Loading
9

0

7

Genre : Romance
Penulis : Lana Rahmah
Bab : 25
Dibuat : 31 Desember 2021
Pembaca : 9
Nama : Aufilana Rahmatika
Buku : 2

Jeruji Rindu

Sinopsis

"Aku tak dapat memaksa apapun tentang kita. Aku masih di sini, bersama rindu yang kupeluk sendiri." Kisah ini membawa Aara pada rindu yang serba salah. Berkali-kali ia terjatuh, perihal kasih dan rindu yang terbungkam. Begitu pun saat ia mengenal Haris dan mulai jatuh hati padanya. Perjalanan singkat membawanya pada keputusasaan. Hingga akhirnya ia berlabuh pada hati seorang Alzam. Benih-benih rindu mulai bermekaran dalam hatinya. Namun, Aara tak dapat menyatakan apapun tentang rindunya itu. Berkali-kali Aara terus membungkam rindu. Pada akhirnya Aara lelah dengan semua rindu yang ia pendam sendiri. Namun, di tengah peliknya rindu yang ia simpan untuk Alzam, ada hal yang membuatnya kembali ragu. Haris kembali datang untuk menyatakan perasaannya pada Aara. Apakah Aara masih memiliki rasa yang sama dengan Haris? Atau justru Aara tetap setia dengan rindunya pada Alzam? Bagaimana Aara keluar dari jeruji rindu yang membelenggunya selama ini? Apakah akhirnya Alzam menerima rindunya? Temui kisah dan jawabannya pada setiap bab dalam novel ini. Semoga dapat menemani pembaca, dari rindu yang membelenggu.
Tags :
#Rindu

Prolog

4 1

Harapan akan selalu nyata untuk setiap insan yang mau berjuang. Pertemuan awal adalah langkah awal sebelum segala hal pelik datang. Semua akan baik-baik saja, sepertinya. 

 

 

Awal yang baik, tak dapat menentukan akhir yang baik pula. Segala harap, baiknya tetap dijaga dalam kadar yang cukup. Karena segala yang berlebihan, hanya akan memberikan luka di sisi yang lainnya.

 

Hiruk pikuk dunia sering kali menjadi boomerang untuk diri sendiri. Tak dipungkiri, untuk diri sendiri. Hidup akan selalu berjalan maju, dan hanya diperbolehkan sesekali menengok ke belakang (masa lalu). Agar tetap fokus pada asa depan yang lebih pasti. Begitulah kiranya hidup mempermainkan setap manusia yang hidup maupun yang sudah tiasa. Cerita akan selalu bersama mereka yang hidup dengan penuh kerja keras dan semangat. Kiranya, hal itulah yang menjadi tonggak kekuatan untuk Aara Aidah. Seorang wanita yang manis parasnya dan kalem (lembut/pendiam). Ya, itulah Aara dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Ia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya sebagai seorang mahasiswi di sebuah institut yang berada di daerah kota Cirebon.

Meninggalkan masa SMA, katanya, bukanlah hal yang mudah. Karena kita akan dihadapkan pada dunia yang lebih keras. Entahlah, siap atau tidak setiap insan pasti harus melalui masanya. Masa di mana banyak tuntutan, masalah, dan pilihan lainnya.

Sebelum ujian masuk institut yang Aara memutuskan untuk mengikuti bimbingan pra ujian masuk di sebuah organisasi ekstrakulikuler. Dengan segala harapan, dapat membantunya beradaptasi dengan dunia kampus atau setidaknya ia memiliki sedikit bayangan tentang kehidupan menjadi seorang mahasiswa. Benarlah demikian, ketika mengikuti bimbingan tersebut ia dapat mengenal banyak orang, entah itu sesama calon mahasiswa baru (Camaba) atau kakak tingkat yang bantu membimbingnya. Ia dapat memiliki bayangan, bahwa dunia kampus sangat jauh berbeda dengan masa-masa menjadi seorang siswa. Apapun itu tantangannya, kamu harus siap, Aara. Karena kamu harus maju. Kamu harus sukses. Harus bisa membanggakan kedua orang tua. Ya, kamu pasti bisa. Bismillah, ucap batinnya.

Setelah beberapa hari mengikuti bimbingan, tibalah waktu ujian masuk institut. Aara pun mempersiapkan dirinya. Meyakinkan hatinya, bahwa ia pasti bisa. Benar saja, setelah beberapa ujian dilewati, serta beberapa hari berganti. Pengumuman kelulusan ujian masuk tiba. Ia menunggu dengan segala harap yang terus melangit menjadi sebuah doa. Ia siap dengan hasil yang akan didapatnya. Walau dalam hati kecilnya, ia sendiri bingung jika tidak lulus, ia harus kemana lagi? Tetap, takdir berkata lain. Keraguannya tersingkirkan dengan melihat namanya tertera di barisan mahasiswa yang lulus dan diterima dalam institut tersebut. Alhamdulillah. Syukur tak henti ia agungkan pada Sang Maha Kuasa. Tak lupa, ia memberi tahu kabar gembira ini pada keluarga dan guru yang telah mendukungnya.

Beberapa hari berlalu, Aara mendapatkan info tentang rekrutmen panitia syukuran bimbingan yang telah membimbing mahasiswa baru untuk diterima di institut terkait. Awalnya Aara tidak terlalu mementingkannya. Tetapi, berjalannya waktu ia berpikir hal tersebut dapat menjadi bagian dari rasa syukurnya sekaligus ia dapat belajar beradaptasi dengan orang-orang baru yang belum dikenalnya. Ia pun mengajukan diri untuk menjadi panitian syukuran. Tak lupa, ia mengajak sahabatnya (yang kebetulan dalam satu bimbingan yang sama) untuk ikut menjadi panitia syukuran. Bukan apa-apa, sebenarnya, ia hanya butuh teman untuk menemaninya. Ya, karena Aara seorang yang pendiam. Jadi, ia butuh teman untuk dapat mengungkapkan pendapat atau pemikirannya. Setidaknya, ia dapat belajar berani seiring berjalannya waktu.

Setelah beberapa orang mengajukan diri sebagai panitia. Akhirnya beberapa hari setelahnya, diagendakanlah rapat perdana. Selama perjalanan menuju kampus, Aara sempat meragukan dirinya sendiri. Ia takut tak nyaman dengan keadaan atau sulit beradaptasi. Aara terus menyingkirkan pikiran-pikiran tersebut, dengan mengubahnya menjadi pikiran positif dan niat yang baik. Bisa, kok. Pasti bisa. Bismillah dulu aja. Belajar apapun yang akan kamu dapat. Belajar berbicara di depan orang yang baru kamu kenal. Bismillah, niat syukuran. Niat bantu sesama, bisik batinnya.

Aara pun sampai di tempat yang sudah disepakati. Ia disambut oleh beberapa teman yang sudah berkumpul di sana. Namun, yang membuatnya sedikit bingung karena belum ada panitian perempuan yang datang. Ya, Aara panitia perempuan pertama yang datang. Aara bingung harus gimana. Ia memberanikan diri untuk mendekati mereka. Karena salah satu dari mereka memanggilnya. Ia pun merasa tak enak. Akhirnya, di sana mereka saling berkenalan.

“Namanya siapa, Mbak?” ucap seorang pria dengan rambut dan pakaian rapi.

“Aara” jawab Aara, ramah.

“Oh Aara. Saya Dika” ucap pria itu lagi.

“Hadeh ... udah nih gini kalau ada perempuan” sindir salah satu pria yang ada di sebelah Dika.

Mereka pun tertawa, sedangkan Aara tersenyum karena bingung harus bersikap bagaimana. Perkenalan masing-masing pun berlanjut. Sampai pada seorang pria yang berada di ujung setengah lingkaran tersebut.

 “Haris”

“Oh iya, tinggal di mana, Mbak?” tanya Nanda, salah satu panitia.

“Di Babakan” jawab Aara.

“Oh ya? Temen saya juga daerah sana, Mbak” timpal Haris.

“Oh, daerah mana emangnya?” tanya Aara.

“Apa ya?” sambil terlihat mengingat-ngingat suatu hal, lalu ia pun melanjutkan ucapannya,

“Lupa nama desanya. Tapi, yang pasti daerah Ciledug”

Aara hanya menyeringai mendengar jawaban pria tersebut.

“Kalo ga salah, perempuan yang mau ikut jadi panitia ada lagi deh. Coba cek, Ram” tanya salah satu panitian pria.

Pria bernama Ramdan pun langsung mengecek ponselnya. Tak berselang lama, seorang perempuan pun datang. Ia pun disambut hangat oleh teman-teman yang sudah datang sebelumnya. Suasana yang masih agak canggung pun masih terasa di sana. Sesekali, ada saja yang mencoba mencairkannya.

Ini benar-benar hal baru bagi Aara. Apalagi teman-teman panitianya ini lebih banyak laki-laki. Ada rasa takut yang menyelinap masuk di hati kecilnya. Namun, segera ia singkirkan rasa takut itu dengan tetap berpikir positif dan berdoa agar semuanya baik-baik saja. Aara yang dikenal sebagai seorang pandiam, tentu bukan hal yang mudah untuknya. Walau bagaimana pun, ia memilih terus mencoa untuk beradaptasi dengan keadaan di sekitarnya.

Tak berselang lama, akhirnya rapat pun dimulai. Memang, masih ada beberapa panitia yang belum datang, termasuk sahabatnya. Beberapa menit kemudian, nada dering dari ponselnya sedikit mengganggu rapat yang sedang dilaksanakan. Akhirnya, Aara pun izin untuk mengangkat panggilan masuk tersebut.

Assalamu’alaikum” sapa seseorang yang ada di ujung panggilan itu.

Wa’alaikumsalam” jawab Ara.

“Ra, kamu di mana? Ini saya udah di depan kampus.” tanya wanita tersebut.

“Sini, di taman depan, Dhil.” jawab Aara santai.

“Hey kampusnya luas, Raa.” sahut sahabatnya, agak kesal.

“Eh iya, hehe. Ya pokonya dari gerbang masuk, terus aja. Nanti pasti keliatan saya lagi berdiri.” jelas Aara.

Oke oke. Wait, tunggu dulu. Eh rapatnya udah mulai belum, Ra?” tanya sahabatnya.

“Udahlah. Buruan makanya.” jawab Aara.

“Iya, iya. Ini juga lagi jalan, Raa.” sahut sahabatnya. “Eh, kok saya udah liat kamu aja sih, Raa. Elah kalau gitu tadi gak usah telepon aja.” gumamnya.

“Hey, Anda yang telepon saya duluan.” jawab Aara sambil melambaikan tangan pada sahabatnya. Ia hanya terkekeh mendengar jawaban Aara. Sahabatnya Aara ini bernama Fadhilla. Sejak SMA mereka sudah berteman dekat. Jadi, tak perlu diragukan lagi kedekatan mereka gimana. Berangkat sekolah, jajan, duduk, main bersama-sama. Takdir, justru kembali mendekatkan persahabatan mereka karena lulus di jurusan yang sama.

Setelah rapat selesai, semua panitia pulang ke rumahnya masing-masing. Banyak hal yang dibahas pada pertemuan perdana itu. Aara yang sudah sampai rumah pun, langsung bersih-bersih dan bersantai sejenak di kamarnya. Seperti biasa, Aara menggunakan  ponselnya untuk membuka media sosial. Tiba-tiba saja, ada pesan masuk masuk dari nomor yang tak dikenal.

Save, Haris. Isi pesan tersebut. Awalnya Aara ragu karena ia tidak memiliki teman yang bernama Aris. Setelah didiamkan beberapa saat, ia baru ingat salah satu panitia syukuran ada yang bernama Haris. Ia pun mengecek grup panitia dan bertanya untuk memastikan.

Maaf, Haris siapa ya? tanya Aara.

Yang panitia syukuran. Satu jurusan juga, balasan chat selanjutnya.

Oh iya, Aris. Oke, balas Aara.

Aara pun menyimpan nomor Haris di ponselnya. Pikirnya, barang kali suatu saat nanti membutuhkannya. Ia tak berpikir jau tentang kedekatan yang akan dilalui kedepannya. Namun, banyak kejutan dari awal chat ini menuju kisah selanjutnya.

user

01 January 2022 21:44 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak ...

Bab 1: Ada yang Berbeda

3 1

 

Waktu membawa kita pada perkenalan selanjutnya. Tak apa, waktu memang selalu memiliki rahasinya sendiri. Takdir adalah pemiliki waktunya masing-masing.

 

Pagi yang damai dengan udara yang begitu sejuk. Jarum jam menunjukkan pukul 06.00, Aara sudah berada di dalam mobil elf (mobil antar kota/mobil umum). Ia menilik keluar jendela, mentari mulai menampakkan rona merahnya. Dalam hening yang diciptakan, terbesit rasa syukur atas semua yang telah dilaluinya. Itulah kenapa Aara sangat menyukai sunrise. Karena datangnya sunrise membuat banyak orang bangun, bersemangat, mulai berangkat bekerja, dan rasa syukur lainnya atas nikmat hidup yang masih Tuhan berikan. Hatinya semakin terenyuh, ketika melihat beberapa orang yang terbilang sudah berusia lanjut, tetapi masih semangat mengayuh sepeda untuk pergi ke sawah. Oh, ternyata senikmat ini Allah menciptakan pagi dengan segala syukur yang tersimpan, ucap batinnya. Aara semakin menyusun niat dan semangatnya untuk memulai perkuliahan perdana pada hari itu.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Aara pun akhirnya sampai di kampus. Sementara kampus masih sepi dan jadwal perkuliahan masih setengah jam lagi. Ia menyempatkan diri untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan salat duha terlebih dahulu. Segala doa, ia panjatkan kepada Yang Maha Kuasa. Batinnya, berbisik agar semua urusan dilancarkan. Selepas salat duha, Aara pun segera menuju kelas yang sudah ada di jadwal. Ternyata sudah ada beberapa orang yang datang. Ia pun segera duduk di kursi yang kosong sambil menunggu Dhila datang.

Dhil, udah sampe mana?, Aara mengirim pesan pada Dhila.

Udah di kota, sih. Bentar lagi juga sampe, balas Dhila.

Oke, hati-hati, pesan Aara pada Dhila.

Pesannya tidak dibalas oleh Dhila. Mungkin saja, Dhila sedang berganti angkot untuk sampai di kampus. Aara pun, mencoba ramah pada teman-teman perempuan yang sudah datang, khususnya yang sedang duduk tepat di sampingnya.

“Di sini kosong, Mba?” tanya perempuan itu.

“Oh kosong, Mba. Silakan” jawab Aara.

“Terima kasih” jawab perempuan tadi sambil tersenyum. Ara membalas senyumannya.

Beberapa waktu, keduanya terdiam dengan gawai masing-masing. Aara sebenarnya merasa canggung, tetapi ia masih bingung cara memulainya. Ah, bukan cara memulainya. Ia hanya ragu untuk bertanya, “Mba, namanya siapa?”, “Asal mana?” atau pertanyaan lainnya. Entahlah, begitulah Aara sulit membuka percakapan. Tak beselang lama, Dhila pun datang. Ia duduk di samping kanan perempuan tadi.

“Ra, bawa earphone gak?” tanya Dhila pada Aara.

“Bawa nih. Wait.” jawab Aara. Ia pun mengambil earphone yang ada di tas miliknya.

“Udah saling kenal, Mba?” tanya perempuan tadi pada Dhila.

“Iya, Mba. Teman SMA. Oh iya, Mba namanya siapa?” tanya Dhila.

“Citra, Mba. Kalau mbanya?” tanya Citra pada Dhila.

“Fadhila, Mba” jawab Dhila sambil tersenyum.

Aara yang mendengarkan mereka, berkata dalam hatinya, Oh namanya Citra.

“Nih Dhil” ucap Aara sambil memberikan earphone pada Dhila.

“Oh iya, kalau mbanya siapa?” tanya Citra pada Aara.

“Aara, Mba” jawab Aara sambil tersenyum.

Syukurlah ada Dhila yang agak mencairkan suasana, batin Aara. Mereka pun akhirnya berbincang tentang asal rumah, sekolah, dan lain sebagainya. Suasana adaptasi mulai terasa bagi Aara. Ya, walau aara hanya sesekali berbicara dan justru lebih banyak menyimak obrolan mereka sambil sesekali tersenyum. Tak tertinggal tentang cerita bagaimana mereka memilih jurusan Bahasa Indonesia yang pada akhirnya mempertemukan mereka semua. Ada yang memang tak sengaja terjerumus, salah jurusan, ada yang benar-benar niat, dan lain sebagainya. Aara menjadi paham tentang ragam yang lebih berwarna dari dunia kampus. Padahal, ini hanya sebagian kecil di kelas ini, bahkan kampus ini. Beberapa menit kemudian, dosen mata kuliah Linguistik pun datang. Pembelajaran perdana pun dimulai.

Mata kuliah perdana yang menarik, sekaligus membuat otak bekerja lebih keras. Mata kuliah pertama pun akhirnya selesai. Sebelum kami meninggalkan kelas, tiba-tiba saja Aris mendekati Dhila.

“Dhil, bawa powerbank, gak?” tanya Aris.

“Enggak, Ris.” jawab Dhila. “Eh bentar, biasanya Aara bawa tuh. Coba deh tanya.” lanjut Dhila.

“Pinjam dong, Dhil” pinta Aris.

“Ish ... pinjam sendiri lah.” jawab Dhila.

“Ra, Aris pinjam powerbank tuh.” celetuk Dhila.

Aara langsung mengambil powerbank yang ada di tas miliknya dan langsung memberikannya pada Aris.

“Pinjam, ya.” ucap Aris dengan nada rendahnya.

“Iya, Ris.” jawab  Aara.

Entahlah, Aara sering merasa sikap Aris beda terhadapnya. Semua itu sejak mereka menjadi panitia syukuran bimbingan. Aara juga bingung dengan sikap Aris yang seperti itu. Sikap Aaris ke teman-teman yang lain, biasa saja. Bercanda, santai, kadang serius. Tetapi, ketika Aris berbicara dengan Aara, tiba-tiba kalem dan kaku. Ya, memang di mata Aara, Aris orang yang berbeda. Ada hal yang Aara sendiri, tak mengerti dengan sikap Aaris dan dirinya sendiri. Tentu, Aara akan bersikap kaku, jika lawan bicaranya juga bersikap kaku.

Pernah ada suatu momen, di mana Aris mendatangi Aara yang sedang duduk sendiri selepas acara syukuran.

“Ra, mau langsung pulang?” tanya Aris.

“Iya, Ris. Kenapa deh?” tanya balik Aara.

“Enggak, sih. Oh iya, rumah kamu tuh yang di mananya?” tanya Aris.

“Di depan SMK, Ris. Ya, pokoknya dari Gebang lurus terus ikutin jalan.” jelas Aara.

“Oh, oke deh. Nanti tanya temen kalau pas lagi main ke sana.” Jelas Aris.

Perbincangan itu belum selesai sampai di situ. Masih banyak hal lainnya yang mereka bicarakan. Ya, saat itu ada kenyaman yang berbeda dari seorang Aris yang Aara kenal.  Aara masih dalam kenyamanan yang tetap dijaga. Ia tak ingin merusak suasana dan kedekatan yang terjalin. Apalagi mereka masih dalam satu panitia dan kelas yang sama. Aara berusahan untuk menutup segala pintu dan berjaga dengan segala kekuatan hati yang ia miliki.

Perhatian Aris lainnya, juga terasa saat panitian syukuran mengadakan pelepasan panitia. Tetapi, saat itu Aara tidak bisa ikut karena sedang sakit. Aris adalah teman panitia yang paling menunjukkan rasa perhatiannya. Aris tiba-tiba saja menelepon Aara, sebelum berangkat camping bersama teman-teman panitia.

Assalamu’alaikum” sapa Aris.

Wa’alaikumsalam” jawab Aara.

“Gimana kabarnya? Sakit apa?” tanya Aris dengan nada rendah seperti biasanya.

“Masih belum baikkan. Biasa sih, magh-nya lagi kambuh aja” jawab Aara.

“Oh iya, tolong bilang ke temen-temen yang lain. Maaf belum bisa ikut. Padahal pengen banget ikut,” lanjut Aara.

“Iya, Ra. Gak apa-apa. Camping sih bisa kapan-kapan lagi. Yang penting kamu bisa sehat lagi. Yang penting kamu cepet sembuh. Udah istirahat dulu.” ujar Aris.

“Iya, Ris.” jawab Aara.

“Ya, udah. Ini mau berangkat. Kamu sehat-sehat. Jangan telat makan. Obatnya dimakan.” saran Aris.

“Iya, Ris. Hati-hati di jalan.” ucap Aara.

Mereka pun mengakhiri percakapan itu dengan memberi salam.  Sejak saat itu, Aara jadi tahu, ternyata Aris tak secuek yang ia kira. Aris juga perhatian. Entahlah. Semoga Tuhan masih menjaga pinta hati Aara dengan rapat.

 

 ****** 

Halo, terima kasih sudah berkunjung. Masih akan ada kejutan lainnya dalam kisah Aara dan Aris. Tetap stay ya. Sampai jumpa.

user

02 January 2022 22:21 Rani Iriani Safari Semangasst kak

Bab 2: Memendam Rasa

1 1

Perihal rasa sayang dan rindu, seringkali datang tanpa mengenal dari mana dan kepada siapa. Terkadang, rasa sayang dan rindu yang terus terpendam tidak akan baik-baik saja pada akhirnya. Namun, tak ada yang dapa memastikan jika diungkapkan akan bahagia.

 

Hari perdana kuliah pun berlalu. Kini Aara sudah tahu bagaimana caranya beradaptasi dengan jadwal dan tugas yang tak kunjung berhenti. Beberapa hari di awal perkuliahan, Aara memang merasakan lelah dengan semua rutinitas barunya. Apalagi ia harus pulang pergi dari rumah ke kampus, yang membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Terkadang terkuras di perjalanan juga. Tetapi, tak ada alasan lain yang dipikirkan Aara. Selain, tetap melangkah. Syukurnya, ia memiliki semangat-semangat yang disalurkan oleh sahabatnya, atau justru ia juga berperan menyalurkan semangatnya. Ya, siapa lagi kalau bukan kepada Aris. Setiap pembelajaran akan dimulai, dan Aris belum berada di kelas. Aara dengan sigap, langsung menghubungi aris. Entah itu dengan mengirim pesan atau meneleponnya.

Ris, masuk.

Ris, udah ada dosen.

Dan pesan lainnya. Yang entah Aris merasa terganggu atau tidak. Saat itu tak ada yang Aara pikirkan. Hal itu dilakukannya secara spontan karena memang hubungan mereka cukup dekat atau lebih tepatnya sudah saling mengenal sejak awal masa perkuliahan.

Begitulah Aara, ia sering memberikan perhatian lebihnya untuk seseorang yang sudah dekat dan merasa nyaman. Perhatian Aara mungkin hanya dapat dirasakan oleh teman-teman yang memang sudah mengenal dekat dengannya. Dengan kata lain, jika seseorang memberinya satu perhatian, maka Aara akan mencoba melebihkan perhatiannya itu untuk orang tersebut. Tetapi, sikap Aris pada Aara tak berubah. Tetap seperti Aris yang Aara kenal, kaku dan cuek pada Aara. Berjalannya waktu, justru perhatiannya Aris semakin berkurang, tetapi rasa nyaman, sayang, dan rindu, justru semakin mewarnai hati Aara. Ia tak mengerti tentang jalan cerita yang hatinya inginkan. Tak banyak yang Aara dapat lakukan. Karena Aris seakan tak memedulikannya. Apalagi tentang perhatian yang Aara berikan, mungkin, dianggap seperti perhatian biasanya. Tanpa kasih yang Aris tahu.

Suatu hari, ketika kelas belum dimulai. Aara sedang berdiri di depan kelas yang berada di lantai dua. Aara mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Tiba-tiba saja, Aris datang. Ia berdiri tepat di samping Aara.

“Ra” panggil Aris.

Aara yang sedang menggunakan earphone langsung melepaskannya.

“Iya, Ris” jawab Aara.

“Tugas Membaca Kreatif udah?” tanya Aris.

“Udah, Ris. Yang buat makalah kan ya?” tanya balik Aara.

“Iya, Ra. Saya belum, eh. Kapan sih tenggatnya?” tanya Aris.

“Hari Kamis, kalau gak salah,” jawab Aara.

“Kenapa belum? Lusa loh hari Kamis tuh, Ris” lanjut Aara.

“Ya belum dikerjain aja sih, Ra” celetuk Aris.

“Iya, sih. Ya udah kerjain atuh” ujar Aara.

“Iya, Ra. Nanti. Kan masih ada kelas” jawab Aris.

Ya, tak ada pembicaraan lebih selain tugas. Mereka jarang sekali berbincang. Apalagi Aara tipe perempuan yang kalau tidak diajak bicara, maka dia jarang memulainya lebih dulu. Yah, atau mungkin hanya sesekali saja. Itu pun jika teman yang diajak bicaranya welcome. Sama-sama sulit diprediksi. Aris yang cuek dan kaku dengan Aara yang tidak mudah memulai pembicaraan. Padahal dalam hatinya, Aara ingin sekali berbincang panjang dengan Aris mengenai banyak hal. Seperti saat Aris yang santai ketika berbincang dengan Dhila.

Ketika akhirnya rasa itu semakin tak menentu. Aara pun bercerita pada Dhila tentang perasaannya, sikap Aris terhadapnya, dan lainnya.

“Dhil, saya lagi aneh sama perasaan sendiri,” ucap Aara.

“Kenapa, Ra?” tanya Dhila.

“Ya gitu sih, kenapa saya bisa sebegitu perhatian sama Aris. Kadang kangen, kalau dia gak chat,” jelas Aara

“Yah berarti ada benih-benih cinta bermekaran” jawab Dhila sambil meledek.

“Iiishh kamu mah” geram Aara.

“Terus sejak acara syukuran itu, saya rasa ada yang beda dari sikap Aris ke saya. Kamu perhatiin deh, Dhil,” lanjut Aara.

“Iya, sih. Saya juga perhatiin, kok. Emang sikapnya ke kamu itu beda. Cara dia berbicara sama kamu. Cara dia tatap kamu. Masih banyak deh hal lainnya,” jawab Dhila.

“Nah, kan” ujar Aara.

“Apalagi kalau abis ngobrol sama saya, terus ngobrol sama kamu. Itu tuh keliatan banget bedanya. Kalau ke saya, dia santai, bercanda, kdang ngeselin juga. Tapi, kalau ke kamu, dia berubah jadi kalem, cuek, sekaligus kaku. Aneh dah” jelas Dhila.

“Iya, saya juga bingung, Dhil. Tapi, kadang perhatian juga, Dhil,” ujar Aara.

“Dia sering nanyain kamu, lewat saya. Kata saya, “Ya, sanalah. Tanya sendiri ke Aaranya.”” jelas Dhila.

“Oh ya? Sejak kapan?” tanya Aara.

“Ya, sejak acara syukuran itu.” jawab Dhila.

Perbincangan pun terus berlanjut. Aara menjadi semakin yakin, kalau ada sesuatu dari Aris. Aara semakin diliputi keraguan yang menyerbu benaknya. Di sisi lain ia senang, karena rasanya tidak bertepuk sebelah tangan, mungkin. Tetapi, di sisi lain ia juga ragu dengan semua sikap Aris padanya, sekaligus ia takut kalau pada ujungnnya akan merasakan patah hati lagi.

Di percakapan lainnya, Dhila pernah berbicara bahwa dia tidak setuju kalau Aara dan Aris memiliki hubungan lebih dari teman.

“Saya gak setuju sih, Ra, kalau kamu jadian sama Aris. Saya tau gimana Aris. Saya sedikit tau sisi lainnya seorang Aris” ujar Dhila sambil memakan snack kesukaannya.

“Kenapa, gitu?” tanya Aara.

“Ra, saya ini sahabat kamu. Di sisi lain, saya juga tau gimana sedikit buruknya Aris. Saya gak mau kamu disakiti dia,” jelas Dhila, yang tiba-tiba saja berhenti memakan snack yang ada di tangannya.

Aara menjadi semakin bingung dengan hatinya. Jika melupakan itu mudah, ia ingin sekali melupakan semua rasa yang ia miliki pada Aris. Kelas ketiga pun akhirnya segera dimulai, hanya saja dosen mata kuliah belum datang. Saat itu, Aara diliputi keraguan, kegalauan, kerinduan, terhadap Aris. Padahal Aris tepat ada di depannya. Sesekali ia mencoba melihat Aris sambil berbicara dengan hatinya, sebenarnya kamu itu bagaimana? Apakah kamu juga punya perasaan yang sama dengan saya? Apa maksud kamu memberikan perhatian kepada saya, tetapi di sisi lain kamu bersikap tak acuh. Sungguh, saya tak mengerti apa yang kamu inginkan. Apa yang kamu simpan dalam lubuk hatimu. Apakah di sana terbesit nama saya? Aara pun membuka note yang ada di ponselnya. Ia memutuskan untuk menuliskan sesuatu di sana.

                                       20 Oktober 2019

Jangan mudah membuka

Kau tidak tahu bukan,

Bagaimana jika niatnya hanya bermain-main saja?

Lantas, setelah itu kau berkata, “Jahat”

Belajarlah dari pengalaman

Sudah berapa kali kau membuka pintu, lalu menutupnya kembali dengan sangat kencang setelah ia keluar?

Satu, du kali kah?

Bohong, kau!

 

?????????????????????

 

Halo, terima kasih sudah berkunjung. Tetap nantikan kelanjutan dari kisah Aara ya. Sampai jumpa.

user

03 January 2022 21:56 Rani Iriani Safari Keren, lanjuut kak

Bab 3: Hati yang Kacau

0 0

Perihal mengungkapkan cinta, terkadang seseorang harus berani mengungkapkannya atau justru merelakannya. Cinta yang terpendam terkadang harus selamanya dipendam. Hingga pada akhirnya, cinta itu sendiri yang memaksa untuk direlakan.

 

   Pagi yang cerah seperti biasanya. Namun, tidak begitu cerah untuk seorang Aara. Karena pada pagi itu, ia agak telat untuk dapat datang ke kampus. Hal tersebut disebabkan telatnya mobil elp yang biasa ia naiki. Belum lagi, di mata kulih pertama kelompoknya harus presentasi. Sedangkan, makalah belum sempat di-print. Kesal, dicampur kecewa menjadi satu pada pagi itu.

Assalamu’alaikum,” sapa Aara dari sampungan telepon.

Wa’alaikumsalam,” jawab Baila, salah satu teman kelompok Aara.

“Nai, udah di kampus belum?” tanya Aara.

“Belum, Ra” jawab Naila.

“Oh iya, kamu tinggal di daerah kampus kan ya? Boleh minta tolong print-kan makalah presentasi hari ini gak, Nai?” tanya Aara, tak tenang.

“Iya, Ra. ah, kayanya gak bisa, Ra. Kayanya saya bakal telat ke kampus.” jawab Naila.

Tentu saat itu Aara semakin tak tenang.

“Iya sudah, Nai. Nanti saya hubungi yang lainnya. Terima kasih, Nai.” Ujar Aara.

“Iya, Nai. Sama-sama” tutup Naila.

Aara pun langsung menghubungi teman-teman satu kelompoknya yang lain. Namun, tak ada respon sama sekali.

Assalamu’salaikum, ada yang sudah di kampus? Atau ada yang tidak telat ke kampus? Kalau ada. Maaf, tolong, prin-kan makalah, ya. Ini file-nya. Maaf kemungkinan saya telat datang ke kampus , tanya Aara di grup whatsApp kelompok. Tak ada yang merespon. Aara melanjutkan pesan tersebut ke pesan pribadi. Beberapa kali juga ia mencoba menelepon teman-temannya tersebut. Namun, tetap tak ada yang merespon. Ia semakin tak tenang. Segala halnya tercampur. Dalam hatinya ia berbisik, ya Allah, tolong lancarkan semuanya.

   Ketika sampai di kampus, Aara melirik jam tangannya yang menunjukkanpukul 07.30. Berarti seharusnya, kelas sudah dimulai. Setelah turun dari angkot, ia bergegas menge-print makalah kelompoknya. Butuh waktu 10 menit untuk itu. Setelah mendapatkannya, ia segera pergi ke kelas yang sudah tertera di jadwal.

Dhil, kelasnya di ruang mana?, tanya Aara lewat pesan singkatnya pada Dhila yang sudah lebih dulu datang ke kelas.

Ruang G204, balas Dhila.

Oke, balas Aara sambil sedikit berlari menuju ruang kelas yang Dhila beri tahu.

   Sesampainya di sana, ternyata pintu kelas sudah tertutup dan suasana terdengar hening dari luar. Aara terdiam sejenak. Menarik napas, sambil mempersiapkan diri sebelum membuka pintu dan mengucapkan salam. Pikirannya sudah melayang jauh ke segala arah. Kacau parah. Apakah mungkin dosen akan memarahinya? Entahlah. Ia harus siap menghadapi apapun itu resikonya. Bismillah, ucap Aara dalam hati.

   Aara mengetuk pintu, lalu membukanya perlahan. Dalam hatinya, ia merasa tak enak karena akan mengganggu dosen dan teman-teman yang lain. Apalagi ia jarang sekali telat selama sekolah. Jantung Aara berdebar tak karuan. Pintu pun terbuka. Ia termangu melihat apa yang ada di depannya. Ternyata, dosen belum datang. Di satu sisi ia bersyukur. Tetapi, di sisi lain, ia juga bingung dengan perasaannya saat itu. Aara pun segera duduk di kursi yang masih kosong. Syukurnya, kursi sebelah Dhila kosong. Belum juga duduk, tiba-tiba saja Kaila, penanggung jawab mata kuliah Fonologi, memanggilnya.

“Ra, nanti langsung presentasi aja, ya. Ibunya gak masuk,” ujar Kaila.

“Oh iya, oke,” jawab Aara, sambil menaruh tas miliknya.

Setelah itu,

“Oh iya, Ra. Naila sama Riska, izin gak berangkat,” ucap Kaila.

Oh, Tuhan. Kenapa kalian ga ada yang kasih kabar, jerit Aara dalam hati. Sungguh kacau hari ini. Hampir semua tugas kelompok ini, Aara yang mengerjakan. Kesal memenuhi ruang hati dan pikiran Aara. Namun, ia harus gimana lagi. Selain, tetap maju dan menyelesaikan presentasinya.

Setelah mempersiapkan power point dan sebagainya, Aara pun memulai presentasinya.

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh. Baik, saya Aara . Pada pertemuan kali ini, saya akan mempresentasikan materi yang berjudul “Jenis-Jenis Fonetik”. Menurut Abdul Chaer, fonetik terbagi menjadi tiga bagian, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditori ... ”     Aara mempresentasikan makalahnya dengan baik, walau ia harus bekerja keras sendirian.

   Akhirnya, presentasi pun selesai. Begitu pun dengan mata kuliah pertama pada hari itu. Mata kuliah selanjutnya akan dilaksanakan 3 jam setelahnya. Teman-teman kelas Aara berpencar dengan kelompoknya masing-masing. Beberapa ada yang pergi ke kost-an teman atau sekadar jajan saja. Berbeda dengan Aara dan Dhila, dua sahabat ini belum memutuskan untuk mengontrak. Sehingga, jika ada jadwal kosong seperti ini, maka mereka harus dapat memanfaatkannya atau sekadar untuk istirahat.

“Ra, mau kemana?” tanya Dhila, sambil mereka menyusuri lorong menuju keluar.

“Perpus aja kali ya, Dhil. Mau cari bahan materi buat tugas PKN” jawab Aara.

“Oh iya, sih. Saya juga belum. Yuk, ah” sahut Dhila.

Pilihan ini sering kali dipilih oleh para mahasiswa baru yang bingung ingin kemana ketika waktu jam kosong seperti itu. Walau tak menutup kemungkinan, mahasiswa lama juga memilih hal yang sama.

“Mau kemana, Ra, Dhil?” tanya Citra yang tiba-tiba datang di samping Dhila.

“Ke perpus, nih. Kamu mau kemana, Tra?” tanya Dhila.

“Gak punya tujuan, sih. Ikut ke perpus bareng kalian aja, deh” jawab Citra.

Akhirnya, mereka pun pergi ke perpustakan dan berada di sana sekitar 2 jam lamanya. Sampai suara adzan terdengar, mereka pun pergi ke masjid untuk salat zuhur.

   Setelah waktu matak kuliah selanjutnya akan segera dimulai. Mereka memutuskan untuk datang ke kelas lebih awal. Beberapa menit kemudian, mata kuliah pun dimulai. Begitu juga dosen yang sudah datang di dalam kelas. Mata kuliah selanjutnya adalah Menulis Kreatif. Untuk seorang Arra, mata kuliah ini cukup menarik karena memang sejak kecil ia suka menulis, seperti menulis puisi dan diary. Ia menikmati setiap penjelasan dan motivasi yang diberikan oleh dosen mata kuliah tersebut.

   Sampai pada akhirnya, jam mata kuliah selesai. Satu persatu mahasiswa meninggalkan kelas, setelah dosen lebih dulu pergi. Aara dan Dhila, lebih suka keluar kelas terakhir. Entah, tetapi sepertinya hari itu Aara salah mengikuti kebiasannya tersebut. Karena tepat di depannya, Aris sedang duduk sambil bertumpu pada telapak kakinya di depan Kartika, salah satu teman perempuan mereka. Tiba-tiba sesak menyelimuti hati Aara. Ia terdiam sejenak. Kok? Ada apa? Ah, kebetulan kali. Tapi, bru pertama ini sih lihat Aris seperti itu. Apa mereka memiliki hubungan yang serius? Sejak kapan? Lalu, kenapa Aris masih bersikap sama ke saya? Apa maksud Aris? Oh, hati. Tolong, baik-baiklah. Aku tau, ini pasti sakit. Hati Aara terus bergejolak, Ris, harusnya kamu bilang kalau sebenarnya kamu suka sama dia. Kamu bilang ke saya. Biar saya, gak salah paham sama sikap perhatian kamu.  Dhila yang mengetahui hal tersebut, langsung mengajak Aara untuk segera meninggalkan kelas.

“Yuk, Ra. Buruan pulang. Udah sore” ajak Dhila.

Aara pun segera merapikan barangnya dan mengikuti langkah kaki Dhila untuk segera pulang. Namun, sesak dan bayangan itu belum juga hilang. Terima kasih, Aris.

 

 

 

**************

Halo, terima kasih sudah berkunjung. Menuru teman-teman, apakah rasa yang dimiliki Aara terhadap Aris itu salah? Tetap stay untuk mengetahui kisah selanjutnya, ya. Sampai jumpa.

Bab 4: Mundur Teratur

0 0

Ketika semua pengalihan sudah di depan mata, tak ada kata lain selain mundur secara teratur. Meski akan sulit melupakan segala rasa, perhatian, dan kasih. Seakan tak ada harapan, karena semuanya telah usai. Pergilah, lepaskanlah, sebelum hatimu semakin terluka.

 

Hari demi hari, Aara lanjutkan dengan melihat hubungan Aris dan temannya tesebut lebih jelas. Segala rumor sudah semakin menyebar luas. Segala pasang mata sudah dapat melihat keserasian keduanya. Memang hal yang tak mudah untuk tetap terlihat baik-baik saja. Namun, tak ada harapan lain. Alih-alih melupakan harus segera ia lakukan. Tentu, hubungan keduanya semakin merenggang saja. Tak banyak cakap.

Siang yang cerah dengan gundah gulana sudah mulai teratasi. Berjalan profesional adalah pilihan terbaik. Walau wajah, tidak benar-benar menampakkan isi hati. Ya, begitulah Aara ketika tak sengaja berpapasan dengan keduanya.

“Ra, mau jajan apa?” tanya Citra.

“Entah, sih. Pengen semuanya. Seblak enak kali, ya” jawab Aara sambil menyunggingkan senyum di bibir tipisnya.

Dhila yang mendengar hal itu, langsung bereaksi.

“Aaraa” ucap Dhila sambil menunjukkan tatapan sinisnya.

Aara hanya tertawa melihat reaksi Dhila sambil melangkah ke luar kelas. Tetapi, tiba-tiba saja langkahnya terhenti beberapa detik sebelum daun pintu dilewatinya. Ia melihat Aris dengan pacarnya sedang duduk di depan kelas. Seketika Aara terdiam, lalu tersenyum tipis. Ia mencoba mengatur lagi detak jantung dan hatinya yang mulai tak stabil. Ya, hanya beberapa detik. Syukurlah, dengan cepat ia mampu mengatur dirinya.

“Ayo, Ra,” panggil Dhila.

Aara langsung mempercepat langkahnya. Dhila merangkulnya dari belakang, seakan ia sangat paham dengan perasaan yang kini sahabatnya rasakan. Mereka pun akhirnya segera pergi ke kantin.

 

Entah mengapa semuanya seperti mimpi. Apakah benar salahnya? Aara tak mengerti apa keinginan hatinya. Yang pasti, sesuatu yang besar, ia hanya ingin segeramerelakan Aris dari hidupnya. Ya, mungkin memang sejak awal Aara yang salah karena mera Aris menganggapnya istimewa. Padahal, tidak. Aara teringat segala kenangan saat ia sedang dekat dengan Aris.

***

Malam yang syahdu setelah hujan turun membasahi kampungnya. Segala kenangan tercipta seketika dengan lagu-lagu rindu yang sedang diputarnya. Aara disibukkan dengan tugas-tugas awal perkuliahannya. Tak banyak, tetapi ia ingin menyelesaikan beberapanya agar tak terlalu menumpuk dan memenuhi pikirannya. Notifikasi pesan masuk menjeda lagu yang sedang diputarnya. Aara pun melihat pesan tersebut.

Ra?, tanya Aris dalam pesannya.

Iya, Ris. Ada apa?, balas Aara.

Kamu besok berangkat kan? Kebetulan saya lagi di rumah temen yang ada di daerah rumah kamu. Besok mau berangkat bareng?, tanya Aris.

Oh iya, kah? Rumah temennya di mana? Nanti saya tanya ibu dulu deh, ya. Boleh atau enggaknya, balas Aara.

Hal yang Aara pertimbangkan adalah kalau dia berangkat bareng Aris. Otomatis, dia akan menghemat ongkos buat ke kampus. Realistis, sebenarnya. Apalagi akhir-akhir ini Aara merasa terlalu membebankan orang tuanya dengan biaya kuliah, belum lagi ongkos bolak balik yang membutuhkan biaya cukup banyak. Karena sudah terlalu malam, akhirnya Aara memutuskan untuk izin besok paginya.

Pagi yang nyaman dengan suara burung-burung dan ayam berkokok pun membuatnya lebih bersemangat untuk memulai hari. Mengucapkan syukur di pagi yang tenang, seringkali membawa hari, perasaan, dan hal lainnya menuju ke arah yang positif. Sesulit apapun itu, hidup haruslah tetap berjalan dan segala tantangan harus tetap dihadapi. Setelah mencoba izi, akhirnya orang tuanya pun memberi izn pada Aara untuk berangkat dengan temannya, Aris. Perjalanan cukup jauh mereka tempuh dengan sesekali berbincang ringan. Tak banyak cakap. Ya, memang begitulah mereka. Seakan perasaan masing-masing tak begitu dihiraukan. Padahal Aara, sendiri, yakin Aris memiliki rasa yang sama. Tetapi, ternyata waktu menjawab semuanya.

***

Waktunya membawa Aara pada kekecewaan atas perasaannya sendiri. Ia terlalu percaya diri dengan semua perasaan yang dimilikinya. Padahal, setiap orang memiliki rahasianya masing-masing yang tersimpan dalam perasaannya. Tak ada orang yang benar-benar tahu isi hati. Hal ini menjadi pelajaran penting untuk Aara agar kedepannya dapat lebih memilah perihal hati yang ia miliki dan perhatian yang orang lain berikan.

Setelah banyak keinginan, mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk makan bakso di kantin kampus.

“Pak, baksonya tiga ya,” ucap Citra kepada bapak penjual bakso

“Oh iya, yang satu gak dikasih sayuran ya, Pak,” pinta Dhila. Bapak penjual bakso mengiyakan semua pesanan mereka.

Berbeda dengan yang lainnya, Aara hanya diam saja berkutat dengan ponselnya. Ia masih terpikirkan hal tadi yang baru saja dilihatnya. Rasanya untuk Aris masih sama. IA masih menyimpannya, walau sudah tak utuh. Aara tahu, banyak kekurangan yang ada pada dirinya. Aara merasa dirinya kurang cantik, terlalu sederhana, tak pandai bercakap, dan kurang bergaul. Aara memahami hal itulah yang membuat Aris, seakan berputar arah ketika sedang bersamanya.

“Ra, jangan diem aja,” ucap Citra yang sekejap menggugah Aara dari lamunannya.

Aara tersenyum sambil menyeringaikan bibirnya, “Enggak, Cit” jawab Aara.

“Tugas linguistik gimana ya? Masih belum paham eh” ujar Dhila mengalihkan pikiran Aara dan Citra.

“Kalau gak salah sih buat makalah deh” jawab Citra. “Iya kan, Ra? Kamu penanggung jawabnya kan, Ra?” lanjutnya.

“Iya, Cit, Dhil. Sepaham saya juga gitu. Kemarin tanya ke kelas sebelah juga gitu. Bapaknya juga agak susah dihubungi. Jadi, bingung deh” jelas Aara sambil mengambil pesanan bakso miliknya.

“Yah, semoga aja sih bener” jawab Citra. Mereka bertiga pun mengaminkannya sambil memakan bakso pertama yang masuk ke mulut masing-masing.

Beberapa saat setelah selesai makan bakso, mereka duduk sejenak sambil menunggu kelas berikutnya. Tak berselang lama, notifikasi pesan masuk di ponsel Aara pun berbunyi. Aara mengecek pesan tersebut, berharap dari dosen Liguistik yang sedang ditunggunya.

Assalamu’alaikum, Mba, tanya seseorang yang belum tertera di kontaknya. Aara pun melihat grup yang sama dengan dirinya. Ternyata itu Alzam, teman satu kelasnya.

Wa’alaikumsalam, iya Mas. Ada apa, ya? balas Aara.

Mau tanya, kita satu kelompok kan ya? Mau mulai  kerja kelompok kapan, Mba? tanya Alzam dalam pesannya.

Oh ya? Kelompok mata kuliah apa, ya? maaf, saya lupa, balas Aara sambil mengingat-ingat anggota kelompok di setiap mata kuliahnya.

Mata kuliah Menulis Kreatif, Mba. Kalau enggak dianggap gak apa-apa, Mba. Biar saya gak ikut ngerjain tugasnya, hehe, jawab Alzam.

Oh iya iya. Maaf, hehe. Oke kumpul di taman tengah aja ya, tanggap Aara. Akhirnya, ia pun segera pamit dan pergi ke taman untuk berkumpul dengan teman satu kelompoknya.

“Kalian habis ini mau kemana? Saya mau kumpul kerja kelompok Menulis Kreatif nih” tanya Aara sambil mencari uang yang ada di dalam tasnya.

“Kemana ya? Entah sih. Presentasi kelompok awal ya, Ra?” ujar Citra.

“Iya, Cit” jawab Aara.

“Ke masjid aja kali ya, Cit. Tapi, nanti aja deh. Masih mager jalannya” ucap Dhila yang masih duduk sambil memainkan jarinya di ponsel miliknya. Aara pun segera menitipkan uangnya untuk dibayarkan kepada bapak penjual baksonya. Lekas itu, ia pun pamit pergi lebih dulu.

“Ayo, duluan ya” ucap Aara.

“Iya, Ra. Hati-hati, jangan sampai cinlok,” celetuk Dhila sambil sedikit tertawa.

 

Bab 5: Chemistry

0 0

Cinta dan sayang terkadang datang tanpa terduga. Peluk erat dirimu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Percayalah, Tuhan akan mengirimkan seseorang yang dapat bersyukur memilikimu dengan segala yang ada pada dirimu. Tuhan tak akan pernah keliru.

 

Mentari pagi membawa Aara pada semangat dan syukur yang kembali merekah indah. Senyumnya penuh makna, ketika melihat rona mentari mulai terlihat dari ufuk timur. Syukur dan doa turut ia agungkan pada Yang Maha Kuasa. Karena berjalan sampai di titik ini, adalah rahasia Tuhan semata. Kita hanya dapat mengikuti skenario yang sudah ada dari Sang Pencipta.

Aara menarik dan menghembuskan napasnya perlahan. Menikmati napas, sehat, dan rejeki yang telah dititipkan padanya. Ya Allah, terima kasih atas segala nikma yang telah Engkau berikan. Terima kasih atas segala kasih yang Engkau titipkan pada orang-orang yang bersedia menyayangi dan mengasihiku. Engkau, Sang Maha Membolak-balikkan Hati Manusia. Lukaku, mungkin, benar salah diriku. Maafkan aku atas segala kesalahan yang telah kuperbuat, batin Aara lirih.

Hari ini bertepatan dengan hari Bulan Bahasa. Jurusan Bahasa Indonesia, tentunya, menjadi pagar terdepan dalam memeriahkan hari tersebut. Karena berhubungan erat dengan Bahasa Indonesia. Pada hari itu, kebetulannya lagi, jadwal mata kuliah hanya pagi saja. Sehingga, setelah kelas usai, sebagian mahasiswa kelas Aara berkunjung untuk ikut serta dalam memeriahkan acara Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa jurusannya.

Setelah berkunjung ke acara tersebut, Aara memilih untuk mampir ke perpustakaan yang tidak jauh dari gedung acara. Saat itu Aara, Dhila, dan Citra sedang berbeda kesibukan,

“Ra, saya duluan pulang deh ya,” ujar Dhila.

“Bareng, Dhil,” sambung Citra sambil merangkul Dhila.

Oke, oke. Hati-hati di jalan, ya. Saya ke perpus dulu deh,” jawab Aara sambil membetulkan tas miliknya.

“Beuhh ... anak rajin mah beda, Cit,” umpat Dhila sambil menyeringai. Citra yang melihat hal tersebut ikut tersenyum. Begitu pun dengan Aara.

“Eh, gak gitu ya konsepnya. Ada tanggungan buku perpus nih,” jawab Aara sambil mengeluarkan buku Fonologi dari dalam tasnya. Mereka pun akhirnya berpisah dengan tujuan dan kesibukan masing-masing.

Aara memang kutu buku. Ia sampai tak menyadari kalau sudah beberapa jam di dalam perpustakaan untuk membaca buku. Ia justru disadarkan oleh pesan masuk dalam ponselnya.

Raa? Udah pulang? Di mana?, tanya Alzam dalam pesannya.

Belum. Di perpus, Al, balas Aara.

Saya telepon ya, balas Alzam. Lalu, dering panggilan masuk pun berbunyi.

“Ra, masik sibuk? jadi mau ketemu?” ucap Alzam dari panggilan telepon.

“Enggak, kok. Boleh,” jawab Aara, sambil menutup bukunya. Ia lupa, kalau hari ini ada janji untuk bertemu Alzam.

“Masih lama di perpusnya? Nanti saya ke sana aja deh ya?” tanya Alzam.

“Enggak, Al. Ini mau keluar kok,” jawab Aara. Ia mulai merapikan buku-buku yang telah dibacanya.

Oke, berarti saya tunggu di depan perpus ya,” ucap Alzam.

“Iya, Al,” jawab Aara, bergegas menyimpan buku-buku tersebut ke tempatnya. Akhirnya, Aara segera turun dan keluar dari perpustakaan untuk menemui Alzam.

“Al.” Panggil Aara yang sudah ada tepat di belakang Alzam.

“Eh iya, Ra. Mau kemana?” jawab Alzam sedikit terkejut dengan kedatangan aara yang tiba-tiba.

“Terserah, Al” jawab Aara.

“Udah makan belum?” tanya Alzam, sambil berdiri untuk bersiap pergi.

“Boleh. Kebetulan belum makan,” jawab Aara, sambil menyeringai.

“Nah, oke. Ayo” jawab Alzam sambil melangkah menuju kantin, diikuti langkah Aara yang ada di sampingnya.

Sesampainya di kantin, mereka pun memesan makanan dan minuman. Aara memilih tempat duduk yang nyaman untuk mereka. Ya, beberapa minggu ini mereka memang sedang dekat. Bukan apa-apa, semua itu karena secara kebetulan menjadi teman kelompok yang sama. Kebetulan, mungkin. Mereka juga akhirnya saling mengenal dan bercanda. Walau hanya lewat pesan WhatsApp. Aara yang agak pendiam bertemu dengan Alzam yang humoris itu seperti perpaduan yang menyatu. Walau pendiam, Aara juga butuh teman-teman humoris yang setidaknya dapat membuatnya nyaman dan tertawa.

“Beuhh emang kamu tuh rajin banget ya, Ra” ucap Alzam, sedikit meledek.

“Sebenarnya enggak sih, Al. Yah kebetulan aja butuh referensi sambil balikin buku ke perpus,” jawab Aara sambil memainkan sedotan minumannya.

“Oh ya? Tugas apa emangnya?” tanya Alzam.

“Tugas mata kuliah Linguistik. Kan minggu depan maju presentasi tuh. Mau gak mau harus siapkan makalah dong,” jawab Aara sambil tersenyum.

“Iya, iya. Mantap dah pokoknya. Oh iya, kayanya kamu emang niat banget ya ambil jurusan bahasa Indonesia?” tanya Alzam, sambil melirik ke arah Aara.

“Sebenarnya enggak juga. Kebetulan aja masuknya di jurusan bahasa. Awalnya, justru enggak niat mau kuliah beberapa tahun ini,” jawab Aara, santai.

“Oh, ya? Kenapa?” tanya Alzam penasaran.

“Hmm ... alasan utama, karena saran dari orang tua sih. Bahagiain orang tua dan nurut sama perintahnya. Apa salahnya. Ya, walau dalam hati masih berat” jawab Aara.

“Rencana awalnya mau kemana kalau enggak kuliah?” tanya Alzam semakin penasaran.

“Rencananya mau kerja, terus sekitar dua tahun ke depan, baru kuliah. Yah, hitung-hitung bantu orang tua. Apalagi saya anak sulung. Kalau kau gimana, Al?” jawab Aara, sambil memberi pertanyaan balik.

“Sama sih. Saya juga awalnya enggak niat kuliah. Tapi, ibu maunya saya kuliah. Yah, akhirnya pikir-pikir ulang dan memutuskan daftar. Sampai akhirnya ada di titik ini,” jawab Alzam dengan tatapannya ke depan. Seakan ia mengemban beban yang tak ringan.

“Iya, ya. Kalau saran dan keinginannya orang tua, kita hanya bisa ikutin. Apalagi ibu. Yah, ridonya tiada dua. Semoga aja bisa memudakan sampai akhir perjalanan dan perjuangan buat kedepannya” sambut Aara, mengiyakan kesamaan antara keduanya.

“Aamiin ... Betul, betul. Bedanya sama kamu, saya sama sekali enggak ada niat buat kuliah?” Alzam menimbang perbedaan yang ada.

“Oh, ya? Kenapa gitu?” tanya Aara.

“Ya, karena emang udah capek aja sih. Kasihan juga lihat orang tua. Pengennya ikut bantu orang tua kerja,” jawab sambil tersenyum tipis.

“Iya, ya” jawab Aara mengiyakan.

Ternyata mereka memiliki kesamaan. Tidak mudah berada di titik ini. Mereka menimbang banyak hal untuk berada di sana. Tak ada pilihan, ketika orang tua sudah meminta. Keduanya yakin, Allah pasti memberikan jalan yang terbaik melalui pilihan orang tua mereka. Satu keyakinan yang mereka pegang, bahwa “Rido Allah ada pada rido kedua orang tua.” Mereka harus yakin juga bahwa bisa lulus di kampus ini. Mereka hanya ingin melukiskan senyuman di bibir keluarganya. Harapan lainnya harus mereka gugurkan. Bagi mereka, kebahagiaan dan mimpi orang tua mereka adalah yang terpenting. Apalagi, usia tak ada yang tahu. Sempat terucap di bibir seorang Alzam “Apa sih yang kita harapkan di dunia ini? Selain kebahagiaan dan rido orang tua kita.” Kalimat itulah yang juga menjadi cambuk semangat dan pengingat untuk Aara.

Setelah perbincangan lainnya selesai, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

 

Bab 6: Ada yang berbeda

0 0

Tak ada yang tahu pasti, kemana hati akan berlabuh, merasa nyaman, dan menjadikannya rumah sebagai tempat pulang. Semua hadir tak terduga. Rasa akan tetap ada pada jiwa-jiwa yang terluka.

Rasa terkadang datang tak terduga. Namun, hati yang sudah lama terluka tak mudah untuk kembali terbuka. Begitulah yang Aara rasakan. Ia berkali-kali dijatuhkan oleh perasaannya sendiri. Kesetiaan dan kesabarannya seakan menjadi hal yang justru membuat seseorang yang ia harapkan pergi. Bukan hanya tentang Aris, kisah sebelumnya pun sama. Ia bingung dengan perasaan dan keadaan yang sering  dihadapinya. Aara memang bukan wanita yang sempurna, tetapi setidaknya ia memiliki perasaan yang cukup disebut setia.

Beberapa hari berlalu, Aara dan Alzam semakin dekat dalam lingkup pesan singkat di WhatsApp. Mereka sering kali saling berbalas pesan. Bukan apa-apa, awalnya Alzam sellu mencari cara untuk mendekati Aara. Contohnya saja dengan modus bertanya mengenai tugas mata kuliah. Lantas berlanjut menjadi percakapan lainnya. Entah memang bertanya atau hanya sekadar modus semata. Aara hanya perlu berhati-hati. Karena tidak sedikit yang hanya menjadi bahan pendekatan, pengenalan. Lantas, setelah itu pergi meninggalkan tanpa kabar.

Raa?, sapa Alzam dalam pesan WhastApp yang dikirimnya.

Iya, Al, balas Aara.

Ra, morfologi gimana nih? Saya belum paham tugasnya, tanya Alzam.

Oh, tugasnya itu menganalisis mana yang termasuk afiksasi atau reduplikasi. Penjelasannya ada di materi sebelumnya, jawab Aara sambil kembali menatap laptonya.

Oh, oke oke. Makasih, Ra, jawab Alzam.

Iya, Al, balas Aara.

Aara memang masih biasa saja terhadap sikap Alzam. Terkadang, ada sisi di mana ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari sikap Alzam terhadap dirinya. Seperti, saat keduanya saling bercerita tentang cita-cita masing-masing. Entahlah, memang tak ada yang terlalu spesial antara keduanya. Tetapi, sikap Alzam di chat seakan memberikan aba-aba untuk menyatakan perasaanya. Suatu malam Alzam pernah menanyakan suatu hal pada Aara.

Raa?Lagi deket sama siapa?, tanya Alzam sambil menunggu dengan ragu dan harapan.

Ha? Maksudnya, Al?, tanya balik Aara yang bingung dengan pertanyaan Alzam yang tiba-tiba bertanya seperti itu.

Iya, kamu lagi deket sama siapa?, tanya Alzam kembali memperjelas pertanyaannya.

Enggak deket sama siapa-siapa. Kenapa emangnya?, jawab Aara masih dalam perasaan bingung sekaligus khawatir dengan pertanyaan itu.

Enggak sih. Tanya doang. Kali lagi ada yang deketin, balas Alzam sambil mengirim emot tertawa.

Hiyahh ... jomblo ya? Kasian amat sih, Ra, balas Alzam selanjutnya. Tak tertinggal emoticon tertawa yang juga dikirimnya, seakan ia sedang meledek dengan tawanya.

Aara yang mendapat balasan tersebut pun langsung menanggapi denga emoticon kesal dan marah. Tak benar adanya. Mereka justru menikmati percakapan dan candaan walau lewat pesan singkat tersebut. Jiwa mereka seakan memang sedang benar-benar bertemu. Padahal, tak ada yang tahu tentang isi hati seseorang yang sebenarnya sedang mereka rasakan. Tak ada yang tahu hati siapa yang sedang jujur dengan sekitarnya.

Ada sesuatu yang membuat Aara kembali ragu dengan sikap Alzam padanya. Dalam pesan singkat, mereka terlihat begitu akrab. Saling bercanda, bercerita, berkeluhkesah, dan lain sebagainya. Namun, saat di kelas, mereka justru menutupi kedekatan mereka. Tak ada keakraban yang mereka tampakkan di depan teman-temannya. Aara sendiri memang seorang wanita yang tidak mudah untuk memulai pembicaraan. Ia akan tak acuh pada orang yang bersikap tak acuh padanya. Begitu pun sebaliknya, dia akan ramah dan acuh pada orang yang lebih dulu memberikan kenyamanan padanya. Keduanya memiliki sifat itu. Sehingga, dapat dibayangkan bagaimana mereka mampu menjadi aktor dan aktris yang andal di dunia nyata atau justru dalam pesan singkat itulah mereka sedang saling berperan? Entahlah, yang pasti keduanya cukup nyaman dengan keadaan yang demikian. Aara hanya ragu saja dengan perasaan dan tanggapannya terhadap Alzam.

Siang itu, ada kelas yang harus mereka hadiri. Mata kuliah Fonologi, yang cukup menarik. Tak berselang lama, penanggung jawab mata kuliah pun mengumumkan sesuatu.

Ada info, nih. Bapaknya masih dalam perjalanan menuju kampus. Jadi, mungkin bapak agak telat datang. Tapi, presentasi tetap dimulai saja lebih dulu. Cc, bapak Fonologi, ujar penanggung jawab mata kuliah Fonologi.

Suasana kelas yang tadinya ramai pun seketika hening. Karena presentasi akan segera dimulai. Aara yang duduk dibangku pojok depan pun mencoba fokus pada presentasi yang sedang berlangsung. Beberapa teman lainnya, terlihat kurang tertarik dengan presentasi kali ini. Entah karena tak ada dosennya, atau memang tak tertarik dengan mata kuliahnya. Tak berselang lama, di tengah presentasi yang sedang berlangsung, ada notif pesan masuk dari ponsel Aara. Ia pun segera melirik pesan tersebut.

Ngantuk, eh. Pesan dari Alzam.

Aara yang ingin membalas pesan itu pun mencoba mencari wajah Alzam yang mengirinya pesan. Ternyata, dia justru ada di depannya. Ya, bangku mereka saling berhadapan. Hanya saja terhalang oleh para presentator. Aara yang sudah menemukan wajah Alzam pun, lantas membalas pesan darinya.

Cuci muka, sana, balas Aara.

Males, Raa, balas Alzam balik sambil melihat ke arah Aara yang juga sedang menatapnya. Tatapan mereka pun akhirnya bertemu di titik itu.

Isshhh, balas Aara sambil menambahkan emoticon marah dalam pesannya. Beberapa saat kemudian, akhirnya, Alzam pun izin untuk keluar kelas. Aara yang melihat hal tersebut pun hanya bisa tersenyum tipis juga senang.

Mata kuliah siang itu pun akhirnya selesai. Setelahnya, tak ada mata kuliah tambahan yang berarti kegiatan di kampus sudah selesai hari itu. Aara dan teman-temannya pun satu persatu mulai meninggalkan kelas. Begitu juga dengan Aara dan Dhila. Di tengah perjalanan sebelum pulang, Aara pun menceritakan perasaan yang sedang ia rasakan pada Dhila.

“Dhil, saya bingung, Dhil. Alzam kok tingkahnya beda ya,” ucap Aara sambil tetap melanjutkan langkahnya.

“Beda gimana?” tanya Dhila.

“Ya, gitu. Kita lagi sering chattan sih. Yah dia kan orangnya humoris, walau kadang aneh juga sih. Saya takut merasa nyaman sama dia, Dhil,” jawab Aara dengan tatapan kosongnya.

“Ya, kalau nyaman tinggal jadian, Raa” jawab Dhila sambil tertawa, meledek.

“Ya kali, Dhil. Ah, justru saya takut dipermainkan lagi kaya waktu sama Aris,” balas Aara sambil memperlihatkan wajah masamnya.

“Iya sih, Ra. Lah tapi masa sih kalian dekat?” tanya Dhila, tak percaya.

“Ya kali saya bohong masalah begini, Dhil” jawab Aara.

Dhila tertawa melihat wajah masam sahabatnya itu.

“Tenang, tenang.

Dhila tertawa melihat wajah masam sahabatnya itu.

“Tenang, tenang. Ya, kamu hati-hati aja, Ra. Pokoknya tetap jaga hati,”

“Iya, Dhil. Oh iya,

Mereka melanjutkan perjalanannya. Setidaknya Aara merasa sedikit lega dengan perasaanya. Walau dalam benaknya, bayang-bayang sakit hati dan khawatir masih mengancam pikirannya.

Bab 7: Hujan Tak Beralamat

0 0

Hujan seringkali menciptakan cerita-cerita penuh kenangan. Hujan membawa seseorang pada kasih yang entah di mana ia beralamat. Tak ada yang salah tentang hujan. Ada yang merasa bahagia atau justru terluka. Semua ada waktunya.

Pagi yang berbeda. Aara berangkat seperti biasanya. Ia berangkat dengan penuh semangat dan doa. Pagi itu ia memutuskan untuk tidak naik angkot. Karena memang waktu masih sangat cukup untuknya menyusuri jalan Perjuangan ini dengan berjalan kaki. Ia menikmati udara yang masih segar. Hembusan angin juga memanjakan dirinya untuk tetap berjalan santai. Pohon-pohon di samping jalan seakan mengucapkan semangat pagi sambil ikut berdoa. Begitu pun dengan langkah Aara, yang selalu ia selipkan shalawat kepada Sang Pemberi Syafaat. Sesekali pengendara motor lewat dengan deru motor yang masih santai. Memang, nikmat sekali berangkat lebih pagi dari jadwal yang seharusnya. Itulah mengapa Aara lebih menyukainya. Apalagi Aara memang seorang penikmat arunika. Butuh waktu sekitar 15 menit, untuk Aara sampai di kampus. Ia memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di masjid kampus sampai lelahnya cukup menghilang. Lalu, ia mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat dhuha seperti biasanya.Setelah itu, Aara pergi ke kelas yang sudah tertera di jadwal. Pembelajaran pun dimulai sesuai dengan waktunya.

Di tengah pembelajaran, Aara merasa kepalanya sangat berat. Sepertinya, maag-nya sedang kambuh atau memang sedang kelelahan saja. Ingin sekali rasanya ia istirahat saat itu. Tetapi, waktu pembelajaran masih cukup lama. Akhirnya dengan terpaksa, ia mencoba menahan semua sakit yang sedang ia rasakan. Kuat, Raa. Kuat. Bisa kok, bisa. Kamu sehat, kamu kuat, gumamnya dalam hati untuk memberikan sugesti baik pada pikirannya.

Setelah cukup lama menahan rasa sakit yang dirasakannya. Akhirnya pembelajaran pun selesai. Kini Aara masih terdiam di tempat duduknya dengan kepala yang ia sandarkan ke tembok. Rasa sakitnya mulai menyerang kepala yang sejak tadi menyuruhnya releks.

“Raa” panggil Dhila sambil duduk di sampingnya.

“Iya, Dhil,” sahut Aara dengan mata yang masih tertutup.

“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Dhila dengan nada lembut miliknya.

“Iya, Dhil. Sedikit sih, agak kambuh kayaknya,” ucap Aara dengan lirih.

“Ya Allah. Terus sekarang keadaannya gimana? Kamu udah sarapan belum? Udah makan obat belum?” tanya Dhila sambil mengubah posisi duduknya dengan melihat ke arah Aara. Dhila memang selalu menjadi teman yang sangat siaga setiap kali Aara sakit. Dhila seperti perawat pribadi untuk Aara. Sungguh beruntung Tuhan mendekatkan Aara dengan Dhila, sahabatnya itu.

“Udah kok, Ra. Tadi pagi udah sarapan di rumah,” jawab Aara sambil memijat kepalanya.

“Ya udah yuk ke kosan. Nanti makan lagi, ya,” ucap Dhila sambil memegang pundak Aara.

Ya, kini Dhila memang sudah memutuskan untuk tinggal di indekos yang berada tidak jauh dari kampus. Tentu, hal itu agar Dhila tak repot atau kecapaian untuk pulang pergi dari rumah ke kampus. Apalagi dengan jarak yang cukup jauh dan ongkos yang cukup menguras isi sakunya.

Tak lama setelah itu, Aara pun mengikuti saran dari Dhila. Mereka segera pergi ke indekos yang menjadi tempat tinggal Dhila sekarang.

“Kamu masih kuat jalan kan, Ra?” tanya Dhila dengan tatapan pedulinya.

Aara mengangguk. Ia masih mencoba mensugesti dirinya untuk tetap sehat dan kuat.

Sesampainya di indekos, Aara segera merebahkan dirinya di atas kasur. Sungguh, sakit kepalanya sangat mengganggu dirinya kali ini. Ia terus mencoba untuk tetap memberikan respon yang positif. Ia tak ingin rasa sakitnya sampai membuatkan tak sadarkan diri seperti saat dulu masa-masa sekolah. Ia cukup lelah untuk merasakan kelemahan itu kembali. Dulu setiap kali maag-nya kambuh ia selalu sakit seperti, bahkan lebih parah. Tak lama kemudia, Dhila datang dengan sebungkus nasi putih dan obat yang sudah ada di tangannya. Dengan terpaksa, agar dirinya segera membaik, Aara harus makan lagi dan memakan obatnya. Lalu, Dhila menyuruhnya untuk tidur terlebih dahulu sebelum jadwal mata kuliah yang kedua.

Sebelum matanya terpeja, notif pesan masuk terdengar dari ponsel milik Aara. Ternyata itu pesan dari Alzam.

Ra?, panggil Alzam dalam pesannya.

Iya, Zam, balas Aaram singkat.

Lagi di mana?, tanya Alzam.

Di kosan Dhila. Lagi rebahan dulu. Kebetulan kepala sama perut lagi enggak bisa dikompromi, jelas Aara pada Alzam.

“Lagi sakit? Udah makan? Ya udah istirahat dulu, ya, tanya Alzam.

“Udah,” jawab Aara. Ia pun memutuskan untuk segera tidur.

***

Ketika hari sudah mulai sore, Aara memutuskan untuk segera pulang. Tetapi, Dhila mencegahnya. Ia meminta Aara untuk menginap saja. Aara tak enak hati. Ia tetap berkeras hati ingin pulang. Akhirnya, Dhila berinisiatif untuk meminta tolong Alzam.

“Al, kamu udah pulang?” tanya Dhila

“Belum, Dhil. Masih di kosan temen,” jawab Alzam.

“Mau minta tolong boleh?” tanya Dhila sambil melipat pakaiannya yang sudah kering.

“Minta tolong apa, Dhil?” tanya balik Alzam.

“Mau minta tolong antar Aara ke terminal. Dia mau pulang. Saya gak tega kalau dia pulang naik angkot. Takut kenapa-kenapa di angkotnya,” jelas Dhila.

“Oh iya udah, Dhil. Nanti kalau hujannya udah agak reda, ya. Eh iya, saya cuma bawa satu jas hujan, itu pun jas hujan kelelawar. Aaranya gak apa-apa?” tanya Alzam sambil memastikan jawaban Dhila selanjutnya.

Dhila yang mendapat pertanyaan itu pun langsung mengonfirmasi pada Aara yang masih berbarig di atas kasur. Tak ada pilihan lain, Aara juga ikut mengiyakan saran dari Dhila untuk pulang bersama Alzam. Walau sebenarnya, hatinya tidak baik-baik saja jika ada di dekatnya.

“Iya, udah. Tunggu hujan agak reda aja, ya,” ucap Alzam dengan nada rendahnya.

Tak berselang terlalu lama. Hujan pun akhirnya agak reda. Namun, masih cukup untuk membasahi pakaian yang mereka pakai. Beberapa menit kemudian, Alzam mengabari bahwa dirinya sudah ada di depan indekos yang ditempati Dhila. Aara yang masih berbaring pun segera siap-siap untuk pulang bersama Alzam, walau hanya sampai terminal saja.

“Udah lama nunggu?” tanya Aara.

“Enggak kok. Santai. Kamu yakin mau pulang? Enggak nginep aja bareng Dhila, Ra?” tanya balik Alzam yang khawatir karena melihat wajah Aara yang pucat.

“Iya, Al. Gak apa-apa, kok. Enggak enak sama orang tua di rumah kalau mau nginep juga,” jawab Aara lirih sambil tersenyum.

“Iya, udah. Yuk, barangkali hujannya lebat lagi. Oh iya, gak apa-apa jas hujannya gini?” tanya Alzam sambil menunjuk jas hujan kelelawar yang dikenakannya.

“Gak apa-apa,” jawab Aara. Lalu, ia pun segera naik ke motor yang dikendarai Alzam. Akhirnya mereka segera pergi ke terminal sambil menerobos tirai hujan yang mulai lebat kembali.

Di tengah perjalanan, Aara merasa tubuhnya begitu lemas dan sakit kepalanya kembali terasa. Ia tak mungkin meminta Alzam untuk berhenti terlebih dahulu. Ia mencoba kembali menguatkan dirinya. Ia sendiri khawatir tiba-tiba tak sadarkan diri, yang tentu akan sangat membahayakan semuanya. Oleh karena itu, ia mencoba tetap kuat dan menahan rasa sakitnya. Tak terasa, kepalanya tersender di tas milik Alzam. Dalam benaknya Aara berbisik lirih, terima kasih sudah mau direpotkan. Padahal sedang hujan seperti ini. Tetapi, kamu bersedia mengantar wanita lemah ini. Semoga Allah membalas kebaikanmu. Semoga suatu saat nanti aku bisa membalas repotmu ini. Setelah sampai di terminal, Aara segera turun dari motor dan pergi ke mobil elf yang masih ada.

“Hati-hati, ya. Kabari saya kalau udah sampai. Jangan lupa makan sama makan obatnya,” ujar Alzam.

“Iya, Al. Terima kasih, ya,” jawab Aara sambil tersenyum.

Bab 8: Sunyaragi

0 0

Kenyamanan tak dapat dibeli dengan satu kata. Kenyaman hadir dengan sendirinya atau berproses dengan semestinya. Tak ada yang benar-benar utuh. Kita pernah ragu, patah, dan hancur dalam kehidupan masing-masing. Cukup kenyamananmu menemani sepimu.

 

Sejak drama hujan itu tercipta, hubungan Aara dan Alzam semakin dekat saja. Mereka lebih sering berkirim pesan, saling perhatian, saling membantu, dan banyak hal lainnya. Entah bagaimana hati masing-masing dapat berbicara. Yang sudah Aara pastikan, ia cukup nyaman berada di samping Alzam. Cukup itu, tetapi hatinya masih takut untuk berjalan terlalu jauh.

Siang itu, mereka kembali dipertemukan di perpustakaan. Karena kebetulan ada buku yang harus dipinjam untuk memenuhi tugas mata kuliah Morfologi. Oh ya, kini mereka sudah berada di semester 2. Waktu memang berjalan begitu saja. Tak dapat diprediksi segala rahasia yang ada di setiap harinya. Banyak hal juga yang dapat Aara syukuri selama di perkuliahan awal ini. Ia menjadi semakin mengenal ilmu bahasa, seperti fonologi, linguistik, dan kini morfologi (ilmu bentuk kata). Aara tak tahu pasti, ke mana waktu akan membawanya pergi.

Setelah beberapa menit di dalam perpustakaan dan sudah menemukan buku yang dibutuhkan.

“Gimana? Mau langsung pulang?” tanya Alzam sambil membalikkan badannya pada Aara.

“Masih mager, sih. Kayanya pulangnya nanti dulu deh,” jawab Aara sambil merenggangkan tangannya karena terlalu lama duduk.

Oke, kalau gitu saya temenin, deh. Mau di perpus terus nih?” tanya Alzam.

“Terserah, sih. Kalau keluar, mau kemana?” tanya balik Aara.

“Hijau-hijau (tempat rindang seperti wisata di daerah gunung), yuk?” ajak alzam sambil tersenyum.

“Pengen sih. Tapi, belum berani kalau jauh-jauh,” jawab Aara sambil menimbang keputusannya.

“Ya, udah. Wisata daerah sini aja deh. Oh iya, pernah ke Sunyaragi?” tanya Alzam sambil memasang mimik ingin tahunya.

“Boleh. Pernah, tapi udah lama banget ke sananya. Mau ke sanakah? Yuk,”  Aara dan Alzam pun akhirnya pergi ke Sunyaragi.

Sunyaragi atau Goa Sunyaragi (Taman Sari Sunyaragi) adalah salah satu situs sejarah yang ada di kota Cirebon. Pada masa lampau, goa ini menjadi tempat meditasi serta mengatur strategi para sultan untuk melawan penjajahan Belanda. Di dalamnya terdapat banyak goa, seperti goa Pengawal, goa Pandekemasang, goa Simanyang, goa Langse, dan masih banyak lainnya.

“Mau ke mana dulu?” tanya Aara sambil melihat ke Alzam.

“Sini aja kali, ya,” jawab Alzam sambil lebih dulu melangkahkan kakinya.

Mereka menyusuri setiap goa yang ada di sana. Setelah beberapa goa dikunjungi, mereka pun sejenak istirahat di samping goa Arga Jumut. Saat itu mereka saling menceritakan banyak hal, sambil sesekali tertawa karena hal-hal sederhana. Sampai pada satu saat, pertanyaan muncul yang membuat suasana terasa canggung.

“Ra, kamu bener enggak lagi deket sama siapa-siapa?” Pertanyaan pertama yang membuat keadaan mulai tersa canggung, tetapi Alzam masih bisa menguasai suasana.

“Sebenarnya, beberapa bulan yang lalu lagi deket sama temen masa SMA, sih. Awalnya saya memang kagum sama dia sejak SMA itu. Tapi, berjalannya waktu justru saya merasa gak nyaman dengan sikapnya, yang menurut saya terlalu berlebihan. Padahal, saya rasa, kita enggak ada hubungan yang terlalu spesial. Entah, kalau dia merasa sebaliknya. Sampai pada satu masalah, yang membuat saya merasa sikapnya terlalu over. Ya, tentu saat itu saya mulai menjauh dari dia. Tapi, di satu sisi saya merasa bersalah karena mungkin telah menyakati perasaannya” jelas Aara sambil menatap kosong ke depan.

“Terus sekarang gimana hubungan kamu sama dia?” tanya Alzam sambil melirik ke arah Aara.

“Entah. Aku masih menjauh dan merasa bersalah. Jujur, itu perasaan yang sangat bertolak belakang. Sebenarnya, takut aja merusak suasana saat ada reuni dan sebagainya. Tapi, hati gak bisa berbohong, Al,” jelas Aara, lanjutnya.

Suasana seketika hening. Mereka tak saling berbicara. Namun, bukan Alzam namanya kalau tak bisa mengalihkan kembali suasana. Alzam mulai berbicara sambil bercanda.

“Ya udah, kalau gitu kita aja yang punya hubungan,” canda Alzam sambil bangun dari duduknya.

“Hubungan apa?” tanya Aara sambil meledek.

“Hubungan apa maunya?” tanya balik Alzam sambil tertawa. Aara yang melihat tingkat temannya itu ikut tertawa. Aara tak menjawab apapun, ia hanya mampu tertawa melihat Alzam. Tiba-tiba saja, Alzam bertinggung di depannya.

“Ra, kalau saya suka sama kamu, boleh?” tanya Alzam sambil tersenyum.

Mendengar pertanyaan itu, hati Aara berdetak tak menentu. Hatinya diliputi keraguan, kebingungan, sekaligus kebahagiaan. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Ya, namanya suka itu boleh boleh aja, Al,” jawab Aara sambil tersenyum.

“Terus kalau saya suka, apa kamu mau menerimanya?” Pertanyaan Alzam selanjutnya yang membuat Aara terdiam. Ia bingung harus berkata apa atau bersikap bagaimana. Aara masih tak menjawab, tetapi senyumnya masih mengembang. Ia ragu dengan semuanya. Ia ragu dengan hatinya. Ia takut kembali tersakit atau justru menyakiti.

“Wah, kok jadi kaya di ftv ya,” celetuk Aara sambil tersenyum. Jujur hanya itu yang dapat ia ucapkan untuk mengalirkan kembali suasana dan hatinya.

“Saya bingung harus gimana, Al. Jujur, saya takut merasa tersakiti atau justru menyakiti kembali,” jawab Aara dengan wajah bingungnya, tetapi asih menampakkan senyum manisnya.

“Gak apa-apa. Ya udah kita mengalir aja seperti air, ya,” respon Alzam sambil mengembalikan kembali duduknya. Alzam tersenyum melihat Aara. Entah apa maksud tatapan Alzam sebenarnya.

Suasana memang terasa canggung kembali. Namun, sepertinya mendung meminta mereka menyudahi semuanya. Meminta mereka kembali pulang untuk menyusun hati masing-masing lagi. Tak mudah memang berada di posisi kedunya. Andai Alzam dapat mendengar isi hati Aara yang sebenarnya ingin mengatakan ‘iya’, tetapi tertahan di mulutnya.

 Sebelum Alzam pulang, ia terlebih dahulu bersedia mengantar Aara ke terminal. Padahal mendung sudah semakin pekat. Aara sempat menolaknya agar ia dapat pulang dengan angkot saja. Tetapi, Alzam tak mengindahkan penolakan itu. Aara tak enak hati padanya. Sampai akhirnya, mereka sampai di terminal. Aara bergegas turun dari motor.

“Hati-hati ya, Ra,” ucap Alzam sambil membuka kaca helmnya.

“Iya, al. Kamu juga hati-hati, ya. Terima kasih,” sahut Aara.

“Iya, Ra. Kalau udah sampai, kabari saya ya. Ya udah, saya pulang duluan, ya,” pamit Alzam sambil meninggalkan senyum yang cukup membekas di benak Aara. Ia pun, segera masuk ke mobil elf yang sudah datang. Dalam note ponselnya, ia baru dapat mengungkapkan isi hatinya.

Semesta, aku tahu Engkau pasti mengetahui apa yang kusembunyikan dalam hatiku. Semesta, aku tak dapat menyembunyikan apapun dari-Mu. Engkau pasti tahu, walau hatiku berbisik lirih. Rasaku ada karena mungkin merasa nyaman. Semesta, aku tak tahu bagaimana kisahku selanjutnya. Bagaimana ending dari cerita yang baru saja dimulai ini. Namun, aku yakin jika dia memang yang terbaik, dia akan datang kembali dengan cara yang terbaik. Aku hanya mengenalnya sebagai seorang pria yang sederhana. Pria yang berusaha menyembunyikan penatnya di balik tawanya. Jika akhirnya kita tak bersama, bantu aku untuk mengikhlaskannya, Semesta. Aku berharap pada-Mu.

 

Bab 9: Citra

0 0

Cinta memang tak salah, tetapi terkadang ia datang di waktu yang kurang tepat. Perihal hati, seseorang terkadang dapat dengan pandai menutupinya. Lalu, bagaimana memilih antara cinta atau sahabat?

Pagi yang cerah dengan segala kesibukan di dalamnya. Pagi ini Aara agak telat berangkat ke kampus. Bukan apa-apa, semua karena mobil elf yang dinaikinya terlalu lama berhenti dan berjalan lambat. Ah, sungguh ini salah satu masalah yang sering kali menjadi ketidaksenangan naik mobil umum. Belum lagi, kalau desak-desakkan di dalamnya. Seketika membuat mood turun begitu saja. Ingin rasanya marah, tetapi seketika ingat itu mobil umum yang berarti supir dan kondektur juga mencari uang setoran untuk dibayarkan. Ada yang lebih parah dari gak enaknya naik mobil umum (elf), yaitu jika ada orang yang dengan tak acuh merokok seenaknya di dalam mobil. Itu bukan lagi membuat geram. Sudah ada yang mengingatkan, tetapi ia justru kembali tak mengacuhkan peringatan itu. Aara kesal sekali pagi itu. Waktu yang seharusya bisa ia manfaatkan untuk hal lainnya di kampus, kini justru masih ada di dalam mobil.

Rasa kesalnya belum selesai sampai di situ, setelah sampai di kelas seorang penanggung jawab mata kuliah memberikan info bahwa dosennya berhalangan hadir dan hanya akan dilakukan presentasi mandiri. Aara cukup menarik napas berat pagi itu. Sepertinya Tuhan sedang menguji kesabarannya dari aktivitas yang biasa ia lakukan. Setelah jadwal mata kuliah pertama selesai, seperti biasa Aara dan Dhila pergi untuk istirahat dan membeli makanan di depan kampus. Saat sedang berjalan, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja Dhila bertanya sesuatu.

“Ra, kamu bener lagi deket sama Alzam?” tanya Dhila sambil memakan naget pesanannya.

“Iya, Dhil. Gimana?” tanya Aara sambil menengok ke arah Dhila. Barangkali saja temannya ingin menyampaikan sesuatu.

“Gak apa-apa sih, Ra. Sebenernya saya kaget, pas tau kamu lagi deket sama Alzam,” ucap Dhila yang membuat Aara semakin kepo.

“Kenapa emangnya, Dhil?” tanya Aara.

“Soalnya Citra juga pernah cerita kalau dia lagi deket sama Alzam,” jawab Dhila sambil melihat ke arah Aara.

“Oalah pantesan. Beberapa hari ini saya merasa kalau Citra agak beda sikapnya ke saya. Ya Allah, saya baru tahu, Dhil,” ucap Aara merasa tak enak hati dengan Citra, sahabatnya. Apakah ia harus menghindar dari Alzam dan tak mengacuhkan rasanya? Aara bingung dengan sesuatu yang baru saja ia ketahui ini. Kenapa Alzam tak pernah memberitahunya? Kenapa Alzam seakan tak penah memiliki kedekatan dengan Citra? Ya, memang Citra juga merasakan kedekatannya dengan Alzan di chat dengan di kelas itu jauh berbeda. Kedekatan mereka seakan hanya online saja. Tak ingin memberi tahu banyak orang. Tetapi, bagaimana ceritanya dengan dia dan Citra? Aara rasa, ia harus segera menanyakannya pada Alzam. Bagimana pun ia tak ingin menyakiti perasaan sahabatnya itu.

Malam harinya, seperti biasa mereka saling berkirim pesan. Tentu, hal itu menjadi kesempatan baik untuk Aara menanyakan kejelasan perihal kedekatannya dengan Citra. Ia berharap Alzam dapat jujur padanya. Walau dalam benak Aara, ia berharap masih akan medapatkan kabar baik dari yang kejelasan cerita itu.

Al, saya mau tanya sesuatu boleh?, ucap Aara dalam pesannya. Tanpa menunggu lama, Alzam menyilakan Aara untuk bertanya padanya.

Tanpa menunggu, Aara langsung mengirimkan pertanyaannya padaAlzam. Al, apa bener kamu pernah deket sama Citra? Atau punya hubungan khusus gitu?.

Setelah membaca pesan yang Aara kirimkan, Alzam meminta untuk menjelaskannya lewat panggilan telepon saja. Katanya, agar lebih jelas dan tidak ada salah paham antara mereka.

“Iya, pernah, Ra. Tahu dari siapa?” tanya Alzam.

“Dari Dhila. Kok kamu gak pernah cerita, Al?” tanya balik Aara. Ia hanya ingin tahu cerita sebenarnya gimana.

“Oke saya cerita. Iya, jadi itu pas masih awal kuliah, Ra. Pas itu Citra minta antar ke kota. Kebetulan teman yang lain enggak pada bisa. Jadi, dia minta bantuan saya. Singkat cerita dari situ kita deket,” jelas Alzam. Ia terdenger berbicara dengan hati-hati.

“Terus sekarang masih deket?” tanya Aara.

“Ya, deket gak deket. Biasa aja. Sebenernya saya sih yang lebih dulu menghindar dari dia,” jawab Alzam.

“Kenapa?” tanya Aara sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.

“Ya soalnya saya merasa enggak cocok aja. Enggak seimbang dengan saya. Ya, tentunya ada hal lain yang enggak bisa saya ceritain,” ujar Alzam.

Aara cukup tenang dengan jawaban Alzam. Setidaknya ia sudah mengetahui cerita pastinya. Walau dalam benaknya, masih tak enak hati dengan Citra. Ia segera kembali menghubungi Dhila, untuk menceritakan yang Alzam ceritakan. Ia memastikan harus apa dan bagaimana ia menanggapi Citra.

“Ya udah, Ra. Kita juga tahu gimana sifat Citra. Saya rasa emang enggak cocok juga kalau Alzam sama Citra. Sekarang kamu tinggal jalani aja kedekatan kamu sama Alzam. Toh, mereka udah enggak deket kan.” ucap Dhila. Ia percaya dengan sahabatnya. Ia cukup tenang sepenuhnya. Semoga jalan yang ia pilih tidak salah. Semoga kedekatannya dengan Citra juga tidak musnah. Harapnya dengan sungguh.

Bab 10: Bumi Perkemahan

0 0

Malam berkabut dengan kehangatan yang tak nyata. Kukira kau adalah kehangatan yang akan memelukku di kala kedinginan. Ternyata aku salah. Kau seakan tak acuh dengan keadaanku. Terima kasih atas sikap tak acuhmu.

 

Di tengah kesibukan perkuliahan dengan tugas, kelas Aara memutuskan untuk mengadakan acara sebagai bentuk healing. Mereka pergi ke bumi perkemahan. Dengan segala hal yang sudah dipersiapkan akhirnya mereka berangkat pada hari libur. Bumi perkemahan yang akan mereka tuju yaitu berada di daerah Majalengka. Semua persiapan seperti kelompok dan masing-masing pastinya sudah sangat siap. Mereka pergi dengan kendaraan bermotor. Aara yang belum bisa naik motor pun akhirnya harus menumpang ke teman. Tetapi, semua temannya sudah berpasangan dengan teman yang lainnya. Aara hanya terdiam karena bingung harus ikut dengan siapa. Tanpa disangka, Aris tiba-tiba mendekatkan dirinya pada Aara.

“Ayo, sama saya aja,” ucap Aris sambil berdiri di samping Aara. Tentu, Aara bingung harus bersikap gimana. Ia tak enak dengan pacarnya Aris. Apalagi dia masih satu kelas dengan mereka. Tetapi, memang tak ada tumpangan lain. Saat itu motor yang kosong hanya dengan Aris.

“Nah, iya sama Aris aja, Ra,” ucap salah satu teman yang lain. Akhirnya dengan ketidakenakan itu Aara mengikuti saran teman-temannya. Mereka pun pergi ke bumi perkemahan. Selama perjalanan, Aara berusaha menjaga jarak dengan Aris. Ia tak ingin menyakiti hati temannya. Ia juga takut kembali merasa nyaman pada Aris. Karena rasanya masih ada, rindunya masih sama. Ketika Aris mengajak ngobrol dalam perjalanan sekali pun, Aara menanggapi seadanya. Jujur, itu posisi yang sangat tak memberikan kenyamanan pada Aara. Di satu sisi ia senang karena dapat kembali dekat dengan Aris, tetapi di sisi lain ia juga ragu.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka pun sampai di bumi perkemahan. Mereka kompak menyiapkan dan membereskan barang-barang dan segala halnya. Aara dan teman-teman lainnya mulai mendirikan tenda. Tetapi, kelompok Aara kebingungan karena belum ada yang berpengalaman pergi ke gunung atau perkemahan seperti itu. Aris dengan sigapnya ia datang.

“Sini, Ra. Saya bantu,” ucap Aris secara tiba-tiba. Aara dan teman-temannya tak menolak bantuan Aris. Aara merasa menemukan Aris yang awal ia kenali lagi. Rasanya kembali secara tak diundang. Ia memerhatikan Aris lamat-lamat, sambil mengingat kenangan yang pernah Aris torehkan di benaknya.

***

 

Siang harinya, ketika Aara dan beberapa teman perempuan lainnya hendak menyiapkan makan siang. Mereka memasak di tempat yang sudah mereka persiapkan.

 

Alzam datang untuk membantu mengantarkan air di dalam ember. Ia meletakkannya tepat di samping Aara. Keduanya saling diam. Seakan tak pernah dekat antara keduanya. Mereka tak saling sapa  atau pun menengok.

“Al, kuat juga ya kamu bawa ember sendiri,” lontar Anisa.

“Wah, Anda meragukan kekuatan saya, Nis?” tangkas Alzam sambil menenteng kedua tangannya di pinggang. Sontak membuat mereka tertawa melihat dan mendengar respon Alzam itu.

Aara? Tentu ia ikut tertawa melihat tingkah teman dekatnya itu. Walau hati Anya, ingin rasanya Alzam mengajaknya berbicara atau sekadar menyapa. Tetapi, justru Alzam bercanda dengan Anisa, teman yang tepat duduk di samping Aara. Hey, Al. Apa kamu gak anggap aku ada?, gerutu Aara dalam hati. Entah apa yang ada di benak Alzam saat itu. Kesal dan agak kecewa yang saat itu Aara rasakan. Ia tak mengerti inginnya Alzam. Bukankah seharusnya Alzam tahu bahwa Aara tak mudah untuk mendahului pembicaraan. Ah, kesal rasanya. Sampai ia benar-benar pergi pun, sama sekali tak menyapa Aara.

Aara yang dilingkupi rasa kesal dalam hatinya, segera membuka ponsel. Ia ingin mengungkapkan kesalnya pada Alzam lewat pesan singkat.

Al, apa saya seperti makhlus halus untuk Anda? Hey. Parah sih, sambil menambahkan emoticon marah. Namun, pesannya itu tak kunjung ia kirim. Entah, ia sendiri ragu untuk mengirimkannya, tetapi hatinya sungguh dongkol dibuat Alzam. Sabar, Ra. Biarlah. Mungkin itu memang inginnya Alzam dan ... ucap Aara dalam benaknya. Hingga akhirnya, pesan itu tak jadi ia kirim.

***

Kini, semilir angin malam mulai menyapa mereka. Suara-suara malam di pegunungan mulai terdengar di  telinga. Beberapa teman laki-laki mulai menyiapkan api unggu, air hangat, dan jagung untuk dibakar bersama. Teman-teman perempuan pun ikut menyiapkan tempat duduk, gelas, dan lain sebagainya. Suasana malam yang sunyi dan syahdu semakin menetramkan hati.

Tepat pukul 20.00 mereka duduk melingkari api unggun yang sudah nyala membara. Api yang membakar kayu-kayu itu memberikan kehangatan pada mereka. Apalagi mereka berkumpul seperti itu. Acara pertama malam itu mereka mengadakan sebuah game. Gamenya adalah truth or dare dengan menggunakan botol minum. Mereka harus bernyanyi bersama sambil mengoper botol tersebut kepada teman di sebelahnya. Setelah ketua kelas menjelaskan teknik bermainnya. Permainan pun dimulai.

“Lagunya bintang kecil aja kali ya,” usul salah satu anak kelas. Mereka tertawa. Beberapa anak ikut menyusulkan juga, hingga akhirnya disepakati.

Setelah lagu pertama selesai, Naila ternyata yang terakhir memegang botol tersebut. Tanpa boleh menolak, akhirnya ia pun mendapatkan pilihan truth or dare. Ia memutuskan untuk memilih truth, yang mana berarti ia harus berkata jujur. Ini momen yang ditunggu setiap anak. Keseruannya ada di sini. Mereka harus memberikan tiga pertanyaan untuk dijawab jujur oleh penerimanya. Begitu pun dengan pilihan dare, mereka harus memberikan tantangan untuk teman yang kalah. Semakin malam, permainan semakin seru.

Tak terasa, mereka menghabiskan waktu satu jam untuk bermain. Acara selanjutnya, mereka saling mengeluarkan keluh kesah serta harapan untuk kelas ke depannya. Sedangkan, akhir acara mereka tutup dengan bernyanyi bersama diiringin dengan gitar yang membuat malam semakin hanyut. Namun, tidak dengan Aara. Ketika sedang duduk dan menikmati lagu, ia mulai merasa tidak enak badan. Ya, ia merasa kedinginan dan sakit kepalanya kambuh begitu saja. Syukurlah ada Dhila di sampingnya. Dhila pun mengantar Aara ke tenda.

Sesampainya di tenda, Aara segera tidur dengan sarung yang dibawanya. Aara mulai menggigil. Tak lupa, Dhila memberikan obat agar Aara segera memakannya. Beberapa menit setelah Aara ingin mulai tidur. Tiba-tiba terdengar suara Aris di luar tenda.

“Aara kenapa, Dhil?” tanya Aris pada Dhila.

“Tiba-tiba kedinginan, Ris. Mungkin maag-nya juga kambuh,” jawab Dhila.

“Ya udah tidurnya jangan di sini. Di musholah aja,” ucap Aris. Ya, memang musholah tidak jauh dari tempat mereka. Keputusan Aris memang ada benarnya juga.

“Ra, tidurnya di musholah aja, ya. Jangan di sini,” ucap Aris dengan nada rendahnya setiap kali berbicara dengan Aara.

Aara membuka matanya. Ia hanya mengangguk. Dhila pun akhirnya membantu Aara untuk bangun dan pindah tempat tidur. Ketika mereka hendak berjalan ke musholah, Aris memanggilnya dan menyerahkan sleeping bag. Aara yang menerimanya seketika berkata,

“Nanti kamu tidurnya gimana?”.

“Santai. Saya udah biasa ke gunung. Jadi, aman aja,” ucap Aris. Setelah mendengar jawaban Aris, Dhila dan Aara pun melanjutkan untuk pergi ke musholah.

Sesampainya di sana, Dhila membantu Aara untuk tidur menggunakan sleeping bag yang Aris berikan dan memijat kepalanya. Setelah dirasa sudah cukup hangat. Dhila pun keluar dari musholah. Aara terdengar sayup-sayup suara Alzam.

“Aara kenapa, Dhil?” tanya Alzam.

“Sakit,” ucap singkat Dhila.

Ris, terima kasih, sekali lagi. Terima kasih karena perhatian kamu gak berubah. Ris, apakah rasamu juga masih sama? Al, kamu ke mana saat aku berharap kamu ada? Kamu ke mana saat aku membutuhkanmu?, ucap batin Aara sambil tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.

Bab 11: Pandemi

1 1

Seiring berjalannya waktu rasa nyaman itu berkembang menjadi kasih. Kasih yang kuharap akan indah dan berterimakasih. Aku tetap di sini, menunggumu.

 

Hari kian berganti, tugas terus bergulir. Tak terasa kini Aara sudah mulai menjalani semester 3. Namun, baru saja dua minggu berlangsungnya pembelajaran tatap muka, kasus virus Covid-19 semakin menyebar luas. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena kasusnya terus bertambah. Virus ini menyerang tubuh manusia melalui udara, sehingga bukan hal mudah untuk menghindarinya. Salah satu keputusan pemerintah dalam pemutusan virus ini adalah dengan mengurangi mobilitas atau aktivitas masyarakat di luar rumah. Oleh karena itu, sistem pendidikan juga ikut berubah menjadi pembelajaran dalam jaringan.

Semua penanggungjawab mata kuliah mulai sibuk, untuk membuat grup kelas dan menghubungi dosen mata kuliah terkait. Setiap mahasiswa dan dosen minimal harus siap sedia di depan gawai atau laptop saat pembelajaran berlangsung. Tak ada perubahan jadwal, hanya saja pembelajaran terasa lebih monoton dan kurang fokus. Pada awal masa pembelajaran, setiap mahasiswa masih bersemangat dalam melaksanakan pembelajaran dalam jaringan ini. Mereka sudah rajin melakukan presensi tepat waktu, grup mata kuliah lebih responsif, dan masih banyak hal lainnya. Setiap mereka juga saling mengingatkan teman-teman yang lainnya untuk aktif dalam pembelajaran atau sekadar hadir tepat waktu. Banyak hal juga yang membuat setiap orang harus beradaptasi dengan keadaan pada masa pandemi ini.

Berjalannya waktu, tidak sedikit mahasiswa yang mulai merasakan jenuh dengan pembelajaran dalam jaringan ini. Apalagi kendala-kendala mulai terasa tak beraturan, seperti harus selalu sedia kuota, susah sinyal, ribut dengan adik, dan masih banyak kendala lainnya. Belum lagi, ketika orang tua sudah meminta tolong sesuatu, bersih-bersih rumah, halaman, dan lain sebagainya. Dan yang terasa memberatkan adalah tugas dari dosen yang tak mengenal waktu. Seakan pembelajaran tak mengenal waktu dan tempat.

Setidaknya hal itulah yang mulai Aara dan teman-temannya rasakan. Mereka harus pandai membagi waktu dalam berbagai hal. Entah itu perihal pembelajaran pada mata kuliah, mengerjakan tugas, membantu orang tua, atau sekadar memberikan apresiasi untuk diri sendiri. Hal tersebut agar tetap menjaga pikiran dari stres di masa pandemi ini. Salah satunya yang lain, mereka juga haris saling mengingatkan dan menguatkan.

Ra, tugas morfologi udah?

Al, bangun MK

Dhil, cepat isi presensi

Sejak masa pendemi jugalah, hubungan Aara dan Alzam semakin dekat. Setidaknya tugas dan jadwal mata kuliah mendekatkan mereka. Walau, hanya lewat pesan singkat. Sebenarnya cukup sederhana. Tetapi, untuk Aara sendiri ia sangat bersyukur. Karena dengan begitu, mereka menjadi lebih saling menguatkan. Apalagi dengan latar belakang cerita yang sama untuk sama-sama menginjakkan diri di dunia perkualiahan.

user

13 April 2022 14:40 Hesda Pranoto semangat ka, terus berkarya yah

Bab 12: PPKM Merindu

0 0

Tanpa kata, aku berbisik pada Semesta. Perihal rindu yang terus menggebu. Tanpa temu yang tak menentu. Tanpa kasih yang sering kali hilang tanpa waktu.

 

Kini, pandemi membuatnya terperangkap. Apalagi waktu terus berputar tanpa henti. Pandemi belum juga usai. Berbagai penerapan ditetapkan oleh pemerintah. Mulai dari PSBB, PPKM Mikro, sampai PPKM berlevel. Berita tentang pandemi terus hilir mudik di internet, televisi, atau pun poster di jalanan. Pada awal pandemi, memang dunia terasa sangat sempit bahkan sampai napas saja menjadi bahan ketakutan. Berita banyak korban yang berjatuhan pun tak kunjung usai. Telinga dan pikiran rasanya sudah tak tahu lelah dengan berita yang ada.

Siang yang syahdu dengan suara rintik hujan. Suaranya terlalu mendayu sampai membuat kenangan kembali terkenang. Kamar yang hanya sepetak itu terasa dingin sampai selimut menjadi saksi. Seperti yang Aara rasakan saat ini. Ia sedang tak bersemangat untuk melakukan aktivitas. Karena tubuhnya kembali meminta waktu istirahat setelah begadang untuk menyelesaikan beberapa tugas. Di tengah kelemahannya itu ia teringat kenangan bersama Alzam. Bagaimana mereka mulai dekat. Bagaimana mereka saling diam ketika di kelas. Bagaimana Alzam sering kali membuatnya tertawa pada hal-hal kecil yang ia ciptakan.

Semua kenangan dan rindu itu semakin menggebu ketika Aara membuka akun instagramnya dan menemukan sebuah postingan perihal status dan keseriusan dalam suatu hubungan. Aara kembali merenung tentang hubungannya dengan Alzam. Sebenarnya selama ini Alzam menganggap hubungan mereka itu sebagai apa? Temankah? Sahabat? Hubungan yang lebih spesial dari sahabat? Atau apa? Pikiran dan pertanyaan itu terus menerus terngiang-ngiang di benak Aara. Bukan apa-apa, jika memang Alzam tak serius lalu untuk apa mereka dekat? Untuk apa rasa yang ada dalam benak masing-masing? Namun, yang lebih penting dari semua itu, apakah Alzam memang benar-benar memiliki rasa yang sama dengan Aara? Ia kembali merindukan teman, sahabat, sekaligus seseorang yang cukup spesialnya saat itu. Berharap rindunya dapat terbalaskan, walau hanya sekadar saling berbalas pesan, tertawa bersama, atau saling bercerita tentang suatu hal.

***

Malam harinya, kebetulan Alzam lebih dulu mengabarinya. Seperti biasa, ia menanyakan tugas atau sekadar tanya kabar. Tetapi, hal itu cukup untuk mengawali pembicaraan yang sudah Aara himpun pertanyaannya. Hingga pada suatu momen yang pas ia memberanikan diri untuk bertanya pada Alzam.

Al, saya mau tanya sesuatu boleh?, tanya Aara pada pesan singkatnya yang telah dikirim. Sebenarnya Aara ragu. Ia berkali-kali menghapus, lalu mengetiknya lagi. Sebelum akhirnya pertanyaan itu benar-benar ia kirim.

Al, sebenarnya kamu serius gak sih sama saya?, tanya Aara.

Maksudnya serius gimana, Ra?, tanya balik Alzam, meminta penjelasan terkait pertanyaannya tersebut. Alzam, sedikit tak enak hati.

Aara bingung. Ia mengambil waktu beberapa detik sampai akhirnya menjawab pertanyaan tersebut. Ya, serius sama kedekatan kita.

Ayo, serius. Tapi, kamu bakalan sabar enggak nungguin saya?, tanya Alzam yang membuat Aara terdiam, bingung.

Maksudnya?

Kayaknya ini harus ngobrol deh. Tanpa menunggu lama, Alzam langsung menghubungi Aara via panggilan telepon. Berharap, agar semua jelas dan clear.

“Ra, gimana? Maksudnya serius gimana?” tanya Alzam kembali.

“Ya serius sama kedekatan kita gitu,” jelas Aara sambil menggigit pelan bibirnya.

“Kalau saya serius, kamu bakal serius juga enggak? Terus kamu bakal sabar nungguin saya enggak?” tanya Alzam dengan nada rendahnya. Dari nada yang Alzam gunakan, sepertinya ia sendiri ragu dengan pertanyaannya sendiri.

“Saya bakal jawaban pertanyaan kamu, setelah kamu sendiri jelasin maksud dari seriusnya apa? Apakah hanya sekadar status atau gimana?” tanya balik Aara. Sebenarnya hal itu hanya sebagai pengalihan saja, agar ia dapat lebih mematangkan jawaban yang akan diberikannya. Berharap tak ada yang menyakiti atau pun tersakiti. Semoga.

“Ya, kalau hanya sekadar status sih bukan serius namanya. Gini aja, Aara bakal sabar nungguin saya enggak? Sebelum nantinya saya bisa benar-benar ke rumah Aara,” Alzam tak henti memberikan pertanyaan yang sama. Aara semakin merasa terpojok dengan pertanyaan itu.

Aara bingung harus menjawab gimana. Ia tak tahu pasti ke mana takdir akan membawa mereka. Tetapi, di satu sisi ia sangat ingin memiliki masa depan dengan Alzam. Ia terdiam sejenak. Memikirkan kata-kata yang sekiranya dapat diterima oleh Alzam.

Insya Allah. Semoga Allah memberi kemudahan ke depannya. Maaf, kalau jawaban saya kurang memuaskan. Saya sendiri bingung ke mana takdir akan membawa kita,” jawab Aara sambil mencoba tenang.

“Hehe ... iya percaya, kok. Begitu pun dengan saya. Kita tak tahu takdir bagaimana yang sudah Allah tuliskan untuk kita,” jawab Aara dengan suara tenangnya.

“Ya udah. Kita jalani dulu aja ya, Ra. Ke depannya akan bagaimana, semoga itu yang terbaik untuk kita,” lanjutnya.

“Amin ...”

Bab 13: Masa Lalu

0 0

Tanpa paksa, semua berawal dari yang sudah berlalu. Masa lalu memang biarlah berlalu. Namun, bagaimana jika kenyataannya masa lalu tetap mengekor  sampai berada di setiap waktu?

Malam yang syahdu diiringi lagu dengan suara merdu. Aara melangkahkan diri menuju kamarnya, setelah makan malam. Ia berniat untuk melanjutkan tugas yang harus dikumpulkannya esok hari. Pada semester ini tugas tak hentinya datang. Khususnya tugas mata kuliah morfologi yang hampir setiap pertemuan selalu ada oleh-oleh untuk segera dinikmati. Awalnya Aara mengira berada di jurusan Bahasa Indonesia tak lagi mengenal hitung-hitungan. Tetapi, ternyata tidak. Tugas morfologi kali ini dosen memberinya tugas untuk menganalisis berapa morfem dalam beberapa kalimat. Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang memiliki makna, relatif stabil, serta tidak dapat dibagi lagi. Tentunya morfem banyak sekali pengklasifikasiannya.

Ra, tugas morfologi udah?, tanya Dhila dalam pesan singkatnya.

Belum, Dhil. Nih, lagi ngerjain, balas Aara. Ia lanjut mengerjakan tugas morfologinya itu. Duduk di depan laptop memang melelahkan, karena berarti ada tugas yang harus segera dikerjakan. Tak berselang lama, pesan dari Alzam pun masuk. Ia menanyakan hal yang sama. Karena ada sesuatu yang belum paham ia pun meminta izin untuk membicarakannya lewat panggilan telepon.

“Ra, gimana jadinya? Belum paham morfem bebas dan terikat” tanya Alzam.

“Iya, jadi singkatnya gini. Kalau morfem bebas itu bisa berdiri sendiri tanpa digabung dengan kata lain, contoh morfem ‘pulang’, ‘pergi’, ‘malam’, dan sebagainya. Nah, kalau morfem terikat itu ya harus ada gandengannya. Contoh pada morfem ‘henti’ dan ‘juang’. Kalau dalam kalimatnya enggak mungkin jadi ‘mobil henti di terminal’ atau ‘pahlawan juang untuk kemerdekaan’. Tetapi, yang tepatnya kan ‘mobil berhenti di terminal’. Jadi, ada tambahan afiks di sana,” jelas Aara. Belajar bersama pun terus berlanjut. Mereka mencoba saling bertukar pikiran atau sekadar meyakinkan jawabannya. Sampai tak terasa, sudah hampir satu jam mereka ada dalam panggilan. Tugas pun akhirnya selesai. Entah ada pikiran apa, tiba-tiba Alzam bertanya pada Aara.

“Ra, kalau ‘masa lalu’ berarti berapa morfem?” tanya Alzam sambil berpikir.

“Dua dong. Kan morfem ‘masa’ dan ‘lalu’” jawab Aara sedikit ragu dengan jawabannya.

“Oh ya? Terus kalau masa lalu kamu ada berapa, Ra?” tanya Alzam tanpa tawa.

“Weh, kok ke sana sih pembahasannya,” jawab Aara sambil tertawa. Setelah dibujuk akhirnya Aara menceritakan bagaimana masa lalunya dengan seseorang.

Saat Aara sangat menyayangi seseorang itu. Ia berusaha untuk setia, walau dari beberapa sisi seseorang yang melebihinya pun menunggu. Tetapi, ia tetap untuk seseorang itu.  Mereka diuji dengan perpisahan yang mana jarak memisahkan mereka untuk bertemu. Setiap kali ada waktu, Aara selalu mencoba mengabarinya. Pada awal LDR hubungan mereka memang baik-baik saja. Rindu sering kali menjadi saksi bisu antara kasih keduanya. Sampai akhirnya suatu hari ada sepucuk surat yang ditujukan untuknya. Inti surat itu tak lain adalah seseorang itu ingin mengakhiri kedekatan mereka. Patah hati Aara saat itu juga. Ia benar-benar tak menyangka semuanya akan berakhir hanya dari sepucuk surat. Kecewa, kesal, sedih, semua bercampur dalam benak Aara untuk waktu yang cukup lama. Sejak saat itu, Aara tidak mudah lagi membuka hati untuk seseorang. Ia takut jatuh ke jurang yang sama untuk kesekian kalinya.

“Sekarang masih chattan?” tanya Alzam ingin tahu. Bagaimana Aara akan chattan, sedangkan hatinya masih diliputi luka. Semua bayangan masih terekam jelas di benaknya. Walau sesekali kenangan manis kembali mengujinya.

“Enggak. Kalau cerita masa lalu kamu?” tanya balik Aara yang sudah memendam rasa ingin tahunya.

“Ya, jadi dulu saya pernah deket sama perempuan. Sampai akhirnya kita punya hubungan. Tapi, saya merasa kurang cocok sama dia. Dia terlalu istimewa untuk saya yang tidak ada apa-apanya. Apalagi keluarganya orang terpandang,” jelas Alzam.

“Dia sekarang masih ada di pondok sambil menghafal Al-Qur’an,” lanjunya.

Seketika mata Aara berkaca-kaca. Ia berkaca pada diri sendiri. Apalah ia yang masih banyak kurangnya, masih banyak malasnya, dan lainnya.

“Terus sekarang gimana? Masih ada kontak?” tanya Aara

“Enggak sih. Udah enggak. Tapi, enggak tau kenapa setiap kali saya dekat sama perempuan, saya sering mimpiin dia,”

Hati Aara tersentak mendengar pernyataan itu. Berarti selama kita dekat, kamu masih beliau masih ada dibenakmu, Al, ucap Aara dalam benaknya.

“Mungkin masih ada rasa yang belum selesai. Jadi, masih sering hadir dalam mimpi,” celetuk Aara.

“Ya gak gitu juga, Ra.” Aris santai menanggapi celetukan Aara. Ia merasa hatinya tiba-tiba tidak baik-baik saja. Apakah Aris masih memiliki perasaan dengan beliau? Ya, aku tak ada apa-apanya. Apalah diriku yang jauh dari segalanya. Masa lalunya sangat luar biasa. Apalah aku, bisik batinnya. Aara mulai merasa kurang percaya diri. Mungkinkah aku harus menjauh darinya?, pikir Aara.

Bab 14: Puncak Rindu

0 0

Kuharap rindu tak akan datang lagi. Kuharap hati akan kembali tenang. Tetapi, kurasa tak akan semudah itu. Rindu akan berada tetap di puncaknya. Rindu juga tak mengenal waktumu.

 

Hari ke hari membawa Aara dan Alzam pada perubahan. Ya, perubahan akan kedekatan mereka yang semakin merenggang serta kabar yang semakin jarang. Bukan apa-apa, katanya kalau kabar itu menjadi faktor utama kedekatan hubungan. Kabar menjadi tombak yang cukup penting. Karena dengan itu, ia tahu bahwa mereka masih berada di perahu yang sama.

Seperti rindu yang kemarin-kemarin, ia kembali hadir. Hadir dalam benar seorang Aara. Entah kenapa ia masih merindukan Alzam. Malam yang panjang sambil menunggu kabarnya. Memutar lagu galau yang membuat suasana semakin sendu tak menentu.

 

Malam ini aku teringat dirimu

Yang selalu membuatku tersenyum

Sedang apa kamu di sana

Apa kamu merindukanku

 

Haruskah kuungkap semua isi hatiku

Haruskah kau tahu ku di sini rindukanmu

Kangen-Sara Wijayanto

 

Hari ini Alzam memang hilang kabar begitu saja. Tak ada pesan atau pun story WhatsApp. Entahlah malam semakin membuatnya gusar. Ingin rasanya ia berkata, “Kangen, Al”. Tetapi, apakah ia memiliki hak untuk mengungkapkannya?

Sesulit itukah mengatakan satu kata? Hingga terus menunggu dari detik ke detik, menit ke menit, hingga jam ke jam, bahkan malam ke malam? Seegois itukah dirimu terhadap dirimu sendiri? Ya, kamu yang mengetik semua ini.

 Tulis Aara dalam status WhatsApp-nya. Setelah mengumpulkan segala keyakinan, ia memutuskan untuk lebih dulu menghubungi Alzam. Namun, belum juga ada balasan. Sampai akhirnya Aara tertidur karena waktu sudah tengah malam dan lelah menunggu balasan chat.

Baru tiga jam tertidur, tiba-tiba ia terbangun dan langsung mengecek ponselnya. Tak lain, untuk memastikan apakah Alzam sudah membalas pesannya? Ternyata, benar saja. Pesan singkat dari Alzam sudah masuk.

Kenapa, Ra?

Enggak, Al. Kangen aja, jawab Aara. Tanpa berpikir panjang dengan keadaan masih setengah sadar.

Waduh jangan, Ra, balas Alzam setelah beberapa menit menunggu.

Kenapa?. Aara merasa memang dirinya tak memiliki hak untuk merindu. Ia sudah tak tahu lagi Alzam akan membalas apa.

Kalau udah kangen itu tandanya ada cinta. Sedangkan, kamu pernah bilang kalau kamu takut jatuh ke jurang yang sama, balas Alzam. Aara terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Seketika sesak mulai memenuhi hatinya. Ia merasa salah karena telah mengungkapkan rasa rindunya.

Haha udahlah lupakan. Tapi, terima kasih loh udah mengingatkan saya tentang rasatakut itu lagi.  Harusnya saya gak gini, jawab Aara setelah beberapa menit tak membalas.

Saya sebenernya mau cerita.

Kamu mau tau kenapa saya mengingatkan kamu tentang hal ini? tanya balik Alzam.

Kenapa?

Karena saya takut kalau kamu menyimpan rasa ke saya. Terus saya ngecewain kamu. Terus, kau gak anggap saya teman lagi, balas Alzam.

Aara hanya mampu terdiam. Ia tak tahu harus membalas pesan apalagi. Dirinya diliputi sesak yang tak menentu. Semua rasa seketika menyatu. Hancur hati Aara seketika itu. Ia tak tahu harus apa. Al, kalau memang kamu takut saya menyimpan rasa ke kamu, kenapa kamu mendekatkan dirimu ke saya? Kenapa kamu seakan memberikan harapan kepada saya? Kenapa kamu justru mengecewakan saya di titik ini. Kenapa kamu gak bilang sejak awal?

 

Bab 15: Jeruji Rindu

0 0

Terkadang malam hanya ingin kau memeluknya dalam doa. Segala kenangan cukup kau simpan baik dalam relungmu. Segala rindu, lagi dan lagi, cukup kau bisikkan pada Semesta. Sungguh kau tak dapat memaksa. Tidurlah dengan tenang. Semoga esok, semesta akan memberi kabar yang membahagiakan. Sungguh, sekali lagi, kau tak dapat memaksa. Mungkin kata-kata “Siapa aku?” dapat lebih membuatmu tenang dibanding harus terus menerka. Selamat malam. Baik-baik.

 

Malam demi malam terus berlanjut. Rindu demi rindu belum juga usai. Justru semakin bergulir dan tertumpuk. Aara sendiri bingung dengan perasaannya. Ia tak tahu harus apa dan bagaimana dengan perasaannya itu. Ia tak ingin kehilangan Alzam, tetapi di sisi lain, ia juga tak ingin suatu saat Alzam menyakitinya. Aara tak ingin Alzam menjadi seseorang yang perlu ia benci. Seseorang yang menjadi bagian kesedihannya.

Hujan kini turun dengan beribu kenangan tentang sosok seorang Alzam. Ia yang sederhana, humoris, dan masih banyak hal lainnya yang membuat Aara tetap berdiri di tempat.

Dhil, kangen Al, pesan singkat yang Aara kirimkan pada Dhila.

Ra, udah ikhlasin rasanya. Kamu berhak bahagia dengan orang yang dapat mencintaimu juga. Kalau memang Al enggak bisa mencintai kamu. Pasti ada seseorang di luar sana yang bisa mencintai kamu melebihi yang pernah Al berikan,

Tapi, Dhil. Aku masih terjebak dirasa ini. Semua kenangan masih terkenang.

Iya, sih. Pasti ga mudah. Ya udah nikmati aja rindunya. Suatu saat kamu juga akan lelah dan capek dengan semuanya, balas Dhila akhirnya.

Ya, hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja sejak hadi itu. Aara menjadi segan untuk memulai percakapan. Aara menjadi bingung dengan perasaan masing-masing dari mereka. Entahlah, Aara rasa ada bagian dari Alzam yang sulit untuk dipahaminya. Beberapa kali Aara bolak balik ke kotak Alzam dan dia sedang online. Beberapa kali juga, Aara mengetik dan kembali dihapus. Sampai saatnya Alzam membuat story WhatsApp. Aara masih menunggu pesan Alzam. Tetapi, masih tak kunjung datang. Ia rindu dengan Alzam yang awal dia kenal. Sebelum semua ia lipat rasa yang pernah ada atau sekadar ingin menyelamatkannya.

Bab 16: Tertampar Kenyataan

0 0

Tak banyak yang kuinginkan. Jika kau bosan, ungkapkan. Jika kau ingin pergi, katakan. Dan jika kau menemukan hati yang lain, ceritakan.

 

Aara menjadikan kata-kata di atas menjadi story WhatsApp-nya. Saat itu pikirannya sedang bercampur aduk tak menentu. Sedih, rindu, senang, seakan menjadi satu. Belum lagi beberapa tugas yang tak kunjung usai. Ia mencoba memperbaiki perasaannya. Ia mencoba untuk tak memikirkan hatinya. Namun, hati sering kali tak dapat berbohong.

Kenapa kata-katanya harus gini?, balas Alzam pada status WhatsApp yang Aara buat. Ya, mungkin saja ia merasa dirinya menjadi tokoh utama dalam kata-kata itu.

Enggak kenapa-napa. Al, kalau nanti kamu menemukan perempuan yang kamu sukai. Bilang ya, cerita. Biar saya gak menyakiti perempuan yang kamu suka. Biar saya juga bisa menerapkan protokol kesehatan jiwa. Aara menjelaskan inginnya. Ia hanya  meminta itu pada Alzam. Ia tak yakin dengan dirinya sendiri. Ia tahu,  Alzam memang bukan miliknya. Ia bukan seseorang yang pantas untuk Alzam. Tetapi, apakah Alzam akan terus menyakitinya dengan tidak menceritakan apapun? Entahlah, Aara kembali merebahkan tubuhnya ke kasur.

Haduh, Anda. Ilmu pasrah aja, Ra. Jangan mengeluh terhadap hal yang belum pasti, jawab Alzam.  Ya, tak ada kata lain yang harus Aara ucapkan selain mengiyakan. Karena memang benar juga yang Alzam ucapkan. Ia mengeluhkan Alzam yang belum pasti ia yang akan pergi duluan. Gimana kalau justru Aara yang lebih dulu meninggalkannya?

Haha, iya iya.

Ah, suram ya gue udah buat lu jatuh cinta, Ra.

‘Ya, memang Al. Kamu gak tahu bagaimana jatuh bangunnya aku dengan segala perasaanku. Jika kamu sudah bilang sejak awal, mungkin aku gak akan memiliki perasaan sejauh ini. Kamu mengejarku saat itu. Tetapi, di saat aku sudah dekat denganmu dan memiliki perasaan yang sama, kau justru (seakan) menghindariku. Sebenarnya apa inginmu? Melukaiku secara perlahan?’. Aara tak tahu akan berbicara apa lagi. Rasanya semua yang ingin ia ungkapkan terus menerus tertahan di mulut dan pikirannya.

 

***

Suatu malam yang di hari lain, Alzam juga pernah seakan bertanya tentang suatu hal pada Aara. Ya, memang awalnya mereka hanya membicarakan tugas. Tetapi, entah bisikan apa yang lewat dipikiran Alzam sampai-sampai dia bertanya sesuatu yang membuat Aara kembali menjatuhkan diri di bawah bantal yang mulai basah dengan air mata.

“Ra, gimana tugas kamu udah selesai?” Alzam menanyakannya lewat panggilan telepon.

“Tugas apa, Al?” tanya balik Aara. Sambil melanjutkan menuliskan tugas di komunitasnya.

“Tugas mata kuliah pragmatik, yang membuat esai itu,” jawab Alzam.

“Oh iya, belum. Gimana deh?” jawab Aara setelah mengingat beberapa list tugas yang harus dikerjakannya.

“Ya udah, syukur,”

“Lah kok syukur?” tanya balik Aara sambil tertawa. Alzam ikut tertawa sambil sejenak menatap Aara. Berselang beberapa detik, Alzam bertanya

“Ra, mau tanya boleh?” Aara yang mendengarnya tentu langsung menyilakan permintaan itu. Pertanyaan apa yang akan dilontarkan kepadanya, sampai-sampai Alzam bertanya terlebih dahulu? Sejenak mereka hening.

“Kalau saya tiba-tiba pamit pergi gimana?” lanjut Alzam sambil tersenyum beribu makna.

Sontak Aara menjawab, “Hah? Mau pergi ke mana emangnya?” Pandangannya ia tujukan ke Alzam yang sedang duduk dari balik panggilan.

“Ya, misalnya. Kamu gak bakal kehilangan kan?” tanya Alzam.

“Saya bisa pergi kapan aja lo, Ra,” lanjut Alzam sambil masih memerhatikan wanita yang sedang menyusun kembali hatinya itu. Tolonglah, Al. Adakah pertanyaan lain yang jawabannya selain ‘tentu’? Bagaimana bisa aku gak bakal kehilangan seseorang yang berhasil buat aku nyaman, tertawa, dan mendengar keluh kesahku, ucap batin Aara. Ia hanya mampu tersenyum penuh makna. Ia tak tahu harus menjawab apa.

“Pertanyaannya, kalau saya pergi emang saya siapa ya kan, Ra?” Alzam tersenyum kembali kepada Aara. Ia menanggapinya dengan penuh hati-hati dengan hati yang terluka karena patah hati. Aara tertawa. Ya, kamu betul Al. Lagian kenapa juga saya harus kehilangan kamu di saat kamu pergi? Sedangkan kamu bukan siapa-siapa saya, batin Aara. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menarik napas sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu sambil mencoba untuk tetap tenang.

“Haha, iya saya pun tak tahu siapa Anda,” jawab Aara.

“Berarti kalau saya pergi Anda bisa bodo amat kan?” tanya Alzam kembali.

“Pastinya, enggak akan semudah itu sih,” Aara mengalihkan pandangannya. Ia harus tetap tenang dan terus mencoba untuk terlihat lemah di depan pria itu.

“Kita enggak ada hubungan kan, Ra?” Pertanyaan yang membuat Aara kembali bungkam.

Ia tertawa,  “Enggak ada”. Tetapi, hatinya justru menangis dan teriris dengan pertanyaan itu. Aara merasa seperti orang gila. Dia tertawa, tetapi hatinya tak menentu.

 

Saya tahu, cepat atau lambat semua ini pasti akan terjadi. Sesak? Pasti. Tapi saya tahu diri, saya bukan siapa-siapa. Saya bukan orang yang spesial. Dan dari awal Anda memang tidak pernah menganggap saya siapa-siapa. It's oke. I'm fine. I'm fine. I'm fine.

Tulis Aara dalam buku catatannya.

 

Bab 17: Cinta Haris

0 0

Terperangkap di ruang yang sama memang terlalu asing. Waktunya sudah lama berlalu. Andai kau jujur saat itu. Mungkin aku tak perlu menahan sesak di dada.

 

Pagi yang riuh dengan suara tetangga sebelah sedang berbenah. Padahal hari ini Aara memiliki jadwal presentasi via Zoom Meeting. Ya, sepertinya ia harus menguasai keadaan. Kesal dan lelah seakan bercampur menjadi satu. Ditambah lagi power point untuk presentasi hari itu belum ada yang membuatnya. Tanpa berpikir pajang, Aara langsung mengambil alih tugas tersebut. Sering sekali seperti ini. Bagaimana dengan tanggung jawab mereka yang hanya menitipkan nama di bagian kover, tanpa ikut bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok itu.

Setelah melakukan presentasi, tanpa jeda Bagas tiba-tiba menghubunginya dengan mengirim voice note. Aara yang tanpa berpikir panjang pun langsung mendengarnya.

Iya, Gas. Aara tuh bisa segalanya. Tapi, dia belum bisa menaklukan hati saya aja. Ah ya, suara itu adalah suara Aris. Mendengar itu Aara tersenyum tipis.

Ra, kenapa kamu gak respon dia?, tanya Bagas di pesan singkatnya.

Respon gimana nih?. Sebenarnya Aara sudah paham dengan pertanyaan Bagas. Ia hanya ingin memainkan suasana terlebih dulu.

Dia tuh suka sama kamu, Ra. Tapi, katanya sekarang kamu lagi deket sama seseorang ya? Aara tersenyum mendengar berita itu lagi. Berita yang setidaknya dapat menjawab segala ragu yang cukup lama ia pendam.

Yaa Allah kenapa gak bilang dari beberapa tahun yang lalu?

Yaa Allah, kalian saling cinta, tapi mau bicara. Ya, begitulah kiranya. Kita sama-sama saling bungkam padahal perbedaan sikap terasa begitu signifikan.

Dikira sudah cukup sampai di titik itu, balas Aara. Benar, Aara mengira Aris tak lagi memiliki rasa yang sama. Walau Aara masih merasa ia menemukan Aris yang dulu setiap kali mereka bercakap-cakap.

Dia minder dan menyerah. Tapi, saya yakin dia masih cinta sama kamu, Ra, balas Alzam.

Kenapa gitu?

Ya, buktinya dia gak fokus ke cewek. Senyum tipisnya kembali mengembang.

Kan sekarang, Gas.

Tenang rasanya hati Aara saat itu. Ia akhirnya tahu bahwa Aris memang memiliki rasa yang sama dengannya. Setidaknya saat itu ia berpikir cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Hanya saja mereka tak ada yang  membuka mulut untuk mengungkapkan semua rasa di hati. Petihal minder, justru Aara pun merasakan hal yang sama. Karena itu pulalah Aara memutuskan untuk mundur perlahan dari rasanya untuk Aris.

Kabar ini memberikan jejak baru untuk Aara di tengah kisruh hatinya dengan Alzam. Ia tahu, ia tak akan dapat kembali ke Aris. Kini saja ia sudah lelah dengan cerita yang sama. Ujungnya ia kembali ditinggalkan, dipatahkan oleh kenyataan, dan dipaksa mundur oleh pikiran yang ragu.

Bab 18: Mencoba Menghilang

0 0

Mungkin aku harus menghilang sejenak. Melepaskan semua beban hati. Membiarkannya pergi. Aku tahu, aku bukan siapa-siapa untuknya. Aku bukan wanita yang terbaik untuk dapat menemani perjalanan hidupnya.

Merdu suara azan subuh membangunkan Aara Aidah dari tidurnya. Ia lekas mandi, mengambil air wudhu, lalu salat subuh. Seperti biasa, setelah itu ia menyempatkan diri untuk mengungkapkan rindu pada Kekasihnya. Kekasih sejati yang sesungguhnya tak akan pernah pergi darinya. Ia bersimpuh di atas sajadah. Memohon ketenangan jiwa dan pikirannya. Ia sadar, hidup bukan hanyatentang cinta semata, tetapi juga soal citta. Semalam ia diliputi rasa yang tak menentu. Riuh rindu terus menyelimuti pikiran dan jiwanya. Ia merasa lelah dengan semuanya. Ia ingin segera pergi dari rasa yang membuatnya kalut. Sampai-sampai dalam doanya, “Tuhan, bolehkah aku meminta untuk menghilangkan semua rasa ini? Bolehkan rasa ini menjadi akhir dari cerita yang membawaku pada sendu? Aku lelah dengan cerita yang sama. Aku lelah dengan rasa yang lagi lagi harus sirna. Aku lelah terus mendikte diriku sendiri karena merasa tersakiti.”

Mulai hari itu ia mencoba menyibukkan diri dengan segala hal. Kebetulan liburan semester sudah memanggil. Ia berharap dengan kesibukannya itu dapat memudahkannya untuk melupakan semua rasa yang sedang ia rasakan. Melihat dari liburan sebelumnya, Alzam juga pasti akan menghilang dari peredaran setiap kali masa liburan tiba. Mereka akan semakin jarang untuk saling mengabari. Apalagi Aara memang bukan tipe yang lebih dulu memulai. Entahlah semoga harapannya dapat terwujud dan berjalan dengan lancar.

 

Jangan menghilang dulu. Biarkan aku yang pergi lebih dulu. Karena aku pernah tahu rasanya ditinggalkan dan saat itu aku benar-benar jatuh. Apakah harus merasakan kedua kalinya? Inginku tidak.

Bab 19: Menerima Kenyataan

0 0

Perasaan kasih tak akan pernah bisa dipaksakan. Semua akan berakhir pada waktunya. Semua akan meninggalkan kita. Tak ada yang benar-benar sempurna dan selamanya. Kamu sudah kuat karena sampai di titik ini. Kamu berhak bahagia dengan seseorang yang terbaik menurut Tuhanmu.

 

Beberapa bulan berlalu. Rasa dan rindu yang terpendam masih sama. Aara yang masih mencoba tegar masih ada. Ia tetap berdiri di tempat awalnya berdiri. Ia masih melihat dunia belum memberikan keputusan akhir padanya. Setelah beberapa hari ia menghilang dari peredaran, Aara akhirnya menemukan tempat ternyaman untuknya menuangkan segala resah. Ya, komunitas menulis. Ia mempelajari banyak hal di sana. Walau pada ujungnya ia menarik segala cerita untuk dijadikan latar belakang tulisannya. Bukan apa-apa, setidaknya itu yang sedang ia rasakan saat itu. Rindu, sendu, cemburu, semua tertuang dalam tulisan-tulisan yang terbilang masih sangat awam. Ia terus meningkatkan dirinya dalam dunia kepenulisan. Menulis dapat membawanya pada penerimaan. Penerimaan akan kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan bahwa Alzam mungkin bukan takdir akhir yang tuhan kirimkan. Katanya, seseorang yang kita temui akan selalu memberikan pelajaran untuk kehidupan. Entah itu pelajaran yang menyenangkan, atau justru sebalikya. Semua tergantung bagaimana kita mampu mengalokasikannya. Kita dapat memetik hikmah dari setiap hal itu.

Malam ini Alzam dan Aara sedang dalam satu radar yang sama. Mereka kembali saling berkomunikasi lewat pesan singkat. Seperti biasa, mereka saling menceritakan cerita-cerita sederhana atau tertawa karena suatu hal. Bagi Aara, semua ini sudah cukup. Walau rindu tak dapat diobati dengan bertemu, setidaknya ada kabar yang selalu datang meski tak setiap waktu.

Gimana? Udah ada yang disuka lagi belom, tanya Alzam.

Apaan nih maksudnya? Parah, ledekin gue lu?, jawab Aara yang merasa terpojok dengan pertanyaan yang Alzam berikan.

Hahaha, santai, jawabnya sambil mengirimkan emoticon tertawa.

Eh, jujur ya. Selama ini walau kita cuma sahabatan, saya masih jaga hati buat deket sama orang lain, lanjutnya tiba-tiba. Aara tak mengerti maksud apa yang ingin Alzam sampaikan. Sebenarnya, hal itu juga yang Aara lakukan. Ia terlalu takut untuk kembali membuka hati.

Haha, hal yang sama. Tapi, apa alasan kamu?

“Ya, karena saya ga mau nyakitin orang yang udah bantu perjalanan saya sejauh ini. Nyakitin gimana, ya? Walau pun entah Anda suka atau enggak sama saya, ya. Tapi, kalau dilihat dari chattannya sih suka gitu,” ucapnya melalui voicenote sambil tertawa.

Hahaha, ya kali suka. Pokoknya kalau Anda sudah menemukan seseorang yang disuka, silakan. Saya kan hanya jadi teman perjalanan saja. Soal suka atau tidaknya itu, mungkin hanya pribadi saya yang tahu. Saya gak mau memaksakan orang untuk menyukai saya juga, jawab Aara. Ternyata hatinya belum benar-benar sembuh. Buktinya, masih terasa menyayat ketika ia membalas pesan itu.

Haha, enak ya lu ngomongnya. Gue punya gandengan yang lain, galau lu seumur hidup, balas Alzam. Alzam mungkin tidak tahu, bagaimana Aara mencoba untuk melawan ketika suasana galau itu datang. Bagaimana rindu itu menarik egonya untuk berani berkata yang sebenarnya. Haha, galau udah jadi makanan sejauh ini.

Dasar manusia dramatis, jawab Alzam sambil mengirim emoticon tertawa. Aara tahu, Alzam tak sejahat itu. Ia hanya ingin aku kembali bahagia, walau tak bersamanya. Tetapi, tak semudah itu. Semua butuh waktu yang tidak sebentar.

Haha, jangan gitu lu. Jangan paksa gue buat gak ngebolehin lu deket sama perempuan lain. Aara yakin hatinya mencoba untuk baik-baik saja. Bagaimanapun juga, ia tak ingin pertemanannya rusak karena masalah hati. Walau justru hatinya yang terus tercabik sendiri.  

Oke, terima kasih atas toleransinya. Pokoknya gue percaya, lu wanita hebat.

 

***

Malam yang lain pertanyaan yang sama pernah Alzam sampaikan ke Aara. Pertanyaan yang lagi-lagi membuat Aara bercampur aduk rasanya.

 

“Lagi deket sama siapa, Ra?” tanya Alzam dalam panggilan telepon.

“Enggak sama siapa-siapa,” jawab Aara.

“Ah, bohong. Kemarin ada yang cerita lagi deket sama seseorang,”

“Ya, kali sama lu, Al,” Dalam benaknya ia seakan berteriak, Saya lagi dekat sama siapa? Menurut Anda? Siapa lagi kalau bukan sama Anda. Bohong? Ya, saya bohong karena berkata tidak memiliki perasaan apa-apa. Bohong, saya tidak kangen, menghindar, dan terlihat baik-baik saja.

“Udahlah, Ra. Cari cowok gih. Gue terus merasa bersalah kalau lu belum punya calon. Apa gue harus bantu cariin?” tanya Alzam.

“Terima kasih. Enggak usah repot-repot, Ris. Saya pengen istirahat dulu. Capek gini terus,”

“Ra, maaf ya,”

 

 

Awal tahun yang baik, Ra. Benar, kamu gak berhak untuk mengekang siapa pun, termasuk dia. Kamu sudah cukup bijak mengambil keputusan itu. Bagaimanapun jalan kedepannya nanti, jalani. Tetap saling membantu dan menguatkan. Tentang sakit menyakiti, itu urusan nanti. Yang apapun jalannya, kamu harus siap.

(Catatan Aara)

***

 

“Ra, udah lepaskan aja rasa kamu sama Alzam. Buat apa masih mengharapkan dia yang belum jelas rasanya sama kamu? Buat apa bertahan sama dia yang menggantungkan perasaan kamu seperti ini?”

“Hehe iya, Dhil. Aku juga gak ngerti. Mungkin karena aku pernah bilang pada diriku untuk menemaninya selama perjalanannya masih sama kali ya. Ada dua  hal yang mungkin akan membuat aku benar-benar melepas rasanya, pertama ketika aku tau dia sudah punya wanita lain, kedua ketika kita sudah lulus. Entah, aku merasa kita masih ada di ruangan yang sama, Dhil,”

“Iya, sih. Pasti gak mudah. Tapi, gue gak tega liat lu terus-terusan nahan kangen dan rasa ke orang yang sama sekali gak peduli sama lu, Ra,”

Kiranya itu yang pernah Dhila tanyakan pada Aara. Aara tahu, suatu saat nanti ia pasti akan dapat melepas semua rasanya. Pasti ada waktunya. Ia hanya perlu menunggu atau justru mengejarnya.

 

 

Bab 20: Ikhlas Melepas

0 0

Kukira cerita kita tak akan pernah usai. Tetapi, waktu memintaku untuk beristirahat dari segala rasa yang membuatku lelah dan kecewa. Berharap diriku segera sembuh dari segala kesalahan dan luka yang kutorehkan sendiri. Maafkan aku, Aku.

 

Hari-hari yang panjang dan melelahkan. Akhirnya di titik ini, Aara mulai melepas rasanya. Mengikhlaskan rindu yang sudah menumpuk sejak lama. Hari-hari menjadi lebih tenang. Setidaknya ia tidak lagi diliputi negatif thinking tentang Alzam. Semua ini berawal ketika ia mulai akti menulis di buku diary dan sosial media miliknya. Ia melepas semua rasa menjadi aksara. Tak ada yang dapat Aara lakukan lagi. Semuanya telah usai. Biarlah takdir yang membawa ke mana mereka akan menetap di tempat yang terbaik.

Hari ini, Alzam kembali menghubunginya. Setelah hampir satu bulan mereka tak saling berkabar.

Ra, gimana kabarnya?

Alhamdulillah, baik. Kamu gimana?

Ya, saling berkabar saja rasanya sudah cukup menyirami pertemanan mereka yang sudah lama terasa gersang. Aara percaya, semua pasti akan menemukan titik terang. Ia akan kembali melanjutkan cittanya. Ia akan mewujudkan tujuannya. Semua pasti akan kembali baik-baik saja. Takdir pasti akan membawa mereka pada titik terang sesungguhnya. Tak perlu rasau dengan sesuatu yang belum pasti. Cinta dari Tuhan tak akan pernah salah tempat. Cita dari Tuhan adalah segalanya. Memaafkan, melepas, dan ikhlas adalah kunci dari ketenangan saat ini. Memaafkan bukan tentang melupakan. Karena semua kenangan masih tersimpan rapi di benak yang sunyi ini.

 

 

Biarkan aku, menuliskan rasa sayangku pada keabadian.

Aku tak ingin membencimu.

Aku tak ingin memiliki alasan untuk membencimu.

Kamu juga salah satu alasan yang membuatku kuat.

Membuatku tersenyum dan tertawa.

Walau terkadang aku dibuat sesak dan menangis karena harus menahan rasa kangen yang membuat sesak di dada.

(Catatan Aara)

Bab 21: Takdir Tak Terduga

0 0

Tak ada takdir yang salah selama hamba-Nya masih memiliki kepercayaan. Tak ada tadir yang keliru. Semua akan datang kabar kebenaran.

 

Hari ini merupakan hari istimewa untuk Aara dan seluruh keluarga besarnya. Rumah mulai ramai dengan anggota keluarga yang mulai berkumpul di rumah. Masakan dari halaman belakang juga menyengat indra penciuman, sampai-sampai membuat perut ini berteriak. Lagu shalawat dari sound juga sudah terdengar. Begitupun dengan hiasan elegan menghiasi kamar, rumah, serta halaman depan. Aara sedang duduk dengan detak jantung yang terus berdebar tak menentu. Ia tak menyangka, acara ini akan terlaksana di waktu yang tepat. Doa serta citta akan membawanya pada dunia baru. Restu orang tua adalah kunci kebahagiaan yang membawanya pada titik yang paling ia syukuri.

Alzam dan Aara akhirnya mereka bertemu kembali setelah sekian purnama. Keduanya tak saling menatap lebih dalam. Ada rasa syukur yang tersemat di hati masing-masing. Aara merasa menunggunya tak akan salah. IA telah membuktikannya pada Alzam di hari ini.

“Al, terima kasih. Semoga kita sama-sama bahagia kapan pun dan di mana pun,” ucap batinnya.

 

Ya Allah terima kasih atas takdir tak terduga ini. Kini, aku menyayanginya karena-Mu. Terima kasih atas segala luka yang terbayarkan dengan kebahagiaan yang begitu istimewa ini.

SURAT ISTIMEWA (1)

0 0

SURAT ISTIMEWA (1)

Untuk Alzam Najib

 

Hai,  pria baik. Masih ingatkah denganku? Ya, temanmu, sahabatmu, katanya. Bagaimana kabarmu? Lama kita tidak bersua, ya. Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Karena selama ini kamu telah menemani dan membuatku tertawa. Aku tahu, kamu pasti gak sengaja membuatku kembali terluka. Kamu pasti gak sengaja membuatku membungkam rindu yang sangat tidak mudah. Kamu pasti gak sengaja membuatku kembali trauma dengan rasa mulai sembuh. Tak apa. Al, satu hal yang perlu kamu tahu. Aku tak ingin membencimu. Tetapi, tak juga ingin menatap jauh bersamamu. Semoga semua ini cukup sampai di masa ini. Terima kasih juga karena sudah mengajarkan hal-hal sederhana untukku. Terima kasih sudah memintaku menunggu. Semoga kau dapat menemukan wanitamu. Semoga kau selalu bahagia.

Cirebon, 27 September 2022

Salam Teman

 

Aara Aidah

SURAT ISTIMEWA (2)

0 0

SURAT ISTIMEWA (2)

Untuk Aara Aidah

 

Hai, wanita sederhana. Bagaimana kabarmu? Semoga baik-baik saja, ya. Aku tahu kau pasti lelah dengan jiwa dan ragamu. Tetapi, kamu harus tetap semangat dan berjuang. Tak apa, jika ingin istirahat sejenak. Setelah itu bangkit lagi ya. Perihal hati, aku tahu lukanya masih membekas. Semoga lekas sembuh ya. Aku mau mengucapkan terima kasih karena kamu sudah kuat sejauh ini. Terima kasih atas segala hal yang sudah kamu perjuangkan. Aku yakin, kamu wanita hebat. Semoga cittamu dapat terwujud dan lukamu segera sembuh. Peluk jauh dariku.

Cirebon, 27 September 2022

Salam Sayang

 

Aara Aidah

Harapku

0 0

Semua akan indah pada waktunya. Segala luka juga akan sembuh seiring berjalannya kehidupan. Nikmati alurnya. Tetapkan syukur dalam jiwa.

Semoga kau selalu bahagia.

~Aara Aidah~

 

Mungkin saja kamu suka

Ivan Brian Alda...
Teddy Bear
Emmy Indah
Sakura no Moto e
Jihan Az-Zahra
Gapai Titik Terang
Demia Laviona
May Be-lah Penulis
LilBee Quinque
Not My Dream List
Mike Alviza
Tanda Tanya

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil