Loading
635

3

0

Genre : Religi
Penulis : Baiq Lian Solihan
Bab : 30
Pembaca : 6
Nama : Baiq Lian Solihan
Buku : 1

Dariku Untuk Diriku

Sinopsis

Skenario kehidupan memang tak selalu berjalan dengan lancar. Gadis bernama Hasna, ingin menjadi seorang yang taat dalam perintah-Nya. Namun, selalu ada kekhilafan yang dilakukan. Untuk istiqomahpun terasa berat baginya. Sampai suatu ketika, skenario-Nya memberikan sebuah kejutan yang luar biasa, yang tak pernah ia sangka sangka. Akankah Hasna bisa melewati semuanya? Apakah Hasna bisa tetap dalam keistiqomahan?
Tags :
#religi #hijrah #remajahijrah #muslimah #islami #ceritamotivasi #hamasah

Part 1

70 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda) 

-Jumlah kata 1.028

-Day1

Pagi ini mentari nampak terlihat sedang berbahagia. Sinarnya menerpa pepohonan pepohonan rindang di iringi rasa sejuk yang sangat melegakan. Disebuah taman yang masih sepi, terlihat seorang gadis yang sedang fokus dengan kegiatan yang sudah menjadi hobinya sejak lama, yaitu membaca.

Gadis itu adalah Hasna Aqila Azzahra. Yang sehari- harinya disapa dengan nama Hasna atau Aqila. Hasna adalah putri pertama dan satu-satunya dari keluarga pak Jamal dan Ibu Ayesha.

Menjadi seorang anak yang dilahirkan dari keluarga yang sangat memegang teguh agama, membuat Hasna selalu mencari tempat nyaman untuk melakukan hobi membacanya. 

Dan sekarang karena Ayahnya sedang ada di Pondok pesantren milik kakeknya. Maka ia bebas dan tenang bisa menghabiskan waktunya hanya untuk hobinya tanpa adanya ocehan dari ayahnya.

Membaca novel sudah menjadi kebutuhan utama Hasna. Hampir setiap hari ia selalu membaca membaca dan membaca. Sampai teman temannya pun memberikannya sebuah julukan maniak novel karena dalam satu hari, Hasna bisa membaca lima novel atau lebih dari itu. Entah itu novel romance, fantasi, horror, dan berbagai jenis novel lainnya yang baru di terbitkan.

15 menit telah berlalu, namun Hasna masih asik membaca novelnya tanpa menyadari keadaan sekitar yang sudah mulai terlihat ramai. Ia masih fokus membaca sampai suara denting hp membuyarkan kefokusannya.

Hasna lekas mengambil hpnya. Dan melihat pesan yang muncil di bar notifikasinya. Ternyata itu adalah pesan dari bidadarinya. Yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu Ayesha.

Melihat dan membaca pesan itu. Akhirnya dengan cepat Hasna meninggalkan taman itu dan pulang kerumahnya.

****

Sesampainya dirumah. Hasna langsung masuk. Dan betapa terkejutnya Hasna melihat sahabat sahabatnya yang sudah di ruang tamu dengan santai memakan cemilan yang entah kapan ada di situ. Hasnapun mencari ibunya. Yang ternyata ada di dapur.

"Assalamu'alaikum bu." Ucapnya seraya mencium tangan ibunya.

"Wa'alaikumussalam. Kok lama banget ditamannya. Kasihan itu temenmu nungguin dari tadi." Mendengar itu Hasna hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang terbalut hijab.

"Lagian sih. Mereka nggak ngasitau aku kalau mau kesini. Jadi bukan salah aku dong kalau telat. Mereka aja yang tiba tiba kayak jailangkung" jelas Hasna sebal.

"Huss jangan begitu. Kamu juga salah. Kenapa lama banget ditamannya. Dari pagi sampai mau zuhur begini. Kamu ngapain aja ditaman?" Tanya ibu.

"Biasa bu. Pacaran sama novel. " jawab Hasna dengan cengengesan. Ibu yang melihat itu hanya bisa geleng geleng kepala dengan hobi anaknya yang doyan banget baca novel dan mengoleksi novel yang baru dan lama. 

"Yaudah sana samperin sahabat kamu dulu. Kasihan mereka udah lama nungguin kamu. "

"Okeh bu, Hasna samperin mereka dulu. " ucap Hasna yang dibalas anggukan oleh ibunya.

Setibanya diruang tamu. Terlihat dua sahabat Hasna yang berma Dita dan Deby. Dua sahabat yang selalu menemaninya selama dua tahun ini. Hasna langsung duduk dan tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.

"Wes.. wes.. maniak novel kita sudah kembali dari semedinya." Ucap Deby yang disambung dengan suara gelak tawa dari Dita.

"Iya nih. Kita di duakan oleh sebuah buku. Oke fine aku paham.. aku mah bukan apa apa buat kamu. " ucap Dita dengan sok ngedrama.

"Ih bukan gitu. Tadi tuh nggak mau kelewatan baca yang ini. Mumpung ayah juga belum balik ke rumah. Jadi aku bebas dong. " jelas Hasna."Iya deh iya.. semerdekamu." Ucap Dita dan Deby bersamaan.

"Eh Dit, kamu udah selesai baca buku yang kamu posting kemarin nggak??" Tanya Hasna.

"Kagak.. aku mah pinjem buku bukan untuk dibaca. Tapi hanya dijadiin objek estetok aja." Jawab Dita.

"Si Dita mah jangan ditanya masalah baca membaca. Dia mah kelewatan malesnya. Ngerjain PR aja harus nyontek sama aku." Cibir Deby kesal dengan kebiasaan salah satu sahabatnya itu. Sedangkan Hasna hanya bisa tertawa pelan, merasa lucu dengan sifat dan sikap kedua sahabatnya itu.

"Eh aku mau nonton dulu ye. Mohon jangan di ganggu."ucap Deby.

"Yaudaah iyee." Ucap Hasna dan Dita.

Mereka pun melanjutkan aktifitas masing masing. Deby dengan film yang ditontonnya di laptop, Dita yang fokus scroll instagram. Sedangkan Hasna dengan novelnya.

Selang beberapa menit kemudian. Azan zuhurpun terdengar. Namun mereka masih saja fokus dengan kegiatan mereka yang selalu mereka prioritaskan.

Sampai sampai keberadaan ibu Ayesha pun tak mereka sadari.

10 menit berlalu. Kegiatan mereka masih seperti waktu waktu sebelumnya. Mereka masih enggan untuk meninggalkan aktifitas itu untuk melaksakan kewajibannya. Deby masih fokus, Hasna dan Ditapun sama.

Tiba tiba Ibu Ayesha menghampiri mereka.

"Kalian udah shalat?"tanya ibu.

"Belum mah." Jawab Hasna.

"Yaudah sana shalat dulu, nanti dilanjutkan lagi nonton dan bacanya."perintah ibu.

Mendengar itu Hasna hanya mendengus kesal. Setiap ia membaca. Pasti ada saja yang mengganggunya. Mengganggu disaat ia sedang berada di zona nyaman.

"Iya bu iya. Nih mau shalat kok."kesal Hasna sambil menarus novelnya di meja.

"Yaudah cepet shalat ya."ucap ibu lagi.

"Iya iya."jawab Hasna.

Setelah ibu Ayesha pergi. Bukannya pergi wudhu, Hasna malah mengambil novel dan melanjutkan bacaan yang terhenti karena ibunya.

Lima menit kemudian. Ibu Ayesha kembali ke ruangtamu dan melihat bahwa anaknya belum shalat, padahal waktu sudah menunjukkan bahwa waktu zuhur akan selesai. Dengan cepat ibu Ayesha menghampiri mereka.

"Hasna... katanya mau shalat. Kok masih belum shalat juga." Ucap Ibu.

"Ih ibu mah, iya nih iya Hasna shalat kok. Santai aja bu. Hasna pasti shalat."ucap Hasna dengan kesalnya. Sedangkan Dita dan Deby hanya diam melihat interaksi antara ibu dan anak itu.

"Hasna... masih inget pesan ayah nggak?. Allah Swt berfirman, celakalah orang-orang yg shalat, yaitu orang orang yg lalai dari shalat nya. (QS. Al-maa'un : 4-5). Ingat bentuk lalai dalam shalat salahsatunya adalah menunda nunda shalat hingga keluar waktu shalat. Di ingat ya!" Ucap Ibu Ayesha menjelaskan bahwa tak baik menunda nunda waktu ibadah, apalagi ibadah yang wajib.

"Iya iya..ini Hasna shalat. Yuk Dit, Deb. Kita shalat dulu. Nanti lanjut lagi." Ajak Hasna.

"Waduh aku lagi kedatangan tamu nih." Jawab Dita.

"Yaudah tunggu dikamar aku aja." 

Hasna pun langsung pergi mengabil wudhu dan shalat bersama Deby di musholla samping kamar orangtua Hasna.

Setelah shalat. Hasna dan Deby bergegas untuk kekamar untuk melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda tadi.

Suasana hening tanpa ada yang mau membuka suara. Tiba tiba dering hp berbunyi. Ternyata itu telpon Dita.

Setelah Dita mengangkat telpon, sekarang giliran Deby yang ditelpon oleh ibunya. Dan merekapun berpamitan karena ada urusan masing masing dan sekarang tinggal hanya Hasna seorang diri dengan novel yang masih terus ia baca. Entah sampai kapan akan berada di zona itu.

Part 2

154 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah kata 1.253

-Day 2

Hari yang sama, dengan waktu yang berbeda. Dikamar, Hasna masih asik membaca novel sampai-sampai tidak melaksanakan shalat Ashar. Ia pun tak menyadari bahwa waktu telah menunjukkan pukul enam sore yang menandakan waktu magrib telah tiba.

Tok..tok..tok

“Sayang shalat dulu yuk, udah ditungguin sama ayah dibawah.” ucap seseorang yang tak lain adalah ibunya yang sudah menjadi alarm alami dari seorang Hasna.

‘Iya bu bentar, mau selesain lima  lembar ini doang.” ucap Hasna yang masih enggan untuk melepas novel ke empat yang ia baca hari ini.

Ibu Hasna pun masuk dan duduk di samping ranjang yang bersebelahan dengan meja belajar yang selalu dijadikan tempat andalan untuk membaca koleksi novel Hasna.

“Ayo nak, ini udah azan loh. Nggak baik nunda-nunda terus.” tegur ibu.

“Ih ibu mah. Bentar dulu.. ya ya ya??? Sekalii aja. Soalnya nanggung banget ini.” mohon Hasna dengan wajah yang dibuat se imut mungkin.

“Jangan pake muka sok imut begitu. Nggak enak banget lihatnya.” balas ibu sambil menahan tawa karena tingkah aneh anaknya.

“Ih jangan ketawa bu. Hasna bukan badut yang harus di ketawain pas lagi atraksi.” kesal Hasna sambil memalingkan wajahnya dan enggan memandang wajah ibunya.

“Ayo shalat dulu, kan Ibu udah bilang. Jangan suka nunda shalat. Apalagi ini sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat islam.” nasihat Ibu.

Hasna yang mendengar itupun hanya mendengus sebal dengan segala ocehan ibunya.

“Iya deh iya nih Hasna ambil wudhu.” jawab Hasna dengan sebal.

“Yaudah gih sana. Ibu tunggu di musholla ya. Ayah juga nungguin tuh.” Ucapan ibu membuat Hasna kaget. Ayahnya yang bulan bulan ini sedang sibuk sibuknya mengurus santri-santri di pondok pesantren milik kakeknya, tiba-tiba sudah ada dirumah.

Waduh bahaya, auto diminta setoran hafalan ini. Batin Hasna

Hasnapun lekas mengambil wudhu. Setelah itu dengan cepat pergi ke musholla yang ada di dekat ruang keluarga.

Disana terlihat sang ayah menyambut dengan wajah tersenyum seraya menggelengkan kepala. Sedangkan Hasna hanya menundukkan kepala sambil berdoa dalam hati. Berharap semoga malam ini tidak di tagih setoran hafalan oleh Ayahnya.

Karena setiap Ayahnya ada di rumah. Ia akan di tanya tanya terus tentang hafalan Al-Qur'annya. Itu yang membuat Hasna selalu berharap bahwa Ayahnya diam di pondok pesantren kakek.

Shalat berjamaahpun dimulai. Ayah menjadi imam, sedangkan Hasna dan Ibunya menjadi makmum. Shalat pun dijalankan dengan khusyuk.

***

Setelah shalat, lalu dilanjutkan dengan mengaji dan berdoa. Yang dipimpin langsung oleh ayah Jamal.

“Ayo sekarang buka juz 16. Ngajinya dimulai dari Ayah, ibu terus terakhir dilanjutkan Hasna.” ucap Ayah.

Ibu dan Hasna pun langsung mengikuti arahan Ayah. Dan Ayahpun mulai mengaji dan di simak oleh Ibu dan Hasna. Lalu selanjutnya Ibu, dan terakhir giliran Hasna. Saat mengaji Hasna selalu salah di makharj dan tajwid. Dibagian tajwid yang harusnya di baca idgham malah di baca idzhar. Salah satu kelemahan Hasna dalam mengaji adalah belum bisa membedakan mana yang idzhar dan mana yang idgham. Mana yang harusnya 6 harkat malah dibaca 4 harkat.

Teguran demi teguran yang Hasna dapatkan, dan hembusan nafas lelah yang Hasna berikan sebagai jawaban.

“Hasna tajwidnya itu. Perhatikan ya. Itu nun mati bertemu dengan ba'. Itu dibacanya panjang. Itu ikhfa bukan idzhar. Jangan stop disitu nak.” Jelas Ayah. Namun Hasna tetap saja melakukan kesalahan yang sama.

“Hasna sayang, ngajinya pelan aja. Hukum bacaan dan makhrajnya itu. Kalau kamu salah baca satu aja, artinya akan berbeda nak.” Lanjut Ibu menambah penjelasan Ayah. Berharap agar Hasna tak mengulangi kesalahannya.

“Ih Hasna tuh udah bener kok bacaannya. Heran salah terus.” gerutu Hasna sebal dengan cara mengajinya yang selalu di salahkan.

“Hasna, kita mengaji itu bukan asal baca saja. Mengaji dengan memahami makna apa yang terkandung di dalam Al-Qur'an itu lebih bagus, pahala mengaji itu banya loh.” ucap ayah

“Tapi yaah... Hasna kan udah ngaji nih. Tapi selalu aja kena teguran. Padahal Hasna ngajinya udah bener.” kesal Hasna

“Hasna anak Ayah yang sholeha...mengaji itu harus niat yang baik, dengan cara yang baik, dan harus di perhatikan tajwidnya sayang. Mengaji itu harus fokus, dan juga usahakan memahami makna dan pesan pesan apa saja yang ada di dalam surah yang kita baca.” penjelasan Ayah penjang lebar. Namun Hasna hanya diam dan enggan untuk mendengarkan. Sedangkan Ibu hanya diam menyimak apa yang diucapkan suaminya.

Mengajipun selesai karena sudah memasuki waktu isya. Merekapun melanjutkan untuk Shalat isya berjamaah. Selepas Shalat, lalu dilanjutkan dengan berzikir dan berdoa.

“Ayo sekarang waktunya setor hafalan Ibu sama Hasna.” ucap ayah.

Mampus akuu, batin Hasna

“Ayo Hasna, kamu dulu yang nyetor hafalan. Juz 30 ya. Kita ulang surah an-naba'. Karena kemarin hafalanmu masih belum sempurna.” Ucap Ayah. Seketika Hasna pucat pasi. Karena hari hari ini ia tidak pernah murojaah hafalannya.

“Ayo nak, ibu juga mau ikutan simak kamu.” ucap ibu semangat.

“Ayo mulai.” perintah ayah.

“Iya yah.” Jawab Hasna

Bismillahirrahmanirrahim

????? ????????????????

'amma yatasaaa-aluun

???? ????????? ????????????

'anin-naba-il-'azhiim

???????? ???? ?????? ?????????????

allazii hum fiihi mukhtalifuun

?????? ??????????????

kallaa saya'lamuu

????? ?????? ??????????????

summa kallaa saya'lamuun

“Terus apa yah selanjutnya?” Tanya Hasna yang lupa dengan ayat selanjutnya.

Ayah yang mendengarnya pun terkejut. Pasalnya minggu kemarin hafalan Hasna sudah sampai 10 ayat. Lalu sekarang kemana sisanya.

“Lah kamu gimana Na. Hafalan yang kemarin pada hilang kemana?” Tanya ayah. Ibu hanya diam tanpa berniat untuk membantu Hasna.

Hening dan hening. Hasna masih enggan menjawab pertanyaan dari ayahnya. Tidak ada yang berani angkat bicara. Dan Ayah pun memecahkan keheningan karena tidak ada jawaban dari Hasna.

“Hasna.. hafalan kamu pada kabur kemana?” Tanya Ayah sekali lagi. Jika sudah dua kali ditanya maka Hasna mau tidak mau harus menjawabnya.

“Anu yah..aku nggak pernah murojaah.” mendengar itu, ayah hanya menghela nafas. Dan melanjutkan sesi tanya jawabnya.

“Terus minggu ini Hasna kerjain apa? Sampai sampai nggak murojaah?” Hasna tak berani menjawab. Ia hanya diam dan menundukkan kepala. Tak berani memandang ayahnya.

“Anu maaf yah. Minggu minggu ini Hasna kebanyakan baca novel.” Ucap Hasna yang masih menundukkan kepalanya.

“Ayah nggak ngelarang Hasna baca novel, Asalkan jangan terlalu berlebihan. Utamakan membaca Al-Qur'an. Karena Al-Qur'an kelak bisa membantu kita. Dia yang mendampingi kita dan memberi syafaat juga. Begitu banyaknya manfaat membaca Al-Qur'an.” jelas Ayah.

Hasna hanya mendengarkan apa yang dikatakan Ayahnya. Namun enggan mengeluarkan suara karena takut ayahnya marah.

“Hasna sayang. Ayah tanya dua hal. Hari ini shalatnya full lima waktu nggak dan shalatnya tepat waktu terus??” Tanya Ayah.

Hasna bingung bagaimana menjawabnya. Pasalnya ia selalu melalaikan shalatnya. Aduh bagaimana ya, batin Hasna.

Sedangkan Ayah Hasna masih menunggu jawaban dari anaknya itu. Sebenarnya ibu Hasna juga ingin menjawab, namun dia kali ini tidak ingin ikut campur. Biarkan Hasna berbicara sendiri.

“Ayah mau Hasna jujur sekarang. Ayah juga nggak akan marah.” Lanjut Ayah.

“Anu yah. Tadi shalat ashar bolong. Terus tadi juga a-anu apa itu, eeee Hasna telat shalatnya.” jawab Hasna dengan hati hati agar ayahnya tidak marah. Sedangkan ayahnya hanya bisa menghela nafas dengan apa yang diucapkan anaknya.

“Hasna, ada satu hal yang ayah mau bilang sama Hasna. Baca novel boleh boleh saja. Tapi ingat sama kewajiban Hasna. Yaitu shalat wajib lima waktu. Subuh, zuhur, ashar, magrib dan isya. Itu wajib ya nak. Dan ingat mangaji, baca Al-Qur'an. Al-Qur'an banyak manfaatnya. Bahkan dengan mendengar lantunan Al-Qur'anpun ada banyak manfaat yang kita dapatkan. Salahsatunya yaitu : Baik untuk perkembangan otak, meningkatkan kemampuan memori, jiwa lebih tenang dan pikiran jernih, mendapat pahala juga. Ayah cuma minta Hasna rajin shalat, baca Al-Qur'an dan baca novelnya jangan berlebihan ya, ingat waktu. Jangan sampai meninggal kan shalat.” ucap ayah dengan panjang lebar.

“Iya yah, insya Allah Hasna akan lakuin semuanya.” balas Hasna dengan pelan.

“Yaudah sekarang kita makan, terus pergi tidur.” Perintah ayah.

Hasna dan Ibunya pun lantas pergi ke meja makan, mengikuti ayahnya yang sudah jalan di depan mereka.

Merekapun makan dalam keadaan hening, tanpa membicarakan apapun. Setelah itu Hasna, Ibu dan ayahnya pergi untuk istirahat di kamar masing-masing.

Part 3

169 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah kata 1568

-Day 3

 

Pukul dua dini hari. Hasna tiba tiba tebangun karena mimpi buruk yang akhir akhir ini selalu menghampirinya. Padahal dia selalu berdoa dan berwudhu sebelum tidur. Sudah satu minggu Hasna selalu memimpikan hal yang sama.

 

           “ish kebiasaan deh kebangun jam segini. Mana masih jam dua lagi. Nih juga suasananya serem banget gilak.” Kesal Hasna.

 

           Hasna mencoba untuk tidur lagi. Namun sayang, segala usahanya sia sia. Karena matanya sudah tak bisa diajak kompromi. Dengan kesal Hasna lantas mengambil novelnya dan membacanya kembali untuk menunggu waktu subuh tiba.

 

           20 menit kemudian. Hasna masih asik membaca novelnya. Tiba-tiba hpnya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Yang ternyata adalah panggilan dari Deby sahabatnya.

 

           “assalamu’alaikum calon penghuni kebun binatang.” Ucap Hasna.

 

        “wa’alaikumussalam bidadari jadi-jadian.” Balas Deby

 

           Mendengar itu Hasna hanya terkekeh. Karena dengan adanya Deby. Hasna tidak merasa kesepian lagi.

 

           “ada apa deb. Tumben banget telpon pagi pagi begini. Kangen sama aku ya?” tanya Hasna.

 

           “Dih ogah kangen sama kamu. Mending aku kangenin pacar aku yang udah jelas jelas orang ter ter spesial aku.” Oceh Deby.

 

           “Yaudah iya. Terus ngapain kamu telpon jam segini deb deb?” tanya Hasna.

 

           “Anu itu, minta jawaban tugas aja. Soalnya aku lupa ngerjainnya.” Kata Deby cengengesan.

 

           “giliran masalah begini, aku yang dihubungi. Giliran aku yang butuh. Kamunya asik ngebucin sama pacar kamu itu.” Kesal Hasna. Sedangkan Deby hanya tertawa kecil mendengar celotehan Hasna.

 

           “yaa maaf. Namanya juga lagi kasmarah. Eh btw mana nih tugas itu. Aku butuh contekan.” 

 

           “yaudah ntar aku kirim lewat email ya.” Kata Hasna.

 

           “okeyy ditunggu… assalamu’alaikum.” 

 

      “wa’alaikumussalam.” Balas Hasna.

 

           Hasnapun langsung mengirim file tugas yang diminta Deby. Setelah itu ia langsung melanjutkan kegiatan membacanya. Beberapa lama kemudian, azan subuh pun berkumandang. Namun Hasna masih tetap fokus dengan bacaannya.

 

Tok…tok…

 

           “Hasna bangun nak, shalat subuh.” Panggil ibu.

 

           “iya bu.. Hasna oteweeh.” Ucap Hasna sambil berlalu meninggalkan kamarnya. Dan merekapun shalat berjamaah. Setelah itu dilanjutkan dengan mengaji bersama.

 

           Tepat pukul enam kurang 10 menit. Hasna kembali ke kamar untuk bersiap siap berangkat sekolah. Setelah dirasa siap. Hasna lekas menuju ruang makan, terlihat ibu dan ayahnya sudah menunggu disana. Hasnapun duduk dan ibulah yang menyiapkan makanan di piring Hasna.

 

           “Hasna mau lauk apa nih?” tanya ibu.

           “Hmmm… mau kayak ayah aja deh bu, udang pedes andalan ibu.” Jawab Hasna dengan cengiran khasnya. Ayah yang melihatnya hanya tertawa melihat tingkah anaknya itu.

 

           “eh jangan di samain bu. Menu ayah nggak boleh ditiru tiru.” Ucap ayah

 

           “ih ayahmah begitu sama Hasna. Hasna kan nggak jiplak eh plagiat.” Ucap Hasna kesal dengan candaan Ayahnya. Sedangkan ayahnya yang mendengar respon Hasna jadi ingin lebih menjahilinya. Dan pertengkaran bohongan pun terjadi.

 

           “nggak boleh ya. Menu ayah hanya untuk ayah saja.”

 

           “ayah mah gitu ya sama anak sendiri. Masa nggak boleh sama.” Balas Hasna dibarengi dengan raut cemberut.

 

           “intinya nggak boleh.”

 

           “ish boleh.”

 

           “nggak boleh.”

 

           “boleh.”

 

           “nggak bol--.”

 

           “eh udah dong. Ayah juga, anaknya mau sekolah juga ini. Nanti malah telat sekolahnya.” Tegur ibu menengahi pertengkaran antara anak dan ayah itu. Sedangkan pelakunya hanya terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.

 

           “iya nih ayah sih, suka banget jahilin Hasna.”

 

           “iya ayah minta maaf. Udah udah kita sarapan aja. Hasna nanti ayah yang antar.”

 

           “okey siap komandan.”

Mereka pun melanjutkan sarapan yanng tadi sempat tertunda oleh pertengkaran anak dan ayah itu. Setelah sarapan, Hasna lekas berangkat sekolah diantar oleh Ayahnya.

 

           “bu.. Hasna berangkat dulu. Assalau’alaikum” Pamit Hasna.

 

      “Wa’alaikumussalam.. hati hati dijalan ya. Kalau ayah ngebut, pukul aja.” Ucap ibu cengengesan. Ayah yang merasa dibicarakan malah membuang muka kesal. Melihat itu Hasna hanya bisa tersenyum geli.

 

           Mereka pun memninggalkan perkarangan rumah. Didalam mobil, Hasna sesekali mengajak ayahnya berbicara dan selalu dijawab dengan lelucon lelucon ayahnya. Dan tak terasa merekapun telah sampai di depan gerbang sekolah Hasna.

 

           “Hasna masuk dulu ya Yah… Ayah hati-hati dijalan. Kalau ayah mau ngajar, jangan lupa sampein salam Hasna untuk kakek.” Ucap Hasna.

 

           “iya nanti ayah sampein kok. Pasti kakek bakalan seneng banget dapet titipan salam dari cucunya ini.” Ucap ayah sambil mencubit pipi Hasna.

 

           “ih ayah mah pipi aku dicubit mulu.”kesal Hasna.

 

           “Iya iya maaf ya. Yaudah sana masuk. Nanti telat, terus kalau Hasna telat nanti ayah yang di marahin ibumu.” Ucap ayah.

 

           “yaudah Hasna masuk dulu yah. Assalamu’alaikum.” Pamit Hasna sambil mencium tangan ayahnya.

 

      “wa’alaikumussalam.” Jawab ayah bersamaan dengan keluarnya Hasna dari mobil. Hasna melanjutkan perjalanannya menuju kelas. Yaitu kelas 11 Tkj A, yang berada di ujung lab. Bersebelahan dengan kantin. 

 

           Sesampainya dikelas. Hasna langsung menuju singgasananya. Yaitu di bangku bagian ke dua. Hasna duduk, tiba tiba muncul makhluk jadi jadian yang tak lain adalah sahabat Hasna. Dita dan Deby. Mereka memang satu kelas. Namun setiap pagi mereka tidak pernah bertemu karena Dita dan Deby selalu datang 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.

 

           “eh  eh kalian ngapain sih?” tanya Hasna.

 

           “kagak ngapa ngapain kok.” Jawab Dita dan Deby bersamaan. Hasna ingin membalas ucapan kedua sahabatnya. Namun bel masuk berbunyi. Terlihat semua penghuni kelas berhamburan masuk. Dan jam pertamapun dimulai. Jam pertama berjalan dengan khidmat, dengan tentram, aman dan damai. Tak terasa jam istirahatpun telah tiba.

 

           “Hasna yok kekantin. Aku udah laper banget ini.” Ajak Deby.

 

           “ya nih. Cacing di perut udah meronta ronta minta dikasi asupan gizi yang seimbang dan halal.” Sambung Dita.

 

           “yaudah ayok.” Jawab Hasna. Mereka bertiga pun pergi kekantin bersama.

 

********

           Sesampainya dikantin, Hasna dan kedua sahabatnya langsung duduk di meja yang masih kosong. Dita pergi memesan makanan, sedangkan Hasna dan Deby menunggu makanan datang.

 

           Tak lama kemudian, Dita datang membawa pesanan kedua sahabatnya. Namun dia tak datang sendiri. Dita datang bersama seorang lelaki eh cowok. Yang sama sekali tak Hasna kenal.

 

           “nih makanannya.” Ucap Dita sambil membagikann masing-masing pesanan temannya. Dan si cowok tadipun terlihat ikut makan di meja Hasna dan kedua sahabatnya. Melihat kebingungan Hasna. Ditapun angkat bicara.

 

           “Hasna pasti nggak kenal sama cowok disebelah aku.” Dengan semangatnya Dita menggenggam tangan cowok disebelahnya itu. Si cowok hanya merespon dengan senyuman manisnya.

 

           “jadi gini.. aku mau kenalin orang ini sama kalian.” 

 

           “yaudah cepet kenalin.” Sambung Deby.

 

           “kenalin ini pacar aku. Namanya Ridho. Yang kamu coba kenalan sama sahabat aku.” Mendengar itu. Ridho pun memperkenalkan diri. Ternyata mereka jadian tadi malam. Ridho berbeda jurusan dengan trio ini. Ridho sendiri adalah jurusan animasi. Hasna dan Deby pun memperkenalkan diri mereka dengann Ridho. Tiba-tiba dari kejauhan ada yang memanggil Deby.

 

           “ebyyyyy.” Panggil cowok itu. Deby yang merasa terpanggil pun langsung menoleh dan heboh.

 

          “aaaa….Vinviinn.. sini sini.” Ajak Deby. Cowok itupun duduk disamping Deby. Mereka berdua asik-asik menggenggam tangan sampai-sampai banyak orang yang mengatai mereka lebay. Namun tak dihiraukan mereka. 

 

           Dengan panggilan yang Deby gunakan. Hasna sudah bisa menebak. Bahwa itu adalah pacarnya Deby. Namun Hasna belum tau namanya.

 

           “oh ya. Sekarang giliran aku yang kenalin seseorang sama kalian.” Ucap Deby. Hasna hanya diam memperhatikan kedua sahabatnya yang sudah taken.

 

           “yaudah langsung aja ya. Pacar aku yang ganteng ini namanya Alvin. Panggil aja pake nama itu. Kalau aku mah panggilnya sih vin vin.”ucap Deby yang membuat Alvin berbunga-bunga. Namun beda dengan Hasna. Dia hanya bergidik ngeri dan jijik dengan panggilan dari sahabatnya itu untuk pacarnya. Dita dan Deby asik bercengkrama dan mesra mesraan dengan pacar mereka. Sedanngkan Hasna hanya sendiri dengan makanan didepannya. Beberapa menit kemudian bel berbunyi. Merekapun kembali ke kelas masing masing.

 

           Dikelas, suasana kembali tentram karena guru telah masuk. Dan pelajaranpun dimulai. Sampai jam terakhir, keadaan kelas masih sama tenanngnya dengan jam pertama, namun dibarengi dengan rasa ngantuk yang tertahankan.

 

           Akhirnya bel yang ditunggu tunggupun telah berbunyi. Semua penghuni kelas langsung merapikan buku, dan memasukkannya kedalam tas. Setelah itu, mereka berhamburan keluar kelas untuk kembali kerumah masing masing.

 

           Hasna, Dita dan Debypun sama halnya dengan murid yang lain. Trio itu berjalan menuju depan gerbang. Menunggu jemputan. Sesampainya di gerbang.

 

           “Dita, yuk pulang.” Ajak Ridho, pacar Dita. Ditapun langsung naik dan tanpa mengucap kata apapun Ridho langsung tancap gas meninggalkan Hasna dan Deby. Selang beberapa detik, tiba tiba muncul Alvin dengan motornya.

 

           “yuk yang kita pulang. Kasihan kamu kalau nunggu supir.” Kata alvin.

 

           “aa….romantis banget sih viin.” Balas deby dan langsung menaiki motor Alvin.

 

           “Hasna.. aku sama Alvin duluan ya. Kamu nggak papa sendirian?” tanya Deby.

 

           “nggak papa kok. Udah duluan aja, aku fine kok.” Ucapan Hasna dibalas anggukan oleh Deby. Lalu mereka berdua meninggalkan Hasna sendiri. Tak lama kemudian mobil ayahnya terlihat di sebrang jalan. Hasnapun menyebrang dan masuk kemobil.

 

           “Assalamu’alaikum ayah.” Ucap Hasna sambil mencium tangan ayahnya.

 

       “wa’alaikumussalam. Gimana sekolahnya?” tanya ayah.

 

           “baik kok yah.. alhamdulillah berjalan dengan baik.

 

           “alhamdulillah. Tadi kok ayah nggak lihat dua sahabat kamu itu. Mereka udah pulang duluan?”tanya ayah sambil fokus menyetir.

 

           “iya yah. Mereka udah ada ojek pribadi.” Jawab Hasna sambil terkekeh. Karena memang benar, pacar mereka udah mirip seperti ojek pribadi. Yang selalu siap sedia mengantar mereka kemanapun mereka inginkan. Mendengar jawaban Hasna. Ayahnya hanya menggelengkan kepala.

 

           Sepanjang perjalanan, Hasna dan ayahnya berbagi cerita seharian ini. Karena keasikan cerita, sampai-sampai Hasna tak menyadari bahwa daritadi ia sudah sampai di rumah. Sampai suara ibunya pun mengagetkan Hasna.

 

           “ceritanya di stop dulu.” Kata ibu.

 

           “eh ibu.. hihi kirain siapa tadi.”

 

           “yaudah sana masuk dulu, ganti baju terus makan siang.” Perintah ibu.

 

           “iya bu.. Hasna masuk dulu.” Ucap Hasna sambil mencium tangan ibunya. Hasna berlalu pergi kekamarnya, sedangkan Ayah dan Ibunya mengikuti Hasna dari belakang namun dengan tujuan menuju ruang tamu.

 

           Setelah menggati pakaian, Hasna lekas menuju meja makan. Dimeja makan, ibu dan ayah Hasna sudah menunggu. Merekapun mekan bersama dalam keadaan yanng hening. Selepas makan, lalu dilanjutkan dengan shalat berjamaah karena waktu sudah memasuki waktu shalat.

 

 

Part 4

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah kata 782

-Day 4

 

Hari ini Hasna kembali sekolah. Namun kali ini terlihat berbeda. Hasna terlihat lesu dan tidak ada gairah untuk sekolah. Badannya nampak kurang vit, dengan bibir pucat dan tak nampak segar karena semalam begadang membaca novel di aplikasi membaca online.

Hasna duduk diam dan enggan ikut mengoceh bersama teman-teman sekelasnya. Karena tak bergairah, Hasnapun tidur di bangku dengan berbantal buku paket yang ia bawa.

“Hasna bangun, bel udah bunyi tuh.” Ucap Dita membangunkan Hasna. Namun sama sekali tak ada respon dari Hasna.

“Hasna ayolah woy!!” suara teriakan Deby yang dibarengi dengan tepukan di pundak Hasna. Hasna pun terbangun sambil mengucek kedua matanya.

“Ada apa sih, kok teriak teriak. Aku nggak budek tau.” Ujar Hasna

“iya tauu.. tapi bel udah bunyi.” Ucap Dita

“hmm… gitu, yaudah balik ke bangku kalian sana.” Usir Hasna agar temannya tak mengoceh terlalu lama. Dita dan Deby pun kembali ke bangku mereka masing masing.

Tak lama kemudian. Guru mata pelajaran pertamapun dimulai. Namun Hasna masih terlihat lesu. Melihat Hasna yang lesu. Bu Rahma sekaligus guru bahasa indonesian itu mendekati bangku Hasna.

“Hasna kamu kenapa?” tanya bu Rahma

Lantas Hasna yang merasa ditanya pun menenngok ke sumber suara, kini menghadap ke depan, ke arah Bu Rahma.

“Hasna nggak kenapa-napa bu.” Jawab Hasna dengan lesu.

“Kamu keliatannya lagi nggak enak badan. Kamu ke Uks aja, istirahat disana.” Ucap Bu Rahma.

“Bu… bagaimana kalau saya yang anterin Hasna ke UKS bu, hitung-hitung belajar jadi calon suami yang baik gitu bu.” Kata salah satu siswa yang di badge namanya tertulis Indra Zultoni. 

“baik darimananya, alasan aja kamu. Palingan nanti kamu malah belok ke kantin.” Ucap Bu Rahma. Semua penghuni kelaspun tertawa, termasuk Hasna juga.

“Si ibumah suka gitu, jangan suuzon gitu bu, nggak baik.” Nasihat Indra.

“bukan suuzon, tapi memang begitu kelakuan kamu.” Ucap bu Rahma.

“ih ibu mah gitu ya sama aku, aku ngambek nih.” Kata Indra dengan nada-nada sok imutnya. Bu Rahma yang mendengar itu hanya bergidik ngeri, sementara yang lainnya ada yang tertawa, pengen muntah, bahkan ada yang jungkir balik.

Kemudian bu Rahma menyuruh Dita untuk mengantar Hasna ke UKS. Diperjalanan menuju UKS, Dita dan Hasna berpapasan dengan Ridho aka pacar Dita.

“yang kamu mau kemana, kok ada diluar?” tanya Ridho

“ini nih anterin Hasna ke UKS.”

“aduh aku kira kamu mau bolos yang.” Ucap Ridho

“palamu bolos. Akutuh rajin, ga pernah bolos. Nggak kayak kamu.” Ledek Dita membuat Ridho mendengus kesal.

“eh udah dulu deh, ntar ketemu di kantin ya yang.”ucap Dita

“iya iya.” Jawab Ridho meninggalkan Hasna dan Dita

Merekapun melanjutkan perjalanan menuju UKS. Sesampainya di UKS, Hasna langsung membaringkan badan dan mengistirahatkan raga yang butuh waktu istirahat.

Sementara Hasna tertidur, Dita memakaikan selimut, lalu Dita pergi ke kelas karena takut ketinggalan materi. Hasna pun terlelap karena keadaan yang sangat tenang.

 

*********

Bel istirahatpun berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Menimbulkan kegaduhan kegaduhan yang membuat Hasna terbangun dari tidurnya. Hasna melihat keramaian yang membuatnya tak tenang. Hasna pun meninggalkan UKS, dan mencari tempat yang sepi. 

Disekolah ini hanya ada dua tempat yang sepi, yaitu di perpustakaan dan di taman belakang sekolah. Hasnapun memilih untuk pergi ketaman belakang sekolah. Dengan santai Hasna melewati segerombolan anak-anak sebayanya yang akan menuju kantin. Karena kantin ada di ujung seberang, sedangkan taman ada di arah sebaliknya,

Sesampainya ditaman, Hasna mengeluarkan Handphone yang sejak tadi ia sembunyikan di saku roknya. Hasna melanjutkan bacaannya yang terhenti karena acara ketidurannya itu.

Ekspresi Hasna berubah ubah. Kadang senyum sendiri, tiba tiba memperlihatkan tatapan marah, tiba tiba tertawa dan macam macam ekspresi lainnya.

Sampai-sampai Hasna tak menyadari bahwa ada seseorang yang lelah menahan tawa melihat ekspresi Hasna yang selalu berubah diwaktu yang terbilang singkat. Dan terdegar gerutu Hasna.

“ih ngapain sih pacaran sama cowok begitu, udah tau jadi pelampiasan. Tapi masih aja suka sama dia. Aneh bin aneh.” Gerutu Hasna sambil menunjuk nunjuk handphonenya sendiri.

Orang yang memperhatikan Hasna itupun kembali tertawa pelan dengan kelakuan Hasna. Dasar cewek aneh, gumam orang itu. Sambil meninggalkan Hasna yang masih fokus dengan bacaannya.

Setelah bosan membaca karena tokohnya membuat Hasna badmood. Akhirnya Hasna hanya diam sambil berfikir. Bagaimana ya kalau dia yang ada di posisi cewek yang ada di cerita itu. Hasna terus memikirkannya. Sampai akhirnya bel masuk berbunyi. Dan Hasna lekas pergi ke kelas. 

Setelah sampai di kelas. Hasna lebih banyak diam dan memikirkan tokoh yang ada di cerita yang ia baca. Sampai Hasna tak menyadari bahwa kedua sahabatnya sudah ada di dekatnya.

“woy diem diem wae.” Hasna hanya terkejut, dan menghadap samping. Ternyata itu suara dari Dita dan Deby.

“ih kaget kan aku.” Ucap Hasna mengelus dadanya. Kedua pelaku itu hanya cekikikan dan meninggalkan Hasna di bangkunya.

Pelajaran pun dimulai dengan tenang, aman dan damai. Tanpa ada gangguan dari celotehan tak bermutu si Indra.

 

 

Part 5

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah kata 1159

-Day 5

 

Terik mentari disiang hari sangat menyengat di kulit Hasna. Siang ini ia pulang sekolah dengan jalan kaki dikarenakan Ayah Hasna sedang sibuk dipondok sang kakek. Alhasil tak ada yang menjemputnya.

 

Hasna pun memesan ojek online. Namun saat hendak memesan, tiba-tiba handphonenya mati. Alhasil Hasna hanya bisa pasrah menunggu ada orang baik yang memeberikan ia tumpangan.

 

Keadaan sekitar mulai terlihat sepi. Hasna terlihat was-wass dan tidak tenang. Dalam hati ia melantunkan zikir dan untaian tasbih agar hatinya tenang.

 

Seraya berdoa. Semoga ada orang baik yang menemaninya untuk saat ini.

 

Tiba-tiba dari arah gerbang sekolah, muncul sebuah motor matic keluaran terbaru. Yang tiba tiba berhenti di depan Hasna.

 

“ngapain?” tanya orang itu.

 

Hasna yang ditanya hanya menoleh bingung. Karena Hasna sama sekali tak mengenal orang itu. Walaupun dilihat dari seragamnya. Ya emang orang ini satu sekolah dengannya.

 

“denger aku ngomong nggak? Tuli?” tanya orang itu. 

 

“nggak tuli. Aku denger. Jelas sekali tadi anda bertanya.” Kesal Hasna karena dikatai tuli oleh orang yang tak di kenalnya.

 

“makanya kalau ditanya tuh langsung jawab.”

 

“iya iya. Tadi tanya aku ngapain kan? Neh aku nunggu orang baik hati untuk nganterin aku pulang.” Jelas Hasna panjang lebar tanpa kali dan tanpa tinggi.

 

“sebenarnya aku kasihan sama kamu. Disini sendirian nunggu orang baik buat nebeng. Eh yang dateng ternyata orang ganteng tapi nggak baik.” ucap orang yang masih misterius namanya.

 

“yaudah sana pergi aja. Aku masih berani kalau  jam segini mah. Palingan ntar angkot juga lewat sini.” usir Hasna dengan kesal.

 

“yaudah jangan esmosi begitu. Aku duluan ya. Hati-hati banyak perampok disini.” Ucap orang itu tertawa sambil meninggalkan tempat itu. 

 

“eh bentar deh. Aku kok nggak tanya nama dia ya? Ih udahlah, namain cowok aneh aja. Tiba tiba nongol kayak jailangkung.” Gumam Hasna.

 

Karena bosan terlalu lama menunggu. Akhirnya Hasna mengeluarkan novel yang ia bawa. Hasna melanjutkan sesi membaca novelnya. Sampai beberapa  menit kemudian azan Ashar berkumandang. Hasna yang asik membaca novel, tiba tiba menutup sesi membacanya karena Azan.

 

Setelah azan selesai. Hasna melihat jam tangannya. Ternyata sudah hampir satu jam lebih ia berada ditempat itu. Hasna menghela nafas, kenapa tak ada satupun yang memberikan ia tumpangan. Utaian untaian doa ia lafalkana dalam hati. Berharap semoga yang diinginkan saat ini terwujud.

 

Hasna memejamkan mata, guna untuk berdoa dalam ke khusyukan. Doa doa dan doa. Berharap ada yang datang menjemputnya.

 

Tin..tin

 

Merasa terganggu, Hasna lekas menoleh dan  menghadap depan. Ternyata orang asing itu kembali lagi. Apa ia si Allah ngirim dia kesini, batin Hasna.

 

“masih nungguin orang baik?” tanya orang tersebut.

 

“iya, tapi orang baiknya nggak ada yang muncul.” Hasna berulang kali menghela nafas karena keadaannya saat ini. 

 

“yaudah gini aja deh. Untuk hari ini, aku jadi orang baik deh. Aku anterin sampe rumah kamu.” Kata orang itu. 

 

Hasna yang awalnya murung, seketika berbinar binar karena mendengar apa yang dikatakan orang itu.

 

“beneran nih? Ikhlas nggak?” tanya Hasna guna memperjelas apa yang dikatakan orang itu.

 

“Ikhlas pakek banget deh, jadi orang baik untuk hari ini doang. Cepet naik.” Ujar  orang itu yang langsung dilaksanakan oleh Hasna.

 

“yaudah mana helm?” minta Hasna. Setelah menerima helm dan memakainya. Perjalanan menuju rumah Hasna pun dimulai. 

 

Sepanjang perjalanan. Tak ada satupun yanng memulai percakapan. Hanya terdengar suara kendaraan yang berada di jalur yang berlainan arah. Setelah setengah perjalanan. Orang itu membuka suara.

 

“btw rumah kamu dimana. Lupa tanya tadi.”ucap orang itu.

 

“oh itu, rumah aku di perumahan griya.” Jawab Hasna.

 

“wah satu perumahan dong. Kalau gini mah kenapa nggak daritadi minta dianterin sama aku.” Ucap orang itu.

 

“gimana mau minta. Kenal kamu aja nggak. Betapa tidak sopannya aku minta dianterin sama kamu.” Ucap Hasna yang sangat jelas terdengar ditelinga orang itu.

 

Dengan percaya diri, Hasna mengajak orang itu berkenalan. Karena Hasna merasa tak enak jika begini terus.

 

“oh ya kenalin aku Hasna.”

 

“aa..kenalin aku sofiyan. Panggil aja fiyan.” ucap Fiyan sambil fokus melihat jalan.

 

"Kamu kok asing banget. Aku nggak pernah lihat kamu di sekolah." Ucap Hasna.

 

"Yaiyalah nggak pernah lihat. Aku disekolah tuh selalu di basecamp."

 

"Ha? Emang ada basecamp apa di sekolah?" Tanya Hasna.

 

"Dih kepo." Jawab Fiyan 

 

Hasna yang dijawab begitu langsung kesal dan memukul helm yang digunakan oleh Fiyan. Sedangkan Fiyan hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Hasna kepadanya.

 

Tak lama kemudian, mereka pun sampai di perumahan Griya.

Tepat di depan rumah dengan nomor 7, yaitu rumah Hasna.

 

"Nggak masuk dulu Fiyan?" Tanya Hasna.

 

"Nggak deh, ntar jajan kamu habis aku bawa pulang." Jawab Fiyan.

 

"ada ada aja kamu ya." Ucap Hasna di barengi dengan kekehan yang mau nggak mau membuat Fiyan juga ikut tertawa dengan jawabannya.

 

"Nggak mau ngucapin makasih gitu ke aku??" Tanya Fiyan.

 

"Oh iya makasi ya Fiyan." Ucao Hasna yang hanya di jawab anggukan oleh Fiyan.

 

"Ayo masuk aja. Nggak papa sih kalau emang jajan di rumah aku mau kamu bawa pulang semuanya, aku ikhlas, aku ikhlas." Ucap Hasna dengan sok mengelus dada. 

 

Tawa pun tak bisa di hindari. Perbincangan demi perbincangan selalu di selingi dengan tawa dari mereka berdua.

 

Karena Fiyan yang tidak mau mampir, akhirnya Hasna pun bergegas masuk karena ia belum shalat Ashar.

 

"Assalamu'alaikum... Hasna cantik sudah pulang." Ucap Hasna membuka pintu rumah. Namun rumah terlihat sepi dan mencekam. Karena takut sendirian. Akhirnya Hasna menelpon ibunya.

 

Baru dering pertama, Ibu Hasna pun terdengar dari seberang telpon.

 

"Assalamu'alaikum bu. Ibu dimana???" Tanya Hasna.

 

"Wa'alaikumussalam. Ibu ikut ayah ke rumah kakek. Kamu sudah pulang sekolah?"

 

"Udah kok. Nih Hasna dirumah. Sendirian, sepi, mencekam, serem, persis kayak rumah hantu"

 

"Hus kamu ini ya. Tadi pulang sama siapa?"

 

"Aa itu pulang sama temen sekolah. Ternyata dia rumahnya deket sama rumah kita."

 

"Alhamdulillah kalau begitu. Udah dulu ya. Ayah sama Ibu mau otw pulang ini."

 

"Yaudah hati hati ya. Jangan lupa oleh oleh buat Hasna. Nanti Hasna tagih." Ucap Hasna sambil tertawa.

 

"Iya iya insyaallah ya. Nggak janji. Udah dulu eh astaga. Assalamu'alaikum."

 

"Wa'alaikumussalam."

 

Setelah menelpon, Hasna lekas menuju kamar dan ambil wudhu untuk melaksanakan shalat ashar.

 

********

 

Dikamar Hasna asik membaca novelnya lagi. Novel yang ia tunggu beberapa bulan yang lalu karena proses Pre Order yang lama.

 

Karena membaca novel. Hasna sampai tidak pernah melaksanakan dan menerapkan nasihat demi nasihat dari ayahnya. Novel ia utamakan dan prioritaskan, namun murojaan selalu dilupakan. 

 

Al-Qur'an yang kelak akan menjadi penolong bagi kita. Selalu Hasna abaikan. Bahkan tidak pernah ada niatan Hasna untuk murojaah walaupun hanya satu ayat. 

 

Dalam suatu kajian. Ada kata kata yang selalu muncul di handphone Hasna. Bunyinya

 

“Orang yang terus rutin membaca Al-Qur'an maka lisannya akan ringan mengucapkan dan mudah membacanya, jika dia menjauhinya maka berat dan sulit baginya untuk membacanya. 

Maka Janganlah kamu meninggalkan Al-Qur'an.”

 

[Syarifah Sarah Ruqayah Al Attas]

 

Kata kata yang selalu mengingatkan Hasna akan pentingnya membaca Al-Qur'an. Namun namanya juga manusia. Selalu ada kesalahan dan ke khilafan yang dilakukan.

 

Hasna yang masih fokus dengan bacaannya. Tiba tiba bacaannya terhenti karena ada suara mobil dari luar rumahnya. Yang ternyata adalah mobil Ayah dan Ibu Hasna.

 

Hasna pun bergegas untuk membuka pintu. Dan mempersilahkan kedua orangtuanya untuk masuk ke rumah. Yang selalu ia sebut rumahku istanaku. 

 

 

Part 6

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah kata 767

-Day 6 

 

Hasna yang masih fokus dengan bacaannya. Tiba tiba bacaannya terhenti karena ada suara mobil dari luar rumahnya. Yang ternyata adalah mobil Ayah dan Ibu Hasna.

"Assalamu'alaikum." Ucap kedua orangtua Hasna. 

Hasna yang mendengar salam pun bergegas untuk membuka pintu. Dan mempersilahkan kedua orangtuanya untuk masuk ke rumah. Yang selalu ia sebut rumahku istanaku.  

"Wa'alaikumussalam, waah udah sampai rumah. Akhirnya aku ada temen hehe." Ucap Hasna sambil mencium tangan kedua orangtuanya. 

Ibu dan Ayah Hasna hanya saling pandang dan terkekeh dengan sikap Hasna yang bisa dibilang polos dan lugu. 

Mereka pun langsung menuju ruang keluarga yang letaknya berada di samping ruang tamu. 

"Hasna udah shalat?"  Tanya ayah 

"Alhamdulillah udah yah. Tadi shalat dikamar." Jawab Hasna. 

"Tadi pulang sekolahnya pake apa?" Tanya Ibu. 

"Hm.. tadi sama temen. Hasna nebeng sama dia. Soalnya eumah dia deket kok sama rumah kita. Persis di dekat taman perumahan." 

"Teman yang mana tu. Setau ayah. Dua temen kamu itu rumahnya nggak di sini ." Ucap ayah megintrogasi Hasna. Sedangkan Hasna sedang berfikir, bagaimana cara menjawab introgasi dari kedua orangtuanya.

Dan jalan yang tak seharusnya pun harus Hasna lakukan. 

"Ah itu yah. Ternyata disini ada yang satu sekolah sama aku. Nama dia Fiy. Nah iya Fiy." 

"Itu cewek atau cowok?" Tanya ayah lagi. 

"Cewek kok yah. Tenang aja. Hasna kan selalu dengerin kata ayah, untuk membatasi diri dengan yang bukan mahrom." Jawab Hasna dengan senyum manisnya. Wajah memang biasa saja, namun di perasaan dan otak Hasna, semua itu bertolak belakang. Ia terus melafalkan istighfar di hati. 

'Astaghfirullah, ya Allah maafkan Hasna, ampuni dosa ini. Ampunilah ke khilafan ini. Bu, Yah. Maaf Hasna berbohong' batin Hasna 

"Alhamdulillah Hasna masih inget pesan Ayah. Jangan lupakan itu ya. Allah swt. telah menyuruh kita untuk jangan mendekati zina. Ingat ya sayang?" Ucap Ibu 

"Iya, siiap selalu ingat." Ucap Hasna sambil hormat menghadap kedua orang tuanya. Sedangkan orangtua Hasna hanya tertawa dan ikut memberikan hormat kepada Hasna. Yang akhirnya membuat mereka tertawa bersama. 

Setelah acara introgasi selesai. Hasna pun kembali ke kamar, di ikuti dengan Ayah dan Ibu Hasna yang kembali ke kamar mereka juga. 

 

****** 

 

Ba'da Maghrib tiba. Seperti biasa, dirumah selalu diusahakan untuk shalat berjamaah dan dilanjutkan dengan sesi mengaji dan setor hafalan. 

Hasna yang tidak pernah murojaah seketika gugup dan gelisah karena sekarang giliran Hasna yang setor hafalan. Yang tadinya di awali dengan setor hafalan ibunya. 

"Ayo Hasna. Giliran Hasna sekarang." Ucap Ayah. 

"Hmm... anu yah. Hasna nggak pernah murojaah." Ucap Hasna dengan jujur. Agar hatinya bisa sedikit tenang. 

Mendengar hal itu. Ayah Hasna hanya diam sambil memandang Hasna. 

"Terus tadi saat ayah lagi keluar sama ibu. Hasna kerjain apa aja?" Tanya Ayah. 

"Baca novel pasti ya?" Sambung Ibu. 

Karena di serang dua pertanyaan. Mau tak mau Hasna harus jujur dengan semua yang ia lalukan hari ini. 

"Iya bu, yah. Hasna tadi keasikan baca novel sama wp. Jadi nggak sempat murojaah." Akhirnya terjawab sudah. Ibu dan ayah Hasna hanya bisa menggelengkan kepala dan merasa sedikit kecewa. Karena apa yang mereka sampaikan tak di indahkan oleh Hasna. 

"Hasna, ayah mau tanya. Menurut Hasna, apakah novel bisa membantu Hasna di hari akhir nanti??" 

Hasna yang menundukkan kepala hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala karena tak berani membuka suara ketika ayahnya sedang berada di mode ini. 

"Lantas kenapa Hasna mengabaikannya." Ucap Ayah. 

"Maaf yah. Hasna Khilaf yah." 

"Hasna bisa janji nggak sama Ayah, untuk tetap murojaan. Dan membaca Al-Qur'an. Inget ya Hasna.

Orang yang terus rutin membaca Al-Qur'an maka lisannya akan ringan mengucapkan dan mudah membacanya, jika dia menjauhinya maka berat dan sulit baginya untuk membacanya. 

Maka Janganlah kamu meninggalkan Al-Qur'an.

[Syarifah Sarah Ruqayah Al Attas] 

Jangan pernah meninggalkan Al-Qur'an ya sayang." Ucap Ayah panjang lebar. 

"Iya Ayah. Hasna Janji." 

Sesi murojaah pun selesai. Dilanjutkan dengan shalat isya, karena waktu isya telah tiba. 

Setelah itu, dilanjutkan dengan makan bersama. Kaheningan pun menyapa mereka. Dan setelah makan. Ayah angkat bicara. 

"Hasna inget selalu nasihat yang tadi ya!" Ucap Ayah. 

"Insyaallah yah. Hasna juga janji nggak akan mengulangi kesalahan yang sama." 

"Jangan hanya berjanji, tapi lakukan, laksanakan, dan buktikan semua ucapan Hasna." Jelas Ayah. Hasna hanya mengangguk dan merasa dirinya serba salah. Karena telah mengecewakan kedua orangtuanya. 

Setelah sesi makan selesai, Hasna pun pamit menuju kamarnya. 

"Yah, bu. Hasna istirahat dulu." 

"iya nak. Langsung tidur ya. Jangan baca novel. Biar besok nggak ngantuk disekolah." Ucap Ibu. 

"Iya, Hasna ke kamar dulu." 

Hasna masih memikirkan perkataan Ayahnya tadi. Semua itu ada benarnya. Ia sekarang sudah berjanji akan tetap membaca al-Qur'an. Dan tetap murojaah hafalan sebagai bentuk taatnya kepada Allah swt. 

Setelah merenung. Hasna lekas istirahat karena esok akan ada hari yang baru. Dan suasana yang baru. Dengan skenario yang berbeda.

Part 7

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah kata 757

-Day 7

 

Pagi ini adalah hari ahad. Hari dimana semua pelajar merasakan kebebasan yang hakiki. Bebas bangun di jam berapapun, tanpa adanya gangguan dari alarm yang selalu berbunyi di jam enam tepat. Kebebasan itu pun dirasakan oleh Hasna. Hari ini rencananya Hasna hanya akan menghabiskan waktunya dirumah dengan membantu Ibunya membersihkan rumah.

 Hari ini dirumah hanya ada Hasna dan Ibunya. Sedangkan Ayah Hasna hari ini sedang berada di pondok pesantren milik kakeknya, karena pesantren kakeknya akan mengadakan acara kajian akbar. Yang akan dilaksanakan pada hari jumat yang akan datang. Acara itu sudah menjadi tradisi. Disetiap bulannya akan ada kajian akbar yang bersifat umum. Acara itu bukan hanya untuk santri yang ada di pesantren itu saja, tetapi juga untuk masyarakat umum, untuk semua orang. Orang bebas untuk ikut kajian akbar itu tanpa ada biaya apapun.

 Kembali ke rumah Hasna. Kali ini Hasna dan ibunya berbagi tugas. Hasna membersihkan ruang tamu dan kamar kamar yang ada dirumah. Sedangkan ibunya membersihkan dapur dan kamar mandi.

 Bersih bersih pun dimulai. Hasna tampak semangat membersihkan bagiannya. Karena ia ingat bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Dengan ceria, Hasna menyapu lantai sambil melantunkan surah An-naba’ yang alhamdulillah hari ini sudah hafal setengah dari surah itu. Tinggal memahami isi dan makna yang ada didalam surah itu.

 Sementara ibu Hasna masih fokus dengan bagiannya. Membersihkan dapur dengan keheningan. Tanpa ada musik musik yang tak seharusnya di dengarkan. Bagi ibunya Hasna, cukup suara murojaah anaknya yang ia jadikan sebagai pengganti musik.

 Beberapa menit telah berlalu, mungkin bisa dikatakan sudah satu jam lebih acara bersih bersih pun selesai. Tiba tiba terdengar suara mobil yang sangat Hasna kenal. Yaitu mobil ayahnya.

 “Assalamu’alaikum bidadari-bidadari.” Ucap ayah Hasna

 “wa’alaikumussalam.” Ucap ibu Hasna

 “wa’alaikumussalam yang mulia raja.” Ucap Hasna sambil mencium tangan ayahnya. Ayah Hasna merespon dengan tawa halus.

 “waah lagi ngapain nih?” tanya ayah.

 “lagi bersih bersih nih yah.”jawab Hasna

 “eh duduk dulu, ngobrolnya sambil duduk aja.” Kata Ibu.

 Merekapun duduk dan melanjutkan perbincangan yang tadi sempat tertunda. Perbincangan demi perbincangan terjadi. Sampai tiba waktu ba’da zuhur. Hasna, Ibu dan Ayahnya lekas mengambil wudhu guna untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat islam.

 Setelah shalat, giliran Hasna untuk setor hafalannya.

 “Ayo Hasna.” Ucap Ayah

 “ iya yah.” Jawab Hasna.

 Setor hafalan dimulai, Hasna mengaji dengan hati-hati sambil mengingat ayat ayat yang ia baca. Ayat demi- ayat dibaca Hasna. Dan Alhamdulillah, akhirnya Hasna menghafal setengah dari surah itu. Ayah yang menyimak pun merasa bangga dengan pencapaian Hasna.

 “Alhamdulillah, ayah bangga sama Hasna.” Ucap ayah sambil tersenyum

 “alhamdulillah.” Ucap ibu juga, mengikuti apa yang ayah ucapkan, saking bangganya dengan Hasna.

 “nanti tinggal melanjutkan setengah lagi. Semangat ya anak ayah.” Ucap Ayah menyemanngati Hasna. Hasna yanng disemangati begitu merasa sangat bahagia, hati tentram dan tak bisa di definisikan dengan kata kata mutiara lainnya.

 “Iya Ayah.. aaaa sayang ayah dan ibu.” Hasna langsung memeluk kedua orangtuanya. Orangtua Hasna pun membalas pelukan tak kalah eratnya.

 Setelah sesi pelukan, merekapun mengakhiri sesi setor hafalan. Dilanjutkan dengan makan siang bersama dan dalam keadaan hati yang bahagia.

 

*********

            Malam pun tiba, malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Karena malam ini Hasna dan kedua orangtuanya melaksanakan shalat magrib dan isya di musholla yang ada di perumahan griya. Dikarenakan malam ini akan ada kajian dengan tema yang sangat bangus untuk remaja. Yaitu berhijrah, .dan menutup aurat. 

Hasna menyimak semua yang disampaikan oleh ustadz yang mengisi kajian itu. Kajian kajian itu berisikan semua jawaban atas kegundahan Hasnya. Kata kata yang menampar bagi Hasna. Ada banyak hal yang bisa dikutip oleh Hasna dari kajian itu, kata-kata yang membuat Hasna tersadar itu berbunyi.

Hijrah di jalan Allah itu bukan hanya berubah, berpakaian syari’I, berhijab besar saja. Tapi hijarah karena Allah itu adalah ketika kita bisa mengendalikan hati dan fikiran, hawa nafsu agar tidak tabbaruj, denngan memiliki rasa malu. Menanamkan rasa malu pada diri sendiri. Menutup aurat itu wajib. Menutup aurat dan menjaga iffah, izzah dan marwah sebagai muslimah. Namun banyak yang menyepelekan hal menutup aurat, mengumbar umbar kecantikan dengan berselfie ria. Lalu di posting di dunia maya. Sungguh miris keadaan yang sekarang ini. Jadi marilah untuk akhwat akhwat di luar sana. Jagalah auratmu, jagalah iffah dan izzahmu. Sungguh itu lebih baik, dan janganlah kau menyeret kedua orangtuamu ke neraka dan janganlah menambah dosa jariyahmu. Untuk yang sedang berusaha istiqomah. Semoga Allah memudahkan kita dan melindungi kita . (kutipan kata mutiara islaml)

Setelah selesai kajian. Hasna selalu kefikiran dengan kajian tadi. Dan ia berharap semoga bisa menjaga iffah dan izzah yang di terangkan ustadz tadi. Sesampainya dirumah. Hasna lebih banyak merenung, dan orangtuanya pun tak berani mengganggu anaknya yang sedang memikirkan semua hal yang di sampaikan pas ustadz.

           

 

Part 8

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah kata 751

-Day 8 

 

Hari senin, hari paling ditunggu oleh siswa siswa teladan, dan hari yang paling di benci oleh siswa yang malas sekolah. 

 

Pagi ini Hasna diantar ayahnya ke sekolah. Dikarenakan hari ini jadwal mengajar ayahnya kosong. Jadi Ayah Hasna lebih leluasa untuk mengantar jemput Hasna hari ini. 

 

Sesampainya di sekolah, Hasna langsung berpamitan dengan ayahnya. 

 

"Yah. Hasna masuk dulu ya." Ucap Hasna sambil mencium tangan ayahnya. 

 

"Iya sayang, belejar yang bener ya." Ucap ayah. 

 

"Siap komandan." Hasna menjawab ucapan ayahnya sambil hormat dan terkekeh. 

 

Hasna lekas turun dari mobil dan melangkah masuk ke sekolah, lalu mencari ruang kelas yang selama ini selalu ia tempati untuk menuntut ilmu. 

 

****** 

 

Seeampainya di kelas. Suasana kelas nampaknya sedang dalam keadaan yang sangat sangat ramai. Ada yang sedang bergosip ria, ada yang main teka teki silang, bahkan ada juga yang sedang melamun,yang entah itu melamunkan apa. 

 

Hasna yang baru datang pun langaung duduk di bangkunya, guna untuk menaruh tas yang ia bawa. 

 

Bel waktu upacara pun berbunyi. Semua murid berhamburan keluar untuk melaksanakan upacara bendera. 

 

Lalu dari arah pintu kelas, terlihat dua sahabat Hasna, yaitu Dita dan Deby, beserta dua orang yang selalu menjadi bodyguard mereka. Siapalagi kalau bukan Alvin dan Ridho. 

 

Dita dan Deby pun menghampiri Hasna. 

 

"Eh Hasna. Yok otw lapangan." Ucap Dita. Hasna yang di ajak, hanya menjawab dengan senyum dan anggukan. 

 

Dita merasa aneh dengan sahabatnya. Tumben sekali sahabatnya ini tidak heboh seperti biasanya. 

 

"Jujur, aku tuh males upacara. Panas, lama aih," ucap Deby. 

 

"Eh jangan gitu. Kita upacara juga untuk mengenang jasa para pahlawan. Jangan banyak omong. Cepet ke lapangan." Ucao Dita yang langsung menarik kedua tangan sahabatnya itu. Hasna yang ditarik tangannya pun hanya bisa pasrah. 

 

Di lapangan terlihat barisan kelas sudah rapi semua. Hasna pun berbaris di barisan kelasnya. Lalu tak sengaja Hasna melihat Fiyan yang ada di barisan sebelah. Fiyan tersenyum kepada Hasna. Lalu dibalas senyuman lagi oelh Hasna. 

 

Upacara pun dimulai dan dalam keadaan yang khidmat. 

 

***** 

 

Bel istirahat beebunyi.

Hasna lekas mengambil novel yang ia bawa. Saat ini ia ingin membaca novel. Minimal lima lembar saja. 

 

Melihat Hasna yang akan keluar kelas. Dita dan Deby langsung mencegah Hasna untuk keluar. 

 

"Eitss.. mau kemana ituu?" Tanya Deby. Hasna yang ditanya masih enggan untuk menjawab. Tanpa basa basi Hasna langsung melewati kedua sahabatnya itu. Dita yang bingung pun hanya bisa menyimpulkan pasti Hasna ada masalah. Namun mereka berdua tak berani bertanya lebih banyak. 

 

Sesampainya di taman. Hasna langsung duduk di tempat yang sepi, tempat yang menjadi andalannya ketika sedang membaca novel. 

 

Hasna pun asik membaca novel. Sampai beberapa menit kemudian. Tiba tiba ada seseorang yang duduk di dekat Hasna. Hasna yang merasakan ada orang di dekatnya pun langsung menjeda bacaannya. Dan lekas menengok ke samping. 

 

Betapa kagetnya Hasna. Ternyata orang itu adalah Fiyan. Fiyan yang melihat Hasna pun langsung memasang senyum manisnya. 

 

"Kamu kok sendiri?" Tanya Fiyan. 

 

"Biasa." Jawab Hasna sambil menunjuk novel yang ia baca. Fiyan yang melihat ke arak tangan Hasna pun hanya mengangguk paham. 

 

"Aku lanjut baca dulu." Sambung Hasna lagi. Fiyan pun mengangguk dan meninggalkan Hasna sendirian ditaman. 

 

Dan selang beberapa detik, bel masuk pun berbunyi. Hasna bergegas masuk untuk mengikuti kelas selanjutnya. 

 

******

Tepat saat azan zuhur berkumandan. Hasna pergi ke mushollah sekolah. Karena sekolahnya selalu melaksanakan shalat berjamaah. 

 

Deby dan Dita pun sama. Mereka berdua menghampiri Hasna dan berjalan beriringan dengan Hasna. Tanpa adanya   percakapan yang sering mereka lakukan. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. 

 

Dan sesampainya di musholla. Hasna langsung wudhu, di ikuti oleh Dita dan Deby. 

 

Shalat berjamaah pun dimulai.

Shalat kali ini di imami oleh guru agama yang mengajar di kelas Hasna. 

 

Shalat pun berjalan dengan khusyuk sampai selesai. 

 

**** 

 

Waktu pulangpun tiba. Hasna langsung keluar kelas, dan betaps senangnya Hasna ketika melihat mobil ayahnya sudah terparkir rapi di dekat parkiran sekolah. 

 

Hasna lekas berlari menghampiri ayahnya. 

 

"Assalamu'alaikum ayah." Sambil mencium tangan ayahnya. 

 

"Wa'alaikumussalam. Masuk yuk. Kasihan Ibu sendirian di rumah." Ucap Ayah yang hanya di jawab anggukan oleh Hasna. 

 

Merekapun pergi meninggalkan sekolah. 

 

Sesampainya dirumah. Hasna langsung berlari ke dalam rumah untuk mencari ibunya. 

 

Dan akhirnya Hasna menemukan ibunya yang saat ini sedang santai di ruang keluarga. 

 

Dengan jahilnya Hasna mendekati ibunya secara diam diam. Dan 

 

"IBU!!!" 

 

"Aa... astaghfirullahalazim. HASNAAAA!!" 

 

ayah yang ikut terkejut pun langsung menghanpiri dua orang yang ia sayangi. 

 

"Ada apa ini?" Tanya Ayah. 

 

"Ini loh Hasna ngagetin aja." Jawab Ibu. 

 

Ayah yang mendengar itu hanya geleng kepala. Sedangkan Hasna terus terusan memohon maaf kepada ibunya. Yang alhamdulillah di maafkan. 

 

Setelah berbincang ria di ruang keluarga. Akhirnya Hasna berpamitan ke kamar, guna untik mengistirahatkan badannya karena terlalu lelah di sekolah.

Part 9

2 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 1.012

-Day 9

 

Sore harinya, setelah melaksanakan shalat ashar. Hasna keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah novel keluaran terbaru. Saat keluar kamar, Hasna melihat kerdua orang tuanya sedang mendiskusikan sesuatu. Namun diskusi itu terhenti karena orang tua Hasna melihat Hasna berjalan kearah mereka.

 “waah lagi omongin apaan nin?” tanya Hasna sambil duduk di dekat Ibunya.

 “Anak kecil nggak boleh kepo.” Ucap Ayah dengan memasang muka jenaka. Hasna yang dijawab begitu hanya cemberut dan memasang muka kesal. Kebiasaan ayah Hasna selalu memancing esmosi eh emosi Hasna. Untung saja Hasna termasuk orang yang pandai memendam. Tapi Hasna tau kalau ayahnya hanya bercanda saja.

 “eh udah, ayah jangan gitu sama anaknya. Ayah tau kan Hasna itu kalau lagi kesel tuh mukanya kayak orang sok imut.” Ucap ibu menegur ayah. Hasna yang mendengar itu langsung menoleh menghadap ibunya. Ibu seketika merinding dengan tatapan Hasna.

 “ih udah ih… aku di goda mulu ya. Sebell.” Ucap Hasna semakin kesal. Sedangkan orang tuanya hanya bisa tertawa lepas. Karena telah berhasil mengerjai anaknya. Sesi cemberut Hasna terhenti karena ia teringat tujuan ia menghampiri orang tuanya itu untuk apa.

 “tuh kan, gara gara di gangguin mulu. Hasna jadi lupa tujuan Hasna samperin ayah sama ibu.”

 “jangan salahin ibu ya. Salahkan ayahmu saja. Ibu Cuma ikut kode kodean ayah.” Ucap ibu membela diri. Ayah yang mendengar ucapan istrinya pun ikut menjawab.

 “lah kok salahin ayah. Kan ibu ikutan tanpa perintah dari ayah. Ayah juga nggak pernah ngasi kode apapun sama ibu.” Ucap ayah membantah apa yang di jelaskan ibunya Hasna. Melihat perdebatan ini, Hasna hanya diam menjadi penonoton. Beryukur bisa nonton sinetron di dunia nyata, fikir Hasna.

 “Lah ayah tadi kasi ibu kode loh.” Ucap Ibu lagi.

 “eh mana ada. Nggak ya.” Jawan ayah lagi.

 “ih beneran tadi ada kode kodean loh. Ayah mah ngeles biar nggak disalahin sama Hasna.” Ucap ibu yang terus membela diri.

 “lah nggak pernah.”

 “pernah.” Ucap ibu

 “nggak.”

 “pernah.”

 “ngg--.”

 “udah ih jangan debat terus. Inget loh yah, bu. Berdebat itu harus di hindari.” Nasihat Hasna. Kedua orang tuanya pun mengangguk anggukan kepala mengerti, sambil saling menunjuk.

 “nah bener tuh. Ayah juga baru inget.” Ucap Ayah saat sadar akan ke khilafannya. Ibu pun demikian. Ia juga baru ngeh bahwa yang ia lakukan dengan suaminya itu seharunya tak ia lakukan.

 “ini awal masalahnya tuh karena Hasna.” Ucap Ayah.

 “lah.. kok karena Hasna sih.” Ucap Hasna cemberut.

 “siapa suruh sih masang cemberut begitu. Gara gara itu, sifat jahil ayah muncul sendiri.” Jawab ayah. Hasna yang merasa di salahkan pun membela diri.

 “itu mah salah ayah sendiri, jangan salahin Hasna. Hasna dari tadi cuma diem doang.”

 Dan diujung perdebatan, Hasna kembali mengingat tujuannya yang sempat ia lupakan (lagi). Tanpa basa basi lagi. Hasna langsung izin untuk keluar rumah.

 “Yah, Bu. Hasna izin keluar bentar ya.”

 “ngapain?” tanya ayah.

 “izin baca novel ke taman perumahan.”

 “yaudah sana. Tapi inget waktu ya. Sebelum magrib, udah ada dirumah.” Ucap ayah, mengizinkan Hasna pergi.

 Hasna langsung mencium tangan kedua orang tuanya dan langsung bergegas menuju taman, dikarenakan waktu yang terus berjalan.

 Hasna berjalan keluar dari pintu rumah. Berjalan santai sambil menikmati ciptaan Allah yang sangat sempurna. Bergitu indahnya cintaan Allah, begitu besar nikmat yang Allah berikan, namun banyak yanng tak bersykur dengan apa yang diberikan Allah kepada kita.

Sungguh banyak dan besarnya nikmat itu. Namun manusia selalu lupa mengucapkan syukur. Terkadang juga kita selalu tersadar bahwa apa yang telah Allah berikan itu lebih baik dengan apa yang kita harapkan. Tapi kurangnya rasa syukur membuat hati kita buta akan nikmat yang Allah berikan. Semoga kita tetap ingat untuk selalu mengucap syukur dan semoga nikmat hidayah itu selalu menghampiri kita.

Kembali ke topik. Hasna akhirnya sampai di taman. Hasna langsung mencari tempat duduk yang paling jauh dari keramaian. Setelah menemukan yang ia inginkan. Hasna langusung duduk di kursi yang ada disana dan membuka novel yang ia bawa.

Setelah sepuluh menit membaca novel, dari kejauhan muncul seorang laki laki yang sangat Hasna kenal. Laki laki itu menghampiri Hasna, sambil membawa sebuah kamera yang kelihatannya masih baru dan mahal.

Ckrek..

Bunyi itu membuyarkan kefokusan Hasna. Hasna pun menoleh dan melihat siapa orang yang memotretnya.

“eh tumben.” Ucap Hasna terkejut dengan kedatangan orang itu.

“iya nih. Mumpung lagi lagi adem ademnya.” Ucap seseorang itu.

“waah kamera. Harga berapa tuh fiyan.” Yap orang yang menghampiri Hasna adalah Fiyan.

“nggak tau. Hadiah dari kakek aku. Bagus kan?” tanya Fiyan yang di jawab anggukan dan mata berbinar oleh Hasna.

Percakapan demi percakapan pun dilakukan keduanya. Dan Hasna pun di jadikan objek foto oleh Fiyan. Entah sudah berapa puluh foto yang di ambil Fiyan dengan kamera yang ia bawa.

Sampai beberapa menit kemudian, hp Hasna tiba tiba berderingg, dan tertera nama ayah Hasna. Dengan cepat Hasna menjawab panggilan itu.

“asslamu’alaikum ayah.”

“wa’alaikumussalam. Baca novelnya udah selesai?” tanya ayah.

“udah kok yah. Nih Hasna mau siap siap pulang.”

“yaudah, hati hati dijalan. Jangan aneh aneh, ntar disangka orang gila.” Ucap ayah sambil terkekeh di seberang sana. Hasna memasang wajah cemberut yang membuat Fiyan langsung mengambil foto dengan ekspresi Hasna yang lucu itu. Sedangkan Hasna tak sadar bahwa dirinya di potret lagi. Setelah selesai menelpon ayah. Hasna langsung berpamitan dengan Fiyan.

“Fiyan, aku pamit dulu ya, udah di telpon sama komandan.”

“oke oke. Hati hati.” Jawab Fiyan

Setelah itu, Hasna pun meninggalkan taman yang mulai sepi. Karena waktu hampir memasuki ba’da magrib.

********

 Sesampainya dirumah. Hasna lekas masuk dan melihat ibu yang sedang menunggunya.

 “assalamu’alaikum bu.”’ Ucap Hasna sambil mencium tangan ibunya. Lalu ibu mencium kening Hasna. Hasna pun ikut duduk di samping ibunya. Namun rasa rasanya ada yang kurang.

 Dan ya, Hasna tersadar bahwa tidak ada ayahnya di rumah.

 “Ayah mana bu?” tanya Hasna

 “ tadi ayah pergi ke pondok, tadi kakek telpon kalau di pondok ada hal yang penting.”

 “hmm.. gitu ya. Yaudah bu. Hasna ke kamar dulu, sekalian nunggu waktu magrib.” Ujar Hasna

 “yaudah. Inget jangan sampai telat shalatnya.” Peringatan dari Ibu untuk Hasna.

 “iya bu.” Ucap Hasna sambil berlalu meninggalkan ruang keluarga. Sesampainya di kamar. Hasna langsung menyimpan novel yanng tadi ia bawa ke taman. Dan tak lama, azan pun berkumandang. Hasna lekas mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat islam yang taat.

 

 

 

 

Part 10

2 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah kata 632

-Day 10

 

 Tepat pukul delapan malam. Suasana rumah terlihat sunyi, tak ada satupun aktifitas yang dilakukan. Biasanya jam segini pasti di ruang keluarga ada suara suara orang yang berbicara di tv. Dengan membawakan sebuah berita update tenntang keadaan di sekitar.

 Hasna yang awalnya berada di kamar, karena merasa bosan, Hasna membuka pintu dan mengamati sekitar. Ternyata sedang sepi. Karena merasa takut, Hasna pun pergi mencari ibunya yang masih berada di kamar.

 Tok.. tok.. tok

 Hasna terus terusan mengetuk pintu, sampai pintu itu terbuka dan terlihat ibunya yang masih menggunakan mukenah. Ibu Hasna membuka pintu sambil memasan wajah galak, padahal tidak terlihat galak. Malah terlihat imut dimata Hasna.

 “Pft.. ibu ngapain masang muka galak begitu?” tanya Hasna sambil menahan tawanya. Merasa dirinya di tertawakan. Ibu Hasna langsung membuang pandangannya. Ia enggan memandang Hasna yang sedang menahan tawa. Karenatak kuat menahan tawa. Akhirnya tawa Hasna pun pecah. Sampai sampai air matanya juga ikut keluar.

 “Ketawanya jangan berlebihan. Ingat Asy-Syaikh Shalih al-Fuzan hafizhahullah pernah berkata ‘Termasuk perkara yang akan mengeraskan hati adalah banyak bercanda, tertawa, terlalu gembira, dan banyak main main. Maka wajib atas seorang muslim untuk mewaspadai perkara perkata ini.’ (Al- Khutbah al-Mimbariyyah, jilid 2 halaman 78).

 “iya bu, iya. Hasna nggak ketawa lagi dah.” Jawab Hasna karena nasihat ibunya sangat menyinggungnya. Jadi mau bagaimana lagi. Ia juga harus mematuhi apa yang di ucapkan ibunya.

 “Bu, ayah mana?” tanya Hasna.

 “Ayah belum pulang. Kenapa?”

 “Biasa Bu, Kangen gitu.”

 “alaah kangen. Pas Ayah dirumah, kalian berantem mulu.” Ucap Ibu, terkekeh dengan jawab Hasna. Sedangkank Hasna hanya mengalilhkan pandangan dengan malas.

 Setelah memanggil ibunya. Hasna pun mengajak ibunya untuk bersantai di ruang keluarga. Sambil menunggu kepulangan ayahnya. Sesampainya diruang keluarga. Tiba tiba perut Hasna berbunyi.

“Nah, itu perut kok suaranya gede banget.” Ibu merasa kaget dengan suara perut Hasna.

“Hehe… laper Bu.” Ucap Hasna sambil memegang perutnya yang tadi berbunyi dengan keras karena ingin di isi.

“Yudah sana makan dulu.” Ucap Ibu menyuruh Hasna.

 “temenin.” Dengan menampakkan mode imutnya. Hasna meminta untuk ditemani, karena ia takut pergi ke dapur sendirian.

 “Pergi sendiri aja. Ibu tunggu disini deh. Ibu nggak kemana mana kok.” Ucap ibu guna menenangkan da menetralkan ketakutan Hasna. Namun, itu tidak memapan. Hasna masih saja meminta untuk ditemani ke dapur yang jaraknya tak jauh dari ruang keluarga.

 “Ayo bu, ayooo.” Ucap Hasna sambil menarik narik tangan ibunya. Dengan kesal, Ibu Hasna langsung berdiri dan meninggalkan Hasna menuju dapur. Hasna yang kelewatan senang pun langsung mengejar ibunya.

******

 Sesampainya di sapur, Hasna langsung menyiapkan segala perlengkapan makanya. Ia hanya makan seorang diri. Karena Ibunya sudah makan setelah shalat magrib.

 Saat tengah asik makan. Tiba tiba dari luar rumah, terdengan suara mobil yang sedang di parkir. Dan pikiran Hasna tertuju pada suara mobil itu. Yang sangat Hasna kenal. Karena itu adalah mobil ayahnya.

 Dengan sigap, Hasna menoleh ke arah jam. Ternyata sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. ‘Tumben ayah pulangnya jam segini’ gumam Hasna.

 Mengetahui sang suami telah pulang. Ibu berrgegas menuju pintu depan, guna unutk menyambut suami tercintanya.

 “Assalamu’alaikum.” Ucap Ayah yang berdiri dengan gagahnya di depan pintu.

 “wa’alaikumussalam.” Jawab ibu sambil mencium tangan suaminya. Dan dibalas dengan cium di kening oleh suami gagahnya itu.

 “Hasna udah tidur?” tanya Ayah.

 “nggak, dia lagi makan.” Ayah yang mendengar itu hanya mengangguk dan lekas menghampiri Hasna yang sedang asik makan.

 “Hasna, kok belum tidur?” tanya Ayah.

 “Sekarang tidur kok yah. Tapi Hasna habisin makanan dulu.” Jawab Hasna.

 “Ayah kok telat banget pulangnya. Nggak biasanya ayah pulang jam segini.” Lanjut Hasna yang merasa heran dengan jam pulang Ayahnya.

 “itu, lagi banyak banget kerjaan di pesantren.” Jawab Ayah, yang di tanggapi anggukan oleh Hasna.

 Tak lama kemudian, Hasna pun telah selesai menyantap makan malamnya. Setelah membereskan bekas makannya. Hasna langsung pamit menuju kamarnya, guna untuk mengistirahatkan badannya. Karena besok pagi Hasna harus bangun lebih pagi dikarenakan besok Hasna piket.

 

 

 

 

Part 11

2 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 933

-Day 11

 

 Hasna tiba tiba terbangun. Ia merasa ada sesuatu yang membangunkannya. Ia mengamati sekitar, melihat lihat apakah ada sesuatu yang aneh. Tapi ternyata tak terlihat apapun di kamar itu. Tak terlihat hal hal aneh.

 Hasna langsung mencari handphonenya. Dan melihat jam, ternyata masih jam tiga pagi. Hasna terheran heran. Entah kenapa ia selalu terbangun di waktu yang sama. Entah itu jam dua atau jam tiga pagi. Hal itu berlangsung setiap harinya.

 Karena bingung ingin melakukan apa jam segini. Hasna pun membuka aplikasi video. Saat sedang melihat lihat video yang ada. Tiba tiba Hasna terhenti di sebuah video yang menerangkan tentang shalat tahajud. Hasna terus fokus mendengarkan potongan video dari Ustadz Hanan Attaki. Karena rasa penasarannya. Akhirnya Hasna membuka aplikasi yotube dan mencari scannel Ustadz Hanan. Satu demi satu ia lihat judul judul video Ustadz Hanan. Dan Hasna penasaran tentang penjelasan shalat Tahajud.

 Dan Hasna memahami bahwa shalat tahajud atau biasa di sebut shalat malam atau shalat sepertiga malam. Shalat tahajud hukumnya sunah. Para Ulama mendefinisikan sunah adalah jika dilakukan mendapatkan pahala, jika tidak dilakukan tidak mendapat siksa atau tidak apa apa. Meninggalkan shalat tahajud sama saja dengan melewatkan pahala yang besar, keutamaan dan hikmah yang luar biasa. Jelas sekali bahwa meninggalkan shalat tahajud adalah sebuah kerugian. Begitu menyesalnya dan ruginya kita jika meninggalkan shalat tahajud.

 Setelah memahami sedikit tentang tahajud. Dengan sigap Hasna pergi mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud. Karena Hasna tak ingin merasakan kerugian karena tak shalat tahajud.

 Shalat tahajud pun telah selesai di kerjakan Hasna. Tak lupa pula Hasna berdoa. Mendoakan kedua orang tua, mendoakan suadara saudara dan doa doa lainnya. Hasna lalu memlihat jam. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul empat lebih. Hasna berfikir sekalian saja ia menunggu waktu subuh. Hasna pun kembali ke atas kasur, memainkan handphone sambil menunnggu waktu subuh tiba.

******

 Azan subuh pun terdengar. Dengan cepat Hasna memmatikan handphonenya karena dianjurkan untuk menjawab seruan azan. Dan saat azan dikumandangkan kita dianjurkan untuk memberhentikan kegiatan kita disaat azan masih terdengar.

 Setelah azan selesai di kumandangkan. Hasna lekas keluar dari kamar, untuk shalat berjamaah di musholla rumahnya. Saat membuka pintu. Hasna di kejutkan dengan keberadaan ibunya yang berdiri di depan pintu dengan pose orang yang ingin mengetuk pintu.

 “Lah.. baru aja mau ibu ketuk.”

 “tenang Bu, Hasna yang cantik jelita ini sudah bangun.” Dengan terkekeh dan menggandeng tangan ibunya untuk melanjutkan langkah ke tujuan utama mereka. Yaitu musholla. Sesampainya di mushola. Hasna melihat ayahnya sudah menunggu di musholla. Dan Hasna heran, tumben hari ini ayahnya tidak ke masjid perumahan.

 “Eh tumben cepet bangunnya.” Ujar ayah bingung dan kaget melihat Hasna yang sudah siap dengan mukenahnya. Biasanya ia sekarang masih mengambil wudhu dan berjalan gontai ke musholla.

 “alhamdulillah dong Yah. Kan ibu jasdi nggak capek bangunin Hasna.” Ucap Hasna.

 “Bagus. Dipertahankan ya.’ Ujar Ayah. Yang di jawab anggukan serta senyuman oleh Hasna.

 Shalat subuh berjamaah pun mereka laksanakan dengan penuh ke khusykan.

******

 Tepat pukul enam pagi. Hasna bersiap siap untuk sekolah. Buku buku ia masukkan, jilbab ia rapikan. Tak lupa memakai jaket, karena suasana hari ini lebih dingin dari hari hari sebelumnya.

 Setelah di rasa sudah siap. Hasna lekas keluar menuju meja makan untuk sarapan bersama kedua orangtua nya.

 Kali ini tidak ada perdebatan perdebatan yang terjadi antara Hasna dan Ayahnya. Suasana hening dan hanya terdengar dentingan sendok dan jam dinding yang ada di ruang makan.

 Setelah selesai makan. Hasna pun berangkat dan diatar oleh ayahnya. Dijalan hanya keheningan saja. Hasna maupun Ayahnya sama sekali tak membuka suara. Setelah dirasa sampai tujuan. Hasna pun berpamitan.

 “Hasna masuk dulu Yah.”

 “Yaudah, inget jangan bandel.” Ujar ayah sambil mengarahkan tangannya kepada Hasna. Hasna langusung mencium tangan Ayahnya.

 “Assalamu’alaikum”

 “Wa’alaikumussalan.” Jawab ayah dan langsung melajukan mobilnya ke arah tujuan selanjutnya.

 Hasna berjalan santai menuju kelas. Dari kejauhan terlihat Dita dan Deby yang berlari tergesa gesa menghampiri Hasna. Melihat kedua sahabatnya yang berlari kearahnya. Hasna langsung berlari menghindari mereka berdua. Dita dan Deby yang melihat itu pun menghentikan larinya. Dan memasang muka cemberut.

 Sesampainya di kelas. Hasna langsung duduk dan mengambil novel yang ia bawa di tas. Lalu tak lama kemudian, Deby dan Dita menghampiri Hasna yang sedang membaca novel.

 “Hasna jahat banget sama kita.” Ucap Deby yang di setujui oleh Dita.

 Sedangkan Hasna yang di kira jahat hanya mendengus dan tetap fokus dengan bacaannya. Merasa di abaikan, Dita dan Deby langsung merebut paksa novel yang ada ditangan Hasna. Yang membuat Hasna badmood.

 “Balikin nggak novelku.” Ujar Hasna meminta secara baik baik. Namun terlihat bahwa Dita dan Deby masih enggan untuk mengembalikan novelnya. Dengan perasaan yang tak bisa ditahan. Hasna langsung meninggalkan mereka berdua. Dita dan Deby yang merasa Hasna marah pun langsung menghampiri Hasna.

 Hasna yang terlihat berbelok ke arah perpustakaan itu tak luput dari penglihatan Fiyan. Dan Fiyan juga melihat di belakang Hasna ada kedua sahabat Hasna.

 Didalam perpustakaan, Hasna mencari bangku paling pojok untuk menetralkan perasaan badmoodnya. Dari arah pintu terlihat Dita dan Deby. Dan mereka menghampiri Hasna.

 “Hasna maaff.” Ujar Dita

 “Aku juga minta maaf. Nih novelnya.” Ujar Deby sambil mengembalikan novel yang tadi sempat ia rebut dari tangan Hasna.

 Hasna yang melihat novelnya pun langsung mengambilnnya dan melihat kearah dua sahabatnya itu. Lama lama Hasna merasa kasihan dengan raut wajah merasa bersalah mereka. Mau tak mau Hasna harus memaafkan mereka. Karena memberi maaf itu adalah pilihan yang tepat.

 “yaudah aku maafin.” Ucap Hasna sambil membuka novelnya lagi. Mendengar itu, Dita dan Deby terlihat senang. Dan langsung memeluk Hasna disana. Tapi untung saja keadaan perpustakaan sedang sepi sepinya.

 Setelah berpelukan, Dita dan Deby pun ikut membaca buku bersama Hasna. Dan aktifitas mereka pun terhenti karena bel masuk telah berbunyi. Dengan cepat mereka keluar dari perpustakaan dan berlari menuju kelas.

 

 

 

 

 

 

Part 12

2 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 1.020

-Day 12

 

Jam istirahat pun tiba. Semua siswa berhamburan keluar kelas untuk mengisi perut yang sudah meronta ronta sejak jam pertama. Begitu pun dengan Hasna dan kedua sahabatnya. Mereka jalan tergesa gesa menuju kantin, karena hari ini ada menu epic yang biasanya dibuat sebulan sekali. Jadi Hasna dan kedua sahabatnya tidak ingin kehabisan makanan epic itu.

 Sesampainya di kantin, dengan cepat mereka masuk dan berbaris untuk mengantri. Dan Hasna bersyukur dapat antrian ke tiga. ‘bisa cepet dapet nih’ pikirnya. Tak lama kemudian, giliran Hasna yang membeli menu epic.

 “Bi Kas, untuk menu ini bisa beli dua nggak?” kata Hasna sambil menghitung uang untuk membeli menu epic itu.

 “waduh nggak bisa, satu orang masing masing dapet satu. Tapi menu epic ini ada dua pilihan.” Ujar Bibi Kantin yang bernama Bibi Kas.

 “dua pilihan gimana Bi?”

 “menunya itu ada dua pilihan, yaitu mode normal dam mode jumbo. Kalau mau lebih puas makannya, Bibi sarankan untuk membeli yang jumbo aja.” Ujar Bibi menerngkan menu epic. Tanpa berfikir panjang. Hasna pun membeli menu epic mode jumbo.

 “yaudah Bi, saya beli yang mode jumbo aja.”

 “okeh, bentar Bibi bungkuskan.” Dengan sigap Bibi Kas membungkus pesanan Hasna. Setelah itu Hasna membayar menu epic tersebut. Setelah selesai membeli menu epic, tinggal giliran Dita dan Deby yang mengantri. Hasna yang sudah mendapatkan menu epic, ditugaskan untuk mencari tempat duduk yang strategis. Hasna terus melihat lihat sekitar kantin untuk mendapatkan tempat duduk yang strategis.

 Tak lama kemudian, Hasna akhirnya menemukan tempat yang cukup strategis. Yaitu di dekat musholla sekolah. Hasna pun menunggu kedua sahabatnya disana. Sesekali Hasna melirik ke arah Dita dan Deby. Ternayata mereka masih mengantri untuk membeli menu epic.

 Hasna yang merasa kesepian, langsung mengeluarkan handphonenya guna untuk melanjutkan bacaan wattpadnya. Saking fokusnya membaca. Sampai sampai Hasna tak menyadari keberadaan Fiyan. Yang entah kapan duduk di dekatnya.

 “Emang menu epic itu enak banget ya?” Hasna yang mendengar suara yang familiar itu pun langsung menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya Hasna melihat Fiyan yang sudah duduk di dekatnya.

 “aih, bikin kaget aja.” Orang yang dimaksud hanya tertawa ringan.

 “ya maaf, maklumi aja sih.” Ujar Fiyan sambil melirik Hasna yang kembali fokus dengan bacaannya. Dan dari kejauhan, terlihat Dita dan Deby datang menghampiri Hasna. Namun meraka datang dengan pasangan mereka masing masing.

 “hey maaf lama.” Ujar Dita sambil duduk di kursi yang masih kosong, dan di ikuti Ridho yang duduk di samping Dita. Dilanjutkan lagi dengan Deby yang duduk berdekatan dengan Alvin.

 Melihat sahabatnya sudah lengkap semua. Akhirnya mereka pun makan menu epic bersama. Tak lupa mereka membagi menu epic itu agar bisa di santap oleh Fiyan, Ridho dan Alvin.

 Setelah makan, Dita masih sempat sempatnya memeriksa jam. Dan ternyata waktu istirahat tinggal lima belas menit lagi.

 “Waktu tinggal 15 menit nih. Kita mau ngapain?” tanya Dita.

 “kita diem aja disini. Nonton orang yang lalu lalang.” Ujar Hasna sambil fokus dengan handphone nya.

 “Ih bosen tau. Masa Cuma nontonin orang lewat doang. Gimana kalau kita main apa gitu. Main game online. Mabar” Ujar Deby dengan girangnya dan di setujui oleh Alvin, Dita dan Ridho. Sedangkan Fiyan Hanya diam menyimak.

 “Nah, bener tuh kata Eby. Kita mabar aja.” Sambung Alvin yang di setujui Ridho.

 “kalian main aja. aku duluan ke kelas.” Hasna langsung beranjak pergi meninggalkan sahabat sahabatnya. Di ikuti Fiyan yang juga pergi kembali ke kelasnya. Sedangkan Dita, Deby, Alvin dan Ridho langsung login akun game online mereka. Sampai bel berbunyi dan mereka berpisah ke kelas masing masing.

******

 Setelah bergelut dengan kemacetan di siang bolong. Hasna akhirnya sampai di sebuah toko buku. Kali ini Hasna pergi bersama Fiyan karena Fiyan dengan sukarela memberikan tebengan untuk Hasna. Hitung hitung dapat pahala membantu orang kata Fiyan.

 “Akhirnya sampai.” Hasna langsung masuk ke toko buku tanpa menunggu Fiyan yang sedang melepas jaket yang ia kenakan. Dengan cekatan Hasna mencari novel yang sudah ia tulis judulnya di notes yang ada di handphonennya.

 Setelah satu jan berada di toko buku. Akhirnya Hasna memantapkan pilihannya untuk membeli novel dengan tema religi dan fiksi remaja. Dengan cepat Hasna pergi membayar buku itu. Fiyan yang menemani Hasna pun akhirnya membeli satu buku, buku sejenis komik yang sudah lama ia incar.

 Setelah membayar. Akhirnya mereka pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Karena terlalu lama di toko buku. Mereka sampai lupa untuk shalat ashar. Karena belum shalat, Fiyan mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata rata.

 Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah Hasna. Hasna langsung turun dan mengembalikan helm Fiyan yang di pinjam oleh Hasna.

 “Nggak masuk dulu?” tanya Hasna

 “Nggak usah deh. Aku belum shalat. Udah telat banget ini..” ujar Fiyan tak tenang karena belum shalat.

 “ yaudah kalau gitu. Aku masuk dulu.” Ujar Hasna yang diangguki Fiyan. Setelah Fiyan kembali melajukan motornya. Hasna langsung masuk ke dalam rumah. Dan bergegas ke kamar karena belum melaksanakan shalat asar.

 Setelah mengerjakan shalat. Hasna langsung menghampiri Ibunya yang sedang bersantai di ruang keluarga. Hasna langsung duduk di samping ibunya sambil mencium tanga Ibunya.

 “kok pulangnya telat?” tanya ibu.

 “Aa itu, tadi Hasna ke toko buku.”

 “cowok tadi siapa?” tanya Ibu

 “Itu temen Hasna Bu.”

 Baru saja ingin memberikan Hasna pertanyaan lanjutan. Tiba tiba pintu rumah terbuka dan terlihat ayah Hasna langsung duduk di ruang keluarga, nampak terlihat bahwa beliau akan menyampaikan sesuatu yang penting.

 “Salamnya mana ayah.” Tegur Hasna

 “Assalamu’alaikum”

 “Wa’alaikumussalam.” Jawab Hasna dan Ibunya.

 “Ayah kenapa? Kok buru buru begitu.” Ujar Ibu heran dengan suaminya. Nampak terlihat Ayah Hasna sedang mengontrol nafasnya. Dan setelah dirasa tenag. Ayah Hasna langsung angkat bicara.

 “Besok pagi kita ke rumah kakek, ke pesantren.” Ujar Ayah.

 “tapi yah, Hasna kan sekolah besok.” Ujar Hasna

 “Ayah udah telpon guru BK sama wali kelas Hasna. Dan Alhamdulillah beliau mengizinkan Hasna tidak mengikuti pelajaran selama dua hari.” Jelas Ayah dengan panjang lebar. Hasna yang mendengar itu pun hanya bisa pasrah mengikuti kemauan ayahnya.

 “yaudah sekarang siapin barang barang yang mau di bawa.” Ujar Ayah. Hasna dan Ibunya lekas menyiapkan barang barang dan segala perlengkapan yang akan di bawa menginap ke rumah kakeknya Hasna.

 Setelah di rasa sudah siap. Hasna pun memindahkan barang barang yang akan di bawanya ke dalam kamar kedua orang tuanya. Dan mereka hanya tinggal menunggu esok pagi untuk berangkat ke pesantren milik kakeknya Hasna.

 

 

 

Part 13

2 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 1.182

-Day 13

 

 Matahari masih belum muncul, namun di dalam rumah Hasna sudah terihat kesibukan demi kesibukan. Setelah shalat subuh. Semua anggota keluarga terlihat sibuk memindahkan berbagai macam barang ke dalam mobil. Setelah di rasa semua sudah lengkap. Ayah pun menghidupkan mobilnya.

 “Yah. Tas isi novel Hasna kok nggak ada?” ujar Hasna sambil melihat lihat barang barang yang akan dibawa keluarganya untuk keperluan selama dua hari di rumah kakeknya.

 “Ada tuh disitu. Kan tadi Hasna sendiri yang masukin ke dalam mobil.” Ujar Ayah. Hasna mendengus kesal karena tak menemukan apa yang ia cari. Satu demi satu barang di angkat dan di pindahkan oleh Hasna. Ibu yang melihat itu langsung menghentikan kegiatan Hasna.

 “Eh kok di pindahin lagi itu. Kan udah rapi tadi.” Ujar ibu merasa jengkel dengan Hasna yang dari tadi tak henti hentninya memindahkan barang yang sudah berada di posisi yanng tepat.

 “Maaf Bu, Hasna Cuma mau nyari tas isi novel novel yang udah Hasna pilih.”

 “Tas novel yang mana? Ibu nggak pernah lihat kamu bawa tas isi novel.” Ujar Ibu.

 “Coba cek di kamar sana. Siapatau ketinggalan.” Sambung Ibu. Hasna langsung bergegas menuju kamarnya. Dan benar dugaan ibunya. Bahwa tas berisikan novelnya ternyata ada di atas ranjangnya. Dengan cepat Hasna berlari menuju mobil karena ayah sudah memanggil namanya dari tadi. Setelah mengunci pintu rumah, Hasna langsung masuk ke dalam mobil lalu menaruh tas tadi di dekatnya.

 “Gimana? Udah ketemu?” tanya Ibu sambil menoleh ke belakang, tepatnya ke tempat Hasna duduk sekarang.

 “Alhamdulillah udah Bu. Tadi ketinggalan di atas ranjang.” Ujar Hasna cengengesan.

 Mobil keluarga Hasna pun perlahan lahan meninggalkan perkarangan rumah. Sebelum itu, mereka menyempatkan diri untuk berdoa agar mereka terlindungi, merasa aman dalam perjalanan dan sampai tujuan dengan selamat.

 Keluarga Hasna berangkat pada pukul enam pagi. Di dalam mobil tak ada percakapan percakapan. Di dalam mobil hanya terdengar suara murotal, lantunan surah surah, dari juz satu sampai juz ke tigapuluh.

 Hasna melirik jam tangannya ternyata jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Masih butuh waktu lima belas menit lagi untuk sampai di rumah kakeknya. Karena merasa ngantuk. Hasna memanfaatkan waktu perjalanan ini untuk mengunjungi mekkah melalui mimpi.

 Sementara itu di tempat lain yaitu di sekolah. Sekarang sudah memasuki jam pertama. Dita dan Deby terheran heran. Tumben Hasna belum datang sampai sekarang. Dita membuka handphonenya, berharap ada satu pesan dari Hasna. Namun semuanya nihil. Tak ada satu pun pesan dari Hasna.

 “Hasna mana sih, kok nggak nongol nongol?” ujar Dita.

 “Jin kali nongol. Bahasanya di koreksi dong bund.” Balas Deby.

 “Bentar lagi guru killer masuk, aku takut Hasna kena hukuman.” Kata Dita sambil memasang wajah kasihan kepada Deby. Deby yang tadinya fokus memilih buku pelajaran perlahan mengalihkan perhatiannya dan menatap Dita. Dita pun merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan.

 “Coba telpon Hasna deh.” Ucap Dita dan langsung mendial nomer Hasna. Namun sayangnya nomer Hasna sedang tidak aktif. Berkali keli Dita mencoba menghubungi Hasna. Namun jawabannya tetap sama ‘nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan’. Itulah kata mbak mbak operator saat Dita berkali kali mencoba menelpon. Dita ingin mencoba sekali lagi. Tapi tak bisa ia lakukan karena guru killer tiba tiba sudah berada di depan pintu kelasnya dan langsung masuk begitu saja.

 “Selamat pagi semuanya.”

 “Pagi Bu.” Ucap semua penghuni kelas.

 “Sekarang keluarkan buku kalian. Kerjakan latihan soal halaman 59. Jangan ada yang kerjasama. Kalau sampai Ibu temukan ada yang kerja sama, jangan berharap dapat nilai dari saya.” Ucap Bu killer membuat semua penghuni kelas tak berani berbuat apa apa. Percuma merayu rayu. Bu killer sangat membenci rayu rayuan. Waktu demi waktu berlalu.. eeaa berlalu. Kembali ke mode waras. Beberapa menit berlalu. Jam pelajaran Bu killer akhirnya selesai. Di gantikan pelajaran selanjutnya. Tak terasa waktu istirahat pun tiba.

 Di kantin, Dita dan Deby makan bersama kedua kekasih hatinya. Saat mereka sedang asik dengan adegan romatic. Dari kejauhan Fiyan datang menghampiri mereka.

 “Woy. Tumben kurang personil.” Ucap Fiyan sambil duduk di dekat Ridho.

 “nggak tau tuh Hasna. Tiba tiba hilang tanpa kabar. Serasa di ghosting aku.” Ucap Deby dengan dramatis. Mereka yang melihat Deby seketika merinding dan di dominasi perasaan yang aneh. Namun lain halnya dengann Alvin. Ia merasa tersindir dengan apa yang di ucapkan Deby.

 “Alaaah malah curhat si eneng.” Ucap Dita yang dibalas kekehan dan gelak tawa dari mereka yang ada di kursi itu kecuali Alvin tentunya.

 “eh btw, aku minta nomer Hasna dong.” Pinta Fiyan kepada kedua sahabatnya.

 “nih.” Ucap Dita sambil menyodorkan ponselnya dan di sambut dengan senyum merekah oleh Fiyan. Setelah beberapa menit. Akhirnya bel masuk berbunyi. Merka pun bubar kembali ke habitat masing masing.

******

 Kembali ke Hasna. Mobil yang tadinya melaju akhirnya berhenti karena telah sampai tujuan dengan selamat. Ibu menoleh ke belakang dan terlihat Hasna yang masih nyenak tertidur. Dengan berat hati, Ibu Hasna membangunkan Hasna dari mimpi indahnya.

 “Hasna bangun.” Ucap ibu sambil menggoyang goyangkan tangan Hasna. Hasna yang merasa ada yang menyentuhnya pun langsung terbangun dan langsung mengubah posisinya yang awalnya berbaring diganti dengan posisi duduk. Hasna masih duduk mengumpulkan nyawanya. Sementara kedua orang tuanya sedang memasukkan satu demi satu barang barang yang ada di mobil.

 Setelah dirasa sudah kuat untuk berjalan. Akhirnya Hasna masuk ke dalam rumah kakeknya. Namun Hasna sedikit risih karena menjadi sorotan disana. Banyak santri dan santri wati yang terus terusan melihat Hasna. Dengan cepat Hasna langsung masuk ke rumah kakeknya.

 Di dalam rumah, tiba tiba muncul neneknya bersama kakeknya. Hasna langsung mencium tangan dua orang yang sangat ia rindukan. Karena terhitung sudah tiga tahun tidak pernah bertemu dengan kakek dan neneknya. Nenek yang sangat merindukan cucunya itu langsung memeluk Hasna dengan erat. Setelah itu Hasna di bawa ke ruang keluarga.

 “ apa kabar sayang?” tanya nenek.

 “Alhamdulillah Hasna baik nek. Nenek gimana?”

 “Alhamdulillah baik juga.”

 “Hafalan kamu gimana?” kini giliran kakek yang bertanya. Hasna tiba tiba blank. Bingung harus menjawab apa. Saat sedang memikirkan jawaban. Tiba tiba Ibu Hasna duduk dan menjawab pertanyaan dari kakek dan nenek.

 “Hafalan masih belum dapet satu juz.” Ucap ibu menjawab pertanyaan kakek dan nenek. Hasna merasa keberadaannya kali ini sangat meresahkan. Hasna melirik ke arah kakek dan neneknya. Terlihat kakek dan neneknya terdiam dan tak tau mau berkata apa. Namun tiba tiba kakek bertanya lagi.

 “kok belum satu juz?”

 “Anu kek, gara gara novel.” Jawab Hasna sambil menunduk tak berani melihat wajah kakeknya. Kakek yang merasa cucunya takut pun mengakhiri sesi tanya jawabnya. Dan langsung memeluk cucu kesayangannya itu.

 “Kakek nggak marah sama Hasna. Hasna nggak usah takut. Kakek nggak makan manusia. Kakek masih doyan makan daging sapi. Kakek cuma mau bilang satu hal sama Hasna. Hasna boleh mendalami hobi Hasna. Boleh sekali, tapi ingat juga sama al-Qur’an ya sayang. Jangan pernah lupakan al-Qur’an, kitab suci umat islam.” Hasna yang mendengar itu entah kenapa tiba tiba mengeluarkan air mata. Merasakan bajunya basah. Kakek lantas melepas pelukan dan menghapus air mata cucunya.

 “Cucu kakek jangan nangis. Kakek sedih loh liat Hasna nangis.” Ucap kakek. Sementara yang lain hanya menjadi penonton saja. Kakek terus terusan menghibur Hasna sampai Hasna berhenti mengeluarkan air mata. Selang beberapa saat kemudian. Azan zuhur berkumandang. Kakek dan Ayah Hasna langsung berangkat ke masjid yang ada di pesantren. Sedangkan Hasna, Ibu dan Neneknya shalat di rumah.

Part 14

2 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 834

-Day 14

 

 Malam pun tiba. Di rumah kakek Hasna nampak terlihat berbagai kesibukan kesibukan. Ada yang menyiapkan sound sistem, ada yang membersihkan pesantren, membersihkan taman pesantren, menambahkan hiasan hiasan pelengkap di masjid pesantren dan masih banyak lagi kesibukan kesibukan yang lainnya.

 Saat ini terlihat banyak santri yang bergotong royong dalam mempersiapkan segala keperluan untuk besok malam. Malam kajian akbar yang sudah sering di adakan oleh pesantren. Hasna juga ikut membantu ibu dan neneknya membersihkan rumah dan merapikan tempat duduk juga.

 Setelah rumah dirasa rapi. Hasna, Ibu dan neneknya pun ikut mempersiapkan segala keperluan di masjid pesantren. Masjid sekarang terlihat sangat rapi. Rak rak di pindahkan ke sebuah ruangan yang Hasna tau bahwa itu ruangan yang penuh dengan buku buku agama milik kakeknya.

 Hasna masuk ke dalam ruangan itu, disana terlihat bermacam macam buku, bahkan ada Hadist dan fiqih. Hasna masih terkagum kagum dengan isi ruangan. Ingin sekali rasanya membaca semua buku yang ada di sana. Hasna terus mengelilingi ruangan itu. Sampai ia tak menyadari bahwa ada dua gadis yang memperhatikannya dari tadi. Kedua gadis itu adalah santriwati yang sedang mengenyam pendidikan di pesantren milik kakeknya.

 Dengan hati hati, kedua gadis itu menghampiri Hasna dan menepuk pundak Hasna.

 “AAA….” Hasna langsung teriak kaget. Secara spontan kedua gadis itu memberi isyarat agar Hasna diam. Merasa di beri isyarat, Hasna langsung mengikuti kata kedua kadis itu.

 “Kalian siapa?” tanya Hasna.

 “oh iya belum kenalan ya. Aku Salsa.” Ucap salah satu gadis itu, sambil menampilkan senyuman dengan sopannya.

 “dan kamu?” tanya Hasna lagi.

 “aa… aku Anisa. Panggil aja Ica.”

 “Oke oke. Kok kalian di sini?” tanya Hasna.

 “Karena bagian kami itu, membersihkan ruangan ini. Terus kamu ngapain disini?” tanya Ica

 “Aku Cuma penasaran aja. pengen tau koleksi buku kakek aku.”

 “HAA? KAKEK?” teriak Ica dan Salsa karena kaget. Ternyata did epan mereka ini adalah cucu pemilik pesantren yang banyak di bicarakan oleh santri santri di sini.

 “eh kok teriak.” Ucap Hasna terkekeh.

 “Gimana nggak teriak. Kita kan kaget.” Ucap Salsa dan di setujui oleh Ica. Hasna yang mendengar itu Hanya tertawa. Ada ada saja santri di sini.

 Setelah berbincang bincang dan ikut membersihkan ruangan itu. Hasna, Ica dan Salsa pun keluar dari ruangan. Dan lekas ikut membersihkan ruangan lain dan mendekorasi masjid.

 Waktu berjalan sekitar beberapa menit kemudian. Akhirnya segala persiapan sudah selesai. Semua santri kembali ke asrama masing masing. Hasna pun demikian. Ia bergegas kembali menuju kediaman kakeknya. Hasna mencari cari keberadaan ibunya. Namun nihil. Dengan kesal Hasna jalan sendiri menuju kediaman kakeknya. Namun Hasna merasa risih karena selalu jadi sorotan para santri. Dengan cepat Hasna berlari ke kediaman kakeknya agar para santri tidak melihatnya dan tidak membicarakannya.

 Sesampainya di depan kediaman kakeknya. Hasna langsung masuk dan mencaei Ibunya. Setelah menemukan Ibunya yang sedang duduk minum di ruang tamu. Hasna langsung menghampirinya.

 “Ih ibu. Kenapa ninggalin Hasna.” Dengan kesal dan cemberrut. Hasna duduk di dekat ibunya dan membuang muka karena kesalnya.

 “salamnya mana. Kok Ibu nggak denger salam. Malah langsung marah marah.” Hassna yang baru sadar kalau ia lupa mengucap salam pun langsung berdiri menuju pintu dan mengucap salam.

 “Assalamu’alaikum Ibuu.”

 “wa’alaikumussalam, nah bagus. Begitu dong.” Ucap Ibu sambil menahan tawanya.

 Tiba tiba dari arah pintu, terlihat kakek, nenek dan ayah Hasna. Mereka langsung duduk di ruang tamu. Ibu yang melihat mereka datang pun langsung menyiapkan minuman dan cemilan.

 Perbincangan perbincangan dilakukan disana. Sampai waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Hasna yang merasa ngantuk pun berpamitan kepada mereka untuk pergi tidur. Setelah di izinkan. Hasna lekas pergi menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Kamar yang dulunya ada milik bibinya yang sekarang berada di Aceh, karena beliau menikah dengan orang Aceh.

 Hasna yang melihat kasur empuk pun langsung merebahkan badannya yang sudah lelah. Baru saja ingin menutup mata. Tiba tiba handphone Hasna berdering. Hasna lekas menoleh dan heran. Kenapa nomer asing. ‘Nomer siapa ini.’ Gumamnya. Karena sangat penasaran. Akhirnya Hasna mengangkat panggilan itu.

 “Assalamu’alaikum.”

 “Wa’alaikumussalam.”

 ”ini siapa ya.?” Dari seberang telpon. Hasna mendengar helaan nafas kesal dari si penelpon.

 “suara sahabat sendiri nggak di kenal ya?” ucap orang di seberang sana.

 Hasna masih memikirkan ini suara siapa. Dan Hasna pun mengingatnya. Ternyata ini Fiyan. Orang yang tiba tiba jadi baik padahal nggak mau jadi baik.

 “AA….maaf Fiyan. Soalnya nomer asing sih. Makanya aku nggak tau kalau ini tuh kamu.” Ucap Hasna cengengesan.

 “yaudah gapapa. Eh kamu dimana sih? Kok nggak masuk sekolah?” tanya Fiyan

 “oh itu. Aku udah izin sama sekolah. Kalau aku nggak masuk sekolah selama tiga hari.”

 “Lah emangnya mau ngapain? Kenapa nggak sehari aja?”

 “Disini banyak yang mau di kerjain. Dan besok juga acaranya. Besok setelah acara kalau langsung pulang kasihan ayah yang capek. Takutnya nanti kenapa napa di jalan.” Jelsa Hasna panjang lebar.

 “Ya juga sih, oh ya. Kamu di cariin sama temen bar bar mu itu.. eh sahabatmu maksudnya. Cepet kabarin sana.” Ujar Fiyan.

 “iya sekarang. Eh udah dulu ya. Aku udah ngantuk.” Ucap Hasna.

 “Oke. Inget kabari mereka. Assalamu’alaikum”

 “wa’alaikumussalam.”

 Setelah panggilan selesai, Hasna langsung mengabari kedua sahabatnya. Sekalian juga menyimpan nomer Fiyan. Seterah dirasa semua selesai. Hasna langsung berlayar menuju mimpi yang indah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Part 15

2 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 774

-Day 15

 

 

 Tok..tok..tok..

 “Hasna, Bangun tahajjud nak.”

 Tok..tok..tok..

 “Hasna.”

 “Hasna cucu nenek. Bangun sayang.” Karena tak terdengar suara dari dalam. Ibu dan nenek berinisiatif untuk masuk ke dalam kamar Hasna. Merekapun masuk bersama. Di atas ranjang, terlihat Hasna yang masih terbalut selimut tebal berwarna pink yang di hiasi gambar hello kitty. Hasna terlihat sangat nyenyak. Entah sekarang mimpinya sudah sampai mana. Entah mekkah atau madinah.

 “Hasna, bangun nak.” Ucap Ibu sambil melepaskan selimut Hasna. Sedangkan nenek tugasnya menggoyang goyangkan badan cucunya.

 “Hasna ayo bangun.” Dengan semangat, nenek terus terusan menggoyangkan badan Hasna. Hasna pun membuka mata. Namun dia Hanya mengubah posisi tidurnya. Yang awalnya menghadap kanan malah berpindah ke arah kiri.

 Melihat hal itu, ibu hanya menghela nafas. Nenek yang memperhatikan itu hanya mampu tersenyum dan maklum karena dulu ayah Hasna juga sama seperti Hasna. Nenek Hasna merasa sedang bernostalgia. Mengingat ngingat bagaimana dulu ia membangunkan anaknya yang jahilnya masyaallah sekali.

 “Hey cucu nenek yang paling cantik. Ayo shalat tahajjud dulu.” Ucap nenek sambil mengelus kepala Hasna yang tak terbalut hijab. Dengan pelan dan halus, nenek membangunkan Hasna. Namun tak ada pergerakan dari Hasna.

 Ibu dan nenek pun memikirkan berbagai cara untuk membangunkan Hasna. Mereka masih fokus memikirkan dengan cara apa untuk membangunkan Hasna. Tiba tiba ide jahil muncul di otak nenek Hasna. Beliau pun lansung membisikkan taktik itu kepada ibu Hasna. Dan sangat di setujui dan didukung oleh Ibu Hasna.

 Rencana jahil mereka pun di mulai.. denan pelan ibu mulai meniup telinga Hasna yang sebelah kanan. Terus berulang ulang. Sampai Hasna pun kesal dibuatnya.

 “ih ibu.”kesalnya. sementara dua perempuan tadi, yang tak lain adalah ibu dan nenek hanya tertawa dan bahagia karena berhasil membangunkan Hasna.

 “kamu sih. Nggak bangun bangun.” Ujar nenek sambil menahan tawanya.

 Dengan kesal, Hasna beranjak dari ranjang dan pergi mengambil wudhu. Karena dirasa sudah menyelesaikan rencana. Ibu dan nenek Hasna langsung keluar dari kamar Hasna dan menunggu Hasna di musholla rumah kakeknya.

 Tak lama. Hasna pun datang dan mereka pun melaksanakan shalat tahajjud bersama. Sampai ba’da subuh tiba. Lalu mereka shalat subuh berjamaan di masjid pesantren. Di masjid, Hasna bertemu dengan Ica dan Salsa. Mereka pun sama sama di shaf ke dua. Suasana disana nampak sangan khusyuk dan damai. Tak ada satu pu orang yang membuat kebisingan.

 Setelah shalat tadi, Hasna, nenek dan ibunya pergi menyiapkan berbagai macam makanan untuk acara yang akan di adakan di pesantren. Semua orang nampak sibuk menyiapkan tempat duduk di luar masjid juga. Guna untuk menampung jamaah jamaah yang tak kebagian tempat duduk di dalam masjid.

 Waktu terus berjalan. Sampai mereka pun tiba di waktu acara itu akan di mulai. Di lingkungan pesantren nampak terlihat ramai. Hasna dan sekeluarga bergegas masuk ke masjid dan duduk di shaf pertama. Namun ia tak satu shaf dengan ayah dan kakeknya. Karena akhwat dengan ikhwan tempat duduknya di pisahkan.

 Kajian pun di mulai. Ustadz yang diundang mulai menyampaikan materi materi kajiannya. Hasna pun mendengarkannya sambil merekam apa yang di katakan oleh ustadz tersebut.

 “Hijrah itu apa? Ada yang tau apa itu hijrah?” tanya ustadz. Para peserta kajian tak ada yang menjawab. Lalu ustadz pun menjawab sendiri pertanyaan tersebut.

 “Hijrah itu artinya bebrpindah. Arti berpindah disini adalah berpindah dari keburukan menuju kebaikan. Hijrah untuk siapa? Hijrah untuk semua manusia karena berubah menjadi diri menuju kebaikan itu wajib.

Dosaku banyak. Bagaimana bisa aku hijrah? Bisa pasti bisa. Karena sejatinya kita pasti bisa melakukan semuanya. Namun di sini kita terlalu sering dikalahkan oleh musuh kita. Siapa musuh kita? Bukan orang kain. Melaikan diri kita sendiri.

Jika ditanya bagaimana cara atau langkah awal untukk hijrah? Jawabannya yaitu dengan memperbaiki shalat. Karena shalat adalah ibadah yang pertama akan di hisab dan seperti yang kita tau. Bahwa shalat ada tiang agama. Selain shalat. Apa lagi yang harus dilakukan? Perbaiki diri, dengan cara memperbanyak belajar dan mendalami ilmu agama kita. Agar kita tau apa aja sih yang harus di lakukan.

Semudah itu, Allah memang tak menjanjikan semua itu berjalan dengan mudah. Pasti akan ada bumbu bumbu penyedap di perjalanan hijrah kita. Tapi percayalah, akan ada jalan untuk setiap hamba Nya yang mau berusaha.” Jelas ustadz. Hasna dan lainnya pun merasa termotivasi dan merasa mereka saat ini ingin berhijrah. Walau memang sulit di bagian istiqomahnya. Namun itulah tantangannya, istiqomah berhadiah syurga.

 Setelah kajian selesai. Hasna langsung pergi ke kamar. Di kamar, Hasna merenungi isi kajian. Dan Hasna memantapkan diri untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Merasa dirinya sudah mengantuk. Hasna pun bergegas mengambi wudhu. Karena ustadz tadi bilang, alangkah baiknya kita berwudhu dulu, baru tidur. Hasna pun bergegas ke kamar mandi dan mulai berwudhu. Setelah selesai berwudhu akhirnya Hasna pun merebahkan badan menghadap kanan dan membaca doa. Lalu ia pun meluncur ke mekksh melalui jalur mimpi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Part 16

66 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 513

-Day 16

 

 Pagi hari ini, Hasna sedang mengamati kegiatan kegiatan si asrama santri putri. Hasna sekarang berada di taman pesantren. Ia masih merenungi dan memikirkan isi kajian tadi malam. Ia masih mencoba untuk mencerna semua hal yang di sampaikan ustadz. Akal mencoba untuk memahami, sedikit demi sedikit. Dan akhirnya Hasna pun mulai mengerti. Ternyata sangat penting untuk bermuhasabah diri. Menjadikan diri menjadi seorang muslimah yang lebih baik lagi.

 Hasna akhirnya bertekat untuk berhijrah. Menjadikan dirinya sebagain seorang muslimah yang lebih baik lagi, menjadi seorang muslmah yang insyaallah akan selalu taat menjalankan perintah Allah swt.

 Hasna masih terus memikirkan apa yang akan ia lakukan agar tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Hasna terus berpikir. Sampai sampai ia tak menyadari bahwa Ica dan Salsa sudah berada di dekatnya. Dan…..

 Dor!!

 “Allahuakbar, astaghfirullah.” Kaget Hasna sambil memegang dadanya. Dengan cepat Hasna menoleh ke belakang. Ternyata disana terlihat Ica dan Salsa. Hasna mengehela nafas dengan kesal karena mereka. Sedangakan pelakunya hanya tertawa karena berhasil membuat si korban terkejut.

 “ih kalian ngagetin aja,.” Ucap Hasna dengan kesalnya. Ica dan Salsa yang capek berdiri pun akhirnya duduk di samping Hasna. Dengan menghapit Hasna di tengah.

 “kamu tuh menghayal terus. Nggak capek apa?” tanya Salsa.

 “iya nih. Kesambet apaan. Ntar bisa ketempelan.” Sambung Ica. Hasna langsung memukul lengan Ica. Sekate kate dia bilang begitu. Dia nggak tau gimana galaunya Hasna memikirkan semua isi kajian tadi malam.

 “Ketempelan apaan? Ketempelan tompel?” tanya Hasna sambil mendengus kesal.

 “ yaa nggak gitu neg cantik. Jangan dengerin ke recehan si Ica. Emang nggak jelas dia mah.” Ujar Salsa. Sedangkan Ica yang jadi topik pembicaraan hanya bisa pasrah an sesekali melotot menghadap Hasna.

 “eh btw. Kok kalian ada di taman. Emangnya nggak ada pelajaran?” tanuya Hasna yang heran kenapa ada dua orang aneh yang notabenenya adalah temannya itu, aneh dan bingung kenapa mereka bisa muncul di taman. Padahal sekarang bukan hari libur. Emang aneh dua orang ini.

 “yaa ada sih. Tapi sekarang lagi di tugasin untuk mengamati sekitar aja.” ujar Salsa menjawab pertanyaan dari Hasna. Hasna yang mendengar itu hanya menjawab ‘oo’ saja.

 Banyak hal yang mereka bicarakan. Sampai akhirnya kedua orang itu harus kembali ke kelas karena waktu pengamatan sudah selesai. Alhasil kali ini hanya ada Hasna sendiri di taman itu.

 Saat sedang asik sendiri. Tiba tiba perhatian Hasna teralihkan oleh suara dering handphone yang ada di saku rok Hasna. Dengan cepat Hasna mengambil handphonenya. Di layar Handphone itu terlihat nomor dari sahabatnya yang ada di sekolah. Siapa lagi kalau bukan Dita dan Deby.

 “heyoo apaa kaps.” Ucap Dita dan Deby di seberang sana.

 “wa’alaikunussalan.” Ucap Hasna. Dita dan Deby yang mendengar pun hanya cengengesan.

 “kamu jahat ya sama kita. Nggak pamitan sama kita.” Ucap Deby.

 “Iya tun. Jahat banget.” Sambung Dita.

 “maaf maaf. Kemarin itu nggak ada waktu untuk main handphone. Sibuk banget.”

 “yaudah deh gapapa. Terus kapan pulang?” tanya Deby.

 “insyaallah hari ahad.”

 “oke deh. Yaudah. Aku sama Deby pamit dulu. Udah mau masuk jam selanjutnya. Assalamu’alaikum.”

 “wa,alaikumussalam.”

 Hasnya pun mematikan handphonenya. Setelah dirasa keadaan tambang panas karena sudah masuk waktu siang. Akhirnya Hasna kembali ke rumah kakeknya. Dan beristirahat sejenak, sambil menunggu waktu shalat tiba.

 

 

 

 

 

 

Part 17

55 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 785

-Day 17

 

 Setibanya di rumah kakek. Hasna langsung masuk dan melihat lihat keadaan. Ternyata tak ada orang di rumah itu. Kakek yang sibuk mengajar, ayah pun sama halnya dengan kakek. Ibu jam jam segini masih ada di pasar, mungkin masih ada di jalan sekarang. Sedangkan nenek, mungkin ia ikut ke pasar bersama nenek. Alhasil sekarang rumah sepi. Tersisa Hasna sendirian di rumah yang luas itu.

 Sepi dan mencekam. Itulah yang dirasakan oleh Hasna. Padahal rumah itu ada di lingkungan pesantren yang ramai dengan para santri dan santriwati. Namun Hasna masih saja merasa kesepian.

 Hasna melirik ke arah jam. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Hasna merasa seperti ada yang sedang memperhatikannya. Dengan cepat Hasna menuju kamarnya. Untuk mengurangi rasa takutnya. Hasna menyalakan handphonenya dan membuka aplikasi nonton video singkat di pint.

 Saat asik asiknya menonton video singkat. Hasna merasa penasaran dengan sebuah video yang menampilkan tentang shalat duha. Baru kali ini Hasna menngetahui tentang adanya shalat yang dinamakan shalat duha selain shalat tahajud.

 Di dalam video itu menerangkan bahwa. Di antara keutamaan shalat dhuha, bisa mempermudah urusan setiap muslim. Sebagaimana pelajaran dari Hadist dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghotofaniy. Beliau mendengar rasulaullah shalallahu’alaihu wa sallam bersabda. ‘Allah ta’ala berfirman : wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat rakaat shalat di awal siang (di waktu dhuha), maka itu akan mencukupimu di akhir siang.’ (HR, Ahmad 5:286; Abu Daud, no.1289, Tirmidzi, no.475; ad-Darimi, no.1451. Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menngatakan bahwa hadist ini shahih). Di dalam video juga menjelaskan bahwa ulama menerangkan bahwa beribadahlah hanya untuk Allah. Untuk lebih taat akan perintah Allah. Namun banyak yang salah. Mereka melakukan shalat dhuha seperti shalat wajib dengan alasan khawatir tidak ada rezeki. Ada juga yang lebih mengutamakan shalat duha namun ia meninggalkan shalat subuh. Jadi luruskan niat kita dari sekarang. Niatkan untuk dijadikan sedekah. Niatkan sebagai bentuk taat kita.

 Hasna pun mulai mengerti sedikit demi sedikit. Namun ia rasa masih kekurangan penjelasan. Hasna terus mencari penjelasan tentang shalat dhuha. Dalam sebuah riwayat, di jabarkan bahwa jika kita shalat dhuha dua rakaat, maka kita di catat bukan termasuk orang orang yang lalai. Jika shalat dhuha empat rakaat, maka kita di catat termasuk orang orang yang tawadhu’. Jika shalat dhuha enam rakaat, maka kita di catat termasuk oranng yang taat. Jika shalat dhuha delapan rakaat, maka kita di catat termasuk orang yang beruntung. Jika kita shalat dhuha sepuluh rakaat, maka tidak ditulis atas diri kita pada hari itu akan satu pun dosa. Jika shalat dhuha dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan kita satu rumah di surga-Nya.

 Hasna yang mulai memahaminya. Dan ingin sekali menjadi muslimah yang taat. Dengan perasaan yang tak bisa di definisikan. Hasna lantas melihat jam lagi. Dan alhamdulillah masih bisa melaksanakan shalat dhuha. Dengan cepat Hasna pergi mengambil wudhu dan melaksanakan shalat dhuha.

 Setelah shalat dhuha. Hasna menjadi lebih tenang dan tidak merasa takut. Dari arah ruang tamu, terdengar suara suara. Karena penasaran, Hasna lekas turun tanpa melepas mukenahnya sama sekali. Dengan hati hati Hasna melangkah menuju ruanng tamu. Saat sampai di dekat ruang tamu. Sumber sumber dari suara yang di dengar Hasna pun terlihat. Ternyata suara suara itu berasal dari keluarganya yang entah sedang membicarakan apa. Dengan rasa ingin tau yang sudah berada pada tingkat akut. Hasna langsung duduk di dekat Ibunya. Anggota keluarga yang tadinya mengoceh ngoceh tiba tiba diam. Tak ada yang mau membuka suara. Dan akhirnya Hasna pun membuka suara.

 “pada omongin apaan sih?”

 Tak ada yang menjawab pertanyaan Hasna. Dengan kesal Hasna memanyunkan bibirnya dan mengehela napas. Namun ia tetap mengajukan pertanyaan yang sama.

“lagi omongin apaan sih?”

“lagi omongin apaan sih?”

“lagi omongin apaan sih?”

“lagi omongin apaan sih?” tanya Hasna lagi, lagi dan lagi. Karena tak kuat mendengar pertanyaan yang sama. Akhirnya kakek pun menjawab pertanyaan Hasna yang bertubi tubi tadi.

“Lagi nggak omongin apa apa.”

“kakek bohong ih.” Ucap Hasna dengan kesal.

“jangan bohongi Hasna, kan kakek bilang nggak boleh bohong.” Ucap Hasna dan skak mat. Tak ada yang berani bebrbohong lagi.

“iya iya. Jadi gini. Kakek mau kalian tinggal di sini. Temenin kakek sama nenek disini.” Ucap kakek dengan jujur.

“terus kalau Hasna tinggal di sini. Gimana dengan sekolah Hasna.” Ujar Hasna bingung dengan nasib sekolahnya.

“sayang, Hasna kan bisa sekolah di pesantren kakek. Kamu juga udah punya teman kan disini.” Ujar nenek yang diangguki Hasna.

“tapi, tapi gimana. Ayah, Ibu. Gimana?” tanya Hasna

“kalau Ibu sama Ayah mah ngikut keputusan kamu aja.” ujar Ibu.

“gini aja. Hasna pikirkan dulu, nanti kalau sudah yakin. Langsung telpon kakek ya.” Langsung ditanggapi anggukan oleh Hasna. Mereka pun mengalihkan topik pembicaraan karena tak ingin Hasna pusing memikirkan masalah pindah rumah.

Perbincangan itu terus di lanjutkan sampai azan zuhur berkumandang. Merekapun memninggalkan ruang tamu dan melaksanakan shalat zuhur berjamaah di musholla rumah kakeknya.

 

 

Part 18

25 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 845

-Day 18

 

 Malam hari ini, tepat pada waktu ba’da isya. Hasna sekeluarga melaksanakan shalat isya di masjid pesantren. Kebetulan sekali Hasna satu syaf dengan kedua kenalannya yang sudah merangkap menjadi sahabatnya. Yang tak lain dan tak bukan adalah Ica dan Salsa. Hasna menggunakan mukenah putih dengan perpaduan kain batik dan potongan kain khas lombok. Sedangkan Ica dan Salsa menggunakan mukenah khas pesantren yang berwarna putih polos.

 Setelah azan berkumandang. Masjid mulai ramai dan penuh. Di syaf bagian ikhwan terisi penuh sampai sampai syaf akhwat harus berada di lantai dua masjid. Karena pesantren kakek Hasna ini sangat di incar incar oleh anak anak yang ingin menempuh pendidikan dengan sistem pesantren atau asrama. Bukan hanya karena fasilitas yang memadai dan terletak di daerah yang asri. Namun juga karena sistem mengajarnya yang luar biasa. Dan bukti buktinya banyak. Contohnya, lulusan lulusan dari pesantren ini alhamdulillah semuanya selalu sesuai dengan tujuan awal mereka masuk pesantren. Yaitu menjadi lebih paham akan hal hal yang selalu ditanyakan perihal agama. Dan juga banyak para alumni yang setelah lulusnya menjadi seoranng yang selalu berperan penting dalam lingkungannya. Bahkan lulusannya pun ada yang sampai lanjut ke mesir, melanjutkan pendidikan mereka disana.

 Setelah iqomah terdengar. Shalat isya pun di mulai. Semua terlihat khusyuk dengan shalatnya. Saat azan pun tak ada satupun yang terlihat mengobrol di dalam masjid. Betapa masyaallah nya itu. Betapa banyak pelajaran yang Hasna dapatkan disini. Dengan berbagai macam ilmu ilmu baru yang di dapatkan. Hasna semakin membulatkan tekatnya untuk berhijrah, menjadi pribadi yang baik, pribadi yang lebih taat akan perintah Allah SWT.

 Seusai shalat. Hasna berkumpul bersama santriwati lainnya. Untuk mengaji bersama, saling menyimak dan menegur jika memang ada kesalahan dalam bacaan, tajwid ataupun makhrajnya dan juga harakatnya.

 Ngaji dimulai dengan Salsa. Salsa membaca surah Ar-Rahman. Ar-Rahman memiliki arti yang Maha Pemurah. Terdapat pada ayat pertama surah Ar-Rahman. Surah ini menjelaskan tentang berbagai aspek kehidupan. Seperti Allah menciptakan segala sesuatu secara berapasangan. Allah menciptakan manusia yang nampak, dan menciptakan jin yang ghaib. Allah menciptakan langit dan bumi. Allah menciptakan darat dan laut. Itulah bukti bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan berpasangan. Dan di dalam surah Ar-Rahman ada ayat yang selalu di ulang ulang. Yaitu Fa bi-ayyi aalaa-I robbikumaa tukazzibaan. yang memiliki arti ‘maka nikmat tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?’

 Ayat itu mengingatkan kita pada setiap nikmat nikmat yang Allah berikan, nikmat yang tak bisa kita hitung. Entah berapa nikmat yang Allah berikan kepada kita. Ayat ini diulang sebanyak 31 kali. Ayat yang senantiasa mengingatkan kita agar selalu bersyukur atas semua hal dan semua nikmat yang Allah berikan dalam hidup kita.

 Setelah Salsa selesai, sekarang giliran Ica yang mengaji. Ia membaca surah Maryam. Surah yang terdiri dari sembilan puluh delapan ayat, tergolong ke dalam surah makkiyah karena surah ini diturunkan sebelum Rasulullah SAW hijrah ke madinah. Surah ini mengisahkan tentang Siti Maryam. Ibu dari Nabi Isa AS. Menceritakan tentang anugerah yang diterima Siti Maryam. anugerah berupa seorang janin dalam perutnya, yang tiba tiba ada tanpa pernah bersentuhan dengan laki laki. Hal itu adalah bukti kekuasaan Allah SWT. Dan ada banyak sekali kandungan dari surah ini untuk umat islam.

 Salsa pun selesai dengan ngajinya. Terus di lanjutkan dengan santriwati yang lain. Terus dan terus berlanjut. Sampai di akhir giliran Hasna. Hasna membaca surah Al-Waqiah. Surah Al-Waqiah menceritakan tentang bagaimana hari akhir (kiamat) itu akan terjadi, dan apa saja balasan bagi orang mukmin dan orang kafir.

 Selain tentang hari akhir. Surah ini juga menerangkan tentang penciptaan manusia, air, segala jenis tumbuhan yang ada dan menerangkan tentang kekuasaan Allah SWT. Serka akan adanya hari dimana kita akan di bangkitkan untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita lakukan semasa hidup kita.

 Tak terasa, kegiatan mengaji pun telah selesai. Hasna, nenek dan Ibunya pun meninggalkan masjid pesanten.bersamaan juga dengan para santriwati yang ingin pergi istirahat ke asrama masing masing.

 “Hasna, Ibu sama nenek duluan ya. Pasti ayah sama kakek udah nungguin di rumah.” Ujar Ibu sambil menggandeng lengan nenek.

 “Iya, Ibu sama nenek duluan aja. Hasna mau ngomong sama Ica dan Salsa dulu.” Ibu dan nenek pun meninggalkan Hasna setelah percakapan tadi. Hasna pun menyamakan langkahnya dengan Ica dan Salsa. Mereka yang menyadari keberadaan Hasna pun langsung mengajak Hasna berbincang ringan. Mereka bisa jalan bersama karena asrama mereka searah dengan rumah kakek Hasna.

 “Hasna, kamu sampai kapan di sini?” tanya Ica. Hasna masih bingung mau menjawab apa. Karena setaunya, besok ahad ia sudah balik ke rumah. Tapi karena permintaan kakeknya membuat Hasna selalu kepikiran.

 Merasa tidak di respon oleh Hasna. Ica pun menyenggol lengan Salsa. Sadar dengan kode yang di berikan oleh Ica. Salsa pun menepuk bahu Hasna untuk mengembalikan kesadarannya.

 “kasihan tuh Ica di kacangin. Kamu kenapa sih Hasna?” tanya Salsa juga.

 “Nggak kenapa napa sih. Cuma kepikiran aja. lagi mikirin sesuatu doang.” Ucap Hasna menjawab pertanyaan dua sahabat barunya.

 “Mikirin apaan sih. Aku jadi kepo.” Ujar Ica yang sama pemikirannya dengan Salsa.

 “Aku nggak bisa cerita sekarang. Insyaallah besok aku cerita. Kita ketemu di taman aja. besok kalian libur kan?” tanya Hasna. Dan diangguki oleh kedua gadis itu.

 Karena telah sampai di depan rumah kakek Hasna. Mereka pun berpisah disana dan masuk ke tempat istirahat masing masing.

 

 

 

 

Part 19

10 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah kata 1490

-Day 19

 

 Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Namun Hasna masih saja betah di tempat tidur. Tanpa ada niatan untuk bangun sama sekali. Jika ditanya apakah Hasna tidak shalat subuh? Jawabannya adalah ia sudah shalat tapi setelah shalat ia langsung tidur lagi. Dan meninggalkan sesi murojaah yang sering dilakukan sehabis shalat subuh.

 Hasna masih nyenyak tertidur, sampai sampai ia tak menyadari pintu kamarnya di buka oleh seseorang. Orang tersebut melangkah menghampiri ranjang Hasna. Orang tersebut melihat jam dan ternyata Hasna sudah terlalu lama tertidur. Takunya nanti Hasna bisa sakit kepala, pikir orang itu.

 Orang tersebut merapikan selimut Hasna yang sudah tergeletas di samping ranjang. Setelah merapikan selimut. Orang tersebut lalu membangunkan Hasna.

 “Hasna wakeup. Yuhuu.” Namun tak ada pergerakan sama sekali dari Hasna. Orang tersebut tidak pantang menyerah. Ia kembali melakukan aksinya. Ia lantas naik ke ranjang dan melompat lompat disana. “woyy…woyy.. bangun bangun bangun.”

 Sempat ada perggerakan dari Hasna. Tapi dia hanya mengubah posisi tidurnya saja. Dengan kesal orang tersebut melompat dengan keras dan sesekali menggoyangkan badan Hasna. “banguun bangun. Bangun woy bangun.” Ucap orang tersebut berkali kali. Orang tersebut masih melakukan hal yang sama. Sampai akhirnya Hasna pun terbangun karena merasa terganggu oleh teriakan demi teriakan seseorang.

 Perlahan Hasna membuka mata, mengubah posisinya yang awalnya berbaring menjadi terduduk. Hasna masih mengumpulkan nyawanya sambil mengucek matanya dan berdoa. Doa bangun tidur.

 Setelah merasa nyawanya telah terkumpul. Ia pun menoleh ke arah teriakan yang membuat ia terbangun. Dan betapa terkejutnya Hasna saat mengetahui bahwa orang yang bersuara seperti toa masjid itu adalah sahabatnya. Hasna langsung memeluknya karena sangat merindukan sahabatnya itu.

 “aaaa….. Deby, aku kangen.” Deby yang di belukpun membalas pelukan Hasna tak kalah eratnya. “iii samaa.. aku juga kangen tau.” Sesi pelukan mereka masih berlanjut. Sampai tiba tiba ada seseorang yang muncul dari arah pintu.

 “kayaknya ada yang lagi lepas kangen nih.” Ucap orang itu yang tak lain adalah neneknya Hasna.

 “hehe iya nek.” Ujar Deby yang mulali melepas pelukan merka tadi.

 “Hasna cuci muka dulu, lihat tuh ada pulau di pipi kamu.” Ujar nenek sambil menunjuk ke arah pipi Hasna. Hasna yang medengar itu dengan cepat memegang pipinya. Saat memegang pipinya ia tak merasakan sesuatu yang aneh. Ia terus mencari cari apa yang di ucapkan neneknya. Di satu sisi. Nenek dan Deby hanya bisa menahan tawanya.

 Tak lama. Hasna pun tersadar bahwa ia di kerjai oleh neneknya sendiri.

“Ih nenek mah gitu sama aku.” Dengan cemberut Hasna melangah menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya agar terlihat fresh.

 Setelah keluar dari kamar mandi. Hasna pun mengajak Deby ke taman pesantren dan disana terlihat Ica dan Salsa yang sudah menunggu Hasna. Dengan cepat Hasna menarik tangan Deby, dengan semangatnya ia sampai tak menyadari bahwa Deby dari tadi selalu tersandung namun alhamdulillahnya tidak sampai menyium tanah.

 Saat sampai di taman. Hasna langsung duduk di bangku taman yang bersebelahan dengan bangku yang di duduki oleh Ica dan Salsa. “Hey kaliann.” Ucap Hasna.

 “Salam Hasna.” Ujar Ica dan Salsa secara bersamaan. Hasna yang khilaf pun lekas mengoreksi apa yang ia ucapkan tadi. “Assalamu’alaikum cahabatkuh.” Mereka yang disana hanya memandang ngeri dan jijik.

 “Hasna jangan gitu deh. Lihat tuh muka mereka. Keliatan banget kalau mereka jijik denger kata cahabatkuh itu.” Ujar Deby. Hasna langsung menoleh ke arah lain. Guna untuk menghilangkan rasa malunya. Wajah Hasna terlihat merona. Mereka yang ada di sana hanya bisa tertawa melihat wajah Hasna. Sesi ketawa pun terhenti Hasna pun memperkenalkan Deby dengan kedua sahabat barunya.

 “udah dulu ya sesi ketawanya. Aku kesini mau kenalin kalian sama sahabat aku ini.” Ucap Hasna sambil menunjuk Deby.

 “Kenalin dia Deby. Sahabat aku yang pertama.” Ucap Hasna. Deby yang di kenalkan pun langsung bersalaman dengan Ica, namun tidak dengan Salsa. Itu yang membuat Hasna heran. Kenapa Deby tidak bersalaman dengan Salsa.

 “Deby kok nggak salaman sama Salsa?”tanya Ica yang mewakilkan pertanyaan Hasna. “kenalan gimana. Aku udah kenal sama Salsa kok. Ye nggak cak?” tanya Deby.

“Iya udah kenal kok.” Ujar Salsa. Hasna masih bingung dengan keadaan sekarang. Kok bisa mereka saling kenal. Sedangkan Deby kan baru pertama kali bertemu dengan Salsa.

 “Kalian kok bisa saling kenal sih?” akhirnya Hasna bertanya, terlihat Salsa dan Deby saling melempar senyum dan menjawab. “Gimana nggak kenal, aku sama Salsa kan sepupuan. Salsa tuh sepupu aku.” Hasna yang mendengar pun merasa kaget dan waah ternyata begitu. Dan Hasna baru tersadar kenapa Deby bisa muncul di sini. Dan ternyata jawabannya adalah ia sedang mengunjungi sepupunnya yang menempuh pendidikan di pesantren ini. Di lain sisi. Deby tak tau kalau pesantren yang sering ia kunjungi adalah pesantren yang selalu di bicarakan Hasna.

 Mereka pun berbincang bincang di taman itu. Sampai mereka menyadari bahwa hawa terasa semakin panas. Sinar matahari menyengat di kulit mereka. Oleh karena itu, merekapun berpisah, Ica dan Salsa kembali ke asrama sedangkan Hasna dan Deby kembali ke rumah kakek Hasna.

 Di rumah kakek Hasna, terlihat ada orang tua Hasna dan orang tua Deby disana. Dengan sigap Hasna mencium kedua tangan orang orang yang sedang berada di ruanng tamu tersebut. “Habis dari mana by?” tanya ibu Deby.

 “itu tadi jalan jalan sama Hasna. Di kenalin sama temen Hasna juga. Dan lucunya malah di kenalin juga sama si Cak.” Ujar Deby sambil tertawa, dan yang ada di sana pun tertawa. Sedangkan Hasna hanya menunduk malu dengan ucapan Deby.

 Karena malu, Hasna langsung menarik tangan Deby dan membawanya ke kamarnya. Di kamar Hasna. Sesampainya di sana. Hasna terus terusan cemberut dan kesal. Dia malu dan kesal dengan ucapan Deby. Deby pun meminta maaf.

 “Hasna.. maaf, tadi cuma bercanda doang kok.” Dengan terus terusan mengucap kalimat yang sama. Sampai sampai Hasna bosan mendengarnya. Namun satu kalimat yang membuat Hasna tersadar. Kalimat yang diucapkan oleh Deby.

 “Hasna kamu tau nggak. Kita nggak boleh loh nggak saling sapa. Nggak boleh gitu loh. Sama aja kita memutuskan tali silaturahmi.” Ujar Deby. Hasna yang mendengar itu pun langsung menoleh ke arah Deby. “yaudah iya, aku maafin.” Ucap Hasna. “Ikhlas nggak nih?” tanya Deby.

 “Iya, aku cantik, aku ikhlas, aku imut. Udah?” Deby yang mendengernya pun langsung memeluk Hasna dan mengucapkan beribu ribu terimakasih karena sudah memafkan dirinya.

 Saat sedang asik berbincang bincanng. Tiba tiba dari arah pintu, muncul Ibunya Hasna. “Hasna, ayok beresin barang barangnya. Kita mau pulang. Dan Deby ditunggu sama Ibu dan ayahmu di bawah.”

 “Iya tante, Deby ke bawah dulu ya. Bye Hasan.” Ucap Deby sambil meninggalkan Ibu dan anak itu berdua di ruangan tersebut.

 “bu. Emang kita pulangnya sekarang ya?”

 “Iya, makanya beresin barang barangnya.”

 “iya Bu. Hasna beresin barang barang dulu.”

 Hasna langsung merapikan barang barang yang akan ia bawa pulang. Sampai ia fokus pada satu tas. Hasna pun mengambil tas itu. Dan ia baru ingat bahwa itu tas isi novel. Novel yang sama sekali tak pernah Hasna baca selama menginap di rumah kakeknya.

 Setelah dirasa sudah selesai merapikan barang barang. Hasna langusng turun dengan membawa semua barang barangnya. Diruang tamu sudah terlihat barang barang milik keuda orang tuanya. Namun di ruang tamu ia tak melihat keberadaan Deby.

 “Bu. Deby mana?”

 “Deby sudah pulang tadi. Dia nggak sempet pamit sama kamu, soalnya ayah Deby ada panggilan darurat.”

 ‘Hmm.. begitu ya. Emm Bu. Hasna ke asrama Ica sama Salsa dulu ya.”

 “Yaudah. Sekalian kamu pamitan. Cepetan ya. Soalnya udah mau berangkat.”

 Hasna langsung berlari dengan cepat menuju asrama kedua sahabatnya itu. Tak lupa ia juga membawa tas yang berisikan novel novel yang sudah ia baca dan novel yang tak pernah ia baca juga.

 Sesampainya disana. Hasna langsung mengetuk pintu dan terlihat Ica yang membuka pintu. “Eh Hasna, masuk masuk.” Hasna yang di persilahkan pun langsung masuk. Dan di dalam ia bertemu dengan Salsa juga.

 “Itu tas apa Hasna?” tanya Ica, Salsa yang baru sadar akan keberadaan Hasna pun langsung menghampirinya.

 “Jadi gini. Aku ada sesuatu buat kalian. Tolong di terima ya.” Sambil memberikan tas itu kepada Ica dan Salsa. “waah novel.” Ujar Ica dengan bahagia, sama halnya dengan Salsa. Ia juga merasa senang mendapatkan novel.

 “anu, Ica, Salsa. Aku juga kesini mau pamitan sama kalian. Aku mau pulang dan nggak tau kapan lagi ke sininya.” Ucap Hasna sambil menundukkan kepalanya. Kedua gadis itu langsung memeluk Hasna. “Nggak papa. Jangan sedih, kita pasti bakalan kangen sama kamu. Jaga diri baik baik ya.” Ucap Salsa dan Ica sambil memeluk Hasna.

 “Yaudah kalau begitu. Aku pamit dulu ya. Assalamu’alaikum.”

 “Wa’alaikumussalam.” Ucap Keduanya.

 Hasna pun bergegas keluar dari asrama kedua sahabatnya itu. Dan sesampainya di rumah kakek. Terlihat ayah dan ibu Hasna sudah berada di dalam mobil. Hasna pun langsung menghampiri mobil ayahnya. Tak lupa juga ia untuk berpamitan dengan nenek dan kakeknya.

 Setelah berpamitan, Hasna pun langsung masuk ke mobil, dan ia juga sempat menoleh ke arah asrama kedua sahabatnya. Terlihat Salsa dan Ica melambaikan tangannya. Di balas lambaian juga oleh Hasna.

 “Ibu, Ayah. Aku pamit dulu.” Di balas anggukan oleh kakek dan nenek Hasna.

 “Assalamu’alaikum.”

 “Wa’alaikumussalam.” Ucap keduanya.

 Mobil Hasna pun mulai berjalan meninggalkan pesatren milik kakeknya itu. Dalam hati Hasna berucap bahwa ia pasti akan kembali ke sini lagi. Dan bertemu dengan kedua sahabatnya yang telah menemaninya selama menginap di rumah kakeknya.

 

Part 20

9 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 543

-Day 20

 

 Hasna dan keluarganya sampai di rumah tepat pada pukul lima sore. Shalat zuhur dan ashar telah mereka laksanakan di masjid yang mereka lewati. Sampai di dalam rumah. Hasna langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Karena kegiatan ini sangat cocok untuk mengistirahatkan badannya karena terlalu lelah dalam perjalanan yang jauh.

 Hasna asik dengan rebahannya tanpa membereskan barang barang yang seharusnya ia bereskan dan rapikan ketika sampai di rumahm. Namun rasa lelah menguasai diri Hasna. Setelah dirasa cukup, kegiatan rebahan pun ia hentikan. Melihat jam yang hampir menunjukkan pukul enam. Hasna yang merasa ada bau bau aneh dari badannya. Langsung pergi mandi agar badannya lebih fresh dan wangi.

 Saat Hasna sedang di kamar mandi, tiba tiba dari arah pintu terlihat Ibunya yang datang membawa sisa barang barang yang lupa di bawa oleh Hasna. Ibu yang melihat barang Hasan yang belum di rapikan pun hanya bisa menghela nafas. Kebiasaan buruk Hasna yang satu ini yang sangat susah di hilangkan dari diri Hasna.

 “Dan akhirnya aku yang turun tangan.” Ucap Ibu sambil mulai merapikan barang barang milik Hasna. Kegiatan beres beres di mulai dengan membuka koper milik Hasna. Dan bomm!! Isinya berantakan dan super duper berantakan. Kenapa bisa berantakan seperti itu. Kalau di koper baju baju itu nggak bakalan bisa seberantakan ini, pikir Ibu.

 Namun ibu tak ambil pusing. Beliau langsung mengeluarkan semua pakaian Hasna. Dan melipatnya satu demi satu. Beliau sempat berpikir. Ini anak kok bisa begini. Padahal kedua orang tuanya nggak memiliki sifat kayak begini.

 Tak lama kemudian, Hasna pun selesai dengan mandinya. Dan betapa terkejutnya melihat Ibunya yang sedang merapikan pakaian Hasna. Hasna langsung menghampiri ibunya. “ibu kok ada disini?” tanya Hasna. Ibu yang merasa ditanya pun hanya menoleh sebentar dan mengabaikan pertanyaan yang di lontarkan oleh anaknya itu.

 Hasna seketika merasa di abaikan. Ia pun membantu ibunya merapikan pakaian yang sudah jelas itu adalah milik Hasna sendiri.

 “Ngapain?” tanya ibu dengan raut wajah kesalnya. Hasna yang merasa nada bicara ibunya yang kesal hanya bisa terdiam karena takut membuat ibunya emosi.

 “Ngapain?” tanya Ibu lagi. Hasna yang ditanya hanya menjawab dengan kegiatan yang dia lakukan. “kalau ditanya itu, alangkah baiknya di jawab. Jangan diem aja.” ucap Ibu yang dengan sengaja ingin menasehati anaknya. Namun Hasna malah merasa kalau ucapan ibunya sangat menyinggung dirinya.

 “Ini nih lagi bantu ibu.” Ujar Hasna dengan sabarnya. Ibu pun hanya mengangguk saja dan tetap melanjutkan kegiatannya. Selang beberapa menit. Akhirnya semuanya telah rapi. Dan bertepatan dengan masuknya waktu magrib. Merekapun pergi shalat bersama. Setelah shlat, seperti biasa mereka murojaah. Hasna yang kemarin cuma hafal surah an-naba’. Alhamdulillah sudah bertambah dengan surah selanjutnya. Setelah murojaah, ba’da isya pun tiba. Setelah shalat. Hasna langsung masuk ke kamar dan istirahat karena besok ia masuk sekolah.

 *******

 Pagi Harinya. Pukul enam pagi. Hasna dan kedua orangtuanya sudah berada di meja makan, untuk makan bersama. Di meja sudah penuh dengan berbagai macam makanan. Makanan itu lebih di prioritaskan untuk Hasna. Mengapa? Karena makanan itu kebanyakan adalah makanan kesukaan Hasna.

 Setelah selesai sarapan. Hasna pun berangkat sekolah. Namun kali ini berangkatnya bersama ayah. Tidak numpang di motor Fiyan. Karena mulai dari kemarin, hari ini, esok dan seterusnya. Hasna akan berusaha untuk mengamalkan apa saja yang ia dapatkan di pesantren milik kakeknya.

 Dengan cepat Hasna masuk mobil dan mobil pun mulai berjalan meninggalkan perkarangan rumah Hasna.

 

 

 

 

 

Part 21

30 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah kata 734

-Day 21

 

           “ayah nanti jemput Hasna nggak?” tanya Hasna saat masih dalam perjalanan menuju sekolah. Ayah yang merasa di tanya pun sekilas terlihat melirih Hasna yang memainkan jam tangannya. “Insyaallah ayah jemput kalau jam ayah udah selesai di pesantren.” Hasna hanya menghela nafas, namun ia tau bahwa ayahnya itu sedang sibuk sibuknya kalau hari senin sampai rabu. 

 

           “nggak papa deh yah. Nanti Hasna pulangnya naik ojol aja.” ujar Hasna yang melirik ayahnya yang fokus menyetir. “tapi Hasna mau titip salam buat Salsa dan Ica. Bilang ke mereka kalau Hasna kangeen banget sama mereka.” 

 

           “Insyaallah ayah sampein salam kamu, kapan kapan kamu juga ikut ya sama ayah.” Ujar ayah dengan sesekali mengelus kepala Hasna yang terbalut oleh hijab berwarna putih dengan hiasan pita berwarna abu di bagian pinggir pinggirnya yang menjadi identitas sekolah Hasna. Sekolah yang lebih banyak jurusan tekniknya. 

 

           “insyaallah Hasna bakalan ikut sama ayah kalau Hasna ada waktu. Biasa Hasna kan sibuk terus.” Ucap Hasna dengan gaya gaya centilnya. Ayah yangmendengar itu hanya bisa tertawa dan tak habis pikir dengan gaya bicara Hasna. 

 

           Tak lama kemudian, akhirnya mobil Hasna sampai di depan gerbang sekolah. Dan Hasna berpamitan kepada ayahnya. “Ayah.. Hasna masuk dulu ya, doakan Hasna untuk hari ini ya ayah.” Ucap Hasna sambil menyium tangan ayahnya. 

 

           “ayah akan selalu mendoakan Hasna. Mendoakan yang terbaik untuk anak ayah yang shalihah ini.” Ujar ayah sambil mengelus kepala Hasna. 

 

           “yaudah yah, Hasna masuk dulu. Assalamu’alaikum.” 

 

       “wa’alaikumussalam. Belajar yang rajin ya.” 

 

           Hasna yang mendengar itu pun menjawab dengan anggukan kepala di tambah dengan senyuman manisnya juga. Setelah dirasa mobil ayahnya sudah menjauh dan hilang dari pengelihatannya. Hasna langsung masuk ke lingkungan sekolahnya. Saat berjalan di dekat lapangan karena kelas Hasna berada di ujung lapangan itu. Hasna mendengar berbagai macam cibiran cibiran dari teman seangkatannya. 

 

           ‘Ih lihat tuh, pake jilbab kayak emak emak aja.’ 

 

           ‘eh iya, itu jilbab apa selendang. Kok lebar baget.’ 

 

           ‘sok sokan jilbab lebar. Padahal kelakuan zonk’ 

 

           ‘ada yang tiba tiba menjelma jadi malaikat tuh guys’ 

 

'Kemarin perasaan masih aja tuh hijabnya di iket iket. Tapi setelah tiga hari kagak nongol, eh tiba tiba pake hijab lebar. Ntar juga kembali kayak biasa lagi tuh' 

 

Cibiran demi cibiran terdengar di telinga Hasna. Namun Hasna yang orangnya memang acuh dengan keadaan hanya menganggap suara suara itu sebagai angin lalu saja. Hasna dengan santai terus berjalan menuju kelasnya. 

 

Sesampainya di kelas. Terlihat di sana ada Fiyan, Dita dan Deby yang menunggu Hasna di bangku. Persis di tempat duduk Hasna. Hasna pun langsung menghampiri mereka. Namun, raut wajah mereka terlihat sedang memperhatikan Hasna, sangat sangat memperhatikan Hasna. Hasna yang merasa risih pun mencoba untuk bersikap biasa saja. 

 

"Hasna.. kok gaya kamu sekarang begini??" Tanya Fiyan. 

 

"Iya tuh. Kemarin masih sama kok gaya hijab kita, yang modis dan kece." Ujar Dita. 

 

"Oh ini. Jadi gini ya. Aku mau lebih syar'i lagi. Malu aja kalau ngumbar aurat gitu." Ucap Hasna berusaha menjelaskan. 

 

"Masyaallah. Bagus tuh. Aku dukung dengan sepenuh hati." Ucap Deby sambil memeluk Hasna. Sedangkan Fiyan dan Dita hanya diam memperhatikan mereka. 

 

Tak lama bel masuk betbunyi. Hari ini jam mata pelajaran agama. Di materi kali ini di jelaskan bahwa pentingnya menutup aurat. Hasna pun dengan tenang mendengarkan materi itu. 

 

Lalu tak lama. Bel istirahat berbunyi. Hasna dan Deby jalan bersama menuju kantin. Namun kali ini Dita tak ikut. Karena ia harus bertemu dengan Ridho terlebih dahulu. 

 

Dari arah pintu gerbang kantin. Fiyab datang dengan sangat buru buru. Dengan sigap Fiyan duduk di dekat Hasna. Hasna yang merasa dirinya duduk terlalu dekat pun langsung bergeser desikit, agat menjaga jarak dengan yang bukan mahromnya.

 

"Kok geser sih ?" Tanya Fiyan. 

 

"Nggak ada kok. Cuma jaga jarak dikit aja." 

 

"Oh begitu. Eh aku mau ngaistau seesuatu." Ucap Fiyan. 

 

"Kasitau apa?" 

 

"Aku mau jujur sama kamu." Ucap Fitan. Deby yang berada di sana hanya menyimak apa yang akan di katakan Fiyan. 

 

"Sebut aja. Jangan takut. Aku nggak makan orang kok." Ucap Hasna dengan kekehan dan di sambut tawa oleh Deby. 

 

Terlihat Fiyan yang mengharuk kepalanya padahal aslinya nggak gatal sama sekali. 

 

"Ayo mau bilang apa." Ucap Deby kepada Fiyan. 

 

"Jadi gini, aku suka sama kamu Hasna." 

 

Hasna dan Deby langasung kaget dan tak menyangka akan hal itu. Hasna merasa syok sendiri. Jujur Hasna was was. Jangan sampai Fiyan mengajak dirinya untuk pacaran. Namun. 

 

"Jadi Hasna, mau nggak kamu jadi pacar aku." Dan blank sudah. Hasna masih syok dan tak tau harus bilang apa sekarang. Apa kata kata yang cocok untuk menjawab pertanyaan sekaligus pernyataan itu.

Part 22

4 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah kata 890

-Day 22

 

       "Jadi Hasna, mau nggak kamu jadi pacar aku." Dan blank sudah. Hasna masih syok dan tak tau harus bilang apa sekarang. Apa kata kata yang cocok untuk menjawab pertanyaan sekaligus pernyataan itu. 

 

Sedangkan Deby yang berada di sana tampak terlihat cengo sendiri, kaget sekaligus nggak menyangka bakalan ada kejadian yang mencengangkan ini. 

 

Terlihat Fiyan sedang menunggu jawaban dari Hasna. Namun di satu sisi, Hasna masih terlihat kaget dan bingung harus berbuat apa. Masih dengan keheningan. Tiba tiba datang Dita dan Ridho. Mereka dengan tawa ria menghampiri meja Hasna. 

 

"Hey bro, sis. Kok pada diem?? Apa kalian nungguin aku ya?" Ucap Dita dengan pedenya. Tak ada yang membuka suara. Dita yang merasakan keanehan pun berusaha untuk mencairkan suasana. Namun tak membuahkan hasil sama sekali. 

 

Karena keanehan yang membingungkan. Akhirnya Dita pun bertanya. "Ini kenapa sih, heran aku tuh." Sambil mendengus kesal dan menghentak hentakkan kakinya. Ridho yang ada di samping Dita pun berushaa untuk menenangkan gadis itu. "Udah udah, tanya pelan pelan aja ya." Ujar Ridho. 

 

"Ih gimana sih. Aku tuh sebel kalau begini. Ini pada ngapain sih kok pada diem diem terus." Ujar Dita dengan kesalnya. 

 

"Tanya aja sama mereka berdua. Aku cuma jadi penonton di sini." Ujar Deby yang akhirnya angkat bicara. 

 

Dita yang mendengar itu pun langsung bertanya dan membutuhkan penjelasan langsung dari Hasna dan Fiyan. Fiyan merasa kalau Hasna masih belum memberikan jawaban. Akhirnya ia pun mengulangi pertanyaan yang ia sampaikan tadi. 

 

"Oke aku tanya sekali lagi ya Hasna. Kamu mau nggak jadi pacar aku?" Dita yang mendengar itu pun ikutan syok. 

 

"Gimana Hasna?" Tanya Fiyan. 

 

Hasna dengan hati hati mulai menjawab pertanyaan Fiyan. "Fiyan, maaf ya. Bukannya mau menyakiti hati kamu. Tapi aku mau tanya dulu. Kamu tau kan arti dari sursh Al-Isra' ayat 32?" 

 

"Aku tau, artinya itu 'Dan janganlah kamu mendekati zina;

(zina) itu sungguh suatu perbuatan

keji, dan suatu jalan yang buruk.' Benar kan???" Tanya Fiyan guna untuk meyakinkan jawabannya. Hasna pun menjawab dengan anggukan kepala. Lalu ia melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan. 

 

"Jadi kita tau kan zina itu apa. Hanya memikirkan orang yang bukan mahrom aja udah termasuk zina fikiran, bersentuhan sedikit juga udah nggak boleh. Bagaimana dengan pacaran?? Yang harus selalu ada di samping kita, pegangan tangan, saling mengirim kata kata sayang. Apakah itu di perbolehkan dalam agama kita?" Tanya Hasna. Fiyan yang mendengar itu pun mulai memikirkan apa saja yang di ucapkan oleh Hasna. 

 

"Kamu gimana sih Hasna. Terima aja si Fiyan. Malah ceramah ceramah nggak jelas begitu." Gerutu Dita merasa sebal dengan apa yang di ucapkan Hasna. Dita merasa tersindir akan ucapan Hasna. Memang dalam agama kita, kita di larang untuk menghindari yang namanya zina. Menghindari aja udah di larang, apalagi melakukan. Bagaimana dan balasan apa yang akan kita dapat jika kita melakukan hal yang di larang oleh Allah SWT. 

 

"Bukan gitu Dita. Aku cuma nggak mau kita melanggar aturan yang sudah di tetapin. Aku nggak mau kita melenceng ke hal yang tak seharusnya." 

 

"Tapi kamu itu seakan akan menggurii Fiyan tau nggak. Kalau nolak mah nolak aja. Nggak usah ceramah juga." Dengan emosi yang tak stabil. Dita terus terusan menyalahkan Hasna. Dia menganggap Hasna hanya mempermainkan perasaan Fiyan saja. Hasna yang melihat itu hanya bisa beriatighfat dan mengelus halus dadanya. Ia tak habis pikir. Kenapa sahabatnya bisa se marah itu. 

 

Terlihat Dita sedang di tenangkan oleh Ridho. Namun semua itu tak berpengaruh sama sekali. Dengan kesal dan emosi, Dita meninggalkan meningalkan meja itu. Di ikuti oleh Ridho. Hasna yang melihat Dita menjauh pun seketika merasa bersalah. Ia tak tau akan jadi begini. Tujuan ia berkata begitu pun sgat mereka yang di sana sama sama tau kalau kita lebih harus menjaga fitrah dan izzah kita. 

 

Melihat Hasna yang menunduk sedih. Deby langsung memeluknya dan menenangkannya. Tumpah sudah air mata yang di tahan oleh Hasna. Ia nangis sejadi jadinya. 

 

"Udah Hasna. Nggak papa. Kamu nggak salah. Yang kamu lakuin udah bener." Ujar Deby sambil memeluk Hasna. 

 

"Tapi Dita, Dita marah sama aku Deby." 

 

"Nggak papa. Nanti emosinya pasti reda juga kok. Tenang ya." Hasna pun hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama ia pun melepas pelukan Deby. Dan menghadap ke arah Fiyan lagi. Namun Hasna tak langsung melihat ke arah wajah Fiyan. Ia memang menghadap ke arah Fiyan, namun dengan menundukkan pandangannya ke bawah. Tak lama kemudian. Fiyan pun angkat bicara. 

 

"Hasna, sekarang aku ngerti. Makasih ya udah ingetin aku tentang zina. Jujut aku lupa masalah itu. Makasih ya." 

 

"Iya sama sama. Dan maaf ya. Aku nggak mau kita membawa fitrah dari Allah ini menuju hal yang tak seharusnya." Ujar Hasna yang merasa bersalah kepada Fiyan. 

 

"Nggapapa kok. Tenang aja. Tapi aku boleh kan perjuangin kamu melalui perantara lain. Doa misalnya." Ujar Fiyan. Hasna hanya merespon dengan anggukan kepala saja. Dan ia pun melanjutkan kalimatnya. 

 

"Tapi, cintai sang pemilik hati, jangan sampai kita menduakannya. Kamu boleh berjuang melalui perantara lain. Tapi ingat, selalu jadikan sang pemilih hati itu jadi urutan yang pertama. Jangan di ubah ya." Ujar Hasna. 

 

"Insyaallah Hasna. Akan aku ingat. Sekali lagi makasi ya. Aku balik ke kelas dulu. Assalamu'alaikum." 

 

"Wa'alaikumussalam." Ucap Hasna dan Deby. Fiyan pun mulai meninggalkan kantin. Dan di susul dengan Hasna dan Deby. Sesampainya di dalam kelas. Hasna pun menghampiri Dita guna untuk meminta maaf. Namun Dita langsung menghindarinya. Hasna terus melalukan itu. Namun respon Dita selalu sama. Dan Hasna pun mulai berfikir. Bagaimana caranya untuk meminta maaf kepada Dita dan menjelaskan semuanya.

 

Part 23

4 0

-Sarapan kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 691

-Day 23

 Saat sampai di rumah. Hasna masih memikirkan cara dan taktik untuk meminta maaf ke Dita. Karena Hasna sangat mengenal Dita. Dia sosok orang yang paling susah di ubah, di ubah dalam artian jika dia sudah memutuskan sesuatu, maka akan sulit untuk merubah keputusan yang ia buat. Satu hal ini adalah tantangan terberat untuk Hasna.

 Hasna melangkah dengan lesu tanpa tenaga. Panggilan Ibunya pun tak ia dengarkan. Karena di fikirannya hanya cara cara agar menadapatkan maaf dari Dita. Dengan lemas Hasna membuka pintu kamarnya. Tanpa melepas tasnya Hasna langsung merebahkan badannya. “Gimana ya caranya, aaa aku bingung.” Teriak Hasna.

 “Hasna kenapa nak? Kok teriak teriak?” tanya Ibu dengan berteriak juga.

 “Ibu juga teriak.” Jawab Hasna. Namun tak ada sautan lagi dari ibunya. Dengan posisi rebahan. Hasna langsung merubah posisinya menjadi terduduk. Tiba tiba handphonenya berdering. Disana tertera nama Deby. Dengan cepat Hasna menjawab telpon dari sahabatnya itu.

 “Assalamu’alaikum”

 “Wa’alaikumussalam. Deby gimana ini. Aku masih bingung. Nggak tau mau ngapain.” Ujar Hasna sambil mengacak acak hijab yang ia pakai.

 “tenang Hasna. Tenang, tenangin diri kamu dulu.”

 “gimana mau tenang. Ini baru pertama kalinya Dita kayak gitu sama aku.”

 “Iya aku tau. Tapi tenangin diri kamu dulu. Kamu nggak akan nemu caranya kalau keadaan kamu kayak gitu Hasna cantik, imut, shaliha.” Ujar Deby di seberang sana dengan halus, guna untuk memenangkan Hasna.

 Hasna pun mulai menenangkan diri, mulai dengan mengatur nafasnya, dilanjutkan dengan melafaskan istighfar berkali kali. Secara terus menerus tanpa henti. Sedangkan Deby terus terusan mengarahkan Hasna untuk menenangnkan dirinya. Setelah dirasa tenang. Hati Hasna mulai terasa sedikit tenang.

 “gimana? Udah tenang?” tanya Deby.

 “Alhamdulillah udah. Makasi ya Deby. Kamu paling bisa ngertiin aku.”

 “Aku gituloh.” Ujar Deby sambil tertawa dan di sambung dengan tawa Hasna juga. Tawa mereka masih belum mereda juga. Tiba tiba dari arah pintu, terlihat Ibu yang masuk tanpa mengucap salam, dan langsung duduk di dekat Hasna. Hasna yang merasakan pergerakan pun langsung menoleh dan terkejut melihat Ibunya yang sudah ada di sampingnya.

 “Lah ibu, kok bisa disini?”

 “ya bisalah. Kan ibu masuk terus duduk. Kenapa nggak bisa?” tanya Ibu. Hasna hanya cengengesan dengan pertanyaan Ibunya.

 “malah cengengesan. Ketawanya gede banget, kedengeran sampe luar rumah tuh.” Ucap Ibu sambil mengelus kepala Hasna.

 “Hasna itu siapa?” tanya Deby dari sebrang sana.

 “oh ini, ibu aku. Tiba tiba muncul. Bikin kaget.” Deby pun hanya tertawa di sebrang sana. Sedangkan Ibu Hasna yang dibicarakan hanya memukul lengan anaknya dengan pelan.

 “pada omongin apaan sih?” tanya Ibu.

 “Biasa bu, urusan anak muda.”

 “anak muda anak muda. Ibu juga pernah muda tau. Dikira ibu langsung tua apa.” Ucap ibu sambil memasang wajah yang kesal. “maaf bu, hehe. Sengaja aja bilang gitu. Biar Deby yang jadi bersalah kalau Hasna ejek ibu.” Ucap Hasna.

 “Eh ada ada aja. malah aku yang di bawa bawa.” Ujar Deby tak mau di salahkan oleh Hasna. Enak saja, dia yang ngejek malah Deby yang di jadikan pelakunya. Nggak banget ituu.

 “hus udah udah, ibu tanya loh ini. Kalian pada omongin apaan sih?”

 “anu tuh bu, ada sesuatu yang terjadi.”

 “terjadi, apa yang udah terjadi. Coba cerita sama ibu.”

 Hasna dan Deby pun mulai menceritakan kejadian yang mereka alami, yang Hasna alami maksudnya. Tanpa ada bagian yang di modivikasi, tanpa ada bagian yang di hilangkan sedikitpun. Entah sampai berapa lama mereka menjelaskan semua itu.

 Sampai akhirnya proses cerita pun selesai. Ibu yang sudah mendengarkan pun mulai memikirkan cara untuk membantu mereka. “ooalah jadi begitu. Terus kalian masih belum nemuin caranya?” dijawab gelengan oleh Hasna. Mereka bertiga berfikir bersama, merenung bersama. Dan akhirnya.

 “nah ibu tau nih, coba gini aja ya. Di sekolah dia cuek kan. Selama kamu berpapasan dengan dia. Senyumin aja terus. Terus terus sampai dia bosen sendiri.”

 “emang bisa bu?”

 “insyaallah bisa. Sekalian juga Deby jelasin sedikit demi sedikit. Biar si Dita juga faham. Jangan langsung to the point. Initnya basa basi dulu lah. Biar lengkap bumbu bumbunya.”

 “oke siap bu.” Ucap Deby.

 “yaudah ibu ke dapur dulu. Takutnya nanti ayah udah pulang.”

 Hasna pun menganggukan kepala. Dan ibu sudah menghilang di balik pintu. Hasna dan Deby masih berbincang bincang masalah strategi. Setelah di rasa pas. Mereka akhirnya akan melakukan rencana ini besok harinya. Harapan mereka semoga ini berhasil.

 

 

Part 24

2 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37 

-KMO Indonesia 

-Kelompok 5 (Alister Garuda) 

-Jumlah Kata 747 

-Day 24 

 

           Setelah melaksanakan shalat isya dan murojaah. Hasna langsung keluar dari kamarnya. Dengan alasan bosa berada di kamar terus. Hasna pun berjalan menuju ruang keluarga. Disana terlihat Ibu yang sedang menonotn tv sendirian. Dengan hati hati Hasna menghampiri ibunya dan langsung duduk di samping ibunya. 

 

           Ibu yang menyadari ada pergerakan di sampingnya pun langsung menoleh, dan terkejut melihat anaknya yang duduk dengan santainya sambil memakan camilan yang ada di depannya. “eh kaget ibu ih.” Hasna hanya cengengesan sambil menggaruk bleher belakangnya yang nyatanya tidak gatal sama sekali. 

 

           “ya maaf bu, tadi Hasna mau manggil. Tapi kayaknya ibu lagi asik banget nontonnya. Nonton apaan sih bu?” 

 

           “ini loh lagi seru, ibu lagi nonton kartun kesukaan ibu. Dari dulu film ini tuh bikin ibu keasikan sendiri. Padahal udah di tonton berulang ulang kali. Tapi sampai sekarang ibu nggak pernah merasa bosan nonton ini.” 

 

           Hasna pun mengangguk. “gitu ya bu. Kok Hasna nggak pernah nonton ini.” 

 

           “ya kamu mah pacaran sama buku terus, sampai sampai nggak murojaah.” Ucap Ibu yang membuat kesal mendengus sebal. 

 

           “ih Hasna murojaah kok bu. Siapa bilang Hasna nggak murojaan?” ucap Hasna cemberut. 

 

           “bener tuh murojaah?” 

 

           “iya bu beneran. Hasna jujur loh ini. Mana pernah Hasna bohong sama Ibu.” Ibu yang mendengarnya pun langsung muncul niatannya untuk membuka kartu anaknya. 

 

           “kamu pernah bohong loh sama ibu. Sama ayah juga sih.” Ucap ibu sambil mengetuk ngetuk dagunya menggukan jari telunjuknya seperti menampilkan gaya orang yang sedang berfikir dengan keras. Hasna terus terusan mengelak, mengelak bahwa ia tak pernah membohongi kedua orangtuanya. 

 

           “jujur aja sama ibu. Nggal baik loh bohong gitu. Nanti kebiasaan bohong.” Nasihat Ibu yang membuat Hasna merasa bersalah. Hasna pun mulai gelisah dan salah satu cara agar tidak gelisah yaitu dengan jujur apa yang seharusnya di katakan. 

 

           “haduh  gimana ya. Hasna harus jujur ya bu?” 

 

           “iya dong, harus itu. Nggak boleh ada yang di kurangi kurangi.” Ucap Ibu. Dan Hasna pun mulai menceritakan sebuah kejujuran. 

 

           “jadi gini kan, ibu sama ayah kan pernah nanya, aku pulang sama siapa. Dan aku udah jujur kalau pulangnya sama temen. Tapi ada yang aku modifikasi dikit sih. Waktu ditanya temen aku itu cowok atau cewek. Dan aku jawab cewek. Padahal sebennarnya temen aku yang anterin aku tuh cowok.” Jelas Hasna dengan memelankan suara sambil menundukkan kepala juga. Saking merasa bersalah dan berdosa karena telah berbohong kepada ibuny dan ayahnya jug. 

 

           “lain kali jujur aja. ibu sama ayah nggak bakalan marah sama Hasna kalau Hasna jujur.” 

 

           “iya bu. Hasna nggak ulangi lagi.” Ibu pun langsung mengelus kepala Hasna. Saat sedang asik asiknya, tiba itba datanng ayah Hasna yang nampak terlihat lelah sekali, kusut dan mengantuk. 

 

        “Assalamu’alaikum.” 

 

      “wa’alaikumussalam.” Ucap Hasna dan Ibunya. 

 

           “kok mukanya kusut banget Yah?” tanya Ibu. 

 

           “biasa bu. Capek.” Ujar ayah sambil duduk di dekat Hasna dan bersandar pada pundak Hasna. Hasna yang merasakan beban di pundaknya pun mengeluarkan protesnya. “Ayah berat, berat banget.” 

 

           “maaf Hasna. Namanya juga lagi capek, nyender di kamu tuh nyaman Hasna. Ayah jadi ngantuk.” Ujar Ayah yang kembali menyandarkan diri di pundak Hasna. 

 

           “yaudah Ayah tidur aja.” ujar Ibu 

 

           “bentar dulu bu. Ada pesan yang pengen ayah sampein disini.” Ujar Ayahh sambil bangkit dari duduknya. Dan duduk di kursi seberang. Agar apa yang ia sampaikan bisa cepat di tangkap oleh pendengar. 

 

           “jadi gini. Minggu depan kita pindah ya.” Hasna yang mendengar itu langusng kaget dan nggak tau mau bilang apa. Pemberitahuan mendadak ini membuat Hasna blank seketika. Mau mnegucapkan sepatah katapun nggak bisa. Ia bingung. Snagat bingung. Namun lain halnya dengan ibu Hasna. 

 

           “kok pindah Yah?” tanya Ibu mewakilkan Hasna. 

 

           “gini Bu, Ayah nyuruh kita tinggal disana. Katanya biar Ibu ada temennya. Dan biar mereka juga bisa ngobatin rindu sama Hasna.” 

 

           “terus sekolah Hasna gimana?” tanya Ibu. 

 

           “kata Ayah sih, mau sekolahin Hasna di pesantren, tapi kalau mau di SMK lagi gapapa. Ada kok SMK di dekat pesantren. Cuma agak jauh aja sih.” Ujar Ayah. Mereka asik berdiskusi, sedangkan Hasna masih blank sendiri. Masih belum mengerti sepenuhnnya dengan apa yang diucapkan oleh Ayahnya. Karena bingung, akhirnya Hasna pamit ke kamarnya. 

 

           “Bu, Yah. Hasna ke kamar dulu ya.” Pamit Hasna kepada kedua oranngtaunya. Yang di jawab anggukan oleh keduanya. Hasna pun beranjak dari kursi dan meninggalkan ruang keluarga. Sementara  di ruang keluarga. 

 

           “Keliatannya Hasna masih bingung Mas.” Ujar Ibu. 

 

           “iya, dia mungkin syok. Itu wajar sih. Karena aku juga mendadak banget ngasitaunya.”ucap Ayah. 

 

           “masih ada waktu yang tersisa untuk Hasna. Untuk memikirkan semuanya. Jadi kita tenag saja.” Sambung ayah lagi. Ibu yang mendengarnya pun hanya pasar menerima bagaimana nanti keputusan dari anak semata wayangnya itu.

Part 25

3 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 1.221

-Day 25

 

 Pagi ini, Hasna berangkat sekolah menggunakan ojek online. Ia masih menunggu ojek datang, dari kejauhan terlihat Fiyan yang menghampiri Hasna karena Fiyan melihat Hasna yang belum berangkat sampai sekarang. Padahal tinggal tiga puluh menit bel akan berbunyi. Motor Fiyan pun berhenti di depan Hasna.

 “Hasna, kok belum berangkat?”

 “ah itu, lagi nungguin ojek.” Sambil menundukkan kepalanya. Hasna menjawab pertanyaan Fiyan. Yang seharusnya Fiyan tau sendiri kalau Hasna belum berangkat, berarti ia sedang menunggu sesuatu.

 “Hasna.” Panggil Fiyan.

 “iya?”

 “berangkat sama aku aja, biar cepet. Nanti kamu telat kalau nungguin ojek.”

 “terimakasih atas ajakannya. Tapi aku udah terlanjur pesan ojeknya. Kalau aku cancel kasihan ojeknya.”

 “hmm… yaudah, aku duluan ya.” Di jawab anggukan oleh Hasna. Dan motor Fiyan pun mulai beranjak dari depan Hasna. Dan sudah tak terlihat oleh Hasna juga. Selang beberapa detik kemudian. Akhirnya ojek pun datang. Hasna hari ini berangkat menggukan ojek karena masih enggan berbicara dengan kedua orangtuanya. Karena Hasna masih kefikiran dengan apa yang di ucapkan oleh ayahnya. Di satu sisi ia juga pusing dengan masalah yang sedang ia hadapi saat saat ini.

 “Udah siap mbak?” tanya ojek itu.

 “iya pak. Kalau bisa cepetan dikit ya. Soalnya saya hampir telat ini.” Ucap Hasna sambil melirik jam tangan yang ia pakai. Bapak ojek pun mulai melajukan motornya. Membelah keramaian, di sekeliling terlihat motor dan mobil yang banyak berlalu lalang. Sesekali Hasna menghela nafas karena hanya berdiam diri tanpa ada percakapan antara dirinya dan ojek itu.

 Selang beberapa menit. Akhirnya Hasna sampai di sekolahnya, dan terlihat gerbang sekolah yang hampir tertutup. Dengan cepat Hasna berlari dan langsung masuk ke sekolah. Dari arah belakang Hasna terlihat satpam yang menggeleng gelengkan kepala dengan apa yang dilakukan Hasna. Sementara Hasna yang masih berlari menuju kelasnya. dari koridor Hasna tak snegaja berpapasan dengan Fiyan. Namun Hasna tak sempat menyapanya karena yang ada di fikiran Hasna sekarang hanyalah datang dikelas tepat waktu.

 Sepanjang perjalanan yang di lewati Hasna, masih banyak cibiran cibirann yang terdengar. Namun Hasna yang berlari tak sampai mendengar semua cibiran cibiran itu. Yang Hasna dengar hanya cibiran yang emang di keluarkan oleh siswa siswa yang suaranya mirip toa masjid.

 Sesampainya di kelas. Hasna langsung menuju tempat duduknya dan duduk dengan terengah engah karena lelah berlari. Deby yang melihat Hasna baru sampai itu pun langsung menghampiri bangku Hasna. Namun belum sampai ke tujuannya tiba tiba bel jam pertama dimulai. Dan alhasil Deby mengrungkan niatnya untuk menghampiri Hasna. ‘nanti aja deh aku smaperin pas jam istirahat’ gumam Deby yang kembali ke bangkunya lagi.

 Jam pertama di isi dengan ulangan lisan materi sistem komputer. Sebelum ulangan, bapak guru memberikan kelas Hasna waktu untuk membaca materi yang akan di uji hari ini. Dita yang catatanya tak lengkap hanya bisa membaca apa yang ia catat saja. Biasanya kalau ada ulangan lisan, pasti Dita akan menghampiri Hasna untuk belajar bersama, karena catatan Hasna selalu lengkap walaupun ia yang selalu di suruh mencatat di papan.

 Dita baru saja ingin menghampiri bangku Hasna, tapi ia urungkan niatnya karenan sadar bahwa ia sedang ada masalah dengan Hasna. oleh karena itu, Dita pergi ke bangku Deby. “Deb, catatan kamu lengkap nggak?”

 “punyaku nggak lengkap. Punya kamu gimana.?” Tanya Deby yang sibuk membolak balikkan bukunya. Sekedar memeriksa mana saja materi penting yang harus ia garis bawahi.

 “sama, punya aku juga nggak lengkap. Kan kamu tau sendiri kalau aku itu paling males yang namanya nyatet.”

 “yaudah kita belajar bareng sama Hasna aja yuk. Catatan dia pasti lengkap.” Ajak Deby kepada Dita.

 “dih males aku sama dia, sama si sok itu. Ogah.” Deby yang mendengar itu pun tak bisa berkata apa apa. Ia lantas pergi ke bangku Hasna tanpa mengucapkan sepatah kata kepada Dita. Dita yang di tinggal pun kembali ke bangkunya dan membaca materi yang sudah ia catatn.

 Sesampainya Deby di bangku Hasna, ia lantas menggeser satu kursi yang emag kosong di belakang. Lalu ia taruh di dekat Hasna. “Hasna, aku boleh ikutan belajar nggak?” Tanya Deby. Hasna yang menoleh menghadap Deby langsung memberikan respon anggukan. Deby pun langsung belajar bersama Hasna. sesekali merekaa saling menyimak. Tak lama kemudian, pak guru pun memulai ujian lisan.

 Satu demi satu siswa di panggil. Deby dan Hasna sudah di panggil. Dan sekarang giliran Dita yang ujian lisan. Dita yang catatannya sedikit pun hanya bisa menjawab setengah dari soal itu.

 “Dita, kenapa hanya setengah saja?” tanya Pak guru.

 “anu pak, saya lupa sama materinya.”

 “lupa atau kamu memang tak pernah mencatat materinya. Semua teman teman kamu bisa tuh jawab pertanyaan bapak. Dan pertanyaannya pun sama semua, nggak ada yang pak guru bedakan.”

 “maaf pak.” Sambil menunduk menahan air matanya, Dita terus terusan meremas jarinya karena gugup, takut dan bercampur dengan rasa malu. Dari bangku Hasna dan Deby hanya bisa diam menyaksikan Dita di introgasi oleh guru sistem komputer. Mereka berdua nampak khawatir melihat Dita, karena mereka tau, se heboh hebohnya Dita. Dia adalah orang yang paling cepat merasa sedih jika ia gugup dan malu, apalagi sekarang, Dita di tegur dengan suara yang keras hingga semua siswa yang ada di kelas bisa mendengarnya dengan jelas.

 Setelah di introgasi, akhirnya Dita kembali duduk ke bangkunya. Ulangan lisan pun berlanjut. Setelah bel berbunyi, pelajaran pun di ganti. Kali ini pelajaran sejarah indonesia. Pelajaran berlangsung khidmat. Sampai tiba bel istirahat berbunyi. Nampak terlihat siswa siswi berhamburan keluar kelas untuk mengisi perutnya. Hasna pun demikian. Ia bergegas menuju kantin dengan Deby. Sedangkan Dita, ia sudah lebih dulu keluar kelas dengan alasan ingin ke kantin bersama dengan Ridho.

 Sesampainya di kantin. Hasna langsung duduk di tempat yang kosong. Sementara Deby memesan makanan. Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang. Setelah makan, mereka pun mulai berbincang bincang.

 “jadi gimana Hasna. kapan nih kamu laksanakan rencana kamu?”

 “nggak tau. Pengennya sih sekarang tapi gimana. Aku sapa dia atau gimana?”

 “sapa aja. kita ajakin dia main gitu. Gimana?”

 “ayo” ujar Hasna dengan semangatnya. Hasna dan Deby pun mulai beranjak dari meja mereka. Dan mereka mencari cari posisi Dita. Setelah menemukan posisi Dita. Hasna dan Deby pun menghampiri Dita yang sedang makan bersama Ridho.

 Dita merasakan bahwa ada yang duduk di depannya pun langsung menoleh. Dan memberikan senyuman kepada Deby, namun lain halnya saat ia menghadap Hasna. seketika raut wajahnya berubah datar. Ridho yang melihat kedua sahabat Dita hanya bisa tersenyum sebagai bentuk sapaan kepada mereka berdua.

 “eh Deby. Nggak makan Deb?” tanya Dita tanpa melihat Hasna. ia lebih fokus menghadap ke arah Deby seorang.

 “udah kok tadi sama Hasna. oh ya Dit. Nanti kamu mau ikut nggak?”

 “kemana?”

 “yaa keluar main gitu.”

 “emang kamu nggak sama si Alvin”

 “Udah putus aku sama dia. Dia ada cewek baru.”

 “bener bener tuh si Alvin. Terus nggak nyari cowok baru Deb?” tanya Dita yang di jawab gelengan oleh Deby.

 “kenapa? Kan asik ada pacar.” Sambung Dita lagi.

 “aku nggak mau nambah dosa orangtau aku dengan pacaran.” Dita yang mendengarnya hanya bisa diam. Dan Hasna pun angkat bicara.

 “Dita, jadi ikut ya?” ajak Hasna, namun Dita enggan menjawabnya. Deby pun ikut bertanya dan Dita hanya merespon dengan kata “ Nggak mau aku. Ada orang sok tau, males aku ntar kena ceramahan dia. Lebih baik aku sama Ridho aja. udahlah aku balik ke kelas, males berhadapan sama orang sok tau dan sok jual mahal.” Dita pun beranjak dari meja itu dan meninggalkan Hasna dan Deby yang masih diam.

 Hasna terlihat sedih. Deby langsung menenagkan Hasna. bertepatan dengan bel yang berbunyi akhirnya mereka kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya.

 

 

Part 26

2 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 1.007

-Day 26

 Pelajaran di kelas pun di mulai, kali ini jam ke tiga, mata pelajaran Administrasi Infrastruktur Jaringan yang di bisa di singkat AIJ. Kali ini pak guru yang di kenal dengan nama Pak Omen, yang nama aslinya adalah Pak Abdurrahman itu menerangkan materi materi tentang internet Gateway (NAT) kepada semua penghuni kelas. “Baiklah anak anak sekarang pak guru akan menerangkan materi AIJ tentang Internet Gateway (NAT). Sekarang buka buku paket kalian.” Ujar Pak Omen sambil menuliskan judul materi yang akan di bahas di hari ini. Semua penghuni kelas terlihat sibuk membuka buku paket dan mencari materi yang di maksudkan oleh pak Omen.

 Setelah di rasa telah menemukan materi itu. Pak Omen pun menaljutkan penjelasannya. “baiklah, sekarang kita membahas tentang Internet Gateway atau yang kita kenal dengan sebutan NAT. sebelum pak guru lanjutkan. Kira kira ada yang tau tidak kepanjangann dari NAT itu sendiri?” tanya Pak Omen. Ada yang sedang memikirkan jawaban. Ada juga yang sedang membuka buka buku paket guna mencari jawaban dari pertanyaan pak Omen.

 Dari arah belakan, terlihat ada satu siswi yang mengangkat tangan. “yak Indra silahkan di jawab.” Terlihat indra bangkin dari bangkunya. Dan mulai menjawab pertanyaan dari pak guru. “NAT adalah perangkat dalam komputer yang difungsikan untuk menghubungkan sebuah jaringan komputer dengan satu jaringan komputer yang lain atau lebih yang menggunakan protocol informasi yang tidak sama. Bener nggak pak? Pasti benerlah ya. Saya kan pinter pak, beda sama temen temen yang lain.”

 Seketika kelas ramai dengan hinaan demi hinaan dan ejekan demi ejekan untuk Indra seorang.

 ‘huuu.. sok.’

 ‘palinag googling itu’

 ‘jangan terbang terlalu tinggi, jatuh ntar mewek sendiri’

 ‘huuuuu’

 Dan berbagai macam cacian lainnya. Sedangkan pak Omen hanya bisa mengelus dadanya guna untuk menenangkan hati yang kesal dengan kepedean yang di miliki oleh Indra. “pede kelali ya, padahal jawabannya salah jalur.” Semua yang mendengar ucapan pak Omen pun langsung menertawakan Indra. Indra yang yakin akan jawabannya pun langsung melayangkan protesannya. “Lah gimana sih pak. Jawaban saya bener itu.” Ucap Indra sambil melotot menghadap temen temannya yang masih menertawakannya.

 “benar gimana. Coba kamu baca di buku paket.” Indra yang mendengar perintah pun langsung membuka buku paket. “coba lihat itu. Bener nggak?” tanya pak Omen lagi. “ini bener kok pak.” Ujar Indra lagi karena merasa dirinya benar.

 “coba kamu baca buku itu. Paragraf ke dua.” Indra pun kembali duduk dan membaca buku itu dengan suara yang kencang. “Gateway perangkat dalam komputer yang difungsikan untuk menghubungkan sebuah jaringan komputer dengan satu jaringan komputer yang lain atau lebih yang menggunakan protocol informasi yang tidak sama.” Setelah membaca Indra langsung sadar dan terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. “Nah, itu pengertian NAT atau bukan?” tanya pak Omen.

 “hehe maaf pak. Tadi salah lihat. Ternyata Gateway.” Seketika teriakan demi teriakan memenuhi kelas. Teriakan yang di tujukan untuk Indra. “Sudah sudah. Baca kembali buku mu Indra. Selanjutnya yang lain apa ada yang tau kepanjangan dan maksud dari NAT?” tanya pak Omen. Lalu Dita langsung mengangkat tangannya.

 “Silahkan Dita.” Setelah di persilahkan. Dita pun mulai menjawab pertanyaan tadi. “NAT adalah singkatan dari Network Address Translation. NAT adalah sebuah proses pemetaan alamat IP dimana perangkat jaringan komputer akan memberikan alamat IP public ke perangkat jaringan local sehingga banyak IP private yang dapat mengakses IP public.” Semua penghuni kelas pun bertepuk tangan karena merasa tercengan dengan jawaban super duper panjang dari Dita. Pak Omen pun ikut bertepuk tangan karena bangga dengan siswanya.

 “nah benar sekali. Ini baru benar.” Puji pak Omen untuk Dita. Dita yang merasa di puji pun hanya bisa malu malu kucing. Dan langsung kembali duduk di kursinya. Setelah itu pak Omen lanjut menjelaskan materi itu. Sampai bel pergantian pelajaran pun berbunyi. Pak Omen pun meninggalkan kelas dan sebelum itu pak Omen berpesan pada penghuni kelas Hasna, bahwa minggu depan meraka akan melaksanakan praktek konfigurasi Mikrotik.

 Setelah bel, pelejaran matematika pun di mulai. Bu guru pun menjelaskan rumus rumus yang ada. Dan semua penghuni kelas terlihat sangat senang dengan pelajaran yang satu ini. Karena meraka sangat cepat memahami materi jika Bu Des yang mengajar.

 Tak lama kemudian. Bel istirahat pun berbunyi. Bel kali ini berbeda, karena bel istirahat ke dua ini lebih panjang dan isinya pemberitahuan untuk melaksanakan shlat zuhur berjamaah.

 Hasna pun menghampiri Dita yang sedang mengeluarkan mukenahnya dari dalam tas. Namun Hasna tak sendiri. Dia datang bersama Deby. “Dita kita shalat bareng yok.” Ucap Deby mengajak Dita untuk bersama sama menuju musholla. “Aku udah janjian sama Rihdo. Sebenernya aku mau sih sama kamu Deb. Tapi kali ini sorry. Aku nggak mau sama orang yang ada di ssbelah kamu.” Ucap Dita. Deby pun hanya diam dan giliran Hasna yang berbicara.

 “Maaf ya sebelumnya. Disini aku nggak tau salah aku apa. Kamu tiba tib abegini sam aku Dit.”

 “Jangan panggil aku Dit, Cuma Deby yang boleh. Jika kamu tanya apa salah kamu. Coba kamu lihat Fiyan. Dia sedih sama jawaban kamu yang sok jual mahal itu.”

 “Bukan maksud untuk jual mahal. Namun itu bukti taat aku atas perintah Allah Dita. Allah jelas memerintahkan kita untuk menghindari yang namanya zina. Dan Fiyan pun sudah mengerti akan Hal itu.” Jelas Hasna panjang lebar.

 “udahlah. Males aku dengerin ceramahan kamu yang nggak berfaedah itu. Jelas jelas kamu jual mahal. Sadar woy, Fiyan ituu suka sama kamu. Apa salahnya sih balas cinta dia. Malah sok ceramahin lagi.”

 “bukan gitu Dita. Aku Cuma mau cinta yang merupakan fitrah Allah malah aku bawa ke hal yang tak seharusnya. Aku berusaha untuk memperjelas itu. Perihal menyukai cukup perantara doa aja. karena hati ini milik Allah. Dan Allah maha membolak balikkan hati manusia.”

 Dita yang mendengar penjelasan itu bisa menerima hal itu walaupun tak semuanya, karena rasa kesalnya terhadap Hasna masih menguasainya. Dengan menatao datar Hasna, Dita lantas meninggalkan Hasna dan Deby yang masih berada di bangku Dita.

 “udah ya, masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya.”

 “iya Deb. Maaf ya kamu jadi ikutan kena masalah ini.” Ucap Hasna menundukkan kepala karena merasa bersalah kepada Deby.

 “nggak kok. Udahlah. Sekarang kita shalat aja yuk. Udah selesai azan tuh.” Hasna pun mengangguk dan pergi mengambil wudhu bersama Deby dan di lanjutkan dnegan mengikuti shalat berjamaah di musholla sekolah.

 

 

Part 27

1 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 536

-Day 27

 Hasna langsung turun dari mobil Deby. Dan berpamitan dengan kedua orangtua Deby. “Terimakasih atas tumpangannya Om, Tante.”

 “sama sama Hasna. kapan kapan main ke rumah ya. Kasihan Deby yang kesepian terus.” Ujar Ibu Deby.

 “ibu apann sih. Aku nggak kesepian ya.”

 Mereka yang ada di mobil lantas tertawa dengan tingkakh Deby. Deby yang melihat Hasna pun merasa sedikit lega karena bisa melihat tawa sahabatnya itu.

 “Hasna tenang aja. insyaallah semuanya akan berjalan dengan baik. Cukup sabar sabar dan sabar. Semangat terus ya.” Ujar Deby dengan di barengi senyuman.

 “iya Deby makasih ya. Om, tante mari mampir dulu.” Namun keedua orang tua Deby menolak karena akan ada acara keluarga hari ini. Makanya Deby di jemput. Padahal di hari hari biasa, Deby hanya si jemput oleh supir pribadinya. Namun kali ini beda.

 Setelah mereka berbincang. Akhirnya Hasna pun masuk dan di depan rumah ia duduk sebentar mennghirup udara alias AC alami yang Allah ciptakan untuk kita. Saat asik menikmati segala nikmat yang Allah berikan. Tiba tiba pundak Hasna di tepuk oleh seseorang. Hasna langsung menoleh ke arah si pelaku. Ternyata pelakunya adalah Ayah Hasna sendiri.

 “bengong terus.” Ucap Ayah sambil melangkah menuju tempat duduk di samping Hasna.

 “Hehe Ayah. Tumben udah ada dirumah.” Ujar Hasna

 “Ya begitulah. Tadi ayah mau jemput anak ayah yang masyaallah ini.” Ujar ayah sambil mencubit hidung Hasna yang pesek itu. Hasna yang tak suka pun lantas melayangkan protesnya.

 “Ih ayah mah suka cubit hidung Hasna.”

 “Biar mancung dikit.” Ujar Ayah terkekeh. Sedangkan Hasna lanngsung memasang wajah cemberut.

 “ih ayah. Gimana mau mancung. Gini gini aja Hasna udah bersyukur Yah.”

 “iya iya. Alhamdulillah syukuri apa yang ada. Alhamdulillah di kasi hidung pesek ya Hasna. nggak kayak ayah yang mancungnya Nauzubillah.” Ujar Ayah.

 “uuuh ada yang pemer, awas pamer itu nggak boleh.” Nasihat Hasna kepada ayahnya, yang di respon dengan cengengesan oleh ayahnya.

 “eh bentar deh. Ayah kan tadi mau jemput kamu kan. Tapi kok udah ada di rumah?” tanya Ayah.

 “oh itu. Tadi Hasna barengan sama Deby. Tadi di paksa ikut sama Deby. Hasna nggak enak kalau nolaknya.” Ayah yang mendengar penuturan anaknya pun lantas tersenyum dan mengelus kepala anaknya.

 “itu udah bagus. Jangan sampai orang kecewa gara gara kita ya.”

 “iya Yah.” Ujar Hasna menunduk dan menunduk memikirkan solusi untuk memecahkan masalahnya dengan Dita. Ayah yang melihat Hasna menunduk pun tidak berani memebrikan info penting kepad Hasna. ayah malah menyuruh Hasna untuk masuk dan mengganti pakaian yang ia gunakan. Hasna pun langusng melangkah menuju kamarnya. Sesampainya di kamar. Hasna langsung merebahkan tubuhnya dan mulai memasuki dunia mimpii.

 Setelah beberapa saat kemudian. Hasna pun terbangun karena suara handphone yang berdering. Hasna lekas menjawab telpon tersebut yang ternyata adalah dari Deby. “Gimana Hasna.” tanya Deby.

 “kayaknya aku bakalan coba cara yang tadi lagi deh.”

 “aku bantu jelasin ke Dita ya?” tanya Deby lagi.

 “nggak usah/ biarin aja. insyaallah aku bisa. Kalau misalkan memang aku nggak berhasil berhasil. Kamu bisa kok bantu dengan jelasin sedikit demi sedikit.”

 “yaudah, aku pasti bantu kamu. Tapi aku tunggu komandon daari kamu ya Hasna. semangat terus. Insyaallah Dita pasti bisamaafin kamu.” Ujar Deby mebuat Hasna semakin tenang.

 “yaudah udah dulu ya Deb. Assalamu’alaikum.”

 “wa’alaikumussalam.”

 Telpon pun selesai. Hasna langsung melangkah menuju ruang kekluarga untuk berbincang ria dengan ibu dan ayahnya.

 

 

Part 28

1 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 1.007

-Day 28

 Setelah melaksanakan shalat magrib. Hasna langsung meninggalkan musholla dan tidak melakukan murojaah yang selalu jadi agenda setelah selesai shalat magrib berjamaah. Hasna meninggalkan kedua orangtuanya di mushollah. Ibunya ingin mencegah Hasna untuk tidak pergi dari musholla. Namun ayah menahan pergerakan ibu. Ibu yang di tahan pun langsung menoleh menghadap ayah.

 “kenapa aku yang di tahan mas. Itu loh Hasna yang harusnya di tahan, hadang dia.”

 “biarin aja.”

 “biarin gimana. Tadi katanya mau ngasitau sesuatu ke Hasan.”

 “iya, nanti aku yang samperin ke kamarnya. Sekarang kita lanjut ngaji dulu.” Ibu pun mengikuti apa yang di ucapkan oleh ayah. Mereka berdua pun mulai mengaji, saling menyimak dan murojaah bersama. Di lain tempat, Hasna sedang memikirkan apa yang akan ia lakukan besok untuk menghadapi sikap Dita, untuk kuat di depan Dita dan untuk bisa mendapatkan maaf dari Dita.

 Hasna terus memikirkan cara caaranya. Sampai tiba tiba ia teringat untuk menelpon Deby guna untuk berdiskusi tentang rencana yang ingin ia lakukan. Namun sebelum itu, Hasna sempat fokus melihat kalender yang tertempel di dinding kamarnya. Di kalender pada bulan desember, tepatnya bulan ini. Terlihat ada gambar kue tart berwarna biru muda. Hasna pun mendekati kalender itu. Dan ternyata dua hari dari sekarang tepatnya tanggal tujuh belas desember. Hasna melihat nama yang ia tulis sendiri di kalender itu. Dan yak itu tanggal ulang tahun Dita.

 Hasna lantas kembali ke ranjangnya dan membuka handphonenya untuk mencari rekomendasi hadiah ulang tahun yang cocok untuk Dita sahabatnya. Saat sedang asik mencari rekomendasi kado. Tiba tiba pintu kamar Hasna terbuka. Dan terlihat ayah Hasna melangkah mendekati Hasna. Hasna yang merasakan ada pergerakan pun lantas mennoleh kearah pintu. Ternyata ayahnya datang dengan membawa handphonenya.

 Ayah langsung duduk di dekat Hasna. Hasna pun sedikit bergeser agar ayahnya kebagian tempat untuk duduk. Karena tadi hasna ada di ujung ranjang kecil miliknya.

 “ada apa yah? Kok ke kamar Hasna?” tanya Hasna

 “emangnya ayah nggak boleh ke kamar kamu?” Hasna merasa gugup karena perrtanyaan dari ayahnya. Serasa dia kepergok melakukan hal hal yang tak boleh di lakukan. “Ya boleh sih. Masa Hasna nggak kasi ayah ke sini. Dong bisa bisa Hasna ter cap sebagai anak kurang ajar dong.” Ujar Hasna dengan raut cemberut yang sangat khas. Ayah yang merasa gemas pun mengacak ngacak mukenah yang di gunakan Hasna. Hasna yang jadi korban hanya bisa pasrah sekaligus kesal dengan apa yang dilakukan ayahnya.

 “ngomong ngomong, ada apa gerangan ayah datang kr kamar Hasna?” ayah terlihat masih merangkat kata kata yang pas untuk memnyampaikan sebuah rahasia, bukan rahasia juga sihh, tapi sebuah rencana yang memang sudah di susun jauh jauh hari. Setelah merangkai kata. Akhirmya ayah pun mulai berbicara.

 “jadi gini. Ayah jujur nggak mau bersikap egois. Tapi ini sudah jadi keinginan kakek kamu.” Hasna mengerutkan dahinya. Tanda tak mengerti dnegan apa yanng di maksudkan oleh ayahnya. “maksud ayah apa? Jujur Hasna nggak ngerti.” Ayah pun menghela nafas. Karena bingung mau menjelaskan dengan cara apa. Namun ayah harus menjelaskan semuanya kepada Hasna.

 “jadi gini. Kakek nyuruh kita untuk tinggal di sana. Kakek kamu snagat ingin tetap bersama kamu. Bukan hanya kakek, tapi nenek juga. Jadi yang tadinya kita mau pindah bulan depan. Ayah ubah menjadi dua hari yanng akan datang. Tepat pada tanggal 17 besok. Ayah harap kamu mebngerti.” Hasna diam mencerna semua yang ayahnya ucapkan. Setelah sadar, hasna pun bertanya bagaimana dengan sekolah, teman dan lainnya. Dan ayah menjawab kalau Hasna boleh memilih mau sekolah dimana. Di pesantren atau di sekolah formal yang ada di sekitar sana. Walaupun sedikit jauh.

 “apa Hasna nggak boleh nolak Yah?” ayah yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya yang menegaskan bahwa ia menolak keras dengan apa yang di ucapkan Hasna.

 “yaudah Hasna ngikut ayah sama ibu aja. Hasna jadi anak baik aja.” ujar Hasna sambil memasang senyum manis mengjadap ke arah ayahnya. Ayah yang melihat iut langsung memeluk anak kesayangannya itu. Setelah melepas pelukan. Azan pun terdengar. Ayah dan anak itu pun pergi ke musholla untuk melaksanakan shalat isya.

 Setelah melaksanakan shalat, akhirnya mereka pun makan malam bersama. Di meja makan Hasna terlihat lemah dan sedang banyak kefikiran. Ibu yang melihat anaknya yang kacau itu pun langsung mendekati kursi yang ia duduki, merapatkan posisinya agar pas di dekat Hasna.

 “lagi mikirin apa sih sampai makananya masih ada sisanya begini.” Ujar Ibu yang sudah berada di dekat Hasna. “anu Bu, Yah. Hasna lagi nggak main sama Dita.”

 “lah kok begitu? Bukannya kalian bertiga udah kayak prangko ya? Nempel terus sampe nggak bisa di pisahin.” Ujar Ayah. Sementara Ibu mengelus elus kepala Hasna yang sedang nyaman dengan posisi menundukkan kepalanya.

 “ada sebuah kesalahan yang Hasna lakuin, yang membuat Dita marah sama Hasna.” ujar Hasna, ibu yang sudah tau ceritanya pun hanya diam, karena ia ingin membiarkan Hasna sendiri yang jujur dan menceritakan hal itu kepada ayahnya.

 “apa yang Hasna lakuin sampai sampai dia marah sama Hasna?” tanya Ibu.

 “jadi gini ceritanya bu, yah. Waktu itu ada yang ngajak Hasna pacaran. Dan Hasna tolak, karena Hasna tau pacaran itu nggak di perbolehkan. Di al qur’an pun udah di jelaskan untuk tidak mencdekati zina. Hasna jelasin itu ke Dita sama orang yang ngajak Hassna pacarab. Tapi Dita nggak terima dnegan jawaban Hassna. Dia bilang Hasna sok jual mahal dan udah ngecewain orang itu.” Pecah sudah tangisan Hasna. Ibu langsung memeluknya. Tangisan demi tangisan, rasa lelah dan semuanya bercampur aduk dalam benak Hasna. ia bingung dan bingung.

 Beberapa menit. Akhirnya tangisan itu terhenti. Hasna mulai tenang. Dan ayah mulai memberikan sebuah kata yang membuat Hasna tambah teang, “Yang kamu lakuin udah benar. Dan memang pacaran itu lebih baik di hindari, jikalau memang ingin bersama dengan kamu. Maka ada dua pilihan. TINGGALKAN atau HALALKAN. Cuma itu pilihannya. Dan masalah Dita sahabat kamu itu. Tetap senyumi dia, ajak dia bicara dan doakan dia. Mohon pertolongan sama Allah. Agar kamu bisa biakan lagi sama dia. Tapi di barengi dengan usaha juga.”

 Hasna hanya mengangguk jadi responnya. Dan Hasna pun berpamitan untuk istirahat, karena esok ia harus mulai dengan rencananya dan harus siap siap untuk berpamitan keapda teman sekelasnya dan juga kepada sahabat sahabatnya. Hasna berharap semoga besok akan berjalan lebih mudah, dan semoga Allah selalu melindunginya.

 

 

Part 29

1 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 1.863

-Day 29

 Pukul tiga pagi, Hasna terbangun karena mimpi yang sangat mengagetkan. Entah ia selalu tak mengerti kenapa mimpinya selalu aneh. Padahal dia selalu wudhu dan berdoa sebelum tidur. Mimpi di ajak main petak umpet oleh sosok anak kecil yang sangat cantik. Di dalam mimpi, anak kecil itu mengajak Hasna bermain petak umpen. Anak kecil itu menyuruh Hassna untuk bersembunyi. Dan anehnya, Hasna malah mengikuti perintah anak kecil itu. Hasna pun bergegas pergi bersembunyi. Saat hitungannya masih berjalan. Hasna masih berlari mancari tempat bersembunyi yang pas.

 Lalu Hasna menemukan sebuah tempat atau garasi, entah itu garasi rumah siapa. Hasna langsung bersembunyi disana. Sambil melihat lihat keadaan, apakah anak kecil tadi sedang mencarinya atau mungkin masih memikirkan tempat persembunyian Hasna. Hasna belum melihat bayangan bayangan anak kecil itu. Hasna celingak celinguk melihat keadaan. Namun sama sekali tak terlihat tanda tanda anak kecil itu datang mencarinya. Karena mearasa aman, Hasna pun duduk santai di tempat persembunyiannya.

 Tiba tiba terdengar suara barang terjatuh dari arah persembunyian Hasna. Hasna yang merasa ada hal aneh pun mulai bangun dengan posisi duduknya. Hasna mulai melihat lihat keadaan. Hasna merinding, ia masih melihat lihet sekitar. Tiba tiba ada yang menepuk bahu Hasna. dengan pelan Hasna menoleh menghadap arah pelaku. Dan ternyata anak kecil itu menemukannya. Tapi Hasna bingung kok anak kecil itu bisa ada di belakangnya. Bukannya anak kecil itu ada di luar garasi? Dan jarak garasi pun cukup jauh dari tempat anak kecil menghitung tadi. Karena merasa aneh. Hasna pun berlari meninggalkan anak kecil itu. Panggilan demi panggilan di layangkah oleh anak kecil itu. Namun tiba tiba Hasna terjatuh ke sebuah lubang besar. Dan hal itu membuat Hasna terbangun sekarang. Aneh bukan?? Itulah yang membuat Hasna bingung.

 “aduh itu mimpi apa ya. Kok aneh banget.” Hasna menggelengkan kepalanya, tak habis fikir dengan mimpi yang membangunkannya itu. Karena jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. Akhirnya Hasna pun pergi mengambil wudhu dan melaksanakan shalat tahajud. Setelah selesai shalat, Hasna pun berdoa, doa doa yang ia khusukan untuk kedua orangtuanya dan untuk bisa menyelesaikan masalah yanng sedang dihadapi oleh dirinya.

 Setelah semuanya selesai, sambil menunggu waktu subuh tiba. Hasna mulai mengaji dan murojaah yang alhamdulillahnya Hasna sudah menghafal tiga juz Al-Qur’an. Sungguh pencapaian yang sangat membuat Hasna senang dan bersyukur. Dan kebiasaannya membaca novel pun sudah berkurang bahkan sudah jarang sekali Hasna membaca novel. Novel baru pun sudah jarang ia beli.

 Setelah murojaah, Hasna pun lanjut dengan belajar, memperlajari mata pelajaran hari ini. Siapa tau nanti tiba tiba ada ulangan dadakan. Yang penting udah mempersiapkan diri untuk ulangan dadakan. Kalau ada. Yang penting udah siap siap, pikir Hasna.

 Tak lama kemudian, azan pun terdengar. Hasna pun menjawab lantunan azan tersebut. Setelah azan selesai berkumandang. Hasna pun bergegas keluar dari kamarnya dan berjalan menuju musholla. Mushollah masih sepi, tapi beberapa detik kemudian, kedua orang tua Hasna pun datang. Mereka terkejut melihat Hasna yang sudah stay di musholla. Mereka pun shalat subuh qobliyah terlebih dahulu. Setelah itu mereka pun melaksanakan shalat subuh berjamaah.

 Setelah itu mereka pun berpencar, menuju kamar masing masing. Dikamar, Hasna langsung menyiapkan semua buku buku yang menjadi jadwalnya hari ini. Setelah selesai, Hasna langsung pergi mandi. Hasna mandi tidak seperti yang orang orang bilang bahwa cewek kalau di kamar mandi pasti berjam jam. Hasna berbeda. Karena ia tau bahwa tak baik berlama lama di kamar mandi. Karena kamar mandi adalah tempat tinggal jin dan setan. Kamar mandi adalah tempat membuanng hajat, sepatutnya kita di kamar mandi seperlunya dan tidak berlama lama.

 Dan perlu kita ketahui bahwa ada adab adab ketika kita ke kamar mandi. Namun sayang, adab adab itu sering terabaikan oleh sebagian besar orang. Adapun adab adab itu diantaranya. Berdoa Sebelum masuk, ketika akan masuk kamar mandi alangkah baiknya kita membaca doa terlebih dahulu. Sebagaimana dari Anas bin Malik, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki jamban, beliau ucapkan: Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.” (HR.Bukhari no.142 dan Muslim no.375). Mendahulukan Kaki Kiri, Rasul sangan suka mendahulukan yang sebelah kanan terlebih dahulu. Namun ketika di kamar mandi, justru yang di dahulukan adalah kaki kiri. Hal itu dikarenakan kamar mandi adalah tempat yannng kotor dan masuk dalam keadaan kotor. Sehingga alangkah baiknya mendahulukan kaki kiri. Namun ketika keluar dari kamar mandi, menggunakan kaki kanan. “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (HR.Bukhari no.168 dan Muslim no. 268). Selanjutnya yaitu Tidak berlama-lama, salah satu godaan setan adalah berlama lama di kamar mandi. Dari Zaid bin Aqram radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya toilet ini di hadiri setan.”(HR. Ahmad 19807, Abu Daud 6, dan di shahihkan Syuaib al-Arnauth). Dan adab adab lainnya.

 Setelah selesai mandi dan menggunakan seragam dengan lengkap. Hasna pun bersiap siap untuk keluar dari kamarnya. Saat melangkah menuju meja makan, dari kejauhan tampak terlihat kedua orangtua Hasna yang sudah berada di meja makan. Sebelum duduk di kursinya, Hasna menyempatkan diri untuk melirik jam. Ternyata masih jam enam pagi. Mereka pun mulai sarapan bersama. Setelah dirasa sudah selesai. Ayah pun membuka obrolan.

 “Hasna, jadi hari ini berangkatnya sama ayah ya.” Hasna pun menoleh menghadap Ayahnya. “emang ayah nggak sibuk sekarang?”

 “nggak sibuk, kan hari ini ayah mau urus surat pindah sekolah kamu kan.” Mendengar itu, Hasna hanya bisa menepuk jidatnya karena lupa akan hal itu.

 “Oh iya lupa hehe, jadi hari ini hari Hasna pamitan sama semua temen kelas Hasna dong yah.” Ujar Hasna dengan raut wajah sedihnya.

 “udah udah jangan sedih, insyaallah besok akan lebih baik.” Ujar Ibu menenangkan, Hasna pun menganggukkan kepalanya.

 Setelah dirasa waktu sudah tepat untuk berangkat sekolah. Hasna pun berangkat bersama ayahnya. Sepanjang perjalanan, Hasna dan ayahnya bermain game sambung ayat, sambung ayat pun selesai saat mereka sampai di sekolah Hasna. saat sampai di parkiran sekolah, Hasna masih enggan untuk keluar dari mobil. Ayah yang menyadari kelakukan anaknya pun hanya mengelus kepala Hasna sambil berkata. “anak ayah nggak boleh sedih. Ingat satu hal, bahwa skenario yang di buat oleh Allah itu akan berakhir indah pada waktunya. Yang penting kita sabar dan semangat.” Ujar Ayah menyemangati Hasna, Hasna pun langsung tersenyum dengan ucapan ayahnya. Dan merekapun keluar dari mobil.

 Saat berjalan menuju ruang kepala sekolah, yang biasanya Hasna sering dengar cibiran cibiran yang menghina dirinya. Namun kali ini berbeda, tak ada sama sekali cibiran yang ia dengar dari siswa siswa yang sering berkata pedas.

 Mereka berdua pun memasuki ruang kepala sekolah, dan mulai membicarakan perihal pindahnya Hasna ke sekolah yang lain. Sementara di kelas sedanng ramai ramainya. Ada yang bergosip, ada yang main catur, bahkan ada yang nonton film layaknya bioskop mini. Deby saat ini sedang menonton permainan catur antara Indra dan Feri. Permainan catur adalah permainan yang hening, namun berbeda kalau Indra dan Feri yang bermain, bukannya hening untuk memikirkan strategi. Mereka malah berdebat untuk saling menghasut. Kalau masalah hasut mennghasut Indra lah jagonya.

 “jangan di majuin yang itu dong Fer. Kalah ntar nangess.” Ujar Indra sambil melihat papan catur di depannya. “jangan coba hasut aku ya, nggak mempan.”

 “Dih siapa yang ngehasut, untung aku kasitau biar nggak salah langkah.” Ujar Indra dengan sombongnya. Feri pun yang awalnya menolak mengikuti saran indra, akhirnya terpengaruh oleh hasutan Indra. Alhasil di akhir Feri pun kalah.

 Semua yang menonton pun tertawa karena kekalahan Feri. Miris memang, tapi begitulah Indra. Itulah jurus pamungkasnya Indra. Saat asik tertawa. Tiba tiba dari arah pintu, Dita berlari sambil menangis dan menghampiri Deby. Deby yang kaget melihat Dita menangis pun langsung memeluknya dan membawanya ke bangku Deby. Deby ingin bertanya kenapa Dita menangis, namun ia urungkan karena menunggu Dita tenang dulu.

 Setelah merasa kalau Dita sudah mulai tenang. Deby pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Dita. “kamu kenapa?” Dita masih diam, Deby masih sabar menunggu. Setelah beberapa detik Dita pun mulai berbicara. “Ridho Deb.”

 “Ridho kenapa? Coba kasitau pelan pelan aja.”

 “Ridho ternyata punya cewek lain, Deb.” Ucap Dita dengan berlinang air mata. Deby yang menjadi pendengar pun menghela nafas. Dan mulai menenangkan Dita.

 “cupcup udah jangan tangisin orang yang nggak pantas untuk di tangisi. Kenapa? Karena dia bukan orang baik yang Allah kirimkan untuk kita. Sekarang cukup fokus sama diri kita sendiri, perihal jodoh dan maut itu adalah takdir Allah. Hanya Allah yang tau. Jujur sebenarnya ini yang mau Hasna sampei ke kamu Dit. Tapi kamu keburu marahin dia gara gara nolak Fiyan. Hasna menolak karena ia nggak mau sakit hati dan kecewa karena terlalu berharap kepada manusia.” Ujar Deby panjang lebar. Dita yang mendengar itu pun terdiam dan merasa bersalah. Ternyata yang Hasna lakukan sudah benar. Namun mengapa dirinya sampai marah kepada Hasna yang tak memiliki kesalahan sedikit pun. Disini dialah yang salah. Dita baru menyadari itu. Dita pun berniat meminta maaf kepada Hasna. ia celingak celinguk melihat lihat di mana posisi Hasna. namun tak ia temukan.

 “Deb, Hasna mana? Aku mau minta maaf sama dia.” Ujar Deby dengan pelan karena merasa bersalah.

 “tunggu aja. insyaallah nanti datenng kok.”

 Tiba tiba dari arah pintu, datang Hasna dan wali kelasnya. semua penghuni kelas jadi bingung. Mengapa wali kelas yang datang ke kelas. Padahal hari ini bukan jam Bu Dwi. Semua penghuni kelas pun duduk di bangku masing masing. Begitu pun dengan Dita dan Deby.

 “Assalamu’alaikum anak anak.”

 “wa’alaikumussalam bu.” Ucap penghuni kelas dengan serentak.

 “ibu tau kalian pasti bingung kenapa ibu datang di jam ini. Jadi ada hal yang ingin ibu sampaikan ke kalian.”

 “apaan tuh bu? Apakah diskon BPP?” ujar Indra menjawab.

 “kamu minta diskonan mulu. Dua bulan udah ibu usulkan diskon. Dan udah di kabulkan. Jangan aneh aneh Indra.” Ujar Bu Dwi kepada Indra yang hanya cenngengesan di bangkunya.

 “baiklah ibu lanjutkan. Jadi maksud ibu ke sini adalah karena hari ini adalah hari terakhir Hasna ikut belajar bersama kalian.” Perkataan bu Dwi membuat semua penghuni kelas jadi bingung. “emangnya Hasna mau ke mana bu?” tanya Feri.

 “mulai besok, Hasna sudah pindah sekolah. Jadi kelas kalian akan kekurnagan satu personil.”

 “Yaahh… sedih aku. Nggak bisa main lagi sama Hasna.” ujar Indra

 “iya tuh.” Ujar semua penghuni kelas.

 “sudah sudah. Itu saja yang ingin ibu sampaikan sama kalian. Sekarang Hasna kembali ke bangkumu.” Ujar Bu Dwi, Hasna pun langusung menuju bangkunya. Bu Dwi pun meninggalkan ruang kelas. Dan semua penghuni kelas berhamburan menuju bangku Hasna. mereka semua bertanya tanya kenapa Hasna tega meninggalkan mereka. Dan Hasna memberitahukan kebenarannya. Bahwa ia akan pindah ke rumah kakeknya.

 Semua penghuni kelas pun mengucap kata kata perpisahan untuk Hasna. dan mereka pun rencananya mau ikut mengantar Hasna saat pindah nanti. Setelah penghuni kelas mulai kembali ke bangku masing masing. Kini Dita tiba tiba menghampiri Hasna dan langsung memeluknya.

 “Hiks.. maaf Hasna, maaf.”

 “aku minta maaf. Ternyata aku yang salah. Sekarang aku paham sama apa yang kamu ucapin kemarin.” Sambung Dita

 “udah udah nggak papa. Aku paham kalau kamu belum sepenuhnya ngerti dengan apa yang aku ucapin waktu itu.jangan nangis ih, nanti bengkak matanya.” Ujar Hasna sambil memeluk Dita.

 “aaa..mau ikut pelukan.” Ujar Deby yang ikutan memeluk Hasna. dan semua penghuni kelas yang melihat mereka pelukan pun ikut acara peluk pelukan. Semuanya berhamburan memeluk Hasna sebagai bentuk perpisahan.

 saat masih berada dalam pelukan semua temannya. Hasna tersenyum senang, dan merasa bersyukur bisa mengenal mereka semua. Dan momen ini akan selalu Hasna ingat di sekolah barunya kelak.

 

 

 

 

 

Part 30

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 37

-KMO Indonesia

-Kelompok 5 (Alister Garuda)

-Jumlah Kata 1381

-Day 30

 Pagi ini Hasna sibuk dengan semua barang barang yang harus ia kemas. Semua tempelan tempelan stiker yanng ada di tembok kamarnya pun satu persatu mulai di lepas olehnya. Foto dirinya dan sahabatnya pun ia taruh dalam sebuah box yang di beri tanda dengan tulisan Barang Kesayangan.

 Satu persatu barang ia taruh dalam box, masing masing box memiliki isi yang berbeda. Saat membereskan meja belajarnya. Hasna menemukan tiga buah Al-Qur’an mini yang masing masing memiliki warna yang berbeda. Ada yang berwarna hijau, wakna pink dan warna coklat. Saat melihat ketiga Al-Qur’an itu. Hasna berfikir bagaimana kalau dua al-qur’an itu ia berikan kepada kedua sahabatnya sebagai hadiah di hari berkurangnya usia mereka.

 Hasna pun menaruh al-qur’an tersebut di dalam tas ranselnya. Setelah dirasa pas. Hasna lalu melanjutkan untuk mengemas dan melipat lipat baju baju dan semua yang ada di dalam lemarinya. Setelah rapi, Hasna selanjutnya menaruh semuanya ke dalam sebuah koper besar berwarna hijau. Setelah semua baju Hasna rapi di dalam koper. Hasna menemukan sebuah buku di dalam lemarinya. Ternyata itu adalah buku cerpen waktu Hasna masih kecil. Hasna pun menaruh buku itu dalam box yang sama dengan foto dirinya dan sahabatnya.

 Hasna asik merapikan barang barang yang lainnya. Lalu dari arah pintu kamar Hasna, terlihat Ibunya yang datang menghampirinya. “semuanya udah selesai?” tanya Ibu yang menghampiri Hasna. “udah kok bu, tapi tinggal masukin sepatu sekolah doang.”

 “yaudah, eh tapi bukannya sepatu kamu udah di masukin ke mobil sama ayah?”

 “lah, emang udah ya bu?”

 “coba gih tanya ayahmu.” Hasna pun bergegas mencari ayahnnya. Hasna mencari mencari dan akhirnya menemukan ayahnya yang sedang minum kopi di luar rumah. “ayah, bener ya ayah yang masukin sepatu Hasna ke mobil?” ayah yang kaget pun langsung tersedak karena ulah anaknya yang tiba tiba muncul di dekatnya.

 “ih bikin ayah kaget aja. iya tadi ayah udah masukin semua, barang barangnya udah di angkut sebagian pake mobil pickup. Tinggal barang kamu doang yang belum di naikin.”

 “yaudah kalau begitu, Hasna masuk dulu ya. Mau keluarin barang yang di angkut pake mobil pick up.”

 Ayah pun merespon dengan kata ‘ya’. Setelah itu Hasna pun berlari menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, barang barangnya ternyata sudah rapi dalam box dan koper. Kamarnya pun terlihat polos, yang awalnya ramai dengan stiker dan berbagai macam jenis hiasan. Lalu Hasna membawa barangnya ke luar rumah dan dinaikan ke sebuah mobil pick up yang langusng di datangkan dari rumah kakeknya Hasna.

 Setelah semuanya selesai. Hasna, Ibu dan ayahnya pun istirahat sejenak. “kita berangkat setelah zuhur ya.” Ujar ayah. Dan di jawab anggukan oleh Ibu dan Hasna.

******

 Ba’da zuhur pun tiba. Hasna dan kedua orang tuanya melaksanakan shalat berjamaah di mushholla rumah itu. Setelah shalat, mereka pun bersiap siap untuk berangkat. Saat mereka keluar dari rumah, betapa terkejutnya mereka melihat teman sekelas Hasna yang tiba tiba ada di halaman rumahnya.

 Dari arah kejauhan, tiba tiba Deby dan Dita datang memeluk Hasna. “kenapa Harus pergi sih?” tanya Deby.

 “iya, padahal bisa tetep tinggal di sini, atau tinggal aja di rumah aku atau Deby.” Ujar Dita. Hasna pun melepas pelukannya. Dan ia baru ingat bahwa hari ini ulang tahun Dita. Dengan cepat Hasna mengambil sesuatu yang ia simpan untuk Dita. Bukan hanya untuk Dita. Melainakan unutk Deby juga.

 Setelah menemukan barnag yang ia cari. Hasna langsung bergegas menghampiri kedua sahabatnya itu. “Barakallah fii umrik untukmu Dita, jadi peribadi yang lebih baik lagi ya. Dan aku ada sesuatu buat kamu.” Hasna pun menyerahkan hadiah itu kepada Dita. Langsunng di terima oleh Dita, dan tak lupa dia juga memberikan hadiah untuk Deby juga. “Deb, ini buat kamu juga.”

 “aaa.. makasih banyak.” Ujar kedua orang itu sambil kembali memeluk Hasna. setealah di rasa sesi pelukan selesai. Hasna pun melanjutkan perkatannya.

 “ayo kita buat perjanjian, “sebelum aku pergi. Aku pengen banget kalian janji satu hal sama aku.”ujjar Hasba. “Janji apa?” ujar mereka berdua bingung dengan apa yang di maksud oleh Hasna. “Al-Qur’an yang aku kasi ke kalian, jangan lupa untuk selalu membacanya, dan juga pahami isinya, kalau bisa kalian jadikan pedoman hidup kalian. Dan satu hal lagi. Aku mau besok kalau Allah mengizinkan kita untuk bertemu lagi. Aku berharap kita bisa bertemu dalam keadaan sudah menjadi hafidzah.”

“Menjadi Hafidzah? Kenapa harus hafidzah?” tanya Dita.

“Aku mau kita sama sama menghadiahkan kedua orang tua kita sebuah makota di surga nanti.” Deby dan Dita yang mendengar itu pun jadi semangat. Dan mereka pun berjanji akan menepati janji yang mereka buat.

Setelah itu, satu per satu teman kelas Hasna melakukan salam perpisahan kepada Hasna. Semuanya terlihat sedih. Daan bahkan Fiyan pun tak tau kalau Hasna akan pindah rumah. Tiha tiba pundak Hasna di tepuk oleh seseorang. Yang tak lain adalah ayahnya sendiri. “ayo kita berangkat.” Dan di jawab anggukan oleh Hasna. Merekapun berangkat, terlihat mobil keluarga Hasna yang mulai menjauh dari pandangan semua yang ada di sana.

Sesampainya di rumah kakek. Hasna langsung membantu ayahnya untuk menurunkan barang barang yang mereka bawa. Setelah du rasa selesai, mereka pun istirahat. Dan tadi kakek sempat bilang kalau Hasna akan melanjutkan sekolahnya di pesantren ini. Namun ia akan berangkat dari rumah kakeknya tidak tidur di asrama.

Saat sedang bersantai santai, tiba tiba kedua sahabat Hasna yang ada di pesentren itu pun datang memeluknya. “aaa… aku kangen tau.”ujar iIca yang diikuti oleh Salsa.

“Tenang tenang, besok aku sekolah sama kalian juga.” Mereka berdua trerkejur dengan apa yang di ucapkan Hasna. Mereka melotot terkejut, sedangkan Hasna malah tertawa melihat ekspresi kedua sahabatnya itu.

Setelah berbincang bincang, mereka pun kembali ke rumah dan asrama masing masing. Karena waktu sudah menunjukkan ba’da magrib. Setelah shalat Hasna berdoa, semoga ia bisa betah dan bisa menepati janjinya bersma Dita dan Deby.

*******

5 tahun telah berlalu, Hasna sekarang sedang mengabdi di pesatren milik kakeknya. Bersamaan dengan itu, Ica dan Salsa pun mengabdi bersamanya. Ica dan Salsa sudah menjadi hafidzah al-qur’an. Samaa Halnya dengan Hasna. Ia memikirkan Dita dan Deby. Apakah mereka juga berhasil atau tidak.

Saat sedang melamun, tiba tiba ada salah satu santriwati yang memecahkan lamunan Hasna. “ustadzah, Caca mau nanya.”

“Tanya apa Ca?” ujar Hasna dengan Halus. “kata temen temen Caca, Hari ini ada tamu dari Universitas ya?” Hasna pun mengingat ngingat agenda hari ini. Dan ia baru ingat bahwa ada kunjungan kampus, kunjungan untuk melihat sistem mengajar di pondok ini. “kayaknya sih bener yang di bilang temen Caca. Terus ada apa Ca.”

“Tadi Caca liat, bis tamunya udah datang. Makanya Caca sampering ustadzah.”

Hasna yang mendengar itu pun langsung bergegas menyambut tamu, sebelum itu ia sempat berpamitan deengan Caca.

Hasna berlari tanpa menyadari bahwa ia menggunakan abaya hitam dan jilbab lebar yang akan membuat ia jatuh jika tak memperhatikan langkahnya. Hasna langsung dberdiri di samping Ica dan Salsa.

“Dari mana aja sih?” tanya Ica

“Maaf, tadi aku di taman, terus di samperin sama Cacaa. Untung ada Caca yang ngingetin.” Ica dan Salsa harap maklum, karena mereka tau kalau Hasna suka melupakan agenda yang sudah ia catat sendiri. Mereka pun fokus ke arah tamu. Dari bus tiba tiba muncul dua orang yang tak asing bagi Hasna. Orang itu berubah total, gaya pakaian dan tutur katanya pun berubah. Tak lupa dengan kain yang melekat pada tubuh mereka yang bertuliskan wisuda hafidzah.

Hasna yang melihat itu lantas mengeluarkan air matanya, haru dan bahagia rasanya melihat kedua orang itu. Dan sama halnya dengan kedua oraang itu. Mereka langasung menghampiri Hasna. Dan langsung memeluknya.

“Assalamu’alaikum ustadzah.” Ujar mereka berdua sambil memeluk Hasna.

“wa’alaikumussalam. Ya Allah, akhirnya janji kita sudah kita tepati. Aku bersyukur dan bangga memiliki sahabat seperti kalian.” Ujarnya memeluk Duta dan Deby.

“ini juga berkat hidayah Allah, yang melalui perantara kamu. Aku seneng banget kita bisa kumpul lagi.” Ujar Deby.

Mereka pun berpelukan untuk melepas rindu yang menggebu gebu. Rindu yang sudah lama muncul dalam benak mereka. Sama sama menjadi hafidzah dan menepati janji yang mereka buat sendiri. Sungguh indah pertemanan yang membawa kita untuk lebih dekat dengan sang pencipta. Ada kata kata yang pernah terdengar, yang berbunyi pandai pandailah memilih teman

 Dan Hasna membuktikan hal itu. Pertemanan yang membawanya lebih taat menjalankan perintah agama. Dan Dariku untuk Diriku, akan menjadi sebuah pengingat akan perjuangan, persahabatan dan cinta. Dariku untuk Diriku akan selalu menjadi kenangan dan pengingat di saat kita mulai merasakan semangat yang mulai berkurang. Semangat untuk kita yang sedang memperbaiki diri, ingat surga itu mahal. Maka ayok kita sama sama berjuang untuk mengapai surganya Allah. Semangat hijrah, keep istiqomah, hamasah selalu.

 

 

 

 

 

 

Mungkin saja kamu suka

Wiki Safran
Satu Dalam Satu
Namiya
ELINA
Sri Handayani
Bukan menantu pilihan
Endah Retnowati
ORGANISASIKU, PENYELEMATKU

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil