragam sekolah resmi mereka. Menurutku ini hal yang wajar bagiku selaku murid pindahan, soalnya aku belum mendapatkan seragam sekolah resmi seperti mereka.

“Vie, apakah kau mau ke kantin? Aku lapar, aku telah mengeluarkan banyak tenaga untuk mendapatkan inspirasi hingga tidak sempat sarapan, dan juga aku lelah berkeliling sekolah menemanimu. Jadi, ayo ke kantin!” ajak Falzye.

“Boleh juga. Ah ya, omong-omong, kamu selalu membawa kertas dan pena itu, bahkan beberapa kertas sudah kamu coret-coret. Apa yang sedang kamu lakukan sebenarnya?” tanyaku penasaran setelah melihat dia selalu membawa kertasnya ke mana-mana.

“Dia sedang menciptakan sebuah lagu. Inspirasi yang dia dapatkan akan dia tuang dalam kertas-kertas itu, makanya dia terlihat sangat obsesi dengan sebuah kertas dan pena. Apapun itu untuk menulis inspirasi dan imajinasinya di situ,” tukas Relino. Aku termangu, ternyata Falzye memiliki bakat dengan kelakuan yang unik.  

Tiba-tiba, penutup kepala hoodie-ku terpasang di kepalaku. Aku tersentak kaget, itu ulah Falzye. Entah apa yang ia lakukan sekarang. Aku berseru, “Hei, Falzye! Apa yang kamu lakukan?” 

“Hanya penasaran bagaimana bentuknya, Vie,” jawabnya santai.

“Kamu tidak pernah memakai hoodie kah?” tanyaku bingung. Dia menggeleng, itu berarti sudah pernah memakai hoodie.

“Falzye, jangan membuat Viecan terganggu di hari pertamanya dengan keusilanmu itu,” tegur Relino, aku mengangguk setuju, lalu tertawa cekikikan.

“Hei! Aku tidak menganggunya! Lagipula, aku bukan seorang lelaki yang usil terhadap wanita!” tukasnya, lalu menyeringai kepadaku.

Bab 3: Little Quarrel

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 5

-Jumlah Kata 612


Aku menggeleng. “Aku setuju dengan Relino, kamu itu orang yang usil, Falzye! Jangan mengangguku yang baru saja bersekolah di akademi musik ini. Oh ya, kalau dipikir-pikir, sebelumnya aku tidak pernah berpikiran ingin menjadi bagian dari musik. Tapi, lihatlah sekarang! Aku bahkan ingin menjadi bagian dari musik, karena menurutku musik itu menyenangkan! Ah, aku kepikiran ingin menjadi produser!”

Falzye meloncat-loncat kegirangan, lalu menatapku dengan mata yang berbinar-binar. “Itu bagus sekali Vie! Kalau begitu kamu akan bekerja di perusahaan idol, dan menjadi seorang produser! Kuharap aku bisa masuk di suatu agensi yang mempekerjakan kamu! Oh ya, aku bukanlah anak yang usil!”

Aku tertawa kecil, “Hihihi. Doakan saja ya! Ah, bagaimana denganmu, Relino? Apa tujuanmu bersekolah di sini?” 

“Aku? Hem, entahlah, aku tidak memiliki tujuan. Aku berada di sini atas kemauan adikku, jadi aku juga ikut. Yang kuinginkan saat ini hanya satu, berharap keajaiban datang untuk bertemu dengan adikku satu lagi,” jawab Relino, nada suaranya terlihat dingin, bahkan tatapan matanya juga. Aku bergidik ngeri melihat tatapan dinginnya.

Setelah bercakap-cakap bersama mereka di sepanjang koridor sekolah, akhirnya kami sampai di kantin. Kantin ini ternyata juga luas! Aku terkesima dengan sekolah ini. Aku tidak menduga bahwa kantinnya juga luas, rapi, dan bersih. Aku tidak akan pernah merasa menyesal telah pindah ke sini. 

“Vie, kamu mau pesan apa?” tanya Relino.

Aku melihat-lihat menu makanan yang tersedia di layar tablet. Bahkan untuk memesan makanan sudah memakai cara digital. Bukankah ini sangat menakjubkan? Setelah mendapatkan menu pesanan yang kuinginkan, aku pun menunjuk layar tablet itu. “Aku mau ini, blueberry soft cake, dengan minuman matcha latte.”

Relino mengangguk, dan menekan menu pesanan yang kupilih. Begitu juga dengan menu pilihan Falzye. Kulihat dia memesan chicken steak dan caffuchino. Sedangkan Relino hanya memesan hot tea.

Saat aku mengeluarkan dompet, Falzye berteriak, “AH!” 

“Hei ada apa?” tanyaku kaget. Selain usil, Falzye juga suka berteriak, itu membuat telingaku pekak.

“Aku sudah membayar semua pesananmu, Vie. Itu sebagai tanda selamat datang telah berada di sekolah ini,” jawabnya. Aku menepuk jidat, kalau cuma ingin mengatakan ini tidak perlu berteriak, dia membuat siswa-siswi lain memperhatikan kami. Tiba-tiba aku tersadarkan oleh sesuatu. Tunggu, dia membayar pesananku?

“A-apa? Hei, jangan begitu! Aku punya uang sendiri, kamu tidak perlu membayar pesananku!” tolakku sopan. 

“Tidak tidak, ini untukmu anak baru!” tolaknya kembali. Anak ini sungguh keras kepala!

"Tidak, biar aku saja!” tukasku.

“Tapi, aku sudah membayar pesananmu, Vie,” ucapnya. Seketika aku terdiam, tapi tetap saja tidak enak dia yang membayarkan pesananku.

“Kalau begitu aku ganti saja uangmu deh, Fal,” ucapku memberikan sejumlah uang yang ia bayarkan untukku. Dia menggeleng, menolak. 

Aku berdecak sebal, ketika ingin membuka suara, Relino lebih dulu menyela, “Udah terima aja, Viecan. Serius, kalian berdua dari tadi dilihat siswa-siswi lain loh. Nah, sekarang lihatlah ke sana, ketua kelas kita juga sudah memantau kalian dengan wajah sangarnya.” 

Refleks aku menoleh arah yang ditunjukkan Relino. Dan benar saja, kami sedang dipantau oleh banyak orang, termasuk ketua kelas kami. Aku menunduk malu, lalu menyikut siku Falzye. “Gegara kamu sih!”

“Loh, kok aku?!” seru Falzye wajah tak terima disalahin. 

Sebelum unek-unek Falzye meledak lagi, Relino lebih dulu menyeret kami ke salah satu meja makan, dan menyuruh kami duduk. Dia menatap kami tajam, dan berkata dengan dinginnya, “Kalian duduklah! Dan jangan bertengkar, ingat ketua kelas memantau kalian berdua!”

Kami berdua bergidik ngeri, dan menoleh ke arah lain, tidak berani menatap wajah Relino yang dingin itu. Aura sekitar kami mendadak menjadi dingin, ini semua aura pasti dari Relino. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pesanan kami telah sampai, dan kami makan dengan lahapnya.

“Omong-omong, terimakasih Falzye,” ucapku berterimakasih.

Dia tersenyum, lalu mengangguk, “Sama-sama, Vi-e-can!”

Aku bersyukur telah berada di sini, dan ini pertama kalinya aku mendapatkan teman sebaik mereka. Terimakasih banyak Falzye, Relino, ucapku dalam hati.

Bab 4: Lost in School

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 6

-Jumlah Kata 411


Setelah beberapa saat makan di kantin, dan piring sudah kosong semua, Falzye menjulurkan tangan ke atas layak orang yang baru bangun tidur. Lalu ia menguap, “Hoaam! Aku kenyang sekali. Pengen tidur, ngantuk soalnya!”

“Ya udah balik ke asrama sana kalau ngantuk,” balas Relio. Aku mengangguk tanda setuju, dan segera menghabiskan matcha latte-ku. 

“Gak mau! Itu namanya bolos!” sangkal Falzye, ternyata anak ini anti bolos. Kukira dia suka bolos kalau sudah ngantuk gitu.

Gluk! Tegukan terakhirku sudah habis, aku membersihkan sisa makanan yang menempel di mulut dengan sapu tangan. “Hei, aku ingin ke perpustakaan. Apa kalian bisa mengantarku ke sana?”

Falzye langsung beranjak dari tempat duduknya, dan kembali semangat. “Tentu, ayo!”

Relino mengangguk, dan juga ikut beranjak dari tempat duduknya. “Mari kami antar.”

Aku ikut-ikutan beranjak dari kursi, lalu berterimakasih, “Terimakasih!”

Kami pun keluar dari kantin, dan langsung menuju perpustakaan. Kukira perpustakaannya masih berada di dalam gedung kelas 11 ini, ternyata tidak. Perpustakaan itu berada di sebelah gedung utama atau biasa disebut aula. Banyak sekali siswa-siwi berlalu lalang di depan perpustakaan itu, ada yang keluar dengan tumpukan buku pinjaman, ada juga yang masuk dengan niat membaca di tempat.

Aku kembali terpukau setelah menginjakkan kakiku ke dalam perpustakaan itu. Aku bertanya-tanya dalam hati, berapa biaya masuk sekolah ini hingga ayahku mampu memindahkanku ke sekolah yang super duper elit ini. Perpustakaan ini sungguh megah dan menawan, buku-buku tersusun rapi di sini. Dan juga, perpustakaan ini memiliki tiga lantai.

 “Luas sekali!” pukauku.

 Mereka berdua tersenyum, lalu mengangguk, “Kau suka?”

“Suka banget!” girangku, lalu langsung melesat mencari buku yang ingin kubaca.

Perpustakaan ini ternyata memiliki denah lokasi buku sesuai tema. Misalnya buku yang kucari, yaitu buku novel, letaknya berada di lantai dua, itu berarti aku harus pergi ke lantai atas. Aku langsung pergi ke lantai atas meninggalkan kedua temanku itu tanpa sadar, itu karena aku terlalu senang berada di sini. Selain itu, aku juga terlihat sangat obsesi ketika sudah melihat buku novel yang menarik telah berjejer dengan rapi.

Di sana, aku menemukan sebuah buku yang menarik, aku mengambilnya, lalu membacanya di meja perpustakaan. Karena keasyikan membaca, aku melupakan keberadaan kedua temanku itu. Hingga akhirnya bel tanda masuk kelas telah berbunyi, seketika aku kembali tersadar dari dunia fantasi. 

Aku mulai panik ketika tidak menemukan keberadaan mereka berdua. Ini salahku, aku meninggalkan mereka hingga akhirnya aku sendiri di sini. Aku keluar perpustakaan dan kembali ke gedung kelas 11. Aku mencoba mengingat arah jalan ke kelas tanpa lebih dulu bertanya pada petugas resepsionis. Sialnya, aku nyasar di sini!

Bab 4: Lost in School

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 7

-Jumlah Kata 401


Aku lupa jalan ke kelasku ketika sudah hampir menyusuri setiap koridor. Ya ampun, Falzye dan Relino juga tidak ada di sekitarku. Kini, aku menyesal karena telah meninggalkan mereka. Aku terduduk, menyerah dengan situasi saat ini, dan hampir menangis. Aku hanya bisa berdoa agar ada orang yang lewat dan membantuku kembali ke kelas.

“Siapapun tolong aku …,” bisikku. 

Tiba-tiba seorang perempuan cantik menepuk bahuku. Di sebelahnya ada seorang lelaki yang mirip dengan Falzye. Kalau dilihat-lihat, sepertinya mereka adalah seniorku, tapi kenapa mereka ada di gedung bangunan kelas 11? Aku menyingkirkan pertanyaan yang muncul dari kepalaku, dan menghela nafas lega. Mataku mulai berkaca-kaca, aku terselamatkan!

“Kamu baik-baik saja?” tanya perempuan cantik itu.

“Aku tersesat di sini. Aku meninggalkan teman-temanku saat berada di perpustakaan, lalu kehilangan mereka. Sekarang aku tidak tau arah jalan ke kelasku,” jelasku sambil menahan tangis, lalu berdirik tegak.

“Kamu siswi pindahan dari kelas 11-A, bukan?” tanya laki-laki, di sampingnya. Aku mengangguk.

“Ikuti kami, kami juga ingin ke kelas. Kelas kamu bersebelahan dengan kelas kami. Oh ya! Perhatikan baik-baik supaya kamu tidak tersesat lagi, dan seandainya nanti masih tidak ingat jalannya, usahakan tetap berada di samping teman-temanmu!” tegas perempuan itu. Aku termangu untuk beberapa detik, lalu mengangguk, dan mengikutinya dari belakang. Ternyata mereka berdua bukan seniorku, melainkan seangkatan denganku. Pantas saja mereka ada di bangunan kelas 11 ini.

Dari belakang mereka, aku memandangi sosok laki-laki yang di samping perempuan itu, dia mirip sekali dengan Falzye. Refleks aku bertanya dengan polosnya, “Saudaranya Falzye, ya?”

Mereka berdua menoleh ke arahku. Aku mengatup rahang, apa yang sudah kukatakan? Kenapa aku refleks bertanya? Tidak sopan sekali diriku ini, maafkan aku, akkhh! 

"Huum, aku kakaknya. Namaku Decan, dan yang di sebelahku, bernama Aneesa,” jelasnya sambil tersenyum.

Aku menoleh ke arah perempuan cantik di sampingnya, lalu berkata, “Terimakasih Kak Ane, terimakasih Kak Decan, udah mau nolongin aku. Ah ya, namaku Viecan, dipanggil Vie.”

“Jangan panggil kami dengan sebutan ‘kak’, karena kita seangkatan. Iya, sama-sama,” jawab Ane lembut.

Aku tersenyum. “Baiklah kalau begitu.”

Mereka berdua mengantarkanku hingga ke depan pintu kelas, aku menunduk berterimakasih, lalu kembali tegak dan melambaikan tangan. Aku sangat berterimakasih pada mereka berdua, tak kusangka kelas kami bersebelahan. Kulihat gantungan yang berada di depan kelas mereka, ternyata mereka dari kelas 11-B. Aku pun segera masuk ke kelas, saat aku baru membuka pintu kelas, Falzye dan Relino sontak mendekatiku dengan wajah yang sedikit lega, tapi aku merasakan aura amarah dari dalam diri Relino, aku menunduk takut.

Bab 4: Lost in School

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 8

-Jumlah kata 444


“Vie! Aaakh, ke mana saja kamu?! Aku panik sekali!” ucapnya khawatir.

Aku memasang wajah menyesal. “Maafkan aku, aku meninggalkan kalian berdua di perpustakaan. Maafkan aku, sekali lagi, maaf!”

Relino menghela napas, lalu memberi peringatan padaku, “Kami maafkan, lain kali jangan begitu lagi. Falzye hampir meminta semua anggota OSIS untuk mencarimu, tapi kutahan karena ada kemungkinan orang lain yang lewat di sekitarmu akan mengantarmu sampai ke kelas.” 

Aku melongo. "Ah benarkah? Maaf, aku menjadi merepotkan kalian!"

"Iya tidak apa-apa," jawab Falzye dan Relino serentak. 

Tiba-tiba, guru Bahasa masuk sambil memberi peringatan, "Semuanya duduk, atau saya usir dari kelas!" 

Aku buru-buru mengangguk, lalu berjalan menuju bangku ku. Aku kapok, gak mau lagi jalan sendiri di sekolah yang luas ini. Bayangkan saja, aku harus tersesat di sekolah ini setiap hari, dan itu pasti akan merepotkan orang-orang yang berada di sekitarku. Dan juga, aku kapok merasakan aura mematikan dari diri Relino, melihat tatapan matanya yang tajam itu saja sudah membuatku tak berkutik sekalipun.

“Omong-omong kamu diantar sama siapa?” tanya Relino yang duduk di bangku belakangku setelah pelajaran selesai. 

Aku menoleh ke belakang, lalu menceritakan kejadian tadi, “Soal itu, memang sih tadi ada yang lewat, terus dia menepuk bahuku. Dia seorang perempuan cantik, dan ada lelaki tinggi yang bersama dengannya. Mereka berdua dari kelas 11-B, ternyata mereka bersebelahan dengan kelas kita, terus mereka antar deh aku sampai ke kelas, nama mereka berdua Aneesa dan Decan.”

BRAK!! Falzye terbentur meja saat ingin mengambil buku dari tasnya, karena suara benturannya yang cukup mengagetkan, aku refleks menoleh ke samping dan melihatnya yang sedang menggosok-gosok kepalanya yang terebentur sambil meringis kesakitan, “Aw, sakit!"

"Hei, hati-hati! Lagian kamu kenapa sih kok bisa terbentur gitu? Padahal jarak antara tas mu dan meja jauh beberapa centi loh, gak memungkinkan kamu terbentur,” celetukku.

“Kayaknya dia kaget dengar ceritamu tuh,” cetus Relino sambil menahan tawa.

“Kenapa? Kok gitu sih?” tanyaku bingung.

“Habisnya kamu bertemu dengan kakakku yang bau itu! Dan juga bertemu dengan Aneesa!” seru Falzye.

Aku menganga, wajahku jelas sekali menunjuk ketidakpahaman tentang apa yang dikatakan oleh Falzye, “Hah? Kalau soal Decan … aku juga tau itu kakakmu, tapi apa hubungannya antara pertemuanku dan mereka? Terlebih lagi kamu juga menyebut nama Ane.”

“Falzye na—” ucapan Relino terputus karena Falzye menutup mulutnya.

"LINO, JANGAN KASIH TAU! AKU MALU!" Teriak Falzye

"Hmmh hmmmh hmmh!" seru Relino.

"Ngomong apa?" tanya Falzye bingung.

Aku tertawa, "Hahahaha! Ya ampun! Fal, itu tanganmu lepas dulu, Relino kan jadinya gak bisa bicara dengan jelas!"

Falzye melepaskan tangannya dari mulut Relino, lalu cengengesan, "Hehehe, maaf, lupa!"

"Dasar!" ketus Relino.

"Oh ya, tadi Falzye kenapa?" tanyaku pada Relino.

Relino menyeringai, lalu berbicara cepat sebelum disumpal Falzye, "Falzye naksir Aneesa." 

“HAH?!” Kagetku.

Bab 5: Meet Again

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch

-Kelompok 9

-Day 9

-Jumlah Kata 400


“Heh! Itu tidak benar!” sangkal Falzye malu-malu.

“Itu fakta! Setiap dia lewat di sekitarmu, kamu selalu terpesona melihatnya, bahkan saat dia berbicara denganmu, kamu selalu menjadi salah tingkah,” bantah Relino sambil menunjukkan reaksi Falzye ketika Aneesa lewat di depannya.

Aku terkekeh melihat tingkah mereka berdua. Apakah itu yang dinamakan pasangan? Saling memiliki rasa, dan akan terpesona setiap pasangan itu lewat? Hm, kalau dipikir-pikir aku tidak punya perasaan yang seperti itu. Tiba-tiba pikiranku terbayangkan oleh wajah seseorang, aku menggeleng cepat–membuyarkan bayangan yang kupikirkan. Tidak tidak, dia hanya berniat menolongku tadi, batinku.

“Vie, kalau kamu bagaimana? Apakah kamu pernah menyukai seseorang?” tanya Falzye denga tampang sedang menggoda.

Aku berdecak sebal, “Ck! Aku? Mana pernah aku menyukai seseorang.”

Falzye menghela napas kecewa, sedangkan Relino terkekeh dengan tampang kecewa Falzye. Setelah 10 jam belajar, akhirnya kami pun diperbolehkan pulang setelah bel berbunyi. Kami bertiga pulang bareng, dan ketika jalur asrama kami berbeda, kami memutuskan berhenti di antara jalur asrama putra dan putri untuk berpamitan.

“Sampai jumpa besok, Vie!” pamit Falzye sambil melambaikan tangannya padaku, diikuti dengan lambaian tangan Relino.

“Eh tunggu!” cegahku pada mereka, lalu mengeluarkan ponsel dari tas.

“Ada apa?” tanya Relino. Aku menunjukkan nomor telponku dari layar ponsel. Mereka langsung ber-oh tanda mengerti maksudku. Ya, aku memberi nomor telponku pada mereka, dan mereka memberi nomor telponnya kembali padaku.

“Terimakasih banyak untuk hari ini, Relino, Falzye!” sahutku.

“Iya, sama-sama. Oke, selamat sore, Vie!” balas Relino, lalu pergi berbarengan dengan Falzye, aku tersenyum melihat mereka dari jauh.

Aku pun berjalan menuju asrama putri. Saat aku telah sampai di asrama, aku melihat notifikasi dari pengurus asrama, dia mengatakan bahwa aku dipindahkan dari kamar tamu—yang masih berada di asrama putri, yang tentunya tamunya juga seorang perempuan—ke kamar resmi pelajar dengan papan bernomor 380 di depan pintu. Aku pun langsung mengelilingi satu asrama ini untuk mencari keberadaan kamar itu. 

Setelah mencari-cari dengan waktu yang cukup lama, aku akhirnya sampai di lantai empat di mana itu adalah keberadaan kamarku. Saat kuamati lebih jelas, ada seorang perempuan yang berdiri di depan kamarku, ternyata dia adalah Aneesa. Keren! Aku kembali bertemu dengan Ane, segera kusapa dia, “Ane, selamat sore!”

Dia menoleh ke arahku, lalu tersenyum dan melambaikan tangan, “Ah Vie! Selamat sore juga!” 

Aku berjalan mendekati Aneesa. Kulihat, dia masih memakai seragam sekolah, berarti dia juga baru sampai di sini. Tetapi, kenapa dia berada di pintu kamarku? Aku berdehem, “Ekhem, apakah ini kamarmu?”

“Iya, kenapa?” jawabnya.

Bab 5: Meet Again

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 10

-Jumlah Kata 410


“Iya, kenapa?” jawabnya.

“Apakah aku boleh masuk? Aku baru saja dapat pesan dari pengurus asrama, katanya dia memindahkanku dari kamar tamu ke kamar ini,” jelasku, semoga dia mengerti.

Ane melongo, “Vie di kamar ini? Berarti kita sekamar?”

Aku mengangguk, “Hei ini menyenangkan! Aku sekamar dengan orang yang menolongku tadi pagi. Oh ya, apakah Ane keberatan bila aku dipindahkan ke sini? Maaf bila kehadiranku menganggu atau mengagetkanmu.”

“Tidak tidak, aku malah senang kalau ternyata kita satu kamar. Ah ya, ayo masuk!” ajaknya, aku mengangguk dan masuk ke dalam setelah Ane membuka pintu dengan kartu tanda pengenal.

Kuperhatikan kamar ini memiliki dua ranjang, dua lemari, dua meja belajar yang terpisah, lalu ada balkon yang menghadap ke timur. Di sisi lain kamar, terdapat sebuah pintu yang di sebaliknya adalah kamar mandi. Dibandingkan kamar tamu, aku lebih menyukai kamar ini. Setidaknya karena aku mempunyai teman sekamar, hehehe.

“Kamu langsung mandi, ya. Aku mau balik ke sekolah,” imbuh Ane.

“Eh, mau ngapain?” sergahku.

“Barangku ada yang ketinggalan. Omong-omong kamu sudah punya kartu tanda pengenal belum?” tanya Ane.

“Punya. Kenapa?” tanyaku balik.

“Kalau begitu baguslah. Nanti kalau mau keluar, pintu kamar ini akan terkunci otomatis dari dalam, jika mau masuk harus ada tanda pengenalnya,” jelas Ane panjang lebar. “kalau gitu aku mau balik ke kelas dulu, dadah.”

Pintu tertutup, dan aku pun segera membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, aku memakai baju lengan panjang bewarna cokelat. Seketika aku bosan di kamar terus, dan jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, saat itu Ane belum juga balik. 

Aku mengambil ponsel dan memainkan permainan, sekitar 20 menit, aku merasakan lapar. Aku bangkit dari kasur dan mengecek lemari penyimpanan, ternyata ada banyak makanan ringan, namun aku ragu mengambilnya. Karena kemungkinan besar makanan ringan ini milik Ane. Aku jadi teringat bahwa aku juga menyimpan makanan ringan di koper. Oh astaga! Aku lupa mengemasi pakaianku di koper! Dan aku juga menyimpan kue bolu kesukaanku di sana, ah semoga saja tidak basi. 

Aku mengeluarkan koper dari lemari pakaian, dan segera mengemasi pakaian-pakaianku. Aku juga mengeluarkan makanan ringan dan kue bolu yang kubawa, dan syukurlah tidak basi. Karena perutku sudah lapar, aku langsung memotong beberapa kue bolu dan menikmatinya di balkon kamar. Setelah menghabis kue bolu, aku merasakan kebosanan yang luar biasa. Aku menggerutu, dan akhirnya memilih untuk keluar asrama, lalu meminjam buku di perpustakaan. Aku pun segera keluar asrama dengan memakai hoodie merahku. Saat aku sedang jalan hendak ke perpustakaan, seseorang mengagetkanku dari belakang. “DUARR! VIECAN!"

“WAAAA!!!” teriakku kaget.

Bab 6: A Feeling

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 11

-Jumlah Kata 400


“Viecan, ini aku, Falzye. Kau tidak apa-apa?” tanya Falzye setelah mengagetkanku, aku tak menjawab pertanyaannya.

Mengerikan. Karenanya, aku menjadi syok dan lebih banyak melamun. Seketika Falzye merasa bersalah telah mengagetkanku, dia terus menanyai keadaanku, namun aku tak kunjung menjawab pertanyaannya dan lebih memilih untuk diam. Dia yang bersama kakaknya saat itu, langsung dijeweri oleh kakaknya, “Fal, kamu usilnya kebangetan. Lihat! Vie jadi syok, dan gak berhenti melamun.”

“Aduh Kak! Sakit! Aaa, maafkan aku! Habisnya tadi aku lihat Vie lagi sendiri, makanya kukagetin, tapi gak tau kalau bakal gini jadinya! Aduh duh, lepasin jewerannya Kak! Sakit!” rintih Falzye, Decan pun melepas jewerannya.

"Lihat wajahnya! Tidak ada ekspresi sama sekali, dan ini semua karena kamu! Tanggung jawab sana! Anak orang dibikin syok,” ketus Decan.

“Eh tapi, gimana? Aku nanya dari tadi juga gak dijawab sama dia. Mending bantuin aku, ngerasa bersalah banget nih!” panik Falzye. Decan menggeleng, lelah dengan kelakuan adiknya yang usil tidak pernah berubah.

“Mampus, ini bakalan jadi trending news di sekolah kita dengan judul, ‘Falzye Mengagetkan Siswi Baru hingga Syok’,” canda Decan.

“KAKAK! BUKAN WAKTUNYA BERCANDA, AKH!! Mending gendong dia ke UKS sana!” perintah Falzye.

“Loh kok aku? Kamulah! Kan kamu yang bikin Vie jadi begini!” tolak Decan mentah-mentah dengan memasang wajah cemberut.

“Badanku kecil gini masa disuruh gendong cewek, gak mau!” seru Falzye, Decan langsung menjitak kepalanya, dan dia meringis kesakitan. “Punya kakak kok galak amat!”

“Yang salah siapa, yang tanggung jawab siapa. Bilang aja kamunya gak mau gendong Vie karena lagi jaga hati buat Aneesa! Ish, ya sudahlah, kamu lain kali jangan macam-macam loh! Anak baru belum sehari di sini udah dibikin syok, kalau dia pindah sekolah lagi gimana? Kalau dia cap sekolah kita itu buruk gimana? Mau emang digituin? Gak kan?” sembur Decan.

Falzye menggeleng cepat, tentu saja dia tak mau itu terjadi. "Gak mau! Aaakh, ayo antarin Vie ke UKS cepat!"

"Iya iya! Sabar! Punya adik kok usil amat!" ketus Decan.

Aku yang masih berada dalam lamunan, tetapi dapat mendengarkan pertengkaran mereka, lebih memilih tetap diam. Hingga akhirnya Falzye mengajakku ke UKS, “Vie, ke UKS ya. Aku khawatir.”

Aku yang masih diam tak menjawab ajakan Falzye, tiba-tiba aku telah digendong oleh Decan, seketika aku kembali sadar dari lamunan panjang, dan rasa syokku hilang tergantikan dengan rasa gugup. Wajahku memanas, jantungku berdegup kencang, perasaan apa ini? Kenapa rasanya sangat aneh bagiku? Aku memutuskan untuk pura-pura masih dalam keadaan syok dan melamun untuk menyembunyikan tingkahku yang aneh.

Bab 6: A Feeling

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 12

-Jumlah Kata 400


Aku akhirnya sampai di UKS, dan petugas yang berada di dalam UKS langsung memeriksa keadaanku. Sejenak, aku sudah mulai merasa baikan, aku diberi teh hangat untuk menenangkan pikiran. Decan memarahi Falzye habis-habisan ketika aku sudah kembali sadar, padahal aslinya aku memang sudah sadar sedari tadi. Diam-diam aku memperhatikan wajah Decan, perasaan ini belum hilang, aku tidak tau perasaan apa ini.

“Vie, maafkan aku, aku membuat dirimu syok karena ulahku. Tolong jangan keluar dari sekolah ini, aku bakal lakuin apa aja deh sampai planet Pluto dianggap lagi sama NASA!” sesal Falzye. Aku menoleh Falzye, lalu mengangguk, tanda aku memaafkan dia, lalu tertawa kecil karena ucapannya.

Tiba-tiba pintu UKS terbuka, terlihat Relino bersama Aneesa datang dengan peluh keringat di dahinya. Ternyata Decan yang memberi kabar bahwa aku masuk UKS, dan akhirnya mereka langsung buru-buru ke sini. Wajah Falzye langsung terlipat ketika melihat jarak antara Relino dan Aneesa sangat dekat, melihat wajah cemberut Falzye, Relino langsung menjaga jarak dengan Aneesa, lalu berjalan ke arahku, “Vie, kamu baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja, sudah sedikit tenang,” jawabku lirih.

Tiba-tiba, Relino memasang wajah dingin, aura mencekam terasa. Dia menatap Falzye dingin, Falzye langsung meringis melihat tatapan mematikan Relino, dirinya ketar-ketir melihat wajah dinginnya Relino. Kami semua terdiam, aku yakin mereka semua yang berada di sini—kecuali Relino—merasakan aura mencekam. Hingga akhirnya Ane buka mulut, “Dasar! Falzye selalu bikin ulah, kali ini korbannya adalah Vie. Lihat! Relino jadi marah denganmu!”

Falzye terdiam, tidak menyangka dia akan melihat wajah kesal Ane. Bukannya merasa takut, wajahnya seolah-olah terlihat senang setelah dimarahi oleh orang yang ia taksir selama ini. Relino menjitak kepalanya sambil tersenyum, senyuman itu adalah senyuman yang mendadakan ia sedang kesal. Lalu dia mendengus, “Maafkan aku telah menjitak adikmu, Decan. Tanganku gatal pengen jadikan dia sebagai samsak tinju. Dan syukurlah karena aku tidak jadi menjadikannya sebagai samsak tinjuku, karena Vie sudah mulai kembali normal. Omong-omong, Falzye, kamu bisa ditangkap karena sudah bikin anak orang hampir kehilangan akalnya karena syok dan berlamun terlalu lama.”

Falzye takut, lalu bersembunyi di balik gorden UKS, "Jangan laporkan aku!"

“Huft. Ya gak apa, kok. Jadiin aja dia samsak tinju, aku ikhlas,” ceplos Decan, aku tertawa kecil.

Falzye membuka gorden, lalu berseru, “HEH JANGAN GITU DONG! JAHAT BANGET, ISH!”

Relino menyikut perut Falzye, “Heh, ini UKS! Ini juga sudah malam, kamu jangan berisik!”

“Aw sakit, perutku … sakit!” rintih Falzye memegang perutnya yang kena sikut oleh Relino.

“Mampus!” ledek Decan, kami semua tertawa.


Bab 7: Am I in Love?

0 0

#SarapanKataKMOClubBatch44

#Kelompok9

#Day13

#JumlahKata400


Esok harinya, aku kembali masuk sekolah dengan tubuh yang sedia kala bersama Relino, sedangkan Falzye sudah berangkat lebih dulu. Sesampainya di kelas, aku menemukan Falzye yang sedang mencoret-coret papan tulis dengan gambar not-not piano, sepertinya dia sedang mendapat inspirasi.

Aku menyeringai, dan ikut mencoret-coret papan tulis setelah meletakkan tas ku di meja. Namun, entah kenapa aku mencoret-coret papan tulis dengan pikiran kosong, aku tak sadar bahwa aku sedang melukis seorang lelaki berbaju seragam. Masalahnya, aku cukup pandai melukis, hingga lukisan itu sangat jelas terlihat. Falzye sampai terbelalak melihat lukisanku, dan langsung menyemprotku, “Vie! Kau menyukai kakakku?”

Aku mendongak, dan melihat apa yang kugambarkan. Ya ampun! Wajahku memerah, dan langsung menghapus gambar yang kubuat. Aku malu, kok bisa sih aku melukis Decan? Akh! Aku pun menggeleng, membantah pertanyaannya, “Gak! Aku … aku gak menyukainya kok! Sungguh, aku tidak sengaja melukisnya!”

“Itu bohong! Kamu gak akan melukis dirinya tanpa ada rasa! Pasti ada rasa kan?” protes Falzye.

“Itu gak benar, ya ampun!” kesalku.

Tiba-tiba Aneesa lewat depan kelas kami, dan menjitak kepala Falzye setelah melihat coret-coretan yang dibikin oleh Falzye, “Hapus gambarmu!”

Falzye memegang kepalanya yang kena jitak tadi dengan perasaan yang senang. Aku cekikikan melihat dirinya kena jitak oleh Ane, tapi wajahnya kelihatan senang setelah kena jitak, aku pun meledekinya setelah Ane melewati kelas kami dan masuk ke kelasnya. “Aneh, orang kalau kena jitak bakal ngerasain sakit. Lah kamu? Senang banget kena jitak. Oh iya, dia kan taksiran kamu, hahaha!”

“GAK ITU HOAX!” sangkal Falzye.

“Fakta!”

“Hoax!”

“Fakta!”

“Ho–”

“Kalian bisa diam?!” potong Relino dingin.

Wah mampus! Relino ngeluarin aura-aura mematikannya nih, cabuh ah! Batinku, lalu pergi meninggalkan Falzye yang masih di dalam kelas.

“Sialan!” umpat Falzye ketika dia melihatku keluar kelas. Sesaat aku keluar kelas, aku kembali bertemu Decan. Lagi-lagi, jantungku berdegup kencang, tapi aku abaikan supaya sikapku tidak dilihat aneh oleh siapapun, termasuk dirinya.  

“Hai Vie,” sapa Decan, mukaku langsung memanas, padahal hanya sapaan biasa.

“Ha-hai, Decan,” balasku gagap, aku mengerjap-ngerjap mata, apa yang akan kulakukan?

“Kamu sudah baikan, Vie?” tanya Decan memastikan.

“Soal itu, aku sudah baikan. Terimakasih ya untuk semalam,” jawabku sambil memegang leher, gugup.

“Iya, sama-sama. Kalau misalnya Falzye berbuat ulah lagi, panggil saja aku, atau kamu bisa bilang pada Aneesa dan Relino,” jelasnya.

Aku mengangguk, lalu memperhatikan dasi sekolah yang terpasang di kerahnya sedikit berantakan dan miring. Refleks aku menjulurkan tangan menyentuh dasinya, lalu memperbaiki posisi dasinya, “Jangan gerak dulu, entar dasinya makin miring.”

Bab 7: Am I in Love?

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 14

-Jumlah Kata 421



“Ta-tapi Vie ...,” jeda Vio, mukanya bersemu merah.

Aku sontak tersadar ketika sudah selesai memperbaiki dasinya. Wajahku ikut memerah, lalu menutup muka dengan telapak tangan, “Maaf Vio, gak bermaksud begitu! Hanya saja tanganku sangat gatal melihat sesuatu yang berantakan, jadi aku refleks memperbaiki dasi mu. Aaa, maafkan aku!” Vio menoleh ke arah lain. Malu? Salah tingkah? Aku tidak tau, yang jelas wajahnya terlihat memerah, apakah mungkin dia merasa hal yang sama denganku?

“I-iya, terimakasih. Aku pergi dulu, dadah!” pamitnya, dia pun pergi meninggalkanku yang masih memanas di sini.

“Apa yang terjadi padaku?” tanyaku pada diri sendiri, aku telah melakukan hal yang memalukan.

Tiba-tiba Ane datang menghampiriku dan berkata, “Kamu menyukainya, Vie.”

Sontak aku kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba, dan yang lebih membuatku kaget adalah perkataannya. “Apa maksudmu, Ane? Jangan bicara yang aneh-aneh deh.”

“Loh? Gak aneh kok itu. Hal itu biasa terjadi ketika seseorang sedang mengalami fase fall in love, dan kamu contohnya, Vie,” jawabnya sambil tersenyum.

“Aku gak gitu kok!” bantahku menyembunyikan raut wajah malu.

Ane menggeleng. “Kamu begitu, Vie. Aku juga pernah merasakannya, begitu juga dengan Falzye.” Dia pun pergi meninggalkanku, dan berjalan ke kelasnya.

Tunggu, apakah benar aku sedang jatuh cinta? Perasaan ini … baru pertama kali aku merasakannya. Rasanya jantungku hampir lepas saat berada di dekat Vio, apakah benar aku menyukainya? Ah, lebih baik aku kembali ke kelas saja, batinku. Aku pun kembali ke kelas dengan segudang pertanyaan yang sedang kualami saat ini, terutama tentang perasaan yang dikatakan Ane tadi.

Aku mengacak-acak rambutku sampai-sampai Relino menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Falzye mengerenyitkan alis, "Kamu kenapa Vie?"

"Sedikit mendapatkan beban pikiran," lirihku, ini sebab kelelahan.

Falzye memiringkan kepala. "Beban pikiran? Kamu habis baca buku pelajaran? Wah, sepertinya kita tidak boleh kena pengaruh buku pelajaran sampai membebankan pikiran, benarkan Relino?" 

"Itu tidak benar ...," jawab Relino pelan, tapi masih terdengar.

Yah, aku juga setuju dengan Relino, bukan karena buku pelajaran aku mendapatkan beban pikiran, tetapi ini karena ucapan yang Ane katakan, jawabku dalam hati sambil cengengesan di depan mereka. 

Aku berdiri, lalu mengajak mereka ke kantin. Aku haus ingin membeli minuman. Mereka mengangguk, dan ikut bersamaku, di sepanjang jalan aku memikirkan satu hal, dan itu membuatku terus melamun hingga tak sengaja menabrak dinding. "Akh! Sakit!"

"Vie! Astaga, beban pikiran mu segitu beratnya kah?" tanya Relino.

Aku mengusap-usap dahi yang merah, aku menutup wajah, malu dilihat teman seangkatan. "Bawa aku pergi menjauh, aku malu!"

Falzye menggelengkan kepalanya. "Kasian sekali nasibmu Vie."

Segitu parahnya aku memikirkan perkataan Ane yang sedang menghantuiku sekarang, dalam hati aku bertanya, apakah yang dikatakan Ane tadi itu benar?

Bab 8: Just Because of One Word

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 15

-Jumlah Kata 508


Setelah ke kantin, kelas pun dimulai. Sialnya, hari ini aku tidak konsentrasi terhadap pelajaran karena kepikiran dengan perkataan Ane. Hingga akhirnya aku mengantuk, dan hampir tertidur. Untungnya, Falzye tidak sengaja menyenggol lenganku hingga aku kembali bangun. Dengan sabarnya aku menunggu pelajaran ini selesai detik demi detik. Hingga tak berapa lama, saat aku kembali hendak memejamkan mata, bel tanda istirahat berbunyi. Aku tersenyum penuh dengan ketertekanan. Syukurlah!

Aku ngantuk sekali! Keluhku, aku mengambil tas, lalu menjadikannya bantal, dan langsung memejamkan mata.

“Ke asrama gih, terus tidur,” tawar Relino, lalu duduk di bangku Falzye. Falzye? Entah ke mana anak itu minggat, aku tidak tau, aku tak peduli.

“Ih gak mau, kan masih jam sekolah!” tolakku mentah-mentah.

Tiba-tiba Falzye datang dan meneriaki namaku, “VIE!”

“Hm?” jawabku tak semangat.

“Kamu dipanggil ke ruang guru!” seru Falzye dari ambang pintu kelas. Seketika aku langsung menoleh ke arahnya, kantukku menjadi hilang. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku dipanggil?

“Eh, emangnya ada apa? Apakah aku ada salah?” tanyaku, aku takut kalau aku punya salah hingga dipanggil ke ruang guru.

“Kalau itu aku juga tidak tau, tapi ayo aku antarkan!” tawarnya. Aku menghela nafas, lalu berjalan ke luar kelas, Relino mengikutiku dari belakang. Semoga aku tidak mempunyai masalah dengan guru.

“Omong-omong, kamu kenapa jadi lemas begini?” tanya Relino.

“Gak tau juga sih, keknya kebanyakan mikir,” jawabku spontan.

“Emang kamu mikirin apa sih sampai lemas gitu? Soal yang 'beban' itu?” tanya Relino lagi.

“Mikirin Decan kali,” timpal Falzye, aku menyikut lengannya.

“Apa hubungannya ma Decan?”

“Dia nak—” 

“Fal, kamu mau aku kaduin ke Decan atau Ane kalau kamu berulah lagi?” potongku dingin. Falzye menggeleng, dia gak mau dikaduin sama siapa-siapa. Sedangkan Relino termangu, tidak paham apa yang kami bicarakan.

Akhirnya kami sampai di ruang guru, aku pun mengetuk pintu, lalu masuk ke ruang guru dengan sopan, meninggalkan mereka berdua di luar ruangan. Ternyata aku dipanggil hanya untuk mengambil seragam sekolah, aku bersyukur bahwa apa yang kukhawatirkan itu tidak benar. Aku menunduk hormat, berterimakasih, dan keluar dari ruangan. 

Saat aku keluar ruangan, aku tidak melihat batang hidung mereka berdua, ke mana perginya mereka? Hei, apakah aku ditinggal? Duh bagaimana ini? Mana belum hafal jalan balik ke kelas. Ah ya, aku telpon saja mereka! Aku segera mengeluarkan ponsel dari saku rok, dan menekan nomor telpon Falzye. Nomor yang anda hubungi, sedang tidak aktif. Aku berdecak sebal, lalu menekan nomor Relino. Berdering! Sialnya, dia tak mengangkat telponku. Aku mengumpat, “Dasar lelaki!”

“Vie, kamu sedang apa?” tanya seseorang, aku menoleh ke belakang, ternyata Vio.

“Tadi lagi ambil seragam, terus sekarang aku ditinggal sama Falzye dan Relino. Mana belum hafal jalan balik ke kelas,” jawabku kesal.

“Siapa yang mengantarmu ke sini?” tanya Vio.

“Falzye,” jawabku pendek.

“Dasar anak itu! Ya sudah, sini aku antarin kamu balik ke kelas,” balasnya sambil tersenyum.

Aku membalas senyumannya, “Terimakasih Vio!” 

“Sepertinya kamu harus berada di sampingku terus, soalnya aku takut kalau kamu nyasar lagi,” ujarnya, aku terdiam, wajahku mulai memanas, jantungku berdegup kencang.

“Hahaha, oke! Makasih Vio!” 

Refleks aku berbisik kecil, “Nyasar ke hatimu boleh gak?”

"Boleh,” jawabnya cepat. Aku terbelalak, apakah dia mendengar bisikanku?

Bab 9: One Trouble Early Commotion

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 16

-Jumlah Kata 403


“Iya boleh, ambil aja di tas ku. Oh ya, oke. Hm, iya, sama-sama,” cakap Decan dengan lawan bicaranya di telpon. Aku menghembus nafas lega, setidaknya karena dia tidak mendengar bisikanku. “Eh ya, kamu bilang apa tadi?”

Aku menggeleng, lalu cengengesan. “Hehehe, gak, gak ada kok. Oh ya, apakah aku boleh meminta nomormu? Untuk jaga-jaga kalau aku tersesat lagi, aku membutuhkan bantuanmu.”

“Oh boleh nih.” Decan menekan-nekan ponselnya, lalu meyosorkannya padaku, terlihat ada nomor teleponnya di sana. Aku mengangguk, lalu segera menyimpan nomornya.

"Kucoba miss called, ya?” usulku, dia mengangguk. Aku pun mencoba menekan nomornya, ponsel Decan bordering seketika.

“Oke sip!” sambungnya.

Tiba-tiba, dari arah yang berlawanan, tampak seorang laki-laki yang terlihat sebaya denganku sedang berlari, lalu dia menabrakku, dan aku pun terjatuh. Lelaki itu meringis kesakitan setelah menabrakku, kemudian dia menatapku sinis. “KALAU JALAN LIHAT-LIHAT DONG PAKAI MATA LO!”

Aku mendongakkan kepala, masih dalam posisi terduduk akibat ditabrak olehnya. Decan mengulurkan tangan. “Kamu gak apa-apa?” Aku ragu-ragu mengangguk, lalu menerima uluran tangannya, kemudian berdiri. Aku menatap lelaki itu, tak paham dengan apa yang dia katakan berusan, kenapa dia memarahiku? Kan dia yang salah.

"Apa lo lihat-lihat gue hah?!" bentaknya.

“Eh, itu ... bukankah kamu yang menabrakku duluan?” tanyaku memastikan, tapi aku benar-benar yakin bahwa dialah yang menabrakku lebih dulu.

“HEH! LO NUDUH GUE?” bentak lelaki itu. Aku termangu, ada apa dengannya? Sedang tidak waraskah? Padahal jelas-jelas memang dia yang salah.

Aku menggeleng, lalu membela diri, “Jelas-jelas kamu yang nabrak aku duluan. Demi apapun aku rela nyasar terus di sekolah ini kalau emang aku yang salah, tapi kenyataannya kamu yang salah. Kamu buta atau gila? Huh, dasar manusia tak tau diri!” 

"Heh, asal lo tau ya! Lo kalau lihat gue lari tadi, ya minggir! Sudah jelas lo yang salah! Pakai otak lo!" Lelaki itu mendorong kepalaku dengan kedua jarinya. 

Aku mengusap-usap dahi. "Biadab. Dipukul nanti nangis!"

Lelaki itu menyeringai. "Lo? Lawan gue? Haha, lucu!"

Wajahku memerah, aku sudah mencapai puncak kemarahan. "Ngeremehin wanita hah?!"

“Vie, Vie, udah jangan dilayani, mending kita balik ke kelas aja, tinggalin dia. Lihat, orang-orang pada tontonin kamu,” bisik Decan, aku melihat sekeliling, itu benar. Namun, aku tetap tidak terima perlakuannya padaku.

“Gak bisa gitu, Decan! Aku gak terima kalau dia marah-marah gak jelas gini, terus nyalahin aku. Kan kurang ajar banget dia!” protesku.

“HAH? APA LO BILANG? KURANG AJAR? BERANI-BERANINYA LO!” murka orang itu, dia mengangkat tangan, ingin menampariku. Refleks aku memejamkan mata, aku bersiap akan ditampari olehnya.

PLAKK!!

Bab 10: Worried

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 17

-Jumlah Kata 402


Sedetik, dua detik, aku tidak merasakan tamparan yang mengenai di pipiku. Aku membuka mata, terlihat Decan melindungiku dari tamparan lelaki itu. Aku terbelalak, dan segera menariknya menjauh dari lelaki itu. Kenapa dia melindungiku? Dia membahayakan diri sendiri, ya ampun! Batinku.

“Decan kamu tidak apa-apa? Ya ampun! Hi-hidungmu mengeluarkan darah!” pekikku histeris.

Decan mengusap darah yang mengalir dari hidungnya, lalu menyeringai, menatap tajam lelaki di depannya itu. “Lo tau gak gue siapa?” 

“Gak, gue gak tau. Buat apa gue tau lo, lo juga bukan orang penting!” ketus orang itu.

PLAKK!! Decan menampar orang itu kembali, orang itu terjatuh. Orang-orang yang menonton kami menatap jeri, termasuk aku. Decan menatap orang itu murka. “Heh lo! Gue gak tau apa masalah lo. Tapi, kelakuan lo sama cewek udah keterlaluan, bikin gue muak! Pakai mata lo, lo yang nabrak dia duluan! Dan lo? Lo malah marah-marah gak jelas ke dia. Sadar diri! Lo yang salah woi! Oh ya ingat, gue ketos di sini, dan lo jangan macam-macam sama gue, terutama orang-orang yang berhubungan dengan gue! PAHAM GAK LO?!”

Lelaki itu langsung kabur setelah dimarahi oleh Decan. Aku menghela napas lega, setidaknya lelaki itu sudah pergi dari hadapan kami. Decan berdecak sebal, lalu tiba-tiba aku menangis. “De-Decan, ke UKS ya.”

Decan menoleh ke arahku, di kaget melihatku menangis, “Vie, kenapa kamu menangis?”

Aku menggeleng, lalu menariknya ke UKS. Aku hafal tempatnya karena Vio pernah membawaku ke sana. Tak berapa lama, kami sampai di UKS, petugas UKS langsung mengobati luka yang diakibatkan oleh tamparan orang tadi. Setelah diobati, petugas UKS keluar, membuang sampah-sampah keperawatan. Aku pun masuk, lalu mendekatinya dengan kondisi masih menangis.

“Andai saja aku menurutimu untuk meninggalkan orang itu, kamu tidak akan terluka seperti ini, Decan. Maafkan aku, hiks,” tangisku.

“Udah, jangan nangis. Lagipula, sebenarnya aku juga tidak terima kamu diperlakukan begitu,” jawabnya sambil tersenyum.

Aku menggeleng. “Ta-tapi, gara-gara aku, kamu jadi terluka begitu. Aku khawatir sekali saat kamu ditampar orang itu sampai terluka begini.” 

“Vie …,” ucapnya pelan.

“Ap—” ucapanku terpotong.

Decan memelukku, lalu mengelus-elus punggungku. “Aku gak apa-apa kok. Kamu jangan nangis lagi, ya. Maaf karena aku sudah memperlihatkan sisi kasarku padamu.”

Seketika aku berhenti menangis. Wajahku memanas, jantungku berdegup kencang, aku mematung selama beberapa detik, mencoba menenangkan diri. “Decan … apa ini gak terlalu … dekat?”

Decan sontak melepaskan pelukannya. “Maaf Vie! Aku hanya mencoba menenangkanmu, gak bermaksud yang lain kok! Serius, maafkan aku!”

“A-ah, iya. Balik ke kelas, yuk!” ajakku, menyembunyikan rasa malu.

Bab 10: Worried

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 18

-Jumlah Kata 431


Dia mengusap wajahnya karena malu, lalu mengangguk, kami berjalan ke kelas tanpa mengucap sepatah kata pun, mungkin karena hal tadi kami jadi canggung. Sesaat kami telah sampai di depan kelasku, Falzye, Relino, Aneesa mendekati kami dengan wajah panik, dan langsung bertanya-tanya.

“Kakak! Kakak gak apa-apa kan?” 

“Decan, itu di pipimu sepertinya ada bekas tamparan. Kamu berkelahi dengan siapa? Kami mendengar desas-desus dari teman seangkatan kita, apa yang terjadi sebenarnya?” 

“Vie, ada apa sebenarnya? Kamu sepertinya juga habis menangis?” 

Aku menoleh Decan, bertanya apakah aku boleh menceritakannya. Decan mengangguk, dan itu artinya aku diperboleh menceritakan, aku pun menjelaskan kronologi kejadian tadi, mereka semua meringis ketika aku menceritakan bahwa Decan melindungiku saat hendak ditampar, lalu dia terluka. Decan cengengesan ketika mendengar ceritaku, bagaimana tidak? Ketos yang terkenal dengan kelembutan, kesabaran, dan ketampanannya sekarang amarahnya telah meledak, membuat satu angkatan geger. Mungkin di luar sana sekarang mereka sedang membicarakanku atau Decan atau bahkan kami berdua. Aku menghela napas, seandainya Falzye dan Relino tidak meninggalkanku mungkin Decan tidak kena masalah seperti ini.

“Maafkan kami Vie, kami meninggalkanmu ketika berada di ruang guru. Sebenarnya itu salah Falzye, dia mengajakku buat ninggalin kamu. Awalnya kutolak, tapi dia memaksa dan menarikku menjauh dari ruang guru, meninggalkan kamu di dalam sana. Saat kamu menelponku, Falzye memyuruhku jangan mengangkatnya. Aku kesal dengan sikapnya tanpa alasan itu, jadinya aku menjitak kepalanya tadi. Dan saat kami kembali kamu sudah gak ada,” jelas Relino.

“A-aku … aku tadi itu. Hehehe, maaf ya,” celetuk Falzye, kami semua menatap tajam Falzye. "Mampuslah aku ...,"

“Decan, sentil lambung adikmu boleh gak? Aku geram nih,” cetusku.

“Halal gak sih gantung dia di pagar sekolah? Jangan jangan, lebih baik di tiang bendera,” tanya Ane dingin.

“Sebaiknya aku jadikan dia samsak tinju,” timpal Relino.

“Aku izinkan kalian. Aku balik ke kelas, ya. Terserah kalian mau hukum dia atau gak, mau dimasukkan BK juga boleh tuh, hahaha,” jawabnya, lalu pergi ke kelas. 

“Weh, jangan gitu dong. Kita kan bestfriend forever,” celetuknya. Kami menjewer telinga Falzye. 

“Alah! Apanya yang sahabat selamanya hah? Kalau kamu gak ninggalin Vie, gak bakal jadi gini heh!”

“Kamu udah bikin aku panik, terus Decan gak bakal terluka gini karena aku kalau kamu gak meninggalkan aku!!”

”Dasar Falzye! Mari kita beri dia hukuman,”

"AYO!" Seru aku dan Ane. 

Falzye berlari menghindari, lalu berteriak, “AMPUN! MAK TOLONG!” 

Kami? Tentu saja mengejarnya hingga rela membuat seisi kelas heboh. Saat kamu mengepungnya, dia berdiri di atas kursi lalu loncat ke kursi atau meja yang lainnya hingga kelar berantakan. Tentu saja itu mengundang perhatian, dan pada akhirnya sang ketua kelas menyuruhnya turun dan kami segera mengeksekusinya, oh salah, lebih tepatnya menghukumnya.

Bab 11: Truth or Dare

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 19

-Jumlah Kata 400


“Sembilan puluh delapan … sembilan puluh sembilan … seratus!” Falzye berseru setelah menyelesaikan push up-nya. Ya, itu adalah hukuman yang kami pilih untuk menghukum Falzye.

“Kapok belum?” tanyaku sembari memberinya botol minum. 

Dia menerima botol minuman yang kuberi, lalu meminumnya sampai habis. Dia mengeluh, “Kapoklah, ih gila. Gak ngulang lagi deh, capek!” 

“Kamu mah, suka banget jahilin orang!” ketus Ane, aku dan Relino mengangguk, itu fakta bahwa seorang Falzye suka jahil dan sedikit sinting.

“Tega banget!” celetuk Falzye.

“Yang tega itu kamu!” bantahku, yang lain mengangguk. 

Kami semua kembali masuk ke kelas masing-masing saat bel telah berbunyi, dan kembali belajar. Seperti biasa, setelah belajar yang cukup lama, bel tanda pulang telah berbunyi, aku merapikan meja dan memasukkan buku pelajaranku ke dalam tas, lalu pulang bersama Falzye dan Relino. Oh salah, kami juga berbarengan dengan Ane dan Vio, ini menyenangkan! Kami pulang bersama ke asrama masing-masing.

Kami berhenti di simpang jalan menuju asrama masing-masing, dan bercakap-cakap lebih dulu, menikmati sore yang indah. Ini menyenangkan, hidupku telah berubah, aku tak lagi menjadi gadis yang kesepian. Sekarang, aku mempunyai banyak teman, dan juga mungkin bisa kubilang, orang yang sedang kusuka. Ini pertama kalinya aku merasakan hal itu.

“Omong-omong, nanti malam jam delapan, kita ngumpul yok. Di mana gitu pokoknya,” usulku.

“Boleh juga tuh. Ngumpul di … di taman bisa tuh kayaknya,” timpal Relino.

“Emang mau ngapain ngumpul-ngumpul?” tanya Falzye.

Ane menepuk jidat. “Kamu emang selalu gak peka ya. Ya kan kita udah lama nih gak ngumpul gini, terlebih lagi ada Vie kan? Pasti dia pengen banget gitu loh ngerasain kumpul ma teman-temannya, betul gak?”

“Betul banget!” ucapku, kami semua tertawa ria. 

“Foto yuk!” usulku.

“Jangan deh, wajahku burik,” celetuk Falzye.

“Ayolah sekali aja! Aku gak pernah foto-foto bareng teman, setidaknya buat nyimpan kenangan gitu loh. Ya, boleh ya?” pintaku ngeles. 

Mereka pasrah, lalu mengangguk. Aku mengeluarkan ponselku, lalu berfoto-foto. Aku tidak akan melupakan hal menyenangkan ini, sampai kapanpun! Setelah merasa cukup, kami pamit, dan kembali ke asrama masing-masing. Di perjalanan menuju asrama, aku banyak berbincang bersama Ane. Menurutku, Ane itu orangnya tegas, tapi lembut. Asyik diajak bicara.

“Omong-omong nama lengkap Ane apa?” tanyaku penasaran, soalnya kami berkenalan tidak menyebutkan nama lengkap.

“Yunazaki Aneesa,” jawabnya. “Kamu?”

“Abbeyla Viecan Rogastein.” Aku menjawab sambil menempelkan kartu identitasku ke sisi pintu, lalu terbuka. Kami masuk ke dalam, lalu membereskan isi tas.

“Rogastein? Rogastein yang itu? Sepertinya aku pernah dengar, tapi di mana ya?” pikir Ane.

Bab 11: Truth or Dare

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 20

-Jumlah Kata 400


Aku menggantung seragam yang diberi tadi di lemari sisi lemari. “Kamu mengenal keluarga Rogastein, Ane? Padahal nama keluargaku tidak terkenal deh, malah biasa saja.”

“Haha, mungkin hanya pernah dengar saja. Oh ya, aku mandi duluan ya!” Ane langsung mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, aku menghela nafas. Sepertinya aku juga mengenal nama keluarga Yunazaki itu. Aneh, kami sama-sama merasa kenal dengan nama keluarga kami, apakah kami ada hubungannya? Gak, gak boleh bersangka buruk dahulu, Vie. Mending baca buku sambil nunggu Ane selesai mandi.

Tak berselang lama, Ane keluar dari kamar mandi, kini giliranku yang mandi. Sekitar tujuh menit, aku sudah selesai mandi dan berpakaian, kulihat Ane sedang mencari sesuatu. “Ane, nyari apa?” 

Ane menutup laci meja belajar, lalu menoleh padaku. “Oh gak kok, gak apa. Nyari liontin tadi, tapi gak terlalu penting juga sih. Oh ya, kamu mau makan malam dulu gak?” 

“Gak deh, makasih kenyang. Kita makan malam sama yang lain aja,” jawabku.

“Ide bagus!” girang Ane, aku tersenyum, lalu melakukan rutinitas masing-masing.

Aku mengecek notifikasi yang ada di layar ponsel. Ada pesan dari salah satu grup. Aku menyipitkan mata, ada nama grup yang tidak kukenali. Siapa yang memasukkan aku ke dalam grup ini? Aku langsung mengecek grup itu.

                                   Hari ini

         Falzye telah membuat grup “FARV2” 

           Falzye telah menambahkan anda

              Anda sekarang adalah admin


Falzye:

[Yahoo! Ini grup khusus kita aja]

Decan:

[Gak izin dulu mau nyulik ke grup]

Relino:

[Tau tuh, Falzye ada aja ulahnya]

Falzye:

[Maaf, habisnya buat seprais gitu loh!]

Relino:

[Seprais. Hahaha, seprais, ngakak!]

Ane:

[Surprise yang benar, Fal. Bahasa Inggris mu minus pasti]

Decan: 

[Bah, jangan ditanya, Ane. Minus poin, awokawok]

                                                                       Anda:

                  [Niatnya pengen nyimak, tapi pesan Falzye bikin ngakak]

Decan:

[Falzye emang gitu dia]

Relino:

[Iya valid no debat]

Falzye:

[Sengaja aku plesetin, heh!]

                                                                       Anda:

                                                 [Tapi lucu loh, Fal]

Ane:

[Dah dah. Btw, nanti makan malam bareng ya? Kan kita mau ngumpul nih]

Falzye:

[Boleh! Apapun untuk kamu, Aneesa]

                                                                       Anda:

                             [Saya mencium aroma-aroma kebucinan di sini]

Decan:

[Tinggalin sabi, yok tinggalin!]

Relino:

[Ayok!]

                                                                       Anda:

                                                                       [Yok!]

Ane:

[Falzye ngada-ngada! Dah lah malas! Kamu gak usah ikut ngumpul!]

Falzye:

[Lah? Apa salahku Ane?]

                                                                       Anda:

                                                  [Salahmu banyak]

Ane:

[2in]

Relino:

[3in]

Decan:

[4in]

Falzye:

[KOK— Ish, dahlah]

Aku cekikian melihat pesan grup ini. Ya ampun, Ane bahkan kesal benaran di sini, wajahnya cemberut melihat layar ponsel. Aku tersenyum, lalu berkata, “Falzye kan emang gitu. Gantungin aja dia di pagar sekolah bagus tuh!”

Bab 11: Truth or Dare

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 21

-Jumlah Kata 402


Dia membalas senyumanku. “Ide bagus Vie! Nanti akan kugantungin dia di pagar sekolah!”

Tak terasa, ini sudah jam delapan malam, kami berberes dan mengambil dua bungkus cemilan. Minuman bisa kami beli di mesin otomatis dekat taman. Kami berjalan ke luar asrama, dan menunggu di antara jalan asrama putri dan asrama putra. Tak lama merka datang. Decan tersenyum. “Kami membawa soda, jadi kalian tak perlu membelinya di mesin otomatis lagi.”

Aku terpaku lihatnya, senyumnya yang menawan membuatku salah tingkah, dan menoleh ke arah Ane, Ane menoleh balik ke arahku. Dia tersenyum mengerti, kemudian dia memasang raut wajah cemberut melihat keberadaan Falzye. “Ngapain kamu ikut Fal?”

“EEHH! Kau masih marah padaku Aneesa? Maafkan aku, aku waaa!” sahut Falzye.

“Dah dah, mending langsung ke taman,” celetukku. 

“Itu benar, ayo!” seru Decan.

Tak berselang lama, akhirnya kami telah sampai berada di taman sekolah. Aku menghirup udara segar dari taman ini, menyenangkan sekali! Angin sepoi-sepoi membuat perkumpulan ini tambah menyenangkan. Kami memilih duduk di rerumputan, dan mengeluarkan beberapa cemilan dan soda. Kami membahas banyak hal untuk malam mini, tertawa bersama. Takdirku sudah berubah ketika aku telah menemui mereka, dan aku sangat senang. 

Aku melihat botol soda yang kosong, lalu mempunyai ide untuk bermain Truth or Dare. Aku pun mengusulkan permainan ini pada mereka, “Main Truth or Dare yuk!”

“Boleh tuh, tapi jangan aneh-aneh,” balas Relino bersyarat, yang lain mengangguk.

“Tentu!” jawabku. Aku mulai memutari botol itu, ujung botol berputar dan berhenti di depanku. Ih mampus, aku yang mutar aku yang kena! Batinku dalam hati.

“Kamu pilih apa? Truth or dare?” tanya Falzye.

Truth aja deh, jalur aman, hehehe,” jawabku spontan. Mereka mengeluarkan hp, aku tidak tau apa untuk apa mereka mengeluarkan ponsel. 

“Bentar ya, kami diskusi dulu di grup. Kamu dilarang mengintip pesan kami!” larang Relino, aku mengangguk paham. Ternyata begitu toh!

Setelah beberapa saat, mereka akhirnya telah memutuskan apa pertanyaan yang mau dilontarkan. “Lebih milih Decan atau Relino?”

Mataku melotot. “Hei katanya jangan yang aneh-aneh!”

“Habisnya kami penasaran,” jawab Ane.

“Sepertinya tidak untuk Decan dan Relino, habis wajahnya tertekan banget,” celetukku. “Ya gak apa, tetap akan kujawab kok! Aku lebih memilih gak memilih antara mereka berdua, karena kalian semua temanku, sahabatku, orang terpenting yang kupunya!”

Mereka kagum dengan jawabanku, aku tersenyum, lalu memberi Ane kesempatan untuk memutar botol. Ujung botol itu berhenti dan mengarah ke Decan, kami langsung berseru. “NAH!! TRUTH OR DARE?”

Dare,” jawab Decan cepat. 

Falzye menggerutu, “Ish, kenapa gak pilih truth aja?”

Bab 11: Truth or Dare

0 0

#SarapanKataKMOClubBatch44

#Kelompok9

#Day22

#JumlahKata400


“Kusentil ampela mu!” cibir Decan, kami tertawa.

Aku mengeluarkan ponsel, lalu membuka grup, dan membaca pesan yang belum kubaca. Benar saja, Decan dan Relino sebenarnya menolak pertanyaan itu, tapi dipaksa oleh Falzye sehingga mereka menyerah. Parah parah! Maksa benar dah. Entar bagian dia kubuat paling parah baru tau rasa.


Falzye:

[Mau kita kasih dia tantangan apa?]

                                                                       Anda:

         [Suruh dia buat gantungin kamu ke tiang bendera]

Ane:

[Ide bagus Vie!]

Relino:

[Ayok suruh Decan gantungin Falzye sekarang! Awok]

Falzye:

[Serius weh!]

                                                                       Anda:

      [Kami serius kok, habisnya kamu ngeselin]

Relino:

[2in]

Ane:

[3in]

Decan:

[4in, oke besok pagi kugantung dia]

                                                                       Anda:

                                          [Buset, Decan nongol]

Falzye:

[HEH! JANGAN NGINTIP WOI!]

             Falzye telah mengeluarkan Decan


“Kugantungin kamu beneran nih, Fal?” gertak Decan.

“Eh iya-iya, sengaja, gak, makanya kakak jangan ngintip!” jawab Falzye.

“Iya iya!” seru Decan.


             Falzye telah menambahkan Decan

                                                                       Anda:

                                    [Selamat datang kembali]

Falzye:

[Btw, mending kita kasih dia tantangan memberi bunga]

Relino:

[Ke siapa?]

Ane:

[Ke … siapa ya?]


Aku merasa ada yang sedang memperhatikanku, dan benar saja. Decan memperhatikanku dari tadi, aku menoleh padanya. “Ada apa?”

“E-eh, gak kok. Gak apa-apa,” jawabnya, aku yakin dia sedang berbohong, tapi aku tak mempermasalahkannya.

Tiba-tiba angin bertiup kencang, dan mendadak hujan. Aku berdiri, dan mengemasi sampah-sampah yang berserakan begitu juga dengan yang lain. Aku memperhatikan yang lain membawa jaketnya sendiri, sedangkan aku tidak. Aku menyerah, dan membiarkan kali ini basah kuyup.

Aku berlari menuju tempat sampah, dan membuang sampah-sampah cemilan dan botol soda, lalu kembali. “Weh balik ayo, ngapain nunggu sini lagi?”

Mereka mengangguk, dan langsung berlari-lari kecil menuju asrama. Saat aku hendak ikut lari, Decan lebih dulu memberikan setengah bagian jaketnya dan menutupi kepalaku dari hujan. Aku berdegup kencang, aku mengepalkan tangan untuk menenangkan diri. “Kenapa? Aku bisa kok nunggu di tempat yang berteduh sambil nunggu hujan reda, tadi aku juga udah bilang ke Ane buat ambil hoodie ku.”

Decan menggeleng. “Gak bisa, hujannya pasti lama. Udah ayo mending aku antarin kamu dulu, entar Aneesa juga nyamperin kita pas di jalan.”

Aku menghela nafas, lalu mengalah. Kami berjalan bersama, dan saat hampir di antara jalan menuju asrama putra dan putri, Ane menghampiri kamu dan membawa payung. “Vie ayo!”

Aku melangkah, dan berada di bawah payung. Aku melirik Decan dari belakang sambil tersenyum. “Terimakasih Decan.”

Decan mengangguk tersenyum kembali, lalu berlari menuju asramanya. Ane berdehem, “Ekhem. Udah jadian nih?”

Aku memasang wajah cemberut. “Jangan bercanda Ane!”

Ane tertawa melihat wajah cemberutku, “Hahaha. Maaf Vie!”

Bab 12: A Flashback Dream

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 23

-Jumlah Kata 429


Besok pagi, aku bersin-bersin tiada henti, tisu yang kubawa sebungkus sudah hampir setengah kupakai. Aku berkata dalam hati, Vie, kamu ini pasti kena efek kehujanan semalam! Falzye dan Relino menatapku khawatir saat berada di kelas, dan mereka berulang kali menyuruhku untuk istirahat di asrama, atau di UKS. Aku menolak tawaran mereka, jelas kali ini hanya flu biasa.

Saat pelajaran dimulai, aku juga tak berhenti bersin-bersin, dan itu membuat seisi kelas terganggu konsentrasinya. Banyak dari mereka menatapku tajam, tapi mau bagaimana lagi, aku juga tidak bisa menahannya. Falzye menyikut lenganku, menyuruhku untuk pergi ke UKS, aku menggeleng lemah, Falzye mendengus, “Huh, kalau nanti pingsan aku tidak mau disalahin karena tidak membujukmu ke UKS, padahal aku sudah berulang kali menyuruhmu ke sana!”

Kalau dalam kondisi fit, mungkin aku sudah tertawa dengan keluhannya. Tapi saat ini, aku sedang tidak enak badan, dan anehnya aku tetap ingin ke sekolah. Yah, prinsipku di sekolah seperti itu, kalau masih bisa mengikuti pelajaran lebih baik sekolah, dari pada tidak. Karena kehilangan satu ilmu saja itu sudah sangat rugi besar. 

Setelah berapa lama, bel tanda istirahat berbunyi, aku membereskan buku-buku yang terletak di meja, dan mengeluarkan buku pelajaran selanjutnya. Kemudian, aku menempelkan kepala di meja, lalu menutup mataku. Kepalaku berdenyut, aku pusing sekali, tapi tetap saja aku tidak mau bolos sekolah hari ini.

Relino menggoyang-goyangkan tubuhku pelan. “Vie … ke UKS aja ya!”

Aku menggeleng. “Gak, makasih. Aku mau tidur di sini aja, kalau udah bel berbunyi bangunkan aku.”

Relino menepuk jidat, lalu di ambang pintu terlihat ada seseorang yang memperhatikanku, aku tidak melihat wajahnya dengan jelas karena pandanganku berkunang-kunang. Saat Relino hendak keluar kelas, orang itu sudah pergi, disusul dengan kedatangan Falzye dan Aneesa. Ane menatapku khawatir, sembari menempelkan telapak tangannya di dahiku.

“Panas …,” lirih Ane, dia menoleh ke Falzye. 

Falzye mengangkat bahu. “Sejak awal aku sudah bilang ke dia buat istirahat di UKS aja dulu, atau balik ke asrama. Tapi dia gak mau, loh. Gimana pula aku mau bujuk dia lagi?”

“Aku gak apa-apa kok, ini Cuma sakit biasa, bentar lagi juga hilang kok, hehehe,” ucapku lemah, bisa dibilang aku berbicara dengan mereka setengah sadar.

“Tapi tubuhmu panas loh, Vie. Ya ampun, pasti karena hujan semalam kan? Istirahat aja ya, nanti makin parah loh!” ujar Ane khawatir, aku tersenyum menandakan aku gak apa-apa. Falzye berdecak sebal, “Ck, kubilang juga apa. Dia ini keras kepala!”

“Aku lebih baik sekolah dalam kondisi seperti ini, tapi mendapatkan ilmu. Dari pada gak sekolah, kan rugi besar. Ilmu gak dapat jadinya,” tuturku yang masih dalam keadaan setengah sadar. Aku bangkit dari tempat duduk, mau ke toilet buat cuci muka.

Bab 12: A Flashback Dream

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 24

-Jumlah Kata 411


Saat aku hendak keluar kelas, Decan datang dengan wajah khawatir. “Vie, kamu gak apa-apa?”

Aku tersenyum. “Kalian mengkhawatirkanku ya? Makasih banyak, tapi aku oke kok!”

Aku lanjut berjalan, mereka mengikutiku dari belakang. Tiba-tiba, aku berhenti berjalan. Mereka berempat langsung mendekatiku. “Vie! Kamu kenapa?”

Aku tidak menjawab, hanya menoleh ke arah mereka satu-satu, dan mencoba menghitung. Aku menatap Decan dan yang lainnya, mulut mereka seolah sedang meneriakiku, tapi aku tidak bisa mendengarkan mereka. Aku terus melihat sekitar, banyak orang yang sedang memperhatikanku dengan jeri. Aku memegang hidungku, ada yang terasa mengalir. Benar saja! Hidungku mengeluarkan darah, aku mimisan. Seketika, pandanganku mulai buram dan gelap.

                                     ***

“Kamu bagaimana sih? Kok ngurus ini doang gak becus!” bentak seorang lelaki yang mulai memasuki kepala tiga.

“Ma-maaf, aku tidak sengaja. Maafkan aku!” rintih seorang wanita muda sambil sujud di kaki lelaki itu.

Lelaki itu melemparkan kertas-kertas dokumen di udara. “AH! SUDAHLAH! LEBIH BAIK KITA CERAI DARI PADA KITA BEGINI TERUS!” 

“Jangan! Kumohon, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku pasti bisa mengulang semuanya dengan baik! Jangan ceraikan aku!” pinta wanita itu.

“Hah? Berapa kali saya beri kamu kesempatan, hasilnya tetap mengecewakan. Sekarang, lebih baik kamu keluar dari rumah saya!” usir lelaki itu. 

Wanita itu menarik tangan sang suami, dan terus memohon. Aku? Tentunya aku tak paham. Aku sepertinya sedang bermimpi, walau aku tau ini mimpi, kenapa aku tidak bangun? Aku menyimak pertengkaran suami istri itu, tanpa sadar aku ternyata sedang didampingi oleh seorang perempuan berusia yang sama denganku. 

Tunggu, tubuhku mengecil, aku layaknya seperti anak berusia lima tahun. Aku mencoba melihat wajah mereka satu persatu dengan jelas, lelaki itu … tampak seperti ayahku. Namun wanita itu, aku tidak tau siapa, apakah ini kilas balik ku sesaat setelah pingsan? 

Anak perempuan itu memegang tanganku erat, mengatakan kami harus tetap berada di sini agar kekacauan tidak membesar. Anehnya aku mengangguk, siapa dia? Siapa wanita itu? Apakah mereka keluargaku? Tiba-tiba, terdengar suara pecahan dari vas bunga, sosok yang kukenali, yaitu ayahku, ia membanting vas itu sampai hancur. 

“TIDAK TAU MALU! PERGI DARI RUMAH SAYA! SEKARANG!” marah ayahku, dia mengangkat tangan dan ingin menampar wanita itu. Orang yang mendampingiku tadi, langsung berlari cepat, melindungi wanita itu dari tamparan keras ayahku. PLAKK!! 

Perempuan itu terkena tamparan keras ayahku, mulutnya mengeluarkan darah. “Jangan sentuh ibuku dengan tangan kotormu, ayah!”

Tunggu, apa? Ayah? Berarti wanita muda dan seorang anak perempuan itu … ibu dan kakak ku? Tapi kenapa? Sebelum aku bisa mengejar bayangan itu, tiba-tiba semuanya menjadi putih terang, aku kembali ke dunia nyata

Bab 13: Shooting Star

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 25

-Jumlah Kata 419


Aku mengerjap-ngerjap mataku, bau rumah sakit tercium, tapi ini bukan di rumah sakit. Aku yakin ini pasti UKS, aku mengusap wajah, mimpi kilas balik itu sepertinya kejadian nyata saat aku masih kecil. Memang benar, selama bertahu-tahun aku hidup, aku hanya tinggal bersama ayah tanpa seorang ibu. Aku menghela nafas. “Sial!”

Aku menoleh ke sisi ranjangku, tampak Decan sedang tertidur dengan tangan yang melipat. Tidak ada orang lain selain dia di sini, sepertinya dia tengah menungguku bangun, tapi aku tak kunjung bangun hingga matahari sudah hampir mulai terbenam. Selama itukah aku pingsan? Aku tersenyum, lalu mengelus-elus kepalanya. “Terimakasih, Decan."

Refleks, dia memegang tanganku, dan menoleh ke arahku. Aku kaget, jantungku berdetak tak karuan ketika melihat wajahnya yang bangun tidur ini. Wih gila, jantungku gak aman, bangun tidur aja dia masih cakep, dahlah! Batinku ketika melihat wajahnya yang berdamage itu.

“Eh, Vie! Ma-maafkan aku, aku kaget ketika ada yang mengelus kepalaku,” ucapnya sambil melepaskan tanganku.

“Iya gak apa kok. Omong-omong, sudah berapa lama kamu di sini?” tanyaku sambil melihat keluar jendela.

“Seberapa lama kamu pingsan, segitu lamanya aku menunggumu,” jawabnya.

“APA? LALU BAGAIMANA DENGAN KELASMU?” gegerku.

“Aku dari awal memang tidak masuk kelas, karena sedari tadi ada rapat di antara OSIS, dan aku izin untuk mengikuti rapat itu. Besok, aku tidak ada di sini, aku harus pergi study tour ke akademi lain, hanya untuk OSIS saja. Tidak apa kan?” tanya Decan setelah menjelaskan.

Aku mememainkan anak rambut. “Ya gak apa, kok nanya aku? Yang study tour kan kamu.”

Decan terkekeh, lalu memegang dahiku. “Masih panas loh, ayo aku antarkan ke asrama. Nanti di simpang asrama, Aneesa datang, barulah kamu balik sama dia.”

“Ckckck, ya sudah sih. Lagipula aku kuat jalan kok! Santai aja!” seruku, lalu beranjak dari kasur. “Lihat aku bisa jalan, aku tuh kuat!”

Decan terkekeh, “Awas jatuh!”

“Gak kok, gak ak– DECAN!” teriakku ketika merasakan bahwa pandanganku berkunang-kunang dan rasanya mau jatuh.

Decan langsung bergegas memegang lenganku. “Vie kamu gak apa? Kan udah kubilang, nanti aku temenin kamu di simpang sampai Aneesa datang jemput kamu.”

Aku memasang wajah sedih. “Aku tuh cuma gak mau ngerepotin kalian.”

“Gak ngerepotin kok,” jawabnya. 

“Yakin?” tanyaku.

“Iya, yakin! Dah yok balik, tunggu di sini dulu, aku ambil tas kamu!” perintah Decan.

Aku memegang tangannya, mencegahnya untuk pergi sendiri, “Tunggu! Aku ikut!”

“Dasar. Ya sudah, ayo!”

Aku dan Decan langsung balik ke asrama setelah Ane menjemputku, aku jalan dengan tertatih-tatih karena kepalaku memberat, aku disuruh istirahat lagi ketika telah sampai di asrama. Ane, orang ini pengertian sekali, aku menjadi merasa bersalah karena sudah membebaninya.

Bab 13: Shooting Star

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 26

-Jumlah Kata 451


“Ane … maaf ya aku merepotkanmu,” lirihku.

Dia menggeleng. “Tidak sama sekali, Vie. Ah ya, besok jangan masuk sekolah dulu ya, dan juga besok sepertinya aku tidak bisa menemanimu juga di sini. Maaf.”

Aku tersenyum. “Baiklah, soal itu aku gak apa kok. Semangat belajarnya ya!” 

Ane mengangguk, lalu menyuruhku tidur. Sekejap mata, aku mulai tertidur, sialnya aku terbangun saat tengah malam, ini semua karena perutku kosong minta diisi makanan. Untunglah di kamar ini disediakan kulkas dan lemari makan untuk mengisi perbekalan, siapa tau saat malam hari ada yang kelaparan, seperti diriku.

Aku beranjak dari kasur, berjinjit menghindari suara langkah kaki. Bisa bahaya kalau Ane terbangun, lalu menyuruhku kembali ke kasur, padahal perutku sudah meronta-ronta minta diisi. Aku sampai di depan kulkas, aku berkeringat dingin, bagaimana kalau aku menghasilkan bunyi saat membuka kulkas atau lemari makanan. Bagaimana kalau makanan yang kuambil masih terbungkus? Itu sudah jelas menghasilkan bunyi dan merambat ke setiap ruangan.

Aku berdecak sebal, menatap lama kulkas yang ada di hadapanku itu. Aku tak punya pilihan lain, aku sudah kelaparan! Aku bergerak cepat membuka kulkas, dan benar saja bunyi pintu kulkas terbuka terdengar. Untungnya Ane tidak mendengarkan suara kulkas terbuka dan masih terlelap. Aku mengambil dua potong kue pandan bertabur keju di atasnya, saat aku hendak kembali ke kasur, Ane telah berdiri di belakangku dengan wajah cemberut.

“HUAAA!” teriakku kencang karena kaget.

“Vie ini aku hei, jangan teriak! Kukira ada penyusup masuk kamar kita, makanya aku bangun. Lagipula ngapain kamu malam-malam gini di depan kulkas?” tanya Ane dengan matanya yang menatap tajam ke arahku.

“A-aku … eng … lapar. Hehehe,” jawabku cengengesan. Ane langsung menepuk dahi.

“Ya ampun Vie, ya udah kalau gitu kita makan sama-sama ya,” lanjutnya, lalu menghidupkan mengambil sepotong kue di dalam kulkas, kami berdua menyantap cemilan malam sambil bercerita di balkon kamar, menatap rembulan yang indah.

Tiba-tiba ada sorot cahaya panjang di langit, aku meyakininya sebagai bintang jatuh. Aku pun sontak menunjuk ke arah langit. “Lihat! Bintang jatuh!”

Ane mendongak ke langit, matanya membesar, terukir senyuman yang terlihat sedang terpukau dengan bintang jatuh itu. Aku pun berkata, “Tidak ingin meminta sesuatu?”

Ane menoleh ke arahku. “Vie percaya bintang jatuh akan mengabulkan permintaan?”

Aku mengangkat bahu. “Entahlah, tapi boleh dicoba bukan? Ayo minta sesuatu!”

Ane menangguk, lalu menutup mata. Terlihat dia sedang bersungguh-sungguh soal permintaannya. Aku tersenyum lalu ikut memejamkan mata, meminta permohonan dan berharap terwujud. Semoga aku tidak mengalami hal buruk lagi, semoga apa yang belum aku ketahui, terungkap nantinya. Semoga, teman-temanku selalu hidup bahagia walau sedikit ada masalah. Oh ya, satu hal lagi, semoga Decan merasakan perasaan yang sama denganku, semoga semua keinginanku terwujud!

Aku membuka mata, begitu juga dengan Ane. Ane bertanya, “Kamu meminta apa Vie?”

Aku tersenyum. “Permintaan yang sederhana, tapi cukup rahasia.”

Bab 14: A Pendant

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 27

-Jumlah Kata 434


Aku terbangun dari tidurku, kemudian aku mengecek suhu tubuhku, ternyata suhunya masih tinggi. Aku menghela nafas pelan, Ane sudah pasti dari tadi pagi berangkat sekolah, kini hanya aku sendiri di dalam asrama tanpa ada yang menemaniku. Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk pelan, aku melihat orang yang di luar kamarku dari lubang kecil pintu kamarku. Tidak ada siapa-siapa, apakah ada yang mengerjaiku? Oh, itu tidak lucu! Namun, aku penasaran, alhasil aku membuka pintu kamar. 

Terlihat ada satu buket bunga mawar warna merah di depan pintu kamarku, lalu aku mengambilnya. Aku mencari-cari siapa nama pengirimnya, tapi aku tidak menemukannya, hanya kertas bertuliskan, cepat sembuh Vie, aku menunggumu. Aku tau siapa pengirimnya, tapi aku ragu apakah benar dia yang pengirimnya atau tidak. Aku mengangkat bahu dan kembali masuk ke kamar. Tiba-tiba ponselku berbunyi, ada notifikasi masuk. Aku membuka satu pesan notifikasi itu, ternyata ada beberapa pesan dari grup yang belum kubaca, dan … Decan? Dia mengirim pesan padaku.

Decan:

[Udah diterima?]

                                                                       Anda:

                [Buket bunga mawarnya dari kamu?]

Decan:

[Iya. Oh, udah diterima, baguslah]


Aku termangu, cepat sekali dia membalas pesanku. Pasti lagi senggang. Aku tersenyum, dan kembali membalas pesannya.


                                                                       Anda:

                      [Terimakasih banyak, Decan. Eh tapi, ini bunga dari Turth or Dare kan?]

Decan:

[Sama-sama. Gak juga, rahasia deh]


Aku tertawa kecil, ternyata dia bisa malu-malu ya. Hanya persoalan kecil, dia mampu merahasiakannya, padahal itu bukan hal yang cukup rahasia.


                                                                       Anda:

                        [Iya lah tuh. Hati-hati di jalan ya!]

Decan:

[Iya, terimakasih!]

                                                                       Anda:

                                          [Terimakasih kembali]


Aku senyam-senyum sendiri melihat tingkah Decan yang lucu, anak ini bisa manis juga ternyata. Aku menghela nafas, seketika bingung ingin melakukan apa, aku ingin meminjam beberapa buku dari perpustakaan, tapi aku masih tidak sanggup berjalan. Aku mendesah pelan, merebahkan tubuhku ke kasur, dan menggerutu dalam hati, ughh! Bosan sekali!

Sepercik cahaya mengenai mataku, itu membuatku silau, dan beranjak dari kasur. Aku mencari-cari benda yang membuatku silau tadi, dan aku menemukannya di bawah meja belajar Ane. Benda itu mirip dengan kalung yang memiliki liontin berbentuk cinta. Aku mengerutkan dahi, mungkin benda inilah yang kemarin Ane cari. 

Aku pun mengambilnya, liontin itu cantik sekali, bewarna rose mary bertuliskan “My Family”. Aku membulatkan mataku, kemungkinan besar liontin ini punya foto keluarga di dalamnya seperti liontin-liontin yang pernah aku lihat. Namun, aku ragu ingin membuka isi dalam liontin ini, tapi rasa penasaranku mengalahkan keraguanku. Aku memejamkan mata, maafkan aku yang tidak sopan membuka isi dalam liontinmu, Ane. Aku pun membuka isi dalam liontin itu, dan isinya membuatku menganga tak percaya. Aku mengacak-acak rambutku, dan mencoba menenangkan diri.

“Apakah ini asli? Ba-bagaimana bisa?” bisikku tak percaya.

Aku mendongak ke langit-langit kamar. Akan kucari apa yang terjadi saat aku masih kecil!

Bab 15: Looking for the Truth

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 28

-Jumlah Kata 400


Setelah dua hari aku tidak masuk sekolah, sakitku mulai memparah, aku pun dipulangkan sementara ke rumah, dan kembali lagi ke sekolah saat aku sudah baikan. Aku sedih karena aku harus berpisah pada teman-temanku sementara, tapi aku juga senang karena bisa mencari tau kebenaran tentang keluargaku dulu.

Di rumah, saat ayahku pergi bekerja, aku masuk ke dalam ruang kerjanya dan mencari sesuatu di setiap sisi ruangan dengan hati-hati. Mirisnya, aku tidak menemukan satupun barang yang menjukkan keluargaku yang utuh dulu. Satu hal yang kutau, selama ini pegawai di rumahku setia menemani ayahku hingga saat ini, aku yakin dia mengetahui sesuatu tentang keluargaku ini.

“Kak! Kak Ina!” panggilku pada salah satu pegawai ayahku.

“Eh iya, putri tuan direktur, ada apa?” tanya Kak Ina.

“Kak, kan udah kubilang jangan panggil aku dengan sebutan itu!” risihku.

Kak Ina sedikit menunduk. “Maaf Vie.”

“Oh ya, Kak. Kakak kan sudah dua puluh tahun di sini, berarti Kakak pernah jagain aku dari bayi, kan?” tanyaku memastikan.

Kak Ina mengangguk-angguk. “Itu benar sekali.”

“Nah, harusnya Kak Ina tau kan siapa ibuku?” tanyaku dingin. 

Kak Ina terdiam, tidak berani menatap wajahku. “Ma-maaf, Vie. Saya tidak diizinkan oleh tuan untuk memberitahukan hal ini kepada Vie.”

Aku memutar bola mataku. Ini licik, bagaimana aku bisa mengetahui tentang keluargaku bila ditutupi dengan ketat seperti ini. “Hem, ya sudahlah, Kak Ina boleh pergi!”

Kak Ina pun pergi dari hadapanku, aku pun memutar otak bagaimana supaya aku bisa mengkuak rahasia tentang keluargaku ini. Akhirnya, aku memanggil satu pegawai ayahku lagil, “Kak Alvi!”

Kak Alvi pun datang menghadapku. “Ya ada apa, Vie?”

Aku tersenyum, menanyakan hal yang sama pada dirinya, “Kak Alvi kan udah dua puluh lima tahun di sini, dan selalu setia sama ayah. Berarti Kak Alvi pernah jagain aku pas masih bayi dong?”

Kak Alvi membalas dengan reaksi yang sama. “Itu benar.”

Aku tertawa kecil, lalu memasang wajah dingin. “Harusnya Kak Alvi tau tentang asal-usul keluargaku dulu, termasuk ibuku, kan? Jawab jujur Kak, aku gak suka kalau Kakak rahasiakan ini dariku!”

Kak Alvi menunduk, berpikir apa yang harus dia jawab. Seketika, dia menggeleng, aku menghela nafas kecewa. “Maaf Vie, saya dilarang oleh tuan untuk membahas tentang keluarga anda yang dulu.”

“Dasar! Kalian semua sama aja!” kesalku, lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.

Malamnya, ayahku pulang, aku cepat-cepat turun tangga dan menyambut kedatangan ayah. Aku tidak akan menyambutnya kecuali ada hal yang ingin kusampaikan dengan rasa yang tidak sabar. “Ayah, selamat datang!”

Bab 15: Looking for the Truth

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 29

-Jumlah Kata 560


Ayahku tersenyum. “Bagaimana kondisi tubuhmu, Vie?”

“Sudah lumayan, Yah!” jawabku pura-pura girang.

“Berarti kamu sakit karena rindu rumah ini dong?” goda Ayahku.

“Hehehe, mungkin saja,” jawabku. “Yah … Vie mau nanya.”

Ayah menoleh. “Mau nanya apa?”

“Jujur, selama ini Vie gak pernah tau soal siapa ibu kandung Vie. Vie selalu nanya waktu kecil, dan itu Ayah abaikan. Kenapa sih, Yah? Please, tell me why! I want your honestly!” paksaku.

Sorry, i can’t tell you about we’re family,” jawab Ayahku dingin.

Aku muak, kenapa semuanya merahasiakannya padaku? Apakah seburuk itu keluargaku dahulu? Wajahku merah padam. “Okay, fine! If you don’t tell me anything, you already losing me, bye!” 

“TUNGGU! VIE!” teriak Ayahku.

Terlambat, aku telah membanting pintu, lalu keluar dari rumah. Beberapa pegawai rumahku sempat menghalangiku, tapi aku cekatan menghindari mereka. Aku berlari sejauh mungkin yang kubisa, air mata keluar dari mataku. Aku ke tempat yang sepi, dan memojok di sudut jalan itu. “Hiks, kenapa? Apa aku gak berhak mengetahui siapa ibuku? Kenapa semua orang begitu egois! Kenapa?! Akkhhh!”

Selang beberapa menit aku menangis, tiba-tiba aku didekati oleh beberapa orang jahat. Mereka berbadan besar, mereka juga membawa senjata tajam, aku melihat mereka dengan sangat takut. Aku tak punya pilihan lain selain menghindari mereka dan berlari lagi sejauh mungkin. 

Aku berdiri, dan berlari secepat mungkin. Sialnya, mereka mengejarku terus. Dan untungnya, aku membawa ponsel, lalu mengirim lokasiku terkini pada grup “FARV2”. Kuharap mereka mengerti apa yang kulakukan, dan segera menolongku. Aku melihat ada semak-semak yang dapat kugunakan sebagai tempat bersembunyi, aku pun bersembunyi di sana, dan mengatur nafasku.

“Ke mana cewek tadi?” 

“Yang pasti dia bersembunyi di dekat sini, aku yakin sekali!”

 “Ayo kita cek, kalau ketemu langsung kita jual saja!”

“Ayo!”

Aku menutup mulutku. Kali ini aku benar-benar mengharapkan bantuan datang, nyawaku dalam ancaman. Akan kutarik perkataanku. Aku masih ingin hidup! Tuhan, tolong selamatkanlah aku! Aku memejamkan mata, dan terduduk. Krakk! Sial, aku mendudukkan botol bekas hingga mengeluarkan suara yang nyaring. Aku meringis, tempatku sudah diketahui. Aku kembali berlari, dan mereka terus mengejar. 

Lagi dan lagi, sial terus menimpaku. Aku mengambil jalan yang salah, jalan yang kulewati adalah jalan buntu. Namun, ada beberapa hal yang lain, aku sudah lelah berlari, pandanganku mulai kabur, nafasku mulai sesak, rasanya aku hampir mati. Aku terduduk, hanya bisa berdoa, dan berbisik, “Siapapun datanglah, tolong aku!”

BUGHH! Suara pukulan terdengar. Mereka datang, aku selamat! Di depanku, ada Decan, Falzye, Relino, dan Ane. Aku menangis, tubuhku bergetar hebat. Falzye, Decan, dan Relino memukul penjahat itu habis-habisan, sedangkan Ane mendekatiku dan memelukku. Aku menggenggam tangan Ane erat, tandanya aku masih kondisi ketakutan. Nafasku makin terasa sesak, aku tidak bisa bernafas.

“Tolong … aku tidak bisa … bernafas!” pintaku sambil mencoba menarik nafas.

“Vie, bertahanlah!” panik Ane.

Decan yang mendengar suaraku yang mulai parau berhenti memukul penjahat itu, dan mendekati diriku. “Vie! Vie! Apa yang terjadi?!”

“Gak … bisa … bernafas!” parauku. 

“Ane panggil ambulance!” Ane mengangguk, Decan terus memegang tanganku dengan erat, aku tau dia sedang mengkhawatirkanku, apalagi aku belum sembuh total.

“Halo, ambulance! Tolong kami!” pinta Ane.

Aku melihat Falzye dan Relino ikut mendekatiku yang kondisinya sedang kritis, mereka mencoba berbicara padaku supaya aku tetap sadar. Lama kelamaan, aku tidak dapat mendengar suara mereka, aku hanya terus menggenggam erat tangan Decan dan Ane. Satu hal yang aku sadari, sebelum aku benar-benar dalam keadaan tertidur, ambulance lebih dulu membawaku ke rumah sakit. 

One more, give me a miracle.

Bab 16: The Truth

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 44

-Kelompok 9

-Day 30

-Jumlah Kata 409


Aku tersadarkan ketika aku merasa ada keributan, kulihat ada teman-temanku, dan juga ayahku di sana. Mereka ribut menanyai kondisiku, dan saling menjelaskan. Aku meringis kesakitan, paru-paruku masih sesak, kemudian mereka menyadari bahwa aku telah siuman. Selang infus membuatku merasa sulit menggerakkan tanganku untuk menahan tubuhku, hingga membuatku menjatuhkan diri, tak dapat bergerak dalam posisi duduk.

“Vie kamu baik-baik saja?” tanya Ane khawatir. Aku menggeleng lemah, bagaimana bisa aku baik-baik saja dalam keadaan yang masih terasa sesak.

Karena sudah lega melihat aku telah siuman, Decan menjelaskan apa yang telah terjadi padaku pada ayahku. Namun itu semua tidak lengkap, karena aku belum menceritakan kepadanya bahwa aku kabur dari rumah karena ayahku. Ayahku menjulurkan tangan, bersalaman, lalu berterimakasih pada Decan, Falzye, dan Relino. Ayahku mendekatiku, ingin mengusap rambutku, aku menepisnya, dan menatapnya. “Jangan sentuh aku!”

Teman-temanku membulatkan mata, seketika mereka mengerti apa yang terjadi padaku, dan apa yang telah membuatku keluar dari rumah. 

“Decan, Falzye, Relino, kalian boleh pulang dahulu. Ane, aku mohon kamu tetap di sini,” ucapku tegas. Alih-alih menolak, mereka menuruti perkataanku. Kuharap mereka tak bertanya kenapa hanya Ane di dalam ruangan bersamaku dan ayahku.

“Eng … Vie?” kode Ane. Aku diam tak menjawab.

“Jujur sekarang, Ayah!” kerasku. Seisi ruangan lengang sejenak. Ayahku masih diam membisu.

Ane tidak mengerti situasi, andai dia tau bahwa yang di hadapannya sekarang ini adalah ayah dan adiknya. Ya, benar sekali! Ane adalah kakakku. Ane menggenggam tanganku erat. “Vie, aku tidak ada hubungannya dengan kalian, jadi aku boleh keluar ya?”

Aku menggeleng. Aku berseru ketus, “Tentu saja ada hubungannya!”

Ane mengaga, ayahku apalagi. Dia menoleh ke arah Ane, seolah-olah mengetahui sesuatu. Aku menyengir. “Huh, sudah sadar sekarang?”

“Jangan bilang kalau dia—”

“Kalau iya kenapa? Kaget? Asal Ayah tau, kalau Vie gak dimasukin ke Vlatrista High Academia, mungkin sampai saat ini Vie gak akan pernah tau kebenarannya!” bentakku.

“Vi-Vie?” gagap Ane, dia mulai merasakan hawa-hawa yang tidak menyenangkan.

“Yunazaki Aneesa. Anak pertama dari keluarga Rogastein. Oh, kejadian kapan itu? Saat Ayah memutuskan bercerai, hanya karena ibuku tidak bisa mengikuti keinginan Ayah? Egois! Dari mana aku tau? Soal itu kalian tidak perlu tau. Oh! Kenapa aku menanyakan keluargaku yang dulunya utuh? Karena aku tidak pernah tau soal ibuku! Aku dilarang membahas ini, aku dilarang menanyakan soal ini. Sekarang? Aku tau siapa keluargaku, tapi aku tidak pernah tau soal kakakku apalagi ibuku! Bagaimana kehidupan mereka saat Ayah memutuskan cerai, bagaimana kondisi mereka, bagaimana rasanya sakit yang mereka terima. Itu semua gegara Ayah! Ayah egois!” ocehku panjang lebar.

Mungkin saja kamu suka

Akira Kinan
Pernikahan Semu
Hendri Wijayats...
Meretas Cinta Harapan Teror
Yolentta Sekar ...
Hope In Bleak
Maryanah Manaf
Cahaya Kehidupan
Nanda Larasati ...
Orbit Terakhir

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil